BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dalam upaya mewujudkan Jawa Tengah Sehat, pembangunan kesehatan di Jawa Tengah tidak dapat dilakukan sendiri oleh aparat pemerintah di sektor kesehatan, tetapi harus dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan peran serta swasta dan masyarakat. Segala upaya kesehatan selama ini dilakukan tidak hanya oleh sektor kesehatan saja, tetapi juga tidak luput peran dari sektor non kesehatan dalam upaya penyelenggaraan pelayanan kesehatan mengatasi permasalahan kesehatan. Agar proses pembangunan kesehatan berjalan sesuai dengan arah dan tujuan, diperlukan manajemen yang baik sebagai langkah dasar pengambilan keputusan dan kebijakan di semua tingkat administrasi pelayanan kesehatan. Untuk itu pencatatan dan pelaporan kegiatan pelayanan kesehatan perlu dikelola dengan baik dalam suatu sistem informasi kesehatan. Sistem Informasi Kesehatan (SIK) yang evidence based diarahkan untuk penyediaan data dan informasi yang akurat, lengkap, dan tepat waktu. Untuk itu, peran data dan informasi kesehatan menjadi sangat penting dan semakin dibutuhkan dalam manajemen kesehatan oleh berbagai pihak. Masyarakat semakin peduli dengan situasi kesehatan dan hasil pembangunan kesehatan yang telah dilakukan oleh pemerintah, terutama terhadap masalah-masalah kesehatan yang berhubungan langsung dengan kesehatan mereka. Kepedulian masyarakat akan informasi kesehatan ini memberikan nilai positif bagi pembangunan kesehatan itu sendiri. Untuk itu pengelola program harus bisa menyediakan dan memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat dengan dikemas secara baik, sederhana, informatif, dan tepat waktu. Profil kesehatan merupakan salah satu produk dari Sistem Informasi Kesehatan yang penyusunan dan penyajiannya dibuat sesederhana mungkin tetapi informatif, untuk dipakai sebagai alat tolok ukur kemajuan pembangunan kesehatan sekaligus juga sebagai bahan evaluasi program-program kesehatan. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah adalah gambaran situasi kesehatan yang memuat berbagai
Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

dan upaya

1

data tentang situasi dan hasil pembangunan kesehatan selama satu tahun yang memuat data derajat kesehatan, sumber daya kesehatan, dan capaian indikator hasil pembangunan kesehatan. B. SISTEMATIKA PENYAJIAN Sistematika penyajian Profil Kesehatan adalah sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN Berisi penjelasan tentang maksud, tujuan dan sistematika

penyajiannya. BAB II : GAMBARAN UMUM Menyajikan tentang gambaran umum Provinsi Jawa Tengah meliputi letak geografis, kependudukan, ekonomi dan pendidikan yang erat kaitannya dengan kesehatan. BAB III : SITUASI DERAJAT KESEHATAN Berisi uraian tentang indikator mengenai angka kematian, angka kesakitan dan angka status gizi masyarakat. BAB IV : SITUASI UPAYA KESEHATAN Menguraikan tentang pelayanan kesehatan dasar, pelayanan

kesehatan rujukan dan penunjang, pencegahan dan pengendalian penyakit menular dan tidak menular, pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan, pelayanan kesehatan dalam situasi bencana serta upaya pelayanan kesehatan lainnya yang diselenggarakan oleh kabupaten/kota.

BAB V

: SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
Menguraikan tentang tenaga kesehatan, sarana kesehatan, pembiayaan kesehatan dan sumber daya kesehatan lainnya.

BAB VI

: KESIMPULAN Berisi sajian garis besar hasil-hasil cakupan porgram/kegiatan

berdasarkan indikator-indikator bidang kesehatan untuk dapat ditelaah lebih jauh dan untuk bahan perencanaan pembangunan kesehatan serta pengambilan keputusan di Provinsi Jawa Tengah.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

2

LAMPIRAN Berisi resume atau angka pencapaian kabupaten/kota dan 82 tabel data yang sebagian diantaranya merupakan Indikator Pencapaian Kinerja Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

3

BAB II GAMBARAN UMUM

A. KEADAAN GEOGRAFI Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak cukup strategis karena berada diantara dua provinsi besar, yaitu bagian barat berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat, bagian timur berbatasan dengan Provinsi Jawa Timur. Sedangkan bagian utara berbatasan dengan Laut Jawa dan bagian selatan berbatasan dengan Samudra Hindia dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Letaknya antara 5°40 ' - 8 °30' lintang selatan dan antara 108°30' - 111°30' bujur timur (termasuk Pulau Karimunjawa). Luas wilayah Provinsi Jawa Tengah sebesar 32.544,12 km², secara administratif terbagi menjadi 29 kabupaten dan 6 kota, yang tersebar menjadi 573 kecamatan dan 8.576 desa/kelurahan. Wilayah terluas adalah Kabupaten Cilacap dengan luas 2.138,51 km², atau sekitar 6,57% dari luas total Provinsi Jawa Tengah, sedangkan Kota Magelang merupakan wilayah yang luasnya paling kecil yaitu seluas 18,12 km². Secara topografi, wilayah Provinsi Jawa Tengah terdiri dari wilayah daratan yang dibagi menjadi 4 (empat) kriteria : a. Ketinggian antara 0–100 m dari permukaan air laut, seluas 53,3%, yang daerahnya berada di sepanjang pantai utara dan pantai selatan. b. Ketinggian antara 100–500 m dari permukaan air laut seluas 27,4%. c. Ketinggian antara 500–1.000 m dari permukaan air laut seluas 14,7%. d. Ketinggian diatas 1.000 m dari permukaan air laut seluas 4,6%. B. KEADAAN PENDUDUK 1. Pertumbuhan dan Persebaran Penduduk Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, jumlah penduduk Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2010 sebesar 32.382.657 jiwa, dengan luas wilayah sebesar 32.544,12 kilometer persegi (km²), rata-rata kepadatan penduduk sebesar 995,04 jiwa untuk setiap km². Wilayah terpadat

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

4

adalah Kota Surakarta, dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 11.341 jiwa per km². Wilayah terlapang adalah Kabupaten Blora, dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 462 jiwa per km², dengan demikian persebaran penduduk di Jawa Tengah belum merata. Jumlah rumah tangga sebanyak 8.703.696, maka rata-rata jumlah anggota rumah tangga adalah 3,72 jiwa untuk setiap rumah tangga. Penduduk terbanyak di Kabupaten Brebes 1.733.869 jiwa (5,35%) dan paling sedikit di Kota Magelang 118.227 jiwa (0,37%). Data mengenai kependudukan dapat dilihat pada lampiran Tabel 1.

2. Rasio Jenis Kelamin Komposisi penduduk menurut jenis kelamin dapat dilihat dari rasio jenis kelamin, yaitu perbandingan penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan per 100 penduduk perempuan. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010 oleh Badan Pusat Statistik, didapatkan jumlah penduduk laki-laki di Jawa Tengah 16.091.112 jiwa (49,69%) dan jumlah penduduk perempuan di Jawa Tengah 16.291.545 jiwa (50,31%). Sehingga didapatkan rasio jenis kelamin sebesar 98,77 per 100 penduduk perempuan, berarti setiap 100 penduduk perempuan ada sekitar 98 atau 99 penduduk laki-laki. Data mengenai rasio jenis kelamin (sex ratio) dapat dilihat pada lampiran Tabel 2.

3. Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur Komposisi penduduk Provinsi Jawa Tengah menurut kelompok umur dan jenis kelamin menunjukkan bahwa penduduk laki-laki maupun perempuan mempunyai proporsi terbesar pada kelompok umur 15–44 tahun. Gambaran komposisi penduduk secara lebih rinci dapat dilihat pada lampiran Tabel 3. Perbandingan komposisi proporsi penduduk menurut usia produktif dari tahun 2006 sampai tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut:

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

5

Tabel 2.1 Persentase Kelompok Usia Produktif Jawa Tengah tahun 2006 – 2010 Kelompok Usia (Tahun) 0 - 14 15 – 64 65 + TAHUN 2006 25,98 % 66,92 % 7,10 % 2007 27,02 % 65,21 % 7,77 % 2008 26,57 % 65,66 % 7,77 % 2009 25,03 % 67,87 % 7,11 % 2010 26,32 % 66,53 % 7,05 %

Sumber : BPS Provinsi Jawa Tengah tahun 2010

Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa proporsi penduduk tahun 2010 bila dibandingkan dengan tahun 2009, kelompok usia produktif (15-64 tahun) mengalami penurunan, sedangkan kelompok usia belum produktif (0-14 tahun) mengalami kenaikan. Hal ini berarti bahwa angka beban tanggungan menjadi bertambah.

C. KEADAAN EKONOMI 1. Produk Domestik Regional Bruto Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah ukuran kuantitatif dari kinerja perekonomian suatu wilayah selama satu periode waktu tertentu. PDRB merupakan total nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit-unit usaha yang beroperasi di wilayah domestik. Perekonomian Jawa Tengah pada tahun 2011 mengalami pertumbuhan sebesar 6,0% dibanding tahun 2010. Berdasarkan hasil penghitungan triwulan I sampai dengan triwulan IV , PDRB Jawa Tengah tahun 2011 atas dasar harga berlaku meningkat sebesar Rp. 53,9 triliun, yaitu dari Rp. 444,7 triliun pada tahun 2010 menjadi sebesar Rp. 498,6 triliun pada tahun 2011. Jika dilihat dari PDRB atas dasar harga konstan pada tahun 2011 mencapai Rp. 198,2 triliun, sedangkan pada tahun 2010 sebesar Rp. 187,0 triliun. Selama tahun 2011, semua sektor ekonomi yang membentuk PDRB mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor

pengangkutan dan komunikasi yang mencapai 8,6%, diikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran 7,5%, sektor jasa-jasa 7,5%, sektor industri

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

6

7% mampu memberikan andil terbesar terhadap sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.6%. Sektor industri pengolahan yang mengalami pertumbuhan 6. Tabel 2. PDRB per kapita merupaka PDRB dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Sumber pertumbuhan terbesar kedua adalah dari sektor perdagangan.9%. Sedangkan sektor yang mengalami pertumbuhan terendah pada tahun 2011 adalah sektor pertanian yaitu sebesar 1. gas dan air bersih 4.2%.0% dibandingkan dengan PDRB per kapita tahun 2010 sebesar Rp.3%.3%. sektor pertambangan dan penggalian 4.4%.4% terhadap sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.pengolahan 6.732 15.1 juta atau secara riil meningkat sebesar 5. sektor listrik.7 juta. meskipun mengalami pertumbuhan terbesar yaitu 8.8 juta. Sedangkan sektor pengangkutan dan komunikasi. sektor keuangan.112 2008 2009 2010 2011 Sumber : PDRB Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 7 . sektor konstruksi 6.124 11. Hal ini dikarenakan kontribusi nilai tambah bruto sektor pengangkutan dan komunikasi terhadap PDRB Jawa Tengah relatif kecil.2 PDRB per Kapita Jawa Tengah Tahun 2008 – 2011 (jutaan rupiah) Tahun PDRB per Kapita atas dasar harga berlaku 11. yaitu sebesar 2. Sedangkan PDRB per kapita atas dasar harga konstan pada tahun 2011 sebesar Rp. Selain itu dapat dilihat besarnya sumbangan (andil) masing-masing sektor dalam menciptakan laju pertumbuhan ekonomi selam tahun 2011.7%. hotel dan restoran yaitu 1.4 juta dengan laju peningkatan sebesar 12.376 PDRB per Kapita atas dasar harga konstan 5. 5.3%.142 5.957 13. Pada tahun 2011 angka PDRB per kapita atas dasar harga berlaku diperkirakan mencapai 15.6%. real estate dan jasa perusahaan 6. 13. sektor ini hanya mampu memberikan sumbangan 0.774 6.345 5. 6.9% dibandingkan dengan tahun 2010 yan gsebesar Rp.

46 23. Dibandingkan dengan tahun 2009 secara umum telah terjadi peningkatan di bidang pendidikan. serta dapat ikut berperan serta aktif dalam mengatasi masalah kesehatan dirinya dan keluarganya.42 8.33 8. Berikut ini disajikan tabel persentase jumlah penduduk usia 10 tahun ke atas menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2007-2010.21 10.48 4.45 14.16 18.58 16.01 32. berarti pada tahun 2010 setiap 100 penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun) harus menanggung beban hidup sekitar 50 penduduk usia belum produktif (0–14 tahun) dan usia tidak produktif (65 tahun ke atas).74 32.00 Sumber : BPS Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 8 .03 22.22 18.58 17. SMP dan Akademi/Perguruan Tinggi.48 Total 100.91 DIPL/AK/ PT 5. Hal ini wajar terjadi mengingat semakin digalakkannya program sekolah gratis bagi jenjang SD dan SMP dan program-program pendidikan lainnya. Tabel 2.00 100.00 100. angka beban tanggungan (dependency ratio) penduduk Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2010 sebesar 50.3 Jumlah Penduduk Usia 10 tahun ke Atas Menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007-2010 Blm/Tdk Pernah Sekolah 7.41 4.00 100.84 9.93 4.64 15. Masyarakat yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi.43). Angka Beban Tanggungan Berdasarkan jumlah penduduk menurut kelompok umur.55 SMP 15.50 34. D. Angka tersebut mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2009 (51.11 SMU/SMK 12.2. Peningkatan terjadi pada tingkat pendidikan SD. KEADAAN PENDIDIKAN Tingkat pendidikan dapat berkaitan dengan kemampuan menyerap dan menerima informasi kesehatan serta kemampuan dalam berperan serta dalam pembangunan kesehatan.31. pada umumnya mempunyai pengetahuan dan wawasan yang lebih luas sehingga lebih mudah menyerap dan menerima informasi.93 Tahun 2007 2008 2009 2010 SD/MI 31.13 Tdk punya Ijazah SD/MI 26.

Persentase penduduk yang dapat membaca dan menulis huruf latin dan huruf lainnya pada tahun 2010 sebesar 91. Data mengenai angka melek huruf dapat dilihat pada lampiran Tabel 5. sedangkan yang buta huruf sebesar 8.Peningkatan tersebut berimbas pada kemampuan baca tulis penduduk yang tercermin dari angka melek huruf.87%. angka melek penduduk laki-laki sebesar 94.02%. Faktor perekonomian dan pendidikan secara bersama-sama dengan kesehatan digunakan untuk menentukan Indeks Pembangunan Manusia.98%. maka penduduk laki-laki lebih banyak yang melek huruf dibandingkan dengan penduduk perempuan. perekonomian dan pendidikan. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 9 .28% dan perempuan sebesar 87. Demikian gambaran umum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 secara ringkas dengan penyajian tentang kependudukan. Bila dilihat dari jenis kelaminnya.

AKB di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 10. ANGKA KEMATIAN Angka kematian dari waktu ke waktu menggambarkan status kesehatan masyarakat secara kasar. tingkat pelayanan antenatal. derajat kesehatan masyarakat di Provinsi Jawa Tengah digambarkan melalui Angka Kematian Bayi (AKB). Angka Kematian Bayi Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan jumlah kematian bayi (0-11 bulan) per 1000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun. AKB menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan faktor penyebab kematian bayi.34/1. keturunan dan faktor lainnya. status gizi ibu hamil. terdapat beberapa indikator yang dapat digunakan. Angka tersebut dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan. berarti status kesehatan di wilayah tersebut rendah. AKI dan Angka Kematian Kecelakaan Lalu Lintas. Angka Kematian balita (AKABA). pendidikan. A. kondisi lingkungan fisik dan biologik secara tidak langsung. 1.000 kelahiran hidup. Angka Kematian Ibu (AKI). menurun bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 10. Faktorfaktor tersebut tidak hanya berasal dari sektor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan. angka morbiditas beberapa penyakit dan status gizi. Pada bagian ini. Apabila AKB di suatu wilayah tinggi. kondisi atau tingkat permasalahan kesehatan. AKABA. lingkungan sosial. serta kondisi lingkungan dan sosial ekonomi.000 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 10 . tingkat keberhasilan program KIA dan KB. melainkan juga dipengaruhi faktor ekonomi. Indikator-indikator tersebut pada umumnya tercermin dalam kondisi angka kematian. Angka kematian yang disajikan pada bab ini yaitu AKB.BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN Dalam menilai derajat kesehatan masyarakat. Derajat kesehatan masyarakat juga dipengaruhi oleh banyak faktor.62/1. angka kesakitan dan status gizi.

000 kelahiran hidup.Kendal Kab.97 17.kelahiran hidup.66 3.38 9.Banyumas Kab.15 11.Grobogan Kota Magelang Kab.67 11. sedangkan terendah adalah Kota Surakarta sebesar 3.08 9.54 8.Jepara Kab.00 Gambar 3.63/1.Magelang Kab.23 9.25 13.34 Gambar 3.00 20.68 8.Cilacap Kab.00 15. Dibawah ini grafik AKB di Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2008-2011.Wonogiri Kab.33 9.69 9.34 15.63 12.23 9.51 8.1 Angka Kematian Bayi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 –2011 Angka kematian bayi tertinggi adalah Kabupaten Rembang sebesar 21.Banjarnegar Kab.Rembang Kab.49 7.Wonosobo Kab.5 10 9.09 6.Demak Kota Tegal Kota Surakarta 21.00 5.25 2010 10.85 8.00 10.Klaten Kab.Purbalingga Kab.2 Angka Kematian Bayi di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 11 .Batang Kab.000 kelahiran hidup.Sragen Kab.Karanganyar Kab.27 12.Temanggung Kab.23 12. 11 10.53 17.49 7.Pemalang Kab.Pati Kota Pekalongan Kab.Tegal Kota Salatiga Kab.41 0.30 13.55 7.Blora Kab.Purw orejo Kab.Kebumen Kab. Dibandingkan dengan target Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tahun 2015 sebesar 17/1.00 25.72 9.63 5. Kab.5 9 8.Semarang Kab.62 2011 10.93 12.97/1.23 9.72 8.79 15.Pekalongan Kab.Boyolali Kota Semarang Kab.Brebes Kab.16 10.72 6.Kudus Kab.27 2009 10.Sukoharjo Kab.000 kelahiran hidup maka AKB di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sudah cukup baik karena telah melampaui target.11 8.5 AKB 2008 9.

Selengkapnya dapat dilihat pada gambar 3. AKABA Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sudah melampaui target.5 Gambar 3. Dibawah ini grafik AKB di Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2008-2011. AKABA Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 11.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. tingkat pelayanan KIA/Posyandu.000 kelahiran hidup. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 12 . AKABA menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan balita.6 2010 12.02/1.50/1.3 Angka Kematian Balita Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 –2011 AKABA tertinggi di Kabupaten Rembang sebesar 23.000 kelahiran hidup.2.000 kelahiran hidup.02 2011 11. sedangkan terendah di Kota Surakarta sebesar 4.4 di bawah ini.5 11 10. menurun dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 12.12/1.5 9 AKABA 2008 10.12 2009 11.5 10 9. tingkat keberhasilan program KIA/Posyandu dan kondisi sanitasi lingkungan.74/1. Dibandingkan dengan cakupan yang diharapkan dalam Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tahun 2015 yaitu 23/1.5 12 11. Angka Kematian Balita Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan jumlah kematian balita 0–5 tahun per 1000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun. 12.

39 10. keadaan sosial ekonomi. tersedianya dan penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan ternasuk pelayanan prenatal dan obstetri. kejadian berbagai komplikasi pada kehamilan dan kelahiran.46 16.85 14.Tegal Kab.Grobogan Kab.68 12.Kendal Kab.Blora Kab.Demak Kab.Batang Kab.95 12.Kudus Kota Tegal Kota Surakarta 0.88 13. terlambat mencapai fasilitas kesehatan. terutama pelayanan kegawatdaruratan tepat waktu yang dilatarbelakangi oleh terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan.55 9.81 10.Boyolali Kab.42 14.00 4.16 7.86 9.Brebes Kab.00 Gambar 3.26 9.Purw orejo Kota Semarang Kab.55 23.85 7.4 Angka Kematian Balita di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 3.Karanganyar Kab. yaitu terlalu tua pada saat melahirkan (>35 tahun).Wonogiri Kab.98 10. keadaan kesehatan yang kurang baik menjelang kehamilan.94 7.Semarang Kab.Pemalang Kab.Magelang Kota Salatiga Kab.Purbalingga Kab.02 18.Pati Kab.80 10.Temanggung Kab.00 25.57 10.Kebumen Kab.12 5.42 11.74 10.44 19.87 17.20 10.36 8. serta terlambat mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan.00 20. terlalu muda pada saat melahirkan (<20 tahun).66 9.Rembang Kab.78 14.Klaten Kab.00 5.00 15.Sukoharjo Kota Pekalongan Kab. terlalu Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 13 .Kab.83 13.79 10.Sragen Kab. Tingginya angka kematian ibu menunjukkan keadaan sosial ekonomi yang rendah dan fasilitas pelayanan kesehatan termasuk pelayanan prenatal dan obstetri yang rendah pula.Cilacap Kab. Selain itu penyebab kematian maternal juga tidak terlepas dari kondisii ibu itu sendiri dan merupakan salah satu dari kriteria 4 “terlalu”.25 13.12 8. Angka Kematian Ibu Angka Kematian Ibu (AKI) mencerminkan risiko yang dihadapi ibu-ibu selama kehamilan dan melahirkan yang dipengaruhi oleh status gizi ibu.Wonosobo Kab.Jepara Kab.70 9. Kematian ibu biasanya terjadi karena tidak mempunyai akses ke pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas.Banyumas Kab.14 9.Pekalongan Kota Magelang Kab.36 10.Banjarnegar Kab.

Gambar 3.Cilacap Kab.Grobogan Kab. terlalu rapat jarak kelahiran/paritas (<2 tahun).000 kelahiran hidup.Klaten Kab.Kebumen Kota Salatiga Kota Surakarta Kota Magelang 45 51 13 13 13 12 11 10 10 10 9 9 9 18 18 17 16 15 15 24 24 23 22 22 21 28 27 26 26 31 35 34 6 1 4 0 10 20 30 40 50 60 Gambar 3.Banjarnegara Kab.97/100.Jepara Kab.Wonogiri Kab.000 kelahiran hidup.Magelang Kab.Rembang Kab.Sragen Kab.Demak Kab.01/100. mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan AKI pada tahun 2010 sebesar 104.97 2011 116.Batang Kab. 120 115 110 105 100 95 AKI 2008 114.Kudus Kab.Brebes Kota Semarang Kab.Pemalang Kab. Angka kematian ibu Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 berdasarkan laporan dari kabupaten/kota sebesar 116.Pekalongan Kab.5 di bawah ini tren AKI di Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2011.Banyumas Kab.Purw orejo Kota Tegal Kota Pekalongan Kab.Pati Kab.Temanggung Kab.Boyolali Kab.Purbalingga Kab.Semarang Kab.Kendal Kab. Sedangkan kabupaten/kota dengan jumlah kematian maternal paling sedikit adalah Kota Magelang dengan 1 kematian.banyak anak (>4 anak).Blora Kab.6 Jumlah Kematian Ibu di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 14 .Sukoharjo Kab.02 2010 104.42 2009 117.Wonosobo Kab. Kab.Karanganyar Kab.5 Angka Kematian Ibu Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 –2011 Jumlah kematian maternal terbanyak adalah di Kabupaten Tegal sebanyak 51 kematian.01 Gambar 3.Tegal Kab.

ANGKA KESAKITAN 1.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah. B. angka kematian kecelakaan lalu lintas tertinggi terjadi di Kota Magelang yaitu sebesar 21.65%. Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit “Acute Flaccid Paralysis” (AFP) Upaya membebaskan Indonesia dari penyakit Polio.70 per 100. pemerintah telah melaksanakan Program Eradikasi Polio (ERAPO) yang terdiri dari pemberian imunisasi polio rutin. seperti sifat kelumpuhan pada poliomyelitis.000 penduduk. pemberian imunisasi masal pada anak balita melalui Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dan surveilans AFP. Sementara berdasarkan kelompok umur. Surveilans AFP merupakan pengamatan dan penjaringan semua kelumpuhan yang terjadi secara mendadak dan sifatnya flaccid (layuh).80 sedangkan tahun 2010 sebesar 176.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 sebesar 94.Kejadian kematian maternal paling banyak adalah pada waktu nifas sebesar 48.12%. kemudian pada kelompok umur >35 tahun sebesar 28. Prosedur pembuktian penderita AFP terserang virus polio liar atau tidak adalah sebagai berikut : Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 15 . Kabupaten/kota yang melaporkan kejadian kecelakaan lalulintas pada tahun 2011 sebanyak 25 kabupaten/kota meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 sebanyak 19 kabupaten/kota.99%. kejadian kematian maternal terbanyak adalah pada usia produktif (20-34 tahun) sebesar 65. Angka kecelakaan lalulintas per 100.17 sementara Angka kematian kecelakaan lalu lintas tahun 2011 adalah sebesar 2. 4. Angka Kematian Kecelakaan Lalu Lintas Angka Kematian kecelakaan lalu lintas adalah jumlah kematian sebagai akibat dari kecelakaan lalu lintas per 100.60%.75% dan pada waktu persalinan sebesar 25.89% dan pada kelompok umur <20 tahun sebesar 5.99/100. Dari 25 kabupaten/kota yang melaporkan. kemudian pada waktu hamil sebesar 25.000 penduduk dalam kurun waktu satu tahun.

c.a.000 anak usia <15 tahun.7 Penemuan Kasus AFP Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 16 . sehingga dapat diketahui apakah masih ada polio liar di masyarakat. Hasil pemeriksaan spesimen tinja akan menjadi bukti virologi adanya virus polio liar didalamnya. Diagnosis akhir ditentukan pada 60 hari sejak kelumpuhan. Target minimal penemuan penderita AFP tahun 2011 sebanyak 164 penderita. Pada tahun 2011 Jawa Tengah menemukan 215 penderita AFP. e. dari 215 kasus yang diperiksa semua menunjukan negatif polio (berarti tidak ditemukan virus polio liar). sebanyak dua kali selang waktu pengambilan I dan II >24 jam. Mengirim kedua spesimen tinja ke laboratorium dengan pengemasan khusus (untuk Jawa Tengah dikirim ke laboratorium Bio Farma Bandung) d. Mengambil spesimen tinja penderita tidak lebih dari 14 hari sejak kelumpuhan. sehingga memenuhi target. b. Menurut hasil pemeriksaan laboratorium. Melakukan pelacakan terhadap anak usia <15 tahun yang mengalami kelumpuhan mendadak (<14 hari) dan menentukan diagnosa awal. Pemeriksaan klinis ini dilakukan oleh dokter spesialis anak atau syaraf untuk menentukan apakah masih ada kelumpuhan atau tidak. Penderita kelumpuhan AFP diperkirakan 2 diantara 100. 210 205 200 195 190 185 180 175 170 165 160 Kasus AFP 2006 191 2007 207 2008 187 2009 193 2010 178 Gambar 3. Hasil pemeriksaan virologis dan klinis akan menjadi bukti penegakan diagnosis kasus AFP termasuk kasus polio atau tidak.

