0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
130 tayangan106 halaman

Master Perhitungan Embung

Dokumen ini membahas analisis hidrologi untuk perencanaan bendung, termasuk perhitungan debit banjir dan hujan rencana menggunakan metode Gumbel dan Weduwen. Data curah hujan dari beberapa pos pengamatan digunakan untuk menghitung hujan rata-rata dan frekuensi hujan. Hasil perhitungan menunjukkan nilai curah hujan rencana untuk berbagai periode waktu yang berbeda.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai XLS, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
130 tayangan106 halaman

Master Perhitungan Embung

Dokumen ini membahas analisis hidrologi untuk perencanaan bendung, termasuk perhitungan debit banjir dan hujan rencana menggunakan metode Gumbel dan Weduwen. Data curah hujan dari beberapa pos pengamatan digunakan untuk menghitung hujan rata-rata dan frekuensi hujan. Hasil perhitungan menunjukkan nilai curah hujan rencana untuk berbagai periode waktu yang berbeda.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai XLS, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERHITUNGAN DIMENSI

TUBUH BENDUNG

4.1 Analisis Hidrologi

Dalam suatu perencanaan bangunan air, hidrologi teknik sangat diperlukan untuk menghitung besarnya debit banjir dan hujan rencana. Dari hasil analisis hidrologi yang diperoleh, da
perencanaan bendung. Untuk menghitung hujan rencana dan banjir rencana digunakan metoda Gumbel, Haspers dan Der Weduwen yang diambil dari data-data curah hujan dari Pos P
dan Pos Pengamatan D dan pos pengamatan E data dapat dilihat pada tabel 4.1 :

Tabel 4.1 Data curah hujan harian maksimum.


Curah hujan (mm/hr)
Pos Pos Pos Pengamatan
No. Tahun pengamatan
Pengamatan C Pengamatan D E

1 1995 113 85 98
2 1996 102 62 117
3 1997 115 100 104
4 1998 131 115 72
5 1999 120 86 59
6 2000 85 123 148
7 2001 160 200 125
8 2002 161 85 38
9 2003 92 73 73
10 2004 68 87 48
Sumber :

4.1.1 Perhitungan besarnya curah hujan.


Dari data curah hujan pada tabel 4.1, dapat dihitung besarnya hujan rencana sebagai berikut :

4.1.1.1 Metode analisa frekuensi Gumbel

Perhitungan curah hujan rencana seperti dalam tabel 4.2 berikut :

Tabel 4.2 Curah hujan maksimum tiap tahun sesuai ranking.

Pos C Pos D Pos E


m
X X2 X X2 X X2
1 161 25921 200 40000 148 21904
2 160 25600 123 15129 125 15625
3 131 17161 115 13225 117 13689
4 120 14400 100 10000 104 10816
5 115 13225 87 7569 98 9604
6 113 12769 86 7396 73 5329
7 102 10404 85 7225 72 5184
8 92 8464 85 7225 59 3481
9 85 7225 73 5329 48 2304
10 68 4624 62 3844 38 1444
n SX SX2 SX SX2 SX SX2
10 1147 139793 1016 116942 882 89380

Sumber : hasil perhitungan


Pos Pengamatan C
Hujan rata-rata dapat dihitung dengan persamaan :

¿
X=
∑ X
=
1147
=114 , 7
mm

Standar Deviasi : n 10

√ √
¿

SX=
∑ ( X 2 )− X ∑ X = 139793−114 , 7 ( 1147 ) =30 ,244
n−1 10−1
Y T −Y N 1 , 4999−0 , 4952
K= = =1 , 058
Sn 0 , 9497
RT = `X + K . SX
R5
Selanjutnya perhitungan dilakukan dengan tabelaris 4.3 berikut :

Tabel 4.3 Perhitungan frekwensi hujan Pos Pengamatan C


T X SX Yn Sn YT K
5 114.7 30.244 0.4952 0.9497 1.4999 1.05791302516584
10 114.7 30.244 0.4952 0.9497 2.2502 1.84795198483732
20 114.7 30.244 0.4952 0.9497 2.9606 2.59597767716121
25 114.7 30.244 0.4952 0.9497 3.1985 2.84647783510582
50 114.7 30.244 0.4952 0.9497 3.9019 3.58713277877224
100 114.7 30.244 0.4952 0.9497 4.6001 4.32231230915026

Sumber : hasil perhitungan.

Pos Pengamatan D
Hujan rata-rata dapat dihitung dengan persamaan :
¿
X=
∑ X
=
1016
=101 , 6 mm
n 10


¿


Standar Deviasi :
SX=
∑ ( X 2 )− X ∑ X = 116942−101 , 6( 1016 ) =39 , 039
n−1 10−1
K = Y T −Y N 1 , 4999−0 , 4952
= =1 , 058
RT = `X + K . SX
Sn 0 , 9497
R5 101,6+0,9673(15,141)=124,217

Selanjutnya perhitungan dilakukan dengan tabelaris 4.4 berikut :

Tabel 4.4 Perhitungan frekwensi hujan Pos Pengamatan D


T X SX Yn Sn YT K
5 101.6 39.039 0.4952 0.9497 1.4999 1.05791302516584
10 101.6 39.039 0.4952 0.9497 2.2502 1.84795198483732
20 101.6 39.039 0.4952 0.9497 2.9606 2.59597767716121
25 101.6 39.039 0.4952 0.9497 3.1985 2.84647783510582
50 101.6 39.039 0.4952 0.9497 3.9019 3.58713277877224
100 101.6 39.039 0.4952 0.9497 4.6001 4.32231230915026

Sumber : hasil perhitungan.

Pos Pengamatan E
Hujan rata-rata dapat dihitung dengan persamaan :

¿
X=
∑ X
=
882
=88 , 2 mm
n 10

√ √
¿
Standar Deviasi :
SX=
∑ ( X 2 )− X ∑ X = 89380− 88 , 2 ( 882 ) =35 , 882
n−1 10−1
K = Y T −Y N 1 , 4999−0 , 4952
Sn
= =1 , 058
RT = `X + K . SX 0 , 9497
R5

Selanjutnya perhitungan dilakukan dengan tabelaris 4.4 berikut :

Tabel 4.4 Perhitungan frekwensi hujan Pos Pengamatan E.


T X SX Yn Sn YT K
5 88.2 35.882 0.4952 0.9497 1.4999 1.05791302516584
10 88.2 35.882 0.4952 0.9497 2.2502 1.84795198483732
20 88.2 35.882 0.4952 0.9497 2.9606 2.59597767716121
25 88.2 35.882 0.4952 0.9497 3.1985 2.84647783510582
50 88.2 35.882 0.4952 0.9497 3.9019 3.58713277877224
100 88.2 35.882 0.4952 0.9497 4.6001 4.32231230915026

Tabel 4.5 Rekapitulasi hasil perhitungan cara Gumbel


RT (mm)
T (tahun) RT rata-rata
Pos. C Pos. D Pos. E
5 146.6955 142.8999 126.16003517 138.5851
10 170.5895 173.7422 154.50821312 166.2800
20 193.2127 202.9444 181.34887101 192.5020
25 200.7889 212.7236 190.33731768 201.2833
50 223.1892 241.6381 216.91349837 227.2469
100 245.4240 270.3388 243.29321028 253.0187

Sumber : hasil perhitungan.


Menghitung curah hujan
rencana dengan metode
4.1.1.2 Metode analisa frekwensi Weduwen.
analisa frekwensi
Weduwen dilakukan
dengan menggunakan
Tabel 4. 6dari
koefisien Koefisien dari Weduwen
Weduwen,
lihat tabel 4.6. tahun
Jumlah Jumlah tahun Jumlah tahun
mT / mp mT / mp mT / mp
(n) (n) (n)
1 0,410 15 0,765 60 0,975
2 0,492 20 0,811 70 1,000
3 0,541 25 0,845 80 1,020
4 0,579 30 0,875 90 1,030
5 0,602 40 0,915 100 1,050
10 0,705 50 0,948 125 1,080
Sumber : Hidrologi terapan.

Pos Pengamatan C
Rmak = 161 mm
n = 10 tahun ® mp = 0,705
n = 11 tahun ® mp = ……
n = 15 tahun ® mp = 0,765
dengan cara interpolasi :
n = 11 tahun ® mp = 0,765 - {(15-11)/(15-10)} x (0,765-0,705) 0.717

R70 =
R mak 161
= =224 , 547
mp 0 , 717
R5 = 0,602 x 292,887= 176,3180 mm
Selanjutnya perhitungan dilakukan dengan tabelaris berikut :

Tabel : 4.7 Perhitungan curah hujan Pos Pengamatan C


dengan metode Weduwen
T mp R70 RT
5 0.6020 224.5470 135.1773
10 0.7050 224.5470 158.3056
20 0.8110 224.5470 182.1076
25 0.8450 224.5470 189.7422
50 0.9480 224.5470 212.8706
100 1.0500 224.5470 235.7744

Sumber : hasil perhitungan.

Pos Pengamatan D
Rmak = 200 mm
n = 11 tahun ® mp = 0,717

R mak 200
R70 = = =278 , 940 mm
mp 0 , 717
R5 = 0,602 x 278,940 = 167,922 mm
Selanjutnya perhitungan dilakukan dengan tabelaris 4.8 berikut :

Tabel 4.8 Perhitungan curah hujan Pos Pengamatan D dengan


Metode Weduwen.
T mp R70 RT
5 0.6020 278.940 167.922
10 0.7050 278.940 196.653
20 0.8110 278.940 226.220
25 0.8450 278.940 235.704
50 0.9480 278.940 264.435
100 1.0500 278.940 292.887

Sumber : hasil perhitungan.

Pos Pengamatan E
Rmak = 148 mm
n = 11 tahun ® mp = 0,717

R mak 148
R70 = = =206 , 4156 mm
mp 0 , 717
R5 = 0,602 x 206,4156 = 124,262 mm
Selanjutnya perhitungan dilakukan dengan tabelaris 4.8 berikut :

Tabel 4.8 Perhitungan curah hujan Pos Pengamatan D dengan


Metode Weduwen.
T mp R70 RT
5 0.6020 206.416 124.262
10 0.7050 206.416 145.523
20 0.8110 206.416 167.403
25 0.8450 206.416 174.421
50 0.9480 206.416 195.682
100 1.0500 206.416 216.736

Sumber : hasil perhitungan.

Tabel 4.9 Rekapitulasi hasil perhitungan cara Weduwen.


RT (mm)
T (tahun) RT rata-rata
Pos C Pos D Pos E
5 135.1773 167.922 124.262 142.454
10 158.3056 196.653 145.523 166.827
20 182.1076 226.220 167.403 191.910
25 189.7422 235.704 174.421 199.956
50 212.8706 264.435 195.682 224.329
100 235.7740 292.887 216.736 248.466

Sumber : hasil perhitungan


4.1.1.3 Metode analisa frekuensi Haspers.

Data curah hujan yang digunakan untuk analisa curah hujan dengan metode Haspers adalah curah hujan absolut pertama dan kedua selama tahun pengamatan dan jumlah pengamatan
seperti pada tabel 4.10 berikut :

Untuk Pos Pengamatan C


Tabel 4.10 Periode pengamatan hujan absolut .
Standar
Return Period
Hujan terbesar (R) Urutan terbesar (m) Variable
T=(n+1)/m U (Tabel 3. )
161 1 11 1,43
160 2 5.5 0,81
Sumber : Hasil perhitungan

R1 =m 1= X 1 =161 R2 =m 2= X 2 =160

( )
¿ ¿
1 X 1 − X X 2 −X
S= +
2 U1 U2

S=
1
2 ( 161−114
1 , 43
, 7 160 −114 , 7
+
0 , 81 )=44 ,152
Periode 5 tahun , Ut = 0,64 (dari tabel 3.1)
¿
Rt= R +( S∗Ut ) 114,7 + (44,152 x 0,64)
142,9573 mm
Selanjutnya perhitungan dilakukan dengan tabelaris 4.11 :
Tabel 4.11 Perhitungan curah hujan dengan periode ulang tertentu.
Periode R (mm) S (mm) Ut Rt (mm)
5 114.7 44.152 0.64 142.9573
10 114.7 44.152 1.26 170.3315
20 114.7 44.152 1.89 198.1473
25 114.7 44.152 2.1 207.4192
50 114.7 44.152 2.75 236.1180
100 114.7 44.152 3.43 266.1414
1000 114.7 44.152 5.72 367.2494
Sumber : Hasil perhitungan.

Untuk Pos Pengamatan D


Tabel 4.12 Periode pengamatan hujan absolut .
Standar
Return Period
Hujan terbesar (R) Urutan terbesar (m) Variable
T=(n+1)/m U (Tabel 3. )
200 1 11 1,43
123 2 5.5 0,81
Sumber : Hasil perhitungan

R1 =m 1=200 R2 =m 2=123

( )
¿ ¿
1 X1− X X 2− X
S= +
2 U U2
1

S=
2 (
1 200−101 , 6 123−101 ,6
1 , 43
+
0 , 81
=47 , 615 )
Periode 5 tahun ® dari tabel 3. ® Ut = 0,64
¿
Rt = R +( S∗Ut ) 109,5714 + (41,142 x 0,64)
135,902 mm

selanjutnya perhitungan dilakukan dengan tabelaris berikut :

Tabel 4.13 Perhitungan curah hujan dengan periode ulang tertentu.


Periode R (mm) S (mm) Ut Rt (mm)
5 101.6 47.615 0.64 132.0736
10 101.6 47.615 1.26 161.5949
20 101.6 47.615 1.89 191.5924
25 101.6 47.615 2.1 201.5915
50 101.6 47.615 2.75 232.5413
100 101.6 47.615 3.43 264.9195
1000 101.6 47.615 5.72 373.9578
Sumber : Hasil perhitungan.

Untuk Pos Pengamatan E


Tabel 4.12 Periode pengamatan hujan absolut .
Standar
Return Period
Hujan terbesar (R) Urutan terbesar (m) Variable
T=(n+1)/m U (Tabel 3. )
148 1 11 1,43
125 2 5.5 0,81
Sumber : Hasil perhitungan

R1 =m 1=148 R2 =m 2=125

( )
¿ ¿
1 X1− X X 2− X
S= +
2 U U2
1

S=
1
2 ( 148−88
1 , 43
, 2 125−88 , 2
+
0 , 81 )= 43 , 625
Periode 5 tahun ® dari tabel 3. ® Ut = 0,64
¿
Rt = R +( S∗Ut ) 88,2 + (43,625 x 0,64)
116.12

selanjutnya perhitungan dilakukan dengan tabelaris berikut :

Tabel 4.13 Perhitungan curah hujan dengan periode ulang tertentu.


Periode R (mm) S (mm) Ut Rt (mm)
5 88.2 43.625 0.64 116.1200
10 88.2 43.625 1.26 143.1675
20 88.2 43.625 1.89 170.6513
25 88.2 43.625 2.1 179.8125
50 88.2 43.625 2.75 208.1688
100 88.2 43.625 3.43 237.8338
1000 88.2 43.625 5.72 337.7350
Sumber : Hasil perhitungan.

Tabel 4.14 Rekapitulasi hasil perhitungan cara Haspers.


RT (mm)
T (tahun) RT rata-rata
Sta. C Sta. D Sta. E
5 142.9573 132.0736 116.1200 130.3836
10 170.3315 161.5949 143.1675 158.3646
20 198.1473 191.5924 170.6513 186.7970
25 207.4192 201.5915 179.8125 196.2744
50 236.1180 232.5413 208.1688 225.6094
100 266.1414 264.9195 237.8338 256.2982
Sumber : hasil perhitungan

Rekapitulasi hasil perhitungan dari Metode Gumbel, Weduwen dan Haspers adalah sebagai berikut, tabel 4.15 :

Tabel 4.15 Rekapitulasi hasil perhitungan curah hujan dengan metode


Gumbel, Weduwen dan Haspers.
RT rata-rata (mm)
T (tahun)
Cara Gumbel Cara WeduwenCara Haspers
5 138.5851 142.454 130.3836
10 169.68 166.827 158.3646
20 195.902 191.91 186.7970
25 204.683 199.956 196.2744
50 230.6469 224.329 225.6094
100 253.0187 248.466 256.2982
Sumber : hasil perhitungan.
4.1.2 Perhitugan debit banjir rencana.

Yang dimaksud debit banjir rencana adalah suatu besaran debit yang ditetapkan akan mengalir pada sungai dengan periode ulang tertentu. Umumnya banjir rencana yang ditetapka
untuk merencanakan suatu bendung adalah banjir rencana dengan kurun ulang 100 tahun (Q100).

Data teknis
F 29,618 km
L 6,4 km
I 0.0000109
Perhitungan debit banjir rencana (Qt) dari persamaan :
Qt = a x b x qn x F
Keterangan :

= debit banjir rencana yang


Qt diperkirakan terjadi pada
periode ulang tertentu, M3/dt.

a = koefisien run off (aliran).


b = koefisien reduksi.
= debit tiap-tiap km2 yang
qn tergantung pada kemiringan
sungai
Catchment area (m2/dt/km2)
F = luas Catchment area, km2.

0,7 0,7
1+0 , 012∗F 1+0 , 012∗29 , 618
α= 0,7
= =0 , 626
1+0 , 075∗F 1+0 , 075∗29 , 6180 , 7
Waktu konsentrasi (Tc), hari.
Tc = 0,1 * L0,8 * I-0,3

13.606 Tc=13 jam

− 0 , 4 Tc 3/4
1 Tc + 3 , 7∗10 F
=1 + x
β Tc 2 +15 12
3/4
1 13 +3 ,7∗10−0 , 4∗13 29 , 618
=1 + 2 x
β 13 +15 12
1
β= =0 , 4819
2 , 07475
Tc < 19 jam, maka :

Tc ∗Rt 13∗Rt Rt
rt = = =0 , 929
Tc + 1 13+ 1

rt rt
q= = =0 , 021 rt
3 , 6∗Tc 3 , 6∗13
4.1.2.1 Metode Haspers – Gumbel
Debit banjir rencana metode Haspers – Gumbel dapat dilihat pada tabel 4.16 berikut :

Tabel : 4.16 Perhitungan debit banjir rencana metode Haspers-Gumbel


T RT b a rt = 0,929RT q = 0,021 rt QT (m3/dt)
5 138.5851 0.482 0.626 128.746 2.704 24.162
10 169.68 0.482 0.626 157.633 3.310 29.583
20 195.902 0.482 0.626 181.993 3.822 34.155
25 204.6833 0.482 0.626 190.151 3.993 35.686
50 230.6469 0.482 0.626 214.271 4.500 40.212
100 253.0187 0.482 0.626 235.054 4.936 44.113

Sumber : hasil perhitungan.

4.1.2.2 Metode Haspers – Haspers.


Perhitungan debit banjir metode Haspers – Haspers adalah sebagai berikut, tabel 4.17 :

Tabel : 4.17 Perhitungan debit banjir rencana metode Haspers-Haspers.


T RT b a rt = 0,929RT q = 0,021 rt QT (m3/dt)
5 130.3836 0.482 0.626 121.126 2.544 22.732
10 158.3646 0.482 0.626 147.121 3.090 27.610
20 186.7970 0.482 0.626 173.534 3.644 32.567
25 196.2744 0.482 0.626 182.339 3.829 34.220
50 225.6094 0.482 0.626 209.591 4.401 39.334
100 256.2982 0.482 0.626 238.101 5.000 44.685
Sumber : hasil perhitungan.

4.1.2.3 Rumus banjir Der Weduwen.


Rumus banjir Der Weduwen (yang dikenal rumus Weduwen) adalah sebagai berikut :
Qn = a * b * qn * a
4 ,1
α =1−
( β∗q n )+ 7
t+1
20 + ∗A
t+9
β=
120 + A
Rn 67 , 65
qn = ∗
120 t + 1 , 45

t =0 , 25∗L∗Q− 0 , 125∗I −0 , 25
Keterangan :
= debit banjir dengan periode
Qn
ulang n tahun, M3/dt.
a = koefisien limpasan air hujan.
b = koefisien pengurangan luas untuk curah hujan di daerah
aliran sungai
= luasan curah hujan dengan
qn periode ulang n tahun,
M3/dt/km2
A = luas Catchment area, km2.
= curah hujan maksimum
Rn harian dengan periode ulang n
tahun
(mm/hari).
t = lamanya hujan, jam.
L = panjang sungai, km.
I = kemiringan sungai.

4.1.2.4 Metode Der Weduwen – Gumbel.


Data teknis :
A 29,618 km2.
L 6,4 km.
I 0.0000109

Untuk mempermudahkan perhitungan, maka perhitungan debit rencana dilakukan dengan cara tabelaris dengan nilai t0 dicoba-coba sebagai berikut :

Dicoba t0 = 4,7
Selanjutnya perhitungan dapat dilihat pada tabel 4.18 sebagai berikut

Tabel 4.18 Perhitugan debit banjir metode Weduwen – Gumbel.


RT t0 b qn a Qn
R5 = 138.585 4.700 0.216 6.352 0.510 20.739
4.717 0.216 6.334 0.510 20.689
4.719 0.216 6.332 0.510 20.683
R10 = 169.680 4.719 0.216 7.753 0.527 26.185
4.610 0.215 7.893 0.529 26.604
4.599 0.215 7.907 0.529 26.647
4.598 0.215 7.908 0.529 26.651
R20 = 195.902 4.598 0.215 9.130 0.543 31.574
4.511 0.214 9.264 0.544 31.988
4.502 0.214 9.278 0.544 32.032
4.501 0.214 9.279 0.544 32.037
R25 = 204.683 4.501 0.214 9.695 0.548 33.748
4.475 0.214 9.738 0.549 33.882
4.472 0.214 9.743 0.549 33.897
R50 = 230.647 4.472 0.214 10.978 0.562 39.086
4.401 0.213 11.112 0.563 39.516
4.394 0.213 11.125 0.563 39.559
4.393 0.213 11.127 0.563 39.565
R100 = 253.019 4.393 0.213 12.206 0.573 44.212
4.331 0.213 12.337 0.574 44.644
4.325 0.213 12.350 0.574 44.686
4.324 0.213 12.352 0.574 44.693
Sumber : hasil perhitungan.

4.1.2.5 Metode Der Weduwen – Weduwen.


Data teknis :
A 29,618 km2
L 6,4 km.
I 0.0000109
Perhitungan dilakukan dengan cara tabelaris 4.19 sebagai berikut :
Tabel 4.19 Perhitugan debit banjir metode Weduwen – Weduwen.
RT t0 b qn a Qn
R5 = 142.454 4.700 0.216 6.529 0.513 21.411
4.781 0.217 6.444 0.512 21.166
4.791 0.217 6.434 0.512 21.136
R10 = 166.827 4.791 0.217 7.535 0.525 25.406
4.679 0.216 7.672 0.526 25.819
4.667 0.216 7.687 0.526 25.864
4.666 0.216 7.689 0.526 25.867
R20 = 191.910 4.666 0.216 8.845 0.540 30.506
4.569 0.215 8.987 0.541 30.947
4.560 0.215 9.001 0.541 30.989
4.559 0.215 9.002 0.541 30.993
R25 = 199.956 4.559 0.215 9.380 0.545 32.539
4.531 0.215 9.424 0.546 32.676
4.528 0.215 9.428 0.546 32.691
R50 = 224.329 4.528 0.215 10.578 0.558 37.488
4.452 0.214 10.714 0.559 37.926
4.444 0.214 10.728 0.559 37.972
4.443 0.214 10.730 0.559 37.978
R100 = 248.466 4.443 0.214 11.885 0.570 42.924
4.377 0.213 12.019 0.571 43.366
4.371 0.213 12.032 0.571 43.407
4.370 0.213 12.034 0.571 43.414
Sumber : hasil perhitugan.

Rekapitulasi debit banjir dengan beberapa metode dapat dilihat pada tabel 4.20 sebagai berikut :
Tabel 4.20 Rekapitulasi debit banjir rencana.
Qt (m3/det)
Metode
Q5 Q10 Q20 Q25 Q50 Q100
Haspers - Gumbel 24.162 29.583 34.155 35.686 40.212 44.113
Haspers - Haspers 22.732 27.61 32.567 34.22 39,334 44.685
Weduwen - Weduwen 20.683 26.651 32.037 33.897 39.565 44.693
Weduwen - Gumbel 21.411 25.867 30.993 32.691 37.978 43.414
Sumber : hasil perhitungan.

4.1 Perhitungan hidrolis bendung


Dalam perhitungan hidrolis bendung, dibutuhkan data-data teknis sebagai berikut :
1. Qd = 616 m3/dt.
2. Cd (koefisien debit) = 1,30
3. Elevasi dasar mercu = + 187.94
4. Kemiringan dasar sungai = 0,072
5. Elevasi puncak mercu = + 190.9
6. Lebar total bendung = 35,90 m.
7. Lebar pintu bilas = 2,50 m
8. Lebar sungai rata-rata = 30 m.
9. Talud =1:1
10. Type mercu bulat dengan dua jari-jari

4.2.1 Tinggi muka air banjir di hilir bendung.


Perhitungan tinggi muka air banjir di hilir bendung digunakan persamaan sebagai berikut :

h 1
m=1
b = 30 m
Q = debit, m3/dt.
Gambar 4.1 Penampang sungai rata-rata A = luas penampang aliran, m2.
V = kecepatan aliran, m/dt.
C = koefisien kecepatan.
R = jari-jari hidrolis = A/P
Q=VxA I = kemiringan dasar sungai.
g = koefisien kekasaran dinding, untuk sungai diambil 1,5 – 1
V=C √ RI P = keliling basah.

C= 87 untukγ diambil 1,625


γ
1+
√R
R= A
P
A = ( b+mh ) h

P = b + 2h
√ m2 +1
Selanjutnya perhitungan tinggi muka air banjir (h) dilakukan dengan cara coba-coba dengan interval 0,50 m, seperti tabel 4.21

Tabel 4.21 : Perhitungan tinggi muka air banjir di hilir bendung.


h A P R V Q
C
(m) (m2) (m) (m) (m3/dt) (m/dt)
0.50 5.25 11.414 0.460 27.088 0.061 0.318
1.00 11.00 12.828 0.857 33.208 0.102 1.117
2.00 24.00 15.657 1.533 39.339 0.161 3.859
4.00 56.00 21.314 2.627 45.186 0.242 13.541
5.00 75.00 24.142 3.107 47.001 0.274 20.513
6.65 110.72 28.809 3.843 49.288 0.319 35.322
Sumber : hasil perhitungan

Karena Q adalah fungsi dari h maka dapat digambarkan lengkung debit sebagai berikut :

2.50

2.00
h (m)

hd = 1,61 m
1.50

1.00

0.50

Qd = 616 m3/dt
0.00
0 100 200 300 400 500 3 600 700 800 900 1000
Debit (m /dt)

Sumber : hasil perhitungan

Gambar : 4.2 Grafik lengkung debit MAB di hilir.

Berdasarkan Qd = 616 m3/dt, maka didapat dari hasil pembacaan pada grafik lengkung debit hd = 1,61 m.
Kontrol hd dengan rumus aliran sebagai berikut :
A = (b + mh ) h
= (30 + 1 * 1,61 ) 1,61
= 50,892 m2

P = b + 2h
√ m2 + 1
= 30 + 2*1,61
√ 12 + 1
=34,554 m

A 50 , 892
R= = =1 , 473 m
P 34 , 554

87
87
C= = =37 , 196
γ 1 , 625
1+ 1+
√R √ 1 , 473
V =C √ R∗I
=
37 , 196 √ 1 , 473∗0 , 072
37 , 196 √ 1 , 473∗0 , 072

= 12,11 m/dt.
Q =V*a
= 12,113 * 50,892
= 616,433 dibulatkan 616 m3/dt. (OK)

Elevasi dasar sungai = + 187,94


Tinggi air banjir (h) = 1,61 m
Jadi tinggi muka air banjir di hilir bendung = + 187,94 + 1,61
= + 189,55

+ 189,55
h = 1,61

+ 187,94

Gambar 4.3 Elevasi MAB hilir

4.2.2 Lebar efektif bendung

Lebar bendung pada umumnya diambil dari lebar rata-rata sungai disekitar lokasi bendung yang akan direncanakan. Untuk sungai Cigasong lebar rata-rata adalah 30 m, sedangkan
Cigasong adalah 35,90 m. Untuk perhitungan lebar efektif bendung digunakan persamaan sebagai berikut :

Bef = Bt – 2 (n . kp + ka) H1 - St – 0,2 Sb


Keterangan :
Bef = lebar efektif bendung, m
Bt = lebar total bendung, 35,90 m
n = jumlah pilar, 1 buah
Kp = koefisien kontraksi pilar, 0,01 (dari tabel 3.2)
Ka = koefisien kontraksi pangkal bendung, 0,10 (dari tabel 3.3)
= tinggi energi di hulu
H1
bendung
t = lebar pilar 3,45 m
b = lebar pintu bilas 2,50 m
Maka lebar efektif adalah :
Bef = Bt – 2 (n . kp + ka) H1 - St – 0,2 Sb
= 35,90 – 2 ( 1 x 0,01 + 0,1 ) H1 – 3,45 – 0,2 x 2,50
= 35,90 – 0,22 H1 – 3,95
= 31,95 – 0,22 H1

4.2.1 Tinggi muka air banjir di hulu bendung.


Perhitungan tinggi muka air banjir di hulu bendung digunakan persamaan sebagai berikut :
Qd = 2/3 * Cd *
√ 2/3∗g * Bef * H11,5

Cd = Koefisien debit (1.30 – 1.40) diambil Cd = 1,30


Maka :
Qd = 2/3 * Cd *
√ 2/3g * Bef * H11,5

616 = 2/3 * 1,30 *


√ 2 / 3∗9 , 81 * (31,95 – 0,22 H1) * H11,5

616 = 2,216 * (31,95 – 0,22 H1) H11,5


616 = 2,216 * (31,95 H11,5 – 0,22 H12,5)
616 = 70,801 H11,5 – 0,487 H12,5
dengan cara coba-coba didapat H1 = 4,317
616 = 70.801 * 4,317 1,5 – 0,487 * 4,317 2,5
616 = 616,199 yang paling mendekati.
Dari persamaan berikut :
V = Q/A ® A = B (p+h)
K2 = V2/2g
h = H1 – K1
Keterangan :
B = lebar bendung, 35,90 m
p = tinggi mercu, 2,96 m
= tinggi muka air diatas
h
mercu, m.
V = kecepatan aliran, m/dt.
Q = debit aliran, M3/dt.
g = percepatan gravitasi : 9,81 m/dt.
K1 = K2 = tinggi kecepatan (tinggi energi), m.
Dicoba K1 = 0,10
h = H1 – K1
= 4,317 – 0,10
= 4,217
Kontrol :
Q 616
V= = =2 , 391 m/dt.
A 35 , 90 ( 2 , 960+ 4 , 217)
2 2
V 2 , 391
K2 = = =0 , 291 m
2 g 2∗9 , 81
Selanjutnya perhitungan dilakukan dengan cara tabelaris berikut ini sehingga didapat K1 = K2
Tabel 4.22 Perhitungan MAB hulu.
h k1 H1 Bef Q A V
(m) (m) (m) (m) (m3/dt) (m) (m/dt)
0.500 0.100 4.417 30.978 637.262 124.214 5.130
1.342 5.659 30.705 915.871 124.214 7.373
2.771 7.088 30.391 1270.840 124.214 10.231

1.000 0.002 4.319 31.000 616.600 142.164 4.337


0.959 5.276 30.789 826.804 142.164 5.816

1.500 1.724 6.041 30.621 1007.507 160.114 6.292


2.018 6.335 30.556 1079.688 160.114 6.743
2.318 6.635 30.490 1154.663 160.114 7.212

2.000 2.651 6.968 30.417 1239.702 178.064 6.962


2.470 6.787 30.457 1193.486 178.064 6.703
2.290 6.607 30.497 1147.624 178.064 6.445

2.500 2.117 6.434 30.534 1104.321 196.014 5.634


1.618 5.935 30.644 981.807 196.014 5.009
1.279 5.596 30.719 901.076 196.014 4.597

3.000 1.077 5.394 30.763 854.042 213.964 3.992


0.812 5.129 30.822 793.377 213.964 3.708
0.701 5.018 30.846 768.310 213.964 3.591
0.657 4.974 30.856 758.558 213.964 3.545

3.500 0.641 4.958 30.859 754.858 231.914 3.255


0.540 4.857 30.881 732.516 231.914 3.159
0.508 4.825 30.888 725.566 231.914 3.129
0.499 4.816 30.891 723.451 231.914 3.119

4.000 0.496 4.813 30.891 722.811 249.864 2.893


0.427 4.744 30.906 707.571 249.864 2.832
0.409 4.726 30.910 703.682 249.864 2.816
0.404 4.721 30.911 702.704 249.864 2.812
0.403 4.720 30.912 702.459 249.864 2.811

4.008 0.403 4.720 30.912 702.398 250.151 2.808


0.402 4.719 30.912 702.181 250.151 2.807
0.402 4.719 30.912 702.126 250.151 2.807
Sumber : hasil perhitungan.

Dari perhitungan muka air banjir hulu tabel 4.22 tersebut dapat dibuat grafik hubungan antara Qd dengan h seperti gambar 4.4 sehingga tinggi air (h) dapat diketahui dengan cara men
Qd = 616 m3/dt kegrafik lengkung debit, kemudian tarik garis kekiri sehingga didapat nilai h.

Lengkung Debit MAB Hulu

5,00
4,50
h = 4,008 m
4,00
3,50
h (m)

3,00
2,50
2,00
1,50
1,00
0,50
Q = 616 m3/dt
Lengkung Debit MAB Hulu

5,00
4,50
h = 4,008 m
4,00
3,50

h (m)
3,00
2,50
2,00
1,50
1,00
0,50
Q = 616 m3/dt
0,00
0 100 200 300 400 500 600 700 800
Debit (Q) m3/dt

Sumber : hasil perhitungan

Gambar 4.4 Lengkung debit MAB hulu

Berdasarkan Q = 616 m3/dt, maka dari hasil pembacaan pada grafik didapat h = 4,008 m, dan pada tabel 4.22 didapat K1 = 0,309

Kontrol :
h = H – K1
= 4,317 – 0,309
= 4,008 m

Q 616
V= = =2 , 463 m/dt.
A 35 , 90 ( 2 , 960 + 4 , 008 )

2 2
V 2 , 463
K2 = = =0 , 309 m
2 g 2∗9 , 81

K2 = K1 (OK)

Jari-jari mercu
r1 = 0,5 * H1 = 0,5 * 4,317 = 2,158 m diambil 2,20 m
r2 = 2 * r1 = 2 * 2,158 = 4,317 m diambil 4,30 m

4.2.4 Kolam Olakan Loncatan Air


Untuk menentukan keadaan terbaik bagi kolam olakan, semua debit dicek terhadap muka hilirnya, sehingga semua kondisi debit yang terjadi, loncatan air selalu berada dibawah muk
Rumus yang digunakan dalam perhitungan loncatan air ini adalah sebagai berikut :

y 2=0 , 5 y 1 √1 + 8 Fr −1
2

Q
q=
B
q
y 1=
V1

V 1 =√ 2 g ( 0 , 5 H 1 + Z )

V1
Fr =
√ g∗ y 1
Vt = √ 2 g ( p + H 1− y 1 )

+ 194.917
K = 0,309 + 194.608
H1
h = 3,708
+ 190.90
K = 0,309 + 194.608
H1
h = 3,708
+ 190.90
Z+1/2 H1

Z = 2,960
r1
r2 H2
y2

y1
+ 187.94

Gambar 4.5 : Sketsa loncatan air

Untuk memudahkan dalam perhitungan loncatan air, maka perhitungan dilakukan dengan cara tabelaris sehingga V1 = Vt (stabil), lihat tabel 4.23a.

h H1 Q q v1 y1 Fr

(m) (m) (m3/dt) (m2/dt) (m/dt) (m)

0.500 0.502 25.103 0.699 7.937 0.088 8.538

7.937 0.088 8.538

7.937 0.088 8.538

1.000 1.013 71.634 1.995 8.247 0.242 5.353

8.247 0.242 5.353

8.247 0.242 5.353

1.500 1.535 133.252 3.712 8.552 0.434 4.144

8.552 0.434 4.144

8.552 0.434 4.144

8.552 0.434 4.144

2.000 2.069 207.715 5.786 8.853 0.654 3.496

8.853 0.654 3.496

8.853 0.654 3.496

8.853 0.654 3.496

2.500 2.614 293.818 8.184 9.150 0.894 3.089

9.150 0.894 3.089

9.150 0.894 3.089

9.150 0.894 3.089

3.000 3.170 390.864 10.888 9.443 1.153 2.808


9.443 1.153 2.808

9.443 1.153 2.808

9.443 1.153 2.808

9.443 1.153 2.808

3.500 3.735 497.829 13.867 9.732 1.425 2.603

9.732 1.425 2.603

9.732 1.425 2.603

9.732 1.425 2.603

9.732 1.425 2.603

4.000 4.308 614.283 17.111 10.017 1.708 2.447

10.017 1.708 2.447

10.017 1.708 2.447

10.017 1.708 2.447

10.017 1.708 2.447

4.008 4.317 616.236 17.165 10.021 1.713 2.445

10.021 1.713 2.445

10.021 1.713 2.445

10.021 1.713 2.445

10.021 1.713 2.445

Dari perhitungan diatas dapat dibuat grafik loncatan air yaitu hubungan antara debit (Q) dengan tinggi air (y2) sebagai berikut :

Grafik : Loncatan Air

7
(m) Air y

y 2 = 5,123
Tinggi Loncatan

5
2

Q = 616 m3/dt
0
0 100 200 300 400 500 600 700 800
De bit Q (m 3/dt)
Tinggi Lon
4

Q = 616 m3/dt
0
0 100 200 300 400 500 600 700 800
De bit Q (m 3/dt)

Gambar 4.6 Grafik Loncatan air

Dari hasil pembacaan pada grafik loncatan air dengan Q = 616 m3/dt didapat tinggi loncatan air (y2) = 5,123 m.
Dari hasil perhitungan loncatan air didapat y1 = 1,631 m
Dari hasil perhitungan debit MAB hulu didapat H1 = 4,317 m.

Cek loncatan air dihilir bendung :


v1 = vt =
√ 2 g ( p+ H 1− y1 )
=
√ 2∗9 , 81∗(2 , 96+4 , 317−1 ,631 )
= 10.525 m

Fr =
v1 10 ,525
y2 = 0,5 * y1 * = =2 , 631
√ g∗ y 1 √ 9 , 81∗1 . 631

= 0,5 * 1,631 * ( √ 1+ 8

( √1 +8∗2 , 631 2−1 )


Fr 2
−1 )

= 5,253 ~ 5,123 m (OK)

Dari perhitungan Muka Air Banjir (MAB) Hilir dan perhitungan loncatan air, maka dapat dibuat grafik gabungan sebagai berikut :

Gra fik MAB da n Lonca ta n Air

5,00

4,50

Loncatan air
4,00

3,50
h ( m)

3,00

2,50
MA B Hilir
2,00

1,50

1,00

0,50

0,00
0 200 400 600 800 1000

De bit Q (m3/dt)

Gambar 4.7a Grafik MAB hilir dan loncatan air

Dari grafik MAB Hilir dan loncatan air (gambar 4.7a), terlihat bahwa grafik loncatan air diatas MAB hilir, maka dasar lantai olakan harus diturunkan. Dalam hal ini sesuai dengan ko
saat ini bahwa lantai kolam olakan elevasinya adalah + 180,68 sedangkan elevasi mercu bendung adalah + 190.90 maka Z adalah 10,22 m.

Selanjutnya perhitungan loncatan air sebagai berikut (tabel 4.23 b) :


Tabel 4.23b Perhitungan loncatan air setelah dasar lantai olakan diturunkan
h H1 Q q v1 y1 Fr
(m) (m) (m3/dt) (m2/dt) (m/dt) (m)
0.500 0.502 25.103 0.699 14.333 0.049 20.719
14.333 0.049 20.719

1.000 1.013 71.634 1.995 14.507 0.138 12.489


14.507 0.138 12.489
14.507 0.138 12.489

1.500 1.535 133.252 3.712 14.682 0.253 9.323


14.682 0.253 9.323
14.682 0.253 9.323

2.000 2.069 207.715 5.786 14.860 0.389 7.603


14.860 0.389 7.603
14.860 0.389 7.603

2.500 2.614 293.818 8.184 15.039 0.544 6.509


15.039 0.544 6.509
15.039 0.544 6.509

3.000 3.170 390.864 10.888 15.219 0.715 5.745


15.219 0.715 5.745
15.219 0.715 5.745

3.500 3.735 497.829 13.867 15.400 0.900 5.181


15.400 0.900 5.181
15.400 0.900 5.181

4.000 4.308 614.283 17.111 15.581 1.098 4.747


15.581 1.098 4.747
15.581 1.098 4.747
15.581 1.098 4.747

4.008 4.317 616.236 17.165 15.584 1.101 4.741


15.584 1.101 4.741
15.584 1.101 4.741
15.584 1.101 4.741

Sumber : hasil perhitungan

Grafik M AB Hilir dan Loncatan Air

3,00

2,00 MAB Hilir


h = 1,61

1,00

Q = 616 m3/dt
Tinggi air (m)

0,00
0 100 200 300 400 500 600 700 800
y 2 = - 0,697
-1,00

-2,00

-3,00

-4,00
Loncatan air
-5,00

-6,00

-7,00

-8,00
Q = 616 m3/dt
De bit Q (m 3/dt)

Gambar 4.7b Grafik MAB hilir dan loncatan air


Dari gambar 4.7b terlihat bahwa grafik loncatan air berada dibawah grafik MAB hilir, berarti ketinggian loncatan air lebih rendah dari muka air hilir (perhitungan dapat dilanjutkan).

Elevasi mercu = + 190.90


Tinggi air diatas mercu + tinggi kecepatan (H1) = 4.317
Tinggi air diatas mercu (h) = 4.008
Jadi elevasi energi di hulu = + 190.9 + 4.317
= + 195.217
Elevasi muka air banjir dihulu = + 190.9 + 4.008
= + 194.908
Elevasi muka air banjir dihilir = + 189.55
Elevasi lantai kolam olakan = + 180.68
Tinggi loncatan air (y2) = 6.563
Elevasi loncatan air (y2) = + 180.68 + 6.563
= + 187.243
Dari perhitungan hidrolis bendung dapat dibuat gambar sketsa sebagai berikut :

+ 195.217
K 0,309 + 194.908
H1
h 4.008
+ 190.90

P 2,960

+ 187.94 + 187.243
y2 = 6.563
y1= 1,055

+ 180.68

Gambar 4. 8 Dimensi Hidrolis Bendung

4.1 Kolam Olakan Type Bucket (Bak Tenggelam).


Parameter untuk perencanaan peredam energi type bucket adalah :


2
3 q
hc =
g

Keterangan :
hc = Kedalaman air kritis diatas mercu, m.
q = Debit persatuan lebar, m2/dt (17,165)
g = percepatan gravitasi, m/dt (@ 9,81)


2
3 17 , 165
hc = =3 , 108 m
9 , 81
Jari-jari minimum bak adalah sebagai berikut :
DH = 195,217 - 189,55
= 5,667 m

ΔH 5 , 667
= =1 , 823
hc 3 , 108
Untuk ΔH £ 2,4 menggunakan persamaan 3-12
hc

( )
0 , 215
T min ΔH
=1 , 88
hc hc

=1 , 88 (
3 , 108 )
0 ,215
T min 5 , 667
3 , 108

Tmin = 6,648 m ~ 6,50 m

R min = 1,575 (dari grafik 3.7)


hc
Rmin = 1,575 * 3,108 = 4,895 m ~ 5,00 m

Jadi jari-jari bak (R) adalah 5.00 m


R=5
R=5
y a

X=3-y

Gambar 4.9 Sketsa perhitungan lantai lindung

Tebal lantai lindung


a = 0,1 * R
= 0,1 * 5,0
= 0,50 m
Tinggi Lantai Lindung.

Sin a = y
5
y = sin a * 5
= sin 450 * 5
=3,535
x =5–y
= 5 – 3.536
= 1.464 dibulatkan 1,50 m
Jadi elevasi dasar kolam = + 180,68 – 1,50
= + 179,18

Sketsa gambar kolam olak type Bucket dan dimensi hidrolis tubuh bendung adalah sebagai berikut (gambar 4.10 )

+ 195.217
K 0,309 + 194.908
H1 DH = 5,667 m
Hc = 3,108 m
h 4.008
+ 190.90
+ 187.243
P 2,960

+ 187.94
R=5m
R=5m

+ 180.68

+ 179.18

Gambar 4.10 Kolam olak type bucket .

4.2 Tinjauan Back Water Curve


Sketsa pengaruh pengempangan akibat adanya bendung dapat dilihat pada gambar 4.11a dibawah ini :

H1
z 3,108 m h 3,108 m

a 3,108 m

X 3,108 m
L

Gambar 4.11a Sketsa Back Water Curve

Panjang pengaruh pengempangan dihitung dari persamaan berikut :


h
¿1 diambil
L=
2h
a i
h = 195,217 – 189,55
= 5,667 m
a = 189,55 – 187,94
= 1,61 m
h 5 , 667
¿ 1® =3 , 52> 1 dipakai
a 1 , 61
2h 2∗5 , 667
L= = =157 , 41 » 157,50 m
i 0 , 072
Jadi pengempangan yang ditimbulkan akibat adanya bendung sejauh 157,50 m dari mercu. Selanjutnya perhitungan dilakukan dengan cara tabelaris dengan menggunakan persamaan

( 1− X
L )
2
Z =h

Tabel 4.24 Perhitungan Back Water Curve


El. dasar sungai =
h (m) X (m) L (m) Z (m) a (m) (X . I) + el. El. muka air (4+5+6)
dasar mercu
1 2 3 4 5 6 7
5.667 0 157.50 5.667 1.61 187.940 195.217
5.667 50 157.50 2.640 1.61 191.540 195.790
5.667 100 157.50 0.755 1.61 195.140 197.505
5.667 150 157.50 0.013 1.61 198.740 200.363
5.667 157.5 157.50 0.000 1.61 199.280 200.890

Sumber : hasil perhitungan

Dari hasil hitungan tersebut dapat digambarkan long section dari Back Water sebagai berikut : (gambar 4.11b )

Back Water sebagai berikut : (gambar 4.11b )

+ 200. 89

Dasar sungai I = 0.072


H1

+ 195.217
+ 199.28

157,50 m

Gambar 4.11b Long section Back Water Curce (hasil hitungan)


4.1 Pintu pengambilan dan pembilas
4.4.1 Pintu Pengambilan (Intake)
Untuk menghitung dimensi pintu pengambilan digunakan persamaan sebagai berikut :

Q=m.b.h
√ 2 g. z
Keterangan
Q = debit yang diperlukan = 2,214 m3/dt.
m = koefisien debit = 0,80
b = lebar bukaan = 2 x 1,50 m
h = tinggi bukaan
g = percepatan gravitasi
z = Kehilangan tinggi energi = 0,30 m
Q = 0,80 x 3.00 x h x
√ 2 x 9 , 81 x 0 . 30
2.214 = 5,82 h
h = 0.38 m

Elevasi puncak mercu bendung = + 190.9


Tinggi untuk ekploitasi = 0,10 m
Jadi elevasi muka air normal di hulu pintu pengambilan :
= + 190.90 – 0.10 = + 190.80
Elevasi ambang pengambilan = + 190.80 – z – h
= + 190.80 – 0.30 – 0.38
= + 190.12
Kecepatan aliran dipintu pengambilan :
Q
= 2 , 214
A 0 . 38∗3
Q
V = = 2 , 214 =1,94 m/dt.
A 0 . 38∗3
4.4.2 Pintu Pembilas
Rumus pengaliran melalui pintu penguras adalah sebagai berikut :
V = 1,5 x C x √ d

Keterangan :
V = kecepatan aliran penguras, m/dt.
C = Koefisien sedimen (3,5 – 5,5)
d = diameter maksimum seel (0,042 m)
Maka :
V = 1,50 x 5,50 x √ 0 . 042 = 1,69 m/dt.

Rumus pengaliran dibawah pintu penguras adalah sebagai berikut :


V ц
√ 2 g ( H −Y )
m = koefisien kontraksi (0,62)
g = percepatan gravitasi, 9,81 m/dt2
H = tinggi air diatas mercu saat banjir
= 194.908 – 190.90 = 4,01 m
Y = tinggi bukaan penguras
Maka :
V = 0,62
√ 2∗9 , 81∗( 4 , 01−Y )
1,692 = 0,622 x 2 x 9,81 x (4,01 – Y)
2,86 = 30,24 – 7,54Y
Y = 3,65 m

Lebar pintu penguras b = 2,50 m


Q =m.b.Y
√ 2 g .( h−Y )
= 0,62 x 2,50 x 3,65 x
√ 2 x 9, 81 (4 ,01−3, 65 )
= 15,04 m3/dt.
15 , 04
Prosentase Q penguras = x 100% = 2,44 %
616

+ 194.908
+ 187.243

H 4,01 m

Y = 3,65 m + 187,940

Gambar 4.12 Sketsa pengaliran pintu pembilas

4.1 Stabilitas bendung

4.6.1 Tekanan rembesan air akibat Sufosi (Metode Lane)


Perhitungan panjang rembesan dapat dilihat pada tabel 4.25 dan gambar 4.13 :

Tabel 4.25 Perhitungan panjang rembesan


1-2 1.00 2-3 0.50
3-4 0.50 4-5 2.80
5-6 0.50 6-7 0.50
7-8 0.50 8-9 3.00
9-10 0.50 10-11 0.50
11-12 0.50 12-13 3.00
13-14 0.50 14-15 0.50
15-16 0.50 16-17 3.00
17-A 4.76 A-B 2.50
B-C 1.50 C-D 3.63
D-E 1.50 E-F 1.50
F-G 1.50 G-H 1.50
H-I 1.50 I-J 1.50
J-K 1.50 K-L 1.50
L-M 3.00 M-N 3.00
N-O 1.00 O-P 5.07
P-Q 1.00 Q-R 1.00
R-S 5.50
SLV 27.26 SLH 35.00

Sumber : hasil perhitungan

a. Pada kondisi air normal


1
Σ LV + Σ LH
3 ® C = 3 (dari tabel 3.8)
ΔH =
C
1
27 , 26 + (35 . 00 )
3 = 12,975 m
=
3

10,22 m < 12,975 m (aman)


DH < L/C ® Tidak terjadi piping (memenuhi syarat)

b. Kondisi air banjir


DH = 194.908 – 187.243 = 7.665 m
1
Σ LV + Σ LH
3
ΔH =
C
7.665 < 12.975 m
DH < L/C ® Tidak terjadi piping (memenuhi syarat)

4.6.2 Berat sendiri tubuh bendung

Untuk perhitungan berat sendiri tubuh bendung, agar mempermudah perhitungan, maka tubuh bendung dibagi menjadi beberapa bagian (lihat gambar 4.13). Berat volume pasa
diambil : 2,20 ton/m3 (tabel 3.9), perhitungan disajikan pada tabel 4.26.

