BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang didirikan pada 20 Maret
1602 oleh Belanda, adalah persekutuan dagang yang memiliki monopoli
perdagangan di Asia, khususnya Hindia Timur. VOC dianggap sebagai
perusahaan multinasional pertama di dunia dan yang pertama kali mengeluarkan
sistem pembagian saham. Meskipun VOC merupakan badan dagang, perusahaan
ini diberikan hak istimewa oleh negara, seperti memiliki tentara dan kemampuan
untuk bernegosiasi dengan negara-negara lain. VOC memiliki enam bagian yang
tersebar di berbagai kota Belanda dan delegasi mereka berkumpul dalam Heeren
XVII yang mengatur kebijakan perusahaan.
Di Indonesia, VOC lebih dikenal dengan sebutan "Kompeni" atau
"Kumpeni," yang berasal dari kata compagnie dalam bahasa Belanda. Namun,
rakyat Nusantara mengenal Kompeni bukan hanya sebagai perusahaan dagang,
melainkan sebagai tentara Belanda yang terkenal dengan penindasan dan
pemerasan terhadap rakyat Indonesia. Kebijakan kolonial yang diterapkan VOC
mengakibatkan penderitaan besar bagi masyarakat lokal, sehingga Kompeni
identik dengan kekuatan yang menindas dan memperburuk kondisi sosial-
ekonomi di Indonesia.
B. Rumusan Masalah
1) Bagaimana sejarah terbentuknya VOC?
2) Bagaimanakah kegiatan perdagangan VOC di Indonesia?
3) Apa sajakah sebab-sebab di bubarkannya VOC?
C. Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk
memenuhi tugas Sejarah. Selain itu juga untuk memahami lebih dalam mengenai
sejarah VOC di Indonesia
1
2
BAB 2
PEMBAHASAN
1. Pengertian VOC
VOC adalah singkatan dari Vereenigde Oostindische Compagnie, yang
dalam bahasa Indonesia berarti Perusahaan Hindia Timur Belanda. Perusahaan ini
didirikan pada tanggal 20 Maret 1602 oleh pemerintah Belanda sebagai hasil
penggabungan beberapa kongsi dagang swasta yang sebelumnya bersaing satu
sama lain dalam perdagangan rempah-rempah di Asia. Tujuan utama
pembentukan VOC adalah untuk menghilangkan persaingan antarpedagang
Belanda dan memperkuat posisi Belanda dalam perebutan jalur dagang di
kawasan Timur, terutama di wilayah kepulauan Nusantara yang kaya akan hasil
bumi seperti cengkih, pala, dan lada.
VOC merupakan perusahaan dagang pertama yang mendapatkan
kekuasaan layaknya sebuah negara. Hal ini dimungkinkan karena VOC diberikan
Hak Oktroi oleh Staten Generaal (parlemen Belanda). Hak tersebut memberikan
wewenang kepada VOC untuk melakukan berbagai tindakan kenegaraan seperti
mencetak uang, mengadakan perjanjian politik dengan kerajaan lokal, membentuk
angkatan bersenjata, bahkan menyatakan perang dan damai. Dengan kewenangan
ini, VOC menjadi perusahaan multinasional pertama di dunia yang menjalankan
fungsi dagang sekaligus fungsi pemerintahan dan militer.
Di wilayah Nusantara, VOC memainkan peran penting dalam membentuk
struktur kekuasaan kolonial. VOC tidak hanya berdagang, tetapi juga secara aktif
campur tangan dalam urusan politik lokal. Mereka menerapkan strategi devide et
impera (politik adu domba) untuk memecah belah kekuatan kerajaan-kerajaan
lokal, lalu mengambil alih kendali atas wilayah-wilayah strategis. VOC juga
mendirikan markas besar di Batavia (kini Jakarta) dan menjadikannya pusat
pemerintahan serta pengendalian perdagangan Asia Timur selama hampir dua
abad.
Praktik monopoli perdagangan yang dijalankan VOC berdampak luas
terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Rakyat dipaksa menjual hasil panen
3
mereka kepada VOC dengan harga murah dan dilarang menjual kepada pedagang
lain. Selain itu, VOC juga menerapkan kebijakan tanam paksa dan sistem kerja
paksa di beberapa daerah. Di Maluku, misalnya, VOC menggunakan kekuatan
militer untuk mengontrol produksi rempah-rempah, bahkan menerapkan kebijakan
extirpatie (pemusnahan pohon rempah yang melebihi kuota) agar harga tetap
tinggi di pasar Eropa.
Meskipun sempat berjaya sebagai kekuatan ekonomi terbesar di dunia
pada masanya, VOC akhirnya mengalami kemunduran dan dibubarkan pada tahun
1799. Penyebab utamanya adalah korupsi yang merajalela, beban utang yang
membengkak, dan ketidakmampuan dalam mengelola wilayah kekuasaannya yang
luas. Setelah pembubarannya, seluruh aset dan wilayah kekuasaan VOC diambil
alih oleh pemerintah Belanda dan dijadikan dasar pembentukan koloni Hindia
Belanda.
2. Sejarah terbentuknya VOC
Sejak abad ke-15, rempah-rempah seperti lada, cengkih, dan pala menjadi
komoditas yang sangat berharga di Eropa. Rempah-rempah tidak hanya digunakan
sebagai bumbu masakan, tetapi juga sebagai pengawet makanan dan obat-obatan.
Permintaan yang tinggi dan harga yang mahal menjadikan rempah-rempah
sebagai komoditas utama dalam perdagangan internasional, terutama antara Asia
dan Eropa.
Pada awalnya, jalur perdagangan rempah-rempah didominasi oleh bangsa
Portugis dan Spanyol. Portugis menjelajah ke Timur melalui rute Afrika,
sementara Spanyol bergerak ke arah barat melalui Samudra Pasifik. Mereka
mendirikan pos-pos dagang dan koloni di wilayah Asia untuk mengontrol sumber
rempah-rempah, termasuk di Nusantara.
Pada akhir abad ke-16, Belanda mulai muncul sebagai kekuatan maritim
baru di Eropa. Setelah melepaskan diri dari kekuasaan Spanyol melalui Revolusi
Belanda, bangsa Belanda mulai membangun kekuatan armada laut mereka dan
ikut serta dalam perebutan jalur perdagangan rempah-rempah di Asia. Mereka
mulai mengirim ekspedisi-ekspedisi dagang ke Nusantara.
4
Sebelum terbentuknya VOC, para pedagang Belanda membentuk kongsi-
kongsi dagang kecil yang masing-masing mengirimkan kapal dagang ke Asia.
Namun, karena tidak adanya koordinasi dan saling bersaing satu sama lain, harga
rempah menjadi tidak stabil, keuntungan merosot, dan daya saing Belanda
melemah dibandingkan Portugis.
Melihat kondisi ini, pemerintah Belanda menyadari bahwa jika persaingan
antar kongsi dagang terus berlangsung, Belanda tidak akan mampu bersaing
dengan kekuatan dagang asing. Maka muncul gagasan untuk menyatukan semua
kongsi dagang Belanda menjadi satu perusahaan besar yang dikoordinasikan
secara nasional.
Pembentukan satu perusahaan dagang terpadu bukan hanya soal ekonomi,
tetapi juga politik. Pemerintah Belanda ingin menjadikan perdagangan sebagai
alat untuk memperluas pengaruhnya di Asia. Dengan menyatukan kekuatan
ekonomi, mereka juga bisa membangun kekuatan militer dan politik untuk
melawan dominasi Portugis dan Spanyol.
Pada tanggal 20 Maret 1602, pemerintah Belanda secara resmi mendirikan
VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) melalui penggabungan enam kongsi
dagang besar. VOC diberikan hak istimewa yang sangat luas oleh Staten
Generaal (parlemen Belanda), menjadikannya entitas yang sangat kuat secara
ekonomi, militer, dan politik.
VOC mendapat Hak Oktroi yang memberikan wewenang luar biasa,
termasuk hak untuk berdagang secara eksklusif di wilayah Timur, mendirikan
benteng, mengangkat pejabat, membuat perjanjian dengan raja-raja lokal,
mencetak uang sendiri, bahkan menyatakan perang dan damai. Hak ini membuat
VOC berfungsi layaknya negara di luar negeri.
VOC memiliki struktur organisasi yang canggih pada zamannya. Dewan
pengurus pusat yang disebut Heeren XVII (Dewan Tujuh Belas) mengatur semua
keputusan penting. Kantor pusatnya berada di Amsterdam, tetapi VOC juga
memiliki cabang-cabang penting di Asia, termasuk di Batavia (Jakarta), yang
kemudian menjadi markas pusatnya di Timur.
5
3. Tujuan Dibentuknya VOC
3.1 Mengurangi Persaingan Antar Pedagang Belanda
Salah satu tujuan utama pembentukan VOC adalah untuk mengakhiri
persaingan tidak sehat antara pedagang Belanda sendiri yang tergabung dalam
berbagai kongsi dagang kecil. Sebelum VOC didirikan, banyak kongsi dagang
Belanda yang saling bersaing di wilayah Asia, terutama dalam memperebutkan
rempah-rempah dari Nusantara. Persaingan ini menyebabkan jatuhnya harga
komoditas dan kerugian ekonomi besar bagi para pedagang, serta melemahkan
posisi Belanda di pasar internasional.
Pembentukan VOC memiliki tujuan yang sangat penting dalam mengakhiri
persaingan yang merugikan antar pedagang Belanda yang terlibat dalam
perdagangan Asia, khususnya rempah-rempah. Sebelum VOC didirikan, banyak
kongsi dagang Belanda kecil yang beroperasi di pasar Asia, masing-masing
dengan kapal dan sumber daya yang terbatas. Persaingan antara kongsi-kongsi
dagang ini menyebabkan ketidakteraturan dalam perdagangan dan harga rempah-
rempah yang sangat fluktuatif. Hal ini tidak hanya merugikan pedagang, tetapi
juga menurunkan daya tawar Belanda di pasar internasional, terutama dalam
menghadapi dominasi Portugis dan Spanyol yang sudah lebih dulu menguasai
jalur perdagangan rempah.
Sebagai contoh, dalam kondisi persaingan yang tidak terorganisir, banyak
kongsi dagang Belanda yang terlibat dalam perang harga atau bahkan bertindak
agresif satu sama lain. Mereka sering memaksa harga rempah-rempah jatuh agar
bisa bersaing, yang pada gilirannya membuat seluruh industri rempah-rempah di
Asia menjadi tidak menguntungkan. Ketidakteraturan ini menyebabkan kerugian
finansial besar, dan perdagangan Belanda dengan Asia menjadi tidak efektif. VOC
dibentuk dengan tujuan untuk mengatur harga dan memastikan adanya kontrol
penuh atas jalur distribusi rempah-rempah, sehingga stabilitas harga dapat
tercapai.
6
VOC juga berusaha menyusun strategi perdagangan yang lebih terencana
dan terkoordinasi. Dalam hal ini, VOC tidak hanya berfokus pada aspek finansial,
tetapi juga pada manajemen sumber daya manusia dan logistik untuk
memaksimalkan keuntungan. Dengan satu entitas yang terorganisir, VOC dapat
menentukan jadwal pelayaran yang efisien, memilih pelabuhan yang strategis, dan
menyusun rencana ekspedisi dagang yang tepat. Hal ini tentu sangat berbeda
dibandingkan dengan sistem sebelumnya yang tidak terintegrasi, di mana setiap
kongsi dagang beroperasi secara terpisah tanpa koordinasi satu sama lain.
Selain itu, dengan adanya VOC, Belanda berhasil mengonsolidasikan
kekuatannya dan memperoleh kontrol atas monopoli perdagangan rempah-rempah
di Asia. VOC dapat menetapkan harga yang menguntungkan bagi mereka,
mengurangi risiko ketidakstabilan harga, dan memastikan pasokan yang tetap
untuk pasar Eropa. Dengan demikian, VOC tidak hanya mengakhiri persaingan
internal, tetapi juga menegaskan dominasinya dalam perdagangan global rempah-
rempah, memperkuat posisi Belanda di pasar internasional dan memberikan
keuntungan besar bagi negara tersebut.
Kesuksesan VOC dalam mengatasi persaingan antar pedagang Belanda kecil
ini membuka jalan bagi pengembangan kekuatan Belanda di Asia. Dengan VOC
sebagai entitas yang kuat dan terkoordinasi, Belanda berhasil bersaing dengan
Portugis, Spanyol, dan negara-negara lainnya di pasar rempah-rempah. Selain itu,
VOC juga menjadi motor penggerak ekspansi kolonial Belanda di Asia,
memberikan Belanda keuntungan ekonomi yang besar, sekaligus mengatur
struktur perdagangan global yang menguntungkan mereka.
3.2 Kompetisi Dengan Pedagang Eropa Lainnya
VOC didirikan sebagai alat strategis untuk memperkuat posisi ekonomi
nasional Belanda dan menanggapi persaingan ketat yang dihadapi Belanda dengan
negara-negara besar seperti Portugis, Spanyol, dan Inggris. Pada masa itu,
dominasi Portugis dan Spanyol atas jalur perdagangan rempah-rempah di Asia
sangat kuat. Kedua negara ini sudah lama menjalin hubungan dagang dengan
kerajaan-kerajaan di Asia, serta menguasai beberapa pos perdagangan utama
seperti di Malaka, Goa, dan Manila. Oleh karena itu, Belanda membutuhkan
7
sebuah entitas yang tidak hanya memiliki kekuatan dagang yang besar, tetapi juga
kekuatan militer dan politik untuk menandingi pengaruh kedua negara tersebut.
