0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
133 tayangan21 halaman

Makalah Kuantitatif

Dokumen ini membahas metode penelitian kuantitatif dalam konteks pendidikan, menjelaskan pengertian, tujuan, karakteristik, jenis, dan prosedur penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif menggunakan data numerik untuk menguji hipotesis dan mengukur hubungan antar variabel, serta memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah. Makalah ini disusun oleh kelompok mahasiswa sebagai tugas dalam mata kuliah Metodologi Penelitian di Universitas Negeri Jakarta.

Diunggah oleh

mia.izzatikul
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
133 tayangan21 halaman

Makalah Kuantitatif

Dokumen ini membahas metode penelitian kuantitatif dalam konteks pendidikan, menjelaskan pengertian, tujuan, karakteristik, jenis, dan prosedur penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif menggunakan data numerik untuk menguji hipotesis dan mengukur hubungan antar variabel, serta memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah. Makalah ini disusun oleh kelompok mahasiswa sebagai tugas dalam mata kuliah Metodologi Penelitian di Universitas Negeri Jakarta.

Diunggah oleh

mia.izzatikul
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Metode Penelitian Kuantitatif

Mata Kuliah Metodologi Penelitian

Disusun Oleh:

Beby Ardelia Helga (1515622007)


Vinolia Putri Celika (1515622011)
Firda Apriyani (1515622012)
Adela Putri (1515622015)
Fenie Aulia (1515622049)
Abi Ortega (1515623056)

Dosen Pengampu:

Esty Nurbaity Arrsyi, S.Pd., M.KM.

S1 PENDIDIKAN TATA BUSANA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2025
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT atas Rahmat dan Ridho-Nya yang selalu memberi penulis
kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik
dan tepat waktu. Pada penulisan makalah ini, penulis membahas mengenai metode penelitian
kuantitatif.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Esty Nurbaity Arrsyi, S.Pd., M.KM. selaku dosen
pengampu mata kuliah Metodologi Penelitian yang telah membimbing penulis dalam
menyelesaikan makalah ini. Tanpa bimbingan beliau, penulis tidak akan mampu menyelesaikan
tugas ini.

Makalah ini merupakan tugas yang harus diselesaikan untuk memenuhi nilai tugas pada mata
kuliah Metodologi Penelitian. Penulis berharap bahwa makalah ini dapat memberikan manfaat
bagi penulis dan pembaca.

Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Oleh
karena itu, penulis dengan rendah hati memohon kritik dan saran dari semua pihak agar dapat
memperbaiki makalah ini menjadi lebih baik di kemudian hari.

Jakarta, 10 Maret 2025


Penulis,

Kelompok 2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi

Bab I Pendahuluan

Bab II Pembahasan​
2.1 Pengertian dan Tujuan Penelitian Kuantitatif
2.2 Karakteristik Penelitian Kuantitatif
2.3 Peranan Penelitian Kuantitatif
2.4 Jenis Penelitian Kuantitatif
2.5 Ciri-ciri Penelitian Kuantitatif
2.6 Prosedur Penelitian Kuantitatif
2.7 Contoh Judul Penelitian Kuantitatif

Bab III Penutup


3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), metode adalah cara yang digunakan untuk
melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki secara sistematis,
untuk memudahkan seseorang melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan yang tertentu. Hal ini
menunjukkan bahwa metode itu suatu prosedur kegiatan operasional, yang dapat dijadikan
pedoman atau tuntunan untuk melakukan kegiatan tertentu. Di lain pihak, definisi metode
penelitian adalah cara ilmiah guna memperoleh bukti atau informasi agar tercapainya tujuan dan
manfaat yang diinginkan. Upaya ilmiah yang dilakukan dalam penelitian tersebut haruslah
didasari dengan ciri keilmuan seperti, masuk akal, berdasarkan pengalaman atau ada bukti
empiris, dan terstruktur.

Kata metodologi berawal dari kata “metode” dan “logos”. Metode merupakan cara yang tepat
dan jelas yang digunakan pada sesuatu hal, sedangkan “logos” berarti pengetahuan “knowledge”
atau ilmu “science”. Metodologi merupakan upaya yang dilakukan secara seksama dengan
menggunakan akal pikiran guna keberhasilan tujuan yang ingin dicapai. Dengan kata lain,
definisi metodologi penelitian merupakan ilmu yang mendeskripsikan atau menjelaskan
bagaimana penelitian tersebut harus dilakukan. Peneliti harus paham akan ilmu yang akan
ditelitinya terlebih dahulu sehingga syarat dari kaidah ilmiah sudah terpenuhi, itu yang disebut
metodologi penelitian, baru metode penelitian akan muncul kemudian. (Sugiyono, 2016)

Bisa dipahami secara singkat perbedaan antara metode dan metodologi. Metodologi merupakan
ilmu yang mempelajari langkah-langkah dalam menyelesaikan permasalahan sesuatu. Jika
metode merupakan prosedur atau cara mengetahui sesuatu, maka metodologi yang merangkai
secara konseptual prosedur tersebut. Dampaknya, dalam metodologi dapat ditemukan upaya
mengulas atau menganalisis permasalahan yang berkaitan dengan metode.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian dan Tujuan Penelitian Kuantitatif


Penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang menggunakan data numerik dan analisis
statistik untuk menguji hipotesis serta mengukur hubungan antara variabel-variabel penelitian.
Menurut Sugiyono (2020), penelitian kuantitatif adalah metode yang berbasis pada filsafat
positivisme dan digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu dengan teknik
pengumpulan data yang bersifat kuantitatif atau menggunakan instrumen terstandar, metode
penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme atau enterpretif, digunakan untuk meneliti
kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik
pengumpulan data dilakukan secara triangulasi

Tujuan utama dari penelitian kuantitatif adalah memperoleh temuan yang dapat digeneralisasi,
mengukur hubungan antara variabel, dan melakukan prediksi berdasarkan data yang terkumpul
(Djaali, H. (2021). Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menguji teori yang sudah ada,
mengidentifikasi pola dalam data, serta memberikan hasil yang dapat direplikasi dalam berbagai
konteks penelitian lainnya.

Dalam konteks penelitian sosial, penelitian kuantitatif sering digunakan untuk menganalisis
fenomena berdasarkan data yang dikumpulkan melalui survei, eksperimen, atau studi
longitudinal. Misalnya, dalam penelitian pendidikan, metode ini dapat digunakan untuk
mengukur efektivitas suatu metode pengajaran terhadap hasil belajar siswa (Amiruddin, 2022).

Metode kuantitatif digunakan ketika mengamati fenomena yang dapat dikuantifikasi, sehingga
data kuantitatif lebih banyak berupa angka bukan kata-kata atau gambar. Sehingga data
penelitian kuantitatif dapat berupa skala ordinal, nominal, interval dan rasio. Pada umumnya
penelitian kuantitatif dimaksudkan untuk menjabarkan fenomena atau memahami polanya
dengan cara yang terukur. Dengan menggunakan metode kuantitatif peneliti dapat memahami
kuantitas sebuah fenomena yang nantinya dapat digunakan untuk perbandingan.

2.2 Karakteristik Penelitian Kuantitatif


Penelitian kuantitatif memiliki beberapa karakteristik utama yang membedakannya dari metode
penelitian lainnya, karakteristik utama penelitian kuantitatif:
1.​ Data dalam Bentuk Angka. Penelitian kuantitatif menggunakan data dalam bentuk
angka yang dapat diolah secara statistik. Data dapat diperoleh melalui kuesioner,
eksperimen, atau observasi terstruktur yang menghasilkan informasi numerik.
2.​ Menggunakan Instrumen Terstandar. Instrumen penelitian dalam metode kuantitatif,
seperti kuesioner atau tes, harus memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi agar
hasilnya dapat diandalkan. validitas memastikan bahwa instrumen mengukur apa yang
seharusnya diukur, sedangkan reliabilitas memastikan konsistensi hasil pengukuran.
3.​ Analisis Data dengan Statistik. Analisis dalam penelitian kuantitatif menggunakan
metode statistik untuk menguji hipotesis dan menarik kesimpulan. Teknik analisis dapat
berupa statistik deskriptif (misalnya mean, median, dan modus) atau statistik inferensial
(misalnya uji regresi dan uji t) untuk menguji hubungan antara variabel.
4.​ Bersifat Objektif dan Terstruktur. Penelitian kuantitatif memiliki desain yang jelas,
seperti metode eksperimen, survei, atau studi korelasional, dengan prosedur yang
terstruktur agar dapat direplikasi oleh peneliti lain.
5.​ Generalisasi Temuan. Salah satu keunggulan utama penelitian kuantitatif adalah
kemampuannya untuk melakukan generalisasi terhadap populasi yang lebih luas
berdasarkan data sampel yang dianalisis secara statistik.
6.​ Berbasis pada Teori yang Telah Ada. Penelitian kuantitatif seringkali bertolak dari teori
atau model yang sudah ada. Hipotesis penelitian dirumuskan berdasarkan teori yang telah
diuji sebelumnya, kemudian diuji dengan data empiris (Muin, A. (2023).

2.3 Peranan Penelitian Kuantitatif


Penelitian memiliki peran yang sangat penting sebagai dasar dalam pengambilan keputusan dan
tindakan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada, karena tanpa penelitian, akan sangat sulit
memperoleh data yang dapat dipercaya untuk memberikan solusi terhadap masalah. Fakta-fakta
yang ada juga perlu diuji terlebih dahulu melalui proses penelitian. Salah satu jenis penelitian
yang dapat dilakukan adalah penelitian kuantitatif, yang menggunakan pendekatan positivistik
(konkrit, teramati, terukur) yang berasal dari pandangan ilmu alam dalam memandang objek
yang diteliti. Berikut adalah peran penelitian kuantitatif dalam pengambilan keputusan dan
penyelesaian masalah:
1.​ Menguji atau Mencari Kebenaran atau Keberlakuan Sebuah Teori.
Penelitian kuantitatif berperan penting dalam mengungkap kebenaran melalui proses
yang bertahap. Meskipun pencapaian kebenaran memerlukan waktu dan usaha panjang,
penelitian membantu mengungkap penyebab berbagai fenomena alam yang sebelumnya
tidak diketahui, seperti terjadinya gerhana, bencana alam, atau fenomena sosial. Melalui
teori yang diuji secara ilmiah dengan data berupa angka, fenomena yang awalnya bersifat
spekulatif kini dapat dijelaskan dengan pasti.
2.​ Menemukan dan Mendokumentasikan Hukum Universal Mengenai Perilaku
Manusia.
Penelitian kuantitatif adalah salah satu jenis penelitian yang menganggap bahwa
fenomena atau gejala sosial bersifat nyata, memiliki pola yang hampir sama, dan
memiliki keteraturan, yang artinya bahwa fenomena atau gejala sosial memiliki sifat-sifat
umum yang hampir sama sehingga dapat diamati dan diukur melalui indikator tertentu
(Martono, 2010). Misalnya: Ketika akan meneliti minat mahasiswa Tata Busana untuk
menjadi guru, maka harus menyusun berbagai alat ukur yang dapat membedakan ciri-ciri
mahasiswa yang memiliki minat tinggi dan rendah untuk berkarir sebagai pengajar. Alat
ukur ini harus dapat menggambarkan dengan jelas bahwa si A memiliki minat yang
tinggi untuk menjadi guru, sedangkan si B memiliki minat yang rendah untuk menjadi
guru.

3.​ Menjelaskan Terjadinya Kehidupan Sosial dengan Menemukan Hukum Kausal


(Sebab-Akibat)​
Penelitian kuantitatif juga berperan dalam menemukan hubungan sebab-akibat di balik
fenomena sosial. Contohnya: Penggunaan produk fast fashion yang berlebihan.
Fenomena ini melibatkan perilaku konsumen yang dipengaruhi oleh faktor sosial, seperti
tren mode, pengaruh media sosial, dan budaya konsumsi. Fenomena sosial ini dapat
mencerminkan perubahan dalam pola pikir dan perilaku masyarakat terkait dengan
konsumsi, gaya hidup, serta dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh industri fast
fashion. Penelitian tentang fenomena ini dapat membantu memahami dinamika sosial
yang mendorong perilaku konsumsi berlebihan dan dampaknya terhadap masyarakat dan
lingkungan.

2.4 Jenis Penelitian Kuantitatif

Jenis penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang proses pengumpulan datanya


dilakukan dengan cara mengumpulkan data berupa angka maupun kata atau kalimat yang
diubah menjadi angka sehingga dapat diolah dan dianalisis dengan menggunakan alat
statistik menjadi sebuah informasi yang bersifat ilmiah dan dapat dipercaya.

Adapun penelitian kuantitatif dapat dibagi menjadi jenis, yaitu:


1.​ Penelitian Survei. Digunakan untuk mengetahui dan mempelajari data dari sampel yang
diambil dari populasi, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, serta
hubungan-hubungan antar variabel, penelitian survei dapat dilakukan pada populasi besar
maupun kecil. Dalam pengumpulan datanya menggunakan kuesioner atau angket yang
menjadi sumber data utama pada instrumen penelitian untuk memperoleh informasi
terkait objek penelitian tertentu. ​
Contoh: Survei Sikap Mahasiswa Tata Busana Terhadap Fashion Blog.
2.​ Penelitian Eksperimen. Tujuannya dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian
suatu perlakuan terhadap variabel yang lain dalam kondisi yang terkontrol secara ketat.
Dikelompokkan kedalam dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok
pembanding. Dalam hal ini, kelompok kontrol akan diberikan suatu perlakuan atau
rangsangan tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian. Adapun hasil dari reaksi di
antara kedua kelompok itu yang akan dibandingkan.
Contoh: Pengaruh penggunaan aplikasi desain busana 3D terhadap kreativitas dan hasil
belajar siswa dalam Mata Pelajaran Desain Busana.
3.​ Penelitian Kausal Komparatif. Penelitian ini berfungsi untuk menyandingkan dua atau
lebih perlakuan terhadap suatu variabel, atau bahkan beberapa variabel secara bersamaan.
Tujuannya yaitu untuk meneliti perbedaan dalam dua atau lebih skenario, kejadian, usaha
atau program.
Contoh: Perbandingan Hasil Belajar Pembuatan Pola Dasar Busana antara Siswa SMK
yang menggunakan Media Pembelajaran Video Tutorial dan yang Menggunakan Modul
Cetak.
4.​ Penelitian Korelasional. adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk menggambarkan
dua atau lebih fakta-fakta dan sifat-sifat objek yang diteliti, penelitian dilakukan untuk
mengidentifikasi persamaan dan perbedaan (hubungan) dua atau lebih fakta tersebut
berdasarkan kerangka pemikiran tertentu
Contoh: Hubungan antara Minat Siswa terhadap Fashion dengan Kemampuan
Menggambar Desain Busana.

2.5 Ciri-ciri Penelitian Kuantitatif


Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang didasari pada asumsi, kemudian ditentukan
variabel dan dianalisis dengan menggunakan metode-metode penelitian yang valid.
Adapun ciri dari penelitian kuantitatif sebagai berikut:
1.​ Adanya hubungan antar variabel.
2.​ Penelitian kuantitatif bersifat deduktif, dimana untuk menjawab rumusan
masalah digunakan konsep atau teori sehingga dapat merumuskan hipotesis. Lalu
hipotesis diuji melalui pengumpulan data lapangan selanjutnya dianalisis secara
kuantitatif dengan menggunakan statistik deskriptif atau inferensial.
3.​ Pengumpulan data berbasis angka, data yang dikumpulkan dalam penelitian
kuantitatif berupa angka atau data numerik yang dapat dianalisis berdasarkan
metode statistik.
4.​ Teknik pengumpulan data yang biasa digunakan yaitu eksperimen survei dan
angket.
5.​ Hubungan dengan responden memiliki jarak dan berjangka pendek,
penelitian kuantitatif sangan menekankan objektivitas. Jarak membantu peneliti
untuk meminimalkan bias dan subjektivitas dalam pengumpulan dan analisis data

2.6 Prosedur Penelitian Kuantitatif


Prosedur penelitian kuantitatif adalah operasionalisasi metode ilmiah dengan memerhatikan
unsur-unsur keilmuan. Terdapat sejumlah langkah penelitian kuantitatif yang harus ditempuh
yang diharapkan dapat menjamin kesahihan (validitas) hasilnya. Adapun langkah-langkah
tersebut adalah sebagai berikut:

Langkah 1: Menentukan Masalah


Prinsip penelitian adalah untuk menjawab masalah. Masalah merupakan sebuah penyimpangan
antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi. Penyimpangan antara aturan
dengan pelaksanaan, teori dengan praktek, perencanaan dengan pelaksanaan , dan sebagainya.

Terdapat sejumlah contoh yang dapat dikategorikan sebagai masalah, sebagai berikut:
1.​ Masalah yang berkenaan dengan terjadinya penyimpangan antara pengalaman dan
kenyataan. Contoh masalah untuk kasus ini antara lain berkenaan dengan adanya
perubahan dari sebuah keadaan kepada keadaan baru. Misalnya, pada lima puluh tahun
yang lalu, diketahui bahwa jumlah masyarakat yang menyekolahkan anaknya ke
pesantren cukup banyak, namun sekarang terjadi penurunan. Permasalahan penelitiannya
adalah mencari berbagai faktor secara mendalam yang menyebabkan terjadinya
perubahan tersebut.
2.​ Masalah yang berkaitan dengan rencana yang ditetapkan, tetapi hasilnya tidak
sesuai dengan tujuan yang direncanakan. Adanya perbedaan antara yang direncanakan
dengan hasilnya yang dicapainya tentu ada masalah sebagai penyebabnya.
3.​ Masalah yang berkaitan dengan adanya perubahan dari keadaan yang baik kepada
yang tidak baik, tentu disebabkan adanya berbagai masalah yang muncul. Permasalahan
yang muncul inilah yang selanjutnya menjadi permasalahan dalam penelitian.

Langkah 2: Mengidentifikasi dan merumuskan masalah


Setelah peneliti menjelaskan alasan melakukan penelitian, selanjutnya peneliti perlu melakukan
beberapa batasan penelitian. Batasan penelitian ini penting dilakukan agar masalah yang
nantinya akan diteliti dapat terfokus dengan benar, sehingga ruang lingkup yang akan diteliti
juga menjadi jelas. Permasalahan yang telah dibatasi tersebut, selanjutnya, dirumuskan dalam
bentuk pertanyaan yang bersifat operasional, atau berupa rumusan teknis operasional. Dengan
kata lain, rumusan masalah merupakan bentuk pertanyaan yang dapat memandu peneliti untuk
mengumpulkan data di lapangan. Umumnya, pertanyaan penelitian 'how' dan 'why' digunakan
untuk penelitian eksperimen; 'who', 'what', 'where', 'how many', 'how mauch' digunakan untuk
penelitian survey; 'what', 'who', 'where', 'whom', dan 'which' digunakan untuk penelitian
eksploratori; 'how', 'why', 'to what extent', 'how much', 'how far', dan 'how significant' merupakan
pertanyaan-pertanyaan yang lebih eksplanatori (Robert K. Yin, 1989).

Perumusan masalah yang baik adalah perumusan masalah yang memiliki karakteristik berikut:
1.​ Disusun secara spesifik dan jelas atau tidak ambigu
2.​ Dinyatakan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang baik
3.​ Merupakan rumusan ilmiah yang dapat diuji secara empiris
4.​ Mengindikasikan variabel dan atau hubungan antara variabel yang diteliti
5.​ Signifikasi dengan latar belakang masalah
Dilihat dari segi level of explanation suatu gejala, maka secara umum terdapat tiga klasifikasi
dari tipe masalah dalam penelitian kuantitatif, yaitu masalah yang bersifat deskriptif,
komparatif, dan asosiatif.
1.​ Rumusan masalah deskriptif atau disebut juga eksploratif adalah suatu rumusan
masalah yang memandu peneliti untuk mengeksplorasi dan atau memotret situasi sosial
yang akan diteliti secara menyeluruh, luas, dan mendalam.
Contoh pertanyaan penelitian deskriptif berhubungan dengan karateristik:
●​ Apa ciri-ciri masyarakat primitive
●​ Apa karakteristik perusahaan konsinyasi

Contoh pertanyaan penelitian deskriptif berhubungan dengan frekuensi populasi:


●​ Bagaimana sikap masyarakat terhadap pembuangan limbah Perusahaan X
●​ Seberapa baik kinerja perusahaan X ditinjau dari CSR perusahaan

2.​ Rumusan masalah komparatif atau disebut juga eksplanatif, yaitu rumusan masalah
yang memandu peneliti untuk membandingkan antara konteks sosial atau domain satu
dibandingkan dengan yang lain.
Contoh:
●​ Adakah perbedaan dinamika murid di kelas yang diajar dengan metode ceramah
dan demonstrasi?
●​ Apakah terdapat perbedaan perataan laba pada perusahaan manufaktur tahun
2020, 2021 dan 2022?
●​ Apakah terdapat perbedaan voluntary disclousure pada perusahaan swasta dan
perusahaan BUMN?

3.​ Rumusan masalah asosiatif adalah rumusan masalah yang memandu peneliti untuk
mengkonstruksi hubungan antara situasi sosial atau domain satu dengan yang lainnya.
Contoh:
●​ Apakah terdapat hubungan antara tingkat inflasi dengan perataan laba
●​ Apakah terdapat hubungan timeliness dengan closing entries
●​ Apakah terdapat pengaruh perataan laba terhadap respon pasar
●​ Apakah terdapat pengaruh pengungkapan sukarela dan CSR terhadap respon
pasar
●​ Hubungan harga saham dan retur saham
●​ Hubungan timeliness dan kualitas auditor

Perumusan rumusan masalah biasanya memerlukan dua langkah berikut.


1.​ Ikhtisar Masalah (Overview of the problem)
Salah satu cara yang baik untuk memulai pernyataan masalah adalah dengan menyajikan
masalah dalam gambaran umum. Alasan mengapa peneliti biasanya memulai dengan
menyajikan masalah dalam konteks gambaran umum adalah untuk menyajikan masalah
dalam perspektif. Dengan cara ini, pembaca diperkenalkan dengan terminologi, definisi,
dan hubungan yang sedang dipertimbangkan, serta hubungan topik dengan pertanyaan
dan bidang terkait.

2.​ Mempersempit ke Aspek Tertentu dari Masalah (Narrowing down to specific


aspect(s) of the problem)
Ketika akhirnya telah didefinisikan masalah penelitian secara memadai, tugas selanjutnya
adalah menyatakan masalahnya dengan jelas. Pada umumnya, sangat perlu untuk
menyatakan masalah penelitian dengan jelas dan ringkas tetapi lengkap. Keberhasilan
sangat bergantung pada kemampuan peneliti dalam penulisan teknis. Suatu rumusan
masalah yang baik harus relevan dengan tema penelitian yang diangkat, memiliki
kebaruan, asli, dan menarik perhatian serta harus spesifik. Secara substansi dapat ditarik
ikhtisar dalam penyusunan rumusan masalah langkah yang harus dilakukan yaitu pilih
tema atau topik penelitian, kemudian buat latar belakang masalah, selanjutnya lakukan
identifikasi masalah. Setelah identifikasi masalah kemudian kerucutkan permasalahan
menjadi rumusan masalah penelitian.

Langkah 3: Melakukan riset pendahuluan (Preliminary Research)


Riset pendahuluan adalah riset yang dilakukan sebelum riset yang sesungguhnya dilakukan.
Riset pendahuluan ini perlu dilakukan dalam rangka menemukan masalah penelitian secara tepat,
benar, dan komprehensif. Riset pendahuluan dapat dilakukan tinjauan pustaka atau kajian
terhadap hasil penelitian sejenis yang pernah dilakukan peneliti sebelumnya, yaitu kajian
terhadap skripsi, tesis, disertasi, dan publikasi lainnya.

Untuk mengadakan riset pendahuluan ini dapat dilakukan pada tiga objek. Yang dimaksud
dengan objek di sini adalah apa yang harus dihubungi, dilihat, diteliti, atau dikunjungi yang
kira-kira akan memberikan informasi tentang data yang akan dikumpulkan. Ketiga objek tersebut
ada yang berupa tulisan-tulisan dalam kertas (paper), manusia (person), dan tempat (place). Oleh
karena dinyatakan dalam kata bahasa Inggris, untuk lebih mudahnya mengingat, disingkat
dengan 3P.
1.​ Paper; dokumen, buku-buku, majalah atau bahan tertulis lainnya, baik berupa teori,
laporan penelitian atau penemuan sebelumnya (findings). Studi ini juga disebut
kepustakaan atau literature studi.
2.​ Person; bertemu, bertanya, dan berkonsultasi dengan para ahli atau manusia sumber.
3.​ Place; tempat, lokasi, atau benda-benda yang terdapat di tempat penelitian. Seseorang
yang berhasrat besar untuk mengadakan penelitian ke daerah pedalaman, mungkin
mengurungkan niatnya setelah mengadakan penelitian pendahuluan, karena ternyata
daerah yang akan dikunjungi terlalu sulit untuk dicapai sehingga tidak akan seimbang
antara biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang akan dicapai.
Manfaat dari tinjauan literatur terkait banyak dan beberapa di antaranya tercantum di sini
(Kumar et al., 2021):
1.​ Dapat mengungkapkan penelitian sebelumnya yang serupa dengan penelitian yang
dilakukan dan dapat membantu peneliti dalam membangun perspektif.
2.​ Dapat mengarahkan peneliti pada isu-isu terkait dan produktif untuk dipelajari.
3.​ Dapat menyarankan metode atau teknik baru untuk menangani masalah.
4.​ Dapat memperkenalkan peneliti kepada para peneliti terkemuka di bidangnya dan
karya-karya mereka.
5.​ Dapat mengungkapkan sumber data baru.

Langkah 4: Merumuskan hipotesis


Hipotesis adalah sebuah kesimpulan atau jawaban sementara yang bersifat teoritis yang
dihasilkan melalui kajian secara mendalam dan saksama terhadap berbagai teori (referensi) yang
relevan. Adapun persyaratan untuk hipotesis adalah sebagai berikut: Hipotesis harus dirumuskan
dengan singkat tetapi jelas; Hipotesis harus dengan nyata menunjukkan adanya hubungan antara
dua atau lebih variabel; Hipotesis harus didukung oleh teori-teori yang dikemukakan oleh para
ahli atau hasil penelitian yang relevan.

Ada beberapa variasi tipe hipotesis yang digunakan dalam penelitian, diantaranya adalah:
Tipe Hipotesis Contoh

Hipotesis deskriptif (descriptive hypotheses) 70% mahasiswa UNJ berasal dari keluarga
berpenghasilan menengah ke atas.

Hipotesis asosiatif (associative hypotheses) Nondirectional:


Ada hubungan antara usia dan kepuasan kerja

Directional:
Ada hubungan positif antara usia dan
kepuasan kerja

Hipotesis kausal (causal hypotheses) Proposisional:


Tingkat kepuasan kerja pegawai berpengaruh
negative terhadap tingkat kemangkirannya
dalam bekerja.

Jika-maka:
Jika tingkat kepuasan kerja pegawai tinggi,
maka tingkat kemangkirannya dalam bekerja
rendah.

Makin-semakin:
Makin tinggi tingkat kepuasan kerja pegawai,
semakin rendah tigkat kemangkirannya dalam
bekerja.

Hipotesis perbedaan (different hypotheses) Nondirectional:


Ada perbedaan etika kerja antara pegawai
negeri dan pegawai swasta.

Directional:
Ada perbedaan motivasi kerja antara wanita
dan pria. Wanita lebih bermotivasi dalam
bekerja dibandingkan dengan pria. Motivasi
kerja wanita lebih tinggi dibandingkan pria.

Hipotesis alternative (alternative hypotheses) Ada hubungan antara tingkat motivasi kerja
dan tingkat kemangkiran untuk pegawai (Ha
koreasional).

Hipotesis nol (null hypotheses) Tidak ada hubungan antara tingkat motivasi
kerja dan tingkat kemangkiran untuk pegawai
(H0 koreasional).

Langkah 5: Menentukan metode dan instrumen penelitian


Sesuai dengan sifat dan karakter penelitian kuantitatif, maka metode yang dapat digunakan
dalam penelitian kuantitatif ini dapat berupa metode survey, ex post facto, eksperimen, evaluasi,
action research, dan policy research. Setelah metode penelitian yang sesuai dipilih, maka peneliti
dapat menyusun instrumen penelitian. Instrumen ini digunakan sebagai alat pengumpul data
yang dapat berbentuk tes, angket/kuesioner, pedoman wawancara, dan panduan observasi.

Instrumen merupakan alat bantu bagi peneliti dalam menggunakan metode pengumpul data.
Terdapat kaitan antara metode dan instrumen pengumpul data. Pemilihan satu jenis metode
pengumpul data kadang-kadang dapat memerlukan lebih dari satu jenis instrumen. Sebaliknya,
satu jenis instrumen dapat digunakan untuk berbagai macam metode.

Sebelum instrumen tersebut digunakan untuk pengumpulan data, maka instrumen penelitian
tersebut harus terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya. Dalam penelitian kuantitatif,
temuan atau data dapat dinyatakan valid apabila suatu temuan diproses melalui langkah-langkah
peneliti yang benar, yaitu mulai dari perumusan hipotesis, penentuan populasi dan sampling,
penggunaan instrumen pengumpulan data, serta teknik analisis statistik yang benar. Selain itu,
validitas dan reliabilitas ini juga dapat dilakukan melalui dengan cara apabila data yang sama
dilakukan analisis oleh peneliti yang lain juga sama hasilnya.
Langkah 6: Menentukan sumber data (Populasi dan Sampel)
Populasi dan sampel yang digunakan dalam penelitian kuantitatif adalah sumber data yang
objektif. Populasi adalah jumlah keseluruhan dari sumber informasi yang dibutuhkan, sedangkan
sampel adalah sebagian dari populasi tersebut yang diperkirakan dapat mewakili jumlah populasi
yang ada. Sampel ini diambil dengan pertimbangan, karena jumlah populasi amat besar, dan
tersebar luas, yang tidak mungkin dapat terjangkau seluruhnya, karena adanya keterbatasan
dana, tenaga, maupun waktu.

Langkah 7: Pengumpulan, pengolahan, dan analisis data


Pengumpulan data adalah melakukan pengumpulan data yang dibutuhkan untuk menjawab
permasalahan penelitian. Teknik pengumpulan data yang dapat digunakan dalam penelitian
kuantitatif yaitu interview (wawancara), kuesioner (angket), observasi (pengamatan),
dokumentasi dan triangulasi (penggabungan). Teknik pengumpulan data dapat dipilih yang
dianggap sesuai dan data tersebut sudah mewakili, kita bisa memilih salah satu dari teknik
tersebut.

Pengolahan data adalah mengolah data yang sudah diperoleh melalui pengumpulan data. Istilah
lain dari pengolahan data adalah pemrosesan data (data processing). Tahapan ini merupakan
pendahuluan sebelum melakukan analisis data, yang merupakan tahap untuk menghubungkan
antara pengumpulan data dan analisis data. Pada tahap ini dilakukan proses pengolahan dari data
mentah menjadi data dalam bentuk informasi yang mudah dibaca dan dipahami. Pada tahap ini
juga dilakukan penyuntingan (editing) data, pengkodean atau pentabulasian data.

Pada penelitian kuantitatif, analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden
dan sumber data lain yang terkumpul. Analisis data adalah melakukan proses menganalisis data
dengan menggunakan statistik. Pemilihan alat analisis dengan menggunakan uji statistik dapat
dilakukan secara manual atau menggunakan software.

Dalam (Amir Hamzah dan Lidia Susanti, 2020) cara melakukan analisis data adalah:
1.​ Mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden
2.​ Mentabulasi data berdasarkan dari seluruh responden
3.​ Menyajikan data tiap variabel yang diteliti
4.​ Melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah
5.​ Melakukan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan.

Langkah 8: Menarik kesimpulan


Penarikan kesimpulan adalah langkah terakhir dari suatu proses penelitian yang berupa jawaban
terhadap rumusan masalah. Berdasarkan proses penelitian kuantitatif di atas, maka tampak
bahwa proses penelitian kuantitatif bersifat linear, yaitu bahwa langkah-langkahnya jelas, mulai
dari rumusan masalah, berteori, berhipotesis, mengumpulkan data, analisis data, dan membuat
kesimpulan dan saran.

Apabila kesimpulan penelitian merupakan jawaban dari problematik yang dikemukakan, maka
isi maupun banyaknya kesimpulan yang dibuat juga harus sama dengan isi dan banyaknya
problematik. Contohnya:
Problematik
1.​ Apakah orang tua murid di daerah pedesaan memberikan motivasi belajar yang sama
dengan orang tua murid di kota?
2.​ Apakah ayah mempunyai peranan yang sama dengan ibu dalam memberikan motivasi
belajar, baik di daerah pedesaan maupun di kota?
Hipotesis
1.​ Orang tua murid di daerah pedesaan memberikan motivasi belajar yang sama dengan
orang tua murid di kota.
2.​ Ayah dan ibu mempunyai peranan yang sama besar dalam memberikan motivasi belajar,
baik di daerah pedesaan maupun di kota.
Kesimpulan Penelitian (salah satu kemungkinan)
1.​ Orang tua murid di daerah pedesaan tidak dapat memberikan motivasi belajar sebesar
yang diberikan orang tua murid di kota.
2.​ Ada perbedaan yang signifikan antara ayah dan ibu dalam memberikan motivasi belajar,
baik bagi orang tua murid di daerah pedesaan maupun di kota.

2.7 Contoh Judul Penelitian Kuantitatif :

●​ Judul Penelitian : “Hubungan Hasil Belajar terhadap Minat Mahasiswa Tata Busana
menjadi Pattern Maker”

Besar kemungkinan Judul tersebut menggunakan penelitian kuantitatif.

Alasan :
1.​ Pertama, karena variabel-variabel yang terlibat dalam judul ini, yaitu hasil belajar
dan minat, dapat diukur secara objektif dan numerik. Hasil belajar dapat diukur
melalui nilai atau skor ujian, tugas, atau penilaian lainnya, yang memberikan data
kuantitatif yang jelas. Sementara itu, minat dapat diukur menggunakan kuesioner
atau angket dengan skala numerik, yang memungkinkan peneliti untuk
mengkuantifikasi tingkat minat mahasiswa terhadap profesi pattern maker.

2.​ Kedua, penelitian kuantitatif sangat cocok untuk menguji hubungan antara dua
variabel. Dalam konteks ini, peneliti dapat menggunakan analisis statistik untuk
menentukan seberapa kuat hubungan antara hasil belajar dan minat, serta apakah
hubungan tersebut signifikan secara statistik. Teknik analisis seperti analisis
korelasi dan regresi dapat digunakan untuk menguji hipotesis penelitian dan
memberikan bukti empiris yang kuat.

3.​ Ketiga, penelitian kuantitatif memungkinkan pengumpulan data dari sampel yang
besar, yang meningkatkan generalisasi hasil penelitian. Dengan menggunakan
kuesioner atau angket, peneliti dapat mengumpulkan data dari banyak mahasiswa
Tata Busana, sehingga data yang diperoleh lebih representatif dan dapat
diterapkan pada populasi yang lebih luas.

4.​ Keempat, penelitian kuantitatif memungkinkan penggunaan berbagai teknik


analisis statistik yang canggih. Teknik-teknik ini memberikan peneliti
kemampuan untuk menganalisis data secara mendalam dan menarik kesimpulan
yang valid dan reliabel. Misalnya, analisis korelasi dapat digunakan untuk
mengukur kekuatan hubungan antara hasil belajar dan minat, sementara analisis
regresi dapat digunakan untuk memprediksi minat berdasarkan hasil belajar.
Selain itu, uji t dan ANOVA dapat digunakan untuk membandingkan kelompok
mahasiswa dengan karakteristik yang berbeda.

●​ Judul Penelitian : “Hubungan Self-efficacy dan Social Environment terhadap Kesiapan


menjadi Guru bagi Mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana”

Berdasarkan judul penelitian "Hubungan Self-efficacy dan Social Environment terhadap


Kesiapan menjadi Guru bagi Mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana", penelitian ini
cenderung menggunakan metode kuantitatif. Dengan mempertimbangkan tujuan
penelitian yang ingin mengukur hubungan antar variabel yang dapat dinyatakan dalam
bentuk angka, serta penggunaan instrumen terstruktur dan analisis statistik untuk menguji
hubungan antar variabel, penelitian ini lebih cocok menggunakan metode kuantitatif.

Alasan lainnya:
1.​ Judul ini menyebutkan adanya hubungan antara variabel-variabel (self-efficacy,
social environment, dan kesiapan menjadi guru) yang bisa diukur secara statistik,
serta dapat dianalisis dengan menggunakan instrumen pengumpulan data seperti
kuesioner atau survei. Metode kuantitatif sering digunakan untuk menguji
hubungan antar variabel dengan pendekatan yang lebih terstruktur dan
angka-angka yang dapat dianalisis secara statistik.
2.​ Judul tersebut menyebutkan hubungan antara self-efficacy, social environment,
dan kesiapan menjadi guru. Kata "hubungan" menunjukkan bahwa penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh atau korelasi antar
variabel-variabel tersebut. Penelitian kuantitatif sering kali bertujuan untuk
mengukur dan menganalisis hubungan antara dua atau lebih variabel yang dapat
dinyatakan dalam bentuk angka atau data yang terukur.
3.​ “Self-efficacy (percaya diri dalam kemampuan)” dan “social environment
(lingkungan sosial)” adalah konsep yang dapat diukur menggunakan instrumen
yang sudah divalidasi, seperti kuesioner dengan skala Likert. Kesiapan menjadi
guru juga bisa diukur melalui penilaian objektif, misalnya dengan menggunakan
tes atau survei yang mengukur sejauh mana mahasiswa merasa siap atau memiliki
keterampilan untuk mengajar. Semua variabel tersebut bisa dikumpulkan data
kuantitatif yang menggambarkan tingkat intensitas atau pengaruhnya dalam
bentuk skor atau angka.
4.​ Penelitian ini membutuhkan teknik-teknik statistik untuk menguji apakah ada
hubungan signifikan antara self-efficacy, social environment, dan kesiapan
menjadi guru. Metode kuantitatif memungkinkan untuk melakukan analisis
statistik, seperti uji korelasi (misalnya Pearson, Spearman) atau regresi, yang
dapat mengidentifikasi hubungan antar variabel dan seberapa besar pengaruh
masing-masing variabel terhadap variabel lainnya.
5.​ Data yang dikumpulkan bersifat objektif dan lebih mudah digeneralisasikan untuk
populasi yang lebih besar (misalnya seluruh mahasiswa S1 Pendidikan Tata
Busana). Pendekatan ini dapat memberikan gambaran umum yang lebih luas
tentang hubungan antar variabel pada berbagai individu dalam populasi yang
lebih besar, serta mengurangi bias subjektif yang mungkin ada pada pendekatan
kualitatif.

●​ Judul Penelitian: "Pengaruh Media CD Interaktif Terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa


Tata Busana pada Mata Kuliah Dasar Seni dan Desain"

Berdasarkan Judul Penelitian diatas penelitian cenderung menggunakan metode


penelitian kuantitatif dengan desain eksperimen.

Alasan:

1.​ Judul ini jelas menyatakan bahwa penelitian bertujuan untuk mengetahui
pengaruh media CD interaktif terhadap motivasi belajar mahasiswa, yang
mengindikasikan adanya hubungan antara dua variabel (media CD interaktif
dan motivasi belajar), sesuai dengan ciri penelitian kuantitatif.
2.​ Penelitian ini dimulai dengan hipotesis atau teori yang menyatakan bahwa media
CD interaktif dapat mempengaruhi motivasi belajar mahasiswa. Kemudian, data
dikumpulkan untuk menguji hipotesis tersebut, yang merupakan pendekatan
deduktif khas penelitian kuantitatif.
3.​ Untuk mengukur motivasi belajar mahasiswa, data yang dikumpulkan biasanya
berbentuk angka, misalnya menggunakan skala Likert pada kuesioner atau skor
tes. Hal ini mengarah pada pengumpulan data berbasis angka sesuai dengan ciri
penelitian kuantitatif.
4.​ Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dua variabel, yaitu media CD interaktif
(sebagai variabel independen) dan motivasi belajar mahasiswa (sebagai variabel
dependen), yang sesuai dengan ciri penelitian kuantitatif yang menekankan
pengukuran variabel-variabel penelitian.
5.​ Teknik yang digunakan dalam penelitian ini bisa berupa eksperimen, di mana
satu kelompok mahasiswa diberi media CD interaktif dan kelompok lainnya tidak,
atau menggunakan angket untuk mengukur motivasi belajar.
6.​ Dalam penelitian ini, peneliti menentukan batasan data yang dikumpulkan,
seperti hanya mengumpulkan data dari mahasiswa program studi tata busana yang
mengikuti mata kuliah dasar seni dan desain.

Keuntungan penelitian kuantitatif :

1.​ Penelitian lebih berjalan sistematis​


Metode kuantitatif memungkinkan penelitian dilakukan dengan langkah-langkah yang
jelas dan terstruktur. Setiap tahapan penelitian, mulai dari pengumpulan data, analisis,
hingga interpretasi, dapat diatur secara sistematis sehingga menghasilkan hasil yang lebih
terukur dan terorganisir.​

2.​ Mampu memanfaatkan teori yang ada​


Dalam pendekatan kuantitatif, penelitian sering kali didasarkan pada teori atau hipotesis
yang sudah ada. Peneliti menggunakan teori tersebut untuk mengarahkan penelitian dan
membuktikan atau membantah suatu hubungan atau fenomena yang sudah diprediksi
sebelumnya, yang meningkatkan validitas dan relevansi penelitian.​

3.​ Penelitian lebih berjalan objektif​


Metode kuantitatif mengutamakan pengumpulan data yang bersifat numerik atau
kuantitatif, yang mengurangi subjektivitas dalam penelitian. Dengan analisis statistik,
hasilnya lebih bisa dipertanggungjawabkan dan tidak dipengaruhi oleh pandangan atau
preferensi pribadi peneliti.​

4.​ Spesifik, jelas, dan rinci​


Karena melibatkan data yang terukur dan memiliki definisi operasional yang jelas,
metode kuantitatif menghasilkan hasil yang sangat spesifik dan rinci. Variabel yang diuji
biasanya sudah didefinisikan secara jelas, sehingga setiap hasil penelitian lebih mudah
untuk dipahami dan diinterpretasikan dengan tepat.​

5.​ Ukuran penelitian besar, sehingga menjadi nilai tambah tersendiri​


Satu keuntungan utama dari penelitian kuantitatif adalah kemampuan untuk
mengumpulkan data dalam jumlah besar. Dengan sampel yang lebih besar, hasil
penelitian lebih representatif dan generalizable. Hal ini meningkatkan kekuatan temuan
penelitian, karena data yang lebih banyak memberikan hasil yang lebih akurat dan dapat
dipercaya.

Kelemahan penelitian kuantitatif :

1.​ Pengambilan data cenderung berasal dari nilai tertinggi​


Dalam penelitian kuantitatif, terkadang data yang dikumpulkan lebih fokus pada angka
atau hasil yang paling menonjol, seperti nilai tertinggi atau yang paling mudah diukur.
Hal ini bisa menyebabkan data yang lebih kompleks atau variabel lain yang lebih penting
tidak teramati atau kurang diperhatikan.​

2.​ Penelitian tidak subyektif​


Metode kuantitatif mengutamakan objektivitas dan data numerik, sehingga sering kali
kurang memberikan ruang untuk interpretasi subyektif. Padahal, beberapa fenomena
sosial atau psikologis memerlukan pendekatan yang lebih personal dan kontekstual untuk
memahami makna di balik data.​

3.​ Orientasi hanya terbatas pada nilai dan jumlah​


Metode ini cenderung berfokus pada angka, statistik, dan hasil terukur, yang sering kali
mengabaikan aspek-aspek yang lebih kualitatif, seperti pengalaman, perasaan, atau
dinamika sosial yang lebih sulit diukur dengan angka. Ini bisa membatasi pemahaman
yang lebih mendalam terhadap fenomena yang sedang diteliti.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang menggunakan data numerik dan analisis
statistik untuk menguji hipotesis dan mengukur hubungan antar variabel. Penelitian ini
berlandaskan pada filsafat positivisme dan bertujuan untuk memperoleh temuan yang dapat
digeneralisasi, mengukur hubungan antar variabel, dan melakukan prediksi berdasarkan data
yang terkumpul.
Karakteristik utama penelitian kuantitatif meliputi penggunaan data dalam bentuk angka,
instrumen terstandar, analisis data dengan statistik, sifat objektif dan terstruktur, kemampuan
generalisasi temuan, serta berbasis pada teori yang telah ada. Penelitian kuantitatif memiliki
peran penting dalam menguji kebenaran teori, menemukan hukum universal mengenai perilaku
manusia, dan menjelaskan terjadinya kehidupan sosial melalui hukum kausal.
Jenis-jenis penelitian kuantitatif meliputi penelitian survei, eksperimen, kausal komparatif, dan
korelasional. Setiap jenis penelitian memiliki ciri-ciri khusus dan prosedur yang berbeda.
Prosedur penelitian kuantitatif melibatkan langkah-langkah sistematis mulai dari menentukan
masalah, merumuskan hipotesis, menentukan metode dan instrumen penelitian, hingga menarik
kesimpulan.
3.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, berikut adalah beberapa saran yang dapat dipertimbangkan:
●​ Peningkatan Pemahaman Metodologi: Penting bagi peneliti untuk memahami secara
mendalam metodologi penelitian kuantitatif, termasuk karakteristik, jenis, dan prosedur
penelitian. Pemahaman yang baik akan meningkatkan kualitas penelitian dan validitas
temuan.
●​ Penggunaan Instrumen yang Valid dan Reliabel: Dalam penelitian kuantitatif,
penggunaan instrumen yang valid dan reliabel sangat penting. Peneliti perlu memastikan
bahwa instrumen yang digunakan telah diuji dan memenuhi standar yang ditetapkan.
●​ Analisis Data yang Tepat: Pemilihan dan penggunaan teknik analisis statistik yang tepat
sangat krusial dalam penelitian kuantitatif. Peneliti perlu memastikan bahwa teknik
analisis yang digunakan sesuai dengan jenis data dan tujuan penelitian.
●​ Penerapan dalam Berbagai Bidang: Penelitian kuantitatif dapat diterapkan dalam
berbagai bidang, termasuk pendidikan, sosial, dan ekonomi. Peneliti diharapkan dapat
memanfaatkan metode ini untuk menjawab berbagai permasalahan dan mengembangkan
ilmu pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA

Sugiyono. (2020). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
ISBN: 978-602-289-533-6.
Djaali, H. (2021). Metodologi Penelitian Kuantitatif [Sumber elektronis]. Jakarta: Bumi Aksara.

Amruddin, A., Priyanda, R., Agustina, T. S., Nyoman Sri Ariantini, N. S., Rusmayani, N. G. A.
L., Aslindar, D. A., Ningsih, K. P., Wulandari, S., Putranto, P., Yuniati, I., Untari, I., Mujiani, S.,
& Wicaksono, D. (2022). Metodologi Penelitian Kuantitatif. Sukoharjo: Penerbit Pradina
Pustaka.

Muin, A. (2023). Buku Ajar Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Literasi Nusantara Abadi.

Aries Veronica, Ernawati, Rasdiana, Muhamad Abas, Yusriani, Hadawiah, Nurul Hidayah, Joko
Sabtohadi, Hastuti Marlina, Wiwiek Mulyani, Zulkarnaini. (2022). Metodologi Penelitian
Kuantitatif. Padang: Global Eksekutif Teknologi.

Hotmaulina Sihotang. (2023). Metodoe Penelitian Kuantitatif. Jakarta: UKI Press

Anda mungkin juga menyukai