Pemrograman Kuadratik
(Quadratic Programming)
Teknik Optimasi
Semester Ganjil 2013/2014
Dr. Rahma Fitriani, S.Si., M.Sc
• Adalah permasalahan optimasi dengan fungsi
tujuan berderajat 2, dan fungsi linier sebagai
kendala
• Syarat Kuhn Tucker diterapkan pada
permasalahan tersebut
• Syarat Kuhn Tucker menjadi pemrograman
linier yang dapat diselesaikan dengan algoritma
simpleks dengan modifikasi Metode Wolfe.
Dr. Rahma Fitriani, S.Si., M.Sc
Derajat suatu Fungsi
• Fungsi berikut ini:
• Mempunyai derajat:
• Contoh berderajat 3
Dr. Rahma Fitriani, S.Si., M.Sc
Contoh:
• Berikut ini adalah permasalahan Pemrograman Kuadratik
• Solusi dari Pemrograman Kuadratik adalah titik yang
memenuhi:
• Syarat Kuhn Tucker pertama
• Kendala dalam bentuk normal
• Complementary Slackness
Dr. Rahma Fitriani, S.Si., M.Sc
Metode Wolfe
• Algoritma Simpleks serupa dengan fase kedua metode
dua fase digunakan untuk mencari solusinya
• Syarat tsb semuanya linier. Penambahan artificial
variable untuk memperoleh bentuk kanonik bagi
solusi dasar
• Pemrograman linier (LP) yang meminimumkan jumlah
artificial variable
• Syarat: solusi harus memenuhi sifat complementary
slackness Dr. Rahma Fitriani, S.Si., M.Sc
• LP diselesaikan dengan metode simpleks
• Solusi ditentukan dengan syarat complementary slackness
terpenuhi
Dr. Rahma Fitriani, S.Si., M.Sc
Tableau Awal
Baris
ke W x1 x2 λ1 λ2 e1 e2 s1’ e2’ a1 a2 a2’ rhs BV
0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 -1 -1 -1 0
1 0 1 -1 1 -2 -1 0 0 0 1 0 0 1
2 0 -1 2 1 -3 0 -1 0 0 0 1 0 1
3 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 3
4 0 2 3 0 0 0 0 0 -1 0 0 1 6
• Dengan operasi baris elementer untuk mendapatkan bentuk kanonik:
• Baris 0 baru = Baris 0 lama + baris 1 lama + baris 2 lama +baris 4 lama
Dr. Rahma Fitriani, S.Si., M.Sc
• BV:
– W=8, a1=1, a2=1, s1’=3, a2’=6
• Lakukan algoritma simpleks seperti biasa.
• Variabel yang berpasangan di complementary slackness
tidak boleh sebagai BV pada saat yang bersamaan
Dr. Rahma Fitriani, S.Si., M.Sc
BV: W=6, a1=3/2, x2=1/2, s1’=5/2, a2’=9/2
• BV tersebut tidak melanggar asumsi complementary
slackness
• Lanjut iterasi berikutnya, yang memilih x1 untuk
menggantikan a2’
• Diperbolehkan karena e1 NBV
Dr. Rahma Fitriani, S.Si., M.Sc
BV: W=6/7, a1=6/7, x2=8/7, s1’=4/7, x1=9/7
• BV tersebut tidak melanggar asumsi complementary
slackness
• Lanjut iterasi berikutnya, yang memilih e2’ untuk
menggantikan s1’
• Diperbolehkan karena λ2 NBV
Dr. Rahma Fitriani, S.Si., M.Sc
BV: W=2/3, a1=2/3, x2=4/3, e2’=4/3, x1=5/3
• BV tersebut tidak melanggar asumsi complementary
slackness
• Lanjut iterasi berikutnya, yang memilih λ1 untuk
menggantikan a1.
• Pemilihan tsb diperbolehkan karena s1’ NBV
Dr. Rahma Fitriani, S.Si., M.Sc
BV: W=0, λ1=2/5, x2=6/5, e2’=6/5, x1=9/5
• BV tersebut tidak melanggar asumsi complementary
slackness
• Sudah merupakan solusi optimal karena pada baris
nol sudah tidak ada lagi yang dapat digunakan untuk
menurunkan nilai W (koefisien baris nol semua sudah
≤0)
Dr. Rahma Fitriani, S.Si., M.Sc