LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA
DENGAN KASUS ANSIETAS
DI DUSUN LEMAH DUWUR WAGIR
Nama: Ayu Nisfani Marelita
Nim : 2111040
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr.
SOEPRAOEN KESDAM V / BRAWIJAYA MALANG
2024/2025
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan
Jiwa dengan Diagnosa Ansietas
Di Dusun Lemah Duwur Wagir
Telah dikonsultasikan dan disetujui pada tanggal 28 Juni 2024
Mengetahui
Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik
( ) ( )
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN MASALAH
KEPERAWATAN JIWA ANSIETAS
A. Definisi
Ansietas adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak didukung oleh
situasi (Videbeck,2008). Ansietas atau kecemasan adalah respon emosi tanpa
objek yang spesifik yang secara subjektif dialami dan dikomunikasikan secara
interpersonal (Suliswati,2005). Ansietas adalah perasaan was – was, khawatir
atau tidak nyaman seakan – akan terjadi sesuatu yang dirasakan sebagai
ancaman (Keliat 2012).
B. Rentang Respon Kecemasan
Respon Adaptif Respon Maladaptif
Antisipasi Ringan Sedang Berat Panik
Ansietas memiliki dua aspek yakni aspek yang sehat dan aspek
membahayakan, yang bergantung pada tingkat ansietas, lama ansietas
yangdialami, dan seberapa baik individu melakukan koping terhadap ansietas.
Pada empat tingkat kecemasan yang dialami oleh individu yaitu ringan, sedang,
berat dan panik.
1. Ansietas ringan
Adalah perasaan bahwa ada sesuatu yang berbeda dan membutuhkan
perhatian khusus. Stimulasi sensori meningkat dan membantu individu
memfokuskan perhatian untuk belajar, menyelesaikan masalah, berpikir,
bertindak, merasakan, dan melindungi diri sendiri.
Respon fisiologis dari ansietas ringan akan mengalami nafas pendek,
tekanan darah dan nadi meningkat, muka berkerut, bibir bergetar dan
mengalami gejala lambung. Adapun respon kognitif orang yang mengalami
ansietas ringan adalah lapang persepsi melebar dan dapat menerima
rangsangan yang kompleks, konsentrasi pada masalah dan dapat
menjelaskan masalah secara efektif. Respon perilaku dan emosi orang yang
mengalami ansietas ringan adalah tidak dapat duduk tenang, tremor halus
pada tangan, suara kadang – kadang meninggi.
2. Ansietas sedang
Merupakan perasaan yang menggangu bahwa ada sesuatu yang benar –
benar berbeda, individu menjadi gugup atau agitasi.
Respon fisiologis ansietas sedang akan mengalami nafas pendek, tekanan
darah dan nadi meningkat, mulut kering, anoreksia, diare, konstipasi dan
gelisah. Respon kognitif sedang adalah lapang persepsi yang menyempit,
rangsangan luar sulit diterima, berfokus terhadap apa yang menjadi
perhatian. Respon perilaku dan emosi adalah gerakan yang tersentak –
sentak, meremas tangan, sulit tidur dan perasaan tidak aman.
3. Ansietas berat
Merupkan sesuatu yang berbeda dan ada ancaman, memperlihatkan
respons takut dan distress.
Respon fisiologis dari ansietas berat adalah nafas pendek, tekanan darah
dan nadi meningkat, banyak berkeringat, rasa sakit kepala, penglihatan kabur
dan mengalami ketegangan. Respon kognitif dari ansietas berat akan
mengalami lapang persepsi sangat sempit dan tidak bisa menyelesaikan
masalah. Respon perilaku dan emosi terlihat dari perasaan tidak aman,
verbilitas yang cepat dan blocking.
4. Panik
Individu kehilangan kendali dan detail perhatian hilang, karena
hilangnya kontrol maka tidak mampu melakukan apapun meskipun dengan
perintah.
Respon fisiologis dari orang panik akan mengalami nafas pendek, rasa
tercekit, sakit dada, pucat, hipotensi, dan koordinasi motoric yang sangat
rendah. Respon kognitif pada orang yang mengalami panik adalah lapang
persepsi sangat sempit sekali dan tidak mampu berfikir logis. Respon
perilaku dan emosi terlihat agitasi, mengamuk dan marah – marah,
ketakutan, berteriak – teriak, blocking, kehilangan kontrol diri dan memiliki
persepsi yang kacau.
C. Etiologi
1. Faktor Predisposisi
Adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang dapat menyebabkan
timbulnya kecemasan. Ketegangan dalam kehidupan dapat berupa :
a. Peristiwa traumatik dapat memicu terjadinya kecemasan berkaitan dengan
peristiwa yang dialami oleh individu baik peristiwa perkembangan atau
situasional.
b. Konflik emosional yang dialami individu dan tidak terselesaikan dengan
baik.
c. Konsep diri terganggu akan menimbulkan ketidakmampuan individu
berpikir secara realistis sehingga akan menimbulkan kecemasan.
d. Frustasi akan menimbulkan rasa ketidakberdayaan untuk mengambil
keputusan yang berdampak terhadap ego.
e. Gangguan fisik akan menimbulkan kecemasan karena merupakan
ancaman terhadap integritas fisik yang dapat mempengaruhi konsep diri
individu.
f. Pola mekanisme koping keluarga akan mempengaruhi individu dalam
berespon terhadap konflik yang dialami karena pola mekanisme koping
banyak dipelajari dalam keluarga.
g. Riwayat gangguan kecemasan dalam keluarga akan mempengaruhi
respon individu dalam berespon terhadap konflik dan mengatasi
kecemasannya.
h. Medikasi dapat memicu kecemasan karena pengobatan yang mengandung
benzodizepin dapat menekan neurotansmiter gamma amino butyric acid
(GABA) yang mengontrol aktivitas neuron di otak yang bertanggung
jawab menghasilkan kecemasan.
2. Faktor Presipitasi
Adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang dapat menimbukkan
kecemasan. Faktor presipitasi kecemasan dapat dikelompokkan menjadi 2
bagian yaitu :
a. Ancaman terhadap integritas fisik :
Sumber internal meliputi kegagalan mekanisme fisiologis sistem
imun, regulasi suhu tubuh, perubahan biologis normal (hamil).
Sumber ekternal meliputi paparan terhadap infeksi virus dan bakteri,
polutan lingkungan, kecelakaan, kekurangan nutrisi, tidak adekuatnya
tempat tinggal.
b. Ancaman terhadap harga diri :
Sumber internal : kesulitan dalam berhubungan interpersonal dirumah
dan tempat kerja, penyesuaian terhadap peran baru. Berbagai ancaman
terhadap integritas fisik juga dapat mengancam harga diri.
Sumber eksternal : kehilangan orang yang dicintai, perceraian,
perubahan status kerja, tekanan kelompok, dan social budaya.
D. Pohon Masalah
E. Tanda dan Gejala
Keluhan – keluhan yang sering ditemukan oleh orang yang mengalami
kecemasan (ansietas) antara lain sebagai berikut :
Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri, dan mudah
tersinggung.
Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut.
Takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang.
Gangguan pola tidur, mimpi – mimpi yang menegangkan.
Gangguan konsentrasi dan daya ingat.
Keluhan somatic, misalnya rasa sakit pada otot dan tulang, pendengaran
berdenging (tinnitus), sesak nafas, gangguan pencernaan, gangguan
perkemihan, sakit kepala.
Gejala dan Tanda Mayor Ansietas
Subjektif Objektif
Merasa bingung Tampak gelisah
Merasa khawatir dengan akibat dari kondisi Tampak tegang
yang dihadapi
Sulit berkonsentrasi Sulit tidur
Gejala dan Tanda Minor Ansietas
Subjektif Objektif
Mengeluh pusing Frekuensi napas meningkat
Anoreksia Frekuensi nadi meningkat
Palpitasi Tekanan darah meningkat
Merasa tidak berdaya Diaphoresis
Tremor
Muka tampak pucat
Suara bergetar
Kontak mata buruk
Sering berkemih
Berorientasi pada masa lalu
F. Sumber Koping
Individu dapat menanggulangi stress dan kecemasan dengan menggunakan
atau mengambil sumber koping dari lingkungan baik dari sosial, intrapersonal
dan interpersonal. Sumber koping diantaranya adalah aset ekonomi, kemampuan
memecahkan masalah, dukungan sosial budaya yang diyakini. Dengan integrasi
sumber-sumber koping tersebut individu dapat mengambil strategi koping yang
efektif.
G. Mekanisme Koping
Kemampuan individu menanggulangi kecemasan secara konstruksi merupakan
faktor utama yang membuat klien berperilaku psikologis atau tidak. Bila individu
sedang mengalami kecemasan ia akan mencoba menetralisasi, mengingkari atau
meniadakan kecemasan dengan mengembangkan pola koping. Mekanisme
koping dapat dilakukan ada 2 jenis yaitu :
1. Task oriented reaction atau reaksi yang berorientasi pada tugas. Tujuan yang
ingin dicapai dapat dengan melakukan koping ini adalah individu mencoba
menghadapi kenyataan tuntunan stress dengan menilai secara objekif
ditujukan untuk mengatasi masalah, memulihkan konflik dan memenuhi
kebutuhan.
2. Ego oriented reaction atau beriorientasi pada ego. Koping ini tidak selalu
sukses dalam mengatasi masalah. Mekanisme ini seringkali digunakan untuk
melindungi diri, sehingga disebut mekanisme pertahanan ego diri biasanya
mekanisme ini tidak membantu untuk mengatasi masalah secara realita.
H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan ansietas pada tahap pencegahan dan terapi memerlukan suatu
metode pendekatan yang bersifat holistik, yaitu mencakup fisik (somatik),
psikologik atau psikiatrik, psikososial dan psikoreligius :
1. Upaya meningkatkan kekebalan terhadap stress, dengan cara :
Makan – makanan yang bergizi dan seimbang
Tidur yang cukup
Cukup olahraga
Tidak merokok
Tidak meminum – minuman keras
2. Terapi psikofarmaka
Terapi psikofarmaka adalah pengobatan untuk kecemasan dengan
menggunakan obat – obatan yang berkhasiat untuk memulihkan fungsi
gangguan neuro – transmitter (sinyal penghantar saraf) disusun saraf pusat
otak (limbic system). Terapi psikofarmaka yang sering digunakan adalah obat
anti cemas (anxiolytic) seperti diazepam, clobazam, bromazepam, lorazepam,
buspirone HCI, meprobamate dan alprazolam.
3. Terapi somatic
Gejala atau keluhan fisik sering dijumpai sebagai gejala ikutan atau akibat
dari kecemasan yang berkepanjangan. Untuk menghilangkan keluhan –
keluhan somatic fisik itu dapat diberikan obat – obatan yang ditujukan pada
organ tubuh yang bersangkutan.
4. Psikoterapi
a. Psikoterapi suportif : untuk memberikan motivasi, semangat dan
dorongan agar pasien yang bersangkutan tidak merasa putus asa dan
diberi keyakinan serta percaya diri.
b. Psikoterapi re – edukatif : memberikan pendidikan ulang dan koreksi bila
dinilai bahwa ketidakmampuan mengatsi kecemasan.
c. Psikoterapi re – konstruktif : dimaksudkan untuk memperbaiki kembali re
– kontruksi kepribadian yang telah mengalami goncangan akibat stressor.
d. Psikoterapi kognitif : untuk memulihkan fungsi kognitif klien, yaitu
kemampuan untuk berpikir secara rasional, konsentrasi dan daya ingat.
e. Psikoterapi psiko – dinamik : untuk menganalisa dan menguraikan proses
dinamika kejiwaan yang dapat menjelaskan mengapa seseorang tidak
mampu menghadapi stressor psikososial sehingga mengalami kecemasan.
f. Psikoterapi keluarga : untuk memperbaiki hubungan kekeluargaan agar
faktor keluarga tidak lagi menjadi faktor penyebab dan faktor keluarga
dapat dijadikan sebagai faktor pendukung.
5. Terapi psikoreligius
Untuk meningkatkan keimanan seseorang yang erat hubungannya
dengan kekebalan dan daya tahan dalam menghadapi berbagai problem
kehidupan yang merupakan stressor psikososial.
I. Diagnosa Keperawatan
a. Keruskan interaksi sosial berhubungan dengan cemas
b. Gangguan alam perasaan: cemas berhubungan dengan koping individu
inefektif
J. Rencana Keperawatan
Tujuan
Tujuan umum : cemas berkurang atau hilang
Tujuan khusus :
a. TUK 1
Pasien dapat menjalin hubungan saling percaya
Intervensi :
1) Jadilah pendengar yang hangat dan responsi
2) Beri waktu yang cukup pada pasien untuk berespon
3) Beri dukungan pada pasien untuk berekspresikan perasaanya
4) Identifikasi pola perilaku pasien atau pendekatan yang dapat
menimbulkan perasaan negatif
5) Bersama pasien mengenali perilaku dan respon sehingga cepat belajar
dan berkembang.
b. TUK 2
Pasien dapat mengenali ansietasnya
Intervensi :
1) Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan menguraikan perasaanya
2) Hubungkan perilaku dan perasaanya
3) Validasi kesimpulan dan asumsi terhadap pasien
4) Gunakan pertanyaan terbuka untuk mengalihkan dari topik yang
mengancam ke hal yang berkaitan dengan konflik
5) Gunakan konsultasi untuk membantu pasien mengungkapkan
perasaanya.
c. TUK 3
Pasien dapat memperluas kesadaranya terhadap perkembangan ansietas
Intervensi :
1) Bantu pasien menjelaskan situasi dan interaksi yang dapat segera
menimbulkan ansietas
2) Bersama pasien meninjau kembali penilaian pasien terhadap stressor
yang dirasakan mengancam dan menimbulkan konflik
3) Kaitkan pengalaman yang baru terjadi dengan pengalaman masa lalu
yang relevan
d. TUK 4
Pasien dapat menggunakan mekanisme koping yang adaptif
Intervensi :
1) Gali cara pasien mengurangi ansietas dimasa lalu
2) Tunjukan akibat maladaptif dan destruktif dari respon koping yang
digunakan
3) Dorong pasien untuk menggunakan respon koping adaptif yang
dimilikinya
4) Bantu pasien untuk menyusun kembali tujuan hidup, memodifikasi
tujuan, menggunakan sumber dan menggunakan ansietas sedang
5) Latih pasien dengan menggunakan ansietas sedang
6) Beri aktifitas fisik untuk menyalurkan energinya
7) Libatkan pihak yang berkepentingan sebagai sumber dan dukungan
sosial dalam membantu pasien menggunakan koping adaptif yang
baru
e. TUK 5
Pasien dapat menggunakan tekhnik relaksasi
Intervensi :
1) Ajarkan pasien teknik relaksasi untuk meningkatkan kontrol dan rasa
percaya diri
2) Dorong pasien untuk menggunakan relaksasi dalam menurunkan
tingkat ansietas