0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
277 tayangan2 halaman

Legenda Kesongo

Oro-oro Kesongo, terletak di Desa Gabusan, Blora, adalah lahan konservasi yang menyimpan potensi flora dan fauna serta memiliki mitos mengenai Raja Aji Saka dan siluman ular Jaka Linglung. Dalam legenda, Jaka Linglung dihukum untuk bertapa dan menelan sembilan anak gembala, yang menyebabkan letupan lumpur di lokasi tersebut. Saat ini, masyarakat melakukan ritual di Oro-oro Kesongo untuk memohon kesuksesan kepada Jaka Linglung.

Diunggah oleh

33. Siti Kasiyani
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
277 tayangan2 halaman

Legenda Kesongo

Oro-oro Kesongo, terletak di Desa Gabusan, Blora, adalah lahan konservasi yang menyimpan potensi flora dan fauna serta memiliki mitos mengenai Raja Aji Saka dan siluman ular Jaka Linglung. Dalam legenda, Jaka Linglung dihukum untuk bertapa dan menelan sembilan anak gembala, yang menyebabkan letupan lumpur di lokasi tersebut. Saat ini, masyarakat melakukan ritual di Oro-oro Kesongo untuk memohon kesuksesan kepada Jaka Linglung.

Diunggah oleh

33. Siti Kasiyani
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : Siti Kasiyani

Kelas : 1A

Prodi : Tadris Bahasa Indonesia

NIM : 226151014

Tugas Menyimak Karya Sastra

Metode Menyimak Eksploratif

Legenda Kesongo

Orang-orang sekitar menyebutnya dengan Oro-oro Kesongo, terletak di Desa


Gabusan, Kec. Jati, Kab. Blora, Jawa Tengah. Sebuah lahan tanah kosong yang terdapat
kawah dimana bisa mengeluarkan lumpur dan gas yang konon katanya beracun itu berjarak
sekitar 80 km dari pusat kota Blora. Luasnya kurang lebih 119 hektare, 5 hektare di ataranya
merupakan kawa lumpur. Meski demikian, ternyata Oro-oro Kesongo menyimpan banyak
potensi karena menjadi endemik sejumlah burung yang dilindungi serta tanaman jamur trik.
Saat ini Perum Perhutani bersama Tropical Trust (TFT) menetapkan lokasi ini sebagai
kawasan konservasi.

Selain menyimpan banyak potensi, Oro-oro Kesongo ini juga memiliki mitos yang
sangat kental. Berkisah tentang seorang Raja Medhangkamulan yang bernama Aji Saka dan
siluman ular yang bernama Jaka Linglung. Saya memulainya dari kisah Jaka Linglung yang
mengaku dirinya adalah anak dari sang Raja Aji Saka. Karena wujudnya yang tidak wajar,
Aji Saka enggan mengakui bahwa Jaka Linglung adalah anaknya lantas mengajukan sebuah
syarat kepadanya sebagai bentuk penolakan secara halus.

Adapun syarat yang diajukan Aji Saka adalah menumpas Bajul Putih jelmaan Dewata
Cengkar. Peperangan tak terelakan terjadi dan Jaka Linglung yang menjadi pemenangnya.
Pada akhirnya mau tidak mau Aji Saka harus mengakui Jaka Linglung sebagai anaknya dan
mengizinkannya untuk tinggal di kerajaan. Tak sampai disitu, timbul masalah baru saat
banyak rakyat mengadu kepada Aji Saka bahwa ternaknya habis dimakan oleh Jaka
Linglung. Karena dirinya adalah seorang Raja dan seyogyanya mengayomi rakyat, ia
memutuskan untuk menghukum Jaka Linglung.

Hukuman yang diberikan pada Jaka Linglung adalah bertapa di hutan tanpa memakan
suatu apapun kecuali makanan itu sendiri yang menghampirinya. Jaka Linglung patuh, ia
bertapa di hutan dengan membuka mulutnya. Waktu terus berjalan, ia tetap setia bertapa
hingga tubuhnya menyerupai goa. Sampai pada suatu ketika terdapat 10 anak gembala yang
mencari tempat berteduh karena hujan turun mengguyur. Mendapati sebuah goa, kesepuluh
anak tersebut masuk tanpa rasa curiga sedikit pun.

Satu di antara 10 anak tersebut menderita penyakit kulit sehingga berbau anyir saat
terkena air hujan. Kesembilan anak gambala itu mengusir satu temannya tersebut hingga
keluar goa. Tak lama setelah anak itu keluar, goa yang merupakan mulut Jaka Linglung itu
menutup, menelan kesembilan anak tersebut. Si anak yang selamat kemudian bergegas
melarikan diri dan mengabarkan pada penduduk sekitar. Joko Lingling yang kekenyangan
setela menelan kesembilan anak gembala itu akirnya mengeluarkan air liur yang jatuh
menyerap ke perut bumi kemudian keluar kembali berupa letupan-letupan lumpur.
Setelahnya, Jaka Linglung kembali bertapa dengan masuk ke perut bumi. Untuk mengingat
peristiwa tersebut, tempat hilangnya kesembilan anak gembala itu diberi nama pesongo atau
kesongo yang berasal dari kata songo dalam Bahasa Jawa berarti sembilan.

Dikarenakan cerita kesaktian Jaka Linglung itu berkembang luas di masyarakat, saat
ini Oro-oro Kesongo dijadikan tempat permohonan berka pada Jaka Linglung agar diberi
kesuksesan dunia. Setiap kali melakukan ritual, masyarakat membawa susu putih yang konon
katanya minuman kesukaan Jaka Linglung dengan harapan hajatnya segera terkabul.

Sumber:

potretblora.com (https://www.potretblora.com/2021/08/asal-usul-dan-legenda-kesongo.html)

https://youtu.be/rbSUZwnao-4

Anda mungkin juga menyukai