Sesuai namanya, wiper berfungsi sebagai penyapu.
Tepatnya adalah air yang menjadi objek
sapuannya. Tujuannya adalah agar windscreen dapat bersih dari terjangan air dan kotoran
yang menerpa.
Berbagai macam teknologi pun telah dikembangkan agar proses penyapuan air dari kaca kian
maksimal. Di antaranya adalah aplikasi water repellant pada kaca. Nah pada kaca yang sudah
diaplikasikan elemen ini, tak bisa sembarang wiper lagi digunakan. Harus wiper dengan
teknologi graphite coating. Wiper jenis ini mampu menyapu kaca tanpa menghapus lapisan
water repellant dan bekerjasama bersama dengan optimal bersama water repellant saat
menyapu air.
Berikut adalah beberapa jenis wiper yang dapat ditemui di pasaran saat ini.
Kendalikan kecepatan wiper agar sesuai dengan debit air hujan
WIPER BLADE STANDARD
Wiper jenis ini biasanya memiliki material besi sebagai rangkanya. Beberapa kelemahan
masih ditemukan pada wiper jenis ini, diantaranya timbul pada merek-merek yang kualitas
pengerjaannya masih sangat minim. Imbas dari minimnya kualitas adalah proses korosi kerap
terjadi pada rangka frame ini, sehingga kelenturannya pun berpengaruh saat menjaga
fleksibilitas bilah karet. Namun beberapa merek ternama seperti Denso, dan Hella pada
produk high-end nya sudah mengaplikasikan lapisan cat yang menyeluruh pada bidang frame
sehingga meminimalisir timbulnya korosi pada frame.
FRAMELESS WIPER BLADE
Wiper jenis ini kerap dipilih sebagai produk aftermarket. Bermodalkan teknologi tanpa
rangka besi, mengandalkan bilah karet semata sebagai penyapu sekaligus tulang bilah. Selain
harganya yang jauh lebih murah dibanding wiper OEM, material plastik yang digunakan pun
tentu membuat karat tak dapat timbul. Namun kelemahannya justru muncul dari material
karet yang menjadi nyawa utama wiper jenis ini. sifatnya yang universal seringkali membuat
wilayah sapuan menjadi tak maksimal. Alhasil ada beberapa titik yang kerap tak tersapu.
Selain itu tak banyak merek wiper jenis ini yang berada pada durabilitas tinggi.
GRAPHITE COATING WIPER BLADE
Seperti sudah disebut di atas, wiper jenis ini memiliki lapisan khusus di ujung bilah karetnya.
Dengan lapisan ini, sapuan wiper terhadap kaca yang sudah diberi proteksi water repellant tak
akan menggerus lapisan tersebut. tak hanya itu, aplikasi wiper jenis ini juga hanya maksimal
jika bertemu dengan kaca yang sudah diberi proteksi tersebut. Jika tak bertemu lapisan water
repellant, wiper jenis ini justru akan berdecit manakala menyapu kaca.
Gunakan Wiper Dengan Timing yang Tepat
Tujuannya adalah agar proses penyapuan menjadi tak sia-sia. Jika wiper menyapu saat
kondisi kaca kering, atau terlalu sering menyapu dengan debit air hujan yang tak seberapa,
imbasnya karet akan bergesekkan dengan kaca yang kering.
Manfaatkan berbagai pilihan kecepatan yang ada. umumnya mobil-mobil moderen memiliki
beberapa tingkat kecepatan mulai dari Momentum-Intermittent-Slow-Fast-Super Fast.
Pada beberapa mobil, tingkat intermittent dapat disesuaikan kecepatannya. Ini dapat
memberikan pilihan kecepatan pada saat hujan gerimis. Sehingga wiper tak perlu bekerja
keras saat kaca belum terlalu basah.
Efek dari seringnya wiper bergesekkan dengan kaca yang tak basah maka berpotensi
menyebabkan baret pada kaca akibat debu yang tergesek oleh wiper. Tak hanya itu, wiper
yang bergesekkan dengan medium kaca kering juga akan menurun durabilitasnya.
Sesuaikan Arah Nozzle Washer
Nozzle washer juga perlu dicek sebelum menyerbu hujan. Arah nozzle yang tak tepat pada
bidang sapuan wiper hanya tak akan maksimal proses pembasahannya. Anda bisa
membetulkan arah semprotan nozzle dengan memasukkan benda sejenis jarum ke lubang
nozzle, dan digeser ke arah yang sesuai. Perlu proses trial and error sebelum menemukan titik
yang tepat, karena sedikit saja bergeser, maka arah semprotan dapat berbeda jauh.
Atur sudut nosel agar arah semprotan tepat ke kaca
VI. DASAR TEORI
Wiper (penghapus kaca) adalah sangat penting dipakai di sebuah kendaraan, karena erat
hubungannya dengan keselamatan. Jadi, Wiper berfungsi menyapu (menyeka) kaca dari air
hujan,lumpur dan segala kotoran. Wiper dikombinasikan dengan Washer untuk
menyemprotkan cairan pembersih sehingga kerja dari Wiper lebih ringan dan cepat bersih.
Dan wiper mempunyai komponen : motor wiper, Tuas wiper, lengan wiper, wiper blade.
Fungsi dari windshield wiper adalah salah satu aksesoris kendaraan yang penting dimana
komponen ini menjamin pandangan pengemudi depan atau belakang kendaraan tidak
terhalang oleh air hujan, debu, dan kotoran lainnya dengan cara disapu oleh pelantara berupa
komponen penyapu yaitu wiper blade.
Berikut ini tipe sistem wiper menurut fungsinya:
1. Single speed wiper (wiper belakang)
2. 2 speed wiper
3. Intermitten (INT) wiper
4. Washer link wiper
Fungsi washer untuk menyempurnakan fungsi wiper blade dan menguarangi beban pada
motor dengan membersihkan debu dan binatang-binatang kecil dari kaca depan dan belakang
dengan cairan pembersih. Washer tipe listrik umumnya banyak digunakan. Tipe washer
listrik terdiri dari tangki washer, motor, selang dan nozzle.
Komponen windshield wiper
Sistem penghapus kaca tersusun dari beberapa komponen utama diantaranya baterai (accu),
sekring (fuse), switch, relay, motor wiper (penggerak), tuas wiper, wiper arm, dan wiper
blade.
a. Baterai (Accu)
Gambar 01. Baterai (Accu)
Baterai adalah komponen elektrokimia yang menghasilkan tenaga listrik melalui adanya
reaksi kimia yang terjadi antara elektrolit baterai dengan plat baterai. Elektrolit baterai
merupakan campuran antara asam sulfat dan air dengan komposisi campuran 36% asam
sulfat dan 64% air dengan berat jenis sekitar 1,270 pada 20 oC saat baterai terisi penuh.
Baterai memiliki beberapa fungsi menurut kondisi kendaraan, yaitu :
1) Pada saat mesin belum hidup (kunci kontak ON), baterai memberikan energi listrik untuk
sistem penerangan atau lampu-lampu dan aksesoris.
2) Pada saat start, baterai memberikan energi listrik untuk memutar motor starter dan sistem
pengapian selama start.
3) Pada saat mesisn hidup, baterai berfungsi untuk menerima dan menyimpan energi listrik
yang diberikan oleh sistem pengisian
baterai.
b. Sekering (Fuse)
Gambar 02. Fuse
Sekering berfungsi untuk mencegah kerusakan rangkaian akibat kelebihan arus. Sekering
memiliki bagian yang mudah meleleh akibat aliran arus yang berlebihan yang melebihi
kapasitasnya, bagian tersebut dilindungi oleh badan sekering yang biasanya terbuat dari
tabung kaca atau plastik. Kapasitas sekering yang ada adalah 0,5 A sampai 35 A dan yang
paling banyak digunakan adalah 7,5 A sampai 20 A. Bagian logam yang meleleh dan putus
pada sekering akan menyebabkan terjadinya rangkaian terbuka sehingga arus tidak dapat
mengalir pada rangkaian tersebut dan rangkaian tidak dapat bekerja. Sekering yang dipakai
kendaraan dapat dikelompokan menjadi dua macam, yaitu sekering tipe tabung kaca
(cartridge) dan sekering tipe bilah (blade). Sekering tipe tabung kaca berbentuk silinder yang
didalamnya terdapat elemen logam pengaman yang terhubung dengan bagian ujung penutup
sekering yang terbuat dari logam yang akan terputus apabila dialiri arus berlebih, sedangkan
sekering tipe bilah berbentuk pipih dengan dua kaki yang dapat diselipkan pada dudukan
sekering. Kaki sekering tersebut saling terhubung satu sama lain melalui elemen logam tipis
sebagai elemen pengaman yang akan meleleh apabila dialiri arus berlebih. Sekering tipe bilah
adalah model sekering yang sekarang banyak digunakan pada kendaraan bermotor baik roda
empat maupun roda dua, untuk sekering tipe tabung kaca digunakan pada kendaraan keluaran
lama.
c. Saklar
Saklar berfungsi sebagai penghubung dan pemutus arus pada suatu rangkaian. Ada beberapa
jenis saklar yang digunakan pada kendaraan, salah satunya adalah : Saklar Kombinasi Saklar
kombinasi merupakan gabungan dari saklar putar, tekan dan tuas.
Gambar 03. Saklar Kombinasi
d. Relay
Gambar 04. Relay
Relay berfungsi sebagai penghubung dan pemutus arus secara elektromagnetik. Berdasarkan
pada prinsip dasar cara kerjanya, relay dapat bekerja karena adanya medan magnet yang
digunakan untuk menggerakkan saklar. Saat kumparan diberikan tegangan sebesar tegangan
kerja relay maka akan timbul medan magnet pada kumparan karena adanya arus yang
mengalir pada lilitan kawat. Kumparan yang bersifat elektromagnet ini kemudian akan
menarik saklar dari kontak NC ke kontak NO. Jika tegangan pada kumparan dimatikan maka
medan magnet pada kumparan akan hilang sehingga pegas akan menarik saklar ke kontak
NC.
e. Motor Wiper
Penggunaan motor wiper berfungsi sebagai penggerak yang berasal dari lilitan coil yang
menimbulkan pembangkit elektro magnetik, akibat dari induksi elektro magnetik ini akan
menghasilkan energi putar.
Gambar 05. Motor Wiper
f. Tuas Wiper
Berfungsi untuk merubah gerak putar yang dihasilkan motor wiper menjadi gerak tranlasi
poros wiper. Motor wiper adalah motor listrik yang dikombinasikan dengan magnet alam
dengan stator dan armature sebagai rotornya, dimana mekanisme geraknya adalah bila motor
digerakan maka akan menggerakan crank arm, batang penghubung tarik-dorong dihubungkan
dengan crank arm, sehingga arm akan bergerak setengah lingkaran. Lingking rodlain yang
terdapat pada kerja
arm akan membuat gerakan penghapus setengah lingkaran secara pararel.
Gambar 06. Tuas Wiper
g. Lengan Wiper (Wiper Arm)
Kontruksi wiper arm tersusun dari arm head, retainer, arm piece dimana komponen tersebut
mempunyai fungsi tertentu seperti : a) Arm head berfungsi sebagai pengunci pada wiper
shaft. b) Retainer berfungsi untuk menahan blade. c) Arm piece berfungsi sebagai dudukan
blade dan retainer.
Gambar 07. Lengan Wiper
h. Wiper Blade
Fungsi dari wiper blade berfungsi untuk menyapu secara langsung bagian permukaan kaca
yang terpasang pada wiper arm.
Gambar 08.Wiper Blade
VII. LANGKAH KERJA
1. Mempersiapkan alat, bahan dan rangkaian sistem wiper
2. Melepas kabel pada konektor switch wiper, dengan menggunakan ohm meter. Dan
mengidentifikasi kabel sumber tegangan dan kabel untuk masing-masing tingkat kecepatan
3. Melepas konektor pada motor wiper, mengidentifikasi kabel-kabel pada semua tingkat
kecepatan dan posisi pada konektornya
4. Memutar “ON” switch wiper, amati kerja wiper blade dan memberi tanda daerah operasi
wiper blade atau batas geraknya
5. Memutar “OFF” switch wiper, mengukur sudut wiper blade yang telah d bei tanda
6. Mengukur tinggi berhentinya blade terhadap dasar kaca, stel tinggi blade kiri dan kanan bila
tidak sama
7. Mengukur tekanan blade ke kaca menggunakan pull scale
8. Menyetel arah penyemprotan dengan memasukan kawat atau penggores ke lubang nozzle
dan menggerakkan ke arah penyemprotan yang di kehendaki
9. Melepas sekering wiper, pasang amper meter dengan terminal sekering. Putar “ON” switch
wiper
10. Membebaskan penekan wiper blade ke kaca, Putar “ON” switch wiper
11. Melepas konektor motor wiper
12. Membongkar motor wipper
13. Memeriksa kondisi plat kontak dari keausan
14. Merakit kemabali motor wiper
15. Memeriksa kerja motor wiper tanpa beban dengan menghubungkan langsung ke baterai
untuk kecepatan rendah dan kecepatan tinggi
16. Memasang Kembali motor wiper
17. Memeriksa kerja sistem wiper dengan memutar “ON” swicth wiper, maka blade harus
bergerak, dan saat swicth “OFF” maka blade harus berhenti pada posisi yang benar
18. Membersihkan alat dan training objek yang digunakan
19. Melaporkan pada instruktur atau teknisi untuk pemeriksaan kondisi training objek
VIII. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
1. Gambar Rangkaian Sistem Wiper Dan Washer
Gambar 09. Rangkaian Sistem Wiper dan Washer
2. Pemeriksaan
Data
No. Item
Pengukuran
1. Besar sudut sapu wiper 80
2. Tinggi titik wiper blade 35 cm
3. Tekanan blade terhadap kaca -
Arus motor wiper (dengan
bena)
4. 1,2 A
Kecepatan Rendah
2,4 A
Kecepatan Tinggi
Arus motor wiper (tanpa
beban)
5. 1A
Kecepatan Rendah
1,6 A
Kecepatan Tinggi
3. Pemeriksaan Kerja Motor Washer
No. Item Data Pengukuran
1. Arah semprotan Searah ke kaca
2. Arus Motor 1,4
4. Pemeriksaan Motor Wiper
Data
No. Item
Pengukuran
1. Plat Kontak Baik
2. Sikat Baik
3. Drive Gear Baik
4. Armateur Baik
5. Kumparan Baik
5. Prinsip Kerja Wiper
a. Kecepatan rendah
Saat switch berada di posisi kecepatan rendah (LOW/MIST), arus listrik dari baterai mengalir
melalui fusible link kemudian ke saklar/KK (ON) lalu ke fuse dan ke switch LOW/MIST.
Setelah itu arus mengalir ke terminal +1 pada motor penggerak dan ke massa. Lalu motor
akan menggerakan tuas wiper dengan pelan.
Gambar 10. Rangkaian Sistem Wiper Kecepatan Rendah
b. Kecepatan Tinggi
Saat switch berada di posisi kecepatan tinggi (HIGH), arus listrik dari baterai mengalir
melalui fusible link kemudian ke saklar/KK (ON) lalu ke fuse dan ke switch HIGH. Setelah
itu arus mengalir ke terminal +2 pada motor penggerak dan ke massa. Lalu motor akan
menggerakan tuas wiper dengan cepat.
Gambar 11. Rangkaian Sistem Wiper Kecepatan Tinggi
c. Kecepatan Intermitten
Saat switch berada di posisi INT, arus listrik dari baterai mengalir melalui fusible link
kemudian ke saklar/KK (ON) lalu ke fuse dan ke switch INT. Setelah itu arus mengalir ke
basis ke Tr1 melalui resistor, karena basis Tr1 teraliri arus, maka “gerbang” terbuka, dan arus
dari baterai dapat mengalir ke relay kemudian ke massa. Karena relay teraliri arus maka
saklar pada relay tertarik dari posisi A ke posisi B, sehingga arus juga mengalir ke terminal
+1 pada motor penggerak dan ke massa. Lalu motor akan menggerakan tuas wiper dengan
pelan.
Gambar 12. Rangkaian Sistem Wiper Kecepatan Intermitten (Tr1 ON)
d. Mekanisme Pembalik Ke posisi semula
Ketika Tr1 tidak bekerja, menyebabkan titik relay bergerak kembali dari sisi B ke sisi A.
Bagaimanapun begitu motor bergerak, titik switch hubungan berpindah dari sisi P3 ke sisi P2,
jadi arus akan terus mengalir ke sikat dengan kecepatan rendah dan penghapus bergerak
dengan lambat. Dia akan berhenti jika sampai di posisi yang telah ditetapkan. Tr1
melanjutkan lagi kerjanya sehingga penghapus sebentar-bentar mengulangi operasinya. Pada
tipe penyesuaian, tahanan tidak tetap bervariasi dengan switch tidak tetap dan rangkaian
transistor menyesuaikan dengan suplai arus ke Tr1. Hal ini menyebabkan operasi yang selalu
berubah dalam waktu singkat.
Gambar 13. Rangkaian Sistem Wiper Tr1 OFF
Pembahasan :
1. Kondisi motor wiper dalam keadaan baik, pada percobaan diseluruh
kondisi baik kecepatan rendah, tinggi, dan intermitten motor wiper dapat
berfungsi dengan baik dimana sesuai dengan prinsip kerja yang
semestinya.
2. Kondisi pompa washer dalam keadaan baik, dapat memompakan air agar
washer dapat menyemprotkan air. Namun terjadi kerusakan pada sirkuit
atau rangkaian kelistrikan washer dimana terjadi ketidaksesuaian kinerja
(kadang menyemprot, kadang tidak). Hal ini mungkin terjadi karena ada
kabel yang longgar, sehingga solusinya adalah mengecek kabel pada
rangkaian dan mengganti kabel yang sudah tidak layak digunakan.
3. Peralatan yang tidak sesuai dengan spesifikasi. Peralatan dalam
praktikum kurang mendukung, hal ini sangat mempengaruhi hasil
pengukuran serta adanya pengukuran yang tidak dilaksanakan.
IX. KESIMPULAN
Berdasarkan analisis data hasil praktik dan pembahasan diperoleh kesimpulan: motor
wiper dalam keadaan baik, pada percobaan diseluruh kondisi baik kecepatan rendah, tinggi,
dan intermitten motor wiper dapat berfungsi dengan baik dimana sesuai dengan prinsip kerja
yang semestinya. Pompa washer dalam keadaan baik, dapat memompakan air agar washer
dapat menyemprotkan air. Namun terjadi kerusakan pada sirkuit atau rangkaian kelistrikan
washer dimana terjadi ketidaksesuaian kinerja (kadang menyemprot, kadang tidak). Hal ini
mungkin terjadi karena ada kabel yang longgar, sehingga solusinya adalah mengecek kabel
pada rangkaian dan mengganti kabel yang sudah tidak layak digunakan