BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dalam upaya mewujudkan Jawa Tengah Sehat, pembangunan kesehatan di Jawa Tengah tidak dapat dilakukan sendiri oleh aparat pemerintah di sektor kesehatan, tetapi harus dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan peran serta swasta dan masyarakat. Segala upaya kesehatan selama ini dilakukan tidak hanya oleh sektor kesehatan saja, tetapi juga tidak luput peran dari sektor non kesehatan dalam upaya penyelenggaraan pelayanan kesehatan mengatasi permasalahan kesehatan. Agar proses pembangunan kesehatan berjalan sesuai dengan arah dan tujuan, diperlukan manajemen yang baik sebagai langkah dasar pengambilan keputusan dan kebijakan di semua tingkat administrasi pelayanan kesehatan. Untuk itu pencatatan dan pelaporan kegiatan pelayanan kesehatan perlu dikelola dengan baik dalam suatu sistem informasi kesehatan. Sistem Informasi Kesehatan (SIK) yang evidence based diarahkan untuk penyediaan data dan informasi yang akurat, lengkap, dan tepat waktu. Untuk itu, peran data dan informasi kesehatan menjadi sangat penting dan semakin dibutuhkan dalam manajemen kesehatan oleh berbagai pihak. Masyarakat semakin peduli dengan situasi kesehatan dan hasil pembangunan kesehatan yang telah dilakukan oleh pemerintah, terutama terhadap masalah-masalah kesehatan yang berhubungan langsung dengan kesehatan mereka. Kepedulian masyarakat akan informasi kesehatan ini memberikan nilai positif bagi pembangunan kesehatan itu sendiri. Untuk itu pengelola program harus bisa menyediakan dan memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat dengan dikemas secara baik, sederhana, informatif, dan tepat waktu. Profil kesehatan merupakan salah satu produk dari Sistem Informasi Kesehatan yang penyusunan dan penyajiannya dibuat sesederhana mungkin tetapi informatif, untuk dipakai sebagai alat tolok ukur kemajuan pembangunan kesehatan sekaligus juga sebagai bahan evaluasi program-program kesehatan. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah adalah gambaran situasi kesehatan yang memuat berbagai
Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

dan upaya

1

data tentang situasi dan hasil pembangunan kesehatan selama satu tahun yang memuat data derajat kesehatan, sumber daya kesehatan, dan capaian indikator hasil pembangunan kesehatan. B. SISTEMATIKA PENYAJIAN Sistematika penyajian Profil Kesehatan adalah sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN Berisi penjelasan tentang maksud, tujuan dan sistematika

penyajiannya. BAB II : GAMBARAN UMUM Menyajikan tentang gambaran umum Provinsi Jawa Tengah meliputi letak geografis, kependudukan, ekonomi dan pendidikan yang erat kaitannya dengan kesehatan. BAB III : SITUASI DERAJAT KESEHATAN Berisi uraian tentang indikator mengenai angka kematian, angka kesakitan dan angka status gizi masyarakat. BAB IV : SITUASI UPAYA KESEHATAN Menguraikan tentang pelayanan kesehatan dasar, pelayanan

kesehatan rujukan dan penunjang, pencegahan dan pengendalian penyakit menular dan tidak menular, pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan, pelayanan kesehatan dalam situasi bencana serta upaya pelayanan kesehatan lainnya yang diselenggarakan oleh kabupaten/kota.

BAB V

: SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
Menguraikan tentang tenaga kesehatan, sarana kesehatan, pembiayaan kesehatan dan sumber daya kesehatan lainnya.

BAB VI

: KESIMPULAN Berisi sajian garis besar hasil-hasil cakupan porgram/kegiatan

berdasarkan indikator-indikator bidang kesehatan untuk dapat ditelaah lebih jauh dan untuk bahan perencanaan pembangunan kesehatan serta pengambilan keputusan di Provinsi Jawa Tengah.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

2

LAMPIRAN Berisi resume atau angka pencapaian kabupaten/kota dan 82 tabel data yang sebagian diantaranya merupakan Indikator Pencapaian Kinerja Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

3

BAB II GAMBARAN UMUM

A. KEADAAN GEOGRAFI Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak cukup strategis karena berada diantara dua provinsi besar, yaitu bagian barat berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat, bagian timur berbatasan dengan Provinsi Jawa Timur. Sedangkan bagian utara berbatasan dengan Laut Jawa dan bagian selatan berbatasan dengan Samudra Hindia dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Letaknya antara 5°40 ' - 8 °30' lintang selatan dan antara 108°30' - 111°30' bujur timur (termasuk Pulau Karimunjawa). Luas wilayah Provinsi Jawa Tengah sebesar 32.544,12 km², secara administratif terbagi menjadi 29 kabupaten dan 6 kota, yang tersebar menjadi 573 kecamatan dan 8.576 desa/kelurahan. Wilayah terluas adalah Kabupaten Cilacap dengan luas 2.138,51 km², atau sekitar 6,57% dari luas total Provinsi Jawa Tengah, sedangkan Kota Magelang merupakan wilayah yang luasnya paling kecil yaitu seluas 18,12 km². Secara topografi, wilayah Provinsi Jawa Tengah terdiri dari wilayah daratan yang dibagi menjadi 4 (empat) kriteria : a. Ketinggian antara 0–100 m dari permukaan air laut, seluas 53,3%, yang daerahnya berada di sepanjang pantai utara dan pantai selatan. b. Ketinggian antara 100–500 m dari permukaan air laut seluas 27,4%. c. Ketinggian antara 500–1.000 m dari permukaan air laut seluas 14,7%. d. Ketinggian diatas 1.000 m dari permukaan air laut seluas 4,6%. B. KEADAAN PENDUDUK 1. Pertumbuhan dan Persebaran Penduduk Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, jumlah penduduk Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2010 sebesar 32.382.657 jiwa, dengan luas wilayah sebesar 32.544,12 kilometer persegi (km²), rata-rata kepadatan penduduk sebesar 995,04 jiwa untuk setiap km². Wilayah terpadat

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

4

adalah Kota Surakarta, dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 11.341 jiwa per km². Wilayah terlapang adalah Kabupaten Blora, dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 462 jiwa per km², dengan demikian persebaran penduduk di Jawa Tengah belum merata. Jumlah rumah tangga sebanyak 8.703.696, maka rata-rata jumlah anggota rumah tangga adalah 3,72 jiwa untuk setiap rumah tangga. Penduduk terbanyak di Kabupaten Brebes 1.733.869 jiwa (5,35%) dan paling sedikit di Kota Magelang 118.227 jiwa (0,37%). Data mengenai kependudukan dapat dilihat pada lampiran Tabel 1.

2. Rasio Jenis Kelamin Komposisi penduduk menurut jenis kelamin dapat dilihat dari rasio jenis kelamin, yaitu perbandingan penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan per 100 penduduk perempuan. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010 oleh Badan Pusat Statistik, didapatkan jumlah penduduk laki-laki di Jawa Tengah 16.091.112 jiwa (49,69%) dan jumlah penduduk perempuan di Jawa Tengah 16.291.545 jiwa (50,31%). Sehingga didapatkan rasio jenis kelamin sebesar 98,77 per 100 penduduk perempuan, berarti setiap 100 penduduk perempuan ada sekitar 98 atau 99 penduduk laki-laki. Data mengenai rasio jenis kelamin (sex ratio) dapat dilihat pada lampiran Tabel 2.

3. Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur Komposisi penduduk Provinsi Jawa Tengah menurut kelompok umur dan jenis kelamin menunjukkan bahwa penduduk laki-laki maupun perempuan mempunyai proporsi terbesar pada kelompok umur 15–44 tahun. Gambaran komposisi penduduk secara lebih rinci dapat dilihat pada lampiran Tabel 3. Perbandingan komposisi proporsi penduduk menurut usia produktif dari tahun 2006 sampai tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut:

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

5

Tabel 2.1 Persentase Kelompok Usia Produktif Jawa Tengah tahun 2006 – 2010 Kelompok Usia (Tahun) 0 - 14 15 – 64 65 + TAHUN 2006 25,98 % 66,92 % 7,10 % 2007 27,02 % 65,21 % 7,77 % 2008 26,57 % 65,66 % 7,77 % 2009 25,03 % 67,87 % 7,11 % 2010 26,32 % 66,53 % 7,05 %

Sumber : BPS Provinsi Jawa Tengah tahun 2010

Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa proporsi penduduk tahun 2010 bila dibandingkan dengan tahun 2009, kelompok usia produktif (15-64 tahun) mengalami penurunan, sedangkan kelompok usia belum produktif (0-14 tahun) mengalami kenaikan. Hal ini berarti bahwa angka beban tanggungan menjadi bertambah.

C. KEADAAN EKONOMI 1. Produk Domestik Regional Bruto Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah ukuran kuantitatif dari kinerja perekonomian suatu wilayah selama satu periode waktu tertentu. PDRB merupakan total nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit-unit usaha yang beroperasi di wilayah domestik. Perekonomian Jawa Tengah pada tahun 2011 mengalami pertumbuhan sebesar 6,0% dibanding tahun 2010. Berdasarkan hasil penghitungan triwulan I sampai dengan triwulan IV , PDRB Jawa Tengah tahun 2011 atas dasar harga berlaku meningkat sebesar Rp. 53,9 triliun, yaitu dari Rp. 444,7 triliun pada tahun 2010 menjadi sebesar Rp. 498,6 triliun pada tahun 2011. Jika dilihat dari PDRB atas dasar harga konstan pada tahun 2011 mencapai Rp. 198,2 triliun, sedangkan pada tahun 2010 sebesar Rp. 187,0 triliun. Selama tahun 2011, semua sektor ekonomi yang membentuk PDRB mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor

pengangkutan dan komunikasi yang mencapai 8,6%, diikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran 7,5%, sektor jasa-jasa 7,5%, sektor industri

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

6

Sedangkan sektor yang mengalami pertumbuhan terendah pada tahun 2011 adalah sektor pertanian yaitu sebesar 1. gas dan air bersih 4.124 11.8 juta. 5. meskipun mengalami pertumbuhan terbesar yaitu 8. PDRB per kapita merupaka PDRB dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun.7% mampu memberikan andil terbesar terhadap sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.6%.7 juta. sektor listrik.2 PDRB per Kapita Jawa Tengah Tahun 2008 – 2011 (jutaan rupiah) Tahun PDRB per Kapita atas dasar harga berlaku 11. Pada tahun 2011 angka PDRB per kapita atas dasar harga berlaku diperkirakan mencapai 15. hotel dan restoran yaitu 1.3%.142 5.0% dibandingkan dengan PDRB per kapita tahun 2010 sebesar Rp. Sedangkan sektor pengangkutan dan komunikasi.4 juta dengan laju peningkatan sebesar 12. real estate dan jasa perusahaan 6. 6.774 6.2%.112 2008 2009 2010 2011 Sumber : PDRB Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 7 . Hal ini dikarenakan kontribusi nilai tambah bruto sektor pengangkutan dan komunikasi terhadap PDRB Jawa Tengah relatif kecil. Selain itu dapat dilihat besarnya sumbangan (andil) masing-masing sektor dalam menciptakan laju pertumbuhan ekonomi selam tahun 2011.7%. Tabel 2.732 15. yaitu sebesar 2.4%.pengolahan 6. Sedangkan PDRB per kapita atas dasar harga konstan pada tahun 2011 sebesar Rp.3%.9% dibandingkan dengan tahun 2010 yan gsebesar Rp.957 13. 13.4% terhadap sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.3%.376 PDRB per Kapita atas dasar harga konstan 5.1 juta atau secara riil meningkat sebesar 5. sektor pertambangan dan penggalian 4. Sumber pertumbuhan terbesar kedua adalah dari sektor perdagangan.9%. sektor konstruksi 6. sektor keuangan. sektor ini hanya mampu memberikan sumbangan 0.6%.345 5. Sektor industri pengolahan yang mengalami pertumbuhan 6.

Tabel 2.58 17. Angka Beban Tanggungan Berdasarkan jumlah penduduk menurut kelompok umur.55 SMP 15.22 18.00 100.48 4.58 16. Masyarakat yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi.42 8.01 32.00 100.74 32. Dibandingkan dengan tahun 2009 secara umum telah terjadi peningkatan di bidang pendidikan.11 SMU/SMK 12. D.50 34. angka beban tanggungan (dependency ratio) penduduk Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2010 sebesar 50. Angka tersebut mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2009 (51.41 4.16 18.00 100.33 8.00 Sumber : BPS Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 8 .45 14.64 15. pada umumnya mempunyai pengetahuan dan wawasan yang lebih luas sehingga lebih mudah menyerap dan menerima informasi.43).13 Tdk punya Ijazah SD/MI 26. SMP dan Akademi/Perguruan Tinggi. KEADAAN PENDIDIKAN Tingkat pendidikan dapat berkaitan dengan kemampuan menyerap dan menerima informasi kesehatan serta kemampuan dalam berperan serta dalam pembangunan kesehatan.46 23.93 Tahun 2007 2008 2009 2010 SD/MI 31.84 9.3 Jumlah Penduduk Usia 10 tahun ke Atas Menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007-2010 Blm/Tdk Pernah Sekolah 7. serta dapat ikut berperan serta aktif dalam mengatasi masalah kesehatan dirinya dan keluarganya.21 10.93 4. Peningkatan terjadi pada tingkat pendidikan SD. berarti pada tahun 2010 setiap 100 penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun) harus menanggung beban hidup sekitar 50 penduduk usia belum produktif (0–14 tahun) dan usia tidak produktif (65 tahun ke atas).48 Total 100.91 DIPL/AK/ PT 5. Berikut ini disajikan tabel persentase jumlah penduduk usia 10 tahun ke atas menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2007-2010.03 22. Hal ini wajar terjadi mengingat semakin digalakkannya program sekolah gratis bagi jenjang SD dan SMP dan program-program pendidikan lainnya.2.31.

87%. angka melek penduduk laki-laki sebesar 94. Bila dilihat dari jenis kelaminnya. Demikian gambaran umum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 secara ringkas dengan penyajian tentang kependudukan.02%. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 9 . Faktor perekonomian dan pendidikan secara bersama-sama dengan kesehatan digunakan untuk menentukan Indeks Pembangunan Manusia.Peningkatan tersebut berimbas pada kemampuan baca tulis penduduk yang tercermin dari angka melek huruf. sedangkan yang buta huruf sebesar 8. Persentase penduduk yang dapat membaca dan menulis huruf latin dan huruf lainnya pada tahun 2010 sebesar 91.28% dan perempuan sebesar 87.98%. maka penduduk laki-laki lebih banyak yang melek huruf dibandingkan dengan penduduk perempuan. Data mengenai angka melek huruf dapat dilihat pada lampiran Tabel 5. perekonomian dan pendidikan.

Angka Kematian Ibu (AKI). Derajat kesehatan masyarakat juga dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktorfaktor tersebut tidak hanya berasal dari sektor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan. terdapat beberapa indikator yang dapat digunakan. Angka Kematian Bayi Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan jumlah kematian bayi (0-11 bulan) per 1000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun. lingkungan sosial. derajat kesehatan masyarakat di Provinsi Jawa Tengah digambarkan melalui Angka Kematian Bayi (AKB).BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN Dalam menilai derajat kesehatan masyarakat. 1. Indikator-indikator tersebut pada umumnya tercermin dalam kondisi angka kematian. kondisi lingkungan fisik dan biologik secara tidak langsung. tingkat keberhasilan program KIA dan KB. tingkat pelayanan antenatal. Angka kematian yang disajikan pada bab ini yaitu AKB. kondisi atau tingkat permasalahan kesehatan.000 kelahiran hidup. berarti status kesehatan di wilayah tersebut rendah. AKB di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 10. A. Apabila AKB di suatu wilayah tinggi. menurun bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 10. AKABA. angka morbiditas beberapa penyakit dan status gizi. serta kondisi lingkungan dan sosial ekonomi. Angka tersebut dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan. keturunan dan faktor lainnya. Angka Kematian balita (AKABA).34/1.000 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 10 . Pada bagian ini. melainkan juga dipengaruhi faktor ekonomi.62/1. ANGKA KEMATIAN Angka kematian dari waktu ke waktu menggambarkan status kesehatan masyarakat secara kasar. angka kesakitan dan status gizi. AKI dan Angka Kematian Kecelakaan Lalu Lintas. AKB menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan faktor penyebab kematian bayi. status gizi ibu hamil. pendidikan.

Tegal Kota Salatiga Kab.Banjarnegar Kab.Demak Kota Tegal Kota Surakarta 21.Batang Kab.Sragen Kab.54 8.2 Angka Kematian Bayi di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 11 . Dibandingkan dengan target Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tahun 2015 sebesar 17/1.23 12.00 25.15 11.Temanggung Kab. sedangkan terendah adalah Kota Surakarta sebesar 3.Wonosobo Kab.Sukoharjo Kab.63/1.Boyolali Kota Semarang Kab.63 5.49 7.00 10.38 9.1 Angka Kematian Bayi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 –2011 Angka kematian bayi tertinggi adalah Kabupaten Rembang sebesar 21.5 AKB 2008 9.Magelang Kab.63 12.Purbalingga Kab.00 15.Kendal Kab.85 8.69 9.55 7. Kab.Grobogan Kota Magelang Kab.11 8.34 Gambar 3.33 9.000 kelahiran hidup maka AKB di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sudah cukup baik karena telah melampaui target.66 3.62 2011 10.Rembang Kab.67 11.25 2010 10.23 9.68 8.Semarang Kab.97/1.00 20.23 9.53 17.41 0.000 kelahiran hidup.23 9.Brebes Kab.16 10.Pekalongan Kab.Jepara Kab.79 15.00 Gambar 3.09 6.51 8.Purw orejo Kab.93 12.30 13.000 kelahiran hidup.34 15.25 13.Pemalang Kab. Dibawah ini grafik AKB di Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2008-2011.Kudus Kab.Cilacap Kab.Kebumen Kab.27 2009 10.97 17.Wonogiri Kab. 11 10.72 9.kelahiran hidup.5 10 9.72 6.Pati Kota Pekalongan Kab.Karanganyar Kab.00 5.Blora Kab.Banyumas Kab.49 7.08 9.72 8.Klaten Kab.27 12.5 9 8.

02/1. AKABA menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan balita. tingkat keberhasilan program KIA/Posyandu dan kondisi sanitasi lingkungan.4 di bawah ini. Selengkapnya dapat dilihat pada gambar 3.6 2010 12.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup.5 12 11.5 9 AKABA 2008 10. AKABA Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 11.5 10 9. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 12 .12 2009 11.02 2011 11. Dibandingkan dengan cakupan yang diharapkan dalam Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tahun 2015 yaitu 23/1. Dibawah ini grafik AKB di Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2008-2011.3 Angka Kematian Balita Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 –2011 AKABA tertinggi di Kabupaten Rembang sebesar 23. 12. sedangkan terendah di Kota Surakarta sebesar 4. tingkat pelayanan KIA/Posyandu.5 11 10.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. AKABA Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sudah melampaui target.000 kelahiran hidup. Angka Kematian Balita Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan jumlah kematian balita 0–5 tahun per 1000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun.50/1.5 Gambar 3.74/1.12/1.2. menurun dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 12.

Rembang Kab.80 10. yaitu terlalu tua pada saat melahirkan (>35 tahun).Boyolali Kab.86 9.25 13.Kebumen Kab.Batang Kab.02 18.00 Gambar 3.83 13.Klaten Kab.Demak Kab.87 17.36 10.81 10. terutama pelayanan kegawatdaruratan tepat waktu yang dilatarbelakangi oleh terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan. kejadian berbagai komplikasi pada kehamilan dan kelahiran.Cilacap Kab.78 14.66 9.55 23. Kematian ibu biasanya terjadi karena tidak mempunyai akses ke pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas.Brebes Kab.12 8.74 10.39 10.Kudus Kota Tegal Kota Surakarta 0.Pekalongan Kota Magelang Kab.Banjarnegar Kab.Magelang Kota Salatiga Kab.4 Angka Kematian Balita di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 3.20 10.55 9.98 10.Karanganyar Kab.00 5. serta terlambat mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan.Purbalingga Kab.Grobogan Kab.Semarang Kab.95 12.16 7.57 10.Jepara Kab.12 5.70 9.Wonosobo Kab.Sragen Kab.00 4.Wonogiri Kab. Tingginya angka kematian ibu menunjukkan keadaan sosial ekonomi yang rendah dan fasilitas pelayanan kesehatan termasuk pelayanan prenatal dan obstetri yang rendah pula. Angka Kematian Ibu Angka Kematian Ibu (AKI) mencerminkan risiko yang dihadapi ibu-ibu selama kehamilan dan melahirkan yang dipengaruhi oleh status gizi ibu.14 9.Sukoharjo Kota Pekalongan Kab.94 7.Banyumas Kab. tersedianya dan penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan ternasuk pelayanan prenatal dan obstetri.00 25. terlambat mencapai fasilitas kesehatan. terlalu muda pada saat melahirkan (<20 tahun).Kendal Kab.88 13.Blora Kab.26 9. Selain itu penyebab kematian maternal juga tidak terlepas dari kondisii ibu itu sendiri dan merupakan salah satu dari kriteria 4 “terlalu”.42 14.00 15.Kab.Temanggung Kab.Purw orejo Kota Semarang Kab.79 10. keadaan kesehatan yang kurang baik menjelang kehamilan.Tegal Kab.Pemalang Kab. terlalu Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 13 .85 7.36 8.44 19.Pati Kab.68 12. keadaan sosial ekonomi.46 16.00 20.85 14.42 11.

Karanganyar Kab. mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan AKI pada tahun 2010 sebesar 104.5 di bawah ini tren AKI di Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2011.Rembang Kab.Blora Kab.banyak anak (>4 anak).Tegal Kab.Temanggung Kab.97/100.Grobogan Kab.5 Angka Kematian Ibu Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 –2011 Jumlah kematian maternal terbanyak adalah di Kabupaten Tegal sebanyak 51 kematian.Pekalongan Kab.Demak Kab.Klaten Kab.Purbalingga Kab. Angka kematian ibu Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 berdasarkan laporan dari kabupaten/kota sebesar 116.42 2009 117.97 2011 116.Kendal Kab.Wonogiri Kab. Sedangkan kabupaten/kota dengan jumlah kematian maternal paling sedikit adalah Kota Magelang dengan 1 kematian.02 2010 104.Cilacap Kab.Purw orejo Kota Tegal Kota Pekalongan Kab.Wonosobo Kab.6 Jumlah Kematian Ibu di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 14 . 120 115 110 105 100 95 AKI 2008 114.Brebes Kota Semarang Kab.Batang Kab.Jepara Kab.01/100.Kudus Kab.Semarang Kab.Pati Kab.Sragen Kab.Kebumen Kota Salatiga Kota Surakarta Kota Magelang 45 51 13 13 13 12 11 10 10 10 9 9 9 18 18 17 16 15 15 24 24 23 22 22 21 28 27 26 26 31 35 34 6 1 4 0 10 20 30 40 50 60 Gambar 3. Gambar 3. terlalu rapat jarak kelahiran/paritas (<2 tahun).000 kelahiran hidup.Magelang Kab.Boyolali Kab.Banyumas Kab.01 Gambar 3.Pemalang Kab.000 kelahiran hidup.Banjarnegara Kab.Sukoharjo Kab. Kab.

ANGKA KESAKITAN 1.89% dan pada kelompok umur <20 tahun sebesar 5. kejadian kematian maternal terbanyak adalah pada usia produktif (20-34 tahun) sebesar 65.17 sementara Angka kematian kecelakaan lalu lintas tahun 2011 adalah sebesar 2. Sementara berdasarkan kelompok umur. angka kematian kecelakaan lalu lintas tertinggi terjadi di Kota Magelang yaitu sebesar 21.12%. seperti sifat kelumpuhan pada poliomyelitis. Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit “Acute Flaccid Paralysis” (AFP) Upaya membebaskan Indonesia dari penyakit Polio.80 sedangkan tahun 2010 sebesar 176. kemudian pada kelompok umur >35 tahun sebesar 28. Dari 25 kabupaten/kota yang melaporkan.000 penduduk dalam kurun waktu satu tahun. Prosedur pembuktian penderita AFP terserang virus polio liar atau tidak adalah sebagai berikut : Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 15 .000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah. kemudian pada waktu hamil sebesar 25.99/100. Surveilans AFP merupakan pengamatan dan penjaringan semua kelumpuhan yang terjadi secara mendadak dan sifatnya flaccid (layuh).60%. Kabupaten/kota yang melaporkan kejadian kecelakaan lalulintas pada tahun 2011 sebanyak 25 kabupaten/kota meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 sebanyak 19 kabupaten/kota.75% dan pada waktu persalinan sebesar 25. B. pemberian imunisasi masal pada anak balita melalui Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dan surveilans AFP.99%.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 sebesar 94.65%. Angka kecelakaan lalulintas per 100.Kejadian kematian maternal paling banyak adalah pada waktu nifas sebesar 48. pemerintah telah melaksanakan Program Eradikasi Polio (ERAPO) yang terdiri dari pemberian imunisasi polio rutin.70 per 100.000 penduduk. Angka Kematian Kecelakaan Lalu Lintas Angka Kematian kecelakaan lalu lintas adalah jumlah kematian sebagai akibat dari kecelakaan lalu lintas per 100. 4.

e. sehingga dapat diketahui apakah masih ada polio liar di masyarakat. Mengambil spesimen tinja penderita tidak lebih dari 14 hari sejak kelumpuhan. Diagnosis akhir ditentukan pada 60 hari sejak kelumpuhan. dari 215 kasus yang diperiksa semua menunjukan negatif polio (berarti tidak ditemukan virus polio liar). Target minimal penemuan penderita AFP tahun 2011 sebanyak 164 penderita. Penderita kelumpuhan AFP diperkirakan 2 diantara 100. sebanyak dua kali selang waktu pengambilan I dan II >24 jam. Mengirim kedua spesimen tinja ke laboratorium dengan pengemasan khusus (untuk Jawa Tengah dikirim ke laboratorium Bio Farma Bandung) d.7 Penemuan Kasus AFP Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 16 . sehingga memenuhi target. b. Melakukan pelacakan terhadap anak usia <15 tahun yang mengalami kelumpuhan mendadak (<14 hari) dan menentukan diagnosa awal. c. Pemeriksaan klinis ini dilakukan oleh dokter spesialis anak atau syaraf untuk menentukan apakah masih ada kelumpuhan atau tidak.000 anak usia <15 tahun.a. Menurut hasil pemeriksaan laboratorium. 210 205 200 195 190 185 180 175 170 165 160 Kasus AFP 2006 191 2007 207 2008 187 2009 193 2010 178 Gambar 3. Hasil pemeriksaan virologis dan klinis akan menjadi bukti penegakan diagnosis kasus AFP termasuk kasus polio atau tidak. Pada tahun 2011 Jawa Tengah menemukan 215 penderita AFP. Hasil pemeriksaan spesimen tinja akan menjadi bukti virologi adanya virus polio liar didalamnya.