VOC, dengan struktur yang terorganisir dan wewenang yang luas, memberikan
Belanda kemampuan untuk bertindak dengan lebih efektif dan terkoordinasi di
pasar global.
Tujuan utama VOC adalah menguasai jalur perdagangan rempah-rempah di
Asia, yang pada saat itu menjadi komoditas paling bernilai di Eropa. Rempah-
rempah seperti pala, cengkih, dan lada sangat penting dalam perekonomian Eropa,
karena selain digunakan sebagai bahan pangan, rempah-rempah juga digunakan
untuk pengawetan makanan dan obat-obatan. Dengan memiliki kontrol atas
sumber rempah-rempah ini, VOC dapat mengatur distribusi barang dan
memonopoli perdagangan rempah-rempah, yang memberikan keuntungan
ekonomi yang sangat besar bagi Belanda. Dalam hal ini, VOC tidak hanya
bersaing dengan Portugis dan Spanyol dalam perdagangan, tetapi juga menantang
posisi Inggris, yang mulai bersaing di pasar rempah-rempah pada awal abad ke-
17.
Dengan VOC, pemerintah Belanda berharap dapat memperluas jaringan
perdagangan internasional yang lebih luas dan terorganisir. VOC tidak hanya
menguasai pasar Asia Tenggara, tetapi juga membangun jaringan yang
menghubungkan antara Asia, Eropa, dan wilayah-wilayah lain di dunia. Sistem
ekspedisi yang terencana dengan baik memungkinkan VOC untuk
mendistribusikan rempah-rempah dan komoditas lainnya dengan lebih efisien dan
dengan kontrol yang lebih ketat. Dengan demikian, VOC berfungsi sebagai alat
yang menghubungkan perdagangan global, menjadikan Belanda sebagai pusat
perdagangan internasional dan memperbesar pengaruhnya di pasar dunia.
Salah satu pencapaian terbesar VOC adalah kemampuan untuk menguasai
lebih banyak jalur perdagangan di Asia, terutama setelah kemenangan-
kemenangan yang diraih dalam pertempuran melawan Portugis di Maluku dan
kawasan lainnya. Seiring dengan kontrol yang diperoleh atas berbagai pos
perdagangan dan wilayah penghasil rempah, VOC mulai mendirikan basis operasi
yang strategis seperti di Batavia (Jakarta), yang menjadi pusat administrasi dan
8
perdagangan VOC di Asia. Dari sini, VOC mengatur distribusi rempah-rempah
dan komoditas lainnya ke Eropa dan wilayah lainnya, menjadikan Belanda
sebagai kekuatan utama dalam perdagangan Asia-Eropa.
Selain itu, VOC juga memberikan manfaat besar dalam hal ekspor
komoditas lainnya, tidak hanya terbatas pada rempah-rempah. VOC
mengembangkan perdagangan berbagai produk lain seperti kopi, teh, dan gula,
yang semakin memperkuat posisi Belanda di pasar dunia. Dengan kontrol yang
luas terhadap perdagangan ini, Belanda dapat meningkatkan volume ekspor dan
mendapatkan sumber daya yang dibutuhkan untuk memperkuat ekonomi
domestik. Ekspansi ini tidak hanya membawa keuntungan finansial besar, tetapi
juga memperkuat posisi Belanda sebagai salah satu negara perdagangan utama
pada abad ke-17 dan 18.
Dengan VOC, Belanda tidak hanya menguasai perdagangan rempah-
rempah, tetapi juga merintis era kapitalisme global. VOC adalah salah satu
perusahaan pertama yang mengeluarkan saham dan menjualnya kepada publik. Ini
merupakan langkah penting dalam pengembangan ekonomi kapitalis yang lebih
modern, di mana modal yang lebih besar bisa dihimpun untuk memperluas operasi
perdagangan internasional. Selain itu, dengan VOC yang beroperasi di banyak
wilayah di Asia, Belanda dapat mengakses pasar yang lebih luas dan lebih
terdiversifikasi, memastikan posisi negara tersebut tetap unggul dalam persaingan
perdagangan global.
3.3 Monopoli rempah-rempah Asia
Dengan berdirinya VOC, Belanda berhasil menyatukan kekuatan dagangnya
yang sebelumnya tercerai-berai, sehingga mampu mengonsolidasikan kekuasaan
ekonomi dan militernya di kawasan Asia, khususnya dalam perdagangan rempah-
rempah. Melalui hak monopoli yang dimilikinya, VOC dapat menetapkan harga
rempah secara sepihak dan mengatur kuota perdagangan untuk memaksimalkan
keuntungan. Penguasaan ini membuat VOC mampu mengurangi fluktuasi harga
yang sebelumnya terjadi akibat persaingan tidak sehat antar pedagang, serta
memastikan pasokan tetap untuk pasar Eropa yang permintaannya tinggi.
9
Lebih dari sekadar perusahaan dagang, VOC menjelma menjadi instrumen
kekuasaan negara Belanda di luar negeri. Dominasi VOC dalam perdagangan
global rempah-rempah memperkuat posisi ekonomi Belanda di panggung
internasional dan menjadikannya kekuatan maritim serta dagang utama di Eropa
abad ke-17. Keberhasilan ini memberikan kontribusi besar bagi perekonomian
Belanda dan menjadikan VOC sebagai pionir perusahaan multinasional modern
yang memiliki peran besar dalam membentuk sistem perdagangan dunia.
3.4 Penguasaan Kerajaan Di Indonesia
Tujuan utama VOC menguasai kerajaan-kerajaan di Indonesia adalah untuk
memperkuat monopoli perdagangan, terutama dalam hal komoditas yang sangat
bernilai seperti rempah-rempah. VOC menyadari bahwa selama kekuasaan atas
sumber rempah-rempah masih berada di tangan raja-raja lokal, maka kendali
sepenuhnya atas perdagangan tidak akan bisa diraih. Oleh karena itu, VOC secara
sistematis berusaha menguasai, mengendalikan, atau memengaruhi kerajaan-
kerajaan di Nusantara agar bisa menetapkan kebijakan perdagangan yang sesuai
dengan kepentingan mereka, bahkan jika itu berarti menggunakan cara-cara
kekerasan, tipu muslihat, atau politik adu domba (devide et impera).
Selain untuk kepentingan dagang, VOC juga ingin menjaga stabilitas politik
dan keamanan jalur perdagangan mereka. Kerajaan-kerajaan lokal yang kuat
sering kali menolak monopoli VOC atau bersekutu dengan saingan dagang seperti
Portugis atau Inggris. Maka dari itu, VOC merasa perlu melemahkan kekuasaan
kerajaan lokal melalui perjanjian yang menguntungkan mereka, intervensi militer,
atau bahkan mendirikan pemerintahan sendiri seperti yang mereka lakukan di
Batavia. Dengan menguasai atau menjadikan kerajaan-kerajaan sebagai bawahan,
VOC bisa lebih mudah mengatur produksi, distribusi, dan ekspor komoditas tanpa
ancaman gangguan dari penguasa lokal. Dominasi ini memungkinkan VOC
mengontrol hampir seluruh aspek ekonomi dan politik di kawasan perdagangan
mereka.
3.5 Memperkuat posisi Belanda dalam Masyarakat internasional
10
VOC atau memainkan peran penting dalam memperkuat posisi Belanda
dalam masyarakat internasional pada abad ke-17. Dengan hak istimewa yang
diberikan oleh pemerintah Belanda, seperti hak monopoli perdagangan di Asia,
hak membangun benteng, membuat perjanjian, dan bahkan berperang, VOC
bertindak layaknya negara dalam negara. Hal ini memungkinkan Belanda untuk
memperluas pengaruhnya di kawasan Asia, terutama di wilayah Nusantara, serta
menguasai jalur-jalur perdagangan rempah-rempah yang sangat bernilai tinggi di
pasar Eropa. Keberhasilan VOC dalam menguasai perdagangan ini menjadikan
Belanda sebagai kekuatan ekonomi utama di Eropa.
Selain kekuatan ekonomi, keberadaan VOC juga memberikan pengaruh
politik dan diplomatik yang besar bagi Belanda dalam kancah internasional. VOC
membuka hubungan dagang dan diplomatik dengan berbagai kerajaan di Asia,
seperti Jepang, Tiongkok, dan kerajaan-kerajaan di Nusantara, sehingga
memperluas jejaring internasional Belanda. Melalui VOC, Belanda tidak hanya
menjadi pesaing kuat bangsa-bangsa Eropa lainnya seperti Inggris, Spanyol, dan
Portugis dalam perebutan kekayaan Asia, tetapi juga memperkuat legitimasi dan
reputasinya sebagai kekuatan kolonial global. Dengan demikian, VOC berperan
besar dalam menjadikan Belanda sebagai negara dengan pengaruh yang signifikan
dalam masyarakat internasional pada masa itu.
