BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam proses peningkatan
kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu sudah sepatutnya pendidikan mendapat
perhatian yang mendalam tentang nilai-nilai dan dasar-dasar untuk meningkatkan kualitas
sumber daya manusia. Salah satu cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia yakni
dengan memperbaiki kualitas pembelajaran di sekolah..
Menurut pendapat Susanto (2013:183) yang menyatakan bahwa dengan belajar
matematika, kita akan belajar bernalar kritis, kreatif, dan aktif yang sangat dibutuhkan
orang dalam menyelesaikan berbagai masalah. Sebagaimana diketahui bahwa salah satu
tujuan mata pelajaran matematika dijelaskan dalam Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional (Permendiknas) Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Mata Pelajaran
Matematika untuk semua jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah agar peserta
didik memiliki kemampuan memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan
antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien
dan tepat dalam pemecahan masalah. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran
yang memegang peranan sangat penting dalam pendidikan. Mengingat pentingnya proses
pembelajaran matematika, seluruh aspek pendidikan memberikan evaluasi terhadap
pembelajaran matematika.
Di sekolah dasar masih banyak peserta didik yang kurang menyenangi
matematika, bahkan mayoritas peserta didik memvonis matematika sebagai pelajaran
yang menyeramkan dan menakutkan. Hal tersebut terjadi karena pembelajaran
matematika yang didominasi oleh guru dengan metode ceramah, sehingga bersifat verbal
dan dictator yang membuat peserta didik kurang berminat untuk mempelajari
matematika. Kegiatan belajar adalah kegiatan yang rumit karena tidak sekedar menyerap
informasi dari guru, tetapi melibatkan berbagai kegiatan maupun tindakan yang harus
dilakukan terutama jika diinginkan hasil yang baik. Salah satu pembelajaran yang
menekankan berbagai tindakan adalah menggunakan model tertentu dalam pembelajaran.
Pendekatan dalam pembelajaran merupakan suatu upaya dalam mengembangkan
keaktifan belajar. (Arief Budi Wicaksono. Prosiding Seminar Nasional matematika dan
Pendidikan Matematika 9,2013)
Pembelajaran yang dilakukan di sekolah meliputi berbagai hal yang semua
terangkum dalam mata pelajaran yang diberikan serta ketrampilan atau pengetahuan lain.
Beberapa mata pelajaran dikenal sebagai mata pelajaran yang menjadi stressor utama
dalam proses belajar di sekolah antara lain adalah matematika (Ormrod, 2004). Wigfield
& Meece (Ormrod, 2004) menjelaskan mengenai sebab terjadinya kekhawatiran terhadap
mata pelajaran matematika, yaitu:
1. Orang‐orang yang khawatir dengan matematika percaya bahwa mereka tidak punya
kemampuan untuk menyelesaik‐an soal dengan tepat soal‐soal matematika.
2. Mereka memiliki reaksi emosi yang negatif terhadap matematika: mereka takut dan
tidak menyukai matema‐ tika secara terus‐menerus.
Tingginya tingkat kekhawatiran dalam pembelajaran matematika mengarah pada
ketidaksukaan terhadap pelajaran matematika sehingga hal ini menurun‐ kan pemahaman
peserta didik terhadap mate‐ matika. Ketidak‐pahaman matematika dapat mengakibatkan
terjadiya kekurangan dalam kesempatan bahkan ketidakmampuan dalam menyelesaikan
tugas sehari‐hari lainnya (Kilpatrick et al., 2001 dalam Jbeili, 2003).
Beberapa hal yang mungkin dapat menimbulkan kekhawatiran peserta didik
dalam belajar matematika diantaranya kurikulum sekolah yang tidak sesuai dengan
perkembangan kogntif peserta didik (Ormrod, 2004). Oleh karena itu penting kiranya
untuk memahami bagaimana pembela‐ jaran peserta didik dalam belajar matematika
dengan memperhatikan aspek psikologis pada peserta didik.
Guru menjelaskan bahwa anak yang digunakan sebagai subyek penelitian telah
dapat mengidentifikasi uang dengan baik, yaitu anak dapat meyebutkan nilai setiap mata
uang dan membedakan nilai setiap mata uang. Hal tersebut diperkuat dengan tes yang
dilakukan peneliti yaitu dengan cara peneliti mengeluarkan beberapa uang dan anak
diminta untuk menyebutkan satu per satu nilai dari uang tersebut, terbukti anak dapat
menyebutkan dan membedakan setiap uang yang ditunjukkan peneliti.(Jurnal Al-Azhar
Indonesia Seri Humaniora 2 (4),297-305,2016)
Ketidakmampuan anak dalam hal penggunaan mata uang terlihat pada saat anak
berbelanja di kantin sekolah. Pada saat berbelanja di kantin sekolah anak hanya
menyerahkan seluruh uang yang dibawanya untuk membayar tanpa mengerti berapa
harga belanjaannya dan berapa uang kembalian yang dia dapat. Hal tersebut semakin
menguatkan bahwa anak mengalami hambatan penggunaan mata uang salah satunya
dalam hal mengenal dan membandingkan mata uang.(EM Yeni-Jurnal Pendidikan Dasar,
2017-jfkip.umuslim.ac.id)
1. Identifikasi Masalah
Pembelajaran di SD Negeri 013 Lubuk Batu Tinggal Kelas II (dua) pada
Pembelajaran Matematika tentang Pecahan Mata Uang materi menyebutkan dan
membandingkan Pecahan Mata Uang, masih sangat rendah atau belum berhasil dengan baik.
Ini terlihat dari hasil tes formatif matematika, dari 15 peserta didik hanya 2 orang yang
memperoleh hasil baik. Sedangkan 13 peserta didik lainnya memperoleh hasil sangat rendah.
Selain hasil belajar yang rendah, peserta didik masih ada yang belum berani untuk bertanya
materi yang belum jelas, dan sebagian peserta didik masih pasif dalam proses pembelajaran.
Hasil belajar yang rendah dan tidak kesesuaian untuk mencapai KKM matematika yakni 65,
setelah mengikuti proses pembelajaran merupakan salah satu indikator yang menggambarkan
tidak tercapainya tujuan pembelajaran. Banyak cara atau solusi yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan hasil belajar peserta didik yang hasil belajarnya rendah.
2. Analisis Masalah
Berdasarkan permasalahan yang di kemukakan diatas selanjutnya peneliti
berdiskusi dengan sejawat. Maka didapati faktor-faktor yang melatar belakangi
permasalahan tersebut, yaitu :
Kemampuan anak dalam mengenal nilai pecahan mata uang dan cara membandingkan
nilainya masih sangat rendah, sehingga berakibat pada ketidakmampuan anak dalam
penggunaan mata uang.
Model Pembelajaran yang digunakan guru belum sesuai dalam proses pembelajaran,
sehingga anak merasa bosan dan berdampak pada hasil belajar yang rendah.
Peserta didik kurang terlibat aktif dalam pembelajaran matematika materi menyebutkan
dan membandingkan nilai pecahan mata uang.
Guru tidak menggunakan media pembelajaran yang tepat.
3. Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah
Berdasarkan hasil analisis masalah yang penulis kemukakan, maka selanjutnya
peneliti berdiskusi dengan teman sejawat. Dari hasil diskusi tersebut, peneliti menetapkan
alternative dan prioritas pemecahan masalah sebagai berikut:
a. Model Pembelajaran Kooperatif Tife Examples Non Examples dianggap tepat dalam
meningkatkan hasil belajar peserta didik pada pembelajaran matematika materi
menyebutkan dan membandingkan nilai pecahan mata uang.
b. Lebih memaksimalkan peran serta aktif peserta didik dalam pembelajaran matematika
materi menyebutkan dan membandingkan nilai pecahan mata uang.
c. Menetapkan penggunaan alat peraga atau media yang tepat dan sesuai dengan
Pembelajaran matematika materi menyebutkan dan membandingkan nilai pecahan mata
uang.
Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tife Examples Non Examples pada
pelaksanaan pembelajaran matematika materi menyebutkan dan membandingkan nilai
pecahan mata uang merupakan cara tepat, mudah , dan dapat dipahami oleh peserta didik.
Berdasarkan urain di atas, maka timbul gagasan penulis untuk melakukan sebuah penelitian
dengan judul:
‘Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples Untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas II Pada Mata Pelajaran Matematika
Materi Pecahan Mata Uang di SD Negeri 013 Lubuk Batu Tinggal
Kecamatan Lubuk Batu Jaya’
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas dapat diuraikan rumusan masalah
penelitian adalah:
“Apakah penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tife Examples Non
Examples dapat meningkatkan hasil belajar dan keaktifan belajar peserta didik pada
pembelajaran matematika materi menyebutkan dan membandingkan nilai pecahan mata
uang Kelas II SD Negeri 013 Lubuk Batu Tinggal tahun ajaran 2020/2021 ?”
C. TUJUAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Example dalam
upaya meningkatkan hasil belajar matematika materi menyebutkan dan membandingkan
nilai pecahan mata uang pada peserta didik Kelas II SD Negeri 013 Lubuk Batu Tinggal
tahun ajaran 2020/2021.
2. Untuk meningkatkan keaktifan peserta didik belajar matematika materi menyebutkan
dan membandingkan nilai pecahan mata uang Kelas II SD Negeri 013 Lubuk Batu
Tinggal tahun ajaran 2020/2021 melalui penerapan Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe Example.
D. MANFAAT PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
Manfaat yang diharapkan dari pelaksanaan perbaikan pembelajaran ini sebagai berikut:
1. Bagi Peserta didik
Dapat memotivasi peserta didik dalam beraktifitas atau berpikir secara optimal dalam
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Example agar peserta didik tidak jenuh dan
bosan.
Meningkatkan peserta didik untuk lebih aktif dalam belajar matematika sehingga
akan tercapai hasil belajar yang baik.
2. Bagi Guru
Berperan sebagai sumber informasi untuk mengembangkan teknik mengajar.
Hasil penelitian ini dapat dijadikan alternatif pembelajaran di sekolah guna
meningkatkan prestasi serta hasil belajar peserta didik.
3. Bagi Sekolah
Memberikan sumbangan positif untuk untuk lebih mengembangkan manajemen
kegiatan belajar mengajar atau strategi belajar mengajar.
4. Bagi Penulis atau Mahapeserta didik PGSD
Dapat dijadikan sebagai salah satu model pembelajaran yang nantinya dapat
diterapkan pada saat terjun langsung di masyarakat.
Memberikan bukti nyata bahwa Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Example dapat
meningkatkan keaktifan belajar dan hasil belajar peserta didik.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH DASAR
1. Hakikat Pembelajaran Matematika di SD
Belajar matematika merupakan konsep-konsep dan struktur abstrak yang terdapat
dalam matematika serta mencari hubungan antara konsep-konsep dan struktur
matematika. Belajar matematika harus melalui proses yang bertahan dari konsep yang
sederhana ke konsep yang lebih kompleks. Setiap konsep matematika dapat dipahami
dengan baik jika pertama-tama disajikan dalam bentuk konkrit. Russeffendi (1992)
mengungkapkan bahwa ‘alat peraga adalah alat untuk menerangkan/mewujudkan konsep
matematika sehingga materi pelajaran yang disajikan mudah dipahami oleh peserta didik.
Salah satu dari Standar Kompetensi Lulusan SD pada mata pelajaran matematika yaitu,
memahami konsep bilangan pecahan, perbandingan dalam pemecahan masalah, serta
penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari Depdiknas 2006.
Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan bahwa pemahaman guru tentang
hakekat pembelajaran matematika di SD dapat merancang pelaksanaan proses
pembelajaran dengan baik yang sesuai degan perkembangan kognitif peserta didik,
penggunaan media, metode, dan pendekatan yang sesuai pula. Sehingga guru dapat
menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif serta terselenggaranya kegiatan
pembelajaran yang efektif.
2. Tujuan Pembelajaran Matematika
Tujuan pembelajaran matematika di SD dapat dilihat di dalam kurikulum tingkat
satuan pendidikan 2006 SD. Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik
memiliki kemampuan sebagai berikut: (1) Memahami konsep matematika, menjelaskan
keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes,
akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah, (2) Menggunakan penalaran pada
pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi,
menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika, (3) Memecahkan
masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika,
menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh, (4) Mengkomunikasikan
gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau
masalah, (5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu
memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika sifat-sifat
ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Selain tujuan umum yang menekankan pada penataan nalar dan pembentukan
sikap peserta didik serta memberikan tekanan pada keterampilan dalam penerapan
matematika juga memuat tujuan khusus matematika SD yaitu: (1) Menumbuhkan dan
mengembangkan keterampilan berhitung sebagai latihan dalam kehidupan sehari-hari, (2)
Menumbuhkan kemampuan peserta didik, yang dapat dialihgunakan melalui kegiatan
matematika, (3) Mengembangkan kemampuan dasar matematika sebagai bekal belajar
lebih lanjut, (4) membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif, dan disiplin.
B. KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR
Menjadi guru yang baik memang tidak cukup dengan mengandalkan penguasaan
materi saja, namun menjadi guru yang baik adalah guru tersebut dapat mengenali dan
memahami karakteristik peserta didiknya (Saryati, 2104:669). Dengan cara mengenali dan
memahami karakteristik peserta didik, guru tersebut dapat tahu apa yang dibutuhkan oleh
peserta didik dan mampu mengarahkan serta membimbing peserta didik nya, sehingga
proses pembelajaran berjalan dengan baik dan mendapatkan hasil yang baik.
Menurut Hariyono (2014:5) bahwa masa anak usia sekolah dasar adalah masa
anak-anak akhir yang berangsur dari usia 6 tahun sampai kira-kira usia 11 tahun atau 12
tahun. Menurut Supriadi (2013:80) menjelaskan bahwa anak usiasekolah dasar ini memiliki
karakteristik yang berbeda dengan anak-anak yang berusia lebih muda, mereka lebih senang
bermain, senang bergerak, senang berkerja dalam kelompok dan senang merasakan atau
melakukan sesuatu secara langsung.
Menurut Supariasa (2013), karakteristik anak usia sekolah umur 6-12 tahun
terbagi menjadi empat bagian terdiri dari:
1) Fisik/Jasmani
a) Pertumbuhan lambat danteratur.
b) Anak wanita biasanya lebih tinggi dan lebih berat dibanding laki-laki dengan usia
yang sama.
c) Anggota-anggota badan memanjang sampai akhir masaini.
d) Peningkatan koordinasi besar dan otot-otothalus.
e) Pertumbuhan tulang, tulang sangat sensitive terhadap kecelakaan.
f) Pertumbuhan gigi tetap, gigi susu tanggal, nafsu makan besar, senang makan
danaktif.
g) Fungsi penglihatan normal, timbul haid pada akhir masaini.
2) Emosi
a) Suka berteman, ingin sukses, ingin tahu, bertanggung jawab terhadap tingkah laku
dan diri sendiri, mudah cemas jika ada kemalangan di dalamkeluarga.
b) Tidak terlalu ingin tahu terhadap lawan jenis.
3) Sosial
a) Senang berada di dalam kelompok, berminat di dalam
permainanyangbersaing,mulaimenunjukkansikap
kepemimpinan, mulai menunjukkan penampilan diri, jujur, sering punya
kelompok teman-teman tertentu.
b) Sangat erat dengan teman-teman sejenis, laki-laki dan wanita bermainsendiri-
sendiri.
4) Intelektual
a) Suka berbicara dan mengeluarkan pendapat minat besar dalam belajar dan
keterampilan, ingin coba-coba, selalu ingin tahusesuatu.
b) Perhatian terhadap sesuatu sangatsingkat.
C. MEDIA PEMBELAJARAN
1. Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak kata medium
yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau
pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. (Arif S. Sadiman, dkk., 1990: 6).
Umar Suwito (Suharsimi Arikunto, 1993: 45) memberi batasan media pembelajaran
sebagai berikut: media pembelajaran adalah sarana pembelajaran yang digunakan sebagai
sarana untuk mencapai tujuan. Azhar Arsyad (2002: 4) menyatakan bahwa media
pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi
pengajaran. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran
adalah alat bantu yang digunakan untuk membangun komunikasi dan interaksi antara
guru dan peserta didik dan proses belajar mengajar.
2. Jenis-jenis Media Pembelajaran
Nana Sujana dan Ahmad Rivai (2002: 3-4) mengemukakan ada beberapa jenis
media pengajaran yang biasa digunakan dalam proses belajar mengajar, yaitu: a. Media
Grafis Media grafis termasuk media visual sebagaimana halnya media yang lain media
grafis berfungsi untuk menyalurkan pesan dari sumber ke penerima pesan. Saluran yang
dipakai menyangkut indera penglihatan dan pesan yang akan disampaikan dituangkan ke
dalam simbol-simbol komunikasi visual. Contoh media grafis adalah gambar, foto dan
grafik (Arif S. Sadiman, dkk., 1990: 28). b. Media Tiga Dimensi Media tiga dimensi
adalah media dalam bentuk model seperti: Model penampang dan model susun. c. Model
proyeksi seperti: slide, film strips dan penggunaan OHP. d. Penggunaan lingkungan
sebagai media pengajaran.
3. Kriteria Pemilihan Media
Media pembelajaran merupakan salah satu sarana untuk membantu meningkatkan
efektivitas proses belajar mengajar. Kriteria pemilihan media harus dikembangkan sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai, kondisi dan keterbatasan yang ada dengan mengingat
kemampuan dan sifat-sifat khasnya (karakteristik) media yang bersangkutan. Dalam
hubungan ini Dick dan Carey (Arif S. Sadiman, dkk., (1990: 86) menyebutkan bahwa di
samping kesesuaian dengan tujuan perilaku dipertimbangkan dalam pemilihan media,
yaitu: a. Ketersediaan sumber setempat, artinya bila media yang bersangkutan tidak
terdapat pada sumber-sumber yang ada, maka harus dibeli atau dibuat sendiri. b.
Ketersediaan dana, tenaga dan fasilitasnya. c. Faktor yang menyangkut keluwesan,
kepraktisan dan ketahanan media yang bersangkutan untuk waktu yang lama. d.
Efektivitas biayanya dalam jangka waktu yang panjang.
4. Manfaat Media Pembelajaran
Manfaat media adalah sebagai alat bantu mengajar yang ditata oleh guru dan
dapat mempengaruhi untuk kemudahan anak dalam menerima pelajaran (Azhar Arsyad,
1996: 15).
5. Media Pembelajaran Matematika
Herman Hudoyo (1979: 108) menyatakan bahwa belajar matematika merupakan
proses membangun atau mengkonstruksi konsep-konsep dan prinsip-prinsip, tidak
sekedar belajar yang terkesan pasif dan statis, namun belajar matematika itu harus aktif
dan dinamis. Hal ini sesuai dengan pandangan konstruktivitis yaitu suatu pandangan
dalam mengajar belajar dimana peserta didik membangun sendiri arti dari
pengalamannya dan interaksi 14 dengan orang lain, sedangkan guru berperan
memberikan pengalaman yang bermakna bagi peserta didik (Sukayati, 2003: 1). Menurut
Piaget (Monks dkk, 2004: 221) anak usia 4 sampai 7 tahun masih berpikir konkrit pra
operasional yang berarti untuk memahami suatu konsep peserta didik masih harus
diberikan kegiatan yang berhubungan dengan benda nyata atau kejadian nyata yang bisa
diterima akal.
6. Pertimbangan dalam Pemilihan Media Pembelajaran Matematika
Pemilihan media pendidikan dalam pembelajaran matematika (Subagya, 2003:
17) sebaiknya mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a. Harus lebih menambah kegiatan belajar peserta didik.
b. Harus menyebabkan hasil belajar yang lebih permanen.
c. Lebih memberi pengalaman terhadap peserta didik yang belum mengalami.
d. Lebih menghemat waktu.
e. Dapat membangkitkan motivasi dan aktivitas peserta didik.
f. Hendaknya sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.
g. Ekonomis dan tahan lama.
h. Mudah digunakan.
i. Sesuai kemampuan berpikir dan kemampuan lain peserta didik.
j. Lebih unggul jika dibandingkan dengan media lain.
7. Media Mata Uang
Menurut M.Khafid dan Suyati (2004: 118) Media uang dalam pembelajaran
peserta didik usia dini digunakan untuk mengenalkan tentang nilai mata uang
dalamkehidupan sehari-hari baik uang logam maupun uang kertas. Media uang yang
peneliti gunakan dalam pembelajaran yaitu uang kertas dan uang logam.
Menurut M.khafid dan Suyati (2004: 118) Media uang dalam pembelajaran siswa
usia dini digunakan untuk mengenalkan tentang nilai mata uang dalam kehidupan sehari-
hari baik uang logam maupun uang kertas. Dari pengenalan uang logam Rp. 50,00
sampai dengan Rp.1000,00 dan pengenalan uang kertas dari uang Rp.500,00 sampai
dengan Rp.100.000,00.
Salah bentuk media yang digunakan dalam bahasan uang dalam bentuk spesimen.
Kesulitan-kesulitan yang dialami peserta didik diantaranya disebabkan oleh kurang
pahamnya peserta didik pada materi pokok bahasan uang serta kurangnya kreatifitas guru
dalam pembelajaran matematika. Padahal pokok bahasan tersebut sangatlah penting
sebagai bekal bagi seorang peserta didik kelak jika sudah dewasa dan hidup di tengah-
tengah masyarakat. Uang merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan
sehari-hari. Belanja, makan, minum, pakaian, rekreasi dan kebutuhan hidup yang lain
membutuhkan uang.
Tujuan Penggunaan media uang dalam pembelajaran matematika materi
menyebutkan dan membandingkan nilai pecahan mata uang kelas II SD Negeri 013
Lubuk Batu Tinggal yaitu bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan
sebagai berikut: 1) meningkatnya hasil pembelajaran matematika pada materi
menyebutkan dan membandingkan nilai pecahan mata uang pada peserta didik kelas II
SD Negeri 013 Lubuk Batu Tinggal, 2) mendeskripsikan penggunaan media uang yang
dapat meningkatkan hasil belajar matematika materi menyebutkan dan membandingkan
nilai pecahan mata uang pada peserta didik kelas II SD Negeri 013 Lubuk Batu Tinggal.
D. MATERI PECAHAN MATA UANG
1. Menyebutkan dan Mengidentifikasi Nilai Pecahan Mata Uang. (Astuti, dkk.2017.
Tematik Terpadu Jilid 2c Tugasku Sehari-hari untuk SD/MI Kelas II.Penerbit
Erlangga, Jakarta: viii+120 hlm).
Gambar 3.2 Uang Kertas
Ditulis : Rp.1.000,00 Ditulis : Rp.2.000,00
Nilainya :seribu rupiah Nilainya : dua ribu rupiah
Ditulis : Rp.5.000,00 Ditulis : Rp.10.000,00
Nilainya :lima ribu rupiah Nilainya : sepuluh ribu rupiah
Ditulis : Rp.20.000,00 Ditulis : Rp.50.000,00
Nilainya :dua puluh ribu rupiah Nilainya : lima puluh ribu rupiah
Ditulis :Rp.100.000,00
Nilainya :seratus ribu rupiah
Gambar 3.3 Uang Logam
Ditulis : Rp.1.000,00 Ditulis : Rp.500,00
Nilainya : seribu rupiah Nilainya : lima ratus rupiah
Ditulis : Rp.200,00 Ditulis : Rp.100,00
Nilainya : dua ratus rupiah Nilainya : seratus rupiah
Ditulis :Rp.50,00
Nilainya :lima puluh rupiah
2. Membandingkan Nilai Pecahan Mata Uang.( Astuti, dkk.2017. Tematik Terpadu Jilid
2c Tugasku Sehari-hari untuk SD/MI Kelas II.Penerbit Erlangga, Jakarta: viii+120
hl).
lebih kecil
lebih kecil
lebih besar
E. MODEL PEMBELAJARAN
1. Pengertian Model Pembelajaran
Soekamto, dkk mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah:
Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar dan berfungsi
sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para pengajar dalam
merencanakan aktivitas belajar mengajar.
Dapat diambil kesimpulan bahwa model pembelajaran adalah serangkaian
kegiatan pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara
khas oleh guru guna menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif sehingga
tujuaan pembelajaran dapat tercapai semaksimal mungkin. Dalam model
pembelajaran guru memandu peserta didik dengan memberi contoh mengenai
penggunaan keterampilan dan strategi supaya tugas-tugas dapat terselesaikan dengan
mudah oleh para peserta didik.
Berdasarkan jenisnya terdapat 3 jenis model pembelajaran yaitu:
a. Model pembelajaran langsung Model pembelajaran lamgsung merupakan gaya
mengajar dengan melibatkan guru secara aktif dalam mengusung isi pelajaran kepada
peserta didik dan mengajarkannya secara langsung kepada seluruh kelas.
b. Model pembelajaran kooperatif Model pembelajaran kooperatif melibatkan guru
yang bertindak sebagai fasilitator, memberikan dukungan tetapi tidak mengarahkan
kelompok kearah hasil yang sudah disiapkan sebelumnya.
c. Model pembelajaran berbasis masalah Model pembelajaran berbasis masalah
melibatkan presentasi situasisituasi autentik dan bermakna yang berfungsi sebagai
landasan bagi investasi oleh peserta didik. Hasil belajar dari model ini adalah peserta
didik memiliki ketrampilan mengatasi masalah.
2. Model Pembelajaran Examples Non Examples
a. Pengertian Model Pembelajaran Examples Non Examples
Menurut Rochyandi, Yadi (2004:11) model pembelajaran Kooperatif Tife
Examples Non Examples adalah:
“Tipe pembelajaran yang mengaktifkan peserta didik dengan cara guru menempelkan
contoh gambar-gambar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan gambar lain yang
relevan dengan tujuan pembelajaran, kemudian peserta didik disuruh untuk
menganalisisnya dan mendiskusikan hasil analisisnya sehingga peserta didik dapat
membuat konsep yang esensial.”
Gambar juga mempunyai peranan penting dalam proses belajar mengajar, yakni
untuk mempermudah dan membantu peserta didik dalam membangkitkan imajinasinya
dalam belajar. Selain itu dengan mengggunakan gambar peserta didik dapat melatih
mencari dan memilih urutan yang logis sesuai dengan materi yang diajarkan. Dengan
demikian dalam Model Pembelajaran Examples Non Examples tercakup teori
belajar konstruktivisme.
Model Pembelajaran Example Non Examples menggunakan gambar dapat
melalui OHP, Proyektor, ataupun yang paling sederhana adalah poster. Gambar yang kita
gunakan haruslah jelas dan kelihatan dari jarak jauh, sehingga anak yang berada di
belakang dapat juga melihat dengan jelas.
Penggunaan Model Pembelajaran Examples Non Examples ini lebih menekankan
pada konteks analisis peserta didik. Biasa yang lebih dominan digunakan di kelas tinggi,
namun dapat juga digunakan di kelas rendah dengan menenkankan aspek psikologis dan
tingkat perkembangan peserta didik kelas rendah seperti ; kemampuan berbahasa tulis
dan lisan, kemampuan analisis ringan, dan kemampuan berinteraksi dengan peserta didik
lainnya.
Strategi yang diterapkan dari metode ini bertujuan untuk mempersiapkan peserta
didik secara cepat dengan menggunakan 2 hal yang terdiri dari Examples dan Non-
Examples dari suatu definisi konsep yang ada, dan meminta peserta didik untuk
mengklasifikasikan keduanya sesuai dengan konsep yang ada.
- Example memberikan gambaran akan sesuatu yang menjadi contoh akan suatu materi
yang sedang dibahas, sedangkan
- Non-Example memberikan gambaran akan sesuatu yang bukanlah contoh dari suatu
materi yang sedang dibahas.
3. Keunggulan dan Kelemahan Model Pembelajaran Examples Non Examples
a. Keunggulannya:
- Peserta didik lebih berfikir kritis dalam menganalisa gambar yang relevan dengan
Kompetensi Dasar (KD).
- Peserta didik mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar yang relevan dengan
Kompetensi Dasar (KD).
- Peserta didik diberi kesempata mengemukakan pendapatnya yang mengenai analisis
gambar yang relevan dengan Kompetensi Dasar (KD).
b. Kelemahannya:
- Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar.
- Memakan waktu yang banyak.
(Rochyandi, Yadi (2004:11)
4. Langkah-langkah Model Pembelajaran Examples Non Examples
Menurut (Agus Suprijono, 2009 : 125) Langkah – langkah model
pembelajaran examples non examples diantaranya :
1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran. Gambar
yang digunakan tentunya merupakan gambar yang relevan dengan materi yang dibahas
sesuai dengan Kompetensi Dasar.
2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui LCD atau OHP, jika
ada dapat pula menggunakan proyektor. Pada tahapan ini guru juga dapat meminta
bantuan peserta didik untuk mempersiapkan gambar yang telah dibuat dan sekaligus
pembentukan kelompok peserta didik.
3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada peserta didik untuk
memperhatikan/menganalisis gambar. Biarkan peserta didik melihat dan menelaah
gambar yang disajikan secara seksama, agar detil gambar dapat difahami oleh peserta
didik. Selain itu, guru juga memberikan deskripsi jelas tentang gambar yang sedang
diamati peserta didik.
4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang peserta didik, hasil diskusi dari analisis gambar
tersebut dicatat pada kertas. Kertas yang digunakan akan lebih baik jika disediakan oleh
guru.
5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya. Peserta didik dilatih
untuk menjelaskan hasil diskusi mereka melalui perwakilan kelompok masing-masing.
6. Mulai dari komentar/hasil diskusi peserta didik, guru mulai menjelaskan materi sesuai
tujuan yang ingin dicapai. Setelah memahami hasil dari analisa yang dilakukan peserta
didik, maka guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan pembelajaran yang ingin
dicapai.
7. Guru dan peserta didik menyimpulkan materi sesuai dengan tujuan pembelajaran.
F. HASIL BELAJAR
Benjamin S. Bloom (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 26-27) menyebutkan enam
jenis perilaku ranah kognitif, sebagai berikut:
a. Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan
tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa,
pengertian kaidah, teori, prinsip, atau metode.
b. Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang
dipelajari.
c. Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi
masalah yang nyata dan baru. Misalnya, menggunakan prinsip.
d. Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian
sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. Misalnya mengurangi
masalah menjadi bagian yang telah kecil.
e. Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru. Misalnya kemampuan
menyusun suatu program.
Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas, disimpulkan bahwa hasil belajar
adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah menerima
pengalaman belajarnya. Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek kognitif,
afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar dapat dilihat melalui kegiatan evaluasi yang
bertujuan untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan tingkat
kemampuan peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Hasil belajar yang
diteliti dalam penelitian ini adalah hasil belajar kognitif matematika yang mencakup tiga
tingkatan yaitu pengetahuan (C1), pemahaman (C2), dan penerapan (C3). Instrumen yang
digunakan untuk mengukur hasil belajar peserta didik pada aspek kognitif adalah tes.
G. HUBUNGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE EXAMPLES
NON EXAMPLES TERHADAP HASIL BELAJAR
Penggunaan model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples adalah
salah satu usaha yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan hasil belajar peserta
didik, karena pada dasarnya model mengajar itu harus sesuai dengan kebutuhan dan
tujuan pembelajaran seperti yang terdapat dalam kurikulum. Hasil belajar merupakan
suatu tolak ukur sebuah kesuksesan dalam pengajaran. Mengajar dapat di katakan baik
apabila proses mengajar tersebut dapat menciptakan kegiatan belajar yang efektif, dan
proses belajar mengajar di katakan telah berhasil. Jika tujuan yang di inginkan telah
tercapai. Jikaseorang guru ingin mencapai hasil belajar yang maksimal, maka sebelum
berlangsungnya proses belajar mengajar, seorang guru harus merancang program
pembelajaran, media, merancang model dan strategi digunakan sesuai dengan materi
pembelajaran yang akan dilaksanakan. Dengan demikian peserta didik diharapkan bisa
mencapai KKM yang telah di sepakati.
Seorang guru yang professional harus bisa lebih aktif dan kreatif dalam
menentukan model pembelajaran yang akan dilaksanakan.Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Examples Non Examples merupakan salah satu cara pembelajaran yang
dapat membantu guru dalam mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi
dunia nyata peserta didik. Hal tersebut akan mendorong peserta didik membuat hubungan
antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka,
baik sebagai anggota keluarga, masyarakat, maupun dunia kerja mereka nantinya.
Dengan konsep tersebut, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi peserta
didik. Proses pembelajaran yang berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan
peserta didik bekerja dan mengalami, bukan bersifat transfer pengetahuan dari guru ke
peserta didik. Dalam hal ini, strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil
Dengan menerapkan prosedur atau langkah-langkah pembelajaran yang baik dan
benar tentunya model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples akan dapat
meningkatkan hasil belajar Matematika di SD. (H Rosulawati-2018-digilib.unila.ac.id)
BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
A. Subjek, Tempat, dan Waktu penelitian, Pihak yang membantu
Dalam kegiatan perbaikan pembelajaran serta pihak yang membantu meliputi :
1. Subjek penelitian perbaikan pembelajaran
Subjek penelitian perbaikan pembelajaran adalah peserta didik kelas II pada pelajaran
matematika materi menyebutkan dan membandingkan nilai pecahan mata uang yang
dilaksanakan di SD Negeri 013 Lubuk Batu Tinggal kecamatan Lubuk Batu Jaya, dengan
jumlah peserta didik terdiri dari 15 orang peserta didik.
Perbaikan tersebut antara lain adalah meningkatkan kemampuan peserta didik dalam mata
pelajaran matematika materi menyebutkan dan membandingkan nilai pecahan mata uang
dengan menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples.
2. Tempat Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Tempat perbaikan pembelajaran pada siklus 1 dan siklus 2 dilaksanakan di SD Negeri
013 Lubuk Batu Tinggal beralamatkan Jl.Narasinga desa Lubuk Batu Tinggal kecamatan
Lubuk Batu Jaya kabupaten Indragiri Hulu.
3. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan oktober 2020 pada semester I Tahun ajaran
2020/2021.. Adapun mata pelajaran yang diteliti adalah Matematika semester 1 kelas II
SD Negeri 013 Lubuk Batu Tinggal tahun ajaran 2020/2021, jumlah peserta didik yang
diteliti terdiri dari 10 perempuan dan 5 laki-laki. Untuk lebih jelasnya waktu pelaksanaan
penelitian perbaikan ini, dapat dilihat pada table dibawah ini:
Tabel 3.1
Jadwal Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran Matematika
Mata Jam
No Hari/Tanggal Materi Ajar Siklus
Pelajaran Pelajaran
1 Menyebutkan dan
Kamis 01 oktober
Matematika mengidentifikasi Pecahan Mata I 1
2020
Uang
2 Juma’t 02 oktober Membandingkan Nilai Pecahan
Matematika I 1
2020 Mata Uang
3 Menyebutkan dan
Kamis 08 oktober
Matematika mengidentifikasi Pecahan Mata II 1
2020
Uang
4 Juma’t 09 oktober Membandingkan Nilai Pecahan
Matematika II 1
2020 Mata Uang
4. Pihak yang membantu
Penelitian terlaksana atas bantuan dari berbagai pihak, diantaranya:
a. Ibu KRISTIN YOSE PINA, S.Pd. SD selaku Supervisor 1
b. Ibu PRIMA NOVIA SARI, S.Pd selaku Supervisor 2 dan penilai 2
c. Ibu SULIAH, S.Pd selaku penilai 1
d. Bapak INDRA GUSNAWAN, S.Pd. SD selaku kepala SD Negeri 013 Lubuk
Batu Tinggal.
e. Bapak/Ibu guru SD Negeri 013 Lubuk Batu Tinggal.
B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran
Desain penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti tergolong ke dalam penelitian
tindakan kelas dengan pengolahan data secara kualitatif dan kuantitatif. Menurut Menurut
O’Brien (Mulyatiningsih, 2011), penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan
ketika sekelompok orang (peserta didik) diidentifikasi permasalahannya, kemudian peneliti
(guru) menetapkan suatu tindakan untuk mengatasinya.
Menurut Hopkins (1993), penelitian tindakan kelas diawali dengan perencanaan tindakan
(Planning), penerapan tindakan (Action), mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil
tindakan (Observation and Evaluation).
Sedangkan prosedur kerja dalam penelitian tindakan kelas terdiri atas empat komponen,
yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi
(reflecting), dan seterusnya sampai perbaikan atau peningkatan yang diharapkan tercapai
(kriteria keberhasilan). Gambar dan penjelasan langkah-langkah penelitian tindakan kelas
adalah sebagai berikut:
Gambar 3.1 Siklus PTK
Lan
1. Perencanaan (Planning), yaitu persiapan yang dilakukan untuk pelaksanaan Penellitian
Tindakan Kelas, seperti: menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan pembuatan
media pembelajaran.
2. Pelaksanaan Tindakan (Acting), yaitu deskripsi tindakan yang akan dilakukan,
skenario kerja tindakan perbaikan yang akan dikerjakan serta prosedur tindakan yang
akan diterapkan.
3. Observasi (Observe), Observasi ini dilakukan untuk melihat pelaksanaan semua rencana
yang telah dibuat dengan baik, tidak ada penyimpangan-penyimpangan yang dapat
memberikan hasil yang kurang maksimal dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Kegiatan observasi dapat dilakukan dengan cara memberikan lembar observasi atau
dengan cara lain yang sesuai dengan data yang dibutuhkan.
4. Refleksi (Reflecting), yaitu kegiatan evaluasi tentang perubahan yang terjadi atau hasil
yang diperoleh atas yang terhimpun sebagai bentuk dampak tindakan yang telah
dirancang. Berdasarkan langkah ini akan diketahui perubahan yang terjadi. Bagaimana
dan sejauh mana tindakan yang ditetapkan mampu mencapai perubahan atau mengatasi
masalah secara signifikan. Bertolak dari refleksi ini pula suatu perbaikan tindakan dalam
bentuk replanning dapat dilakukan.
Desain Perbaikan Pembelajaran Pada Mata Pelajaran Matematika Siklus I dan
Siklus II:
1. Mata Pelajaran Matematika Siklus I
a. Perencanaan
1. Menentukan SK, KD dan Indikator pembelajaran dan materi pembelajaran.
2. Menetapkan kelas penelitian yaitu kelas II SD Negeri 013 Lubuk Batu Tinggal
kecamatan Lubuk Batu Jaya kabupaten Indragiri Hulu.
3. Mempersiapkan perangkat pembelajaran yaitu Rencana Pelaksanaan Perbaikan
Pembelajaran (RPP Perbaikan).
4. Mempersiapkan Lembar Kerja Peserta Didik.
5. Mempersiapkan media pembelajaran yang akan digunakan dalam proses
pembelajaran.
6. Mempersiapkan lembar observasi.
7. Mempersiapkan lembar penilaian APKG 1 dan APKG 2.
8. Melakukan diskusi bersama supervisor 2 dalam perbaikan RPP.
b. Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan tindakan meliputi segala tindakan yang telah direncanakan
dalam perencanaan pelaksanaan perbaikan pembelajaran (RPP) dilaksanakan di dalam
proses pembelajaran. Model pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan hasil
belajar peserta didik adalah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non
Examples.
c. Pengamatan
Pada tahap ini pengamatan, guru dan peserta didik akan diamati oleh supervisor 2
untuk menilai aktifitas yang dilakukan guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran
dengan menggunakan lembar pengamatan yang telah disiapkan dengan tujuan member
masukkan dalam menyempurnakan tindakan perbaikan pembelajaran.
d. Refleksi
Pada tahap ini, peneliti bersama pengamat melakukan diskusi mengenai hasil
observasi yang dilakukan oleh teman sejawat tentang hasil belajar peserta didik. Hasil
refleksi tersebut dapat menjadi pedoman untuk melakukan tindakan perbaikan
pembelajaran pada siklus berikutnya.
C. Teknik Analisis Data
Prosedur pengumpulan data dilakukan berdasarkan bentuk data yang diperoleh yaitu :
1. Aktifitas Guru dan Peserta didik.
Aktifitas guru dan peserta didik dalam pembelajaran ditentukan dengan rumus:
NR = J S x 100 %
SM
(KTSP dalam Syahrilfuddin, dkk, 2011:114)
Keterangan:
NR : Persentase aktifitas guru dan peserta didik
SM : Skor Maksimal
JS : Jumlah Skor aktifitas yang dilakukan
2. Hasil Belajar peserta didik
Nilai akhir hasil belajar, Menentukan nilai hasil belajar yang diperoleh masing-masing
peserta didik (BSNP, 2007:25)
NA = SP x 100 %
SM
Keterangan:
NA : Nilai Akhir
SP : Jumlah Skor yang diperoleh Peserta didik
SM : Skor Maksimal
3. Analisis Data Kelompok
Analisis data kelompok dapat dilakukan dengan menentukan nilai perkembangan
peserta didik yang diperoleh dari selisih skor yang diperoleh anggota kelompok
disesuaikan dengan nilai perkembangan individu yang dihitung berdasarkan rata-rata
nilai perkembangan yang disumbangkan oleh anggota kelompok. Rata-rata dari setiap
nilai perkembangan individu disebut skor kelompok. (Arikunto, 2011:235)
4. Ketercapaian KKM
Hasil evaluasi dianalisis setiap indikatornya untuk mengetahui ketercapaian KKM
65 pada setiap indikatornya. Ketercapaian KKM 65 pada setiap indikator dihitung dengan
menggunakan rumus:
N = S P x 100 %
SM
Keterangan:
N : Nilai perolehan
SP : Skor Indikator yang diperoleh
SM : Skor Maksimal
(Prayitno, 2009:418)
Tabel 3.2 Kriteria Persentase Aktifitas Guru dan Peserta Didik
Pencapaian Tujuan Pembelajaran Kualifikasi
85% - 100% Sangat Baik (SB)
75% - 84% Baik (B)
60% - 74% Cukup (C)
0% - 59% Kurang Baik (K)