Penyimpangan Pelaksanaan dalam Penegakan Hukum:
Korupsi dan Sistem Peradilan
Sumber: https://www.hukumonline.com/berita/baca/hol6953/font-size1-
colorff0000bpenyimpangan-pelaksanaan-dalam-penegakan-hukumbfontbrkorupsi-dan-
sistem-peradilan?page=all
Pertanyaan
1. Berikan analisis permasalahan yang terjadi dalam sistem peradilan seperti kasus
di atas menggunakan kerangka konsep negara bersusun tunggal!
2. Dari contoh kasus di atas, bagaimana pelaksanaan kekuasaan yuridis pada
negara kesatuan dan federal menggunakan rujukan teori ahli!
Soal 3
Negara mempunyai kekuasaan untuk menjalankan tugasnya mewujudkan tujuan
awal berdirinya negara. Masing-masing kekuasaan menjalankan peran masing-
masing agar tidak terjadi saling tindih kewajiban. Kekuasaan satu dengan lainnya
tidak boleh dirangkap oleh satu orang/lembaga.
Pertanyaan
3. Dari pernyataan di atas, buatlah analisis perbandingan konsep pemisahan
kekuasaan menurut John Locke dengan Montesqueu!
Jawab :
1.
PELAKSANAAN PERADILAN PENEGAKAN KORUPSI
Dengan memperbaiki lembaga/ institusi hukum itu sendiri. Penyelenggaran Hukum di
Indonesia selama ini masih mengalami down karena aparat-aparat penegak hukum itu
sendiri bekerja dalam suasana yang koruptif
INDEPENDENCE OF THE JUDICIARY
Lembaga peradilan yang diharapkan bersih dan adil seadil-adilnya masih belum benar-
benar berfungsi karena masih besarnya intervensi politik dari pemerintah.
ADMINISTRATION OF JUSTICE
Manajemen peradilan dengan biaya yang Keputusan Peradilam menjadi sumber KKN
pasti tapi kenyataannya masih amburadul
EVALUASI
Salah satu upaya untuk memperbaiki penegakan hukum di Indonesia adalah dengan
memperbaiki lembaga/institusi hukum itu sendiri.
INDEPENDENT, IMPARTIAL AND HONEST JUDICIARY
Diperlukan suatu lembaga pengawasan peradilan yang independen, imparsial dan jujur.
REFORMASI HUKUM
Penegak hukum yang membutuhkan perencanaan terarah dan terpadu, realistis, serta
mencerminkan prioritas dan aspirasi kebutuhan masyarakat.
PENINGKATAN KUALITAS DAN KEMAMPUAN APARAT
Pelatihan dan seminar-seminar, pembekalan moral dan etika profesi hukum serta
meningkatkan sistem pengawasan secara konsisten dan terus-menerus.
2. Negara Kesatuan:
Negara Kesatuan adalah negara yang memiliki pemerintahan sentral yang kuat dan memiliki
wewenang tunggal dalam membuat undang-undang dan mengatur seluruh wilayah negara.
Dalam negara kesatuan, kekuasaan yuridis dijalankan oleh pemerintah pusat.
Teori Hans Kelsen: Ahli hukum Hans Kelsen menyatakan dalam teori "Hukum Murni" bahwa
kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif berada di tangan pemerintah pusat. Pemerintah
pusat membuat undang-undang, menjalankan kebijakan, dan menjalankan sistem peradilan
di seluruh negara.
Teori Montesquieu: Ahli politik Montesquieu dalam teori "Pemisahan Kekuasaan"
menyatakan bahwa kekuasaan harus dipisahkan antara lembaga legislatif, eksekutif, dan
yudikatif. Namun, dalam negara kesatuan, pemisahan ini biasanya dilakukan secara
fungsional, di mana pemerintah pusat memiliki kekuasaan utama dalam ketiga lembaga
tersebut.
Negara Federal:
Negara Federal adalah negara yang terdiri dari entitas-entitas yang otonom, seperti negara
bagian atau provinsi, yang memiliki pemerintahan sendiri dan mempertahankan sebagian
kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Dalam negara federal, kekuasaan yuridis
dibagi antara pemerintah pusat dan entitas-entitas daerah.
Teori Johannes Althusius: Ahli politik Johannes Althusius dalam teori "Pemerintahan
Federal" menekankan pentingnya pembagian kekuasaan antara pemerintah pusat dan
entitas-entitas daerah. Menurutnya, entitas-entitas daerah memiliki otonomi dan kekuasaan
legislatif sendiri yang diatur oleh konstitusi federal, sementara pemerintah pusat juga
memiliki kekuasaan legislatif tertentu.
Teori Alexander Hamilton: Salah satu Bapak Pendiri Amerika Serikat, Alexander Hamilton,
dalam tulisan Federalist No. 78, mendiskusikan peran dan kewenangan yudikatif dalam
negara federal. Ia menyatakan pentingnya memiliki sistem pengadilan federal yang mandiri
dan memiliki kekuasaan untuk memutuskan sengketa antara pemerintah pusat dan entitas-
entitas daerah.
Dalam negara federal, kekuasaan yuridis secara umum terbagi antara pemerintah pusat dan
entitas-entitas daerah. Pemerintah pusat memiliki kekuasaan tertentu, sementara entitas-
entitas daerah juga memiliki otonomi
3.
TEORI KEKUASAAN
JOHN LOCKE MONTESQUIEU
Kekuasaan dibagi menjadi 3, yaitu : Kekuasaan dikenal dengan Trias Politica
Legislatif : Kekuasaan untuk membuat atau Legislatif : Kekuasaan untuk membuat atau
membentuk undang-undang membentuk undang-undang
Eksekutif : Kekuasaan untuk melaksanakan Eksekutif : Kekuasaan untuk melaksanakan
undang-undang, termasuk mengadili setiap undang-undang
pelanggaran terhadap undang-undang
Federatif : Kekuasaan untuk melaksanakan Yudikatif : Kekuasaan untuk
hubungan luar negeri mempertahankan undang-undang, termasuk
mengadili setiap pelanggaran terhadap
undang-undang
John Locke memisahkan wewenang negara Montesquieu tidak memasukkan kekuasaan
dan agama. Menurutnya, keduanya harus federatif melainkan dijadikan satu dari
terpisah dan tidak boleh saling mencmpuri kekuasaan eksekutif