Teknologi Kampung

Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Warisan

02

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

03

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Warisan Teknologi Kampung

Penggagas: Darius Pasago Pasaribu Penyelia: Bambang Adya Yatmaka Darius Pasago Pasaribu Djasli Djamarus Zukri Saad Penulis: Zainal Arifin Anis (Koordinator) Asman Aziz Nasrullah Syaharuddin Penyunting: Karlina Supelli (Koordinator) Baby Ahnan Karina Roosvita Indirasari Roedy Haryo Widjono Penyunting Foto: Rangga Purbaya

Peneliti: Djasli Djamarus (Koordinator) Arifin Anis, MZ Azman Azis Nasrullah Syaharudin Arafah Fotografer: Rangga Purbaya Steve Pillar Susi Abdurahman Ilustrator: Bambang Adya Yatmaka Eddi B. Handono Desain Grafis: Azis Karuniawan Bambang Adya Yatmaka Wiwit

Foto Cover: Doh Ding, menganyam tikar di kampung Long Tuyoq, Kutai Barat.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur © PT Kaltim Pasifik Amoniak Published by: PT Kaltim Pasifik Amoniak Penyunting: Karlina Supelli (Koordinator) Baby Ahnan Karina Roosvita Indirasari Roedy Haryo Widjono Design by: Edelman www.edelman.co.id Cetakan kedua, 2013 294 pages; 28 x 28 cm

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

PT Kaltim Pasifik Amoniak

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

06

Daftar Isi
Daftar Isi Kata Pengantar Presiden Direktur Kata Pengantar Vice President Manufacturing Kata Pengantar Walikota Bontang Kata Pengantar Pembina Dewan Adat Dayak Kalimantan Timur I. Menyusuri Pemukiman Dayak Menyigi Teknologi Dayak Mengungkap Teknologi Dayak Susunan Laporan II. Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung Teknologi Pemukiman Lamin alias Rumah Panjang Amin Dadu Long Anai Lamin Pepas Eheng Lamin Pintuq dan Benung Bentuk dan Bagian-Bagian Lamin Mendirikan Lamin Pelangi, Purnama dan Pungguk Rumah Tunggal Dari Lamin ke Balai Ukiran Pembawa Pesan Teknologi Dapur Struktur Tungku Api Ragam Peralatan Dapur Teknologi Benda-Benda Tajam Teknologi Penyimpanan Air dan Beras Teknologi Pengolahan Makanan Makanan Pokok dan Lauk Pauk Pengolahan Makanan Sehari-hari Teknologi Pembuatan Gula Teknik Pembuatan Buraq Teknik Pengawetan Daging Teknik Pembuatan Garam Cara Beternak 06 10 12 15 17 21 25 29 40 43 45 45 58 59 61 62 62 74 75 80 90 92 92 93 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

07

Teknologi Berladang Teknologi Benda Tajam Mandau Kelabit Peralatan Berburu Sumpit Beracun Nyatap (Tombak) Peralatan Penangkap Ikan Serapang Jebakan Ikan Tuba Sepu dan Jerat Dari Tongko Hingga Apit Perangkat Isyarat Ragam Transportasi Busana dan Perlengkapannya Baju Cawat Manik-Manik Pelindung Kepala Tapung Puk Seraung Bluko Ne Tato yang Sarat Makna Tas Punggung Ragam Keranjang Gendongan Anak Peralatan Belian Guna-Guna Menangani Sakit Jiwa III. Temuan yang berpotensi dikembangkan Obat Sakit Mata Obat Sakit Perut Obat Demam Obat Malaria dan Tifus Obat TBC dan Asma Obat Batuk Obat Kolesterol dan Tekanan Darah Tinggi

105 114 114 122 124 125 130 134 134 137 138 139 140 148 150 158 158 159 160 162 162 162 163 164 168 168 170 174 178 179 181 184 187 188 189 190 191 192

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

08

Obat Luka Bakar dan Sengatan Lebah Ramuan Kebugaran dan Lemah Syahwat Ramuan Memperlancar Haid dan ASI Obat Asam Urat Obat Sakit Pinggang dan Patah Tulang Obat Terkilir Ramuan Penghilang Bercak di Wajah Obat Penghilang Rasa Nyeri, Pedas dan Obat Luka Luar Obat Luka Dalam Perut Obat Sakit Lambung Obat Pendarahan Rahim Ramuan Pembersih Setelah Melahirkan Ramuan Memperkuat Kehamilan Ramuan Kontrasepsi Alami Obat Keputihan Penyedap Masakan Pengawet Daging Racun Ikan Racun Sumpit Racun Ringan Sampo Anti Ketombe Minyak Rambut Penghilang Bau Mayat Pewarna Ulap Doyo Sung Baloq Kisar Penggiling Gabah IV. Jerit Sepanjang Mahakam Ceritera Lain di Sebalik Penelitian Di Lung Anai Menuju Sendawar Di Tanjung Isuy Menuju Benung Dari Tering sampai Tiong Ohang Pengangkut Batubara Di Long Pahangai dan Long Apari Daftar Pustaka Wawancara Indeks foto

193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 218 223 224 239 240 241 242 244 245 246 247 252 252 253

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

09

Pelujuk,
(Rangga Purbaya)

Kepala adat desa Lung Anai, Kutai Barat.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

10

Kata Pengantar

Sambutan Presiden Direktur

Saya senang sekali dapat menerbitkan buku ‘Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur’ oleh KPA ini. Seperti kita ketahui, terdapat bermacam suku, budaya dan bahasa di Indonesia, khususnya di sepanjang daerah aliran Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, yang merupakan tempat berakarnya berbagai budaya Dayak. Sayangnya, arus globalisasi di bidang ekonomi, budaya dan bahasa tampak mengancam warisan yang sangat berharga dan langka, yang semuanya itu merupakan dampak dari pemanfaatan sumber daya alam dan persaingan pasar. Bila kita berdiam diri saja maka berbagai budaya suku-suku Dayak tersebut akan lenyap. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk memasukkan dalam salah satu program CSR kami, suatu upaya untuk mendokumentasikan sejumlah warisan teknologi yang luar biasa dari budaya Dayak ke dalam sebuah buku, sehingga para pemangku kita dapat melestarikannya. Buku ini berisi banyak budaya tradisional yang menjadi warisan suku-suku Dayak di Sungai Mahakam dan menggambarkan beragam makanan, festival, obat-obatan dan bahasa. Buku ini membuat kita menemukan kembali berbagai teknologi yang terdapat dalam kebudayaan Dayak. Dan bila kita tidak mengenal kebudayaan tersebut, maka kita pasti terkejut dan langsung berminat untuk mengenalnya. Kami sangat menghargai buku ‘Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur’ ini yang dapat meningkatkan upaya pelestarian alam dan teknologi dalam budaya Dayak yang sedang terancam.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kata Pengantar

11

Akhir kata, banyak staf KPA telah memberikan dukungan untuk penerbitan buku ini melalui berbagai kegiatan, seperti mengumpulkan informasi dan data dengan langsung terjun ke pedalaman, melakukan pemeriksaan naskah, dan mengerjakan tata letak gambar. Saya juga sangat menghargai kontribusi mereka sehingga buku ini dapat diterbitkan. Salam

M. Kaneta President Director of Kaltim Pasifik Amoniak

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

12

Kata Pengantar

Sambutan Vice President Manufacturing

Salam Sejahtera

Hari ini, 67 tahun sudah Bangsa Indonesia merdeka. Selama itu pula Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah melalui berbagai tahapan/orde kepemimpinan/pemerintahan yang berbeda, sesuai dengan tantangan zaman dan karakter pemimpinnya. Bisa dikatakan bahwa periode ini adalah periode yang sarat dengan tantangan sosial, politik, ekonomi, hukum dan budaya, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Salah satu tantangan dari luar negeri adalah maraknya pengakuan negara tetangga, Malaysia, akan budaya dan produk-produk tradisional Bangsa Indonesia. Sebagai kumpulan anak-anak bangsa yang tergabung dalam PT Kaltim Pasifik Amoniak (KPA), kami menyadari betapa kayanya budaya bangsa ini. Sayangnya, teknologi tradisional khususnya yang secara umum dan luas telah diketahui oleh masyarakat Dayak Kalimantan Timur, sangatlah jarang diinventarisasikan dan didokumentasikan dengan baik. Sementara usia para ahli-ahli lokal semakin lanjut dan arus “modernisasi” telah membuat generasi muda melupakan apa yang telah dimiliki pendahulunya. Pengalihan hutan menjadi kebun mono-kultur yang menyebabkan hilangnya bahan baku untuk teknologi kampung juga merupakan faktor pendorong sirnanya pemahaman tentang teknologi kampung tersebut. Betapa sedikitnya minat kita untuk mematenkan produk-produk tradisional di bidang pengobatan, tekstil, pangan dan bahkan mungkin teknologi material yang sudah membudaya sejak seribu tahun yang lalu, dan mengembangkannya menjadi produk massal yang

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kata Pengantar

13

berkelanjutan (sustainable) dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi untuk kepentingan masyarakat. Di lain pihak, banyak peneliti dari negara maju seperti Jepang, Kanada dan Amerika yang berlama-lama bermukim di pedalaman Kalimantan Timur untuk melakukan berbagai penelitian, mengindikasikan demikian banyaknya potensi alam dan budaya Dayak di Kalimantan Timur yang dapat dikembangkan menjadi produk industri yang diperlukan oleh penghuni dunia ini. Mengejar ketertinggalan ini, sebagai perusahaan yang beroperasi di kota Bontang, Kalimantan Timur, KPA telah memfokuskan salah satu kegiatan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility – CSR) untuk melakukan inventarisasi teknologi Dayak di Kalimantan Timur. Kegiatan ini menghasilkan sebuah buku yang kami beri judul “Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur”. Buku ini berupaya untuk mendokumentasikan berbagai teknologi kampung Masyarakat Dayak di Kalimantan Timur, yang kami nilai berpotensi untuk dikembangkan. Di dalam buku ini terdapat informasi dasar seperti bahan baku, proses tradisional, penggunaan ataupun khasiat dari produk teknologi kampung masyarakat Dayak Kalimantan Timur yang kami kumpulkan melalui survei, wawancara dan kajian pustaka yang kami uraikan dan sertakan dalam buku ini. Kami berharap buku ini dapat menjadi pintu masuk dan rujukan awal bagi para peneliti dan ilmuwan di universitas dan lembaga penelitian, pengembang produk di perusahaan, pimpinan pemerintah dan masyarakat ataupun siapa saja yang berkepentingan. Kami akan sangat bahagia apabila apa yang telah kami lakukan ini dapat dilanjutkan dengan upaya berikutnya seperti pematenan, peningkatan skala produksi, peningkatan nilai tambah atau nilai dagang dari apa-apa yang kami inventariskan ini. Akhir kata, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada para pemegang saham KPA (Mitsui Co. Ltd. Dan Toyota Tusho) yang mendukung program CSR kami, Bapak Gubernur Kalimantan Timur, Dr. H. Awang Farouk Ishak, M.Si, Bapak Ir. H. Dharma M.Si, Walikota Bontang yang selalu memberikan dukungan terhadap aktifitas CSR kami, Bapak Drs. Yurnalis Ngayoh, MM selaku Ketua Dewan Adat Dayak Kalimantan Timur yang memberikan surat rekomendasi dukungan proses pencarian data dan informasi di pedalaman Kalimantan

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

14

Kata Pengantar

Timur, juga kepada semua tim yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran mulai dari tahap perancangan, ide, perencanaan survei, penulisan, penyuntingan serta pencetakan buku. Kepada sahabat saya ITB angkatan 77, Yayak (Kencrit) yang kami juluki “Manusia Setengah Dewa” selama di pedalaman Kalimantan Timur dan Djasli Djamarus yang mengkoordinasikan pelaksanaan survei, penelitian dan penulisan buku, serta Karnila Supeli yang selalu memberikan dorongan dan pertimbangan-pertimbangan yang lebih luas sekaligus melakukan penyuntingan akhir, saya ucapkan banyak terima kasih. Saya bersyukur persahabatan kita tidak hanya pertemanan belaka, tetapi pertemanan yang mudah-mudahan bisa menghasilkan manfaat bagi masyarakat dan bangsa. Semoga Tuhan Yang Maha Esa meridhoi apa yang kami perbuat ini, dan kemudian memberkati bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar, yang bisa menjadi contoh kemajuan kemanusiaan secara serasi, dan megayomi seluruh bangsa di dunia.

Darius Pasaribu Vice President manufacturing KPA

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kata Pengantar

15

Sambutan Walikota Bontang

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, saya atas nama Pemerintah dan Masyarakat Kota Bontang menyampaikan ucapan terima kasih dan selamat atas penerbitan buku “Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur” oleh PT. Kaltim Pasifik Amoniak (KPA), sebagai salah satu wujud program Corporate Social Responsibility (CSR). Apresiasi ini perlu saya sampaikan karena penerbitan buku ini merupakan bukti kepedulian KPA yang berupaya memberikan kontribusi untuk mengangkat nilai-nilai budaya masyarakat yang ada di Kalimantan Timur, khususnya masyarakat Dayak Kalimantan Timur. Pembangunan yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Bontang selama ini akan terus berlanjut dan akan semakin digalakkan, terlebih karena masih banyak potensi dari berbagai sumber daya yang belum termanfaatkan secara optimal. Untuk itu, Pemerintah Kota Bontang selalu bersinergi dengan perusahaan-perusahaan yang ada di Kota Bontang, salah satunya adalah KPA, dalam mewujudkan pembangunan yang berbudaya dan berwawasan lingkungan, dengan mengedepankan kearifan lokal. Sebagai anak bangsa yang terlahir dan dewasa di bumi pertiwi, kita sudah sepatutnya bersyukur atas segala anugerah yang dilimpahkan Allah SWT di atas hamparan tanah dan lautan yang memiliki berjuta macam potensi sumber daya alam yang berada di bawah kedalaman lautan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita pun patut berbangga atas kewenangan otonomi yang diberikan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, suatu kepercayaan yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Di antara untaian anugerah tersebut, bumi Kalimantan Timur merupakan wilayah yang sangat terkenal akan kekayaan potensi alamnya, berupa minyak bumi, gas alam, batu bara dan berbagai bahan tambang/ galian lainnya. Namun, kita harus menyadari bahwa di samping sumber daya alam yang sifatnya tidak terbarukan tersebut, kita juga memiliki potensi luar biasa yang bersifat terbarukan atau renewable, yakni potensi adat dan budaya. Sejarah peradaban umat manusia selalu meninggalkan jejak bagi generasi sesudahnya. Namun hanya generasi yang memiliki itikad rasa mencintai dan tekad untuk menjaga peradaban, yang akan mampu

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

16

Kata Pengantar

menginventarisasi sekaligus mengembangkan adat dan budaya leluhurnya sebagai sebuah warisan agung yang memiliki nilai historis. Sebagai bangsa yang besar, kita sudah selayaknya mengumandangkan semangat “kubangun, kujaga dan kubela” atas hak paten dan budaya kita tersebut. Adanya pengakuan sepihak dari negeri jiran yang mengklaim kepemilikan adat budaya kita harus dijawab dengan cara yang berbudaya. Amarah yang menggelegar bukanlah sebuah solusi. Perlu kearifan dan hasil nyata yang bersumber dari kesungguhan untuk menampilkan rangkaian dokumentasi yang menjadi bukti literatur yang dapat dilihat oleh seluruh dunia. Tantangan ke depan akan semakin besar - arus globalisasi harus dihadapai dengan keseriusan dan profesionalisme dalam koridor dunia hukum internasional. Menyikapi kondisi tersebut, saya sangat berharap peran dari para akademisi, peneliti, politisi dan birokrat, serta seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) untuk proaktif melakukan legalisasi hak paten terhadap berbagai adat, budaya dan produk tradisional, khususnya yang dimiliki oleh masyarakat adat Dayak Kalimantan Timur. Buku “Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur” ini, yang mencoba untuk memperkenalkan gambaran mengenai kehidupan, seni dan budaya masyarakat Dayak Kalimantan Timur beserta dengan segala potensi yang dimilikinya, akan dapat memberikan manfaat positif berupa informasi dan promosi yang akan menjadi daya tarik tersendiri, baik bagi wisatawan maupun investor. Disamping itu, upaya pelestarian lingkungan yang dikupas secara detail dalam buku ini akan memberi pemahaman bagi kita sebagai umat manusia untuk mencintai alam beserta isinya, yang akan kita wariskan kepada generasi yang akan datang, demi kelangsungan hidup yang berkualitas. Hal ini sangat sejalan dengan salah satu dari enam program prioritas pembangunan Kota Bontang, yaitu, Pelestarian Lingkungan Hidup. Semoga langkah yang telah ditorehkan oleh KPA ini akan menjadi lokomotif yang diikuti oleh perusahaan-perusahaan lain untuk memberi andil dan peran nyata terhadap nilai-nilai futuristik yang telah tumbuh dan berkembang di “bumi ruhui rahayu” tercinta ini. Untuk mencapai cita-cita yang dimaksud, sangat diperlukan adanya kesadaran, dukungan dan kerja sama dari seluruh pemangku kepentingan dalam nuansa semangat Bessai Berinta. Dan semoga dengan diterbitkannya buku ini, Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita semua untuk bersama-sama mewujudkan Kota Bontang yang berbudi luhur, maju, adil dan sejahtera. Dengan demikian, kota ini dapat memberikan karya terbaik bagi Kalimantan Timur dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semoga ridho Allah SWT selalu menyertai usaha kita semua. Bontang, Juli 2012

Ir. H. Adi Darma, M.Si Walikota Bontang

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kata Pengantar

17

E

W

AN

A D AT D AY
A

D

IN

SI

K A LI M A N TA

N

Sambutan Pembina Dewan Adat Dayak Kalimantan Timur

IM
T

UR

K

Melalui penerbitan buku ini, saya ingin mendorong dan memacu semangat serta pemikiran kita semua, terutama pemikiran, semangat dan intensitas kegiatan kecendekiawan masyarakat Dayak dan cendekiawan-cendekiawan Dayak, untuk terus mengintensifkan penggalian, penelitian, pengkajian dan penerbitan seni, budaya, adat-istiadat (kearifan lokal masyarakat Dayak) sehingga dapat diketahui, dipelajari dan menjadi sumbangan pada upaya pembangunan budaya nasional yang tidak lepas dari akar, melainkan tanggap pada perkembangan zaman. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa menyertai serta memberikan hikmat dan kebijaksanaan bagi kita semua dalam upaya melestarikan dan membudayakan kearifan lokal masyarakat Dayak demi kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Dayak dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

DR. Yurnalis Ngayoh,MM Pembina Dewan Adat Dayak Kalimantan Timur

PR
O

P

Pertama-tama, marilah kita ucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, penerbitan buku “Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur” ini dapat terlaksana. Buku ini tentu memiliki nilai dan arti penting bagi upaya pelestarian budaya yang unik dan khas dan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Berbagai budaya tersebut patut dilestarikan karena kekhasan dari masing-masing budaya itu menunjukkan keragaman yang mengandung nilai-nilai yang dapat dimanfaatkan. Terlebih lagi pada perkembangan dewasa ini, era globalisasi seiring dengan kemajuan IPTEK tentu akan dapat mengancam pelestarian nilai-nilai seni, budaya dan adat istiadat yang diwariskan oleh para leluhur.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Suasana pagi hari di tepi sungai Jembayang, Long Anai, Kutai Barat. (Rangga Purbaya)

Panyan, pembuat mandau dan alat pertanian dari Long Anai. (Rangga Purbaya)

01. Menyusuri Pemukiman Dayak
“Guru Besar Kita Adalah Nenek Moyang Kita”
(Revius Mering, Dayak Kenyah)

22

Menyusuri Pemukiman Dayak

Sebagai penduduk asli, orang Dayak menyebut pulau itu “Bagawan Bawi Lewu Telo” (Tjilik Riwut, 2003). Dalam bahasa Dayak Ngaju, Bagawan berarti Pandita Ratu, bawi berarti perempuan, lewu berarti kampung, sedangkan telo berarti tiga. Secara harafiah, sebutan itu berarti “Pandita Ratu yang berkuasa di Tiga Kampung Besar”. Dalam agama Kaharingan, khususnya bagi Dayak Ngaju, dikenal seorang dewi (dewa perempuan) bernama Jata yang tinggal di lubuk sungai yang dalam. Penyebutan “Bagawan Bawi Lewu Telo” kiranya dapat ditafsirkan sebagai penghormatan terhadap dewi Jata yang menghuni lubuk sungai-sungai di tiga kampung besar.

Pelabuhan Tering, Kutai Barat. (Rangga Purbaya)

Kita mengenalnya sebagai Kalimantan, pulau paling luas di Indonesia dan ketiga terbesar di dunia sesudah Greenland dan New Guinea. Dalam bahasa setempat, Kalimantan juga berarti pulau yang memiliki sungaisungai besar. Orang Eropa kerap menyebut Kalimantan sebagai Borneo. Kita juga mengenal Kalimantan melalui peninggalan purbakala yang membawa kita ke peradaban Hindu di Kutai, Kalimantan Timur; sebuah peradaban lampau yang memperkenalkan konsep negara pertama di Nusantara. Pada masa Hindu tertua di Kalimantan, pulau itu disebut Tanjung Negara. Kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, seperti Majapahit dan Sriwijaya, memperluas jangkauannya ke sana. Pada abad ke-16, ketika di pantai selatan dan barat Kalimantan tumbuh berbagai kesultanan seperti Kesultanan Banjarmasin, Pontianak, Sambas, Pasir, Sukadana, Kutai, Sambaliung, Gunung Tabur, Bulungan dan Berau Barat. Bangsa Eropa pun berdatangan dan menanamkan

Ilustrasi: pulau Kalimantan

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

23

kekuasaannya. Orang Eropa pertama yang mengunjungi Kalimantan adalah orang Italia bernama Ludovico (1507), disusul orang Portugis bernama Laurenco de Gomes (1518). Ada dugaan, dari merekalah muncul sebutan Borneo, sebuah kata yang berasal dari Burne, Berunai, Brunei yang pada mulanya merupakan nama sebuah kampung di kawasan utara Kalimatan. Dinamika sejarah Kalimantan terbangun dari interaksi penduduknya dengan orangorang Tiongkok dan Melayu, selain dengan bangsa-bangsa Eropa. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, secara administratif Kalimantan dibagi menjadi WesterafdelingBorneo (Kalimantan Barat) dan Zuider- en Oosterafdeling Borneo

(Kalimantan Selatan dan Timur). Dalam catatan Jan B. Ave yang dikutip Arman (1984), penduduk asli Kalimantan adalah Dayak. Mereka adalah keturunan imigran yang berasal dari wilayah Yunnan di China Selatan. Pada mulanya, para peneliti dari Eropa menggunakan kata Dayak untuk menyebut secara peyoratif masyarakat pribumi di Borneo yang pada masa itu mereka anggap belum beradab. Penilaian itu tampaknya muncul dari penafsiran mereka atas konsep peradaban, yang semata-mata mengacu ke peradaban Eropa. Akibatnya, mereka mengenakan predikat tidak beradab kepada masyarakat yang perkembangan kebudayaannya berbeda.

Batuan ini dinamai Batoq Tepakit Lejo (batu lompatan harimau), berkaitan dengan legenda Gunung Batoq Ayo. Konon batu ini digunakan oleh harimau peliharaan raja Batoq Ayo untuk melompat menyeberangi Mahakam. (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Atas Kiri : Tim peneliti sedang mewawancarai Lama, kepala adat desa Benung, Kutai Barat. (Rangga Purbaya) Atas Kanan : Banyak, sedang memperagakan pembuatan jebakan hewan. (Rangga Purbaya)

August Harderland (1859) memperkenalkan pengertian yang berbeda bagi kata ‘Dayak’. Harderland, sebagaimana dikutip Ukur (1971), menunjukkan bahwa penduduk pribumi pada mulanya menamakan suku mereka sesuai dengan nama wilayah kediaman mereka masing-masing, yang umumnya berada di tepi sungai. Misalnya sebutan Oloh (orang) Kahayan dan Oloh Barito digunakan bagi komunitas yang menghuni kawasan sekitar Sungai Kahayan dan Sungai Barito, sedangkan orang Tering adalah sebutan untuk komunitas yang menetap di sekitar di Sungai Tering. Mikhail Coomans (1987) menggunakan istilah ‘Daya’, yang berarti pedalaman atau hulu, untuk menyebut penduduk asli Kalimantan Daya atau orang-orang yang mendiami wilayah hulu sungai. Coomans juga mengatakan bahwa Daya adalah

sebutan bagi semua orang yang menghuni pedalaman Kalimantan yang tidak beragama Islam, sedangkan Haloq adalah sebutan bagi pemeluk agama Islam. H. J. Mallinckrodt (1928) membagi rumpun suku (stammenras) Dayak menjadi enam, yaitu (1) Kenyah-Kayan-Bahau/Wahau, (2) Ot Danum, (3) Iban, (4) Murut, (5) Klementan dan (6) Punan. Pemilahan rumpun-rumpun tersebut merujuk ke persamaan dan perbedaan hukum adat. Setelah menyimak dan mengutip tulisan para ahli sebelumnya, dengan mengacu ke perbedaan budaya, bahasa, serta geografis, Michael Dove (1985) menyimpulkan bahwa ada tiga kelompok besar suku dalam masyarakat Dayak, yaitu (1) kelompok Utara, termasuk Dusun dan Murut, (2) kelompok Selatan termasuk Ngaju dan (3) kelompok

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Menyusuri Pemukiman Dayak

25

Nenek Oey, penenun Ulap Doyo dari Tanjung Isuy, Kutai Barat. (Rangga Purbaya)

Tengah, termasuk Kenyah, Kayan, Kayang dan Iban. Djuweng, dkk. (1994) merujuk ke Tjilik Riwut yang membagi masyarakat Dayak di wilayah Kalimantan Timur ke dalam empat suku besar, yaitu (1) Dayak Kenyah Bahau yang terdiri dari 26 suku-suku kecil yang mendiami kawasan sepanjang sungai Mahakam, (2) Dayak Benuaq, Apu Kayan yang terdiri dari 38 suku-suku kecil yang mendiami wilayah Hulu Mahakam, (3) Dayak Tonyooy/Tunjung Murut termasuk Dayak Idaan di daerah Sandakan dan Dayak Tidung Lenden di daerah Tarakan dan (4) Dayak Bentian, Tidung yang tinggal di Malinau dan Tidung Pale.

Menyigi Teknologi Dayak
Suku bangsa Dayak dikenal memiliki kekayaan tradisi dan budaya. Mereka menguasai sistem ladang berpindah dan memiliki hunian komunal satu atap yang disebut rumah panjang, atau dalam bahasa setempat disebut lamin (Kutai), lou (Benuaq), betang (Ngaju, Manyaan) dan umaq dadoq (Kenyah). Mereka juga mempunyai berbagai macam ramuan dari tumbuh-tumbuhan yang dipercaya dapat menyembuhkan rupa-rupa penyakit. Bagaimanakah cara mereka membuka lahan untuk berladang, mendirikan rumah dan meramu obat dari tumbuhan sekitar? Mereka menerima secara lisan warisan berbagai macam pengetahuan dan teknologi yang mereka kuasai turun-temurun, tetapi tidak mendokumentasikannya secara

Bawah 1: Tim bersama kepala adat desa Damai. (Rangga Purbaya) Bawah 2: Tim bersiap sesaat menuju Hulu Mahakam. (Steve Pillar).

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

RP

Menyusuri Pemukiman Dayak

27

tertulis dan sistematis. Perlahan-lahan namun cukup pasti, teknologi tradisional Dayak akan tergantikan oleh teknologi modern. Padahal, tidak sedikit teknologi orang Dayak yang masih bermanfaat sampai sekarang. Orang Dayak juga memiliki beragam kearifan lokal yang sejauh ini terbukti telah membantu mereka mengatasi kendala yang mereka hadapi sehari-hari. Penyigian (survei) teknologi yang dimiliki orang Dayak di Kalimantan Timur ini, khususnya di Kutai Barat dan Kutai Kartenagara, kami laksanakan dengan harapan teknologi milik suku Dayak dapat dilestarikan dan terus diwariskan. Penyigian ini juga bertujuan untuk mengenali berbagai potensi dalam tradisi Dayak yang punya peluang untuk dikembangkan agar bermanfaat bagi kalangan yang lebih luas.

Kapal penarik gelondongan kayu melintasi batu dinding Mahakam. (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Lumbung desa Lung Anai, Kutai Barat. (Rangga Purbaya)

Menyusuri Pemukiman Dayak

29

Belawing, lambang suku Dayak Kenyah, Lung Anai, Kutai Barat. Mahakam Ulu (Rangga Purbaya)

Mengungkap Teknologi Dayak
Upaya menyigi dan mendokumentasikan Teknologi Dayak berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama berlangsung dari 27 Oktober sampai dengan 8 November 2010. Pada tahap ini, kami mendatangi Desa Budaya Long Anai di Kabupaten Kutai Kartanegara, Museum Kutai di Tenggarong, Kabupaten Kutai dan kelompok suku Tunjung serta Benuaq di Kecamatan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat. Kami juga mengamati kegiatan pengrajin ulap (tenun) doyo di Kecamatan Tanjung Isuy, Kabupaten Kutai Barat, serta mengunjungi Desa Budaya Sungai Bawang di Pampang, Kota Samarinda, untuk mengumpulkan informasi mengenai teknologi suku Dayak Kenyah yang tinggal di sana. Perjalanan kami tempuh dengan menggunakan mobil sewaan, ces (perahu bermesin kecil yang dikenal dengan sebutan ketinting), dan kapal besar. Di Long Anai, kami mendapatkan informasi dari masyarakat Dayak Kenyah tentang teknologi pembuatan kerajinan tradisional, peralatan berladang, manik-manik dan pembuatan mandau. Teknik pembuatan mandau juga kami peroleh dari komunitas Dayak Tunjung dan

Benuaq di Barong Tongkok, bersamaan dengan informasi tentang pembuatan lamin, berbagai ramuan dari tumbuhan, serta sistem religi. Di Tanjung Isuy, kami mengamati teknik pembuatan ulap doyo yang hampir punah karena bahan bakunya semakin langka. Benang untuk menenun ulap doyo berasal dari tanaman doyo (Curculigo latifolia), sejenis perdu yang tumbuh liar di lantai hutan maupun di tepi sungai yang teduh. Pengalihan hutan menjadi lahan produksi dan perkebunan monokultur merusak habitat tanaman ini, sehingga populasi di kawasan yang cukup dekat dengan pedesaaan menurun dengan tajam. Apalagi, tanaman doyo yang tumbuh di lahanlahan perkebunan dianggap sebagai gulma sehingga dibasmi. Penyigian tahap kedua berlangsung mulai 5 Maret hingga 23 Maret 2011. Pada tahap ini, kami memulai penyigian dari desa-desa di Kecamatan Long Hubung, yaitu Datah Bilang Hulu, Datah Bilang Hilir, dan Long Hubung. Lalu di Kecamatan Long Bagun, yaitu desa Ujoh Bilang dan Long Bagun, Kecamatan Long Pahangai yakni di desa Lirung Asa, Long Tuyoq, Long Isun, Long Pahangai dan Long Pakaq, serta desa-desa di Kecamatan Long Apari yaitu Tiong Buu, Tiong Ohang,

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

30

beberapa narasumber yang bertutur dalam bahasa lokal. Para narasumber mengisahkan riwayat migrasi mereka dari Apo Kayan hingga ke Datah Bilang, memaparkan teknik pembuatan alutpasa, yakni perahu panjang yang digunakan Suku Dayak Kenyah Umaq Bakung untuk perlombaan perahu. Mereka juga memaparkan teknik pengolahan getah penjebak burung, pembangunan rumah lamin, pembuatan mandau, tradis, pengobatan dengan tetumbuhan serta sistem peladangan. Di Datah Bilang terdapat organisasi gotong royong bernama Pekua untuk kegiatankegiatan yang berhubungan dengan kepentingan umum. Saat kami berkunjung, Pekua sedang melaksanakan perbaikan atap lamin yang rusak sehingga kami dapat mendokumentasikan pembuatan sirap, wadah makanan dan minuman, seraung (caping Dayak) dan kegiatan masakmemasak. Kami melanjutkan perjalanan ke Long Hubung, kampung hunian orang Dayak Bahau Saq untuk menemui Ding Hat, mantan kepala adat yang disegani, serta M. Jiu, petinggi kampung Long Hubung, dan Cisilia, seorang bidan kampung senior. Kami mendapat informasi tentang ramuan tumbuhan obat, serta teknik pembuatan gula tebu menggunakan penggilingan tradisional kerabatang. Kami juga mencermati tiangtiang panjang yang akan digunakan untuk membuat lamin dan bentuk-bentuk mandau khas Dayak Bahau Saq.

Kapal cepat yang membawa rombongan peneliti beristirahat sejenak sebelum memasuki riam panjang, Mahakam Ulu. (Rangga Purbaya)

dan Naha Buan. Kami juga mengunjungi Tering Seberang (Kecamatan Tering) dan Lambing (Kecamatan Muara Lawa). Kedua desa itu berada di wilayah pedalaman Mahakam, Kabupaten Kutai Barat. Penyigian berakhir di Samarinda. Penggalian informasi dilakukan melalui pengamatan, wawancara dan studi kepustakaan. Desa (lepoq) Datah Bilang Hulu dan Datah Bilang Hilir merupakan pemukiman komunitas Dayak Kenyah Umaq Bakung yang diresmikan tahun 1975 oleh Soeharto, Presiden Republik Indonesia saat itu. Di kedua desa ini kami mengamati pola pemukiman dan perumahan, serta kegiatan sehari-hari masyarakat, baik di kampung maupundi ladang. Kami mewawancarai Pigen (pandai besi di Datah Bilang Hilir), Palamu Alung (Kepala Adat Datah Bilang Hilir), Kulle (Petinggi Datah Bilang Hulu), Revius Mering (tokoh masyarakat Datah Bilang Hulu) serta Charles, guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri, dan Jhonson, seorang pemuda Kenyah yang berasal dari Datah Bilang Hilir. Charles dan Jhonson berperan sebagai penerjemah ketika kami mewawancarai

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Desa Lung Anai tampak sepi, sebagian besar penduduknya pergi bekerja di ladang. (Rangga Purbaya)

Menyusuri Pemukiman Dayak

Air terjun Kenheq di tepi Riam Panjang, hulu Mahakam. (Rangga Purbaya)

Dari Long Hubung kami kembali ke Datah Bilang untuk mengunjungi ladang milik Revius Mering dan Broto yang letaknya bersebelahan. Selama di ladang kami melakukan wawancara untuk mengetahui jenis padi yang dikonsumsi maupun yang dijadikan benih, model lepau (pondok) peristirahatan saat mereka tidak pulang ke desa dan model lepubung (lumbung) penyimpan padi. Kami juga ikut mencari pohon-pohon yang getahnya dijadikan bahan penjerat burung. Revius Mering juga memperlihatkan proses pembuatan obat mata dari tumbuh-tumbuhan di sekitar halaman rumahnya. Selanjutnya kami menuju Kecamatan Long Bagun di kawasan hilir riam Mahakam. Di penginapan kami bertemu Lenardus Janum, warga Long Apar, dari suku Dayak Penihing atau disebut juga Dayak Aoheng. Lenardus memberi informasi tentang kampung Long Apari dan beberapa informan yang dapat kami hubungi. Di Long Bagun kami mendokumentasikan lamin dengan corak Dayak Bahau. Tujuan berikutnya adalah Long Pahangai. Di dermaga tujuan, kami bertemu Peltu

Menyusuri Pemukiman Dayak

33

Sugiarto, Danramil Long Pahangai dan Long Apari, serta Adrianus Liah Belawing, putra Kepala Adat Besar Bahau Busang Mahakam yang sudah kami kenal sejak di Samarinda. Sebelum memulai penyigian, kami mengunjungi Kantor Kecamatan untuk bertemu dengan Tigang Himang, Camat Long Pahangai. Tigang memberikan nama-nama narasumber yang dapat kami wawancarai. Ia juga memberikan informasi tentang ramuan tetumbuhan, teknik pembuatan mandau dan lamin, sistem religi Dayak Bahau Busang serta sejarah komunitas Long Gelat di Mahakam Hulu. Esoknya, bersama Liah, adik ipar Tigang, kami mewawancarai Lawing, mantan Kepala Sekolah Dasar (SD) Long Pahangai, Y. Ngau Ajaat mantan raiders (klasifikasi dalam

tentara di atas infantri) pada masa Dwikora dan mantan Kepala Adat Kampung Long Pahangai. Mereka memaparkan perihal rumah lamin, kerajinan tangan anjat yang terbuat dari rotan, mandau, pengobatan tradisional menggunakan tumbuhan, sape (gitar khas Dayak) dan tradisi dangai (upacara daur hidup). Kami juga mendokumentasikan dua lamin Dayak Bahau Busang, termasuk kegiatan penghuninya. Berbekal informasi dari Y. Ngau Ajaat, kami menuju Lirung Asa, sebuah kawasan peladangan masyarakat Dayak Bahau Busang, menggunakan ces. Kami menemui Hang Beq di pondoknya. Hang Beq adalah seorang pembuat mandau dan topeng hudoq. Wawancara meliputi teknik pembuatan mandau, topeng hudoq, anyaman dari rotan, ramuan tetumbuhan

Atas Kanan: Penginapan terapung di Datah Bilang. (Rangga Purbaya)

34

Menyusuri Pemukiman Dayak

Paling kiri: M Jiu, petinggi kampung Long Hubung. Kedua dari kiri: Kulle, petinggi kampung Datah Bilang. Ketiga dari kiri: Suasana ruang dalam lamin Pepas Eheng, Sendawar, Kutai Barat. (Rangga Purbaya)

dan cara berburu. Tim fotografer membuat foto-foto dapur di pondok Hang Beq. Keesokan harinya kami menuju kampung Long Tuyoq pemukiman komunitas Dayak Bahau Long Gelat. Di lamin Long Tuyoq kami menemui Blawing Belareq, Kepala Adat Besar Bahau Busang Mahakam dan Doh Ding, seorang pengrajin anyaman rotan. Lewat wawancara, kami mendapatkan banyak informasi tentang teknologi pembuatan lamin, ritual adat Kayo, tato, pakaian adat Long Gelat, zat-zat pewarna dan teknik membuat anyaman dari rotan. Dari Long Tuyoq, kami kembali ke Lirung Asa untuk mendokumentasikan cara menempa besi menjadi mandau, menampi

beras dan berbagai informasi mengenai kegiatan sehari-hari penduduk dan peralatan yang mereka gunakan. Kami lalu mendatangi kampung Long Isun dan mewawancarai Lusang Aran, Kepala Adat Bahau Busang Kampung Long Isun dan Kuleh Liah, seorang guru SD. Informasi yang mereka berikan memperdalam pengetahuan kami tentang teknik penganyaman rotan, obat-obatan tradisional, lamin adat, alatalat penangkapan ikan dan lain sebagainya. Dengan menyewa kapal cepat bermesin 400 PK kami menuju Tiong Ohang di Kecamatan Long Apari. Kami singgah dulu di Datah Suling dan Long Lunuk sambil mengantar Belawing. Di Long Lunuk kami membuat

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Menyusuri Pemukiman Dayak

35

dokumentasi minuman tradisional dari beras ketan yang bernama Balo Tau Boraaq, mengamati dan membuat foto lamin tua yang pengikatnya masih memakai tali rotan dan bukan paku, serta ukiran patungpatung Dayak Bahau Busang. Daerah berikutnya yang kami kunjungi adalah Long Pakaq, kampung suku Dayak Kayan. Kami mewawancarai Kepala Adat Kayan yang memiliki mandau tua yang dulu sering digunakan sebagai senjata perang (ayau/mengayau). Pada bilah mandau yang dekat ke gagang, terdapat 90 guratan yang menandakan mandau itu sudah memakan 90 orang korban. Kami juga mewancarai seorang guru SD bernama Yakobus dan membuat dokumentasi berbagai jenis

tumbuhan yang digunakan untuk obat oleh masyarakat Dayak Kayan di Long Pakaq. Dari Long Pakaq kami menuju Tiong Buu dan Tiong Ohang di Kecamatan Long Apari yang dihuni oleh Dayak Aoheng/ Penihing. Kecamatan Long Apari merupakan kecamatan terujung Kalimantan Timur dekat perbatasan Sarawak. Kami melakukan wawancara mendalam dengan Leonardus Janun (pemburu), Devung Anyang (istri almarhum Irang Napap, seorang tokoh adat Penihing), A. Kaya (peladang) dan Fransiscus Jiu, guru Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Long Apari, untuk mengumpulkan informasi mengenai teknik pembuatan mandau, telavang (perisai), obat-obatan tradisional dan baju Dayak Aohen, termasuk pewarna dan pengawetnya.

