Anda di halaman 1dari 54

OBAT-OBAT PADA GANGGUAN

LIVER, KANDUNG EMPEDU


DAN PANKREAS

Nurliyasman, MPH. Bag. Farmakoterapi FK Uniba


1. Gangguan Liver
Penyakit liver atau hati disebabkan oleh
- adanya perlemakan pada hati (fatty

liver),
- hepatitis

- tumor

- sirosis

- kanker hati
Fungsi Hati

- Menyaring darah/mengurai dan mendaur ulang


sel - sel darah merah.
- Memproduksi empedu untuk proses pencernaan
lemak
- Mengikat lemak dan kolesterol yang diangkut ke
seluruh tubuh
- Menyimpan zat gula, besi, tembaga, vitamin A, B
dan D
- Memproduksi protein-protein untuk bahan
pembekuan darah
- Membuat protein albumin yang berperan dalam
pengangkutan cairan didalam darah dan ginjal
Gejala / tanda Penyakit Liver

- Kulit jadi kekuningan


- Rasa nyeri di perut bagian kanan atas
- Air seni/Urin berwarna kecoklatan/seperti teh.
- Kadar gula turun
- Cepat kehilangan selera makan.
- Berat badan turun secara drastis.
- Sering mual, muntah juga Diare
- Feces/kotoran berwarna pucat.
- Tidak enak badan dan malas
- Mudah mengalami kelelahan.
- Sering pegel-pegel, sakit otot atau demam
ringan
- Penurunan gairah dan depresi
- Pembuluh darah membesar.
- Mengalami gejala gatal-gatal.
Penyebab timbulnya kerusakan pada fungsi hati
antara lain :

1. Faktor genetik atau keturunan dari beberapa


gen orang tua yang memiliki riwayat penyakit
liver kemudian menurun pada anak yang
kemungkinannya juga dibawa sejak lahir.
2. Terjadinya kelainan-kelainan dalam sistem
metabolisme dan atau kerusakan pada proses
awal pencernaan makanan.
3. Terjadinya infeksi-infeksi virus atau bakteri
4. Gemar konsumsi minuman beralkohol,
bersoda tinggi.
penyakit lainnya yang berhubungan kerusakan organ
hati,
akibat mengkonsumsi minuman beralkohol seperti :
1. Hepatitis alkoholik
2. Penyakit fatty liver yang menyebabkan pembesaran
hati
3. Sirosis alkoholik
5. Efek samping dari pemakaian obat-obatan jenis
tertentu secara terus-menerus sehingga
menyebabkan kerusakan pada fungsi hati.
6. Tidak terpenuhi secara baik dan seimbang sumber
gizi dan nutrisi bagi tubuh.
7. Sebelumnya pernah melakukan operasi pada bagian
perut atau pernah melakukan operasi yang berkaitan
usus sehingga mengakibatkan rasa trauma atau
menimbulkan luka setelah menjalani operasi.
Beberapa penyakit hati pada anak :
1. Alagilles syndrome : saluran empedu mengalami
penyempitan terjadi pada awal tahun pertama kehidupan.
2. Alpha 1- antitrypsin deficiency, gangguan fungsi hati
yang disebabkan oleh adanya faktor genetik yang dimiliki
dari gen orang tua yang menurun pada anak yang
kemudian berakibat pada penyakit hepatitis dan sirosis
( kerusakan fungsi hati ).
3. Biliary atresia : saluran empedu yang membentang dari
hati ke usus halus terlalu kecil penampangnya atau
bahkan sama sekali tidak ada.
4. Galactosemia adalah suatu penyakit genetik atau
keturunan yang tidak dapat mengendalikan gula-gula
tertentu di dalam susu formula anak.
5. Hemorrhagic telangiectasia : terjadi perdarahan yang
sering kali terjadi melalui kulit dan saluran pencernaan ke
pembuluh darah yang tipis.
6. Hepatitis aktif kronis, yang merupakan gangguan
penyakit yang diakibatkan dari peradangan pada organ
hati yang mengakibatkan luka yang meninggalkan bekas
dan gangguan fungsi hati.
7.Kanker hati, adanya gangguan atau kerusakan
pada organ tubuh lainnya yang berhubungan
langsung pada organ hati.
8.Neonatal hepatitis, adalah hepatitis yang terjadi
pada bayi yang baru lahir dan biasanya terjadi
pada beberapa bulan pertama kelahiran.
9.Reyes syndrome, adanya kelebihan lemak yang
kemudian menyebar luas.
10.Thalassemia : kurang darah atau memilki
jumlah
sel darah merah yang rendah.
11. Tyrosinemia, adanya kelainan yang
menyebabkan
pada sistem metabolisme pada hati.
12. Wilsons disease, adanya perluasan mineral
tembaga didalam hati.
Jenis penyakit hati pada orang dewasa, diantaranya :

1. Batu empedu pada saluran empedu


2. Hemochromatosis, adanya penyerapan secara berlebihan terhadap zat
besi yang disimpan terlalu lama pada organ hati.
3. Hepatitis, yakni suatu gangguan kesehatan yang diakibatkan adanya
peradangan dan infeksi dari organ hati yang disebabkan dari salah satu
jenis virus.
4. Penyakit cystic dari hati, yakni luka-luka yang disebabkan adanya
massa yang menghasilkan cairan pada organ hati.
5. Porphyria, tubuh salah dalam menggunakan dan mengoptimalkan
porphyrins dan fungsi dalam hati. Porphyrins merupakan sel atau
hormon guna membantu pembuatan hemoglobin didalam sel darah
merah untuk mengantarkan oksigen keseluruh tubuh.
6. Primary sclerosing cholangitis, tubuh mengalami peradangan dan luka
goresan didalam saluran empedu dari hati yang semakin menyempit.
7. Sarcoidosis, yakni suatu penyakit yang menyebabkan suatu perluasan
dari luka-luka di hati dan organ-organ tubuh lainnya.
8. Sirosis, yakni suatu keadaan yang disebabkan oleh adanya kerusakan
pada jaringan dan sel-sel hati yang kemudian diganti oleh jaringan
parut.
9. Type I glycogen storage disease, gangguan fungsi hati yang mengalami
gangguan pada pengendalian gula dalam darah yang terjadi apabila
seseorang dalam keadaan sedang berpuasa.
Terapi
1. Terapi tanpa obat

2. Terapi dengan obat

3. Terapi dengan vaksinasi

4. Terapi transplantasi hati.


1. Terapi tanpa obat
- Diet seimbang, jumlah kalori yang dibutuhkan
sesuai dgn tinggi badan, berat badan dan
aktivitas.
Tujuannya utk menghindari kerusakan hati
permanen, meningkatkan kemampuan
regenerasi jaringan hati dengan keluarnya
protein yang memadai.

- Diet rendah protein, banyak makan sayur dan


buah

- Menjalankan pola hidup teratur, beristirahat kalau


merasa lelah, dan menghindari minuman
beralkohol.
2. Terapi dengan obat
Golongan obat yang digunakan :
- Aminoglikosida

- Antiamuba

- Antimalaria

- Antivirus

- Diuretik

- Kolagogum

- Koletitolitik

- Hepatik protektor

- Multivitamin dengan mineral


a. Aminoglikosida
Antibiotika utk kasus abses hati yg disebabkan oleh
bakteri. Diberikan 3 x sehari selama 7 hari.

b. Antiamuba
Untuk terapi abses hati yg disebabkan oleh amoba
digunakan obat-obat Spt : dehydroemetine,
diiodohydroxyquinoline, diloxanide furoat, emetine,
etofamide, metronidazole, secnidazole, teclozan,
tibroquinol, tinidazole,

c. Antimalaria
Dapat digunakan utk mengobati amubiasis, mencegah
perkembangan abses hati yang disebabkan oleh
amuba
d. Antivirus
Lamivudine adalah obat antivirus yang
efektif untuk penderita hepatitis B. Virus
hepatitis B memberikan informasi
genetik DNA. Mempengaruhi proses
replikasi DNA dan membatasi
kemampuan virus hepatitis B
berpoliferasi.
Lamivudin bisa mempertahankan fungsi
hati yng optimal dan menekan terjadinya
proses nekrosis-inflamasi. Juga
mengurangi kemungkinan terjadinya
fibrosis dan sirosis serta dpat
mengurangi kemungkinan terjadinya
kanker hati. Diberikan oral sekali sehari.
Sediaan kombinasi Anti Retroviral (ARV) untuk
hepatitis C Duviral (Zidovudine+Lamivudine).
Didanosine atau Stavudine tdk boleh diminum utk
penderita yg sedang mendapat pengobatan
interferon dan ribavirin, krn beratnya efek samping
thd gangguan faal hati.
Zidovudine termasuk Duviral dan Retrovir bisa
menimbulkan anemia, utk mengatasinya beri
eritopoetin atau transfusi darah.
Neviral (Nevirapine) dapat mengganggu faal hati,
boleh digunakan pd penderita koinfeksi hepatitis C
dan harus dipantau dgn seksama.
Kombinasi Penginterferon dan ribavirin bisa
digunakan utk hepatitis C dan Hepatitis D.
Thymosin alpha 1 suatu imunomodulator yg
digunakan terapi hepatitis B sebagai monoterapi
maupun kombinasi dgn interferon.
e. Diuretik
Diuretik spt spironolactone, dapat
mengatasi edema yang menyertai sirosis
hati, dgn atau tanpa asites. Tidak boleh
diberikan pd pasien gangguan
keseimbangan elektrolit atau gangguan
ginjal berat karena menyebabkan
ekskresi elektrolit.
Jika gagal dgn spironolacton bisa
digunakan furosemid.
Obat lain seperti Thiazide atau Metolazone
dpt digunakan pada keadaan tertentu.
f. Kolagogum, Kolelitolitik, dan hepatic protector.
Digunakan utk melindungi hati dari kerusakan
yang lebih berat akibat hepatitis dan kondisi
lain.
Kolagogum misal : calcium panthotenate, L-
ornithin-L-aspartate, lactulose, metadoxine,
phosphatidyl choline, silymarin, ursodeoxycholic
acid, dpt digunakan pada kelainan yang
disebabkan krn kongesti atau insufisiensi
empedu, misal konstipasi biliari yng keras,
ikterus dan hepatitis ringan, dgn menstimulasi
aliran empedu hati, jangan gunakan obat ini
pada kasus hepatitis viral akut atau kelainan
hati yang sangat toksik.
g. Multivitamin dengan mineral
Untuk terapi penunjang pd pasien hepatitis dan
penyakit hati lainnya.
Bilirubin di dalam saluran cerna atau usus
dibutuhkan untuk penyerapan vitamin-
vitamin larut lemak ke dalam tubuh.
Bilirubun bekerja sbg deterjen, memecah-
mecah dan melarutkan vitamin2 ini agar
dapat diserap tubuh dgn baik.
Jika produksi bilirubin buruk, suplemen oral
vitamin2 A,D,E,K mungkin tidak akan cukup
utk mengembalikan level vitamin ke level
normal.
3. Terapi dengan vaksinasi
Interferon mempunyai sistem imun alamiah tubuh
dan bertugas untuk melawan virus. Obat ini
bermanfaat dlm menangani hepatitis B, C dan D
Interferon adalah glikoprotein yg diproduksi oleh
sel-sel tertentu dan T-limfosit selama infeksi
virus.
Pada proses ini, sepotong DNA dari leukosid yg
mengandung gen interferon, dimasukkan ke
dalam plasmid kuman E. coli. Dengan demikian,
kuman ini mampu memperbanyak DNA tsb dan
mensintesa interferon.
Vaksin mengandung partikel2 HBsAg yg tidak
menular. Tiga injeksi serial akan menghasilkan
antibodi thd HBsAg pada 95 % kasus yang
divaksinasi, namun tidak memiliki efek thd
individu pembawa.
4. Terapi Transplantasi hati
Terapi utk kegagalan hati fulminan yg tdk dapat
pulih dan untuk komplikasi2 penyakit hati kronis
tahap akhir,
Tranplantasi dilakukan bila terdapat tanda2
ensefalopati lanjut, koagulopati mencolok (waktu
prothrombin 20 menit) atau hipoglikemia.
Ada 2 tipe transplantasi
- Homotransplantasi auksilaris, sebuah hati

ditransplantasikan di tempat lain di tempat lain


dari hati yg sudah ada dibiarkan tetap
ditempatnya.
- Transplantasi ortotopik, sebuah hati baru

diletakkan pada tempat hati yg lama.


Obat-obat untuk penyakit liver (hati)
a. Obat untuk hepatitis

b. Obat untuk komplikasi sirosis hati

c. Obat untuk mengatasi perlemakan


hati
d. Obat untuk abses hati
A. Obat untuk hepatitis
1. Lamivudine
Indikasi : Hepatitis B kronik
dosis : dewasa, anak >12 th : 100 mg 1 x sehari.
anak 2-11 th : 3 mg/kg 1 x sehari (maks
100 mg sehari)
Efek samping : diare, nyeri perut, ruam, malaise, lelah, demam,
anemia, neutropenia, trombositopenia, neuropati, pankreatitis.
Interaksi obat : trimetoprim menyebabkan peningkatan kadar
lamivudine dalam plasma.
Perhatian : pankreatitis, kerusakan ginjal berat, penderita sirosis
berat, hamil dan laktasi
Penata laksanaan :
- Tes HBeAg dan anti HBe diakhir pengobatan selama 1 tahun dan
kemudian setiap 3-6 bulan.
- Durasi pengobatan optimal untuk hepatitis B belum diketahui,
tetapi pengobatan dapat dihentikan setelah 1 tahun jika ditemukan
adanya serokonversi HBeAg.
- pengobatan lebih lanjut 3-6 bulan setelah ada serokonversi HBeAg
untuk mengurangi kemungkinan kambuh.
- monitoring fungsi hati selama paling sedikit 4 bulan setelah
penghentian terapi dgn lamivudine
2. Interferon alfa
Indikasi : Hepatitis B kronis, Hepatitis C
kronis
Dosis :
Hepatitis B kronis : interferon alfa-2a
sc/im : 4,5 x 106 unit 3 x seminggu, jika 1
bln tdk respon dinaikkan 18 x 106 unit 3 x
seminggu, pertahankan dosis minselama
4-6 bln, kelcuali dlm keadaan intoleran.
Hepatitis C kronis : gunakan bersama
ribavirin.
Obat untuk komplikasi sirosis hati.
1. Asites
Spironolacton : 100-600 mg.
Furosemida : 40-160 mg
Bumetamid : 1-4 mg
Amiloride : 5-10 mg
Metalazone : dosis awal 5 mg.

2. Encelopati hati.
laktulosa : 15-30 ml per oral 2-4 x sehari
Metronidazol : 400-800 mg oral perhari dlm
dosis terbagi
neomicyn : 2-4 g oral perhari dlm dosis
terbagi
2. Gangguan Kandung Empedu
Kandung empedu merupakan kantong otot
kecil yang berfungsi untuk menyimpan
empedu (cairan pencernaan berwarna
kuning kehijauan yang dihasilkan oleh hati)
.

Batu Empedu adalah timbunan kristal di


dalam kandung empedu atau di dalam
saluran empedu.

Batu yang ditemukan di dalam kandung


empedu disebut kolelitiasis, sedangkan
batu di dalam saluran empedu disebut
koledokolitiasis.
Batu empedu lebih banyak ditemukan pada wanita
dan faktor resikonya adalah :
- usia lanjut
- kegemukan (obesitas)
- diet tinggi lemak
- faktor keturunan.

Batu kandung empedu bisa menyumbat aliran


empedu dari kandung empedu, dan menyebabkan
nyeri (kolik bilier) atau peradangan kandung
empedu (kolesistitis).
Batu juga bisa berpindah dari kandung empedu ke
dalam saluran empedu, sehingga terjadi jaundice
(sakit kuning) karena menyumbat aliran empedu
yang normal ke usus.
Penyumbatan aliran empedu juga bisa terjadi karena
adanya tumor.
Cairan empedu terdiri dari air, kolesterol,
garam empedu, protein, dan bilirubin
(pigmen empedu).
Saat lemak masuk ke dalam saluran
pencernaan, cairan empedu membantu
proses pencernaan lemak.
Adanya gangguan pada empedu seperti
jumlah kolesterol atau bilirubin yang
berlebihan dapat menyebabkan
pengkristalan yang akhirnya
membentuk batu
Ada 3 jenis batu yang bisa menimbulkan batu
empedu:

Batu kolesterol,
yang terbentuk dari jumlah kolesterol yang melebihi
jumlah garam empedu. Akibatnya, kolesterol
mengkristal dan lama kelamaan menjadi batu. Dan
yang lebih buruknya, 80% dari kasus penyakit batu
empedu disebabkan karena batu kolesterol.

Batu bilirubin.
Terjadi saat jumlah bilirubin dalam empedu melebihi
batas normal. Batu bilirubin biasanya berukuran lebih
kecil dari batu kolesterol dan berwarna hitam. Karena
warnanya ini, batu bilirubin juga dikenal dengan
sebutan batu hitam.

Batu campuran,
yaitu campuran dari kedua batu di atas.
Batu empedu dapat memicu peradangan dan
infeksi. Saat keluar dari saluran empedu, batu
empedu juga dapat menimbulkan penyumbatan
pada saluran lain.
Beberapa infeksi yang dapat terjadi antara lain
infeksi saluran empedu (kolangitis), infeksi
pankreas (pankreatitis) dan infeksi hati.
Batu empedu dengan ukuran kecil, khususnya batu
bilirubin, memiliki peluang ke bagian tubuh lain
yang lebih besar.
Itulah sebabnya batu empedu ukuran kecil
dianggap lebih berbahaya dibanding batu
empedu ukuran besar.
Namun batu empedu ukuran besar secara
perlahan akan mengikis dinding kantong empedu
dan masuk ke usus halus. Akibatnya akan terjadi
penyumbatan pada usus halus.
Penyebab :
- Gaya hidup dan pola makan yang kurang sehat.
- Obesitas dan kolesterol

Hadir tanpa gejala. Sebagian besar kasus batu empedu tanpa gejala
sama sekali. Bisa saja terasa nyeri pada bagian kanan atas perut yang
menyebar hingga ke punggung atau bahu.
Rasa nyeri ini juga bisa timbul saat mengkonsumsi makanan berlemak
tinggi. Karena lemak dapat merangsang kantong empedu berkontraksi
yang akhirnya memaksa empedu yang tersimpan masuk ke dalam usus
duabelas jari.

Batu di dalam kantong empedu dapat menghambat aliran empedu yang


akhirnya menimbulkan rasa nyeri.

Seperti gangguan maag. Gejala lain yang mungkin timbul dari batu
empedu adalah mual dan muntah. Gejala ini sering dianggap sebagai
gangguan maag. Hal ini memang wajar, sebab lambung dan kandung
empedu berada pada posisi yang berdekatan dan sama-sama terletak
di ulu hati.

Jadi, ketika salah satu organ mengalami gangguan, maka bagian yang
sakit akan terasa sama. Namun, meskipun memiliki gejala yang sama,
kedua penyakit ini sama sekali tak berkaitan.
Terapi
1.Non Pembedahan (farmakoterapi, diet)
a. Diet adalah : diet cair rendah lemak, buah yang masak, nasi,
ketela, kentang yang dilumatkan, sayur non gas, kopi dan
teh.
b. Makanan yang perlu dihindari sayur mengandung gas, telur,
krim, daging babi, gorengan, keju, bumbu masak berlemak,
alkohol.
c.Farmakoterapi asam ursedeoksikolat (urdafalk) dan
kenodeoksiolat (chenodiol, chenofalk) digunakan untuk
melarutkan batu empedu radiolusen yang berukuran kecil
dan terutama tersusun dari kolesterol.
Mekanisme kerjanya menghambat sintesis kolesterol dalam
hati dan sekresinya sehingga terjadi disaturasi getah
empedu.
Batu yang sudah ada dikurangi besarnya, yang kecil akan
larut dan batu yang baru dicegah pembentukannya.
Diperlukan waktu terapi 6 12 bulan untuk melarutkan batu.
d. Analgetik dan antibiotik
e.Pelarutanbatu empedu tanpa pembedahan, terapi oral (oral
dissolution therapy), melarutkan batu empedu yg kecil : dengan
cara menginfuskan suatu bahan pelarut (manooktanoin / metil
tersier butil eter ) kedalam kandung empedu.
Melalui selang / kateter yang dipasang percutan langsung
kedalam kandung empedu, melalui drain yang dimasukkan
melalui T-Tube untuk melarutkan batu yang belum dikeluarkan
pada saat pembedahan, melalui endoskopi ERCP, atau kateter
bilier transnasal.

f.Ektracorporeal shock-wave lithotripsy (ESWL). Metode ini


menggunakan gelombang kejut berulang yang diarahkan pada
batu empedu dalam kandung empedu atau duktus koledokus
untuk memecah batu menjadi sejumlah fragmen.
Gelombang kejut tersebut dihasilkan oleh media cairan oleh
percikan listrik yaitu piezoelektrik atau muatan elektromagnetik.
Energi disalurkan kedalam tubuh lewat rendaman air atau
kantong berisi cairan.
Setelah batu pecah secara bertahap, pecahannya akan
bergerak perlahan secara spontan dari kandung empedu atau
duktus koledokus dan dikeluarkan melalui endoskop atau
dilarutkan dengan pelarut atau asam empedu peroral.
2. Pembedahan
a. Intervensi bedah dan sistem drainase.
b. Kolesistektomi : dilakukan pada sebagian besar
kolesistitis kronis / akut.
Sebuah drain ditempatkan dalam kandung empedu
dan dibiarkan menjulur keluar lewat luka operasi
untuk mengalirkan darah, cairan serosanguinus,
dan getah empedu kedalam kassa absorben.
c. Minikolesistektomi : mengeluarkan kandung
empedu lewat luka insisi selebar 4 cm, bisa
dipasang drain juga, biaya lebih ringan, waktu
singkat.
d. Kolesistektomi laparaskopi
e. Kolesistektomi endoskopi: dilakukan lewat luka
insisi kecil atau luka tusukan melalui dinding
abdomen pada umbilikus.
3. Gangguan Pakreas
Pankreas : kelenjar ludah perut menghasilkan hormon
insulin dan glukagon serta sejumlah enzim yang
membantu proses pencernaan.

Gangguan pankreas
1. Pancreatitis
2. Kanker pankreas

1. Pancreatitis
peradangan pada pankreas yang disebabkan oleh
batu empedu yang menyumbat saluran pankreas,
komsumsi alkohol kronis, obat-obatan, trauma,
infeksi, tumor, dan kelainan genetik. Gejalanya nyeri
perut bagian atas yang terasa terus menerus
selama beberapa hari, disertai demam,
pembengkakan, mual, muntah, takikardi
2. Kanker pankreas
Penyebab adanya sel tidak normal yang tumbuh
pada organ pancreas. Bisa mengakibatkan
berbagai gangguan kesehatan, al :
- Diabetes melitus
- Depresi berkepanjangan
- Infeksi
- Gangguan pada organ liver (hati)
- Masalah pada berat badan.

Kanker ini lebih banyak diderita oleh wanita,


terutama pada pasein-pasien yang mengidap
penyakit :
- Pasien penyakit gula
- Peradangan pada pancreas
- Perokok aktif maupun pasif
Pengobatan :
Non farmakologis
- hentikan kebiasaan merokok
- olahraga secara teratur
- perbanyak makan buah, sayur dan biji-bijian
- aktifitas cerna dikendorkan

Farmakologis
Menggunakan obat-obat untuk mengurangi
gejala-gejala yang timbul :
- Analgetik, antipiretik dan Antiinflamasi.
- Antibiotik/antivirus.
- Antikolinergik
- Anti diabetes
Diabetes
1. DM Tipe 1

2. DM Tipe 2

Terapi
- Pengaturan diet
Karbohidrat: 60 - 70 %
Protein : 10 - 15 %
Lemak : 20 - 25 %
- Penurunan berat badan
- Olahraga/gerak tubuh
Terapi Obat
- Insulin (Actrapid HM, Insulatard HM, Monotard

HM, Protamin Zinc Sulfat, Humulin, Mixtard


30/70).
- Oral Hipoglikemik

1. Obat yg meningkatkan sekresi insulin :


Kelompok Sulfonilurea dan Glinida (meglitinida
dan turunan fenilalanin)
2. Sensitiser insulin (meningkatkan sensitifitas sel
thd insulin) : Kelompok biguanida dan
tiazolidindion.
3. inhibitor katabolisme karbohidrat (starch
blocker) : inhibitor alfa - glukosidase
Obat Obat DM
1. Sulfonilurea
- Gliburida (Glibenklamid)
- Glipizida
- Glikazida
- Glimeperida
- Glikuidone
MK : merangsang sekresi insulin di kelenjar
pankreas, hanya berfungsi pd penderita DM yang
sel sel beta pankreasnya masih berfungsi dg
baik.
2. Meglitinida
- Repaglinida
MK : merangsang sekresi insulin di kelenjar pankreas
3. Turunan Fenilalanin
- Nateglinida
MK : meningkatan kecepatan sintesis insulin oleh pankreas.

4. Biaguanida
- Metformin
MK : Bekerja langsung pd hati menurunkan produksi glukosa hati.
Tidak merangsang sekresi insulin oleh kelenjar pankreas.

5. Tiazolidindion
- rosiglitazone
- troglitazone
- pioglitazone
MK : menigkatkan kepekaan tubuh terhadap insulin

6. Inhibitor alfa glukosidase


- Acarbose
- Miglitol
MK : Menghambat kerja enzim-enzim pencernaan yg mencerna
karbohidrat, shg memperlambat absorbsi glukosa ke dalam
darah.
Terima Kasih