000 penduduk). CDR tertinggi di Kota Pekalongan sebesar 132. Penyakit ini dapat menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil TB. 4) Jaminan ketersediaan OATyang bermutu.52. yang terdiri dari 5 komponen kunci 1) Komitmen politis. capaian CDR tahun 2011 sebesar 59. Prevalensi Tuberkulosis per 100. 3. termasuk pengawasan langsung pengobatan.04%. Meskipun masih dibawah target yang ditentukan. Angka Penemuan Kasus TB Paru BTA(+) Salah satu indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalah Case Detection Rate (CDR). 3) Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat. 2) Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya. TB menjadi salah satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitmen global dalam MDGs. Prevalensi Tuberkulosis Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Prevalensi tuberkulosis tertinggi adalah di Kabupaten Pekalongan (205. yaitu proporsi jumlah pasien baru BTA(+) yang ditemukan dan diobati terhadap jumlah pasien baru BTA(+) yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Pencapaian CDR di Jawa Tengah tahun 2008 s/d 2011 masih dibawah target yang ditetapkan sebesar 100%.000 penduduk Provinsi Jawa Tengah sebesar 74. 5) Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan.2. Bersama dengan Malaria dan HIV/AIDS.000 penduduk) dan terendah di Kabupaten Magelang (20. Pada awal tahun 1995 WHO telah merekomendasikan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) sebagai strategi dalam penanggulangan TB dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective).5 per 100.06 per 100.52% meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 (55. Terdapat empat kabupaten/kota yang sudah melampaui target 100% yaitu Kota Surakarta Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 17 .78% dan yang terendah di Kabupaten Magelang sebesar 33.38%).

Angka Kesembuhan Penderita TB Paru BTA(+) Evaluasi pengobatan pada penderita TB paru BTA(+) dilakukan melalui pemeriksaan dahak mikroskopis pada akhir fase intensif satu bulan sebelum akhir pengobatan dan pada akhir pengobatan dengan hasil pemeriksaan negatif. Kota Tegal (116.(101.52 Gambar 3. 4. Evaluasi jumlah pasien dinyatakan sembuh dan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 18 . Dinyatakan sembuh bila hasil pemeriksaan dahak pada akhir pengobatan ditambah minimal satu kali pemeriksaan sebelumnya (sesudah fase awal atau satu bulan sebelum akhir pengobatan) hasilnya negatif. Bila pemeriksaan follow up tidak dilakukan.78%). pertemuan jejaring antar unit pelayanan kesehatan dan asistensi ke rumah sakit.15 2010 55.97 2009 48.12).31%).8 Angka Penemuan TB Paru (CDR) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Untuk meningkatkan cakupan CDR dan angka kesembuhan. namun pasien telah menyelesaikan pengobatan. maka evaluasi pengobatan pasien dinyatakan sebagai pengobatan lengkap. 60 50 40 30 20 10 0 CDR TB 2008 47. Kegiatan-kegiatan tersebut perlu dievaluasi untuk menilai apakah hasil kegiatan sesuai dengan tujuan yang diharapkan sekaligus mengidentifikasi permasalahan yang ditemukan untuk selanjutnya disusun rencana tindak lanjut perbaikan.99%) dan Kota Pekalongan (132. pada tahun 2011 telah dilakukan berbagai upaya seperti peningkatan SDM. baik tenaga medis.38 2011 59. Kabupaten Pekalongan (103. paramedis dan laboratorium.

9 2009 85. atau orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi. Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri.702 kasus. Pneumonia juga dapat terjadi akibat kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia.pasien pengobatan lengkap dibandingkan jumlah pasien BTA(+) yang diobati disebut keberhasilan pengobatan (Succes Rate ). gangguan imunologi). Angka kesembuhan (Cure Rate) TB paru Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 sebesar 85.5% dengan jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 66. Berikut ini ditampilkan persentase penemuan pneumonia balita Provinsi Jawa Tengah tahun 2008-2011. Persentase penemuan dan penanganan penderita pneumonia pada balita tahun 2011 sebesar 25.15 Gambar 3.9 Angka Kesembuhan TB Paru (CR) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2010 5.15% sudah melebihi target nasional (85%) dan meningkat bila dibandingkan tahun 2009 (85.01 2010 85. mengalami penurunan bila dibanding tahun 2010 yang sebesar 40. virus maupun jamur.01%). usia lanjut lebih dari 65 tahun. 86 85. Angka kesembuhan tertinggi di Kabupaten Karanganyar sebesar 98.13%. sedangkan terendah di Kota Tegal sebesar 47. Angka ini masih sangat jauh dari target Standar Pelayanan Minimal (SPM) tahun 2010 sebesar 100%. Persentase Balita dengan Pneumonia Ditangani Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli).63%.5 82 CR TB 2008 83.5 85 84.5 84 83.5 83 82. Populasi yang rentan terserang Pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 19 .17%.

ada satu kota yang mempunyai persentase cakupan diatas 100% yaitu Kota Magelang (179.5 Gambar 3. yaitu pada layanan Voluntary. Kasus HIV/AIDS merupakan fenomena gunung es. sero survey dan Survei Terpadu Biologis dan perilaku (STBP). Jumlah kematian karena AIDS di Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 89 kasus. penderita terlebih dulu dinyatakan sebagai HIV positif. laporan rutin AIDS kab/kota serta Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM). sebagian besar didapat dari hasil VCT di rumah sakit.10 Persentase Penemuan dan Penanganan Penderita Pneumonia pada Balita Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 6. Infeksi tersebut menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain. Counselling.9%). Kasus Aquiared Immuno Devisiency Syndrome (AIDS) sebanyak 521 kasus dari laporan VCT rumah sakit. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 20 .6%).63 2011 25. Sebelum memasuki fase AIDS. and Testing (VCT). artinya kasus yang dilaporkan hanya sebagian kecil yang ada di masyarakat.96 2010 40. Peningkatan infeksi HIV dan kasus AIDS ini dikarenakan upaya penemuan atau pencarian kasus yang semakin intensif melalui VCT di rumah sakit dan upaya penjangkauan oleh LSM peduli AIDS di kelompok risiko tinggi.63 2009 25.Pada tingkat kabupaten/kota. Jumlah infeksi HIV yang dilaporkan tahun 2011 sebanyak 755 kasus. Jumlah Kasus Baru HIV/AIDS dan Kematian karena AIDS HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. sementara kabupaten dengan persentase cakupan terendah adalah Kabupaten Rembang (1. 45 40 35 30 25 20 Pneumonia Balita 2008 23. Jumlah HIV positif yang ada di masyarakat dapat diketahui melalui 3 metode.

jumlah kematian karena AIDS terbanyak di Kabupaten Banyumas sebanyak 10 kasus. Bubo. PMS meliputi Syphilis. Jumlah Kasus Baru Infeksi Menular Seksual lainnya Penyakit Menular Seksual (PMS) atau biasa disebut penyakit kelamin adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Infeksi Menular Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 21 . Jumlah kasus baru HIV/AIDS tertinggi adalah di Kota Semarang (189/59 kasus). Penemuan kasus HIV tahun 2011 meningkat sangat tajam hampir 2 kali lipat lebih dibanding tahun 2010. Jengger ayam.12 Persentase Kasus Baru AIDS menurut Jenis Kelamin Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 7.11 menunjukan bahwa kecenderungan (trend) kasus HIV maupun AIDS selalu mengalami peningkatan setiap tahun.800 700 600 500 400 300 200 100 0 2008 HIV 2009 AIDS 2010 Meninggal 259 170 56 143 160 104 430 373 501 755 521 89 2011 Gambar 3. Perempuan 37% Laki-laki 63% Gambar 3. Gonorhoe.11 Jumlah Kasus Baru HIV/AIDS dan kematian karena AIDS Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Gambar 3. dan lain-lain. Herpes.

13) yang positif HIV.09 0. Tabel perkembangan jumlah sampel yang diperiksa dan hasil yang positif HIV dari tahun 2008 sampai dengan 2011 sebagai berikut : Tabel 3. 8.16 0. Jumlah kasus baru IMS lainnya di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 ini sebanyak 10.13 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 22 .828 Tahun 2008 2009 2010 2011 Jumlah Positif HIV 520 275 510 415 Positif HIV 1. kemudian yang dilakukan pemeriksaan sampel darah sebanyak 324. Pada tahun 2011 diketahui jumlah pendonor sebanyak 346.49 0. Jumlah tersebut dari tahun ke tahun semakin meningkat. Dari hasil pemeriksaan sampel darah tersebut.81%).Seksual (IMS) yang diobati adalah kasus IMS yang ditemukan berdasarkan sindrom dan etiologi serta diobati sesuai standar.795 312. DBD termasuk juga bebas dari virus HIV.731 324. Donor Darah Diskrining terhadap HIV Selain melakukan kegiatan serosurvei HIV dan surveilans/ pengamatan kasus AIDS.269 orang. sebanyak 415 sampel (0. Tujuan skrining ini adalah untuk mengamankan darah donor supaya bebas dari beberapa penyakit seperti Hepatitis C. Sifilis.828 (93. Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Seksual mempunyai target bahwa seluruh kasus IMS yang ditemukan harus diobati sesuai standar. Malaria.793 309. Dinas Kesehatan juga melakukan pengamatan terhadap hasil skrining/penapisan darah donor melalui UTDD PMI Jawa Tengah. Meskipun demikian kemungkinan kasus yang sebenarnya di populasi masih banyak yang belum terdeteksi.1 Persentase Donor Darah Diskrining terhadap HIV Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008-2011 Jumlah Sample Diperiksa 348.752 kasus.

anggota gerak dan mata. atau buang air besar yang berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam. Kota Pekalongan (121. Ada 3 kota yang mempunyai cakupan di atas 100% yaitu Kota Salatiga (106%).9%. Seseorang dikatakan menderita diare bila feses lebih berair dari biasanya. 60 55 50 45 40 Cakupan 2008 47.4%) dan Kota Tegal (144. Cakupan penemuan dan penanganan diare di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 57.5 2010 44.13 Cakupan Penemuan dan Penanganan diare Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 10. Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf berupa mati rasa dan kelemahan/kelumpuhan otot. Kasus Diare Ditangani Diare adalah penyakit yang terjadi ketika terjadi perubahan konsistensi feses selain dari frekuensi buang air besar.2%).8 2009 48. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 23 . Pada tingkat kabupaten/kota.Prevalensi Kusta Kusta adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae.9.48 2011 57. Diagnosis kusta dapat ditegakkan dengan adanya kondisi sebagai berikut: a. saraf. b. diketahui bahwa cakupan penemuan dan penanganan diare tertinggi di Kota Tegal (144. Kelainan pada kulit (bercak) putih atau kemerahan disertai mati rasa. atau bila buang air besar tiga kali atau lebih.2%) dan terendah di Kabupaten Purworejo (19. mengalami peningkatan bila dibandingkan cakupan tahun 2010 (44.48%). menyebabkan kerusakan permanen pada kulit.8%). Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan kusta menjadi progresif.9 Gambar 3.

Sedangkan proporsi anak di antara penderita baru pada tahun 2011 sebesar 10. 11. Cakupan program kusta tipe PB tahun 2011 berdasarkan jumlah penderita baru tahun 2010 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2011 sebesar 85% lebih rendah dari target 90%.873 kasus dan tipe Pausi Basiler sebanyak 395 kasus dengan Newly Case Detection Rate (NCDR) sebesar 7 per 100. Adanya kuman tahan asam di dalam kerokan jaringan kulit (BTA Positif) Pada tahun 2011. 100 persentase (%) 80 60 40 20 0 2008 PB MB 92.14 Persentase Penderita Kusta selesai diobati Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 24 . Kusta tipe MB diambil dari data penderita baru tahun 2009 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2011 sebesar 76% lebih rendah dari target 95%. Proporsi cacat tingkat II pada tahun 2011 sebesar 13.46 Gambar 3.21 87.98 2009 85. Cakupan selama 3 tahun terakhir kusta tipe PB cenderung naik dan mulai menurun pada tahun 2009 sedangkan tipe MB cenderung menurun mulai tahun 2007 (tabel 12).61 2011 85 76.27 87. dilaporkan terdapat kasus baru tipe Multi Basiler sebanyak 1.32%.5 2010 91.48 90.c.Persentase Penderita Kusta Selesai Berobat Cakupan program kusta diukur berdasarkan angka penderita kusta tipe Pauci Baciller (PB) dan Multy Baciller (MB) selesai diobati.000 penduduk. Keberhasilan dalam mendeteksi kasus baru dapat diukur dari tinggi rendahnya proporsi cacat tingkat II. sedangkan untuk mengetahui tingkat penularan di masyarakat digunakan indikator proporsi anak (0-14 tahun) di antara penderita baru.14%.

000 penduduk.RFT). Angka ini jauh menurun bila dibandingkan tahun 2010 (59. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 25 . Ketentuan lama penderita MB berturut-turut 6 bulan tidak berobat baru dikatakan default.17/100.8/100. Angka kesakitan/Incidence Rate (IR) DBD di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 15.29/100.000 penduduk) dan sudah mencapai target nasional yaitu <20/100. Angka kesakitan tertinggi di Kota Semarang sebesar 317.000 penduduk. tetapi belum dicatat sudah RFT. namun dapat juga menyerang orang dewasa. penyelidikan epidemiologi di lapangan serta upaya pengendalian. Penderita PB tidak minum obat lebih dari 3 bulan dalam jangka waktu 9 bulan sudah dianggap default.Cakupan kusta tidak bisa tercapai dikarenakan masih banyak penderita yang tidak berobat teratur atau penderita yang seharusnya sudah selesai diobati (Release From Treatment . Tingginya angka kesakitan DBD disebabkan karena adanya iklim tidak stabil dan curah hujan cukup banyak pada musim penghujan yang merupakan sarana perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegipty yang cukup potensial. Penderita MB tidak minum obat lebih dari 6 bulan dalam jangka waktu 18 bulan sudah disebut default.000 penduduk. Penyakit DBD masih merupakan permasalahan serius di Provinsi Jawa Tengah.000 penduduk. Setiap penderita DBD yang dilaporkan dilakukan tindakan perawatan penderita. Selain itu juga didukung dengan tidak maksimalnya kegitan PSN di masyarakat sehingga menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit DBD di beberapa kabupaten/kota. 12. terendah di Kabupaten Wonogiri sebesar 4. Penyakit ini sebagian besar menyerang anak berumur <15 tahun.Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh vektor nyamuk Aedes aegypty. Rendahnya cakupan penderita kusta RFT juga dikarenakan adanya ketentuan baru pengobatan untuk penderita default. terbukti 35 kabupaten/kota sudah pernah terjangkit penyakit DBD.27/100. Ketentuan lama penderita disebut default kalau 3 bulan berturut-turut tidak minum obat.

72).70 50 30 10 IR DBD Target 2008 59.29).000 penduduk. Kabupaten Kebumen (9.Angka Kematian Demam Berdarah Dengue (DBD) Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) DBD tahun 2011 sebesar 0. 1.71).4 20 2010 59.93 Gambar 3. Kabupaten Semarang (13.5 1.75 CFR DBD 2008 1. Ada 6 kabupaten/kota dengan angka kesakitan kurang dari 2/100.93%.19 2009 1.2 20 2009 57.000 penduduk yaitu Kabupaten Wonogiri (4.29%) dan sudah lebih rendah bila dibandingkan dengan target nasional (<1%). 13.16 Angka Kesakitan DBD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 26 . Kabupaten Wonosobo (9.95). lebih rendah bila dibandingkan CFR tahun 2010 (1.15 Angka Kesakitan DBD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Angka kesakitan DBD di kabupaten/kota hampir semuanya lebih dari 20/100.29 2011 0.25 1 0.95) dan Kabupaten Pemalang (16.03).27 20 Gambar 3.8 20 2011 15. Kabupaten Magelang (9.42 2010 1.

Sedangkan kabupaten/kota kabupaten/kota. Banyumas dan Jepara.Angka kematian tertinggi adalah di Kabupaten Pekalongan sebesar 6. Purbalingga.5% dan terendah atau tidak ada kematian di 18 kabupaten/kota. Saat ini masih ditemukan desa High Case Incidence (HCI) sebanyak 31 desa yang tersebar di 5 Kabupaten yaitu Purworejo. dengan angka kematian lebih dari 1% sebanyak 12 Jepara Jepara Pati Kota Tegal Kota Pekalongan Kendal Demak Kota Semarang Kab Semarang Salatiga Wonosobo Bj negara Sragen Kab. Angka kesakitan malaria (Annual Parasite Incidence-API) merupakan indikator untuk memantau perkembangan penyakit malaria.467 kasus. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 27 . meningkat dibandingkan tahun 2010 (3.Angka Kesakitan Malaria Penyakit malaria masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Provinsi Jawa Tengah. Mgl Boyolali Kota Mgl Kebumen Surakarta Kr.anyar J A T I M Grobogan Kudus Rembang Blora J A B A R Brebes Tegal Batang Pekalongan Bata ng Pemalang Temanggung Purblg Cilacap Banyumas CFR DBD 0 <1 >1 Klaten Purworejo Magelan Sukoharjo g DI. sedikit meningkat dibandingkan tahun 2010 (0. Perkembangan insidens malaria sejak tahun 2008 dilihat pada gambar berikut.17 Peta CFR DBD kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 14. Yogyakarta Wonogiri Gambar 3. Jumlah kasus tahun 2011 sebanyak 3. Kebumen.10‰).300 kasus) dan angka kesakitan malaria sebesar 0.11‰.

anyar J A T I M Grobogan Kudus Rembang Blora J A B A R Brebes Tegal Batang Pekalongan Bata ng Pemalang Temanggung Purblg Cilacap Banyumas Kebumen Kota Mgl Klaten Purworejo Magelan Sukoharjo g DI.0.05 2009 0. Jepara Jepara Pati Kota Tegal Kota Pekalongan Kendal Demak Kota Semarang Kab Semarang Salatiga Wonosobo Bj negara Sragen Kab.0%) dan terendah atau tidak ada kematian di 30 kabupaten/kota.001 penderita) dan paling sedikit di Kabupaten Karanganyar (1 penderita).Angka Kematian Malaria Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) Malaria tahun 2011 sebesar 0. Mgl Boyolali Surakarta Kr.15 0. 15.05 2010 0. Angka kematian tertinggi adalah di Kota Semarang (25.05 0 API 2008 0. terbanyak di Kabupaten Purworejo (1.18 Angka Kesakitan Malaria Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Penderita malaria tahun 2011 ditemukan di 25 kabupaten.03%.19 Peta CFR Malaria kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 28 . Yogyakarta Wonogiri Gambar 3.1 2011 0.11 Gambar 3.1 0.

Reduksi Campak (Redcam) dan Eliminasi Tetanus Neonatorum (ETN). Secara kumulatif. kabupaten Temanggung (1 kasus) dan Kota Semarang (1 kasus). dan Campak). Kota Semarang (2 kasus). Kabupaten Banjarnegara (5 kasus). Kabupaten Boyolali (1 kasus). Jumlah kasus Difteri pada tahun 2011 sebanyak 8 kasus lebih sedikit bila dibandingkan dengan tahun 2010 (14 kasus). Dalam upaya untuk membebaskan Indonesia dari penyakit tersebut. jumlah kasus Filariasis pada tahun 2011 sebanyak 537 penderita.Jumlah Kasus dan Angka Kesakitan Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) Yang termasuk dalam PD3I yaitu Polio. Kabupaten Batang (1 kasus) dan Kabupaten Pemalang (1 kasus). Pertusis. 17. diperlukan komitmen global untuk menekan turunnya angka kesakitan dan kematian yang lebih banyak dikenal dengan Eradikasi Polio (ERAPO). Kabupaten Boyolali (2 kasus).Kasus Penyakit Filariasis Ditangani Jumlah kasus Filariasis di Provinsi Jawa Tengah dari tahun ke tahun semakin bertambah. Campak. Hal ini dimungkinkan karena pencapaian cakupan imunisasi yang meningkat (>85%). Kabupaten Sukoharjo (1 kasus). Kabupaten Semarang (2 kasus). Kabupaten Brebes (2 kasus). Difteri Jumlah kasus Difteri di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 8 kasus yang tersebar di 6 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Banyumas (1 kasus). Tetanus Neonatorum. Difteri dan Hepatitis B. Tahun 2011 ada 141 kasus baru yang ditemukan di 9 kabupaten/kota yaitu Kota Pekalongan (125 kasus). Kabupaten Grobogan (2 kasus). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 29 . Penemuan kasus selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. Dalam waktu 5 tahun terakhir jumlah kasus PD3I yang dilaporkan adalah sebagi berikut: a. yaitu pengamatan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (Difteri. Tetanus Non Neonatorum.16. Saat ini telah dilaksanakan Program Surveilans Integrasi PD3I. Tetanus Neonatorum. Kabupaten Demak (1 kasus).

30 25 20 15 10 5 0 2008 Kasus Pertusis 3 2009 0 2010 24 2011 4 Gambar 3.21 Penemuan kasus Pertusis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 c. Penemuan kasus selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. Tetanus (Non Neonatorum) Jumlah kasus Tetanus (Non Neonatorum) di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 13 kasus yang tersebar di 4 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Blora (4 kasus). Kabupaten Rembang (1 kasus).20 Penemuan kasus Difteri Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 b. Jumlah kasus Difteri pada tahun 2011 menurun bila dibandingkan dengan jumlah kasus Pertusis tahun 2010 (24 kasus). Pertusis Jumlah kasus Pertusis di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 4 kasus yang Berasal dari kabupaten Kudus.35 30 25 20 15 10 5 0 2008 Kasus Difteri 28 2009 30 2010 14 2011 8 Gambar 3. Kabupaten Kudus Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 30 .

Sedangkan 31 kabupaten/kota lainnya tidak ada kasus.8% atau dari 13 kasus yang dilaporkan 7 diantaranya meninggal. Kabupaten Batang dan Kabupaten Brebes. CFR Tetanus tahun 2011 sebesar 75% atau dari 4 kasus yang dilaporkan 3 diantaranya meninggal Penemuan kasus dan kematian Tetanus Neonatorum selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. Kabupaten Temanggung.22 Penemuan kasus Tetanus Non Neonatorum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 d. Jumlah kasus Tetanus pada tahun 2011 meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (3 kasus). CFR Tetanus tahun 2011 sebesar 53. Tetanus Neonatorum Jumlah kasus Tetanus Neonatorum di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 4 kasus yang tersebar di 4 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Rembang. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 31 . Penemuan kasus selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. 15 10 5 0 2008 Kasus Tetanus Non Neonatorum 7 2009 6 2010 3 2011 13 Gambar 3.(3 kasus) dan Kabupaten Pemalang (5 kasus). Jumlah kasus Tetanus pada tahun 2011 meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (3 kasus).

Ada 5 Kabupaten yang tidak terdapat kasus campak yaitu Kabupaten Purbalingga. 4000 3000 2000 1000 0 2008 Campak 2498 2009 3614 2010 3664 2011 1873 Gambar 3. mengalami penurunan yang signifikan bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebesar 3.12 8 4 0 2008 Kasus Mati 10 6 2009 10 5 2010 6 4 2011 4 3 Gambar 3. Kasus terbanyak terdapat di Kota Semarang (285 kasus). Campak Jumlah kasus Campak di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 1. Penemuan kasus campak selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut.24 Kasus Campak yang dilaporkan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 32 .664 kasus.23 Penemuan kasus dan kematian Tetanus Neonatorum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 e.873 kasus. Kabupaten Purworejo. Kabupaten Kendal dan Kabupaten Tegal. Kabupaten Kudus.