Paling kanan: Lamin Pintuq, Sendawar, Kutai Barat. Kedua dari kanan: Warga Datah Bilang bergotong royong, orang-orang tua bertugas menyiapkan makan siang. (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

36

Menyusuri Pemukiman Dayak

Perempuan Kenyah menganyam anjat, Lung Anai, Kutai Barat. (Rangga Purbaya)

RP

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Menyusuri Pemukiman Dayak

37

Kiri : Belawing Belareq, Kepala adat besar Bahau. Tengah : Doh Ding, penganyam tikar dan topi dari Long Tuyoq. Bawah: Anak-anak di serambi lamin dadu, Lung Anai. (Rangga Purbaya)

Tujuan selanjutnya adalah kampung Naha Buan untuk mewawancarai Pahang (petinggi Kampung Naha Buan), mencermati lamin Naha Buan dan mendokumentasikan proses pembuatan sumpit tradisional yang dilakukan oleh Lasan.
 Seusai kunjungan ke kampung Naha Buan, kami melakukan evaluasi dan sepakat bahwa informasi yang kami peroleh sudah memadai. Kami pun memutuskan turun ke Tering Seberang di Kecamatan Tering melalui Long Bagun. Kami singgah dulu di kampung Temula, Kecamatan Barong Tongkok, untuk mengamati kegiatan pandai besi suku Dayak Benuaq dan menyaksikan pembuatan mandau. Kami juga mencermati alut (perahu belahan) yang terbuat dari kayu ulin dan meranti. Kami lalu menggunakan jalan darat ke arah hilir menuju kampung Lambing. Setiba di Lambing hari sudah mulai senja, tetapi kami sempat mengamati dan memotret dua buah lamin yang dihuni oleh komunitas Dayak Benuaq, yakni Lamin Tolan Atas dan Tolan Bawah yang sudah berusia 70 tahun. Dinding lamin (lou/Dayak Benuaq) terbuat dari kulit kayu, lantainya dari rotan dan bambu dan tiang-tiangnya terbuat dari kayu ulin setinggi 15 meter dari permukaan tanah. Semua sambungan tiang diikat dengan rotan. Penerangan di lamin itu

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

38

Menyusuri Pemukiman Dayak

Bagi perempuan Dayak, tradisi telinga panjang adalah bagian dari kearifan lokal menyangkut tata rias dan kecantikan.

masih menggunakan lampu minyak yang mereka sebut pelita. Dari kampung Lambing, kami menuju Samarinda melalui jalan darat. Kami mewancarai Lukas Kapung, Panglima Komando Pertahanan Adat Dayak (KPAD) Kalimantan dan Roedy Haryo Widjono, pengamat budaya Dayak yang menikah dengan putri Dayak Benuaq dari kampung Benung, Kecamatan Damai, Kutai Barat. Dari wawancara ini kami memperoleh informasi tentang masyarakat Dayak yang bermukim di wilayah Kalimantan Timur bagian Utara (Dayak Lun Dayeh, Punan, Murut, Berusu, Agabaq dan sebagainya), pembuatan garam yang dilakukan oleh orang Dayak Lun Dayeh di pegunungan Krayan,

pembuatan mandau, sumpit, dan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam teknologi Dayak. Terakhir, kami mengunjungi pasar Citra Niaga di Samarinda untuk mendokumentasikan beragam peralatan dan pernak-pernik Dayak yang dijual di sana. Sebagai tambahan informasi, hampir di semua desa yang kami datangi, kami melihat banyak perempuan dan laki-laki Dayak yang bertelinga panjang. Bagi perempuan Dayak, tradisi telinga panjang adalah bagian dari kearifan lokal menyangkut tata rias dan kecantikan.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Menyusuri Pemukiman Dayak

39

Anak-anak Kenyah bermain di sore hari, Lung Anai. (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

40

Menyusuri Pemukiman Dayak

Susunan Laporan
Temuan-temuan pokok penyigian ini kami uraikan ke dalam empat bagian berdasarkan kedekatannya secara kategoris. Bagian Pertama, “Menyusuri Pemukiman Orang Dayak”, menyajikan gambaran umum lokasi yang kami kunjungi di Kalimantan Timur serta metode penelitian. Bagian Kedua, “Kebudayaan dan Kearifan Lokal”, berisi pemaparan tentang teknologi dalam kehidupan sehari-hari mereka terkait dengan sistem hunian, sistem peladangan, sistem transportasi serta berbagai peralatan yang mereka gunakan untuk kegiatan yang berbeda-beda. Bagian ini juga memaparkan teknik pengolahan makanan yang mereka kuasai, serta teknologi punggung orang Dayak yang terkenal, selain busana dan ritual adat. Bagian Ketiga adalah laporan kami tentang “Temuan-temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan”. Bagian ini terutama berisi uraian tentang tumbuh-tumbuhan yang biasa dimanfaatkan oleh orang Dayak di Kalimantan Timur untuk menangani berbagai macam penyakit. Selain itu, kami juga memaparkan teknik pembuatan tenun doyo serta beberapa peralatan khas Dayak. Dalam bagian keempat yang merupakan bagian penutup, kami menyampaikan beberapa gambaran yang kiranya dapat menjadi cermin kecil bagi rupa-rupa permasalahan yang dihadapi orang Dayak, khususnya di kawasan-kawasan yang kami kunjungi. Sebuah “ratapan” yang bukan dimaksudkan untuk mencari-cari, apalagi mendakwa siapa biang keladi permasalahan, melainkan sebagai picuan untuk menemukan jalan keluar bersama. Untuk memudahkan pembaca mencari informasi lebih lanjut, buku ini kami lengkapi dengan sumber informasi penelitian dan penulisan, baik dalam bentuk daftar pustaka maupun rincian narasumber

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

41

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Anak-anak di lamin Pepas Eheng, Sendawar, Kutai Barat. (Rangga Purbaya)

02. Kebudayaan dan Kearifan Lokal
dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

44

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Di dalam teknologi terkandung cita-cita dan harapan, serta jerih payah manusia untuk mewujudkannya.

Teknologi dalam arti sempit merupakan buah karya manusia untuk menyiasati alam sekitarnya. Teknologi yang berkembang dalam suatu masyarakat tidak dapat dilepaskan dari cara pandang tentang alam dan tentang sesama. Dalam arti luas, teknologi bukan sekadar sarana untuk mencapai tujuan, melainkan tempat beragam kegiatan kehidupan itu sendiri mengambil tempat. Di dalam teknologi terkandung cita-cita dan harapan, serta jerih payah manusia untuk mewujudkannya. Bagi kebanyakan orang Dayak, teknologi dan sistem pengetahuan mereka erat bertaut dengan peladangan yang bersifat subsisten. Kita dapat mengenali teknologi orang Dayak melalui karya-karya fisik yang melekat dalam kehidupan mereka sehari-hari. Bagian ini memaparkan macam-macam teknologi orang Dayak di Kalimantan Timur yang mencerminkan kekayaan budaya serta kearifan lokal yang mereka miliki, mulai dari rumah lamin, sistem peladangan, beragam peralatan sehari-hari, pengolahan makanan, perlengkapan ritual, isyarat bunyi-bunyian, transportasi, sampai keunggulan melahirkan ulap doyo yang terkenal.

Umaq dadu, Long Anai. (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

45

Teknologi Pemukiman
Ciri khas budaya material suku-bangsa Dayak ialah rumah lamin, rumah betang atau rumah panjang. Hampir di seluruh pulau Kalimantan terdapat rumah lamin. Sukubangsa Dayak terdiri dari ratusan anak suku. Dalam kajian Charles Hose yang dirujuk oleh Maulani (2000), rumah lamin merupakan warisan peninggalan Dayak Kahayan yang bermigrasi kurang lebih seribu tahun yang lalu dari dataran tinggi Irawadi di Burma. Bukti kehadiran Dayak Kahayan ditunjukkan sekurang-kurangnya dengan adanya empat sungai besar yang menggunakan nama Kahayan, yaitu dua di Kalimantan Tengah, satu di Kalimantan Timur dan satu lagi di Kalimantan Utara, Serawak.

268 meter dan memiliki 53 bilik (sebelumnya 63 bilik), Betang Sungolo merupakan rumah terpanjang di Kalimantan yang masih berdiri (Wisetyo, 2007). Di Kalimantan Timur masih tampak beberapa rumah betang yang disebut lamin. Beberapa lamin di Kalimantan Timur, khususnya di Kutai Barat, masih berdiri kokoh dan masih berpenghuni meskipun sudah mengalami peremajaan. Sementara di Kalimantan Tengah, rumah betang sudah jarang ditemukan karena memecah ke dalam rumah-rumah tunggal bagi keluarga inti (Maulani, 2000). Berdasarkan jenis kediamannya, masyarakat Dayak di Kutai Barat terbagi menjadi dua, yaitu yang bermukim di darat dan yang bermukim di kawasan sepanjang sungai. Rumah-rumah lamin yang dibangun di darat dapat dicapai melalui perjalanan darat, seperti di Pepas Eheng, Engkuni, Pintuq/ Benung, Tolan, Mancong dan Tanjung Isuy. Sedangkan lamin yang dibangun oleh orang Dayak yang bermukim di sepanjang sungai, yaitu Amin Aya Uma Belua (Long Pahangai Hulu), Amin Aya Uma Baleh (Long Pahangai Hilir), lamin Datah Bilang Hilir dan Datah Bilang Hulu, harus dicapai melalui sungai. Sebelum memasuki kawasan Datah Bilang, kami melihat rumah-rumah di atas rakit di sungai Mahakam yang dalam bahasa

Warga Datah Bilang bergotong royong memperbeaiki lamin. (Rangga Purbaya)

Lamin alias Rumah Panjang
Sebagaimana terjadi dengan banyak peninggalan tradisional, rumah lamin semakin langka. Menjelang kepunahannya, masih berdiri rumah panjang milik komunitas Dayak Tamambaloh Apalin di Kalimantan Barat, yakni Betang Sungolo. Dihuni oleh lebih dari 500 jiwa (sekitar 130 kepala keluarga) dengan struktur sepanjang

setempat disebut lanting. Selain berfungsi sebagai rumah hunian, lanting juga berfungsi sebagai kios yang menjajakan barang kelontong, bahan bakar, warung makan, penginapan, dan bahkan sebagai dermaga tempat orang Dayak menanti transportasi sungai baik yang ke hulu maupun ke hilir. Selama di Datah Bilang, kami juga bermalam di penginapan di atas rakit.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

46

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Warung dan toko di atas rumah rakit yang banyak terdapat di sepanjang Mahakam. (Rangga Purbaya)

gelondongan itu diikat satu ke yang lain dengan rotan sehingga permukaannya rata. Di atas permukaan gelondongan kemudian disusun rangkaian papan kayu dengan rapi dan dipaku agar tidak bergeser. Rangkaian papan itu berfungsi sebagai lantai rakit. Di atas papan lantai lalu didirikan tiang-tiang untuk membangun rumah. Dinding rumah terbuat dari rangkaian papan dan atapnya dari sirap kayu ulin. Agar tidak terombangambing atau terseret arus sungai, rumah rakit diikat ke tiang-tiang kayu ulin yang ditanam dengan kokoh di tepi sungai. Jika dibandingkan dengan rumah panggung, rumah rakit secara arsitektural sangat sederhana tanpa banyak ornamen. Rumah rakit biasanya bertahan sampai 20 tahun. Namun, bahan baku berupa kayu gelondongan dengan diameter dan panjang yang disebutkan di atas kini agak sulit diperoleh. Konstruksi rumah panggung menggunakan beberapa tongkat kayu yang tinggi untuk menopang rumah, sebagaimana kami saksikan di kawasan penelitian kami. Di Datah Bilang Hilir dan Datah Bilang Hulu ada dua buah lamin milik orang Dayak Kenyah. Lamin di Datah Bilang Hulu yang bernama Amin Biu Lepoq dibangun

Dengan kata lain, hunian yang dibangun oleh masyarakat Dayak di sepanjang hulu sungai Mahakam terbagi atas rumah di atas rakit dan rumah panggung. Rumah panggung, katakan saja lamin atau balai, dan rumah biasa terletak di sepanjang bantaran sungai. Sedangkan rumah rakit terapung di atas permukaan air tepian sungai. Rumah rakit atau rumah terapung menggunakan kayu gelondongan jenis bengkirai berdiameter 60 sentimeter yang panjangnya mencapai 4 sampai 5 meter. Gelondongan-gelondongan kayu itu disusun secara mendatar. Jumlah gelondongan yang digunakan sesuai dengan kemampuan pemiliknya. Setelah disusun, gelondongan-

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

47

tahun 1976. Panjang lamin ini 20 meter dan lebarnya 60 meter. Atapnya terbuat dari sirap kayu ulin (Eusideroxylon zwageri), dindingnya dari kayu dan lantainya dari papan kayu ulin. Lamin di Datah Bilang Hilir bernama Amin Data Bilang Hilir. Lamin yang dibangun tahun 1975 ini panjangnya 16 meter dan lebarnya 50 meter. Atapnya terbuat dari sirap kayu ulin, dindingnya dari papan kayu dan lantainya dari papan kayu ulin. Lamin ini berdiri kokoh di atas tiangtiang kayu ulin yang tidak terlalu tinggi, tidak jauh dari tepi sungai Mahakam. Lamin, amin atau rumah panjang adalah bagian dari identitas orang Dayak. Lamin dapat dikatakan sebagai simbol

yang senantiasa mengedepankan nilainilai kebersamaan dan persaudaraan, yang bertumpu di atas keyakinan akan kesetiakawanan, tolong menolong dan kerukunan (Sedyawati dkk., 1995). Nilai-nilai filosofis tentang keutamaan hidup bersama itu mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari di lamin. Pantulan nilai-nilai itulah yang sempat kami rekam dalam kerja bakti memperbaiki lamin Datah Bilang Hilir. Seluruh kaum lelaki warga Datah Bilang Hilir, baik tua maupun muda, seiman maupun berbeda iman, etnis Bugis, Banjar, Jawa maupun Dayak, ikut serta dalam kegiatan itu. Kegiatan itu juga mencerminkan pembagian kerja yang

Kiri: Suasana dalam lamin adat Lng Anai. Kanan: Warga Datah Bilang menumpuk lembaran sirap (atap kayu). (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

48

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

SP

Amin Biu Lepoq, Datah Bilang Hulu. (Rangga Purbaya)

adil. Orang-orang muda terlibat dalam pekerjaan berat, misalnya membuat sirap dari balok-balok kayu ulin yang sangat keras di halaman luar lamin di bawah cuaca terik. Sedangkan orang-orang tua bekerja di dalam lamin bagian belakang, tepatnya di dapur. Sebagian membuat wadah dari daun pisang untuk membungkus nasi serta wadah untuk menampung kuah gulai daging dan minuman, sebagian lagi meraut bambu pengikat wadah dan sebagian lainnya memasak nasi, gulai daging serta air. Kegiatan gotong royong ini tidak melibatkan kaum perempuan karena perempuan bekerja dalam keluarganya masing-masing, yaitu menjemur padi, membuat kerajinan rotan, memasak, dan lain sebagainya.

Lamin milik warga Dayak Kenyah di Datah Bilang Hilir dan Datah Bilang Hulu dibangun bukan untuk hunian bersama, melainkan sebagai balai tempat musyawarah dan kegiatan sosial-budaya. Dalam perspektif masa kini, sebutan lamin boleh dikatakan identik dengan balai karena struktur balai, cara membuat serta nilai-nilainya tetap mengacu ke lamin. Maka sebagaimana lamin, balai pun melambangkan identitas orang Dayak dan harus ada di setiap perkampungan Dayak. Lamin Datah Bilang Hulu dan Datah Bilang Hilir dimiliki oleh orang Dayak Kenyah Umaq Bakunq. Di halaman depan lamin

RP

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

49

Lamin milik warga Dayak Kenyah di Datah Bilang Hilir dan Datah Bilang Hulu dibangun bukan untuk hunian bersama, melainkan sebagai balai tempat musyawarah dan kegiatan sosial-budaya

ada belawing berdiameter 50 sentimeter terbuat dari kayu ulin bertatah ukiran. Pada belawing terlihat torehan tanggal pembuatan, yaitu 24-4-1996. Lamin yang berfungsi sebagai balai ini, memiliki enam tiang utama berdiameter sekitar 60 sentimeter yang diukir dengan motif Dayak Kenyah. Di serambi tempat bercengkrama terdapat panggung setinggi sekitar setengah meter. Di sisi depan bagian bawah panggung, terdapat relief yang menggambarkan perpindahan penduduk desa itu secara bertahap dari kampung Tege di Apokayan. Mereka mulai meninggalkan kampung Tege antara tahun 1861 dan 1930, dan tiba di kampung Datah Bilang pada tahun 1975. Sebagaimana di Datah Bilang Hilir dan Datah Bilang Hulu, lamin yang kami temukan di Long Isun, Long Nunuk, Long Pakaq, Long Pahangai dan Long Apari hanya berfungsi sebagai balai kegiatan sosial-budaya, sekaligus simbol identitas komunitas suku Dayak setempat. Di lamin Long Isun, serambi tempat warga berkumpul dilengkapi dengan tambur, perahu, lesung dan berbagai perlengkapan upacara adat seperti hudoq, ngayau, mamat, dangai dan lain sebagainya. Ukiran di tiangtiang serta dinding dalam dan dinding luar bermotif khas Dayak. Terdapat juga patung

burung enggang serta belawing. Berbeda dengan di Datah Bilang, dimana lamin telah dipergunakan bersama, lamin di Long Hubung masih dalam proses pembangunan. Pendududuk Long Hubung umumnya berasal dari suku Dayak Bahau. Tampak tiang-tiang berupa gelondongan pohon ulin sebanyak 16 buah yang telah

berdiri dengan ketinggian kurang lebih 10 meter dari permukaan tanah. Tiang-tiang itu tertanam 1,5 meter ke dalam tanah untuk membentuk pondasi. Jarak antara satu tiang dengan yang lainnya kira-kira 4 meter. Agar tetap tegak berdiri, tiang-tiang gelondongan itu dihubungkan satu sama lain dengan bambu lalu diikat dengan tali rotan.

Suasana kampung Datah Suling, Mahakam Hulu. (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

50

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Lamin Long Tuyoq (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

51

Dapur lamin ini terletak di ruang utama dan hanya dipergunakan pada saat upacara adat. Lamin ini terdiri dari dua tingkat. Tingkat pertama untuk kegiatan masyarakat, terutama musyawarah.

Lebar lamin itu direncanakan sekitar 8 meter dan panjangnya 24 meter. Di tengahtengah bakal lamin terdapat sebuah tiang yang tingginya sama dengan tiang-tiang lain tetapi diameternya lebih besar, kira-kira 50 sentimeter. Sedangkan di bagian depan terdapat dua tiang kayu ulin gelondongan berdiameter 30 sentimeter. Di pinggir area bakal lamin terdapat tumpukan bahanbahan untuk membangun lamin, terdiri dari gelondongan-gelondongan kayu ulin, sirap dari ulin dan kayu-kayu lainnya. Kami mendapat informasi bahwa lamin itu juga akan digunakan sebagai kantor kecamatan. Lamin di Long Tuyoq adalah milik orang Dayak Bahau Long Gelat. Saat ini, lamin itu dihuni oleh tiga keluarga. Lamin ini mempunyai keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan lamin-lamin lain. Dapur lamin ini terletak di ruang utama dan hanya dipergunakan pada saat upacara adat. Lamin ini terdiri dari dua tingkat. Tingkat pertama untuk kegiatan masyarakat, terutama musyawarah. Penghubung antara lantai pertama dan lantai berikutnya adalah sebuah tangga yang terbuat dari balok kayu ulin berukir. Di lantai dua terdapat tiga pintu ke kamar-kamar yang dihuni oleh keturunan bangsawan Dayak Bahau Long Gelat. Kaum keturunan bangsawan disebut hipuy, sedangkan masyarakat biasa disebut panyin.

Di lantai itulah kami disambut oleh Belawing Belareq, kepala suku Dayak Bahau Long Gelat di Long Tuyoq, yang merangkap sebagai kepala adat besar Kecamatan Long Pahangai. Selain untuk hunian, lantai itu juga dipergunakan untuk pertemuan para hipuy. Sebagai tempat pertemuan, lantai di depan kamar dibuat berundak sepanjang ruangan. Tinggi undakan sekitar 50 sentimeter dari tempat duduk kaum hipuy. Jika ada musyawarah dengan kaum panyin, biasanya kaum hipuy bertemu dulu di ruang ini baru kemudian mereka turun ke lantai bawah. Umumnya para panyin bekerja sebagai pengrajin anyaman rotan bahan pembuat anjat (tas tradisional) dan bekerja di ladang. Lamin ini terlihat sudah tua tetapi tetap terawat. Di depan lamin terbentang halaman kira-kira seluas lapangan bola dan ada patung belawing yang terbuat dari kayu ulin berukir. Di pinggir lapangan ada beberapa tiang dari gelondongan kayu ulin yang terlihat sudah sangat tua. Lapangan itu, lengkap dengan tiang-tiangnya, merupakan arena untuk menyelenggarakan upacara kayau. Pada masa lampau, upacara kayau adalah upacara mempertontonkan kepala-kepala musuh yang berhasil mereka penggal kepada warga kampung. Tidak jauh dari arena itu, melintas sungai Mahakam.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

53

Patung-patung di depan lamin Pepas Eheng. (Steve Pillar)

Pemukiman komunitas Dayak Bahau Busang Long Gelat terletak tidak terlalu jauh di kiri dan kanan lamin Long Tuyoq. Dengan kata lain, lamin Long Tuyoq berada di tengahtengah pemukiman penduduk dan menjadi pusat kegiatan sosial-budaya masyarakat setempat. Lamin di Datah Dawai bisa dibilang lebih tua daripada lamin di Long Tuyoq. Pengikat dinding dan atap bukan paku, melainkan tali rotan. Lamin ini berdiri di atas tiang-tiang kayu ulin setinggi kira-kira 4 meter dengan diameter 30 sentimeter. Lantai lamin terbuat dari papan kayu yang tebal, masingmasing diikat dengan tali rotan. Lamin ini hanya dihuni oleh seorang perempuan berusia lebih dari 65 tahun. Kendati masih berdiri tegak, kekokohan lamin ini tampak memudar termakan usia. Sementara lamin Tolan Bawah dan Tolan Atas di Lambing, Kecamatan Muara Lawa, adalah milik suku Dayak Benuaq. Narasumber kami, Y. Nyangkum, mengatakan bahwa kedua lamin itu sudah ada sejak zaman kolonial, sekitar tahun 1920an. Lamin Tolan Bawah yang lebih muda daripada Tolan Atas tidak lagi dihuni. Di depan lamin terdapat patung kayu belontakng pertanda sudah pernah ada upacara adat untuk menghantar arwah

(kwangkai). Kondisi lamin Tolan Bawah sangat memprihatinkan. Atapnya yang terbuat dari sirap sudah banyak yang bocor, dindingnya yang terbuat dari kulit kayu banyak yang sudah aus dan robek-robek, sementara lantainya yang terbuat dari rotan dan bambu yang ditata sudah banyak yang rapuh. Letak dapur lamin Tolan Bawah dan Tolan Atas tidak terpisah dari ruang utama lamin, tetapi posisinya lebih rendah. Sedangkan ruang mandi, cuci dan kakus (MCK) terpisah dari lamin. Di bagian bawah lamin terdapat kandang ayam dan tumpukan kayu. Lamin Tolan Bawah memiliki tiga kamar yang, seperti disebut di atas, tidak lagi dihuni karena penghuninya sudah meninggal dunia. Anggota keluarga yang ditinggal memilih membangun rumah pribadi di depan lamin. Sedangkan lamin Tolan Atas masih dihuni oleh dua keluarga. Dinding lamin Tolan Atas terbuat dari kulit kayu serta lantainya campuran rotan dan bambu. Tiang–tiang lamin diikat dengan tali rotan. Lamin itu mempunyai 12 tiang utama dan empat jendela. Penghuni lamin Tolan Atas hanya menggunakan sebuah pelita sebagai penerangan pada malam hari. Sedikit banyak, lamin Tolan Atas mewakili gambaran lamin-lamin pada masa lampau.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

54

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Tampilan fisik lamin Tolan Bawah dan Tolan Atas mirip dengan lamin di Pepas Eheng tetapi ukurannya lebih kecil. Ukuran Lamin Tolan Bawah dan Tolan Atas kurang lebih sama dengan lamin di Benung. Beberapa lembar kasur yang tampak tergulung pada siang hari menunjukkan penghuni lamin juga menggunakan ruang utama lamin untuk tidur. Pada malam hari, mereka membentangkan kasur-kasur tersebut untuk alas tidur. Sisi depan lamin menghadap ke arah timur, dimana terdapat belontakng serta bentangan halaman yang luas dan jalan tanah sepanjang kira-kira 1 kilometer menuju jalan raya. Di bagian belakang, yang menghadap ke barat, ada pancuran air untuk mandi. Di bawah lamin terdapat hewan ternak dan peliharaan seperti anjing, babi, ayam, sapi dan kucing. Di sekeliling lamin terdapat pohon-pohon kelapa, pepaya, belimbing, pinang, jeruk nipis dan mangga. Rumput yang tertata rapi digunakan untuk menjemur tikar dan kelambu. Di sisi kanan lamin, di kawasan yang menurun, terdapat pekuburan kerabat penghuni lamin. Ketika kami berkunjung ke lamin Tolan Atas, dua perempuan yang menghuni lamin itu sedang menganyam rotan untuk membuat tikar, kendati remang senja telah turun menyapa. Mungkin, inilah ciri orang yang bekerja dengan intuisi, menyatukan tangan dan hati sehingga redup penerangan bukanlah hambatan untuk terus berkarya. Sementara, suami-suami mereka bekerja sebagai peladang dan petani karet.

Doh Ding, menganyam tikar, Long Tuyoq. (Rangga Purbaya)

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

55

Lamin Dayak Busang di Long Pahangai disebut Amin Aya Long Pahangai. Lamin yang juga disebut Amin Adat Uma Ulu dan Hilir itu, panjangnya kurang lebih 40 meter dan lebarnya sekitar 15 meter. Kedua lamin atau amin tersebut memiliki 10 tiang yang memanjang, empat di antaranya berdiameter kurang lebih 50 sentimeter sedangkan dua tiang utama berdiameter sekitar 60 sentimeter. Keenam tiang itu berhiaskan ukiran motif asolejo, yaitu harimau legenda dan muka manusia bernama nangbrang. Penghubung antara lantai lamin dan permukaan tanah adalah sebuah tangga setinggi 3 meter, terbuat dari balok ulin. Tangga diberi penutup dari papan agar orang dan binatang tidak begitu saja dapat naik. Pada masa lampau, tangga ditarik ke atas pada malam hari untuk mencegah

musuh atau binatang naik ke lamin. Lantai lamin terbuat dari papan-papan kayu bengkirai dengan ketebalan masing-masing 10 sentimeter dan lebarnya 60 sentimeter. Lamin ini memiliki dua bilik yang dihuni oleh dua kepala keluarga. Kedua lamin memiliki serambi yang luas untuk bermusyawarah. Di serambi terdapat dua buah tuwung (tambur) terbuat dari kayu bengkirai untuk upacara adat, dan sebuah sung (lesung) berbentuk perahu dengan empat lubang untuk menumbuk padi. Di tiang atas tergantung perlengkapan untuk upacara adat terdiri dari patung burung enggang dan kaliwet (hewan seukuran kucing, termasuk hewan yang dilindungi). Penduduk kampung Tiong Ohang, Kecamatan Long Apari, adalah suku Dayak Aoheng/Penihing. Mereka memiliki lamin

Kiri Atas: Rotan diraut dan dihaluskan, Long Isun. (Rangga Purbaya) Kanan atas:nTambur besar Umaq Dadu, Lung Anai. (Steve Pillar)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

56

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Kiri atas: Lesung, Noha Buan. (Rangga Purbaya) Kanan atas: Tambur, Lamin Baang Adat Huvung Nyoang Noha Buan. (Rangga Purbaya)

bernama Amin Aya Bangun yang dibangun tahun 1980. Panjang lamin itu 40 meter, lebarnya 15 meter dan tingginya sekitar 4 meter dari permukaan tanah. Atapnya terbuat dari sirap ulin, dindingnya terbuat dari papan kayu lempung, sedangkan lantainya terbuat dari papan kapur. Lamin ini digunakan untuk upacara adat dan musyawarah adat. Lamin di kampung Naha Buan di Kecamatan Long Apari yang bernama Baang Adat Huvung Nyoaang Noha Boan, lebih kecil daripada lamin di Tiong Ohang. Panjangnya kurang lebih 20 meter dan lebar sekitar 15 meter. Lamin memiliki 10 tiang yang terbuat dari kayu ulin. Tinggi lamin hanya sekitar 1 meter dari permukaan tanah. Di serambi lamin ada tuwung (tambur/bedug), suan (alu) dan losung (lesung). Tuwung terletak dalam posisi terbalik di penyangganya, demikian

pula losung tersandar di sudut serambi dengan posisi terbalik. Staf adat bernama Lasa menjelaskan, posisi benda-benda adat dalam keadaan terbalik menandakan suasana berkabung karena ada warga penganut kepercayaan leluhur (agama nenek moyang) yang meninggal dunia. Lamin di Tiong Buu letaknya berseberangan dengan kampung Tiong Ohang serta Naha Buan dan dipisahkan oleh sungai Mahakam. Ukuran lamin di Tiong Buu hampir sama dengan lamin di Naha Buan. Lamin di Long Paka adalah milik orang Dayak Kayan. Panjang dan lebar lamin ini sama dengan lamin di Naha Buan dan Tiong Buu. Di dalam lamin ada tambur dan lesung. Lamin ini juga hanya berfungsi sebagai balai tempat pertemuan dan upacara adat. Di belakang lamin tinggal kepala adat Dayak Kayan.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Totem, Lamin Tiong Buu. (Rangga Purbaya)

58

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

(Rangga Purbaya)

Amin Dadu Long Anai
Sebuah lamin kecil yang dibangun di Long Anai pada tahun 2007 dinamakan Amin Dadu. Amin dapat diartikan sebagai tempat tinggal (kamar) satuan keluarga dalam sebuah umaq dadoq (lamin). Amin Dadu itu menghadap ke jananbio (jalan kampung) dan terletak di sebelah kanan sebuah gereja. Saat kami berkunjung, Amin Dadu dihuni oleh dua keluarga yang baru datang dari wilayah Apo Kayan. Warga Kenyah di Long Anai yang menghormati semangat persaudaraan dan kebersamaan, mengizinkan kedua keluarga itu menghuni Amin Dadu. Pertimbangan mereka sederhana. Kedua keluarga itu baru tiba dan belum mampu membuat amin tunggal (rumah sendiri).

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

59

(Rangga Purbaya)

Lamin Pepas Eheng
Lamin di Pepas Eheng sepanjang 70,4 meter dengan lebar 30 meter, ditopang oleh 33 tiang utama. Warna bangunan yang memudar menunjukkan lamin ini sudah tua. Di dalam lamin ada tujuh bilik yang menampung 33 kepala keluarga. Ternak dan hewan peliharaan seperti babi, ayam, kucing dan anjing berkeliaran bebas di bawah lamin. Lamin ini terletak tepat di pinggir jalan raya. Di belakang lamin terdapat hutan dan semak belukar. Di seberang jalan raya ada pemakaman khas Dayak Benuaq. Kebanyakan penghuni lamin bekerja sebagai pengrajin anyaman rotan untuk bahan pembuatan anjat (tas tradisional). Di sekitar lamin digelar berbagai barang kerajinan, termasuk mandau, yang dikunjungi pembeli hampir setiap minggu.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

60

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

(Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kamar Mandi

Kamar Mandi

Kamar Tidur

61

Dapur

Lamin Pintuq dan Benung
Kepala adat Benuaq, Petrus Lama, menghuni lamin Pintuq di kampung Benung yang berdiri diatas 12 tiang utama dan memiliki empat jendela. Tidak seperti lamin di Pepas Eheng, lamin Pintuq hanya memiliki tiga bilik. Dindingnya terbuat dari papan yang sisinya bersusun sirih menghadap ke bawah. Seperti di lamin Tolan Atas, penghuni lamin Pintuq juga ada yang tidur di ruang utama lamin. Beberapa kasur tampak tergulung pada siang hari. Bagian depan lamin ini menghadap ke timur, ke arah jalan raya. Sedangkan bagian belakang menghadap ke barat, ke arah pancuran air untuk mandi. Di bawah lamin terlihat hewanhewan ternak dan peliharaan seperti anjing, kucing, babi, ayam, dan sapi. Di bagian depan lamin terlihat enam tangki air, masing-masing dapat menampung 200 liter air. Di sekeliling lamin terlihat pohon kelapa, pepaya, belimbing, pinang, jeruk nipis dan mangga. Rumput di sekitar lamin tertata rapi sehingga terbentuk suasana taman, apalagi ada kursi panjang di bawah pepohonan. Halaman rumput itu juga digunakan untuk menjemur tikar dan kelambu. Penghuni lamin Pintuq Benung bekerja sebagai peladang dan petani karet. Setiap minggu mobil pengumpul karet singgah ke lamin itu untuk membeli karet. Tidak jauh dari lamin Pintuq, terdapat lamin Benung. Lamin yang terdiri dari enam pintu ini dihuni oleh keluarga besar Pak Banyak – sekretaris Adat Benung. Lamin Benung

Dapur

Ruang Tidur Terbuka Teras

Ruang Keluarga Ruang Tamu

Kamar Tidur

Teras

Denah ruang dalam lamin di Benung

(Steve Pillar)

terletak di jalan simpang menuju Engkuni dan Mencimai. Di bagian depan, berhadapan dengan tangga lamin, terdapat belontakng. Sedangkan di depan lamin sebelah kiri terdapat tempelaq. Selain tampak terawat

dengan bagian-bagian lapuk yang sudah diganti, lamin ini juga dilengkapi dengan antena parabola.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

62

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Bentuk dan Bagian-bagian Lamin
Sesuai namanya, lamin didirikan memanjang mengikuti jalan raya atau dari hulu ke hilir bagi masyarakat Dayak yang berdiam di sekitar Hulu Mahakam. Lamin secara sederhana dibagi menjadi dua bagian, yakni lamin itu sendiri dan ruangan dapur yang terpisah dari lamin. Adapun lamin terbagi menjadi dua, yaitu ruang terbuka dan ruang tertutup.
Bawah atas: Struktur lamin di Long Lunuk, menggunakan rotan sebagai pengikat. Kanan bawah: Banyak petinggi kampung Benung menerima tim di kediamannya. Kiri bawah: Warga Datah Bilang Hilir, memasak didalam lamin. (Rangga Purbaya)

penanda penghuninya telah menjalankan upacara kwangkai sebagai persembahan kepada leluhur. Bila di depan bilik ada banyak tanduk kerbau, itu tanda penghuninya sudah banyak menyelenggarakan upacara. Biasanya mereka adalah kaum bangsawan atau hipuy (Dayak Bahau), paren (Dayak Kenyah) dan mantiq (Dayak Benuaq), atau orang kaya di lamin tersebut. Ruang dapur terdiri dari tiga bagian, yakni ruang makan, tempat memasak dan tempat MCK. Ruang dapur memanjang mengikuti bentuk lamin tetapi ukurannya lebih kecil dibanding rumah lamin, karena hanya untuk keperluan masak memasak dan MCK. Gambaran lamin seperti ini dapat ditemukan di Kutai Barat, seperti di Long Tuyoq, Pepas Eheng, Datah Dawai, dll.

