Anda di halaman 1dari 22

1.

PENDAHULUAN Berkembangnya kemajuan ilmu teknologi khususnya dalam bidang konstruksi, mengakibatkan tidak sedikitnya gedung-gedung pencakar langit berdiri. Tentu saja dalam proses pembuatannya memakan waktu yang cukup lama, tenaga yang relatif banyak, material yang banyak yang semuanya itu berpengaruh pada besar dana yang dipakai serta resiko yang besar jika terjadi kesalahan dalam pembangunannya. Dalam dunia sipil, tentunya yang paling utama adalah faktor keamanan yang paling diutamakan, dan yang kedua adalah faktor biaya. Namun lain hal nya dalam dunia usaha khususnya usaha dalam bidang properti. Yang paling utamanya tentunya adalah biaya tanpa mengesampingkan faktor keamanan. Maka untuk itu diperlukan kejelian dalam metode pelaksanaannya di lapangan. Kita ambil satu contoh adalah pemilihan perancah. Pemilihan tipe perancah tentunya berdasarkan pada kemampuannya untuk dapat digunakan berulang kali dan kecepatan waktu untuk membongkar pasang, sehingga tentunya dapat mengurangi pembiayaan. 2. ISI 2.1 Pengertian Perancah Perancah merupakan konstruksi pembantu pada pekerjaan bangunan gedung. Perancah dibuat apabila pekerjaan bangunan gedung sudah mencapai ketinggian 2 meter dan tidak dapat dijangkau oleh pekerja. Perancah adalah work platform sementara. Perancah adalah suatu struktur sementara yang digunakan untuk menyangga manusia dan material dalam konstruksi atau perbaikan gedung dan bangunan-bangunan besar lainnya.

2.2 Fungsi Perancah

1. Sebagai tempat untuk bekerja yang aman bagi tukang / pekerja sehingga keselamatan kerja terjamin. 2. Sebagai pelindung bagi pekerja yang lain, seperti pekerja di bawah harus terlindung dari jatuhnya bahan atau alat.

2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Jenis Perancah Setelah penggunaan perancah sebagai penyangga bekisting semakin banyak dilakukan maka dirasakan perlu untuk banyak memperoleh data mengenai kapasitas daya dukungnya sehingga kontrakor diharapkan lebih jeli dan teliti dalam pemilihan perancah. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan jenis perancah antara lain : jenis material perancah, metode pelaksanaan. 2.3.1 Jenis Material Perancah a. Kayu dan bambu sebagai bahan bangunan perancah Untuk perancah dari bambu atau kayu pada pangkalnya harus > 7 cm. Yang menentukan kekuatan pada batang panjang ini adalah faktor tekuk. Untuk mengatasi hal tersebut, tiang perancah diikat pada setiap batang pegangan dan batang memanjang horizontal untuk lantai kerja perancah sehinnga kekokohan perancah terjamin. Bagian kaki tiang selalu harus ditanam dalam tanah atau diikat sehingga tidak bergeseran. Bambu harus tua, berwarna kuning jernih atau hijau tua, berbintik-bintik putih pada pangkalnya, berserat padat, permukaannya mengkilat . b. Pipa baja sebagai bahan bangunan perancah Pipa baja yang digunakan untuk membangun perancah berukuran minimal 1'' ( garis tengah luar 48,3 mm dengan tebal dinding 3,25 mm). Ukuran ini dapat diperkecil ( 1'') jika digunakan kerangka perancah dari pipa baja yang dapat di sambung-pasang dan yang penggunaannya terbatas pada ketinggian 6,00 m ( 3 elemen ) (Heinz Frick, 1996 ). a. Adjustable base jack Merupakan pangkal dari perancah, berfungsi sebagai kaki yang dapat diatur ketinggiannya.

b. Walk thru frame

Merupakan komponen inti dalam bagian perancah, karena fungsinya untuk mengatur ketinggian dan lebar pada bangunan perancah. Bila tingggi kurang memenuhi dapat digunakan double main frame kearah vertikal. Bila lebar kurang mencukupi dapat juga dilakukan double main frame pada arah horizontal. Dapat juga digunakan sebagai akses lalu lintas kerja vertical ( tangga darurat ).

c. Cross brace Sebagai penghubung antara main frame vertikal dan horizontal supaya tegak lurus dan terjaga kekokohannya.

d. Adjustable U-head Berhubungan langsung dengan bekisting, dapat diatur kekencngannya sehinggga pada saat pengecoran bekisting kestabilan bekisting dapat terjaga.

Perancah dari baja memiliki beberapa kelebihan dibanding penyangga tradisional yang menggunakan kayu. Perancah dari pipa baja dapat digunakan berulang kali, dapat digunakan diluar maupun didalam ruangan, lebih ekonomis karena mengurangi upah tukang kayu, memiliki bentuk yang relatif lebih rapi. Dengan kelebihan-kelebihan tersebut di atas maka penggunaan perancah sebagai alat bantu serta alat penyangga dan penopang semakin luas dan disukai kontraktor. Pemilihan material perancah dilakukan berdasarkan besarnya beban yang akan dipikul, biaya yang ekonomis, waktu yang efektif ( kemudahan dalam pemasangan ), ketahanan terhadap korosi, kemudahan pengadaan barang serta keselamatan kerja.

2.3.2. Metode Pelaksanaan Berikut aspek metode yang perlu diperhatikan yaitu : 1. Aspek biaya, hasil dari review harus tercapai biaya yang lebih murah. 2. Aspek kemudahan, bahan, peralatan, dan cara pengerjaannya harus lebih mudah diaplikasikan. 3. Aspek kecepatan, waktu pelaksanaan harus lebih cepat. 4. Seleksi, mengidentifikasi metode-metode yang biayanya tinggi.

5. Informasi, dengan menentukan fungsi primernya, kemudian kumpulkan informasi sumber dayanya ( biaya, bahan, alat, cara ). 6. Analisis, menyeleksi alternatif yang ada, bandingkan fungsi dan biayanya, cari alternatif yang baik. 7. Presentasi, mengusulkan metode untuk dilaksanakan, dengan memberikan penjelasan mengapa alternatif ini yang terbaik, dan berapa biaya yang dapat dihemat. 8. Pelaksanaan, setelah sepakat, laksanakan metode sesuai rencana.

Tiga persyaratan dasar yang harus dipenuhi oleh perancah adalah memberi daya dukung yang aman, tidak menimbulkan goyangan, dan memiliki biaya yang terendah . Untuk mencapai kondisi daya dukung aman dan tidak menimbulkan goyangan, maka perlu diperhatikan cara perletakan base daripada perancah yang bergantung pada daya dukung tanah dibawahnya. Terdapat empat cara perletakkan base pada perancah yaitu : 1. Base diletakkan pada sebuah tempat yang diisi penuh dengan pasir. 2. Base diletakkan diatas tumpuan beton dengan pengaku horizontal supaya tidak bergoyang. 3. Base diletakkan diatas tumpuan pada lubang yang sudah digali lalu diisi tanah urugan yang dipadamkan. 4. Base dimasukkan langsung, dimasukkan kedalam tanah dengan kedalaman tertentu (untuk tanah keras). Betapa pentingnya faktor perancah dalam proses pembangunan suatu proyek, menyebabkan ketepatan pemilihan jenis perancah yang akan dipakai harus diperhatikan dengan baik, sebab jika tidak tepat maka akan dapat menyebabkan kegagalan perancah yang dapat berakibat pembengkakan biaya dan waktu. Kegagalan perancah seringkali disebabkan hal-hal berikut : 1. Material yang gagal Kegagalan ini disebabkan oleh pemakaian kembali suatu perancah yang tidak layak pakai dalam hal untuk mengurangi biaya proyek. Perancah yang tidak layak ini seperti berkarat dan perancah yang melengkung atau tidak lurus. 2. Kurangnya komponen yang diperlukan Hal ini pada umumnya disebabkan oleh para pekerja yang teledor selama pemasangan. Juga dapat disebabkan oleh kurangnya komponen dalam suatu perancah. 3. Beban yang berlebihan

Penggunaan platform sebagai peletakan material dan peralatan sementara yang menyebabkan perancah memikul beban terlalu berat. 4. Renovasi tak memenuhi syarat Modifikasi tanpa seizin konsultan selama pelaksanaan. Hal ini akan dapat menyebabkan struktur menjadi tidak stabil dan mengalami perubahan bentuk dan fungsi. 5. Peristiwa yang tidak terduga Hal ini disebabkan oleh pengaturan set lay-out yang tidak seimbang (biasanya terjadi pada base yang miring, hal ini jarang menjadi perhatian atau sering diabaikan ) pada lokasi konstruksi. 6. Cuaca Faktor cuaca sangat penting karena perancah dari besi mempunyai kelemahan yaitu korosi, sehingga harus diberi pelindung 7. Kondisi tanah Berhubungan dengan bearing capacity. 8. Ikatan pada dinding yang kurang kuat. Gambar 2.10. dijelaskan bahwa pergerakan struktur perancah ini ada dua, yaitu arah horizontal dan vertikal. Pada pergerakan horizontal bila menggunakan perancah konvensional dapat dilakukan dengan tenaga manusia dan menempatkan posisinya sesuai dengan as-nya. Sedangkan pergerakan arah vertikal dapat dibedakan menjadi dua jenis : 1. Pergerakan vertikal ditempat untuk mencapai elevasi yang diperlukan. 2. Pergerakan vertikal pindah lantai di atasnya untuk melayani pekerjaan cetakan yang serupa (tipikal) pada lantai diatasnya. Pergerakan ini cukup besar sehingga perlu kehati-hatian agar struktur tidak rusak dan untuk melaksanakannya diperlukan tower crane .

2.4 Jenis-jenis Perancah

1. Perancah Andang. Perancah atau andang digunakan pada pekerjaan yang tingginya 2,5 3 m. Apabila pekerjaan lebih tinggi maka tidak digunakan andang lagi. Macam - macam perancah andang:

Perancah andang kayu cara membuatnya cepat dan dapat dipindah pindahkan. Untuk tinggi perancah tetap tidak dapat disetel. Biasanya pada pekerjaan yang tingginya

tidak lebih dari 3 m, untuk pekerjaan lebih tinggi dari 3 m menggunakan perancah tiang.

Perancah andang bambu dapat dipindah-pindah dan sebagai pengikatnya memakai tali ijuk, karena tali ijuk ini tahan terhadap air, panas dsb. Pada perancah andang bambu ini sudah disetel terlebih dahulu, sehingga tinggi dan panjangnya tidak dapat distel kembali. Biasanya andang bambu dapat dipakai pada ketinggian pekerjaan tidak lebih dari 3 m, mengenai kaki andang bambu ada yang pakai 2 atau 3 pasang.

Perancah besi sangat praktis dan efisien karena pemasangannya mudah dan dapat dipindah-pindahkan.Tinggi perancah besi dapat disetel untuk jarak kaki perancah yang satu dengan yang lain hingga 180 cm dengan tebal papan 3cm.

2. Perancah Tiang. Perancah tiang digunakan apabila pekerjaan sudah mencapai diatas 3 m, Perancah tiang bisa dibuat sampai 10 m lebih tergantung dari kebutuhan. Perancah tiang ada 3 macam:

a. Perancah tiang dari bambu.

Pada umumnya perancah bambu banyak dipakai oleh pekerja di lapangan, baik pada bangunan bertingkat maupun tidak. Alasannya adalah:

Bambu mudah didapat, kuat, dan murah. Pemasangan perancah bambu mudah dibongkar dan dapat dipasang kembali tanpa merusak bambu. Bahan pengikatnya pakai tali ijuk.

b. Sistem perancah bambu dengan konsol dari besi.

Sistem perancah bambu dengan konsol besi hanya ditahan oleh satu tiang bambu saja, berbeda dengan perancah yang ditahan oleh beberapa tiang. Keuntungannya adalah sbb :

Tidak terlalu banyak bambu yang dibutuhkan, Cara pemasangannya lebih cepat daripada perancah bambu, Lebih praktis dan menghemat tempat. Pemasangan konsol dapat dipindah dari tingkat 1 ketingkat diatasnya, Untuk tiang bambu tidak perlu dipotong,

c. Perancah tiang besi atau pipa.

Pada perancah tiang dari besi atau pipa alat penyambungnya memakai kopling, untuk penyetelannya lebih cepat dibandingkan perancah tiang bambu.

3. Perancah Besi Beroda

Perancah besi beroda ini terbuat dari pipa galvanis. Pada perancah besi beroda dapat dipasang di lapangan atau didalam ruangan. Fungsi rodanya adalah untuk memindahkan perancah. Pada perancah besi beroda sedikit lain dari perancah yang ada, karena disini bagian-bagian dari tiangnya sudah berbentuk kusen, sehingga penyetelan / pemasangannya lebih mudah dan praktis. 4. Perancah Besi tanpa Roda.

Perancah ini terdiri dari komponen-komponen; Kaki pipa berulir, kusen bangunan, penguat vertikal, tiang sandaran, sambungan pasak, papan panggung, panggung datar, Papan pengaman, tiang sandaran, penutup sandaran, konsol penyambung, penopang, konsol keluar, tiang sandaran tangga, pinggiran tangga, anak tangga, sandaran tangga, dan sandaran dobel. 5. Perancah Menggantung

Pada perancah menggantung digunakan pada pekerjaan pemasangan eternit, pekerjaan finishing pengecatan eternit, plat beton, dst. Jadi perancah menggantung digunakan pada pekerjaan bagian atas saja dan pelaksanaannya perancah digantungkan pada bagian atas bangunan dengan memakai tali atau rantai besi.

6. Perancah Frame Frame ini biasanya terbuat dari pipa atau tabung logam. Perancah ini dapat disusun sedemikian rupa menjadi satu kesatuan perancah yang tinggi untuk menopang pekerja dalam kegiatan konstruksi berlokasi tinggi.

7. Perancah Dolken Merupakan perancah yang berbahan kayu dolken. Kayu bulat/ dolken Biasanya digunakan untuk tiang-tiang perancah dan ukuran yang biasanya digunakan adalah berdiameter 6 10 cm.

8. Two Point Adjustable Suspension Scaffold

9. Strip Board One Side Scaffold

10. Auxiliary Fixtures For Pipe Scaffolding

11. Bracket One Side Scaffold

12. Independent Scaffold

Suatu perancah dengan dua baris standar jarak 1.2m Mempunyai daya dukung sendiri Satu baris mendukung bagian luar dan bagian dalam dari deck dengan jarak 1.2m hingga 2.4m Balok lintang tidak dipasang ke dinding dari gedung Tetapi tidak berdiri sendiri, ini ditopang oleh struktur gedung Independent scaffold memerlukan ties untuk stabilitas lateral. Tanpa beban vertikal yang dialihkan pada gedung. Pasangan standards yang dihubungkan dengan gedung sejajar horizontal dengan horizontal tubes called ledgers. Ledgers berjarak vertikal pada the working height of 2m. Bagian dalam dan luar dari standar (tiang) dihubungkan dengan dengan transoms. Transoms umumnya dihubungkan dengan dengan standar di atas ledgers. Transoms dapat berjarak dari tiang 250mm untuk menyesuaikan panjang papan.

13. Birdcage Scaffold

Terdiri dari dua baris tiang yang semuanya dihubungkan dengan Ledgers, Transoms and Braces Biasanya digunakan pada pemasangan plafon dan pengecatan. Hand rail and toe boards dipasang di bagian luar dari perimeter dari scaffold platform

14. Access Tower Scaffold

Scaffold yang hanya digunakan untuk access. Digunakan untuk menimbun material atau peralatan tidak diperbolehkan. Dibangun dengan pipa-pipa dan fittings atau berupa modul-modul A-Frames. Terutama digunakan untuk safe access to elevated areas. Access menggunakan tangga atau papan-papan Aluminium steps setiap level. Tidak diperuntukkan sebagai papan kerja. Tergantug dari tingginya access tower umumnya ringan dan digunakan untuk medium duty. Bila lebih dari 15m harus diperhitungkan dan di setujui penanggung jawab. Handrail, mid-rails and kick boards harus dipasang pada setiap level. Tower harus dikencangkan (secured) dengan gedung atau structure setiap dua lift. Tower tidak dapat berdiri sendiri. Pembebanan peralatan or materials menggunakan tower ini tidak praktis.

Ladders harus bersandar pada sudut 1-4 lean, not vertical Ladders harus dikencangkan pada top and bottom.

15. Cantilever Scaffold

Cantilever scaffold ditopangkan atau disangga pada salah satu ujungnya

Cantilever scaffold umumnya dibangun dengan pipa (tubular) dan fittings, tetapi sistem lain dari scaffod dapat digunakan juga.

16. Putlog Scaffold

Ditumpu oleh jajaran tiang sebelah dan yang sebelah ditopang oleh gedung, berbeda dari independent scaffold. Jajaran tiang berjarak from 1.5 to 2.1m apart. Scaffold didirikan 1.2 m dari dinding structure Ledgers dipasang pada tiang Ketinggian Lift 1.8 to 2m. Putlog tubes dipasang (ditempelkan) pada tiang. Panjang pipa (Transoms) 1.5m

17. Suspended Scaffold

Suspended scaffold ditopang dari atas Tidak ada penyangga dari bawah Digunakan pada bukaan yang tinggi Panjang suspended scaffold tidak boleh lebih dari 6m Semua suspended tubes perlu selalu diperiksa safety fittings Digunakan terutama pada tempat di atas air dimana scaffolding tidak dapat dibangunan di atas tanah

18. Mobile Scaffold

Mobile work platform digunakan pekerjaan yang pindah dari satu tempat ke tempat lain Alasnya harus 2 kali lipat tingginya untuk yang lebih tinggi lebih dari 3 m Tiang-tiangnya dipasang dengan roda Penggunaan ban (berisi angin) tidak diperkenankan Caster wheels harus mempunyai manual brake untuk lock wheels in place. Biasanya menggunakan concrete floors atau hard surfaces untuk mempermudah moveability

contoh mobile scaffold:

Castor wheels (roda) harus mempunyai locking brake Jumlah roda tidak dibatasi sesuai kebutuhan Ladder access dapat ditambahkan Plan, side and heel and toe bracing harus dipasang sebagai bagian dari scaffold