Kabupaten Cilacap (8 kasus). g. kanker serviks. asma Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 33 .25 Kasus Hepatitis B Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 18. Kabupaten Purworejo (19 kasus). Kota Salatiga (4 kasus) dan Kabupaten Boyolali (3 kasus).f. Penyakit Tidak Menular Penyakit tidak menular (PTM) yang diintervensi meliputi jantung koroner. penyakit paru obstruktif kronis. Hepatitis B Jumlah kasus Hepatitis B di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 170 kasus. kanker paru. kanker hati. mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebanyak 117 kasus. Polio Jumlah kasus Polio di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 0 kasus. dekompensasio kordis. Kabupaten Pekalongan (28 kasus). Kota Tegal (16 kasus). stroke. mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebanyak 1 kasus. 200 150 100 50 0 2008 Hepatitis B 57 2009 74 2010 117 2011 170 Gambar 3. hipertensi. Kasus Hepatitis B terdapat di 9 kabupaten/kota yaitu di Kabupaten Temanggung (40 kasus). Penemuan kasus Hepatitis B selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. Kabupaten Pati (11 kasus). diabetes mellitus. Kota Semarang (16 kasus). kanker payudara. Kabupaten Pemalang (21 kasus). Kabupaten Banjarnegara (4 kasus).

bronkiale, dan kecelakaan lalu lintas. Penyakit tidak menular seperti penyakit kardiovaskular, stroke, diabetes mellitus, penyakit paru obstruktif kronis dan kanker tertentu, dalam kesehatan masyarakat sebenarnya dapat digolongkan sebagai satu kelompok PTM utama yang mempunyai faktor risiko sama (common

underlying risk factor). Faktor risiko tersebut antara lain faktor genetik
merupakan faktor yang tidak dapat diubah (unchanged risk factor), dan sebagian besar berkaitan dengan faktor risiko yang dapat diubah (change risk factor) antara lain konsumsi rokok, pola makan yang tidak seimbang, makanan yang mengandung zat aditif, kurang berolah raga dan adanya kondisi lingkungan yang tidak kondusif terhadap kesehatan. Penyakit tidak menular mempunyai dampak negatif sangat besar karena merupakan penyakit kronis. Apabila seseorang menderita penyakit tidak menular, berbagai tingkatan produktivitas menjadi terganggu. Penderita ini menjadi serba terbatas aktivitasnya, karena menyesuaikan diri dengan jenis dan gradasi dari penyakit tidak menular yang dideritanya. Hal ini berlangsung dalam waktu yang relatif lama dan tidak diketahui kapan sembuhnya karena memang secara medis penyakit tidak menular tidak bisa disembuhkan tetapi hanya bisa dikendalikan. Yang harus mendapatkan perhatian lebih adalah bahwa penyakit tidak menular merupakan penyebab kematian tertinggi dibanding dengan penyakit menular. Kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah yang melaporkan data PTM tahun 2011 hanya 27 kabupaten/kota (77,1%). Hampir semua kelompok Penyakit Tidak Menular pada tahun 2011 mengalami peningkatan jumlah kasus, kecuali penyakit Asma bronkial dan Psikosis yang jumlah kasusnya lebih rendah dibanding tahun 2010. Kasus tertinggi Penyakit Tidak Menular pada tahun 2011 adalah kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah. Dari total 1.409.857 kasus yang dilaporkan sebesar 62,43% (880.193 kasus) adalah penyakit jantung dan pembuluh darah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

34

Asma Bronkial 13% PPOK 2%

Psikosis Neoplasma 1% 5%

DM 17%

Jantung & PD 62%

Gambar 3.26 Persentase Kasus Penyakit Tidak Menular Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011

a. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Penyakit jantung dan pembuluh darah adalah penyakit yang mengganggu jantung dan sistem pembuluh darah seperti penyakit jantung koroner (angina pektoris, akut miokard infark), dekompensasio kordis, hipertensi, stroke, penyakit jantung rematik, dan lain-lain. Kasus tertinggi penyakit tidak menular tahun 2011 pada kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah adalah penyakit Hipertensi Esensial, yaitu sebanyak 634.860 kasus (72,13 %).

1) Hipertensi Hipertensi atau sering disebut dengan darah tinggi adalah suatu keadaan di mana terjadi peningkatan tekanan darah yang memberi

gejala berlanjut pada suatu target organ tubuh sehingga timbul kerusakan lebih berat seperti stroke (terjadi pada otak dan berdampak pada kematian yang tinggi), penyakit jantung koroner (terjadi pada kerusakan pembuluh darah jantung) serta penyempitan ventrikel kiri / bilik kiri (terjadi pada otot jantung). Hipertensi merupakan penyakit yang sering dijumpai diantara penyakit tidak menular lainnya. Hipertensi dibedakan menjadi hipertensi primer yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya dan hipertensi

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

35

sekunder yaitu hipertensi yang muncul akibat adanya penyakit lain seperti hipertensi ginjal, hipertensi kehamilan, dll. Prevalensi kasus hipertensi essensial di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 1,96% menurun bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 2,00%. Terdapat tiga kota dengan prevalensi sangat tinggi di atas 10% yaitu Kota Magelang (22,41%), Kota Salatiga (10,18%) dan Kota Tegal (10,36%).
3

2.5

2

1.5

1 Prevalensi

2008 2.65

2009 2.13

2010 2

2011 1.96

Gambar 3.27 Prevalensi Kasus Hipertensi Essensial Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011

Penyakit Hipertensi Essensial pada tahun 2009 dan 2010 menunjukkan adanya penurunan kasus yang cukup tinggi, namun pada tahun 2011 terlihat mulai ada kenaikan jumlah kasus. Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut ini.
900000 800000 700000 600000 500000 Hipertensi Essensial

2008 865204

2009 698816

2010 562117

2011 634860

Gambar 3.28 Tren Peningkatan Kasus Hipertensi Essensial Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

36

14 0.06 0.03 0. Stroke disebabkan oleh kurangnya aliran darah yang mengalir ke otak.1 0. 0. Prevalensi tertinggi tahun 2011 adalah di Kota Magelang sebesar 1.09 2011 0.45%. Sedangkan prevalensi stroke non hemorargik pada tahun 2011 sebesar 0. terjadi secara mendadak dan cepat yang menimbulkan gejala dan tanda sesuai dengan daerah otak yang terganggu. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 37 .03% sama dengan angka tahun 2010.34%.05 0.2) Stroke Stroke adalah suatu penyakit menurunnya fungsi syaraf secara akut yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Magelang sebesar 3.09%.13 2009 0. Stroke dibedakan menjadi stroke hemoragik yaitu adanya perdarahan otak karena pembuluh darah yang pecah dan stroke non hemoragik yaitu lebih karena adanya sumbatan pada pembuluh darah otak.12 0. pernafasan cheynes stokes.04 0.08 0.02 0 Hemoragik Non Hemoragik 2008 0.29 Prevalensi Stroke Hemoragik dan Non Hemoragik Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 3) Dekompensasio Kordis Dekompensasio kordis merupakan kegagalan jantung dalam memompa darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh atau istilah lain adalah payah jantung.03 0. atau terkadang menyebabkan pendarahan di otak. sama dengan prevalensi tahun 2010.09 2010 0.09 Gambar 3.04 0. Gambaran klinis dekompensasio kordis kiri adalah sesak nafas: dyspnoe d’effort dan ortopne. Prevalensi stroke hemoragik di Jawa Tengah tahun 2011 adalah 0.

muntah.15 0. edema presakral. nyeri tekan. tumpul dan tidak nyeri. Absolut artinya pankreas sama sekali tidak bisa menghasilkan insulin sehingga harus mendapatkan insulin dari luar (melalui suntikan) dan relatif artinya pankreas masih bisa menghasilkan insulin yang kadarnya berbeda pada setiap orang.05 0 Prevalensi 2008 0. Prevalensi kasus dekompensasio kordis tahun 2011 sebesar 0.2 0. Dapat juga terjadi edema pretibial. lama kelamaan menjadi keras.12 Gambar 3. tekanan vena jugularis gambaran klinis dekompensasio kordis masih normal. (Perkeni 2002) Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 38 .18 2009 0. asites dan hidrotoraks.14 2010 0.12% mengalami peningkatan bila dibandingkan prevalensi tahun 2010 sebesar 0. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Magelang sebesar 1. tekanan jugularis meningkat. meteorismus dan rasa kembung di epigastrum. mual. Selain itu terjadi pembesaran hati yang mulamula lunak. tepi tajam.88%.11%.30 Prevalensi Dekompensasio Kordis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 b. ronchi basah halus tidak nyaring. suara serak.1 0. 0.11 2011 0.batuk-batuk mungkin hemoptu. sianosis. Sedangkan kanan adalah gangguan gantrointestinal seperti anoreksia. baik absolut maupun relatif. Diabetes Melitus Diabetes Melitus (DM) atau kencing manis adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang karena adanya peningkatan kadar gula dalam darah akibat kekurangan insulin.

gangguan toleransi glukosa. dan lain-lain. yang terbanyak adalah DM tidak tergantung insulin. Polydipsi (sering haus). pruritis vulva hingga keputihan pada wanita.97%. gangguan fungsi hati. DM dapat menjadi penyebab aneka penyakit seperti hipertensi. obesitas. katarak.WHO (1985) mengklasifikasikan penderita DM dalam lima golongan klinis. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Magelang sebesar 7. artinya sekali didiagnosa DM seumur hidup bergaul dengannya. stroke. gatal/bisul. yaitu DM Tergantung Insulin (DMTI). kerusakan retina mata yang dapat membuat buta. Gejala khas berupa Polyuri (sering kencing). glaukoma. luka yang lama sembuh mengakibatkan infeksi hingga akhirnya harus diamputasi terutama pada kaki. gatal daerah genital. kurang olah raga. abortus. Sedangkan gejala lain seperti Lelah/lemah. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 39 . Kelompok Faktor Risiko Tinggi antara lain pola makan yang tidak seimbang. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Semarang sebesar 0. impotensi pada pria. keracunan kehamilan. mengalami peningkatan bila dibandingkan prevalensi tahun 2010 sebesar 0. DM berkaitan dengan malnutrisi (MRDM). Penderita mampu hidup sehat bersama DM. gagal ginjal.99%. kehamilan dengan berat bayi lahir > 4 kg. mata kabur. kesemutan/gringgingan. umur Lebih dari 40th. jantung koroner. mengalami penurunan dari 0. DM karena Toleransi Glukosa Terganggu (TGT). luka tdk sembuh-sembuh.63% pada tahun 2011.08%. riwayat Keluarga/ada keturunan. kehamilan dengan hiperglikemi. Di Indonesia. asalkan mau patuh dan kontrol teratur. bayi lahir mati. Polyfagi (sering lapar). Prevalensi diabetes melitus tergantung insulin di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 0. berat badan menurun drastis. dan DM karena kehamilan (GDM). DM jenis ini baru muncul pada usia di atas 40 tahun.70% menjadi 0. lemak dalam darah tinggi. DM merupakan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikendalikan. hipertensi. Sedangkan prevalensi kasus DM tidak tergantung insulin lebih dikenal dengan DM tipe II. mata kabur. keputihan. dll. DM Tidak Tergantung Insulin (DMTTI).09%. impotensi. berat badan turun drastis.

899 kasus (35.4 1. dan Ca. yang tumbuh tanpa kontrol dan tujuan yang jelas.05 0. kanker kulit. hepar 2.02 0.6 0.005 2009 0.003 2011 0.01 0 Ca Servik Ca Mamae Ca Hepar Ca Paru 2008 0.19 0. kanker kelenjar getah bening.42%).86%).13%). dan kanker rektum. Neoplasma Neoplasma atau kanker adalah tumor ganas yang ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangan abnormal dari sel-sel tubuh.242 (11. paru 954 kasus (4. Kasus penyakit kanker yang ditemukan di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 19.277 kasus.542 kasus (48.03 0.022 0.16 1.59%).002 2010 0.029 0.007 0.003 Gambar 3.03 0.021 0.028 0.2 1 0.7 2011 0.25 2009 0. 0.04 0.63 Gambar 3.09 0.004 0.637 kasus meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebanyak 13. Di Indonesia terdapat lima jenis kanker yang banyak diderita penduduk yakni kanker rahim.037 0. Ca.2 0 DMTI DMTTI 2008 0.4 0.08 0.013 0.31 Prevalensi Penyakit Diabetes Mellitus Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 c.32 Prevalensi Penyakit Kanker di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 40 .006 0.1.01 0. servik 6.62 2010 0. Ca. mendesak dan merusak jaringan normal. mamae 9. kanker payudara.05 0. terdiri dari Ca.8 0.

Prevalensi kasus PPOK di Provinsi Jawa Tengah mengalami peningkatan yaitu dari 0.007% dan tertinggi di Kota tegal sebesar 0.08 2011 0.003% dan tertinggi di Kota Magelang sebesar 0. ras. kanker hati sebesar 0.07%. jenis kelamin.39%. 0. defisiensi alpha-1 antitripsin. debu dan bahan kimia. d. usia.05 0 Prevalensi 2008 0. Penyakit Paru Obstruktif Kronis Penyakit Paru Obtruktif Kronis (PPOK) adalah penyakit yang ditandai adanya hambatan aliran pernafasan bersifat reversible sebagian dan progresif yang berhubungan dengan respon inflamsi abnormal dari paru terhadap paparan partikel atau gas berbahaya.15 0.Prevalensi kanker di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 adalah sebagai berikut : kanker serviks sebesar 0.04%. Faktor risiko pencetus terjadinya PPOK adalah perokok aktif/pasif.09 Gambar 3.09% pada tahun 2011 dan tertinggi di Kota Salatiga sebesar 4.33 Prevalensi PPOK Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 41 .12 2010 0.33%. infeksi saluran nafas terutama waktu anak-anak.021% dan tertinggi di Kota Semarang sebesar 0.08% pada tahun 2010 menjadi 0. genetik.2 2009 0.1 0. alergi dan autoimunitas. kanker paru 0. polusi udara di dalam atau di luar ruangan. kanker payudara sebesar 0.89%.2 0. (Global Obstructive Lung Disease 2003).029% dan tertinggi di Kota Magelang sebesar 0.

berbagai logam dalam bentuk perhiasan. STATUS GIZI 1.9 0. jam tangan dll. Ingestan yang masuk badan melalui mulut biasanya berupa makanan seperti susu. Serangan asma bronkhiale sering dicetuskan oleh ISPA.3 0 Prevalensi 2008 1.64 2011 0.64% dan prevalensi tertinggi di Kota Tegal sebesar 2.66 2010 0. ikan-ikanan. 1.55% mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 0.07 2009 0. dan edema mukosa serta deskuamasi epitel bronkus/bronkeolus.6 0.29%.e.2 0. akibat inflamasi eosinofilik dengan kepekaan yang berlebihan.34 Prevalensi Asma Bronkial Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 C. serpih kulit dari binatang piaraan. tekanan emosi. spasme. obat-obatan dll. merokok. spora jamur dll. Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram. Kontaktan yang masuk badan melalui kontak kulit seperti obat-obatan dalam bentuk salep. Persentase Berat Bayi Lahir Rendah. Asma Bronkial Asma Bronkial terjadi akibat penyempitan jalan napas yang reversibel dalam waktu singkat oleh karena mukus kental.55 Gambar 3. telur. Penyebab terjadinya BBLR antara lain karena ibu Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 42 . aktivitas fisik. Prevalensi kasus asma di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 0. dan rangsangan yang bersifat antigen/allergen antara lain: Inhalan yang masuk ketubuh melalui alat pernafasan misalnya debu rumah.

hamil mengalami anemia, kurang suply gizi waktu dalam kandungan, ataupun lahir kurang bulan. Bayi yang lahir dengan berat badan rendah perlu

penanganan yang serius, karena pada kondisi tersebut bayi mudah sekali mengalami hipotermi dan belum sempurnanya pembentukan organ-organ tubuhnya yang biasanya akan menjadi penyebab utama kematian bayi. Jumlah bayi berat lahir rendah (BBLR) di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 21,184 meningkat banyak apabila dibandingkan tahun 2010 yang sebanyak 15.631. Adapun persentase BBLR tahun 2011 sebesar 3,73%, meningkat bila dibandingkan tahun 2010 sebesar 2,69%.
4 3 2 1 0 Prevalensi

2008 2,08

2009 2,81

2010 2,69

2011 3,73

Gambar 3.35 Persentase BBLR Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011

Persentase BBLR yang ditangani di Jawa Tengah tahun 2010 seluruh Kabupaten/Kota sudah memenuhi target dalam Renstra Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah sebesar 70%. 2. Persentase Balita Dengan Gizi Kurang Salah satu indikator kesehatan yang dinilai keberhasilan pencapaiannya dalam MDGs adalah status gizi balita. Status gizi balita diukur berdasarkan umur (U), berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). Variabel BB dab TB ini disajikan dalam bentuk tiga indikator antropometri, yaitu berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi ini menjadi penting karena merupakan salah satu faktor risiko untuk terjadinya kesakitan dan kematian. Status gizi yang baik
Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

43

bagi seseorang akan berkontribusi terhadap kesehatannya dan juga terhadap kemampuan dalam proses pemulihan. Status gizi masyarakat dapat diketahui melalui penilaian konsumsi pangannya berdasarkan data kuantitatif maupun kualitatif. Dalam menetukan klasifikasi status gizi harus ada ukuran baku yang sering disebut

reference .

Baku antropometri yang sering digunakan di Indonesia

adalah World Health Organization–National Centre for Health Statistic (WHONCHS). Berdasarkan baku WHO-NCHS status gizi dibagi menjadi empat : Pertama, gizi lebih untuk over weight, termasuk kegemukan dan obesitas. Kedua, Gizi baik untuk well nourished. Ketiga, Gizi kurang untuk under weight yang mencakup mild dan moderat, PCM (Protein Calori Malnutrition). Keempat, Gizi buruk untuk severe PCM, termasuk marasmus, marasmik-kwasiorkor dan kwasiorkor. Persentase balita dengan gizi kurang (BB/U) Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 5,35%. Persentase balita dengan gizi kurang tertinggi di Kota Tegal (50,98%) dan terendah di Kabupaten Kebumen (0,38%). 3. Persentase Balita dengan Gizi Buruk. Kejadian gizi buruk perlu dideteksi secara dini melalui intensifikasi pemantauan tumbuh kembang Balita di Posyandu, dilanjutkan dengan penentuan status gizi oleh bidan di desa atau petugas kesehatan lainnya. Penemuan kasus gizi buruk harus segera ditindak lanjuti dengan rencana tindak yang jelas, sehingga penanggulangan gizi buruk memberikan hasil yang optimal. Pendataan gizi buruk di Jawa Tengah didasarkan pada 2 kategori yaitu dengan indikator membandingkan berat badan dengan umur (BB/U) dan kategori kedua adalah membandingkan berat badan dengan tinggi badan (BB/TB). Skrining pertama dilakukan di posyandu dengan membandingkan berat badan dengan umur melalui kegiatan penimbangan, jika ditemukan balita yang berada di bawah garis merah (BGM) atau dua kali tidak naik (2T), maka dilakukan konfirmasi status gizi dengan menggunakan indikator berat badan menurut

tinggi badan. Jika ternyata balita tersebut merupakan kasus buruk, maka segera dilakukan perawatan gizi buruk sesuai pedoman di Posyandu dan Puskesmas.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

44

Jika ternyata terdapat penyakit penyerta yang berat dan tidak dapat ditangani di Puskesmas maka segera dirujuk ke rumah sakit. Balita Gizi Buruk tahun 2011 berjumlah 3.187 (0,10%) menurun apabila dibandingkan tahun 2010 sejumlah 3.514 (0,18%). Demikian pula persentase Balita Gizi Buruk mendapatkan perawatan tahun 2011 sebesar 100% jauh lebih meningkat dibandingkan tahun 2010 sebesar 93,28%.

Jepara Jepara Pati Kota Tegal Kota Pekalongan Kendal Demak Kota Semarang Kab Semarang Salatiga Wonosobo Bj negara Sragen Kab. Mgl Boyolali Surakarta Kr.anyar J A T I M Grobogan Kudus Rembang Blora

J A B A R

Brebes

Tegal

Batang Pekalongan Bata ng Pemalang

Temanggung Purblg Cilacap Banyumas Kebumen

Kota Mgl

Klaten Purworejo Magelan Sukoharjo g DI. Yogyakarta Wonogiri

Keterangan : Kasus Gizi Buruk (>150 kasus)

Gambar 3.36 Peta Kasus Balita Gizi Buruk (BB/TB) kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

45

protein urin) dan atau berdasarkan indikasi (HbsAG. Ada 11 kabupaten/kota yang cakupannya sudah mencapai 100% yaitu Kabupaten Banyumas. satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga umur kehamilan. Pelayanan Kesehatan Ibu a. (5) Pemberian tablet besi 90 selama kehamilan. b. (3) Skrining status imunisasi tetanus dan pemberian Tetanus Toxoid. Malaria. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K-4 Kunjungan ibu hamil sesuai standar adalah pelayanan yang mencakup minimal: (1) Timbang badan dan ukur tinggi badan. Cakupan pelayanan antenatal dapat dipantau melalui pelayanan kunjungan baru ibu hamil (K1) untuk melihat akses dan pelayanan kesehatan ibu hamil sesuai standar paling sedikit empat kali (K4) dengan distribusi pemberian pelayanan yang dianjurkan adalah minimal satu kali pada triwulan pertama. Kota Magelang.72%. (4) Tinggi fundus uteri. Cakupan kunjungan ibu hamil K-1 tahun 2011 sebesar 98. Kabupaten Pemalang.98%. (2) Ukur tekanan darah.71% meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (92. Sifilis. Cakupan terendah Kabupaten Rembang 92. Cakupan tertinggi (101.36%) di Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 46 . Kota Surakarta dan Kota Semarang.04%) tetapi masih dibawah target SPM 2015 (95%). HIV. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K-1 Pelayanan kesehatan ibu meliputi pelayanan kesehatan antenatal. Kabupaten Brebes. Kabupaten Demak. Pelayanan Kesehatan 1. pertolongan persalinan dan pelayanan kesehatan nifas. Kabupaten Sukoharjo. (6) Temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling). Kabupaten Jepara. Kabupaten Kendal. (7) Test laboratorium sederhana (Hb. TBC) Cakupan pelayanan lengkap ibu hamil (K4) di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 93.BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN A. Kabupaten Blora.81 %) di Kabupaten Pekalongan dan terendah (83.

79 90 Gambar 4. Kabupaten/Kota yang sudah melampaui target SPM 2015 sebanyak 35 ( 100%). Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Tengah tahun 2011 sebesar 96.Kabupaten Klaten.86% yang telah melampaui target cakupan K4.98 90 2009 93. Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan adalah ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan.1 Cakupan Pelayanan Antenatal K4 Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007-2011 c. 100 95 90 85 80 Cak.79% mengalami Provinsi Jawa bila peningkatan dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (93.2 Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 47 .39 95 2010 92.62 90 2011 96.04 95 2011 93.03 90 2010 93.14 95 2009 93.62%).92 95 2008 90.71 95 Gambar 4.6 90 2008 90. Dari 35 kabupaten/kota tersebut baru 42. Data cakupan mulai tahun 2007 sampai dengan 2011 secara keseluruhan di Provinsi Jawa Tengah adalah sebagai berikut : 100 95 90 85 80 Cak. Linakes Target 2007 86. K4 Target 2007 86.

demam lebih dari 2 (dua) hari. Kabupaten Pekalongan dan Kota Magelang. (e) Kehamilan lewat waktu. eklampsia). ibu bersalin dan ibu nifas yang dapat mengancam jiwa ibu dan/atau bayi.24%) dan sudah melampaui target SPM tahun 2015 (90%). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 (preeklampsia. Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani Komplikasi kebidanan merupakan kesakitan pada ibu hamil. Pelayanan Ibu Nifas meliputi pemberian Vitamin A dosis tinggi ibu nifas yang kedua dan pemeriksaan kesehatan paska persalinan untuk mengetahui apakan terjadi perdarahan paska persalinan. Dari 35 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah masih belum mencapai target SPM ada 4 Kabupaten/Kota (11.Cakupan tertinggi adalah di Kabupaten Pekalongan dan Kota surakarta (100%) dan terendah adalah Kabupaten Banyumas (86. Cakupan yang telah mencapai 100% meliputi Kabupaten Banyumas.68%). dini. 48 . keluar cairan berbau dari jalan lahir. adanya perencanaan persalinan yang baik dari ibu.05%) Dengan semakin naiknya angka cakupan pertolongan persalinan menunjukkan adanya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan. (c) Perdarahan per vaginam. Kunjungan terhadap ibu nifas yang dilakukan petugas kesehatan biasanya bersamaan dengan kunjungan neonatus. sehingga perlu mendapatkan pelayanan kesehatan masa nifas dengan dikunjungi oleh tenaga kesehatan minimal 3 (tiga) kali sejak persalinan. Komplikasi dalam kehamilan diantaranya (a) Abortus. payudara bengkak kemerahan disertai rasa sakit dan lain-lain. Cakupan Pelayanan Nifas Paska persalinan (masa nifas) berpeluang untuk terjadinya kematian ibu maternal.97% naik bila dibandingkan tahun 2010 (93. Cakupan pelayanan pada ibu nifas tahun 2011 yaitu 93. d. suami maupun dukungan keluarga. e. Kabupaten Klaten. Kabupaten yang terendah capaiannya adalah Kota Semarang (64. (b) Hiperemesis (d) Hipertensi dalam kehamilan (f) ketuban pecah Gravidarum.43%).