Ruang terbuka tidak berpenyekat, hanya tiang-tiang rumah. Ruang terbuka juga dapat disebut sebagai ruang publik karena menjadi tempat berkumpul penghuni lamin untuk berbagai kegiatan, mulai dari menganyam, rapat, menerima tamu, melaksanakan upacara adat penyembuhan penyakit (belian) ataupun upacara kematian, sampai upacara perkawinan. Berbagai perlengkapan untuk kegiatan kesenian dan upacara digantung di ruang terbuka. Ruang tertutup atau ruang privat adalah semacam kamar atau bilik yang dihuni oleh masing-masing kepala keluarga. Mengikuti bentuk lamin, bilik-bilik ini berderet memanjang. Di dalam bilik inilah terletak tempat tidur masing-masing penghuni lamin serta barang-barang pribadi mereka. Di dalam bilik ini pula para kepala rumah tangga beserta anak dan istrinya menjalankan berbagai kegiatan keluarga mereka masingmasing. Di sisi atas ruang privat ada bagian mirip loteng tempat menyimpan bermacammacam barang-barang pribadi seperti guci, tombak dan mandau. Di tiang-tiang lamin di depan bilik digantung kepala kerbau,

Mendirikan Lamin
Sebelum membangun lamin, orang Dayak terlebih dulu menentukan posisi tempat lamin akan didirikan. Posisi yang paling ideal adalah jika sisi depan lamin menghadap ke timur, ke arah matahari terbit. Dengan kata lain, lamin membujur di atas sebidang tanah yang datar dan kering, dengan sisi depan menghadap ke timur dan sisi belakang menghadap ke barat. Posisi ini memungkinkan seluruh bagian lamin mendapat cahaya matahari sepanjang hari. Orang Dayak membangun lamin dengan mengikuti keyakinan yang mereka warisi dari para leluhur. Baik ketika akan memulai,

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

63

Kiri: Suasana bagian dalam lamin Pepas Eheng; tengah: Struktur tiang lamin yang masih dalam tahap pembangunan, Long Hubung; kanan: Detil ukiran tiang lamin, Long Hubung. (Rangga Purbaya)

maupun saat sedang membangun lamin, mereka harus memperhatikan posisi bulan. Apabila bulan dalam keadaan berbagi dua atau bulan teng (bulan setengah) – maksudnya bulan tidak bulat sempurna – pembangunan tidak boleh dilanjutkan. Jika pembangunan tetap dipaksakan, mereka yakin musibah kebakaran akan datang menimpa. Mereka juga tidak sembarang waktu menebang pohon yang akan digunakan untuk membuat lamin. Orang Kenyah menebang pohon setelah bulan balik, yaitu pada awal bulan purnama. Dengan mengikuti ketentuan ini, mereka yakin akan memperoleh kayu yang tidak mudah lapuk dan tahan menghadapi serbuan rayap.

Ketika mencari lahan untuk membuat lamin, mereka juga memperhatikan kawasan yang sudah pernah terkena banjir supaya bisa memperkirakan tinggi-rendah tiang penyangga bangunan. Dengan prakiraan yang tepat, lantai bangunan tidak akan terkena luapan air kalau terjadi banjir. Lahan untuk membangun sebuah lamin harus bisa menampung sedikitnya 20 kepala keluarga, atau sepanjang kira-kira 12 meter. Tidak ada ketentuan bagi lebar. Tiang-tiang atau pilarpilar penyangga bangunan ditanam di tanah sampai kedalaman 1,5 meter agar lamin dapat berdiri kokoh. Kulle dari Datah Bilang Hulu yakin, ketimbang rumah-rumah pribadi yang

cenderung menghabiskan lahan, pemukiman berdasarkan nilai-nilai orang Dayak lebih menghemat. Pandangan bijak ini sesuai dengan nilai-nilai filosofis yang sudah disebut (kesetiakawanan, kerukunan dan tolong menolong), yang dijunjung oleh orang Dayak. Kulle menambahkan, orang Dayak juga punya kepercayaan bahwa lamin ataupun rumah tidak boleh seluruhnya terbuat dari kayu ulin, tetapi harus dipadu dengan kayu lain, misalnya meranti atau kayu-kayu lain. Bila kepercayaan ini dilanggar, mereka yakin penghuni rumah akan selalu merasa tidak tenteram dan selalu terjadi perselisihan di antara anggota keluarga.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

65

Kiri: Suasana kampung Long Tuyoq. (Rangga Purbaya) Ilustrasi: Yayak Yatmaka

Kiri bawah: Doh Ding, mengupas pinang, Long Tuyoq. Kanan bawah: Ding Hat, membuat sarung mandau, Long Tuyoq. (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

66

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Bulan 1
Orang Dayak juga mempunyai perhitungan waktu yang cermat untuk memulai pembangunan lamin. Meskipun ukuran lamin kecil, ketentuan itu tetap berlaku. Mereka akan menunggu malam ke-sembilan bulan di langit, kendati perlu orang khusus untuk mengingat hitungannya. Mereka tidak merujuk ke tanggal kalender karena tanggal adalah buah perbuatan manusia, sementara bulan berasal dari Tuhan. Hitungan bulan dibuat berdasarkan kesejajaran posisi bulan dengan bagianbagian tertentu di tubuh manusia. Bulan satu malam adalah Bulan di atas kepala, bulan dua malam berada di mata, bulan tiga malam berada di telinga, bulan empat malam berada di mulut, bulan lima malam berada di bahu, bulan enam malam berada di bawah siku, bulan tujuh malam berada di telapak tangan, bulan delapan malam berada di siku, bulan sembilan malam berada di hati. Makna hitungan yang terakhir ini adalah agar segala sesuatu masuk ke dalam hati. Setelah penentuan malam ke-sembilan bulan di langit, lamin dibangun berdasarkan asas gotong-royong dengan kesadaran hidup bersama di bawah satu atap. Langkah pertama adalah mendirikan tiang. Mengingat tiang sangat besar dan tinggi, orang Dayak menanganinya dengan teknologi tepat guna, yaitu dengan cara ditarik. Lintasan yang akan dilewati batang pohon diberi hamparan batang-batang pohon kecil, sehingga batang pohon besar dapat meluncur di atasnya tanpa mengalami hambatan. Cara lain adalah mengangkut

Bulan 3

Bulan 2 Bulan 4

Bulan 5

Bulan 9

Bulan 8

Bulan 6

Bulan 7

Ilustrasi: Yayak Yatmaka

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

67

Ilustrasi: Yayak Yatmaka

dengan kereta kayu. Batang dinaikkan ke kereta dengan cara digulingkan ke atas. Posisi batang kayu di sisi depan kereta lebih panjang sehingga terlihat lebih rendah daripada di sisi belakang. Posisi ini membuat kereta lebih mudah didorong, karena tidak memerlukan tenaga yang besar. Untuk mendirikan tiang utama yang disebut orin bungan, mereka terlebih dulu menyiapkan parit tempat menaruh tiang. Selain itu, juga digali lubang tempat memancangkan tiang sampai kedalaman 2

meter untuk tiang-tiang yang berdiameter 40 sampai 80 sentimeter. Fungsi parit adalah untuk menjaga agar tiang-tiang tidak melenceng dari jalur yang ditentukan atau tidak miring ketika sedang ditegakkan. Tiang ditegakkan secara bergotongroyong, sebagian orang mengangkat dan sebagian lainnya menarik dengan tali (dulu menggunakan rotan). Dalam proses itu berlangsung gerakan serentak. Semakin ditegakkan, semakin tiang masuk ke dalam lubang.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

68

Tali penyeimbang

Tali penyeimbang

Tali penyeimbang

Tali arah lubang

Kaki tiang

Parit Kaki tiang

Ukuran tiang yang terpancang di dalam tanah mengacu ke tinggi orang yang paling tua dalam kelompok masyarakat pembuat lamin, mulai dari ujung kaki hingga ke mulutnya. Makna yang terkandung dalam ketentuan ini menarik, yaitu agar rezeki tidak terlepas dari mulut yang merupakan tempat orang menyuapkan makanan ke dalam tubuh. Jumlah Orin bungan yang dipancangkan sesuai dengan panjang lamin yang diinginkan. Panjang lamin amat relatif, karena setelah didirikan, lamin masih bisa diperpanjang. Meski demikian, panjang yang relatif itu pun dihitung berdasarkan

Ilustrasi: Yayak Yatmaka

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

69

ketentuan tertentu, yaitu ukuran depa (satu depa adalah satu bentangan tangan lakilaki dewasa, atau sekitar 1,5 meter) orang paling tua dalam kelompok pembuat lamin. Syaratnya, ujung ukuran tali atau rotan harus dalam genggaman. Ukuran ini punya makna, yaitu supaya rezeki tidak terlepas dan selalu dalam genggaman. Panjang lamin kadang-kadang mencapai 125 meter dengan lebar berkisar antara 15 dan 20 meter, sementara jarak antar tiang sekitar 4 sampai 5 meter. Tiang-tiang bagian bawah biasanya polos, kecuali tiang-tiang utama yang dibuat berukir atau dibubuhi ornamen. Tinggi tiang dari permukaan tanah biasanya 4 meter. Setelah tiang-tiang berdiri, langkah selanjutnya adalah membuat dasay (lantai). Papan lantai biasanya memiliki ketebalan 5 sentimeter. Lantai memiliki lima komponen yakni susuk, sulur, matuq, sikar dan terakhir dasay (lantai) sehingga orang dapat duduk nyaman. Pada zaman dulu lantai lamin terbuat dari uwei taman (rotan berukuran besar). Biasanya ada bagian lantai yang bentuknya agak menonjol yang dinamakan benturan.

Ilustrasi: Yayak Yatmaka

Ukiran pada tiang lamin Long Pahangai. (Rangga Purbaya)

70

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

berdasarkan ukuran orang paling tua dan orang paling muda dalam kelompok pembuat lamin. Mula-mula diukur tinggi orang paling tua dalam posisi duduk sampai batas tertinggi adalah kepala, dilanjutkan dengan mengukur tinggi orang paling muda dari ujung kaki sampai kepala. Penjumlahan kedua ukuran itulah yang dijadikan ukuran bagi tinggi tiang dalam rumah lamin. Tiangtiang utama biasanya dipahat berbentuk manusia, harimau dahan, burung dan lain sebagainya. Bagian atas seperti peturak (kuda-kuda), batang bungan (panjang bujur atas) dan atap dibuat mengikuti pola bagian bawah. Atap bagian bawah kadang-kadang cukup rendah sehingga kepala dapat terbentur saat orang keluar-masuk lamin. Di bagian atas lamin ada semacam lantai yang dimanfaatkan
Atas: Lantai lamin Tolan, menggunakan rotan. (Yayak Yatmaka)

Lantai yang terbuat dari rotan akan berbunyi ketika diinjak, dan bagian bawah rumah pun terlihat. Sekarang lantai terbuat dari papan tetapi disusun agak merenggang sejarak jari orang dewasa, sehingga orang mudah membuang kotoran ke bawah rumah. Tidak seluruh bagian lantai ini berupa ruang terbuka. Sebagian ruangan dibagi secara memanjang, dengan satu bagian untuk bilik keluarga. Untuk membagi bilik keluarga menjadi kamar-kamar penghuni lamin, dibuat sekat dari papan besar selebar 30 sentimeter yang dinamakan kapuk. Sesudah bagian lantai selesai, langkah selanjutnya adalah membuat tiang yang menghubungkan lantai dengan bagian peturak (kuda-kuda). Tingginya ditentukan

Ilustrasi: Yayak Yatmaka
Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

71

Atas: Sirap, lamin Pepas Eheng. (Rangga Purbaya)

untuk menyimpan tambur, gong, dan berbagai peralatan upacara adat. Atap lamin terbuat dari kayu ulin yang dibelah menjadi lembaran-lembaran sirap dengan menggunakan mandau. Lebar sirap biasanya mencapai 20 sentimeter dan panjangnya 75 sentimeter. Sirap dipasang dengan mengikatkannya ke reng memakai rotan. Pada zaman dulu, balok-balok kayu dan kasau diikat satu sama lain dengan tali rotan. Tiang bubungan juga diikat dengan rotan lalu direntangkan, kemudian diberi reng dan ditutup dengan sirap kayu ulin. Bila terjadi kebakaran, orang tinggal memanjat tiang bubungan lalu menetak tali rotan itu sehingga atap menggulung.

Bawah: proses pembuatan atap dan struktur atap. (Ilustrasi: Yayak Yatmaka)

Rotan

Rotan dipotong

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

72

Pintu dan tangga merupakan komponen lamin yang penting. Karena ketinggiannya, orang tak mungkin dapat mencapai lantai lamin tanpa bantuan tangga. Alasan utama orang zaman dulu mendirikan rumah bertiang tinggi adalah keamanan. Dengan demikian, tinggi tiang sebetulnya relatif, sejauh dapat menghindar dari jangkauan serangan tombak dan binatang buas. Pertimbangan keamanan juga mempengaruhi posisi tangga dan pintu lamin. Pintu lamin yang asli berada di tengah bagian bawah atau di kolong, sebagai sistem pintu tertutup. Posisi ini memberikan perasaan terlindung bagi penghuni. Bisa diduga, satu lamin biasanya mempunyai satu pintu saja. Komponen tangga terdiri dari induk tangga dan anak tangga. Induk tangga yang paling

besar berkedudukan di bagian bawah. Anak tangga terbuat dari batang pohon dengan bagian-bagian yang menonjol untuk berpijak. Seperti sudah disebut, tangga biasanya dapat ditarik ke atas rumah. Sementara, pintu gerbang dan pagar, menurut keyakinan orang Dayak Bahau, tidak boleh lurus tetapi harus berkelokkelok agar roh-roh jahat tidak dapat langsung menyergap penghuni rumah. Bagian terpenting lainnya dari lamin adalah dapur. Meskipun ukurannya lebih kecil daripada lamin, posisi dapur harus sejajar dengan lamin dan tidak boleh dibangun dalam formasi melintang. Tujuannya, agar api tidak segera merembet ke lamin melalui jalur batang bungan, jika terjadi kebakaran baik di lamin ataupun di

Berbagai macam tangga lamin. (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

73

dapur. Ukuran dapur, terutama bagian tungku, mengacu ke hitungan panjang tali yang diukur mulai dari salah satu telinga, melingkari kepala melewati telinga lainnya, sampai menyentuh ke bagian hati. Makna perhitungan ini berhubungan dengan daya kontrol pemilik lamin terhadap bencana seperti kebakaran. Telinga menandai kepekaan mendengar kalau ada sesuatu yang tidak beres, sementara hati menandai kepekaan merasa kalau ada hal-hal yang akan merugikan, misalnya bencana. Meskipun ada ketentuan depa untuk ukuran lamin, orang Dayak akan menghindari angka tujuh. Angka ini bermakna kematian, sebagaimana perhitungan dalam upacara kwangkai pada suku Dayak Benuaq yang menggunakan satuan tujuh hari. Sedangkan angka keberuntungan yang mempunyai

makna kehidupan bagi orang Dayak Benuaq adalah angka delapan.

Atas: Beberapa bagian dapur rumah. (Rangga Purbaya ) Filosofi menentukan ukuran dapur. (Ilustrasi: Yayak Yatmaka)

74

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Ilustrasi: Yayak Yatmaka

Pelangi, Purnama dan Pungguk
Lamin dibangun menghadap ke posisi matahari terbit, sejalan dengan penafsiran orang Dayak bahwa matahari terbit menandai awal kehidupan. Membangun lamin melambangkan dimulainya suatu kehidupan. Meski demikian, pekerjaan membuat lamin dapat dihentikan sementara dengan mempertimbangkan gejala alam, pertanda dari binatang, ataupun karena faktor manusia. Kegiatan membangun lamin akan dihentikan sementara kalau muncul gejala alam berupa pelangi sesudah hujan panas. Kegiatan itu juga dihentikan selama tiga hari pada waktu bulan purnama. Kedua gejala alam itu dianggap sebagai pertanda kematian. Pantangan ini juga berlaku bagi orang yang meladang karena diyakini akan sebagai tanda hari yang sial. Pembangunan lamin juga akan dihentikan bila ada pertanda dari binatang, yaitu bila tiba-tiba terdengar bunyi burung pungguk pada siang hari. Sedangkan faktor dari manusia adalah bila ada anggota keluarga yang meninggal, sebagai bentuk solidaritas dan dukacita yang mendalam atas musibah kematian.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

75

YK

Penduduk kampung Long Tuyoq. (Rangga Purbaya)

Rumah Tunggal
Penduduk di Datah Bilang Hilir dan Datah Bilang Hulu berasal dari kampung Tege di Apo Kayan, yang kini termasuk wilayah Kecamatan Kayan Hulu, Kabupaten Malinau. Mereka meninggalkan Apo Kayan secara bergelombang dan memerlukan waktu bertahun-tahun sebelum akhirnya tiba di pemukiman yang sekarang. Mereka meninggalkan pemukiman asal untuk mendekati kota, dengan harapan dapat hidup lebih layak. Relief di lamin Datah Bilang Hulu mengisahkan perjalanan panjang itu.
YK

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

76

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Kiri: Ruang dalam lamin Datah Bilang Hulu. Kanan: Tampak luar lamin Datah Bilang Hulu. (Rangga Purbaya)

Bermula dari kampung Tege, Long Bon, Metulang, Dumu, Tebuan, Peta Baru dan kemudian mudik menyusuri sungai Mahakam, mereka tiba di kampung Datah Bilang pada tahun 1975. Perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya itu memakan waktu paling sedikit tiga tahun, dan paling lama sepuluh tahun. Waktu tempuh yang panjang itu mereka gunakan untuk bertani menyiapkan bekal. Ketika bekal sudah cukup, mereka pindah ke tempat selanjutnya; demikian seterusnya hingga tiba di Datah Bilang. Peresmian Datah Bilang sebagai kampung pada tahun 1975 oleh presiden Republik Indonesia, berkaitan

dengan program resettlemen penduduk (Respen). Kami mendapat informasi bahwa perpindahan orang Dayak Kenyah ke Datah Bilang adalah perpindahan yang ke delapan, dan mereka merasa Datah Bilang sebagai kampung akhir. Kami juga mencermati pemukiman di Datah Bilang untuk mengetahui bentuk-bentuk bangunannya. Ada empat bentuk bangunan di Datah Bilang Hulu maupun Datah Bilang Hilir, yaitu (1) rumah panjang/lamin yang dalam bahasa Kenyah disebut umaq dadoq, (2) pondok atau rumah tunggal yang disebut amin tengen, (3) pondok atau lepau yang

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

77

Amin tengen dibangun atas inisatif pribadi orang Dayak Kenyah dengan bahan bangunan umumnya berupa kayu ulin, atapnya berupa sirap dari kayu ulin, dinding dari papan kayu meranti, dan lantai dari papan kayu ulin

dibangun di ladang, dan (4) lepubung tempat menyimpan hasil pertanian seperti padi. Bahan bangunan umaq dadoq, amin tengen, pondok dan lepubung umumnya berupa kayu ulin. Atapnya yang berupa sirap (dalam bahasa Kenyah disebut kepang) juga terbuat dari bilah-bilah kayu ulin, sedangkan enteing (dinding) dan aso (lantai) terbuat dari papan kayu ulin atau kayu-kayu jenis lainnya. Mata pencarian penduduk selain bertani adalah menangkap ikan, menganyam rotan untuk berbagai kerajinan tradisional seperti tikar lampit dan anjat, serta membuat mandau dan perisai dari bahan

kayu. Komunitas Dayak Kenyah di Datah Bilang Hilir dan Datah Bilang Hulu tidak lagi menghuni lamin (umaq dadoq). Mereka menetap di rumah-rumah tunggal (amin tengen), berjajar di sisi kiri dan kanan jalan kampung (jananbio) yang memanjang seturut sungai Mahakam. Amin tengen dibangun atas inisatif pribadi orang Dayak Kenyah dengan bahan bangunan umumnya berupa kayu ulin, atapnya berupa sirap dari kayu ulin, dinding dari papan kayu meranti, dan lantai dari papan kayu ulin meskipun ada juga yang menggunakan semen.

Kamar mandi terletak di sisi rumah dan terdiri dari dua bilik, yaitu untuk buang air dan untuk mandi. Di depan kamar mandi ada ruang terbuka untuk menjemur pakaian, sedang di sisi kiri dan kanan tergantung pot-pot berisi tanaman hias dan tanaman obat. Kolong rumah digunakan sebagai tempat menumpuk kayu ulin beragam ukuran. Di belakang dapur ada tumbuhtumbuhan liar dan kolam.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

78

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Lepubung yang terdapat di wilayah Apo Kayan, seperti di kampung Sungai Barang, Long Uroq, Long Lebusan dan Long Ampung, dihias dengan ornamen-ornamen bermotif binatang atau bunga yang menandakan status sosial pemiliknya

Kiri bawah: Lepau tampak luar. Kanan bawah : Ruang dalam lepau. (Rangga Purbaya)

Di ladang-ladang orang Dayak terdapat pondok ladang (lepau). Lepau berfungsi sebagai pondok istirahat, tempat berteduh dari guyuran hujan atau sengatan terik matahari, serta tempat bermalam ketika mereka tidak pulang ke rumah di kampung. Biasanya mereka tinggal di lepau selama seminggu. Lepau mempunyai atap tunggal yang ditunjang oleh tiang-tiang (suka) berupa balok-balok kayu yang tidak diketam. Lantainya terbuat dari batangbatang kayu kecil, meski ada juga yang terbuat dari papan yang tidak diketam. Atapnya (sapau) terbuat dari daun lame.

Untuk naik ke lepau, digunakan tangga dari kayu yang diberi lekukan-lekukan untuk pijakan. Konstruksi lepau lebih sederhana daripada amin tengen. Lepubung adalah bangunan panggung yang berfungsi sebagai lumbung padi. Pada masa lampau, lepubung juga berfungsi untuk menyimpan benda-benda berharga termasuk benda-benda pusaka. Tiang-tiang lepubung terbuat dari kayu gelondongan, dindingnya dari papan-papan kayu dan atapnya berupa sirap. Tinggi lepubung dari permukaan tanah sampai ke lantai sekitar

RP

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

79

2 meter dan dihubungkan dengan tangga (can). Tiang penyangga lepubung terbenam ke tanah sedalam 1,5 meter. Tiang-tiang penyangga biasanya dililiti seng sepanjang 20 sentimeter dari permukaan tanah ke arah lantai, agar tikus tidak bisa naik. Lepubung memiliki dua ruang. Satu ruang berfungsi sebagai ruang penyimpanan padi, sedangkan ruang lainnya berupa teras untuk menaruh alat-alat berladang seperti tapan, ingen, parang, tugal, kiba, tahieng (tikar untuk menjemur padi), tabilung (wadah penyimpan beras), bubu dan jala untuk menangkap ikan. Bahan untuk membuat lepubung adalah kayu-kayu berdiameter 10 sentimeter yang terdapat di sekitar ladang, dan biasanya tidak diketam. Dinding lepubung terbuat dari rangkaian papan yang juga berasal dari kayu-kayu di sekitar ladang. Atap lepubung terbuat dari sirap ulin. Lazimnya, bangunan lepubung tidak diberi hiasan dan bentuknya sangat sederhana. Namun lepubung yang terdapat di wilayah Apo Kayan, seperti di kampung Sungai Barang, Long Uroq, Long Lebusan dan Long Ampung, dihias dengan ornamen-ornamen bermotif binatang atau bunga yang menandakan status sosial pemiliknya.

Lepubung (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

80

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Dari Lamin ke Balai
Perubahan rumah panjang (lamin/betang/lou) menjadi rumah tunggal tampaknya sudah tak terhindarkan. Gejala ini terjadi di hampir seluruh komunitas Dayak di Kalimantan, kendati masih ada lamin yang digunakan sebagai kediaman komunitas. Dalam perkembangannya, fungsi lamin berubah dari hunian menjadi balai. Dengan kata lain, rumah panjang yang semula merupakan hunian komunal berdasarkan pandangan hidup dan nilai-nilai warisan leluhur, sekaligus simbol identitas orang Dayak, kini menjadi bangunan yang digunakan hanya untuk kegiatan sosial-budaya.

Umaq Dadu, Lung Anai. Tampak luar, tampak dalam dan beberapa detil ornamen serta tangga. (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

81

Lamin di Datah Bilang Hilir, Datah Bilang Hulu, Long Pahangai, Long Tuyoq, Long Isun, Long Pakaq, Tiong Ohang, Tiong Buu, dan Naha Buan kini disebut sebagai balai. Balai diapit oleh rumah-rumah warga dan menjadi tempat untuk pertemuan warga, pertunjukan kesenian, dan tempat menyimpan alat-alat kesenian. Bahan bangunan lamin terbuat dari jenis kayu ulin yang sangat keras dan tiang penyangganya juga terdiri dari batangbatang ulin. Dindingnya terbuat dari papan ulin, atapnya berupa sirap ulin, dan

lantainya juga dari papan ulin. Kuda-kuda bangunan ditautkan satu sama lain dengan paku atau diikat dengan rotan. Tiang utama setinggi sekitar 3,5 meter terbuat dari kayu ulin gelondongan yang dihias dengan ukiran bermotif khas masing-masing suku Dayak. Dari segi tata ruang, balai terbagi menjadi dua, yaitu beranda atau serambi (usei) yang merupakan ruang terbuka tempat menerima tamu, pertemuan warga, pertunjukan kesenian, dan tempat bercengkerama warga kampung; serta ruang belakang yang berfungsi sebagai gudang penyimpanan,

sekaligus tempat keluar-masuk para penari saat ada pertunjukan. Pertunjukkannya sendiri digelar di usei. Ruang usei dan ruang belakang dibatasi dengan dinding.

Rangga Purbaya

Rangga Purbaya

Steve Pillar

Rangga Purbaya

Steve Pillar

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

82

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

1

2

3

4

5

6

7

8

1. Lamin Naha Buan; 2. Lamin Tering Seberang; 3. Lamin Tiong Buu; 4, 5, 6, 7, 8. Detil ukiran tiang lamin. (Rangga Purbaya)

Dinding tengah dibubuhi beragam hiasan dekoratif berpola melingkar (kalong) saling bertautan. Hiasan dengan motif kalong memiliki pola figuratif berupa burung enggang, harimau, anjing, naga, tempayan, pohon besar, wajah manusia, daun-daun menyerupai awan yang sedang bergerak (jantun nguku/Dayak Benuaq). Ada pula motif menyerupai sarang lebah (waniq ngelekunq/Dayak Benuaq), ekor harimau (bengkolokokng timang/Dayak Benuaq), harimau (asoq lejo/Dayak Bahau, dan motif geometris. Gambar-gambar figuratif dibubuhi warna-warna terang seperti putih,

kuning, hijau, merah dan biru. Dinding yang dipenuhi hiasan bermotif kalong terdapat di lamin yang dihuni oleh kelas bangsawan (paren). Sementara di bagian yang kosong tergantung dua jubah pelindung untuk perang terbuat dari bahan kulit harimau dahan dan kulit kambing (mek). Jubah itu berfungsi untuk melindungi bagian dada dan punggung pemakainya.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

83

Lamin Long Lunuk (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

84

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

1

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

85

2

3

4

5

6

Bagian depan dihiasi cangkang kerang dan berbagai ornamen lainnya, rompi perang (besunong), topeng (maoq) dan perisai (kelempit) terbuat dari papan kayu yang kuat serta diberi ikatan melintang di bagian atas dan bawah, dan di bagian muka ada hiasan daun-daun kering. Sedangkan di bagian tengah ada topeng wajah manusia (hudoq), topi (beluko) yang terbuat dari anyaman rotan, dan gong (tawek). Rompi-rompi perang dan besunong sekarang berfungsi sebagai perlengkapan tarian perang yang dikenakan para ksatria Dayak Kenyah. Di atas dinding tergantung perahu sepanjang kira-kira 3 meter dan patung burung enggang. Di sisi kanan usei ada lesung terbuat dari kayu ulin sepanjang 4 meter serta enam buah alu yang juga terbuat dari kayu ulin. Gambaran naratif tata ruang lamin adalah sebagai berikut. Lamin didirikan di atas tiang-tiang kayu ulin yang banyak jumlahnya, setinggi kurang lebih 2 meter dari permukaan tanah. Tiang utama terbuat dari kayu ulin gelondongan yang diukir dengan motif Dayak Kenyah. Beberapa tiang yang paling dekat ke tangga masuk dipahat berbentuk patung. Untuk naik ke amin dadoq kita perlu melalui tangga depan (canjuma) yang terbuat dari batang kayu ulin dan diberi cekungan-cekungan (takik) sebagai tumpuan kaki.

7

9

8

2, 3, 4, 5, 6 : Detil atap dan struktur lamin. 1, 9 : Pertunjukan tari-tarian di lamin Pampang. 7, 8 :Tampak luar Amin Dadu dan Lamin Datah Bilang Hilir. (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

(Rangga Purbaya)

88

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Setelah menaiki tangga, kita memasuki ruang segi empat tanpa penyekat yang berfungsi sebagai usei. Di sekeliling usei terdapat kursi panjang permanen. Tampak sebuah jatong (tambur) sepanjang tiga meter digantung melintang di bagian depan usei. Dinding tengah usei diberi hiasan bergaya Dayak Kenyah dengan warna dasar hitam dan motif-motif dekoratif berwarna putih, kuning, merah dan hijau. Selain sebagai ruang untuk bermacam-macam kegiatan, usei juga menjadi tempat bermain anakanak. Kami memperoleh beberapa pelajaran berharga dari rumah lamin. Pertama, teknologi pembuatan lamin mengandung pokok-pokok penting yang masih relevan sampai saat ini. Lamin yang terkesan ketinggalan zaman sebetulnya telah diadopsi ke dalam bentuk pemukiman modern. Jauh sebelum muncul apartemen atau rumah susun, konsep pemukiman komunal di bawah satu atap telah menjadi bagian dari kehidupan orang Dayak. Kedua, pola kehidupan komunal rumah lamin membawa hikmah tersendiri berkaitan dengan tata ruang, yakni adanya ruang privat dan ruang publik. Ruang publik dan ruang privat yang tertampung dalam satu atap inilah yang kerap tidak cukup mendapat perhatian. Konstruksi rumah lamin memungkinkan para penghuni saling berinteraksi saat keluar-masuk bilik masingmasing. Pola semacam ini memungkinkan relasi sosial yang erat terbentuk di antara sesama penghuni.

Teras dalam lamin Benung (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

89

Bangunan kantor, asrama mahasiswa, dan kampus dapat menerapkan pola perpaduan ruang publik dengan ruang privat semacam ini. Bentuknya tentu tidak mesti sama, tetapi ada ruang publik yang senantiasa dilalui oleh para pengguna bangunan. Pola ini membuka kesempatan bagi sesama pengguna untuk berinteraksi, saling tatap muka dan bertegur sapa tanpa perlu menyediakan waktu khusus. Ketiga, perubahan zaman memungkinkan orang Dayak kini lebih mudah membangun rumah-rumah tunggal. Namun, rumah lamin masih bertahan. Di Pampang, rumah lamin menjadi tempat pertunjukan kesenian yang mampu menarik banyak pengunjung. Di Tanjung Isuy terdapat rumah lamin

Batubura yang dipugar dengan dukungan dana swasta dan kini berfungsi sebagai penginapan. Di Long Anai dan di Hulu Mahakam, lamin menjadi balai adat tempat rapat warga, pertunjukan kesenian dan tempat menerima tamu. Ruang rumah lamin juga dijadikan ruang sekolah. Anakanak dapat dengan aman bermain di ruang terbuka sementara orang tua mengawasi mereka. Kelima, penelitian ini kami jalankan bertepatan dengan musim hujan. Kami menyaksikan rumah-rumah warga di sekitar sungai Mahakam terendam, sementara rumah lamin tidak terkena banjir karena letaknya yang tinggi, jauh dari permukaan tanah.

Ibarat gajah di pelupuk mata yang tak tampak, demikianlah keutamaan-keutamaan rumah lamin yang kerap lolos dari perhatian.

Kiri atas: Amin Dadu, dijadikan tempat Pendidikan Anak Usia Dini. Kanan atas: Anak-anak belajar di Amin Dadu. (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

90

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Ukiran Pembawa Pesan
Selama berada di kawasan-kawasan pemukiman Dayak di Kutai Barat, di hadapan kami senantiasa terpampang rupa-rupa benda dengan gambar-gambar yang luar biasa indah serta sarat makna. Torehan tangan terampil adalah wahana orang Dayak untuk menyampaikan gagasan dan pesan yang ada dalam benak mereka. Kadang-kadang kami menemukan hiasan bergambar harimau di dinding pintu masuk lamin. Harimau sang raja hutan memberi inspirasi bagi orang Dayak mengenai kepala adat yang berwibawa. Di puncak atap bagian depan menjulang patung burung enggang, demikian pula di dinding bagian atas lamin. Burung enggang melambangkan kehidupan dunia atas, terkait dengan keluhuran budi dan ketinggian derajat manusia. Di setiap pintu bilik tergambar hiasan berwajah manusia, macan dahan, anjing, dan suluran yang diyakini akan melindungi penghuni bilik dari ganguan roh jahat. Pinggiran atap lamin pun tidak luput dari hiasan berupa ujung tombak dan ukiran bermotif daun pakis. Gambar-gambar itu menunjukkan bahwa orang Dayak setia dan patuh kepada adat.
(Rangga Purbaya)

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

91

(Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

92

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Struktur Tungku Api
Tungku api menggunakan kayu sebagai bahan bakar. Tinggi bangunan tungku, yang dalam bahasa Dayak Kenyah disebut atang, sekitar 80 sentimeter sampai 100 sentimeter dari lantai rumah. Atang berbentuk segi empat dengan luas permukaan antara 1 dan 1,5 meter persegi, tinggi 100 sentimeter dan tebal sekitar 40 sentimeter. Bangunan tungku terbuat dari balok kayu dan papan kayu keras yang diisi dengan tanah hitam yang dipadatkan. Bangunan tungku berfungsi sebagai landasan untuk meletakkan batu tungku. Di bagian atas bangunan tungku terdapat rangka para-para setinggi 1 meter terbuat dari besi-besi bundar kecil dengan diameter 1 sentimeter. Di beberapa lamin, rangka para-para tidak terbuat dari besi tetapi dari kayu keras jenis ulin. Para-para berfungsi sebagai perangkat untuk mengasap ikan atau daging hasil buruan. Di atas para-para tersebut ada bagian untuk menyimpan kayu bakar yang masih basah. Kegiatan menyusun kayu bakar dilakukan baik oleh kaum perempuan maupun laki-laki. Banyaknya kayu bakar yang tersusun di atas para-para, konon, mengisyaratkan bahwa sang pemilik rumah rajin. Tungku yang terletak di atas bangunan tungku dalam bahasa Dayak Kenyah disebut anang. Tungku lazimnya terdiri dari tiga buah batu kali yang disusun berbentuk segi tiga. Di atas tungku terdapat ntang kuden yang secara harafiah berarti “gantungan panci”. Ntang kuden merupakan variasi

(Rangga Purbaya)

Teknologi Dapur
Banyak ahli humaniora sepakat bahwa peradaban dimulai dari kebutuhan paling dasar manusia yaitu makan dan minum, yang lalu berkembang menjadi kuliner – seni masak memasak. Kegiatan masak memasak berlangsung di dapur yang merupakan pusat pengolahan makanan dan minuman sehari-hari. Sebagaimana lazimnya dalam kebanyakan rumah, dapur rumah lamin dan rumah tunggal orang Dayak terletak di bagian belakang. Bagian terpenting untuk masak memasak di dapur rumah lamin adalah tungku api yang menggunakan kayu bakar. Tulisan di bagian ini memaparkan struktur tungku dan berbagai peralatan yang digunakan orang Dayak untuk menyiapkan masakan, makanan pokok serta cara mereka beternak.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

93

tungku gantung dan terbuat dari kayu bercabang dililit anyaman rotan serta digantung di para-para. Ketika mereka merebus air menggunakan ceret, pegangan ceret disangkutkan ke ntang kuden. Bila ada pesta, mereka juga memasak di luar rumah dengan membuat tungku yang di sebut jo. Tungku tersebut dibuat di pekarangan dengan cara menancapkan dua batang kayu setinggi 1-2 meter dalam posisi sejajar dan berfungsi sebagai tiang penyangga. Di atas kedua cabang diletakkan sebatang kayu lurus yang berfungsi sebagai sandaran wadah masakan yang terbuat dari ruas-ruas tabung bambu. Jo biasanya dibuat hanya untuk memasak lemang pulut (jenai). Peranti untuk menjaga nyala bara api di tungku disebut peluput aay yang terbuat dari bambu sepanjang 30 sentimeter dan berfungsi untuk meniup kayu-kayu di tungku api agar kian membara. Pada masa lampau, orang Dayak sudah memiliki teknologi untuk memperoleh api. Caranya adalah dengan mengumpulkan serbuk kayu kering, ranting serta kayukayu kering. Lalu mereka membuat tongkat kayu sepanjang 20 sampai 30 sentimeter seukuran ibu jari yang diraut hingga licin. Setelah semua bahan terkumpul, tongkat kayu diletakkan dengan posisi tegak lurus di antara kedua belah telapak tangan. Kedua telapak lalu digerakkan dengan cepat sehingga tongkat kecil itu tergosok, menjadi panas dan melontarkan percikan bunga api yang menyambar serbuk-serbuk kayu kering yang sudah disiapkan. Setelah api menyala, mereka meniupnya perlahan-lahan menggunakan peluput aay. Hembusan angin

melalui peluput aay menimbulkan kobaran api yang akan membakar ranting-ranting dan kayu-kayu kering.

Ragam Peralatan Dapur
Teknologi peralatan dapur mencakup beragam alat yang digunakan untuk berbagai kegiatan di dapur. Macam-macam peralatan dapur yang berhasil kami kumpulkan dapat dibagi menjadi tiga macam, yakni teknologi benda-benda tajam, teknologi penyimpanan air atau beras, dan teknologi pengolahan makanan.

Teknologi Benda-benda Tajam
Teknologi benda-benda tajam berfungsi untuk memotong dan mengupas bahan makanan, baik ikan maupun buah-buahan. Teknologi ini beragam seperti dipaparkan di bawah ini. Batu Asah terbuat dari batu kali berwarna hitam dan licin, serta digunakan untuk mengasah pisau, lingga, mandau, parang, dsb. Batu asah tidak mereka buat tetapi mereka cari dan peroleh di sungai. Jenis batu ini cukup kuat dan dapat bertahan cukup lama. Namun semakin sering digunakan untuk mengasah benda-benda tajam, semakin batu ini menipis dan mengecil ukurannya karena terkikis. Sagan/Jerokat bisa juga disebut telenan adalah alas untuk memotong daging, ikan dan sebagainya, serta terbuat dari papan tebal, biasanya dari kayu ulin. Bentuknya bundar atau segi empat dan diberi gagang sebagai pegangan. Sagan dibuat dengan cara memotong atau mengergaji kayu gelondongan berdiameter 1,5 jengkal sepanjang sekitar 5 sentimeter. Alat ini

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

94

Pembungkus pisau anak mandau (kumpang) terbuat dari kulit kayu yang diikat ke mandau, sehingga mandau dan pisau anak mandau merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Pisau anak mandau berbahan dasar besi, dengan tangkai terbuat dari kayu ulin. Biasanya besi diperoleh dari sisa pembuatan mandau dan parang. Jenis besi yang sekarang digunakan bisa berasal dari besi pegas mobil, besi as ketinting, atau gergaji mesin (chain saw). Daya tahan anak pisau mandau sangat tergantung pada jenis dan kualitas besi. Jika kualitasnya baik, anak pisau mandau dapat bertahan sampai puluhan dan bahkan ratusan tahun. Namun intensitas penggunaan yang tinggi menyebabkan pisau anak mandau cepat rusak atau patah. Pue adalah pisau dapur yang digunakan untuk mengiris, mengupas dan memotong ikan serta sayuran. Pue dibuat oleh pandai besi dengan cara ditempa. Sebagaimana anak mandau, bahan dasar pue berasal dari berbagai macam besi. Daya tahannya pun tidak jauh berbeda dengan anak pisau mandau karena intensitas penggunaannya sangat tinggi. Sebagai kesatuan yang tak terpisahkan dari mandau, pisau anak mandau (nyu) biasanya dibuat oleh pandai besi yang juga pembuat mandau. Proses pembuatan diawali dengan menyiapkan tungku dan membuat bara api. Setelah arang menjadi bara, bahan

pembuat pisau anak mandau berukuran panjang setengah jengkal diletakkan di atas bara yang menyala sampai menjadi merah membara. Besi yang sudah membara kemudian diangkat dari atas bara dan ditempa berulang kali hingga membentuk pisau anak mandau, lalu dicelupkan ke dalam air dan diasah menggunakan batu asah. Pisau anak mandau lalu dipipihkan dengan gerinda dan diasah kembali hingga tajam. Sambilu adalah pisau yang terbuat sisi luar kulit bambu berukuran 15 sentimeter. Sambilu berperan sebagai pengganti pisau untuk memakan buah Barania atau Gandaria. Pada zaman dulu, sambilu juga digunakan untuk memotong tali pusar bayi. Saat ini sambilu jarang digunakan karena fungsinya sudah tergantikan oleh pisau.

(Rangga Purbaya)

tidak dapat bertahan lama karena terlalu sering bersentuhan dengan peralatan tajam. Apalagi jika bahan baku bukan kayu ulin, sagan semakin cepat terkelupas. Nyu atau pisau anak mandau adalah sejenis pisau kecil pelengkap mandau. Panjang tangkainya sekitar 20 sentimeter dengan bentuk mata pisau meruncing di bagian ujungnya. Alat ini digunakan untuk membersihkan, meraut atau menghaluskan rotan, mengukir hulu mandau, mengukir sarung mandau dan mengerat daging. Anak mandau juga berfungsi untuk mengeluarkan duri yang tertancap di telapak kaki karena pada masa lampau orang Dayak berkelana di hutan tanpa alas kaki.

Teknologi Penyimpanan Air dan Beras
Sung Baloq berfungsi sebagai ember untuk membawa atau menyimpan air, terbuat dari buah labu tua yang dibuang isinya kemudian dikeringkan. Bagian leher labu dilubangi untuk menuangkan air masuk dan keluar. Bagian bawah labu yang gembung dipasangi tali rotan sebagai pegangan sehingga dapat dibawa seperti orang membawa anjat atau ingen. Karay Urong terbuat dari labu putih yang sudah tua, dibelah menjadi dua

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

95

dan dibuang isinya. Karay urong berfungsi sebagai sendok sayur atau piring. Telukin juga berfungsi untuk mengambil dan menyimpan air bersih, namun tidak terbuat dari buah labu tetapi dari bambu sepanjang 1-2 meter. Sekat antar ruas bambu dilubangi sehingga dapat diisi air sampai penuh. Labuk atau buah labu yang digunakan sebagai wadah penyimpanan air. Air yang disimpan dalam labuk biasanya terasa dingin dan segar. Aokanen adalah alat yang berfungsi sebagai centong nasi, terbuat dari kayu ulin berukuran panjang satu setengah jengkal tangan yang diraut menggunakan pisau anak mandau hingga berbentuk centong, lalu dihaluskan dengan menggunakan ampelas. Karena terbuat dari kayu ulin, daya tahan aokanen bisa lebih dari sepuluh tahun. Tareng adalah wajan yang terbuat dari besi. Tareng tidak dibuat tetapi dibeli. Supak ialah alat yang digunakan untuk mengambil beras atau berfungsi sebagai alat takaran beras yang terbuat dari tempurung kelapa dibelah dua.

Kelangkakng atau tudung saji berfungsi untuk melindungi nasi dan lauk pauk agar tidak diganggu semut atau kucing. Kelangkakng berbentuk bulat atau segi empat dan terbuat anyaman bilah bambu selebar sekitar 2-3 sentimeter. Ketika berada di kampung Datah Bilang Hilir, kami sempat melihat perangkat pengganti piring dan gelas terbuat dari daun pisang yang digunakan sebagai wadah makanan dan minuman bagi orang-orang yang sedang bekerja bakti memperbaiki lamin/balai. Cara membuat wadah itu sangat sederhana. Daun pisang yang telah dilepaskan dari pelepahnya diasapkan di tungku, kemudian dibentuk wadah segi empat memanjang dan sisi-sisi depan serta belakang ditusuk dengan rautan bilah bambu setipis ukuran lidi.

dapat digunakan lebih dari sepuluh tahun. Tapan/nyiru, ilik pare terbuat dari anyaman bambu berbentuk bulat yang berfungsi untuk memisahkan beras dari sisa-sisa gabah atau sering juga digunakan sebagai tempat untuk mencuci dan meniriskan sayur. Ileng uleq adalah alat yang digunakan sebagai penampi atau ayakan, berbentuk bulat dan terbuat dari bambu berkerangka rotan dengan ukuran lebih kecil dari tapan. Ileng uleq berfungsi sebagai penampi tepung beras, tepung singkong atau terigu. Kra Batang adalah alat pemeras batang tebu yang terbuat dari gelondongan kayu ulin sepanjang 1,5 meter, dengan diameter 60 cm. Alat pemeras batang tebu oleh orang Dayak Kenyah disebut kelumpi/uwet, sedangkan dalam bahasa Dayak Aoheng/ Penihing disebut ork.

Teknologi Pengolahan Makanan
Soeeq adalah bahasa Dayak Benuaq untuk cobek. Bentuknya bulat dengan ukuran bervariasi, namun lazimnya sebesar piring makan. Cobek terbuat dari kayu ulin dan diberi gagang untuk pegangan. Cobek digunakan untuk membuat sambal atau melumat bumbu-bumbu dapur menggunakan alat ulekan yang disebut pengerujaq. Karena terbuat dari kayu ulin, soeeq dan pengerujaq

96

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Parutan yang berfungsi untuk memarut kelapa dan singkong terbuat dari pelepah batang rotan berukuran besar (we ngono/ Dayak Benuaq). Namun di beberapa dapur keluarga di kampung maupun di lepau, terlihat parutan yang terbuat dari kaleng bekas wadah ikan sarden kalengan. Cara membuatnya, kaleng bekas wadah ikan dibelah menggunakan pahat hingga menjadi lempengan. Separuh lempeng kemudian dibuat berlubang-lubang dengan jarak cukup rapat. Tepi seng lalu dililit dengan rotan yang dilengkungkan sehingga terbentuk pegangan parutan. Sisi lempeng yang berlubang-lubang runcing selanjutnya dapat digunakan sebagai pemarut. Tebuan terbuat dari bambu yang berfungsi sebagai wadah memasak. Kuden adalah panci terbuat dari aluminium yang digunakan untuk menanak beras sampai menjadi nasi setengah matang. Kuden diperoleh dengan cara membeli. Bejana air terbuat dari bambu atau labu yang besar. Bejana bambu dibuat dari bambu sepanjang 1 meter dengan cara membobol ruas-ruas penyekatnya menggunakan kayu ulin. Atip adalah sebutan untuk penjepit bara atau kayu bakar panas yang ada di dalam tungku. Atip dibuat dari bambu yang dibelah

sehingga membentuk penjepit kemudian bagian hulunya diikat dengan tali rotan. Sendok terbuat dari tempurung kelapa untuk menyendok makanan. Sendok dibuat dengan membelah tempurung kelapa dibelah dua, kemudian daging kelapanya dikeruk dan tempurung dijemur. Setelah kering, tempurung dikerik menggunakan pisau dan dihaluskan dengan ampelas. Setelah bersih dan licin, belahan tempurung diberi tangkai untuk pegangan. Ada juga sendok atau tavii (Dayak Bahau) yang terbuat dari labu yang dibelah kemudian diberi tangkai dari kayu. Sendok yang terbuat dari labu dapat digunakan hingga 10 tahun.
(Rangga Purbaya)

Makanan Pokok dan Lauk Pauk
Nasi merupakan makanan pokok orang Dayak sebagaimana masyarakat Indonesia pada umumnya. Di kalangan orang Dayak dikenal beras jenis mayas dengan butiran berukuran kecil dan berbau harum ketika ditanak menjadi nasi. Beras mereka olah dari padi yang dihasilkan di ladang. Selain nasi, orang Dayak juga menyukai ubi dan singkong rebus yang dimakan dengan lauk-pauk atau dimasak sebagai sayur. Orang Dayak Benuaq menyebutnya lepet jabau. Sedangkan jagung, selain direbus atau dibakar juga dimasak sebagai bahan sayuran.

Orang Dayak juga sangat menyukai nasi dengan lauk sayuran. Jenis sayuran yang dimasak dengan cara direbus antara lain daun singkong, daun pepaya, daun pakis, kacang panjang, kacang tanah, labu, nenas muda dan terung. Sedangkan bumbubumbu yang digunakan untuk membuat sayur adalah serai, laos, cabe, kunir, jahe, garam dan sebagainya. Orang Dayak Kenyah di Datah Bilang Hilir menggunakan daun Bumbu Seribu sebagai pengharum dan penyedap rasa masakan. Sedangkan untuk menggoreng, ada yang menggunakan minyak yang berasal dari lemak babi (dawakng uneq) dan/atau menggunakan minyak kelapa.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

97

Pengolahan Makanan seharihari
Orang Dayak mengolah sayur, lauk-pauk dan daging dengan cara sederhana. Setelah semua bumbu tersedia dan ditumbuk halus, bumbu dimasukkan ke dalam kuali yang sudah diberi air secukupnya, kemudian direbus di atas tungku yang menyala. Setelah air berbumbu mendidih, sayuran atau daging yang sudah dicuci bersih dimasukkan ke dalam kuali sampai dianggap matang, lalu disajikan. Jenis-jenis ikan yang dikonsumsi adalah ikan sungai (ato) seperti jelawat, belida, baung, belutat, seluang dan patin yang ditangkap dengan cara dipancing, dijala atau dipasangi bubu. Sedangkan daging yang mereka konsumsi adalah daging ayam (iyap bai), babi peliharaan (buin), babi hutan (baboi), sapi, kijang (teleo), rusa (payau), itik, bebek, burung punai, ular dan kera bekantan (bekara). Lauk pauk yang terbuat dari ikan atau daging biasanya diolah dengan cara dibakar, direbus, atau dimasak dalam bambu. Setelah dibersihkan dan diberi garam, daging atau ikan dibakar di atas api hingga matang. Ikan jenis tertentu seperti ikan lais biasanya ditusuk seperti sate lalu dibakar. Namun ada jenis ikan yang pantang dibakar, yaitu ikan seluang. Menurut kepercayaan orang Dayak, ikan seluang adalah makanan kegemaran para hantu penunggu hutan, ladang dan kawasan sekitar rumah/lamin. Ketika ikan seluang dibakar, para hantu akan berdatangan memakan ikan itu sehingga

orang yang membakar ikan seluang akan tertimpa musibah. Selain direbus atau dibakar, ikan dan daging ataupun jeroan hewan dapat dimasak di dalam bambu. Caranya, ikan atau daging dibersihkan lalu dipotong kecil-kecil dan dibumbui serta diberi air secukupnya. Semua bahan kemudian dimasukkan ke dalam bambu dan direbus atau dibakar hingga masak. Beras ketan juga bisa dimasak dengan bambu. Setelah dicuci bersih beras dimasukkan ke dalam bambu, lalu diberi santan kelapa dan irisan daging atau kulit babi, serta dimasak di atas tungku hingga matang. Daging babi juga lazim digulai. Cara membuatnya, daging babi dipotong seukuran dua jari, dicuci hingga bersih kemudian dicampur dengan bumbu yang terbuat dari daun rempah seribu, kunyit, sereh dan garam, lalu direbus hingga masak.

(Yayak Yatmaka)

98

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Teknologi Pembuatan Gula
Komunitas Dayak di Kalimantan Timur (Tunjung, Benuaq, Kenyah, Bahau, Kenyah dan Aoheng/Penihing) memiliki peralatan untuk membuat gula yang disebut apeeq, kelumpi, uwet, krayak, ork, kra batang atau sebutan lainnya. Kra Batang, yang sudah disebut di atas, adalah alat yang diletakkan pada posisi setinggi punggung orang dewasa, kemudian diberi pegangan sehingga batang kayu besar itu dapat digerakkan majumundur. Batang-batang tebu yang sudah dibersihkan diletakkan di depan lubang pemeras tebu kemudian dijepit dengan kayu yang dimasukkan ke dalam lubang pemeras. Ketika kayu ditekan, sari tebu akan mengucur ke wadah penampung yang telah disediakan. Karena besar dan berat, kra batang sudah jarang digunakan lantaran kurang efisien.

Alat lain untuk memeras tebu adalah kelumpi, uwet, krayak (Dayak Bahau), dan ork (Dayak Aoheng-Penihing). Bentuknya seperti pohon bertangkai mirip paruh burung. Berbeda dengan kra batang, alat ini lebih kecil dan lebih ringan walaupun juga terbuat dari kayu ulin. Alat ini dapat ditempelkan ke tiang rumah dan dilengkapi dengan tangkai penekan yang juga terbuat dari kayu ulin. Di atas tangkai ada lubang untuk memasukkan tongkat pemeras tebu. Cara kerja apeeq adalah dengan menempelkannya ke tiang kayu yang kuat. Lalu tebu yang akan diperas dijepitkan pada apeeq hingga sari tebu mengalir ke wadah yang telah disediakan. Dari pengamatan kami, ukuran apeeq sangat bervariasi dan dapat dibuat sendiri. Berbeda dengan kra batang yang sudah jarang ditemukan, apeeq/kelumpi masih banyak digunakan. Hanya saja, kemudahan memperoleh gula di pasar membuat alat ini semakin jarang

digunakan. Apalagi, saat ini orang Dayak tidak lagi menanam tebu dalam jumlah banyak. Alat ini pun sulit dipindahkan karena memerlukan tenaga cukup banyak dan perlu diangkut dengan mobil sehingga tidak praktis.

Ilustrasi: Yayak Yatmaka

Ilustrasi: Yayak Yatmaka

Ilustrasi: Yayak Yatmaka

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

99

Ragi Ilustrasi: Yayak Yatmaka Air

Disimpan di tempayan tertutup selama seminggu

Beras/ketan

Teknik Pembuatan Buraq
Buraq adalah minuman tradisional yang mengandung alkohol. Dalam komunitas Dayak Long Gelat dan Dayak Bahau Busang ada dua jenis buraq, yaitu yang terbuat dari beras gunung dan dari beras ketan. Untuk membuat buraq, beras gunung atau beras ketan dicampur dengan ragi, lalu dicampur dengan air dan direndam dalam tempayan. Jumlah air tergantung selera atau sesuai dengan takaran masing-masing pembuat. Rendaman itu diendapkan sekitar seminggu sampai sebulan, hingga terjadi fermentasi alami dengan sempurna. Perasan air ketan/beras yang sudah terfermentasi lalu dimasukkan ke dalam botol dan ditutup rapat. Penutup botol harus diberi lubang kecil untuk sirkulasi udara, atau sarana “bernapas” cairan dalam botol, agar buraq yang dihasilkan berkualitas. Buraq dapat bertahan sampai bertahun-tahun, selama tempat penyimpanannya bebas bakteri dan jamur. Semakin lama tersimpan, semakin kualitas buraq meningkat dan kadar alkohol juga kian tinggi. Salah satu cara untuk meningkatkan kadar alkohol buraq adalah dengan memasukkan buah pinang tua pada saat penyimpanan. Lalu Buraq disimpan bukan di dalam botol, melainkan di dalam guci yang

ditanam di bawah cucuran atap rumah selama berbulan - bulan. Kalau pembuatannya keliru, buraq dapat menjadi cuka atau sebaliknya, tetap hambar seperti air biasa yang dalam bahasa Dayak Bahau disebut uli ataq. Dalam komunitas Dayak, tradisi minum buraq dilakukan saat upacara adat, misalnya, upacara adat panen padi, pesta pernikahan atau pesta-pesta lain yang dihadiri banyak orang. Bagi komunitas Dayak Bahau dan Long Gelat, upacara adat atau pesta tanpa buraq belumlah merupakan pesta. Buraq disajikan sebagai penghangat suasana dan untuk membangkitkan gairah berpesta. Pasalnya, upacara adat atau pesta selalu diramaikan dengan aneka kesenian, terutama tari-tarian yang kerap mengandalkan spontanitas. Minuman stimulan seperti buraq membantu menciptakan suasana yang diharapkan. Masyarakat Dayak Bahau dan Dayak Long Gelat tidak mengenal istilah mabuk. Kalau orang mulai merasa pusing sesudah meminum buraq, ia akan segera pulang ke rumah.

Tutup botol di lubangi

Bila ia sampai mabuk dan muntah di tengah-tengah keramaian, ia akan merasa malu dan menjadi bahan pembicaraan di komunitasnya. Lebih penting lagi, mereka memiliki aturan di dalam hukum adat yang melarang orang mabuk-mabukan, apalagi sampai membuat keonaran dan membahayakan orang lain. Orang yang kedapatan mabuk akan dikenai sanksi berupa denda adat.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

100

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Garam

Daging Babi 1 kg Dijemur

serta diberi garam, daging/lemak digongseng (digoreng tanpa minyak) hingga benar-benar kering. Setelah selesai, daging/lemak babi didinginkan, disimpan dalam tabung bambu kemudian ditutup rapat. Daging babi/lemak itu sewaktuwaktu harus dipanaskan. Cara pengawetan model ini mampu membuat daging/lemak bertahan selama enam bulan. Mereka juga mengawetkan daging babi, ayam atau ikan dengan cara mencuci daging hingga bersih, lalu mengeringkan dan menyimpannya di dalam panci atau bambu, kemudian membubuhinya dengan garam. Banyaknya garam tergantung berat daging, umumnya 1 kilogram daging dicampur 1 bungkus garam. Daging yang diawetkan dengan cara ini hanya mampu bertahan 20 hari. Teknik ini biasanya dipakai untuk menyiapkan bekal bagi perjalanan jauh. Daun peyang juga digunakan untuk mengawetkan daging. Caranya, daun dimasukkan ke dalam wadah bersamaan dengan daging babi, ayam atau ikan. Daya tahan pengawetan dengan daun peyang mencapai sekitar satu bulan. Daun peyang diperoleh dari hutan, tetapi tanamannya dapat dibudidayakan di halaman rumah. Selain daun, buah peyang juga digunakan dengan cara ditumbuk hingga halus, kemudian dicampurkan ke dalam daging/ikan yang akan diawetkan.

1 Piring nasi dingin

sedangkan daging yang disalai biasanya daging babi dan payau.
Simpan di tabung bambu atau panci. Tahan 20 hari

Ilustrasi: Yayak Yatmaka

Teknik Pengawetan Daging
Selain mengenal cara pembuatan ikan asin, orang Dayak juga mengenal teknik mengawetkan ikan dan daging dengan diasap (salai). Caranya, ikan atau daging dicuci hingga bersih, kemudian disalai di atas bara api hingga kering. Ikan atau daging yang diawetkan dengan cara ini dapat bertahan hingga sebulan. Jenis ikan yang disalai adalah ikan lais dan baung,

Mereka juga mengenal teknik pengawetan yang tidak membuat rasa daging dan ikan berubah. Teknik pengawetan itu tempo. Caranya, ikan/daging dicuci hingga bersih, diberi garam secukupnya, kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang telah diisi sedikit air, lalu diletakkan di atas tungku panas sampai setengah matang. Selama dimasak, wadah tetap dalam keadaan tertutup. Setelah dianggap setengah matang, wadah diturunkan dari atas tungku dalam keadaan tetap tertutup. Tutup wadah hanya dibuka apabila ikan/daging diambil untuk dimakan. Makanan yang diawetkan dengan cara tempo biasanya hanya bertahan dua hari. Cara lain untuk mengawetkan daging, khususnya daging babi, disebut tempayak. Setelah daging dan lemak babi dibersihkan

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

101

Cara 1:
Air garam dimasak dalam wajan atau panci selama 24 jam. Saat air habis, kristal garam akan tertinggal.

Ilustrasi: Yayak Yatmaka

Teknik Pembuatan Garam
Dahulu orang Dayak mencari mata air di gunung untuk memperoleh garam. Mereka menampung air tersebut dalam wajan besar, lalu memasaknya selama 24 jam di atas tungku yang membara, sampai semua air menguap dan meninggalkan kristal garam. Orang Dayak percaya bahwa garam yang berasal dari mata air gunung dapat memberikan energi tambahan. Bila anjing yang ikut berburu diberi minuman yang dibubuhi garam gunung, mereka yakin anjing akan lebih gesit dan galak ketika mengejar binatang buruan. Orang Dayak Bahau Busang di Long Pahangai membuat garam dari airsopan yang berasal dari batu-batu berpasir. Air direbus hingga menghasilkan butiranbutiran garam. Nieuwenhuis (1994) juga menyebut bahwa konon, pada masa lampau, orang Dayak memperoleh garam dari mata air asin (airsopan) atau dari daun sejenis akar gantung bernama deken. Saat ini, mereka tidak lagi membuat garam dari gunung karena dapat dibeli dengan mudah.

Cara 2:
1. Buat lubang disekitar mata air garam. 2. Masukan silinder kayu berdiameter kecil dibanding lubang di tanah. 3. Dalam beberapa hari, garam akan menempel di dinding dalam silinder kayu.

Silinder kayu

Kristal garam menempel di dinding dalam silinder kayu

lubang disekitar mata air garam

Ilustrasi: Yayak Yatmaka

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

102

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Selain reban piak, orang Dayak juga membuat sangkar ayam yang mirip dengan sangkar burung, terbuat dari anyaman bambu.

(Steve Pillar)

Cara Beternak
Cara beternak orang Dayak juga menarik. Mereka mengenal teknik pembuatan kandang babi dan kandang ayam. Agar babi, yang dalam bahasa Dayak Benuaq disebut uneq, tidak berkeliaran dan tidak kehujanan, orang Dayak membangun kandang kecil di belakang rumah atau di kolong lamin. Kandang babi, atau tangukng uneq (Dayak Benuaq), terbuat dari batang-batang kayu berdiameter sekitar 5 sampai 10 sentimeter yang diikat dengan rotan, hingga berbentuk rumah kecil dengan satu pintu di bagian tengah atau samping, kemudian diberi atap

daun nipah atau sirap. Babi-babi peliharaan mereka beri makan dua kali sehari, pagi dan sore, berupa sisa-sisa makanan, isi perut ikan dicampur daun keladi, buah mengkudu, singkong dan umbut pisang hutan. Kadangkadang makanan itu dicampur dengan dedak. Mereka mengerti bahwa babi mengandung cacing. Namun hal itu bukan masalah karena ada penangkalnya, yaitu buah mengkudu yang dicampur ke dalam makanan babi. “Getah yang terdapat dalam buah mengkudu mengandung zat pembunuh kuman-kuman cacing,” ujar Petrus Lama

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

103

(Steve Pillar)

(Rangga Purbaya)

(Steve Pillar)

(Rangga Purbaya)

(Steve Pillar)

Kepala Adat Dayak Benuaq dari kampung Benung. Orang Dayak juga berternak ayam. Mereka membuat kandang ayam di belakang atau di kolong rumah/lamin. Kandang ayam, atau dalam bahasa Dayak Benuaq disebut reban piak, terbuat dari bilah bambu atau batang kayu kecil dengan ukuran sesuai kebutuhan. Kandang ini berfungsi untuk mengurung ayam pada malam hari. Pada siang hari ayam dilepas bebas untuk mencari makan. Pada pagi dan sore hari, biasanya ayam juga diberi makan beras, gabah, jagung atau singkong.

Selain reban piak, orang Dayak juga membuat sangkar ayam yang mirip dengan sangkar burung, terbuat dari anyaman bambu. Untuk membuat sangkar, mereka membelah sebilah bambu menggunakan mandau kemudian merautnya dengan anak pisau mandau menjadi beberapa bilah sepanjang sekitar 60 sentimeter dan lebar sekitar 1,5 sentimeter, dengan bentuk pipih persegi empat. Bilah bambu yang telah diraut halus lalu dianyam dengan teknik silang diagonal. Kurungan ini dapat bertahan hingga lebih dari 5 tahun, dan bahkan lebih lama lagi jika terlindung dari panas dan hujan.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

104

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

105

Menebang pohon dilakukan searah agar pohon tumbang ke satu arah. Tujuannya adalah untuk menutupi permukaan tanah dengan runtuhan batang kayu dan dedaunan, sehingga ketika dibakar, tanah yang akan ditanami ikut terlahap api dan pemupukan dapat tersebar merata.

Teknologi Berladang
Padi adalah salah satu hasil kegiatan berladang orang Dayak. Lahan yang disukai adalah lahan-lahan pada tanah datar, miring, dan dataran rendah. Lahan yang paling banyak digunakan untuk berladang oleh orang Dayak Kenyah dan Bahau di Hulu Mahakam adalah lahan di tepi-tepi sungai karena tanahnya subur. Menurut Revius, seorang tokoh masyarakat Datah Bilang Hulu, tanah yang paling baik untuk peladangan adalah tanah yang berwarna hitam dan merah. Peralatan yang digunakan orang Dayak untuk menanam padi di ladang (uma) terdiri dari parang dan tongkat pelobang tanah (tugal).

Pada masa lampau, “Orang yang dituakan selalu memberi petuah”. Demikian Ding Hat, tokoh adat Dayak Busang Saq di Long Hubung, mengawali penjelasannya tentang ketentuan untuk memilih lahan peladangan. Jika dalam perjalanan membuka hutan untuk berladang atau berburu terdengar suara burung Isit, mereka harus pulang kembali ke kampung. Bunyi Isit adalah pertanda melapetaka atau kesialan sedang menunggu. Untuk membersihkan lahan ataupun memulai kegiatan bertani, mereka juga harus melihat jalan matahari dari timur masuk ke dua gunung. Sesudah gejala itu terlihat, kepala adat akan memberi isyarat agar warga mempersiapkan kegiatan menanam padi.

(Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

106

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

107

Kegiatan berladang dimulai dengan menebas, yakni membersihkan lahan dari semak belukar dan pohon-pohon dengan menggunakan parang. Tidak semua pohon harus ditebang. Pohon-pohon yang menjadi tempat lebah madu bersarang dan yang getahnya mengandung racun atau digunakan untuk menjerat burung, tidak ditebang. Di ladang milik Revius Mering dan Broto hanya ditemukan pohon pisang, nangka, dan rambutan. Namun pohon terap, yang getahnya digunakan untuk menjerat burung, banyak terdapat di pinggir hutan di luar kawasan peladangan. Boleh jadi pohonpohon yang getahnya digunakan untuk racun pun masih banyak terdapat di hutan sekitar ladang mereka, tetapi informan tidak bersedia memberi informasi. Kegiatan menebas mereka lakukan bersama sanak keluarga. Kaum perempuan pun terlibat dalam kegiatan ini. Menebas dilakukan setiap hari sampai lahan bakal ladang dianggap bersih.

Penanganan lahan bagi ladang serta peralatan yang digunakan cukup sederhana. Mula-mula hutan yang akan dijadikan ladang ditebas dengan menggunakan parang (babig). Kemudian pohon-pohon besar ditebang dengan beliung (asay) yaitu sejenis kapak bertangkai panjang. Namun, penebangan pohon-pohon besar sekarang dilakukan dengan menggunakan gergaji mesin. Pohon-pohon yang berdahan lebat dipangkas menggunakan parang, beliung atau gergaji mesin. Kegiatan menebang umumnya dikerjakan oleh kaum lelaki, walaupun tidak tertutup kemungkinan kaum perempuan juga ikut membantu. Menebang pohon dilakukan searah agar pohon tumbang ke satu arah. Tujuannya adalah untuk menutupi permukaan tanah dengan runtuhan batang kayu dan dedaunan, sehingga ketika dibakar, tanah yang akan ditanami ikut terlahap api dan pemupukan dapat tersebar merata.

Ilustrasi: Yayak Yatmaka

YK

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

108

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Agar api tidak menjadi liar serta menjalar ke kawasan lain atau ke hutan sekitar, mereka membersihkan kawasan sekeliling lahan yang akan ditanami selebar 3 meter. Cara ini membuat api tetap terkurung.

RP

Selanjutnya adalah proses membakar. Batang-batang pohon, ranting-ranting dan dedaunan dipotong-potong lalu disebar merata di atas tanah dan dibiarkan mengering secara alami. Pengeringan biasanya berlangsung satu bulan. Setelah daun-daun dan ranting mengering, lahan bakal ladang dibakar dengan sulut api yang terbuat dari bambu atau kulit kayu. Kegiatan pembakaran dimulai pada akhir bulan Agustus hingga pertengahan September. Sisa-sisa pembakaran yang masih berserakan dikumpulkan menjadi onggokan dan dibakar lagi, sampai lahan cukup bersih untuk ditanami benih padi gunung yang harum (Depdikbud, 1993). Agar api tidak menjadi liar serta menjalar ke kawasan lain atau ke hutan sekitar, mereka membersihkan kawasan sekeliling lahan yang akan ditanami selebar 3 meter. Cara ini membuat api tetap terkurung.
(Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

109

(Rangga Purbaya)

Jika lahan sudah bersih, kegiatan berikutnya adalah menugal. Biasanya para laki-laki dengan alat tugal berada di posisi paling depan, sedangkan para perempuan di belakangnya untuk menebarkan benih padi ke lubang yang telah dibuat oleh para laki-laki. Penanaman padi dilakukan dengan jalan melubangi tanah dengan kayu tugal (tugan) dan benih padi dimasukkan ke dalam lubang tugal tersebut. Setiap lubang dapat diisi dengan 5 sampai 10 butir benih padi. Penabur benih yang sudah mahir cukup berdiri di depan lubang lalu melontarkan benih dengan hanya sedikit membungkukkan badan. Benih masuk dengan baik ke dalam lubang, meski kadang-kadang beberapa butir masih berserakan. Sesudah itu padi dibiarkan tumbuh. Tiga bulan sesudah proses menugal, rumput-rumput yang tumbuh menutupi ladang dan di sela-sela tanaman

padi dibersihkan menggunakan lingga (blu’ing), sejenis sabit untuk menyabit rumput, atau dengan parang bengkok (lubo’) yang bentuknya mirip golok Betawi. Kegiatan selanjutnya adalah menuai padi. Kegiatan ini berlangsung setelah tanaman padi dianggap sudah cukup menguning. Batang-batang padi dipotong menggunakan ani-ani (ilangajau). Pekerjaan ini dilakukan oleh kaum perempuan. Padi yang sudah dituai dimasukkan ke dalam ingen atau lanjung lalu disimpan di lepubung dekat pondok, walaupun ada juga yang dibawa pulang ke rumah di kampung.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

110

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

(Rangga Purbaya)

Tutup Kayu

Kulit Kayu

Kayu Ilustrasi: Yayak Yatmaka

Pelepasan bulir padi dari tangkainya dilakukan dengan cara menginjak-injak padi dengan kaki telanjang di atas hamparan tikar yang terbuat dari pandan, hingga terbentuk banih (gabah). Pekerjaan ini dilakukan oleh kaum perempuan, biasanya pada malam hari. Gabah kemudian dimasukkan ke dalam tabilung. Tabilung adalah wadah gabah sebesar drum terbuat dari kulit pohon yang dilingkarkan, lalu kedua sisinya disambung dan diikat dengan tali rotan. Dasar tabilung terbuat dari kayu bundar berdiameter sama dengan drum kulit itu. Kapasitas tabilung sekitar 100 kaleng. Satu kaleng berisi antara 16 sampai 20 liter.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

111

Proses berikutnya adalah mengolah gabah menjadi beras yang dilakukan dengan cara menumbuk (meca) menggunakan lesung (lesong) kayu dan alu penumbuk terbuat dari ulin. Ada beberapa cara lain untuk melepas gabah, antara lain dengan menggunakan alat giling gabah yang disebut kisar. Alat ini terbuat dari kayu kahoi. Komunitas Dayak Kenyah dan Dayak Bahau menggunakan kisar berukuran panjang 50 sentimeter dengan diameter 115 sentimeter. Alat ini besar dan berat padahal sistem peladangan orang Dayak bersifat gilir-balik sehingga kisar, yang harus diangkat oleh tiga orang dewasa, menjadi tidak praktis. Sekarang di daerah-daerah tertentu sudah digunakan mesin penggiling gabah (rice huller) yang dibeli dengan dana Bantuan Desa (Bandes) dan dikelola oleh Koperasi Unit Desa (KUD) setempat.

