BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dalam upaya mewujudkan Jawa Tengah Sehat, pembangunan kesehatan di Jawa Tengah tidak dapat dilakukan sendiri oleh aparat pemerintah di sektor kesehatan, tetapi harus dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan peran serta swasta dan masyarakat. Segala upaya kesehatan selama ini dilakukan tidak hanya oleh sektor kesehatan saja, tetapi juga tidak luput peran dari sektor non kesehatan dalam upaya penyelenggaraan pelayanan kesehatan mengatasi permasalahan kesehatan. Agar proses pembangunan kesehatan berjalan sesuai dengan arah dan tujuan, diperlukan manajemen yang baik sebagai langkah dasar pengambilan keputusan dan kebijakan di semua tingkat administrasi pelayanan kesehatan. Untuk itu pencatatan dan pelaporan kegiatan pelayanan kesehatan perlu dikelola dengan baik dalam suatu sistem informasi kesehatan. Sistem Informasi Kesehatan (SIK) yang evidence based diarahkan untuk penyediaan data dan informasi yang akurat, lengkap, dan tepat waktu. Untuk itu, peran data dan informasi kesehatan menjadi sangat penting dan semakin dibutuhkan dalam manajemen kesehatan oleh berbagai pihak. Masyarakat semakin peduli dengan situasi kesehatan dan hasil pembangunan kesehatan yang telah dilakukan oleh pemerintah, terutama terhadap masalah-masalah kesehatan yang berhubungan langsung dengan kesehatan mereka. Kepedulian masyarakat akan informasi kesehatan ini memberikan nilai positif bagi pembangunan kesehatan itu sendiri. Untuk itu pengelola program harus bisa menyediakan dan memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat dengan dikemas secara baik, sederhana, informatif, dan tepat waktu. Profil kesehatan merupakan salah satu produk dari Sistem Informasi Kesehatan yang penyusunan dan penyajiannya dibuat sesederhana mungkin tetapi informatif, untuk dipakai sebagai alat tolok ukur kemajuan pembangunan kesehatan sekaligus juga sebagai bahan evaluasi program-program kesehatan. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah adalah gambaran situasi kesehatan yang memuat berbagai
Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

dan upaya

1

data tentang situasi dan hasil pembangunan kesehatan selama satu tahun yang memuat data derajat kesehatan, sumber daya kesehatan, dan capaian indikator hasil pembangunan kesehatan. B. SISTEMATIKA PENYAJIAN Sistematika penyajian Profil Kesehatan adalah sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN Berisi penjelasan tentang maksud, tujuan dan sistematika

penyajiannya. BAB II : GAMBARAN UMUM Menyajikan tentang gambaran umum Provinsi Jawa Tengah meliputi letak geografis, kependudukan, ekonomi dan pendidikan yang erat kaitannya dengan kesehatan. BAB III : SITUASI DERAJAT KESEHATAN Berisi uraian tentang indikator mengenai angka kematian, angka kesakitan dan angka status gizi masyarakat. BAB IV : SITUASI UPAYA KESEHATAN Menguraikan tentang pelayanan kesehatan dasar, pelayanan

kesehatan rujukan dan penunjang, pencegahan dan pengendalian penyakit menular dan tidak menular, pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan, pelayanan kesehatan dalam situasi bencana serta upaya pelayanan kesehatan lainnya yang diselenggarakan oleh kabupaten/kota.

BAB V

: SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
Menguraikan tentang tenaga kesehatan, sarana kesehatan, pembiayaan kesehatan dan sumber daya kesehatan lainnya.

BAB VI

: KESIMPULAN Berisi sajian garis besar hasil-hasil cakupan porgram/kegiatan

berdasarkan indikator-indikator bidang kesehatan untuk dapat ditelaah lebih jauh dan untuk bahan perencanaan pembangunan kesehatan serta pengambilan keputusan di Provinsi Jawa Tengah.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

2

LAMPIRAN Berisi resume atau angka pencapaian kabupaten/kota dan 82 tabel data yang sebagian diantaranya merupakan Indikator Pencapaian Kinerja Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

3

BAB II GAMBARAN UMUM

A. KEADAAN GEOGRAFI Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak cukup strategis karena berada diantara dua provinsi besar, yaitu bagian barat berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat, bagian timur berbatasan dengan Provinsi Jawa Timur. Sedangkan bagian utara berbatasan dengan Laut Jawa dan bagian selatan berbatasan dengan Samudra Hindia dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Letaknya antara 5°40 ' - 8 °30' lintang selatan dan antara 108°30' - 111°30' bujur timur (termasuk Pulau Karimunjawa). Luas wilayah Provinsi Jawa Tengah sebesar 32.544,12 km², secara administratif terbagi menjadi 29 kabupaten dan 6 kota, yang tersebar menjadi 573 kecamatan dan 8.576 desa/kelurahan. Wilayah terluas adalah Kabupaten Cilacap dengan luas 2.138,51 km², atau sekitar 6,57% dari luas total Provinsi Jawa Tengah, sedangkan Kota Magelang merupakan wilayah yang luasnya paling kecil yaitu seluas 18,12 km². Secara topografi, wilayah Provinsi Jawa Tengah terdiri dari wilayah daratan yang dibagi menjadi 4 (empat) kriteria : a. Ketinggian antara 0–100 m dari permukaan air laut, seluas 53,3%, yang daerahnya berada di sepanjang pantai utara dan pantai selatan. b. Ketinggian antara 100–500 m dari permukaan air laut seluas 27,4%. c. Ketinggian antara 500–1.000 m dari permukaan air laut seluas 14,7%. d. Ketinggian diatas 1.000 m dari permukaan air laut seluas 4,6%. B. KEADAAN PENDUDUK 1. Pertumbuhan dan Persebaran Penduduk Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, jumlah penduduk Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2010 sebesar 32.382.657 jiwa, dengan luas wilayah sebesar 32.544,12 kilometer persegi (km²), rata-rata kepadatan penduduk sebesar 995,04 jiwa untuk setiap km². Wilayah terpadat

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

4

adalah Kota Surakarta, dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 11.341 jiwa per km². Wilayah terlapang adalah Kabupaten Blora, dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 462 jiwa per km², dengan demikian persebaran penduduk di Jawa Tengah belum merata. Jumlah rumah tangga sebanyak 8.703.696, maka rata-rata jumlah anggota rumah tangga adalah 3,72 jiwa untuk setiap rumah tangga. Penduduk terbanyak di Kabupaten Brebes 1.733.869 jiwa (5,35%) dan paling sedikit di Kota Magelang 118.227 jiwa (0,37%). Data mengenai kependudukan dapat dilihat pada lampiran Tabel 1.

2. Rasio Jenis Kelamin Komposisi penduduk menurut jenis kelamin dapat dilihat dari rasio jenis kelamin, yaitu perbandingan penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan per 100 penduduk perempuan. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010 oleh Badan Pusat Statistik, didapatkan jumlah penduduk laki-laki di Jawa Tengah 16.091.112 jiwa (49,69%) dan jumlah penduduk perempuan di Jawa Tengah 16.291.545 jiwa (50,31%). Sehingga didapatkan rasio jenis kelamin sebesar 98,77 per 100 penduduk perempuan, berarti setiap 100 penduduk perempuan ada sekitar 98 atau 99 penduduk laki-laki. Data mengenai rasio jenis kelamin (sex ratio) dapat dilihat pada lampiran Tabel 2.

3. Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur Komposisi penduduk Provinsi Jawa Tengah menurut kelompok umur dan jenis kelamin menunjukkan bahwa penduduk laki-laki maupun perempuan mempunyai proporsi terbesar pada kelompok umur 15–44 tahun. Gambaran komposisi penduduk secara lebih rinci dapat dilihat pada lampiran Tabel 3. Perbandingan komposisi proporsi penduduk menurut usia produktif dari tahun 2006 sampai tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut:

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

5

Tabel 2.1 Persentase Kelompok Usia Produktif Jawa Tengah tahun 2006 – 2010 Kelompok Usia (Tahun) 0 - 14 15 – 64 65 + TAHUN 2006 25,98 % 66,92 % 7,10 % 2007 27,02 % 65,21 % 7,77 % 2008 26,57 % 65,66 % 7,77 % 2009 25,03 % 67,87 % 7,11 % 2010 26,32 % 66,53 % 7,05 %

Sumber : BPS Provinsi Jawa Tengah tahun 2010

Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa proporsi penduduk tahun 2010 bila dibandingkan dengan tahun 2009, kelompok usia produktif (15-64 tahun) mengalami penurunan, sedangkan kelompok usia belum produktif (0-14 tahun) mengalami kenaikan. Hal ini berarti bahwa angka beban tanggungan menjadi bertambah.

C. KEADAAN EKONOMI 1. Produk Domestik Regional Bruto Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah ukuran kuantitatif dari kinerja perekonomian suatu wilayah selama satu periode waktu tertentu. PDRB merupakan total nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit-unit usaha yang beroperasi di wilayah domestik. Perekonomian Jawa Tengah pada tahun 2011 mengalami pertumbuhan sebesar 6,0% dibanding tahun 2010. Berdasarkan hasil penghitungan triwulan I sampai dengan triwulan IV , PDRB Jawa Tengah tahun 2011 atas dasar harga berlaku meningkat sebesar Rp. 53,9 triliun, yaitu dari Rp. 444,7 triliun pada tahun 2010 menjadi sebesar Rp. 498,6 triliun pada tahun 2011. Jika dilihat dari PDRB atas dasar harga konstan pada tahun 2011 mencapai Rp. 198,2 triliun, sedangkan pada tahun 2010 sebesar Rp. 187,0 triliun. Selama tahun 2011, semua sektor ekonomi yang membentuk PDRB mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor

pengangkutan dan komunikasi yang mencapai 8,6%, diikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran 7,5%, sektor jasa-jasa 7,5%, sektor industri

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

6

3%. yaitu sebesar 2.4% terhadap sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.6%. Sumber pertumbuhan terbesar kedua adalah dari sektor perdagangan. Pada tahun 2011 angka PDRB per kapita atas dasar harga berlaku diperkirakan mencapai 15. meskipun mengalami pertumbuhan terbesar yaitu 8.7 juta.9% dibandingkan dengan tahun 2010 yan gsebesar Rp. hotel dan restoran yaitu 1.124 11.9%.112 2008 2009 2010 2011 Sumber : PDRB Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 7 .8 juta.2%. sektor konstruksi 6.376 PDRB per Kapita atas dasar harga konstan 5.4%.pengolahan 6. sektor ini hanya mampu memberikan sumbangan 0.7% mampu memberikan andil terbesar terhadap sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.6%.957 13. Sedangkan PDRB per kapita atas dasar harga konstan pada tahun 2011 sebesar Rp. Tabel 2.4 juta dengan laju peningkatan sebesar 12. sektor pertambangan dan penggalian 4.7%. 6.774 6. 5.345 5.142 5.0% dibandingkan dengan PDRB per kapita tahun 2010 sebesar Rp.732 15. sektor keuangan.3%. gas dan air bersih 4. real estate dan jasa perusahaan 6.2 PDRB per Kapita Jawa Tengah Tahun 2008 – 2011 (jutaan rupiah) Tahun PDRB per Kapita atas dasar harga berlaku 11.3%. PDRB per kapita merupaka PDRB dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Sektor industri pengolahan yang mengalami pertumbuhan 6. sektor listrik.1 juta atau secara riil meningkat sebesar 5. Sedangkan sektor yang mengalami pertumbuhan terendah pada tahun 2011 adalah sektor pertanian yaitu sebesar 1. Selain itu dapat dilihat besarnya sumbangan (andil) masing-masing sektor dalam menciptakan laju pertumbuhan ekonomi selam tahun 2011. Hal ini dikarenakan kontribusi nilai tambah bruto sektor pengangkutan dan komunikasi terhadap PDRB Jawa Tengah relatif kecil. Sedangkan sektor pengangkutan dan komunikasi. 13.

00 100.11 SMU/SMK 12.22 18. Hal ini wajar terjadi mengingat semakin digalakkannya program sekolah gratis bagi jenjang SD dan SMP dan program-program pendidikan lainnya.41 4.93 Tahun 2007 2008 2009 2010 SD/MI 31.33 8.91 DIPL/AK/ PT 5. Masyarakat yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi.93 4.48 Total 100.55 SMP 15. Dibandingkan dengan tahun 2009 secara umum telah terjadi peningkatan di bidang pendidikan. KEADAAN PENDIDIKAN Tingkat pendidikan dapat berkaitan dengan kemampuan menyerap dan menerima informasi kesehatan serta kemampuan dalam berperan serta dalam pembangunan kesehatan.46 23.74 32.2. pada umumnya mempunyai pengetahuan dan wawasan yang lebih luas sehingga lebih mudah menyerap dan menerima informasi. angka beban tanggungan (dependency ratio) penduduk Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2010 sebesar 50. berarti pada tahun 2010 setiap 100 penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun) harus menanggung beban hidup sekitar 50 penduduk usia belum produktif (0–14 tahun) dan usia tidak produktif (65 tahun ke atas). Peningkatan terjadi pada tingkat pendidikan SD. Berikut ini disajikan tabel persentase jumlah penduduk usia 10 tahun ke atas menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2007-2010.58 17.13 Tdk punya Ijazah SD/MI 26.50 34.00 100.31.00 100.43).42 8.16 18. serta dapat ikut berperan serta aktif dalam mengatasi masalah kesehatan dirinya dan keluarganya.21 10. SMP dan Akademi/Perguruan Tinggi. Angka tersebut mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2009 (51.58 16.84 9.48 4. Angka Beban Tanggungan Berdasarkan jumlah penduduk menurut kelompok umur.3 Jumlah Penduduk Usia 10 tahun ke Atas Menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007-2010 Blm/Tdk Pernah Sekolah 7.45 14. Tabel 2.64 15.03 22. D.00 Sumber : BPS Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 8 .01 32.

98%.28% dan perempuan sebesar 87. maka penduduk laki-laki lebih banyak yang melek huruf dibandingkan dengan penduduk perempuan.Peningkatan tersebut berimbas pada kemampuan baca tulis penduduk yang tercermin dari angka melek huruf.02%. Bila dilihat dari jenis kelaminnya. angka melek penduduk laki-laki sebesar 94. Demikian gambaran umum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 secara ringkas dengan penyajian tentang kependudukan.87%. perekonomian dan pendidikan. Data mengenai angka melek huruf dapat dilihat pada lampiran Tabel 5. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 9 . sedangkan yang buta huruf sebesar 8. Faktor perekonomian dan pendidikan secara bersama-sama dengan kesehatan digunakan untuk menentukan Indeks Pembangunan Manusia. Persentase penduduk yang dapat membaca dan menulis huruf latin dan huruf lainnya pada tahun 2010 sebesar 91.

AKABA. angka morbiditas beberapa penyakit dan status gizi. Angka Kematian balita (AKABA). terdapat beberapa indikator yang dapat digunakan. lingkungan sosial. AKI dan Angka Kematian Kecelakaan Lalu Lintas. pendidikan. tingkat pelayanan antenatal. berarti status kesehatan di wilayah tersebut rendah. derajat kesehatan masyarakat di Provinsi Jawa Tengah digambarkan melalui Angka Kematian Bayi (AKB). Angka Kematian Bayi Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan jumlah kematian bayi (0-11 bulan) per 1000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun. Angka Kematian Ibu (AKI). A. tingkat keberhasilan program KIA dan KB. menurun bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 10. Indikator-indikator tersebut pada umumnya tercermin dalam kondisi angka kematian. AKB menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan faktor penyebab kematian bayi.BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN Dalam menilai derajat kesehatan masyarakat. Faktorfaktor tersebut tidak hanya berasal dari sektor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan. status gizi ibu hamil. Apabila AKB di suatu wilayah tinggi. ANGKA KEMATIAN Angka kematian dari waktu ke waktu menggambarkan status kesehatan masyarakat secara kasar. angka kesakitan dan status gizi.34/1. AKB di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 10.62/1. melainkan juga dipengaruhi faktor ekonomi. kondisi atau tingkat permasalahan kesehatan. Derajat kesehatan masyarakat juga dipengaruhi oleh banyak faktor.000 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 10 . Angka tersebut dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan. Angka kematian yang disajikan pada bab ini yaitu AKB. 1.000 kelahiran hidup. kondisi lingkungan fisik dan biologik secara tidak langsung. keturunan dan faktor lainnya. Pada bagian ini. serta kondisi lingkungan dan sosial ekonomi.

11 10.Pati Kota Pekalongan Kab.Temanggung Kab. sedangkan terendah adalah Kota Surakarta sebesar 3.Klaten Kab.Demak Kota Tegal Kota Surakarta 21.Banjarnegar Kab.Jepara Kab.97/1.27 2009 10.79 15.000 kelahiran hidup.38 9.Sukoharjo Kab.Magelang Kab.00 20.5 AKB 2008 9.000 kelahiran hidup maka AKB di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sudah cukup baik karena telah melampaui target.Banyumas Kab.63 12.49 7.23 9.66 3.97 17.25 2010 10. Kab.09 6.00 25.Kebumen Kab.Brebes Kab.Pekalongan Kab.41 0.23 12.72 8.Cilacap Kab.Purw orejo Kab.16 10.Wonosobo Kab.Boyolali Kota Semarang Kab.Grobogan Kota Magelang Kab. Dibawah ini grafik AKB di Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2008-2011.00 Gambar 3.72 9.51 8.34 15.000 kelahiran hidup.72 6.00 5.34 Gambar 3.00 15.30 13.Tegal Kota Salatiga Kab.5 10 9.93 12.Karanganyar Kab.63/1.Pemalang Kab.08 9.49 7.5 9 8.Batang Kab.53 17.11 8.85 8.27 12.68 8.62 2011 10.23 9.15 11.00 10.Wonogiri Kab.kelahiran hidup.23 9.55 7.67 11.Blora Kab.25 13.Rembang Kab.33 9.Purbalingga Kab.Kendal Kab.Semarang Kab.1 Angka Kematian Bayi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 –2011 Angka kematian bayi tertinggi adalah Kabupaten Rembang sebesar 21.Kudus Kab.69 9. Dibandingkan dengan target Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tahun 2015 sebesar 17/1.63 5.2 Angka Kematian Bayi di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 11 .Sragen Kab.54 8.

tingkat pelayanan KIA/Posyandu.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup.6 2010 12. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 12 .74/1. sedangkan terendah di Kota Surakarta sebesar 4.000 kelahiran hidup.5 12 11.000 kelahiran hidup.50/1. 12.2.000 kelahiran hidup.5 Gambar 3. Dibawah ini grafik AKB di Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2008-2011.5 9 AKABA 2008 10.3 Angka Kematian Balita Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 –2011 AKABA tertinggi di Kabupaten Rembang sebesar 23. AKABA Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 11.12 2009 11.4 di bawah ini. AKABA Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sudah melampaui target. menurun dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 12. tingkat keberhasilan program KIA/Posyandu dan kondisi sanitasi lingkungan.02/1. AKABA menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan balita. Angka Kematian Balita Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan jumlah kematian balita 0–5 tahun per 1000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun.02 2011 11.5 10 9. Selengkapnya dapat dilihat pada gambar 3. Dibandingkan dengan cakupan yang diharapkan dalam Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tahun 2015 yaitu 23/1.5 11 10.12/1.

Tingginya angka kematian ibu menunjukkan keadaan sosial ekonomi yang rendah dan fasilitas pelayanan kesehatan termasuk pelayanan prenatal dan obstetri yang rendah pula.80 10.Banyumas Kab. keadaan sosial ekonomi.Tegal Kab.00 Gambar 3.55 9.Cilacap Kab.14 9.12 8. kejadian berbagai komplikasi pada kehamilan dan kelahiran. tersedianya dan penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan ternasuk pelayanan prenatal dan obstetri.Purw orejo Kota Semarang Kab.98 10.16 7. Selain itu penyebab kematian maternal juga tidak terlepas dari kondisii ibu itu sendiri dan merupakan salah satu dari kriteria 4 “terlalu”. terlambat mencapai fasilitas kesehatan.79 10.Boyolali Kab.42 11. serta terlambat mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan.68 12.94 7.00 5.20 10.Magelang Kota Salatiga Kab.Blora Kab.Pati Kab.Jepara Kab.36 8. yaitu terlalu tua pada saat melahirkan (>35 tahun).66 9.87 17.81 10.Purbalingga Kab. terlalu muda pada saat melahirkan (<20 tahun).Klaten Kab. Angka Kematian Ibu Angka Kematian Ibu (AKI) mencerminkan risiko yang dihadapi ibu-ibu selama kehamilan dan melahirkan yang dipengaruhi oleh status gizi ibu.Semarang Kab.Temanggung Kab.00 20.Batang Kab.46 16.Kudus Kota Tegal Kota Surakarta 0.74 10.00 15. keadaan kesehatan yang kurang baik menjelang kehamilan. Kematian ibu biasanya terjadi karena tidak mempunyai akses ke pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas.39 10.55 23.Brebes Kab.36 10.Demak Kab.Wonosobo Kab.Pekalongan Kota Magelang Kab.78 14.Karanganyar Kab.42 14.12 5. terutama pelayanan kegawatdaruratan tepat waktu yang dilatarbelakangi oleh terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan.Sukoharjo Kota Pekalongan Kab.Sragen Kab.57 10.70 9.Kab.26 9. terlalu Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 13 .00 25.4 Angka Kematian Balita di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 3.83 13.25 13.85 14.95 12.44 19.Wonogiri Kab.86 9.Kendal Kab.Kebumen Kab.85 7.Banjarnegar Kab.02 18.Pemalang Kab.88 13.Rembang Kab.Grobogan Kab.00 4.

02 2010 104.Banjarnegara Kab.01/100.Kudus Kab.97 2011 116.Grobogan Kab.Banyumas Kab.Karanganyar Kab. terlalu rapat jarak kelahiran/paritas (<2 tahun).Tegal Kab.Sukoharjo Kab.5 di bawah ini tren AKI di Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2011. 120 115 110 105 100 95 AKI 2008 114.Sragen Kab.6 Jumlah Kematian Ibu di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 14 .Kebumen Kota Salatiga Kota Surakarta Kota Magelang 45 51 13 13 13 12 11 10 10 10 9 9 9 18 18 17 16 15 15 24 24 23 22 22 21 28 27 26 26 31 35 34 6 1 4 0 10 20 30 40 50 60 Gambar 3.Wonosobo Kab.42 2009 117. Kab.000 kelahiran hidup.Magelang Kab.Temanggung Kab.Pati Kab.5 Angka Kematian Ibu Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 –2011 Jumlah kematian maternal terbanyak adalah di Kabupaten Tegal sebanyak 51 kematian.Rembang Kab.Jepara Kab.Blora Kab.Klaten Kab.Demak Kab.Semarang Kab. Sedangkan kabupaten/kota dengan jumlah kematian maternal paling sedikit adalah Kota Magelang dengan 1 kematian.banyak anak (>4 anak).Boyolali Kab.01 Gambar 3.Pemalang Kab.Kendal Kab.Purw orejo Kota Tegal Kota Pekalongan Kab.Brebes Kota Semarang Kab. mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan AKI pada tahun 2010 sebesar 104.Wonogiri Kab.Batang Kab. Angka kematian ibu Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 berdasarkan laporan dari kabupaten/kota sebesar 116.97/100.000 kelahiran hidup.Purbalingga Kab.Pekalongan Kab. Gambar 3.Cilacap Kab.

99/100.75% dan pada waktu persalinan sebesar 25. Dari 25 kabupaten/kota yang melaporkan. pemerintah telah melaksanakan Program Eradikasi Polio (ERAPO) yang terdiri dari pemberian imunisasi polio rutin. angka kematian kecelakaan lalu lintas tertinggi terjadi di Kota Magelang yaitu sebesar 21.80 sedangkan tahun 2010 sebesar 176. Kabupaten/kota yang melaporkan kejadian kecelakaan lalulintas pada tahun 2011 sebanyak 25 kabupaten/kota meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 sebanyak 19 kabupaten/kota. kejadian kematian maternal terbanyak adalah pada usia produktif (20-34 tahun) sebesar 65. Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit “Acute Flaccid Paralysis” (AFP) Upaya membebaskan Indonesia dari penyakit Polio. 4.99%. Surveilans AFP merupakan pengamatan dan penjaringan semua kelumpuhan yang terjadi secara mendadak dan sifatnya flaccid (layuh). ANGKA KESAKITAN 1. Prosedur pembuktian penderita AFP terserang virus polio liar atau tidak adalah sebagai berikut : Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 15 .000 penduduk.12%. kemudian pada waktu hamil sebesar 25.000 penduduk dalam kurun waktu satu tahun. seperti sifat kelumpuhan pada poliomyelitis. pemberian imunisasi masal pada anak balita melalui Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dan surveilans AFP.17 sementara Angka kematian kecelakaan lalu lintas tahun 2011 adalah sebesar 2.Kejadian kematian maternal paling banyak adalah pada waktu nifas sebesar 48.60%. Angka Kematian Kecelakaan Lalu Lintas Angka Kematian kecelakaan lalu lintas adalah jumlah kematian sebagai akibat dari kecelakaan lalu lintas per 100.70 per 100. Sementara berdasarkan kelompok umur. Angka kecelakaan lalulintas per 100.65%.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah.89% dan pada kelompok umur <20 tahun sebesar 5. B. kemudian pada kelompok umur >35 tahun sebesar 28.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 sebesar 94.

