"AKIDAH ATAU TAUHID
MENURUT ASY'ARIAH"
Anggota Kelompok :
1. Suhada ( 22301046 )
2. M. Rizki Maulana ( 223010047 )
3. Ratna Purnama Sari ( 22301049 )
4. Sadran Nawawi ( 22301050 )
01 Pengertian tauhid/akidah menurut asy'ariyah
Paham Asy'ari atau Aqidah Asy'ariyah adalah sebuah sistem tauhid yang disusun oleh
Abul-Hasan al-Asy'ari Nama lengkap beliau adalah Abul Hasan Ali bin Ismail. Beliau
adalah keturunan kesekian dari sahabat nabi yang agung Abu Musa Al-Asy'ari
radhiyallahu 'anhu. Beliau lahir di kota Bashrah pada tahun 270 hijriyah.
Pengertian tauhid menurut Al-Asy’ari juga menyatakan bahwa makna wahid dan ahad
adalah menyendiri yang berarti penafian terhadap yang menyamai dalam dzat,
perbuatan dan sifat. “Karena dia dalam dzatnya tidak terbagi, dalam sifatnya tidak ada
yang menyamai dan dalam pengaturannya tidak ada sekutu
02 Lanjutan dari Pengertian tauhid/akidah
menurut asy'ariyah
Imam al-Haramyn menegaskan bahwa makna tauhid adalah menyakini keesaan Allah,
yang penjelasannya ditujukan untuk membuktikan secara argumentatif keesaan Allah
SWT dan bahwa tidak ada Tuhan selainnya.Dalam membuktikan keesaan Allah SWT, Al-
Asy’ari menggunakan argumentasi rasional yang didasari ayat Al-Qur’an. Misal, ketika ia
menjabarkan konsep tauhid, Al-Asy’ari terlebih dahulu mengutip surah Al-Syura ayat 11
dan surah Al-Ikhlas ayat 4 dilanjutkan dengan argumentasi rasional berdasarkan dua
ayat itu.
Penjabaran Al-Asy’ari mengenai konsep tauhid dapat dibagi menjadi tiga aspek,
yaitu aspek dzat, sifat dan af’al (perbuatan).
01 Tauhid dzat yang bermakna bahwa Allah SWT esa dalam dzatnya dan tidak menyerupai sesuatu apapun selainnya.Hujah
untuk hal ini adalah Al-Qur’an surah Al-Syura ayat 11 dan surat Al-Ikhlas ayat 4 yang dilanjutkan dengan penalaran rasional
bahwa keserupaan dengan makhluk akan berkonsenkuensi kebaharuan dan kebutuhan terhadap pencipta, atau
berkonsenkuensi dahulu makhluk yang menyerupainya. Singkatnya, tauhid dzat adalah mengesakan Allah SWT, dalam
dzatnya tidak tersusun elemen-elemen internal maupun eksternal, dan tidak menyamai dan menyerupai dzatnya.
02 Tauhid sifat, yang berarti bahwa sifat ketuhanan adalah sebagaimana yang ada dalam Al-Qur’an dan Hadis, yang afirmasi terhadap-Nya
sama sekali tidak menimbulkan penyerupaan (tasybih), karena sifat-Nya tidak seperti makhluk, sebagaimana dzat-Nya tidak seperti dzat
makhluk. Salah satu konsenkuensi dari tuhid sifat adalah penafian terhadap penggambaran (takyif). Al-Asy’ari menegaskan bahwa
ahlusunnah bersepakat untuk menyifati Allah SWT, dengan seluruh sifat yang diatribusikan olehnya dan utusanya, tanpa penentangan,
tanpa penggambaran dan bahwa beriman terhadapnya adalah wajib dan meninggalkan penggambaran adalah keharusan. Al-Asy’ari
mendasarkan pandangannya dalam masalah ini adalah ayat Al-Qur’an dan Hadis dengan menghindari penyerupaan (tasybih).
Lanjutan Penjabaran Al-Asy’ari mengenai konsep tauhid dapat dibagi menjadi tiga aspek, yaitu
aspek dzat, sifat dan af’al (perbuatan).
03
Tauhid al-af’al yang mengandung pengertian bahwa yang mencipta segala sesuatu adalah Allah SWT dan
perbuatan makhluk diciptakan olehnya. Penekanan tauhid ini adalah kemutlakan kekuasaan Allah SWT,
sehingga dialah satu-satunya yang menciptakan segala makhluk.
Sejarah munculnya asy'ariyah
Menurut Muhammad Hasbi (2015:98) bahwa Al-Asy'ari lahir di Basrah pada tahun 260 H/875 M. Setelah berusia lebih 40 tahun, ia hijrah ke kota Baghdad dan wafat pada
tahun 324 H/935 M. Ketika Asy'ari masih kecil beliau wafat, sebelum wafat ia sempat berwasiat Kepada seorang sahabatnya yang bernama zakaria bin yahya as-Saji agar
mendidik Asy'ari. Berkah ayah tirinya ia menjadi tokoh Mu'tazillah. Aliran Ahl Sunnah wal Jama'ah muncul atas keberanian dan usaha Abu al-Hasan al-Asy'ari disekitar
tahun 300 H, dan selama 40 tahun ia menjadi pengikut Mu'tazilah. Sekitar tahun 300 H al-Asy'ari keluar dari golongan Mu'tazilah dan membentuk aliran teologi yang
kemudian dikenal dengan namanya sendiri. Sebelum al-Asy'ari lahir, tercantum kata-kata wa nasu anfusahum ila al-sunnah (mereka mempertalikan diri mereka dengan
sunnah) dan kata-kata ahl al-haq wa al-din wa al-jama'ah (ahli kebenaran, agama dan jama'ah). Ayah Asy'ari merupakan seorang Ahlusunnah dan ahli Hadis. Sebab
keluarnya Asy'ari dari paham Mu'tazillah yaitu bermimpi bertemu dengn Nabi Muhammad SAW sebanyak 3 kali yaitu pada malan ke-10, ke-20, ke-30 pada bulan
Ramadhan. Dalam mimpi ke tiga kalinya Rosulullah SAW memperingkatkan agar segera meninggalkan faham Mu'tazillah dan segera membela faham yang telah
diwirayatkan oleh beliau.
Tokoh tokoh asy'ariyah
01
Al-Baqillany (wafat 403H/ 1013 M). Namanya Abu Bakr
Muhammad ibn Tayyib, lahir di kota Basrah, yang 03 Al-Ghazali (450 - 505 H.). Nama lengkapnya yaitu
Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad
dikenal dengan nama al-Qadhi Abu Bakr al-Baqillani. AlGhazali. Lahir di kota Tus, kota di negeri
Kitabnya yang terkenal ialah at-Tamhid' (pendahuluan/ Khurasam. Gurunya antara lain al-Juwainy. Ia
persiapan). pernah mengajar di sekolah Nizamiyah Baghdad.
Al-Sanusy ( 833-895 H. / 1427 -- 1490 M.). Nama
02 Al-Juwainy (419 -- 478 H./ 1028 -- 1085 M.). Abu
al-Ma'aly ibn Abdillah, lahir di Nisabur, kemudian
04
lengkapnya yaitu Abu Abdillah Muhammad ibn
Yusuf. Lahir di Tilimsan, kota di al-Jazair. Ia belajar
pergi ke kota Mu'askar, dan akhirnya sampai di
pada ayahnya sendiri dan orang-orang lain yang ada
kota Baghdad.
dinegerinya, kemudian ia melanjutkan pelajarannya
di kota Al-Jazair pada seorang alim yaitu Abd.
Rahman al-Tsa'laby. ".
Pandangan pandangan asy'ariyah
Perbuatan manusia bukan dari diri sendiri
Bahwa tuhan mempunyai sifat, namun
menlainkan diciptakan oleh Tuhan.
tidak seperti yang ada pada makhluk
maka harus ditaqwilkan.
Keadilan terletak pada sebuah
keyakinan bahwa Tuhan berkuasa
Al-Qur'an itu qadim dan bukan
mutlak dan berkehendak mutlak, maka
ciptaannya Allah.
dari itu apa yang telah dilakukan oleh
Tuhan itu adil.
Ciri-ciri akidah asy'ariyah
A. Berpikir sesuai dengan Undang-Undang alam
(sunnatullah). Seperti sebab-akibat. Manusia bisa C. Kehadiran Tuhan dalam konsep
menjadi sebab atas akibat yang terjadi dan tanpa Asy’ariyah terletak pada kehendak mutlak-
luput dari qadha serta qadarnya Allah ta'ala. Nya.
B. Iman adalah membenarkan dengan hati, amal D. Al-Quran adalah kalamnya Allah yang
perbuatan adalah kewajiban untuk berbuat baik diwahyukan kepada Rasulullah
dan terbaik bagi manusia dan mereka tidak Muhammad. Bukan makhluk yang
mengkafirkan orang yang berdosa besar.
diciptakan oleh Allah.
Pokok-pokok Akidah Asy'ariyah
1. Argumen atau dalil yang digunakan Asy’ariyah 3. Hukum Tahu Aqidah. Umumnya ulama Asy’ariyah
dalam menyusun konsepnya adalah perpaduan berpendapat bahwa memahami aqidah Islam
antara naqliyah (nash Al-Quran dan hadits) dan beserta dalilnya secara rinci itu tidak wajib bagi
aqliyah yang bersifat saling mendukung pada muslim awam. Mereka cukup memahami aqidah
dalil naqliyah. Bagi Asy’ariyah, nash yang sharih secara umum (mujmal). Ini pandangan Imam
(eksplisit) dan akal yang benar (sahih) tidak akan Ghazali dan sejumlah ulama yang lain. Pandangan
saling berlawanan ini berbeda dengan Al-Isfirayini.
2. Ilmu Kalam. Ulama Asy’ariyah menganggap mempelajari ilmu kalam
itu tidak mendesak. Khususnya apabila tidak ada aliran-aliran yang
berbeda yang membutuhkan respons dengan memakai ilmu kalam.
Inilah juga yang dilakukan oleh kalangan Salafus Soleh yakni para Sahabat
dan Tabi’in di mana pada masa mereka tidak ada aliran dan pandangan
yang berbeda dengan Ahlussunnah Wal Jamaah seperti Muktazilah.
Lanjutan Pokok-pokok Akidah Asy'ariyah
4. Tafwid (Ta’wil Ijmali). Menurut Asy’ariyah,
kalangan Salafus Salih yakni generasi Sahabat, 5. Takwil Tafshili. Pada dasarnya Asy’ariyah
Tabi’in dan Tabi’it tabi’in, berpendapat bahwa berpegang pada makna zhahir atas suatu nash
mayoritas dari mereka menyikapi ayat dan Quran dan hadits. Namun juga membolehkan
hadits mutasyabihat dengan cara tafwid atau memalingkan kata dari makna zhahirnya yang rajih
takwil ijmali. Takwil ijmali adalah memalingkan (unggul) pada makna marjuh (makna kedua)
nash yang mengandung sifat Allah yang apabila ada dalil (qarinah) yang menyertai kata
menyerupai (mutasyabihat) dengan tersebut sehingga dipalingkan dari makna
makhluknya pada makna lain secara ringkas zhahirnya. Sebagai contoh, dalam firman “Mereka
(tidak detail). Misalnya, “Allah bersemayam di telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan
atas ‘Arsy.” (QS Al-Araf 7:54) dimaknai “Allah mereka” (QS Taubat 9:67). Kata “Allah melupakan
berkuasa atas Arasy. mereka” dialihkan maknanya menjadi “Allah
meninggalkan mereka”
THANK YOU