3.6 Mendukung Anggaran Negara Belanda
VOC memiliki peran penting dalam mendukung anggaran negara Belanda,
terutama pada masa keemasannya di abad ke-17. Sebagai perusahaan dagang yang
memiliki hak monopoli perdagangan di Asia, VOC menghasilkan keuntungan
besar dari aktivitas perdagangannya, terutama dalam komoditas berharga seperti
rempah-rempah, sutra, teh, dan porselen. Keuntungan tersebut sebagian besar
disetorkan ke kas negara dalam bentuk pajak, dividen, dan kontribusi langsung,
sehingga menjadi salah satu sumber pendapatan utama bagi pemerintah Belanda.
Hal ini sangat membantu stabilitas ekonomi negara dan mendukung pembiayaan
kebijakan dalam dan luar negeri, termasuk pembiayaan perang atau ekspansi
wilayah.
11
Selain itu, karena VOC memiliki status sebagai perusahaan semi-negara,
pemerintah Belanda tidak perlu membiayai langsung ekspedisi dagang dan operasi
militer di wilayah kolonial, yang justru ditanggung oleh VOC sendiri. Dengan
kata lain, VOC menjadi alat negara untuk memperluas kekuasaan dan keuntungan
tanpa membebani anggaran negara secara langsung. Bahkan, keberhasilan VOC
dalam mencetak keuntungan besar selama bertahun-tahun membuat Belanda
mampu bersaing sebagai kekuatan ekonomi dan maritim di Eropa, menjadikan
kontribusi VOC terhadap anggaran negara sebagai salah satu faktor penting dalam
kejayaan Belanda pada masa itu.
3.7 Menempati Lokasi Strategis di Indonesia
VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) memiliki peran penting dalam
mendukung anggaran negara Belanda, terutama pada masa keemasannya di abad
ke-17. Sebagai perusahaan dagang yang memiliki hak monopoli perdagangan di
Asia, VOC menghasilkan keuntungan besar dari aktivitas perdagangannya,
terutama dalam komoditas berharga seperti rempah-rempah, sutra, teh, dan
porselen. Keuntungan tersebut sebagian besar disetorkan ke kas negara dalam
bentuk pajak, dividen, dan kontribusi langsung, sehingga menjadi salah satu
sumber pendapatan utama bagi pemerintah Belanda. Hal ini sangat membantu
stabilitas ekonomi negara dan mendukung pembiayaan kebijakan dalam dan luar
negeri, termasuk pembiayaan perang atau ekspansi wilayah.
Selain itu, karena VOC memiliki status sebagai perusahaan semi-negara,
pemerintah Belanda tidak perlu membiayai langsung ekspedisi dagang dan operasi
militer di wilayah kolonial, yang justru ditanggung oleh VOC sendiri. Dengan
kata lain, VOC menjadi alat negara untuk memperluas kekuasaan dan keuntungan
tanpa membebani anggaran negara secara langsung. Bahkan, keberhasilan VOC
dalam mencetak keuntungan besar selama bertahun-tahun membuat Belanda
mampu bersaing sebagai kekuatan ekonomi dan maritim di Eropa, menjadikan
kontribusi VOC terhadap anggaran negara sebagai salah satu faktor penting dalam
kejayaan Belanda pada masa itu.
12
3.8 Mengontrol Lembaga Pemerintah Kerajaan di Indonesia
Tujuan VOC untuk mengontrol lembaga pemerintah kerajaan di Indonesia
berkaitan erat dengan keinginan Belanda untuk menguasai sumber daya dan
memperkuat dominasi politik di wilayah Nusantara. Dengan memperoleh hak
istimewa dari pemerintah Belanda, VOC tidak hanya bertindak sebagai badan
dagang, tetapi juga memiliki kekuasaan administratif dan militer. Salah satu
strategi VOC adalah menjalin perjanjian dengan kerajaan-kerajaan lokal, lalu
secara perlahan mencampuri urusan dalam negeri kerajaan tersebut. Melalui
perjanjian yang sering kali bersifat berat sebelah, VOC dapat memengaruhi
pengambilan keputusan, menunjuk pejabat yang pro-Belanda, dan bahkan
mengendalikan sistem pajak serta tata pemerintahan lokal.
Selain itu, VOC juga menggunakan strategi adu domba (politik devide et
impera) antar kerajaan atau bangsawan lokal untuk memperlemah kekuatan
mereka. Ketika kekuatan kerajaan melemah akibat konflik internal atau tekanan
ekonomi, VOC dengan mudah masuk dan mengambil alih peran penting dalam
pemerintahan. Dalam banyak kasus, raja-raja tetap berkuasa secara simbolis,
tetapi kekuasaan sejatinya berada di tangan VOC. Dengan cara ini, VOC berhasil
mengontrol lembaga-lembaga pemerintahan lokal tanpa harus menaklukkannya
secara langsung, yang pada akhirnya mempermudah pelaksanaan monopoli
dagang dan penguasaan wilayah strategis di Indonesia.
4. Hak dan Wewenang VOC
VOC memiliki berbagai hak istimewa dari pemerintah Belanda untuk
mendukung ekspansi dan dominasi perdagangan di Asia. Salah satu hak utama
VOC adalah monopoli perdagangan di wilayah Hindia Timur, termasuk
Nusantara. Dengan hak ini, VOC menjadi satu-satunya entitas yang boleh
mengatur, membeli, dan menjual rempah-rempah serta komoditas lain dari Asia
ke Eropa. VOC memiliki wewenang penuh untuk menentukan harga, kuota, dan
jalur distribusi, yang secara langsung menghilangkan persaingan dan
meningkatkan keuntungan mereka.
Selain monopoli dagang, VOC juga diberi hak untuk membangun benteng
dan mengatur keamanan di wilayah operasionalnya. Mereka dapat mendirikan
13
instalasi militer, menjaga jalur perdagangan, serta melindungi aset dari ancaman
luar seperti bajak laut atau kekuatan Eropa lain. Bahkan, VOC berhak
menggunakan kekuatan militer dan menyatakan perang terhadap pihak yang
dianggap mengganggu kepentingannya. VOC memiliki armada kapal perang
sendiri, yang digunakan untuk mengamankan perdagangan maupun merebut
wilayah baru.
Dalam aspek pemerintahan, VOC memiliki hak administratif seperti
mengangkat dan memecat pejabat di daerah kekuasaannya. Pejabat ini bekerja
atas nama VOC dan menjalankan kebijakan perusahaan, termasuk pengumpulan
pajak dan pelaksanaan hukum. VOC juga diberi kewenangan untuk membuat
perjanjian dengan kerajaan-kerajaan lokal, baik dalam bentuk aliansi dagang
maupun politik. Dalam banyak kasus, perjanjian ini dilakukan di bawah tekanan
kekuatan militer, yang membuat VOC secara de facto menguasai sistem
pemerintahan lokal.
VOC juga memiliki hak ekonomi dan fiskal yang luas, termasuk mencetak
mata uang sendiri dan mengatur sistem perpajakan. Uang yang dicetak digunakan
untuk transaksi di wilayah jajahan dan memperkuat kontrol ekonomi VOC.
Sistem pajak dan bea masuk yang diberlakukan pun menjadi sumber pendapatan
tambahan yang mendukung operasional VOC sekaligus memperkuat
kekuasaannya di wilayah Asia. Dengan sistem ini, VOC dapat mengatur arus
barang dan keuangan secara menyeluruh di daerah kekuasaannya.
Terakhir, VOC memiliki hak untuk menyusun kebijakan perdagangan dan
ekonomi secara bebas. Mereka mengendalikan produksi, pengelolaan sumber
daya alam seperti rempah-rempah dan hasil bumi lainnya, serta menentukan arah
perekonomian lokal sesuai kepentingan perusahaan. VOC juga menjalankan
sistem peradilan sendiri untuk menyelesaikan sengketa hukum, yang umumnya
lebih menguntungkan pihak perusahaan. Dengan berbagai hak dan wewenang ini,
VOC tidak hanya berperan sebagai perusahaan dagang, tetapi juga sebagai entitas
politik dan administratif yang menjalankan kekuasaan layaknya sebuah negara di
wilayah koloninya.
5. Pengaruh Kebijakan VOC terhadap Indonesia
14
Kebijakan VOC memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat
Indonesia, terutama dalam bidang ekonomi. VOC menerapkan sistem monopoli
perdagangan, yang hanya memungkinkan rakyat Indonesia menjual komoditas
tertentu, seperti rempah-rempah, kepada VOC dengan harga yang ditentukan
sepihak. Hal ini mengurangi kebebasan petani dan pedagang lokal dalam berbisnis
dan menyebabkan kerugian besar. Selain itu, VOC juga menerapkan kebijakan
ekstirpasi, yang menghancurkan tanaman rempah-rempah untuk membatasi
produksi dan mempertahankan harga tinggi di pasar Eropa, yang membuat petani
kehilangan mata pencaharian.
Dari segi politik, VOC turut campur tangan dalam urusan kerajaan-kerajaan
lokal dengan menggunakan strategi politik adu domba untuk melemahkan dan
menguasai kerajaan-kerajaan tersebut. Banyak kerajaan yang kehilangan
kedaulatan dan menjadi boneka VOC. VOC juga mengatur pemerintahan dengan
mengangkat pejabat-pejabat yang bekerja demi kepentingan perusahaan, bukan
rakyat, yang membentuk cikal bakal struktur pemerintahan kolonial Belanda di
Indonesia.
Kebijakan VOC juga menciptakan kesenjangan sosial yang besar antara
orang Eropa dan penduduk lokal. Rakyat pribumi diperlakukan sebagai tenaga
kerja murah, sementara hanya elit pribumi yang bekerja sama dengan VOC yang
mendapatkan keuntungan. Dalam bidang pendidikan, VOC tidak mengembangkan
sistem pendidikan untuk rakyat Indonesia, sehingga tingkat pendidikan sangat
rendah dan perkembangan budaya lokal terhambat. VOC juga menggunakan
kekuatan militer untuk menekan perlawanan dari rakyat, seperti dalam Perang
Makassar dan Banten, untuk mempertahankan kekuasaannya.
Secara keseluruhan, kebijakan VOC memberikan dampak jangka panjang
yang merugikan rakyat Indonesia, meskipun ada beberapa dampak positif seperti
awal terbentuknya struktur administrasi modern. Kehadiran VOC menandai awal
dari masa penjajahan yang berlangsung lebih dari 300 tahun di Indonesia, yang
merusak kedaulatan dan tatanan sosial-budaya lokal. Kebijakan VOC
memperparah penderitaan rakyat dan mengubah wajah Indonesia menjadi bagian
dari kekuasaan kolonial Belanda.
15
BAB 3
Kesimpulan
VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) adalah perusahaan dagang
Belanda yang didirikan pada tahun 1602 dengan tujuan menguasai perdagangan
rempah-rempah di Asia, khususnya di wilayah Hindia Timur, termasuk Nusantara.
Pembentukannya merupakan langkah strategis untuk menghindari persaingan
antarpedagang Belanda dan memperkuat posisi Belanda dalam dunia perdagangan
internasional. VOC tidak hanya bergerak dalam bidang perdagangan, tetapi juga
diberi hak istimewa oleh pemerintah Belanda, seperti mencetak uang, membuat
perjanjian, bahkan menyatakan perang.
Di Indonesia, VOC menjadikan Batavia sebagai pusat kekuasaannya dan
memperluas wilayah pengaruhnya melalui diplomasi, perjanjian paksa, dan
kekuatan militer. Mereka kerap memecah belah kerajaan-kerajaan lokal dengan
politik adu domba agar mudah dikuasai. Selain itu, VOC memonopoli
perdagangan rempah-rempah dan memberlakukan sistem tanam paksa serta
kebijakan ekstirpasi yang merugikan rakyat. Rakyat dipaksa menjual hasil
panennya dengan harga rendah, sementara perdagangan bebas dilarang.
Kehadiran VOC sangat membebani rakyat Indonesia. Selain menurunkan
kesejahteraan ekonomi, VOC juga menciptakan ketimpangan sosial antara pejabat
Belanda dan masyarakat lokal. Perlawanan rakyat seperti di Maluku dan Makassar
menjadi bukti penolakan terhadap penindasan yang dilakukan VOC. Namun,
karena kekuatan militernya, VOC berhasil mempertahankan dominasinya selama
lebih dari satu abad di Nusantara.
Setelah mengalami kerugian besar akibat korupsi dan konflik internal, VOC
akhirnya dibubarkan pada tahun 1799. Seluruh wilayah dan asetnya kemudian
diambil alih oleh pemerintah Belanda, menandai awal penjajahan langsung oleh
negara kolonial. VOC menjadi simbol awal kolonialisme Eropa di Indonesia dan
meninggalkan dampak panjang dalam sejarah bangsa, terutama dalam hal
eksploitasi sumber daya dan penderitaan rakyat.
16
DAFTAR PUSTAKA
Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern 1200–2008.
Sartono Kartodirdjo. Pengantar Sejarah Indonesia Baru.
Slamet Muljana. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-
Negara Islam di Nusantara.
Nugroho Notosusanto. Sejarah Nasional Indonesia.