Tabel 4.26 berat sendiri tubuh bendung

Bagian Uraian perhitungan Besar Gaya Jarak Momen


( ton ) (m) ( tm )
Gb.1 1.8 x 0.74 x 2,20 2.930 1.580 4.630
Gb.2 1.2 x 1.2 x 0.5 x 2,20 1.584 1.210 1.917
Gb.3 0,50 x 2,16 x 3,63 x 2,20 8.625 0.600 5.175
SV 13.139 SMV 11.722

Sumber : hasil perhitungan

4.6.3 Akibat Gaya Upliff Pressure


Perhitungan upliff presure (Px) pada setiap titik untuk kondisi air normal dan air banjir disajikan pada tabel 4.27a :
Tabel 4.27a Perhitungan gaya Upliff Pressure pada setiap titik.

Kondisi air normal Kondisi air banjir


Lx L
Segmen Hx DH Px Hx
(m) (m) (m) (m) (m)
1 0 59.99 2.96 10.22 2.960 9.928
2 0.7 59.99 3.96 10.22 3.841 10.928
3 1.1 59.99 3.96 10.22 3.773 10.928
4 1.42 59.99 3.46 10.22 3.218 10.428
5 4.92 59.99 3.46 10.22 2.622 10.428
A 5.72 59.99 3.96 10.22 2.986 10.928
B 7.67 59.99 3.96 10.22 2.653 10.928
C 7.87 59.99 3.46 10.22 2.119 10.428
D 407.87 59.99 3.46 10.22 -66.025 10.428
E 408.07 59.99 3.96 10.22 -65.560 10.928
G 408.37 59.99 3.96 10.22 -65.611 10.928
H 409.27 59.99 3.46 10.22 -66.264 10.428
13 409.27 59.99 3.46 10.22 -66.264 10.428
14 409.27 59.99 3.96 10.22 -65.764 10.928
15 409.27 59.99 3.96 10.22 -65.764 10.928
16 409.27 59.99 3.46 10.22 -66.264 10.428
17 409.27 59.99 3.46 10.22 -66.264 10.428
A 409.27 59.99 8.22 10.22 -61.504 15.188
B 409.27 59.99 8.22 10.22 -61.504 15.188
C 409.27 59.99 6.72 10.22 -63.004 13.688
D 409.27 59.99 6.72 10.22 -63.004 13.688
E 409.27 59.99 8.22 10.22 -61.504 15.188
F 409.27 59.99 8.22 10.22 -61.504 15.188
G 409.27 59.99 9.72 10.22 -60.004 16.688
H 409.27 59.99 9.72 11.22 -66.826 16.688
I 409.27 59.99 11.22 10.22 -58.504 18.188
J 409.27 59.99 11.22 10.22 -58.504 18.188
K 409.27 59.99 12.72 10.22 -57.004 19.688
L 409.27 59.99 12.72 10.22 -57.004 19.688
M 409.27 59.99 15.72 10.22 -54.004 22.688
N 409.27 59.99 15.72 10.22 -54.004 22.688
O 409.27 59.99 14.72 10.22 -55.004 21.688
P 409.27 59.99 14.72 10.22 -55.004 21.688
Q 53.49 59.99 15.72 10.22 6.607 22.688
R 54.49 59.99 15.72 10.22 6.437 22.688
S 59.99 59.99 10.22 10.22 0.000 17.188

Gaya Lengan Momen


Segmen Uraian Perhitungan
(ton) (m) (t.m)
A-B 0,5 (4,584 + 4,244) x 1,00 x 1,00 4.414 13.880 61.266
C-D 0,5 (2,623 + 2,004) x 1,00 x 1,00 2.314 10.815 25.021
E-F 0,5 (3,249 + 2,993) x 1,00 x 1,00 3.121 8.500 26.529
G-H 0,5 (4,132 + 1,622) x 1,00 x 1,00 2.877 7.500 21.577
I-J 0,5 (5,121 + 4,866) x 1,00 x 1,00 4.994 5.500 27.464
K-L 0,5 (6,11 + 5,854) x 1,00 x 1,00 5.982 4.000 23.928
M-N 0,5 (8,343 + 7,832) x 1,00 x 1,00 8.088 1.500 12.131
SV 31.789 SMV 197.916

Sumber : hasil perhitungan

Tabel 4,27c Perhitungan gaya angkat kondisi air banjir


Gaya Lengan Momen
Segmen Uraian Perhitungan
(ton) (m) (t.m)
A-B 0,5 (12,461 + 12,206) x 1,00 x 1, 12.334 13.880 171.189
C-D 0,5 (10,615 + 10,151) x 1,00 x 1, 10.383 10.815 112.292
E-F 0,5 (11,460 + 11,268) x 1,00 x 1, 11.364 8.500 96.594
G-H 0,5 (12,497 + 10,434) x 1,00 x 1, 11.465 7.500 85.991
I-J 0,5 (13,614 + 13,422) x 1,00 x 1, 13.518 5.500 74.349
K-L 0,5 (14,730 + 14,539) x 1,00 x 1, 14.635 4.000 58.538
M-N 0,5 (17,156 + 16,772) x 1,00 x 1, 16.964 1.500 25.446
SV 90.663 SMV 624.399

Sumber : hasil perhitungan


Kontrol daya angkat pada kondisi air normal
Uplift pressure Up = 31,789 ton
Berat sendiri tubuh bendung Gb = 182,502 ton
Jadi Gb > Up ® Memenuhi syarat

Kontrol daya angkat pada kondisi air banjir


Uplift pressure Up = 90,663 ton
Berat sendiri tubuh bendung Gb = 182,502 ton
Jadi Gb > Up ® Memenuhi syarat

4.6.4 Tebal lantai olak


Kontrol tebal lantai olak di hilir bendung
Gaya angkat pada titik X berdasarkan persamaan sebagai berikut :
Px = Hx - Lx x DH
L

Dari tabel 4.27a didapat : Pp = 5,798 ton


Agar lantai tidak terangkat digunakan syarat sebagai berikut :
Gb = tx . gp > Px
= 3,00 m x 2,20 t/m3 > 5,798 t/m2
= 6,60 t/m2 > 5,798 t/m2 OK

R = 500
+ 180.68
R = 500
+ 180.68

300

+ 145.18

PP = 5,798 ton

300 507 100


50

Gambar 4.15 Sketsa lantai bendung

4.6.5 Tekanan Hidrostatis Air Normal


Tekanan Hidrostatis air normal berdasarkan persamaan berikut :
W1 = ½ . gw . a . p2
W2 = ½ . gw . a . p
Perhitungan tekanan air pada saat kondisi air normal (air setinggi mercu) dapat dilihat pada tabel 4.28a, dan berat air pada kondisi normal tabel 4.28b :
Tabel 4,28a Tekanan air kondisi normal
Gaya Lengan Momen
Segmen Uraian perhitungan
ton m tm
W1 0,50 x 1,00x (2,96)2 x 1,00 4.381 13.747 60.223
SH 4.381 SV 60.223
Sumber : hasil perhitungan

Tabel 4.28b Berat air kondisi normal


Gaya Lengan Momen
Segmen Uraian perhitungan
ton m tm
W2 0,50 x 1,00x 1,20 x 1,20 0.720 13.730 9.886
SH 0.720 SV 9.886

Sumber : hasil perhitungan

4.6.5 Tekanan dan berat air pada saat banjir

Perhitungan tekanan air banjir dapat dilihat pada tabel 4.29a, dan perhitungan berat air pada kondisi banjir dapat dilihat pada tabel 4.49b, sedangkan sketsa gaya yang bekerja akib
berat air dapat dilihat pada gambar 4.16

Tabel 4.29a Tekanan air pada saat banjir

Segmen Uraian perhitungan Gaya Lengan Momen


ton m tm
W.1 0,50 x 1,00 x (2,96)2 x 1,00 4.381 13.747 60.223
W.2 2,96 x 1,00 x 1,00 2.960 14.24 42.150
W.10 0,50 x 1,00 x (6,56)2 x 1,00 -21.517 7.687 -165.400
SH -14.176 SMH -63.026

Segmen Uraian perhitungan Gaya Lengan Momen


ton m tm
W.3 0,50 x 2,17 x 6,13 x 1,00 x 1,0 6.651 12.087 80.391
W.4 1,90 x 6,13 x 1,00 x 1,00 11.647 11.065 128.874
W.5 0,50 x 1,20 x 1,20 x 1,00 x 1,0 0.720 13.730 9.886
W.6 0,50 x 2,16 x 2,16 x 1,00 x 1,0 2.333 9.720 22.675
W.7 6,00 x 4,56 x 1,00 x 1,00 27.360 6.000 164.160
W.8 2,50 x 4,56 x 1,00 x 1,00 11.400 1.250 14.250
W.9 0,50 x 2,50 x 2,50 x 1,00 x 1,0 3.125 0.833 2.603
SV 63.236 SMV 422.839

Sumber : hasil perhitungan

4.6.6 Tekanan Tanah Aktif/Pasif


Tekanan tanah aktif berdasarkan persamaan berikut :
Pa = y * H * Ka
Pp = y * H * Kp
Data teknis
gsat = 1,472 t/m3
f = 150

Ka = tg ( 45− φ2 )=tg ( 45−152 )=0 , 589


2 2

tg ( 45+ )=tg (45 +


2 )
2 φ 15 2
=1 , 698
2
Kp = tg
2
( 45+ φ2 )=tg (45 +152 )=1 , 698
2

Lumpur
gsat = 1,70 t/m3
f = 220

Ka = tg
2
( 45− φ2 )=tg ( 45−222 )=0 , 455
2

Tabel 4.30 Perhitungan tekanan tanah


Segmen Uraian perhitungan Gaya Lengan Momen
ton m tm
Ps1 0,50 x (2,96)2 x 1,70 x 0,455 3.389 13.747 46.582
Ps2 12,76 x 1,70 x 0,455 9.870 6.380 62.970
Pt.1 0,50 x (12,76)2 x 1,472 x 0,589 70.582 4.253 300.186
Pt.2 0,50 x (5,50)2 x 1,472 x 1,698 -37.604 1.833 -68.928
SH 46.237 SMH 340.810
Sumber : hasil perhitungan

4.6.7 Rekapitulasi pembebanan


Rekapitulasi pembebanan dapat dilihat pada tabel 4.31 berikut ini :

Tabel 4.31a Rekapitulasi pembebanan kondisi air normal


Gaya Momen
No. Uraian
ton tm
I. Horizontal
1 Tekanan tanah 46.237 340.810
2 Tekanan air 4.380 60.223
Jumlah 50.617 401.033

II Vertikal
1 Berat sendiri -182.502 -1492.940
2 Berat air -0.720 -9.886
3 Gaya angkat 31.789 197.916
Jumlah -151.433 -1304.910

Tabel 4.31b Rekapitulasi pembebanan kondisi air banjir


Gaya Momen
No. Uraian
ton tm
I. Horizontal
1 Tekanan tanah 46.237 340.810
2 Tekanan air -14.176 -63.026
Jumlah 32.061 277.784

II Vertikal
1 Berat sendiri -182.502 -1492.940
2 Berat air -63.236 -422.839
3 Gaya angkat 90.663 624.399
Jumlah -155.075 -1291.380

Sumber : hasil perhitungan

Kondisi air normal


Momen guling (MG) = 401,033 tm.
Momen tahanan (MT) = 1.304,910 tm
Gaya geser (SH) = 50,617 ton
Gaya vertikal (SV) = 151,433 ton

Kondisi air banjir


Momen guling (MG) = 340,810 tm.
Momen tahanan (MT) = 1.291,380 tm
Gaya geser (SH) = 32,061 ton
Gaya vertikal (SV) = 155,075 ton

4.6.8 Kontrol stabilitas tanpa gempa


Untuk kontrol stabilitas bendung ditinjau dari dua kondisi yaitu pada saat air normal dan air banjir.

4.6.8.1 Keadaan air normal


Overturning (guling)

Syarat SF = Σ MT > SF ijin


MG
Σ MT
MG
1304 , 910
SF = >1 . 30
401. 033

= 3,25 > 1,30 (memenuhi syarat)

Sliding (geser)

Syarat SF = f ∗∑ V > SF ijin


ΣH

SF ijin = 1,25
f = 0,50

SF = 0 , 50∗151 , 433 > SF ijin


50 . 617
= 1,50 > 1,25 (memenuhi syarat)

Exsentrisitas

L ΣM 0 < 1/6 L
Syarat e = −
2 ΣV
L = 15,13 m

SM0 = SMV + SMH


= - 1304,910 + 401,033
= - 903,877 tm

SM0 = 903,877 tm
SV = 151,433 ton

15 .13 903 , 877 1


e= − < x 15 , 13
2 151 , 433 6
= 1,60 < 2,52 (memenuhi syarat)

Tegangan tanah
qult = C.Nc + g.D.Nq + ½g.B.Ng
C = 0.32
f = 15 dari tabel Terzaghi didapat :
Nc = 12,8
Nq 4.44
Ng = 2,4
B = 15,13 m
D 12.76
gsat = 1,472 – 1,0 = 0.472 t/m2
qult = 0,32 x 12,8 + 0.472 x 12.76 x 2,4 + ½ x 15,13 x 2,4
= 36,71 ton/m2
`q =
t/m2 = 2.447 kg/cm2

Tegangan tanah yang timbul :


q1,2 =
±
=

= 10,01 (1 ± 0,62)
q1 = 10,01 (1 + 0.62) = 16,216 ton/m2 = 1,62 kg/cm2 < `q
q2 = 10,01 (1 – 0.62) = 3.80 ton/m2 = 0,38 kg/cm2 < `q
Konstruksi aman terhadap amblas

4.6.8.2 Keadaan air banjir


Overturning (guling)
Syarat SF =
> SF ijin
SF =

= 4,65 > 1,30 (memenuhi syarat)

Sliding (geser)
Syarat SF =
> SF ijin
SF ijin = 1,25
f = 0,50
SF =
> SF ijin
= 2,42 > 1,25 (memenuhi syarat)

Exsentrisitas
Syarat e =
< 1/6 L
L = 15,13 m
SM0 = SMV + SMH
= - 1291,380 + 277,784
= - 1013,596 tm
SM0 = 1013,596 tm
SV = 155,075 ton
<

= 1,03 < 2,52 (memenuhi syarat)

Tegangan tanah
qult = C.Nc + g.D.Nq + ½g.B.Ng
C = 0.32
f = 15 dari tabel Terzaghi didapat :
Nc = 12,8
Nq 4.44
Ng = 2,4
B = 15,13 m
D 12.76
gsat = 1,472 – 1,0 = 0.472 t/m2
qult = 0,32 x 12,8 + 0.472 x 12.76 x 2,4 + ½ x 15,13 x 2,4
= 36,71 ton/m2

`q = qult 36 , 71 t/m2 = 2.447 kg/cm2


= =24 , 47
fk 1.5
Tegangan tanah yang timbul :

q1,2 = = ΣV 6e ±
( 1± )≤ q
B B
151. 433 6∗1 , 56
( 1± )≤ q
15 . 13 15. 13
= 10,25 (1 ± 0,62)

q1 = 10,25 (1 + 0.62) = 16,60 ton/m2 = 1,60 kg/cm2 < `q


q2 = 10,25 (1 – 0.62) = 3.90 ton/m2 = 0,39 kg/cm2 < `q
Konstruksi aman terhadap amblas.
4.6.8.2 Keadaan air banjir
Overturning (guling)

Syarat SF = MT > SF ijin


MG

1291 , 380
SF = >1. 30
277 , 784
= 3,25 > 1,30 (memenuhi syarat)

Sliding (geser)
Syarat SF = f ∗∑ V > SF ijin
ΣH
SF ijin = 1,25
f = 0,50

SF = 0 , 50∗155 , 075 > SF ijin


32 , 061
= 1,50 > 1,25 (memenuhi syarat)

Exsentrisitas
Syarat e = L ΣM 0 < 1/6 L

2 ΣV
L ΣM 0

2 ΣV
L = 15,13 m
SM0 = SMV + SMH
= - 1304,910 + 401,033
= - 903,877 tm
SM0 = 903,877 tm
SV = 151,433 ton

15 .13 1013 , 596 < 1


e= − x 15 , 13
2 155 , 075 6

= 1,60 < 2,52 (memenuhi syarat)


Tegangan tanah
qult = C.Nc + g.D.Nq + ½g.B.Ng
C = 0.32
f = 15 dari tabel Terzaghi didapat :
Nc = 12,8
Nq 4.44
Ng = 2,4
B = 15,13 m
D 12.76
gsat = 1,472 – 1,0 = 0.472 t/m2
qult = 0,32 x 12,8 + 0.472 x 12.76 x 2,4 + ½ x 15,13 x 2,4
= 36,71 ton/m2

`q = qult 36 , 71 t/m2 = 2.447 kg/cm2


= =24 , 47
fk 1.5

Tegangan tanah yang timbul :

q1,2 = = ΣV 6e ±
B
( 1± )≤ q
B
= 10,01 (1 ± 0,62)
q1 = 10,01 (1 + 0.62) = 16,216 ton/m2 = 1,62 kg/cm2 < `q
q2 = 10,01 (1 – 0.62) = 3.80 ton/m2 = 0,38 kg/cm2 < `q
Konstruksi aman terhadap amblas

4.6.9 Perhitungan gaya gempa


Gaya gempa dihitung dari persamaan berikut :
ad = n (ac x Z)m
E = ad
g
Data teknis
- n = 1,56
- m = 0,89
- Z = 1,00 (Kabupaten Majalengka)
- Periode ulang 20 tahun, ac = 85 cm/dt2

ad = n (ac x Z)m
= 1,56 (85 x 1,00)0,89
= 81,341
E =ad 81 , 341
= =0 , 083
g 981
Untuk selanjutnya perhitungan dilakukan dengan cara tabelaris berikut ini : (tabel 4.32).

Tabel 4.32 Perhitungan gaya gempa

Bagian Gg = Gb x E Gaya Lengan Momen


Horizontal Guling
(ton) (m) (ton m)
Gb.1 5,940 x 0,083 0.493 14.253 7.027
Gb.2 33,000 x 0,083 2.739 10.500 28.760
Gb.3 8,625 x 0,083 0.716 14.253 10.203
Gb.4 35,937 x 0,083 2.983 11.250 33.556
Gb.5 59,400 x 0,083 4.930 8.250 40.674
Gb.6 2,475 x 0,083 0.205 8.000 1.643
Gb.7 2,475 x 0,083 0.205 6.500 1.335
Gb.8 2,475 x 0,083 0.205 5.000 1.027
Gb.9 2,475 x 0,083 0.205 3.500 0.719
Gb.10 9,900 x 0,083 0.822 5.500 4.519
Gb.11 19,800 x 0,083 1.643 2.250 3.698
SH 15.148 SMg 133.162

Sumber : hasil perhitungan

Rekapitulasi pembebanan dengan gempa dapat dilihat pada tabel 4.33a dan tabel 4.33b :

T abel 4.33a Rekapitulasi pembebanan kondisi air normal


Gaya Momen
No. Uraian
ton tm
I. Horizontal
1 Tekanan tanah 46,237 340,810
2 Tekanan air 4,380 60,223
3 Gaya gempa 15,148 133,162
Jumlah 65,765 534,195

II Vertikal
1 Berat s endiri -182,502 -1492,940
2 Berat air -0,720 -9,886
3 Gaya angkat 31,789 197,916
Jumlah -151,433 -1304,910

Sumber hasil perhitungan

T abel 4.33b Rekap it ulasi p embebanan kondisi air banjir


Gaya Momen
No. Uraian
ton tm
I. Horizontal
1 Tekanan tanah 46,237 340,81
2 Tekanan air -14,176 -63,026
3 Gaya gempa 15,148 133,162
Jumlah 47,209 410,946

II Vertikal
1 Berat s endiri -182,502 -1492,94
2 Berat air -63,236 -422,839
3 Gaya angkat 90,663 624,399
Jumlah -155,075 -1291,380

Sumber hasil perhitungan

Kondisi air normal


Momen guling (MG) = 534,195 tm.
Momen tahanan (MT) = 1.304,910 tm
Gaya geser (SH) = 65,765 ton
Gaya vertikal (SV) = 151,433 ton

Kondisi air banjir


Momen guling (MG) = 410,946 tm.
Momen tahanan (MT) = 1.291,380 tm
Gaya geser (SH) = 47,209 ton
Gaya vertikal (SV) = 155,075 ton

4.6.10 Kontrol stabilitas dengan gempa


Kontrol stabilitas dengan gempa adalah sebagai berikut :

4.6.10.1 Keadaan air normal


Overturning (guling)
Syarat SF = Σ MT > SF ijin
MG
SF = 1304 , 910
> 1. 30
534 , 195
= 2,44 > 1,30 (memenuhi syarat)

Sliding (geser)

Syarat SF = f ∗∑ V > SF ijin


ΣH
SF ijin = 1,25
f = diambil 0,50

0 , 50∗151 , 433
65 , 765
SF = 0 , 50∗151 , 433 > SF ijin
65 , 765
= 1.51 > 1,25 (memenuhi syarat)

Exsentrisitas
L ΣM 0
Syarat e = − < 1/6 L
2 ΣV
L = 15,13 m

SM0 = SMV + SMH


= - 1304,910 + 534,195
= - 770,715 tm
SM0 = 770,715 tm
SV = 151,433 ton
15 .13 770 ,715 1
e= − < x 15 , 13
2 151 , 433 6
= 2,48 < 2,52 (memenuhi syarat)

Tegangan tanah
qult = C.Nc + g.D.Nq + ½g.B.Ng
C = 0.32
f = 15 dari tabel Terzaghi didapat :
Nc = 12,8
Nq 4.44
Ng = 2,4
B = 15,13 m
D 12.76
gsat = 1,472 – 1,0 = 0.472 t/m2
qult = 0,32 x 12,8 + 0.472 x 12.76 x 2,4 + ½ x 15,13 x 2,4
= 36,71 ton/m2

`q = qult 36 , 71 t/m2 = 2.447 kg/cm2


= =24 , 47
fk 1.5
Tegangan tanah yang timbul :
q1,2 = 6e
ΣV
( 1± )≤ q ±
B B
151. 433 6∗1 , 56
= ( 1± )≤ q
15 . 13 15. 13
= 10,01 (1 ± 0,62)
q1 = 10,01 (1 + 0.62) = 16,216 ton/m2 = 1,62 kg/cm2 < `q
q2 = 10,01 (1 – 0.62) = 3.80 ton/m2 = 0,38 kg/cm2 < `q
Konstruksi aman terhadap amblas

4.6.10.2 Keadaan air banjir


Overturning (guling)

Syarat SF = Σ MT > SF ijin


MG
SF = 1291 , 380
>1 .30
410 , 946
= 3,14 > 1,30 (memenuhi syarat)

Sliding (geser)

Syarat SF = f ∗∑ V > SF ijin


ΣH
SF ijin = 1,25

f = diambil 0,50

SF = 0 , 50∗155 , 075 > SF ijin


47 , 209
= 1.64 > 1,25 (memenuhi syarat)
Exsentrisitas
L ΣM 0
Syarat e = − < 1/6 L
2 ΣV
L = 15,13 m
SM0 = SMV + SMH
= - 1291,380 + 410,946
= - 880,434 tm
SM0 = 880,434 tm
SV = 155,075 ton
15 . 13 880 , 434 1
e= − < x 15 ,13
2 155 , 075 6
= 1,89 < 2,52 (memenuhi syarat)

Tegangan tanah
qult = C.Nc + g.D.Nq + ½g.B.Ng
C = 0.32
f = 15 dari tabel Terzaghi didapat :
Nc = 12,8
Nq 4.44
Ng = 2,4
B = 15,13 m
D 12.76
gsat = 1,472 – 1,0 = 0.472 t/m2

qult = 0,32 x 12,8 + 0.472 x 12.76 x 2,4 + ½ x 15,13 x 2,4


= 36,71 ton/m2

qult 36 , 71
`q = = =24 , 47 t/m2 = 2.447 kg/cm2
fk 1.5
Tegangan tanah yang timbul :

ΣV 6e
q1,2 = = ( 1± )≤ q ±
B B
= 155. 075 6∗1 , 56
( 1± )≤q
15 . 13 15 . 13
= 10,25 (1 ± 0,62)
q1 = 10,25 (1 + 0.62) = 16,605 ton/m2 = 1,66 kg/cm2 < `q
q2 = 10,25 (1 – 0.62) = 3,90 ton/m2 = 0,39 kg/cm2 < `q
Konstruksi aman terhadap amblas

Berdasarkan hasil analisa tersebut diatas, maka dengan demikian dimensi bendung Cigasong aman.
a. Dari hasil analisis hidrologi yang diperoleh, dapat ditentukan
ang diambil dari data-data curah hujan dari Pos Pengamatan C
RT
146.6955
170.5895
193.2127
200.7889
223.1892
245.4240

RT
142.8999
173.7422
202.9444
212.7236
241.6381
270.3388

RT
126.1600
154.5082
181.3489
190.3373
216.9135
243.2932
lama tahun pengamatan dan jumlah pengamatan,
ertentu. Umumnya banjir rencana yang ditetapkan
ebagai berikut :

t
6.608
6.610
6.610
6.418
6.405
6.404
6.404
6.269
6.259
6.258
6.258
6.217
6.214
6.214
6.104
6.096
6.095
6.095
6.011
6.004
6.003
6.003

t
6.581
6.591
6.592
6.442
6.429
6.428
6.428
6.296
6.285
6.284
6.284
6.246
6.242
6.242
6.136
6.127
6.126
6.126
6.033
6.025
6.025
6.025
asaran dinding, untuk sungai diambil 1,5 – 1,75.
igasong lebar rata-rata adalah 30 m, sedangkan lebar bendung
k2
(m)
1.342
2.771
5.335

0.959
1.724

2.018
2.318
2.651

2.470
2.290
2.117

1.618
1.279
1.077

0.812
0.701
0.657
0.641

0.540
0.508
0.499
0.496

0.427
0.409
0.404
0.403
0.403

0.402
0.402
0.402

ga tinggi air (h) dapat diketahui dengan cara menarik garis dari
terjadi, loncatan air selalu berada dibawah muka air hilir.
at tabel 4.23a.

y2 vt

(m) (m/dt)

0.065 8.136

0.065 8.136

0.065 8.136

0.836 8.556

0.836 8.556

0.836 8.556

1.553 8.926

1.553 8.926

1.553 8.926

1.553 8.926

2.248 9.265

2.248 9.265

2.248 9.265

2.248 9.265

2.933 9.582

2.933 9.582

2.933 9.582

2.933 9.582

3.614 9.882
3.614 9.882

3.614 9.882

3.614 9.882

3.614 9.882

4.294 10.169

4.294 10.169

4.294 10.169

4.294 10.169

4.294 10.169

4.973 10.444

4.973 10.444

4.973 10.444

4.973 10.444

4.973 10.444

4.984 10.448

4.984 10.448

4.984 10.448

4.984 10.448

4.984 10.448
harus diturunkan. Dalam hal ini sesuai dengan kondisi bendung
22 m.
y2 vt
(m) (m/dt)
0.430 14.471
0.430 14.471

1.430 14.754
1.430 14.754
1.430 14.754

2.336 15.022
2.336 15.022
2.336 15.022

3.191 15.280
3.191 15.280
3.191 15.280

4.017 15.528
4.017 15.528
4.017 15.528

4.823 15.769
4.823 15.769
4.823 15.769

5.614 16.004
5.614 16.004
5.614 16.004

6.393 16.232
6.393 16.232
6.393 16.232
6.393 16.232

6.405 16.236
6.405 16.236
6.405 16.236
6.405 16.236
i muka air hilir (perhitungan dapat dilanjutkan).
h
¿1
a
n cara tabelaris dengan menggunakan persamaan berikut :

0.072 187.94
0.072 187.94
0.072 187.94
0.072 187.94
0.072 187.94
bagian (lihat gambar 4.13). Berat volume pasangan batu kali

Kondisi air banjir


DH Px
(m)
7.665 9.928
7.665 10.839
7.665 10.787
7.665 10.247
7.665 9.799
7.665 10.197
7.665 9.948
7.665 9.422
7.665 -41.686
7.665 -41.212
7.665 -41.250
7.665 -41.865
7.665 -41.865
7.665 -41.365
7.665 -41.365
7.665 -41.865
7.665 -41.865
7.665 -37.105
7.665 -37.105
7.665 -38.605
7.665 -38.605
7.665 -37.105
7.665 -37.105
7.665 -35.605
8.665 -42.427
7.665 -34.105
7.665 -34.105
7.665 -32.605
7.665 -32.605
7.665 -29.605
7.665 -29.605
7.665 -30.605
7.665 -30.605
7.665 15.854
7.665 15.726
8.665 8.523
mal tabel 4.28b :

4.49b, sedangkan sketsa gaya yang bekerja akibat tekanan dan

Segmen Uraian perhitungan Gaya Lengan Momen


ton m tm
2
Ps1 0,50 x (2,96) x 1,70 x 0,455 3.389 13.747 46.582
Ps2 12,76 x 1,70 x 0,455 9.870 6.380 62.970
2
Pt.1 0,50 x (12,76) x 1,472 x 0,589 70.582 4.253 300.186
2
Pt.2 0,50 x (5,50) x 1,472 x 1,698 -37.604 1.833 -68.928
SH 46.237 SMH 340.810
PERHITUNGAN DIMENSI
TUBUH BENDUNG DI. WAY KULUR III

APerhitungan hidrolis bendung

Data Lapangan :
Lebar sungai rata ( b ) 20.00 m
Kemiringan dasar sungai ( I ) 0.07
Koefisien debit ( Cd ) 1.30
Tinggi Muka Air Banjir ( h ) 1.50 m

ATinggi muka air banjir di hilir bendung.


Perhitungan tinggi muka air banjir di hilir bendung digunakan persamaan sebagai berikut :

h 1
m=1
b = 20.00 m

bar 4.1 Penampang sungai rata-rata

Q=VxA Q = debit, m3/dt.


A = luas penampang aliran, m2.
V =C √ RI V = kecepatan aliran, m/dt.
C = koefisien kecepatan.
87 R = jari-jari hidrolis = A/P
C=
γ untuk Cγ diambil 1,625 I = kemiringan dasar sungai.
1+ g = koefisien kekasaran dinding
√R untuk sungai diambil 1,5 – 1,75
A
R= P = keliling basah.
P
A = ( b+mh ) h

P = b + 2h √m2 +1
Selanjutnya perhitungan tinggi muka air banjir (h) dilakukan dengan cara coba-coba dengan interval 0,50 m,
seperti tabel 4.21
Tabel 4.21 : Perhitungan tinggi muka air banjir di hilir bendung.
h A P R V Q
C
(m) (m )
2
(m) (m) (m3/dt) (m/dt)
0 0
0.25 5.06 20.707 0.244 20.296 2.693 13.632
0.50 10.25 21.414 0.479 25.980 4.823 49.435
0.75 15.56 22.121 0.704 29.618 6.666 103.738
1.00 21.00 22.828 0.920 32.291 8.310 174.516
1.25 26.56 23.536 1.129 34.393 9.804 260.419
1.50 32.25 24.243 1.330 36.116 11.177 360.473
1.75 38.06 24.950 1.526 37.571 12.452 473.944
2.00 44.00 25.657 1.715 38.824 13.642 600.267

Sumber : hasil perhitungan

Karena Q adalah fungsi dari h maka dapat digambarkan lengkung debit sebagai berikut :

LENGKUNG DEBIT

2.5

2
h (m)

1.5

0.5

0
0 100 200 300 400 500 600 700
Debit (m3/det)

Sumber : hasil perhitungan

Gambar : 4.2 Grafik lengkung debit MAB di hilir.


Berdasarkan hd = 1,50 m, maka didapat dari hasil pembacaan pada grafik
lengkung debit Qd = 360,47 m3/dt
Kontrol hd dengan rumus aliran sebagai berikut :
A = (b + mh ) h
= (20 + 1 * 1,50 ) 1,50
= 32.25 m2

P = b + 2h √m2 +1
P = 20 + 2*1,50 √ 12 +1
= '20+(2*1.5*2^0.5)
A 32,25
R= = =1,33 m
P 24,24
87 87
C= = =36 , 116
γ 1 , 625
1+ 1+
√R √ 1 , 33
V =C √ R∗I
= 36,116 √ 1,33∗0,072
= 11.176 m/dtk

Q = V * A = 11,76 * 32.25
360.43 m3/dtk
Dibulatkan Q = 360 m3/dtk ( OK )

Elevasi dasar sungai = + 99,542


Tinggi air banjir (h) = 1,50 m
Jadi tinggi muka air banjir di hilir bendung = + 99,542 + 1,50 = + 101,042

+ 101.042
h = 1.50

+ 99,542

Gambar 4.3 Elevasi MAB hilir


4.2.2 Lebar efektif bendung
Lebar bendung pada umumnya diambil dari lebar rata-rata sungai disekitar lokasi bendung yang akan
direncanakan. Untuk sungai Way Kulur 3 lebar rata-rata adalah 20 m, maka lebar bendung Way Kulur III
direncanakan
Bef = Btselebar
– 2 (n 20,00
. kp + m.
ka)Untuk
H1 - Stperhitungan
– 0,2 Sb lebar efektif bendung digunakan persamaan sebagai berikut :
Keterangan :
Bef = lebar efektif bendung, m
Bt = lebar total bendung, = 20 m
n = jumlah pilar, 1 buah
Kp = koefisien kontraksi pilar, 0,01 (dari tabel 3.2)
Ka = koefisien kontraksi pangkal bendung, 0,10 (dari tabel 3.3)
H1 = tinggi energi di hulu bendung
t = lebar pilar, 1.00 m
b = lebar pintu bilas, 1.00 m
Maka lebar efektif adalah :
Bef = Bt – 2 (n . kp + ka) H1 - St – 0,2 Sb
= 20,00 – 2 ( 1 x 0,01 + 0,1 ) H1 –1,00 – 0,2 x 1,00
= 20,00 – 0,22 H1 – 1,20
= 18,80 – 0,22 H1

4.2.1 Tinggi muka air banjir di hulu bendung.


Perhitungan tinggi muka air banjir di hulu bendung digunakan persamaan sebagai berikut :
= 2/3 * Cd
Qd * √ 2/3∗g * Bef * H11,5

Cd = Koefisien debit (1.30 – 1.40) diambil Cd = 1,30


Maka : = 2/3 * Cd
Qd * √ 2 / 3∗g * Bef * H11,5

360 = 2/3*1,30* √ 2 / 3∗9 , 81 * Bef * H11,5


= 2,216 * Bef * H11,5

360 = 2,216 * (18,80 – 0,22 H1) H11,5


360 = 2,216 * (18,80 H11,5 – 0,22 H12,5)
360 = 41,661 H11,5 – 0,487 H12,5
Dengan cara coba-coba didapat H1 = 4.36 m
360 = 41,661 * 4,36 1,5 – 0,487 * 4,36 2,5
360 = 359.95

Dari persamaan berikut :


V = Q/A ® A = B (p+h)
K2 = V2/2g
h = H1 – K1
Keterangan :
B = lebar bendung, 20,00 m
p = tinggi mercu,1,00 m
h = tinggi muka air diatas mercu, m.
V = kecepatan aliran, m/dt.
Q = debit aliran, m3/dt.
g = percepatan gravitasi : 9,81 m/dt.
K1 = K2 = tinggi kecepatan (tinggi energi), m.

Dicoba K1 = 0,10
h =
= H14,36
– K1 –
0,10
= 4,26
Kontrol :
Q 360
V= = =3 , 358 m/dt.
A 20 , 00 ( 1, 00+4 , 36 )
2 2
V 3 , 358
K2 = = =0 , 575 m
2g 2∗9 , 81
K1 ≠ K2, maka harus sehingga K1 = K2.

Selanjutnya untuk memudahkan perhitungan dilakukan dengan cara tabelaris berikut ini sehingga didapat K1 = K2

Tabel 4.22 Perhitungan MAB hulu.


h k1 H1 Bef Q A V k2
(m) (m) (m) (m) (m3/dt) (m) (m/dt) (m)
0.500 0.100 0.600 18.668 19.226 30.000 0.641 0.021
0.021 0.521 18.685 15.568 30.000 0.519 0.014
0.014 0.514 18.687 15.248 30.000 0.508 0.013
0.013 0.513 18.687 15.223 30.000 0.507 0.013

1.000 0.013 1.013 18.577 41.980 40.000 1.049 0.056


0.056 1.056 18.568 44.659 40.000 1.116 0.064
0.064 1.064 18.566 45.125 40.000 1.128 0.065
0.065 1.065 18.566 45.209 40.000 1.130 0.065
1.500 0.065 1.565 18.456 80.078 50.000 1.602 0.131
0.131 1.631 18.441 85.101 50.000 1.702 0.148
0.148 1.648 18.438 86.411 50.000 1.728 0.152
0.152 1.652 18.437 86.767 50.000 1.735 0.153
0.153 1.653 18.436 86.865 50.000 1.737 0.154
0.154 1.654 18.436 86.891 50.000 1.738 0.154

2.000 0.154 2.154 18.326 128.369 60.000 2.139 0.233


0.233 2.233 18.309 135.409 60.000 2.257 0.260
0.260 2.260 18.303 137.764 60.000 2.296 0.269
0.269 2.269 18.301 138.582 60.000 2.310 0.272
0.272 2.272 18.300 138.870 60.000 2.315 0.273
0.273 2.273 18.300 138.972 60.000 2.316 0.273

2.500 0.273 2.773 18.190 186.177 70.000 2.660 0.361


0.361 2.861 18.171 194.811 70.000 2.783 0.395
0.395 2.895 18.163 198.235 70.000 2.832 0.409
0.409 2.909 18.160 199.640 70.000 2.852 0.415
0.415 2.915 18.159 200.225 70.000 2.860 0.417
0.417 2.917 18.158 200.470 70.000 2.864 0.418
0.418 2.918 18.158 200.573 70.000 2.865 0.418

3.000 0.418 3.418 18.048 252.780 80.000 3.160 0.509


0.509 3.509 18.028 262.585 80.000 3.282 0.549
0.549 3.549 18.019 266.983 80.000 3.337 0.568
0.568 3.568 18.015 269.019 80.000 3.363 0.576
0.576 3.576 18.013 269.973 80.000 3.375 0.580
0.580 3.580 18.012 270.424 80.000 3.380 0.582
0.582 3.582 18.012 270.637 80.000 3.383 0.583
0.583 3.583 18.012 270.738 80.000 3.384 0.584
0.584 3.584 18.012 270.786 80.000 3.385 0.584

3.500 0.584 4.084 17.902 327.401 90.000 3.638 0.674


0.674 4.174 17.882 337.973 90.000 3.755 0.719
0.719 4.219 17.872 343.175 90.000 3.813 0.741
0.741 4.241 17.867 345.805 90.000 3.842 0.752
0.752 4.252 17.864 347.151 90.000 3.857 0.758
0.758 4.258 17.863 347.845 90.000 3.865 0.761
0.761 4.261 17.863 348.204 90.000 3.869 0.763
0.763 4.263 17.862 348.390 90.000 3.871 0.764
0.764 4.264 17.862 348.486 90.000 3.872 0.764
3.571 0.764 4.335 17.846 356.965 91.420 3.905 0.777
0.777 4.348 17.843 358.505 91.420 3.922 0.784
0.784 4.355 17.842 359.307 91.420 3.930 0.787
0.787 4.358 17.841 359.725 91.420 3.935 0.789
0.789 4.360 17.841 359.945 91.420 3.937 0.790
0.790 4.361 17.841 360.060 91.420 3.939 0.791
0.791 4.362 17.840 360.120 91.420 3.939 0.791

4.000 0.791 4.791 17.746 412.376 100.000 4.124 0.867


0.867 4.867 17.729 421.812 100.000 4.218 0.907
0.907 4.907 17.720 426.826 100.000 4.268 0.929
0.929 4.929 17.716 429.543 100.000 4.295 0.940
0.940 4.940 17.713 431.031 100.000 4.310 0.947
0.947 4.947 17.712 431.850 100.000 4.318 0.951
0.951 4.951 17.711 432.303 100.000 4.323 0.953
0.953 4.953 17.710 432.553 100.000 4.326 0.954
0.954 4.954 17.710 432.692 100.000 4.327 0.954

Sumber : hasil perhitungan.


h k1 H1 Bef Q A V k2
(m) (m) (m) (m) (m3/dt) (m) (m/dt) (m)
0 0.000
0.5 0.013 0.513 18.687 15.223 30.000 0.507 0.013
1 0.065 1.065 18.566 45.209 40.000 1.130 0.065
1.5 0.154 1.654 18.436 86.891 50.000 1.738 0.154
2 0.273 2.273 18.300 138.972 60.000 2.316 0.273
2.5 0.418 2.918 18.158 200.573 70.000 2.865 0.418
3 0.584 3.584 18.012 270.786 80.000 3.385 0.584
3.5 0.764 4.264 17.862 348.486 90.000 3.872 0.764
3.571 0.791 4.362 17.840 360.120 91.420 3.939 0.791
4 0.954 4.954 17.710 432.692 100.000 4.327 0.954
Sumber : hasil perhitungan.

Dari perhitungan muka air banjir hulu tabel 4.22 tersebut dapat dibuat grafik hubungan antara Qd dengan h seperti
gambar 4.4 sehingga tinggi air (h) dapat diketahui dengan cara menarik garis dari Qd = 360 m3/dt kegrafik
lengkung debit, kemudian tarik garis kekiri sehingga didapat nilai h.
LENGKUNG DEBIT MAB HULU

4.5

4
h (m)

3.5

2.5

1.5

0.5

0
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 220 240 260 280 300 320 340 360 380 400 420 440
Debit (m3/det)

Sumber : hasil perhitungan


Gambar 4.4 Lengkung debit MAB hulu

Berdasarkan Q =360 m3/dt, maka dari hasil pembacaan pada grafik didapat h = 3,571 m, dan pada tabel 4.22
didapat K1 = 0,791
Kontrol :
h = H – K1
= 4,362– 0,791
= 3,571 m
Q 360
V= = =3 , 938 m/dt.
A 20 , 00 ( 1, 00+3, 571)
2 2
V 3 , 938
K2 = = =0 , 791 m
2g 2∗9 , 81
K2 = K1 (OK)

4.2.4 Kolam Olakan Loncatan Air


Untuk menentukan keadaan terbaik bagi kolam olakan, semua debit dicek terhadap muka hilirnya, sehingga semua
kondisi debit digunakan
Rumus yang yang terjadi, loncatan
dalam air selaluloncatan
perhitungan berada dibawah mukasebagai
air ini adalah air hilir.
berikut :

y 2=0, 5 y 1 √ 1+8 Fr −1)


( 2
Q
q=
B
q
y 1=
V1

V 1 =√ 2g(0,5 H 1 +Z)
V1
Fr=
√ g∗ y 1
Vt=√ 2 g( p+H 1− y 1 )
+ 104.862
K 0,791
+ 104.071
H1
h 3,571
+ 100.50

Z+1/2H1
P 1,000
H2
+ 99.50
y2
y1
Gambar 4.5 : Sketsa loncatan air

Untuk memudahkan dalam perhitungan loncatan air, maka perhitungan dilakukan dengan cara tabelaris sehingga V1 =
lihat tabel 4.23a.
h H1 Q q v1 y1 Fr y2

0,5 y1 [√1+8Fr −1]


Q q
B √ 2g(0,5H1+Z) V1
V1
√ g∗y1
2

(m) (m) (m /dt)


3
(m /dt)
2
(m/dt) (m) (m)
0.500 0.513 15.223 0.761 4.965 0.153 4.049 0.804
5.165 0.147 4.296 0.825
5.177 0.147 4.310 0.826

1.000 1.065 45.209 2.260 5.483 0.412 2.727 1.397


5.694 0.397 2.886 1.434
5.720 0.395 2.905 1.438
5.724 0.395 2.908 1.439

1.500 1.654 86.891 4.345 5.987 0.726 2.244 1.968


6.151 0.706 2.337 2.007
6.181 0.703 2.354 2.015
6.187 0.702 2.357 2.016
6.188 0.702 2.358 2.016

2.000 2.273 138.972 6.949 6.474 1.073 1.995 2.539


6.570 1.058 2.040 2.567
6.593 1.054 2.050 2.574
6.598 1.053 2.053 2.576
6.600 1.053 2.054 2.576

2.500 2.918 200.573 10.029 6.946 1.444 1.846 3.115


6.967 1.439 1.854 3.123
6.974 1.438 1.857 3.125
6.975 1.438 1.857 3.125
6.976 1.438 1.858 3.126
3.000 3.584 270.786 13.539 7.401 1.829 1.747 3.697
7.351 1.842 1.729 3.677
7.335 1.846 1.724 3.670
7.329 1.847 1.722 3.668
7.327 1.848 1.721 3.667

3.500 4.264 348.486 17.424 7.839 2.223 1.679 4.281


7.724 2.256 1.642 4.230
7.682 2.268 1.629 4.212
7.666 2.273 1.624 4.204
7.660 2.275 1.622 4.202
7.658 2.275 1.621 4.201
7.657 2.276 1.621 4.200

3.571 4.362 360.120 18.006 7.900 2.279 1.671 4.365


7.777 2.315 1.632 4.309
7.731 2.329 1.617 4.289
7.714 2.334 1.612 4.281
7.707 2.336 1.610 4.278
7.704 2.337 1.609 4.276
7.703 2.337 1.609 4.276

4.000 4.954 432.692 21.635 8.259 2.619 1.629 4.866


8.088 2.675 1.579 4.783
8.021 2.697 1.559 4.750
7.993 2.707 1.551 4.736
7.982 2.711 1.548 4.731
7.977 2.712 1.546 4.728
7.975 2.713 1.546 4.728
7.974 2.713 1.546 4.727
Dari perhitungan diatas dapat dibuat grafik loncatan air yaitu hubungan
antara debit (Q) dengan tinggi air (y2)
sebagai berikut :
Tinggi Loncatan Air y2 (m)

GRAFIK LONCATAN AIR

4.5

3.5

2.5

1.5

0.5

0
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 220 240 260 280 300 320 340 360 380 400 420 440
Debit (m3/det)

Gambar 4.6 Grafik Loncatan air

Dari hasil pembacaan pada grafik loncatan air dengan Q = 360 m3/dt didapat tinggi
loncatan air (y2) = 4.276 m.
Dari hasil perhitungan loncatan air didapat y1 = 2,337 m
Dari hasil perhitungan debit MAB hulu didapat H1 = 4,362 m.

Cek loncatan air dihilir bendung :

v1 = vt = √ 2 g( p+ H 1− y1 )
√ 2∗9.81∗(1+4.362−2.337)
=

= 7.704 m
v1 7 . 704
Fr = = =1 . 609
√ g∗y 1 √ 9 , 81∗2. 337

y 2=0 , 5 y 1 √1 + 8 Fr −1
2

y 2=0,5∗2.337∗( √ 1+8∗1.609 −1)


2

= 4.276 m ~ 4.276 m ( OK )
Dari perhitungan Muka Air Banjir (MAB) Hilir dan perhitungan loncatan air, maka dapat dibuat grafik gabun
berikut :
Tinggi Loncatan Air y2 (m)

1
Gambar
0
4.7a Grafik MAB hilir dan loncatan air
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 220 240 260 280 300 320 340 360 380 400 420 440
Debit (m3/det)

Dari grafik MAB Hilir dan loncatan air (gambar 4.7a), terlihat bahwa grafik loncatan air diatas MAB hilir, maka
olakan harus diturunkan. Dalam hal ini sesuai dengan kondisi bendung saat ini bahwa lantai kolam olakan elevasin
98.55 sedangkan elevasi mercu bendung adalah + 100.50 maka p adalah 1.95 m.
Selanjutnya perhitungan loncatan air sebagai berikut (tabel 4.23 b) :
Tabel 4.23b Perhitungan loncatan air setelah dasar lantai olakan diturunkan

h H1 Q q v1 y1 Fr y2

√2g(0,5H1+Z) 0,5 y1 √1+8Fr −1)


(
Q q V1 2
B V1 √ g∗y1
(m) (m) (m3/dt) (m2/dt) (m/dt) (m) (m)

0.5 0.513 15.223 0.761 6.580 0.116 6.177 0.954


6.787 0.112 6.470 0.972
6.792 0.112 6.477 0.972
6.792 0.112 6.478 0.972

1.000 1.065 45.209 2.260 6.979 0.324 3.915 1.639


7.266 0.311 4.159 1.681
7.283 0.310 4.174 1.683
7.284 0.310 4.175 1.684

1.500 1.654 86.891 4.345 7.381 0.589 3.072 2.280


7.691 0.565 3.267 2.343
7.722 0.563 3.287 2.349
7.725 0.562 3.289 2.350
7.725 0.562 3.289 2.350
7.725 0.562 3.289 2.350
2.000 2.273 138.972 6.949 7.782 0.893 2.629 2.904
8.083 0.860 2.783 2.981
8.123 0.855 2.804 2.991
8.129 0.855 2.807 2.993

2.500 2.918 200.573 10.028656 8.178 1.226 2.358 3.522


8.453 1.186 2.478 3.606
8.499 1.180 2.498 3.620
8.506 1.179 2.501 3.622
8.508 1.179 2.502 3.623

3.000 3.584 270.786 13.539304 8.568 1.580 2.176 4.137


8.807 1.537 2.268 4.222
8.855 1.529 2.286 4.238
8.864 1.527 2.290 4.241
8.866 1.527 2.291 4.242

3.500 4.264 348.486 17.424318 8.949 1.947 2.048 4.748


9.149 1.904 2.117 4.828
9.195 1.895 2.133 4.846
9.205 1.893 2.136 4.850
9.207 1.892 2.137 4.851
9.208 1.892 2.137 4.851

3.571 4.362 360.120 18.00599 9.003 2.000 2.032 4.835


9.197 1.958 2.099 4.914
9.242 1.948 2.114 4.932
9.253 1.946 2.118 4.936
9.255 1.946 2.118 4.937

4.000 4.954 432.692 21.634582 9.320 2.321 1.953 5.355


9.482 2.282 2.004 5.426
9.523 2.272 2.017 5.444
9.533 2.269 2.020 5.448
9.535 2.269 2.021 5.449
9.536 2.269 2.021 5.449
Tinggi Loncatan Air y2 (m)

GRAFIK LONCATAN AIR

5
4.5
4
3.5
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 220 240 260 280 300 320 340 360 380 400 420
Debit (m3/det)

Gambar 4.7b Grafik MAB hilir dan loncatan air

Dari gambar 4.7b terlihat bahwa grafik loncatan air berada dibawah grafik MAB hilir, berarti ketinggian loncatan air
dari muka
Elevasi air hilir
mercu = + (perhitungan
100.50 dapat dilanjutkan).
Tinggi air diatas mercu + tinggi kecepatan (H1) = 4.362 m
Tinggi air diatas mercu (h) = 3.571 m
Jadi elevasi energi di hulu = + 100.50 + 4.362
= + 104.862
Elevasi muka air banjir dihulu = + 100.50 + 3.571
= + 104.071
Elevasi muka air banjir dihilir = + 101.042
Elevasi lantai kolam olakan = + 98.50
Tinggi loncatan air (y2) = 4.937 m
Elevasi loncatan air (y2) = + 98.55 +4.937
= + 103.487
Dari perhitungan hidrolis bendung dapat dibuat gambar sketsa sebagai berikut :

+ 104.862
K 0,791
+ 104.071
H1
h 3,571
+ 100.50

P 1,000

+ 103.487
+ 99.50
y2 = 4,937
y1= 1,946

+ 98,55
Gambar 4. 8 Dimensi Hidrolis Bendung
4.1 Kolam Olakan Type Bucket (Bak Tenggelam).
Parameter untuk perencanaan peredam energi type bucket adalah :


2
q 3
hc =
g
Keterangan :
hc = Kedalaman air kritis diatas mercu, m.
q = Debit persatuan lebar, m2/dt ( 18.006 )
g = percepatan gravitasi, m/dt (@ 9,81)


2
18. 006
3
hc= =3, 209 m
9, 81
Jari-jari minimum bak adalah sebagai berikut :
DH = 104,862 - 101,042
= 3.82 m

ΔH 3 , 820
= =1, 190
hc 3 , 209
Untuk ΔH £ 2,4 menggunakan persamaan 3-12
hc

( )
0 , 215
T min ΔH
=1, 88
hc hc

( )
0 , 215
T min 3 . 820
=1 , 88
3 , 209 3 , 209
Tmin = 6,264 m ~ 6,26 m

R min
= 1,575 (dari grafik 3.7)
hc
Rmin = 1,575 * 3,209 = 4,973 m ~ 5,00 m

Jadi jari-jari bak (R) adalah 5.00 m

R=5
R=5
y a

X=3-y
Gambar 4.9 Sketsa perhitungan lantai lindung
Tebal lantai lindung
a = 0,1 * R
= 0,1 * 5,0
= 0,50 m
Tinggi Lantai Lindung.
Sin a = y
5
y =
= sin
sin a45
* 05 *
5
=3,535
x =5–y
= 5 – 3.536
= 1.464 dibulatkan 1,50 m
Jadi elevasi dasar kolam = + 98,550 – 1,50
= + 97,05

Sketsa gambar kolam olak type Bucket dan dimensi hidrolis tubuh bendung adalah sebagai berikut (gambar 4.10 )
+ 104.862
K 0,791 + 104.076
H1 DH = 3,202 m
Hc = 3,209 m
h 3,571
+ 100,500

+103,487
P 1,00

+ 187.94
R=5m R=5m

+ 98,550
+ 97,050

Gambar 4.10 Kolam olak type bucket.

4.2 Tinjauan Back Water Curve


Sketsa pengaruh pengempangan akibat adanya bendung dapat dilihat pada gambar 4.11a dibawah ini :

H
z 3,108
1 m
h 3,108
m
a 3,108 m

X 3,108
m
L
L

Gambar 4.11a Sketsa Back Water Curve


Panjang pengaruh pengempangan dihitung dari persamaan berikut :

h 2h
¿1 diambil L=
i
a
h = 104,862 - 101,042
= 3,820 m
a =101,042 - 99,550
= 1,542 m
h 3 , 820
¿1® =2 , 477 > 1 ( dipakai )
a 1 , 542
2h 2∗3,820
L= = =106,11 m
i 0,072
Jadi pengempangan yang ditimbulkan akibat adanya bendung sejauh 157,50 m dari mercu. Selanjutnya perhitungan d
dengan cara tabelaris dengan menggunakan persamaan berikut :

( )
2
X
Z =h 1−
L
El. dasar
Tabel 4.24 Perhitungan Back Water Curve sungai = El. muka
h (m) X (m) L (m) Z (m) a (m) (X . I) + air
1 2 3 4 5 el. dasar
6 (4+5+6)
7
3.82 0 101.11 3.820 1.542 mercu
99.500 104.862
3.82 25 101.11 2.165 1.542 101.300 105.007
3.82 50 101.11 0.976 1.542 103.100 105.618
3.82 75 101.11 0.255 1.542 104.900 106.697
3.82 101.11 101.11 0.000 1.542 106.780 108.322
Sumber : hasil perhitungan

Dari hasil hitungan tersebut dapat digambarkan long section dari Back Water sebagai berikut : (gambar 4.11b )

Back Water sebagai berikut : (gambar 4.11b )


+ 108.322
+ 104.862

+ 106.78 H1
Dasar sungai I = 0.072

101.111 m
Gambar 4.11b Long section Back Water Curce (hasil hitungan)

4.1 Pintu pengambilan dan pembilas


4.4.1 Pintu Pengambilan (Intake)
Untuk menghitung dimensi pintu pengambilan digunakan persamaan sebagai berikut :

Q=m.b.h
√ 2g.z
Keterangan
Q = debit yang diperlukan = 2,214 m3/dt.
m = koefisien
= lebardebit = 0,80
b bukaan
= tinggi = 2 x 1,50 m
h bukaan
g = percepatan gravitasi
z = Kehilangan tinggi energi = 0,30 m
Q = 0,80 x 3.00 x h x
√ 2 x 9 , 81 x 0 . 30
2.214 = 5,82 h
h = 0.38 m

Elevasi puncak mercu bendung = + 190.9


Tinggi untuk ekploitasi = 0,10 m
Jadi elevasi muka air normal di hulu pintu pengambilan :
= + 100.50 – 0.10 = + 100.400
Elevasi ambang pengambilan = + 190.80 – z – h
= + 190.80 – 0.30 – 0.38
= + 190.12
Kecepatan aliran dipintu pengambilan :

Q 2,214
V= = =1,94 m/dt.
A 0.38∗3

4.4.2 Pintu Pembilas


Rumus pengaliran melalui pintu penguras adalah sebagai berikut :

V = 1,5 x C x √d
Keterangan :
V = kecepatan aliran penguras, m/dt.
C = Koefisien sedimen (3,5 – 5,5)
d = diameter maksimum seel (0,042 m)
Maka : = 1,50 x
V 5,50 x √ 0 . 042 = 1,69 m/dt.

Rumus pengaliran dibawah pintu penguras adalah sebagai berikut :


V =ц
√ 2 g( H−Y )
m = koefisien kontraksi (0,62)
g = percepatan gravitasi, 9,81 m/dt2
H = tinggi air diatas mercu saat banjir
= 194.908 – 190.90 = 4,01 m
Y = tinggi bukaan penguras
Maka :
V = 0,62
√ 2∗9 , 81∗( 4 , 01−Y )
1,692 = 0,622 x 2 x 9,81 x (4,01 – Y)
2,86 = 30,24 – 7,54Y
Y = 3,65 m

Lebar pintu penguras b = 1.20 m


Q =m.b.Y
√ 2 g . ( h−Y )
= 0,62 x 2,50 x 3,65 x
√ 2 x 9,81 (4 ,01−3,65 )
= 15,04
m3/dt.
15 , 04
Prosentase Q penguras = x 100 % = 2,44 %
616

+ 194.908
+ 187.243

H 4,01 m

Y = 3,65 m + 187,940
Gambar 4.12 Sketsa pengaliran pintu pembilas

4.1 Stabilitas bendung


4.6.1 Tekanan rembesan air akibat Sufosi (Metode Lane)
Perhitungan panjang rembesan dapat dilihat pada tabel 4.25 dan gambar 4.13 :

Tabel 4.25 Perhitungan Panjang Rembesan

Panjang Panjang
Bagian Bagian
Vertikal Horisontal
1-2 1.00 2-3 0.50
3-4 0.65 4-5 1.75
5-6 0.60 6-7 0.50
7-8 0.60 8-9 2.00
9-A 0.60 A-B 0.50
B-C 0.65 C-D 0.50
D-E 0.75 E-F 0.75
F-G 0.75 G-H 1.50
I-J 0.27 H-I 6.48
K-L 1.15 JK 0.40
SLV 7.02 SLH 14.88

Sumber : hasil perhitungan

a. Pada kondisi air normal

1
Σ LV + Σ LH
3 ® C = 3 (dari tabel 3.8)
ΔH =
C
1
7 . 02+ ( 14 . 88 )
3 = 11,98 m
=
3

ΔH = El.mercu - El.lantai hilir


= 100.50 - 98.55 = 1.95 m

1.95 m <11,98 m (aman)


DH < L/C ® Tidak terjadi piping (memenuhi syarat)
b. Kondisi air banjir
1
Σ LV + Σ LH
3
ΔH =
C
ΔH = El.MABhu - El MABhi
= 104.76 - 103.487 = 0.589 m

0.589 m < 11,98 m (aman)


DH < L/C ® Tidak terjadi piping (memenuhi syarat)

4.6.2 Berat sendiri tubuh bendung


Untuk perhitungan berat sendiri tubuh bendung, agar mempermudah perhitungan, maka tubuh bendung dibagi menj
bagian (lihat gambar 4.13). Berat volume pasangan batu kali diambil : 2,20 ton/m3 (tabel 3.9), perhitungan disajika
4.26.
Tabel 4.26 berat sendiri tubuh bendung

Bagian Besar Gaya Jarak Momen


Uraian Perhitungan
( ton ) (m) ( tm )
Gb.1 0,50 x 0,60 x 2.20 0.660 3.250 2.145
Gb.2 0,25 x 0,60 x 0,50 x 2,20 0.165 2.920 0.482
Gb.3 0,75 x 0,40 x 2,20 0.660 3.200 2.112
Gb.4 0,50 x 0,22 x 0,65 x 2,20 0.157 3.363 0.529
Gb.5 0,53 x 0,66 x 2,20 0.770 3.015 2.320
Gb.6 0,53 x 0,35 x 0,50 x 2,20 0.204 2.947 0.601
Gb.7 0,50 x 0,35 x 0,50 x 2,20 0.193 2.583 0.497
Gb.8 0,50 x 1.05 x 2,20 1.155 2.500 2.888
Gb.9 0,75 x 0,75 x 0,50 x 2,20 0.619 2.000 1.238
Gb.10 0,75 x 1.05 x 2,20 1.733 1.875 3.248
Gb.11 0,75 x 0,66 x 0,50 x 2,20 0.545 1.250 0.681
Gb.12 0,75 x 1.14 x 2,20 1.881 1.125 2.116
Gb.13 0,75 x 0,26 x 0,50 x 2,20 0.215 0.500 0.107
Gb.14 0,75 x 0,88 x 2,20 1.452 0.375 0.545
SV 10.407 SMV 19.509
Sumber : hasil perhitungan

4.7303
= Perhitungan Berat Sendiri Tubuh Bendung

Gambar Sketsa Perhitungan Panjang Rembesan dan Berat Sendiri


Tubuh Bendung

4.6.3 Akibat Gaya Upliff Pressure


Perhitungan upliff presure (Px) pada setiap titik untuk kondisi air normal dan air banjir disajikan pada tabel 4.27a :
Tabel 4.27a Perhitungan gaya Upliff Pressure pada setiap titik.
Kondisi air normal Kondisi air ban
Lx L
Segmen Hx DH Px Hx DH
(m) (m) (m) (m) (m) (m)
1 0.00 21.900 1.000 1.950 1.000 5.362 0.589
2 1.00 21.900 2.000 1.950 1.911 6.362 0.589
3 1.50 21.900 2.000 1.950 1.866 6.362 0.589
4 2.15 21.900 1.400 1.950 1.209 5.762 0.589
5 3.90 21.900 1.400 1.950 1.053 5.762 0.589
6 4.50 21.900 2.000 1.950 1.599 6.362 0.589
7 5.00 21.900 2.000 1.950 1.555 6.362 0.589
8 5.60 21.900 1.400 1.950 0.901 5.762 0.589
9 7.60 21.900 1.400 1.950 0.723 5.762 0.589
A 8.20 21.900 2.000 1.950 1.270 6.362 0.589
B 8.70 21.900 2.000 1.950 1.225 6.362 0.589
C 9.35 21.900 1.400 1.950 0.567 5.762 0.589
D 9.85 21.900 1.400 1.950 0.523 5.762 0.589
E 10.60 21.900 2.150 1.950 1.206 6.512 0.589
F 11.35 21.900 2.150 1.950 1.139 6.512 0.589
G 12.10 21.900 2.900 1.950 1.823 7.262 0.589
H 13.60 21.900 2.900 1.950 1.689 7.262 0.589
I 20.08 21.900 2.650 1.950 0.862 7.012 0.589
J 20.35 21.900 2.900 1.950 1.088 7.262 0.589
K 20.75 21.900 2.900 1.950 1.052 7.262 0.589
L 21.90 21.900 4.050 1.950 2.100 8.412 0.589

Px = Hx -
Lx x DH
L
Px = Gaya angkat pada x, t/m2
L = Panjang titik bidang kontak bendung dan bidang tanah bawah
Lx = Jarak sepanjang bidang kontak dari hulu sampai x, m
ΔH = Beda tinggi Energi
Hx = Tinggi Energi dihulu bendung

Tabel 4,27b Perhitungan gaya angkat kondisi air normal


Gaya Lengan Momen
Segmen Uraian Perhitungan
(ton) (m) (t.m)
A -B 0,50 (1,270+1,225) x 0,50 x 1,00 0.624 3.250 2.027
B-C 0,50 (1,225+0,567) x 0,25 x 1,00 0.448 2.870 1.286
C-D 0,50 (0,567+0,523) x0,50 x 1,00 0.273 2.500 0.682
E-F 0,50 (1,206+1,139) x 0.75 x 1,00 0.586 1.870 1.097
G-H 0,50 (1,823+1,689) x 2,50 x 1,00 0.878 0.750 0.658
SV 2.809 SMV 5.750
Sumber : hasil perhitungan

Tabel 4,27c Perhitungan gaya angkat kondisi air banjir


Gaya Lengan Momen
Segmen Uraian Perhitungan
(ton) (m) (t.m)
A -B 0,50 x (6,141+6,128) x 0,50 x 1,00 3.067 3.250 9.969
B-C 0,50 (6,128+5,511) x 0,25 x 1,00 1.455 2.870 4.175
C-D 0,50 (5,511+5,497) x0,50 x 1,00 2.752 2.500 6.880
E-F 0,50 (6,227+6,207) x 0.75 x 1,00 4.663 1.870 8.719
G-H 0,50 (6,937+6,896) x 2,50 x 1,00 5.187 0.750 3.890
SV 17.124 SMV 33.634

Sumber : hasil perhitungan


Kontrol daya angkat pada kondisi air normal
Uplift pressure Up = 6,709 ton
Berat sendiri tubuh bendung Gb = 10,586 ton
Jadi Gb > Up ® Memenuhi syarat

Kontrol daya angkat pada kondisi air banjir


Uplift pressure Up = 8,811 ton
Berat sendiri tubuh bendung Gb = 10,586 ton
Jadi Gb > Up ® Memenuhi syarat
Sketsa Perhitungan Gaya Angkat

4.6.4 Tebal lantai olak


Kontrol tebal lantai olak di hilir bendung
Gaya angkat pada titik X berdasarkan persamaan sebagai berikut :

Px = Hx -
Lx x DH
L
Dari tabel 4.27a didapat : Ph = 1,408 ton
Agar lantai= tidak terangkat
tx . gp > digunakan syarat sebagai berikut :
Gb Px
= 0,85 m x 2,20 t/m3 > 1,408 t/m2
=1,87 t/m2 > 1,408 t/m2 OK

Dari tabel 4.27a didapat : Pi = 0,900 ton


Agar lantai= tidak terangkat
tx . gp > digunakan syarat sebagai berikut :
Gb Px
= 0,60 m x 2,20 t/m3 > 0,900 t/m2
=1,32 t/m2 > 0,900 t/m2 OK

R = 500
+ 180.68

300

+ 145.18
PP = 5,798 ton
300 507 100
50
Gambar 4.15 Sketsa lantai bendung

4.6.5 Tekanan Hidrostatis Air Normal


Tekanan Hidrostatis air normal berdasarkan persamaan berikut :
W1 = ½ . gw . p2
W2 = ½ . gw . a . p
Perhitungan tekanan air pada saat kondisi air normal (air setinggi mercu) dapat dilihat pada tabel 4.28a, dan berat air
normal tabel Tekanan
Tabel 4,28a 4.28b : air kondisi normal
Gaya Lengan Momen
Segmen Uraian perhitungan
ton m tm
W1 0,50 x 1 x (1 ) x 1,00
2
0.500 1.833 0.917
SH 0.500 0.917
Sumber : hasil perhitungan

Tabel 4.28b Berat air kondisi normal


Gaya Lengan Momen
Segmen Uraian perhitungan
ton m tm
W2 0,50 x 1,00 x 0,69 x 1,00 x 1,00 0.345 3.270 1.128
SH 0.345 1.128

