Anda di halaman 1dari 16

Pendahuluan

Sistem

pernafasan

memegang

peranan

sangat

penting

dalam

mempertahankan kehidupan neonatus. Penyebab gangguan pernafasan dapat


dibagi menjadi infeksi dan noninfeksi. Kira kira 1% neonatus memiliki distress
pernafasan yang tidak berhubungan dengan infeksi. Dari 1 %, kira kira 33% 50%nya adalah Transient Tachypnea of the Newborn (TTN).1 TTN merupakan
self limited disease, namun dapat juga membahayakan kehidupan neonatus
sehingga diperlukan bantuan pernafasan. 1,2
Tingginya tindakan seksio sesarea pada masa kini meningkatkan
morbiditas TTN. Insidensi dari tindakan seksio sesarea pada kehamilan yang
belum in partu adalah 35,5 per 1000, bila sudah memasuki proses persalinan
adalah 12,2 per 1000.2 Adanya peningkatan morbiditas dan potensi mortalitas
memacu pembahasan yang lebih mendalam mengenai TTN. Pada referat ini akan
dibahas mengenai definisi, etiologi dan faktor risiko, patofisiologi, manifestasi
klinis, diagnosis, diagnosis banding, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan,
komplikasi, dan prognosis dari TTN.

Definisi
Transient Tachypnea of the Newborn (TTN) adalah suatu penyakit ringan
pada bayi baru lahir (BBL) yang mendekati cukup bulan (near term) atau cukup
bulan (term) yang mengalami respiratory distress segera setelah lahir dan hilang
dengan sendirinya dalam waktu 3-5 hari. 2-4

Faktor Risiko
Berikut adalah faktor risiko neonatus dalam mengidap TTN: 2,4

Elektif seksio sesarea yang belum in partu


Neonatus yang lahir dengan seksio sesarea, terutama dengan usia gestasi
kurang dari 38 minggu berisiko terjadinya penimbunan cairan dalam paru-paru
karena tidak melewati seluruh proses persalinan dan diikuti pelepasan
katekolamin yang tidak adekuat, akibatnya dapat menghambat pertukaran gas
dalam paru-paru. Oleh karena itu, maka neonatus lebih sulit untuk menghirup
oksigen dengan semestinya dan neonatus bernapas lebih cepat.

Near term neonates

Hal ini terjadi kemungkinan karena imaturitas dari epithelial Na+ channel
(ENaC), kurangnya produksi surfaktan dari lamellar bodies, dan imaturitas
epitel paru.

Neonatus dengan berat badan lahir rendah


Neonatus yang lahir dengan berat badan lahir rendah cenderung untuk
mengalami partus presipitatus sehingga tidak mengalami peremasan pada jalan

lahir.
Yang lahir dari ibu dengan asma
TTN yang terjadi dianggap dipengaruhi oleh kelainan atopik mengingat

adanya riwayat atopik (asma) pada ibu.


Yang lahir dari ibu dengan diabetes
Kurang baiknya aliran darah pada keadaan hiperglikemia dapat

mengakibatkan kurang sempurnanya ENaC.


Sedasi pada ibu yang berlebihan
Sedasi pada ibu akan menyebabkan efek sedasi pada neonatus sehingga
neonatus tidak menangis kuat saat lahir, sedangkan tangisan pada neonatus

berperan dalam penyerapan cairan dalam paru-paru sebanyak 30%.


Asfiksia perinatal
Neonatus yang mengalami asfiksia perinatal akan merangsang neonatus
untuk mengambil nafas lebih cepat sehingga cairan dalam jalan lahir dapat

masuk ke dalam paru-paru.


Skor APGAR yang rendah (menit 1: 7)
Skor APGAR yang rendah dapat menandakan adanya ketidaksempurnaan
bersihan dari jalan nafas, termasuk cairan dalam paru-paru neonatus.

Etiologi dan Patofisiologi


Transient tachypnea of the newborn (TTN) adalah hasil dari terlambatnya
pembersihan cairan paru-paru janin. Distress pernafasan dulu diperkirakan karena
defisiensi relatif pada surfaktan tetapi sekarang penyebabnya telah diketahui, yaitu
timbunan cairan pada paru-paru karena ketidakmampuan paru-paru janin dalam
menyerap cairan.1,3-6

Percobaan

in

vivo

memperlihatkan

bahwa

epitel

paru-paru

mengsekresikan Cl- dan cairan selama kehamilan tetapi baru mengembangkan


kemampuan untuk menyerap Na+ secara aktif pada akhir kehamilan.4 Pada saat
lahir, paru-paru yang matang mengubah fungsinya dari sekresi Cl - menjadi
absorbsi Na+ karena respon dari katekolamin yang bersirkulasi dalam darah.3-6
Telah dibuktikan juga bahwa glukokortikoid berperan dalam perubahan
ini. Pada paru-paru janin yang imatur terdapat imaturitas expresi EnaC.
Glukokortikoid dapat mempercepat penggantian fungsi dari sekresi cairan
menjadi absorpsi cairan. Glukokortikoid menginduksi reabsorpsi Na + kebanyakan
melalui ENaC alveolus paru-paru janin pada akhir kehamilan. Epinefrin yang
dilepaskan selama proses persalinan juga mempengaruhi cairan paru-paru janin
dengan cara menghambat chloride pump dan menstimulasi ENaC yang
mengabsorbsi cairan dari paru-paru ke interstisial. Perubahan tekanan oksigen
juga menambah kapasitas transport epitel paru dan meningkatkan ekspresi gen
ENaC.3-6
Percobaan memblokade ENaC yang dilakukan pada paru-paru tikus
memperlihatkan pentingnya transport Na+ secara fisiologis saat lahir. Ketika
transport Na+ tidak efektif, hewan yang baru lahir tersebut memperlihatkan gejala
distres pernafasan, hipoksemia, retensi cairan paru-paru, dan pada akhirnya terjadi
kematian. Penelitian menunjukkan bahwa TTN dan Respiratory Distress
Syndrome (RDS) melibatkan kegagalan pada transport Na+. 3-6
Transient Tachypnea of the Newborn (TTN) terjadi pada neonatus cukup
bulan dengan surfaktan yang matang dan transport Na+ epitel pernafasan yang
belum berkembang baik, sedangkan RDS terjadi pada neonatus dengan surfaktan
yang belum matang dan transport Na+ yang belum berkembang baik. 3-6 Walaupun
begitu, neonatus yang cukup bulan bisa saja memiliki lamellar body count yang
rendah, yang menandakan kurangnya fungsi surfaktan dan berhubungan dengan
tachypnea yang lama. 7
Cairan paru- paru janin dibersihkan oleh ENaC beberapa hari sebelum
lahir sebanyak 35%, selama proses persalinan sebesar 30% karena efek pelepasan

katekolamin, dan sekitar 35% dibersihkan setelah persalinan dengan menangis


kuat dan bernafas. 1,3-6

Manifestasi Klinis TTN


Gejala TTN meliputi: 1,2

Takipnea lebih dari 60 napas per menit


Merintih
Nafas cuping hidung
Retraksi dada
Sianosis
Neonatus dapat memperlihatkan barrel chest karena peningkatan diameter

anteroposterior.

Diagnosis
Anamnesis pada TTN biasanya didapatkan riwayat persalinan presipitatus,
persalinan dengan seksio sesarea, atau persalinan yang lama

1,2

Pada pemeriksaan

fisik didapatkan tanda-tanda distres pernafasan, seperti takipnea, nafas cuping


hidung, merintih, retraksi, dan sianosis dapat muncul segera setelah lahir.
Neonatus tersebut bisa saja tidak menunjukkan distres yang akut dan sering hanya
menunjukkan quiet tachypnea.1 Pemeriksaan rasio LS, Analisis Gas Darah
(AGD), pemeriksaan darah lengkap, tes antigen serum dan urin, kadar plasma
endothelin-1 (ET-1), interleukin-6 (IL-6), foto rontgen thoraks, tes oksigen 100%
juga dapat dilakukan untuk menyingkirkan diagnosis banding lain ataupun
membantu menentukan penyebabnya.
Kelainan ini haruslah sementara, biasanya baik dalam waktu 72 jam
setelah lahir. Namun beberapa studi menunjukkan bahwa pasien TTN dengan
frekuensi pernafasan lebih dari 90 per menit selama 36 jam pertama kehidupannya
berhubungan dengan prolonged takipnea yang berakhir lebih dari 72 jam. 7

Diagnosis Banding

Terdapat beberapa penyakit lain yang menyebabkan gangguan pernafasan


pada neonatus yang kerap kali sulit dibedakan dengan TTN, yaitu sebagai
berikut:1,2
1. Hyaline Membrane Disease (HMD) / Respiratory Distress Syndrome (RDS)
Hyaline Membrane Disease (HMD) disebut juga Sindroma Gawat Nafas
(SGP) tipe 1, yaitu gawat napas pada neonatus kurang bulan yang terjadi
segera atau beberapa saat setelah lahir, ditandai adanya takipnea, merintih,
pernafasan cuping hidung, retraksi dada, dan sianosis yang menetap atau
menjadi progresif dalam 48 96 jam pertama kehidupan dan pada
pemeriksaan radiologis ditemukan pola retikulogranuler yang uniform dan air
bronkogram.
Tanda dari HMD biasanya muncul beberapa menit sesudah lahir, namun
biasanya baru diketahui beberapa jam kemudian. Bila didapatkan onset
takipnea yang terlambat harus dipikirkan penyakit lain.
2. Meconium Aspiration Syndrome (MAS)
Cairan amnion yang terwarnai mekonium ditemukan pada 5 15%
kelahiran, tetapi sindrom ini biasanya terjadi pada neonatus cukup bulan atau
lewat bulan. Didapatkan riwayat ketuban hijau karena mekonium dan tanda
tanda

kegawatan

janin

merupakan

penemuan

yang

penting

dalam

mendiagnosis sindrom ini. Neonatus ini tercat mekonium dan memerlukan


resusitasi pada saat lahir. Mekonium yang kental teraspirasi ke dalam paru
mengakibatkan obstruksi jalan napas kecil yang dapat menimbulkan
kegawatan pernapasan dalam beberapa jam pertama dengan gejala takipnea,
pernafasan cuping hidung, merintih, retraksi, mendengkur, dan sianosis.
Keadaan ini biasanya membaik dalam 72 jam, tetapi bila dalam perjalanan
penyakitnya neonatus memerlukan bantuan ventilasi, keadaan ini dapat berat
dan kemungkinan mortalitasnya tinggi. Takipnea dapat menetap selama
beberapa hari atau bahkan beberapa minggu. Rontgen dada bersifat khas
ditandai dengan bercak bercak infiltrat, corakan kedua lapangan paru kasar,
diameter antero posterior tambah, dan diafragma mendatar.
3. Pneumonia Neonatal

Infeksi akibat Streptococcus grup B kurang bisa dibedakan dengan


takipnea lainnya. Pada pneumonia yang muncul saat lahir, gambaran rontgen
dada dapat identik dengan HMD, namun dari aspirat lambung atau trakea
ditemukan kokus gram positif, dan apus buffy coat juga dapat membantu
menandakan adanya penyakit infeksi. Tes urin untuk antigen streptococcus
positif, serta adanya neutropenia.
4. Persistent Pulmonary Hypertension of the Newborn (PPHN)
Persistent Pulmonary Hypertension of the Newborn (PPHN) merupakan
kegagalan perubahan sirkulasi paru-paru bayi dari sebelum lahir hingga setelah
lahir. PPHN terjadi pada bayi cukup bulan dan lewat bulan pasca asfiksia,
MAS, sepsis streptokokus grup B, HMD, hipoglikemia, polisitemia, dan
hipoplasia paru akibat hernia diafragmatika, oligohidramnion. PPHN juga
dapat terjadi karena hypoplasia of the pulmonary cascular bed atau idiopathic
pulmonary hypertension.

Pemeriksaan Penunjang
Beberapa pemeriksaan dapat dilakukan pada TTN untuk menyingkirkan
diagnosis banding lain atau justru membantu menegakkan diagnosis banding lain,
terutama bila keadaan nafas neonatus sudah sangat buruk dalam < 3 hari
kehidupannya.1,2
A. Pemeriksaan Laboratorium
1. Prenatal Testing
Rasio L-S > 2 dengan phosphatidilgliserol pada cairan amnion dapat
menyingkirkan HMD.
2. Postnatal testing
a. Analisa Gas Darah (AGD)
Pemeriksaan AGD penting untuk memastikan keadaan pertukaran
gas dan keseimbangan asam basa. Tidak terdapat tanda hipoventilasi
dan tekanan parsial karbondioksida biasanya normal atau meningkat
ringan (PCO2 < 55 mmHg) karena takipnea. Bila ditemukan
peningkatan tekanan karbondioksida pada neonatus dengan takipnea
mungkin merupakan tanda kelelahan dan ancaman gagal nafas atau
komplikasi seperti pneumothorax.

Analisis gas darah merupakan indikator definitif dari pertukaran


gas untuk menilai gagal nafas akut. Hipoksemia berat ditandai dengan
PaO2 < 50-60 mmHg dengan FiO2 60% atau PaO2 < 60 mmHg
dengan FiO2 > 40% pada bayi < 1250 g, hiperkapnik berat dengan
PaCO2 > 55-60 mmHg dengan pH <7,2-7,25.
b. Pemeriksaan darah lengkap
Untuk menyingkirkan tanda infeksi

dan

menyingkirkan

polisitemia.
c. Tes antigen serum dan urin
d. Kadar Plasma endothelin-1 (ET-1)
Kadar plasma ET-1 lebih tinggi pada pasien dengan RDS bila
dibandingkan dengan TTN.
e. Interleukin-6 (IL-6)
Beberapa studi menunjukkan bahwa pemeriksaan awal IL-6 dapat
membedakan sepsis dengan TTN sehingga dapat menghindari
penggunaan antibiotik pada neonatus.
B. Rontgen Thorax
Karena TTN memiliki gejala yang awalnya mirip dengan gangguan
pernafasan lain yang lebih berat (seperti pneumonia neonatal atau HMD),
maka dapat digunakan sinar-X dada selain anamnesis dan pemeriksaan fisik
untuk membuat diagnosis. Gambaran yang didapat adalah hiperinflasi paru
yang simetris atau normal, fisura interlobaris terlihat opak karena terdapat
cairan, perihilar streaking, efusi pleura yang minimal, corakan vaskular yang
meningkat, pembesaran jantung yang ringan. Gambaran radiografi terkadang
dapat seperti gambaran granular, diffuse seperti hyaline membrane disease
tetapi tanpa pulmonary underaeration. Radiografinya dapat juga menyerupai
gambaran meconium aspiration syndrome.
Paru paru kanan kadang terlihat lebih opak daripada paru - paru kiri.
Gambaran ini didapat pada umur neonatus 1-3 hari. Pada hari ke 4 akan
terlihat paru paru yang bersih.
C. Lung Ultrasonography

Akhir akhir ini ultrasonografi dipakai dalam mendiagnosis TTN dengan


ditemukannya double lung point yang tidak terlihat pada RDS, atelektasis,
pneumotoraks, pneumonia, dan neonatus yang sehat.

Penatalaksanaan TTN
Penatalaksanaan pada TTN hanyalah suportif. Ketika cairan paru paru
terabsorbsi oleh sistem limfatik neonatus, maka kondisi paru paru akan
membaik. Namun, seperti halnya neonatus yang baru lahir yang memiliki masalah
pernapasan, neonatus dengan TTN juga perlu diawasi dengan ketat. Kadangkadang neonatus akan dimasukkan ke unit perawatan intensif neonatus (NICU)
untuk perawatan ekstra. Monitor diperlukan untuk mengukur denyut jantung, laju
pernapasan, suhu tubuh, dan kadar oksigen secara kontinu.1,2,9,10
1. Penanganan awal adalah dengan membersihkan jalan nafas, jalan nafas
dibersihkan dari lendir atau sekret yang dapat menghalangi jalan nafas selama
diperlukan, serta memastikan pernafasan dan sirkulasi yang adekuat.
Monitoring saturasi oksigen dapat dilakukan dengan menggunakan pulse
oxymetri secara kontinyu untuk memutuskan kapan memulai intubasi dan
ventilasi. Semua bayi yang mengalami distres nafas dengan atau tanpa sianosis
harus mendapatkan tambahan oksigen. Oksigen yang diberikan sebaiknya
oksigen lembab dan telah dihangatkan. Pemberian oksigen dapat dimulai
dengan high flow nasal (HFN) kanul aliran 4-8 liter/menit FiO 2 21% - 40%.
Bila tidak berespon, dapat diberikan Continuous Positive Airway Pressure
(CPAP) dengan PEEP 7 cm H 2O FiO2 40%. Pemakaian CPAP juga dapat
langsung dipertimbangkan bila memenuhi salah satu kriteria berikut ini: 10
1. Frekuensi napas > 60x/menit
2. Merintih (grunting)
3. Retraksi dada
4. Saturasi oksigen <93% (preduktal)
5. Kebutuhan Oksigen >60%
6. Sering mengalami apnea
Menghentikan pemakaian CPAP jika:10

1. Setelah bayi bernapas dengan mudah dan terlihat penurunan frekuensi napas
dan retraksi. FiO2 diturunkan secara bertahap 2-5% sampai menjadi 21%
atau udara ruangan dengan dipandu pulse oxymeter atau hasil analisa gas
darah.
2. Jika bayi sudah nyaman bernapas dengan CPAP PEEP 5 cm H 2O dan FiO2
21%, maka dicoba melepas CPAP. Bayi dinilai selama percobaan ini apakah
mengalami takipnea, retraksi, desaturasi oksigen, atau apnea. Jika tanda
tersebut timbul, percobaan dianggap gagal. CPAP harus segera dipasang lagi
pada bayi paling sedikit satu hari sebelum dicoba lagi di hari berikutnya.
3. Jika bayi terus menggunakan CPAP PEEP 5 cm H 2O dengan FiO2 21%,
ulangi percobaan dengan memberikan tambahan oksigen melalui HFN,
aliran 4-8 liter/menit, FiO2 21%.
Bayi dengan CPAP nasal dengan tekanan yang optimal akan memerlukan
ventilasi mekanis / Non-invasive Positive-pressure Ventilation (NIPV) jika
terjadi hal berikut: 10
1.
2.
3.
4.
5.

FiO2 > 40%


PaCO2 > 60 mmHg
Asidosis metabolik menetap dengan defisit basa > -8
Terlihat retraksi yang nyata saat dilakukan CPAP
Sering mengalami apnea dan bradikardi

Tabel 1. Evaluasi Gawat Napas dengan Skor Downes


Skor
Laju pernapasan
Sianosis
Retraksi
Merintih
Udara masuk

0
< 60 x/menit
Tidak ada

1
2
60 80 x/menit
> 80 x/menit
Tidak ada dengan Perlu FiO2 40%

Tidak ada
Tidak ada
Baik

FiO2 40%
Ringan
Sedikit
Menurun

Berat
Jelas
Sangat Buruk

Sumber: Mathai8

Evaluasi
Total

Diagnosis

1-3

Sesak napas ringan

Tidak ada gawat napas

4-5

Sesak napas sedang

Gawat napas

CPAP

Sesak napas berat

Ancaman gagal napas

Intubasi

Tabel 2. Nilai Analisis Gas Darah


0
PaO2 (mmHg)
> 60
pH
> 7,3
PaCO2 (mmHg)
< 50
Skor > 3: memerlukan ventilator

1
50 60
7,2 7,29
50 60

Nilai
2
< 50
7,1 7,19
61 - 70

3
< 50
< 7,1
> 70

Sumber: Mathai8

Tabel 3. Panduan Untuk Monitoring Saturasi Oksigen dengan Pulse Oximetri


> 95%
88 94%
85 92%

Bayi aterm
Bayi preterm (28-24 minggu)
< 28 minggu

Sumber: Mathai8

Penilaian AGD seharusnya secara periodik diulangi, terutama bila kondisi


neonatus memburuk. Rontgen thorax seharusnya diulang bila secara klinis
semakin memburuk (dekompensasi).
(Algoritma diagnosis dan tatalaksana gagal nafas pada neonatus terlampir).
2. Pemasangan orogastric tube (OGT) diharuskan pada penggunaan bantuan
nafas dengan tujuan dekompresi distensi gastrointestinal dan untuk memulai
trophic feeding, dimulai dengan 10 cc/kgBB/hari.2 Enteral feeding tetap
diberikan untuk mempertahankan flora normal usus dan membantu
perkembangan villi villi usus. Cairan intravena dapat segera diberikan untuk
mencegah keadaan hipoglikemia. Keseimbangan cairan, elektrolit dan glukosa

10

harus diperhatikan. Pemberian cairan biasanya dimulai dengan jumlah yang


minimum, mulai dari 60 ml/kgBB/hari dengan Dekstrose 10%. Kalsium
glukonas dengan dosis 6-8 ml/kgBB/hari dapat ditambahkan pada infus cairan
yang diberikan. Pemberian nutrisi parenteral dapat dimulai dalam 24 jam. 11
Pemberian protein biasanya dimulai dari 0,5-1 g/kgBB/hari, tingkatkan 0,5-1
gram/kgBB/hari hingga maksimal 4 g/kgBB/hari dan lipid diberikan sebaiknya
mulai dari 0,5-1 g/kgBB/hari, tingkatkan 0,5 g/kgBB/hari hingga maksimal 3
g/kgBB/hari. Kalium 1-2 mEq/kgBB/hari dan natrium 2-3 mEq/kgBB/hari
pada periode stabilisasi (hari 1-3), sedangkan pada periode transisi (hari 4-6)
kalium 2-4 mEq/kgBB/hari dan natrium 4-8 mEq/kgBB/hari.12
3. Keadaan hipotermi maupun hipertermi harus dihindari. Temperatur bayi harus
dijaga dalam rentang 36,537,5oC.
4. Prinsip lain perawatan neonatus yang mengalami distress nafas adalah minimal
handling. Hal ini dapat dicapai dengan penggunaan monitor sekaligus untuk
menilai keadaan kardiorespiratorik, temperatur, dan saturasi oksigen pada
neonatus.
5. Penggunaan obat pada TTN adalah minimal. Sulit untuk menyingkirkan sepsis
atau pneumonia secara klinis, dengan tanda distress pernafasan, terutama bila
tidak ada faktor risiko infeksi pada neonatus. Untuk itu, antibiotik empirik
dapat diberikan pada 36 jam pertama kehidupan neonatus hingga sepsis dapat
disingkirkan (kultur negatif). Pemilihan antibiotik inisial yang dianjurkan
adalah ampicillin dan gentamicin. Namun, beberapa studi menyatakan bahwa
penggunaan antibiotik empirik tidak dianjurkan pada neonatus cukup bulan
atau hampir cukup bulan dengan TTN tanpa adanya faktor risiko infeksi.
Neonatus yang mendapatkan antibiotik harus tinggal lebih lama di rumah sakit.
Diuretik, beta agonist, dan epinefrin inhalasi tidak menunjukkan adanya
manfaat. 13,14

11

Ketika TTN teratasi, takipnea berkurang, kebutuhan oksigen berkurang,


dan rontgen thorax menunjukkan resolusi dari garis perihilar (perihilar streaking).
Dalam waktu 24 sampai 48 jam, napas neonatus yg mengidap TTN biasanya
membaik dan kembali normal, dan dalam waktu 72 jam hingga 120 jam, semua
gejala TTN hilang.1,2

Komplikasi
Beberapa neonatus dapat menunjukkan hipoksia, kelelahan pernafasan,
dan asidosis. Terkadang kebocoran udara (misalnya pneumothoraks atau
pneumomediastinum yang kecil) dapat terlihat. Beberapa studi mengatakan bahwa
TTN merupakan faktor risiko terhadap sindrom wheezing di masa depan saat masa
kanak kanak dan sifatnya tidaklah sementara seperti TTN. Namun, masih
diperlukan studi lainnya untuk memastikan hubungan ini.15,16

Prognosis
Transient Tachypnea of the Newborn (TTN) adalah kelainan yang dapat
sembuh sendiri dengan prognosis yang sangat baik. Namun, TTN sering diikuti
dengan penyakit respiratori lainnya, seperti peningkatan risiko wheezing pada
masa kanak kanak. 2,16

Kesimpulan
Transient Tachypnea of the Newborn adalah gangguan pernafasan yang
terjadi sementara pada neonatus cukup bulan atau hampir cukup bulan. Gejala dan
tandanya adalah nafas cepat, nafas cuping hidung, retraksi, merintih, sianosis, dan
tidak aktif. Karena gejala dan tanda ini tidak spesifik, maka dapat diperlukan
beberapa pemeriksaan untuk menyingkirkan diagnosis lain dengan rontgen thorax,
ataupun pemeriksaan untuk mengetahui tanda akan terjadinya gagal nafas.
Tindakan segera untuk mempertahankan nafas neonatus dalam mempertahankan
oksigenasi dan tindakan suportif merupakan tatalaksana pada TTN. Dengan
perawatan yang baik, keadaan neonatus dengan TTN akan membaik dalam 3 5

12

hari tanpa meninggalkan gejala sisa. Bagaimanapun, terdapat beberapa studi yang
menduga bahwa TTN meningkatkan risiko wheezing pada kanak kanak.

13

Algoritma
diagnosis dan
dan Tatalaksana
Gagal nafas
pada Neonatus
Algoritma
diagnosis
Tatalaksana
Gagal
nafas pada
Neonatus
Neonatus dengan
distress
nafas
Neonatus
dengan
distress
nafas
Berat
Berat
(PCH, grunting,
apneu, sianosis)
(PCH, grunting,

apneu, sianosis

Ringan
Ringan
(Takipneu ringan)

Resusitasi:
Resusitasi:
Bersihkan
Bersihkan jalan nafas,
lendir hisap
jalanhisap
nafas,
(suction)
lendir
(suction)
Pemberian
Pemberian oksigen
dengan CPAP
PEEP 7
oksigen
, pasang
Disesuai
cm
H
2O FiO2 40%, pasang OGT
OGT
kan
Pasang akses intra vena:
Pasang akses intra venamenurut
:
D10% 60 ml/kgBB
D10%
usia
Ca-glukonas
10%60
6-8 ml/kgBB
ml/kgBB

Ca-Gukonas
10%
6-8
Monitoring temperatur dan saturasi
ml/kgBB
Rontgen toraks (bila memungkinkan)

(Takipneu ringan)

Monitor temperatur
Monitor saturasi
Evaluasi menggunakan
skor Downes
Evaluasi
menggunakan
Rontgen
toraks
(Bila
skor Downes
memungkinkan)
Perbaikan klinis
klinis
Perbaikan
TIDAK (Ancaman
gagal nafas
/ DS6
TIDAK
( Ancaman
gagal
nafas/DS6)

YA Ya

Observasi 30 menit
Observasi
30
menit
Membaik
Membaik
Tidak

TID
YAYa
AK
Pemberian
Pemberian O2 HFN 4-8O2
L/m, FiO2 40%
dilanjutkan
Monitoring Saturasi
Monitoring
Rontgen toraks
saturasi
Perawatan
Rontgen
toraks
Perawat
Evaluasi
Darah rutin & hitung jenis,
Evaluasi
bayi rutin
menggunakan skor
an bayi
AGD,
GDS,
elektrolit,
menggunakan
Downes
Hipoglikemi bolus
rutin
rontgen
skor Downes
Hasil
AGD:

D10% 2 cc/kgBB,
Hasil
AGD: toraks Hipoglikemi
Konsul
NICU/rujuk
ke D10%
RS infus
Asidosis
metabolik
/
bolus
dilanjutkan
Asidosis
respiratorik
2cc/kgBB,
metabolik/respi
yang memiliki NICUkontinyu kec. 6-8

Intubasi
Intubasi
Pemberian antibiotik swpektrum luas:
Pemberian
antibiotik
Ampicillin & Gentamisin (inisial)
spektrumpenunjang:
luas:
Pemeriksaan
Ampicillin
& Gentamicin
Darah rutin & hitung jenis,
AGD, GDS,
elektrolit,
rontgen
toraks
(inisial)
Konsul
NICU / rujuk penunjang:
ke RS yang memiliki
Pemeriksaan
NICU

Bila
pH 7,25 Na
dilanjutkan
mg/kgBB/mntinfus
ratorik
Bikarbonat
1-2
Hiperglikemi
kontinyu
kec 6-8
Bila pH 7,25
mEq/kgBB
dalam
30
mg/kgBB/mnt
kurangi konsentrasi

Namenit
infus glukosa (D5%)
Hiperglikemi

Bikarbonat 1-2
kuranngi
mEq/kgBB dlm
konsentrasi
infus
30 menitPerawatan
Perawatan di
NICU
di
NICU
glukosa (D5%)

Bagan 1. Algoritma Diagnosis dan Tatalaksana Gagal Nafas pada Neonatus

14

Sumber: Mathai8

Daftar Pustaka

1. Subramanian KNS. Transient tachypnea of the newborn. 10 Juni 2014.


Diunduh dari http://emedicine.medscape.com. 8 Januari 2015.
2. Gomella TL, Cunningham MD, Eyal FG, Tuttle D. Neonatology:
management, procedures, on-call problems, diseases, and drugs. United
States od America: McGraw-Hill Companies; 2009.p.54,717-20.
3. Avery GB, Fletcher MA, MacDonald MG. Acute respiratory disorders in
neonatology. In: Pathophysiology and Management of the Newborn. 5th ed.
Philadelphia, Pa: Lippincott; 1999.p.485.
4. Hooper SB, Siew ML, Kitchen MJ, te Pas AB. Establishing functional
residual capacity in the non-breathing infant. Semin Fetal Neonatal Med.
Dec 2013;18(6):336-43.
5. Venkatesh VC, Katzberg HD. Glucocorticoid regulation of epithelial
sodium channel genes in human fetal lung. Am J Physiol. Jul 1997;273(1
Pt 1):L227-33.
6. Machado LU, Fiori HH, Baldisserotto M, Ramos Garcia PC, Vieira AC,
Fiori RM. Surfactant deficiency in transient tachypnea of the newborn. J
Pediatr. Nov 2011;159(5):750-4.
7. Kasap B, Duman N, Ozer E, Tatli M, Kumral A, Ozkan H. Transient
tachypnea

of

the

newborn:

predictive

factor

for

prolonged

tachypnea. Pediatr Int. Feb 2008;50(1):81-4.


8. Mathai S, Raju C, Kanitkar C. Management of respiratory distress in the
newborn. MJAFI. 2007.p.269-72.

15

9. Effendi SH, Firdaus A. Diagnosis dan penatalaksanaan kegagalan nafas


pada neonatus. Bandung: Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran;
2010.h.5-12.
10. Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A. Buku ajar
neonatologi. Jakarta: Badan penerbit IDAI; 2012.h.417-21.
11. Sweet D, Carnielli V, Greisen G, Hallman M, Ozek E, Plavka R, dkk.
European consensus guidelines on the management of neonatal respiratory
distress syndrome in preterm infants: 2010 Update. Neonatology.
2010;97:402-17.
12. Indrasanto E, Dharmasetiawani N, Rohsiswatmo R, Kaban RK. Paket
pelatihan pelayanan obstetri dan neonatal emergensi komprehensif
(PONEK): Asuhan neonatal esensial. Jakarta: IDAI.h.143-48.
13. Weintraub AS, Cadet CT, Perez R, DeLorenzo E, Holzman IR, Stroustrup
A. Antibiotic use in newborns with transient tachypnea of the
newborn. Neonatology. 2013;103(3):235-40.
14. Salama H, Abughalwa M, Taha S, Sharaf N, Mansour A. Transient
tachypnea of the newborn: Is empiric antimicrobial therapy needed?. J
Neonatal Perinatal Med. 2013;6(3):237-41.
15. Liem JJ, Huq SI, Ekuma O, Becker AB, Kozyrskyj AL. Transient
tachypnea of the newborn may be an early clinical manifestation of
wheezing symptoms. J Pediatr. Jul 2007;151(1):29-33.
16. Birnkrant DJ, Picone C, Markowitz W, El Khwad M, Shen WH, Tafari N.

Association of transient tachypnea of the newborn and childhood


asthma. Pediatri Pulmonol. Oct 2006;41(10):978-84.

16