P. 1
epidemiologi

epidemiologi

|Views: 262|Likes:
Dipublikasikan oleh Dyah Asih Setiatin
makalah
makalah

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Dyah Asih Setiatin on Dec 27, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/07/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dalam upaya mewujudkan Jawa Tengah Sehat, pembangunan kesehatan di Jawa Tengah tidak dapat dilakukan sendiri oleh aparat pemerintah di sektor kesehatan, tetapi harus dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan peran serta swasta dan masyarakat. Segala upaya kesehatan selama ini dilakukan tidak hanya oleh sektor kesehatan saja, tetapi juga tidak luput peran dari sektor non kesehatan dalam upaya penyelenggaraan pelayanan kesehatan mengatasi permasalahan kesehatan. Agar proses pembangunan kesehatan berjalan sesuai dengan arah dan tujuan, diperlukan manajemen yang baik sebagai langkah dasar pengambilan keputusan dan kebijakan di semua tingkat administrasi pelayanan kesehatan. Untuk itu pencatatan dan pelaporan kegiatan pelayanan kesehatan perlu dikelola dengan baik dalam suatu sistem informasi kesehatan. Sistem Informasi Kesehatan (SIK) yang evidence based diarahkan untuk penyediaan data dan informasi yang akurat, lengkap, dan tepat waktu. Untuk itu, peran data dan informasi kesehatan menjadi sangat penting dan semakin dibutuhkan dalam manajemen kesehatan oleh berbagai pihak. Masyarakat semakin peduli dengan situasi kesehatan dan hasil pembangunan kesehatan yang telah dilakukan oleh pemerintah, terutama terhadap masalah-masalah kesehatan yang berhubungan langsung dengan kesehatan mereka. Kepedulian masyarakat akan informasi kesehatan ini memberikan nilai positif bagi pembangunan kesehatan itu sendiri. Untuk itu pengelola program harus bisa menyediakan dan memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat dengan dikemas secara baik, sederhana, informatif, dan tepat waktu. Profil kesehatan merupakan salah satu produk dari Sistem Informasi Kesehatan yang penyusunan dan penyajiannya dibuat sesederhana mungkin tetapi informatif, untuk dipakai sebagai alat tolok ukur kemajuan pembangunan kesehatan sekaligus juga sebagai bahan evaluasi program-program kesehatan. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah adalah gambaran situasi kesehatan yang memuat berbagai
Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

dan upaya

1

data tentang situasi dan hasil pembangunan kesehatan selama satu tahun yang memuat data derajat kesehatan, sumber daya kesehatan, dan capaian indikator hasil pembangunan kesehatan. B. SISTEMATIKA PENYAJIAN Sistematika penyajian Profil Kesehatan adalah sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN Berisi penjelasan tentang maksud, tujuan dan sistematika

penyajiannya. BAB II : GAMBARAN UMUM Menyajikan tentang gambaran umum Provinsi Jawa Tengah meliputi letak geografis, kependudukan, ekonomi dan pendidikan yang erat kaitannya dengan kesehatan. BAB III : SITUASI DERAJAT KESEHATAN Berisi uraian tentang indikator mengenai angka kematian, angka kesakitan dan angka status gizi masyarakat. BAB IV : SITUASI UPAYA KESEHATAN Menguraikan tentang pelayanan kesehatan dasar, pelayanan

kesehatan rujukan dan penunjang, pencegahan dan pengendalian penyakit menular dan tidak menular, pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan, pelayanan kesehatan dalam situasi bencana serta upaya pelayanan kesehatan lainnya yang diselenggarakan oleh kabupaten/kota.

BAB V

: SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
Menguraikan tentang tenaga kesehatan, sarana kesehatan, pembiayaan kesehatan dan sumber daya kesehatan lainnya.

BAB VI

: KESIMPULAN Berisi sajian garis besar hasil-hasil cakupan porgram/kegiatan

berdasarkan indikator-indikator bidang kesehatan untuk dapat ditelaah lebih jauh dan untuk bahan perencanaan pembangunan kesehatan serta pengambilan keputusan di Provinsi Jawa Tengah.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

2

LAMPIRAN Berisi resume atau angka pencapaian kabupaten/kota dan 82 tabel data yang sebagian diantaranya merupakan Indikator Pencapaian Kinerja Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

3

BAB II GAMBARAN UMUM

A. KEADAAN GEOGRAFI Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak cukup strategis karena berada diantara dua provinsi besar, yaitu bagian barat berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat, bagian timur berbatasan dengan Provinsi Jawa Timur. Sedangkan bagian utara berbatasan dengan Laut Jawa dan bagian selatan berbatasan dengan Samudra Hindia dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Letaknya antara 5°40 ' - 8 °30' lintang selatan dan antara 108°30' - 111°30' bujur timur (termasuk Pulau Karimunjawa). Luas wilayah Provinsi Jawa Tengah sebesar 32.544,12 km², secara administratif terbagi menjadi 29 kabupaten dan 6 kota, yang tersebar menjadi 573 kecamatan dan 8.576 desa/kelurahan. Wilayah terluas adalah Kabupaten Cilacap dengan luas 2.138,51 km², atau sekitar 6,57% dari luas total Provinsi Jawa Tengah, sedangkan Kota Magelang merupakan wilayah yang luasnya paling kecil yaitu seluas 18,12 km². Secara topografi, wilayah Provinsi Jawa Tengah terdiri dari wilayah daratan yang dibagi menjadi 4 (empat) kriteria : a. Ketinggian antara 0–100 m dari permukaan air laut, seluas 53,3%, yang daerahnya berada di sepanjang pantai utara dan pantai selatan. b. Ketinggian antara 100–500 m dari permukaan air laut seluas 27,4%. c. Ketinggian antara 500–1.000 m dari permukaan air laut seluas 14,7%. d. Ketinggian diatas 1.000 m dari permukaan air laut seluas 4,6%. B. KEADAAN PENDUDUK 1. Pertumbuhan dan Persebaran Penduduk Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, jumlah penduduk Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2010 sebesar 32.382.657 jiwa, dengan luas wilayah sebesar 32.544,12 kilometer persegi (km²), rata-rata kepadatan penduduk sebesar 995,04 jiwa untuk setiap km². Wilayah terpadat

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

4

adalah Kota Surakarta, dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 11.341 jiwa per km². Wilayah terlapang adalah Kabupaten Blora, dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 462 jiwa per km², dengan demikian persebaran penduduk di Jawa Tengah belum merata. Jumlah rumah tangga sebanyak 8.703.696, maka rata-rata jumlah anggota rumah tangga adalah 3,72 jiwa untuk setiap rumah tangga. Penduduk terbanyak di Kabupaten Brebes 1.733.869 jiwa (5,35%) dan paling sedikit di Kota Magelang 118.227 jiwa (0,37%). Data mengenai kependudukan dapat dilihat pada lampiran Tabel 1.

2. Rasio Jenis Kelamin Komposisi penduduk menurut jenis kelamin dapat dilihat dari rasio jenis kelamin, yaitu perbandingan penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan per 100 penduduk perempuan. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010 oleh Badan Pusat Statistik, didapatkan jumlah penduduk laki-laki di Jawa Tengah 16.091.112 jiwa (49,69%) dan jumlah penduduk perempuan di Jawa Tengah 16.291.545 jiwa (50,31%). Sehingga didapatkan rasio jenis kelamin sebesar 98,77 per 100 penduduk perempuan, berarti setiap 100 penduduk perempuan ada sekitar 98 atau 99 penduduk laki-laki. Data mengenai rasio jenis kelamin (sex ratio) dapat dilihat pada lampiran Tabel 2.

3. Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur Komposisi penduduk Provinsi Jawa Tengah menurut kelompok umur dan jenis kelamin menunjukkan bahwa penduduk laki-laki maupun perempuan mempunyai proporsi terbesar pada kelompok umur 15–44 tahun. Gambaran komposisi penduduk secara lebih rinci dapat dilihat pada lampiran Tabel 3. Perbandingan komposisi proporsi penduduk menurut usia produktif dari tahun 2006 sampai tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut:

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

5

Tabel 2.1 Persentase Kelompok Usia Produktif Jawa Tengah tahun 2006 – 2010 Kelompok Usia (Tahun) 0 - 14 15 – 64 65 + TAHUN 2006 25,98 % 66,92 % 7,10 % 2007 27,02 % 65,21 % 7,77 % 2008 26,57 % 65,66 % 7,77 % 2009 25,03 % 67,87 % 7,11 % 2010 26,32 % 66,53 % 7,05 %

Sumber : BPS Provinsi Jawa Tengah tahun 2010

Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa proporsi penduduk tahun 2010 bila dibandingkan dengan tahun 2009, kelompok usia produktif (15-64 tahun) mengalami penurunan, sedangkan kelompok usia belum produktif (0-14 tahun) mengalami kenaikan. Hal ini berarti bahwa angka beban tanggungan menjadi bertambah.

C. KEADAAN EKONOMI 1. Produk Domestik Regional Bruto Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah ukuran kuantitatif dari kinerja perekonomian suatu wilayah selama satu periode waktu tertentu. PDRB merupakan total nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit-unit usaha yang beroperasi di wilayah domestik. Perekonomian Jawa Tengah pada tahun 2011 mengalami pertumbuhan sebesar 6,0% dibanding tahun 2010. Berdasarkan hasil penghitungan triwulan I sampai dengan triwulan IV , PDRB Jawa Tengah tahun 2011 atas dasar harga berlaku meningkat sebesar Rp. 53,9 triliun, yaitu dari Rp. 444,7 triliun pada tahun 2010 menjadi sebesar Rp. 498,6 triliun pada tahun 2011. Jika dilihat dari PDRB atas dasar harga konstan pada tahun 2011 mencapai Rp. 198,2 triliun, sedangkan pada tahun 2010 sebesar Rp. 187,0 triliun. Selama tahun 2011, semua sektor ekonomi yang membentuk PDRB mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor

pengangkutan dan komunikasi yang mencapai 8,6%, diikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran 7,5%, sektor jasa-jasa 7,5%, sektor industri

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

6

real estate dan jasa perusahaan 6. Sumber pertumbuhan terbesar kedua adalah dari sektor perdagangan.124 11. sektor pertambangan dan penggalian 4.9%. 13.2 PDRB per Kapita Jawa Tengah Tahun 2008 – 2011 (jutaan rupiah) Tahun PDRB per Kapita atas dasar harga berlaku 11.3%. Sedangkan sektor pengangkutan dan komunikasi. yaitu sebesar 2. Sedangkan sektor yang mengalami pertumbuhan terendah pada tahun 2011 adalah sektor pertanian yaitu sebesar 1.7% mampu memberikan andil terbesar terhadap sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.142 5.pengolahan 6.345 5. Hal ini dikarenakan kontribusi nilai tambah bruto sektor pengangkutan dan komunikasi terhadap PDRB Jawa Tengah relatif kecil. sektor listrik.4%.2%.3%. 6.112 2008 2009 2010 2011 Sumber : PDRB Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 7 . sektor konstruksi 6. gas dan air bersih 4.774 6.1 juta atau secara riil meningkat sebesar 5. sektor ini hanya mampu memberikan sumbangan 0. Pada tahun 2011 angka PDRB per kapita atas dasar harga berlaku diperkirakan mencapai 15. Sedangkan PDRB per kapita atas dasar harga konstan pada tahun 2011 sebesar Rp. meskipun mengalami pertumbuhan terbesar yaitu 8.4 juta dengan laju peningkatan sebesar 12.6%.6%.8 juta.376 PDRB per Kapita atas dasar harga konstan 5.9% dibandingkan dengan tahun 2010 yan gsebesar Rp. 5.732 15. PDRB per kapita merupaka PDRB dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun.7 juta. Sektor industri pengolahan yang mengalami pertumbuhan 6. hotel dan restoran yaitu 1.7%.0% dibandingkan dengan PDRB per kapita tahun 2010 sebesar Rp. sektor keuangan.4% terhadap sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. Tabel 2. Selain itu dapat dilihat besarnya sumbangan (andil) masing-masing sektor dalam menciptakan laju pertumbuhan ekonomi selam tahun 2011.957 13.3%.

42 8. berarti pada tahun 2010 setiap 100 penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun) harus menanggung beban hidup sekitar 50 penduduk usia belum produktif (0–14 tahun) dan usia tidak produktif (65 tahun ke atas).21 10.48 4.74 32.11 SMU/SMK 12.00 100.2. angka beban tanggungan (dependency ratio) penduduk Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2010 sebesar 50.43).48 Total 100.22 18.33 8. KEADAAN PENDIDIKAN Tingkat pendidikan dapat berkaitan dengan kemampuan menyerap dan menerima informasi kesehatan serta kemampuan dalam berperan serta dalam pembangunan kesehatan.13 Tdk punya Ijazah SD/MI 26.58 17.50 34.64 15.93 Tahun 2007 2008 2009 2010 SD/MI 31.00 Sumber : BPS Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 8 .3 Jumlah Penduduk Usia 10 tahun ke Atas Menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007-2010 Blm/Tdk Pernah Sekolah 7.41 4. Tabel 2.45 14.84 9. Dibandingkan dengan tahun 2009 secara umum telah terjadi peningkatan di bidang pendidikan.16 18. Peningkatan terjadi pada tingkat pendidikan SD.55 SMP 15. Angka tersebut mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2009 (51.03 22. Angka Beban Tanggungan Berdasarkan jumlah penduduk menurut kelompok umur.46 23.31.01 32. SMP dan Akademi/Perguruan Tinggi. D.00 100.58 16. serta dapat ikut berperan serta aktif dalam mengatasi masalah kesehatan dirinya dan keluarganya. Hal ini wajar terjadi mengingat semakin digalakkannya program sekolah gratis bagi jenjang SD dan SMP dan program-program pendidikan lainnya. Berikut ini disajikan tabel persentase jumlah penduduk usia 10 tahun ke atas menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2007-2010.91 DIPL/AK/ PT 5. Masyarakat yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi. pada umumnya mempunyai pengetahuan dan wawasan yang lebih luas sehingga lebih mudah menyerap dan menerima informasi.00 100.93 4.

Demikian gambaran umum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 secara ringkas dengan penyajian tentang kependudukan. Persentase penduduk yang dapat membaca dan menulis huruf latin dan huruf lainnya pada tahun 2010 sebesar 91. sedangkan yang buta huruf sebesar 8. Faktor perekonomian dan pendidikan secara bersama-sama dengan kesehatan digunakan untuk menentukan Indeks Pembangunan Manusia.98%.02%. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 9 . Bila dilihat dari jenis kelaminnya. perekonomian dan pendidikan. angka melek penduduk laki-laki sebesar 94.87%. maka penduduk laki-laki lebih banyak yang melek huruf dibandingkan dengan penduduk perempuan.28% dan perempuan sebesar 87. Data mengenai angka melek huruf dapat dilihat pada lampiran Tabel 5.Peningkatan tersebut berimbas pada kemampuan baca tulis penduduk yang tercermin dari angka melek huruf.

pendidikan.34/1. AKB menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan faktor penyebab kematian bayi. ANGKA KEMATIAN Angka kematian dari waktu ke waktu menggambarkan status kesehatan masyarakat secara kasar. Angka Kematian Bayi Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan jumlah kematian bayi (0-11 bulan) per 1000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun. melainkan juga dipengaruhi faktor ekonomi. derajat kesehatan masyarakat di Provinsi Jawa Tengah digambarkan melalui Angka Kematian Bayi (AKB). angka morbiditas beberapa penyakit dan status gizi. Angka tersebut dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan. Pada bagian ini.000 kelahiran hidup. kondisi lingkungan fisik dan biologik secara tidak langsung.BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN Dalam menilai derajat kesehatan masyarakat. Faktorfaktor tersebut tidak hanya berasal dari sektor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan.000 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 10 . Indikator-indikator tersebut pada umumnya tercermin dalam kondisi angka kematian. tingkat keberhasilan program KIA dan KB. tingkat pelayanan antenatal.62/1. Apabila AKB di suatu wilayah tinggi. menurun bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 10. lingkungan sosial. A. kondisi atau tingkat permasalahan kesehatan. AKI dan Angka Kematian Kecelakaan Lalu Lintas. berarti status kesehatan di wilayah tersebut rendah. Angka Kematian balita (AKABA). keturunan dan faktor lainnya. 1. Derajat kesehatan masyarakat juga dipengaruhi oleh banyak faktor. serta kondisi lingkungan dan sosial ekonomi. Angka kematian yang disajikan pada bab ini yaitu AKB. Angka Kematian Ibu (AKI). terdapat beberapa indikator yang dapat digunakan. status gizi ibu hamil. AKABA. angka kesakitan dan status gizi. AKB di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 10.

25 2010 10.Purw orejo Kab.Rembang Kab.93 12.85 8.Batang Kab.1 Angka Kematian Bayi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 –2011 Angka kematian bayi tertinggi adalah Kabupaten Rembang sebesar 21.Boyolali Kota Semarang Kab.25 13.Banjarnegar Kab.63 5. 11 10.09 6.49 7.55 7.41 0.Klaten Kab.79 15.23 9.Karanganyar Kab.000 kelahiran hidup.08 9.15 11.00 15.Grobogan Kota Magelang Kab.00 5.69 9.51 8. sedangkan terendah adalah Kota Surakarta sebesar 3.Pati Kota Pekalongan Kab.54 8. Dibawah ini grafik AKB di Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2008-2011.000 kelahiran hidup.Temanggung Kab.Purbalingga Kab.Demak Kota Tegal Kota Surakarta 21.Pekalongan Kab. Dibandingkan dengan target Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tahun 2015 sebesar 17/1.68 8.23 12.49 7.2 Angka Kematian Bayi di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 11 .72 6.000 kelahiran hidup maka AKB di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sudah cukup baik karena telah melampaui target.Sukoharjo Kab.Cilacap Kab.11 8.63/1.5 9 8.38 9.Wonosobo Kab.53 17.72 9.Kudus Kab.27 2009 10.63 12.00 25.00 20.Semarang Kab.Kendal Kab.5 10 9.kelahiran hidup.Blora Kab.5 AKB 2008 9.Banyumas Kab.Wonogiri Kab.62 2011 10.00 Gambar 3.23 9. Kab.97/1.16 10.Tegal Kota Salatiga Kab.Brebes Kab.34 15.33 9.Pemalang Kab.30 13.23 9.67 11.34 Gambar 3.Magelang Kab.Kebumen Kab.72 8.97 17.66 3.27 12.Jepara Kab.Sragen Kab.00 10.

6 2010 12. tingkat pelayanan KIA/Posyandu. Dibandingkan dengan cakupan yang diharapkan dalam Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tahun 2015 yaitu 23/1. Angka Kematian Balita Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan jumlah kematian balita 0–5 tahun per 1000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun. AKABA Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 11.4 di bawah ini.5 9 AKABA 2008 10.02/1.000 kelahiran hidup.50/1. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 12 .000 kelahiran hidup.3 Angka Kematian Balita Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 –2011 AKABA tertinggi di Kabupaten Rembang sebesar 23. 12.74/1.000 kelahiran hidup. AKABA menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan balita. Selengkapnya dapat dilihat pada gambar 3.000 kelahiran hidup.5 Gambar 3. sedangkan terendah di Kota Surakarta sebesar 4. AKABA Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sudah melampaui target.5 11 10. tingkat keberhasilan program KIA/Posyandu dan kondisi sanitasi lingkungan.000 kelahiran hidup.12/1.02 2011 11.5 12 11.2. Dibawah ini grafik AKB di Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2008-2011.12 2009 11. menurun dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 12.5 10 9.

81 10.20 10.Tegal Kab. Selain itu penyebab kematian maternal juga tidak terlepas dari kondisii ibu itu sendiri dan merupakan salah satu dari kriteria 4 “terlalu”.Wonosobo Kab.16 7.42 11.Kudus Kota Tegal Kota Surakarta 0.Rembang Kab.Batang Kab.78 14.Temanggung Kab.14 9.12 5.36 10. terutama pelayanan kegawatdaruratan tepat waktu yang dilatarbelakangi oleh terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan.Pemalang Kab.Semarang Kab. kejadian berbagai komplikasi pada kehamilan dan kelahiran.Banyumas Kab.88 13.Klaten Kab.Banjarnegar Kab.00 4.86 9.79 10.39 10.66 9.42 14.00 25.36 8.85 14.57 10.Wonogiri Kab.Cilacap Kab.Magelang Kota Salatiga Kab.Demak Kab. Angka Kematian Ibu Angka Kematian Ibu (AKI) mencerminkan risiko yang dihadapi ibu-ibu selama kehamilan dan melahirkan yang dipengaruhi oleh status gizi ibu.26 9. keadaan kesehatan yang kurang baik menjelang kehamilan.02 18. Tingginya angka kematian ibu menunjukkan keadaan sosial ekonomi yang rendah dan fasilitas pelayanan kesehatan termasuk pelayanan prenatal dan obstetri yang rendah pula. terlalu Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 13 .Boyolali Kab.Karanganyar Kab.55 9.46 16. keadaan sosial ekonomi.Sukoharjo Kota Pekalongan Kab.Grobogan Kab.98 10. serta terlambat mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan. Kematian ibu biasanya terjadi karena tidak mempunyai akses ke pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas.80 10.74 10.95 12.55 23.68 12.85 7.94 7. terlambat mencapai fasilitas kesehatan.00 20.Jepara Kab.4 Angka Kematian Balita di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 3.87 17.00 15.Kebumen Kab.83 13.Kab.00 Gambar 3.Purw orejo Kota Semarang Kab.Brebes Kab.00 5.Blora Kab. tersedianya dan penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan ternasuk pelayanan prenatal dan obstetri.12 8.Sragen Kab.Purbalingga Kab.Pekalongan Kota Magelang Kab.44 19. terlalu muda pada saat melahirkan (<20 tahun).70 9. yaitu terlalu tua pada saat melahirkan (>35 tahun).25 13.Pati Kab.Kendal Kab.

Rembang Kab.97/100.Magelang Kab.Jepara Kab. Sedangkan kabupaten/kota dengan jumlah kematian maternal paling sedikit adalah Kota Magelang dengan 1 kematian.5 di bawah ini tren AKI di Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2011.Cilacap Kab.42 2009 117. mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan AKI pada tahun 2010 sebesar 104.Wonogiri Kab. Kab.01/100.Banyumas Kab.Batang Kab.Pemalang Kab.Blora Kab.Wonosobo Kab.Temanggung Kab.Grobogan Kab.Kudus Kab. Angka kematian ibu Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 berdasarkan laporan dari kabupaten/kota sebesar 116.Tegal Kab.Klaten Kab.Sragen Kab.Boyolali Kab. Gambar 3.Pati Kab.Karanganyar Kab.01 Gambar 3.6 Jumlah Kematian Ibu di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 14 .Sukoharjo Kab.Kendal Kab.Demak Kab. terlalu rapat jarak kelahiran/paritas (<2 tahun).5 Angka Kematian Ibu Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 –2011 Jumlah kematian maternal terbanyak adalah di Kabupaten Tegal sebanyak 51 kematian.Purbalingga Kab.97 2011 116.Kebumen Kota Salatiga Kota Surakarta Kota Magelang 45 51 13 13 13 12 11 10 10 10 9 9 9 18 18 17 16 15 15 24 24 23 22 22 21 28 27 26 26 31 35 34 6 1 4 0 10 20 30 40 50 60 Gambar 3.Pekalongan Kab.Banjarnegara Kab. 120 115 110 105 100 95 AKI 2008 114.000 kelahiran hidup.Brebes Kota Semarang Kab.02 2010 104.Purw orejo Kota Tegal Kota Pekalongan Kab.Semarang Kab.000 kelahiran hidup.banyak anak (>4 anak).

pemerintah telah melaksanakan Program Eradikasi Polio (ERAPO) yang terdiri dari pemberian imunisasi polio rutin.99%. 4.000 penduduk dalam kurun waktu satu tahun.65%.80 sedangkan tahun 2010 sebesar 176.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 sebesar 94. seperti sifat kelumpuhan pada poliomyelitis. Sementara berdasarkan kelompok umur.12%. Dari 25 kabupaten/kota yang melaporkan.70 per 100.75% dan pada waktu persalinan sebesar 25. kejadian kematian maternal terbanyak adalah pada usia produktif (20-34 tahun) sebesar 65. pemberian imunisasi masal pada anak balita melalui Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dan surveilans AFP.99/100. Angka kecelakaan lalulintas per 100. Kabupaten/kota yang melaporkan kejadian kecelakaan lalulintas pada tahun 2011 sebanyak 25 kabupaten/kota meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 sebanyak 19 kabupaten/kota. B.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah. ANGKA KESAKITAN 1.17 sementara Angka kematian kecelakaan lalu lintas tahun 2011 adalah sebesar 2. Surveilans AFP merupakan pengamatan dan penjaringan semua kelumpuhan yang terjadi secara mendadak dan sifatnya flaccid (layuh). angka kematian kecelakaan lalu lintas tertinggi terjadi di Kota Magelang yaitu sebesar 21.89% dan pada kelompok umur <20 tahun sebesar 5. kemudian pada kelompok umur >35 tahun sebesar 28. Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit “Acute Flaccid Paralysis” (AFP) Upaya membebaskan Indonesia dari penyakit Polio. Angka Kematian Kecelakaan Lalu Lintas Angka Kematian kecelakaan lalu lintas adalah jumlah kematian sebagai akibat dari kecelakaan lalu lintas per 100.Kejadian kematian maternal paling banyak adalah pada waktu nifas sebesar 48.000 penduduk. kemudian pada waktu hamil sebesar 25. Prosedur pembuktian penderita AFP terserang virus polio liar atau tidak adalah sebagai berikut : Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 15 .60%.

sehingga dapat diketahui apakah masih ada polio liar di masyarakat. c. b.7 Penemuan Kasus AFP Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 16 . dari 215 kasus yang diperiksa semua menunjukan negatif polio (berarti tidak ditemukan virus polio liar). Mengambil spesimen tinja penderita tidak lebih dari 14 hari sejak kelumpuhan. Diagnosis akhir ditentukan pada 60 hari sejak kelumpuhan. Pada tahun 2011 Jawa Tengah menemukan 215 penderita AFP. Hasil pemeriksaan spesimen tinja akan menjadi bukti virologi adanya virus polio liar didalamnya. Penderita kelumpuhan AFP diperkirakan 2 diantara 100. Target minimal penemuan penderita AFP tahun 2011 sebanyak 164 penderita. Menurut hasil pemeriksaan laboratorium.a. sebanyak dua kali selang waktu pengambilan I dan II >24 jam. Melakukan pelacakan terhadap anak usia <15 tahun yang mengalami kelumpuhan mendadak (<14 hari) dan menentukan diagnosa awal. 210 205 200 195 190 185 180 175 170 165 160 Kasus AFP 2006 191 2007 207 2008 187 2009 193 2010 178 Gambar 3. e. sehingga memenuhi target. Pemeriksaan klinis ini dilakukan oleh dokter spesialis anak atau syaraf untuk menentukan apakah masih ada kelumpuhan atau tidak. Mengirim kedua spesimen tinja ke laboratorium dengan pengemasan khusus (untuk Jawa Tengah dikirim ke laboratorium Bio Farma Bandung) d. Hasil pemeriksaan virologis dan klinis akan menjadi bukti penegakan diagnosis kasus AFP termasuk kasus polio atau tidak.000 anak usia <15 tahun.

capaian CDR tahun 2011 sebesar 59.04%.5 per 100. Terdapat empat kabupaten/kota yang sudah melampaui target 100% yaitu Kota Surakarta Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 17 . Bersama dengan Malaria dan HIV/AIDS. Prevalensi Tuberkulosis Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis.000 penduduk Provinsi Jawa Tengah sebesar 74.000 penduduk). Pencapaian CDR di Jawa Tengah tahun 2008 s/d 2011 masih dibawah target yang ditetapkan sebesar 100%.38%). 5) Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. yang terdiri dari 5 komponen kunci 1) Komitmen politis.06 per 100. yaitu proporsi jumlah pasien baru BTA(+) yang ditemukan dan diobati terhadap jumlah pasien baru BTA(+) yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Pada awal tahun 1995 WHO telah merekomendasikan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) sebagai strategi dalam penanggulangan TB dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective). 4) Jaminan ketersediaan OATyang bermutu. Meskipun masih dibawah target yang ditentukan. 3) Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat.52% meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 (55. Prevalensi Tuberkulosis per 100. CDR tertinggi di Kota Pekalongan sebesar 132.2.52.78% dan yang terendah di Kabupaten Magelang sebesar 33. termasuk pengawasan langsung pengobatan. Angka Penemuan Kasus TB Paru BTA(+) Salah satu indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalah Case Detection Rate (CDR). TB menjadi salah satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitmen global dalam MDGs.000 penduduk) dan terendah di Kabupaten Magelang (20. 3. Prevalensi tuberkulosis tertinggi adalah di Kabupaten Pekalongan (205. 2) Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya. Penyakit ini dapat menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil TB.

Evaluasi jumlah pasien dinyatakan sembuh dan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 18 . Dinyatakan sembuh bila hasil pemeriksaan dahak pada akhir pengobatan ditambah minimal satu kali pemeriksaan sebelumnya (sesudah fase awal atau satu bulan sebelum akhir pengobatan) hasilnya negatif. paramedis dan laboratorium.8 Angka Penemuan TB Paru (CDR) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Untuk meningkatkan cakupan CDR dan angka kesembuhan. pertemuan jejaring antar unit pelayanan kesehatan dan asistensi ke rumah sakit. Kegiatan-kegiatan tersebut perlu dievaluasi untuk menilai apakah hasil kegiatan sesuai dengan tujuan yang diharapkan sekaligus mengidentifikasi permasalahan yang ditemukan untuk selanjutnya disusun rencana tindak lanjut perbaikan.97 2009 48. Angka Kesembuhan Penderita TB Paru BTA(+) Evaluasi pengobatan pada penderita TB paru BTA(+) dilakukan melalui pemeriksaan dahak mikroskopis pada akhir fase intensif satu bulan sebelum akhir pengobatan dan pada akhir pengobatan dengan hasil pemeriksaan negatif.12).31%). Bila pemeriksaan follow up tidak dilakukan. namun pasien telah menyelesaikan pengobatan. baik tenaga medis. Kota Tegal (116.15 2010 55. pada tahun 2011 telah dilakukan berbagai upaya seperti peningkatan SDM.52 Gambar 3. 60 50 40 30 20 10 0 CDR TB 2008 47. 4.38 2011 59.78%). Kabupaten Pekalongan (103.(101.99%) dan Kota Pekalongan (132. maka evaluasi pengobatan pasien dinyatakan sebagai pengobatan lengkap.

pasien pengobatan lengkap dibandingkan jumlah pasien BTA(+) yang diobati disebut keberhasilan pengobatan (Succes Rate ). Angka kesembuhan (Cure Rate) TB paru Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 sebesar 85. Populasi yang rentan terserang Pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun.5 85 84. Persentase penemuan dan penanganan penderita pneumonia pada balita tahun 2011 sebesar 25.9 Angka Kesembuhan TB Paru (CR) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2010 5.9 2009 85.5 82 CR TB 2008 83.15% sudah melebihi target nasional (85%) dan meningkat bila dibandingkan tahun 2009 (85. Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri. Berikut ini ditampilkan persentase penemuan pneumonia balita Provinsi Jawa Tengah tahun 2008-2011.5% dengan jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 66.13%. sedangkan terendah di Kota Tegal sebesar 47.702 kasus. virus maupun jamur. Persentase Balita dengan Pneumonia Ditangani Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli).01 2010 85. mengalami penurunan bila dibanding tahun 2010 yang sebesar 40.5 83 82. 86 85. Angka ini masih sangat jauh dari target Standar Pelayanan Minimal (SPM) tahun 2010 sebesar 100%. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 19 . atau orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi.5 84 83. gangguan imunologi).01%). Pneumonia juga dapat terjadi akibat kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia.15 Gambar 3. usia lanjut lebih dari 65 tahun.17%.63%. Angka kesembuhan tertinggi di Kabupaten Karanganyar sebesar 98.

63 2011 25.63 2009 25. Jumlah Kasus Baru HIV/AIDS dan Kematian karena AIDS HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. sementara kabupaten dengan persentase cakupan terendah adalah Kabupaten Rembang (1.6%). sebagian besar didapat dari hasil VCT di rumah sakit.96 2010 40. Jumlah kematian karena AIDS di Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 89 kasus. ada satu kota yang mempunyai persentase cakupan diatas 100% yaitu Kota Magelang (179. laporan rutin AIDS kab/kota serta Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM). penderita terlebih dulu dinyatakan sebagai HIV positif. 45 40 35 30 25 20 Pneumonia Balita 2008 23.5 Gambar 3. Jumlah HIV positif yang ada di masyarakat dapat diketahui melalui 3 metode. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 20 . Kasus HIV/AIDS merupakan fenomena gunung es. Counselling. Jumlah infeksi HIV yang dilaporkan tahun 2011 sebanyak 755 kasus.Pada tingkat kabupaten/kota.9%). yaitu pada layanan Voluntary. Infeksi tersebut menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain. sero survey dan Survei Terpadu Biologis dan perilaku (STBP). artinya kasus yang dilaporkan hanya sebagian kecil yang ada di masyarakat. Kasus Aquiared Immuno Devisiency Syndrome (AIDS) sebanyak 521 kasus dari laporan VCT rumah sakit. Peningkatan infeksi HIV dan kasus AIDS ini dikarenakan upaya penemuan atau pencarian kasus yang semakin intensif melalui VCT di rumah sakit dan upaya penjangkauan oleh LSM peduli AIDS di kelompok risiko tinggi.10 Persentase Penemuan dan Penanganan Penderita Pneumonia pada Balita Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 6. Sebelum memasuki fase AIDS. and Testing (VCT).

12 Persentase Kasus Baru AIDS menurut Jenis Kelamin Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 7. Bubo. jumlah kematian karena AIDS terbanyak di Kabupaten Banyumas sebanyak 10 kasus. Jumlah Kasus Baru Infeksi Menular Seksual lainnya Penyakit Menular Seksual (PMS) atau biasa disebut penyakit kelamin adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Jumlah kasus baru HIV/AIDS tertinggi adalah di Kota Semarang (189/59 kasus). PMS meliputi Syphilis. Herpes. Infeksi Menular Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 21 . Perempuan 37% Laki-laki 63% Gambar 3. Jengger ayam. dan lain-lain.11 Jumlah Kasus Baru HIV/AIDS dan kematian karena AIDS Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Gambar 3. Gonorhoe. Penemuan kasus HIV tahun 2011 meningkat sangat tajam hampir 2 kali lipat lebih dibanding tahun 2010.800 700 600 500 400 300 200 100 0 2008 HIV 2009 AIDS 2010 Meninggal 259 170 56 143 160 104 430 373 501 755 521 89 2011 Gambar 3.11 menunjukan bahwa kecenderungan (trend) kasus HIV maupun AIDS selalu mengalami peningkatan setiap tahun.

16 0. Sifilis.09 0. Meskipun demikian kemungkinan kasus yang sebenarnya di populasi masih banyak yang belum terdeteksi.1 Persentase Donor Darah Diskrining terhadap HIV Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008-2011 Jumlah Sample Diperiksa 348.828 (93.13 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 22 .793 309. Malaria. Pada tahun 2011 diketahui jumlah pendonor sebanyak 346.795 312.13) yang positif HIV.Seksual (IMS) yang diobati adalah kasus IMS yang ditemukan berdasarkan sindrom dan etiologi serta diobati sesuai standar. Dari hasil pemeriksaan sampel darah tersebut. sebanyak 415 sampel (0.731 324. DBD termasuk juga bebas dari virus HIV. 8.752 kasus. Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Seksual mempunyai target bahwa seluruh kasus IMS yang ditemukan harus diobati sesuai standar.269 orang. Jumlah tersebut dari tahun ke tahun semakin meningkat. Tabel perkembangan jumlah sampel yang diperiksa dan hasil yang positif HIV dari tahun 2008 sampai dengan 2011 sebagai berikut : Tabel 3. Dinas Kesehatan juga melakukan pengamatan terhadap hasil skrining/penapisan darah donor melalui UTDD PMI Jawa Tengah.81%). Tujuan skrining ini adalah untuk mengamankan darah donor supaya bebas dari beberapa penyakit seperti Hepatitis C. Donor Darah Diskrining terhadap HIV Selain melakukan kegiatan serosurvei HIV dan surveilans/ pengamatan kasus AIDS. kemudian yang dilakukan pemeriksaan sampel darah sebanyak 324.828 Tahun 2008 2009 2010 2011 Jumlah Positif HIV 520 275 510 415 Positif HIV 1. Jumlah kasus baru IMS lainnya di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 ini sebanyak 10.49 0.

atau bila buang air besar tiga kali atau lebih. Seseorang dikatakan menderita diare bila feses lebih berair dari biasanya. Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf berupa mati rasa dan kelemahan/kelumpuhan otot. Ada 3 kota yang mempunyai cakupan di atas 100% yaitu Kota Salatiga (106%). Kelainan pada kulit (bercak) putih atau kemerahan disertai mati rasa.8%). anggota gerak dan mata. Kasus Diare Ditangani Diare adalah penyakit yang terjadi ketika terjadi perubahan konsistensi feses selain dari frekuensi buang air besar.48%). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 23 .48 2011 57. mengalami peningkatan bila dibandingkan cakupan tahun 2010 (44.2%) dan terendah di Kabupaten Purworejo (19. Cakupan penemuan dan penanganan diare di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 57.Prevalensi Kusta Kusta adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. diketahui bahwa cakupan penemuan dan penanganan diare tertinggi di Kota Tegal (144.4%) dan Kota Tegal (144. Diagnosis kusta dapat ditegakkan dengan adanya kondisi sebagai berikut: a. atau buang air besar yang berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam. Pada tingkat kabupaten/kota.9 Gambar 3. Kota Pekalongan (121.8 2009 48. 60 55 50 45 40 Cakupan 2008 47. b.13 Cakupan Penemuan dan Penanganan diare Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 10. menyebabkan kerusakan permanen pada kulit.9%. Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan kusta menjadi progresif.2%).5 2010 44.9. saraf.

21 87. Cakupan selama 3 tahun terakhir kusta tipe PB cenderung naik dan mulai menurun pada tahun 2009 sedangkan tipe MB cenderung menurun mulai tahun 2007 (tabel 12).5 2010 91.61 2011 85 76.14 Persentase Penderita Kusta selesai diobati Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 24 .46 Gambar 3. Cakupan program kusta tipe PB tahun 2011 berdasarkan jumlah penderita baru tahun 2010 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2011 sebesar 85% lebih rendah dari target 90%. dilaporkan terdapat kasus baru tipe Multi Basiler sebanyak 1. Adanya kuman tahan asam di dalam kerokan jaringan kulit (BTA Positif) Pada tahun 2011. Keberhasilan dalam mendeteksi kasus baru dapat diukur dari tinggi rendahnya proporsi cacat tingkat II. Kusta tipe MB diambil dari data penderita baru tahun 2009 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2011 sebesar 76% lebih rendah dari target 95%.98 2009 85.27 87.Persentase Penderita Kusta Selesai Berobat Cakupan program kusta diukur berdasarkan angka penderita kusta tipe Pauci Baciller (PB) dan Multy Baciller (MB) selesai diobati.c. 11.14%. 100 persentase (%) 80 60 40 20 0 2008 PB MB 92. Sedangkan proporsi anak di antara penderita baru pada tahun 2011 sebesar 10. Proporsi cacat tingkat II pada tahun 2011 sebesar 13.873 kasus dan tipe Pausi Basiler sebanyak 395 kasus dengan Newly Case Detection Rate (NCDR) sebesar 7 per 100.32%. sedangkan untuk mengetahui tingkat penularan di masyarakat digunakan indikator proporsi anak (0-14 tahun) di antara penderita baru.000 penduduk.48 90.

000 penduduk) dan sudah mencapai target nasional yaitu <20/100. Ketentuan lama penderita disebut default kalau 3 bulan berturut-turut tidak minum obat. penyelidikan epidemiologi di lapangan serta upaya pengendalian. Penyakit DBD masih merupakan permasalahan serius di Provinsi Jawa Tengah. Penyakit ini sebagian besar menyerang anak berumur <15 tahun. namun dapat juga menyerang orang dewasa. Rendahnya cakupan penderita kusta RFT juga dikarenakan adanya ketentuan baru pengobatan untuk penderita default.8/100. tetapi belum dicatat sudah RFT. terendah di Kabupaten Wonogiri sebesar 4.000 penduduk.000 penduduk.RFT). terbukti 35 kabupaten/kota sudah pernah terjangkit penyakit DBD.000 penduduk. Angka kesakitan/Incidence Rate (IR) DBD di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 15.Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh vektor nyamuk Aedes aegypty.Cakupan kusta tidak bisa tercapai dikarenakan masih banyak penderita yang tidak berobat teratur atau penderita yang seharusnya sudah selesai diobati (Release From Treatment .29/100.27/100. Penderita MB tidak minum obat lebih dari 6 bulan dalam jangka waktu 18 bulan sudah disebut default.17/100. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 25 . Angka kesakitan tertinggi di Kota Semarang sebesar 317. Penderita PB tidak minum obat lebih dari 3 bulan dalam jangka waktu 9 bulan sudah dianggap default. Angka ini jauh menurun bila dibandingkan tahun 2010 (59. Selain itu juga didukung dengan tidak maksimalnya kegitan PSN di masyarakat sehingga menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit DBD di beberapa kabupaten/kota. Tingginya angka kesakitan DBD disebabkan karena adanya iklim tidak stabil dan curah hujan cukup banyak pada musim penghujan yang merupakan sarana perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegipty yang cukup potensial. 12. Setiap penderita DBD yang dilaporkan dilakukan tindakan perawatan penderita.000 penduduk. Ketentuan lama penderita MB berturut-turut 6 bulan tidak berobat baru dikatakan default.

19 2009 1.93 Gambar 3.75 CFR DBD 2008 1.29 2011 0.29).000 penduduk yaitu Kabupaten Wonogiri (4.95) dan Kabupaten Pemalang (16.000 penduduk.2 20 2009 57. Kabupaten Magelang (9.70 50 30 10 IR DBD Target 2008 59.42 2010 1.Angka Kematian Demam Berdarah Dengue (DBD) Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) DBD tahun 2011 sebesar 0.25 1 0.29%) dan sudah lebih rendah bila dibandingkan dengan target nasional (<1%). 13. Kabupaten Semarang (13.27 20 Gambar 3.15 Angka Kesakitan DBD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Angka kesakitan DBD di kabupaten/kota hampir semuanya lebih dari 20/100. Kabupaten Wonosobo (9. Kabupaten Kebumen (9.5 1. Ada 6 kabupaten/kota dengan angka kesakitan kurang dari 2/100. 1. lebih rendah bila dibandingkan CFR tahun 2010 (1.8 20 2011 15.72).4 20 2010 59.93%.03).71).95).16 Angka Kesakitan DBD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 26 .

meningkat dibandingkan tahun 2010 (3. Mgl Boyolali Kota Mgl Kebumen Surakarta Kr.anyar J A T I M Grobogan Kudus Rembang Blora J A B A R Brebes Tegal Batang Pekalongan Bata ng Pemalang Temanggung Purblg Cilacap Banyumas CFR DBD 0 <1 >1 Klaten Purworejo Magelan Sukoharjo g DI.17 Peta CFR DBD kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 14. Saat ini masih ditemukan desa High Case Incidence (HCI) sebanyak 31 desa yang tersebar di 5 Kabupaten yaitu Purworejo.10‰).467 kasus. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 27 . Angka kesakitan malaria (Annual Parasite Incidence-API) merupakan indikator untuk memantau perkembangan penyakit malaria.300 kasus) dan angka kesakitan malaria sebesar 0. Banyumas dan Jepara. dengan angka kematian lebih dari 1% sebanyak 12 Jepara Jepara Pati Kota Tegal Kota Pekalongan Kendal Demak Kota Semarang Kab Semarang Salatiga Wonosobo Bj negara Sragen Kab.11‰.Angka Kesakitan Malaria Penyakit malaria masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Provinsi Jawa Tengah.5% dan terendah atau tidak ada kematian di 18 kabupaten/kota. Perkembangan insidens malaria sejak tahun 2008 dilihat pada gambar berikut. Yogyakarta Wonogiri Gambar 3. sedikit meningkat dibandingkan tahun 2010 (0. Kebumen.Angka kematian tertinggi adalah di Kabupaten Pekalongan sebesar 6. Jumlah kasus tahun 2011 sebanyak 3. Sedangkan kabupaten/kota kabupaten/kota. Purbalingga.

Mgl Boyolali Surakarta Kr.15 0. terbanyak di Kabupaten Purworejo (1. 15. Yogyakarta Wonogiri Gambar 3.03%. Jepara Jepara Pati Kota Tegal Kota Pekalongan Kendal Demak Kota Semarang Kab Semarang Salatiga Wonosobo Bj negara Sragen Kab.anyar J A T I M Grobogan Kudus Rembang Blora J A B A R Brebes Tegal Batang Pekalongan Bata ng Pemalang Temanggung Purblg Cilacap Banyumas Kebumen Kota Mgl Klaten Purworejo Magelan Sukoharjo g DI.1 2011 0.11 Gambar 3.001 penderita) dan paling sedikit di Kabupaten Karanganyar (1 penderita).0%) dan terendah atau tidak ada kematian di 30 kabupaten/kota.Angka Kematian Malaria Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) Malaria tahun 2011 sebesar 0.05 0 API 2008 0.18 Angka Kesakitan Malaria Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Penderita malaria tahun 2011 ditemukan di 25 kabupaten. Angka kematian tertinggi adalah di Kota Semarang (25.1 0.19 Peta CFR Malaria kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 28 .0.05 2009 0.05 2010 0.

Kabupaten Sukoharjo (1 kasus). Kabupaten Grobogan (2 kasus). Campak. Secara kumulatif. Tetanus Neonatorum. Kabupaten Demak (1 kasus). Saat ini telah dilaksanakan Program Surveilans Integrasi PD3I. Kabupaten Brebes (2 kasus). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 29 . Kabupaten Banjarnegara (5 kasus). Hal ini dimungkinkan karena pencapaian cakupan imunisasi yang meningkat (>85%). Dalam waktu 5 tahun terakhir jumlah kasus PD3I yang dilaporkan adalah sebagi berikut: a. jumlah kasus Filariasis pada tahun 2011 sebanyak 537 penderita. Tetanus Neonatorum. Kabupaten Boyolali (2 kasus).Kasus Penyakit Filariasis Ditangani Jumlah kasus Filariasis di Provinsi Jawa Tengah dari tahun ke tahun semakin bertambah. Penemuan kasus selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. Jumlah kasus Difteri pada tahun 2011 sebanyak 8 kasus lebih sedikit bila dibandingkan dengan tahun 2010 (14 kasus). Kabupaten Boyolali (1 kasus). kabupaten Temanggung (1 kasus) dan Kota Semarang (1 kasus). 17. Dalam upaya untuk membebaskan Indonesia dari penyakit tersebut. Kabupaten Batang (1 kasus) dan Kabupaten Pemalang (1 kasus).Jumlah Kasus dan Angka Kesakitan Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) Yang termasuk dalam PD3I yaitu Polio. Kabupaten Semarang (2 kasus). Tetanus Non Neonatorum. diperlukan komitmen global untuk menekan turunnya angka kesakitan dan kematian yang lebih banyak dikenal dengan Eradikasi Polio (ERAPO). Kota Semarang (2 kasus). Difteri dan Hepatitis B. Difteri Jumlah kasus Difteri di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 8 kasus yang tersebar di 6 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Banyumas (1 kasus).16. Reduksi Campak (Redcam) dan Eliminasi Tetanus Neonatorum (ETN). Tahun 2011 ada 141 kasus baru yang ditemukan di 9 kabupaten/kota yaitu Kota Pekalongan (125 kasus). Pertusis. dan Campak). yaitu pengamatan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (Difteri.

Kabupaten Kudus Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 30 . Penemuan kasus selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut.20 Penemuan kasus Difteri Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 b. 30 25 20 15 10 5 0 2008 Kasus Pertusis 3 2009 0 2010 24 2011 4 Gambar 3.35 30 25 20 15 10 5 0 2008 Kasus Difteri 28 2009 30 2010 14 2011 8 Gambar 3. Tetanus (Non Neonatorum) Jumlah kasus Tetanus (Non Neonatorum) di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 13 kasus yang tersebar di 4 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Blora (4 kasus).21 Penemuan kasus Pertusis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 c. Pertusis Jumlah kasus Pertusis di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 4 kasus yang Berasal dari kabupaten Kudus. Kabupaten Rembang (1 kasus). Jumlah kasus Difteri pada tahun 2011 menurun bila dibandingkan dengan jumlah kasus Pertusis tahun 2010 (24 kasus).

Kabupaten Temanggung. Tetanus Neonatorum Jumlah kasus Tetanus Neonatorum di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 4 kasus yang tersebar di 4 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Rembang. Penemuan kasus selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. 15 10 5 0 2008 Kasus Tetanus Non Neonatorum 7 2009 6 2010 3 2011 13 Gambar 3. Kabupaten Batang dan Kabupaten Brebes. Jumlah kasus Tetanus pada tahun 2011 meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (3 kasus).(3 kasus) dan Kabupaten Pemalang (5 kasus). Jumlah kasus Tetanus pada tahun 2011 meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (3 kasus).8% atau dari 13 kasus yang dilaporkan 7 diantaranya meninggal.22 Penemuan kasus Tetanus Non Neonatorum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 d. CFR Tetanus tahun 2011 sebesar 75% atau dari 4 kasus yang dilaporkan 3 diantaranya meninggal Penemuan kasus dan kematian Tetanus Neonatorum selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. Sedangkan 31 kabupaten/kota lainnya tidak ada kasus. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 31 . CFR Tetanus tahun 2011 sebesar 53.

664 kasus. Campak Jumlah kasus Campak di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 1. mengalami penurunan yang signifikan bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebesar 3. Kabupaten Purworejo. Ada 5 Kabupaten yang tidak terdapat kasus campak yaitu Kabupaten Purbalingga.24 Kasus Campak yang dilaporkan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 32 .873 kasus. Penemuan kasus campak selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut.12 8 4 0 2008 Kasus Mati 10 6 2009 10 5 2010 6 4 2011 4 3 Gambar 3. 4000 3000 2000 1000 0 2008 Campak 2498 2009 3614 2010 3664 2011 1873 Gambar 3.23 Penemuan kasus dan kematian Tetanus Neonatorum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 e. Kabupaten Kendal dan Kabupaten Tegal. Kabupaten Kudus. Kasus terbanyak terdapat di Kota Semarang (285 kasus).

Penemuan kasus Hepatitis B selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. Kabupaten Pekalongan (28 kasus).25 Kasus Hepatitis B Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 18. Kabupaten Banjarnegara (4 kasus). mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebanyak 1 kasus. Kota Semarang (16 kasus). Kasus Hepatitis B terdapat di 9 kabupaten/kota yaitu di Kabupaten Temanggung (40 kasus). dekompensasio kordis. g. Hepatitis B Jumlah kasus Hepatitis B di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 170 kasus. kanker payudara. kanker paru.f. kanker serviks. mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebanyak 117 kasus. stroke. Kabupaten Purworejo (19 kasus). Kabupaten Pemalang (21 kasus). 200 150 100 50 0 2008 Hepatitis B 57 2009 74 2010 117 2011 170 Gambar 3. Kabupaten Cilacap (8 kasus). kanker hati. asma Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 33 . Polio Jumlah kasus Polio di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 0 kasus. Kota Tegal (16 kasus). diabetes mellitus. penyakit paru obstruktif kronis. Kabupaten Pati (11 kasus). hipertensi. Kota Salatiga (4 kasus) dan Kabupaten Boyolali (3 kasus). Penyakit Tidak Menular Penyakit tidak menular (PTM) yang diintervensi meliputi jantung koroner.

bronkiale, dan kecelakaan lalu lintas. Penyakit tidak menular seperti penyakit kardiovaskular, stroke, diabetes mellitus, penyakit paru obstruktif kronis dan kanker tertentu, dalam kesehatan masyarakat sebenarnya dapat digolongkan sebagai satu kelompok PTM utama yang mempunyai faktor risiko sama (common

underlying risk factor). Faktor risiko tersebut antara lain faktor genetik
merupakan faktor yang tidak dapat diubah (unchanged risk factor), dan sebagian besar berkaitan dengan faktor risiko yang dapat diubah (change risk factor) antara lain konsumsi rokok, pola makan yang tidak seimbang, makanan yang mengandung zat aditif, kurang berolah raga dan adanya kondisi lingkungan yang tidak kondusif terhadap kesehatan. Penyakit tidak menular mempunyai dampak negatif sangat besar karena merupakan penyakit kronis. Apabila seseorang menderita penyakit tidak menular, berbagai tingkatan produktivitas menjadi terganggu. Penderita ini menjadi serba terbatas aktivitasnya, karena menyesuaikan diri dengan jenis dan gradasi dari penyakit tidak menular yang dideritanya. Hal ini berlangsung dalam waktu yang relatif lama dan tidak diketahui kapan sembuhnya karena memang secara medis penyakit tidak menular tidak bisa disembuhkan tetapi hanya bisa dikendalikan. Yang harus mendapatkan perhatian lebih adalah bahwa penyakit tidak menular merupakan penyebab kematian tertinggi dibanding dengan penyakit menular. Kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah yang melaporkan data PTM tahun 2011 hanya 27 kabupaten/kota (77,1%). Hampir semua kelompok Penyakit Tidak Menular pada tahun 2011 mengalami peningkatan jumlah kasus, kecuali penyakit Asma bronkial dan Psikosis yang jumlah kasusnya lebih rendah dibanding tahun 2010. Kasus tertinggi Penyakit Tidak Menular pada tahun 2011 adalah kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah. Dari total 1.409.857 kasus yang dilaporkan sebesar 62,43% (880.193 kasus) adalah penyakit jantung dan pembuluh darah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

34

Asma Bronkial 13% PPOK 2%

Psikosis Neoplasma 1% 5%

DM 17%

Jantung & PD 62%

Gambar 3.26 Persentase Kasus Penyakit Tidak Menular Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011

a. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Penyakit jantung dan pembuluh darah adalah penyakit yang mengganggu jantung dan sistem pembuluh darah seperti penyakit jantung koroner (angina pektoris, akut miokard infark), dekompensasio kordis, hipertensi, stroke, penyakit jantung rematik, dan lain-lain. Kasus tertinggi penyakit tidak menular tahun 2011 pada kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah adalah penyakit Hipertensi Esensial, yaitu sebanyak 634.860 kasus (72,13 %).

1) Hipertensi Hipertensi atau sering disebut dengan darah tinggi adalah suatu keadaan di mana terjadi peningkatan tekanan darah yang memberi

gejala berlanjut pada suatu target organ tubuh sehingga timbul kerusakan lebih berat seperti stroke (terjadi pada otak dan berdampak pada kematian yang tinggi), penyakit jantung koroner (terjadi pada kerusakan pembuluh darah jantung) serta penyempitan ventrikel kiri / bilik kiri (terjadi pada otot jantung). Hipertensi merupakan penyakit yang sering dijumpai diantara penyakit tidak menular lainnya. Hipertensi dibedakan menjadi hipertensi primer yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya dan hipertensi

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

35

sekunder yaitu hipertensi yang muncul akibat adanya penyakit lain seperti hipertensi ginjal, hipertensi kehamilan, dll. Prevalensi kasus hipertensi essensial di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 1,96% menurun bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 2,00%. Terdapat tiga kota dengan prevalensi sangat tinggi di atas 10% yaitu Kota Magelang (22,41%), Kota Salatiga (10,18%) dan Kota Tegal (10,36%).
3

2.5

2

1.5

1 Prevalensi

2008 2.65

2009 2.13

2010 2

2011 1.96

Gambar 3.27 Prevalensi Kasus Hipertensi Essensial Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011

Penyakit Hipertensi Essensial pada tahun 2009 dan 2010 menunjukkan adanya penurunan kasus yang cukup tinggi, namun pada tahun 2011 terlihat mulai ada kenaikan jumlah kasus. Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut ini.
900000 800000 700000 600000 500000 Hipertensi Essensial

2008 865204

2009 698816

2010 562117

2011 634860

Gambar 3.28 Tren Peningkatan Kasus Hipertensi Essensial Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

36

09 2011 0. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 37 .09 2010 0.03 0.13 2009 0.04 0. Prevalensi tertinggi tahun 2011 adalah di Kota Magelang sebesar 1.45%. sama dengan prevalensi tahun 2010. terjadi secara mendadak dan cepat yang menimbulkan gejala dan tanda sesuai dengan daerah otak yang terganggu. atau terkadang menyebabkan pendarahan di otak.09 Gambar 3.03% sama dengan angka tahun 2010.12 0.34%.06 0. Gambaran klinis dekompensasio kordis kiri adalah sesak nafas: dyspnoe d’effort dan ortopne.2) Stroke Stroke adalah suatu penyakit menurunnya fungsi syaraf secara akut yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak.03 0.09%.14 0. 0.02 0 Hemoragik Non Hemoragik 2008 0.08 0. Prevalensi stroke hemoragik di Jawa Tengah tahun 2011 adalah 0. Stroke dibedakan menjadi stroke hemoragik yaitu adanya perdarahan otak karena pembuluh darah yang pecah dan stroke non hemoragik yaitu lebih karena adanya sumbatan pada pembuluh darah otak. Sedangkan prevalensi stroke non hemorargik pada tahun 2011 sebesar 0.05 0.1 0. pernafasan cheynes stokes. Stroke disebabkan oleh kurangnya aliran darah yang mengalir ke otak.29 Prevalensi Stroke Hemoragik dan Non Hemoragik Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 3) Dekompensasio Kordis Dekompensasio kordis merupakan kegagalan jantung dalam memompa darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh atau istilah lain adalah payah jantung.04 0. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Magelang sebesar 3.

11%.30 Prevalensi Dekompensasio Kordis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 b. nyeri tekan. mual. suara serak.batuk-batuk mungkin hemoptu. tumpul dan tidak nyeri. sianosis. Sedangkan kanan adalah gangguan gantrointestinal seperti anoreksia. tekanan vena jugularis gambaran klinis dekompensasio kordis masih normal. edema presakral. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Magelang sebesar 1. meteorismus dan rasa kembung di epigastrum. Diabetes Melitus Diabetes Melitus (DM) atau kencing manis adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang karena adanya peningkatan kadar gula dalam darah akibat kekurangan insulin. (Perkeni 2002) Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 38 .12 Gambar 3. 0. tepi tajam. asites dan hidrotoraks. tekanan jugularis meningkat.14 2010 0. Selain itu terjadi pembesaran hati yang mulamula lunak. Dapat juga terjadi edema pretibial.1 0.2 0.15 0.18 2009 0. Absolut artinya pankreas sama sekali tidak bisa menghasilkan insulin sehingga harus mendapatkan insulin dari luar (melalui suntikan) dan relatif artinya pankreas masih bisa menghasilkan insulin yang kadarnya berbeda pada setiap orang. lama kelamaan menjadi keras.12% mengalami peningkatan bila dibandingkan prevalensi tahun 2010 sebesar 0.11 2011 0. baik absolut maupun relatif. ronchi basah halus tidak nyaring.05 0 Prevalensi 2008 0. muntah.88%. Prevalensi kasus dekompensasio kordis tahun 2011 sebesar 0.

keputihan. berat badan menurun drastis. keracunan kehamilan. kurang olah raga. Sedangkan gejala lain seperti Lelah/lemah. DM Tidak Tergantung Insulin (DMTTI). asalkan mau patuh dan kontrol teratur. kerusakan retina mata yang dapat membuat buta. DM karena Toleransi Glukosa Terganggu (TGT). hipertensi. gangguan toleransi glukosa. mata kabur. impotensi. Gejala khas berupa Polyuri (sering kencing). DM dapat menjadi penyebab aneka penyakit seperti hipertensi. bayi lahir mati. Kelompok Faktor Risiko Tinggi antara lain pola makan yang tidak seimbang. yang terbanyak adalah DM tidak tergantung insulin.70% menjadi 0. luka yang lama sembuh mengakibatkan infeksi hingga akhirnya harus diamputasi terutama pada kaki. Polyfagi (sering lapar). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 39 . lemak dalam darah tinggi.99%. gatal/bisul.63% pada tahun 2011. DM merupakan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikendalikan. luka tdk sembuh-sembuh. katarak. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Semarang sebesar 0. Polydipsi (sering haus). gagal ginjal. Prevalensi diabetes melitus tergantung insulin di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 0. abortus. berat badan turun drastis. kehamilan dengan hiperglikemi. gatal daerah genital. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Magelang sebesar 7. jantung koroner.97%. Di Indonesia. mengalami peningkatan bila dibandingkan prevalensi tahun 2010 sebesar 0. Sedangkan prevalensi kasus DM tidak tergantung insulin lebih dikenal dengan DM tipe II. impotensi pada pria. DM berkaitan dengan malnutrisi (MRDM). artinya sekali didiagnosa DM seumur hidup bergaul dengannya. gangguan fungsi hati. yaitu DM Tergantung Insulin (DMTI).09%. dan lain-lain. pruritis vulva hingga keputihan pada wanita. obesitas. dll. glaukoma. Penderita mampu hidup sehat bersama DM.WHO (1985) mengklasifikasikan penderita DM dalam lima golongan klinis. mata kabur. stroke. DM jenis ini baru muncul pada usia di atas 40 tahun. dan DM karena kehamilan (GDM).08%. mengalami penurunan dari 0. umur Lebih dari 40th. riwayat Keluarga/ada keturunan. kesemutan/gringgingan. kehamilan dengan berat bayi lahir > 4 kg.

Ca.01 0 Ca Servik Ca Mamae Ca Hepar Ca Paru 2008 0.542 kasus (48.022 0. terdiri dari Ca.029 0. Di Indonesia terdapat lima jenis kanker yang banyak diderita penduduk yakni kanker rahim. Ca.003 2011 0.2 1 0.08 0.32 Prevalensi Penyakit Kanker di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 40 .86%).037 0.013 0.62 2010 0. paru 954 kasus (4. yang tumbuh tanpa kontrol dan tujuan yang jelas.004 0.6 0.899 kasus (35.637 kasus meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebanyak 13. kanker kulit.19 0. Neoplasma Neoplasma atau kanker adalah tumor ganas yang ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangan abnormal dari sel-sel tubuh.03 0.002 2010 0. mamae 9.7 2011 0.007 0.005 2009 0.16 1.25 2009 0.59%).8 0.1.028 0. dan kanker rektum.31 Prevalensi Penyakit Diabetes Mellitus Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 c.63 Gambar 3.05 0.242 (11.2 0 DMTI DMTTI 2008 0. dan Ca.13%).04 0.021 0. Kasus penyakit kanker yang ditemukan di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 19. hepar 2.4 0.003 Gambar 3. kanker kelenjar getah bening.09 0.006 0.01 0.05 0.277 kasus. mendesak dan merusak jaringan normal. kanker payudara.42%).4 1. 0.02 0. servik 6.03 0.

12 2010 0. alergi dan autoimunitas. genetik. kanker paru 0.08% pada tahun 2010 menjadi 0.33%.Prevalensi kanker di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 adalah sebagai berikut : kanker serviks sebesar 0.2 0. jenis kelamin.021% dan tertinggi di Kota Semarang sebesar 0.007% dan tertinggi di Kota tegal sebesar 0.39%.09 Gambar 3. d. Faktor risiko pencetus terjadinya PPOK adalah perokok aktif/pasif.07%. debu dan bahan kimia.029% dan tertinggi di Kota Magelang sebesar 0.89%. ras.003% dan tertinggi di Kota Magelang sebesar 0.2 2009 0.1 0. infeksi saluran nafas terutama waktu anak-anak. polusi udara di dalam atau di luar ruangan. kanker hati sebesar 0. Prevalensi kasus PPOK di Provinsi Jawa Tengah mengalami peningkatan yaitu dari 0.33 Prevalensi PPOK Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 41 . (Global Obstructive Lung Disease 2003). kanker payudara sebesar 0.09% pada tahun 2011 dan tertinggi di Kota Salatiga sebesar 4. usia.08 2011 0. 0.15 0.05 0 Prevalensi 2008 0. defisiensi alpha-1 antitripsin. Penyakit Paru Obstruktif Kronis Penyakit Paru Obtruktif Kronis (PPOK) adalah penyakit yang ditandai adanya hambatan aliran pernafasan bersifat reversible sebagian dan progresif yang berhubungan dengan respon inflamsi abnormal dari paru terhadap paparan partikel atau gas berbahaya.04%.

55 Gambar 3.55% mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 0. tekanan emosi. 1. STATUS GIZI 1. Prevalensi kasus asma di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 0.29%. Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram. dan edema mukosa serta deskuamasi epitel bronkus/bronkeolus. Asma Bronkial Asma Bronkial terjadi akibat penyempitan jalan napas yang reversibel dalam waktu singkat oleh karena mukus kental. Ingestan yang masuk badan melalui mulut biasanya berupa makanan seperti susu. Serangan asma bronkhiale sering dicetuskan oleh ISPA.2 0. akibat inflamasi eosinofilik dengan kepekaan yang berlebihan.07 2009 0.9 0. telur.6 0. merokok.3 0 Prevalensi 2008 1. obat-obatan dll. serpih kulit dari binatang piaraan.34 Prevalensi Asma Bronkial Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 C. Penyebab terjadinya BBLR antara lain karena ibu Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 42 . dan rangsangan yang bersifat antigen/allergen antara lain: Inhalan yang masuk ketubuh melalui alat pernafasan misalnya debu rumah. Kontaktan yang masuk badan melalui kontak kulit seperti obat-obatan dalam bentuk salep.66 2010 0. spora jamur dll.64% dan prevalensi tertinggi di Kota Tegal sebesar 2. aktivitas fisik. berbagai logam dalam bentuk perhiasan.e. jam tangan dll. spasme. ikan-ikanan.64 2011 0. Persentase Berat Bayi Lahir Rendah.

hamil mengalami anemia, kurang suply gizi waktu dalam kandungan, ataupun lahir kurang bulan. Bayi yang lahir dengan berat badan rendah perlu

penanganan yang serius, karena pada kondisi tersebut bayi mudah sekali mengalami hipotermi dan belum sempurnanya pembentukan organ-organ tubuhnya yang biasanya akan menjadi penyebab utama kematian bayi. Jumlah bayi berat lahir rendah (BBLR) di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 21,184 meningkat banyak apabila dibandingkan tahun 2010 yang sebanyak 15.631. Adapun persentase BBLR tahun 2011 sebesar 3,73%, meningkat bila dibandingkan tahun 2010 sebesar 2,69%.
4 3 2 1 0 Prevalensi

2008 2,08

2009 2,81

2010 2,69

2011 3,73

Gambar 3.35 Persentase BBLR Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011

Persentase BBLR yang ditangani di Jawa Tengah tahun 2010 seluruh Kabupaten/Kota sudah memenuhi target dalam Renstra Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah sebesar 70%. 2. Persentase Balita Dengan Gizi Kurang Salah satu indikator kesehatan yang dinilai keberhasilan pencapaiannya dalam MDGs adalah status gizi balita. Status gizi balita diukur berdasarkan umur (U), berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). Variabel BB dab TB ini disajikan dalam bentuk tiga indikator antropometri, yaitu berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi ini menjadi penting karena merupakan salah satu faktor risiko untuk terjadinya kesakitan dan kematian. Status gizi yang baik
Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

43

bagi seseorang akan berkontribusi terhadap kesehatannya dan juga terhadap kemampuan dalam proses pemulihan. Status gizi masyarakat dapat diketahui melalui penilaian konsumsi pangannya berdasarkan data kuantitatif maupun kualitatif. Dalam menetukan klasifikasi status gizi harus ada ukuran baku yang sering disebut

reference .

Baku antropometri yang sering digunakan di Indonesia

adalah World Health Organization–National Centre for Health Statistic (WHONCHS). Berdasarkan baku WHO-NCHS status gizi dibagi menjadi empat : Pertama, gizi lebih untuk over weight, termasuk kegemukan dan obesitas. Kedua, Gizi baik untuk well nourished. Ketiga, Gizi kurang untuk under weight yang mencakup mild dan moderat, PCM (Protein Calori Malnutrition). Keempat, Gizi buruk untuk severe PCM, termasuk marasmus, marasmik-kwasiorkor dan kwasiorkor. Persentase balita dengan gizi kurang (BB/U) Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 5,35%. Persentase balita dengan gizi kurang tertinggi di Kota Tegal (50,98%) dan terendah di Kabupaten Kebumen (0,38%). 3. Persentase Balita dengan Gizi Buruk. Kejadian gizi buruk perlu dideteksi secara dini melalui intensifikasi pemantauan tumbuh kembang Balita di Posyandu, dilanjutkan dengan penentuan status gizi oleh bidan di desa atau petugas kesehatan lainnya. Penemuan kasus gizi buruk harus segera ditindak lanjuti dengan rencana tindak yang jelas, sehingga penanggulangan gizi buruk memberikan hasil yang optimal. Pendataan gizi buruk di Jawa Tengah didasarkan pada 2 kategori yaitu dengan indikator membandingkan berat badan dengan umur (BB/U) dan kategori kedua adalah membandingkan berat badan dengan tinggi badan (BB/TB). Skrining pertama dilakukan di posyandu dengan membandingkan berat badan dengan umur melalui kegiatan penimbangan, jika ditemukan balita yang berada di bawah garis merah (BGM) atau dua kali tidak naik (2T), maka dilakukan konfirmasi status gizi dengan menggunakan indikator berat badan menurut

tinggi badan. Jika ternyata balita tersebut merupakan kasus buruk, maka segera dilakukan perawatan gizi buruk sesuai pedoman di Posyandu dan Puskesmas.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

44

Jika ternyata terdapat penyakit penyerta yang berat dan tidak dapat ditangani di Puskesmas maka segera dirujuk ke rumah sakit. Balita Gizi Buruk tahun 2011 berjumlah 3.187 (0,10%) menurun apabila dibandingkan tahun 2010 sejumlah 3.514 (0,18%). Demikian pula persentase Balita Gizi Buruk mendapatkan perawatan tahun 2011 sebesar 100% jauh lebih meningkat dibandingkan tahun 2010 sebesar 93,28%.

Jepara Jepara Pati Kota Tegal Kota Pekalongan Kendal Demak Kota Semarang Kab Semarang Salatiga Wonosobo Bj negara Sragen Kab. Mgl Boyolali Surakarta Kr.anyar J A T I M Grobogan Kudus Rembang Blora

J A B A R

Brebes

Tegal

Batang Pekalongan Bata ng Pemalang

Temanggung Purblg Cilacap Banyumas Kebumen

Kota Mgl

Klaten Purworejo Magelan Sukoharjo g DI. Yogyakarta Wonogiri

Keterangan : Kasus Gizi Buruk (>150 kasus)

Gambar 3.36 Peta Kasus Balita Gizi Buruk (BB/TB) kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

45

Kabupaten Kendal.98%.71% meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (92. Kabupaten Blora. Cakupan kunjungan ibu hamil K-1 tahun 2011 sebesar 98.BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN A. (5) Pemberian tablet besi 90 selama kehamilan. Cakupan tertinggi (101. (2) Ukur tekanan darah. (6) Temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling).81 %) di Kabupaten Pekalongan dan terendah (83. satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga umur kehamilan. (7) Test laboratorium sederhana (Hb. Kota Magelang.04%) tetapi masih dibawah target SPM 2015 (95%). Cakupan pelayanan antenatal dapat dipantau melalui pelayanan kunjungan baru ibu hamil (K1) untuk melihat akses dan pelayanan kesehatan ibu hamil sesuai standar paling sedikit empat kali (K4) dengan distribusi pemberian pelayanan yang dianjurkan adalah minimal satu kali pada triwulan pertama. TBC) Cakupan pelayanan lengkap ibu hamil (K4) di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 93. Kabupaten Jepara. Ada 11 kabupaten/kota yang cakupannya sudah mencapai 100% yaitu Kabupaten Banyumas. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K-4 Kunjungan ibu hamil sesuai standar adalah pelayanan yang mencakup minimal: (1) Timbang badan dan ukur tinggi badan. (3) Skrining status imunisasi tetanus dan pemberian Tetanus Toxoid. Cakupan terendah Kabupaten Rembang 92. Kabupaten Sukoharjo. Malaria. protein urin) dan atau berdasarkan indikasi (HbsAG. Sifilis. pertolongan persalinan dan pelayanan kesehatan nifas. Kabupaten Pemalang. Kota Surakarta dan Kota Semarang. Kabupaten Brebes. HIV. b.72%. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K-1 Pelayanan kesehatan ibu meliputi pelayanan kesehatan antenatal. (4) Tinggi fundus uteri. Kabupaten Demak.36%) di Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 46 . Pelayanan Kesehatan 1. Pelayanan Kesehatan Ibu a.

79% mengalami Provinsi Jawa bila peningkatan dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (93.62%).71 95 Gambar 4.79 90 Gambar 4. K4 Target 2007 86.2 Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 47 .39 95 2010 92. 100 95 90 85 80 Cak. Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan adalah ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan. Linakes Target 2007 86.92 95 2008 90.98 90 2009 93.86% yang telah melampaui target cakupan K4.14 95 2009 93. Dari 35 kabupaten/kota tersebut baru 42.04 95 2011 93.1 Cakupan Pelayanan Antenatal K4 Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007-2011 c.6 90 2008 90. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Tengah tahun 2011 sebesar 96.62 90 2011 96. Data cakupan mulai tahun 2007 sampai dengan 2011 secara keseluruhan di Provinsi Jawa Tengah adalah sebagai berikut : 100 95 90 85 80 Cak.03 90 2010 93. Kabupaten/Kota yang sudah melampaui target SPM 2015 sebanyak 35 ( 100%).Kabupaten Klaten.

Komplikasi dalam kehamilan diantaranya (a) Abortus. d.24%) dan sudah melampaui target SPM tahun 2015 (90%). dini. keluar cairan berbau dari jalan lahir. Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani Komplikasi kebidanan merupakan kesakitan pada ibu hamil. (e) Kehamilan lewat waktu. (b) Hiperemesis (d) Hipertensi dalam kehamilan (f) ketuban pecah Gravidarum. Cakupan yang telah mencapai 100% meliputi Kabupaten Banyumas. demam lebih dari 2 (dua) hari. Kabupaten Klaten. Cakupan pelayanan pada ibu nifas tahun 2011 yaitu 93. payudara bengkak kemerahan disertai rasa sakit dan lain-lain. sehingga perlu mendapatkan pelayanan kesehatan masa nifas dengan dikunjungi oleh tenaga kesehatan minimal 3 (tiga) kali sejak persalinan. Kabupaten yang terendah capaiannya adalah Kota Semarang (64.43%).05%) Dengan semakin naiknya angka cakupan pertolongan persalinan menunjukkan adanya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan.Cakupan tertinggi adalah di Kabupaten Pekalongan dan Kota surakarta (100%) dan terendah adalah Kabupaten Banyumas (86. Dari 35 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah masih belum mencapai target SPM ada 4 Kabupaten/Kota (11. ibu bersalin dan ibu nifas yang dapat mengancam jiwa ibu dan/atau bayi. eklampsia). adanya perencanaan persalinan yang baik dari ibu. suami maupun dukungan keluarga. Kunjungan terhadap ibu nifas yang dilakukan petugas kesehatan biasanya bersamaan dengan kunjungan neonatus. e. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 (preeklampsia.68%). 48 .97% naik bila dibandingkan tahun 2010 (93. (c) Perdarahan per vaginam. Kabupaten Pekalongan dan Kota Magelang. Cakupan Pelayanan Nifas Paska persalinan (masa nifas) berpeluang untuk terjadinya kematian ibu maternal. Pelayanan Ibu Nifas meliputi pemberian Vitamin A dosis tinggi ibu nifas yang kedua dan pemeriksaan kesehatan paska persalinan untuk mengetahui apakan terjadi perdarahan paska persalinan.

Pelayanan Kesehatan Anak a. Puskesmas PONED. RSIA/RSB. Cakupan kunjungan neonatus 1 (KN-1) di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 98. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani tahun 2011 sebesar 75. Pada Permenkes 741/ Th. eklampsia) (d) Perdarahan pasca persalinan. Dari 35 kabupaten/kota. (c) Perdarahan nifas. Perlu diketahui bahwa tahun-tahun sebelumnya yang dihitung hanya cakupan komplikasi pada ibu hamil yang ditangani.440 (20% dari jumlah ibu hamil). Rumah Bersalin. tetapi diharapkan target tersebut bisa tercapai sebelum tahun 2015. Cakupan Kunjungan Neonatus Kunjungan Neonatus (KN) adalah kunjungan yang dilakukan oleh petugas kesehatan ke rumah ibu bersalin. 2. KN dibagi menjadi 3. (e) Infeksi berat/sepsis. yaitu: KN 1 adalah kunjungan pada 0-2 hari . dan cakupan kunjungan neonatus 3 (KN-lengkap) sebesar 95. RSU.Komplikasi dalam persalinan diantaranya (a) Kelainan letak/presentasi janin. eklampsia). (c) Hipertensi dalam kehamilan (preeklampsia. untuk memantau dan memberi pelayanan kesehatan untuk ibu dan bayinya. ibu bersalin dan ibu nifas dengan komplikasi yang ditangani adalah ibu hamil. Pencapaian cakupan tahun ini masih dibawah target SPM tahun 2015 (80%). namun masih ada Kabupaten/Kota yang cakupannya kurang dari 90 % yaitu Kabupaten Wonogiri (87. Puskesmas.19%. (g) Kehamilan ganda. (b) Infeksi nifas.KN 2 adalah kunjungan 2-7 hari dan KN 3 adalah kunjungan setelah 7-28 hari.56%) dan Kota Semarang (89.28%.01%. Jumlah komplikasi kebidanan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 126.84%). Komplikasi dalam nifas diantaranya (a) Hipertensi dalam kehamilan (preeklampsia. cakupan KN-3 rata-rata sudah lebih dari 90%. (f) Kontraksi dini/persalinan premature. (b) Partus macet/distosia. RSU PONEK). bersalin dan nifas dengan komplikasi yang mendapatkan pelayanan sesuai standar pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan (Polindes. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 49 . 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan (SPM-BK). Ibu hamil.

33 2008 94.3 Cakupan Kunjungan Neonatus Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Secara keseluruhan cakupan kunjungan neonatus di tingkat Provinsi Jawa Tengah sudah memenuhi target yaitu lebih dari 90%. Setelah umur 28 hari. Setiap bayi berhak mendapatkan pelayanan kesehatan dengan memantau pertumbuhan dan perkembangannya Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 50 .Untuk meningkatkan Kunjungan Neonatus di Kabupaten/Kota. Selain itu juga adanya upaya peningkatan pelayanan kesehatan dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah dengan menggunakan buku KIA serta meningkatnya pengetahuan ibu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik untuk bayinya.19 Gambar 4. di luar kunjungan neonatus. Cakupan Kunjungan Bayi Kunjungan bayi adalah bayi yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan. b.86 2011 95. paling sedikit 4 kali.37 2010 94. Hal ini disebabkan adanya upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat melalui penambahan dan penempatan bidan di desa. Adapun cakupan kunjungan neonatus di Jawa Tengah pada tahun 2007-2011 dapat digambarkan sebagai berikut: 100 98 96 94 92 90 KN 2007 94.66 2009 99. pemerintah telah mengupayakan alokasi dana diantaranya melalui dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) disamping pendanaan lainnya baik dari Provinsi maupun Kabupaten/Kota. Selain itu perlu dilakukan analisis apakah jumlah tenaga kesehatan yang ada telah mencukupi kebutuhan pelayanan kesehatan tersebut serta tenaga kesehatan yang bertugas apakah telah melakukan pelayanan kesehatan secara optimal.

hipotermia.77%. trauma lahir. infeksi/sepsis. sindroma gangguan pernafasan dan kelainan congenital maupun yang termasuk klasifikasi kuning pada Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).64%.04 2009 95. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 51 .07 2010 93.4 Cakupan Kunjungan Bayi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 c.secara teratur setiap bulan di sarana pelayanan kesehatan.2011 dapat digambarkan sebagai berikut: 97 96 95 94 93 92 91 90 Kunjungan Bayi 2007 92.73%). Wonogiri 73.22% dan Kabupaten Pekalongan 70. Cakupan kunjungan bayi tingkat Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 92. Adapun grafik cakupan bayi 2007 . Cakupan Neonatus dengan Komplikasi yang Ditangani Neonatus dengan komplikasi merupakan neonatus dengan penyakit dan kelainan yang dapat menyebabkan kesakitan. Neonatus dengan komplikasi seperti asfiksia. dokter dan bidan di sarana pelayanan kesehatan. kecacatan dan kematian. tetanus neonatorum.73 2011 92. ikterus.64 Gambar 4.19%. Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara profesional kepada neonatus dengan komplikasi. BBLR (berat badan lahir rendah < 2500 gr). Cakupan kunjungan bayi Kabupaten/Kota di Jawa Tengah pada tahun 2011 yang masih dibawah 80% yaitu Kabupaten Boyolali 44. menurun apabila dibandingkan tahun 2010 (93. Perhitungan sasaran neonatus dengan komplikasi dihitung berdasarkan 15% dari jumlah bayi baru lahir.76 2008 96. Neonatus dengan komplikasi yang ditangani merupakan neonatus komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih.

Cakupan Pelayanan Anak Balita Balita adalah anak berumur dibawah 5 tahun atau umur 12-59 bulan. Masih rendahnya neonatus risiko tinggi yang mendapatkan pelayanan kesehatan diantaranya disebabkan belum adanya keseragaman definisi operasional mengenai neonatal yang termasuk dalam risiko tinggi. pemeriksaan ketajaman mata.785. karena balita adalah generasi penerus bangsa yang harus sehat. cerdas dan kuat. Pelaksanaan penjaringan kesehatan dikoordinir oleh puskesmas bersama dengan guru Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 52 . yang mendapatkan pelayanan kesehatan sebanyak 1. ketajaman pendengaran. Cakupan Neonatus Risiko Tinggi/komplikasi yang ditangani tersebut masih jauh dari target cakupan sebesar 80%.204. Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat Penjaringan kesehatan siswa Sekolah Dasar (SD) dan setingkat adalah pemeriksaan kesehatan terhadap murid baru kelas 1 SD dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang meliputi pengukuran tinggi badan. kesehatan gigi. e. Sedangkan cakupan terendah adalah Kabupaten Boyolali 34. Jumlah balita di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 2.569 bayi (53.187. kelainan mental emosional dan kebugaran jasmani.03%. d.864 (81. Disamping target neonatus komplikasi yang ditangani untuk neonatal resiko tinggi seharusnya 15 % dari jumlah sasaran bayi pertahun.336 bayi.25%). sehingga belum semua neonatus dengan risiko tinggi/komplikasi dicatat dan dilaporkan.02). Jumlah perkiraan tersebut yang mendapat penanganan tenaga kesehatan di tiap jenjang pelayanan kesehatan sebesar 47. Tidak hanya bayi yang harus mendapatkan perhatian kesehatannya tetapi balita juga perlu mendapatkan perhatian baik gizi maupun kesehatannya. Kabupaten yang cakupannya sudah mencapai 100% adalah Kabupaten Magelang dan Kabupaten Brebes. berat badan. namun belum semua kabupaten/kota mempunyai persepsi / pemahaman yang sama.Tahun 2011 perkiraan bayi dengan komplikasi yang dihitung dari banyaknya sasaran bayi jumlahnya sebesar 89.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 53 . Kabupaten Sragen.831 (42. Setiap puskesmas mempunyai tugas melakukan penjaringan kesehatan siswa SD/MI di wilayah kerjanya dan dilakukan satu kali pada setiap awal tahun ajaran baru sekolah.84%).55%) dan tertinggi (100%) dicapai oleh 7 kabupaten yaitu Kabupaten Sukoharjo. Kabupaten Temanggung.77 2009 43.5 Cakupan Pemeriksaan Kesehatan Siswa SD/MI Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga kesehatan / guru UKS / kader kesehatan sekolah tahun 2011 sebesar 78.074. Angka cakupan terendah di Kabupaten Boyolali (15.853 anak. Cakupan Pelayanan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat Jumlah siswa SD dan setingkat tahun 2011 sebanyak 2. Kabupaten Demak. f. 100 80 60 40 20 0 Cakupan 2007 51. Kabupaten Purbalingga dan Kota Surakarta.59 2008 43.sekolah dan kader kesehatan/konselor kesehatan.72%.70%) dan tertinggi (100%) dicapai oleh 4 kabupaten yaitu Kabupaten Sukoharjo. meningkat dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (52.02 Gambar 4. sehingga anak yang sakit menjadi sembuh dan anak yang sehat tidak tertular menjadi sakit. Siswa SD dan setingkat ditargetkan 100 % mendapatkan pemantauan kesehatan melalui penjaringan kesehatan.61 2011 81. Yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai strata UKS sebesar 1. Kabupaten Jepara dan Kabupaten Demak. Kabupaten Pati. Melalui penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat diharapkan dapat menapis atau menjaring anak yang sakit dan melakukan tindakan intervensi secara dini.555. Kabupaten Kebumen.8 2010 52.61%). Angka cakupan terendah di Kabupaten Rembang (1.

84 2011 99. KVA dalam tubuh dapat menimbulkan berbagai jenis penyakit yang merupakan “Nutrition Related Diseases” yang dapat mengenai berbagai macam anatomi dan fungsi dari organ tubuh seperti menurunkan sistem kekebalan tubuh dan menurunkan epitelisme sel-sel kulit.3. cakupan pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi pada bayi sebesar 99.52 2009 98. Cakupan Pemberian Vitamin A pada Anak Balita Salah satu program penanggulangan KVA yang telah dijalankan adalah dengan suplementasi kapsul Vitamin A dosis tinggi 2 kali pertahun Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 54 .46%). Berdasarkan data yang yang diperoleh dari profil kesehatan kabupaten/kota.08%. A pada Bayi dan Balita Tahun 2007 – 2011 b. Cakupan tersebut sudah melampaui target SPM sebesar 95%. lebih banyak dibandingkan tahun 2010 sebesar 96.74 2008 98.6 Cakupan Suplementasi Kapsul Vit.84%. Cakupan Pemberian Vitamin A pada Bayi Kurang Vitamin A (KVA) masih merupakan masalah yang tersebar diseluruh dunia terutama di negara berkembang dan dapat terjadi pada semua umur terutama pada masa pertumbuhan. Sebagian besar kabupaten/kota telah melampaui target. Salah satu dampak kurang Vitamin A adalah kelainan pada mata yang umumnya terjadi pada anak usia 6 bulan – 4 tahun yang menjadi penyebab utama kebutaan di negara berkembang. Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada bayi selama 5 tahun terakhir (2007-2011) dapat dilihat dalam gambar berikut ini : 100 99 98 97 96 95 94 93 92 Cakupan 2007 94. hanya ada 1 kabupaten yang masih di bawah target yaitu Kabupaten Pemalang (82.11 2010 96.08 Gambar 4. Pelayanan Gizi a.

Kabupaten Kendal. Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada balita selama 5 tahun terakhir (2007-2011) dapat dilihat dalam gambar berikut ini : 100 95 90 85 80 75 70 Cakupan 2007 82.45 Gambar 4.000 SI yang diberikan pada anak umur 12-59 bulan dan diberikan pada bulan Pebruari dan Agustus setiap tahunnya. Kabupaten Purworejo. mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010 (96.00%). Kota Magelang dan Kota Semarang.14 2009 82. Balita yang dimaksud dalam program distribusi kapsul Vitamin A adalah anak umur 12 – 59 bulan yang mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi.pada Balita dan ibu nifas untuk mempertahankan bebas buta karena KVA dan mencegah berkembangnya kembali masalah Xerofthalmia dengan segala manifestasinya (gangguan penglihatan. Sedangkan yang masih di bawah target yaitu Kabupaten Jepara (88.76 2011 98. Kabupaten Boyolali. Disamping itu pemantapan program distribusi kapsul Vitamin A dosis tinggi juga dapat mendorong tumbuh kembang anak serta meningkatkan daya tahan anak terhadap penyakit infeksi.62%) dan Kabupaten Pemalang (91.6 2008 95. sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian pada bayi dan anak. Cakupan ini sudah melampaui target SPM (95%). Kapsul Vitamin A dosis tinggi terdiri dari kapsul vitamin A berwarna merah dengan dosis 200.7 Cakupan Suplementasi Kapsul Vit.44 2010 96. A pada Balita di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 55 .45%. buta senja dan bahkan kebutaan sampai kematian). Cakupan tertinggi (>100%) sudah dapat dicapai oleh 8 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Banyumas. Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada Balita tahun 2011 sebesar 98. Kabupaten Sragen. Kabupaten Magelang.76%).

43 Gambar 4.43%.94 2009 87.78 2011 96. A di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Beberapa hal yang mempengaruhi fluktuasi angka cakupan pemberian vitamin A pada bayi. rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan lainnya. dan bufas diantaranya: 1) Advokasi. Cakupan Pemberian Vitamin A pada Ibu Nifas Ibu nifas adalah ibu yang baru melahirkan bayi baik di rumah dan atau rumah bersalin dengan pertolongan dukun bayi dan atau tenaga kesehatan. Cakupan ibu nifas mendapat kapsul vitamin A tahun 2011 sebesar 96. pendekatan.36%.31 2010 92. Cakupan ibu nifas mendapat kapsul vitamin A adalah cakupan ibu nifas yang mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi (200.78%).000 SI) pada periode sebelum 40 hari setelah melahirkan. 3) Sosialisasi pemberian kapsul Vitamin A terhadap petugas kesehatan di Puskesmas. Kota Magelang dan Kota Surakarta. Cakupan tertinggi (>100%) dicapai oleh Kabupaten Magelang. Kabupaten Klaten. balita. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 56 . dan lain-lain bentuk yang disertai dengan penyebarluasan informasi.73 2008 92. 2) Forum komunikasi. Kabupaten Pekalongan. Suplementasi vitamin A pada ibu nifas merupakan salah satu program penanggulangan kekurangan vitamin A. 100 95 90 85 80 75 Cakupan 2007 82.c.8 Cakupan Ibu Nifas mendapat Kapsul Vit. Sementara cakupan terendah di Kabupaten Temanggung sebesar 84. meningkat dibandingkan tahun 2010 (92. yang bermanfaat sebagai wahana yang mendukung terlaksananya kegiatan KIE di berbagai sektor terkait.

Penanggulangan anemi pada ibu hamil dilaksanakan dengan memberikan 90 tablet Fe kepada ibu hamil selama periode kehamilannya. Hal ini dapat dilihat dari tingginya prevalensi pemberian tablet Fe pada ibu hamil.62 2010 95. ibu hamill.43 89.9 Persentase Pemberian Tablet Fe Pada Ibu Hamil Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Dari grafik di atas dapat diihat bahwa cakupan Fe 1 dan cakupan Fe 3 sudah cukup baik dan memadai.91 2008 93. remaja putri.94 87.92 90. Imunisasi.25 2011 95.06 2009 92. Cakupan tertinggi dicapai Kabupaten Pekalongan 101. d.4) Kegiatan konseling/konsultasi gizi dilakukan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas dan rumah sakit pada sasaran ibu anak. 6) Lintas program/ lintas sektor terkait (Promosi Kesehatan.12%.98 85. dll) 7) Adanya sweeping dari kader kesehatan dengan sasaran ibu anak yang belum mendapatkan kapsul Vitamin A pada bulan kapsul. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 57 .39% lebih rendah bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (90. dan belum mencapai target SPM 2010 (90%). ibu nifas.25%).39 Gambar 4. Persentase Ibu Hamil yang Mendapatkan Tablet Fe Program penanggulangan anemia yang dilakukan adalah memberikan tablet tambah darah yaitu preparat Fe yang bertujuan untuk menurunkan angka anemia pada balita.53% dan terendah Kabupaten Kendal 53. dan WUS (Wanita Usia Subur).59 85. Cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 89. 5) Tersedianya sarana pelayanan kesehatan yang terjangkau. 100 95 90 85 80 Fe 1 Fe 3 2007 92.

ASI eksklusif adalah Air Susu Ibu yang diberikan kepada bayi sampai bayi berusia 6 bulan tanpa diberikan makanan dan minuman. ternyata menurut laporan mutakhir UNICEF (Fact About Breast Feeding) merupakan kekeliruan yang fatal. diabetes dll. jantung. Persentase Bayi yang Mendapatkan ASI Eksklusif Air Susu Ibu (ASI) merupakan satu-satunya makanan yang sempurna dan terbaik bagi bayi karena mengandung unsur-unsur gizi yang dibutuhkan oleh bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi guna mencapai pertumbuhan dan perkembangan bayi yang optimal. kecuali obat dan vitamin. ASI adalah hadiah yang sangat berharga yang dapat diberikan kepada bayi. Kebijakan Nasional untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 (enam) bulan telah ditetapkan dalam SK Menteri Kesehatan No. kanker.18%). Berdasarkan data yang diperoleh dari profil kesehatan kabupaten/kota tahun 2011 menunjukkan cakupan pemberian ASI eksklusif hanya sekitar 45. karena meskipun insiden diare rendah pada bayi yang diberi susu formula. obesitas. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 58 . Pemberian ASI eksklusif bukan hanya isu nasional namun juga merupakan isu global. meningkat dibandingkan tahun 2010 (37. 450/Menkes/SK/IV/2004.18%. Oleh sebab itu pemberian ASI perlu diberikan secara eksklusif sampai umur 6 (enam) bulan dan tetap mempertahankan pemberian ASI dilanjutkan bersama makanan pendamping sampai usia 2 (dua) tahun. Bayi yang mendapat ASI eksklusif adalah bayi yang hanya mendapat ASI saja sejak lahir sampai usia 6 bulan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. dalam keadaan sakit mungkin merupakan hadiah yang menyelamatkan jiwanya (UNICEF). Pernyataan bahwa dengan pemberian susu formula kepada bayi dapat menjamin bayi tumbuh sehat dan kuat. namun pada masa pertumbuhan berikutnya bayi yang tidak diberi ASI ternyata memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk menderita hipertensi.e. dalam keadaan miskin mungkin merupakan hadiah satusatunya.

Faktor sosial budaya. Upaya-upaya yang telah dilaksanakan dalam rangka meningkatkan cakupan pemberian ASI eksklusif tetap berpedoman pada Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui yaitu: 1) Sarana Pelayanan Air Kesehatan Ibu mempunyai kebijakan yang Peningkatan secara rutin Pemberian Susu (PP-ASI) tertulis dikomunikasikan kepada semua petugas. 5).41%. 4). Rendahnya pengetahuan ibu dan keluarga lainnya mengenai manfaat ASI dan cara menyusui yang benar. Kondisi yang kurang memadai bagi para ibu yang bekerja.36 Gambar 4.55%. Hanya 6 kabupaten/kota saja yang telah mencapai pemberian ASI eksklusif di atas 60% yaitu Kabupaten Purworejo.21 2010 37.10 Cakupan Pemberian ASI Eksklusif Tahun 2007 – 2011 Beberapa hal yang menghambat pemberian ASI eksklusif diantaranya adalah: 1). Kabupaten Pati dan Kabupaten Temanggung.18 2011 45.Cakupan tertinggi adalah Kabupaten Klaten 77.96 2009 40. 3). 50 40 30 20 10 0 Cakupan 2007 27. 2). Kurangnya pelayanan konseling laktasi dan dukungan dari petugas kesehatan. Kabupaten Banyumas. Kabupaten Blora. Gencarnya pemasaran susu formula. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 59 . Kabupaten Klaten. Sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Rembang 6.35 2008 28.

6) Tidak memberikan makanan atau minuman apapun selain ASI kepada bayi baru lahir.40%. 5) Membantu ibu bagaimana cara menyusui yang benar dan cara mempertahankan menyusui meski ibu dipisah dari bayi atas indikasi medis. Kabupaten Temanggung. 8) Membantu ibu menyusui semau bayi semau ibu. f.2) Melakukan pelatihan bagi petugas dalam hal pengetahuan dan ketrampilan untuk menerapkan kebijakan tersebut. Kabupaten Demak.831 (38. yang mendapatkan makanan tambahan ASI (MP-ASI) sebanyak 55. 3) Menjelaskan kepada semua ibu hamil tentang manfaat menyusui dan penatalaksanaannya dimulai sejak masa kehamilan. Anak usia 6-24 bulan dari keluarga miskin diberikan makanan pendamping ASI baik makanan lokal maupun pabrikan. 4) Membantu ibu mulai menyusui bayinya dalam 30 menit setelah melahirkan yang dilakukan di ruang bersalin (inisiasi dini). Jumlah anak usia 623 bulan dari keluarga miskin dari 21 kabupaten/kota sebanyak 145.724 anak. Kabupaten Boyolali. Kabupaten Blora. Kota Salatiga dan Kota Pekalongan. masa bayi lahir sampai umur 2 tahun termasuk cara mengatasi kesulitan menyusui. tanpa pembatasan terhadap lama dan frekuensi menyusui. Cakupan Pemberian Makanan Pendamping ASI pada Anak Usia 624 bulan Keluarga Miskin. Apabila ibu mendapat operasi caesar. Kabupaten yang cakupannya sudah mencapai 100% adalah Kabupaten Wonosobo. 9) Tidak memberikan dot atau kempeng kepada bayi yang diberi ASI. bayi disusui setelah 30 menit ibu sadar. 7) Melaksanakan rawat gabung dengan mengupayakan ibu bersama bayi 24 jam sehari.31%). rumah bersalin atau sarana pelayanan kesehatan. 10) Mengupayakan terbentuknya Kelompok Pendukung ASI (KP-ASI) dan rujuk ibu kepada kelompok tersebut ketika pulang dari rumah sakit. Kabupaten Rembang. Cakupan terendah adalah Kabupaten Brebes 0. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 60 .

11 Cakupan Balita Yang Ditimbang Tahun 2007 – 2011 Kabupaten/kota yang belum dapat mencapai target partisipasi masyarakat sebesar 80% sebanyak 15 kabupaten/kota.89 2010 89. Banyak hal dapat mampengaruhi penimbangan di tingkat pencapaian antara partisipasi lain tingkat masyarakat pendidikan. Jumlah Balita Ditimbang Salah satu upaya untuk meningkatkan keadaan gizi masyarakat adalah melalui Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) yang sebagian kegiatannya dilaksanakan di Posyandu.49%).49 2011 78. faktor ekonomi dan sosial budaya. Semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam penimbangan di posyandu maka semakin baik pula data yang dapat menggambarkan status gizi balita.43%.35% dan terendah Kabupaten Pemalang 61.32% menurun dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (89.63 2008 76. Dari data yang ada menggambarkan bahwa pedesaan dan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 61 . Imunisasi. Penimbangan terhadap bayi dan balita yang dilakukan di posyandu merupakan upaya masyarakat memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita yang dintegrasikan dengan pelayanan kesehatan dasar lain (KIA. Partisipasi masyarakat dalam penimbangan di posyandu tahun 2011 sebesar 78. dalam tingkat posyandu pengetahuan masyarakat tentang kesehatan dan gizi.g. 100 80 60 40 20 0 Balita ditimbang 2007 71. Cakupan tertinggi adalah di Kabupaten Sragen 88.47 2009 75. Pemberantasan Penyakit).32 Gambar 4. Partisipasi masyarakat dalam penimbangan di posyandu tersebut digambarkan dalam perbandingan jumlah balita yang ditimbang (D) dengan jumlah balita seluruhnya (S).

h. maka dilakukan konfirmasi status gizi dengan menggunakan indikator berat badan menurut tinggi badan. Jika ternyata terdapat penyakit penyerta yang berat dan tidak dapat ditangani di Puskesmas maka segera dirujuk ke rumah sakit. maka segera dilakukan perawatan gizi buruk sesuai pedoman di Posyandu dan Puskesmas.12 Jumlah Balita dengan Gizi Buruk Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 62 . 20000 15000 10000 5000 0 Jml Balita Gibur 2007 18106 2008 5528 2009 5249 2010 3514 2011 3187 Gambar 4. Skrining pertama dilakukan di posyandu dengan membandingkan berat badan dengan umur melalui kegiatan penimbangan. dilanjutkan dengan penentuan status gizi oleh bidan di desa atau petugas kesehatan lainnya. Jika ternyata balita tersebut merupakan kasus buruk. jika ditemukan balita yang berada di bawah garis merah (BGM) atau dua kali tidak naik (2T). Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan Kejadian gizi buruk perlu dideteksi secara dini melalui intensifikasi pemantauan tumbuh kembang Balita di Posyandu. sehingga penanggulangan gizi buruk memberikan hasil yang optimal. Pendataan gizi buruk di Jawa Tengah didasarkan pada 2 kategori yaitu dengan indikator membandingkan berat badan dengan umur (BB/U) dan kategori kedua adalah membandingkan berat badan dengan tinggi badan (BB/TB). Penemuan kasus gizi buruk harus segera ditindak lanjuti dengan rencana tindak yang jelas.perkotaan tidak memperlihatkan perbedaan yang menyolok dalam partisipasi masyarakat tetapi yang sangat berpengaruh adalah faktor ekonomi dan sosial budaya.

81 2010 80.68%.93 2009 48. Tetapi persentase Balita Gizi Buruk mendapatkan perawatan tahun 2011 sebesar 100% jauh lebih meningkat dibandingkan tahun 2010 (93. 100 80 60 40 20 0 % Desa dg garam beryodium 2007 58.42 Gambar 4. i. Peserta Keluarga Berencana Baru Peserta Keluarga Berencana (KB) baru adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang baru pertama kali menggunakan salah satu cara/alat dan/atau PUS yang menggunakan kembali salah satu cara/alat kontrasepsi setelah mereka berakhir masa kehamilannya.28%).514). dimana pada tahun 2011 sebanyak 53.15 2011 53. Kota Magelang. menggambarkan identitas mutu garam beryodium yang dikonsumsi penduduk di suatu desa/kelurahan.42% menurun dibandingkan tahun 2010 (80. yang cakupannya mencapai 100% adalah Kabupaten Tegal.83 2008 55.187 menurun apabila dibandingkan tahun 2010 (3.Balita Gizi Buruk tahun 2011 berjumlah 3. 4. Kota Salatiga dan Kota Semarang. Kota Surakarta. Desa dengan Garam Beryodium yang Baik Persentase desa/kelurahan dengan garam beryodium yang baik.13 Persentase Desa/Kelurahan dengan Garam Beryodium Baik Tahun 2007 – 2011 Berdasarkan laporan yang masuk dari 33 kabupaten/kota.15%). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 63 . Pelayanan Keluarga Berencana a. Sedangkan kabupaten dengan konsumsi garam beryodium terendah adalah Kabupaten Demak 9.

Sedangkan tahun 2010: IUD (5.2%).8%).9% MOP 0.24%).4%).0%) dan Implant (12. PIL (19.20%).9%).14 Persentase Pemakaian Kontrasepsi Peserta KB Baru Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Sebagian besar peserta KB baru mempergunakan kontrasepsi non MKJP yang membutuhkan pembinaan secara rutin dan berkelanjutan untuk menjaga kelangsungan pemakaian kontrasepsi. Peserta KB baru pada tahun 2011 (13. Peserta KB baru tersebut menggunakan kontrasepsi sebagai berikut: 1) MKJP: Tahun 2011 IUD (6. MOP (0.2%).4% MOW 2. MOP/MOW (2.2%. MOW (2. Proporsi pemakai kontrasepsi suntikan cukup besar yaitu 54. sedangkan tahun 2010 : Suntik (58.13%). Partisipasi pria (bapak) untuk menjadi peserta KB aktif dengan mempergunakan kontrasepsi MOP (hanya 0.4%) dan Kondom (5.0% Implant 12.23%) dan Implant (8.7%).4%) dan kondom (hanya 5. karena terbatasnya pilihan kontrasepsi yang disediakan bagi pria. sebagai akibat tersedianya jaringan pelayanan sampai di tingkat desa/kelurahan sehingga dekat dengan tempat tinggal peserta KB.2% Gambar 4.243).8%).99%). 2) NON MKJP: Tahun 2011 Suntik (54. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 64 .97%).549.8% IUD 6. PIL (18. Kondom 5.125 lebih sedikit dibanding tahun 2010 (6. sehingga ibu (istri) yang menjadi sasaran.2% PIL 18.4% Suntik 54.561.Jumlah PUS Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 6. hal tersebut dapat difahami karena akses untuk memperoleh pelayanan suntikan relatif lebih mudah.46%) dan Kondom (5. menurun apabila dibandingkan dengan tahun 2010 (15. dan sebagian pria masih beranggapan bahwa KB merupakan urusan ibu (istri).

Kabupaten Brebes.5%) dan terendah di Kabupaten Tegal (44. Polio 4 dan Campak dengan cakupan minimal 80% dari Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 65 . Cakupan peserta KB aktif menunjukkan tingkat pemanfaatan kontrasepsi di antara PUS. mengalami penurunan dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (78. Cakupan peserta KB aktif adalah perbandingan antara jumlah peserta KB aktif dengan PUS di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.37 80 2010 78. Kota Magelang. dan Kota Surakarta. Pelayanan Imunisasi a. Kabupaten Rembang.8%.2%). Kabupaten Pekalongan.8 80 Gambar 4.09 80 2009 78.79 80 2008 78. Angka ini sudah mencapai target (70%). Persentase Desa yang Mencapai “Universal Child Immunization” (UCI) Strategi operasional pencapaian cakupan tinggi dan merata berupa pencapaian Universal Child Immunization (UCI) yang berdasarkan indikator cakupan DPT-HB 3. 81 80 79 78 77 76 75 74 Cakupan Target 2007 77. Kabupaten Blora.15 Cakupan Peserta KB Aktif Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 5.b. Kabupaten Jepara.57%). Peserta KB Aktif Peserta KB aktif adalah akseptor yang pada saat ini memakai kontrasepsi untuk menjarangkan kehamilan atau mengakhiri kesuburan. Cakupan peserta KB aktif Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 76. Cakupan tertinggi di Kota Magelang (89. Terdapat 13 Kabupaten/kota yang telah melampaui target yaitu Kabupaten Wonogiri. Kabupaten Pati. Kabupaten Pemalang. Kabupaten Temanggung. Kabupaten Semarang. Kabupaten Kudus.57 80 2011 76.

4 Gambar 4. Kota Magelang.4%) mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2010 (94. Kabupaten Demak.06%).83 2009 91.64 2008 86. Pencapaian UCI desa tahun 2011 (96. Kabupaten Sragen. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tidak tercapainya pencapaian UCI desa di beberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah.95 2010 94.1%). kabupaten Kudus. pada umumnya disebabkan karena penghitungan sasaran (denominator) yang melebihi dengan kondisi riil jumlah sasaran di lapangan. Kabupaten Pekalongan. Sedangkan kabupaten yang pencapaian UCI desa terendah di Kabupaten Batang (66. Hasil pencapaian UCI desa tahun 2010 yang mencapai target (100%) sebanyak 18 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Banyumas.jumlah sasaran bayi di desa. Kabupaten Kebumen. hal ini dikarenakan penentuan jumlah sasaran masih berdasarkan angka estimasi jumlah penduduk. kabupaten Pemalang. Kabupaten Grobogan. Kabupaten Tegal. Kota Pekalongan dan Kota Tegal. bukan dari hasil pendataan. Kota Salatiga. Kabupaten Semarang.58 2011 96. Kota Semarang. Kabupaten Magelang. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 66 . Kota Surakarta.16 Cakupan Desa/Kelurahan UCI Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Kabupaten/kota yang belum mencapai target imunisasi dasar lengkap pada bayi disebabkan antara lain : 1) Adanya perbedaan jumlah dibandingkan dengan sasaran yang ada. Kabupaten Temanggung. 99 94 89 84 79 74 UCI 2007 83.

2) Belum semua Puskesmas membuat Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) imunisasi secara rutin (bulanan. Cakupan Imunisasi bayi Upaya untuk menurunkan angka kesakitan. program imunisasi juga melaksanakan program imunisasi tambahan/suplemen yaitu Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) DT. BIAS Campak yang diberikan pada semua usia kelas I SD/MI/SDLB/SLB. Sedangkan cakupan masing-masing jenis imunisasi tahun 2011 adalah Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 67 . pada umumnya disebabkan keterbatasan sumber daya atau tenaga banyak yang merangkap dengan tugas lain. tribulanan) dikarenakan banyak petugas imunisasi yang merangkap dengan tugas lain. DPT-HB. 4) Masih ada sebagian kecil orang tua yang menolak anaknya untuk diimunisasi dikarenakan keyakinan/kepercayaan agama. karena imunisasi campak merupakan imunisasi yang terakhir yang diberikan pada bayi umur 9 (sembilan) bulan dengan harapan imunisasi sebelumnya sudah diberikan dengan lengkap (BCG. Tetanus. Hepatitis B. kecacatan. Selain pemberian imunisasi rutin. Polio 4 kali. Pertusis. Difteri. Polio. DPT-HB 3 kali. b. dan HB). dan lain-lain. Backlog Fighting (melengkapi status imunisasi). HB Uniject 1 kali dan campak 1 kali. Bayi seharusnya mendapat imunisasi dasar lengkap yang terdiri dari BCG 1 kali. dan Campak. 3) Belum dilakukan pelaksanaan sweeping atau kunjungan rumah untuk melengkapi status imunisasi pada daerah-daerah yang cakupan imunisasinya masih rendah. sedangkan BIAS TT diberikan pada semua anak usia kelas II dan III SD/MI/SDLB/SLB. Polio.712 meningkat disbanding tahun 2010 sebanyak 579. Cakupan imunisasi dasar lengkap bayi di Jawa Tengah dari semua antigen sudah mencapai target minimal nasional (85%). Sebagai indikator kelengkapan status imunisasi dasar lengkap bagi bayi dapat dilihat dari hasil cakupan imunisasi campak.494. Jumlah sasaran bayi pada tahun tahun 2011 adalah 592. pencapaian tiap tahun cenderung menurun. dan kematian bayi serta anak balita dilaksanakan program imunisasi baik program rutin maupun program tambahan/suplemen untuk penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti TBC.

maka dapat segera diketahui kekurangan cakupan dan beban yang harus dicapai setiap bulan pada periode berikutnya. DPT1+HB1 (99.04 98. Kabupaten Purworejo.24 99. Sebanyak 11 kabupaten/kota (31. Kota Semarang dan Kota Tegal.95 Campak 96. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 68 . persentase (%) 110 100 90 80 BCG 2007 2008 2009 2010 100.77 102.6%). Polio 3 (94.7%). DPT3+HB3 (95. Untuk kecenderungan cakupan setiap bulan dapat diketahui dengan indikator Drop Out (DO). Kabupaten Grobogan.42%) yang DO-nya lebih dari 5% atau (-5%) yaitu Kabupaten Banjarnegara. Polio 3 (96.67%).sebagai berikut BCG (98.35 99.4%.0%).28 99. Kabupaten Jepara. mengalami penurunan dibanding tahun 2010 (3.78 103. Dengan grafik PWS akan terlihat dan dapat dianalisis cakupan dan kecenderungan setiap bulan.18 96.95%) dan Campak (96. Kabupaten Pati.0%). Hal ini mengalami penurunan bila dibanding tahun 2010 dengan BCG (100.08%). Tahun 2011 DO tingkat Jawa Tengah sebanyak 3. Drop Out Imunisasi DPT1-Campak Dalam rangka mencapai dan mempertahankan UCI desa.89 99.14 96. DPT1+HB1 (97.84 102.0%) dan Campak (93. analisis PWS harus diikuti dengan tindak lanjut. Kabupaten Brebes. Kota Surakarta.29 Gambar 4. Kabupaten Kendal.17 Cakupan Imunisasi Bayi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 c.95 98.08 Polio 4 97.5 99.95%). DPT3+HB3 (98.67 96.29%). Sesuai kesepakatan dengan kabupaten/kota indikator DO di Jawa Tengah maksimal 5% atau (-5%).29%).69 99.29 DPT1+Hb1 DPT3+Hb3 100. Kabupaten Sragen.5 100.05 100.

Rasio Tambal Cabut Gigi Tetap Pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas meliputi kegiatan pelayanan dasar gigi dan upaya kesehatan gigi sekolah. yang mendapat TT-1 sebesar 48. 2) Penggunaan format pelaporan yang berbeda antara kabupaten/kota ke provinsi dan puskesmas ke kabupaten/kota terutama untuk TT ibu hamil dan non ibu hamil.7 dan TT-5 sebesar 17. oleh karena itu masih diperlukan penyuluhan yang terus menerus agar masyarakat memeriksakan giginya secara teratur. sehingga sistim pencernaan semakin bagus.198. TT-2 sebesar 48.274. Pelayanan Kesehatan Gigi a. Indikasi dari perhatian masyarakat adalah bila tumpatan gigi tetap semakin bertambah banyak berarti masyarakat lebih memperhatikan kesehatan gigi yang merupakan tindakan preventif.2% dan TT2+ sebanyak 114.d.08. Kegiatan pelayanan dasar gigi adalah tumpatan (penambalan) gigi tetap dan pencabutan gigi tetap.2%. Data kegiatan imunisasi TT WUS saat ini akurasinya masih sangat kurang sehingga belum dapat dinalisis. yang pada akhirnya Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 69 . WUS Mendapat Imunisasi TT Imunisasi TT WUS adalah pemberian imunisasi TT pada WUS (usia 15-39 th) sebanyak lima dosis dengan interval tertentu yang berguna bagi kekebalan seumur hidup. 6.4%. hal ini disebabkan : 1) Pencatatan dan pelaporan status imunisasi lima dosis belum berjalan dengan baik karena pelaksanaan skrining status TT belum optimal. Tahun 2011 jumlah tumpatan gigi tetap tahun 2011 sebanyak 127. Pencabutan gigi tetap adalah tindakan kuratif dan rehabilitatif yang merupakan tindakan terakhir yang harus diambil oleh seorang pasien. Melalui pemeriksaan gigi ini dapat mengontrol fungsi kunyah gigi agar tetap baik. Data tersebut menandakan bahwa motivasi masyarakat dalam mempertahankan gigi geliginya belum maksimal.8. sementara jumlah pencabutan gigi tetap sebanyak 156. TT-4 sebesar 20.5%. Jumlah ibu hamil 2011 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 632. sebelum gigi tetap betul betul rusak dan harus dicabut. TT-3 sebesar 28.

4 0.8 0. Kegiatan UKGS meliputi pemeriksaan gigi pada seluruh murid untuk mendapatkan murid Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 70 .18 Rasio Tumpatan dan Pencabutan Gigi Tetap Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .6 0. Murid SD/MI Mendapat Pemeriksaan Gigi dan Mulut Kegiatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut lainnya adalah Upaya Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yang merupakan upaya promotif dan preventif kesehatan gigi khususnya untuk anak sekolah.62 2008 0.82 Gambar 4. Hal menunjukan bahwa masih banyak masyarakat yang melakukan pencabutan gigi dibandingkan melakukan tumpatan gigi tetap. menandakan bahwa masyarakat di kabupaten yang bersangkutan masih kurang memperhatikan kesehatan gigi dan mulut dan kemungkinan frekuensi penyuluhan kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan oleh petugas kesehatan di setiap lini. pencabutan 4.81.71 2009 0.95). Rasio tumpatan dan pencabutan gigi tetap tahun 2010 sebesar 0.kesehatan secara umum akan meningkat dan diharapkan di tahun-tahun mendatang jumlah pencabutan gigi tetap trennya semakin menurun.81 2011 0. Beberapa kabupaten/kota yang pencabutan giginya jauh lebih banyak dibandingkan tumpatan giginya (rasio rendah). Kabupaten/kota yang rasionya tinggi (penumpatan lebih banyak dibandingkan dengan pencabutan) yaitu Kota Tegal (2. baik yang dilakukan didalam maupun diluar gedung masih sangat minim. mengalami peningkatan dibanding tahun 2010 yaitu 0.607).2 0 Rasio 2007 0.71 2010 0.06 (tumpatan 267.2011 b. 1 0. Kabupaten dengan rasio terendah adalah Kabupaten Rembang 0.82.

Beberapa kabupaten mempunyai cakupan sangat rendah.75 2010 53. Kabupaten Kudus. kemudian melakukan perawatan pada murid yang memerlukan.95 2009 54.83 2011 55.22 2009 36.19 Cakupan Pemeriksaan Kesehatan Gigi Murid Sekolah Dasar Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 c.yang perlu perawatan gigi.3 Gambar 4.12 2008 62.59 2011 37. Prosentase jumlah murid yang diperiksa untuk tahun 2011 (37.20 Cakupan Perawatan Gigi Murid Sekolah Dasar Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 71 .4 2008 33.30% mengalami peningkatan bila dibanding tahun 2010 (53. Kabupaten yang mempunyai cakupan 100% adalah Kabupaten Sukoharjo.90%) lebih tinggi dibandingkan pencapaian tahun 2010 (37. 65 60 55 50 45 Cakupan 2007 56. 40 30 20 10 0 Cakupan 2007 31.9 Gambar 4. Murid SD/MI Mendapat Perawatan Gigi dan Mulut Cakupan perawatan gigi dan mulut murid SD/MI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 55.83%).59%).96%) dan masih ada beberapa kabupaten/kota yang belum melaporkan datanya.31 2010 37. seperti Kabupaten Sragen (6. Kabupaten Kendal dan Kota Salatiga.

menggambarkan bahwa kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah belum memperhatikan pelayanan kesehatan untuk kelompok pra usila dan usila yang merupakan kelompok usia berisiko. baik di puskesmas maupun di posyandu/kelompok usia lanjut. dan masih jauh dibawah target cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut tahun 2010 (70%). Cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 51. 2) Advokasi ke SKPD provinsi dengan pengembangan model kelompok pra usila percontohan dan fasilitasi pelayanan kesehatan. Kabupaten/kota dengan cakupan tertinggi adalah Kabupaten banjarnegara (102.21 Pelayanan Kesehatan Usia lanjut Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Masih rendahnya cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut dan sedikitnya kabupaten/kota yang mencapai target pelayanan kesehatan usia lanjut tahun 2011. 80 60 40 20 0 Cakupan Target 2007 30. dengan kesepakatan identifikasi kelompok pra usila di masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) kabupaten/ kota dan memberikan dukungan kegiatan dan pelayanan kesehatan.96% menurun bila dibandingkan cakupan pada tahun 2010 sebesar 52.36 70 2009 42.61 70 2011 51.61%.60%) dan terendah adalah Kabupaten Klaten (1.27 70 2010 52. Upaya-upaya yang telah dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan pra usila dan usila adalah sbb : 1) Pertemuan koordinasi program kesehatan usila Provinsi Jawa Tengah. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut Pelayanan kesehatan usia lanjut yaitu pelayanan penduduk usia 60 tahun ke atas yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan.7. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 72 .51 70 2008 29.96 70 Gambar 4.76%).

46%. jiwa maupun khusus.5 100 99. Rumah Sakit Jiwa sebanyak 100%. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 73 .5 RSU Gawat Darurat (%) 98. 100.5 98 97.46 Pusk RI 100 Gambar 4. puskesmas.22 Sarana Kesehatan dengan Kemampuan Pelayanan Gawat Darurat yang Dapat Diakses Masyarakat Provinsi Jawa TengahTahun 2011 Puskesmas rawat inap dengan kemampuan pelayanan gawat darurat yang dapat diakses masyarakat Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 291 puskesmas atau 100%. Kemampuan pelayanan gawat darurat yang dimaksud adalah upaya cepat dan tepat untuk segera mengatasi puncak kegawatan yaitu henti jantung dengan Resusitasi Jantung Paru Otak (Cardio–Pulmonary–Cebral– Resucitation) agar kerusakan organ yang terjadi dapat dihindarkan atau ditekan sampai minimal dengan menggunakan Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support/BLS) dan Bantuan Hidup Lanjut (ALS).80%.88 RSJ 100 RS Khusus 98.8. Pelayanan Dawat Darurat dan Kejadian Luar Biasa a. Sarana kesehatan yang dimaksud dalam hal ini adalah rumah bersalin. Rumah Sakit khusus lain sebesar 98. Jumlah Rumah Sakit Umum dengan kemampuan pelayanan gawat darurat sebanyak 98. Pelayanan Gawat Darurat Level I yang Harus Diberikan Pelayanan Kesehatan (RS) di Kabupaten/Kota Sarana kesehatan dengan kemampuan pelayanan gawat darurat yang dapat diakses masyarakat merupakan sarana kesehatan yang telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pelayanan gawat darurat sesuai standar dan dapat diakses oleh masyarakat dalam kurun waktu tertentu. dan rumah sakit baik rumah sakit umum.5 99 98.

Keracunan Makanan. Desa/Kelurahan Terkena Kejadian Luar Biasa yang Ditangani <24 Jam Kejadian luar biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu desa/kelurahan dalam jangka waktu tertentu.23 Distribusi Frekuensi KLB menurut Jumlah Desa yang Terserang Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Gambar 4. Tingginya frekuensi KLB seperti Demam Berdarah Dengue (DBD). Campak. Diare. 1500 1000 500 0 Desa/kel terkena KLB 2007 1286 2008 543 2009 536 2010 579 2011 353 Gambar 4. tahun 2009 mengalami penurunan kembali menjadi 536 desa/kelurahan. Difteri. Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular dan keracunan masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Jawa Tengah. tahun 2010 menjadi 579 desa/kelurahan dan mengalami penurunan lagi menjadi 353 desa/kelurahan pada tahun 2011. produktivitas menurun).b. Chikungunya. bencana serta munculnya penyakit baru seperti Avian Influenza (Flu Burung). Kondisi tersebut menuntut upaya atau tindakan secara cepat dan tepat (kurang dari 24 jam) untuk menanggulangi setiap KLB serta melaporkan kepada tingkat administrasi kesehatan. Acute Flacid Paralisys (AFP). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 74 . disamping menimbulkan korban kesakitan dan kematian juga berdampak pada situasi sosial ekonomi masyarakat secara umum (keresahan masyarakat.42 di atas diketahui bahwa jumlah desa/kelurahan yang terkena KLB di Provinsi Jawa Tengah tahun 2007 – 2011 mengalami fluktuasi yaitu dari 1286 desa/kelurahan pada tahun 2007 meningkat menurun menjadi 543 desa/kelurahan pada tahun 2008.

5 98 97. Gambar 4.5 99 98. keracunan makanan dan bencana selama tahun 20011 sebanyak 28 jenis kejadian di 32 Kabupaten/Kota.45 2011 100 Gambar 4. 100.84 2008 99.25 Kejadian KLB Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Sebaran KLB tahun 2011 menunjukkan bahwa 3 kabupaten/kota dengan frekuensi KLB terbanyak adalah Kabupaten Klaten (49 kejadian).45%).5 100 99.24 di atas diketahui bahwa pada tahun 2011 persentase desa/kelurahan terkena KLB yang ditangani kurang dari 24 jam mengalami kenaikan menjadi 100% dibanding dengan tahun 2010 (98. Kabupaten Karanganyar (28 kejadian) dan Kabupaten Temanggung (24 kejadian).5 Ditangani <24jam (%) 2007 99.24 Grafik Distribusi Frekuensi Desa/Kelurahan Terkena KLB yang ditangani kurang dari 24 jam Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Gambar 4.Data frekuensi KLB penyakit menular.63 2009 100 2010 98. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 75 . 292 kecamatan dan 353 desa/kelurahan yang terkena KLB mendapatkan penanganan kurang dari 24 jam oleh Puskesmas bekerjasama dengan Dinas Kesehatan kabupaten/kota.

344 kali. Kegiatan Penyuluhan Kesehatan Kegiatan penyuluhan yang dilakukan dibagi menjadi penyuluhan kelompok dan penyuluhan massa. yang meninggal sebanyak 24 orang (case fatality rate/CFR: 0.132 kali dan paling sedikit dilakukan di Kota Tegal sebanyak 115 kali.Gambar 4.21%. Penyuluhan kelompok pada tahun 2011 sebanyak 206.26 Jenis KLB Menurut Desa/Kelurahan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Tahun 2011 sejumlah 353 desa yang terkena KLB. CFR tertinggi adalah KLB demam berdarah dengue/DBD 72. Selengkapnya dapat dilihat pada grafik di bawah ini.202.848 jiwa. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 76 . c. Jumlah Penderita dan Kematian pada Kejadian Luar Biasa Jumlah penduduk terancam KLB tahun 2011 sebanyak 1.733 jiwa dengan attack rate atau rata-rata kejadian sebesar 33.64%).73% dan KLB Tetatus Neonatorum 75%. frekuensi tertinggi adalah keracunan (105 desa/kelurahan) tersebar pada 96 kecamatan. Sedangkan yang menderita akibat kejadian luar biasa tersebut sebanyak 3. dengan penyuluhan terbanyak dilakukan di Kabupaten Kendal yaitu 92. Dari sejumlah penderita tersebut. 9.

Purbalingga Kab.Cilacap Kab.Wonogiri Kab.Klaten Kab.Purworejo Kab.Sukoharjo Kab.Sragen Kab.27 Distribusi Frekuensi Penyuluhan Kelompok yang Dilakukan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Sedangkan penyuluhan massa telah dilakukan 5.Sragen Kab.Kudus Kab.Rembang Kab.Jepara Kab.Semarang Kab.Brebes Kota Magelang Kota Surakarta Kota Salatiga Gambar 4.Batang Kab.Banjarnegara Kab.Rembang Kab.Temanggung Kab.Purbalingga Kab.Blora Kab.Karanganyar Kab.Kendal Kab.Jepara Kab.Brebes Kab.Boyolali Kab.Batang Kab.28 Distribusi Frekuensi Penyuluhan Massa yang Dilakukan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 77 .Kudus Kab.Purworejo Kab.817 kali.Wonosobo Kab.Semarang Kab. 3000 2500 2000 1565 1500 1000 500 35 0 538 387 297 127145 1429 1414 1080 711 622 784 405 225231 1 0 0 79 45 5 149 0 183 3 174 22 23 1071 2402 Kab. paling banyak dilakukan oleh Kabupaten Demak yaitu 1.Karanganyar Kab.Kebumen Kab.Demak Kab.Wonosobo Kab.Kota Tegal Kota Pekalongan Kota Semarang Kota Salatiga Kota Surakarta Kota Magelang Kab.Banyumas 115 2578 495 1582 2109 1588 11307 9080 10045 32517 5385 9161 3336 3203 2989 413 3807 799 4668 10341 18309 8179 5937 11710 9397 11240 1561 4357 16733 9706 12279 9160 62571 Gambar 4.Blora Kab.Tegal Kab.565 kali dan paling sedikit di Kabupaten Sukoharjo satu kali.Tegal Kab.Demak Kab.Banyumas Kab.Sukoharjo Kab.Pemalang Kab.Boyolali Kab.Pekalongan Kab.Temanggung Kab.Grobogan Kab.Pati Kab.Pekalongan Kab.Banjarnegara Kab.Magelang Kab.Grobogan Kab.Kendal Kab.Wonogiri Kab.Magelang Kab.Klaten Kab. Secara jelas dapat dilihat pada grafik berikut.Kebumen Kab.Pemalang Kab.Pati Kab.

sampai dengan tahun 2006 terjadi peningkatan dan pada tahun 2007 merupakan titik antiklimak kepesertaan jaminan kesehatan. Peserta JPK dengan Premi/Pra Bayar banyak yang mengundurkan diri dengan adanya program Jamkesmas yang membebaskan anggotanya dari segala beban iur biaya.18% dari total penduduk bukan masyarakat miskin (non maskin).59%). Program ini dikembangkan dengan tujuan merubah pola pembayaran yang biasanya dibayar setelah pelayanan diberikan dan pelayanan kesehatan yang diterima secara komprehensif. Cakupan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pra Bayar Dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 78 . Perkembangan kepesertaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi.B. Penurunan jumlah penduduk yang masuk dalam katagori non maskin ditengarahi akibat dampak negatif Program Jamkesmas. meningkat bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (21. pemerintah telah berupaya mengembangkan berbagai upaya kesehatan. Masyarakat yang dulunya merasa non miskin beramai-ramai mengaku miskin supaya dapat masuk dalam Program Jamkesmas.82%. Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) kemungkinan memberikan dampak negatif pada kepesertaan JPK Pra Bayar. Penduduk maskin yang belum terjamin dengan pelayanan kesehatan sebesar 63. Namun disadari sampai saat ini perkembangan peserta jaminan kesehatan sedikit agak menggembirakan. Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan 1. Data terakhir di Provinsi Jawa Tengah menggambarkan perkembangan kepesertaan jaminan kesehatan saat ini mencapai 36. salah satunya adalah dengan mengembangkan suatu upaya kesehatan melalui program jaminan kesehatan. Tiga tahun terakhir peserta jaminan kesehatan kembali mengalami peningkatan sedikit demi sedikit.

06%). Kepesertaan jaminan kesehatan terdiri dari: Askes (13. Kepesertaan jamkesda pada tahun 2011 sebesar 7.09 2009 19.01 2008 18.73%) dan lain-lain (3.40 30 20 10 0 Cakupan 2007 19.2% (Kabupaten Klaten) hingga 104.18 Gambar 4.3% (Kota Salatiga).29 Cakupan Kepesertaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Penduduk Non Maskin Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Kepesertaan program jaminan kesehatan penduduk non maskin yang diperinci menurut kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah.59 2011 36.57 Gambar 4. 3.04%).60%).04 3. menunjukkan angka yang bervariasi mulai dari cakupan 30. Jamkesda (13.24%.46% dari total penduduk di Jawa Tengah.57%). Selain yang jamkesmas.30 Cakupan Kepesertaan Program JPK Pra Bayar Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 79 . pada tahun 2011 sudah banyak agar kabupaten/kota menyelenggarakan jamkesda dengan tujuan masyarakat miskin yang belum tercakup jamkesmas bisa tercakup jamkesda. Jamsostek (3. Cakupan terbesar di Kota Surakarta 35.6 13.73 13.37 2010 21. Askeskin/Jamkesmas (66.06 Askes Jamsostek Askeskin/Jamkesmas Jamkesda Lainnya 66.53% dan terendah di Kabupaten Brebes 0.

Sedangkan pelayanan di rumah sakit meliputi rawat jalan tingkat lanjut.433.8%.205. 4. pelayanan obat dan bahan habis pakai. Saat ini Kota Surakarta yang sudah mencapai cakupan 147.37%). Cakupan Pelayanan Kesehatan Rawat Inap Masyarakat Miskin Pelayanan kesehatan yang diberikan bagi pasien masyarakat miskin dan tidak mampu meliputi pelayanan kesehatan di Puskesmas dan di rumah sakit.3%) sedangkan di sarana kesehatan 2 dan 3 sebanyak 431.493 (3. Cakupan Pelayanan Kesehatan Rawat Jalan Masyarakat Miskin Pelayanan kesehatan yang diberikan bagi pasien masyarakat miskin dan tidak mampu meliputi pelayanan kesehatan di Puskesmas dan di rumah sakit. Selain mendapatkan pelayanan rawat jalan juga mendapatkan rawat inap. 3. pelayanan gawat darurat.011 (9. persalinan normal di Puskesmas dan jaringannya. rawat inap tingkat lanjut.17%) sedangkan di sarana pelayanan strata 2 dan strata 3 sebesar 438.687 (57.033. Masyarakat miskin yang mendapatkan pelayanan kesehatan rawat jalan di sarana pelayanan strata 1 sebesar 7.Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mencanangkan “Universal Coverage” kepesertaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan pada tahun 2014 yang berarti bahwa seluruh penduduk di Indonesia pada tahun 2014 harus memiliki Jaminan Pemeliharaan Kesehatan.033. Jumlah masyarakat miskin dan hampir miskin sebanyak 13. dan pelayanan transport untuk rujukan bagi pasien. rawat inap tingkat pertama.544 (3. 2. Jumlah Kunjungan Rawat Jalan. Pelayanan kesehatan di Puskesmas meliputi rawat jalan tingkat pertama.3%).805 orang. pelayanan penunjang medik.805. Jumlah masyarakat miskin dan hampir miskin pada tahun 2011 sebanyak 13. serta pelayanan tindakan dan operasi. Rawat Inap di Sarana Pelayanan Kesehatan Cakupan rawat jalan adalah cakupan kunjungan rawat jalan baru di sarana pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta di satu wilayah kerja pada kurun Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 80 . mendapatkan pelayanan kesehatan rawat inap di sarana kesehatan strata 1 sebanyak 1.

upaya yang perlu dilakukan adalah peningkatan pembinaan program kesehatan jiwa di sarana kesehatan pemerintah dan swasta.77%). dan perilaku yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosialnya. terbanyak di rumah sakit yaitu 130. Penurunan cakupan kunjungan rawat jalan tersebut mengisyaratkan bahwa terjadi penurunan kunjungan rawat jalan di pelayanan kesehatan. yang meliputi gangguan pada perasaan. merupakan kunjungan baru dimana seorang yang berkunjung ke sarana pelayanan kesehatan.479 kali (65. Kunjungan rawat jalan tersebut. Cakupan rawat inap adalah cakupan kunjungan rawat inap baru di sarana pelayanan kesehatan swasta dan pemerintah di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.4%. Jumlah kunjungan gangguan jiwa tahun 2011 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 198. pelatihan/refreshing bagi dokter dan paramedis Puskesmas terutama upaya promotif dan preventif. 5.waktu tertentu.1%. serta meningkatkan pelaksanaan sistem monitoring dan evaluasi pencatatan dan pelaporan program kesehatan jiwa. dalam satu tahun hanya dihitung satu kali meskipun ia datang berkali kali dalam tahun tersebut. Cakupan kunjungan rawat jalan akumulasi sampai dengan tahun 2011 di sarana kesehatan di Provinsi Jawa Tengah sebesar 105. Dari permasalahan tersebut. Jumlah Kunjungan Gangguan Jiwa di Sarana Pelayanan Kesehatan Pelayanan gangguan jiwa adalah pelayanan pada pasien yang mengalami gangguan kejiwaan. berdasarkan definisi operasional yang ada. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 81 . Data yang masuk untuk pelayanan kesehatan jiwa di RS berasal dari Rumah Sakit Jiwa dan Rumah Sakit Umum yang mempunyai klinik jiwa. proses pikir. Cakupan rawat inap di sarana kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 secara akumulasi sebesar 5.387. Permasalahan yang ada saat ini adalah tidak semua Rumah Sakit Umum mempunyai pelayanan klinik jiwa karena belum tersedia tenaga medis jiwa dan tidak banyak kasus jiwa di masyarakat yang berobat di sarana pelayanan kesehatan.

01 sedangkan angka yang dapat ditolerir maksimum 45. berarti masih berada dalam kisaran yang bisa ditolerir.07. 7. diukur dengan jumlah rumah sakit dan tempat tidur serta rasio terhadap jumlah penduduk. Indikator Kinerja Pelayanan di Rumah Sakit Dalam menentukan peningkatan sarana rumah sakit. sebanyak 13 rumah sakit mempunyai nilai NDR melebihi angka yang dapat ditolerir. b. Angka Kematian Umum Penderita Yang Dirawat di RS / Gross Death Rate (GDR) Rata-rata Mutu Pelayanan Rumah Sakit di Jawa Tengah menunjukkan masih dalam taraf baik. Rata-rata NDR di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 17. Angka Kematian Penderita Yang Dirawat < 48 Jam / Net Death Rate (NDR) Angka Net Death Rate (NDR) adalah untuk mengetahui mutu pelayanan atau perawatan rumah sakit.000 penderita keluar. dapat dilihat dari Angka Kematian Umum Penderita Yang Dirawat di RS (GDR) pada tahun 2011 rata rata sebesar 34. Data NDR dan GDR tersebut masih diperlukan tindak lanjut dengan diupayakan seluruh RS mempunyai NDR dan GDR di bawah angka yang dapat ditolerir. Nilai NDR yang dapat ditolerir adalah 25 per 1. Pada tahun 2011 jumlah rumah sakit di Provinsi Jawa Tengah menurut jenis dan kepemilikannya adalah sebagai berikut : Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 82 .6. Angka Kematian Pasien di Rumah Sakit a. indikator yang digunakan antara lain dengan melihat perkembangan fasilitas perawatan. Dari 181 rumah sakit yang melapor. sebanyak 28 rumah sakit mempunyai nilai GDR melebihi angka yang dapat ditolerir (kurang baik). Dari 181 RS yang melapor.

Pada tahun 2011 jumlah rumah sakit sebanyak 247 Rumah Sakit di Jawa Tengah terdiri dari 13 RS (6. sehingga perlu pengembangan rumah sakit atau penambahan tempat tidur.46%) tidak b. Pemakaian Tempat Tidur/Bed Occupancy Rate (BOR) BOR merupakan prosentase pemakaian tempat tidur pada satu satuan waktu tertentu.13%) mempunyai tingkat pemanfaatan sangat tinggi diatas maksimal occupancy rate.91 mengalami peningkatan bila dibandingkan nilai ALOS tahun 2010 sebesar 3.Tabel 5. Rata-rata Lama Rawat Seorang Pasien/Average Length of Stay (ALOS) Rata-rata lama rawat seorang pasien yang secara umum/Average Length of Stay (ALOS) yang ideal adalah antara 6–9 hari. Rata-rata lama rawat seorang pasien di RS se Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3. 61 RS (28. kurang dan 53 RS (21. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 83 . BOR yang ideal untuk suatu rumah sakit adalah antara 60% sampai dengan 80%.85. Tetapi masih terdapat 120 RS (56.60%) tingkat pemanfaatannya masih mengirimkan laporan.77%) mempunyai BOR yang dianggap cukup ideal.1 Jumlah Rumah Sakit di Provinsi Jawa Tengah menurut jenis dan pemilikan Tahun 2011 Pemilikan/Pengelola Pem TNI/Polri BUMN Kab/Kota 41 10 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 41 10 1 Jenis RSU RSJ RSB RSK lainnya JML : Pem Pusat 2 1 0 3 6 Pem Prov 7 3 0 0 10 Swasta 118 0 10 51 179 Jml 179 4 10 54 247 a. Indikator ini dipergunakan untuk menilai kinerja rumah sakit dengan melihat persentase pemanfaatan tempat tidur rumah sakit atau Bed Occupation Rate (BOR). Angka BOR yang rendah menunjukkan kurangnya pemanfaatan fasilitas perawatan rumah sakit oleh masyarakat. Angka BOR yang tinggi (>85%) menunjukan tingkat pemanfaatan tempat tidur yang tinggi. Angka tersebut masih berada dibawah nilai ALOS yang ideal.

Dari 194 RS yang melapor.54 dari jumlah RS yang lapor. Sedangkan 131 rumah sakit lainnya masih mempunyai nilai ALOS di bawah 6. ada 99 rumah sakit yang mempunyai nilai TOI di atas 3. Gizi seimbang : Persalinan Nakes. Semakin besar TOI maka efisiensi penggunaan tempat tidur semakin jelek. Adapun 16 indikator PHBS tatanan Rumah tangga tersebut meliputi : a. Kariadi Semarang. RS Sejahtera Bakti Salatiga. Penimbangan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 84 . Yang dimaksud rumah tangga sehat adalah proporsi rumah tangga yang memenuhi minimal 11 indikator dari 16 indikator PHBS tatanan rumah tangga. Amino Gondo Hutomo Semarang. c. Rata-rata TOI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3. Persentase Rumah Tangga Ber-PHBS Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di rumah tangga merupakan upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar sadar. Hal ini menggambarkan penurunan terhadap penggunaan tempat tidur dan TOI Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 mendekati angka ideal. Dari 194 RS yang melapor. RM Soedjarwadi Klaten. Variabel KIA dan GIZI Balita. ASI Eksklusif. 10 rumah sakit yang mempunyai nilai ALOS ideal yaitu RSJ Dr. menurun bila dibandingkan dengan rata-rata pada tahun 2010 sebesar 3. Rata-rata Hari Tempat Tidur Tidak Ditempati / Turn Of Interval (TOI) TOI dan ALOS merupakan indikator tentang efisiensi penggunaan tempat tidur. RSJD Surakarta. RSUP Dr. RSKJ Puri Waluyo Surakarta. RSUD Kudus. Angka ideal untuk TOI adalah 1 – 3 hari. RSU Jati Husada Karanganyar. mau dan mampu melakukan PHBS dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya.77. mencegah risiko terjadinya penyakit dan melindungi diri dari ancaman penyakit serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat. Perilaku Hidup Masyarakat 1. RSU Purbowangi Kebumen dan RS Nurussyifa Kudus. Yang sudah mempunyai nilai TOI ideal sebanyak 84 RS. RSJD Dr. C.

63 2011 74.703.45%. diperiksa 3.68% lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2010 (68.b. Karanganyar.728. 80 60 40 20 0 Cakupan 2007 43. Variabel UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT : Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).31 Persentase Rumah Tangga Ber-PHBS Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 s/d 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 85 . Variabel KESLING : Air bersih. Miras/Narkoba d.Kesehatan gigi dan mulut.91 2009 63. Banyumas. Variabel GAYA HIDUP : Aktifitas fisik. c. Sampah.Kepadatan hunian. Tidak merokok. Demak dan Kendal.79 2008 57. Perubahan perilaku tidak dapat terjadi dalam waktu singkat.696 dan yang diperiksa sejumlah 2.361 rumah tangga.lantai rumah.674. tetapi memerlukan proses yang panjang termasuk didalamnya perlu upaya pemberdayaan masyarakat yang berkesinambungan.68 Gambar 4. Sedangkan cakupan terendah adalah Kabupaten Banjarnegara 49.68 2010 68. Berdasarkan data hasil pengkajian PHBS Tatanan Rumah Tangga yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di Jawa Tengah tahun 2011 dari 8. Cuci tangan.496. Berikut ini adalah Grafik persentase rumah tangga sehat berdasarkan strata Utama dan Paripurna di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 s/d 2011. Cakupan tertinggi (100%) dicapai oleh 6 kabupaten/kota yaitu Kota Pekalongan. Jamban. Pencapaian persentase rumah tangga sehat yaitu yang diwakili oleh rumah tangga yang mencapai strata sehat utama dan sehat paripurna telah mencapai 74. Kota Salatiga.63%).629 rumah tangga yang ada.663 rumah tangga meningkat apabila dibandingkan dengan tahun 2010 dengan jumlah rumah tangga 8.

Pertanian.945 (46. Bapermas. Flu Burung. Pemeliharaan dan Pengawasan Kualitas Lingkungan (3). berbagai lintas sektor ikut serta berperan (Bappeda. Konstruksi rumah dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor risiko penularan berbagai jenis penyakit khususnya penyakit berbasis lingkungan seperti Demam Berdarah Dengue. Lingkungan Hidup. Program Lingkungan Sehat bertujuan untuk mewujudkan mutu lingkungan hidup yang lebih sehat melalui pengembangan sistem kesehatan kewilayahan untuk menggerakkan pembangunan lintas sektor berwawasan kesehatan. Adapun kegiatan pokok untuk mencapai tujuan tersebut meliputi : (1).lain. disamping perilaku dan pelayanan kesehatan. ISPA dan lain . Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 86 . Penyediaan Sarana Air Bersih dan Sanitasi Dasar (2). Pengembangan Wilayah Sehat. peran swasta dan masyarakat.441. Perindustrian. Keadaaan Lingkungan Lingkungan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap derajat kesehatan.95%) lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2010 yang mencapai 65. Pencapaian tujuan penyehatan lingkungan merupakan akumulasi berbagai pelaksanaan kegiatan dari berbagai lintas sektor. Pengelolaan kesehatan lingkungan merupakan penanganan yang paling kompleks. Rumah haruslah sehat dan nyaman agar penghuninya dapat berkarya untuk meningkatkan produktivitas.D.984 (62. Malaria.35%) rumah diperiksa dan yang memenuhi syarat rumah sehat sebesar 2. Pada Tahun 2011 sebanyak 3.01%. TBC. Persentase Rumah Sehat Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. 1. Pengendalian Dampak Risiko Lingkungan (4).878. kegiatan tersebut sangat berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Cipta Karya dan Dinas Kesehatan).

087 (40.84 2008 58. ban untuk pot dan lain . masyarakat.32 Cakupan Rumah Sehat Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .12 2010 65. melalui kebijakan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan yang ditandatangani oleh Bappenas.175 rumah (77. yang bebas jentik nyamuk Aedes aegypti sebanyak 2. Cakupan angka bebas jentik ini masih dibawah target 95%. yang 3. Persentase Keluarga menurut Jenis Sarana Air Bersih yang Digunakan Adanya perubahan paradigma dalam pembangunan sektor air minum dan penyehatan lingkungan dalam penggunaan prasarana dan sarana yang dibangun. peningkatan upaya sumber daya manusia. kampanye kesadaran peningkatan penyehatan lingkungan.2011 2. bila memungkinkan pemakaian ulang kaleng.83 2009 65.390. Oleh karena itu gerakan pemberantasan sarang nyamuk dengan 3 M Plus (Menguras. Kementerian Kesehatan.43%). pengembangan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 87 .366.95 Gambar 4.01 2011 62. mengingat kasus Demam Berdarah yang cenderung meningkat dan bertambah luasnya wilayah terjangkit.615. Menutup.14%) lebih banyak dibandingkan tahun 2010 (73.601 diperiksa jentik nyamuknya sebanyak 3. Persentase Rumah/Bangunan yang Diperiks Jentik Nyamuk Aedes Jumlah rumah di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 8.66 64 62 60 58 56 54 Rumah Sehat 2007 64. Mengubur dan Plusnya adalah Mencegah Gigitan Nyamuk). Strategi pelaksanaan diantaranya.lain harus selalu digerakkan secara optimal. meliputi penerapan pendekatan tanggap kebutuhan. Kementerian Dalam Negeri serta Kementerian Pekerjaan Umum cukup signifikan terhadap penyelenggaraan kegiatan penyediaan air bersih dan sanitasi khususnya di daerah.53%).

668. Gambar 4.63%). Namun pada kenyataannya persentase penduduk miskin masih tinggi. pasal 10). Pada dasarnya negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi kebutuhan pokok minimal sehari – hari guna memenuhi kehidupan yang sehat. sehingga kemampuan untuk mendapat akses ke sarana penyediaan air minum yang memenuhi syarat masih terbatas.88%). 7 Tahun 2004. Walaupun terdapat program – program air minum dan sanitasi untuk masyarakat berpenghasilan rendah.89%) dari 8. Keluarga yang telah akses air bersih tersebut. bersih dan produktif (UU No.696 KK dan yang telah memiliki akses sarana air bersih sebanyak 3.185 (89. ternyata membayar lebih besar untuk memperoleh air daripada masyarakat berpenghasilan tinggi.33 Akses Air Bersih Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 88 . Masyarakat berpenghasilan rendah.313 (46.081. hal ini menunjukkan ketidakadilan dalam mendapatkan akses pada air minum. terbanyak memanfaatkan sumur gali (45.703.kelembagaan dan penguatan sistem monitoring serta evaluasi pada semua tingkatan proses pelaksanaan menjadi acuan pola pendekatan kegiatan penyediaan Air Bersih dan Sanitasi. namun akses terhadap air minum belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Jumlah keluarga yang diperiksa akses air bersih sebanyak 4. Perlu dukungan kebijakan yang lebih fokus untuk penyediaan sanitasi dan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

66 45. Persentase Keluarga menurut Sumber Air Minum yang Digunakan Jumlah keluarga yang diperiksa sumber air minumnya sebanyak 3.34 68.67 Air Limbah 61.902 (40.9 65.029.29 %).620 (68. 5.124 (71.734 (69.506. khususnya Diare. Persentase Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar Kepemilikan sarana sanitasi dasar yang dimiliki oleh keluarga meliputi jamban.34 Cakupan Sanitasi Dasar Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .51 62. terbanyak memanfaatkan sumur terlindung (33. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 89 . Melalui CLTS terjadi perubahan perilaku tidak buang air besar di sembarang tempat tanpa ada stimulan.93 75. tempat sampah dan pengelolaan air limbah. Keluarga yang telah menggunakan sumber air minum terlindung tersebut. telah dilakukan pemicuan Community Led Total Sanitation (CLTS) di 30 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah untuk mendukung pencapaian wilayah stop buang air besar di sembarang tempat dan penurunan penyakit berbasis lingkungan.703.2011 Dalam mendukung perubahan sanitasi total khususnya buang air besar di sembarang tempat.57%).58%) dan pengelolaan air limbah sehat 1.2 72. tempat sampah sehat 2.44 Tempat Sampah 79.4.508.1 Gambar 4.11%) dari 8. pembiayaan tidak ada subsidi dan jamban adalah private good.06 55.057. Jumlah KK yang telah memiliki jamban sehat 2.20%).674.51 73.325 (63.696 KK dan yang telah menggunakan sumber air minum terlindung sebanyak 2.21%).95 71. 100 50 0 Jamban 2007 2008 2009 2010 70.

11 Ibadah 61.457 buah dan yang memenuhi syarat kesehatan 37.11 Sarana Lain Inst Kelola 47. restoran/rumah makan.55% dan TUPM lainnya (67.35 Cakupan Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 . swasta atau perorangan yang langsung digunakan oleh masyarakat yang mempunyai tempat dan kegiatan tetap serta memiliki fasilitas.51 Pendidikan 64. instalasi pengolahan air minum.6. sarana pendidikan.44%. Cakupan pengawasan tempattempat umum yang memenuhi syarat kesehatan tahun 2011 meliputi hotel 84.53%.21%). pasar dan TUPM lainnya. Persentase Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya Kondisi kesehatan lingkungan pada institusi meliputi sarana pelayanan kesehatan. restoran/rumah makan 73. perkantoran dan sarana lain dititik beratkan pada aspek hygiene sarana sanitasi yang erat kaitannya dengan kondisi fisik bangunan institusi tersebut. 7.56 Gambar 4. 100 80 60 40 20 0 Sarkes 2011 81.44%). Tempat-tempat Umum dan Pengelolaan Makanan seluruhnya yang diperiksa sebanyak 55. sarana ibadah. Persentase Tempat-tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat Tempat – tempat umum dan Pengelolaan Makanan adalah kegiatan bagi umum yang dilakukan oleh badan pemerintah. Tempat-tempat umum dan Pengelolaan Makanan meliputi hotel.67 58. Risiko dari pengelolaan makanan mempunyai peluang yang besar dalam penularan penyakit karena jumlah konsumen relatif banyak dalam waktu yang bersamaan.88 Kantor 72. Pengawasan sanitasi tempat umum bertujuan untuk mewujudkan kondisi yang memenuhi syarat kesehatan agar masyarakat pengunjung terhindar dari kemungkinan bahaya penularan penyakit serta tidak menyebabkan gangguan terhadap kesehatan masyarakat di sekitarnya. pasar 55.2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 90 .829 (68.

51%.Pada Tahun 2011 pencapaian cakupan institusi yang dibina yaitu sarana pelayanan kesehatan 81.67%. sarana ibadah 61. sarana pendidikan 64. Pembinaan kesehatan lingkungan di institusi sekolah dan pondok pesantren. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 91 . perkantoran 72.56%. b. Kegiatan yang dilakukan dalam meningkatkan kesehatan lingkungan di insitusi adalah: a. Pengendalian faktor risiko lingkungan institusi terhadap penyakit berbasis lingkungan.11% dan sarana lainnya 47.11%. instalasi pengolahan air minum 58.88%.

674 tablet.BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN A. sedangkan paling rendah adalah OAT Kategori 2 (52. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 92 .834.1 Tingkat Kecukupan obat di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011. Prosentase tingkat kecukupan obat di Kabupaten/kota yang paling tinggi adalah kloramfenikol kapsul 250 mg (278.206. stock terbanyak adalah Klorfeniramin Maleat tablet 4 mg 52. Ketersediaan Obat menurut Jenis Obat Pada tahun 2011 dari 34 jenis obat yang dilaporkan oleh kabupaten/kota. Tingkat kecukupan obat tertinggi adalah obat Kloramfenikol kapsul 250 mg (50) dan terendah adalah OAT katagori 3 (9) artinya bahwa persediaan obat Kloramfenikol kapsul 250 mg dapat tercukupi pemakaiannya untuk selama 50 bulan dan OAT katagori 3 dapat tercukupi pemakaiannya untuk selama 9 bulan.09%).46%). Gambar 5. sedangkan stock obat yang paling sedikit adalah OAT Katagori 3 sebanyak 523 paket dengan pemakaian rata-rata perbulan 43 paket. SARANA KESEHATAN 1.266 tablet dengan pemakaian rata-rata perbulan 2.

Toko Obat sebanyak 367 unit.08%).209 unit.02%) dan Industri Kecil Obat Tradisional sebanyak 285. Gudang Farmasi Kesehatan (GFK) sebanyak 35 unit. Jumlah Sarana Pelayanan Kesehatan menurut Kepemilikan/Pengelola Sarana Pelayanan Kesehatan terdiri dari RSU. Puskesmas Pembantu sebanyak 1. Sedangkan menurut kepemilikannya. Puskesling. Puskesmas Keliling sebanyak 948 unit. Rumah Sskit Jiwa sebanyak 4 unit. Praktek Dokter Perorangan dan Praktek Pengobatan Tradisional. Puskesmas Perawatan sebanyak 291 unit.827 unit. Pustu. Rumah Sakit Bersalin sebanyak 10 unit.32% dan terendah adalah RSJ dan RSB keduanya 0. RB.348 (71. Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) sebanyak 47. TNI/POLRI sebanyak 41 (0.2.41%). Balai Pengobatan/Klinik sebanyak 888 unit .142 unit.02%. Pos Kesehatan Desa (PKD) sebanyak 5.13%). Jumlah sarana pelayanan kesehatan pada tahun 2011 sebanyak 13. Praktik Dokter Perorangan sebanyak 4. Praktek Dokter Bersama. Puskesmas Non Perawatan. Puskesmas Non Perawatan sebanyak 576 unit. 3. Sarana Pelayanan Kesehatan dengan Kemampuan Labkes dan Memiliki 4 Spesialis Dasar Sarana kesehatan dengan kemampuan pelayanan laboratorium kesehatan yang dapat diakses masyarakat adalah cakupan sarana kesehatan yang telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pelayanan laboratorium kesehatan sesuai standar dan dapat diakses oleh masyarakat dalam waktu tertentu.866 unit.05%). Swasta sebanyak 9. RS Khusus lainnya sebanyak 54 unit. Kabupaten/kota sebanyak 3734 (28. BP/Klinik.14% dan terendah adalah BUMN 0.31%). Industri Obat Tradisional sebanyak 14 unit dan BUMN sebanyak 3 (0. Sarana Pelayanan Kesehatan terdiri dari Rumah Sakit Umum sebanyak 179 unit .158 unit.01%. Apotek sebanyak 2. Rumah Bersalin sebanyak 249 unit.901. Provinsi sebanyak 10 (0. Praktik Pengobatan Tradisional sebanyak 3. sarana kesehatan dengan presentase tertinggi adalah swasta 71. RSJ. RS Khusus lainnya. Pusat sebanyak 6 (0.276 unit. Sarana Kesehatan dengan presentase tertinggi adalah Posyandu 68. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 93 . RSB. Puskesmas Perawatan. yang terbagi dalam 6 kepemilikan yaitu. Praktik Dokter Bersama sebanyak 57 unit.

untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar. 4.Kemampuan pelayanan laboratorium kesehatan yang dimaksud adalah upaya pelayanan penunjang medik untuk mendukung dalam pelayanan medik. Sebanyak 24. Posyandu menurut Strata Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari.32%. oleh.2 Sarana Kesehatan Dengan Kemampuan Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Sarana kesehatan dengan kemampuan pelayanan laboratorium yang dapat diakses masyarakat Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 76. RS Jiwa 100%.31%.31 Puskesmas 70. RS Khusus 95.39% dengan perincian untuk RSU 98. utamanya lima program prioritas Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 94 . dan Puskesmas 70.36%.36 Gambar 5. untuk menegakkan diagnosis dokter di rumah sakit.32 RSJ 100 RS Khusus 95.58% RSU lainnya hanya memiliki kurang dari 4 (empat) pelayanan dasar. dimana hal ini berkaitan dengan disyaratkannya penyelenggaraan empat pelayanan kesehatan spesialis dasar pada perizinan pendirian sebuah rumah sakit. 120 100 80 60 40 20 0 RSU Laboratorium Kesehatan 98.42%) yang memiliki minimal empat spesialis dasar. Rumah Sakit Umum (RSU) di Provinsi Jawa Tengah (179 RSU) baik pemerintah maupun swasta sudah 135 RSU (75.

prasarana dan dana.87 39.85 41.79 12.93 34. Rerata kader bertugas pada hari buka Posyandu. Imunisasi.08 Gambar 5. KIA. 2) Variabel Proses : pelaksanaan program pokok. jumlah posyandu tahun 2011 menurun dari 47.24 33. Gizi.05 2009 15. dana sehat. N/S.3 Persentase Posyandu Berdasarkan Strata Tahun 2007 s/d 2011 Berdasarkan laporan Kabupaten/kota.sarana.77 34.94 38. Cakupan kumulatif KB.76 2008 16. program pengembangan dan administrasi 3) Variable Output: D/S.882 pada tahun 2010 menjadi 47.79 8.yang meliputi (KB.84 16. Vit A.85 10.15 36.08 2011 12.58 2010 15. 60 40 20 0 2007 Pratama Madya Purnama Mandiri 16. Cakupan kumulatif KIA. Ada tidaknya program tambahan dan Cakupan dana sehat b. Rerata cakupan D/S.29 36.276 posyandu. Cakupan peserta KB. Cakupan kumulatif imunisasi. Penghitungan strata Posyandu secara kuantitatif berdasar Surat Gubernur Jawa Tengah nomor 411.61 32. Fe. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 95 . pemberian ASI eksklusif dan frekuensi penimbangan.4/05768. pertolongan persalinan oleh nakes. kader.69 32. cakupan K4.86 13. Imunisasi dan penanggulangan diare dan ISPA) dengan tujuan mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. tanggal 20 Februari 2007 tentang Pedoman teknis penghitungan strata Posyandu secara kuantitatif yang dinilai meliputi: 1) Variabel Input: kepengurusan. Manajemen ARRIF dengan 8 indikator yang meliputi : Frekuensi penimbangan. K/S. Dasar penghitungan Strata/penilaian tingkat perkembangan posyandu yang selama ini digunakan adalah: a.

14%). Meskipun kenaikan secara kualitatif (strata purnama dan strata mandiri) relatif kecil. cakupan kelima kegiatan utamanya lebih dari 50%. dengan rata-rata jumlah kader sebanyak lima orang atau lebih. namun dalam 3 (tiga) tahun sebelumnya mengalami peningkatan. Cakupan tersebut mengalami peningkatan apabila dibandingkan tahun 2010 sebesar 34.14%) telah berhasil mencapai target diatas 40%.94%. Posyandu yang mencapai Strata Purnama pada tahun 2011 sebanyak 17.84%).4 Jumlah Posyandu Tahun 2007 s/d 2011 Dari grafik di atas. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 96 .417 (36. dapat dilihat bahwa jumlah Posyandu 2011 mengalami penurunan. a) Posyandu Purnama Posyandu Purnama adalah Posyandu yang sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun. Sebanyak 13 kabupaten/kota (37.49500 49000 48500 48000 47500 47000 46500 46000 45500 Posyandu 2007 46823 2008 47285 2009 49096 2010 47882 2011 47276 Gambar 5. mampu menyelenggarakan program tambahan.31%) dan terendah di Kabupaten Blora (15. serta telah memperoleh sumber pembiayaan dari dana sehat yang dikelola oleh masyarakat yang pesertanya masih terbatas yakni kurang dari 50% KK di wilayah kerja Posyandu. dengan nilai tertinggi di Kabupaten Tegal (64.

603 buah (16. mampu menyelenggarakan program tambahan.85 2009 32.94 2011 36.70%).84 Gambar 5. Kabupaten/Kota maupun Kecamatan serta Pokja Posyandu di tingkat desa/kelurahan. Pencapaian cakupan tersebut sudah melampaui target SPM 2010 (> 2%). meningkat dibandingkan dengan nilai tertinggi di Kota Surakarta (82. Posyandu yang mencapai Strata Mandiri tahun 2011 sejumlah 7.5 Cakupan Posyandu Purnama Tahun 2007 – 2011 Kegiatan revitalisasi posyandu masih perlu mendapat perhatian dari semua sektor/pihak terkait. Termasuk didalamnya adalah dengan mengoptimalkan fungsi Posyandu maupun Pokjanal Posyandu yang sudah terbentuk baik di tingkat Provinsi. b) Posyandu Mandiri Posyandu Mandiri adalah Posyandu sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun. dengan rata-rata jumlah kader sebanyak lima orang atau lebih.38 37 36 35 34 33 32 31 30 Posyandu Purnama 2007 32. serta telah memperoleh sumber pembiayaan dari dana sehat yang dikelola oleh masyarakat yang pesertanya lebih dari 50% KK di wilayah kerja Posyandu. 2010 (13.90%). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 97 .79 2010 34.08%).79 2008 33. cakupan kelima kegiatan utamanya lebih dari 50%.

9 2011 16. memberikan pelayanan kesehatan dasar termasuk kefarmasian sederhana dan untuk deteksi dini serta penanggulangan pertama kasus gawat darurat.6 Cakupan Posyandu Mandiri Tahun 2007 – 2011 Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2011 terjadi kenaikan persentase pencapaian strata mandiri. Total UKBM tahun 2011 adalah 61. Poliklinik Kesehatan Desa (PKD) adalah wujud upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat yang merupakan Program Unggulan di Jawa Tengah dalam rangka mewujudkan desa siaga. 5.08 Gambar 5. misal kegiatan BKB. Polindes.061 buah.42%). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 98 . Sehingga secara tidak langsung kegiatan integrasi tersebut dapat mempengaruhi pencapaian indikator proses maupun indikator output posyandu.276 (77.05 2009 12. hal tersebut dapat terjadi seiring dengan dikembangkannya Posyandu Model (Kegiatan Posyandu yang sudah diintegrasikan dengan minimal satu kelompok kegiatan yang sesuai dengan karakteristik daerah.20 15 10 5 0 Posyandu Mandiri 2007 8. UP2K). PAUD. Poskesdes. forum komunikasi pembangunan kesehatan di desa. Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) terdiri atas Desa Siaga. UKBM terbanyak adalah Posyandu sebesar 47. Dengan dikembangkannya Polindes menjadi PKD maka fungsinya menjadi tempat untuk memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan masyarakat. Forum Kesehatan Desa. dan Posyandu. sebagai tempat untuk melakukan pembinaan kader/pemberdayaan masyarakat.76 2008 10.58 2010 13. PKD merupakan pengembangan dari Pondok Bersalin Desa.

Puskesmas sendiri merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pengembangan kesehatan di suatu wilayah kerja (Departemen Kesehatan RI.28) dan rasio terendah masih tetap di Kabupaten Sukoharjo (0. hal ini diupayakan dapat terpenuhi dengan puskesmas pembantu dan puskesmas keliling. Data Dasar Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas}.Pengembangan PKD dimulai sejak tahun 2004. 2004). Puskesmas terdiri dari Puskesmas Perawatan. dan puskesmas keliling dapat dilihat pada gambar 5. Pada tahun 2011 jumlah puskesmas keliling adalah 948 unit. Puskesmas Pembantu. Jumlah PKD pada tahun 2011 sebanyak 5. puskesmas pembantu. terpadu. Jumlah Desa Siaga pada tahun 2011 adalah 8. Rasio puskesmas keliling terhadap puskesmas pada tahun 2011 adalah 1. merata. menurun dibandingkan tahun 2010. Dengan rasio 0. dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri.09. Jumlah puskesmas pembantu pada tahun 2011 masih tetap sama dengan tahun 2010 sebanyak 1. dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat. bencana. Puskesmas Non Perawatan. Sedangkan rasio tertinggi di Kota Tegal (1.1.80 berarti bahwa jumlah puskesmas belum tercukupi.209 buah.44). puskesmas perawatan. yang pengelolaannya ada di bawah dinas kesehatan kabupaten/kota adalah organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh.576 buah. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 99 .80 maka tahun 2011 jumlah puskesmas masih mengalami kekurangan. dan Puskesmas Keliling. Rasio jumlah puskesmas per 30. 6. Jumlah puskesmas.000 penduduk pada tahun 2011 sebesar 0. Sebuah desa dikatakan menjadi desa siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes).572. mengalami peningkatan dibandingkan dengan jumlah Poskesdes tahun 2010 sebanyak 8.827. Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalahmasalah kesehatan. Jumlah Puskesmas di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 867 (termasuk 291 Puskesmas Rawat Inap).

pemerintah membuka penerimaan CPNS baru baik secara swakelola maupun tenaga pusat yang ditempatkan di daerah. RI 256 267 283 281 291 Pustu 1843 1846 1850 1827 1827 Pusling 963 1020 1130 1138 948 Gambar 5. Puskesmas Perawatan.167 tenaga yang terdiri dari tenaga medis. Jumlah tenaga kesehatan tersebut meningkat bila dibandingkan dengan jumlah tenaga kesehatan tahun 2010 sebanyak 54. Untuk mencukupi kekurangan tenaga tersebut dilakukan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 100 . bidan. Kebutuhan tenaga kesehatan belum dapat terpenuhi. TENAGA KESEHATAN Tenaga kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sejumlah 58. Puskesmas Pembantu. Peningkatan jumlah tenaga kesehatan sebanyak 6.7 Jumlah Puskesmas. dan kesehatan masyarakat. sanitasi. dan Puskesmas Keliling Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 B.774 tenaga.2000 1600 1200 800 400 0 Puskesmas 2007 2008 2009 2010 2011 851 861 867 864 867 Pusk. perawat. provinsi maupun kabupaten/kota dan makin kompleksnya masalah-masalah yang ditangani oleh tenaga kesehatan. khususnya di tingkat kabupaten/kota dikarenakan beban terhadap penganggaran pegawai serta belum berjalannya kegiatan mobilisasi tenaga kesehatan yang sesuai dengan penempatan tugas tenaga tersebut. tenaga farmasi. berpengaruh terhadap peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang semakin tinggi. Kekurangan lain disebabkan belum adanya formasi pengganti bagi tenaga yang pensiun. Untuk mencukupi kebutuhan tenaga kesehatan tersebut.19%. baik di pemerintah pusat. Sehingga menyebabkan sulitnya dalam menentukan kebutuhan tenaga kesehatan di tingkat kabupaten/kota.

63). Dokter Spesialis Jumlah tenaga dokter spesialis yang bekerja di sarana kesehatan sebanyak 2.00) dan Kabupaten Sragen (0. Pengangkatan PTT tersebut dilakukan masa bakti selama 3 tahun baik dengan dana Pemerintah Pusat maupun dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) masing-masing kabupaten/kota.55%). puskesmas sebesar 30.2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 101 . 10 8 6 4 2 0 Rasio dokter spesialis 2007 4. dan dinas kesehatan provinsi sebesar 0.96 Gambar 5. sarana kesehatan lain sebesar 5. Persentase penempatan tenaga kesehatan pada tahun 2011 adalah sebagai berikut.00).35% lebih kecil dibandingkan dengan tahun 2010 (40.pengangkatan Dokter Tidak Tetap.05%) dan rasio terendah di Kabupaten Banjarnegara (0. rumah sakit sebesar 59.41%).71% lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (2. dinas kesehatan kabupaten/kota sebesar 2.72% lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (0.42%).8 Rasio Dr.253 orang sehingga rasio dokter spesialis per 100.63 2011 6. Jumlah dan Rasio Tenaga Medis di Sarana Kesehatan a.04% lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (1.89%).000 penduduk.86 2008 4. 1. Rasio tersebut berada di atas standar WHO sebesar 6/100. institusi diklat/diknakes sebesar 2. Bidan Tidak Tetap dan diupayakan dapat mengangkat tenaga kesehatan lain sebagai pegawai tidak tetap disamping sebagai Pegawai Harian Lepas (PHL).000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 6.96 meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (6.99%). Rasio dokter spesialis tertinggi di Kota Magelang (71.07% lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (2.28%).96 2009 8 2010 6. Spesialis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .11 lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (52.

27 meningkat dibanding tahun 2010 (2.96 Gambar 5.13 2011 12.b.058.000 penduduk.000 penduduk tahun 2011 sebesar 3.69 dan tertinggi adalah Kota Magelang 16.963 sehingga rasio dokter umum per 100.14 2010 2. 14 12 10 8 6 4 2 0 Rasio dokter umum 2007 11.021 sehingga rasio dokter gigi di Provinsi Jawa Tengah per 100. Rasio tersebut masih di bawah target nasional 11 per 100. 4 3 2 1 0 Rasio dokter gigi 2007 3.000 penduduk.000 penduduk adalah 12. Rasio terbesar adalah Kota Magelang 76. Gigi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 102 .224 orang.97 dan terendah adalah Kabupaten Klaten sebesar 5.92. jumlah tenaga dokter umum sebanyak 4. yang bekerja di sarana kesehatan sebanyak 3.41 2009 11. Dokter Gigi Jumlah tenaga dokter gigi di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 1.06 2008 2.35 2010 11.9 Rasio Dr. Umum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .91). Dokter Umum Di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011. Rasio terendah adalah Kabupaten Banjarnegara 0.72 2009 3. Rasio tersebut masih di bawah target nasional 40 per 100.27 Gambar 5.2011 c.10 Rasio Dr.96 meningkat dibanding tahun 2010 (11.13). yang bekerja di sarana kesehatan sebanyak 1.91 2011 3.22.21 2008 10.

2. Rasio tertinggi adalah Kota Magelang 127. Bidan Jumlah Tenaga Bidan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 adalah 13.95 menurun dibandingkan tahun 2010 (76.72 dan terendah Kabupaten Banjarnegara 7.11 Rasio Tenaga Perawat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .76 2010 76.69 2010 38. 50 40 30 20 10 0 Rasio bidan 2007 31.41 dan terendah adalah Kabupaten Tegal 22.56 Gambar 5.55 2011 73. sebagian besar bekerja di sarana kesehatan (12.000 penduduk adalah 73.812 orang). Rasio tertinggi adalah Kota Magelang 749.12 Rasio Tenaga Bidan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 103 .94.472.45 2009 65.56 meningkat dibanding tahun 2010 (38.47). Perawat Tenaga perawat di Provinsi Jawa tengah sebanyak 24. 100 80 60 40 20 0 Rasio perawat 2007 62.95 Gambar 5.100 orang.55).43 2009 36.71 2008 34.14 2008 60.947 sehingga rasio tenaga perawat per 100. sebagian besar bekerja di sarana kesehatan sebanyak 23.25. Jumlah dan Rasio Tenaga Keperawatan di Sarana Kesehatan a.2011 b.000 penduduk tahun 2011 sebesar 39.47 2011 39. Rasio Tenaga Bidan per 100.

11.88 dan terendah Kabupaten Wonosobo 0.000 penduduk adalah 12. Rasio tertinggi adalah Kota Magelang 34. S-1 Farmasi. D-III Farmasi.55 dibawah target nasional 10 per 100.49 menurun bila dibandingkan dengan tahun 2010 (4.3. Jumlah dan Rasio Tenaga Gizi di Sarana Kesehatan Tenaga gizi terdiri dari D-IV/S-1 Gizi. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 104 .11 dan Kabupaten Batang 0.97 2010 11. Rasio tenaga kefarmasian per 100.959 orang.23).06 2008 9. Angka tersebut masih di bawah target nasional 22 per 100.090 orang bekerja di sarana kesehatan. yang sebanyak 4.63 meningkat dibanding tahun 2010 (11. dan Asisten Apoteker.000 penduduk. yang sebanyak 1.15 2009 8.000 penduduk.549 orang. Jumlah tenaga gizi di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 adalah 1.85.68 dan terendah adalah Kabupaten Pati 1.000 penduduk sebesar 4. Rasio tertinggi Kota Surakarta 1. dan D-1 Gizi.454 bekerja di sarana kesehatan.376 didominasi oleh tenaga perempuan sebanyak 2. Rasio tenaga gizi per 100. Jumlah dan Rasio Tenaga Kefarmasian di Sarana Kesehatan Tenaga kefarmasian terdiri dari Apoteker. D-III Gizi.23 2011 12.000 penduduk pada tahun 2011 sebesar 4.63 Gambar 5. Sedangkan rasio tenaga apoteker dan sarjana farmasi per 100. 15 10 5 0 Rasio tenaga kefarmasian 2007 9.13 Rasio Tenaga Kefarmasian Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 4.55). Jumlah tenaga kefarmasian di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 adalah 4.

56 2009 3.036 diantaranya bekerja di sarana kesehatan. Rasio tenaga sanitasi per 100. 5 4 3 2 1 0 Rasio tenaga kesmas 2007 3.49 Gambar 5.61 2009 4.3 2011 2.55 2011 4. yang 1.14 Rasio Tenaga Gizi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 5.96 Gambar 5.8 2010 4.20 turun dibandingkan dengan tahun 2010 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 105 .5 4 3 2 1 0 Rasio tenaga gizi 2007 3.62) dan terendah adalah Kabupaten Klaten (0.000 penduduk sebesar 3.000 penduduk tahun 2011 sebesar 2.14 2010 4.37 2008 3.230 orang.758 orang.71). Jumlah Tenaga Sanitasi di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 adalah 1.15 Rasio Tenaga Kesehatan Masyarakat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 b. Rasio tertinggi adalah Kota Tegal (19. Rasio tenaga kesehatan masyarakat per 100. Tenaga Sanitasi Tenaga sanitasi terdiri dari D-III sanitasi dan D-I sanitasi. Kesehatan Masyarakat Jumlah tenaga kesehatan masyarakat di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 1.30). yang 958 orang bekerja di sarana kesehatan.86 2008 3.96 menurun dibandingkan dengan tahun 2010 (4. Jumlah dan Rasio Tenaga Kesehatan Masyarakat di Sarana Kesehatan a.

Rasio tenaga sanitasi dapat dilihat pada gambar 5.56 2011 10.99 2010 10.63 2008 3.(3. teknik elektromedik.85 2009 8.16 Rasio Tenaga Sanitasi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 . Rasio tertinggi adalah Kota Magelang 90. Tenaga teknisi medis di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sejumlah 3.2 Gambar 5. 5 4 3 2 1 0 Rasio tenaga sanitasi 2007 4. 12 10 8 6 4 2 0 Rasio tenaga teknisi medis 2007 8.2011 6.10.59 2009 3.24 tahun terendah Gambar 5.38).45 2010 3. Rasio tertinggi adalah Kota Magelang (27.24 menurun dibandingkan dengan 2010 (10. Teknisi Medis Tenaga teknisi medis terdiri dari analis laboratorium.74 2011 3. penata rontgent dan penata anestesi.74).17 Rasio Tenaga Tehnisi Medis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 106 .56).76 2008 8.07) dan terendah adalah Kabupaten Demak (0. Jumlah dan Rasio Tenaga Medis dan Fisioterapis di Sarana Kesehatan a. Rasio tenaga teknisi medis per 100.69.000 penduduk sebesar 10.315 orang diantaranya bekerja di sarana kesehatan.50 dan adalah Kabupaten Karanganyar 3.442 orang. yang 3.

33 tahun 2004.975.2.b.31 dan Rembang 0. Sesuai dengan Undang-Undang No. Pemerintah provinsi dan pemerintah daerah (kabupaten/kota) telah berusaha mencukupi kebutuhan tenaganya melalui pengangkatan tenaga baru seperti CPNS. mengalami meningkat dibandingkan tahun 2010 (0. Tenaga Fisioterapi Jumlah tenaga fisioterapi di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 615 orang.73%).01 Jumlah tenaga kesehatan di Provinsi Jawa Tengah masih belum tercukupi dan belum merata sesuai kebutuhan kabupaten/kota. PEMBIAYAAN KESEHATAN 1. Mobilitas tenaga atau distribusi tenaga kesehatan yang tersebar di wilayah pelayanan kesehatan diupayakan dengan peningkatan sarana-sarana kesehatan yang ada. tertinggi adalah Kota Semarang 0. terdapat pembagian peran dan wewenang antara pemerintah pusat dan daerah.01 dan Kabupaten Demak 0. peningkatan puskesmas menjadi puskesmas rawat inap dan peningkatan pemberian insentif oleh Kementrian Kesehatan bagi tenaga medis yang melaksanakan masa bakti di daerah terpencil maupun sangat terpencil.06% adalah sumber dari pemerintah lain.000 penduduk tahun 2011 sebesar 1. APBD provinsi yang dialokasikan untuk pembiayaan kesehatan di kabupaten/kota tahun 2011 sebesar 1.573.84% berasal dari APBD kabupaten/kota.637. PHL maupun PTT. Rasio tenaga fisioterapi per 100. Dalam pembangunan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 107 . Persentase Anggaran Kesehatan dalam APBD Kabupaten/Kota Pada tahun 2011 jumlah total anggaran kesehatan kabupaten/kota se Jawa Tengah Rp.39%. seperti peningkatan akreditasi rumah sakit.657 dengan kontribusi terbesar sebesar 79.78.25%).85%. Kontribusi anggaran kesehatan APBD kabupaten/kota meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2010 (51. dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah/desentralisasi. Kontribusi terendah 0. Kontribusi DAK bidang kesehatan di kabupaten/kota sebesar 7. 575 orang diantaranya bekerja di sarana kesehatan. terendah adalah Kabupaten C.

81. Kontribusi anggaran kesehatan bersumber dana lain meningkat dari 0.105. terjangkau dan berkualitas.362.93% pada tahun 2010 menjadi 3..657 lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebesar Rp.428..2. Hal ini merupakan respon pemerintah yang positif terhadap pembangunan bidang kesehatan di kabupaten/kota. Jumlah anggaran untuk askeskin sebesar 5.573.358.-.kesehatan.80% pada tahun 2011.84% dari total APBD kabupaten/kota.3. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 108 .73%).450.866.pada tahun 2011.12% dari keseluruhan anggaran kesehatan menurun dibandingkan tahun 2010 (0. meningkat dibandingkan tahun 2010 (51.pada tahun 2010 menjadi Rp.975.234. pemerintah pusat dan daerah menyediakan pelayanan kesehatan yang merata. Anggaran kesehatan bersumber PHLN tahun 2011 mencapai 0. pemerintah pusat memberikan anggaran pada daerah untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan prioritas nasional.39%).637. Anggaran kesehatan perkapita menurun dari Rp. Melalui Dana Alokasi Khusus (DAK).55% pada tahun 2011 Anggaran belanja bersumber APBD kabupaten/kota yang dialokasikan untuk pembiayaan kesehatan tahun 2011 sebesar 79. Total angaran kesehatan kab/kota tahun 2011 sebesar Rp.

Prevalensi Tuberkulosis tahun 2011 per 100.01/100. sudah melampaui target Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tahun 2015 (23/1.000 penduduk Provinsi Jawa Tengah sebesar 74. Angka Kematian Balita (AKABA) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 11. sudah melampaui target Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tahun 2015 (17/1.000 kelahiran hidup. c. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 109 .000 penduduk.BAB VI KESIMPULAN A. Mortalitas/Angka Kematian a. b. Angka kesembuhan (Cure Rate ) TB paru Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 sebesar 85.000 kelahiran hidup). Derajat Kesehatan 1.01%).000 kelahiran hidup). 2.000 kelahiran hidup.52%. b.15% sudah melebihi target nasional (85%) dan meningkat bila dibandingkan tahun 2009 (85.97/100.000 kelahiran hidup. d. Morbiditas/Angka Kesakitan a. Dari hasil pemeriksaan laboratorium. c. Case Detection Rate (CDR) atau angka penemuan penderita TB paru BTA (+) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 59. Angka kematian kecelakaan lalu lintas di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 adalah sebesar 2. d. Angka Kematian Bayi (AKB) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 10.50/1. 215 kasus yang diperiksa semua menunjukan negatif polio (berarti tidak ditemukan virus polio liar).52. sehingga sudah memenuhi target (164 kasus). Angka Kematian Ibu (AKI) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 116.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2011 di Provinsi Jawa Tengah ditemukan 215 penderita AFP. meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 (55.38%).70 per 100. mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan AKI pada tahun 2010 yang sebesar 104.34/1.

8/100. Jumlah infeksi HIV yang dilaporkan tahun 2011 sebanyak 755 kasus.e. Cakupan penemuan dan penanganan diare di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 57. Jumlah pendonor pada tahun 2011 diketahui sebanyak 346.63%).9%.48%). Kasus Aquiared Immuno Devisiency Syndrome (AIDS) sebanyak 521 kasus dengan jumlah kematian karena AIDS sebanyak 89 kasus. m. Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) DBD tahun 2011 sebesar 0.873 kasus dan tipe Pausi Basiler sebanyak 395 kasus dengan Newly Case Detection Rate (NCDR) sebesar 7 per 100.000 penduduk.81%). Persentase penemuan dan penanganan penderita pneumonia pada balita tahun 2011 sebesar 25.29%) dan sudah lebih rendah bila dibandingkan dengan target nasional (<1%) Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 110 . Proporsi cacat tingkat II pada tahun 2011 sebesar 13.32%. lebih rendah bila dibandingkan CFR tahun 2010 (1. k. Jumlah kasus baru IMS lainnya di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 ini sebanyak 10. h. kemudian yang dilakukan pemeriksaan sampel darah sebanyak 324. sedangkan proporsi anak di antara penderita baru sebesar 10. Cakupan program kusta tipe PB tahun 2011 berdasarkan jumlah penderita baru tahun 2010 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2011 sebesar 85% lebih rendah dari target 90%. f. mengalami peningkatan bila dibandingkan cakupan tahun 2010 (44. Dari hasil pemeriksaan sampel darah tersebut.828 (93. g. j.269 orang.27/100. Jumlah kasus baru tipe Multi Basiler yang dilaporkan sebanyak 1.14%. sebanyak 415 sampel (0. Angka kesakitan/Incidence Rate (IR) DBD di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 15.702 kasus. menurun bila dibandingkan tahun 2010 (59. Kusta tipe MB diambil dari data penderita baru tahun 2009 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2011 sebesar 76% lebih rendah dari target 95%.000 penduduk.000 penduduk.93%.5% dengan jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 66.13) yang positif HIV. l. i.752 kasus. mengalami penurunan bila dibanding tahun 2010 (40.000 penduduk) dan sudah mencapai target nasional yaitu <20/100.

Tetanus Neonatorum. Kasus tertinggi PTM adalah kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah sebesar 62.12% meningkat bila kordis dibandingkan tahun 2010 (0. Jumlah kasus tahun 2011 sebanyak 3.43% (880.1%). jumlah kasus Filariasis pada tahun 2011 sebanyak 537 penderita.03%.664 kasus). mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2010 (3. Kasus tertinggi PTM pada kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah adalah penyakit Hipertensi Esensial. Difteri dan Hepatitis B. Jumlah kasus Difteri pada tahun 2011 sebanyak 8 kasus lebih sedikit bila dibandingkan dengan tahun 2010 (14 kasus). Campak. mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2010 (117 kasus) dan terdapat di 9 kabupaten/kota. Jumlah kasus Pertusis sebanyak 4 kasus yang berasal dari Kabupaten Kudus. Prevalensi diabetes melitus tergantung insulin sebesar 0. Pertusis. Secara kumulatif.09%.300 kasus) dan angka kesakitan malaria sebesar 0.09%. yaitu sebanyak 634.n. meningkat dibandingkan tahun 2010 (0.10‰).08%). dimana untuk tahun 2011 ini ada 141 kasus baru.193 kasus). Jumlah kasus Tetanus Neonatorum sebanyak 4 kasus yang tersebar di 4 kabupaten/kota. Prevalensi kasus DM tidak tergantung insulin menurun dari 0.11%). Jumlah kasus Polio sebanyak 0 kasus. mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2010 (1 kasus). sedikit meningkat dibandingkan tahun 2010 (0. Prevalensi stroke dekompensasio non hemorargik sebesar 0. Jumlah kasus Hepatitis B sebanyak 170 kasus.467 kasus. Kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah yang melaporkan data PTM tahun 2011 hanya 27 kabupaten/kota (77. o.70% menjadi 0. p.873 kasus.03% dan tersebar di 5 kabupaten/kota.860 kasus (72. q. Kasus penyakit kanker yang ditemukan sebanyak Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 111 . Jumlah kasus Campak sebanyak 1.13 %). r. Prevalensi kasus tahun 2011 sebesar 0.11‰. Tetanus Non Neonatorum. Prevalensi stroke hemoragik tahun 2011 adalah 0. Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) Malaria tahun 2011 sebesar 0. meningkat dibandingkan tahun 2010 (3. Jumlah kasus Tetanus (Non Neonatorum) sebanyak 13 kasus yang tersebar di 4 kabupaten/kota. Yang termasuk dalam PD3I yaitu Polio.63% pada tahun 2011.

514 (0.59%). dan Ca. Persentase balita dengan gizi kurang (BB/U) Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 5.08% pada tahun 2010 menjadi 0.71%.277 kasus).69%. hepar 2.184 meningkat banyak apabila dibandingkan tahun 2010 yang sebanyak 15. Cakupan kunjungan ibu hamil K1 di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 98.542 kasus (48. Upaya Kesehatan 1.04%) tetapi belum memenuhi target SPM 2015 (95%). mamae 9. b.35% c. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 112 .242 (11. Balita Gizi Buruk (BB/TB) tahun 2011 berjumlah 3.55% mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2010 (0. c.19. meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (98.13%).187 (0.10%) menurun apabila dibandingkan tahun 2010 sejumlah 3.72%.79%.86%). terdiri dari Ca. Adapun persentase BBLR sebesar 3. Status Gizi a.18%). b. Jumlah bayi berat lahir rendah (BBLR) di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 21. Ca. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 96. Pelayanan Kesehatan a.631. Cakupan kunjungan ibu hamil K4 tahun 2011 sebesar 93.28%.42%).899 kasus (35.637 kasus meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (13. paru 954 kasus (4. Persentase Balita Gizi Buruk mendapatkan perawatan tahun 2011 sebesar 100% jauh lebih meningkat dibandingkan tahun 2010 sebesar 93. B. Prevalensi kasus PPOK mengalami peningkatan yaitu dari 0. meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (93.73%. meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (92. servik 6. meningkat bila dibandingkan tahun 2010 sebesar 2. Prevalensi kasus asma sebesar 0.59%).09% pada tahun 2011. 3.27%).64%). Ca.

73%). n. Cakupan kunjungan neonatus di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 98.853 anak.78%) Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 113 . Cakupan kunjungan bayi di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 92.61%).72%. m.d.555. meningkat dibandingkan tahun 2010 (92. meningkat dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (52. Cakupan tersebut masih dibawah target SPM (95%).84%. meningkat bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (94. lebih banyak dibandingkan tahun 2010 sebesar 96.64%.43%.86%). meningkat bila dibandingkan cakupan tahun 2010 (93.02%. Jumlah siswa SD dan setingkat tahun 2011 sebanyak 2. lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun 2010 (93.97%. g.84%).10) tetapi belum mencapai target SPM 2015 (80%).28%.70%).35%.831 (42. Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada Balita tahun 2011 sebesar 98.45%. Cakupan tersebut sudah melampaui target SPM sebesar 95%. Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga kesehatan / guru UKS / kader kesehatan sekolah tahun 2011 sebesar 78. Cakupan pelayanan pada ibu nifas di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 93. Cakupan ini sudah melampaui target SPM (95%). Cakupan pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi pada bayi sebesar 99. Yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai strata UKS sebesar 1. Cakupan pelayanan anak balita tahun 2011 sebesar 81.76%).01%. mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010 (78. mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010 (96.074. meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebesar 55.08%. e. Cakupan ibu nifas mendapat kapsul vitamin A tahun 2011 sebesar 96. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani tahun 2011 sebesar 75. Cakupan neonatus risti tertangani Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 53. f. j. l. k.25% mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010 (44.24%). i. h.

s. Cakupan pemberian ASI eksklusif hanya sekitar 45. x.9%). Cakupan Pemberian Makanan Tambahan ASI (MP-ASI) tahun 2011 sebesar 38. MOP (0. t.49%).0%). DPT3+HB3 (95.15%).6%). w. Cakupan balita ditimbang tahun 2011 sebesar 78.2%).174) atau 15. Pencapaian UCI desa tahun 2011 (96. v. mengalami penurunan dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (78.18%).4%) mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2010 (94. p. MOW (2.42% menurun dibandingkan tahun 2010 (80.0%). Jumlah peserta KB baru pada tahun 2011 sebanyak 895.57%).8%). Angka tersebut sudah mencapai target SPM (90%).4%).25%). Cakupan pemberian Fe3 pada ibu hamil di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 90. NON MKJP: Suntik (54. lebih besar bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (90. Walaupun menurun. q. Cakupan balita gizi buruk mendapatkan perawatan tahun 2011 sebesar 100% jauh lebih meningkat dibandingkan tahun 2010 (93.0%) dan Campak (93.4%) dan Kondom (5.8%.28%).120 (13. r. sudah mencapai target (70%).o.06%).25%. menurun apabila dibanding tahun 2010 (997. PIL (18.2%).18%.31% menurun dibandingkan dengan tahun 2010 (53.7%).125).87%).32% menurun dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (89. Cakupan masing-masing jenis imunisasi bayi tahun 2011 adalah sebagai berikut BCG (98.20% dari jumlah PUS (6.7%). u.549. Cakupan peserta KB aktif Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 76. Polio 3 (94. MKJP Tahun 2011: IUD (6. DPT1+HB1 (97. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 114 . meningkat dibandingkan tahun 2010 (37. Kesemuanya sudah di atas target minimal nasional (85%). y.0%) dan Implant (12. Cakupan desa dengan garam beryodium tahun 2011 sebanyak 53. angka tersebut sudah melampaui target SPM (90%).

Puskesmas rawat inap dengan kemampuan pelayanan gawat darurat yang dapat diakses masyarakat Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 291 puskesmas atau 100%.82.59%). ff.5%.2% dan TT2+ sebanyak 114. mengalami penurunan dibanding tahun 2010 (3. yang mendapat TT-1 sebesar 48. mengalami peningkatan bila dibandingkan rasio tahun 2010 (0.90%) lebih tinggi dibandingkan pencapaian tahun 2010 (37.46%. dan masih jauh dibawah target cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut SPM (70%). TT-2 sebesar 48.81). Jumlah ibu hamil 2011 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 632. Angka Drop Out (DO). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 115 .7 dan TT-5 sebesar 17.96% menurun bila dibandingkan cakupan pada tahun 2010 sebesar 52. Rumah Sakit khusus lain sebesar 98. TT-4 sebesar 20. bb. Prosentase jumlah murid yang diperiksa untuk tahun 2011 (37.4%. Rumah Sakit Jiwa sebanyak 100%.z. Jumlah Rumah Sakit Umum dengan kemampuan pelayanan gawat darurat sebanyak 98.61%. sesuai kesepakatan dengan kabupaten/kota indikator DO di Jawa Tengah maksimal 5% atau (-5%). gg. Rasio tumpatan dan pencabutan gigi tetap di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 0.30% mengalami peningkatan bila dibanding tahun 2010 (53.67%).83%). TT-3 sebesar 28. cc. aa.8.45%). dd. ee. Pada tahun 2011 persentase desa/kelurahan terkena KLB yang ditangani kurang dari 24 jam mengalami kenaikan menjadi 100% dibanding dengan tahun 2010 (98.4%. Cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 51.198. Cakupan perawatan gigi dan mulut murid SD/MI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 55.2%.80%. Tahun 2011 DO tingkat Jawa Tengah sebanyak 3.

jj.73%%) dan KLB Tetatus Neonatorum (75.205. Sedangkan penyuluhan massa telah dilakukan 5.033.033.202. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 116 . Jumlah penduduk terancam KLB tahun 2011 sebanyak 1.479 kali (65. Masyarakat miskin yang mendapatkan pelayanan kesehatan rawat jalan di sarana pelayanan strata 1 sebesar 7.544 (3. yang meninggal sebanyak 24 orang (case fatality rate/CFR: 0.805 orang. meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 (36.00%). Jumlah masyarakat miskin dan hampir miskin pada tahun 2011 sebanyak 13. Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan a. 2. meningkat bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (21.344 kali.98%). mendapatkan pelayanan kesehatan rawat inap di sarana kesehatan strata 1 sebanyak 1.64%). Dari sejumlah penderita tersebut. Cakupan kunjungan rawat jalan di sarana kesehatan di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 105. Cakupan jaminan pemeliharaan kesehatan pra bayar tahun 2011 mencapai 36.59%).77%). CFR tertinggi adalah KLB demam berdarah dengue/DBD yaitu terdapat (72.4%. ii.805.387.hh. Penyuluhan kelompok pada tahun 2011 sebanyak 206.17%) sedangkan di sarana pelayanan strata 2 dan strata 3 sebesar 438. c.687 (57.733 jiwa dengan attack rate atau rata-rata kejadian sebesar 33.1% lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2010 (4.3%) sedangkan di sarana kesehatan 2 dan 3 sebanyak 431.21%.493 (3.37%).18% dari total penduduk bukan masyarakat miskin (non maskin). e. Cakupan rawat inap di sarana kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 5.433. terbanyak di rumah sakit yaitu 130.848 jiwa. Sedangkan yang menderita akibat kejadian luar biasa tersebut sebanyak 3. Jumlah masyarakat miskin dan hampir miskin sebanyak 13.817 kali. Jumlah kunjungan gangguan jiwa tahun 2011 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 198.69%).3%). b.011 (9. d.

Keadaan Lingkungan a.88% pada tahun 2011.95%. menurun bila dibandingkan dengan rata-rata pada tahun 2010 sebesar 3.902 (40. Cakupan rumah yang memenuhi syarat kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 62.f. meningkat bila dibandingkan tahun 2010 (68.13%) mempunyai tingkat pemanfaatan sangat tinggi diatas maksimal occupancy rate. Rata-rata TOI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3.11%) dari 8. Jumlah keluarga yang diperiksa sumber air minumnya sebanyak 3. Perilaku Hidup Masyarakat a. i. d.506. menurun bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (65. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 117 .79% pada tahun 2010 menjadi 89. Cakupan keluarga yang memiliki akses terhadap air bersih meningkat dari 87.77.620 (68.63%). Angka Kematian Umum Penderita Yang Dirawat di RS (GDR) pada tahun 2011 rata rata sebesar 34.77%) mempunyai BOR yang dianggap cukup ideal. g.43%). Pada tahun 2011 jumlah rumah sakit sebanyak 247 Rumah Sakit di Jawa Tengah terdiri dari 13 RS (6.703. h.01 sedangkan angka yang dapat ditolerir maksimum 45.54 dari jumlah RS yang lapor. 61 RS (28.91 mengalami peningkatan bila dibandingkan nilai ALOS tahun 2010 sebesar 3. 3.21%).85. Cakupan rumah bebas jentik nyamuk Aedes Aegypti di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 77.01%). 4.68%.674.14%.696 KK dan yang telah menggunakan sumber air minum terlindung sebanyak 2. Rata-rata lama rawat seorang pasien di RS se Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3. b. c. Persentase rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat yaitu yang diwakili oleh rumah tangga yang mencapai strata sehat utama dan sehat paripurna sebesar 74. meningkat bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (73.

c. h. Sumber Daya Kesehatan 1. Prosentase tingkat kecukupan obat di Kabupaten/kota yang paling tinggi adalah kloramfenikol kapsul 250 mg (278. Pemakaian obat rata-rata perbulan terbanyak adalah Klorfeniramin Maleat tablet 4 mg (2.674 tablet) dan terendah adalah OAT katagori 3 (43 paket). Cakupan keluarga yang memiliki tempat sampah memenuhi syarat kesehatan di Provinsi Jawa Tengah meningkat dari 67. sarana pendidikan 64. Sedangkan cakupan keluarga memiliki sarana pengelolaan air limbah yang memenuhi syarat kesehatan sebesar 50. sarana ibadah 61. stock terbanyak adalah Klorfeniramin Maleat tablet 4 mg 52. d.11% dan sarana lainnya 47. sedangkan paling rendah adalah OAT Kategori 2 (52.58% pada tahun 2011.56%.67%. b.76% pada tahun 2010 meningkat menjadi 63.11%.44%). Sarana Kesehatan a. Pada tahun 2011 dari 34 jenis obat yang dilaporkan oleh kabupaten/kota.88%.09%). restoran/rumah makan 73.29% pada tahun 2011. C. Pada Tahun 2011 pencapaian cakupan institusi yang dibina yaitu sarana pelayanan kesehatan 81. g. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 118 .51%. Cakupan pengawasan tempat-tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan tahun 2011 meliputi hotel 84.834.02% pada tahun 2010 menjadi 69. Tingkat kecukupan obat tertinggi adalah obat Kloramfenikol kapsul 250 mg (50) dan terendah adalah OAT katagori 3 (9) artinya bahwa persediaan obat Kloramfenikol kapsul 250 mg dapat tercukupi pemakaiannya untuk selama 50 bulan dan OAT katagori 3 dapat tercukupi pemakaiannya untuk selama 9 bulan.55% dan TUPM lainnya (67. instalasi pengolahan air minum 58. perkantoran 72.e.206.95% pada tahun 2010 menjadi 71.57% pada tahun 2011. f.44%.266 tablet dan paling sedikit adalah OAT Katagori 3 (523 paket).46%).53%. pasar 55. Cakupan keluarga yang memiliki jamban yang memenuhi syarat kesehatan di Provinsi Jawa Tengah turun dari 72.

Jumlah puskesmas di Provinsi Jawa Tengah meningkat dari 854 unit pada tahun 2010 menjadi 867 pada tahun 2011. maka jumlah puskesmas per 30. Rasio tenaga dokter gigi per 100. Rasio tenaga dokter umum per 100. Ini berarti bahwa jumlah puskesmas di Provinsi Jawa Tengah masih kurang. 7 RSU milik pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Rasio tenaga kefarmasian per 100. dan 41 milik pemerintah kabupaten/kota).15. dengan sasaran penduduk yang dilayani oleh sebuah puskesmas rata-rata 30. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 119 . Puskesmas Keliling sebanyak 948 unit dan Poliklinik Kesehatan Desa sebanyak 5.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3. d. RSU milik TNI/POLRI sebanyak 10 RS.209 unit.000 penduduk per puskesmas. Rasio tenaga gizi per 100.e. Sedangkan puskesmas perawatan dari 281 buah pada tahun 2010 naik menjadi 291 pada tahun 2011. g.000 penduduk tahun 2011 sebesar 4.49. Tenaga Kesehatan a. Rumah sakit khusus pemerintah dan swasta di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 68 RS terdiri dari 4 RS Jiwa milik pemerintah.827 unit.80.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 6.96. Puskesmas Pembantu sebanyak 1. b.0000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 12.42. Unit Pelaksana Tehnis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah terdiri dari: Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) sebanyak 5 unit dan 1 Balai Kesehatan Indera Masyarakat (BKIM). 10 RS Bersalin milik swasta dan 54 RS Khusus lainnya (3 milik pemerintah dan 51 milik swasta) h. Bila dibandingkan dengan konsep wilayah kerja puskesmas.000 penduduk tahun 2011 sebesar 0. 2. Rasio dokter spesialis per 100.24. Rumah sakit umum di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 berjumlah 179 buah yang terdiri dari RSU pemerintah sebanyak 50 buah ( 2 RSU milik Departemen Kesehatan.000 penduduk tahun 2011 sebesar 17. c. RSU milik BUMN sebanyak 1 RS dan RSU milik swasta sebanyak 118 buah. e. f.

yang mandiri dan bertumpu pada Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 120 . h. yang semula sebesar 51. 3.11%.18% pembiayaan dari seluruh kesehatan di kabupaten/kota tahun pembiayaan kabupaten/kota. Anggaran tersebut naik 28.450.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 2. i.30).84% pada tahun 2011. Rasio tenaga sanitasi per 100.73% pada tahun 2010 menjadi 79.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3.47).95 lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2010 (76.24 lebih sedikit bila dibandingkan tahun 2010 (10. Rasio tenaga teknisi medis per 100.f. j.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 10.20 menurun dibandingkan tahun 2010 (3.74).- Demikian gambaran hasil pembangunan kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebagai wujud nyata kinerja seluruh jajaran kesehatan di Provinsi Jawa Tengah dalam upaya mewujudkan Jawa Tengah Sehat potensi daerah.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 73.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 39. g.55).96 lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2010 (4. Rasio tenaga kesehatan masyarakat per 100. Rasio Bidan per 100.56 lebih banyak dibandingkan tahun 2010 (38. Rasio tenaga keperawatan per 100.56). 81. Pembiayaan Kesehatan Anggaran belanja yang dialokasikan 2011 sekitar untuk 7. Sedangkan anggaran kesehatan perkapita pada tahun 2011 sebesar Rp.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->