Anda di halaman 1dari 3

Tuesday, 15 July 2014

LP TEORI ASKEP TRANSIENT TACHYPNEA OF THE NEWBORN (TTN)


Post By. Andy J Beech at Tuesday, July 15, 2014
BAB I
I.

Tinjauan Teori
Transient Tachypnea Of The Newborn (TTN) ialah gangguan pernapasan pada bayi
baru lahir yang berlangsung singkat yang biasanya berlangung short-lived (< 24 jam) dan
bersifat self-limited serta terjadi sesaat setelah ataupun beberapa jam setelah kelahiran,
baik pada bayi yang prematur maupun pada bayi yang matur (lahir aterm). (Brooker,
2008).
Transient tachypnea of the newborn (TTN) adalah keadaan bayi baru lahir (newborn)
mengalami pernapasan yang cepat dan butuh usaha tambahan dari normal karena kondisi
di paru-paru. Sekitar 1% dari bayi baru lahir mengalami hal ini dan umumnya menghilang
setelah beberapa hari dengan tatalaksana yang optimal. (Stefano, 2005).
Transient tachypnea of the newborn (TTN) yaitu pernapasan cepat (frekuensi nafas >
60 x/menit ) sementara yang terjadi pada bayi waktu lahir umunya cukup bulan dan
biasanya ringan serta dapat sembuh sendiri dengan perawatan yang baik. (Stuart and
Sunden, 2001).
II. Etiologi
Transient tachypnea of the newborn (TTN) disebut juga wet lungs atau respiratory
distress syndrome tipe II yang dapat didiagnosis beberapa jam setelah lahir. TTN tidak
dapat didiagnosis sebelum lahir. TTN dapat terjadi pada bayi prematur (paru-paru bayi
prematur belum cukup matang) ataupun bayi cukup bulan. Penyebab TTN lebih dikaitkan
dengan beberapa faktor risiko yang meningkatkan kejadian TTN pada bayi baru lahir.
Faktor risiko TTN pada bayi baru lahir di antaranya:
1.Lahir secara secar
2.Lahir dari ibu dengan diabetes
3.Lahir dari ibu dengan asma
4.Bayi kecil untuk usia kehamilan (small for gestational age)
Selama proses kelahiran melalui jalan lahir, terutama bayi cukup bulan, tekanan
sepanjang jalan lahir akan menekan cairan dari paru-paru untuk keluar. Perubahan hormon
selama persalinan juga berperan pada penyerapan cairan di paru-paru. Bayi yang kecil atau
prematur atau yang lahir melalui jalan lahir dengan durasi singkat atau dengan secar tidak
mengalami penekanan yang normal terjadi dan perubahan hormonal seperti kelahiran
normal, sehingga mereka lebih berisiko mengalami penumpukan cairan di paru-paru saat
mereka menarik napas untuk pertama kali.

III.

Patofisiologi

Sebelum lahir paru-paru bayi terisi dengan cairan. Saat di dalam kandungan bayi
tidak menggunakan paru-parunya untuk bernapas. Bayi mendapat oksigen dari pembuluh
darah plasenta. Saat mendekati kelahiran, cairan di paru-paru bayi mulai berkurang
sebagai respon dari perubahan hormonal. Cairan juga terperas keluar saat bayi lahir
melewati jalan lahir (tekanan mekanis terhadap thoraks). Setelah lahir bayi mengambil
napas pertamanya dan paru-paru terisi udara dan cairan di paru-paru didorong keluar.
Cairan yang masih tersisa kemudian dibatukkan atau diserap tubuh secara bertahap melalui
sistem pembuluh darah atau sistem limfatik. Bayi dengan TTN mengalami sisa cairan yang
masih terdapat di paru-paru atau pengeluaran cairan dari paru-paru terlalu lambat sehingga
bayi mengalami kesulitan untuk menghirup oksigen secara normal kemudian bayi
bernapas lebih cepat dan lebih dalam untuk mendapat cukup oksigen ke paru-paru.
IV. Tanda dan Gejala
1.
Bernapas cepat dan dalam (takipnea) lebih dari 60 x/menit
2.
Napas cuping hidung (nasal flare)
3.
Sela iga cekung saat bernapas (retraksi interkostal)
4.
Mulut dan hidung kebiruan (sianosis)
5.
Grunting atau merintik/mendengkur saat bayi mengeluarkan napas Selain tanda dan
gejala tersebut, bayi dengan TTN tampak seperti bayi lainnya
V.

Penatalaksanaan
Bayi dengan TTN diawasi dengan cermat. Kadangkala dapat diawasi di NICU
(perawatan intensif bayi baru lahir). Pemantauan frekuensi jantung, pernapasan dan kadar
oksigen. Beberapa bayi diawasi dan dipastikan frekuensi pernapasan menurun dan kadar
oksigen tetap normal, lainnya mungkin membutuhkan oksigen tambahan melalui masker,
selang di bawah hidung atau kotak oksigen (headbox). Jika bayi tetap berusaha keras
untuk bernapas meskipun oksigen sudah diberikan, maka continous positive airway
pressure (CPAP) dapat digunakan untuk memberikan aliran udara ke paru-paru. Dengan
CPCP bayi mengenakan selang oksigen di hidung dan mesin secara berkesinambungan
memberikan udara bertekanan ke hidung bayi untuk membantu paru-paru tetap terbuka
selama pernapasan. Pada kasus berat maka bayi dapat membutuhkan bantuan ventilator,
namun ini jarang terjadi. Nutrisi dapat menjadi masalah tambahan jika bayi bernapas
terlalu cepat sehingga bayi tidak dapat mengisap,menelan dan bernapas secara bersamaan.
Pada kasus ini maka infus melalui pembuluh darah perlu diberikan agar bayi tidak
dehidrasi dan kadar gula darah bayi tetap terjaga. Dalam 24-48 jam proses pernapasan bayi
dengan TTN biasanya akan membaik dan kembali normal dan dalam 72 jam semua gejala
TTN sudah tidak ada. Jika keadaan bayi belum membaik maka dokter harus mencari
kemungkinan penyebab lainnya yang mungkin menyertai. Setelah bayi pulih dari TTN
umumnya bayi akan pulih sepenuhnya, inilah syarat dimana bayi boleh dipulangkan.
Sebelum pulang berikan edukasi kepada ibu agar melakukan observasi di rumah dengan
memantau tanda-tanda gangguan pernapasan seperti kesulitan bernapas, tampak biru, sela
iga cekung saat bernapas, bila hal ini muncul segera hubungi dokter dan unit gawat darurat
terdekat.

VI.

Prognosis

1.

1.
2.
3.
4.

Vitam dan fungsionam: Dubia ad bonam, tergantung penyebab, banyaknya tanda dan
gejala pasien, serta adekuatnya tatalaksana dari dokter.
VII. Komplikasi
Apabila tatalaksananya buruk, komplikasi yang mungkin seperti :
1. Hipoksia karena penanganan terlalu lama, akibatnya terjadi kekurangan
nutrisi pada organ-organ vital (otak, jantung, paru, ginjal).
2. Asidosis metabolic (hipoglikemia, hipotermia).
VIII. Rencana dan Asuhan Keperawatan
Gangguan pola nafas berhubungan dengan belum terbentuknya zat surfaktan dalam tubuh.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan gangguan
pola nafas dapat teratasi. Kriteria hasil :
1. RR 60 x/menit
2. Sesak (-)
3. Sianosis (-)
4. Retraksi dinding dada (-)
5. Reaksi diafragma (-)
Intervensi dan Rasional :
Observasi pola nafas
R : Mengetahui frekuensi nafas
Observasi TTV
R : Mengetahui keadaan umum bayi
Monitor SPO2
R : Mengetahui kadar O2 dalam darah
Atur posisi semi ekstensi
R : Memudahkan paru-paru mengembang saat ekspansi

2. Resiko tinggi gangguan termoregulasi : hipotermi b.d belum terbentuknya lapisan lemak
pada kulit.
Tujuan. :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan suhu tubuh tetap
normal. Kriteria hasil :
1. Suhu 37 C
2. Bayi tidak kedinginan
Intervensi dan Rasional :
1. Tempatkan bayi pada tempat yang hangat
R : Mencegah terjadinya hipotermi
2. Atur suhu inkubator
R : Menjaga kestabilan suhu tubuh
3. Pantau suhu tubuh setiap 2 jam
R : Memonitor perkembangan suhu tubuh bayi