Pencapaian CDR di Jawa Tengah tahun 2008 s/d 2011 masih dibawah target yang ditetapkan sebesar 100%. Penyakit ini dapat menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil TB. 2) Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya. Meskipun masih dibawah target yang ditentukan.000 penduduk) dan terendah di Kabupaten Magelang (20.000 penduduk Provinsi Jawa Tengah sebesar 74. CDR tertinggi di Kota Pekalongan sebesar 132. TB menjadi salah satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitmen global dalam MDGs.000 penduduk). 3) Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat. 5) Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. Bersama dengan Malaria dan HIV/AIDS. Prevalensi Tuberkulosis per 100. Angka Penemuan Kasus TB Paru BTA(+) Salah satu indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalah Case Detection Rate (CDR). Terdapat empat kabupaten/kota yang sudah melampaui target 100% yaitu Kota Surakarta Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 17 .52. Pada awal tahun 1995 WHO telah merekomendasikan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) sebagai strategi dalam penanggulangan TB dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective). yang terdiri dari 5 komponen kunci 1) Komitmen politis. yaitu proporsi jumlah pasien baru BTA(+) yang ditemukan dan diobati terhadap jumlah pasien baru BTA(+) yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut.06 per 100.04%. 4) Jaminan ketersediaan OATyang bermutu. 3. capaian CDR tahun 2011 sebesar 59.52% meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 (55. Prevalensi tuberkulosis tertinggi adalah di Kabupaten Pekalongan (205.5 per 100. Prevalensi Tuberkulosis Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis.2. termasuk pengawasan langsung pengobatan.38%).78% dan yang terendah di Kabupaten Magelang sebesar 33.

31%).97 2009 48.99%) dan Kota Pekalongan (132. maka evaluasi pengobatan pasien dinyatakan sebagai pengobatan lengkap. paramedis dan laboratorium. 4.(101. Dinyatakan sembuh bila hasil pemeriksaan dahak pada akhir pengobatan ditambah minimal satu kali pemeriksaan sebelumnya (sesudah fase awal atau satu bulan sebelum akhir pengobatan) hasilnya negatif. Kota Tegal (116. 60 50 40 30 20 10 0 CDR TB 2008 47. baik tenaga medis.52 Gambar 3. pertemuan jejaring antar unit pelayanan kesehatan dan asistensi ke rumah sakit. Bila pemeriksaan follow up tidak dilakukan.8 Angka Penemuan TB Paru (CDR) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Untuk meningkatkan cakupan CDR dan angka kesembuhan. namun pasien telah menyelesaikan pengobatan.38 2011 59. Kabupaten Pekalongan (103.78%). Kegiatan-kegiatan tersebut perlu dievaluasi untuk menilai apakah hasil kegiatan sesuai dengan tujuan yang diharapkan sekaligus mengidentifikasi permasalahan yang ditemukan untuk selanjutnya disusun rencana tindak lanjut perbaikan. Angka Kesembuhan Penderita TB Paru BTA(+) Evaluasi pengobatan pada penderita TB paru BTA(+) dilakukan melalui pemeriksaan dahak mikroskopis pada akhir fase intensif satu bulan sebelum akhir pengobatan dan pada akhir pengobatan dengan hasil pemeriksaan negatif. Evaluasi jumlah pasien dinyatakan sembuh dan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 18 .15 2010 55.12). pada tahun 2011 telah dilakukan berbagai upaya seperti peningkatan SDM.

5 84 83. sedangkan terendah di Kota Tegal sebesar 47. Persentase penemuan dan penanganan penderita pneumonia pada balita tahun 2011 sebesar 25. mengalami penurunan bila dibanding tahun 2010 yang sebesar 40.702 kasus.17%. virus maupun jamur. 86 85.9 Angka Kesembuhan TB Paru (CR) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2010 5. Pneumonia juga dapat terjadi akibat kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia. Angka kesembuhan (Cure Rate) TB paru Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 sebesar 85.9 2009 85.5% dengan jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 66.01 2010 85.5 83 82. Angka kesembuhan tertinggi di Kabupaten Karanganyar sebesar 98.13%. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 19 . Angka ini masih sangat jauh dari target Standar Pelayanan Minimal (SPM) tahun 2010 sebesar 100%. usia lanjut lebih dari 65 tahun. Populasi yang rentan terserang Pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun.15 Gambar 3. Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri. gangguan imunologi).15% sudah melebihi target nasional (85%) dan meningkat bila dibandingkan tahun 2009 (85. Persentase Balita dengan Pneumonia Ditangani Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli).5 85 84.63%. Berikut ini ditampilkan persentase penemuan pneumonia balita Provinsi Jawa Tengah tahun 2008-2011.01%).5 82 CR TB 2008 83.pasien pengobatan lengkap dibandingkan jumlah pasien BTA(+) yang diobati disebut keberhasilan pengobatan (Succes Rate ). atau orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi.

63 2011 25. Kasus HIV/AIDS merupakan fenomena gunung es. laporan rutin AIDS kab/kota serta Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM). Jumlah infeksi HIV yang dilaporkan tahun 2011 sebanyak 755 kasus. sero survey dan Survei Terpadu Biologis dan perilaku (STBP).Pada tingkat kabupaten/kota. Counselling. ada satu kota yang mempunyai persentase cakupan diatas 100% yaitu Kota Magelang (179. Jumlah HIV positif yang ada di masyarakat dapat diketahui melalui 3 metode.9%). Jumlah kematian karena AIDS di Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 89 kasus. and Testing (VCT). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 20 . Jumlah Kasus Baru HIV/AIDS dan Kematian karena AIDS HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. artinya kasus yang dilaporkan hanya sebagian kecil yang ada di masyarakat.5 Gambar 3. Infeksi tersebut menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain.63 2009 25. penderita terlebih dulu dinyatakan sebagai HIV positif.6%). Peningkatan infeksi HIV dan kasus AIDS ini dikarenakan upaya penemuan atau pencarian kasus yang semakin intensif melalui VCT di rumah sakit dan upaya penjangkauan oleh LSM peduli AIDS di kelompok risiko tinggi.10 Persentase Penemuan dan Penanganan Penderita Pneumonia pada Balita Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 6. sementara kabupaten dengan persentase cakupan terendah adalah Kabupaten Rembang (1. Sebelum memasuki fase AIDS. yaitu pada layanan Voluntary. Kasus Aquiared Immuno Devisiency Syndrome (AIDS) sebanyak 521 kasus dari laporan VCT rumah sakit. 45 40 35 30 25 20 Pneumonia Balita 2008 23. sebagian besar didapat dari hasil VCT di rumah sakit.96 2010 40.

PMS meliputi Syphilis.800 700 600 500 400 300 200 100 0 2008 HIV 2009 AIDS 2010 Meninggal 259 170 56 143 160 104 430 373 501 755 521 89 2011 Gambar 3. Penemuan kasus HIV tahun 2011 meningkat sangat tajam hampir 2 kali lipat lebih dibanding tahun 2010.12 Persentase Kasus Baru AIDS menurut Jenis Kelamin Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 7. jumlah kematian karena AIDS terbanyak di Kabupaten Banyumas sebanyak 10 kasus.11 Jumlah Kasus Baru HIV/AIDS dan kematian karena AIDS Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Gambar 3.11 menunjukan bahwa kecenderungan (trend) kasus HIV maupun AIDS selalu mengalami peningkatan setiap tahun. Herpes. dan lain-lain. Infeksi Menular Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 21 . Jengger ayam. Gonorhoe. Jumlah Kasus Baru Infeksi Menular Seksual lainnya Penyakit Menular Seksual (PMS) atau biasa disebut penyakit kelamin adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Bubo. Perempuan 37% Laki-laki 63% Gambar 3. Jumlah kasus baru HIV/AIDS tertinggi adalah di Kota Semarang (189/59 kasus).

Meskipun demikian kemungkinan kasus yang sebenarnya di populasi masih banyak yang belum terdeteksi. Dinas Kesehatan juga melakukan pengamatan terhadap hasil skrining/penapisan darah donor melalui UTDD PMI Jawa Tengah.Seksual (IMS) yang diobati adalah kasus IMS yang ditemukan berdasarkan sindrom dan etiologi serta diobati sesuai standar. Jumlah tersebut dari tahun ke tahun semakin meningkat. 8. Dari hasil pemeriksaan sampel darah tersebut.828 (93. Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Seksual mempunyai target bahwa seluruh kasus IMS yang ditemukan harus diobati sesuai standar. kemudian yang dilakukan pemeriksaan sampel darah sebanyak 324.828 Tahun 2008 2009 2010 2011 Jumlah Positif HIV 520 275 510 415 Positif HIV 1.13) yang positif HIV.16 0.1 Persentase Donor Darah Diskrining terhadap HIV Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008-2011 Jumlah Sample Diperiksa 348.793 309.795 312.81%).09 0.731 324.13 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 22 . sebanyak 415 sampel (0. Malaria. Donor Darah Diskrining terhadap HIV Selain melakukan kegiatan serosurvei HIV dan surveilans/ pengamatan kasus AIDS.752 kasus. Sifilis. DBD termasuk juga bebas dari virus HIV. Pada tahun 2011 diketahui jumlah pendonor sebanyak 346. Tabel perkembangan jumlah sampel yang diperiksa dan hasil yang positif HIV dari tahun 2008 sampai dengan 2011 sebagai berikut : Tabel 3. Jumlah kasus baru IMS lainnya di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 ini sebanyak 10. Tujuan skrining ini adalah untuk mengamankan darah donor supaya bebas dari beberapa penyakit seperti Hepatitis C.49 0.269 orang.

48%). Cakupan penemuan dan penanganan diare di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 57. Seseorang dikatakan menderita diare bila feses lebih berair dari biasanya.2%) dan terendah di Kabupaten Purworejo (19.13 Cakupan Penemuan dan Penanganan diare Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 10.8%).4%) dan Kota Tegal (144. Kelainan pada kulit (bercak) putih atau kemerahan disertai mati rasa.5 2010 44. Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan kusta menjadi progresif.2%). anggota gerak dan mata. atau bila buang air besar tiga kali atau lebih.9 Gambar 3. Kasus Diare Ditangani Diare adalah penyakit yang terjadi ketika terjadi perubahan konsistensi feses selain dari frekuensi buang air besar. saraf. mengalami peningkatan bila dibandingkan cakupan tahun 2010 (44. 60 55 50 45 40 Cakupan 2008 47. Diagnosis kusta dapat ditegakkan dengan adanya kondisi sebagai berikut: a.Prevalensi Kusta Kusta adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Kota Pekalongan (121. menyebabkan kerusakan permanen pada kulit. Ada 3 kota yang mempunyai cakupan di atas 100% yaitu Kota Salatiga (106%). atau buang air besar yang berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam.9%. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 23 . Pada tingkat kabupaten/kota.9. diketahui bahwa cakupan penemuan dan penanganan diare tertinggi di Kota Tegal (144. Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf berupa mati rasa dan kelemahan/kelumpuhan otot.8 2009 48.48 2011 57. b.

46 Gambar 3.98 2009 85. 100 persentase (%) 80 60 40 20 0 2008 PB MB 92. Sedangkan proporsi anak di antara penderita baru pada tahun 2011 sebesar 10.873 kasus dan tipe Pausi Basiler sebanyak 395 kasus dengan Newly Case Detection Rate (NCDR) sebesar 7 per 100.21 87. Cakupan selama 3 tahun terakhir kusta tipe PB cenderung naik dan mulai menurun pada tahun 2009 sedangkan tipe MB cenderung menurun mulai tahun 2007 (tabel 12). dilaporkan terdapat kasus baru tipe Multi Basiler sebanyak 1.27 87.c. Cakupan program kusta tipe PB tahun 2011 berdasarkan jumlah penderita baru tahun 2010 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2011 sebesar 85% lebih rendah dari target 90%. Kusta tipe MB diambil dari data penderita baru tahun 2009 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2011 sebesar 76% lebih rendah dari target 95%.61 2011 85 76.000 penduduk. sedangkan untuk mengetahui tingkat penularan di masyarakat digunakan indikator proporsi anak (0-14 tahun) di antara penderita baru. 11. Keberhasilan dalam mendeteksi kasus baru dapat diukur dari tinggi rendahnya proporsi cacat tingkat II.48 90.Persentase Penderita Kusta Selesai Berobat Cakupan program kusta diukur berdasarkan angka penderita kusta tipe Pauci Baciller (PB) dan Multy Baciller (MB) selesai diobati.14 Persentase Penderita Kusta selesai diobati Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 24 .32%. Proporsi cacat tingkat II pada tahun 2011 sebesar 13.14%.5 2010 91. Adanya kuman tahan asam di dalam kerokan jaringan kulit (BTA Positif) Pada tahun 2011.

Angka kesakitan/Incidence Rate (IR) DBD di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 15. Rendahnya cakupan penderita kusta RFT juga dikarenakan adanya ketentuan baru pengobatan untuk penderita default. tetapi belum dicatat sudah RFT.Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh vektor nyamuk Aedes aegypty. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 25 . Setiap penderita DBD yang dilaporkan dilakukan tindakan perawatan penderita.Cakupan kusta tidak bisa tercapai dikarenakan masih banyak penderita yang tidak berobat teratur atau penderita yang seharusnya sudah selesai diobati (Release From Treatment .000 penduduk. Penderita MB tidak minum obat lebih dari 6 bulan dalam jangka waktu 18 bulan sudah disebut default.29/100. Penderita PB tidak minum obat lebih dari 3 bulan dalam jangka waktu 9 bulan sudah dianggap default.27/100. 12. penyelidikan epidemiologi di lapangan serta upaya pengendalian. Angka ini jauh menurun bila dibandingkan tahun 2010 (59.17/100.000 penduduk.000 penduduk) dan sudah mencapai target nasional yaitu <20/100. Penyakit DBD masih merupakan permasalahan serius di Provinsi Jawa Tengah.000 penduduk. Ketentuan lama penderita MB berturut-turut 6 bulan tidak berobat baru dikatakan default. Angka kesakitan tertinggi di Kota Semarang sebesar 317.RFT). Ketentuan lama penderita disebut default kalau 3 bulan berturut-turut tidak minum obat. Tingginya angka kesakitan DBD disebabkan karena adanya iklim tidak stabil dan curah hujan cukup banyak pada musim penghujan yang merupakan sarana perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegipty yang cukup potensial. Penyakit ini sebagian besar menyerang anak berumur <15 tahun. namun dapat juga menyerang orang dewasa. terendah di Kabupaten Wonogiri sebesar 4. Selain itu juga didukung dengan tidak maksimalnya kegitan PSN di masyarakat sehingga menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit DBD di beberapa kabupaten/kota.8/100. terbukti 35 kabupaten/kota sudah pernah terjangkit penyakit DBD.000 penduduk.

lebih rendah bila dibandingkan CFR tahun 2010 (1.70 50 30 10 IR DBD Target 2008 59. Kabupaten Semarang (13.000 penduduk yaitu Kabupaten Wonogiri (4.16 Angka Kesakitan DBD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 26 .4 20 2010 59. Ada 6 kabupaten/kota dengan angka kesakitan kurang dari 2/100.19 2009 1.8 20 2011 15. Kabupaten Wonosobo (9.5 1.2 20 2009 57.03).75 CFR DBD 2008 1.000 penduduk.71).25 1 0.72). Kabupaten Magelang (9.15 Angka Kesakitan DBD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Angka kesakitan DBD di kabupaten/kota hampir semuanya lebih dari 20/100. Kabupaten Kebumen (9. 13.29 2011 0.42 2010 1.Angka Kematian Demam Berdarah Dengue (DBD) Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) DBD tahun 2011 sebesar 0.93%.93 Gambar 3. 1.29).29%) dan sudah lebih rendah bila dibandingkan dengan target nasional (<1%).95) dan Kabupaten Pemalang (16.95).27 20 Gambar 3.

Purbalingga. Yogyakarta Wonogiri Gambar 3.11‰. dengan angka kematian lebih dari 1% sebanyak 12 Jepara Jepara Pati Kota Tegal Kota Pekalongan Kendal Demak Kota Semarang Kab Semarang Salatiga Wonosobo Bj negara Sragen Kab.Angka kematian tertinggi adalah di Kabupaten Pekalongan sebesar 6. Saat ini masih ditemukan desa High Case Incidence (HCI) sebanyak 31 desa yang tersebar di 5 Kabupaten yaitu Purworejo. Sedangkan kabupaten/kota kabupaten/kota. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 27 .Angka Kesakitan Malaria Penyakit malaria masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Provinsi Jawa Tengah.anyar J A T I M Grobogan Kudus Rembang Blora J A B A R Brebes Tegal Batang Pekalongan Bata ng Pemalang Temanggung Purblg Cilacap Banyumas CFR DBD 0 <1 >1 Klaten Purworejo Magelan Sukoharjo g DI.17 Peta CFR DBD kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 14.10‰). Angka kesakitan malaria (Annual Parasite Incidence-API) merupakan indikator untuk memantau perkembangan penyakit malaria. meningkat dibandingkan tahun 2010 (3. Kebumen. Perkembangan insidens malaria sejak tahun 2008 dilihat pada gambar berikut. Mgl Boyolali Kota Mgl Kebumen Surakarta Kr. Banyumas dan Jepara.467 kasus. Jumlah kasus tahun 2011 sebanyak 3.300 kasus) dan angka kesakitan malaria sebesar 0.5% dan terendah atau tidak ada kematian di 18 kabupaten/kota. sedikit meningkat dibandingkan tahun 2010 (0.

Angka Kematian Malaria Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) Malaria tahun 2011 sebesar 0.0.anyar J A T I M Grobogan Kudus Rembang Blora J A B A R Brebes Tegal Batang Pekalongan Bata ng Pemalang Temanggung Purblg Cilacap Banyumas Kebumen Kota Mgl Klaten Purworejo Magelan Sukoharjo g DI.0%) dan terendah atau tidak ada kematian di 30 kabupaten/kota.19 Peta CFR Malaria kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 28 . terbanyak di Kabupaten Purworejo (1. Jepara Jepara Pati Kota Tegal Kota Pekalongan Kendal Demak Kota Semarang Kab Semarang Salatiga Wonosobo Bj negara Sragen Kab.05 2009 0.001 penderita) dan paling sedikit di Kabupaten Karanganyar (1 penderita). Angka kematian tertinggi adalah di Kota Semarang (25.1 0.05 0 API 2008 0.1 2011 0.03%.11 Gambar 3. Mgl Boyolali Surakarta Kr.05 2010 0.15 0.18 Angka Kesakitan Malaria Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Penderita malaria tahun 2011 ditemukan di 25 kabupaten. Yogyakarta Wonogiri Gambar 3. 15.

Tahun 2011 ada 141 kasus baru yang ditemukan di 9 kabupaten/kota yaitu Kota Pekalongan (125 kasus). Kabupaten Semarang (2 kasus). yaitu pengamatan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (Difteri. Kabupaten Boyolali (1 kasus). jumlah kasus Filariasis pada tahun 2011 sebanyak 537 penderita. Jumlah kasus Difteri pada tahun 2011 sebanyak 8 kasus lebih sedikit bila dibandingkan dengan tahun 2010 (14 kasus). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 29 . Tetanus Non Neonatorum. Penemuan kasus selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. Reduksi Campak (Redcam) dan Eliminasi Tetanus Neonatorum (ETN).16.Kasus Penyakit Filariasis Ditangani Jumlah kasus Filariasis di Provinsi Jawa Tengah dari tahun ke tahun semakin bertambah. Kabupaten Boyolali (2 kasus). diperlukan komitmen global untuk menekan turunnya angka kesakitan dan kematian yang lebih banyak dikenal dengan Eradikasi Polio (ERAPO). 17. Tetanus Neonatorum. Kabupaten Batang (1 kasus) dan Kabupaten Pemalang (1 kasus). kabupaten Temanggung (1 kasus) dan Kota Semarang (1 kasus). Difteri dan Hepatitis B. Kabupaten Sukoharjo (1 kasus). dan Campak). Tetanus Neonatorum. Pertusis. Dalam upaya untuk membebaskan Indonesia dari penyakit tersebut. Hal ini dimungkinkan karena pencapaian cakupan imunisasi yang meningkat (>85%). Secara kumulatif. Difteri Jumlah kasus Difteri di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 8 kasus yang tersebar di 6 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Banyumas (1 kasus). Campak. Kota Semarang (2 kasus).Jumlah Kasus dan Angka Kesakitan Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) Yang termasuk dalam PD3I yaitu Polio. Kabupaten Brebes (2 kasus). Kabupaten Demak (1 kasus). Saat ini telah dilaksanakan Program Surveilans Integrasi PD3I. Kabupaten Grobogan (2 kasus). Kabupaten Banjarnegara (5 kasus). Dalam waktu 5 tahun terakhir jumlah kasus PD3I yang dilaporkan adalah sebagi berikut: a.

Pertusis Jumlah kasus Pertusis di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 4 kasus yang Berasal dari kabupaten Kudus. Tetanus (Non Neonatorum) Jumlah kasus Tetanus (Non Neonatorum) di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 13 kasus yang tersebar di 4 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Blora (4 kasus).20 Penemuan kasus Difteri Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 b. 30 25 20 15 10 5 0 2008 Kasus Pertusis 3 2009 0 2010 24 2011 4 Gambar 3.21 Penemuan kasus Pertusis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 c. Kabupaten Kudus Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 30 .35 30 25 20 15 10 5 0 2008 Kasus Difteri 28 2009 30 2010 14 2011 8 Gambar 3. Penemuan kasus selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. Jumlah kasus Difteri pada tahun 2011 menurun bila dibandingkan dengan jumlah kasus Pertusis tahun 2010 (24 kasus). Kabupaten Rembang (1 kasus).

22 Penemuan kasus Tetanus Non Neonatorum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 d. Jumlah kasus Tetanus pada tahun 2011 meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (3 kasus). 15 10 5 0 2008 Kasus Tetanus Non Neonatorum 7 2009 6 2010 3 2011 13 Gambar 3. Kabupaten Temanggung.8% atau dari 13 kasus yang dilaporkan 7 diantaranya meninggal.(3 kasus) dan Kabupaten Pemalang (5 kasus). Jumlah kasus Tetanus pada tahun 2011 meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (3 kasus). Tetanus Neonatorum Jumlah kasus Tetanus Neonatorum di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 4 kasus yang tersebar di 4 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Rembang. CFR Tetanus tahun 2011 sebesar 53. Sedangkan 31 kabupaten/kota lainnya tidak ada kasus. Kabupaten Batang dan Kabupaten Brebes. Penemuan kasus selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 31 . CFR Tetanus tahun 2011 sebesar 75% atau dari 4 kasus yang dilaporkan 3 diantaranya meninggal Penemuan kasus dan kematian Tetanus Neonatorum selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut.

Kabupaten Kendal dan Kabupaten Tegal. Kabupaten Kudus.23 Penemuan kasus dan kematian Tetanus Neonatorum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 e. Campak Jumlah kasus Campak di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 1.24 Kasus Campak yang dilaporkan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 32 .873 kasus. Kasus terbanyak terdapat di Kota Semarang (285 kasus).12 8 4 0 2008 Kasus Mati 10 6 2009 10 5 2010 6 4 2011 4 3 Gambar 3. 4000 3000 2000 1000 0 2008 Campak 2498 2009 3614 2010 3664 2011 1873 Gambar 3. Penemuan kasus campak selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. Ada 5 Kabupaten yang tidak terdapat kasus campak yaitu Kabupaten Purbalingga.664 kasus. mengalami penurunan yang signifikan bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebesar 3. Kabupaten Purworejo.

asma Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 33 . kanker paru. Penyakit Tidak Menular Penyakit tidak menular (PTM) yang diintervensi meliputi jantung koroner. mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebanyak 1 kasus. g. 200 150 100 50 0 2008 Hepatitis B 57 2009 74 2010 117 2011 170 Gambar 3. mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebanyak 117 kasus. dekompensasio kordis. Kabupaten Pekalongan (28 kasus). penyakit paru obstruktif kronis. diabetes mellitus. Kota Tegal (16 kasus). Kabupaten Pati (11 kasus). stroke. Kota Salatiga (4 kasus) dan Kabupaten Boyolali (3 kasus). Penemuan kasus Hepatitis B selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. Kabupaten Cilacap (8 kasus). Kabupaten Pemalang (21 kasus).f.25 Kasus Hepatitis B Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 18. Kabupaten Purworejo (19 kasus). kanker hati. hipertensi. Kasus Hepatitis B terdapat di 9 kabupaten/kota yaitu di Kabupaten Temanggung (40 kasus). Hepatitis B Jumlah kasus Hepatitis B di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 170 kasus. Polio Jumlah kasus Polio di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 0 kasus. Kabupaten Banjarnegara (4 kasus). kanker serviks. kanker payudara. Kota Semarang (16 kasus).

bronkiale, dan kecelakaan lalu lintas. Penyakit tidak menular seperti penyakit kardiovaskular, stroke, diabetes mellitus, penyakit paru obstruktif kronis dan kanker tertentu, dalam kesehatan masyarakat sebenarnya dapat digolongkan sebagai satu kelompok PTM utama yang mempunyai faktor risiko sama (common

underlying risk factor). Faktor risiko tersebut antara lain faktor genetik
merupakan faktor yang tidak dapat diubah (unchanged risk factor), dan sebagian besar berkaitan dengan faktor risiko yang dapat diubah (change risk factor) antara lain konsumsi rokok, pola makan yang tidak seimbang, makanan yang mengandung zat aditif, kurang berolah raga dan adanya kondisi lingkungan yang tidak kondusif terhadap kesehatan. Penyakit tidak menular mempunyai dampak negatif sangat besar karena merupakan penyakit kronis. Apabila seseorang menderita penyakit tidak menular, berbagai tingkatan produktivitas menjadi terganggu. Penderita ini menjadi serba terbatas aktivitasnya, karena menyesuaikan diri dengan jenis dan gradasi dari penyakit tidak menular yang dideritanya. Hal ini berlangsung dalam waktu yang relatif lama dan tidak diketahui kapan sembuhnya karena memang secara medis penyakit tidak menular tidak bisa disembuhkan tetapi hanya bisa dikendalikan. Yang harus mendapatkan perhatian lebih adalah bahwa penyakit tidak menular merupakan penyebab kematian tertinggi dibanding dengan penyakit menular. Kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah yang melaporkan data PTM tahun 2011 hanya 27 kabupaten/kota (77,1%). Hampir semua kelompok Penyakit Tidak Menular pada tahun 2011 mengalami peningkatan jumlah kasus, kecuali penyakit Asma bronkial dan Psikosis yang jumlah kasusnya lebih rendah dibanding tahun 2010. Kasus tertinggi Penyakit Tidak Menular pada tahun 2011 adalah kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah. Dari total 1.409.857 kasus yang dilaporkan sebesar 62,43% (880.193 kasus) adalah penyakit jantung dan pembuluh darah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

34

Asma Bronkial 13% PPOK 2%

Psikosis Neoplasma 1% 5%

DM 17%

Jantung & PD 62%

Gambar 3.26 Persentase Kasus Penyakit Tidak Menular Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011

a. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Penyakit jantung dan pembuluh darah adalah penyakit yang mengganggu jantung dan sistem pembuluh darah seperti penyakit jantung koroner (angina pektoris, akut miokard infark), dekompensasio kordis, hipertensi, stroke, penyakit jantung rematik, dan lain-lain. Kasus tertinggi penyakit tidak menular tahun 2011 pada kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah adalah penyakit Hipertensi Esensial, yaitu sebanyak 634.860 kasus (72,13 %).

1) Hipertensi Hipertensi atau sering disebut dengan darah tinggi adalah suatu keadaan di mana terjadi peningkatan tekanan darah yang memberi

gejala berlanjut pada suatu target organ tubuh sehingga timbul kerusakan lebih berat seperti stroke (terjadi pada otak dan berdampak pada kematian yang tinggi), penyakit jantung koroner (terjadi pada kerusakan pembuluh darah jantung) serta penyempitan ventrikel kiri / bilik kiri (terjadi pada otot jantung). Hipertensi merupakan penyakit yang sering dijumpai diantara penyakit tidak menular lainnya. Hipertensi dibedakan menjadi hipertensi primer yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya dan hipertensi

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

35

sekunder yaitu hipertensi yang muncul akibat adanya penyakit lain seperti hipertensi ginjal, hipertensi kehamilan, dll. Prevalensi kasus hipertensi essensial di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 1,96% menurun bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 2,00%. Terdapat tiga kota dengan prevalensi sangat tinggi di atas 10% yaitu Kota Magelang (22,41%), Kota Salatiga (10,18%) dan Kota Tegal (10,36%).
3

2.5

2

1.5

1 Prevalensi

2008 2.65

2009 2.13

2010 2

2011 1.96

Gambar 3.27 Prevalensi Kasus Hipertensi Essensial Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011

Penyakit Hipertensi Essensial pada tahun 2009 dan 2010 menunjukkan adanya penurunan kasus yang cukup tinggi, namun pada tahun 2011 terlihat mulai ada kenaikan jumlah kasus. Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut ini.
900000 800000 700000 600000 500000 Hipertensi Essensial

2008 865204

2009 698816

2010 562117

2011 634860

Gambar 3.28 Tren Peningkatan Kasus Hipertensi Essensial Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

36

Stroke dibedakan menjadi stroke hemoragik yaitu adanya perdarahan otak karena pembuluh darah yang pecah dan stroke non hemoragik yaitu lebih karena adanya sumbatan pada pembuluh darah otak.08 0.34%. Prevalensi tertinggi tahun 2011 adalah di Kota Magelang sebesar 1.12 0.09 2010 0.02 0 Hemoragik Non Hemoragik 2008 0.04 0.13 2009 0.09 2011 0.05 0. sama dengan prevalensi tahun 2010. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Magelang sebesar 3. 0. Stroke disebabkan oleh kurangnya aliran darah yang mengalir ke otak. Sedangkan prevalensi stroke non hemorargik pada tahun 2011 sebesar 0.06 0.2) Stroke Stroke adalah suatu penyakit menurunnya fungsi syaraf secara akut yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak.09%.1 0.09 Gambar 3. Gambaran klinis dekompensasio kordis kiri adalah sesak nafas: dyspnoe d’effort dan ortopne.45%.14 0. pernafasan cheynes stokes. Prevalensi stroke hemoragik di Jawa Tengah tahun 2011 adalah 0.03 0.03 0. atau terkadang menyebabkan pendarahan di otak.03% sama dengan angka tahun 2010. terjadi secara mendadak dan cepat yang menimbulkan gejala dan tanda sesuai dengan daerah otak yang terganggu.04 0. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 37 .29 Prevalensi Stroke Hemoragik dan Non Hemoragik Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 3) Dekompensasio Kordis Dekompensasio kordis merupakan kegagalan jantung dalam memompa darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh atau istilah lain adalah payah jantung.

meteorismus dan rasa kembung di epigastrum.12 Gambar 3. mual. Prevalensi kasus dekompensasio kordis tahun 2011 sebesar 0. ronchi basah halus tidak nyaring.batuk-batuk mungkin hemoptu. tekanan jugularis meningkat.1 0. edema presakral. Dapat juga terjadi edema pretibial. baik absolut maupun relatif.18 2009 0. tekanan vena jugularis gambaran klinis dekompensasio kordis masih normal.05 0 Prevalensi 2008 0.2 0. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Magelang sebesar 1.88%.15 0. 0. (Perkeni 2002) Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 38 . tepi tajam. muntah. Absolut artinya pankreas sama sekali tidak bisa menghasilkan insulin sehingga harus mendapatkan insulin dari luar (melalui suntikan) dan relatif artinya pankreas masih bisa menghasilkan insulin yang kadarnya berbeda pada setiap orang. asites dan hidrotoraks. nyeri tekan. tumpul dan tidak nyeri. suara serak.30 Prevalensi Dekompensasio Kordis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 b.11 2011 0. Sedangkan kanan adalah gangguan gantrointestinal seperti anoreksia.11%. Diabetes Melitus Diabetes Melitus (DM) atau kencing manis adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang karena adanya peningkatan kadar gula dalam darah akibat kekurangan insulin. lama kelamaan menjadi keras.14 2010 0. sianosis. Selain itu terjadi pembesaran hati yang mulamula lunak.12% mengalami peningkatan bila dibandingkan prevalensi tahun 2010 sebesar 0.

glaukoma. Penderita mampu hidup sehat bersama DM. gatal daerah genital. DM berkaitan dengan malnutrisi (MRDM). DM karena Toleransi Glukosa Terganggu (TGT). kehamilan dengan hiperglikemi. mata kabur. Kelompok Faktor Risiko Tinggi antara lain pola makan yang tidak seimbang. DM merupakan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikendalikan. luka tdk sembuh-sembuh.WHO (1985) mengklasifikasikan penderita DM dalam lima golongan klinis. dan DM karena kehamilan (GDM). kesemutan/gringgingan. gangguan toleransi glukosa. impotensi. Polyfagi (sering lapar). luka yang lama sembuh mengakibatkan infeksi hingga akhirnya harus diamputasi terutama pada kaki.70% menjadi 0. Sedangkan prevalensi kasus DM tidak tergantung insulin lebih dikenal dengan DM tipe II. abortus. umur Lebih dari 40th. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 39 . DM jenis ini baru muncul pada usia di atas 40 tahun. berat badan menurun drastis. kerusakan retina mata yang dapat membuat buta. lemak dalam darah tinggi. artinya sekali didiagnosa DM seumur hidup bergaul dengannya. mengalami penurunan dari 0. asalkan mau patuh dan kontrol teratur. dan lain-lain. pruritis vulva hingga keputihan pada wanita. gatal/bisul. stroke. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Semarang sebesar 0.63% pada tahun 2011. mata kabur. Gejala khas berupa Polyuri (sering kencing). kurang olah raga.08%. katarak. gangguan fungsi hati. Polydipsi (sering haus). impotensi pada pria. obesitas. gagal ginjal. bayi lahir mati.09%. yaitu DM Tergantung Insulin (DMTI). DM dapat menjadi penyebab aneka penyakit seperti hipertensi. dll. kehamilan dengan berat bayi lahir > 4 kg. DM Tidak Tergantung Insulin (DMTTI). Prevalensi tertinggi adalah di Kota Magelang sebesar 7. berat badan turun drastis. keputihan. hipertensi. riwayat Keluarga/ada keturunan. Sedangkan gejala lain seperti Lelah/lemah. jantung koroner. Prevalensi diabetes melitus tergantung insulin di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 0.97%. yang terbanyak adalah DM tidak tergantung insulin.99%. Di Indonesia. mengalami peningkatan bila dibandingkan prevalensi tahun 2010 sebesar 0. keracunan kehamilan.

Ca.013 0.59%). hepar 2.01 0 Ca Servik Ca Mamae Ca Hepar Ca Paru 2008 0.037 0. mendesak dan merusak jaringan normal. kanker kulit.32 Prevalensi Penyakit Kanker di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 40 .01 0.42%).1. dan kanker rektum.31 Prevalensi Penyakit Diabetes Mellitus Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 c.899 kasus (35.62 2010 0. Di Indonesia terdapat lima jenis kanker yang banyak diderita penduduk yakni kanker rahim. servik 6.05 0.003 Gambar 3.03 0. kanker kelenjar getah bening.003 2011 0.542 kasus (48. yang tumbuh tanpa kontrol dan tujuan yang jelas.6 0.25 2009 0.002 2010 0.03 0.005 2009 0. terdiri dari Ca.02 0.16 1.2 1 0.4 0.021 0.006 0. paru 954 kasus (4.029 0.63 Gambar 3.007 0.242 (11. dan Ca. Neoplasma Neoplasma atau kanker adalah tumor ganas yang ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangan abnormal dari sel-sel tubuh. Kasus penyakit kanker yang ditemukan di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 19.08 0.04 0.7 2011 0. 0.05 0.09 0.022 0.028 0.4 1.8 0.637 kasus meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebanyak 13.19 0.2 0 DMTI DMTTI 2008 0.277 kasus. mamae 9.004 0.86%). Ca. kanker payudara.13%).

Penyakit Paru Obstruktif Kronis Penyakit Paru Obtruktif Kronis (PPOK) adalah penyakit yang ditandai adanya hambatan aliran pernafasan bersifat reversible sebagian dan progresif yang berhubungan dengan respon inflamsi abnormal dari paru terhadap paparan partikel atau gas berbahaya.09% pada tahun 2011 dan tertinggi di Kota Salatiga sebesar 4. Prevalensi kasus PPOK di Provinsi Jawa Tengah mengalami peningkatan yaitu dari 0.2 2009 0. (Global Obstructive Lung Disease 2003).15 0.05 0 Prevalensi 2008 0. kanker paru 0. usia. kanker payudara sebesar 0.89%. debu dan bahan kimia.021% dan tertinggi di Kota Semarang sebesar 0. d. alergi dan autoimunitas.1 0.39%.08% pada tahun 2010 menjadi 0. genetik. infeksi saluran nafas terutama waktu anak-anak.33 Prevalensi PPOK Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 41 .2 0.12 2010 0.029% dan tertinggi di Kota Magelang sebesar 0.07%.04%.33%. 0.003% dan tertinggi di Kota Magelang sebesar 0.007% dan tertinggi di Kota tegal sebesar 0. Faktor risiko pencetus terjadinya PPOK adalah perokok aktif/pasif. defisiensi alpha-1 antitripsin. kanker hati sebesar 0. jenis kelamin. polusi udara di dalam atau di luar ruangan.09 Gambar 3.08 2011 0.Prevalensi kanker di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 adalah sebagai berikut : kanker serviks sebesar 0. ras.

e. Penyebab terjadinya BBLR antara lain karena ibu Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 42 . aktivitas fisik.64% dan prevalensi tertinggi di Kota Tegal sebesar 2. Ingestan yang masuk badan melalui mulut biasanya berupa makanan seperti susu.3 0 Prevalensi 2008 1.2 0. Persentase Berat Bayi Lahir Rendah. Serangan asma bronkhiale sering dicetuskan oleh ISPA. telur.6 0. ikan-ikanan. jam tangan dll.07 2009 0. Kontaktan yang masuk badan melalui kontak kulit seperti obat-obatan dalam bentuk salep.55 Gambar 3. spasme.66 2010 0.29%.64 2011 0. berbagai logam dalam bentuk perhiasan.34 Prevalensi Asma Bronkial Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 C.55% mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 0. dan edema mukosa serta deskuamasi epitel bronkus/bronkeolus. akibat inflamasi eosinofilik dengan kepekaan yang berlebihan. STATUS GIZI 1. Prevalensi kasus asma di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 0. obat-obatan dll. tekanan emosi. merokok. 1.9 0. dan rangsangan yang bersifat antigen/allergen antara lain: Inhalan yang masuk ketubuh melalui alat pernafasan misalnya debu rumah. Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram. Asma Bronkial Asma Bronkial terjadi akibat penyempitan jalan napas yang reversibel dalam waktu singkat oleh karena mukus kental. serpih kulit dari binatang piaraan. spora jamur dll.

hamil mengalami anemia, kurang suply gizi waktu dalam kandungan, ataupun lahir kurang bulan. Bayi yang lahir dengan berat badan rendah perlu

penanganan yang serius, karena pada kondisi tersebut bayi mudah sekali mengalami hipotermi dan belum sempurnanya pembentukan organ-organ tubuhnya yang biasanya akan menjadi penyebab utama kematian bayi. Jumlah bayi berat lahir rendah (BBLR) di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 21,184 meningkat banyak apabila dibandingkan tahun 2010 yang sebanyak 15.631. Adapun persentase BBLR tahun 2011 sebesar 3,73%, meningkat bila dibandingkan tahun 2010 sebesar 2,69%.
4 3 2 1 0 Prevalensi

2008 2,08

2009 2,81

2010 2,69

2011 3,73

Gambar 3.35 Persentase BBLR Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011

Persentase BBLR yang ditangani di Jawa Tengah tahun 2010 seluruh Kabupaten/Kota sudah memenuhi target dalam Renstra Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah sebesar 70%. 2. Persentase Balita Dengan Gizi Kurang Salah satu indikator kesehatan yang dinilai keberhasilan pencapaiannya dalam MDGs adalah status gizi balita. Status gizi balita diukur berdasarkan umur (U), berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). Variabel BB dab TB ini disajikan dalam bentuk tiga indikator antropometri, yaitu berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi ini menjadi penting karena merupakan salah satu faktor risiko untuk terjadinya kesakitan dan kematian. Status gizi yang baik
Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

43

bagi seseorang akan berkontribusi terhadap kesehatannya dan juga terhadap kemampuan dalam proses pemulihan. Status gizi masyarakat dapat diketahui melalui penilaian konsumsi pangannya berdasarkan data kuantitatif maupun kualitatif. Dalam menetukan klasifikasi status gizi harus ada ukuran baku yang sering disebut

reference .

Baku antropometri yang sering digunakan di Indonesia

adalah World Health Organization–National Centre for Health Statistic (WHONCHS). Berdasarkan baku WHO-NCHS status gizi dibagi menjadi empat : Pertama, gizi lebih untuk over weight, termasuk kegemukan dan obesitas. Kedua, Gizi baik untuk well nourished. Ketiga, Gizi kurang untuk under weight yang mencakup mild dan moderat, PCM (Protein Calori Malnutrition). Keempat, Gizi buruk untuk severe PCM, termasuk marasmus, marasmik-kwasiorkor dan kwasiorkor. Persentase balita dengan gizi kurang (BB/U) Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 5,35%. Persentase balita dengan gizi kurang tertinggi di Kota Tegal (50,98%) dan terendah di Kabupaten Kebumen (0,38%). 3. Persentase Balita dengan Gizi Buruk. Kejadian gizi buruk perlu dideteksi secara dini melalui intensifikasi pemantauan tumbuh kembang Balita di Posyandu, dilanjutkan dengan penentuan status gizi oleh bidan di desa atau petugas kesehatan lainnya. Penemuan kasus gizi buruk harus segera ditindak lanjuti dengan rencana tindak yang jelas, sehingga penanggulangan gizi buruk memberikan hasil yang optimal. Pendataan gizi buruk di Jawa Tengah didasarkan pada 2 kategori yaitu dengan indikator membandingkan berat badan dengan umur (BB/U) dan kategori kedua adalah membandingkan berat badan dengan tinggi badan (BB/TB). Skrining pertama dilakukan di posyandu dengan membandingkan berat badan dengan umur melalui kegiatan penimbangan, jika ditemukan balita yang berada di bawah garis merah (BGM) atau dua kali tidak naik (2T), maka dilakukan konfirmasi status gizi dengan menggunakan indikator berat badan menurut

tinggi badan. Jika ternyata balita tersebut merupakan kasus buruk, maka segera dilakukan perawatan gizi buruk sesuai pedoman di Posyandu dan Puskesmas.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

44

Jika ternyata terdapat penyakit penyerta yang berat dan tidak dapat ditangani di Puskesmas maka segera dirujuk ke rumah sakit. Balita Gizi Buruk tahun 2011 berjumlah 3.187 (0,10%) menurun apabila dibandingkan tahun 2010 sejumlah 3.514 (0,18%). Demikian pula persentase Balita Gizi Buruk mendapatkan perawatan tahun 2011 sebesar 100% jauh lebih meningkat dibandingkan tahun 2010 sebesar 93,28%.

Jepara Jepara Pati Kota Tegal Kota Pekalongan Kendal Demak Kota Semarang Kab Semarang Salatiga Wonosobo Bj negara Sragen Kab. Mgl Boyolali Surakarta Kr.anyar J A T I M Grobogan Kudus Rembang Blora

J A B A R

Brebes

Tegal

Batang Pekalongan Bata ng Pemalang

Temanggung Purblg Cilacap Banyumas Kebumen

Kota Mgl

Klaten Purworejo Magelan Sukoharjo g DI. Yogyakarta Wonogiri

Keterangan : Kasus Gizi Buruk (>150 kasus)

Gambar 3.36 Peta Kasus Balita Gizi Buruk (BB/TB) kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

45

protein urin) dan atau berdasarkan indikasi (HbsAG. HIV. (5) Pemberian tablet besi 90 selama kehamilan. Kabupaten Sukoharjo. Cakupan pelayanan antenatal dapat dipantau melalui pelayanan kunjungan baru ibu hamil (K1) untuk melihat akses dan pelayanan kesehatan ibu hamil sesuai standar paling sedikit empat kali (K4) dengan distribusi pemberian pelayanan yang dianjurkan adalah minimal satu kali pada triwulan pertama. Cakupan kunjungan ibu hamil K-1 tahun 2011 sebesar 98. Cakupan tertinggi (101.98%. Pelayanan Kesehatan Ibu a. Ada 11 kabupaten/kota yang cakupannya sudah mencapai 100% yaitu Kabupaten Banyumas. (2) Ukur tekanan darah. (4) Tinggi fundus uteri.72%.81 %) di Kabupaten Pekalongan dan terendah (83. Kabupaten Kendal.BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN A.04%) tetapi masih dibawah target SPM 2015 (95%). Pelayanan Kesehatan 1. Malaria. (6) Temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling). Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K-1 Pelayanan kesehatan ibu meliputi pelayanan kesehatan antenatal. TBC) Cakupan pelayanan lengkap ibu hamil (K4) di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 93. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K-4 Kunjungan ibu hamil sesuai standar adalah pelayanan yang mencakup minimal: (1) Timbang badan dan ukur tinggi badan.71% meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (92.36%) di Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 46 . pertolongan persalinan dan pelayanan kesehatan nifas. (3) Skrining status imunisasi tetanus dan pemberian Tetanus Toxoid. Cakupan terendah Kabupaten Rembang 92. Kabupaten Demak. Kota Magelang. (7) Test laboratorium sederhana (Hb. satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga umur kehamilan. Kabupaten Brebes. Sifilis. Kota Surakarta dan Kota Semarang. Kabupaten Jepara. b. Kabupaten Blora. Kabupaten Pemalang.

Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Tengah tahun 2011 sebesar 96.98 90 2009 93.86% yang telah melampaui target cakupan K4.62 90 2011 96. 100 95 90 85 80 Cak. Kabupaten/Kota yang sudah melampaui target SPM 2015 sebanyak 35 ( 100%).92 95 2008 90.71 95 Gambar 4. Linakes Target 2007 86. Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan adalah ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan.04 95 2011 93.03 90 2010 93. K4 Target 2007 86.79 90 Gambar 4.14 95 2009 93.39 95 2010 92.1 Cakupan Pelayanan Antenatal K4 Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007-2011 c.2 Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 47 . Data cakupan mulai tahun 2007 sampai dengan 2011 secara keseluruhan di Provinsi Jawa Tengah adalah sebagai berikut : 100 95 90 85 80 Cak. Dari 35 kabupaten/kota tersebut baru 42.62%).Kabupaten Klaten.6 90 2008 90.79% mengalami Provinsi Jawa bila peningkatan dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (93.

