LP Askep Retinopati
LP Askep Retinopati
RETINOPATY DIABETIK
Nama : Faadiyah
Nim : G1B121049
Nama Pembimbing :
A. Retinopati Diabetik
1. Definisi
Renitopati Diabetik (RD) merupakan suatu kondisi dimana
terjadi kerusakan pembuluh darah retina yang bersifat progresif dan
berlangsung secara kronis. Retinopati diabetik merupakan komplikasi
penyakit diabetes melitus dimana insidensinya dihubungka dengan
kadar gula darah sewaktu yang tidak terkontrol (Ilery et al., 2014). RD
memiliki gambaran patologi yang khas yaitu berupa kerusakan pada
bagian retina mata yang akan menyebabkan gangguan pengelihatan
hingga kebutaan (Saiyar, 2017).
Retinopati diabetik adalah suatu keadaan secara progresif pada
retina mata, dengan memiliki ciri yaitu terdapat perubahan
mikrovaskular yang dapat menimbulkan iskemia retina, edema makula
dan neovaskularisasi retina. RD menyebabkan tanda-tanda seperti
pengelihatan kurang jelas , pada penglihatan terdapat bintik- bintik
hitam, dan malam hari penglihatan memburuk. Hal tersebut menjadi
masalah kesehatan yang patut diwaspadai (Wibawa et al., 2018)
2. Klasifikasi
Retinopati diabetik dapat dikelompokan menjadi 2,
berdasarkan gambaran pada retina, yaitu sebagai berikut (Saiyar,
2017) :
3. Etiologi
Pada penelitian sebelumnya, retinopati diabetik disebabkan oleh
karena kondisi hiperglikemia dalam jangka waktu yang lama, sehingga
terjadi gangguan endotel vaskuler. Faktor risiko untuk terjadinya
retinopati diabetik diantaranya menurut Ilery (2014):
a. Tipe diabetes yang diderita pasien
Pada pasien DM tipe 2 di atas usia 30 yang
mengalami diabetes kurang dari 5 tahun, 40% dari
pasien yang menggunakan insulin dan 24% dari
mereka yang tidak menggunakan insulin mengalami
retinopati. Angka ini meningkat menjadi 84% dan
53%, masing-masing, ketika durasi diabetes yang
dialami selama lebih dari 19 tahun. Retinopati diabetik
proliferatif berkembang pada 2% pasien DM tipe 2
yang menderita diabetes selama kurang dari 5 tahun
dan pada 25% pasien yang menderita diabetes selama
25 tahun atau lebih (Flaxel et al., 2020).
b. Kontrol gula darah sewaktu
Hiperglikemia merupakan keadaan proinflamasi,
meningkatkan sintesis nitrit oksida (iNOS), leukotrien,
dan cyclooxigenase-2 (COX2). Respons inflamasi
memperburuk proses inflamasi pada pathway lainnya
melalui sitokin, adhesi molekul, sinyal VEGF, reseptor
AGE, dan perubahan regulasi nitric oxide. Beberapa
obat anti-inflamasi seperti intravitreal triamcinolone
acetonide (IVTA) dan obat anti-inflamasi nonsteroid
dilaporkan dapat menurunkan aktivasi VEGF,
menormalisasi permeabilitas endotel, menurunkan
apoptosis dan leukostasis, dan meningkatkan tajam
penglihatan. AntiTNF α dalam proses penelitian fase
III untuk menurunkan ketebalan makula (Pb et al.,
2019).
