0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
165 tayangan12 halaman

Makalah Balaghoh

Makalah ini membahas tentang 'Al-Muhsinat Ma’nawiah', yang merupakan cabang dari ilmu balaghoh yang fokus pada keindahan makna dalam bahasa Arab. Terdapat lima jenis utama dalam Muhsinat Ma'nawiah yaitu Tauriyah, Thibaq, Istikhdam, Istirdad, dan Iftinan, yang masing-masing memiliki karakteristik dan contoh dalam teks-teks Arab. Tujuan penulisan ini adalah untuk memberikan pemahaman mendalam tentang konsep dan keindahan bahasa Arab melalui pendekatan maknawi.

Diunggah oleh

Fasly Faqot
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
165 tayangan12 halaman

Makalah Balaghoh

Makalah ini membahas tentang 'Al-Muhsinat Ma’nawiah', yang merupakan cabang dari ilmu balaghoh yang fokus pada keindahan makna dalam bahasa Arab. Terdapat lima jenis utama dalam Muhsinat Ma'nawiah yaitu Tauriyah, Thibaq, Istikhdam, Istirdad, dan Iftinan, yang masing-masing memiliki karakteristik dan contoh dalam teks-teks Arab. Tujuan penulisan ini adalah untuk memberikan pemahaman mendalam tentang konsep dan keindahan bahasa Arab melalui pendekatan maknawi.

Diunggah oleh

Fasly Faqot
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

“Al- Muhsinat Ma’nawiah” (tauriah, attibaq, istikhdam,istidrad, dan

iftitan)
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah balaghoh

Dosen pengampu: Dr. Muhammad Miftahul Huda M.Pd.I

Oleh :

Mahfud Rofi’i (233101020002)

M. Fadil Usmani (232101020064)

Hilmy Muhammad Fikri (232101020062)

PRODI PENDIDIKAN BAHASA ARAB


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ
JEMBER MEI 2025

i
KATA PENGANTAR .................................................................. iii

BAB I ............................................................................................. 1

A. Latar Belakang .................................................................... 1

B. Rumus Masalah ................................................................... 2

C. Tujuan................................................................................... 2

BAB II............................................................................................ 3

A. Definisi “Al-Muhsinta Ma’nawiah. ...................................... 3

B. Pembagian Muhassinat Ma’nawiah ...................................... 3

BAB III .......................................................................................... 7

A. Kesimpulan ........................................................................... 7

B. Saran ...................................................................................... 8

DAFTAR PUSTAKA ................................................................... 9

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya,
penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Al- Muhsinat Ma’nawiah”
(tauriah, attibaq, istikhdam,istidrad, dan iftitan)
tepat pada waktunya. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas [sebutkan tujuan
penulisan, misalnya: mata kuliah, penelitian, atau kompetisi akademik] sekaligus
menambah wawasan pembaca mengenai topik yang dibahas.

Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini tidak terlepas dari dukungan
berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. H. Hepni, S.Ag., M.M., CPEM. yang telah memberikan bimbingan dan
masukan.

2. Rekan-rekan kelompok diskusi yang turut berkontribusi dalam pertukaran ide.

3. Berbagai literatur, jurnal, dan sumber referensi yang menjadi landasan teoritis makalah
ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik
dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan di masa mendatang.
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan menambah khazanah
keilmuan terkait [sebutkan topik secara umum].

Jember , 16-05-2025

Penulis

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kajian ilmu badi’ dalam ilmu balaghoh merupakan salah satu cabang yang menarik
untuk dipelajari. Ilmu badi’ membahas tentang keindahan dalam bahasa, baik dari segi
lafal maupun makna. Ilmu badi’ adalah ilmu yang mempelajari tentang cara memperindah
atau memperbagus kata dan makna sehingga ungkapan yang dihasilkan mengandung
makna yang mendalam. lmu badi’ termasuk salah satu bagian ilmu balaghoh. Ilmu badi’
adalah ilmu untuk mengetahui keindahan-keindahan kalam arab yang ditinjau dari segi
lafad atau ma’na. Salah satu kajian ilmu badi’ adalah jinas yang memfokuskan terhadap
keindahan lafadz sastra.1

Ilmu Badi' merupakan salah satu cabang penting dalam Ilm al-Balaghah (retorika
Arab) yang mempelajari keindahan gaya bahasa, baik dari segi lafzi (kebahasaan)
maupun ma'nawi (maknawi). Jika Muhsinat Lafziyah berkaitan dengan keindahan
struktur kata dan bunyi, maka Muhsinat Ma'nawiyah fokus pada keindahan makna,
logika, dan pendalaman pesan. Keduanya saling melengkapi dalam menciptakan kesan
estetis dan persuasif dalam sastra Arab, terutama dalam Al-Qur'an, Hadis, dan syair-syair
klasik.

Keindahan maknawi dalam Muhsinat Ma'nawiyah tidak hanya memperkaya nilai


sastra, tetapi juga memperkuat daya pengaruh bahasa melalui pendekatan psikologis,
logika, dan kontekstual. Misalnya, ketika Al-Qur'an menggunakan Tibaq (kontras makna)
dalam firman-Nya:

ُ ‫اختِ ََل‬ ِ ِ
" ‫َّها ِر‬
َ ‫ف اللَّْي ِل َوالن‬ ُ ‫" َوُه َو الَّذي ُُْييِي َوُُي‬
ْ ُ‫يت َولَه‬

1
Febria Arifina and others, ‘Analisis Ayat – Ayat Ambiguity Dalam Kajian Al – Isrsyad Dan At - Tauriyah’,
2025.

1
"Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur)
pergantian malam dan siang." (QS. Al-Mu’minun: 80)

Makalah ini akan membahas: Definisi Muhsinat Ma'nawiyah Beberapa Pembagian


jenis-jenis Muhsinat Ma'nawiyah (tauriah, attibaq, istikhdam,istidrad, dan fititan) beserta
contoh dari Al-Qur'an, Hadis, dan sastra Arab.

Penulisan ini bertujuan untuk: Memberikan pemahaman mendalam tentang konsep


Muhsinat Ma'nawiyah. Menunjukkan keindahan bahasa Arab melalui pendekatan
maknawi. Memudahkan pelajar sastra dan balaghah dalam menganalisis teks-teks Arab
klasik dan modern.

B. Rumus Masalah
1. Apa itu “Al-Muhsinta Ma’nawiah”?
2. Apa itu pembagian “Al-Muhsinta Ma’nawiah”?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu “Al-Muhsinta Ma’nawiah”.
2. Untuk mengetahui pembagian “Al-Muhsinta Ma’nawiah”.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi “Al-Muhsinta Ma’nawiah.


Muhassinat ma’nawiah yaitu keindahan-keindahan makna,dengan kata lain seperti
yang dijelaskan dalam kitab Ilmu Balaghoh dijelaskan bahwa ‫ محسّنات المعنوية‬yaitu cara
memperindah kalam yang menitikberatkan padamemperindah makna.
Dalam pemabagian pembahasannya, ‫ محسّنات المعنوية‬dibagi pada beberapa
pokokbahasan, bahasan tersebut yaitu :Pembagian
Dalam pembahasannya, Muhassinta Ma’nawiah diabagi pada beberapa pokok bahasan ,
Menurut KH. Wahab Muhsin Muhassinat Al-Ma'nawiyah adalah : Tauriyah,At-
Tibaq,Istirdad,iftinan,istidrad.2

B. Pembagian Muhassinat Ma’nawiah

1. Tauriya
Secara leksikal Tauriyah yaitu bermakana tertutup atau tersembunyi. Sedangkan secara
terminolgis tauriyah yaitu :

.‫ظاهٌر غَ ْْيُ ُمَر ٍاد َوبَعي ٌد َخ ِف ٌّي ُه َو ال ُْمَر ُاد‬


ِ ‫ قَريب‬،‫ان‬
ٌ
ِ ‫أَ ْن ي ْذ ُكر الْمتَ َكلِم لَ ْفظاً م ْف ًردا لَه معنَ ي‬
َ َْ ُ ُ ُ ٌ َ َ

.
Seseorang yang berbicara menyebutkan lafazh yang tunggal, yang mempunyai dua
macam arti. Yang pertama arti yang dekat dan jelas, tetapi tidak dimaksudkan, dan yang
lain makna yang jauh dan samar, tetapi yang dimaksudkan dengan ada tanda-tanda,
namun orang yang berbicara tadi menutupinya dengan makna yang dekat. Dengan
demikian pendengar menjadi salah sangka sejak semulanya bahwa makna yang dekat
itulah yang dikehendaki, padahal tidak.

Pengertian tauriyah berdasarkan pengertian diataas yaitu penyebutan suatu kata yang

2
K.H A. Wahab Muhsin, Drs T. Fuad Wahab, Pokok-Pokok Ilmu Balaghah (Bandung, Angkasa, 1982) hal.
147

3
bersifat polisemi, yaitu jenis kata yang mempunyai makna kembar. Makna pertama
adalah makna yang dekat dan jelas, namun makna itu tidak dimaksudkan, sedangkan
makna kedua adalah makna yang jauh dan samar, namun makna itulah yang
dimaksudkan.

Contoh:

ِ
َ ‫َوُه َو الَّذ ْي يَتَ َوفَّى ُك ْم ِِبلَّْي ِل َويَ ْعلَ ُم َما َجَر ْحتُ ْم ِِبلن‬

‫َّهار‬

2. Thibaq yaitu :

‫َّي ِء َو ِض ِدهِ ِِف الْ َك ََل َم‬


ْ ‫ْي الش‬
َ َْ‫اْلَ ْم ُع ب‬
ْ ‫اق ُه َو‬ ِ
ُ َ‫الطب‬

Thibaq adalah berkumpulnya suatu perkara dengan lawannya dalam suatu kalimat.

Contoh:

4
‫ود‬
ٌ ُ‫َوََْت َسبُ ُه ْم أَيْ َقاظًا َوُه ْم ُرق‬

3. Istikhdam . Yaitu :

‫ذكر اللفظ مبعىن وإعادة ضمْي أو اسم إشارة مبعىن آخر‬

Menyebutkan suatu lafazh yang mempunyai makna dua, sedangkan yang dikehendaki
adalah salah satunya. Setelah itu diulangi oleh kata ganti dhamir yang kembali
kepadanya atau denagn isim isyaroh dengan makna yang lain, atau diulangi dengan
dua isim dhamir, sedangkan yang dikehendaki oleh dhamir yang kedua bukan yang
dikehendaki oleh dhamir yang pertama.

Contoh :

3
(QS. Al-Ana’am; 60)
4
(QS. al-Kahfi: 18)

4
‫ِ‬
‫فَ َم ْن َش ِه َد مْن ُك ْم الش ْ‬
‫‪5‬‬
‫ص ْمهُ‬
‫َّهَر فَ ْليَ ُ‬

‫‪4. Istirdad yaitu :‬‬

‫االستطراد هو أن خيرج املتكلم من الغرض الذي هو فيه إىل غرض اخر ملناسبة بينهما مث يرجع فينتقل ا اىل‬

‫إمتام الكَلم األول‬

‫‪Istirdad adalah ketika seorang pembicara keluar dari topik utama yang sedang‬‬
‫‪dibahas menuju topik lain karena adanya keterkaitan di antara keduanya,‬‬
‫‪kemudian kembali lagi untuk melanjutkan pembicaraan pertama.‬‬
‫‪Contoh :‬‬
‫ِ‬
‫يدنس من اللؤم ِع ُ‬
‫رضهُ‬ ‫إذا املرءُ مل ْ‬
‫مجيل‬ ‫ُّ ٍ ِ‬
‫فكل رداء يرتديه ُ‬
‫صغارا‬
‫يوم كنا ً‬
‫ألذكر َ‬
‫وإين ُ‬
‫ِ‬
‫النخيل‬ ‫َتت ِ‬
‫ظَلل‬ ‫الغنم َ‬
‫نرعى َ‬
‫حكيم‪ ،‬فقال‪:‬‬
‫شيخ ٌ‬‫مر بنا ٌ‬
‫وقد َّ‬

‫القوم ِ‬
‫القليل"‬ ‫"من صا َن وقته‪ ،‬ساد ِف ِ‬
‫َُ َ‬
‫ِ‬
‫كالسيف إن مل‬ ‫كت َّ‬
‫أن الزما َن‬ ‫فأدر ُ‬
‫جليل‬ ‫جاءك ٍ‬
‫خبطب ِ‬ ‫تقطعهُ‪َ ،‬‬

‫‪5‬‬
‫(البقرة ‪)185 :‬‬

‫‪5‬‬
5. Iftitan yaitu:

Iftinân, yaitu mengumpulkan dua hal yang saling berlawanan, seperti lipuran dan
ucapan selamat dalam perkataan „Abd Allah bin Hamman al–saluli pada yazid bin
Mu‟awiyyah ketika ayahnya wafat dan kemudian ia menggantikannya sebagai
khalifah.

‫ فاشكر هللا على‬،‫جسيما‬


ً ‫ وأعطيت‬،‫عظيما‬
ً ‫ فلقد رزئت‬،‫ وأعانك على الرعية‬،‫ وِبرك لك ِف العطية‬،‫آجرك هللا على الرزية‬
‫ فقد فقدت اخلليفة وأعطيت اخلَلفة ففارقت خليَل ووهبت جليَل‬،‫ واصرب له على ما رزيت‬،‫ما أعطيت‬

6
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Al-Muhassinat al-Ma’nawiyyah adalah bagian dari ilmu balaghah yang berfokus pada
keindahan maknadalam suatu kalimat atau ucapan, bukan hanya keindahan bunyi atau
bentuk. Tujuannya adalah untuk memperkuat pesan, menambah daya tarik, serta
memperindah ungkapan secara maknawi.

Menurut KH. Wahab Muhsin, Muhassinat al-Ma’nawiyyah terdiri dari beberapa jenis,
di antaranya:

1. Tauriyah Penggunaan kata yang memiliki dua makna, di mana makna yang dekat
dan jelas bukanlah yang dimaksud, melainkan makna yang jauh dan tersembunyi yang
sebenarnya diinginkan.

2. Thibaq Menggabungkan dua hal yang bertentangan (antonim) dalam satu kalimat
untuk memperkuat makna.

3. Istikhdam Menyebutkan satu kata yang memiliki dua makna, lalu mengacu pada
dua makna tersebut menggunakan dhamir atau isim isyarah yang berbeda.

4. Istirdad Menyisipkan kalimat atau topik lain yang memiliki hubungan makna
dengan topik utama, lalu kembali lagi ke pokok pembahasan semula.

5. Iftinan Menggabungkan dua perasaan atau kondisi yang berlawanan dalam satu
ungkapan, seperti ungkapan duka dan ucapan selamat secara bersamaan.

Kelima bentuk ini digunakan untuk memperindah isi ucapan atau tulisan secara
makna dan memberikan efek emosional serta daya tarik retoris yang lebih dalam bagi
pendengar atau pembaca.

7
B. Saran
Kami sebagai penulis, menyadari bahwa makalah ini banyak sekali kesalahan dan
sangat jauh dari kesempurnaan. Tentunya, penulis akan terus memperbaiki makalah
dengan mengacu pada sumber yang dapat dipertanggung jawabkan nantinya. Oleh karena
itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran tentang pembahasan makalah diatas.

8
DAFTAR PUSTAKA
Arifina, Febria, Mutia Zahara, Harun Alrasyid, Universitas Islam, and Negeri Sumatera,
‘Analisis Ayat – Ayat Ambiguity Dalam Kajian Al – Isrsyad Dan At - Tauriyah’,
2025

K.H A. Wahab Muhsin, Drs T. Fuad Wahab, Pokok-Pokok Ilmu Balaghah (Bandung,
Angkasa, 1982) hal. 147

Anda mungkin juga menyukai