DESAIN PERANCANGAN JARINGAN
FIBER TO THE HOME (FTTH)
SOFTWARE / OPTI SYSTEM
DI SUSUN OLEH:
RIALEX BAGINDA SIMANGUNSONG
NIM : 2305211095
HISKIA TARIGAN
NIM : 2305211063
TRJT 4C
Jurusan Teknik Elektro Program Studi Teknologi Rekayasa Jaringan Telekomunikasi
Politeknik Negeri Medan
Jl.Almameter No.1,Polmed Medan 20155 INDONESIA
Abstrak
Penelitian ini membahas simulasi dan analisis jaringan Fiber To The Home (FTTH) menggunakan
perangkat lunak OptiSystem. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi performa sistem
komunikasi serat optik dari Optical Line Terminal (OLT) hingga ke pelanggan akhir dengan
mempertimbangkan berbagai konfigurasi splitter serta nilai redaman dan kualitas sinyal. Proses
perancangan jaringan dilakukan melalui survei Lokasi dari hasil rancangan opti sistem, perhitungan
parameter kelayakan, serta pembuatan simulasi jaringan berbasis teknologi GPON. Hasil simulasi
menunjukkan kalau sistem ini masih layak digunakan, karena nilai redamannya masih di bawah
batas maksimal yang ditentukan oleh standar Telkom Akses, yaitu -28 dBm. Nilai redaman
tertingginya cuma sampai -15,74 dBm, jadi masih aman.Selain itu, analisis melalui BER Analyzer
dan Power Meter memperlihatkan kualitas sinyal yang baik untuk setiap rumah pelanggan. Simulasi
ini menunjukkan bahwa penggunaan OptiSystem efektif dalam merancang dan mengoptimalkan
jaringan FTTH, serta memberikan gambaran realistis tentang kapasitas, jangkauan, dan performa
sistem jaringan optik modern.
Kata Kunci: FTTH, OptiSystem, GPON, serat optik, splitter, power budget, BER.
JURNAL OPTISYSTEM 1
KERANGKA PEMIKIRAN 2. METODE PENELITIAN
Setelah sintesa atau kesimpulan sementara dapat Desain penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan
dirumuskan maka selanjutnya disusun kerangka data yang valid dengan tujuan dapat ditemukan,
berfikir Adapun kerangka pemikiran penelitian dikembangkan, dan dibuktikan, suatu pengetahuan
ini tertera pada gambar 1 dibawah ini: tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk
memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah.
Penentuan
Lokasi
Quality Pada gambar 2 merupakan desain penelitian.
of
Perancanga Servic
n Mulai
e
Identifikasi Masalah
Perancanga
n Jaringan Uji Kelayakan Implementas Perumusan Masalah
FTTH i
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Kajian Pustaka
Perancangan Jaringan
FTTH
1. PENDAHULUAN
Kebutuhan akan jaringan komunikasi Analisis Kelayakan
berkecepatan tinggi terus meningkat seiring Hasil Penelitian
dengan berkembangnya layanan digital seperti
Kesimpulan
video streaming, telekonferensi, dan cloud
computing. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, Selesai
teknologi serat optik menjadi solusi utama
karena mampu mentransmisikan data dalam Gambar 2. Desain Penelitian
jumlah besar dengan kecepatan tinggi dan
redaman rendah. Salah satu implementasi paling Studi Lapangan dan Pengumpulan Data
efisien dari teknologi ini adalah konsep Fiber Dilakukan survei lokasi untuk menentukan potensi
To The Home (FTTH), di mana serat optik pembangunan jaringan FTTH, termasuk pengumpulan
langsung menghubungkan pusat layanan (central peta wilayah, jumlah rumah, dan panjang jalur distribusi
office) ke kediaman pengguna. optik.
Sistem FTTH berbasis Gigabit Passive Optical PerancanganArsitekturJaringan
Network (GPON) menawarkan keunggulan Jaringan FTTH dirancang secara virtual menggunakan
berupa efisiensi bandwidth, fleksibilitas topologi aplikasi OptiSystem dengan mempertimbangkan
jaringan, serta kemudahan dalam pemeliharaan. topologi jaringan, titik penempatan splitter, dan jarak
Dalam konteks ini, perancangan dan analisis antar node. Struktur jaringan mencakup Optical Line
performa jaringan optik menjadi aspek krusial Terminal (OLT), Optical Network Terminal (ONT),
yang menentukan kualitas layanan. Analisis ini serta penggunaan passive splitter.
mencakup evaluasi, serta pemilihan konfigurasi Simulasi Sistem Optik
splitter yang tepat untuk menjaga kestabilan Simulasi dilakukan untuk menganalisis sinyal optik dari
sinyal dan meminimalkan redaman. OLT hingga ke tiap rumah pelanggan. Parameter yang
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis diuji meliputi daya keluaran dari transmitter, daya yang
kelayakan teknis dari jaringan FTTH diterima oleh masing-masing ONT, serta kualitas sinyal
menggunakan teknologi GPON melalui simulasi melalui analisis BER (Bit Error Rate) dan eye diagram.
desain dan pengukuran parameter jaringan. Analisis Kinerja Sistem
Selain itu, dilakukan pula pengembangan Hasil simulasi dianalisis untuk mengevaluasi redaman
aplikasi berbasis web untuk mendukung proses total, distribusi daya, serta kelayakan sistem berdasarkan
perhitungan kelayakan jaringan secara otomatis. standar Link Power Budget. Perhitungan juga mencakup
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi toleransi maksimal redaman yang diizinkan oleh
referensi dalam pengembangan jaringan akses penyedia layanan (misalnya Telkom Akses sebesar -28
optik yang lebih andal dan efisien di masa dBm).
mendatang. Evaluasi dan Dokumentasi Hasil
Hasil pengukuran berupa grafik BER Analyzer dan
power meter untuk masing-masing rumah dan komplek
direkam, diinterpretasikan, dan dijadikan dasar dalam
menyimpulkan kelayakan desain jaringan.
JURNAL OPTISYSTEM 2
Kinerja jaringan FTTH diukur berdasarkan
beberapa parameter, namun fokus utama pada
penelitian ini adalah analisis Link Power Budget.
Analisis ini bertujuan untuk menghitung total
redaman (rugi-rugi daya) di sepanjang saluran
dari pemancar (OLT) hingga penerima (ONT),
dan memastikan daya yang diterima oleh
perangkat pengguna masih berada di atas
ambang batas minimum (sensitivitas receiver).
Total redaman pada sistem dihitung
menggunakan Persamaan (1), sedangkan daya
terima dihitung menggunakan Persamaan (2).
✏️Langkah Perhitungan Gambar 3. Kofigurasi umum FTTH
1. ODC (Optical Distribution Cabinet)
1. Hitung Total Redaman Berfungsi sebagai titik distribusi utama yang
αT= (10×0.35) + (2×0.5) + (2×0.2) + 10.38 menghubungkan jaringan optik dari sentral ke beberapa
αT=3.5 + 1.0 + 0.4 + 10.38 = 15.28 dB titik ODP (Optical Distribution Point). Di sinilah sinyal
optik mulai didistribusikan ke berbagai jalur menuju
2. Hitung Daya Terima pelanggan.
Pr = 0 dBm − 15.28 dB = −15.28 dBm 2. ODP (Optical Distribution Point)
✅ Analisis Kelayakan Merupakan titik cabang distribusi yang meneruskan
Nilai daya terima (Pr) = -15.28 dBm sinyal optik ke berbagai area perumahan seperti Home
Sistem dinyatakan layak (✅) untuk A, Home B, dan seterusnya. Umumnya terpasang di
digunakan menurut standar Telkom Akses. tiang atau boks distribusi lingkungan.
3. Home A, Home B, Home C, dan Home D,
Mewakili rumah-rumah pelanggan akhir yang menerima
layanan jaringan FTTH. Setiap kelompok rumah
terhubung ke jaringan melalui splitter pasif yang
membagi sinyal optik secara efisien.
4. ONT (Optical Network Terminal)
ONT adalah perangkat di sisi pelanggan yang berfungsi
mengubah sinyal optik menjadi sinyal listrik/digital yang
dapat digunakan oleh perangkat seperti router Wi-Fi,
televisi, dan komputer.
5. ROM (Rumah ONT Modem)
Digambarkan sebagai rumah yang telah terhubung
penuh dengan layanan FTTH. Di dalam rumah terdapat
perangkat jaringan seperti router, modem, dan terminal
ONT yang mendistribusikan internet ke seluruh bagian
rumah.
6. Optical Signal Path
Jalur sinyal optik ditunjukkan dengan garis biru bertanda
"Optical Signal", mengilustrasikan bagaimana sinyal
ditransmisikan dari ODC → ODP → ONT →
rumah pelanggan.
PERANCANGAN AWAL 3. TOPOLOGI JARINGAN
JURNAL OPTISYSTEM 3
Topologi jaringan yang digunakan dalam Komponen-komponen yang digunakan dalam
simulasi FTTH (Fiber To The Home) ini perancangan jaringan di OptiSystem beserta
merupakan jenis topologi point-to-multipoint, di spesifikasinya dirangkum pada Tabel 1. Parameter yang
mana satu titik pusat (OLT) akan digunakan mengacu pada spesifikasi standar komponen
mendistribusikan sinyal optik ke beberapa titik GPON dan data dari penelitian sejenis.
pelanggan (ONT) melalui jaringan pasif
(passive optical network/PON). Tabel 1. Tabel Komponen Jaringan
Deskripsi Topologi:
OLT (Optical Line Terminal): Berfungsi sebagai
sumber sinyal optik yang berada di sisi penyedia
layanan.
Splitter Pasif (1:4 dan 1:8): Digunakan untuk
membagi sinyal dari satu serat ke beberapa serat
menuju pelanggan.
Fiber Optik Singlemode: Menghubungkan
semua perangkat dari pusat ke pelanggan. Jenis
kabel ini memiliki redaman rendah dan cocok
untuk jarak jauh.
ONT (Optical Network Terminal): Perangkat di
sisi pelanggan yang menerima sinyal optik dan
mengubahnya menjadi sinyal digital. Tabel 2. Nilai Standar Parameter
Struktur Topologi: Referensi
Dari OLT ke Splitter 1:4, sinyal didistribusikan Parameter Nilai
ke masing-masing komplek. Sumber Optic 0,15 ns
Di masing-masing komplek, Splitter 1:8 Lebar Dispersi 1 nm
membagi sinyal ke 8 rumah pelanggan. Koefisen Disporsi 0,01364ns/nm.Km
Setiap rumah pelanggan dilengkapi receiver Detector Optik 0,2 ns
(photodetector) dan BER analyzer untuk
mengukur performa sinyal.
Visualisasi:
Topologi yang disimulasikan di dalam
OptiSystem tampak seperti struktur bertingkat:
Lapisan 1: OLT
Lapisan 2: plitter 1:4 (masing-masing ke arah
komplek A, B, C, dan D)
Lapisan 3: plitter 1:8 dalam tiap komplek → 8
rumah pelanggan per komplek
Total rumah yang disimulasikan adalah 4
komplek x 8 rumah = 32 pelanggan.
Keunggulan Topologi Ini:
Menghemat penggunaan serat optik karena tidak
menggunakan topologi point-to-point.
Cocok untuk skenario perkotaan/perumahan.
Biaya operasional rendah karena menggunakan
splitter pasif tanpa sumber daya listrik.
5. ANALISIS KINERJA JARINGAN
4. KOMPONEN DAN SPESIFIKASI
JURNAL OPTISYSTEM 4
Tabel 3. Passive splitter metodologi pada Bab 2 berhasil dibangun dan
Network Elemen Batasan Ukuran disimulasikan menggunakan perangkat lunak
1:2 Maximal 3,70 dB OptiSystem. Skema lengkap rangkaian jaringan yang
1:4 Maximal 7,25 dB disimulasikan ditunjukkan pada Gambar 2. Rangkaian
1:8 Maximal 10,38 dB ini menampilkan topologi dari PUSAT, pembagian
1:16 Maximal 14,10 dB sinyal menggunakan splitter, hingga sinyal diterima oleh
1:32 Maximal 17,45 dB receiver di setiap titik akhir pada Home A Home B
Projek simulasi FTTH seperti ini biasanya
bertujuan untuk:
Menganalisis performa sistem optik dari
OLT ke rumah pelanggan.
Menentukan maksimal jarak transmisi
dengan batas BER tertentu.
Mengoptimasi jumlah pengguna per
splitter (misalnya 1:8 vs 1:16).
Melihat efek loss (insertion loss, splitter
loss, fiber attenuation).
Menguji kualitas sinyal menggunakan
eye diagram dan BER.
Dimana:
αT = Total redaman sistem (dB)
Pr = Daya terima di receiver (dBm)
Home C Home D.
Pt = Daya keluaran dari transmitter (dBm)
Gambar 4. Desain Opti System
L = Panjang total kabel serat optik (km)
αserat = Redaman kabel serat optik (dB/km)
Skema Rangkaian Jaringan FTTH yang Dirancang di
Nc = Jumlah konektor
OptiSystem
αc = Redaman per konektor (dB)
Untuk mengetahui performa jaringan, pengukuran daya
Ns = Jumlah sambungan (splicing)
sinyal optik dilakukan dengan menempatkan Optical
αs = Redaman per sambungan (dB)
Power Meter pada beberapa titik keluaran yang krusial.
SP = Total redaman dari splitter (dB)
Hasil pengukuran daya yang ditampilkan oleh
OptiSystem setelah simulasi dijalankan dapat dilihat
Sebuah rancangan jaringan dianggap layak jika pada gambar ini
daya terima (Pr) lebih besar dari nilai Tampilan Hasil Pengukuran Daya pada Titik-Titik
sensitivitas receiver (Pr>Sensitivitas Receiver). Kunci Jaringan Data kuantitatif dari hasil pengukuran
Standar industri menetapkan sensitivitas daya sinyal optik yang ditunjukkan pada Gambar ini.
receiver untuk GPON berada di rentang -18
dBm hingga -28 dBm
6. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bagian ini, akan dipaparkan hasil dari
simulasi jaringan FTTH yang telah dirancang
menggunakan OptiSystem, diikuti dengan
analisis dan pembahasan terhadap hasil tersebut
untuk menentukan kelayakan teknis dari
rancangan jaringan.
Gambar 5. Hasil Desaian Opti System
6.1. HASIL SIMULASI JARINGAN Tabel 4. Hasil Pengukuran Daya Sinyal Optik
Jaringan FTTH yang dirancang sesuai dengan Pembahasan
JURNAL OPTISYSTEM 5
Hasil simulasi yang diperoleh memberikan Penyebab: Ketidaksempurnaan sambungan antar kabel
wawasan penting mengenai kinerja dan (fusion splice atau konektor).
kelayakan teknis dari rancangan jaringan FTTH Karakteristik:
yang diusulkan. Pembahasan ini akan Fusion splice: ~0,05 – 0,1 dB per sambungan
menguraikan analisis terhadap redaman Konektor: ~0,2 – 0,5 dB per titik
jaringan, perbandingan hasil dengan standar Analisis: Dalam simulasi, redaman sambungan dihitung
industri, serta implikasi dari temuan penelitian. kumulatif. Jika ada 4 sambungan, maka total redaman
bisa mencapai ~0,4 – 1 dB.
D. Redaman Akibat Bending (Bending Loss)
Penyebab: Serat optik ditekuk terlalu tajam saat
instalasi.
Karakteristik: Tidak konsisten, namun bisa sangat tinggi
bila radius tikungan kurang dari rekomendasi (biasanya
<30 mm).
Analisis: Meskipun tidak muncul eksplisit dalam
simulasi, redaman ini sering terjadi di instalasi nyata dan
dapat menyebabkan penurunan performa drastis jika
tidak dikendalikan.
E. Redaman pada Perangkat Aktif
6.2.JENIS-JENIS REDAMAN (Transmitter/Receiver)
Penyebab: Karakteristik perangkat seperti sensitivitas
A. Redaman Serat optik (Fiber Attenuation) receiver atau efisiensi pemancar.
Penyebab: Material serat optik menyerap dan Karakteristik: Misalnya, receiver memiliki ambang
menyebarkan sebagian energi cahaya. sensitivitas -28 dBm; jika daya turun di bawah ini, sinyal
Karakteristik: Tergantung panjang kabel dan tidak dapat diproses dengan baik.
jenis kabel optik (umumnya ~0,2–0,4 dB/km Analisis: Pengukuran menunjukkan bahwa daya sampai
untuk SMF). ke ONT masih di atas ambang batas, sehingga sistem
Analisis: Dalam simulasi, redaman ini terjadi di masih layak secara teknis
segmen distribusi antar splitter ke rumah
pelanggan. Misalnya, untuk 5 km kabel,
redaman total bisa mencapai ~2 dB.
B. Redaman pada Splitter (Splitter Loss)
Penyebab: Pembagian daya optik ke beberapa
jalur.
Karakteristik: Meningkat secara logaritmik
berdasarkan rasio splitter.
Nilai maksimum redaman berdasarkan standar
splitter:
1:2 → 3,70 dB
1:4 → 7,25 dB
1:8 → 10,38 dB
1:16 → 14,10 dB
1:32 → 17,45 dB
Analisis: Splitter merupakan penyumbang
redaman terbesar dalam sistem, terutama saat
menggunakan rasio tinggi seperti 1:16 atau 1:32.
C. Redaman Sambungan (Connector & Splice
Loss)
JURNAL OPTISYSTEM 6
6.3 HASIL PENELITIAN BER
ANALYZER HASIL BER Analyzer
BER (Bit Error Rate) adalah parameter penting
dalam sistem komunikasi optik yang
menyatakan jumlah bit yang salah diterima
dibandingkan dengan jumlah total bit yang
dikirim. Alat BER Analyzer dalam simulasi
OptiSystem digunakan untuk mengevaluasi
kualitas sinyal optik setelah melewati saluran
transmisi dari OLT (Optical Line Terminal) ke
ONT (Optical Network Terminal) di rumah
pelanggan.
Implikasi Teknis dari Hasil BER Analyzer
📉 Kualitas Sinyal
BER sangat rendah (mendekati 0) menunjukkan
sinyal diterima dengan akurasi tinggi, sehingga
sistem layak digunakan. Gambar 6. Hasil BER Analyzer
Jika BER > 10⁻⁹, maka kemungkinan 📊 Nilai-nilai penting pada hasil BER Analyzer:
penurunan kualitas video/voice/internet Max Q Factor: 18.0731
meningkat secara signifikan. Semakin tinggi nilai Q, maka kualitas sinyal semakin
Dalam simulasi Anda, sinyal masih dapat bagus.
diterima dengan baik karena daya sinyal masih Nilai di atas 6 menunjukkan performa yang sangat baik.
berada di atas -28 dBm. Min BER: 7.65417e-73
BER (Bit Error Rate) adalah jumlah kesalahan bit per
📊 Verifikasi Desain Jaringan total bit yang dikirim.
Hasil dari BER Analyzer dapat digunakan untuk Nilai yang sangat kecil seperti ini menunjukkan hampir
memverifikasi bahwa desain jaringan FTTH tidak ada kesalahan — sinyal sangat bersih.
yang dibuat sudah sesuai, baik dari sisi jarak, Threshold: 3.77447e-05
jenis splitter, hingga kualitas koneksi. Ini adalah ambang batas tegangan untuk menentukan
Jika BER tinggi di rumah tertentu, maka bisa apakah bit adalah "1" atau "0".
jadi ada: Nilainya kecil, menandakan sistem sangat sensitif dan
Panjang kabel yang terlalu jauh, presisi dalam membaca data.
Terlalu banyak splitter, Decision Instant: 0.625
Redaman yang melebihi batas toleransi. Titik waktu terbaik untuk "membaca" bit dalam satu
siklus data.
⚙️Optimasi Sistem Nilai 0.625 berarti pembacaan dilakukan pada 62,5%
BER Analyzer membantu dalam proses iterasi dari waktu bit — posisi optimal dalam siklus.
desain, yaitu:
Mengganti splitter (misalnya dari 1:32 ke 1:16),
Memendekkan panjang kabel distribusi,
Meningkatkan daya dari transmitter,
Menambahkan repeater jika diperlukan.
🧪 Validasi Keandalan Sistem
BER adalah indikator langsung dari keandalan
transmisi data, khususnya pada sistem digital
yang digunakan untuk layanan triple play
(internet, TV, dan telepon).
Jika hasil BER < 10⁻¹², sistem dianggap sangat
stabil dan berkinerja tinggi.
JURNAL OPTISYSTEM 7
9. KESIMPULAN
1. Kinerja Sistem FTTH
Berdasarkan hasil simulasi dan pengujian
menggunakan OptiSystem, sistem jaringan
FTTH yang dirancang dengan teknologi GPON
(Gigabit Passive Optical Network) terbukti
layak secara teknis. Hal ini ditunjukkan dari
perhitungan Link Power Budget, di mana
redaman total masih berada di bawah batas
maksimal yang ditetapkan oleh Telkom Akses,
yaitu -28 dBm.
2. Redaman Sinyal Sesuai Standar
Pada jarak transmisi terjauh, nilai redaman
tercatat sebesar -25,09897 dBm (downlink) dan
-25,74997 dBm (uplink), yang masih berada
dalam batas toleransi aman untuk layanan optik.
3. Pengaruh Topologi dan Splitter
Simulasi menunjukkan bahwa konfigurasi
splitter (seperti 1:8 atau 1:16) sangat
mempengaruhi tingkat redaman. Penggunaan
splitter yang lebih banyak meningkatkan total
redaman, sehingga perlu dipertimbangkan
dengan matang saat perancangan.
4. Kualitas Jaringan Stabil
Teknologi FTTH GPON memberikan koneksi
yang stabil dengan faktor kualitas seperti
bandwidth, packet loss, delay, jitter, dan
throughput yang baik, menjadikan sistem ini
sangat ideal untuk kebutuhan internet modern.
5. Peran Simulasi OptiSystem
Penggunaan software OptiSystem dalam
simulasi memungkinkan analisa menyeluruh
terhadap performa sistem optik, termasuk
evaluasi loss, distribusi sinyal, dan kualitas
sinyal melalui eye diagram dan BER analyzer.
JURNAL OPTISYSTEM 8
DAFTAR PUSTAKA
*. S. Ridho, A. . N. A. Yusuf, S. Andra, D. N. S.
Sirin and C. Apriono, “Perancangan Jaringan
Fiber to the Home *. Singh, R., & Kaur, P. (2023). Optical Fiber Network
(FTTH) pada,” Jurnal Nasional Teknik Elektro Planning and Simulation Using OptiSystem for FTTH
dan Teknologi Informasi, Vols. Vol. 9, No. 1, Application. Journal of Optical Communications, 44(3),
pp. 94-103, 2020. 543–552.
*. Efan Nuari, Iskandar Fitri & Nurhayati
(2020). Analisis Perancangan Jaringan FTTH *. Kamal, A. M., & Noor, R. M. (2022). Optimization of
Area Universitas Nasional Blok IV Passive Optical Network (PON) Design using
menggunakan OptiSystem. OptiSystem Software. TELKOMNIKA
Telecommunication Computing Electronics and Control,
*. Muhammad Farid Hidayah (2021). 20(1), 255–263.
Perancangan FTTH Two Stage GPON di Desa
Cirea menggunakan OptiSystem.
*. E. C. HIDAYAT, “Analisa Power Link
Budget Perancangan Jaringan Fiber To The
Home Dengan Teknologi Gigabit Passive
Optical Networks Di Perumahan Citraland
Tegal,” Doctoral dissertation, Universitas Islam
Sultan Agung, 2022.
*. Alfian Manglo (2025). Perancangan FTTH
pada Jaringan XL di Perumahan Griya Permata
Lestari menggunakan OptiSystem.
*.Alsaidi, A. A., & Al-Khursan, A. H. (2021).
Performance analysis of FTTH GPON network
using OptiSystem. International Journal of
Electrical and Computer Engineering, 11(4),
3055–3062.
*. K. B. Jali, “Perancangan Jaringan Akses Fiber
To The Home (FTTH)
Menggunakan Teknologi 10 Gigabit Capable
Passive Optical Network
(XGPON) Pada Perumahan Green Lakeside
Karawang,” 2022.
*. Taha, H. M., & Hameed, M. A. (2020).
Design and Simulation of Fiber to the Home
(FTTH) in Suburban Areas Using GPON
Technology. Indonesian Journal of Electrical
Engineering and Computer Science, 19(2), 812–
818.
JURNAL OPTISYSTEM 9