Sebagai tambahan, angka kejadian retinopati diabetik juga
dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya umur, jenis
kelamin, hipertensi, dislipidemia, lama menderita DM (Made et
al., 2013)
a. Umur
Kejadian RD mengalami peningkatan seiring
bertambahnya usia. Pada pasien umur 18-44 tahun
lebih berisiko sebanyak 4% , pada mereka yang berusia
45-64 tahun menderita diabetes sebanyak 17%, dan di
antara mereka yang berusia 65 tahun ke atas, 25%
menderita diabetes (Flaxel et al., 2020).
b. Hipertensi
Hipertensi merupakan salah faktor risiko yang
berpengaruh dalam perkembangan dan atau
memburuknya retinopati diabetik. Tekanan darah
meningkat dapat menyebabkan stress endotel dengan
proses pelepasan VEGF yang mengubah autoregulasi
retina, menyebabkan peningkatan pada tekanan perfusi
dan cedera. Hipertensi berperan setiap tahap
merugikan retinopati diabetik dan dalam pengendalian
tekanan darah yang ketat mampu mengurangi risiko
komplikasi dari diabetes mata (Utami et al., 2017).
Hipertensi dapat mengakibatkan kerusakan pada
pembuluh di retina yaitu di daerah belakang mata.
Tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh untuk
menyuplai darah ke retina. Kejadian ini dapat
menyebabkan adanya perdarahan di mata, penglihatan
menjadi kabur dan kehilangan lengkap visi
(Rahmawati & Amiruddin, 2017).
c. Kontrol Lipid Darah
Obat-obatan yg digunakan untuk menurunkan
kadar lemak dalam tubuh memiliki efek positif
terhadap progesivitas retinopati diabetik. Penelitian
terkini menunjukan obat obatan ini memiliki efek
protektif pada progresifitas RD dan mencegah
terjadinya edema makula pada pasien DM (Shi et al.,
2018).
d. Durasi Diabetes Penderita
Durasi diabetes merupakan faktor risiko utama
yang terkait dengan perkembangan retinopati diabetik.
Setelah 5 tahun, sekitar 25% pasien tipe 1 akan
mengalami retinopati. Setelah 10 tahun, hampir 60%
akan mengalami retinopati, dan setelah 15 tahun, 80%
akan mengalami retinopati. Dalam Studi Epidemiologi
Wisconsin tentang Retinopati Diabetik (WESDR)
untuk pasien 30 dan lebih muda, retinopati diabetik
proliferatif (PDR), bentuk penyakit yang paling
mengancam penglihatan, terdapat pada sekitar 50%
pasien tipe 1 yang menderita penyakit ini selama 20
tahun. Dalam Studi Mata Latino Los Angeles
(LALES) dan di Proyecto VER (Visi, Evaluasi dan
Penelitian), 18% peserta dengan diabetes lebih dari 15
tahun memiliki PDR (Flaxel et al., 2020). Makin lama
menderita diabetes mengakibatkan makin bertambah
risiko untuk terkena retinopati (Manullang et al.,
2016).
e. Kontrol Kadar Gula darah sewaktu
Kontrol kadar gula darah sewaktu dipengaruhi
oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu obesitas,
perubahan gaya hidup, pola makan yang salah, obat-
obatan yang mempengaruhi kadar glukosa darah,
aktivitas fisik yang kurang, kehamilan, perokok dan
stress (Ikhwan et al., 2018).
Obesitas meningkatkan perkembangan pada
retinopati diabetik. Penumpukan lemak yang berlebihan
karena adanya suatu ketidak seimbangan antara masukan
dan pengeluaran makanan dapat menyebabkan resistensi
insulin. Penentuan massa tubuh sebagai salah satu faktor
risiko kejadian retinopati diabetik dapat ditentukan
berdasarkan IMT. Indeks massa tubuh (IMT) adalah suatu
indeks yang sering digunakan untuk menghitung massa
tubuh, dihitung dengan cara membagi berat badan dalam
kilogram dengan kuadrat tinggi dalam meter (Aprian et al.,
2021)
Keadaan yang dapat memicu stres dipengaruhi oleh
gaya hidup, tekanan hidup, dan penyakit yang sedang
diderita. Stres merupakan respon tubuh terhadap tuntutan
yang berlebih yang tidak dapat ditolerasi oleh tubuh dan
bersifat tidak spesifik (Gresty N, 2017). Pada kondisi
stress terjadi peningkatan hormon stres seperti glukagon,
epinefrin, norepinefin, kortisol dan hormon pertumbuhan
(Rsud et al., 2020). Peningkatan kortisol menyebabkan
resistensi insulin dan penurunan sel ß pankreas, sehingga
terjadi perubahan metabolism glukosa yang menyebabkan
peningkatan kadar glukosa darah (Kamba et al., 2016).
