Makalah Penyakit Asma
Makalah Penyakit Asma
DISUSUN OLEH :
AYUANDA LESTARI
HADIWIJAYA
DOSEN PEMBIMBING :
TAHUN 2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan limpahan rahmatNya.
Sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul ”Penyakit Asma” Tugas ini
saya susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Anak.
Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar - besarnya atas
bimbingan dosen mata kuliah Keperawatan Anak. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada
pihak - pihak yang turut membantu dalam pembuatan makalah ini, saya menyadari sepenuhnya
bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu saya
mengharapkan kritik dan saran semua pihak untuk menyempurnakan makalah ini. Akhir kata saya
mengucapkan terimakasih dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Penulis
2
DAFTAR ISI
BAB I .............................................................................................................................................. 4
PENDAHULUAN .......................................................................................................................... 4
1.3. Tujuan............................................................................................................................... 5
BAB II............................................................................................................................................. 6
PEMBAHASAN ............................................................................................................................. 6
PENUTUP..................................................................................................................................... 24
3
BAB I
PENDAHULUAN
Anak merupakan generasi penerus bangsa. Awal kokoh atau rapuhnya suatu negara
dapat dilihat dari kualitas para generasi penerusnya. Kesehatan merupakan salah satu faktor
utama dan sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Ketika kondisi
kesehatan anak kurang sehat, maka akan berdampak pada berbagai hal yang berkaitan
dengan pertumbuhan, perkembangan, dan terhadap berbagai aktivitas yang akan
dilakukannya (Inten & Permatasari, 2019).
Masa kanak-kanak adalah waktu yang relatif sehat dan juga waktu untuk mengenal
dunia namun pada masa ini jarang anak yang tidak mengalami sakit dan juga
mempertahankan kesehatan anak, pada akhirnya merupakan tanggung jawab orang tua.
Berbagai macam penyakit yang dapat menyerang kesehatan atau imun pada anak yaitu
salah satunya penyakit asma. Angka kejadian penyakit alergi akhir-akhir ini meningkat
sejalan dengan perubahan pola hidup masyarakat modern, baik polusi lingkungan maupun
zat-zat yang ada di dalam makanan. Salah satu penyakit alergi yang banyak terjadi di
masyarakat adalah asma (Mangguang, 2016).
4
Tingkat keparahan dan frekuensi setiap orang yang bervariasi, yang disebabkan
peradangan saluran pernafasan dan mempengaruhi sensitivitas ujung saraf di saluran napas
sehingga mudah. menimbulkan iritasi (Wahyudi Devianti, et al 2018). Menurut perkiraan
WHO terbaru yang dirilis pada Desember 2016, terdapat 383.000 kematian akibat asma
pada 2015 (The Global Asthma Report, 2018). Prevalensi penyakit ini dilaporkan dari
tahun ke tahun terus meningkat di seluruh dunia. Michel melaporkan bahwa prevalensi
asma pada anak sebesar 8-10%, orang dewasa 3-5% dan dalam 10 tahun terakhir meningkat
sampai 50% di seluruh dunia (Sihombing et al., 2010).
1.2.Rumusan Masalah
a. Apa pengertian penyakit asma ?
b. Bagaimana etiologi terkait penyakit asma ?
c. Bagaimana patofisiologi penyakit asma ?
d. Bagaimana menifestasi klinis penyakit asma ?
e. Bagaimana Asuhan Keperawatan terkait penyakit asma ?
1.3.Tujuan
a. Untuk mengetahui penyakit asma ?
5
BAB II
PEMBAHASAN
Tanda dan gejala asma yang biasa sering muncul adalah mengi, peningkatan
frekuensi pernafasan, hyperventilation, hyperinflasi, fluktuasi kadar CO2.
Hyperventilation yang diikuti dengan kecemasan merupakan gejala yang sering ditemukan
pada penderita asma, sehingga mengakibatkan bronkokonstriksi jalan nafas (Holloway,
Elizabeth A. Wes, 2007). Hyperventilation merupakan suatu kondisi dimana CO2 dalam
darah dan alveoli berkurang sehingga kompensasi jalan nafas mengalami konstriksi
bertujuan untuk menghindari kehilangan CO secara berlebih (Bruton, 2005). Selain itu
penebalan dinding jalan nafas karena remodelling jalan nafas meningkat dengan tajam dan
berkontribusi terhadap obstruksi aliran udara. Hal ini akan menyebabkan terjadinya
penyempian bronkus sehingga terjadilah sesak napas (Melastuti & Husna, 2015).
6
pernapasan, pembengkakan selaput lendir, dan pembentukan timbunan lendir
yang berlebihan.
b. Asma kardial Asma yang timbul akibat adanya kelainan jantung. Gejala asma
kardial biasanya terjadi pada malam hari, disertai sesak napas yang hebat.
Kejadian ini disebut nocturnal paroxymul dispnea. Biasanya terjadi pada saat
penderita sedang tidur.
a. Asma ekstrinsik/alergi
Asma yang disebabkan oleh alergen yang diketahui sudah terdapat semenjak anak-anak
seperti alergi terhadap protein, serbuk sari bulu halus, binatang, dan debu. Asma
ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik terhadap
alergi. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti yang disebutkan
di atas, maka akan terjadi serangan asma ekstrinsik.
b. Asma instrinsik/idopatik
Asma yang tidak ditemukan faktor pencetus yang jelas, tetapi adanya faktor-faktor non
spesifik seperti flu, latihan fisik atau emosi sering memicu serangan asma. Asma ini
sering muncul/timbul sesudah usia 40 tahun setelah menderita infeksi sinus cabang
trancheobronkial Srerangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan
berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema.
Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan.
c. Asma campuran
Asma yang terjadi/timbul karena adanya komponen ekstrinsik dan intrinsik.
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya
serangan asma:
a. Faktor predisposisi
7
Genetik Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui
bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi biasanya
mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi
ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan
foktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.
b. Faktor presipitasi
Alergen Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu
1) Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan Contohnya debu, bulu binatang,
serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi
2) Ingestan, yang masuk melalui mulut Contohnya makanan dan obat-obatan
3) Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit Contohnya perhiasan, logam dan
jam tangan
c. Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma.
Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma.
Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim
kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan
debu.
d. Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa
memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus
segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguan emosi perlu diberi
naschat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi
maka gejala asmanya belum bisa diobati..
8
f. Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat Sebagian besar penderita asma akan mendapat
serangan jika melakukan aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling
mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi
segera setelah selesai aktifitas tersebut.
9
penebalan dinding jalan nafas karena remodelling jalan nafas meningkat dengan tajam dan
berkontribusi terhadap obstruksi aliran udara. Hal ini akan menyebabkan terjadinya
penyempian bronkus sehingga terjadilah sesak napas (Melastuti & Husna, 2015).
2.5.1 Pengkajian
Anamnesa
a. Identifikasi Pasien
Nama, umur, tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, agama, tanggal
dan jam masuk rumah sakit, nomor register, diagnosa medis.
b. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan Utama
Sesak Nafas, Batuk terus-menerus
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Biasanya pasien mengeluh sesak nafas berat, batuk terus menerus,
dan tidak nafsu makan. Biasanya pasien terlihat sesak, terdapat bunyi
tambahan ronkhi dan wheezing, pasien terlihat gelisah dengan
kondisinya, mukosa bibir kering, pasien terlihat lemas dan letih.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Penyakit yang biasanya pernah diderita pada masa lalu seperti
adanya riwayat TBC, dan penggunaan obat obatan.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Kemungkinan ada anggota keluarga yang menderita penyakit
penyakit keturunan seperti hipertensi, DM, Jantung dan riwayat
penyakit menular seperti TB, HIV, dll.
c. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Ngastiyah (2013) dalam (Pery Abenita, 2019), ada beberapa
pemeriksaan diagnostik bagi para penderita asma, antara lain:
a. Uji faal paru
10
Uji faal paru dilakukan untuk menentukan derajat obstruksi, menilai hasil
provokasi bronkus, menilai hasil pengobatan dan mengikuti perjalanan
penyakit. Alat yang digunakan untuk uji faal paru adalah peak flow meter,
caranya anak disuruh meniup flow meter beberapa kali (sebelumnya
menarik napas dalam melalui mulut kemudian menghembuskan dengan
kuat) dan dicatat hasil.
b. Foto toraks
Foto toraks dilakukan terutama pada anak yang baru berkunjung pertama
kali di poliklinik, untuk menyingkirkan kemungkinan ada penyakit lain.
Pada pasien asma yang telah kronik akan terlihat jelas adanya kelainan
berupa hiperinflasi dan atelektasis.
c. Pemeriksaan darah
Pemeriksaan darah pada pasien asma biasanya hasilnya akan terdapat
cosinofilia pada darah tepi dan sekret hidung. Bila tidak cosinofilia
kemungkinan bukan asma. Selain itu juga, dilakukan uji tuberkulin dan uji
kulit dengan menggunakan alergen.
a. Pirometer
Pirometer dilakukan sebelum dan sesudah bronkodilator hirup
(nebulizer/inhaler), positif jika peningkatan VEP/KVP >20%.
Spirometri dapat digunakan untuk diagnosis dan memantau gejala
pernapasan dan penyakit, persiapan operasi, penelitian epidemiologi
serta penelitian lain. Pengukuran faal paru digunakan untuk menilai
obstruksi jalan napas, reversibilitas kelainan faal paru dan variabilitas
faal paru sebagai penilaian tidak langsung hiperesponsif jalan napas
(Azhar & Berawi, 2015).
b. Sputum eosinofil meningkat
c. Eosinofil darah meningkat
11
d. Uji Kulit
Uji Kulit dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen
yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma (Tanjung,
2003).
e. RO dada yaitu patologis paru/komplikasi asma
f. AGD
AGD terjadi pada asma berat pada fase awal terjadi hipoksemia dan
hipokapnia (PCO2 turun) kemudian fase lanjut normocapnia dan
hiperkapnia (PCO2 naik).
g. Foto dada AP dan lateral.
Hiperinflasi paru, diameter anteroposterior membesar pada foto lateral,
dapat terlihat bercak konsolidasi yang tersebar.
12
(1) Spasme jalan napas
(2) Hipersekresi jalan napas
(3) Disfungsi neuromuskuler
(4) Benda asing dalam jalan napas
(5) Adanya jalan napas buatan
(6) Sekresi yang tertahan
(7) Hiperplasia dinding jalan napas
(8) Proses infeksi
c. Gejala dan Tanda Mayor
(1) Batuk tidak efektif
(2) Tidak mampu batuk
(3) Sputum berlebih
(4) Mengi, wheezing, dan/atau ronchi kering
(5) Mekonium di jalan napas (pada neonatus)
13
(10) Posisi tubuh yang menghambat ekspansi paru
(11) Sindrom hipoventilasi
(12) Kerusakan inervasi diafragma (kerusakan saraf C5 keatas)
(13) Cidera pada medula spinalis
(14) Efek agen farmakologis
(15) Kecemasan
DO:
14
(1) PCO2 meningkat/menurun
(2) PO2 menurun
(3) pH arteri meningkat/menurun
(4) Takikardia
(5) Adanya bunyi napas tambahan (mis. wheezing, rales)
4. Intoleransi Aktivitas
a. Pengertian
Intoleransi aktivitas merupakan diagnosis keperawatan yang
didefinisikan sebagai ketidakcukupan energi untuk melakukan aktivitas
sehari-hari.
b. Penyebab
(1) Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
(2) Tirah baring
(3) Kelemahan
(4) Imobilitas
(5) Gaya hidup monoton
c. Gejala dan Tanda mayor
DS:
(1) Mengeluh lelah
DO:
5. Ansietas
a. Pengertian
Ansietas merupakan diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai
kondisi emosi dan pengalaman subyektif individu terhadap objek yang
15
tidak jelas dan spesifik akibat antisipasi bahaya yang memungkinkan
individu melakukan Tindakan untuk menghadapi ancaman.
b. Penyebab
(1) Krisis situasional
(2) Kebutuhan tidak terpenuhi
(3) Krisis maturasional
(4) Ancaman terhadap konsep diri
(5) Ancaman terhadap kematian
(6) Kekhawatiran mengalami kegagalan
(7) Disfungsi sistem keluarga
(8) Hubungan orang tua-anak tidak memuaskan
(9) Faktor keturunan (temperamen mudah teragitasi sejak lahir)
(10) Penyalahgunaan zat
(11) Terpapar bahaya lingkungan (mis: toksin, polutan, dan lain-
lain)
(12) Kurang terpapar informasi
c. Gejala dan Tanda Mayor
DS:
(1) Merasa bingung
(2) Merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapi
(3) Sulit berkonsentasi
DO:
(1) Tampak gelisah
(2) Tampak tegang
(3) Sulit tidur
16
2.5.3. Rencana Keperawatan Penyakit Asma
17
• Berikan oksigen, jika perlu.
Edukasi:
• Anjurkan asupan cairan 2000
ml/hari, jika tidak kontraindikasi
• Ajarkan tehnik batuk efektif
Kolaborasi:
• Kolaborasi pemberian
bronkodilator, ekspektoran,
mukolitik, jika perlu
2. Gangguan pertukaran Setelah dilakukan tindakan Pemantauan
gas berhubungan keperawatan 1x24 jam Respirasi (I.01014)
dengan diharaokan pertukaran gas Observasi:
Ketidakseimbangan membaik dengan kriteria hasil: • Monitor frekuensi, irama,
Ventilasi Perfusi • Dispnea menurun • kedalaman dan upaya nafas.
(D.0003) • Bunyi nafas tambahan • Monitor pola nafas
menurun • Monitor adanya sumbatan jalan
• Pusing menurun nafas
• Penglihatan kabur • Auskultasi bunyi nafas
menurun • Monitor nilai AGD
• Gelisah menurun • Monitor hasil xray
• PCO2 membaik Terapeutik
• PO2 membaik • Atur interval pemantauan
• Pola nafas membaik respirasi sesuai dengan kondisi
pasien
• Dokumentasi hasil pemantauan
Edukasi
• Jelaskan tujuan dan prosedur
pemantauan
• Informasi hasil pemantauan
18
3. Intoleransi Aktivitas Setelah dilakukan tindakan Manajemen Energi (I.05170)
berhubungan dengan keperawatan 1x24 jam Observasi:
kelemahan (D.0056) diharapkan toleransi aktivitas • Identifikasi gangguan fungsi
meningkat dengan kriteria tubuh yang mengakibatkan
hasil: kelelahan
• Frekuensi nadi • Monitor kelelahan fisik dan jam
meningkat tidur
• Saturasi oksigen • Monitor lokasi dan
meningkat ketidaknyamanan selama
• Kemudahan dalam melakukan aktivitas.
melakukan aktivitas Terapeutik
sehari-hari meningkat • Sediakan lingkungan nyaman
• Kekuatan otot bagan dan rendah stimulus
atas dan bawah • Lakukan latihan rentang gerak
meningkat. pasif dan aktif
• Keluhan lelah menurun • Berikan aktivitas distraksi yang
• Dispnea saat maupun menenangkan
setelah aktivitas Edukasi:
menurun • Anjurkan tirah baring
• Frekuensi nafas • Anjurkan melakukan aktivitas
membaik secara bertahap
• Ajarkan strategi koping untuk
mengurangi kelelahan.
Kolaborasi:
• Kolaborasi ahli gizi asupan
makanan dan farmakologi
pemberian terapi
4. Ansietas berhubungan Setelah dilakukan intervensi Terapi Relaksasi
dengan keadaan keperawatan selama 1x 24 jam Observasi
penyakit yang diderita.
19
maka ansietas menurun dengan • Identifikasi penurunan tingkat
kriteria hasil : energy, ketidakmampuan
• Verbalisasi berkonsentrasi, atau gejala lain
kebingungan menurun mengganggu kemampuan
• Verbalisasi khawatir kognitif
akibat kondisi yang • Identifikasi teknik relaksasi yang
dihadapi menurun • pernah efektif digunakan
• Perilaku gelisah • Identifikasi kesediaan,
menurun kemampuan, dan penggunaan
• Perilaku tegang teknik sebelumnya
menurun • Periksa ketegangan otot,
• Keluhan pusing frekkuensi nadi, tekanan darah,
menurun dan suhu sebelum dan sesudah
• Anoreksia menurun latihan
• Palpitasi menurun • Monitor respons terhadap terapi
• Diaforesis menurun relaksasi.
• Tremor menurun Terapeutik
20
• penunjang dengan analgetik atau
tindakan medis lain, jika sesuai
Edukasi
• Jelaskan tujuan, manfaat,
batasan, dan jenis relaksasi yang
tersedia (mis, music, meditasi,
napas dalam, relaksasi otot
progresif)
• Jelaskan secara rinci intervensi
relaksasi yang dipilih
• Anjurkan mengambil posisi
nyaman
• Anjurkan sering mengulangi atau
melatih teknik yang dipilih
• Demonstrasikan dan latih teknik
relaksasi (mis, napas dalam,
peregangan, atau imajinasi
terbimbing).
21
2.5.5. Evaluasi Keperawatan Penyakit Asma
1) Evaluasi formatif
Menyatakan evaluasi yang dilakukan setiap selesai tindakan, berorientasi pada
etiologi.
2) Evaluasi sumatif
Merupakan evaluasi yang dilakukan setelah akhir tindakan keperawatan secara
paripurna, berorientasi pada masalah keperawatan, serta merupakan
rekapitulasi dan kesimpulan status kesehatan klien sesuai dengan kerangka
waktu yang ditetapkan.
1) Data subjektif
Perawat menuliskan keluhan pasien yang masih dirasakan setelah dilakukan
tindakan keperawatan.
22
2) Data objektif
Data objektif adalah data berdasarkan hasil pengukuran atau observasi perawat
secara langsung kepada klien, dan yang dirasakan klien setelah dilakukan
tindakan keperawatan.
3) Analisa data
Interpretasi dari data subjektif dan data objektif. Analisa merupakan suatu
masalah atau diagnosa keperawatan yang masih terjadi atau juga dapat
dituliskan masalah atau diagnosis baru yang terjadi akibat perubahan status
kesehatan klien yang telah teridentifikasi datanya dalam data subjektif dan
objektif.
4) Planning
Perencanaan keperawatan yang akan dilakukan, dihentikan, dimodifikasi, atau
ditambahkan dari rencana tindakan keperawatan yang telah ditentukan
sebelumnya.
5) Implementasi
Merupakan suatu tindakan keperawatan yang dilakukan sesuai dengan instruksi
yang telah teridentifikasi dalam komponen P (perencanaan), tuliskan tanggal
dan jam perencanaan.
6) Evaluasi
Evaluasi adalah respon klien setelah dilakukan tindakan keperawatan.
7) Reassessment
Reassessment adalah pengkajian ulang yang dilakukan terhadap perencanaan
setelah diketahui hasil evaluasi, apakah dari rencana tindakan perlu dilanjutkan,
dimodifikasi, atau dihentikan.
23
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Asma adalah kondisi di mana saluran pernapasan mengalami penyempitan sementara
akibat hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu yang menyebabkan peradangan. Kondisi ini
bersifat berulang tetapi dapat pulih (reversible) dan di antara episode penyempitan terdapat periode
dengan ventilasi normal. Penyempitan ini dipicu oleh faktor lingkungan seperti perubahan cuaca,
debu, asap, bau, infeksi saluran napas, serta faktor-faktor lain seperti emosi, kelelahan fisik, dan
alergi.
3.2. Saran
Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu saran
dan kritik yang membangun sangat dibutuhkan untuk menyempurnakan makalah ini. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat dan dapat bersifat membangun bagi pembaca pada
umumnya.
24
DAFTAR PUSTAKA
DI RUMAH SAKIT KHUSUS, J. S., CHAIRUL, A. S., P05120219003, N. I. M., & D III, J. K.
P. KARYA TULIS ILMIAH.
SUSETHA, M. (2020). Asuhan Keperawatan pada Anak Asma bronkial dengan Ketidakefektifan
bersihan Jalan napas di Ruang Melati Rumah Sakit Umum Daerah Ciamis.
25