0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
131 tayangan25 halaman

Makalah Penyakit Asma

makalah

Diunggah oleh

djasnifar
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
131 tayangan25 halaman

Makalah Penyakit Asma

makalah

Diunggah oleh

djasnifar
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH PENYAKIT ASMA

DISUSUN OLEH :

AYUANDA LESTARI

CANTIKA DWI WULANDARI

HADIWIJAYA

NABILA ANINDYA HAFNIE

DOSEN PEMBIMBING :

NS. ELSA GUSRIANTI, S.KEP., M.SI. MED.

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGPINANG

PRODI DIII KEPERAWATAN

TAHUN 2024
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan limpahan rahmatNya.
Sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul ”Penyakit Asma” Tugas ini
saya susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Anak.

Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar - besarnya atas
bimbingan dosen mata kuliah Keperawatan Anak. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada
pihak - pihak yang turut membantu dalam pembuatan makalah ini, saya menyadari sepenuhnya
bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu saya
mengharapkan kritik dan saran semua pihak untuk menyempurnakan makalah ini. Akhir kata saya
mengucapkan terimakasih dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Tanjungpinang, 03 September 2024

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................................... 2

DAFTAR ISI ................................................................................................................................... 3

BAB I .............................................................................................................................................. 4

PENDAHULUAN .......................................................................................................................... 4

1.1. Latar Belakang ................................................................................................................. 4

1.2. Rumusan Masalah ............................................................................................................ 5

1.3. Tujuan............................................................................................................................... 5

BAB II............................................................................................................................................. 6

PEMBAHASAN ............................................................................................................................. 6

2.1 Pengertian Penyakit Asma ................................................................................................ 6

2.2 Etiologi Asma ................................................................................................................... 7

2.3 Patofisiologis Asma .......................................................................................................... 9

2.4 Manifestasi Klinis ............................................................................................................ 9

2.5 Asuhan Keperawatan...................................................................................................... 10

2.5.1 Pengkajian ............................................................................................................... 10

2.5.2 Diagnosa Keperawatan Penyakit Asma .................................................................. 12

2.5.3. Rencana Keperawatan Penyakit Asma.................................................................... 17

2.5.4. Implementasi Keperawatan Penyakit Asma............................................................ 21

2.5.5. Evaluasi Keperawatan Penyakit Asma.................................................................... 22

BAB III ......................................................................................................................................... 24

PENUTUP..................................................................................................................................... 24

3.1. Kesimpulan ........................................................................................................................ 24

3.2. Saran .................................................................................................................................. 24

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perubahan
perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Anak yang diartikan sebagai
seseorang yang usianya kurang dari 18 (delapan belas) tahun dalam masa tumbuh
kembang, dengan kebutuhan khusus yaitu kebutuhan fisik, psikologis, sosial dan spiritual.
Rentang ini berbeda antara anak satu dengan lain mengingat latar belakang anak berbeda
(Arnis & Yuliastati, 2016).

Anak merupakan generasi penerus bangsa. Awal kokoh atau rapuhnya suatu negara
dapat dilihat dari kualitas para generasi penerusnya. Kesehatan merupakan salah satu faktor
utama dan sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Ketika kondisi
kesehatan anak kurang sehat, maka akan berdampak pada berbagai hal yang berkaitan
dengan pertumbuhan, perkembangan, dan terhadap berbagai aktivitas yang akan
dilakukannya (Inten & Permatasari, 2019).

Masa kanak-kanak adalah waktu yang relatif sehat dan juga waktu untuk mengenal
dunia namun pada masa ini jarang anak yang tidak mengalami sakit dan juga
mempertahankan kesehatan anak, pada akhirnya merupakan tanggung jawab orang tua.
Berbagai macam penyakit yang dapat menyerang kesehatan atau imun pada anak yaitu
salah satunya penyakit asma. Angka kejadian penyakit alergi akhir-akhir ini meningkat
sejalan dengan perubahan pola hidup masyarakat modern, baik polusi lingkungan maupun
zat-zat yang ada di dalam makanan. Salah satu penyakit alergi yang banyak terjadi di
masyarakat adalah asma (Mangguang, 2016).

Menurut World Health Organization (WHO), asma merupakan penyakit inflamasi


kronis saluran napas yang paling sering dijumpai pada anak. Asma ditandai dengan
terjadinya mengi episodik, batuk dan sesak di dada akibat penyumbatan saluran napas.

4
Tingkat keparahan dan frekuensi setiap orang yang bervariasi, yang disebabkan
peradangan saluran pernafasan dan mempengaruhi sensitivitas ujung saraf di saluran napas
sehingga mudah. menimbulkan iritasi (Wahyudi Devianti, et al 2018). Menurut perkiraan
WHO terbaru yang dirilis pada Desember 2016, terdapat 383.000 kematian akibat asma
pada 2015 (The Global Asthma Report, 2018). Prevalensi penyakit ini dilaporkan dari
tahun ke tahun terus meningkat di seluruh dunia. Michel melaporkan bahwa prevalensi
asma pada anak sebesar 8-10%, orang dewasa 3-5% dan dalam 10 tahun terakhir meningkat
sampai 50% di seluruh dunia (Sihombing et al., 2010).

1.2.Rumusan Masalah
a. Apa pengertian penyakit asma ?
b. Bagaimana etiologi terkait penyakit asma ?
c. Bagaimana patofisiologi penyakit asma ?
d. Bagaimana menifestasi klinis penyakit asma ?
e. Bagaimana Asuhan Keperawatan terkait penyakit asma ?

1.3.Tujuan
a. Untuk mengetahui penyakit asma ?

b. Untuk mengetahui etiologi terkait penyakit asma ?

c. Untuk mengetahui patofisiologi penyakit asma ?

d. Untuk mengetahui menifestasi klinis penyakit asma ?

e. Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan terkait penyakit asma ?

5
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Penyakit Asma


Penyakit asma adalah penyakit yang terjadi akibat adanya penyempitan saluran
pernapasan sementara waktu sehingga sulit bernapas. Asma terjadi ketika ada kepekaan
yang meningkat terhadap rangsangan dari lingkungan sebagai pemicunya. Diantaranya
adalah dikarenakan gangguan emosi, kelelahan jasmani, perubahan cuaca, temperatur,
debu, asap, bau-bauan yang merangsang, infeksi saluran napas, faktor makanan dan reaksi
alergi (Hasdianah, 2014). Beberapa faktor penyebab asma, antara lain umur pasien, status
atopi, faktor keturunan, serta faktor lingkungan.

Tanda dan gejala asma yang biasa sering muncul adalah mengi, peningkatan
frekuensi pernafasan, hyperventilation, hyperinflasi, fluktuasi kadar CO2.
Hyperventilation yang diikuti dengan kecemasan merupakan gejala yang sering ditemukan
pada penderita asma, sehingga mengakibatkan bronkokonstriksi jalan nafas (Holloway,
Elizabeth A. Wes, 2007). Hyperventilation merupakan suatu kondisi dimana CO2 dalam
darah dan alveoli berkurang sehingga kompensasi jalan nafas mengalami konstriksi
bertujuan untuk menghindari kehilangan CO secara berlebih (Bruton, 2005). Selain itu
penebalan dinding jalan nafas karena remodelling jalan nafas meningkat dengan tajam dan
berkontribusi terhadap obstruksi aliran udara. Hal ini akan menyebabkan terjadinya
penyempian bronkus sehingga terjadilah sesak napas (Melastuti & Husna, 2015).

Asma dibedakan menjadi 2 jenis, (Nurarif Huda, 2016) yaitu:

a. Asma bronkial: Penderita asma bronkial, hipersensitif dan hiperaktif terhadap


rangsangan dari luar, seperti debu rumah, bulu binatang, asap dan bahan lain
penyebab alergi. Gejala kemunculannya sangat mendadak, sehingga gangguan
asma bisa datang secara tiba-tiba. Gangguan asma bronkial juga bisa muncul
lantaran adanya radang yang mengakibatkan penyempitan saluran pernapasan
bagian bawah. Penyempitan ini akibat berkerutnya otot polos saluran

6
pernapasan, pembengkakan selaput lendir, dan pembentukan timbunan lendir
yang berlebihan.
b. Asma kardial Asma yang timbul akibat adanya kelainan jantung. Gejala asma
kardial biasanya terjadi pada malam hari, disertai sesak napas yang hebat.
Kejadian ini disebut nocturnal paroxymul dispnea. Biasanya terjadi pada saat
penderita sedang tidur.

2.2 Etiologi Asma


Menurut (Wijaya & Putri, 2013) dalam bukunya dijelaskan klasifikasi asma
berdasarkan etiologi adalah sebagai berikut:

a. Asma ekstrinsik/alergi
Asma yang disebabkan oleh alergen yang diketahui sudah terdapat semenjak anak-anak
seperti alergi terhadap protein, serbuk sari bulu halus, binatang, dan debu. Asma
ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik terhadap
alergi. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti yang disebutkan
di atas, maka akan terjadi serangan asma ekstrinsik.

b. Asma instrinsik/idopatik
Asma yang tidak ditemukan faktor pencetus yang jelas, tetapi adanya faktor-faktor non
spesifik seperti flu, latihan fisik atau emosi sering memicu serangan asma. Asma ini
sering muncul/timbul sesudah usia 40 tahun setelah menderita infeksi sinus cabang
trancheobronkial Srerangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan
berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema.
Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan.
c. Asma campuran
Asma yang terjadi/timbul karena adanya komponen ekstrinsik dan intrinsik.

Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya
serangan asma:

a. Faktor predisposisi

7
Genetik Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui
bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi biasanya
mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi
ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan
foktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.

b. Faktor presipitasi
Alergen Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu
1) Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan Contohnya debu, bulu binatang,
serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi
2) Ingestan, yang masuk melalui mulut Contohnya makanan dan obat-obatan
3) Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit Contohnya perhiasan, logam dan
jam tangan

c. Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma.
Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma.
Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim
kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan
debu.

d. Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa
memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus
segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguan emosi perlu diberi
naschat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi
maka gejala asmanya belum bisa diobati..

e. Lingkungan kerja Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan


asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di
laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik
pada waktu libur atau cuti.

8
f. Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat Sebagian besar penderita asma akan mendapat
serangan jika melakukan aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling
mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi
segera setelah selesai aktifitas tersebut.

2.3 Patofisiologis Asma


Patofisiologi asma adanya debu, asap rokok, bulu binatang, hawa dingin terpapar
pada penderita dan benda-benda tersebut setelah terpapar ternyata tidak dikenali oleh
sistem di dalam tubuh penderita sehingga dianggap sebagai benda asing yang masuk
(antigen). Obstruksi saluran nafas pada asma merupakan kombinasi spasme otot bronkus
sumbatan mucus, edema dan inflamasi dinding. Gangguan yang berupa obstruksi saluran
nafas yang berupa obstruksi saluran napas bisa dinilai dengan VEPI (volume ekspirasi
pakasa detik pertama) penyempitan saluran nafas dapat terjadi baik pada saluran nafas yang
besar, maupun sedang.
Gejala mengik menandakan adanya penyempitan sauran nafas besar sedangkan
pada saluan nafas kecil gejala batuk dan sesak. Penyempitan bronkus akan menurunkan
jumlah oksigen luar masuk saat inspirasi sehingga menurunkan oksigen yang dalam darah.
Kondisi ini berakibat pada penurunan oksigen jaringan sehingga penderita terlihat pucat
dan lemah. Pembengkakan mukosa bronkus juga akan meningkatkan sekresi mukus dan
meningkatkan pergerakan silia pada mukosa. Sehingga menyebabkan gangguan pada
pertukaran gas (Setiyohadi, 2010).

2.4 Manifestasi Klinis


Tanda dan gejala asma yang biasa sering muncul adalah mengi, peningkatan
frekuensi pernafasan, hyperventilation, hyperinflasi, fluktuasi kadar CO2.
Hyperventilation yang diikuti dengan kecemasan merupakan gejala yang sering ditemukan
pada penderita asma, sehingga mengakibatkan bronkokonstriksi jalan nafas (Holloway,
Elizabeth A. Wes, 2007). Hyperventilation merupakan suatu kondisi dimana CO2 dalam
darah dan alveoli berkurang sehingga kompensasi jalan nafas mengalami konstriksi
bertujuan untuk menghindari kehilangan CO secara berlebih (Bruton, 2005). Selain itu

9
penebalan dinding jalan nafas karena remodelling jalan nafas meningkat dengan tajam dan
berkontribusi terhadap obstruksi aliran udara. Hal ini akan menyebabkan terjadinya
penyempian bronkus sehingga terjadilah sesak napas (Melastuti & Husna, 2015).

2.5 Asuhan Keperawatan

2.5.1 Pengkajian

Anamnesa
a. Identifikasi Pasien
Nama, umur, tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, agama, tanggal
dan jam masuk rumah sakit, nomor register, diagnosa medis.
b. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan Utama
Sesak Nafas, Batuk terus-menerus
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Biasanya pasien mengeluh sesak nafas berat, batuk terus menerus,
dan tidak nafsu makan. Biasanya pasien terlihat sesak, terdapat bunyi
tambahan ronkhi dan wheezing, pasien terlihat gelisah dengan
kondisinya, mukosa bibir kering, pasien terlihat lemas dan letih.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Penyakit yang biasanya pernah diderita pada masa lalu seperti
adanya riwayat TBC, dan penggunaan obat obatan.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Kemungkinan ada anggota keluarga yang menderita penyakit
penyakit keturunan seperti hipertensi, DM, Jantung dan riwayat
penyakit menular seperti TB, HIV, dll.
c. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Ngastiyah (2013) dalam (Pery Abenita, 2019), ada beberapa
pemeriksaan diagnostik bagi para penderita asma, antara lain:
a. Uji faal paru

10
Uji faal paru dilakukan untuk menentukan derajat obstruksi, menilai hasil
provokasi bronkus, menilai hasil pengobatan dan mengikuti perjalanan
penyakit. Alat yang digunakan untuk uji faal paru adalah peak flow meter,
caranya anak disuruh meniup flow meter beberapa kali (sebelumnya
menarik napas dalam melalui mulut kemudian menghembuskan dengan
kuat) dan dicatat hasil.
b. Foto toraks
Foto toraks dilakukan terutama pada anak yang baru berkunjung pertama
kali di poliklinik, untuk menyingkirkan kemungkinan ada penyakit lain.
Pada pasien asma yang telah kronik akan terlihat jelas adanya kelainan
berupa hiperinflasi dan atelektasis.
c. Pemeriksaan darah
Pemeriksaan darah pada pasien asma biasanya hasilnya akan terdapat
cosinofilia pada darah tepi dan sekret hidung. Bila tidak cosinofilia
kemungkinan bukan asma. Selain itu juga, dilakukan uji tuberkulin dan uji
kulit dengan menggunakan alergen.

Sedangkan pemeriksaan penunjang menurut (Smelzer, 2002) dalam


(Nurarif Huda, 2016):

a. Pirometer
Pirometer dilakukan sebelum dan sesudah bronkodilator hirup
(nebulizer/inhaler), positif jika peningkatan VEP/KVP >20%.
Spirometri dapat digunakan untuk diagnosis dan memantau gejala
pernapasan dan penyakit, persiapan operasi, penelitian epidemiologi
serta penelitian lain. Pengukuran faal paru digunakan untuk menilai
obstruksi jalan napas, reversibilitas kelainan faal paru dan variabilitas
faal paru sebagai penilaian tidak langsung hiperesponsif jalan napas
(Azhar & Berawi, 2015).
b. Sputum eosinofil meningkat
c. Eosinofil darah meningkat

11
d. Uji Kulit
Uji Kulit dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen
yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma (Tanjung,
2003).
e. RO dada yaitu patologis paru/komplikasi asma
f. AGD
AGD terjadi pada asma berat pada fase awal terjadi hipoksemia dan
hipokapnia (PCO2 turun) kemudian fase lanjut normocapnia dan
hiperkapnia (PCO2 naik).
g. Foto dada AP dan lateral.
Hiperinflasi paru, diameter anteroposterior membesar pada foto lateral,
dapat terlihat bercak konsolidasi yang tersebar.