24%) dan sudah melampaui target SPM tahun 2015 (90%).68%). Komplikasi dalam kehamilan diantaranya (a) Abortus. d. Kabupaten Pekalongan dan Kota Magelang. adanya perencanaan persalinan yang baik dari ibu. keluar cairan berbau dari jalan lahir.05%) Dengan semakin naiknya angka cakupan pertolongan persalinan menunjukkan adanya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan. Cakupan yang telah mencapai 100% meliputi Kabupaten Banyumas. Kunjungan terhadap ibu nifas yang dilakukan petugas kesehatan biasanya bersamaan dengan kunjungan neonatus. (c) Perdarahan per vaginam. 48 .97% naik bila dibandingkan tahun 2010 (93. (e) Kehamilan lewat waktu. Dari 35 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah masih belum mencapai target SPM ada 4 Kabupaten/Kota (11. Kabupaten Klaten. Cakupan Pelayanan Nifas Paska persalinan (masa nifas) berpeluang untuk terjadinya kematian ibu maternal. Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani Komplikasi kebidanan merupakan kesakitan pada ibu hamil. Kabupaten yang terendah capaiannya adalah Kota Semarang (64. Pelayanan Ibu Nifas meliputi pemberian Vitamin A dosis tinggi ibu nifas yang kedua dan pemeriksaan kesehatan paska persalinan untuk mengetahui apakan terjadi perdarahan paska persalinan. Cakupan pelayanan pada ibu nifas tahun 2011 yaitu 93. ibu bersalin dan ibu nifas yang dapat mengancam jiwa ibu dan/atau bayi. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 (preeklampsia. dini. sehingga perlu mendapatkan pelayanan kesehatan masa nifas dengan dikunjungi oleh tenaga kesehatan minimal 3 (tiga) kali sejak persalinan. e.43%). eklampsia). payudara bengkak kemerahan disertai rasa sakit dan lain-lain.Cakupan tertinggi adalah di Kabupaten Pekalongan dan Kota surakarta (100%) dan terendah adalah Kabupaten Banyumas (86. (b) Hiperemesis (d) Hipertensi dalam kehamilan (f) ketuban pecah Gravidarum. demam lebih dari 2 (dua) hari. suami maupun dukungan keluarga.

ibu bersalin dan ibu nifas dengan komplikasi yang ditangani adalah ibu hamil. eklampsia) (d) Perdarahan pasca persalinan. yaitu: KN 1 adalah kunjungan pada 0-2 hari . RSIA/RSB. Puskesmas PONED. Pencapaian cakupan tahun ini masih dibawah target SPM tahun 2015 (80%). (c) Perdarahan nifas. (f) Kontraksi dini/persalinan premature. eklampsia). RSU PONEK). cakupan KN-3 rata-rata sudah lebih dari 90%.01%. Rumah Bersalin. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani tahun 2011 sebesar 75. Cakupan Kunjungan Neonatus Kunjungan Neonatus (KN) adalah kunjungan yang dilakukan oleh petugas kesehatan ke rumah ibu bersalin.56%) dan Kota Semarang (89. Puskesmas. Cakupan kunjungan neonatus 1 (KN-1) di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 98. Pada Permenkes 741/ Th. Dari 35 kabupaten/kota. Perlu diketahui bahwa tahun-tahun sebelumnya yang dihitung hanya cakupan komplikasi pada ibu hamil yang ditangani. tetapi diharapkan target tersebut bisa tercapai sebelum tahun 2015. (g) Kehamilan ganda. RSU. 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan (SPM-BK).440 (20% dari jumlah ibu hamil). dan cakupan kunjungan neonatus 3 (KN-lengkap) sebesar 95. (b) Infeksi nifas. (b) Partus macet/distosia.Komplikasi dalam persalinan diantaranya (a) Kelainan letak/presentasi janin.KN 2 adalah kunjungan 2-7 hari dan KN 3 adalah kunjungan setelah 7-28 hari.28%. Ibu hamil. (e) Infeksi berat/sepsis. untuk memantau dan memberi pelayanan kesehatan untuk ibu dan bayinya. 2. Pelayanan Kesehatan Anak a. KN dibagi menjadi 3.19%. (c) Hipertensi dalam kehamilan (preeklampsia. Jumlah komplikasi kebidanan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 126. Komplikasi dalam nifas diantaranya (a) Hipertensi dalam kehamilan (preeklampsia. bersalin dan nifas dengan komplikasi yang mendapatkan pelayanan sesuai standar pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan (Polindes. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 49 .84%). namun masih ada Kabupaten/Kota yang cakupannya kurang dari 90 % yaitu Kabupaten Wonogiri (87.

Setiap bayi berhak mendapatkan pelayanan kesehatan dengan memantau pertumbuhan dan perkembangannya Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 50 . Setelah umur 28 hari.66 2009 99. Adapun cakupan kunjungan neonatus di Jawa Tengah pada tahun 2007-2011 dapat digambarkan sebagai berikut: 100 98 96 94 92 90 KN 2007 94. Selain itu perlu dilakukan analisis apakah jumlah tenaga kesehatan yang ada telah mencukupi kebutuhan pelayanan kesehatan tersebut serta tenaga kesehatan yang bertugas apakah telah melakukan pelayanan kesehatan secara optimal. paling sedikit 4 kali. di luar kunjungan neonatus. b.37 2010 94.19 Gambar 4. Hal ini disebabkan adanya upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat melalui penambahan dan penempatan bidan di desa.Untuk meningkatkan Kunjungan Neonatus di Kabupaten/Kota. pemerintah telah mengupayakan alokasi dana diantaranya melalui dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) disamping pendanaan lainnya baik dari Provinsi maupun Kabupaten/Kota.33 2008 94. Cakupan Kunjungan Bayi Kunjungan bayi adalah bayi yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan. Selain itu juga adanya upaya peningkatan pelayanan kesehatan dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah dengan menggunakan buku KIA serta meningkatnya pengetahuan ibu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik untuk bayinya.3 Cakupan Kunjungan Neonatus Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Secara keseluruhan cakupan kunjungan neonatus di tingkat Provinsi Jawa Tengah sudah memenuhi target yaitu lebih dari 90%.86 2011 95.

Adapun grafik cakupan bayi 2007 .07 2010 93. ikterus.2011 dapat digambarkan sebagai berikut: 97 96 95 94 93 92 91 90 Kunjungan Bayi 2007 92. menurun apabila dibandingkan tahun 2010 (93.secara teratur setiap bulan di sarana pelayanan kesehatan.4 Cakupan Kunjungan Bayi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 c.19%. Cakupan Neonatus dengan Komplikasi yang Ditangani Neonatus dengan komplikasi merupakan neonatus dengan penyakit dan kelainan yang dapat menyebabkan kesakitan.76 2008 96. BBLR (berat badan lahir rendah < 2500 gr). kecacatan dan kematian.64 Gambar 4. dokter dan bidan di sarana pelayanan kesehatan.73 2011 92. tetanus neonatorum. Wonogiri 73. Perhitungan sasaran neonatus dengan komplikasi dihitung berdasarkan 15% dari jumlah bayi baru lahir. infeksi/sepsis. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 51 . Neonatus dengan komplikasi seperti asfiksia.64%. trauma lahir.22% dan Kabupaten Pekalongan 70. Cakupan kunjungan bayi Kabupaten/Kota di Jawa Tengah pada tahun 2011 yang masih dibawah 80% yaitu Kabupaten Boyolali 44. Cakupan kunjungan bayi tingkat Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 92.77%. Neonatus dengan komplikasi yang ditangani merupakan neonatus komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih.04 2009 95. sindroma gangguan pernafasan dan kelainan congenital maupun yang termasuk klasifikasi kuning pada Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). hipotermia.73%). Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara profesional kepada neonatus dengan komplikasi.

d. Kabupaten yang cakupannya sudah mencapai 100% adalah Kabupaten Magelang dan Kabupaten Brebes. Tidak hanya bayi yang harus mendapatkan perhatian kesehatannya tetapi balita juga perlu mendapatkan perhatian baik gizi maupun kesehatannya. Disamping target neonatus komplikasi yang ditangani untuk neonatal resiko tinggi seharusnya 15 % dari jumlah sasaran bayi pertahun. kesehatan gigi. karena balita adalah generasi penerus bangsa yang harus sehat. berat badan. sehingga belum semua neonatus dengan risiko tinggi/komplikasi dicatat dan dilaporkan.864 (81. e.187. cerdas dan kuat.25%). ketajaman pendengaran. Pelaksanaan penjaringan kesehatan dikoordinir oleh puskesmas bersama dengan guru Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 52 . Masih rendahnya neonatus risiko tinggi yang mendapatkan pelayanan kesehatan diantaranya disebabkan belum adanya keseragaman definisi operasional mengenai neonatal yang termasuk dalam risiko tinggi.336 bayi.569 bayi (53. kelainan mental emosional dan kebugaran jasmani. namun belum semua kabupaten/kota mempunyai persepsi / pemahaman yang sama. Cakupan Pelayanan Anak Balita Balita adalah anak berumur dibawah 5 tahun atau umur 12-59 bulan. Sedangkan cakupan terendah adalah Kabupaten Boyolali 34.02). Jumlah balita di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 2. Jumlah perkiraan tersebut yang mendapat penanganan tenaga kesehatan di tiap jenjang pelayanan kesehatan sebesar 47.03%. yang mendapatkan pelayanan kesehatan sebanyak 1.785.Tahun 2011 perkiraan bayi dengan komplikasi yang dihitung dari banyaknya sasaran bayi jumlahnya sebesar 89. Cakupan Neonatus Risiko Tinggi/komplikasi yang ditangani tersebut masih jauh dari target cakupan sebesar 80%.204. pemeriksaan ketajaman mata. Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat Penjaringan kesehatan siswa Sekolah Dasar (SD) dan setingkat adalah pemeriksaan kesehatan terhadap murid baru kelas 1 SD dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang meliputi pengukuran tinggi badan.

Cakupan Pelayanan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat Jumlah siswa SD dan setingkat tahun 2011 sebanyak 2. Kabupaten Sragen. Kabupaten Demak.70%) dan tertinggi (100%) dicapai oleh 4 kabupaten yaitu Kabupaten Sukoharjo. Yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai strata UKS sebesar 1. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 53 .61 2011 81. Kabupaten Pati. meningkat dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (52.55%) dan tertinggi (100%) dicapai oleh 7 kabupaten yaitu Kabupaten Sukoharjo.8 2010 52. Angka cakupan terendah di Kabupaten Rembang (1. Siswa SD dan setingkat ditargetkan 100 % mendapatkan pemantauan kesehatan melalui penjaringan kesehatan. sehingga anak yang sakit menjadi sembuh dan anak yang sehat tidak tertular menjadi sakit. Setiap puskesmas mempunyai tugas melakukan penjaringan kesehatan siswa SD/MI di wilayah kerjanya dan dilakukan satu kali pada setiap awal tahun ajaran baru sekolah.84%).02 Gambar 4.853 anak.sekolah dan kader kesehatan/konselor kesehatan.72%.77 2009 43.555. Kabupaten Purbalingga dan Kota Surakarta. f. Melalui penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat diharapkan dapat menapis atau menjaring anak yang sakit dan melakukan tindakan intervensi secara dini. Kabupaten Temanggung. Angka cakupan terendah di Kabupaten Boyolali (15. 100 80 60 40 20 0 Cakupan 2007 51.074.59 2008 43.831 (42.5 Cakupan Pemeriksaan Kesehatan Siswa SD/MI Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga kesehatan / guru UKS / kader kesehatan sekolah tahun 2011 sebesar 78. Kabupaten Kebumen. Kabupaten Jepara dan Kabupaten Demak.61%).

Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada bayi selama 5 tahun terakhir (2007-2011) dapat dilihat dalam gambar berikut ini : 100 99 98 97 96 95 94 93 92 Cakupan 2007 94. Sebagian besar kabupaten/kota telah melampaui target.6 Cakupan Suplementasi Kapsul Vit. Berdasarkan data yang yang diperoleh dari profil kesehatan kabupaten/kota. Cakupan Pemberian Vitamin A pada Anak Balita Salah satu program penanggulangan KVA yang telah dijalankan adalah dengan suplementasi kapsul Vitamin A dosis tinggi 2 kali pertahun Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 54 . Pelayanan Gizi a.08 Gambar 4. Cakupan tersebut sudah melampaui target SPM sebesar 95%.46%). A pada Bayi dan Balita Tahun 2007 – 2011 b.52 2009 98.08%. KVA dalam tubuh dapat menimbulkan berbagai jenis penyakit yang merupakan “Nutrition Related Diseases” yang dapat mengenai berbagai macam anatomi dan fungsi dari organ tubuh seperti menurunkan sistem kekebalan tubuh dan menurunkan epitelisme sel-sel kulit.74 2008 98.84 2011 99. Cakupan Pemberian Vitamin A pada Bayi Kurang Vitamin A (KVA) masih merupakan masalah yang tersebar diseluruh dunia terutama di negara berkembang dan dapat terjadi pada semua umur terutama pada masa pertumbuhan. lebih banyak dibandingkan tahun 2010 sebesar 96. Salah satu dampak kurang Vitamin A adalah kelainan pada mata yang umumnya terjadi pada anak usia 6 bulan – 4 tahun yang menjadi penyebab utama kebutaan di negara berkembang.3. hanya ada 1 kabupaten yang masih di bawah target yaitu Kabupaten Pemalang (82. cakupan pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi pada bayi sebesar 99.84%.11 2010 96.

Kabupaten Boyolali. Kabupaten Purworejo.45 Gambar 4.7 Cakupan Suplementasi Kapsul Vit. Cakupan tertinggi (>100%) sudah dapat dicapai oleh 8 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Banyumas. Disamping itu pemantapan program distribusi kapsul Vitamin A dosis tinggi juga dapat mendorong tumbuh kembang anak serta meningkatkan daya tahan anak terhadap penyakit infeksi.45%.62%) dan Kabupaten Pemalang (91.00%). A pada Balita di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 55 .pada Balita dan ibu nifas untuk mempertahankan bebas buta karena KVA dan mencegah berkembangnya kembali masalah Xerofthalmia dengan segala manifestasinya (gangguan penglihatan. Kota Magelang dan Kota Semarang. Kabupaten Sragen. Balita yang dimaksud dalam program distribusi kapsul Vitamin A adalah anak umur 12 – 59 bulan yang mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi. Kabupaten Kendal. Kabupaten Magelang.76%). Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada balita selama 5 tahun terakhir (2007-2011) dapat dilihat dalam gambar berikut ini : 100 95 90 85 80 75 70 Cakupan 2007 82. Sedangkan yang masih di bawah target yaitu Kabupaten Jepara (88.14 2009 82.44 2010 96. Kapsul Vitamin A dosis tinggi terdiri dari kapsul vitamin A berwarna merah dengan dosis 200. mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010 (96.76 2011 98. buta senja dan bahkan kebutaan sampai kematian).6 2008 95. Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada Balita tahun 2011 sebesar 98. Cakupan ini sudah melampaui target SPM (95%). sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian pada bayi dan anak.000 SI yang diberikan pada anak umur 12-59 bulan dan diberikan pada bulan Pebruari dan Agustus setiap tahunnya.

3) Sosialisasi pemberian kapsul Vitamin A terhadap petugas kesehatan di Puskesmas. Cakupan ibu nifas mendapat kapsul vitamin A adalah cakupan ibu nifas yang mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi (200. rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan lainnya.31 2010 92. A di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Beberapa hal yang mempengaruhi fluktuasi angka cakupan pemberian vitamin A pada bayi. 2) Forum komunikasi. meningkat dibandingkan tahun 2010 (92. Kabupaten Pekalongan. Sementara cakupan terendah di Kabupaten Temanggung sebesar 84.73 2008 92. Kabupaten Klaten.000 SI) pada periode sebelum 40 hari setelah melahirkan.36%. yang bermanfaat sebagai wahana yang mendukung terlaksananya kegiatan KIE di berbagai sektor terkait. pendekatan.c.43%.78 2011 96. Cakupan ibu nifas mendapat kapsul vitamin A tahun 2011 sebesar 96. Cakupan Pemberian Vitamin A pada Ibu Nifas Ibu nifas adalah ibu yang baru melahirkan bayi baik di rumah dan atau rumah bersalin dengan pertolongan dukun bayi dan atau tenaga kesehatan. Kota Magelang dan Kota Surakarta. Suplementasi vitamin A pada ibu nifas merupakan salah satu program penanggulangan kekurangan vitamin A.78%). Cakupan tertinggi (>100%) dicapai oleh Kabupaten Magelang. dan lain-lain bentuk yang disertai dengan penyebarluasan informasi.94 2009 87. dan bufas diantaranya: 1) Advokasi. balita.8 Cakupan Ibu Nifas mendapat Kapsul Vit. 100 95 90 85 80 75 Cakupan 2007 82.43 Gambar 4. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 56 .

62 2010 95.91 2008 93. dan WUS (Wanita Usia Subur). dll) 7) Adanya sweeping dari kader kesehatan dengan sasaran ibu anak yang belum mendapatkan kapsul Vitamin A pada bulan kapsul. d.4) Kegiatan konseling/konsultasi gizi dilakukan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas dan rumah sakit pada sasaran ibu anak.25%).94 87. 100 95 90 85 80 Fe 1 Fe 3 2007 92. 6) Lintas program/ lintas sektor terkait (Promosi Kesehatan. ibu nifas. ibu hamill.92 90. Cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 89.39 Gambar 4.25 2011 95.39% lebih rendah bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (90.98 85.43 89.12%. dan belum mencapai target SPM 2010 (90%). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 57 . Cakupan tertinggi dicapai Kabupaten Pekalongan 101. remaja putri.59 85. Persentase Ibu Hamil yang Mendapatkan Tablet Fe Program penanggulangan anemia yang dilakukan adalah memberikan tablet tambah darah yaitu preparat Fe yang bertujuan untuk menurunkan angka anemia pada balita. Hal ini dapat dilihat dari tingginya prevalensi pemberian tablet Fe pada ibu hamil. Imunisasi.9 Persentase Pemberian Tablet Fe Pada Ibu Hamil Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Dari grafik di atas dapat diihat bahwa cakupan Fe 1 dan cakupan Fe 3 sudah cukup baik dan memadai.06 2009 92. 5) Tersedianya sarana pelayanan kesehatan yang terjangkau. Penanggulangan anemi pada ibu hamil dilaksanakan dengan memberikan 90 tablet Fe kepada ibu hamil selama periode kehamilannya.53% dan terendah Kabupaten Kendal 53.

Persentase Bayi yang Mendapatkan ASI Eksklusif Air Susu Ibu (ASI) merupakan satu-satunya makanan yang sempurna dan terbaik bagi bayi karena mengandung unsur-unsur gizi yang dibutuhkan oleh bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi guna mencapai pertumbuhan dan perkembangan bayi yang optimal. Berdasarkan data yang diperoleh dari profil kesehatan kabupaten/kota tahun 2011 menunjukkan cakupan pemberian ASI eksklusif hanya sekitar 45. ternyata menurut laporan mutakhir UNICEF (Fact About Breast Feeding) merupakan kekeliruan yang fatal. Kebijakan Nasional untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 (enam) bulan telah ditetapkan dalam SK Menteri Kesehatan No. namun pada masa pertumbuhan berikutnya bayi yang tidak diberi ASI ternyata memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk menderita hipertensi. dalam keadaan miskin mungkin merupakan hadiah satusatunya. kanker. Pemberian ASI eksklusif bukan hanya isu nasional namun juga merupakan isu global. Pernyataan bahwa dengan pemberian susu formula kepada bayi dapat menjamin bayi tumbuh sehat dan kuat. jantung. karena meskipun insiden diare rendah pada bayi yang diberi susu formula. ASI eksklusif adalah Air Susu Ibu yang diberikan kepada bayi sampai bayi berusia 6 bulan tanpa diberikan makanan dan minuman.18%.e. Oleh sebab itu pemberian ASI perlu diberikan secara eksklusif sampai umur 6 (enam) bulan dan tetap mempertahankan pemberian ASI dilanjutkan bersama makanan pendamping sampai usia 2 (dua) tahun. Bayi yang mendapat ASI eksklusif adalah bayi yang hanya mendapat ASI saja sejak lahir sampai usia 6 bulan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 58 . 450/Menkes/SK/IV/2004. dalam keadaan sakit mungkin merupakan hadiah yang menyelamatkan jiwanya (UNICEF). meningkat dibandingkan tahun 2010 (37. kecuali obat dan vitamin. obesitas. ASI adalah hadiah yang sangat berharga yang dapat diberikan kepada bayi.18%). diabetes dll.

Cakupan tertinggi adalah Kabupaten Klaten 77.18 2011 45. 4). 2). Hanya 6 kabupaten/kota saja yang telah mencapai pemberian ASI eksklusif di atas 60% yaitu Kabupaten Purworejo. Kondisi yang kurang memadai bagi para ibu yang bekerja.55%. 3). Rendahnya pengetahuan ibu dan keluarga lainnya mengenai manfaat ASI dan cara menyusui yang benar. 50 40 30 20 10 0 Cakupan 2007 27. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 59 . Sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Rembang 6.10 Cakupan Pemberian ASI Eksklusif Tahun 2007 – 2011 Beberapa hal yang menghambat pemberian ASI eksklusif diantaranya adalah: 1).36 Gambar 4. Kabupaten Banyumas. Kabupaten Klaten. Upaya-upaya yang telah dilaksanakan dalam rangka meningkatkan cakupan pemberian ASI eksklusif tetap berpedoman pada Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui yaitu: 1) Sarana Pelayanan Air Kesehatan Ibu mempunyai kebijakan yang Peningkatan secara rutin Pemberian Susu (PP-ASI) tertulis dikomunikasikan kepada semua petugas.41%. Gencarnya pemasaran susu formula. Kabupaten Pati dan Kabupaten Temanggung. Kabupaten Blora.21 2010 37. Faktor sosial budaya.96 2009 40. Kurangnya pelayanan konseling laktasi dan dukungan dari petugas kesehatan.35 2008 28. 5).

masa bayi lahir sampai umur 2 tahun termasuk cara mengatasi kesulitan menyusui. Jumlah anak usia 623 bulan dari keluarga miskin dari 21 kabupaten/kota sebanyak 145. Apabila ibu mendapat operasi caesar. 7) Melaksanakan rawat gabung dengan mengupayakan ibu bersama bayi 24 jam sehari. 3) Menjelaskan kepada semua ibu hamil tentang manfaat menyusui dan penatalaksanaannya dimulai sejak masa kehamilan. Cakupan Pemberian Makanan Pendamping ASI pada Anak Usia 624 bulan Keluarga Miskin.2) Melakukan pelatihan bagi petugas dalam hal pengetahuan dan ketrampilan untuk menerapkan kebijakan tersebut.31%).40%. tanpa pembatasan terhadap lama dan frekuensi menyusui.724 anak. Kabupaten Rembang. 10) Mengupayakan terbentuknya Kelompok Pendukung ASI (KP-ASI) dan rujuk ibu kepada kelompok tersebut ketika pulang dari rumah sakit. Anak usia 6-24 bulan dari keluarga miskin diberikan makanan pendamping ASI baik makanan lokal maupun pabrikan. 5) Membantu ibu bagaimana cara menyusui yang benar dan cara mempertahankan menyusui meski ibu dipisah dari bayi atas indikasi medis. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 60 . yang mendapatkan makanan tambahan ASI (MP-ASI) sebanyak 55. 4) Membantu ibu mulai menyusui bayinya dalam 30 menit setelah melahirkan yang dilakukan di ruang bersalin (inisiasi dini). 8) Membantu ibu menyusui semau bayi semau ibu. Kabupaten Temanggung. 9) Tidak memberikan dot atau kempeng kepada bayi yang diberi ASI.831 (38. Kabupaten yang cakupannya sudah mencapai 100% adalah Kabupaten Wonosobo. Kabupaten Demak. 6) Tidak memberikan makanan atau minuman apapun selain ASI kepada bayi baru lahir. f. Kabupaten Boyolali. Kota Salatiga dan Kota Pekalongan. Kabupaten Blora. Cakupan terendah adalah Kabupaten Brebes 0. bayi disusui setelah 30 menit ibu sadar. rumah bersalin atau sarana pelayanan kesehatan.

43%.89 2010 89.32% menurun dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (89. Partisipasi masyarakat dalam penimbangan di posyandu tersebut digambarkan dalam perbandingan jumlah balita yang ditimbang (D) dengan jumlah balita seluruhnya (S). Dari data yang ada menggambarkan bahwa pedesaan dan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 61 .11 Cakupan Balita Yang Ditimbang Tahun 2007 – 2011 Kabupaten/kota yang belum dapat mencapai target partisipasi masyarakat sebesar 80% sebanyak 15 kabupaten/kota.47 2009 75.49 2011 78. faktor ekonomi dan sosial budaya.35% dan terendah Kabupaten Pemalang 61.49%). Penimbangan terhadap bayi dan balita yang dilakukan di posyandu merupakan upaya masyarakat memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita yang dintegrasikan dengan pelayanan kesehatan dasar lain (KIA. Cakupan tertinggi adalah di Kabupaten Sragen 88. Jumlah Balita Ditimbang Salah satu upaya untuk meningkatkan keadaan gizi masyarakat adalah melalui Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) yang sebagian kegiatannya dilaksanakan di Posyandu. Semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam penimbangan di posyandu maka semakin baik pula data yang dapat menggambarkan status gizi balita.g.32 Gambar 4. 100 80 60 40 20 0 Balita ditimbang 2007 71. Pemberantasan Penyakit). Banyak hal dapat mampengaruhi penimbangan di tingkat pencapaian antara partisipasi lain tingkat masyarakat pendidikan. Imunisasi. Partisipasi masyarakat dalam penimbangan di posyandu tahun 2011 sebesar 78.63 2008 76. dalam tingkat posyandu pengetahuan masyarakat tentang kesehatan dan gizi.

maka dilakukan konfirmasi status gizi dengan menggunakan indikator berat badan menurut tinggi badan. h. jika ditemukan balita yang berada di bawah garis merah (BGM) atau dua kali tidak naik (2T). Pendataan gizi buruk di Jawa Tengah didasarkan pada 2 kategori yaitu dengan indikator membandingkan berat badan dengan umur (BB/U) dan kategori kedua adalah membandingkan berat badan dengan tinggi badan (BB/TB). Jika ternyata terdapat penyakit penyerta yang berat dan tidak dapat ditangani di Puskesmas maka segera dirujuk ke rumah sakit.12 Jumlah Balita dengan Gizi Buruk Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 62 . Penemuan kasus gizi buruk harus segera ditindak lanjuti dengan rencana tindak yang jelas. dilanjutkan dengan penentuan status gizi oleh bidan di desa atau petugas kesehatan lainnya. maka segera dilakukan perawatan gizi buruk sesuai pedoman di Posyandu dan Puskesmas. Jika ternyata balita tersebut merupakan kasus buruk. Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan Kejadian gizi buruk perlu dideteksi secara dini melalui intensifikasi pemantauan tumbuh kembang Balita di Posyandu. sehingga penanggulangan gizi buruk memberikan hasil yang optimal. 20000 15000 10000 5000 0 Jml Balita Gibur 2007 18106 2008 5528 2009 5249 2010 3514 2011 3187 Gambar 4. Skrining pertama dilakukan di posyandu dengan membandingkan berat badan dengan umur melalui kegiatan penimbangan.perkotaan tidak memperlihatkan perbedaan yang menyolok dalam partisipasi masyarakat tetapi yang sangat berpengaruh adalah faktor ekonomi dan sosial budaya.

100 80 60 40 20 0 % Desa dg garam beryodium 2007 58. menggambarkan identitas mutu garam beryodium yang dikonsumsi penduduk di suatu desa/kelurahan. Tetapi persentase Balita Gizi Buruk mendapatkan perawatan tahun 2011 sebesar 100% jauh lebih meningkat dibandingkan tahun 2010 (93. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 63 . Kota Magelang.68%. Sedangkan kabupaten dengan konsumsi garam beryodium terendah adalah Kabupaten Demak 9.Balita Gizi Buruk tahun 2011 berjumlah 3.15%). Desa dengan Garam Beryodium yang Baik Persentase desa/kelurahan dengan garam beryodium yang baik.187 menurun apabila dibandingkan tahun 2010 (3. Peserta Keluarga Berencana Baru Peserta Keluarga Berencana (KB) baru adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang baru pertama kali menggunakan salah satu cara/alat dan/atau PUS yang menggunakan kembali salah satu cara/alat kontrasepsi setelah mereka berakhir masa kehamilannya. yang cakupannya mencapai 100% adalah Kabupaten Tegal. dimana pada tahun 2011 sebanyak 53.514).42% menurun dibandingkan tahun 2010 (80.93 2009 48.81 2010 80.28%). i. Kota Salatiga dan Kota Semarang. Pelayanan Keluarga Berencana a.13 Persentase Desa/Kelurahan dengan Garam Beryodium Baik Tahun 2007 – 2011 Berdasarkan laporan yang masuk dari 33 kabupaten/kota. Kota Surakarta. 4.15 2011 53.83 2008 55.42 Gambar 4.

Partisipasi pria (bapak) untuk menjadi peserta KB aktif dengan mempergunakan kontrasepsi MOP (hanya 0.0% Implant 12.2%).2% Gambar 4. Kondom 5. 2) NON MKJP: Tahun 2011 Suntik (54.8% IUD 6. PIL (18. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 64 . Peserta KB baru tersebut menggunakan kontrasepsi sebagai berikut: 1) MKJP: Tahun 2011 IUD (6.97%).13%).2%.14 Persentase Pemakaian Kontrasepsi Peserta KB Baru Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Sebagian besar peserta KB baru mempergunakan kontrasepsi non MKJP yang membutuhkan pembinaan secara rutin dan berkelanjutan untuk menjaga kelangsungan pemakaian kontrasepsi.20%).24%).7%).561. MOP/MOW (2.0%) dan Implant (12. MOW (2.125 lebih sedikit dibanding tahun 2010 (6.8%). hal tersebut dapat difahami karena akses untuk memperoleh pelayanan suntikan relatif lebih mudah. Peserta KB baru pada tahun 2011 (13.4% Suntik 54.23%) dan Implant (8.9% MOP 0.2%).99%). menurun apabila dibandingkan dengan tahun 2010 (15. sebagai akibat tersedianya jaringan pelayanan sampai di tingkat desa/kelurahan sehingga dekat dengan tempat tinggal peserta KB.8%).549.4%).4%) dan kondom (hanya 5.243). MOP (0.Jumlah PUS Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 6.2% PIL 18. sedangkan tahun 2010 : Suntik (58.46%) dan Kondom (5.4%) dan Kondom (5. karena terbatasnya pilihan kontrasepsi yang disediakan bagi pria. dan sebagian pria masih beranggapan bahwa KB merupakan urusan ibu (istri). Sedangkan tahun 2010: IUD (5.9%). PIL (19. sehingga ibu (istri) yang menjadi sasaran. Proporsi pemakai kontrasepsi suntikan cukup besar yaitu 54.4% MOW 2.

Kabupaten Rembang.79 80 2008 78. Angka ini sudah mencapai target (70%).2%).09 80 2009 78.8%. Kabupaten Blora. Kabupaten Semarang. 81 80 79 78 77 76 75 74 Cakupan Target 2007 77. dan Kota Surakarta. Pelayanan Imunisasi a.57 80 2011 76.57%). Kabupaten Kudus. Persentase Desa yang Mencapai “Universal Child Immunization” (UCI) Strategi operasional pencapaian cakupan tinggi dan merata berupa pencapaian Universal Child Immunization (UCI) yang berdasarkan indikator cakupan DPT-HB 3. Peserta KB Aktif Peserta KB aktif adalah akseptor yang pada saat ini memakai kontrasepsi untuk menjarangkan kehamilan atau mengakhiri kesuburan.b. Kabupaten Pemalang. Kabupaten Pati. Polio 4 dan Campak dengan cakupan minimal 80% dari Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 65 . Kabupaten Temanggung.5%) dan terendah di Kabupaten Tegal (44. Kota Magelang. Cakupan peserta KB aktif menunjukkan tingkat pemanfaatan kontrasepsi di antara PUS. Kabupaten Jepara. Cakupan tertinggi di Kota Magelang (89. Terdapat 13 Kabupaten/kota yang telah melampaui target yaitu Kabupaten Wonogiri.15 Cakupan Peserta KB Aktif Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 5. Cakupan peserta KB aktif Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 76. Kabupaten Pekalongan.8 80 Gambar 4. mengalami penurunan dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (78. Kabupaten Brebes. Cakupan peserta KB aktif adalah perbandingan antara jumlah peserta KB aktif dengan PUS di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.37 80 2010 78.

58 2011 96. Kota Semarang. Kabupaten Sragen. Kabupaten Kebumen. Kabupaten Temanggung. Sedangkan kabupaten yang pencapaian UCI desa terendah di Kabupaten Batang (66. kabupaten Kudus. Kabupaten Magelang. 99 94 89 84 79 74 UCI 2007 83.06%). pada umumnya disebabkan karena penghitungan sasaran (denominator) yang melebihi dengan kondisi riil jumlah sasaran di lapangan. Kota Pekalongan dan Kota Tegal. Kota Surakarta.64 2008 86. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tidak tercapainya pencapaian UCI desa di beberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah.1%). Kota Salatiga. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 66 . Kabupaten Grobogan. Pencapaian UCI desa tahun 2011 (96. Kabupaten Pekalongan.16 Cakupan Desa/Kelurahan UCI Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Kabupaten/kota yang belum mencapai target imunisasi dasar lengkap pada bayi disebabkan antara lain : 1) Adanya perbedaan jumlah dibandingkan dengan sasaran yang ada.95 2010 94. Kabupaten Demak.4 Gambar 4. bukan dari hasil pendataan. Hasil pencapaian UCI desa tahun 2010 yang mencapai target (100%) sebanyak 18 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Banyumas. Kabupaten Semarang.4%) mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2010 (94. Kota Magelang.83 2009 91. hal ini dikarenakan penentuan jumlah sasaran masih berdasarkan angka estimasi jumlah penduduk. kabupaten Pemalang.jumlah sasaran bayi di desa. Kabupaten Tegal.

494. sedangkan BIAS TT diberikan pada semua anak usia kelas II dan III SD/MI/SDLB/SLB. Backlog Fighting (melengkapi status imunisasi). Hepatitis B. Jumlah sasaran bayi pada tahun tahun 2011 adalah 592.712 meningkat disbanding tahun 2010 sebanyak 579. Difteri. Polio 4 kali. program imunisasi juga melaksanakan program imunisasi tambahan/suplemen yaitu Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) DT. Tetanus. 4) Masih ada sebagian kecil orang tua yang menolak anaknya untuk diimunisasi dikarenakan keyakinan/kepercayaan agama.2) Belum semua Puskesmas membuat Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) imunisasi secara rutin (bulanan. Sebagai indikator kelengkapan status imunisasi dasar lengkap bagi bayi dapat dilihat dari hasil cakupan imunisasi campak. 3) Belum dilakukan pelaksanaan sweeping atau kunjungan rumah untuk melengkapi status imunisasi pada daerah-daerah yang cakupan imunisasinya masih rendah. dan lain-lain. pencapaian tiap tahun cenderung menurun. Polio. HB Uniject 1 kali dan campak 1 kali. DPT-HB. Bayi seharusnya mendapat imunisasi dasar lengkap yang terdiri dari BCG 1 kali. dan HB). b. Pertusis. Selain pemberian imunisasi rutin. pada umumnya disebabkan keterbatasan sumber daya atau tenaga banyak yang merangkap dengan tugas lain. DPT-HB 3 kali. Polio. Sedangkan cakupan masing-masing jenis imunisasi tahun 2011 adalah Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 67 . Cakupan Imunisasi bayi Upaya untuk menurunkan angka kesakitan. dan Campak. BIAS Campak yang diberikan pada semua usia kelas I SD/MI/SDLB/SLB. karena imunisasi campak merupakan imunisasi yang terakhir yang diberikan pada bayi umur 9 (sembilan) bulan dengan harapan imunisasi sebelumnya sudah diberikan dengan lengkap (BCG. dan kematian bayi serta anak balita dilaksanakan program imunisasi baik program rutin maupun program tambahan/suplemen untuk penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti TBC. tribulanan) dikarenakan banyak petugas imunisasi yang merangkap dengan tugas lain. Cakupan imunisasi dasar lengkap bayi di Jawa Tengah dari semua antigen sudah mencapai target minimal nasional (85%). kecacatan.

04 98. Kabupaten Jepara.78 103.67 96.29 Gambar 4. DPT3+HB3 (98. Tahun 2011 DO tingkat Jawa Tengah sebanyak 3.29%).7%).5 100. DPT1+HB1 (97.sebagai berikut BCG (98.69 99.29 DPT1+Hb1 DPT3+Hb3 100.95%).95 98. Drop Out Imunisasi DPT1-Campak Dalam rangka mencapai dan mempertahankan UCI desa.95%) dan Campak (96.08%). DPT3+HB3 (95. Kabupaten Sragen. Dengan grafik PWS akan terlihat dan dapat dianalisis cakupan dan kecenderungan setiap bulan. DPT1+HB1 (99. Polio 3 (94. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 68 . Kabupaten Pati.0%) dan Campak (93.5 99.05 100. Hal ini mengalami penurunan bila dibanding tahun 2010 dengan BCG (100.4%.77 102.29%). Kabupaten Brebes.42%) yang DO-nya lebih dari 5% atau (-5%) yaitu Kabupaten Banjarnegara.0%).6%). analisis PWS harus diikuti dengan tindak lanjut. Sesuai kesepakatan dengan kabupaten/kota indikator DO di Jawa Tengah maksimal 5% atau (-5%).67%).24 99.89 99.84 102. maka dapat segera diketahui kekurangan cakupan dan beban yang harus dicapai setiap bulan pada periode berikutnya.14 96. Kabupaten Grobogan. persentase (%) 110 100 90 80 BCG 2007 2008 2009 2010 100. Kabupaten Purworejo.0%). Polio 3 (96. Sebanyak 11 kabupaten/kota (31.17 Cakupan Imunisasi Bayi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 c.35 99. Kabupaten Kendal. Untuk kecenderungan cakupan setiap bulan dapat diketahui dengan indikator Drop Out (DO).08 Polio 4 97.95 Campak 96.18 96.28 99. Kota Semarang dan Kota Tegal. Kota Surakarta. mengalami penurunan dibanding tahun 2010 (3.

yang mendapat TT-1 sebesar 48. Indikasi dari perhatian masyarakat adalah bila tumpatan gigi tetap semakin bertambah banyak berarti masyarakat lebih memperhatikan kesehatan gigi yang merupakan tindakan preventif. Tahun 2011 jumlah tumpatan gigi tetap tahun 2011 sebanyak 127. yang pada akhirnya Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 69 . TT-2 sebesar 48. sementara jumlah pencabutan gigi tetap sebanyak 156.274.7 dan TT-5 sebesar 17. Pencabutan gigi tetap adalah tindakan kuratif dan rehabilitatif yang merupakan tindakan terakhir yang harus diambil oleh seorang pasien.5%. hal ini disebabkan : 1) Pencatatan dan pelaporan status imunisasi lima dosis belum berjalan dengan baik karena pelaksanaan skrining status TT belum optimal.2% dan TT2+ sebanyak 114. sebelum gigi tetap betul betul rusak dan harus dicabut. WUS Mendapat Imunisasi TT Imunisasi TT WUS adalah pemberian imunisasi TT pada WUS (usia 15-39 th) sebanyak lima dosis dengan interval tertentu yang berguna bagi kekebalan seumur hidup. Melalui pemeriksaan gigi ini dapat mengontrol fungsi kunyah gigi agar tetap baik.08. TT-4 sebesar 20. TT-3 sebesar 28. Jumlah ibu hamil 2011 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 632.2%. Kegiatan pelayanan dasar gigi adalah tumpatan (penambalan) gigi tetap dan pencabutan gigi tetap.4%. sehingga sistim pencernaan semakin bagus. Pelayanan Kesehatan Gigi a. 6.d. 2) Penggunaan format pelaporan yang berbeda antara kabupaten/kota ke provinsi dan puskesmas ke kabupaten/kota terutama untuk TT ibu hamil dan non ibu hamil.8. Data kegiatan imunisasi TT WUS saat ini akurasinya masih sangat kurang sehingga belum dapat dinalisis. Data tersebut menandakan bahwa motivasi masyarakat dalam mempertahankan gigi geliginya belum maksimal. Rasio Tambal Cabut Gigi Tetap Pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas meliputi kegiatan pelayanan dasar gigi dan upaya kesehatan gigi sekolah.198. oleh karena itu masih diperlukan penyuluhan yang terus menerus agar masyarakat memeriksakan giginya secara teratur.

81.8 0. 1 0. mengalami peningkatan dibanding tahun 2010 yaitu 0.06 (tumpatan 267. Kegiatan UKGS meliputi pemeriksaan gigi pada seluruh murid untuk mendapatkan murid Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 70 . Rasio tumpatan dan pencabutan gigi tetap tahun 2010 sebesar 0.4 0.62 2008 0. Beberapa kabupaten/kota yang pencabutan giginya jauh lebih banyak dibandingkan tumpatan giginya (rasio rendah). Murid SD/MI Mendapat Pemeriksaan Gigi dan Mulut Kegiatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut lainnya adalah Upaya Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yang merupakan upaya promotif dan preventif kesehatan gigi khususnya untuk anak sekolah.95).2011 b. pencabutan 4.71 2010 0.2 0 Rasio 2007 0. Kabupaten/kota yang rasionya tinggi (penumpatan lebih banyak dibandingkan dengan pencabutan) yaitu Kota Tegal (2.607).6 0.82. baik yang dilakukan didalam maupun diluar gedung masih sangat minim.kesehatan secara umum akan meningkat dan diharapkan di tahun-tahun mendatang jumlah pencabutan gigi tetap trennya semakin menurun.81 2011 0. Kabupaten dengan rasio terendah adalah Kabupaten Rembang 0. menandakan bahwa masyarakat di kabupaten yang bersangkutan masih kurang memperhatikan kesehatan gigi dan mulut dan kemungkinan frekuensi penyuluhan kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan oleh petugas kesehatan di setiap lini.71 2009 0.18 Rasio Tumpatan dan Pencabutan Gigi Tetap Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .82 Gambar 4. Hal menunjukan bahwa masih banyak masyarakat yang melakukan pencabutan gigi dibandingkan melakukan tumpatan gigi tetap.

59 2011 37.19 Cakupan Pemeriksaan Kesehatan Gigi Murid Sekolah Dasar Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 c.3 Gambar 4.9 Gambar 4. Murid SD/MI Mendapat Perawatan Gigi dan Mulut Cakupan perawatan gigi dan mulut murid SD/MI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 55.12 2008 62. seperti Kabupaten Sragen (6.90%) lebih tinggi dibandingkan pencapaian tahun 2010 (37.yang perlu perawatan gigi.75 2010 53.31 2010 37.95 2009 54.20 Cakupan Perawatan Gigi Murid Sekolah Dasar Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 71 .83 2011 55.22 2009 36. Kabupaten Kudus.96%) dan masih ada beberapa kabupaten/kota yang belum melaporkan datanya.59%). Kabupaten yang mempunyai cakupan 100% adalah Kabupaten Sukoharjo. Beberapa kabupaten mempunyai cakupan sangat rendah.83%).4 2008 33. 40 30 20 10 0 Cakupan 2007 31. 65 60 55 50 45 Cakupan 2007 56. kemudian melakukan perawatan pada murid yang memerlukan. Kabupaten Kendal dan Kota Salatiga.30% mengalami peningkatan bila dibanding tahun 2010 (53. Prosentase jumlah murid yang diperiksa untuk tahun 2011 (37.

36 70 2009 42.61 70 2011 51.21 Pelayanan Kesehatan Usia lanjut Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Masih rendahnya cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut dan sedikitnya kabupaten/kota yang mencapai target pelayanan kesehatan usia lanjut tahun 2011.76%).60%) dan terendah adalah Kabupaten Klaten (1.96% menurun bila dibandingkan cakupan pada tahun 2010 sebesar 52.51 70 2008 29.27 70 2010 52. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 72 . dengan kesepakatan identifikasi kelompok pra usila di masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) kabupaten/ kota dan memberikan dukungan kegiatan dan pelayanan kesehatan.7.96 70 Gambar 4. Kabupaten/kota dengan cakupan tertinggi adalah Kabupaten banjarnegara (102.61%. baik di puskesmas maupun di posyandu/kelompok usia lanjut. 2) Advokasi ke SKPD provinsi dengan pengembangan model kelompok pra usila percontohan dan fasilitasi pelayanan kesehatan. Cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 51. menggambarkan bahwa kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah belum memperhatikan pelayanan kesehatan untuk kelompok pra usila dan usila yang merupakan kelompok usia berisiko. dan masih jauh dibawah target cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut tahun 2010 (70%). Upaya-upaya yang telah dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan pra usila dan usila adalah sbb : 1) Pertemuan koordinasi program kesehatan usila Provinsi Jawa Tengah. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut Pelayanan kesehatan usia lanjut yaitu pelayanan penduduk usia 60 tahun ke atas yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan. 80 60 40 20 0 Cakupan Target 2007 30.

dan rumah sakit baik rumah sakit umum.8. Pelayanan Dawat Darurat dan Kejadian Luar Biasa a.5 98 97. puskesmas. Rumah Sakit khusus lain sebesar 98. Pelayanan Gawat Darurat Level I yang Harus Diberikan Pelayanan Kesehatan (RS) di Kabupaten/Kota Sarana kesehatan dengan kemampuan pelayanan gawat darurat yang dapat diakses masyarakat merupakan sarana kesehatan yang telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pelayanan gawat darurat sesuai standar dan dapat diakses oleh masyarakat dalam kurun waktu tertentu.5 RSU Gawat Darurat (%) 98.5 100 99. Jumlah Rumah Sakit Umum dengan kemampuan pelayanan gawat darurat sebanyak 98.88 RSJ 100 RS Khusus 98.80%. Kemampuan pelayanan gawat darurat yang dimaksud adalah upaya cepat dan tepat untuk segera mengatasi puncak kegawatan yaitu henti jantung dengan Resusitasi Jantung Paru Otak (Cardio–Pulmonary–Cebral– Resucitation) agar kerusakan organ yang terjadi dapat dihindarkan atau ditekan sampai minimal dengan menggunakan Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support/BLS) dan Bantuan Hidup Lanjut (ALS). Sarana kesehatan yang dimaksud dalam hal ini adalah rumah bersalin. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 73 . 100. jiwa maupun khusus.46 Pusk RI 100 Gambar 4.22 Sarana Kesehatan dengan Kemampuan Pelayanan Gawat Darurat yang Dapat Diakses Masyarakat Provinsi Jawa TengahTahun 2011 Puskesmas rawat inap dengan kemampuan pelayanan gawat darurat yang dapat diakses masyarakat Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 291 puskesmas atau 100%.46%.5 99 98. Rumah Sakit Jiwa sebanyak 100%.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 74 . Keracunan Makanan. Desa/Kelurahan Terkena Kejadian Luar Biasa yang Ditangani <24 Jam Kejadian luar biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu desa/kelurahan dalam jangka waktu tertentu. bencana serta munculnya penyakit baru seperti Avian Influenza (Flu Burung). disamping menimbulkan korban kesakitan dan kematian juga berdampak pada situasi sosial ekonomi masyarakat secara umum (keresahan masyarakat.42 di atas diketahui bahwa jumlah desa/kelurahan yang terkena KLB di Provinsi Jawa Tengah tahun 2007 – 2011 mengalami fluktuasi yaitu dari 1286 desa/kelurahan pada tahun 2007 meningkat menurun menjadi 543 desa/kelurahan pada tahun 2008. Diare. produktivitas menurun). Campak. Difteri. Chikungunya. 1500 1000 500 0 Desa/kel terkena KLB 2007 1286 2008 543 2009 536 2010 579 2011 353 Gambar 4.23 Distribusi Frekuensi KLB menurut Jumlah Desa yang Terserang Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Gambar 4.b. tahun 2009 mengalami penurunan kembali menjadi 536 desa/kelurahan. Tingginya frekuensi KLB seperti Demam Berdarah Dengue (DBD). Acute Flacid Paralisys (AFP). tahun 2010 menjadi 579 desa/kelurahan dan mengalami penurunan lagi menjadi 353 desa/kelurahan pada tahun 2011. Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular dan keracunan masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Jawa Tengah. Kondisi tersebut menuntut upaya atau tindakan secara cepat dan tepat (kurang dari 24 jam) untuk menanggulangi setiap KLB serta melaporkan kepada tingkat administrasi kesehatan.

24 Grafik Distribusi Frekuensi Desa/Kelurahan Terkena KLB yang ditangani kurang dari 24 jam Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Gambar 4.25 Kejadian KLB Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Sebaran KLB tahun 2011 menunjukkan bahwa 3 kabupaten/kota dengan frekuensi KLB terbanyak adalah Kabupaten Klaten (49 kejadian). 292 kecamatan dan 353 desa/kelurahan yang terkena KLB mendapatkan penanganan kurang dari 24 jam oleh Puskesmas bekerjasama dengan Dinas Kesehatan kabupaten/kota.5 Ditangani <24jam (%) 2007 99. 100.24 di atas diketahui bahwa pada tahun 2011 persentase desa/kelurahan terkena KLB yang ditangani kurang dari 24 jam mengalami kenaikan menjadi 100% dibanding dengan tahun 2010 (98.45%). Kabupaten Karanganyar (28 kejadian) dan Kabupaten Temanggung (24 kejadian).63 2009 100 2010 98.5 100 99.84 2008 99.Data frekuensi KLB penyakit menular.5 98 97.45 2011 100 Gambar 4. keracunan makanan dan bencana selama tahun 20011 sebanyak 28 jenis kejadian di 32 Kabupaten/Kota. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 75 . Gambar 4.5 99 98.

Selengkapnya dapat dilihat pada grafik di bawah ini.Gambar 4.848 jiwa.132 kali dan paling sedikit dilakukan di Kota Tegal sebanyak 115 kali.26 Jenis KLB Menurut Desa/Kelurahan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Tahun 2011 sejumlah 353 desa yang terkena KLB. dengan penyuluhan terbanyak dilakukan di Kabupaten Kendal yaitu 92. Kegiatan Penyuluhan Kesehatan Kegiatan penyuluhan yang dilakukan dibagi menjadi penyuluhan kelompok dan penyuluhan massa.64%). 9.202.733 jiwa dengan attack rate atau rata-rata kejadian sebesar 33. Jumlah Penderita dan Kematian pada Kejadian Luar Biasa Jumlah penduduk terancam KLB tahun 2011 sebanyak 1.21%.73% dan KLB Tetatus Neonatorum 75%. CFR tertinggi adalah KLB demam berdarah dengue/DBD 72. Penyuluhan kelompok pada tahun 2011 sebanyak 206. Dari sejumlah penderita tersebut. Sedangkan yang menderita akibat kejadian luar biasa tersebut sebanyak 3. frekuensi tertinggi adalah keracunan (105 desa/kelurahan) tersebar pada 96 kecamatan. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 76 .344 kali. c. yang meninggal sebanyak 24 orang (case fatality rate/CFR: 0.

Magelang Kab.Jepara Kab.Tegal Kab.Brebes Kab.Pemalang Kab.Banyumas Kab.Kota Tegal Kota Pekalongan Kota Semarang Kota Salatiga Kota Surakarta Kota Magelang Kab.Klaten Kab.Grobogan Kab. 3000 2500 2000 1565 1500 1000 500 35 0 538 387 297 127145 1429 1414 1080 711 622 784 405 225231 1 0 0 79 45 5 149 0 183 3 174 22 23 1071 2402 Kab.Pemalang Kab.Wonogiri Kab.Boyolali Kab.Purworejo Kab.Kendal Kab.Pekalongan Kab.Purworejo Kab.Wonosobo Kab.Karanganyar Kab.Cilacap Kab.Rembang Kab.Sragen Kab.Semarang Kab.Purbalingga Kab.565 kali dan paling sedikit di Kabupaten Sukoharjo satu kali.Karanganyar Kab.Kebumen Kab.Grobogan Kab.Demak Kab.Demak Kab.817 kali.Sukoharjo Kab.Kudus Kab.Wonogiri Kab.Magelang Kab.28 Distribusi Frekuensi Penyuluhan Massa yang Dilakukan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 77 .Klaten Kab.Rembang Kab.Kebumen Kab.Pati Kab.Pati Kab.Batang Kab.Banyumas 115 2578 495 1582 2109 1588 11307 9080 10045 32517 5385 9161 3336 3203 2989 413 3807 799 4668 10341 18309 8179 5937 11710 9397 11240 1561 4357 16733 9706 12279 9160 62571 Gambar 4.Jepara Kab.Batang Kab.Temanggung Kab.Sukoharjo Kab. Secara jelas dapat dilihat pada grafik berikut.Brebes Kota Magelang Kota Surakarta Kota Salatiga Gambar 4.Banjarnegara Kab.Blora Kab.Pekalongan Kab.Purbalingga Kab.27 Distribusi Frekuensi Penyuluhan Kelompok yang Dilakukan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Sedangkan penyuluhan massa telah dilakukan 5.Kendal Kab.Banjarnegara Kab.Tegal Kab.Blora Kab.Wonosobo Kab.Kudus Kab.Semarang Kab.Boyolali Kab.Sragen Kab. paling banyak dilakukan oleh Kabupaten Demak yaitu 1.Temanggung Kab.

Program ini dikembangkan dengan tujuan merubah pola pembayaran yang biasanya dibayar setelah pelayanan diberikan dan pelayanan kesehatan yang diterima secara komprehensif.59%). Peserta JPK dengan Premi/Pra Bayar banyak yang mengundurkan diri dengan adanya program Jamkesmas yang membebaskan anggotanya dari segala beban iur biaya. Perkembangan kepesertaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi. sampai dengan tahun 2006 terjadi peningkatan dan pada tahun 2007 merupakan titik antiklimak kepesertaan jaminan kesehatan. Penurunan jumlah penduduk yang masuk dalam katagori non maskin ditengarahi akibat dampak negatif Program Jamkesmas. Tiga tahun terakhir peserta jaminan kesehatan kembali mengalami peningkatan sedikit demi sedikit. pemerintah telah berupaya mengembangkan berbagai upaya kesehatan. Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) kemungkinan memberikan dampak negatif pada kepesertaan JPK Pra Bayar. Masyarakat yang dulunya merasa non miskin beramai-ramai mengaku miskin supaya dapat masuk dalam Program Jamkesmas. salah satunya adalah dengan mengembangkan suatu upaya kesehatan melalui program jaminan kesehatan. Namun disadari sampai saat ini perkembangan peserta jaminan kesehatan sedikit agak menggembirakan. Penduduk maskin yang belum terjamin dengan pelayanan kesehatan sebesar 63. Cakupan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pra Bayar Dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.82%.18% dari total penduduk bukan masyarakat miskin (non maskin). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 78 . Data terakhir di Provinsi Jawa Tengah menggambarkan perkembangan kepesertaan jaminan kesehatan saat ini mencapai 36. meningkat bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (21. Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan 1.B.

01 2008 18.40 30 20 10 0 Cakupan 2007 19. Kepesertaan jaminan kesehatan terdiri dari: Askes (13. Jamsostek (3.04 3.57 Gambar 4. Cakupan terbesar di Kota Surakarta 35.37 2010 21. Askeskin/Jamkesmas (66. Jamkesda (13.59 2011 36.46% dari total penduduk di Jawa Tengah. 3. pada tahun 2011 sudah banyak agar kabupaten/kota menyelenggarakan jamkesda dengan tujuan masyarakat miskin yang belum tercakup jamkesmas bisa tercakup jamkesda.73%) dan lain-lain (3.24%.30 Cakupan Kepesertaan Program JPK Pra Bayar Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 79 .18 Gambar 4.2% (Kabupaten Klaten) hingga 104. Kepesertaan jamkesda pada tahun 2011 sebesar 7.6 13. menunjukkan angka yang bervariasi mulai dari cakupan 30.60%).09 2009 19.53% dan terendah di Kabupaten Brebes 0. Selain yang jamkesmas.29 Cakupan Kepesertaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Penduduk Non Maskin Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Kepesertaan program jaminan kesehatan penduduk non maskin yang diperinci menurut kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah.06%).04%).73 13.06 Askes Jamsostek Askeskin/Jamkesmas Jamkesda Lainnya 66.3% (Kota Salatiga).57%).

rawat inap tingkat pertama.3%). Rawat Inap di Sarana Pelayanan Kesehatan Cakupan rawat jalan adalah cakupan kunjungan rawat jalan baru di sarana pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta di satu wilayah kerja pada kurun Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 80 .8%. Jumlah Kunjungan Rawat Jalan.205. serta pelayanan tindakan dan operasi. Jumlah masyarakat miskin dan hampir miskin pada tahun 2011 sebanyak 13. Pelayanan kesehatan di Puskesmas meliputi rawat jalan tingkat pertama. Jumlah masyarakat miskin dan hampir miskin sebanyak 13. dan pelayanan transport untuk rujukan bagi pasien.033.17%) sedangkan di sarana pelayanan strata 2 dan strata 3 sebesar 438.433.Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mencanangkan “Universal Coverage” kepesertaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan pada tahun 2014 yang berarti bahwa seluruh penduduk di Indonesia pada tahun 2014 harus memiliki Jaminan Pemeliharaan Kesehatan. 2.033. Cakupan Pelayanan Kesehatan Rawat Inap Masyarakat Miskin Pelayanan kesehatan yang diberikan bagi pasien masyarakat miskin dan tidak mampu meliputi pelayanan kesehatan di Puskesmas dan di rumah sakit.37%).493 (3. Sedangkan pelayanan di rumah sakit meliputi rawat jalan tingkat lanjut.805. pelayanan penunjang medik.544 (3. persalinan normal di Puskesmas dan jaringannya.3%) sedangkan di sarana kesehatan 2 dan 3 sebanyak 431. rawat inap tingkat lanjut. pelayanan gawat darurat. Masyarakat miskin yang mendapatkan pelayanan kesehatan rawat jalan di sarana pelayanan strata 1 sebesar 7. Selain mendapatkan pelayanan rawat jalan juga mendapatkan rawat inap.011 (9.805 orang. mendapatkan pelayanan kesehatan rawat inap di sarana kesehatan strata 1 sebanyak 1.687 (57. pelayanan obat dan bahan habis pakai. Saat ini Kota Surakarta yang sudah mencapai cakupan 147. 4. Cakupan Pelayanan Kesehatan Rawat Jalan Masyarakat Miskin Pelayanan kesehatan yang diberikan bagi pasien masyarakat miskin dan tidak mampu meliputi pelayanan kesehatan di Puskesmas dan di rumah sakit. 3.

merupakan kunjungan baru dimana seorang yang berkunjung ke sarana pelayanan kesehatan. terbanyak di rumah sakit yaitu 130. Jumlah kunjungan gangguan jiwa tahun 2011 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 198.387. upaya yang perlu dilakukan adalah peningkatan pembinaan program kesehatan jiwa di sarana kesehatan pemerintah dan swasta. Cakupan rawat inap adalah cakupan kunjungan rawat inap baru di sarana pelayanan kesehatan swasta dan pemerintah di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Penurunan cakupan kunjungan rawat jalan tersebut mengisyaratkan bahwa terjadi penurunan kunjungan rawat jalan di pelayanan kesehatan.waktu tertentu. Jumlah Kunjungan Gangguan Jiwa di Sarana Pelayanan Kesehatan Pelayanan gangguan jiwa adalah pelayanan pada pasien yang mengalami gangguan kejiwaan.1%. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 81 . dalam satu tahun hanya dihitung satu kali meskipun ia datang berkali kali dalam tahun tersebut. Permasalahan yang ada saat ini adalah tidak semua Rumah Sakit Umum mempunyai pelayanan klinik jiwa karena belum tersedia tenaga medis jiwa dan tidak banyak kasus jiwa di masyarakat yang berobat di sarana pelayanan kesehatan. Cakupan rawat inap di sarana kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 secara akumulasi sebesar 5. yang meliputi gangguan pada perasaan. pelatihan/refreshing bagi dokter dan paramedis Puskesmas terutama upaya promotif dan preventif. berdasarkan definisi operasional yang ada. Dari permasalahan tersebut. dan perilaku yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosialnya. serta meningkatkan pelaksanaan sistem monitoring dan evaluasi pencatatan dan pelaporan program kesehatan jiwa.77%). proses pikir.479 kali (65. 5.4%. Kunjungan rawat jalan tersebut. Data yang masuk untuk pelayanan kesehatan jiwa di RS berasal dari Rumah Sakit Jiwa dan Rumah Sakit Umum yang mempunyai klinik jiwa. Cakupan kunjungan rawat jalan akumulasi sampai dengan tahun 2011 di sarana kesehatan di Provinsi Jawa Tengah sebesar 105.

Angka Kematian Penderita Yang Dirawat < 48 Jam / Net Death Rate (NDR) Angka Net Death Rate (NDR) adalah untuk mengetahui mutu pelayanan atau perawatan rumah sakit. Rata-rata NDR di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 17. Angka Kematian Umum Penderita Yang Dirawat di RS / Gross Death Rate (GDR) Rata-rata Mutu Pelayanan Rumah Sakit di Jawa Tengah menunjukkan masih dalam taraf baik. b. Dari 181 rumah sakit yang melapor.01 sedangkan angka yang dapat ditolerir maksimum 45. Dari 181 RS yang melapor. sebanyak 28 rumah sakit mempunyai nilai GDR melebihi angka yang dapat ditolerir (kurang baik). Data NDR dan GDR tersebut masih diperlukan tindak lanjut dengan diupayakan seluruh RS mempunyai NDR dan GDR di bawah angka yang dapat ditolerir. 7. dapat dilihat dari Angka Kematian Umum Penderita Yang Dirawat di RS (GDR) pada tahun 2011 rata rata sebesar 34. Indikator Kinerja Pelayanan di Rumah Sakit Dalam menentukan peningkatan sarana rumah sakit. sebanyak 13 rumah sakit mempunyai nilai NDR melebihi angka yang dapat ditolerir. Angka Kematian Pasien di Rumah Sakit a. Pada tahun 2011 jumlah rumah sakit di Provinsi Jawa Tengah menurut jenis dan kepemilikannya adalah sebagai berikut : Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 82 . diukur dengan jumlah rumah sakit dan tempat tidur serta rasio terhadap jumlah penduduk.6.000 penderita keluar.07. Nilai NDR yang dapat ditolerir adalah 25 per 1. indikator yang digunakan antara lain dengan melihat perkembangan fasilitas perawatan. berarti masih berada dalam kisaran yang bisa ditolerir.

Angka tersebut masih berada dibawah nilai ALOS yang ideal. Pemakaian Tempat Tidur/Bed Occupancy Rate (BOR) BOR merupakan prosentase pemakaian tempat tidur pada satu satuan waktu tertentu.1 Jumlah Rumah Sakit di Provinsi Jawa Tengah menurut jenis dan pemilikan Tahun 2011 Pemilikan/Pengelola Pem TNI/Polri BUMN Kab/Kota 41 10 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 41 10 1 Jenis RSU RSJ RSB RSK lainnya JML : Pem Pusat 2 1 0 3 6 Pem Prov 7 3 0 0 10 Swasta 118 0 10 51 179 Jml 179 4 10 54 247 a. Pada tahun 2011 jumlah rumah sakit sebanyak 247 Rumah Sakit di Jawa Tengah terdiri dari 13 RS (6. sehingga perlu pengembangan rumah sakit atau penambahan tempat tidur. Indikator ini dipergunakan untuk menilai kinerja rumah sakit dengan melihat persentase pemanfaatan tempat tidur rumah sakit atau Bed Occupation Rate (BOR). 61 RS (28. Rata-rata Lama Rawat Seorang Pasien/Average Length of Stay (ALOS) Rata-rata lama rawat seorang pasien yang secara umum/Average Length of Stay (ALOS) yang ideal adalah antara 6–9 hari. Tetapi masih terdapat 120 RS (56.13%) mempunyai tingkat pemanfaatan sangat tinggi diatas maksimal occupancy rate. kurang dan 53 RS (21.91 mengalami peningkatan bila dibandingkan nilai ALOS tahun 2010 sebesar 3.85. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 83 . Angka BOR yang tinggi (>85%) menunjukan tingkat pemanfaatan tempat tidur yang tinggi. Angka BOR yang rendah menunjukkan kurangnya pemanfaatan fasilitas perawatan rumah sakit oleh masyarakat.Tabel 5.60%) tingkat pemanfaatannya masih mengirimkan laporan. BOR yang ideal untuk suatu rumah sakit adalah antara 60% sampai dengan 80%.77%) mempunyai BOR yang dianggap cukup ideal. Rata-rata lama rawat seorang pasien di RS se Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3.46%) tidak b.

RSJD Dr. Hal ini menggambarkan penurunan terhadap penggunaan tempat tidur dan TOI Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 mendekati angka ideal. Dari 194 RS yang melapor. Penimbangan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 84 .54 dari jumlah RS yang lapor. Persentase Rumah Tangga Ber-PHBS Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di rumah tangga merupakan upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar sadar. Variabel KIA dan GIZI Balita. RSKJ Puri Waluyo Surakarta. mencegah risiko terjadinya penyakit dan melindungi diri dari ancaman penyakit serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat. RM Soedjarwadi Klaten. Adapun 16 indikator PHBS tatanan Rumah tangga tersebut meliputi : a. C. Rata-rata TOI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3. menurun bila dibandingkan dengan rata-rata pada tahun 2010 sebesar 3. RSUP Dr. RS Sejahtera Bakti Salatiga. Perilaku Hidup Masyarakat 1. ada 99 rumah sakit yang mempunyai nilai TOI di atas 3.Dari 194 RS yang melapor. RSU Jati Husada Karanganyar. Yang dimaksud rumah tangga sehat adalah proporsi rumah tangga yang memenuhi minimal 11 indikator dari 16 indikator PHBS tatanan rumah tangga. RSJD Surakarta. Sedangkan 131 rumah sakit lainnya masih mempunyai nilai ALOS di bawah 6.77. c. Angka ideal untuk TOI adalah 1 – 3 hari. ASI Eksklusif. Yang sudah mempunyai nilai TOI ideal sebanyak 84 RS. Rata-rata Hari Tempat Tidur Tidak Ditempati / Turn Of Interval (TOI) TOI dan ALOS merupakan indikator tentang efisiensi penggunaan tempat tidur. Kariadi Semarang. mau dan mampu melakukan PHBS dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Semakin besar TOI maka efisiensi penggunaan tempat tidur semakin jelek. 10 rumah sakit yang mempunyai nilai ALOS ideal yaitu RSJ Dr. RSU Purbowangi Kebumen dan RS Nurussyifa Kudus. RSUD Kudus. Amino Gondo Hutomo Semarang. Gizi seimbang : Persalinan Nakes.

68 Gambar 4.674. Sampah. Berdasarkan data hasil pengkajian PHBS Tatanan Rumah Tangga yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di Jawa Tengah tahun 2011 dari 8. diperiksa 3.629 rumah tangga yang ada.728. Berikut ini adalah Grafik persentase rumah tangga sehat berdasarkan strata Utama dan Paripurna di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 s/d 2011. Variabel KESLING : Air bersih.31 Persentase Rumah Tangga Ber-PHBS Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 s/d 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 85 .361 rumah tangga.lantai rumah. Demak dan Kendal.496.68% lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2010 (68.91 2009 63. Perubahan perilaku tidak dapat terjadi dalam waktu singkat.79 2008 57. Karanganyar. Sedangkan cakupan terendah adalah Kabupaten Banjarnegara 49. Banyumas. Kota Salatiga.63 2011 74. Variabel UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT : Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).663 rumah tangga meningkat apabila dibandingkan dengan tahun 2010 dengan jumlah rumah tangga 8.45%. Tidak merokok. 80 60 40 20 0 Cakupan 2007 43.703.68 2010 68.Kepadatan hunian.63%).Kesehatan gigi dan mulut. Miras/Narkoba d. Jamban. tetapi memerlukan proses yang panjang termasuk didalamnya perlu upaya pemberdayaan masyarakat yang berkesinambungan.b. Pencapaian persentase rumah tangga sehat yaitu yang diwakili oleh rumah tangga yang mencapai strata sehat utama dan sehat paripurna telah mencapai 74. Cakupan tertinggi (100%) dicapai oleh 6 kabupaten/kota yaitu Kota Pekalongan. Cuci tangan.696 dan yang diperiksa sejumlah 2. c. Variabel GAYA HIDUP : Aktifitas fisik.

Malaria. Pada Tahun 2011 sebanyak 3. Persentase Rumah Sehat Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Cipta Karya dan Dinas Kesehatan). kegiatan tersebut sangat berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Adapun kegiatan pokok untuk mencapai tujuan tersebut meliputi : (1).lain.01%. Perindustrian. berbagai lintas sektor ikut serta berperan (Bappeda. Program Lingkungan Sehat bertujuan untuk mewujudkan mutu lingkungan hidup yang lebih sehat melalui pengembangan sistem kesehatan kewilayahan untuk menggerakkan pembangunan lintas sektor berwawasan kesehatan. Keadaaan Lingkungan Lingkungan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap derajat kesehatan.D. Pencapaian tujuan penyehatan lingkungan merupakan akumulasi berbagai pelaksanaan kegiatan dari berbagai lintas sektor. Penyediaan Sarana Air Bersih dan Sanitasi Dasar (2). disamping perilaku dan pelayanan kesehatan.945 (46. Pengembangan Wilayah Sehat. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 86 .878. Pengelolaan kesehatan lingkungan merupakan penanganan yang paling kompleks. Pertanian. ISPA dan lain .35%) rumah diperiksa dan yang memenuhi syarat rumah sehat sebesar 2. Rumah haruslah sehat dan nyaman agar penghuninya dapat berkarya untuk meningkatkan produktivitas.95%) lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2010 yang mencapai 65. 1. Pengendalian Dampak Risiko Lingkungan (4). Flu Burung. peran swasta dan masyarakat.984 (62.441. Bapermas. Lingkungan Hidup. Pemeliharaan dan Pengawasan Kualitas Lingkungan (3). TBC. Konstruksi rumah dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor risiko penularan berbagai jenis penyakit khususnya penyakit berbasis lingkungan seperti Demam Berdarah Dengue.

366.390. Kementerian Dalam Negeri serta Kementerian Pekerjaan Umum cukup signifikan terhadap penyelenggaraan kegiatan penyediaan air bersih dan sanitasi khususnya di daerah.615.175 rumah (77. Kementerian Kesehatan.12 2010 65.01 2011 62. Oleh karena itu gerakan pemberantasan sarang nyamuk dengan 3 M Plus (Menguras. mengingat kasus Demam Berdarah yang cenderung meningkat dan bertambah luasnya wilayah terjangkit. yang bebas jentik nyamuk Aedes aegypti sebanyak 2. Cakupan angka bebas jentik ini masih dibawah target 95%.66 64 62 60 58 56 54 Rumah Sehat 2007 64. Menutup. Mengubur dan Plusnya adalah Mencegah Gigitan Nyamuk).32 Cakupan Rumah Sehat Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .83 2009 65.601 diperiksa jentik nyamuknya sebanyak 3.14%) lebih banyak dibandingkan tahun 2010 (73. pengembangan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 87 . ban untuk pot dan lain . Persentase Rumah/Bangunan yang Diperiks Jentik Nyamuk Aedes Jumlah rumah di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 8. yang 3.84 2008 58. peningkatan upaya sumber daya manusia. melalui kebijakan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan yang ditandatangani oleh Bappenas.95 Gambar 4. Strategi pelaksanaan diantaranya. bila memungkinkan pemakaian ulang kaleng. meliputi penerapan pendekatan tanggap kebutuhan.087 (40. masyarakat.2011 2. Persentase Keluarga menurut Jenis Sarana Air Bersih yang Digunakan Adanya perubahan paradigma dalam pembangunan sektor air minum dan penyehatan lingkungan dalam penggunaan prasarana dan sarana yang dibangun.43%).lain harus selalu digerakkan secara optimal.53%). kampanye kesadaran peningkatan penyehatan lingkungan.

185 (89. ternyata membayar lebih besar untuk memperoleh air daripada masyarakat berpenghasilan tinggi. namun akses terhadap air minum belum menunjukkan peningkatan yang berarti. pasal 10).696 KK dan yang telah memiliki akses sarana air bersih sebanyak 3. hal ini menunjukkan ketidakadilan dalam mendapatkan akses pada air minum. sehingga kemampuan untuk mendapat akses ke sarana penyediaan air minum yang memenuhi syarat masih terbatas. Keluarga yang telah akses air bersih tersebut.703. terbanyak memanfaatkan sumur gali (45. Pada dasarnya negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi kebutuhan pokok minimal sehari – hari guna memenuhi kehidupan yang sehat.88%). bersih dan produktif (UU No. Walaupun terdapat program – program air minum dan sanitasi untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Masyarakat berpenghasilan rendah.081.63%).668. Namun pada kenyataannya persentase penduduk miskin masih tinggi. Gambar 4.kelembagaan dan penguatan sistem monitoring serta evaluasi pada semua tingkatan proses pelaksanaan menjadi acuan pola pendekatan kegiatan penyediaan Air Bersih dan Sanitasi. Perlu dukungan kebijakan yang lebih fokus untuk penyediaan sanitasi dan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah.33 Akses Air Bersih Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 88 . Jumlah keluarga yang diperiksa akses air bersih sebanyak 4.313 (46.89%) dari 8. 7 Tahun 2004.

2 72. Keluarga yang telah menggunakan sumber air minum terlindung tersebut.674.66 45.734 (69. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 89 .506. Jumlah KK yang telah memiliki jamban sehat 2. khususnya Diare. Persentase Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar Kepemilikan sarana sanitasi dasar yang dimiliki oleh keluarga meliputi jamban.9 65.029.21%).620 (68.902 (40.508. Persentase Keluarga menurut Sumber Air Minum yang Digunakan Jumlah keluarga yang diperiksa sumber air minumnya sebanyak 3.1 Gambar 4. Melalui CLTS terjadi perubahan perilaku tidak buang air besar di sembarang tempat tanpa ada stimulan.20%).4. tempat sampah dan pengelolaan air limbah.703.29 %).06 55. pembiayaan tidak ada subsidi dan jamban adalah private good. terbanyak memanfaatkan sumur terlindung (33.67 Air Limbah 61.51 73.58%) dan pengelolaan air limbah sehat 1. telah dilakukan pemicuan Community Led Total Sanitation (CLTS) di 30 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah untuk mendukung pencapaian wilayah stop buang air besar di sembarang tempat dan penurunan penyakit berbasis lingkungan.11%) dari 8.325 (63.34 68.124 (71. 5.44 Tempat Sampah 79.57%).93 75.057.95 71. 100 50 0 Jamban 2007 2008 2009 2010 70.2011 Dalam mendukung perubahan sanitasi total khususnya buang air besar di sembarang tempat.51 62.34 Cakupan Sanitasi Dasar Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 . tempat sampah sehat 2.696 KK dan yang telah menggunakan sumber air minum terlindung sebanyak 2.

67 58. pasar dan TUPM lainnya.88 Kantor 72. Persentase Tempat-tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat Tempat – tempat umum dan Pengelolaan Makanan adalah kegiatan bagi umum yang dilakukan oleh badan pemerintah.35 Cakupan Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 . swasta atau perorangan yang langsung digunakan oleh masyarakat yang mempunyai tempat dan kegiatan tetap serta memiliki fasilitas. sarana pendidikan.2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 90 .21%). restoran/rumah makan.44%.829 (68. instalasi pengolahan air minum.51 Pendidikan 64. 7. Risiko dari pengelolaan makanan mempunyai peluang yang besar dalam penularan penyakit karena jumlah konsumen relatif banyak dalam waktu yang bersamaan.44%). Cakupan pengawasan tempattempat umum yang memenuhi syarat kesehatan tahun 2011 meliputi hotel 84. restoran/rumah makan 73.56 Gambar 4. pasar 55. 100 80 60 40 20 0 Sarkes 2011 81.55% dan TUPM lainnya (67.457 buah dan yang memenuhi syarat kesehatan 37. Persentase Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya Kondisi kesehatan lingkungan pada institusi meliputi sarana pelayanan kesehatan. Pengawasan sanitasi tempat umum bertujuan untuk mewujudkan kondisi yang memenuhi syarat kesehatan agar masyarakat pengunjung terhindar dari kemungkinan bahaya penularan penyakit serta tidak menyebabkan gangguan terhadap kesehatan masyarakat di sekitarnya.6. Tempat-tempat Umum dan Pengelolaan Makanan seluruhnya yang diperiksa sebanyak 55.11 Ibadah 61. perkantoran dan sarana lain dititik beratkan pada aspek hygiene sarana sanitasi yang erat kaitannya dengan kondisi fisik bangunan institusi tersebut.53%. sarana ibadah.11 Sarana Lain Inst Kelola 47. Tempat-tempat umum dan Pengelolaan Makanan meliputi hotel.

sarana ibadah 61.56%. sarana pendidikan 64. Pembinaan kesehatan lingkungan di institusi sekolah dan pondok pesantren. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 91 .Pada Tahun 2011 pencapaian cakupan institusi yang dibina yaitu sarana pelayanan kesehatan 81.88%. instalasi pengolahan air minum 58.11% dan sarana lainnya 47. Kegiatan yang dilakukan dalam meningkatkan kesehatan lingkungan di insitusi adalah: a.11%.51%. b. perkantoran 72.67%. Pengendalian faktor risiko lingkungan institusi terhadap penyakit berbasis lingkungan.

