Makalah Kuantitatif
Makalah Kuantitatif
Disusun Oleh:
Dosen Pengampu:
FAKULTAS TEKNIK
2025
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT atas Rahmat dan Ridho-Nya yang selalu memberi penulis
kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik
dan tepat waktu. Pada penulisan makalah ini, penulis membahas mengenai metode penelitian
kuantitatif.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Esty Nurbaity Arrsyi, S.Pd., M.KM. selaku dosen
pengampu mata kuliah Metodologi Penelitian yang telah membimbing penulis dalam
menyelesaikan makalah ini. Tanpa bimbingan beliau, penulis tidak akan mampu menyelesaikan
tugas ini.
Makalah ini merupakan tugas yang harus diselesaikan untuk memenuhi nilai tugas pada mata
kuliah Metodologi Penelitian. Penulis berharap bahwa makalah ini dapat memberikan manfaat
bagi penulis dan pembaca.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Oleh
karena itu, penulis dengan rendah hati memohon kritik dan saran dari semua pihak agar dapat
memperbaiki makalah ini menjadi lebih baik di kemudian hari.
Kelompok 2
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I Pendahuluan
Bab II Pembahasan
2.1 Pengertian dan Tujuan Penelitian Kuantitatif
2.2 Karakteristik Penelitian Kuantitatif
2.3 Peranan Penelitian Kuantitatif
2.4 Jenis Penelitian Kuantitatif
2.5 Ciri-ciri Penelitian Kuantitatif
2.6 Prosedur Penelitian Kuantitatif
2.7 Contoh Judul Penelitian Kuantitatif
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), metode adalah cara yang digunakan untuk
melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki secara sistematis,
untuk memudahkan seseorang melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan yang tertentu. Hal ini
menunjukkan bahwa metode itu suatu prosedur kegiatan operasional, yang dapat dijadikan
pedoman atau tuntunan untuk melakukan kegiatan tertentu. Di lain pihak, definisi metode
penelitian adalah cara ilmiah guna memperoleh bukti atau informasi agar tercapainya tujuan dan
manfaat yang diinginkan. Upaya ilmiah yang dilakukan dalam penelitian tersebut haruslah
didasari dengan ciri keilmuan seperti, masuk akal, berdasarkan pengalaman atau ada bukti
empiris, dan terstruktur.
Kata metodologi berawal dari kata “metode” dan “logos”. Metode merupakan cara yang tepat
dan jelas yang digunakan pada sesuatu hal, sedangkan “logos” berarti pengetahuan “knowledge”
atau ilmu “science”. Metodologi merupakan upaya yang dilakukan secara seksama dengan
menggunakan akal pikiran guna keberhasilan tujuan yang ingin dicapai. Dengan kata lain,
definisi metodologi penelitian merupakan ilmu yang mendeskripsikan atau menjelaskan
bagaimana penelitian tersebut harus dilakukan. Peneliti harus paham akan ilmu yang akan
ditelitinya terlebih dahulu sehingga syarat dari kaidah ilmiah sudah terpenuhi, itu yang disebut
metodologi penelitian, baru metode penelitian akan muncul kemudian. (Sugiyono, 2016)
Bisa dipahami secara singkat perbedaan antara metode dan metodologi. Metodologi merupakan
ilmu yang mempelajari langkah-langkah dalam menyelesaikan permasalahan sesuatu. Jika
metode merupakan prosedur atau cara mengetahui sesuatu, maka metodologi yang merangkai
secara konseptual prosedur tersebut. Dampaknya, dalam metodologi dapat ditemukan upaya
mengulas atau menganalisis permasalahan yang berkaitan dengan metode.
BAB II
PEMBAHASAN
Tujuan utama dari penelitian kuantitatif adalah memperoleh temuan yang dapat digeneralisasi,
mengukur hubungan antara variabel, dan melakukan prediksi berdasarkan data yang terkumpul
(Djaali, H. (2021). Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menguji teori yang sudah ada,
mengidentifikasi pola dalam data, serta memberikan hasil yang dapat direplikasi dalam berbagai
konteks penelitian lainnya.
Dalam konteks penelitian sosial, penelitian kuantitatif sering digunakan untuk menganalisis
fenomena berdasarkan data yang dikumpulkan melalui survei, eksperimen, atau studi
longitudinal. Misalnya, dalam penelitian pendidikan, metode ini dapat digunakan untuk
mengukur efektivitas suatu metode pengajaran terhadap hasil belajar siswa (Amiruddin, 2022).
Metode kuantitatif digunakan ketika mengamati fenomena yang dapat dikuantifikasi, sehingga
data kuantitatif lebih banyak berupa angka bukan kata-kata atau gambar. Sehingga data
penelitian kuantitatif dapat berupa skala ordinal, nominal, interval dan rasio. Pada umumnya
penelitian kuantitatif dimaksudkan untuk menjabarkan fenomena atau memahami polanya
dengan cara yang terukur. Dengan menggunakan metode kuantitatif peneliti dapat memahami
kuantitas sebuah fenomena yang nantinya dapat digunakan untuk perbandingan.
Terdapat sejumlah contoh yang dapat dikategorikan sebagai masalah, sebagai berikut:
1. Masalah yang berkenaan dengan terjadinya penyimpangan antara pengalaman dan
kenyataan. Contoh masalah untuk kasus ini antara lain berkenaan dengan adanya
perubahan dari sebuah keadaan kepada keadaan baru. Misalnya, pada lima puluh tahun
yang lalu, diketahui bahwa jumlah masyarakat yang menyekolahkan anaknya ke
pesantren cukup banyak, namun sekarang terjadi penurunan. Permasalahan penelitiannya
adalah mencari berbagai faktor secara mendalam yang menyebabkan terjadinya
perubahan tersebut.
2. Masalah yang berkaitan dengan rencana yang ditetapkan, tetapi hasilnya tidak
sesuai dengan tujuan yang direncanakan. Adanya perbedaan antara yang direncanakan
dengan hasilnya yang dicapainya tentu ada masalah sebagai penyebabnya.
3. Masalah yang berkaitan dengan adanya perubahan dari keadaan yang baik kepada
yang tidak baik, tentu disebabkan adanya berbagai masalah yang muncul. Permasalahan
yang muncul inilah yang selanjutnya menjadi permasalahan dalam penelitian.
Perumusan masalah yang baik adalah perumusan masalah yang memiliki karakteristik berikut:
1. Disusun secara spesifik dan jelas atau tidak ambigu
2. Dinyatakan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang baik
3. Merupakan rumusan ilmiah yang dapat diuji secara empiris
4. Mengindikasikan variabel dan atau hubungan antara variabel yang diteliti
5. Signifikasi dengan latar belakang masalah
Dilihat dari segi level of explanation suatu gejala, maka secara umum terdapat tiga klasifikasi
dari tipe masalah dalam penelitian kuantitatif, yaitu masalah yang bersifat deskriptif,
komparatif, dan asosiatif.
1. Rumusan masalah deskriptif atau disebut juga eksploratif adalah suatu rumusan
masalah yang memandu peneliti untuk mengeksplorasi dan atau memotret situasi sosial
yang akan diteliti secara menyeluruh, luas, dan mendalam.
Contoh pertanyaan penelitian deskriptif berhubungan dengan karateristik:
● Apa ciri-ciri masyarakat primitive
● Apa karakteristik perusahaan konsinyasi
2. Rumusan masalah komparatif atau disebut juga eksplanatif, yaitu rumusan masalah
yang memandu peneliti untuk membandingkan antara konteks sosial atau domain satu
dibandingkan dengan yang lain.
Contoh:
● Adakah perbedaan dinamika murid di kelas yang diajar dengan metode ceramah
dan demonstrasi?
● Apakah terdapat perbedaan perataan laba pada perusahaan manufaktur tahun
2020, 2021 dan 2022?
● Apakah terdapat perbedaan voluntary disclousure pada perusahaan swasta dan
perusahaan BUMN?
3. Rumusan masalah asosiatif adalah rumusan masalah yang memandu peneliti untuk
mengkonstruksi hubungan antara situasi sosial atau domain satu dengan yang lainnya.
Contoh:
● Apakah terdapat hubungan antara tingkat inflasi dengan perataan laba
● Apakah terdapat hubungan timeliness dengan closing entries
● Apakah terdapat pengaruh perataan laba terhadap respon pasar
● Apakah terdapat pengaruh pengungkapan sukarela dan CSR terhadap respon
pasar
● Hubungan harga saham dan retur saham
● Hubungan timeliness dan kualitas auditor
Untuk mengadakan riset pendahuluan ini dapat dilakukan pada tiga objek. Yang dimaksud
dengan objek di sini adalah apa yang harus dihubungi, dilihat, diteliti, atau dikunjungi yang
kira-kira akan memberikan informasi tentang data yang akan dikumpulkan. Ketiga objek tersebut
ada yang berupa tulisan-tulisan dalam kertas (paper), manusia (person), dan tempat (place). Oleh
karena dinyatakan dalam kata bahasa Inggris, untuk lebih mudahnya mengingat, disingkat
dengan 3P.
1. Paper; dokumen, buku-buku, majalah atau bahan tertulis lainnya, baik berupa teori,
laporan penelitian atau penemuan sebelumnya (findings). Studi ini juga disebut
kepustakaan atau literature studi.
2. Person; bertemu, bertanya, dan berkonsultasi dengan para ahli atau manusia sumber.
3. Place; tempat, lokasi, atau benda-benda yang terdapat di tempat penelitian. Seseorang
yang berhasrat besar untuk mengadakan penelitian ke daerah pedalaman, mungkin
mengurungkan niatnya setelah mengadakan penelitian pendahuluan, karena ternyata
daerah yang akan dikunjungi terlalu sulit untuk dicapai sehingga tidak akan seimbang
antara biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang akan dicapai.
Manfaat dari tinjauan literatur terkait banyak dan beberapa di antaranya tercantum di sini
(Kumar et al., 2021):
1. Dapat mengungkapkan penelitian sebelumnya yang serupa dengan penelitian yang
dilakukan dan dapat membantu peneliti dalam membangun perspektif.
2. Dapat mengarahkan peneliti pada isu-isu terkait dan produktif untuk dipelajari.
3. Dapat menyarankan metode atau teknik baru untuk menangani masalah.
4. Dapat memperkenalkan peneliti kepada para peneliti terkemuka di bidangnya dan
karya-karya mereka.
5. Dapat mengungkapkan sumber data baru.
Ada beberapa variasi tipe hipotesis yang digunakan dalam penelitian, diantaranya adalah:
Tipe Hipotesis Contoh
Hipotesis deskriptif (descriptive hypotheses) 70% mahasiswa UNJ berasal dari keluarga
berpenghasilan menengah ke atas.
Directional:
Ada hubungan positif antara usia dan
kepuasan kerja
Jika-maka:
Jika tingkat kepuasan kerja pegawai tinggi,
maka tingkat kemangkirannya dalam bekerja
rendah.
Makin-semakin:
Makin tinggi tingkat kepuasan kerja pegawai,
semakin rendah tigkat kemangkirannya dalam
bekerja.
Directional:
Ada perbedaan motivasi kerja antara wanita
dan pria. Wanita lebih bermotivasi dalam
bekerja dibandingkan dengan pria. Motivasi
kerja wanita lebih tinggi dibandingkan pria.
Hipotesis alternative (alternative hypotheses) Ada hubungan antara tingkat motivasi kerja
dan tingkat kemangkiran untuk pegawai (Ha
koreasional).
Hipotesis nol (null hypotheses) Tidak ada hubungan antara tingkat motivasi
kerja dan tingkat kemangkiran untuk pegawai
(H0 koreasional).
Instrumen merupakan alat bantu bagi peneliti dalam menggunakan metode pengumpul data.
Terdapat kaitan antara metode dan instrumen pengumpul data. Pemilihan satu jenis metode
pengumpul data kadang-kadang dapat memerlukan lebih dari satu jenis instrumen. Sebaliknya,
satu jenis instrumen dapat digunakan untuk berbagai macam metode.
Sebelum instrumen tersebut digunakan untuk pengumpulan data, maka instrumen penelitian
tersebut harus terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya. Dalam penelitian kuantitatif,
temuan atau data dapat dinyatakan valid apabila suatu temuan diproses melalui langkah-langkah
peneliti yang benar, yaitu mulai dari perumusan hipotesis, penentuan populasi dan sampling,
penggunaan instrumen pengumpulan data, serta teknik analisis statistik yang benar. Selain itu,
validitas dan reliabilitas ini juga dapat dilakukan melalui dengan cara apabila data yang sama
dilakukan analisis oleh peneliti yang lain juga sama hasilnya.
Langkah 6: Menentukan sumber data (Populasi dan Sampel)
Populasi dan sampel yang digunakan dalam penelitian kuantitatif adalah sumber data yang
objektif. Populasi adalah jumlah keseluruhan dari sumber informasi yang dibutuhkan, sedangkan
sampel adalah sebagian dari populasi tersebut yang diperkirakan dapat mewakili jumlah populasi
yang ada. Sampel ini diambil dengan pertimbangan, karena jumlah populasi amat besar, dan
tersebar luas, yang tidak mungkin dapat terjangkau seluruhnya, karena adanya keterbatasan
dana, tenaga, maupun waktu.
Pengolahan data adalah mengolah data yang sudah diperoleh melalui pengumpulan data. Istilah
lain dari pengolahan data adalah pemrosesan data (data processing). Tahapan ini merupakan
pendahuluan sebelum melakukan analisis data, yang merupakan tahap untuk menghubungkan
antara pengumpulan data dan analisis data. Pada tahap ini dilakukan proses pengolahan dari data
mentah menjadi data dalam bentuk informasi yang mudah dibaca dan dipahami. Pada tahap ini
juga dilakukan penyuntingan (editing) data, pengkodean atau pentabulasian data.
Pada penelitian kuantitatif, analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden
dan sumber data lain yang terkumpul. Analisis data adalah melakukan proses menganalisis data
dengan menggunakan statistik. Pemilihan alat analisis dengan menggunakan uji statistik dapat
dilakukan secara manual atau menggunakan software.
Dalam (Amir Hamzah dan Lidia Susanti, 2020) cara melakukan analisis data adalah:
1. Mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden
2. Mentabulasi data berdasarkan dari seluruh responden
3. Menyajikan data tiap variabel yang diteliti
4. Melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah
5. Melakukan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan.
Apabila kesimpulan penelitian merupakan jawaban dari problematik yang dikemukakan, maka
isi maupun banyaknya kesimpulan yang dibuat juga harus sama dengan isi dan banyaknya
problematik. Contohnya:
Problematik
1. Apakah orang tua murid di daerah pedesaan memberikan motivasi belajar yang sama
dengan orang tua murid di kota?
2. Apakah ayah mempunyai peranan yang sama dengan ibu dalam memberikan motivasi
belajar, baik di daerah pedesaan maupun di kota?
Hipotesis
1. Orang tua murid di daerah pedesaan memberikan motivasi belajar yang sama dengan
orang tua murid di kota.
2. Ayah dan ibu mempunyai peranan yang sama besar dalam memberikan motivasi belajar,
baik di daerah pedesaan maupun di kota.
Kesimpulan Penelitian (salah satu kemungkinan)
1. Orang tua murid di daerah pedesaan tidak dapat memberikan motivasi belajar sebesar
yang diberikan orang tua murid di kota.
2. Ada perbedaan yang signifikan antara ayah dan ibu dalam memberikan motivasi belajar,
baik bagi orang tua murid di daerah pedesaan maupun di kota.
● Judul Penelitian : “Hubungan Hasil Belajar terhadap Minat Mahasiswa Tata Busana
menjadi Pattern Maker”
Alasan :
1. Pertama, karena variabel-variabel yang terlibat dalam judul ini, yaitu hasil belajar
dan minat, dapat diukur secara objektif dan numerik. Hasil belajar dapat diukur
melalui nilai atau skor ujian, tugas, atau penilaian lainnya, yang memberikan data
kuantitatif yang jelas. Sementara itu, minat dapat diukur menggunakan kuesioner
atau angket dengan skala numerik, yang memungkinkan peneliti untuk
mengkuantifikasi tingkat minat mahasiswa terhadap profesi pattern maker.
2. Kedua, penelitian kuantitatif sangat cocok untuk menguji hubungan antara dua
variabel. Dalam konteks ini, peneliti dapat menggunakan analisis statistik untuk
menentukan seberapa kuat hubungan antara hasil belajar dan minat, serta apakah
hubungan tersebut signifikan secara statistik. Teknik analisis seperti analisis
korelasi dan regresi dapat digunakan untuk menguji hipotesis penelitian dan
memberikan bukti empiris yang kuat.
3. Ketiga, penelitian kuantitatif memungkinkan pengumpulan data dari sampel yang
besar, yang meningkatkan generalisasi hasil penelitian. Dengan menggunakan
kuesioner atau angket, peneliti dapat mengumpulkan data dari banyak mahasiswa
Tata Busana, sehingga data yang diperoleh lebih representatif dan dapat
diterapkan pada populasi yang lebih luas.
Alasan lainnya:
1. Judul ini menyebutkan adanya hubungan antara variabel-variabel (self-efficacy,
social environment, dan kesiapan menjadi guru) yang bisa diukur secara statistik,
serta dapat dianalisis dengan menggunakan instrumen pengumpulan data seperti
kuesioner atau survei. Metode kuantitatif sering digunakan untuk menguji
hubungan antar variabel dengan pendekatan yang lebih terstruktur dan
angka-angka yang dapat dianalisis secara statistik.
2. Judul tersebut menyebutkan hubungan antara self-efficacy, social environment,
dan kesiapan menjadi guru. Kata "hubungan" menunjukkan bahwa penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh atau korelasi antar
variabel-variabel tersebut. Penelitian kuantitatif sering kali bertujuan untuk
mengukur dan menganalisis hubungan antara dua atau lebih variabel yang dapat
dinyatakan dalam bentuk angka atau data yang terukur.
3. “Self-efficacy (percaya diri dalam kemampuan)” dan “social environment
(lingkungan sosial)” adalah konsep yang dapat diukur menggunakan instrumen
yang sudah divalidasi, seperti kuesioner dengan skala Likert. Kesiapan menjadi
guru juga bisa diukur melalui penilaian objektif, misalnya dengan menggunakan
tes atau survei yang mengukur sejauh mana mahasiswa merasa siap atau memiliki
keterampilan untuk mengajar. Semua variabel tersebut bisa dikumpulkan data
kuantitatif yang menggambarkan tingkat intensitas atau pengaruhnya dalam
bentuk skor atau angka.
4. Penelitian ini membutuhkan teknik-teknik statistik untuk menguji apakah ada
hubungan signifikan antara self-efficacy, social environment, dan kesiapan
menjadi guru. Metode kuantitatif memungkinkan untuk melakukan analisis
statistik, seperti uji korelasi (misalnya Pearson, Spearman) atau regresi, yang
dapat mengidentifikasi hubungan antar variabel dan seberapa besar pengaruh
masing-masing variabel terhadap variabel lainnya.
5. Data yang dikumpulkan bersifat objektif dan lebih mudah digeneralisasikan untuk
populasi yang lebih besar (misalnya seluruh mahasiswa S1 Pendidikan Tata
Busana). Pendekatan ini dapat memberikan gambaran umum yang lebih luas
tentang hubungan antar variabel pada berbagai individu dalam populasi yang
lebih besar, serta mengurangi bias subjektif yang mungkin ada pada pendekatan
kualitatif.
Alasan:
1. Judul ini jelas menyatakan bahwa penelitian bertujuan untuk mengetahui
pengaruh media CD interaktif terhadap motivasi belajar mahasiswa, yang
mengindikasikan adanya hubungan antara dua variabel (media CD interaktif
dan motivasi belajar), sesuai dengan ciri penelitian kuantitatif.
2. Penelitian ini dimulai dengan hipotesis atau teori yang menyatakan bahwa media
CD interaktif dapat mempengaruhi motivasi belajar mahasiswa. Kemudian, data
dikumpulkan untuk menguji hipotesis tersebut, yang merupakan pendekatan
deduktif khas penelitian kuantitatif.
3. Untuk mengukur motivasi belajar mahasiswa, data yang dikumpulkan biasanya
berbentuk angka, misalnya menggunakan skala Likert pada kuesioner atau skor
tes. Hal ini mengarah pada pengumpulan data berbasis angka sesuai dengan ciri
penelitian kuantitatif.
4. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dua variabel, yaitu media CD interaktif
(sebagai variabel independen) dan motivasi belajar mahasiswa (sebagai variabel
dependen), yang sesuai dengan ciri penelitian kuantitatif yang menekankan
pengukuran variabel-variabel penelitian.
5. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini bisa berupa eksperimen, di mana
satu kelompok mahasiswa diberi media CD interaktif dan kelompok lainnya tidak,
atau menggunakan angket untuk mengukur motivasi belajar.
6. Dalam penelitian ini, peneliti menentukan batasan data yang dikumpulkan,
seperti hanya mengumpulkan data dari mahasiswa program studi tata busana yang
mengikuti mata kuliah dasar seni dan desain.
3.1 Kesimpulan
Penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang menggunakan data numerik dan analisis
statistik untuk menguji hipotesis dan mengukur hubungan antar variabel. Penelitian ini
berlandaskan pada filsafat positivisme dan bertujuan untuk memperoleh temuan yang dapat
digeneralisasi, mengukur hubungan antar variabel, dan melakukan prediksi berdasarkan data
yang terkumpul.
Karakteristik utama penelitian kuantitatif meliputi penggunaan data dalam bentuk angka,
instrumen terstandar, analisis data dengan statistik, sifat objektif dan terstruktur, kemampuan
generalisasi temuan, serta berbasis pada teori yang telah ada. Penelitian kuantitatif memiliki
peran penting dalam menguji kebenaran teori, menemukan hukum universal mengenai perilaku
manusia, dan menjelaskan terjadinya kehidupan sosial melalui hukum kausal.
Jenis-jenis penelitian kuantitatif meliputi penelitian survei, eksperimen, kausal komparatif, dan
korelasional. Setiap jenis penelitian memiliki ciri-ciri khusus dan prosedur yang berbeda.
Prosedur penelitian kuantitatif melibatkan langkah-langkah sistematis mulai dari menentukan
masalah, merumuskan hipotesis, menentukan metode dan instrumen penelitian, hingga menarik
kesimpulan.
3.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, berikut adalah beberapa saran yang dapat dipertimbangkan:
● Peningkatan Pemahaman Metodologi: Penting bagi peneliti untuk memahami secara
mendalam metodologi penelitian kuantitatif, termasuk karakteristik, jenis, dan prosedur
penelitian. Pemahaman yang baik akan meningkatkan kualitas penelitian dan validitas
temuan.
● Penggunaan Instrumen yang Valid dan Reliabel: Dalam penelitian kuantitatif,
penggunaan instrumen yang valid dan reliabel sangat penting. Peneliti perlu memastikan
bahwa instrumen yang digunakan telah diuji dan memenuhi standar yang ditetapkan.
● Analisis Data yang Tepat: Pemilihan dan penggunaan teknik analisis statistik yang tepat
sangat krusial dalam penelitian kuantitatif. Peneliti perlu memastikan bahwa teknik
analisis yang digunakan sesuai dengan jenis data dan tujuan penelitian.
● Penerapan dalam Berbagai Bidang: Penelitian kuantitatif dapat diterapkan dalam
berbagai bidang, termasuk pendidikan, sosial, dan ekonomi. Peneliti diharapkan dapat
memanfaatkan metode ini untuk menjawab berbagai permasalahan dan mengembangkan
ilmu pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA
Sugiyono. (2020). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
ISBN: 978-602-289-533-6.
Djaali, H. (2021). Metodologi Penelitian Kuantitatif [Sumber elektronis]. Jakarta: Bumi Aksara.
Amruddin, A., Priyanda, R., Agustina, T. S., Nyoman Sri Ariantini, N. S., Rusmayani, N. G. A.
L., Aslindar, D. A., Ningsih, K. P., Wulandari, S., Putranto, P., Yuniati, I., Untari, I., Mujiani, S.,
& Wicaksono, D. (2022). Metodologi Penelitian Kuantitatif. Sukoharjo: Penerbit Pradina
Pustaka.
Muin, A. (2023). Buku Ajar Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Literasi Nusantara Abadi.
Aries Veronica, Ernawati, Rasdiana, Muhamad Abas, Yusriani, Hadawiah, Nurul Hidayah, Joko
Sabtohadi, Hastuti Marlina, Wiwiek Mulyani, Zulkarnaini. (2022). Metodologi Penelitian
Kuantitatif. Padang: Global Eksekutif Teknologi.