Dari 35 kabupaten/kota. 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan (SPM-BK).19%. eklampsia) (d) Perdarahan pasca persalinan. Perlu diketahui bahwa tahun-tahun sebelumnya yang dihitung hanya cakupan komplikasi pada ibu hamil yang ditangani. Puskesmas. (c) Perdarahan nifas. Ibu hamil.56%) dan Kota Semarang (89. (b) Partus macet/distosia. eklampsia). ibu bersalin dan ibu nifas dengan komplikasi yang ditangani adalah ibu hamil. RSIA/RSB. yaitu: KN 1 adalah kunjungan pada 0-2 hari . bersalin dan nifas dengan komplikasi yang mendapatkan pelayanan sesuai standar pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan (Polindes.28%. Jumlah komplikasi kebidanan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 126. namun masih ada Kabupaten/Kota yang cakupannya kurang dari 90 % yaitu Kabupaten Wonogiri (87.Komplikasi dalam persalinan diantaranya (a) Kelainan letak/presentasi janin.KN 2 adalah kunjungan 2-7 hari dan KN 3 adalah kunjungan setelah 7-28 hari. (b) Infeksi nifas. Pencapaian cakupan tahun ini masih dibawah target SPM tahun 2015 (80%). (f) Kontraksi dini/persalinan premature. Puskesmas PONED. Pada Permenkes 741/ Th. 2. Rumah Bersalin.440 (20% dari jumlah ibu hamil). cakupan KN-3 rata-rata sudah lebih dari 90%.84%). (c) Hipertensi dalam kehamilan (preeklampsia. RSU PONEK). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 49 . dan cakupan kunjungan neonatus 3 (KN-lengkap) sebesar 95. Cakupan Kunjungan Neonatus Kunjungan Neonatus (KN) adalah kunjungan yang dilakukan oleh petugas kesehatan ke rumah ibu bersalin. (g) Kehamilan ganda. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani tahun 2011 sebesar 75. KN dibagi menjadi 3. tetapi diharapkan target tersebut bisa tercapai sebelum tahun 2015. Pelayanan Kesehatan Anak a.01%. Komplikasi dalam nifas diantaranya (a) Hipertensi dalam kehamilan (preeklampsia. (e) Infeksi berat/sepsis. untuk memantau dan memberi pelayanan kesehatan untuk ibu dan bayinya. Cakupan kunjungan neonatus 1 (KN-1) di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 98. RSU.

Setelah umur 28 hari. Cakupan Kunjungan Bayi Kunjungan bayi adalah bayi yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan. Hal ini disebabkan adanya upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat melalui penambahan dan penempatan bidan di desa.3 Cakupan Kunjungan Neonatus Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Secara keseluruhan cakupan kunjungan neonatus di tingkat Provinsi Jawa Tengah sudah memenuhi target yaitu lebih dari 90%. Setiap bayi berhak mendapatkan pelayanan kesehatan dengan memantau pertumbuhan dan perkembangannya Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 50 . b.33 2008 94.86 2011 95.37 2010 94. Selain itu perlu dilakukan analisis apakah jumlah tenaga kesehatan yang ada telah mencukupi kebutuhan pelayanan kesehatan tersebut serta tenaga kesehatan yang bertugas apakah telah melakukan pelayanan kesehatan secara optimal.19 Gambar 4. Selain itu juga adanya upaya peningkatan pelayanan kesehatan dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah dengan menggunakan buku KIA serta meningkatnya pengetahuan ibu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik untuk bayinya. di luar kunjungan neonatus. pemerintah telah mengupayakan alokasi dana diantaranya melalui dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) disamping pendanaan lainnya baik dari Provinsi maupun Kabupaten/Kota.66 2009 99.Untuk meningkatkan Kunjungan Neonatus di Kabupaten/Kota. paling sedikit 4 kali. Adapun cakupan kunjungan neonatus di Jawa Tengah pada tahun 2007-2011 dapat digambarkan sebagai berikut: 100 98 96 94 92 90 KN 2007 94.

2011 dapat digambarkan sebagai berikut: 97 96 95 94 93 92 91 90 Kunjungan Bayi 2007 92. Cakupan kunjungan bayi Kabupaten/Kota di Jawa Tengah pada tahun 2011 yang masih dibawah 80% yaitu Kabupaten Boyolali 44. hipotermia.19%.22% dan Kabupaten Pekalongan 70.secara teratur setiap bulan di sarana pelayanan kesehatan.07 2010 93.64%. BBLR (berat badan lahir rendah < 2500 gr). kecacatan dan kematian. Neonatus dengan komplikasi seperti asfiksia. Cakupan Neonatus dengan Komplikasi yang Ditangani Neonatus dengan komplikasi merupakan neonatus dengan penyakit dan kelainan yang dapat menyebabkan kesakitan.77%.73%).73 2011 92. Wonogiri 73. Cakupan kunjungan bayi tingkat Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 92. dokter dan bidan di sarana pelayanan kesehatan.4 Cakupan Kunjungan Bayi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 c. infeksi/sepsis. Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara profesional kepada neonatus dengan komplikasi. Adapun grafik cakupan bayi 2007 .76 2008 96.04 2009 95. ikterus. menurun apabila dibandingkan tahun 2010 (93.64 Gambar 4. Neonatus dengan komplikasi yang ditangani merupakan neonatus komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih. trauma lahir. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 51 . tetanus neonatorum. Perhitungan sasaran neonatus dengan komplikasi dihitung berdasarkan 15% dari jumlah bayi baru lahir. sindroma gangguan pernafasan dan kelainan congenital maupun yang termasuk klasifikasi kuning pada Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).

02). Jumlah balita di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 2.187. Tidak hanya bayi yang harus mendapatkan perhatian kesehatannya tetapi balita juga perlu mendapatkan perhatian baik gizi maupun kesehatannya. karena balita adalah generasi penerus bangsa yang harus sehat.569 bayi (53.785. pemeriksaan ketajaman mata. berat badan.03%. Sedangkan cakupan terendah adalah Kabupaten Boyolali 34. Kabupaten yang cakupannya sudah mencapai 100% adalah Kabupaten Magelang dan Kabupaten Brebes. d. kelainan mental emosional dan kebugaran jasmani. Jumlah perkiraan tersebut yang mendapat penanganan tenaga kesehatan di tiap jenjang pelayanan kesehatan sebesar 47. Cakupan Pelayanan Anak Balita Balita adalah anak berumur dibawah 5 tahun atau umur 12-59 bulan. Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat Penjaringan kesehatan siswa Sekolah Dasar (SD) dan setingkat adalah pemeriksaan kesehatan terhadap murid baru kelas 1 SD dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang meliputi pengukuran tinggi badan. sehingga belum semua neonatus dengan risiko tinggi/komplikasi dicatat dan dilaporkan.Tahun 2011 perkiraan bayi dengan komplikasi yang dihitung dari banyaknya sasaran bayi jumlahnya sebesar 89. cerdas dan kuat. yang mendapatkan pelayanan kesehatan sebanyak 1. e.204.336 bayi. namun belum semua kabupaten/kota mempunyai persepsi / pemahaman yang sama. Disamping target neonatus komplikasi yang ditangani untuk neonatal resiko tinggi seharusnya 15 % dari jumlah sasaran bayi pertahun.864 (81. kesehatan gigi. ketajaman pendengaran. Pelaksanaan penjaringan kesehatan dikoordinir oleh puskesmas bersama dengan guru Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 52 . Masih rendahnya neonatus risiko tinggi yang mendapatkan pelayanan kesehatan diantaranya disebabkan belum adanya keseragaman definisi operasional mengenai neonatal yang termasuk dalam risiko tinggi.25%). Cakupan Neonatus Risiko Tinggi/komplikasi yang ditangani tersebut masih jauh dari target cakupan sebesar 80%.

831 (42. Cakupan Pelayanan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat Jumlah siswa SD dan setingkat tahun 2011 sebanyak 2.8 2010 52.02 Gambar 4. Kabupaten Demak.72%.84%). Kabupaten Purbalingga dan Kota Surakarta. Melalui penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat diharapkan dapat menapis atau menjaring anak yang sakit dan melakukan tindakan intervensi secara dini. Kabupaten Temanggung.55%) dan tertinggi (100%) dicapai oleh 7 kabupaten yaitu Kabupaten Sukoharjo. Kabupaten Pati.61 2011 81.sekolah dan kader kesehatan/konselor kesehatan. meningkat dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (52. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 53 .59 2008 43. Angka cakupan terendah di Kabupaten Rembang (1. Setiap puskesmas mempunyai tugas melakukan penjaringan kesehatan siswa SD/MI di wilayah kerjanya dan dilakukan satu kali pada setiap awal tahun ajaran baru sekolah. Angka cakupan terendah di Kabupaten Boyolali (15. 100 80 60 40 20 0 Cakupan 2007 51.074. sehingga anak yang sakit menjadi sembuh dan anak yang sehat tidak tertular menjadi sakit.853 anak. f. Kabupaten Jepara dan Kabupaten Demak. Kabupaten Sragen. Siswa SD dan setingkat ditargetkan 100 % mendapatkan pemantauan kesehatan melalui penjaringan kesehatan. Kabupaten Kebumen.61%). Yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai strata UKS sebesar 1.70%) dan tertinggi (100%) dicapai oleh 4 kabupaten yaitu Kabupaten Sukoharjo.77 2009 43.5 Cakupan Pemeriksaan Kesehatan Siswa SD/MI Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga kesehatan / guru UKS / kader kesehatan sekolah tahun 2011 sebesar 78.555.

46%).6 Cakupan Suplementasi Kapsul Vit.52 2009 98.11 2010 96. Pelayanan Gizi a.74 2008 98. cakupan pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi pada bayi sebesar 99.84%.08%. Salah satu dampak kurang Vitamin A adalah kelainan pada mata yang umumnya terjadi pada anak usia 6 bulan – 4 tahun yang menjadi penyebab utama kebutaan di negara berkembang. A pada Bayi dan Balita Tahun 2007 – 2011 b. KVA dalam tubuh dapat menimbulkan berbagai jenis penyakit yang merupakan “Nutrition Related Diseases” yang dapat mengenai berbagai macam anatomi dan fungsi dari organ tubuh seperti menurunkan sistem kekebalan tubuh dan menurunkan epitelisme sel-sel kulit.3. Cakupan tersebut sudah melampaui target SPM sebesar 95%.84 2011 99. hanya ada 1 kabupaten yang masih di bawah target yaitu Kabupaten Pemalang (82.08 Gambar 4. Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada bayi selama 5 tahun terakhir (2007-2011) dapat dilihat dalam gambar berikut ini : 100 99 98 97 96 95 94 93 92 Cakupan 2007 94. Berdasarkan data yang yang diperoleh dari profil kesehatan kabupaten/kota. lebih banyak dibandingkan tahun 2010 sebesar 96. Sebagian besar kabupaten/kota telah melampaui target. Cakupan Pemberian Vitamin A pada Anak Balita Salah satu program penanggulangan KVA yang telah dijalankan adalah dengan suplementasi kapsul Vitamin A dosis tinggi 2 kali pertahun Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 54 . Cakupan Pemberian Vitamin A pada Bayi Kurang Vitamin A (KVA) masih merupakan masalah yang tersebar diseluruh dunia terutama di negara berkembang dan dapat terjadi pada semua umur terutama pada masa pertumbuhan.

Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada Balita tahun 2011 sebesar 98.45%. Kabupaten Boyolali.pada Balita dan ibu nifas untuk mempertahankan bebas buta karena KVA dan mencegah berkembangnya kembali masalah Xerofthalmia dengan segala manifestasinya (gangguan penglihatan. sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian pada bayi dan anak. Kota Magelang dan Kota Semarang. buta senja dan bahkan kebutaan sampai kematian). Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada balita selama 5 tahun terakhir (2007-2011) dapat dilihat dalam gambar berikut ini : 100 95 90 85 80 75 70 Cakupan 2007 82.14 2009 82.44 2010 96.6 2008 95. Kabupaten Purworejo.76 2011 98. Cakupan ini sudah melampaui target SPM (95%). Cakupan tertinggi (>100%) sudah dapat dicapai oleh 8 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Banyumas. Kabupaten Kendal.45 Gambar 4. Kabupaten Magelang. mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010 (96. Balita yang dimaksud dalam program distribusi kapsul Vitamin A adalah anak umur 12 – 59 bulan yang mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi. Kabupaten Sragen. Kapsul Vitamin A dosis tinggi terdiri dari kapsul vitamin A berwarna merah dengan dosis 200.62%) dan Kabupaten Pemalang (91. Disamping itu pemantapan program distribusi kapsul Vitamin A dosis tinggi juga dapat mendorong tumbuh kembang anak serta meningkatkan daya tahan anak terhadap penyakit infeksi. Sedangkan yang masih di bawah target yaitu Kabupaten Jepara (88.76%).000 SI yang diberikan pada anak umur 12-59 bulan dan diberikan pada bulan Pebruari dan Agustus setiap tahunnya. A pada Balita di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 55 .7 Cakupan Suplementasi Kapsul Vit.00%).

rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan lainnya. meningkat dibandingkan tahun 2010 (92. 100 95 90 85 80 75 Cakupan 2007 82. Cakupan ibu nifas mendapat kapsul vitamin A tahun 2011 sebesar 96.c. Kabupaten Pekalongan. 2) Forum komunikasi.43%. dan lain-lain bentuk yang disertai dengan penyebarluasan informasi.73 2008 92. Suplementasi vitamin A pada ibu nifas merupakan salah satu program penanggulangan kekurangan vitamin A.31 2010 92. yang bermanfaat sebagai wahana yang mendukung terlaksananya kegiatan KIE di berbagai sektor terkait. balita.78%).94 2009 87. Kabupaten Klaten.000 SI) pada periode sebelum 40 hari setelah melahirkan. A di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Beberapa hal yang mempengaruhi fluktuasi angka cakupan pemberian vitamin A pada bayi. Cakupan tertinggi (>100%) dicapai oleh Kabupaten Magelang. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 56 . Cakupan ibu nifas mendapat kapsul vitamin A adalah cakupan ibu nifas yang mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi (200. pendekatan.43 Gambar 4.8 Cakupan Ibu Nifas mendapat Kapsul Vit. Kota Magelang dan Kota Surakarta.78 2011 96. Sementara cakupan terendah di Kabupaten Temanggung sebesar 84. Cakupan Pemberian Vitamin A pada Ibu Nifas Ibu nifas adalah ibu yang baru melahirkan bayi baik di rumah dan atau rumah bersalin dengan pertolongan dukun bayi dan atau tenaga kesehatan. dan bufas diantaranya: 1) Advokasi.36%. 3) Sosialisasi pemberian kapsul Vitamin A terhadap petugas kesehatan di Puskesmas.

9 Persentase Pemberian Tablet Fe Pada Ibu Hamil Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Dari grafik di atas dapat diihat bahwa cakupan Fe 1 dan cakupan Fe 3 sudah cukup baik dan memadai. ibu nifas. d.39% lebih rendah bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (90.39 Gambar 4. dll) 7) Adanya sweeping dari kader kesehatan dengan sasaran ibu anak yang belum mendapatkan kapsul Vitamin A pada bulan kapsul.53% dan terendah Kabupaten Kendal 53. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 57 . 5) Tersedianya sarana pelayanan kesehatan yang terjangkau. Hal ini dapat dilihat dari tingginya prevalensi pemberian tablet Fe pada ibu hamil.59 85.25 2011 95. Cakupan tertinggi dicapai Kabupaten Pekalongan 101. Cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 89. Persentase Ibu Hamil yang Mendapatkan Tablet Fe Program penanggulangan anemia yang dilakukan adalah memberikan tablet tambah darah yaitu preparat Fe yang bertujuan untuk menurunkan angka anemia pada balita. 6) Lintas program/ lintas sektor terkait (Promosi Kesehatan.06 2009 92.98 85.43 89.91 2008 93.62 2010 95. dan belum mencapai target SPM 2010 (90%). Penanggulangan anemi pada ibu hamil dilaksanakan dengan memberikan 90 tablet Fe kepada ibu hamil selama periode kehamilannya.94 87. ibu hamill.12%.4) Kegiatan konseling/konsultasi gizi dilakukan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas dan rumah sakit pada sasaran ibu anak. 100 95 90 85 80 Fe 1 Fe 3 2007 92. Imunisasi. dan WUS (Wanita Usia Subur).92 90.25%). remaja putri.

450/Menkes/SK/IV/2004.e. obesitas. namun pada masa pertumbuhan berikutnya bayi yang tidak diberi ASI ternyata memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk menderita hipertensi. ASI eksklusif adalah Air Susu Ibu yang diberikan kepada bayi sampai bayi berusia 6 bulan tanpa diberikan makanan dan minuman. dalam keadaan sakit mungkin merupakan hadiah yang menyelamatkan jiwanya (UNICEF). ASI adalah hadiah yang sangat berharga yang dapat diberikan kepada bayi. Pernyataan bahwa dengan pemberian susu formula kepada bayi dapat menjamin bayi tumbuh sehat dan kuat. karena meskipun insiden diare rendah pada bayi yang diberi susu formula. Oleh sebab itu pemberian ASI perlu diberikan secara eksklusif sampai umur 6 (enam) bulan dan tetap mempertahankan pemberian ASI dilanjutkan bersama makanan pendamping sampai usia 2 (dua) tahun. Persentase Bayi yang Mendapatkan ASI Eksklusif Air Susu Ibu (ASI) merupakan satu-satunya makanan yang sempurna dan terbaik bagi bayi karena mengandung unsur-unsur gizi yang dibutuhkan oleh bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi guna mencapai pertumbuhan dan perkembangan bayi yang optimal.18%. Pemberian ASI eksklusif bukan hanya isu nasional namun juga merupakan isu global. jantung. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 58 . ternyata menurut laporan mutakhir UNICEF (Fact About Breast Feeding) merupakan kekeliruan yang fatal. Berdasarkan data yang diperoleh dari profil kesehatan kabupaten/kota tahun 2011 menunjukkan cakupan pemberian ASI eksklusif hanya sekitar 45. meningkat dibandingkan tahun 2010 (37. kanker. Kebijakan Nasional untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 (enam) bulan telah ditetapkan dalam SK Menteri Kesehatan No. dalam keadaan miskin mungkin merupakan hadiah satusatunya. kecuali obat dan vitamin.18%). diabetes dll. Bayi yang mendapat ASI eksklusif adalah bayi yang hanya mendapat ASI saja sejak lahir sampai usia 6 bulan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Faktor sosial budaya. Hanya 6 kabupaten/kota saja yang telah mencapai pemberian ASI eksklusif di atas 60% yaitu Kabupaten Purworejo. Kabupaten Blora.21 2010 37. 50 40 30 20 10 0 Cakupan 2007 27.18 2011 45. Kondisi yang kurang memadai bagi para ibu yang bekerja. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 59 . 5). Gencarnya pemasaran susu formula.10 Cakupan Pemberian ASI Eksklusif Tahun 2007 – 2011 Beberapa hal yang menghambat pemberian ASI eksklusif diantaranya adalah: 1). 3). 4). Kabupaten Klaten.41%. Upaya-upaya yang telah dilaksanakan dalam rangka meningkatkan cakupan pemberian ASI eksklusif tetap berpedoman pada Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui yaitu: 1) Sarana Pelayanan Air Kesehatan Ibu mempunyai kebijakan yang Peningkatan secara rutin Pemberian Susu (PP-ASI) tertulis dikomunikasikan kepada semua petugas.96 2009 40.35 2008 28. Kabupaten Pati dan Kabupaten Temanggung. Kabupaten Banyumas.Cakupan tertinggi adalah Kabupaten Klaten 77. Rendahnya pengetahuan ibu dan keluarga lainnya mengenai manfaat ASI dan cara menyusui yang benar.55%.36 Gambar 4. 2). Sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Rembang 6. Kurangnya pelayanan konseling laktasi dan dukungan dari petugas kesehatan.

tanpa pembatasan terhadap lama dan frekuensi menyusui. Kabupaten Rembang.2) Melakukan pelatihan bagi petugas dalam hal pengetahuan dan ketrampilan untuk menerapkan kebijakan tersebut. Jumlah anak usia 623 bulan dari keluarga miskin dari 21 kabupaten/kota sebanyak 145.31%). 5) Membantu ibu bagaimana cara menyusui yang benar dan cara mempertahankan menyusui meski ibu dipisah dari bayi atas indikasi medis. Anak usia 6-24 bulan dari keluarga miskin diberikan makanan pendamping ASI baik makanan lokal maupun pabrikan. 9) Tidak memberikan dot atau kempeng kepada bayi yang diberi ASI. Kabupaten Blora. Kota Salatiga dan Kota Pekalongan. f. Kabupaten Temanggung.724 anak.831 (38. 6) Tidak memberikan makanan atau minuman apapun selain ASI kepada bayi baru lahir. 8) Membantu ibu menyusui semau bayi semau ibu. Cakupan terendah adalah Kabupaten Brebes 0.40%. Kabupaten yang cakupannya sudah mencapai 100% adalah Kabupaten Wonosobo. Apabila ibu mendapat operasi caesar. 4) Membantu ibu mulai menyusui bayinya dalam 30 menit setelah melahirkan yang dilakukan di ruang bersalin (inisiasi dini). masa bayi lahir sampai umur 2 tahun termasuk cara mengatasi kesulitan menyusui. 3) Menjelaskan kepada semua ibu hamil tentang manfaat menyusui dan penatalaksanaannya dimulai sejak masa kehamilan. 10) Mengupayakan terbentuknya Kelompok Pendukung ASI (KP-ASI) dan rujuk ibu kepada kelompok tersebut ketika pulang dari rumah sakit. Cakupan Pemberian Makanan Pendamping ASI pada Anak Usia 624 bulan Keluarga Miskin. yang mendapatkan makanan tambahan ASI (MP-ASI) sebanyak 55. rumah bersalin atau sarana pelayanan kesehatan. Kabupaten Boyolali. bayi disusui setelah 30 menit ibu sadar. Kabupaten Demak. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 60 . 7) Melaksanakan rawat gabung dengan mengupayakan ibu bersama bayi 24 jam sehari.

g. Partisipasi masyarakat dalam penimbangan di posyandu tersebut digambarkan dalam perbandingan jumlah balita yang ditimbang (D) dengan jumlah balita seluruhnya (S). Imunisasi. faktor ekonomi dan sosial budaya.32% menurun dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (89.63 2008 76. Semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam penimbangan di posyandu maka semakin baik pula data yang dapat menggambarkan status gizi balita.43%.35% dan terendah Kabupaten Pemalang 61. Penimbangan terhadap bayi dan balita yang dilakukan di posyandu merupakan upaya masyarakat memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita yang dintegrasikan dengan pelayanan kesehatan dasar lain (KIA. Partisipasi masyarakat dalam penimbangan di posyandu tahun 2011 sebesar 78. Cakupan tertinggi adalah di Kabupaten Sragen 88. Banyak hal dapat mampengaruhi penimbangan di tingkat pencapaian antara partisipasi lain tingkat masyarakat pendidikan.89 2010 89. Jumlah Balita Ditimbang Salah satu upaya untuk meningkatkan keadaan gizi masyarakat adalah melalui Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) yang sebagian kegiatannya dilaksanakan di Posyandu.49 2011 78.32 Gambar 4. dalam tingkat posyandu pengetahuan masyarakat tentang kesehatan dan gizi. Dari data yang ada menggambarkan bahwa pedesaan dan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 61 .49%).47 2009 75. Pemberantasan Penyakit).11 Cakupan Balita Yang Ditimbang Tahun 2007 – 2011 Kabupaten/kota yang belum dapat mencapai target partisipasi masyarakat sebesar 80% sebanyak 15 kabupaten/kota. 100 80 60 40 20 0 Balita ditimbang 2007 71.

maka segera dilakukan perawatan gizi buruk sesuai pedoman di Posyandu dan Puskesmas. h.perkotaan tidak memperlihatkan perbedaan yang menyolok dalam partisipasi masyarakat tetapi yang sangat berpengaruh adalah faktor ekonomi dan sosial budaya. jika ditemukan balita yang berada di bawah garis merah (BGM) atau dua kali tidak naik (2T). maka dilakukan konfirmasi status gizi dengan menggunakan indikator berat badan menurut tinggi badan. 20000 15000 10000 5000 0 Jml Balita Gibur 2007 18106 2008 5528 2009 5249 2010 3514 2011 3187 Gambar 4. Jika ternyata balita tersebut merupakan kasus buruk.12 Jumlah Balita dengan Gizi Buruk Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 62 . Jika ternyata terdapat penyakit penyerta yang berat dan tidak dapat ditangani di Puskesmas maka segera dirujuk ke rumah sakit. Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan Kejadian gizi buruk perlu dideteksi secara dini melalui intensifikasi pemantauan tumbuh kembang Balita di Posyandu. Penemuan kasus gizi buruk harus segera ditindak lanjuti dengan rencana tindak yang jelas. Skrining pertama dilakukan di posyandu dengan membandingkan berat badan dengan umur melalui kegiatan penimbangan. sehingga penanggulangan gizi buruk memberikan hasil yang optimal. Pendataan gizi buruk di Jawa Tengah didasarkan pada 2 kategori yaitu dengan indikator membandingkan berat badan dengan umur (BB/U) dan kategori kedua adalah membandingkan berat badan dengan tinggi badan (BB/TB). dilanjutkan dengan penentuan status gizi oleh bidan di desa atau petugas kesehatan lainnya.