(Rangga Purbaya)

(Rangga Purbaya)

(Steve Pillar)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

112

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

(Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

113

(Rangga Purbaya)

Pada umumnya, masyarakat Dayak berladang di kawasan yang sama selama tiga tahun berturut-turut. Setelah itu, sesuai keyakinan mereka, lahan tidak lagi subur sehingga mereka pindah ke lahan lain, umumnya terletak di sebelah lahan lama dan masih termasuk kawasan ladang mereka. Pemberantasan hama relatif jarang dilakukan. Mereka berpegang pada keyakinan bahwa penebangan dan penebasan di lahan bakal ladang harus dimulai pada awal bulan. Kalau jadwal itu tidak dipatuhi, mereka percaya tanaman di ladang kemungkinan besar akan diserbu hama, seperti belalang, ulat dan burung.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

114

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Orang Dayak Bahau Saq di Long Hubung menyebut mandau dengan istilah muwung bilah yang artinya ‘tanah kuburan’. Teknologi Benda Tajam
Orang Dayak memiliki teknologi pembuatan benda-benda tajam. Pada masa lampau, benda-benda itu digunakan baik untuk berperang dan berburu, maupun untuk kegiatan sehari-hari. Sekarang, mandau sepenuhnya menjadi bagian dari peralatan sehari-hari untuk berladang dan berburu, serta untuk upacara adat. Bagian ini akan membahas mandau dan kelabit, yakni perisai orang Dayak.

Mandau
Mandau adalah senjata suku Dayak yang merupakan pusaka turun temurun dan dianggap sebagai benda keramat. Mandau terlihat tergantung di setiap rumah orang Dayak di pedalaman Kalimantan. Mandau tidak terlepas dari kehidupan pemiliknya karena mandau merupakan simbol kehormatan dan jati diri orang Dayak. Orang Dayak yakin, mandau juga mengandung unsur magis. Mereka menggunakan mandau hanya dalam situasi tertentu, misalnya perang (mengayau), dan dalam acara-acara adat. Orang Dayak Bahau Saq di Long Hubung menyebut mandau dengan istilah muwung bilah yang artinya ‘tanah kuburan’. Orang Dayak Aoheng-Penihing menyebutnya Olok. Ada tiga jenis Olok, yaitu: (1) olok eton, yang diyakini sebagai pusaka; (2) olok daya yang digunakan untuk membuat sirap; dan (3) olok kokom yang digunakan untuk menebas pohon-pohon di hutan atau ladang. Panjang mandau biasanya mencapai setengah meter. Salah satu sisi bilah mandau lebih tebal daripada sisi lainnya. Dulu, bilah mandau dibuat dari besi batu gunung, tetapi sekarang lebih banyak digunakan besi putih atau besi kuning yang berkualitas.

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

115

(Rangga Purbaya)

Bilah mandau selalu dihias dan kadangkadang diberi beberapa lubang yang dibuat dengan menggunakan alat bernama klikasaup. Hulu mandau yang berwarna putih dibuat dari tanduk rusa, sedangkan hulu berwarna hitam berasal dari tanduk kerbau atau kayu meranti (lempuk). Hulu mandau diberi ukiran dan dihiasi dengan bulu binatang. Ujung hulu mandau (malaat) juga dihiasi dengan rambut manusia atau bulu binatang yang disisipi bulu burung enggang. Pada masa lampau, rambut diambil dari kepala orang yang dikalahkan dalam tradisi mengayau saat peperangan. Bentuk hulu biasanya menyerupai paruh burung enggang, atau menyerupai kepala

anjing pada Dayak Busang dan Dayak Aoheng-Penihing. Zat perekat yang digunakan oleh orang Dayak Kenyah adalah getah malau. Getah dipanaskan sampai mencair lalu dimasukkan ke dalam lubang bakal hulu mandau. Sedangkan orang Dayak Kayan, Aoheng/Penihing dan Bahau menggunakan sarang semut hitam kecil (tipai) yang dicampur dengan getah kayu uluy untuk menghasilkan perekat. Campuran itu dimasak dalam bambu selama 15 menit. Daya rekat tipai jauh lebih kuat daripada malau. Setelah direkatkan menjadi satu dengan bilahnya, hulu mandau dililit dengan tali rotan agar lebih kuat.

116

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

(Rangga Purbaya)

(Rangga Purbaya)

Besi kuning merupakan bahan yang sangat dicari karena termasuk besi yang sangat kuat dan tidak mudah melenting.

Pembuat mandau sangat piawai memilih besi bakal mandau. Besi kuning merupakan bahan yang sangat dicari karena termasuk besi yang sangat kuat dan tidak mudah melenting. Bo’ Beng, orang Dayak Bahau Long Gelat yang berladang di Lirung Asa, dikenal warga Dayak Bahau di Long Pahangai sebagai orang yang mewarisi keahlian membuat mandau secara turuntemurun. Bo’ Beng menuturkan, mandau buatannya dipakai oleh banyak tokoh dan menjadi persyaratan lamaran dalam upacara adat perkawinan. Selain karya Bo’ Beng, terkenal pula mandau buatan almarhum Irang Napap, salah seorang

tokoh masyarakat Dayak Aoheng/Penihing di Tiong Ohang. Para pejabat pemerintah baik di daerah maupun di pusat memakai mandau karya Irang Napap. Salah satu mandau milik kepala adat Dayak Kayan di Long Paqaq, misalnya, dipakai oleh Panglima Komando Distrik Militer (Kodam) Mulawarman. Peralatan yang digunakan untuk membuat mandau adalah (1) bulu ekor ayam jantan yang digunakan sebagai bahan pemompa angin; (2) ranai sebagai landasan untuk memotong besi; (3) pahat untuk memotong besi; (4) telessu (martil) untuk memipihkan

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

117

besi dengan cara dipukul; (5) nasak (landasan) untuk membelah dan menempa; (6) kayu bakar dari jenis kayu ulin, bengkirai, atau jenis lain yang kualitasnya bagus sehingga lambat habis dan apinya berwarna biru-kemerahan; (7) batuq (batu asah) yang dibeli di toko atau batu asah yang diperoleh dari gunung; (8) kikir untuk menajamkan. Selain kikir digunakan juga alat modern seperti gurinda; (9) lange untuk tempat arang; (10) dulaqn untuk tempat mencelup besi mandau yang telah dibakar; (11) bilit untuk pegangan yang melilit pada mandau saat menyepuh; (12) tipai yaitu sarang semut hitam kecil yang diambil dari dahan-dahan pohon dan berfungsi untuk merekatkan hulu mandau ke bilah mandau; (13) Getah kayu ului yang fungsinya sama dengan tipai, yaitu untuk merekatkan hulu mandau ke bilah mandau. Pembuat mandau lazim disebut sebagai pandai besi. Mereka memiliki alat pompa angin untuk menjaga agar panas bara api tetap stabil. Pompa ini terdiri dari dua tabung berukuran panjang sekitar 150 sentimeter dan diameter sekitar 10 sentimeter. Posisinya berdiri tegak lurus dekat api dan terbuka di bagian atas. Dinding bawah tabung diberi dua lubang dan dilengkapi bambu berdiameter 5 sentimeter yang berfungsi sebagai cerobong angin dengan posisi mengarah ke pusat bara api. Ketika pompa ditekan dengan gerakan naik-turun, akan timbul hembusan angin yang membuat bara api di tungku semakin menyala dan memanaskan bilah besi yang akan ditempa. Sisa besi dari pembuatan bilah mandau disebut podot dan biasanya dimanfaatkan untuk membuat pisau raut.

Dua buah tabung pompa angin ini selalu kita temukan dalam pondok pandai besi, selain kursi yang ditempatkan di posisi lebih tinggi untuk tempat duduk orang yang memompa kedua buah tabung itu. Tabung pompa dilengkapi dengan ikatan bulu burung atau bahan lunak lainnya yang diikat ke tongkat pegangan. Proses pemompaan dua tabung itu berlangsung bergantian mirip kerja piston. Apabila tangan kanan menarik salah satu pompa, maka tangan kiri mendorong pompa yang lain. Dengan cara ini aliran angin keluar secara bergantian dari masingmasing pompa dan bara api tetap terjaga.
(Steve Pillar)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

118

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Kegiatan memompa akan berhenti sejenak saat bilah besi sedang ditempa oleh si pandai besi. Peralatan yang digunakan oleh orang Dayak Bahau dan Dayak Long Gelat tidak sama dengan yang digunakan oleh suku Dayak lainnya. Mereka melengkapi kayu pemompa pada kedua tabung dengan kayu lentur. Kayu ini meringankan proses pemompaan, karena pompa tidak perlu diangkat tetapi cukup ditekan dan pompa akan terangkat secara otomatis. Orang Dayak di kampung Tering Seberang malah menggunakan pelek (velg) sepeda beserta rantainya, sehingga proses pembuatan mandau dapat dikerjakan oleh satu orang saja karena jarak penggerak pompa tidak terlalu jauh dari api tempat ia memanaskan bilah besi. Bilah besi yang sudah merah membara selanjutnya ditempa berulang-ulang hingga berbentuk pipih-panjang, laiknya parang yang meruncing di bagian ujung. Sebagian bilah kemudian dibentuk melengkung menyerupai paruh burung dengan lekuk datar di bagian atas. Satu sisi bilah lalu diasah tajam, sedangkan sisi lainnya dibiarkan sedikit tebal dan tumpul. Tahap berikutnya adalah menera hiasan pada bilah mandau berupa lekukan, gerigi, dan lubang-lubang. Proses ini dilakukan dengan cara memanaskan bilah mandau dan menempanya berulang kali sampai tercapai ragam hiasan yang diinginkan. Setelah itu, bilah mandau dihaluskan dengan menggunakan gurinda.

(Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

119

(Rangga Purbaya)

Ilustrasi: Yayak Yatmaka

Alat yang digunakan untuk membentuk bilah mandau adalah umpak (pahat). Kadangkadang digunakan juga mandau tebal untuk memperbaiki tempaan pada bilah mandau yang rusak. Setelah itu bilah dicelup ke dalam air dan diasah dengan batu asahan hitam yang berasal dari batu kali. Bentuk bilah mandau amat bervariasi. Ada persamaan sekaligus perbedaan di antara mandau-mandau yang berasal dari Dayak Aoheng/Penihing, Kenyah, Bahau, Benuaq dan Tunjung. Ujung bilah mandau Dayak Kenyah yang berbentuk seperti klewang, sedikit berbeda dengan bilah mandau Dayak Benuaq dan Dayak Bahau. Bilah mandau selalu dilengkapi dengan sarung mandau dan anak pisau mandau. Sejatinya, pengertian mandau di kalangan orang Dayak mencakup lima unsur yang tak terpisahkan, yakni bilah mandau, hulu mandau, sarung mandau, anak pisau mandau dan sarung anak pisau mandau.

YK

Ilustrasi: Yayak Yatmaka

RP
Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

120

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

(Rangga Purbaya)

RP

Ragam hiasan pada sarung mandau juga berperan sebagai corak yang secara khas membedakan identitas setiap suku Dayak. Hiasan sarung mandau Dayak Kenyah selalu mengandung unsur binatang air dan didominasi oleh warna merah, kuning, putih dan hitam. Sedangkan hiasan sarung mandau suku Dayak Benuaq dan Dayak Tunjung – atau disebut juga Dayak Tonyooi – cenderung lebih menonjolkan motif ukirannya. Di sisi belakang sarung mandau terdapat sarung anak pisau mandau. Sarung mandau terbuat dari kayu meranti atau kayu jenis lunak lainnya. Cara membuatnya adalah dengan membelah potongan kayu meranti menjadi dua bagian, dengan ukuran sekitar 4 sentimeter lebih panjang daripada panjang bilah mandau. Masing-masing potongan lalu diraut

halus dan dibentuk cekungan seukuran bilah mandau yang akan ditempatkan di dalamnya. Di atas sebilah papan, kedua potongan bakal sarung mandau ditangkupkan menjadi satu dan direkat dengan perekat tradisional, kemudian dililit dengan tali rotan agar lebih kuat. Bagian atas sarung mandau dipasangi tulang berbentuk gelang, sementara bagian tengah dan bawah dililit anyaman rotan. Selain sebagai ikatan, lilitan tali rotan juga menjadi hiasan yang memperindah sarung, bersama bulu burung dan manik-manik. Hulu mandau terbuat dari tanduk rusa atau dari kayu, yang diukir dengan motif kepala naga, paruh burung enggang, atau kepala anjing. Alat yang digunakan untuk mengukir hulu mandau adalah pisau raut dengan tangkai sepanjang sekitar 30 sentimeter.

(Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

121

Hulu dan sarung mandau biasanya juga dihiasi dengan janggut kambing yang disepuh dengan warna merah, di atas warna dasar putih kekuning-kuningan. Pewarna untuk bulu kambing sekarang tidak lagi berasal dari pewarna alami khas Dayak, tetapi dari pewarna buatan karena lebih praktis. Gejala ini, yang menandakan bahwa semakin banyak kearifan lokal yang ditinggalkan, sebetulnya membangkitkan keprihatinan di kalangan orang Dayak. Amai Pelunjuk, tokoh masyarakat Dayak Kenyah di Long Anai, misalnya, menyesali gejala beralihnya penggunaan ramuan tetumbuhan peningkat daya tahan tubuh ke obat-obatan produk industri. Bahkan penyedap masakan khas Dayak Kenyah yang disebut mekkai pun kini diganti dengan penyedap masakan produk industri.

Di kalangan orang Dayak, mandau adalah produk industri rumah tangga. Dalam sehari, para pandai besi dapat menyelesaikan dua buah mandau jika mereka tidak merangkap pekerjaan lain. Teknologi mandau mengenal beberapa istilah khas yaitu (1) boet atau mata mandau; (2) brikankq atau punggung mandau; (3) teban atau sisi mandau; (4) pancuk, yaitu hiasan kepala mandau dengan tiga motif: pancuk ca, pancuk dua, dan pancuk tellu. Mandau yang dianggap bagus oleh orang Dayak adalah mandau yang diyakini memiliki kekuatan magis, seperti olok eton. Pada masa lampau, mandau jenis ini digunakan dalam perang untuk mengayau. Mandau sejenis parang yang digunakan untuk bekerja di ladang, yang terbuat dari besi biasa dan tidak diberi ukiran, biasanya mereka beli di pasar.

(Steve Pillar)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

122

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Perisai dapat bertahan hingga puluhan tahun, apalagi kalau intensitas penggunaannya tidak terlalu tinggi, misalnya hanya dalam acaraacara kesenian atau upacara adat.

Kelabit
Perisai atau tameng dalam bahasa Dayak Bahau disebut kelabit. Orang Dayak Aoheng-Penihing menyebutnya telavang. Perisai terbuat dari kayu meranti. Meski bobotnya ringan, kelabit sangat kokoh menghadapi sabetan mandau. Semua kelabit dihiasi dengan ukiran timbul yang menunjukkan kelas sosial pemiliknya, atau dilukis dengan ragam pola berwarna dasar putih, hitam, merah dan kuning. Warna hitam diperoleh dari campuran getah kayu jelutung dan arang, warna merah dari campuran kapur dan gambir, sedangkan warna kuning dari campuran kapur dan kunyit yang diaduk dengan minyak kelapa (Depdikbud, 1992). Perisai khas Dayak ini berbentuk segi enam. Panjangnya sekitar 1 meter, lebar antara 30 dan 50 sentimeter. Bagian atas dan bawah perisai berbentuk runcing. Meski demikian, perisai terpajang di Museum Sendawar, Kabupaten Kutai Barat, ada yang berbentuk segi empat memanjang dengan bagian atas dan bawah berbentuk segi tiga. Perisai tersebut tidak memiliki teraan hiasan kecuali di sisi luar, sekitar dua jengkal dari sisi atas dan bawah, terlihat lilitan tiga anyaman tali rotan berhias rambut manusia sehingga menimbulkan kesan magis. Perisai orang Dayak Bahau terbuat dari kayu mesal. Bagian atas dan bawah diikat dengan tali rotan yang oleh orang Dayak Bahau disebut tap kelabit. Belawing Belareq, seorang Kepala Adat Dayak Bahau

(Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

123

(Rangga Purbaya)

Long Gelaat di Long Tuyoq, menjelaskan bahwa perisai tidak hanya digunakan untuk melindungi tubuh saat berperang, tetapi juga digunakan sebagai sarana pengganti perahu saat menyeberangi sungai. Caranya adalah dengan mengapungkan perisai di sungai, dengan sisi luar menyentuh permukaan air. Ujung perisai dipegang dengan tangan yang terjulur, sementara badan telungkup di atas perisai. Perisai dikayuh dengan kaki sehingga meluncur seperti perahu. Perisai juga dapat digunakan sebagai payung untuk melindunggi tubuh, atau sekurangkurangnya kepala, saat turun hujan. Perisai dapat bertahan hingga puluhan tahun, apalagi kalau intensitas penggunaannya tidak terlalu tinggi, misalnya hanya dalam acara-acara kesenian atau upacara adat. Sampai sekarang perisai masih dipakai, meski sebatas pajangan rumah yang dipasangkan berdampingan dengan mandau. Perisai juga merupakan bagian dari perlengkapan tarian adat dan upacara adat tertentu. Ketika digunakan dalam tarian adat, perisai dapat rusak karena selalu berbenturan dengan mandau.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

124

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

01-02 (Rangga Purbaya) 03-05 (Steve Pillar)

01

Peralatan Berburu
Masyarakat Dayak memiliki keterampilan khusus dalam berburu binatang. Jenis binatang yang diburu antara lain, babi hutan (Sus barbatus), rusa (Cervus unicolor), tupai (Sciuridae species) serta beragam jenis burung. Peralatan yang lazim digunakan untuk berburu adalah tombak (nyatap), sumpitan (klepu/seput) dan jerat yang disebut belek atau blantik untuk menjerat payau, babi dan pelanduk, serta jerat untuk menangkap burung (klebak/blu) (Depdikbud, 1993). Teknik berburu masyarakat Dayak, khususnya Dayak Kenyah di Malinau, telah didokumentasikan oleh Ndan Imang, dosen dan peneliti dari Universitas Mulawarman, Samarinda. Buku karya Ndan Imang (2003) secara khusus membandingkan teknik berburu babi hutan orang Dayak Kenyah dengan teknik berburu orang Dayak Punan. Imang berkata bahwa peralatan penting dalam berburu, selain tombak dan sumpit, adalah jerat yang khas Dayak. Selain membahas teknik dan peralatan berburu, bagian ini juga memaparkan peralatan penangkap ikan dan jebakan burung.

03

01

02

03

04

04

05

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

125

02

03

04

05

01

06

01-06 (Rangga Purbaya)

Sumpit Beracun
Sumpit, atau dalam bahasa Dayak Bahau disebut hemput, merupakan senjata berburu untuk sasaran jarak jauh. Sumpit berbentuk pipa bulat panjang, berdiameter antara 2 dan 2,5 sentimeter dengan panjang antara 1,5 sampai 2 meter. Bagian atas sumpit dipasangi mata tombak yang terbuat dari besi dan diikat dengan anyaman rotan. Bahan untuk membuat sumpit adalah kayu ulin, kayu bitung (Garcinia mangostana), atau kayu balet (Dipterocarpaceae). Mengutip Uluk dkk., Imang (2003) menyatakan bahwa kayu yang baik untuk membuat sumpit adalah kayu bitung dan ulin. Namun orang Dayak lazimnya memilih sumpit yang terbuat dari kayu ulin. Alasannya, kayu ulin memiliki

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

126

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

daya tahan yang tinggi, tidak mudah patah, dan tidak licin jika terkena keringat akibat gesekan dengan telapak tangan tatkala dibawa berburu sepanjang hari. Sumpit terbuat dari kayu mitung, misalnya, cepat menjadi licin jika terkena keringat sehingga bidikan ke sasaran menjadi tidak tepat. Teknik pembuatan sumpit cukup rumit dan memerlukan keahlian khusus, sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang dapat membuat sumpit berkualitas bagus. Di Naha Buan, Kecamatan Long Apari, kami berhasil menemui Lasan (76 tahun) yang sedang membuat sumpit sekaligus memodifikasinya menjadi savut. Lasan adalah warga Dayak Aoheng/Penihing yang terkenal ulung dalam berburu. Kata Lenardus Janun, warga Dayak Aoheng/Penihing dari kampung Tiong Buu, para pemburu sekarang lebih suka menggunakan savut daripada sumpit. Savut adalah sejenis sumpit tetapi mirip senjata laras panjang karena di bagian peniup diberi popor, kokang, serta pelatuk untuk menembak. Lontaran savut dapat mencapai 100 meter, jauh melebihi sumpit. Sebelum savut diciptakan oleh orang Dayak, mereka lebih suka berburu menggunakan sumpit ketimbang tombak, karena dianggap lebih efektif. Sumpit dapat mencapai target sejauh 50 meter. Tatkala ditiup oleh pemburu untuk melontarkan anak sumpit, sumpit tidak mengeluarkan suara sehingga binatang yang diburu tidak dapat mendeteksi kehadiran pemburu. Hal ini tentu memudahkan pemburu untuk mendapatkan buruan. Anak sumpit (langaq menurut bahasa Dayak Bahau) orang Dayak dibubuhi racun yang

terbuat dari ramuan akar dan batang kayu ivu. Ramuan ini mampu membuat binatang mati tidak lebih dari 10 menit sesudah terkena anak sumpit. Anak sumpit beracun juga berbahaya untuk manusia. Orang yang terkena racun anak sumpit akan mengalami kematian jika dalam tempo 10 sampai 20 menit tidak segera mendapat penangkalnya. Orang Dayak memiliki teknik untuk membuat penangkal racun sumpit dari ramuan akar dan daun tetumbuhan tertentu. Teknologi pembuatan savut secara prinsip sama dengan sumpit. Caranya adalah dengan melubangi balok kayu ulin sepanjang 160 sentimeter, berukuran 10 sentimeter x 10 sentimeter. Balok ulin digantung di atas pohon, kemudian dilubangi dari bawah dengan besi pelubang (kerajang savu). Panjang sumpit yang ideal adalah antara 1,5 sampai 2 meter. Kalau sumpit lebih pendek dari 1 meter, tiupan angin yang dihasilkan menjadi kurang kencang. Kalau terlalu panjang, sumpit tidak fleksibel saat dibawa ke dalam hutan. Selain anak sumpit (langaq) beserta racunnya (salo), sumpit lazim dilengkapi dengan gabus (piping) dan tabung penyimpan anak sumpit (tebuluh langaq) yang terbuat dari bambu dan berpenutup. Anak sumpit terbuat dari bagian keras kulit pelepah daun talang buo (Arenga undulatifolia). Daun harus dikeringkan sebelum diolah agar lurus dan keras bila dibentuk menjadi sebesar lidi atau tusuk sate. Anak sumpit dapat juga dibuat dari lidi enau (cemaka), dahan pohon selo hitam, bambu tamiang yang sudah dikeringkan, atau dari kayu ulin. Panjang anak sumpit biasanya

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

127

sekitar 20 sentimeter. Bagian belakang anak sumpit dipasangi sejenis gabus (piping) yang berfungsi sebagai sekat angin bagi tiupan dari mulut, serta sebagai penyeimbang agar dapat melesat cepat dan lurus menuju sasaran. Gabus berasal dari pelepah pohon sejenis palem berduri yang disebut nanga (Eugeissona utilis). Memilih gabus yang baik memerlukan ketelitian. Gabus harus berasal dari pelepah yang masih muda dan memiliki duri rapat, serta diameternya tidak lebih dari 3 sentimeter. Pelepah dengan kriteria itu dianggap berkualitas, terlebih karena seratnya halus sehingga lebih mudah diiris berbentuk lidi. Sebelum diolah menjadi anak sumpit, pelepah dijemur di perapian atau di bawah sinar matahari selama seminggu agar gabus menjadi lebih ringan dan tidak lembab selama disimpan, sehingga gesit mencapai sasaran yang jauh. Ada beberapa peralatan yang digunakan dalam pembuatan sumpit, yaitu papen spout, kerajang savu, parang, benang, rotan yang ujungnya sudah ditumbuk, oli, dan anak pisau mandau untuk meraut. Papen spout merupakan sebutan untuk tongkat kayu sebanyak enam buah setinggi 4 meter, yang disusun dengan cara berdiri tegak dalam formasi segi tiga. Lasan menggunakan papen spout yang sangat alami, dengan memanfaatkan pohon-pohon di sekitar rumahnya. Peralatan lainnya adalah besi sepanjang 2 meter yang ujungnya sangat runcing dan tajam, disebut kerajang savu, untuk melubangi balok kayu ulin. Tongkat besi ini dilengkapi pegangan terbuat dari kayu dan kain. Untuk memperlancar proses pembuatan lubang, dibutuhkan benang yang telah dilumuri oli. Benang berfungsi membuat garis lurus sedangkan oli untuk melicinkan besi. Sebatang pohon ulin besar dapat menghasilkan 10 sampai 15 pipa sumpit. Cara membuat sumpit adalah dengan memotong gelondongan kayu ulin secara memanjang sekitar 3 meter, kemudian dibentuk menjadi bulat memanjang dan bagian tengahnya dilubangi. Lubang sumpit harus lurus dan halus. Membuat lubang sumpit memerlukan ketekunan, kesabaran, dan tenaga yang besar untuk memilin besi saat menggurdi batang ulin. Menggurdi dapat dilakukan baik dari sisi bawah kayu maupun dari atas.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

128

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Savut, sumpit yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga mirip senapan dan mempunyai jangkauan lebih jauh.

Setelah selesai dilubangi, batang kayu ulin itu dibentuk menjadi sebatang tongkat bulat, kemudian diraut dengan anak pisau mandau. Bila ukuran dan bentuknya dirasakan sudah sesuai, batang diampelas agar halus dan licin. Untuk membersihkan lubang sumpit dari serbuk kayu, ke dalam lubang dimasukkan sulur rotan yang ujungnya sudah ditumbuk. Sulur digerakkan naik-turun sampai lubang pipa sumpit bersih. Jika keseluruhan proses dianggap selesai, ujung sumpit dilengkapi dengan besi sebagai pelurus bidikan dan ditempeli mata tombak yang diikat dengan anyaman rotan. Dengan kata lain, sumpit dapat berubah fungsi menjadi tombak. Anak sumpit disimpan di dalam wadah berbentuk tabung supaya tetap aman, apalagi yang sudah diberi racun. Wadah itu, yang bahasa Dayak Bahau disebut tebuluh langaq, terbuat dari ruas bambu berdiameter antara 8 dan 10 sentimeter, sedangkan penutupnya terbuat dari tempurung kelapa. Bentuk tutup dibuat sedemikian rupa agar tidak mudah terbuka dan jatuh. Tabung bambu ini dapat memuat 50 sampai 100 batang anak sumpit. Tebuluh langaq dapat dikaitkan ke tali mandau yang menempel di pinggang. Sedangkan gabus pada anak sumpit (punuk langaq) disimpan dalam labu yang sudah dikeringkan (tavii kebara).

Ada tiga jenis anak sumpit, yaitu anak sumpit biasa (langaq lan), anak sumpit yang ujungnya diolesi racun sepanjang 1 sentimeter (langaq salo) dan anak sumpit yang ujungnya dipasangi besi tipis dan tajam serta diolesi racun (langaq irang). Anak sumpit jenis langaq irang sudah sangat jarang dibuat (Uluk dkk., 2001). Menurut Ndan Imang, sebutan lain bagi anak sumpit adalah anak sumpit biasa (langan lat) dan anak sumpit beracun yang ujungnya terbuat dari besi tipis (langan bela’dang). Lazimnya, ujung anak sumpit yang tidak ditempeli besi, dikerat dan dibuat bercelah kemudian dilumuri racun. Racun dimasukkan ke dalam celah agar tidak tercecer ketika ujung anak sumpit mengenai sasaran, sehingga racun dapat bekerja dengan efektif dalam tubuh binatang buruan. Ketika anak sumpit yang menancap di tubuh binatang dicabut, bagian yang dilumuri racun akan patah dan tertinggal di dalam tubuh binatang buruan. Jelaslah bahwa bagian yang paling menentukan dari anak sumpit adalah racun yang dioleskan di ujung anak sumpit. Racun umumnya berasal dari getah pohon beracun (antiaris toxicaria). Getah tersebut ditampung dalam wadah khusus, dimasak

sampai mengental, lalu dibungkus dengan daun palas biru (Licuala valida becc). Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti rusaknya tanaman sekitar akibat asap atau aroma yang keluar dari proses pemasakan racun, atau untuk menjaga agar daya bunuh racun tetap tinggi, racun anak sumpit dibuat di luar kampung atau di dalam hutan. Dari penjelasan Imang (2003), beberapa peramu racun meningkatkan daya bunuh racun dengan mencampurkan air tembakau, atau liur ular kobra coklat (Ophiophagus hannah) atau kobra hitam (Daja sumatrana). Binatang-binatang yang terkena anak sumpit beracun akan mati dalam hitungan detik, paling lama 10 menit, tergantung jenis dan ukuran binatang atau kualitas racun yang dipakai. Kalau tempo kematian melebihi 10 menit, ada kemungkinan kekuatan racun sudah berkurang. Racun bekerja paling lama pada babi hutan karena kulitnya yang tebal dan berlemak, sehingga racun perlu waktu lebih lama untuk mencapai pembuluh darah babi hutan.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

01

02

129

Lenardus Janun, warga Dayak Aoheng/ Penihing di Tiong Buu, selalu menggunakan getah pohon tasam untuk racun anak sumpitnya. Di sela-sela wawancara, Lenardus sempat masuk ke kamarnya dan keluar membawa tabung bambu berisi racun. Ia lalu memperlihatkan racun itu sambil menjelaskan cara pembuatannya, yaitu dengan cara memasak getah pohon tasam di atas tungku sampai berwarna coklat kemerah-merahan dan mengental. Getah yang sudah dimasak lalu disimpan dalam tabung bambu dan didiamkan hingga menjadi semakin kental. Apabila akan digunakan, getah tasam dioleskan ke ujung anak sumpit. Racun getah tasam akan larut terkena panas darah binatang buruan yang terkena anak sumpit.

03

04

05

06

Lasan, sedang mempraktekan cara membuat sumpit, Naha Buan, Long Apari.

01-06 (Rangga Purbaya)
Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

130

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

(Steve Pillar)

Nyatap (Tombak)
Tombak khas Dayak yang lazim disebut nyatap, selain merupakan peralatan berburu, pada masa lampau juga digunakan sebagai senjata perang. Nyatap bertangkai panjang sekitar 2 meter dan ujungnya dipasangi mata tombak yang diikat dengan anyaman rotan. Pada masa lampau, bahan dasar mata tombak adalah butiran bijih besi yang ditambang secara tradisional lalu diolah menjadi lempengan besi untuk mata tombak. Namun karena bahan baku tersebut sulit didapat, sekarang mereka memakai besi biasa. Selain digunakan sebagai alat berburu binatang dan perang, nyatap juga merupakan barang pusaka yang dirawat dengan baik karena dianggap bertuah dan memiliki daya magis. Dalam upacara-upacara tertentu, nyatap dipergunakan sebagai pelengkap persyaratan upacara adat. Tombak khas Dayak ini dalam bahasa Dayak Bahau disebut bakir dan digolongkan ke dalam empat jenis, yaitu (1) bakir selung yang tidak berpengikat; (2) bakir bese-bese yang mirip dengan dayung perahu dan

menggunakan pengikat; (3) bakir kelivo atau tombak pelubang yang ujungnya seperti mata bor; (4) bakir pelbuu dengan ujung tombak bermata pahat untuk menembus kelabit musuh dalam peperangan (Belareg, 2008). Nyatap Dayak Kenyah terbuat dari sebilah besi berkualitas sepanjang 15 sampai 25 sentimeter, dan lebar antara 3 dan 6 sentimeter. Bagian pangkalnya dibuat lebih tebal agar tidak bengkok saat digunakan untuk membunuh binatang buruan. Bilah besi ini diikatkan ke setangkai kayu yang keras, lazimnya kayu ulin atau kayu yang lebih ringan tapi kuat, yaitu kayu sanam betan (Anacardiaceae). Bentuk dan ukuran tombak sangat bervariasi, sesuai jenis pemanfaatannya. Jika digunakan untuk mengusiq (berburu tanpa bantuan anjing), ukuran besi dibuat lebih panjang dan lebar namun lebih tipis, serta tajam di bagian depan dan sisi kiri-kanan. Tangkainya lebih kecil, lebih panjang, dan terbuat dari kayu ringan namun kuat dan lentur. Model tombak seperti ini mudah dilontarkan ke

arah binatang sasaran dari jarak sekitar 15 sampai 30 meter. Daya bunuh tombak tinggi karena mengakibatkan luka cukup besar dan dalam, tetapi kesempatan membunuh binatang buruan dengan tombak hanya sekali. Kalau tombak tidak mengenai sasaran pada kesempatan pertama, kemungkinan besar buruan akan lolos. Lazimnya, ujung tombak diolesi racun untuk meningkatkan daya bunuhnya. Namun cara ini hampir tidak digunakan lagi, karena kesulitan mendapatkan racun berkualitas tinggi selain pertimbangan kesehatan orang yang memakan daging binatang buruan. Tombak dan anjing (nekukung/Dayak Kenyah; logan/Dayak Punan) sebetulnya merupakan bagian tak terpisahkan dalam berburu. Jenis tombak untuk perburuan yang diiringi anjing terbuat dari besi yang lebih tebal dan bagian depannya saja yang tajam. Sisi kiri dan kanan tidak perlu tajam. Tangkainya harus terbuat dari kayu keras karena acap kali pemburu berhadapan langsung dengan binatang buruannya. Jika binatang buruan terdesak oleh anjing, maka

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

131

jarak pemburu dengan binatang buruan menjadi sangat dekat. Kalau pada saat itu tangkai tombak patah, keselamatan pemburu dapat terancam akibat serudukan dan gigitan binatang buruan. Tombak dapat dibuat dalam berbagai variasi sesuai pemanfaatannya. Misalnya, untuk memburu babi berenang (babui nyatung) ujung tombak harus dibentuk seperti kait, sehingga pada saat tombak tertancap, babi akan tersangkut. Pada pangkal tangkai dipasang tali dan pelampung agar binatang buruan tidak lepas dan tidak tenggelam di sungai. Daya tahan tombak relatif sangat lama, apalagi jika dirawat dengan baik. Tangkai tombak terbuat dari kayu ulin atau jenis kayu keras dan agak ringan. Kombinasi dengan besi berkualitas, akan menghasilkan tombak yang dapat bertahan hingga lebih dari 50 tahun. Karena daya tahan yang cukup tinggi, tombak dapat diwariskan turun-temurun sehingga tombak pun menjadi harta pusaka orang Dayak selain sumpit dan mandau.

Beberapa narasumber kami mengatakan bahwa kerusakan hutan di wilayah pedalaman Mahakam telah mempengaruhi habitat hewan, sehingga binatang buruan seperti babi, payau dan pelanduk semakin langka. Kini orang Dayak semakin sulit berburu babi dengan hanya menggunakan tombak. Frekuensi berburu juga berkurang karena lokasi perburuan kian jauh dari kampung. Mereka berburu babi hanya pada saat babi berenang.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

134

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

03-05 (Steve Pillar)

01

Peralatan Penangkap Ikan
Saat berada di kampung Datah Bilang, kami tidur di satu-satunya penginapan yang ada di sana. Penginapan itu bertempat di atas rakit. Setiap malam kami menyaksikan permukaan sungai Mahakam yang berkilap memantulkan cahaya bulan. Di atas permukaan air yang bermandikan cahaya itu, berulang kali terlihat noktah terang bergerak hilir mudik. Kemudian kami ketahui, noktah itu berasal dari lentera di atas sampan kecil nelayan yang sedang menangkap ikan patin, baung dan jelawat. Mereka menjual ikan-ikan itu ke pemilik penginapan yang lalu disajikan sebagai hidangan di penginapan.

Orang Dayak memiliki keahlian menangkap ikan menggunakan berbagai peralatan dan ramuan tumbuh-tumbuhan. Ada beberapa jenis alat penangkap ikan, yaitu serapang, suruq, pakit, pancing, pukat, lukah, lawa, tangap dan racun tumbuhan, yang akan dibahas di bawah ini.

Serapang
Serapang adalah alat penombak ikan bermata tiga (serpak) atau bermata satu (tiruk/bakit). Ujung tiruk/bakit diberi kaitan seperti mata pancing yang diluruskan. Panjang tangkai serapang sekitar dua meter dan terbuat dari

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

135

03

02

04

buluh bambu atau kayu temha berdiameter dua sentimeter. Alat lain yang bentuknya mirip dengan tiruk adalah pakit. Bedanya, mata pancing pakit dipasangi tali sepanjang 0,5 sampai 1 meter yang terbuat dari akar kayu krop. Petugas Museum Kutai Barat menegaskan bahwa kayu untuk membuat pakit harus lurus dan lentur. Serapang digunakan untuk menombak ikan-ikan besar yang muncul ke permukaan, atau ikan yang terkena racun tumbuhan (tuba). Sedangkan suruq adalah tombak bermata tunggal yang terbuat dari kayu ulin sepanjang 3 meter. Suruq digunakan ketika air pasang sampai ke daratan, selain untuk

memburu ikan yang bersembunyi di sela-sela pohon di sungai, rawa atau danau. Orang lalu menyelam untuk mengambil ikan-ikan yang sudah tertombak. Teknik memancing orang Dayak tidak berbeda dengan teknik para pemancing ikan umumnya. Untuk memancing ikan-ikan kecil, mereka menggunakan joran pancing terbuat dari lidi pohon kelapa. Sedangkan batang rotan kecil dipakai untuk memancing ikan-ikan sedang. Tali pancing dibuat dari serat kayu atau nilon dan salah satu ujungnya dipasangi mata kail. Sekitar 10 sentimeter dari mata kail digantungkan pelampung, serta timah yang berfungsi sebagai pemberat umpan (pengelotak).

01-02 (Rangga Purbaya) 03-04 (Steve Pillar)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

136

01

02 02 (Rangga Purbaya) 01, 03, 04, 05 (Steve Pillar)

03

04

05

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

137

Jebakan Ikan
Orang Dayak juga menangkap ikan dengan pukat, lukah, dan siur (tangguk). Pukat atau jala untuk menjaring ikan terbuat dari rajutan tali nilon yang ujungnya diberi cincin-cincin besi berukuran kecil sebagai pemberat. Adapun poad adalah jaring yang terbuat dari anyaman tali nilon tetapi diberi tangkai dari kayu atau bambu. Poad digunakan untuk menjaring ikan-ikan kecil. Lukah adalah alat penangkap ikan berbentuk silinder yang ujungnya meruncing dengan ukuran bervariasi sesuai selera. Di bagian dalam dipasang hanjab yang terbuat dari rotan berbentuk kerucut dan meruncing ke bagian dalam. Hanjab adalah jebakan yang membuat ikan hanya bisa masuk tetapi tidak bisa keluar. Ikan masuk ke dalam lukah karena tertarik pada umpan yang ditaruh di dalamnya. Namun sebelum mendapatkan umpan, ikan terlebih dahulu harus melewati hanjab. Setelah melewati hanjab, ikan akan terkurung karena ujung lukah sudah dipasangi penutup yang terbuat dari rumput, kayu ringan, atau botol mineral. Lukah dipasang di sungai berarus lemah dengan posisi mengarah ke arus datang pada saat air pasang maupun surut. Sedangkan lawa digunakan oleh orang Dayak Bahau untuk menangkap udang di daratan berbatu kerikil sungai Mahakam (karangan). Bahan pembuat lawa adalah rotan dan nilon. Tangap/libang terbuat dari pohon salak, rotan dan nilon. Dulu sebelum ada tali nilon mereka memakai keliat (sejenis akar yang bergantung di pohon yang tumbuh di hutan primer). Tangap digunakan untuk menangkap ikan pada malam hari khususnya ikan seluang atau ikan-ikan yang terkena tuba.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

138

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Tuba
Orang Dayak tidak menggunakan racun kimia potasium, tetapi menggunakan tuba untuk menangkap ikan. Tuba terbuat dari akar pohon tuba yang ditumbuk hingga mengeluarkan cairan beracun berwarna putih. Menuba di danau tidak memerlukan banyak cairan tuba sebab air danau tidak mengalir sederas air sungai. Menuba dapat dilakukan sendiri atau berkelompok dengan cara menebarkan cairan tuba pagi hari. Syaratnya, penuba wajib memberitahu warga kampung sehari sebelum rencana menuba. Orang yang melanggar ketentuan ini akan dikenai sanksi adat, karena dianggap merugikan orang-orang yang memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari. Di kalangan orang Dayak, kegiatan menuba juga hanya boleh dilakukan dengan jeda satu sampai tiga tahun. Ketentuan ini menjamin populasi ikan tetap terjaga.
02

01

Setelah dituba, ikan-ikan akan mabuk. Ikan-ikan kecil akan ditangguk, sedangkan ikan besar ditombak dengan serapang atau tiruk. Seorang warga Dayak Benuaq di Pepas Eheng menjelaskan, ikan-ikan yang mengapung terkena tuba juga dikumpulkan dengan alat yang disebut ponuk. Di sungai yang dangkal atau rawa, digunakan tudu/tiruk. Di kalangan Dayak Benuaq, kegiatan menuba yang dilakukan bersama-sama pada musim kemarau merupakan ritual untuk memohon hujan.

03 01, 02 ,03 (KPA)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

139

Sepu dan Jerat
Orang Dayak berburu burung untuk dikonsumsi atau dipelihara seperti misalnya jenis punai. Ada beragam teknik dan peralatan untuk menangkap burung sebagaimana dipaparkan berikut ini. Menjebak burung menggunakan getah (pulut) pohon dilakukan dengan cara menyiapkan bilah-bilah bambu berukuran sekitar 25 sentimeter, lalu dilumuri getah dari pohon tohop, terap, pekaluku dan lomuk. Pohon-pohon ini tumbuh di hutan sekitar kampung, ladang, dan sepanjang sungai. Getah diperoleh dengan cara melukai batang pohon dengan bacokan mandau atau parang, kemudian dipanaskan hingga menjadi cairan dan mengental. Bilah-bilah bambu yang sudah dilumuri getah ini siap digunakan untuk menangkap burung. Getah ini punya kelebihan, yaitu meleleh saat terkena sinar matahari sehingga menambah daya rekatnya. Menjebak burung dengan menggunakan getah memerlukan alat bantu yang disebut sepu. Sepu adalah alat tiup yang terbuat dari bambu berbentuk seruling sepanjang sekitar sejengkal, dan berfungsi untuk memikat burung. Untuk itu, bunyi tiupan sepu harus menyerupai suara burung. Bila burung yang terpikat oleh suara sepu hinggap di pohon yang sudah dipasangi jebakan, kaki burung akan menempel di bilah-bilah bambu yang sudah diberi getah. Alat lain untuk menangkap burung, khususnya burung punai, disebut bumutn sepukng. Alat ini terbuat dari kayu, rotan, kulit kayu dan daun kayu. Untuk menggunakan alat ini, si pemburu terlebih dulu membangun tenda kecil terbuat dari daun-daun kayu untuk tempat bersembunyi. Ia lalu menabur padi di sekitar tenda dan meniup sepu yang bunyinya mirip suara burung punai. Ketika mendengar bunyi sepu, burung-burung punai datang berebut bulir-bulir padi. Pada saat itulah si pemburu menjerat leher punai menggunakan bumuntn sepukng.

04

05

06 04, 05, 06 (Steve Pillar)

(Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

140

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Dari Tongko hingga Apit
Selain berburu burung, orang Dayak juga memiliki teknik menangkap macammacam binatang di sekitar ladang. Untuk memastikan jalur yang akan dilintasi binatang, mereka menggunakan pepi, yakni jumput-jumput belukar yang diikat satu sama lain dengan tali kecil lalu disamarkan. Pepi dipasang mengelilingi kawasan ladang. Apabila pepi rebah, si pemburu akan mengetahui jalur lintasan binatang buruannya. Si pemburu pun memasang perangkap atau jebakan di dekat pepi. Jarak pepi dengan jebakan sepanjang ukuran pangkal paha sampai ujung jempol kaki. Dari jejak kaki dapat diketahui jenis binatang yang sering lewat, biasanya babi hutan, payau atau rusa, landak (hystrix brachyura) dan lain-lain. Jenis jebakan yang dipasang disesuaikan dengan jenis binatang yang ingin ditangkap. Ada beberapa jenis jebakan, yaitu tongko, poti, jerat pelanduk, penjare atau apit. Tongko adalah perangkap yang membuat binatang buruan terperosok ke dalam lubang di tanah. Lubang dibuat seperti sumur (gawa) sedalam 3 meter dan lebar sekitar 1,5 meter. Lubang ini dibuat di pinggiran ladang yang sering dilintasi babi dan payau. Bibir atas gawa disamarkan dengan ranting-ranting kecil dan ditutupi dedaunan, sehingga binatang buruan terkecoh lalu terperosok ke dalam gawa. Berburu dengan cara ini tidak mematikan atau mencederai binatang buruan, kecuali kalau memang dikehendaki, yaitu dengan cara menancapkan bambu tamiang atau kayu yang diraut runcing (seriakng) di dasar gawa. Bagian tajam seriakng menghadap ke atas.

01

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

141

Poti terbuat dari bambu tamiang atau kayu keras yang diruncingkan ujungnya dan dipasang dengan cara disamarkan. Poti dipasangi alat yang berfungsi mirip pemicu (balar). Apabila balar tersentuh binatang buruan, bambu tamiang yang runcing akan melesat mengenai sasaran.

02

01, 02 (Yayak Yatmaka)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

142

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

01

02

Jerat pelanduk terbuat dari kayu lentur dengan panjang empat meter. Salah satu ujung kayu ditanam dalam tanah dan ujung lainnya diikat dengan rotan sepanjang 2 meter, sehingga kayu akan melengkung ketika rotan ditarik ke bawah. Kelenturan kayu dijaga dengan cara mengaitkannya ke patok sepanjang 25 sentimeter di ujung rotan yang dijalin sebagai simpul hidup. Jika buruan menginjak simpul itu, kayu pun akan menarik kaki binatang buruan yang terjerat.

03

04

05

06

07

08

01-11 (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

143

09

Penjare berbentuk seperti kandang berjeruji serta terbuat dari kayu keras dan rotan. Penjare digunakan untuk menangkap monyet, beruk dan bekantan. Penjare dilengkapi dengan pintu. Di dalam jeruji penjare diletakkan umpan, misalnya singkong atau pisang masak. Ketika monyet terpancing memasuki penjare untuk mengambil umpan, secara tidak sengaja monyet menginjak tali jebakan sehingga pintu penjare akan menutup dan monyet terkurung di dalamnya.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

144

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Apit adalah alat penangkap musang yang terbuat dari rautan kayu serta bambu, biasanya dipasang dekat ladang atau di dalam hutan pada batang kayu yang diletakkan di antara dua tiang. Di ujung batang kayu ditaruh pisang hutan dan dipasangi tali yang disamarkan. Ketika musang mendekati pisang hutan, musang akan mengenai tali jebakan sehingga batang kayu jatuh menjepitnya.

Dalam aturan adat Dayak, orang tidak boleh begitu saja memasang jerat binatang. Si pemasang jerat harus mematok tanda yang mudah terlihat di lokasi yang akan ia pasangi jerat, kendati pun di ladangnya sendiri. Biasanya tanda ini berupa pemancangan sepotong kayu setinggi 1,5 meter yang disisipi sebilah bambu runcing. Pemasang jerat lalu wajib memberitahu warga, baik melalui kepala desa maupun pengumuman di rumah ibadah, dan menyarankan warga agar tidak memasuki kawasan tersebut atau berburu di sekitarnya.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

145

Mereka juga mempunyai aturan di dalam hukum adat untuk menangani kasus-kasus musibah orang terkena jerat. Lazimnya, kepala adat akan menangani kasus semacam itu dengan menentukan denda adat yang harus dipenuhi oleh si pemasang. Besar denda adat sesuai dengan akibat yang ditimbulkan. Jika jerat mengakibatkan kematian, biasanya kasus dilimpahkan ke pihak kepolisian dan ditangani secara pidana.

Mengingat jerat-jerat binatang ini membahayakan keselamatan manusia, teknik menjerat binatang sudah amat jarang digunakan oleh orang Dayak. Pun seandainya masih digunakan, mereka tidak lagi memasang jerat di sekitar kawasan ladang, tetapi di tengah hutan yang lokasinya jauh dari kegiatan warga.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

148

01

02

03

04

05

06

Perangkat Isyarat
Gong bagi orang Dayak bukan hanya sekadar alat bunyi-bunyian, melainkan juga berguna sebagai sarana pewartaan. Tatkala mendengar bunyi gong, mereka pasti menanti bunyi selanjutnya untuk mengetahui isyarat apa yang sedang dikirimkan oleh sang pemukul gong. Gong dengan diameter sekitar 50 sampai 70 sentimeter ini dibunyikan dengan alat pemukul terbuat dari kayu ulin yang ujungnya dibebat dengan kain, sehingga berbentuk bulatan. Bebatan itu bertujuan agar kulit permukaan gong tidak cepat rusak. Setiap pukulan akan menimbulkan irama berbeda, tergantung pesan yang akan disampaikan. Bunyi gong sebagai pertanda berita disebut tawek.

Ada dua macam tawek. Bila gong dipukul dengan irama cepat, pertanda ada perkelahian atau kebakaran. Sedangkan apabila dipukul agak lambat, pertanda ada pejabat yang datang, panggilan bagi upacara kesenian atau ada kematian. Sebagai contoh, tawek untuk mewartakan kematian berupa pukulan gong sebanyak tiga kali diselingi jeda sejenak untuk menandakan duka cita, sehingga terdengar bunyi guuuuunnngg ……………………… guuuunnnnng …………………. guuuuunnnnng. Sedangkan tawek yang mewartakan kebakaran ditandai dengan irama cepat bertalu-talu dengan jeda singkat, misalnya, gung gung gung gung gung …… gung gung gung gung gung …… gung gung gung gung gung.

Selain gong, suku Dayak juga mengenal tambur panjang dengan sebutan berbedabeda pada tiap suku, seperti jatong (Dayak Kenyah), tuvung (Dayak Bahau Busang), katung (Dayak Kayan). Jatong terbuat dari kayu bengkirai berbentuk bulat, panjang sekitar 2 meter dan berdiameter sekitar 50 cm. Bagian tengah batang dilubangi sepanjang yang dikehendaki dengan diameter sekitar 40 cm. Lubang ditutup dengan kulit sapi yang tepinya diikat melilit dengan seutas rotan, melingkari jatong hingga ke bagian bawah. Kulit sapi berfungsi sebagai selaput gendang (membran) tambur, sedangkan lilitan rotan mengatur kekencangan kulit agar bunyinya tetap nyaring. Alat pemukul jatong, yang dalam bahasa Kenyah disebut tit jatong hang, umumnya terbuat dari kayu yang sama dengan pemukul tambur.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

149

07

08

09

10

11

12

13

14

Tambur biasanya disimpan di serambi atau di sudut lamin, dengan cara digantung melintang. Namun, di kalangan orang Dayak Bahau, Dayak Kayan dan Dayak Aohen/ Penihing, tambur diberi dudukan kaki sebagai penopang dan pemukul tambur duduk di kursi menghadap ke tambur. Pada masa lampau, tambur berfungsi sebagai perangkat bunyi-bunyian untuk mengirim isyarat kepada masyarakat bila ada serangan musuh. Hanya kaum bangsawan yang berhak menabuh tambur (hipuy/Dayak Bahau, paren/Dayak Kenyah). Sekarang, jatong ditabuh apabila ada warga kampung yang mengalami musibah di hutan. Selain kedua perangkat isyarat tersebut, ada gendang (gimer) yang hanya digunakan dalam ritual adat penyembuhan penyakit (belian). Panjang gendang sekitar satu depa,

dengan diameter sekitar 50 cm. Gendang serupa ini hanya ditemukan di lamin kepala adat Dayak Benuaq di Pintuq/Benung, serta di kediaman para pawang belian.

15

01-15 (Rangga Purbaya) 16-17 (Steve Pillar)

16

17

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

150

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

01

02

01 (Yayak Yatmaka) 02-05 (Rangga Purbaya)

Ragam Transportasi
Langit mulai gelap ketika kami memasuki kampung Long Anai. Mendadak terlihat seberkas cahaya silau menyorot dari sepasang lampu sepeda motor. Serta merta kami memalingkan muka untuk melihat siapa pengendara motor itu. Di punggungnya terlihat sebuah tas anyaman terbuat dari rotan (ingen) dengan dua buah parang (baheng) di dalamnya. Kami menyapa seraya menanyakan tujuan mereka yang lalu dijawab, “Baru pulang dari ladang.” Kalimantan merupakan kawasan yang luas dengan sungai-sungai besar dan kecil membelah daratan. Dengan kondisi geografis seperti itu, sudah barang tentu orang Dayak sejak dahulu kala sudah mengenal dua jenis transportasi, yaitu transportasi darat dan transportasi sungai. Hutan dan sungai adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari orang Dayak. Dulu, satu-satunya cara menerobos daratan adalah dengan berjalan kaki

dan menggunakan perahu kayuh untuk menempuh sungai atau danau. Namun, sebagaimana ilustrasi di atas, berjalan kaki bukan lagi satu-satunya pilihan bagi orang Dayak Kenyah untuk bepergian di darat. Perubahan ini merupakan gejala umum di Indonesia dan terjadi, antara lain, karena pertimbangan praktis untuk memperpendek jarak tempuh, menghemat waktu atau mengurangi rasa penat. Berjalan kaki sangat mengandalkan kekuatan fisik. Orang Dayak biasanya berjalan kaki dari tempat tinggal mereka sampai ke ladang, atau dari rumah ke dermaga penambatan perahu di tepi sungai, lalu melanjutkan lagi dengan berjalan kaki menuju lokasi ladang. Berdasarkan pengalaman orang yang terbiasa berjalan kaki dari rumah ke ladang, waktu tempuh biasanya sekitar 1 sampai 2 jam. Orang yang belum terbiasa tentu perlu lebih lama lagi. Untuk melindungi telapak kaki dari onak duri di hutan, orang Dayak kadang-kadang memakai alas kaki terbuat dari rotan (sumpa) yang diraut halus dan dianyam berbentuk sandal jepit, meskipun

ada juga sumpa yang terbuat dari kulit kayu. Saat berjalan ke ladang, mereka membawa perlengkapan berupa sumpit yang ujungnya dilengkapi dengan mata tombak, mandau yang terlilit di pinggang, parang, batu asah, ingen anjau, ingen ateg dan peralatan lain yang diperlukan. Ragam transportasi di sungai pun mengalami perubahan dengan masuknya jenis transportasi air modern. Kini perahu bermesin banyak menggantikan perahu kayuh. Meski demikian, mereka masih menguasai pengetahuan dan keterampilan yang khas untuk membuat perahu sungai. Perahu dalam bahasa Kenyah disebut alut. Di beberapa lamin dan balai di kawasan Hulu Mahakam selalu tersedia perahu panjang (alut pasa). Perahu panjang ini memiliki ketebalan sekitar 15 cm dan panjang sekitar 28 meter yang dapat memuat 25 orang. Pembuat alut biasanya memilih jenis kayu meranti merah (Parashorea species) atau kayu medang (Dehaasia species), karena

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

151

03

04

05

ringan dan lebih tahan air. Untuk membuat perahu panjang, orang Dayak memilih kayu gelondong sepanjang 4 depa dengan lebar 4 kilan (1 kilan sekitar 15 sampai 20 sentimeter). Gelondongan kayu ini kemudian dibelah dan dikeruk bagian tengahnya menggunakan beliung (asai) untuk menghasilkan dinding perahu (blempiang), yang lalu dijepit dengan empat buah jepitan agar membentuk cekungan. Salah satu ujung kayu gelondongan akan menjadi haluan perahu (julong alut), sedangkan ujung lainnya menjadi buritan perahu (mureq alut). Ketebalan dinding perahu adalah 2 jari, sementara tebal bagian bawah 3 jari. Cekungan yang membentuk dasar perahu kemudian dipanaskan dengan bara api untuk menghaluskan. Caranya adalah dengan menggantungkan perahu secara tertelungkup sejauh 0,5 meter di atas bara api yang ditebar sepanjang ukuran perahu (Depdikbud, 1993). Orang Dayak juga mengembangkan teknik untuk menjaga keseimbangan perahu. Mereka perlu memastikan bahwa seluruh

permukaan perahu – sisi kanan dan kiri, baik di ujung maupun di tengah – mempunyai ketebalan yang sama. Mereka mempunyai alat khusus yang disebut jejera untuk membuat lubang di kedua sisi perahu untuk mengukur ketebalan dinding. Setelah diperoleh ketebalan yang sama, lubang tersebut ditutup kembali dengan kayu agar perahu tidak bocor. Jejera adalah bagian dari perlengkapan pertukangan yang berfungsi sebagai gurdi untuk melubangi kayu yang tebal. Jejera terbuat dari kayu bengkirai dengan lebar bentangan kayu pemutar sekitar 100 sentimeter, diameter piring pemutar sekitar 15 cm sentimeter dan tingginya 50 sentimeter. Alat ini dapat bertahan hingga lima tahun, tergantung pemakaian. Semakin sering dipakai, tentu akan semakin cepat rusak. Kendati sekarang orang Dayak lebih sering menggunakan gurdi tangan atau gurdi listrik agar lebih efisien, jejera membuktikan orang Dayak memiliki kecerdasan lokal yang khas terkait teknologi pertukangan.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

152

Teknik Pembuatan Perahu Alutpasa

Alat:

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

153

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

154

01

02

Dulu, orang Dayak mengayuh perahu dengan menggunakan alat kayuh yang lazim disebut dayung (besei). Dayung terbuat dari jenis kayu keras, biasanya kayu ulin. Ukuran besei disesuaikan dengan kebutuhan. Besei untuk anak-anak berukuran lebih kecil daripada untuk orang dewasa. Jenis besei untuk laki-laki dan perempuan pun berbeda. Perempuan biasanya menggunakan dayung yang disebut besei bawi. Tangkainya diukir dan bagian yang tercelup ke dalam air berbentuk tiga sudut. Sedangkan laki-laki menggunakan besei hatue yang ukurannya lebih kecil daripada besei bawi, serta tangkainya tidak diberi ukiran dan bagian yang tercelup ke dalam air berbentuk tumpul. Selain alut, ada jenis perahu bermesin yang disebut ces atau ketinting. Ketinting lazimnya

mempunyai dinding yang tersusun dari bilah-bilah papan yang direkat dengan getah kayu yang memiliki daya rekat sangat tinggi, sekaligus tahan air. Semakin besar papan yang digunakan untuk menyusun dinding perahu, semakin besar ukuran ketinting. Bagian dalam ketinting dilengkapi dengan papan-papan melintang yang berfungsi sebagai tempat duduk. Jarak antara papan tempat duduk dengan lantai perahu sekitar setengah meter. Lantai perahu juga dilengkapi dengan bilah-bilah papan sebagai alas yang disebut kelasa alut. Kelasa alut juga berfungsi sebagai tempat menaruh barang-barang. Selain papan, alas perahu bisa juga terbuat dari anyaman bambu yang diikat dengan tali rotan. Mesin perahu yang bertangkai panjang diletakkan di buritan dan dikemudikan oleh tukang perahu yang lazim disebut motoris. Ketika mesin dihidupkan,

kipas yang tercelup ke dalam air akan mengeluarkan bunyi ces ... ces. Konon, dari bunyi itulah perahu bermesin ini kemudian disebut juga perahu ces. Transportasi sungai yang disebut ces atau ketinting ini unik jika dibandingkan dengan perahu-perahu di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Keunikannya terletak pada poros roda baling-baling yang menjulur keluar dari mesin. Pada mesin ketinting, poros ini menyatu dengan mesin perahu. Anwar, yang berprofesi sebagai “tukang ojek” perahu di Tering Seberang, menjelaskan bahwa poros baling-baling yang menjulur keluar itu memudahkan proses pemutaran kipas penggerak mesin.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

155

05

03 03, 04, 05 (Steve Pillar) 01, 02, 06, 07 (Rangga Purbaya)

04

06

Jenis transportasi yang sekarang digunakan untuk perjalanan dari Long Bagun menuju wilayah Hulu Riam Mahakam di Kecamatan Long Pahangai dan Long Apari adalah perahu panjang (long boat) yang mampu memuat beban sekitar 2 sampai 3 ton, dengan mesin berkekuatan 200 HP (horse power; tenaga kuda). Selain itu, ada juga perahu cepat (speedboat) untuk mengakut penumpang, yang terbuat dari serat gelas (fiberglass) dengan mesin berkekuatan 400 HP. Kendati pemiliknya bukan orang Dayak, motoris perahu cepat ini adalah orang Dayak yang sangat piawai mengendalikan perahu serta hafal lekuk liku riam Mahakam. Perahu panjang milik orang Dayak biasanya digunakan untuk mengangkut barang dan penumpang. Sedangkan perahu panjang milik perusahaan-perusahaan kayu, juga dengan motoris orang Dayak, digunakan untuk mengangkut bahan bakar.

07

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

(Rangga Purbaya)

158

01

02

03

04

05

Atas dari kiri ke kanan: Proses mencuci daun doyo.
01 (Rangga Purbaya)

Busana dan Perlengkapannya
Lazimnya suku-suku di Indonesia, suku Dayak memiliki keragaman busana adat yang mereka kenakan sesuai dengan jenis upacara serta kegiatan yang mereka jalankan. Mereka memiliki beberapa jenis baju dan perlengkapannya seperti topi, baik yang dilengkapi dengan ornamen maupun yang amat sederhana. Mereka juga mengenal perhiasan manik-manik yang terlihat melekat pada busana dan berbagai macam perlengkapan sehari-hari. ilalang sekitar kampung, serta di lantai hutan. Ada empat jenis daun doyo yaitu doyo pentih, doyo temoya, doyo tulang dan doyo bramang. Dari keempat jenis daun itu, hanya doyo bramang yang tidak dapat menghasilkan serat benang (Chaniago, 1983). Para pengrajin ulap doyo mengatakan bahwa pohon doyo kini semakin sulit didapat karena banyak wilayah yang dulu menjadi tempat tumbuh pohon doyo, kini berubah menjadi lahan perkebunan monokultur berskala besar. Penebangan hutan untuk kepentingan produksi skala besar, kiranya, juga mempengaruhi habitat tumbuh pohon doyo yang perlu keteduhan. Pembuatan ulap doyo banyak dikerjakan oleh kaum perempuan. Prosesnya dimulai dengan memetik daun doyo, merendamnya di dalam air lalu menjemurnya. Setelah kering, helai demi helai daun doyo digosok dengan benda tumpul hingga menghasilkan serat daun doyo yang kemudian dipintal menjadi benang. Alat pemintal benang dapat dipakai untuk memintal tali yang juga berasal dari serat doyo. Alat itu dijalankan dengan cara menggerakkan dua buah pen dengan lilitan tali yang ditarik hingga pen berputar. Di ujung pen diikatkan serat kayu yang akan dipintal menjadi benang atau tali. Setelah dipintal,

02-05 (Eddie B Handono)

Baju
Baju tradisional orang Dayak dalam bahasa Dayak Benuaq disebut ulap sape, yang terbuat dari tenunan serat doyo. Ulap doyo adalah hasil karya orang Dayak Benuaq yang tinggal di wilayah Kecamatan Jempang, yaitu kampung Tanjung Jan, Tanjung Isuy, Mancong, Pentat, Muara Nayan, Perigiq, Lembonah dan Muara Tae. Tenunan ulap doyo sangat tersohor di daerah-daerah tersebut. Bahan baku tenun doyo adalah daun pohon doyo (Curculigo latifolia) yang bentuknya mirip anggrek tanah, daunnya lebar. Pohon ini - tumbuh di semak-semak dan di antara

benang diberi warna hitam, merah dan putih dengan pewarna alami. Warna merah dihasilkan dari air rebusan buah glingem atau rebusan kayu oter. Sedangkan rebusan kayu uwar menghasilkan pewarna coklat. Pintalan benang berwarna ini lalu ditenun dengan alat penenun tradisional gedokan (atem). Pembuatan selembar ulap doyo dengan ukuran 100 sentimeter x 150 sentimeter memerlukan waktu sekitar 10 hari. Petugas Museum Tenggarong yang kami wawancarai menjelaskan beragam motif ulap doyo khas Dayak Benuaq, antara lain tipak nowala, tempaku, pucuk rebung, tengkulat, rangkang, berubung, upak talang, pupu, temang nuat, tengkulun tongkau,

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

159

temang sesat tengkar, ero tungkai, toray. Varian motif yang sudah dikembangkan adalah motif naga, gigi geraham, akar beringin, ikan, tangga bergigi, harimau tidur, kumbang kelapa, dan sebagainya. Orang Dayak memiliki beberapa jenis baju. Kaum lelaki Dayak Benuaq, misalnya, pada zaman dulu lebih suka memakai busana dari kulit kayu pohon jomok. Cara membuatnya adalah dengan mengelupas kulit kayu pohon jomok, merendam lalu menjemurnya. Kulit kayu yang sudah kering ditumbuk hingga berbentuk lembaran, kemudian dibuat menjadi pakaian adat. Selain sebagai bahan busana, kulit pohon jomok juga dapat digunakan sebagai bahan selimut.

Dalam upacara adat perkawinan, laki-laki mengenakan busana yang disebut sepay dada berupa baju lengan panjang dan sepay sepa, sejenis baju kurung yang dikenakan kaum perempuan. Mereka juga mengenakan kain yang dinamakan taa beh. Ada pula jubah terbuat dari kulit macan dahan yang dinamakan besunung. Bagian belakang besunung dibubuhi hiasan atau ditempeli beberapa helai bulu burung enggang. Dahulu, orang Dayak ada yang mengenakan pakaian terbuat dari kulit hewan, antara lain kulit macan dahan, lengkap dengan ekornya. Dari kejauhan, ekor macan itu tampak seolaholah merupakan bagian dari tubuh orang yang mengenakannya. Mungkin ini alasan mengapa dahulu kala pernah ada dugaan bahwa orang Dayak memiliki ekor.

Aneka macam hasil tenun Ulap Doyo. (Susi Abdurahman)

Cawat
Ketika menikah, selain mengenakan beberapa jenis pakaian yang sudah disebutkan di atas, kaum laki-laki Dayak mengenakan cawat panjang berhias manik-manik, yang disebut abat atau bah. Cawat itu terbuat dari kulit kayu (ewah nyamo). Panjang cawat sekitar 4 sampai 6 meter sesuai ukuran pinggang pemakainya. Bah diperuntukkan bagi anak-anak, remaja dan dewasa. Sekarang bah dikenakan dengan memadukannya bersama celana pendek (Belareq, 2008).

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

160

01 Stevanus Oey, pengrajin Ulap Doyo, Tanjung Isuy.

Manik-manik
Masyarakat Dayak mengenal seni kerajinan manik-manik yang dirangkai menjadi berbagai hiasan, misalnya hiasan pada mandau, baju adat, topi, seraung, taplak meja, gorden pintu kamar rumah, berbagai jenis model dompet, dan sebagainya. Kerajinan manik-manik memiliki daya tahan yang sangat tinggi karena dibuat dari bahan dasar yang keras, seperti batu, sehingga dapat bertahan hingga puluhan tahun. Pembuatan kerajinan manik-manik masih berlangsung sampai sekarang dan dikerjakan hanya oleh kaum perempuan, terutama yang tidak pergi ke ladang. Nangin, seorang warga desa Busang berumur 64 tahun yang kami wawancarai, menjelaskan beberapa motif anyaman manik-manik masyarakat Dayak Bahau Busang, antara lain motif manusia (kelunan), petir (belareq), anjing (asoq), naga (beraang), dan katak duduk (bunang bello). Untuk merangkai manik-manik dibutuhkan papan landasan terbuat dari kayu, benang dari serat nenas atau benang biasa yang digosok dengan lilin lebah agar dapat disisipkan ke dalam lubang manik-manik dengan lancar, serta manik-manik warnawarni berukuran kecil. Teknik merangkai manik-manik menjadi anyaman diawali dengan mengaitkan seutas benang dasar ke bagian atas papan landasan. Kemudian helai-helai benang yang akan digunakan untuk merangkai manik-manik didekatkan ke benang dasar dengan jarak yang sama, serta dibatasi dengan sebiji sampai tiga biji manik-manik tergantung jarak yang diinginkan. Selanjutnya, biji manik-manik disisipkan ke seutas benang dalam rangkaian hingga saling berdekatan, kemudian digabung dengan sebiji manikmanik, dimulai dengan utas kedua, sisi kiri dan sisi kanan. Pada utas pertama

RP

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

161

03

04

05

06

02 Aneka kerajinan manik dan baju manik.

07

08 01-08 (Rangga Purbaya)

yang belum digabung dengan utas lainnya juga disisipkan sebiji manik-manik. Lalu semua utas benang disisipi lagi dengan manik-manik, dan utas-utas benang yang berdekatan digabung kembali dengan manik-manik berikutnya, dimulai dengan benang pertama serta sisi kiri dan sisi kanan. Selanjutnya proses perangkaian diulang lagi, demikian seterusnya. Pemilihan warna manik-manik bergantung pada pola penataan motif yang akan dibuat. Manik-manik yang digunakan oleh masyarakat Dayak sekarang ini berasal dari produk impor yang dapat diperoleh dengan

mudah di toko-toko di Samarinda. Dulu, nenek moyang orang Dayak memperoleh berbagai jenis manik-manik dari lingkungan sekitar, yakni sejenis batu berlubang. Namun batu manik-manik jenis ini amat langka, atau kemungkinan besar malah sudah punah, akibat kerusakan lingkungan.

Kerajinan manik-manik memiliki daya tahan yang sangat tinggi karena dibuat dari bahan dasar yang keras, seperti batu, sehingga dapat bertahan hingga puluhan tahun.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

162

03

04

01

02

05

06

Pelindung Kepala
Sejak tiba di kampung-kampung Dayak di Kutai Barat, kami melihat banyak perempuan dan laki-laki yang mengenakan penutup kepala yang khas, baik ketika mereka di rumah, di perahu maupun di ladang. Ada bermacam-macam penutup kepala atau topi orang Dayak yang dipergunakan dalam kesempatan berbeda-beda, sebagaimana dipaparkan di bawah ini.

kaum laki-laki hampir sama, tetapi ditambah anyaman rotan di bagian depan dan belakang. Daya tahan tapung puk cukup tinggi karena terbuat dari rotan sehingga dapat bertahan lebih dari tiga tahun. Fungsinya untuk menutupi rambut agar terlihat lebih rapi.

Seraung
Di Sendawar kami melihat penutup kepala dengan tampilan berbeda. Saat kami tiba, masyarakat sedang mengadakan lomba dayung perahu tradisional atau perlombaan perahu naga. Semua peserta dayung mengenakan penutup kepala jenis caping yang disebut seraung. Seraung merupakan bagian dari perlengkapan sehari-hari masyarakat Dayak. Tutup kepala atau caping ini bersifat multifungsi karena dapat dikenakan dalam berbagai kegiatan untuk menghindari terik matahari maupun guyuran hujan, terutama saat berladang dan menangkap ikan. Seraung

bisa berukuran besar ataupun kecil. Ada yang polos dan ada juga berhiasan. Seraung terbuat dari daun sang yang sekarang sudah tidak mudah didapat. Orang Dayak Kenyah di Datah Bilang Hilir harus menempuh 2,5 jam perjalanan menggunakan perahu ketinting, dilanjutkan berjalan kaki sekitar 2 jam untuk mencari daun sang yang pohonnya tumbuh di hutan. Mereka kini mengganti bahan dasar seraung dengan sejenis pohon pandan atau kajang yang lebih mudah diperoleh. Pembuatan seraung diawali dengan menyiapkan bahan dasar berupa beberapa puluh bilah daun sang yang dijemur sekitar seminggu, kemudian dicuci hingga bersih sekitar lima menit untuk memudahkan proses pembukaan daun. Daun yang telah terbuka diluruskan dengan cara digulung-gulungkan di tangan, lalu disimpan di bawah tikar agar lurus dan rata selama sekitar seminggu. Daun sang yang sudah lurus dan rata inilah yang kemudian dianyam menjadi seraung.

Tapung Puk
Di kampung Long Anai, Kabupaten Kutai Kartanegara, yang dihuni oleh orang Dayak Kenyah, terlihat dua perempuan mengenakan penutup kepala yang disebut tapung puk. Jenis penutup kepala yang lazim mereka kenakan sehari-hari ini melingkari kepala, menutupi dahi tetapi tanpa penutup di bagian atas sehingga mirip sabuk yang dikenakan di kepala. Bentuk tapung puk yang dikenakan

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

163

07

08 01-08 (Rangga Purbaya)

Karena terbuat dari daun yang ringan dan mudah sobek, tutup kepala jenis seraung hanya bertahan sekitar satu sampai dua tahun. Namun karena bahan dasarnya sulit didapat dan proses pembuatannya cukup rumit padahal seraung bersifat multifungsi, harganya cukup mahal. Saat penelitian dijalankan, orang Dayak Kenyah di Datah Bilang Hilir menjual seraung berukuran besar (sekitar 60 sentimeter) seharga Rp. 70.000,- sedang yang lebih kecil (sekitar 40 sentimeter) Rp. 50.000,Perlengkapan yang diperlukan untuk membuat seraung adalah daun sang, rotan, kain, benang dan jarum. Bagaimanapun, generasi muda Dayak kini mulai kehilangan minat terhadap pembuatan kerajinan seraung. Gejala ini tentu tidak khas Dayak, karena terjadi juga di banyak daerah di Indonesia. Jika situasi ini berlanjut, sangat boleh jadi, beragam benda kerajinan yang menandai identitas budaya suatu masyarakat, akhirnya punah. Salah satunya, mungkin, adalah seraung Dayak.

Bluko Ne
Bluko ne adalah topi polos yang terbuat dari rotan berhiaskan bulu burung. Khusus pada upacara adat, bluko ne dikenakan dengan menambahkan hiasan bulu burung enggang. Dalam penggunaan sehari-hari, hiasan tersebut dilepas. Proses pembuatan bluko ne dimulai dengan menyiapkan rotan, alat pembelah rotan, dan anak pisau mandau. Rotan dianyam dengan cara seperti membuat ingen. Ukuran bluko ne disesuaikan dengan ukuran kepala pemakainya. Daya tahan bluko ne sangat tergantung pada pemakaian. Jika dikenakan setiap hari dan sering terkena air hujan, topi ini bisa cepat rusak. Pada umumnya, daya tahan bluko ne mencapai lebih dari 10 tahun.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

164

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

01

02

Tato yang Sarat Makna
Tato atau merajah permukaan kulit di bagian-bagian tertentu tubuh merupakan seni memperelok tubuh yang sering dijumpai pada perempuan Dayak. Pada laki-laki Dayak, tato melambangkan pengalaman atau pencapaian tertentu dalam hidup. Tato juga merupakan penanda identitas atau kelas sosial yang memiliki makna tertentu bagi pemakainya. Makna tato bergantung pada motif serta letaknya di tubuh. Di kalangan laki-laki Dayak, misalnya, tato naga di sekujur leher merupakan penanda kelas bangsawan, selain simbol bahwa yang bersangkutan memiliki pengalaman luar biasa seperti pernah mengayau kepala musuh dalam suatu peperangan, atau pernah merantau ke negeri orang. “Negeri orang” di sini bukan hanya berarti mancanegara, melainkan juga wilayah-wilayah di sekitar mereka tinggal atau kampung-kampung Dayak lainnya. Kaum laki-laki Dayak Kenyah di Long Anai, misalnya, menghiasi lengan atau bahu dengan tato bergambar pesawat terbang. Artinya, orang tersebut pernah merantau ke Sarawak, Malaysia Timur. Bagi kaum perempuan Dayak, selain sebagai penanda kelas sosial, tato merupakan seni memperindah tubuh sekaligus melambangkan kedewasaan. Tato tersebut lazim terdapat di sekujur punggung kaki hingga betis, punggung tangan hingga sebatas lengan. Motif bagi tato umumnya terilhami oleh lingkungan alam, baik tetumbuhan maupun hewan. Motif tato yang digunakan perempuan Dayak Kenyah adalah anjing hutan (kalung asuq) dan tanduk binatang (kalung wanbeng) yang dirajahkan di bagian kaki dan lengan, serta motif lingkaran (kalung buleng) yang ditorehkan di betis dan pergelangan kaki. Sedangkan motif yang lazim digunakan oleh laki-laki Dayak Kenyah adalah motif binatang (kalung bala-ut), motif matahari (kalung tab) dan motif bunga terong (kalung piu) seperti disampaikan Sjahbandi dkk. (1995). Kami menemui Weq Doh Ding yang berusia sekitar 66 tahun. Weq adalah sebutan khas untuk perempuan Kenyah yang berarti mamak. Meski telah berusia lanjut, wajah Weq Doh-Ding menampakkan kecantikan pada masa mudanya. Tubuh Weq Doh Ding dihiasi tato, mulai dari ujung kaki, pergelangan kaki sampai jari-jari tangannya. Ia memiliki cuping telinga yang bergantung panjang karena diberati anting-anting perak. Weq Doh Ding bertutur tentang pengalamannya saat masih gadis, seraya tangannya terus menganyam rotan untuk tikar. Sesuai dengan adat, ia harus dirajah. Tubuhnya terlentang saat tato dibubuhkan ke bagian depan badan, dan tengkurap saat bagian belakang yang dibubuhi tato. Pembuatan tato dilakukan dengan cara merajah permukaan kulit menggunakan jarum besi yang sudah dibakar. Ukuran jarum bergantung pada luas motif yang akan dibuat. Pada tangkai jarum terdapat sepotong bambu yang diikat sebagai pembatas

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

165

03

04

05 01-05 (Rangga Purbaya)

kedalaman. Proses perajahan dilakukan dengan mengetuk-ngetukkan jarum secara perlahan-lahan dan berulang-ulang ke bagian tubuh yang akan digambari. Bagian tubuh yang sudah dirajah lalu diolesi pewarna yang terbuat dari ramuan dedaunan. Tato di tubuh Weq Doh Ding berwarna hitam. Warna hitam diperoleh dari jelaga lampu pelita atau jelaga panci yang diaduk dengan gula tebu dan minyak. Proses perajahan menimbulkan rasa sakit dan luka bekas rajahan kadang-kadang dapat mengalami infeksi. Namun, perempuan Dayak memaknai proses merajah tubuh serta rasa sakit yang ditimbulkan itu sebagai tanda kesiapan untuk menghadapi cobaan fisik maupun mental dalam mengarungi kehidupan. Namun, orang Dayak memiliki teknik untuk meredam rasa sakit dan menghindari infeksi. Orang yang dirajah pertama-tema mesti dalam keadaan sehat dan peralatan rajah direbus terlebih dulu dengan air mendidih

untuk proses suci hama. Selain itu, bagian tubuh yang dirajah juga dilapisi daun yang berfungsi sebagai pewarna sekaligus pencegah infeksi. Selama di pedalaman Mahakam, kami tidak lagi menemukan perajahan sebagai gejala rutin di kalangan orang Dayak. Beberapa orang tua memiliki tato di tubuhnya sebagai bagian dari warisan yang mereka peroleh pada masa lalu. Sedangkan di kalangan anak muda, pun kalau ada yang bertato, cukup pasti tato itu dibuat dengan menggunakan teknik modern. Gambar-gambarnya pun bermotif kontemporer atau paduan motif tradisional Dayak dengan motif modern.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Anak-anak Kenyah bermain di lamin Pampang. (Rangga Purbaya)

168

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Tas Punggung
Orang Dayak mengandalkan teknik membawa barang di punggung, yaitu menggunakan keranjang punggung yang disebut ingen, lanjung, anjat, atau gawakng untuk membawa barang dalam kegiatan berladang maupun kegiatan sehari-hari. Bahan dasar yang digunakan untuk membuat “tas punggung” adalah rotan yang mereka tanam di kawasan perkebunan milik mereka (lembo/Dayak Tunjung; simpukng/Dayak Benuaq). Nikolaus, dkk. (2007) menyebutkan berbagai jenis rotan yang digunakan sebagai bahan anyaman, yaitu rotan sega, kotok, dan seltup. Kaum lelaki bertugas mengambil rotan di hutan dan membawanya ke rumahnya.

01

empat batang rotan sebagai kaki penyangga. Lazimnya, ingen kalong diberi motif sulaman dan dipasangi tali gendongan karena tas ini berfungsi sebagai tas punggung. Ingen kalong digunakan sebagai wadah untuk mengangkut hasil ladang ke rumah. Sedangkan ingen anjau adalah keranjang yang terbuat dari anyaman rotan halus dan bentuknya sama dengan ingen kalong. Bedanya, ingen kalong memiliki kaki yang lebih panjang dibandingkan ingen anjau dan tidak dipasangi tali punggung. Ingen anjau berfungsi untuk menampung padi yang baru dituai. Ingen ateg juga berupa keranjang anyaman rotan tetapi kapasitasnya lebih besar daripada ingen kalong dan ingen ateg. Ingen ateg digunakan untuk menampung padi yang akan dibawa ke tempat perontok padi yang ada di ladang. Bagi orang Dayak, ingen termasuk peralatan primer dalam kehidupan seharihari. Cara membuatnya adalah dengan mulamula

02

Ragam Keranjang
Ingen adalah sebutan orang Dayak Kenyah bagi beberapa jenis tas punggung sesuai ukuran dan peruntukannya, yaitu ingen kalong, ingen anjau dan ingen ateg. Sedangkan orang Dayak Bahau menyebutnya ingan. Ingen kalong adalah keranjang terbuat dari anyaman rotan yang halus dengan ukuran tinggi 45 sentimeter dan diameter mulut keranjang 25 sentimeter. Di setiap sudut ada

03 01-03 (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

169

meraut tipis rotan lalu menganyamnya secara teliti. Ingen semakin kokoh bila anyamannya semakin kerap. Ingen orang Kenyah dibubuhi hiasan dekoratif sebagai penanda kelas sosial. Gambar bermotif manusia utuh menandakan pemiliknya adalah keturunan bangsawan (paren). Orang Dayak Kenyah biasanya menyimpan luko di dalam ingen. Luko digunakan sebagai wadah nasi bekal untuk perjalanan jauh. Luko berbentuk tabung bambu dengan ruas bagian atasnya dipotong. Luko berpasangan dengan sung, yaitu wadah penampung air yang terbuat dari bambu yang dilubangi sehingga berfungsi sama dengan botol. Orang-orang Dayak mengenal tas punggung yang akrab disebut anjat. Bentuk Anjat menyerupai tabung dengan tinggi sekitar 50 sentimeter, garis tengah lingkaran atas maupun bawah sekitar 30 sentimeter. Ukuran anjat lazimnya bervariasi sesuai dengan kebutuhan. Anjat tidak memakai tutup, tapi bagian atasnya dilengkapi dengan gelanggelang kecil yang terbuat dari anyaman rotan lalu dipasangi tali. Bila tali ditarik, bagian atas anjat akan mengerucut sehingga anjat menutup. Semua orang Dayak menguasai keterampilan menganyam rotan yang menghasilkan

beragam produk, motif hiasan dan kegunaan. Di beberapa kampung orang Dayak Aoheng, Bahau, Kenyah, Tunjung dan Benuaq, banyak ditemukan hasil produksi kerajinan rotan berupa tikar dan tas punggung. Selain digunakan untuk keperluan pribadi, produkproduk itu juga dijual. Di kampung Datah Bilang Hilir dan Datah Bilang Hulu, misalnya, hampir setiap minggu terjadi transaksi jualbeli produk anyaman rotan baik anjat maupun ingen. Karena itu, mereka tidak hanya dikenal sebagai petani ladang, tetapi juga pengrajin anyaman rotan. Transaksi jual-beli produk anyaman rotan tersebut didukung oleh kemudahan transportasi sungai dari Datah Bilang ke Tering, sehingga dapat ditempuh dalam waktu tiga jam menggunakan ketinting. Sedangkan perjalanan dari Tering menuju Barong Tongkok dan Melak memerlukan sekitar dua jam menggunakan sepeda motor. Kondisinya berbeda bagi komunitas Dayak yang tinggal di Kecamatan Long Apari dan Long Pahangai. Mereka harus milir menggunakan perahu menembus riam yang ganas, sehingga mereka mengalami kendala untuk memasarkan produk-produk anyaman rotan. Produksi anyaman rotan berlangsung melalui beberapa tahap. Tahap paling awal adalah memotong sulur-sulur rotan yang ditanam di

kebun (simpukng), lalu membersihkan duriduri yang menyelimuti batang-batang rotan. Tahap berikutnya adalah merunti dengan cara memegang sulur rotan menggunakan tangan kanan dan tangan kiri sehingga membentuk lingkaran, yang dikaitkan ke sebuah tongkat atau batang pohon yang terletak di dalam lingkaran. Ketika digerakkan maju-mundur dengan kedua belah tangan, batang rotan akan bergesekan dengan pohon atau tongkat itu. Merunti dimaksudkan untuk membuat sulur rotan menjadi lentur sehingga mudah dibentuk ketika dianyam. Setelah kegiatan merunti selesai, ruas-ruas rotan dibersihkan dan diratakan dengan pisau. Tahap selanjutnya adalah membelah sulur rotan, biasanya menjadi 10 belahan (poka). Caranya, pertama-tama rotan dibelah menjadi dua bagian, lalu masing-masing bagian dibelah lagi menjadi 5 bagian poka sehingga menjadi 10 poka. Untuk menghaluskan belahan digunakan alat peraut yang dikenal dengan sebutan sangat. Alat ini berbentuk seperti huruf “L”. Di ujung bagian vertikal diletakkan dua buah mata pisau. Sedangkan bagian horizontal merupakan tempat duduk peraut, atau landasan pijak bagi peraut yang berada dalam posisi duduk sehingga sangat tidak goyang ketika digunakan.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

170

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

motif yang disebut ngerara. Tahap terakhir adalah menganyam bagian bawah, yakni membuat klikar yang berfungsi sebagai alas anjat berbentuk bulat yang juga terbuat dari anyaman rotan. Motif hiasan anjat amat beragam. Anjat yang dibuat oleh pengrajin Dayak Benuaq di Pepas Eheng biasanya bermotif dedaunan, seperti dawatn danan, benawa bingkas, atau motif binatang berupa kelelemakng baraq, mataq punei, jatuk mantuku, tempilih, motif lingkaran serta segi empat yaitu lurang lomo, tumpakng dara, selengkau gelangkng, kelolokng, dan motif bunga yakni bungan naga.

Posisi pisau akan menentukan bentuk belahan rotan. Untuk membuat belahan tipis, peraut menggunakan dua sangat, satu sangat ditancapkan terbaring sedangkan yang lainnya dalam posisi berdiri. Ini artinya hanya satu sangat saja yang membelah rotan yakni sangat yang berdiri. Sedangkan sangat yang dalam posisi terbaring menjadi alat untuk menentukan tipisnya belahan. Apabila dikehendaki belahan berukuran lebih besar, kedua sangat berada dalam posisi berdiri. Proses berikut adalah pewarnaan. Bahan pewarna rotan adalah daun kesempang piak yang direbus dalam kuali bersama dengan rotan yang sudah dibelah. Selama proses merebus, rotan diaduk-aduk agar semua belahannya masuk ke dalam air pewarna secara merata. Meski teknik merebus belahan rotan ini sederhana, tetapi orang Dayak menerapkan beberapa pantangan

tertentu. Mereka tidak diperkenankan merebus rotan jika ada orang meninggal dunia, demikian pula perempuan yang sedang haid atau melahirkan. Kegiatan merebus rotan dengan daun pewarna berlangsung selama 3 sampai 4 jam. Kemudian belahan rotan diangkat dan ditanam dalam lumpur selama satu malam. Setelah itu rotan dibersihkan dengan air dan dijemur hingga kering hingga siap untuk dianyam. Pengayaman rotan untuk membuat anjat dimulai dari bagian atas, untuk membentuk lubang-lubang bakal tali anjat (dengur). Tahap ini dinamakan nonjak. Proses menganyam dilakukan berputar dari kiri ke kanan. Ada dua pola menganyam untuk pembuatan anjat, yakni mengangkat dan menutup dua bilah rotan. Setelah bagian atas selesai, selanjutnya adalah membuat

Gendongan Anak
Selain anjat, ada “tas punggung” jenis lain yang oleh komunitas Dayak Kenyah disebut bening aban dan berfungsi untuk menggendong anak di bawah usia tiga tahun. Bagi kaum ibu, bening aban sangat praktis karena bermanfaat sebagai perangkat menggendong anak yang memungkinkan si ibu tetap mengerjakan berbagai kegiatan. Bahan untuk membuat bening aban adalah kayu pelai berukuran 38 sampai 40 sentimeter, berdiameter minimal 60 sentimeter. Kayu berfungsi sebagai rangka dan anyaman rotan berfungsi sebagai tali pengikat bening aban.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

171

Cara membuat bening aban diawali dengan memotong dan membelah kayu pelai hingga berbentuk setengah lingkaran dengan ukuran bagian atas sebesar 4 kilan, dan bagian bawah juga 4 kilan. Belahan ini lalu dijemur selama dua sampai tiga bulan. Kayu yang sudah dijemur kemudian dipasangi papan di bagian bawah yang berfungsi sebagai tempat duduk anak yang digendong. Lazimnya bening aban dihias dengan lukisan bermotif khas Dayak lalu dilengkapi dengan hiasan taring harimau atau beruang, uang logam serta anyaman manik-manik. Harga jual bening aban bervariasi. Saat penelitian ini dijalankan, harga bening aban di Datah Bilang berkisar antara Rp. 350.000,- dan Rp. 1.000.000,- tergantung dari jenis ukuran dan hiasannya. Tradisi menggendong anak dengan bening aban lazim di kalangan ibu-ibu Dayak Kenyah dan Dayak Bahau. Posisi anak yang digendong di punggung menghadap ke depan. Kami mencoba menggunakan bening aban untuk menggendong seorang anak dan merasa seluruh bagian tubuh anak seolah-olah menyatu dengan punggung, sehingga anak memang terjaga dan si ibu dapat leluasa menjalankan kegiatannya. Dalam perkembangannya, bukan hanya para ibu yang menggendong anak menggunakan bening aban, melainkan juga para bapak.

Semua hiasan yang melekat pada bening aban memiliki makna. Motif hiasan pohon kehidupan, misalnya, bermakna sang anak dapat hidup sehat dan panjang umur. Hiasan uang logam dan taring harimau atau beruang melambangkan pengharapan agar kelak sang anak menjadi orang yang bijaksana. Sedangkan motif dedaunan mengandung harapan agar sang anak memiliki sifat rendah hati. Selain untuk menggendong anak, bening aban juga berfungsi untuk meninabobokan anak. Caranya, satu kaki sang ibu dalam posisi ke depan sedangkan kaki lainnya ke belakang. Dalam posisi itu, ibu menggerakkan badannya ke depan dan ke belakang atau bergerak maju-mundur, sehingga anak terbuai dalam ayunan ibunya dan lekas tertidur. Pada saat sang anak diayun dalam bening aban, lazimnya sang ibu mendendangkan lagu-lagu tradisonal yang mengandung permohonan perlindungan dari Sang Pencipta, serta pengharapan akan masa depan sang anak. Daya tahan semua jenis tas yang terbuat dari anyaman rotan (anjat, ingen, bening aban)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

172

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

amat relatif, tergantung perawatan sang pengguna. Namun Sicilia, warga kampung Long Hubung, memaparkan pengalamannya tentang bening aban yang sungguh dapat bertahan lama, sampai ia sendiri memiliki cicit. Dan itu berarti sekitar 80 sampai 100 tahun. Mungkin ini terdengar tidak masuk akal, namun bening aban yang terbuat dari rotan berkualitas tinggi dan dianyam dengan baik, memang terbukti dapat bertahan lama dan diwariskan turun temurun. Daya tahan ingen dan anjat berbeda karena penggunaannya yang sangat intensif untuk kegiatan sehari-hari. Injen dan anjat kerap juga tidak terhindar dari cuaca terik dan hujan, sehingga hanya bertahan beberapa puluh tahun. Hal yang menarik dari teknik mengangkut beban dengan punggung ini, adalah kemampuan masyarakat Dayak dalam merancang berbagai jenis keranjang yang cukup sederhana, namun terbukti efektif. Mereka dapat mengangkut hasil panen, peralatan sehari-hari seperti pisau dan parang, sampai menggendong anak dengan aman di punggung. Kemampuan ini sekali lagi menegaskan nilai kecerdasan lokal yang mereka warisi turun temurun, tetapi tampaknya belum dikenal secara luas. Sungguh pun bernilai, pelestarian

teknologi ini mengalami kendala dengan menipisnya bahan baku rotan. Sebagaimana sudah beberapa kali disebutkan dalam tulisan ini, eksploitasi sumber daya alam serta perusakan hutan bukan hanya mempengaruhi perubahan lingkungan dan pola hidup masyarakat sekitar, melainkan juga mengancam sumber-sumber pengetahuan dan teknologi yang berharga. Kendala pelestarian menjadi semakin rumit dengan tidak terpeliharanya kebunkebun rotan, akibat masuknya perkebunan monokultur ke kampung-kampung orang Dayak.

01

02

Macam-macam bening, alat untuk menggendong anak terbuat dari anyaman rotan dan manik-manik.

01-10 (Rangga Purbaya)

03

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

173

04

05

06

10

07

08

09

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

174

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

01

Peralatan Belian
Informasi tentang perlengkapan upacara adat yang dipaparkan di bawah ini berasal dari suku Benuaq dan Tunjung/Tonyooi. Meski demikian, orang Dayak Kenyah di Long Anai yang sudah jarang menjalankan ritual adat, juga memberi informasi mengenai peralatan yang digunakan dalam ritual agama lokal. Kosmologi orang Dayak meniscayai adanya kekuatan adikodrati yang menjaga keselarasan kehidupan manusia dengan alam semesta. Apabila manusia tidak mampu menjaga keselarasan itu, alam akan memberinya sanksi. Di kalangan orang Dayak, hanya orang-orang tertentu saja yang diyakini memiliki kemampuan sebagai perantara untuk berkomunikasi dengan “Sang Penguasa Semesta”. Orang-orang dengan kemampuan itu disebut dayung (Dayak Bahau) atau pemeliatn (Dayak Benuaq).

Para perantara itu membutuhkan perlengkapan tertentu untuk melaksanakan upacara adat belian, yaitu ritual adat yang bertujuan untuk mengobati penyakit. Ada beragam kategori belian. Peralatan yang dipergunakan antara lain:

perahu yang dapat diluncurkan di air maupun di udara.

• Sue Balai Tautn merupakan pondok
tidak permanen, dan biasanya dibangun di halaman rumah atau di sekitar lapangan yang digunakan untuk upacara pemotongan kerbau. Fungsi sue balai taotn adalah untuk menerima dan menjamu para pengurus perkawinan dan pawang cuaca. Dalam upacara belian, orang Dayak juga mengenal cara untuk memulihkan badan yang terasa pegal linu. Pawang belian akan mencelupkan kayu kalase ke dalam air, lalu memukul-mukulkannya ke bagian yang mengalami pegal linu. Fungsinya agar bagian yang terasa sakit itu menjadi dingin dan ini bermanfaat untuk memicu kesembuhan. Orang Dayak Benuaq membedakan antara ritual adat yang berkaitan dengan kehidupan dan yang terkait dengan kematian. Istilah belian hanya digunakan untuk ritual

• Lawukng yaitu ikat kepala terbuat dari
kain

• Ketakung adalah sepasang gelang
perunggu yang dikenakan oleh pemeliatn di lengan kiri dan kanan.

• Samakng Sawit merupakan untaian
kalung yang dihiasi taring binatang dan kayu obat-obatan, yang diselempangkan dari bahu ke kiri ke kanan.

• Ulap Bawo adalah rok yang digunakan
oleh pemeliatn dalam ritual belian bawo, sementara dadanya dibiarkan telanjang dan hanya dililiti samakng sawit.

• Nujaakng yaitu ayunan terbuat dari
kayu berbentuk sampan, bertali rotan dan dilengkapi dengan beragam patung manusia serta burung. Fungsinya sebagai

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

175

02

03

adat yang berkaitan dengan kehidupan, sedangkan yang berkenaan dengan kematian digunakan istilah wara atau sentangih (Dayak Tonyooi) dengan pawang yang disebut pengewara (Dayak Benuaq) atau penyentangih (Dayak Tonyooi). Dalam masyarakat Dayak Benuaq ada tiga kategori untuk ritual kematian, yaitu param api, kenyau dan kwangkai. Beberapa peralatan yang digunakan dalam upacara adat kematian antara lain:

kayu, karena harus kokoh dan tebal supaya tahan menyimpan mayat beberapa hari di dalam rumah. Lungun berbentuk bulat atau segi segi empat dan dihias dengan ukiran. Lazimnya panjang lungun 136,6 sentimeter, tinggi 39,5 sentimeter, lebar 28 sentimeter dan tebal 3,4 sentimeter.

• Garey adalah rumah kecil terbuat
dari kayu yang diberi atap sirap ulin. Ukurannya sesuai dengan panjang dan lebar lungun yang akan ditempatkan di dalam garey. Biasanya, setelah dilaksanakan upacara kwangkai (upacara penguburan ke dua), keluarga almarhum memindahkan tulang-tulang yang berada dalam lungun di garey ke tempelaq atau kererekng.

• Lungun yaitu peti penyimpan jenazah
yang terbuat dari gelondongan kayu durian, ulin, benggeris atau kayu buah lainnya. Lungun yang terbuat dari kayu ulin atau benggeris hanya digunakan untuk kaum bangsawan (mantiq). Warga kebanyakan menggunakan kayu durian atau kayu lain. Cara membuatnya, gelondongan kayu bulat dilubangi dan diberi tutup, kemudian keduanya direkatkan menggunakan getah damar. Lungun harus dibuat dari gelondongan

• Tempelaq/Kererekng merupakan tempat
untuk menyimpan tulang belulang mayat yang digali dari kuburan dan yang telah menjalani ritual adat kwangkai. Tempelaq/kererekng terbuat dari kayu ulin berbentuk peti atau kotak. Jika peti

04 02, 04. (Steve Pillar) 01, 03. (Rangga Purbaya)
Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

176

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

01

tersebut disangga dengan dua tiang bulat terbuat dari ulin, maka disebut tempelaq; jika disangga satu tiang disebut kererekng. Tempelaq adalah bangunan kuburan berbentuk seperti perahu, atau ada juga yang berbentuk peti dan berpenutup. Tempelaq/kererekng dapat dikatakan sebagai bangunan kuburan di atas permukaan tanah. Gelondongan kayu penopang tempelaq berdiameter sekitar 25 sentimeter yang berdiri kokoh setinggi 2 meter dari permukaan tanah, dan tertanam dengan kedalaman sekitar 1 meter. Ujung atas gelondongan kayu ulin yang menjadi tiang kiri dan kanan dipapas dengan beliung sehingga berbentuk lekukan di sisi kiri dan kanan. Bentuknya

seperti baut setinggi peti tempalaq dan berfungsi untuk menopang sisi depan dan belakang peti tempelaq. Dinding luar tempelaq lebarnya relatif dan diukir dengan indah, menggambarkan manusia dan binatang. Penutup peti tempelaq ada yang terbuat dari belahan gelondongan kayu ulin dengan ukuran sepanjang peti tempelaq. Ujung penutup kadang-kadang diberi hiasan simbol kepala burung enggang. berpenutup berbentuk limas segi empat. Selimat berfungsi untuk wadah tulang belulang sekaligus perlengkapan ngerangkau (jenis tarian dalam upacara adat kwangkai). Dinding luar selimat

diukir dengan motif bunga sebagai simbol duka cita.

• Putang Temiang adalah tempat untuk
menaruh tali temali dan kain hiasan tarian ngerangkau. Putang Temiang berupa tiang kayu dari dahan pohon yang besar. Dahan-dahannya digunakan untuk meletakkan tali-tali dan kain. Ujung Putang Temiang dihiasi ukiran berwujud patung burung.

• Selimat adalah kotak berbentuk kubus

• Ngelangkakng adalah anyaman terbuat
dari bambu untuk menyimpan sesaji bagi para arwah.

• Siliu: berbentuk seperti sampan terbuat
dari kayu, dilengkapi dengan tali rotan dan digantungkan seperti ayunan. Siliu dapat diluncurkan di sungai dan darat.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

177

02

• Longan Jejer Tako berbentuk patung
kerbau yang punggungnya diberi empat lubang untuk meletakkan empat buah tiang terbuat dari bambu. Agar tidak lepas satu sama lain, bambu tersebut diikat (suey) dengan bilah bambu segi empat yang berfungsi mengunci tiang.

• Belontakng adalah monumen terbuat
dari gelondongan kayu ulin yang bagian atasnya berbentuk patung manusia. Belontakng juga berfungsi untuk mengikat kerbau pada acara kwangkai. Tali pengikat kerbau terbuat dari sulur rotan bulat (selampit) yang diikat secara kuat. Setelah selesai upacara adat kwangkai, belontakng ditanam di depan lamin atau di depan rumah pribadi.

03

04

05 01-05 (Steve Pillar)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

178

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

Guna-guna
Dalam komunitas Dayak Tonyooi Rentenukng di kampung Linggang Melapeh dan Dayak Benuaq di kampung Eheng, Kabupaten Kutai Barat, kegunaan tetumbuhan dan pepohonan yang diyakini mempunyai daya magis hanya diketahui oleh para pemeliatn, penyentangih dan pengewara. Pemeliatn, penyengtangih dan pengewara adalah profesi keramat yang tugasnya terkait erat dengan upacara adat penyembuhan dan ritual adat kematian di kalangan masyarakat Dayak Tonyooi Rentenukng dan Dayak Benuaq. Lahajir (2005) menyebut beberapa jenis tumbuhan dan pohon-pohonan, antara lain:

• Benuang Rangka digunakan sebagai
guna-guna, penjaga padi atau untuk memisahkan pasangan suami-istri. Caranya dengan memanfaatkan batang kayu benuang rangka, juga daun muda dan daun tua. Batang ditanam di tengahtengah ladang, sedangkan patung yang terbuat dari batang kayu tersebut diletakkan di rumah dan di tempattempat yang dilewati oleh lawan yang akan diguna-gunai.

• Topus Tongau dimanfaatkan sebagai
penangkal guna-guna. Caranya dengan memetik kembangnya yang berwarna merah, lalu dimasukkan ke dalam botol minyak (ancatn) dan dioles ke seluruh tubuh serta dibawa kemana pun pergi.

• Wakai Mintu yang sering digunakan
sebagai guna-guna (ancatn) untuk menarik jiwa orang lain. Tumbuhan ini juga bisa dimanfaatkan sebagai guna-guna agar istri tetap setia kepada suami dan sebaliknya. Kayu/akar tumbuhan ini bisa digunakan untuk merusak padi milik orang lain; dalam bahasa Rentenukng disebut empau. Caranya, akar tumbuhan ini diselipkan dulu di gigi kemudian diletakkan di lumbung padi atau ditancapkan di tengahtengah ladang (kukatn oai).

01

• Nunuk Pengalah berfungsi sebagai
perangsang otak agar pandai (penyelengat) dan juga sebagai obat yang dapat membuat penggunanya tidak dikenali oleh musuh (penyirapm). Tumbuhan ini juga dapat digunakan sebagai obat kurap. Jenis tumbuhan ini termasuk perlengkapan upacara adat belian (ruyaq beliatn). Cara menggunakannya adalah dengan menaruh akar, daun dan kayu nunuk pengalah di kawasan musuh dan di pintu rumah.

• Engkudu Biakng dimanfaatkan sebagai
penangkal guna-guna padi (awai parai). Caranya, batang tanaman ini ditanam di tengah-tengah ladang (kukatn oai).

• Pangir juga digunakan sebagai penangkal
guna-guna, sekaligus sebagai obat penurun panas. Caranya dengan mencelupkan kembang tanaman pangir ke dalam air dalam bejana, selanjutnya dipukul-pukulkan ke ubun-ubun penderita.

• Oole bermanfaat untuk menghilangkan
jejak (penyirapm) dan untuk mengembalikan guna-guna. Caranya dengan mengolah batang kayu tersebut sehingga menyerupai patung dan diletakkan di atas pilar pintu.
02 Atas : Totem pada suku Dayak Benuaq melambangkan anggota keluarga yang telah meninggal. Bawah : Hasan, belian dari Tunjung Benuaq.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dari Teknologi Rumah Panjang sampai Teknologi Punggung

179

Menangani Sakit Jiwa
Masyarakat Dayak mempunyai cara untuk menangani penderita sakit jiwa, yaitu dengan cara memasung penderita sakit jiwa yang dapat membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain. Pemasungan mereka anggap perlu, mengingat kehidupan di lamin melibatkan banyak orang yang berbeda karakter walaupun masih merupakan anggota sebuah keluarga besar. Alat pemasungan dikenal dengan nama pangaaq. Alat yang terbuat dari kayu ulin ini terdiri dari dua bilah papan, dengan salah satu bilah mempunyai dua buah lubang sebagai tempat memasung kaki. Alat ini disertai empat buah pengunci, yakni sepasang untuk bagian kaki dan sepasang lagi untuk bagian pinggang. Dari wawancara dengan Dalmasius Madrah di Barong Tongkok serta merujuk ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (2010), kami memperoleh informasi bahwa panjang bilah papan pasung sekitar 100 sentimeter, lebar 18 sentimeter dan tinggi 51 sentimeter. Selain alat pasung bagi penderita kelainan jiwa, masyarakat Dayak juga mengenal alat untuk mengangkut orang sakit yang disebut waruq. Seorang petugas Museum Kutai Barat menjelaskan bahwa alat yang digunakan untuk mengangkut orang sakit yang tidak dapat berjalan sendiri ke balai pengobatan, bentuknya mirip dengan kiang (alat untuk mengangkut kayu), tetapi dirancang khusus untuk mengangkut orang.

03

04 01-02 (Rangga Purbaya) 03-04 (Steve Pillar)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

(Rangga Purbaya)

03. Temuan yang Berpotensi
untuk Dikembangkan

(Rangga Purbaya)

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

183

Hutan bagi orang Dayak adalah sumber kehidupan, dan bahkan hidup itu sendiri. Hutan menyediakan lahan untuk berladang, binatang buruan, serta bahan baku sandang dan papan. Hutan pula yang menjadi sumber berbagai jenis ramuan alami yang mereka gunakan untuk mengatasi bermacam-macam penyakit. Bagian ini memaparkan potensi dalam sistem pengetahuan dan teknologi orang Dayak yang layak dikaji untuk pengembangan lanjut, sebagai upaya mensistematisasikan kecerdasan lokal yang berlimpah di Indonesia. Potensi itu bervariasi mulai dari obat-obatan, penyedap masakan, tenun, wadah air ramah lingkungan, sampai alat giling gabah.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

184

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

Obat Sakit Mata

01

02

03
01. Pucuk udu tae’pute 02. Pucuk daun selasih 03. Pucuk daun sata (Rangga Purbaya)

Ada tiga jenis pucuk daun yang bisa digunakan sebagai obat mata, yaitu pucuk udu tae’pute, pucuk daun selasih dan pucuk daun sata. Pucuk daun udu tae’ pute mudah didapat, karena tumbuh di halaman sekitar rumah. Setelah dipetik, pucuk udu tae’ pute dibersihkan sehelai demi sehelai lalu disisipkan ke dalam daun pisang yang sebelumnya telah diberi sedikit garam dan dipanggang di atas bara api selama 10-15 menit. Segera sesudah diangkat dari panggangan, daun ini siap diteteskan ke mata. Cara meneteskannya adalah dengan mengambil 1-2 lembar pucuk daun yang digulung lebih dulu, lalu diteteskan ke mata.

Jenis daun ini diperuntukkan bagi penderita sakit mata ringan, seperti iritasi oleh debu. Kalau terasa gatal, mata tidak boleh dikucek. Kalau terjadi pembengkakan, daun dapat diganti dengan pucuk daun selasih atau daun sata. Demikian pula untuk sakit mata yang agak parah. Kedua macam pucuk daun itu diolah dengan cara yang sama. Selain obat mata berbahan dasar dedaunan, masyarakat Bahau juga mengenal obat mata dari buah pohon lemlai. Bentuk buahnya mirip mangga. Setelah buah dikupas, bijinya diambil. Di dalam biji ada cangkang yang cukup keras. Cangkang keras ini dipecahkan,

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

185

01

05

02

03
01-06. (Rangga Purbaya)

04

06

lalu diambil isinya beberapa iris daging dan letakkan di atas sehelai kain untuk memeras. Sebelum diperas, basahi irisan dengan sedikit air bersih. Hasil perasan diteteskan ke mata. Biji buah lemlai sangat baik untuk menghilangkan kotoran mata dan tidak menimbulkan rasa pedih. Pohon ini berbuah hanya pada musim tertentu, sehingga pada musim lemlai masyarakat Dayak akan memanfaatkan kesempatan itu untuk

memetik lemlai dan menyimpan persediaan secukupnya. Revius, warga Dayak Kenyah di Datah Bilang Hulu, menjelaskan bahwa lemlai tidak akan busuk atau kadaluarsa meskipun disimpan bertahun-tahun. Selain lemlai, buah wakai juga dapat digunakan sebagai obat sakit mata. Caranya, potong bagian bawah dan atas buah, lalu diusapkan ke mata.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

186

01 02

Obat Sakit Mata
Di Tanjung Isuy, orang Dayak Benuaq mengenal obat tetes mata dari daun selkop. Daun selkop muda (berwarna merah muda) yang masih segar dipetik dan dibersihkan, lalu diremas-remas dengan tangan hingga hancur dan mengeluarkan cairan berbusa, kemudian dibungkus dengan selembar kain untuk menyaring kotoran dan memeras sarinya. Air perasan dipergunakan sebagai obat mata dengan cara diteteskan.

03
01. Daun selkop muda. (KPA) 02, 03. (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

187

Obat Sakit Perut

Masyarakat Dayak Benuaq menggunakan pepagan (kulit kayu) pohon langsat hutan sebagai obat sakit perut. Pepagan pohon ini berwarna kelabu berbintik-bintik gelap dan jingga, mengandung getah kental berwarna putih susu yang lengket (resin). Cara menggunakannya, pohon langsat dikelupas kulitnya seukuran kira-kira 5 sentimeter x 10 sentimeter, lalu bagian dalamnya diambil dengan cara diserut. Hasil serutan diperas sampai keluar cairan getah untuk dicampur ke dalam air lalu diminum. Masyarakat Dayak Bahau di Long Tuyoq menggunakan umbi pakoq atei (Bahau) atau pakeu ate (Kayan), sejenis pohon pakis besar yang tumbuh di tanah, sebagai obat sakit perut. Umbi pakoq atei diambil secukupnya kemudian dibersihkan dan direndam dalam air hangat. Air rendaman umbi diminum sebagai obat sakit perut.

01 02 03

01. Kulit kayu pohon langsat hutan 02. Umbi pakoq atei (Rangga Purbaya) 03. pakeu ate (KPA)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

188

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

Obat Demam
01

02 03

01. Daun pohon tulang hitam (KPA) 02. Daun Uroq kubu’ 03. (Rangga Purbaya)

Masyarakat Dayak memanfaatkan daun kutubatu, uroq sina, tombong dan tulang pitam untuk mengobati demam. Kutubatu tumbuh liar di pinggir-pinggir jalan atau di pekarangan. Setelah dibersihkan, daun kutubatu direbus dengan 2 liter air. Air rebusan itu harus didinginkan selama satu malam, kemudian diminumkan kepada penderita demam sebanyak setengah gelas.

Cara memanfaatkan daun uroq sina tidak jauh berbeda. Setelah dicuci bersih, daun diseduh atau direbus, lalu airnya diminum. Sedangkan daun tombong dimanfaatkan dengan cara dicuci bersih, kemudian diseduh dan diminum. Selain daun, batang tombong juga dimanfaatkan sebagai obat demam dengan cara yang sama seperti daunnya.

