Anda di halaman 1dari 44

ALZHEIMER

DISEASE
REVIEW ANATOMI & FISIOLOGI
A. Susunan Saraf Pusat
Otak (Encephalon)
- Otak Besar (Cerebrum)
a. Hemisfer kiri (Verbal-linguistik)
Kemampuan bicara, bahasa, serta mengingat
fakta & nama.
b. Hemisfer kanan (nonverbal-visiospasial-emosional)
Memproses byk informasi scr simultan,
memandang masalah scr holistik, menganali
wajah org & sifat scr keseluruhan
- Otak Kecil (Cerebellum)
- Batang Otak (Trunkus Cerebri)
Tulang Belakang (Spinal cord)
Otak Besar (Cerebrum)
1. Lobus Frontal (motorik)
2. Lobus Parietal (sensorik)
3. Lobus Temporal (auditoris))
4. Lobus Occipital (visual)

Selaput otak (Meninx)


1. Piamater
2. Arachnoid
3. Duramater

Otak kecil

Batang otak
1. Diencepalon
2. Mesencepalon
3. Pons
4. Medulla Oblongata
Ganglia Basalis
1. Nukleus Kaudatus
2. Putamen
3. Globus Palidus
4. Nukleus Subtalamikus
5. Nukleus Lateral talamikus
6. Sentrum medium talamus
7. Nukleus Ruber
8. Substansia nigra

Traktus Piramidalis
Lintasan rangsangan saraf untuk mendapatkan gerakan yang
normal

Traktus Extrapiramidalis
Gerakan pengaturan sikap tubuh dan integrasi otonom
ALZHEIMER
DEFINISI

 Penyakit Alzheimer adalah


penyakit autoimun dan gangguan
neurodegeneratif berupa
penurunan fungsi saraf otak. Salah
satu bentuk kepikunan akibat
degenerasi otak yang dapat
mengganggu kemampuan
seseorang untuk berpikir, daya
ingat, dan fungsi berbahasa.
 Definisi Alzheimer Menurut Whitbourne (2003),
Alzheimer dikenal sebagai salah satu penyakit
yang paling sering ditemui sebagai
penyebab demensia.
 Demensia adalah suatu penyakit penurunan
fungsi kognitif/gangguan intelektual/daya
ingat yang umumnya semakin lama semakin
memburuk (progresif) dan tidak dapat diubah
(irreversible).
 Alzheimer bukan penyakit menular, melainkan
merupakan sejenis sindrom dengan apoptosis sel-
sel otak pada saat yang hampir bersamaan,
sehingga otak tampak mengerut dan mengecil.
Alzheimer juga dikatakan sebagai penyakit yang
sinonim dengan orang tua.
 Resiko untuk mengidap Alzheimer, meningkat
seiring dengan pertambahan usia. Bermula pada
usia 65 tahun, seseorang mempunyai risiko lima
persen mengidap penyakit ini dan akan
meningkat dua kali lipat setiap lima tahun.
EPIDEMIOLOGI

 Penyakit Alzheimer ditemukan pada thn 1907 oleh seorang


psikiatri dan neuropatologi bernma Alois Alzheimer.
 Ia melakukan penelitian pd seorang wanita berusia 51 thn yg
mengalami gangguan intelktual serta memori n tdk bsa
mngingat tmpt tingglnya. Namun, scra fisik anggota tubuhnya
msh normal. Pada autopsi terlht suatu bgian otak yg
mengalami atrofi & scra mikroskopik terlhat dgn jls bagian
kortikal pda otak yg mengalami neuritis plaque dan terjdinya
degenerasi neurofibrillary.
 MenurutNational Alzheimer's Association (2003),
penyakit Alzheimer menyerang hingga 10% dari
orang berusia 65 tahun atau lebih, dan secara
berangsur proporsi ini berlipat ganda setiap 10
tahun setelah usia 65 tahun. Dan sebanyak separuh
dari populasi yang berusia 85 tahun atau lebih
dapat dipastikan mengidap Alzheimer. Sementara,
pada orang yang memiliki faktor genetik
turunan/bawaan dari orang tua, penyakit ini akan
menyerang di bawah usia 65 tahun.
ETIOLOGI
Penyebab Alzheimer yang pasti belum diketahui.
Namun ada beberapa alternatif penyebab yang
telah dihipotesa , yaitu :
 Intoksikasi logam
 Gangguan fungsi imunitas
 Infeksi virus
 Polusi udara/industri
 Trauma
 Neurotransmiter
 Defisit formasi sel-sel filament
 Presdiposisi heriditer.
 Penyebab penyakit Alzheimer yang pasti pada
saat ini belum diketahui. Sedangkan, usia dan
riwayat keluarga adalah faktor resiko yang sudah
terbukti untuk penyakit Alzheimer. Bila anggota
keluarga ada yang menderita penyakit ini, maka
diklasifikasikan sebagai familiar atau Alzheimer
Desease Familial (FAD).Penyakit Alzheimer yang
timbul tanpa diketahui ada riwayat familiarnya
disebut sporadic atau Alzheimer Disease Sporadic
(ADS).
 Meskipenyebabnya belum
ditemukan, tapi akibat yang
disebabkan Alzheimer sangat jelas
berdampak pada sel-sel otak. Sel
otak bisa menggumpal ataupun
berubah menjadi serat hingga
akhirnya sel-sel tersebut mati.
PATOFISIOLOGI
 Terdapat beberapa perubahan khas
biokimia dan neuropatologi yang dijumpai
pada penyakit Alzheimer, antara lain:
serabut neuron yang kusut (masa kusut
neuron yang tidak berfungsi) dan plak seni
atau neuritis (deposit protein beta-amiloid,
bagian dari suatu protein besar, protein
prukesor amiloid (APP). Kerusakan neuron
tersebut terjadi secara primer pada korteks
serebri dan mengakibatkan rusaknya
ukuran otak.
 Secara maskroskopik, perubahan otak pada
penyakit Alzheimer melibatkan kerusakan berat
neuron korteks dan hippocampus, serta
penimbunan amiloid dalam pembuluh darah
intracranial. Selain itu terdapat perubahan
morfologik (structural) dan biokimia pada neuron-
neuron. Perubahan morfologis terdiri dari 2 ciri khas
lesi yang pada akhirnya berkembang menjadi
degenarasi badan sel dan atau akson dan atau
dendrit. Satu tanda lesi pada AD adalah kekusutan
neurofibrilaris yaitu struktur intraselular yang berisi
serat kusut dan sebagian besar terdiri dari protein
“tau”. Pembentukan neuron yang kusut dan
berkembangnya neuron yang rusak menyebabkan
Alzheimer
Stadium Alzheimer

Terdapat beberapa stadium perkembangan


penyakit Alzheimer yaitu:
 Stadium I (Lama penyakit 1-3 tahun)
Memori : ingatan terganggu
Kepribadian : ketidakpedulian, lekas
marah sesekali
Motor sistem : normal
EEG : normal
CT/MRI : normal
PET : hipometabolisme posterior
bilateral
 Stadium II (Lama penyakit 3-10 tahun)
Memori : ingatan terakhir sangat terganggu
Kepribadian : ketidakpedulian, sesekali marah
Motor sistem : gelisah, mondar-mandir
EEG : latar belakang irama lambat
CT/MRI : normal
PET : hipometabolisme frontal dan
parietal bilateral

 Stadium III (Lama penyakit 8-12 tahun)


Fungsi intelektual : sangat memburuk
Motor sistem : anggota tubuh kaku dan postur
fleksi
EEG : difus lambat
PET : hipometabolisme frontal dan
parietal bilateral
Klasifikasi
 Alzheimer yang disertai demensia.
 Alzheimer yang disertai ataksia.
 Kombinasi keduanya
Prognosis
Dari pemeriksaan klinis 42 penderita probable
Alzheimer menunjukkan bahwa nilai prognostik
tergantung pada 3 faktor yaitu:
 Derajat beratnya penyakit;
 Variabilitas gambaran klinis;
 Perbedaan individual seperti usia, keluarga,
demensia, dan jenis kelamin.
 Ketiga faktor ini diuji secara statistik, ternyata
faktor pertama yang paling mempengaruhi
prognostik penderita Alzheimer. Pasien dengan
penyakit Alzheimer mempunyai angka harapan
hidup rata-rata 4-10 tahun sesudah diagnosis dan
biasanya meninggal dunia akibat infeksi sekunder.
GAMBARAN KLINIS
 Gangguan Memori
 Kesulitan melakukan aktivitas rutin yang biasa
 Kesulitan bicara & berbahasa
 Disorientasi waktu, tempat dan orang
 Penurunan dalam memutuskan sesuatu atau
fungsi eksekutif
 Salah menempatkan barang
 Kesulitan berfikir abstrak
 Perubahan mood (emosional)
 Perubahan kepribadian
 Hilangnya minat dan inisiatif
Adapun tindakan yang bisa dilakukan untuk mencegah atau
menunda serangan Alzheimer adalah :

1. Bergaya hidup sehat, misalnya dengan rutin berolahraga,


tidak merokok maupun mengkonsumsi alkohol.
2. Mengkonsumsi sayur dan buah segar. Hal ini penting karena
sayur dan buah segar mengandung antioksidan yang
berfungsi untuk mengikat radikal bebas. Radikal bebas ini
yang merusak sel-sel tubuh. Selain itu konsumsi juga berbagai
jenis makanan yang terbuat dari bahan gandum dan
kacang-kacangan. Semua jenis makanan ini sangat baik
untuk perkembangan sel otak.
3. Menjaga kebugaran mental atau latihan otak. Cara menjaga
kebugaran mental adalah dengan tetap aktif membaca dan
memperkaya diri dengan berbagai pengetahuan. Otak juga
perlu dilatih dan digunakan agar tidak berkarat. Penelitian
menunjukkan otak yang sering dipakai berpikir lebih sehat
ketimbang otak yang jarang dipakai untuk berpikir.
 Menurunkan kadar kolesterol yg tinggi &
tingkat homocysteine
 Menurunkan tekanan darah tinggi
 Mengendalikan diabetes
 Melakukan olahraga teratur
 Melakukan kegiatan yg bisa membantu
merangsang pikiran
 Melakukan diet sehat
PEMERIKSAAN BERBAHASA
Pemeriksaan kelancaran berbicara
1. Pemeriksa menyiapkan: Alat tulis,
stopwatch
2. minta pasien menyebutkan nama hewan
dalam waktu 60 detik.
3. Pemeriksa mencatat jumlah dan
kesalahan yg ada
4. Setelah pemeriksaan, lakukan evaluasi.
SCORE : orang normal umumnya mampu
menyebutkan 18-20 nama hewan selama
60 detik.
 Pemeriksaan repetisi
 Minta pasien untuk mengulangi kata & kalimat
berikut:

Map

bola

Kereta

Rumah sakit

Mobil

Lapangan latihan
Kereta api malam

Besok aku pergi dinas

Rumah ini selalu rapi

Syukur anak itu naik kelas

Seandainya Amat tidak kena Flu


 Pemeriksa harus memperhatikan apakah pada tes
ini didapatkan parafasia, salah tatabahasa,
kelupaan dan penambahan.
 Orang normal umumnya mampu mengulang
kalimat yg mengandung 19 suku kata.
 Banyak pasien yg mengalami kesulitan dalam
repetisi, namun adapula yg kemampuan
repetisinya baik.
Pemeriksaan menamai dan
menemukan kata
 Cara pemeriksaan: terangkan pada pasien bahwa ia akan
disuruh menyebutkan nama beberapa objek juga warna dan
bagian dari objek tersebut.
 Penilaian harus mencakup kemampuan menyebutkan nama
benda, bagian tubuh, bagian dari objek, warna, simbol
matematik, atau nama suatu tindakan.
 Contoh: meja, kursi, lampu, jendela,pintu,pisau,dsb. (benda
yg familiar digunakan)
 Bila pasien tidak mampu menamai, bisa dibantu dengan
suku kata awal. Mis: “pi….” (untuk kata PISAU) atau
kalimat:”kita memotong daging dengan…….”
 Yang penting kita nilai adalah sampainya pasien pada kata
yang dibutuhkan,kemampuannya(memberi nama objek).
Pemeriksaan berbicara
spontan
 Mengajak pasien bebicara spontan atau
brcerita, kemudian perhatikan cara
berbicaranya:
 Apakah bicaranya pelo, cadel, tertegun-
tegun (irama, ritme, intonasi bicara
trganggu). Pada afasia sering ada
gangguan ritme dan irama (disprosodi)
 Apakah ada afasia, kesalahan sintaks,
salah menggunakan kata (parafasia n
neologisme), dan perseverasi.
PEMERIKSAAN MEMORI
 Memori Segera
 Memori Baru (Recent/Jangka Pendek)
 Memori Rimot (Jangka Panjang)
PEMERIKSAAN ABSTRAKSI
Merupakan fungsi intelektual tingkat
tinggi, yang membutuhkan pemahaman
(komprehensi) dan pertimbangan .
Pasien dapat menginterpretasi pepatah,
persamaan antara dua objek dan
pertimbangan (judgement)
RESPONS EMOSIONAL
Pd penderita kelainan neurologik tdk jarang
dijumpai terjadi perubahan suasana hati
(mood).
Dpt juga dinilai dr afek penderita. Respon
dapat wajar, mendatar atau berlebihan.
Penderita dgn respons emosional yang tidak
wajar disebut penderita dengan afek tidak
wajar.
TES KETERAMPILAN
 Pasien disuruh menggambar peta
rumahnya dan nama jalannya.
 Pasien disuruh menyusun huruf-huruf
sehingga membentuk suatu kata.
TES KOORDINASI
 Tes telunjuk-hidung
 Percobaan jari-jari
 Tes supinasi pronasi
 Tes tumit
 Tes Rebound Phenomenon
PEMERIKSAAN TAMBAHAN
1. CT Scan dan MRI
2. EEG
Berguna untuk mengidentifikasi aktifitas bangkitan
yang suklinis. Sedang pada penyakit alzheimer
didapatkan perubahan gelombang lambat pada
lobus frontalis yang non spesifik.
3. Laboratorium darah
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik
pada penderita alzheimer. Pemeriksaan laboratorium
ini hanya untuk menyingkirkan penyebab penyakit
demensia lainnya seperti pemeriksaan darah rutin, B12,
Calsium, Posfor, BSE, fungsi renal dan hepar, tiroid,
asam folat, serologi sifilis, skreening antibody yang
dilakukan secara selektif.
KESEIMBANGAN
 Beginner:
 Berdiri tegak disamping kursi yg tinggi.
 Genggam kursi dengan kuat
 Angkat satu kaki dari tanah
 Jaga keseimbanganmu sementara berdiri
dengan satu kaki
 Tahan selama 10 detik
 Ulangi dengan kaki yg lain
 Lakukan lima kali untuk setiap kaki
 Intermediate:
 Berdiri tegak disamping kursi yang tinggi
 Tanpa memegang kursi angkat satu kaki dari
tanah
 Jaga kaki agar tetap seimbang sementara
berdiri
 Tahan selama sepuluh detik
 Ulangi dengan kaki lain
 Lakukan lima kaki untuk setiap kaki
 Advanced:
 Berdiri tegak disamping kursi yang tinggi.
 Tutup kedua mata
 Tanpa memegang kursi angkat salah satu kaki
 Jaga kaki agar ttetap seimbang sementara
berdiri
 Tahan selama sepuluh detik
 Ulangi dengan kaki lain
 Lakukan lima kaki untuk setiap kaki.
Strengthening back
WALL SLIDE
 Berdiri tegak dengan punggung menempel
di dinding dan kaki berada samping
menyamping
 pelan-pelan bengkokkan knee, kemudian
rendahkan punggung sampai hitungan
kelima pada posisi knee bengkok 45 derajat
 tahan posisi ini selama 5 detik
 lalu luruskan kembali knee
 Ulangi langkah diatas sekitar lima kali
 Lakukan latihan ini tiga kali sehari
Beberapa terapi yg kerap digunakan pada penderita
alzheimer
 Terapi behavioral management techniques, the pleasant
event schedule (PES), music therapy, strategi/ modifikasi
lingkungan, animal assisted therapy, morning bright light
therapy, ECT.
 Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa
olahraga bermanfaat bagi orang dengan penyakit
Alzheimer. Seiring dengan kebugaran
kardiovaskular, meningkatkan daya tahan, dan
kekuatan, orang dengan penyakit Alzheimer
mendapatkan keuntungan tambahan dari
berolahraga. Manfaat latihan reguler pada orang
dengan penyakit Alzheimer termasuk pemeliharaan
keterampilan motorik, penurunan turun, dan
mengurangi tingkat penyakit yang berhubungan
penurunan mental. Peningkatan perilaku,
meningkatkan memori, dan keterampilan
komunikasi yang lebih baik adalah beberapa
manfaat lain yang terkait dengan program latihan
rutin pada penyakit Alzheimer.
 Fleksibilitas,keseimbangan, dan latihan kekuatan
telah dipelajari pada pasien dengan penyakit
Alzheimer versus manajemen medis saja. Pada akhir
penelitian, pasien itu yang diobati dengan baik
latihan dan manajemen medis kurang depresi
dibandingkan dengan kelompok lain, dan
menunjukkan perbaikan yang menyolok dalam
fungsi fisik mereka.
 Terapi fisik memainkan peran penting dalam latihan
untuk pasien dengan penyakit Alzheimer dengan
menyesuaikan rutinitas untuk memenuhi kebutuhan
individual setiap pasien.
 Hal ini akan membantu mencegah kelemahan otot
dan komplikasi kesehatan yang berhubungan
dengan aktivitas. Latihan juga mempromosikan
rutinitas sehari-dan-malam normal dan dapat
membantu untuk meningkatkan mood
 Melalui pendekatan ini, penderita Alzheimer
menjadi lebih mengenal, dan lebih siap
menghadapi penyakitnya, serta lebih dapat me-
manage dirinya sendiri.