0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan100 halaman

Hecting

[Ringkasan] Dokumen tersebut membahas tentang penjahitan luka, termasuk definisi, jenis, alat dan bahan yang diperlukan, serta jenis-jenis benang yang dapat diserap.

Diunggah oleh

Ailal Perwira
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan100 halaman

Hecting

[Ringkasan] Dokumen tersebut membahas tentang penjahitan luka, termasuk definisi, jenis, alat dan bahan yang diperlukan, serta jenis-jenis benang yang dapat diserap.

Diunggah oleh

Ailal Perwira
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

siswoyoys@yahoo.

com
Keperawatan Universitas Jember
Oktober 2016
 Penjahitan luka (Hecting) adalah suatu
tindakan untuk mendekatkan tepi luka
dengan benang sampai sembuh dan cukup
untuk menahan beban fisiologis.
 Jahitan digunakan untuk hemostasis atau
untuk menghubungkan struktur anatomi
yang terpotong (Sabiston,1995).
 Sodera dan Saleh (1991) : jahitan
merupakan hasil penggunaan bahan berupa
benang untuk mengikat atau ligasi
pembuluh darah dan menghubungkan
antara dua tepi luka.
 Simpulan: penjahitan merupakan tindakan
menghubungkan jaringan yang terputus
atau terpotong untuk mencegah
pendarahan dengan menggunakan benang.
 Menurut Sodera dan Saleh (1991),
penjahitan merupakan suatu cara menjahit
untuk mendekatkan atau menghubungkan
dua tepi luka. Dapat dibedakan menjadi :
 Jahitan Primer (primary Suture Line) adalah
jahitan yang digunakan untuk
mempertahankan kedudukan tepi luka yang
saling dihubungkan selama proses
penyembuhan sehingga dapat sembuh
secara primer.
 Jahitan Kontinyu yaitu jahitan dengan sejumlah
penjahitan dari seluruh luka dengan
menggunakan satu benang yang sama dan
disimpulkan pada akhir jahitan serta dipotong
setelah dibuat simpul. Digunakan untuk
menjahit peritonium kulit, subcutis dan organ.
 Jahitan Simpul/Kerat/Knot, yaitu merupakan
tehnik ikatan yang mengakhiri suatu jahitan.
Digunakan untuk memperkuat dan
mempertahankan jahitan luka sehingga jahitan
tidak terlepas atau mengendor. Yang dimaksud
dengan jerat adalah pengikatan satu kali,
sedang simpul adalah pengikatan dengan dua
jerat atau lebih.
 Setiap luka dimana untuk penyembuhannya
perlu mendekatkan tepi luka.
 Luka adalah kerusakan anatomi karena
hilangnya kontinuitas jaringan oleh sebab
dari luar.
 Luka baru yang belum memasuki waktu
kontaminasi Frederich (6 – 8 jam post
trauma) dapat dirawat secara primer yaitu
dengan melakukan pembersihan luka dan
lapangan sekitarnya, pembuangan debris dan
kotoran serta penjahitan luka secara
sempurna.

 Sedangkan yang melebihi waktu kontaminasi
bisa dilakukan pembersihan luka dan daerah
sekitar luka, merapikan luka dan penjahitan
sementara atau situasi.
 Penjahitan luka membutuhkan pengetahuan
tentang penyembuhan luka, serta alat dan
bahan untuk menjahit dan yang terpenting
sekali menguasai teknik jahitan (suture
techniques).
 Trauma tajam menyebabkan :
a. luka iris : vulnus scissum/incicivum
b. luka tusuk : vulnus ictum
c. luka gigitan : vulnus morsum

 Trauma tumpul menyebabkan :


a. luka terbuka : vulnus apertum
b. luka tertutup : vulnus occlusum
(excoriasi dan hematom )

 Luka tembakan menyebabkan : vulnus


sclopetorum.
 Luka terbuka (Vulnus  Luka tertutup (Vulnus
Appertum): Occlusum):
◦ Luka iris (Scissum), ◦ Memar (Contusio),
◦ Tusuk (Ictum), ◦ Bula,
◦ Bakar (Combustio), ◦ Hematoma,
◦ Lecet ◦ Sprain,
(Excoriasi/Abrasio), ◦ Dislokasi,
◦ Tembak (Sclopetum), ◦ Close Fracture,
◦ Laserasi, ◦ Laserasi organ dalam.
◦ Penetrasi,
◦ Avulsi,
◦ Open Fracture dan
◦ Luka Gigit (Vulnus
Morsum).
a. Luka steril : luka dibuat waktu operasi
b. Luka kontaminasi : luka mengandung
kuman tapi kurang dari 8 jam (golden
period).
c. Luka infeksi luka yang mengandung kuman
dan telah berkembangbiak dan telah timbul
gejala lokal maupun gejala umum (rubor,
dolor, calor, tumor, fungsio laesa).
Alat dan bahan yang diperlukan pada
penjahitan luka :
 Alat (Instrumen)
a. Tissue forceps ( pinset )
b. Scalpel handles dan scalpel blades
c. Dissecting scissors ( Metzen baum )
d. Suture scissors
e. Needleholders
f. Suture needles ( jarum ) dari bentuk 2/3
circle, Vi circle , bentuk
segitiga dan bentuk bulat
g. Sponge forceps (Cotton-swab forceps)
h. Hemostatic forceps ujung tak bergigi (
Pean) dan ujung bergigi (Kocher)
i. Retractors, double ended
j. Towel clamps
 Bahan
a. Benang (jenis dan indikasi dijelaskan
kemudian )
b. Cairan desifektan : Povidon-iodidine 10 %
(Bethadine )
c. Cairan Na Cl 0,9% dan perhydrol 3 % untuk
mencuci luka.
d. Anestesi lokal: Inj. Lidocain 2%.
e. Sarung tangan.
f. Kasa steril.
 Gunanya adalah untuk memegang jarum
jahit (nald heacting) dan sebagai penyimpul
benang.
 Gunting Diseksi (disecting scissor)
Gunting ini ada dua jenis yaitu, lurus dan
bengkok. Ujungnya biasanga runcing.
Terdapat dua tipe yabg sering digunakan
yaitu tipe Moyo dan tipe Metzenbaum.
 Gunting Benang
Ada dua macam gunting benang yaitu
bengkok dan lurus, kegunaannya adalah
memotong benang operasi, merapikan
lukan.
 Gunting Pembalut/Perban
Kegunaannya adalah untuk menggunting
plester dan pembalut.
 Pisau bedah terdiri dari dua bagian yaitu
gagang dan mata pisau
(mess/bistouri/blade).
 Kegunaanya adalah untuk menyayat
berbagai organ atau bagian tubuh manusia.
Mata pisau disesuaikan dengan bagian
tubuh yang akan disayat.
 Klem Arteri Pean
Ada dua jenis yang lurus dan bengkok.
Kegunaanya adalah untuk hemostatis untuk
jaringan tipis dan lunak.
 Klem Kocher
Ada dua jenis bengkok dan lurus. Sifatnya
mempunyai gigi pada ujungnya seperti
pinset sirugis. Kegunaannya adalah untuk
menjepit jaringan.
 Klem Allis
Penggunaan
klem ini adalah
untuk menjepit
jaringan yang
halus dan
menjepit tumor.
 Klem Babcock
Penggunaanya
adalah menjepit
dock atau kain
operasi.
 Retraktor
langenbeck, US
Army Double
Ended Retraktor
dan Retraktor
Volkman
penggunaannya
adalah untuk
menguakan
luka.
 Pinset Sirugis
Penggunaannya adalah untuk menjepit jaringan
pada waktu diseksi dan penjahitan luka, memberi
tanda pada kulit sebelum memulai insisi.
 Pinset Anatomis
Penggunaannya adalah untuk menjepit kassa
sewaktu menekan luka, menjepit jaringan yang
tipis dan lunak.
 Pinset Splinter
Penggunaannya adalah untuk mengadaptasi tepi-
tepi luka ( mencegah overlapping).
 Penggunaa
nnya
adalah
untuk
mengikat
pembuluh
darah
besar.
 Penggunaannya
dalah untuk
mengeruk luka
kotor, mengeruk
ulkus kronis.
 Penggunaannya adalah
untuk penuntun pisau
saat melakukan
eksplorasi, dan
mengetahui kedalam
luka.
 Penggunaan
nya adalah
untuk
mengambil
instrumen
steril,
mengambil
kassa, jas
operasi,
doek, dan
laken steril.
 Penggunaanya adalah untuk menjahit luka
dan menjahit organ yang rusak lainnya.
Untuk menjahit kulit digunakan yang
berpenampang segitiga agar lebih mudah
mengiris kulit (scharpe nald). Sedangkan
untuk menjahit otot dipakai yang
berpenampang bulat ( rounde nald ).
 Menurut matanya:
◦ Bermata (traumatik): elips, segi empat,
mata perancis
◦ Tidak bermata (atraumatik)
 Menurut kelengkungannya:
◦ Lurus
◦ Lengkung: ¼, 3/8, dan ½ lingkaran
Catatan: Jarum yang sangat lengkung untuk
luka yang dalam, pemilihannya tergantung
kedalaman jaringan yg berbeda.
 Menurut penampang jarum:
◦ Bulatjar lunak
◦ Bersegi tajamkulit
12. Forceps
 Instrument tertentu seperti pemegang
jarum, gunting dan pemegang kasa: yaitu
ibu jari dan jari keempat sebagai pemegang
utama, sementara jari kedua dan ketiga
dipakai untuk memperkuat pegangan
tangan. Untuk membuat simpul benang
setelah jarum ditembuskan pada jaringan,
benang dilingkarkan pada ujung pemegang
jarum.
 Pinset lazim dipegang dengan tangan kiri,
di antara ibujari serta jari kedua dan ketiga.
Jarum dipegang di daerah separuh bagian
belakang.
 Sarung tangan dipakai menurut teknik
tanpa singgung.
Sterilisasi dan cara sterilisasi
 Sterilisasi adalah tindakan untuk membuat
suatu alat-alat atau bahan dalam keadaan
steril.
 Sterilisasi dapat dilakukan dengan cara :
◦ Secara kimia : yaitu dengan bahan yang
bersifat bakterisid , seperti formalin,
savlon, alkohol.
◦ Secara fisik yaitu dengan :
 Panas kering ( oven udara panas )
♦ Selama 20 menit pada 200° C
♦ Selama 30 menit pada 180° C
♦ Selama 90 menit pada 160° C
 Uap bertekanan ( autoclave): selama 15
menit pada 120° C dan tekanan 2
atmosfer
 Panas basah, yaitu di dalam air mendidih
selama 30 menit. Cara ini hanya
dianjurkan bila cara lain tidak tersedia.
Pengepakan
 Sebelum dilakukan sterilisasi secara fisik,
semua instrument harus dibungkus dengan
dua lapis kain secara rapat yang diikutkan
dalam proses sterilisasi.
 Pada bagian luar pembungkus ,
ditempelkan suatu indikator ( yang akan
berubah warna ) setelah instrument
tersebut menjadi steril.
 Untuk mempertahankan agar instrument
yang dibungkus tetap dalam keadaan steril,
maka kain pembungkus dibuka menurut”
teknik tanpa singgung.
Benang yang dapat diserap (Absorbable Suture)
A.Alami ( Natural)
1) Plain Cat Gut: dibuat dari bahan kolagen
sapi atau domba. Benang ini memiliki daya
serap pengikat selama 7-19 hari dan akan
diabsorbsi sempurna dalam waktu 70 hari.
2) Chromic Cat Gut dibuat dari bahan yang
sama dengan plain cat gut, namum dilapisi
dengan garam Chromium untuk
memperpanjang waktu absorbsinya
sampai 90 hari.
Plain Cut Gut Chromic Cut Gut
B. Buatan (Synthetic)
Adalah benang- benang yang dibuat dari
bahan sintetis, seperti Polyglactin ( merk
dagang Vicryl atau Safil), Polyglycapron (
merk dagang Monocryl atau Monosyn), dan
Polydioxanone (merk dagang PDS II).
Benang jenis ini memiliki daya pengikat
lebih lama , yaitu 2-3 minggu, diserap
secara lengkap dalam waktu 90-120 hari.
Vicryl Monosyn
Monocryl PDS II
Benang yang tak dapat diserap (Nonabsorbable
suture )
A. Alamiah (Natural)
Dalam kelompok ini adalah benang Seide/silk
(sutera ) yang dibuat dari protein organik
bernama fibroin, yang terkandung di dalam
serabut sutera hasil produksi ulat sutera.
B. Buatan (Synthetic)
Dalam kelompok ini terdapat benang dari
bahan dasar nylon (merk dagang Ethilon atau
Dermalon). Polyester (merk dagang Mersilene)
dan Poly propylene (merk dagang Prolene).
Silk Ethilon
Mersilene Prolene
 Seide (Silk/Sutra) : Bersifat tidak licin seperti
sutera biasa karena sudah dikombinasi
dengan perekat, tidak diserap oleh tubuh.
Pada penggunaan disebelah luar, maka
benang harus dibuka kembali. Berguna untuk
menjahit kulit, mengikat pembuluh arteri
besar. Ukuran yang sering digunakan adalah
nomor 2 nol 3 nol, 1 nol dan nomor 1.
 Plain Catgut : Bersifat dapat diserap tubuh,
penyerapan berlangsung dalam waktu 7–10
hari dan warnanya putih kekuningan. Berguna
untuk mengikat sumber pendarahan kecil,
menjahit subcutis dan dapat pula digunakan
untuk bergerak dan luas lukanya kecil.
Benang ini harus dilakukan penyimpulan 3
kali karena dalam tubuh akan mengembang.
Bila penyimpulan dilakukan hanya 2 kali akan
terbuka kembali.
 Chromic Catgut : Bersifat dapat diserap oleh
tubuh, penyerapannya lebih lama yaitu
sampai 20 hari. Chromic Catgut biasanya
menyebabkan reaksi inflamasi yang lebih
besar dibandingkan dengan plain catgut.
Berguna untuk penjahitan luka yang dianggap
belum merapat dalam waktu 10 hari dan bila
mobilitas harus segera dilakukan.
 Desinfeksi
 Irigasi
 Debridement
 Perawatan perdarahan
 Penjahitan Luka
 Bebat Luka
 Angkat Jahitan
Desinfeksi (Antiseptik atau Germisida)
 Adalah tindakan dalam melakukan
pembebasan bakteri dari lapangan operasi
dalam hal ini yaitu luka dan sekitarnya.
 Macam bahan desinfeksi: Alkohol 70%,
Betadine 10%, Perhidrol 3%, Savlon
(Cefrimid +Chlorhexidine), Hibiscrub
(Chlorhexidine 4%)
 Teknik : Desinfeksi sekitar luka dengan
kasa yang di basahi bahan desinfeksan
Tutup dengan doek steril atau kasa steril
Bila perlu anestesi Lido/Xylo 0,5-1%
Pembersihan Luka
 Adalah mencuci bagian luka
 Bahan yang di gunakan : Perhidrol, Savlon,
Boor water, Normal Saline, PZ
 Bilas dengan garam faali atau boor water
Debridement (Wound Excision)
 Adalah membuang jaringan yang mati serta
merapikan tepi luka
 Memotong dengan menggunakan scalpel
atau gunting
 Rawat perdarahan dengan meligasi
menggunakan cat gut
Perawatan Perdarahan
 Adalah suatu tindakan untuk menghentikan
proses perdarahan
 Yaitu dengan kompresi lokal atau ligasi
pembuluh darah atau jaringan sekitar
perdarahan
Penjahitan luka
 Penjahitan luka membutuhkan beberapa
persiapan baik alat, bahan serta beberapa
peralatan lain.
 Urutan teknik juga harus dimengerti oleh
operator serta asistennya.
Alat, bahan dan perlengkapan yang di
butuhkan
Menurut Brown (1995), prinsip–prinsip umum
yang harus dilaksanakan dalam penjahitan luka
adalah sebagai berikut :
 Penyembuhan akan terjadi lebih cepat bila
tepi-tepi kulit dirapatkan satu sama lain
dengan hati-hati.
 Tegangan dari tepi–tepi kulit harus seminimal
mungkin atau kalau mungkin tidak ada sama
sekali. Ini dapat dicapai dengan memotong
atau merapikan kulit secara hati–hati sebelum
dijahit.
 Tepi kulit harus ditarik dengan ringan, ini
dilakukan dengn memakai traksi ringan
pada tepi–tepi kulit dan lebih rentan lagi
pada lapisan dermal daripada kulit yang
dijahit.
 Setiap ruang mati harus ditutup, baik
dengan jahitan subcutaneus yang dapat
diserap atau dengan mengikutsertakan
lapisan ini pada waktu menjahit kulit.
 Jahitan halus tetapi banyak yang dijahit
pada jarak yang sama lebih disukai
daripada jahitan yang lebih besar dan
berjauhan.
 Setiap jahitan dibiarkan pada tempatnya
hanya selama diperlukan. Oleh karena itu
jahitan pada wajah harus dilepas secepat
mungkin (48 jam - 5 hari), sedangkan
jahitan pada dinding abdomen dan kaki
harus dibiarkan selama 10 hari atau lebih.
 Semua luka harus ditutup sebersih
mungkin.
 Pemakaian forsep dan trauma jaringan
diusahakan seminimal mungkin.
I. PERSIAPAN ALAT
Ø Sarung tangan steril pengalasnya
Ø Duk lubang Ø Obat anastesi
Ø Set alat bedah minor Ø Plester
Ø Benang jahit Ø Gunting plester
Ø Kom steril
Ø Jarum jahit
Ø Tempat sampah
Ø Kassa steril medis
Ø Cairan normal saline Ø Disposible syringe
(Nacl 0.9%) Ø Larutan
Ø Cairan antiseptik H2O2/perhidrol
Ø Korentang steril dan Ø Celemek
tempatnya Ø Masker
Ø Perlak dan Ø Trolly
 Cuci tangan dan keringkan,kemudian pakai
sarung tangan steril
 Menyiapkan alat
 Bersihkan luka menggunakan cairan
antiseptik
 Ganti sarung tangan dengan sarung tangan
steril yang lain
 Jaringan disekitar luka dianastesi
 Bila perlu bersihkan luka dengan cairan
normal saline(Nacl 0.9%)
 Bila luka kotor dan dalam, gunakan larutan
H2O2/perhidrol 3%
 Pasang duk lubang
 Gunakan jarum untuk menjahit
kulit,masukan benang ke lubang
jarum,pada penggunaan jarum
melengkung(curved needle) dari arah dalam
keluar.
 Pegang jarum dengan menggunakan Nald
vooder, kemudian mulai menjahit luka.
 jika luka dalam sampai jaringan otot,maka
jahit lapis demi lapis (jenis benang
disesuaikan dengan jaringan yang
robek,contoh:catgut,chromic,side,dll)
 Ikat benang dengan membentuk simpul.
 Potong benang,sisakan sepanjang 1mm(untuk
jahitan dalam),0.65cm (jahitan luar)
 Lanjutkan menjahit luka sampai luka tertutup.
 Oleskan normal salin/desinfectan pada
jahitan.
 Tutup dengan kassa steril.
 Pasang plester/hipafix
 Mengakhiri prosedur dengan baik
 Menanyakan respon pasien
 Membereskan alat (mencuci alat dan
menyeteril kembali)
 Cuci tangan
 Berterima kasih pada pasien/keluarga atas
kerjasamanya.
1. Jahitan Simpul Tunggal
 Sinonim : Jahitan Terputus Sederhana,
Simple Interrupted Suture
 Merupakan jenis jahitan yang sering
dipakai. digunakan juga untuk jahitan
situasi.
 Teknik :
◦ Melakukan penusukan jarum dengan jarak
antara setengah sampai 1 cm ditepi luka
dan sekaligus mengambil jaringan
subkutannya sekalian dengan
menusukkan jarum secara tegak lurus
pada atau searah garis luka.
◦ Simpul tunggal dilakukan dengan benang
absorbable dengan jarak antara 1cm.
◦ Simpul di letakkan ditepi luka pada salah
satu tempat tusukan
◦ Benang dipotong kurang lebih 1 cm.
2. Jahitan Matras Horizontal

 Sinonim : Horizontal Mattress suture,


Interrupted mattress
 Jahitan dengan melakukan penusukan
seperti simpul,
 sebelum disimpul dilanjutkan dengan
penusukan sejajar sejauh 1 cm dari
tusukan pertama.
 Memberikan hasil jahitan yang kuat.
3. Jahitan Matras Vertikal
 Sinonim : Vertical Mattress suture, Donati,
Near to near and far to far
 Jahitan dengan menjahit secara mendalam
dibawah luka kemudian dilanjutkan
dengan menjahit tepi-tepi luka.
 Biasanya menghasilkan penyembuhan luka
yang cepat karena di dekatkannya tepi-
tepi luka oleh jahitan ini.
4. Jahitan Matras Modifikasi
 Sinonim : Half Burried Mattress Suture
 Modifikasi dari matras horizontal tetapi
menjahit daerah luka seberangnya pada
daerah subkutannya.
5. Jahitan Jelujur sederhana
 Sinonim : Simple running suture, Simple
continous, Continous over and over
 Jahitan ini sangat sederhana, sama
dengan kita menjelujur baju.
 Biasanya menghasilkan hasiel kosmetik
yang baik, tidak disarankan
penggunaannya pada jaringan ikat yang
longgar.
6. Jahitan Jelujur Feston
 Sinonim : Running locked suture,
Interlocking suture
 Jahitan kontinyu dengan mengaitkan
benang pada jahitan sebelumnya, biasa
sering dipakai pada jahitan peritoneum.
 Merupakan variasi jahitan jelujur biasa.
7. Jahitan Jelujur horizontal
 Sinonim : Running Horizontal suture
 Jahitan kontinyu yang diselingi dengan
jahitan arah horizontal.
8. Jahitan Simpul Intrakutan
 Sinonim : Subcutaneus Interupted suture,
Intradermal burried suture, Interrupted
dermal stitch.
 Jahitan simpul pada daerah intrakutan,
biasanya dipakai untuk menjahit area yang
dalam kemudian pada bagian luarnya
dijahit pula dengan simpul sederhana.
9. Jahitan Jelujur Intrakutan
 Sinonim : Running subcuticular suture,
Jahitan jelujur subkutikular
 Jahitan jelujur yang dilakukan dibawah
kulit, jahitan ini terkenal menghasilkan
kosmetik yang baik
 Setelah luka di jahit dengan rapi di bersihkan
dengan desinfeksan (beri salep)
 Tutup luka dengan kasa steril yang dibasahi
dengan betadine
 Lekatkan dengan plester atau hipafix ( bila
perlu diikat dengan Verban)
 Adalah proses pengambilan benang pada
luka
 Berdasarkan lokasi dan hari tindakan:
◦ Kepala dan Muka hari ke 4-5
◦ Wajah (tmsk kelopak mata & lidah) hari ke
4
◦ Skrotum hari ke 5
◦ Kulit kepala hari ke 6-7
◦ Tangan dan jari hari ke 7
◦ Dinding perut :
 Sayatan lintang hari ke 7-9
 Sayatan Vertikal hari ke 9-11
◦ Pinggang dan bahu hari ke 11-12
◦ Badan hari ke 7-10
◦ Ekstremitas atas hari ke 10-12
◦ Ekstremitas bawah hari ke 12-16
 Jahitan dipegang dengan pinset pada
simpul
 Jahitan digunting tepat diatas permukaan
kulit di bawah simpul
 Tarik simpul dengan pinset tadi sejajar
dengan jahitan semula
 Rambut sekitar tepi luka dicukur sampai
bersih.
 Kulit dan luka didesinfeksi dengan cairan
Bethadine 10%, dimulai dari bagian tengah
kemudian menjauh dengan gerakan
melingkar.
 Daerah operasi dipersempit dengan duk
steril, sehingga bagian yang terbuka hanya
bagian kulit dan luka yang akan dijahit.
 Dilakukan anestesi local dengan injeksi
infiltrasi kulit sekitar luka.
 Luka dibersihkan dengan cairan perhydrol
dan dibilas dengan cairan NaCl.
 Jaringan kulit, subcutis, fascia yang mati
dibuang dengan menggunakan pisau dan
gunting.
 Luka dicuci ulang dengan perhydrol dan
dibilas dengan NacCl.
 Jaringan subcutan dijahit dengan benang
yang dapat diserap yaitu plain catgut atau
poiiglactin secara simple interrupted suture.
 Kulit dijahit benang yang tak dapat diserap
yaitu silk atau nylon.
Prinsip yang harus diperhatikan :
 Cara memegang kulit pada tepi luka dengan
surgical forceps harus dilakukan secara
halus dengan mencegah trauma lebih lanjut
pada jaringan tersebut.
 Ukuran kulit yang yang diambil dari kedua
tepi luka harus sama besarnya.
 Tempat tusukan jarum sebaiknya sekitar 1-
3 cm dari tepi luka.Khusus” daerah wajah
2-3mm.
 Jarak antara dua jahitan sebaiknya kurang
lebih sama dengan tusukan jarum dari tepi
luka.
 Tepi luka diusahakan dalam keadaan
terbuka keluar (everted) setelah penjahitan.
 Overlapping : Terjadi sebagai akibat tidak
dilakukan adaptasi luka sehingga luka
menjadi tumpang tindih dan luka
mengalami penyembuhan yang lambat dan
apabila sembuh maka hasilnya akan buruk.
 Nekrosis : Jahitan yang terlalu tegang dapat
menyebabkan avaskularisasi sehingga
menyebabkan kematian jaringan.
 Infeksi : Infeksi dapat terjadi karena tehnik
penjahitan yang tidak steril, luka yang telah
terkontaminasi, dan adanya benda asing yang
masih tertinggal.
 Perdarahan : Terapi antikoagulan atau pada
pasien dengan hipertensi.
 Hematoma : Terjadi pada pasien dengan
pembuluh darah arteri terpotong dan tidak
dilakukan ligasi/pengikatan sehingga
perdarahan terus berlangsung dan
menyebabkan bengkak.
 Dead space (ruang/rongga mati) : Yaitu
adanya rongga pada luka yang terjadi
karena penjahitan yang tidak lapis demi
lapis.
 Sinus : Bila luka infeksi sembuh dengan
meninggalkan saluran sinus, biasanya ada
jahitan multifilament yaitu benang pada
dasar sinus yang bertindak sebagai benda
asing.
 Dehisensi : Adalah luka yang membuka
sebelum waktunya disebabkan karena
jahitan yang terlalu kuat atau penggunaan
bahan benang yang buruk.
 Abses : Infeksi hebat yang telah
menghasilkan produk pus/nanah.

Anda mungkin juga menyukai