BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dalam upaya mewujudkan Jawa Tengah Sehat, pembangunan kesehatan di Jawa Tengah tidak dapat dilakukan sendiri oleh aparat pemerintah di sektor kesehatan, tetapi harus dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan peran serta swasta dan masyarakat. Segala upaya kesehatan selama ini dilakukan tidak hanya oleh sektor kesehatan saja, tetapi juga tidak luput peran dari sektor non kesehatan dalam upaya penyelenggaraan pelayanan kesehatan mengatasi permasalahan kesehatan. Agar proses pembangunan kesehatan berjalan sesuai dengan arah dan tujuan, diperlukan manajemen yang baik sebagai langkah dasar pengambilan keputusan dan kebijakan di semua tingkat administrasi pelayanan kesehatan. Untuk itu pencatatan dan pelaporan kegiatan pelayanan kesehatan perlu dikelola dengan baik dalam suatu sistem informasi kesehatan. Sistem Informasi Kesehatan (SIK) yang evidence based diarahkan untuk penyediaan data dan informasi yang akurat, lengkap, dan tepat waktu. Untuk itu, peran data dan informasi kesehatan menjadi sangat penting dan semakin dibutuhkan dalam manajemen kesehatan oleh berbagai pihak. Masyarakat semakin peduli dengan situasi kesehatan dan hasil pembangunan kesehatan yang telah dilakukan oleh pemerintah, terutama terhadap masalah-masalah kesehatan yang berhubungan langsung dengan kesehatan mereka. Kepedulian masyarakat akan informasi kesehatan ini memberikan nilai positif bagi pembangunan kesehatan itu sendiri. Untuk itu pengelola program harus bisa menyediakan dan memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat dengan dikemas secara baik, sederhana, informatif, dan tepat waktu. Profil kesehatan merupakan salah satu produk dari Sistem Informasi Kesehatan yang penyusunan dan penyajiannya dibuat sesederhana mungkin tetapi informatif, untuk dipakai sebagai alat tolok ukur kemajuan pembangunan kesehatan sekaligus juga sebagai bahan evaluasi program-program kesehatan. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah adalah gambaran situasi kesehatan yang memuat berbagai
Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

dan upaya

1

data tentang situasi dan hasil pembangunan kesehatan selama satu tahun yang memuat data derajat kesehatan, sumber daya kesehatan, dan capaian indikator hasil pembangunan kesehatan. B. SISTEMATIKA PENYAJIAN Sistematika penyajian Profil Kesehatan adalah sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN Berisi penjelasan tentang maksud, tujuan dan sistematika

penyajiannya. BAB II : GAMBARAN UMUM Menyajikan tentang gambaran umum Provinsi Jawa Tengah meliputi letak geografis, kependudukan, ekonomi dan pendidikan yang erat kaitannya dengan kesehatan. BAB III : SITUASI DERAJAT KESEHATAN Berisi uraian tentang indikator mengenai angka kematian, angka kesakitan dan angka status gizi masyarakat. BAB IV : SITUASI UPAYA KESEHATAN Menguraikan tentang pelayanan kesehatan dasar, pelayanan

kesehatan rujukan dan penunjang, pencegahan dan pengendalian penyakit menular dan tidak menular, pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan, pelayanan kesehatan dalam situasi bencana serta upaya pelayanan kesehatan lainnya yang diselenggarakan oleh kabupaten/kota.

BAB V

: SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
Menguraikan tentang tenaga kesehatan, sarana kesehatan, pembiayaan kesehatan dan sumber daya kesehatan lainnya.

BAB VI

: KESIMPULAN Berisi sajian garis besar hasil-hasil cakupan porgram/kegiatan

berdasarkan indikator-indikator bidang kesehatan untuk dapat ditelaah lebih jauh dan untuk bahan perencanaan pembangunan kesehatan serta pengambilan keputusan di Provinsi Jawa Tengah.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

2

LAMPIRAN Berisi resume atau angka pencapaian kabupaten/kota dan 82 tabel data yang sebagian diantaranya merupakan Indikator Pencapaian Kinerja Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

3

BAB II GAMBARAN UMUM

A. KEADAAN GEOGRAFI Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak cukup strategis karena berada diantara dua provinsi besar, yaitu bagian barat berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat, bagian timur berbatasan dengan Provinsi Jawa Timur. Sedangkan bagian utara berbatasan dengan Laut Jawa dan bagian selatan berbatasan dengan Samudra Hindia dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Letaknya antara 5°40 ' - 8 °30' lintang selatan dan antara 108°30' - 111°30' bujur timur (termasuk Pulau Karimunjawa). Luas wilayah Provinsi Jawa Tengah sebesar 32.544,12 km², secara administratif terbagi menjadi 29 kabupaten dan 6 kota, yang tersebar menjadi 573 kecamatan dan 8.576 desa/kelurahan. Wilayah terluas adalah Kabupaten Cilacap dengan luas 2.138,51 km², atau sekitar 6,57% dari luas total Provinsi Jawa Tengah, sedangkan Kota Magelang merupakan wilayah yang luasnya paling kecil yaitu seluas 18,12 km². Secara topografi, wilayah Provinsi Jawa Tengah terdiri dari wilayah daratan yang dibagi menjadi 4 (empat) kriteria : a. Ketinggian antara 0–100 m dari permukaan air laut, seluas 53,3%, yang daerahnya berada di sepanjang pantai utara dan pantai selatan. b. Ketinggian antara 100–500 m dari permukaan air laut seluas 27,4%. c. Ketinggian antara 500–1.000 m dari permukaan air laut seluas 14,7%. d. Ketinggian diatas 1.000 m dari permukaan air laut seluas 4,6%. B. KEADAAN PENDUDUK 1. Pertumbuhan dan Persebaran Penduduk Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, jumlah penduduk Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2010 sebesar 32.382.657 jiwa, dengan luas wilayah sebesar 32.544,12 kilometer persegi (km²), rata-rata kepadatan penduduk sebesar 995,04 jiwa untuk setiap km². Wilayah terpadat

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

4

adalah Kota Surakarta, dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 11.341 jiwa per km². Wilayah terlapang adalah Kabupaten Blora, dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 462 jiwa per km², dengan demikian persebaran penduduk di Jawa Tengah belum merata. Jumlah rumah tangga sebanyak 8.703.696, maka rata-rata jumlah anggota rumah tangga adalah 3,72 jiwa untuk setiap rumah tangga. Penduduk terbanyak di Kabupaten Brebes 1.733.869 jiwa (5,35%) dan paling sedikit di Kota Magelang 118.227 jiwa (0,37%). Data mengenai kependudukan dapat dilihat pada lampiran Tabel 1.

2. Rasio Jenis Kelamin Komposisi penduduk menurut jenis kelamin dapat dilihat dari rasio jenis kelamin, yaitu perbandingan penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan per 100 penduduk perempuan. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010 oleh Badan Pusat Statistik, didapatkan jumlah penduduk laki-laki di Jawa Tengah 16.091.112 jiwa (49,69%) dan jumlah penduduk perempuan di Jawa Tengah 16.291.545 jiwa (50,31%). Sehingga didapatkan rasio jenis kelamin sebesar 98,77 per 100 penduduk perempuan, berarti setiap 100 penduduk perempuan ada sekitar 98 atau 99 penduduk laki-laki. Data mengenai rasio jenis kelamin (sex ratio) dapat dilihat pada lampiran Tabel 2.

3. Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur Komposisi penduduk Provinsi Jawa Tengah menurut kelompok umur dan jenis kelamin menunjukkan bahwa penduduk laki-laki maupun perempuan mempunyai proporsi terbesar pada kelompok umur 15–44 tahun. Gambaran komposisi penduduk secara lebih rinci dapat dilihat pada lampiran Tabel 3. Perbandingan komposisi proporsi penduduk menurut usia produktif dari tahun 2006 sampai tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut:

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

5

Tabel 2.1 Persentase Kelompok Usia Produktif Jawa Tengah tahun 2006 – 2010 Kelompok Usia (Tahun) 0 - 14 15 – 64 65 + TAHUN 2006 25,98 % 66,92 % 7,10 % 2007 27,02 % 65,21 % 7,77 % 2008 26,57 % 65,66 % 7,77 % 2009 25,03 % 67,87 % 7,11 % 2010 26,32 % 66,53 % 7,05 %

Sumber : BPS Provinsi Jawa Tengah tahun 2010

Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa proporsi penduduk tahun 2010 bila dibandingkan dengan tahun 2009, kelompok usia produktif (15-64 tahun) mengalami penurunan, sedangkan kelompok usia belum produktif (0-14 tahun) mengalami kenaikan. Hal ini berarti bahwa angka beban tanggungan menjadi bertambah.

C. KEADAAN EKONOMI 1. Produk Domestik Regional Bruto Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah ukuran kuantitatif dari kinerja perekonomian suatu wilayah selama satu periode waktu tertentu. PDRB merupakan total nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit-unit usaha yang beroperasi di wilayah domestik. Perekonomian Jawa Tengah pada tahun 2011 mengalami pertumbuhan sebesar 6,0% dibanding tahun 2010. Berdasarkan hasil penghitungan triwulan I sampai dengan triwulan IV , PDRB Jawa Tengah tahun 2011 atas dasar harga berlaku meningkat sebesar Rp. 53,9 triliun, yaitu dari Rp. 444,7 triliun pada tahun 2010 menjadi sebesar Rp. 498,6 triliun pada tahun 2011. Jika dilihat dari PDRB atas dasar harga konstan pada tahun 2011 mencapai Rp. 198,2 triliun, sedangkan pada tahun 2010 sebesar Rp. 187,0 triliun. Selama tahun 2011, semua sektor ekonomi yang membentuk PDRB mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor

pengangkutan dan komunikasi yang mencapai 8,6%, diikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran 7,5%, sektor jasa-jasa 7,5%, sektor industri

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

6

4% terhadap sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. gas dan air bersih 4.4%. yaitu sebesar 2. sektor listrik. real estate dan jasa perusahaan 6. sektor keuangan. sektor pertambangan dan penggalian 4. Sedangkan sektor yang mengalami pertumbuhan terendah pada tahun 2011 adalah sektor pertanian yaitu sebesar 1.957 13.3%.2 PDRB per Kapita Jawa Tengah Tahun 2008 – 2011 (jutaan rupiah) Tahun PDRB per Kapita atas dasar harga berlaku 11. hotel dan restoran yaitu 1. Tabel 2.8 juta.pengolahan 6. PDRB per kapita merupaka PDRB dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. sektor ini hanya mampu memberikan sumbangan 0. Sedangkan PDRB per kapita atas dasar harga konstan pada tahun 2011 sebesar Rp.376 PDRB per Kapita atas dasar harga konstan 5. sektor konstruksi 6.6%. Sumber pertumbuhan terbesar kedua adalah dari sektor perdagangan. 5.112 2008 2009 2010 2011 Sumber : PDRB Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 7 . Sedangkan sektor pengangkutan dan komunikasi.732 15. Selain itu dapat dilihat besarnya sumbangan (andil) masing-masing sektor dalam menciptakan laju pertumbuhan ekonomi selam tahun 2011.0% dibandingkan dengan PDRB per kapita tahun 2010 sebesar Rp. 13.124 11.774 6.2%. Sektor industri pengolahan yang mengalami pertumbuhan 6.6%.1 juta atau secara riil meningkat sebesar 5. 6.7% mampu memberikan andil terbesar terhadap sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.4 juta dengan laju peningkatan sebesar 12.7%. meskipun mengalami pertumbuhan terbesar yaitu 8.9%.3%. Pada tahun 2011 angka PDRB per kapita atas dasar harga berlaku diperkirakan mencapai 15. Hal ini dikarenakan kontribusi nilai tambah bruto sektor pengangkutan dan komunikasi terhadap PDRB Jawa Tengah relatif kecil.9% dibandingkan dengan tahun 2010 yan gsebesar Rp.3%.7 juta.142 5.345 5.

64 15.74 32.48 Total 100.41 4.42 8.93 4. berarti pada tahun 2010 setiap 100 penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun) harus menanggung beban hidup sekitar 50 penduduk usia belum produktif (0–14 tahun) dan usia tidak produktif (65 tahun ke atas).93 Tahun 2007 2008 2009 2010 SD/MI 31. Berikut ini disajikan tabel persentase jumlah penduduk usia 10 tahun ke atas menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2007-2010.84 9.46 23.00 100.48 4.22 18.3 Jumlah Penduduk Usia 10 tahun ke Atas Menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007-2010 Blm/Tdk Pernah Sekolah 7.43). angka beban tanggungan (dependency ratio) penduduk Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2010 sebesar 50. KEADAAN PENDIDIKAN Tingkat pendidikan dapat berkaitan dengan kemampuan menyerap dan menerima informasi kesehatan serta kemampuan dalam berperan serta dalam pembangunan kesehatan. SMP dan Akademi/Perguruan Tinggi.00 100.2. Peningkatan terjadi pada tingkat pendidikan SD.21 10.91 DIPL/AK/ PT 5. D.58 17.13 Tdk punya Ijazah SD/MI 26. Hal ini wajar terjadi mengingat semakin digalakkannya program sekolah gratis bagi jenjang SD dan SMP dan program-program pendidikan lainnya. Masyarakat yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi. serta dapat ikut berperan serta aktif dalam mengatasi masalah kesehatan dirinya dan keluarganya. Tabel 2.03 22.16 18.01 32. Dibandingkan dengan tahun 2009 secara umum telah terjadi peningkatan di bidang pendidikan.00 Sumber : BPS Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 8 .31. pada umumnya mempunyai pengetahuan dan wawasan yang lebih luas sehingga lebih mudah menyerap dan menerima informasi.11 SMU/SMK 12.58 16.45 14.50 34.55 SMP 15.00 100. Angka tersebut mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2009 (51. Angka Beban Tanggungan Berdasarkan jumlah penduduk menurut kelompok umur.33 8.

Demikian gambaran umum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 secara ringkas dengan penyajian tentang kependudukan. Data mengenai angka melek huruf dapat dilihat pada lampiran Tabel 5. maka penduduk laki-laki lebih banyak yang melek huruf dibandingkan dengan penduduk perempuan.87%.Peningkatan tersebut berimbas pada kemampuan baca tulis penduduk yang tercermin dari angka melek huruf.02%. Persentase penduduk yang dapat membaca dan menulis huruf latin dan huruf lainnya pada tahun 2010 sebesar 91.98%. perekonomian dan pendidikan. Faktor perekonomian dan pendidikan secara bersama-sama dengan kesehatan digunakan untuk menentukan Indeks Pembangunan Manusia. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 9 . angka melek penduduk laki-laki sebesar 94. Bila dilihat dari jenis kelaminnya.28% dan perempuan sebesar 87. sedangkan yang buta huruf sebesar 8.

menurun bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 10. ANGKA KEMATIAN Angka kematian dari waktu ke waktu menggambarkan status kesehatan masyarakat secara kasar.34/1. angka morbiditas beberapa penyakit dan status gizi. Angka Kematian Bayi Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan jumlah kematian bayi (0-11 bulan) per 1000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun. Indikator-indikator tersebut pada umumnya tercermin dalam kondisi angka kematian. Angka Kematian Ibu (AKI). AKB di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 10. pendidikan. AKABA. Angka tersebut dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan. tingkat pelayanan antenatal.000 kelahiran hidup. Pada bagian ini. terdapat beberapa indikator yang dapat digunakan. AKI dan Angka Kematian Kecelakaan Lalu Lintas. kondisi lingkungan fisik dan biologik secara tidak langsung. A.62/1. status gizi ibu hamil. Angka Kematian balita (AKABA). 1. angka kesakitan dan status gizi. berarti status kesehatan di wilayah tersebut rendah. Faktorfaktor tersebut tidak hanya berasal dari sektor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan. melainkan juga dipengaruhi faktor ekonomi. Derajat kesehatan masyarakat juga dipengaruhi oleh banyak faktor. lingkungan sosial. Apabila AKB di suatu wilayah tinggi. keturunan dan faktor lainnya. derajat kesehatan masyarakat di Provinsi Jawa Tengah digambarkan melalui Angka Kematian Bayi (AKB).BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN Dalam menilai derajat kesehatan masyarakat. kondisi atau tingkat permasalahan kesehatan. tingkat keberhasilan program KIA dan KB. Angka kematian yang disajikan pada bab ini yaitu AKB. AKB menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan faktor penyebab kematian bayi. serta kondisi lingkungan dan sosial ekonomi.000 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 10 .

69 9.1 Angka Kematian Bayi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 –2011 Angka kematian bayi tertinggi adalah Kabupaten Rembang sebesar 21.Demak Kota Tegal Kota Surakarta 21.67 11.41 0. Kab.09 6.Tegal Kota Salatiga Kab.Purw orejo Kab.97 17.Banjarnegar Kab.93 12. Dibawah ini grafik AKB di Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2008-2011.25 2010 10.23 9.11 8.33 9.Brebes Kab.49 7.68 8.00 25.63 12.Karanganyar Kab.Cilacap Kab.34 Gambar 3.5 AKB 2008 9.00 Gambar 3.27 2009 10.Semarang Kab.25 13.00 15.Pekalongan Kab.54 8.Blora Kab.15 11.62 2011 10.66 3.Pemalang Kab.85 8. sedangkan terendah adalah Kota Surakarta sebesar 3.Kendal Kab. 11 10.Sragen Kab.Wonosobo Kab.Batang Kab.23 9.51 8.97/1.49 7.Temanggung Kab.34 15.72 8. Dibandingkan dengan target Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tahun 2015 sebesar 17/1.23 12.63 5.kelahiran hidup.5 10 9.00 20.Boyolali Kota Semarang Kab.Jepara Kab.2 Angka Kematian Bayi di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 11 .Kebumen Kab.Sukoharjo Kab.00 10.Wonogiri Kab.000 kelahiran hidup.30 13.08 9.23 9.000 kelahiran hidup.53 17.5 9 8.Pati Kota Pekalongan Kab.38 9.63/1.Klaten Kab.72 9.72 6.Purbalingga Kab.27 12.Kudus Kab.55 7.00 5.000 kelahiran hidup maka AKB di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sudah cukup baik karena telah melampaui target.Magelang Kab.79 15.Banyumas Kab.Rembang Kab.16 10.Grobogan Kota Magelang Kab.

50/1. tingkat keberhasilan program KIA/Posyandu dan kondisi sanitasi lingkungan.000 kelahiran hidup.3 Angka Kematian Balita Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 –2011 AKABA tertinggi di Kabupaten Rembang sebesar 23. AKABA menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan balita. Selengkapnya dapat dilihat pada gambar 3.02/1.5 9 AKABA 2008 10.5 10 9.6 2010 12.12 2009 11.5 11 10. AKABA Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sudah melampaui target. menurun dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 12.000 kelahiran hidup.74/1.12/1. sedangkan terendah di Kota Surakarta sebesar 4.2. Dibawah ini grafik AKB di Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2008-2011.02 2011 11. tingkat pelayanan KIA/Posyandu.4 di bawah ini.000 kelahiran hidup. 12. Angka Kematian Balita Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan jumlah kematian balita 0–5 tahun per 1000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun. Dibandingkan dengan cakupan yang diharapkan dalam Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tahun 2015 yaitu 23/1. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 12 .5 12 11. AKABA Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 11.000 kelahiran hidup.5 Gambar 3.000 kelahiran hidup.

Wonogiri Kab.Blora Kab.46 16.Demak Kab.57 10.Sukoharjo Kota Pekalongan Kab.68 12.4 Angka Kematian Balita di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 3.14 9.80 10. keadaan kesehatan yang kurang baik menjelang kehamilan.Pati Kab.00 4.85 14.Tegal Kab.Cilacap Kab.95 12.36 8.00 20. yaitu terlalu tua pada saat melahirkan (>35 tahun). terlalu Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 13 .55 23.16 7.86 9.55 9.Klaten Kab.Semarang Kab.Kab.Brebes Kab.25 13.Kudus Kota Tegal Kota Surakarta 0.94 7.98 10.Batang Kab.87 17.Banyumas Kab.Pekalongan Kota Magelang Kab.00 25.Karanganyar Kab.Jepara Kab.Grobogan Kab.Kebumen Kab.00 Gambar 3. Selain itu penyebab kematian maternal juga tidak terlepas dari kondisii ibu itu sendiri dan merupakan salah satu dari kriteria 4 “terlalu”.Wonosobo Kab.79 10.00 15.42 14.Rembang Kab.Boyolali Kab.83 13.Purbalingga Kab.Purw orejo Kota Semarang Kab. keadaan sosial ekonomi. terlambat mencapai fasilitas kesehatan.74 10.81 10.Banjarnegar Kab.Pemalang Kab.66 9.12 8.42 11.Temanggung Kab. serta terlambat mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan.12 5.Sragen Kab.70 9. Kematian ibu biasanya terjadi karena tidak mempunyai akses ke pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas.39 10. terlalu muda pada saat melahirkan (<20 tahun). tersedianya dan penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan ternasuk pelayanan prenatal dan obstetri.88 13.00 5.02 18. Tingginya angka kematian ibu menunjukkan keadaan sosial ekonomi yang rendah dan fasilitas pelayanan kesehatan termasuk pelayanan prenatal dan obstetri yang rendah pula.26 9. kejadian berbagai komplikasi pada kehamilan dan kelahiran.Kendal Kab.44 19.36 10. Angka Kematian Ibu Angka Kematian Ibu (AKI) mencerminkan risiko yang dihadapi ibu-ibu selama kehamilan dan melahirkan yang dipengaruhi oleh status gizi ibu.Magelang Kota Salatiga Kab.85 7. terutama pelayanan kegawatdaruratan tepat waktu yang dilatarbelakangi oleh terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan.78 14.20 10.

01 Gambar 3.000 kelahiran hidup.Pati Kab.01/100. 120 115 110 105 100 95 AKI 2008 114.Banjarnegara Kab.Tegal Kab.Temanggung Kab.Kebumen Kota Salatiga Kota Surakarta Kota Magelang 45 51 13 13 13 12 11 10 10 10 9 9 9 18 18 17 16 15 15 24 24 23 22 22 21 28 27 26 26 31 35 34 6 1 4 0 10 20 30 40 50 60 Gambar 3.Rembang Kab.97 2011 116.Karanganyar Kab. Gambar 3.Batang Kab.5 Angka Kematian Ibu Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 –2011 Jumlah kematian maternal terbanyak adalah di Kabupaten Tegal sebanyak 51 kematian. mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan AKI pada tahun 2010 sebesar 104.Brebes Kota Semarang Kab. Angka kematian ibu Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 berdasarkan laporan dari kabupaten/kota sebesar 116.000 kelahiran hidup.97/100.Blora Kab.Jepara Kab. Sedangkan kabupaten/kota dengan jumlah kematian maternal paling sedikit adalah Kota Magelang dengan 1 kematian.Sukoharjo Kab.Sragen Kab. Kab.6 Jumlah Kematian Ibu di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 14 .Purw orejo Kota Tegal Kota Pekalongan Kab.Cilacap Kab.Demak Kab.5 di bawah ini tren AKI di Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2011.Semarang Kab.Klaten Kab.Purbalingga Kab.Kendal Kab.Wonogiri Kab.Magelang Kab. terlalu rapat jarak kelahiran/paritas (<2 tahun).02 2010 104.Banyumas Kab.Wonosobo Kab.Pemalang Kab.42 2009 117.Kudus Kab.Grobogan Kab.banyak anak (>4 anak).Boyolali Kab.Pekalongan Kab.

kemudian pada waktu hamil sebesar 25.000 penduduk dalam kurun waktu satu tahun. Dari 25 kabupaten/kota yang melaporkan. angka kematian kecelakaan lalu lintas tertinggi terjadi di Kota Magelang yaitu sebesar 21. Angka Kematian Kecelakaan Lalu Lintas Angka Kematian kecelakaan lalu lintas adalah jumlah kematian sebagai akibat dari kecelakaan lalu lintas per 100.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah.Kejadian kematian maternal paling banyak adalah pada waktu nifas sebesar 48.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 sebesar 94. B. Sementara berdasarkan kelompok umur. ANGKA KESAKITAN 1.70 per 100.75% dan pada waktu persalinan sebesar 25. seperti sifat kelumpuhan pada poliomyelitis. 4. kemudian pada kelompok umur >35 tahun sebesar 28.99%.80 sedangkan tahun 2010 sebesar 176.17 sementara Angka kematian kecelakaan lalu lintas tahun 2011 adalah sebesar 2. Angka kecelakaan lalulintas per 100.000 penduduk. Surveilans AFP merupakan pengamatan dan penjaringan semua kelumpuhan yang terjadi secara mendadak dan sifatnya flaccid (layuh).89% dan pada kelompok umur <20 tahun sebesar 5. Prosedur pembuktian penderita AFP terserang virus polio liar atau tidak adalah sebagai berikut : Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 15 .65%. kejadian kematian maternal terbanyak adalah pada usia produktif (20-34 tahun) sebesar 65. Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit “Acute Flaccid Paralysis” (AFP) Upaya membebaskan Indonesia dari penyakit Polio. Kabupaten/kota yang melaporkan kejadian kecelakaan lalulintas pada tahun 2011 sebanyak 25 kabupaten/kota meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 sebanyak 19 kabupaten/kota. pemberian imunisasi masal pada anak balita melalui Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dan surveilans AFP.60%. pemerintah telah melaksanakan Program Eradikasi Polio (ERAPO) yang terdiri dari pemberian imunisasi polio rutin.99/100.12%.

