Master Perhitungan Embung
Master Perhitungan Embung
TUBUH BENDUNG
Dalam suatu perencanaan bangunan air, hidrologi teknik sangat diperlukan untuk menghitung besarnya debit banjir dan hujan rencana. Dari hasil analisis hidrologi yang diperoleh, da
perencanaan bendung. Untuk menghitung hujan rencana dan banjir rencana digunakan metoda Gumbel, Haspers dan Der Weduwen yang diambil dari data-data curah hujan dari Pos P
dan Pos Pengamatan D dan pos pengamatan E data dapat dilihat pada tabel 4.1 :
1 1995 113 85 98
2 1996 102 62 117
3 1997 115 100 104
4 1998 131 115 72
5 1999 120 86 59
6 2000 85 123 148
7 2001 160 200 125
8 2002 161 85 38
9 2003 92 73 73
10 2004 68 87 48
Sumber :
¿
X=
∑ X
=
1147
=114 , 7
mm
Standar Deviasi : n 10
√ √
¿
SX=
∑ ( X 2 )− X ∑ X = 139793−114 , 7 ( 1147 ) =30 ,244
n−1 10−1
Y T −Y N 1 , 4999−0 , 4952
K= = =1 , 058
Sn 0 , 9497
RT = `X + K . SX
R5
Selanjutnya perhitungan dilakukan dengan tabelaris 4.3 berikut :
Pos Pengamatan D
Hujan rata-rata dapat dihitung dengan persamaan :
¿
X=
∑ X
=
1016
=101 , 6 mm
n 10
√
¿
√
Standar Deviasi :
SX=
∑ ( X 2 )− X ∑ X = 116942−101 , 6( 1016 ) =39 , 039
n−1 10−1
K = Y T −Y N 1 , 4999−0 , 4952
= =1 , 058
RT = `X + K . SX
Sn 0 , 9497
R5 101,6+0,9673(15,141)=124,217
Pos Pengamatan E
Hujan rata-rata dapat dihitung dengan persamaan :
¿
X=
∑ X
=
882
=88 , 2 mm
n 10
√ √
¿
Standar Deviasi :
SX=
∑ ( X 2 )− X ∑ X = 89380− 88 , 2 ( 882 ) =35 , 882
n−1 10−1
K = Y T −Y N 1 , 4999−0 , 4952
Sn
= =1 , 058
RT = `X + K . SX 0 , 9497
R5
Pos Pengamatan C
Rmak = 161 mm
n = 10 tahun ® mp = 0,705
n = 11 tahun ® mp = ……
n = 15 tahun ® mp = 0,765
dengan cara interpolasi :
n = 11 tahun ® mp = 0,765 - {(15-11)/(15-10)} x (0,765-0,705) 0.717
R70 =
R mak 161
= =224 , 547
mp 0 , 717
R5 = 0,602 x 292,887= 176,3180 mm
Selanjutnya perhitungan dilakukan dengan tabelaris berikut :
Pos Pengamatan D
Rmak = 200 mm
n = 11 tahun ® mp = 0,717
R mak 200
R70 = = =278 , 940 mm
mp 0 , 717
R5 = 0,602 x 278,940 = 167,922 mm
Selanjutnya perhitungan dilakukan dengan tabelaris 4.8 berikut :
Pos Pengamatan E
Rmak = 148 mm
n = 11 tahun ® mp = 0,717
R mak 148
R70 = = =206 , 4156 mm
mp 0 , 717
R5 = 0,602 x 206,4156 = 124,262 mm
Selanjutnya perhitungan dilakukan dengan tabelaris 4.8 berikut :
Data curah hujan yang digunakan untuk analisa curah hujan dengan metode Haspers adalah curah hujan absolut pertama dan kedua selama tahun pengamatan dan jumlah pengamatan
seperti pada tabel 4.10 berikut :
R1 =m 1= X 1 =161 R2 =m 2= X 2 =160
( )
¿ ¿
1 X 1 − X X 2 −X
S= +
2 U1 U2
S=
1
2 ( 161−114
1 , 43
, 7 160 −114 , 7
+
0 , 81 )=44 ,152
Periode 5 tahun , Ut = 0,64 (dari tabel 3.1)
¿
Rt= R +( S∗Ut ) 114,7 + (44,152 x 0,64)
142,9573 mm
Selanjutnya perhitungan dilakukan dengan tabelaris 4.11 :
Tabel 4.11 Perhitungan curah hujan dengan periode ulang tertentu.
Periode R (mm) S (mm) Ut Rt (mm)
5 114.7 44.152 0.64 142.9573
10 114.7 44.152 1.26 170.3315
20 114.7 44.152 1.89 198.1473
25 114.7 44.152 2.1 207.4192
50 114.7 44.152 2.75 236.1180
100 114.7 44.152 3.43 266.1414
1000 114.7 44.152 5.72 367.2494
Sumber : Hasil perhitungan.
R1 =m 1=200 R2 =m 2=123
( )
¿ ¿
1 X1− X X 2− X
S= +
2 U U2
1
S=
2 (
1 200−101 , 6 123−101 ,6
1 , 43
+
0 , 81
=47 , 615 )
Periode 5 tahun ® dari tabel 3. ® Ut = 0,64
¿
Rt = R +( S∗Ut ) 109,5714 + (41,142 x 0,64)
135,902 mm
R1 =m 1=148 R2 =m 2=125
( )
¿ ¿
1 X1− X X 2− X
S= +
2 U U2
1
S=
1
2 ( 148−88
1 , 43
, 2 125−88 , 2
+
0 , 81 )= 43 , 625
Periode 5 tahun ® dari tabel 3. ® Ut = 0,64
¿
Rt = R +( S∗Ut ) 88,2 + (43,625 x 0,64)
116.12
Rekapitulasi hasil perhitungan dari Metode Gumbel, Weduwen dan Haspers adalah sebagai berikut, tabel 4.15 :
Yang dimaksud debit banjir rencana adalah suatu besaran debit yang ditetapkan akan mengalir pada sungai dengan periode ulang tertentu. Umumnya banjir rencana yang ditetapka
untuk merencanakan suatu bendung adalah banjir rencana dengan kurun ulang 100 tahun (Q100).
Data teknis
F 29,618 km
L 6,4 km
I 0.0000109
Perhitungan debit banjir rencana (Qt) dari persamaan :
Qt = a x b x qn x F
Keterangan :
0,7 0,7
1+0 , 012∗F 1+0 , 012∗29 , 618
α= 0,7
= =0 , 626
1+0 , 075∗F 1+0 , 075∗29 , 6180 , 7
Waktu konsentrasi (Tc), hari.
Tc = 0,1 * L0,8 * I-0,3
− 0 , 4 Tc 3/4
1 Tc + 3 , 7∗10 F
=1 + x
β Tc 2 +15 12
3/4
1 13 +3 ,7∗10−0 , 4∗13 29 , 618
=1 + 2 x
β 13 +15 12
1
β= =0 , 4819
2 , 07475
Tc < 19 jam, maka :
Tc ∗Rt 13∗Rt Rt
rt = = =0 , 929
Tc + 1 13+ 1
rt rt
q= = =0 , 021 rt
3 , 6∗Tc 3 , 6∗13
4.1.2.1 Metode Haspers – Gumbel
Debit banjir rencana metode Haspers – Gumbel dapat dilihat pada tabel 4.16 berikut :
t =0 , 25∗L∗Q− 0 , 125∗I −0 , 25
Keterangan :
= debit banjir dengan periode
Qn
ulang n tahun, M3/dt.
a = koefisien limpasan air hujan.
b = koefisien pengurangan luas untuk curah hujan di daerah
aliran sungai
= luasan curah hujan dengan
qn periode ulang n tahun,
M3/dt/km2
A = luas Catchment area, km2.
= curah hujan maksimum
Rn harian dengan periode ulang n
tahun
(mm/hari).
t = lamanya hujan, jam.
L = panjang sungai, km.
I = kemiringan sungai.
Untuk mempermudahkan perhitungan, maka perhitungan debit rencana dilakukan dengan cara tabelaris dengan nilai t0 dicoba-coba sebagai berikut :
Dicoba t0 = 4,7
Selanjutnya perhitungan dapat dilihat pada tabel 4.18 sebagai berikut
Rekapitulasi debit banjir dengan beberapa metode dapat dilihat pada tabel 4.20 sebagai berikut :
Tabel 4.20 Rekapitulasi debit banjir rencana.
Qt (m3/det)
Metode
Q5 Q10 Q20 Q25 Q50 Q100
Haspers - Gumbel 24.162 29.583 34.155 35.686 40.212 44.113
Haspers - Haspers 22.732 27.61 32.567 34.22 39,334 44.685
Weduwen - Weduwen 20.683 26.651 32.037 33.897 39.565 44.693
Weduwen - Gumbel 21.411 25.867 30.993 32.691 37.978 43.414
Sumber : hasil perhitungan.
h 1
m=1
b = 30 m
Q = debit, m3/dt.
Gambar 4.1 Penampang sungai rata-rata A = luas penampang aliran, m2.
V = kecepatan aliran, m/dt.
C = koefisien kecepatan.
R = jari-jari hidrolis = A/P
Q=VxA I = kemiringan dasar sungai.
g = koefisien kekasaran dinding, untuk sungai diambil 1,5 – 1
V=C √ RI P = keliling basah.
P = b + 2h
√ m2 +1
Selanjutnya perhitungan tinggi muka air banjir (h) dilakukan dengan cara coba-coba dengan interval 0,50 m, seperti tabel 4.21
Karena Q adalah fungsi dari h maka dapat digambarkan lengkung debit sebagai berikut :
2.50
2.00
h (m)
hd = 1,61 m
1.50
1.00
0.50
Qd = 616 m3/dt
0.00
0 100 200 300 400 500 3 600 700 800 900 1000
Debit (m /dt)
Berdasarkan Qd = 616 m3/dt, maka didapat dari hasil pembacaan pada grafik lengkung debit hd = 1,61 m.
Kontrol hd dengan rumus aliran sebagai berikut :
A = (b + mh ) h
= (30 + 1 * 1,61 ) 1,61
= 50,892 m2
P = b + 2h
√ m2 + 1
= 30 + 2*1,61
√ 12 + 1
=34,554 m
A 50 , 892
R= = =1 , 473 m
P 34 , 554
87
87
C= = =37 , 196
γ 1 , 625
1+ 1+
√R √ 1 , 473
V =C √ R∗I
=
37 , 196 √ 1 , 473∗0 , 072
37 , 196 √ 1 , 473∗0 , 072
= 12,11 m/dt.
Q =V*a
= 12,113 * 50,892
= 616,433 dibulatkan 616 m3/dt. (OK)
+ 189,55
h = 1,61
+ 187,94
Lebar bendung pada umumnya diambil dari lebar rata-rata sungai disekitar lokasi bendung yang akan direncanakan. Untuk sungai Cigasong lebar rata-rata adalah 30 m, sedangkan
Cigasong adalah 35,90 m. Untuk perhitungan lebar efektif bendung digunakan persamaan sebagai berikut :
Dari perhitungan muka air banjir hulu tabel 4.22 tersebut dapat dibuat grafik hubungan antara Qd dengan h seperti gambar 4.4 sehingga tinggi air (h) dapat diketahui dengan cara men
Qd = 616 m3/dt kegrafik lengkung debit, kemudian tarik garis kekiri sehingga didapat nilai h.
5,00
4,50
h = 4,008 m
4,00
3,50
h (m)
3,00
2,50
2,00
1,50
1,00
0,50
Q = 616 m3/dt
Lengkung Debit MAB Hulu
5,00
4,50
h = 4,008 m
4,00
3,50
h (m)
3,00
2,50
2,00
1,50
1,00
0,50
Q = 616 m3/dt
0,00
0 100 200 300 400 500 600 700 800
Debit (Q) m3/dt
Berdasarkan Q = 616 m3/dt, maka dari hasil pembacaan pada grafik didapat h = 4,008 m, dan pada tabel 4.22 didapat K1 = 0,309
Kontrol :
h = H – K1
= 4,317 – 0,309
= 4,008 m
Q 616
V= = =2 , 463 m/dt.