81 2010 80. Kota Magelang. Peserta Keluarga Berencana Baru Peserta Keluarga Berencana (KB) baru adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang baru pertama kali menggunakan salah satu cara/alat dan/atau PUS yang menggunakan kembali salah satu cara/alat kontrasepsi setelah mereka berakhir masa kehamilannya. Desa dengan Garam Beryodium yang Baik Persentase desa/kelurahan dengan garam beryodium yang baik.13 Persentase Desa/Kelurahan dengan Garam Beryodium Baik Tahun 2007 – 2011 Berdasarkan laporan yang masuk dari 33 kabupaten/kota.83 2008 55.42 Gambar 4.187 menurun apabila dibandingkan tahun 2010 (3.15 2011 53. menggambarkan identitas mutu garam beryodium yang dikonsumsi penduduk di suatu desa/kelurahan.68%. Tetapi persentase Balita Gizi Buruk mendapatkan perawatan tahun 2011 sebesar 100% jauh lebih meningkat dibandingkan tahun 2010 (93. Kota Salatiga dan Kota Semarang. yang cakupannya mencapai 100% adalah Kabupaten Tegal. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 63 . Pelayanan Keluarga Berencana a. 100 80 60 40 20 0 % Desa dg garam beryodium 2007 58. Sedangkan kabupaten dengan konsumsi garam beryodium terendah adalah Kabupaten Demak 9.93 2009 48. Kota Surakarta.42% menurun dibandingkan tahun 2010 (80.514).28%). i. dimana pada tahun 2011 sebanyak 53.Balita Gizi Buruk tahun 2011 berjumlah 3.15%). 4.

Proporsi pemakai kontrasepsi suntikan cukup besar yaitu 54. PIL (19.125 lebih sedikit dibanding tahun 2010 (6.2%).2%.4%) dan kondom (hanya 5.9% MOP 0. PIL (18. Peserta KB baru tersebut menggunakan kontrasepsi sebagai berikut: 1) MKJP: Tahun 2011 IUD (6.13%). sebagai akibat tersedianya jaringan pelayanan sampai di tingkat desa/kelurahan sehingga dekat dengan tempat tinggal peserta KB.9%).8% IUD 6. MOP/MOW (2.4% Suntik 54. Sedangkan tahun 2010: IUD (5. hal tersebut dapat difahami karena akses untuk memperoleh pelayanan suntikan relatif lebih mudah.4%) dan Kondom (5.8%).97%).2%). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 64 . karena terbatasnya pilihan kontrasepsi yang disediakan bagi pria.Jumlah PUS Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 6.0% Implant 12.0%) dan Implant (12.24%).46%) dan Kondom (5.99%). Partisipasi pria (bapak) untuk menjadi peserta KB aktif dengan mempergunakan kontrasepsi MOP (hanya 0.20%).2% Gambar 4.8%).7%). MOW (2.561. menurun apabila dibandingkan dengan tahun 2010 (15.243). dan sebagian pria masih beranggapan bahwa KB merupakan urusan ibu (istri). sedangkan tahun 2010 : Suntik (58.4% MOW 2. Peserta KB baru pada tahun 2011 (13. 2) NON MKJP: Tahun 2011 Suntik (54.23%) dan Implant (8.2% PIL 18.14 Persentase Pemakaian Kontrasepsi Peserta KB Baru Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Sebagian besar peserta KB baru mempergunakan kontrasepsi non MKJP yang membutuhkan pembinaan secara rutin dan berkelanjutan untuk menjaga kelangsungan pemakaian kontrasepsi. Kondom 5.4%). sehingga ibu (istri) yang menjadi sasaran. MOP (0.549.

79 80 2008 78. Kabupaten Blora. Kabupaten Kudus. Cakupan peserta KB aktif menunjukkan tingkat pemanfaatan kontrasepsi di antara PUS.57 80 2011 76. Kabupaten Semarang.15 Cakupan Peserta KB Aktif Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 5. dan Kota Surakarta. Kabupaten Pati. Pelayanan Imunisasi a. Peserta KB Aktif Peserta KB aktif adalah akseptor yang pada saat ini memakai kontrasepsi untuk menjarangkan kehamilan atau mengakhiri kesuburan.8%. Kabupaten Jepara. Terdapat 13 Kabupaten/kota yang telah melampaui target yaitu Kabupaten Wonogiri. Cakupan peserta KB aktif adalah perbandingan antara jumlah peserta KB aktif dengan PUS di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.2%). Kabupaten Temanggung. Kota Magelang.37 80 2010 78. Kabupaten Pemalang.09 80 2009 78. Persentase Desa yang Mencapai “Universal Child Immunization” (UCI) Strategi operasional pencapaian cakupan tinggi dan merata berupa pencapaian Universal Child Immunization (UCI) yang berdasarkan indikator cakupan DPT-HB 3. Cakupan tertinggi di Kota Magelang (89. Cakupan peserta KB aktif Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 76. Kabupaten Rembang. Kabupaten Brebes.5%) dan terendah di Kabupaten Tegal (44.57%). Polio 4 dan Campak dengan cakupan minimal 80% dari Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 65 .8 80 Gambar 4. Angka ini sudah mencapai target (70%).b. Kabupaten Pekalongan. 81 80 79 78 77 76 75 74 Cakupan Target 2007 77. mengalami penurunan dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (78.

Hasil pencapaian UCI desa tahun 2010 yang mencapai target (100%) sebanyak 18 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Banyumas. Kabupaten Temanggung.06%). Kota Magelang.64 2008 86. Pencapaian UCI desa tahun 2011 (96.jumlah sasaran bayi di desa.16 Cakupan Desa/Kelurahan UCI Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Kabupaten/kota yang belum mencapai target imunisasi dasar lengkap pada bayi disebabkan antara lain : 1) Adanya perbedaan jumlah dibandingkan dengan sasaran yang ada. hal ini dikarenakan penentuan jumlah sasaran masih berdasarkan angka estimasi jumlah penduduk. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 66 . Kabupaten Sragen. Kota Semarang.95 2010 94. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tidak tercapainya pencapaian UCI desa di beberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah.58 2011 96.4 Gambar 4. Kota Salatiga. bukan dari hasil pendataan. Kabupaten Tegal. Kabupaten Kebumen.4%) mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2010 (94. Kabupaten Grobogan. Kabupaten Magelang.1%). Kabupaten Semarang. Sedangkan kabupaten yang pencapaian UCI desa terendah di Kabupaten Batang (66. pada umumnya disebabkan karena penghitungan sasaran (denominator) yang melebihi dengan kondisi riil jumlah sasaran di lapangan.83 2009 91. Kota Pekalongan dan Kota Tegal. Kabupaten Demak. Kota Surakarta. kabupaten Kudus. 99 94 89 84 79 74 UCI 2007 83. kabupaten Pemalang. Kabupaten Pekalongan.

712 meningkat disbanding tahun 2010 sebanyak 579. Polio. program imunisasi juga melaksanakan program imunisasi tambahan/suplemen yaitu Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) DT. DPT-HB 3 kali. sedangkan BIAS TT diberikan pada semua anak usia kelas II dan III SD/MI/SDLB/SLB. Polio. Cakupan imunisasi dasar lengkap bayi di Jawa Tengah dari semua antigen sudah mencapai target minimal nasional (85%).494. Sedangkan cakupan masing-masing jenis imunisasi tahun 2011 adalah Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 67 . pencapaian tiap tahun cenderung menurun. Sebagai indikator kelengkapan status imunisasi dasar lengkap bagi bayi dapat dilihat dari hasil cakupan imunisasi campak. dan lain-lain. Hepatitis B. Selain pemberian imunisasi rutin. b. dan kematian bayi serta anak balita dilaksanakan program imunisasi baik program rutin maupun program tambahan/suplemen untuk penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti TBC. Backlog Fighting (melengkapi status imunisasi). 3) Belum dilakukan pelaksanaan sweeping atau kunjungan rumah untuk melengkapi status imunisasi pada daerah-daerah yang cakupan imunisasinya masih rendah. dan Campak. dan HB). Jumlah sasaran bayi pada tahun tahun 2011 adalah 592.2) Belum semua Puskesmas membuat Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) imunisasi secara rutin (bulanan. HB Uniject 1 kali dan campak 1 kali. Cakupan Imunisasi bayi Upaya untuk menurunkan angka kesakitan. pada umumnya disebabkan keterbatasan sumber daya atau tenaga banyak yang merangkap dengan tugas lain. 4) Masih ada sebagian kecil orang tua yang menolak anaknya untuk diimunisasi dikarenakan keyakinan/kepercayaan agama. DPT-HB. tribulanan) dikarenakan banyak petugas imunisasi yang merangkap dengan tugas lain. Polio 4 kali. Pertusis. Difteri. BIAS Campak yang diberikan pada semua usia kelas I SD/MI/SDLB/SLB. kecacatan. Bayi seharusnya mendapat imunisasi dasar lengkap yang terdiri dari BCG 1 kali. karena imunisasi campak merupakan imunisasi yang terakhir yang diberikan pada bayi umur 9 (sembilan) bulan dengan harapan imunisasi sebelumnya sudah diberikan dengan lengkap (BCG. Tetanus.

69 99.67 96.5 99. Sebanyak 11 kabupaten/kota (31.0%).89 99.67%). Drop Out Imunisasi DPT1-Campak Dalam rangka mencapai dan mempertahankan UCI desa. Tahun 2011 DO tingkat Jawa Tengah sebanyak 3. Dengan grafik PWS akan terlihat dan dapat dianalisis cakupan dan kecenderungan setiap bulan. DPT3+HB3 (98. analisis PWS harus diikuti dengan tindak lanjut. Kota Semarang dan Kota Tegal.95%).0%) dan Campak (93.95 Campak 96. mengalami penurunan dibanding tahun 2010 (3.05 100. Kabupaten Brebes. Kota Surakarta.84 102.95%) dan Campak (96. Polio 3 (96.6%).18 96.29%). DPT1+HB1 (97. Kabupaten Jepara.29 Gambar 4.7%). persentase (%) 110 100 90 80 BCG 2007 2008 2009 2010 100. Kabupaten Sragen.sebagai berikut BCG (98. Sesuai kesepakatan dengan kabupaten/kota indikator DO di Jawa Tengah maksimal 5% atau (-5%).04 98. DPT3+HB3 (95.28 99.78 103. Kabupaten Grobogan.08%). Untuk kecenderungan cakupan setiap bulan dapat diketahui dengan indikator Drop Out (DO). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 68 . DPT1+HB1 (99. Polio 3 (94. maka dapat segera diketahui kekurangan cakupan dan beban yang harus dicapai setiap bulan pada periode berikutnya. Kabupaten Purworejo.29 DPT1+Hb1 DPT3+Hb3 100.4%.17 Cakupan Imunisasi Bayi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 c.0%).5 100.77 102.35 99.08 Polio 4 97. Hal ini mengalami penurunan bila dibanding tahun 2010 dengan BCG (100.24 99.95 98.42%) yang DO-nya lebih dari 5% atau (-5%) yaitu Kabupaten Banjarnegara. Kabupaten Kendal.14 96. Kabupaten Pati.29%).

d. Tahun 2011 jumlah tumpatan gigi tetap tahun 2011 sebanyak 127. 2) Penggunaan format pelaporan yang berbeda antara kabupaten/kota ke provinsi dan puskesmas ke kabupaten/kota terutama untuk TT ibu hamil dan non ibu hamil.7 dan TT-5 sebesar 17.8.274. sementara jumlah pencabutan gigi tetap sebanyak 156. sehingga sistim pencernaan semakin bagus. TT-3 sebesar 28. Rasio Tambal Cabut Gigi Tetap Pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas meliputi kegiatan pelayanan dasar gigi dan upaya kesehatan gigi sekolah. Pencabutan gigi tetap adalah tindakan kuratif dan rehabilitatif yang merupakan tindakan terakhir yang harus diambil oleh seorang pasien. sebelum gigi tetap betul betul rusak dan harus dicabut. Data kegiatan imunisasi TT WUS saat ini akurasinya masih sangat kurang sehingga belum dapat dinalisis. WUS Mendapat Imunisasi TT Imunisasi TT WUS adalah pemberian imunisasi TT pada WUS (usia 15-39 th) sebanyak lima dosis dengan interval tertentu yang berguna bagi kekebalan seumur hidup. Data tersebut menandakan bahwa motivasi masyarakat dalam mempertahankan gigi geliginya belum maksimal. Melalui pemeriksaan gigi ini dapat mengontrol fungsi kunyah gigi agar tetap baik. yang pada akhirnya Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 69 .4%. 6.08. Indikasi dari perhatian masyarakat adalah bila tumpatan gigi tetap semakin bertambah banyak berarti masyarakat lebih memperhatikan kesehatan gigi yang merupakan tindakan preventif. Jumlah ibu hamil 2011 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 632. TT-2 sebesar 48. TT-4 sebesar 20. Pelayanan Kesehatan Gigi a. oleh karena itu masih diperlukan penyuluhan yang terus menerus agar masyarakat memeriksakan giginya secara teratur. yang mendapat TT-1 sebesar 48.2% dan TT2+ sebanyak 114.198.5%. hal ini disebabkan : 1) Pencatatan dan pelaporan status imunisasi lima dosis belum berjalan dengan baik karena pelaksanaan skrining status TT belum optimal.2%. Kegiatan pelayanan dasar gigi adalah tumpatan (penambalan) gigi tetap dan pencabutan gigi tetap.

81 2011 0. Beberapa kabupaten/kota yang pencabutan giginya jauh lebih banyak dibandingkan tumpatan giginya (rasio rendah).607). menandakan bahwa masyarakat di kabupaten yang bersangkutan masih kurang memperhatikan kesehatan gigi dan mulut dan kemungkinan frekuensi penyuluhan kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan oleh petugas kesehatan di setiap lini.6 0.kesehatan secara umum akan meningkat dan diharapkan di tahun-tahun mendatang jumlah pencabutan gigi tetap trennya semakin menurun. pencabutan 4. mengalami peningkatan dibanding tahun 2010 yaitu 0.95).4 0.18 Rasio Tumpatan dan Pencabutan Gigi Tetap Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 . Kegiatan UKGS meliputi pemeriksaan gigi pada seluruh murid untuk mendapatkan murid Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 70 .82 Gambar 4. Kabupaten dengan rasio terendah adalah Kabupaten Rembang 0.2011 b. baik yang dilakukan didalam maupun diluar gedung masih sangat minim.81. Hal menunjukan bahwa masih banyak masyarakat yang melakukan pencabutan gigi dibandingkan melakukan tumpatan gigi tetap.82. Murid SD/MI Mendapat Pemeriksaan Gigi dan Mulut Kegiatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut lainnya adalah Upaya Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yang merupakan upaya promotif dan preventif kesehatan gigi khususnya untuk anak sekolah. Kabupaten/kota yang rasionya tinggi (penumpatan lebih banyak dibandingkan dengan pencabutan) yaitu Kota Tegal (2.06 (tumpatan 267. Rasio tumpatan dan pencabutan gigi tetap tahun 2010 sebesar 0.62 2008 0.8 0.2 0 Rasio 2007 0.71 2009 0. 1 0.71 2010 0.

Kabupaten Kendal dan Kota Salatiga.59 2011 37.9 Gambar 4. kemudian melakukan perawatan pada murid yang memerlukan.83%).3 Gambar 4. Kabupaten Kudus.yang perlu perawatan gigi.20 Cakupan Perawatan Gigi Murid Sekolah Dasar Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 71 . Murid SD/MI Mendapat Perawatan Gigi dan Mulut Cakupan perawatan gigi dan mulut murid SD/MI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 55.95 2009 54. Prosentase jumlah murid yang diperiksa untuk tahun 2011 (37. Beberapa kabupaten mempunyai cakupan sangat rendah.22 2009 36.96%) dan masih ada beberapa kabupaten/kota yang belum melaporkan datanya.59%).90%) lebih tinggi dibandingkan pencapaian tahun 2010 (37. 40 30 20 10 0 Cakupan 2007 31.31 2010 37.75 2010 53.83 2011 55.12 2008 62. 65 60 55 50 45 Cakupan 2007 56.4 2008 33. seperti Kabupaten Sragen (6.30% mengalami peningkatan bila dibanding tahun 2010 (53.19 Cakupan Pemeriksaan Kesehatan Gigi Murid Sekolah Dasar Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 c. Kabupaten yang mempunyai cakupan 100% adalah Kabupaten Sukoharjo.

Cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 51.96 70 Gambar 4.27 70 2010 52. baik di puskesmas maupun di posyandu/kelompok usia lanjut. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut Pelayanan kesehatan usia lanjut yaitu pelayanan penduduk usia 60 tahun ke atas yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan. dengan kesepakatan identifikasi kelompok pra usila di masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) kabupaten/ kota dan memberikan dukungan kegiatan dan pelayanan kesehatan. 80 60 40 20 0 Cakupan Target 2007 30. Upaya-upaya yang telah dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan pra usila dan usila adalah sbb : 1) Pertemuan koordinasi program kesehatan usila Provinsi Jawa Tengah.21 Pelayanan Kesehatan Usia lanjut Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Masih rendahnya cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut dan sedikitnya kabupaten/kota yang mencapai target pelayanan kesehatan usia lanjut tahun 2011.51 70 2008 29.7.76%).61%.96% menurun bila dibandingkan cakupan pada tahun 2010 sebesar 52. Kabupaten/kota dengan cakupan tertinggi adalah Kabupaten banjarnegara (102. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 72 . dan masih jauh dibawah target cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut tahun 2010 (70%).60%) dan terendah adalah Kabupaten Klaten (1.61 70 2011 51. 2) Advokasi ke SKPD provinsi dengan pengembangan model kelompok pra usila percontohan dan fasilitasi pelayanan kesehatan. menggambarkan bahwa kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah belum memperhatikan pelayanan kesehatan untuk kelompok pra usila dan usila yang merupakan kelompok usia berisiko.36 70 2009 42.

5 98 97. jiwa maupun khusus. Rumah Sakit Jiwa sebanyak 100%.46 Pusk RI 100 Gambar 4.46%. Pelayanan Dawat Darurat dan Kejadian Luar Biasa a.80%. dan rumah sakit baik rumah sakit umum. Sarana kesehatan yang dimaksud dalam hal ini adalah rumah bersalin.22 Sarana Kesehatan dengan Kemampuan Pelayanan Gawat Darurat yang Dapat Diakses Masyarakat Provinsi Jawa TengahTahun 2011 Puskesmas rawat inap dengan kemampuan pelayanan gawat darurat yang dapat diakses masyarakat Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 291 puskesmas atau 100%. 100. puskesmas. Jumlah Rumah Sakit Umum dengan kemampuan pelayanan gawat darurat sebanyak 98. Kemampuan pelayanan gawat darurat yang dimaksud adalah upaya cepat dan tepat untuk segera mengatasi puncak kegawatan yaitu henti jantung dengan Resusitasi Jantung Paru Otak (Cardio–Pulmonary–Cebral– Resucitation) agar kerusakan organ yang terjadi dapat dihindarkan atau ditekan sampai minimal dengan menggunakan Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support/BLS) dan Bantuan Hidup Lanjut (ALS). Pelayanan Gawat Darurat Level I yang Harus Diberikan Pelayanan Kesehatan (RS) di Kabupaten/Kota Sarana kesehatan dengan kemampuan pelayanan gawat darurat yang dapat diakses masyarakat merupakan sarana kesehatan yang telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pelayanan gawat darurat sesuai standar dan dapat diakses oleh masyarakat dalam kurun waktu tertentu.88 RSJ 100 RS Khusus 98. Rumah Sakit khusus lain sebesar 98.5 100 99.5 99 98.5 RSU Gawat Darurat (%) 98. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 73 .8.

disamping menimbulkan korban kesakitan dan kematian juga berdampak pada situasi sosial ekonomi masyarakat secara umum (keresahan masyarakat. 1500 1000 500 0 Desa/kel terkena KLB 2007 1286 2008 543 2009 536 2010 579 2011 353 Gambar 4.23 Distribusi Frekuensi KLB menurut Jumlah Desa yang Terserang Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Gambar 4. produktivitas menurun). Tingginya frekuensi KLB seperti Demam Berdarah Dengue (DBD). Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular dan keracunan masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Jawa Tengah. tahun 2009 mengalami penurunan kembali menjadi 536 desa/kelurahan.b. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 74 .42 di atas diketahui bahwa jumlah desa/kelurahan yang terkena KLB di Provinsi Jawa Tengah tahun 2007 – 2011 mengalami fluktuasi yaitu dari 1286 desa/kelurahan pada tahun 2007 meningkat menurun menjadi 543 desa/kelurahan pada tahun 2008. Desa/Kelurahan Terkena Kejadian Luar Biasa yang Ditangani <24 Jam Kejadian luar biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu desa/kelurahan dalam jangka waktu tertentu. Keracunan Makanan. bencana serta munculnya penyakit baru seperti Avian Influenza (Flu Burung). Acute Flacid Paralisys (AFP). Diare. Kondisi tersebut menuntut upaya atau tindakan secara cepat dan tepat (kurang dari 24 jam) untuk menanggulangi setiap KLB serta melaporkan kepada tingkat administrasi kesehatan. Campak. Difteri. tahun 2010 menjadi 579 desa/kelurahan dan mengalami penurunan lagi menjadi 353 desa/kelurahan pada tahun 2011. Chikungunya.

5 100 99.84 2008 99.24 Grafik Distribusi Frekuensi Desa/Kelurahan Terkena KLB yang ditangani kurang dari 24 jam Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Gambar 4. keracunan makanan dan bencana selama tahun 20011 sebanyak 28 jenis kejadian di 32 Kabupaten/Kota. 100.5 99 98. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 75 .45%). 292 kecamatan dan 353 desa/kelurahan yang terkena KLB mendapatkan penanganan kurang dari 24 jam oleh Puskesmas bekerjasama dengan Dinas Kesehatan kabupaten/kota.5 98 97.45 2011 100 Gambar 4.25 Kejadian KLB Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Sebaran KLB tahun 2011 menunjukkan bahwa 3 kabupaten/kota dengan frekuensi KLB terbanyak adalah Kabupaten Klaten (49 kejadian).63 2009 100 2010 98. Gambar 4.5 Ditangani <24jam (%) 2007 99. Kabupaten Karanganyar (28 kejadian) dan Kabupaten Temanggung (24 kejadian).Data frekuensi KLB penyakit menular.24 di atas diketahui bahwa pada tahun 2011 persentase desa/kelurahan terkena KLB yang ditangani kurang dari 24 jam mengalami kenaikan menjadi 100% dibanding dengan tahun 2010 (98.

dengan penyuluhan terbanyak dilakukan di Kabupaten Kendal yaitu 92. Kegiatan Penyuluhan Kesehatan Kegiatan penyuluhan yang dilakukan dibagi menjadi penyuluhan kelompok dan penyuluhan massa.848 jiwa.73% dan KLB Tetatus Neonatorum 75%. Dari sejumlah penderita tersebut. CFR tertinggi adalah KLB demam berdarah dengue/DBD 72. Selengkapnya dapat dilihat pada grafik di bawah ini.733 jiwa dengan attack rate atau rata-rata kejadian sebesar 33. Jumlah Penderita dan Kematian pada Kejadian Luar Biasa Jumlah penduduk terancam KLB tahun 2011 sebanyak 1. Sedangkan yang menderita akibat kejadian luar biasa tersebut sebanyak 3. frekuensi tertinggi adalah keracunan (105 desa/kelurahan) tersebar pada 96 kecamatan.132 kali dan paling sedikit dilakukan di Kota Tegal sebanyak 115 kali. c.202. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 76 .Gambar 4. yang meninggal sebanyak 24 orang (case fatality rate/CFR: 0. Penyuluhan kelompok pada tahun 2011 sebanyak 206.64%).344 kali.26 Jenis KLB Menurut Desa/Kelurahan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Tahun 2011 sejumlah 353 desa yang terkena KLB.21%. 9.