2.5.2 Diagnosa Keperawatan Penyakit Asma

Diagnosis keperawatan adalah suatu penilaian klinis mengenai respons


klien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya, baik
yang berlangsung actual maupun potensial. Diagnosis keperawatan bertujuan
untuk mengidentifikasi respon klien individu, keluarga dan komunitas terhadap
situasi yang berkaitan dengan kesehatan.

Setelah mengetahui masalah kesehatan prioritas yang dihadapi klien, kita


memilih masalah apa yang dapat diatasi dengan asuhan keperawatan dan
kemudian menetapkan diagnosis keperawatan (Ali. 2010). Menurut Nurarif dan
Kusuma (2015), diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien asma
adalah sebagai berikut:

1. Bersihan Jalan Napas


a. Pengertian
Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan
membersihkan sekret atau obstruksi jalan nafas untuk mempertahankan
jalan nafas tetap paten.
b. Penyebab

12
(1) Spasme jalan napas
(2) Hipersekresi jalan napas
(3) Disfungsi neuromuskuler
(4) Benda asing dalam jalan napas
(5) Adanya jalan napas buatan
(6) Sekresi yang tertahan
(7) Hiperplasia dinding jalan napas
(8) Proses infeksi
c. Gejala dan Tanda Mayor
(1) Batuk tidak efektif
(2) Tidak mampu batuk
(3) Sputum berlebih
(4) Mengi, wheezing, dan/atau ronchi kering
(5) Mekonium di jalan napas (pada neonatus)

2. Ketidakefektifan pola nafas


a. Pengertian
Pola napas tidak efektif adalah adalah inspirasi dan/atau ekspirasi
yang tidak memberikan ventilasi adekuat.
b. Penyebab
(1) Depresi pusat pernapasan
(2) Hambatan upaya napas (mis. nyeri saat bernapas, kelemahan
otot pernapasan)
(3) Deformitas dinding dada
(4) Deformitas tulang dada
(5) Gangguan neuromuskular
(6) Gangguan neurologis (mis. elektroensefalogram [EEG]
positif, cidera kepala, gangguan kejang)
(7) Imaturitas neurologis
(8) Penurunan energi
(9) Obesitas

13
(10) Posisi tubuh yang menghambat ekspansi paru
(11) Sindrom hipoventilasi
(12) Kerusakan inervasi diafragma (kerusakan saraf C5 keatas)
(13) Cidera pada medula spinalis
(14) Efek agen farmakologis
(15) Kecemasan

c. Gejala dan Tanda Mayor


DS:
(1) Mengeluh sesak (dispnea)

DO:

(1) Penggunaan otot bantu pernapasan


(2) Fase ekspirasi memanjang
(3) Pola napas abnormal (mis. takipnea, bradipnea,
hiperventilasi, kussmaul, cheyne-stokes)
(4) Adanya bunyi napas tambahan (mis. wheezing, rales)

3. Gangguan pertukaran gas


a. Pengertian
Gangguan pertukaran gas adalah kelebihan atau kekurangan
oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran
alveolus-kapiler.
b. Penyebab
(1) Ketidakseimbangan ventilasi-perfusi.
(2) Perubahan membran alveolus-kapiler.
c. Gejala dan Tanda mayor
DS:
(1) Mengeluh sesak
DO:

14
(1) PCO2 meningkat/menurun
(2) PO2 menurun
(3) pH arteri meningkat/menurun
(4) Takikardia
(5) Adanya bunyi napas tambahan (mis. wheezing, rales)

4. Intoleransi Aktivitas
a. Pengertian
Intoleransi aktivitas merupakan diagnosis keperawatan yang
didefinisikan sebagai ketidakcukupan energi untuk melakukan aktivitas
sehari-hari.
b. Penyebab
(1) Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
(2) Tirah baring
(3) Kelemahan
(4) Imobilitas
(5) Gaya hidup monoton
c. Gejala dan Tanda mayor
DS:
(1) Mengeluh lelah

DO:

(1) Frekuensi jantung meningkat > 20% dari kondisi istirahat

5. Ansietas
a. Pengertian
Ansietas merupakan diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai
kondisi emosi dan pengalaman subyektif individu terhadap objek yang

15
tidak jelas dan spesifik akibat antisipasi bahaya yang memungkinkan
individu melakukan Tindakan untuk menghadapi ancaman.
b. Penyebab
(1) Krisis situasional
(2) Kebutuhan tidak terpenuhi
(3) Krisis maturasional
(4) Ancaman terhadap konsep diri
(5) Ancaman terhadap kematian
(6) Kekhawatiran mengalami kegagalan
(7) Disfungsi sistem keluarga
(8) Hubungan orang tua-anak tidak memuaskan
(9) Faktor keturunan (temperamen mudah teragitasi sejak lahir)
(10) Penyalahgunaan zat
(11) Terpapar bahaya lingkungan (mis: toksin, polutan, dan lain-
lain)
(12) Kurang terpapar informasi
c. Gejala dan Tanda Mayor
DS:
(1) Merasa bingung
(2) Merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapi
(3) Sulit berkonsentasi
DO:
(1) Tampak gelisah
(2) Tampak tegang
(3) Sulit tidur

16
2.5.3. Rencana Keperawatan Penyakit Asma

No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


Keperawatan
1. Ketidakefektifan Setelah dilakukan intervensi Manajemen Jalan Napas (I.01011)
bersihan jalan napas keperawatan selama 1x24 Jam Tindakan:
berhubungan dengan maka diharapkan Observasi:
mucus dalam jumlah bersihan jalan napas • Monitor pola napas (frekuensi,
berlebihan, peningkatan membaik dengan kriteria kedalaman, usaha napas)
produksi mucus, hasil: • Monitor bunyi napas tambahan
eksudat dalam alveoli, Bersihan jalan napas (mis. gurgling, mengi,
dan bronkospasme. (L.01001) wheezing, ronchi kering)
• Batuk efektif • Monitor sputum (jumlah, warna,
meningkat aroma).
• Produksi sputum Terapeutik:
menurum • Pertahankan kepatenan jalan
• Wheezing menurun napas dengan headtilt dan chin-
• Dispnea menurun lift (jawthrust jika curiga trauma
• Gelisah menurun servical)
• Frekuensi napas • Posisikan semi-fowler atau
membaik fowler
• Pola napas membaik • Berikan minum hangat
• Lakukan fisioterapi dada, jika
perlu
• Lakukan penghisapan lendir
kurang dari 15 detik
• Lakukan hiperoksigenasi
sebelum penghisapan
endotrakeal
• Keluarkan sumbatan benda pada
dengan forsep McGill

17
• Berikan oksigen, jika perlu.
Edukasi:
• Anjurkan asupan cairan 2000
ml/hari, jika tidak kontraindikasi
• Ajarkan tehnik batuk efektif
Kolaborasi:
• Kolaborasi pemberian
bronkodilator, ekspektoran,
mukolitik, jika perlu
2. Gangguan pertukaran Setelah dilakukan tindakan Pemantauan
gas berhubungan keperawatan 1x24 jam Respirasi (I.01014)
dengan diharaokan pertukaran gas Observasi:
Ketidakseimbangan membaik dengan kriteria hasil: • Monitor frekuensi, irama,
Ventilasi Perfusi • Dispnea menurun • kedalaman dan upaya nafas.
(D.0003) • Bunyi nafas tambahan • Monitor pola nafas
menurun • Monitor adanya sumbatan jalan
• Pusing menurun nafas
• Penglihatan kabur • Auskultasi bunyi nafas
menurun • Monitor nilai AGD
• Gelisah menurun • Monitor hasil xray
• PCO2 membaik Terapeutik
• PO2 membaik • Atur interval pemantauan
• Pola nafas membaik respirasi sesuai dengan kondisi
pasien
• Dokumentasi hasil pemantauan
Edukasi
• Jelaskan tujuan dan prosedur
pemantauan
• Informasi hasil pemantauan

18
3. Intoleransi Aktivitas Setelah dilakukan tindakan Manajemen Energi (I.05170)
berhubungan dengan keperawatan 1x24 jam Observasi:
kelemahan (D.0056) diharapkan toleransi aktivitas • Identifikasi gangguan fungsi
meningkat dengan kriteria tubuh yang mengakibatkan
hasil: kelelahan
• Frekuensi nadi • Monitor kelelahan fisik dan jam
meningkat tidur
• Saturasi oksigen • Monitor lokasi dan
meningkat ketidaknyamanan selama
• Kemudahan dalam melakukan aktivitas.
melakukan aktivitas Terapeutik
sehari-hari meningkat • Sediakan lingkungan nyaman
• Kekuatan otot bagan dan rendah stimulus
atas dan bawah • Lakukan latihan rentang gerak
meningkat. pasif dan aktif
• Keluhan lelah menurun • Berikan aktivitas distraksi yang
• Dispnea saat maupun menenangkan
setelah aktivitas Edukasi:
menurun • Anjurkan tirah baring
• Frekuensi nafas • Anjurkan melakukan aktivitas
membaik secara bertahap
• Ajarkan strategi koping untuk
mengurangi kelelahan.
Kolaborasi:
• Kolaborasi ahli gizi asupan
makanan dan farmakologi
pemberian terapi
4. Ansietas berhubungan Setelah dilakukan intervensi Terapi Relaksasi
dengan keadaan keperawatan selama 1x 24 jam Observasi
penyakit yang diderita.

19
maka ansietas menurun dengan • Identifikasi penurunan tingkat
kriteria hasil : energy, ketidakmampuan
• Verbalisasi berkonsentrasi, atau gejala lain
kebingungan menurun mengganggu kemampuan
• Verbalisasi khawatir kognitif
akibat kondisi yang • Identifikasi teknik relaksasi yang
dihadapi menurun • pernah efektif digunakan
• Perilaku gelisah • Identifikasi kesediaan,
menurun kemampuan, dan penggunaan
• Perilaku tegang teknik sebelumnya
menurun • Periksa ketegangan otot,
• Keluhan pusing frekkuensi nadi, tekanan darah,
menurun dan suhu sebelum dan sesudah
• Anoreksia menurun latihan
• Palpitasi menurun • Monitor respons terhadap terapi
• Diaforesis menurun relaksasi.
• Tremor menurun Terapeutik

• Pucat menurun • Ciptakan lingkungan tenang dan

• Konsentrasi membaik tanpa gangguan dengan

• Pola tidur membaik pencahayaan dan suhu ruang

• Frekuensi pernapasan nyaman, jika memungkinkan

membaik • Berikan informasi tertulis

• Frekeunsi nadi tentang persiapan dan prosedur

membaik Teknik relaksasi

• Tekanan darah • Gunakan pakaian longgar

membaik • Gunakan nada suara lembut

• Kontak mata membaik dengan irama lambat dan


berirama
• Pola berkemih
membaik • Gunakan relaksasi sebagai
strategi
• Orientasi membaik

20
• penunjang dengan analgetik atau
tindakan medis lain, jika sesuai
Edukasi
• Jelaskan tujuan, manfaat,
batasan, dan jenis relaksasi yang
tersedia (mis, music, meditasi,
napas dalam, relaksasi otot
progresif)
• Jelaskan secara rinci intervensi
relaksasi yang dipilih
• Anjurkan mengambil posisi
nyaman
• Anjurkan sering mengulangi atau
melatih teknik yang dipilih
• Demonstrasikan dan latih teknik
relaksasi (mis, napas dalam,
peregangan, atau imajinasi
terbimbing).

2.5.4. Implementasi Keperawatan Penyakit Asma

Implementasi keperawatan adalah pengelolaan dan perwujudan dari


rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Setiadi, 2012
dikutip dari Februanti, 2019). Oleh karena itu, jika intervensi keperawatan yang
telah dibuat dalam perencanaan dilaksanakan atau diaplikasikan pada pasien, maka
tindakan tersebut disebut implementasi keperawatan (Februanti, 2019)

21
2.5.5. Evaluasi Keperawatan Penyakit Asma

Evaluasi keperawatan adalah mengkaji respon pasien setelah dilakukan


intervensi keperawatan dan mengkaji ulang asuhan keperawatan yang telah
diberikan (Deswani, 2009 dikutip dari Febuanti, 2019). Evaluasi keperawatan
adalah kegiatan yang terus menerus dilakukan untuk menentukan apakah rencana
keperawatan efektif dan bagaimana rencana keperawatan dilanjutkan, merevisi
rencana, atau menghentikan rencana keperawatan (Manurung. 2011 dikutip dari
Februanti 2019). Perawat yang telah melakukan implementasi keperawatan, maka
tahap selanjutnya dalam proses keperawatan adalah melakukan evaluasi
keperawatan terhadap tindakan yang telah diberikan. Evaluasi keperawatan
merujuk pada tujuan keperawatan yang telah ditetapkan sesuai jangka waktu yang
dibuat (Februanti, 2019).

Menurut (Nikmatur dan Walid, 2010) jenis evaluasi:

1) Evaluasi formatif
Menyatakan evaluasi yang dilakukan setiap selesai tindakan, berorientasi pada
etiologi.
2) Evaluasi sumatif
Merupakan evaluasi yang dilakukan setelah akhir tindakan keperawatan secara
paripurna, berorientasi pada masalah keperawatan, serta merupakan
rekapitulasi dan kesimpulan status kesehatan klien sesuai dengan kerangka
waktu yang ditetapkan.

Untuk memudahkan perawat mengevaluasi atau memantau perkembangan


klien, digunakan komponen SOAP atau SOAPIE atau SOAPIER Penggunaanya
tergantung dari kebijakan setempat, yang dimaksud SOAPIER yaitu: Subjektif
Data, Objektif Data, Analisa atau Assesment, Planing. Implementasi, Evaluasi, Re-
Asseement.

1) Data subjektif
Perawat menuliskan keluhan pasien yang masih dirasakan setelah dilakukan
tindakan keperawatan.

22
2) Data objektif
Data objektif adalah data berdasarkan hasil pengukuran atau observasi perawat
secara langsung kepada klien, dan yang dirasakan klien setelah dilakukan
tindakan keperawatan.
3) Analisa data
Interpretasi dari data subjektif dan data objektif. Analisa merupakan suatu
masalah atau diagnosa keperawatan yang masih terjadi atau juga dapat
dituliskan masalah atau diagnosis baru yang terjadi akibat perubahan status
kesehatan klien yang telah teridentifikasi datanya dalam data subjektif dan
objektif.
4) Planning
Perencanaan keperawatan yang akan dilakukan, dihentikan, dimodifikasi, atau
ditambahkan dari rencana tindakan keperawatan yang telah ditentukan
sebelumnya.
5) Implementasi
Merupakan suatu tindakan keperawatan yang dilakukan sesuai dengan instruksi
yang telah teridentifikasi dalam komponen P (perencanaan), tuliskan tanggal
dan jam perencanaan.
6) Evaluasi
Evaluasi adalah respon klien setelah dilakukan tindakan keperawatan.
7) Reassessment
Reassessment adalah pengkajian ulang yang dilakukan terhadap perencanaan
setelah diketahui hasil evaluasi, apakah dari rencana tindakan perlu dilanjutkan,
dimodifikasi, atau dihentikan.

23
BAB III

PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Asma adalah kondisi di mana saluran pernapasan mengalami penyempitan sementara
akibat hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu yang menyebabkan peradangan. Kondisi ini
bersifat berulang tetapi dapat pulih (reversible) dan di antara episode penyempitan terdapat periode
dengan ventilasi normal. Penyempitan ini dipicu oleh faktor lingkungan seperti perubahan cuaca,
debu, asap, bau, infeksi saluran napas, serta faktor-faktor lain seperti emosi, kelelahan fisik, dan
alergi.

3.2. Saran
Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu saran

dan kritik yang membangun sangat dibutuhkan untuk menyempurnakan makalah ini. Semoga

makalah ini dapat bermanfaat dan dapat bersifat membangun bagi pembaca pada

umumnya.

24
DAFTAR PUSTAKA

DI RUMAH SAKIT KHUSUS, J. S., CHAIRUL, A. S., P05120219003, N. I. M., & D III, J. K.
P. KARYA TULIS ILMIAH.

SUSETHA, M. (2020). Asuhan Keperawatan pada Anak Asma bronkial dengan Ketidakefektifan
bersihan Jalan napas di Ruang Melati Rumah Sakit Umum Daerah Ciamis.

25

Anda mungkin juga menyukai