Anda di halaman 1dari 20

Menyongsong Era Baru

Pelayanan Kefarmasian 2014


Fina Ahmad F, S.Si., Apt
ERA BARU PELAYANAN KESEHATAN
1. PROGRAM JKN BPJS / KIS
- Adanya Program JKN dimana pada tahun 2019 seluruh masyarakat
Indonesia sudah tercover oleh program JKN (Universal Health
Coverage).
- Tantangan baru pelayanan kesehatan dimana pelayanan Kefarmasian
merupakan unsur penting program JKN
- Perlu Adanya Strategi yang holistik, menyeluruh dan sinergis para
apoteker dan organisasi profesi dalam menghadapi tantangan
perubahan paradigma pelayanan kesehatan

2. PERUBAHAN REGULASI DAN PERATURAN PELAYANAN FARMASI


- Perubahan Kebijakan Politik
- Perubahan Kenijakan Kesehatan
PERUBAHAN KEBIJAKAN
UMUM
a. Perubahan perizinan dan nomenklatur Klinik
b. Perubahan perizinan dan Kelas Rumah Sakit
c. Perubahan pola Akreditasi Rumah Sakit
d. Perubahan kebijakan menyangkut pelayanan Kesehatan BPJS / KIS

KHUSUS
Adanya Regulasi Baru mengenai standar pelayanan Kefarmasian di :
- Apotek, Puskesmas dan Rumah Sakit
KEBIJAKAN TERSEBUT BERPIHAK PADA APOTEKER ?
A. KLINIK
PERMENKES NO 9 TAHUN 2014
Pasal 11 ayat (2) bahwa Klinik Rawat Inap WAJIB ada tenaga Apoteker.
Pasal 16 : bahwa Klinik 24 Jam tenaga dokter dan tenaga kesehatan Lain
harus setiap saat ada di tempat. Pasal ini ditafsirkan bahwa apoteker harus ada
24 jam di Klinik, berarti jumlah apoteker minimal 2 apoteker.
Pasal 21 : Klinik rawat jalan menyelenggarakan pelayanan kefarmasian WAJIB
ada Apoteker yang memiliki SIPA.
Pasal 22 : Klinik Rawat Inap WAJIB memiliki Instalasi Farmasi yang dikelola
Apoteker
Instalasi Farmasi Tersebut melayani resep Intern dan berhak menerima resep
dari Faskes yang lain.
B. RUMAH SAKIT
PERMENKES NO 56 TAHUN 2014
PASAL 21 POINT 3 : JUMLAH MINIMAL APOTEKER DI RUMAH SAKIT
TIPE A WAJIB 15 APOTEKER TERDIRI DARI :
1 Apt sebagai Kepala Instalasi Farmasi
5 Apt bertugas di Rawat Jalan dengan minimal Asisten Apoteker 10
5 Apt bertugas di Rawat Inap dengan minimal Asisten apoteker 10
1 Apt bertugas di Instalasi Gawat Darurat
1 Apt bertugas di ICU/NICU/PICU/HCU
1 Apt koordinator Gudang dan Pengadaan Barang
1 Apt koordinator Produksi / Peracikan Obat (sitotoksik, I.V Admixture)
PERMENKES NO 56 TAHUN 2014
PASAL 32 POINT 3 : JUMLAH MINIMAL APOTEKER DI RUMAH
SAKIT TIPE B (RSUD KOTA TASIKMALAYA) WAJIB 13 APOTEKER
TERDIRI DARI :
1 Apt sebagai Kepala Instalasi Farmasi
4 Apt bertugas di Rawat Jalan
4 Apt bertugas di Rawat Inap
1 Apt bertugas di Instalasi Gawat Darurat
1 Apt bertugas di ICU/NICU/PICU/HCU
1 Apt koordinator Gudang dan Pengadaan Barang
1 Apt koordinator Produksi / Peracikan Obat (sitotoksik, I.V
Admixture)
PERMENKES NO 56 TAHUN 2014
PASAL 21 POINT 3 : JUMLAH MINIMAL APOTEKER DI
RUMAH SAKIT TIPE C (JASA KARTINI, TMC) WAJIB 8
APOTEKER TERDIRI DARI :
1 Apt sebagai Kepala Instalasi Farmasi
2 Apt bertugas di Rawat Jalan
4 Apt bertugas di Rawat Inap
1 Apt koordinator Pengadaan dan Produksi / Peracikan
Obat (sitotoksik, I.V Admixture)
PERMENKES NO 56 TAHUN 2014
PASAL 21 POINT 3 : JUMLAH MINIMAL APOTEKER DI
RUMAH SAKIT TIPE D (PERMATA BUNDA, PRASETYA
BUNDA, YARSI, SYIFA MEDINA) WAJIB 3 APOTEKER
TERDIRI DARI :
1 Apt sebagai Kepala Instalasi Farmasi
1 Apt bertugas di Rawat Jalan dan Rawat Inap
1 Apt koordinator Pengadaan dan Produksi / Peracikan
Obat (sitotoksik, I.V Admixture)
RUMAH SAKIT D PRATAMA
PERMENKES NO 24 TAHUN 2014

RUMAH SAKIT YANG BELUM MEMPUNYAI RUANG OPERASI/HCU DAN


PELAYANAN HANYA OLEH DOKTER UMUM. HANYA BOLEH
MENYELENGGARAKAN PELAYANAN KELAS 3 DAN MINIMAL 10 BED.

JUMLAH MINIMAL APOTEKER RS. D PRATAMA : 1 ORANG APOTEKER

PERATURAN MENGENAI RUMAH SAKIT KHUSUS, PERIZINAN DAN


KLASIFIKASI MASIH DISUSUN KEMENKES
STANDAR YANFAR DI RUMAH SAKIT
PERMENKES NO 30 TAHUN 2014

TUGAS APOTEKER : PENGELOLAAN SEDIAAN FARMASI DAN PELAYANAN


FARMASI KLINIK

PELAYANAN FARMASI KLINIK MELIPUTI :


a. pengkajian dan pelayanan Resep; b. penelusuran riwayat penggunaan Obat;
c. rekonsiliasi Obat; d. Pelayanan Informasi Obat (PIO);
e. konseling; f. visite;
g. Pemantauan Terapi Obat (PTO); h. Monitoring Efek Samping Obat (MESO);
i. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO); j. dispensing sediaan steril; dan
k. Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD);
STANDAR YANFAR DI PUSKESMAS
PERMENKES 30 TAHUN 2014

PUSKESMAS JUGA BERFUNGSI SEBAGAI FASKES PRIMER DI BPJS.


MINIMAL 1 ORANG APOTEKER DI 1 PUSKESMAS
MNURUT STANDAR INI, JUMLAH KEBUTUHAN APOTEKER DI
PUSKESMAS ADALAH 1 ORANG APT UNTUK RATA-RATA
KUNJUNGAN 50 ORANG PASIEN
SECARA BERTAHAP PEMERINTAH WAJIB MELASANAKAN PROGRAM
1 PUSKESMAS 1 APOTEKER

REALITA ???
STANDAR YANFAR DI APOTEK
PERMENKES NOMOR 35 TAHUN 2014
PENGATURAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK
BERTUJUAN UNTUK:
A. MENINGKATKAN MUTU PELAYANAN KEFARMASIAN;
B. MENJAMIN KEPASTIAN HUKUM BAGI TENAGA KEFARMASIAN; DAN
C. MELINDUNGI PASIEN DAN MASYARAKAT DARI PENGGUNAAN OBAT
YANG TIDAK RASIONAL DALAM RANGKA KESELAMATAN PASIEN (PATIENT
SAFETY).

PELAKSANAAN PEMBINAAN DAN PENGAWASAN SEBAGAIMANA


DIMAKSUD PADA AYAT (1) DAPAT MELIBATKAN ORGANISASI PROFESI.
Pelayanan Kefarmasian di Apotek diselenggarakan oleh Apoteker, dapat
dibantu oleh Apoteker pendamping dan/atau Tenaga Teknis Kefarmasian
yang memiliki Surat Tanda Registrasi, Surat Izin Praktik Apoteker atau
Surat Izin Kerja.

Menggunakan atribut praktik antara lain baju praktik, tanda pengenal.

Apoteker sebagai pemberi pelayanan harus berinteraksi dengan pasien.


Apoteker harus mengintegrasikan pelayanannya pada sistem pelayanan
kesehatan secara berkesinambungan.

Harus Ada Ruang Apoteker


Undang-undang Tenaga Kesehatan
Nomor 36 Tahun 2014
Pasal 11 Tenaga Kefarmasian masuk dalam kelompok Tenaga Kesehatan
Tenaga Teknis Kefarmasian meliputi : Sarjana farmasi, Ahlimadya farmasi, Analis
Farmasi
Pasal 44 (Registrasi) Setiap Nakes wajib memiliki STR, tatacara mendapat
STR
Pasal 46 (Perizinan) Setiap Nakes wajib memiliki SIP,
Syarat mendapat SIP STR, Rekomendasi dari Organisasi Profesi, Tempat
Praktek
Pasal 48 (Pembinaan) Melibatkan Organisasi Profesi
SANKSI
Pasal 82 Sanksi Administratif dari pemerintah Pencabutan Izin
Pasal 83 Ketentuan Pidana
Pasal 85 Tenaga Kesehatan praktek tanpa STR dipidana denda paling
banyak Rp. 100.000.000,-
Pasal 86 Praktek Tanpa SIP denda Rp. 100.000.000,-
BPJS / KIS ???
SAAT INI APOTEK HANYA DILIBATKAN PROGRAM RUJUK BALIK, BELUM
DILIBATKAN DALAM PROGRAM JKN, DAN HANYA JEJARING DENGAN
FASKES PRIMER

KEDEPAN, REMCANANYA 2019, TIDAK ADA DOKTER PRAKTEK SWASTA


PERORANGAN WAJIB BERBENTUK BADAN HUKUM (KLINIK) WAJIB ADA
APOTEKER, KARENA PELAYANAN FASKES PRIMER MELIPUTI PELAYANAN
OBAT (SALAH SATUNYA PURCHASING MELALUI E-KATALOG)

DI RUMAH SAKIT, DENGAN ADANYA BPJS, APOTEKER BERPERAN PALING


SENTRAL DALAM KONTROL OBAT MELALUI FORNAS DAN INA CBGS
PERAN ORGANISASI PROFESI (IAI)
APOTEKER KLINIK PRATAMA DAN UTAMA RAWAT JALAN, PUSKESMAS
DAN APOTEK BERADA DALAM PENGAWASAN DAN PEMBINAAN
LANGSUNG DARI IAI KOTA TASIKMALAYA

APOTEKER KLINIK RAWAT INAP, PUSKESMAS-DTP, RUMAH SAKIT


BERADA DALAM PENGAWASAN DAN PEMBINAAN IAI MELALUI
HISFARSI (HIMPUNAN SEMINAT FARMASI RUMAH SAKIT INDONESIA)

PP 51 : SETIAP PROSES PERIZINAN KETENAGAAN KEFARMASIAN


WAJIB MENDAPAT REKOMENDASI ORGANISASI PROFESI (IAI)
Pharmacist
in Action!
Terima Kasih

Ikatan Apoteker Indonesia Kota Tasikmalaya