Sumber : hasil perhitungan


Gambar 17 Sketsa Tekanan dan Berat Air Kondisi Normal

4.6.5 Tekanan dan berat air pada saat banjir


Perhitungan tekanan air banjir dapat dilihat pada tabel 4.29a, dan perhitungan berat air pada kondisi banjir dapat dilih
4.49b, sedangkan sketsa gaya yang bekerja akibat tekanan dan berat air dapat dilihat pada gambar 4.16

Tabel 4.29a Tekanan air pada saat banjir

Gaya Lengan Momen


Segmen Uraian perhitungan
ton m tm
W1 0,50 x 1,00 x (1,00 )2 x 1,00 0.500 1.833 0.917
W2 1,00 x (1,00 )2 x 1,00 1.000 2.400 2.400
W10 0,50 x 1,00 x (2,542 )2 x 1,00 -3.231 1.700 -5.492
SH -1.731 SMH -2.176

Gaya Lengan Momen


Segmen Uraian perhitungan
ton m tm
W.3 0,50 x 1,25 x 0,28 x 1,00 x 1,00 0.175 3.083 0.540
W.4 1,25 x 0,12 x 1,00 x 1,00 0.150 2.875 0.431
W.5 0,50 x 0,62 x 1,00 x 1,00 x 1,00 0.310 3.293 1.021
W.6 0,50 x 0,63 x 0,34 x 1,00 x 1,00 0.107 2.460 0.263
W.7 1,06 x 0,46 x 1,00 x 1,00 0.488 1.870 0.912
W.8 1,50 x 0,46 x 1,00 x 1,00 0.690 0.750 0.518
W.9 0,50 x 1,50 x 1,93 x 1,00 x 1,00 1.448 0.500 0.724
SV 3.367 SMV 4.408

Sumber : hasil perhitungan


Gambar 18 Sketsa Tekanan dan Berat Air Kondisi Banjir

4.6.6 Tekanan Tanah Aktif/Pasif


Tekanan tanah aktif berdasarkan persamaan berikut :
= y * H *
Pa Ka
= y * H *
Pp Kp

Data teknis
gsat = 1,472 t/m3
f = 150

Ka =
2
tg 45− ( φ
2 ) (
2
=tg 45−
15
2
=0 , 589 )
Kp = 2
tg 45+ ( φ
2 ) (
2
=tg 45 +
15
2
=1 , 698 )
Lumpur
gsat = 1,70 t/m3
f = 220

Ka =
2
tg 45−( φ
2 ) (
2
=tg 45−
22
2
=0 , 455 )
Tabel 4.30 Perhitungan tekanan tanah
Segmen Gaya Lengan Momen
Uraian perhitungan
ton m tm
Ps1 0,50 x (1,00)2 x 1,70 x 0,455 x 1,00 0.387 2.233 0.864
Ps2 1,90 x 1,70 x 0,455 x 1,00 1.470 0.950 1.396
Pt.1 0,50 x (1,90)2x1,472 x 0,589 x 1,00 1.565 0.633 0.991
Pt.2 0,50x(1,15)2 x 1,472 x 1,698x 1,00 -1.653 0.382 -0.631
SH 1.769 SMH 2.619
Sumber : hasil perhitungan

Gambar 19 Sketsa Tekanan Tanah Aktif dn Pasif

4.6.7 Rekapitulasi pembebanan


Rekapitulasi pembebanan dapat dilihat pada tabel 4.31 berikut ini :

Tabel 4.31a Rekapitulasi pembebanan kondisi air normal


Gaya Momen
No. Uraian
ton tm
I. Horizontal
1 Tekanan tanah 3.091 3.88
2 Tekanan air 0.500 0.92
Jumlah 3.591 4.79

II Vertikal
1 Berat sendiri -10.586 (23.53)
2 Berat air -0.345 (0.92)
3 Gaya angkat 2.633 5.47
Jumlah -8.298 (18.98)

Tabel 4.31b Rekapitulasi pembebanan kondisi air banjir


Gaya Momen
No. Uraian
ton tm
I. Horizontal
1 Tekanan tanah 1.769 3.88
2 Tekanan air -1.731 (2.18)
Jumlah 0.038 1.70

II Vertikal
1 Berat sendiri -10.586 (23.53)
2 Berat air -3.367 (4.41)
3 Gaya angkat 15.746 30.19
Jumlah 1.793 2.25

Sumber : hasil perhitungan

Kondisi air normal


Momen guling (MG) = 4,79 tm.
Momen tahanan (MT) = 18,98 tm
Gaya geser (SH) = 3.591 ton
Gaya vertikal (SV) = 8,298 ton

Kondisi air banjir


Momen guling (MG) = 1.70 tm.
Momen tahanan (MT) = 2.25 tm
Gaya geser (SH) = 1.36 ton
Gaya vertikal (SV) = 1,793 ton

4.6.8 Kontrol stabilitas tanpa gempa


Untuk kontrol stabilitas bendung ditinjau dari dua kondisi yaitu pada saat air normal dan air banjir.

4.6.8.1 Keadaan air normal


Overturning (guling)

Syarat SF = Σ MT > SF ijin


MG
18 , 980
SF = ¿ 1 . 30
4 , 79

= 3,96 > 1,30 (memenuhi syarat)

Sliding (geser)

Syarat SF = f ∗ ∑V > SF ijin


ΣH
SF ijin = 1,25
f = 0,50

0 , 50∗8 . 298
SF = > SF ijin
1 . 36
=2.11> 1,25 (memenuhi syarat)

Exsentrisitas
L ΣM 0
Syarat e = − < 1/6 L
2 ΣV
L = 3.50 m

SM0 = SMV + SMH


= - 18.98 + 4,790
= - 14,190 tm

SM0 = 14.190 tm
SV = 8,298 ton

3 , 50 14 , 1901
e= − x 3 , 50
2 8 ,2986
= 0.04 < 0.58 (memenuhi syarat)

Tegangan tanah
qult = C.Nc + g.D.Nq + ½g.B.Ng
C = 0.32
f = 15 dari tabel Terzaghi didapat :
Nc = 12,8
Nq 4.44
Ng = 2,4
B = 3,50 m
D = 12.76
gsat = 1,472 – 1,0 = 0.472 t/m2

qult = 0,32 x 12,8 + 0.472 x 12.76 x 2,4 + ½ x 3.50 x 2,4


= 4,096 + 14.454 + 4.20
= 22.75 ton/m2

`q = qult 22 , 75 = 1.517 kg/cm2


= =15 , 17 t / m 2
fk 1.5
Tegangan tanah yang timbul :

ΣV 6e
q1,2 = ( 1± )≤ q
B B
= 8 , 928
( 1± 6∗0 , 04 )≤q
3 , 50 3 , 50
8 , 928
( 1± 6∗0 , 04 )≤q
3 , 50 3 , 50

= 2.551(1 ± 0,068)

q1 = 2.551 (1 + 0.068) = 2,725 ton/m2 = 0,273 kg/cm2 < `q


q2 = 2.551 (1 – 0,068) = 2,377 ton/m2 = 0,238 kg/cm2 < `q
Konstruksi aman terhadap amblas

4.6.8.2 Keadaan air banjir


Overturning (guling)
Σ MT
Syarat SF = > SF ijin
MG
1291,380
SF = >1.30
277 ,784
= 4,65 > 1,30 (memenuhi syarat)
Sliding (geser)
f∗∑ V
Syarat SF = > SF ijin = 1,25
ΣH
SF ijin = 1,25
f = 0,50

SF = 0, 50∗1 ,793> SF ijin


1 , 36
= 2,42 > 1,25 (memenuhi syarat)

Exsentrisitas
L ΣM 0
Syarat e = − < 1/6 L
2 ΣV
L = 3,50 m

SM0 = SMV + SMH


= - 1291,380 + 277,784
= - 1013,596 tm
SM0 = 1013,596 tm
SV = 155,075 ton
= 1,03 < 2,52 (memenuhi syarat)

Tegangan tanah
qult = C.Nc + g.D.Nq + ½g.B.Ng
C = 0.32
f = 15 dari tabel Terzaghi didapat :
Nc = 12,8
Nq 4.44
Ng = 2,4
B = 3,50 m
D = 12.76
gsat = 1,472 – 1,0 = 0.472 t/m2

qult = 0,32 x 12,8 + 0.472 x 12.76 x 2,4 + ½ x 3.50 x 2,4


= 4,096 + 14.454 + 4.20
= 22.75 ton/m2
q = qult/fk =22.751 /1.5 = 15.16 t/m2
= 1.516 kg/cm2
qult 36 , 71
`q = = =24 , 47 t / m 2
fk 1.5
Tegangan tanah yang timbul :
q1,2 = ΣV 6e
( 1± )≤ q
B B
=
8 , 928 6∗0 , 04
( 1± )≤q
3 , 50 3 , 50
= 2.551(1 ± 0,068)
q1 = 2.551 (1 + 0.068) = 2,725 ton/m2 = 0,273 kg/cm2 < `q
q2 = 2.551 (1 – 0,068) = 2,377 ton/m2 = 0,238 kg/cm2 < `q
Konstruksi aman terhadap amblas
4.6.8.2 Keadaan air banjir
Overturning (guling)

Syarat SF = MT > SF ijin


MG
SF = 2 , 250
¿ 1 . 25
1 , 70

= 1,32 > 1,30 (memenuhi syarat)

Sliding (geser)
f∗∑ V
Syarat SF = > SF ijin
ΣH
SF ijin = 1,25
f = 0,50

SF =
0,50∗1 ,793 > SF ijin
0,038 `
=23,59 > 1,25 (memenuhi syarat)

Exsentrisitas ΣM
L 0
Syarat e = − < 1/6 L
2 ΣV
L = 3.50 m

SM0 = SMV + SMH


= - 18,98 + 4.79
= -14,19 tm
SM0 = 14,19 tm

SV = 8,298 ton

e=
3 , 50 14 , 19

1
= x 3,50=0,583
2 8 , 298 6
= 0,04 < 0,583 (memenuhi syarat)

Tegangan tanah
qult = C.Nc + g.D.Nq + ½g.B.Ng
C = 0.32
f = 15 dari tabel Terzaghi didapat :
Nc = 12,8
Nq 4.44
Ng = 2,4
B = 3,50 m
D = 12.76
gsat = 1,472 – 1,0 = 0.472 t/m2

qult = 0,32 x 12,8 + 0.472 x 12.76 x 2,4 + ½ x 3.50 x 2,4


= 4,096 + 14.454 + 4.20
= 22.75 ton/m2

q = qult/fk =22.751 /1.5 = 15.16 t/m2

= 1.516 kg/cm2
qult 36 , 71
`q = = =24 , 47 t / m 2 = t/m2 = 2.447 kg/cm2
fk 1.5
Tegangan tanah yang timbul :
q1,2 = ΣV 6e
( 1± )≤ q
B B
= 8 , 928 6∗0 , 04
( 1± )≤q
3 , 50 3 , 50

= 2.551(1 ± 0,068)

q1 = 2.551 (1 + 0.068) = 2,725 ton/m2 = 0,273 kg/cm2 < `q


q2 = 2.551 (1 – 0,068) = 2,377 ton/m2 = 0,238 kg/cm2 < `q
Konstruksi aman terhadap amblas

4.6.9 Perhitungan gaya gempa


Gaya gempa dihitung dari persamaan berikut :
ad = n (ac x Z)m
E = ad
g
Data teknis
- n = 1,56
- m = 0,89
- Z = 1,00 (Kabupaten Kotabumi Utara)
- Periode ulang 20 tahun, ac = 85 cm/dt2
ad = n (ac x Z)m
= 1,56 (85 x 1,00)0,89
= 81,341

ad 81 , 341
E = = =0 , 083
g 981
Untuk selanjutnya perhitungan dilakukan dengan cara tabelaris berikut ini : (tabel 4.32).

Tabel 4.32 Perhitungan gaya gempa

Gaya Lengan Momen


Bagian Gg = Gb x E Horizontal Guling
(ton) (m) (ton m)
Gb.1 1,00 x 0,083 0.083 3.250 0.270
Gb.2 0,165 x 0.083 0.014 2.920 0.040
Gb.3 0,495 x 0,083 0.041 3.125 0.128
Gb.4 0,182 x 0,083 0.015 3.363 0.051
Gb.5 0,770 x 0,083 0.064 3.015 0.193
Gb.6 0,204 x 0,083 0.017 2.947 0.050
Gb.7 0,193 x 0,083 0.016 2.583 0.041
Gb.8 1,826 x 0,083 0.152 2.500 0.379
Gb.9 0,545 x 0,083 0.045 2.000 0.090
Gb.10 0,173 x 0,083 0.014 1.875 0.027
Gb.11 0,545 x 0,083 0.045 2.000 0.090
Gb.12 1,881 x 0,083 0.156 1.875 0.293
Gb.13 0,215 x 0,083 0.018 0.500 0.009
Gb.14 0,736 x 0,083 0.061 0.375 0.023
SH 0.741 SMg 1.684

Sumber : hasil perhitungan


Rekapitulasi pembebanan dengan gempa dapat dilihat pada tabel 4.33a dan tabel 4.33b :

Tabel 4.33a Rekapitulasi pembebanan kondisi air normal


Gaya Momen
No. Uraian
ton tm
I. Horizontal
1 Tekanan tanah 1.769 3.876
2 Tekanan air 0.500 0.917
3 Gaya gempa 0.741 1.684
Jumlah 3.010 6.477

II Vertikal
1 Berat sendiri -10.586 (23.53)
2 Berat air -0.345 (0.92)
3 Gaya angkat 2.633 5.47
Jumlah -8.298 (18.97)

Tabel 4.33b Rekapitulasi pembebanan kondisi air banjir


Gaya Momen
No. Uraian
ton tm
I Horizontal
1 Tekanan tanah 3.091 3.876
2 Tekanan air (1.731) (2.176)
3 Gaya gempa 0.741 1.684
Jumlah 2.101 3.384

II Vertikal
1 Berat sendiri (10.586) (23.534)
2 Berat air (3.367) (4.408)
3 Gaya angkat 15.746 30.190
Jumlah 1.793 2.247
Kondisi air normal
Momen guling (MG) = 6,477 tm.
Momen tahanan (MT) = 18,970 tm
Gaya geser (SH) = 4,332 ton
Gaya vertikal (SV) = 12,875 ton

Kondisi air banjir


Momen guling (MG) = 3,384 tm.
Momen tahanan (MT) = 2,247 tm
Gaya geser (SH) = 2,101 ton
Gaya vertikal (SV) = 1,793 ton

4.6.10 Kontrol stabilitas dengan gempa


Kontrol stabilitas dengan gempa adalah sebagai berikut :

4.6.10.1 Keadaan air normal


Overturning (guling)

Syarat SF = Σ MT > SF ijin


MG

SF = 18 , 970
¿ 1. , 25
6, 447
= 2,94 > 1,25 (memenuhi syarat)

Sliding (geser)

Syarat SF = f ∗ ∑V > SF ijin


ΣH
SF ijin = 1,25
f = diambil 0,50

SF = 0 , 50∗8 , 298 > SF ijin


3 , 010
= 1,40 > 1,25 (memenuhi syarat)

Berdasarkan hasil analisa tersebut diatas, maka dengan demikian dimensi bendung WAY KULUR aman.
an, m2.

n dinding,
1,5 – 1,75.
700
ingga V1 = Vt (stabil),

vt

1+8Fr −1] √ 2g(p+H 1−y1 )


2

(m/dt)
5.165
5.177
5.177

5.694
5.720
5.724
5.724

6.151
6.181
6.187
6.188
6.188

6.570
6.593
6.598
6.600
6.600

6.967
6.974
6.975
6.976
6.976
7.351
7.335
7.329
7.327
7.327

7.724
7.682
7.666
7.660
7.658
7.657
7.657

7.777
7.731
7.714
7.707
7.704
7.703
7.703

8.088
8.021
7.993
7.982
7.977
7.975
7.974
7.974
fik gabungan sebagai

0 440

ilir, maka dasar lantai


n elevasinya adalah +

vt

1+8Fr −1) √ 2g(p+H 1−y1 )


2
(m/dt)

6.787
6.792
6.792
6.792

7.266
7.283
7.284
7.284

7.691
7.722
7.725
7.725
7.725
7.725
8.083
8.123
8.129
8.129

8.453
8.499
8.506
8.508
8.508

8.807
8.855
8.864
8.866
8.866

9.149
9.195
9.205
9.207
9.208
9.208

9.197
9.242
9.253
9.255
9.255

9.482
9.523
9.533
9.535
9.536
9.536
400 420 440

ncatan air lebih rendah


r 4.10 )
hitungan dilakukan

1b )
bagi menjadi beberapa
an disajikan pada tabel
4.27a :

si air banjir
Px

5.362
6.335
6.322
5.704
5.657
6.241
6.228
5.611
5.558
6.141
6.128
5.511
5.497
6.227
6.207
6.937
6.896
6.472
6.715
6.704
7.823
berat air pada kondisi
dapat dilihat pada tabel
3 1.73205080756888 1
0.01 50 40
750 0.001333333333333 0.036515

3.16227766016838
12.6491106407

Anda mungkin juga menyukai