674 tablet. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 92 .46%). SARANA KESEHATAN 1. stock terbanyak adalah Klorfeniramin Maleat tablet 4 mg 52. Prosentase tingkat kecukupan obat di Kabupaten/kota yang paling tinggi adalah kloramfenikol kapsul 250 mg (278.BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN A.266 tablet dengan pemakaian rata-rata perbulan 2. Ketersediaan Obat menurut Jenis Obat Pada tahun 2011 dari 34 jenis obat yang dilaporkan oleh kabupaten/kota.1 Tingkat Kecukupan obat di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011.834.206. Gambar 5.09%). Tingkat kecukupan obat tertinggi adalah obat Kloramfenikol kapsul 250 mg (50) dan terendah adalah OAT katagori 3 (9) artinya bahwa persediaan obat Kloramfenikol kapsul 250 mg dapat tercukupi pemakaiannya untuk selama 50 bulan dan OAT katagori 3 dapat tercukupi pemakaiannya untuk selama 9 bulan. sedangkan paling rendah adalah OAT Kategori 2 (52. sedangkan stock obat yang paling sedikit adalah OAT Katagori 3 sebanyak 523 paket dengan pemakaian rata-rata perbulan 43 paket.

RS Khusus lainnya sebanyak 54 unit. Pustu.2. TNI/POLRI sebanyak 41 (0. Praktek Dokter Perorangan dan Praktek Pengobatan Tradisional. 3. sarana kesehatan dengan presentase tertinggi adalah swasta 71.866 unit. Sarana Pelayanan Kesehatan terdiri dari Rumah Sakit Umum sebanyak 179 unit . Industri Obat Tradisional sebanyak 14 unit dan BUMN sebanyak 3 (0. RSJ. Praktek Dokter Bersama.348 (71. Sarana Pelayanan Kesehatan dengan Kemampuan Labkes dan Memiliki 4 Spesialis Dasar Sarana kesehatan dengan kemampuan pelayanan laboratorium kesehatan yang dapat diakses masyarakat adalah cakupan sarana kesehatan yang telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pelayanan laboratorium kesehatan sesuai standar dan dapat diakses oleh masyarakat dalam waktu tertentu. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 93 . Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) sebanyak 47. Swasta sebanyak 9. Puskesmas Non Perawatan sebanyak 576 unit.209 unit. Pusat sebanyak 6 (0.01%.13%). Provinsi sebanyak 10 (0. Puskesmas Non Perawatan. RS Khusus lainnya.142 unit. Rumah Bersalin sebanyak 249 unit. Balai Pengobatan/Klinik sebanyak 888 unit . Sarana Kesehatan dengan presentase tertinggi adalah Posyandu 68.32% dan terendah adalah RSJ dan RSB keduanya 0. Kabupaten/kota sebanyak 3734 (28.827 unit. RSB. Jumlah Sarana Pelayanan Kesehatan menurut Kepemilikan/Pengelola Sarana Pelayanan Kesehatan terdiri dari RSU. Praktik Dokter Perorangan sebanyak 4. BP/Klinik.02%) dan Industri Kecil Obat Tradisional sebanyak 285. Puskesmas Pembantu sebanyak 1. Jumlah sarana pelayanan kesehatan pada tahun 2011 sebanyak 13. Puskesmas Perawatan sebanyak 291 unit.158 unit. Puskesmas Keliling sebanyak 948 unit. yang terbagi dalam 6 kepemilikan yaitu. Pos Kesehatan Desa (PKD) sebanyak 5.14% dan terendah adalah BUMN 0.31%). Rumah Sakit Bersalin sebanyak 10 unit. Puskesmas Perawatan. Praktik Dokter Bersama sebanyak 57 unit. Sedangkan menurut kepemilikannya.41%). Rumah Sskit Jiwa sebanyak 4 unit.276 unit. Apotek sebanyak 2. Puskesling.901. Gudang Farmasi Kesehatan (GFK) sebanyak 35 unit.02%. Praktik Pengobatan Tradisional sebanyak 3. RB.05%). Toko Obat sebanyak 367 unit.08%).

39% dengan perincian untuk RSU 98. Rumah Sakit Umum (RSU) di Provinsi Jawa Tengah (179 RSU) baik pemerintah maupun swasta sudah 135 RSU (75. dimana hal ini berkaitan dengan disyaratkannya penyelenggaraan empat pelayanan kesehatan spesialis dasar pada perizinan pendirian sebuah rumah sakit. untuk menegakkan diagnosis dokter di rumah sakit.58% RSU lainnya hanya memiliki kurang dari 4 (empat) pelayanan dasar.Kemampuan pelayanan laboratorium kesehatan yang dimaksud adalah upaya pelayanan penunjang medik untuk mendukung dalam pelayanan medik.31%. Posyandu menurut Strata Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari.31 Puskesmas 70. untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar. RS Jiwa 100%. RS Khusus 95. dan Puskesmas 70. utamanya lima program prioritas Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 94 . 120 100 80 60 40 20 0 RSU Laboratorium Kesehatan 98.32 RSJ 100 RS Khusus 95.36%. oleh. 4.32%.2 Sarana Kesehatan Dengan Kemampuan Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Sarana kesehatan dengan kemampuan pelayanan laboratorium yang dapat diakses masyarakat Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 76.42%) yang memiliki minimal empat spesialis dasar.36 Gambar 5. Sebanyak 24.

sarana. cakupan K4.24 33. Vit A.4/05768. Imunisasi.61 32. Rerata kader bertugas pada hari buka Posyandu.85 10.08 2011 12. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 95 .15 36. Cakupan peserta KB. kader. Ada tidaknya program tambahan dan Cakupan dana sehat b. Manajemen ARRIF dengan 8 indikator yang meliputi : Frekuensi penimbangan. KIA. 2) Variabel Proses : pelaksanaan program pokok.76 2008 16.08 Gambar 5.882 pada tahun 2010 menjadi 47.3 Persentase Posyandu Berdasarkan Strata Tahun 2007 s/d 2011 Berdasarkan laporan Kabupaten/kota.86 13.85 41.79 12.93 34.yang meliputi (KB. K/S. pemberian ASI eksklusif dan frekuensi penimbangan. Cakupan kumulatif KIA.87 39.276 posyandu. dana sehat.84 16. jumlah posyandu tahun 2011 menurun dari 47.29 36. Penghitungan strata Posyandu secara kuantitatif berdasar Surat Gubernur Jawa Tengah nomor 411.77 34. N/S. 60 40 20 0 2007 Pratama Madya Purnama Mandiri 16. Fe. Imunisasi dan penanggulangan diare dan ISPA) dengan tujuan mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. Rerata cakupan D/S. Gizi.05 2009 15. tanggal 20 Februari 2007 tentang Pedoman teknis penghitungan strata Posyandu secara kuantitatif yang dinilai meliputi: 1) Variabel Input: kepengurusan. Cakupan kumulatif KB. pertolongan persalinan oleh nakes. program pengembangan dan administrasi 3) Variable Output: D/S.58 2010 15. Dasar penghitungan Strata/penilaian tingkat perkembangan posyandu yang selama ini digunakan adalah: a.79 8. Cakupan kumulatif imunisasi.69 32. prasarana dan dana.94 38.

dapat dilihat bahwa jumlah Posyandu 2011 mengalami penurunan. Sebanyak 13 kabupaten/kota (37.14%).4 Jumlah Posyandu Tahun 2007 s/d 2011 Dari grafik di atas. a) Posyandu Purnama Posyandu Purnama adalah Posyandu yang sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun. Cakupan tersebut mengalami peningkatan apabila dibandingkan tahun 2010 sebesar 34. cakupan kelima kegiatan utamanya lebih dari 50%.94%.84%). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 96 . mampu menyelenggarakan program tambahan.14%) telah berhasil mencapai target diatas 40%. namun dalam 3 (tiga) tahun sebelumnya mengalami peningkatan. serta telah memperoleh sumber pembiayaan dari dana sehat yang dikelola oleh masyarakat yang pesertanya masih terbatas yakni kurang dari 50% KK di wilayah kerja Posyandu. Meskipun kenaikan secara kualitatif (strata purnama dan strata mandiri) relatif kecil. dengan nilai tertinggi di Kabupaten Tegal (64. Posyandu yang mencapai Strata Purnama pada tahun 2011 sebanyak 17. dengan rata-rata jumlah kader sebanyak lima orang atau lebih.49500 49000 48500 48000 47500 47000 46500 46000 45500 Posyandu 2007 46823 2008 47285 2009 49096 2010 47882 2011 47276 Gambar 5.417 (36.31%) dan terendah di Kabupaten Blora (15.

meningkat dibandingkan dengan nilai tertinggi di Kota Surakarta (82.79 2008 33.08%).603 buah (16. dengan rata-rata jumlah kader sebanyak lima orang atau lebih. Pencapaian cakupan tersebut sudah melampaui target SPM 2010 (> 2%).90%). 2010 (13. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 97 . mampu menyelenggarakan program tambahan.84 Gambar 5.85 2009 32. Kabupaten/Kota maupun Kecamatan serta Pokja Posyandu di tingkat desa/kelurahan. Posyandu yang mencapai Strata Mandiri tahun 2011 sejumlah 7.5 Cakupan Posyandu Purnama Tahun 2007 – 2011 Kegiatan revitalisasi posyandu masih perlu mendapat perhatian dari semua sektor/pihak terkait. serta telah memperoleh sumber pembiayaan dari dana sehat yang dikelola oleh masyarakat yang pesertanya lebih dari 50% KK di wilayah kerja Posyandu.94 2011 36.38 37 36 35 34 33 32 31 30 Posyandu Purnama 2007 32.70%). cakupan kelima kegiatan utamanya lebih dari 50%. b) Posyandu Mandiri Posyandu Mandiri adalah Posyandu sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun. Termasuk didalamnya adalah dengan mengoptimalkan fungsi Posyandu maupun Pokjanal Posyandu yang sudah terbentuk baik di tingkat Provinsi.79 2010 34.

Dengan dikembangkannya Polindes menjadi PKD maka fungsinya menjadi tempat untuk memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan masyarakat. Poliklinik Kesehatan Desa (PKD) adalah wujud upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat yang merupakan Program Unggulan di Jawa Tengah dalam rangka mewujudkan desa siaga. hal tersebut dapat terjadi seiring dengan dikembangkannya Posyandu Model (Kegiatan Posyandu yang sudah diintegrasikan dengan minimal satu kelompok kegiatan yang sesuai dengan karakteristik daerah. Forum Kesehatan Desa. Total UKBM tahun 2011 adalah 61. UKBM terbanyak adalah Posyandu sebesar 47.9 2011 16.20 15 10 5 0 Posyandu Mandiri 2007 8. forum komunikasi pembangunan kesehatan di desa. dan Posyandu. sebagai tempat untuk melakukan pembinaan kader/pemberdayaan masyarakat. UP2K).276 (77. misal kegiatan BKB. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 98 .08 Gambar 5.061 buah. Polindes.05 2009 12.6 Cakupan Posyandu Mandiri Tahun 2007 – 2011 Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2011 terjadi kenaikan persentase pencapaian strata mandiri. Sehingga secara tidak langsung kegiatan integrasi tersebut dapat mempengaruhi pencapaian indikator proses maupun indikator output posyandu. 5. PKD merupakan pengembangan dari Pondok Bersalin Desa. PAUD.42%). Poskesdes.58 2010 13. memberikan pelayanan kesehatan dasar termasuk kefarmasian sederhana dan untuk deteksi dini serta penanggulangan pertama kasus gawat darurat. Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) terdiri atas Desa Siaga.76 2008 10.

bencana. Data Dasar Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas}. Rasio puskesmas keliling terhadap puskesmas pada tahun 2011 adalah 1. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 99 .572. dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Puskesmas sendiri merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pengembangan kesehatan di suatu wilayah kerja (Departemen Kesehatan RI. dan Puskesmas Keliling.80 maka tahun 2011 jumlah puskesmas masih mengalami kekurangan. puskesmas pembantu. yang pengelolaannya ada di bawah dinas kesehatan kabupaten/kota adalah organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh. Jumlah Desa Siaga pada tahun 2011 adalah 8. Puskesmas Pembantu. Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalahmasalah kesehatan.827. dan puskesmas keliling dapat dilihat pada gambar 5. merata. Sedangkan rasio tertinggi di Kota Tegal (1. Puskesmas terdiri dari Puskesmas Perawatan. Jumlah PKD pada tahun 2011 sebanyak 5. Jumlah Puskesmas di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 867 (termasuk 291 Puskesmas Rawat Inap). Puskesmas Non Perawatan.28) dan rasio terendah masih tetap di Kabupaten Sukoharjo (0. hal ini diupayakan dapat terpenuhi dengan puskesmas pembantu dan puskesmas keliling.09.209 buah. Dengan rasio 0. dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat. Sebuah desa dikatakan menjadi desa siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). Pada tahun 2011 jumlah puskesmas keliling adalah 948 unit. Rasio jumlah puskesmas per 30. terpadu. puskesmas perawatan.1. mengalami peningkatan dibandingkan dengan jumlah Poskesdes tahun 2010 sebanyak 8. 6. 2004).80 berarti bahwa jumlah puskesmas belum tercukupi.576 buah. Jumlah puskesmas pembantu pada tahun 2011 masih tetap sama dengan tahun 2010 sebanyak 1.000 penduduk pada tahun 2011 sebesar 0.44). Jumlah puskesmas.Pengembangan PKD dimulai sejak tahun 2004. menurun dibandingkan tahun 2010.

sanitasi. Untuk mencukupi kebutuhan tenaga kesehatan tersebut. baik di pemerintah pusat. Kebutuhan tenaga kesehatan belum dapat terpenuhi. khususnya di tingkat kabupaten/kota dikarenakan beban terhadap penganggaran pegawai serta belum berjalannya kegiatan mobilisasi tenaga kesehatan yang sesuai dengan penempatan tugas tenaga tersebut.774 tenaga. Sehingga menyebabkan sulitnya dalam menentukan kebutuhan tenaga kesehatan di tingkat kabupaten/kota. Kekurangan lain disebabkan belum adanya formasi pengganti bagi tenaga yang pensiun.7 Jumlah Puskesmas. perawat. pemerintah membuka penerimaan CPNS baru baik secara swakelola maupun tenaga pusat yang ditempatkan di daerah. Peningkatan jumlah tenaga kesehatan sebanyak 6. Puskesmas Pembantu. Untuk mencukupi kekurangan tenaga tersebut dilakukan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 100 . TENAGA KESEHATAN Tenaga kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sejumlah 58. bidan. Puskesmas Perawatan. tenaga farmasi.19%. RI 256 267 283 281 291 Pustu 1843 1846 1850 1827 1827 Pusling 963 1020 1130 1138 948 Gambar 5. dan kesehatan masyarakat.167 tenaga yang terdiri dari tenaga medis.2000 1600 1200 800 400 0 Puskesmas 2007 2008 2009 2010 2011 851 861 867 864 867 Pusk. berpengaruh terhadap peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang semakin tinggi. dan Puskesmas Keliling Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 B. Jumlah tenaga kesehatan tersebut meningkat bila dibandingkan dengan jumlah tenaga kesehatan tahun 2010 sebanyak 54. provinsi maupun kabupaten/kota dan makin kompleksnya masalah-masalah yang ditangani oleh tenaga kesehatan.

8 Rasio Dr.89%). Dokter Spesialis Jumlah tenaga dokter spesialis yang bekerja di sarana kesehatan sebanyak 2.2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 101 .253 orang sehingga rasio dokter spesialis per 100. Persentase penempatan tenaga kesehatan pada tahun 2011 adalah sebagai berikut.04% lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (1. Bidan Tidak Tetap dan diupayakan dapat mengangkat tenaga kesehatan lain sebagai pegawai tidak tetap disamping sebagai Pegawai Harian Lepas (PHL).000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 6. Rasio tersebut berada di atas standar WHO sebesar 6/100.96 2009 8 2010 6.28%). 10 8 6 4 2 0 Rasio dokter spesialis 2007 4.11 lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (52. 1.96 meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (6.99%).72% lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (0.55%). Pengangkatan PTT tersebut dilakukan masa bakti selama 3 tahun baik dengan dana Pemerintah Pusat maupun dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) masing-masing kabupaten/kota.71% lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (2.63).00) dan Kabupaten Sragen (0. sarana kesehatan lain sebesar 5. puskesmas sebesar 30.96 Gambar 5.000 penduduk.07% lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (2.00). Spesialis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .86 2008 4. institusi diklat/diknakes sebesar 2. rumah sakit sebesar 59.41%).05%) dan rasio terendah di Kabupaten Banjarnegara (0. dan dinas kesehatan provinsi sebesar 0.35% lebih kecil dibandingkan dengan tahun 2010 (40. dinas kesehatan kabupaten/kota sebesar 2. Rasio dokter spesialis tertinggi di Kota Magelang (71.42%).63 2011 6.pengangkatan Dokter Tidak Tetap. Jumlah dan Rasio Tenaga Medis di Sarana Kesehatan a.

14 2010 2.13 2011 12.27 Gambar 5.06 2008 2.000 penduduk.058.000 penduduk adalah 12.000 penduduk.10 Rasio Dr.9 Rasio Dr.91 2011 3. Umum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .224 orang.91).021 sehingga rasio dokter gigi di Provinsi Jawa Tengah per 100.21 2008 10.22.72 2009 3.b.2011 c.92.97 dan terendah adalah Kabupaten Klaten sebesar 5.27 meningkat dibanding tahun 2010 (2. 4 3 2 1 0 Rasio dokter gigi 2007 3. Rasio terendah adalah Kabupaten Banjarnegara 0. Rasio tersebut masih di bawah target nasional 40 per 100.69 dan tertinggi adalah Kota Magelang 16. Rasio terbesar adalah Kota Magelang 76.963 sehingga rasio dokter umum per 100. 14 12 10 8 6 4 2 0 Rasio dokter umum 2007 11. Dokter Umum Di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011. jumlah tenaga dokter umum sebanyak 4.96 meningkat dibanding tahun 2010 (11. yang bekerja di sarana kesehatan sebanyak 3.35 2010 11. Dokter Gigi Jumlah tenaga dokter gigi di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 1. Rasio tersebut masih di bawah target nasional 11 per 100.41 2009 11. Gigi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 102 .000 penduduk tahun 2011 sebesar 3.96 Gambar 5. yang bekerja di sarana kesehatan sebanyak 1.13).

Rasio tertinggi adalah Kota Magelang 749.95 Gambar 5. 50 40 30 20 10 0 Rasio bidan 2007 31. sebagian besar bekerja di sarana kesehatan (12. Rasio Tenaga Bidan per 100.000 penduduk adalah 73.41 dan terendah adalah Kabupaten Tegal 22. Rasio tertinggi adalah Kota Magelang 127. Bidan Jumlah Tenaga Bidan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 adalah 13.56 Gambar 5.71 2008 34.472.95 menurun dibandingkan tahun 2010 (76.94.55 2011 73.2.47).100 orang.000 penduduk tahun 2011 sebesar 39.47 2011 39.69 2010 38.45 2009 65.76 2010 76. Jumlah dan Rasio Tenaga Keperawatan di Sarana Kesehatan a. Perawat Tenaga perawat di Provinsi Jawa tengah sebanyak 24.14 2008 60.43 2009 36. 100 80 60 40 20 0 Rasio perawat 2007 62.25.55).2011 b.12 Rasio Tenaga Bidan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 103 .812 orang). sebagian besar bekerja di sarana kesehatan sebanyak 23.56 meningkat dibanding tahun 2010 (38.72 dan terendah Kabupaten Banjarnegara 7.11 Rasio Tenaga Perawat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .947 sehingga rasio tenaga perawat per 100.

Rasio tertinggi Kota Surakarta 1.11.55 dibawah target nasional 10 per 100.090 orang bekerja di sarana kesehatan. dan D-1 Gizi. S-1 Farmasi. Rasio tenaga gizi per 100.85. Jumlah tenaga kefarmasian di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 adalah 4. Rasio tertinggi adalah Kota Magelang 34.549 orang.376 didominasi oleh tenaga perempuan sebanyak 2.23 2011 12.000 penduduk.11 dan Kabupaten Batang 0.97 2010 11. D-III Farmasi.959 orang. D-III Gizi. Jumlah tenaga gizi di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 adalah 1.3.88 dan terendah Kabupaten Wonosobo 0.63 meningkat dibanding tahun 2010 (11.000 penduduk. Rasio tenaga kefarmasian per 100.000 penduduk sebesar 4.23).63 Gambar 5. Angka tersebut masih di bawah target nasional 22 per 100. 15 10 5 0 Rasio tenaga kefarmasian 2007 9. Jumlah dan Rasio Tenaga Kefarmasian di Sarana Kesehatan Tenaga kefarmasian terdiri dari Apoteker.68 dan terendah adalah Kabupaten Pati 1. yang sebanyak 4.13 Rasio Tenaga Kefarmasian Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 4.15 2009 8.454 bekerja di sarana kesehatan.000 penduduk pada tahun 2011 sebesar 4.49 menurun bila dibandingkan dengan tahun 2010 (4. Jumlah dan Rasio Tenaga Gizi di Sarana Kesehatan Tenaga gizi terdiri dari D-IV/S-1 Gizi.000 penduduk adalah 12.06 2008 9.55). yang sebanyak 1. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 104 . dan Asisten Apoteker. Sedangkan rasio tenaga apoteker dan sarjana farmasi per 100.

62) dan terendah adalah Kabupaten Klaten (0.000 penduduk tahun 2011 sebesar 2.20 turun dibandingkan dengan tahun 2010 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 105 .71).56 2009 3.55 2011 4. Jumlah Tenaga Sanitasi di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 adalah 1.96 Gambar 5. Kesehatan Masyarakat Jumlah tenaga kesehatan masyarakat di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 1. Rasio tenaga kesehatan masyarakat per 100.37 2008 3. Rasio tenaga sanitasi per 100. yang 1.230 orang.036 diantaranya bekerja di sarana kesehatan. Jumlah dan Rasio Tenaga Kesehatan Masyarakat di Sarana Kesehatan a.86 2008 3.000 penduduk sebesar 3. 5 4 3 2 1 0 Rasio tenaga kesmas 2007 3.5 4 3 2 1 0 Rasio tenaga gizi 2007 3.61 2009 4.3 2011 2.49 Gambar 5. Rasio tertinggi adalah Kota Tegal (19. yang 958 orang bekerja di sarana kesehatan.758 orang.30).96 menurun dibandingkan dengan tahun 2010 (4.14 Rasio Tenaga Gizi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 5.15 Rasio Tenaga Kesehatan Masyarakat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 b.8 2010 4.14 2010 4. Tenaga Sanitasi Tenaga sanitasi terdiri dari D-III sanitasi dan D-I sanitasi.

50 dan adalah Kabupaten Karanganyar 3. teknik elektromedik.74 2011 3.85 2009 8. yang 3.45 2010 3.38).10.442 orang.16 Rasio Tenaga Sanitasi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 . Rasio tertinggi adalah Kota Magelang (27.56).24 tahun terendah Gambar 5. 5 4 3 2 1 0 Rasio tenaga sanitasi 2007 4.315 orang diantaranya bekerja di sarana kesehatan.56 2011 10. Rasio tenaga sanitasi dapat dilihat pada gambar 5.2011 6.17 Rasio Tenaga Tehnisi Medis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 106 .2 Gambar 5.24 menurun dibandingkan dengan 2010 (10.59 2009 3. Rasio tenaga teknisi medis per 100. Tenaga teknisi medis di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sejumlah 3.74). Teknisi Medis Tenaga teknisi medis terdiri dari analis laboratorium.000 penduduk sebesar 10.63 2008 3.69.(3. Rasio tertinggi adalah Kota Magelang 90.07) dan terendah adalah Kabupaten Demak (0. Jumlah dan Rasio Tenaga Medis dan Fisioterapis di Sarana Kesehatan a.76 2008 8. 12 10 8 6 4 2 0 Rasio tenaga teknisi medis 2007 8. penata rontgent dan penata anestesi.99 2010 10.

2.000 penduduk tahun 2011 sebesar 1.b.01 Jumlah tenaga kesehatan di Provinsi Jawa Tengah masih belum tercukupi dan belum merata sesuai kebutuhan kabupaten/kota. Kontribusi terendah 0. terendah adalah Kabupaten C.84% berasal dari APBD kabupaten/kota. Mobilitas tenaga atau distribusi tenaga kesehatan yang tersebar di wilayah pelayanan kesehatan diupayakan dengan peningkatan sarana-sarana kesehatan yang ada. PHL maupun PTT. Rasio tenaga fisioterapi per 100.39%. Dalam pembangunan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 107 .01 dan Kabupaten Demak 0.975.31 dan Rembang 0.85%. Tenaga Fisioterapi Jumlah tenaga fisioterapi di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 615 orang.73%). 575 orang diantaranya bekerja di sarana kesehatan. peningkatan puskesmas menjadi puskesmas rawat inap dan peningkatan pemberian insentif oleh Kementrian Kesehatan bagi tenaga medis yang melaksanakan masa bakti di daerah terpencil maupun sangat terpencil.657 dengan kontribusi terbesar sebesar 79. mengalami meningkat dibandingkan tahun 2010 (0. tertinggi adalah Kota Semarang 0. seperti peningkatan akreditasi rumah sakit. APBD provinsi yang dialokasikan untuk pembiayaan kesehatan di kabupaten/kota tahun 2011 sebesar 1.06% adalah sumber dari pemerintah lain. Persentase Anggaran Kesehatan dalam APBD Kabupaten/Kota Pada tahun 2011 jumlah total anggaran kesehatan kabupaten/kota se Jawa Tengah Rp. 33 tahun 2004. Kontribusi anggaran kesehatan APBD kabupaten/kota meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2010 (51. PEMBIAYAAN KESEHATAN 1.573. terdapat pembagian peran dan wewenang antara pemerintah pusat dan daerah.78. Pemerintah provinsi dan pemerintah daerah (kabupaten/kota) telah berusaha mencukupi kebutuhan tenaganya melalui pengangkatan tenaga baru seperti CPNS. Sesuai dengan Undang-Undang No.637. dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah/desentralisasi. Kontribusi DAK bidang kesehatan di kabupaten/kota sebesar 7.25%).

358. Jumlah anggaran untuk askeskin sebesar 5. Anggaran kesehatan perkapita menurun dari Rp.pada tahun 2010 menjadi Rp.pada tahun 2011. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 108 .73%).39%).866.428.12% dari keseluruhan anggaran kesehatan menurun dibandingkan tahun 2010 (0. Hal ini merupakan respon pemerintah yang positif terhadap pembangunan bidang kesehatan di kabupaten/kota.637.3...975. terjangkau dan berkualitas.93% pada tahun 2010 menjadi 3. pemerintah pusat dan daerah menyediakan pelayanan kesehatan yang merata.450.362. Kontribusi anggaran kesehatan bersumber dana lain meningkat dari 0.55% pada tahun 2011 Anggaran belanja bersumber APBD kabupaten/kota yang dialokasikan untuk pembiayaan kesehatan tahun 2011 sebesar 79.573. Melalui Dana Alokasi Khusus (DAK).-.kesehatan.657 lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebesar Rp.80% pada tahun 2011.105. meningkat dibandingkan tahun 2010 (51.84% dari total APBD kabupaten/kota.2.81. pemerintah pusat memberikan anggaran pada daerah untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan prioritas nasional. Total angaran kesehatan kab/kota tahun 2011 sebesar Rp. Anggaran kesehatan bersumber PHLN tahun 2011 mencapai 0.234.

Mortalitas/Angka Kematian a.50/1.52%. Dari hasil pemeriksaan laboratorium. sudah melampaui target Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tahun 2015 (17/1. Prevalensi Tuberkulosis tahun 2011 per 100. Angka kesembuhan (Cure Rate ) TB paru Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 sebesar 85. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 109 . Angka Kematian Balita (AKABA) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 11.38%).34/1. c.BAB VI KESIMPULAN A. d.000 kelahiran hidup). b. Derajat Kesehatan 1. Angka Kematian Ibu (AKI) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 116.15% sudah melebihi target nasional (85%) dan meningkat bila dibandingkan tahun 2009 (85.70 per 100. c. Angka Kematian Bayi (AKB) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 10. d.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup). meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 (55. Case Detection Rate (CDR) atau angka penemuan penderita TB paru BTA (+) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 59. mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan AKI pada tahun 2010 yang sebesar 104. sehingga sudah memenuhi target (164 kasus).01/100. 215 kasus yang diperiksa semua menunjukan negatif polio (berarti tidak ditemukan virus polio liar).000 penduduk.52.000 kelahiran hidup.97/100. Angka kematian kecelakaan lalu lintas di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 adalah sebesar 2.000 penduduk Provinsi Jawa Tengah sebesar 74. Pada tahun 2011 di Provinsi Jawa Tengah ditemukan 215 penderita AFP. 2. sudah melampaui target Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tahun 2015 (23/1. Morbiditas/Angka Kesakitan a.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup.01%). b.

Angka kesakitan/Incidence Rate (IR) DBD di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 15. Jumlah kasus baru IMS lainnya di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 ini sebanyak 10. l.9%. i.828 (93. Persentase penemuan dan penanganan penderita pneumonia pada balita tahun 2011 sebesar 25. j.000 penduduk.269 orang.13) yang positif HIV.63%).e.81%).000 penduduk.14%.27/100. Jumlah pendonor pada tahun 2011 diketahui sebanyak 346.752 kasus. menurun bila dibandingkan tahun 2010 (59. k. Kusta tipe MB diambil dari data penderita baru tahun 2009 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2011 sebesar 76% lebih rendah dari target 95%.93%. Jumlah infeksi HIV yang dilaporkan tahun 2011 sebanyak 755 kasus. Kasus Aquiared Immuno Devisiency Syndrome (AIDS) sebanyak 521 kasus dengan jumlah kematian karena AIDS sebanyak 89 kasus.8/100.29%) dan sudah lebih rendah bila dibandingkan dengan target nasional (<1%) Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 110 . g.32%.702 kasus. Cakupan penemuan dan penanganan diare di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 57.5% dengan jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 66. sedangkan proporsi anak di antara penderita baru sebesar 10. m. mengalami penurunan bila dibanding tahun 2010 (40. kemudian yang dilakukan pemeriksaan sampel darah sebanyak 324.48%).000 penduduk. sebanyak 415 sampel (0. f. h. lebih rendah bila dibandingkan CFR tahun 2010 (1. Cakupan program kusta tipe PB tahun 2011 berdasarkan jumlah penderita baru tahun 2010 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2011 sebesar 85% lebih rendah dari target 90%.000 penduduk) dan sudah mencapai target nasional yaitu <20/100. Dari hasil pemeriksaan sampel darah tersebut. Jumlah kasus baru tipe Multi Basiler yang dilaporkan sebanyak 1.873 kasus dan tipe Pausi Basiler sebanyak 395 kasus dengan Newly Case Detection Rate (NCDR) sebesar 7 per 100. mengalami peningkatan bila dibandingkan cakupan tahun 2010 (44. Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) DBD tahun 2011 sebesar 0. Proporsi cacat tingkat II pada tahun 2011 sebesar 13.

08%).1%). Kasus tertinggi PTM adalah kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah sebesar 62. Jumlah kasus Tetanus (Non Neonatorum) sebanyak 13 kasus yang tersebar di 4 kabupaten/kota.467 kasus. mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2010 (117 kasus) dan terdapat di 9 kabupaten/kota.10‰). Difteri dan Hepatitis B. Jumlah kasus Tetanus Neonatorum sebanyak 4 kasus yang tersebar di 4 kabupaten/kota.09%. Jumlah kasus tahun 2011 sebanyak 3. Yang termasuk dalam PD3I yaitu Polio. Tetanus Non Neonatorum. Pertusis. Campak. Kasus penyakit kanker yang ditemukan sebanyak Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 111 . p. Jumlah kasus Hepatitis B sebanyak 170 kasus.300 kasus) dan angka kesakitan malaria sebesar 0.03% dan tersebar di 5 kabupaten/kota.193 kasus).63% pada tahun 2011. mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2010 (3. Prevalensi kasus DM tidak tergantung insulin menurun dari 0. o.43% (880. meningkat dibandingkan tahun 2010 (0. mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2010 (1 kasus).873 kasus. Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) Malaria tahun 2011 sebesar 0. Jumlah kasus Difteri pada tahun 2011 sebanyak 8 kasus lebih sedikit bila dibandingkan dengan tahun 2010 (14 kasus).70% menjadi 0. Prevalensi diabetes melitus tergantung insulin sebesar 0.03%.860 kasus (72. Jumlah kasus Pertusis sebanyak 4 kasus yang berasal dari Kabupaten Kudus.09%. Prevalensi kasus tahun 2011 sebesar 0.11%). Secara kumulatif. r. Kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah yang melaporkan data PTM tahun 2011 hanya 27 kabupaten/kota (77. Kasus tertinggi PTM pada kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah adalah penyakit Hipertensi Esensial.n. Prevalensi stroke dekompensasio non hemorargik sebesar 0. Prevalensi stroke hemoragik tahun 2011 adalah 0. dimana untuk tahun 2011 ini ada 141 kasus baru. Tetanus Neonatorum.11‰. sedikit meningkat dibandingkan tahun 2010 (0.13 %).12% meningkat bila kordis dibandingkan tahun 2010 (0. yaitu sebanyak 634. jumlah kasus Filariasis pada tahun 2011 sebanyak 537 penderita.664 kasus). Jumlah kasus Campak sebanyak 1. q. Jumlah kasus Polio sebanyak 0 kasus. meningkat dibandingkan tahun 2010 (3.

terdiri dari Ca.09% pada tahun 2011.277 kasus). Prevalensi kasus asma sebesar 0. Cakupan kunjungan ibu hamil K1 di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 98. B. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 96. meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (92.631. meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (93. c.04%) tetapi belum memenuhi target SPM 2015 (95%).542 kasus (48.13%).08% pada tahun 2010 menjadi 0. Adapun persentase BBLR sebesar 3.184 meningkat banyak apabila dibandingkan tahun 2010 yang sebanyak 15.64%). Cakupan kunjungan ibu hamil K4 tahun 2011 sebesar 93.18%).35% c.59%).899 kasus (35. meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (98. servik 6. Ca. paru 954 kasus (4. dan Ca.187 (0. Upaya Kesehatan 1.19. Prevalensi kasus PPOK mengalami peningkatan yaitu dari 0. b.86%). Balita Gizi Buruk (BB/TB) tahun 2011 berjumlah 3.72%. Persentase Balita Gizi Buruk mendapatkan perawatan tahun 2011 sebesar 100% jauh lebih meningkat dibandingkan tahun 2010 sebesar 93.55% mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2010 (0.42%). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 112 .28%.637 kasus meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (13.59%). Pelayanan Kesehatan a. 3.27%). meningkat bila dibandingkan tahun 2010 sebesar 2.242 (11. Persentase balita dengan gizi kurang (BB/U) Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 5.69%. Jumlah bayi berat lahir rendah (BBLR) di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 21.79%.514 (0. hepar 2. mamae 9. Status Gizi a. b.71%. Ca.10%) menurun apabila dibandingkan tahun 2010 sejumlah 3.73%.

Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani tahun 2011 sebesar 75. Cakupan kunjungan neonatus di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 98. Cakupan pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi pada bayi sebesar 99.64%. Cakupan neonatus risti tertangani Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 53.d.35%. meningkat bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (94. meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebesar 55. e.43%. m.72%. i.84%. h.70%).78%) Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 113 .831 (42. Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga kesehatan / guru UKS / kader kesehatan sekolah tahun 2011 sebesar 78.555. n.84%).28%. Cakupan pelayanan anak balita tahun 2011 sebesar 81. Yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai strata UKS sebesar 1. f. Cakupan tersebut sudah melampaui target SPM sebesar 95%.97%. meningkat bila dibandingkan cakupan tahun 2010 (93. Cakupan pelayanan pada ibu nifas di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 93.02%.61%).24%). k.08%. Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada Balita tahun 2011 sebesar 98. lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun 2010 (93.10) tetapi belum mencapai target SPM 2015 (80%). Cakupan kunjungan bayi di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 92. Cakupan ini sudah melampaui target SPM (95%). Jumlah siswa SD dan setingkat tahun 2011 sebanyak 2. lebih banyak dibandingkan tahun 2010 sebesar 96. Cakupan ibu nifas mendapat kapsul vitamin A tahun 2011 sebesar 96. j. mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010 (78. mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010 (96.853 anak.76%). meningkat dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (52. g.074.86%).25% mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010 (44.45%. Cakupan tersebut masih dibawah target SPM (95%).01%.73%). meningkat dibandingkan tahun 2010 (92. l.

y.15%). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 114 . v. MKJP Tahun 2011: IUD (6.2%). Cakupan pemberian ASI eksklusif hanya sekitar 45. lebih besar bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (90.0%) dan Implant (12. Cakupan peserta KB aktif Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 76. q.0%). u.8%).4%). Polio 3 (94. x.2%).549. Kesemuanya sudah di atas target minimal nasional (85%).7%). NON MKJP: Suntik (54.0%).4%) mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2010 (94.57%). DPT3+HB3 (95.4%) dan Kondom (5.49%).20% dari jumlah PUS (6. mengalami penurunan dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (78.8%.9%). Pencapaian UCI desa tahun 2011 (96.o. sudah mencapai target (70%). t.32% menurun dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (89. Cakupan pemberian Fe3 pada ibu hamil di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 90. meningkat dibandingkan tahun 2010 (37. Cakupan Pemberian Makanan Tambahan ASI (MP-ASI) tahun 2011 sebesar 38. Angka tersebut sudah mencapai target SPM (90%). MOP (0.28%). s. w. menurun apabila dibanding tahun 2010 (997. MOW (2. Walaupun menurun.18%. Jumlah peserta KB baru pada tahun 2011 sebanyak 895.7%).87%).25%).120 (13.31% menurun dibandingkan dengan tahun 2010 (53. DPT1+HB1 (97. Cakupan balita ditimbang tahun 2011 sebesar 78. Cakupan balita gizi buruk mendapatkan perawatan tahun 2011 sebesar 100% jauh lebih meningkat dibandingkan tahun 2010 (93. p. PIL (18. Cakupan desa dengan garam beryodium tahun 2011 sebanyak 53.42% menurun dibandingkan tahun 2010 (80. Cakupan masing-masing jenis imunisasi bayi tahun 2011 adalah sebagai berikut BCG (98.0%) dan Campak (93.06%).18%). r.25%.6%).125).174) atau 15. angka tersebut sudah melampaui target SPM (90%).

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 115 . Tahun 2011 DO tingkat Jawa Tengah sebanyak 3.7 dan TT-5 sebesar 17.82.81).198.4%. Rumah Sakit khusus lain sebesar 98.z. TT-4 sebesar 20. Puskesmas rawat inap dengan kemampuan pelayanan gawat darurat yang dapat diakses masyarakat Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 291 puskesmas atau 100%.61%.46%.59%). Prosentase jumlah murid yang diperiksa untuk tahun 2011 (37. Jumlah ibu hamil 2011 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 632. yang mendapat TT-1 sebesar 48. aa. Cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 51.67%).8. cc. Rasio tumpatan dan pencabutan gigi tetap di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 0. mengalami peningkatan bila dibandingkan rasio tahun 2010 (0. TT-2 sebesar 48.5%. Angka Drop Out (DO). Rumah Sakit Jiwa sebanyak 100%. ff.90%) lebih tinggi dibandingkan pencapaian tahun 2010 (37.4%.96% menurun bila dibandingkan cakupan pada tahun 2010 sebesar 52. ee. dd. gg.83%).45%). TT-3 sebesar 28. Jumlah Rumah Sakit Umum dengan kemampuan pelayanan gawat darurat sebanyak 98. mengalami penurunan dibanding tahun 2010 (3.2%. Pada tahun 2011 persentase desa/kelurahan terkena KLB yang ditangani kurang dari 24 jam mengalami kenaikan menjadi 100% dibanding dengan tahun 2010 (98. dan masih jauh dibawah target cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut SPM (70%). Cakupan perawatan gigi dan mulut murid SD/MI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 55.30% mengalami peningkatan bila dibanding tahun 2010 (53.2% dan TT2+ sebanyak 114. sesuai kesepakatan dengan kabupaten/kota indikator DO di Jawa Tengah maksimal 5% atau (-5%). bb.80%.

Penyuluhan kelompok pada tahun 2011 sebanyak 206. Masyarakat miskin yang mendapatkan pelayanan kesehatan rawat jalan di sarana pelayanan strata 1 sebesar 7.98%).733 jiwa dengan attack rate atau rata-rata kejadian sebesar 33.18% dari total penduduk bukan masyarakat miskin (non maskin). Jumlah kunjungan gangguan jiwa tahun 2011 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 198.73%%) dan KLB Tetatus Neonatorum (75. yang meninggal sebanyak 24 orang (case fatality rate/CFR: 0. Cakupan kunjungan rawat jalan di sarana kesehatan di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 105.hh.493 (3. Jumlah masyarakat miskin dan hampir miskin pada tahun 2011 sebanyak 13.3%) sedangkan di sarana kesehatan 2 dan 3 sebanyak 431.205.033. CFR tertinggi adalah KLB demam berdarah dengue/DBD yaitu terdapat (72. c. Sedangkan yang menderita akibat kejadian luar biasa tersebut sebanyak 3.687 (57. Jumlah masyarakat miskin dan hampir miskin sebanyak 13. Cakupan rawat inap di sarana kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 5.433.00%).817 kali. Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan a.59%).344 kali.77%).69%). mendapatkan pelayanan kesehatan rawat inap di sarana kesehatan strata 1 sebanyak 1.202. jj. e. Dari sejumlah penderita tersebut.805 orang.37%).3%).033.17%) sedangkan di sarana pelayanan strata 2 dan strata 3 sebesar 438. Jumlah penduduk terancam KLB tahun 2011 sebanyak 1. meningkat bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (21. d.479 kali (65. terbanyak di rumah sakit yaitu 130.387.1% lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2010 (4.011 (9. Cakupan jaminan pemeliharaan kesehatan pra bayar tahun 2011 mencapai 36.848 jiwa. b. meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 (36. Sedangkan penyuluhan massa telah dilakukan 5.544 (3.4%. ii.64%).21%.805. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 116 . 2.

Perilaku Hidup Masyarakat a. 4.674.14%.f. Cakupan keluarga yang memiliki akses terhadap air bersih meningkat dari 87.506.11%) dari 8. h. Keadaan Lingkungan a.696 KK dan yang telah menggunakan sumber air minum terlindung sebanyak 2. Persentase rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat yaitu yang diwakili oleh rumah tangga yang mencapai strata sehat utama dan sehat paripurna sebesar 74. d. menurun bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (65. Rata-rata TOI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3. c. Cakupan rumah yang memenuhi syarat kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 62. menurun bila dibandingkan dengan rata-rata pada tahun 2010 sebesar 3. Cakupan rumah bebas jentik nyamuk Aedes Aegypti di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 77. g. Jumlah keluarga yang diperiksa sumber air minumnya sebanyak 3. i.620 (68.703.77%) mempunyai BOR yang dianggap cukup ideal.01 sedangkan angka yang dapat ditolerir maksimum 45. Angka Kematian Umum Penderita Yang Dirawat di RS (GDR) pada tahun 2011 rata rata sebesar 34. 3. Pada tahun 2011 jumlah rumah sakit sebanyak 247 Rumah Sakit di Jawa Tengah terdiri dari 13 RS (6.85. meningkat bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (73.902 (40. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 117 .68%. meningkat bila dibandingkan tahun 2010 (68. b.88% pada tahun 2011.77.13%) mempunyai tingkat pemanfaatan sangat tinggi diatas maksimal occupancy rate. 61 RS (28.63%).43%).79% pada tahun 2010 menjadi 89.95%.54 dari jumlah RS yang lapor.21%). Rata-rata lama rawat seorang pasien di RS se Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3.91 mengalami peningkatan bila dibandingkan nilai ALOS tahun 2010 sebesar 3.01%).

76% pada tahun 2010 meningkat menjadi 63. C. Tingkat kecukupan obat tertinggi adalah obat Kloramfenikol kapsul 250 mg (50) dan terendah adalah OAT katagori 3 (9) artinya bahwa persediaan obat Kloramfenikol kapsul 250 mg dapat tercukupi pemakaiannya untuk selama 50 bulan dan OAT katagori 3 dapat tercukupi pemakaiannya untuk selama 9 bulan. g.11%.44%.51%.834. Cakupan keluarga yang memiliki tempat sampah memenuhi syarat kesehatan di Provinsi Jawa Tengah meningkat dari 67.67%.56%. perkantoran 72.09%).29% pada tahun 2011. sarana ibadah 61.88%.57% pada tahun 2011.53%. c. Cakupan keluarga yang memiliki jamban yang memenuhi syarat kesehatan di Provinsi Jawa Tengah turun dari 72. Sarana Kesehatan a. Sedangkan cakupan keluarga memiliki sarana pengelolaan air limbah yang memenuhi syarat kesehatan sebesar 50. Prosentase tingkat kecukupan obat di Kabupaten/kota yang paling tinggi adalah kloramfenikol kapsul 250 mg (278. h. d.02% pada tahun 2010 menjadi 69.206.e. restoran/rumah makan 73.44%).95% pada tahun 2010 menjadi 71. pasar 55. Pada tahun 2011 dari 34 jenis obat yang dilaporkan oleh kabupaten/kota.11% dan sarana lainnya 47. Sumber Daya Kesehatan 1.674 tablet) dan terendah adalah OAT katagori 3 (43 paket).46%). sedangkan paling rendah adalah OAT Kategori 2 (52. sarana pendidikan 64. Cakupan pengawasan tempat-tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan tahun 2011 meliputi hotel 84. Pada Tahun 2011 pencapaian cakupan institusi yang dibina yaitu sarana pelayanan kesehatan 81. instalasi pengolahan air minum 58.58% pada tahun 2011.55% dan TUPM lainnya (67. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 118 . stock terbanyak adalah Klorfeniramin Maleat tablet 4 mg 52. Pemakaian obat rata-rata perbulan terbanyak adalah Klorfeniramin Maleat tablet 4 mg (2. f.266 tablet dan paling sedikit adalah OAT Katagori 3 (523 paket). b.

Rasio tenaga kefarmasian per 100. dengan sasaran penduduk yang dilayani oleh sebuah puskesmas rata-rata 30.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 6. 10 RS Bersalin milik swasta dan 54 RS Khusus lainnya (3 milik pemerintah dan 51 milik swasta) h.96. Rasio tenaga dokter gigi per 100.42. Rasio tenaga gizi per 100.80. Tenaga Kesehatan a. g. d. 7 RSU milik pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 119 . maka jumlah puskesmas per 30.49. Ini berarti bahwa jumlah puskesmas di Provinsi Jawa Tengah masih kurang. Sedangkan puskesmas perawatan dari 281 buah pada tahun 2010 naik menjadi 291 pada tahun 2011. Jumlah puskesmas di Provinsi Jawa Tengah meningkat dari 854 unit pada tahun 2010 menjadi 867 pada tahun 2011. dan 41 milik pemerintah kabupaten/kota). e. Bila dibandingkan dengan konsep wilayah kerja puskesmas.0000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 12. 2. b.209 unit.24. Rasio dokter spesialis per 100.000 penduduk tahun 2011 sebesar 4.e. f.000 penduduk per puskesmas. Puskesmas Pembantu sebanyak 1. Puskesmas Keliling sebanyak 948 unit dan Poliklinik Kesehatan Desa sebanyak 5. Rasio tenaga dokter umum per 100. RSU milik TNI/POLRI sebanyak 10 RS. RSU milik BUMN sebanyak 1 RS dan RSU milik swasta sebanyak 118 buah. c.827 unit. Unit Pelaksana Tehnis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah terdiri dari: Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) sebanyak 5 unit dan 1 Balai Kesehatan Indera Masyarakat (BKIM). Rumah sakit umum di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 berjumlah 179 buah yang terdiri dari RSU pemerintah sebanyak 50 buah ( 2 RSU milik Departemen Kesehatan.000 penduduk tahun 2011 sebesar 17.000 penduduk tahun 2011 sebesar 0. Rumah sakit khusus pemerintah dan swasta di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 68 RS terdiri dari 4 RS Jiwa milik pemerintah.15.

73% pada tahun 2010 menjadi 79.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 10.96 lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2010 (4. Rasio tenaga keperawatan per 100.30).000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 73.450.f.- Demikian gambaran hasil pembangunan kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebagai wujud nyata kinerja seluruh jajaran kesehatan di Provinsi Jawa Tengah dalam upaya mewujudkan Jawa Tengah Sehat potensi daerah. Rasio Bidan per 100.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3.95 lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2010 (76.55). j.84% pada tahun 2011.47). 81. g.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 2.11%. Rasio tenaga sanitasi per 100. i.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 39.56 lebih banyak dibandingkan tahun 2010 (38.56). Rasio tenaga teknisi medis per 100. yang semula sebesar 51. 3.20 menurun dibandingkan tahun 2010 (3.74). Pembiayaan Kesehatan Anggaran belanja yang dialokasikan 2011 sekitar untuk 7. Anggaran tersebut naik 28. yang mandiri dan bertumpu pada Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 120 .18% pembiayaan dari seluruh kesehatan di kabupaten/kota tahun pembiayaan kabupaten/kota.24 lebih sedikit bila dibandingkan tahun 2010 (10. Sedangkan anggaran kesehatan perkapita pada tahun 2011 sebesar Rp. h. Rasio tenaga kesehatan masyarakat per 100.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful