BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dalam upaya mewujudkan Jawa Tengah Sehat, pembangunan kesehatan di Jawa Tengah tidak dapat dilakukan sendiri oleh aparat pemerintah di sektor kesehatan, tetapi harus dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan peran serta swasta dan masyarakat. Segala upaya kesehatan selama ini dilakukan tidak hanya oleh sektor kesehatan saja, tetapi juga tidak luput peran dari sektor non kesehatan dalam upaya penyelenggaraan pelayanan kesehatan mengatasi permasalahan kesehatan. Agar proses pembangunan kesehatan berjalan sesuai dengan arah dan tujuan, diperlukan manajemen yang baik sebagai langkah dasar pengambilan keputusan dan kebijakan di semua tingkat administrasi pelayanan kesehatan. Untuk itu pencatatan dan pelaporan kegiatan pelayanan kesehatan perlu dikelola dengan baik dalam suatu sistem informasi kesehatan. Sistem Informasi Kesehatan (SIK) yang evidence based diarahkan untuk penyediaan data dan informasi yang akurat, lengkap, dan tepat waktu. Untuk itu, peran data dan informasi kesehatan menjadi sangat penting dan semakin dibutuhkan dalam manajemen kesehatan oleh berbagai pihak. Masyarakat semakin peduli dengan situasi kesehatan dan hasil pembangunan kesehatan yang telah dilakukan oleh pemerintah, terutama terhadap masalah-masalah kesehatan yang berhubungan langsung dengan kesehatan mereka. Kepedulian masyarakat akan informasi kesehatan ini memberikan nilai positif bagi pembangunan kesehatan itu sendiri. Untuk itu pengelola program harus bisa menyediakan dan memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat dengan dikemas secara baik, sederhana, informatif, dan tepat waktu. Profil kesehatan merupakan salah satu produk dari Sistem Informasi Kesehatan yang penyusunan dan penyajiannya dibuat sesederhana mungkin tetapi informatif, untuk dipakai sebagai alat tolok ukur kemajuan pembangunan kesehatan sekaligus juga sebagai bahan evaluasi program-program kesehatan. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah adalah gambaran situasi kesehatan yang memuat berbagai
Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

dan upaya

1

data tentang situasi dan hasil pembangunan kesehatan selama satu tahun yang memuat data derajat kesehatan, sumber daya kesehatan, dan capaian indikator hasil pembangunan kesehatan. B. SISTEMATIKA PENYAJIAN Sistematika penyajian Profil Kesehatan adalah sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN Berisi penjelasan tentang maksud, tujuan dan sistematika

penyajiannya. BAB II : GAMBARAN UMUM Menyajikan tentang gambaran umum Provinsi Jawa Tengah meliputi letak geografis, kependudukan, ekonomi dan pendidikan yang erat kaitannya dengan kesehatan. BAB III : SITUASI DERAJAT KESEHATAN Berisi uraian tentang indikator mengenai angka kematian, angka kesakitan dan angka status gizi masyarakat. BAB IV : SITUASI UPAYA KESEHATAN Menguraikan tentang pelayanan kesehatan dasar, pelayanan

kesehatan rujukan dan penunjang, pencegahan dan pengendalian penyakit menular dan tidak menular, pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan, pelayanan kesehatan dalam situasi bencana serta upaya pelayanan kesehatan lainnya yang diselenggarakan oleh kabupaten/kota.

BAB V

: SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
Menguraikan tentang tenaga kesehatan, sarana kesehatan, pembiayaan kesehatan dan sumber daya kesehatan lainnya.

BAB VI

: KESIMPULAN Berisi sajian garis besar hasil-hasil cakupan porgram/kegiatan

berdasarkan indikator-indikator bidang kesehatan untuk dapat ditelaah lebih jauh dan untuk bahan perencanaan pembangunan kesehatan serta pengambilan keputusan di Provinsi Jawa Tengah.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

2

LAMPIRAN Berisi resume atau angka pencapaian kabupaten/kota dan 82 tabel data yang sebagian diantaranya merupakan Indikator Pencapaian Kinerja Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

3

BAB II GAMBARAN UMUM

A. KEADAAN GEOGRAFI Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak cukup strategis karena berada diantara dua provinsi besar, yaitu bagian barat berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat, bagian timur berbatasan dengan Provinsi Jawa Timur. Sedangkan bagian utara berbatasan dengan Laut Jawa dan bagian selatan berbatasan dengan Samudra Hindia dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Letaknya antara 5°40 ' - 8 °30' lintang selatan dan antara 108°30' - 111°30' bujur timur (termasuk Pulau Karimunjawa). Luas wilayah Provinsi Jawa Tengah sebesar 32.544,12 km², secara administratif terbagi menjadi 29 kabupaten dan 6 kota, yang tersebar menjadi 573 kecamatan dan 8.576 desa/kelurahan. Wilayah terluas adalah Kabupaten Cilacap dengan luas 2.138,51 km², atau sekitar 6,57% dari luas total Provinsi Jawa Tengah, sedangkan Kota Magelang merupakan wilayah yang luasnya paling kecil yaitu seluas 18,12 km². Secara topografi, wilayah Provinsi Jawa Tengah terdiri dari wilayah daratan yang dibagi menjadi 4 (empat) kriteria : a. Ketinggian antara 0–100 m dari permukaan air laut, seluas 53,3%, yang daerahnya berada di sepanjang pantai utara dan pantai selatan. b. Ketinggian antara 100–500 m dari permukaan air laut seluas 27,4%. c. Ketinggian antara 500–1.000 m dari permukaan air laut seluas 14,7%. d. Ketinggian diatas 1.000 m dari permukaan air laut seluas 4,6%. B. KEADAAN PENDUDUK 1. Pertumbuhan dan Persebaran Penduduk Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, jumlah penduduk Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2010 sebesar 32.382.657 jiwa, dengan luas wilayah sebesar 32.544,12 kilometer persegi (km²), rata-rata kepadatan penduduk sebesar 995,04 jiwa untuk setiap km². Wilayah terpadat

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

4

adalah Kota Surakarta, dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 11.341 jiwa per km². Wilayah terlapang adalah Kabupaten Blora, dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 462 jiwa per km², dengan demikian persebaran penduduk di Jawa Tengah belum merata. Jumlah rumah tangga sebanyak 8.703.696, maka rata-rata jumlah anggota rumah tangga adalah 3,72 jiwa untuk setiap rumah tangga. Penduduk terbanyak di Kabupaten Brebes 1.733.869 jiwa (5,35%) dan paling sedikit di Kota Magelang 118.227 jiwa (0,37%). Data mengenai kependudukan dapat dilihat pada lampiran Tabel 1.

2. Rasio Jenis Kelamin Komposisi penduduk menurut jenis kelamin dapat dilihat dari rasio jenis kelamin, yaitu perbandingan penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan per 100 penduduk perempuan. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010 oleh Badan Pusat Statistik, didapatkan jumlah penduduk laki-laki di Jawa Tengah 16.091.112 jiwa (49,69%) dan jumlah penduduk perempuan di Jawa Tengah 16.291.545 jiwa (50,31%). Sehingga didapatkan rasio jenis kelamin sebesar 98,77 per 100 penduduk perempuan, berarti setiap 100 penduduk perempuan ada sekitar 98 atau 99 penduduk laki-laki. Data mengenai rasio jenis kelamin (sex ratio) dapat dilihat pada lampiran Tabel 2.

3. Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur Komposisi penduduk Provinsi Jawa Tengah menurut kelompok umur dan jenis kelamin menunjukkan bahwa penduduk laki-laki maupun perempuan mempunyai proporsi terbesar pada kelompok umur 15–44 tahun. Gambaran komposisi penduduk secara lebih rinci dapat dilihat pada lampiran Tabel 3. Perbandingan komposisi proporsi penduduk menurut usia produktif dari tahun 2006 sampai tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut:

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

5

Tabel 2.1 Persentase Kelompok Usia Produktif Jawa Tengah tahun 2006 – 2010 Kelompok Usia (Tahun) 0 - 14 15 – 64 65 + TAHUN 2006 25,98 % 66,92 % 7,10 % 2007 27,02 % 65,21 % 7,77 % 2008 26,57 % 65,66 % 7,77 % 2009 25,03 % 67,87 % 7,11 % 2010 26,32 % 66,53 % 7,05 %

Sumber : BPS Provinsi Jawa Tengah tahun 2010

Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa proporsi penduduk tahun 2010 bila dibandingkan dengan tahun 2009, kelompok usia produktif (15-64 tahun) mengalami penurunan, sedangkan kelompok usia belum produktif (0-14 tahun) mengalami kenaikan. Hal ini berarti bahwa angka beban tanggungan menjadi bertambah.

C. KEADAAN EKONOMI 1. Produk Domestik Regional Bruto Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah ukuran kuantitatif dari kinerja perekonomian suatu wilayah selama satu periode waktu tertentu. PDRB merupakan total nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit-unit usaha yang beroperasi di wilayah domestik. Perekonomian Jawa Tengah pada tahun 2011 mengalami pertumbuhan sebesar 6,0% dibanding tahun 2010. Berdasarkan hasil penghitungan triwulan I sampai dengan triwulan IV , PDRB Jawa Tengah tahun 2011 atas dasar harga berlaku meningkat sebesar Rp. 53,9 triliun, yaitu dari Rp. 444,7 triliun pada tahun 2010 menjadi sebesar Rp. 498,6 triliun pada tahun 2011. Jika dilihat dari PDRB atas dasar harga konstan pada tahun 2011 mencapai Rp. 198,2 triliun, sedangkan pada tahun 2010 sebesar Rp. 187,0 triliun. Selama tahun 2011, semua sektor ekonomi yang membentuk PDRB mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor

pengangkutan dan komunikasi yang mencapai 8,6%, diikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran 7,5%, sektor jasa-jasa 7,5%, sektor industri

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

6

Hal ini dikarenakan kontribusi nilai tambah bruto sektor pengangkutan dan komunikasi terhadap PDRB Jawa Tengah relatif kecil.9%. sektor listrik.3%.732 15. Sektor industri pengolahan yang mengalami pertumbuhan 6.345 5.8 juta.124 11.3%.2 PDRB per Kapita Jawa Tengah Tahun 2008 – 2011 (jutaan rupiah) Tahun PDRB per Kapita atas dasar harga berlaku 11. sektor pertambangan dan penggalian 4.9% dibandingkan dengan tahun 2010 yan gsebesar Rp. Pada tahun 2011 angka PDRB per kapita atas dasar harga berlaku diperkirakan mencapai 15. Sedangkan sektor pengangkutan dan komunikasi.1 juta atau secara riil meningkat sebesar 5.2%.pengolahan 6. yaitu sebesar 2. 13. Sedangkan sektor yang mengalami pertumbuhan terendah pada tahun 2011 adalah sektor pertanian yaitu sebesar 1.142 5.957 13.0% dibandingkan dengan PDRB per kapita tahun 2010 sebesar Rp. sektor ini hanya mampu memberikan sumbangan 0.7 juta. meskipun mengalami pertumbuhan terbesar yaitu 8. hotel dan restoran yaitu 1.774 6. sektor keuangan.4%. 6.376 PDRB per Kapita atas dasar harga konstan 5.7%. PDRB per kapita merupaka PDRB dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun.4% terhadap sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.7% mampu memberikan andil terbesar terhadap sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. real estate dan jasa perusahaan 6.3%. gas dan air bersih 4. Sedangkan PDRB per kapita atas dasar harga konstan pada tahun 2011 sebesar Rp. sektor konstruksi 6.6%. Selain itu dapat dilihat besarnya sumbangan (andil) masing-masing sektor dalam menciptakan laju pertumbuhan ekonomi selam tahun 2011. 5.6%. Sumber pertumbuhan terbesar kedua adalah dari sektor perdagangan.4 juta dengan laju peningkatan sebesar 12.112 2008 2009 2010 2011 Sumber : PDRB Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 7 . Tabel 2.

SMP dan Akademi/Perguruan Tinggi.58 16.31.01 32. serta dapat ikut berperan serta aktif dalam mengatasi masalah kesehatan dirinya dan keluarganya. Tabel 2. Angka tersebut mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2009 (51.13 Tdk punya Ijazah SD/MI 26.48 Total 100.43).16 18.46 23.58 17. angka beban tanggungan (dependency ratio) penduduk Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2010 sebesar 50.11 SMU/SMK 12.00 100. Peningkatan terjadi pada tingkat pendidikan SD.45 14.00 100.64 15. Berikut ini disajikan tabel persentase jumlah penduduk usia 10 tahun ke atas menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2007-2010.74 32.03 22.55 SMP 15.84 9.48 4.93 Tahun 2007 2008 2009 2010 SD/MI 31.91 DIPL/AK/ PT 5.00 Sumber : BPS Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 8 .2. pada umumnya mempunyai pengetahuan dan wawasan yang lebih luas sehingga lebih mudah menyerap dan menerima informasi. KEADAAN PENDIDIKAN Tingkat pendidikan dapat berkaitan dengan kemampuan menyerap dan menerima informasi kesehatan serta kemampuan dalam berperan serta dalam pembangunan kesehatan.21 10.50 34. D. Angka Beban Tanggungan Berdasarkan jumlah penduduk menurut kelompok umur.41 4. Masyarakat yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi.42 8. Hal ini wajar terjadi mengingat semakin digalakkannya program sekolah gratis bagi jenjang SD dan SMP dan program-program pendidikan lainnya.33 8.3 Jumlah Penduduk Usia 10 tahun ke Atas Menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007-2010 Blm/Tdk Pernah Sekolah 7.22 18.00 100. Dibandingkan dengan tahun 2009 secara umum telah terjadi peningkatan di bidang pendidikan. berarti pada tahun 2010 setiap 100 penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun) harus menanggung beban hidup sekitar 50 penduduk usia belum produktif (0–14 tahun) dan usia tidak produktif (65 tahun ke atas).93 4.

Data mengenai angka melek huruf dapat dilihat pada lampiran Tabel 5. Faktor perekonomian dan pendidikan secara bersama-sama dengan kesehatan digunakan untuk menentukan Indeks Pembangunan Manusia. sedangkan yang buta huruf sebesar 8. maka penduduk laki-laki lebih banyak yang melek huruf dibandingkan dengan penduduk perempuan.98%. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 9 .Peningkatan tersebut berimbas pada kemampuan baca tulis penduduk yang tercermin dari angka melek huruf.02%. Demikian gambaran umum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 secara ringkas dengan penyajian tentang kependudukan. Bila dilihat dari jenis kelaminnya.87%. angka melek penduduk laki-laki sebesar 94.28% dan perempuan sebesar 87. perekonomian dan pendidikan. Persentase penduduk yang dapat membaca dan menulis huruf latin dan huruf lainnya pada tahun 2010 sebesar 91.

Angka Kematian balita (AKABA). Angka Kematian Ibu (AKI). Apabila AKB di suatu wilayah tinggi. Angka kematian yang disajikan pada bab ini yaitu AKB. derajat kesehatan masyarakat di Provinsi Jawa Tengah digambarkan melalui Angka Kematian Bayi (AKB). serta kondisi lingkungan dan sosial ekonomi. AKI dan Angka Kematian Kecelakaan Lalu Lintas. lingkungan sosial. angka morbiditas beberapa penyakit dan status gizi. tingkat pelayanan antenatal. keturunan dan faktor lainnya.34/1.000 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 10 .62/1. AKABA. AKB di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 10. tingkat keberhasilan program KIA dan KB. berarti status kesehatan di wilayah tersebut rendah. Angka Kematian Bayi Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan jumlah kematian bayi (0-11 bulan) per 1000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun. pendidikan.BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN Dalam menilai derajat kesehatan masyarakat. Pada bagian ini. 1. angka kesakitan dan status gizi. Faktorfaktor tersebut tidak hanya berasal dari sektor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan. ANGKA KEMATIAN Angka kematian dari waktu ke waktu menggambarkan status kesehatan masyarakat secara kasar. menurun bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 10.000 kelahiran hidup. Indikator-indikator tersebut pada umumnya tercermin dalam kondisi angka kematian. AKB menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan faktor penyebab kematian bayi. Angka tersebut dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan. terdapat beberapa indikator yang dapat digunakan. A. melainkan juga dipengaruhi faktor ekonomi. status gizi ibu hamil. Derajat kesehatan masyarakat juga dipengaruhi oleh banyak faktor. kondisi lingkungan fisik dan biologik secara tidak langsung. kondisi atau tingkat permasalahan kesehatan.

Klaten Kab.00 5.Wonosobo Kab.72 9.Temanggung Kab.Sragen Kab.97/1.79 15.Jepara Kab.Demak Kota Tegal Kota Surakarta 21.Batang Kab.Pati Kota Pekalongan Kab.5 AKB 2008 9.38 9.1 Angka Kematian Bayi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 –2011 Angka kematian bayi tertinggi adalah Kabupaten Rembang sebesar 21.Blora Kab.Rembang Kab.Sukoharjo Kab.62 2011 10.Boyolali Kota Semarang Kab.33 9.Tegal Kota Salatiga Kab.27 12.000 kelahiran hidup.49 7.55 7.09 6. Kab.Karanganyar Kab.15 11.Kudus Kab.08 9.5 9 8.23 12.34 Gambar 3.23 9. Dibawah ini grafik AKB di Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2008-2011.16 10.23 9.67 11.23 9.2 Angka Kematian Bayi di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 11 .11 8.72 8.49 7.93 12.66 3.Pemalang Kab.Cilacap Kab.69 9.Magelang Kab.53 17.Grobogan Kota Magelang Kab.Banyumas Kab.00 20.Semarang Kab.00 25.25 2010 10.Purbalingga Kab.41 0. Dibandingkan dengan target Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tahun 2015 sebesar 17/1.54 8.63 5.00 Gambar 3.Kendal Kab.85 8.30 13.97 17.000 kelahiran hidup.25 13.63 12. 11 10.Purw orejo Kab.Pekalongan Kab.000 kelahiran hidup maka AKB di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sudah cukup baik karena telah melampaui target.51 8.5 10 9.34 15.63/1.Wonogiri Kab.Banjarnegar Kab.00 10.72 6.Kebumen Kab. sedangkan terendah adalah Kota Surakarta sebesar 3.kelahiran hidup.Brebes Kab.27 2009 10.00 15.68 8.

sedangkan terendah di Kota Surakarta sebesar 4.4 di bawah ini.000 kelahiran hidup.12/1.5 9 AKABA 2008 10.50/1. tingkat keberhasilan program KIA/Posyandu dan kondisi sanitasi lingkungan.2.000 kelahiran hidup.5 12 11.000 kelahiran hidup.12 2009 11. menurun dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 12.3 Angka Kematian Balita Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 –2011 AKABA tertinggi di Kabupaten Rembang sebesar 23. AKABA Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sudah melampaui target.02/1. AKABA Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 11.5 Gambar 3.5 11 10.6 2010 12.000 kelahiran hidup. Selengkapnya dapat dilihat pada gambar 3.5 10 9. tingkat pelayanan KIA/Posyandu. Angka Kematian Balita Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan jumlah kematian balita 0–5 tahun per 1000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun.000 kelahiran hidup. Dibandingkan dengan cakupan yang diharapkan dalam Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tahun 2015 yaitu 23/1. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 12 . Dibawah ini grafik AKB di Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2008-2011. AKABA menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan balita.02 2011 11.74/1. 12.

Jepara Kab.Kudus Kota Tegal Kota Surakarta 0.83 13.78 14.74 10.68 12.Semarang Kab. kejadian berbagai komplikasi pada kehamilan dan kelahiran.00 15. terutama pelayanan kegawatdaruratan tepat waktu yang dilatarbelakangi oleh terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan.Kab.42 14.00 25.26 9.70 9.20 10.39 10. terlambat mencapai fasilitas kesehatan.Temanggung Kab.Cilacap Kab.Magelang Kota Salatiga Kab.42 11.4 Angka Kematian Balita di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 3.55 23.Boyolali Kab.16 7.85 7.Kebumen Kab.79 10.Pati Kab.94 7.88 13.36 8.00 5.36 10.Karanganyar Kab. keadaan sosial ekonomi.98 10. Kematian ibu biasanya terjadi karena tidak mempunyai akses ke pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas.14 9. terlalu muda pada saat melahirkan (<20 tahun).Batang Kab.66 9.87 17.80 10.Blora Kab.Rembang Kab.Demak Kab.Banjarnegar Kab.Purw orejo Kota Semarang Kab.12 8.Wonogiri Kab. keadaan kesehatan yang kurang baik menjelang kehamilan.Purbalingga Kab.25 13.00 4.Sragen Kab. serta terlambat mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan. Angka Kematian Ibu Angka Kematian Ibu (AKI) mencerminkan risiko yang dihadapi ibu-ibu selama kehamilan dan melahirkan yang dipengaruhi oleh status gizi ibu. yaitu terlalu tua pada saat melahirkan (>35 tahun).Pemalang Kab.86 9.Tegal Kab.81 10.12 5.Banyumas Kab.Klaten Kab.Sukoharjo Kota Pekalongan Kab.55 9.00 Gambar 3.Wonosobo Kab.02 18.00 20.46 16.95 12. terlalu Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 13 . tersedianya dan penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan ternasuk pelayanan prenatal dan obstetri.57 10.Pekalongan Kota Magelang Kab. Selain itu penyebab kematian maternal juga tidak terlepas dari kondisii ibu itu sendiri dan merupakan salah satu dari kriteria 4 “terlalu”. Tingginya angka kematian ibu menunjukkan keadaan sosial ekonomi yang rendah dan fasilitas pelayanan kesehatan termasuk pelayanan prenatal dan obstetri yang rendah pula.Kendal Kab.85 14.Grobogan Kab.Brebes Kab.44 19.

Banyumas Kab.Purw orejo Kota Tegal Kota Pekalongan Kab.Magelang Kab. mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan AKI pada tahun 2010 sebesar 104.Purbalingga Kab.Jepara Kab. Kab.Kendal Kab. Angka kematian ibu Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 berdasarkan laporan dari kabupaten/kota sebesar 116.Sukoharjo Kab.Demak Kab.97 2011 116.banyak anak (>4 anak).Banjarnegara Kab.5 Angka Kematian Ibu Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 –2011 Jumlah kematian maternal terbanyak adalah di Kabupaten Tegal sebanyak 51 kematian.42 2009 117.Wonogiri Kab.01 Gambar 3.01/100. Gambar 3.Pekalongan Kab.000 kelahiran hidup.02 2010 104.Semarang Kab. 120 115 110 105 100 95 AKI 2008 114.Temanggung Kab.Tegal Kab.Grobogan Kab.5 di bawah ini tren AKI di Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2011. Sedangkan kabupaten/kota dengan jumlah kematian maternal paling sedikit adalah Kota Magelang dengan 1 kematian.Batang Kab.Pati Kab.Klaten Kab.Kudus Kab.Cilacap Kab. terlalu rapat jarak kelahiran/paritas (<2 tahun).Pemalang Kab.Sragen Kab.Brebes Kota Semarang Kab.Wonosobo Kab.000 kelahiran hidup.Rembang Kab.6 Jumlah Kematian Ibu di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 14 .Karanganyar Kab.Boyolali Kab.Kebumen Kota Salatiga Kota Surakarta Kota Magelang 45 51 13 13 13 12 11 10 10 10 9 9 9 18 18 17 16 15 15 24 24 23 22 22 21 28 27 26 26 31 35 34 6 1 4 0 10 20 30 40 50 60 Gambar 3.Blora Kab.97/100.

kejadian kematian maternal terbanyak adalah pada usia produktif (20-34 tahun) sebesar 65. Prosedur pembuktian penderita AFP terserang virus polio liar atau tidak adalah sebagai berikut : Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 15 .99%.70 per 100.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah.80 sedangkan tahun 2010 sebesar 176. Dari 25 kabupaten/kota yang melaporkan. seperti sifat kelumpuhan pada poliomyelitis. ANGKA KESAKITAN 1. pemerintah telah melaksanakan Program Eradikasi Polio (ERAPO) yang terdiri dari pemberian imunisasi polio rutin.65%.Kejadian kematian maternal paling banyak adalah pada waktu nifas sebesar 48. Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit “Acute Flaccid Paralysis” (AFP) Upaya membebaskan Indonesia dari penyakit Polio.000 penduduk.89% dan pada kelompok umur <20 tahun sebesar 5. Surveilans AFP merupakan pengamatan dan penjaringan semua kelumpuhan yang terjadi secara mendadak dan sifatnya flaccid (layuh).12%. 4. kemudian pada waktu hamil sebesar 25. B. Angka Kematian Kecelakaan Lalu Lintas Angka Kematian kecelakaan lalu lintas adalah jumlah kematian sebagai akibat dari kecelakaan lalu lintas per 100.75% dan pada waktu persalinan sebesar 25.17 sementara Angka kematian kecelakaan lalu lintas tahun 2011 adalah sebesar 2. Sementara berdasarkan kelompok umur.99/100. pemberian imunisasi masal pada anak balita melalui Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dan surveilans AFP. Kabupaten/kota yang melaporkan kejadian kecelakaan lalulintas pada tahun 2011 sebanyak 25 kabupaten/kota meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 sebanyak 19 kabupaten/kota.000 penduduk dalam kurun waktu satu tahun.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 sebesar 94. kemudian pada kelompok umur >35 tahun sebesar 28. Angka kecelakaan lalulintas per 100.60%. angka kematian kecelakaan lalu lintas tertinggi terjadi di Kota Magelang yaitu sebesar 21.

b. Mengambil spesimen tinja penderita tidak lebih dari 14 hari sejak kelumpuhan. dari 215 kasus yang diperiksa semua menunjukan negatif polio (berarti tidak ditemukan virus polio liar).7 Penemuan Kasus AFP Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 16 . c. Hasil pemeriksaan spesimen tinja akan menjadi bukti virologi adanya virus polio liar didalamnya. Target minimal penemuan penderita AFP tahun 2011 sebanyak 164 penderita. e. sehingga dapat diketahui apakah masih ada polio liar di masyarakat.000 anak usia <15 tahun. Mengirim kedua spesimen tinja ke laboratorium dengan pengemasan khusus (untuk Jawa Tengah dikirim ke laboratorium Bio Farma Bandung) d. Menurut hasil pemeriksaan laboratorium. Hasil pemeriksaan virologis dan klinis akan menjadi bukti penegakan diagnosis kasus AFP termasuk kasus polio atau tidak.a. Diagnosis akhir ditentukan pada 60 hari sejak kelumpuhan. sehingga memenuhi target. 210 205 200 195 190 185 180 175 170 165 160 Kasus AFP 2006 191 2007 207 2008 187 2009 193 2010 178 Gambar 3. Pada tahun 2011 Jawa Tengah menemukan 215 penderita AFP. Pemeriksaan klinis ini dilakukan oleh dokter spesialis anak atau syaraf untuk menentukan apakah masih ada kelumpuhan atau tidak. Penderita kelumpuhan AFP diperkirakan 2 diantara 100. Melakukan pelacakan terhadap anak usia <15 tahun yang mengalami kelumpuhan mendadak (<14 hari) dan menentukan diagnosa awal. sebanyak dua kali selang waktu pengambilan I dan II >24 jam.

04%. Prevalensi Tuberkulosis Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. termasuk pengawasan langsung pengobatan.000 penduduk) dan terendah di Kabupaten Magelang (20. 2) Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya.5 per 100. Prevalensi tuberkulosis tertinggi adalah di Kabupaten Pekalongan (205. yang terdiri dari 5 komponen kunci 1) Komitmen politis. Penyakit ini dapat menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil TB. Angka Penemuan Kasus TB Paru BTA(+) Salah satu indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalah Case Detection Rate (CDR). capaian CDR tahun 2011 sebesar 59. yaitu proporsi jumlah pasien baru BTA(+) yang ditemukan dan diobati terhadap jumlah pasien baru BTA(+) yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Terdapat empat kabupaten/kota yang sudah melampaui target 100% yaitu Kota Surakarta Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 17 .000 penduduk).52% meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 (55. 3.06 per 100.52. 5) Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. TB menjadi salah satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitmen global dalam MDGs. Prevalensi Tuberkulosis per 100.78% dan yang terendah di Kabupaten Magelang sebesar 33. Meskipun masih dibawah target yang ditentukan.000 penduduk Provinsi Jawa Tengah sebesar 74.2. 3) Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat. CDR tertinggi di Kota Pekalongan sebesar 132. Pada awal tahun 1995 WHO telah merekomendasikan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) sebagai strategi dalam penanggulangan TB dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective).38%). 4) Jaminan ketersediaan OATyang bermutu. Bersama dengan Malaria dan HIV/AIDS. Pencapaian CDR di Jawa Tengah tahun 2008 s/d 2011 masih dibawah target yang ditetapkan sebesar 100%.

Dinyatakan sembuh bila hasil pemeriksaan dahak pada akhir pengobatan ditambah minimal satu kali pemeriksaan sebelumnya (sesudah fase awal atau satu bulan sebelum akhir pengobatan) hasilnya negatif.31%). Kegiatan-kegiatan tersebut perlu dievaluasi untuk menilai apakah hasil kegiatan sesuai dengan tujuan yang diharapkan sekaligus mengidentifikasi permasalahan yang ditemukan untuk selanjutnya disusun rencana tindak lanjut perbaikan. 4. Bila pemeriksaan follow up tidak dilakukan. maka evaluasi pengobatan pasien dinyatakan sebagai pengobatan lengkap.(101. 60 50 40 30 20 10 0 CDR TB 2008 47. baik tenaga medis.38 2011 59. Angka Kesembuhan Penderita TB Paru BTA(+) Evaluasi pengobatan pada penderita TB paru BTA(+) dilakukan melalui pemeriksaan dahak mikroskopis pada akhir fase intensif satu bulan sebelum akhir pengobatan dan pada akhir pengobatan dengan hasil pemeriksaan negatif.99%) dan Kota Pekalongan (132.12).52 Gambar 3. Kota Tegal (116. Kabupaten Pekalongan (103.78%). namun pasien telah menyelesaikan pengobatan. pertemuan jejaring antar unit pelayanan kesehatan dan asistensi ke rumah sakit.97 2009 48. paramedis dan laboratorium.15 2010 55. pada tahun 2011 telah dilakukan berbagai upaya seperti peningkatan SDM. Evaluasi jumlah pasien dinyatakan sembuh dan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 18 .8 Angka Penemuan TB Paru (CDR) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Untuk meningkatkan cakupan CDR dan angka kesembuhan.

15% sudah melebihi target nasional (85%) dan meningkat bila dibandingkan tahun 2009 (85.17%.01%).702 kasus.15 Gambar 3.pasien pengobatan lengkap dibandingkan jumlah pasien BTA(+) yang diobati disebut keberhasilan pengobatan (Succes Rate ). Angka kesembuhan (Cure Rate) TB paru Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 sebesar 85. atau orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi. mengalami penurunan bila dibanding tahun 2010 yang sebesar 40. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 19 .5 83 82. 86 85. Angka ini masih sangat jauh dari target Standar Pelayanan Minimal (SPM) tahun 2010 sebesar 100%.5 82 CR TB 2008 83. virus maupun jamur. Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri. Pneumonia juga dapat terjadi akibat kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia.5% dengan jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 66. Angka kesembuhan tertinggi di Kabupaten Karanganyar sebesar 98. Berikut ini ditampilkan persentase penemuan pneumonia balita Provinsi Jawa Tengah tahun 2008-2011.63%. sedangkan terendah di Kota Tegal sebesar 47. Populasi yang rentan terserang Pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun.9 Angka Kesembuhan TB Paru (CR) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2010 5.01 2010 85.13%. usia lanjut lebih dari 65 tahun.5 85 84.9 2009 85. gangguan imunologi). Persentase penemuan dan penanganan penderita pneumonia pada balita tahun 2011 sebesar 25.5 84 83. Persentase Balita dengan Pneumonia Ditangani Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli).

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 20 . Jumlah kematian karena AIDS di Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 89 kasus.9%). sementara kabupaten dengan persentase cakupan terendah adalah Kabupaten Rembang (1. Jumlah infeksi HIV yang dilaporkan tahun 2011 sebanyak 755 kasus.Pada tingkat kabupaten/kota. Kasus HIV/AIDS merupakan fenomena gunung es. Sebelum memasuki fase AIDS. artinya kasus yang dilaporkan hanya sebagian kecil yang ada di masyarakat.10 Persentase Penemuan dan Penanganan Penderita Pneumonia pada Balita Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 6. yaitu pada layanan Voluntary.63 2011 25. Kasus Aquiared Immuno Devisiency Syndrome (AIDS) sebanyak 521 kasus dari laporan VCT rumah sakit. and Testing (VCT). sebagian besar didapat dari hasil VCT di rumah sakit. Infeksi tersebut menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain. Peningkatan infeksi HIV dan kasus AIDS ini dikarenakan upaya penemuan atau pencarian kasus yang semakin intensif melalui VCT di rumah sakit dan upaya penjangkauan oleh LSM peduli AIDS di kelompok risiko tinggi. Jumlah Kasus Baru HIV/AIDS dan Kematian karena AIDS HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Counselling. penderita terlebih dulu dinyatakan sebagai HIV positif. ada satu kota yang mempunyai persentase cakupan diatas 100% yaitu Kota Magelang (179. Jumlah HIV positif yang ada di masyarakat dapat diketahui melalui 3 metode. sero survey dan Survei Terpadu Biologis dan perilaku (STBP).5 Gambar 3.96 2010 40.6%). laporan rutin AIDS kab/kota serta Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM). 45 40 35 30 25 20 Pneumonia Balita 2008 23.63 2009 25.

Jumlah kasus baru HIV/AIDS tertinggi adalah di Kota Semarang (189/59 kasus). PMS meliputi Syphilis. Gonorhoe. dan lain-lain.11 menunjukan bahwa kecenderungan (trend) kasus HIV maupun AIDS selalu mengalami peningkatan setiap tahun. Jumlah Kasus Baru Infeksi Menular Seksual lainnya Penyakit Menular Seksual (PMS) atau biasa disebut penyakit kelamin adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Herpes. Perempuan 37% Laki-laki 63% Gambar 3. jumlah kematian karena AIDS terbanyak di Kabupaten Banyumas sebanyak 10 kasus. Jengger ayam. Infeksi Menular Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 21 .800 700 600 500 400 300 200 100 0 2008 HIV 2009 AIDS 2010 Meninggal 259 170 56 143 160 104 430 373 501 755 521 89 2011 Gambar 3.11 Jumlah Kasus Baru HIV/AIDS dan kematian karena AIDS Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Gambar 3. Bubo.12 Persentase Kasus Baru AIDS menurut Jenis Kelamin Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 7. Penemuan kasus HIV tahun 2011 meningkat sangat tajam hampir 2 kali lipat lebih dibanding tahun 2010.

Seksual (IMS) yang diobati adalah kasus IMS yang ditemukan berdasarkan sindrom dan etiologi serta diobati sesuai standar. Tabel perkembangan jumlah sampel yang diperiksa dan hasil yang positif HIV dari tahun 2008 sampai dengan 2011 sebagai berikut : Tabel 3.09 0. Jumlah tersebut dari tahun ke tahun semakin meningkat. Meskipun demikian kemungkinan kasus yang sebenarnya di populasi masih banyak yang belum terdeteksi.13) yang positif HIV. Dinas Kesehatan juga melakukan pengamatan terhadap hasil skrining/penapisan darah donor melalui UTDD PMI Jawa Tengah.828 Tahun 2008 2009 2010 2011 Jumlah Positif HIV 520 275 510 415 Positif HIV 1. DBD termasuk juga bebas dari virus HIV. Dari hasil pemeriksaan sampel darah tersebut. Malaria. Sifilis. Tujuan skrining ini adalah untuk mengamankan darah donor supaya bebas dari beberapa penyakit seperti Hepatitis C. 8.793 309. Pada tahun 2011 diketahui jumlah pendonor sebanyak 346.16 0.795 312. Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Seksual mempunyai target bahwa seluruh kasus IMS yang ditemukan harus diobati sesuai standar. sebanyak 415 sampel (0. kemudian yang dilakukan pemeriksaan sampel darah sebanyak 324. Donor Darah Diskrining terhadap HIV Selain melakukan kegiatan serosurvei HIV dan surveilans/ pengamatan kasus AIDS.49 0. Jumlah kasus baru IMS lainnya di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 ini sebanyak 10.752 kasus.1 Persentase Donor Darah Diskrining terhadap HIV Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008-2011 Jumlah Sample Diperiksa 348.731 324.828 (93.13 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 22 .81%).269 orang.

9%. atau buang air besar yang berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam. diketahui bahwa cakupan penemuan dan penanganan diare tertinggi di Kota Tegal (144. Ada 3 kota yang mempunyai cakupan di atas 100% yaitu Kota Salatiga (106%). anggota gerak dan mata. Kota Pekalongan (121.2%) dan terendah di Kabupaten Purworejo (19.13 Cakupan Penemuan dan Penanganan diare Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 10. saraf. mengalami peningkatan bila dibandingkan cakupan tahun 2010 (44. 60 55 50 45 40 Cakupan 2008 47. b.Prevalensi Kusta Kusta adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae.48 2011 57. Cakupan penemuan dan penanganan diare di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 57. atau bila buang air besar tiga kali atau lebih.5 2010 44.8 2009 48. Pada tingkat kabupaten/kota. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 23 . Seseorang dikatakan menderita diare bila feses lebih berair dari biasanya. Diagnosis kusta dapat ditegakkan dengan adanya kondisi sebagai berikut: a.8%).2%).48%).4%) dan Kota Tegal (144.9. Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf berupa mati rasa dan kelemahan/kelumpuhan otot. Kelainan pada kulit (bercak) putih atau kemerahan disertai mati rasa. Kasus Diare Ditangani Diare adalah penyakit yang terjadi ketika terjadi perubahan konsistensi feses selain dari frekuensi buang air besar. menyebabkan kerusakan permanen pada kulit. Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan kusta menjadi progresif.9 Gambar 3.

27 87. Cakupan selama 3 tahun terakhir kusta tipe PB cenderung naik dan mulai menurun pada tahun 2009 sedangkan tipe MB cenderung menurun mulai tahun 2007 (tabel 12). 11.98 2009 85. sedangkan untuk mengetahui tingkat penularan di masyarakat digunakan indikator proporsi anak (0-14 tahun) di antara penderita baru.46 Gambar 3.21 87.61 2011 85 76.000 penduduk.32%.14 Persentase Penderita Kusta selesai diobati Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 24 .c. Adanya kuman tahan asam di dalam kerokan jaringan kulit (BTA Positif) Pada tahun 2011. 100 persentase (%) 80 60 40 20 0 2008 PB MB 92.873 kasus dan tipe Pausi Basiler sebanyak 395 kasus dengan Newly Case Detection Rate (NCDR) sebesar 7 per 100.14%. dilaporkan terdapat kasus baru tipe Multi Basiler sebanyak 1.Persentase Penderita Kusta Selesai Berobat Cakupan program kusta diukur berdasarkan angka penderita kusta tipe Pauci Baciller (PB) dan Multy Baciller (MB) selesai diobati.5 2010 91.48 90. Sedangkan proporsi anak di antara penderita baru pada tahun 2011 sebesar 10. Cakupan program kusta tipe PB tahun 2011 berdasarkan jumlah penderita baru tahun 2010 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2011 sebesar 85% lebih rendah dari target 90%. Kusta tipe MB diambil dari data penderita baru tahun 2009 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2011 sebesar 76% lebih rendah dari target 95%. Proporsi cacat tingkat II pada tahun 2011 sebesar 13. Keberhasilan dalam mendeteksi kasus baru dapat diukur dari tinggi rendahnya proporsi cacat tingkat II.

Cakupan kusta tidak bisa tercapai dikarenakan masih banyak penderita yang tidak berobat teratur atau penderita yang seharusnya sudah selesai diobati (Release From Treatment . namun dapat juga menyerang orang dewasa.RFT). terbukti 35 kabupaten/kota sudah pernah terjangkit penyakit DBD.000 penduduk) dan sudah mencapai target nasional yaitu <20/100. penyelidikan epidemiologi di lapangan serta upaya pengendalian. Angka ini jauh menurun bila dibandingkan tahun 2010 (59. Ketentuan lama penderita disebut default kalau 3 bulan berturut-turut tidak minum obat. Tingginya angka kesakitan DBD disebabkan karena adanya iklim tidak stabil dan curah hujan cukup banyak pada musim penghujan yang merupakan sarana perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegipty yang cukup potensial.29/100.17/100. Angka kesakitan tertinggi di Kota Semarang sebesar 317. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 25 . Rendahnya cakupan penderita kusta RFT juga dikarenakan adanya ketentuan baru pengobatan untuk penderita default. tetapi belum dicatat sudah RFT. Penderita MB tidak minum obat lebih dari 6 bulan dalam jangka waktu 18 bulan sudah disebut default.8/100. 12. terendah di Kabupaten Wonogiri sebesar 4.000 penduduk. Setiap penderita DBD yang dilaporkan dilakukan tindakan perawatan penderita. Penyakit ini sebagian besar menyerang anak berumur <15 tahun. Angka kesakitan/Incidence Rate (IR) DBD di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 15. Selain itu juga didukung dengan tidak maksimalnya kegitan PSN di masyarakat sehingga menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit DBD di beberapa kabupaten/kota.27/100. Ketentuan lama penderita MB berturut-turut 6 bulan tidak berobat baru dikatakan default.Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh vektor nyamuk Aedes aegypty.000 penduduk.000 penduduk.000 penduduk. Penderita PB tidak minum obat lebih dari 3 bulan dalam jangka waktu 9 bulan sudah dianggap default. Penyakit DBD masih merupakan permasalahan serius di Provinsi Jawa Tengah.

29). Ada 6 kabupaten/kota dengan angka kesakitan kurang dari 2/100.72).16 Angka Kesakitan DBD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 26 .27 20 Gambar 3.42 2010 1.5 1.95) dan Kabupaten Pemalang (16.70 50 30 10 IR DBD Target 2008 59. lebih rendah bila dibandingkan CFR tahun 2010 (1. Kabupaten Kebumen (9.95). Kabupaten Magelang (9. 1. Kabupaten Semarang (13.Angka Kematian Demam Berdarah Dengue (DBD) Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) DBD tahun 2011 sebesar 0.93 Gambar 3.25 1 0.03).75 CFR DBD 2008 1.71).2 20 2009 57.000 penduduk yaitu Kabupaten Wonogiri (4.93%.8 20 2011 15. 13.15 Angka Kesakitan DBD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Angka kesakitan DBD di kabupaten/kota hampir semuanya lebih dari 20/100.29 2011 0. Kabupaten Wonosobo (9.4 20 2010 59.000 penduduk.19 2009 1.29%) dan sudah lebih rendah bila dibandingkan dengan target nasional (<1%).

Yogyakarta Wonogiri Gambar 3.Angka Kesakitan Malaria Penyakit malaria masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Provinsi Jawa Tengah. Sedangkan kabupaten/kota kabupaten/kota.11‰.467 kasus. Mgl Boyolali Kota Mgl Kebumen Surakarta Kr. dengan angka kematian lebih dari 1% sebanyak 12 Jepara Jepara Pati Kota Tegal Kota Pekalongan Kendal Demak Kota Semarang Kab Semarang Salatiga Wonosobo Bj negara Sragen Kab.anyar J A T I M Grobogan Kudus Rembang Blora J A B A R Brebes Tegal Batang Pekalongan Bata ng Pemalang Temanggung Purblg Cilacap Banyumas CFR DBD 0 <1 >1 Klaten Purworejo Magelan Sukoharjo g DI.10‰). Purbalingga. Perkembangan insidens malaria sejak tahun 2008 dilihat pada gambar berikut.17 Peta CFR DBD kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 14. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 27 . Banyumas dan Jepara. sedikit meningkat dibandingkan tahun 2010 (0.Angka kematian tertinggi adalah di Kabupaten Pekalongan sebesar 6. Jumlah kasus tahun 2011 sebanyak 3.5% dan terendah atau tidak ada kematian di 18 kabupaten/kota. Angka kesakitan malaria (Annual Parasite Incidence-API) merupakan indikator untuk memantau perkembangan penyakit malaria. Kebumen. meningkat dibandingkan tahun 2010 (3. Saat ini masih ditemukan desa High Case Incidence (HCI) sebanyak 31 desa yang tersebar di 5 Kabupaten yaitu Purworejo.300 kasus) dan angka kesakitan malaria sebesar 0.

03%.18 Angka Kesakitan Malaria Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Penderita malaria tahun 2011 ditemukan di 25 kabupaten.001 penderita) dan paling sedikit di Kabupaten Karanganyar (1 penderita).05 2009 0. Yogyakarta Wonogiri Gambar 3. Mgl Boyolali Surakarta Kr.1 2011 0. Angka kematian tertinggi adalah di Kota Semarang (25.0%) dan terendah atau tidak ada kematian di 30 kabupaten/kota.Angka Kematian Malaria Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) Malaria tahun 2011 sebesar 0. terbanyak di Kabupaten Purworejo (1.0.05 2010 0.19 Peta CFR Malaria kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 28 .1 0. Jepara Jepara Pati Kota Tegal Kota Pekalongan Kendal Demak Kota Semarang Kab Semarang Salatiga Wonosobo Bj negara Sragen Kab.05 0 API 2008 0.11 Gambar 3.anyar J A T I M Grobogan Kudus Rembang Blora J A B A R Brebes Tegal Batang Pekalongan Bata ng Pemalang Temanggung Purblg Cilacap Banyumas Kebumen Kota Mgl Klaten Purworejo Magelan Sukoharjo g DI. 15.15 0.

Dalam upaya untuk membebaskan Indonesia dari penyakit tersebut. jumlah kasus Filariasis pada tahun 2011 sebanyak 537 penderita. Tetanus Neonatorum. Kabupaten Batang (1 kasus) dan Kabupaten Pemalang (1 kasus). Reduksi Campak (Redcam) dan Eliminasi Tetanus Neonatorum (ETN). Pertusis. Penemuan kasus selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. Kabupaten Demak (1 kasus). 17.Jumlah Kasus dan Angka Kesakitan Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) Yang termasuk dalam PD3I yaitu Polio. Tahun 2011 ada 141 kasus baru yang ditemukan di 9 kabupaten/kota yaitu Kota Pekalongan (125 kasus). Saat ini telah dilaksanakan Program Surveilans Integrasi PD3I. Campak. Kabupaten Boyolali (1 kasus). Tetanus Non Neonatorum. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 29 . diperlukan komitmen global untuk menekan turunnya angka kesakitan dan kematian yang lebih banyak dikenal dengan Eradikasi Polio (ERAPO). yaitu pengamatan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (Difteri. Kota Semarang (2 kasus). Hal ini dimungkinkan karena pencapaian cakupan imunisasi yang meningkat (>85%). Tetanus Neonatorum. Difteri dan Hepatitis B. Dalam waktu 5 tahun terakhir jumlah kasus PD3I yang dilaporkan adalah sebagi berikut: a. Kabupaten Boyolali (2 kasus). Kabupaten Brebes (2 kasus). Kabupaten Banjarnegara (5 kasus). Jumlah kasus Difteri pada tahun 2011 sebanyak 8 kasus lebih sedikit bila dibandingkan dengan tahun 2010 (14 kasus). Secara kumulatif.16. Kabupaten Grobogan (2 kasus). dan Campak). kabupaten Temanggung (1 kasus) dan Kota Semarang (1 kasus). Kabupaten Sukoharjo (1 kasus). Kabupaten Semarang (2 kasus). Difteri Jumlah kasus Difteri di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 8 kasus yang tersebar di 6 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Banyumas (1 kasus).Kasus Penyakit Filariasis Ditangani Jumlah kasus Filariasis di Provinsi Jawa Tengah dari tahun ke tahun semakin bertambah.

21 Penemuan kasus Pertusis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 c. Kabupaten Rembang (1 kasus).35 30 25 20 15 10 5 0 2008 Kasus Difteri 28 2009 30 2010 14 2011 8 Gambar 3. 30 25 20 15 10 5 0 2008 Kasus Pertusis 3 2009 0 2010 24 2011 4 Gambar 3. Tetanus (Non Neonatorum) Jumlah kasus Tetanus (Non Neonatorum) di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 13 kasus yang tersebar di 4 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Blora (4 kasus). Kabupaten Kudus Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 30 . Pertusis Jumlah kasus Pertusis di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 4 kasus yang Berasal dari kabupaten Kudus. Jumlah kasus Difteri pada tahun 2011 menurun bila dibandingkan dengan jumlah kasus Pertusis tahun 2010 (24 kasus). Penemuan kasus selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut.20 Penemuan kasus Difteri Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 b.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 31 .(3 kasus) dan Kabupaten Pemalang (5 kasus). Sedangkan 31 kabupaten/kota lainnya tidak ada kasus. CFR Tetanus tahun 2011 sebesar 75% atau dari 4 kasus yang dilaporkan 3 diantaranya meninggal Penemuan kasus dan kematian Tetanus Neonatorum selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. Kabupaten Temanggung.22 Penemuan kasus Tetanus Non Neonatorum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 d. Jumlah kasus Tetanus pada tahun 2011 meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (3 kasus).8% atau dari 13 kasus yang dilaporkan 7 diantaranya meninggal. Tetanus Neonatorum Jumlah kasus Tetanus Neonatorum di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 4 kasus yang tersebar di 4 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Rembang. CFR Tetanus tahun 2011 sebesar 53. 15 10 5 0 2008 Kasus Tetanus Non Neonatorum 7 2009 6 2010 3 2011 13 Gambar 3. Kabupaten Batang dan Kabupaten Brebes. Jumlah kasus Tetanus pada tahun 2011 meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (3 kasus). Penemuan kasus selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut.

873 kasus.664 kasus. Ada 5 Kabupaten yang tidak terdapat kasus campak yaitu Kabupaten Purbalingga.23 Penemuan kasus dan kematian Tetanus Neonatorum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 e. Kasus terbanyak terdapat di Kota Semarang (285 kasus). Kabupaten Purworejo.12 8 4 0 2008 Kasus Mati 10 6 2009 10 5 2010 6 4 2011 4 3 Gambar 3. 4000 3000 2000 1000 0 2008 Campak 2498 2009 3614 2010 3664 2011 1873 Gambar 3.24 Kasus Campak yang dilaporkan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 32 . Penemuan kasus campak selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. Kabupaten Kendal dan Kabupaten Tegal. Kabupaten Kudus. Campak Jumlah kasus Campak di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 1. mengalami penurunan yang signifikan bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebesar 3.

penyakit paru obstruktif kronis. hipertensi.25 Kasus Hepatitis B Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 18. kanker hati. Kabupaten Cilacap (8 kasus). Polio Jumlah kasus Polio di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 0 kasus. 200 150 100 50 0 2008 Hepatitis B 57 2009 74 2010 117 2011 170 Gambar 3. Kabupaten Pekalongan (28 kasus). mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebanyak 1 kasus. diabetes mellitus. kanker paru. Kabupaten Purworejo (19 kasus). Kota Semarang (16 kasus). Kabupaten Banjarnegara (4 kasus). Hepatitis B Jumlah kasus Hepatitis B di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 170 kasus. Kabupaten Pati (11 kasus). asma Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 33 . Kota Salatiga (4 kasus) dan Kabupaten Boyolali (3 kasus). Kasus Hepatitis B terdapat di 9 kabupaten/kota yaitu di Kabupaten Temanggung (40 kasus). kanker payudara. dekompensasio kordis. Kabupaten Pemalang (21 kasus). Penemuan kasus Hepatitis B selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebanyak 117 kasus.f. g. kanker serviks. Kota Tegal (16 kasus). Penyakit Tidak Menular Penyakit tidak menular (PTM) yang diintervensi meliputi jantung koroner. stroke.

bronkiale, dan kecelakaan lalu lintas. Penyakit tidak menular seperti penyakit kardiovaskular, stroke, diabetes mellitus, penyakit paru obstruktif kronis dan kanker tertentu, dalam kesehatan masyarakat sebenarnya dapat digolongkan sebagai satu kelompok PTM utama yang mempunyai faktor risiko sama (common

underlying risk factor). Faktor risiko tersebut antara lain faktor genetik
merupakan faktor yang tidak dapat diubah (unchanged risk factor), dan sebagian besar berkaitan dengan faktor risiko yang dapat diubah (change risk factor) antara lain konsumsi rokok, pola makan yang tidak seimbang, makanan yang mengandung zat aditif, kurang berolah raga dan adanya kondisi lingkungan yang tidak kondusif terhadap kesehatan. Penyakit tidak menular mempunyai dampak negatif sangat besar karena merupakan penyakit kronis. Apabila seseorang menderita penyakit tidak menular, berbagai tingkatan produktivitas menjadi terganggu. Penderita ini menjadi serba terbatas aktivitasnya, karena menyesuaikan diri dengan jenis dan gradasi dari penyakit tidak menular yang dideritanya. Hal ini berlangsung dalam waktu yang relatif lama dan tidak diketahui kapan sembuhnya karena memang secara medis penyakit tidak menular tidak bisa disembuhkan tetapi hanya bisa dikendalikan. Yang harus mendapatkan perhatian lebih adalah bahwa penyakit tidak menular merupakan penyebab kematian tertinggi dibanding dengan penyakit menular. Kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah yang melaporkan data PTM tahun 2011 hanya 27 kabupaten/kota (77,1%). Hampir semua kelompok Penyakit Tidak Menular pada tahun 2011 mengalami peningkatan jumlah kasus, kecuali penyakit Asma bronkial dan Psikosis yang jumlah kasusnya lebih rendah dibanding tahun 2010. Kasus tertinggi Penyakit Tidak Menular pada tahun 2011 adalah kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah. Dari total 1.409.857 kasus yang dilaporkan sebesar 62,43% (880.193 kasus) adalah penyakit jantung dan pembuluh darah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

34

Asma Bronkial 13% PPOK 2%

Psikosis Neoplasma 1% 5%

DM 17%

Jantung & PD 62%

Gambar 3.26 Persentase Kasus Penyakit Tidak Menular Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011

a. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Penyakit jantung dan pembuluh darah adalah penyakit yang mengganggu jantung dan sistem pembuluh darah seperti penyakit jantung koroner (angina pektoris, akut miokard infark), dekompensasio kordis, hipertensi, stroke, penyakit jantung rematik, dan lain-lain. Kasus tertinggi penyakit tidak menular tahun 2011 pada kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah adalah penyakit Hipertensi Esensial, yaitu sebanyak 634.860 kasus (72,13 %).

1) Hipertensi Hipertensi atau sering disebut dengan darah tinggi adalah suatu keadaan di mana terjadi peningkatan tekanan darah yang memberi

gejala berlanjut pada suatu target organ tubuh sehingga timbul kerusakan lebih berat seperti stroke (terjadi pada otak dan berdampak pada kematian yang tinggi), penyakit jantung koroner (terjadi pada kerusakan pembuluh darah jantung) serta penyempitan ventrikel kiri / bilik kiri (terjadi pada otot jantung). Hipertensi merupakan penyakit yang sering dijumpai diantara penyakit tidak menular lainnya. Hipertensi dibedakan menjadi hipertensi primer yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya dan hipertensi

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

35

sekunder yaitu hipertensi yang muncul akibat adanya penyakit lain seperti hipertensi ginjal, hipertensi kehamilan, dll. Prevalensi kasus hipertensi essensial di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 1,96% menurun bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 2,00%. Terdapat tiga kota dengan prevalensi sangat tinggi di atas 10% yaitu Kota Magelang (22,41%), Kota Salatiga (10,18%) dan Kota Tegal (10,36%).
3

2.5

2

1.5

1 Prevalensi

2008 2.65

2009 2.13

2010 2

2011 1.96

Gambar 3.27 Prevalensi Kasus Hipertensi Essensial Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011

Penyakit Hipertensi Essensial pada tahun 2009 dan 2010 menunjukkan adanya penurunan kasus yang cukup tinggi, namun pada tahun 2011 terlihat mulai ada kenaikan jumlah kasus. Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut ini.
900000 800000 700000 600000 500000 Hipertensi Essensial

2008 865204

2009 698816

2010 562117

2011 634860

Gambar 3.28 Tren Peningkatan Kasus Hipertensi Essensial Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

36

14 0.13 2009 0.05 0.04 0.12 0.03% sama dengan angka tahun 2010.1 0.03 0. Prevalensi tertinggi tahun 2011 adalah di Kota Magelang sebesar 1. 0. Prevalensi stroke hemoragik di Jawa Tengah tahun 2011 adalah 0. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Magelang sebesar 3. pernafasan cheynes stokes.09%.06 0.09 Gambar 3. Stroke disebabkan oleh kurangnya aliran darah yang mengalir ke otak.03 0. terjadi secara mendadak dan cepat yang menimbulkan gejala dan tanda sesuai dengan daerah otak yang terganggu.02 0 Hemoragik Non Hemoragik 2008 0.2) Stroke Stroke adalah suatu penyakit menurunnya fungsi syaraf secara akut yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak.09 2010 0. Stroke dibedakan menjadi stroke hemoragik yaitu adanya perdarahan otak karena pembuluh darah yang pecah dan stroke non hemoragik yaitu lebih karena adanya sumbatan pada pembuluh darah otak.04 0. atau terkadang menyebabkan pendarahan di otak.09 2011 0.29 Prevalensi Stroke Hemoragik dan Non Hemoragik Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 3) Dekompensasio Kordis Dekompensasio kordis merupakan kegagalan jantung dalam memompa darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh atau istilah lain adalah payah jantung. Gambaran klinis dekompensasio kordis kiri adalah sesak nafas: dyspnoe d’effort dan ortopne. sama dengan prevalensi tahun 2010.45%.08 0.34%. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 37 . Sedangkan prevalensi stroke non hemorargik pada tahun 2011 sebesar 0.

1 0.30 Prevalensi Dekompensasio Kordis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 b. asites dan hidrotoraks. sianosis. mual. nyeri tekan. Selain itu terjadi pembesaran hati yang mulamula lunak. baik absolut maupun relatif. tekanan vena jugularis gambaran klinis dekompensasio kordis masih normal. edema presakral. Sedangkan kanan adalah gangguan gantrointestinal seperti anoreksia.12% mengalami peningkatan bila dibandingkan prevalensi tahun 2010 sebesar 0.14 2010 0.11 2011 0. tekanan jugularis meningkat.05 0 Prevalensi 2008 0. ronchi basah halus tidak nyaring. tumpul dan tidak nyeri. tepi tajam.batuk-batuk mungkin hemoptu. Absolut artinya pankreas sama sekali tidak bisa menghasilkan insulin sehingga harus mendapatkan insulin dari luar (melalui suntikan) dan relatif artinya pankreas masih bisa menghasilkan insulin yang kadarnya berbeda pada setiap orang. Diabetes Melitus Diabetes Melitus (DM) atau kencing manis adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang karena adanya peningkatan kadar gula dalam darah akibat kekurangan insulin. Dapat juga terjadi edema pretibial. Prevalensi kasus dekompensasio kordis tahun 2011 sebesar 0. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Magelang sebesar 1. (Perkeni 2002) Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 38 .88%. 0.12 Gambar 3.18 2009 0. lama kelamaan menjadi keras.15 0. meteorismus dan rasa kembung di epigastrum. muntah.2 0. suara serak.11%.

yang terbanyak adalah DM tidak tergantung insulin. kerusakan retina mata yang dapat membuat buta. gangguan fungsi hati. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 39 . Kelompok Faktor Risiko Tinggi antara lain pola makan yang tidak seimbang. mata kabur. impotensi. riwayat Keluarga/ada keturunan.70% menjadi 0. berat badan menurun drastis. luka tdk sembuh-sembuh. dan lain-lain. Prevalensi diabetes melitus tergantung insulin di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 0. dll.99%. yaitu DM Tergantung Insulin (DMTI). keputihan. gangguan toleransi glukosa. pruritis vulva hingga keputihan pada wanita. abortus. jantung koroner. glaukoma. Sedangkan prevalensi kasus DM tidak tergantung insulin lebih dikenal dengan DM tipe II. DM jenis ini baru muncul pada usia di atas 40 tahun. artinya sekali didiagnosa DM seumur hidup bergaul dengannya. umur Lebih dari 40th. Di Indonesia.97%. kurang olah raga. kesemutan/gringgingan. Polyfagi (sering lapar). Polydipsi (sering haus). kehamilan dengan berat bayi lahir > 4 kg. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Semarang sebesar 0. dan DM karena kehamilan (GDM). gatal/bisul. mengalami penurunan dari 0.09%. impotensi pada pria. stroke. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Magelang sebesar 7. DM karena Toleransi Glukosa Terganggu (TGT). kehamilan dengan hiperglikemi. hipertensi. gatal daerah genital. Gejala khas berupa Polyuri (sering kencing). mengalami peningkatan bila dibandingkan prevalensi tahun 2010 sebesar 0.08%. gagal ginjal.63% pada tahun 2011. lemak dalam darah tinggi. DM berkaitan dengan malnutrisi (MRDM). asalkan mau patuh dan kontrol teratur. Sedangkan gejala lain seperti Lelah/lemah. keracunan kehamilan. DM dapat menjadi penyebab aneka penyakit seperti hipertensi. bayi lahir mati. luka yang lama sembuh mengakibatkan infeksi hingga akhirnya harus diamputasi terutama pada kaki. Penderita mampu hidup sehat bersama DM. DM merupakan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikendalikan.WHO (1985) mengklasifikasikan penderita DM dalam lima golongan klinis. mata kabur. DM Tidak Tergantung Insulin (DMTTI). berat badan turun drastis. katarak. obesitas.

637 kasus meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebanyak 13. kanker kelenjar getah bening.1.003 Gambar 3.08 0. Ca.2 0 DMTI DMTTI 2008 0.6 0. Di Indonesia terdapat lima jenis kanker yang banyak diderita penduduk yakni kanker rahim.8 0.09 0.4 0. kanker kulit.899 kasus (35.005 2009 0.05 0.006 0.007 0. mamae 9.62 2010 0.16 1.32 Prevalensi Penyakit Kanker di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 40 .277 kasus. Neoplasma Neoplasma atau kanker adalah tumor ganas yang ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangan abnormal dari sel-sel tubuh.037 0. hepar 2. dan kanker rektum.25 2009 0.63 Gambar 3.13%).01 0.04 0. 0.05 0.59%). Ca.02 0.42%).4 1.19 0.2 1 0.029 0. paru 954 kasus (4. Kasus penyakit kanker yang ditemukan di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 19. servik 6.31 Prevalensi Penyakit Diabetes Mellitus Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 c. yang tumbuh tanpa kontrol dan tujuan yang jelas.03 0.028 0.003 2011 0.013 0.022 0.002 2010 0.7 2011 0. terdiri dari Ca.021 0. mendesak dan merusak jaringan normal.542 kasus (48.03 0.004 0. kanker payudara.242 (11.01 0 Ca Servik Ca Mamae Ca Hepar Ca Paru 2008 0. dan Ca.86%).

12 2010 0. Faktor risiko pencetus terjadinya PPOK adalah perokok aktif/pasif. polusi udara di dalam atau di luar ruangan.003% dan tertinggi di Kota Magelang sebesar 0.39%.33%.2 0.33 Prevalensi PPOK Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 41 . Prevalensi kasus PPOK di Provinsi Jawa Tengah mengalami peningkatan yaitu dari 0. kanker hati sebesar 0.04%. kanker paru 0. jenis kelamin.007% dan tertinggi di Kota tegal sebesar 0. 0.09% pada tahun 2011 dan tertinggi di Kota Salatiga sebesar 4. debu dan bahan kimia.1 0.021% dan tertinggi di Kota Semarang sebesar 0. (Global Obstructive Lung Disease 2003). infeksi saluran nafas terutama waktu anak-anak.15 0.08% pada tahun 2010 menjadi 0.05 0 Prevalensi 2008 0. d. defisiensi alpha-1 antitripsin. Penyakit Paru Obstruktif Kronis Penyakit Paru Obtruktif Kronis (PPOK) adalah penyakit yang ditandai adanya hambatan aliran pernafasan bersifat reversible sebagian dan progresif yang berhubungan dengan respon inflamsi abnormal dari paru terhadap paparan partikel atau gas berbahaya. ras.89%. kanker payudara sebesar 0.2 2009 0.Prevalensi kanker di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 adalah sebagai berikut : kanker serviks sebesar 0. usia.08 2011 0.09 Gambar 3. genetik.07%.029% dan tertinggi di Kota Magelang sebesar 0. alergi dan autoimunitas.

berbagai logam dalam bentuk perhiasan.9 0.55% mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 0. Kontaktan yang masuk badan melalui kontak kulit seperti obat-obatan dalam bentuk salep.64 2011 0.55 Gambar 3. STATUS GIZI 1. jam tangan dll.64% dan prevalensi tertinggi di Kota Tegal sebesar 2.e. dan edema mukosa serta deskuamasi epitel bronkus/bronkeolus. Asma Bronkial Asma Bronkial terjadi akibat penyempitan jalan napas yang reversibel dalam waktu singkat oleh karena mukus kental. Penyebab terjadinya BBLR antara lain karena ibu Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 42 .29%. Prevalensi kasus asma di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 0.6 0. ikan-ikanan. Persentase Berat Bayi Lahir Rendah. 1. merokok. obat-obatan dll. Ingestan yang masuk badan melalui mulut biasanya berupa makanan seperti susu. Serangan asma bronkhiale sering dicetuskan oleh ISPA. spasme. tekanan emosi. telur. serpih kulit dari binatang piaraan. aktivitas fisik.66 2010 0.3 0 Prevalensi 2008 1.07 2009 0. akibat inflamasi eosinofilik dengan kepekaan yang berlebihan. dan rangsangan yang bersifat antigen/allergen antara lain: Inhalan yang masuk ketubuh melalui alat pernafasan misalnya debu rumah. Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram.34 Prevalensi Asma Bronkial Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011 C. spora jamur dll.2 0.

hamil mengalami anemia, kurang suply gizi waktu dalam kandungan, ataupun lahir kurang bulan. Bayi yang lahir dengan berat badan rendah perlu

penanganan yang serius, karena pada kondisi tersebut bayi mudah sekali mengalami hipotermi dan belum sempurnanya pembentukan organ-organ tubuhnya yang biasanya akan menjadi penyebab utama kematian bayi. Jumlah bayi berat lahir rendah (BBLR) di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 21,184 meningkat banyak apabila dibandingkan tahun 2010 yang sebanyak 15.631. Adapun persentase BBLR tahun 2011 sebesar 3,73%, meningkat bila dibandingkan tahun 2010 sebesar 2,69%.
4 3 2 1 0 Prevalensi

2008 2,08

2009 2,81

2010 2,69

2011 3,73

Gambar 3.35 Persentase BBLR Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011

Persentase BBLR yang ditangani di Jawa Tengah tahun 2010 seluruh Kabupaten/Kota sudah memenuhi target dalam Renstra Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah sebesar 70%. 2. Persentase Balita Dengan Gizi Kurang Salah satu indikator kesehatan yang dinilai keberhasilan pencapaiannya dalam MDGs adalah status gizi balita. Status gizi balita diukur berdasarkan umur (U), berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). Variabel BB dab TB ini disajikan dalam bentuk tiga indikator antropometri, yaitu berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi ini menjadi penting karena merupakan salah satu faktor risiko untuk terjadinya kesakitan dan kematian. Status gizi yang baik
Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

43

bagi seseorang akan berkontribusi terhadap kesehatannya dan juga terhadap kemampuan dalam proses pemulihan. Status gizi masyarakat dapat diketahui melalui penilaian konsumsi pangannya berdasarkan data kuantitatif maupun kualitatif. Dalam menetukan klasifikasi status gizi harus ada ukuran baku yang sering disebut

reference .

Baku antropometri yang sering digunakan di Indonesia

adalah World Health Organization–National Centre for Health Statistic (WHONCHS). Berdasarkan baku WHO-NCHS status gizi dibagi menjadi empat : Pertama, gizi lebih untuk over weight, termasuk kegemukan dan obesitas. Kedua, Gizi baik untuk well nourished. Ketiga, Gizi kurang untuk under weight yang mencakup mild dan moderat, PCM (Protein Calori Malnutrition). Keempat, Gizi buruk untuk severe PCM, termasuk marasmus, marasmik-kwasiorkor dan kwasiorkor. Persentase balita dengan gizi kurang (BB/U) Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 5,35%. Persentase balita dengan gizi kurang tertinggi di Kota Tegal (50,98%) dan terendah di Kabupaten Kebumen (0,38%). 3. Persentase Balita dengan Gizi Buruk. Kejadian gizi buruk perlu dideteksi secara dini melalui intensifikasi pemantauan tumbuh kembang Balita di Posyandu, dilanjutkan dengan penentuan status gizi oleh bidan di desa atau petugas kesehatan lainnya. Penemuan kasus gizi buruk harus segera ditindak lanjuti dengan rencana tindak yang jelas, sehingga penanggulangan gizi buruk memberikan hasil yang optimal. Pendataan gizi buruk di Jawa Tengah didasarkan pada 2 kategori yaitu dengan indikator membandingkan berat badan dengan umur (BB/U) dan kategori kedua adalah membandingkan berat badan dengan tinggi badan (BB/TB). Skrining pertama dilakukan di posyandu dengan membandingkan berat badan dengan umur melalui kegiatan penimbangan, jika ditemukan balita yang berada di bawah garis merah (BGM) atau dua kali tidak naik (2T), maka dilakukan konfirmasi status gizi dengan menggunakan indikator berat badan menurut

tinggi badan. Jika ternyata balita tersebut merupakan kasus buruk, maka segera dilakukan perawatan gizi buruk sesuai pedoman di Posyandu dan Puskesmas.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

44

Jika ternyata terdapat penyakit penyerta yang berat dan tidak dapat ditangani di Puskesmas maka segera dirujuk ke rumah sakit. Balita Gizi Buruk tahun 2011 berjumlah 3.187 (0,10%) menurun apabila dibandingkan tahun 2010 sejumlah 3.514 (0,18%). Demikian pula persentase Balita Gizi Buruk mendapatkan perawatan tahun 2011 sebesar 100% jauh lebih meningkat dibandingkan tahun 2010 sebesar 93,28%.

Jepara Jepara Pati Kota Tegal Kota Pekalongan Kendal Demak Kota Semarang Kab Semarang Salatiga Wonosobo Bj negara Sragen Kab. Mgl Boyolali Surakarta Kr.anyar J A T I M Grobogan Kudus Rembang Blora

J A B A R

Brebes

Tegal

Batang Pekalongan Bata ng Pemalang

Temanggung Purblg Cilacap Banyumas Kebumen

Kota Mgl

Klaten Purworejo Magelan Sukoharjo g DI. Yogyakarta Wonogiri

Keterangan : Kasus Gizi Buruk (>150 kasus)

Gambar 3.36 Peta Kasus Balita Gizi Buruk (BB/TB) kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

45

98%. (6) Temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling). pertolongan persalinan dan pelayanan kesehatan nifas. (7) Test laboratorium sederhana (Hb. Kota Surakarta dan Kota Semarang. Kota Magelang.71% meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (92. (2) Ukur tekanan darah. Pelayanan Kesehatan 1. b.04%) tetapi masih dibawah target SPM 2015 (95%). Kabupaten Demak.BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN A. Cakupan kunjungan ibu hamil K-1 tahun 2011 sebesar 98.81 %) di Kabupaten Pekalongan dan terendah (83. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K-1 Pelayanan kesehatan ibu meliputi pelayanan kesehatan antenatal. Ada 11 kabupaten/kota yang cakupannya sudah mencapai 100% yaitu Kabupaten Banyumas.36%) di Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 46 . Kabupaten Blora. Kabupaten Sukoharjo. Cakupan terendah Kabupaten Rembang 92. Kabupaten Brebes. Pelayanan Kesehatan Ibu a. Kabupaten Kendal. Cakupan pelayanan antenatal dapat dipantau melalui pelayanan kunjungan baru ibu hamil (K1) untuk melihat akses dan pelayanan kesehatan ibu hamil sesuai standar paling sedikit empat kali (K4) dengan distribusi pemberian pelayanan yang dianjurkan adalah minimal satu kali pada triwulan pertama.72%. Cakupan tertinggi (101. Kabupaten Pemalang. HIV. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K-4 Kunjungan ibu hamil sesuai standar adalah pelayanan yang mencakup minimal: (1) Timbang badan dan ukur tinggi badan. Malaria. satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga umur kehamilan. TBC) Cakupan pelayanan lengkap ibu hamil (K4) di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 93. (3) Skrining status imunisasi tetanus dan pemberian Tetanus Toxoid. Kabupaten Jepara. protein urin) dan atau berdasarkan indikasi (HbsAG. (5) Pemberian tablet besi 90 selama kehamilan. (4) Tinggi fundus uteri. Sifilis.

14 95 2009 93. Data cakupan mulai tahun 2007 sampai dengan 2011 secara keseluruhan di Provinsi Jawa Tengah adalah sebagai berikut : 100 95 90 85 80 Cak. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Tengah tahun 2011 sebesar 96. K4 Target 2007 86. Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan adalah ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan.03 90 2010 93. Kabupaten/Kota yang sudah melampaui target SPM 2015 sebanyak 35 ( 100%).62 90 2011 96.Kabupaten Klaten.79% mengalami Provinsi Jawa bila peningkatan dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (93.2 Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 47 .62%).1 Cakupan Pelayanan Antenatal K4 Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007-2011 c.71 95 Gambar 4.79 90 Gambar 4.04 95 2011 93. Linakes Target 2007 86. 100 95 90 85 80 Cak. Dari 35 kabupaten/kota tersebut baru 42.92 95 2008 90.86% yang telah melampaui target cakupan K4.39 95 2010 92.6 90 2008 90.98 90 2009 93.

eklampsia). Cakupan yang telah mencapai 100% meliputi Kabupaten Banyumas. Kabupaten Pekalongan dan Kota Magelang. (b) Hiperemesis (d) Hipertensi dalam kehamilan (f) ketuban pecah Gravidarum. sehingga perlu mendapatkan pelayanan kesehatan masa nifas dengan dikunjungi oleh tenaga kesehatan minimal 3 (tiga) kali sejak persalinan. suami maupun dukungan keluarga. (c) Perdarahan per vaginam.05%) Dengan semakin naiknya angka cakupan pertolongan persalinan menunjukkan adanya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan.Cakupan tertinggi adalah di Kabupaten Pekalongan dan Kota surakarta (100%) dan terendah adalah Kabupaten Banyumas (86.24%) dan sudah melampaui target SPM tahun 2015 (90%). d. Cakupan pelayanan pada ibu nifas tahun 2011 yaitu 93. keluar cairan berbau dari jalan lahir.97% naik bila dibandingkan tahun 2010 (93.43%). Dari 35 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah masih belum mencapai target SPM ada 4 Kabupaten/Kota (11. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 (preeklampsia. Cakupan Pelayanan Nifas Paska persalinan (masa nifas) berpeluang untuk terjadinya kematian ibu maternal. Pelayanan Ibu Nifas meliputi pemberian Vitamin A dosis tinggi ibu nifas yang kedua dan pemeriksaan kesehatan paska persalinan untuk mengetahui apakan terjadi perdarahan paska persalinan. Kabupaten yang terendah capaiannya adalah Kota Semarang (64. e. Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani Komplikasi kebidanan merupakan kesakitan pada ibu hamil. Kabupaten Klaten. ibu bersalin dan ibu nifas yang dapat mengancam jiwa ibu dan/atau bayi.68%). adanya perencanaan persalinan yang baik dari ibu. dini. Komplikasi dalam kehamilan diantaranya (a) Abortus. 48 . demam lebih dari 2 (dua) hari. Kunjungan terhadap ibu nifas yang dilakukan petugas kesehatan biasanya bersamaan dengan kunjungan neonatus. (e) Kehamilan lewat waktu. payudara bengkak kemerahan disertai rasa sakit dan lain-lain.

untuk memantau dan memberi pelayanan kesehatan untuk ibu dan bayinya. Jumlah komplikasi kebidanan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 126. 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan (SPM-BK). (f) Kontraksi dini/persalinan premature. (c) Perdarahan nifas. RSIA/RSB.56%) dan Kota Semarang (89. Komplikasi dalam nifas diantaranya (a) Hipertensi dalam kehamilan (preeklampsia. cakupan KN-3 rata-rata sudah lebih dari 90%. ibu bersalin dan ibu nifas dengan komplikasi yang ditangani adalah ibu hamil. Ibu hamil. eklampsia). RSU. KN dibagi menjadi 3. Pelayanan Kesehatan Anak a. yaitu: KN 1 adalah kunjungan pada 0-2 hari . Pencapaian cakupan tahun ini masih dibawah target SPM tahun 2015 (80%).Komplikasi dalam persalinan diantaranya (a) Kelainan letak/presentasi janin. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani tahun 2011 sebesar 75. Cakupan Kunjungan Neonatus Kunjungan Neonatus (KN) adalah kunjungan yang dilakukan oleh petugas kesehatan ke rumah ibu bersalin. Pada Permenkes 741/ Th. bersalin dan nifas dengan komplikasi yang mendapatkan pelayanan sesuai standar pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan (Polindes. (b) Partus macet/distosia.01%. 2.KN 2 adalah kunjungan 2-7 hari dan KN 3 adalah kunjungan setelah 7-28 hari. (e) Infeksi berat/sepsis. (g) Kehamilan ganda.440 (20% dari jumlah ibu hamil). (c) Hipertensi dalam kehamilan (preeklampsia. Cakupan kunjungan neonatus 1 (KN-1) di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 98. RSU PONEK). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 49 . Rumah Bersalin.84%). (b) Infeksi nifas. dan cakupan kunjungan neonatus 3 (KN-lengkap) sebesar 95.19%. Dari 35 kabupaten/kota. Perlu diketahui bahwa tahun-tahun sebelumnya yang dihitung hanya cakupan komplikasi pada ibu hamil yang ditangani. eklampsia) (d) Perdarahan pasca persalinan. Puskesmas PONED. tetapi diharapkan target tersebut bisa tercapai sebelum tahun 2015. Puskesmas.28%. namun masih ada Kabupaten/Kota yang cakupannya kurang dari 90 % yaitu Kabupaten Wonogiri (87.

3 Cakupan Kunjungan Neonatus Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Secara keseluruhan cakupan kunjungan neonatus di tingkat Provinsi Jawa Tengah sudah memenuhi target yaitu lebih dari 90%. Selain itu juga adanya upaya peningkatan pelayanan kesehatan dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah dengan menggunakan buku KIA serta meningkatnya pengetahuan ibu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik untuk bayinya.19 Gambar 4. paling sedikit 4 kali.Untuk meningkatkan Kunjungan Neonatus di Kabupaten/Kota.33 2008 94. b. Hal ini disebabkan adanya upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat melalui penambahan dan penempatan bidan di desa. Selain itu perlu dilakukan analisis apakah jumlah tenaga kesehatan yang ada telah mencukupi kebutuhan pelayanan kesehatan tersebut serta tenaga kesehatan yang bertugas apakah telah melakukan pelayanan kesehatan secara optimal. Adapun cakupan kunjungan neonatus di Jawa Tengah pada tahun 2007-2011 dapat digambarkan sebagai berikut: 100 98 96 94 92 90 KN 2007 94.66 2009 99.86 2011 95. di luar kunjungan neonatus. Setiap bayi berhak mendapatkan pelayanan kesehatan dengan memantau pertumbuhan dan perkembangannya Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 50 . Cakupan Kunjungan Bayi Kunjungan bayi adalah bayi yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan.37 2010 94. pemerintah telah mengupayakan alokasi dana diantaranya melalui dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) disamping pendanaan lainnya baik dari Provinsi maupun Kabupaten/Kota. Setelah umur 28 hari.

Perhitungan sasaran neonatus dengan komplikasi dihitung berdasarkan 15% dari jumlah bayi baru lahir.76 2008 96.4 Cakupan Kunjungan Bayi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 c. infeksi/sepsis.19%. ikterus. hipotermia. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 51 . Adapun grafik cakupan bayi 2007 . Neonatus dengan komplikasi seperti asfiksia.22% dan Kabupaten Pekalongan 70.73%). Cakupan kunjungan bayi tingkat Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 92. tetanus neonatorum.04 2009 95. sindroma gangguan pernafasan dan kelainan congenital maupun yang termasuk klasifikasi kuning pada Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).73 2011 92. menurun apabila dibandingkan tahun 2010 (93. dokter dan bidan di sarana pelayanan kesehatan. trauma lahir. Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara profesional kepada neonatus dengan komplikasi.77%.64 Gambar 4. Neonatus dengan komplikasi yang ditangani merupakan neonatus komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih. BBLR (berat badan lahir rendah < 2500 gr).07 2010 93. Cakupan kunjungan bayi Kabupaten/Kota di Jawa Tengah pada tahun 2011 yang masih dibawah 80% yaitu Kabupaten Boyolali 44.secara teratur setiap bulan di sarana pelayanan kesehatan. kecacatan dan kematian. Wonogiri 73.2011 dapat digambarkan sebagai berikut: 97 96 95 94 93 92 91 90 Kunjungan Bayi 2007 92. Cakupan Neonatus dengan Komplikasi yang Ditangani Neonatus dengan komplikasi merupakan neonatus dengan penyakit dan kelainan yang dapat menyebabkan kesakitan.64%.

e. d.03%. kesehatan gigi. Disamping target neonatus komplikasi yang ditangani untuk neonatal resiko tinggi seharusnya 15 % dari jumlah sasaran bayi pertahun. namun belum semua kabupaten/kota mempunyai persepsi / pemahaman yang sama. cerdas dan kuat. Sedangkan cakupan terendah adalah Kabupaten Boyolali 34. Jumlah perkiraan tersebut yang mendapat penanganan tenaga kesehatan di tiap jenjang pelayanan kesehatan sebesar 47. Cakupan Neonatus Risiko Tinggi/komplikasi yang ditangani tersebut masih jauh dari target cakupan sebesar 80%. Pelaksanaan penjaringan kesehatan dikoordinir oleh puskesmas bersama dengan guru Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 52 . pemeriksaan ketajaman mata.569 bayi (53.864 (81. Jumlah balita di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 2.25%).Tahun 2011 perkiraan bayi dengan komplikasi yang dihitung dari banyaknya sasaran bayi jumlahnya sebesar 89.187. sehingga belum semua neonatus dengan risiko tinggi/komplikasi dicatat dan dilaporkan. Masih rendahnya neonatus risiko tinggi yang mendapatkan pelayanan kesehatan diantaranya disebabkan belum adanya keseragaman definisi operasional mengenai neonatal yang termasuk dalam risiko tinggi. kelainan mental emosional dan kebugaran jasmani.204. yang mendapatkan pelayanan kesehatan sebanyak 1. Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat Penjaringan kesehatan siswa Sekolah Dasar (SD) dan setingkat adalah pemeriksaan kesehatan terhadap murid baru kelas 1 SD dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang meliputi pengukuran tinggi badan. ketajaman pendengaran.02). karena balita adalah generasi penerus bangsa yang harus sehat.336 bayi.785. berat badan. Cakupan Pelayanan Anak Balita Balita adalah anak berumur dibawah 5 tahun atau umur 12-59 bulan. Tidak hanya bayi yang harus mendapatkan perhatian kesehatannya tetapi balita juga perlu mendapatkan perhatian baik gizi maupun kesehatannya. Kabupaten yang cakupannya sudah mencapai 100% adalah Kabupaten Magelang dan Kabupaten Brebes.

77 2009 43. Angka cakupan terendah di Kabupaten Rembang (1.853 anak. Kabupaten Temanggung. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 53 .555. sehingga anak yang sakit menjadi sembuh dan anak yang sehat tidak tertular menjadi sakit.831 (42. meningkat dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (52.55%) dan tertinggi (100%) dicapai oleh 7 kabupaten yaitu Kabupaten Sukoharjo.5 Cakupan Pemeriksaan Kesehatan Siswa SD/MI Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga kesehatan / guru UKS / kader kesehatan sekolah tahun 2011 sebesar 78.84%).61%). Kabupaten Purbalingga dan Kota Surakarta. Kabupaten Demak.59 2008 43. Melalui penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat diharapkan dapat menapis atau menjaring anak yang sakit dan melakukan tindakan intervensi secara dini. Siswa SD dan setingkat ditargetkan 100 % mendapatkan pemantauan kesehatan melalui penjaringan kesehatan. Angka cakupan terendah di Kabupaten Boyolali (15. Yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai strata UKS sebesar 1. Kabupaten Sragen.72%.sekolah dan kader kesehatan/konselor kesehatan.70%) dan tertinggi (100%) dicapai oleh 4 kabupaten yaitu Kabupaten Sukoharjo.8 2010 52. 100 80 60 40 20 0 Cakupan 2007 51.02 Gambar 4.074. Kabupaten Kebumen. Cakupan Pelayanan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat Jumlah siswa SD dan setingkat tahun 2011 sebanyak 2. Kabupaten Pati.61 2011 81. Setiap puskesmas mempunyai tugas melakukan penjaringan kesehatan siswa SD/MI di wilayah kerjanya dan dilakukan satu kali pada setiap awal tahun ajaran baru sekolah. Kabupaten Jepara dan Kabupaten Demak. f.

84 2011 99. Salah satu dampak kurang Vitamin A adalah kelainan pada mata yang umumnya terjadi pada anak usia 6 bulan – 4 tahun yang menjadi penyebab utama kebutaan di negara berkembang.46%).84%. Pelayanan Gizi a. hanya ada 1 kabupaten yang masih di bawah target yaitu Kabupaten Pemalang (82. Cakupan Pemberian Vitamin A pada Anak Balita Salah satu program penanggulangan KVA yang telah dijalankan adalah dengan suplementasi kapsul Vitamin A dosis tinggi 2 kali pertahun Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 54 . lebih banyak dibandingkan tahun 2010 sebesar 96. A pada Bayi dan Balita Tahun 2007 – 2011 b. Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada bayi selama 5 tahun terakhir (2007-2011) dapat dilihat dalam gambar berikut ini : 100 99 98 97 96 95 94 93 92 Cakupan 2007 94. Cakupan tersebut sudah melampaui target SPM sebesar 95%. cakupan pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi pada bayi sebesar 99.74 2008 98.3.08 Gambar 4.11 2010 96. Berdasarkan data yang yang diperoleh dari profil kesehatan kabupaten/kota.52 2009 98. Cakupan Pemberian Vitamin A pada Bayi Kurang Vitamin A (KVA) masih merupakan masalah yang tersebar diseluruh dunia terutama di negara berkembang dan dapat terjadi pada semua umur terutama pada masa pertumbuhan. Sebagian besar kabupaten/kota telah melampaui target. KVA dalam tubuh dapat menimbulkan berbagai jenis penyakit yang merupakan “Nutrition Related Diseases” yang dapat mengenai berbagai macam anatomi dan fungsi dari organ tubuh seperti menurunkan sistem kekebalan tubuh dan menurunkan epitelisme sel-sel kulit.08%.6 Cakupan Suplementasi Kapsul Vit.

Balita yang dimaksud dalam program distribusi kapsul Vitamin A adalah anak umur 12 – 59 bulan yang mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi. Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada balita selama 5 tahun terakhir (2007-2011) dapat dilihat dalam gambar berikut ini : 100 95 90 85 80 75 70 Cakupan 2007 82. Kabupaten Purworejo.44 2010 96.14 2009 82. Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada Balita tahun 2011 sebesar 98. Disamping itu pemantapan program distribusi kapsul Vitamin A dosis tinggi juga dapat mendorong tumbuh kembang anak serta meningkatkan daya tahan anak terhadap penyakit infeksi.76 2011 98.00%). Cakupan tertinggi (>100%) sudah dapat dicapai oleh 8 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Banyumas. Cakupan ini sudah melampaui target SPM (95%). mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010 (96. A pada Balita di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 55 . Kabupaten Magelang. Kabupaten Sragen.45%. Kabupaten Boyolali.7 Cakupan Suplementasi Kapsul Vit.62%) dan Kabupaten Pemalang (91.6 2008 95.76%). Kabupaten Kendal.pada Balita dan ibu nifas untuk mempertahankan bebas buta karena KVA dan mencegah berkembangnya kembali masalah Xerofthalmia dengan segala manifestasinya (gangguan penglihatan. Kapsul Vitamin A dosis tinggi terdiri dari kapsul vitamin A berwarna merah dengan dosis 200. Kota Magelang dan Kota Semarang.000 SI yang diberikan pada anak umur 12-59 bulan dan diberikan pada bulan Pebruari dan Agustus setiap tahunnya. sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian pada bayi dan anak. Sedangkan yang masih di bawah target yaitu Kabupaten Jepara (88.45 Gambar 4. buta senja dan bahkan kebutaan sampai kematian).

94 2009 87. Kabupaten Pekalongan.78%). dan bufas diantaranya: 1) Advokasi. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 56 . meningkat dibandingkan tahun 2010 (92. balita. rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan lainnya.c. Kota Magelang dan Kota Surakarta. Cakupan ibu nifas mendapat kapsul vitamin A tahun 2011 sebesar 96. Kabupaten Klaten.73 2008 92. Cakupan Pemberian Vitamin A pada Ibu Nifas Ibu nifas adalah ibu yang baru melahirkan bayi baik di rumah dan atau rumah bersalin dengan pertolongan dukun bayi dan atau tenaga kesehatan. Sementara cakupan terendah di Kabupaten Temanggung sebesar 84. 2) Forum komunikasi.31 2010 92.8 Cakupan Ibu Nifas mendapat Kapsul Vit.000 SI) pada periode sebelum 40 hari setelah melahirkan. A di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Beberapa hal yang mempengaruhi fluktuasi angka cakupan pemberian vitamin A pada bayi. pendekatan. Cakupan ibu nifas mendapat kapsul vitamin A adalah cakupan ibu nifas yang mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi (200.43%.78 2011 96. dan lain-lain bentuk yang disertai dengan penyebarluasan informasi. 100 95 90 85 80 75 Cakupan 2007 82. yang bermanfaat sebagai wahana yang mendukung terlaksananya kegiatan KIE di berbagai sektor terkait. 3) Sosialisasi pemberian kapsul Vitamin A terhadap petugas kesehatan di Puskesmas. Suplementasi vitamin A pada ibu nifas merupakan salah satu program penanggulangan kekurangan vitamin A.36%.43 Gambar 4. Cakupan tertinggi (>100%) dicapai oleh Kabupaten Magelang.

06 2009 92. 6) Lintas program/ lintas sektor terkait (Promosi Kesehatan. ibu hamill.92 90.91 2008 93. Imunisasi. Hal ini dapat dilihat dari tingginya prevalensi pemberian tablet Fe pada ibu hamil.94 87.25%). d. remaja putri.59 85.12%.98 85. dll) 7) Adanya sweeping dari kader kesehatan dengan sasaran ibu anak yang belum mendapatkan kapsul Vitamin A pada bulan kapsul. Persentase Ibu Hamil yang Mendapatkan Tablet Fe Program penanggulangan anemia yang dilakukan adalah memberikan tablet tambah darah yaitu preparat Fe yang bertujuan untuk menurunkan angka anemia pada balita. 100 95 90 85 80 Fe 1 Fe 3 2007 92. dan WUS (Wanita Usia Subur). ibu nifas.4) Kegiatan konseling/konsultasi gizi dilakukan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas dan rumah sakit pada sasaran ibu anak.53% dan terendah Kabupaten Kendal 53.39% lebih rendah bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (90. dan belum mencapai target SPM 2010 (90%). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 57 .62 2010 95. Penanggulangan anemi pada ibu hamil dilaksanakan dengan memberikan 90 tablet Fe kepada ibu hamil selama periode kehamilannya. Cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 89.9 Persentase Pemberian Tablet Fe Pada Ibu Hamil Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Dari grafik di atas dapat diihat bahwa cakupan Fe 1 dan cakupan Fe 3 sudah cukup baik dan memadai. 5) Tersedianya sarana pelayanan kesehatan yang terjangkau.43 89. Cakupan tertinggi dicapai Kabupaten Pekalongan 101.25 2011 95.39 Gambar 4.

Pernyataan bahwa dengan pemberian susu formula kepada bayi dapat menjamin bayi tumbuh sehat dan kuat. diabetes dll.e. dalam keadaan sakit mungkin merupakan hadiah yang menyelamatkan jiwanya (UNICEF). kecuali obat dan vitamin. namun pada masa pertumbuhan berikutnya bayi yang tidak diberi ASI ternyata memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk menderita hipertensi. Kebijakan Nasional untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 (enam) bulan telah ditetapkan dalam SK Menteri Kesehatan No. meningkat dibandingkan tahun 2010 (37. Persentase Bayi yang Mendapatkan ASI Eksklusif Air Susu Ibu (ASI) merupakan satu-satunya makanan yang sempurna dan terbaik bagi bayi karena mengandung unsur-unsur gizi yang dibutuhkan oleh bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi guna mencapai pertumbuhan dan perkembangan bayi yang optimal. karena meskipun insiden diare rendah pada bayi yang diberi susu formula.18%. dalam keadaan miskin mungkin merupakan hadiah satusatunya. jantung. Oleh sebab itu pemberian ASI perlu diberikan secara eksklusif sampai umur 6 (enam) bulan dan tetap mempertahankan pemberian ASI dilanjutkan bersama makanan pendamping sampai usia 2 (dua) tahun. Berdasarkan data yang diperoleh dari profil kesehatan kabupaten/kota tahun 2011 menunjukkan cakupan pemberian ASI eksklusif hanya sekitar 45. 450/Menkes/SK/IV/2004.18%). kanker. Bayi yang mendapat ASI eksklusif adalah bayi yang hanya mendapat ASI saja sejak lahir sampai usia 6 bulan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. ASI adalah hadiah yang sangat berharga yang dapat diberikan kepada bayi. ternyata menurut laporan mutakhir UNICEF (Fact About Breast Feeding) merupakan kekeliruan yang fatal. Pemberian ASI eksklusif bukan hanya isu nasional namun juga merupakan isu global. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 58 . ASI eksklusif adalah Air Susu Ibu yang diberikan kepada bayi sampai bayi berusia 6 bulan tanpa diberikan makanan dan minuman. obesitas.

41%.18 2011 45. Gencarnya pemasaran susu formula. Kondisi yang kurang memadai bagi para ibu yang bekerja.36 Gambar 4. 2).21 2010 37. Faktor sosial budaya. Sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Rembang 6. Kabupaten Klaten.35 2008 28. 50 40 30 20 10 0 Cakupan 2007 27. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 59 . Upaya-upaya yang telah dilaksanakan dalam rangka meningkatkan cakupan pemberian ASI eksklusif tetap berpedoman pada Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui yaitu: 1) Sarana Pelayanan Air Kesehatan Ibu mempunyai kebijakan yang Peningkatan secara rutin Pemberian Susu (PP-ASI) tertulis dikomunikasikan kepada semua petugas. 3). Hanya 6 kabupaten/kota saja yang telah mencapai pemberian ASI eksklusif di atas 60% yaitu Kabupaten Purworejo. Kabupaten Pati dan Kabupaten Temanggung. 5). Kabupaten Banyumas. Kurangnya pelayanan konseling laktasi dan dukungan dari petugas kesehatan. 4). Rendahnya pengetahuan ibu dan keluarga lainnya mengenai manfaat ASI dan cara menyusui yang benar.10 Cakupan Pemberian ASI Eksklusif Tahun 2007 – 2011 Beberapa hal yang menghambat pemberian ASI eksklusif diantaranya adalah: 1). Kabupaten Blora.96 2009 40.55%.Cakupan tertinggi adalah Kabupaten Klaten 77.

Cakupan terendah adalah Kabupaten Brebes 0. Kabupaten Boyolali. 9) Tidak memberikan dot atau kempeng kepada bayi yang diberi ASI. Kabupaten Temanggung. Jumlah anak usia 623 bulan dari keluarga miskin dari 21 kabupaten/kota sebanyak 145. f. Kota Salatiga dan Kota Pekalongan.31%). Kabupaten Blora. Anak usia 6-24 bulan dari keluarga miskin diberikan makanan pendamping ASI baik makanan lokal maupun pabrikan. tanpa pembatasan terhadap lama dan frekuensi menyusui. 3) Menjelaskan kepada semua ibu hamil tentang manfaat menyusui dan penatalaksanaannya dimulai sejak masa kehamilan. 10) Mengupayakan terbentuknya Kelompok Pendukung ASI (KP-ASI) dan rujuk ibu kepada kelompok tersebut ketika pulang dari rumah sakit. Kabupaten Rembang.40%. Kabupaten Demak. bayi disusui setelah 30 menit ibu sadar. 7) Melaksanakan rawat gabung dengan mengupayakan ibu bersama bayi 24 jam sehari. masa bayi lahir sampai umur 2 tahun termasuk cara mengatasi kesulitan menyusui.724 anak. Apabila ibu mendapat operasi caesar. Kabupaten yang cakupannya sudah mencapai 100% adalah Kabupaten Wonosobo.2) Melakukan pelatihan bagi petugas dalam hal pengetahuan dan ketrampilan untuk menerapkan kebijakan tersebut. yang mendapatkan makanan tambahan ASI (MP-ASI) sebanyak 55. 5) Membantu ibu bagaimana cara menyusui yang benar dan cara mempertahankan menyusui meski ibu dipisah dari bayi atas indikasi medis. Cakupan Pemberian Makanan Pendamping ASI pada Anak Usia 624 bulan Keluarga Miskin. 6) Tidak memberikan makanan atau minuman apapun selain ASI kepada bayi baru lahir. 4) Membantu ibu mulai menyusui bayinya dalam 30 menit setelah melahirkan yang dilakukan di ruang bersalin (inisiasi dini). rumah bersalin atau sarana pelayanan kesehatan. 8) Membantu ibu menyusui semau bayi semau ibu.831 (38. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 60 .

Pemberantasan Penyakit). faktor ekonomi dan sosial budaya. Cakupan tertinggi adalah di Kabupaten Sragen 88. Dari data yang ada menggambarkan bahwa pedesaan dan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 61 .g.63 2008 76.32 Gambar 4.32% menurun dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (89.35% dan terendah Kabupaten Pemalang 61. Semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam penimbangan di posyandu maka semakin baik pula data yang dapat menggambarkan status gizi balita.89 2010 89.49 2011 78.49%).11 Cakupan Balita Yang Ditimbang Tahun 2007 – 2011 Kabupaten/kota yang belum dapat mencapai target partisipasi masyarakat sebesar 80% sebanyak 15 kabupaten/kota. 100 80 60 40 20 0 Balita ditimbang 2007 71. dalam tingkat posyandu pengetahuan masyarakat tentang kesehatan dan gizi. Banyak hal dapat mampengaruhi penimbangan di tingkat pencapaian antara partisipasi lain tingkat masyarakat pendidikan. Partisipasi masyarakat dalam penimbangan di posyandu tersebut digambarkan dalam perbandingan jumlah balita yang ditimbang (D) dengan jumlah balita seluruhnya (S). Jumlah Balita Ditimbang Salah satu upaya untuk meningkatkan keadaan gizi masyarakat adalah melalui Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) yang sebagian kegiatannya dilaksanakan di Posyandu.47 2009 75.43%. Imunisasi. Partisipasi masyarakat dalam penimbangan di posyandu tahun 2011 sebesar 78. Penimbangan terhadap bayi dan balita yang dilakukan di posyandu merupakan upaya masyarakat memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita yang dintegrasikan dengan pelayanan kesehatan dasar lain (KIA.

perkotaan tidak memperlihatkan perbedaan yang menyolok dalam partisipasi masyarakat tetapi yang sangat berpengaruh adalah faktor ekonomi dan sosial budaya. Penemuan kasus gizi buruk harus segera ditindak lanjuti dengan rencana tindak yang jelas. maka segera dilakukan perawatan gizi buruk sesuai pedoman di Posyandu dan Puskesmas. maka dilakukan konfirmasi status gizi dengan menggunakan indikator berat badan menurut tinggi badan. Skrining pertama dilakukan di posyandu dengan membandingkan berat badan dengan umur melalui kegiatan penimbangan. Pendataan gizi buruk di Jawa Tengah didasarkan pada 2 kategori yaitu dengan indikator membandingkan berat badan dengan umur (BB/U) dan kategori kedua adalah membandingkan berat badan dengan tinggi badan (BB/TB). sehingga penanggulangan gizi buruk memberikan hasil yang optimal. Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan Kejadian gizi buruk perlu dideteksi secara dini melalui intensifikasi pemantauan tumbuh kembang Balita di Posyandu. h. Jika ternyata terdapat penyakit penyerta yang berat dan tidak dapat ditangani di Puskesmas maka segera dirujuk ke rumah sakit. Jika ternyata balita tersebut merupakan kasus buruk. dilanjutkan dengan penentuan status gizi oleh bidan di desa atau petugas kesehatan lainnya. jika ditemukan balita yang berada di bawah garis merah (BGM) atau dua kali tidak naik (2T). 20000 15000 10000 5000 0 Jml Balita Gibur 2007 18106 2008 5528 2009 5249 2010 3514 2011 3187 Gambar 4.12 Jumlah Balita dengan Gizi Buruk Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 62 .

Sedangkan kabupaten dengan konsumsi garam beryodium terendah adalah Kabupaten Demak 9.13 Persentase Desa/Kelurahan dengan Garam Beryodium Baik Tahun 2007 – 2011 Berdasarkan laporan yang masuk dari 33 kabupaten/kota.514).15%). menggambarkan identitas mutu garam beryodium yang dikonsumsi penduduk di suatu desa/kelurahan. i. Kota Salatiga dan Kota Semarang.Balita Gizi Buruk tahun 2011 berjumlah 3. dimana pada tahun 2011 sebanyak 53. Pelayanan Keluarga Berencana a. Tetapi persentase Balita Gizi Buruk mendapatkan perawatan tahun 2011 sebesar 100% jauh lebih meningkat dibandingkan tahun 2010 (93. Peserta Keluarga Berencana Baru Peserta Keluarga Berencana (KB) baru adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang baru pertama kali menggunakan salah satu cara/alat dan/atau PUS yang menggunakan kembali salah satu cara/alat kontrasepsi setelah mereka berakhir masa kehamilannya. Desa dengan Garam Beryodium yang Baik Persentase desa/kelurahan dengan garam beryodium yang baik.28%).15 2011 53.187 menurun apabila dibandingkan tahun 2010 (3. 100 80 60 40 20 0 % Desa dg garam beryodium 2007 58.81 2010 80.42% menurun dibandingkan tahun 2010 (80. 4. yang cakupannya mencapai 100% adalah Kabupaten Tegal. Kota Magelang.83 2008 55. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 63 .68%.93 2009 48.42 Gambar 4. Kota Surakarta.

0%) dan Implant (12. Kondom 5.561. Peserta KB baru tersebut menggunakan kontrasepsi sebagai berikut: 1) MKJP: Tahun 2011 IUD (6.4% MOW 2. MOP/MOW (2.243).8%).23%) dan Implant (8.9%).24%). MOP (0.2%).2%).4%) dan Kondom (5. hal tersebut dapat difahami karena akses untuk memperoleh pelayanan suntikan relatif lebih mudah.4%) dan kondom (hanya 5.20%). PIL (18.4% Suntik 54. sedangkan tahun 2010 : Suntik (58.2% PIL 18.14 Persentase Pemakaian Kontrasepsi Peserta KB Baru Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Sebagian besar peserta KB baru mempergunakan kontrasepsi non MKJP yang membutuhkan pembinaan secara rutin dan berkelanjutan untuk menjaga kelangsungan pemakaian kontrasepsi. karena terbatasnya pilihan kontrasepsi yang disediakan bagi pria.549. sebagai akibat tersedianya jaringan pelayanan sampai di tingkat desa/kelurahan sehingga dekat dengan tempat tinggal peserta KB. 2) NON MKJP: Tahun 2011 Suntik (54.8% IUD 6.2% Gambar 4.97%). Partisipasi pria (bapak) untuk menjadi peserta KB aktif dengan mempergunakan kontrasepsi MOP (hanya 0.46%) dan Kondom (5. MOW (2.13%). menurun apabila dibandingkan dengan tahun 2010 (15. dan sebagian pria masih beranggapan bahwa KB merupakan urusan ibu (istri).Jumlah PUS Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 6.4%).125 lebih sedikit dibanding tahun 2010 (6. Sedangkan tahun 2010: IUD (5. Proporsi pemakai kontrasepsi suntikan cukup besar yaitu 54.2%.9% MOP 0. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 64 .8%).99%). PIL (19.0% Implant 12. Peserta KB baru pada tahun 2011 (13. sehingga ibu (istri) yang menjadi sasaran.7%).

8%. Terdapat 13 Kabupaten/kota yang telah melampaui target yaitu Kabupaten Wonogiri. Kabupaten Brebes.b.09 80 2009 78. Peserta KB Aktif Peserta KB aktif adalah akseptor yang pada saat ini memakai kontrasepsi untuk menjarangkan kehamilan atau mengakhiri kesuburan. Polio 4 dan Campak dengan cakupan minimal 80% dari Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 65 . Kabupaten Pati.5%) dan terendah di Kabupaten Tegal (44.15 Cakupan Peserta KB Aktif Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 5.57 80 2011 76. Cakupan peserta KB aktif adalah perbandingan antara jumlah peserta KB aktif dengan PUS di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.37 80 2010 78. Kabupaten Pekalongan. Kabupaten Blora. Kabupaten Semarang.79 80 2008 78. Cakupan peserta KB aktif Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 76. mengalami penurunan dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (78. 81 80 79 78 77 76 75 74 Cakupan Target 2007 77. Persentase Desa yang Mencapai “Universal Child Immunization” (UCI) Strategi operasional pencapaian cakupan tinggi dan merata berupa pencapaian Universal Child Immunization (UCI) yang berdasarkan indikator cakupan DPT-HB 3. dan Kota Surakarta. Kabupaten Temanggung. Cakupan peserta KB aktif menunjukkan tingkat pemanfaatan kontrasepsi di antara PUS.57%). Kota Magelang.8 80 Gambar 4. Angka ini sudah mencapai target (70%). Kabupaten Rembang.2%). Kabupaten Kudus. Pelayanan Imunisasi a. Kabupaten Pemalang. Kabupaten Jepara. Cakupan tertinggi di Kota Magelang (89.

95 2010 94. Kabupaten Pekalongan. kabupaten Pemalang. Kota Semarang. Kabupaten Grobogan. Kabupaten Kebumen. Kota Pekalongan dan Kota Tegal. kabupaten Kudus. Kota Magelang.1%). Kabupaten Semarang. Kabupaten Demak.06%). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 66 . Hasil pencapaian UCI desa tahun 2010 yang mencapai target (100%) sebanyak 18 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Banyumas. hal ini dikarenakan penentuan jumlah sasaran masih berdasarkan angka estimasi jumlah penduduk.16 Cakupan Desa/Kelurahan UCI Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Kabupaten/kota yang belum mencapai target imunisasi dasar lengkap pada bayi disebabkan antara lain : 1) Adanya perbedaan jumlah dibandingkan dengan sasaran yang ada.58 2011 96. Kabupaten Temanggung. Kota Salatiga. pada umumnya disebabkan karena penghitungan sasaran (denominator) yang melebihi dengan kondisi riil jumlah sasaran di lapangan.jumlah sasaran bayi di desa.64 2008 86.4%) mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2010 (94.4 Gambar 4. Pencapaian UCI desa tahun 2011 (96. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tidak tercapainya pencapaian UCI desa di beberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah. Kabupaten Magelang. Kabupaten Tegal. Sedangkan kabupaten yang pencapaian UCI desa terendah di Kabupaten Batang (66. Kabupaten Sragen. bukan dari hasil pendataan. 99 94 89 84 79 74 UCI 2007 83.83 2009 91. Kota Surakarta.

712 meningkat disbanding tahun 2010 sebanyak 579. Difteri. Sebagai indikator kelengkapan status imunisasi dasar lengkap bagi bayi dapat dilihat dari hasil cakupan imunisasi campak. Backlog Fighting (melengkapi status imunisasi). kecacatan. DPT-HB 3 kali. dan lain-lain. dan kematian bayi serta anak balita dilaksanakan program imunisasi baik program rutin maupun program tambahan/suplemen untuk penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti TBC. 3) Belum dilakukan pelaksanaan sweeping atau kunjungan rumah untuk melengkapi status imunisasi pada daerah-daerah yang cakupan imunisasinya masih rendah. pada umumnya disebabkan keterbatasan sumber daya atau tenaga banyak yang merangkap dengan tugas lain. Selain pemberian imunisasi rutin. Sedangkan cakupan masing-masing jenis imunisasi tahun 2011 adalah Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 67 . Hepatitis B. Polio. karena imunisasi campak merupakan imunisasi yang terakhir yang diberikan pada bayi umur 9 (sembilan) bulan dengan harapan imunisasi sebelumnya sudah diberikan dengan lengkap (BCG. 4) Masih ada sebagian kecil orang tua yang menolak anaknya untuk diimunisasi dikarenakan keyakinan/kepercayaan agama. dan HB). BIAS Campak yang diberikan pada semua usia kelas I SD/MI/SDLB/SLB. Bayi seharusnya mendapat imunisasi dasar lengkap yang terdiri dari BCG 1 kali. Tetanus. pencapaian tiap tahun cenderung menurun.2) Belum semua Puskesmas membuat Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) imunisasi secara rutin (bulanan. Cakupan Imunisasi bayi Upaya untuk menurunkan angka kesakitan. b. Jumlah sasaran bayi pada tahun tahun 2011 adalah 592. Polio. sedangkan BIAS TT diberikan pada semua anak usia kelas II dan III SD/MI/SDLB/SLB. Polio 4 kali.494. DPT-HB. program imunisasi juga melaksanakan program imunisasi tambahan/suplemen yaitu Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) DT. dan Campak. Cakupan imunisasi dasar lengkap bayi di Jawa Tengah dari semua antigen sudah mencapai target minimal nasional (85%). HB Uniject 1 kali dan campak 1 kali. Pertusis. tribulanan) dikarenakan banyak petugas imunisasi yang merangkap dengan tugas lain.

analisis PWS harus diikuti dengan tindak lanjut.14 96.95%) dan Campak (96.89 99.08 Polio 4 97.77 102.6%).08%). DPT3+HB3 (95. Sebanyak 11 kabupaten/kota (31.5 99.17 Cakupan Imunisasi Bayi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 c.0%). Hal ini mengalami penurunan bila dibanding tahun 2010 dengan BCG (100.29%). Kota Semarang dan Kota Tegal. Kabupaten Jepara. DPT1+HB1 (97.95%).28 99.0%). Polio 3 (94.29 DPT1+Hb1 DPT3+Hb3 100.4%.18 96.95 98.84 102.04 98. Dengan grafik PWS akan terlihat dan dapat dianalisis cakupan dan kecenderungan setiap bulan. maka dapat segera diketahui kekurangan cakupan dan beban yang harus dicapai setiap bulan pada periode berikutnya.29%).95 Campak 96. Tahun 2011 DO tingkat Jawa Tengah sebanyak 3. Kabupaten Purworejo.35 99.24 99. Kabupaten Pati. mengalami penurunan dibanding tahun 2010 (3.67 96. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 68 . persentase (%) 110 100 90 80 BCG 2007 2008 2009 2010 100.5 100.67%).78 103. Kabupaten Kendal. Sesuai kesepakatan dengan kabupaten/kota indikator DO di Jawa Tengah maksimal 5% atau (-5%). DPT3+HB3 (98.7%). Kabupaten Grobogan.69 99. Kabupaten Brebes.29 Gambar 4. Kota Surakarta. DPT1+HB1 (99.0%) dan Campak (93. Drop Out Imunisasi DPT1-Campak Dalam rangka mencapai dan mempertahankan UCI desa.42%) yang DO-nya lebih dari 5% atau (-5%) yaitu Kabupaten Banjarnegara.05 100. Polio 3 (96.sebagai berikut BCG (98. Untuk kecenderungan cakupan setiap bulan dapat diketahui dengan indikator Drop Out (DO). Kabupaten Sragen.

Jumlah ibu hamil 2011 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 632.5%.7 dan TT-5 sebesar 17. sebelum gigi tetap betul betul rusak dan harus dicabut. TT-4 sebesar 20. Pelayanan Kesehatan Gigi a. hal ini disebabkan : 1) Pencatatan dan pelaporan status imunisasi lima dosis belum berjalan dengan baik karena pelaksanaan skrining status TT belum optimal. Rasio Tambal Cabut Gigi Tetap Pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas meliputi kegiatan pelayanan dasar gigi dan upaya kesehatan gigi sekolah. oleh karena itu masih diperlukan penyuluhan yang terus menerus agar masyarakat memeriksakan giginya secara teratur. yang mendapat TT-1 sebesar 48. Kegiatan pelayanan dasar gigi adalah tumpatan (penambalan) gigi tetap dan pencabutan gigi tetap.4%. Data tersebut menandakan bahwa motivasi masyarakat dalam mempertahankan gigi geliginya belum maksimal.08. sehingga sistim pencernaan semakin bagus. TT-2 sebesar 48.d. TT-3 sebesar 28. Data kegiatan imunisasi TT WUS saat ini akurasinya masih sangat kurang sehingga belum dapat dinalisis.274.8. yang pada akhirnya Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 69 .2%. 2) Penggunaan format pelaporan yang berbeda antara kabupaten/kota ke provinsi dan puskesmas ke kabupaten/kota terutama untuk TT ibu hamil dan non ibu hamil. Tahun 2011 jumlah tumpatan gigi tetap tahun 2011 sebanyak 127. Melalui pemeriksaan gigi ini dapat mengontrol fungsi kunyah gigi agar tetap baik.198. 6. WUS Mendapat Imunisasi TT Imunisasi TT WUS adalah pemberian imunisasi TT pada WUS (usia 15-39 th) sebanyak lima dosis dengan interval tertentu yang berguna bagi kekebalan seumur hidup. Indikasi dari perhatian masyarakat adalah bila tumpatan gigi tetap semakin bertambah banyak berarti masyarakat lebih memperhatikan kesehatan gigi yang merupakan tindakan preventif.2% dan TT2+ sebanyak 114. Pencabutan gigi tetap adalah tindakan kuratif dan rehabilitatif yang merupakan tindakan terakhir yang harus diambil oleh seorang pasien. sementara jumlah pencabutan gigi tetap sebanyak 156.

baik yang dilakukan didalam maupun diluar gedung masih sangat minim.82 Gambar 4. Murid SD/MI Mendapat Pemeriksaan Gigi dan Mulut Kegiatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut lainnya adalah Upaya Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yang merupakan upaya promotif dan preventif kesehatan gigi khususnya untuk anak sekolah. mengalami peningkatan dibanding tahun 2010 yaitu 0.71 2009 0. Beberapa kabupaten/kota yang pencabutan giginya jauh lebih banyak dibandingkan tumpatan giginya (rasio rendah). Kegiatan UKGS meliputi pemeriksaan gigi pada seluruh murid untuk mendapatkan murid Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 70 .71 2010 0.6 0.2011 b.82.2 0 Rasio 2007 0. menandakan bahwa masyarakat di kabupaten yang bersangkutan masih kurang memperhatikan kesehatan gigi dan mulut dan kemungkinan frekuensi penyuluhan kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan oleh petugas kesehatan di setiap lini.95). Rasio tumpatan dan pencabutan gigi tetap tahun 2010 sebesar 0.62 2008 0. Hal menunjukan bahwa masih banyak masyarakat yang melakukan pencabutan gigi dibandingkan melakukan tumpatan gigi tetap. 1 0. pencabutan 4.81 2011 0. Kabupaten dengan rasio terendah adalah Kabupaten Rembang 0.607).81.kesehatan secara umum akan meningkat dan diharapkan di tahun-tahun mendatang jumlah pencabutan gigi tetap trennya semakin menurun.18 Rasio Tumpatan dan Pencabutan Gigi Tetap Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .8 0.06 (tumpatan 267. Kabupaten/kota yang rasionya tinggi (penumpatan lebih banyak dibandingkan dengan pencabutan) yaitu Kota Tegal (2.4 0.

65 60 55 50 45 Cakupan 2007 56. Kabupaten Kendal dan Kota Salatiga. 40 30 20 10 0 Cakupan 2007 31.90%) lebih tinggi dibandingkan pencapaian tahun 2010 (37.22 2009 36. Kabupaten Kudus. Prosentase jumlah murid yang diperiksa untuk tahun 2011 (37.20 Cakupan Perawatan Gigi Murid Sekolah Dasar Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 71 .59 2011 37.12 2008 62.59%). kemudian melakukan perawatan pada murid yang memerlukan.96%) dan masih ada beberapa kabupaten/kota yang belum melaporkan datanya.9 Gambar 4.95 2009 54.83%).4 2008 33. Beberapa kabupaten mempunyai cakupan sangat rendah.31 2010 37. Kabupaten yang mempunyai cakupan 100% adalah Kabupaten Sukoharjo.yang perlu perawatan gigi.83 2011 55.3 Gambar 4.19 Cakupan Pemeriksaan Kesehatan Gigi Murid Sekolah Dasar Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 c.30% mengalami peningkatan bila dibanding tahun 2010 (53. Murid SD/MI Mendapat Perawatan Gigi dan Mulut Cakupan perawatan gigi dan mulut murid SD/MI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 55.75 2010 53. seperti Kabupaten Sragen (6.

36 70 2009 42.96% menurun bila dibandingkan cakupan pada tahun 2010 sebesar 52.76%). 80 60 40 20 0 Cakupan Target 2007 30. Cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 51. dan masih jauh dibawah target cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut tahun 2010 (70%). menggambarkan bahwa kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah belum memperhatikan pelayanan kesehatan untuk kelompok pra usila dan usila yang merupakan kelompok usia berisiko. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 72 .60%) dan terendah adalah Kabupaten Klaten (1. Upaya-upaya yang telah dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan pra usila dan usila adalah sbb : 1) Pertemuan koordinasi program kesehatan usila Provinsi Jawa Tengah.21 Pelayanan Kesehatan Usia lanjut Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Masih rendahnya cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut dan sedikitnya kabupaten/kota yang mencapai target pelayanan kesehatan usia lanjut tahun 2011.61%. 2) Advokasi ke SKPD provinsi dengan pengembangan model kelompok pra usila percontohan dan fasilitasi pelayanan kesehatan. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut Pelayanan kesehatan usia lanjut yaitu pelayanan penduduk usia 60 tahun ke atas yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan.61 70 2011 51.7. baik di puskesmas maupun di posyandu/kelompok usia lanjut. Kabupaten/kota dengan cakupan tertinggi adalah Kabupaten banjarnegara (102.27 70 2010 52.51 70 2008 29.96 70 Gambar 4. dengan kesepakatan identifikasi kelompok pra usila di masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) kabupaten/ kota dan memberikan dukungan kegiatan dan pelayanan kesehatan.

Rumah Sakit Jiwa sebanyak 100%.5 98 97. puskesmas.22 Sarana Kesehatan dengan Kemampuan Pelayanan Gawat Darurat yang Dapat Diakses Masyarakat Provinsi Jawa TengahTahun 2011 Puskesmas rawat inap dengan kemampuan pelayanan gawat darurat yang dapat diakses masyarakat Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 291 puskesmas atau 100%. dan rumah sakit baik rumah sakit umum.8. jiwa maupun khusus.46%.5 99 98.5 RSU Gawat Darurat (%) 98. Sarana kesehatan yang dimaksud dalam hal ini adalah rumah bersalin.80%. Rumah Sakit khusus lain sebesar 98. Pelayanan Gawat Darurat Level I yang Harus Diberikan Pelayanan Kesehatan (RS) di Kabupaten/Kota Sarana kesehatan dengan kemampuan pelayanan gawat darurat yang dapat diakses masyarakat merupakan sarana kesehatan yang telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pelayanan gawat darurat sesuai standar dan dapat diakses oleh masyarakat dalam kurun waktu tertentu. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 73 . 100. Jumlah Rumah Sakit Umum dengan kemampuan pelayanan gawat darurat sebanyak 98. Pelayanan Dawat Darurat dan Kejadian Luar Biasa a. Kemampuan pelayanan gawat darurat yang dimaksud adalah upaya cepat dan tepat untuk segera mengatasi puncak kegawatan yaitu henti jantung dengan Resusitasi Jantung Paru Otak (Cardio–Pulmonary–Cebral– Resucitation) agar kerusakan organ yang terjadi dapat dihindarkan atau ditekan sampai minimal dengan menggunakan Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support/BLS) dan Bantuan Hidup Lanjut (ALS).88 RSJ 100 RS Khusus 98.5 100 99.46 Pusk RI 100 Gambar 4.

Tingginya frekuensi KLB seperti Demam Berdarah Dengue (DBD). tahun 2009 mengalami penurunan kembali menjadi 536 desa/kelurahan. 1500 1000 500 0 Desa/kel terkena KLB 2007 1286 2008 543 2009 536 2010 579 2011 353 Gambar 4. Chikungunya. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 74 .b. Diare. Kondisi tersebut menuntut upaya atau tindakan secara cepat dan tepat (kurang dari 24 jam) untuk menanggulangi setiap KLB serta melaporkan kepada tingkat administrasi kesehatan. Difteri. Acute Flacid Paralisys (AFP). Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular dan keracunan masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Jawa Tengah. Desa/Kelurahan Terkena Kejadian Luar Biasa yang Ditangani <24 Jam Kejadian luar biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu desa/kelurahan dalam jangka waktu tertentu. tahun 2010 menjadi 579 desa/kelurahan dan mengalami penurunan lagi menjadi 353 desa/kelurahan pada tahun 2011. bencana serta munculnya penyakit baru seperti Avian Influenza (Flu Burung).42 di atas diketahui bahwa jumlah desa/kelurahan yang terkena KLB di Provinsi Jawa Tengah tahun 2007 – 2011 mengalami fluktuasi yaitu dari 1286 desa/kelurahan pada tahun 2007 meningkat menurun menjadi 543 desa/kelurahan pada tahun 2008. produktivitas menurun). Keracunan Makanan.23 Distribusi Frekuensi KLB menurut Jumlah Desa yang Terserang Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Gambar 4. disamping menimbulkan korban kesakitan dan kematian juga berdampak pada situasi sosial ekonomi masyarakat secara umum (keresahan masyarakat. Campak.

292 kecamatan dan 353 desa/kelurahan yang terkena KLB mendapatkan penanganan kurang dari 24 jam oleh Puskesmas bekerjasama dengan Dinas Kesehatan kabupaten/kota. keracunan makanan dan bencana selama tahun 20011 sebanyak 28 jenis kejadian di 32 Kabupaten/Kota.5 99 98.24 di atas diketahui bahwa pada tahun 2011 persentase desa/kelurahan terkena KLB yang ditangani kurang dari 24 jam mengalami kenaikan menjadi 100% dibanding dengan tahun 2010 (98.45%). 100. Kabupaten Karanganyar (28 kejadian) dan Kabupaten Temanggung (24 kejadian).84 2008 99.24 Grafik Distribusi Frekuensi Desa/Kelurahan Terkena KLB yang ditangani kurang dari 24 jam Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Gambar 4.5 98 97.5 100 99.5 Ditangani <24jam (%) 2007 99.Data frekuensi KLB penyakit menular.63 2009 100 2010 98. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 75 .25 Kejadian KLB Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Sebaran KLB tahun 2011 menunjukkan bahwa 3 kabupaten/kota dengan frekuensi KLB terbanyak adalah Kabupaten Klaten (49 kejadian).45 2011 100 Gambar 4. Gambar 4.

64%). Kegiatan Penyuluhan Kesehatan Kegiatan penyuluhan yang dilakukan dibagi menjadi penyuluhan kelompok dan penyuluhan massa.Gambar 4. Penyuluhan kelompok pada tahun 2011 sebanyak 206. CFR tertinggi adalah KLB demam berdarah dengue/DBD 72. Dari sejumlah penderita tersebut. dengan penyuluhan terbanyak dilakukan di Kabupaten Kendal yaitu 92.26 Jenis KLB Menurut Desa/Kelurahan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Tahun 2011 sejumlah 353 desa yang terkena KLB. frekuensi tertinggi adalah keracunan (105 desa/kelurahan) tersebar pada 96 kecamatan. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 76 . c. 9.202.848 jiwa.21%.73% dan KLB Tetatus Neonatorum 75%.344 kali. Selengkapnya dapat dilihat pada grafik di bawah ini. yang meninggal sebanyak 24 orang (case fatality rate/CFR: 0. Jumlah Penderita dan Kematian pada Kejadian Luar Biasa Jumlah penduduk terancam KLB tahun 2011 sebanyak 1. Sedangkan yang menderita akibat kejadian luar biasa tersebut sebanyak 3.733 jiwa dengan attack rate atau rata-rata kejadian sebesar 33.132 kali dan paling sedikit dilakukan di Kota Tegal sebanyak 115 kali.

Wonogiri Kab.Sukoharjo Kab.Wonosobo Kab.Demak Kab.Karanganyar Kab.27 Distribusi Frekuensi Penyuluhan Kelompok yang Dilakukan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Sedangkan penyuluhan massa telah dilakukan 5.Purbalingga Kab.Kudus Kab.Sragen Kab.Klaten Kab.Kota Tegal Kota Pekalongan Kota Semarang Kota Salatiga Kota Surakarta Kota Magelang Kab.Kudus Kab.565 kali dan paling sedikit di Kabupaten Sukoharjo satu kali.Tegal Kab. 3000 2500 2000 1565 1500 1000 500 35 0 538 387 297 127145 1429 1414 1080 711 622 784 405 225231 1 0 0 79 45 5 149 0 183 3 174 22 23 1071 2402 Kab.Pati Kab.Rembang Kab.Klaten Kab.Purbalingga Kab.Tegal Kab.Brebes Kota Magelang Kota Surakarta Kota Salatiga Gambar 4.Batang Kab.Pemalang Kab.Pekalongan Kab.Brebes Kab.Grobogan Kab.Pekalongan Kab.Jepara Kab.Magelang Kab.Kebumen Kab.Batang Kab.Banyumas Kab.Cilacap Kab.Wonogiri Kab.Kebumen Kab.Rembang Kab.Kendal Kab.Purworejo Kab.Wonosobo Kab.Temanggung Kab.Boyolali Kab.Magelang Kab.Banjarnegara Kab.Blora Kab.Banyumas 115 2578 495 1582 2109 1588 11307 9080 10045 32517 5385 9161 3336 3203 2989 413 3807 799 4668 10341 18309 8179 5937 11710 9397 11240 1561 4357 16733 9706 12279 9160 62571 Gambar 4.Purworejo Kab.Demak Kab.Pati Kab.Grobogan Kab.Semarang Kab.Pemalang Kab.Jepara Kab.817 kali.Blora Kab.Karanganyar Kab. paling banyak dilakukan oleh Kabupaten Demak yaitu 1.Boyolali Kab.Kendal Kab.Banjarnegara Kab.28 Distribusi Frekuensi Penyuluhan Massa yang Dilakukan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 77 .Sragen Kab.Semarang Kab.Temanggung Kab. Secara jelas dapat dilihat pada grafik berikut.Sukoharjo Kab.

59%). meningkat bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (21. Perkembangan kepesertaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi. Masyarakat yang dulunya merasa non miskin beramai-ramai mengaku miskin supaya dapat masuk dalam Program Jamkesmas. Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) kemungkinan memberikan dampak negatif pada kepesertaan JPK Pra Bayar.82%. Peserta JPK dengan Premi/Pra Bayar banyak yang mengundurkan diri dengan adanya program Jamkesmas yang membebaskan anggotanya dari segala beban iur biaya.18% dari total penduduk bukan masyarakat miskin (non maskin). Data terakhir di Provinsi Jawa Tengah menggambarkan perkembangan kepesertaan jaminan kesehatan saat ini mencapai 36. pemerintah telah berupaya mengembangkan berbagai upaya kesehatan. Namun disadari sampai saat ini perkembangan peserta jaminan kesehatan sedikit agak menggembirakan. Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan 1. salah satunya adalah dengan mengembangkan suatu upaya kesehatan melalui program jaminan kesehatan. sampai dengan tahun 2006 terjadi peningkatan dan pada tahun 2007 merupakan titik antiklimak kepesertaan jaminan kesehatan. Penduduk maskin yang belum terjamin dengan pelayanan kesehatan sebesar 63. Cakupan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pra Bayar Dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 78 .B. Program ini dikembangkan dengan tujuan merubah pola pembayaran yang biasanya dibayar setelah pelayanan diberikan dan pelayanan kesehatan yang diterima secara komprehensif. Tiga tahun terakhir peserta jaminan kesehatan kembali mengalami peningkatan sedikit demi sedikit. Penurunan jumlah penduduk yang masuk dalam katagori non maskin ditengarahi akibat dampak negatif Program Jamkesmas.

menunjukkan angka yang bervariasi mulai dari cakupan 30.59 2011 36.04%).06%).18 Gambar 4.3% (Kota Salatiga).01 2008 18.57%). 3.09 2009 19. Selain yang jamkesmas.06 Askes Jamsostek Askeskin/Jamkesmas Jamkesda Lainnya 66. Askeskin/Jamkesmas (66. Jamkesda (13. pada tahun 2011 sudah banyak agar kabupaten/kota menyelenggarakan jamkesda dengan tujuan masyarakat miskin yang belum tercakup jamkesmas bisa tercakup jamkesda.73%) dan lain-lain (3. Cakupan terbesar di Kota Surakarta 35. Jamsostek (3.30 Cakupan Kepesertaan Program JPK Pra Bayar Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 79 . Kepesertaan jamkesda pada tahun 2011 sebesar 7.57 Gambar 4.53% dan terendah di Kabupaten Brebes 0.24%.2% (Kabupaten Klaten) hingga 104.46% dari total penduduk di Jawa Tengah.29 Cakupan Kepesertaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Penduduk Non Maskin Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Kepesertaan program jaminan kesehatan penduduk non maskin yang diperinci menurut kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah. Kepesertaan jaminan kesehatan terdiri dari: Askes (13.60%).40 30 20 10 0 Cakupan 2007 19.73 13.04 3.37 2010 21.6 13.

pelayanan penunjang medik. Pelayanan kesehatan di Puskesmas meliputi rawat jalan tingkat pertama. Cakupan Pelayanan Kesehatan Rawat Jalan Masyarakat Miskin Pelayanan kesehatan yang diberikan bagi pasien masyarakat miskin dan tidak mampu meliputi pelayanan kesehatan di Puskesmas dan di rumah sakit. rawat inap tingkat lanjut.687 (57. Sedangkan pelayanan di rumah sakit meliputi rawat jalan tingkat lanjut. pelayanan gawat darurat. Masyarakat miskin yang mendapatkan pelayanan kesehatan rawat jalan di sarana pelayanan strata 1 sebesar 7. pelayanan obat dan bahan habis pakai. mendapatkan pelayanan kesehatan rawat inap di sarana kesehatan strata 1 sebanyak 1. 2.8%. persalinan normal di Puskesmas dan jaringannya.433. Saat ini Kota Surakarta yang sudah mencapai cakupan 147.3%) sedangkan di sarana kesehatan 2 dan 3 sebanyak 431. Jumlah Kunjungan Rawat Jalan.37%). serta pelayanan tindakan dan operasi. Jumlah masyarakat miskin dan hampir miskin pada tahun 2011 sebanyak 13. 3. Jumlah masyarakat miskin dan hampir miskin sebanyak 13.3%). 4.544 (3.Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mencanangkan “Universal Coverage” kepesertaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan pada tahun 2014 yang berarti bahwa seluruh penduduk di Indonesia pada tahun 2014 harus memiliki Jaminan Pemeliharaan Kesehatan.17%) sedangkan di sarana pelayanan strata 2 dan strata 3 sebesar 438. rawat inap tingkat pertama. dan pelayanan transport untuk rujukan bagi pasien. Selain mendapatkan pelayanan rawat jalan juga mendapatkan rawat inap. Rawat Inap di Sarana Pelayanan Kesehatan Cakupan rawat jalan adalah cakupan kunjungan rawat jalan baru di sarana pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta di satu wilayah kerja pada kurun Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 80 .805 orang.805.033.205. Cakupan Pelayanan Kesehatan Rawat Inap Masyarakat Miskin Pelayanan kesehatan yang diberikan bagi pasien masyarakat miskin dan tidak mampu meliputi pelayanan kesehatan di Puskesmas dan di rumah sakit.011 (9.493 (3.033.

berdasarkan definisi operasional yang ada.479 kali (65.387. upaya yang perlu dilakukan adalah peningkatan pembinaan program kesehatan jiwa di sarana kesehatan pemerintah dan swasta. merupakan kunjungan baru dimana seorang yang berkunjung ke sarana pelayanan kesehatan. 5. Dari permasalahan tersebut. Permasalahan yang ada saat ini adalah tidak semua Rumah Sakit Umum mempunyai pelayanan klinik jiwa karena belum tersedia tenaga medis jiwa dan tidak banyak kasus jiwa di masyarakat yang berobat di sarana pelayanan kesehatan. serta meningkatkan pelaksanaan sistem monitoring dan evaluasi pencatatan dan pelaporan program kesehatan jiwa. Jumlah kunjungan gangguan jiwa tahun 2011 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 198. Data yang masuk untuk pelayanan kesehatan jiwa di RS berasal dari Rumah Sakit Jiwa dan Rumah Sakit Umum yang mempunyai klinik jiwa. Cakupan rawat inap adalah cakupan kunjungan rawat inap baru di sarana pelayanan kesehatan swasta dan pemerintah di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.77%). Cakupan kunjungan rawat jalan akumulasi sampai dengan tahun 2011 di sarana kesehatan di Provinsi Jawa Tengah sebesar 105. terbanyak di rumah sakit yaitu 130. pelatihan/refreshing bagi dokter dan paramedis Puskesmas terutama upaya promotif dan preventif.1%. Jumlah Kunjungan Gangguan Jiwa di Sarana Pelayanan Kesehatan Pelayanan gangguan jiwa adalah pelayanan pada pasien yang mengalami gangguan kejiwaan. dan perilaku yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosialnya. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 81 . proses pikir.waktu tertentu. Cakupan rawat inap di sarana kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 secara akumulasi sebesar 5. Kunjungan rawat jalan tersebut. Penurunan cakupan kunjungan rawat jalan tersebut mengisyaratkan bahwa terjadi penurunan kunjungan rawat jalan di pelayanan kesehatan.4%. dalam satu tahun hanya dihitung satu kali meskipun ia datang berkali kali dalam tahun tersebut. yang meliputi gangguan pada perasaan.

Angka Kematian Pasien di Rumah Sakit a. sebanyak 28 rumah sakit mempunyai nilai GDR melebihi angka yang dapat ditolerir (kurang baik). Data NDR dan GDR tersebut masih diperlukan tindak lanjut dengan diupayakan seluruh RS mempunyai NDR dan GDR di bawah angka yang dapat ditolerir. Rata-rata NDR di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 17. b. diukur dengan jumlah rumah sakit dan tempat tidur serta rasio terhadap jumlah penduduk. Dari 181 RS yang melapor. Dari 181 rumah sakit yang melapor.07. Nilai NDR yang dapat ditolerir adalah 25 per 1. dapat dilihat dari Angka Kematian Umum Penderita Yang Dirawat di RS (GDR) pada tahun 2011 rata rata sebesar 34. Indikator Kinerja Pelayanan di Rumah Sakit Dalam menentukan peningkatan sarana rumah sakit. Angka Kematian Penderita Yang Dirawat < 48 Jam / Net Death Rate (NDR) Angka Net Death Rate (NDR) adalah untuk mengetahui mutu pelayanan atau perawatan rumah sakit.01 sedangkan angka yang dapat ditolerir maksimum 45. berarti masih berada dalam kisaran yang bisa ditolerir. 7. Pada tahun 2011 jumlah rumah sakit di Provinsi Jawa Tengah menurut jenis dan kepemilikannya adalah sebagai berikut : Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 82 .000 penderita keluar. indikator yang digunakan antara lain dengan melihat perkembangan fasilitas perawatan.6. sebanyak 13 rumah sakit mempunyai nilai NDR melebihi angka yang dapat ditolerir. Angka Kematian Umum Penderita Yang Dirawat di RS / Gross Death Rate (GDR) Rata-rata Mutu Pelayanan Rumah Sakit di Jawa Tengah menunjukkan masih dalam taraf baik.

61 RS (28.Tabel 5. Angka tersebut masih berada dibawah nilai ALOS yang ideal.46%) tidak b.1 Jumlah Rumah Sakit di Provinsi Jawa Tengah menurut jenis dan pemilikan Tahun 2011 Pemilikan/Pengelola Pem TNI/Polri BUMN Kab/Kota 41 10 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 41 10 1 Jenis RSU RSJ RSB RSK lainnya JML : Pem Pusat 2 1 0 3 6 Pem Prov 7 3 0 0 10 Swasta 118 0 10 51 179 Jml 179 4 10 54 247 a. Pada tahun 2011 jumlah rumah sakit sebanyak 247 Rumah Sakit di Jawa Tengah terdiri dari 13 RS (6. BOR yang ideal untuk suatu rumah sakit adalah antara 60% sampai dengan 80%. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 83 . Rata-rata lama rawat seorang pasien di RS se Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3. Pemakaian Tempat Tidur/Bed Occupancy Rate (BOR) BOR merupakan prosentase pemakaian tempat tidur pada satu satuan waktu tertentu.85.77%) mempunyai BOR yang dianggap cukup ideal. sehingga perlu pengembangan rumah sakit atau penambahan tempat tidur. Angka BOR yang tinggi (>85%) menunjukan tingkat pemanfaatan tempat tidur yang tinggi.91 mengalami peningkatan bila dibandingkan nilai ALOS tahun 2010 sebesar 3. Indikator ini dipergunakan untuk menilai kinerja rumah sakit dengan melihat persentase pemanfaatan tempat tidur rumah sakit atau Bed Occupation Rate (BOR). Tetapi masih terdapat 120 RS (56. Angka BOR yang rendah menunjukkan kurangnya pemanfaatan fasilitas perawatan rumah sakit oleh masyarakat.60%) tingkat pemanfaatannya masih mengirimkan laporan.13%) mempunyai tingkat pemanfaatan sangat tinggi diatas maksimal occupancy rate. kurang dan 53 RS (21. Rata-rata Lama Rawat Seorang Pasien/Average Length of Stay (ALOS) Rata-rata lama rawat seorang pasien yang secara umum/Average Length of Stay (ALOS) yang ideal adalah antara 6–9 hari.

ASI Eksklusif. Penimbangan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 84 . Hal ini menggambarkan penurunan terhadap penggunaan tempat tidur dan TOI Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 mendekati angka ideal. 10 rumah sakit yang mempunyai nilai ALOS ideal yaitu RSJ Dr. menurun bila dibandingkan dengan rata-rata pada tahun 2010 sebesar 3. RS Sejahtera Bakti Salatiga.Dari 194 RS yang melapor. mau dan mampu melakukan PHBS dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. RSU Jati Husada Karanganyar. Kariadi Semarang. Adapun 16 indikator PHBS tatanan Rumah tangga tersebut meliputi : a. RSJD Dr. Sedangkan 131 rumah sakit lainnya masih mempunyai nilai ALOS di bawah 6. RSUP Dr. Semakin besar TOI maka efisiensi penggunaan tempat tidur semakin jelek. RSU Purbowangi Kebumen dan RS Nurussyifa Kudus. ada 99 rumah sakit yang mempunyai nilai TOI di atas 3. RM Soedjarwadi Klaten.54 dari jumlah RS yang lapor. Amino Gondo Hutomo Semarang. RSUD Kudus. RSJD Surakarta. c. Yang dimaksud rumah tangga sehat adalah proporsi rumah tangga yang memenuhi minimal 11 indikator dari 16 indikator PHBS tatanan rumah tangga. mencegah risiko terjadinya penyakit dan melindungi diri dari ancaman penyakit serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat. Dari 194 RS yang melapor. Gizi seimbang : Persalinan Nakes. Persentase Rumah Tangga Ber-PHBS Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di rumah tangga merupakan upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar sadar. Variabel KIA dan GIZI Balita. Perilaku Hidup Masyarakat 1. RSKJ Puri Waluyo Surakarta. Rata-rata Hari Tempat Tidur Tidak Ditempati / Turn Of Interval (TOI) TOI dan ALOS merupakan indikator tentang efisiensi penggunaan tempat tidur.77. Angka ideal untuk TOI adalah 1 – 3 hari. Rata-rata TOI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3. Yang sudah mempunyai nilai TOI ideal sebanyak 84 RS. C.

Sampah. Cuci tangan.703.45%.79 2008 57. Kota Salatiga.68 2010 68.91 2009 63.31 Persentase Rumah Tangga Ber-PHBS Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 s/d 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 85 . Miras/Narkoba d. Sedangkan cakupan terendah adalah Kabupaten Banjarnegara 49.Kepadatan hunian. c.496.663 rumah tangga meningkat apabila dibandingkan dengan tahun 2010 dengan jumlah rumah tangga 8. Pencapaian persentase rumah tangga sehat yaitu yang diwakili oleh rumah tangga yang mencapai strata sehat utama dan sehat paripurna telah mencapai 74. diperiksa 3.63%). Variabel UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT : Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).lantai rumah.68% lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2010 (68. Tidak merokok. Karanganyar.696 dan yang diperiksa sejumlah 2. Demak dan Kendal. Cakupan tertinggi (100%) dicapai oleh 6 kabupaten/kota yaitu Kota Pekalongan.b.63 2011 74. Variabel KESLING : Air bersih. Perubahan perilaku tidak dapat terjadi dalam waktu singkat.728. Berikut ini adalah Grafik persentase rumah tangga sehat berdasarkan strata Utama dan Paripurna di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 s/d 2011. Berdasarkan data hasil pengkajian PHBS Tatanan Rumah Tangga yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di Jawa Tengah tahun 2011 dari 8. Jamban. 80 60 40 20 0 Cakupan 2007 43. Banyumas.629 rumah tangga yang ada.68 Gambar 4. Variabel GAYA HIDUP : Aktifitas fisik.Kesehatan gigi dan mulut. tetapi memerlukan proses yang panjang termasuk didalamnya perlu upaya pemberdayaan masyarakat yang berkesinambungan.674.361 rumah tangga.

D. Pada Tahun 2011 sebanyak 3. Malaria. ISPA dan lain . Persentase Rumah Sehat Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Pengendalian Dampak Risiko Lingkungan (4).01%. Perindustrian.35%) rumah diperiksa dan yang memenuhi syarat rumah sehat sebesar 2. Program Lingkungan Sehat bertujuan untuk mewujudkan mutu lingkungan hidup yang lebih sehat melalui pengembangan sistem kesehatan kewilayahan untuk menggerakkan pembangunan lintas sektor berwawasan kesehatan. berbagai lintas sektor ikut serta berperan (Bappeda. Pertanian.945 (46.95%) lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2010 yang mencapai 65. Flu Burung. Bapermas.441. Keadaaan Lingkungan Lingkungan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap derajat kesehatan.lain. TBC. peran swasta dan masyarakat. Penyediaan Sarana Air Bersih dan Sanitasi Dasar (2). Cipta Karya dan Dinas Kesehatan). Rumah haruslah sehat dan nyaman agar penghuninya dapat berkarya untuk meningkatkan produktivitas. Adapun kegiatan pokok untuk mencapai tujuan tersebut meliputi : (1).984 (62. 1. kegiatan tersebut sangat berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 86 . Pencapaian tujuan penyehatan lingkungan merupakan akumulasi berbagai pelaksanaan kegiatan dari berbagai lintas sektor. Pengelolaan kesehatan lingkungan merupakan penanganan yang paling kompleks. Pemeliharaan dan Pengawasan Kualitas Lingkungan (3). Pengembangan Wilayah Sehat. Lingkungan Hidup.878. disamping perilaku dan pelayanan kesehatan. Konstruksi rumah dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor risiko penularan berbagai jenis penyakit khususnya penyakit berbasis lingkungan seperti Demam Berdarah Dengue.

Kementerian Dalam Negeri serta Kementerian Pekerjaan Umum cukup signifikan terhadap penyelenggaraan kegiatan penyediaan air bersih dan sanitasi khususnya di daerah.14%) lebih banyak dibandingkan tahun 2010 (73.087 (40. masyarakat. melalui kebijakan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan yang ditandatangani oleh Bappenas. peningkatan upaya sumber daya manusia.615.2011 2. bila memungkinkan pemakaian ulang kaleng. Persentase Keluarga menurut Jenis Sarana Air Bersih yang Digunakan Adanya perubahan paradigma dalam pembangunan sektor air minum dan penyehatan lingkungan dalam penggunaan prasarana dan sarana yang dibangun.32 Cakupan Rumah Sehat Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .601 diperiksa jentik nyamuknya sebanyak 3. mengingat kasus Demam Berdarah yang cenderung meningkat dan bertambah luasnya wilayah terjangkit.175 rumah (77. meliputi penerapan pendekatan tanggap kebutuhan.01 2011 62. ban untuk pot dan lain . Cakupan angka bebas jentik ini masih dibawah target 95%. pengembangan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 87 . Strategi pelaksanaan diantaranya. yang bebas jentik nyamuk Aedes aegypti sebanyak 2. Menutup.390. yang 3.66 64 62 60 58 56 54 Rumah Sehat 2007 64.43%).lain harus selalu digerakkan secara optimal. kampanye kesadaran peningkatan penyehatan lingkungan. Mengubur dan Plusnya adalah Mencegah Gigitan Nyamuk). Persentase Rumah/Bangunan yang Diperiks Jentik Nyamuk Aedes Jumlah rumah di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 8.84 2008 58. Oleh karena itu gerakan pemberantasan sarang nyamuk dengan 3 M Plus (Menguras.12 2010 65. Kementerian Kesehatan.366.95 Gambar 4.53%).83 2009 65.

Namun pada kenyataannya persentase penduduk miskin masih tinggi. bersih dan produktif (UU No. hal ini menunjukkan ketidakadilan dalam mendapatkan akses pada air minum. sehingga kemampuan untuk mendapat akses ke sarana penyediaan air minum yang memenuhi syarat masih terbatas. Keluarga yang telah akses air bersih tersebut. namun akses terhadap air minum belum menunjukkan peningkatan yang berarti.88%).696 KK dan yang telah memiliki akses sarana air bersih sebanyak 3. Perlu dukungan kebijakan yang lebih fokus untuk penyediaan sanitasi dan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah.185 (89. 7 Tahun 2004.kelembagaan dan penguatan sistem monitoring serta evaluasi pada semua tingkatan proses pelaksanaan menjadi acuan pola pendekatan kegiatan penyediaan Air Bersih dan Sanitasi.313 (46. Masyarakat berpenghasilan rendah.89%) dari 8.703. pasal 10).63%). Gambar 4.33 Akses Air Bersih Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 88 . Jumlah keluarga yang diperiksa akses air bersih sebanyak 4. ternyata membayar lebih besar untuk memperoleh air daripada masyarakat berpenghasilan tinggi.081. Pada dasarnya negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi kebutuhan pokok minimal sehari – hari guna memenuhi kehidupan yang sehat. terbanyak memanfaatkan sumur gali (45. Walaupun terdapat program – program air minum dan sanitasi untuk masyarakat berpenghasilan rendah.668.

506. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 89 .902 (40. khususnya Diare.1 Gambar 4.29 %). Keluarga yang telah menggunakan sumber air minum terlindung tersebut. pembiayaan tidak ada subsidi dan jamban adalah private good. tempat sampah sehat 2. Jumlah KK yang telah memiliki jamban sehat 2.674.06 55.20%).2011 Dalam mendukung perubahan sanitasi total khususnya buang air besar di sembarang tempat.67 Air Limbah 61. Persentase Keluarga menurut Sumber Air Minum yang Digunakan Jumlah keluarga yang diperiksa sumber air minumnya sebanyak 3.11%) dari 8.2 72.620 (68.696 KK dan yang telah menggunakan sumber air minum terlindung sebanyak 2. telah dilakukan pemicuan Community Led Total Sanitation (CLTS) di 30 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah untuk mendukung pencapaian wilayah stop buang air besar di sembarang tempat dan penurunan penyakit berbasis lingkungan.34 Cakupan Sanitasi Dasar Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .51 73.703.58%) dan pengelolaan air limbah sehat 1.4.9 65.057.93 75.734 (69. terbanyak memanfaatkan sumur terlindung (33.21%).51 62.029. 100 50 0 Jamban 2007 2008 2009 2010 70.508.325 (63. Melalui CLTS terjadi perubahan perilaku tidak buang air besar di sembarang tempat tanpa ada stimulan.66 45. Persentase Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar Kepemilikan sarana sanitasi dasar yang dimiliki oleh keluarga meliputi jamban. tempat sampah dan pengelolaan air limbah. 5.124 (71.95 71.57%).34 68.44 Tempat Sampah 79.

Pengawasan sanitasi tempat umum bertujuan untuk mewujudkan kondisi yang memenuhi syarat kesehatan agar masyarakat pengunjung terhindar dari kemungkinan bahaya penularan penyakit serta tidak menyebabkan gangguan terhadap kesehatan masyarakat di sekitarnya.67 58. Cakupan pengawasan tempattempat umum yang memenuhi syarat kesehatan tahun 2011 meliputi hotel 84.2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 90 . perkantoran dan sarana lain dititik beratkan pada aspek hygiene sarana sanitasi yang erat kaitannya dengan kondisi fisik bangunan institusi tersebut. pasar dan TUPM lainnya.457 buah dan yang memenuhi syarat kesehatan 37.21%).51 Pendidikan 64. 100 80 60 40 20 0 Sarkes 2011 81.11 Sarana Lain Inst Kelola 47.35 Cakupan Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 . Persentase Tempat-tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat Tempat – tempat umum dan Pengelolaan Makanan adalah kegiatan bagi umum yang dilakukan oleh badan pemerintah. Tempat-tempat Umum dan Pengelolaan Makanan seluruhnya yang diperiksa sebanyak 55.53%. restoran/rumah makan.44%. Tempat-tempat umum dan Pengelolaan Makanan meliputi hotel.55% dan TUPM lainnya (67.44%). restoran/rumah makan 73. pasar 55. Risiko dari pengelolaan makanan mempunyai peluang yang besar dalam penularan penyakit karena jumlah konsumen relatif banyak dalam waktu yang bersamaan. sarana ibadah. Persentase Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya Kondisi kesehatan lingkungan pada institusi meliputi sarana pelayanan kesehatan.829 (68. instalasi pengolahan air minum.6. swasta atau perorangan yang langsung digunakan oleh masyarakat yang mempunyai tempat dan kegiatan tetap serta memiliki fasilitas. sarana pendidikan.56 Gambar 4. 7.88 Kantor 72.11 Ibadah 61.

b. Pengendalian faktor risiko lingkungan institusi terhadap penyakit berbasis lingkungan. instalasi pengolahan air minum 58. sarana ibadah 61.11%. Kegiatan yang dilakukan dalam meningkatkan kesehatan lingkungan di insitusi adalah: a. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 91 . perkantoran 72.Pada Tahun 2011 pencapaian cakupan institusi yang dibina yaitu sarana pelayanan kesehatan 81.67%.88%.51%. Pembinaan kesehatan lingkungan di institusi sekolah dan pondok pesantren.11% dan sarana lainnya 47.56%. sarana pendidikan 64.

1 Tingkat Kecukupan obat di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011.834.BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN A. SARANA KESEHATAN 1.46%). Prosentase tingkat kecukupan obat di Kabupaten/kota yang paling tinggi adalah kloramfenikol kapsul 250 mg (278. sedangkan paling rendah adalah OAT Kategori 2 (52. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 92 . stock terbanyak adalah Klorfeniramin Maleat tablet 4 mg 52.674 tablet. Tingkat kecukupan obat tertinggi adalah obat Kloramfenikol kapsul 250 mg (50) dan terendah adalah OAT katagori 3 (9) artinya bahwa persediaan obat Kloramfenikol kapsul 250 mg dapat tercukupi pemakaiannya untuk selama 50 bulan dan OAT katagori 3 dapat tercukupi pemakaiannya untuk selama 9 bulan.206. sedangkan stock obat yang paling sedikit adalah OAT Katagori 3 sebanyak 523 paket dengan pemakaian rata-rata perbulan 43 paket.266 tablet dengan pemakaian rata-rata perbulan 2.09%). Gambar 5. Ketersediaan Obat menurut Jenis Obat Pada tahun 2011 dari 34 jenis obat yang dilaporkan oleh kabupaten/kota.

Apotek sebanyak 2. Puskesmas Keliling sebanyak 948 unit.901. Puskesmas Perawatan. Gudang Farmasi Kesehatan (GFK) sebanyak 35 unit. Jumlah sarana pelayanan kesehatan pada tahun 2011 sebanyak 13. Industri Obat Tradisional sebanyak 14 unit dan BUMN sebanyak 3 (0. Praktik Dokter Bersama sebanyak 57 unit. Sedangkan menurut kepemilikannya. Praktek Dokter Perorangan dan Praktek Pengobatan Tradisional. Puskesmas Non Perawatan. Rumah Sskit Jiwa sebanyak 4 unit.08%).05%).276 unit. Pustu. RB.02%.209 unit.31%). Rumah Bersalin sebanyak 249 unit. Toko Obat sebanyak 367 unit.142 unit. Jumlah Sarana Pelayanan Kesehatan menurut Kepemilikan/Pengelola Sarana Pelayanan Kesehatan terdiri dari RSU. 3. sarana kesehatan dengan presentase tertinggi adalah swasta 71. BP/Klinik. RSJ. Pos Kesehatan Desa (PKD) sebanyak 5. Praktik Dokter Perorangan sebanyak 4.348 (71. Swasta sebanyak 9. RSB. Praktek Dokter Bersama. Puskesmas Pembantu sebanyak 1. TNI/POLRI sebanyak 41 (0. RS Khusus lainnya. Kabupaten/kota sebanyak 3734 (28. Provinsi sebanyak 10 (0. Puskesmas Perawatan sebanyak 291 unit. Sarana Pelayanan Kesehatan terdiri dari Rumah Sakit Umum sebanyak 179 unit . Puskesling. Sarana Kesehatan dengan presentase tertinggi adalah Posyandu 68.32% dan terendah adalah RSJ dan RSB keduanya 0.158 unit. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 93 .866 unit.14% dan terendah adalah BUMN 0.827 unit. Sarana Pelayanan Kesehatan dengan Kemampuan Labkes dan Memiliki 4 Spesialis Dasar Sarana kesehatan dengan kemampuan pelayanan laboratorium kesehatan yang dapat diakses masyarakat adalah cakupan sarana kesehatan yang telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pelayanan laboratorium kesehatan sesuai standar dan dapat diakses oleh masyarakat dalam waktu tertentu.41%).13%). Praktik Pengobatan Tradisional sebanyak 3. Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) sebanyak 47. Rumah Sakit Bersalin sebanyak 10 unit. RS Khusus lainnya sebanyak 54 unit.02%) dan Industri Kecil Obat Tradisional sebanyak 285. yang terbagi dalam 6 kepemilikan yaitu. Pusat sebanyak 6 (0.2. Puskesmas Non Perawatan sebanyak 576 unit. Balai Pengobatan/Klinik sebanyak 888 unit .01%.

RS Jiwa 100%.Kemampuan pelayanan laboratorium kesehatan yang dimaksud adalah upaya pelayanan penunjang medik untuk mendukung dalam pelayanan medik.31%. Sebanyak 24. untuk menegakkan diagnosis dokter di rumah sakit. dan Puskesmas 70.32%.39% dengan perincian untuk RSU 98.36%. oleh. RS Khusus 95. Rumah Sakit Umum (RSU) di Provinsi Jawa Tengah (179 RSU) baik pemerintah maupun swasta sudah 135 RSU (75.31 Puskesmas 70.36 Gambar 5. utamanya lima program prioritas Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 94 . dimana hal ini berkaitan dengan disyaratkannya penyelenggaraan empat pelayanan kesehatan spesialis dasar pada perizinan pendirian sebuah rumah sakit. 120 100 80 60 40 20 0 RSU Laboratorium Kesehatan 98. 4.2 Sarana Kesehatan Dengan Kemampuan Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 Sarana kesehatan dengan kemampuan pelayanan laboratorium yang dapat diakses masyarakat Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 76.42%) yang memiliki minimal empat spesialis dasar. Posyandu menurut Strata Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari.32 RSJ 100 RS Khusus 95.58% RSU lainnya hanya memiliki kurang dari 4 (empat) pelayanan dasar. untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar.

87 39. pemberian ASI eksklusif dan frekuensi penimbangan. Gizi.05 2009 15.93 34.86 13. tanggal 20 Februari 2007 tentang Pedoman teknis penghitungan strata Posyandu secara kuantitatif yang dinilai meliputi: 1) Variabel Input: kepengurusan. Cakupan peserta KB. Ada tidaknya program tambahan dan Cakupan dana sehat b. jumlah posyandu tahun 2011 menurun dari 47.84 16. Imunisasi.08 2011 12.882 pada tahun 2010 menjadi 47.85 41.61 32.sarana.24 33. Cakupan kumulatif imunisasi. Fe.79 12. Cakupan kumulatif KB. KIA.76 2008 16.4/05768. Manajemen ARRIF dengan 8 indikator yang meliputi : Frekuensi penimbangan. Dasar penghitungan Strata/penilaian tingkat perkembangan posyandu yang selama ini digunakan adalah: a.276 posyandu. program pengembangan dan administrasi 3) Variable Output: D/S. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 95 . N/S. Penghitungan strata Posyandu secara kuantitatif berdasar Surat Gubernur Jawa Tengah nomor 411. Vit A. prasarana dan dana. Imunisasi dan penanggulangan diare dan ISPA) dengan tujuan mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. kader.79 8. 60 40 20 0 2007 Pratama Madya Purnama Mandiri 16.15 36. Cakupan kumulatif KIA.77 34.94 38. dana sehat.08 Gambar 5.yang meliputi (KB. pertolongan persalinan oleh nakes.29 36.69 32.3 Persentase Posyandu Berdasarkan Strata Tahun 2007 s/d 2011 Berdasarkan laporan Kabupaten/kota. Rerata kader bertugas pada hari buka Posyandu. 2) Variabel Proses : pelaksanaan program pokok. cakupan K4. K/S. Rerata cakupan D/S.85 10.58 2010 15.

Posyandu yang mencapai Strata Purnama pada tahun 2011 sebanyak 17. dengan rata-rata jumlah kader sebanyak lima orang atau lebih.14%) telah berhasil mencapai target diatas 40%. Meskipun kenaikan secara kualitatif (strata purnama dan strata mandiri) relatif kecil.417 (36. serta telah memperoleh sumber pembiayaan dari dana sehat yang dikelola oleh masyarakat yang pesertanya masih terbatas yakni kurang dari 50% KK di wilayah kerja Posyandu.49500 49000 48500 48000 47500 47000 46500 46000 45500 Posyandu 2007 46823 2008 47285 2009 49096 2010 47882 2011 47276 Gambar 5. a) Posyandu Purnama Posyandu Purnama adalah Posyandu yang sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun.84%). dapat dilihat bahwa jumlah Posyandu 2011 mengalami penurunan.4 Jumlah Posyandu Tahun 2007 s/d 2011 Dari grafik di atas. Cakupan tersebut mengalami peningkatan apabila dibandingkan tahun 2010 sebesar 34.94%. Sebanyak 13 kabupaten/kota (37. cakupan kelima kegiatan utamanya lebih dari 50%. dengan nilai tertinggi di Kabupaten Tegal (64.14%). namun dalam 3 (tiga) tahun sebelumnya mengalami peningkatan. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 96 . mampu menyelenggarakan program tambahan.31%) dan terendah di Kabupaten Blora (15.

94 2011 36. Pencapaian cakupan tersebut sudah melampaui target SPM 2010 (> 2%). 2010 (13. serta telah memperoleh sumber pembiayaan dari dana sehat yang dikelola oleh masyarakat yang pesertanya lebih dari 50% KK di wilayah kerja Posyandu.38 37 36 35 34 33 32 31 30 Posyandu Purnama 2007 32. dengan rata-rata jumlah kader sebanyak lima orang atau lebih. Termasuk didalamnya adalah dengan mengoptimalkan fungsi Posyandu maupun Pokjanal Posyandu yang sudah terbentuk baik di tingkat Provinsi.70%).90%). Kabupaten/Kota maupun Kecamatan serta Pokja Posyandu di tingkat desa/kelurahan. Posyandu yang mencapai Strata Mandiri tahun 2011 sejumlah 7.79 2008 33.08%). b) Posyandu Mandiri Posyandu Mandiri adalah Posyandu sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun.5 Cakupan Posyandu Purnama Tahun 2007 – 2011 Kegiatan revitalisasi posyandu masih perlu mendapat perhatian dari semua sektor/pihak terkait.79 2010 34. mampu menyelenggarakan program tambahan. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 97 . meningkat dibandingkan dengan nilai tertinggi di Kota Surakarta (82.84 Gambar 5.603 buah (16.85 2009 32. cakupan kelima kegiatan utamanya lebih dari 50%.

PAUD. Poliklinik Kesehatan Desa (PKD) adalah wujud upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat yang merupakan Program Unggulan di Jawa Tengah dalam rangka mewujudkan desa siaga.05 2009 12. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 98 .6 Cakupan Posyandu Mandiri Tahun 2007 – 2011 Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2011 terjadi kenaikan persentase pencapaian strata mandiri. PKD merupakan pengembangan dari Pondok Bersalin Desa. Sehingga secara tidak langsung kegiatan integrasi tersebut dapat mempengaruhi pencapaian indikator proses maupun indikator output posyandu.9 2011 16.42%). Forum Kesehatan Desa. Total UKBM tahun 2011 adalah 61. hal tersebut dapat terjadi seiring dengan dikembangkannya Posyandu Model (Kegiatan Posyandu yang sudah diintegrasikan dengan minimal satu kelompok kegiatan yang sesuai dengan karakteristik daerah.58 2010 13. UP2K). sebagai tempat untuk melakukan pembinaan kader/pemberdayaan masyarakat.061 buah.76 2008 10.20 15 10 5 0 Posyandu Mandiri 2007 8. Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) terdiri atas Desa Siaga. Polindes. misal kegiatan BKB. memberikan pelayanan kesehatan dasar termasuk kefarmasian sederhana dan untuk deteksi dini serta penanggulangan pertama kasus gawat darurat. Poskesdes. forum komunikasi pembangunan kesehatan di desa. dan Posyandu.276 (77. 5. UKBM terbanyak adalah Posyandu sebesar 47.08 Gambar 5. Dengan dikembangkannya Polindes menjadi PKD maka fungsinya menjadi tempat untuk memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan masyarakat.

yang pengelolaannya ada di bawah dinas kesehatan kabupaten/kota adalah organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh. puskesmas pembantu. Jumlah PKD pada tahun 2011 sebanyak 5. terpadu. puskesmas perawatan. Puskesmas sendiri merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pengembangan kesehatan di suatu wilayah kerja (Departemen Kesehatan RI. Rasio puskesmas keliling terhadap puskesmas pada tahun 2011 adalah 1. Data Dasar Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas}. Rasio jumlah puskesmas per 30.000 penduduk pada tahun 2011 sebesar 0. merata.80 berarti bahwa jumlah puskesmas belum tercukupi. 2004). Puskesmas terdiri dari Puskesmas Perawatan. hal ini diupayakan dapat terpenuhi dengan puskesmas pembantu dan puskesmas keliling. Puskesmas Non Perawatan. bencana.576 buah. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 99 . dan puskesmas keliling dapat dilihat pada gambar 5.28) dan rasio terendah masih tetap di Kabupaten Sukoharjo (0. menurun dibandingkan tahun 2010. Puskesmas Pembantu.Pengembangan PKD dimulai sejak tahun 2004.1. Jumlah puskesmas.209 buah. Jumlah Puskesmas di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 867 (termasuk 291 Puskesmas Rawat Inap). Sedangkan rasio tertinggi di Kota Tegal (1.572. dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat.09. Sebuah desa dikatakan menjadi desa siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). Dengan rasio 0. dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. dan Puskesmas Keliling.827. Pada tahun 2011 jumlah puskesmas keliling adalah 948 unit. Jumlah puskesmas pembantu pada tahun 2011 masih tetap sama dengan tahun 2010 sebanyak 1. Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalahmasalah kesehatan.80 maka tahun 2011 jumlah puskesmas masih mengalami kekurangan. Jumlah Desa Siaga pada tahun 2011 adalah 8. 6. mengalami peningkatan dibandingkan dengan jumlah Poskesdes tahun 2010 sebanyak 8.44).

tenaga farmasi. Kekurangan lain disebabkan belum adanya formasi pengganti bagi tenaga yang pensiun. Untuk mencukupi kebutuhan tenaga kesehatan tersebut. TENAGA KESEHATAN Tenaga kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sejumlah 58.7 Jumlah Puskesmas. dan Puskesmas Keliling Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 B. Sehingga menyebabkan sulitnya dalam menentukan kebutuhan tenaga kesehatan di tingkat kabupaten/kota. Jumlah tenaga kesehatan tersebut meningkat bila dibandingkan dengan jumlah tenaga kesehatan tahun 2010 sebanyak 54. RI 256 267 283 281 291 Pustu 1843 1846 1850 1827 1827 Pusling 963 1020 1130 1138 948 Gambar 5. Kebutuhan tenaga kesehatan belum dapat terpenuhi. bidan. Peningkatan jumlah tenaga kesehatan sebanyak 6. baik di pemerintah pusat. Untuk mencukupi kekurangan tenaga tersebut dilakukan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 100 . pemerintah membuka penerimaan CPNS baru baik secara swakelola maupun tenaga pusat yang ditempatkan di daerah. provinsi maupun kabupaten/kota dan makin kompleksnya masalah-masalah yang ditangani oleh tenaga kesehatan. khususnya di tingkat kabupaten/kota dikarenakan beban terhadap penganggaran pegawai serta belum berjalannya kegiatan mobilisasi tenaga kesehatan yang sesuai dengan penempatan tugas tenaga tersebut.774 tenaga.2000 1600 1200 800 400 0 Puskesmas 2007 2008 2009 2010 2011 851 861 867 864 867 Pusk. perawat. Puskesmas Pembantu.19%. berpengaruh terhadap peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang semakin tinggi. dan kesehatan masyarakat. Puskesmas Perawatan. sanitasi.167 tenaga yang terdiri dari tenaga medis.

96 2009 8 2010 6. rumah sakit sebesar 59.04% lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (1. 10 8 6 4 2 0 Rasio dokter spesialis 2007 4. 1.11 lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (52. Rasio dokter spesialis tertinggi di Kota Magelang (71.00) dan Kabupaten Sragen (0.72% lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (0. sarana kesehatan lain sebesar 5. institusi diklat/diknakes sebesar 2.55%).2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 101 .28%).00).96 meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (6.pengangkatan Dokter Tidak Tetap.99%). dan dinas kesehatan provinsi sebesar 0.07% lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (2.89%).71% lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2010 (2. Jumlah dan Rasio Tenaga Medis di Sarana Kesehatan a.41%).000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 6. puskesmas sebesar 30. dinas kesehatan kabupaten/kota sebesar 2. Rasio tersebut berada di atas standar WHO sebesar 6/100.42%).05%) dan rasio terendah di Kabupaten Banjarnegara (0.96 Gambar 5.253 orang sehingga rasio dokter spesialis per 100.8 Rasio Dr. Spesialis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 . Dokter Spesialis Jumlah tenaga dokter spesialis yang bekerja di sarana kesehatan sebanyak 2.63).000 penduduk.86 2008 4. Persentase penempatan tenaga kesehatan pada tahun 2011 adalah sebagai berikut.35% lebih kecil dibandingkan dengan tahun 2010 (40. Pengangkatan PTT tersebut dilakukan masa bakti selama 3 tahun baik dengan dana Pemerintah Pusat maupun dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) masing-masing kabupaten/kota. Bidan Tidak Tetap dan diupayakan dapat mengangkat tenaga kesehatan lain sebagai pegawai tidak tetap disamping sebagai Pegawai Harian Lepas (PHL).63 2011 6.

96 meningkat dibanding tahun 2010 (11.9 Rasio Dr.000 penduduk.96 Gambar 5. Rasio tersebut masih di bawah target nasional 40 per 100.72 2009 3. Dokter Umum Di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011.000 penduduk.2011 c.13).41 2009 11.058.14 2010 2.021 sehingga rasio dokter gigi di Provinsi Jawa Tengah per 100. yang bekerja di sarana kesehatan sebanyak 3. Rasio terbesar adalah Kota Magelang 76. Gigi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 102 . 14 12 10 8 6 4 2 0 Rasio dokter umum 2007 11. Umum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .000 penduduk adalah 12.000 penduduk tahun 2011 sebesar 3. Rasio tersebut masih di bawah target nasional 11 per 100. Rasio terendah adalah Kabupaten Banjarnegara 0.21 2008 10.35 2010 11.224 orang.91). Dokter Gigi Jumlah tenaga dokter gigi di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 1.69 dan tertinggi adalah Kota Magelang 16. yang bekerja di sarana kesehatan sebanyak 1.b.27 meningkat dibanding tahun 2010 (2.06 2008 2.22.91 2011 3.92.27 Gambar 5. 4 3 2 1 0 Rasio dokter gigi 2007 3.10 Rasio Dr.963 sehingga rasio dokter umum per 100.97 dan terendah adalah Kabupaten Klaten sebesar 5.13 2011 12. jumlah tenaga dokter umum sebanyak 4.

72 dan terendah Kabupaten Banjarnegara 7.56 meningkat dibanding tahun 2010 (38.95 Gambar 5.55).100 orang.94.76 2010 76. Jumlah dan Rasio Tenaga Keperawatan di Sarana Kesehatan a.45 2009 65.95 menurun dibandingkan tahun 2010 (76.000 penduduk adalah 73.472. Rasio tertinggi adalah Kota Magelang 127. Rasio Tenaga Bidan per 100. sebagian besar bekerja di sarana kesehatan sebanyak 23.2.947 sehingga rasio tenaga perawat per 100.47 2011 39.47). 50 40 30 20 10 0 Rasio bidan 2007 31.000 penduduk tahun 2011 sebesar 39.12 Rasio Tenaga Bidan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 103 .69 2010 38.55 2011 73.71 2008 34.812 orang). sebagian besar bekerja di sarana kesehatan (12. Bidan Jumlah Tenaga Bidan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 adalah 13.2011 b. 100 80 60 40 20 0 Rasio perawat 2007 62.11 Rasio Tenaga Perawat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 .25. Perawat Tenaga perawat di Provinsi Jawa tengah sebanyak 24.41 dan terendah adalah Kabupaten Tegal 22.56 Gambar 5.43 2009 36. Rasio tertinggi adalah Kota Magelang 749.14 2008 60.

454 bekerja di sarana kesehatan. Jumlah tenaga gizi di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 adalah 1.11.85.97 2010 11. D-III Gizi.55).15 2009 8.49 menurun bila dibandingkan dengan tahun 2010 (4.000 penduduk sebesar 4. Sedangkan rasio tenaga apoteker dan sarjana farmasi per 100.376 didominasi oleh tenaga perempuan sebanyak 2.11 dan Kabupaten Batang 0. Rasio tenaga gizi per 100. dan D-1 Gizi. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 104 .06 2008 9.55 dibawah target nasional 10 per 100. Rasio tertinggi adalah Kota Magelang 34.63 Gambar 5. Jumlah tenaga kefarmasian di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 adalah 4.88 dan terendah Kabupaten Wonosobo 0. Jumlah dan Rasio Tenaga Kefarmasian di Sarana Kesehatan Tenaga kefarmasian terdiri dari Apoteker. Angka tersebut masih di bawah target nasional 22 per 100. D-III Farmasi.23 2011 12.090 orang bekerja di sarana kesehatan.23). 15 10 5 0 Rasio tenaga kefarmasian 2007 9.959 orang. Jumlah dan Rasio Tenaga Gizi di Sarana Kesehatan Tenaga gizi terdiri dari D-IV/S-1 Gizi.68 dan terendah adalah Kabupaten Pati 1. dan Asisten Apoteker. S-1 Farmasi.000 penduduk.63 meningkat dibanding tahun 2010 (11.000 penduduk adalah 12. yang sebanyak 1. yang sebanyak 4.13 Rasio Tenaga Kefarmasian Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 4. Rasio tertinggi Kota Surakarta 1.000 penduduk pada tahun 2011 sebesar 4. Rasio tenaga kefarmasian per 100.549 orang.000 penduduk.3.

14 Rasio Tenaga Gizi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 5.000 penduduk sebesar 3. Rasio tenaga sanitasi per 100. yang 958 orang bekerja di sarana kesehatan.3 2011 2. Jumlah Tenaga Sanitasi di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 adalah 1.96 menurun dibandingkan dengan tahun 2010 (4.56 2009 3.86 2008 3. yang 1.30).15 Rasio Tenaga Kesehatan Masyarakat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 b.5 4 3 2 1 0 Rasio tenaga gizi 2007 3.37 2008 3.14 2010 4.49 Gambar 5. 5 4 3 2 1 0 Rasio tenaga kesmas 2007 3.62) dan terendah adalah Kabupaten Klaten (0.71).8 2010 4.230 orang.000 penduduk tahun 2011 sebesar 2.036 diantaranya bekerja di sarana kesehatan. Jumlah dan Rasio Tenaga Kesehatan Masyarakat di Sarana Kesehatan a. Tenaga Sanitasi Tenaga sanitasi terdiri dari D-III sanitasi dan D-I sanitasi.55 2011 4. Rasio tertinggi adalah Kota Tegal (19.96 Gambar 5. Rasio tenaga kesehatan masyarakat per 100.61 2009 4.758 orang.20 turun dibandingkan dengan tahun 2010 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 105 . Kesehatan Masyarakat Jumlah tenaga kesehatan masyarakat di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 1.

000 penduduk sebesar 10. teknik elektromedik. penata rontgent dan penata anestesi.59 2009 3. Tenaga teknisi medis di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sejumlah 3.17 Rasio Tenaga Tehnisi Medis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 – 2011 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 106 .50 dan adalah Kabupaten Karanganyar 3. Rasio tenaga sanitasi dapat dilihat pada gambar 5. Jumlah dan Rasio Tenaga Medis dan Fisioterapis di Sarana Kesehatan a.2011 6. Rasio tertinggi adalah Kota Magelang 90. yang 3.07) dan terendah adalah Kabupaten Demak (0. 12 10 8 6 4 2 0 Rasio tenaga teknisi medis 2007 8.16 Rasio Tenaga Sanitasi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007 . Teknisi Medis Tenaga teknisi medis terdiri dari analis laboratorium.24 menurun dibandingkan dengan 2010 (10.442 orang.2 Gambar 5.74).10. 5 4 3 2 1 0 Rasio tenaga sanitasi 2007 4. Rasio tenaga teknisi medis per 100.74 2011 3.76 2008 8.56 2011 10.315 orang diantaranya bekerja di sarana kesehatan.38).24 tahun terendah Gambar 5.85 2009 8.(3.69. Rasio tertinggi adalah Kota Magelang (27.63 2008 3.45 2010 3.56).99 2010 10.

06% adalah sumber dari pemerintah lain.01 dan Kabupaten Demak 0.2.84% berasal dari APBD kabupaten/kota. Kontribusi DAK bidang kesehatan di kabupaten/kota sebesar 7. 33 tahun 2004.78. 575 orang diantaranya bekerja di sarana kesehatan. Rasio tenaga fisioterapi per 100. peningkatan puskesmas menjadi puskesmas rawat inap dan peningkatan pemberian insentif oleh Kementrian Kesehatan bagi tenaga medis yang melaksanakan masa bakti di daerah terpencil maupun sangat terpencil.573. Persentase Anggaran Kesehatan dalam APBD Kabupaten/Kota Pada tahun 2011 jumlah total anggaran kesehatan kabupaten/kota se Jawa Tengah Rp. Kontribusi anggaran kesehatan APBD kabupaten/kota meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2010 (51.000 penduduk tahun 2011 sebesar 1.637.657 dengan kontribusi terbesar sebesar 79. Dalam pembangunan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 107 .73%). Sesuai dengan Undang-Undang No.975. Tenaga Fisioterapi Jumlah tenaga fisioterapi di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 615 orang. tertinggi adalah Kota Semarang 0. terendah adalah Kabupaten C.b.39%. APBD provinsi yang dialokasikan untuk pembiayaan kesehatan di kabupaten/kota tahun 2011 sebesar 1. PHL maupun PTT.31 dan Rembang 0. Pemerintah provinsi dan pemerintah daerah (kabupaten/kota) telah berusaha mencukupi kebutuhan tenaganya melalui pengangkatan tenaga baru seperti CPNS.25%).85%. PEMBIAYAAN KESEHATAN 1. Mobilitas tenaga atau distribusi tenaga kesehatan yang tersebar di wilayah pelayanan kesehatan diupayakan dengan peningkatan sarana-sarana kesehatan yang ada. terdapat pembagian peran dan wewenang antara pemerintah pusat dan daerah. dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah/desentralisasi. mengalami meningkat dibandingkan tahun 2010 (0.01 Jumlah tenaga kesehatan di Provinsi Jawa Tengah masih belum tercukupi dan belum merata sesuai kebutuhan kabupaten/kota. seperti peningkatan akreditasi rumah sakit. Kontribusi terendah 0.

93% pada tahun 2010 menjadi 3.81.573. Hal ini merupakan respon pemerintah yang positif terhadap pembangunan bidang kesehatan di kabupaten/kota.428.866.657 lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebesar Rp. terjangkau dan berkualitas.55% pada tahun 2011 Anggaran belanja bersumber APBD kabupaten/kota yang dialokasikan untuk pembiayaan kesehatan tahun 2011 sebesar 79.105.84% dari total APBD kabupaten/kota.kesehatan.3. Melalui Dana Alokasi Khusus (DAK).-.. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 108 .73%).358.pada tahun 2010 menjadi Rp.234. Kontribusi anggaran kesehatan bersumber dana lain meningkat dari 0. Total angaran kesehatan kab/kota tahun 2011 sebesar Rp.pada tahun 2011.39%).975.. pemerintah pusat memberikan anggaran pada daerah untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan prioritas nasional.2. pemerintah pusat dan daerah menyediakan pelayanan kesehatan yang merata.12% dari keseluruhan anggaran kesehatan menurun dibandingkan tahun 2010 (0.362. Anggaran kesehatan perkapita menurun dari Rp.80% pada tahun 2011. Jumlah anggaran untuk askeskin sebesar 5.637. meningkat dibandingkan tahun 2010 (51.450. Anggaran kesehatan bersumber PHLN tahun 2011 mencapai 0.

Pada tahun 2011 di Provinsi Jawa Tengah ditemukan 215 penderita AFP. Angka Kematian Bayi (AKB) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 10. Prevalensi Tuberkulosis tahun 2011 per 100. b.000 kelahiran hidup). mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan AKI pada tahun 2010 yang sebesar 104.000 kelahiran hidup. 215 kasus yang diperiksa semua menunjukan negatif polio (berarti tidak ditemukan virus polio liar).000 kelahiran hidup. Case Detection Rate (CDR) atau angka penemuan penderita TB paru BTA (+) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 59. c. sehingga sudah memenuhi target (164 kasus).15% sudah melebihi target nasional (85%) dan meningkat bila dibandingkan tahun 2009 (85. Angka kematian kecelakaan lalu lintas di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 adalah sebesar 2. Morbiditas/Angka Kesakitan a. Angka Kematian Ibu (AKI) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 116.50/1.000 kelahiran hidup).000 penduduk Provinsi Jawa Tengah sebesar 74. Derajat Kesehatan 1.BAB VI KESIMPULAN A. meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 (55.38%). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 109 .34/1.01/100.01%). 2. sudah melampaui target Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tahun 2015 (23/1.52. Mortalitas/Angka Kematian a. sudah melampaui target Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tahun 2015 (17/1.000 penduduk.000 kelahiran hidup. b.70 per 100. c. Angka Kematian Balita (AKABA) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 11.52%.97/100. Dari hasil pemeriksaan laboratorium. d. d.000 kelahiran hidup. Angka kesembuhan (Cure Rate ) TB paru Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 sebesar 85.

sedangkan proporsi anak di antara penderita baru sebesar 10.9%. Jumlah kasus baru tipe Multi Basiler yang dilaporkan sebanyak 1. sebanyak 415 sampel (0. f.93%. l.32%.873 kasus dan tipe Pausi Basiler sebanyak 395 kasus dengan Newly Case Detection Rate (NCDR) sebesar 7 per 100. Cakupan penemuan dan penanganan diare di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 57.48%). Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) DBD tahun 2011 sebesar 0.81%).13) yang positif HIV. j. Dari hasil pemeriksaan sampel darah tersebut. Persentase penemuan dan penanganan penderita pneumonia pada balita tahun 2011 sebesar 25. menurun bila dibandingkan tahun 2010 (59.27/100. m. mengalami penurunan bila dibanding tahun 2010 (40.000 penduduk) dan sudah mencapai target nasional yaitu <20/100. Angka kesakitan/Incidence Rate (IR) DBD di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 15. Kasus Aquiared Immuno Devisiency Syndrome (AIDS) sebanyak 521 kasus dengan jumlah kematian karena AIDS sebanyak 89 kasus.63%). h.752 kasus.702 kasus. g.5% dengan jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 66.29%) dan sudah lebih rendah bila dibandingkan dengan target nasional (<1%) Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 110 . kemudian yang dilakukan pemeriksaan sampel darah sebanyak 324.e. Cakupan program kusta tipe PB tahun 2011 berdasarkan jumlah penderita baru tahun 2010 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2011 sebesar 85% lebih rendah dari target 90%. i. Jumlah pendonor pada tahun 2011 diketahui sebanyak 346. lebih rendah bila dibandingkan CFR tahun 2010 (1.000 penduduk.8/100.828 (93.14%. Kusta tipe MB diambil dari data penderita baru tahun 2009 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2011 sebesar 76% lebih rendah dari target 95%. Proporsi cacat tingkat II pada tahun 2011 sebesar 13. Jumlah kasus baru IMS lainnya di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 ini sebanyak 10. mengalami peningkatan bila dibandingkan cakupan tahun 2010 (44.000 penduduk.269 orang. Jumlah infeksi HIV yang dilaporkan tahun 2011 sebanyak 755 kasus.000 penduduk. k.

467 kasus. yaitu sebanyak 634.300 kasus) dan angka kesakitan malaria sebesar 0. Jumlah kasus Pertusis sebanyak 4 kasus yang berasal dari Kabupaten Kudus. Prevalensi kasus tahun 2011 sebesar 0.43% (880. q. dimana untuk tahun 2011 ini ada 141 kasus baru.12% meningkat bila kordis dibandingkan tahun 2010 (0. sedikit meningkat dibandingkan tahun 2010 (0. Tetanus Non Neonatorum. Jumlah kasus Polio sebanyak 0 kasus. Jumlah kasus Hepatitis B sebanyak 170 kasus. mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2010 (117 kasus) dan terdapat di 9 kabupaten/kota.n.664 kasus).09%.11%). p.860 kasus (72. Pertusis.873 kasus. Jumlah kasus Campak sebanyak 1. Jumlah kasus Difteri pada tahun 2011 sebanyak 8 kasus lebih sedikit bila dibandingkan dengan tahun 2010 (14 kasus). Yang termasuk dalam PD3I yaitu Polio. Kasus tertinggi PTM adalah kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah sebesar 62. jumlah kasus Filariasis pada tahun 2011 sebanyak 537 penderita.193 kasus).1%). Campak.09%. Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) Malaria tahun 2011 sebesar 0. Jumlah kasus tahun 2011 sebanyak 3.10‰).03% dan tersebar di 5 kabupaten/kota. Jumlah kasus Tetanus (Non Neonatorum) sebanyak 13 kasus yang tersebar di 4 kabupaten/kota.03%. mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2010 (1 kasus). Prevalensi stroke hemoragik tahun 2011 adalah 0.13 %).08%). Prevalensi diabetes melitus tergantung insulin sebesar 0. Tetanus Neonatorum. Kasus tertinggi PTM pada kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah adalah penyakit Hipertensi Esensial. meningkat dibandingkan tahun 2010 (0.11‰. Kasus penyakit kanker yang ditemukan sebanyak Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 111 . Difteri dan Hepatitis B. Prevalensi kasus DM tidak tergantung insulin menurun dari 0.70% menjadi 0. Secara kumulatif. Jumlah kasus Tetanus Neonatorum sebanyak 4 kasus yang tersebar di 4 kabupaten/kota.63% pada tahun 2011. Prevalensi stroke dekompensasio non hemorargik sebesar 0. Kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah yang melaporkan data PTM tahun 2011 hanya 27 kabupaten/kota (77. mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2010 (3. o. r. meningkat dibandingkan tahun 2010 (3.

meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (93.187 (0. Balita Gizi Buruk (BB/TB) tahun 2011 berjumlah 3.184 meningkat banyak apabila dibandingkan tahun 2010 yang sebanyak 15. Upaya Kesehatan 1. Ca. Adapun persentase BBLR sebesar 3. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 112 . dan Ca.69%.73%. paru 954 kasus (4. Jumlah bayi berat lahir rendah (BBLR) di Jawa Tengah pada tahun 2011 sebanyak 21. c.86%).242 (11.04%) tetapi belum memenuhi target SPM 2015 (95%).542 kasus (48.28%. Prevalensi kasus PPOK mengalami peningkatan yaitu dari 0.277 kasus). Prevalensi kasus asma sebesar 0. 3.55% mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2010 (0. hepar 2. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 96.59%).35% c.637 kasus meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (13.631.71%.13%). meningkat bila dibandingkan tahun 2010 sebesar 2.09% pada tahun 2011.514 (0. Pelayanan Kesehatan a.72%. Persentase balita dengan gizi kurang (BB/U) Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 5.79%. meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (98. Persentase Balita Gizi Buruk mendapatkan perawatan tahun 2011 sebesar 100% jauh lebih meningkat dibandingkan tahun 2010 sebesar 93.27%). terdiri dari Ca.42%). meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 (92.899 kasus (35.64%). b.59%).10%) menurun apabila dibandingkan tahun 2010 sejumlah 3. Ca. Status Gizi a.08% pada tahun 2010 menjadi 0. Cakupan kunjungan ibu hamil K1 di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 98. mamae 9. Cakupan kunjungan ibu hamil K4 tahun 2011 sebesar 93. b.18%). B. servik 6.19.

n.831 (42.10) tetapi belum mencapai target SPM 2015 (80%).61%).43%.08%. mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010 (78. Cakupan tersebut masih dibawah target SPM (95%). h. Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga kesehatan / guru UKS / kader kesehatan sekolah tahun 2011 sebesar 78. m. i. Cakupan kunjungan bayi di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 92.97%.78%) Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 113 .76%).64%.35%. Cakupan neonatus risti tertangani Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 53. meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebesar 55.02%. Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada Balita tahun 2011 sebesar 98.074.72%. f. Cakupan pelayanan pada ibu nifas di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 93.24%).45%.73%). lebih banyak dibandingkan tahun 2010 sebesar 96.84%. k.70%).28%.86%). meningkat bila dibandingkan cakupan tahun 2010 (93.01%. lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun 2010 (93. g. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani tahun 2011 sebesar 75. Cakupan ibu nifas mendapat kapsul vitamin A tahun 2011 sebesar 96.d. j. Yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai strata UKS sebesar 1.25% mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010 (44. meningkat bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (94.853 anak. l. e. meningkat dibandingkan tahun 2010 (92. Cakupan tersebut sudah melampaui target SPM sebesar 95%. Cakupan kunjungan neonatus di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 98. Cakupan pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi pada bayi sebesar 99.555. mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010 (96. Cakupan pelayanan anak balita tahun 2011 sebesar 81. Jumlah siswa SD dan setingkat tahun 2011 sebanyak 2. meningkat dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (52. Cakupan ini sudah melampaui target SPM (95%).84%).

meningkat dibandingkan tahun 2010 (37.20% dari jumlah PUS (6. s.2%). Cakupan pemberian Fe3 pada ibu hamil di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 90. MKJP Tahun 2011: IUD (6.15%). mengalami penurunan dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (78. t. MOW (2. r. p.7%).0%). u. Kesemuanya sudah di atas target minimal nasional (85%).31% menurun dibandingkan dengan tahun 2010 (53. Jumlah peserta KB baru pada tahun 2011 sebanyak 895. Walaupun menurun.8%).2%).28%).42% menurun dibandingkan tahun 2010 (80. angka tersebut sudah melampaui target SPM (90%).6%).32% menurun dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (89.549. w. Polio 3 (94. y.87%). x. q.o. PIL (18. Angka tersebut sudah mencapai target SPM (90%).0%) dan Campak (93.57%).4%) dan Kondom (5. DPT1+HB1 (97.174) atau 15.49%). Cakupan Pemberian Makanan Tambahan ASI (MP-ASI) tahun 2011 sebesar 38. Cakupan pemberian ASI eksklusif hanya sekitar 45. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 114 .125). Cakupan peserta KB aktif Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 76. Cakupan balita gizi buruk mendapatkan perawatan tahun 2011 sebesar 100% jauh lebih meningkat dibandingkan tahun 2010 (93.06%). DPT3+HB3 (95.9%). Cakupan desa dengan garam beryodium tahun 2011 sebanyak 53. NON MKJP: Suntik (54.0%).25%. v.25%).8%. lebih besar bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (90. MOP (0.4%) mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2010 (94.18%.4%).7%). sudah mencapai target (70%).18%). menurun apabila dibanding tahun 2010 (997. Pencapaian UCI desa tahun 2011 (96.0%) dan Implant (12. Cakupan masing-masing jenis imunisasi bayi tahun 2011 adalah sebagai berikut BCG (98.120 (13. Cakupan balita ditimbang tahun 2011 sebesar 78.

mengalami peningkatan bila dibandingkan rasio tahun 2010 (0. dd. TT-3 sebesar 28.67%).4%. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 115 . Cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 51. Angka Drop Out (DO). Rumah Sakit khusus lain sebesar 98. TT-4 sebesar 20.198.80%. Tahun 2011 DO tingkat Jawa Tengah sebanyak 3.82. dan masih jauh dibawah target cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut SPM (70%). Jumlah ibu hamil 2011 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 632. bb. Rasio tumpatan dan pencabutan gigi tetap di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 0. Jumlah Rumah Sakit Umum dengan kemampuan pelayanan gawat darurat sebanyak 98. Rumah Sakit Jiwa sebanyak 100%.z. ff. Cakupan perawatan gigi dan mulut murid SD/MI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 55.46%. gg.59%). TT-2 sebesar 48.96% menurun bila dibandingkan cakupan pada tahun 2010 sebesar 52. Puskesmas rawat inap dengan kemampuan pelayanan gawat darurat yang dapat diakses masyarakat Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 291 puskesmas atau 100%. ee.61%.5%.7 dan TT-5 sebesar 17.90%) lebih tinggi dibandingkan pencapaian tahun 2010 (37.30% mengalami peningkatan bila dibanding tahun 2010 (53.83%).2%. Pada tahun 2011 persentase desa/kelurahan terkena KLB yang ditangani kurang dari 24 jam mengalami kenaikan menjadi 100% dibanding dengan tahun 2010 (98. aa. yang mendapat TT-1 sebesar 48.45%).8. sesuai kesepakatan dengan kabupaten/kota indikator DO di Jawa Tengah maksimal 5% atau (-5%).4%.81). cc.2% dan TT2+ sebanyak 114. mengalami penurunan dibanding tahun 2010 (3. Prosentase jumlah murid yang diperiksa untuk tahun 2011 (37.

2.344 kali. Jumlah kunjungan gangguan jiwa tahun 2011 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 198.73%%) dan KLB Tetatus Neonatorum (75. Cakupan kunjungan rawat jalan di sarana kesehatan di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 105.033. mendapatkan pelayanan kesehatan rawat inap di sarana kesehatan strata 1 sebanyak 1.18% dari total penduduk bukan masyarakat miskin (non maskin).805 orang. ii.387. Masyarakat miskin yang mendapatkan pelayanan kesehatan rawat jalan di sarana pelayanan strata 1 sebesar 7.98%). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 116 .848 jiwa. meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 (36. Jumlah masyarakat miskin dan hampir miskin pada tahun 2011 sebanyak 13.hh.493 (3. yang meninggal sebanyak 24 orang (case fatality rate/CFR: 0.4%. Jumlah masyarakat miskin dan hampir miskin sebanyak 13.3%) sedangkan di sarana kesehatan 2 dan 3 sebanyak 431.59%).00%).687 (57. Jumlah penduduk terancam KLB tahun 2011 sebanyak 1. b.011 (9. d.733 jiwa dengan attack rate atau rata-rata kejadian sebesar 33. Dari sejumlah penderita tersebut.1% lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2010 (4.205. terbanyak di rumah sakit yaitu 130. Cakupan rawat inap di sarana kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 5. Sedangkan yang menderita akibat kejadian luar biasa tersebut sebanyak 3.37%). Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan a. CFR tertinggi adalah KLB demam berdarah dengue/DBD yaitu terdapat (72.544 (3.202. Penyuluhan kelompok pada tahun 2011 sebanyak 206. Sedangkan penyuluhan massa telah dilakukan 5.77%).3%).17%) sedangkan di sarana pelayanan strata 2 dan strata 3 sebesar 438.817 kali. jj.21%.433. Cakupan jaminan pemeliharaan kesehatan pra bayar tahun 2011 mencapai 36. meningkat bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (21.479 kali (65.805.69%). c. e.64%).033.

506. Pada tahun 2011 jumlah rumah sakit sebanyak 247 Rumah Sakit di Jawa Tengah terdiri dari 13 RS (6. Jumlah keluarga yang diperiksa sumber air minumnya sebanyak 3.79% pada tahun 2010 menjadi 89.14%.21%).43%). Rata-rata lama rawat seorang pasien di RS se Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3.01%). 3. Persentase rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat yaitu yang diwakili oleh rumah tangga yang mencapai strata sehat utama dan sehat paripurna sebesar 74. 61 RS (28. menurun bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010 (65.674. 4.88% pada tahun 2011.f.77.902 (40.85. meningkat bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2010 (73. i. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 117 .91 mengalami peningkatan bila dibandingkan nilai ALOS tahun 2010 sebesar 3. Cakupan keluarga yang memiliki akses terhadap air bersih meningkat dari 87. h.01 sedangkan angka yang dapat ditolerir maksimum 45.68%. d. meningkat bila dibandingkan tahun 2010 (68.54 dari jumlah RS yang lapor. c. Perilaku Hidup Masyarakat a.703.63%).11%) dari 8.620 (68. b. Cakupan rumah yang memenuhi syarat kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 62. g.77%) mempunyai BOR yang dianggap cukup ideal. Cakupan rumah bebas jentik nyamuk Aedes Aegypti di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 77.696 KK dan yang telah menggunakan sumber air minum terlindung sebanyak 2.13%) mempunyai tingkat pemanfaatan sangat tinggi diatas maksimal occupancy rate. menurun bila dibandingkan dengan rata-rata pada tahun 2010 sebesar 3.95%. Rata-rata TOI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3. Angka Kematian Umum Penderita Yang Dirawat di RS (GDR) pada tahun 2011 rata rata sebesar 34. Keadaan Lingkungan a.

Pada Tahun 2011 pencapaian cakupan institusi yang dibina yaitu sarana pelayanan kesehatan 81.206. g.95% pada tahun 2010 menjadi 71. sarana pendidikan 64. Cakupan keluarga yang memiliki jamban yang memenuhi syarat kesehatan di Provinsi Jawa Tengah turun dari 72. pasar 55. d.55% dan TUPM lainnya (67.02% pada tahun 2010 menjadi 69.57% pada tahun 2011.58% pada tahun 2011.11% dan sarana lainnya 47. f.76% pada tahun 2010 meningkat menjadi 63. Pemakaian obat rata-rata perbulan terbanyak adalah Klorfeniramin Maleat tablet 4 mg (2.44%.674 tablet) dan terendah adalah OAT katagori 3 (43 paket). Prosentase tingkat kecukupan obat di Kabupaten/kota yang paling tinggi adalah kloramfenikol kapsul 250 mg (278. C.834.46%).e. Cakupan keluarga yang memiliki tempat sampah memenuhi syarat kesehatan di Provinsi Jawa Tengah meningkat dari 67. sarana ibadah 61.09%). instalasi pengolahan air minum 58. Pada tahun 2011 dari 34 jenis obat yang dilaporkan oleh kabupaten/kota.44%). Sedangkan cakupan keluarga memiliki sarana pengelolaan air limbah yang memenuhi syarat kesehatan sebesar 50. restoran/rumah makan 73. Sumber Daya Kesehatan 1. perkantoran 72.67%.53%. c.51%. sedangkan paling rendah adalah OAT Kategori 2 (52.11%. Tingkat kecukupan obat tertinggi adalah obat Kloramfenikol kapsul 250 mg (50) dan terendah adalah OAT katagori 3 (9) artinya bahwa persediaan obat Kloramfenikol kapsul 250 mg dapat tercukupi pemakaiannya untuk selama 50 bulan dan OAT katagori 3 dapat tercukupi pemakaiannya untuk selama 9 bulan. h.56%.29% pada tahun 2011. b. stock terbanyak adalah Klorfeniramin Maleat tablet 4 mg 52. Sarana Kesehatan a. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 118 . Cakupan pengawasan tempat-tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan tahun 2011 meliputi hotel 84.88%.266 tablet dan paling sedikit adalah OAT Katagori 3 (523 paket).

0000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 12. Ini berarti bahwa jumlah puskesmas di Provinsi Jawa Tengah masih kurang.000 penduduk per puskesmas. Jumlah puskesmas di Provinsi Jawa Tengah meningkat dari 854 unit pada tahun 2010 menjadi 867 pada tahun 2011.827 unit.000 penduduk tahun 2011 sebesar 4.96.209 unit. e. dengan sasaran penduduk yang dilayani oleh sebuah puskesmas rata-rata 30. maka jumlah puskesmas per 30. Rasio tenaga dokter gigi per 100. Sedangkan puskesmas perawatan dari 281 buah pada tahun 2010 naik menjadi 291 pada tahun 2011.000 penduduk tahun 2011 sebesar 0. 10 RS Bersalin milik swasta dan 54 RS Khusus lainnya (3 milik pemerintah dan 51 milik swasta) h.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3.e. f. 7 RSU milik pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Unit Pelaksana Tehnis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah terdiri dari: Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) sebanyak 5 unit dan 1 Balai Kesehatan Indera Masyarakat (BKIM). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 119 . g. dan 41 milik pemerintah kabupaten/kota).24. b. Rumah sakit khusus pemerintah dan swasta di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 68 RS terdiri dari 4 RS Jiwa milik pemerintah. Puskesmas Keliling sebanyak 948 unit dan Poliklinik Kesehatan Desa sebanyak 5. 2. Rasio tenaga gizi per 100. RSU milik BUMN sebanyak 1 RS dan RSU milik swasta sebanyak 118 buah. Rasio dokter spesialis per 100.000 penduduk tahun 2011 sebesar 17. RSU milik TNI/POLRI sebanyak 10 RS.80.42. Bila dibandingkan dengan konsep wilayah kerja puskesmas. Rumah sakit umum di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 berjumlah 179 buah yang terdiri dari RSU pemerintah sebanyak 50 buah ( 2 RSU milik Departemen Kesehatan. Rasio tenaga dokter umum per 100. Puskesmas Pembantu sebanyak 1. c. Tenaga Kesehatan a.49.15. Rasio tenaga kefarmasian per 100. d.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 6.

20 menurun dibandingkan tahun 2010 (3.f. Rasio tenaga sanitasi per 100.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 2. g.30). yang semula sebesar 51. Anggaran tersebut naik 28.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 73.450.55).56 lebih banyak dibandingkan tahun 2010 (38.- Demikian gambaran hasil pembangunan kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebagai wujud nyata kinerja seluruh jajaran kesehatan di Provinsi Jawa Tengah dalam upaya mewujudkan Jawa Tengah Sehat potensi daerah. Rasio tenaga keperawatan per 100.11%.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 10. Pembiayaan Kesehatan Anggaran belanja yang dialokasikan 2011 sekitar untuk 7. Rasio tenaga kesehatan masyarakat per 100. 3. 81.47). j. i.24 lebih sedikit bila dibandingkan tahun 2010 (10. yang mandiri dan bertumpu pada Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 120 .56).74). Rasio Bidan per 100. Rasio tenaga teknisi medis per 100. h.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 3.73% pada tahun 2010 menjadi 79.84% pada tahun 2011.18% pembiayaan dari seluruh kesehatan di kabupaten/kota tahun pembiayaan kabupaten/kota. Sedangkan anggaran kesehatan perkapita pada tahun 2011 sebesar Rp.95 lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2010 (76.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 39.96 lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2010 (4.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful