Anda di halaman 1dari 22

FRAKTUR MANDIBULA

AFIFUDDIN Residen Bedah Mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung

Abstrak Fraktur mandibula cenderung terjadi karena posisinya yang menonjol. Mandibula merupakan sasaran pukulan dan benturan. Daerah mandibula yang lemah adalah daerah subkondilar, angulus mandibula, dan daerah mentalis. Jika perawatan fraktur mandibula tidak dilakukan secara cepat dan benar maka akan menimbulkan maloklusi, infeksi, trismus, dan penyatuan tulang yang tidak baik. Therapi fraktur mandibula secara garis besar dibagi menjadi dua bagian yaitu dengan metode closed reduction (reduksi tertutup) dan metode open reduction (reduksi terbuka). Maksud dari penulisan ini adalah untuk memberi gambaran mengenai fraktur mandibula, klasifikasi, prosentase kejadian, gejala klinis, radiografis, perawatan dan komplikasi. Kata kunci : fraktur mandibula, maloklusi, reduksi terbuka, reduksi tertutup

PENDAHULUAN Fraktur mandibula dikenal pertama kali pada awal 1650 SM ketika bangsa Mesir memaparkan pemeriksaan, diagnosa dan perawatannya pada kertas papirus.Pada saat tersebut fraktur mandibula tidak dapat disembuhkan dan tidak dirawat sehingga menimbulkan kematian pada penderitanya. 1 Evolusi perawatan fraktur mandibula sangat lambat sampai pada abad 19. Biasanya hanya menggunakan eksternal bandage. Selama tahun 1800 sampai awal tahun 1900 beberapa metoda digunakan untuk imobilisasi fraktur mandibula.
1

Beratus-ratus tehnik diperkenalkan pada literatur di tahun 1800-an, sebagian besar variasi dari penggunaan bandage dan aplikasi eksternal, ekstra oral dan aplikasi intra oral, monomaksilary wiring meliputi bar, splint, intermaksilary wiring dan splint, dan fiksasi internal meliputi kawat, plat dan skrup.1 Fraktur mandibula cenderung terjadi karena posisinya yang menonjol. Mandibula merupakan sasaran pukulan dan benturan. Daerah mandibula yang lemah adalah daerah subkondilar, angulus mandibula, dan daerah mentalis. Beberapa penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan antara frekuensi fraktur mandibula dengan daerah anatomi. Fraktur subkondilar banyak ditemukan pada anak-anak, sedangkan fraktur angulus lebih sering ditemukan pada remaja dan dewasa muda.2 Banyak faktor yang dapat menyebabkan fraktur mandibula, tetapi biasanya penyebab utama dari fraktur mandibula adalah kecelakaan lalu lintas. Menurut literatur, faktor faktor penyebab terjadinya fraktur mandibula adalah : a. Kecelakaan lalu lintas 43%. b. Perkelahian 34%. c. Kecelakaan kerja 7%. d. Terjatuh 7%. e. Kecelakaan olahraga 4%. f. Faktor lainnya 5%. Pada penelitian yang dilakukan oleh Sane dan Ylipaavalniemi terhadap 8640 kecelakaan olah raga pada pemain sepak bola di Finlandia dijumpai 6,4 % kecelakaan menimbulkan trauma pada maksilofasial dan gigi geligi. Dari persentase tersebut ditemukan : a. Trauma pada tulang alveolar dan gigi geligi 81%. b. Fraktur mandibula 11%. c. Trauma 1/3 wajah 8%. Sedangkan Linn dkk, melaporkan dari 319 orang yang mengalami kecelakaan olah raga di Belanda, 15 % mengalami fraktur pada mandibula dan 5,5% fraktur tulang alveolar atau avulsi gigi, atau mengalami kedua-duanya. Pada penelitian lainnya, dikemukan fraktur mandibula akiabat tembakan. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Khalil dan Shaladi (Libia). Mereka mengemukan,

dari 18 kasus yang diteliti, 8 kasus merupakan fraktur mandibula dan trauma pada jaringan lunak. Sedangkan Vaillant dan Benoist (Francis) mengevaluasi 14 kasus luka tembak pada mandibula, dengan rentang usia 6 sampai 68 tahun. Dua orang anak-anak merupakan korban kecelakaan senjata api sedangkan lainnya merupakan korban kekerasan senjata api.1

Lokasi Fraktur Mandibula Dari kasus kasus fraktur mandibula yang diteliti diperoleh lokasi yang paling sering terjadi fraktur adalah : a. b. c. d. e. f. Bodi 29%. Prosesus Kondilus 26%. Angel 25 %. Simpisis 17%. Ramus 4%. Prosesus koronoideus 1%.

Dilihat dari data di atas, fraktur yang sering terjadi pada daerah bodi, kondilus dan angulus. Sedangkan pada daerah koronoideus dan ramus jarang terjadi.1

Gambar 1. Regio anatomi mandibula (http://img.medscape.com/pi/emed/ckb/plastic_surgery/1271089-1283149-1)

KLASIFIKASI FRAKTUR MANDIBULA Secara garis besar fraktur mandibula diklasifikasikan dalam tiga kelompok yaitu berdasarkan jenis fraktur, berdasarkan daerah fraktur dan berdasarkan penyebab fraktur. A. Berdasarkan jenis fraktur1 a. Fraktur tunggal. Fraktur jenis ini adalah dimana tulang patah hanya terdapat pada satu tempat saja. Biasanya fraktur jenis ini bersifat unilateral. Pada rahang bawah tempat yang sering terkena adalah angulus mandibula, foramen mentalis dan leher kondilus. b. Fraktur sederhana. Fraktur yang terjadi tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar dan tidak terjadi disdislokasi atau displacement. Fraktur jenis ini disebut juga fraktur tertutup atau closed fracture c. Fraktur greenstick. Fraktur yang tidak seluruh kontinuitas tulang terputus, tetapi hanya sebagian saja. Fraktur ini merupakan salah satu tipe fraktur yang sering terjadi pada anak-anak. Hal ini diakibatkan karena tulang anak-anak masih bersifat lentur, karena tulangnya belum sepenuhnya terkalsifikasi. d. Fraktur Fraktur compound. Fraktur ini mempunyai hubungan antara tulang yang patah dengan permukaan luar wajah atau dengan rongga mulut. Hubungan ini dapat terjadi melalui kulit, jaringan mukosa dan membran periodontal. Fraktur jenis ini disebut juga fraktur terbuka atau open fraktur. e. Fraktur cominutted. Fraktur dimana tulang terbagi menjadi beberapa bagian atau fragmen-fragmen kecil. Biasanya fraktur ini terjadi pada regio simfisis mandibula. f. Kompleks fraktur (compound fraktur). Fraktur yang melukai jaringan lunak baik kulit, mukosa atau bagian yang berdekatan seperti otot, pembuluh darah dan syaraf. g. Fraktur pathologi. Fraktur yang disebabkan karenapenyakit pada tulang mandibula.

Gambar 2. Garis fraktur pada mandibula (www.rad.washington.edu/staticpix/mskbook/MandibleFx.gi)

B. Berdasarkan anatomi fraktur1 a. Fraktur Midline. Fraktur antara incisivus sentaralis rahang bawah. b. Fraktur Parasimfisis. c. Fraktur Simfisis. d. Fraktur Bodi. e. Fraktur Angulus f. Fraktur ramus. g. Fraktur prosesus kondilus. h. Fraktur prosesus koronoideus. i. Fraktur pada tulang alveolar. Sedangkan Kazanjian dan Converse menklasifikasikan fraktur mandibula berdasarkan ada atau tidaknya gigi geligi pada garis fraktur, yaitu : a. Class I, gigi-geligi terdapat pada kedua sisi fraktur. b. Class II, gigi-geligi hanya terdapat pada satu sisi garis fraktur. c. Class III, edentulous. Fraktur mandibula juga dapat diklasifikasikan sebagai fraktur favorable atau unfavorable, masing-masing dari arah vertikal dan horisontal tergantung pada otot sekitarnya yang menahan atau memindahkan segment fraktur tersebut.

Gambar 3 . Fraktur mandibula favorable dan tarikan otot muskular (http://img.medscape.com/pi/emed/ckb/plastic_surgery/1271089-1283149-3)

Gambar 4. Fraktur mandibula unfavorable dan tarikan otot muskular (http://img.medscape.com/pi/emed/ckb/plastic_surgery/1271089-1283149-4)

PEMERIKSAAN KLINIS Evaluasi trauma dilakukan secara menyeluruh, yaitu penanganan jalan nafas, pemeriksaan terhadap pergeseran segmen tulang, traksi manual atau traksi pada lidah dapat menghindarkan obstruksi jalan nafas. Jika perlu dapat dilakukan intubasi orotrachea pada kasus darurat jalan nafas.

Menurut Archer (1975), Kruger (1984), Fonseca (1991) tanda dan gejala terjadinya fraktur adalah adanya maloklusi dihubungkan dengan riwayat trauma seperti terkena pukulan, kecelakaan atau terjatuh. Maloklusi dapat berupa gigitan silang, gigitan terbuka dan prematur kontak. Rasa sakit bersifat akut dan dapat Gerakan-gerakan ringan

diperberat oleh gerakan ringan bagian yang terluka.

tersebut misalnya waktu berbicara, mengunyah atau waktu palpasi. Pergerakan abnormal dapat diketahui dengan pemeriksaan jari tangan atau palpasi bimanual. Bila digerakkan dengan jari tangan tiap fragmen fraktur akan bergerak sendiri. Krepitasi terjadi karena beradunya ujung-ujung tulang yang mengalami fraktur terdengar bunyi gesekan tulang. Pembengkakkan atau oedema tampak pada

daerah fraktur yang disebabkan oleh keluarnya darah dan serum ke jaringan sekitar. Pemeriksaan pada rahang saat membuka dan menutup mulut dan memperhatikan deviasi rahang atau mobility yang terbatas. Trismus dapat terjadi pada fraktur mandibula akibat spasme otot-otot dan nyeri. Retraksi pergerakan tulang merupakan kelainan sekunder yang dapat ditemukan pada fraktur zygomatikus yang mengalami displacement dan berdampak pada processus coronoideus mandibula. Pemeriksaan intraoral memperlihatkan adanya laserasi atau hematoma. Jika tulang terbuka pada intra oral atau laserasi pada kutaneus maka pemberiaan antibiotik merupakan suatu keharusan. Selain itu bisa saja terjadi perubahan bentuk lengkung mandibula.1

PEMERIKSAAN RADIOLOGI Rencana perawatan untuk fraktur mandibula sangat bergantung pada diagnosa radiografi. Sebagai contoh misalnya, sangat penting untuk mengetahui hubungan gigi-gigi dengan garis fraktur, untuk mengetahui apakah fraktur kondilus mengenai ruang sendi, atau untuk menentukan adanya fraktur dari tepi bawah body mandibula sebelum melakukan incisi eksternal, untuk memasukkan transosseus wiring.

Radiograf mandibula dapat dibagi menjadi beberapa gambaran rutin yang selalu diulakukan pada bagian radiologi. Pemeriksaan radiologis yang dapat membantu untuk menegakkan diagnosa fraktur mandibula adalah: a. Foto Panoramik. b. Foto Lateral Oblik. c. Foto Posteroanterior. d. Foto Oklusal. e. Foto Periapikal. f. Foto Riverse Townes view. g. Foto TMJ h. Computed Tomography (CT) Scan Foto radiologi yang paling sering dipergunakan untuk diagnose fraktur mandibula adalah foto panoramic. Keuntungan foto panoramic adalah teknik yang sederhana, dapat menggambarkan mandibula dengan dsetail yang baik. Sedangkan kerugiannya adalah teknik foto panoramik mengharuskan pasien harus difoto dalam kondisi berdiri, hal yang sulit pada pasien trauma yang parah dan gambaran TMJ yang kurang jelas. Kerugian lainnya adalah alat foto panoramik jarang tersedia di rumah sakit. Foto lateral oblik dapat membantu menegakkan diagnosa pada fraktur bodi posterior, angle, dan ramus. Pada teknik ini sering daerah kondilus tidak jelas. a. Foto Panoramik

Gambar 5. Pencitraan mandibula normal pada Panoramik foto

Gambar 6. Pencitraan fraktur angulus kanan dan simphisis kiri mandibula pada Panoramik foto.

b. Foto Posteroanterior

Gambar 7. Pencitraan fraktur condilus kiri pada foto Posteroanterior.

Gambar 8. Pencitraan fraktur ramus kanan dan para simphisis kiri pada foto Anteroposterior.

Gambar 9. Pencitraan fraktur body mandibula dan angle kiri pada Foto Posteroanterior.

c. Foto Lateral Oblik

Gambar 10. Pencitraan frakrue coronoid pada foto Lateral Oblique.

10

Gambar 11. pencitraan fraktur body dan angulus kiri mandibula pada foto Lateral Oblik.

d. Reverse Towne

Gambar 12. Pencitraan mandibula dimana terlihat condilus yang normal pada foto Towne.

11

Gambar 13. Pencitraan fraktur condilar kiri pada foto Towne.

Gambar 14. Pencitraan fraktur body dan angulus mandinula kiri pada foto Towne.

12

e. Waters foto

Gambar 15. Pencitraan mandibula normal terlihat tulang simphisis dan coronoid dalam keadaan utuh pada foto Waters.

f. CT SCAN / (COMPUTERED TOMOGRAFI) SCAN

Gambar 16. Pencitraan margin superior dari pertumbuhan mandibula di sisi kanan pada CT scan potongan sagittal.

13

Gambar 17.Pencitraan fraktur condilus kiri dengan perobahan letak fragmen condilus proksimal pada CT scan potongan axial.

Gambar 18. Pencitraan fraktur subcondilus kanan pada CT scan potongan axial.

Gambar 19. Pencitraan fraktur subcondilus kanan pada CT scan potongan coronal.

14

Gambar 20. Pencitraan fraktur subcondilus kanan pada potongan coronal.

Gambar 21. Pencitraan Fraktur Comminuted ramus mandibula kiri pada CT scan potongan axial.

Gambar 22. pencitraan fraktur ramus mandibula kiri pada CT scan direct coronal.

15

Gambar 23. Pencitraan fraktur angulus kiri pada CT scan potongan direct coronal.

Gambar 24.Pencitraan fraktur angulus kiri pada CT scan potongan sagittal.

16

Gambar 25.Pencitraan fraktur body mandibula kanan pada CT scan potongan axial.

Gambar 26.Pencitraan fraktur simphisi kanan pada CT scan potongan Prone hyperextended axial.

17

Gambar 27.Pencitraan fraktur alveolar ridge incisif pada CT scan potongan coronal.

PERAWATAN FRAKTUR MANDIBULA1


Therapi fraktur mandibula secara garis besar dibagi menjadi dua bagian yaitu dengan metode closed reduction (reduksi tertutup) dan metode open reduction (reduksi terbuka). Metode Reduksi tertutup adalah suatu tindakan reduksi tertutup tanpa melalui suatu tindakan pembukaan tulang untuk memudahkan lapang pandang secara pembedahan (Kruger, 1984). Jenis-jenis reduksi tertutup diantaranya external appliance seperti head bandage, head gear, head frame plaster of paris, intermaksilary fixation seperti interdental wiring fixation dan splint fixation Indikasi untuk metode reduksi tertutup (Fonseca 2005) adalah: Fraktur menguntungkan tanpa adanya pergeseran tempat (nondisplace vavorable fracture) Fraktur comunitted yang luas Fraktur pada mandibula oedentolous (tidak bergigi) Fraktur mandibula pada anak Fraktur processus coronoidalis Fraktur kondilus

18

Gambar 26. Interdental maksilary fixation Metode reduksi terbuka adalah sutu tindakan reduksi dengan cara pembedahan dengan cara pembedahan untuk memudahkan lapang pandang. Jenis-jenis dari metode terbuka contohnya interosseus wiring dan fiksasi dengan bone plate and screw. Indikasi untuk metode reduksi terbuka (Fonseca 2005) Fraktur yang tidak menguntungkan pada sudut mandibula Fraktur yang tidak menguntungkan pada bodi mandibula atau daerah parasymphisis mandibula Terjadinya kegagalan pada metode tertutup Fraktur yang membutuhkan tindakan osteotomy Fraktur yang membutuhkan bone graft

19

Gambar 27.pembukaan ekstra ke arah daerah fraktur Fiksasi degan bone plat and screw

KOMPLIKASI Komplikasi yang timbul setelah perawatan fraktur mandibula jarang terjadi. Dari beberapa literatur menyebutkan, komplikasi yang terjadi biasanya adalah infeksi atau osteomilitis. Persentase timbulnya komplikasi antara 5 -10 %.

Kesehatan rongga mulut seperti karies pada gigi geligi dan kesehatan periodontal merupakan faktor-faktor yang dapat menimbulkan komplikasi. Immobilisasi fraktur yang tidak adekuat dan penundaan waktu perawatan dapat juga menimbulkan infeksi.1 Terlalu sedikit penelitian yang menghubungkan fraktur mandibula dengan gangguan saraf.

PEMBAHASAN Fraktur mandibula cenderung terjadi karena posisinya yang menonjol. Mandibula merupakan sasaran pukulan dan benturan. Daerah mandibula yang lemah adalah daerah subkondilar, angulus mandibula, dan daerah mentalis.

20

Beberapa penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan antara frekuensi fraktur mandibula dengan daerah anatomi. Fraktur subkondilar banyak ditemukan pada anak-anak, sedangkan fraktur angulus lebih sering ditemukan pada remaja dan dewasa muda.2 Komplikasi yang timbul setelah perawatan fraktur mandibula jarang terjadi. Dari beberapa literatur menyebutkan, komplikasi yang terjadi biasanya adalah infeksi atau osteomilitis.
1

Menurut Archer (1975), Kruger (1984), Fonseca (1991) tanda dan gejala terjadinya fraktur adalah adanya maloklusi dihubungkan dengan riwayat trauma seperti terkena pukulan, kecelakaan atau terjatuh. Maloklusi dapat berupa gigitan silang, gigitan terbuka dan prematur kontak. Pemeriksaan pada rahang saat membuka dan menutup mulut dan memperhatikan deviasi rahang atau mobility yang terbatas. Trismus dapat terjadi pada fraktur mandibula akibat spasme otototot dan nyeri. Retraksi pergerakan tulang merupakan kelainan sekunder yang dapat ditemukan pada fraktur zygomatikus yang mengalami displacement dan berdampak pada processus coronoideus mandibula. Selain itu bisa saja terjadi perubahan bentuk lengkung mandibula.1 Pemeriksaan radiologis yang dapat membantu untuk menegakkan diagnosa fraktur mandibula adalah: a. Foto Panoramik. b. Foto Lateral Oblik. c. Foto Posteroanterior. d. Foto Oklusal. e. Foto Periapikal. f. Foto Riverse Townes view. g. Foto TMJ h. Computed Tomography (CT) Scan Therapi fraktur mandibula secara garis besar dibagi menjadi dua bagian yaitu dengan metode closed reduction (reduksi tertutup) dan metode open reduction (reduksi terbuka).Metode Reduksi tertutup adalah suatu tindakan reduksi tertutup tanpa melalui suatu tindakan pembukaan tulang untuk memudahkan lapang pandang secara pembedahan (Kruger, 1984). Metode reduksi

21

terbuka adalah sutu tindakan reduksi dengan cara pembedahan dengan cara pembedahan untuk memudahkan lapang pandang.

KESIMPULAN Fraktur mandibula cenderung terjadi karena posisinya yang menonjol. Mandibula merupakan sasaran pukulan dan benturan. Daerah mandibula yang lemah adalah daerah subkondilar, angulus mandibula, dan daerah mentalis. Beberapa penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan antara frekuensi fraktur mandibula dengan daerah anatomi. Fraktur subkondilar banyak ditemukan pada anak-anak, sedangkan fraktur angulus lebih sering ditemukan pada remaja dan dewasa muda. Secara garis besar fraktur mandibula diklasifikasikan dalam tiga kelompok yaitu berdasarkan jenis fraktur, berdasarkan daerah fraktur dan berdasarkan penyebab fraktur. Therapi fraktur mandibula secara garis besar dibagi menjadi dua bagian yaitu dengan metode closed reduction (reduksi tertutup) dan metode open reduction (reduksi terbuka). Komplikasi yang timbul pada fraktur mandibula adalah infeksi.

DAFTAR PUSTAKA 1. Fonseca , R.J., et all. 2005. Oral and Maxillofacial Trauma. Third ed. WB Saunders Co. Philadelphia 2. Pedersen, GW, 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut, Cetakan I.EGC. Jakarta 3. Peterson: et al. 2003. Oral and Maxillofacial Surgery. Fourt ed. Mosby Co. St Louis

22