Anda di halaman 1dari 26

KEPERAWATAN GERONTIK

“MAKALAH TENTANG KONSEP GANGGUAN MOBILISASI DAN


ASKEP FRAKTUR

Di Susun Oleh Kelompok 2:


 Fajar Kurniawan
 Natasya Wulandari
 Nanda Ardini
 Fahdia Gusti Rahayu
 Kiki Patmala
 Puput Avita Sari
 Sinta Mulia
 Melani
 Sri Winarta
Definisi Mobilisasi

Mobilisasi merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak bebas,


mudah,teratur, mempunyai tujuan memenuhi kebutuhan hidup
aktivitasnya guna mempertahankan kesehatannya (Hidayat,
2006).Masalah mobilitas pada lansia dapat disebabkan akibat kelainan
metabolik dan endokrin pada tulang, kelemahan otot, kekakuan pada
sendi, dan nyeri sendi adalah penyakit Gout
Gout primer dipengaruhi oleh faktor genetik.Terdapat produksi/sekresi
asam urat yang berlebih dan tidak diketahui penyebabnya, sedangkan
Gout sekunder dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu Produksi asam urat
yang berlebih, misalnya pada Kelainan mieproliferatif ( polisitemia,
leukemia, myeloma retikularis),Sindrom Lesh-Nyhan yaitu suatau
kelainan akibat defisiensi hipoxantin guanine fosfori bosil transferase
yang terjadi pada anak-anak dan sebagian pada Universitas Sumatera
Utara orang dewasa, Gangguan penyimpanan glikogen, dan
penatalaksaan anemia pernisiosa karena maturasi sel megaloblastik
menstimulasi pengeluaran asam urat.
Tujuan Mobilisasi

Menurut (Fitriyahsari, 2009) tujuan dari


mobilisasi adalah:
a. Memenuhi kebutuhan dasar manusia
b. Mempertahankan fungsi tubuh
c. Memperlancar peredaran darah
d. Mempertahankan tingkat kesehatan
e. Memperlancar eliminasi alvi dan urine
f. Mempertahankan interaksi sosial dan
peran sehari-hari.
Hal-Hal Yang Harus Dikaji

1. Rentang gerak
Rentang gerak merupakan jumlah maksimum gerakan yang mungkin
dilakukan sendi pada salah satu tiga potongan tubuh: sagittal, frontal, dan
tranversal
2. Gaya berjalan
Isitilah Gaya berjalan digunakan untuk menggambarkan carautama atau gaya
ketika berjalan
3. Latihan dan Toleransi Aktivitas
Latihan adalah aktivitas fisik untuk membuat kondisi tubuh, meningkatkan
kesehatan, dan mempertahankan kesehatan jasmani
4. Kesejajaran Tubuh
Pengkajian kesejajaran tubuh dapat dilakukan pada klien yang berdiri,
duduk, atau berbaring, yang bertujuan untuk menentukan perubahan
fisiologis normal pada kesejajaran tubuh akibat pertumbuhan perkembangan
pada masing-masing individu dan mengidentifikasi deviasi kesejajaran tubuh
yang disebabkan oleh postur tubuh yang tidak benar.
5. Berdiri
Hal- hal yang harus yang dikaji berfokus pada kesejajaran tubuh klien
saat berdiri antara lain:
1. Kepala tegak dan midine
2. Ketika dilihat dari arah posterior, bahu dan pinggul lurus dan sejajar
3. Ketika dilihat dari arah posterior tulang belakang lurus
4. Ketika klien dari arah lateral kepala tegak dan garis tulang belakang di garis
dalam pola S terbalik
5. Ketika dilihat dari arah lateral, perut berlipat ke bagian dalam dengan
nyaman dan lutut dengan pergelangan kaki agak melengkung
6. lengan klien nyaman di samping
7. Kaki ditempatkan sedikit berjahuan untuk mendapatkan dasar penopang,
dan jari-jari kaki menghadap ke depan
8. Ketika klien dilihat dari arah anterior, pusat gravitasi berada di tengah
tubuh, dan garis gravitasi mulai dari tengah kepala bagian depan sampai titik
tengah antara kedua kaki
6. Duduk
Penting untuk mengkaji kesejajaran saat duduk jika klien memiliki kelemahan
otot, paralisis otot, atau kerusakan saraf.

7. Berbaring
Pada orang sadar mempunyai kontrol otot volunter dan persepsi tekanan yang
normal
Faktor Yang Mempengaruhi

Pengaruh Otot
Pengaruh Skeletal
Gaya Hidup
Proses Penyakit/ Cedera
Kebudayaan
Tingkat Energi
Usia dan Status Perkembangan
 
Efek Imobilitas

Efek imobilitas sangat jauh


jangkauannya.Imobilitas dapat
mempengaruhi tampilan fisik seseorang
dan kondisi psikososialnya.Akibatnya
mencakup ketidakmampuan untuk
melakukan aktivitas dalam kehidupan
sehari- hari (Bennita, 2015).
 
Asuhan Keperawatan

Ibu R 65 Tahun tinggal di bukittinggi berpendidikan


terakhir SD yang bekerja sebagai ibu rumah tangga
terjatuh di kamar mandi.Ibu R mengalami fraktur
pada tulang humerus, pasien mengatakan nyeri pada
bagian humerus, nyeri seperti tertusuk benda tajam,
skala nyeri sedang (5) saat ini ibu R di rawat
dirumah oleh keluarga.Keluarga mengatakan tidak
mengetahui bagaimana perawatan yang baik buat ibu
R agar cepat pulih, keluarga pasien mengatakan tata
cara merawat pasien faraktur. TD 150/90 mmHg,
Nadi 80 x /menit, RR: 24 x /menit, Suhu 36,20C
Pengkajian
a.Identitas
Nama : Ny R
Umur : 65 Tahun
Jenis kelamin: Perempuan
Alamat: Bukittinggi
pendidikan: SD
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
b. Keluhan Utama
Pasien mengatakan nyeri pada humerus, nyeri seperti tertusuk benda tajam,
skala nyeri sedang (5)
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengatakan nyeri pada humerus, nyeri seperti tertusuk benda tajam,
skala nyeri sedang (5), saat ini di rawat oleh keluarga
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengatakan tidak ada keluarga yang fraktur
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada penyakit penyerta
f. Pola Eliminasi
Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola eliminasi, tapi
walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces
pada pola eliminasi alvi.Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi,
kepekatannya, warna, bau, dan jumlah.Pada kedua pola ini juga dikaji ada
kesulitan atau tidak.
g. Pola Tidur dan Istirahat
Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal ini
dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien.Selain itu juga, pengkajian
dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, dan
kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur (Doengos. Marilynn E, 2002).
H. Pola Aktivitas
Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan klien
menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. Hal lain
yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien. Karena ada
beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya frakturdibanding pekerjaan yang
lain (Ignatavicius, Donna D, 1995).
 Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : lemah
Tingkat kesadaran : compos mentis
Tanda-tanda vital :
TD 150/90 mmHg
Nadi 80 x /menit
RR: 24 x /menit
Suhu 36,20C
Pemeriksaan head to toe
Kepala : mesocepal.
Rambut : banyak uban, kotor, bau keringat.
Mata :warna kehitaman disekitar kulit mata, konjungtiva ananemis,
Hidung : tidak ada sianosis, tidak ada lesi
Mulut : mukosa bibir lembab
Telinga : tidak ada serumen, simetris kanan kiri tidak ada lesi
Leher : distensi vena jugularis 2 cm
Dada :
Jantung :
I : ictus cordis tampak pada intercosta space V
P : ictus cordis teraba pada intercosta space V
P : redup, batas jantung ICS II linea sternalis kanan- ICS II linea sternalis kiri, ICS II 2-3cm
kekiri dari linea sternalis kiri, ICS IV linea sternalis kanan/kiri- ICS V mid klavikula line kiri
A : terdengar S1, S2 tunggal / regular
Ekstermitas :
Atas : tidak ada nyeri, tidak ada bengkak
Bawah : fraktur humerus
Kulit : teraba hangat, kering
Diagnosa Keperawatan
Nyeri akut b/d agen pencedera fisiologis d/d
Pasien mengatakan nyeri pada bagian humerus,
Pasien mengatakan nyeri seperti tertusuk benda
tajam, pasien tampak meringis, skala nyeri
sedang (5)
Deficit pengetahuan b/d kurang terpapar
informasi d/d Keluarga mengatakan tidak
mengetahui bagaimana perawatan yang baik buat
ibu R agar cepat pulih, keluarga pasien
mengatakan tata cara merawat pasien faraktur,
keluarga pasien tampak kebingungan.
Luar Utama Luaran Intervensi Intervensi
tambahan utama pendukung
Diagnosis Defisit Tingkat Motivasi Edukasi
  Pengetahuan pengetahuan L.09080 (hal
  (D.0111) L.12111 ( hal.146 67) Perawatan Gips
  Hal.246 ) Proses I.12422 (hal.91)
    informasi
    L.10100 (hal
Kategori   97)
  Perilaku Tingkat agitasi
Subkategori   L.09092 (hal
Penyuluhan dan 132
pembelajaran
definisi Ketiadaan Kecukupan Kecukupan Kecukupan
atau informasi informasi informasi
kurangnya kognitif yang kognitif yang kognitif yang
informasi berkaitan berkaitan berkaitan
kognitif yang dengan topik dengan topik dengan topik
berkaitan tertentu. tertentu. tertentu.
dengan topik      
tertentu Ekspetasi : Ekspetasi : Ekspetasi :
  Meningkat, Meningkat, Meningkat,
     
Kriteria Kriteria Kriteria
hasil : hasil : hasil :
Penyebab Kemampuan adalah Sediakan materi
Keteratasan mnjelaskan kemampuan dan media
kognitif pengetahuan untuk pendidikan
Gangguan tentang suatu mencari, kesehatan
fungsi kognitif topik mengorganisa Jadwalkan
Kekeliruan meningkat si dan pendidikan
mengikuti Periklu sesuai menggunakan kesehatan
anjuran dengan informasi sesuai
Kurang oengetahuan Tingkat kesepakatan
terpapar meningkat agitasi adalah Berikan
informasi Pertanyaan manifestasi kesempatan
Kurang minat tentang fisiologis dan untuk bertanya
dalam belajar masalah yang perilaku Edukasi
Kurang dihadapi akibat stres Jelaskan bahwa
mampu menurun atau pemicu gips akan terasa
mengingat   biokimia hangat selama
Ketidaktahuan proses
menemukan pemasangan
sumber sampai kering
informasi Jelaskan
perlunya
Gejala dan membatasi
Tanda Mayor aktivitas selama
Subjektif masa
(tidak tersedia) pengeringan
Objektif gips
Menunjukan Jelaskan tanda-
perilaku tidak tanda infeksi
sesuai anjuran
Menunjikan
presepsi yang (mis. gips
keliru terhadap berbau busuk,
masalah eritme, demam)
dan minty
segera
melaporkan
Anjurkan
menghindari
meletakan gips
pada
permukaan
yang
keras/tajam
selama masa
pengeringan
Anjurkan
Gejala dan menghindari
Tanda Minor menekan gips
Menjalani selama masa
pemeriksaan pengeringan
yang tepat Anjurkan
Menunjikan menghindari
perilaku menggaruk kulit
berlebihan (mis. di hawah gips
apatis, dengan benda
bermusuhan, apapun
agitasi,histeria) Anjurkan
Kondisi Klinis menggunakan
terkait altematif
Kondisi klinis menggaruk
yang baru (mis. gunakan
dihadapi oleh udara dingin)
klien Anjurkan
Penyakit akut menghindari
Penyakit kronis gips terkena
air/basah (mis.
gunakan
pelindung yang
sesuai saat
mandi)
Anjurkan
memposisikan
gips pada bantal
Anjurkan
meninggikan
ekstremitas
yang terpasang
gips di alas level
jantung
PENUTUP
Kesimpulan
Mobilisasi merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak
bebas, mudah,teratur, mempunyai tujuan memenuhi kebutuhan
hidup aktivitasnya guna mempertahankan kesehatannya (Hidayat,
2006).Masalah mobilitas pada lansia dapat disebabkan akibat
kelainan metabolik dan endokrin pada tulang, kelemahan otot,
kekakuan pada sendi, dan nyeri sendi adalah penyakit Gout.Gout
adalah penyakit akibat gangguan metabolisme purin yang
ditandai dengan hiperurisemia dan serangan sinovit akut
berulang-ulang.Kelainan ini berkaitan dengan penimbunan
Kristal urat monohidrat monosodium dan pada tahap yang lebih
lanjut terjadi degenerasi tulang rawan sendi.Klasifikasi gout
terbagi menjadi dua, yaitugout primer dan gout sekunder.
Terima kasih
Semoga bermanfaat

Anda mungkin juga menyukai