A 35 , 90 ( 2 , 960 + 4 , 008 )
2 2
V 2 , 463
K2 = = =0 , 309 m
2 g 2∗9 , 81
K2 = K1 (OK)
Jari-jari mercu
r1 = 0,5 * H1 = 0,5 * 4,317 = 2,158 m diambil 2,20 m
r2 = 2 * r1 = 2 * 2,158 = 4,317 m diambil 4,30 m
y 2=0 , 5 y 1 √1 + 8 Fr −1
2
Q
q=
B
q
y 1=
V1
V 1 =√ 2 g ( 0 , 5 H 1 + Z )
V1
Fr =
√ g∗ y 1
Vt = √ 2 g ( p + H 1− y 1 )
+ 194.917
K = 0,309 + 194.608
H1
h = 3,708
+ 190.90
K = 0,309 + 194.608
H1
h = 3,708
+ 190.90
Z+1/2 H1
Z = 2,960
r1
r2 H2
y2
y1
+ 187.94
Untuk memudahkan dalam perhitungan loncatan air, maka perhitungan dilakukan dengan cara tabelaris sehingga V1 = Vt (stabil), lihat tabel 4.23a.
h H1 Q q v1 y1 Fr
Dari perhitungan diatas dapat dibuat grafik loncatan air yaitu hubungan antara debit (Q) dengan tinggi air (y2) sebagai berikut :
7
(m) Air y
y 2 = 5,123
Tinggi Loncatan
5
2
Q = 616 m3/dt
0
0 100 200 300 400 500 600 700 800
De bit Q (m 3/dt)
Tinggi Lon
4
Q = 616 m3/dt
0
0 100 200 300 400 500 600 700 800
De bit Q (m 3/dt)
Dari hasil pembacaan pada grafik loncatan air dengan Q = 616 m3/dt didapat tinggi loncatan air (y2) = 5,123 m.
Dari hasil perhitungan loncatan air didapat y1 = 1,631 m
Dari hasil perhitungan debit MAB hulu didapat H1 = 4,317 m.
Fr =
v1 10 ,525
y2 = 0,5 * y1 * = =2 , 631
√ g∗ y 1 √ 9 , 81∗1 . 631
= 0,5 * 1,631 * ( √ 1+ 8
Dari perhitungan Muka Air Banjir (MAB) Hilir dan perhitungan loncatan air, maka dapat dibuat grafik gabungan sebagai berikut :
5,00
4,50
Loncatan air
4,00
3,50
h ( m)
3,00
2,50
MA B Hilir
2,00
1,50
1,00
0,50
0,00
0 200 400 600 800 1000
De bit Q (m3/dt)
Dari grafik MAB Hilir dan loncatan air (gambar 4.7a), terlihat bahwa grafik loncatan air diatas MAB hilir, maka dasar lantai olakan harus diturunkan. Dalam hal ini sesuai dengan ko
saat ini bahwa lantai kolam olakan elevasinya adalah + 180,68 sedangkan elevasi mercu bendung adalah + 190.90 maka Z adalah 10,22 m.
3,00
1,00
Q = 616 m3/dt
Tinggi air (m)
0,00
0 100 200 300 400 500 600 700 800
y 2 = - 0,697
-1,00
-2,00
-3,00
-4,00
Loncatan air
-5,00
-6,00
-7,00
-8,00
Q = 616 m3/dt
De bit Q (m 3/dt)
+ 195.217
K 0,309 + 194.908
H1
h 4.008
+ 190.90
P 2,960
+ 187.94 + 187.243
y2 = 6.563
y1= 1,055
+ 180.68
√
2
3 q
hc =
g
Keterangan :
hc = Kedalaman air kritis diatas mercu, m.
q = Debit persatuan lebar, m2/dt (17,165)
g = percepatan gravitasi, m/dt (@ 9,81)
√
2
3 17 , 165
hc = =3 , 108 m
9 , 81
Jari-jari minimum bak adalah sebagai berikut :
DH = 195,217 - 189,55
= 5,667 m
ΔH 5 , 667
= =1 , 823
hc 3 , 108
Untuk ΔH £ 2,4 menggunakan persamaan 3-12
hc
( )
0 , 215
T min ΔH
=1 , 88
hc hc
=1 , 88 (
3 , 108 )
0 ,215
T min 5 , 667
3 , 108
X=3-y
Sin a = y
5
y = sin a * 5
= sin 450 * 5
=3,535
x =5–y
= 5 – 3.536
= 1.464 dibulatkan 1,50 m
Jadi elevasi dasar kolam = + 180,68 – 1,50
= + 179,18
Sketsa gambar kolam olak type Bucket dan dimensi hidrolis tubuh bendung adalah sebagai berikut (gambar 4.10 )
+ 195.217
K 0,309 + 194.908
H1 DH = 5,667 m
Hc = 3,108 m
h 4.008
+ 190.90
+ 187.243
P 2,960
+ 187.94
R=5m
R=5m
+ 180.68
+ 179.18
H1
z 3,108 m h 3,108 m
a 3,108 m
X 3,108 m
L
( 1− X
L )
2
Z =h
Dari hasil hitungan tersebut dapat digambarkan long section dari Back Water sebagai berikut : (gambar 4.11b )
+ 200. 89
+ 195.217
+ 199.28
157,50 m
Q=m.b.h
√ 2 g. z
Keterangan
Q = debit yang diperlukan = 2,214 m3/dt.
m = koefisien debit = 0,80
b = lebar bukaan = 2 x 1,50 m
h = tinggi bukaan
g = percepatan gravitasi
z = Kehilangan tinggi energi = 0,30 m
Q = 0,80 x 3.00 x h x
√ 2 x 9 , 81 x 0 . 30
2.214 = 5,82 h
h = 0.38 m
Keterangan :
V = kecepatan aliran penguras, m/dt.
C = Koefisien sedimen (3,5 – 5,5)
d = diameter maksimum seel (0,042 m)
Maka :
V = 1,50 x 5,50 x √ 0 . 042 = 1,69 m/dt.