Diagnosis akhir ditentukan pada 60 hari sejak kelumpuhan. c. sebanyak dua kali selang waktu pengambilan I dan II >24 jam. Hasil pemeriksaan virologis dan klinis akan menjadi bukti penegakan diagnosis kasus AFP termasuk kasus polio atau tidak. Menurut hasil pemeriksaan laboratorium. b. Pada tahun 2011 Jawa Tengah menemukan 215 penderita AFP. Mengambil spesimen tinja penderita tidak lebih dari 14 hari sejak kelumpuhan.000 anak usia <15 tahun. 210 205 200 195 190 185 180 175 170 165 160 Kasus AFP 2006 191 2007 207 2008 187 2009 193 2010 178 Gambar 3. sehingga dapat diketahui apakah masih ada polio liar di masyarakat. Mengirim kedua spesimen tinja ke laboratorium dengan pengemasan khusus (untuk Jawa Tengah dikirim ke laboratorium Bio Farma Bandung) d. sehingga memenuhi target.a. Target minimal penemuan penderita AFP tahun 2011 sebanyak 164 penderita. e. dari 215 kasus yang diperiksa semua menunjukan negatif polio (berarti tidak ditemukan virus polio liar). Melakukan pelacakan terhadap anak usia <15 tahun yang mengalami kelumpuhan mendadak (<14 hari) dan menentukan diagnosa awal. Penderita kelumpuhan AFP diperkirakan 2 diantara 100. Hasil pemeriksaan spesimen tinja akan menjadi bukti virologi adanya virus polio liar didalamnya.7 Penemuan Kasus AFP Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 16 . Pemeriksaan klinis ini dilakukan oleh dokter spesialis anak atau syaraf untuk menentukan apakah masih ada kelumpuhan atau tidak.

5) Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. Prevalensi Tuberkulosis per 100. 4) Jaminan ketersediaan OATyang bermutu.000 penduduk Provinsi Jawa Tengah sebesar 74.38%). Prevalensi tuberkulosis tertinggi adalah di Kabupaten Pekalongan (205. termasuk pengawasan langsung pengobatan. 3. 3) Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat. Prevalensi Tuberkulosis Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis.000 penduduk).04%.06 per 100. Meskipun masih dibawah target yang ditentukan. TB menjadi salah satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitmen global dalam MDGs. capaian CDR tahun 2011 sebesar 59. Angka Penemuan Kasus TB Paru BTA(+) Salah satu indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalah Case Detection Rate (CDR).000 penduduk) dan terendah di Kabupaten Magelang (20.2.52. 2) Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya. Pada awal tahun 1995 WHO telah merekomendasikan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) sebagai strategi dalam penanggulangan TB dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective). Penyakit ini dapat menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil TB. Terdapat empat kabupaten/kota yang sudah melampaui target 100% yaitu Kota Surakarta Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 17 . Pencapaian CDR di Jawa Tengah tahun 2008 s/d 2011 masih dibawah target yang ditetapkan sebesar 100%.78% dan yang terendah di Kabupaten Magelang sebesar 33. yang terdiri dari 5 komponen kunci 1) Komitmen politis. yaitu proporsi jumlah pasien baru BTA(+) yang ditemukan dan diobati terhadap jumlah pasien baru BTA(+) yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Bersama dengan Malaria dan HIV/AIDS. CDR tertinggi di Kota Pekalongan sebesar 132.5 per 100.52% meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 (55.

31%).78%). Kabupaten Pekalongan (103. maka evaluasi pengobatan pasien dinyatakan sebagai pengobatan lengkap. pada tahun 2011 telah dilakukan berbagai upaya seperti peningkatan SDM. 60 50 40 30 20 10 0 CDR TB 2008 47. paramedis dan laboratorium. 4.38 2011 59. Kota Tegal (116.8 Angka Penemuan TB Paru (CDR) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Untuk meningkatkan cakupan CDR dan angka kesembuhan.15 2010 55.99%) dan Kota Pekalongan (132. namun pasien telah menyelesaikan pengobatan.12).97 2009 48. baik tenaga medis.(101. Angka Kesembuhan Penderita TB Paru BTA(+) Evaluasi pengobatan pada penderita TB paru BTA(+) dilakukan melalui pemeriksaan dahak mikroskopis pada akhir fase intensif satu bulan sebelum akhir pengobatan dan pada akhir pengobatan dengan hasil pemeriksaan negatif. Kegiatan-kegiatan tersebut perlu dievaluasi untuk menilai apakah hasil kegiatan sesuai dengan tujuan yang diharapkan sekaligus mengidentifikasi permasalahan yang ditemukan untuk selanjutnya disusun rencana tindak lanjut perbaikan. Evaluasi jumlah pasien dinyatakan sembuh dan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 18 . Bila pemeriksaan follow up tidak dilakukan.52 Gambar 3. pertemuan jejaring antar unit pelayanan kesehatan dan asistensi ke rumah sakit. Dinyatakan sembuh bila hasil pemeriksaan dahak pada akhir pengobatan ditambah minimal satu kali pemeriksaan sebelumnya (sesudah fase awal atau satu bulan sebelum akhir pengobatan) hasilnya negatif.

Angka kesembuhan tertinggi di Kabupaten Karanganyar sebesar 98.15% sudah melebihi target nasional (85%) dan meningkat bila dibandingkan tahun 2009 (85. mengalami penurunan bila dibanding tahun 2010 yang sebesar 40. Pneumonia juga dapat terjadi akibat kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia.5 85 84. sedangkan terendah di Kota Tegal sebesar 47. gangguan imunologi). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 19 .5% dengan jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 66. Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri.5 82 CR TB 2008 83.17%.9 Angka Kesembuhan TB Paru (CR) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2010 5.5 83 82. Persentase penemuan dan penanganan penderita pneumonia pada balita tahun 2011 sebesar 25. Angka kesembuhan (Cure Rate) TB paru Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 sebesar 85. Berikut ini ditampilkan persentase penemuan pneumonia balita Provinsi Jawa Tengah tahun 2008-2011.9 2009 85. Angka ini masih sangat jauh dari target Standar Pelayanan Minimal (SPM) tahun 2010 sebesar 100%.63%. Persentase Balita dengan Pneumonia Ditangani Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli). 86 85.15 Gambar 3.01 2010 85. atau orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi.pasien pengobatan lengkap dibandingkan jumlah pasien BTA(+) yang diobati disebut keberhasilan pengobatan (Succes Rate ).13%. virus maupun jamur. usia lanjut lebih dari 65 tahun.5 84 83. Populasi yang rentan terserang Pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun.702 kasus.01%).

Jumlah infeksi HIV yang dilaporkan tahun 2011 sebanyak 755 kasus. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 20 .Pada tingkat kabupaten/kota. sero survey dan Survei Terpadu Biologis dan perilaku (STBP).6%). Counselling.63 2011 25. Peningkatan infeksi HIV dan kasus AIDS ini dikarenakan upaya penemuan atau pencarian kasus yang semakin intensif melalui VCT di rumah sakit dan upaya penjangkauan oleh LSM peduli AIDS di kelompok risiko tinggi. 45 40 35 30 25 20 Pneumonia Balita 2008 23.10 Persentase Penemuan dan Penanganan Penderita Pneumonia pada Balita Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 6. Jumlah HIV positif yang ada di masyarakat dapat diketahui melalui 3 metode. Kasus Aquiared Immuno Devisiency Syndrome (AIDS) sebanyak 521 kasus dari laporan VCT rumah sakit. Sebelum memasuki fase AIDS. Infeksi tersebut menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain. Kasus HIV/AIDS merupakan fenomena gunung es. laporan rutin AIDS kab/kota serta Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM). sementara kabupaten dengan persentase cakupan terendah adalah Kabupaten Rembang (1. and Testing (VCT). sebagian besar didapat dari hasil VCT di rumah sakit.9%).5 Gambar 3. Jumlah kematian karena AIDS di Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 89 kasus.96 2010 40. Jumlah Kasus Baru HIV/AIDS dan Kematian karena AIDS HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. penderita terlebih dulu dinyatakan sebagai HIV positif. ada satu kota yang mempunyai persentase cakupan diatas 100% yaitu Kota Magelang (179. artinya kasus yang dilaporkan hanya sebagian kecil yang ada di masyarakat. yaitu pada layanan Voluntary.63 2009 25.

Bubo. PMS meliputi Syphilis.12 Persentase Kasus Baru AIDS menurut Jenis Kelamin Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 7.11 Jumlah Kasus Baru HIV/AIDS dan kematian karena AIDS Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Gambar 3.11 menunjukan bahwa kecenderungan (trend) kasus HIV maupun AIDS selalu mengalami peningkatan setiap tahun. Infeksi Menular Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 21 . Perempuan 37% Laki-laki 63% Gambar 3. Gonorhoe. Penemuan kasus HIV tahun 2011 meningkat sangat tajam hampir 2 kali lipat lebih dibanding tahun 2010. Herpes.800 700 600 500 400 300 200 100 0 2008 HIV 2009 AIDS 2010 Meninggal 259 170 56 143 160 104 430 373 501 755 521 89 2011 Gambar 3. jumlah kematian karena AIDS terbanyak di Kabupaten Banyumas sebanyak 10 kasus. Jumlah kasus baru HIV/AIDS tertinggi adalah di Kota Semarang (189/59 kasus). Jumlah Kasus Baru Infeksi Menular Seksual lainnya Penyakit Menular Seksual (PMS) atau biasa disebut penyakit kelamin adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Jengger ayam. dan lain-lain.

Pada tahun 2011 diketahui jumlah pendonor sebanyak 346.13 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 22 .09 0.1 Persentase Donor Darah Diskrining terhadap HIV Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008-2011 Jumlah Sample Diperiksa 348. Dinas Kesehatan juga melakukan pengamatan terhadap hasil skrining/penapisan darah donor melalui UTDD PMI Jawa Tengah.731 324. Meskipun demikian kemungkinan kasus yang sebenarnya di populasi masih banyak yang belum terdeteksi.793 309. 8. Jumlah tersebut dari tahun ke tahun semakin meningkat.752 kasus.Seksual (IMS) yang diobati adalah kasus IMS yang ditemukan berdasarkan sindrom dan etiologi serta diobati sesuai standar. Tujuan skrining ini adalah untuk mengamankan darah donor supaya bebas dari beberapa penyakit seperti Hepatitis C. DBD termasuk juga bebas dari virus HIV.828 (93. kemudian yang dilakukan pemeriksaan sampel darah sebanyak 324. Tabel perkembangan jumlah sampel yang diperiksa dan hasil yang positif HIV dari tahun 2008 sampai dengan 2011 sebagai berikut : Tabel 3. Malaria.269 orang. Sifilis.16 0.828 Tahun 2008 2009 2010 2011 Jumlah Positif HIV 520 275 510 415 Positif HIV 1. Jumlah kasus baru IMS lainnya di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 ini sebanyak 10.795 312. Dari hasil pemeriksaan sampel darah tersebut.81%). sebanyak 415 sampel (0.13) yang positif HIV.49 0. Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Seksual mempunyai target bahwa seluruh kasus IMS yang ditemukan harus diobati sesuai standar. Donor Darah Diskrining terhadap HIV Selain melakukan kegiatan serosurvei HIV dan surveilans/ pengamatan kasus AIDS.

Prevalensi Kusta Kusta adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. atau buang air besar yang berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam. Kelainan pada kulit (bercak) putih atau kemerahan disertai mati rasa. menyebabkan kerusakan permanen pada kulit. b.8 2009 48.4%) dan Kota Tegal (144.8%). Cakupan penemuan dan penanganan diare di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 57. Kasus Diare Ditangani Diare adalah penyakit yang terjadi ketika terjadi perubahan konsistensi feses selain dari frekuensi buang air besar.9. saraf. 60 55 50 45 40 Cakupan 2008 47. atau bila buang air besar tiga kali atau lebih.48 2011 57.9 Gambar 3.2%). diketahui bahwa cakupan penemuan dan penanganan diare tertinggi di Kota Tegal (144. Ada 3 kota yang mempunyai cakupan di atas 100% yaitu Kota Salatiga (106%). Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan kusta menjadi progresif.13 Cakupan Penemuan dan Penanganan diare Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 10.9%. anggota gerak dan mata.2%) dan terendah di Kabupaten Purworejo (19. Pada tingkat kabupaten/kota. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 23 . Seseorang dikatakan menderita diare bila feses lebih berair dari biasanya.48%). Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf berupa mati rasa dan kelemahan/kelumpuhan otot.5 2010 44. Kota Pekalongan (121. mengalami peningkatan bila dibandingkan cakupan tahun 2010 (44. Diagnosis kusta dapat ditegakkan dengan adanya kondisi sebagai berikut: a.

Cakupan program kusta tipe PB tahun 2011 berdasarkan jumlah penderita baru tahun 2010 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2011 sebesar 85% lebih rendah dari target 90%. Proporsi cacat tingkat II pada tahun 2011 sebesar 13.21 87. dilaporkan terdapat kasus baru tipe Multi Basiler sebanyak 1. Kusta tipe MB diambil dari data penderita baru tahun 2009 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2011 sebesar 76% lebih rendah dari target 95%. Sedangkan proporsi anak di antara penderita baru pada tahun 2011 sebesar 10.14%. Adanya kuman tahan asam di dalam kerokan jaringan kulit (BTA Positif) Pada tahun 2011.5 2010 91.98 2009 85. Keberhasilan dalam mendeteksi kasus baru dapat diukur dari tinggi rendahnya proporsi cacat tingkat II.873 kasus dan tipe Pausi Basiler sebanyak 395 kasus dengan Newly Case Detection Rate (NCDR) sebesar 7 per 100.c.61 2011 85 76.27 87. 11.32%. sedangkan untuk mengetahui tingkat penularan di masyarakat digunakan indikator proporsi anak (0-14 tahun) di antara penderita baru. Cakupan selama 3 tahun terakhir kusta tipe PB cenderung naik dan mulai menurun pada tahun 2009 sedangkan tipe MB cenderung menurun mulai tahun 2007 (tabel 12).14 Persentase Penderita Kusta selesai diobati Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 24 .48 90.46 Gambar 3.Persentase Penderita Kusta Selesai Berobat Cakupan program kusta diukur berdasarkan angka penderita kusta tipe Pauci Baciller (PB) dan Multy Baciller (MB) selesai diobati.000 penduduk. 100 persentase (%) 80 60 40 20 0 2008 PB MB 92.

27/100.000 penduduk. Setiap penderita DBD yang dilaporkan dilakukan tindakan perawatan penderita. Selain itu juga didukung dengan tidak maksimalnya kegitan PSN di masyarakat sehingga menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit DBD di beberapa kabupaten/kota. Penyakit ini sebagian besar menyerang anak berumur <15 tahun. Angka ini jauh menurun bila dibandingkan tahun 2010 (59. Angka kesakitan/Incidence Rate (IR) DBD di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 15. penyelidikan epidemiologi di lapangan serta upaya pengendalian.000 penduduk. terendah di Kabupaten Wonogiri sebesar 4.Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh vektor nyamuk Aedes aegypty. Tingginya angka kesakitan DBD disebabkan karena adanya iklim tidak stabil dan curah hujan cukup banyak pada musim penghujan yang merupakan sarana perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegipty yang cukup potensial.17/100. namun dapat juga menyerang orang dewasa. Penderita MB tidak minum obat lebih dari 6 bulan dalam jangka waktu 18 bulan sudah disebut default.000 penduduk. terbukti 35 kabupaten/kota sudah pernah terjangkit penyakit DBD. Angka kesakitan tertinggi di Kota Semarang sebesar 317. Rendahnya cakupan penderita kusta RFT juga dikarenakan adanya ketentuan baru pengobatan untuk penderita default.000 penduduk. Penyakit DBD masih merupakan permasalahan serius di Provinsi Jawa Tengah. 12. Ketentuan lama penderita disebut default kalau 3 bulan berturut-turut tidak minum obat. Penderita PB tidak minum obat lebih dari 3 bulan dalam jangka waktu 9 bulan sudah dianggap default. tetapi belum dicatat sudah RFT. Ketentuan lama penderita MB berturut-turut 6 bulan tidak berobat baru dikatakan default.29/100.RFT). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 25 .8/100.Cakupan kusta tidak bisa tercapai dikarenakan masih banyak penderita yang tidak berobat teratur atau penderita yang seharusnya sudah selesai diobati (Release From Treatment .000 penduduk) dan sudah mencapai target nasional yaitu <20/100.

Kabupaten Semarang (13.42 2010 1. Kabupaten Kebumen (9.25 1 0. 13. Kabupaten Wonosobo (9.19 2009 1.29).27 20 Gambar 3.72).29%) dan sudah lebih rendah bila dibandingkan dengan target nasional (<1%).70 50 30 10 IR DBD Target 2008 59.5 1.71).75 CFR DBD 2008 1.15 Angka Kesakitan DBD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Angka kesakitan DBD di kabupaten/kota hampir semuanya lebih dari 20/100.000 penduduk. 1.03). Kabupaten Magelang (9.2 20 2009 57.93 Gambar 3. lebih rendah bila dibandingkan CFR tahun 2010 (1.4 20 2010 59.8 20 2011 15.16 Angka Kesakitan DBD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 26 .93%.29 2011 0.95).000 penduduk yaitu Kabupaten Wonogiri (4. Ada 6 kabupaten/kota dengan angka kesakitan kurang dari 2/100.Angka Kematian Demam Berdarah Dengue (DBD) Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) DBD tahun 2011 sebesar 0.95) dan Kabupaten Pemalang (16.

Purbalingga. Saat ini masih ditemukan desa High Case Incidence (HCI) sebanyak 31 desa yang tersebar di 5 Kabupaten yaitu Purworejo. Perkembangan insidens malaria sejak tahun 2008 dilihat pada gambar berikut. Sedangkan kabupaten/kota kabupaten/kota.Angka Kesakitan Malaria Penyakit malaria masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Provinsi Jawa Tengah. Angka kesakitan malaria (Annual Parasite Incidence-API) merupakan indikator untuk memantau perkembangan penyakit malaria. Mgl Boyolali Kota Mgl Kebumen Surakarta Kr.300 kasus) dan angka kesakitan malaria sebesar 0. sedikit meningkat dibandingkan tahun 2010 (0.5% dan terendah atau tidak ada kematian di 18 kabupaten/kota. Banyumas dan Jepara.467 kasus. Yogyakarta Wonogiri Gambar 3.17 Peta CFR DBD kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 14.anyar J A T I M Grobogan Kudus Rembang Blora J A B A R Brebes Tegal Batang Pekalongan Bata ng Pemalang Temanggung Purblg Cilacap Banyumas CFR DBD 0 <1 >1 Klaten Purworejo Magelan Sukoharjo g DI.10‰).11‰. Jumlah kasus tahun 2011 sebanyak 3. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 27 .Angka kematian tertinggi adalah di Kabupaten Pekalongan sebesar 6. dengan angka kematian lebih dari 1% sebanyak 12 Jepara Jepara Pati Kota Tegal Kota Pekalongan Kendal Demak Kota Semarang Kab Semarang Salatiga Wonosobo Bj negara Sragen Kab. meningkat dibandingkan tahun 2010 (3. Kebumen.

anyar J A T I M Grobogan Kudus Rembang Blora J A B A R Brebes Tegal Batang Pekalongan Bata ng Pemalang Temanggung Purblg Cilacap Banyumas Kebumen Kota Mgl Klaten Purworejo Magelan Sukoharjo g DI.0.15 0. Mgl Boyolali Surakarta Kr.03%.05 0 API 2008 0. Yogyakarta Wonogiri Gambar 3.1 0.1 2011 0.0%) dan terendah atau tidak ada kematian di 30 kabupaten/kota.18 Angka Kesakitan Malaria Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Penderita malaria tahun 2011 ditemukan di 25 kabupaten. Angka kematian tertinggi adalah di Kota Semarang (25.19 Peta CFR Malaria kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 28 . Jepara Jepara Pati Kota Tegal Kota Pekalongan Kendal Demak Kota Semarang Kab Semarang Salatiga Wonosobo Bj negara Sragen Kab.05 2009 0. terbanyak di Kabupaten Purworejo (1.001 penderita) dan paling sedikit di Kabupaten Karanganyar (1 penderita).Angka Kematian Malaria Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) Malaria tahun 2011 sebesar 0.11 Gambar 3. 15.05 2010 0.

Kabupaten Batang (1 kasus) dan Kabupaten Pemalang (1 kasus). Kabupaten Semarang (2 kasus).16. Kabupaten Banjarnegara (5 kasus). Saat ini telah dilaksanakan Program Surveilans Integrasi PD3I. Tetanus Neonatorum. Kabupaten Sukoharjo (1 kasus). Tetanus Neonatorum. Kabupaten Boyolali (2 kasus). Secara kumulatif. Difteri Jumlah kasus Difteri di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 8 kasus yang tersebar di 6 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Banyumas (1 kasus). Dalam upaya untuk membebaskan Indonesia dari penyakit tersebut. Kabupaten Grobogan (2 kasus). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 29 . Dalam waktu 5 tahun terakhir jumlah kasus PD3I yang dilaporkan adalah sebagi berikut: a. Kabupaten Demak (1 kasus). Tetanus Non Neonatorum. Reduksi Campak (Redcam) dan Eliminasi Tetanus Neonatorum (ETN). Tahun 2011 ada 141 kasus baru yang ditemukan di 9 kabupaten/kota yaitu Kota Pekalongan (125 kasus). dan Campak). yaitu pengamatan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (Difteri. kabupaten Temanggung (1 kasus) dan Kota Semarang (1 kasus).Jumlah Kasus dan Angka Kesakitan Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) Yang termasuk dalam PD3I yaitu Polio. Campak. Kabupaten Boyolali (1 kasus). 17. Kota Semarang (2 kasus). Jumlah kasus Difteri pada tahun 2011 sebanyak 8 kasus lebih sedikit bila dibandingkan dengan tahun 2010 (14 kasus). diperlukan komitmen global untuk menekan turunnya angka kesakitan dan kematian yang lebih banyak dikenal dengan Eradikasi Polio (ERAPO). Pertusis.Kasus Penyakit Filariasis Ditangani Jumlah kasus Filariasis di Provinsi Jawa Tengah dari tahun ke tahun semakin bertambah. Kabupaten Brebes (2 kasus). Difteri dan Hepatitis B. Penemuan kasus selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. Hal ini dimungkinkan karena pencapaian cakupan imunisasi yang meningkat (>85%). jumlah kasus Filariasis pada tahun 2011 sebanyak 537 penderita.

30 25 20 15 10 5 0 2008 Kasus Pertusis 3 2009 0 2010 24 2011 4 Gambar 3. Tetanus (Non Neonatorum) Jumlah kasus Tetanus (Non Neonatorum) di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 13 kasus yang tersebar di 4 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Blora (4 kasus).35 30 25 20 15 10 5 0 2008 Kasus Difteri 28 2009 30 2010 14 2011 8 Gambar 3. Penemuan kasus selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut.21 Penemuan kasus Pertusis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 c. Pertusis Jumlah kasus Pertusis di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 4 kasus yang Berasal dari kabupaten Kudus. Kabupaten Rembang (1 kasus). Kabupaten Kudus Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 30 .20 Penemuan kasus Difteri Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 b. Jumlah kasus Difteri pada tahun 2011 menurun bila dibandingkan dengan jumlah kasus Pertusis tahun 2010 (24 kasus).

Jumlah kasus Tetanus pada tahun 2011 meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (3 kasus).22 Penemuan kasus Tetanus Non Neonatorum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 d. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 31 . 15 10 5 0 2008 Kasus Tetanus Non Neonatorum 7 2009 6 2010 3 2011 13 Gambar 3.8% atau dari 13 kasus yang dilaporkan 7 diantaranya meninggal. Kabupaten Temanggung. CFR Tetanus tahun 2011 sebesar 75% atau dari 4 kasus yang dilaporkan 3 diantaranya meninggal Penemuan kasus dan kematian Tetanus Neonatorum selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. Tetanus Neonatorum Jumlah kasus Tetanus Neonatorum di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 4 kasus yang tersebar di 4 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Rembang. Kabupaten Batang dan Kabupaten Brebes.(3 kasus) dan Kabupaten Pemalang (5 kasus). Jumlah kasus Tetanus pada tahun 2011 meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (3 kasus). CFR Tetanus tahun 2011 sebesar 53. Penemuan kasus selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. Sedangkan 31 kabupaten/kota lainnya tidak ada kasus.

23 Penemuan kasus dan kematian Tetanus Neonatorum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 e.873 kasus. 4000 3000 2000 1000 0 2008 Campak 2498 2009 3614 2010 3664 2011 1873 Gambar 3.24 Kasus Campak yang dilaporkan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 32 . Kabupaten Purworejo. Ada 5 Kabupaten yang tidak terdapat kasus campak yaitu Kabupaten Purbalingga. Kasus terbanyak terdapat di Kota Semarang (285 kasus). Kabupaten Kudus. Kabupaten Kendal dan Kabupaten Tegal.664 kasus. Campak Jumlah kasus Campak di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 1.12 8 4 0 2008 Kasus Mati 10 6 2009 10 5 2010 6 4 2011 4 3 Gambar 3. Penemuan kasus campak selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. mengalami penurunan yang signifikan bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebesar 3.