Temanggung Kab.Pekalongan Kab.Sragen Kab.Wonosobo Kab.Klaten Kab. Secara jelas dapat dilihat pada grafik berikut.Batang Kab.Kendal Kab.565 kali dan paling sedikit di Kabupaten Sukoharjo satu kali.Semarang Kab.Pemalang Kab.Purbalingga Kab.Purbalingga Kab.Kebumen Kab.Brebes Kab.Grobogan Kab.Rembang Kab.Banyumas 115 2578 495 1582 2109 1588 11307 9080 10045 32517 5385 9161 3336 3203 2989 413 3807 799 4668 10341 18309 8179 5937 11710 9397 11240 1561 4357 16733 9706 12279 9160 62571 Gambar 4.Sukoharjo Kab.Banjarnegara Kab.Wonogiri Kab.Blora Kab.28 Distribusi Frekuensi Penyuluhan Massa yang Dilakukan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 77 .Pati Kab. 3000 2500 2000 1565 1500 1000 500 35 0 538 387 297 127145 1429 1414 1080 711 622 784 405 225231 1 0 0 79 45 5 149 0 183 3 174 22 23 1071 2402 Kab.Kendal Kab.Karanganyar Kab.Kota Tegal Kota Pekalongan Kota Semarang Kota Salatiga Kota Surakarta Kota Magelang Kab.Karanganyar Kab.Blora Kab.Temanggung Kab.817 kali.Banyumas Kab.Kudus Kab.Demak Kab.Wonosobo Kab.Pekalongan Kab.Pemalang Kab. paling banyak dilakukan oleh Kabupaten Demak yaitu 1.Magelang Kab.Rembang Kab.Banjarnegara Kab.Pati Kab.Boyolali Kab.Boyolali Kab.Wonogiri Kab.Tegal Kab.Sragen Kab.Brebes Kota Magelang Kota Surakarta Kota Salatiga Gambar 4.Purworejo Kab.27 Distribusi Frekuensi Penyuluhan Kelompok yang Dilakukan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Sedangkan penyuluhan massa telah dilakukan 5.Jepara Kab.Kebumen Kab.Magelang Kab.Kudus Kab.Cilacap Kab.Grobogan Kab.Klaten Kab.Purworejo Kab.Sukoharjo Kab.Jepara Kab.Semarang Kab.Batang Kab.Tegal Kab.Demak Kab.

82%. Tiga tahun terakhir peserta jaminan kesehatan kembali mengalami peningkatan sedikit demi sedikit. Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) kemungkinan memberikan dampak negatif pada kepesertaan JPK Pra Bayar. pemerintah telah berupaya mengembangkan berbagai upaya kesehatan. Perkembangan kepesertaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi. Data terakhir di Provinsi Jawa Tengah menggambarkan perkembangan kepesertaan jaminan kesehatan saat ini mencapai 36. Cakupan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pra Bayar Dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan 1.B. Penurunan jumlah penduduk yang masuk dalam katagori non maskin ditengarahi akibat dampak negatif Program Jamkesmas. Namun disadari sampai saat ini perkembangan peserta jaminan kesehatan sedikit agak menggembirakan. sampai dengan tahun 2006 terjadi peningkatan dan pada tahun 2007 merupakan titik antiklimak kepesertaan jaminan kesehatan. meningkat bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (21. Masyarakat yang dulunya merasa non miskin beramai-ramai mengaku miskin supaya dapat masuk dalam Program Jamkesmas. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 78 . Peserta JPK dengan Premi/Pra Bayar banyak yang mengundurkan diri dengan adanya program Jamkesmas yang membebaskan anggotanya dari segala beban iur biaya.18% dari total penduduk bukan masyarakat miskin (non maskin). Program ini dikembangkan dengan tujuan merubah pola pembayaran yang biasanya dibayar setelah pelayanan diberikan dan pelayanan kesehatan yang diterima secara komprehensif. Penduduk maskin yang belum terjamin dengan pelayanan kesehatan sebesar 63.59%). salah satunya adalah dengan mengembangkan suatu upaya kesehatan melalui program jaminan kesehatan.

57 Gambar 4.18 Gambar 4. Selain yang jamkesmas.01 2008 18.53% dan terendah di Kabupaten Brebes 0.3% (Kota Salatiga).40 30 20 10 0 Cakupan 2007 19.59 2011 36.09 2009 19.73%) dan lain-lain (3. 3. Cakupan terbesar di Kota Surakarta 35.73 13. Jamsostek (3.24%.04 3.6 13.37 2010 21.2% (Kabupaten Klaten) hingga 104.06%). Kepesertaan jaminan kesehatan terdiri dari: Askes (13.60%).29 Cakupan Kepesertaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Penduduk Non Maskin Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Kepesertaan program jaminan kesehatan penduduk non maskin yang diperinci menurut kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah.57%). Askeskin/Jamkesmas (66.06 Askes Jamsostek Askeskin/Jamkesmas Jamkesda Lainnya 66. menunjukkan angka yang bervariasi mulai dari cakupan 30.30 Cakupan Kepesertaan Program JPK Pra Bayar Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 79 . pada tahun 2011 sudah banyak agar kabupaten/kota menyelenggarakan jamkesda dengan tujuan masyarakat miskin yang belum tercakup jamkesmas bisa tercakup jamkesda. Jamkesda (13.46% dari total penduduk di Jawa Tengah. Kepesertaan jamkesda pada tahun 2011 sebesar 7.04%).

Masyarakat miskin yang mendapatkan pelayanan kesehatan rawat jalan di sarana pelayanan strata 1 sebesar 7. pelayanan gawat darurat. Saat ini Kota Surakarta yang sudah mencapai cakupan 147. Selain mendapatkan pelayanan rawat jalan juga mendapatkan rawat inap. rawat inap tingkat lanjut.033.Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mencanangkan “Universal Coverage” kepesertaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan pada tahun 2014 yang berarti bahwa seluruh penduduk di Indonesia pada tahun 2014 harus memiliki Jaminan Pemeliharaan Kesehatan.3%) sedangkan di sarana kesehatan 2 dan 3 sebanyak 431.687 (57. rawat inap tingkat pertama.37%).011 (9. serta pelayanan tindakan dan operasi. mendapatkan pelayanan kesehatan rawat inap di sarana kesehatan strata 1 sebanyak 1.433.493 (3. Jumlah Kunjungan Rawat Jalan. Sedangkan pelayanan di rumah sakit meliputi rawat jalan tingkat lanjut.544 (3. Jumlah masyarakat miskin dan hampir miskin sebanyak 13.8%. pelayanan penunjang medik. 2. Jumlah masyarakat miskin dan hampir miskin pada tahun 2011 sebanyak 13.3%). pelayanan obat dan bahan habis pakai. 3. persalinan normal di Puskesmas dan jaringannya.205. 4. Rawat Inap di Sarana Pelayanan Kesehatan Cakupan rawat jalan adalah cakupan kunjungan rawat jalan baru di sarana pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta di satu wilayah kerja pada kurun Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 80 . dan pelayanan transport untuk rujukan bagi pasien. Pelayanan kesehatan di Puskesmas meliputi rawat jalan tingkat pertama.033.17%) sedangkan di sarana pelayanan strata 2 dan strata 3 sebesar 438. Cakupan Pelayanan Kesehatan Rawat Inap Masyarakat Miskin Pelayanan kesehatan yang diberikan bagi pasien masyarakat miskin dan tidak mampu meliputi pelayanan kesehatan di Puskesmas dan di rumah sakit. Cakupan Pelayanan Kesehatan Rawat Jalan Masyarakat Miskin Pelayanan kesehatan yang diberikan bagi pasien masyarakat miskin dan tidak mampu meliputi pelayanan kesehatan di Puskesmas dan di rumah sakit.805 orang.805.

Permasalahan yang ada saat ini adalah tidak semua Rumah Sakit Umum mempunyai pelayanan klinik jiwa karena belum tersedia tenaga medis jiwa dan tidak banyak kasus jiwa di masyarakat yang berobat di sarana pelayanan kesehatan. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 81 . Penurunan cakupan kunjungan rawat jalan tersebut mengisyaratkan bahwa terjadi penurunan kunjungan rawat jalan di pelayanan kesehatan. Cakupan rawat inap di sarana kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 secara akumulasi sebesar 5. terbanyak di rumah sakit yaitu 130. merupakan kunjungan baru dimana seorang yang berkunjung ke sarana pelayanan kesehatan. Kunjungan rawat jalan tersebut.4%. 5. Data yang masuk untuk pelayanan kesehatan jiwa di RS berasal dari Rumah Sakit Jiwa dan Rumah Sakit Umum yang mempunyai klinik jiwa.77%). dan perilaku yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosialnya. proses pikir. dalam satu tahun hanya dihitung satu kali meskipun ia datang berkali kali dalam tahun tersebut. Cakupan rawat inap adalah cakupan kunjungan rawat inap baru di sarana pelayanan kesehatan swasta dan pemerintah di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. pelatihan/refreshing bagi dokter dan paramedis Puskesmas terutama upaya promotif dan preventif. Cakupan kunjungan rawat jalan akumulasi sampai dengan tahun 2011 di sarana kesehatan di Provinsi Jawa Tengah sebesar 105. Dari permasalahan tersebut. yang meliputi gangguan pada perasaan. berdasarkan definisi operasional yang ada.waktu tertentu.387. upaya yang perlu dilakukan adalah peningkatan pembinaan program kesehatan jiwa di sarana kesehatan pemerintah dan swasta.479 kali (65. Jumlah Kunjungan Gangguan Jiwa di Sarana Pelayanan Kesehatan Pelayanan gangguan jiwa adalah pelayanan pada pasien yang mengalami gangguan kejiwaan. serta meningkatkan pelaksanaan sistem monitoring dan evaluasi pencatatan dan pelaporan program kesehatan jiwa. Jumlah kunjungan gangguan jiwa tahun 2011 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 198.1%.

7.01 sedangkan angka yang dapat ditolerir maksimum 45. Dari 181 rumah sakit yang melapor. Pada tahun 2011 jumlah rumah sakit di Provinsi Jawa Tengah menurut jenis dan kepemilikannya adalah sebagai berikut : Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 82 .6. Dari 181 RS yang melapor. Data NDR dan GDR tersebut masih diperlukan tindak lanjut dengan diupayakan seluruh RS mempunyai NDR dan GDR di bawah angka yang dapat ditolerir. dapat dilihat dari Angka Kematian Umum Penderita Yang Dirawat di RS (GDR) pada tahun 2011 rata rata sebesar 34. indikator yang digunakan antara lain dengan melihat perkembangan fasilitas perawatan.000 penderita keluar. sebanyak 28 rumah sakit mempunyai nilai GDR melebihi angka yang dapat ditolerir (kurang baik). berarti masih berada dalam kisaran yang bisa ditolerir. b. Angka Kematian Umum Penderita Yang Dirawat di RS / Gross Death Rate (GDR) Rata-rata Mutu Pelayanan Rumah Sakit di Jawa Tengah menunjukkan masih dalam taraf baik. sebanyak 13 rumah sakit mempunyai nilai NDR melebihi angka yang dapat ditolerir. Angka Kematian Pasien di Rumah Sakit a. Angka Kematian Penderita Yang Dirawat < 48 Jam / Net Death Rate (NDR) Angka Net Death Rate (NDR) adalah untuk mengetahui mutu pelayanan atau perawatan rumah sakit. Nilai NDR yang dapat ditolerir adalah 25 per 1. Indikator Kinerja Pelayanan di Rumah Sakit Dalam menentukan peningkatan sarana rumah sakit. diukur dengan jumlah rumah sakit dan tempat tidur serta rasio terhadap jumlah penduduk. Rata-rata NDR di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 17.07.

BOR yang ideal untuk suatu rumah sakit adalah antara 60% sampai dengan 80%.1 Jumlah Rumah Sakit di Provinsi Jawa Tengah menurut jenis dan pemilikan Tahun 2011 Pemilikan/Pengelola Pem TNI/Polri BUMN Kab/Kota 41 10 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 41 10 1 Jenis RSU RSJ RSB RSK lainnya JML : Pem Pusat 2 1 0 3 6 Pem Prov 7 3 0 0 10 Swasta 118 0 10 51 179 Jml 179 4 10 54 247 a. Angka BOR yang rendah menunjukkan kurangnya pemanfaatan fasilitas perawatan rumah sakit oleh masyarakat. Rata-rata lama rawat seorang pasien di RS se Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3. Pada tahun 2011 jumlah rumah sakit sebanyak 247 Rumah Sakit di Jawa Tengah terdiri dari 13 RS (6.91 mengalami peningkatan bila dibandingkan nilai ALOS tahun 2010 sebesar 3.60%) tingkat pemanfaatannya masih mengirimkan laporan. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 83 .77%) mempunyai BOR yang dianggap cukup ideal. Tetapi masih terdapat 120 RS (56. Indikator ini dipergunakan untuk menilai kinerja rumah sakit dengan melihat persentase pemanfaatan tempat tidur rumah sakit atau Bed Occupation Rate (BOR).46%) tidak b. Angka tersebut masih berada dibawah nilai ALOS yang ideal. sehingga perlu pengembangan rumah sakit atau penambahan tempat tidur. 61 RS (28.85. kurang dan 53 RS (21.13%) mempunyai tingkat pemanfaatan sangat tinggi diatas maksimal occupancy rate. Rata-rata Lama Rawat Seorang Pasien/Average Length of Stay (ALOS) Rata-rata lama rawat seorang pasien yang secara umum/Average Length of Stay (ALOS) yang ideal adalah antara 6–9 hari.Tabel 5. Pemakaian Tempat Tidur/Bed Occupancy Rate (BOR) BOR merupakan prosentase pemakaian tempat tidur pada satu satuan waktu tertentu. Angka BOR yang tinggi (>85%) menunjukan tingkat pemanfaatan tempat tidur yang tinggi.

ASI Eksklusif. menurun bila dibandingkan dengan rata-rata pada tahun 2010 sebesar 3. Variabel KIA dan GIZI Balita. RS Sejahtera Bakti Salatiga. C. Adapun 16 indikator PHBS tatanan Rumah tangga tersebut meliputi : a. Hal ini menggambarkan penurunan terhadap penggunaan tempat tidur dan TOI Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 mendekati angka ideal. Penimbangan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 84 . 10 rumah sakit yang mempunyai nilai ALOS ideal yaitu RSJ Dr. Dari 194 RS yang melapor. Rata-rata Hari Tempat Tidur Tidak Ditempati / Turn Of Interval (TOI) TOI dan ALOS merupakan indikator tentang efisiensi penggunaan tempat tidur. Gizi seimbang : Persalinan Nakes. mencegah risiko terjadinya penyakit dan melindungi diri dari ancaman penyakit serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat. RSU Purbowangi Kebumen dan RS Nurussyifa Kudus. Amino Gondo Hutomo Semarang. Yang dimaksud rumah tangga sehat adalah proporsi rumah tangga yang memenuhi minimal 11 indikator dari 16 indikator PHBS tatanan rumah tangga. RSKJ Puri Waluyo Surakarta. mau dan mampu melakukan PHBS dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya.77. RSJD Surakarta. RSUP Dr.54 dari jumlah RS yang lapor. ada 99 rumah sakit yang mempunyai nilai TOI di atas 3. Angka ideal untuk TOI adalah 1 – 3 hari. RM Soedjarwadi Klaten. RSJD Dr. Rata-rata TOI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3. c. Perilaku Hidup Masyarakat 1. Persentase Rumah Tangga Ber-PHBS Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di rumah tangga merupakan upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar sadar. Kariadi Semarang. RSU Jati Husada Karanganyar. Sedangkan 131 rumah sakit lainnya masih mempunyai nilai ALOS di bawah 6. Yang sudah mempunyai nilai TOI ideal sebanyak 84 RS. Semakin besar TOI maka efisiensi penggunaan tempat tidur semakin jelek. RSUD Kudus.Dari 194 RS yang melapor.

629 rumah tangga yang ada.45%.79 2008 57.31 Persentase Rumah Tangga Ber-PHBS Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 s/d 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 85 . Variabel GAYA HIDUP : Aktifitas fisik. Tidak merokok. Kota Salatiga.lantai rumah. Cuci tangan. c.91 2009 63. Demak dan Kendal.b. Miras/Narkoba d. 80 60 40 20 0 Cakupan 2007 43.361 rumah tangga.Kepadatan hunian. Pencapaian persentase rumah tangga sehat yaitu yang diwakili oleh rumah tangga yang mencapai strata sehat utama dan sehat paripurna telah mencapai 74. Berikut ini adalah Grafik persentase rumah tangga sehat berdasarkan strata Utama dan Paripurna di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 s/d 2011. Variabel UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT : Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Jamban. Karanganyar. Sedangkan cakupan terendah adalah Kabupaten Banjarnegara 49. Cakupan tertinggi (100%) dicapai oleh 6 kabupaten/kota yaitu Kota Pekalongan.63%).674. Perubahan perilaku tidak dapat terjadi dalam waktu singkat.496. Variabel KESLING : Air bersih.68 Gambar 4.Kesehatan gigi dan mulut.663 rumah tangga meningkat apabila dibandingkan dengan tahun 2010 dengan jumlah rumah tangga 8.728. Banyumas.68% lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2010 (68. Sampah.63 2011 74. Berdasarkan data hasil pengkajian PHBS Tatanan Rumah Tangga yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di Jawa Tengah tahun 2011 dari 8. diperiksa 3. tetapi memerlukan proses yang panjang termasuk didalamnya perlu upaya pemberdayaan masyarakat yang berkesinambungan.68 2010 68.703.696 dan yang diperiksa sejumlah 2.

Pengelolaan kesehatan lingkungan merupakan penanganan yang paling kompleks. Penyediaan Sarana Air Bersih dan Sanitasi Dasar (2).441. Keadaaan Lingkungan Lingkungan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap derajat kesehatan. ISPA dan lain . Perindustrian. Konstruksi rumah dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor risiko penularan berbagai jenis penyakit khususnya penyakit berbasis lingkungan seperti Demam Berdarah Dengue. peran swasta dan masyarakat. Pada Tahun 2011 sebanyak 3. Pemeliharaan dan Pengawasan Kualitas Lingkungan (3). Bapermas. Adapun kegiatan pokok untuk mencapai tujuan tersebut meliputi : (1). 1.984 (62.01%. Pencapaian tujuan penyehatan lingkungan merupakan akumulasi berbagai pelaksanaan kegiatan dari berbagai lintas sektor. disamping perilaku dan pelayanan kesehatan. Program Lingkungan Sehat bertujuan untuk mewujudkan mutu lingkungan hidup yang lebih sehat melalui pengembangan sistem kesehatan kewilayahan untuk menggerakkan pembangunan lintas sektor berwawasan kesehatan. Persentase Rumah Sehat Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Lingkungan Hidup. TBC. Pengendalian Dampak Risiko Lingkungan (4).878. Pengembangan Wilayah Sehat.945 (46.35%) rumah diperiksa dan yang memenuhi syarat rumah sehat sebesar 2.lain. Rumah haruslah sehat dan nyaman agar penghuninya dapat berkarya untuk meningkatkan produktivitas. Flu Burung.D. kegiatan tersebut sangat berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Malaria. Cipta Karya dan Dinas Kesehatan). berbagai lintas sektor ikut serta berperan (Bappeda. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 86 . Pertanian.95%) lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2010 yang mencapai 65.

Mengubur dan Plusnya adalah Mencegah Gigitan Nyamuk). Persentase Rumah/Bangunan yang Diperiks Jentik Nyamuk Aedes Jumlah rumah di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 8.087 (40.615. Oleh karena itu gerakan pemberantasan sarang nyamuk dengan 3 M Plus (Menguras.366.53%). masyarakat. meliputi penerapan pendekatan tanggap kebutuhan. Menutup. yang bebas jentik nyamuk Aedes aegypti sebanyak 2. Persentase Keluarga menurut Jenis Sarana Air Bersih yang Digunakan Adanya perubahan paradigma dalam pembangunan sektor air minum dan penyehatan lingkungan dalam penggunaan prasarana dan sarana yang dibangun. melalui kebijakan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan yang ditandatangani oleh Bappenas. yang 3.66 64 62 60 58 56 54 Rumah Sehat 2007 64. peningkatan upaya sumber daya manusia.601 diperiksa jentik nyamuknya sebanyak 3.2011 2.lain harus selalu digerakkan secara optimal. Kementerian Dalam Negeri serta Kementerian Pekerjaan Umum cukup signifikan terhadap penyelenggaraan kegiatan penyediaan air bersih dan sanitasi khususnya di daerah. pengembangan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 87 . Strategi pelaksanaan diantaranya. Kementerian Kesehatan. Cakupan angka bebas jentik ini masih dibawah target 95%. kampanye kesadaran peningkatan penyehatan lingkungan. ban untuk pot dan lain .01 2011 62.84 2008 58.14%) lebih banyak dibandingkan tahun 2010 (73.175 rumah (77.12 2010 65. mengingat kasus Demam Berdarah yang cenderung meningkat dan bertambah luasnya wilayah terjangkit.32 Cakupan Rumah Sehat Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .390.95 Gambar 4.43%). bila memungkinkan pemakaian ulang kaleng.83 2009 65.

Keluarga yang telah akses air bersih tersebut. pasal 10). sehingga kemampuan untuk mendapat akses ke sarana penyediaan air minum yang memenuhi syarat masih terbatas.88%). Namun pada kenyataannya persentase penduduk miskin masih tinggi.185 (89.63%). Pada dasarnya negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi kebutuhan pokok minimal sehari – hari guna memenuhi kehidupan yang sehat. terbanyak memanfaatkan sumur gali (45.33 Akses Air Bersih Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 88 .696 KK dan yang telah memiliki akses sarana air bersih sebanyak 3.081.313 (46. Gambar 4. 7 Tahun 2004.kelembagaan dan penguatan sistem monitoring serta evaluasi pada semua tingkatan proses pelaksanaan menjadi acuan pola pendekatan kegiatan penyediaan Air Bersih dan Sanitasi. Masyarakat berpenghasilan rendah. Perlu dukungan kebijakan yang lebih fokus untuk penyediaan sanitasi dan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Walaupun terdapat program – program air minum dan sanitasi untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Jumlah keluarga yang diperiksa akses air bersih sebanyak 4. bersih dan produktif (UU No. namun akses terhadap air minum belum menunjukkan peningkatan yang berarti. ternyata membayar lebih besar untuk memperoleh air daripada masyarakat berpenghasilan tinggi.703.89%) dari 8.668. hal ini menunjukkan ketidakadilan dalam mendapatkan akses pada air minum.

Persentase Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar Kepemilikan sarana sanitasi dasar yang dimiliki oleh keluarga meliputi jamban.057.2011 Dalam mendukung perubahan sanitasi total khususnya buang air besar di sembarang tempat.93 75.44 Tempat Sampah 79.66 45. tempat sampah sehat 2. khususnya Diare. 100 50 0 Jamban 2007 2008 2009 2010 70.95 71.508.4.57%).11%) dari 8.06 55. Persentase Keluarga menurut Sumber Air Minum yang Digunakan Jumlah keluarga yang diperiksa sumber air minumnya sebanyak 3. telah dilakukan pemicuan Community Led Total Sanitation (CLTS) di 30 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah untuk mendukung pencapaian wilayah stop buang air besar di sembarang tempat dan penurunan penyakit berbasis lingkungan.703.9 65.34 68.67 Air Limbah 61.58%) dan pengelolaan air limbah sehat 1.29 %).34 Cakupan Sanitasi Dasar Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .2 72. Jumlah KK yang telah memiliki jamban sehat 2. pembiayaan tidak ada subsidi dan jamban adalah private good.51 62.325 (63.506.1 Gambar 4. Melalui CLTS terjadi perubahan perilaku tidak buang air besar di sembarang tempat tanpa ada stimulan. 5. terbanyak memanfaatkan sumur terlindung (33.674. Keluarga yang telah menggunakan sumber air minum terlindung tersebut.124 (71.51 73.20%). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 89 .21%).620 (68.734 (69.696 KK dan yang telah menggunakan sumber air minum terlindung sebanyak 2. tempat sampah dan pengelolaan air limbah.902 (40.029.

44%).44%. Pengawasan sanitasi tempat umum bertujuan untuk mewujudkan kondisi yang memenuhi syarat kesehatan agar masyarakat pengunjung terhindar dari kemungkinan bahaya penularan penyakit serta tidak menyebabkan gangguan terhadap kesehatan masyarakat di sekitarnya.2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 90 .6. 7.457 buah dan yang memenuhi syarat kesehatan 37. pasar 55. restoran/rumah makan 73.53%. Tempat-tempat umum dan Pengelolaan Makanan meliputi hotel. Tempat-tempat Umum dan Pengelolaan Makanan seluruhnya yang diperiksa sebanyak 55. perkantoran dan sarana lain dititik beratkan pada aspek hygiene sarana sanitasi yang erat kaitannya dengan kondisi fisik bangunan institusi tersebut. sarana pendidikan. restoran/rumah makan. pasar dan TUPM lainnya. Persentase Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya Kondisi kesehatan lingkungan pada institusi meliputi sarana pelayanan kesehatan.11 Sarana Lain Inst Kelola 47.21%). Persentase Tempat-tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat Tempat – tempat umum dan Pengelolaan Makanan adalah kegiatan bagi umum yang dilakukan oleh badan pemerintah. sarana ibadah. Risiko dari pengelolaan makanan mempunyai peluang yang besar dalam penularan penyakit karena jumlah konsumen relatif banyak dalam waktu yang bersamaan. Cakupan pengawasan tempattempat umum yang memenuhi syarat kesehatan tahun 2011 meliputi hotel 84.56 Gambar 4.88 Kantor 72.829 (68.11 Ibadah 61.55% dan TUPM lainnya (67. 100 80 60 40 20 0 Sarkes 2011 81.35 Cakupan Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 . swasta atau perorangan yang langsung digunakan oleh masyarakat yang mempunyai tempat dan kegiatan tetap serta memiliki fasilitas. instalasi pengolahan air minum.51 Pendidikan 64.67 58.

67%. b.Pada Tahun 2011 pencapaian cakupan institusi yang dibina yaitu sarana pelayanan kesehatan 81.11%. Pengendalian faktor risiko lingkungan institusi terhadap penyakit berbasis lingkungan. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 91 . instalasi pengolahan air minum 58.11% dan sarana lainnya 47. sarana ibadah 61.51%. perkantoran 72. sarana pendidikan 64. Kegiatan yang dilakukan dalam meningkatkan kesehatan lingkungan di insitusi adalah: a. Pembinaan kesehatan lingkungan di institusi sekolah dan pondok pesantren.56%.88%.

46%).BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN A. sedangkan stock obat yang paling sedikit adalah OAT Katagori 3 sebanyak 523 paket dengan pemakaian rata-rata perbulan 43 paket. SARANA KESEHATAN 1.266 tablet dengan pemakaian rata-rata perbulan 2.674 tablet.09%). Prosentase tingkat kecukupan obat di Kabupaten/kota yang paling tinggi adalah kloramfenikol kapsul 250 mg (278.206.834. Gambar 5. Tingkat kecukupan obat tertinggi adalah obat Kloramfenikol kapsul 250 mg (50) dan terendah adalah OAT katagori 3 (9) artinya bahwa persediaan obat Kloramfenikol kapsul 250 mg dapat tercukupi pemakaiannya untuk selama 50 bulan dan OAT katagori 3 dapat tercukupi pemakaiannya untuk selama 9 bulan. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 92 . Ketersediaan Obat menurut Jenis Obat Pada tahun 2011 dari 34 jenis obat yang dilaporkan oleh kabupaten/kota. stock terbanyak adalah Klorfeniramin Maleat tablet 4 mg 52. sedangkan paling rendah adalah OAT Kategori 2 (52.1 Tingkat Kecukupan obat di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011.

RS Khusus lainnya. Industri Obat Tradisional sebanyak 14 unit dan BUMN sebanyak 3 (0.05%). Balai Pengobatan/Klinik sebanyak 888 unit . Praktik Pengobatan Tradisional sebanyak 3. BP/Klinik. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 93 . 3.209 unit.31%). Swasta sebanyak 9.158 unit. Puskesmas Keliling sebanyak 948 unit. Praktik Dokter Perorangan sebanyak 4. Rumah Sakit Bersalin sebanyak 10 unit. Jumlah Sarana Pelayanan Kesehatan menurut Kepemilikan/Pengelola Sarana Pelayanan Kesehatan terdiri dari RSU.2. Sarana Kesehatan dengan presentase tertinggi adalah Posyandu 68. Puskesmas Non Perawatan.866 unit.02%.827 unit. Sarana Pelayanan Kesehatan dengan Kemampuan Labkes dan Memiliki 4 Spesialis Dasar Sarana kesehatan dengan kemampuan pelayanan laboratorium kesehatan yang dapat diakses masyarakat adalah cakupan sarana kesehatan yang telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pelayanan laboratorium kesehatan sesuai standar dan dapat diakses oleh masyarakat dalam waktu tertentu. Pusat sebanyak 6 (0. Toko Obat sebanyak 367 unit. Praktek Dokter Perorangan dan Praktek Pengobatan Tradisional.276 unit. yang terbagi dalam 6 kepemilikan yaitu. Praktik Dokter Bersama sebanyak 57 unit.14% dan terendah adalah BUMN 0. Sedangkan menurut kepemilikannya. RS Khusus lainnya sebanyak 54 unit. Rumah Bersalin sebanyak 249 unit.02%) dan Industri Kecil Obat Tradisional sebanyak 285. Gudang Farmasi Kesehatan (GFK) sebanyak 35 unit. Puskesmas Non Perawatan sebanyak 576 unit. RSB.142 unit. Puskesling. Puskesmas Pembantu sebanyak 1. Sarana Pelayanan Kesehatan terdiri dari Rumah Sakit Umum sebanyak 179 unit . TNI/POLRI sebanyak 41 (0. Jumlah sarana pelayanan kesehatan pada tahun 2011 sebanyak 13. Pos Kesehatan Desa (PKD) sebanyak 5. Praktek Dokter Bersama. Puskesmas Perawatan sebanyak 291 unit.01%. Apotek sebanyak 2.41%). Rumah Sskit Jiwa sebanyak 4 unit.32% dan terendah adalah RSJ dan RSB keduanya 0.348 (71. RB. Pustu. Puskesmas Perawatan.13%). Provinsi sebanyak 10 (0.08%).901. sarana kesehatan dengan presentase tertinggi adalah swasta 71. Kabupaten/kota sebanyak 3734 (28. RSJ. Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) sebanyak 47.

oleh. dimana hal ini berkaitan dengan disyaratkannya penyelenggaraan empat pelayanan kesehatan spesialis dasar pada perizinan pendirian sebuah rumah sakit.31 Puskesmas 70.42%) yang memiliki minimal empat spesialis dasar. RS Jiwa 100%.2 Sarana Kesehatan Dengan Kemampuan Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Sarana kesehatan dengan kemampuan pelayanan laboratorium yang dapat diakses masyarakat Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 76.36 Gambar 5. dan Puskesmas 70. 120 100 80 60 40 20 0 RSU Laboratorium Kesehatan 98.32%.58% RSU lainnya hanya memiliki kurang dari 4 (empat) pelayanan dasar. 4.Kemampuan pelayanan laboratorium kesehatan yang dimaksud adalah upaya pelayanan penunjang medik untuk mendukung dalam pelayanan medik.39% dengan perincian untuk RSU 98.31%. untuk menegakkan diagnosis dokter di rumah sakit. RS Khusus 95. Rumah Sakit Umum (RSU) di Provinsi Jawa Tengah (179 RSU) baik pemerintah maupun swasta sudah 135 RSU (75.36%. Posyandu menurut Strata Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari. Sebanyak 24. untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar. utamanya lima program prioritas Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 94 .32 RSJ 100 RS Khusus 95.

79 8. tanggal 20 Februari 2007 tentang Pedoman teknis penghitungan strata Posyandu secara kuantitatif yang dinilai meliputi: 1) Variabel Input: kepengurusan. Imunisasi.08 2011 12. Vit A. pemberian ASI eksklusif dan frekuensi penimbangan. Rerata cakupan D/S.85 41. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 95 .882 pada tahun 2010 menjadi 47. Manajemen ARRIF dengan 8 indikator yang meliputi : Frekuensi penimbangan. Fe. KIA.84 16. cakupan K4.76 2008 16.29 36.05 2009 15.08 Gambar 5.79 12. Cakupan kumulatif KB. jumlah posyandu tahun 2011 menurun dari 47.86 13.24 33. Gizi. 2) Variabel Proses : pelaksanaan program pokok.61 32.85 10. 60 40 20 0 2007 Pratama Madya Purnama Mandiri 16.69 32. pertolongan persalinan oleh nakes.94 38. Cakupan kumulatif KIA. Ada tidaknya program tambahan dan Cakupan dana sehat b. Penghitungan strata Posyandu secara kuantitatif berdasar Surat Gubernur Jawa Tengah nomor 411.77 34. K/S. kader. dana sehat. Imunisasi dan penanggulangan diare dan ISPA) dengan tujuan mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi.93 34.87 39.4/05768.276 posyandu. N/S.15 36. Rerata kader bertugas pada hari buka Posyandu.yang meliputi (KB. Cakupan kumulatif imunisasi.58 2010 15. prasarana dan dana.3 Persentase Posyandu Berdasarkan Strata Tahun 2007 s/d 2011 Berdasarkan laporan Kabupaten/kota.sarana. program pengembangan dan administrasi 3) Variable Output: D/S. Cakupan peserta KB. Dasar penghitungan Strata/penilaian tingkat perkembangan posyandu yang selama ini digunakan adalah: a.

cakupan kelima kegiatan utamanya lebih dari 50%.84%). Meskipun kenaikan secara kualitatif (strata purnama dan strata mandiri) relatif kecil. namun dalam 3 (tiga) tahun sebelumnya mengalami peningkatan. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 96 .49500 49000 48500 48000 47500 47000 46500 46000 45500 Posyandu 2007 46823 2008 47285 2009 49096 2010 47882 2011 47276 Gambar 5. serta telah memperoleh sumber pembiayaan dari dana sehat yang dikelola oleh masyarakat yang pesertanya masih terbatas yakni kurang dari 50% KK di wilayah kerja Posyandu. mampu menyelenggarakan program tambahan.31%) dan terendah di Kabupaten Blora (15. Sebanyak 13 kabupaten/kota (37. dengan rata-rata jumlah kader sebanyak lima orang atau lebih.14%).94%. Posyandu yang mencapai Strata Purnama pada tahun 2011 sebanyak 17. dapat dilihat bahwa jumlah Posyandu 2011 mengalami penurunan.417 (36. Cakupan tersebut mengalami peningkatan apabila dibandingkan tahun 2010 sebesar 34.4 Jumlah Posyandu Tahun 2007 s/d 2011 Dari grafik di atas. dengan nilai tertinggi di Kabupaten Tegal (64.14%) telah berhasil mencapai target diatas 40%. a) Posyandu Purnama Posyandu Purnama adalah Posyandu yang sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 97 .70%).603 buah (16.79 2010 34. 2010 (13. Termasuk didalamnya adalah dengan mengoptimalkan fungsi Posyandu maupun Pokjanal Posyandu yang sudah terbentuk baik di tingkat Provinsi. mampu menyelenggarakan program tambahan. cakupan kelima kegiatan utamanya lebih dari 50%. serta telah memperoleh sumber pembiayaan dari dana sehat yang dikelola oleh masyarakat yang pesertanya lebih dari 50% KK di wilayah kerja Posyandu.08%).94 2011 36. Posyandu yang mencapai Strata Mandiri tahun 2011 sejumlah 7. b) Posyandu Mandiri Posyandu Mandiri adalah Posyandu sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun. Pencapaian cakupan tersebut sudah melampaui target SPM 2010 (> 2%).5 Cakupan Posyandu Purnama Tahun 2007 – 2011 Kegiatan revitalisasi posyandu masih perlu mendapat perhatian dari semua sektor/pihak terkait. dengan rata-rata jumlah kader sebanyak lima orang atau lebih.84 Gambar 5.38 37 36 35 34 33 32 31 30 Posyandu Purnama 2007 32. meningkat dibandingkan dengan nilai tertinggi di Kota Surakarta (82.90%).85 2009 32.79 2008 33. Kabupaten/Kota maupun Kecamatan serta Pokja Posyandu di tingkat desa/kelurahan.

6 Cakupan Posyandu Mandiri Tahun 2007 – 2011 Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2011 terjadi kenaikan persentase pencapaian strata mandiri. misal kegiatan BKB.08 Gambar 5. UP2K). forum komunikasi pembangunan kesehatan di desa.42%). PKD merupakan pengembangan dari Pondok Bersalin Desa. Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) terdiri atas Desa Siaga.58 2010 13. memberikan pelayanan kesehatan dasar termasuk kefarmasian sederhana dan untuk deteksi dini serta penanggulangan pertama kasus gawat darurat.061 buah. Poskesdes. Dengan dikembangkannya Polindes menjadi PKD maka fungsinya menjadi tempat untuk memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan masyarakat. dan Posyandu.05 2009 12. 5. Total UKBM tahun 2011 adalah 61. PAUD. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 98 . Forum Kesehatan Desa. UKBM terbanyak adalah Posyandu sebesar 47.276 (77. hal tersebut dapat terjadi seiring dengan dikembangkannya Posyandu Model (Kegiatan Posyandu yang sudah diintegrasikan dengan minimal satu kelompok kegiatan yang sesuai dengan karakteristik daerah.9 2011 16. Polindes.76 2008 10.20 15 10 5 0 Posyandu Mandiri 2007 8. sebagai tempat untuk melakukan pembinaan kader/pemberdayaan masyarakat. Poliklinik Kesehatan Desa (PKD) adalah wujud upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat yang merupakan Program Unggulan di Jawa Tengah dalam rangka mewujudkan desa siaga. Sehingga secara tidak langsung kegiatan integrasi tersebut dapat mempengaruhi pencapaian indikator proses maupun indikator output posyandu.

Puskesmas sendiri merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pengembangan kesehatan di suatu wilayah kerja (Departemen Kesehatan RI.209 buah.572. Rasio puskesmas keliling terhadap puskesmas pada tahun 2011 adalah 1. dan Puskesmas Keliling. Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalahmasalah kesehatan.80 maka tahun 2011 jumlah puskesmas masih mengalami kekurangan.000 penduduk pada tahun 2011 sebesar 0.80 berarti bahwa jumlah puskesmas belum tercukupi. Puskesmas terdiri dari Puskesmas Perawatan. mengalami peningkatan dibandingkan dengan jumlah Poskesdes tahun 2010 sebanyak 8. Pada tahun 2011 jumlah puskesmas keliling adalah 948 unit.576 buah. dan puskesmas keliling dapat dilihat pada gambar 5. Jumlah puskesmas pembantu pada tahun 2011 masih tetap sama dengan tahun 2010 sebanyak 1. bencana.28) dan rasio terendah masih tetap di Kabupaten Sukoharjo (0. Sedangkan rasio tertinggi di Kota Tegal (1. Rasio jumlah puskesmas per 30. Jumlah Desa Siaga pada tahun 2011 adalah 8. puskesmas pembantu. Data Dasar Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas}. Puskesmas Pembantu. yang pengelolaannya ada di bawah dinas kesehatan kabupaten/kota adalah organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh. hal ini diupayakan dapat terpenuhi dengan puskesmas pembantu dan puskesmas keliling. merata. dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat. terpadu. Puskesmas Non Perawatan.09. dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Sebuah desa dikatakan menjadi desa siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). Jumlah PKD pada tahun 2011 sebanyak 5. Jumlah Puskesmas di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 867 (termasuk 291 Puskesmas Rawat Inap). 6. menurun dibandingkan tahun 2010.827. 2004).Pengembangan PKD dimulai sejak tahun 2004. Jumlah puskesmas. puskesmas perawatan.44). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 99 . Dengan rasio 0.1.

berpengaruh terhadap peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang semakin tinggi. Untuk mencukupi kebutuhan tenaga kesehatan tersebut. bidan. baik di pemerintah pusat. Untuk mencukupi kekurangan tenaga tersebut dilakukan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 100 . perawat. Jumlah tenaga kesehatan tersebut meningkat bila dibandingkan dengan jumlah tenaga kesehatan tahun 2010 sebanyak 54. Kekurangan lain disebabkan belum adanya formasi pengganti bagi tenaga yang pensiun. RI 256 267 283 281 291 Pustu 1843 1846 1850 1827 1827 Pusling 963 1020 1130 1138 948 Gambar 5.2000 1600 1200 800 400 0 Puskesmas 2007 2008 2009 2010 2011 851 861 867 864 867 Pusk. Puskesmas Pembantu.167 tenaga yang terdiri dari tenaga medis. dan kesehatan masyarakat. pemerintah membuka penerimaan CPNS baru baik secara swakelola maupun tenaga pusat yang ditempatkan di daerah. khususnya di tingkat kabupaten/kota dikarenakan beban terhadap penganggaran pegawai serta belum berjalannya kegiatan mobilisasi tenaga kesehatan yang sesuai dengan penempatan tugas tenaga tersebut. Sehingga menyebabkan sulitnya dalam menentukan kebutuhan tenaga kesehatan di tingkat kabupaten/kota. Kebutuhan tenaga kesehatan belum dapat terpenuhi. sanitasi.774 tenaga. Peningkatan jumlah tenaga kesehatan sebanyak 6. dan Puskesmas Keliling Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 B. TENAGA KESEHATAN Tenaga kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sejumlah 58. provinsi maupun kabupaten/kota dan makin kompleksnya masalah-masalah yang ditangani oleh tenaga kesehatan.7 Jumlah Puskesmas.19%. Puskesmas Perawatan. tenaga farmasi.

55%).pengangkatan Dokter Tidak Tetap. Spesialis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 . institusi diklat/diknakes sebesar 2.28%). 1.05%) dan rasio terendah di Kabupaten Banjarnegara (0.63 2011 6.253 orang sehingga rasio dokter spesialis per 100.63).71% lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (2.72% lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (0. dinas kesehatan kabupaten/kota sebesar 2. Jumlah dan Rasio Tenaga Medis di Sarana Kesehatan a.96 Gambar 5.07% lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (2. dan dinas kesehatan provinsi sebesar 0. sarana kesehatan lain sebesar 5.96 2009 8 2010 6.86 2008 4.96 meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (6.00) dan Kabupaten Sragen (0. rumah sakit sebesar 59. Persentase penempatan tenaga kesehatan pada tahun 2011 adalah sebagai berikut. puskesmas sebesar 30. Rasio dokter spesialis tertinggi di Kota Magelang (71. 10 8 6 4 2 0 Rasio dokter spesialis 2007 4.42%).99%).04% lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (1.000 penduduk. Bidan Tidak Tetap dan diupayakan dapat mengangkat tenaga kesehatan lain sebagai pegawai tidak tetap disamping sebagai Pegawai Harian Lepas (PHL). Rasio tersebut berada di atas standar WHO sebesar 6/100.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 6. Dokter Spesialis Jumlah tenaga dokter spesialis yang bekerja di sarana kesehatan sebanyak 2.8 Rasio Dr.2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 101 . Pengangkatan PTT tersebut dilakukan masa bakti selama 3 tahun baik dengan dana Pemerintah Pusat maupun dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) masing-masing kabupaten/kota.89%).00).41%).35% lebih kecil dibandingkan dengan tahun 2010 (40.11 lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (52.

22.96 Gambar 5.91 2011 3.35 2010 11. Rasio tersebut masih di bawah target nasional 11 per 100. Gigi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 102 .27 Gambar 5.021 sehingga rasio dokter gigi di Provinsi Jawa Tengah per 100.14 2010 2. Dokter Gigi Jumlah tenaga dokter gigi di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 1. Umum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .91). yang bekerja di sarana kesehatan sebanyak 3.92.058. Rasio terendah adalah Kabupaten Banjarnegara 0.9 Rasio Dr.b. Rasio terbesar adalah Kota Magelang 76. 14 12 10 8 6 4 2 0 Rasio dokter umum 2007 11.13 2011 12.000 penduduk adalah 12.000 penduduk tahun 2011 sebesar 3.21 2008 10.69 dan tertinggi adalah Kota Magelang 16. yang bekerja di sarana kesehatan sebanyak 1.96 meningkat dibanding tahun 2010 (11.97 dan terendah adalah Kabupaten Klaten sebesar 5. Dokter Umum Di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011.06 2008 2.000 penduduk.224 orang.2011 c.10 Rasio Dr.000 penduduk.13).41 2009 11.27 meningkat dibanding tahun 2010 (2.963 sehingga rasio dokter umum per 100. 4 3 2 1 0 Rasio dokter gigi 2007 3. jumlah tenaga dokter umum sebanyak 4. Rasio tersebut masih di bawah target nasional 40 per 100.72 2009 3.

76 2010 76.72 dan terendah Kabupaten Banjarnegara 7.94.95 Gambar 5.56 Gambar 5.45 2009 65. 100 80 60 40 20 0 Rasio perawat 2007 62.95 menurun dibandingkan tahun 2010 (76.55 2011 73.100 orang. Bidan Jumlah Tenaga Bidan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 adalah 13.2.947 sehingga rasio tenaga perawat per 100.47 2011 39. sebagian besar bekerja di sarana kesehatan sebanyak 23.11 Rasio Tenaga Perawat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .43 2009 36.12 Rasio Tenaga Bidan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 103 . Jumlah dan Rasio Tenaga Keperawatan di Sarana Kesehatan a.25.2011 b.000 penduduk tahun 2011 sebesar 39. Rasio tertinggi adalah Kota Magelang 127. Rasio tertinggi adalah Kota Magelang 749.69 2010 38.56 meningkat dibanding tahun 2010 (38.472.41 dan terendah adalah Kabupaten Tegal 22.812 orang).47).55). sebagian besar bekerja di sarana kesehatan (12. Perawat Tenaga perawat di Provinsi Jawa tengah sebanyak 24. Rasio Tenaga Bidan per 100.14 2008 60.000 penduduk adalah 73. 50 40 30 20 10 0 Rasio bidan 2007 31.71 2008 34.

13 Rasio Tenaga Kefarmasian Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 4.000 penduduk adalah 12. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 104 . Angka tersebut masih di bawah target nasional 22 per 100.000 penduduk.23 2011 12.85. S-1 Farmasi. yang sebanyak 1.63 meningkat dibanding tahun 2010 (11.49 menurun bila dibandingkan dengan tahun 2010 (4.090 orang bekerja di sarana kesehatan. D-III Gizi.000 penduduk pada tahun 2011 sebesar 4.3.376 didominasi oleh tenaga perempuan sebanyak 2. 15 10 5 0 Rasio tenaga kefarmasian 2007 9.55). Jumlah dan Rasio Tenaga Kefarmasian di Sarana Kesehatan Tenaga kefarmasian terdiri dari Apoteker. Jumlah tenaga kefarmasian di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 adalah 4. D-III Farmasi.549 orang.68 dan terendah adalah Kabupaten Pati 1. Jumlah dan Rasio Tenaga Gizi di Sarana Kesehatan Tenaga gizi terdiri dari D-IV/S-1 Gizi. Rasio tenaga kefarmasian per 100.63 Gambar 5. Jumlah tenaga gizi di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 adalah 1. Sedangkan rasio tenaga apoteker dan sarjana farmasi per 100. Rasio tertinggi Kota Surakarta 1.06 2008 9.11 dan Kabupaten Batang 0.88 dan terendah Kabupaten Wonosobo 0. Rasio tertinggi adalah Kota Magelang 34.15 2009 8. dan Asisten Apoteker.97 2010 11.000 penduduk sebesar 4.11. Rasio tenaga gizi per 100.000 penduduk.55 dibawah target nasional 10 per 100.23). dan D-1 Gizi.454 bekerja di sarana kesehatan. yang sebanyak 4.959 orang.

758 orang.8 2010 4. yang 958 orang bekerja di sarana kesehatan. Tenaga Sanitasi Tenaga sanitasi terdiri dari D-III sanitasi dan D-I sanitasi.5 4 3 2 1 0 Rasio tenaga gizi 2007 3.49 Gambar 5.37 2008 3.55 2011 4.96 Gambar 5.71).3 2011 2.30).000 penduduk tahun 2011 sebesar 2.62) dan terendah adalah Kabupaten Klaten (0.61 2009 4.96 menurun dibandingkan dengan tahun 2010 (4. Rasio tertinggi adalah Kota Tegal (19.15 Rasio Tenaga Kesehatan Masyarakat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 b.14 2010 4. Kesehatan Masyarakat Jumlah tenaga kesehatan masyarakat di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 1.230 orang. 5 4 3 2 1 0 Rasio tenaga kesmas 2007 3. Rasio tenaga sanitasi per 100.56 2009 3. Jumlah Tenaga Sanitasi di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 adalah 1.20 turun dibandingkan dengan tahun 2010 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 105 .86 2008 3. Rasio tenaga kesehatan masyarakat per 100.036 diantaranya bekerja di sarana kesehatan.000 penduduk sebesar 3.14 Rasio Tenaga Gizi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 5. Jumlah dan Rasio Tenaga Kesehatan Masyarakat di Sarana Kesehatan a. yang 1.

2 Gambar 5.74 2011 3. penata rontgent dan penata anestesi. 12 10 8 6 4 2 0 Rasio tenaga teknisi medis 2007 8.85 2009 8. Rasio tertinggi adalah Kota Magelang 90.99 2010 10. teknik elektromedik.07) dan terendah adalah Kabupaten Demak (0.000 penduduk sebesar 10. yang 3.17 Rasio Tenaga Tehnisi Medis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 106 .24 menurun dibandingkan dengan 2010 (10.16 Rasio Tenaga Sanitasi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 . Rasio tenaga sanitasi dapat dilihat pada gambar 5.45 2010 3.442 orang.2011 6.38).10.74). Teknisi Medis Tenaga teknisi medis terdiri dari analis laboratorium. Tenaga teknisi medis di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sejumlah 3.56).76 2008 8.(3.24 tahun terendah Gambar 5.50 dan adalah Kabupaten Karanganyar 3. 5 4 3 2 1 0 Rasio tenaga sanitasi 2007 4. Rasio tenaga teknisi medis per 100. Jumlah dan Rasio Tenaga Medis dan Fisioterapis di Sarana Kesehatan a.63 2008 3.315 orang diantaranya bekerja di sarana kesehatan.56 2011 10. Rasio tertinggi adalah Kota Magelang (27.69.59 2009 3.

terdapat pembagian peran dan wewenang antara pemerintah pusat dan daerah.573.06% adalah sumber dari pemerintah lain.01 Jumlah tenaga kesehatan di Provinsi Jawa Tengah masih belum tercukupi dan belum merata sesuai kebutuhan kabupaten/kota. terendah adalah Kabupaten C. Rasio tenaga fisioterapi per 100. Kontribusi terendah 0. Sesuai dengan Undang-Undang No. Pemerintah provinsi dan pemerintah daerah (kabupaten/kota) telah berusaha mencukupi kebutuhan tenaganya melalui pengangkatan tenaga baru seperti CPNS.2.85%.78. seperti peningkatan akreditasi rumah sakit. mengalami meningkat dibandingkan tahun 2010 (0.000 penduduk tahun 2011 sebesar 1.39%. Mobilitas tenaga atau distribusi tenaga kesehatan yang tersebar di wilayah pelayanan kesehatan diupayakan dengan peningkatan sarana-sarana kesehatan yang ada. Dalam pembangunan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 107 .31 dan Rembang 0. Kontribusi DAK bidang kesehatan di kabupaten/kota sebesar 7. tertinggi adalah Kota Semarang 0. PHL maupun PTT. Tenaga Fisioterapi Jumlah tenaga fisioterapi di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 615 orang. 575 orang diantaranya bekerja di sarana kesehatan.25%). dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah/desentralisasi.01 dan Kabupaten Demak 0. PEMBIAYAAN KESEHATAN 1.73%).84% berasal dari APBD kabupaten/kota. Kontribusi anggaran kesehatan APBD kabupaten/kota meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2010 (51. 33 tahun 2004.657 dengan kontribusi terbesar sebesar 79.b. peningkatan puskesmas menjadi puskesmas rawat inap dan peningkatan pemberian insentif oleh Kementrian Kesehatan bagi tenaga medis yang melaksanakan masa bakti di daerah terpencil maupun sangat terpencil. Persentase Anggaran Kesehatan dalam APBD Kabupaten/Kota Pada tahun 2011 jumlah total anggaran kesehatan kabupaten/kota se Jawa Tengah Rp.975.637. APBD provinsi yang dialokasikan untuk pembiayaan kesehatan di kabupaten/kota tahun 2011 sebesar 1.

Jumlah anggaran untuk askeskin sebesar 5. pemerintah pusat memberikan anggaran pada daerah untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan prioritas nasional. Anggaran kesehatan perkapita menurun dari Rp.12% dari keseluruhan anggaran kesehatan menurun dibandingkan tahun 2010 (0. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 108 ..-.3.pada tahun 2011.pada tahun 2010 menjadi Rp.637.866. Total angaran kesehatan kab/kota tahun 2011 sebesar Rp.2.73%).105. pemerintah pusat dan daerah menyediakan pelayanan kesehatan yang merata. Melalui Dana Alokasi Khusus (DAK).358.81.80% pada tahun 2011. Kontribusi anggaran kesehatan bersumber dana lain meningkat dari 0.39%). Hal ini merupakan respon pemerintah yang positif terhadap pembangunan bidang kesehatan di kabupaten/kota. meningkat dibandingkan tahun 2010 (51.362.428.657 lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebesar Rp.84% dari total APBD kabupaten/kota. Anggaran kesehatan bersumber PHLN tahun 2011 mencapai 0.234. terjangkau dan berkualitas.573.kesehatan..450.93% pada tahun 2010 menjadi 3.55% pada tahun 2011 Anggaran belanja bersumber APBD kabupaten/kota yang dialokasikan untuk pembiayaan kesehatan tahun 2011 sebesar 79.975.

000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup). Dari hasil pemeriksaan laboratorium. Angka kematian kecelakaan lalu lintas di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 adalah sebesar 2. Angka Kematian Balita (AKABA) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 11. c.BAB VI KESIMPULAN A.000 kelahiran hidup.38%).000 kelahiran hidup.15% sudah melebihi target nasional (85%) dan meningkat bila dibandingkan tahun 2009 (85.97/100. Prevalensi Tuberkulosis tahun 2011 per 100. Pada tahun 2011 di Provinsi Jawa Tengah ditemukan 215 penderita AFP. Morbiditas/Angka Kesakitan a. Derajat Kesehatan 1.000 penduduk Provinsi Jawa Tengah sebesar 74.52%. Mortalitas/Angka Kematian a. sudah melampaui target Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tahun 2015 (23/1. b.000 kelahiran hidup). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 109 . sehingga sudah memenuhi target (164 kasus). mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan AKI pada tahun 2010 yang sebesar 104. Angka Kematian Bayi (AKB) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 10.50/1. c. Angka Kematian Ibu (AKI) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 116. b. 2.34/1. Angka kesembuhan (Cure Rate ) TB paru Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 sebesar 85. meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 (55.01%).01/100. Case Detection Rate (CDR) atau angka penemuan penderita TB paru BTA (+) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 59. d.000 penduduk. d. sudah melampaui target Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tahun 2015 (17/1.52. 215 kasus yang diperiksa semua menunjukan negatif polio (berarti tidak ditemukan virus polio liar).000 kelahiran hidup.70 per 100.

29%) dan sudah lebih rendah bila dibandingkan dengan target nasional (<1%) Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 110 . mengalami penurunan bila dibanding tahun 2010 (40.000 penduduk.27/100. Kusta tipe MB diambil dari data penderita baru tahun 2009 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2011 sebesar 76% lebih rendah dari target 95%.000 penduduk) dan sudah mencapai target nasional yaitu <20/100. k.81%). Cakupan program kusta tipe PB tahun 2011 berdasarkan jumlah penderita baru tahun 2010 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2011 sebesar 85% lebih rendah dari target 90%. Proporsi cacat tingkat II pada tahun 2011 sebesar 13.000 penduduk.5% dengan jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 66.9%. Angka kesakitan/Incidence Rate (IR) DBD di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 15. Jumlah infeksi HIV yang dilaporkan tahun 2011 sebanyak 755 kasus. h. sedangkan proporsi anak di antara penderita baru sebesar 10. Jumlah kasus baru IMS lainnya di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 ini sebanyak 10.702 kasus.93%.32%.63%). Jumlah kasus baru tipe Multi Basiler yang dilaporkan sebanyak 1.8/100. Persentase penemuan dan penanganan penderita pneumonia pada balita tahun 2011 sebesar 25. Dari hasil pemeriksaan sampel darah tersebut.828 (93. menurun bila dibandingkan tahun 2010 (59. j.14%. Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) DBD tahun 2011 sebesar 0.269 orang.752 kasus.13) yang positif HIV. Kasus Aquiared Immuno Devisiency Syndrome (AIDS) sebanyak 521 kasus dengan jumlah kematian karena AIDS sebanyak 89 kasus. mengalami peningkatan bila dibandingkan cakupan tahun 2010 (44. m. i. kemudian yang dilakukan pemeriksaan sampel darah sebanyak 324.e.48%). l.873 kasus dan tipe Pausi Basiler sebanyak 395 kasus dengan Newly Case Detection Rate (NCDR) sebesar 7 per 100. g. Cakupan penemuan dan penanganan diare di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 57.000 penduduk. lebih rendah bila dibandingkan CFR tahun 2010 (1. sebanyak 415 sampel (0. Jumlah pendonor pada tahun 2011 diketahui sebanyak 346. f.

Prevalensi stroke hemoragik tahun 2011 adalah 0.09%. Jumlah kasus Polio sebanyak 0 kasus.70% menjadi 0. sedikit meningkat dibandingkan tahun 2010 (0. Jumlah kasus Hepatitis B sebanyak 170 kasus. o.n. mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2010 (1 kasus). r. Jumlah kasus Campak sebanyak 1.300 kasus) dan angka kesakitan malaria sebesar 0.873 kasus.11%).12% meningkat bila kordis dibandingkan tahun 2010 (0. jumlah kasus Filariasis pada tahun 2011 sebanyak 537 penderita. Kasus tertinggi PTM adalah kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah sebesar 62. Jumlah kasus Tetanus (Non Neonatorum) sebanyak 13 kasus yang tersebar di 4 kabupaten/kota. Prevalensi stroke dekompensasio non hemorargik sebesar 0.08%).03%. Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) Malaria tahun 2011 sebesar 0. Pertusis.860 kasus (72. Jumlah kasus Pertusis sebanyak 4 kasus yang berasal dari Kabupaten Kudus. Prevalensi diabetes melitus tergantung insulin sebesar 0. Difteri dan Hepatitis B. Jumlah kasus Tetanus Neonatorum sebanyak 4 kasus yang tersebar di 4 kabupaten/kota. p. Secara kumulatif.13 %).11‰.43% (880. meningkat dibandingkan tahun 2010 (0.10‰). meningkat dibandingkan tahun 2010 (3. Prevalensi kasus DM tidak tergantung insulin menurun dari 0.664 kasus).193 kasus). Prevalensi kasus tahun 2011 sebesar 0. dimana untuk tahun 2011 ini ada 141 kasus baru.1%). yaitu sebanyak 634. Yang termasuk dalam PD3I yaitu Polio.63% pada tahun 2011. Jumlah kasus Difteri pada tahun 2011 sebanyak 8 kasus lebih sedikit bila dibandingkan dengan tahun 2010 (14 kasus). q. Kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah yang melaporkan data PTM tahun 2011 hanya 27 kabupaten/kota (77. Kasus tertinggi PTM pada kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah adalah penyakit Hipertensi Esensial. mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2010 (3.03% dan tersebar di 5 kabupaten/kota. Jumlah kasus tahun 2011 sebanyak 3. Kasus penyakit kanker yang ditemukan sebanyak Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 111 . Tetanus Neonatorum.467 kasus. Tetanus Non Neonatorum. Campak. mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2010 (117 kasus) dan terdapat di 9 kabupaten/kota.09%.

79%.55% mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2010 (0.28%. c.631.59%). hepar 2.72%.18%). Jumlah bayi berat lahir rendah (BBLR) di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 21. 3. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 96. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 112 . Ca. Cakupan kunjungan ibu hamil K4 tahun 2011 sebesar 93.637 kasus meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (13. meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (98.73%.542 kasus (48.35% c.27%).187 (0.242 (11.899 kasus (35. Status Gizi a.277 kasus). terdiri dari Ca.10%) menurun apabila dibandingkan tahun 2010 sejumlah 3. Adapun persentase BBLR sebesar 3.86%). Prevalensi kasus PPOK mengalami peningkatan yaitu dari 0. meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (93. Persentase balita dengan gizi kurang (BB/U) Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 5.514 (0.19.69%. meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (92. paru 954 kasus (4.64%).71%. B.13%). Pelayanan Kesehatan a. b.59%). Balita Gizi Buruk (BB/TB) tahun 2011 berjumlah 3. dan Ca. Ca. mamae 9. meningkat bila dibandingkan tahun 2010 sebesar 2.184 meningkat banyak apabila dibandingkan tahun 2010 yang sebanyak 15. Cakupan kunjungan ibu hamil K1 di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 98. Prevalensi kasus asma sebesar 0.08% pada tahun 2010 menjadi 0. Upaya Kesehatan 1.09% pada tahun 2011.04%) tetapi belum memenuhi target SPM 2015 (95%). servik 6.42%). b. Persentase Balita Gizi Buruk mendapatkan perawatan tahun 2011 sebesar 100% jauh lebih meningkat dibandingkan tahun 2010 sebesar 93.

Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani tahun 2011 sebesar 75. l. Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada Balita tahun 2011 sebesar 98. mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010 (96.73%).01%.831 (42. Yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai strata UKS sebesar 1.84%). Cakupan ibu nifas mendapat kapsul vitamin A tahun 2011 sebesar 96.074. Cakupan pelayanan anak balita tahun 2011 sebesar 81. Cakupan kunjungan neonatus di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 98. lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun 2010 (93. e.45%.28%. Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga kesehatan / guru UKS / kader kesehatan sekolah tahun 2011 sebesar 78. f.25% mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010 (44. Cakupan pelayanan pada ibu nifas di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 93.97%. lebih banyak dibandingkan tahun 2010 sebesar 96.61%). Cakupan kunjungan bayi di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 92.02%.86%).10) tetapi belum mencapai target SPM 2015 (80%). Cakupan tersebut sudah melampaui target SPM sebesar 95%. j.d. i.78%) Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 113 .72%. meningkat bila dibandingkan cakupan tahun 2010 (93. h. meningkat dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (52. m.84%. Cakupan pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi pada bayi sebesar 99. n. Cakupan tersebut masih dibawah target SPM (95%).35%.24%).43%. Cakupan neonatus risti tertangani Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 53. mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010 (78. meningkat dibandingkan tahun 2010 (92.76%). Jumlah siswa SD dan setingkat tahun 2011 sebanyak 2.64%. g.555. Cakupan ini sudah melampaui target SPM (95%). meningkat bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (94. k.853 anak.70%).08%. meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebesar 55.

lebih besar bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (90.0%) dan Campak (93. v.125).120 (13. PIL (18.0%).8%. DPT1+HB1 (97.4%).25%). Cakupan desa dengan garam beryodium tahun 2011 sebanyak 53. p. Polio 3 (94. Kesemuanya sudah di atas target minimal nasional (85%). Pencapaian UCI desa tahun 2011 (96. NON MKJP: Suntik (54.57%). Cakupan Pemberian Makanan Tambahan ASI (MP-ASI) tahun 2011 sebesar 38. sudah mencapai target (70%). menurun apabila dibanding tahun 2010 (997.87%). x. q.31% menurun dibandingkan dengan tahun 2010 (53.o. Walaupun menurun. Cakupan balita gizi buruk mendapatkan perawatan tahun 2011 sebesar 100% jauh lebih meningkat dibandingkan tahun 2010 (93. angka tersebut sudah melampaui target SPM (90%).4%) mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2010 (94.32% menurun dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (89. Cakupan pemberian ASI eksklusif hanya sekitar 45. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 114 . u.42% menurun dibandingkan tahun 2010 (80.06%). r. meningkat dibandingkan tahun 2010 (37. Cakupan pemberian Fe3 pada ibu hamil di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 90. mengalami penurunan dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (78.2%).7%).6%). DPT3+HB3 (95.20% dari jumlah PUS (6.18%. Angka tersebut sudah mencapai target SPM (90%).0%) dan Implant (12.0%).7%). Cakupan peserta KB aktif Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 76. MOP (0.15%). Cakupan balita ditimbang tahun 2011 sebesar 78.28%).174) atau 15.8%). t.2%).18%). MOW (2. Jumlah peserta KB baru pada tahun 2011 sebanyak 895. w.549.4%) dan Kondom (5.49%). MKJP Tahun 2011: IUD (6. Cakupan masing-masing jenis imunisasi bayi tahun 2011 adalah sebagai berikut BCG (98. y.9%).25%. s.

ff.z. Cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 51. dd. aa. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 115 .5%. Prosentase jumlah murid yang diperiksa untuk tahun 2011 (37. Angka Drop Out (DO). Jumlah Rumah Sakit Umum dengan kemampuan pelayanan gawat darurat sebanyak 98.67%). Cakupan perawatan gigi dan mulut murid SD/MI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 55. Puskesmas rawat inap dengan kemampuan pelayanan gawat darurat yang dapat diakses masyarakat Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 291 puskesmas atau 100%.4%.198.46%.45%). Jumlah ibu hamil 2011 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 632. cc.80%.8.2% dan TT2+ sebanyak 114.82.83%).81). mengalami peningkatan bila dibandingkan rasio tahun 2010 (0.59%). TT-4 sebesar 20. sesuai kesepakatan dengan kabupaten/kota indikator DO di Jawa Tengah maksimal 5% atau (-5%). mengalami penurunan dibanding tahun 2010 (3.61%.90%) lebih tinggi dibandingkan pencapaian tahun 2010 (37. Tahun 2011 DO tingkat Jawa Tengah sebanyak 3. bb.4%.7 dan TT-5 sebesar 17. dan masih jauh dibawah target cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut SPM (70%). Rasio tumpatan dan pencabutan gigi tetap di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 0. TT-2 sebesar 48. Rumah Sakit Jiwa sebanyak 100%. TT-3 sebesar 28. yang mendapat TT-1 sebesar 48.96% menurun bila dibandingkan cakupan pada tahun 2010 sebesar 52. ee. Rumah Sakit khusus lain sebesar 98. Pada tahun 2011 persentase desa/kelurahan terkena KLB yang ditangani kurang dari 24 jam mengalami kenaikan menjadi 100% dibanding dengan tahun 2010 (98.30% mengalami peningkatan bila dibanding tahun 2010 (53. gg.2%.

387.544 (3. meningkat bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (21.21%.033.3%).733 jiwa dengan attack rate atau rata-rata kejadian sebesar 33. CFR tertinggi adalah KLB demam berdarah dengue/DBD yaitu terdapat (72. e. Cakupan rawat inap di sarana kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 5. Penyuluhan kelompok pada tahun 2011 sebanyak 206. Jumlah masyarakat miskin dan hampir miskin sebanyak 13.033. Jumlah penduduk terancam KLB tahun 2011 sebanyak 1. d. ii.4%. Cakupan kunjungan rawat jalan di sarana kesehatan di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 105. Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan a. Jumlah masyarakat miskin dan hampir miskin pada tahun 2011 sebanyak 13. terbanyak di rumah sakit yaitu 130.1% lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2010 (4.205.344 kali. 2.00%). Cakupan jaminan pemeliharaan kesehatan pra bayar tahun 2011 mencapai 36.805 orang.59%).37%). Masyarakat miskin yang mendapatkan pelayanan kesehatan rawat jalan di sarana pelayanan strata 1 sebesar 7. Sedangkan yang menderita akibat kejadian luar biasa tersebut sebanyak 3.73%%) dan KLB Tetatus Neonatorum (75.18% dari total penduduk bukan masyarakat miskin (non maskin). Dari sejumlah penderita tersebut.98%).69%). jj.77%).848 jiwa.17%) sedangkan di sarana pelayanan strata 2 dan strata 3 sebesar 438.817 kali.687 (57.805. Jumlah kunjungan gangguan jiwa tahun 2011 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 198.479 kali (65.3%) sedangkan di sarana kesehatan 2 dan 3 sebanyak 431. b.011 (9.493 (3.64%).202.433. meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 (36. yang meninggal sebanyak 24 orang (case fatality rate/CFR: 0. Sedangkan penyuluhan massa telah dilakukan 5. mendapatkan pelayanan kesehatan rawat inap di sarana kesehatan strata 1 sebanyak 1. c.hh. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 116 .

674. Rata-rata lama rawat seorang pasien di RS se Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3.01%).902 (40. i.68%. Keadaan Lingkungan a.f. meningkat bila dibandingkan tahun 2010 (68. g.63%). 3.696 KK dan yang telah menggunakan sumber air minum terlindung sebanyak 2. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 117 .85.21%).43%).620 (68.95%. Cakupan rumah bebas jentik nyamuk Aedes Aegypti di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 77. meningkat bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (73. Perilaku Hidup Masyarakat a.01 sedangkan angka yang dapat ditolerir maksimum 45.11%) dari 8. 61 RS (28.77. menurun bila dibandingkan dengan rata-rata pada tahun 2010 sebesar 3.79% pada tahun 2010 menjadi 89.14%. c.77%) mempunyai BOR yang dianggap cukup ideal.88% pada tahun 2011. h.91 mengalami peningkatan bila dibandingkan nilai ALOS tahun 2010 sebesar 3. Persentase rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat yaitu yang diwakili oleh rumah tangga yang mencapai strata sehat utama dan sehat paripurna sebesar 74.703. Cakupan rumah yang memenuhi syarat kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 62. d. Cakupan keluarga yang memiliki akses terhadap air bersih meningkat dari 87. Rata-rata TOI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3. 4.506. menurun bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (65.13%) mempunyai tingkat pemanfaatan sangat tinggi diatas maksimal occupancy rate.54 dari jumlah RS yang lapor. Jumlah keluarga yang diperiksa sumber air minumnya sebanyak 3. Angka Kematian Umum Penderita Yang Dirawat di RS (GDR) pada tahun 2011 rata rata sebesar 34. b. Pada tahun 2011 jumlah rumah sakit sebanyak 247 Rumah Sakit di Jawa Tengah terdiri dari 13 RS (6.

sarana pendidikan 64.11%. Pada tahun 2011 dari 34 jenis obat yang dilaporkan oleh kabupaten/kota. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 118 . Sarana Kesehatan a. Prosentase tingkat kecukupan obat di Kabupaten/kota yang paling tinggi adalah kloramfenikol kapsul 250 mg (278.834. Cakupan pengawasan tempat-tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan tahun 2011 meliputi hotel 84. C. pasar 55.09%).02% pada tahun 2010 menjadi 69. restoran/rumah makan 73. stock terbanyak adalah Klorfeniramin Maleat tablet 4 mg 52. d.11% dan sarana lainnya 47.56%.44%).55% dan TUPM lainnya (67.44%.e. Cakupan keluarga yang memiliki jamban yang memenuhi syarat kesehatan di Provinsi Jawa Tengah turun dari 72.76% pada tahun 2010 meningkat menjadi 63.206.58% pada tahun 2011. perkantoran 72. Cakupan keluarga yang memiliki tempat sampah memenuhi syarat kesehatan di Provinsi Jawa Tengah meningkat dari 67.266 tablet dan paling sedikit adalah OAT Katagori 3 (523 paket).674 tablet) dan terendah adalah OAT katagori 3 (43 paket).46%). Sedangkan cakupan keluarga memiliki sarana pengelolaan air limbah yang memenuhi syarat kesehatan sebesar 50. Sumber Daya Kesehatan 1. g. Pada Tahun 2011 pencapaian cakupan institusi yang dibina yaitu sarana pelayanan kesehatan 81. c.29% pada tahun 2011.53%. instalasi pengolahan air minum 58.67%.95% pada tahun 2010 menjadi 71. Pemakaian obat rata-rata perbulan terbanyak adalah Klorfeniramin Maleat tablet 4 mg (2.57% pada tahun 2011. f. sedangkan paling rendah adalah OAT Kategori 2 (52. Tingkat kecukupan obat tertinggi adalah obat Kloramfenikol kapsul 250 mg (50) dan terendah adalah OAT katagori 3 (9) artinya bahwa persediaan obat Kloramfenikol kapsul 250 mg dapat tercukupi pemakaiannya untuk selama 50 bulan dan OAT katagori 3 dapat tercukupi pemakaiannya untuk selama 9 bulan. sarana ibadah 61.51%. h.88%. b.

80. Rumah sakit khusus pemerintah dan swasta di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 68 RS terdiri dari 4 RS Jiwa milik pemerintah. Bila dibandingkan dengan konsep wilayah kerja puskesmas. dan 41 milik pemerintah kabupaten/kota).827 unit. c.42. 7 RSU milik pemerintah Provinsi Jawa Tengah.15.000 penduduk tahun 2011 sebesar 17.209 unit. maka jumlah puskesmas per 30.49. b. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 119 . Tenaga Kesehatan a. Rasio tenaga gizi per 100. g.000 penduduk tahun 2011 sebesar 0. Jumlah puskesmas di Provinsi Jawa Tengah meningkat dari 854 unit pada tahun 2010 menjadi 867 pada tahun 2011. RSU milik TNI/POLRI sebanyak 10 RS.000 penduduk per puskesmas.0000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 12. Sedangkan puskesmas perawatan dari 281 buah pada tahun 2010 naik menjadi 291 pada tahun 2011. Rasio tenaga dokter umum per 100. d.96. f. Rumah sakit umum di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 berjumlah 179 buah yang terdiri dari RSU pemerintah sebanyak 50 buah ( 2 RSU milik Departemen Kesehatan.000 penduduk tahun 2011 sebesar 4.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 6. Rasio tenaga kefarmasian per 100. Rasio tenaga dokter gigi per 100. Rasio dokter spesialis per 100. Puskesmas Pembantu sebanyak 1. e. Ini berarti bahwa jumlah puskesmas di Provinsi Jawa Tengah masih kurang.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3. dengan sasaran penduduk yang dilayani oleh sebuah puskesmas rata-rata 30.24. Unit Pelaksana Tehnis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah terdiri dari: Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) sebanyak 5 unit dan 1 Balai Kesehatan Indera Masyarakat (BKIM). 2.e. RSU milik BUMN sebanyak 1 RS dan RSU milik swasta sebanyak 118 buah. 10 RS Bersalin milik swasta dan 54 RS Khusus lainnya (3 milik pemerintah dan 51 milik swasta) h. Puskesmas Keliling sebanyak 948 unit dan Poliklinik Kesehatan Desa sebanyak 5.

24 lebih sedikit bila dibandingkan tahun 2010 (10.96 lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2010 (4.56 lebih banyak dibandingkan tahun 2010 (38. Rasio Bidan per 100. Rasio tenaga sanitasi per 100.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 39.f.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 2. Rasio tenaga kesehatan masyarakat per 100.30).000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 10. 81. i. Pembiayaan Kesehatan Anggaran belanja yang dialokasikan 2011 sekitar untuk 7.450. Sedangkan anggaran kesehatan perkapita pada tahun 2011 sebesar Rp. 3.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3. j. h. yang semula sebesar 51.47). Anggaran tersebut naik 28.55).20 menurun dibandingkan tahun 2010 (3.56). g. yang mandiri dan bertumpu pada Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 120 .18% pembiayaan dari seluruh kesehatan di kabupaten/kota tahun pembiayaan kabupaten/kota.- Demikian gambaran hasil pembangunan kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebagai wujud nyata kinerja seluruh jajaran kesehatan di Provinsi Jawa Tengah dalam upaya mewujudkan Jawa Tengah Sehat potensi daerah.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 73.73% pada tahun 2010 menjadi 79.84% pada tahun 2011.74). Rasio tenaga keperawatan per 100.11%.95 lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2010 (76. Rasio tenaga teknisi medis per 100.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful