Anda di halaman 1dari 25

PENDIDIKAN

KEWARGANEGARAAN

Nilai dan Norma Konstitusional UUD


NRI 1945 dan Konstitusionalitas
Ketentuan Perundang-Undangan
Dibawah UUD
Kelompok I

SEPTIA ANTASARI (D1A117281)


SITI HAWA NURUL M. (D1A117284)
SRI SAOMI HANDAANI (D1A117286)
SUKAMDANI (D1A117289)
SURYANI (D1A117294)
YUSUF ARIF ANTO (D1A117323)
Nilai &
Norma

Konstitusi

KONSTITUSI
INDONESIA

PENERAPAN
NILAI
KONSTITUSI
NILAI
Lorens Bagus (2002) dalam bukunya Kamus Filsafat
menjelaskan tentang nilai yaitu sebagai berikut:
Nilai dalam bahasa Inggris value, bahasa Latin valere
(berguna,mampu akan, berdaya, berlaku, kuat).
Nilai ditinjau dari segi Harkat adalah kualitas suatu hal yang
menjadikan hal itu dapat disukai, diinginkan, berguna, atau dapat
menjadi objek kepentingan.
Nilai ditinjau dari segi Keistimewaan adalah apa yang dihargai,
dinilai tinggi atau dihargai sebagai sesuatu kebaikan. Lawan dari
suatu nilai positif adalah tidak bernilai atau nilai negative. Baik
akan menjadi suatu nilai dan lawannya (jelek, buruk) akan menjadi
suatu nilai negative atau tidak bernilai.
Nilai ditinjau dari sudut Ilmu Ekonomi
yang bergelut dengan kegunaan dan
nilai tukar benda-bendsa material,
pertama kali mengunakan secara
umum kata nilai.
HAKIKAT NILAI
Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat
dikemukakan kembali bahwa nilai itu adalah
rujukan dan keyakinan dalam menentukan
pilihan. Sejalan dengan definisi itu maka yang
dimaksud dengan hakikat dan makna nilai adalah
berupa norma, etika, peraturan, undang-undang,
adat kebiasaan, aturan agama dan rujukan
lainnya yang memiliki harga dan dirasakan
berharga bagi seseorang. Nilai bersifat abstrak,
berada dibalik fakta, memunculkan tindakan,
terdapat dalam moral seseorang, muncul sebagai
ujung proses psikologis, dan berkembang kearah
yang lebih kompleks.
NORMA
Kata norma berasal dari bahasa Belanda "norm"
yang berarti pokok kaidah, patokan atau
pedoman. Dalam Kamus Hukum Umum, kata
norma atau norm diberikan pengertian sebagai
kaidah yang menjadi petunjuk, pedoman bagi
seseorang untuk berbuat atau tidak berbuat, dan
bertingkah laku dalam lingkungan masyarakatnya,
misalnya norma kesopanan, norma agama, dan
norma hukum. Namun, ada juga yang
berpendapat bahwa istilah norma berasal dari
bahasa latin, mos yang merupakan bentuk jamak
dari mores, artinya adalah kebiasaan, tata
kelakuan, atau ada istiadat.
MACAM-MACAM NORMA
Norma Agama, yaitu bersifat mutlak dan tidak
dapat ditawar. Norma agama ditentukan oleh
tiap-tiap agama dan kepercayaan. Pelanggaran
terhadap norma agama dikatakan sebagai dosa
dan hukumannya neraka.
Norma Kesusilaan merupakan yang paling halus,
dimana dibuat untuk menghargai harkat dan
martabat seseorang. Norma ini bersumber dari
perasaan manusia.
Norma Kesopanan, yaitu peraturan sosial yang
mengarah pada hal-hal yang berkenaan dengan
cara seseorang bertingkah laku wajar. Norma ini
bersumber dari perasaan manusia.
Norma Kebiasaan ialah sekumpulan
peraturan sosial yang berisi petunjuk atau
peraturan yang dibuat secara sadar
maupun tidak. Perilaku ini dilakukan
berulang-ulang sehingga menjadi
kebiasaan.
Norma Hukum adalah aturan sosial
dimana dibuat oleh lembaga-lembaga
tertentu, pemerintah, sehingga sanksi
pelanggaran ini tegas dan jelas.
FUNGSI NORMA
Norma berfungsi sebagai suatu pedoman
orientasi kehidupan warga masyarakat dalam
proses sosialisasi yaitu suatu proses seseorang
individu dalam masyarakat belajar berbagai
hal yang dibutuhkan dalam hidupnya. Norma
yang telah dipelajari setiap warga masyarakat
dalam proses sosialiasasi menentukan
bagaimana tingkah laku dari individu
pendukung nilai tersebut.
KONSTITUSI
Istilah konstitusi dikenal dalam sejumlah bahasa,
misalnya dalam bahasa Prancis dikenal dengan
istilah constituer, dalam bahasa Latin/Italia
digunakan istilah constitutio, dalam bahasa
Inggris digunakan istilah constitution, dalam
bahasa Belanda digunakan istilah constitutie,
dalam bahasa Jerman dikenal dengan istilah
verfassung, sedangkan dalam bahasa Arab
digunakan istilah masyrutiyah. Constituer (bahasa
Prancis) berarti membentuk, pembentukan. Yang
dimaksud dengan membentuk di sini adalah
membentuk suatu negara
Secara umum, konstitusi berarti seperangkat
peraturan atau hukum yang berisi tentang
bagaimana suatu pemerintahan akan
dijalankan. Kontitusi mengandung permulaan
dari segala peraturan mengenai suatu negara
atau dengan kata lain bahwa konstitusi
mengandung permulaan dari segala peraturan
mengenai negara, pembentukan suatu negara
atau menyusun dan menyatakan suatu negara,
dan sebagai peraturan dasar mengenai
pembentukan negara
TUJUAN KONSTITUSI
Tujuan-tujuan adanya konstitusi secara ringkas
dapat diklasifikasikan menjadi tiga. Tujuan
konstitusi adalah sebagai berikut :
Konstitusi bertujuan untuk memberikan
pembatasan sekaligus pengawasan terhadap
kekuasaan politik
Konstitusi bertujuan untuk melepaskan kontrol
kekuasaan dari penguasaan sendiri
Konstitusi bertujuan memberikan batasan-
batasan ketetapan bagi para penguasa dalam
menjalankan kekuasaannya.
MACAM-MACAM KONSTITUSI
Konstitusi memiliki berbagai jenis atau macam-
macam konstitusi baik itu macam-macam konstitusi
secara umum atau macam-macam konstitusi menurut
para ahli. Macam-macam konstitusi adalah sebagai
berikut :
Konstitusi Tertulis : Pengertian Konstitusi tertulis
(dokumentary constitution/ writen constitution) adalah
suatu peraturan yang dituangkan dalam suatu
dokumen tertentu.
Konstitusi Tidak Tertulis : Pengertian Konstitusi tidak
tertulis (non documentary constitution) adalah suatu
peraturan yang tidak diterangkan dalam suatu
dokumen tertentu yang terpelihara dalam
ketatanegaraan suatu negara.
FUNGSI KONSTITUSI
Konstitusi berfungsi sebagai landasan kontitusionalisme. Landasan
konstitusionalisme adalah lndasan berdasarkan konstitusi, baik konstitusi
dalam arti luas maupun konstitusi dalam arti sempit. Konstitusi dalam arti
luas meliputi undang-undang dasar, undang-undang organik, peraturan
perundang-undangan lain, dan konvensi. Konstitsi dalam arti sempit
berupa Undang Undang Dasar (Astim Riyanto, 2009).

Konstitusi berfungsi untuk membatasi kekuasaan pemerintah sedemikian


rupa, sehingga penyelenggaraan kekuasaan tidak bersifat sewenang-
wenang. Dengan demikian, diharapkan hak-hak warganegara akan lebih
terlindungi. Gagasan ini dinamakan konstitusionalisme, yang oleh Carl
Joachim Friedrich dijelaskan sebagai gagasan bahwa pemerintah
merupakan suatu kumpulan kegiatan yang diselenggarakan oleh dan atas
nama rakyat, tetapi yang dikenakan beberapa pembatasan yang
diharapkan akan menjamin bahwa kekuasaan yang diperlukan untuk
pemerintahan itu tidak disalahgunakan oleh mereka yang mendapat tugas
untuk memerintah (Thaib dan Hamidi, 1999).
Konstitusi berfungsi: (a) membatasi atau
mengendalikan kekuasaan penguasa agar dalam
menjalankan kekuasaannya tidak sewenang-
wenang terhadap rakyatnya; (b) memberi suatu
rangka dasar hukum bagi perubahan masyarakat
yang dicitacitakan tahap berikutnya; (3) dijadikan
landasan penyelenggaraan negara menurut suatu
sistem ketatanegaraan tertentu yang dijunjung
tinggi oleh semua warga negaranya; (d) nenjamin
hak-hak asasi warga negara.
PENTINGNYA KONSTITUSI
Konstitusi adalah hukum tertinggi suatu
negara, tanpa konstitusi negara tidak mungkin
terbentuk, dengan demikian konstitusi
menempati posisi yang sangat vital dalam
kehidupan ketatanegaraan suatu negara.
Sehingga dalam hierarki perundang-undangan
konstitusi menempati urutan teratas
(gundnorm) dalam segitiga atau lebih dikenal
dengan teori Stufenbau des recht.
Seorang ahli konstitusi berkebangsaan Jepang Naoki
Kobayashi mengemukakan bahwa undang-undang dasar
membatasi dan mengendalikan kekuasaan politik untuk menjamin
hak-hak rakyat. Melalui fungsi ini undang-undang dasar dapat
memberi sumbangan kepada perkembangan dan pembinaan
tatanan politik yang demokratis
Dari materi muatan yang tereduksi dalam konstitusi atau
undang-undang diatas, menunjukan arti pentingnya konstitusi bagi
suatu negara. Karena konstitusi menjadi barometer kehidupan
bernegara dan berbangsa yang sarat dengan bukti sejarah
perjuangan para pendahulu, sekaligus ide-ide dasar yang
digariskan oleh the founding fathers, serta memberikan arahan
kepada generasi penerus bangsa dalam mengemudikan suatu
negara yang mereka pimpin. Semua agenda penting kenegaraan ini
telah terdapat dalam konstitusi. Sehingga benarlah kalau konstitusi
merupakan cabang yang utama dalam Studi Ilmu Hukum Tata
Negara.
KONSTITUSI INDONESIA
A. Perubahan-perubahan pada UUD NRI
Pada pertengahan 1997, negara Indonesia dilanda krisis
ekonomi dan moneter yang sangat hebat. Kala itu, krisis
ekonomi dan moneter menjadi suatu tantangan yang sangat
berat. Akibat krisis tersebut adalah harga-harga melambung
tinggi, sedangkan daya beli masyarakat terus menurun.

Pada awal era reformasi (pertengahan 1998), muncul


berbagai tuntutan reformasi di masyarakat. Tuntutan tersebut
disampaikan oleh berbagai komponen bangsa, terutama oleh
mahasiswa dan pemuda. Ada beberapa tuntutan reformasi,
salah satunya adalah tuntutan untuk mengamandemen UUD
NRI 1945.
Tuntutan perubahan UUD NRI 1945
merupakan suatu terobosan yang sangat besar
karena pada era sebelumnya tidak dikehendaki
adanya perubahan tersebut. Sikap politik
pemerintah yang diperkuat oleh MPR tidak
menghendaki perubahan UUD NRI 1945. Apabila
hendak mengubah UUD NRI 1945, terlebih
dahulu harus dilakukan referendum (meminta
pendapat rakyat) dengan persyaratan yang
sangat ketat. Karena persyaratannya yang sangat
ketat itulah maka kecil kemungkinan untuk
berhasil melakukan perubahan UUD NRI 1945.
UUD NRI 1945 sebagai konstitusi negara
Indonesia memiliki kedudukan sebagai hukum
tertinggi dan hukum dasar negara. Sebagai hukum
dasar dan hukum tertinggi negara, maka peraturan
perundangan di bawah UUD NRI 1945, isinya
bersumber dan tidak boleh bertentangan dengannya.
Misal isi norma suatu pasal dalam undang-undang,
tidak boleh bertentangan dengan UUD NRI. Dengan
demikian UUD NRI 1945 sebagai konstitusi negara
menjadi dasar acuan apakah isi peraturan di
bawahnya bertentangan atau tidak. Undang-undang
pada dasarnya adalah pelaksanaan daripada norma-
norma yang terdapat dalam undang-undang dasar.
Oleh karena secara normatif undang-
undang tidak boleh bertentangan dengan UUD
NRI 1945, maka jika ditemukan suatu norma
dalam undang-undang bertentangan dengan
UUD NRI 1945 maka dapat melahirkan
persoalan konstitusionalitas undang-undang
tersebut terhadap UUD NRI 1945. Dalam
sistem hukum di Indonesia, lembaga negara
yang berwenang menguji konstitusionalitas
Undang-Undang terhadap UUD NRI 1945
adalah Mahkamah Konstitusi.
PENERAPAN NILAI-NILAI KONSTITUSI
Menurut Karl Lowenstein setiap konstitusi selalu
terdapat dua aspek penting, yaitu sifat idealnya sebagai
teori (das sollen) dan sifat nyatanya sebagai praktik (das
sein). Suatu konstitusi yang mengikat itu bila dipahami,
diakui, diterima, dan dipatuhi oleh masyarakat bukan hanya
berlaku dalam arti hukum, akan tetapi juga merupakan
suatu kenyataan yang hidup dalam arti sepenuhnya
diperlukan dan efektif, maka konstitusi tersebut dinamakan
konstitusi yang mempunyai nilai normatif. Namun bila
suatu konstitusi sebagian atau seluruh materi muatannya,
dalam kenyataannya tidak dipakai atau pemakaiannya
kurang sempurna dalam kenyataan. Dan tidak
dipergunakan sebagai rujukan atau pedoman dalam
pengambilan keputusan dalam penyelenggaraan kegiatan
bernegara, maka dapat dikatakan konstitusi tersebut
bernilai nominal.
Berbicara konstitusi Indonesia tidak terlepas
dari konstitusi tertulisnya yakni, Undang-Undang
Dasar (UUD) 1945. UUD 1945 sebelum
amandemen memiliki kecenderungan bersifat
konstitusi yang bernilai semantik. Contohnya
UUD 1945 pada zaman Orde baru dan Orde lama
pada waktu itu berlaku secara hukum, tetapi
dalam praktiknya keberlakuan itu semata-mata
hanya untuk kepentingan penguasa saja dengan
dalih untuk melaksanakan Undang-Undang dasar
1945. Kenyataan itu dapat kita lihat dalam masa
Orde Lama ikut campur penguasa dalam hal ini
esekutif (Presiden) dalam bidang peradilan, yang
sebenarnya dalam pasal 24 dan 25 Undang-
Undang dasar 1945 harus bebas dan tidak
memihak, hal tersebut dapat terlihat dengan
adanya Undang-undang No. 19 tahun 1965.