Faktor lain yang meyebabkan kondisi hiperglikemi
adalah penggunaan obat steroid jangka panjang.
Penggunaan kortikosteroid eksogen berhubungan dengan
resistensi insulin pada pasien dengan atau tanpa kondisi
diabetes sebelumnya (Cheng, 2013). Peningkatan kadar
gula darah sewaktu disebabkan oleh gangguan membawa
glukosa ke dalam sel otot akibat adanya peningkatan
steroid. Peningkatan steroid juga menyebabkan adanya
gangguan pengambilan glukosa, sehingga akan
meningkatkan kadar glukosa dalam darah (Tamez-Pérez,
2015) .
4. Manifestasi Klinis
Retinopati diabetik biasanya asimtomatis untuk jangka waktu
yang lama. Hanya pada stadium akhir dengan adanya keterlibatan
macular atau hemorrhages vitreus maka pasien akan menderita
kegagalan visual dan buta mendadak. Gejala klinis retinopati diabetik
proliferatif dibedakan menjadi dua yaitu gejala subjektif dan gejala
obyektif.
Gejala Subjektif yang dapat dirasakan :
• Kesulitan membaca
• Penglihatan kabur disebabkan karena edema macula
• Penglihatan ganda
• Penglihatan tiba-tiba menurun pada satu mata
• Melihat lingkaran-lingkaran cahaya jika telah terjadi perdarahan
vitreus
• Melihat bintik gelap & cahaya kelap-kelip
6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan dalam mendiagnosa
dan untuk menyingkirkan diagnosa banding adalah sebagai berikut:
a. Pemeriksaan Optical Coherence Tomography (OCT)
Optical Coherence Tomography (OCT) Suatu teknik pencitraan non-
kontak dan noninvasif yang bekerja memperlihatkan gambaran retina,
koroid, saraf optik, lapisan serat saraf retina, dan struktur anterior mata.
Proses OCT mirip dengan B-scan ultrasound tetapi OCT dengan cara
menggunakan gelombang cahaya, bukan dengan gelombang suara. OCT
menghasilkan gambaran potong lintang dengan resolusi tinggi dan real-
time maka disebut juga biopsi optik. OCT bekerja melokalisasi suatu lesi
patologis dan ataupun mempresentasikan kedalaman, luas dan ketebalan
lesi. OCT mampu mendeteksi suatu penyakit makula, seperti oklusi vena
retina,age-related macular degeneration, dan retinopati diabetik
(Sitompul, 2016).