Hasil pemeriksaan spesimen tinja akan menjadi bukti virologi adanya virus polio liar didalamnya. sehingga dapat diketahui apakah masih ada polio liar di masyarakat. Penderita kelumpuhan AFP diperkirakan 2 diantara 100. Melakukan pelacakan terhadap anak usia <15 tahun yang mengalami kelumpuhan mendadak (<14 hari) dan menentukan diagnosa awal. b. dari 215 kasus yang diperiksa semua menunjukan negatif polio (berarti tidak ditemukan virus polio liar). e.a.7 Penemuan Kasus AFP Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 16 . sebanyak dua kali selang waktu pengambilan I dan II >24 jam. Mengambil spesimen tinja penderita tidak lebih dari 14 hari sejak kelumpuhan. c. Pada tahun 2011 Jawa Tengah menemukan 215 penderita AFP. Mengirim kedua spesimen tinja ke laboratorium dengan pengemasan khusus (untuk Jawa Tengah dikirim ke laboratorium Bio Farma Bandung) d. Pemeriksaan klinis ini dilakukan oleh dokter spesialis anak atau syaraf untuk menentukan apakah masih ada kelumpuhan atau tidak. Hasil pemeriksaan virologis dan klinis akan menjadi bukti penegakan diagnosis kasus AFP termasuk kasus polio atau tidak. Diagnosis akhir ditentukan pada 60 hari sejak kelumpuhan. Menurut hasil pemeriksaan laboratorium. 210 205 200 195 190 185 180 175 170 165 160 Kasus AFP 2006 191 2007 207 2008 187 2009 193 2010 178 Gambar 3.000 anak usia <15 tahun. Target minimal penemuan penderita AFP tahun 2011 sebanyak 164 penderita. sehingga memenuhi target.

Prevalensi Tuberkulosis Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. 3. Angka Penemuan Kasus TB Paru BTA(+) Salah satu indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalah Case Detection Rate (CDR).38%). TB menjadi salah satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitmen global dalam MDGs.5 per 100. Meskipun masih dibawah target yang ditentukan. yaitu proporsi jumlah pasien baru BTA(+) yang ditemukan dan diobati terhadap jumlah pasien baru BTA(+) yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Prevalensi tuberkulosis tertinggi adalah di Kabupaten Pekalongan (205. Pada awal tahun 1995 WHO telah merekomendasikan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) sebagai strategi dalam penanggulangan TB dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective). Penyakit ini dapat menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil TB. 3) Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat. 5) Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. 2) Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya.000 penduduk).000 penduduk Provinsi Jawa Tengah sebesar 74.000 penduduk) dan terendah di Kabupaten Magelang (20. Prevalensi Tuberkulosis per 100.06 per 100.52% meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 (55. Bersama dengan Malaria dan HIV/AIDS. termasuk pengawasan langsung pengobatan.78% dan yang terendah di Kabupaten Magelang sebesar 33. yang terdiri dari 5 komponen kunci 1) Komitmen politis. Terdapat empat kabupaten/kota yang sudah melampaui target 100% yaitu Kota Surakarta Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 17 . Pencapaian CDR di Jawa Tengah tahun 2008 s/d 2011 masih dibawah target yang ditetapkan sebesar 100%.2.52. capaian CDR tahun 2011 sebesar 59. CDR tertinggi di Kota Pekalongan sebesar 132.04%. 4) Jaminan ketersediaan OATyang bermutu.

pertemuan jejaring antar unit pelayanan kesehatan dan asistensi ke rumah sakit. maka evaluasi pengobatan pasien dinyatakan sebagai pengobatan lengkap.8 Angka Penemuan TB Paru (CDR) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Untuk meningkatkan cakupan CDR dan angka kesembuhan.(101.38 2011 59. Kabupaten Pekalongan (103.99%) dan Kota Pekalongan (132. 4. Bila pemeriksaan follow up tidak dilakukan. Dinyatakan sembuh bila hasil pemeriksaan dahak pada akhir pengobatan ditambah minimal satu kali pemeriksaan sebelumnya (sesudah fase awal atau satu bulan sebelum akhir pengobatan) hasilnya negatif. Kota Tegal (116. namun pasien telah menyelesaikan pengobatan.52 Gambar 3.12). pada tahun 2011 telah dilakukan berbagai upaya seperti peningkatan SDM. Kegiatan-kegiatan tersebut perlu dievaluasi untuk menilai apakah hasil kegiatan sesuai dengan tujuan yang diharapkan sekaligus mengidentifikasi permasalahan yang ditemukan untuk selanjutnya disusun rencana tindak lanjut perbaikan. paramedis dan laboratorium. Angka Kesembuhan Penderita TB Paru BTA(+) Evaluasi pengobatan pada penderita TB paru BTA(+) dilakukan melalui pemeriksaan dahak mikroskopis pada akhir fase intensif satu bulan sebelum akhir pengobatan dan pada akhir pengobatan dengan hasil pemeriksaan negatif. baik tenaga medis.97 2009 48. 60 50 40 30 20 10 0 CDR TB 2008 47.31%).15 2010 55.78%). Evaluasi jumlah pasien dinyatakan sembuh dan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 18 .

pasien pengobatan lengkap dibandingkan jumlah pasien BTA(+) yang diobati disebut keberhasilan pengobatan (Succes Rate ).01%). usia lanjut lebih dari 65 tahun.9 Angka Kesembuhan TB Paru (CR) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2010 5.9 2009 85.702 kasus.13%. Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri. Berikut ini ditampilkan persentase penemuan pneumonia balita Provinsi Jawa Tengah tahun 2008-2011.01 2010 85. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 19 . Populasi yang rentan terserang Pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun. virus maupun jamur. Angka kesembuhan tertinggi di Kabupaten Karanganyar sebesar 98.17%. Angka kesembuhan (Cure Rate) TB paru Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 sebesar 85. Pneumonia juga dapat terjadi akibat kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia. atau orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi.5 85 84. sedangkan terendah di Kota Tegal sebesar 47. mengalami penurunan bila dibanding tahun 2010 yang sebesar 40. Persentase Balita dengan Pneumonia Ditangani Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli).15% sudah melebihi target nasional (85%) dan meningkat bila dibandingkan tahun 2009 (85.5 84 83. 86 85.5 82 CR TB 2008 83. Persentase penemuan dan penanganan penderita pneumonia pada balita tahun 2011 sebesar 25.63%.5 83 82. Angka ini masih sangat jauh dari target Standar Pelayanan Minimal (SPM) tahun 2010 sebesar 100%. gangguan imunologi).5% dengan jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 66.15 Gambar 3.

yaitu pada layanan Voluntary. Sebelum memasuki fase AIDS.5 Gambar 3. Counselling. 45 40 35 30 25 20 Pneumonia Balita 2008 23.9%). artinya kasus yang dilaporkan hanya sebagian kecil yang ada di masyarakat. penderita terlebih dulu dinyatakan sebagai HIV positif. Jumlah HIV positif yang ada di masyarakat dapat diketahui melalui 3 metode.6%).10 Persentase Penemuan dan Penanganan Penderita Pneumonia pada Balita Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 6.63 2009 25. Jumlah Kasus Baru HIV/AIDS dan Kematian karena AIDS HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. sebagian besar didapat dari hasil VCT di rumah sakit. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 20 . Jumlah infeksi HIV yang dilaporkan tahun 2011 sebanyak 755 kasus.Pada tingkat kabupaten/kota.96 2010 40.63 2011 25. sero survey dan Survei Terpadu Biologis dan perilaku (STBP). Kasus Aquiared Immuno Devisiency Syndrome (AIDS) sebanyak 521 kasus dari laporan VCT rumah sakit. Jumlah kematian karena AIDS di Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 89 kasus. ada satu kota yang mempunyai persentase cakupan diatas 100% yaitu Kota Magelang (179. laporan rutin AIDS kab/kota serta Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM). Peningkatan infeksi HIV dan kasus AIDS ini dikarenakan upaya penemuan atau pencarian kasus yang semakin intensif melalui VCT di rumah sakit dan upaya penjangkauan oleh LSM peduli AIDS di kelompok risiko tinggi. sementara kabupaten dengan persentase cakupan terendah adalah Kabupaten Rembang (1. Kasus HIV/AIDS merupakan fenomena gunung es. Infeksi tersebut menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain. and Testing (VCT).

Perempuan 37% Laki-laki 63% Gambar 3. Infeksi Menular Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 21 . PMS meliputi Syphilis.800 700 600 500 400 300 200 100 0 2008 HIV 2009 AIDS 2010 Meninggal 259 170 56 143 160 104 430 373 501 755 521 89 2011 Gambar 3. jumlah kematian karena AIDS terbanyak di Kabupaten Banyumas sebanyak 10 kasus. Penemuan kasus HIV tahun 2011 meningkat sangat tajam hampir 2 kali lipat lebih dibanding tahun 2010. Jumlah Kasus Baru Infeksi Menular Seksual lainnya Penyakit Menular Seksual (PMS) atau biasa disebut penyakit kelamin adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual.11 menunjukan bahwa kecenderungan (trend) kasus HIV maupun AIDS selalu mengalami peningkatan setiap tahun. Herpes.12 Persentase Kasus Baru AIDS menurut Jenis Kelamin Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 7. Gonorhoe. Bubo. Jengger ayam.11 Jumlah Kasus Baru HIV/AIDS dan kematian karena AIDS Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Gambar 3. dan lain-lain. Jumlah kasus baru HIV/AIDS tertinggi adalah di Kota Semarang (189/59 kasus).

Dari hasil pemeriksaan sampel darah tersebut. 8.Seksual (IMS) yang diobati adalah kasus IMS yang ditemukan berdasarkan sindrom dan etiologi serta diobati sesuai standar. Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Seksual mempunyai target bahwa seluruh kasus IMS yang ditemukan harus diobati sesuai standar.16 0.269 orang.828 (93. Tabel perkembangan jumlah sampel yang diperiksa dan hasil yang positif HIV dari tahun 2008 sampai dengan 2011 sebagai berikut : Tabel 3. Dinas Kesehatan juga melakukan pengamatan terhadap hasil skrining/penapisan darah donor melalui UTDD PMI Jawa Tengah.81%).828 Tahun 2008 2009 2010 2011 Jumlah Positif HIV 520 275 510 415 Positif HIV 1. Sifilis. kemudian yang dilakukan pemeriksaan sampel darah sebanyak 324.731 324. Pada tahun 2011 diketahui jumlah pendonor sebanyak 346. DBD termasuk juga bebas dari virus HIV.13 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 22 .752 kasus.49 0. Jumlah kasus baru IMS lainnya di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 ini sebanyak 10.13) yang positif HIV. sebanyak 415 sampel (0.09 0.1 Persentase Donor Darah Diskrining terhadap HIV Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008-2011 Jumlah Sample Diperiksa 348. Malaria. Tujuan skrining ini adalah untuk mengamankan darah donor supaya bebas dari beberapa penyakit seperti Hepatitis C. Jumlah tersebut dari tahun ke tahun semakin meningkat. Meskipun demikian kemungkinan kasus yang sebenarnya di populasi masih banyak yang belum terdeteksi. Donor Darah Diskrining terhadap HIV Selain melakukan kegiatan serosurvei HIV dan surveilans/ pengamatan kasus AIDS.793 309.795 312.

saraf. Cakupan penemuan dan penanganan diare di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 57. Kasus Diare Ditangani Diare adalah penyakit yang terjadi ketika terjadi perubahan konsistensi feses selain dari frekuensi buang air besar. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 23 .5 2010 44.48 2011 57. Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf berupa mati rasa dan kelemahan/kelumpuhan otot. Pada tingkat kabupaten/kota. b.48%). Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan kusta menjadi progresif.2%) dan terendah di Kabupaten Purworejo (19. Kota Pekalongan (121.8%). diketahui bahwa cakupan penemuan dan penanganan diare tertinggi di Kota Tegal (144. Kelainan pada kulit (bercak) putih atau kemerahan disertai mati rasa. Seseorang dikatakan menderita diare bila feses lebih berair dari biasanya.9. Diagnosis kusta dapat ditegakkan dengan adanya kondisi sebagai berikut: a. Ada 3 kota yang mempunyai cakupan di atas 100% yaitu Kota Salatiga (106%).Prevalensi Kusta Kusta adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. anggota gerak dan mata.2%). atau bila buang air besar tiga kali atau lebih. 60 55 50 45 40 Cakupan 2008 47.4%) dan Kota Tegal (144.9 Gambar 3. mengalami peningkatan bila dibandingkan cakupan tahun 2010 (44.8 2009 48.9%. menyebabkan kerusakan permanen pada kulit.13 Cakupan Penemuan dan Penanganan diare Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 10. atau buang air besar yang berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam.

Cakupan program kusta tipe PB tahun 2011 berdasarkan jumlah penderita baru tahun 2010 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2011 sebesar 85% lebih rendah dari target 90%. 100 persentase (%) 80 60 40 20 0 2008 PB MB 92.32%.c.14 Persentase Penderita Kusta selesai diobati Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 24 .48 90. Sedangkan proporsi anak di antara penderita baru pada tahun 2011 sebesar 10.14%.98 2009 85.5 2010 91. Kusta tipe MB diambil dari data penderita baru tahun 2009 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2011 sebesar 76% lebih rendah dari target 95%.61 2011 85 76. Adanya kuman tahan asam di dalam kerokan jaringan kulit (BTA Positif) Pada tahun 2011. Proporsi cacat tingkat II pada tahun 2011 sebesar 13. dilaporkan terdapat kasus baru tipe Multi Basiler sebanyak 1.46 Gambar 3.27 87. Cakupan selama 3 tahun terakhir kusta tipe PB cenderung naik dan mulai menurun pada tahun 2009 sedangkan tipe MB cenderung menurun mulai tahun 2007 (tabel 12).873 kasus dan tipe Pausi Basiler sebanyak 395 kasus dengan Newly Case Detection Rate (NCDR) sebesar 7 per 100. sedangkan untuk mengetahui tingkat penularan di masyarakat digunakan indikator proporsi anak (0-14 tahun) di antara penderita baru. 11.Persentase Penderita Kusta Selesai Berobat Cakupan program kusta diukur berdasarkan angka penderita kusta tipe Pauci Baciller (PB) dan Multy Baciller (MB) selesai diobati.000 penduduk. Keberhasilan dalam mendeteksi kasus baru dapat diukur dari tinggi rendahnya proporsi cacat tingkat II.21 87.

Angka kesakitan/Incidence Rate (IR) DBD di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 15. namun dapat juga menyerang orang dewasa.000 penduduk. Penderita PB tidak minum obat lebih dari 3 bulan dalam jangka waktu 9 bulan sudah dianggap default.8/100.29/100. penyelidikan epidemiologi di lapangan serta upaya pengendalian.Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh vektor nyamuk Aedes aegypty. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 25 . Tingginya angka kesakitan DBD disebabkan karena adanya iklim tidak stabil dan curah hujan cukup banyak pada musim penghujan yang merupakan sarana perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegipty yang cukup potensial. terbukti 35 kabupaten/kota sudah pernah terjangkit penyakit DBD. Penderita MB tidak minum obat lebih dari 6 bulan dalam jangka waktu 18 bulan sudah disebut default. 12.000 penduduk.RFT).000 penduduk) dan sudah mencapai target nasional yaitu <20/100.000 penduduk. Angka ini jauh menurun bila dibandingkan tahun 2010 (59.17/100.000 penduduk. tetapi belum dicatat sudah RFT. Penyakit ini sebagian besar menyerang anak berumur <15 tahun. Selain itu juga didukung dengan tidak maksimalnya kegitan PSN di masyarakat sehingga menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit DBD di beberapa kabupaten/kota. Ketentuan lama penderita MB berturut-turut 6 bulan tidak berobat baru dikatakan default.Cakupan kusta tidak bisa tercapai dikarenakan masih banyak penderita yang tidak berobat teratur atau penderita yang seharusnya sudah selesai diobati (Release From Treatment . Ketentuan lama penderita disebut default kalau 3 bulan berturut-turut tidak minum obat. terendah di Kabupaten Wonogiri sebesar 4. Angka kesakitan tertinggi di Kota Semarang sebesar 317. Setiap penderita DBD yang dilaporkan dilakukan tindakan perawatan penderita. Penyakit DBD masih merupakan permasalahan serius di Provinsi Jawa Tengah.27/100. Rendahnya cakupan penderita kusta RFT juga dikarenakan adanya ketentuan baru pengobatan untuk penderita default.

19 2009 1.5 1.29 2011 0. Kabupaten Wonosobo (9. 1.29%) dan sudah lebih rendah bila dibandingkan dengan target nasional (<1%).16 Angka Kesakitan DBD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 26 .4 20 2010 59.29). Kabupaten Semarang (13.70 50 30 10 IR DBD Target 2008 59.95) dan Kabupaten Pemalang (16. Ada 6 kabupaten/kota dengan angka kesakitan kurang dari 2/100.42 2010 1.75 CFR DBD 2008 1. Kabupaten Kebumen (9.71).15 Angka Kesakitan DBD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Angka kesakitan DBD di kabupaten/kota hampir semuanya lebih dari 20/100.95).72).27 20 Gambar 3.000 penduduk yaitu Kabupaten Wonogiri (4.000 penduduk. Kabupaten Magelang (9.2 20 2009 57.25 1 0. 13.03). lebih rendah bila dibandingkan CFR tahun 2010 (1.Angka Kematian Demam Berdarah Dengue (DBD) Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) DBD tahun 2011 sebesar 0.93%.8 20 2011 15.93 Gambar 3.

Jumlah kasus tahun 2011 sebanyak 3.anyar J A T I M Grobogan Kudus Rembang Blora J A B A R Brebes Tegal Batang Pekalongan Bata ng Pemalang Temanggung Purblg Cilacap Banyumas CFR DBD 0 <1 >1 Klaten Purworejo Magelan Sukoharjo g DI. Yogyakarta Wonogiri Gambar 3.17 Peta CFR DBD kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 14. sedikit meningkat dibandingkan tahun 2010 (0. Purbalingga.467 kasus.5% dan terendah atau tidak ada kematian di 18 kabupaten/kota. Sedangkan kabupaten/kota kabupaten/kota. Saat ini masih ditemukan desa High Case Incidence (HCI) sebanyak 31 desa yang tersebar di 5 Kabupaten yaitu Purworejo.300 kasus) dan angka kesakitan malaria sebesar 0. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 27 . Mgl Boyolali Kota Mgl Kebumen Surakarta Kr. dengan angka kematian lebih dari 1% sebanyak 12 Jepara Jepara Pati Kota Tegal Kota Pekalongan Kendal Demak Kota Semarang Kab Semarang Salatiga Wonosobo Bj negara Sragen Kab.10‰).Angka kematian tertinggi adalah di Kabupaten Pekalongan sebesar 6. meningkat dibandingkan tahun 2010 (3. Perkembangan insidens malaria sejak tahun 2008 dilihat pada gambar berikut.Angka Kesakitan Malaria Penyakit malaria masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Provinsi Jawa Tengah. Banyumas dan Jepara. Angka kesakitan malaria (Annual Parasite Incidence-API) merupakan indikator untuk memantau perkembangan penyakit malaria. Kebumen.11‰.

15 0. Yogyakarta Wonogiri Gambar 3.05 0 API 2008 0. Jepara Jepara Pati Kota Tegal Kota Pekalongan Kendal Demak Kota Semarang Kab Semarang Salatiga Wonosobo Bj negara Sragen Kab.Angka Kematian Malaria Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) Malaria tahun 2011 sebesar 0.0.05 2010 0. Angka kematian tertinggi adalah di Kota Semarang (25.0%) dan terendah atau tidak ada kematian di 30 kabupaten/kota. 15.1 0.03%.05 2009 0.anyar J A T I M Grobogan Kudus Rembang Blora J A B A R Brebes Tegal Batang Pekalongan Bata ng Pemalang Temanggung Purblg Cilacap Banyumas Kebumen Kota Mgl Klaten Purworejo Magelan Sukoharjo g DI.11 Gambar 3.19 Peta CFR Malaria kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 28 . terbanyak di Kabupaten Purworejo (1.18 Angka Kesakitan Malaria Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Penderita malaria tahun 2011 ditemukan di 25 kabupaten. Mgl Boyolali Surakarta Kr.001 penderita) dan paling sedikit di Kabupaten Karanganyar (1 penderita).1 2011 0.

kabupaten Temanggung (1 kasus) dan Kota Semarang (1 kasus). Kabupaten Grobogan (2 kasus). Secara kumulatif. Kabupaten Sukoharjo (1 kasus). Jumlah kasus Difteri pada tahun 2011 sebanyak 8 kasus lebih sedikit bila dibandingkan dengan tahun 2010 (14 kasus). Campak. Penemuan kasus selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. dan Campak). Hal ini dimungkinkan karena pencapaian cakupan imunisasi yang meningkat (>85%). Kabupaten Boyolali (1 kasus). Kabupaten Banjarnegara (5 kasus). Reduksi Campak (Redcam) dan Eliminasi Tetanus Neonatorum (ETN). Kabupaten Semarang (2 kasus).Jumlah Kasus dan Angka Kesakitan Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) Yang termasuk dalam PD3I yaitu Polio. yaitu pengamatan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (Difteri. Kabupaten Boyolali (2 kasus). Tahun 2011 ada 141 kasus baru yang ditemukan di 9 kabupaten/kota yaitu Kota Pekalongan (125 kasus). Difteri Jumlah kasus Difteri di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 8 kasus yang tersebar di 6 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Banyumas (1 kasus). Kabupaten Batang (1 kasus) dan Kabupaten Pemalang (1 kasus).16. Tetanus Neonatorum. diperlukan komitmen global untuk menekan turunnya angka kesakitan dan kematian yang lebih banyak dikenal dengan Eradikasi Polio (ERAPO). Dalam waktu 5 tahun terakhir jumlah kasus PD3I yang dilaporkan adalah sebagi berikut: a. 17. Kabupaten Demak (1 kasus). Tetanus Non Neonatorum. jumlah kasus Filariasis pada tahun 2011 sebanyak 537 penderita. Difteri dan Hepatitis B. Pertusis.Kasus Penyakit Filariasis Ditangani Jumlah kasus Filariasis di Provinsi Jawa Tengah dari tahun ke tahun semakin bertambah. Tetanus Neonatorum. Saat ini telah dilaksanakan Program Surveilans Integrasi PD3I. Kota Semarang (2 kasus). Kabupaten Brebes (2 kasus). Dalam upaya untuk membebaskan Indonesia dari penyakit tersebut. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 29 .

Kabupaten Kudus Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 30 . Jumlah kasus Difteri pada tahun 2011 menurun bila dibandingkan dengan jumlah kasus Pertusis tahun 2010 (24 kasus). Pertusis Jumlah kasus Pertusis di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 4 kasus yang Berasal dari kabupaten Kudus. Penemuan kasus selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. Tetanus (Non Neonatorum) Jumlah kasus Tetanus (Non Neonatorum) di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 13 kasus yang tersebar di 4 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Blora (4 kasus). Kabupaten Rembang (1 kasus).35 30 25 20 15 10 5 0 2008 Kasus Difteri 28 2009 30 2010 14 2011 8 Gambar 3.21 Penemuan kasus Pertusis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 c.20 Penemuan kasus Difteri Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 b. 30 25 20 15 10 5 0 2008 Kasus Pertusis 3 2009 0 2010 24 2011 4 Gambar 3.

Kabupaten Temanggung.(3 kasus) dan Kabupaten Pemalang (5 kasus). Penemuan kasus selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut.22 Penemuan kasus Tetanus Non Neonatorum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 d. Jumlah kasus Tetanus pada tahun 2011 meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (3 kasus). Kabupaten Batang dan Kabupaten Brebes.8% atau dari 13 kasus yang dilaporkan 7 diantaranya meninggal. 15 10 5 0 2008 Kasus Tetanus Non Neonatorum 7 2009 6 2010 3 2011 13 Gambar 3. CFR Tetanus tahun 2011 sebesar 53. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 31 . Jumlah kasus Tetanus pada tahun 2011 meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (3 kasus). CFR Tetanus tahun 2011 sebesar 75% atau dari 4 kasus yang dilaporkan 3 diantaranya meninggal Penemuan kasus dan kematian Tetanus Neonatorum selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. Tetanus Neonatorum Jumlah kasus Tetanus Neonatorum di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 4 kasus yang tersebar di 4 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Rembang. Sedangkan 31 kabupaten/kota lainnya tidak ada kasus.

Kabupaten Kudus. Kasus terbanyak terdapat di Kota Semarang (285 kasus). 4000 3000 2000 1000 0 2008 Campak 2498 2009 3614 2010 3664 2011 1873 Gambar 3.873 kasus. Penemuan kasus campak selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut.24 Kasus Campak yang dilaporkan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 32 .23 Penemuan kasus dan kematian Tetanus Neonatorum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 e. Ada 5 Kabupaten yang tidak terdapat kasus campak yaitu Kabupaten Purbalingga. Kabupaten Kendal dan Kabupaten Tegal. Kabupaten Purworejo. Campak Jumlah kasus Campak di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 1.12 8 4 0 2008 Kasus Mati 10 6 2009 10 5 2010 6 4 2011 4 3 Gambar 3. mengalami penurunan yang signifikan bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebesar 3.664 kasus.

kanker payudara. kanker hati. Kabupaten Pemalang (21 kasus). Kota Salatiga (4 kasus) dan Kabupaten Boyolali (3 kasus). Hepatitis B Jumlah kasus Hepatitis B di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 170 kasus. g. mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebanyak 117 kasus. Kabupaten Pekalongan (28 kasus). Kabupaten Pati (11 kasus). kanker paru. dekompensasio kordis.f. Kota Tegal (16 kasus). Kabupaten Banjarnegara (4 kasus). mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebanyak 1 kasus. Kasus Hepatitis B terdapat di 9 kabupaten/kota yaitu di Kabupaten Temanggung (40 kasus). 200 150 100 50 0 2008 Hepatitis B 57 2009 74 2010 117 2011 170 Gambar 3. Kabupaten Purworejo (19 kasus). Penemuan kasus Hepatitis B selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. hipertensi. asma Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 33 . Kabupaten Cilacap (8 kasus).25 Kasus Hepatitis B Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 18. Kota Semarang (16 kasus). stroke. Polio Jumlah kasus Polio di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 0 kasus. penyakit paru obstruktif kronis. Penyakit Tidak Menular Penyakit tidak menular (PTM) yang diintervensi meliputi jantung koroner. kanker serviks. diabetes mellitus.

bronkiale, dan kecelakaan lalu lintas. Penyakit tidak menular seperti penyakit kardiovaskular, stroke, diabetes mellitus, penyakit paru obstruktif kronis dan kanker tertentu, dalam kesehatan masyarakat sebenarnya dapat digolongkan sebagai satu kelompok PTM utama yang mempunyai faktor risiko sama (common

underlying risk factor). Faktor risiko tersebut antara lain faktor genetik
merupakan faktor yang tidak dapat diubah (unchanged risk factor), dan sebagian besar berkaitan dengan faktor risiko yang dapat diubah (change risk factor) antara lain konsumsi rokok, pola makan yang tidak seimbang, makanan yang mengandung zat aditif, kurang berolah raga dan adanya kondisi lingkungan yang tidak kondusif terhadap kesehatan. Penyakit tidak menular mempunyai dampak negatif sangat besar karena merupakan penyakit kronis. Apabila seseorang menderita penyakit tidak menular, berbagai tingkatan produktivitas menjadi terganggu. Penderita ini menjadi serba terbatas aktivitasnya, karena menyesuaikan diri dengan jenis dan gradasi dari penyakit tidak menular yang dideritanya. Hal ini berlangsung dalam waktu yang relatif lama dan tidak diketahui kapan sembuhnya karena memang secara medis penyakit tidak menular tidak bisa disembuhkan tetapi hanya bisa dikendalikan. Yang harus mendapatkan perhatian lebih adalah bahwa penyakit tidak menular merupakan penyebab kematian tertinggi dibanding dengan penyakit menular. Kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah yang melaporkan data PTM tahun 2011 hanya 27 kabupaten/kota (77,1%). Hampir semua kelompok Penyakit Tidak Menular pada tahun 2011 mengalami peningkatan jumlah kasus, kecuali penyakit Asma bronkial dan Psikosis yang jumlah kasusnya lebih rendah dibanding tahun 2010. Kasus tertinggi Penyakit Tidak Menular pada tahun 2011 adalah kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah. Dari total 1.409.857 kasus yang dilaporkan sebesar 62,43% (880.193 kasus) adalah penyakit jantung dan pembuluh darah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

34

Asma Bronkial 13% PPOK 2%

Psikosis Neoplasma 1% 5%

DM 17%

Jantung & PD 62%

Gambar 3.26 Persentase Kasus Penyakit Tidak Menular Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011

a. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Penyakit jantung dan pembuluh darah adalah penyakit yang mengganggu jantung dan sistem pembuluh darah seperti penyakit jantung koroner (angina pektoris, akut miokard infark), dekompensasio kordis, hipertensi, stroke, penyakit jantung rematik, dan lain-lain. Kasus tertinggi penyakit tidak menular tahun 2011 pada kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah adalah penyakit Hipertensi Esensial, yaitu sebanyak 634.860 kasus (72,13 %).

1) Hipertensi Hipertensi atau sering disebut dengan darah tinggi adalah suatu keadaan di mana terjadi peningkatan tekanan darah yang memberi

gejala berlanjut pada suatu target organ tubuh sehingga timbul kerusakan lebih berat seperti stroke (terjadi pada otak dan berdampak pada kematian yang tinggi), penyakit jantung koroner (terjadi pada kerusakan pembuluh darah jantung) serta penyempitan ventrikel kiri / bilik kiri (terjadi pada otot jantung). Hipertensi merupakan penyakit yang sering dijumpai diantara penyakit tidak menular lainnya. Hipertensi dibedakan menjadi hipertensi primer yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya dan hipertensi

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

35

sekunder yaitu hipertensi yang muncul akibat adanya penyakit lain seperti hipertensi ginjal, hipertensi kehamilan, dll. Prevalensi kasus hipertensi essensial di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 1,96% menurun bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 2,00%. Terdapat tiga kota dengan prevalensi sangat tinggi di atas 10% yaitu Kota Magelang (22,41%), Kota Salatiga (10,18%) dan Kota Tegal (10,36%).
3

2.5

2

1.5

1 Prevalensi

2008 2.65

2009 2.13

2010 2

2011 1.96

Gambar 3.27 Prevalensi Kasus Hipertensi Essensial Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011

Penyakit Hipertensi Essensial pada tahun 2009 dan 2010 menunjukkan adanya penurunan kasus yang cukup tinggi, namun pada tahun 2011 terlihat mulai ada kenaikan jumlah kasus. Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut ini.
900000 800000 700000 600000 500000 Hipertensi Essensial

2008 865204

2009 698816

2010 562117

2011 634860

Gambar 3.28 Tren Peningkatan Kasus Hipertensi Essensial Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

36

Gambaran klinis dekompensasio kordis kiri adalah sesak nafas: dyspnoe d’effort dan ortopne.29 Prevalensi Stroke Hemoragik dan Non Hemoragik Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 3) Dekompensasio Kordis Dekompensasio kordis merupakan kegagalan jantung dalam memompa darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh atau istilah lain adalah payah jantung.13 2009 0.04 0.2) Stroke Stroke adalah suatu penyakit menurunnya fungsi syaraf secara akut yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 37 . Stroke dibedakan menjadi stroke hemoragik yaitu adanya perdarahan otak karena pembuluh darah yang pecah dan stroke non hemoragik yaitu lebih karena adanya sumbatan pada pembuluh darah otak. terjadi secara mendadak dan cepat yang menimbulkan gejala dan tanda sesuai dengan daerah otak yang terganggu. 0. Prevalensi tertinggi tahun 2011 adalah di Kota Magelang sebesar 1.03 0.12 0.02 0 Hemoragik Non Hemoragik 2008 0.09 2011 0.08 0.09%.03 0.03% sama dengan angka tahun 2010. sama dengan prevalensi tahun 2010. Stroke disebabkan oleh kurangnya aliran darah yang mengalir ke otak. atau terkadang menyebabkan pendarahan di otak. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Magelang sebesar 3.09 Gambar 3.45%. Prevalensi stroke hemoragik di Jawa Tengah tahun 2011 adalah 0.1 0.05 0.06 0. Sedangkan prevalensi stroke non hemorargik pada tahun 2011 sebesar 0.34%.04 0. pernafasan cheynes stokes.14 0.09 2010 0.

tekanan vena jugularis gambaran klinis dekompensasio kordis masih normal.11 2011 0.1 0. nyeri tekan.05 0 Prevalensi 2008 0. tekanan jugularis meningkat. Selain itu terjadi pembesaran hati yang mulamula lunak.14 2010 0. mual. tumpul dan tidak nyeri.11%.30 Prevalensi Dekompensasio Kordis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 b.18 2009 0. Sedangkan kanan adalah gangguan gantrointestinal seperti anoreksia.12% mengalami peningkatan bila dibandingkan prevalensi tahun 2010 sebesar 0. muntah. asites dan hidrotoraks. Absolut artinya pankreas sama sekali tidak bisa menghasilkan insulin sehingga harus mendapatkan insulin dari luar (melalui suntikan) dan relatif artinya pankreas masih bisa menghasilkan insulin yang kadarnya berbeda pada setiap orang. sianosis. suara serak. 0.12 Gambar 3. Dapat juga terjadi edema pretibial. baik absolut maupun relatif. meteorismus dan rasa kembung di epigastrum.batuk-batuk mungkin hemoptu.88%.2 0.15 0. Prevalensi kasus dekompensasio kordis tahun 2011 sebesar 0. ronchi basah halus tidak nyaring. (Perkeni 2002) Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 38 . tepi tajam. edema presakral. lama kelamaan menjadi keras. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Magelang sebesar 1. Diabetes Melitus Diabetes Melitus (DM) atau kencing manis adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang karena adanya peningkatan kadar gula dalam darah akibat kekurangan insulin.

63% pada tahun 2011. kehamilan dengan berat bayi lahir > 4 kg. mata kabur. hipertensi.99%. DM karena Toleransi Glukosa Terganggu (TGT). Di Indonesia.09%. kehamilan dengan hiperglikemi. riwayat Keluarga/ada keturunan. bayi lahir mati. gangguan toleransi glukosa.70% menjadi 0. Sedangkan prevalensi kasus DM tidak tergantung insulin lebih dikenal dengan DM tipe II.08%. dll. DM dapat menjadi penyebab aneka penyakit seperti hipertensi. luka yang lama sembuh mengakibatkan infeksi hingga akhirnya harus diamputasi terutama pada kaki. asalkan mau patuh dan kontrol teratur.97%. keracunan kehamilan. gangguan fungsi hati. Sedangkan gejala lain seperti Lelah/lemah. lemak dalam darah tinggi. obesitas. artinya sekali didiagnosa DM seumur hidup bergaul dengannya. DM jenis ini baru muncul pada usia di atas 40 tahun. gatal/bisul. DM berkaitan dengan malnutrisi (MRDM). Gejala khas berupa Polyuri (sering kencing). yang terbanyak adalah DM tidak tergantung insulin. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 39 . impotensi pada pria. Kelompok Faktor Risiko Tinggi antara lain pola makan yang tidak seimbang. dan DM karena kehamilan (GDM). impotensi. berat badan turun drastis. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Semarang sebesar 0. stroke. mengalami peningkatan bila dibandingkan prevalensi tahun 2010 sebesar 0. berat badan menurun drastis. kesemutan/gringgingan. pruritis vulva hingga keputihan pada wanita. Penderita mampu hidup sehat bersama DM. luka tdk sembuh-sembuh. kurang olah raga. Polyfagi (sering lapar). jantung koroner. keputihan. gagal ginjal. mata kabur. DM merupakan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikendalikan. yaitu DM Tergantung Insulin (DMTI). gatal daerah genital. kerusakan retina mata yang dapat membuat buta. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Magelang sebesar 7. dan lain-lain. umur Lebih dari 40th. DM Tidak Tergantung Insulin (DMTTI). katarak.WHO (1985) mengklasifikasikan penderita DM dalam lima golongan klinis. Prevalensi diabetes melitus tergantung insulin di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 0. mengalami penurunan dari 0. abortus. Polydipsi (sering haus). glaukoma.

63 Gambar 3.08 0. mamae 9.003 Gambar 3. terdiri dari Ca.09 0. dan Ca.006 0. kanker payudara.01 0.8 0.242 (11.32 Prevalensi Penyakit Kanker di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 40 . servik 6.021 0.05 0. hepar 2.05 0. yang tumbuh tanpa kontrol dan tujuan yang jelas.029 0.42%). kanker kulit. paru 954 kasus (4.004 0.022 0.899 kasus (35.7 2011 0.002 2010 0.59%). mendesak dan merusak jaringan normal.13%).005 2009 0.013 0.02 0.1.542 kasus (48.62 2010 0.31 Prevalensi Penyakit Diabetes Mellitus Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 c.4 1.277 kasus. Kasus penyakit kanker yang ditemukan di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 19.16 1. dan kanker rektum.6 0. Ca. kanker kelenjar getah bening. Di Indonesia terdapat lima jenis kanker yang banyak diderita penduduk yakni kanker rahim.04 0.037 0.2 0 DMTI DMTTI 2008 0.4 0.637 kasus meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebanyak 13.01 0 Ca Servik Ca Mamae Ca Hepar Ca Paru 2008 0.19 0. 0.007 0. Ca.86%).25 2009 0.028 0.003 2011 0.2 1 0.03 0.03 0. Neoplasma Neoplasma atau kanker adalah tumor ganas yang ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangan abnormal dari sel-sel tubuh.

05 0 Prevalensi 2008 0.09% pada tahun 2011 dan tertinggi di Kota Salatiga sebesar 4.2 2009 0. infeksi saluran nafas terutama waktu anak-anak.89%.Prevalensi kanker di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 adalah sebagai berikut : kanker serviks sebesar 0.07%.003% dan tertinggi di Kota Magelang sebesar 0. genetik. usia. debu dan bahan kimia. Prevalensi kasus PPOK di Provinsi Jawa Tengah mengalami peningkatan yaitu dari 0.1 0. kanker hati sebesar 0. Faktor risiko pencetus terjadinya PPOK adalah perokok aktif/pasif. defisiensi alpha-1 antitripsin.33%. alergi dan autoimunitas.007% dan tertinggi di Kota tegal sebesar 0.029% dan tertinggi di Kota Magelang sebesar 0. jenis kelamin.09 Gambar 3.021% dan tertinggi di Kota Semarang sebesar 0. kanker paru 0.04%.15 0. ras. 0.12 2010 0.39%. Penyakit Paru Obstruktif Kronis Penyakit Paru Obtruktif Kronis (PPOK) adalah penyakit yang ditandai adanya hambatan aliran pernafasan bersifat reversible sebagian dan progresif yang berhubungan dengan respon inflamsi abnormal dari paru terhadap paparan partikel atau gas berbahaya. kanker payudara sebesar 0. polusi udara di dalam atau di luar ruangan.08 2011 0. (Global Obstructive Lung Disease 2003).08% pada tahun 2010 menjadi 0. d.2 0.33 Prevalensi PPOK Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 41 .

9 0. Penyebab terjadinya BBLR antara lain karena ibu Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 42 . berbagai logam dalam bentuk perhiasan.64 2011 0.3 0 Prevalensi 2008 1. aktivitas fisik.64% dan prevalensi tertinggi di Kota Tegal sebesar 2.55 Gambar 3. serpih kulit dari binatang piaraan. spasme. Asma Bronkial Asma Bronkial terjadi akibat penyempitan jalan napas yang reversibel dalam waktu singkat oleh karena mukus kental. Prevalensi kasus asma di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 0. tekanan emosi.e. spora jamur dll. Persentase Berat Bayi Lahir Rendah.34 Prevalensi Asma Bronkial Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 C. Ingestan yang masuk badan melalui mulut biasanya berupa makanan seperti susu.07 2009 0.2 0. akibat inflamasi eosinofilik dengan kepekaan yang berlebihan. merokok. dan rangsangan yang bersifat antigen/allergen antara lain: Inhalan yang masuk ketubuh melalui alat pernafasan misalnya debu rumah.6 0. Kontaktan yang masuk badan melalui kontak kulit seperti obat-obatan dalam bentuk salep. dan edema mukosa serta deskuamasi epitel bronkus/bronkeolus. STATUS GIZI 1. ikan-ikanan.29%. 1. Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram.66 2010 0. obat-obatan dll. jam tangan dll. telur.55% mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 0. Serangan asma bronkhiale sering dicetuskan oleh ISPA.

hamil mengalami anemia, kurang suply gizi waktu dalam kandungan, ataupun lahir kurang bulan. Bayi yang lahir dengan berat badan rendah perlu

penanganan yang serius, karena pada kondisi tersebut bayi mudah sekali mengalami hipotermi dan belum sempurnanya pembentukan organ-organ tubuhnya yang biasanya akan menjadi penyebab utama kematian bayi. Jumlah bayi berat lahir rendah (BBLR) di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 21,184 meningkat banyak apabila dibandingkan tahun 2010 yang sebanyak 15.631. Adapun persentase BBLR tahun 2011 sebesar 3,73%, meningkat bila dibandingkan tahun 2010 sebesar 2,69%.
4 3 2 1 0 Prevalensi

2008 2,08

2009 2,81

2010 2,69

2011 3,73

Gambar 3.35 Persentase BBLR Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011

Persentase BBLR yang ditangani di Jawa Tengah tahun 2010 seluruh Kabupaten/Kota sudah memenuhi target dalam Renstra Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah sebesar 70%. 2. Persentase Balita Dengan Gizi Kurang Salah satu indikator kesehatan yang dinilai keberhasilan pencapaiannya dalam MDGs adalah status gizi balita. Status gizi balita diukur berdasarkan umur (U), berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). Variabel BB dab TB ini disajikan dalam bentuk tiga indikator antropometri, yaitu berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi ini menjadi penting karena merupakan salah satu faktor risiko untuk terjadinya kesakitan dan kematian. Status gizi yang baik
Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

43

bagi seseorang akan berkontribusi terhadap kesehatannya dan juga terhadap kemampuan dalam proses pemulihan. Status gizi masyarakat dapat diketahui melalui penilaian konsumsi pangannya berdasarkan data kuantitatif maupun kualitatif. Dalam menetukan klasifikasi status gizi harus ada ukuran baku yang sering disebut

reference .

Baku antropometri yang sering digunakan di Indonesia

adalah World Health Organization–National Centre for Health Statistic (WHONCHS). Berdasarkan baku WHO-NCHS status gizi dibagi menjadi empat : Pertama, gizi lebih untuk over weight, termasuk kegemukan dan obesitas. Kedua, Gizi baik untuk well nourished. Ketiga, Gizi kurang untuk under weight yang mencakup mild dan moderat, PCM (Protein Calori Malnutrition). Keempat, Gizi buruk untuk severe PCM, termasuk marasmus, marasmik-kwasiorkor dan kwasiorkor. Persentase balita dengan gizi kurang (BB/U) Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 5,35%. Persentase balita dengan gizi kurang tertinggi di Kota Tegal (50,98%) dan terendah di Kabupaten Kebumen (0,38%). 3. Persentase Balita dengan Gizi Buruk. Kejadian gizi buruk perlu dideteksi secara dini melalui intensifikasi pemantauan tumbuh kembang Balita di Posyandu, dilanjutkan dengan penentuan status gizi oleh bidan di desa atau petugas kesehatan lainnya. Penemuan kasus gizi buruk harus segera ditindak lanjuti dengan rencana tindak yang jelas, sehingga penanggulangan gizi buruk memberikan hasil yang optimal. Pendataan gizi buruk di Jawa Tengah didasarkan pada 2 kategori yaitu dengan indikator membandingkan berat badan dengan umur (BB/U) dan kategori kedua adalah membandingkan berat badan dengan tinggi badan (BB/TB). Skrining pertama dilakukan di posyandu dengan membandingkan berat badan dengan umur melalui kegiatan penimbangan, jika ditemukan balita yang berada di bawah garis merah (BGM) atau dua kali tidak naik (2T), maka dilakukan konfirmasi status gizi dengan menggunakan indikator berat badan menurut

tinggi badan. Jika ternyata balita tersebut merupakan kasus buruk, maka segera dilakukan perawatan gizi buruk sesuai pedoman di Posyandu dan Puskesmas.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

44

Jika ternyata terdapat penyakit penyerta yang berat dan tidak dapat ditangani di Puskesmas maka segera dirujuk ke rumah sakit. Balita Gizi Buruk tahun 2011 berjumlah 3.187 (0,10%) menurun apabila dibandingkan tahun 2010 sejumlah 3.514 (0,18%). Demikian pula persentase Balita Gizi Buruk mendapatkan perawatan tahun 2011 sebesar 100% jauh lebih meningkat dibandingkan tahun 2010 sebesar 93,28%.

Jepara Jepara Pati Kota Tegal Kota Pekalongan Kendal Demak Kota Semarang Kab Semarang Salatiga Wonosobo Bj negara Sragen Kab. Mgl Boyolali Surakarta Kr.anyar J A T I M Grobogan Kudus Rembang Blora

J A B A R

Brebes

Tegal

Batang Pekalongan Bata ng Pemalang

Temanggung Purblg Cilacap Banyumas Kebumen

Kota Mgl

Klaten Purworejo Magelan Sukoharjo g DI. Yogyakarta Wonogiri

Keterangan : Kasus Gizi Buruk (>150 kasus)

Gambar 3.36 Peta Kasus Balita Gizi Buruk (BB/TB) kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

45

satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga umur kehamilan. Kabupaten Jepara. Ada 11 kabupaten/kota yang cakupannya sudah mencapai 100% yaitu Kabupaten Banyumas. Cakupan kunjungan ibu hamil K-1 tahun 2011 sebesar 98. (7) Test laboratorium sederhana (Hb. Pelayanan Kesehatan 1. HIV.36%) di Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 46 . Cakupan terendah Kabupaten Rembang 92. Kabupaten Brebes. protein urin) dan atau berdasarkan indikasi (HbsAG. pertolongan persalinan dan pelayanan kesehatan nifas. Sifilis. (5) Pemberian tablet besi 90 selama kehamilan. Kabupaten Sukoharjo. Kabupaten Demak. b. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K-4 Kunjungan ibu hamil sesuai standar adalah pelayanan yang mencakup minimal: (1) Timbang badan dan ukur tinggi badan. (4) Tinggi fundus uteri.81 %) di Kabupaten Pekalongan dan terendah (83. (3) Skrining status imunisasi tetanus dan pemberian Tetanus Toxoid. Kabupaten Pemalang. Malaria. Kota Magelang. Cakupan tertinggi (101.04%) tetapi masih dibawah target SPM 2015 (95%). Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K-1 Pelayanan kesehatan ibu meliputi pelayanan kesehatan antenatal. Cakupan pelayanan antenatal dapat dipantau melalui pelayanan kunjungan baru ibu hamil (K1) untuk melihat akses dan pelayanan kesehatan ibu hamil sesuai standar paling sedikit empat kali (K4) dengan distribusi pemberian pelayanan yang dianjurkan adalah minimal satu kali pada triwulan pertama. (6) Temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling). Pelayanan Kesehatan Ibu a.BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN A.71% meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (92. Kota Surakarta dan Kota Semarang.72%.98%. (2) Ukur tekanan darah. Kabupaten Blora. TBC) Cakupan pelayanan lengkap ibu hamil (K4) di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 93. Kabupaten Kendal.

14 95 2009 93. Dari 35 kabupaten/kota tersebut baru 42.62%). Data cakupan mulai tahun 2007 sampai dengan 2011 secara keseluruhan di Provinsi Jawa Tengah adalah sebagai berikut : 100 95 90 85 80 Cak.62 90 2011 96.03 90 2010 93. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Tengah tahun 2011 sebesar 96.2 Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 47 .6 90 2008 90.Kabupaten Klaten. 100 95 90 85 80 Cak.92 95 2008 90.86% yang telah melampaui target cakupan K4.71 95 Gambar 4.98 90 2009 93. K4 Target 2007 86.79 90 Gambar 4.1 Cakupan Pelayanan Antenatal K4 Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007-2011 c.04 95 2011 93.79% mengalami Provinsi Jawa bila peningkatan dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (93. Linakes Target 2007 86. Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan adalah ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan.39 95 2010 92. Kabupaten/Kota yang sudah melampaui target SPM 2015 sebanyak 35 ( 100%).

Kunjungan terhadap ibu nifas yang dilakukan petugas kesehatan biasanya bersamaan dengan kunjungan neonatus. Cakupan yang telah mencapai 100% meliputi Kabupaten Banyumas. ibu bersalin dan ibu nifas yang dapat mengancam jiwa ibu dan/atau bayi.68%).05%) Dengan semakin naiknya angka cakupan pertolongan persalinan menunjukkan adanya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan. d. Dari 35 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah masih belum mencapai target SPM ada 4 Kabupaten/Kota (11. 48 . Kabupaten yang terendah capaiannya adalah Kota Semarang (64. Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani Komplikasi kebidanan merupakan kesakitan pada ibu hamil. Pelayanan Ibu Nifas meliputi pemberian Vitamin A dosis tinggi ibu nifas yang kedua dan pemeriksaan kesehatan paska persalinan untuk mengetahui apakan terjadi perdarahan paska persalinan. e. (b) Hiperemesis (d) Hipertensi dalam kehamilan (f) ketuban pecah Gravidarum. sehingga perlu mendapatkan pelayanan kesehatan masa nifas dengan dikunjungi oleh tenaga kesehatan minimal 3 (tiga) kali sejak persalinan. Komplikasi dalam kehamilan diantaranya (a) Abortus. payudara bengkak kemerahan disertai rasa sakit dan lain-lain.43%). Kabupaten Pekalongan dan Kota Magelang. adanya perencanaan persalinan yang baik dari ibu.Cakupan tertinggi adalah di Kabupaten Pekalongan dan Kota surakarta (100%) dan terendah adalah Kabupaten Banyumas (86. Cakupan pelayanan pada ibu nifas tahun 2011 yaitu 93. (c) Perdarahan per vaginam.97% naik bila dibandingkan tahun 2010 (93. keluar cairan berbau dari jalan lahir. Kabupaten Klaten. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 (preeklampsia. (e) Kehamilan lewat waktu. suami maupun dukungan keluarga. Cakupan Pelayanan Nifas Paska persalinan (masa nifas) berpeluang untuk terjadinya kematian ibu maternal. dini. demam lebih dari 2 (dua) hari.24%) dan sudah melampaui target SPM tahun 2015 (90%). eklampsia).

eklampsia). Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani tahun 2011 sebesar 75. (e) Infeksi berat/sepsis. ibu bersalin dan ibu nifas dengan komplikasi yang ditangani adalah ibu hamil. (f) Kontraksi dini/persalinan premature. Cakupan Kunjungan Neonatus Kunjungan Neonatus (KN) adalah kunjungan yang dilakukan oleh petugas kesehatan ke rumah ibu bersalin. Puskesmas. (g) Kehamilan ganda. KN dibagi menjadi 3. Cakupan kunjungan neonatus 1 (KN-1) di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 98. untuk memantau dan memberi pelayanan kesehatan untuk ibu dan bayinya. RSU.440 (20% dari jumlah ibu hamil). namun masih ada Kabupaten/Kota yang cakupannya kurang dari 90 % yaitu Kabupaten Wonogiri (87.01%. Pada Permenkes 741/ Th. 2. Jumlah komplikasi kebidanan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 126.84%). tetapi diharapkan target tersebut bisa tercapai sebelum tahun 2015. Komplikasi dalam nifas diantaranya (a) Hipertensi dalam kehamilan (preeklampsia. (b) Infeksi nifas. Ibu hamil. Puskesmas PONED. 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan (SPM-BK).56%) dan Kota Semarang (89. eklampsia) (d) Perdarahan pasca persalinan. RSU PONEK). Pencapaian cakupan tahun ini masih dibawah target SPM tahun 2015 (80%). Rumah Bersalin. (b) Partus macet/distosia. bersalin dan nifas dengan komplikasi yang mendapatkan pelayanan sesuai standar pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan (Polindes. Pelayanan Kesehatan Anak a. (c) Hipertensi dalam kehamilan (preeklampsia.28%. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 49 . Dari 35 kabupaten/kota. cakupan KN-3 rata-rata sudah lebih dari 90%.Komplikasi dalam persalinan diantaranya (a) Kelainan letak/presentasi janin.KN 2 adalah kunjungan 2-7 hari dan KN 3 adalah kunjungan setelah 7-28 hari.19%. (c) Perdarahan nifas. RSIA/RSB. dan cakupan kunjungan neonatus 3 (KN-lengkap) sebesar 95. Perlu diketahui bahwa tahun-tahun sebelumnya yang dihitung hanya cakupan komplikasi pada ibu hamil yang ditangani. yaitu: KN 1 adalah kunjungan pada 0-2 hari .

Cakupan Kunjungan Bayi Kunjungan bayi adalah bayi yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan. Setelah umur 28 hari. di luar kunjungan neonatus.33 2008 94. paling sedikit 4 kali. Selain itu perlu dilakukan analisis apakah jumlah tenaga kesehatan yang ada telah mencukupi kebutuhan pelayanan kesehatan tersebut serta tenaga kesehatan yang bertugas apakah telah melakukan pelayanan kesehatan secara optimal.66 2009 99.86 2011 95. Hal ini disebabkan adanya upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat melalui penambahan dan penempatan bidan di desa.19 Gambar 4.Untuk meningkatkan Kunjungan Neonatus di Kabupaten/Kota.3 Cakupan Kunjungan Neonatus Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Secara keseluruhan cakupan kunjungan neonatus di tingkat Provinsi Jawa Tengah sudah memenuhi target yaitu lebih dari 90%. pemerintah telah mengupayakan alokasi dana diantaranya melalui dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) disamping pendanaan lainnya baik dari Provinsi maupun Kabupaten/Kota.37 2010 94. Adapun cakupan kunjungan neonatus di Jawa Tengah pada tahun 2007-2011 dapat digambarkan sebagai berikut: 100 98 96 94 92 90 KN 2007 94. Setiap bayi berhak mendapatkan pelayanan kesehatan dengan memantau pertumbuhan dan perkembangannya Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 50 . Selain itu juga adanya upaya peningkatan pelayanan kesehatan dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah dengan menggunakan buku KIA serta meningkatnya pengetahuan ibu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik untuk bayinya. b.

ikterus. Cakupan kunjungan bayi tingkat Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 92.2011 dapat digambarkan sebagai berikut: 97 96 95 94 93 92 91 90 Kunjungan Bayi 2007 92. dokter dan bidan di sarana pelayanan kesehatan. Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara profesional kepada neonatus dengan komplikasi.04 2009 95.07 2010 93.22% dan Kabupaten Pekalongan 70. tetanus neonatorum.64 Gambar 4. hipotermia. kecacatan dan kematian. sindroma gangguan pernafasan dan kelainan congenital maupun yang termasuk klasifikasi kuning pada Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).19%.73%).64%. Wonogiri 73. Cakupan kunjungan bayi Kabupaten/Kota di Jawa Tengah pada tahun 2011 yang masih dibawah 80% yaitu Kabupaten Boyolali 44. infeksi/sepsis. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 51 . menurun apabila dibandingkan tahun 2010 (93.73 2011 92.76 2008 96. Neonatus dengan komplikasi yang ditangani merupakan neonatus komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih.4 Cakupan Kunjungan Bayi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 c. trauma lahir. Adapun grafik cakupan bayi 2007 . Neonatus dengan komplikasi seperti asfiksia.77%. Perhitungan sasaran neonatus dengan komplikasi dihitung berdasarkan 15% dari jumlah bayi baru lahir. BBLR (berat badan lahir rendah < 2500 gr). Cakupan Neonatus dengan Komplikasi yang Ditangani Neonatus dengan komplikasi merupakan neonatus dengan penyakit dan kelainan yang dapat menyebabkan kesakitan.secara teratur setiap bulan di sarana pelayanan kesehatan.

Cakupan Neonatus Risiko Tinggi/komplikasi yang ditangani tersebut masih jauh dari target cakupan sebesar 80%. kelainan mental emosional dan kebugaran jasmani. Kabupaten yang cakupannya sudah mencapai 100% adalah Kabupaten Magelang dan Kabupaten Brebes. Disamping target neonatus komplikasi yang ditangani untuk neonatal resiko tinggi seharusnya 15 % dari jumlah sasaran bayi pertahun.864 (81. e. sehingga belum semua neonatus dengan risiko tinggi/komplikasi dicatat dan dilaporkan. namun belum semua kabupaten/kota mempunyai persepsi / pemahaman yang sama. Jumlah perkiraan tersebut yang mendapat penanganan tenaga kesehatan di tiap jenjang pelayanan kesehatan sebesar 47.03%. karena balita adalah generasi penerus bangsa yang harus sehat. Jumlah balita di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 2.785. Tidak hanya bayi yang harus mendapatkan perhatian kesehatannya tetapi balita juga perlu mendapatkan perhatian baik gizi maupun kesehatannya. Masih rendahnya neonatus risiko tinggi yang mendapatkan pelayanan kesehatan diantaranya disebabkan belum adanya keseragaman definisi operasional mengenai neonatal yang termasuk dalam risiko tinggi. Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat Penjaringan kesehatan siswa Sekolah Dasar (SD) dan setingkat adalah pemeriksaan kesehatan terhadap murid baru kelas 1 SD dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang meliputi pengukuran tinggi badan. Sedangkan cakupan terendah adalah Kabupaten Boyolali 34.187.02).25%).569 bayi (53. kesehatan gigi. berat badan. Pelaksanaan penjaringan kesehatan dikoordinir oleh puskesmas bersama dengan guru Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 52 . yang mendapatkan pelayanan kesehatan sebanyak 1. d.336 bayi. pemeriksaan ketajaman mata.Tahun 2011 perkiraan bayi dengan komplikasi yang dihitung dari banyaknya sasaran bayi jumlahnya sebesar 89.204. cerdas dan kuat. Cakupan Pelayanan Anak Balita Balita adalah anak berumur dibawah 5 tahun atau umur 12-59 bulan. ketajaman pendengaran.

Cakupan Pelayanan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat Jumlah siswa SD dan setingkat tahun 2011 sebanyak 2. f. Kabupaten Pati.55%) dan tertinggi (100%) dicapai oleh 7 kabupaten yaitu Kabupaten Sukoharjo.70%) dan tertinggi (100%) dicapai oleh 4 kabupaten yaitu Kabupaten Sukoharjo. Kabupaten Demak. Kabupaten Sragen.074.59 2008 43. Melalui penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat diharapkan dapat menapis atau menjaring anak yang sakit dan melakukan tindakan intervensi secara dini. Kabupaten Purbalingga dan Kota Surakarta. meningkat dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (52.77 2009 43.61%).72%.831 (42. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 53 . Kabupaten Jepara dan Kabupaten Demak. Kabupaten Temanggung.853 anak.84%). Siswa SD dan setingkat ditargetkan 100 % mendapatkan pemantauan kesehatan melalui penjaringan kesehatan.555. Yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai strata UKS sebesar 1.02 Gambar 4. sehingga anak yang sakit menjadi sembuh dan anak yang sehat tidak tertular menjadi sakit.8 2010 52.61 2011 81. Setiap puskesmas mempunyai tugas melakukan penjaringan kesehatan siswa SD/MI di wilayah kerjanya dan dilakukan satu kali pada setiap awal tahun ajaran baru sekolah. Angka cakupan terendah di Kabupaten Boyolali (15. Kabupaten Kebumen.sekolah dan kader kesehatan/konselor kesehatan. Angka cakupan terendah di Kabupaten Rembang (1.5 Cakupan Pemeriksaan Kesehatan Siswa SD/MI Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga kesehatan / guru UKS / kader kesehatan sekolah tahun 2011 sebesar 78. 100 80 60 40 20 0 Cakupan 2007 51.

74 2008 98. Pelayanan Gizi a. hanya ada 1 kabupaten yang masih di bawah target yaitu Kabupaten Pemalang (82. Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada bayi selama 5 tahun terakhir (2007-2011) dapat dilihat dalam gambar berikut ini : 100 99 98 97 96 95 94 93 92 Cakupan 2007 94.46%).3. cakupan pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi pada bayi sebesar 99. Cakupan Pemberian Vitamin A pada Anak Balita Salah satu program penanggulangan KVA yang telah dijalankan adalah dengan suplementasi kapsul Vitamin A dosis tinggi 2 kali pertahun Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 54 .52 2009 98. Berdasarkan data yang yang diperoleh dari profil kesehatan kabupaten/kota.6 Cakupan Suplementasi Kapsul Vit. Sebagian besar kabupaten/kota telah melampaui target.84 2011 99. Salah satu dampak kurang Vitamin A adalah kelainan pada mata yang umumnya terjadi pada anak usia 6 bulan – 4 tahun yang menjadi penyebab utama kebutaan di negara berkembang.08%.84%. lebih banyak dibandingkan tahun 2010 sebesar 96. KVA dalam tubuh dapat menimbulkan berbagai jenis penyakit yang merupakan “Nutrition Related Diseases” yang dapat mengenai berbagai macam anatomi dan fungsi dari organ tubuh seperti menurunkan sistem kekebalan tubuh dan menurunkan epitelisme sel-sel kulit.08 Gambar 4.11 2010 96. A pada Bayi dan Balita Tahun 2007 – 2011 b. Cakupan Pemberian Vitamin A pada Bayi Kurang Vitamin A (KVA) masih merupakan masalah yang tersebar diseluruh dunia terutama di negara berkembang dan dapat terjadi pada semua umur terutama pada masa pertumbuhan. Cakupan tersebut sudah melampaui target SPM sebesar 95%.

62%) dan Kabupaten Pemalang (91. Kabupaten Purworejo. Kabupaten Kendal.000 SI yang diberikan pada anak umur 12-59 bulan dan diberikan pada bulan Pebruari dan Agustus setiap tahunnya.45%. Kabupaten Boyolali.44 2010 96.76 2011 98. Kabupaten Magelang. Sedangkan yang masih di bawah target yaitu Kabupaten Jepara (88.14 2009 82.pada Balita dan ibu nifas untuk mempertahankan bebas buta karena KVA dan mencegah berkembangnya kembali masalah Xerofthalmia dengan segala manifestasinya (gangguan penglihatan. Cakupan tertinggi (>100%) sudah dapat dicapai oleh 8 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Banyumas.6 2008 95. Cakupan ini sudah melampaui target SPM (95%). buta senja dan bahkan kebutaan sampai kematian). Disamping itu pemantapan program distribusi kapsul Vitamin A dosis tinggi juga dapat mendorong tumbuh kembang anak serta meningkatkan daya tahan anak terhadap penyakit infeksi. Balita yang dimaksud dalam program distribusi kapsul Vitamin A adalah anak umur 12 – 59 bulan yang mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi.7 Cakupan Suplementasi Kapsul Vit.45 Gambar 4. sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian pada bayi dan anak. Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada balita selama 5 tahun terakhir (2007-2011) dapat dilihat dalam gambar berikut ini : 100 95 90 85 80 75 70 Cakupan 2007 82. A pada Balita di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 55 . Kapsul Vitamin A dosis tinggi terdiri dari kapsul vitamin A berwarna merah dengan dosis 200. mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010 (96.76%).00%). Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada Balita tahun 2011 sebesar 98. Kota Magelang dan Kota Semarang. Kabupaten Sragen.

pendekatan.73 2008 92. balita. Sementara cakupan terendah di Kabupaten Temanggung sebesar 84.36%.8 Cakupan Ibu Nifas mendapat Kapsul Vit.c. Kabupaten Pekalongan. rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan lainnya. 100 95 90 85 80 75 Cakupan 2007 82. Suplementasi vitamin A pada ibu nifas merupakan salah satu program penanggulangan kekurangan vitamin A. meningkat dibandingkan tahun 2010 (92. Cakupan ibu nifas mendapat kapsul vitamin A adalah cakupan ibu nifas yang mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi (200. Cakupan tertinggi (>100%) dicapai oleh Kabupaten Magelang.43%. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 56 .94 2009 87. yang bermanfaat sebagai wahana yang mendukung terlaksananya kegiatan KIE di berbagai sektor terkait.43 Gambar 4.000 SI) pada periode sebelum 40 hari setelah melahirkan. Cakupan Pemberian Vitamin A pada Ibu Nifas Ibu nifas adalah ibu yang baru melahirkan bayi baik di rumah dan atau rumah bersalin dengan pertolongan dukun bayi dan atau tenaga kesehatan. 3) Sosialisasi pemberian kapsul Vitamin A terhadap petugas kesehatan di Puskesmas. Kabupaten Klaten. 2) Forum komunikasi. Kota Magelang dan Kota Surakarta.78%).31 2010 92. Cakupan ibu nifas mendapat kapsul vitamin A tahun 2011 sebesar 96. dan bufas diantaranya: 1) Advokasi. A di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Beberapa hal yang mempengaruhi fluktuasi angka cakupan pemberian vitamin A pada bayi.78 2011 96. dan lain-lain bentuk yang disertai dengan penyebarluasan informasi.

59 85. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 57 .12%.91 2008 93.43 89. Cakupan tertinggi dicapai Kabupaten Pekalongan 101.62 2010 95. d.53% dan terendah Kabupaten Kendal 53. Penanggulangan anemi pada ibu hamil dilaksanakan dengan memberikan 90 tablet Fe kepada ibu hamil selama periode kehamilannya. 6) Lintas program/ lintas sektor terkait (Promosi Kesehatan. Persentase Ibu Hamil yang Mendapatkan Tablet Fe Program penanggulangan anemia yang dilakukan adalah memberikan tablet tambah darah yaitu preparat Fe yang bertujuan untuk menurunkan angka anemia pada balita. Cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 89.4) Kegiatan konseling/konsultasi gizi dilakukan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas dan rumah sakit pada sasaran ibu anak. dan WUS (Wanita Usia Subur). ibu nifas. ibu hamill. Imunisasi. dan belum mencapai target SPM 2010 (90%).39% lebih rendah bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (90. 100 95 90 85 80 Fe 1 Fe 3 2007 92. dll) 7) Adanya sweeping dari kader kesehatan dengan sasaran ibu anak yang belum mendapatkan kapsul Vitamin A pada bulan kapsul. remaja putri.25%).92 90. 5) Tersedianya sarana pelayanan kesehatan yang terjangkau.98 85.25 2011 95. Hal ini dapat dilihat dari tingginya prevalensi pemberian tablet Fe pada ibu hamil.94 87.06 2009 92.39 Gambar 4.9 Persentase Pemberian Tablet Fe Pada Ibu Hamil Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Dari grafik di atas dapat diihat bahwa cakupan Fe 1 dan cakupan Fe 3 sudah cukup baik dan memadai.

diabetes dll. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 58 . Persentase Bayi yang Mendapatkan ASI Eksklusif Air Susu Ibu (ASI) merupakan satu-satunya makanan yang sempurna dan terbaik bagi bayi karena mengandung unsur-unsur gizi yang dibutuhkan oleh bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi guna mencapai pertumbuhan dan perkembangan bayi yang optimal. kecuali obat dan vitamin. jantung. karena meskipun insiden diare rendah pada bayi yang diberi susu formula.18%. obesitas. Pernyataan bahwa dengan pemberian susu formula kepada bayi dapat menjamin bayi tumbuh sehat dan kuat. 450/Menkes/SK/IV/2004. dalam keadaan miskin mungkin merupakan hadiah satusatunya. Pemberian ASI eksklusif bukan hanya isu nasional namun juga merupakan isu global. dalam keadaan sakit mungkin merupakan hadiah yang menyelamatkan jiwanya (UNICEF). ASI adalah hadiah yang sangat berharga yang dapat diberikan kepada bayi. Oleh sebab itu pemberian ASI perlu diberikan secara eksklusif sampai umur 6 (enam) bulan dan tetap mempertahankan pemberian ASI dilanjutkan bersama makanan pendamping sampai usia 2 (dua) tahun. Kebijakan Nasional untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 (enam) bulan telah ditetapkan dalam SK Menteri Kesehatan No. ASI eksklusif adalah Air Susu Ibu yang diberikan kepada bayi sampai bayi berusia 6 bulan tanpa diberikan makanan dan minuman. namun pada masa pertumbuhan berikutnya bayi yang tidak diberi ASI ternyata memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk menderita hipertensi. meningkat dibandingkan tahun 2010 (37. Berdasarkan data yang diperoleh dari profil kesehatan kabupaten/kota tahun 2011 menunjukkan cakupan pemberian ASI eksklusif hanya sekitar 45. ternyata menurut laporan mutakhir UNICEF (Fact About Breast Feeding) merupakan kekeliruan yang fatal.18%). Bayi yang mendapat ASI eksklusif adalah bayi yang hanya mendapat ASI saja sejak lahir sampai usia 6 bulan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.e. kanker.

Kabupaten Blora. 2).96 2009 40. Kondisi yang kurang memadai bagi para ibu yang bekerja. Faktor sosial budaya.18 2011 45.55%. Kurangnya pelayanan konseling laktasi dan dukungan dari petugas kesehatan. 4). Hanya 6 kabupaten/kota saja yang telah mencapai pemberian ASI eksklusif di atas 60% yaitu Kabupaten Purworejo. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 59 .21 2010 37.41%. 3).35 2008 28. Kabupaten Banyumas.10 Cakupan Pemberian ASI Eksklusif Tahun 2007 – 2011 Beberapa hal yang menghambat pemberian ASI eksklusif diantaranya adalah: 1). Kabupaten Klaten. 50 40 30 20 10 0 Cakupan 2007 27. 5).Cakupan tertinggi adalah Kabupaten Klaten 77. Kabupaten Pati dan Kabupaten Temanggung. Sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Rembang 6. Upaya-upaya yang telah dilaksanakan dalam rangka meningkatkan cakupan pemberian ASI eksklusif tetap berpedoman pada Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui yaitu: 1) Sarana Pelayanan Air Kesehatan Ibu mempunyai kebijakan yang Peningkatan secara rutin Pemberian Susu (PP-ASI) tertulis dikomunikasikan kepada semua petugas.36 Gambar 4. Gencarnya pemasaran susu formula. Rendahnya pengetahuan ibu dan keluarga lainnya mengenai manfaat ASI dan cara menyusui yang benar.

Kabupaten Demak. 4) Membantu ibu mulai menyusui bayinya dalam 30 menit setelah melahirkan yang dilakukan di ruang bersalin (inisiasi dini). Kabupaten Blora.724 anak. Kabupaten yang cakupannya sudah mencapai 100% adalah Kabupaten Wonosobo. 8) Membantu ibu menyusui semau bayi semau ibu.831 (38. 6) Tidak memberikan makanan atau minuman apapun selain ASI kepada bayi baru lahir. Kabupaten Boyolali.31%).2) Melakukan pelatihan bagi petugas dalam hal pengetahuan dan ketrampilan untuk menerapkan kebijakan tersebut. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 60 . Cakupan terendah adalah Kabupaten Brebes 0. yang mendapatkan makanan tambahan ASI (MP-ASI) sebanyak 55. Kabupaten Rembang.40%. Apabila ibu mendapat operasi caesar. rumah bersalin atau sarana pelayanan kesehatan. 5) Membantu ibu bagaimana cara menyusui yang benar dan cara mempertahankan menyusui meski ibu dipisah dari bayi atas indikasi medis. 7) Melaksanakan rawat gabung dengan mengupayakan ibu bersama bayi 24 jam sehari. Anak usia 6-24 bulan dari keluarga miskin diberikan makanan pendamping ASI baik makanan lokal maupun pabrikan. f. 3) Menjelaskan kepada semua ibu hamil tentang manfaat menyusui dan penatalaksanaannya dimulai sejak masa kehamilan. Kota Salatiga dan Kota Pekalongan. Jumlah anak usia 623 bulan dari keluarga miskin dari 21 kabupaten/kota sebanyak 145. 9) Tidak memberikan dot atau kempeng kepada bayi yang diberi ASI. 10) Mengupayakan terbentuknya Kelompok Pendukung ASI (KP-ASI) dan rujuk ibu kepada kelompok tersebut ketika pulang dari rumah sakit. masa bayi lahir sampai umur 2 tahun termasuk cara mengatasi kesulitan menyusui. bayi disusui setelah 30 menit ibu sadar. Kabupaten Temanggung. tanpa pembatasan terhadap lama dan frekuensi menyusui. Cakupan Pemberian Makanan Pendamping ASI pada Anak Usia 624 bulan Keluarga Miskin.

32% menurun dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (89.49%). Imunisasi. Partisipasi masyarakat dalam penimbangan di posyandu tersebut digambarkan dalam perbandingan jumlah balita yang ditimbang (D) dengan jumlah balita seluruhnya (S). Semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam penimbangan di posyandu maka semakin baik pula data yang dapat menggambarkan status gizi balita. Dari data yang ada menggambarkan bahwa pedesaan dan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 61 . Cakupan tertinggi adalah di Kabupaten Sragen 88. Jumlah Balita Ditimbang Salah satu upaya untuk meningkatkan keadaan gizi masyarakat adalah melalui Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) yang sebagian kegiatannya dilaksanakan di Posyandu. Penimbangan terhadap bayi dan balita yang dilakukan di posyandu merupakan upaya masyarakat memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita yang dintegrasikan dengan pelayanan kesehatan dasar lain (KIA.43%.49 2011 78. Pemberantasan Penyakit). 100 80 60 40 20 0 Balita ditimbang 2007 71.89 2010 89.47 2009 75.63 2008 76.11 Cakupan Balita Yang Ditimbang Tahun 2007 – 2011 Kabupaten/kota yang belum dapat mencapai target partisipasi masyarakat sebesar 80% sebanyak 15 kabupaten/kota. Banyak hal dapat mampengaruhi penimbangan di tingkat pencapaian antara partisipasi lain tingkat masyarakat pendidikan.35% dan terendah Kabupaten Pemalang 61. dalam tingkat posyandu pengetahuan masyarakat tentang kesehatan dan gizi. Partisipasi masyarakat dalam penimbangan di posyandu tahun 2011 sebesar 78. faktor ekonomi dan sosial budaya.32 Gambar 4.g.

dilanjutkan dengan penentuan status gizi oleh bidan di desa atau petugas kesehatan lainnya. Penemuan kasus gizi buruk harus segera ditindak lanjuti dengan rencana tindak yang jelas. Jika ternyata balita tersebut merupakan kasus buruk. sehingga penanggulangan gizi buruk memberikan hasil yang optimal. maka dilakukan konfirmasi status gizi dengan menggunakan indikator berat badan menurut tinggi badan. Skrining pertama dilakukan di posyandu dengan membandingkan berat badan dengan umur melalui kegiatan penimbangan.12 Jumlah Balita dengan Gizi Buruk Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 62 . Pendataan gizi buruk di Jawa Tengah didasarkan pada 2 kategori yaitu dengan indikator membandingkan berat badan dengan umur (BB/U) dan kategori kedua adalah membandingkan berat badan dengan tinggi badan (BB/TB). 20000 15000 10000 5000 0 Jml Balita Gibur 2007 18106 2008 5528 2009 5249 2010 3514 2011 3187 Gambar 4. h.perkotaan tidak memperlihatkan perbedaan yang menyolok dalam partisipasi masyarakat tetapi yang sangat berpengaruh adalah faktor ekonomi dan sosial budaya. maka segera dilakukan perawatan gizi buruk sesuai pedoman di Posyandu dan Puskesmas. Jika ternyata terdapat penyakit penyerta yang berat dan tidak dapat ditangani di Puskesmas maka segera dirujuk ke rumah sakit. Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan Kejadian gizi buruk perlu dideteksi secara dini melalui intensifikasi pemantauan tumbuh kembang Balita di Posyandu. jika ditemukan balita yang berada di bawah garis merah (BGM) atau dua kali tidak naik (2T).

13 Persentase Desa/Kelurahan dengan Garam Beryodium Baik Tahun 2007 – 2011 Berdasarkan laporan yang masuk dari 33 kabupaten/kota. 100 80 60 40 20 0 % Desa dg garam beryodium 2007 58. dimana pada tahun 2011 sebanyak 53. Sedangkan kabupaten dengan konsumsi garam beryodium terendah adalah Kabupaten Demak 9.15%).42% menurun dibandingkan tahun 2010 (80. i. yang cakupannya mencapai 100% adalah Kabupaten Tegal. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 63 .514). Kota Magelang.187 menurun apabila dibandingkan tahun 2010 (3.42 Gambar 4. Kota Surakarta. Desa dengan Garam Beryodium yang Baik Persentase desa/kelurahan dengan garam beryodium yang baik. Kota Salatiga dan Kota Semarang. menggambarkan identitas mutu garam beryodium yang dikonsumsi penduduk di suatu desa/kelurahan.93 2009 48.Balita Gizi Buruk tahun 2011 berjumlah 3. Tetapi persentase Balita Gizi Buruk mendapatkan perawatan tahun 2011 sebesar 100% jauh lebih meningkat dibandingkan tahun 2010 (93.15 2011 53.83 2008 55. 4. Pelayanan Keluarga Berencana a.68%. Peserta Keluarga Berencana Baru Peserta Keluarga Berencana (KB) baru adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang baru pertama kali menggunakan salah satu cara/alat dan/atau PUS yang menggunakan kembali salah satu cara/alat kontrasepsi setelah mereka berakhir masa kehamilannya.81 2010 80.28%).

Partisipasi pria (bapak) untuk menjadi peserta KB aktif dengan mempergunakan kontrasepsi MOP (hanya 0.14 Persentase Pemakaian Kontrasepsi Peserta KB Baru Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Sebagian besar peserta KB baru mempergunakan kontrasepsi non MKJP yang membutuhkan pembinaan secara rutin dan berkelanjutan untuk menjaga kelangsungan pemakaian kontrasepsi.2%.20%).4%) dan kondom (hanya 5. hal tersebut dapat difahami karena akses untuk memperoleh pelayanan suntikan relatif lebih mudah.2% PIL 18. sebagai akibat tersedianya jaringan pelayanan sampai di tingkat desa/kelurahan sehingga dekat dengan tempat tinggal peserta KB.7%). Peserta KB baru tersebut menggunakan kontrasepsi sebagai berikut: 1) MKJP: Tahun 2011 IUD (6.4%).46%) dan Kondom (5.125 lebih sedikit dibanding tahun 2010 (6. menurun apabila dibandingkan dengan tahun 2010 (15. PIL (18.561. MOP (0.99%).4% Suntik 54. MOP/MOW (2. 2) NON MKJP: Tahun 2011 Suntik (54.4% MOW 2.0% Implant 12. dan sebagian pria masih beranggapan bahwa KB merupakan urusan ibu (istri). sedangkan tahun 2010 : Suntik (58.243).Jumlah PUS Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 6.8% IUD 6. Peserta KB baru pada tahun 2011 (13.2% Gambar 4.8%).2%). Sedangkan tahun 2010: IUD (5. Kondom 5.23%) dan Implant (8. sehingga ibu (istri) yang menjadi sasaran.8%).4%) dan Kondom (5. karena terbatasnya pilihan kontrasepsi yang disediakan bagi pria.13%). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 64 .97%). PIL (19.9% MOP 0.549.0%) dan Implant (12.24%). MOW (2.9%).2%). Proporsi pemakai kontrasepsi suntikan cukup besar yaitu 54.

mengalami penurunan dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (78.8 80 Gambar 4. Kabupaten Pekalongan.09 80 2009 78. Kabupaten Jepara. Kabupaten Semarang. Angka ini sudah mencapai target (70%).2%). 81 80 79 78 77 76 75 74 Cakupan Target 2007 77. dan Kota Surakarta.57%). Cakupan peserta KB aktif adalah perbandingan antara jumlah peserta KB aktif dengan PUS di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.5%) dan terendah di Kabupaten Tegal (44. Cakupan peserta KB aktif menunjukkan tingkat pemanfaatan kontrasepsi di antara PUS. Polio 4 dan Campak dengan cakupan minimal 80% dari Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 65 . Kabupaten Kudus. Kota Magelang. Kabupaten Brebes. Terdapat 13 Kabupaten/kota yang telah melampaui target yaitu Kabupaten Wonogiri.57 80 2011 76.15 Cakupan Peserta KB Aktif Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 5. Pelayanan Imunisasi a. Persentase Desa yang Mencapai “Universal Child Immunization” (UCI) Strategi operasional pencapaian cakupan tinggi dan merata berupa pencapaian Universal Child Immunization (UCI) yang berdasarkan indikator cakupan DPT-HB 3. Peserta KB Aktif Peserta KB aktif adalah akseptor yang pada saat ini memakai kontrasepsi untuk menjarangkan kehamilan atau mengakhiri kesuburan. Kabupaten Pemalang. Kabupaten Pati.79 80 2008 78.8%. Cakupan tertinggi di Kota Magelang (89. Kabupaten Temanggung.b. Cakupan peserta KB aktif Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 76. Kabupaten Blora. Kabupaten Rembang.37 80 2010 78.

83 2009 91. Kota Salatiga. Kabupaten Demak. Hasil pencapaian UCI desa tahun 2010 yang mencapai target (100%) sebanyak 18 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Banyumas.4%) mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2010 (94. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 66 . Kabupaten Kebumen. 99 94 89 84 79 74 UCI 2007 83. hal ini dikarenakan penentuan jumlah sasaran masih berdasarkan angka estimasi jumlah penduduk. Pencapaian UCI desa tahun 2011 (96.1%). Kabupaten Sragen. Kabupaten Grobogan.95 2010 94.58 2011 96.jumlah sasaran bayi di desa. Kota Pekalongan dan Kota Tegal.06%). Kabupaten Magelang. Kota Semarang. Kota Magelang. pada umumnya disebabkan karena penghitungan sasaran (denominator) yang melebihi dengan kondisi riil jumlah sasaran di lapangan. Sedangkan kabupaten yang pencapaian UCI desa terendah di Kabupaten Batang (66. kabupaten Kudus. Kabupaten Pekalongan.4 Gambar 4. kabupaten Pemalang. Kabupaten Tegal. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tidak tercapainya pencapaian UCI desa di beberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah. Kabupaten Semarang. Kabupaten Temanggung.64 2008 86.16 Cakupan Desa/Kelurahan UCI Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Kabupaten/kota yang belum mencapai target imunisasi dasar lengkap pada bayi disebabkan antara lain : 1) Adanya perbedaan jumlah dibandingkan dengan sasaran yang ada. bukan dari hasil pendataan. Kota Surakarta.

Tetanus. Sebagai indikator kelengkapan status imunisasi dasar lengkap bagi bayi dapat dilihat dari hasil cakupan imunisasi campak. pada umumnya disebabkan keterbatasan sumber daya atau tenaga banyak yang merangkap dengan tugas lain. Jumlah sasaran bayi pada tahun tahun 2011 adalah 592. Bayi seharusnya mendapat imunisasi dasar lengkap yang terdiri dari BCG 1 kali. b.2) Belum semua Puskesmas membuat Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) imunisasi secara rutin (bulanan. dan HB). Sedangkan cakupan masing-masing jenis imunisasi tahun 2011 adalah Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 67 . Polio 4 kali. tribulanan) dikarenakan banyak petugas imunisasi yang merangkap dengan tugas lain. Cakupan imunisasi dasar lengkap bayi di Jawa Tengah dari semua antigen sudah mencapai target minimal nasional (85%). HB Uniject 1 kali dan campak 1 kali. Difteri. Backlog Fighting (melengkapi status imunisasi). DPT-HB. Cakupan Imunisasi bayi Upaya untuk menurunkan angka kesakitan. 3) Belum dilakukan pelaksanaan sweeping atau kunjungan rumah untuk melengkapi status imunisasi pada daerah-daerah yang cakupan imunisasinya masih rendah.712 meningkat disbanding tahun 2010 sebanyak 579. pencapaian tiap tahun cenderung menurun. dan lain-lain. kecacatan.494. sedangkan BIAS TT diberikan pada semua anak usia kelas II dan III SD/MI/SDLB/SLB. Polio. BIAS Campak yang diberikan pada semua usia kelas I SD/MI/SDLB/SLB. Pertusis. DPT-HB 3 kali. 4) Masih ada sebagian kecil orang tua yang menolak anaknya untuk diimunisasi dikarenakan keyakinan/kepercayaan agama. Polio. Selain pemberian imunisasi rutin. Hepatitis B. karena imunisasi campak merupakan imunisasi yang terakhir yang diberikan pada bayi umur 9 (sembilan) bulan dengan harapan imunisasi sebelumnya sudah diberikan dengan lengkap (BCG. program imunisasi juga melaksanakan program imunisasi tambahan/suplemen yaitu Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) DT. dan Campak. dan kematian bayi serta anak balita dilaksanakan program imunisasi baik program rutin maupun program tambahan/suplemen untuk penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti TBC.

Drop Out Imunisasi DPT1-Campak Dalam rangka mencapai dan mempertahankan UCI desa.89 99.18 96.5 100. DPT1+HB1 (99. persentase (%) 110 100 90 80 BCG 2007 2008 2009 2010 100.69 99. Kota Semarang dan Kota Tegal.28 99.67%).29%).95%). Tahun 2011 DO tingkat Jawa Tengah sebanyak 3.4%.29 DPT1+Hb1 DPT3+Hb3 100.05 100. Kabupaten Jepara.24 99. DPT1+HB1 (97. mengalami penurunan dibanding tahun 2010 (3. Untuk kecenderungan cakupan setiap bulan dapat diketahui dengan indikator Drop Out (DO).42%) yang DO-nya lebih dari 5% atau (-5%) yaitu Kabupaten Banjarnegara.78 103.7%). Kabupaten Purworejo. DPT3+HB3 (95.0%).35 99.84 102. Dengan grafik PWS akan terlihat dan dapat dianalisis cakupan dan kecenderungan setiap bulan.95%) dan Campak (96. DPT3+HB3 (98. Sebanyak 11 kabupaten/kota (31.29 Gambar 4. Polio 3 (96.6%).0%). Kabupaten Grobogan. Kabupaten Brebes.67 96. Kota Surakarta.17 Cakupan Imunisasi Bayi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 c. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 68 .04 98. Kabupaten Pati. Kabupaten Kendal. analisis PWS harus diikuti dengan tindak lanjut. Sesuai kesepakatan dengan kabupaten/kota indikator DO di Jawa Tengah maksimal 5% atau (-5%).sebagai berikut BCG (98. Polio 3 (94.77 102. Kabupaten Sragen.5 99. Hal ini mengalami penurunan bila dibanding tahun 2010 dengan BCG (100.0%) dan Campak (93.08 Polio 4 97. maka dapat segera diketahui kekurangan cakupan dan beban yang harus dicapai setiap bulan pada periode berikutnya.95 98.29%).95 Campak 96.08%).14 96.

6. sementara jumlah pencabutan gigi tetap sebanyak 156.2%.2% dan TT2+ sebanyak 114. sehingga sistim pencernaan semakin bagus. sebelum gigi tetap betul betul rusak dan harus dicabut. Jumlah ibu hamil 2011 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 632. oleh karena itu masih diperlukan penyuluhan yang terus menerus agar masyarakat memeriksakan giginya secara teratur. Rasio Tambal Cabut Gigi Tetap Pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas meliputi kegiatan pelayanan dasar gigi dan upaya kesehatan gigi sekolah. TT-4 sebesar 20. hal ini disebabkan : 1) Pencatatan dan pelaporan status imunisasi lima dosis belum berjalan dengan baik karena pelaksanaan skrining status TT belum optimal. TT-3 sebesar 28. 2) Penggunaan format pelaporan yang berbeda antara kabupaten/kota ke provinsi dan puskesmas ke kabupaten/kota terutama untuk TT ibu hamil dan non ibu hamil. yang mendapat TT-1 sebesar 48. Kegiatan pelayanan dasar gigi adalah tumpatan (penambalan) gigi tetap dan pencabutan gigi tetap. Data kegiatan imunisasi TT WUS saat ini akurasinya masih sangat kurang sehingga belum dapat dinalisis.7 dan TT-5 sebesar 17.8.4%. Indikasi dari perhatian masyarakat adalah bila tumpatan gigi tetap semakin bertambah banyak berarti masyarakat lebih memperhatikan kesehatan gigi yang merupakan tindakan preventif.5%. WUS Mendapat Imunisasi TT Imunisasi TT WUS adalah pemberian imunisasi TT pada WUS (usia 15-39 th) sebanyak lima dosis dengan interval tertentu yang berguna bagi kekebalan seumur hidup. Data tersebut menandakan bahwa motivasi masyarakat dalam mempertahankan gigi geliginya belum maksimal. yang pada akhirnya Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 69 . Pelayanan Kesehatan Gigi a. TT-2 sebesar 48.08.d. Melalui pemeriksaan gigi ini dapat mengontrol fungsi kunyah gigi agar tetap baik.198. Pencabutan gigi tetap adalah tindakan kuratif dan rehabilitatif yang merupakan tindakan terakhir yang harus diambil oleh seorang pasien.274. Tahun 2011 jumlah tumpatan gigi tetap tahun 2011 sebanyak 127.

6 0. Beberapa kabupaten/kota yang pencabutan giginya jauh lebih banyak dibandingkan tumpatan giginya (rasio rendah).kesehatan secara umum akan meningkat dan diharapkan di tahun-tahun mendatang jumlah pencabutan gigi tetap trennya semakin menurun.95).2011 b. menandakan bahwa masyarakat di kabupaten yang bersangkutan masih kurang memperhatikan kesehatan gigi dan mulut dan kemungkinan frekuensi penyuluhan kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan oleh petugas kesehatan di setiap lini. Kabupaten dengan rasio terendah adalah Kabupaten Rembang 0.62 2008 0. Hal menunjukan bahwa masih banyak masyarakat yang melakukan pencabutan gigi dibandingkan melakukan tumpatan gigi tetap.82 Gambar 4.71 2010 0. Rasio tumpatan dan pencabutan gigi tetap tahun 2010 sebesar 0. Kabupaten/kota yang rasionya tinggi (penumpatan lebih banyak dibandingkan dengan pencabutan) yaitu Kota Tegal (2.81 2011 0. pencabutan 4. Murid SD/MI Mendapat Pemeriksaan Gigi dan Mulut Kegiatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut lainnya adalah Upaya Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yang merupakan upaya promotif dan preventif kesehatan gigi khususnya untuk anak sekolah.4 0. mengalami peningkatan dibanding tahun 2010 yaitu 0.2 0 Rasio 2007 0. baik yang dilakukan didalam maupun diluar gedung masih sangat minim.82. 1 0.06 (tumpatan 267.8 0.18 Rasio Tumpatan dan Pencabutan Gigi Tetap Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 . Kegiatan UKGS meliputi pemeriksaan gigi pada seluruh murid untuk mendapatkan murid Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 70 .607).71 2009 0.81.

65 60 55 50 45 Cakupan 2007 56.96%) dan masih ada beberapa kabupaten/kota yang belum melaporkan datanya.22 2009 36.9 Gambar 4. kemudian melakukan perawatan pada murid yang memerlukan.4 2008 33. seperti Kabupaten Sragen (6.19 Cakupan Pemeriksaan Kesehatan Gigi Murid Sekolah Dasar Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 c.31 2010 37.12 2008 62.83 2011 55.3 Gambar 4.83%).75 2010 53. 40 30 20 10 0 Cakupan 2007 31.yang perlu perawatan gigi. Beberapa kabupaten mempunyai cakupan sangat rendah. Murid SD/MI Mendapat Perawatan Gigi dan Mulut Cakupan perawatan gigi dan mulut murid SD/MI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 55.90%) lebih tinggi dibandingkan pencapaian tahun 2010 (37. Kabupaten Kudus. Prosentase jumlah murid yang diperiksa untuk tahun 2011 (37.20 Cakupan Perawatan Gigi Murid Sekolah Dasar Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 71 .95 2009 54.59%). Kabupaten Kendal dan Kota Salatiga. Kabupaten yang mempunyai cakupan 100% adalah Kabupaten Sukoharjo.59 2011 37.30% mengalami peningkatan bila dibanding tahun 2010 (53.

36 70 2009 42. dan masih jauh dibawah target cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut tahun 2010 (70%). dengan kesepakatan identifikasi kelompok pra usila di masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) kabupaten/ kota dan memberikan dukungan kegiatan dan pelayanan kesehatan.96 70 Gambar 4.96% menurun bila dibandingkan cakupan pada tahun 2010 sebesar 52. Upaya-upaya yang telah dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan pra usila dan usila adalah sbb : 1) Pertemuan koordinasi program kesehatan usila Provinsi Jawa Tengah.61 70 2011 51. Kabupaten/kota dengan cakupan tertinggi adalah Kabupaten banjarnegara (102. baik di puskesmas maupun di posyandu/kelompok usia lanjut.21 Pelayanan Kesehatan Usia lanjut Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Masih rendahnya cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut dan sedikitnya kabupaten/kota yang mencapai target pelayanan kesehatan usia lanjut tahun 2011.60%) dan terendah adalah Kabupaten Klaten (1. 80 60 40 20 0 Cakupan Target 2007 30.27 70 2010 52. Cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 51. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 72 . 2) Advokasi ke SKPD provinsi dengan pengembangan model kelompok pra usila percontohan dan fasilitasi pelayanan kesehatan.51 70 2008 29. menggambarkan bahwa kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah belum memperhatikan pelayanan kesehatan untuk kelompok pra usila dan usila yang merupakan kelompok usia berisiko.7.76%). Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut Pelayanan kesehatan usia lanjut yaitu pelayanan penduduk usia 60 tahun ke atas yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan.61%.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 73 . Rumah Sakit Jiwa sebanyak 100%. 100. Jumlah Rumah Sakit Umum dengan kemampuan pelayanan gawat darurat sebanyak 98.8. puskesmas. Sarana kesehatan yang dimaksud dalam hal ini adalah rumah bersalin.46%. jiwa maupun khusus.80%.5 100 99.22 Sarana Kesehatan dengan Kemampuan Pelayanan Gawat Darurat yang Dapat Diakses Masyarakat Provinsi Jawa TengahTahun 2011 Puskesmas rawat inap dengan kemampuan pelayanan gawat darurat yang dapat diakses masyarakat Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 291 puskesmas atau 100%.5 98 97. Kemampuan pelayanan gawat darurat yang dimaksud adalah upaya cepat dan tepat untuk segera mengatasi puncak kegawatan yaitu henti jantung dengan Resusitasi Jantung Paru Otak (Cardio–Pulmonary–Cebral– Resucitation) agar kerusakan organ yang terjadi dapat dihindarkan atau ditekan sampai minimal dengan menggunakan Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support/BLS) dan Bantuan Hidup Lanjut (ALS). Pelayanan Dawat Darurat dan Kejadian Luar Biasa a.46 Pusk RI 100 Gambar 4. dan rumah sakit baik rumah sakit umum.5 99 98. Pelayanan Gawat Darurat Level I yang Harus Diberikan Pelayanan Kesehatan (RS) di Kabupaten/Kota Sarana kesehatan dengan kemampuan pelayanan gawat darurat yang dapat diakses masyarakat merupakan sarana kesehatan yang telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pelayanan gawat darurat sesuai standar dan dapat diakses oleh masyarakat dalam kurun waktu tertentu.88 RSJ 100 RS Khusus 98. Rumah Sakit khusus lain sebesar 98.5 RSU Gawat Darurat (%) 98.

23 Distribusi Frekuensi KLB menurut Jumlah Desa yang Terserang Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Gambar 4. tahun 2009 mengalami penurunan kembali menjadi 536 desa/kelurahan.b. 1500 1000 500 0 Desa/kel terkena KLB 2007 1286 2008 543 2009 536 2010 579 2011 353 Gambar 4. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 74 . Diare. Acute Flacid Paralisys (AFP). tahun 2010 menjadi 579 desa/kelurahan dan mengalami penurunan lagi menjadi 353 desa/kelurahan pada tahun 2011. Kondisi tersebut menuntut upaya atau tindakan secara cepat dan tepat (kurang dari 24 jam) untuk menanggulangi setiap KLB serta melaporkan kepada tingkat administrasi kesehatan. Keracunan Makanan. bencana serta munculnya penyakit baru seperti Avian Influenza (Flu Burung). Tingginya frekuensi KLB seperti Demam Berdarah Dengue (DBD). Campak. Desa/Kelurahan Terkena Kejadian Luar Biasa yang Ditangani <24 Jam Kejadian luar biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu desa/kelurahan dalam jangka waktu tertentu. Difteri. produktivitas menurun). Chikungunya. disamping menimbulkan korban kesakitan dan kematian juga berdampak pada situasi sosial ekonomi masyarakat secara umum (keresahan masyarakat. Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular dan keracunan masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Jawa Tengah.42 di atas diketahui bahwa jumlah desa/kelurahan yang terkena KLB di Provinsi Jawa Tengah tahun 2007 – 2011 mengalami fluktuasi yaitu dari 1286 desa/kelurahan pada tahun 2007 meningkat menurun menjadi 543 desa/kelurahan pada tahun 2008.

45%).5 98 97.5 100 99.5 99 98.84 2008 99. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 75 .Data frekuensi KLB penyakit menular.25 Kejadian KLB Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Sebaran KLB tahun 2011 menunjukkan bahwa 3 kabupaten/kota dengan frekuensi KLB terbanyak adalah Kabupaten Klaten (49 kejadian). 292 kecamatan dan 353 desa/kelurahan yang terkena KLB mendapatkan penanganan kurang dari 24 jam oleh Puskesmas bekerjasama dengan Dinas Kesehatan kabupaten/kota. keracunan makanan dan bencana selama tahun 20011 sebanyak 28 jenis kejadian di 32 Kabupaten/Kota. Kabupaten Karanganyar (28 kejadian) dan Kabupaten Temanggung (24 kejadian). Gambar 4.5 Ditangani <24jam (%) 2007 99. 100.24 di atas diketahui bahwa pada tahun 2011 persentase desa/kelurahan terkena KLB yang ditangani kurang dari 24 jam mengalami kenaikan menjadi 100% dibanding dengan tahun 2010 (98.63 2009 100 2010 98.45 2011 100 Gambar 4.24 Grafik Distribusi Frekuensi Desa/Kelurahan Terkena KLB yang ditangani kurang dari 24 jam Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Gambar 4.

dengan penyuluhan terbanyak dilakukan di Kabupaten Kendal yaitu 92. Kegiatan Penyuluhan Kesehatan Kegiatan penyuluhan yang dilakukan dibagi menjadi penyuluhan kelompok dan penyuluhan massa. Jumlah Penderita dan Kematian pada Kejadian Luar Biasa Jumlah penduduk terancam KLB tahun 2011 sebanyak 1. Dari sejumlah penderita tersebut. c. yang meninggal sebanyak 24 orang (case fatality rate/CFR: 0.21%.Gambar 4.202. frekuensi tertinggi adalah keracunan (105 desa/kelurahan) tersebar pada 96 kecamatan.132 kali dan paling sedikit dilakukan di Kota Tegal sebanyak 115 kali. CFR tertinggi adalah KLB demam berdarah dengue/DBD 72.26 Jenis KLB Menurut Desa/Kelurahan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Tahun 2011 sejumlah 353 desa yang terkena KLB.344 kali.73% dan KLB Tetatus Neonatorum 75%. Sedangkan yang menderita akibat kejadian luar biasa tersebut sebanyak 3. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 76 . Penyuluhan kelompok pada tahun 2011 sebanyak 206. Selengkapnya dapat dilihat pada grafik di bawah ini.733 jiwa dengan attack rate atau rata-rata kejadian sebesar 33.64%). 9.848 jiwa.

Kota Tegal Kota Pekalongan Kota Semarang Kota Salatiga Kota Surakarta Kota Magelang Kab.Klaten Kab.Purbalingga Kab.Pemalang Kab.Kendal Kab.Purworejo Kab.Kendal Kab.Purworejo Kab.Tegal Kab.Pemalang Kab.Magelang Kab.Pati Kab.Magelang Kab.Temanggung Kab.Sragen Kab.Blora Kab.28 Distribusi Frekuensi Penyuluhan Massa yang Dilakukan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 77 .Jepara Kab.Wonosobo Kab.Pekalongan Kab.Pekalongan Kab.Banjarnegara Kab.Wonosobo Kab.Sukoharjo Kab.Tegal Kab.565 kali dan paling sedikit di Kabupaten Sukoharjo satu kali.Semarang Kab.Rembang Kab. 3000 2500 2000 1565 1500 1000 500 35 0 538 387 297 127145 1429 1414 1080 711 622 784 405 225231 1 0 0 79 45 5 149 0 183 3 174 22 23 1071 2402 Kab.Purbalingga Kab.Kebumen Kab.Boyolali Kab.Kudus Kab.Brebes Kab.Karanganyar Kab.Banjarnegara Kab.Rembang Kab.Banyumas Kab.Grobogan Kab.Demak Kab.817 kali.Pati Kab.Jepara Kab.Blora Kab.Sragen Kab.Demak Kab. paling banyak dilakukan oleh Kabupaten Demak yaitu 1.Kebumen Kab.Banyumas 115 2578 495 1582 2109 1588 11307 9080 10045 32517 5385 9161 3336 3203 2989 413 3807 799 4668 10341 18309 8179 5937 11710 9397 11240 1561 4357 16733 9706 12279 9160 62571 Gambar 4.Cilacap Kab.Batang Kab. Secara jelas dapat dilihat pada grafik berikut.Wonogiri Kab.Kudus Kab.Wonogiri Kab.Semarang Kab.Boyolali Kab.Klaten Kab.Batang Kab.27 Distribusi Frekuensi Penyuluhan Kelompok yang Dilakukan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Sedangkan penyuluhan massa telah dilakukan 5.Karanganyar Kab.Sukoharjo Kab.Temanggung Kab.Brebes Kota Magelang Kota Surakarta Kota Salatiga Gambar 4.Grobogan Kab.

salah satunya adalah dengan mengembangkan suatu upaya kesehatan melalui program jaminan kesehatan. Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) kemungkinan memberikan dampak negatif pada kepesertaan JPK Pra Bayar. Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan 1. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 78 .B. Cakupan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pra Bayar Dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. sampai dengan tahun 2006 terjadi peningkatan dan pada tahun 2007 merupakan titik antiklimak kepesertaan jaminan kesehatan. meningkat bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (21. Peserta JPK dengan Premi/Pra Bayar banyak yang mengundurkan diri dengan adanya program Jamkesmas yang membebaskan anggotanya dari segala beban iur biaya. Tiga tahun terakhir peserta jaminan kesehatan kembali mengalami peningkatan sedikit demi sedikit.59%). Program ini dikembangkan dengan tujuan merubah pola pembayaran yang biasanya dibayar setelah pelayanan diberikan dan pelayanan kesehatan yang diterima secara komprehensif. Namun disadari sampai saat ini perkembangan peserta jaminan kesehatan sedikit agak menggembirakan. Penurunan jumlah penduduk yang masuk dalam katagori non maskin ditengarahi akibat dampak negatif Program Jamkesmas. pemerintah telah berupaya mengembangkan berbagai upaya kesehatan.82%. Perkembangan kepesertaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi. Data terakhir di Provinsi Jawa Tengah menggambarkan perkembangan kepesertaan jaminan kesehatan saat ini mencapai 36. Penduduk maskin yang belum terjamin dengan pelayanan kesehatan sebesar 63.18% dari total penduduk bukan masyarakat miskin (non maskin). Masyarakat yang dulunya merasa non miskin beramai-ramai mengaku miskin supaya dapat masuk dalam Program Jamkesmas.

Kepesertaan jaminan kesehatan terdiri dari: Askes (13.3% (Kota Salatiga).6 13.18 Gambar 4.46% dari total penduduk di Jawa Tengah.59 2011 36.37 2010 21. Askeskin/Jamkesmas (66.73%) dan lain-lain (3.73 13. Selain yang jamkesmas.2% (Kabupaten Klaten) hingga 104. Cakupan terbesar di Kota Surakarta 35. Jamsostek (3. pada tahun 2011 sudah banyak agar kabupaten/kota menyelenggarakan jamkesda dengan tujuan masyarakat miskin yang belum tercakup jamkesmas bisa tercakup jamkesda.04%).06%). menunjukkan angka yang bervariasi mulai dari cakupan 30.30 Cakupan Kepesertaan Program JPK Pra Bayar Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 79 .40 30 20 10 0 Cakupan 2007 19.06 Askes Jamsostek Askeskin/Jamkesmas Jamkesda Lainnya 66.01 2008 18. Kepesertaan jamkesda pada tahun 2011 sebesar 7.09 2009 19.57 Gambar 4.29 Cakupan Kepesertaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Penduduk Non Maskin Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Kepesertaan program jaminan kesehatan penduduk non maskin yang diperinci menurut kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah.60%).53% dan terendah di Kabupaten Brebes 0. Jamkesda (13. 3.04 3.57%).24%.

Jumlah masyarakat miskin dan hampir miskin pada tahun 2011 sebanyak 13. Saat ini Kota Surakarta yang sudah mencapai cakupan 147.011 (9.3%) sedangkan di sarana kesehatan 2 dan 3 sebanyak 431.Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mencanangkan “Universal Coverage” kepesertaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan pada tahun 2014 yang berarti bahwa seluruh penduduk di Indonesia pada tahun 2014 harus memiliki Jaminan Pemeliharaan Kesehatan.033. Selain mendapatkan pelayanan rawat jalan juga mendapatkan rawat inap.3%). 4. rawat inap tingkat pertama. Rawat Inap di Sarana Pelayanan Kesehatan Cakupan rawat jalan adalah cakupan kunjungan rawat jalan baru di sarana pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta di satu wilayah kerja pada kurun Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 80 . 3. pelayanan penunjang medik.805 orang. Masyarakat miskin yang mendapatkan pelayanan kesehatan rawat jalan di sarana pelayanan strata 1 sebesar 7.433. Cakupan Pelayanan Kesehatan Rawat Jalan Masyarakat Miskin Pelayanan kesehatan yang diberikan bagi pasien masyarakat miskin dan tidak mampu meliputi pelayanan kesehatan di Puskesmas dan di rumah sakit.37%). Jumlah masyarakat miskin dan hampir miskin sebanyak 13.687 (57. Sedangkan pelayanan di rumah sakit meliputi rawat jalan tingkat lanjut. Jumlah Kunjungan Rawat Jalan.8%.205. serta pelayanan tindakan dan operasi. mendapatkan pelayanan kesehatan rawat inap di sarana kesehatan strata 1 sebanyak 1. Pelayanan kesehatan di Puskesmas meliputi rawat jalan tingkat pertama. persalinan normal di Puskesmas dan jaringannya. pelayanan gawat darurat.493 (3. pelayanan obat dan bahan habis pakai. 2. Cakupan Pelayanan Kesehatan Rawat Inap Masyarakat Miskin Pelayanan kesehatan yang diberikan bagi pasien masyarakat miskin dan tidak mampu meliputi pelayanan kesehatan di Puskesmas dan di rumah sakit.544 (3. dan pelayanan transport untuk rujukan bagi pasien.805. rawat inap tingkat lanjut.17%) sedangkan di sarana pelayanan strata 2 dan strata 3 sebesar 438.033.

Cakupan rawat inap di sarana kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 secara akumulasi sebesar 5. yang meliputi gangguan pada perasaan. Cakupan kunjungan rawat jalan akumulasi sampai dengan tahun 2011 di sarana kesehatan di Provinsi Jawa Tengah sebesar 105. serta meningkatkan pelaksanaan sistem monitoring dan evaluasi pencatatan dan pelaporan program kesehatan jiwa.479 kali (65.1%. Kunjungan rawat jalan tersebut.387. terbanyak di rumah sakit yaitu 130. Jumlah kunjungan gangguan jiwa tahun 2011 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 198. Permasalahan yang ada saat ini adalah tidak semua Rumah Sakit Umum mempunyai pelayanan klinik jiwa karena belum tersedia tenaga medis jiwa dan tidak banyak kasus jiwa di masyarakat yang berobat di sarana pelayanan kesehatan. berdasarkan definisi operasional yang ada. Dari permasalahan tersebut.4%. dan perilaku yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosialnya. dalam satu tahun hanya dihitung satu kali meskipun ia datang berkali kali dalam tahun tersebut. upaya yang perlu dilakukan adalah peningkatan pembinaan program kesehatan jiwa di sarana kesehatan pemerintah dan swasta. proses pikir.waktu tertentu. Jumlah Kunjungan Gangguan Jiwa di Sarana Pelayanan Kesehatan Pelayanan gangguan jiwa adalah pelayanan pada pasien yang mengalami gangguan kejiwaan. Data yang masuk untuk pelayanan kesehatan jiwa di RS berasal dari Rumah Sakit Jiwa dan Rumah Sakit Umum yang mempunyai klinik jiwa. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 81 . 5. Penurunan cakupan kunjungan rawat jalan tersebut mengisyaratkan bahwa terjadi penurunan kunjungan rawat jalan di pelayanan kesehatan. pelatihan/refreshing bagi dokter dan paramedis Puskesmas terutama upaya promotif dan preventif.77%). Cakupan rawat inap adalah cakupan kunjungan rawat inap baru di sarana pelayanan kesehatan swasta dan pemerintah di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. merupakan kunjungan baru dimana seorang yang berkunjung ke sarana pelayanan kesehatan.

7. indikator yang digunakan antara lain dengan melihat perkembangan fasilitas perawatan.07. sebanyak 13 rumah sakit mempunyai nilai NDR melebihi angka yang dapat ditolerir. Angka Kematian Pasien di Rumah Sakit a. Rata-rata NDR di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 17. Dari 181 rumah sakit yang melapor.01 sedangkan angka yang dapat ditolerir maksimum 45. berarti masih berada dalam kisaran yang bisa ditolerir. Angka Kematian Penderita Yang Dirawat < 48 Jam / Net Death Rate (NDR) Angka Net Death Rate (NDR) adalah untuk mengetahui mutu pelayanan atau perawatan rumah sakit. dapat dilihat dari Angka Kematian Umum Penderita Yang Dirawat di RS (GDR) pada tahun 2011 rata rata sebesar 34. sebanyak 28 rumah sakit mempunyai nilai GDR melebihi angka yang dapat ditolerir (kurang baik). Angka Kematian Umum Penderita Yang Dirawat di RS / Gross Death Rate (GDR) Rata-rata Mutu Pelayanan Rumah Sakit di Jawa Tengah menunjukkan masih dalam taraf baik. Pada tahun 2011 jumlah rumah sakit di Provinsi Jawa Tengah menurut jenis dan kepemilikannya adalah sebagai berikut : Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 82 . Data NDR dan GDR tersebut masih diperlukan tindak lanjut dengan diupayakan seluruh RS mempunyai NDR dan GDR di bawah angka yang dapat ditolerir.6. Indikator Kinerja Pelayanan di Rumah Sakit Dalam menentukan peningkatan sarana rumah sakit. Nilai NDR yang dapat ditolerir adalah 25 per 1.000 penderita keluar. b. diukur dengan jumlah rumah sakit dan tempat tidur serta rasio terhadap jumlah penduduk. Dari 181 RS yang melapor.

Rata-rata lama rawat seorang pasien di RS se Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3. BOR yang ideal untuk suatu rumah sakit adalah antara 60% sampai dengan 80%.85.Tabel 5.91 mengalami peningkatan bila dibandingkan nilai ALOS tahun 2010 sebesar 3.60%) tingkat pemanfaatannya masih mengirimkan laporan. Indikator ini dipergunakan untuk menilai kinerja rumah sakit dengan melihat persentase pemanfaatan tempat tidur rumah sakit atau Bed Occupation Rate (BOR). 61 RS (28. sehingga perlu pengembangan rumah sakit atau penambahan tempat tidur. Rata-rata Lama Rawat Seorang Pasien/Average Length of Stay (ALOS) Rata-rata lama rawat seorang pasien yang secara umum/Average Length of Stay (ALOS) yang ideal adalah antara 6–9 hari. kurang dan 53 RS (21.1 Jumlah Rumah Sakit di Provinsi Jawa Tengah menurut jenis dan pemilikan Tahun 2011 Pemilikan/Pengelola Pem TNI/Polri BUMN Kab/Kota 41 10 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 41 10 1 Jenis RSU RSJ RSB RSK lainnya JML : Pem Pusat 2 1 0 3 6 Pem Prov 7 3 0 0 10 Swasta 118 0 10 51 179 Jml 179 4 10 54 247 a.46%) tidak b. Tetapi masih terdapat 120 RS (56.77%) mempunyai BOR yang dianggap cukup ideal. Angka tersebut masih berada dibawah nilai ALOS yang ideal. Pada tahun 2011 jumlah rumah sakit sebanyak 247 Rumah Sakit di Jawa Tengah terdiri dari 13 RS (6. Angka BOR yang tinggi (>85%) menunjukan tingkat pemanfaatan tempat tidur yang tinggi. Pemakaian Tempat Tidur/Bed Occupancy Rate (BOR) BOR merupakan prosentase pemakaian tempat tidur pada satu satuan waktu tertentu. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 83 . Angka BOR yang rendah menunjukkan kurangnya pemanfaatan fasilitas perawatan rumah sakit oleh masyarakat.13%) mempunyai tingkat pemanfaatan sangat tinggi diatas maksimal occupancy rate.

ASI Eksklusif. Persentase Rumah Tangga Ber-PHBS Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di rumah tangga merupakan upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar sadar. Adapun 16 indikator PHBS tatanan Rumah tangga tersebut meliputi : a. RS Sejahtera Bakti Salatiga. RM Soedjarwadi Klaten. RSJD Surakarta. Sedangkan 131 rumah sakit lainnya masih mempunyai nilai ALOS di bawah 6. 10 rumah sakit yang mempunyai nilai ALOS ideal yaitu RSJ Dr. ada 99 rumah sakit yang mempunyai nilai TOI di atas 3. RSKJ Puri Waluyo Surakarta. Kariadi Semarang. RSU Purbowangi Kebumen dan RS Nurussyifa Kudus. RSU Jati Husada Karanganyar. Amino Gondo Hutomo Semarang. mencegah risiko terjadinya penyakit dan melindungi diri dari ancaman penyakit serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat.77. Rata-rata TOI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3. Variabel KIA dan GIZI Balita. Perilaku Hidup Masyarakat 1. Hal ini menggambarkan penurunan terhadap penggunaan tempat tidur dan TOI Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 mendekati angka ideal. Dari 194 RS yang melapor. Angka ideal untuk TOI adalah 1 – 3 hari. Yang dimaksud rumah tangga sehat adalah proporsi rumah tangga yang memenuhi minimal 11 indikator dari 16 indikator PHBS tatanan rumah tangga. C.54 dari jumlah RS yang lapor.Dari 194 RS yang melapor. mau dan mampu melakukan PHBS dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Gizi seimbang : Persalinan Nakes. Yang sudah mempunyai nilai TOI ideal sebanyak 84 RS. Semakin besar TOI maka efisiensi penggunaan tempat tidur semakin jelek. RSUP Dr. Rata-rata Hari Tempat Tidur Tidak Ditempati / Turn Of Interval (TOI) TOI dan ALOS merupakan indikator tentang efisiensi penggunaan tempat tidur. RSUD Kudus. menurun bila dibandingkan dengan rata-rata pada tahun 2010 sebesar 3. Penimbangan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 84 . RSJD Dr. c.

Variabel KESLING : Air bersih. Variabel UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT : Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Tidak merokok. Perubahan perilaku tidak dapat terjadi dalam waktu singkat. Banyumas.b.31 Persentase Rumah Tangga Ber-PHBS Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 s/d 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 85 . 80 60 40 20 0 Cakupan 2007 43.68 2010 68. Cakupan tertinggi (100%) dicapai oleh 6 kabupaten/kota yaitu Kota Pekalongan. Cuci tangan.79 2008 57. diperiksa 3.496.674.629 rumah tangga yang ada. Miras/Narkoba d.45%.663 rumah tangga meningkat apabila dibandingkan dengan tahun 2010 dengan jumlah rumah tangga 8.728. Sedangkan cakupan terendah adalah Kabupaten Banjarnegara 49. Berdasarkan data hasil pengkajian PHBS Tatanan Rumah Tangga yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di Jawa Tengah tahun 2011 dari 8.68 Gambar 4.Kepadatan hunian.lantai rumah. Variabel GAYA HIDUP : Aktifitas fisik. Berikut ini adalah Grafik persentase rumah tangga sehat berdasarkan strata Utama dan Paripurna di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 s/d 2011. Jamban.68% lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2010 (68. tetapi memerlukan proses yang panjang termasuk didalamnya perlu upaya pemberdayaan masyarakat yang berkesinambungan.91 2009 63.63 2011 74. Karanganyar.63%). Kota Salatiga.361 rumah tangga. Sampah. c.696 dan yang diperiksa sejumlah 2.Kesehatan gigi dan mulut. Demak dan Kendal. Pencapaian persentase rumah tangga sehat yaitu yang diwakili oleh rumah tangga yang mencapai strata sehat utama dan sehat paripurna telah mencapai 74.703.

35%) rumah diperiksa dan yang memenuhi syarat rumah sehat sebesar 2. Konstruksi rumah dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor risiko penularan berbagai jenis penyakit khususnya penyakit berbasis lingkungan seperti Demam Berdarah Dengue. berbagai lintas sektor ikut serta berperan (Bappeda. Program Lingkungan Sehat bertujuan untuk mewujudkan mutu lingkungan hidup yang lebih sehat melalui pengembangan sistem kesehatan kewilayahan untuk menggerakkan pembangunan lintas sektor berwawasan kesehatan.945 (46. peran swasta dan masyarakat. ISPA dan lain . Penyediaan Sarana Air Bersih dan Sanitasi Dasar (2).lain. Pengendalian Dampak Risiko Lingkungan (4). Malaria.984 (62. Bapermas.95%) lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2010 yang mencapai 65. Pemeliharaan dan Pengawasan Kualitas Lingkungan (3). TBC. Lingkungan Hidup.01%. Pengembangan Wilayah Sehat. Pertanian.441. Adapun kegiatan pokok untuk mencapai tujuan tersebut meliputi : (1). Rumah haruslah sehat dan nyaman agar penghuninya dapat berkarya untuk meningkatkan produktivitas. disamping perilaku dan pelayanan kesehatan.D. Flu Burung. 1. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 86 . Keadaaan Lingkungan Lingkungan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap derajat kesehatan.878. Pengelolaan kesehatan lingkungan merupakan penanganan yang paling kompleks. Pada Tahun 2011 sebanyak 3. kegiatan tersebut sangat berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Persentase Rumah Sehat Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Perindustrian. Cipta Karya dan Dinas Kesehatan). Pencapaian tujuan penyehatan lingkungan merupakan akumulasi berbagai pelaksanaan kegiatan dari berbagai lintas sektor.

14%) lebih banyak dibandingkan tahun 2010 (73. pengembangan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 87 . Persentase Rumah/Bangunan yang Diperiks Jentik Nyamuk Aedes Jumlah rumah di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 8. meliputi penerapan pendekatan tanggap kebutuhan.66 64 62 60 58 56 54 Rumah Sehat 2007 64. Cakupan angka bebas jentik ini masih dibawah target 95%. Kementerian Kesehatan. Persentase Keluarga menurut Jenis Sarana Air Bersih yang Digunakan Adanya perubahan paradigma dalam pembangunan sektor air minum dan penyehatan lingkungan dalam penggunaan prasarana dan sarana yang dibangun. Strategi pelaksanaan diantaranya. Oleh karena itu gerakan pemberantasan sarang nyamuk dengan 3 M Plus (Menguras.2011 2. kampanye kesadaran peningkatan penyehatan lingkungan. bila memungkinkan pemakaian ulang kaleng.175 rumah (77.43%). Kementerian Dalam Negeri serta Kementerian Pekerjaan Umum cukup signifikan terhadap penyelenggaraan kegiatan penyediaan air bersih dan sanitasi khususnya di daerah.53%). yang bebas jentik nyamuk Aedes aegypti sebanyak 2.32 Cakupan Rumah Sehat Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .95 Gambar 4.087 (40. peningkatan upaya sumber daya manusia.390. mengingat kasus Demam Berdarah yang cenderung meningkat dan bertambah luasnya wilayah terjangkit.601 diperiksa jentik nyamuknya sebanyak 3. Mengubur dan Plusnya adalah Mencegah Gigitan Nyamuk). yang 3. melalui kebijakan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan yang ditandatangani oleh Bappenas.12 2010 65. ban untuk pot dan lain .01 2011 62.83 2009 65.lain harus selalu digerakkan secara optimal. masyarakat. Menutup.615.366.84 2008 58.

sehingga kemampuan untuk mendapat akses ke sarana penyediaan air minum yang memenuhi syarat masih terbatas.kelembagaan dan penguatan sistem monitoring serta evaluasi pada semua tingkatan proses pelaksanaan menjadi acuan pola pendekatan kegiatan penyediaan Air Bersih dan Sanitasi.313 (46. bersih dan produktif (UU No. terbanyak memanfaatkan sumur gali (45. Jumlah keluarga yang diperiksa akses air bersih sebanyak 4. 7 Tahun 2004. Masyarakat berpenghasilan rendah.185 (89.63%). Keluarga yang telah akses air bersih tersebut.703. Walaupun terdapat program – program air minum dan sanitasi untuk masyarakat berpenghasilan rendah. namun akses terhadap air minum belum menunjukkan peningkatan yang berarti.696 KK dan yang telah memiliki akses sarana air bersih sebanyak 3.33 Akses Air Bersih Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 88 . ternyata membayar lebih besar untuk memperoleh air daripada masyarakat berpenghasilan tinggi. pasal 10).668. Pada dasarnya negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi kebutuhan pokok minimal sehari – hari guna memenuhi kehidupan yang sehat. hal ini menunjukkan ketidakadilan dalam mendapatkan akses pada air minum. Gambar 4.88%).89%) dari 8. Namun pada kenyataannya persentase penduduk miskin masih tinggi. Perlu dukungan kebijakan yang lebih fokus untuk penyediaan sanitasi dan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah.081.

Persentase Keluarga menurut Sumber Air Minum yang Digunakan Jumlah keluarga yang diperiksa sumber air minumnya sebanyak 3.506.34 68.20%).057. Keluarga yang telah menggunakan sumber air minum terlindung tersebut. terbanyak memanfaatkan sumur terlindung (33.67 Air Limbah 61.734 (69.325 (63.508. Persentase Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar Kepemilikan sarana sanitasi dasar yang dimiliki oleh keluarga meliputi jamban. Jumlah KK yang telah memiliki jamban sehat 2. Melalui CLTS terjadi perubahan perilaku tidak buang air besar di sembarang tempat tanpa ada stimulan.620 (68. 100 50 0 Jamban 2007 2008 2009 2010 70.11%) dari 8.029.66 45.674.902 (40.06 55. khususnya Diare.703.696 KK dan yang telah menggunakan sumber air minum terlindung sebanyak 2. tempat sampah sehat 2.9 65.2011 Dalam mendukung perubahan sanitasi total khususnya buang air besar di sembarang tempat. 5.93 75. pembiayaan tidak ada subsidi dan jamban adalah private good.51 62.2 72.58%) dan pengelolaan air limbah sehat 1.34 Cakupan Sanitasi Dasar Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .1 Gambar 4.57%).44 Tempat Sampah 79. telah dilakukan pemicuan Community Led Total Sanitation (CLTS) di 30 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah untuk mendukung pencapaian wilayah stop buang air besar di sembarang tempat dan penurunan penyakit berbasis lingkungan.95 71.124 (71. tempat sampah dan pengelolaan air limbah.4.21%). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 89 .29 %).51 73.

pasar 55.67 58.21%). 7. restoran/rumah makan 73.829 (68. perkantoran dan sarana lain dititik beratkan pada aspek hygiene sarana sanitasi yang erat kaitannya dengan kondisi fisik bangunan institusi tersebut.55% dan TUPM lainnya (67. Tempat-tempat umum dan Pengelolaan Makanan meliputi hotel. restoran/rumah makan. swasta atau perorangan yang langsung digunakan oleh masyarakat yang mempunyai tempat dan kegiatan tetap serta memiliki fasilitas.53%. instalasi pengolahan air minum.11 Sarana Lain Inst Kelola 47. Cakupan pengawasan tempattempat umum yang memenuhi syarat kesehatan tahun 2011 meliputi hotel 84.44%.11 Ibadah 61.88 Kantor 72. 100 80 60 40 20 0 Sarkes 2011 81.44%).35 Cakupan Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 . sarana pendidikan. Pengawasan sanitasi tempat umum bertujuan untuk mewujudkan kondisi yang memenuhi syarat kesehatan agar masyarakat pengunjung terhindar dari kemungkinan bahaya penularan penyakit serta tidak menyebabkan gangguan terhadap kesehatan masyarakat di sekitarnya.6.56 Gambar 4. Risiko dari pengelolaan makanan mempunyai peluang yang besar dalam penularan penyakit karena jumlah konsumen relatif banyak dalam waktu yang bersamaan. pasar dan TUPM lainnya. Persentase Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya Kondisi kesehatan lingkungan pada institusi meliputi sarana pelayanan kesehatan.51 Pendidikan 64. Persentase Tempat-tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat Tempat – tempat umum dan Pengelolaan Makanan adalah kegiatan bagi umum yang dilakukan oleh badan pemerintah. Tempat-tempat Umum dan Pengelolaan Makanan seluruhnya yang diperiksa sebanyak 55. sarana ibadah.2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 90 .457 buah dan yang memenuhi syarat kesehatan 37.

56%. sarana pendidikan 64.11% dan sarana lainnya 47. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 91 .Pada Tahun 2011 pencapaian cakupan institusi yang dibina yaitu sarana pelayanan kesehatan 81.11%.51%. perkantoran 72. instalasi pengolahan air minum 58. Pengendalian faktor risiko lingkungan institusi terhadap penyakit berbasis lingkungan.67%. Kegiatan yang dilakukan dalam meningkatkan kesehatan lingkungan di insitusi adalah: a.88%. sarana ibadah 61. Pembinaan kesehatan lingkungan di institusi sekolah dan pondok pesantren. b.

Tingkat kecukupan obat tertinggi adalah obat Kloramfenikol kapsul 250 mg (50) dan terendah adalah OAT katagori 3 (9) artinya bahwa persediaan obat Kloramfenikol kapsul 250 mg dapat tercukupi pemakaiannya untuk selama 50 bulan dan OAT katagori 3 dapat tercukupi pemakaiannya untuk selama 9 bulan. sedangkan paling rendah adalah OAT Kategori 2 (52. SARANA KESEHATAN 1.BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN A. Ketersediaan Obat menurut Jenis Obat Pada tahun 2011 dari 34 jenis obat yang dilaporkan oleh kabupaten/kota. Gambar 5.206.266 tablet dengan pemakaian rata-rata perbulan 2.46%). stock terbanyak adalah Klorfeniramin Maleat tablet 4 mg 52.674 tablet.834. Prosentase tingkat kecukupan obat di Kabupaten/kota yang paling tinggi adalah kloramfenikol kapsul 250 mg (278. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 92 .1 Tingkat Kecukupan obat di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011.09%). sedangkan stock obat yang paling sedikit adalah OAT Katagori 3 sebanyak 523 paket dengan pemakaian rata-rata perbulan 43 paket.

Puskesmas Perawatan. RS Khusus lainnya sebanyak 54 unit. Jumlah Sarana Pelayanan Kesehatan menurut Kepemilikan/Pengelola Sarana Pelayanan Kesehatan terdiri dari RSU. Puskesmas Perawatan sebanyak 291 unit.348 (71. Jumlah sarana pelayanan kesehatan pada tahun 2011 sebanyak 13. Puskesmas Pembantu sebanyak 1. 3. Industri Obat Tradisional sebanyak 14 unit dan BUMN sebanyak 3 (0. Sarana Kesehatan dengan presentase tertinggi adalah Posyandu 68. Apotek sebanyak 2. Gudang Farmasi Kesehatan (GFK) sebanyak 35 unit. Swasta sebanyak 9.02%) dan Industri Kecil Obat Tradisional sebanyak 285. Rumah Sakit Bersalin sebanyak 10 unit. yang terbagi dalam 6 kepemilikan yaitu.08%). sarana kesehatan dengan presentase tertinggi adalah swasta 71. TNI/POLRI sebanyak 41 (0. Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) sebanyak 47. BP/Klinik. Praktik Dokter Bersama sebanyak 57 unit.13%).209 unit.276 unit.05%). Sarana Pelayanan Kesehatan terdiri dari Rumah Sakit Umum sebanyak 179 unit . RSJ. Sedangkan menurut kepemilikannya. Rumah Sskit Jiwa sebanyak 4 unit.31%). Pos Kesehatan Desa (PKD) sebanyak 5. Praktik Dokter Perorangan sebanyak 4. RSB.827 unit. Praktek Dokter Bersama. Provinsi sebanyak 10 (0.32% dan terendah adalah RSJ dan RSB keduanya 0. Balai Pengobatan/Klinik sebanyak 888 unit . Pustu. Toko Obat sebanyak 367 unit.01%.142 unit. Rumah Bersalin sebanyak 249 unit. Puskesmas Keliling sebanyak 948 unit.158 unit. Puskesling. Praktek Dokter Perorangan dan Praktek Pengobatan Tradisional. RB.2. Puskesmas Non Perawatan sebanyak 576 unit.02%.901.41%). Pusat sebanyak 6 (0. Sarana Pelayanan Kesehatan dengan Kemampuan Labkes dan Memiliki 4 Spesialis Dasar Sarana kesehatan dengan kemampuan pelayanan laboratorium kesehatan yang dapat diakses masyarakat adalah cakupan sarana kesehatan yang telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pelayanan laboratorium kesehatan sesuai standar dan dapat diakses oleh masyarakat dalam waktu tertentu.14% dan terendah adalah BUMN 0.866 unit. Puskesmas Non Perawatan. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 93 . Praktik Pengobatan Tradisional sebanyak 3. Kabupaten/kota sebanyak 3734 (28. RS Khusus lainnya.

Rumah Sakit Umum (RSU) di Provinsi Jawa Tengah (179 RSU) baik pemerintah maupun swasta sudah 135 RSU (75.36 Gambar 5.Kemampuan pelayanan laboratorium kesehatan yang dimaksud adalah upaya pelayanan penunjang medik untuk mendukung dalam pelayanan medik. untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar. untuk menegakkan diagnosis dokter di rumah sakit. dimana hal ini berkaitan dengan disyaratkannya penyelenggaraan empat pelayanan kesehatan spesialis dasar pada perizinan pendirian sebuah rumah sakit.36%. RS Jiwa 100%.31%. 120 100 80 60 40 20 0 RSU Laboratorium Kesehatan 98.31 Puskesmas 70. oleh.32 RSJ 100 RS Khusus 95. 4.32%. RS Khusus 95. dan Puskesmas 70.2 Sarana Kesehatan Dengan Kemampuan Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Sarana kesehatan dengan kemampuan pelayanan laboratorium yang dapat diakses masyarakat Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 76. Posyandu menurut Strata Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari.58% RSU lainnya hanya memiliki kurang dari 4 (empat) pelayanan dasar. Sebanyak 24. utamanya lima program prioritas Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 94 .42%) yang memiliki minimal empat spesialis dasar.39% dengan perincian untuk RSU 98.

76 2008 16.58 2010 15.29 36. Penghitungan strata Posyandu secara kuantitatif berdasar Surat Gubernur Jawa Tengah nomor 411. Cakupan kumulatif imunisasi. Gizi. Cakupan peserta KB. Rerata cakupan D/S.86 13. Dasar penghitungan Strata/penilaian tingkat perkembangan posyandu yang selama ini digunakan adalah: a. Imunisasi dan penanggulangan diare dan ISPA) dengan tujuan mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. K/S. pemberian ASI eksklusif dan frekuensi penimbangan.15 36.93 34. Fe.85 41. Imunisasi. program pengembangan dan administrasi 3) Variable Output: D/S. Cakupan kumulatif KB. cakupan K4. Ada tidaknya program tambahan dan Cakupan dana sehat b.79 8. jumlah posyandu tahun 2011 menurun dari 47. Manajemen ARRIF dengan 8 indikator yang meliputi : Frekuensi penimbangan. Cakupan kumulatif KIA. KIA. Vit A. pertolongan persalinan oleh nakes.85 10.05 2009 15. prasarana dan dana.61 32.84 16.24 33.77 34. kader.yang meliputi (KB. Rerata kader bertugas pada hari buka Posyandu.276 posyandu.79 12. N/S. tanggal 20 Februari 2007 tentang Pedoman teknis penghitungan strata Posyandu secara kuantitatif yang dinilai meliputi: 1) Variabel Input: kepengurusan. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 95 .94 38.882 pada tahun 2010 menjadi 47.3 Persentase Posyandu Berdasarkan Strata Tahun 2007 s/d 2011 Berdasarkan laporan Kabupaten/kota.sarana.87 39.69 32.08 2011 12.08 Gambar 5. dana sehat. 60 40 20 0 2007 Pratama Madya Purnama Mandiri 16.4/05768. 2) Variabel Proses : pelaksanaan program pokok.

cakupan kelima kegiatan utamanya lebih dari 50%.84%). dengan nilai tertinggi di Kabupaten Tegal (64. namun dalam 3 (tiga) tahun sebelumnya mengalami peningkatan.417 (36. dengan rata-rata jumlah kader sebanyak lima orang atau lebih.4 Jumlah Posyandu Tahun 2007 s/d 2011 Dari grafik di atas. Posyandu yang mencapai Strata Purnama pada tahun 2011 sebanyak 17.49500 49000 48500 48000 47500 47000 46500 46000 45500 Posyandu 2007 46823 2008 47285 2009 49096 2010 47882 2011 47276 Gambar 5. serta telah memperoleh sumber pembiayaan dari dana sehat yang dikelola oleh masyarakat yang pesertanya masih terbatas yakni kurang dari 50% KK di wilayah kerja Posyandu.14%).14%) telah berhasil mencapai target diatas 40%. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 96 . dapat dilihat bahwa jumlah Posyandu 2011 mengalami penurunan.31%) dan terendah di Kabupaten Blora (15. Cakupan tersebut mengalami peningkatan apabila dibandingkan tahun 2010 sebesar 34. Meskipun kenaikan secara kualitatif (strata purnama dan strata mandiri) relatif kecil. mampu menyelenggarakan program tambahan. Sebanyak 13 kabupaten/kota (37.94%. a) Posyandu Purnama Posyandu Purnama adalah Posyandu yang sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun.

cakupan kelima kegiatan utamanya lebih dari 50%. 2010 (13.79 2010 34.603 buah (16. meningkat dibandingkan dengan nilai tertinggi di Kota Surakarta (82.84 Gambar 5.5 Cakupan Posyandu Purnama Tahun 2007 – 2011 Kegiatan revitalisasi posyandu masih perlu mendapat perhatian dari semua sektor/pihak terkait.90%).08%). b) Posyandu Mandiri Posyandu Mandiri adalah Posyandu sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun.38 37 36 35 34 33 32 31 30 Posyandu Purnama 2007 32. Pencapaian cakupan tersebut sudah melampaui target SPM 2010 (> 2%). Posyandu yang mencapai Strata Mandiri tahun 2011 sejumlah 7.79 2008 33. dengan rata-rata jumlah kader sebanyak lima orang atau lebih. Kabupaten/Kota maupun Kecamatan serta Pokja Posyandu di tingkat desa/kelurahan. serta telah memperoleh sumber pembiayaan dari dana sehat yang dikelola oleh masyarakat yang pesertanya lebih dari 50% KK di wilayah kerja Posyandu. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 97 .85 2009 32. Termasuk didalamnya adalah dengan mengoptimalkan fungsi Posyandu maupun Pokjanal Posyandu yang sudah terbentuk baik di tingkat Provinsi.70%).94 2011 36. mampu menyelenggarakan program tambahan.

UKBM terbanyak adalah Posyandu sebesar 47. Total UKBM tahun 2011 adalah 61.08 Gambar 5.6 Cakupan Posyandu Mandiri Tahun 2007 – 2011 Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2011 terjadi kenaikan persentase pencapaian strata mandiri.061 buah. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 98 . misal kegiatan BKB. Dengan dikembangkannya Polindes menjadi PKD maka fungsinya menjadi tempat untuk memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan masyarakat.9 2011 16. Poliklinik Kesehatan Desa (PKD) adalah wujud upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat yang merupakan Program Unggulan di Jawa Tengah dalam rangka mewujudkan desa siaga.05 2009 12.76 2008 10. Poskesdes. Polindes. 5. Forum Kesehatan Desa. UP2K). dan Posyandu. PKD merupakan pengembangan dari Pondok Bersalin Desa. memberikan pelayanan kesehatan dasar termasuk kefarmasian sederhana dan untuk deteksi dini serta penanggulangan pertama kasus gawat darurat.58 2010 13. Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) terdiri atas Desa Siaga. PAUD.20 15 10 5 0 Posyandu Mandiri 2007 8. hal tersebut dapat terjadi seiring dengan dikembangkannya Posyandu Model (Kegiatan Posyandu yang sudah diintegrasikan dengan minimal satu kelompok kegiatan yang sesuai dengan karakteristik daerah.42%). Sehingga secara tidak langsung kegiatan integrasi tersebut dapat mempengaruhi pencapaian indikator proses maupun indikator output posyandu. sebagai tempat untuk melakukan pembinaan kader/pemberdayaan masyarakat. forum komunikasi pembangunan kesehatan di desa.276 (77.

Puskesmas sendiri merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pengembangan kesehatan di suatu wilayah kerja (Departemen Kesehatan RI. Jumlah puskesmas. dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Rasio puskesmas keliling terhadap puskesmas pada tahun 2011 adalah 1.209 buah. dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat. mengalami peningkatan dibandingkan dengan jumlah Poskesdes tahun 2010 sebanyak 8. Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalahmasalah kesehatan. Puskesmas Pembantu. Sedangkan rasio tertinggi di Kota Tegal (1.09. terpadu. Rasio jumlah puskesmas per 30. Data Dasar Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas}. puskesmas perawatan.576 buah. Dengan rasio 0. Sebuah desa dikatakan menjadi desa siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 99 .827. Pada tahun 2011 jumlah puskesmas keliling adalah 948 unit. puskesmas pembantu.80 maka tahun 2011 jumlah puskesmas masih mengalami kekurangan.28) dan rasio terendah masih tetap di Kabupaten Sukoharjo (0.000 penduduk pada tahun 2011 sebesar 0. 2004). Jumlah Puskesmas di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 867 (termasuk 291 Puskesmas Rawat Inap). Jumlah PKD pada tahun 2011 sebanyak 5.80 berarti bahwa jumlah puskesmas belum tercukupi. menurun dibandingkan tahun 2010. dan Puskesmas Keliling.1.44). Puskesmas Non Perawatan. 6. bencana. hal ini diupayakan dapat terpenuhi dengan puskesmas pembantu dan puskesmas keliling. Jumlah puskesmas pembantu pada tahun 2011 masih tetap sama dengan tahun 2010 sebanyak 1. dan puskesmas keliling dapat dilihat pada gambar 5. yang pengelolaannya ada di bawah dinas kesehatan kabupaten/kota adalah organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh. merata.Pengembangan PKD dimulai sejak tahun 2004. Jumlah Desa Siaga pada tahun 2011 adalah 8.572. Puskesmas terdiri dari Puskesmas Perawatan.

Sehingga menyebabkan sulitnya dalam menentukan kebutuhan tenaga kesehatan di tingkat kabupaten/kota. provinsi maupun kabupaten/kota dan makin kompleksnya masalah-masalah yang ditangani oleh tenaga kesehatan. Untuk mencukupi kekurangan tenaga tersebut dilakukan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 100 . bidan. Untuk mencukupi kebutuhan tenaga kesehatan tersebut. Peningkatan jumlah tenaga kesehatan sebanyak 6. berpengaruh terhadap peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang semakin tinggi.2000 1600 1200 800 400 0 Puskesmas 2007 2008 2009 2010 2011 851 861 867 864 867 Pusk.167 tenaga yang terdiri dari tenaga medis.7 Jumlah Puskesmas. TENAGA KESEHATAN Tenaga kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sejumlah 58. dan kesehatan masyarakat. Kebutuhan tenaga kesehatan belum dapat terpenuhi. RI 256 267 283 281 291 Pustu 1843 1846 1850 1827 1827 Pusling 963 1020 1130 1138 948 Gambar 5. Puskesmas Pembantu. perawat. baik di pemerintah pusat. dan Puskesmas Keliling Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 B.774 tenaga. Kekurangan lain disebabkan belum adanya formasi pengganti bagi tenaga yang pensiun. Puskesmas Perawatan. pemerintah membuka penerimaan CPNS baru baik secara swakelola maupun tenaga pusat yang ditempatkan di daerah. tenaga farmasi. khususnya di tingkat kabupaten/kota dikarenakan beban terhadap penganggaran pegawai serta belum berjalannya kegiatan mobilisasi tenaga kesehatan yang sesuai dengan penempatan tugas tenaga tersebut. Jumlah tenaga kesehatan tersebut meningkat bila dibandingkan dengan jumlah tenaga kesehatan tahun 2010 sebanyak 54.19%. sanitasi.

Rasio tersebut berada di atas standar WHO sebesar 6/100.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 6. rumah sakit sebesar 59. Rasio dokter spesialis tertinggi di Kota Magelang (71.253 orang sehingga rasio dokter spesialis per 100. sarana kesehatan lain sebesar 5.00) dan Kabupaten Sragen (0.72% lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (0.42%).96 2009 8 2010 6. puskesmas sebesar 30.35% lebih kecil dibandingkan dengan tahun 2010 (40.41%). dinas kesehatan kabupaten/kota sebesar 2.86 2008 4. dan dinas kesehatan provinsi sebesar 0.28%).05%) dan rasio terendah di Kabupaten Banjarnegara (0.00). Spesialis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .96 meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (6.000 penduduk.55%).89%).11 lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (52. Bidan Tidak Tetap dan diupayakan dapat mengangkat tenaga kesehatan lain sebagai pegawai tidak tetap disamping sebagai Pegawai Harian Lepas (PHL).04% lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (1. Persentase penempatan tenaga kesehatan pada tahun 2011 adalah sebagai berikut. 10 8 6 4 2 0 Rasio dokter spesialis 2007 4.8 Rasio Dr.96 Gambar 5. institusi diklat/diknakes sebesar 2.99%).07% lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (2. Jumlah dan Rasio Tenaga Medis di Sarana Kesehatan a. Dokter Spesialis Jumlah tenaga dokter spesialis yang bekerja di sarana kesehatan sebanyak 2.2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 101 . Pengangkatan PTT tersebut dilakukan masa bakti selama 3 tahun baik dengan dana Pemerintah Pusat maupun dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) masing-masing kabupaten/kota.pengangkatan Dokter Tidak Tetap. 1.63).63 2011 6.71% lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (2.

41 2009 11.96 Gambar 5.92. 4 3 2 1 0 Rasio dokter gigi 2007 3.963 sehingga rasio dokter umum per 100.14 2010 2.000 penduduk tahun 2011 sebesar 3.69 dan tertinggi adalah Kota Magelang 16.21 2008 10. Rasio terendah adalah Kabupaten Banjarnegara 0.27 Gambar 5.72 2009 3.10 Rasio Dr.06 2008 2.35 2010 11.91). Dokter Gigi Jumlah tenaga dokter gigi di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 1.91 2011 3. Umum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 . Rasio tersebut masih di bawah target nasional 11 per 100. yang bekerja di sarana kesehatan sebanyak 3.13 2011 12. Rasio terbesar adalah Kota Magelang 76.021 sehingga rasio dokter gigi di Provinsi Jawa Tengah per 100.b.000 penduduk. yang bekerja di sarana kesehatan sebanyak 1.96 meningkat dibanding tahun 2010 (11. Gigi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 102 .97 dan terendah adalah Kabupaten Klaten sebesar 5. jumlah tenaga dokter umum sebanyak 4. Dokter Umum Di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011.058. 14 12 10 8 6 4 2 0 Rasio dokter umum 2007 11.13). Rasio tersebut masih di bawah target nasional 40 per 100.000 penduduk.22.2011 c.9 Rasio Dr.27 meningkat dibanding tahun 2010 (2.000 penduduk adalah 12.224 orang.

sebagian besar bekerja di sarana kesehatan sebanyak 23.76 2010 76. Rasio tertinggi adalah Kota Magelang 749.472.69 2010 38.71 2008 34. 100 80 60 40 20 0 Rasio perawat 2007 62.000 penduduk adalah 73.72 dan terendah Kabupaten Banjarnegara 7.43 2009 36.45 2009 65.56 meningkat dibanding tahun 2010 (38.12 Rasio Tenaga Bidan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 103 .000 penduduk tahun 2011 sebesar 39. Bidan Jumlah Tenaga Bidan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 adalah 13.2011 b.100 orang.95 menurun dibandingkan tahun 2010 (76. Rasio tertinggi adalah Kota Magelang 127. sebagian besar bekerja di sarana kesehatan (12. Rasio Tenaga Bidan per 100.812 orang).14 2008 60. Perawat Tenaga perawat di Provinsi Jawa tengah sebanyak 24.95 Gambar 5.55 2011 73. 50 40 30 20 10 0 Rasio bidan 2007 31.947 sehingga rasio tenaga perawat per 100.56 Gambar 5.47).55).2.41 dan terendah adalah Kabupaten Tegal 22.94.11 Rasio Tenaga Perawat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 . Jumlah dan Rasio Tenaga Keperawatan di Sarana Kesehatan a.47 2011 39.25.

11 dan Kabupaten Batang 0.000 penduduk pada tahun 2011 sebesar 4. Rasio tertinggi Kota Surakarta 1. dan Asisten Apoteker. Rasio tenaga gizi per 100.63 meningkat dibanding tahun 2010 (11.549 orang. D-III Gizi.090 orang bekerja di sarana kesehatan.63 Gambar 5.85.68 dan terendah adalah Kabupaten Pati 1. S-1 Farmasi. Jumlah tenaga gizi di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 adalah 1.13 Rasio Tenaga Kefarmasian Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 4.55 dibawah target nasional 10 per 100.15 2009 8.11. Jumlah dan Rasio Tenaga Kefarmasian di Sarana Kesehatan Tenaga kefarmasian terdiri dari Apoteker. Angka tersebut masih di bawah target nasional 22 per 100. Sedangkan rasio tenaga apoteker dan sarjana farmasi per 100.06 2008 9.97 2010 11. 15 10 5 0 Rasio tenaga kefarmasian 2007 9.959 orang.000 penduduk. yang sebanyak 1.23 2011 12. D-III Farmasi.000 penduduk adalah 12.23).454 bekerja di sarana kesehatan.49 menurun bila dibandingkan dengan tahun 2010 (4.376 didominasi oleh tenaga perempuan sebanyak 2.000 penduduk.88 dan terendah Kabupaten Wonosobo 0. Rasio tenaga kefarmasian per 100.3.000 penduduk sebesar 4. Rasio tertinggi adalah Kota Magelang 34.55). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 104 . Jumlah dan Rasio Tenaga Gizi di Sarana Kesehatan Tenaga gizi terdiri dari D-IV/S-1 Gizi. yang sebanyak 4. dan D-1 Gizi. Jumlah tenaga kefarmasian di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 adalah 4.

56 2009 3.96 Gambar 5. yang 958 orang bekerja di sarana kesehatan.37 2008 3.5 4 3 2 1 0 Rasio tenaga gizi 2007 3. Rasio tertinggi adalah Kota Tegal (19.14 Rasio Tenaga Gizi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 5.000 penduduk tahun 2011 sebesar 2. Kesehatan Masyarakat Jumlah tenaga kesehatan masyarakat di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 1.61 2009 4.71).55 2011 4.14 2010 4.96 menurun dibandingkan dengan tahun 2010 (4. Rasio tenaga kesehatan masyarakat per 100.30).000 penduduk sebesar 3. Jumlah dan Rasio Tenaga Kesehatan Masyarakat di Sarana Kesehatan a. Jumlah Tenaga Sanitasi di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 adalah 1.49 Gambar 5.230 orang.62) dan terendah adalah Kabupaten Klaten (0. 5 4 3 2 1 0 Rasio tenaga kesmas 2007 3.036 diantaranya bekerja di sarana kesehatan.8 2010 4.20 turun dibandingkan dengan tahun 2010 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 105 .15 Rasio Tenaga Kesehatan Masyarakat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 b. Tenaga Sanitasi Tenaga sanitasi terdiri dari D-III sanitasi dan D-I sanitasi.3 2011 2.758 orang.86 2008 3. yang 1. Rasio tenaga sanitasi per 100.

99 2010 10.50 dan adalah Kabupaten Karanganyar 3.2011 6.000 penduduk sebesar 10. 12 10 8 6 4 2 0 Rasio tenaga teknisi medis 2007 8.85 2009 8.74 2011 3.16 Rasio Tenaga Sanitasi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 . teknik elektromedik.76 2008 8.24 menurun dibandingkan dengan 2010 (10. Rasio tertinggi adalah Kota Magelang 90.69. Rasio tenaga teknisi medis per 100.74). Rasio tertinggi adalah Kota Magelang (27. Rasio tenaga sanitasi dapat dilihat pada gambar 5.24 tahun terendah Gambar 5.17 Rasio Tenaga Tehnisi Medis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 106 .07) dan terendah adalah Kabupaten Demak (0.2 Gambar 5.10.59 2009 3. 5 4 3 2 1 0 Rasio tenaga sanitasi 2007 4.(3. penata rontgent dan penata anestesi.56). yang 3.442 orang.315 orang diantaranya bekerja di sarana kesehatan.38).63 2008 3.56 2011 10.45 2010 3. Teknisi Medis Tenaga teknisi medis terdiri dari analis laboratorium. Tenaga teknisi medis di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sejumlah 3. Jumlah dan Rasio Tenaga Medis dan Fisioterapis di Sarana Kesehatan a.

573. peningkatan puskesmas menjadi puskesmas rawat inap dan peningkatan pemberian insentif oleh Kementrian Kesehatan bagi tenaga medis yang melaksanakan masa bakti di daerah terpencil maupun sangat terpencil.84% berasal dari APBD kabupaten/kota. APBD provinsi yang dialokasikan untuk pembiayaan kesehatan di kabupaten/kota tahun 2011 sebesar 1. Persentase Anggaran Kesehatan dalam APBD Kabupaten/Kota Pada tahun 2011 jumlah total anggaran kesehatan kabupaten/kota se Jawa Tengah Rp.73%). Mobilitas tenaga atau distribusi tenaga kesehatan yang tersebar di wilayah pelayanan kesehatan diupayakan dengan peningkatan sarana-sarana kesehatan yang ada. Tenaga Fisioterapi Jumlah tenaga fisioterapi di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 615 orang.39%.01 dan Kabupaten Demak 0. 575 orang diantaranya bekerja di sarana kesehatan.85%.2. Sesuai dengan Undang-Undang No.31 dan Rembang 0.01 Jumlah tenaga kesehatan di Provinsi Jawa Tengah masih belum tercukupi dan belum merata sesuai kebutuhan kabupaten/kota. PHL maupun PTT. Pemerintah provinsi dan pemerintah daerah (kabupaten/kota) telah berusaha mencukupi kebutuhan tenaganya melalui pengangkatan tenaga baru seperti CPNS.975. terdapat pembagian peran dan wewenang antara pemerintah pusat dan daerah. terendah adalah Kabupaten C. tertinggi adalah Kota Semarang 0.06% adalah sumber dari pemerintah lain. Rasio tenaga fisioterapi per 100. Kontribusi anggaran kesehatan APBD kabupaten/kota meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2010 (51. PEMBIAYAAN KESEHATAN 1.25%). Kontribusi DAK bidang kesehatan di kabupaten/kota sebesar 7.78. 33 tahun 2004. seperti peningkatan akreditasi rumah sakit. dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah/desentralisasi. Kontribusi terendah 0.000 penduduk tahun 2011 sebesar 1.637. Dalam pembangunan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 107 . mengalami meningkat dibandingkan tahun 2010 (0.657 dengan kontribusi terbesar sebesar 79.b.

39%).pada tahun 2011. Kontribusi anggaran kesehatan bersumber dana lain meningkat dari 0. terjangkau dan berkualitas.234.80% pada tahun 2011.84% dari total APBD kabupaten/kota. Hal ini merupakan respon pemerintah yang positif terhadap pembangunan bidang kesehatan di kabupaten/kota. Total angaran kesehatan kab/kota tahun 2011 sebesar Rp.2. Anggaran kesehatan bersumber PHLN tahun 2011 mencapai 0. pemerintah pusat memberikan anggaran pada daerah untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan prioritas nasional.12% dari keseluruhan anggaran kesehatan menurun dibandingkan tahun 2010 (0.975.105.-. Jumlah anggaran untuk askeskin sebesar 5.450..pada tahun 2010 menjadi Rp.428. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 108 .93% pada tahun 2010 menjadi 3.81.866.362.kesehatan.73%).637.358.3..573. meningkat dibandingkan tahun 2010 (51. Anggaran kesehatan perkapita menurun dari Rp. pemerintah pusat dan daerah menyediakan pelayanan kesehatan yang merata.657 lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebesar Rp.55% pada tahun 2011 Anggaran belanja bersumber APBD kabupaten/kota yang dialokasikan untuk pembiayaan kesehatan tahun 2011 sebesar 79. Melalui Dana Alokasi Khusus (DAK).

b.52.34/1.15% sudah melebihi target nasional (85%) dan meningkat bila dibandingkan tahun 2009 (85. Angka Kematian Balita (AKABA) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 11. b. Angka Kematian Ibu (AKI) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 116. d.01/100.52%.50/1. Mortalitas/Angka Kematian a.70 per 100. Angka kematian kecelakaan lalu lintas di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 adalah sebesar 2. Prevalensi Tuberkulosis tahun 2011 per 100.000 kelahiran hidup.97/100.000 kelahiran hidup). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 109 . sudah melampaui target Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tahun 2015 (23/1. Dari hasil pemeriksaan laboratorium.000 kelahiran hidup.BAB VI KESIMPULAN A. 2.000 penduduk. Derajat Kesehatan 1.000 kelahiran hidup. Case Detection Rate (CDR) atau angka penemuan penderita TB paru BTA (+) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 59. Angka Kematian Bayi (AKB) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 10.38%). c. Morbiditas/Angka Kesakitan a.000 kelahiran hidup. mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan AKI pada tahun 2010 yang sebesar 104. Pada tahun 2011 di Provinsi Jawa Tengah ditemukan 215 penderita AFP. 215 kasus yang diperiksa semua menunjukan negatif polio (berarti tidak ditemukan virus polio liar). Angka kesembuhan (Cure Rate ) TB paru Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 sebesar 85. c. d.000 kelahiran hidup). sehingga sudah memenuhi target (164 kasus).01%). meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 (55. sudah melampaui target Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tahun 2015 (17/1.000 penduduk Provinsi Jawa Tengah sebesar 74.

menurun bila dibandingkan tahun 2010 (59. Kasus Aquiared Immuno Devisiency Syndrome (AIDS) sebanyak 521 kasus dengan jumlah kematian karena AIDS sebanyak 89 kasus. Persentase penemuan dan penanganan penderita pneumonia pada balita tahun 2011 sebesar 25. Angka kesakitan/Incidence Rate (IR) DBD di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 15. h.81%).000 penduduk.5% dengan jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 66. m.000 penduduk. Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) DBD tahun 2011 sebesar 0.29%) dan sudah lebih rendah bila dibandingkan dengan target nasional (<1%) Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 110 .32%. Kusta tipe MB diambil dari data penderita baru tahun 2009 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2011 sebesar 76% lebih rendah dari target 95%. Jumlah infeksi HIV yang dilaporkan tahun 2011 sebanyak 755 kasus. Dari hasil pemeriksaan sampel darah tersebut.8/100.702 kasus.e. Cakupan penemuan dan penanganan diare di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 57. j.27/100.63%).269 orang.000 penduduk) dan sudah mencapai target nasional yaitu <20/100.13) yang positif HIV. sedangkan proporsi anak di antara penderita baru sebesar 10. mengalami peningkatan bila dibandingkan cakupan tahun 2010 (44. Cakupan program kusta tipe PB tahun 2011 berdasarkan jumlah penderita baru tahun 2010 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2011 sebesar 85% lebih rendah dari target 90%. Jumlah pendonor pada tahun 2011 diketahui sebanyak 346. k. l. sebanyak 415 sampel (0.9%.828 (93.48%).752 kasus. mengalami penurunan bila dibanding tahun 2010 (40.000 penduduk. Jumlah kasus baru tipe Multi Basiler yang dilaporkan sebanyak 1. kemudian yang dilakukan pemeriksaan sampel darah sebanyak 324.93%. i. f. lebih rendah bila dibandingkan CFR tahun 2010 (1. Jumlah kasus baru IMS lainnya di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 ini sebanyak 10.14%. g. Proporsi cacat tingkat II pada tahun 2011 sebesar 13.873 kasus dan tipe Pausi Basiler sebanyak 395 kasus dengan Newly Case Detection Rate (NCDR) sebesar 7 per 100.

Jumlah kasus Hepatitis B sebanyak 170 kasus.09%. mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2010 (117 kasus) dan terdapat di 9 kabupaten/kota.10‰). Secara kumulatif. Jumlah kasus tahun 2011 sebanyak 3.11‰. Kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah yang melaporkan data PTM tahun 2011 hanya 27 kabupaten/kota (77. r. Kasus tertinggi PTM adalah kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah sebesar 62. Tetanus Non Neonatorum.860 kasus (72.63% pada tahun 2011. Difteri dan Hepatitis B. Jumlah kasus Campak sebanyak 1.13 %). Jumlah kasus Polio sebanyak 0 kasus. jumlah kasus Filariasis pada tahun 2011 sebanyak 537 penderita.664 kasus).43% (880.467 kasus. sedikit meningkat dibandingkan tahun 2010 (0.09%.03% dan tersebar di 5 kabupaten/kota. Jumlah kasus Pertusis sebanyak 4 kasus yang berasal dari Kabupaten Kudus. yaitu sebanyak 634. Kasus penyakit kanker yang ditemukan sebanyak Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 111 .08%). Prevalensi stroke hemoragik tahun 2011 adalah 0. q.193 kasus). Prevalensi stroke dekompensasio non hemorargik sebesar 0.11%). Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) Malaria tahun 2011 sebesar 0.n.300 kasus) dan angka kesakitan malaria sebesar 0. dimana untuk tahun 2011 ini ada 141 kasus baru. p.1%). meningkat dibandingkan tahun 2010 (0. Jumlah kasus Tetanus (Non Neonatorum) sebanyak 13 kasus yang tersebar di 4 kabupaten/kota. Campak. Prevalensi diabetes melitus tergantung insulin sebesar 0. meningkat dibandingkan tahun 2010 (3.873 kasus. Jumlah kasus Tetanus Neonatorum sebanyak 4 kasus yang tersebar di 4 kabupaten/kota. Jumlah kasus Difteri pada tahun 2011 sebanyak 8 kasus lebih sedikit bila dibandingkan dengan tahun 2010 (14 kasus).03%. Pertusis. Kasus tertinggi PTM pada kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah adalah penyakit Hipertensi Esensial.12% meningkat bila kordis dibandingkan tahun 2010 (0. Yang termasuk dalam PD3I yaitu Polio.70% menjadi 0. o. Tetanus Neonatorum. Prevalensi kasus DM tidak tergantung insulin menurun dari 0. Prevalensi kasus tahun 2011 sebesar 0. mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2010 (1 kasus). mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2010 (3.

184 meningkat banyak apabila dibandingkan tahun 2010 yang sebanyak 15.59%). Status Gizi a.73%.187 (0.69%.10%) menurun apabila dibandingkan tahun 2010 sejumlah 3.79%. b. Cakupan kunjungan ibu hamil K1 di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 98.637 kasus meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (13. Cakupan kunjungan ibu hamil K4 tahun 2011 sebesar 93. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 96.514 (0. Balita Gizi Buruk (BB/TB) tahun 2011 berjumlah 3. 3. servik 6. Adapun persentase BBLR sebesar 3. meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (93.277 kasus). Pelayanan Kesehatan a. terdiri dari Ca. hepar 2.72%.19.55% mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2010 (0.35% c.09% pada tahun 2011.631. mamae 9.04%) tetapi belum memenuhi target SPM 2015 (95%). Persentase balita dengan gizi kurang (BB/U) Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 5. dan Ca. Persentase Balita Gizi Buruk mendapatkan perawatan tahun 2011 sebesar 100% jauh lebih meningkat dibandingkan tahun 2010 sebesar 93.08% pada tahun 2010 menjadi 0. c.42%). B.28%.64%).18%).899 kasus (35.242 (11.59%). Ca. Prevalensi kasus PPOK mengalami peningkatan yaitu dari 0. Upaya Kesehatan 1. Prevalensi kasus asma sebesar 0.542 kasus (48. paru 954 kasus (4. meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (92.86%).27%). b. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 112 . Jumlah bayi berat lahir rendah (BBLR) di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 21.13%). meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (98. meningkat bila dibandingkan tahun 2010 sebesar 2. Ca.71%.

h. j.72%.28%. meningkat dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (52. Cakupan pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi pada bayi sebesar 99. Cakupan ibu nifas mendapat kapsul vitamin A tahun 2011 sebesar 96. Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga kesehatan / guru UKS / kader kesehatan sekolah tahun 2011 sebesar 78.25% mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010 (44. mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010 (96.24%). Cakupan ini sudah melampaui target SPM (95%). k. e. lebih banyak dibandingkan tahun 2010 sebesar 96.64%.43%. Cakupan tersebut masih dibawah target SPM (95%).84%. f. g.d.73%). meningkat bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (94.86%). Cakupan kunjungan bayi di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 92. Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada Balita tahun 2011 sebesar 98.01%. Cakupan pelayanan anak balita tahun 2011 sebesar 81. lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun 2010 (93. l.08%. Jumlah siswa SD dan setingkat tahun 2011 sebanyak 2. meningkat dibandingkan tahun 2010 (92.45%. meningkat bila dibandingkan cakupan tahun 2010 (93. Cakupan neonatus risti tertangani Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 53.831 (42. i.84%). Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani tahun 2011 sebesar 75.61%). meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebesar 55. m.853 anak.78%) Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 113 .10) tetapi belum mencapai target SPM 2015 (80%).074. n. Cakupan pelayanan pada ibu nifas di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 93.555. Cakupan tersebut sudah melampaui target SPM sebesar 95%. mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010 (78.76%).35%.97%. Yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai strata UKS sebesar 1.02%. Cakupan kunjungan neonatus di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 98.70%).

4%) dan Kondom (5. y. p. Walaupun menurun. s. PIL (18.0%).0%) dan Implant (12. lebih besar bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (90.0%) dan Campak (93.549. Cakupan masing-masing jenis imunisasi bayi tahun 2011 adalah sebagai berikut BCG (98.8%. u. Cakupan desa dengan garam beryodium tahun 2011 sebanyak 53.120 (13. DPT3+HB3 (95. menurun apabila dibanding tahun 2010 (997.7%). Kesemuanya sudah di atas target minimal nasional (85%).7%).2%).6%). Cakupan peserta KB aktif Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 76.2%). angka tersebut sudah melampaui target SPM (90%). MOP (0. mengalami penurunan dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (78. MOW (2.18%. x. Cakupan pemberian ASI eksklusif hanya sekitar 45.18%). Cakupan balita ditimbang tahun 2011 sebesar 78. sudah mencapai target (70%). Cakupan pemberian Fe3 pada ibu hamil di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 90. Angka tersebut sudah mencapai target SPM (90%). Cakupan Pemberian Makanan Tambahan ASI (MP-ASI) tahun 2011 sebesar 38.42% menurun dibandingkan tahun 2010 (80.9%).20% dari jumlah PUS (6. Jumlah peserta KB baru pada tahun 2011 sebanyak 895. Pencapaian UCI desa tahun 2011 (96.25%. DPT1+HB1 (97.0%). Cakupan balita gizi buruk mendapatkan perawatan tahun 2011 sebesar 100% jauh lebih meningkat dibandingkan tahun 2010 (93.57%).49%). Polio 3 (94. w. MKJP Tahun 2011: IUD (6.4%).8%).125). v.32% menurun dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (89.25%).31% menurun dibandingkan dengan tahun 2010 (53. t. r.o.06%).174) atau 15.4%) mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2010 (94.87%).28%). meningkat dibandingkan tahun 2010 (37. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 114 .15%). q. NON MKJP: Suntik (54.

z.61%. Pada tahun 2011 persentase desa/kelurahan terkena KLB yang ditangani kurang dari 24 jam mengalami kenaikan menjadi 100% dibanding dengan tahun 2010 (98. yang mendapat TT-1 sebesar 48. ff.80%. TT-2 sebesar 48. dan masih jauh dibawah target cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut SPM (70%).7 dan TT-5 sebesar 17.2%.30% mengalami peningkatan bila dibanding tahun 2010 (53. Rumah Sakit khusus lain sebesar 98.67%). dd.83%).81).45%). cc. mengalami penurunan dibanding tahun 2010 (3. TT-4 sebesar 20. Cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 51. Puskesmas rawat inap dengan kemampuan pelayanan gawat darurat yang dapat diakses masyarakat Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 291 puskesmas atau 100%.96% menurun bila dibandingkan cakupan pada tahun 2010 sebesar 52.59%). Tahun 2011 DO tingkat Jawa Tengah sebanyak 3. sesuai kesepakatan dengan kabupaten/kota indikator DO di Jawa Tengah maksimal 5% atau (-5%). Rasio tumpatan dan pencabutan gigi tetap di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 0. ee. aa.90%) lebih tinggi dibandingkan pencapaian tahun 2010 (37. Jumlah Rumah Sakit Umum dengan kemampuan pelayanan gawat darurat sebanyak 98. bb.198. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 115 .5%.8. Rumah Sakit Jiwa sebanyak 100%. Cakupan perawatan gigi dan mulut murid SD/MI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 55. gg.4%. Prosentase jumlah murid yang diperiksa untuk tahun 2011 (37.46%.82. mengalami peningkatan bila dibandingkan rasio tahun 2010 (0.4%. TT-3 sebesar 28. Angka Drop Out (DO). Jumlah ibu hamil 2011 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 632.2% dan TT2+ sebanyak 114.

Masyarakat miskin yang mendapatkan pelayanan kesehatan rawat jalan di sarana pelayanan strata 1 sebesar 7.hh. c. meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 (36. Penyuluhan kelompok pada tahun 2011 sebanyak 206.687 (57. Jumlah masyarakat miskin dan hampir miskin pada tahun 2011 sebanyak 13.817 kali.848 jiwa.033.77%).805 orang. Cakupan jaminan pemeliharaan kesehatan pra bayar tahun 2011 mencapai 36.17%) sedangkan di sarana pelayanan strata 2 dan strata 3 sebesar 438. Jumlah penduduk terancam KLB tahun 2011 sebanyak 1.479 kali (65.033. mendapatkan pelayanan kesehatan rawat inap di sarana kesehatan strata 1 sebanyak 1. Cakupan kunjungan rawat jalan di sarana kesehatan di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 105.4%. CFR tertinggi adalah KLB demam berdarah dengue/DBD yaitu terdapat (72.344 kali.202. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 116 . Jumlah kunjungan gangguan jiwa tahun 2011 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 198. yang meninggal sebanyak 24 orang (case fatality rate/CFR: 0.69%).73%%) dan KLB Tetatus Neonatorum (75.387.3%). 2. e.011 (9.21%.37%).1% lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2010 (4. Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan a.00%). Jumlah masyarakat miskin dan hampir miskin sebanyak 13.3%) sedangkan di sarana kesehatan 2 dan 3 sebanyak 431. Dari sejumlah penderita tersebut. d.544 (3. Sedangkan yang menderita akibat kejadian luar biasa tersebut sebanyak 3.205.805.98%).64%). ii. Sedangkan penyuluhan massa telah dilakukan 5.733 jiwa dengan attack rate atau rata-rata kejadian sebesar 33. terbanyak di rumah sakit yaitu 130. meningkat bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (21.18% dari total penduduk bukan masyarakat miskin (non maskin).433.59%).493 (3. b. Cakupan rawat inap di sarana kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 5. jj.

Jumlah keluarga yang diperiksa sumber air minumnya sebanyak 3.620 (68. Rata-rata TOI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3. menurun bila dibandingkan dengan rata-rata pada tahun 2010 sebesar 3.902 (40. Pada tahun 2011 jumlah rumah sakit sebanyak 247 Rumah Sakit di Jawa Tengah terdiri dari 13 RS (6.11%) dari 8. Perilaku Hidup Masyarakat a. Rata-rata lama rawat seorang pasien di RS se Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3. Cakupan rumah bebas jentik nyamuk Aedes Aegypti di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 77.68%. h. Angka Kematian Umum Penderita Yang Dirawat di RS (GDR) pada tahun 2011 rata rata sebesar 34. 3. 61 RS (28. menurun bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (65.13%) mempunyai tingkat pemanfaatan sangat tinggi diatas maksimal occupancy rate. c.f.77. 4. Persentase rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat yaitu yang diwakili oleh rumah tangga yang mencapai strata sehat utama dan sehat paripurna sebesar 74.674.91 mengalami peningkatan bila dibandingkan nilai ALOS tahun 2010 sebesar 3. Cakupan rumah yang memenuhi syarat kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 62.77%) mempunyai BOR yang dianggap cukup ideal. b.703. Keadaan Lingkungan a.14%.79% pada tahun 2010 menjadi 89.88% pada tahun 2011.63%).43%). meningkat bila dibandingkan tahun 2010 (68.95%.21%).506. meningkat bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (73.01 sedangkan angka yang dapat ditolerir maksimum 45.85. g. Cakupan keluarga yang memiliki akses terhadap air bersih meningkat dari 87. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 117 .54 dari jumlah RS yang lapor. i. d.01%).696 KK dan yang telah menggunakan sumber air minum terlindung sebanyak 2.

206.53%.09%). Sarana Kesehatan a. pasar 55. Tingkat kecukupan obat tertinggi adalah obat Kloramfenikol kapsul 250 mg (50) dan terendah adalah OAT katagori 3 (9) artinya bahwa persediaan obat Kloramfenikol kapsul 250 mg dapat tercukupi pemakaiannya untuk selama 50 bulan dan OAT katagori 3 dapat tercukupi pemakaiannya untuk selama 9 bulan. sarana ibadah 61. b. Cakupan keluarga yang memiliki tempat sampah memenuhi syarat kesehatan di Provinsi Jawa Tengah meningkat dari 67. Sedangkan cakupan keluarga memiliki sarana pengelolaan air limbah yang memenuhi syarat kesehatan sebesar 50.834. instalasi pengolahan air minum 58.11%. f.56%.e. Pemakaian obat rata-rata perbulan terbanyak adalah Klorfeniramin Maleat tablet 4 mg (2.46%). Pada Tahun 2011 pencapaian cakupan institusi yang dibina yaitu sarana pelayanan kesehatan 81. Prosentase tingkat kecukupan obat di Kabupaten/kota yang paling tinggi adalah kloramfenikol kapsul 250 mg (278. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 118 .88%.55% dan TUPM lainnya (67. Sumber Daya Kesehatan 1.02% pada tahun 2010 menjadi 69. perkantoran 72. C.674 tablet) dan terendah adalah OAT katagori 3 (43 paket).67%.44%. d. sarana pendidikan 64.95% pada tahun 2010 menjadi 71. Cakupan keluarga yang memiliki jamban yang memenuhi syarat kesehatan di Provinsi Jawa Tengah turun dari 72.51%.57% pada tahun 2011. Cakupan pengawasan tempat-tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan tahun 2011 meliputi hotel 84.29% pada tahun 2011.58% pada tahun 2011. sedangkan paling rendah adalah OAT Kategori 2 (52. c.44%).266 tablet dan paling sedikit adalah OAT Katagori 3 (523 paket).76% pada tahun 2010 meningkat menjadi 63. Pada tahun 2011 dari 34 jenis obat yang dilaporkan oleh kabupaten/kota. g. restoran/rumah makan 73. h. stock terbanyak adalah Klorfeniramin Maleat tablet 4 mg 52.11% dan sarana lainnya 47.

RSU milik BUMN sebanyak 1 RS dan RSU milik swasta sebanyak 118 buah.209 unit. Rumah sakit umum di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 berjumlah 179 buah yang terdiri dari RSU pemerintah sebanyak 50 buah ( 2 RSU milik Departemen Kesehatan. b.96. Rasio tenaga kefarmasian per 100. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 119 . Unit Pelaksana Tehnis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah terdiri dari: Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) sebanyak 5 unit dan 1 Balai Kesehatan Indera Masyarakat (BKIM).000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3.24. Rasio dokter spesialis per 100. 2. dan 41 milik pemerintah kabupaten/kota). Tenaga Kesehatan a. f. Rasio tenaga dokter gigi per 100. 10 RS Bersalin milik swasta dan 54 RS Khusus lainnya (3 milik pemerintah dan 51 milik swasta) h.e. Rumah sakit khusus pemerintah dan swasta di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 68 RS terdiri dari 4 RS Jiwa milik pemerintah. Rasio tenaga gizi per 100. g.80. c.000 penduduk tahun 2011 sebesar 17. Rasio tenaga dokter umum per 100.42.49. Sedangkan puskesmas perawatan dari 281 buah pada tahun 2010 naik menjadi 291 pada tahun 2011.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 6. Puskesmas Keliling sebanyak 948 unit dan Poliklinik Kesehatan Desa sebanyak 5. dengan sasaran penduduk yang dilayani oleh sebuah puskesmas rata-rata 30. Ini berarti bahwa jumlah puskesmas di Provinsi Jawa Tengah masih kurang.000 penduduk tahun 2011 sebesar 0. e. 7 RSU milik pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Bila dibandingkan dengan konsep wilayah kerja puskesmas.15.000 penduduk per puskesmas. RSU milik TNI/POLRI sebanyak 10 RS. d. Puskesmas Pembantu sebanyak 1.000 penduduk tahun 2011 sebesar 4. Jumlah puskesmas di Provinsi Jawa Tengah meningkat dari 854 unit pada tahun 2010 menjadi 867 pada tahun 2011.0000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 12.827 unit. maka jumlah puskesmas per 30.

18% pembiayaan dari seluruh kesehatan di kabupaten/kota tahun pembiayaan kabupaten/kota.95 lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2010 (76.24 lebih sedikit bila dibandingkan tahun 2010 (10. Rasio tenaga keperawatan per 100.f.96 lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2010 (4.56). yang mandiri dan bertumpu pada Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 120 . j.56 lebih banyak dibandingkan tahun 2010 (38.47). 81.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 73. Rasio tenaga sanitasi per 100. Rasio tenaga kesehatan masyarakat per 100. h.55).84% pada tahun 2011. Anggaran tersebut naik 28.20 menurun dibandingkan tahun 2010 (3. g. Rasio Bidan per 100. 3. Sedangkan anggaran kesehatan perkapita pada tahun 2011 sebesar Rp.30). i. Pembiayaan Kesehatan Anggaran belanja yang dialokasikan 2011 sekitar untuk 7.11%. yang semula sebesar 51.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 10.74).73% pada tahun 2010 menjadi 79. Rasio tenaga teknisi medis per 100.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 39.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 2.450.- Demikian gambaran hasil pembangunan kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebagai wujud nyata kinerja seluruh jajaran kesehatan di Provinsi Jawa Tengah dalam upaya mewujudkan Jawa Tengah Sehat potensi daerah.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3.