Anda di halaman 1dari 123

PEDOMAN PELAYANAN KOMITE PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN

INFEKSI RS .........

TAHUN 2013/2014

DAFTAR ISI
Surat Keputusan Direktur Tentang PPI

BAB 1 PENDAHULUAN ...

A. Latar Belakang ..

B. Tujuan..

C. Ruang Lingkup .

D. Batasan Operasional ..

E. Jenis Penyakit Menular .

12

1. AIDS .

12

2. SARS

14

3. TBC ..

17

4. MRSA ..

19

F. Kegiatan PPIRS .

22

1. Surveilens

22

2. Kebersihan Tangan ...

41

3. APD

45

4. CSSD .

52

5. Dekontaminasi .

61

6. Kwaspadaan standart dan berdasarkan transmisi.

61

7. Management RISK PPI ..

63

8. Kohorting ..

66

9. Pengelolaan Kebersihan lingk ..

71

10. Pengelolaan linen .

75

11. Antibiogram .

79

12. Upaya kesehatan karyawan .

79

13. Pemeriksaan swab dan kultur ..

70

BAB II STANDART KETENAGAAN

92

A. Kualifikasi Ketenagaan ...

92

B. Uraian Tugas .

93

C. Distribusi Ketenagaan .

98

BAB III STANDART FASILITAS .

99

A. Fasilitas bagi Petugas .

99

B. Fasilitas bagi Pelayanan

107

BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN

108

BAB V LOGISTIK ..

109

BAB VI KESELAMATAN KERJA

112

BAB VII KESELAMATAN PASIEN .

113

BAB VIII PENGENDALIAN MUTU

115

BAB IX PENUTUP

122

Lampiran lampiran
Lamp 1. Gambar penanganan tumpahan darah
Lamp 2. Tabel desinfeksi
Lamp 3. Tabel cara membuat larutan clorin
Lamp 4. Tabel ASA score
Lamp 5. Tabel Daftar tilik penyakit menular
Lamp 6. Tabel daftar tilik penggunaan APD

SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR RS ........


NOMOR: ........
Tentang
PEDOMAN PELAYANAN
PELAYANAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI
RS ........

DIREKTUR RS ........
Menimbang

a. bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan Rumah


Sakit ........... maka diperlukan penyelenggaraan pelayanan yang
bermutu tinggi dari setiap gugus tugas/ unit pelayanan yang ada;
b. bahwa pelayanan pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan
salah satu gugus tugas/ unit pelayanan di RS ...... yang harus
mendukung pelayanan rumah sakit secara keseluruhan maka
diperlukan

penyelenggaraan

pelayanan

pencegahan

dan

pengendalian infeksi yang bermutu tinggi.


c. bahwa agar pelayanan pencegahan dan pengendalian infeksi dapat
terlaksana dengan baik, perlu adanya Surat Keputusan Direktur
tentang Kebijakan pelayanan pencegahan dan pengendalian infeksi
RS .........sebagai landasan bagi penyelenggaraan pelayanan.
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam a,
b dan c, perlu ditetapkan dengan Surat Keputusan Direktur Rumah
Mengingat

1.

Sakit....
Undang-Undang RI Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

2.

Keputusan Pengurus Yakkum Nomor 2071-Ps/STRUKTURRSPR/VII/2013 tentang Penetapan Struktur Rumah Sakit Panti

Rahayu Yakkum Grobogan.


3.

SK

Pengurus

Yakkum

Ps/ANGKAT.DIR.RSPR/XII/2008

Nomor:
tentang

0914-

Pengangkatan

dr

Sunarima, Mkes sebagai Direktur RS Panti Rahayu Yakkum di


Purwodadi Periode 2009-2013.
4.

SK Direktur RS Panti Rahayu No. 4600/PR-Kep.Dir/VIII/2013


Tentang Kebijakan Pelayanan RS Panti Rahayu Yakkum Pirwodadi.

M E M U T U S KAN :
Menetapkan

Pertama

KEPUTUSAN DIREKTUR RS .................. Tentang PEDOMAN


PELAYANAN

PENCEGAHAN

DAN

PENGENDALIAN

Kedua

INFEKSI.RS .........
Pedoman pelayanan pencegahan dan pengendalian infeksi RS .......

Ketiga

sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini.


Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pelayanan pencegahan

Keempat

dan pengendalian infeksi dilaksanakan oleh Direktur RS .......


Kepala pelayanan pencegahan dan pengendalian infeksi wajib

mensosialisasikan keputusan ini ke seluruh karyawan di Pelayanan


Kelima

pencegahan dan pengendalian infeksi.


Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dan apabila dikemudian
hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini, akan diadakan
perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di ....... tanggal ........


RS ........

Dr. .......
Direktur,

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan di Rumah Sakit, perlu
dilakukan pengendalian infeksi, diantaranya adalah pengendalian infeksi
nosokomial. Infeksi nosokomial masih banyak dijumpai di rumah sakit dan
biasanya merupakan indikator bagi pengukuran tentang seberapa jauh rumah sakit
tersebut telah berupaya mengendalikan infeksi nosokomial.
Pengendalian

infeksi

nosokomial

dipelopori

oleh

Nightingale,

Simmelweis, Lister dan Holmes melalui praktek-praktek hygiene dan penggunaan


antiseptik. Tantangan dalam pengendalian infeksi nosokomial semakin kompleks
dan sering disebut disiplin epidemiologi rumah sakit.
Kerugian ekonomik akibat infeksi nosokomial dapat mencapai jumlah
yang besar, khususnya untuk biaya tambahan lama perawatan, penggunaan
antibiotika dan obat-obat lain serta peralatan medis dan kerugian tak langsung
yaitu waktu produktif berkurang, kebjiakan penggunaan antibiotika, kebijakan
penggunaan desinfektan serta sentralisasi sterilisasi perlu dipatuhi dengan ketat.
Tekanan-tekanan dari perubahan pola penyakit infeksi nosokomial dan
pergeseran resiko ekonomik yang harus ditanggung rumah sakit mengharuskan

upaya yang sistematik dalam penggunaan infeksi nosokomial, dengan adanya


Komite Pengendalian Infeksi dan profesi yang terlatih untuk dapat menjalankan
program pengumpulan data, pendidikan, konsultasi dan langkah-langkah
pengendalian infeksi yang terpadu. Keberhasilan program pengendalian infeksi
nosokomial dipengaruhi oleh efektivitas proses komunikasi untuk menyampaikan
tujuan dan kebijakan pengendalian infeksi tersebut kepada seluruh karyawan
rumah sakit baik tenaga medis maupun non medis, para penderita yang dirawat
maupun berobat jalan serta para pengunjung rumah sakit Panti Rahayu
Purwodadi.
Upaya pengendalian infeksi nosokomial di Rumah Sakit Panti Rahayu
Purwodadi
bersifat multidisiplin, hal-hal yang perlu diperhatikan:
1. Discipline: perilaku semua karyawan harus didasari disiplin yang
tinggi untuk mematuhi prosedur aseptik, teknik invasif, upaya
pencegahan dan lain-lain.
2. Defence mechanisme: melindungi penderita dengan mekanisme
pertahanan yang rendah supaya tidak terpapar oleh sumber infeksi.
3. Drug: pemakaian obat antiseptik, antibiotika dan lain-lain yang dapat
mempengaruhi kejadian infeksi supaya lebih bijaksana
4. Design: rancang bangun ruang bedah serta unit-unit lain berpengaruh
terhadap resiko penularan penyakit infeksi, khususnya melalui udara
atau kontak fisik yang dimungkinkan bila luas ruangan tidak cukup
memadai.
5. Device: peralatan protektif diperlukan sebagai penghalang penularan,
misalnya pakaian pelindung, masker, topi bedah dan lain-lain.
B. Tujuan .
1. Tujuan umum .

Meningkatkan mutu pelayanan Rumah sakit Panti Rahayu melalui


pencegahan dan pengendalian infeksi yang dilaksanakan oleh semua
departemen /unit dengan meliputi kualitas pelayanan,management
resiko,clinical governace,serta kesehatan dan keselamatan kerja .
2. Tujuan Khusus
Sebagai pedoman pelayanan bagi staf PPIRS dalam
melaksanakan tugas,wewenang dan tanggung jawab secara
jelas.
Menggerakan segala sumber daya yang ada dirumah sakit dan
fasilitas kesehatan lain secara efektif dan efisien.
Menurunkan angka kejadian infeksi dirumah sakit secara
bermakna.
Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan pelayanan PPIRS
Panti Rahayu Purwodadi.
C. Ruang lingkup
Ruang lingkup pelayanan Pencegahan dan pengendalian infeksi meliputi :
Kewaspadaan standart dan berdasarkan transmisi
Pelayanan surveilens PPI
Hand Higiene sebagai bariier protection.
Penggunaan APD
Pelayanan CSSD
Pelayanan Linen
Pelayanan Kesehatan karyawan
Pelayanan Pendidikan dan edukasi kepada staf,pengunjung dan pasien
Pelayanan pemeriksaan baku mutu air bersih dan IPAL bekerja sama dengan
IPSRS.
Pelayanan pengelolaan kebersihan lingkungan
Pelayanan management resiko PPI
Antibiogram dan pola kuman RS Panti Rahayu
Penggunaan bahan single use yang di re-use
D. Batasan operasional.
Pelayanan pencegahan dan pengendalian infeksi meliputi kegiatan sbb :
I. Konsep dasar penyakit
Penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia
termasuk

indonesia

,ditinjau

dari

asalnya

infeksi

dapat

berasal

dari( Community acquaired infection)atau berasal dari( Hospital Acquired


infektion). Karena seringkali tidak bisa secara pasif ditentukan asal infeksi
maka istilah infeksi nosokomial (Hospital Acqured infeksi) diganti (HAIs)
yaitu healthcare assosiated infections dengan arti lebih luas tidak hanya
terjadi dirumah sakit juga bisa terjadi fasilitas kesehatan yang lain juga
tidak terbatas pada pasien namun infeksi juga dapat terjadi pada petugas
yang didapat saat melakukan tindakan medis atau perawatan . Batasan
a. Kolonisasi
:
merupakan suatu keadaan dimana ditemukan adanya agen
infeksi,dimana organisme tersebut hidup,tumbuh dan berkembang
biak,namun tanpa disertai adanya respon imun atau gejala klinis.Pada
kolonisasi tubuh pejamu tidak dalam keadaan suspectibel pasien dan
petugas dapat mengalami kolonisasi dengan dengan kuman patogen
tanpa mengalami rasa sakit tetapi menularkan kuman tersebut ke orang
lain (sebagai carrier).
b. Infeksi
Merupakan suatu keadaan dimana ditemukan adanya agen infeksi
(organisme dimana terdapat respon imun tetapi tidak disertai gejala
klinik.
c. Penyakit infeksi
Merupakan suatu keadaan dimana ditemukan adanya agen infeksi
(organisme) yang disertai adanya respon imun dan gejala klinik.
d. Penyakit menular
Adalah penyakit infeksi tertentu yang dapat berpindah dari satu
orang ke orang lain secara langsung maupun tidak langsung.
e. Inflamasi
Merupakan bentuk respon tubuh terhadap suatu agen yang ditandai
adanya dolor,kalor,rubor ,tumor dan fungsiolesa.
f. SIRS (Sistem Inflamtory Respon Syndroma).

Merupakan sekumpulan gejala klinik atau kelainan laboratorium


yang

merupakan

respon

tubuh

(imflamasi)

yang

bersefat

sitemik.kriteria SIRS bila ditemukan 2 atau lebih keadaan berikut : (1)


hipertermi atau hipotermia, (2) takikardia sesuai usia,(3) takipneu
sesuai usia,(4) leukositosis atau leukopenia atau pada hitung jenis
leukosit jumlah sel muda (batang ) lebih dari 10 %.SIRS dapat terjadi
karena infeksi atau non infeksi seperti luka bakar, pankreatitis,atau
gangguan metabolik.SIRS yang disebabkan oleh infeksi disebut sepsis.
Rantai penularan .
Untuk melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi perlu
mengetahui rantai penularan,apabila salah satu rantai dihilangkan atau
dirusak maka infeksi dapat dicegah atau dihentikan.
a. Agen Infeksi adalah mikroorganisme yang dapat menyebabkan
infeksi pada manusia ,dapat berupa bakteri,virus,riketsia,jamur, dan
parasit.ada 3 faktor yang mempengaruhi terjadinya infeksi yaitu :
virulensi,patogenesis,jumlah dosis obat.
b. Reservoir atau tempat hidup dimana

agen

infeksi

dapat

hidup,tumbuh,berkembang biak dan siap ditularkan pada orang


lain,reservoir

yang

paling

umum

adalah

manusia,binatang,tumbuhan,tanah,air dan bahan bahan organik.pada


manusia

sehat

permukaan

kulit,selaput

lendir

saluran

napas,pencernaan dan vagina meripakan reservoir yang umum.


c. Pintu keluar adalah jalan darimana agen infeksi meninggalkan
reservoir ,pintu keluar meliputi saluran napas,pencernaan,saluran
kemih dan kelamin,kulit,membran mukosa,trasplacenta dan darah
serta cairan tubuh lainnya.
d. Transmisi adalah bagaiman mekanisme penularan meliputi (1)
kontak; langsung dan tidak langsung,(2) droplet ,(3) airborne ,(4)
Vehicle ;makan,minuman,darah,(5) vektor biasanya bnatang pengerat
dan serangga.

10

e. Pintu masuk adalah tempat dimana agen infeksi memasuki tubuh


pejamu

(yang

supectibel)

dapat

melalui

saluran

pernapsan,pencernaan.perkemihan atau luka.


f. Pejamu (host) yang suspectibel adalah orang yang tidak tidak
memiliki daya tahan tubuh yang cukup untuk melawan agen infeksi
,faktor

yang

mempengaruhi

gisi,ekonomi,pekerjaan,gaya

umur,usia,status

hidup,terpasang

barrier

(kateter,implantasi ),dilakukan tindakan operasi.


Strategi pencegahan dan pengendalian infeksi.
a. Peningkatan daya tahan pejamu.
Dengan

pemberian

imunisasi(vaksin

Hepatitis

B),promosi

kesehatan nutrisi yang adekuat.


b. Inaktivasi agen penyebab infeksi.
Menggunakan metoda fisik maupun kimia contoh fisik dengan
pasteurisasi atau sterilisasi

ataupun memasak makanan hingga

matang.kalau kimia dengan pemberian clorin pada air dan desinfeksi .


c. Memutus rantai penularan.
Dengan menerapkan tindakan pencegahan dengan menerapkan
kewaspadaan isolasi dan kewaspadaan transmisi
d. Tindakan pencegahan paska pajanan.
Hal ini berkaitan dengan pecegahan agen infeksi yang ditularkan
melalui darah dan cairan tubuh lain yang dikarenakan tertusuk jarum
bekas pakai utamanya hepatitis B,C dan HIV.
II. Penyakit Menular.
I.

AIDS

Pengertian
Adalah Penyakit akibat menurunnya daya tahan tubuh yang didapat karena
terinfeksi HIV( human Imunodefisiency Virus).
Penyebab

11

Virus HIV tergolong retrovirus yang terdiri atas 2 tipe ,tipe 1 (HIV-1) dan tipe 2
(HIV-2)
KLASIFIKASI INFEKSI AIDS
1. Infeksi Akut.
a. Hampir 30-50 % pasien sudah terinfeksi HIV.
b. pasien sudah terjadi pemaparan virus dan dapat berlangsung 6 minggu
setelah kontak.
c. patogenesis kurang jelas tetapi sangat mungkin terjadi reaksi imunitas
terhadap masuknya HIV.Saat ini pemeriksaaan terhadap antibodi terhadap virus
HIV masih ( - ) tetapi pemeriksaan Ag p24 sudah (+) sangat infeksius.
2. INFEKSI KRONIK ASIMTOMATIK
a. Lamanya dapat bertahun tahun .
b. Tanpa gejala ,kemungkinan tubuh masih dapat mengkompensasi
3. PGL( PERSISTREN GENERALIZED LYMPHADENOPATHY)
a. Terjadi pembesaran kelenjar getah bening yang semetris.sering terjadi
pembesaran limpa di leher posterior dan anterior.Kelompok ini berkembang
menjadi AIDS kira2 10-30 % dalam jangka waktu 24- 60 bulan.
a. CARA PENULARAN HIV.
1. Penularan melalui hubungan seksual
2. Penularan melalui darah.
3. Penularan secara perinatal.
Cairan tubuh yang dapat mengandung HIV yaitu;

12

Cairan vagina.

ASI.

Air mata.

Air liur.

Air seni.

Air ketuban.

Dan cairan cerebrospinal..


b. Gejala dan tanda

Biasanya tidak ada gejala klinis yang khusus pada orang yang terinfeksi HIV
dalam waktu 5 sampai 10 tahun ,Setelah terjadi penurunan sel CD 4 secara
bermakna baru AIDS mulai berkembang dan menunjukan gejala gejala spt :

Diare yang berkelanjutan .

Penuunan berat badan secara drastic.

Pembesaran kelenjar limfe leher dan atau ketiak.

Batuk terus menerus.

2. Flu burung.
Dibagi menjadi 4 sbb :
a) Seseorang dalam penyelidikan
b) Kasus suspek.
c) Kasus probabel
d) Kasus konfirmasi
1. Seseorang dalam penyelidikan
Diputuskan

oleh

pejabat

berwenang

untuk

dilakukanpenyelidikan

epidemiologi kemungkinan terinfeksi H5N1,mis orang sehat namun kontak

13

erat dengan kasus atau penduduk sehat namun tinggal didaerah flu burung
,adapun gejala yang ditimbulkan :

Batuk

Sakit tenggorokan

Pilek

Sesak napas dan terdapat satu atau lebih keadaan dibawah ini :

1. Dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala mempunyai riwayat kontak


erat

dengan

penderita(suspek,probabelatau

konfirm)

seperti

merawat,berbicara atau bersentuhan dengan pasien dalam jarak 1 meter.


2. Dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala mempunyai riwayat kontak
erat

dengan

penderita(suspek,probabelatau

konfirm)

seperti

memasak,menyembelih atau membersihkan bulu ).


3. Dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala mempunyai riwayat kontak
erat dengan penderita(suspek,probabelatau konfirm) seperti membersihkan
kotoran ,bahan atau produk lain.
4. Dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala mempunyai riwayat kontak
erat dengan penderita(suspek,probabelatau konfirm) mengkonsumsi
produk unggas mentah atau yang tidak dimasak dengan sempurna.
5. Dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala mempunyai riwayat kontak
erat dengan penderita(suspek,probabelatau konfirm) memegang atau
menangani sampel hewan atau manusia yang dicurigai mengandung
H5N1.
6. Dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala mempunyai riwayat kontak
erat dengan penderita(suspek,probabelatau konfirm) atau binatang selain
unggas yang terinfeksi (babi atau kucing.)

14

7. Ditemukan leukopeni.
8. Ditemukan titer antibodi terhadap H5 dengan pemeriksaan uji HI
menggunakan eritrosit kuda atau uji ELISA untuk influensa A tanpa
subtipe.
9. Foto Rontgen dada menggambarkan pneumonia yang cepat memburuk pada
serial foto.

Infeksi selaput mata

Diare atau gangguan pencernaan.

Fatigue

Kasus probabel flu burung.


Dengan kriteria. :
1. Ditemukan kenaikan titer antibodi terhadap H5 min 4 x dengan
pemeriksaan uji HI menggunakan eritrosit kuda atau uji ELISA.
2. Hasil lab terbatas untuk influenza H5 (terdeteksi antibodi spesifik
H5dalam

spesimen

serum

tunggal

)menggunakan

uji

netralisasi(dikirim kelab rujukan


Kasus Flu burung terkonfirmasi.
Dengan kriteria :
1. Isolasi virus H5N1 positif
2. Hasil PCR H5N1 positif.
3. Peningkatan 4 x lipat titer antibodi netralisasi untuk H5N1 dari
spesimen.

15

4. Konvalesen dibandingkan dengan spesimen akut (diambil 7 hari


setelah awitan gejala penyakit) dan titer antibodi metralisasi
konvalesen harus pula 1/80 .
5. Titer antibodi mikronetralisasi H5N1 1/80 pada spesimen serum
yang diambil pada hari ke stelah awitan disertai hasil positif uji
serologi lain,mis titer HI sel darah merah kuda 1/160 atau western
blot spesifik H5 positif.
Pencegahan :
1. Menghindari kontak dengan benda terkontaminasi,atau burung
terinfeksi.
2. Menghindari peternakan unggas.
3. Hati hati ketika menangani unggas.
4. Memasak ddengan suhu 60C selama 30 menit,atau 80C selama 1
menit)
5. Menerapkan tindakan untuk menjaga kebersihan tangan :

Setelah memgang unggas.

Setelah memegang daging unggas.

Setelah memasak.

Sebelum memasak

Pengobatan.
Obat anti virus bekerja menghambat replikasi virus sehingga
mengurangi gejala dan komplikasi yang terinfeksi.
Macam obat :
1. Amantadine.

16

2. Rimatadine
3. Oseltamivir(tamiflu)
4. Zanavir(relenza)

3. TUBERKULOSIS (TBC)
Penyebab
TBC disebabkan oleh kuman /basil tahan asam(BTA) yakni
micobactpi derium tuberkulosis.Kuman ini cepat mati bila terkena
sinar matahari langsung,tetapi dapat bertahan hidup beberapa hari
ditempat yang lembab dan gelap.Beberapa jenis micobakterium
lainjuga dapat menyebabkan penyakit pada manusia (matipik).Hampir
semua

oirgan

tubuh

dapat

terserang

bakteri

ini

seperti

kulit,otak,ginjal,tulang dan paling sering paru.


Epidemiologi
Indonesia menduduki peringkat ke 3 dunia dalam jumlah pasien TB
setelah India dan Cina,diperkirakan penduduk dunia terinfeksi Tb
secara laten.Di indonesia diperkirakan terdapat 583 000 kasus baru
dengan 140 000 kematian setiap tahun.
Faktor resiko TB ; HIV,DM,Gisi kurang,kebiasaan merokok.
Cara penularan.
Menular dari orang ke orang melalui droplet atau percikan dahak.
Masa Inkubasi
Sejak masuknya kuman sampai timbul gejala lesi primer atau reaksi
tes tuberculosis positif

memerlukan waktu antara 2 -10 minggu


17

.Resiko menjadi TB paru dan TB ekstrapulmuner progresif infeksi


primer umumnya terjadi pada tahun pertama dan kedua.Infeksi laten
bisa terjadi seumur hidup.Pada pasien dengan imun defisiensi seperti
HIV masa inkubasi bisa lebih pendek.

Masa penularan
Berpotensi menular selama penyakitnya masih aktif dan dahaknya
mengandung BTA,penularan berkurang apabila pasien menjalani
pengobatan adekuat selama min 2 minggu,sebaliknya pasien yang
tidak diobati secara adekuat dan pasien dengan persisten AFB positif
dapat menjadi sumber penularan sampai waktu lama.
Tingkat

penularan

dikeluarkan,virulensi

tergantung

pada

kuman,terjadinya

jumlah

basil

aerosolisasi

yang
waktu

batuk/bersin,dan tindakan medis beresiko tinggi seperti intubasi dan


bronkoskopi
Gejala klinis :

Batuk terus menerus disertai dahak selama 3 minggu /lebih.

Batuk berdahak

sesak napas

nyeri dada

Sering demam

nafsu makan menurun.

penurunan berat badan .

BTA (+)

Pengobatan :
18

Pengobatan spesifik dengan kombinasi obat anti tuberculosis


(OAT) dengan metoda DOTS (directly observed treatment
shourtcore ) diawasi poleh pengawas minum obat.
Untuk pasien baru TB BTA (+) ,WHO menganjurkan
pemberian 4 macam obat setiap hari selama 2 bulan berturut
terdiri rif ,inh,pza,dan etambutol diikuti inh dan rif 3 kali
seminggu selama 4 bulan.

Pencegahan.

Penemuan dan pengobatan TB

Imunisasi BCG sedini mungkin terhadap mereka yang belum


terinfeksi.

Perbaikan lingkungan dan status gizi dan kondisi sosial ekonomi.

4. MRSA (Methicilin Resistent Stapylococcuc Aereus)


Adalah salah satu tipe bakteri stayloccus yang ditemukan pada kulit
dan hidung dan kebal terhadap antibiotika.jumlah kematian MRSA
lebih banyak dibandingkan AIDS
Saat ini ada 2 tipe :
1. Health care asosiated (HA MRSA)
Biasanya ditemukan difasilitas kesehatan terutama rumah sakit..
2. Community asosiated (CA-MRSA)
Yang baru ini ditemukan ditempat tempat umum,fitness,lokerloker,sekolah dan perabotan rumah tangga.

19

Biasanya menginfeksi orang dan anak-anak yang daya tahan tubuhnya


lemah,jika daya tahan tubuh baik tidak akan menimbulkan gejala
.Bakteri yang dibawa sipasien menyebar dan berpindah pada orang
lain dengan cara kontak kulit dan menyentuh barang yang
terkontaminasi . Stapylococcus menimbulkan gejala seperti infeksi
kulit,jerawat,bisul,abses atau gigitan serangga,ini biasa menyebabkan
bengkak,merah dan nyeri.bakteri ini dapat menembus kulit sampai
dengan menimbulkan infeksi ditulang,sendi,aliran darah,jantung dan
paru yang bias mengancam jiwa.
Penyebaran MRSA.
1. Menyentuh kulit atau luka terinfeksi dari siapa saja yang MRSA
2. Berbagi objek seperti handuk atau peralatan atletik, peralatan
rumah tangga yang MRSA
3. Kontak fisik dapat juga disebarkan melalui batuk dan bersih
4. Menyentuh hidung dari penderita MRSA
Tanda dan gejala :
1. Infeksi luka
2. Bisul
3. Folikel rambut yang terinfeksi
4. Impetigo
5. Kulit yang sakit seperti digigit serangga
Diagnose :
Contoh kulit, nanah, darah, urin atau bahan biopsy dikirim ke laborat
dan dikultur untuk S aureus. Juka S aureus yang diisolasi (tumbuh
dipiring pantry) bakteri tersebut kemudian terkena antibiatikyang
berbeda termasuk Meticilin dan S aureus tumbuh dengan baik di
Meticilindalam kultur yang disebut MRSA. Prosedur ayng sama juga
20

dilakukan untuk menentukan apakah seseorang merupakan pembawa


MRSA(Screning untuk carrier) tetapi sample kulit atauselaput lender
hanya diswab tidak dibiopsi
Pengobatan MRSA :
Minor infeksi MRSA kadang kadang dapat mengalami komplikasi
serius seperti menyebar infeksi kejaringan sekitar darah, tulang dan
jantung. Karena MRSA yang tahan terhadap antibiotic banyak akan
sulit

untuk

mengobati

namun

beberapa

antibiotic

berhasil

mengendalikan infeksi tapi jarang.


Tindakan pencegahan :
1. Kebersihan tangansesering mungkin terutama setelah menyentuh
hidung anda.
2. Bila batuk terapkan etika batuk
3. Jika anda mengalami infeksi kulit jaga daerah yang terinfeksi
dengan ditutup kain kasa, ganti ferban sesering mungkin terutama
jika basah.
4. Bersihkan kamar mandi dengan baik karena penularan juda
melalui feces dan urine
5. Isolasikan peralatan mandi dan peralatan makan khusus untuk
penderita MRSA.
6. Jangan berbagi handuk, pisau cukur, sikat gigi dan barang pribadi
yang lainnya.
7. Isolasikan

pasien,

dikontaminasi

dengansabun dan clorin 0,5%.


II.

Kegiatan pelayanan PPIIRS

21

semua

peralatan

pasien

PENGERTIAN SURVEILENS ADALAH :


Suatu pengamatan yang sistematis ,efektif dan terus menerus terhadap timbulnya dan
penyebaran penyakit pada suatu populasi serta terhadap keadaan atau peristiwa yang
menyebabkan meningkatnya atau menurunnya resiko terjadinya penyebaran penyakit :
1. Pada saat pasien masuk rumah sakit tidak ada tanda tanda tidak dalam masa inkubasi
infeksi tersebut.
2. Inkubasi terjadi 2x 24 jam setetlah pasien dirawat dirumah sakit apabila tanda- tanda
infeksi sudah timbul sebelum 2x24 jam sejak mulai dirawat ,maka perlu diteliti masa
inkubasi dari infeksi tersebut.
3. Infeksi pada lokasi yang sama tetapi disebabkan oleh mikroorganisme yang berbeda dari
mikroorganisme saat masuk rumah sakit atau mikroorganisme penyebab sama tetapi lokasi
infeksi berbeda.
4. Infeksi terjadi setelah pasien pulang dan dapat dibuktikan berasal dari rumah sakit.
Ada 2 keadaan yang bukan disebut infeksi nosokomial.
1. Infeksi yang berhubungan dengan komplikasi atau meluasnya infeksi yang sudah ada pada
waktu masuk rumah sakit.
2. Infeksi pada bayi baru yang penularannya melalui placenta (mis toxoplasmosis,sifilis) dan
baru muncul pada atau sebelum 48 jam setelah masa kelahiran .
Ada 2 keadaan yang bukan disebut infeksi :
1. Kolonisasi : yaitu adanya mikroorganisme (pada kulit,selaput lender,luka terbuka )yang
tidak memberikan gejala dan tanda klinis.
2. Imflamasi yaitu suatu kondisi respon jaringan terhadap jejas atau rangsangan zat non
infeksi seperti zat kimia.
Infeksi nosokomial mudah terjadi karena adanya beberapa kondisi antara lain:
1. Rumah sakit merupakan tempat berkumpulnya orang sakit,sehingga jumlah dan jenis
kuman penyakit yang ada lebih banyak dari pada tempat lain.
2. Orang sakit mempunyai daya tahan tubuh yang rendah sehingga mudah tertular.
3. Dirumah sakit sering orang dilakukan tindakan invasive mulai dari yang paling sederhana
seperti pemasangan infuse sampai tindakan operasi.
4. Mikroorganisme yang ada cenderung lebih resisten terhadap anti biotika ,akibat
penggunaan berbagai macam antibiotika yang sering kali tidak rasional.
5. Adanya kontak langsung antar petugas dengan pasien,petugas ke lingkungan yang dapat
menularkan kuman pathogen.
6. Penggunaan alat/instrument yang telah terkontaminasi dengan kuman.

22

Sumber-sumber infeksi yang terjadi di rumah sakit dapat berasal dari :


1.
2.
3.
4.

Petugas rumah sakit.


Pengunjung pasien.
Antar pasien itu sendiri.
Peralatan yang dipakai dirumah sakit.
Lingkungan.

1.
2.
3.
4.
5.

Mencegah pasien memperoleh infeksi selama dalam perawatan.


Mengontrol penyebaran infeksi antar pasien.
Mencegah terjadinya kejadian luar biasa.
Melindungi petugas.
Menyakinkan bahwa rumah sakit tempat yang aman bagi pasien dan petugas .

1. HAP (hospital aquared pneumonia) dan VAP (Ventilator associated pneumonia).


1.

HAP adalah infeksi saluran napas bawah yang mengenai parenkim paru setelah pasien dirawat
dirumah sakit setelah 48 jam tanpa dilakukan intubasi

dan sebelumnya tidak menderita

penyakit infeksi saluran napas bawah.HAP dapat diakibatkan karena tirah baring yang lama
(koma ,tidak sadar tracheostomi,refluk gaster).
2. VAP adalah infeksi saluran napas bawah yang mengenai parenkim paru setelah pemakaian
ventilasi mekanik lebih dari 48 jam dan sebelumnnya tidak ditemukan tanda tanda infeksi
saluran napas.
Kriteri pneumonia :
1. Bunyi pernapasan yang menurun /pekak,ronchi basah pada daerah paru.
2. Produksi sputum banyak dan purulen.
3. Hasil X ray adanya densitas paru (infiltrate).
4. Demam >38 C dan batuk.
5. Pemeriksaan cedan sputum ditemukan peningkatan lekosit (>25/LPK)

23

Pada orang dewasa dan anak >12 bulan didapatkan :


1. Bunyi napas menurun pekak,ronkhi basah pada daerah paru.

Sputum purulens baru dan perubahan warna sputum.

Biakan kuman dan biakan darah ()

Isolasi kuman patogen atau aspirasi trakea.

2.Hasil X Ray ada infiltrasi paru,konsolidasi,cavitasi,efusi pleura baru secara progrsif


ditambah salah

satu ini:

- Sputum purulen dan perubahan dan perubahan sputum.


- Isolasi kuman dan biakan darah (+).
- Isolasi kuman patogen aspirasi tracea ,sikatan brokus atau biopsy (+).
- Titer IgM atau IGG spesifik meningkat
- Isolasi antigen virus (+) sekresi saluran pernapasan .
Pada umur kurang dari 12 tahun.:
- Didapatkan 2 atau = apneu,takipneu bradikardia,wheesing,ronchi basah,,batuk ditambah satu
diantaranya sbb:
1. produksi sputum atau sekresi pernapasan meningkat dan purulen.
2. Isolasi kuman dan biakan kuman (+).
3. Isolasi kuman aspirasi tracea /brokus/biopsi (+).
4. Isolasi/antigen virus (+) dalam sekresi saluran pernapasan.
5. Titer IgM dan IgG spesifik meningkat 4x .
6. Tanda pneumonia pada pemeriksaan hispatologi.

Faktor penyebab :

24

1. Lingkungan .
- legionella,klebsiella,P aerogenesa,Amuba baumi.
- Makanan ;Muntahan.
2. Peralatan .
- NGT
- ET
- Suktion kateter.
Peralatan bronchospi
- Peralatan pernapasan.
3. Manusia.
- Haemofilus influenza.
- Stapilococus Aereus
- Stapilococcus pnemonia.
- MDR stains.
Faktor-faktor resiko :
1. Kondisi pasien sendiri.
- Usia > 70 tahun.
- Pembedahan (thorakotomi,abdomen)
- penyakit kronis.

25

- Penyakit jantung kongestif.


- Penyakit paru obstruksi kronis.
- Perokok.
- koma.
- CVD.
2. Faktor pengobatan .
- Sedasi.
-Anestesi umum.
- intubasi tracea.
- Pemakaian ventilator mekanik yang lama.
- Penggunaan antibiotika .
- penggunaan imunosupresif dan citostatika.
Prinsip dasar pencegahan :

Bila memungkinkan obati penyakit parunya baru melakukan tindakan operasi.

Tinggikan posisi kepala 30- 45 .

Bila tidak diperlukan hindari pembersihan jalan napas menggunakan suction kateter.

Lakukan oral higiene menggunakan chlorhexidine 0,2 % setiap ganti shif.

Ajarkan latihan batuk efektif dan napas dalam sebelum dan sesudah operasi.

Lakukan perkusi dan postural drainage untuk merangsang batuk dan mengeluarkan lendir .

Mobilisasi dini setelah operasi..

2. Peralatan ventilator.

26

Bersihkan permukaan alat secara rutine dengan menggunakan detergent netral.

Penggunaan close suction diganti setiap 7 hari atau jika kotor.

Breathing sirkuit,humidifier dan bakterial filter diganti 7 hari sekali atau jika kotor.

Termovent hepafilter diganti setiap hari.

Populasi beresiko HAP .


1. Semua pasien tirah baring lama yang dirawat dirumah sakit.
2. Numerator adalah jumlah kasus HAP perbulan.
3. Denominator adalah jumlah hari rawat pasien tirah baring perbulan.
Infeksi rate HAP =
Numerator x 1000=.....%
Denominator
kasus HAP perbulan

x 1000=.......%

Hari rawat tirah baring perbulan.


Populasi beresiko VAP :
1.

Terfokus spesifik diruang ICU,NICU,PICU.

2.

Semua pasien yang terpasang ventilasi mekanik.

3.

Numerator adalah jumlah kasus yang terpasang ventilasi mekanik perbulan.

4.

Denominator adalah jumlah hari pemasangan ventilasi mekanik perbulan.


Clinical Pulmonari Infection score ( CPIS)
Indikator

Score
1

Sekresi trakea

sedikit

sedang

banyak

Infiltrat

Tidak ada

Difus

Terlokalisir

27

Suhu

>36.5 & <38.4

>38.5 & 8.9

>39 &<36

Lekosit /mm

>4000 &<11.000

<4000 atau 11.000

Pa O2 /FiO2

>240 /ARDS

<240 &
ARDS

bukan

Infeksi rate VAP =


Numerator x 1000= .....%
Denominator

kasus VAP perbulan

x 1000 =........%

Hari pemasangan ventilasi mekanik perbulan.


3. ILI (Infeksi Luka Infus)
1. Infeksi luka infus harus memenuhi minimal 1 dari kriteria sbb :
a) Hasil kultur positif dari arteri atau vena yang diambil saat operasi.
b) Terdapat bukti infeksi dari arteri atau vena yang terlihat saat operasi atau berdasarkan bukti
hispatologik.
c) Pasien minimal mempunyai 1 gejala dan terlihat tanda berikut tanpa ditemukan penyebab
lainnya :
Demam (>38 C) ,nyeri,eritema,atau panas pada vaskular yang terlihat.
Kultur semikuantitatif dari ujung kanula intravaskular tumbuh >15 koloni mikriba.
Kultur darah tidak dilakukan atau hasil negatif.
d) Adanya aliran nanah pada vaskular yang terlihat.
e) Untuk pasien 1 tahun,minimal mempunyai 1 gejala dan tanda berikut tanpa ditemukan
penyebab lain :

28

Demam

nyeri,atau panan pada vaskular yang terlibat dan


Kultur semikuantitatif dari ujung kanula intravaskulartumbuh >15 koloni mikroba
Kultur tidak dilakukan atau hasil negatif

(>38C

rektal),hipotermia

(<37

C),apneu,bradikardia,letargia,atau

Petunjuk pelaporan ILI :

ILI purulen dikonfirmasi dengan hasil positif kultur semikuantitatif dari ujung
kateter,tetapi bila hasil kultur negatif atau tidak ada kultur darah maka dilaporkan

sebagai ILI bukan sebagai IADP.


Pelaporan mikroba dari hasil kultur darah sebagai IADP bila tidak ditemukan infeksi

lain dari bagian tubuh.


Infeksi intravaskular dengan hasil kultur darah positif dilaporkan sebagai IADP
Penggantian IV LINE untuk dewasa dilakukan setiap 3 (tiga) hari sekali, sedangkan

IV LINE untuk bayi dan anak-anak setiap 5 (lima) hari sekali.


A. Survey dilakukan 30 % dari populasi setiap ruangan perawatan.
B. Jika pasien terpasang infus dari luar rumah sakit tidak dilakukan survey.
C. Survey dilakukan pada pasien baru sampai beberapa hari hingga jumlah responden
terpenuhi.
D. Golden standart penegakan kasus infeksi adalah melalui kultur darah ,setiap 3 bulan sekali
dilakukan kultur 3 responden setiap ruangan.
Cara menghitung ILI
Numerator x 1000 = ..........%
Denominator
Jumlah kasus ILI x 1000 = ........ %
Jumlah hari pemakaian alat
Populasi beresiko ILI :
1) Semua pasien yang menggunakan iv line dengan kurun waktu 2x24 jam.
2) Lama
penggunaan
kateter
,lama
hari
rawat
,pasien
immunocompromise,malnutrisi,luka bakar atau lukaoperasi tertentu.
Pencegahan ILI :

29

dengan

1) Lakukan kebersihan tangan aseptik sebelum melakukan tindakan.


2) Gunakan teknik aseptik saat melakukan tindakan.
3) Ganti set infus dan dressing setiap 3 hari sekali atau setiap kali diperlukan (lembab atau
kotor )
Lepas atau hentikan akses pemasangan kateter vena sentral sesegera mungkin jika tidak
diperlukan lagi.
4. ISK (Infeksi Saluran kemih)
Pengertian
Infeksi saluran kemih nosokomial ialah infeksi saluran kemih yang pada pasien masuk rumah sakit
belum ada atau tidak dalam masa inkubasi dan didapat sewaktu dirawat atau sesudah dirawat.
Kebijakan
. Survey dilakukan 30 % dari populasi setiap ruangan perawatan.
. Jika pasien terpasang Kateter urine dari luar rumah sakit tidak dilakukan survey.
. Survey dilakukan pada pasien baru sampai beberapa hari hingga jumlah responden terpenuhi.
Infeksi saluran kemih dapat disebabkan :
a. Endogen : - perubahan flora normal.
b. Eksogen : - prosedur yang tidak bersih / steril
- tangan yang tidak dicuci sebelum prosedur.
2.1. Infeksi Saluran Kemih Simtomatik.
Dengan salah satu kriteria dibawah ini :
* Salah satu gejala ini :
- Demam > 380C
- Disuria
- Nikuria ( urgency )
- Polakisuria
- Nyeri Suprapubik.
Dan biakan urin > 100.000 kuman / ml dengan tidak lebih dari dua jenis mikroorganisme :
* Dua dari gejala :
- Demam 380C
30

- Disuria
- Nikuria
- Polakisuria
- Nyeri Suprapubik
* dan salah satu tanda :
- Tes carik celup ( dipstick ) positif untuk leukosit esterase dan atau nitrit.
- Pluria ( 10 lekosit/ml atau > 3 lekosit /LPB pada urine yang tidak disentrifus.
- Mikroorganisme positif pada pewarnaan gram pada urine yang tidak disentlifus.
- Biakan urine dua kali dengan hasil kuman uropatogen yang sama dengan jumlah > 100.000
kuman/ml dari urin yang diambil secara steril.
- Biakan urin dengan hasil satu jenis kuman uropatogen dengan jumlah 100.000 kuman/ml dan
pasien diberi antibiotic yang sesuai.
- Diagnosis oleh dokter.
- Dokter memberikan terapi antibiotika yang sesuai.
2.2. Infeksi saluran kemih asimtomatik
Dengan salah satu criteria dibawah ini :
* memakai kateter dower selama 7 hari sebelum biakan urin dan tak ada gejala :
- Demam 380C
- Disuria
- Nikuria
- Polakisuria
- Nyeri suprapubik
Biakan urin dengan jumlah > 100.000 kuman/ml urin dengan tak lebih dari dua jenis kuman.
* tidak memakai kateter dower selama 7 hari sebelum biakan urin dengan dua kali hasil biakan >
100.000/ml dengan mikroorganisme yang sama yang tak lebih dari dua jenis dan tak ada gejala :
- Demam 380C
- Disuria
- Nikuria
- Polakisuria
- Nyeri Suprapubik
2.3. Infeksi Saluran Kemih lain.
( dari ginjal, ureter, kandung kemih, uretra atau jaringan retroperito neal atau rongga perinefrik )

31

dengan salah satu criteria dibawah ini :


Biakan positif dari cairan atau jaringan yang diambil dari lokasi yang dicurigai.
Ditemukan abses atau tanda infeksi pada pemeriksaan atau operasi atau secara hispatologis.
Dua dari gejala :
- Demam 380C
- Nyeri local pada daerah yang dicurigai.
- Nyeri tekan pada daerah yang bersangkutan.
Dan salah satu dari tanda :
- Drenase purulen dari daerah yang dicurigai.
- Biakan darah positif
- Radiologi terdapat tanda infeksi
- Diagnosis dokter
- Dokter memberikan terapi antibiotika yang sesuai
Pasien berumur < 12 bulan dengan salah satu gejala :
- Demam 380C
- Hipotermia
- Apneu
- Bradikardi
- Disuria
- Letargi
- Muntah
Dan salah satu dari tanda :
- Drenase purulen dari daerah yang dicurigai.
- Biakan darah positif
- Radiologi terdapat tanda infeksi
- Diagnosis dokter
- Dokter memberikan terapi antibiotika yang sesuai.
2.4. Infeksi Saluran Kemih pada neonatus
- Bayi tampak tidak sehat, kuning, muntah, hipertermi/ hipotermi, gagal tumbuh ( gejala sama
dengan sepsis ).
- Infeksi ini dapat pula disebabkan oleh sepsis.
- Laboratorium : pemeriksaan mikroskopik dan biakan urin dari punksi suprapubik. Biakan urin
positif kalau ditemukan kuman lebih dari 100.000/ml urin.
2.5. Infeksi Saluran Kemih pada Anak
- Dapat dengan atau tanpa gejala. Makin muda usia anak makin tidak khas.

32

- Gejala : panas, nafsu makan berkurang, gangguan pertumbuhan, kadang kadang diare atau
kencing yang sangat berbau.
- Pada usia prasekolah gejala klinis berupa sakit perut, muntah, panas, sering kencing dan ngompol.
Pada anak yang lebih besar gejala spesifik makin jelas seperti ngompol, sering kencing, sakit waktu
kencing atau nyeri pinggang.
- Gejala infeksi timbul sesudah dilakukan punksi suprapubik, kateterisasi buli buli.
- Apabila biakan kuman dalam urin pada waktu masuk dan saat diperiksa berbeda.
- Diagnosis : Klinik dan laboratorik.
- Laboratorik : hasil biakan urin yang diambil melalui suprapubik dikatakan positif apabila jumlah
kuman sama atau lebih dari 200/ml urin. Dan apabila melalui urin pancaran tengah atau kateterisasi
kandung kemih maka jumlah kuman dalam urin 100.000 atau lebih/ml urin.
- Pemeriksaan lainnya : sediment urin terdapat piuria.
3. Infeksi Aliran Darah Primer ( IADP )
3.1. Definisi Infeksi Aliran Darah Primer
Infeksi Aliran Darah Primer adalah infeksi aliran darah yang timbul tanpa ada organ atau jaringan
lain yang dicurigai sebagai sumber infeksi. Criteria infeksi aliran darah primer dapat ditetapkan
secara klinis dan laboratories dengan gejala / tanda berikut :
3.1.1. Klinis
1). Untuk Dewasa dan anak > 12 bulan.
Ditemukan salah satu diantara gejala berikut tanpa penyebab lain :
- Suhu > 380C, bertahan minimal 24 jam dengan atau tanpa pemberian antipiretika.
- Hipotesi, sistolik < 90 mmHg.
Oliguri, jumlah urin < 0,5 cc/kbBB/jam
Dan
Semua gejala / tanda yang disebut dibawah ini :
- Tidak ada tanda tanda infeksi di tempat lain.
- Telah diberikan antimikroba sesuai dengan sepsis.
CATATAN :
- Suhu badan diukur secara aksiler selama 5 menit dan diulang setiap 3 jam,
- Apabila pasien menunjukkan gejala, suhu tubuh diukur secara oral atau rectal.
2). Untuk bayi umur 12 bulan. Ditemukan salah satu gejala / tanda berikut tanpa penyebab lain :
- Demam > 380C
- Hipotermi < 370C

33

- Apnea
- Bradikardi < 100x/mnt
Dan
Semua gejala / tanda di bawah ini :
- Tidak terdapat tanda tanda infeksi ditempat lain.
- Diberikan terapi antimikroba sesuai dengan sepsis.
3) Untuk Neonatus
Dinyatakan menderita infeksi aliran darah primer apabila terdapat 3 atau lebih diantara enam gejala
berikut :
- Keadaan umum menurun antara lain : malas minum, hipotermi (< 370C) hipertermi ( 380C ) dan
sklerema.
- Sistem kardiovaskuler antara lain :
tanda renjatan yaitu takikardi, 160/mnt atau bradikardi, 100/mnt dan sirkulasi perifer buruk.
- Sistem pencernaan antara lain : distensi lambung, mencret, muntah dan hepatomegali.
- Sistem pernafasan antara lain : nafas tak teratur, sesak, apnea dan takipnea.
- Sistem saraf dan pusat antara lain : hipertermi otot, iritabel, kejang dan letargi.
- Manifestasi hematology antara lain : pucat, kuning, splenomegali dan perdarahan.
Dan
Semua gejala / tanda di bawah ini :
- Biakan darah tidak dikerjakan atau dikerjakan tetapi tidak ada pertumbuhan kuman.
- Tidak terdapat tanda tanda infeksi ditempat lain.
- Diberikan terapi antimikroba sesuai dengan sepsis.
3.1.2. Laboratorik
Untuk orang dewasa dan anak umur > 12 bulan.
Ditemukan satu diantara 2 kriteria berikut :
1). Kuman pathogen dari biakan darah dan kuman tersebut tidak ada hubungannya dengan infeksi
ditempat lain.
2). Ditemukan satu diantara gejala klinis berikut :
- Demam > 380C.
- Menggigil
- Hipotensi
- Oliguri
Dan
Satu diantara tanda berikut :
- Terdapat kontaminan kulit dari 2 biakan berturut turut dan kuman tersebut tidak ada

34

hubungannya dengan infeksi ditempat ( organ / jaringan ) lain.


- Terdapat kontaminan kulit dari biakan darah pasien yang menggunakan alat intravascular ( kateter
intravena ) dan dokter telah memberikan antimikroba yang sesuai dengan sepsis.
Untuk bayi < 12 bulan, ditemukan satu diantara gejalaberikut :
- Demam > 380C
- Hipotermi < 370C
- Apnea
- Bradikardi < 100/mnt
Dan
Satu diantara tanda berikut :
- Terdapat kontaminan kulit dari 2 biakan berturut turut dan kuman tersebut tidak ada
hubungannya dengan infeksi ditempat ( organ / jaringan lain )
- Terdapat kontaminan kulit dari biakan darah pasien yang menggunakan alat intravaskuler ( kateter
intravena ) dan dokter telah memberikan antimikroba yang sesuai dengan infeksi
CATATAN :
Untuk neonatus digolongkan infeksi nosokomial apabila :
1. Pada partus normal di rumah sakit infeksi terjadi setelah lebih dari 3 hari.
2. Terjadi 3 hari setelah partus patologik, tanpa didapatkan pintu masuk kuman.
3. Pintu masuk kuman jelas misalnya luka infuse.
Cara penghitungan :

Numerator x 1000 = ..........%


Denominator
Jumlah kasus ISK x 1000 = ........ %
Jumlah hari pemakaian alat kateter urine

5. ILO (Infeksi Luka Operasi)

35

Pengertian SSI
a. ILO superfisial terjadi bila insisi hanya pada kulit dan jaringan bawah kulit (subkutan )
b. ILO profunda bila insisi terjadi mengenai jaringan lunak yang lebih dalam (fasia dan
lapisan otot)
c. ILO organ bila insisi dilakukan pada organ atau mencapai rongga dalam tubuh.
Kategori operasi :
1) Operasi bersih,adalah operasi dilakukan pada daerah /kulit yang pada kondisi pra
bedah

tidak

terdapat

peradangan

dan

tidak

membuka

traktus

respiratorius,gastroinestinal,orofaring,urinarius,atau traktus biliaris atau operasi


terencana dengan penutupan kulit primer atau tanpa pemakaian drain tertutup.
Kebijakan
a. Kriteria ILO superfisial :
- Infeksi yang terjadi dalam kurun waktu 30 hari setelah tindakan operasi.
- mengenai hanya pada kulit dan jaringan bawah kulit (subkutan)- Terjadi hal 2 sbb:

Drainase bahan purulen dari insisi superficial

Dapat diisolasi kuman penyebab dari biakan cairan atau jaringan yang diambil secara aseptic
dari tempat insisi superficial.

Sekurang kurangnya terdapat :


- satu tanda atau gejala infeksi sbb: rasa nyeri, pembengkakan yang terlokalisir, kemerahan,
atau hangat pada perabaan.
- insisi superficial terpaksa harus dibuka oleh dr bedah dan hasil biakan positif atau tidak
dilakukan biakan. Hasil biakan yang negatif tidak memenuhi kriteria ini.

Diagnosi ILO superficial oleh dokter bedah atau dokter yang menanggani pasien tersebut.

b. Faktor Risiko ILO


- Kondisi pasien sendiri, misal usia, obesitas, penyakit berat, ASA Score, karier MRSA,
lama rawat pra operasi, malnutrisi, DM, penyakit keganasan.
- Prosedur operasi : Cukur rambut sebelum operasi, jenis tindakan, antibiotik profilaksis,

36

lama operasi, tindakan lebih dari 1 jenis, benda asing, transfusi darah, mandi sebelum
infeksi luka operasi.
c. Survey dilakukan 30 % dari populasi setiap ruangan perawatan.
d. Jika pasien tindakan operasi dari luar rumah sakit tidak dilakukan survey.
e. Survey dilakukan pada pasien baru sampai beberapa hari hingga jumlah responden terpenuhi.
Kategori resiko :
1. Jenis luka

Luka bersih dan bersih kontaminasi skor : 0

Luka bersih kontaminasi dan kotor skor : 1

Keterangan :
- luka bersih : nontrauma ,operasi luka tidak infeksi,tidak membuka saluran
pernapasan dan genitourinari.
- Bersih kontaminasi : operasi yang membuka saluran pernapasan dan
genitourinari .
- Kontaminasi luka terbuka : trauma terbuka .
- kotor dan infeksi : trauma terbuka,kontaminasi fecal.
2. Lama operasi : waktu mulai dibuka insisi sampai penutupan kulit.
Setiap jenis operasi berbeda lama opearasinya

Lama operasi sesuai atau kurang dengan waktu yang ditentukan. Skor 0

Bila lebih dari waktu yang ditentukan skor : 1.

3. ASA score .

ASA 1-2,skor :0

ASA 3-5, skor :1

= X/Y x 100%
X : jumlah kasus infeksi yang terjadi dalam waktu tertentu.
Y : jumlah pasien operasi pada waktu tertentu.

37

Pencegahan ILO :
1. Pra bedah..
a. Persiapan pasien sebelum operasi.

Jika ditemukan tanda -tanda sembuhkan dulu infeksinya sebelum hari operasielektif dan
jika perlu ditunda sampai tidak ada infeksi.

Jangan mencukur rambut , pencukuran hanya dilakukan bila daerah sekitar operasi terdapat
rambut yang dapat mengganggu jalannya operasi (pencukuran dilakukan 1 jam sebelum
operasi dengan menggunakan alat cukur elektric.

Kendalikan kadar gula darah pada pasn diabetes dan hindari kadar gula darah yang terlalu
rendah sebelum operasi.

Sarankan pasien untuk berhenti merokok min 30 hari sebelum hari elektif operasi.

Mandikan pasien dengan cairan sabun yang mengandung chlorhexidine 2 % min 1 jam
sebelum operasi.
b. Antiseptik tangan dan lengan untuk tim bedah :

Kuku harus pendek dan jangan menggunakan kuku palsu.

Lakukan kebersihan tangan bedah dengan chlorhexidine 4 % setelah kebersihan tangan


tangan harus tetap mengarah ke atas dan dijauhkan dari tubuh agar air mengalir dari ujung
jari menuju siku,keringkan tangan dengan handuk steril ,pakai saung tangan dan gaun steril.

c. Tim bedah yang terinfeksi atau terkolonisasi.

Anjurkan agar melapor jika terdapat tanda infeksi agar mendapatkan pengobatan.

d. Profilaksis anti mikroba .

Pemberian anti mikroba hanya bila diindikasikan dan pilihlah yang paling efektif terhadap
patogen yang umum yang menyebabkan ILO pada operasi jenis tersebut yang
direkomendasikan.

Berikan dosis profilaksi awal melalui intravena 1 jam sebelum operasi sehingga sat
dioperasi konsentrasi bakterisida pada serum dan jaringan maximal.

38

2. Intra Bedah.
a. Ventilasi .

Pertahankan tekanan (+) ruangan kamar bedah .

Jangan menggunakan fogging dan sinar UV dikamar operasiuntuk mencegah ILO.

Pintu kamar bedah harus selalu tertutup kecuali diperlukan untuk lewatnya peralatan bedah.

Batasi jumlah orang yang masuk kamar bedah.

b. Membersihkan dan desinfeksi permukaan lingkungan.

Bila tampak darah atau cairan tubuh lain gunakan chlorine 0,5 % dan biarkan 10 menit
kemudian bersihkan cairan tadi .

Tidak perlu pembersihan khusus /penutupan kamar bedah setelah selesai operasi kotor.

Pel dan keringkan lantai kamar bedah dengan menggunakan detergennt normal.

c. Sterilisasi instrumen bedah.

Sterilisasikan instrumen bedah sesuai petunjuk.

Laksanakan sterilisasi kilat hanya untuk instrumen yang harus digunakan segera seperti
instrumen jatuh saat operasi.

d. Pakaian bedah /drapes .

Pakai masker bedah dan tutupi mulut dan hidung bila memasuki kamar bedah saat operasi
berjalan .

Pakai tutup kepala untuk menutupi rambut dikepala.

Jangan menggunakan caver shoes untuk mencegah ILO Ganti gaun bila tampak kotor dan
terkontaminasi percikan cairan tubuh pasien.

Gunakan gaun dan drape yang kedap air.

e. Teknik aseptik dan bedah.

Lakukan teknik aseptik saat melakukan pemasangan CVP,kateter anestesi spinal / epidural/
dan bila menyiapkan obat- obatan steril.

Siapkan peralatan dan larutan steril sasaat sebelum digunakan.

Perlakukan jaringan dengan lembut dan lakukan homeostasis yang efektif,minimalkan


39

jaringanyang mati atau ruang kosong (dead space) pada lokasi operasi.

Bila diperlukan drainage gunakan drain penghisap tertutup,letakan drain pd lokasi tubuh
yang terpisahdari insisi tubuh,lepas drain sesegera mingkin bila sudah tidahk dibutuhkan.

3. Paska Bedah;

Jika terjadi rembesan darah atau cairan pada daerah operasi segera laukakan penggantian
verban.

Lakukan mobilisasi sedini mungkin.

Pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga untuk mengkonsumsi makanan bergizi.

II. Kebersihan tangan.


Pedoman menkebersihan tangan telah memberikan anjuran tentang
kapan dan bagaimana melakukan kebersihan tangan atau menggosok tangan
untuk pembedahan, telah mengalami perubahan secara cepat pada masa 15
tahun terakhir, dengan munculnya AIDS pada tahun 1980 an.
Kebersihan tangan dengan sabun biasa dan air sama efektifnya dengan
kebersihan tangan memakai sabun antimicrobial (Pereira, Lee dan Wade
1990).
Pittet dan kawan-kawan pada tahun 2000, melaporkan hasil penelitian
tentang kepatuhan tenaga kesehatan dalam menkebersihan tangan, bahwa ada
4 alasan mengapa kepatuhan menkebersihan tangan masih kurang, yaitu:
Skin irritation
40

Inaccessible handwashing supplies


Being too bussy
No thinking abut it
Kepatuhan menkebersihan tangan di ICU (Spraot, I,J, 1994) kurang dari 50%,
sedangkan Galleger 1999 melaporkan bahwa kepatuhan menkebersihan
tangan tersebut :
Individu

Patuh %

Dokter
Perawat
Tenaga kesehatan lainya
Mahasiswa perawat

33
36
43
0

Tidak Patuh %
67
64
57
100

Kegagalan untuk melakukan kebersihan dan kesehatan tangan yang


tepat dianggap sebagai sebab utama infeksi nosokomial yang menular dan
penyebaran mikroorganisme multiresisten serta diakui sebagai kontributor
yang penting terhadap timbulnya wabah (Boyce dan Pittet, 2002), hal ini
disebabkan karena pada lapisan kulit terdapat flora tetap dan sementara yang
jumlahnya sangat banyak.
Flora tetap hidup pada lapisan kulit yang lebih dalam dan juga akar
rambut, tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, walaupun dengan dicuci dan
digosok keras. Flora tetap, berkemungkinan kecil menyebabkan infeksi
nosokomial, namun lapisan dalam tangan dan kuku jari tangan sebagian besar
petugas dapat berkolonisasi dengan organisme yang dapat menyebabkan
infeksi seperti : s.Auresus, Basili Gram Negative, dan ragi. Sedangkan flora
sementara, ditularkan melalui kontak dengan pasien, petugas kesehatan lainya,
atau permukaan yang terkontaminasi. Organisme ini hidup pula pada
permukaan atas kulit dan sebagian besar dapat dihilangkan dengan
mencucinta memakai sabun biasa dan air. Organisme inilah yang sering
menyebabkan infeksi nosokomial (JHPIEGO, 2004).
Kebersihan tangan adalah Proses membuang kotoran dan debris
secara mekanis dari kulit kedua belah tangan dan mereduksi jumlah
mikroorganisme transient dengan menggunakan bahan tertentu.
41

Flora transien dan flora residen pada kulit .


Flora transien pada tangan diperoleh melalui kontak dengan
pasien

,petugas

lain,atau

permukaan

lingkungan

(meja,tensi,stetoskop atau toilet),organisme ini tinggal dilapisan


luar kulit dan terangkat saat kebersihan tangan.Flora residen
tinggal dilapisan kulit yang lebih dalam serta didalam folikel
rambut dan tidak hilang seluruhnya saat dilakukan pencucian dan
pembilasan keras dengan sabun dan air mengalirUntungnya pada
sebagian kasus ,flora residen kemungkinan kecil terkait dengan
penyakit infeksi menular melalui udara seperti flu burung .Tangan
atau kuku petugas kesehatan dapat terkolonisasi pada lapisan dalam
oleh organisme yang menyebabkan infeksi seperti S .Aureus,batang
gram negatif.

Sabun
Produk pembersih yang bergua untuk menurunkan tegangan
permukaan sehingga membantu melepaskan kotoran,debris dan
mikroorganisme yang meempel sementara di tangan.sabun biasa
memerlukan gosokan untuk melepaskan mikroorganisme secara
mekanik,sementara sabun anti septik disamping membersihkan
juga dapat membunuh kuman

Agen antiseptik
Bahan kimia yang digunakan untuk menghambat atau membunuh
mikroorganisme baik yang transien atau residen.

Emolient
Cairan organik seperti gliserol,propilen glikol atau sorbitol yang
ditambahkan pada handrub berguna sebagai melunakkan kulit dan

membantu mencegah kerusakan kulit.


Air mengalir

42

Air yang secara alami atau kimia yang digunakan untuk kebersihan
tangan merupakan air bersih bebas mikroorganisme ,memiliki
turbiditas rendah (jernih ,tidak berbau )

Tujuan.
1. Membersihkan kedua tangan dari kotoran ,
2. Mereduksi jumlah microorganisme transient

Jenis kebersihan tangan ada 4 macam;


1. Kebersihan tangan surgical.
2. Kebersihan tangan Aseptik
3. Kebersihan tangan sosial
4. Kebersihan tangan handrub
5 moment kebersihan tangan :
1. Sebelum menyentuh pasien.
2. Sebelum melakukan tindakan aseptik.
3. Setelah tersentuh cairan tubuh pasien.
4. Setelah menyentuh pasien.
5. Setelah menyentuh lingkungan disekitar pasien

Menggunakan 6 langkah kebersihan tangan


1. Petugas menggosok punggung dan sela-sela jari tangan kiri dengan tangan
kanan dan sebaliknya.sebanyak 4x
2. Petugas menggosok kedua telapak tangan dan sela-sela jari
sebanyak 4x.
3. Jari jari sisi dalam dari kedua tangan petugas saling mengunci
sebanyak 4x
4. Petugas menggosok ibu jari berputar dalam genggaman tangan
kanan dan lakukan sebaliknya sebanyak 4x
5. Petugas menggosok dengan memutar ujung jari jari di telapak
tangan kiri dan sebaliknya sebanyak 4x
6. Petugas menggosok dengan memutar ujung jari jari di telapak
tangan kiri dan sebaliknya sebanyak
Hal yang perlu diperhatikan dalam kebersihan tangan:
1. Kuku harus seujung jari tangan.

43

2. Cat kuku tidak diperkenankan


3. Bila tangan luka atau tidak intak ,harus diobati
dan dibalut dengan balutan yang kedap air.
4. Jam tangan dan cicncin tidak diperkenankan

III.

dipakai
5.
ALAT PELINDUNG DIRI

Protective barrier umumnya diacu sebagai Alat Pelindung Diri (APD), telah
digunakan bertahun-tahun lamanya untuk melindungi pasien dari
mikroorganisme yang terdapat pada staf yang bekerja pada suatu unit perawatan
kesehatan. Akhir-akhir ini, adanya AIDS dan HCV dan resurgence tuberkulosis
di banyak negara, memicu penggunaan APD menjadi sangat penting untuk
melindungi staf .
Termasuk Alat pelindung Diri a.l: sarung tangan, masker/respirator, pelindung
mata (perisai muka, kacamata), kap, gaun, apron dan barang lainnya. Di banyak
negara kap, masker, gaun dan tirai terbuat dari kain atau kertas. Penahan yang
sangat efektif, bagaimanapun, terbuat dari kain yang diolah atau bahan sintetik
yang menahan air atau cairan lain (darah atau cairan tubuh) menembusnya.
Bahan-bahan tahan cairan ini, bagaimanapun, tidak tersedia secara luas karena
mahal. Di banyak negara, kain katun yang enteng (dengan hitungan benang
140/in) adalah bahan yang sering dipakai untuk pakaian bedah (masker, kap dan
gaun) dan tirai. Sayangnya, katun enteng itu tidak memberikan tahanan efektif,
karena cairan dapat menembusnya dengan mudah, yang membuat kontaminasi.
Kain dril, kanvas dan kain dril yang berat, sebaliknya, terlalu rapat untuk
ditembus uap (yaitu, sulit disterilkan), sangat sukar dicuci dan makan waktu
untuk dikeringkan. Bila bahan kain, warnanya harus putih atau terang agar
kotoran dan kontaminasi dapat terlihat.
Macam APD :
1. Masker
2. Sarung tangan
3. Kaca mata,

44

4. Topi
5. Apron/celemek
6. Pelindung kaki
7. Gaun pelindung
8. Helm
1. Sarung tangan.
Tujuan memakai sarung tangan :

Melindungi tangan dari kontak dengan darah,cairan


tubuh,secret,eksekreta,mukosa,kulit yang utuh dan benda-benda yang
terkontaminasi.

Jenis sarung tangan :


a) Sarung tangan steril:

Digunakan di IKO, poli gigi atau poli bedah

Digunakan saat pembedahan atau prosedur invasif

Penggunaanya sekali pakai.

b) Sarung tangan tidak steril

Digunakan di rawat inap, IPSRS, kebersihan

Digunakan saat akan bersentuhan dangan cairan atau mukosa tubuh atau
bahan berbahaya
c) Sarung tangan rumah tangga

Digunakan di linen, gizi, IPAL

Digunakan untuk menyentuh bahan bahan yang memerlukan perlakuan


khusus (piring yg licin, mencuci linen yang tebal, dll)

3 saat petugas menggunakan sarung tangan :

45

1) Sebagai barieer protekif dan mencegah kontaminasi yang berat (saat akan
menyentuh cairan tubuh,sekresi,ekskresi,mukosa membran dan kulit yang
tidak utuh.
2) Untuk menghindari transmisi mikroba ditangan petugas ke pada pasien
(saat akan melakukan tindakan aseptik atau menangani benda benda
yang terkontaminasi .
3) Untuk mencegah tangan petugas terkontaminasi mikroba dari pasien
lain(saat penggunaan sarung tangan yang benar,krn sarung tangan belum
tentu tidak berlubang walaupun kecil)
Hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan sarung tangan;
- Kebersihan tangan sebelum dan sesudah melepas sarung tangan.
- Gunakan sarung tangan berbeda untuk setiap pasien .
- Hindari jamahan pada benda-benda lain.
- Teknik menggunakan dan melepas sarung tangan harus dipahami.
2. Pelindung wajah.
- Tujuan : melindungi selaput lendir ,hidung,mulut,dan mata .
Jenis alat :
- Masker.
- Kaca mata.
- Face sheild.
3. Masker
Jenis masker:
a.

Masker bedah
Masker yang digunakan saat pembedahan di kamar operasi, poli gigi,
poli bedah, VK

46

Di ganti bila basah atau selesai pembedahan

Masker harus bisa menutupi hidung, muka bagian bawah, rahang dan
semua rambut muka

Digunakan untuk menahan tetesan keringat yang keluar sewaktu


bekerja ,bicara, batuk atau bersin dan juga untuk mencegah cipratan darah
atau cairan tubuh yang terkontaminasi masuk ke dalam hidung atau mulut.

b. Masker khusus

c.

Digunakan pada saat penanganan pasien, air bone disease, pasien yang
mendapatkan imunosupresan atau petugas atau pasien yang sakit batuk.

Digunakan untuk pencegahan penyakit H5N1,TBC di ruang isolasi.

Karena saat ini rumah sakit belum memiliki masker N95 maka untuk
penggunakan diruang isolasi TBC menggunakan masker bedah rangkap 2.

Masker biasa.

Digunakan dalam keiatan sehari- hari kegiatan yang menimbulkan bau (saat
pengelolaan sampah,kamar mandi,ipal dll)

Digunakan saat menderita batuk pilek..

Dugunakan saat timdakan perawatan yang menimbulkan bau


(personal higiene,Membantu Bab,Bak,perawatan luka)

4. Gogless (kacamata)

Digunakan untuk melindungi dari cipratan darah atau cairan tubuh lainnya
yang terkontaminasi. Pelindung mata termasuk pelindung plastik yang jernih,
kacamata pengaman, pelindung muka dan visor.

Digunakan untuk prosedur bedah dan kemoterapi,mengosongkan drinage.

47

5. Apron (Clemek)

Apron steril digunakan untuk prosedur pembedahan atau yang beresiko terjadi
cipratan atau kontak dengan cairan tubuh pasien.

Digunakan untuk melindungi dari cairan atau bahan kimia di ruang linen ,
dapur, IPAL, Laboratorium, VK.

Saat menangani pencucian peralatan bekas digunakan pasien


(instrumen,urinal,pispot,bemgkok dll)

6. Gaun.
Tujuan :
- Melindungi petugas dari kemungkinan genangan atau percikan darah atau
cairan tubuh lainnya yang dapat mencemari baju.
Jenis Gaun :
- Gaun pelindung tidak kedap air.
- Gaun pelindung kedap air.
- Gaun steril.
- Gaun non steril.
Indikasi penggunaan gaun :
- Tindakan atau penanganan alat yang memungkinkan pencemaran /kontaminasi
pada pakaian petugas seperti ;
Seperti membersihkan luka bakar.
Tindakan drainage.
Menuangkan cairan terkontaminasi ke dalam lubang pembuangan WC atau
Toilet.
Menangani pasien perdarahan masif.
48

Tindakan bedah.
Perawatan gigi.
- gaun segera diganti jika terkontaminasi cairan tubuh pasien.
6. Pelindung kaki
Tujuan :
- Melindungi kaki petugas dari tumpahan /percikan darah atau cairan tubuh
lainnya dan mencegah dari kemungkinan tusukan benda tajam atau kejatuhann
alkes.
- Digunakan dalam operasi dan menolong persalinan>
Terbuat dari plastik yang menutupi seluruh ujung dan telapak kaki digunakan
untuk melindungi kaki dari:
a. Cairan atau bahan kimia yang berbahaya
b. Bahan atau peralatan yang tajam
7. Topi (penutup kepala)

Digunakan untuk melindungi rambut dan kepala dari cairan tubuh atau bahan
berbahaya.

Mencegah jatuhnya mikroorganisme yang ada di rambut dan kulit kepala


petugas terhadap alat-alat di daerah steril dan juga sebaliknya melindingi
kepala petugas dari bahan bahan berbahaya dari pasien.

Digunakan saat melakukan tindakan yang memerlukan area steril yang luas
(operasi,pemasangan kateter vena sentral.)

8. Helm

Terbuat dari plastik

Digunakan untuk melindungi kepala dan digunakan pekerjaan yang


berhubungan dengan bangunan.

49

9. Kegiatan lainya tentang kapan kebersihan tangan dan penggunaan alat


pelindung dilakukan ?
No.
Kegiatan
Cuci
Sarung
Jubah/ Masker/
tangan
tangan
Celeme Google
Steril biasa
k
Perawatan umum
1.

Tanpa luka
Memandikan
/
bedding
Reposisi
2.
Luka terbuka
Memandikan
/
bedding
Reposisi
3.
Perawatan perianal
4.
Perawatan mulut
5.
Pemeriksaan fisik
6.
Penggantian balutan
Luka operasi
Luka decubitus
Central line
Arteri line
Cateter intravena
Tindakan Khusus.

K/P

K/P

K/P

K/P

K/P

K/P
K/P
K/P
K/P
K/P

K/P
K/P
K/P
K/P
K/P

K/P
K/P
K/P

K/P
K/P
K/P
K/P

K/P
K/P

K/P
K/P

K/P
K/P

K/P

7.
Pasang cateter urine
8.
Ganti bag urine / ostomil
9.
Pembilasan lambung
10. Pasang NGT
11. Mengukur suhu axilia
12. Mengukur suhu rectal
13. Kismia
14. Memandikan jenazah
Perawatan saluran nafas

15.
16.

Tubbing ventilator
Suction
50

K/P

17. Mengganti plaster ETT


18. Perawatan TT
19. PF dengan stethoscope
20. Resusitasi
21. Airway management
Perawatan Vasculer

22.

Pemasangan infuse

23.

Pengambilan darah vena

24.

Punksi arteri

25.
26.
27.

Penyuntikan IM / IV / SC
Penggantian botol infuse
Pelesapan dan penggantian
selang infuse
Percikan darah / cairan tubuh
Membuang sampah medis
Penanganan alat tenun.

28.
29.
30.

IV.

Lebih
baik
Lebih
baik
Lebih
baik

K/P
K/P

K/P

K/P

K/P

K/P

K/P

K/P

K/P

K/P

K/P

Sterilisasi
Adalah

membunuh semua mikroorganisme, termasuk endospora

bakterial
Adala Penguapan bertekanan tinggi yang menggunakan suatu otoklaf atau dry
heat dengan menggunakan oven adalah metode yang paling tersedia saat ini
yang digunakan untuk proses sterilisasi.

Sterilisasi uap tekanan tinggi adalah metode sterilisasi yang


paling murah dan efektif, tetapi juga paling sulit untuk dilakukan
secara benar (Gruendemann dan Mangum 2001). Pada umumnya
sterilisasi ini adalah metode pilihan untuk mensterilisasi instrumen
51

dan alat-alat lain yang digunakan pada berbagai fasilitas pelayanan


kesehatan. Bila aliran listrik bermasalah, instrumen-instrumen dapat
disterilisasi dengan sebuah sterilisator uap nonelektrik dengan
menggunakan minyak tanah atau bahan bakar lainnya sebagai
sumber panas.

Kondisi Standar Sterilisasi Panas


Sterilisasi uap (Gravitas): Suhu harus berada pada 121C; tekanan
harus berada pada 106 kPa; 20 menit untuk alat tidak terbungkus 30
menit untuk alat terbungkus. Atau pada suhu yang lebih tinggi pada
132C, tekanan harus berada pada 30 lbs/in; 15 menit untuk alat
terbungkus.
Catatan: Setting tekanan (Kpa atau lbs/in) dapat agak berbeda
bergantung pada sterilisator yang digunakan. Bila mungkin, ikuti
anjuran pabrik.
Panas kering:

170C selama 1 jam (total cycle time-meletakkan instrumeninstrumen di oven, pemanasan hingga 170C, selama 1 jam dan
kemudian proses pendinginan 2-2,5 jam), atau

160C selama 2 jam (total cycle time dari 3-3.5 jam).

Ingat:

Waktu paparan mulai hanya setelah sterilisator telah mencapai


target

Jangan memuat sterilisator untuk alat tidak terbungkus dengan


metode ini lebih pendek, hanya butuh waktu 4 menit. Metode
kilat ini biasanya digunakan untuk alat-alat individual.

52

Kegiatan di unit CSD :


1.
2.

3.

Unit CSSD berada diinstalasi kamar operasi


Jam penerimaan bahan yang akan disteril lagi dari ruangan
Pagi pukul 07.00-08.00 WIB
Siang pukul 14.00 -15.00 WIB
Ruangan CSD terdiri dari 4 area, seperti yang terlihat pada. Area ini
adalah:

1.

a. area penerimaan/pembersihan hal-hal kotor,

Di area ini, peralatan kotor diterima, dibongkar dicuci, dibilas dan


dikeringkan.
Area penerimaan/pembersihan hal-hal kotor harus memiliki:
sebuah konter penerimaan;1
dua sinks bila mungkin (satu untuk membersihkan dan satu untuk
membilas) dengan suplai air bersih; dan
sebuah konter peralatan yang bersih untuk pengeringan

53

b.

area kerja bersih


Di area kerja bersih, peralatan bersih:
diperiksa barangkali ada catat atau kerusakan;
dipak (bila terindikasi), baik disterilisasi maupun DTT; dan
dikirim untuk disimpan seperti dalam bentuk dipak atau diangin-anginkan untuk
dikeringkan dan dimasukkan dalam wadah steril atau DTT.
Area kerja bersih harus mempunyai:
meja besar;
rak-rak penyimpanan peralatan bersih dan yang sudah dipak; dan
sterilisator uap tekanan tinggi, oven panas tinggi, steamer, atau boiler.

c.

area penyimpanan peralatan bersih, dan


Simpanlah peralatan bersih di area ini. Staf CSD juga harus memasuki CSD melalui
area ini. Lengkapi peralatan area ini dengan:
rak-rak (lebih baik tertutup) untuk menyimpan peralatan bersih, dan ruangan
tersendiri.

d. area penyimpanan steril atau DTT.


Simpanlah pak-pak yang sudah disterilisasi dan wadah tertutup yang steril atau DTT
di area ini, pisahkan dari daerah suplai steril pusat.
Batasi akses ke area penyimpanan ini dan/atau simpanlah peralatan di kabinet
atau rak-rak yang tertutup. (Rak-rak atau kabinet yang tertutup lebih baik karena
hal ini melindungi pak-pak dan wadah-wadah dari debu dan debris. Rak-rak
terbuka dapat diterima apabila area ini punya akses terbatas dan urusan rumah
tangga dan ventilasi terkontrol.)
Menjaga area penyimpanan tetap bersih, kering, bebas debu dan bebas kain tiras
(lint-free) sesuai dengan jadwal urusan rumah tangga reguler.
Pak-pak dan wadah-wadah dengan peralatan steril atau DTT harus disimpan
dengan jarak 20 hingga 25 cm dari lantai, 45-50 cm dari langit-langit, dan 15-20
54

4. Area Penyimpanan Steril atau DTT


Simpanlah pak-pak yang sudah disterilisasi dan wadah tertutup yang steril atau
DTT di area ini, pisahkan dari daerah suplai steril pusat.

Batasi akses ke area penyimpanan ini dan/atau simpanlah peralatan di kabinet


atau rak-rak yang tertutup. (Rak-rak atau kabinet yang tertutup lebih baik
karena hal ini melindungi pak-pak dan wadah-wadah dari debu dan debris.
Rak-rak terbuka dapat diterima apabila area ini punya akses terbatas dan

urusan rumah tangga dan ventilasi terkontrol.)


Menjaga area penyimpanan tetap bersih, kering, bebas debu dan bebas kain

tiras (lint-free) sesuai dengan jadwal urusan rumah tangga reguler.


Pak-pak dan wadah-wadah dengan peralatan steril atau DTT harus disimpan
dengan jarak 20 hingga 25 cm dari lantai, 45-50 cm dari langit-langit, dan 15-

20 cm dari dinding luar.


Jangan mempergunakan kardus untuk tempat penyimpanan. (Kardus

melepaskan debu dan debris serta dapat menjadi sarang serangga.)


Buatlah tanggal dan rotasi suplai. Proses ini berfungsi sebagai peringatan
bahwa paket itu rentan atas proses kontaminasi dan menghemat ruang

penyimpanan, tetapi hal ini tidak menjamin sterilitas.


Pak-pak akan tetap steril sepanjang integritas paket itu dipertahankan.
Wadah-wadah steril atau DTT tetap dalam kondisi tersebut hingga dibuka.
Barang steril dan DTT dari area ini didistribusikan

55

Sistem Shelf Life:

Shelf life dari peralatan steril yang dipak terkait dengan peristiwa dan bukan
terkait dengan waktu. Sebuah peristiwa dapat membahayakan integritas dan

efektivtas pak tersebut.


Peristiwa yang dapat membahayakan atau menghancurkan sterilitas pak
mencakup berbagai penanganan, berkurangnya integritas pak, penetrasi

kelembaban, dan kontaminasi udara.


Sterilitas hilang ketika pak telah terkoyak di pembungkusnya, telah basah,

terjatuh di lantai, berdebu atau tidak tersegel.


Shelf life sebuah pak steril akan bergantung pada kualitas pengepakan, kondisi
selama penyimpanan dan pengangkutan, dan jumlah penanganan sebelum

digunakan.
Menyegel pak-pak steril di kantong-kantong plastik dapat mencegah

kerusakan dan kontaminasi.


Sebagian besar peristiwa yang berkontaminasi terkait dengan penanganan pak
secara berlebihan atau kurang tepat. Idealnya sebuah peralatan harus ditangani
tiga kali: (1) ketika mengeluarkan dari sterilizer cart dan menempatkan di rak
penyimpanan, (2) ketika mengangkutnya ke tempat peralatan itu akan
digunakan, dan (3) ketika memilihnya dibuka untuk digunakan.

Lima faktor yang kemungkinan besar menghancurkan sterilitas atau


membahayakan efisiensi barier bakterial atas materi yang sedang dipak
adalah:

Bakteri di udara
Debu
Kelembaban
Berlubang, pecah atau terkoyak segelnya
Terbukanya pak tersebut.
Sebelum menggunakan peralatan yang telah disimpan, periksalah pak tersebut
untuk memastikannya tidak terkontaminasi.

56

Penanganan dan Pengangkutan Instrumen dan Peralatan Lainnya

Pisahkan instrumen dan peralatan lain yang bersih, steril, dan DTT dari
peralatan kotor dan peralatan yang harus dibuang. Jangan memindahkan atau

menyimpan peralatan ini bersama-sama.


Memindahkan instrumen dan peralatan lain yang steril dan DTT ke prosedur
atau ruang operasi dengan kereta tertutup atau wadah dengan penutup untuk

mencegah kontaminasi.
Pindahkan suplai dari seluruh karton dan kotak pengiriman sebelum
membawa suplai ini ke dalam ruang prosedur, ruang operasi, atau area kerja
CSD yang bersih. (Shipping boxes mengeluarkan debu dan menjadi tempat

bersarang serangga yang dapat mengontaminasi area ini.)


Mengangkut suplai dan instrumen kotor ke area penerimaan/pembersihan di

CSD dengan tong sampah tertutup dan antibocor.


Mengangkut sampah yang terkontaminasi ke tempat pembuangan dengan tong

sampah tertutup dan antibocor.


(Untuk informasi tambahan berkenaan dengan penanganan dan pengelolaan
peralatan yang akan dibuang)

Pemeriksaan indikator mutu sterilisasi :


1. Indikator mekanik
2. Indikator Kimia

57

3. Indikator biologi
4. Indikator mikrobiologi

Sumber : Perkins 1983


V.

Dekontaminasi
merupakan langkah pertama dalam menangani alat bedah dan sarung
tangan yang telah tercemar. Hal penting sebelum membersihkan
adalah mendekontaminasi alat dan benda lain yang mungkin terkena
darah atau duh tubuh. Segera setelah digunakan, alat harus direndam
di larutan klorin 0,5% selama 10 menit.

Langkah ini dapat

menginaktivasi HBV, HCV, dan HIV serta dapat mengamankan


petugas yang membersihkan alat tersebut (AORN 1990; ASHCSP
1986).

Sudah lebih dari 20 tahun, dekontaminasi terbukti dapat mengurangi derajat


kontaminasi oleh kuman pada instrumen bedah. Misalnya, studi yang
dilakukan oleh Nystrm (1981) menemukan kurang dari 10 mikroorganisme
pada 75% dari alat yang tadinya tercemar dan dari 100 mikroorganisme pada
98% alat yang telah dibersihkan dan didekontaminasi. Berdasarkan
penemuan ini, sangat dianjurkan agar alat dan benda-benda lain yang
dibersihkan dengan tangan, didekontaminasi terlebih dulu untuk
meminimalkan risiko infeksi .
Proses desinfeksi barang use yang di reuse
Proses desinfeksi alat medis dapat dikategorikan menjadi :
Tingka
t
resiko
Kritis

Penerapan

Proses

Penyimpanan

Alat yg
masuk,penetrasi

Sterilisasi
steam,sterad

Sterilisasi harus -Alat yang


dijaga :
digunakan

58

Contoh alat

Semi
kritis

dalam jaringan
atau DDT
steril,rongga,alira
n darah

-bungkusan alat untuk


harus kering.
tindakan
-kemasan tidak invasif.
robek
-Bungkusan
harus dibuat
dengan
menghambat
bioefektif
selama
penyimpanan.
.simpan alat
steril pada area
steril guna
melindungi dari
kontaminasi
lingkungan.
-Alat steril
yang tidak
dibungkus
harus segera
dipakai

Alat yang kontak


dengan selaput
lendir

Simpan pada
daerah bersih
dan kering
guna
melindungi dari
kontaminasi
lingkungan

Sterilsasi
steam/termal
dan dengan
cairan
desinfektan
tingkat
tinggi

59

Alat yang
berhubunga
n dengan
respiratori :
-LM
laringeal
mask.
-Vaginal
speculum.
-endotrakeal
non kinkin.
-probe
invasif
ultrasonic

Non
kritis

Alat yang kontak


dengan kulit

Bersihkan
alat dengan
menggunaka
n detergent
dan air .jika
menggunaka
n
desinfektan
gunakan
yang
compatibel

Simpan dalam
keadaan bersih
ditempat yang
kering

(trans
vaginal
probe).
-Fleksible
*colonoscop
e
- Breast
pump
-alatnon
invasif
equipment:
* Bedpan
dan urinal.
* Manset
tekanan
darah.
* bed
*
Termometer.
* Tourniket
* Tensi
meter

B. Desinfeksi lingkungan rumah sakit


- Permukaan lingkungan : lantai, dinding dan permukaan meja, trolly
didesinfeksi dengan detergen netral
- Lingkungan yang tercemar darah atau cairan tubuh lainnya dibersihkan
dengan desinfeksi tingkat menengah

VI. Kewaspadaan standar dan berdasarkan transmisi


Pedoman-pedoman baru yang dikeluarkan oleh CDC pada tahun 1996
meliputi hal-hal sebagai berikut.namun yang terbaru menyatukan
universal precaution dab body substance isolasi (BSI) menjadi
kewaspadaan isolasi dengan komponen sbb :

60

Pencegahan /kewaspadaan standar, diterapkan pada semua


klien dan pasien yang mengunjungi fasilitas layanan
kesehatan, meliputi :

- Kebersihan tangan.
- Penggunaan APD (alat pelindung diri )
- Peralatan perawatan pasien.
- Pengendalian lingkungan.
- Pemrosesan peralatan pasien dan penatalaksanaan linen.
- Kesehatan karyawanan /perlindungan petugas kesehatan.
- Penempatan pasien.
- Higiene respirasi/etika batuk.
- Praktek menyuntik yang aman.
- Praktek untuk lumbal punksi.

KOMPONEN UTAMA DAN PENGGUNAANNYA


Komponen utama Pencegahan Baku dan penggunaannya terdapat
dalam Tabel 2-1. Penggunaan pelindung (barier) fisik, mekanik, atau
kimiawi di antara mikroorganisme dan individu, misalnya ketika
pemeriksaan kehamilan, pasien rawat inap atau petugas layanan
kesehatan, merupakan alat yang sangat efektif untuk mencegah
penularan infeksi (barier membantu memutuskan rantai penyebaran
penyakit). Contohnya, tindakan berikut memberikan perlindungan
bagi pencegahan infeksi pada klien, pasien dan petugas layanan

61

kesehatan serta menyediakan sarana bagi pelaksanaan Pencegahan


Baku yang baru:

Setiap orang (pasien atau petugas layanan kesehatan) sangat

berpotensi menularkan infeksi.


Kebersihan tanganprosedur yang paling penting dalam
pencegahan kontaminasi silang (orang ke orang atau benda

terkontaminasi ke orang).
Pakai Sarung Tangan (kedua tangan) sebelum menyentuh kulit
yang terluka, selaput lendir (mukosa), darah atau duh tubuh
lainnya

atau

instrumen

yang

kotor

dan

sampah

yang

terkontaminasi, atau sebelum melakukan prosedur invasif.


VI.

Management Resiko PPI


Pengelolaan rumah sakit yang begitu komplek permasalahan
,memerlukan perhatian dan tindakan yang baik .Terutama pencegahan
dan pegendalian infeksi yang merupakan acuan mutu rumah
sakit,sehingga memerlukan tindakan yang baik.
Oleh sebab itu kita harus tahu dulu :
1. Resiko adalah :

Peluang terjadinya sesuatu yang akan mempunyai dampak pada


pencapaian tujuan (AS/NZS 4360:2004)

Efek ketidak pastian tujuan (ISO 3100:2009)

2. Management Resiko adalah :

Budaya, proses dan struktur yang diarahkan untuk mewujudkan


peluang peluang sambil mengelola efek yang tidak diharapkan.
(AS/NZS 4360:2004)

62

Kegiatan terkoordinasi untuk mengarahkan dan mengendalikan


organisasi berkaitan dengan resiko (ISO 3100:2009)

II. Identifikasi Resiko


Adalah proses mengenal ,menemukan dan mendiskripsikan
resiko .
Hal pertama yang dilakukan untuk mengelola resiko adalah
mengidentifikasi ,identifikasi ini juga dibagi 2 secara Proaktif dan
Reaktif.
a. Identifikasi secara proaktif.adalan kegiatan identifikasi yang
dikakukan proaktif mencari resiko yang menghalangi rumah sakit
mencapai tujuan.Jika faktor resikonya belum muncul dan bermanifestasi
metoda yang dapat dilakukan dengan cara,audit,brainstorming,pendapat
ahli,FMEA,analisa swot.
b. Identifikasi secara Reaktif adalah kegiatan identifikasi setelah resiko
muncul dan bermanifestasi dalam bentuk insiden dan gangguan .Metoda
yang digunakan adalah pelaporan insiden.tentu saja kita akan
melaksanakan prinsip identifiksi proaktif karena belum menimbulkan
kerugian.
III. Analisa Resiko .
Adalah proses untuk memahami sifat resiko dan menentukan peringkat
resiko,analisa dilakukan dengan cara menilai :
1. seberapa sering peluang resiko muncul,
2. berat ringannya dampak yang ditimbulkan
tabel

63

Descripsi

Jarang

Intermediate

Sering

Selalu
terjadi

Frekuensi
Probability
Dampak
occurence

Setelah skor peluang dan dampak/konsekuensi dikalikan tujuannya


mendapatkan peringkat sehingga dapat menentukan skala prioritas
penangannnya .
Tabel.
Peringkat Resiko .
1. Ekstrim ( 15-25)
2. Tinggi (8-12)
3. Sedang (4-6)
4. Resiko rendah (1-3)

IV. Evaluasi Resiko.


Adalah proses membandingkan antara hasil analisa resiko dengan
kriteria resiko untuk menentukan apakah resiko dan /besarnya dapat
diterima atau ditolelir.Sedangkan kriteria resiko adalah kerangka acuan
untuk mendasari pentingnyaresiko dievaluasi .Dengan evaluasi resiko
64

ini setiap resiko dilelola oleh orang yang bertanggung jawab sesuai
denga resiko,dengan demikian tidak ada resiko yang terlewat.
V. Penanganan Resiko
Adalah proses memodifikasi Resiko :
1. Menghindari resikodengan memutuskan untuk tidak memulai
atau melanjutkan aktivitas yang menimbulkan resiko.
2. Mengambil atau meningkatkan resiko untuk mendapatkan
peluang(lebih baik,baik)
3. Mengubah kemungkinan.
4. Menghilangkan sumber infeksi.
5. Mengubah konsekuensi.
6. Berbagi resiko dengan pihak lain.
7. Mempertahankan resiko dengan informasi pilihan
VII.

Ruang Isolasi (kohorting)

A. Penerapan Isolasi Precaution di Rumah Sakit


Isolation precaution merupakan bagian integral dari program pengendalian
infeksi nosokomial
Tujuan
Isolation Precaution bertujuan untuk mencegah transmisi mikroorganisme
pathogen dari satu pasien ke pasien lain dan dari pasien ke petugas kesehatan atau
sebaliknya. Karena agen dan host lebih sulit dikontrol maka pemutusan mata
rantai infeksi dengan cara Isolation Precaution sangat diperlukan.
1. Airborne Precaution
a. Penempatan pasien
Tempatkan pasien di kamar tersendiri yang mempunyai persyaratan sebagai
berikut:
Tekanan udara kamar negative dibandingkan dengan area skitarnya.
65

Pertukaran udara 6 12 kali/jam.


Pengeluaran udara keluar yang tepat mempunyai penyaringan udara yang
efisien sebelum udara dialirkan ke area lain di rumah sakit.
Selalu tutup pintu dan pasien berada di dalam kamar
Bila kamar tersendiri tidak ada, tempatkan pasien dalam satu kamar
dengan pasien lain dengan infeksi mikroorganisme yang sama atau
ditempatkan secara kohort.
Tidak boleh menempatkan pasien satu kamar dengan infeksi berbeda.
b. Respiratory Protection
Gunakan perlindungan pernapasan (N 95 respirator) ketika memasuki
rungan pasien yang diketahui infeksi pulmonary tuberculosis
Orang yang rentan tidak diberarkan memasuki ruang pasien yang
diketahui atau diduga mempunyai measles (rubeola) atau varicella, mereka
harus memakai respiratory protection (N 95) respirator.
Orang yang immune terhadap measles (rubeola), atau varicella tidak perlu
memakai perlindungan pernafasan.
c. Patient Transport
Batasi area gerak pasien dan transportasi pasien dari kamar, hanya tujuan
yang penting saja.
Jika berpindah atau transportasi gunakan masker bedah pada pasien
2. Droplet Precaution
a. Penempatan Pasien
Tempatkan pasien di kamar tersendiri
Bila pasien tidak mungkin di kamar tersendiri, tempatkan pasien secara
kohart
Bila hal ini tidak memungkinkan, tempatkan pasien dengan jarak 3 ft
dengan pasien lainya
b. Masker
Gunakan masker bila bekerja dengan jarak 3 ft
Beberapa rumah sakit menggunakan masker jika masuk ruangan
c. Pemindahan pasien
Batasi pemindahan dan transportasi pasien dari kamar pasien, kecuali
untuk tujuan yang perlu
Untuk meminimalkan penyebaran droplet selama transportasi, pasien
dianjurkan pakai masker

66

3. Contact Precaution
a. Penempatan pasien
Tempatkan pasien di kamar tersendiri
Bila tidak ada kamar tersendiri, tempatkan pasien secara kohart
b. Sarung tangan dan kebersihan tangan.
Gunakan sarung tangan sesuai prosedur
Ganti sarung tangan jika sudah kontak dengan peralatan yang
terkontaminasi dengan mikroorganisme
Lepaskan sarung tangan sebelum meninggalkan ruangan
Segera kebersihan tangan dengan antiseptic / antimicrobial atau handscrub
Setelah melepas sarung tangan dan kebersihan tangan yakinkan bahwa
tangan tidak menyentuh peralatan atau lingkungan yang mungkin
terkontaminasi, untuk mencegah berpindahnya mikroorganisme ke pasien
atau lingkungan lain.
c. Gaun
Pakai gaun bersih / non steril bila memasuki ruang pasien bial diantisipasi
bahwa pakaian akan kontak dengan pasien, permukaan lingkungan atau
peratalan pasien di dalam kamar atau jika pasien menderita inkontaneia,
diare, fleostomy, colonostomy, luka terbuka
Lepas gaun setelah meninggalkan ruangan.
Setelah melepas gaun pastikan pakaian tidak mungkin kontak dengan
permukaan lingkungan untuk menghindari berpindahnya mikroorganisme
ke pasien atau lingkungan lain
d. Transportasi pasien
Batasi pemindahan pasien dan transportasi pasien dari kamar, hanya untuk
tujuan yang penting saja. Jika pasien harus pindah atau keluar dari
kamarnya, pastikan bahwa tindakan pencegahan dipelihara untuk
mencegah dan meminimalkan resiko transmisi mikroorganisme ke pasien
lain atau permukaan lingkungan dan peralatan.
Peralatan Perawatan Pasien
Jika memungkinkan gunakan peralatan non kritikal kepada pasien sendiri,
atau secara kohort
Jika tidak memungkinkan pakai sendiri atau kohort, lakukan pembersihan atau
desinfeksi sebelum dipakai kepada pasien lain.
Recommendation Isolation Precaution
administrative Controls
67

1. Pendidikan
Mengembangkan system pendidikan tentang pencegahan kepada pasien,
petugas, dan pengunjung rumah sakit untuk meyakinkan mereka dan
bertanggung jawab dalam menjalankanya.
Adherence to Precaution (ketaatan terhadap tindakan pencegahan)
2. Secara periodic menilai ketaatan terhadap tindakan pencegahan dan adanya
perbaikan langsung.

68

Dengan mengelompokan satu jenis penyakit berdasarkan cara


penularannya :
1. Setiap pasien yang menular harus dirawat di ruang isolasi
tersendiri.
2. Saat ini rumah sakit Panti Rahayu belum memiliki ruang isolasi
tersendiri,kedepannya akan direncakan untuk pengadaan ruang
isolasi pasien menular yang sesuai ketentuan ,untuk merawat
pasien ,RS Panti Rahayu menggunakan cara Pengelompokan
(Kohorting ) pasien menular TBC,diare berat,varicella perdarahan
tak terkontrol,luka lebar dengan cairan keluar.
3. Setiap pasien harus memakai masker bedah (surgical mask
rangkap 2) atau masker N 95(bila mungkin) pada saat petugas
berada diruangan tersebut. Ganti masker setiap 4-6 jam dan
buang di tempat sampah infeksius. Pasien tidak boleh membuang
ludah atau dahak di lantai gunakan penampung dahak/ludah
tertutup sekali pakai (disposable)
4. Setelah selesai melakukan tindakan jas tersebut harus dilepaskan
dengan hati-hati dan masukkan kedalam tempat tertutup dilengkapi
dengan laundry bag yang berlabel ISOLASI. Tempat tersebut
diletakkan di dekat pintu keluar ruang isolasi. Setelah itu petugas
harus kebersihan tangan di dalam ruang isolasi.
5. Setiap ruang isolasi harus dilengkapi dengan peralatan:
Termometer
Stetoskop
Tensimeter
Wadah/bed pan (jika tidak ada kamar mandi sendiri)
Tempat pembuangan limbah infeksius:
o Jas
o Instrumen
o Sampah termasuk sisa makanan, alat makan
Fasilitas kebersihan tangan di dalam ruang kohorting
Barrier atau penghalang .
APD yang sesuai.

69

VIII.

Pengelolaan kebersihan lingkungan Rumah Sakit


Pengelolaan rumah tangga meliputi pembersihan umum rumah sakit
dan klinik, yang meliputi lantai, dinding, alat-alat, meja, dan
permukaan lain. Maksud pengelolaan rumah tangga adalah :
mengurangi jumlah mikroorganisme yang dapat menulari pasien,
tamu, staf, dan masyarakat sekitar,
mengurangi risiko kecelakaan, dan
mengupayakan lingkungan yang bersih dan menyenangkan
untuk pasien dan staf

Umumnya ruangan-ruangan di rumah sakit dan klinik, seperti ruang


tunggu dan kantor administrasi, tergolong risiko rendah sehingga
cukup dibersihkan dengan sabun dan air. Sedangkan beberapa
ruangan seperti toilet/WC, pembuangan darah atau duh tubuh lain,
tergolong risiko tinggi memerlukan disinfektan seperti klorin 0.5%
atau fenol 1% yang ditambahkan pada larutan pembersih (SEARO
1988). Penggunaan disinfektan selain sabun dan air dianjurkan pula
di ruangan-ruangan seperti ruangan operasi, kamar pulih, dan ruang
perawatan intensif.

IX.

Peralatan yang single use yang di Re-use


Dengan berkembangnya teknologi dan tuntutan patient safety,maka
peralatan yang digunakan baik langsung maupun tidak langsung sangat
mempengaruhi keselamatan pasien.Hal ini terkait kontaminasi yang
ditimbulkan jika digunakan kembali , oleh sebab itu dilakukan aturan
peralatan yang use dan re-use sbb;
1. Peralatan yang use (sekali pakai)

Berupa benda tajam

Yang bersentuhan langsung dengan cairan tubuh pasien

70

Yang penggunaannya dilakukan secara septic.

Dibagi menjadi peralatan kritikal,semi kritikal dan non kritikal.

Kategori Alat-alat medis :


Tingk
at
resiko
Kritis

Penerapan

Proses

Penyimpanan

Contoh alat

Alat yg
masuk,penetrasi
dalam jaringan
steril,rongga,alir
an darah

Sterilisasi
steam,sterad
atau DDT

Sterilisasi
harus dijaga :
-bungkusan
alat harus
kering.
-kemasan tidak
robek
-Bungkusan
harus dibuat
dengan
menghambat
bioefektif
selama
penyimpanan.
.simpan alat
steril pada area
steril guna
melindungi
dari
kontaminasi
lingkungan.
-Alat steril
yang tidak
dibungkus
harus segera
dipakai

-Alat yang
digunakan
untuk
tindakan
invasif.
-endoskopidan
assesoris yang
dipakai dlm
tindakan
invasif:
- alat ERCP
-Laparoskopi
Broncoskopi
- instrument
bedah/operasi

Semi
kritis

Alat yang
kontak dengan

Sterilsasi
steam/terma

Simpan pada
daerah bersih

Alat yang
berhubungan

71

Non
kritis

selaput lendir

l atau
dengan
cairan
desinfektan
chlorine 0,5
%

dan kering
guna
melindungi
dari
kontaminasi
lingkungan

Alat yang
kontak dengan
kulit

Bersihkan
alat dengan
menggunak
an detergent
dan air .jika
menggunak
an
desinfektan
gunakan
yang
compatibel

Simpan dalam
keadaan bersih
ditempat yang
kering

72

dengan
respiratori :
-LM laringeal
mask.
-Vaginal
speculum.
-endotrakeal
non kinkin.
-probe invasif
ultrasonic
(trans vaginal
probe).
-Fleksible
endocopes:
*colonoscope
*sigmoidesko
pe
- Breast pump
-alatnon
invasif
equipment:
* Bedpan dan
urinal.
* Manset
tekanan darah.
* bed
* Termometer.
* Tourniket
* Tensi meter
* Pot obat
pasien.
* kontainer
darah

Batas penggunaan alat medis


Alat medis

Laringeal
mask

Frekuensi
penggunaan
ulang&prose
s
40x
steam

Nasal
spray

5x
steam

Endotrace
a tube non
kinkin

40x
steam

Respirator
y valve

30x
steam

Dengan
melihat

Proses kontrol

1.Catat jumlah re-use


pada kartu
pemeliharaan .
2.Setelah 40x alat
langsung dibuang.
3.Bila alat rusak sebelum
waktunya segera
dibuang
4.Catat jumlah re-use
pada kartu
pemeliharaan .
5.Setelah 40x alat
langsung dibuang.
6.Bila alat rusak sebelum
waktunya segera
dibuang
7.Catat jumlah re-use
pada kartu
pemeliharaan .
8.Setelah 40x alat
langsung dibuang.
9.Bila alat rusak sebelum
waktunya segera
dibuang
10. Catat jumlah re-use
pada kartu
pemeliharaan .
11. Setelah 30x alat
langsung dibuang.
12. Bila alat rusak
sebelum waktunya

73

segera dibuang
Beast
pump

3. hal yang perlu diperhatikan dalam sterilisasi


1. Alat instrumen yang dapat disterilisasi ulang adalah :
a. Fisik peralatan setelah proses sterilisasi ulang peralatan tidak berubah
keutuhan, fungsional, baik perubahan fisik, kimia biologis.
b. Proses pembersihannya mampu menjamin membersihkan semua jenis
kotoran biologis dari setiap pemakaian yang sebelumnya dan peralatan
bebas dari zat Pyrogenis, Tes Pyrogenisitas dari pabrik
c. Bahan yang digunakan tidak menimbulkan zat toksik akibat reaksi
kimia dengan pelarut atau zat pembersih
d. Produsen alat yang bersangkutan menerapkan siklus-siklus peralatan
bersertifikat yang merupakan cara-cara yang telah ditentukan dan
diabsahkan untuk pemastian kesterilan, uji-uji untuk keutuhan
kemasan, pemeriksaan dan pengendalian prosedur dengan pencatatan
pemakaian alat tersebut
2. Semua permohonan untuk memakai kembali peralatan disposible/Re-use
atau sekali pakai saja harus tercatat, diketahui dan disetujui oleh PPI(ICN)
RSPB untuk memungkinkan pengembangan protokol langkah demi
langkah untuk proses ulang
3. Tidak ada peraturan dan undang-undangf untuk indonesia dan prosedur
untuk menangani alat-alat yang sudak kadaluarsa, hal ini akan
dikonsultasikan ke HICMR sesuai dengan kondisi
X.

Pengelolaan linen
Memroses linen terdiri dari semua langkah yang diperlukan untuk
mengumpulkan, membawa, dan memilih (menyortir) linen kotor
dan

membinatu

(mencuci,

mengeringkan,

melipat,

atau

membungkus), kemudian menyimpan dan mendistribusikannya.


Memroses linen secara aman dari berbagai sumber adalah suatu
proses yang rumit. Prinsip-prinsip dan langkah-langkah utamanya

74

tercantum dalam

Staf yang ditugasi untuk mengumpulkan,

membawa dan memilih linen kotor harus sangat berhati-hati.


Mereka harus memakai pakaian tebal atau sarung tangan rumah
tangga untuk mengurangi risiko perlukaan oleh jarum atau benda
tajam, termasuk pecahan gelas . Staf yang bertanggung jawab
terhadap pencucian barang kotor harus memakai sarung tangan
utiliti, alat pelindung mata, dan apron plastik atau karet.
XI.

Pengelolaan Lingkungan dan bangunan


Upaya pengendalian lingkungan adalah berbagai upaya yang
dilakukan untuk dapat mengendalikan berbagai faktor lingkungan
(Fisik, biologi, dan sosial psikologi ) di RS dengan cara :
Meminimalkan atau mencegah terjadinya transmisi
mikroorganisme dari lingkungan kepada pasien, petugas,
pengunjung dan masyarakat di sekitar sarana kesehatan
sehingga infeksi nosokomial dapat di cegah dengan
mempertimbangkan cost efektif
Menciptakan lingkungan bersih aman dan nyaman
Mencegah terjadinya kecelakaan kerja
Ruang lingkup pengelolaan lingkungan :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

KONSTRUKSI BANGUNAN
UDARA
AIR
PEMBERSIHAN LINGKUNGAN RUMAH SAKIT
PEMBERSIHAN LINGKUNGAN DI R.GIZI
PEMBERSIHAN DI RUANG LAUNDRY

Konstruksi dan renovasi bangunan harus memperhatikan .


1.Pengertian
Cara melakukan perubahan bentuk, penambahan ruangan pada lokasi
tertentu yang meliputi design interior, eksterior, civil dan medical.

75

Definisi dari kegiatan konstruksi :


Tipe kegiatan renovasi ada 4 type :
a.Tipe A pemeriksaan dan kegiatan pemeliharaan umum.
Termasuk namun tidak terbatas pada: penghapusan ubin langitlangit untuk inspeksi visual (terbatas pada 1genteng per 5 m2),
lukisan (tetapi tidak pengamplasan); mencakup instalasi dinding; kerja
trim listrik; pipa kecil; setiap kegiatan yang tidak menghasilkan debu
atau memerlukan pemotongan dinding atau akses ke langit-langit
selain untuk inspeksi visual.
b.Tipe b skala kecil dan jangka pendek,yang menghasilkan debu
sedikit.
Termasuk, tetapi tidak terbatas pada, instalasi pemasangan kabel
telepon dan komputer, akses ke ruang chase,memotong dinding atau
langit-langit di mana migrasi debu dapat dikendalikan.
c. Tipe c kerja apapun yang menghasilkan debu sedang atau tingkat
tinggi.Termasuk, tetapi tidak terbatas pada, pembongkaran atau
penghapusan
komponen
bangunan
built-in
atau rakitan,
pengamplasan dinding untuk lukisan atau mencakup dinding, meliputi
penghapusan lantai / wallpaper, ubin dan casework langit-langit,
konstruksi dindingbaru, ductwork kecil atau pekerjaan listrik di atas
langit- langit, kegiatan pemasangan kabel utama.
d. Tipe d penghancuran besar dan proyek konstruksi
Termasuk, tetapi tidak terbatas pada, penghancuran berat,
penghapusan sistem plafon yang lengkap, dan konstruksi baru.
2. Tujuan.
Menurunkan terjadinya kontaminasi infeksi yang diakibatkan pembangunan
dan renovasi bangunan.
3. Kebijakan
a. Identifikasi kelompok resiko renovasi bangunan.
Kelompok 1
Rendah
Area
kantor
Tanpa
pasien/
area
resiko
rendah
yang tidak
terdaftar

Kelompok 2
Sedang
Perawatan
pasien dan
tidak tercakup
dalam Grup 3
atau 4
Laundry
Kantin
Manajemen
Material

Kelompok 3
Sedang Tinggi
UGD
Radiology
Recovery
Rooms
Ruang
Maternitas /
VK
Kamar bayi
Lab
76

Kelompok 4
Tinggi
Area klinis
Kamar
Operasi
Kamar
prosedur
invasif pasien
rawat jalan
Area

dimanapu
n

Penerimaan/Pe
mulangan
Laboratorium
tidak spesifik
seperti Grup
3Koridor
Umum (yang
dilewati pasien,
suplai, dan
linen)

Microbiolog
i
Farmasi

Anastessi &
pompa
jantung
Semua
Intensive Care
Unit (kecuali
yang tertulis
di Grup 4)

b. Pedoman kontrol infeksi.


Kelas I
- Jalankan pekerjaan dengan metode untuk meminimalkan
peningkatan debu dari operasi konstruksi
- Mengganti genteng langit-langit untuk inspeksi visual
secepatnya
Kelas II
- Penyediaan aktif berarti untuk mencegah debu udara
menyebaran ke atmosfir
- Segel pintu yang tidak digunakan dengan lakban.
- Konstruksi yang mengandung limbah sebelum ditransportasi
harus dalam wadah tertutup rapat.
- Pel basah / atau vakum dengan vakum HEPA ber-filiter.
- Tempatkan lap kaki di pintu masuk dan keluar dari area kerja
dan mengganti atau dibersihkan saat tidak ada lagi proses
kerja.
- Isolasi sistem HVACdi daerah mana pekerjaan yang sedang
dilakukan/kohort dengan tekanan negatif
- Usap casework dan permukaan horizontal saat proyek selesai.
Kelas III Isolasi sistem HVAC di wilayah di mana pekerjaan
tengah dilakukan untuk mencegah kontaminasi dari
sistem saluran.
Lengkapi semua barriers pembangunan sebelum
konstruksi dimulai.
Jaga tekanan udara negatif dalam tempat kerja
menggunakan unit ventilasi saringan HEPA atau metode
lain
untuk
mempertahankan
tekanan
negatif.
Keselamatan umum akan memonitor tekanan udara
Jangan menghilangkan barriers dari area kerja sampai
proyek lengkap dibersihkan.

77

Kelas IV

Pel basah atau vakum dua kali per 8 jam periode


kegiatan konstruksi atau sesuai yang diperlukan dalam
rangka untuk meminimalkan jejak.
Singkirkan bahan penghalang dengan hati-hati untuk
meminimalkan penyebaran kotoran dan puing-puing
yang terkait dengan konstruksi. Bahan barrier harus
diusap basa, Vakum dengan menggunakan HEPA atau
berikan kabut air agar lembab sebelum disingkirkan.
Tempatkan limbah konstruksi dalam wadah tertutup
rapat sebelum ditransportasi.
Tempatkan keset kaki di pintu masuk dan keluar dari
area kerja dan diganti atau dibersihkan saat tidak ada
lagi aktifitas kerja
Usap casework dan permukaan horizontal saat proyek
telah selesai.
- Isolasi sistem HVAC di wilayah di mana pekerjaan tengah
dilakukan untuk mencegah kontaminasi system saluran.
- Lengkapi semua barriers pembangunan sebelum konstruksi
dimulai.
- Jaga tekanan udara negatif dalam tempat kerja menggunakan
unit ventilasi saringan HEPA atau metode lain untuk
mempertahankan tekanan negatif. Keselamatan umum akan
memonitor tekanan udara
- Beri segel pada luban, pipa, saluran dan tusukan untuk
mencegah migrasi debu.
- Bangun anteroom dan mengharuskan semua personil
melewati ruangan. Pel basah atau vakum HEPA anteroom
tiap hari.
- Selama pembongkaran, kerja yang menghasilkan debu atau
bekerja di langit-langit, sepatu sekali pakai dan baju harus
dipakai dan dibuang di anteroom ketika meninggalkan area
kerja.
- Jangan menghilangkan barriers dari area kerja hingga selesai
proyek dibersihkan
- Singkirkan bahan penghalang hati-hati untuk meminimalkan
penyebaran kotoran dan puing-puing yang terkait dengan
konstruksi.

XII.

Antibiogram
Dengan pemeriksaan kultur akan didapatkan hasil resistensi kuman
terhadap antibiotika yang digunakan untuk menentukan pola kuman
rumah sakit

XIII. Pengelolaan bahan atau obat kadaluwarsa


Bekerja sama dengan farmasi dalam melakukan pengawasan obat atau
bahan yang telah kadaluwarsa
XIV.

Upaya pencehan dan kesehatan karyawan


78

Petugas kesehatan beresiko terinfeksi bila terekspos saat kerja,juga dapat


menstransmisikan infeksi kepada pasien maupun petugas kesehatan lain.
Saat menjadi karyawan baru seorang petugas kesehatan harus diperiksa
riwayat pernah terinfeksi apa saja dan status imunisasinya,imunisasi yang
dianjurkan
hepatitis
B,bila
memungkinkan
haemophilus
influenza,campak,tetanus,difteri,rubella,mantoux test.Alur pasca pajanan
harus dibuat dan dipastikan dipatuhi untuk HIV,HBV,HCV.
Pedoman ini merupakan strategi preventif terhadap infeksi yang didapatkan
dari rumah sakit.meliputi :
1.
2.
3.
4.
5.

Monitoring dan suppprt kesehatan petugas.


Edukasi pada seluruh staf rumah sakit tentang PPIRS
Vaksinasi dan imunisasi bila dibutuhkan .
Menyediakan antivirus profilaksis.
surveilens ILI mengenal tanda awal transmisi infeksi saluran napas akut
dari manusia ke manuasia.
6. terapi dan follow up
7. Rencanakan pertugas diperbolehkan masuk sesuai pengukuran resiko bila
terkena infeksi.
8. upayakan support psikososial.
B. Tujuan:
1. Menjamin keselamatan petugas dilingkungan rumah sakit.
2. Memelihara kesehatan petugas kesehatan.
3. Mencegah KLB.
Unsur yang dibutuhkan .
1. petugas yang berdedikasi.
2. SPO yang jelas dan tersosialisi dengan baik.
3. Koordinasi yang baik antar unit.
4. Penanganan pasca pajanan infeksius.
5. Pelayanan konseling dan privasi.
Pelaksanaan :
a.

Perlindungan yang minimal bagi petugas adalah imunisasi


hepatitis B, iminisasi masal dan diulang tiap 5 tahun pasca imunisasi .
b.
Management pasca pajanan.
- tes pada pasien sebagai sumber pajanan.

79

- tes HBS Ag dan Anti HBs petugas.


- Pemberian immunoglobulin hepatitis B pasca pajanan sebelum 48
jam
C. Evaluasi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

dilakukan sebelum dan sesudah pajanan.


Status imunisasi .
Riwayat kesehtan yang lalu.
Terapi saat ini.
Pemeriksaan fisik.
Pemerisaan lab dan radiologi.
Edukasi :
SPO PPI
Kewaspdaan isolasi
Kewaspadaan transmisi
8. Pelaporan yang meliputi :
Informasi resiko ekspos.
Alur mangemen dan tindak lanjut.
Penyimpanan data
Pajanan dan tindakan :
1. Virus H5N1
Bila terjadi pajanan diberikan oseltaivir 2x 75 mg selama 5 hari.
2. Virus HIV.
Resiko terpajan 0,2 0,4 % per injuri.Profilaksis diberikan dalam waktu 4
jam pasca pajanan dengan pemberian ARV,AZT,3TC dan Indinavir sesuai
pedoman.pasca pajana harus dilakukan pemeriksaan HIV seroologidan dicatat
sampai jadwal pemeriksaan monitoring lanjutan nya.
3. Virus Hepatitis B.
Resiko terpajan Hepatitis B 1,9-40 % per pajanan,segera pasca pajanan
dilakukan pemeriksaan ,dapat terinfeksi bila sumber pajanan positif HbsAg
atau HbeAg.
D. Berikut tata laksana penyakit menular dan pencegahannya :

80

Penyakit

Masa
inkubasi

Abses

Acinetoba
cter
baumanii

Adenoviru
s type 1-7
Aspergilos
is

6-9 hari

Menular
selama/
virus
shedding

Cara transmisi

Selama luka
mengeluarka
n cairan
tubuh
Luka bakar
yang di
hydroterapi

kontak

Sekret
saluran nafas
Infeksi jar
luas dengan
cairan
berlebihan

Flora N kulit
manusia, mukus
menbran dan tanah.
Bertahan di tempat
lembab dan kering
sampai berbulan,
menular melalui
peralatan rawat
respirasi, tangan
petugas,
humidifier,
stetoscop,
termometer,
matras, bantal,
prmk TT, mop,
gorden, tempat
mandi luka terbuka

Inhalasi stadium
airbone, conidia

candidiasi
s
Chlamidia
C
trachomati

Kewasp
adaan
yang
perlu
dijalank
an
Kontak

konserfati

Standar
dan
kontak

Droplet,
kontak
Kontak
dan
airbone
Standar,
kontak
Standar,
kontak,
termasuk

81

Masa petugas Tindakan


diliburkan/
tindakan

Konserfat

s
Congenital
rubella
Conjungti
vitis
*adenovir
us type 8
Campak

Sampai umur
1 tahun
5- 12
hari

14 hari stl
onset

5-21 hari

3-4 hr stl
Droplet yang besar
bercak timbul (kontak dekat) &
mel
udara
nasofaring

Campiloba
cter
Closrtidiu
m difficile
Cytomegal Tidak
Tahan di
o virus
diketahui lingkungan
dlm wkt
pendek
Difteria

Gastroente
ritis
*salmonell
a
*shingella
*yenteroc

Kontak dengan
bahan nasofaring
dan urin
Kontak dengan
tangan, alat
terkontaminasi

seksual
Standar,
kontak

Restriksi 7 hari

Kontak
standar

Sampai mata
tidak kluar
kotoran

Pengobata

Transmis
i udara

Restriksi 7 hari Pengobata


setelah bercak simtomati
merah timbul
(yg imun) 5hr
stl ekspos- 21
hr stl ekspos

Standar
kontak
Kontak dg sekresi
&eksresi : saliva
dan urin

Standar
hand
hygiene

Tidak perlu

Sekresi dr mulut
mengandung c
difteriae

Droplet,
kontak

Kontak px,
konsumsi
makanan/ air
terkontaminasi

Standar
atau
kontak

Sampai terapi
antibiotika
telah lengkap
dan sampai 2
kultur berjarak
24 jam
dinyatakan
negatif, perlu
imunisasi tiap
10 tahun
Tidak
mengolah
makanan sp 2x
jarak 24jam
kultur feses
negatif

82

Pengobata
simtomati
virus.
Minum
eritromici
tb sampai

olitica
Glardia
lambilia

Feses

Kontak

Hepatitis
A

15- 50
hari

2 minggu,
kadang2 sp 6
bulan
(prematur)

Fekal oral melalui


feses

Standar

Hepatitis
B,D

B:624mgg
D: 3-7
mgg

Akut atau
kronik dg
HbsAg
positif

Perkutaneus
mukosa, kulit yg
tdk utuh kontak
dgn darah, semen,
cairan vagina,
cairan tubuh yg
lain
Perkutaneus
mukosa kulit yg
tdk utuh kontak
gdn darah, semen,
cairan vagina,
cairan tubuh yg
lain
Kontak dgn ludah
karier mengandung
virus langsung/ lwt
sekresi luka
aberasi/ cairan
vesikel
Perkutaneus
mukosa, kulit yg
tdk utuh kontak
dgn darah, semen,
cairan vagina,

Standar

Hepatitis
C,F,G

Herpes
simplex

HIV

2-14 hr

Asiptomatik
dpt
mengeluarka
n virus

83

Libur di area
perawatan/
pengolahanma
kanan,i
minggu setelah
sakit kuning
imunisasi
paksa ekspos
Tidak perlu
dibatasi smp
HbeAg negatif.

Standar

Restriksi
sampai kondisi
membaik
/ sampai
HceAg negatif

Standar,
kontak
tangan

Retriksi tidak
perlu, tp
dibatasi kontak
dgn px

Standar

Vaksinasi
hepatitis a

-segera pe
HbsAg ata
HbeAg,tid
perlu diva
bila petug
mengandu
HBs 10

Kurang da
paska paja

-diberikan
dan 3 tc.

cairan yubuh yg
lain

Helicobact
er pylori
MDRO
(MRSA,
VRE,
VISA,
ESBL,
Srep
pneumoni
a
Influensa
1-5hr

Standar

Infeksius pd
3hr pertama
sakit.Virus
dpt
dikeluarkan
sblm gejala
timbul smp
7hr stlh
dimulai sakit,
lebih panjang
pd anak dan
orang

Kontak luka

Kontak

Airbone, kontak
langsung/ droplet
dgn sekresi saluran
napas

kontak

Hemophil
us
Influenzae
Dewasa
Anak

Human
Metapneu
mo virus
(HMPV)

-dilakukan
pemeriksa
HIVserolo
menitor se
bln,9bln,1

Standar
droplet

Batuk non
produktif,
kongesti
nasal
whezing,

Droplet sekret
respirasi

84

Kontak
Droplet

Vaksinasi pd
petugas yg
rentan.
Amantadin
untuk kontak
dgn influensa
A

Novirus

12-48
jam

N
meningitis

2-10 hr

Parotitis,
Mumps

16-18hr
(1225hr)

Parvovirus 6-10hr
/B19

Pertusis

7-10 hr

bronkhiolitis,
pneumonia
pada anak
+ 11,5 tahun
Diare, KLB

Makanan, air
terkontamibasi
feses
Kontak dgn sekret
saluran napas

Kontak,
makanan
, air
Trasmisi
mel
droplet

Community
acquired,
virus berada
dlm saliva 67hr sbl
parotitis sp
9hr stl onset
Px
immunokom
promls

Kontak dengan
droplet atau
langsung dgn
sekret sal napas, yi
saliva, hidung dan
mulut

Trasmisi
droplet

Menular sblm
bercak merah
sp 7hr stlh
onset
F catarrhal
sangat
menular

Kontak dgn droplet


besar, muntahan

Transmis
i drolpet

Libur spm
24jam stlh
terapi paska
ekspos.
Rifampin2x60
0mg, 2hr;
ciprofloxacin1
x500mg atau
ceftriaxon250
mg IM
Vaksinasi
efektif, MMR
Restriksi sp
9hr stlh onset
parotitis.
Petugas renyan
: 12hr paska
ekspos
pertama sp 25
hr stlh ekspos
terakhir
Tidak perlu
restriksi

Kontak dgn sekresi


sal napas, droplet
besar kontak dekat

Transmis
i droplet
sp 5 hr
menerim
a
antibioti

Vaksin
direkomen
umur 11-64 th
petugas dgn
pertusis:
restriksi fase

85

-perlu pro
dgn Rif2x
selama 2 h
dosis tung
cipro1x1,a
ceftriaxon
mg IM

Pollomyeli Nonparal Sal napas


tis
itik: 31mgg stlh
6hr;
gejala
paralitik muncul, dlm
7-12hr
feses bbrp
mgg-bulan
stlh gejala
muncul
Rubella
12-23hr, Sangat
bintik
menular saat
merah
bintik merah
timbul
keluar, virus
14-16hr
lepas 1mgg
stlh
sblm smp 5ekspos
7hr stl onset,
congenital
rubella bisa
melepas virus
berbulanbertahun2
RSV
2-8hr
Orang sakit
(infeksi
(terserin dapat
virus
g
mengeluarka
respiratori 4-6hr)
n virus
k)
selama 3-8hr.
Tp pd bisa
anak 3-4mgg
MRSA

catarrhal sp mg
3 stl onst / 5 hr
stlh tx
antibiotik
kontak saja
tidak perlu
retriksi
Imunisasi
direkomendasi
kan

Kontak cairan sal


napas, benda
terkontaminasi fese

Transmis
i kontak

Kontak dgn droplet


nasofaring px

Transmis
i droplet
dan
kontak
dgn
cairan sal
napas

5hr stlh bintik


keluar :
petugas rentan
7hr stl ekspos
pertama sp
21hr stl ekspos
terakhir

Tangan
terkontaminasi saat
merawat pasien
atau menyentuh
benda mati,
transmisi RSV bila
menyentuh mata
atau hidung

Transmis
i kontak
erat dhn
droplrt
atau
aerosol
partikel
kecil
Strandar
transmisi

Batasi kontak
dgn pasien
rawat dan
lingkungan
bila ada KLB
RSV Restriksi
sampai gejala
akut hilang
Retriksi
perawatan

Kontak
dengan

86

Streptococ
A

petugas,
mungkn
karier nares
anterior,
tangan,
axilla,
perineum,
nasofaring,
orofaring
Kontak sisi
terinfeksi &
mensekresi

Salmonell
a,
Shingella
Sypilis

Tuberkolo
sis

Sp 1 bl
minum OAT

Varicella

Sp lesi kering
& berkusta

kontak,
dapat
airbone

Kulit, faring
rektum, vagina

Orang- orang lewat


fekal oral air/
makanan
terkontaminasi
Kontak langsung
dg lesi primer atau
sekunder sypilis
Inhalasi droplet
nuklei

Standar
berdasar
transmisi

Kontak

Airbone, Sampai
kontak
terbukti non
(mengelu infeksius
arkan c
tubuh
infeksius
)

Airbone,
kontak,
87

pasien dan
pengolahan
makanan bila
petugas
dengan lesi
kulit basah
tidak perlu
retriksi bila
kolonisasi
Retriksi
perawatan
pasien &
pengolahan
makanan sp 24
jam stl
mendapat
antibiotik
Tidak perlu
retriksi petugas
dg kolonisasi

8 hari pasca
kontak sp 21

-petugas y
terexpose
tes mantou
indurasiny
mm perlu
profilaksis
sesuai
rekomend
lokal
Vaksinasi
varicella

standar

Vibrio
kolera
Zoster
*lokal

*
menyeluru
h atau
orang
immuno
komproma
is
* paska
pajanan
(person
yang
rentan)

Kontak feces

Tutupi lesi,
jangan
kontak dg
pasien rawat
Jangan
kontak dg
pasien

Retriksi
sampai lesi
mengering dan
mengelupas
Retriksi
sampai semua
lesi kering dan
mengelupas

Jangan
kontak dg
pasien rawat

Dari hr ke 10
paska pajanan
pertama sp hari
ke 21 atau hr
28 bila di beri
lagi atau
sampailesi
kering dan
mengelupas

A. Tindakan pertama pada pasca pajanan bahan kimia atau cairan tubuh.
1. Pada mata

hari paska
kontak, beri
imuno globulin
IV paska
kontak,
imunisasi
petugas paska
pajanan dalam
4 hari

: Bilas dengan air mengalir selama 15 menit.


88

2. Pada Kulit
: Bilas dengan air mengalir selama 1 menit.
3. Pada Mulut : segera kumur-kumur selama 1 menit
4. Lapor ke komite PPI atau K3RS atau dokter karyawan
B. Tata laksana bila petugas terpajan sumber infeksius Hepatitis B dari jarum bekas
Orang yang terkena
Tidak divaccin

Sumber HbsAg (+)


HIBG 1x dan
diberikan vaksin HB

Sumber HbsAg (-)


Beri vaksinHB

Pernah diberi vaksin


tapi tidak diketahui
serokonversinya

Tes untuk HBs:


Tidak ada
1.jika titernya cukup pengobatan
tidak perlu perlu
terapi.
2.jika tidak cukup
titernya beri boosster
HB dalam waktu 7
hari.
Diketahui non
HBIG 1x(dalam
Tidak ada
serokonversinya
waktu 72 jam)+ 1x
pengobatan
dosis vaksin
HB(dalam waktu 7
hari)
Tidak diketahui
Tes untuk HBs :
Tidak ada
1.jika (-) obat seperti pengobatan
serokonversinya
non serokonversi.
2.jika titer tidak
cukup HBIG 1x +
booster vaksin HB
dan ulangi
pemeriksaan setelah
4 minggu.
3.Jika titer
cukup,tidak perlu
diobati
-HBIG (Human B imunoglobulin)dosis untuk dewasa 400 unit.
-Titer (antibodi) yang sudah cukup berada pada level 10 mIU/ml

89

Sumber tidak diketahui


Bila sumber merupakan
resiko tinggi,dapat
diperlakukan sebagai sumber
HBsAg
Tidak ada pengobatan

Jika sumbermerupakan
resiko tinggi dapat
diperlakukan sebagai sumber
HbsAg (+)
Tes untuk anti HBs :
1.jika (-) ,obati seperti non
serokonversi.
2.jika titer tidak cukup
booster vaksin HB.
3.jika tter cukup tidak perlu
diobati.

C. Pengobatan jika sumber positif HIV sbb :


Orang yang terkena

Sumber positif HIV

HIV(-)

Rujuk ke dokter
internis aagar
mendapatkan
nasehat.
Setelah kejadian
diketahui dari pasien
HIV (+) staf harus
dirujuk kefasilitas
post exposur
propilaksis(PEP)
dalam waktu 2 jam
setelah pajanan.
Tes ulang saat itu 6
minggu,3,6dan 12
bulan .

Sumber
negatif
HIV
Tidak ada
pengobata
n

Saran :
Lakukan pencegahan
penularan .
Tunda proses
kehamilan selama 3
bulan.
Jangan memberikan
donor darah .
Suntikan zidovudine
selama 4 minggu
(250 mg 3x/hari)
atau 150 mg
2x/hari(untuk tablet)
Tidak perlu

90

Sumber tidak diketahui

Konsultasi dengan spesilais


mikrobiologi /internist mungkin
diobati seperti pasien HIV (+),jika
resiko tinggi.

pemberian
pengobatan
propilaksis

HIV (+)
Tidak
perlu
diobati

D. Pengobatan jika sumber (+) Hepatitis C


Orang yang terkena
Sumber HbsAg (+)
Hepatitis C negatif

Sumber
HbsAg (-)
Berikan nasehat
Tidak
untuk melakukan
perlu
pemeriksaan 0,3,6,12 diobati
bln pemeriksaan
HVC dengan PCR
dan diperiksa LVT
untuk mengetahui
status infeksinya
Sarankan untuk
meminalkan
penularan
Tidak ada
chemopropilaksis
tersdia ,rujuk pada
dokter penyakit
menular

91

Sumber tidak diketahui


Tidak perlu diobati konsul dokter
internist jika perlu.

E. . Petunjuk penggunaan ARV


1. ARV harus diberikan dalam waktu kurang dari 4 jam.
2. Termasuk didalamnya pajanan tehadap darah,cairan
serebrospinal,semen,vagina,amnion dari pasien dengan positif HIV.
3. Tes HIV diulang setelah 6 minggu ,3 bulan dan 6 bulan.
F. . Status HIV pasien.
Pajanan

Tidak diketahui

Positif

Kulit utuh

Tidak perlu PPP

Mukosa/kulit
tidak utuh

Pertimbangkan
rejimen 2 obat

Tidak perlu
PPP
Berikan
rejimen 2 obat

Positif Resiko
tinggi
Tidak perlu
PPP
Berikan
rejimen 2 obat

- Tusukan benda
tajam solid

Berikan rejimen 2
obat.

Berikan
rejimen 2 obat.

Berikan
rejimen 3 obat

- Tusukan benda
tajam berongga

Berikan rejimen 2
obat

Berikan
rejimen 3 obat

Berikan
rejimen 3 obat

Rejimen
AZT 300mg/12
jam x 28
hari,3TC 150
mg/12 jam 28
hari
AZT 300mg/12
jam x 28
hari,3TC 150
mg/12 jam 28
hari,Lop/r
400/100mg/12
jam x28 hari.

XV. Pemeriksaan swab dan kultur,merupakan saran pemeriksaan swab kuman pada
a. lantai,dinding dan ,AC
b. Tangan petugas gizi dan perawat ruang rawat inap.
c. Kultur darah pada surveilens ILI

92

BAB II
STANDART KETENAGAAN

A. Kualifikasi Ketenagaan.
Jenis ketenagaan menurut Peraturan Pemerintah RI tahun No .32 Tahun 1996
tentang tenaga kesehatan
No
1
2
3
4
5
6
7

Jenis tenaga
Dokter spesialis
ICN
Perawat
Sanitasi linen
Sanitasi gizi
farmasi
Laborat

Pendidikan formal
Anestesi
D-3
D-3
D-3
D-3
D-3
D-3

Kualifikasi ketenagaan PPI


1.

Karyawan yang berminat dalam bidang PPI.

2.

Minimal pendidikan D3

3.

Mempunyai sertipikat PPI (basic maupun advand)

4.

Bekerja purna waktu

93

sertipikat
PPI lanjut
PPI dasar
cssd
Management linen
Management Gizi

Jumlah
1
1/150 TT
1
1
1
1

B. Uraian Tugas :
B.1. Direktur.

Membentuk Komite dan TIM PPIRS dengan surat keputusan

Bertanggung

jawab

dan

memiliki

komitmen

yang

tinggi

terhadap

penyelenggaraan upya PPI

Bertanggung jawab terhadap tersedianya fasilitas sarana dan prasarana


termasuk anggaran yang dibutuhkan.

Menentukan kebijakan PPI

Mengadakan evaluasi kebijakan PPI berdasarkan saran dari panitia PPIRS

Dapat menutup suatu unit perawatan /instalasi yang dianggap potensial


menularkan penyakit untuk beberapa waktu sesuai saran dari PPIRS.

Mengesahkan SPO untuk PPIRS.

B.2. IPCO ketua komite PPI


B.2.1 Kriteria IPCO ;
- Ahli atau dokter yang berminat dalam PPI
- mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar PPI.
- memiliki kemampuan leadership.
Tugas IPCO sbb;

Berkontribusi dalam diagnosis dan terapi infeksi.

Turut menyusun pedoman penulisan resep antibiotika dan surveilens.

Mengidentifikasi dan melaporkan kuman patogen dan pola resistensi


antibiotika.

94

Bekerjasama dengan perawat PPI memonitor kegiatan surveilens infeksi


dan deteksi dini KLB.

Membimbing dan mengajarkan praktek dan prosedur PPI yang


berhubungan dengan prosedur terapi.

Turut memonitor cara kerja tenaga kesehatan lain dalam merawat pasien.

B.2 IPCN
B.2.1Kriteria IPCN :
- Perawat dengan pendidikan min D3 dan memiliki sertifikasi pelatihan PPI
- Memiliki komitmen di bidang PPI
- Memiliki pengalaman sebagai kepala Ruangan atau setara.
- Memiliki kemampuan leadership,inovatif dan confident
- Bekerja purna waktu.
B.2.2 Uraian tugas :

Mengunjungi ruangan setiap hari untuk memonitor kejadian infeksi yang


terjadi diruang perawatan.

Memonitor pelaksanaan PPI,penerapan SPO,kepatuhan petugas dalam


menjalankan kewaspaan isolasi.

Melaksanakan surveilens infeksi dan melaporkan kepada panitia PPIRS.

Melaksanakan pelatihan PPIRS.

Melakukan investigasi terhadap KLB dan bersama sama panitia PPI


memperbaiki kesalahan.

Memonitor kesehatan petugas sesuai gugus tugas .

95

Bersama panitia menganjurkan prosedur isolasi dan memberikan


konsultasi PPI

audit.

PPI

termasuk

pentalaksanaan

limbah,laundry,Gizi

dengan

menggunakan daftar tilik.

Memonitor terhadap pengendalian penggunaan antibitica yang rasional.

Membuat laboran surveilens.

Memberikan saran desain ruangan RS agar sesuai dengan prinsip PPI.

Mengusulkan pengadaan alat dan bahan yang sesuai dengan prinsip PPI
dan aman penggunaannya.

Melakukan pertemuan berkala termasuk evaluasi kebijakan.

Mengidentifikasi temuan dilapangan dan mengusulkan pelatihan untuk


meningkatkan kemampuan SDM PPIRS.

Menerima laporan dari TIM PPIdan membuat laporan kepada direktur.

Berkoordinasi dengan unit terkait lain.Melakukan pengawasan terhadap


tindakan tindakan yang menyimpang dari SPO.

Melakukan investigasi menetapkan dan melaksanakan infeksi bila ada KLB.

Menyusun dan mentapkan serta mengevaluasi kebijakan PPI.

Melaksanakan sosialisasi kebijakan PPIRS agar kebijakan dapat dipahami dan


dilaksanakan oleh petugas kesehatan rumah sakit.

Membuat SPO PPI

Menyusun program PPI dan mengevaluasi pelaksanaan program tersebut.


B.4 . IPCLN
B.4.1 Kriteria IPCLN :
- Perawat dengan pendidikan min D3 dan memiliki sertifikasi PPI.

96

- Memiliki komitmen di bidang PPI


- Memiliki kemampuan leadership
B.4.1.1 Tugas IPCLN :

Mengisi dan mengumpulkan formulir surveilens setiap pasien diruang


perawatan kemudian menyerahkan nya pada IPCN saat pasien pulang.

Berkoordinasi dengan IPCN saat terjadi infeksi potensial KLB.

Memonitor kepatuhan petugas dalam menjalankan standart isolasi

Berkoordinasi dengan unit terkait lain.Melakukan pengawasan terhadap


tindakan tindakan yang menyimpang dari SPO.

Melakukan investigasi menetapkan dan melaksanakan infeksi bila ada


KLB.

Bekerja sama dengan TIM PPI dalam melakukan investigasi masalah KLB
(HAIs).

Memberi usulan untuk mengembangkan dan meningkatkan cara PPI.

Memberi konsultasi pada petugas kesehatan rumah sakit .

B.5.Tugas Anggota laboratorium

Melaksanakan penyuluhan dan pendidikan tentang materi materi yang


berkaitan dengan pengendalian infeksi nosokomial kepada petugas
laborat.

Membantu pelaksanaan pemeriksaan swab atau kultur pasien

Memantau pemeriksaan laboratorium sesuai SPO

Melaksanakan tugas lain dari ketua panitia pengendali infeksi nosokomial.

B.6. Tugas Anggota linen:

Memisahkan linen infeksius dan non infeksius


97

Melaksanakan pemeriksaan swab linen bersih.

Memantau penggunaan bahan desinfektan sesuai aturan.

Memantau kegiatan hand higiene diruang linen.

B.6. Tugas Anggota gisi :

Memantau kegiatan hand higiene diruang gizi.

Membantu pelaksanaan pemeriksaan bahan makanan dan swab petugas


gisi.

Memantau penggunaan bahan desinfektan gizi.

B.7. Tugas Anggota IPSRS :

Memantau pelaksanaan hand higiene petugas IPSRS.

Memantau penggunaan bahan desinfektan.

Membantu mempersiapkan uji air bersih,limbah dan kuman diruang


tertentu.

Memantau proses pembakaran incenerator.

Menyiapkan bahan2 hasil pemeriksaan laboratorium

C. Distribusi Tenaga.
Komite PPI merupakan unit pelayanan yang melakukan kegiatan secara
komprehensif dari setiap unit pelayanan di rumah sakit ;
QMR,IGD,Poli
rawat
jalan,Unit

Rawat

Sekretariat,akuntansi,IPSRS,Gisi,lien,farmasi,SMF,laborat,Iko,
ICU,House keeping (CS).

98

inap,

BAB III
STANDART FASILITAS

A. Fasilitas bagi petugas.


1. Denah
Ruangan PPIRS terintegrasi dengan ruangan perkantoran dengan komite lain
Rumah sakit
Digedung IKO lantai 3 .
2. Standart Fasilitas.
No
A

Fasilitas
Fisik /bangunan

Jumlah

99

Gedung perkantoran lantai 3

Peralatan
Meja
Kursi
Komputer
Line internet
Almari kaca
Peralatan tulis
Buku perpustakaan PPI

1
3
1
1
1
2
10

B. Fasilitas pelayanan .
1. Menyusun kebutuhan pendidikan dan pelatihan petugas kesehatan ,petugas
laboratorium,relawan dan pihak lain.
2. Memastikan ketersediaan perlengkapan yang diperlukan untuk menerapkan
pencegahan dan pengendalian infeksi yang direkomendasikan dan tindakantindakan keamanan biologis (APD)
3. Mempersiapkan fasilitas sesuai dengan kebutuhan dan memastikan bahwa
fasilitas tersebut telah ditetapkan .
4. Memastikan bahwa pelacakan kontak ,pembatasan dan karantina jika
diperlukan misalnya:
Penetapan tempat khusus bagi penderita yang disolasi
Pastikan peyanan medis,pasokan makanan, dukungan sosial dan
bantuan psikologi
Pastikan transportasi yang memadai tersedia ke dan dari tempat
tersebut (rumah sakit /kamar jenazah)
5. Melindungi petugas kesehatan dengan memastikan SPO PPI sudah ada dan
dipatuhi (cmplience kebersihan tangan )
6. Mengembangkan strategi triage untuk pasien yang berpotensi berpenyakit
menular,dengan menyediakan lokasi diluar ugd,sebagai tempat pemeriksaan
awal ,identifikasi sebagai pengobatan darirat,pasien yang perlu dirujuk untuk
penatalaksaanselanjutnya.

100

BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN
Merupakan langkah- langkah pelayanan pencegahan dan pengendalian Infeksi di
masing masing unit kerja sbb :
1. Tata laksana pelayanan unit surveilens
a. Penanggung jawab
- ICN
- IPCLN ruangan yang dilakukan surveilens
- Petugas laborat
b. Perangkat kerja
- Status medis
- Form survei harian PPI
- Form survei bulanan PPI
- Form PPI
c. Tata laksana pelayanan
- ICN mengumpulkan IPCLN untuk diberikan pengarahan suveilens
- ICN membagikan form survei harian ,bulanan dan form SPO

101

IPCLN melakukan monitoring survei harian sesuai ruangan.


ICN melakukan konfirmasi bila terjadi infeksi saat survei ,dan
divalidasi oleh dokter penaggungjawab pasien.
- ICN merekap hasil survei harian yang dilakukan oleh IPCLN.
- ICN melaporkan hasil survei kepada Komite PPI.
- Komite PPI melaporkan hasil surveilens kepada Direktur tembusan ke
QMR
- Dan dilaporkan kepada DKK setempat
2. Tata laksana pengambilan swab dan kultur.
a. Penanggungjawab.
- ICN
- Petugas Laborat.
- Petugas yang dilakukan survei (swab tanga petugas)
- Petugas IPSRS
b. Perangkat kerja
- Status medis
- Form permintaan swab
- Ruangan perawatan
- AC
- Pasien
c. Tata laksana pelayanan
- ICN mengajukan pemeriksaan swab dan kultur pada dokter
penanggung jawab pasien, kemudian mengajukan permohonan
pemeriksaan kepada petugas laborat.
- ICN dan IPCLN mempersiapkan pasien atau petugas yang akan
dilakukan swab / kultur.
- Mendampingi petugas laborat dalam melaksanakan swab atau kultur.
- Jika hasil sudah jadi maka mereka melaporkan kepada komite PPI.
3. Tatalaksana monitoring kebersihan lingkungan
a. Penanggung jawab
- ICN, IPCLN
- Petugas kebersihan (SSC)
b. Perangkat kerja
- Buku pedoman pembersihan
- Daftar bahan-bahan desinfeksi
c. Tatalaksana pembersihan
- ICN dan SSC melakukan pertemuan rutin, membahas dan evaluasi
kinerja staf SSC
- Memberikan evaluasi bahan desinfeksi yang relevan dan ramah
lingkungan

102

Memberikan pengarahan cara pembersihan tumpahan darah atau


cairan tubuh
- Memberikan pengarahan cara pembersihan lantai, dinding dan ruangan
- Memberikan pengarahan pembersihan tumpahan darah atau cairan
tubuh pasien.
- Memberikan pengarahan penggunaan APD
4. Tatalaksana Pelayanan CSSD
a. Penanggung jawab
- ICN, petugas ruangan
- Petugas CSSD
- Administrasi CSSD
- Petugas OK
b. Perangkat kerja
- Kalibrasi autoclave
- Buku expedisi sterilisasi ruangan dan CSSD
- Kertas indikator bouwie dict tes
- Indikator mekanik
- Kertas indikator kimia `
- Tabung mikro biologi
c. Tatalaksana pelayanan CSSD
- Petugas ruangan yang akan mensterilkan alat mengisi dibuku expedisi
diruangan yang bersangkutan dan buku expedisi di OK
- Petugas CSSD memberikan identifikasi peralatan atau instrumen
sesuai ruangan yang mensterilkan
- Sebelum melakukan proses sterillisasi petugas CSSD melalukan
bouwie dict tes pada mesin autoclav terlebih dahulu (untuk
mengetahui kesiapan mesin autoclave .
- Jika hasil bouwdict tes baik petugas CSSD memberikan indikator
kimia pada setiap peralatan yang akan disterilkan
- Petugas CSSD melakukan penyetirilan sesuai SPO
- Setelah selesai proses sterilisasi lihat indikator kimia, jika hasil baik
lakukan penyimpanan peralatan yang sudah steril dialmari
- Petugas ruangan yang akan mengambil sterilisasi dicocokan dengan
buku expedisi ruangan dan CSSD
- Setiap minggu petugas CSSD melakukan uji mikro biologi terhadap
hasil sterilisasi

5. Tatalaksana Linen
a. Penanggung jawab
103

- Petugas linen
- Petugas ruangan
b. Perangkat kerja
- Linen
- Buku penyerahan linen kotor
- Buku penyerahan linen bersih
c. Tatalaksana linen
- Petugas ruangan mengantarkan linen kotor setiap pagi
- Petugas linen mencocokan linen kotor yang diantarkan petugas
ruangan ditulis pada buku penyerahan linen kotor
- Petugas linen mengidentifikasi linen infeksius dan non infeksius
- Untuk linen infeksius dilakukan dekontaminasi dengan cairan clorin
0,5% dan deterjen selama 10 menit
- Kemudian lakukan pencucian sesuai SPO
- Untuk linen non infeksius dilakukan pencucian sesuai.
- Penyediaan linen 2 x shift untuk menjaga ketersediaan linen
- Menyediakan kebutuhan linen seluruh Rumah Sakit.
- Swab linen bersih
6. Tatalaksana formularium antibiogram
a. Penanggung jawab
- Komite PPI
- Komite farmasi
- SMF
- Petugas laborat
b. Perangkat kerja
- Pasien yang akan dilakukan kultur
- Form surveilens PPI
c. Tata laksana
- Surveilens PPI untuk pengambilan kultur dilakukan Tiap 6 bulan .
- ICN mengajukan pemeriksaan sesuai kebijakan surveilen yang
diindikasikan untuk dilakukan pemeriksaan kultur kepada dokter
penaggung jawab
- Medis memberikan advist untuk dilakukan pemeriksaan kultur pasien.
- Petugas laborat melakukan pengambilan sample dan proses
selanjutnya sesuai SPO kultur
- Bila hasil telah jadi,petugas petugas laborat memberikan hasil kepada
ruangan yang mempunyai pasien(dokter penanggung jawab ) dan
kpian kepada ICN
- ICN merekap dan menganalisa hasil kultur masing masing kegiatan.
- Hasil dibahas dikomite PPI dan selanjutnya diteruskan kepada direktur
dan SMF
104

7 . Pelayanan kesehatan karyawan.


a. Penanggung jawab
- Komite PPI
- HRD
b. Perangkat kerja
- Buku /data pemeriksaan kesehatan yang ada di HRD
- Data kesehatan karyawan.
c. Tata laksana
- HRD mengeluarkan pemberitahuan pemeriksaan kesehatan setiap hari
ulang tahun.
- Komite PPI mengidentifikasi unit yang harus dilakukan pemeriksaan
kesehatan
Ruang kohort airborne : petugas dilakukan pemeriksaan TB setiap 3
bulan sekali
Ruang iko dan icu
: petugas dilakukan pemeriskasaan
TB,Hepatitis B setiap tahun
Sekali.
Unit Gisi
: pemeriksaan tipoid tiap 1 tahun sekali
- Karyawan melakukan pemeriksaan kesehatan yang sesuai ketentuan.
- Hasil diidentifikasi
- Bersama HRD melakukan analisa dan pencatatan kesehatan.
- Komite PPI dan HRD melaporkan hasil pemeriksaan kesehatan
karyawan kepada direktur dan SMF.
7. Pelayanan renovasi bangunan
a. Penanggung jawab
- Ketua komite PPI
- IPSRS
b. Perangkat kerja
- Papan pemberitahuan sedang dilakukan renovasi bangunan
- Pemeriksaan swab lantai
- Analisa dampak lingkungan (kebisingan dan debu)
- Papan/ alat penghalang renovasi.
c. Tata laksana
- Tim pembangunan memberitahukan kepada PPI dan IPSRS bahwa
akan dilakukan renovasi bangunan.
- Bersama mengidentifikasi dampak :
kebisingan,debu.
Lokasi resiko ( rendah,sedang,tinggi)
renovasi

