Anda di halaman 1dari 30

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

BAB 11 REVALUASI AKTIVA

Overview

Dalam masa penggunaan aktiva tetap, seringkali timbul biaya-biaya yang akan dikapitalisasi dalam rekening aktiva, sehingga harga perolehannya akan berubah. Perubahan ini mempengaruhi depresiasi aktiva tersebut. Begitu juga bila diketahui bahwa taksiran umur aktiva sudah dilakukan dengan tidak benar, hal ini mengakibatkan perhitungan depresiasinya juga menjadi tidak benar Tujuan

1. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep revaluasi aktiva tetap dan menghitung revaluasi aktiva tetap
156

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

2. Mahasiswa mampu menerapkan perlakuan akuntansi revaluasi aktiva tetap 1.Perubahan Harga Perolehan Dan Masa Manfaat Dalam masa penggunaan aktiva tetap seringkali timbul biaya-biaya yang akan dikapitalisasi dalam rekening aktiva, sehingga harga perolehannya akan berubah. Perubahan ini mempengaruhi depresiasi aktiva tersebut. Begitu juga bila diketahui bahwa taksiran umur aktiva sudah dilakukan dengan tidak benar dapat mengakibatkan perhitungan depresiasinya juga menjadi tidak benar. Perhitungan depresiasi selama umur suatu aktiva mungkin perlu dirubah jika terjadi pengeluaran-pengeluaran yang dikapitalisasi dalam rekening aktiva tersebut. Pengeluaran-pengeluaran yang dikapitalisasi adalah pengeluaran-pengeluaran untuk memperbesar fungsi aktiva. Karena harga perolehan aktiva berubah, maka perhitungan depresiasinya perlu diubah juga. Sebagai contoh misalnya mesin yang dibeli dengan harga Rp200.000,- ditaksir umurnya 20 tahun. Sesudah mesin ini digunakan selama 12 tahun, dikeluarkan biaya untuk memperbaiki keadaan mesin itu sebesar Rp40.000,-. Perbaikan ini tidak menambah umur mesin. Depresiasi sesudah adanya perbaikan dihitung sebagai berikut: Harga perolehan pertama Perbaikan = Rp200.000,- : 20 = = Rp40.000,- : 8 = Depresiasi tahunan sesudah adanya perbaikan Rpl0.000,5.000,Rpl5.000,-

jurnal yang dibuat untuk mencatat biaya perbaikan di atas adalah sebagai berikut: Mesin Kas Rp40.000,Rp40.000, 157

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

Apabila perbaikan di atas itu dapat menambah umur aktiva, maka biaya perbaikan-nya akan dicatat dengan mendebit rekening akumulasi depresiasi mesin. Misalnya dalam contoh tersebut, perbaikan dengan biaya Rp40.000,- dapat memperpanjang umur mesin dengan waktu 2 tahun. Dengan demikian sisa umur mesin adalah = (20 -12) + 2 = 10 tahun. Depresiasi sesudah adanya perbaikan dihitung sebagai berikut: Harga perolehan mesin Akumulasi depresiasi = 12/20 x Rp200.000,- = Perbaikan mesin Rp120.000 ,40.000, Rp200.000 ,Rpl20.000, -

Nilai buku (sisa umur = 10 tahun)

80.000, Rpl.20.000 ,-

Depresiasi tiap tahun menjadi = Rpl20.000,- :10 = Rpl2.000,-. Biaya perbaikan Rp40.000,- yang dapat menambah umur 2 tahun di atas dicatat dengan jurnal sebagai berikut: Akumulasi depresiasi Mesin Kas Rp40.000,Rp40.000,-

Kadang-kadang suatu bagian dari mesin harus diganti dengan bagian yang baru. Penggantian-penggantian seperti ini harus diperhitungkan dalam perhitungan depresiasi sesudah penggantian. Selanjutnya disajikan contoh, mesin dibeli dengan harga Rp200.000,-, umur 5 tahun Sesudah dipakai selama 3 tahun, suatu suku cadang mesin yang ditaksir merupakan 20% dari harga perolehan mesin, rusak
158

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

dan diganti. Harga beli suku cadang yang baru sebesar Rp50.000,- dan suku cadang ini akan dapat dipakai sampai mesin itu habis umurnya. Suku cadang yang lama laku dijual dengan harga Rp5.000,-. Kejadian-kejadian di atas dicatat dengan jurnal sebagai berikut: Kas Akumulasi depresiasi mesin Rugi penggantian suku cadang Mesin Perhitungan: Harga perolehan suku cadang (taksiran) = 20% x Rp200.000,- = Depresiasi = 3/5 x Rp40.000,- = Nilai buku Harga jual Rugi Rp5.000,24.000,11.000,Rp40.000,-

Rp40.000,24.000,Rpl6.000,5.000,Rpl.1.000, -

Pembelian suku cadang baru dicatat sebagai berikut: Mesin Kas Rp50.000,Rp50.000,-

Karena ada penggantian suku cadang, maka perhitungan depresiasi sekarang dihitung sebagai berikut:
Harga perolehan pertama = (Rp200.000,- Rp40.000,-) : 5 = Suku cadang baru = Rp50.000,-:2 Depresiasi tahunan Rp32.000,25.000,Rp57.000,-

159

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

Apabila sudah diketahui lebih dahulu bahwa selama waktu penggunaan mesin akan diadakan penggantian suku cadang, maka depresiasi untuk suku cadang itu harus dihitung lebih tinggi agar pada saat penggantian, nilai buku suku cadang itu sudah menjadi 0 dan tidak ada kerugian yang timbul pada saat penggantian. Taksiran umur aktiva tetap kadang-kadang tidak sesuai dengan kenyataannya. Apabila selama waktu penggunaannya tidak diketahui adanya kesalahan, maka nanti pada saat pemberhentian aktiva atau pada saat habisnya taksiran umur akan dapat diketahui, apakah taksiran umur aktiva dibuat dengan benar atau tidak. Kesalahan-kesalahan penaksiran umur aktiva akan berakibat kesalahan dalam menghitung beban depresiasi. Apabila diketahui bahwa taksiran umur aktiva dibuat dengan tidak benar maka tindakan perbaikan/koreksi dapat dilakukan dengan salah satu cara sebagai berikut: (a) Nilai buku aktiva pada saat diketahui adanya kesalahan tidak diubah, perubahan dilakukan terhadap perhitungan depresiasi untuk sisa umur aktiva untuk mengimbangi kesalahan-kesalahan yang sudah terjadi. seperti pada mesin dengan harga perolehan Rpl00.000,umur ekonomis 5 tahun. Sesudah dipakai selama 2 tahun, ditaksir mesin masih dapat dipakai selama 4 tahun. Karena adanya perubahan umur mesin, maka akan terjadi perubahan dalam beban depresiasi. Depresiasi sebelum perubahan umur (untuk tahun pertama dan kedua) = Rpl00.000,- : 5 = Rp20.000,- per tahun. Depresiasi untuk tahun ke-3 dan seterusnya dihitung sebagai berikut: Harga perolehan mesin Rpl00.000, Akumulasi depresiasi mesin (2 40.000, tahun) Nilai buku mesin awal tahun ke- Rp60.000,3 Depresiasi untuk tahun ke-3 dan berikutnya sebesar : Rp60.000,- : 4 = Rpl5.000,- per tahun.
160

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

Dalam cara ini tidak ada koreksi untuk depresiasi tahuntahun yang sudah lewat. (b) Nilai buku aktiva direvisi sehingga menunjukkan jumlah yang sesuai dengan taksiran umur yang baru. Depresiasi tahun-tahun yang lewat direvisi dan perhitungan depresiasi tahun-tahun yang berikutnya didasarkan pada taksiran umur yang baru. Seperti pada mesin dibeli dengan harga Rpl00.000,-. Umur ditaksir 4 tahun tanpa nilai residu. Sesudah dipakai selama 2 tahun diketahui bahwa mesin tersebut masih dapat dipakai selama 3 tahun. Nilai buku mesin sebelum koreksi: Harga perolehan mesin Rpl00.000, Akumulasi depresiasi mesin - 2/4 x 50.000, Rpl00.000,Nilai buku mesin Rp 50.000,Dengan adanya taksiran umur yang baru, nilai buku mesin pada akhir tahun kedua seharusnya sebesar: Harga perolehan mesin Rpl00.000, Akumulasi depresiasi mesin = 2/ 5 x 40.000, Rpl00.000,Nilai buku mesin Rp 60.000,Nilai buku mesin sebelum koreksi jumlahnya terlalu rendah Rpl0.000,- dibandingkan dengan nilai buku yang baru sehingga nilai buku mesin harus dinaikkan menjadi Rp60.000,-. Jurnal untuk membetulkan nilai buku di atas sebagai berikut: Akumulasi depresiasi mesin Koreksi laba tahun-tahun lalu Rpl0.000, Rp10.000
161

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

.00 Jika koreksi atas beban depresiasi yang sudah lewat akan dilaporkan di dalam laporan laba rugi maka rekening yang dipakai adalah seperti dalam jurnal di atas. Tetapi apabila koreksi ini akan dilaporkan di dalam laporan laba tidak dibagi maka kreditnya adalah rekening laba tidak dibagi. Jika depresiasi tahun-tahun yang lewat ternyata terlalu kecil maka jurnal koreksinya sebagai berikut: Koreksi laba tahun-tahun lalu (laba tidak dibagi) Akumulasi depresiasi mesin Rpxx Rpxx

2.Aktiva Tetap Yang Sudah Habis Didepresiasi Aktiva tetap mungkin masih digunakan walaupun harga perolehannya sudah habis didepresiasi. Keadaan ini bisa timbul dari dua hal yaitu keliru dalam membuat taksiran umur dan umurnya tidak ditaksir keliru, namun perusahaan tidak mampu untuk mengganti aktiva tetap tersebut dengan aktiva yang baru. Penggunaan aktiva tetap sesudah umurnya habis yang disebabkan oleh ketidakmampuan perusahaan untuk mengganti dengan aktiva yang baru, biasanya memerlukan biaya pemeliharaan yang jumlahnya cukup besar. Keadaan ini berakibat operasi perusahaan menjadi tidak ekonomis jika dibandingkan dengan penggunaan mesin baru. Dalam keadaan seperti ini, tidak ada nilai tambahan yang akan ditambahkan kepada aktiva tetap, biaya-biaya yang dikeluarkan dibebankan pada periode terjadinya. Sebelum aktiva tetap itu dihentikan dari penggunaannya maka harga perolehan dan akumulasi depresiasinya tetap dicantumkan dalam neraca, dengan keterangan bahwa aktiva tetap tersebut sudah habis didepresiasi tetapi masih digunakan. 3.Penyimpangan Dari Harga Perolehan
162

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

Ada beberapa keadaan yang membenarkan terjadinya penyimpangan dari prinsip harga perolehan. Dalam aktiva lancer seperti surat-surat berharga akan dilaporkan di bawah harga perolehannya apabila harga pasar lebih rendah dari harga pokoknya, begitu juga persediaan barang. Untuk aktiva tetap bila harga-harga sudah berubah dalam jumlah yang besar, maka rekening-rekening aktiva yang tetap memakai harga perolehan di masa lalu sudah tidak menunjukkan keadaan yang riil dari aktiva tersebut. Karena harga perolehannya sudah tidak sesuai dengan keadaan maka perhitungan depresiasi yang didasarkan pada harga perolehan tadi juga menjadi tidak layak. Perubahan harga ini biasanya terjadi pada masa inflasi atau deflasi. Dalam keadaan seperti ini penyimpangan dari prinsip harga perolehan mungkin dapat dibenarkan, agar neraca dapat menunjukkan jumlah aktiva dan modal yang sesuai dengan keadaan sekarang serta laporan laba rugi dapat menunjukkan laba atau rugi yang layak. Penyimpangan dari prinsip ini diterima karena tujuan pokok dari akuntansi adalah untuk membandingkan pendapatan dan biaya yang layak untuk satu periode. Jika depresiasi dihitung dari harga perolehan yang sudah jauh berbeda dengan keadaan sekarang maka biaya-biaya yang dicantumkan dalam laporan laba rugi tidak. sesuai dengan pendapatannya. Penyimpangan ini bisa dilakukan dengan cara revaluasi dalam keadaan harga-harga naik atau devaluasi dalam keadaan harga-harga turun. Di Indonesia pemerintah telah beberapa kali mengeluarkan peraturan mengenai revaluasi, karena dengan adanya penilaian kembali akan mempengaruhi perhitungan pajak perseroan atau pendapatan yang dihitung dari laba bersih. Peraturan-peraturan tentang revaluasi (penilaian kembali) itu ialah: a. Keputusan Penyesuaian Pajak Perseroan 1953. b. Peraturan Presiden No. 21 Tahun 1965 yang berlaku untuk perusahaan negara dan Peraturan Presiden No. 25 Tahun 1965 yang berlaku untuk perusahaan swasta Dalam peraturan ini penilaian kembali dilakukan dengan jumlah 20 kali nilai buku aktiva. Perusahaan yang
163

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

melakukan penilaian kembali berkewajiban untuk menyetor uang ke bank sejumlah depresiasi dari aktiva yang sudah dinilai kembali c. Surat Keputusan Menteri Keuangan RI No. 508/MK/11/7/1971 yang dikeluarkan tanggal 7 Juli 1971 diperlakukan untuk perusahaan negara dan swasta. Dalam peraturan ini badan-badan usaha diperbolehkan mengadakan penilaian kembali aktivanya dengan cara seperti yang diatur dalam surat keputusan tersebut. Aktiva tetap berwujud yang dapat dinilai kembali dibatasi untuk aktiva yang diperoleh dalam tahun-tahun buku 1960 sampai dengan 1970. Penilaian kembali dilakukan dengan cara berikut: Harga perolehan aktiva, dan depresiasi tiap-tiap tahun dikalikan dengan angka yang tersebut dalam tabel di bawah. Selisih antara nilai baru (sesudah penilaian kembali) dengan nilai buku lama dicatat dalam rekening selisih penilaian kembali 1971, yang merupakan rekening pembantu modal. Selisih ini dikenakan pajak perseroan sebesar 10% dan kemudian dapat dipindahkan ke rekening modal Tam-bahan modal karena selisih penilaian kembali 1971 tidak dikenakan bea melerai modal, sedangkan kenaikan modal para pemegang saham dikenakan pajak perseroan/pajak pendapatan sebesar 10%. Depresiasi sesudah penilaian kembali dihitung dengan dasar jumlah yang baru. Tabel angka perkalian untuk mengadakan penilaian kembali: (a) Untuk bangunan dan tanah yang diperoleh dalam tahun: 1960 4.10 1969 = 1 = 0 1961 3.40 1970 = 1 = 0 1962 1.55 = 0 1963 740
164

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

= 1964 = 1965 = 1966 = 1967 = 1968 = (b) Untuk tahun: 1960 = 1961 = 1962 = 1963 = 1964 =

250 50 4,5 2 1

aktiva tetap lainnya yang diperoleh dalam 1.600 2.000 500 350 165 1965 1966 1967 1968 1969 = = = = = 40 4 2,5 1 1

Apabila aktiva-aktiva tetap yang akan dinilai kembali dicatat dengan mata rupiah uang lama, maka terlebih dahulu dikurs ke dalam mata rupiah uang baru dengan perbandingan 1000 : 1. Aktiva tetap yang sudah dinilai kembali akan didepresiasi selama umur sebagai berikut (a) Bangunan, baik permanen maupun semi permanen = 15 tahun. (b) Aktiva tetap lainnya = 8 tahun. Penentuan masa penghapusan 15 tahun bagi bangunan permanen/semi permanen dan 8 tahun bagi aktiva tetap lainnya ditujukan terhadap aktiva tetap yang masih mempunyai sisa masa penghapusan yang melebihi masa penghapusan tersebut di atas. Maksudnya ialah guna penertiban dan memudahkan penelitian atas penghapusan yang dilakukan setelah penilaian kembali.
165

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

Dalam hal di mana penghapusannya pada saat penyesuaian kurang dari 8 atau 15 tahun, maka untuk selanjutnya masa penghapusan itu ditentukan sebagai berikut: Misalkan sisa masa bermanfaat suatu bangunan pada saat penyesuaian (menurut keputusan penghapusan 1953) tinggal 10 tahun. Masa penghapusan setelah penilaian kembali = 1/2 x (10 + 15) tahun = 121/2 tahun, dibulatkan menjadi 12 tahun. Hal ini dimaksudkan agar pemberian fasilitas kepada para pengusaha berupa kesempatan untuk menilai kembali, tidak menjadi berkelebihan dengan memberikan lagi kesempatan untuk melakukan penghapusan dengan jumlah yang besar. Penilaian kembali dilakukan pada saat awal tahun buku 1971. Sebagai penjelasan terhadap cara penilaian kembali 1971 di bawah ini diberikan contoh seperti yang termuat dalam penjelasan Surat Keputusan Menteri Keuangan RI No. 508/MK/H/7/1971: Untuk sebuah bangunan permanen, hitungan nilai barunya dihitung sebagai berikut: Aktiva tetap Nilai perolehan Saat perolehan Masa penghapusan Nilai buku fiskal Saat penyesuaian : : : : : : Bangunan permanen Rpl0.000.000,- (uang lama) Januari 1962 20 tahun Rp5.500.000,- (uang lama) 1 Januari 1971

Nilai perolehan dikurs terlebih dahulu menjadi Rpl0.000,- (uang baru). Nilai perolehan dinilai kembali dengan angka perkalian eks pasal 6 keputusan ini menjadi:

166

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

1.550 x Rpl0.000,Penghapusan dinilai kembali menjadi: 1962 = 5% x Rpl0.000,- x 1.550 1963 = 5% x Rpl0.000,- x 740 1964 = 5% x Rpl0.000,- x 250 1965 = 5% x Rpl0.000,- x 50 1966 = 5% x Rpl0.000,- x 4,5 1967 = 5% x Rpl0.000,- x 2 1968 = 5% x Rpl0.000,- x 1 1969 = 5% x Rpl0.000,- x 1 1970 = 5% x Rpl0.000,- x 1

Rp15.500.00 0

= = = = = = = = =

Rp775.000 ,370.000,125.000,25,-0,2.250,1.000,500,500,500, -

1.299.750 ,Nilai baru Rp14.200.25 0,Nilai buku fiskal (uang baru) 5.500, Selisih penilaian kembali eks pasal 9 ayat 1 Rp14.194.75 keputusan ini 0,Pajak perseroan yang terutang eks pasal 19 ayat (1) keputusan ini = 10% = Rpl.419.475,-. Menurut pasal 15 ayat (2) keputusan ini, nilai baru bangunan tersebut dapat dihapuskan dalam masa 1/2 x (15 + 11) = 13 tahun. Penghapusan selama 13 tahun itu akan mengakibatkan pengurangan pembayaran pajak perseroan sejumlah kurang lebih: 40% x Rpl4.200.250,- = Rp5.580.100,-.
167

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

Dalam hal aktiva tetap yang dinilai kembali berupa bangunan yang telah diperbaiki/diperluas, maka nilai baru bangunan lama dan nilai baru perbaikan, perluasan atau pembaharuan dihitung secara terpisah. Penjumlahan kedua nilai baru tersebut merupakan nilai baru bangunan yang dinilai kembali d. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 109/KMK.04/1979 yang mengatur mengenai Penilaian Kembali Aktiva Tetap Badan-badan Usaha pada tanggal 1 Januari 1979. Surat keputusan ini dikeluarkan pada tanggal 27 Maret 1979 dan terkenal dengan nama Paket 27 Maret. Obyek penilaian kembali adalah sebagai berikut. (1) Aktiva tetap yang dapat dinilai kembali adalah aktiva tetap berwujud yang tercatat sebagai milik badan usaha dan dipakai di Indonesia serta memenuhi syarat sebagai berikut: (a) pada saat penilaian kembali masih dipergunakan menurut tujuannya untuk melakukan usaha; (b) menurut tujuannya semula tidak dimaksudkan untuk dioperkan atau dijual; (c) aktiva tetap yang bersangkutan diperoleh dalam tahun-tahun buku 1960 sampai dengan 1978. (2) Terkecuali tanah dan hak atas tanah, maka terhadap seluruh aktiva tetap badan usaha yang memenuhi ketentuan tersebut pada ayat (1) pasal ini harus dilakukan penilaian kembali. Dasar dan cara, penilaian kembali (Pasal 4): (1) Nilai perolehan dari pemasukan, pembelian, pendirian, perbaikan dan perubahan, demikian pula masing-masing jumlah penyusutan tahunan aktiva tetap hingga saat penilaian kembali, dikalikan dengan angka perkalian seperti ditentukan dalam pasal 5. Untuk tanaman perkebunan seperti dimaksud dalam pasal 5 huruf e, nilai perolehan adalah nilai pada saat tanaman mencapai tingkat mulai menghasilkan.
168

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

(2)

Selisih lebih antara nilai perolehan dari pemasukan, pembelian, pendirian, perbaikan dan perubahan, dengan jumlah penyusutan tahunan aktiva tetap, setelah dinilai kembali sesuai dengan ayat (1) pasal ini, merupakan nilai baru aktiva tetap pada tanggal 1 Januari 1979. (3) Nilai dan jumlah seperti dimaksud pada ayat (1) pasal ini, bilamana tertera dalam mata uang rupiah lama yang berlaku sebelum tahun 1966, dikurs terlebih dahulu ke dalam mata uang rupiah baru dengan perbandingan 1.000 :1. Angka perkalian seperti yang dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) adalah sebagai berikut:

Angka perkalian Kapal laut, Bangunan. Tanaman Mesin alat- Kendaraa pesawat. Konstruksi keras perkeTahun alat berat n udara. dan dan bunan yang perolehan dan dan alatsejenisnya sarana umurnya lebih peralatalal beserta pelengkap dan annya kanlor perlengkapan -nya 2 tahun nya 1967 7,6 5,3 5.2 3,1 1968 5,4 3,6 3,1 2.5 1969 3,2 2.1 2,6 2.0 1970 2,7 1.9 2,2 1.8 1971 2,4 1.8 2.9 1,9 1 .7 1972 2,3 1,6 2,6 1,8 1 .5 1973 2,2 1,5 2,0 1,7 1 .4 1974 1,7 1.4 1,7 1,5 1 .3 1975 1,4 1,3 1,4 1,4 1 2 1976 1,3 1,3 1,3 1,3 1 .2 1977 1,2 1,2 1,2 1,1 1.1 1978 1,I 1,1 1,1 1,1 1 .0

Bangunan dan Iain-lain yang diperoleh dalam tahun 1960 sampai dengan tahun 1966 angka perkaliannya sama dengan tahun 1967, sedangkan yang diperoleh
169

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

sesudah tanggal 15 November 1978 angka perkaliannya adalah 1. Kendaraan dan alat-alat kantor yang diperoleh dalam tahun I960 sampai dengan tahun 1970 perkaliannya sama dengan tahun 1971, sedangkan yang diperoleh sesudah tanggal 15 November 1978 angka perkaliannya adalah 1. Kapal laut, pesawat udara dan Iain-lain yang diperoleh dalam tahun 1960 sampai dengan, tahun 1966 angka perkaliannya sama dengan tahun 1967, sedangkan yang diperoleh sesudah tanggal 15 November 1978 angka perkaliannya adalah 1. Nilai perolehan tanaman dalam tahun 1960 sampai dengan tahun 1966 angka perkaliannya sama dengan tahun 1967. Cara pembukuan dan perhitungan depresiasi serta masalah-masalah lainnya dapat dibaca pada Keputusan Menteri Keuangan seperti tersebut di atas. e. Keputusan Menteri Keuangan No. 1677/MK/II/12/1978. f. Keputusan Menteri Keuangan No. 66/KMK/04/1982 tanggal 3 Februari 1982 g. Keputusan Menteri Keuangan No.507/KMK/04/1996. Menurut Keputusan Menteri Keuangan tersebut, aktiva tetap yang dapat dinilai kembali adalah semua aktiva berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 4 (empat) tahun seperti tanah, bangunan dan aktiva non bangunan dan telah dimiliki oleh perusahaan lebih dari 5 tahun, masih digunakan di Indonesia untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan dan tidak dimaksud-kan untuk dijual atau dialihkan. 4.Penggunaan Dan Pencatatan Data Penilaian Kembali Dalam melakukan penilaian kembali ada beberapa istilah sebagai berikut:

170

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

1.

Harga perolehan kembali, yaitu harga perolehan untuk membeli/membuat kembali aktiva tetap tersebut. 2. Nilai sehat, yaitu harga perolehan kembali dikurangi depresiasi sampai saat itu berdasarkan nilai yang baru. 3. Persentase keadaan, yaitu persentase yang menunjukkan hubungan antara nilai sehat dengan harga perolehan kembali. Di dalam mengadakan penilaian kembali, kadangkadang hanya nilai buku aktiva yang berubah, tetapi sering juga di samping nilai buku aktiva, maka umur aktiva juga disesuaikan (dinilai kembali). Penilaian kembali bisa dicatat dalam rekening-rekening, ataupun tidak dicatat dalam rekening-rekening, hanya nilai buku dikoreksi agar sesuai dengan persentase keadaan yang ditentukan dari penilaian kembali. Berikut disajikan contoh revaluasi : Contoh pertama : Tanah dengan harga perolehan sebesar Rpl00.000,- dinilai kembali menjadi Rpl.000.000,-. Karena tanah itu umurnya tidak terbatas maka tidak ada rekening akumulasi depresiasi. Harga perolehan kembali dalam contoh ini adalah Rpl.000.000,-. Agar rekening tanah dapat menunjukkan jumlah sebesar harga perolehan kembali maka ditambah dengan jumlah Rp900.000,-. Kenaikan jumlah aktiva ini juga dicatat sebagai modal penilaian kembali. Jumlah kenaikan nilai aktiva yang berasal dari penilaian kembali dapat dicatat dalam rekening tanah atau rekening tanah - penilaian kembali. Jurnal yang dibuat untuk mencatat rekening penilaian kembali ini sebagai berikut: Tanah - Penilaian kembali Modal penilaian kembali Rp900.00 0,Rp900.00 0,-

Contoh kedua :
171

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

Mesin dibeli dengan harga Rpl00.000,-, umur 8 tahun tanpa nilai residu. Sesudah digunakan selama 4 tahun dinilai kembali sebagai berikut: Harga perolehan kembali = Rpl50.000,-. Persentase keadaan = 60% atau nilai sehatnya = Rp90.000,-. Harga perolehan dan data penilaian sebagai berikut: Menurut buku Rpl00.000,50.000,Rp 50.000,Menurut penilaian Rpl50.000,60.000,Rp 90000,-

Harga perolehan (-) Akumulasi depresiasi Nilai buku

Menurut hasil penilaian kembali, seharusnya persentase keadaan aktiva menunjukkan 60%, sedangkan menurut buku persentase keadaannya adalah 50%. Dengan demikian depresiasi tahun-tahun lalu terlalu besar 10%, yaitu karena mesin yang umurnya 10 tahun ditaksir 8 tahun sehingga depresiasi terlalu besar. Oleh karena itu, perlu dibuat jurnal untuk mengoreksi rekening akumulasi depresiasi. Apabila angka-angka penilaian kembali tidak dicatat dalam rekeningrekening, maka jurnal yang dibuat cukup sampai mengoreksi rekening cadangan depresiasi agar sesuai dengan persentase keadaan aktiva berdasar data penilaian kembali. Contoh ketiga. Gedung dengan harga perolehan Rpl.000.000,-. Taksiran umur = 40 tahun. Sudah dipakai selama 20 tahun. Akumulasi depresiasi gedung = Rp500.000,-. Pada awal tahun ke-21 gedung dinilai kembali sebagai berikut: Harga perolehan kembali - Rpl.500.000,-. Nilai sehat = Rp900.000,-, berarti umur gedung ditaksir:
1.500.000 =20tahun =50tahun 600.000

Perubahan-perubahan nilai dihitung sebagai berikut:


172

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

Harga Perolehan Rp1.000.00 0,Koreksi depresiasi tahun lalu Saldo harga perolehan sesudah koreksi Tambahan dari penilaian kembali Saldo menurut penilaian kembali ___________ Rp1.000.00 0,+500.000 ,Rp1.500.00 0,-

Taksir an Umur 40 +10 50 ___ 50

Sudah dipakai Selama (tahun) 20 __ 20 __ 20

Akumulasi depresiasi Rp500.000 ,100.000, Rp400.000 ,+200.000, Rp600.000 ,-

Penilaian kembali di atas dicatat dalam buku-buku dengan jurnal sebagai berikut
Membetulkan rekening akumulasi depresiasi gedung agar menunjukkan jumlah depresiasi sebesar 40% dari harga perolehan. Menaikkan nilai gedung dan akumulasi depresiasi gedung agar sesuai dengan data penilaian kembali. Akumulasi depresiasi gedung Koreksi laba tahuntahun lalu GedungPenilaian kembali Akumulasi depresiasi gedung Penilaian kembali Modal Penilaian kembali Rpl00.000,Rp 100.000.00 Rp500.000, -

Rp200.000,300.000,-

5.Depresiasi Untuk Aktiva Yang Telah Di Revaluasi Apabila aktiva tetap sudah dinilai kembali, tersedia dua macam data yaitu data harga perolehan dan data penilaian kembali. Perhitungan depresiasi juga dapat dilakukan dengan menggunakan salah satu data tersebut. (a) Depresiasi Dihitung dari Jumlah Harga Perolehan Dalam cara ini laporan laba rugi akan menunjukkan hasil dan biaya-biaya atas dasar harga perolehan (cost basis), sedang nilai-nilai penilaian kembali akan nampak dalam
173

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

neraca. Pencatatan depresiasi dilakukan dengan mendebit rekening depresiasi dan kreditnya rekening akumulasi depresiasi. Modal penilaian kembali setiap tahunnya diturunkan jumlahnya dan dikreditkan ke rekening akumulasi depresiasi penilaian kembali. Penurunan modal penilaian kembali ini dilakukan dengan tujuan untuk memindahkan saldo rekening ini; tidak dikreditkan langsung ke rekening laba tidak dibagi, tetapi melalui beban depresiasi yang dasarnya harga perolehan, sehingga labanya lebih besar. Contoh pembuatan jurnal untuk mencatat depresiasi atas dasar harga perolehan adalah sebagai berikut: Mesin yang dibeli pada tanggal 1 Januari 2003 dengan harga Rpl00.000,- ditaksir umurnya 8 tahun. Akumulasi depresiasi pada tanggal 31 Desember 2006 sebesar Rp50.00Q>00. Pada tanggal 1 Januari 2007 mesin tersebut dinilai kembali menjadi Rpl50Dd0,- dengan persentase keadaan = 60%. Jurnal yang dibuat untuk mencatat penilaian kembali dan depresiasi sesudah adanya penilaian kembali sebagai berikut:
1 Januari 2007 Mengurangi akumulasi depresiasi menjadi 40% dari harga perolehannya. Mencatat data penilaian kembali Koreksi laba tahun Rp10.000,lalu Rp10.000,Koreksi laba tahun lalu Rp50.000,Mesin Penilaian kembali Rp20.000,Akumulasi depresiasi 30.000,mesin - Penilaian kembali Modal penilaian kembali Depresiasi mesin Rp10.000,Akumulasi Rp10.000,depresiasi Rp5.000,Rp5.000,-

31 Desember 2007 Mencatat depresiasi dengan umur 10 tahun. Modal penilaian Mengurangi modal penikembali laian kembali (Rp50.000,Akumulasi : 10 tahun atau depresiasi mesin (Rp30.000,- : 6 tahun)

Penilaian kembali
174

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

(b)

Depresiasi Dihitung Atas Dasar Nilai Baru yang Berasal dari Penilaian Kembali Apabila aktiva tetap sudah dinilai kembali maka perhitungan depresiasinya dapat didasarkan pada nilai-nilai sesudah penilaian kembali. Perhitungan depresiasi. dengan dasar penilaian kembali akan berakibat neraca dan laporan laba rugi disusun dengan dasar yang sama. Pencatatan depresiasi dilakukan dengan mendebit rekening depresiasi dan mengkredit rekening akumulasi depresiasi dengan jumlah penilaian kembali. Jurnal yang kedua adalah menurunkan modal penilaian kembali dan ditransfer ke rekening laba tidak dibagi. Dengan- cara ini rekening laba tidak dibagi menunjukkan jumlah yang sama besar dengan jumlah laba tidak dibagi jika depresiasinya didasarkan pada harga perolehan. Contoh pembuatan jurnal untuk mencatat depresiasi dengan dasar penilaian kembali, datanya seperti contoh sebelumnya 31 Desember 2007 Mencatat depresiasi atas dasar penilaian kembali sebesar Rp 150.000,- dengan umur 10 tahun Depresiasi mesin Rpl5.000,Akumulasi depresiasi mesin Rpl0.000,Akumulasi depresiasi mesin - Penilaian kembali 5.000,Mengurangi modal Modal penilaian kembali Rp5.000,penilaian kembali (Rp Laba tidak dibagi Rp 50.000,-:10 tahun) 5.000,atau (Rp 30.000,-:6 tahun) Transfer dari rekening modal penilaian kembali dapat juga dibuat ke suatu rekening khusus yang akan digabungkan dengan rekening laba rugi yang lain. Rekening laba rugi ini nantinya diturup ke rekening laba tidak dibagi.

175

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

Pada penjelasaan kedua metode tersebut setiap tahun dilakukan pengurangan terhadap modal penilaian kembali dengan tujuan agar pada waktu aktiva tetap sudah habis didepresiasi, jumlah modal penilaian kembali juga habis dan berubah dalam bentuk laba ditahan. Perubahan bentuk setiap tahunnya dianggap sebagai realisasi dari modal penilaian kembali. 6.Penjualan Aktiva Yang Telah Di Revaluasi Aktiva tetap yang sudah dinilai kembali ke atas, jika dijual maka perhitungan laba atau rugi penjualannya didasarkan pada perbandingan nilai buku aktiva tetap dengan harga jualnya. Penjualan ini dicatat dengan menghapuskan semua rekening yang berhubungan dengan aktiva tetap baik yang berasal dari harga perolehan maupun penilaian kembali. Misalnya pada data harga perolehan dan penilaian kembali mesin pada tanggal 1 Januari 2005 sebagai berikut: Tambahan dari penilaian kembali Rpl00.000,40.000,Rp 60.000,-

Harga perolehan Mesin Akumulasi depresiasi Rp200.000,80.000,Rpl20.000,-

Pada tanggal 1 Januari 2005 mesin tersebut dijual dengan harga Rpl50.000,-. Laba yang diperoleh dari penjualan mesin ini sebesar Rp30.000,- yaitu Rpl50.000,- dikurangi Rpl20.000,-. Penjualan mesin dicatat dengan jurnal sebagai berikut: Kas Akumulasi depresiasi mesin Akumulasi depresiasi mesin Rpl50.000 ,80.000,40.000,176

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

Penilaian kembali Modal penilaian kembali Mesin Mesin - Penilaian kembali Laba penjualan mesin

60.000,Rp200.000 ,100.000,30.000,-

Dalam keadaan harga-harga turun, aktiva tetap yang dibeli pada waktu harga masih tinggi menunjukkan harga perolehan yang terlalu besar. Apabila penurunan harga ini jumlahnya cukup besar dan diperkirakan akan tetap maka dapat dilakukan penurunan nilai aktiva tetap. Penurunan nilai ini dibebankan ke rekening laba tidak dibagi tanpa membedakan perubahan umur dan penurunan nilainya. Misalnya pada mesin dengan harga perolehan Rpl.080.000,-, umur 18 tahun, tanpa nilai residu. Akumulasi depresiasi pada akhir tahun ke-7 sebesar Rp420.000,-. Penilaian kembali menunjukkan data sebagai berikut: Harga perolehan kembali = Rp700.000,-, persentase keadaan = 65%. Pencatatan penilaian kembali ke dalam rekening-rekening akan menyebabkan pengurangan jumlah dalam rekening mesin dan penyesuaian rekening akumulasi depresiasi sebagai berikut: Akumulasi depresiasi mesin Rpl75.000, Laba tidak dibagi (rugi penilaian 205.000,kembali) Mesin Rp380.000 ,Perhitungan
Sudah dipaka Taksira i Harga n Selam Akumulasi perolehan Umur a (tahun) (tahun ) ___________ +2 __ -42.000,177

Koreksi

depresiasi

tahun

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

lalu Saldo harga perolehan sesudah koreksi Pengurangan dari penilaian kembali Saldo menurut penilaian kembali

Rp1.080.00 0,-380.000 ,Rp 700.000,-

20 ___ 20

7 __ 7

Rp378.000 ,-133.000 ,Rp243.000 ,-

Mesin dipakai selama 7 tahun, masih dalam persentase keadaan 65%.


100 Umur mesin : 7 tahun = 20tahun (100 - 65)

Akumulasi depresiasi berdasar penilaian kembali = 7/20 x Rp700.000,- - Rp245.000,Depresiasi sesudah adanya penilaian kembali dihitung berdasarkan nilai mesin yang baru 7. Kuasi Reorganization Aktiva tetap berwujud dari suatu perusahaan bisa diturunkan nilainya melalui suatu kuasi reorganisasi (corporate readjustment). Dalam prosedur reorganisasi semu ini tidak ada pembentukan badan usaha baru. Maksud diadakannya kuasi reorganisasi ini adalah untuk menghilangkan defisit yang timbul karena depresiasi aktiva tetap yang terlalu tinggi yang timbul karena aktiva-aktiva tersebut dibeli pada masa harga-harga yang tinggi, dan mencatat aktiva dengan nilai yang realistis. Di samping itu kuasi reorganisasi bertujuan untuk memberikan suatu titik permulaan yang memungkinkan untuk membahdingkan pendapatan dan biaya yang layak. Pada umumnya kuasi reorganisasi bisa dilakukan apabila terdapat keadaan-keadaan sebagai berikut: a. Terdapat suatu jumlah defisit yang besar. b. Merupakan suatu alternatif yang lain dari reorganisasi yang legal dan disetujui oleh pemegang saham dan kreditur.
178

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

c.

Cost basis untuk menyatakan nilai aktiva tetap tidak rasional ditinjau dari sudut going concern. d. Laba tidak dibagi dan saldo-saldo agio saham tidak mencukupi untuk menyerap beban depresiasi. e. Jika diinginkan laporan keuangan yang menunjukkan hasil-hasil yang layak. Apabila terdapat keadaan seperti yang tersebut di atas maka kuasi reorganisasi dapat diterima sebagai suatu prosedur untuk menurunkan nilai aktiva tetap. Karakteristik dari kuasi reorganisasi adalah sebagai berikut: 1. Jumlah dalam rekening-rekening aktiva tetap berwujud diturunkan. 2. Rekening modal dan agio saham diturunkan dan rekening laba tidak dibagi saldonya menjadi nol sesudah reorganisasi semu. 3. Rekening laba tidak dibagi diberi tanggal yang menunjukkan adanya reorganisasi semu. 4. Diperlukan penjelasan di dalam laporan-laporan keuangan. 5. Tidak ada perubahan kesatuan usaha. Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu perusahaan untuk melakukan kuasi reorganisasi adalah: a. perusahaan mengalami defisit dalam jumlah yang material; b. perusahaan harus memiliki status kelancaran usaha dan memiliki prospek yang baik pada saat kuasi reorganisasi dilakukan; c. perusahaan tidak sedang menghadapi permohonan kepailitan; d. tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku; e. saldo ekuitas sesudah kuasi reorganisasi harus positif. Perusahaan dapat menggunakan metode reorganisasi akuntansi dalam melakukan kuasi reorganisasi. Dalam metode ini aktiva dan kewajiban harus dinilai sebesar nilai
179

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

wajar yaitu sebesar nilai pasar yang tersedia dan saldo laba yang negatif (defisit) serta penilaian kembali dieliminasi ke akun tambahan modal setoran. Berikut disajikan contoh, PT Tamma mempunyai neraca pada tanggal 1 Januari 2005 sebagai berikut: Neraca 1 Januari Aktiva lancar Aktiva tetap Rp1.000.000, 2.500.000,Utang Modal saham biasa (nominal Rp1.000,-) Agio saham Laba tidak dibagi Rp1.050.000, 2.500.000,-

____________ Rp3.500.000, -

250.000,(300.000,) Rp3.500.000, -

Kuasi Reorganisasi akan dilakukan adalah sebagai berikut: Aktiva tetap diturunkan menjadi Rpl.500.000,-. Modal saham nilai nominalnya diturunkan dari Rpl.000,- menjadi Rp500,dan dicatat sebagai agio saham sehingga jumlahnya akan cukup untuk menutup penurunan nilai aktiva tetap dan defisit. Jurnal yang dibuat untuk mencatat reorganisasi semu ini sebagai berikut:
Mencatat pengurangan nominal modal saham dari Rpl.000,- menjadi Rp500,-. Mencatat penurunan nilai aktiva tetap dari Rp2.500.000,menjadi Rpl.500.000,-. Menghapuskan defisit Rp300.000,dan penurunan nilai aktiva tetap Rpl.000.000,- dan membebankannya ke Modal saham biasa Modal saham biasa Agio saham biasa Laba tidak dibagi Aktiva tetap Rp2.500.000,Rp1.250.000,1.250.000,Rp1.000.000,Rp1.000.000,-

Agio saham biasa Laba tidak dibagi Agio saham bisaReorgani- sasi semu

Rp1.500.000,Rp1.300.000,200.000,180

Politeknik Telkom reke-ning agio saham biasa agar agio saham biasa menunjukkan saldo sesudah reorganisasi semu.

Akuntansi Keuangan 2

Neraca PT Tamma sesudah adanya Kuasi reorganisasi adalah sebagai berikut: Neraca 1 Januari Aktiva lancar Aktiva tetap Rp1.000.000, 1.500.000,Utang Modal saham biasa (nominal Rp500,-) Agio saham Reorganisasi semu Rp1.050.000, 2.500.000,-

____________ Rp2.500.000, -

200.000, Rp3.500.000, -

Aktiva tetap yang sudah diturunkan nilainya baik dengan devaluasi maupun dengan cara kuasi reorganisasi dihitung depresiasi tahunannya dengan dasar nilainya yang baru, sehingga dapat diharapkan adanya perhitungan beban depresiasi periodik yang layak.

181

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

Pertanyaan Kuis

1. 2.

3. 4.

5.

6.

7.

Jelaskan penyebab terjadinya perubahan harga perolehan aktiva tetap berwujud. Bagaimana perlakuan akuntansi terhadap perubahan umur aktiva tetap berwujud? Jelaskan maksud istilah yang digunakan dalam penilaian kembali aktiva tetap berwujud. Dasar apa yang dapat digunakan untuk menghitung depresiasi aktiva tetap berwujud yang sudah dinilai kembali? Jelaskan cara menghitung rugi atau laba penjualan aktiva tetap yang sudah dinilai kembali. Bila nilai aktiva tetap turun, dan diputuskan untuk menurunkan harga perolehannya, jelaskan perlakuan akuntansinya. Kapan perusahaan melakukan kuasi reorganisasi.

182

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

Pertanyaan Aplikasi

1.

PT ZARA membeli tanah dan gedung pada tanggal 1 Januari 1998 dengan harga perolehan sebagai berikut: Tanah Rp 1.000.000,Gedung 40.000.000,Gedung ditaksir berumur 40 tahun tanpa nilai residu dan didepresiasi dengan metode garis lurus. Pada tanggal 1 Juli 2005 diadakan penilaian kembali terhadap tanah dan gedung, dengan ketentuan sebagai berikut: Aktiva Nilai sekarang Tanah Rpl0.000.000, Gedun 42.000.000,g Gedung dinilai masih dalam kondisi 80%. Pertanyaan : 1. Hitunglah : a. Umur ekonomis yang baru. b. Nilai sehat. 2. Buatlah jurnal untuk mencatat penilaian kembali tanah dan gedung tanggal 1 Juli 2005.

183

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

2.

Sebuah mobil dibeli dengan harga Rp119.000.000,pada tanggal 1 Januari 2000. Umur ekonomi ditaksir selama 8 tahun dan nilai residunya sebesar Rp4.000.000,-. Pada tanggal 1 Januari 2005 taksiran umumnya diubah menjadi 10 tahun dengan nilai residu sebesar Rp4.500.000,-. Metode depresiasi yang digunakan adalah metode garis lurus. Diminta: 1. Buatlah jurnal untuk membetulkan depresiasi tahuntahun yang lalu. 2. Buat jurnal untuk mencatat depresiasi pada tanggal 3l Desember 2005! Neraca PT Tamma pada tanggal 31 Desember 2005 adalah sebagai berikut: Neraca 31 Desember 2005

3.

Aktiva lancar Aktiva tetap

Rp5.000.000, 20.000.000,-

____________ Jumlah Rp25.000.00 0,-

Utang jangka pendek Utang jangka panjang Modal saham biasa Agio saham biasa Laba tidak dibagi Jumlah

Rp3.000.000, 7.000.000,13.000.00,5.000.000,(3.000.000,) Rp3.500.000, -

PT Tamma melakukan kuasi reorganisasi pada tanggal 1 Januari 2006 dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Aktiva tetap diturunkan menjadi Rpl2.000.000,-. 2. Nilai nominal modal saham diturunkan 50%nya, dicatat sebagai agio saham.
184

Politeknik Telkom

Akuntansi Keuangan 2

3.

Defisit dihapuskan rekening agio saham biasa.

dan

dibebankan

ke

Pertanyaan : 1. Buatlah jurnal untuk mencatat kuasi reorganisasi pada tanggal 1 Januari 2006. 2. Buatlah neraca tanggal 1 Januari 1992 sesudah kuasi reorganisasi .

185