+ 194.908
+ 187.243
H 4,01 m
Y = 3,65 m + 187,940
Untuk perhitungan berat sendiri tubuh bendung, agar mempermudah perhitungan, maka tubuh bendung dibagi menjadi beberapa bagian (lihat gambar 4.13). Berat volume pasa
diambil : 2,20 ton/m3 (tabel 3.9), perhitungan disajikan pada tabel 4.26.
R = 500
+ 180.68
R = 500
+ 180.68
300
+ 145.18
PP = 5,798 ton
Perhitungan tekanan air banjir dapat dilihat pada tabel 4.29a, dan perhitungan berat air pada kondisi banjir dapat dilihat pada tabel 4.49b, sedangkan sketsa gaya yang bekerja akib
berat air dapat dilihat pada gambar 4.16
Lumpur
gsat = 1,70 t/m3
f = 220
Ka = tg
2
( 45− φ2 )=tg ( 45−222 )=0 , 455
2
II Vertikal
1 Berat sendiri -182.502 -1492.940
2 Berat air -0.720 -9.886
3 Gaya angkat 31.789 197.916
Jumlah -151.433 -1304.910
II Vertikal
1 Berat sendiri -182.502 -1492.940
2 Berat air -63.236 -422.839
3 Gaya angkat 90.663 624.399
Jumlah -155.075 -1291.380
Sliding (geser)
SF ijin = 1,25
f = 0,50
Exsentrisitas
L ΣM 0 < 1/6 L
Syarat e = −
2 ΣV
L = 15,13 m
SM0 = 903,877 tm
SV = 151,433 ton
Tegangan tanah
qult = C.Nc + g.D.Nq + ½g.B.Ng
C = 0.32
f = 15 dari tabel Terzaghi didapat :
Nc = 12,8
Nq 4.44
Ng = 2,4
B = 15,13 m
D 12.76
gsat = 1,472 – 1,0 = 0.472 t/m2
qult = 0,32 x 12,8 + 0.472 x 12.76 x 2,4 + ½ x 15,13 x 2,4
= 36,71 ton/m2
`q =
t/m2 = 2.447 kg/cm2
= 10,01 (1 ± 0,62)
q1 = 10,01 (1 + 0.62) = 16,216 ton/m2 = 1,62 kg/cm2 < `q
q2 = 10,01 (1 – 0.62) = 3.80 ton/m2 = 0,38 kg/cm2 < `q
Konstruksi aman terhadap amblas
Sliding (geser)
Syarat SF =
> SF ijin
SF ijin = 1,25
f = 0,50
SF =
> SF ijin
= 2,42 > 1,25 (memenuhi syarat)
Exsentrisitas
Syarat e =
< 1/6 L
L = 15,13 m
SM0 = SMV + SMH
= - 1291,380 + 277,784
= - 1013,596 tm
SM0 = 1013,596 tm
SV = 155,075 ton
<
Tegangan tanah
qult = C.Nc + g.D.Nq + ½g.B.Ng
C = 0.32
f = 15 dari tabel Terzaghi didapat :
Nc = 12,8
Nq 4.44
Ng = 2,4
B = 15,13 m
D 12.76
gsat = 1,472 – 1,0 = 0.472 t/m2
qult = 0,32 x 12,8 + 0.472 x 12.76 x 2,4 + ½ x 15,13 x 2,4
= 36,71 ton/m2
q1,2 = = ΣV 6e ±
( 1± )≤ q
B B
151. 433 6∗1 , 56
( 1± )≤ q
15 . 13 15. 13
= 10,25 (1 ± 0,62)
1291 , 380
SF = >1. 30
277 , 784
= 3,25 > 1,30 (memenuhi syarat)
Sliding (geser)
Syarat SF = f ∗∑ V > SF ijin
ΣH
SF ijin = 1,25
f = 0,50
Exsentrisitas
Syarat e = L ΣM 0 < 1/6 L
−
2 ΣV
L ΣM 0
−
2 ΣV
L = 15,13 m
SM0 = SMV + SMH
= - 1304,910 + 401,033
= - 903,877 tm
SM0 = 903,877 tm
SV = 151,433 ton
q1,2 = = ΣV 6e ±
B
( 1± )≤ q
B
= 10,01 (1 ± 0,62)
q1 = 10,01 (1 + 0.62) = 16,216 ton/m2 = 1,62 kg/cm2 < `q
q2 = 10,01 (1 – 0.62) = 3.80 ton/m2 = 0,38 kg/cm2 < `q
Konstruksi aman terhadap amblas
ad = n (ac x Z)m
= 1,56 (85 x 1,00)0,89
= 81,341
E =ad 81 , 341
= =0 , 083
g 981
Untuk selanjutnya perhitungan dilakukan dengan cara tabelaris berikut ini : (tabel 4.32).
Rekapitulasi pembebanan dengan gempa dapat dilihat pada tabel 4.33a dan tabel 4.33b :
II Vertikal
1 Berat s endiri -182,502 -1492,940
2 Berat air -0,720 -9,886
3 Gaya angkat 31,789 197,916
Jumlah -151,433 -1304,910
II Vertikal
1 Berat s endiri -182,502 -1492,94
2 Berat air -63,236 -422,839
3 Gaya angkat 90,663 624,399
Jumlah -155,075 -1291,380
Sliding (geser)
0 , 50∗151 , 433
65 , 765
SF = 0 , 50∗151 , 433 > SF ijin
65 , 765
= 1.51 > 1,25 (memenuhi syarat)
Exsentrisitas
L ΣM 0
Syarat e = − < 1/6 L
2 ΣV
L = 15,13 m
Tegangan tanah
qult = C.Nc + g.D.Nq + ½g.B.Ng
C = 0.32
f = 15 dari tabel Terzaghi didapat :
Nc = 12,8
Nq 4.44
Ng = 2,4
B = 15,13 m
D 12.76
gsat = 1,472 – 1,0 = 0.472 t/m2
qult = 0,32 x 12,8 + 0.472 x 12.76 x 2,4 + ½ x 15,13 x 2,4
= 36,71 ton/m2
Sliding (geser)
f = diambil 0,50
Tegangan tanah
qult = C.Nc + g.D.Nq + ½g.B.Ng
C = 0.32
f = 15 dari tabel Terzaghi didapat :
Nc = 12,8
Nq 4.44
Ng = 2,4
B = 15,13 m
D 12.76
gsat = 1,472 – 1,0 = 0.472 t/m2
qult 36 , 71
`q = = =24 , 47 t/m2 = 2.447 kg/cm2
fk 1.5
Tegangan tanah yang timbul :
ΣV 6e
q1,2 = = ( 1± )≤ q ±
B B
= 155. 075 6∗1 , 56
( 1± )≤q
15 . 13 15 . 13
= 10,25 (1 ± 0,62)
q1 = 10,25 (1 + 0.62) = 16,605 ton/m2 = 1,66 kg/cm2 < `q
q2 = 10,25 (1 – 0.62) = 3,90 ton/m2 = 0,39 kg/cm2 < `q
Konstruksi aman terhadap amblas
Berdasarkan hasil analisa tersebut diatas, maka dengan demikian dimensi bendung Cigasong aman.