Kabupaten Pekalongan (28 kasus). kanker serviks. Penemuan kasus Hepatitis B selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. penyakit paru obstruktif kronis. Kabupaten Purworejo (19 kasus). Hepatitis B Jumlah kasus Hepatitis B di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 170 kasus. kanker hati. kanker paru. Penyakit Tidak Menular Penyakit tidak menular (PTM) yang diintervensi meliputi jantung koroner.25 Kasus Hepatitis B Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 18. g. mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebanyak 1 kasus. Kota Tegal (16 kasus). Polio Jumlah kasus Polio di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 0 kasus. Kabupaten Banjarnegara (4 kasus). Kabupaten Cilacap (8 kasus). dekompensasio kordis. diabetes mellitus. Kasus Hepatitis B terdapat di 9 kabupaten/kota yaitu di Kabupaten Temanggung (40 kasus). mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebanyak 117 kasus. Kota Salatiga (4 kasus) dan Kabupaten Boyolali (3 kasus). kanker payudara. 200 150 100 50 0 2008 Hepatitis B 57 2009 74 2010 117 2011 170 Gambar 3. Kota Semarang (16 kasus). hipertensi. asma Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 33 . Kabupaten Pati (11 kasus).f. Kabupaten Pemalang (21 kasus). stroke.

bronkiale, dan kecelakaan lalu lintas. Penyakit tidak menular seperti penyakit kardiovaskular, stroke, diabetes mellitus, penyakit paru obstruktif kronis dan kanker tertentu, dalam kesehatan masyarakat sebenarnya dapat digolongkan sebagai satu kelompok PTM utama yang mempunyai faktor risiko sama (common

underlying risk factor). Faktor risiko tersebut antara lain faktor genetik
merupakan faktor yang tidak dapat diubah (unchanged risk factor), dan sebagian besar berkaitan dengan faktor risiko yang dapat diubah (change risk factor) antara lain konsumsi rokok, pola makan yang tidak seimbang, makanan yang mengandung zat aditif, kurang berolah raga dan adanya kondisi lingkungan yang tidak kondusif terhadap kesehatan. Penyakit tidak menular mempunyai dampak negatif sangat besar karena merupakan penyakit kronis. Apabila seseorang menderita penyakit tidak menular, berbagai tingkatan produktivitas menjadi terganggu. Penderita ini menjadi serba terbatas aktivitasnya, karena menyesuaikan diri dengan jenis dan gradasi dari penyakit tidak menular yang dideritanya. Hal ini berlangsung dalam waktu yang relatif lama dan tidak diketahui kapan sembuhnya karena memang secara medis penyakit tidak menular tidak bisa disembuhkan tetapi hanya bisa dikendalikan. Yang harus mendapatkan perhatian lebih adalah bahwa penyakit tidak menular merupakan penyebab kematian tertinggi dibanding dengan penyakit menular. Kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah yang melaporkan data PTM tahun 2011 hanya 27 kabupaten/kota (77,1%). Hampir semua kelompok Penyakit Tidak Menular pada tahun 2011 mengalami peningkatan jumlah kasus, kecuali penyakit Asma bronkial dan Psikosis yang jumlah kasusnya lebih rendah dibanding tahun 2010. Kasus tertinggi Penyakit Tidak Menular pada tahun 2011 adalah kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah. Dari total 1.409.857 kasus yang dilaporkan sebesar 62,43% (880.193 kasus) adalah penyakit jantung dan pembuluh darah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

34

Asma Bronkial 13% PPOK 2%

Psikosis Neoplasma 1% 5%

DM 17%

Jantung & PD 62%

Gambar 3.26 Persentase Kasus Penyakit Tidak Menular Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011

a. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Penyakit jantung dan pembuluh darah adalah penyakit yang mengganggu jantung dan sistem pembuluh darah seperti penyakit jantung koroner (angina pektoris, akut miokard infark), dekompensasio kordis, hipertensi, stroke, penyakit jantung rematik, dan lain-lain. Kasus tertinggi penyakit tidak menular tahun 2011 pada kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah adalah penyakit Hipertensi Esensial, yaitu sebanyak 634.860 kasus (72,13 %).

1) Hipertensi Hipertensi atau sering disebut dengan darah tinggi adalah suatu keadaan di mana terjadi peningkatan tekanan darah yang memberi

gejala berlanjut pada suatu target organ tubuh sehingga timbul kerusakan lebih berat seperti stroke (terjadi pada otak dan berdampak pada kematian yang tinggi), penyakit jantung koroner (terjadi pada kerusakan pembuluh darah jantung) serta penyempitan ventrikel kiri / bilik kiri (terjadi pada otot jantung). Hipertensi merupakan penyakit yang sering dijumpai diantara penyakit tidak menular lainnya. Hipertensi dibedakan menjadi hipertensi primer yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya dan hipertensi

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

35

sekunder yaitu hipertensi yang muncul akibat adanya penyakit lain seperti hipertensi ginjal, hipertensi kehamilan, dll. Prevalensi kasus hipertensi essensial di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 1,96% menurun bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 2,00%. Terdapat tiga kota dengan prevalensi sangat tinggi di atas 10% yaitu Kota Magelang (22,41%), Kota Salatiga (10,18%) dan Kota Tegal (10,36%).
3

2.5

2

1.5

1 Prevalensi

2008 2.65

2009 2.13

2010 2

2011 1.96

Gambar 3.27 Prevalensi Kasus Hipertensi Essensial Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011

Penyakit Hipertensi Essensial pada tahun 2009 dan 2010 menunjukkan adanya penurunan kasus yang cukup tinggi, namun pada tahun 2011 terlihat mulai ada kenaikan jumlah kasus. Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut ini.
900000 800000 700000 600000 500000 Hipertensi Essensial

2008 865204

2009 698816

2010 562117

2011 634860

Gambar 3.28 Tren Peningkatan Kasus Hipertensi Essensial Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

36

34%.03 0. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Magelang sebesar 3.29 Prevalensi Stroke Hemoragik dan Non Hemoragik Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 3) Dekompensasio Kordis Dekompensasio kordis merupakan kegagalan jantung dalam memompa darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh atau istilah lain adalah payah jantung.12 0.09 Gambar 3.08 0.2) Stroke Stroke adalah suatu penyakit menurunnya fungsi syaraf secara akut yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak.03% sama dengan angka tahun 2010. Prevalensi tertinggi tahun 2011 adalah di Kota Magelang sebesar 1.06 0. Sedangkan prevalensi stroke non hemorargik pada tahun 2011 sebesar 0.13 2009 0. Gambaran klinis dekompensasio kordis kiri adalah sesak nafas: dyspnoe d’effort dan ortopne. Stroke disebabkan oleh kurangnya aliran darah yang mengalir ke otak. 0. sama dengan prevalensi tahun 2010.03 0.09 2011 0.04 0.09%.05 0. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 37 .45%.04 0. Prevalensi stroke hemoragik di Jawa Tengah tahun 2011 adalah 0. atau terkadang menyebabkan pendarahan di otak. Stroke dibedakan menjadi stroke hemoragik yaitu adanya perdarahan otak karena pembuluh darah yang pecah dan stroke non hemoragik yaitu lebih karena adanya sumbatan pada pembuluh darah otak. pernafasan cheynes stokes.09 2010 0.14 0.02 0 Hemoragik Non Hemoragik 2008 0.1 0. terjadi secara mendadak dan cepat yang menimbulkan gejala dan tanda sesuai dengan daerah otak yang terganggu.

05 0 Prevalensi 2008 0. ronchi basah halus tidak nyaring. mual.14 2010 0. baik absolut maupun relatif.2 0. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Magelang sebesar 1. tumpul dan tidak nyeri. suara serak. sianosis.12 Gambar 3. Absolut artinya pankreas sama sekali tidak bisa menghasilkan insulin sehingga harus mendapatkan insulin dari luar (melalui suntikan) dan relatif artinya pankreas masih bisa menghasilkan insulin yang kadarnya berbeda pada setiap orang. lama kelamaan menjadi keras.1 0. (Perkeni 2002) Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 38 . asites dan hidrotoraks. 0. muntah. Dapat juga terjadi edema pretibial. Selain itu terjadi pembesaran hati yang mulamula lunak. Diabetes Melitus Diabetes Melitus (DM) atau kencing manis adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang karena adanya peningkatan kadar gula dalam darah akibat kekurangan insulin. tekanan jugularis meningkat. Prevalensi kasus dekompensasio kordis tahun 2011 sebesar 0.15 0. edema presakral.11 2011 0.30 Prevalensi Dekompensasio Kordis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 b. Sedangkan kanan adalah gangguan gantrointestinal seperti anoreksia. nyeri tekan. tekanan vena jugularis gambaran klinis dekompensasio kordis masih normal.88%. tepi tajam.18 2009 0.11%. meteorismus dan rasa kembung di epigastrum.12% mengalami peningkatan bila dibandingkan prevalensi tahun 2010 sebesar 0.batuk-batuk mungkin hemoptu.

pruritis vulva hingga keputihan pada wanita. Di Indonesia. Polydipsi (sering haus). obesitas. mata kabur. yang terbanyak adalah DM tidak tergantung insulin. DM Tidak Tergantung Insulin (DMTTI). stroke. kurang olah raga. gangguan toleransi glukosa. dan DM karena kehamilan (GDM). dan lain-lain.99%. umur Lebih dari 40th. lemak dalam darah tinggi. DM jenis ini baru muncul pada usia di atas 40 tahun. jantung koroner. DM dapat menjadi penyebab aneka penyakit seperti hipertensi. mengalami penurunan dari 0. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Magelang sebesar 7. Penderita mampu hidup sehat bersama DM. gatal/bisul. DM berkaitan dengan malnutrisi (MRDM). katarak. yaitu DM Tergantung Insulin (DMTI).70% menjadi 0. hipertensi. asalkan mau patuh dan kontrol teratur. bayi lahir mati. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 39 . DM merupakan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikendalikan. keracunan kehamilan. Sedangkan gejala lain seperti Lelah/lemah.08%. kehamilan dengan berat bayi lahir > 4 kg. impotensi pada pria. gagal ginjal. dll. luka yang lama sembuh mengakibatkan infeksi hingga akhirnya harus diamputasi terutama pada kaki. keputihan. riwayat Keluarga/ada keturunan. berat badan turun drastis. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Semarang sebesar 0. Sedangkan prevalensi kasus DM tidak tergantung insulin lebih dikenal dengan DM tipe II. mengalami peningkatan bila dibandingkan prevalensi tahun 2010 sebesar 0. abortus. gangguan fungsi hati. glaukoma. kesemutan/gringgingan. gatal daerah genital. kerusakan retina mata yang dapat membuat buta.WHO (1985) mengklasifikasikan penderita DM dalam lima golongan klinis. DM karena Toleransi Glukosa Terganggu (TGT). Gejala khas berupa Polyuri (sering kencing). berat badan menurun drastis. luka tdk sembuh-sembuh. kehamilan dengan hiperglikemi. Kelompok Faktor Risiko Tinggi antara lain pola makan yang tidak seimbang.09%. impotensi.97%. Prevalensi diabetes melitus tergantung insulin di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 0. mata kabur. artinya sekali didiagnosa DM seumur hidup bergaul dengannya. Polyfagi (sering lapar).63% pada tahun 2011.

013 0.4 1.16 1.637 kasus meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebanyak 13.86%).277 kasus.7 2011 0. Neoplasma Neoplasma atau kanker adalah tumor ganas yang ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangan abnormal dari sel-sel tubuh. mendesak dan merusak jaringan normal. hepar 2.08 0.09 0. mamae 9.4 0.899 kasus (35.021 0. servik 6.2 0 DMTI DMTTI 2008 0.6 0.32 Prevalensi Penyakit Kanker di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 40 .03 0.028 0.01 0. dan Ca.542 kasus (48.006 0.007 0.59%).13%).31 Prevalensi Penyakit Diabetes Mellitus Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 c. kanker kulit.04 0.05 0.02 0.022 0.003 2011 0.19 0.25 2009 0. dan kanker rektum.2 1 0. Kasus penyakit kanker yang ditemukan di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 19.004 0. yang tumbuh tanpa kontrol dan tujuan yang jelas. Di Indonesia terdapat lima jenis kanker yang banyak diderita penduduk yakni kanker rahim. Ca. paru 954 kasus (4.005 2009 0.62 2010 0.05 0. 0. kanker payudara.003 Gambar 3. terdiri dari Ca.1.63 Gambar 3.029 0.42%). Ca.8 0. kanker kelenjar getah bening.002 2010 0.01 0 Ca Servik Ca Mamae Ca Hepar Ca Paru 2008 0.03 0.242 (11.037 0.

kanker hati sebesar 0.029% dan tertinggi di Kota Magelang sebesar 0.007% dan tertinggi di Kota tegal sebesar 0. ras. Prevalensi kasus PPOK di Provinsi Jawa Tengah mengalami peningkatan yaitu dari 0. polusi udara di dalam atau di luar ruangan. usia.09 Gambar 3. d. 0.Prevalensi kanker di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 adalah sebagai berikut : kanker serviks sebesar 0. Penyakit Paru Obstruktif Kronis Penyakit Paru Obtruktif Kronis (PPOK) adalah penyakit yang ditandai adanya hambatan aliran pernafasan bersifat reversible sebagian dan progresif yang berhubungan dengan respon inflamsi abnormal dari paru terhadap paparan partikel atau gas berbahaya.07%. genetik.15 0.08% pada tahun 2010 menjadi 0. Faktor risiko pencetus terjadinya PPOK adalah perokok aktif/pasif.09% pada tahun 2011 dan tertinggi di Kota Salatiga sebesar 4.08 2011 0.33%.2 2009 0.003% dan tertinggi di Kota Magelang sebesar 0.2 0.05 0 Prevalensi 2008 0.89%.12 2010 0.33 Prevalensi PPOK Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 41 . debu dan bahan kimia.1 0.04%.021% dan tertinggi di Kota Semarang sebesar 0. alergi dan autoimunitas. infeksi saluran nafas terutama waktu anak-anak. (Global Obstructive Lung Disease 2003). defisiensi alpha-1 antitripsin.39%. jenis kelamin. kanker paru 0. kanker payudara sebesar 0.

2 0. Persentase Berat Bayi Lahir Rendah.6 0. akibat inflamasi eosinofilik dengan kepekaan yang berlebihan. ikan-ikanan. 1.55% mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 0. obat-obatan dll.29%. Ingestan yang masuk badan melalui mulut biasanya berupa makanan seperti susu. telur. dan rangsangan yang bersifat antigen/allergen antara lain: Inhalan yang masuk ketubuh melalui alat pernafasan misalnya debu rumah.66 2010 0.3 0 Prevalensi 2008 1.e.55 Gambar 3.64 2011 0. jam tangan dll. berbagai logam dalam bentuk perhiasan. STATUS GIZI 1.64% dan prevalensi tertinggi di Kota Tegal sebesar 2. Serangan asma bronkhiale sering dicetuskan oleh ISPA. merokok. Penyebab terjadinya BBLR antara lain karena ibu Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 42 . Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram. dan edema mukosa serta deskuamasi epitel bronkus/bronkeolus.9 0. spasme. aktivitas fisik.07 2009 0. spora jamur dll.34 Prevalensi Asma Bronkial Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 C. serpih kulit dari binatang piaraan. Asma Bronkial Asma Bronkial terjadi akibat penyempitan jalan napas yang reversibel dalam waktu singkat oleh karena mukus kental. Kontaktan yang masuk badan melalui kontak kulit seperti obat-obatan dalam bentuk salep. Prevalensi kasus asma di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 0. tekanan emosi.

hamil mengalami anemia, kurang suply gizi waktu dalam kandungan, ataupun lahir kurang bulan. Bayi yang lahir dengan berat badan rendah perlu

penanganan yang serius, karena pada kondisi tersebut bayi mudah sekali mengalami hipotermi dan belum sempurnanya pembentukan organ-organ tubuhnya yang biasanya akan menjadi penyebab utama kematian bayi. Jumlah bayi berat lahir rendah (BBLR) di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 21,184 meningkat banyak apabila dibandingkan tahun 2010 yang sebanyak 15.631. Adapun persentase BBLR tahun 2011 sebesar 3,73%, meningkat bila dibandingkan tahun 2010 sebesar 2,69%.
4 3 2 1 0 Prevalensi

2008 2,08

2009 2,81

2010 2,69

2011 3,73

Gambar 3.35 Persentase BBLR Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011

Persentase BBLR yang ditangani di Jawa Tengah tahun 2010 seluruh Kabupaten/Kota sudah memenuhi target dalam Renstra Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah sebesar 70%. 2. Persentase Balita Dengan Gizi Kurang Salah satu indikator kesehatan yang dinilai keberhasilan pencapaiannya dalam MDGs adalah status gizi balita. Status gizi balita diukur berdasarkan umur (U), berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). Variabel BB dab TB ini disajikan dalam bentuk tiga indikator antropometri, yaitu berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi ini menjadi penting karena merupakan salah satu faktor risiko untuk terjadinya kesakitan dan kematian. Status gizi yang baik
Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

43

bagi seseorang akan berkontribusi terhadap kesehatannya dan juga terhadap kemampuan dalam proses pemulihan. Status gizi masyarakat dapat diketahui melalui penilaian konsumsi pangannya berdasarkan data kuantitatif maupun kualitatif. Dalam menetukan klasifikasi status gizi harus ada ukuran baku yang sering disebut

reference .

Baku antropometri yang sering digunakan di Indonesia

adalah World Health Organization–National Centre for Health Statistic (WHONCHS). Berdasarkan baku WHO-NCHS status gizi dibagi menjadi empat : Pertama, gizi lebih untuk over weight, termasuk kegemukan dan obesitas. Kedua, Gizi baik untuk well nourished. Ketiga, Gizi kurang untuk under weight yang mencakup mild dan moderat, PCM (Protein Calori Malnutrition). Keempat, Gizi buruk untuk severe PCM, termasuk marasmus, marasmik-kwasiorkor dan kwasiorkor. Persentase balita dengan gizi kurang (BB/U) Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 5,35%. Persentase balita dengan gizi kurang tertinggi di Kota Tegal (50,98%) dan terendah di Kabupaten Kebumen (0,38%). 3. Persentase Balita dengan Gizi Buruk. Kejadian gizi buruk perlu dideteksi secara dini melalui intensifikasi pemantauan tumbuh kembang Balita di Posyandu, dilanjutkan dengan penentuan status gizi oleh bidan di desa atau petugas kesehatan lainnya. Penemuan kasus gizi buruk harus segera ditindak lanjuti dengan rencana tindak yang jelas, sehingga penanggulangan gizi buruk memberikan hasil yang optimal. Pendataan gizi buruk di Jawa Tengah didasarkan pada 2 kategori yaitu dengan indikator membandingkan berat badan dengan umur (BB/U) dan kategori kedua adalah membandingkan berat badan dengan tinggi badan (BB/TB). Skrining pertama dilakukan di posyandu dengan membandingkan berat badan dengan umur melalui kegiatan penimbangan, jika ditemukan balita yang berada di bawah garis merah (BGM) atau dua kali tidak naik (2T), maka dilakukan konfirmasi status gizi dengan menggunakan indikator berat badan menurut

tinggi badan. Jika ternyata balita tersebut merupakan kasus buruk, maka segera dilakukan perawatan gizi buruk sesuai pedoman di Posyandu dan Puskesmas.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

44

Jika ternyata terdapat penyakit penyerta yang berat dan tidak dapat ditangani di Puskesmas maka segera dirujuk ke rumah sakit. Balita Gizi Buruk tahun 2011 berjumlah 3.187 (0,10%) menurun apabila dibandingkan tahun 2010 sejumlah 3.514 (0,18%). Demikian pula persentase Balita Gizi Buruk mendapatkan perawatan tahun 2011 sebesar 100% jauh lebih meningkat dibandingkan tahun 2010 sebesar 93,28%.

Jepara Jepara Pati Kota Tegal Kota Pekalongan Kendal Demak Kota Semarang Kab Semarang Salatiga Wonosobo Bj negara Sragen Kab. Mgl Boyolali Surakarta Kr.anyar J A T I M Grobogan Kudus Rembang Blora

J A B A R

Brebes

Tegal

Batang Pekalongan Bata ng Pemalang

Temanggung Purblg Cilacap Banyumas Kebumen

Kota Mgl

Klaten Purworejo Magelan Sukoharjo g DI. Yogyakarta Wonogiri

Keterangan : Kasus Gizi Buruk (>150 kasus)

Gambar 3.36 Peta Kasus Balita Gizi Buruk (BB/TB) kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

45

Kabupaten Demak. (2) Ukur tekanan darah. (5) Pemberian tablet besi 90 selama kehamilan.98%.71% meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (92. HIV. satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga umur kehamilan. Cakupan tertinggi (101. Pelayanan Kesehatan Ibu a. (7) Test laboratorium sederhana (Hb. Kota Surakarta dan Kota Semarang. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K-4 Kunjungan ibu hamil sesuai standar adalah pelayanan yang mencakup minimal: (1) Timbang badan dan ukur tinggi badan. Ada 11 kabupaten/kota yang cakupannya sudah mencapai 100% yaitu Kabupaten Banyumas. Kabupaten Jepara. b. (3) Skrining status imunisasi tetanus dan pemberian Tetanus Toxoid. Cakupan kunjungan ibu hamil K-1 tahun 2011 sebesar 98. TBC) Cakupan pelayanan lengkap ibu hamil (K4) di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 93. Pelayanan Kesehatan 1.04%) tetapi masih dibawah target SPM 2015 (95%). Kabupaten Brebes. Cakupan terendah Kabupaten Rembang 92. Malaria. Kota Magelang. (4) Tinggi fundus uteri. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K-1 Pelayanan kesehatan ibu meliputi pelayanan kesehatan antenatal. Kabupaten Sukoharjo. Cakupan pelayanan antenatal dapat dipantau melalui pelayanan kunjungan baru ibu hamil (K1) untuk melihat akses dan pelayanan kesehatan ibu hamil sesuai standar paling sedikit empat kali (K4) dengan distribusi pemberian pelayanan yang dianjurkan adalah minimal satu kali pada triwulan pertama. (6) Temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling).81 %) di Kabupaten Pekalongan dan terendah (83.36%) di Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 46 . Sifilis. Kabupaten Blora.BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN A. pertolongan persalinan dan pelayanan kesehatan nifas. protein urin) dan atau berdasarkan indikasi (HbsAG. Kabupaten Kendal. Kabupaten Pemalang.72%.

2 Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 47 .71 95 Gambar 4.62%). K4 Target 2007 86.86% yang telah melampaui target cakupan K4. Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan adalah ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan.62 90 2011 96.98 90 2009 93.79% mengalami Provinsi Jawa bila peningkatan dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (93. Data cakupan mulai tahun 2007 sampai dengan 2011 secara keseluruhan di Provinsi Jawa Tengah adalah sebagai berikut : 100 95 90 85 80 Cak.03 90 2010 93.1 Cakupan Pelayanan Antenatal K4 Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007-2011 c.04 95 2011 93.39 95 2010 92.79 90 Gambar 4. Dari 35 kabupaten/kota tersebut baru 42.92 95 2008 90.14 95 2009 93.Kabupaten Klaten. Kabupaten/Kota yang sudah melampaui target SPM 2015 sebanyak 35 ( 100%). 100 95 90 85 80 Cak. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Tengah tahun 2011 sebesar 96.6 90 2008 90. Linakes Target 2007 86.

Kabupaten Klaten.43%). payudara bengkak kemerahan disertai rasa sakit dan lain-lain. d. (b) Hiperemesis (d) Hipertensi dalam kehamilan (f) ketuban pecah Gravidarum. sehingga perlu mendapatkan pelayanan kesehatan masa nifas dengan dikunjungi oleh tenaga kesehatan minimal 3 (tiga) kali sejak persalinan. ibu bersalin dan ibu nifas yang dapat mengancam jiwa ibu dan/atau bayi. 48 . Kunjungan terhadap ibu nifas yang dilakukan petugas kesehatan biasanya bersamaan dengan kunjungan neonatus. Cakupan pelayanan pada ibu nifas tahun 2011 yaitu 93.Cakupan tertinggi adalah di Kabupaten Pekalongan dan Kota surakarta (100%) dan terendah adalah Kabupaten Banyumas (86. Cakupan Pelayanan Nifas Paska persalinan (masa nifas) berpeluang untuk terjadinya kematian ibu maternal. eklampsia). e. (e) Kehamilan lewat waktu. Cakupan yang telah mencapai 100% meliputi Kabupaten Banyumas. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 (preeklampsia. (c) Perdarahan per vaginam.97% naik bila dibandingkan tahun 2010 (93. adanya perencanaan persalinan yang baik dari ibu.68%). Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani Komplikasi kebidanan merupakan kesakitan pada ibu hamil. Komplikasi dalam kehamilan diantaranya (a) Abortus.24%) dan sudah melampaui target SPM tahun 2015 (90%). dini. Pelayanan Ibu Nifas meliputi pemberian Vitamin A dosis tinggi ibu nifas yang kedua dan pemeriksaan kesehatan paska persalinan untuk mengetahui apakan terjadi perdarahan paska persalinan. demam lebih dari 2 (dua) hari. Dari 35 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah masih belum mencapai target SPM ada 4 Kabupaten/Kota (11. keluar cairan berbau dari jalan lahir. Kabupaten yang terendah capaiannya adalah Kota Semarang (64. Kabupaten Pekalongan dan Kota Magelang.05%) Dengan semakin naiknya angka cakupan pertolongan persalinan menunjukkan adanya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan. suami maupun dukungan keluarga.

28%. dan cakupan kunjungan neonatus 3 (KN-lengkap) sebesar 95.84%).440 (20% dari jumlah ibu hamil). 2. KN dibagi menjadi 3. RSU PONEK). Puskesmas PONED. cakupan KN-3 rata-rata sudah lebih dari 90%. yaitu: KN 1 adalah kunjungan pada 0-2 hari . (e) Infeksi berat/sepsis. Pada Permenkes 741/ Th. (f) Kontraksi dini/persalinan premature. untuk memantau dan memberi pelayanan kesehatan untuk ibu dan bayinya. ibu bersalin dan ibu nifas dengan komplikasi yang ditangani adalah ibu hamil.56%) dan Kota Semarang (89. Jumlah komplikasi kebidanan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 126.19%. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani tahun 2011 sebesar 75.Komplikasi dalam persalinan diantaranya (a) Kelainan letak/presentasi janin. tetapi diharapkan target tersebut bisa tercapai sebelum tahun 2015. eklampsia). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 49 . RSU. (b) Infeksi nifas. eklampsia) (d) Perdarahan pasca persalinan. Rumah Bersalin. Perlu diketahui bahwa tahun-tahun sebelumnya yang dihitung hanya cakupan komplikasi pada ibu hamil yang ditangani. bersalin dan nifas dengan komplikasi yang mendapatkan pelayanan sesuai standar pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan (Polindes. (c) Perdarahan nifas. 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan (SPM-BK). Cakupan Kunjungan Neonatus Kunjungan Neonatus (KN) adalah kunjungan yang dilakukan oleh petugas kesehatan ke rumah ibu bersalin. namun masih ada Kabupaten/Kota yang cakupannya kurang dari 90 % yaitu Kabupaten Wonogiri (87.01%. Pelayanan Kesehatan Anak a. (g) Kehamilan ganda. Dari 35 kabupaten/kota. Pencapaian cakupan tahun ini masih dibawah target SPM tahun 2015 (80%). Ibu hamil.KN 2 adalah kunjungan 2-7 hari dan KN 3 adalah kunjungan setelah 7-28 hari. (b) Partus macet/distosia. (c) Hipertensi dalam kehamilan (preeklampsia. Cakupan kunjungan neonatus 1 (KN-1) di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 98. Puskesmas. Komplikasi dalam nifas diantaranya (a) Hipertensi dalam kehamilan (preeklampsia. RSIA/RSB.

66 2009 99. b. Setiap bayi berhak mendapatkan pelayanan kesehatan dengan memantau pertumbuhan dan perkembangannya Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 50 .86 2011 95.3 Cakupan Kunjungan Neonatus Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Secara keseluruhan cakupan kunjungan neonatus di tingkat Provinsi Jawa Tengah sudah memenuhi target yaitu lebih dari 90%.Untuk meningkatkan Kunjungan Neonatus di Kabupaten/Kota. Setelah umur 28 hari. Cakupan Kunjungan Bayi Kunjungan bayi adalah bayi yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan. paling sedikit 4 kali. Adapun cakupan kunjungan neonatus di Jawa Tengah pada tahun 2007-2011 dapat digambarkan sebagai berikut: 100 98 96 94 92 90 KN 2007 94. di luar kunjungan neonatus. Selain itu juga adanya upaya peningkatan pelayanan kesehatan dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah dengan menggunakan buku KIA serta meningkatnya pengetahuan ibu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik untuk bayinya. pemerintah telah mengupayakan alokasi dana diantaranya melalui dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) disamping pendanaan lainnya baik dari Provinsi maupun Kabupaten/Kota. Selain itu perlu dilakukan analisis apakah jumlah tenaga kesehatan yang ada telah mencukupi kebutuhan pelayanan kesehatan tersebut serta tenaga kesehatan yang bertugas apakah telah melakukan pelayanan kesehatan secara optimal. Hal ini disebabkan adanya upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat melalui penambahan dan penempatan bidan di desa.19 Gambar 4.37 2010 94.33 2008 94.

2011 dapat digambarkan sebagai berikut: 97 96 95 94 93 92 91 90 Kunjungan Bayi 2007 92. infeksi/sepsis.4 Cakupan Kunjungan Bayi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 c. Neonatus dengan komplikasi seperti asfiksia. sindroma gangguan pernafasan dan kelainan congenital maupun yang termasuk klasifikasi kuning pada Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).22% dan Kabupaten Pekalongan 70.19%. Cakupan Neonatus dengan Komplikasi yang Ditangani Neonatus dengan komplikasi merupakan neonatus dengan penyakit dan kelainan yang dapat menyebabkan kesakitan.04 2009 95.64%.73%). hipotermia. Cakupan kunjungan bayi Kabupaten/Kota di Jawa Tengah pada tahun 2011 yang masih dibawah 80% yaitu Kabupaten Boyolali 44. kecacatan dan kematian. Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara profesional kepada neonatus dengan komplikasi. dokter dan bidan di sarana pelayanan kesehatan. tetanus neonatorum. trauma lahir.07 2010 93. Cakupan kunjungan bayi tingkat Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 92.secara teratur setiap bulan di sarana pelayanan kesehatan. ikterus.77%.76 2008 96. BBLR (berat badan lahir rendah < 2500 gr).64 Gambar 4.73 2011 92. menurun apabila dibandingkan tahun 2010 (93. Perhitungan sasaran neonatus dengan komplikasi dihitung berdasarkan 15% dari jumlah bayi baru lahir. Wonogiri 73. Neonatus dengan komplikasi yang ditangani merupakan neonatus komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih. Adapun grafik cakupan bayi 2007 . Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 51 .

187. karena balita adalah generasi penerus bangsa yang harus sehat. Cakupan Pelayanan Anak Balita Balita adalah anak berumur dibawah 5 tahun atau umur 12-59 bulan. Jumlah balita di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 2. Tidak hanya bayi yang harus mendapatkan perhatian kesehatannya tetapi balita juga perlu mendapatkan perhatian baik gizi maupun kesehatannya.204. sehingga belum semua neonatus dengan risiko tinggi/komplikasi dicatat dan dilaporkan. cerdas dan kuat. ketajaman pendengaran.02).336 bayi.864 (81.03%.569 bayi (53. Masih rendahnya neonatus risiko tinggi yang mendapatkan pelayanan kesehatan diantaranya disebabkan belum adanya keseragaman definisi operasional mengenai neonatal yang termasuk dalam risiko tinggi. Sedangkan cakupan terendah adalah Kabupaten Boyolali 34. namun belum semua kabupaten/kota mempunyai persepsi / pemahaman yang sama.25%). Cakupan Neonatus Risiko Tinggi/komplikasi yang ditangani tersebut masih jauh dari target cakupan sebesar 80%. e. kelainan mental emosional dan kebugaran jasmani.Tahun 2011 perkiraan bayi dengan komplikasi yang dihitung dari banyaknya sasaran bayi jumlahnya sebesar 89. berat badan. d. Kabupaten yang cakupannya sudah mencapai 100% adalah Kabupaten Magelang dan Kabupaten Brebes. Jumlah perkiraan tersebut yang mendapat penanganan tenaga kesehatan di tiap jenjang pelayanan kesehatan sebesar 47. kesehatan gigi. pemeriksaan ketajaman mata.785. Pelaksanaan penjaringan kesehatan dikoordinir oleh puskesmas bersama dengan guru Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 52 . yang mendapatkan pelayanan kesehatan sebanyak 1. Disamping target neonatus komplikasi yang ditangani untuk neonatal resiko tinggi seharusnya 15 % dari jumlah sasaran bayi pertahun. Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat Penjaringan kesehatan siswa Sekolah Dasar (SD) dan setingkat adalah pemeriksaan kesehatan terhadap murid baru kelas 1 SD dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang meliputi pengukuran tinggi badan.

Kabupaten Pati. 100 80 60 40 20 0 Cakupan 2007 51.72%.074. Siswa SD dan setingkat ditargetkan 100 % mendapatkan pemantauan kesehatan melalui penjaringan kesehatan.8 2010 52. Angka cakupan terendah di Kabupaten Rembang (1.70%) dan tertinggi (100%) dicapai oleh 4 kabupaten yaitu Kabupaten Sukoharjo.59 2008 43. Angka cakupan terendah di Kabupaten Boyolali (15. Kabupaten Temanggung. Kabupaten Purbalingga dan Kota Surakarta. Cakupan Pelayanan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat Jumlah siswa SD dan setingkat tahun 2011 sebanyak 2.02 Gambar 4.555.55%) dan tertinggi (100%) dicapai oleh 7 kabupaten yaitu Kabupaten Sukoharjo. meningkat dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (52.5 Cakupan Pemeriksaan Kesehatan Siswa SD/MI Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga kesehatan / guru UKS / kader kesehatan sekolah tahun 2011 sebesar 78. Kabupaten Kebumen.84%).61%). sehingga anak yang sakit menjadi sembuh dan anak yang sehat tidak tertular menjadi sakit.831 (42. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 53 .853 anak.sekolah dan kader kesehatan/konselor kesehatan.61 2011 81. Kabupaten Jepara dan Kabupaten Demak. Kabupaten Sragen. f. Setiap puskesmas mempunyai tugas melakukan penjaringan kesehatan siswa SD/MI di wilayah kerjanya dan dilakukan satu kali pada setiap awal tahun ajaran baru sekolah. Melalui penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat diharapkan dapat menapis atau menjaring anak yang sakit dan melakukan tindakan intervensi secara dini. Kabupaten Demak. Yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai strata UKS sebesar 1.77 2009 43.

11 2010 96. Cakupan Pemberian Vitamin A pada Bayi Kurang Vitamin A (KVA) masih merupakan masalah yang tersebar diseluruh dunia terutama di negara berkembang dan dapat terjadi pada semua umur terutama pada masa pertumbuhan. Sebagian besar kabupaten/kota telah melampaui target. Pelayanan Gizi a. cakupan pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi pada bayi sebesar 99. A pada Bayi dan Balita Tahun 2007 – 2011 b.84%. hanya ada 1 kabupaten yang masih di bawah target yaitu Kabupaten Pemalang (82.08 Gambar 4.3.74 2008 98. Salah satu dampak kurang Vitamin A adalah kelainan pada mata yang umumnya terjadi pada anak usia 6 bulan – 4 tahun yang menjadi penyebab utama kebutaan di negara berkembang. lebih banyak dibandingkan tahun 2010 sebesar 96. Berdasarkan data yang yang diperoleh dari profil kesehatan kabupaten/kota.6 Cakupan Suplementasi Kapsul Vit. Cakupan tersebut sudah melampaui target SPM sebesar 95%.52 2009 98. Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada bayi selama 5 tahun terakhir (2007-2011) dapat dilihat dalam gambar berikut ini : 100 99 98 97 96 95 94 93 92 Cakupan 2007 94. Cakupan Pemberian Vitamin A pada Anak Balita Salah satu program penanggulangan KVA yang telah dijalankan adalah dengan suplementasi kapsul Vitamin A dosis tinggi 2 kali pertahun Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 54 .84 2011 99. KVA dalam tubuh dapat menimbulkan berbagai jenis penyakit yang merupakan “Nutrition Related Diseases” yang dapat mengenai berbagai macam anatomi dan fungsi dari organ tubuh seperti menurunkan sistem kekebalan tubuh dan menurunkan epitelisme sel-sel kulit.08%.46%).

Kapsul Vitamin A dosis tinggi terdiri dari kapsul vitamin A berwarna merah dengan dosis 200. buta senja dan bahkan kebutaan sampai kematian).76 2011 98.6 2008 95. Cakupan tertinggi (>100%) sudah dapat dicapai oleh 8 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Banyumas.62%) dan Kabupaten Pemalang (91.45%. Kota Magelang dan Kota Semarang.pada Balita dan ibu nifas untuk mempertahankan bebas buta karena KVA dan mencegah berkembangnya kembali masalah Xerofthalmia dengan segala manifestasinya (gangguan penglihatan. Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada balita selama 5 tahun terakhir (2007-2011) dapat dilihat dalam gambar berikut ini : 100 95 90 85 80 75 70 Cakupan 2007 82.00%). sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian pada bayi dan anak.45 Gambar 4. Kabupaten Magelang. Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada Balita tahun 2011 sebesar 98.7 Cakupan Suplementasi Kapsul Vit. Kabupaten Purworejo. Kabupaten Sragen. Disamping itu pemantapan program distribusi kapsul Vitamin A dosis tinggi juga dapat mendorong tumbuh kembang anak serta meningkatkan daya tahan anak terhadap penyakit infeksi. mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010 (96. Balita yang dimaksud dalam program distribusi kapsul Vitamin A adalah anak umur 12 – 59 bulan yang mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi.44 2010 96. Kabupaten Boyolali. A pada Balita di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 55 .000 SI yang diberikan pada anak umur 12-59 bulan dan diberikan pada bulan Pebruari dan Agustus setiap tahunnya.76%). Kabupaten Kendal.14 2009 82. Sedangkan yang masih di bawah target yaitu Kabupaten Jepara (88. Cakupan ini sudah melampaui target SPM (95%).

Suplementasi vitamin A pada ibu nifas merupakan salah satu program penanggulangan kekurangan vitamin A. Cakupan ibu nifas mendapat kapsul vitamin A adalah cakupan ibu nifas yang mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi (200.c.000 SI) pada periode sebelum 40 hari setelah melahirkan. Cakupan ibu nifas mendapat kapsul vitamin A tahun 2011 sebesar 96. balita.94 2009 87. 2) Forum komunikasi.8 Cakupan Ibu Nifas mendapat Kapsul Vit. pendekatan.78%).73 2008 92. meningkat dibandingkan tahun 2010 (92. rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan lainnya. Kota Magelang dan Kota Surakarta.43 Gambar 4. Sementara cakupan terendah di Kabupaten Temanggung sebesar 84. Kabupaten Klaten. yang bermanfaat sebagai wahana yang mendukung terlaksananya kegiatan KIE di berbagai sektor terkait. Kabupaten Pekalongan.36%.43%. 100 95 90 85 80 75 Cakupan 2007 82.78 2011 96. Cakupan tertinggi (>100%) dicapai oleh Kabupaten Magelang.31 2010 92. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 56 . 3) Sosialisasi pemberian kapsul Vitamin A terhadap petugas kesehatan di Puskesmas. Cakupan Pemberian Vitamin A pada Ibu Nifas Ibu nifas adalah ibu yang baru melahirkan bayi baik di rumah dan atau rumah bersalin dengan pertolongan dukun bayi dan atau tenaga kesehatan. A di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Beberapa hal yang mempengaruhi fluktuasi angka cakupan pemberian vitamin A pada bayi. dan bufas diantaranya: 1) Advokasi. dan lain-lain bentuk yang disertai dengan penyebarluasan informasi.

Persentase Ibu Hamil yang Mendapatkan Tablet Fe Program penanggulangan anemia yang dilakukan adalah memberikan tablet tambah darah yaitu preparat Fe yang bertujuan untuk menurunkan angka anemia pada balita.25 2011 95. dan WUS (Wanita Usia Subur). dan belum mencapai target SPM 2010 (90%).12%.06 2009 92. Penanggulangan anemi pada ibu hamil dilaksanakan dengan memberikan 90 tablet Fe kepada ibu hamil selama periode kehamilannya. Cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 89. Imunisasi.39% lebih rendah bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (90.9 Persentase Pemberian Tablet Fe Pada Ibu Hamil Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Dari grafik di atas dapat diihat bahwa cakupan Fe 1 dan cakupan Fe 3 sudah cukup baik dan memadai. Hal ini dapat dilihat dari tingginya prevalensi pemberian tablet Fe pada ibu hamil.39 Gambar 4.62 2010 95.91 2008 93.92 90.94 87. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 57 .98 85. 100 95 90 85 80 Fe 1 Fe 3 2007 92.4) Kegiatan konseling/konsultasi gizi dilakukan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas dan rumah sakit pada sasaran ibu anak.53% dan terendah Kabupaten Kendal 53. ibu hamill. remaja putri. 5) Tersedianya sarana pelayanan kesehatan yang terjangkau.43 89.25%). dll) 7) Adanya sweeping dari kader kesehatan dengan sasaran ibu anak yang belum mendapatkan kapsul Vitamin A pada bulan kapsul. ibu nifas. Cakupan tertinggi dicapai Kabupaten Pekalongan 101. d.59 85. 6) Lintas program/ lintas sektor terkait (Promosi Kesehatan.

obesitas.18%. ternyata menurut laporan mutakhir UNICEF (Fact About Breast Feeding) merupakan kekeliruan yang fatal. meningkat dibandingkan tahun 2010 (37. ASI adalah hadiah yang sangat berharga yang dapat diberikan kepada bayi. Berdasarkan data yang diperoleh dari profil kesehatan kabupaten/kota tahun 2011 menunjukkan cakupan pemberian ASI eksklusif hanya sekitar 45. dalam keadaan miskin mungkin merupakan hadiah satusatunya. Bayi yang mendapat ASI eksklusif adalah bayi yang hanya mendapat ASI saja sejak lahir sampai usia 6 bulan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. ASI eksklusif adalah Air Susu Ibu yang diberikan kepada bayi sampai bayi berusia 6 bulan tanpa diberikan makanan dan minuman. Pernyataan bahwa dengan pemberian susu formula kepada bayi dapat menjamin bayi tumbuh sehat dan kuat. namun pada masa pertumbuhan berikutnya bayi yang tidak diberi ASI ternyata memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk menderita hipertensi. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 58 . diabetes dll.18%). Oleh sebab itu pemberian ASI perlu diberikan secara eksklusif sampai umur 6 (enam) bulan dan tetap mempertahankan pemberian ASI dilanjutkan bersama makanan pendamping sampai usia 2 (dua) tahun. kanker. Persentase Bayi yang Mendapatkan ASI Eksklusif Air Susu Ibu (ASI) merupakan satu-satunya makanan yang sempurna dan terbaik bagi bayi karena mengandung unsur-unsur gizi yang dibutuhkan oleh bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi guna mencapai pertumbuhan dan perkembangan bayi yang optimal. 450/Menkes/SK/IV/2004. dalam keadaan sakit mungkin merupakan hadiah yang menyelamatkan jiwanya (UNICEF). karena meskipun insiden diare rendah pada bayi yang diberi susu formula. Pemberian ASI eksklusif bukan hanya isu nasional namun juga merupakan isu global. jantung. kecuali obat dan vitamin.e. Kebijakan Nasional untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 (enam) bulan telah ditetapkan dalam SK Menteri Kesehatan No.

Gencarnya pemasaran susu formula. Upaya-upaya yang telah dilaksanakan dalam rangka meningkatkan cakupan pemberian ASI eksklusif tetap berpedoman pada Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui yaitu: 1) Sarana Pelayanan Air Kesehatan Ibu mempunyai kebijakan yang Peningkatan secara rutin Pemberian Susu (PP-ASI) tertulis dikomunikasikan kepada semua petugas. 5).55%. Kabupaten Banyumas.96 2009 40. Kondisi yang kurang memadai bagi para ibu yang bekerja. Kabupaten Blora. 2). 3).21 2010 37.41%. Kabupaten Klaten. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 59 . Faktor sosial budaya.Cakupan tertinggi adalah Kabupaten Klaten 77.10 Cakupan Pemberian ASI Eksklusif Tahun 2007 – 2011 Beberapa hal yang menghambat pemberian ASI eksklusif diantaranya adalah: 1). 50 40 30 20 10 0 Cakupan 2007 27.36 Gambar 4.18 2011 45. Rendahnya pengetahuan ibu dan keluarga lainnya mengenai manfaat ASI dan cara menyusui yang benar. 4).35 2008 28. Kabupaten Pati dan Kabupaten Temanggung. Kurangnya pelayanan konseling laktasi dan dukungan dari petugas kesehatan. Sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Rembang 6. Hanya 6 kabupaten/kota saja yang telah mencapai pemberian ASI eksklusif di atas 60% yaitu Kabupaten Purworejo.

6) Tidak memberikan makanan atau minuman apapun selain ASI kepada bayi baru lahir. 9) Tidak memberikan dot atau kempeng kepada bayi yang diberi ASI. masa bayi lahir sampai umur 2 tahun termasuk cara mengatasi kesulitan menyusui. Kabupaten Rembang. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 60 . 8) Membantu ibu menyusui semau bayi semau ibu. Kabupaten Blora. f. rumah bersalin atau sarana pelayanan kesehatan. 4) Membantu ibu mulai menyusui bayinya dalam 30 menit setelah melahirkan yang dilakukan di ruang bersalin (inisiasi dini). Kabupaten Boyolali.40%. Kabupaten Demak. Apabila ibu mendapat operasi caesar. 10) Mengupayakan terbentuknya Kelompok Pendukung ASI (KP-ASI) dan rujuk ibu kepada kelompok tersebut ketika pulang dari rumah sakit. Kabupaten Temanggung. 3) Menjelaskan kepada semua ibu hamil tentang manfaat menyusui dan penatalaksanaannya dimulai sejak masa kehamilan. 7) Melaksanakan rawat gabung dengan mengupayakan ibu bersama bayi 24 jam sehari. Anak usia 6-24 bulan dari keluarga miskin diberikan makanan pendamping ASI baik makanan lokal maupun pabrikan.2) Melakukan pelatihan bagi petugas dalam hal pengetahuan dan ketrampilan untuk menerapkan kebijakan tersebut. Jumlah anak usia 623 bulan dari keluarga miskin dari 21 kabupaten/kota sebanyak 145.31%). tanpa pembatasan terhadap lama dan frekuensi menyusui. Kabupaten yang cakupannya sudah mencapai 100% adalah Kabupaten Wonosobo. bayi disusui setelah 30 menit ibu sadar.831 (38. 5) Membantu ibu bagaimana cara menyusui yang benar dan cara mempertahankan menyusui meski ibu dipisah dari bayi atas indikasi medis. Kota Salatiga dan Kota Pekalongan. yang mendapatkan makanan tambahan ASI (MP-ASI) sebanyak 55.724 anak. Cakupan Pemberian Makanan Pendamping ASI pada Anak Usia 624 bulan Keluarga Miskin. Cakupan terendah adalah Kabupaten Brebes 0.

63 2008 76. Semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam penimbangan di posyandu maka semakin baik pula data yang dapat menggambarkan status gizi balita. Partisipasi masyarakat dalam penimbangan di posyandu tersebut digambarkan dalam perbandingan jumlah balita yang ditimbang (D) dengan jumlah balita seluruhnya (S).49%). 100 80 60 40 20 0 Balita ditimbang 2007 71. Dari data yang ada menggambarkan bahwa pedesaan dan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 61 . Imunisasi. Banyak hal dapat mampengaruhi penimbangan di tingkat pencapaian antara partisipasi lain tingkat masyarakat pendidikan. dalam tingkat posyandu pengetahuan masyarakat tentang kesehatan dan gizi. Penimbangan terhadap bayi dan balita yang dilakukan di posyandu merupakan upaya masyarakat memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita yang dintegrasikan dengan pelayanan kesehatan dasar lain (KIA.43%.47 2009 75.32% menurun dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (89. Jumlah Balita Ditimbang Salah satu upaya untuk meningkatkan keadaan gizi masyarakat adalah melalui Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) yang sebagian kegiatannya dilaksanakan di Posyandu.32 Gambar 4. Pemberantasan Penyakit).49 2011 78.89 2010 89. Partisipasi masyarakat dalam penimbangan di posyandu tahun 2011 sebesar 78. faktor ekonomi dan sosial budaya. Cakupan tertinggi adalah di Kabupaten Sragen 88.35% dan terendah Kabupaten Pemalang 61.11 Cakupan Balita Yang Ditimbang Tahun 2007 – 2011 Kabupaten/kota yang belum dapat mencapai target partisipasi masyarakat sebesar 80% sebanyak 15 kabupaten/kota.g.

maka dilakukan konfirmasi status gizi dengan menggunakan indikator berat badan menurut tinggi badan. jika ditemukan balita yang berada di bawah garis merah (BGM) atau dua kali tidak naik (2T). maka segera dilakukan perawatan gizi buruk sesuai pedoman di Posyandu dan Puskesmas. Skrining pertama dilakukan di posyandu dengan membandingkan berat badan dengan umur melalui kegiatan penimbangan. h. Penemuan kasus gizi buruk harus segera ditindak lanjuti dengan rencana tindak yang jelas. sehingga penanggulangan gizi buruk memberikan hasil yang optimal. Jika ternyata terdapat penyakit penyerta yang berat dan tidak dapat ditangani di Puskesmas maka segera dirujuk ke rumah sakit.12 Jumlah Balita dengan Gizi Buruk Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 62 . 20000 15000 10000 5000 0 Jml Balita Gibur 2007 18106 2008 5528 2009 5249 2010 3514 2011 3187 Gambar 4. Pendataan gizi buruk di Jawa Tengah didasarkan pada 2 kategori yaitu dengan indikator membandingkan berat badan dengan umur (BB/U) dan kategori kedua adalah membandingkan berat badan dengan tinggi badan (BB/TB). Jika ternyata balita tersebut merupakan kasus buruk. Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan Kejadian gizi buruk perlu dideteksi secara dini melalui intensifikasi pemantauan tumbuh kembang Balita di Posyandu.perkotaan tidak memperlihatkan perbedaan yang menyolok dalam partisipasi masyarakat tetapi yang sangat berpengaruh adalah faktor ekonomi dan sosial budaya. dilanjutkan dengan penentuan status gizi oleh bidan di desa atau petugas kesehatan lainnya.

15%).81 2010 80. Kota Magelang.42% menurun dibandingkan tahun 2010 (80.93 2009 48.514). Tetapi persentase Balita Gizi Buruk mendapatkan perawatan tahun 2011 sebesar 100% jauh lebih meningkat dibandingkan tahun 2010 (93.187 menurun apabila dibandingkan tahun 2010 (3. dimana pada tahun 2011 sebanyak 53. yang cakupannya mencapai 100% adalah Kabupaten Tegal.15 2011 53. i.83 2008 55. 4. Peserta Keluarga Berencana Baru Peserta Keluarga Berencana (KB) baru adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang baru pertama kali menggunakan salah satu cara/alat dan/atau PUS yang menggunakan kembali salah satu cara/alat kontrasepsi setelah mereka berakhir masa kehamilannya.28%). 100 80 60 40 20 0 % Desa dg garam beryodium 2007 58.68%.42 Gambar 4. Kota Salatiga dan Kota Semarang. menggambarkan identitas mutu garam beryodium yang dikonsumsi penduduk di suatu desa/kelurahan. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 63 . Sedangkan kabupaten dengan konsumsi garam beryodium terendah adalah Kabupaten Demak 9. Pelayanan Keluarga Berencana a.Balita Gizi Buruk tahun 2011 berjumlah 3. Kota Surakarta. Desa dengan Garam Beryodium yang Baik Persentase desa/kelurahan dengan garam beryodium yang baik.13 Persentase Desa/Kelurahan dengan Garam Beryodium Baik Tahun 2007 – 2011 Berdasarkan laporan yang masuk dari 33 kabupaten/kota.

hal tersebut dapat difahami karena akses untuk memperoleh pelayanan suntikan relatif lebih mudah. sebagai akibat tersedianya jaringan pelayanan sampai di tingkat desa/kelurahan sehingga dekat dengan tempat tinggal peserta KB. MOP (0. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 64 . PIL (19. PIL (18. Kondom 5.2%).99%).4%).97%).2%).2% Gambar 4.0% Implant 12.20%).549. dan sebagian pria masih beranggapan bahwa KB merupakan urusan ibu (istri).125 lebih sedikit dibanding tahun 2010 (6.23%) dan Implant (8.14 Persentase Pemakaian Kontrasepsi Peserta KB Baru Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Sebagian besar peserta KB baru mempergunakan kontrasepsi non MKJP yang membutuhkan pembinaan secara rutin dan berkelanjutan untuk menjaga kelangsungan pemakaian kontrasepsi.2% PIL 18. MOP/MOW (2.4% MOW 2. Peserta KB baru tersebut menggunakan kontrasepsi sebagai berikut: 1) MKJP: Tahun 2011 IUD (6.243).9% MOP 0. Sedangkan tahun 2010: IUD (5. MOW (2.13%).Jumlah PUS Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 6. sehingga ibu (istri) yang menjadi sasaran.8% IUD 6. Peserta KB baru pada tahun 2011 (13. karena terbatasnya pilihan kontrasepsi yang disediakan bagi pria.0%) dan Implant (12.8%).4%) dan kondom (hanya 5. 2) NON MKJP: Tahun 2011 Suntik (54. Partisipasi pria (bapak) untuk menjadi peserta KB aktif dengan mempergunakan kontrasepsi MOP (hanya 0.8%). sedangkan tahun 2010 : Suntik (58. Proporsi pemakai kontrasepsi suntikan cukup besar yaitu 54.561.4%) dan Kondom (5.24%).7%).4% Suntik 54.9%).2%.46%) dan Kondom (5. menurun apabila dibandingkan dengan tahun 2010 (15.

Kabupaten Semarang. Kabupaten Rembang. Cakupan peserta KB aktif adalah perbandingan antara jumlah peserta KB aktif dengan PUS di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.57%).8 80 Gambar 4. Kabupaten Pemalang. Kabupaten Brebes.b.2%). Kabupaten Kudus. Cakupan tertinggi di Kota Magelang (89. Kabupaten Pati.79 80 2008 78. Kabupaten Blora. Polio 4 dan Campak dengan cakupan minimal 80% dari Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 65 . 81 80 79 78 77 76 75 74 Cakupan Target 2007 77.09 80 2009 78. Angka ini sudah mencapai target (70%). Terdapat 13 Kabupaten/kota yang telah melampaui target yaitu Kabupaten Wonogiri. Cakupan peserta KB aktif menunjukkan tingkat pemanfaatan kontrasepsi di antara PUS.5%) dan terendah di Kabupaten Tegal (44. mengalami penurunan dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (78.37 80 2010 78. Kabupaten Jepara.57 80 2011 76. Persentase Desa yang Mencapai “Universal Child Immunization” (UCI) Strategi operasional pencapaian cakupan tinggi dan merata berupa pencapaian Universal Child Immunization (UCI) yang berdasarkan indikator cakupan DPT-HB 3. Cakupan peserta KB aktif Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 76.15 Cakupan Peserta KB Aktif Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 5. Pelayanan Imunisasi a. Kota Magelang. Peserta KB Aktif Peserta KB aktif adalah akseptor yang pada saat ini memakai kontrasepsi untuk menjarangkan kehamilan atau mengakhiri kesuburan. Kabupaten Temanggung. Kabupaten Pekalongan.8%. dan Kota Surakarta.

Kabupaten Temanggung.95 2010 94.4 Gambar 4. Kabupaten Grobogan.64 2008 86. Kota Salatiga. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 66 . Kota Magelang. Kabupaten Semarang. Kabupaten Magelang.06%). pada umumnya disebabkan karena penghitungan sasaran (denominator) yang melebihi dengan kondisi riil jumlah sasaran di lapangan. Kabupaten Demak. kabupaten Kudus. hal ini dikarenakan penentuan jumlah sasaran masih berdasarkan angka estimasi jumlah penduduk.jumlah sasaran bayi di desa. Kabupaten Pekalongan. kabupaten Pemalang.1%). Kota Pekalongan dan Kota Tegal.16 Cakupan Desa/Kelurahan UCI Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Kabupaten/kota yang belum mencapai target imunisasi dasar lengkap pada bayi disebabkan antara lain : 1) Adanya perbedaan jumlah dibandingkan dengan sasaran yang ada. Kota Semarang. Kabupaten Tegal. Sedangkan kabupaten yang pencapaian UCI desa terendah di Kabupaten Batang (66. Pencapaian UCI desa tahun 2011 (96. bukan dari hasil pendataan. Kabupaten Sragen. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tidak tercapainya pencapaian UCI desa di beberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah. 99 94 89 84 79 74 UCI 2007 83. Kabupaten Kebumen.58 2011 96. Hasil pencapaian UCI desa tahun 2010 yang mencapai target (100%) sebanyak 18 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Banyumas.83 2009 91. Kota Surakarta.4%) mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2010 (94.

Selain pemberian imunisasi rutin. Backlog Fighting (melengkapi status imunisasi). 3) Belum dilakukan pelaksanaan sweeping atau kunjungan rumah untuk melengkapi status imunisasi pada daerah-daerah yang cakupan imunisasinya masih rendah. Sebagai indikator kelengkapan status imunisasi dasar lengkap bagi bayi dapat dilihat dari hasil cakupan imunisasi campak. 4) Masih ada sebagian kecil orang tua yang menolak anaknya untuk diimunisasi dikarenakan keyakinan/kepercayaan agama. HB Uniject 1 kali dan campak 1 kali. sedangkan BIAS TT diberikan pada semua anak usia kelas II dan III SD/MI/SDLB/SLB. Sedangkan cakupan masing-masing jenis imunisasi tahun 2011 adalah Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 67 . DPT-HB. Difteri. Cakupan Imunisasi bayi Upaya untuk menurunkan angka kesakitan. dan lain-lain. Tetanus. Polio 4 kali. Bayi seharusnya mendapat imunisasi dasar lengkap yang terdiri dari BCG 1 kali. Polio. dan Campak. Hepatitis B. Pertusis. program imunisasi juga melaksanakan program imunisasi tambahan/suplemen yaitu Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) DT.494.2) Belum semua Puskesmas membuat Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) imunisasi secara rutin (bulanan. Polio. DPT-HB 3 kali. tribulanan) dikarenakan banyak petugas imunisasi yang merangkap dengan tugas lain. dan HB). Cakupan imunisasi dasar lengkap bayi di Jawa Tengah dari semua antigen sudah mencapai target minimal nasional (85%). karena imunisasi campak merupakan imunisasi yang terakhir yang diberikan pada bayi umur 9 (sembilan) bulan dengan harapan imunisasi sebelumnya sudah diberikan dengan lengkap (BCG. kecacatan.712 meningkat disbanding tahun 2010 sebanyak 579. BIAS Campak yang diberikan pada semua usia kelas I SD/MI/SDLB/SLB. pencapaian tiap tahun cenderung menurun. pada umumnya disebabkan keterbatasan sumber daya atau tenaga banyak yang merangkap dengan tugas lain. dan kematian bayi serta anak balita dilaksanakan program imunisasi baik program rutin maupun program tambahan/suplemen untuk penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti TBC. Jumlah sasaran bayi pada tahun tahun 2011 adalah 592. b.

persentase (%) 110 100 90 80 BCG 2007 2008 2009 2010 100.29 Gambar 4.77 102. DPT3+HB3 (98.0%).18 96.95%) dan Campak (96.08%).05 100. Untuk kecenderungan cakupan setiap bulan dapat diketahui dengan indikator Drop Out (DO).95 98. analisis PWS harus diikuti dengan tindak lanjut. Drop Out Imunisasi DPT1-Campak Dalam rangka mencapai dan mempertahankan UCI desa.5 100.28 99. Kabupaten Sragen.17 Cakupan Imunisasi Bayi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 c. Dengan grafik PWS akan terlihat dan dapat dianalisis cakupan dan kecenderungan setiap bulan. Kota Semarang dan Kota Tegal.5 99.89 99. Hal ini mengalami penurunan bila dibanding tahun 2010 dengan BCG (100. Kabupaten Brebes.24 99. Kabupaten Jepara. Kabupaten Purworejo.29%). DPT3+HB3 (95. mengalami penurunan dibanding tahun 2010 (3.67%). Kabupaten Pati.95 Campak 96.sebagai berikut BCG (98.35 99.42%) yang DO-nya lebih dari 5% atau (-5%) yaitu Kabupaten Banjarnegara. Sebanyak 11 kabupaten/kota (31.95%). Polio 3 (94.04 98.08 Polio 4 97. Kota Surakarta.7%).67 96.14 96. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 68 .84 102. Polio 3 (96. DPT1+HB1 (99. Kabupaten Grobogan.29%). Sesuai kesepakatan dengan kabupaten/kota indikator DO di Jawa Tengah maksimal 5% atau (-5%).29 DPT1+Hb1 DPT3+Hb3 100. DPT1+HB1 (97.0%) dan Campak (93.4%.6%).78 103. Kabupaten Kendal.69 99.0%). maka dapat segera diketahui kekurangan cakupan dan beban yang harus dicapai setiap bulan pada periode berikutnya. Tahun 2011 DO tingkat Jawa Tengah sebanyak 3.

Data tersebut menandakan bahwa motivasi masyarakat dalam mempertahankan gigi geliginya belum maksimal. sementara jumlah pencabutan gigi tetap sebanyak 156. 2) Penggunaan format pelaporan yang berbeda antara kabupaten/kota ke provinsi dan puskesmas ke kabupaten/kota terutama untuk TT ibu hamil dan non ibu hamil. TT-4 sebesar 20.2% dan TT2+ sebanyak 114. Jumlah ibu hamil 2011 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 632. sehingga sistim pencernaan semakin bagus. Indikasi dari perhatian masyarakat adalah bila tumpatan gigi tetap semakin bertambah banyak berarti masyarakat lebih memperhatikan kesehatan gigi yang merupakan tindakan preventif. sebelum gigi tetap betul betul rusak dan harus dicabut.4%.8.7 dan TT-5 sebesar 17.2%.5%. hal ini disebabkan : 1) Pencatatan dan pelaporan status imunisasi lima dosis belum berjalan dengan baik karena pelaksanaan skrining status TT belum optimal. yang pada akhirnya Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 69 .198. Kegiatan pelayanan dasar gigi adalah tumpatan (penambalan) gigi tetap dan pencabutan gigi tetap. Data kegiatan imunisasi TT WUS saat ini akurasinya masih sangat kurang sehingga belum dapat dinalisis.274. Pelayanan Kesehatan Gigi a. oleh karena itu masih diperlukan penyuluhan yang terus menerus agar masyarakat memeriksakan giginya secara teratur. Melalui pemeriksaan gigi ini dapat mengontrol fungsi kunyah gigi agar tetap baik. WUS Mendapat Imunisasi TT Imunisasi TT WUS adalah pemberian imunisasi TT pada WUS (usia 15-39 th) sebanyak lima dosis dengan interval tertentu yang berguna bagi kekebalan seumur hidup. Pencabutan gigi tetap adalah tindakan kuratif dan rehabilitatif yang merupakan tindakan terakhir yang harus diambil oleh seorang pasien. TT-2 sebesar 48. Rasio Tambal Cabut Gigi Tetap Pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas meliputi kegiatan pelayanan dasar gigi dan upaya kesehatan gigi sekolah.d. 6. Tahun 2011 jumlah tumpatan gigi tetap tahun 2011 sebanyak 127. yang mendapat TT-1 sebesar 48. TT-3 sebesar 28.08.

2011 b.kesehatan secara umum akan meningkat dan diharapkan di tahun-tahun mendatang jumlah pencabutan gigi tetap trennya semakin menurun.95). Kegiatan UKGS meliputi pemeriksaan gigi pada seluruh murid untuk mendapatkan murid Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 70 . Murid SD/MI Mendapat Pemeriksaan Gigi dan Mulut Kegiatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut lainnya adalah Upaya Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yang merupakan upaya promotif dan preventif kesehatan gigi khususnya untuk anak sekolah.18 Rasio Tumpatan dan Pencabutan Gigi Tetap Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .82. Kabupaten/kota yang rasionya tinggi (penumpatan lebih banyak dibandingkan dengan pencabutan) yaitu Kota Tegal (2.82 Gambar 4.6 0.4 0.81.607).62 2008 0.71 2010 0. pencabutan 4.71 2009 0. 1 0.81 2011 0. Hal menunjukan bahwa masih banyak masyarakat yang melakukan pencabutan gigi dibandingkan melakukan tumpatan gigi tetap. baik yang dilakukan didalam maupun diluar gedung masih sangat minim. mengalami peningkatan dibanding tahun 2010 yaitu 0.8 0. Kabupaten dengan rasio terendah adalah Kabupaten Rembang 0. Beberapa kabupaten/kota yang pencabutan giginya jauh lebih banyak dibandingkan tumpatan giginya (rasio rendah). Rasio tumpatan dan pencabutan gigi tetap tahun 2010 sebesar 0.2 0 Rasio 2007 0. menandakan bahwa masyarakat di kabupaten yang bersangkutan masih kurang memperhatikan kesehatan gigi dan mulut dan kemungkinan frekuensi penyuluhan kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan oleh petugas kesehatan di setiap lini.06 (tumpatan 267.

seperti Kabupaten Sragen (6.3 Gambar 4.yang perlu perawatan gigi. Prosentase jumlah murid yang diperiksa untuk tahun 2011 (37.59 2011 37. kemudian melakukan perawatan pada murid yang memerlukan.12 2008 62.83%).31 2010 37.90%) lebih tinggi dibandingkan pencapaian tahun 2010 (37.22 2009 36. 65 60 55 50 45 Cakupan 2007 56.4 2008 33.75 2010 53.83 2011 55. Kabupaten Kendal dan Kota Salatiga. Murid SD/MI Mendapat Perawatan Gigi dan Mulut Cakupan perawatan gigi dan mulut murid SD/MI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 55.30% mengalami peningkatan bila dibanding tahun 2010 (53.96%) dan masih ada beberapa kabupaten/kota yang belum melaporkan datanya.19 Cakupan Pemeriksaan Kesehatan Gigi Murid Sekolah Dasar Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 c. Kabupaten yang mempunyai cakupan 100% adalah Kabupaten Sukoharjo.9 Gambar 4. 40 30 20 10 0 Cakupan 2007 31. Beberapa kabupaten mempunyai cakupan sangat rendah. Kabupaten Kudus.59%).95 2009 54.20 Cakupan Perawatan Gigi Murid Sekolah Dasar Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 71 .

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 72 .7.27 70 2010 52.96% menurun bila dibandingkan cakupan pada tahun 2010 sebesar 52. menggambarkan bahwa kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah belum memperhatikan pelayanan kesehatan untuk kelompok pra usila dan usila yang merupakan kelompok usia berisiko. baik di puskesmas maupun di posyandu/kelompok usia lanjut. 80 60 40 20 0 Cakupan Target 2007 30.60%) dan terendah adalah Kabupaten Klaten (1.96 70 Gambar 4. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut Pelayanan kesehatan usia lanjut yaitu pelayanan penduduk usia 60 tahun ke atas yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan. Kabupaten/kota dengan cakupan tertinggi adalah Kabupaten banjarnegara (102.61%. 2) Advokasi ke SKPD provinsi dengan pengembangan model kelompok pra usila percontohan dan fasilitasi pelayanan kesehatan.36 70 2009 42.76%).61 70 2011 51. Cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 51. Upaya-upaya yang telah dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan pra usila dan usila adalah sbb : 1) Pertemuan koordinasi program kesehatan usila Provinsi Jawa Tengah. dan masih jauh dibawah target cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut tahun 2010 (70%). dengan kesepakatan identifikasi kelompok pra usila di masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) kabupaten/ kota dan memberikan dukungan kegiatan dan pelayanan kesehatan.21 Pelayanan Kesehatan Usia lanjut Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Masih rendahnya cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut dan sedikitnya kabupaten/kota yang mencapai target pelayanan kesehatan usia lanjut tahun 2011.51 70 2008 29.

Jumlah Rumah Sakit Umum dengan kemampuan pelayanan gawat darurat sebanyak 98. puskesmas. jiwa maupun khusus. Pelayanan Dawat Darurat dan Kejadian Luar Biasa a.46 Pusk RI 100 Gambar 4. Rumah Sakit Jiwa sebanyak 100%. dan rumah sakit baik rumah sakit umum. Kemampuan pelayanan gawat darurat yang dimaksud adalah upaya cepat dan tepat untuk segera mengatasi puncak kegawatan yaitu henti jantung dengan Resusitasi Jantung Paru Otak (Cardio–Pulmonary–Cebral– Resucitation) agar kerusakan organ yang terjadi dapat dihindarkan atau ditekan sampai minimal dengan menggunakan Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support/BLS) dan Bantuan Hidup Lanjut (ALS).5 100 99. 100.22 Sarana Kesehatan dengan Kemampuan Pelayanan Gawat Darurat yang Dapat Diakses Masyarakat Provinsi Jawa TengahTahun 2011 Puskesmas rawat inap dengan kemampuan pelayanan gawat darurat yang dapat diakses masyarakat Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 291 puskesmas atau 100%.80%.5 98 97.5 99 98. Rumah Sakit khusus lain sebesar 98.8. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 73 .88 RSJ 100 RS Khusus 98. Sarana kesehatan yang dimaksud dalam hal ini adalah rumah bersalin.5 RSU Gawat Darurat (%) 98. Pelayanan Gawat Darurat Level I yang Harus Diberikan Pelayanan Kesehatan (RS) di Kabupaten/Kota Sarana kesehatan dengan kemampuan pelayanan gawat darurat yang dapat diakses masyarakat merupakan sarana kesehatan yang telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pelayanan gawat darurat sesuai standar dan dapat diakses oleh masyarakat dalam kurun waktu tertentu.46%.

tahun 2009 mengalami penurunan kembali menjadi 536 desa/kelurahan. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 74 . bencana serta munculnya penyakit baru seperti Avian Influenza (Flu Burung). tahun 2010 menjadi 579 desa/kelurahan dan mengalami penurunan lagi menjadi 353 desa/kelurahan pada tahun 2011. Campak. Kondisi tersebut menuntut upaya atau tindakan secara cepat dan tepat (kurang dari 24 jam) untuk menanggulangi setiap KLB serta melaporkan kepada tingkat administrasi kesehatan. produktivitas menurun). Chikungunya. Keracunan Makanan.b. disamping menimbulkan korban kesakitan dan kematian juga berdampak pada situasi sosial ekonomi masyarakat secara umum (keresahan masyarakat. Diare. Acute Flacid Paralisys (AFP). Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular dan keracunan masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Jawa Tengah.23 Distribusi Frekuensi KLB menurut Jumlah Desa yang Terserang Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Gambar 4. Desa/Kelurahan Terkena Kejadian Luar Biasa yang Ditangani <24 Jam Kejadian luar biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu desa/kelurahan dalam jangka waktu tertentu. 1500 1000 500 0 Desa/kel terkena KLB 2007 1286 2008 543 2009 536 2010 579 2011 353 Gambar 4. Tingginya frekuensi KLB seperti Demam Berdarah Dengue (DBD).42 di atas diketahui bahwa jumlah desa/kelurahan yang terkena KLB di Provinsi Jawa Tengah tahun 2007 – 2011 mengalami fluktuasi yaitu dari 1286 desa/kelurahan pada tahun 2007 meningkat menurun menjadi 543 desa/kelurahan pada tahun 2008. Difteri.

100.63 2009 100 2010 98.5 99 98. keracunan makanan dan bencana selama tahun 20011 sebanyak 28 jenis kejadian di 32 Kabupaten/Kota.5 Ditangani <24jam (%) 2007 99.84 2008 99.45 2011 100 Gambar 4. Kabupaten Karanganyar (28 kejadian) dan Kabupaten Temanggung (24 kejadian).Data frekuensi KLB penyakit menular. Gambar 4.45%). 292 kecamatan dan 353 desa/kelurahan yang terkena KLB mendapatkan penanganan kurang dari 24 jam oleh Puskesmas bekerjasama dengan Dinas Kesehatan kabupaten/kota.24 di atas diketahui bahwa pada tahun 2011 persentase desa/kelurahan terkena KLB yang ditangani kurang dari 24 jam mengalami kenaikan menjadi 100% dibanding dengan tahun 2010 (98.5 100 99. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 75 .25 Kejadian KLB Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Sebaran KLB tahun 2011 menunjukkan bahwa 3 kabupaten/kota dengan frekuensi KLB terbanyak adalah Kabupaten Klaten (49 kejadian).24 Grafik Distribusi Frekuensi Desa/Kelurahan Terkena KLB yang ditangani kurang dari 24 jam Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Gambar 4.5 98 97.

Selengkapnya dapat dilihat pada grafik di bawah ini. Sedangkan yang menderita akibat kejadian luar biasa tersebut sebanyak 3.26 Jenis KLB Menurut Desa/Kelurahan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Tahun 2011 sejumlah 353 desa yang terkena KLB. dengan penyuluhan terbanyak dilakukan di Kabupaten Kendal yaitu 92.73% dan KLB Tetatus Neonatorum 75%.64%).202. Penyuluhan kelompok pada tahun 2011 sebanyak 206. 9. yang meninggal sebanyak 24 orang (case fatality rate/CFR: 0.132 kali dan paling sedikit dilakukan di Kota Tegal sebanyak 115 kali.344 kali. frekuensi tertinggi adalah keracunan (105 desa/kelurahan) tersebar pada 96 kecamatan. Dari sejumlah penderita tersebut. CFR tertinggi adalah KLB demam berdarah dengue/DBD 72.Gambar 4. c. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 76 . Jumlah Penderita dan Kematian pada Kejadian Luar Biasa Jumlah penduduk terancam KLB tahun 2011 sebanyak 1.848 jiwa.733 jiwa dengan attack rate atau rata-rata kejadian sebesar 33. Kegiatan Penyuluhan Kesehatan Kegiatan penyuluhan yang dilakukan dibagi menjadi penyuluhan kelompok dan penyuluhan massa.21%.

Karanganyar Kab.Jepara Kab.Brebes Kota Magelang Kota Surakarta Kota Salatiga Gambar 4.Purworejo Kab.Grobogan Kab.Grobogan Kab.Sukoharjo Kab.Tegal Kab.Blora Kab.Boyolali Kab.28 Distribusi Frekuensi Penyuluhan Massa yang Dilakukan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 77 .Kebumen Kab.Temanggung Kab.Kebumen Kab.Kudus Kab.27 Distribusi Frekuensi Penyuluhan Kelompok yang Dilakukan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Sedangkan penyuluhan massa telah dilakukan 5.Kendal Kab.Kudus Kab.Rembang Kab.Pati Kab.Batang Kab.Demak Kab.Pekalongan Kab. 3000 2500 2000 1565 1500 1000 500 35 0 538 387 297 127145 1429 1414 1080 711 622 784 405 225231 1 0 0 79 45 5 149 0 183 3 174 22 23 1071 2402 Kab.Wonosobo Kab.Purworejo Kab.Temanggung Kab.Purbalingga Kab.Kendal Kab.Sragen Kab.Rembang Kab. Secara jelas dapat dilihat pada grafik berikut.Pemalang Kab.Demak Kab. paling banyak dilakukan oleh Kabupaten Demak yaitu 1.Pati Kab.Pemalang Kab.Wonogiri Kab.Kota Tegal Kota Pekalongan Kota Semarang Kota Salatiga Kota Surakarta Kota Magelang Kab.Banjarnegara Kab.Tegal Kab.Magelang Kab.Banyumas 115 2578 495 1582 2109 1588 11307 9080 10045 32517 5385 9161 3336 3203 2989 413 3807 799 4668 10341 18309 8179 5937 11710 9397 11240 1561 4357 16733 9706 12279 9160 62571 Gambar 4.Wonosobo Kab.Batang Kab.Wonogiri Kab.Banyumas Kab.Pekalongan Kab.Brebes Kab.Semarang Kab.Sukoharjo Kab.Klaten Kab.Boyolali Kab.Jepara Kab.565 kali dan paling sedikit di Kabupaten Sukoharjo satu kali.Cilacap Kab.Sragen Kab.817 kali.Banjarnegara Kab.Blora Kab.Karanganyar Kab.Purbalingga Kab.Klaten Kab.Magelang Kab.Semarang Kab.

Penduduk maskin yang belum terjamin dengan pelayanan kesehatan sebesar 63.82%. Peserta JPK dengan Premi/Pra Bayar banyak yang mengundurkan diri dengan adanya program Jamkesmas yang membebaskan anggotanya dari segala beban iur biaya. Program ini dikembangkan dengan tujuan merubah pola pembayaran yang biasanya dibayar setelah pelayanan diberikan dan pelayanan kesehatan yang diterima secara komprehensif. Namun disadari sampai saat ini perkembangan peserta jaminan kesehatan sedikit agak menggembirakan. Perkembangan kepesertaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi. Data terakhir di Provinsi Jawa Tengah menggambarkan perkembangan kepesertaan jaminan kesehatan saat ini mencapai 36. Masyarakat yang dulunya merasa non miskin beramai-ramai mengaku miskin supaya dapat masuk dalam Program Jamkesmas.18% dari total penduduk bukan masyarakat miskin (non maskin). pemerintah telah berupaya mengembangkan berbagai upaya kesehatan.59%). Tiga tahun terakhir peserta jaminan kesehatan kembali mengalami peningkatan sedikit demi sedikit. salah satunya adalah dengan mengembangkan suatu upaya kesehatan melalui program jaminan kesehatan. sampai dengan tahun 2006 terjadi peningkatan dan pada tahun 2007 merupakan titik antiklimak kepesertaan jaminan kesehatan. Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) kemungkinan memberikan dampak negatif pada kepesertaan JPK Pra Bayar. Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan 1.B. meningkat bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (21. Penurunan jumlah penduduk yang masuk dalam katagori non maskin ditengarahi akibat dampak negatif Program Jamkesmas. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 78 . Cakupan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pra Bayar Dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

30 Cakupan Kepesertaan Program JPK Pra Bayar Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 79 .04 3.53% dan terendah di Kabupaten Brebes 0. Jamkesda (13. Kepesertaan jaminan kesehatan terdiri dari: Askes (13.09 2009 19.73%) dan lain-lain (3.2% (Kabupaten Klaten) hingga 104. Cakupan terbesar di Kota Surakarta 35. Selain yang jamkesmas.57%).60%).3% (Kota Salatiga).18 Gambar 4.24%. menunjukkan angka yang bervariasi mulai dari cakupan 30. 3.06%). Kepesertaan jamkesda pada tahun 2011 sebesar 7.57 Gambar 4.37 2010 21.40 30 20 10 0 Cakupan 2007 19.59 2011 36.01 2008 18.46% dari total penduduk di Jawa Tengah.29 Cakupan Kepesertaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Penduduk Non Maskin Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Kepesertaan program jaminan kesehatan penduduk non maskin yang diperinci menurut kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah.6 13. Askeskin/Jamkesmas (66. pada tahun 2011 sudah banyak agar kabupaten/kota menyelenggarakan jamkesda dengan tujuan masyarakat miskin yang belum tercakup jamkesmas bisa tercakup jamkesda. Jamsostek (3.04%).06 Askes Jamsostek Askeskin/Jamkesmas Jamkesda Lainnya 66.73 13.

4.3%). Cakupan Pelayanan Kesehatan Rawat Jalan Masyarakat Miskin Pelayanan kesehatan yang diberikan bagi pasien masyarakat miskin dan tidak mampu meliputi pelayanan kesehatan di Puskesmas dan di rumah sakit. Jumlah masyarakat miskin dan hampir miskin sebanyak 13.17%) sedangkan di sarana pelayanan strata 2 dan strata 3 sebesar 438.544 (3. pelayanan gawat darurat. Saat ini Kota Surakarta yang sudah mencapai cakupan 147. rawat inap tingkat lanjut. dan pelayanan transport untuk rujukan bagi pasien. mendapatkan pelayanan kesehatan rawat inap di sarana kesehatan strata 1 sebanyak 1. serta pelayanan tindakan dan operasi. persalinan normal di Puskesmas dan jaringannya.033. Jumlah Kunjungan Rawat Jalan.687 (57. Pelayanan kesehatan di Puskesmas meliputi rawat jalan tingkat pertama. Selain mendapatkan pelayanan rawat jalan juga mendapatkan rawat inap.433. Sedangkan pelayanan di rumah sakit meliputi rawat jalan tingkat lanjut. Rawat Inap di Sarana Pelayanan Kesehatan Cakupan rawat jalan adalah cakupan kunjungan rawat jalan baru di sarana pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta di satu wilayah kerja pada kurun Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 80 . Jumlah masyarakat miskin dan hampir miskin pada tahun 2011 sebanyak 13.493 (3. 3.805 orang.033. rawat inap tingkat pertama. Masyarakat miskin yang mendapatkan pelayanan kesehatan rawat jalan di sarana pelayanan strata 1 sebesar 7.Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mencanangkan “Universal Coverage” kepesertaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan pada tahun 2014 yang berarti bahwa seluruh penduduk di Indonesia pada tahun 2014 harus memiliki Jaminan Pemeliharaan Kesehatan. pelayanan obat dan bahan habis pakai.205. 2.3%) sedangkan di sarana kesehatan 2 dan 3 sebanyak 431.37%). Cakupan Pelayanan Kesehatan Rawat Inap Masyarakat Miskin Pelayanan kesehatan yang diberikan bagi pasien masyarakat miskin dan tidak mampu meliputi pelayanan kesehatan di Puskesmas dan di rumah sakit.8%.011 (9.805. pelayanan penunjang medik.

Dari permasalahan tersebut. berdasarkan definisi operasional yang ada. Data yang masuk untuk pelayanan kesehatan jiwa di RS berasal dari Rumah Sakit Jiwa dan Rumah Sakit Umum yang mempunyai klinik jiwa. Jumlah kunjungan gangguan jiwa tahun 2011 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 198.77%). upaya yang perlu dilakukan adalah peningkatan pembinaan program kesehatan jiwa di sarana kesehatan pemerintah dan swasta. Jumlah Kunjungan Gangguan Jiwa di Sarana Pelayanan Kesehatan Pelayanan gangguan jiwa adalah pelayanan pada pasien yang mengalami gangguan kejiwaan. Cakupan rawat inap di sarana kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 secara akumulasi sebesar 5. Penurunan cakupan kunjungan rawat jalan tersebut mengisyaratkan bahwa terjadi penurunan kunjungan rawat jalan di pelayanan kesehatan. yang meliputi gangguan pada perasaan. Cakupan rawat inap adalah cakupan kunjungan rawat inap baru di sarana pelayanan kesehatan swasta dan pemerintah di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.479 kali (65. Cakupan kunjungan rawat jalan akumulasi sampai dengan tahun 2011 di sarana kesehatan di Provinsi Jawa Tengah sebesar 105. pelatihan/refreshing bagi dokter dan paramedis Puskesmas terutama upaya promotif dan preventif.1%. dalam satu tahun hanya dihitung satu kali meskipun ia datang berkali kali dalam tahun tersebut. Kunjungan rawat jalan tersebut. terbanyak di rumah sakit yaitu 130. serta meningkatkan pelaksanaan sistem monitoring dan evaluasi pencatatan dan pelaporan program kesehatan jiwa.4%.387. merupakan kunjungan baru dimana seorang yang berkunjung ke sarana pelayanan kesehatan. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 81 . Permasalahan yang ada saat ini adalah tidak semua Rumah Sakit Umum mempunyai pelayanan klinik jiwa karena belum tersedia tenaga medis jiwa dan tidak banyak kasus jiwa di masyarakat yang berobat di sarana pelayanan kesehatan. proses pikir. 5.waktu tertentu. dan perilaku yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosialnya.

diukur dengan jumlah rumah sakit dan tempat tidur serta rasio terhadap jumlah penduduk. Angka Kematian Umum Penderita Yang Dirawat di RS / Gross Death Rate (GDR) Rata-rata Mutu Pelayanan Rumah Sakit di Jawa Tengah menunjukkan masih dalam taraf baik. sebanyak 28 rumah sakit mempunyai nilai GDR melebihi angka yang dapat ditolerir (kurang baik).6. berarti masih berada dalam kisaran yang bisa ditolerir. Dari 181 RS yang melapor. Nilai NDR yang dapat ditolerir adalah 25 per 1. Angka Kematian Penderita Yang Dirawat < 48 Jam / Net Death Rate (NDR) Angka Net Death Rate (NDR) adalah untuk mengetahui mutu pelayanan atau perawatan rumah sakit. b. Dari 181 rumah sakit yang melapor. Pada tahun 2011 jumlah rumah sakit di Provinsi Jawa Tengah menurut jenis dan kepemilikannya adalah sebagai berikut : Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 82 . indikator yang digunakan antara lain dengan melihat perkembangan fasilitas perawatan. dapat dilihat dari Angka Kematian Umum Penderita Yang Dirawat di RS (GDR) pada tahun 2011 rata rata sebesar 34. sebanyak 13 rumah sakit mempunyai nilai NDR melebihi angka yang dapat ditolerir. Data NDR dan GDR tersebut masih diperlukan tindak lanjut dengan diupayakan seluruh RS mempunyai NDR dan GDR di bawah angka yang dapat ditolerir. Indikator Kinerja Pelayanan di Rumah Sakit Dalam menentukan peningkatan sarana rumah sakit.01 sedangkan angka yang dapat ditolerir maksimum 45. 7. Angka Kematian Pasien di Rumah Sakit a. Rata-rata NDR di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 17.07.000 penderita keluar.

BOR yang ideal untuk suatu rumah sakit adalah antara 60% sampai dengan 80%.1 Jumlah Rumah Sakit di Provinsi Jawa Tengah menurut jenis dan pemilikan Tahun 2011 Pemilikan/Pengelola Pem TNI/Polri BUMN Kab/Kota 41 10 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 41 10 1 Jenis RSU RSJ RSB RSK lainnya JML : Pem Pusat 2 1 0 3 6 Pem Prov 7 3 0 0 10 Swasta 118 0 10 51 179 Jml 179 4 10 54 247 a. Pada tahun 2011 jumlah rumah sakit sebanyak 247 Rumah Sakit di Jawa Tengah terdiri dari 13 RS (6.60%) tingkat pemanfaatannya masih mengirimkan laporan. Angka tersebut masih berada dibawah nilai ALOS yang ideal. Angka BOR yang tinggi (>85%) menunjukan tingkat pemanfaatan tempat tidur yang tinggi.77%) mempunyai BOR yang dianggap cukup ideal. Rata-rata lama rawat seorang pasien di RS se Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3. Indikator ini dipergunakan untuk menilai kinerja rumah sakit dengan melihat persentase pemanfaatan tempat tidur rumah sakit atau Bed Occupation Rate (BOR). Rata-rata Lama Rawat Seorang Pasien/Average Length of Stay (ALOS) Rata-rata lama rawat seorang pasien yang secara umum/Average Length of Stay (ALOS) yang ideal adalah antara 6–9 hari. sehingga perlu pengembangan rumah sakit atau penambahan tempat tidur.46%) tidak b. Angka BOR yang rendah menunjukkan kurangnya pemanfaatan fasilitas perawatan rumah sakit oleh masyarakat. Tetapi masih terdapat 120 RS (56. 61 RS (28.91 mengalami peningkatan bila dibandingkan nilai ALOS tahun 2010 sebesar 3.Tabel 5. Pemakaian Tempat Tidur/Bed Occupancy Rate (BOR) BOR merupakan prosentase pemakaian tempat tidur pada satu satuan waktu tertentu. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 83 . kurang dan 53 RS (21.85.13%) mempunyai tingkat pemanfaatan sangat tinggi diatas maksimal occupancy rate.

C. 10 rumah sakit yang mempunyai nilai ALOS ideal yaitu RSJ Dr. RSKJ Puri Waluyo Surakarta. ASI Eksklusif. Sedangkan 131 rumah sakit lainnya masih mempunyai nilai ALOS di bawah 6. Angka ideal untuk TOI adalah 1 – 3 hari. Dari 194 RS yang melapor. RSUD Kudus. RSJD Surakarta. Adapun 16 indikator PHBS tatanan Rumah tangga tersebut meliputi : a. RSUP Dr. Amino Gondo Hutomo Semarang. Rata-rata TOI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3. ada 99 rumah sakit yang mempunyai nilai TOI di atas 3. Yang dimaksud rumah tangga sehat adalah proporsi rumah tangga yang memenuhi minimal 11 indikator dari 16 indikator PHBS tatanan rumah tangga. Penimbangan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 84 . Variabel KIA dan GIZI Balita. Yang sudah mempunyai nilai TOI ideal sebanyak 84 RS. RS Sejahtera Bakti Salatiga. menurun bila dibandingkan dengan rata-rata pada tahun 2010 sebesar 3.77. RSU Purbowangi Kebumen dan RS Nurussyifa Kudus. Hal ini menggambarkan penurunan terhadap penggunaan tempat tidur dan TOI Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 mendekati angka ideal.54 dari jumlah RS yang lapor. Kariadi Semarang. mau dan mampu melakukan PHBS dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. c. RSJD Dr. RM Soedjarwadi Klaten. Gizi seimbang : Persalinan Nakes. mencegah risiko terjadinya penyakit dan melindungi diri dari ancaman penyakit serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat. RSU Jati Husada Karanganyar.Dari 194 RS yang melapor. Rata-rata Hari Tempat Tidur Tidak Ditempati / Turn Of Interval (TOI) TOI dan ALOS merupakan indikator tentang efisiensi penggunaan tempat tidur. Perilaku Hidup Masyarakat 1. Semakin besar TOI maka efisiensi penggunaan tempat tidur semakin jelek. Persentase Rumah Tangga Ber-PHBS Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di rumah tangga merupakan upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar sadar.

Cakupan tertinggi (100%) dicapai oleh 6 kabupaten/kota yaitu Kota Pekalongan. Perubahan perilaku tidak dapat terjadi dalam waktu singkat.703. Kota Salatiga.Kepadatan hunian.31 Persentase Rumah Tangga Ber-PHBS Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 s/d 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 85 . 80 60 40 20 0 Cakupan 2007 43. Karanganyar.lantai rumah. Cuci tangan. Sedangkan cakupan terendah adalah Kabupaten Banjarnegara 49.91 2009 63.79 2008 57. Variabel KESLING : Air bersih.68% lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2010 (68. Miras/Narkoba d.63 2011 74. Demak dan Kendal. Berdasarkan data hasil pengkajian PHBS Tatanan Rumah Tangga yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di Jawa Tengah tahun 2011 dari 8.663 rumah tangga meningkat apabila dibandingkan dengan tahun 2010 dengan jumlah rumah tangga 8.696 dan yang diperiksa sejumlah 2. diperiksa 3.674.68 Gambar 4. c.68 2010 68.63%). Jamban.361 rumah tangga.b. tetapi memerlukan proses yang panjang termasuk didalamnya perlu upaya pemberdayaan masyarakat yang berkesinambungan.496. Tidak merokok.45%.629 rumah tangga yang ada. Berikut ini adalah Grafik persentase rumah tangga sehat berdasarkan strata Utama dan Paripurna di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 s/d 2011. Sampah. Variabel GAYA HIDUP : Aktifitas fisik.728. Variabel UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT : Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Pencapaian persentase rumah tangga sehat yaitu yang diwakili oleh rumah tangga yang mencapai strata sehat utama dan sehat paripurna telah mencapai 74. Banyumas.Kesehatan gigi dan mulut.

Pertanian. Cipta Karya dan Dinas Kesehatan).945 (46. Persentase Rumah Sehat Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Pengendalian Dampak Risiko Lingkungan (4). Flu Burung. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 86 . Pengembangan Wilayah Sehat. Bapermas. ISPA dan lain . kegiatan tersebut sangat berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Rumah haruslah sehat dan nyaman agar penghuninya dapat berkarya untuk meningkatkan produktivitas.35%) rumah diperiksa dan yang memenuhi syarat rumah sehat sebesar 2. Lingkungan Hidup.984 (62. Malaria. 1. Konstruksi rumah dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor risiko penularan berbagai jenis penyakit khususnya penyakit berbasis lingkungan seperti Demam Berdarah Dengue. Program Lingkungan Sehat bertujuan untuk mewujudkan mutu lingkungan hidup yang lebih sehat melalui pengembangan sistem kesehatan kewilayahan untuk menggerakkan pembangunan lintas sektor berwawasan kesehatan.01%. Perindustrian. Penyediaan Sarana Air Bersih dan Sanitasi Dasar (2). Pada Tahun 2011 sebanyak 3.441. Adapun kegiatan pokok untuk mencapai tujuan tersebut meliputi : (1). Pemeliharaan dan Pengawasan Kualitas Lingkungan (3). TBC. berbagai lintas sektor ikut serta berperan (Bappeda.D.878. disamping perilaku dan pelayanan kesehatan. peran swasta dan masyarakat. Pencapaian tujuan penyehatan lingkungan merupakan akumulasi berbagai pelaksanaan kegiatan dari berbagai lintas sektor. Keadaaan Lingkungan Lingkungan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap derajat kesehatan.95%) lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2010 yang mencapai 65. Pengelolaan kesehatan lingkungan merupakan penanganan yang paling kompleks.lain.

Kementerian Dalam Negeri serta Kementerian Pekerjaan Umum cukup signifikan terhadap penyelenggaraan kegiatan penyediaan air bersih dan sanitasi khususnya di daerah. Persentase Keluarga menurut Jenis Sarana Air Bersih yang Digunakan Adanya perubahan paradigma dalam pembangunan sektor air minum dan penyehatan lingkungan dalam penggunaan prasarana dan sarana yang dibangun. mengingat kasus Demam Berdarah yang cenderung meningkat dan bertambah luasnya wilayah terjangkit.14%) lebih banyak dibandingkan tahun 2010 (73. ban untuk pot dan lain .84 2008 58. Cakupan angka bebas jentik ini masih dibawah target 95%.32 Cakupan Rumah Sehat Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 . Persentase Rumah/Bangunan yang Diperiks Jentik Nyamuk Aedes Jumlah rumah di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 8. yang bebas jentik nyamuk Aedes aegypti sebanyak 2.175 rumah (77.lain harus selalu digerakkan secara optimal.66 64 62 60 58 56 54 Rumah Sehat 2007 64.53%). masyarakat.366.390.83 2009 65. pengembangan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 87 . Mengubur dan Plusnya adalah Mencegah Gigitan Nyamuk).43%). peningkatan upaya sumber daya manusia. melalui kebijakan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan yang ditandatangani oleh Bappenas. kampanye kesadaran peningkatan penyehatan lingkungan. Strategi pelaksanaan diantaranya.01 2011 62.12 2010 65.615.95 Gambar 4. meliputi penerapan pendekatan tanggap kebutuhan.087 (40.2011 2. Menutup. bila memungkinkan pemakaian ulang kaleng. yang 3. Kementerian Kesehatan. Oleh karena itu gerakan pemberantasan sarang nyamuk dengan 3 M Plus (Menguras.601 diperiksa jentik nyamuknya sebanyak 3.

Walaupun terdapat program – program air minum dan sanitasi untuk masyarakat berpenghasilan rendah. terbanyak memanfaatkan sumur gali (45.kelembagaan dan penguatan sistem monitoring serta evaluasi pada semua tingkatan proses pelaksanaan menjadi acuan pola pendekatan kegiatan penyediaan Air Bersih dan Sanitasi. Gambar 4. Jumlah keluarga yang diperiksa akses air bersih sebanyak 4. ternyata membayar lebih besar untuk memperoleh air daripada masyarakat berpenghasilan tinggi.313 (46.703.63%). Perlu dukungan kebijakan yang lebih fokus untuk penyediaan sanitasi dan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Masyarakat berpenghasilan rendah.33 Akses Air Bersih Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 88 . pasal 10).081. 7 Tahun 2004. Pada dasarnya negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi kebutuhan pokok minimal sehari – hari guna memenuhi kehidupan yang sehat.668. hal ini menunjukkan ketidakadilan dalam mendapatkan akses pada air minum. Keluarga yang telah akses air bersih tersebut. namun akses terhadap air minum belum menunjukkan peningkatan yang berarti.185 (89.696 KK dan yang telah memiliki akses sarana air bersih sebanyak 3. Namun pada kenyataannya persentase penduduk miskin masih tinggi.88%). sehingga kemampuan untuk mendapat akses ke sarana penyediaan air minum yang memenuhi syarat masih terbatas. bersih dan produktif (UU No.89%) dari 8.

58%) dan pengelolaan air limbah sehat 1.029. khususnya Diare.124 (71. tempat sampah sehat 2. tempat sampah dan pengelolaan air limbah.674.57%).696 KK dan yang telah menggunakan sumber air minum terlindung sebanyak 2. 5.67 Air Limbah 61.51 62.703.44 Tempat Sampah 79.506. terbanyak memanfaatkan sumur terlindung (33.2011 Dalam mendukung perubahan sanitasi total khususnya buang air besar di sembarang tempat.902 (40.66 45.1 Gambar 4.508.11%) dari 8.20%).34 Cakupan Sanitasi Dasar Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .51 73.29 %). Persentase Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar Kepemilikan sarana sanitasi dasar yang dimiliki oleh keluarga meliputi jamban. Persentase Keluarga menurut Sumber Air Minum yang Digunakan Jumlah keluarga yang diperiksa sumber air minumnya sebanyak 3. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 89 .057.325 (63.620 (68.4.734 (69.21%). telah dilakukan pemicuan Community Led Total Sanitation (CLTS) di 30 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah untuk mendukung pencapaian wilayah stop buang air besar di sembarang tempat dan penurunan penyakit berbasis lingkungan. Keluarga yang telah menggunakan sumber air minum terlindung tersebut.93 75. Melalui CLTS terjadi perubahan perilaku tidak buang air besar di sembarang tempat tanpa ada stimulan.2 72. Jumlah KK yang telah memiliki jamban sehat 2.9 65.06 55. 100 50 0 Jamban 2007 2008 2009 2010 70. pembiayaan tidak ada subsidi dan jamban adalah private good.34 68.95 71.

instalasi pengolahan air minum.53%.55% dan TUPM lainnya (67. perkantoran dan sarana lain dititik beratkan pada aspek hygiene sarana sanitasi yang erat kaitannya dengan kondisi fisik bangunan institusi tersebut. pasar 55. sarana ibadah.88 Kantor 72. Risiko dari pengelolaan makanan mempunyai peluang yang besar dalam penularan penyakit karena jumlah konsumen relatif banyak dalam waktu yang bersamaan. restoran/rumah makan 73.44%).457 buah dan yang memenuhi syarat kesehatan 37. Persentase Tempat-tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat Tempat – tempat umum dan Pengelolaan Makanan adalah kegiatan bagi umum yang dilakukan oleh badan pemerintah. pasar dan TUPM lainnya. Pengawasan sanitasi tempat umum bertujuan untuk mewujudkan kondisi yang memenuhi syarat kesehatan agar masyarakat pengunjung terhindar dari kemungkinan bahaya penularan penyakit serta tidak menyebabkan gangguan terhadap kesehatan masyarakat di sekitarnya.2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 90 . Cakupan pengawasan tempattempat umum yang memenuhi syarat kesehatan tahun 2011 meliputi hotel 84. swasta atau perorangan yang langsung digunakan oleh masyarakat yang mempunyai tempat dan kegiatan tetap serta memiliki fasilitas.67 58. 100 80 60 40 20 0 Sarkes 2011 81. Persentase Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya Kondisi kesehatan lingkungan pada institusi meliputi sarana pelayanan kesehatan. sarana pendidikan.11 Sarana Lain Inst Kelola 47. Tempat-tempat umum dan Pengelolaan Makanan meliputi hotel. Tempat-tempat Umum dan Pengelolaan Makanan seluruhnya yang diperiksa sebanyak 55.11 Ibadah 61.56 Gambar 4.6. restoran/rumah makan.21%).44%.51 Pendidikan 64. 7.829 (68.35 Cakupan Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .

Pengendalian faktor risiko lingkungan institusi terhadap penyakit berbasis lingkungan.67%. perkantoran 72.11% dan sarana lainnya 47. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 91 . b.56%. Pembinaan kesehatan lingkungan di institusi sekolah dan pondok pesantren. sarana ibadah 61.51%.Pada Tahun 2011 pencapaian cakupan institusi yang dibina yaitu sarana pelayanan kesehatan 81.11%. instalasi pengolahan air minum 58. Kegiatan yang dilakukan dalam meningkatkan kesehatan lingkungan di insitusi adalah: a.88%. sarana pendidikan 64.

stock terbanyak adalah Klorfeniramin Maleat tablet 4 mg 52. Ketersediaan Obat menurut Jenis Obat Pada tahun 2011 dari 34 jenis obat yang dilaporkan oleh kabupaten/kota.674 tablet.09%).46%).1 Tingkat Kecukupan obat di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011. sedangkan paling rendah adalah OAT Kategori 2 (52.BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN A. Gambar 5. sedangkan stock obat yang paling sedikit adalah OAT Katagori 3 sebanyak 523 paket dengan pemakaian rata-rata perbulan 43 paket. Prosentase tingkat kecukupan obat di Kabupaten/kota yang paling tinggi adalah kloramfenikol kapsul 250 mg (278.266 tablet dengan pemakaian rata-rata perbulan 2.834. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 92 . Tingkat kecukupan obat tertinggi adalah obat Kloramfenikol kapsul 250 mg (50) dan terendah adalah OAT katagori 3 (9) artinya bahwa persediaan obat Kloramfenikol kapsul 250 mg dapat tercukupi pemakaiannya untuk selama 50 bulan dan OAT katagori 3 dapat tercukupi pemakaiannya untuk selama 9 bulan.206. SARANA KESEHATAN 1.

TNI/POLRI sebanyak 41 (0. Puskesmas Non Perawatan sebanyak 576 unit. Puskesling. Puskesmas Perawatan. Industri Obat Tradisional sebanyak 14 unit dan BUMN sebanyak 3 (0. Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) sebanyak 47. RSB. Praktek Dokter Perorangan dan Praktek Pengobatan Tradisional. Puskesmas Perawatan sebanyak 291 unit. RB.276 unit. Sarana Kesehatan dengan presentase tertinggi adalah Posyandu 68. sarana kesehatan dengan presentase tertinggi adalah swasta 71.2. yang terbagi dalam 6 kepemilikan yaitu. Apotek sebanyak 2. Sedangkan menurut kepemilikannya.31%). Sarana Pelayanan Kesehatan dengan Kemampuan Labkes dan Memiliki 4 Spesialis Dasar Sarana kesehatan dengan kemampuan pelayanan laboratorium kesehatan yang dapat diakses masyarakat adalah cakupan sarana kesehatan yang telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pelayanan laboratorium kesehatan sesuai standar dan dapat diakses oleh masyarakat dalam waktu tertentu. Rumah Bersalin sebanyak 249 unit. RSJ. Praktik Dokter Perorangan sebanyak 4. Provinsi sebanyak 10 (0. Rumah Sskit Jiwa sebanyak 4 unit. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 93 .32% dan terendah adalah RSJ dan RSB keduanya 0. Puskesmas Pembantu sebanyak 1. Rumah Sakit Bersalin sebanyak 10 unit.02%) dan Industri Kecil Obat Tradisional sebanyak 285.866 unit.14% dan terendah adalah BUMN 0.901. Praktik Dokter Bersama sebanyak 57 unit.158 unit.41%). Sarana Pelayanan Kesehatan terdiri dari Rumah Sakit Umum sebanyak 179 unit . Puskesmas Non Perawatan. 3. Puskesmas Keliling sebanyak 948 unit. RS Khusus lainnya sebanyak 54 unit. Jumlah sarana pelayanan kesehatan pada tahun 2011 sebanyak 13. Praktek Dokter Bersama.05%). BP/Klinik.02%.13%). Praktik Pengobatan Tradisional sebanyak 3.827 unit.209 unit. Balai Pengobatan/Klinik sebanyak 888 unit .348 (71. Toko Obat sebanyak 367 unit. Pusat sebanyak 6 (0. Jumlah Sarana Pelayanan Kesehatan menurut Kepemilikan/Pengelola Sarana Pelayanan Kesehatan terdiri dari RSU.142 unit. Kabupaten/kota sebanyak 3734 (28. Swasta sebanyak 9. Pos Kesehatan Desa (PKD) sebanyak 5. Pustu. Gudang Farmasi Kesehatan (GFK) sebanyak 35 unit. RS Khusus lainnya.08%).01%.

Rumah Sakit Umum (RSU) di Provinsi Jawa Tengah (179 RSU) baik pemerintah maupun swasta sudah 135 RSU (75.36%.32 RSJ 100 RS Khusus 95. untuk menegakkan diagnosis dokter di rumah sakit. 120 100 80 60 40 20 0 RSU Laboratorium Kesehatan 98.32%. dimana hal ini berkaitan dengan disyaratkannya penyelenggaraan empat pelayanan kesehatan spesialis dasar pada perizinan pendirian sebuah rumah sakit. utamanya lima program prioritas Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 94 .39% dengan perincian untuk RSU 98. Sebanyak 24.58% RSU lainnya hanya memiliki kurang dari 4 (empat) pelayanan dasar. oleh. RS Jiwa 100%. dan Puskesmas 70.2 Sarana Kesehatan Dengan Kemampuan Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Sarana kesehatan dengan kemampuan pelayanan laboratorium yang dapat diakses masyarakat Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 76.36 Gambar 5.31%.Kemampuan pelayanan laboratorium kesehatan yang dimaksud adalah upaya pelayanan penunjang medik untuk mendukung dalam pelayanan medik. RS Khusus 95.42%) yang memiliki minimal empat spesialis dasar. Posyandu menurut Strata Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari.31 Puskesmas 70. 4. untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar.

29 36.sarana.08 2011 12. program pengembangan dan administrasi 3) Variable Output: D/S. Cakupan kumulatif imunisasi. Gizi.24 33.86 13. Cakupan kumulatif KIA. pemberian ASI eksklusif dan frekuensi penimbangan.276 posyandu.3 Persentase Posyandu Berdasarkan Strata Tahun 2007 s/d 2011 Berdasarkan laporan Kabupaten/kota. Fe. Penghitungan strata Posyandu secara kuantitatif berdasar Surat Gubernur Jawa Tengah nomor 411. kader. tanggal 20 Februari 2007 tentang Pedoman teknis penghitungan strata Posyandu secara kuantitatif yang dinilai meliputi: 1) Variabel Input: kepengurusan.05 2009 15.79 12. pertolongan persalinan oleh nakes. Cakupan peserta KB.yang meliputi (KB.87 39. Imunisasi. Vit A.69 32.882 pada tahun 2010 menjadi 47. prasarana dan dana. K/S.84 16. Ada tidaknya program tambahan dan Cakupan dana sehat b. Rerata cakupan D/S.76 2008 16.08 Gambar 5. KIA. Rerata kader bertugas pada hari buka Posyandu.79 8.93 34. Manajemen ARRIF dengan 8 indikator yang meliputi : Frekuensi penimbangan.4/05768. jumlah posyandu tahun 2011 menurun dari 47.61 32. dana sehat. Cakupan kumulatif KB.77 34.85 41.85 10.58 2010 15. cakupan K4.15 36. 60 40 20 0 2007 Pratama Madya Purnama Mandiri 16. Imunisasi dan penanggulangan diare dan ISPA) dengan tujuan mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 95 . N/S. 2) Variabel Proses : pelaksanaan program pokok. Dasar penghitungan Strata/penilaian tingkat perkembangan posyandu yang selama ini digunakan adalah: a.94 38.

cakupan kelima kegiatan utamanya lebih dari 50%. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 96 .94%.4 Jumlah Posyandu Tahun 2007 s/d 2011 Dari grafik di atas. dengan rata-rata jumlah kader sebanyak lima orang atau lebih.31%) dan terendah di Kabupaten Blora (15. Cakupan tersebut mengalami peningkatan apabila dibandingkan tahun 2010 sebesar 34.84%).417 (36. dengan nilai tertinggi di Kabupaten Tegal (64. dapat dilihat bahwa jumlah Posyandu 2011 mengalami penurunan. a) Posyandu Purnama Posyandu Purnama adalah Posyandu yang sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun. namun dalam 3 (tiga) tahun sebelumnya mengalami peningkatan. serta telah memperoleh sumber pembiayaan dari dana sehat yang dikelola oleh masyarakat yang pesertanya masih terbatas yakni kurang dari 50% KK di wilayah kerja Posyandu.49500 49000 48500 48000 47500 47000 46500 46000 45500 Posyandu 2007 46823 2008 47285 2009 49096 2010 47882 2011 47276 Gambar 5. Sebanyak 13 kabupaten/kota (37. mampu menyelenggarakan program tambahan. Posyandu yang mencapai Strata Purnama pada tahun 2011 sebanyak 17.14%).14%) telah berhasil mencapai target diatas 40%. Meskipun kenaikan secara kualitatif (strata purnama dan strata mandiri) relatif kecil.

94 2011 36. 2010 (13. b) Posyandu Mandiri Posyandu Mandiri adalah Posyandu sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun. Kabupaten/Kota maupun Kecamatan serta Pokja Posyandu di tingkat desa/kelurahan.90%).08%).84 Gambar 5. mampu menyelenggarakan program tambahan.79 2008 33.5 Cakupan Posyandu Purnama Tahun 2007 – 2011 Kegiatan revitalisasi posyandu masih perlu mendapat perhatian dari semua sektor/pihak terkait. meningkat dibandingkan dengan nilai tertinggi di Kota Surakarta (82. cakupan kelima kegiatan utamanya lebih dari 50%. dengan rata-rata jumlah kader sebanyak lima orang atau lebih. Posyandu yang mencapai Strata Mandiri tahun 2011 sejumlah 7.603 buah (16. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 97 .85 2009 32. serta telah memperoleh sumber pembiayaan dari dana sehat yang dikelola oleh masyarakat yang pesertanya lebih dari 50% KK di wilayah kerja Posyandu. Pencapaian cakupan tersebut sudah melampaui target SPM 2010 (> 2%).38 37 36 35 34 33 32 31 30 Posyandu Purnama 2007 32.79 2010 34. Termasuk didalamnya adalah dengan mengoptimalkan fungsi Posyandu maupun Pokjanal Posyandu yang sudah terbentuk baik di tingkat Provinsi.70%).

UP2K). Poliklinik Kesehatan Desa (PKD) adalah wujud upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat yang merupakan Program Unggulan di Jawa Tengah dalam rangka mewujudkan desa siaga.42%). Dengan dikembangkannya Polindes menjadi PKD maka fungsinya menjadi tempat untuk memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan masyarakat. Forum Kesehatan Desa. UKBM terbanyak adalah Posyandu sebesar 47. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 98 . hal tersebut dapat terjadi seiring dengan dikembangkannya Posyandu Model (Kegiatan Posyandu yang sudah diintegrasikan dengan minimal satu kelompok kegiatan yang sesuai dengan karakteristik daerah. forum komunikasi pembangunan kesehatan di desa.061 buah.276 (77.76 2008 10. PKD merupakan pengembangan dari Pondok Bersalin Desa.58 2010 13.20 15 10 5 0 Posyandu Mandiri 2007 8. Polindes. Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) terdiri atas Desa Siaga.9 2011 16.05 2009 12. Sehingga secara tidak langsung kegiatan integrasi tersebut dapat mempengaruhi pencapaian indikator proses maupun indikator output posyandu. misal kegiatan BKB. memberikan pelayanan kesehatan dasar termasuk kefarmasian sederhana dan untuk deteksi dini serta penanggulangan pertama kasus gawat darurat. PAUD.6 Cakupan Posyandu Mandiri Tahun 2007 – 2011 Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2011 terjadi kenaikan persentase pencapaian strata mandiri. Poskesdes. Total UKBM tahun 2011 adalah 61.08 Gambar 5. sebagai tempat untuk melakukan pembinaan kader/pemberdayaan masyarakat. 5. dan Posyandu.

Puskesmas sendiri merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pengembangan kesehatan di suatu wilayah kerja (Departemen Kesehatan RI. Pada tahun 2011 jumlah puskesmas keliling adalah 948 unit.576 buah.80 maka tahun 2011 jumlah puskesmas masih mengalami kekurangan. Puskesmas Pembantu. bencana. Jumlah Desa Siaga pada tahun 2011 adalah 8.1. 2004). puskesmas perawatan.44). puskesmas pembantu.Pengembangan PKD dimulai sejak tahun 2004.000 penduduk pada tahun 2011 sebesar 0. dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. menurun dibandingkan tahun 2010. 6. mengalami peningkatan dibandingkan dengan jumlah Poskesdes tahun 2010 sebanyak 8. Rasio jumlah puskesmas per 30. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 99 . Sebuah desa dikatakan menjadi desa siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). Jumlah Puskesmas di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 867 (termasuk 291 Puskesmas Rawat Inap). yang pengelolaannya ada di bawah dinas kesehatan kabupaten/kota adalah organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh. Rasio puskesmas keliling terhadap puskesmas pada tahun 2011 adalah 1.80 berarti bahwa jumlah puskesmas belum tercukupi. Jumlah puskesmas. Puskesmas terdiri dari Puskesmas Perawatan. Data Dasar Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas}. Sedangkan rasio tertinggi di Kota Tegal (1. Jumlah PKD pada tahun 2011 sebanyak 5.28) dan rasio terendah masih tetap di Kabupaten Sukoharjo (0. Dengan rasio 0. Puskesmas Non Perawatan. dan puskesmas keliling dapat dilihat pada gambar 5. Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalahmasalah kesehatan. dan Puskesmas Keliling. hal ini diupayakan dapat terpenuhi dengan puskesmas pembantu dan puskesmas keliling.209 buah. dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat.827.09. Jumlah puskesmas pembantu pada tahun 2011 masih tetap sama dengan tahun 2010 sebanyak 1. merata.572. terpadu.

Puskesmas Pembantu.167 tenaga yang terdiri dari tenaga medis. Kebutuhan tenaga kesehatan belum dapat terpenuhi. Jumlah tenaga kesehatan tersebut meningkat bila dibandingkan dengan jumlah tenaga kesehatan tahun 2010 sebanyak 54. Untuk mencukupi kebutuhan tenaga kesehatan tersebut.2000 1600 1200 800 400 0 Puskesmas 2007 2008 2009 2010 2011 851 861 867 864 867 Pusk. pemerintah membuka penerimaan CPNS baru baik secara swakelola maupun tenaga pusat yang ditempatkan di daerah. baik di pemerintah pusat. dan kesehatan masyarakat. perawat. tenaga farmasi. Kekurangan lain disebabkan belum adanya formasi pengganti bagi tenaga yang pensiun. Untuk mencukupi kekurangan tenaga tersebut dilakukan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 100 . TENAGA KESEHATAN Tenaga kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sejumlah 58. Puskesmas Perawatan. Peningkatan jumlah tenaga kesehatan sebanyak 6. berpengaruh terhadap peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang semakin tinggi.7 Jumlah Puskesmas. provinsi maupun kabupaten/kota dan makin kompleksnya masalah-masalah yang ditangani oleh tenaga kesehatan. Sehingga menyebabkan sulitnya dalam menentukan kebutuhan tenaga kesehatan di tingkat kabupaten/kota.19%. sanitasi. dan Puskesmas Keliling Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 B. khususnya di tingkat kabupaten/kota dikarenakan beban terhadap penganggaran pegawai serta belum berjalannya kegiatan mobilisasi tenaga kesehatan yang sesuai dengan penempatan tugas tenaga tersebut. bidan.774 tenaga. RI 256 267 283 281 291 Pustu 1843 1846 1850 1827 1827 Pusling 963 1020 1130 1138 948 Gambar 5.

96 Gambar 5. Dokter Spesialis Jumlah tenaga dokter spesialis yang bekerja di sarana kesehatan sebanyak 2.96 meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (6.pengangkatan Dokter Tidak Tetap.2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 101 .000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 6.35% lebih kecil dibandingkan dengan tahun 2010 (40. Rasio dokter spesialis tertinggi di Kota Magelang (71. dan dinas kesehatan provinsi sebesar 0. 10 8 6 4 2 0 Rasio dokter spesialis 2007 4. Persentase penempatan tenaga kesehatan pada tahun 2011 adalah sebagai berikut.99%).89%). rumah sakit sebesar 59.72% lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (0.63). Jumlah dan Rasio Tenaga Medis di Sarana Kesehatan a.07% lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (2. puskesmas sebesar 30. sarana kesehatan lain sebesar 5.41%).00).8 Rasio Dr.11 lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (52. institusi diklat/diknakes sebesar 2.55%). Rasio tersebut berada di atas standar WHO sebesar 6/100.42%).86 2008 4.96 2009 8 2010 6.71% lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (2. Spesialis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 . dinas kesehatan kabupaten/kota sebesar 2.28%).63 2011 6.00) dan Kabupaten Sragen (0.253 orang sehingga rasio dokter spesialis per 100.000 penduduk.05%) dan rasio terendah di Kabupaten Banjarnegara (0. 1.04% lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (1. Pengangkatan PTT tersebut dilakukan masa bakti selama 3 tahun baik dengan dana Pemerintah Pusat maupun dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) masing-masing kabupaten/kota. Bidan Tidak Tetap dan diupayakan dapat mengangkat tenaga kesehatan lain sebagai pegawai tidak tetap disamping sebagai Pegawai Harian Lepas (PHL).

963 sehingga rasio dokter umum per 100.72 2009 3.27 Gambar 5.021 sehingga rasio dokter gigi di Provinsi Jawa Tengah per 100. yang bekerja di sarana kesehatan sebanyak 1.27 meningkat dibanding tahun 2010 (2.96 meningkat dibanding tahun 2010 (11. Umum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .92.69 dan tertinggi adalah Kota Magelang 16.06 2008 2.224 orang. 4 3 2 1 0 Rasio dokter gigi 2007 3.91 2011 3.000 penduduk tahun 2011 sebesar 3.000 penduduk.13 2011 12.21 2008 10.000 penduduk adalah 12.13).97 dan terendah adalah Kabupaten Klaten sebesar 5.22.9 Rasio Dr.2011 c. yang bekerja di sarana kesehatan sebanyak 3.10 Rasio Dr. Dokter Gigi Jumlah tenaga dokter gigi di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 1.91).96 Gambar 5.058.b. Rasio terbesar adalah Kota Magelang 76.41 2009 11. Dokter Umum Di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011. 14 12 10 8 6 4 2 0 Rasio dokter umum 2007 11.000 penduduk. Gigi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 102 . Rasio tersebut masih di bawah target nasional 11 per 100. jumlah tenaga dokter umum sebanyak 4.14 2010 2. Rasio terendah adalah Kabupaten Banjarnegara 0.35 2010 11. Rasio tersebut masih di bawah target nasional 40 per 100.

000 penduduk tahun 2011 sebesar 39.12 Rasio Tenaga Bidan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 103 .76 2010 76.72 dan terendah Kabupaten Banjarnegara 7.14 2008 60.47).472. Perawat Tenaga perawat di Provinsi Jawa tengah sebanyak 24.45 2009 65.95 menurun dibandingkan tahun 2010 (76.94.2.11 Rasio Tenaga Perawat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 . 100 80 60 40 20 0 Rasio perawat 2007 62. sebagian besar bekerja di sarana kesehatan sebanyak 23. Bidan Jumlah Tenaga Bidan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 adalah 13.41 dan terendah adalah Kabupaten Tegal 22.947 sehingga rasio tenaga perawat per 100.69 2010 38.55 2011 73.812 orang). Rasio tertinggi adalah Kota Magelang 749.43 2009 36.000 penduduk adalah 73.2011 b. 50 40 30 20 10 0 Rasio bidan 2007 31. sebagian besar bekerja di sarana kesehatan (12. Jumlah dan Rasio Tenaga Keperawatan di Sarana Kesehatan a.71 2008 34.56 meningkat dibanding tahun 2010 (38.25. Rasio tertinggi adalah Kota Magelang 127.56 Gambar 5.100 orang.55).95 Gambar 5.47 2011 39. Rasio Tenaga Bidan per 100.

Rasio tertinggi Kota Surakarta 1. Angka tersebut masih di bawah target nasional 22 per 100.97 2010 11. yang sebanyak 1.13 Rasio Tenaga Kefarmasian Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 4. Rasio tenaga gizi per 100.000 penduduk sebesar 4. Rasio tenaga kefarmasian per 100.454 bekerja di sarana kesehatan.11 dan Kabupaten Batang 0.959 orang. dan D-1 Gizi.000 penduduk.000 penduduk. Sedangkan rasio tenaga apoteker dan sarjana farmasi per 100.11.15 2009 8.090 orang bekerja di sarana kesehatan.63 meningkat dibanding tahun 2010 (11.23 2011 12. Jumlah tenaga kefarmasian di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 adalah 4.88 dan terendah Kabupaten Wonosobo 0. Jumlah tenaga gizi di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 adalah 1.000 penduduk adalah 12. 15 10 5 0 Rasio tenaga kefarmasian 2007 9.376 didominasi oleh tenaga perempuan sebanyak 2. Jumlah dan Rasio Tenaga Kefarmasian di Sarana Kesehatan Tenaga kefarmasian terdiri dari Apoteker. D-III Gizi. D-III Farmasi.68 dan terendah adalah Kabupaten Pati 1.63 Gambar 5.000 penduduk pada tahun 2011 sebesar 4. dan Asisten Apoteker.55 dibawah target nasional 10 per 100. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 104 . Jumlah dan Rasio Tenaga Gizi di Sarana Kesehatan Tenaga gizi terdiri dari D-IV/S-1 Gizi.55).06 2008 9.549 orang. Rasio tertinggi adalah Kota Magelang 34.23).49 menurun bila dibandingkan dengan tahun 2010 (4.85. yang sebanyak 4.3. S-1 Farmasi.

Jumlah dan Rasio Tenaga Kesehatan Masyarakat di Sarana Kesehatan a.30).14 Rasio Tenaga Gizi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 5.230 orang.8 2010 4. 5 4 3 2 1 0 Rasio tenaga kesmas 2007 3.86 2008 3.14 2010 4.62) dan terendah adalah Kabupaten Klaten (0.56 2009 3. Rasio tertinggi adalah Kota Tegal (19.96 menurun dibandingkan dengan tahun 2010 (4.3 2011 2.000 penduduk tahun 2011 sebesar 2.20 turun dibandingkan dengan tahun 2010 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 105 .49 Gambar 5.5 4 3 2 1 0 Rasio tenaga gizi 2007 3. Jumlah Tenaga Sanitasi di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 adalah 1.758 orang. Rasio tenaga sanitasi per 100.036 diantaranya bekerja di sarana kesehatan. Kesehatan Masyarakat Jumlah tenaga kesehatan masyarakat di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 1.55 2011 4.15 Rasio Tenaga Kesehatan Masyarakat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 b. yang 958 orang bekerja di sarana kesehatan.000 penduduk sebesar 3.61 2009 4.71).37 2008 3. yang 1.96 Gambar 5. Tenaga Sanitasi Tenaga sanitasi terdiri dari D-III sanitasi dan D-I sanitasi. Rasio tenaga kesehatan masyarakat per 100.

Jumlah dan Rasio Tenaga Medis dan Fisioterapis di Sarana Kesehatan a.2 Gambar 5.315 orang diantaranya bekerja di sarana kesehatan.63 2008 3.38). teknik elektromedik.442 orang.76 2008 8.24 menurun dibandingkan dengan 2010 (10. yang 3.56).74 2011 3. Rasio tenaga sanitasi dapat dilihat pada gambar 5. penata rontgent dan penata anestesi.17 Rasio Tenaga Tehnisi Medis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 106 . 12 10 8 6 4 2 0 Rasio tenaga teknisi medis 2007 8.69. Rasio tertinggi adalah Kota Magelang (27. Rasio tenaga teknisi medis per 100. Teknisi Medis Tenaga teknisi medis terdiri dari analis laboratorium.(3.85 2009 8.2011 6.50 dan adalah Kabupaten Karanganyar 3.59 2009 3. Tenaga teknisi medis di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sejumlah 3. 5 4 3 2 1 0 Rasio tenaga sanitasi 2007 4.45 2010 3.07) dan terendah adalah Kabupaten Demak (0.74).16 Rasio Tenaga Sanitasi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .56 2011 10.10.000 penduduk sebesar 10.99 2010 10.24 tahun terendah Gambar 5. Rasio tertinggi adalah Kota Magelang 90.

Kontribusi anggaran kesehatan APBD kabupaten/kota meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2010 (51. Sesuai dengan Undang-Undang No. APBD provinsi yang dialokasikan untuk pembiayaan kesehatan di kabupaten/kota tahun 2011 sebesar 1. Persentase Anggaran Kesehatan dalam APBD Kabupaten/Kota Pada tahun 2011 jumlah total anggaran kesehatan kabupaten/kota se Jawa Tengah Rp.975.84% berasal dari APBD kabupaten/kota.73%).06% adalah sumber dari pemerintah lain. Mobilitas tenaga atau distribusi tenaga kesehatan yang tersebar di wilayah pelayanan kesehatan diupayakan dengan peningkatan sarana-sarana kesehatan yang ada.31 dan Rembang 0.000 penduduk tahun 2011 sebesar 1. Kontribusi DAK bidang kesehatan di kabupaten/kota sebesar 7.78. Kontribusi terendah 0. dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah/desentralisasi.2. seperti peningkatan akreditasi rumah sakit.39%. Pemerintah provinsi dan pemerintah daerah (kabupaten/kota) telah berusaha mencukupi kebutuhan tenaganya melalui pengangkatan tenaga baru seperti CPNS. 33 tahun 2004.b.637.25%). peningkatan puskesmas menjadi puskesmas rawat inap dan peningkatan pemberian insentif oleh Kementrian Kesehatan bagi tenaga medis yang melaksanakan masa bakti di daerah terpencil maupun sangat terpencil. terendah adalah Kabupaten C. PEMBIAYAAN KESEHATAN 1. Tenaga Fisioterapi Jumlah tenaga fisioterapi di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 615 orang.85%. 575 orang diantaranya bekerja di sarana kesehatan. terdapat pembagian peran dan wewenang antara pemerintah pusat dan daerah. PHL maupun PTT. Rasio tenaga fisioterapi per 100. tertinggi adalah Kota Semarang 0.657 dengan kontribusi terbesar sebesar 79.01 Jumlah tenaga kesehatan di Provinsi Jawa Tengah masih belum tercukupi dan belum merata sesuai kebutuhan kabupaten/kota. Dalam pembangunan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 107 . mengalami meningkat dibandingkan tahun 2010 (0.573.01 dan Kabupaten Demak 0.

Anggaran kesehatan bersumber PHLN tahun 2011 mencapai 0.55% pada tahun 2011 Anggaran belanja bersumber APBD kabupaten/kota yang dialokasikan untuk pembiayaan kesehatan tahun 2011 sebesar 79.358.12% dari keseluruhan anggaran kesehatan menurun dibandingkan tahun 2010 (0.73%).80% pada tahun 2011. Hal ini merupakan respon pemerintah yang positif terhadap pembangunan bidang kesehatan di kabupaten/kota. pemerintah pusat dan daerah menyediakan pelayanan kesehatan yang merata.234.93% pada tahun 2010 menjadi 3. Kontribusi anggaran kesehatan bersumber dana lain meningkat dari 0.428.975. terjangkau dan berkualitas..pada tahun 2010 menjadi Rp. Total angaran kesehatan kab/kota tahun 2011 sebesar Rp. Melalui Dana Alokasi Khusus (DAK).81. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 108 .84% dari total APBD kabupaten/kota.kesehatan.657 lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebesar Rp.-.637. Jumlah anggaran untuk askeskin sebesar 5.105. pemerintah pusat memberikan anggaran pada daerah untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan prioritas nasional.pada tahun 2011. meningkat dibandingkan tahun 2010 (51.362.39%). Anggaran kesehatan perkapita menurun dari Rp..3.450.573.866.2.

50/1.BAB VI KESIMPULAN A.000 kelahiran hidup. Angka kematian kecelakaan lalu lintas di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 adalah sebesar 2.000 kelahiran hidup). Case Detection Rate (CDR) atau angka penemuan penderita TB paru BTA (+) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 59. b. sehingga sudah memenuhi target (164 kasus). mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan AKI pada tahun 2010 yang sebesar 104. Pada tahun 2011 di Provinsi Jawa Tengah ditemukan 215 penderita AFP. sudah melampaui target Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tahun 2015 (17/1. 215 kasus yang diperiksa semua menunjukan negatif polio (berarti tidak ditemukan virus polio liar).15% sudah melebihi target nasional (85%) dan meningkat bila dibandingkan tahun 2009 (85.52.000 penduduk Provinsi Jawa Tengah sebesar 74. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 109 . Angka Kematian Balita (AKABA) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 11. d.000 kelahiran hidup. c. Angka kesembuhan (Cure Rate ) TB paru Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 sebesar 85.52%. c. Derajat Kesehatan 1.000 kelahiran hidup. b.000 penduduk.000 kelahiran hidup. sudah melampaui target Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tahun 2015 (23/1. Angka Kematian Ibu (AKI) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 116.000 kelahiran hidup). 2. Morbiditas/Angka Kesakitan a.38%).97/100.34/1. Angka Kematian Bayi (AKB) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 10. d.01%).70 per 100. meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 (55. Prevalensi Tuberkulosis tahun 2011 per 100. Dari hasil pemeriksaan laboratorium.01/100. Mortalitas/Angka Kematian a.

29%) dan sudah lebih rendah bila dibandingkan dengan target nasional (<1%) Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 110 .702 kasus. Dari hasil pemeriksaan sampel darah tersebut. Cakupan program kusta tipe PB tahun 2011 berdasarkan jumlah penderita baru tahun 2010 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2011 sebesar 85% lebih rendah dari target 90%.5% dengan jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 66. Proporsi cacat tingkat II pada tahun 2011 sebesar 13. mengalami peningkatan bila dibandingkan cakupan tahun 2010 (44.14%.13) yang positif HIV.000 penduduk.873 kasus dan tipe Pausi Basiler sebanyak 395 kasus dengan Newly Case Detection Rate (NCDR) sebesar 7 per 100. kemudian yang dilakukan pemeriksaan sampel darah sebanyak 324.752 kasus.e.000 penduduk) dan sudah mencapai target nasional yaitu <20/100. Kasus Aquiared Immuno Devisiency Syndrome (AIDS) sebanyak 521 kasus dengan jumlah kematian karena AIDS sebanyak 89 kasus.269 orang. Jumlah pendonor pada tahun 2011 diketahui sebanyak 346.32%. sedangkan proporsi anak di antara penderita baru sebesar 10. lebih rendah bila dibandingkan CFR tahun 2010 (1. Persentase penemuan dan penanganan penderita pneumonia pada balita tahun 2011 sebesar 25.63%). g.93%. sebanyak 415 sampel (0. f. menurun bila dibandingkan tahun 2010 (59. Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) DBD tahun 2011 sebesar 0.9%.81%).000 penduduk. Cakupan penemuan dan penanganan diare di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 57.27/100. l. k. h.000 penduduk. Jumlah kasus baru tipe Multi Basiler yang dilaporkan sebanyak 1.48%). Jumlah infeksi HIV yang dilaporkan tahun 2011 sebanyak 755 kasus. i. Jumlah kasus baru IMS lainnya di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 ini sebanyak 10. Kusta tipe MB diambil dari data penderita baru tahun 2009 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2011 sebesar 76% lebih rendah dari target 95%. m. Angka kesakitan/Incidence Rate (IR) DBD di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 15.828 (93. j. mengalami penurunan bila dibanding tahun 2010 (40.8/100.

sedikit meningkat dibandingkan tahun 2010 (0.11%).860 kasus (72.09%.08%). r.664 kasus).03%.12% meningkat bila kordis dibandingkan tahun 2010 (0.11‰. Kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah yang melaporkan data PTM tahun 2011 hanya 27 kabupaten/kota (77. Yang termasuk dalam PD3I yaitu Polio.873 kasus.n. Jumlah kasus Pertusis sebanyak 4 kasus yang berasal dari Kabupaten Kudus. Prevalensi diabetes melitus tergantung insulin sebesar 0.03% dan tersebar di 5 kabupaten/kota. mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2010 (1 kasus). Jumlah kasus Campak sebanyak 1. Jumlah kasus Tetanus Neonatorum sebanyak 4 kasus yang tersebar di 4 kabupaten/kota. Difteri dan Hepatitis B. Prevalensi kasus tahun 2011 sebesar 0.193 kasus). o.43% (880. Jumlah kasus Tetanus (Non Neonatorum) sebanyak 13 kasus yang tersebar di 4 kabupaten/kota. meningkat dibandingkan tahun 2010 (3. Tetanus Non Neonatorum. q. jumlah kasus Filariasis pada tahun 2011 sebanyak 537 penderita. Jumlah kasus Polio sebanyak 0 kasus. Campak. Jumlah kasus Difteri pada tahun 2011 sebanyak 8 kasus lebih sedikit bila dibandingkan dengan tahun 2010 (14 kasus). mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2010 (117 kasus) dan terdapat di 9 kabupaten/kota.300 kasus) dan angka kesakitan malaria sebesar 0. Kasus penyakit kanker yang ditemukan sebanyak Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 111 . Secara kumulatif. meningkat dibandingkan tahun 2010 (0.63% pada tahun 2011. yaitu sebanyak 634. Prevalensi kasus DM tidak tergantung insulin menurun dari 0. mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2010 (3. Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) Malaria tahun 2011 sebesar 0. Pertusis. Kasus tertinggi PTM adalah kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah sebesar 62. Tetanus Neonatorum. p.467 kasus. Jumlah kasus Hepatitis B sebanyak 170 kasus.70% menjadi 0. Prevalensi stroke dekompensasio non hemorargik sebesar 0.09%.10‰).1%). Prevalensi stroke hemoragik tahun 2011 adalah 0.13 %). Kasus tertinggi PTM pada kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah adalah penyakit Hipertensi Esensial. Jumlah kasus tahun 2011 sebanyak 3. dimana untuk tahun 2011 ini ada 141 kasus baru.

13%).59%). Adapun persentase BBLR sebesar 3. 3. Cakupan kunjungan ibu hamil K4 tahun 2011 sebesar 93. meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (98.19.42%). Persentase balita dengan gizi kurang (BB/U) Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 5.71%. Pelayanan Kesehatan a. Status Gizi a.184 meningkat banyak apabila dibandingkan tahun 2010 yang sebanyak 15. paru 954 kasus (4.242 (11. mamae 9.69%.59%). Upaya Kesehatan 1.514 (0. Prevalensi kasus PPOK mengalami peningkatan yaitu dari 0.28%.72%.27%).542 kasus (48. servik 6.187 (0. Balita Gizi Buruk (BB/TB) tahun 2011 berjumlah 3. Cakupan kunjungan ibu hamil K1 di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 98.04%) tetapi belum memenuhi target SPM 2015 (95%).631. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 96. terdiri dari Ca.79%.86%). b.64%). B. dan Ca. Persentase Balita Gizi Buruk mendapatkan perawatan tahun 2011 sebesar 100% jauh lebih meningkat dibandingkan tahun 2010 sebesar 93.899 kasus (35.35% c. Jumlah bayi berat lahir rendah (BBLR) di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 21.637 kasus meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (13. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 112 . hepar 2. Prevalensi kasus asma sebesar 0. meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (92.73%. Ca. b. c.277 kasus).08% pada tahun 2010 menjadi 0.55% mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2010 (0. meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (93.09% pada tahun 2011.10%) menurun apabila dibandingkan tahun 2010 sejumlah 3. meningkat bila dibandingkan tahun 2010 sebesar 2.18%). Ca.

g.10) tetapi belum mencapai target SPM 2015 (80%). Cakupan neonatus risti tertangani Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 53. Cakupan pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi pada bayi sebesar 99.853 anak. Cakupan tersebut masih dibawah target SPM (95%). Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada Balita tahun 2011 sebesar 98. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani tahun 2011 sebesar 75. mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010 (78.84%). Jumlah siswa SD dan setingkat tahun 2011 sebanyak 2. Cakupan ibu nifas mendapat kapsul vitamin A tahun 2011 sebesar 96.45%. k. meningkat dibandingkan tahun 2010 (92. meningkat dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (52.61%). lebih banyak dibandingkan tahun 2010 sebesar 96.25% mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010 (44.73%).35%.01%. mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010 (96. m. e. Cakupan kunjungan neonatus di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 98. j.d. Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga kesehatan / guru UKS / kader kesehatan sekolah tahun 2011 sebesar 78. Cakupan pelayanan pada ibu nifas di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 93. lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun 2010 (93.76%).86%).97%.24%). f. Cakupan tersebut sudah melampaui target SPM sebesar 95%. Cakupan pelayanan anak balita tahun 2011 sebesar 81. l. Yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai strata UKS sebesar 1.08%.72%. meningkat bila dibandingkan cakupan tahun 2010 (93.64%. meningkat bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (94.84%. n. meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebesar 55.28%. Cakupan kunjungan bayi di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 92.831 (42. Cakupan ini sudah melampaui target SPM (95%).02%.074. i.555.43%. h.70%).78%) Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 113 .

menurun apabila dibanding tahun 2010 (997.15%). DPT3+HB3 (95.549.06%). Cakupan pemberian Fe3 pada ibu hamil di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 90. u. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 114 . MKJP Tahun 2011: IUD (6. Jumlah peserta KB baru pada tahun 2011 sebanyak 895. MOP (0. Cakupan balita ditimbang tahun 2011 sebesar 78. sudah mencapai target (70%). meningkat dibandingkan tahun 2010 (37. PIL (18.49%). Cakupan desa dengan garam beryodium tahun 2011 sebanyak 53. v.20% dari jumlah PUS (6.120 (13. NON MKJP: Suntik (54.18%.6%). Cakupan pemberian ASI eksklusif hanya sekitar 45. x. p. DPT1+HB1 (97.87%).28%).32% menurun dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (89. mengalami penurunan dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (78. Kesemuanya sudah di atas target minimal nasional (85%).0%) dan Implant (12.0%). s.2%).25%. Pencapaian UCI desa tahun 2011 (96.42% menurun dibandingkan tahun 2010 (80.18%). y. Polio 3 (94. r.7%).8%).8%. angka tersebut sudah melampaui target SPM (90%).o. Cakupan Pemberian Makanan Tambahan ASI (MP-ASI) tahun 2011 sebesar 38.174) atau 15.7%).9%).31% menurun dibandingkan dengan tahun 2010 (53. Cakupan peserta KB aktif Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 76. lebih besar bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (90. MOW (2.4%).57%). q. Walaupun menurun. w. Cakupan balita gizi buruk mendapatkan perawatan tahun 2011 sebesar 100% jauh lebih meningkat dibandingkan tahun 2010 (93.4%) dan Kondom (5.125). t. Angka tersebut sudah mencapai target SPM (90%).25%).0%).4%) mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2010 (94. Cakupan masing-masing jenis imunisasi bayi tahun 2011 adalah sebagai berikut BCG (98.2%).0%) dan Campak (93.

sesuai kesepakatan dengan kabupaten/kota indikator DO di Jawa Tengah maksimal 5% atau (-5%). Angka Drop Out (DO).80%.59%). gg.45%). Tahun 2011 DO tingkat Jawa Tengah sebanyak 3. cc.83%). mengalami penurunan dibanding tahun 2010 (3. TT-2 sebesar 48. Pada tahun 2011 persentase desa/kelurahan terkena KLB yang ditangani kurang dari 24 jam mengalami kenaikan menjadi 100% dibanding dengan tahun 2010 (98.4%.30% mengalami peningkatan bila dibanding tahun 2010 (53.z. yang mendapat TT-1 sebesar 48. Rasio tumpatan dan pencabutan gigi tetap di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 0.81). Cakupan perawatan gigi dan mulut murid SD/MI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 55. Cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 51.5%.198.61%. dan masih jauh dibawah target cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut SPM (70%).67%). Rumah Sakit khusus lain sebesar 98.82. mengalami peningkatan bila dibandingkan rasio tahun 2010 (0. ff. ee.46%. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 115 . aa. Jumlah ibu hamil 2011 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 632.7 dan TT-5 sebesar 17.4%. TT-3 sebesar 28. Prosentase jumlah murid yang diperiksa untuk tahun 2011 (37. dd. Jumlah Rumah Sakit Umum dengan kemampuan pelayanan gawat darurat sebanyak 98. TT-4 sebesar 20.8.96% menurun bila dibandingkan cakupan pada tahun 2010 sebesar 52. Puskesmas rawat inap dengan kemampuan pelayanan gawat darurat yang dapat diakses masyarakat Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 291 puskesmas atau 100%.2% dan TT2+ sebanyak 114.2%.90%) lebih tinggi dibandingkan pencapaian tahun 2010 (37. bb. Rumah Sakit Jiwa sebanyak 100%.

Cakupan jaminan pemeliharaan kesehatan pra bayar tahun 2011 mencapai 36. Sedangkan yang menderita akibat kejadian luar biasa tersebut sebanyak 3. e. Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan a.033.37%). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 116 .59%). Masyarakat miskin yang mendapatkan pelayanan kesehatan rawat jalan di sarana pelayanan strata 1 sebesar 7. Dari sejumlah penderita tersebut.64%). yang meninggal sebanyak 24 orang (case fatality rate/CFR: 0. Cakupan kunjungan rawat jalan di sarana kesehatan di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 105.817 kali. Jumlah penduduk terancam KLB tahun 2011 sebanyak 1.493 (3.1% lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2010 (4. CFR tertinggi adalah KLB demam berdarah dengue/DBD yaitu terdapat (72.805.98%).17%) sedangkan di sarana pelayanan strata 2 dan strata 3 sebesar 438.544 (3.3%).687 (57. Penyuluhan kelompok pada tahun 2011 sebanyak 206. c.733 jiwa dengan attack rate atau rata-rata kejadian sebesar 33. terbanyak di rumah sakit yaitu 130. Sedangkan penyuluhan massa telah dilakukan 5. mendapatkan pelayanan kesehatan rawat inap di sarana kesehatan strata 1 sebanyak 1. d. jj.033. meningkat bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (21.848 jiwa.77%).4%. Jumlah masyarakat miskin dan hampir miskin pada tahun 2011 sebanyak 13.18% dari total penduduk bukan masyarakat miskin (non maskin). meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 (36.011 (9. Jumlah masyarakat miskin dan hampir miskin sebanyak 13. Jumlah kunjungan gangguan jiwa tahun 2011 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 198. Cakupan rawat inap di sarana kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 5. 2.69%).433. ii.344 kali.205.73%%) dan KLB Tetatus Neonatorum (75.387.3%) sedangkan di sarana kesehatan 2 dan 3 sebanyak 431.202.hh.00%).479 kali (65. b.805 orang.21%.

506.95%. Cakupan rumah bebas jentik nyamuk Aedes Aegypti di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 77.63%).79% pada tahun 2010 menjadi 89.91 mengalami peningkatan bila dibandingkan nilai ALOS tahun 2010 sebesar 3.21%). Rata-rata lama rawat seorang pasien di RS se Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3. menurun bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (65.01 sedangkan angka yang dapat ditolerir maksimum 45.54 dari jumlah RS yang lapor.696 KK dan yang telah menggunakan sumber air minum terlindung sebanyak 2. 61 RS (28.43%). Pada tahun 2011 jumlah rumah sakit sebanyak 247 Rumah Sakit di Jawa Tengah terdiri dari 13 RS (6. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 117 . 4.f.11%) dari 8. i. Rata-rata TOI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3. menurun bila dibandingkan dengan rata-rata pada tahun 2010 sebesar 3. meningkat bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (73.85. Perilaku Hidup Masyarakat a. h.68%. c. 3.902 (40. Keadaan Lingkungan a.01%).703.674.13%) mempunyai tingkat pemanfaatan sangat tinggi diatas maksimal occupancy rate.14%. Angka Kematian Umum Penderita Yang Dirawat di RS (GDR) pada tahun 2011 rata rata sebesar 34.77%) mempunyai BOR yang dianggap cukup ideal. b. Persentase rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat yaitu yang diwakili oleh rumah tangga yang mencapai strata sehat utama dan sehat paripurna sebesar 74.77. Cakupan rumah yang memenuhi syarat kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 62.88% pada tahun 2011. Jumlah keluarga yang diperiksa sumber air minumnya sebanyak 3. g. d. meningkat bila dibandingkan tahun 2010 (68. Cakupan keluarga yang memiliki akses terhadap air bersih meningkat dari 87.620 (68.

02% pada tahun 2010 menjadi 69.09%). c. restoran/rumah makan 73. Cakupan pengawasan tempat-tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan tahun 2011 meliputi hotel 84.67%. Sumber Daya Kesehatan 1.834.e.57% pada tahun 2011. C. b. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 118 .55% dan TUPM lainnya (67.95% pada tahun 2010 menjadi 71. Tingkat kecukupan obat tertinggi adalah obat Kloramfenikol kapsul 250 mg (50) dan terendah adalah OAT katagori 3 (9) artinya bahwa persediaan obat Kloramfenikol kapsul 250 mg dapat tercukupi pemakaiannya untuk selama 50 bulan dan OAT katagori 3 dapat tercukupi pemakaiannya untuk selama 9 bulan.46%). Cakupan keluarga yang memiliki jamban yang memenuhi syarat kesehatan di Provinsi Jawa Tengah turun dari 72.11% dan sarana lainnya 47.44%.76% pada tahun 2010 meningkat menjadi 63. stock terbanyak adalah Klorfeniramin Maleat tablet 4 mg 52. Cakupan keluarga yang memiliki tempat sampah memenuhi syarat kesehatan di Provinsi Jawa Tengah meningkat dari 67.266 tablet dan paling sedikit adalah OAT Katagori 3 (523 paket). Pada Tahun 2011 pencapaian cakupan institusi yang dibina yaitu sarana pelayanan kesehatan 81.88%.674 tablet) dan terendah adalah OAT katagori 3 (43 paket). perkantoran 72.11%. instalasi pengolahan air minum 58.29% pada tahun 2011.53%.51%. f. Pada tahun 2011 dari 34 jenis obat yang dilaporkan oleh kabupaten/kota. g. sarana ibadah 61.206.58% pada tahun 2011. Prosentase tingkat kecukupan obat di Kabupaten/kota yang paling tinggi adalah kloramfenikol kapsul 250 mg (278. pasar 55.44%). d. sedangkan paling rendah adalah OAT Kategori 2 (52. Sedangkan cakupan keluarga memiliki sarana pengelolaan air limbah yang memenuhi syarat kesehatan sebesar 50. Pemakaian obat rata-rata perbulan terbanyak adalah Klorfeniramin Maleat tablet 4 mg (2. sarana pendidikan 64. h. Sarana Kesehatan a.56%.

7 RSU milik pemerintah Provinsi Jawa Tengah.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3.000 penduduk tahun 2011 sebesar 4. Puskesmas Pembantu sebanyak 1. Bila dibandingkan dengan konsep wilayah kerja puskesmas. Rasio tenaga dokter umum per 100. Rasio tenaga kefarmasian per 100.000 penduduk tahun 2011 sebesar 0.15. RSU milik TNI/POLRI sebanyak 10 RS.80. b.49. c.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 6.0000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 12.96. Puskesmas Keliling sebanyak 948 unit dan Poliklinik Kesehatan Desa sebanyak 5.24.827 unit. Unit Pelaksana Tehnis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah terdiri dari: Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) sebanyak 5 unit dan 1 Balai Kesehatan Indera Masyarakat (BKIM). Sedangkan puskesmas perawatan dari 281 buah pada tahun 2010 naik menjadi 291 pada tahun 2011. 10 RS Bersalin milik swasta dan 54 RS Khusus lainnya (3 milik pemerintah dan 51 milik swasta) h. g. d. Ini berarti bahwa jumlah puskesmas di Provinsi Jawa Tengah masih kurang.209 unit. Jumlah puskesmas di Provinsi Jawa Tengah meningkat dari 854 unit pada tahun 2010 menjadi 867 pada tahun 2011. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 119 .000 penduduk per puskesmas.42. dengan sasaran penduduk yang dilayani oleh sebuah puskesmas rata-rata 30. e. Rasio dokter spesialis per 100. Rasio tenaga gizi per 100. maka jumlah puskesmas per 30. 2.000 penduduk tahun 2011 sebesar 17. Rumah sakit umum di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 berjumlah 179 buah yang terdiri dari RSU pemerintah sebanyak 50 buah ( 2 RSU milik Departemen Kesehatan. Tenaga Kesehatan a.e. RSU milik BUMN sebanyak 1 RS dan RSU milik swasta sebanyak 118 buah. Rumah sakit khusus pemerintah dan swasta di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 68 RS terdiri dari 4 RS Jiwa milik pemerintah. dan 41 milik pemerintah kabupaten/kota). Rasio tenaga dokter gigi per 100. f.

yang semula sebesar 51.450. 81.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 10. i.18% pembiayaan dari seluruh kesehatan di kabupaten/kota tahun pembiayaan kabupaten/kota.56 lebih banyak dibandingkan tahun 2010 (38. h.11%.f.- Demikian gambaran hasil pembangunan kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebagai wujud nyata kinerja seluruh jajaran kesehatan di Provinsi Jawa Tengah dalam upaya mewujudkan Jawa Tengah Sehat potensi daerah.30).24 lebih sedikit bila dibandingkan tahun 2010 (10.55).000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 2. Rasio tenaga teknisi medis per 100. g.73% pada tahun 2010 menjadi 79. j.47).84% pada tahun 2011. Anggaran tersebut naik 28. Rasio tenaga sanitasi per 100.56).95 lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2010 (76. Rasio Bidan per 100.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 39. Rasio tenaga kesehatan masyarakat per 100.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 73.96 lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2010 (4.74). Sedangkan anggaran kesehatan perkapita pada tahun 2011 sebesar Rp. yang mandiri dan bertumpu pada Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 120 .000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3. Pembiayaan Kesehatan Anggaran belanja yang dialokasikan 2011 sekitar untuk 7.20 menurun dibandingkan tahun 2010 (3. 3. Rasio tenaga keperawatan per 100.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful