Anda di halaman 1dari 19

Hernia diafragmatika

1. Nafi Ruhmita
2. Nani Susilawati
3. Nunik Astria
Pengertian
Hernia adalah penonjolan gelung atau ruas
organ atau jaringan melalui lubang
abnormal. Diafragmatika adalah sekat yang
membatasi rongga dada dan rongga perut.
Diafragma adalah sekat yang membatasi
rongga dada dan rongga perut. Pada
neonatus ini disebabkan oleh gangguan
pembentukan diafragma
Hernia diafragmatika adalah masuknya
bagian atas lambung ke dalam lubang
diafragma.
Penyebab

Penyabab pasti hernia masih belum diketahui.
Hal ini sering dihubungkan dengan penggunaan
thalidomide, quinine, nitrofenide, antiepileptik,
atau defisiensi vitamin A selama kehamilan.
Janin tumbuh di uterus ibu sebelum lahir,
berbagai sistem organ berkembang dan matur.
Diafragma berkembang antara minggu ke-7
sampai 10 minggu kehamilan. Esofagus
(saluran yang menghubungkan tenggorokan ke
abdomen), abdomen, dan usus juga
berkembang pada minggu itu.

Pada neonatus hernia ini disebabkan oleh
gangguan pembentukan diafragma. Seperti
diketahui diafragma dibentuk dari 3 unsur yaitu
membran pleuroperitonei, septum transversum
dan pertumbuhan dari tepi yang berasal dari
otot-otot dinding dada. Gangguan pembentukan
itu dapat berupa kegagalan pembentukan
sebagian diafragma, gangguan fusi ketiga unsur
dan gangguan pembentukan otot. Pada
gangguan pembentukan dan fusi akan terjadi
lubang hernia, sedangkan pada gangguan
pembentukan otot akan menyebabkan
diafragma tipis dan menimbulkan eventerasi.

Manifestasi klinik

Gejalanya berupa:
- Gangguan pernafasan yang berat.
- Sianosis (warna kulit kebiruan akibat
kekurangan oksigen).
- Takipneu (laju pernafasan yang cepat).
- Bentuk dinding dada kiri dan kanan
tidak sama (asimetris).
- Takikardia (denyut jantung yang
cepat).


Pemeriksaan


A. Pemeriksaan fisik
1. Pada hernia diafragmatika dada tampak
menonjol, tetapi gerakan nafas tidak nyata
2. Perut kempis dan menunjukkan gambaran
scafoid
3. Pada hernia diafragmatika pulsasi apeks
jantung bergeser sehingga kadang-kadang
terletak di hemitoraks kanan
4. Bila anak didudukkan dan diberi oksigen, maka
sianosis akan berkurang
5. Gerakan dada pada saat bernafas tidak
simetris
6. Tidak terdengar suara pernafasan pada sisi
hernia
7. Bising usus terdengar di dada
8. Perut terasa kosong

B. Pemeriksaan penunjang

Rontgen dada menunjukkan adanya organ
perut di rongga dada. Hernia diafragmatika
diatasi dengan pembedahan. Organ perut
harus dikembalikan ke rongga perut dan
lubang pada diafragma diperbaiki.
1) Foto thoraks akan memperlihatkan
adanya bayangan usus di daerah toraks
2) Kadang-kadang diperlukan fluoroskopi
untuk membedakan antara paralisis
diafragmatika dengan eventerasi (usus
menonjol ke depan dari dalam
abdomen)

Yang dapat dilakukan seorang bidan bila
menemukan bayi baru lahir yang mengalami
hernia diafragmatika yaitu :
1. Berikan oksigen bila bayi tampak pucat atau
biru.
2. Posisikan bayi semifowler atau fowler
sebelum atau sesudah operasi agar tekanan
dari isi perut terhadap paru berkurang dan
agar diafragma dapat bergerak bebas.
3. Awasi bayi jangan sampai muntah, apabila hal
tersebut terjadi, maka tegakkan bayi agar tidak
terjadi aspirasi.
4. Lakukan informed consent dan informed
choice untuk rujuk bayi ke tempat pelayanan
yang lebih baik.

Penatalaksanaan
Apabila pada anak dijumpai adanya kelainan-
kelainan yang bisa mengarah pada hernia
difragmatika, maka anak perlu segera dibawa ke
dokter atau rumah sakit agar segera bias ditangani
dan mendapatkan diagnosis yang tepat. Tindakan
yang bisa dilakukan sesuai dengan masalah dan
keluhan-keluhan yang dirasakan adalah :
1. Anak ditidurkan dalam posisi duduk dan
dipasang pipa nasogastrik yang dengan
teratur dihisap
2. Makanan diberikan pada porsi kecil-kecil.
3. Diberikan antibiotika profilaksis dan
selanjutnya anak dipersiapkan untuk
operasi. Organ perut harus dikembalikan ke
rongga perut dan lubang pada difragma
diperbaiki.

Tata laksana hernia Bochdalek yang optimal harus
memperhatikan berbagai hal yang terkait dengan
kelainan bawaan ini.

1. Proses persalinan dan unit perawatan
intensif
neonatus
Bayi harus dilahirkan di pusat kesehatan yang
memiliki sarana bedah anak dan perinatologi
yang memadai. Secara umum sarana yang
diperlukan adalah intubasi endotrakeal dan
pemakaian ventilator mekanik yang disesuaikan
dengan derajat keparahan herniasi organ
abdomen, hindari pemakaian ventilasi dengan
manual bag karena lambung dan organ intestinal
akan distensi oleh udara yang berakibat semakin
tertekannya paru dan organ-organ intratorakal),
pemasangan pipa nasogastrik untuk dekompresi,
menghindari pemakaian tekanan inspirasi yang
tinggi
2. Stabilisasi preoperatif
Pada hernia diafragmatika terdapat paru yang
hipoplastik, tidak atelektasis vaskularisasi
arteriolar yang abnormal dan hipertensi
pulmonal sehingga dipertimbangkan
pembedahan ditunda atau dipersiapkan
dahulu.11 Umur rata-rata untuk melakukan
pembedahan adalah sekitar 72 jam.
3. Pemberian ventilasi mekanik
Harus dipertimbangkan faktor-faktor yang
diketahui meningkatkan resistensi vaskuler
pulmonal (hipoksia, asidosis, hipotensi dan
hiperkarbia). Ventilasi dengan inspirasi
bertekanan rendah dipilih karenamenurunkan
kemungkinan terjadinya pneumothorax
kontralateral yang dapat meningkatkan
ketidakstabilan sistem kardiorespirasi dan
dekompensas
4. Extracorporeal Membrane Oxygenation
(ECMO)
Alat ECMO adalah perlengkapan paru buatan
yang digunakan untuk mengembangkan sisa
jaringan paru agar oksigenasi tetap adekuat
selama pembedahan untuk mencegah gagal
napas dan hipoksia berat. ECMO meningkatkan
keberhasilan hidup bayi dengan hernia
diafragmatika sebesar 42% pada era awal,
menjadi sebesar 79% pada era sekarang ini.
Waktu yang tepat untuk memberikan ECMO
masih kotroversial.
5. Pemberian surfaktan
Gagal nafas pada bayi dengan hernia
diafragmatika dapat berhubungan dengan
perkembangan paru yang abnormal dan
defisiensi surfaktan. Studi postmortem
menunjukkan adanya penurunan ekskresi
surfaktan apoprotein A (SP-A) yang lebih berat
pada sisi dengan hernia diafragmatika
dibandingkan dengan sisi yang lain. Hal ini
menunjukan adanya penundaan pematangan
fungsional atau perkembangan dan sintesis SP-
A. Analisis cairan amnion mendukung
kenyataan tersebut. Surfaktan sebaiknya
diberikan segera saat bayi menarik nafasnya
untuk pertama kali.

6. Terapi antenatal
Pemberian glukokortikoid antenatal untuk
memperbaiki maturitas paru dan
meningkatkan oksigenasi serta kemampuan
paru.
7. Terapi pembedahan perinatal
Davis dkk. mengungkapkan bahwa
pembedahan yang dipersiapkan lebih dahulu
diikuti dengan terapi ECMO memberikan hasil
yang lebih baik. Waktu yang tepat untuk
melakukan pembedahan belum diketahui
dengan pasti, beberapa ahli menganjurkan
pembedahan dapat dilakukan 24 jam setelah
bayi stabil, tetapi penundaan sampai 7-10 hari
dapat juga ditoleransi. Banyak ahli bedah lebih
menyukai operasi dikerjakan saat
ekokardiografi menunjukkan tekanan arteri
pulmonalis stabil dalam 24-48 jam
8.Perawatan pasca bedah
Perawatan pasca bedah meliputi perawatan
jangka pendek (segera setelah
pembedahan) dan perawatan jangka
panjang. Perawatan jangka pendek:
Perawatan pasca bedah jangka pendek
meliputi deteksi dan tata laksana komplikasi
yang dapat terjadi setelah pembedahan.
Komplikasi yang mungkin timbul dapat
berupa perdarahan, distres pernapasan,
hipotermia, produksi urin yang menurun,
infeksi dan obstruksi usus.
Pengawasan yang dilakukan saat pasien
masih dirawat di rumah sakit meliputi
monitoring pernapasan, evaluasi neurologis,
dan masalah pemberian makanan.
Perawatan jangka panjang perawatan
pasca bedah jangka panjang meliputi
pemantauan tumbuh kembang pasien.
Pertumbuhan kasus dipantau karena risiko
terjadi gangguan pertumbuhan akibat adanya
penurunan asupan kalori sebagai akibat
penyakit paru kronis, gastroesophageal refluk
dan feeding yang buruk terutama pada pasien
dengan defek neurologis yang berat
Penatalaksanaan Pre Operasi dan Post
Operasi pada Hernia Diafragmatika
Lakukan tindakan pemberian oksigen bila
bayi tampak biru. Kepala dan dada harus
lebih tinggi daripada kaki dan perut, agar
tekanan dari isi perut terhadap paru
berkurang dan membiarkan diafragma
bergerak dengan bebas. Posisi ini juga
dilakukan setelah operasi. (FKUI)