7. Penatalaksana
8. Komplikasi
Keterlambatan dalam identifikasi retinopati diabetik dapat
mengakibatkan komplikasi kebutaan (sight threatening DR). (Arsyad, 2017)
1.Pengkajian keperawatan
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan
suatu proses pengumpulan data yang sistematis dari berbagai sumber untuk
mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien. Tahap pengkajian
merupakan dasar utama dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan
kebutuhan klien. Oleh karena itu pengkajian yang benar, akurat, lengkap sangat
penting dalam merumuskan suatu diagnosis keperawatan (Debora, 2013). Pada
pasien dengan ketidakstabilan kadar glukosa darah perawat harus mengkaji data
mayor dan minor yang tercantum dalam buku Standar Diagnosa Keperawatan
(PPNI, 2017). Data dibagi menjadi dua yaitu tanda dan gejala mayor hiperglikemi
serta tanda dan gejalan mayor hipoglikemi yang masing - masing memiliki data
mayor dan minor serta dilihat dari data subjektif dan data objektif. Tanda dan
gejala mayor hiperglikemia berupa data sebjektif meliputi pasien mengatakan 35
lelah atau lesu, sedangkan data objektifnya. Tanda dan gejala mayor
hiperglikemia berupa data subjektif meliputi pasien mengatakan lelah atau lesu,
sedangkan data objektifnya meliputi kadar glukosa dalam darah/urin tinggi. Tanda
dan gejala minor hiperglikemi berupa data subjektif meliputi pasien mengatakana
mulut kering, haus meningkat, sedangkan data objektifnya meliputi jumlah urin
meningkat.Tanda dan gejala mayor hipoglikemia berupadta subjektif meliputi
pasien mengatakan mengantuk, pusing, sedangkan data objektifnya meliputi
gangguan kordinasi, kadar glukosa dalam darah/urin rendah.Tanda dan gejala
minor hipoglikemia berupa data subjektif meliputi palpitasi, mengeluh lapar
sedangkan data objektifnya meliputi gemetar kesadaran menurun, perilaku aneh,
sulit bicara, dan berkeringat (PPNI, 2017).
2.Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai respon pasien
terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialami baik secara
aktual maupun potensial. Diagnosa keperawatan bertujuan untuk mengidentifikasi
respons pasien terhadap situasi yang berkaitan dengan kesehatan (PPNI, 2017).
Diagnosa keperawatan dibagi menjadi dua jenis, yaitu diagnosa negatif dan
diagnosa positif. Diagnosis negatif menunjukkan bahwa pasien dalam kondisi
sakit atau berisiko atau berisiko mengalami sakit sehingga penegakan diagnosa ini
akan mengarahkan pemberian intervensi keperawatan yang bersifat penyembuhan,
pemulihan dan pencegahan. Diagnosis negatif terdiri dari diagnosis aktual dan
diagnosis risiko. Diagnosis positif menunjukkan bahwa pasien dalam kondisi
sehat dan dapat mencapai kondisi yang lebih sehat atau optimal. Diagnosis positif
juga disebut dengan diagnosis promosi kesehatan (PPNI, 2017). Diagnosis
keperawatan dalam penelitian ini yaitu diagnosis aktual. Diagnosis ini
menggambarkan respons pasien terhadap kondisi kesehatan atau proses
kehidupannya yang menyebabkan pasien mengalami masalah kesehatan.
Tanda/gejala mayor dan minor dapat ditemukan dan divalidasi pada pasien.
Diagnosa keperawatan memiliki dua komponen utama yaitu masalah (problem)
atau label diagnosa dan indicator diagnostik yang terdiri dari penyebab (etiology)
dan tanda (sign) dan gejala (symptom) (PPNI, 2017). Masalah (problem)
merupakan label diagnosis keperawatan yang menggambarkan inti dari respons
pasien terhadap kondisi kesehatan atau proses kehidupannya. Label diagnosis
terdiri atas deskriptor atau penjelasan dan fokus diagnostik. Tidak efektif
merupakan deskriptor, sedangkan bersihan jalan napas merupakan fokus
diagnostik. Penyebab (etiologi) merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi
perubahan status kesehatan. Etiologi dapat mencangkup empat kategori yaitu
fisiologis, biologis atau fisiologis, terapi atau tindakan, situasional (lingkungan
atau personal), dan maturasional (PPNI, 2017). Tanda (sign) merupakan data
objektif yang diperoleh dari hasil pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium
dan prosedur diagnostik sedangkan gejala (symptom) merupakan data subjektif
yang diperoleh dari hasil anamnesis. Tanda dan gejala dikelompokkan menjadi
dua kategori yaitu mayor dan minor. Mayor merupakan tanda/gejala ditemukan
sekitar 80%-100% untuk validasi diagnosis, sedangkan minor merupakan
tanda/gejala tidak harus ditemukan, namun jika ditemukan dapat mendukung
penegakan diagnosis (PPNI, 2017). Proses penegakan diagnosis (diagnostic
prosess) atau mendiagnosis merupakan suatu proses yang sistematis yang terdiri
dari tiga tahap yaitu analisis data, identifikasi masalah dan perumusan diagnosis.
Analisis data dilakukan dengan membandingkan data dengan nilai normal dan
mengelompokkan data. Selanjutnya adalah mengidentifikasi masalah, setelah data
dianalisis lalu dilakukan identifikasi masalah aktual. Pernyataan masalah
kesehatan merujuk ke label diagnosis keperawatan. Terakhir adalah perumusan
diagnosis keperawatan yang disesuaikan dengan jenis diagnosis keperawatan.
Metode penulisan pada diagnosis aktual terdiri dari masalah berhubungan dengan
penyebab ditandai dengan tanda gejala (PPNI, 2017). Ketidakstabilan kadar
glukosa darah adalah variasi kadar glukosa darah naik/turun dalam rentang
normal. Adapun etiologi ketidak stabilan kadar glukosa darah dibagi menjadi 2
bagian yaitu etiologi hiperglikemia dan etiologi hipoglikemia. Etiologi
hiperglikemia adalah disfungsi pankreas, resistensi insulin, gangguan toleransi
glukosa darah dan gangguan glukosa darah puasa.
3.Perencanaan keperawatan
Perencanaan keperawatan terdiri atas luaran (outcome) dan intervensi. Luaran
keperawatan merupakan aspek-aspek yang dapat diobservasi dan diukur meliputi
kondisi, perilaku, atau persepsi pasien, keluarga atau komunitas sebagai respons
terhadap intervensi keperawatan. Komponen luaran terdiri atas tiga komponen
utama yaitu label, ekspektasi, dan kriteria hasil. Label merupakan nama dari
luaran keperawatan yang terdiri atas kata kunci untuk mencari informasi terkait
luaran keperawatan. Ekspektasi adalah penilaian terhadap hasil yang diharapkan
tercapai. Kriteria hasil adalah karakteristik pasien yang bisa diamati maupun
diukur oleh perawat dan dijadikan sebagai dasar untuk menilai pencapaian hasil
intervensi keperawatan (PPNI, 2019). Intervensi keperawatan adalah segala
tindakan yang dikerjakan oleh perawat yang didasarkan pada pengetahuan dan
penilaian klinis untuk mencapai luaran yang diharapkan. Komponen intervensi
keperawatan terdiri atas tiga komponen yaitu label yang merupakan nama dari
intervensi yang menjadi kata kunci untuk memperoleh informasi. Label terdiri
dari satu atau beberapa kata yang diawali dengan kata benda yang berfungsi
sebagai descriptor atau penjelasan dari intervensi keperawatan. Definisi
merupakan komponen yang menjelaskan makna dari label intervensi keperawatan
yang ada. Tindakan merupakan rangkaian aktivitas yang dikerjakan oleh perawat
untuk diimplementasikan. Tindakan-tindakan pada intervensi keperawatan terdiri
atas tindakan observasi, tindakan terapeutik, tindakan edukasi, dan tindakan
kolaborasi (PPNI, 2018). Sebelum menentukan intervensi keperawatan, perawat
terlebih dahulu menetapkan luaran (outcome). Setelah menetapkan tujuan
dilanjutkan dengan intervensi keperawatan, intervensi yang digunakan intervensi
utama dan intervensi pendukung. Intervensi utama terdiri dari label management
hiperglikemia dan itervensi inovasi terapi pijat refleksi. Terapi komplementer
adalah pengobatan non konvensional yang ditujukan untuk meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat (Kementerian Kesehatan, 2007). Pelayanan Kesehatan
Tradisional Integrasi adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan yang
mengombinasikan pelayanan kesehatan konvensional dengan pelayanan kesehatan
tradisional komplementer, baik bersifat sebagai pelengkap 39 maupun pengganti
dalam keadaan tertentu (Kemenkes RI, 2018).