105

Melakukan isolasi kegiatan dengan memasang papan pemberitahuan


renovasi,alat penghalang disekeliling area renovasi
Edukasi kepada staf yang melewati area pembangunan agar
dimengerti.
Setelah selesai pembangunan bagunan dibiarkan selama 1 bulan untuk
mengetes kesiapan bangunan ,selama didiamkan dilakukan tes swab
lantai dan didinding ruangan,jika hasil baik setelah periode 1 bulan
ruangan boleh digunakan

Selesai
renovasi
Diamkan
selama 1 bln
dan uji swab
Hasil baik

Hasil tak baik

Ruangan siap
digunakan

Desinfeksi
dinding dan lantai
dengan larutan
Lakukan swab
ulang

106

Hasil baik ruangan


siap digunakan

8. Pelayanan pembuatan ruang kohort


a. Penanggung jawab
- Ketua komite PPI
- IPSRS
b. Perangkat kerja
- Ruangan bertekanan negatif ( exhaust fan dan ventilasi)
- APD ( terutama masker bedah rangkap 3)
c. Tata laksana
- Komite PPI mengajukan pembuatan ruangan kohort kepada direktur.
- Setelah ada disposisi kepada TIM pembangunan (IPSRS)
- Dilakukan pembuatan ruangan kohort yang bertekanan negatif
- Syarat dan denah terlampir
9. Pelayanan pemeriksaan baku mutu air dan lPAL
10. Kebersihan tangan
a. Penanggung jawab
- Ketua komite PPI
b. Perangkat kerja
- Alkohol handrub
- Air mengalir
- Wastafel
- Towel
- Sabun
- Clorhexidine 2% dan 4 %
c. Tata laksana
- Penyiapan SPO kebersihan tangan dan gambar kebersihan tangan
- Edukasi pada seluruh staf rumah sakit
- Audit kepatuhan kebersihan tangan mulai dari kepala
ruang,dokter,baru staf pelaksana
- Laporan audit kebersihan tangan

BAB V
LOGISTIK

107

Tata cara logistik PPIRS


1. Perencanaan barang.
a. Barang rutine
:
- Kertas HVS,tinta printer,bolpoint,form survei harian,form survei
bulanan,form SPO surveilens,buku tulis.
- Bahan desinfeksi
b. Barang tidak rutine
:
- Proposal pemeriksaan kultur dan swab
- Pengadaan leaflet dan banner kebersihan tangan,etika
batuk,pencegahan dan pengendalian infeksi tanggung jawab bersama.
2. Permintaan barang.
a. Barang rutine disampaikan pada bagian logistik rutine rumah sakit.
b. Barang tidak rutine disampaikan terlebih dahulu pada direktur untuk
dimintakan persetujuan.
3. Penditribusian

BAB VI
KESELAMATAN KERJA
A.

Kewaspadaan, upaya pencegahan & pengendalian infeksi meliputi :

a. Pencegahan dan Pengendalian PPI


b. Keamanan pasien, pengunjung dan petugas

108

B. Keselamatan dan Kesehatan kerja Pegawai Melakukan pemeriksaan kesehatan


meliputi ;
a. Pemeriksaan kesehatan prakerja
b. Pemeriksaan kesehatan berkala
c. Pemeriksaan kesehatan khusus diunit beresiko :

csd,iko,icu,laboratorium,Radiologi,sanitasi gizi,linen

d. Pencegahan dan penanganan kecelakaan kerja (tertusuk jarum bekas).


e. Pencegahan dan penanganan penyakit akibat kerja
f. Penanganan dan pelaporan kontaminasi bahan berbahaya
g. Monitoring ketersediaan dan kepatuhan pemakaian APD bagi petugas
h. Monitoring penggunaan bahan desinfeksi
C. Pengelolaan bahan dan barang berbahaya
a. Monitoring kerjasama pengendalian hama.
b. Monitoring ketentuan pengadaan jasa dan barang berbahaya.
c. Memantau pengadaan, penyimpanan dan pemakaian B3
D. Kesehatan lingkungan kerja Melakukan monitoring kegiatan :
a. Penyehatan ruang bangunan dan halaman rumah sakit
b. Penyehatan hygiene dan sanitasi makanan dan minuman
c. Penyehatan air
d. Pengelolaan limbah
e. Pengelolaan tempat pencucian
f. Pengendalian serangga, tikus dan binatang pengganggu
g. Disinfeksi dan sterilisasi
h. Kawasan Tanpa Rokok
E. Sanitasi rumah sakit Melakukan monitoring terhadap kegiatan ;
1. Penatalaksanaan Ergonomi
2. Pencahayaan
3. Pengawaan dan pengaturan udara

109

4. Suhu dan kelembaban


5. Penyehatan hygiene dan sanitasi makanan dan minuman
6. Penyehatan air
7. Penyehatan tempat pencucian
F. Sertifikasi/kalibrasi sarana, prasarana dan peralatan Melakukan pemantauan
terhadap ;
a. Program pemeliharaan dan perbaikan peralatan medis dan nonmedis
b. Sertifikasi dan kalibrasi peralatan medis dan nonmedis
G. Pengelolaan limbah padat, cair dan gas
a. Limbah padat yang meliputi
i.

Limbah medis/klinis

ii.

Limbah domestik/sampah non medis

iii.

Limbah infeksius

b. Limbah cair
c. Limbah gas
H. Pendidikan dan pelatihan PPI
a. Mengadakan sosialisasi dan pelatihan internal meliputi :
-

Sosialisasi sistem tanggap darurat bencana.

Pelatihan penanggulangan bencana.

Simulasi penanggulangan bencana

Pelatihan penggunaan APD

Pelatihan surveilens

Pelatihan desinfeksi dan dekontaminasi

Pelatihan pemadaman api dengan APAR.

Pelatihan bagi regu pemadam

Pelatihan ( training of trainer )spseialis penanggulangan kebakaran

Sosialisasi dan pelatihan penanggulangan kontaminasi B3.

110

Simulasi penanggulangan bencana dan evakuasi terpadu.

b. Mengikut sertakan pelatihan K3 yang dilakukan oleh Perusahaan Jasa atau


Intansi lain bagi personil K3.
c. Upaya promotif dan edukasi

Hand higiene menjadi kebutuhan dan budaya disemua unit pelayanan.


Kedisiplinan Penggunaan APD sesuai dengan peruntukannya
Surveilens
ILI
ILO
ISK
VAP
HAP
Kepatuhan kebersihan tangan.
Upaya promotif PPI :
Pemasangan anjuran kebersihan tangan disetiap ruangan publik atau
wastafel
Pemasangan cara menggunakan dan melepas APD,
Pemasangan promotif kepatuhan membuang sampah sesuai jenisnya .
Sosialisasi PPI pada karyawan baru dan mahasiswa praktek
Pemasangan gambar etika batuk
Peningkatan pelayanan Pusat sterilisasi .
Upaya pemusatan sterilisasi rumah sakit hanya di CSSD
Penyediaan 3 indikator mutu sterilisasi
Pembuatan ruang kohort :
Kohort kontak infeksi
Kohort droplet infeksi
Kohort air borne infeksi
Kohort imunosupresif
Peningkatan kewaspadaan standart disemua unit pelayanan.

I. Pengumpulan, pengelolaan dokumentasi data dan pelaporan


Meliputi :
a.
b.
c.
d.

Mengagendakan laporan dan rencana kerja PPI


Mengarsipkan surat keluar dan surat masuk.
Mengarsipkan semua dokumen berkaitan dengan kegiatan PPI
Mendokumentasikan setiap kegiatan.

111

e. Memberikan rekomendasi berkaitan dengan PPI kepada Direksi baik


diminta atau tidak.

BAB VII
KESELAMATAN PASIEN
Upaya keselamatan pasien melalui kegiatan KKPRS adalah :
1. Ketepatan identifikasi pasien
1.1 Melakukan identifikasi yang benar sesuai SPO.
2. Peningkatan komunikasi efektif
2.1 Melakukan komunikasi efektif SBAR pada saat :
112

2.1.1
2.1.2
2.1.3

Komunikasi antar perawat


Komunikasi perawat dengan dokter
Komunikasi antar petugas kesehatan lainnya yang bertugas di
Rumah Sakit Panti Rahayu.
2.2 Menggunakan komunikasi SBAR :
2.2.1 Saat pergantian shift jaga.
2.2.2 Saat terjadi perpindahan rawat pasien.
2.2.3 Saat terjadi perubahan situasi atau kondisi pasien.
2.2.4 Saat melaporkan hasil pemeriksaan,efek samping
terapi/tindakan atau pemburukan kondisi pasien melalui
telepon kepada dokter yang merawat.
3. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai
3.1 Melaksanakan SPO Independent Double chek,Obat kewaspadaan
tinggi pada obat-obat yang termasuk dalam daftar obat HAM.
3.2 Memberikan obat sesuai dengan prinsip 6 BENAR.
4. Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi
5. Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
5.1 Melakukan pengisian formulir data pemantauan surveilens :
5.1.1 Infeksi luka infus
5.1.2 Infeksi saluran kencing
5.1.3 Infeksi luka operasi superfisial
5.1.4 VAP ( Ventilator aquired pneumonia)
5.1.5 HAP (Hospital aquired pneumonia)
5.1.6 Kepatuhan kebersihan tangan.
5.2 Melakukan pemantauan kegiatan pengendalian infeksi.
5.3 Melakukan pelaporan dan analisa kejadian infeksi.
5.4 Melakukan sosialisasi hasil analisa kejadian infeksi.
5.5 Melakukan evaluasi kegiatan pengendalian infeksi .
6. Pengurangan risiko pasien jatuh.
6.1 Melakukan pencegahan pasien jatuh dengan assessment risiko dan
tindak lanjut kepada pasien yang dirawat .
6.2 Melaporkan Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) yang terjadi .
6.3 Melakukan analisa sederhana terhadap kejadian KTD yang terjadi di
masing-masing unit pelayanan.
6.4 Melakukan sosialisasi hasil analisa KTD yang terjadi.

113

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

A. SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN


a. Penerapan system pencatatan dan pelaporan di RS Panti Rahayu mempunyai
tujuan:
Mendapatkan data untuk memetakan masalah masalah yang
berkaitan dengan keselamatan pasien
Sebagai bahan pembelajaran untuk menyusun langkah-langkah agar
114

KTD yang serupa tidak terulang kembali


Sebagai dasar analisis untuk mendesain ulang suatu sistem asuhan
pelayanan pasien menjadi lebih aman
Menurunkan jumlah insiden keselamatan pasien (KTD dan KNC)
Meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien
b.

RS Panti Rahayu mewajibkan agar setiap insiden keselamatan pasien


dilaporkan kepada komite keselamatan pasien rumah sakit

c. Laporan insiden keselamatan pasien di RS Panti Rahayu bersifat :


-

Non punitive (tidak menghukum)

Rahasia

Independen

Tepat waktu

Berorientasi pada sistem

d. Pelaporan insiden keselamatan pasien menggunakan lembar Laporan Insiden


Keselamatan Pasien yang berlaku di RS Panti Rahayu dan diserahkan kepada
Komite Keselamatan Pasien RS Panti Rahayu. Bagian/unit mencatat
kejadian IKP di buku pencatatan IKP masing-masing.
e. Laporan insiden keselamatan pasien tertulis secara lengkap diberikan
kepada komite keselamatan pasien dalam waktu :
-

1 x 24 jam untuk kejadian yang merupakan sentinel events (berdampak


kematian atau kehilangan fungsi mayor secara permanen). Apabila
pelaporan secara tertulis belum siap, pelaporan KTD dapat disampaikan
secara lisan terlebih dahulu.

24

jam

untuk

kejadian

yang

berdampak

klinis/konsekuensi/keparahan tidak signifikan, minor, dan moderat.


f.

Tindak lanjut dari pelaporan :


- Tingkat risiko rendah dan moderat : investigasi sederhana oleh
bagian/unit yang terkait insiden(5W:what,who,where,when,why).

115

Tingkat risiko tinggi dan ekstrim : Root Cause Analysis (RCA) yang
dikoordinasi oleh komite keselamatan pasien.

a. Bila insiden keselamatan pasien yang terjadi mempunyai tingkat risiko


merah (ekstrim) maka komite keselamatan pasien segera melaporkan
kejadian tersebut kepada direksi RS Panti Rahayu dan Yayasan(kantor
YAKKUM).
b. Bila insiden keselamatan pasien yang terjadi mempunyai tingkat risiko
kuning (tinggi) maka komite keselamatan pasien segera melaporkan
kejadian tersebut kepada Direksi RS Panti Rahayu.
c. Komite keselamatan pasien RS Panti Rahayu

melakukan rekapitulasi

laporan insiden keselamatan pasien dan analisisnya setiap tiga bulan kepada
direksi RS Panti Rahayu

B. PENERAPAN INDICATOR KESELAMATAN PASIEN.


a. Komite Keselamatan Pasien RS Panti Rahayu menetapkan

indicator

keselamatan berdasarkan atas pertimbangan high risk, high impact, high


volume, prone problem.
b. Komite Keselamatan Pasien RS Panti Rahayu menjelaskan definisi
operasional, frekuensi pengumpulan data, periode analisis, cara
perhitungan, sumber data, target dan penanggung jawab.
c. Komite Keselamatan Pasien RS Panti Rahayu bertanggung jawab
terhadap pelaksanaan dan kesinambungan penerapan indicator
keselamatan pasien
d. Komite Keselamatan Pasien RS Panti Rahayu bertanggung jawab dalam
proses pengumpulan data, analisis dan memberikan masukan kepada

116

Direksi berdasarkan pengkajian tersebut.


e. Indikator dikumpulkan dan dianalisis setiap bulan. Setiap tiga bulan
indicator dianalisis dan di feed back kan kepada unit terkait.
f. Jumlah indicator keselamatan pasien perlu ditinjau ulang setiap 3 tahun
sekali
C. ANALISIS AKAR MASALAH
a. Dalam rangka meningkatkan mutu dan keselamatan pasien, RS Panti Rahayu
menerapkan metode root cause analysis (RCA) atau analisa akar masalah,
yaitu suatu kegiatan investigasi terstruktur yang bertujuan untuk melakukan
identifikasi penyebab masalah dasar dan untuk menentukan tindakan agar
kejadian yang sama tidak terulang kembali.
b. RCA dilakukan pada insiden medis kejadian nyaris cedera dan KTD yang
sering terjadi di RS Panti Rahayu.
c. RCA dilakukan pada setiap kejadian sentinel events.
d. Insiden keselamatan pasien yang dikatagorikan sebagai level tinggi dan
ekstrim diselesaikan dalam kurun waktu paling lama 45 hari dan dibutuhkan
tindakan segera yang melibatkan Direksi.
e. Agar penemuan akar masalah

dan pemecahan masalah mengarah pada

sesuatu yang benar, maka perlu dibentuk tim RCA yang berunsurkan : dokter
yang mempunyai kemampuan dalam melakukan RCA, unsur keperawatan,
dan SDM lain yang terkait dengan jenis insiden keselamatan pasien yang
terjadi.
f.

Dalam melakukan RCA langkah langkah yang diambil adalah membentuk


tim RCA, observasi lapangan, pendokumentasian, wawancara, studi pustaka,
melakukan asesmen dan diskusi untuk menentukan faktor kontribusi dan akar
masalah.

g. Hasil temuan dari RCA ditindaklanjuti, direalisasi dan dievaluasi agar


kejadian yang sama tidak terulang kembali

117

STANDAR DAN INDIKATOR MUTU KINERJA KLINIK


1. Standar Mutu Klinik: RSPR harus mampu memberikan pelayanan yang
terbukti aman bagi semua orang yang berada didalamnya baik pasien
maupun karyawan dari segala bentuk kejadian yang dapat timbul karena
proses pelayanan.
2. Indikator Mutu Klinik:
1). Indikator Non Bedah
a). Angka dekubitus
b). Angka kejadian infeksi jarum infus
c). Angka kejadian infeksi karena transfusi darah.
d). Target surveilens angka kejadian infeksi <1,5%
e). Tersedianya Bahan- bahan desinfeksi yang sesuai rekomendasi dan
aman bagi lingkungan.
f). Dilakukannya kegiatan pemantauan
g). Hasil swab

: tangan,dinding dan lantai,AC yang

memenuhi standart (SPM)


h). Hasil kultur

2)

Unit CSSD

: Pus,darah dan ujung kateter

a). - indikator bouwie dict tes,kimia dan mikrobiologi dilaksanakan


dan hasilnya baik
b). - maintence autoclave
118

c). Kalibrasi Autoclave external baik


d). Indikator mekanik,kimia,biologi
3)

Upaya kesehatan

a). Kebersihan tangan menjadi isu dan tindakan yang menjadi


kebutuhan petugas.
b). Terlaksananya pemasangan leaflet kebersihan tangan disetiap
ruangan ,wastafel dan ruangan publik.
c). Edukasi PPI pada calon karyawan .
d). Edukasi PPI pada karyawan .
e). Edukasi pada mahasiswa praktek
f). Hasil survei menjadi informasi disetiap unit pelayanan melalui
sistem informasi rumah sakit
g). Pemeriksaan kesehatan karyawan secara berkala
h). Terlaksananya ruangan kohort dimarkisa 1 atau durian .
i). Tersediannya APD yang diperlukan
j). Terlaksananya survei complience kebersihan tangan tangan pada
perawat senior
k). Penyehatan lingkungan
l). Ruangan dan lingkungan yang bersih
m). Sampah dibuang sesuai jenisnya
n). Incenerator berfungsi dengan baik (semua sampah yang dibakar
menjadi abu)
119

o). Terlaksananya formularium antibiotika.


3. Indikator mutu lingkungan
1). Hasil uji baku mutu air dan limbah yang dihasilkan sesuai dengan
perundangan yang berlaku (UU Lingkungan, PP, PMK, Perprop,
Perda)
2). Ketersediaan instalasi pengolah limbah baik padat maupun cair.
3). Ketersediaan pengolahan limbah infeksius
4). Pelaksanaan UKL dan UPL dari Rencana Pengelolaan Lingkungan
Penurunan Angka Kuman di area pelayanan khusus
B. Formulasi dari indikator-indikator tersebut di atas adalah sebagai berikut
a) Kelompok Pelayanan Non-Bedah
1) Angka infeksi karena Jarum Infus
Angka Kejadian Infeksi Kulit karena Jarum Infus per Bulan
x 100
Jumla h hari dirawat pasien yang terpasang iv line dalam bulanitu

2) Angka infeksi luka operasi


x 100 %
Total penderita yang dioperasi dalam satu bulan
3) Angka infeksi pneumonia krn terpasang ventilator x 100%
Total Pasien yang terpasang ventilator dalam satu bulan
4) Angka i saluran kemih
x 100%
Total pasien terpasang DC pada bulan tersebut.
5) Angka pneumonia karena tirah baring (HAP) x 100 %
Total pasien tirah baring dalam satu bulan

120

BAB IX
PENUTUP

Sebagai penutup kiranya dapat diingatkan kembali bahwa pelayanan


pencegahan dan pengendalian infeksi bukanlah urusan mereka yang bertugas di unit
PPIRS saja. Namun juga tanggung jawab semua pihak yang berada di Rumah Sakit
Panti Rahayu Purwodadi.
Yang paling penting dilaksanakan dalam rangka Pencegahan dan
pengendalian infeksi adalah upaya-upaya edukasi PPI kepada staf ,pasien dan
pengunjung Rumah sakit.,sehingga dapat merubah perilaku yang sehat,penyaiapan
sarana dan prasarana PPI .upaya pencegahan dan pengendalian infeksi disadari atau
tidak memerlukan dana yang besar sehingga memerlukan dukungan penuh dari
management rumah sakit.
Demikianlah pedoman pelayanan pencegahan dan pengendalian infeksi
Rumah Sakit Panti Rahayu Purwodadi,lebih baik mencegah dari pada mengobati.

Purwodadi,10 Februari 2014

Direktur

121

Dr Sunarima MKes

XVI. Landasan Hukum

1. Undang Undang Republik Indonesia nomor 44 tahun 2009tentang Rumah sakit.


2. Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor.129/MenKes/SK/2008 tentang standart
minimal pelayana Rumah Sakit.
3. Surat Edaran direktur jendral Bina Pelayanan Medik nomor HK.03.01/II/3744/ 08
tentang Pembentukan komite dan Tim Pencegahan Pengendalian Infeksi di rumah
Sakit.
4. Undang undang no 23 tahun 1992 tentang kesehatan.
5. Peraturan pemerintah nomor 32 tahun 1995 tentang tenaga kesehatan.
6. Peraturan menteri kesehatan republik Indonesia nomor 1333/Menkes/SK/XII/1999
tentang standart pelayanan Rumah sakit.
7. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1575/Menkes/2005 tentang Organisasi dan
tata kerja Departemen Kesehatan.

122

123