a. Dari hasil analisis hidrologi yang diperoleh, dapat ditentukan
ang diambil dari data-data curah hujan dari Pos Pengamatan C
RT
146.6955
170.5895
193.2127
200.7889
223.1892
245.4240
RT
142.8999
173.7422
202.9444
212.7236
241.6381
270.3388
RT
126.1600
154.5082
181.3489
190.3373
216.9135
243.2932
lama tahun pengamatan dan jumlah pengamatan,
ertentu. Umumnya banjir rencana yang ditetapkan
ebagai berikut :
t
6.608
6.610
6.610
6.418
6.405
6.404
6.404
6.269
6.259
6.258
6.258
6.217
6.214
6.214
6.104
6.096
6.095
6.095
6.011
6.004
6.003
6.003
t
6.581
6.591
6.592
6.442
6.429
6.428
6.428
6.296
6.285
6.284
6.284
6.246
6.242
6.242
6.136
6.127
6.126
6.126
6.033
6.025
6.025
6.025
asaran dinding, untuk sungai diambil 1,5 – 1,75.
igasong lebar rata-rata adalah 30 m, sedangkan lebar bendung
k2
(m)
1.342
2.771
5.335
0.959
1.724
2.018
2.318
2.651
2.470
2.290
2.117
1.618
1.279
1.077
0.812
0.701
0.657
0.641
0.540
0.508
0.499
0.496
0.427
0.409
0.404
0.403
0.403
0.402
0.402
0.402
ga tinggi air (h) dapat diketahui dengan cara menarik garis dari
terjadi, loncatan air selalu berada dibawah muka air hilir.
at tabel 4.23a.
y2 vt
(m) (m/dt)
0.065 8.136
0.065 8.136
0.065 8.136
0.836 8.556
0.836 8.556
0.836 8.556
1.553 8.926
1.553 8.926
1.553 8.926
1.553 8.926
2.248 9.265
2.248 9.265
2.248 9.265
2.248 9.265
2.933 9.582
2.933 9.582
2.933 9.582
2.933 9.582
3.614 9.882
3.614 9.882
3.614 9.882
3.614 9.882
3.614 9.882
4.294 10.169
4.294 10.169
4.294 10.169
4.294 10.169
4.294 10.169
4.973 10.444
4.973 10.444
4.973 10.444
4.973 10.444
4.973 10.444
4.984 10.448
4.984 10.448
4.984 10.448
4.984 10.448
4.984 10.448
harus diturunkan. Dalam hal ini sesuai dengan kondisi bendung
22 m.
y2 vt
(m) (m/dt)
0.430 14.471
0.430 14.471
1.430 14.754
1.430 14.754
1.430 14.754
2.336 15.022
2.336 15.022
2.336 15.022
3.191 15.280
3.191 15.280
3.191 15.280
4.017 15.528
4.017 15.528
4.017 15.528
4.823 15.769
4.823 15.769
4.823 15.769
5.614 16.004
5.614 16.004
5.614 16.004
6.393 16.232
6.393 16.232
6.393 16.232
6.393 16.232
6.405 16.236
6.405 16.236
6.405 16.236
6.405 16.236
i muka air hilir (perhitungan dapat dilanjutkan).
h
¿1
a
n cara tabelaris dengan menggunakan persamaan berikut :
0.072 187.94
0.072 187.94
0.072 187.94
0.072 187.94
0.072 187.94
bagian (lihat gambar 4.13). Berat volume pasangan batu kali
Data Lapangan :
Lebar sungai rata ( b ) 20.00 m
Kemiringan dasar sungai ( I ) 0.07
Koefisien debit ( Cd ) 1.30
Tinggi Muka Air Banjir ( h ) 1.50 m
h 1
m=1
b = 20.00 m
P = b + 2h √m2 +1
Selanjutnya perhitungan tinggi muka air banjir (h) dilakukan dengan cara coba-coba dengan interval 0,50 m,
seperti tabel 4.21
Tabel 4.21 : Perhitungan tinggi muka air banjir di hilir bendung.
h A P R V Q
C
(m) (m )
2
(m) (m) (m3/dt) (m/dt)
0 0
0.25 5.06 20.707 0.244 20.296 2.693 13.632
0.50 10.25 21.414 0.479 25.980 4.823 49.435
0.75 15.56 22.121 0.704 29.618 6.666 103.738
1.00 21.00 22.828 0.920 32.291 8.310 174.516
1.25 26.56 23.536 1.129 34.393 9.804 260.419
1.50 32.25 24.243 1.330 36.116 11.177 360.473
1.75 38.06 24.950 1.526 37.571 12.452 473.944
2.00 44.00 25.657 1.715 38.824 13.642 600.267
Karena Q adalah fungsi dari h maka dapat digambarkan lengkung debit sebagai berikut :
LENGKUNG DEBIT
2.5
2
h (m)
1.5
0.5
0
0 100 200 300 400 500 600 700
Debit (m3/det)
P = b + 2h √m2 +1
P = 20 + 2*1,50 √ 12 +1
= '20+(2*1.5*2^0.5)
A 32,25
R= = =1,33 m
P 24,24
87 87
C= = =36 , 116
γ 1 , 625
1+ 1+
√R √ 1 , 33
V =C √ R∗I
= 36,116 √ 1,33∗0,072
= 11.176 m/dtk
Q = V * A = 11,76 * 32.25
360.43 m3/dtk
Dibulatkan Q = 360 m3/dtk ( OK )
+ 101.042
h = 1.50
+ 99,542
Dicoba K1 = 0,10
h =
= H14,36
– K1 –
0,10
= 4,26
Kontrol :
Q 360
V= = =3 , 358 m/dt.
A 20 , 00 ( 1, 00+4 , 36 )
2 2
V 3 , 358
K2 = = =0 , 575 m
2g 2∗9 , 81
K1 ≠ K2, maka harus sehingga K1 = K2.
Selanjutnya untuk memudahkan perhitungan dilakukan dengan cara tabelaris berikut ini sehingga didapat K1 = K2
Dari perhitungan muka air banjir hulu tabel 4.22 tersebut dapat dibuat grafik hubungan antara Qd dengan h seperti
gambar 4.4 sehingga tinggi air (h) dapat diketahui dengan cara menarik garis dari Qd = 360 m3/dt kegrafik
lengkung debit, kemudian tarik garis kekiri sehingga didapat nilai h.
LENGKUNG DEBIT MAB HULU
4.5
4
h (m)
3.5
2.5
1.5
0.5
0
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 220 240 260 280 300 320 340 360 380 400 420 440
Debit (m3/det)
Berdasarkan Q =360 m3/dt, maka dari hasil pembacaan pada grafik didapat h = 3,571 m, dan pada tabel 4.22
didapat K1 = 0,791
Kontrol :
h = H – K1
= 4,362– 0,791
= 3,571 m
Q 360
V= = =3 , 938 m/dt.
A 20 , 00 ( 1, 00+3, 571)
2 2
V 3 , 938
K2 = = =0 , 791 m
2g 2∗9 , 81
K2 = K1 (OK)
V 1 =√ 2g(0,5 H 1 +Z)
V1
Fr=
√ g∗ y 1
Vt=√ 2 g( p+H 1− y 1 )
+ 104.862
K 0,791
+ 104.071
H1
h 3,571
+ 100.50
Z+1/2H1
P 1,000
H2
+ 99.50
y2
y1
Gambar 4.5 : Sketsa loncatan air
Untuk memudahkan dalam perhitungan loncatan air, maka perhitungan dilakukan dengan cara tabelaris sehingga V1 =
lihat tabel 4.23a.
h H1 Q q v1 y1 Fr y2
4.5
3.5
2.5
1.5
0.5
0
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 220 240 260 280 300 320 340 360 380 400 420 440
Debit (m3/det)
Dari hasil pembacaan pada grafik loncatan air dengan Q = 360 m3/dt didapat tinggi
loncatan air (y2) = 4.276 m.
Dari hasil perhitungan loncatan air didapat y1 = 2,337 m
Dari hasil perhitungan debit MAB hulu didapat H1 = 4,362 m.
v1 = vt = √ 2 g( p+ H 1− y1 )
√ 2∗9.81∗(1+4.362−2.337)
=
= 7.704 m
v1 7 . 704
Fr = = =1 . 609
√ g∗y 1 √ 9 , 81∗2. 337
y 2=0 , 5 y 1 √1 + 8 Fr −1
2
= 4.276 m ~ 4.276 m ( OK )
Dari perhitungan Muka Air Banjir (MAB) Hilir dan perhitungan loncatan air, maka dapat dibuat grafik gabun
berikut :
Tinggi Loncatan Air y2 (m)
1
Gambar
0
4.7a Grafik MAB hilir dan loncatan air
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 220 240 260 280 300 320 340 360 380 400 420 440
Debit (m3/det)
Dari grafik MAB Hilir dan loncatan air (gambar 4.7a), terlihat bahwa grafik loncatan air diatas MAB hilir, maka
olakan harus diturunkan. Dalam hal ini sesuai dengan kondisi bendung saat ini bahwa lantai kolam olakan elevasin
98.55 sedangkan elevasi mercu bendung adalah + 100.50 maka p adalah 1.95 m.
Selanjutnya perhitungan loncatan air sebagai berikut (tabel 4.23 b) :
Tabel 4.23b Perhitungan loncatan air setelah dasar lantai olakan diturunkan
h H1 Q q v1 y1 Fr y2
5
4.5
4
3.5
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 220 240 260 280 300 320 340 360 380 400 420
Debit (m3/det)
Dari gambar 4.7b terlihat bahwa grafik loncatan air berada dibawah grafik MAB hilir, berarti ketinggian loncatan air
dari muka
Elevasi air hilir
mercu = + (perhitungan
100.50 dapat dilanjutkan).
Tinggi air diatas mercu + tinggi kecepatan (H1) = 4.362 m
Tinggi air diatas mercu (h) = 3.571 m
Jadi elevasi energi di hulu = + 100.50 + 4.362
= + 104.862
Elevasi muka air banjir dihulu = + 100.50 + 3.571
= + 104.071
Elevasi muka air banjir dihilir = + 101.042
Elevasi lantai kolam olakan = + 98.50
Tinggi loncatan air (y2) = 4.937 m
Elevasi loncatan air (y2) = + 98.55 +4.937
= + 103.487
Dari perhitungan hidrolis bendung dapat dibuat gambar sketsa sebagai berikut :
+ 104.862
K 0,791
+ 104.071
H1
h 3,571
+ 100.50
P 1,000
+ 103.487
+ 99.50
y2 = 4,937
y1= 1,946
+ 98,55
Gambar 4. 8 Dimensi Hidrolis Bendung
4.1 Kolam Olakan Type Bucket (Bak Tenggelam).
Parameter untuk perencanaan peredam energi type bucket adalah :
√
2
q 3
hc =
g
Keterangan :
hc = Kedalaman air kritis diatas mercu, m.
q = Debit persatuan lebar, m2/dt ( 18.006 )
g = percepatan gravitasi, m/dt (@ 9,81)
√
2
18. 006
3
hc= =3, 209 m
9, 81
Jari-jari minimum bak adalah sebagai berikut :
DH = 104,862 - 101,042
= 3.82 m
ΔH 3 , 820
= =1, 190
hc 3 , 209
Untuk ΔH £ 2,4 menggunakan persamaan 3-12
hc
( )
0 , 215
T min ΔH
=1, 88
hc hc
( )
0 , 215
T min 3 . 820
=1 , 88
3 , 209 3 , 209
Tmin = 6,264 m ~ 6,26 m
R min
= 1,575 (dari grafik 3.7)
hc
Rmin = 1,575 * 3,209 = 4,973 m ~ 5,00 m
R=5
R=5
y a
X=3-y
Gambar 4.9 Sketsa perhitungan lantai lindung
Tebal lantai lindung
a = 0,1 * R
= 0,1 * 5,0
= 0,50 m
Tinggi Lantai Lindung.
Sin a = y
5
y =
= sin
sin a45
* 05 *
5
=3,535
x =5–y
= 5 – 3.536
= 1.464 dibulatkan 1,50 m
Jadi elevasi dasar kolam = + 98,550 – 1,50
= + 97,05
Sketsa gambar kolam olak type Bucket dan dimensi hidrolis tubuh bendung adalah sebagai berikut (gambar 4.10 )
+ 104.862
K 0,791 + 104.076
H1 DH = 3,202 m
Hc = 3,209 m
h 3,571
+ 100,500
+103,487
P 1,00
+ 187.94
R=5m R=5m
+ 98,550
+ 97,050
H
z 3,108
1 m
h 3,108
m
a 3,108 m
X 3,108
m
L
L
h 2h
¿1 diambil L=
i
a
h = 104,862 - 101,042
= 3,820 m
a =101,042 - 99,550
= 1,542 m
h 3 , 820
¿1® =2 , 477 > 1 ( dipakai )
a 1 , 542
2h 2∗3,820
L= = =106,11 m
i 0,072
Jadi pengempangan yang ditimbulkan akibat adanya bendung sejauh 157,50 m dari mercu. Selanjutnya perhitungan d
dengan cara tabelaris dengan menggunakan persamaan berikut :
( )
2
X
Z =h 1−
L
El. dasar
Tabel 4.24 Perhitungan Back Water Curve sungai = El. muka
h (m) X (m) L (m) Z (m) a (m) (X . I) + air
1 2 3 4 5 el. dasar
6 (4+5+6)
7
3.82 0 101.11 3.820 1.542 mercu
99.500 104.862
3.82 25 101.11 2.165 1.542 101.300 105.007
3.82 50 101.11 0.976 1.542 103.100 105.618
3.82 75 101.11 0.255 1.542 104.900 106.697
3.82 101.11 101.11 0.000 1.542 106.780 108.322
Sumber : hasil perhitungan
Dari hasil hitungan tersebut dapat digambarkan long section dari Back Water sebagai berikut : (gambar 4.11b )
+ 106.78 H1
Dasar sungai I = 0.072
101.111 m
Gambar 4.11b Long section Back Water Curce (hasil hitungan)
Q=m.b.h
√ 2g.z
Keterangan
Q = debit yang diperlukan = 2,214 m3/dt.
m = koefisien
= lebardebit = 0,80
b bukaan
= tinggi = 2 x 1,50 m
h bukaan
g = percepatan gravitasi
z = Kehilangan tinggi energi = 0,30 m
Q = 0,80 x 3.00 x h x
√ 2 x 9 , 81 x 0 . 30
2.214 = 5,82 h
h = 0.38 m
Q 2,214
V= = =1,94 m/dt.
A 0.38∗3
V = 1,5 x C x √d
Keterangan :
V = kecepatan aliran penguras, m/dt.
C = Koefisien sedimen (3,5 – 5,5)
d = diameter maksimum seel (0,042 m)
Maka : = 1,50 x
V 5,50 x √ 0 . 042 = 1,69 m/dt.
+ 194.908
+ 187.243
H 4,01 m
Y = 3,65 m + 187,940
Gambar 4.12 Sketsa pengaliran pintu pembilas
Panjang Panjang
Bagian Bagian
Vertikal Horisontal
1-2 1.00 2-3 0.50
3-4 0.65 4-5 1.75
5-6 0.60 6-7 0.50
7-8 0.60 8-9 2.00
9-A 0.60 A-B 0.50
B-C 0.65 C-D 0.50
D-E 0.75 E-F 0.75
F-G 0.75 G-H 1.50
I-J 0.27 H-I 6.48
K-L 1.15 JK 0.40
SLV 7.02 SLH 14.88
1
Σ LV + Σ LH
3 ® C = 3 (dari tabel 3.8)
ΔH =
C
1
7 . 02+ ( 14 . 88 )
3 = 11,98 m
=
3
4.7303
= Perhitungan Berat Sendiri Tubuh Bendung
Px = Hx -
Lx x DH
L
Px = Gaya angkat pada x, t/m2
L = Panjang titik bidang kontak bendung dan bidang tanah bawah
Lx = Jarak sepanjang bidang kontak dari hulu sampai x, m
ΔH = Beda tinggi Energi
Hx = Tinggi Energi dihulu bendung
Px = Hx -
Lx x DH
L
Dari tabel 4.27a didapat : Ph = 1,408 ton
Agar lantai= tidak terangkat
tx . gp > digunakan syarat sebagai berikut :
Gb Px
= 0,85 m x 2,20 t/m3 > 1,408 t/m2
=1,87 t/m2 > 1,408 t/m2 OK
R = 500
+ 180.68
300
+ 145.18
PP = 5,798 ton
300 507 100
50
Gambar 4.15 Sketsa lantai bendung
Data teknis
gsat = 1,472 t/m3
f = 150
Ka =
2
tg 45− ( φ
2 ) (
2
=tg 45−
15
2
=0 , 589 )
Kp = 2
tg 45+ ( φ
2 ) (
2
=tg 45 +
15
2
=1 , 698 )
Lumpur
gsat = 1,70 t/m3
f = 220
Ka =
2
tg 45−( φ
2 ) (
2
=tg 45−
22
2
=0 , 455 )
Tabel 4.30 Perhitungan tekanan tanah
Segmen Gaya Lengan Momen
Uraian perhitungan
ton m tm
Ps1 0,50 x (1,00)2 x 1,70 x 0,455 x 1,00 0.387 2.233 0.864
Ps2 1,90 x 1,70 x 0,455 x 1,00 1.470 0.950 1.396
Pt.1 0,50 x (1,90)2x1,472 x 0,589 x 1,00 1.565 0.633 0.991
Pt.2 0,50x(1,15)2 x 1,472 x 1,698x 1,00 -1.653 0.382 -0.631
SH 1.769 SMH 2.619
Sumber : hasil perhitungan
II Vertikal
1 Berat sendiri -10.586 (23.53)
2 Berat air -0.345 (0.92)
3 Gaya angkat 2.633 5.47
Jumlah -8.298 (18.98)
II Vertikal
1 Berat sendiri -10.586 (23.53)
2 Berat air -3.367 (4.41)
3 Gaya angkat 15.746 30.19
Jumlah 1.793 2.25
Sliding (geser)
0 , 50∗8 . 298
SF = > SF ijin
1 . 36
=2.11> 1,25 (memenuhi syarat)
Exsentrisitas
L ΣM 0
Syarat e = − < 1/6 L
2 ΣV
L = 3.50 m
SM0 = 14.190 tm
SV = 8,298 ton
3 , 50 14 , 1901
e= − x 3 , 50
2 8 ,2986
= 0.04 < 0.58 (memenuhi syarat)
Tegangan tanah
qult = C.Nc + g.D.Nq + ½g.B.Ng
C = 0.32
f = 15 dari tabel Terzaghi didapat :
Nc = 12,8
Nq 4.44
Ng = 2,4
B = 3,50 m
D = 12.76
gsat = 1,472 – 1,0 = 0.472 t/m2
ΣV 6e
q1,2 = ( 1± )≤ q
B B
= 8 , 928
( 1± 6∗0 , 04 )≤q
3 , 50 3 , 50
8 , 928
( 1± 6∗0 , 04 )≤q
3 , 50 3 , 50
= 2.551(1 ± 0,068)
Exsentrisitas
L ΣM 0
Syarat e = − < 1/6 L
2 ΣV
L = 3,50 m
Tegangan tanah
qult = C.Nc + g.D.Nq + ½g.B.Ng
C = 0.32
f = 15 dari tabel Terzaghi didapat :
Nc = 12,8
Nq 4.44
Ng = 2,4
B = 3,50 m
D = 12.76
gsat = 1,472 – 1,0 = 0.472 t/m2
Sliding (geser)
f∗∑ V
Syarat SF = > SF ijin
ΣH
SF ijin = 1,25
f = 0,50
SF =
0,50∗1 ,793 > SF ijin
0,038 `
=23,59 > 1,25 (memenuhi syarat)
Exsentrisitas ΣM
L 0
Syarat e = − < 1/6 L
2 ΣV
L = 3.50 m
SV = 8,298 ton
e=
3 , 50 14 , 19
−
1
= x 3,50=0,583
2 8 , 298 6
= 0,04 < 0,583 (memenuhi syarat)
Tegangan tanah
qult = C.Nc + g.D.Nq + ½g.B.Ng
C = 0.32
f = 15 dari tabel Terzaghi didapat :
Nc = 12,8
Nq 4.44
Ng = 2,4
B = 3,50 m
D = 12.76
gsat = 1,472 – 1,0 = 0.472 t/m2
= 1.516 kg/cm2
qult 36 , 71
`q = = =24 , 47 t / m 2 = t/m2 = 2.447 kg/cm2
fk 1.5
Tegangan tanah yang timbul :
q1,2 = ΣV 6e
( 1± )≤ q
B B
= 8 , 928 6∗0 , 04
( 1± )≤q
3 , 50 3 , 50
= 2.551(1 ± 0,068)
ad 81 , 341
E = = =0 , 083
g 981
Untuk selanjutnya perhitungan dilakukan dengan cara tabelaris berikut ini : (tabel 4.32).
II Vertikal
1 Berat sendiri -10.586 (23.53)
2 Berat air -0.345 (0.92)
3 Gaya angkat 2.633 5.47
Jumlah -8.298 (18.97)
II Vertikal
1 Berat sendiri (10.586) (23.534)
2 Berat air (3.367) (4.408)
3 Gaya angkat 15.746 30.190
Jumlah 1.793 2.247
Kondisi air normal
Momen guling (MG) = 6,477 tm.
Momen tahanan (MT) = 18,970 tm
Gaya geser (SH) = 4,332 ton
Gaya vertikal (SV) = 12,875 ton
SF = 18 , 970
¿ 1. , 25
6, 447
= 2,94 > 1,25 (memenuhi syarat)
Sliding (geser)
Berdasarkan hasil analisa tersebut diatas, maka dengan demikian dimensi bendung WAY KULUR aman.
an, m2.
n dinding,
1,5 – 1,75.
700
ingga V1 = Vt (stabil),
vt
(m/dt)
5.165
5.177
5.177
5.694
5.720
5.724
5.724
6.151
6.181
6.187
6.188
6.188
6.570
6.593
6.598
6.600
6.600
6.967
6.974
6.975
6.976
6.976
7.351
7.335
7.329
7.327
7.327
7.724
7.682
7.666
7.660
7.658
7.657
7.657
7.777
7.731
7.714
7.707
7.704
7.703
7.703
8.088
8.021
7.993
7.982
7.977
7.975
7.974
7.974
fik gabungan sebagai
0 440
vt
6.787
6.792
6.792
6.792
7.266
7.283
7.284
7.284
7.691
7.722
7.725
7.725
7.725
7.725
8.083
8.123
8.129
8.129
8.453
8.499
8.506
8.508
8.508
8.807
8.855
8.864
8.866
8.866
9.149
9.195
9.205
9.207
9.208
9.208
9.197
9.242
9.253
9.255
9.255
9.482
9.523
9.533
9.535
9.536
9.536
400 420 440
1b )
bagi menjadi beberapa
an disajikan pada tabel
4.27a :
si air banjir
Px
5.362
6.335
6.322
5.704
5.657
6.241
6.228
5.611
5.558
6.141
6.128
5.511
5.497
6.227
6.207
6.937
6.896
6.472
6.715
6.704
7.823
berat air pada kondisi
dapat dilihat pada tabel
3 1.73205080756888 1
0.01 50 40
750 0.001333333333333 0.036515
3.16227766016838
12.6491106407