4.Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan merupakan pengelolahan dan wujud dari rencana
keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan atau intervensi (Setiadi,
2012). Implementasi merupakan realisasi tindakan untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. Kegiatan dalam pelaksanaan juga meliputi pengumpulan data
berkelanjutan. Mengobservasi respon klien selama dan sesudah pelaksanaan
tindakan dan menilai data yang baru (Nikmatur and Walid, 2017). Pada penelitian
ini penulis menggunakan implementasi keperawatan dari perencanaan yang sudah
ditentukan untuk pasien Retinopati Diabetik dengan Ketidakstabilan Kadar Gula
Darah
5. Evaluasi Keperawatan
Tahap penilaian atau evaluasi adalah suatu perbandingan yang sistematis dan
terencana tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan
dengan cara berkesinambungan yang melibatkan klien, keluarga, serta tenaga
medis lainnya. Tujuan dalam evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien
dalam mencapai tujuan yang disesuaikan dengan kriteria hasil pada tahap
perencanaan (Setiadi, 2012). Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir dari
proses keperawatan yang merupakan perbandingan sistematis dan terencana
antara lain akhir yang teramati dan tujuan atau kriteria hasil yang dibuat pada
tahap perencanaan. Evaluasi dilakukan secara berkesinambungan dengan
melibatkan klien dan tenaga medis (Debora, 2013). Evaluasi menurut PPNI,
(2019), yaitu: 1. Koordinasi meningkat 2. Kesadaran meningkat 3. Gemetar 40
menurun 4. Berkeringat menurun 5. Perilaku aneh menurun 6. Kesulitan bicara
menurun 7. Kadar glukosa dalam darah membaik 8. Kadar glukosa dalam urine
membaik 9. Perilaku membaik 10. Jumlah urine membaik.
DAFTAR PUSTAKA
Flaxel, C. J., Adelman, R. A., Bailey, S. T., Fawzi, A., Lim, J. I.,
Vemulakonda,
G. A., & Ying, G. shuang. (2020). Diabetic Retinopathy
Preferred Practice Pattern®. Ophthalmology,
127(1), P66–P145.
https://doi.org/10.1016/j.ophtha.2019.09.025
Ikhwan, Astuti, E., & Misriani. (2018). Hubungan Kadar Gula darah
sewaktu Dengan Tingkat Stres Pada Penderita Diabetes Millitus
Tipe 2. Jurnal Ilmiah Kesehatan Pencerah, 7(1), 1–7.
Kamba, A., Daimon, M., Murakami, H., Otaka, H., Matsuki, K., Sato,
E., Tanabe, J., Takayasu, S., Matsuhashi, Y., Yanagimachi, M.,
Terui, K., Kageyama,
K., Tokuda, I., Takahashi, I., & Nakaji, S. (2016). Association
between higher serum cortisol levels and decreased insulin
secretion in a general population. PLoS ONE,
11(11), 1–10.
https://doi.org/10.1371/journal.pone.0166077
Made, N., Anggia, S., Saraswati, M. R., Kedokteran, F., & Udayana, U.
(2013). Prevalence of Diabetic Retinopathy in Patient Type 2
Diabetes Mellitus At Internal Medicine Policlinic Sanglah
Hospital. E-Jurnal Medika Udayana, 2(6), 1090–1099.
Rsud, I., Wahab, A., & Samarinda, S. (2020). Hubungan Stres dengan
Terkendalinya Kadar Gula darah sewaktu pada Pasien DM
Tipe. 1(3), 1672–1678.
Utami, D. R., Amin, R., & Zen, F. (2017). Karakteristik Klinis Pasien
Retinopati Diabetik Periode 1 Januari 2014 – 31 Desember 2015
di RSUP Dr . Mohammad Hoesin Palembang. Majalah
Kedokteran Sriwijaya, 49(2), 66–74.