SISTEM KOMUNIKASI SELULER
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sistem Komunikasi Seluler
pada semester Genap 2024/2025
PEMBIMBING:
Prof. Dr. M. Junus, S.T., M.T.
Oleh :
Ferdilan Ramadhani
06/2331130063
Teknik Telekomunikasi – 2C
PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
MALANG
2025
DAFTAR ISI
Pengenalan Dasar Seluler .......................................................................................................... 4
Perbedaan Generasi Jaringan (1G, 2G, 3G) dan Teknologi Akses (TDMA, CDMA) .......... 7
Konsep Dasar Sistem Seluler ................................................................................................. 9
Konsep Cell dalam Jaringan Seluler ........................................................................................ 13
Frequency Reuse dalam Jaringan Seluler ............................................................................ 16
Cell Splitting dalam Jaringan Seluler .................................................................................. 19
Pengertian Handover dalam Jaringan Seluler ...................................................................... 21
Interferensi dalam Sistem Seluler ........................................................................................ 23
Arsitektur Dasar Sistem Cellular ............................................................................................. 25
Alur Autentikasi dan Enkripsi dalam GSM ......................................................................... 29
Analisis Komparatif HLR vs VLR dan BTS vs BSC dalam Jaringan GSM ....................... 32
Teknik Multiple Access pada Sistem Cellular ......................................................................... 35
Definisi Multiple Access dan Implementasinya dalam Jaringan 4G dan 5G ...................... 40
Jenis Jenis Multiple Access ................................................................................................. 43
Teknik Duplexing ................................................................................................................ 48
Perbandingan FDMA, TDMA, dan CDMA ........................................................................ 51
Masalah dan Solusi dalam CDMA ...................................................................................... 54
Propagasi Gelombang Radio pada Sistem Cellular ................................................................. 56
Antena pada Sistem Seluler ..................................................................................................... 60
Parameter Cell Site Design ...................................................................................................... 63
Konsep Kanal Fisik dan Logik pada GSM .............................................................................. 66
Proses Pembangunan Panggilan pada GSM ............................................................................ 69
Kapasitas dan Pengertian Trafik pada Jaringan Seluler ........................................................... 73
SISTEM KOMUNIKASI SELULER
Pengenalan Dasar Seluler
1. Klasifikasi Sistem Komunikasi Nirkabel (Wireless)
• Definisi: Sistem komunikasi dengan minimal satu terminal bergerak.
• Karakteristik Awal:
o Daya pancar tinggi dan antena tinggi untuk cakupan luas.
o Tidak ada konsep handoff (perpindahan antar sel otomatis).
o Kapasitas rendah dan efisiensi spektrum terbatas.
2. Generasi Awal Sistem Komunikasi Bergerak
• Kelemahan:
o Biaya infrastruktur mahal (antena tinggi, penguat daya).
o Kenyamanan pengguna terganggu saat berpindah cangkupan.
o Layanan terbatas: hanya suara analog (1G) tanpa enkripsi.
• Contoh Teknologi 1G:
o AMPS (AS), NMT 450 (Eropa), TACS (Inggris).
3. Perkembangan Sistem Komunikasi Bergerak
• Klasifikasi Berdasarkan Jangkauan:
1. Large Zone (Single Cell): Radius ~20 mil (contoh: STKB – Inti).
2. Multi Zone (Cellular): Sistem seluler seperti GSM, CDMA.
3. Global System: Satelit (Iridium, Globalstar, GMPCS).
• Klasifikasi Berdasarkan Transmisi:
o Terestrial: Radio VHF/UHF untuk sel tunggal atau multi-sel.
o Satelit: Komunikasi global via satelit (contoh: GMPCS).
4. Standar Sistem Seluler
• Generasi 1 (Analog):
o AMPS, NMT, TACS.
o Kelemahan: Tidak aman (sinyal mudah disadap), kapasitas rendah.
• Generasi 2 (Digital):
o GSM (TDMA-based): Enkripsi data, kapasitas 8× AMPS.
o CDMA/IS-95: Kapasitas 18× AMPS, lebih aman.
• Generasi 3 (IMT-2000):
o Layanan broadband (hingga 2 Mbps), multimedia, dan always-on data.
o Contoh: W-CDMA, CDMA2000.
5. Teknologi dan Evolusi Sistem Seluler
• Perbandingan Generasi:
o 1G: Suara analog, tanpa data.
o 2G: Suara digital, SMS, data 9.6–14.4 kbps.
o 3G: Video call, data hingga 2 Mbps, layanan multimedia.
• Evolusi di Eropa:
o GSM → GPRS (2.5G) → EDGE → UMTS (3G).
• Evolusi di Amerika:
o CDMAOne → CDMA2000 → EV-DO/EV-DV.
6. Arsitektur Sistem Seluler
• Komponen Utama:
o Mobile Station (MS): Perangkat pengguna (ponsel).
o Base Transceiver Station (BTS): Menghubungkan MS ke jaringan.
o Mobile Switching Center (MSC): Mengelola panggilan dan data.
o HLR/VLR: Database pelanggan dan lokasi.
7. Data Rate dan Mobilitas
• Hubungan Kecepatan Data vs Mobilitas:
o Kecepatan Tinggi (e.g., 4G/5G): Cocok untuk pengguna stasioner (Wi-Fi
802.11a/g).
o Mobilitas Tinggi (e.g., 3G): Mendukung pengguna bergerak (kendaraan)
dengan kecepatan 384 kbps–2 Mbps.
8. GMPCS (Global Mobile Personal Communication System)
• Definisi: Sistem satelit non-geostasioner (Big Leo) untuk komunikasi global.
• Fitur:
o Frekuensi >1 GHz.
o Layanan suara dan data narrowband.
o Komponen IMT-2000 untuk infrastruktur terpadu.
o Tujuan: Komunikasi anywhere, anytime.
9. Tren Teknologi Menuju 3G
• Tuntutan Pengguna:
o Layanan multimedia (video, streaming).
o Koneksi data cepat (broadband).
o Integrasi dengan Internet Protocol (IP).
• Teknologi Pendukung:
o W-CDMA: Akses lebar pita untuk kapasitas tinggi.
o HSDPA/HSUPA: Peningkatan kecepatan downlink/uplink.
Kesimpulan
Materi ini memberikan dasar pemahaman tentang evolusi sistem komunikasi seluler dari 1G
hingga 3G, termasuk klasifikasi, arsitektur, dan tantangan teknis. Perkembangan teknologi
seperti GSM, CDMA, dan W-CDMA menunjukkan peningkatan kapasitas, keamanan, dan
layanan data. Pemahaman ini menjadi fondasi untuk mempelajari teknologi modern seperti
4G/5G dan optimasi jaringan seluler.
Perbedaan Generasi Jaringan (1G, 2G, 3G) dan Teknologi Akses (TDMA, CDMA)
1. Generasi Jaringan Seluler
Jaringan seluler telah mengalami perkembangan dari generasi pertama (1G) hingga teknologi
terbaru saat ini. Berikut adalah perbedaan utama antara 1G, 2G, dan 3G:
1G (First Generation) - Era Analog
• Tahun: 1980-an
• Teknologi utama: Analog
• Kecepatan Data: Hanya untuk suara (tidak ada data digital)
• Modulasi: Frekuensi Radio (RF) Analog
• Keamanan: Rentan terhadap penyadapan karena tidak ada enkripsi
• Contoh teknologi: AMPS (Advanced Mobile Phone System)
2G (Second Generation) - Digitalisasi Komunikasi
• Tahun: 1990-an
• Teknologi utama: Digital
• Kecepatan Data: Hingga 64 Kbps
• Fitur Baru: SMS, MMS, layanan data dasar
• Keamanan: Menggunakan enkripsi untuk keamanan komunikasi
• Contoh teknologi: GSM (Global System for Mobile Communications), CDMAOne
3G (Third Generation) - Internet & Data Lebih Cepat
• Tahun: 2000-an
• Teknologi utama: Digital dengan peningkatan kecepatan data
• Kecepatan Data: Hingga 2 Mbps
• Fitur Baru: Internet seluler, panggilan video, streaming, dan aplikasi berbasis data
• Keamanan: Enkripsi lebih kuat dibandingkan 2G
• Contoh teknologi: UMTS (Universal Mobile Telecommunications System),
CDMA2000
2. Teknologi Akses dalam Jaringan Seluler
Teknologi akses adalah metode yang digunakan oleh jaringan seluler untuk mengatur dan
mengalokasikan frekuensi bagi pengguna. Dua teknologi akses utama adalah TDMA dan
CDMA.
1. TDMA (Time Division Multiple Access)
• Cara Kerja: Membagi saluran frekuensi menjadi beberapa slot waktu sehingga beberapa
pengguna dapat berbagi kanal yang sama dalam waktu berbeda.
• Efisiensi Spektrum: Cukup efisien tetapi memiliki keterbatasan jumlah pengguna
dalam satu kanal.
• Kelebihan:
o Mudah diterapkan
o Cocok untuk komunikasi suara
• Kekurangan:
o Tidak fleksibel untuk peningkatan kapasitas jaringan
o Tidak optimal untuk layanan data berkecepatan tinggi
• Digunakan dalam: Teknologi GSM (2G)
2. CDMA (Code Division Multiple Access)
• Cara Kerja: Semua pengguna berbagi spektrum frekuensi yang sama tetapi dibedakan
dengan kode unik untuk menghindari interferensi.
• Efisiensi Spektrum: Lebih tinggi dibandingkan TDMA karena memungkinkan lebih
banyak pengguna dalam satu kanal.
• Kelebihan:
o Kapasitas pengguna lebih besar
o Sinyal lebih kuat dan tahan interferensi
o Mendukung transmisi data yang lebih cepat
• Kekurangan:
o Implementasi lebih kompleks
o Memerlukan manajemen daya yang lebih baik
• Digunakan dalam: CDMA2000 (3G), WCDMA (UMTS)
Kesimpulan
• 1G menggunakan komunikasi analog, sedangkan 2G dan 3G sudah berbasis digital.
• 2G memperkenalkan komunikasi berbasis TDMA dan CDMA, sementara 3G
menggunakan CDMA yang lebih canggih untuk efisiensi data yang lebih tinggi.
• TDMA cocok untuk suara dan layanan dasar, sedangkan CDMA lebih unggul dalam
kapasitas pengguna dan transmisi data yang lebih cepat.
Konsep Dasar Sistem Seluler
1. Definisi Sistem Seluler
• Tujuan: Menyediakan layanan telekomunikasi untuk pengguna bergerak.
• Konsep Seluler:
o Daerah layanan dibagi menjadi sel (cell) kecil untuk memaksimalkan
penggunaan frekuensi dan mengurangi interferensi.
o Pengguna dapat bergerak bebas tanpa putus koneksi (mobility).
2. Konsep Sel (Cell)
• Definisi: Area cakupan sinyal dari BTS (Base Transceiver Station).
• Jenis Sel:
o Omni Cell: Cakupan 360° menggunakan antena omnidirectional.
o Sectored Cell: Cakupan dibagi menjadi sektor (misal: 3 sektor @ 120°).
• Ukuran Sel:
o Makrocell: Radius >5 km (area luas, pedesaan).
o Microcell: Radius 3–5 km (perkotaan).
o Picocell: Radius <1 km (area indoor seperti mall atau bandara).
• Bentuk Sel: Heksagonal (untuk memudahkan perencanaan jaringan).
3. Frequency Reuse
• Definisi: Penggunaan ulang frekuensi di sel yang berbeda di luar jangkauan
interferensi.
• Tujuan: Meningkatkan efisiensi spektrum frekuensi.
• Parameter Utama:
o C/I (Carrier-to-Interference Ratio):
▪ AMPS (FDMA): C/I > 18 dB.
▪ GSM (TDMA): C/I > 12 dB.
▪ CDMA: Menggunakan Eb/Io (Energy per Bit to Interference Density).
o Ukuran Kluster (K):
▪ Kelompok sel dengan frekuensi unik (misal: K=3 atau K=7).
▪ Rumus C/I:
DD: Jarak antar sel pengganggu, RR: Radius sel, NN: Jumlah sel interferensi.
4. Cell Splitting
• Definisi: Membagi sel besar menjadi sel kecil untuk meningkatkan kapasitas.
• Tujuan: Mengatasi kepadatan trafik dan keterbatasan kanal.
• Contoh:
o Makrocell → Microcell → Picocell.
• Dampak:
o Peningkatan kapasitas jaringan.
o Peningkatan biaya infrastruktur (lebih banyak BTS).
5. Handover (Handoff)
• Definisi: Proses perpindahan koneksi pengguna antar sel/BTS tanpa putus koneksi.
• Jenis Handover:
o Internal Handover (dikelola BSC):
▪ Intra-cell: Pindah kanal dalam satu BTS.
▪ Inter-cell: Pindah antar BTS dalam satu BSC.
o External Handover (dikelola MSC):
▪ Inter-BSC atau Inter-MSC.
• Parameter Penting:
o Margin (Δ): Selisih daya terima saat handover (Pr,HOPr,HO) dan daya
minimum (Pr,minPr,min).
o MAHO (Mobile Assisted Handover): MS membantu pengukuran sinyal untuk
keputusan handover (GSM).
• Handover pada CDMA:
o Soft Handover: MS terhubung ke beberapa BTS secara bersamaan
(menggunakan Rake Receiver).
o Softer Handover: Pindah antar sektor dalam satu sel.
o Hard Handover: Pindah antar frekuensi/operator (CDMA→Analog atau
CDMA→CDMA).
6. Interferensi dalam Sistem Seluler
• Jenis Interferensi:
1. Co-Channel: Frekuensi sama di sel berbeda.
2. Adjacent-Channel: Frekuensi berdekatan dalam sel yang sama.
3. Intersystem: Sistem lain menggunakan frekuensi sama.
• Cara Mengurangi Interferensi:
o Manajemen frekuensi yang baik.
o Desain antena (tilting, reduksi tinggi antena).
o Pemilihan lokasi BTS yang tepat.
7. Spesifikasi Teknologi
• GSM:
o TDMA-based, enkripsi data, kecepatan 9.6–14.4 kbps.
• AMPS:
o FDMA-based analog, rentan penyadapan, C/I > 18 dB.
• NMT:
o Sistem analog Eropa, frekuensi 450/900 MHz.
• CDMA:
o Spread spectrum, kapasitas tinggi, menggunakan Eb/Io.
8. Algoritma Handover pada CDMA
• Langkah Proses:
1. MS mengukur sinyal pilot (Ec/Io).
2. Jika sinyal pilot baru > T_ADD, pilot dimasukkan ke Candidate Set.
3. BTS mengalokasikan kanal trafik baru.
4. Pilot dipindahkan ke Active Set (soft handover aktif).
5. Jika sinyal pilot lama < T_DROP, timer diaktifkan.
6. Setelah timer selesai, handover selesai dan pilot lama dipindahkan
ke Neighbor Set.
9. Jawaban Tugas
1. Spesifikasi Teknologi:
o GSM: Digital, TDMA, enkripsi, kecepatan rendah.
o AMPS: Analog, FDMA, C/I > 18 dB.
o NMT: Analog, frekuensi 450 MHz.
o CDMA: Spread spectrum, kapasitas tinggi, soft handover.
2. Jumlah RFC:
o T-Sel, I-Sat, XL: Merujuk pada jumlah kanal frekuensi (RFC) yang
dialokasikan operator. Data spesifik perlu merujuk regulasi lokal (misal: di
Indonesia, 2x10 MHz untuk 4G).
3. Karakteristik Handover:
o Algoritma berbasis pengukuran Ec/Io dan manajemen set (Active, Candidate,
Neighbor).
Kesimpulan
Materi ini membahas konsep dasar sistem seluler, mulai dari definisi sel, frequency reuse,
hingga algoritma handover. Pemahaman tentang parameter seperti C/I, cluster size,
dan Ec/Io sangat penting untuk merancang jaringan seluler yang efisien. Implementasi CDMA
dengan soft handover dan manajemen interferensi menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas
layanan.
Konsep Cell dalam Jaringan Seluler
1. Pengertian Cell dalam Jaringan Seluler
Dalam jaringan seluler, Cell (Sel) adalah unit dasar dari sistem komunikasi nirkabel yang
mencakup area geografis tertentu dan dilayani oleh satu Base Transceiver Station (BTS) atau
Base Station (BS). Setiap sel memiliki frekuensi tertentu yang digunakan untuk berkomunikasi
dengan perangkat pengguna (User Equipment/UE) seperti ponsel atau modem.
Jaringan seluler dibangun dari kumpulan sel yang saling berdekatan, membentuk pola seperti
sarang lebah (hexagonal) untuk memberikan cakupan yang merata dan efisien.
2. Struktur dan Komponen Cell
a. Base Transceiver Station (BTS) atau Base Station (BS)
BTS adalah perangkat utama yang mengontrol komunikasi dalam sebuah sel, bertanggung
jawab untuk:
Menerima dan mengirim sinyal ke perangkat pengguna
Menghubungkan perangkat pengguna ke jaringan inti (core network)
Mengelola alokasi frekuensi dan daya sinyal dalam sel
b. Mobile Station (MS) atau User Equipment (UE)
Ini adalah perangkat pengguna seperti smartphone, tablet, atau modem yang terhubung ke
jaringan seluler melalui sinyal radio dari BTS.
c. Cell Site
Lokasi fisik tempat BTS dan antena dipasang untuk menyediakan cakupan jaringan dalam
suatu area.
3. Jenis-Jenis Cell dalam Jaringan Seluler
Berdasarkan ukuran dan cakupan, sel dalam jaringan seluler dibagi menjadi beberapa jenis:
a. Macro Cell
• Cakupan: Luas (beberapa kilometer)
• Daya pancar: Tinggi (10W - 50W)
• Lokasi: Area perkotaan dan pedesaan
• Fungsi: Memberikan cakupan luas dengan kapasitas pengguna yang besar
b. Micro Cell
• Cakupan: Menengah (beberapa ratus meter hingga 1 km)
• Daya pancar: Sedang (1W - 10W)
• Lokasi: Area perkotaan yang padat, jalan raya, dan pusat perbelanjaan
• Fungsi: Meningkatkan kapasitas dan kualitas sinyal di daerah yang ramai
c. Pico Cell
• Cakupan: Kecil (10 - 200 meter)
• Daya pancar: Rendah (100mW - 1W)
• Lokasi: Gedung perkantoran, mall, bandara
• Fungsi: Mengatasi sinyal lemah dalam ruangan dan meningkatkan kapasitas jaringan
lokal
d. Femto Cell
• Cakupan: Sangat kecil (beberapa meter hingga puluhan meter)
• Daya pancar: Sangat rendah (<100mW)
• Lokasi: Rumah, kantor kecil
• Fungsi: Memperbaiki cakupan jaringan dalam ruangan yang memiliki sinyal lemah
e. Umbrella Cell
• Cakupan: Luas dan menutupi beberapa micro cell atau pico cell
• Daya pancar: Tinggi
• Fungsi: Mengisi gap cakupan yang tidak terjangkau oleh sel kecil dan membantu
handover antar sel kecil
4. Konsep Cell dalam Manajemen Jaringan Seluler
a. Frequency Reuse (Penggunaan Ulang Frekuensi)
Untuk mengoptimalkan spektrum frekuensi yang terbatas, setiap sel menggunakan satu set
frekuensi tertentu dan dapat digunakan kembali pada sel lain yang cukup jauh untuk mencegah
interferensi.
Misalnya:
• Sel A menggunakan frekuensi f1
• Sel B (bersebelahan dengan A) menggunakan f2
• Sel C (bersebelahan dengan B) menggunakan f3
• Frekuensi f1 dapat digunakan kembali di sel yang lebih jauh dari A untuk efisiensi
spektrum.
b. Handover (Perpindahan Jaringan Antar Cell)
Ketika pengguna berpindah dari satu sel ke sel lainnya (misalnya saat bergerak dalam mobil),
sistem jaringan secara otomatis memindahkan koneksi dari satu BTS ke BTS lain tanpa
memutus komunikasi.
c. Cell Splitting (Pemisahan Sel)
Ketika suatu sel mengalami beban trafik yang tinggi, sel tersebut dapat dibagi menjadi
beberapa sel kecil untuk meningkatkan kapasitas dan mengurangi kemacetan jaringan.
d. Sectoring (Pembagian Sektor dalam Sel)
Sebuah sel dapat dibagi menjadi beberapa sektor (biasanya 3 atau 6 sektor) untuk mengurangi
interferensi dan meningkatkan kapasitas jaringan.
5. Peran Cell dalam Evolusi Jaringan Seluler
Teknologi
Generasi Karakteristik Cell
Utama
1G (Analog) Macro Cell, daya pancar tinggi, area AMPS, NMT,
cakupan luas TACS
2G (Digital) Macro & Micro Cell, frekuensi reuse lebih GSM,
baik CDMAOne
3G (Mobile Broadband) Micro & Pico Cell untuk kecepatan lebih UMTS,
tinggi CDMA2000
4G (LTE) Micro, Pico & Femto Cell untuk densitas LTE, LTE-
pengguna tinggi Advanced
5G (High-Speed & Low Semua jenis cell, lebih banyak penggunaan 5G NR,
Latency) Femto dan Pico Cell mmWave
6. Kesimpulan
Cell adalah unit dasar dalam jaringan seluler yang mencakup area tertentu dan dilayani oleh
BTS.
Berbagai jenis cell digunakan untuk menyesuaikan kebutuhan cakupan dan kapasitas jaringan.
Manajemen cell seperti frequency reuse, handover, cell splitting, dan sectoring digunakan
untuk meningkatkan efisiensi jaringan.
Dalam jaringan modern seperti 4G dan 5G, kombinasi berbagai cell dari Macro hingga Femto
digunakan untuk mengoptimalkan kecepatan dan cakupan.
Frequency Reuse dalam Jaringan Seluler
1. Pengertian Frequency Reuse
Frequency reuse (penggunaan ulang frekuensi) adalah teknik dalam perancangan jaringan
seluler yang memungkinkan penggunaan kembali spektrum frekuensi yang sama di beberapa
sel yang berjauhan untuk meningkatkan kapasitas jaringan tanpa menimbulkan interferensi
yang berlebihan.
Konsep ini sangat penting karena spektrum frekuensi yang tersedia terbatas, sementara jumlah
pengguna terus meningkat. Dengan menggunakan kembali frekuensi pada sel yang berbeda,
operator seluler dapat melayani lebih banyak pelanggan dalam area yang lebih luas tanpa harus
menambah frekuensi baru.
2. Prinsip Kerja Frequency Reuse
Jaringan seluler dibagi menjadi beberapa sel (cell) berbentuk heksagonal untuk mencakup
suatu wilayah tertentu. Setiap sel memiliki satu Base Transceiver Station (BTS) yang
beroperasi pada satu atau lebih frekuensi tertentu.
• Setiap sel diberikan set frekuensi unik agar tidak mengganggu sel tetangga
terdekatnya.
• Setelah sejumlah sel tertentu, frekuensi dapat digunakan kembali di sel lain yang
cukup jauh untuk menghindari interferensi.
• Pengelompokan ini membentuk pola yang disebut cluster.
3. Konsep Cluster dalam Frequency Reuse
Sel dalam jaringan seluler dikelompokkan ke dalam cluster, di mana setiap cluster memiliki
jumlah sel tertentu (N) sebelum frekuensi dapat digunakan kembali.
Faktor Reuse (N)
Faktor reuse (N) menunjukkan jumlah sel dalam satu cluster yang memiliki frekuensi unik
sebelum frekuensi dapat digunakan kembali.
Rumus dasar:
𝐷 = 𝑅 × √3𝑁
di mana:
• D = Jarak minimum antara dua sel dengan frekuensi yang sama (reuse distance)
• R = Jari-jari sel
• N = Jumlah sel dalam satu cluster
Semakin besar N, semakin rendah interferensi, tetapi semakin sedikit kapasitas spektrum
yang tersedia.
Contoh Cluster dengan Frequency Reuse
Jika suatu jaringan menggunakan N = 7, maka ada 7 sel dalam satu cluster, masing-masing
dengan frekuensi unik:
• Sel A → f1
• Sel B → f2
• Sel C → f3
• Sel D → f4
• Sel E → f5
• Sel F → f6
• Sel G → f7
Setelah itu, frekuensi f1 dapat digunakan kembali pada sel lain yang cukup jauh dari Sel A,
sehingga interferensi dapat diminimalkan.
4. Keuntungan Frequency Reuse
Meningkatkan kapasitas jaringan → Operator dapat melayani lebih banyak pengguna dengan
jumlah spektrum yang terbatas.
Mengoptimalkan spektrum frekuensi → Dengan penggunaan kembali frekuensi, spektrum
tidak terbuang sia-sia.
Mengurangi interferensi → Dengan jarak yang cukup antara sel yang menggunakan frekuensi
sama, gangguan sinyal dapat dikendalikan.
Meningkatkan efisiensi spektrum → Teknologi ini memungkinkan komunikasi seluler dalam
skala besar tanpa membutuhkan spektrum tambahan.
5. Tantangan dalam Frequency Reuse
Interferensi Co-Channel (CCI - Co-Channel Interference)
• Terjadi ketika dua sel dengan frekuensi yang sama terlalu dekat satu sama lain.
• Solusi: Memperbesar faktor reuse (N) atau menggunakan teknik sectoring.
Interferensi Adjacent-Channel (ACI - Adjacent-Channel Interference)
• Terjadi ketika frekuensi yang berdekatan mengalami gangguan akibat penyaringan
yang buruk.
• Solusi: Menggunakan filter frekuensi yang lebih baik dan perencanaan spektrum yang
optimal.
Efisiensi Spektrum vs Kapasitas
• Jika N terlalu besar, interferensi rendah tetapi kapasitas pengguna berkurang.
• Jika N terlalu kecil, kapasitas meningkat tetapi interferensi menjadi tinggi.
6. Teknologi yang Menggunakan Frequency Reuse
Generasi Jaringan Teknologi yang Pola Frequency Reuse
Digunakan
1G (Analog) AMPS, NMT Faktor reuse besar karena interferensi tinggi
2G (Digital) GSM, CDMAOne Frequency reuse dengan TDMA dan CDMA
untuk mengoptimalkan kapasitas
3G (Mobile UMTS, Menggunakan WCDMA yang lebih efisien
Broadband) CDMA2000 dalam penggunaan spektrum
4G (High-Speed LTE, LTE- Menggunakan OFDMA untuk mengelola
Data) Advanced spektrum dengan lebih baik
5G (Ultra-Fast & 5G NR (New Menggunakan teknologi beamforming dan
Low Latency) Radio) dynamic spectrum sharing
7. Kesimpulan
Frequency reuse memungkinkan penggunaan kembali frekuensi yang sama di berbagai sel
untuk meningkatkan kapasitas jaringan.
Setiap sel dalam jaringan memiliki frekuensi unik dalam satu cluster, dan frekuensi yang sama
digunakan kembali di sel lain yang cukup jauh.
Dengan teknik yang tepat seperti sectoring dan power control, interferensi dapat diminimalkan
untuk meningkatkan kualitas layanan seluler.
Cell Splitting dalam Jaringan Seluler
1. Pengertian Cell Splitting
Cell Splitting adalah teknik dalam jaringan seluler yang digunakan untuk meningkatkan
kapasitas jaringan dengan membagi satu sel besar menjadi beberapa sel kecil. Teknik ini
membantu mengatasi kepadatan lalu lintas yang tinggi di area tertentu dengan menambahkan
lebih banyak Base Transceiver Station (BTS) dan mengurangi daya pancar agar interferensi
tetap terkendali.
2. Mengapa Cell Splitting Diperlukan?
Cell Splitting diperlukan ketika jaringan mengalami peningkatan jumlah pengguna yang
menyebabkan:
Kemacetan jaringan → BTS yang ada tidak dapat menangani semua panggilan/data.
Penurunan kualitas layanan → Panggilan putus, kecepatan data menurun.
Banyaknya area dengan sinyal lemah → Sinyal sulit mencapai pengguna di wilayah yang
luas.
Solusi: Dengan membagi sel besar menjadi sel-sel kecil, kapasitas jaringan meningkat, dan
pengguna mendapatkan sinyal yang lebih baik.
3. Cara Kerja Cell Splitting
1. Sel besar (macro cell) dibagi menjadi beberapa sel kecil (micro/pico/femto cell).
2. BTS baru dipasang dalam sel kecil untuk melayani pengguna lebih dekat.
3. Daya pancar BTS diturunkan untuk mengurangi interferensi antar sel kecil.
4. Frekuensi dapat digunakan kembali lebih sering karena cakupan yang lebih kecil.
4. Jenis Cell Berdasarkan Ukuran setelah Splitting
Jenis Sel Jangkauan Cakupan Daya Pancar Lokasi Penggunaan
Macro Cell Beberapa kilometer 10W - 50W Pedesaan, area luas
Micro Cell 200m - 1 km 1W - 10W Perkotaan padat, jalan raya
Pico Cell 10m - 200m 100mW - 1W Pusat perbelanjaan, gedung kantor
Femto Cell <10m <100mW Rumah, perkantoran kecil
Semakin kecil sel, semakin tinggi kapasitas jaringan dan semakin baik kualitas sinyal bagi
pengguna.
5. Keuntungan Cell Splitting
Meningkatkan kapasitas jaringan → Lebih banyak pengguna bisa dilayani dalam area yang
sama.
Mengurangi beban BTS utama → BTS yang ada tidak lagi kelebihan kapasitas.
Meningkatkan kualitas layanan → Panggilan lebih stabil, data lebih cepat.
Menghemat daya perangkat pengguna → Sinyal lebih kuat, sehingga baterai ponsel lebih
awet.
6. Tantangan dalam Cell Splitting
Interferensi antar sel kecil → Harus dikontrol dengan power control dan frequency reuse.
Biaya tinggi → Membutuhkan banyak BTS tambahan.
Pengelolaan handover lebih kompleks → Perpindahan antar sel lebih sering terjadi.
7. Kesimpulan
Cell Splitting adalah teknik untuk meningkatkan kapasitas jaringan dengan membagi sel
besar menjadi sel-sel kecil.
Dengan cakupan lebih kecil dan daya pancar lebih rendah, sinyal menjadi lebih baik dan
kapasitas jaringan meningkat.
Teknik ini umum digunakan di perkotaan padat dan area dengan lalu lintas tinggi untuk
menghindari kemacetan jaringan.
Pengertian Handover dalam Jaringan Seluler
1. Pengertian Handover
Handover (handoff) adalah proses perpindahan koneksi pengguna dari satu Base Transceiver
Station (BTS) ke BTS lain tanpa memutuskan panggilan atau layanan data yang sedang
berlangsung.
Handover terjadi saat pengguna bergerak dari satu sel ke sel lainnya, misalnya:
Saat seseorang berbicara di ponsel sambil berkendara dari satu wilayah ke wilayah lain.
Saat perangkat berpindah dari jaringan 4G ke 5G atau WiFi.
Jika handover tidak dilakukan dengan baik, pengguna bisa mengalami putusnya panggilan
(drop call) atau gangguan dalam layanan data.
2. Jenis-Jenis Handover
A. Berdasarkan Jaringan yang Sama (Intra-System Handover)
Handover yang terjadi dalam sistem jaringan yang sama, seperti dari satu BTS ke BTS lain
dalam jaringan 4G LTE.
1. Hard Handover (Break-Before-Make)
o Koneksi dengan BTS lama diputus dulu, lalu perangkat tersambung ke BTS
baru.
o Digunakan dalam CDMA dan LTE untuk efisiensi spektrum.
o Risiko: Bisa terjadi jeda atau panggilan terputus jika sinyal lemah.
2. Soft Handover (Make-Before-Break)
o Perangkat terhubung ke BTS baru sebelum memutuskan koneksi dengan BTS
lama.
o Digunakan dalam 3G (UMTS, CDMA2000) untuk perpindahan yang lebih
mulus.
o Keuntungan: Mengurangi risiko panggilan terputus.
3. Softer Handover
o Variasi dari soft handover, tetapi terjadi dalam satu BTS yang memiliki
beberapa sektor.
o Digunakan dalam WCDMA dan 3G untuk meningkatkan kualitas sinyal.
B. Berdasarkan Perbedaan Jaringan (Inter-System Handover)
Handover yang terjadi antara jaringan berbeda atau teknologi berbeda.
1. Inter-Frequency Handover
o Perpindahan antar BTS yang bekerja di frekuensi berbeda dalam jaringan yang
sama.
o Contoh: Perpindahan dalam jaringan 4G LTE dari 1800 MHz ke 900 MHz
saat sinyal lemah.
2. Inter-RAT Handover (Radio Access Technology Handover)
o Perpindahan antara jaringan seluler dengan teknologi berbeda.
o Contoh: Dari 4G ke 3G, atau dari WiFi ke LTE.
3. Vertical Handover
o Perpindahan antara jaringan heterogen, misalnya dari WiFi ke 5G atau dari
LTE ke satelit.
3. Proses Handover dalam Jaringan Seluler
Handover dilakukan dalam beberapa langkah berikut:
1. Monitoring Sinyal
o Perangkat secara otomatis memantau kekuatan sinyal BTS yang sedang
digunakan dan BTS di sekitarnya.
2. Pengambilan Keputusan
o Jika sinyal BTS lama melemah dan BTS baru lebih kuat, maka handover
diputuskan oleh jaringan.
3. Eksekusi Handover
o Perangkat beralih ke BTS baru dan jaringan memastikan koneksi tetap stabil.
4. Tantangan dalam Handover
Interferensi sinyal → Terjadi saat dua BTS berada di frekuensi yang berdekatan.
Delay dalam perpindahan → Bisa menyebabkan suara putus atau data buffering.
Drop Call → Jika handover gagal, panggilan bisa terputus.
5. Kesimpulan
Handover adalah proses perpindahan koneksi dari satu BTS ke BTS lain tanpa memutus
layanan pengguna.
Terdapat berbagai jenis handover, termasuk hard, soft, inter-frequency, dan inter-system
handover.
Handover yang optimal memastikan pengalaman komunikasi yang lancar tanpa gangguan.
Interferensi dalam Sistem Seluler
1. Pengertian Interferensi
Interferensi dalam sistem seluler adalah gangguan yang terjadi ketika sinyal dari satu sumber
mengganggu sinyal komunikasi lainnya, menyebabkan penurunan kualitas layanan seperti
panggilan terputus, suara tidak jelas, dan lambatnya kecepatan data.
Interferensi dapat berasal dari sumber internal (seperti sel dalam jaringan yang sama) maupun
sumber eksternal (seperti perangkat elektronik lain atau sinyal dari operator berbeda).
2. Jenis-Jenis Interferensi dalam Jaringan Seluler
A. Interferensi Internal (Dari Jaringan Sendiri)
Interferensi yang disebabkan oleh penggunaan ulang frekuensi dalam jaringan yang sama.
1. Interferensi Co-Channel (CCI - Co-Channel Interference)
o Terjadi ketika dua sel yang menggunakan frekuensi yang sama terlalu
berdekatan.
o Penyebab: Frequency reuse yang tidak optimal.
o Dampak: Penurunan kualitas sinyal dan kapasitas jaringan.
o Solusi:
Meningkatkan faktor reuse (N) untuk memperbesar jarak antar sel yang
menggunakan frekuensi yang sama.
Menggunakan teknik sectoring untuk membagi sel menjadi sektor-sektor
kecil.
2. Interferensi Adjacent-Channel (ACI - Adjacent-Channel Interference)
o Terjadi ketika sinyal dari kanal yang berdekatan mempengaruhi sinyal utama.
o Penyebab:
▪ Spektrum yang terlalu padat.
▪ Filter frekuensi yang buruk di perangkat.
o Dampak: Distorsi sinyal dan peningkatan noise.
o Solusi:
Menggunakan filter frekuensi yang lebih baik.
Mengalokasikan spektrum dengan lebih optimal.
B. Interferensi Eksternal (Dari Sumber Luar Jaringan)
Interferensi yang berasal dari perangkat atau sistem lain di luar jaringan seluler.
1. Interferensi dari Jaringan Seluler Operator Lain
o Terjadi ketika dua operator menggunakan frekuensi yang berdekatan,
menyebabkan gangguan satu sama lain.
o Solusi:
Koordinasi spektrum antar operator.
2. Interferensi dari Perangkat Elektronik
o Peralatan seperti WiFi, microwave, atau radio komunikasi bisa menyebabkan
gangguan sinyal seluler.
o Solusi:
Menggunakan spektrum yang tidak tumpang tindih dengan perangkat lain.
3. Interferensi dari Penghalang Fisik
o Gedung tinggi, bukit, dan hutan dapat memantulkan atau menyerap sinyal
seluler, menyebabkan gangguan seperti multipath fading.
o Solusi:
Menggunakan teknik MIMO dan beamforming untuk memperbaiki sinyal.
3. Dampak Interferensi pada Jaringan Seluler
Panggilan putus-putus atau terputus → Akibat gangguan antar sinyal BTS.
Penurunan kecepatan data → Sinyal yang terganggu membuat transfer data tidak stabil.
Kesalahan dalam transmisi data → Terjadi jika sinyal mengalami distorsi atau noise
berlebihan.
4. Solusi untuk Mengurangi Interferensi
Masalah Solusi
Co-Channel Interference Meningkatkan faktor reuse, menggunakan teknik
(CCI) sectoring
Adjacent-Channel Menggunakan filter frekuensi, optimasi spektrum
Interference (ACI)
Interferensi antar operator Koordinasi alokasi spektrum
Interferensi dari perangkat Menghindari spektrum yang tumpang tindih dengan
lain WiFi/microwave
Interferensi akibat multipath Menggunakan teknologi MIMO dan equalizer sinyal
5. Kesimpulan
Interferensi dalam sistem seluler dapat berasal dari jaringan sendiri (internal) maupun dari
sumber eksternal.
Dampaknya meliputi penurunan kualitas panggilan, kecepatan data lambat, dan gangguan
sinyal.
Solusi seperti frequency reuse, sectoring, dan filtering frekuensi sangat penting untuk
mengurangi gangguan.
Arsitektur Dasar Sistem Cellular
1. Arsitektur Jaringan GSM
Jaringan GSM terdiri dari tiga subsistem utama:
1. Radio Subsystem (RSS)
o Base Station Subsystem (BSS):
▪ BTS (Base Transceiver Station): Menghubungkan perangkat seluler
(MS) ke jaringan melalui antarmuka radio (Um interface). Bertanggung
jawab untuk transmisi sinyal, definisi sel, dan pengelolaan sumber daya
radio.
▪ BSC (Base Station Controller): Mengelola beberapa BTS, mengatur
alokasi kanal, frequency hopping, dan handover internal. Terhubung ke
BTS melalui Abis interface.
o Mobile Station (MS):
▪ Mobile Equipment (ME): Perangkat fisik pengguna (ponsel) dengan
identifikasi IMEI (International Mobile Equipment Identity).
▪ SIM Card: Smart card yang menyimpan identitas dan data pengguna.
2. Switching Subsystem (SSS/NSS)
o MSC (Mobile Switching Center):
▪ Bertugas sebagai pusat switching untuk panggilan dan data.
▪ Menghubungkan BSC melalui A-interface dan jaringan eksternal
(PSTN, internet) melalui IWF (Internetworking Function).
o HLR (Home Location Register):
▪ Database utama yang menyimpan informasi permanen pelanggan
(nomor MSISDN, layanan aktif, lokasi terakhir).
o VLR (Visitor Location Register):
▪ Database sementara untuk pelanggan yang sedang roaming di area MSC
tertentu.
o AuC (Authentication Center):
▪ Menyimpan kunci autentikasi (Ki) dan algoritma enkripsi (A3, A8).
Menghasilkan parameter keamanan (SRES, RAND, Kc) untuk
verifikasi pengguna.
o EIR (Equipment Identity Register):
▪ Mendaftarkan status perangkat (IMEI) ke
dalam blacklist (diblokir), greylist (dicurigai),
atau whitelist (aman). Catatan: EIR belum diimplementasikan di
Indonesia.
3. Operation & Maintenance Subsystem (OMS)
o Bertugas untuk pemeliharaan jaringan, manajemen pelanggan, tagihan, dan
kontrol perangkat.
2. SIM Card dan RUIM
• SIM (Subscriber Identity Module):
o Fungsi Utama:
▪ Menyimpan IMSI (identitas pengguna internasional), Ki (kunci
autentikasi), dan algoritma keamanan (A3, A8, A5).
▪ Dilindungi oleh PIN/PUK untuk mencegah akses ilegal.
o Keunggulan:
▪ Memungkinkan roaming internasional dan portabilitas perangkat.
▪ Data pengguna tetap aman meskipun ganti perangkat.
• RUIM (Removable User Identity Module):
o Fungsi: Mirip SIM, tetapi digunakan untuk jaringan CDMA.
o Perbedaan dengan SIM:
▪ Standar ISO 7816 dengan format ID-1 atau plug-in.
▪ Di Indonesia, RUIM kurang populer karena dominasi GSM.
o Manfaat:
▪ Fleksibilitas pengguna untuk mengganti perangkat CDMA.
▪ Operator dapat menambah layanan berbasis aplikasi.
3. Proses Keamanan GSM
1. Autentikasi:
o AuC mengirim RAND (angka acak) ke MS.
o MS menghitung SRES menggunakan algoritma A3 dengan Ki dan
mengirimkannya kembali ke AuC.
o Jika SRES cocok, pengguna diizinkan mengakses jaringan.
2. Enkripsi:
o Algoritma A8 menghasilkan Kc (kunci sesi) dari RAND dan Ki.
o Algoritma A5 mengenkripsi komunikasi menggunakan Kc.
4. Komponen Pendukung Jaringan
• Coverage Sektor:
o BTS menggunakan antena sektoral (misal: 3 sektor @120°) untuk
meningkatkan kapasitas dan mengurangi interferensi.
• Interfaces Penting:
o Um Interface: Antara MS dan BTS.
o Abis Interface: Antara BTS dan BSC.
o A-Interface: Antara BSC dan MSC.
5. Operasi Jaringan
• Proses Panggilan:
1. MS terhubung ke BTS terdekat.
2. BSC mengalokasikan kanal dan mengelola handover.
3. MSC merutekan panggilan ke tujuan (jaringan GSM/PSTN).
4. HLR/VLR memverifikasi status dan lokasi pengguna.
• Roaming:
o Saat pengguna berpindah ke area MSC lain, VLR baru mengambil data dari
HLR asal.
6. Tantangan Implementasi di Indonesia
• EIR: Belum diimplementasikan, sehingga validasi IMEI tidak maksimal.
• Dominasi GSM: CDMA dengan RUIM kurang berkembang karena preferensi pasar
terhadap SIM GSM.
• Manajemen Interferensi: Perlu optimalisasi frequency reuse dan cell splitting di area
padat.
7. Diagram Arsitektur GSM
Kesimpulan
Arsitektur GSM dirancang untuk mendukung mobilitas pengguna dengan keamanan tinggi
melalui SIM, autentikasi, dan enkripsi. Komponen seperti BTS, BSC, MSC, HLR, dan VLR
bekerja bersama untuk memastikan konektivitas lancar. Implementasi RUIM pada CDMA
menawarkan fleksibilitas serupa, tetapi kurang populer di Indonesia. Pemahaman ini menjadi
dasar untuk mempelajari teknologi seluler modern seperti 4G/5G.
Alur Autentikasi dan Enkripsi dalam GSM
GSM menggunakan mekanisme autentikasi dan enkripsi untuk memastikan bahwa hanya
pengguna yang sah yang dapat mengakses jaringan dan untuk melindungi komunikasi dari
penyadapan. Proses ini melibatkan beberapa algoritma utama: A3 (autentikasi), A8 (pembuatan
kunci sesi), dan A5 (enkripsi data suara dan SMS).
1. Proses Autentikasi GSM (Menggunakan Algoritma A3)
Autentikasi bertujuan untuk memastikan bahwa pengguna yang mencoba mengakses jaringan
adalah pelanggan yang sah. Berikut adalah langkah-langkahnya:
1. Permintaan Autentikasi
o Saat ponsel (Mobile Station/MS) dinyalakan, ia mengirimkan International
Mobile Subscriber Identity (IMSI) ke jaringan melalui Base Transceiver Station
(BTS).
o IMSI ini dikirim ke Mobile Switching Center (MSC), yang kemudian
meneruskan ke Authentication Center (AuC).
2. Pembuatan Tantangan (Challenge)
o AuC mengambil kunci rahasia pelanggan (Ki) dari Home Location Register
(HLR) dan menghasilkan bilangan acak (RAND) sebagai tantangan autentikasi.
o RAND dikirim kembali ke ponsel pengguna melalui BTS.
3. Perhitungan SRES (Signed Response)
o Ponsel menerima RAND dan memprosesnya menggunakan algoritma A3 serta
kunci Ki yang tersimpan di SIM Card.
o Hasilnya adalah Signed Response (SRES), yang dikirim kembali ke jaringan.
4. Verifikasi
o AuC juga menghitung SRES menggunakan RAND dan Ki yang sama.
o Jika nilai SRES yang dihitung oleh ponsel cocok dengan yang dihitung oleh
AuC, autentikasi berhasil dan ponsel diizinkan mengakses jaringan.
Hasil: Jika autentikasi berhasil, jaringan melanjutkan ke proses enkripsi. Jika gagal, akses
ditolak.
2. Pembuatan Kunci Sesi (Menggunakan Algoritma A8)
Setelah autentikasi berhasil, jaringan melindungi komunikasi pengguna dengan mengenkripsi
data.
1. Pembuatan Kunci Enkripsi (Kc)
o Ponsel dan AuC menggunakan algoritma A8 untuk menghasilkan kunci sesi
(Kc) dari bilangan acak RAND dan kunci rahasia Ki.
o Kc ini digunakan untuk mengenkripsi komunikasi pengguna.
Hasil: Kc dikirim ke BTS dan digunakan dalam proses enkripsi selanjutnya.
3. Enkripsi Data (Menggunakan Algoritma A5)
Agar komunikasi aman dari penyadapan, GSM mengenkripsi data suara dan pesan dengan
algoritma A5.
1. Penggunaan Kunci Kc
o Ponsel dan BTS menggunakan Kc untuk mengenkripsi komunikasi data.
o Data suara atau SMS dienkripsi menggunakan algoritma A5 sebelum dikirim
melalui udara.
2. Transmisi Data Aman
o Data yang telah dienkripsi dikirim dari ponsel ke BTS dan sebaliknya.
o BTS dan MSC dapat mendekripsi data untuk memproses panggilan, tetapi
selama transmisi udara, data tetap aman.
Hasil: Komunikasi antara pengguna dan jaringan terenkripsi, sehingga mencegah penyadapan
oleh pihak yang tidak berwenang.
4. Kesimpulan
• Autentikasi GSM memastikan hanya pengguna yang sah yang bisa mengakses jaringan,
menggunakan algoritma A3 untuk memverifikasi pelanggan.
• Setelah autentikasi, algoritma A8 digunakan untuk menghasilkan kunci sesi (Kc) untuk
enkripsi komunikasi.
• Algoritma A5 mengenkripsi data suara dan SMS sebelum dikirim melalui jaringan,
menjaga privasi pengguna.
Diagram Alur Autentikasi dan Enkripsi Jaringan GSM
Analisis Komparatif HLR vs VLR dan BTS vs BSC dalam Jaringan GSM
1. Home Location Register (HLR) vs Visitor Location Register (VLR): Peran dan
Implikasi Operasional
HLR dan VLR merupakan dua elemen kritis dalam arsitektur jaringan GSM yang berfungsi
sebagai basis data untuk manajemen informasi pelanggan. Keduanya memiliki karakteristik
yang berbeda dalam hal cakupan, persistensi data, serta perannya dalam mendukung mobilitas
pengguna.
a. Home Location Register (HLR)
• Definisi: HLR adalah repositori pusat dalam core network GSM yang menyimpan
informasi pelanggan secara permanen.
• Fungsi:
o Mengelola International Mobile Subscriber Identity (IMSI) dan Mobile
Station ISDN (MSISDN).
o Melacak lokasi terakhir pelanggan dalam jaringan global untuk layanan
roaming.
o Menyimpan parameter layanan pelanggan, termasuk hak akses dan
autentikasi enkripsi.
o Berkoordinasi dengan Authentication Center (AuC) dalam validasi identitas
pelanggan.
• Keberadaan: Terintegrasi dalam core network, umumnya dalam infrastruktur Mobile
Switching Center (MSC).
• Peran Operasional: HLR berfungsi sebagai titik referensi utama untuk layanan
pelanggan yang berpindah antar wilayah MSC dan dalam skenario roaming
internasional.
b. Visitor Location Register (VLR)
• Definisi: VLR adalah basis data sementara yang menyimpan informasi pelanggan yang
sedang berada dalam cakupan MSC tertentu.
• Fungsi:
o Menyimpan informasi pelanggan sementara guna mempercepat autentikasi dan
penanganan panggilan.
o Mengambil data pelanggan dari HLR saat pelanggan berpindah ke area baru.
o Memproses permintaan panggilan dan layanan berbasis lokasi.
o Mengoptimalkan handover intra-MSC untuk memastikan koneksi yang
kontinu.
• Keberadaan: Berada dalam MSC dan bertindak sebagai buffer yang mengurangi
beban HLR dalam memproses data pelanggan yang aktif.
• Peran Operasional: VLR berperan dalam peningkatan efisiensi manajemen mobilitas
pelanggan dengan menyimpan informasi akses pelanggan secara lokal.
c. Tabel Perbandingan HLR vs VLR
Aspek HLR (Home Location Register) VLR (Visitor Location
Register)
Fungsi Utama Basis data utama pelanggan secara Basis data sementara pelanggan
permanen yang aktif
Lokasi Core network (HLR terpusat) Terintegrasi dalam MSC
Implementasi
Interaksi Berkomunikasi dengan AuC dan Berinteraksi dengan MSC dan
VLR HLR
Manajemen Mendukung roaming global dan Memfasilitasi layanan pelanggan
Mobilitas autentikasi lokal dan handover
Persistensi Data Data tetap ada meskipun Data dihapus setelah pelanggan
pelanggan berpindah jaringan keluar dari area MSC
2. Base Transceiver Station (BTS) vs Base Station Controller (BSC): Hierarki dan Fungsi
Jaringan Radio
BTS dan BSC adalah dua komponen fundamental dalam Base Station Subsystem (BSS) yang
bertanggung jawab atas manajemen akses radio dan optimalisasi penggunaan spektrum
frekuensi dalam jaringan GSM.
a. Base Transceiver Station (BTS)
• Definisi: BTS adalah entitas jaringan yang berfungsi sebagai titik akses komunikasi
radio antara perangkat pengguna (MS) dan jaringan GSM.
• Fungsi:
o Melakukan transmisi dan penerimaan sinyal radio dengan MS.
o Modulasi dan demodulasi sinyal suara serta data.
o Menangani alokasi kanal frekuensi dalam satu sel cakupan.
o Mengimplementasikan kontrol daya pancar untuk mengurangi interferensi.
• Keberadaan: Ditempatkan di setiap sel dalam jaringan GSM, mencakup area geografis
tertentu.
• Peran Operasional: BTS berfungsi sebagai jembatan antara perangkat pengguna dan
jaringan seluler, memfasilitasi komunikasi dengan efisiensi spektral yang optimal.
b. Base Station Controller (BSC)
• Definisi: BSC adalah entitas yang bertindak sebagai pengelola sekumpulan BTS dalam
satu area geografis tertentu.
• Fungsi:
o Mengontrol alokasi sumber daya radio dan pengelolaan kanal frekuensi.
o Mengatur handover antar BTS untuk memastikan transisi jaringan yang
seamless.
o Mengoptimalkan kapasitas jaringan dengan teknik power control dan
dynamic frequency allocation.
o Menghubungkan BTS dengan Mobile Switching Center (MSC) untuk layanan
switching jaringan inti.
• Keberadaan: Berada di antara BTS dan MSC, bertanggung jawab atas efisiensi operasi
jaringan radio.
• Peran Operasional: Sebagai pengelola BTS, BSC berfungsi dalam pengalokasian
sumber daya radio secara dinamis guna meningkatkan kualitas layanan jaringan seluler.
c. Tabel Perbandingan BTS vs BSC
Aspek BTS (Base Transceiver BSC (Base Station Controller)
Station)
Fungsi Utama Menyediakan akses radio untuk Mengontrol beberapa BTS dalam
perangkat pengguna satu area geografis
Lokasi Ditempatkan di setiap sel Berada di antara BTS dan MSC
Implementasi jaringan GSM
Interaksi Berkomunikasi langsung Mengelola komunikasi antar BTS
dengan MS dan BSC dan MSC
Manajemen Mengelola frekuensi dalam satu Mengoptimalkan alokasi frekuensi
Spektrum sel antar BTS
Kontrol Jaringan Tidak melakukan switching Bertanggung jawab atas switching
panggilan dan manajemen handover
3. Kesimpulan dan Implikasi dalam Desain Jaringan GSM
• HLR bertindak sebagai pusat informasi pelanggan dalam core network, sedangkan
VLR menyimpan informasi pelanggan sementara untuk meningkatkan efisiensi
autentikasi dalam area MSC.
• BTS menangani komunikasi langsung dengan perangkat pengguna melalui akses radio,
sedangkan BSC berfungsi sebagai entitas kontrol yang mengelola beberapa BTS untuk
memastikan optimalisasi sumber daya jaringan.
• Interaksi yang sinergis antara komponen-komponen ini memastikan keandalan,
efisiensi, dan kualitas layanan jaringan GSM dalam berbagai skenario operasional.
Teknik Multiple Access pada Sistem Cellular
1. Definisi Multiple Access
Multiple Access adalah teknik yang memungkinkan beberapa pengguna (mobile station)
mengakses satu base station secara simultan tanpa saling mengganggu.
• Fungsi Utama:
o Mengorganisir pengguna dalam berkomunikasi tanpa interferensi.
o Mengoptimalkan penggunaan spektrum frekuensi.
2. Jenis-Jenis Multiple Access
a. FDMA (Frequency Division Multiple Access)
• Prinsip: Membagi spektrum frekuensi menjadi beberapa kanal sempit (sub-carrier).
o Setiap pengguna mendapatkan alokasi frekuensi tetap selama komunikasi.
• Contoh Sistem: AMPS (1G).
• Parameter:
o Bandwidth per kanal: 30 kHz (AMPS).
o Guard Band: Pemisah antar kanal untuk mengurangi interferensi.
• Kapasitas:
Jumlah Kanal=Total Bandwidth−Guard BandBandwidth per KanalJumlah Kanal=Bandwidth
per KanalTotal Bandwidth−Guard Band
Contoh: AMPS dengan total bandwidth 12.5 MHz, guard band 10 kHz, menghasilkan 416
kanal.
b. TDMA (Time Division Multiple Access)
• Prinsip: Membagi waktu menjadi slot-slot periodik. Setiap pengguna mengirim data
pada slot waktu tertentu.
• Contoh Sistem: GSM (2G), DECT.
• Struktur Frame TDMA:
o Preamble: Informasi sinkronisasi dan alamat.
o Guard Time: Mengatasi perbedaan delay propagasi.
o Data: Informasi pengguna.
• Efisiensi:
Efisiensi=Bits DataTotal Bits dalam Frame×100%Efisiensi=Total Bits dalam FrameBits Data
×100%
Contoh: GSM dengan 30% overhead → efisiensi 70%.
c. CDMA (Code Division Multiple Access)
• Prinsip: Setiap pengguna menggunakan kode unik (spreading code) untuk mengirim
data di frekuensi yang sama.
• Contoh Sistem: IS-95 (CDMA2000), WCDMA (3G).
• Proses Spreading:
o Data pengguna (bit) dikalikan dengan kode PN (Pseudo-Noise) untuk
menghasilkan sinyal lebar pita.
o Processing Gain:
Gp=Chip RateData RateGp=Data RateChip Rate
Contoh: IS-95 dengan chip rate 1.2288 Mcps dan data rate 19.2 kbps → Gp=64Gp=64.
3. Teknik Duplexing
a. FDD (Frequency Division Duplex)
• Prinsip: Menggunakan dua frekuensi terpisah untuk uplink (mobile ke base station)
dan downlink (base station ke mobile).
o Contoh: GSM (uplink 890–915 MHz, downlink 935–960 MHz).
o Keuntungan: Minim interferensi antara uplink dan downlink.
b. TDD (Time Division Duplex)
• Prinsip: Menggunakan frekuensi yang sama untuk uplink dan downlink dengan
pembagian waktu.
o Contoh: WiMAX, 5G NR.
o Keuntungan: Fleksibel untuk trafik asimetris (misal: lebih banyak download
daripada upload).
4. Perbandingan FDMA, TDMA, dan CDMA
Aspek FDMA TDMA CDMA
Kapasitas Terbatas Lebih tinggi Paling tinggi
Interferensi Co-channel Inter-symbol Multi-user interference
Kompleksitas Sederhana Sedang Tinggi
Contoh Sistem AMPS (1G) GSM (2G) IS-95 (2G), WCDMA (3G)
5. Masalah dan Solusi dalam CDMA
a. Near-Far Problem
• Deskripsi: Sinyal dari pengguna dekat base station mengganggu sinyal pengguna jauh.
• Solusi: Power Control
o Base station memantau daya terima (RSSI) dan memerintahkan mobile untuk
menyesuaikan daya pancar.
b. Soft Capacity
• Deskripsi: Kapasitas CDMA tidak tetap, tergantung jumlah interferensi.
• Solusi: Frequency Reuse Factor = 1
o Seluruh sel menggunakan frekuensi yang sama.
6. Diagram Blok Sistem CDMA
Transmitter DSSS:
1. Spreading: Data pengguna (bit) dikalikan dengan kode PN.
2. Modulasi: Sinyal spread dimodulasi (misal: BPSK) dan dikirim.
Receiver DSSS:
1. Despreading: Sinyal diterima dikalikan dengan kode PN yang sama.
2. Demodulasi: Sinyal asli dipulihkan.
7. Contoh Numerik
Perhitungan Processing Gain CDMA:
• Chip rate (RcRc) = 1.2288 Mcps
• Data rate (RbRb) = 19.2 kbps
• Processing gain:
Gp=RcRb=1.2288×10619.2×103=64Gp=RbRc=19.2×1031.2288×106=64
8. Aplikasi di Industri
• GSM: Menggunakan kombinasi FDMA (200 kHz per carrier) + TDMA (8 slot per
carrier).
• 5G NR: Menggunakan TDD untuk efisiensi spektrum dan mendukung Massive MIMO.
9. Studi Kasus: Sistem IS-95 (CDMA)
• Parameter:
o Chip rate: 1.2288 Mcps
o Bandwidth: 1.25 MHz
o Kapasitas: 64 pengguna per carrier (dengan Gp=64Gp=64).
• Keunggulan:
o Soft Handoff: Mobile terhubung ke beberapa BTS sekaligus.
o Anti-Jamming: Sinyal tersebar di bandwidth lebar.
10. Tantangan Implementasi
• FDMA/TDMA: Manajemen frekuensi kompleks di area padat.
• CDMA: Diperlukan sinkronisasi ketat dan algoritma power control.
Kesimpulan
Teknik multiple access (FDMA, TDMA, CDMA) adalah tulang punggung sistem seluler untuk
mengoptimalkan spektrum dan kapasitas. CDMA menawarkan kapasitas tertinggi tetapi
memerlukan teknik kompleks seperti power control. Pemahaman ini esensial untuk merancang
jaringan 4G/5G yang efisien.
Tips Belajar:
• Visualisasikan perbedaan FDMA/TDMA/CDMA dengan diagram frekuensi-waktu-
kode.
Definisi Multiple Access dan Implementasinya dalam Jaringan 4G dan 5G
1. Definisi Multiple Access
Multiple Access adalah teknik yang memungkinkan banyak pengguna untuk berbagi sumber
daya spektrum frekuensi yang terbatas dalam suatu sistem komunikasi tanpa saling
mengganggu. Tujuan utama dari multiple access adalah meningkatkan efisiensi penggunaan
spektrum dan memastikan komunikasi simultan dengan kualitas layanan (QoS) yang
optimal.
Dalam jaringan seluler, multiple access digunakan untuk mengalokasikan kanal komunikasi ke
berbagai pengguna secara efisien. Setiap generasi jaringan seluler mengadopsi teknik multiple
access yang berbeda untuk meningkatkan kapasitas, kecepatan, dan efisiensi spektrum.
2. Teknik Multiple Access dalam Jaringan 4G (LTE)
Jaringan 4G LTE (Long Term Evolution) menggunakan Orthogonal Frequency Division
Multiple Access (OFDMA) dan Single Carrier Frequency Division Multiple Access (SC-
FDMA) sebagai teknik utama multiple access.
a. OFDMA (Orthogonal Frequency Division Multiple Access)
• Konsep:
o OFDMA membagi spektrum menjadi beberapa subcarrier orthogonal yang
dialokasikan ke pengguna yang berbeda.
o Setiap pengguna mendapatkan sejumlah subcarrier berdasarkan kebutuhan
data mereka.
• Keunggulan:
Mengurangi interferensi antar pengguna karena subcarrier bersifat orthogonal.
Cocok untuk transmisi data kecepatan tinggi dengan latensi rendah.
Tahan terhadap efek multipath fading, yang umum terjadi di lingkungan perkotaan.
• Penerapan dalam LTE:
o Digunakan untuk downlink (DL), di mana BTS mengirimkan data ke
perangkat pengguna.
b. SC-FDMA (Single Carrier Frequency Division Multiple Access)
• Konsep:
o SC-FDMA adalah teknik hybrid antara TDMA dan OFDMA, di mana data
pengguna dikirim dalam satu jalur frekuensi sebelum diubah menjadi domain
frekuensi.
• Keunggulan:
Mengurangi konsumsi daya perangkat (lebih hemat baterai dibandingkan
OFDMA).
Mengurangi PAPR (Peak-to-Average Power Ratio), yang penting untuk efisiensi
daya di perangkat seluler.
• Penerapan dalam LTE:
o Digunakan pada uplink (UL), di mana perangkat mengirimkan data ke BTS.
3. Teknik Multiple Access dalam Jaringan 5G
Jaringan 5G NR (New Radio) menggunakan teknik multiple access yang lebih canggih
dibandingkan 4G untuk meningkatkan kapasitas jaringan dan efisiensi spektrum. Teknik yang
digunakan meliputi OFDMA, NOMA, dan SCMA.
a. OFDMA (Orthogonal Frequency Division Multiple Access) – Peningkatan dari 4G
• OFDMA tetap digunakan dalam 5G NR karena keunggulannya dalam efisiensi
spektrum dan reduksi interferensi.
• Pada 5G, OFDMA mendukung variasi subcarrier spacing yang fleksibel untuk
mengakomodasi berbagai skenario jaringan.
b. NOMA (Non-Orthogonal Multiple Access)
• Konsep:
o Berbeda dengan OFDMA yang menggunakan alokasi frekuensi orthogonal,
NOMA memungkinkan beberapa pengguna berbagi spektrum frekuensi
yang sama dengan pembagian berdasarkan daya transmisi dan pemrosesan
sinyal yang lebih kompleks.
• Keunggulan:
Meningkatkan kapasitas jaringan dengan memungkinkan lebih banyak pengguna
berbagi spektrum.
Efisiensi spektrum lebih tinggi dibandingkan OFDMA.
• Penerapan dalam 5G:
o Digunakan dalam skenario Massive Machine Type Communication
(mMTC) dan Ultra-Reliable Low Latency Communication (URLLC).
c. SCMA (Sparse Code Multiple Access)
• Konsep:
o Menggunakan teknik kode sparsitas (Sparse Code) untuk memungkinkan
banyak pengguna berbagi sumber daya tanpa interferensi langsung.
• Keunggulan:
Meningkatkan efisiensi spektrum dengan mendukung lebih banyak pengguna dalam
satu kanal.
Lebih efisien dalam skenario komunikasi masif seperti IoT.
• Penerapan dalam 5G:
o Cocok untuk komunikasi massive IoT (Internet of Things) dengan koneksi
simultan dalam jumlah besar.
4. Perbandingan Teknik Multiple Access dalam 4G dan 5G
Fitur 4G LTE 5G NR
Teknik Utama OFDMA (DL), SC-FDMA OFDMA, NOMA, SCMA
(UL)
Efisiensi Tinggi tetapi masih berbasis Lebih tinggi dengan penggunaan non-
Spektrum orthogonal orthogonal (NOMA)
Latensi ~10ms <1ms untuk URLLC
Kapasitas Terbatas pada pembagian Lebih banyak pengguna dalam spektrum
Pengguna frekuensi yang sama
Dukungan IoT Terbatas Lebih optimal dengan SCMA dan
NOMA
5. Kesimpulan
Multiple access adalah teknik untuk memungkinkan banyak pengguna berbagi spektrum
komunikasi secara efisien.
Jaringan 4G LTE menggunakan OFDMA (untuk downlink) dan SC-FDMA (untuk uplink)
untuk efisiensi spektrum dan daya.
Jaringan 5G NR meningkatkan efisiensi dengan tetap menggunakan OFDMA, tetapi
menambahkan teknik NOMA dan SCMA untuk meningkatkan kapasitas dan mendukung
komunikasi masif.
Dengan teknik multiple access yang lebih canggih, 5G mampu memberikan kecepatan lebih
tinggi, latensi lebih rendah, dan mendukung lebih banyak perangkat dibandingkan 4G.
Jenis Jenis Multiple Access
Multiple Access adalah teknik yang memungkinkan beberapa pengguna untuk berbagi sumber
daya spektrum dalam suatu sistem komunikasi tanpa mengganggu satu sama lain. Berikut
adalah jenis-jenis multiple access yang digunakan dalam berbagai generasi jaringan seluler dan
sistem komunikasi nirkabel lainnya.
1. Frequency Division Multiple Access (FDMA)
Definisi
FDMA adalah teknik multiple access yang membagi spektrum frekuensi menjadi beberapa
kanal sempit yang dialokasikan untuk pengguna yang berbeda. Setiap pengguna mendapat
frekuensi tetap selama sesi komunikasi.
Karakteristik
Setiap pengguna memiliki frekuensi unik selama sesi komunikasi.Minim interferensi antar
pengguna karena kanal frekuensi dipisahkan dengan guard band.
Digunakan dalam sistem analog seperti 1G (AMPS) dan beberapa sistem komunikasi satelit.
Kelebihan & Kekurangan
Kelebihan Kekurangan
Sederhana dalam implementasi Tidak efisien dalam spektrum
Minim latensi Kapasitas pengguna terbatas
Interferensi rendah dengan guard band Tidak fleksibel untuk trafik data dinamis
2. Time Division Multiple Access (TDMA)
Definisi
TDMA membagi kanal frekuensi menjadi beberapa slot waktu. Setiap pengguna diberikan
slot waktu tertentu dalam satu siklus komunikasi.
Karakteristik
Membagi waktu menjadi beberapa slot untuk pengguna yang berbeda.
Dapat digunakan dalam jaringan digital seperti 2G (GSM).
Memerlukan sinkronisasi yang ketat untuk menghindari interferensi antar slot waktu.
Kelebihan & Kekurangan
Kelebihan Kekurangan
Menggunakan spektrum lebih efisien Membutuhkan sinkronisasi waktu yang
dibandingkan FDMA ketat
Mendukung lebih banyak pengguna dalam Delay dapat meningkat jika jumlah
satu kanal pengguna bertambah
Dapat digunakan untuk komunikasi suara Tidak optimal untuk komunikasi dengan
dan data data besar
3. Code Division Multiple Access (CDMA)
Definisi
CDMA memungkinkan semua pengguna berbagi spektrum yang sama dengan membedakan
sinyal menggunakan kode unik berbasis spektrum tersebar (spread spectrum).
Karakteristik
Setiap pengguna diberi kode unik untuk membedakan sinyal mereka.
Memungkinkan lebih banyak pengguna dalam satu kanal dibandingkan TDMA dan FDMA.
Digunakan dalam 3G (CDMA2000, UMTS/WCDMA).
Kelebihan & Kekurangan
Kelebihan Kekurangan
Kapasitas lebih besar dibandingkan Kompleksitas implementasi lebih tinggi
TDMA & FDMA
Lebih tahan terhadap interferensi & Membutuhkan manajemen daya yang ketat
multipath fading
Spektrum lebih efisien karena reuse Risiko interferensi antar pengguna jika kode
frekuensi lebih luas tidak dikelola dengan baik
4. Orthogonal Frequency Division Multiple Access (OFDMA)
Definisi
OFDMA adalah teknik yang membagi spektrum menjadi banyak subcarrier orthogonal,
memungkinkan beberapa pengguna berbagi kanal yang sama secara simultan.
Karakteristik
Membagi frekuensi menjadi subcarrier kecil untuk setiap pengguna.
Mengurangi efek multipath fading.
Digunakan dalam 4G (LTE) dan 5G (NR).
Kelebihan & Kekurangan
Kelebihan Kekurangan
Mengoptimalkan spektrum dengan efisien Kompleksitas implementasi lebih tinggi
Lebih tahan terhadap multipath fading Rentan terhadap interferensi antar subcarrier
Mendukung komunikasi dengan kecepatan Membutuhkan pemrosesan sinyal yang lebih
tinggi besar
5. Non-Orthogonal Multiple Access (NOMA)
Definisi
NOMA memungkinkan pengguna berbagi spektrum frekuensi yang sama dengan
membedakan sinyal berdasarkan daya transmisi atau kode unik.
Karakteristik
Menggunakan superposisi sinyal untuk mengakomodasi lebih banyak pengguna dalam satu
kanal.
Dapat diterapkan dalam berbagai skenario jaringan seperti mMTC (Massive Machine-Type
Communications) di 5G.
Digunakan dalam 5G NR untuk meningkatkan kapasitas spektrum.
Kelebihan & Kekurangan
Kelebihan Kekurangan
Kapasitas pengguna lebih tinggi Membutuhkan pemrosesan sinyal yang
dibandingkan OFDMA lebih kompleks
Efisiensi spektrum lebih tinggi Interferensi antar pengguna bisa meningkat
Lebih fleksibel untuk jaringan dengan trafik Teknik deteksi sinyal yang lebih kompleks
dinamis diperlukan
6. Spatial Division Multiple Access (SDMA)
Definisi
SDMA memanfaatkan perbedaan lokasi spasial pengguna menggunakan beamforming dan
antena MIMO untuk mengalokasikan sumber daya.
Karakteristik
Memanfaatkan teknologi MIMO untuk mendukung banyak pengguna pada frekuensi yang
sama.
Digunakan dalam sistem komunikasi satelit dan 5G.
Meningkatkan kapasitas jaringan dengan menggunakan perbedaan lokasi pengguna.
Kelebihan & Kekurangan
Kelebihan Kekurangan
Kapasitas spektrum lebih tinggi dengan Memerlukan perangkat keras canggih seperti
antena pintar massive MIMO
Meningkatkan efisiensi jaringan 5G Rentan terhadap interferensi multipath jika
tidak dikelola dengan baik
Dapat digunakan bersamaan dengan Biaya implementasi lebih tinggi
NOMA dan OFDMA
7. Perbandingan Teknik Multiple Access
Teknik Digunakan pada Keunggulan Kelemahan
Generasi
FDMA 1G, Satelit Sederhana, interferensi Tidak efisien, kapasitas
rendah rendah
TDMA 2G (GSM) Kapasitas lebih tinggi Sinkronisasi sulit, latensi
dari FDMA meningkat
CDMA 3G (UMTS, Kapasitas tinggi, Kompleksitas tinggi, butuh
CDMA2000) spektrum efisien manajemen daya
OFDMA 4G (LTE), 5G Spektrum lebih efisien, Kompleksitas tinggi,
tahan multipath interferensi antar subcarrier
NOMA 5G NR Kapasitas pengguna Deteksi sinyal lebih
lebih tinggi kompleks, risiko interferensi
SDMA 5G (MIMO, Kapasitas tinggi dengan Butuh antena canggih, biaya
Beamforming) spatial reuse tinggi
Kesimpulan
Multiple Access adalah teknik untuk memungkinkan banyak pengguna berbagi spektrum
komunikasi secara efisien.
FDMA dan TDMA digunakan pada generasi awal, CDMA digunakan dalam 3G, sedangkan
4G dan 5G mengadopsi OFDMA, NOMA, dan SDMA.
Teknik yang lebih baru seperti NOMA dan SDMA dalam 5G memungkinkan lebih banyak
koneksi simultan dengan efisiensi spektrum yang lebih tinggi.
Pemilihan teknik multiple access bergantung pada kebutuhan jaringan, seperti efisiensi
spektrum, kapasitas pengguna, dan toleransi terhadap interferensi.
Teknik Duplexing
1. Pengertian Teknik Duplexing
Duplexing adalah metode yang memungkinkan komunikasi dua arah dalam sistem jaringan
seluler. Dalam komunikasi nirkabel, duplexing diperlukan agar perangkat seluler dapat
mengirim dan menerima data secara simultan atau bergantian, tergantung pada teknologi yang
digunakan.
Dalam sistem seluler modern, teknik duplexing sangat penting karena menentukan efisiensi
spektrum, kapasitas jaringan, dan kualitas layanan (QoS).
2. Jenis-Jenis Teknik Duplexing dalam Teknologi Seluler
A. Frequency Division Duplex (FDD)
Definisi
FDD menggunakan dua pita frekuensi terpisah, satu untuk uplink (UL) dan satu untuk
downlink (DL). Jarak antara kedua pita frekuensi ini disebut Guard Band, yang mencegah
interferensi antar uplink dan downlink.
Karakteristik
Frekuensi uplink dan downlink dialokasikan secara tetap.
Komunikasi terjadi secara simultan karena uplink dan downlink memiliki kanal frekuensi yang
berbeda.
Membutuhkan lebih banyak spektrum dibandingkan Time Division Duplex (TDD).
Kelebihan & Kekurangan
Kelebihan Kekurangan
Minim interferensi antara uplink dan Membutuhkan spektrum ganda (UL & DL)
downlink
Latensi lebih rendah karena komunikasi Tidak fleksibel untuk layanan asimetris (data
simultan lebih besar di DL)
Cocok untuk komunikasi jarak jauh dan Tidak efisien untuk aplikasi berbasis data
cakupan luas
Penggunaan dalam Teknologi Seluler
• 2G (GSM) menggunakan FDD dengan FDMA dan TDMA.
• 3G (UMTS/WCDMA) juga menggunakan FDD untuk mendukung komunikasi
simultan.
• 4G LTE-FDD adalah varian LTE yang mengadopsi FDD untuk meningkatkan
efisiensi spektrum.
• 5G NR-FDD digunakan di area dengan spektrum terbatas namun membutuhkan
cakupan luas.
B. Time Division Duplex (TDD)
Definisi
TDD menggunakan satu pita frekuensi yang sama untuk uplink dan downlink tetapi
memisahkannya dalam slot waktu berbeda.
Karakteristik
Uplink dan downlink menggunakan kanal yang sama tetapi dalam waktu berbeda.
Lebih fleksibel dalam menyesuaikan alokasi sumber daya untuk uplink dan downlink.
Cocok untuk komunikasi berbasis data di mana trafik downlink lebih besar daripada uplink.
Kelebihan & Kekurangan
Kelebihan Kekurangan
Lebih efisien dalam penggunaan spektrum Rentan terhadap interferensi antar frame
uplink dan downlink
Fleksibel untuk trafik data asimetris Membutuhkan sinkronisasi ketat antar BTS
Cocok untuk lingkungan dengan densitas Latensi bisa lebih tinggi dibandingkan FDD
pengguna tinggi
Penggunaan dalam Teknologi Seluler
• 4G LTE-TDD digunakan untuk skenario jaringan dengan kebutuhan spektrum yang
fleksibel.
• 5G NR-TDD menjadi standar utama dalam jaringan 5G, terutama untuk spektrum
mmWave (millimeter wave).
C. Hybrid FDD-TDD
Definisi
Hybrid FDD-TDD adalah teknik yang menggabungkan FDD dan TDD untuk meningkatkan
efisiensi spektrum dan fleksibilitas jaringan.
Karakteristik
Menggunakan alokasi spektrum yang dapat berubah sesuai dengan kondisi jaringan.
Memungkinkan operator untuk mengoptimalkan cakupan dan kapasitas secara dinamis.
Digunakan dalam 5G NR untuk mendukung berbagai kasus penggunaan.
Kelebihan & Kekurangan
Kelebihan Kekurangan
Memungkinkan alokasi dinamis antara Kompleksitas tinggi dalam manajemen spektrum
FDD dan TDD
Fleksibel untuk berbagai skenario trafik Membutuhkan perangkat dengan dukungan
hardware lebih kompleks
Cocok untuk jaringan heterogen (macro Masih dalam tahap adopsi penuh dalam industri
& small cells)
Penggunaan dalam Teknologi Seluler
• 5G NR mengadopsi hybrid FDD-TDD untuk memberikan fleksibilitas dalam
spektrum mid-band dan mmWave.
3. Perbandingan Teknik Duplexing
Aspek FDD TDD Hybrid FDD-TDD
Alokasi Dua pita frekuensi Satu pita frekuensi dengan Dinamis antara FDD
Spektrum (UL & DL) slot waktu dan TDD
Interferensi Rendah Lebih tinggi karena uplink Tergantung pada
dan downlink berbagi kanal implementasi
Latensi Lebih rendah Bisa lebih tinggi karena Bisa dioptimalkan
bergantian
Efisiensi Kurang efisien Lebih fleksibel Optimal untuk
Spektrum skenario berbeda
Penggunaan GSM, WCDMA, LTE-TDD, 5G NR-TDD 5G NR dengan
LTE-FDD kombinasi FDD-TDD
4. Kesimpulan
FDD cocok untuk cakupan luas dan komunikasi simultan dengan spektrum yang lebih besar,
digunakan dalam GSM, WCDMA, dan LTE-FDD.
TDD lebih efisien untuk skenario trafik asimetris seperti layanan berbasis data, digunakan
dalam LTE-TDD dan 5G NR.
Hybrid FDD-TDD dalam 5G memberikan fleksibilitas tertinggi dengan memanfaatkan
keunggulan kedua teknik duplexing.
Dengan adopsi 5G NR, penggunaan TDD semakin dominan, terutama dalam spektrum
mmWave, sedangkan FDD tetap relevan untuk cakupan luas di frekuensi rendah.
Perbandingan FDMA, TDMA, dan CDMA
1. Pengertian FDMA, TDMA, dan CDMA
Teknik Multiple Access memungkinkan banyak pengguna untuk berbagi sumber daya
spektrum dalam jaringan seluler. Tiga teknik utama yang digunakan dalam generasi jaringan
seluler adalah:
• FDMA (Frequency Division Multiple Access) → Membagi spektrum menjadi kanal
frekuensi tetap untuk setiap pengguna.
• TDMA (Time Division Multiple Access) → Membagi spektrum menjadi slot waktu
yang dialokasikan ke setiap pengguna secara bergantian.
• CDMA (Code Division Multiple Access) → Semua pengguna berbagi spektrum yang
sama dengan pembeda berupa kode unik berbasis spread spectrum.
2. Perbandingan FDMA, TDMA, dan CDMA
Aspek FDMA (Frequency TDMA (Time CDMA (Code Division
Division Multiple Division Multiple Multiple Access)
Access) Access)
Metode Akses Setiap pengguna Pengguna berbagi Semua pengguna berbagi
mendapat kanal kanal, tetapi diberi spektrum yang sama
frekuensi unik slot waktu berbeda dengan kode unik
Efisiensi Rendah, karena setiap Sedang, lebih baik Tinggi, karena pengguna
Spektrum pengguna dari FDMA karena berbagi spektrum
membutuhkan kanal berbasis waktu menggunakan kode unik
frekuensi sendiri
Interferensi Rendah jika guard Risiko interferensi Rendah, karena kode
Antar band cukup lebih tinggi karena unik membedakan sinyal
Pengguna sinyal berbagi kanal pengguna
Kapasitas Terbatas oleh jumlah Terbatas oleh Tinggi, karena pengguna
Pengguna kanal frekuensi jumlah slot waktu dapat berbagi spektrum
secara bersamaan
Kualitas Stabil, tetapi tidak Bergantung pada Lebih baik, tahan
Panggilan dan fleksibel sinkronisasi waktu terhadap noise dan
Data yang ketat multipath fading
Latensi Rendah, karena setiap Sedang, karena Rendah, karena semua
pengguna mendapat pengguna harus pengguna dapat
kanal sendiri menunggu giliran mengirim data
bersamaan
Kompleksitas Rendah, mudah Sedang, Tinggi, karena
Implementasi diterapkan membutuhkan membutuhkan
sinkronisasi waktu pemrosesan sinyal digital
yang ketat canggih
Konsumsi Rendah, karena tidak Sedang, perangkat Tinggi, karena perangkat
Daya perlu pemrosesan harus bekerja sesuai harus terus
sinyal kompleks jadwal waktu menerjemahkan kode
unik
Keamanan Rendah, karena sinyal Sedang, bisa Tinggi, karena spread
tetap dalam satu kanal disadap jika pola spectrum membuat
frekuensi waktu diketahui penyadapan lebih sulit
Contoh 1G (AMPS, NMT) 2G (GSM, IS-54) 3G (CDMA2000,
Penggunaan UMTS/WCDMA)
3. Analisis Keunggulan dan Kelemahan
FDMA (Frequency Division Multiple Access)
Keunggulan:
• Mudah diimplementasikan dalam sistem analog.
• Minim latensi karena pengguna memiliki kanal frekuensi sendiri.
Kelemahan:
• Tidak efisien dalam penggunaan spektrum karena banyaknya guard band.
• Kapasitas pengguna sangat terbatas.
Digunakan dalam: 1G (AMPS, NMT).
TDMA (Time Division Multiple Access)
Keunggulan:
• Menggunakan spektrum lebih efisien dibandingkan FDMA.
• Cocok untuk jaringan digital seperti GSM.
Kelemahan:
• Membutuhkan sinkronisasi waktu yang ketat.
• Rentan terhadap interferensi jika jumlah pengguna meningkat.
Digunakan dalam: 2G (GSM, IS-54).
CDMA (Code Division Multiple Access)
Keunggulan:
• Kapasitas pengguna lebih besar dibandingkan FDMA dan TDMA.
• Tahan terhadap noise, multipath fading, dan penyadapan.
Kelemahan:
• Kompleksitas sistem lebih tinggi karena pemrosesan kode unik.
• Membutuhkan manajemen daya yang lebih baik.
Digunakan dalam: 3G (CDMA2000, UMTS/WCDMA).
4. Kesimpulan
FDMA digunakan dalam 1G, tetapi tidak efisien karena spektrum terbatas.
TDMA diperkenalkan dalam 2G (GSM) untuk meningkatkan efisiensi spektrum dengan slot
waktu.
CDMA diadopsi dalam 3G (UMTS, CDMA2000) untuk mendukung lebih banyak pengguna
dengan kecepatan yang lebih tinggi.
4G dan 5G menggunakan OFDMA (pengembangan dari FDMA dan TDMA) untuk
meningkatkan kapasitas jaringan secara signifikan.
Masalah dan Solusi dalam CDMA
1. Pengertian CDMA
CDMA (Code Division Multiple Access) adalah teknik multiple access yang memungkinkan
banyak pengguna berbagi spektrum yang sama dengan menggunakan kode unik berbasis
spread spectrum. Teknologi ini digunakan dalam 3G (CDMA2000, UMTS/WCDMA) karena
keunggulannya dalam kapasitas pengguna yang lebih besar dan ketahanan terhadap
interferensi.
Namun, implementasi CDMA memiliki beberapa tantangan yang mempengaruhi kinerja
jaringan, seperti interferensi antar pengguna, kebutuhan sinkronisasi ketat, dan manajemen
daya yang kompleks.
2. Masalah dalam CDMA dan Solusinya
Masalah Penyebab Solusi
Near-Far Pengguna dekat BTS memiliki Power Control (Pengendalian Daya):
Problem sinyal lebih kuat dibandingkan Base Station (BTS) mengatur daya
(Masalah Jarak pengguna jauh, menyebabkan transmisi perangkat agar sinyal dari
Dekat-Jauh) interferensi dan penurunan semua pengguna tiba di BTS dengan
kualitas sinyal. kekuatan yang seimbang.
Self-Interference Karena semua pengguna Peningkatan Teknik Spreading Code:
(Interferensi Diri berbagi spektrum yang sama, Menggunakan kode orthogonal yang
Sendiri) sinyal antar pengguna bisa lebih optimal untuk mengurangi
saling mengganggu. interferensi.
Interferensi Pengguna di area perbatasan Soft Handover: Memungkinkan
Antar-Sel (Co- sel menerima sinyal dari perangkat tetap terhubung ke
Channel beberapa BTS, menyebabkan beberapa BTS sebelum berpindah
Interference) interferensi. sepenuhnya ke satu BTS baru.
Kapasitas Jika terlalu banyak pengguna Cell Splitting & Sectoring: Membagi
Terbatas akibat dalam satu sel, interferensi sel besar menjadi sel kecil untuk
Interferensi meningkat dan kapasitas mengurangi beban jaringan.
jaringan menurun.
Sinkronisasi BTS dan perangkat harus GPS Synchronization: Menggunakan
yang Kompleks tersinkronisasi dengan akurat sistem GPS untuk menjaga
agar kode CDMA dapat sinkronisasi waktu yang presisi.
bekerja dengan baik.
Konsumsi Daya Perangkat harus terus Efficient Power Management:
yang Tinggi beradaptasi dengan sinyal Menggunakan algoritma optimasi
CDMA untuk menghindari daya agar perangkat lebih hemat
interferensi. baterai.
Hidden Terminal Perangkat yang tidak Adaptive Modulation & Coding:
Problem terdeteksi oleh BTS dapat Mengoptimalkan pengiriman data
mengganggu sinyal pengguna agar lebih tahan terhadap gangguan
lain. sinyal.
3. Kesimpulan
CDMA menghadapi tantangan dalam interferensi, manajemen daya, dan sinkronisasi, tetapi
dapat diatasi dengan teknik power control, soft handover, dan peningkatan algoritma spread
spectrum.
Solusi seperti cell splitting, GPS synchronization, dan adaptive modulation telah membantu
meningkatkan performa CDMA di jaringan seluler.
Meskipun CDMA digunakan dalam 3G, teknologi 4G dan 5G telah beralih ke OFDMA untuk
mengatasi masalah efisiensi spektrum dan kapasitas jaringan.
Propagasi Gelombang Radio pada Sistem Cellular
1. Mekanisme Propagasi Gelombang Radio
Gelombang radio mengalami tiga fenomena utama saat merambat:
1. Refleksi (Pemantulan):
o Terjadi ketika gelombang menabrak permukaan besar (gedung, tanah).
o Koefisien refleksi tergantung pada frekuensi, polarisasi, dan sudut datang.
o Contoh: Sinyal memantul di antara gedung-gedung perkotaan.
2. Difraksi (Pelenturan):
o Gelombang "membelok" di sekitar penghalang (bukit, gedung).
o Kerugian difraksi (𝐿𝑑 )dihitung dengan parameter v:
2 1 1
𝑣 = ℎ𝑚 √ ( + )
𝛾 𝑑 𝑑 𝑡 𝑟
hm: tinggi penghalang, dt dan dr: jarak penghalang ke pemancar/penerima.
3. Scattering (Penyebaran):
o Terjadi saat gelombang menabrak permukaan kasar (pohon, permukaan jalan).
o Menyebabkan sinyal terpencar ke banyak arah.
2. Path Loss (Rugi-Rugi Jalur)
Path loss menggambarkan pelemahan sinyal seiring jarak.
• Model Umum:
𝑑
𝑃𝐿(𝑑) = 𝑃𝐿0 + 10𝑛 log10 ( )
𝑑0
n: eksponen path loss (2 untuk ruang bebas, 4–6 untuk area urban).
Model Empiris Path Loss
1. Okumura Model:
o Untuk frekuensi 100–3000 MHz dan jarak 1–100 km.
o Rumus:
𝐿50 = 𝐿𝐹 + 𝐴𝑚𝑢 (𝑓, 𝑑) − 𝐺(ℎ𝑡𝑒)− 𝐺(ℎ𝑟𝑒)−𝐺𝐴𝑅𝐸𝐴
LF: path loss ruang bebas, Amu: redaman relatif, G: gain antena.
2. Hata Model:
o Versi sederhana Okumura untuk frekuensi 150–1500 MHz.
o Contoh rumus urban:
𝐿50 = 69.55 + 26.16 log 𝑓𝑐 − 13.82 log ℎ𝑡𝑒 − 𝑎(ℎ𝑟𝑒)
+ (44.9 − 6.55 log ℎ𝑡𝑒 ) log 𝑑
3. COST-231 Walfish Ikegami:
o Untuk frekuensi 800–2000 MHz di area urban.
o Path loss = rugi ruang bebas (LfLf) + rugi difraksi atap-jalan (LRTSLRTS) +
rugi multiscreen (LmsLms).
4. Lee’s Model:
o Menggunakan faktor koreksi (αoαo) untuk menyesuaikan kondisi lingkungan.
o Contoh:
𝑟𝑜 𝛾
𝑃𝑟 = 𝑃𝑟𝑜 ( ) 𝛼0
𝑟
3. Fading (Pelemaan Sinyal)
Large-Scale Fading
• Disebabkan penghalang besar (bukit, gedung) dan jarak.
• Path loss dan shadowing (variasi sinyal lambat).
Small-Scale Fading
• Disebabkan multipath dan pergerakan pengguna.
• Jenis:
o Slow Fading: Perubahan kanal lebih lambat dari periode simbol.
o Fast Fading: Perubahan kanal lebih cepat dari periode simbol.
• Efek Doppler:
o Pergeseran frekuensi (fdfd) akibat pergerakan pengguna:
𝑣 cos 𝜃
𝑓𝑑 =
𝜆
o Doppler Spread (fmfm): Maksimum fd.
o Coherence Time (TcTc): Waktu kanal tetap stabil:
1
𝑇𝑐 =
𝑓𝑚
4. Klasifikasi Sel (Macrocell vs. Microcell)
Parameter Macrocell Microcell
Jangkauan 1–30 km 0.1–1 km
Tinggi Antena 30–200 m 5–20 m
Lingkungan Area luas (pedesaan) Perkotaan padat
Path Loss Exponent n=3–4n=3–4 n=2–4n=2–4 (tergantung LOS/NLOS)
5. Klasifikasi Area
1. Urban (Perkotaan):
o Gedung tinggi, jalan sempit.
o Path loss tinggi (n=3–4n=3–4), banyak multipath.
2. Suburban (Pinggiran Kota):
o Kombinasi rumah dan ruang terbuka.
o Path loss sedang (n=2.5–3.5n=2.5–3.5).
3. Rural (Pedalaman):
o Area terbuka (sawah, hutan).
o Path loss rendah (n=2–3n=2–3), dominasi LOS.
6. Aplikasi Model Propagasi
• Perencanaan Jaringan:
o Okumura-Hata untuk cakupan makrosel di kota besar.
o COST-231 untuk jaringan 4G/5G urban.
• Optimasi Antena:
o Menentukan tinggi antena dan daya pancar berdasarkan model Lee.
• Analisis Interferensi:
o Prediksi co-channel interference dengan model difraksi.
Kesimpulan
Pemahaman propagasi gelombang radio dan model path loss sangat penting untuk merancang
jaringan seluler yang efisien. Setiap model memiliki keunggulan sesuai kondisi geografis dan
frekuensi. Fading dan efek Doppler perlu diatasi dengan teknik seperti diversity antenna atau
adaptive modulation.
Antena pada Sistem Seluler
1. Jenis Antena BTS dan Aplikasinya
a. Berdasarkan Pola Radiasi
Jenis Antena Karakteristik Kegunaan
Omnidirectional Memancar ke semua arah (360°), gain Sel tunggal, area cakupan
rendah (~2-6 dBi) luas
Sectoral (120°) Fokus pada 3 sektor (masing-masing 120°), Urban area,
gain sedang (~12-14 dBi) meningkatkan kapasitas
Sectoral (60°) 6 sektor (60° per sel), gain tinggi (~16 dBi) Area sangat padat
(hotspot)
Contoh Visual:
• Quad Sector (4 sektor): Digunakan untuk optimasi interferensi dan kapasitas.
2. Struktur Sistem Transmisi & Penerima
Blok Diagram Transmitter:
1. Baseband Processing: Konversi sinyal analog ke digital.
2. Modulator: GMSK (GSM), QPSK (LTE).
3. Power Amplifier (PA):
o Class AB: Kompromi linearitas-efisiensi (dominan di BTS).
o Class C: Efisiensi tinggi, untuk frekuensi konstan.
Blok Diagram Receiver:
1. Filter & LNA: Menyaring noise dan amplifikasi sinyal lemah.
2. Multicoupler: Membagi sinyal ke multiple receiver.
Komponen Kritis:
• Feeder Line: Kabel koaksial dengan SWR (Standing Wave Ratio) <1.5 untuk
minimalisasi loss.
• Combiner: Hybrid combiner (loss 3 dB) untuk multi-frekuensi.
3. Jenis Antena dan Parameter Performa
Antena Dasar:
Tipe Gain Impedansi Aplikasi
Dipole (λ/2) 2.14 dBi 73 Ω Omnidirectional
Monopole (λ/4) 4 dBi 36 Ω Ground plane required
Microstrip Patch 5-7 dBi 50 Ω Compact (IoT, 5G small cell)
Antena BTS Khusus:
• Collinear Array: Omnidirectional, gain tinggi (~10 dBi).
• Yagi-Uda: Directional, BW sempit (~12 dBi).
• Log-Periodic: Wideband (contoh: 800–2500 MHz).
Parameter Kinerja:
• Beamwidth: Lebar sudut di -3 dB (contoh: 65° azimuth untuk sektoral).
• Front-to-Back Ratio: >20 dB untuk reduksi interferensi.
• Polarisasi: Dual-polarisasi (±45°) untuk diversity.
4. Antenna Downtilt dan Optimasi
Tujuan Downtilt:
• Reduksi Interferensi: Mengarahkan sinyal ke ground, hindari overlap sel.
• Hindari Overshoot: Kontrol jangkauan sinyal di cell edge.
Jenis Downtilt:
1. Mechanical: Adjust fisik antena (presisi ±5°).
2. Electrical: Phase shifter (fleksibel, remote adjustable).
Rumus Downtilt:
ℎ
𝜃 = 𝑎𝑟𝑐𝑡𝑎𝑛 ( )
𝑑
h: Tinggi antena, d: Jarak ke cell edge.
5. Studi Kasus: Instalasi Antena Urban
Lokasi: Site BTS di pusat kota dengan gedung tinggi.
Parameter:
• Frekuensi: 1800 MHz
• Tinggi antena: 30 m
• Jarak target: 1 km
Langkah:
1. Pilih Antena: Sectoral 120° (gain 14 dBi, downtilt 8°).
2. Hitung Path Loss:
𝐿 = 46,3 + 33,9 log10 (1800)
− 13,82 log10 (30) + (44,9 − 6,55 log10 (30)) log10 (1) = 125 𝑑𝐵
3. Optimasi:
o Gunakan Yagi-Uda untuk backhaul antar BTS.
o Polarisasi silang untuk mitigasi multipath.
6. Analisis SWR dan Matching Impedansi
SWR (Standing Wave Ratio):
• Ideal: 1:1 (tanpa refleksi).
• Toleransi: <1.5:1.
• Rumus:
1+|𝛤| 𝑍𝐿 −𝑍0
𝑆𝑊𝑅 = ,𝛤 =
1−|𝛤| 𝑍𝐿 +𝑍0
ZL: Impedansi antena, Z0: Impedansi feeder (50 Ω).
Dampak SWR Tinggi:
• Loss daya hingga 20% jika SWR=2:1.
7. Antenna Diversity untuk Mitigasi Fading
Teknik:
• Space Diversity: Jarak antar antena > 10λ (contoh: 1.7 m untuk 900 MHz).
• Polarization Diversity: Vertical + horizontal.
Keuntungan: Meningkatkan SNR hingga 5 dB di lingkungan multipath.
Parameter Cell Site Design
Parameter Cell Site Design
1. Link Budget: Komponen dan Perhitungan
Link Budget adalah kalkulasi seluruh gain dan loss dalam sistem komunikasi untuk
memastikan daya sinyal memadai di penerima.
Komponen Utama:
Parameter Up Link (Mobile → BTS) Down Link (BTS → Mobile)
Daya Pemancar (P_tx) Daya HP (23 dBm) Daya BTS (40 dBm)
Gain Antena (G) Gain antena HP (0 dBi) Gain antena BTS (15 dBi)
Loss Kabel/Filtr (L) Loss kabel HP (2 dB) Loss combiner BTS (3 dB)
Path Loss (Lp) 130 dB (urban) 130 dB (urban)
Fading Margin (FM) 10 dB 10 dB
Sensitivitas Penerima BTS: -100 dBm HP: -90 dBm
Rumus Link Budget:
𝑃𝑟𝑥 = 𝑃𝑡𝑥 + 𝐺𝑡𝑥 − 𝐿𝑡𝑥 + 𝐺𝑟𝑥 − 𝐿𝑟𝑥 − 𝐿𝑝 − 𝐹𝑀
Contoh Up Link:
𝑃𝑟𝑥 = 23 𝑑𝐵𝑚 + 0 𝑑𝐵𝑖 − 2 𝑑𝐵 + 15 𝑑𝐵𝑖 − 3 𝑑𝐵 − 130 𝑑𝐵 − 10 𝑑𝐵 = −107 𝑑𝐵𝑚
Kesimpulan: Prx(−107 dBm)>Prx(−107 dBm)> Sensitivitas BTS (-100 dBm) → Link
feasible.
2. Jenis Cell Site dan Aplikasi
Tipe Sel Karakteristik Aplikasi
Omni Cell Cakupan 360°, gain rendah (~6 dBi) Area rural, cakupan luas
3 Sektor (120°) Kapasitas tinggi, gain sedang (~12 dBi) Urban, reduksi
interferensi
6 Sektor (60°) Kapasitas sangat tinggi, gain tinggi (~16 Hotspot area padat
dBi)
Micro/Pico Jangkauan pendek (<1 km), daya rendah Indoor, pusat kota padat
Cell
Contoh Optimasi:
• Urban Area: Gunakan 3 sektor dengan downtilt 5° untuk mengurangi interferensi.
• Stadion: 6 sektor + microcell untuk kapasitas tinggi.
3. Proses Desain Cell Site
Tahapan Utama:
1. Site Qualification Test (SQT):
o Pengukuran path loss, interferensi, dan kualitas sinyal.
o Contoh: Menggunakan alat seperti RF Explorer untuk ukur RSSI.
2. Perencanaan dan Zoning:
o Izin lokasi, dokumen teknis, dan analisis dampak lingkungan.
3. EMF Compliance:
o Pastikan radiasi EM di bawah batas aman (contoh: IEEE C95.1).
o Jika EMF melebihi batas, turunkan daya atau ubah orientasi antena.
4. Aktivasi Site:
o Instalasi BTS setelah semua persyaratan terpenuhi.
4. Fading Margin dan Kualitas Sinyal
• Fading Margin: Cadangan daya untuk mengatasi fluktuasi sinyal (misal: 10 dB untuk
urban).
• Eb/No (Energy per Bit to Noise Density):
o Target Eb/No ≥ 7 dB untuk suara GSM.
o Jika Eb/No rendah, tambah gain antena atau kurangi interferensi.
5. Studi Kasus: Desain Cell Site Urban
Lokasi: Pusat kota dengan kepadatan tinggi.
Parameter:
• Tipe sel: 3 sektor (120°).
• Tinggi antena: 30 m.
• ERP Down Link: 50 dBm.
• Fading margin: 12 dB.
Perhitungan Down Link:
𝑃𝑟𝑥 = 50 𝑑𝐵𝑚 + 15 𝑑𝐵𝑖 − 3 𝑑𝐵 + 0 𝑑𝐵𝑖 − 2 𝑑𝐵 − 135 𝑑𝐵 − 12 𝑑𝐵 = −85 𝑑𝐵𝑚
• Sensitivitas HP: -90 dBm → Link feasible.
Optimasi:
• Pasang antena dengan downtilt 8° untuk hindari overshoot.
• Gunakan polarisasi silang (+45°/-45°) untuk diversity.
6. Dampak EMF pada Desain
• Batas EMF: 4.5 W/m² (frekuensi 900 MHz sesuai IEEE).
• Jika pengukuran EMF = 6 W/m²:
o Kurangi daya BTS dari 40 dBm → 36 dBm.
o Atur tinggi antena dari 30 m → 35 m.
Kesimpulan
Desain cell site memerlukan keseimbangan antara kinerja teknis (link budget, fading
margin) dan aspek praktis (lokasi, regulasi). Pemilihan tipe sel, perhitungan link budget, dan
kepatuhan EMF adalah kunci untuk jaringan yang andal dan efisien.
Tips Implementasi:
• Gunakan software Atoll atau Radio Mobile untuk simulasi cakupan.
• Lakukan drive test pasca-aktivasi untuk verifikasi kinerja.
• Evaluasi kapasitas secara berkala untuk antisipasi pertumbuhan pengguna.
Konsep Kanal Fisik dan Logik pada GSM
Penjelasan Materi: Konsep Kanal Fisik & Logik pada GSM
1. Pendahuluan
GSM (Global System for Mobile Communications) adalah teknologi seluler generasi kedua
(2G) yang menggunakan kombinasi Time Division Multiple Access
(TDMA) dan Frequency Division Multiple Access (FDMA) untuk mengoptimalkan
penggunaan spektrum frekuensi. Dalam GSM, terdapat dua jenis kanal utama:
• Kanal Fisik (Physical Channel)
• Kanal Logik (Logical Channel)
2. Kanal Fisik pada GSM
Kanal fisik adalah time slot (TS) dalam struktur frame TDMA. Setiap carrier frekuensi radio
(RF) dibagi menjadi 8 time slot (CH 0–7).
Struktur Frame GSM
• 1 Frame TDMA = 8 Time Slot
• Multiframe GSM:
o 26-frame multiframe → Digunakan untuk Traffic Channel
(TCH) dan SACCH.
o 51-frame multiframe → Digunakan untuk Control Channel (BCCH,
CCCH, SDCCH, dll.).
Burst GSM
Burst adalah format data yang dikirim dalam satu time slot. Ada beberapa jenis burst:
1. Normal Burst
o Membawa logical channel (TCH, SDCCH, BCCH, dll.).
o Digunakan untuk suara, data, dan signaling.
2. Frequency Correction Burst (FCCH)
o Berisi sinyal sinus murni untuk sinkronisasi frekuensi MS (Mobile Station).
o Seluruh bit bernilai ‘0’.
3. Synchronization Burst (SCH)
o Membawa nomor frame TDMA dan BSIC (Base Station Identity Code).
o Digunakan untuk sinkronisasi waktu antara MS dan BTS.
4. Access Burst (RACH)
o Digunakan saat MS ingin mengakses jaringan (uplink).
o Mengandung Timing Advance (TA) untuk mengukur jarak MS ke BTS.
5. Dummy Burst
o Tidak membawa informasi, hanya pengisi jika tidak ada data yang dikirim.
3. Kanal Logik pada GSM
Kanal logik adalah fungsi logis yang ditumpangkan di atas kanal fisik. Terdiri dari:
A. Traffic Channel (TCH)
Digunakan untuk membawa suara atau data.
• Full Rate TCH (13 Kbps) → Satu kanal penuh untuk satu panggilan.
• Half Rate TCH (6.5 Kbps) → Dua panggilan dibagi dalam satu kanal.
B. Control Channel
Digunakan untuk signaling dan kontrol jaringan.
(1) Broadcast Channel (BCH)
• Downlink (BTS → MS), bersifat broadcast ke semua MS dalam sel.
o FCCH (Frequency Correction Channel) → Sinkronisasi frekuensi.
o SCH (Synchronization Channel) → Sinkronisasi waktu dan BSIC.
o BCCH (Broadcast Control Channel) → Informasi sel (LAI, frekuensi
tetangga, power control).
(2) Common Control Channel (CCCH)
• Digunakan saat MS belum memiliki alokasi kanal dedicated.
o PCH (Paging Channel) → Memanggil MS saat ada panggilan masuk.
o RACH (Random Access Channel) → MS meminta akses ke jaringan
(uplink).
o AGCH (Access Grant Channel) → BTS memberikan alokasi SDCCH
(downlink).
(3) Dedicated Control Channel (DCCH)
• Point-to-point, digunakan setelah MS terhubung.
o SDCCH (Standalone Dedicated Control Channel) → Untuk registrasi,
autentikasi, setup panggilan.
o SACCH (Slow Associated Control Channel) → Mengirim pengukuran daya,
timing advance.
o FACCH (Fast Associated Control Channel) → Digunakan saat handover,
mengambil alih TCH sementara.
4. Signaling pada GSM
Proses komunikasi antara MS (Mobile Station), BSC (Base Station Controller), dan MSC
(Mobile Switching Center) meliputi:
• Setup panggilan (via SDCCH & TCH).
• Handover (via FACCH).
• Location Update (via SDCCH).
5. Kesimpulan
• Kanal Fisik = Time slot dalam frame TDMA (8 slot per carrier).
• Kanal Logik = Fungsi logis (TCH untuk suara/data, Control Channel untuk
signaling).
• Burst = Format transmisi data dalam time slot (Normal, FCCH, SCH, RACH,
Dummy).
• Control Channel terdiri dari BCH, CCCH, dan DCCH untuk manajemen jaringan.
Dengan memahami konsep ini, kita dapat melihat bagaimana GSM mengoptimalkan
penggunaan spektrum frekuensi dan mengelola komunikasi seluler secara efisien.
Referensi: Materi 8 Konsep Kanal Fisik & Logik Pada GSM (2024)
Proses Pembangunan Panggilan pada GSM
1. Pendahuluan
GSM (Global System for Mobile Communications) menggunakan protokol yang
terstruktur untuk membangun, mempertahankan, dan mengakhiri panggilan. Proses ini
melibatkan berbagai komponen jaringan seperti MS (Mobile Station), BTS (Base
Transceiver Station), BSC (Base Station Controller), MSC (Mobile Switching
Center), VLR (Visitor Location Register), dan HLR (Home Location Register).
Materi ini menjelaskan:
• Proses panggilan dari Mobile ke PSTN (Telepon Tetap)
• Proses panggilan dari PSTN ke Mobile
• Autentikasi dan alokasi kanal
• Handover (perpindahan sel)
2. Komponen & Identitas Penting dalam GSM
A. Identitas Unik dalam GSM
1. MSISDN (Mobile Station ISDN Number)
o Nomor telepon pelanggan (misal: +628123456789).
o Digunakan untuk menghubungi pelanggan.
2. IMSI (International Mobile Subscriber Identity)
o Nomor unik yang disimpan di SIM Card dan HLR.
o Digunakan untuk autentikasi dan pelacakan lokasi pelanggan.
3. IMEI (International Mobile Equipment Identity)
o Nomor unik perangkat (HP), disimpan di EIR (Equipment Identity
Register).
o Berguna untuk memblokir HP yang dicuri.
4. TMSI (Temporary Mobile Subscriber Identity)
o Nomor sementara pengganti IMSI untuk keamanan.
o Dialokasikan oleh VLR setelah autentikasi berhasil.
5. MSRN (Mobile Station Roaming Number)
o Nomor sementara untuk routing panggilan saat pelanggan roaming.
6. LAI (Location Area Identity)
o Mengidentifikasi Location Area (wilayah cakupan MSC).
o Digunakan untuk paging dan location update.
7. BSIC (Base Station Identity Code)
o Kode unik BTS untuk membedakan BTS yang menggunakan frekuensi
sama (karena reuse frekuensi).
3. Proses Panggilan Mobile ke PSTN (Mobile Originating Call)
Langkah-langkah:
1. Channel Request (RACH)
o MS mengirim permintaan kanal via RACH (Random Access
Channel).
2. Alokasi SDCCH (AGCH)
o BTS merespons dengan AGCH (Access Grant Channel) untuk
mengalokasikan SDCCH (Standalone Dedicated Control Channel).
3. Autentikasi & Ciphering
o MSC memverifikasi MS melalui autentikasi (menggunakan IMSI &
TMSI).
o Enkripsi komunikasi diaktifkan (ciphering).
4. Call Setup (SDCCH)
o MS mengirim nomor tujuan (B-number) via SDCCH.
o MSC memeriksa hak akses pelanggan.
5. Alokasi TCH (Traffic Channel)
o MSC memerintahkan BSC untuk mengalokasikan TCH (Traffic
Channel).
o FACCH (Fast Associated Control Channel) digunakan untuk setup
cepat.
6. Panggilan Terhubung
o MSC menghubungkan ke PSTN.
o MS mendengar ring tone, dan saat diangkat, koneksi suara terbentuk
(TCH aktif).
4. Proses Panggilan PSTN ke Mobile (Mobile Terminating Call)
Langkah-langkah:
1. Dial MSISDN
o PSTN menghubungi GMSC (Gateway MSC) menggunakan MSISDN.
2. Routing Info dari HLR
o GMSC meminta HLR untuk mendapatkan MSRN (Mobile Station
Roaming Number).
o HLR mengirim permintaan ke VLR tempat MS terdaftar.
3. Paging (PCH)
o MSC mengirim paging message ke MS melalui PCH (Paging
Channel).
4. MS Merespons (RACH → SDCCH)
o MS mengirim Channel Request (RACH).
o BTS mengalokasikan SDCCH untuk signaling.
5. Autentikasi & Call Setup
o Proses autentikasi dan alokasi TCH dilakukan.
6. Panggilan Terhubung
o MSC mengirim ring tone ke MS.
o Saat diangkat, koneksi suara terbentuk (TCH aktif).
5. Proses Handover (Perpindahan Sel)
Handover terjadi saat MS berpindah dari satu sel ke sel lain tanpa memutus panggilan.
Jenis Handover:
1. Intra-BSS Handover (dalam BSC yang sama)
2. Inter-BSS Handover (antar BSC dalam MSC yang sama)
3. Inter-MSC Handover (antar MSC)
Langkah-langkah Handover:
1. Measurement Report (SACCH)
o MS mengirim laporan kualitas sinyal ke BTS via SACCH (Slow
Associated Control Channel).
2. Handover Decision
o BSC/MSC memutuskan handover berdasarkan laporan.
3. Handover Execution (FACCH)
o MSC mengirim Handover Command ke MS via FACCH.
o MS berpindah ke BTS baru dan mengonfirmasi via Handover
Complete.
4. Pembebasan Kanal Lama
o Kanal di BTS lama dilepaskan (Clear Command).
6. Proses Call Clearing (Mengakhiri Panggilan)
• Mobile Initiated Call Clearing:
o MS mengirim DISCONNECT → MSC merespons RELEASE →
Kanal (TCH/SDCCH) dilepas.
• PSTN Initiated Call Clearing:
o PSTN mengirim RELEASE → MSC memutus koneksi ke MS.
7. Kesimpulan
• Proses panggilan GSM melibatkan signaling (SDCCH, FACCH) dan
alokasi kanal (TCH).
• Autentikasi & ciphering digunakan untuk keamanan.
• Handover memastikan koneksi tidak terputus saat MS bergerak.
• MSISDN, IMSI, TMSI, MSRN adalah identitas penting untuk routing &
keamanan.
Dengan memahami proses ini, kita bisa melihat bagaimana GSM mengelola
komunikasi suara secara efisien dan aman.
Kapasitas dan Pengertian Trafik pada Jaringan Seluler
1. Pendahuluan
Trafik telekomunikasi mengacu pada beban komunikasi yang ditangani oleh jaringan
seluler, seperti panggilan suara, SMS, dan data. Materi ini membahas:
• Parameter kinerja trafik (GOS, blocking, dropped call).
• Satuan trafik (Erlang, CCS).
• Penyebab dan solusi blocking serta dropped call.
• Perhitungan trafik pada GSM dan CDMA.
2. Parameter Kinerja Trafik
A. Grade of Service (GOS)
GOS mengukur kualitas layanan jaringan selama jam sibuk (Busy Hour/BH).
• Rumus GOS:
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑎𝑛𝑔𝑔𝑖𝑙𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑡𝑜𝑙𝑎𝑘
𝐺𝑂𝑆 = × 100%
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑝𝑎𝑛𝑔𝑔𝑖𝑙𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔
• Target GOS GSM:
o Blocking rate ≤ 1% (artinya 99% panggilan harus berhasil).
o Drop call rate < 1,5%.
B. Probabilitas Blocking
Blocking terjadi ketika kanal tidak tersedia untuk melayani panggilan.
• Rumus Blocking (Erlang B):
𝐴𝑁
𝑃𝑏 = 𝑁!
𝐴𝑘
∑𝑁
𝑘=0 𝑘!
o A = Intensitas trafik (Erlang).
o N = Jumlah kanal tersedia.
Jenis Blocking:
1. Blocking Call Setup: Gagal mendapatkan kanal signaling (SDCCH).
2. Blocking Kanal Suara (TCH) : Tidak ada kanal suara tersedia.
3. Blocking End-Office: Trunk ke PSTN penuh.
C. Dropped Call
Panggilan terputus setelah terhubung karena:
• Sinyal lemah (RF loss, interferensi).
• Gagal handover (neighbor cell penuh/tidak terdaftar).
• Multipath fading (pantulan sinyal melemahkan kualitas).
Solusi:
• Optimasi neighbor list.
• Penambahan repeater atau antenna tilt.
• Pengaturan handover parameter.
3. Satuan Trafik
• 1 Erlang = Penggunaan 1 kanal penuh selama 1 jam.
o Contoh: 2 Erlang = 2 kanal dipakai 1 jam atau 1 kanal dipakai 2 jam.
• CCS (Cent Call Seconds):
o 1 Erlang = 36 CCS.
o Contoh: 1 panggilan 3 menit = 3×60=1803×60=180 detik = 1,8 CCS.
4. Jenis Trafik
1. Offered Traffic (AA) : Trafik yang ingin masuk ke jaringan.
2. Carried Traffic (YY) : Trafik yang berhasil dilayani.
3. Lost Traffic (RR) : Trafik yang ditolak (karena blocking).
Hubungan:
𝐴=𝑌+𝑅
5. Optimasi Jaringan untuk Mengurangi Blocking
1. Directed Retry: MS dialihkan ke sel terdekat jika kanal di sel asal penuh.
2. Congestion Relief: Prioritas panggilan darurat saat jaringan padat.
3. Cell Reselect Offset (CRO): Mengatur preferensi MS memilih sel.
4. Perbaikan Neighbor List: Memastikan handover ke sel yang tepat.
6. Perhitungan Trafik pada CDMA
CDMA memiliki 2 skenario blocking:
1. Soft Blocking: Terjadi karena interferensi tinggi (banyak pengguna).
2. Hard Blocking: Kanal fisik benar-benar habis.
Rumus Trafik CDMA:
• Trafik Suara:
𝐵𝐻𝐶𝐴 × 𝐻𝑜𝑙𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑇𝑖𝑚𝑒 × 𝑉𝑖𝑜𝑐𝑒 𝐴𝑐𝑡𝑖𝑣𝑖𝑡𝑦
𝐴𝑠𝑢𝑎𝑟𝑎 =
3600
o Voice Activity = 0,4 (hanya 40% waktu digunakan untuk suara).
• Trafik Data:
𝑇𝑟ℎ𝑜𝑢𝑔ℎ𝑝𝑢𝑡 (𝑘𝑏𝑝𝑠)
𝐴𝑑𝑎𝑡𝑎 =
𝐷𝑎𝑡𝑎 𝑅𝑎𝑡𝑒 𝑝𝑒𝑟 𝐾𝑎𝑛𝑎𝑙 (9,6 𝑘𝑏𝑝𝑠)
Total Trafik per Sektor (CDMA):
𝐴𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 = 𝐴𝑠𝑢𝑎𝑟𝑎 + 𝐴𝑑𝑎𝑡𝑎 × (1 + 𝐵𝑙𝑜𝑐𝑘𝑖𝑛𝑔)
7. Contoh Kasus & Solusi
Masalah:
• Daerah Jl. XX sering drop call karena terhalang gedung.
• Handover gagal ke BTS tetangga karena neighbor list tidak lengkap.
Solusi:
1. Penyesuaian antenna tilt BTS A untuk mencakup Jl. XX.
2. Update neighbor list agar MS bisa handover ke BTS B.
3. Penambahan repeater jika sinyal masih lemah.
8. Kesimpulan
• Trafik diukur dengan Erlang dan GOS.
• Blocking dan drop call dipengaruhi oleh kapasitas kanal, interferensi, dan handover.
• CDMA memiliki soft/hard blocking karena sifat shared frequency-nya.
• Optimasi jaringan (seperti CRO, neighbor list) penting untuk kinerja GSM/CDMA.
DAFTAR PUSTAKA
Haq, I., Rahman, Z., Ali, S., & Faisal, M., 2017. GSM Technology:
Architecture, Security and Future Challenges. , 5, pp. 070-074.
Mehta, S., & Kumar, J., 2014. AUTHENTICATION AND SECURITY
SOLUTIONS FOR GSM WIRELESS SYSTEMS. .
Meiappane, A., Venkatesan, V., Murugan, S., Arun, A., & Ramachandran, A.,
2013. Architectural Pattern of Health Care System Using GSM Networks. ArXiv,
abs/1312.2323. https://doi.org/10.7763/IJCTE.2011.V3.284.
Irving, P., & Ochang, P., 2016. Evolutionary Analysis of GSM, UMTS and LTE
Mobile Network Architectures. , 54, pp. 27-39.
Upadhyay, R., Singh, V., & Kumar, R., 2014. PERFORMANCE ANALYSIS
OF GSM NETWORK. .