Jika menderita demam kerumut (campak), masyarakat Dayak menggunakan daun uroq kubu’. Beberapa helai daun uroq kubu’ dibersihkan kemudian direbus atau diseduh lalu diminum. Jika menderita demam berdarah, orang Dayak Kenyah meminum ramuan dari jambu biji (simo bala) yang ditumbuk atau dilumatkan sampai halus dan dicampur sedikit air kemudian diminum.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

189

Obat Malaria dan Obat Tifus

01-03. (KPA)

Masyarakat Dayak menggunakan berbagai ramuan tetumbuhan untuk pengobatan penyakit malaria, antara lain, air rebusan pucuk daun pepaya muda, air rebusan daun langsat (lessat), air rebusan kulit kemiri, air rebusan akar pasak bumi, air rebusan daun gamelina dan air rebusan daun kembung (bung).

Selain untuk obat malaria, masyarakat Dayak juga memanfaatkan air rebusan daun kembung dan air rebusan kulit kemiri untuk pengobatan tifus. Mereka juga mengobati tifus dengan labu air dan madu. Caranya, labu diparut kemudian diperas dan dicampur dengan madu lalu diminum.
01 02 03

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

190

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

Obat TBC dan Asma
01

Kayu gaharu oleh orang Dayak Bahau Busang dimanfaatkan untuk mengobati penyakit TBC. Caranya, batang pohon gaharu ditoreh sampai mengeluarkan getah. Kemudian getah didinginkan sampai menjadi padat, lalu dirajang secukupnya dan direbus atau diseduh. Air rebusan getah itu diminumkan ke penderita TBC. Empedu ular jumpun dan ular kayu digunakan oleh orang Dayak untuk obat asma. Caranya, perut ular dibelah kemudian diambil empedunya dan langsung ditelan. Empedu ular jumpun juga mereka manfaatkan sebagai obat panas dalam. Empedu dimakan dengan cara yang sama.

02

01, 02. (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

191

Obat Batuk

Di hutan Kalimantan banyak ditemukan daun yang bentuknya mirip dengan daun peppermint. Daun ini tumbuh di kawasan hutan yang dekat dengan sumber air. Tidak diketahui secara pasti nama lokal daun tersebut, tetapi komunitas Dayak Bahau Busang di Long Pahangai menyebutnya sebagai tumbuhan kaki kuda. Di tempat lain daun ini dikenal dengan nama daun menyak. Caranya, daun menyak dibersihkan lalu diremas-remas, dimasukkan ke dalam gelas lalu diseduh dengan air panas kemudian diminum. Cara lain adalah dengan direbus, tetapi cara ini jarang dilakukan karena harus dicampur dengan 5 gelas air yang direbus hingga menyisakan 1 gelas ramuan. Selain daun mirip peppermint tersebut, masyarakat Dayak juga mengenal pucuk daun udu bala sebagai obat batuk. Caranya, pucuk daun direbus lalu air rebusan diminum.

(Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

192

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

Obat Kolesterol dan Tekanan Darah Tinggi
Pohon mengkudu, baik buah maupun akarnya, dapat digunakan untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Caranya, buah mengkudu yang telah matang diperas sampai mengeluarkan cairan. Cairan diminum 3-4 kali sehari sampai sembuh. Akar mengkudu dimanfaatkan dengan cara dicuci sampai bersih, kemudian direndam dengan air panas hingga air berwarna kuning, lalu minum 2-3 kali selama satu minggu sebanyak setengah cangkir. Daun salam juga dapat digunakan sebagai obat penurun tekanan darah tinggi dan kolestrol. Caranya, beberapa helai daun salam direbus hingga mendidih. Setelah dingin air rebusan salam diminum. Selain itu, tumbuhan sarang semut juga mereka manfaatkan sebagai ramuan penurun tekanan darah tinggi. Caranya, ambil daunnya lalu buang duri-durinya dan keringkan, kemudian rebus dan minum air rebusannya sebanyak beberapa kali. Orang Dayak Kenyah juga menggunakan daun sop (tung sop) untuk mengobati tekanan darah tinggi. Caranya, daun sop direbus sampai mendidih. Setelah dingin, rebusan daun sop diminum tiga kali sehari dalam seminggu. Daun sop banyak tumbuh secara alami di halaman depan dan belakang rumah warga.

Akar Mengkudu (Rangga Purbaya)

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

193

Obat Luka Bakar dan Sengatan Lebah
Untuk obat bengkak karena luka atau infeksi, orang Dayak menggunakan kayu batu. Caranya, ambil kayu batu yang muda, bungkus dengan daun lalu timbun dengan abu panas. Setelah daun layu, tempelkan di bagian yang bengkak. Untuk mengobati luka, dapat juga digunakan daun mekkai. Caranya, daun mekkai segar ditumbuk sampai halus lalu dioleskan pada kulit yang luka. Sebagai teknik pengobatan, kutu busuk juga mereka manfaatkan untuk mencegah infeksi pada luka dan untuk menghindari tetanus. Caranya, ambil kutu busuk dan gosokan ke bagian yang luka. Untuk luka bakar, orang Dayak Kenyah memanfaatkan kunyit putih (liamit). Caranya, kunyit dicuci, diparut, kemudian parutan kunyit ditempelkan ke bagian yang mengalami luka bakar. Sedangkan bunga melati dimanfaatkan untuk mengobati luka akibat sengatan lebah. Caranya, bunga melati digosokkan ke bagian tubuh yang terkena sengatan. Air rebusan daun dan batang tung berkhasiat untuk menyembuhkan bisul kecil atau bintik-bintik pada kulit. Penyakit kulit mudah menyerang penduduk di negara dengan kelembaban tinggi seperti Indonesia. Masyarakat Dayak sejak dulu menggunakan lengkuas untuk mengatasinya. Caranya, lengkuas dicuci hingga bersih, dipotong tipis-tipis lalu digosokkan ke bagian kulit yang berpanu. Masyarakat Dayak di Long Hubung memanfaatkan daun kap (gelinggang) sebagai obat panu. Tumbuhan gelinggang, atau ada juga yang menyebutnya ketepeng, adalah sejenis tumbuhan perdu besar dengan tinggi mencapai 5 meter. Caranya, daun dipetik lalu diremas dengan tangan hingga hancur dan mengeluarkan cairan. Hasil remasan diusapkan ke permukaan kulit yang menderita panu.

01. Kunyit putih 02. (KPA)

02

01

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

194

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

Ramuan Kebugaran dan Lemah Syahwat

Pohon tanah genting diyakini dapat menjadi ramuan kebugaran atau penambah kekuatan tubuh. Caranya, sepotong kayu pohon digigit sementara daunnya dipukul-pukulkan ke kaki ketika sedang bertanding (misalnya: lomba lari). Bisa juga potongan kayu itu direndam dalam air, lalu airnya diminum. Kayu pohon tanah genting tidak boleh direbus karena diyakini akan mematikan zatzat yang dibutuhkan sebagai obat. Ramuan ini juga bisa digunakan untuk mengobati lemah syahwat. Untuk meningkatkan kebugaran juga digunakan biji buah balangla yang diambil dan dikeringkan. Biji dikonsumsi dengan cara dikunyah sebanyak 5 biji sehari. Jenis tanaman ini belum dapat dibudidayakan. Selain itu, buah pinang muda yang berwarna hijau dapat dimanfaatkan sebagai ramuan bagi kaum pria yang mengalami gangguan kemampuan seksual. Caranya, buah pinang muda dibakar hingga gosong dan warnanya berubah menjadi hitam, lalu ditumbuk menjadi bubuk halus. Kemudian ambil kuning telur ayam kampung dan madu, lalu campur dengan bubuk pinang muda, diaduk sampai rata dan langsung diminum.

(Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

195

Ramuan Memperlancar Haid dan ASI

(Rangga Purbaya)

Pohon tenyo juga digunakan sebagai obat lemah syahwat. Caranya, pilih cabang pohon tenyo yang paling muda, kemudian cabut urut tangkainya dan ambil akarnya. Akar tersebut dicuci hingga bersih lalu ditumbuk. Bubuk yang dihasilkan kemudian diseduh dan diminum. Pohon tenyo masih banyak ditemukan di kawasan ladang.

Di kampung Long Pakaq, ditemukan daun yang tidak diketahui namanya, yang dipakai oleh perempuan Dayak Kayan untuk memperlancar haid. Caranya, daun atau akar tanaman tersebut dicuci sampai bersih lalu direbus dan air rebusannya diminum. Selain itu, mereka juga mengenal ramuan untuk memperlancar air susu ibu (ASI), yaitu pucuk daun murbai yang dirajang, kemudian direbus lalu air rebusannya diminum.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

196

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

Obat Asam Urat

Untuk mengobati penyakit asam urat, orang Dayak membuat ramuan jahe merah yang direbus bersama kunyit putih kemudian air rebusannya diminum. Selain itu, daun aung kolet juga dikenal mempunyai khasiat untuk mengobati nyeri akibat asam urat. Caranya, cuci daun aung kolet, kemudian ditumbuk dan diberi garam secukupnya. Bungkus tumbukan itu dengan daun pisang lalu dibalutkan ke bagian yang nyeri.

Daun aung kolet. (Rangga Purbaya)

RP

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

197

Obat Sakit Pinggang dan Patah Tulang
Ada beberapa jenis akar yang digunakan untuk mengobati sakit pinggang, antara lain, akar pinang atau akar kelapa dan akar bunga sepatu. Caranya, akar yang muda dibersihkan lalu direbus. Setelah dingin, air rebusan diminum. Selain akar, dedaunan tertentu juga dapat menjadi obat sakit pinggang, di antaranya adalah daun tapak kuda, daun kumis kucing, daun kaca beling, dan daun uro kaming. Caranya, daun yang sudah dicuci diseduh dengan air dan air seduhan diminum. Khusus kumis kucing dan kaca beling, daun diremasremas terlebih dahulu sebelum diseduh dengan air panas; bisa juga direbus sampai mendidih, lalu air rebusan didinginkan dan diminum. Daun uro’ uit dimanfaatkan sebagai obat sakit pinggang dan salah urat perut. Caranya, daun dibersihkan lalu diseduh dengan air panas dan diminum. Adapun daun udutebejak digunakan untuk anggota tubuh yang bengkak atau keseleo. Caranya, daun dipanggang sampai hampir layu (dalam bahasa Kenyah disebut luto), lalu dilingkarkan pada bagian tubuh yang bengkak atau keseleo. Sedangkan seremplukan dan kayu kemudi patah digunakan untuk pengobatan patah tulang. Caranya, daun seremplukan dibungkus dengan daun pisang lalu dipanaskan di atas tungku, tetapi tidak boleh dibolak-balik. Setelah itu daun diikatkan ke bagian tubuh yang mengalami patah tulang. Untuk pengikat digunakan daun bekukang yang dipanaskan terlebih dulu di atas bara api.

(Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

198

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

Obat Terkilir

Daun pohon tulang hitam. (Rangga Purbaya)

Daun pohon tulang hitam. (KPA)

Daun pohon tulang hitam dan jahe oleh masyarakat Dayak di Long Hubung dimanfaatkan untuk mengatasi gejala terkilir. Caranya, daun tulang hitam dicampur dengan jahe lalu ditumbuk dan dibungkus dengan daun pisang, kemudian dipanggang di atas api. Ramuan dibalurkan ke anggota tubuh yang terkilir.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

199

Ramuan Penghilang Bercak Hitam di Wajah

Masyarakat Dayak Benuaq di Tanjung Isuy juga memanfaatkan daun selkop sebagai bahan ramuan untuk menghilangkan bercakbercak hitam di wajah. Caranya, daun selkop muda (berwarna merah muda) yang masih segar dipetik dan dibersihkan. Daun diremasremas dengan tangan sampai mengeluarkan busa, kemudian dicampur dengan beras yang telah ditumbuk halus dengan perbandingan 2:1. Ramuan ini dioleskan ke bagian kulit wajah yang berbercak hitam.

01

02

03

04

01. Daun selkop muda. (KPA) 02-06. (Rangga Purbaya)

05

06
Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

200

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

Obat Penghilang Rasa Nyeri, Pedas dan Obat Luka luar

Daun sengkulai oleh masyarakat Dayak Benuaq di Kampung Benung digunakan sebagai obat penghilang rasa nyeri, pedas dan obat luka. Pohon sengkulai tumbuh secara liar. Caranya, daun dipetik dan dibersihkan, kemudian diremas-remas dengan tangan sampai mengeluarkan cairan atau getah. Cairan itu dioleskan ke bagian tubuh yang mengalami luka atau terasa nyeri.

01

02 03

01-03. Daun sengkulai. (KPA)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

201

Obat Luka Dalam Perut

01
01, 02. Daun tablak jali alam loung. (KPA)

02

Daun tablak jali alam loung oleh masyarakat Dayak di Long Hubung dimanfaatkan sebagai ramuan untuk mengobati luka dalam perut.

Daun dipetik kurang lebih 14 lembar kemudian dicuci dan diremas-remas dengan tangan. Remasan daun kemudian direbus dengan 2 liter air sampai berkurang menjadi 1,5 liter. Air rebusan diminum sampai habis dalam satu hari.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

202

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

Obat Sakit Lambung

Daun tawas mag. (KPA)

Daun tanaman tawas mag oleh masyarakat Dayak Bahau di Long Hubung digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan sakit lambung (sakit mag).

Daun tawas mag dipetik kurang lebih 14 lembar, kemudian dicuci serta diremasremas dengan tangan dan direbus. Air rebusan diminum sebagai obat sakit maag. Tanaman ini sudah dapat dibudidayakan.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

203

Obat Pendarahan Rahim

Daun urip (cocor bebek) oleh masyarakat Dayak Bahau di Long Hubung digunakan sebagai obat pendarahan pada saat melahirkan. Caranya, 3 sampai 5 lembar daun urip diremas-remas dengan tangan dan dicampur dengan air. Air campurannya disaring lalu diminum.

01

02

01,02. Daun cocor bebek. (KPA)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

204

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

Ramuan Pembersih Setelah Melahirkan

Daun udo taek puteq oleh masyarakat Dayak di Long Hubung digunakan sebagai ramuan pembersih setelah melahirkan. Caranya, daun udo taek puteq ditambahi kunyit, bawang putih, kencur, seruas serai, dan jintan hitam. Campuran ini lalu ditumbuk sampai hancur dan diperas, lalu ditambahi asam jawa dan sejumput garam. Air perasannya lalu diminum.

Daun udo taek puteq. (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

205

Ramuan Memperkuat Kehamilan

Daun pucuk kacang dan kunyit oleh masyarakat Dayak di Long Hubung digunakan sebagai ramuan untuk memperkuat kehamilan. Caranya, daun pucuk kacang ditumbuk bersama kunyit dan bawang putih, lalu dicampur dengan air dan disaring. Air hasil saringan diminum.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

206

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

Ramuan Kontrasepsi (KB) Alami

Daun lugang (KPA)

Masyarakat Dayak Bahau di kampung Long Hubung menggunakan daun lugang sebagai alat kontrasepsi alami. Caranya, 7 lembar daun lugang dan 7 butir beras diremas-remas dengan tangan lalu direndam di dalam air sebanyak 2 liter. Air rendaman diminum.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

207

Obat Keputihan
01 03

02

01. Daun sirih. 02. Daging pinang muda. 03. Akar Mengkudu. (Rangga Purbaya)

Daun sirih dan pinang dimanfaatkan oleh masyarakat Dayak di Long Hubung untuk mencegah dan mengobati keputihan. Caranya, pinang muda dikupas dan diambil dagingnya. Daun sirih dan daging pinang muda direbus lalu air rebusannya diminum.

Keputihan juga dapat diatasi dengan ramuan dari akar pohon mengkudu. Caranya, akar pohon mengkudu direbus. Air rebusan diminum satu kali dalam seminggu.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

208

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

Penyedap Masakan

Masyarakat Dayak di Kutai Barat menggunakan daun mekkai sebagai penyedap masakan. Caranya, daun mekkai dipetik, kemudian ditumbuk dan dicampurkan ke dalam masakan. Cara lain adalah dengan mengeringkan terlebih dahulu daun mekkai sampai berwarna hitam, baru dicampurkan ke dalam masakan.

Daun mekkai. (KPA)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

209

Pengawet Daging

Daun ketukungbo digunakan oleh masyarakat Dayak Long Tuyoq sebagai pengawet daging dan untuk mencegah daging dihinggapi lalat. Mereka sering menggunakan daun ketukungbo saat berburu.

Daun ketukungbo. (KPA)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

210

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

Racun Ikan

Akar tanaman tuba dipakai oleh masyarakat Dayak Benuaq di kampung Benung sebagai racun ikan. Tanaman tuba tumbuh merambat dan dapat dibudidayakan. Untuk membuat racun, akar pohon tuba ditumbuk hingga mengeluarkan cairan putih beracun yang lalu dicampur dengan air. Campuran ini dapat langsung digunakan. Tanaman tuba yang sudah diambil akarnya itu masih dapat tumbuh, selama masih ada sisa akar. Akar tanaman tuba sangat berbahaya. Cairan tuba yang terminum oleh manusia dalam dosis tertentu dapat mengakibatkan kematian.

Tanaman tuba. (KPA)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

211

Racun Sumpit

Masyarakat Dayak Benuaq di kampung Benung menggunakan getah pohon sirat sebagai racun pada anak sumpit. Pohon sirat adalah pohon kayu besar yang tumbuh di hutan. Racun diperoleh dengan cara menyayat batang pohon sirat seperti menyadap pohon karet, hingga keluar getah cair berwarna putih. Getah ditampung dalam wadah bambu sepanjang kurang lebih 10-15 sentimeter, kemudian dituang ke wadah lain untuk diaduk dan diberi sedikit air panas sampai mengental. Ujung anak sumpit yang akan diracuni dicelup ke dalam cairan getah yang sudah kental tersebut, dan siap untuk digunakan.

01

02
01. Mengambil getah pohon sirat, 02. Pohon sirat (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

212

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

Racun Ringan

Pohon tuk (KPA)

Getah batang pohon tuk digunakan oleh masyarakat Dayak di kampung Benung sebagai racun ringan. Pohon tuk adalah tumbuhan liar yang hidup di hutan dan bentuknya menyerupai pohon salak.

Untuk menghasilkan racun, batang pohon tuk dipotong dan potongan itu dibiarkan selama kurang lebih satu malam hingga keluar getahnya. Getah diambil dan dipergunakan sebagai racun ringan untuk

membunuh binatang seperti ayam. Caranya, getah dicampurkan ke dalam minuman binatang itu atau digunakan bersama dengan perlengkapan berburu seperti sumpit/ tombak, dll.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

213

Sampo Anti Ketombe
Batang pohon langir oleh masyarakat Dayak Benuaq di Tanjung Isuy digunakan sebagai sampo anti ketombe. Caranya, batang pohon langir dipotong kurang lebih 15 sentimeter. Kulitnya dipisahkan dari batang dengan cara dipukul-pukul menggunakan sebatang kayu. Setelah kulit terpisah dari batang, bagian dalam dibuang lalu kulit dipukulpukul kembali sampai agak hancur. Tambahkan sedikit air, kemudian peras sampai berbusa. Busa tersebut dapat dipakai untuk mencuci rambut. Pada masa lampau, orang Dayak Bahau Busang menggunakan daun jeluran untuk mencuci rambut.

01

02 04

03 05

06

01. Batang pohon langir 02-05. Cara membuat sampo anti ketombe 06. Sampo anti ketombe alami (Rangga Purbaya)

214

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

Minyak Rambut

Akar bowoi oleh masyarakat Dayak Benuaq di Tanjung Isuy dimanfaatkan sebagai minyak rambut. Tanaman bowoi tumbuh liar. Caranya, akar tanaman bowoi dipukulpukul sampai hancur dan minyak yang keluar dapat digunakan langsung sebagai pengharum rambut.

(KPA)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

215

Penghilang Bau Mayat

Masyarakat Dayak tidak mengenal budaya balsem, mumi ataupun teknologi pengawetan jenazah sebagaimana yang dikenal misalnya di Tanah Toraja, Sulawesi Selatan. Namun, mereka memiliki teknologi untuk menghilangkan bau mayat. Ketika kami berkunjung ke lamin Pepas Eheng, ada mayat yang sudah disimpan selama 60 hari tetapi tidak berbau. Untuk memastikan, kami mendekati mayat tersebut tetapi tetap tak tercium bau yang lazim terdapat pada mayat yang lama disimpan dan tidak diawetkan. Ada perbedaan pendapat mengenai berapa lama mayat dapat disimpan di dalam lamin. Salah seorang warga Dayak Benuaq di kampung Damai, Kabupaten Kutai Barat, menjelaskan bahwa mayat hanya boleh disimpan dalam lamin paling lama 21 hari atau hitungan kelipatan 7, yaitu 1 x 7, 2 x 7 atau 3 x 7. Namun, demikian ia menambahkan, sebagian masyarakat di lamin Pepas Eheng sekarang memanfaatkan tradisi menyimpan mayat di lamin untuk menarik wisatawan. Semakin lama mayat disimpan di lamin, semakin banyak wisatawan yang datang.

Juyung, salah seorang narasumber di Pepas Eheng, menyebut tiga bahan alami untuk menghilangkan bau mayat yang digunakan oleh masyarakat Dayak Benuaq, yaitu, getah kayu lomu, paku parang dan daun pisang hutan. Kayu dan getah lomu sekaligus dijadikan tempat pembaringan mayat. Setelah disimpan beberapa waktu di lamin, mayat lalu dikuburkan. Pasca penguburan, sekitar dua sampai tiga tahun kemudian sesudah upacara kwangkai, tengkorak dan tulang belulang disimpan dalam wadah yang disebut kererekng atau tempelaq. Di kampung Pepas Eheng, Benung, Pintuq dan Tolan, yang dihuni oleh orang Dayak Benuaq di Kabupaten Kutai Barat, masih banyak ditemukan tempelaq.

(Rangga Purbaya)

216

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

Pewarna

Setiap warna memiliki makna. Warna-warna yang paling disukai oleh orang Dayak adalah hitam, putih dan merah. Dulu, orang Dayak memperoleh warna-warna tersebut dari tumbuhan sekitar. Untuk mendapatkan warna hitam, orang Dayak Aoheng/ Penihing di Naha Buan, Kecamatan Long Apari, memakai daun tahum, kayu rape dan daun panhit. Daun-daun itu masih ditemukan di hutan sekitar kampung. Caranya, daun panhit diracik kemudian dicampur dengan batu asahan atau batu jala. Campuran ini lalu direbus bersama bahan yang ingin diwarnai. Bahan yang telah diwarnai kemudian direndam dalam lumpur selama satu minggu lalu dibersihkan dan dijemur sampai kering. Warna putih diperoleh dari siput atau kerang yang banyak terdapat di sela-sela bebatuan di sungai. Caranya, kulit siput/ kerang ditumbuk sampai halus kemudian dicampur air hangat secukupnya. Campuran ini siap digunakan. Siput/ kerang sungai juga memiliki kegunaan sebagai bahan untuk kapur sirih, pembersih isi perut rusa dan obat oles ketika digigit serangga. Siput/ kerang ditumbuk sampai halus lalu dioleskan sesuai keperluan.

Sedangkan pujaaq adalah tanaman yang batang dan daunnya digunakan untuk menghasilkan warna merah. Warna merah adalah warna khas yang digunakan untuk kepentingan ritual. Cara menghasilkan warna merah adalah dengan menumbuk batang dan daun pohon pujaaq sampai halus, lalu direbus sampai mendidih. Peralatan ritual yang akan diwarnai dicelup sampai berwarna merah, kemudian diangkat dan ditiriskan. Selain pujaaq, penghasil warna merah lainnya adalah buah pohon gelinggem. Bentuknya seperti rambutan berwarna merah. Buah gelinggem direbus sampai mendidih hingga air rebusan berubah warna menjadi merah. Cahaai lepooq adalah tanaman sejenis kunyit yang khusus ditanam untuk membuat warna kuning. Caranya, pohon cahaai lepoog ditumbuk hingga halus lalu direbus sampai mendidih. Lazimnya, supaya lebih awet dan tahan lama, bahan untuk warnawarna alami itu dicampur dengan getah kayu kita.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

217

(Rangga Warisan Purbaya) Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

218

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

Ulap Doyo

Bahan baku ulap doyo berasal dari serat daun tumbuhan doyo. Tumbuhan doyo termasuk tumbuhan perdu dengan habitat lantai hutan. Masyarakat Dayak Benuaq membuat benang tenun dari serat doyo.

(Rangga Purbaya)

Cara memilih daun doyo:
Daun yang diambil adalah daun yang sudah berserat yang ditandai dengan ujung daun melengkung (patah) dan/ atau sudah menguning. Pangkal daun dipotong sepanjang 1-1,5 meter menggunakan pisau. Sebanyak 20 lembar daun doyo diikat menjadi satu ikatan (satu bikul) untuk menghasilkan serat sebanyak satu senik. Dari 10 senik akan didapat satu buntal benang (berbentuk bola). Untuk mendapatkan kain seukuran baju orang dewasa, dibutuhkan 3 sampai 4 buntal benang.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

219

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

220

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

Ulap Doyo

Cara mendapatkan serat daun doyo:
Serat daun doyo dipisahkan dari daunnya di dalam air dengan menggunakan lading. Proses pemisahan ini disebut nglorot. Lading adalah alat yang terbuat dari bambu jenis kuayat yang memiliki ruas pendek dan tebal. Bentuk lading menyerupai pisau. Serat yang diperoleh kemudian dicuci dan dibilas sampai berwarna putih. Serat yang terkumpul dari 20 lembar daun diikat menjadi satu senik dan dijemur sampai benar-benar kering. Di bawah cuaca panas terik, pengeringan membutuhkan waktu kira-kira dua hari.

(Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

221

222

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

Ulap Doyo

Cara membuat benang dari serat doyo:
Serat doyo yang sudah kering kemudian dipilin/ digulung/ dipelintir dengan tangan sampai menjadi benang halus. Benang pendek tersebut kemudian disambung dengan cara diikat satu sama lain hingga menjadi benang panjang yang lalu digulung menyerupai bola (buntal). Proses tradisional untuk menghasilkan

benang doyo ini masih memiliki kelemahan. Benang mudah putus, kasar dan menjadi kusam atau menghitam apabila terkena air. Tumbuhan doyo juga belum berhasil dibudidayakan sehingga orang Dayak hanya mengandalkan tumbuhan doyo liar. Serat doyo mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi alternatif serat sintetik.
(Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

223

Sung Baloq
(Steve Pillar)

(KPA)

(KPA)

Sung Baloq adalah wadah penyimpan air yang terbuat dari labu inum (Labu Putih). Air yang disimpan di dalam Sung Baloq terasa dingin dan segar. Sung Baloq dibuat dengan cara melubangi buah labu inum yang sudah tua di bagian samping atas, dengan diameter kurang lebih 2 sentimeter. Labu yang sudah dilubangi direndam di dalam air sampai bagian dalam labu hancur, biasanya selama kurang lebih dua bulan.

Bagian dalam yang sudah hancur dikeluarkan dengan cara mengisi labu dengan air kemudian dikocok. Setelah itu labu dijemur di bawah panas matahari sampai kering. Untuk menghilangkan bau, labu dipanaskan dengan cara diasap di atas tungku api sampai warnanya berubah menjadi lebih gelap.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

224

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

Kisar Penggiling Gabah

Masyarakat di daerah Kutai Barat dan sekitarnya memiliki perangkat penggiling gabah tradisional yang disebut kisar. Kisar terbuat dari batang kayu kahoi atau kayu batu lengkeng yang tidak sekeras kayu ulin.

(KPA)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

225

(KPA)

Peralatan yang dibutuhkan untuk membuat kisar antara lain adalah gergaji, pahat, palu, mandau, parang, dan lain sebagainya.

Proses Pembuatan kisar:
Batang kayu dengan diameter kira-kira 50 sentimeter dipotong menjadi dua bagian sebagai berikut: • Silinder bagian atas dengan tinggi kirakira 50 sentimeter. Ukuran diameter maupun tinggi batang kayu tidak baku dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Di tengah-tengah dibuat lubang kurang lebih 7 sentimeter sampai tembus sepanjang batang kayu. Lubang berfungsi sebagai jalur masuk bulir padi, sekaligus dudukan lanjutan bagi poros silinder bawah. Silinder bagian bawah dengan tinggi kira-kira 50 sentimeter. Ukuran •

diameter maupun tinggi silinder ini juga tidak baku dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Silinder ini juga dilubangi di bagian tengah untuk menempatkan poros berdiameter kurang lebih 5 sentimeter dan panjang 60 sentimeter yang berfungsi sebagai penahan bagian atas. Sekeliling permukaan tempat pertemuan silinder atas dengan bawah dipahat hingga bergerigi. Gigi-gigi itu berfungsi untuk merontokkan kulit padi. Permukaan itu juga dibuat bersudut agar beras dan gabah jatuh secara otomatis. Di lubang pada permukaan silinder atas ditempatkan kulit kayu atau kaleng sebagai corong untuk mengalirkan bulir padi. Di kedua sisi kisar lalu dipasang palang atau tuas yang berfungsi sebagai pegangan untuk memutar.

Cara menggunakan kisar:
• Bulir-bulir padi dimasukkan sedikit demi sedikit melalui corong; bersamaan dengan itu tuas diputar perlahan-lahan. Bulir-bulir padi akan mengalir ke bagian bergerigi dan tergerus sehingga kulitnya terlepas. Bulir beras dan gabah jatuh secara otomatis. Tergantung seberapa sering kisar digunakan, gigi-geriginya bisa tumpul karena terkikis saat bergesekan dengan bulir-bulir padi. Setelah selang waktu tertentu, permukaan tempat kedudukan gigi-gerigi harus dipahat lagi untuk membuat gerigi baru.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

228

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

Topeng Hudoq yang belum diwarnai. (Rangga Purbaya)

Bagian Hudoq yang belum dirangkai. (Rangga Purbaya)

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

229

Topeng Hudoq yang sudah selesai.

Hang Beq, pembuat Hudoq dan mandau, Long Pahangai. (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

230

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

Jatun Utang/ Kenyah.

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

231

Gambus

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

232

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

(Steve Pillar)

Gambus

Membuat Gambus

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

233

Sampek

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

(Steve Pillar)

236

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

Ketookng/ Benuaq

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Temuan yang Berpotensi untuk Dikembangkan

237

Bermain Serupai/ Benuaq (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Foto: Rangga Purbaya

04. Jerit Sepanjang Mahakam
Ceritera Lain di Sebalik Penelitian

240

Jerit Sepanjang Mahakam Ceritera Lain di Sebalik Penelitian

Di Lung Anai
Warga Dayak membeli tanah wilayah perkampungan baru dari pemilik sebelumnya, yang merupakan warga pendatang dari luar pulau Kalimantan. Ladang-ladang orang Dayak, terutama yang dekat dengan perkampungan, mereka peroleh dengan cara yang sama, yaitu membeli. Selebihnya, ladang mereka buka di hutan yang dicapai setelah perjalanan selama satu sampai dua jam. Kondisi ini terasa ganjil bagi kebanyakan warga suku Dayak. Mereka didera pertanyaan yang menggelisahkan. Mengapa mereka harus membeli tanah leluhur mereka sendiri? Mereka juga bertanya-tanya mengenai sikap banyak peneliti yang datang menggali informasi lalu pergi tanpa pernah muncul kembali. Padahal, para peneliti itu berjanji akan mengirimkan hasil penelitian mereka, yang sumbernya adalah orang Dayak. Ambil contoh, demikian mereka berkisah, mereka kedatangan sekitar 30 peneliti asing sekitar tahun 2000-an. Para peneliti itu meminta penduduk mengantarkan mereka berkeliling hutan. Perjalanan memasuki hutan memerlukan dua sampai tiga hari. Mereka mengumpulkan berbagai jenis tanaman, meneliti akarakaran, buah, kayu, kulit kayu, dedaunan, serta bermacammacam bunga. Mereka tinggal selama tiga bulan dan mengumpulkan serta mencatat berbagai macam informasi dari orang Dayak Kenyah tentang pengobatan tradisional dan berbagai pengobatan yang menggunakan ramuan berasal dari tumbuh-tumbuhan di Lung Anai. Salah seorang peneliti bahkan memperoleh gelar doktor dari penelitian tersebut, serta menikah dan mendapatkan seorang anak dari perkawinannya dengan salah seorang warga Lung Anai. Sampai hari ini, warga Dayak di Lung Anai masih menunggu janji para peneliti itu untuk mengirimkan buku dan catatan-catatan hasil penelitian mereka.
01 Mak Pirin, mempraktekan ramuan herbal untuk luka luar, Lung Anai.

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Jerit Sepanjang Mahakam Ceritera Lain di Sebalik Penelitian

241

02 Kerusakan alam akibat pertambangan, Sendawar, Kutai Barat.

Menuju Sendawar
Selama perjalanan tujuh jam mengendarai mobil dari Tenggarong menuju Sendawar, kami melewati jalan aspal yang sebagian besar hancur dan dapat membahayakan pengguna jalan. Bisa diduga, kerusakan jalan kemungkinan besar disebabkan oleh tingginya intensitas penggunaan jalan oleh kendaraan-kendaraan besar dan berat bermuatan hasil-hasil tambang dan kayu. Di beberapa kawasan, tampak lubanglubang amat besar, rata-rata lebih besar daripada ukuran sepuluh lapangan sepak bola. Beberapa lubang raksasa ini tergenang air hingga menyerupai danau warnawarni. Cukup pasti, lubang-lubang itu merupakan bekas galian tambang. Beberapa pertambangan batubara masih aktif, terlihat dari adanya kendaraan-kendaraan penggali serta truk pengeruk dan truk pengangkut hasil tambang yang lalu lalang.

Sepanjang perjalanan, kami sama sekali tak melihat, apalagi melewati, hutan primer. Sama sekali tak tampak hutan, baik yang berdekatan dengan jalan raya, maupun di kejauhan. Melihat kondisi lahan di sekitar kami, cukup pasti, ketentuan reklamasi lahan seusai periode penambangan tidak dilakukan. Demikian juga ketentuan untuk merehabilitasi hutan serta penghutanan kembali (reboisasi) tampaknya tidak dilaksanakan. Apa yang kami saksikan di Pasar Sendawar, Melak, Tering dan di toko-toko kelontong sekitarnya, kiranya menunjukkan dampak dari situasi di atas. Disana banyak dijual keranjang (anjat/ingen), tampi, dan keranjang benih berbahan plastik warnawarni sebagai pengganti rotan. Keranjangkeranjang plastik itu ibarat saksi bisu bagi rotan yang semakin sulit diperoleh.

03 01-03 (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

242

Di Tanjung Isuy 
Tidak sedikit penenun ulap doyo yang mengeluh. Sebagaimana rotan, pohon doyo yang menjadi bahan baku tenun semakin langka. Kawasan tempat tanaman itu tumbuh rupanya banyak yang telah berubah menjadi lahan perkebunan monokultur berskala besar. Akibatnya, tidak sedikit perempuan yang semula bekerja sebagai penenun ulap doyo, atau sebagai pemintal benang dari serat doyo, terpaksa beralih menjadi pekerja perkebunan. Situasi ini cukup ganjil, karena baik di Museum Tenggarong maupun di dalam buku-buku tentang potensi kerajinan rakyat dan kebudayaan Dayak, ulap doyo senantiasa diperkenalkan, atau bahkan ditekankan, sebagai karya adiluhung andalan masyarakat Dayak di Kalimantan.

Kegelisahan akibat perkembangan perkebunan monokultur juga terkait dengan semakin berkurangnya lahan untuk menjalankan sistem ladang berpindah, yang telah menjadi bagian dari tradisi Dayak selama berabad-abad. Sementara itu, lamin yang tersisa, yang merupakan penanda identitas orang Dayak serta simbol bagi nilai-nilai yang mereka junjung, pun tidak cukup mendapat perhatian. Dua lamin yang terletak di dua dusun sekitar danau Jempang, misalnya, akan semakin lapuk dan rusak bila tidak segera mendapat pemugaran dan perawatan selanjutnya. Di atas itu semua, warga masih menghadapi kendala lain. Akses jalan menuju Tanjung Isuy tidak beraspal, tidak terawat dan dalam kondisi rusak. Tampak alur panjang lubang bekas aliran air. Kami bayangkan situasi yang lebih buruk jika turun hujan.  
01-04 (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

243

01

02

03

04

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

244

Menuju Benung
Di desa Mencimai ada museum teknologi tepat guna bernama Museum Mencimai, yang dibangun oleh seorang peneliti Jepang pada tahun 1983. Sayangnya, kondisi museum ini cukup mengenaskan. Banyak benda-benda koleksi yang lapuk, berdebu, dan bahkan rusak atau hilang. Padahal, bila dibandingkan dengan museum karya masyarakat Dayak di Kabupaten Kutai Barat di kompleks Dinas Pariwisata yang koleksinya hampir sama, Museum Mencimai lebih lengkap dan lebih informatif.

01

02

03

04

05

06

01-05, 07, 08 (Rangga Purbaya) 06 (Steve Pillar)
Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

245

07

Dari Tering sampai Tiong Ohang
Berburu Emas, Kayu dan Sarang Walet
Dalam perjalanan menggunakan perahu cepat dari Datah Bilang menuju Long Bagun, kami seperahu dengan lima lelaki muda berusia antara 25 sampai 30-an tahun dan seorang perempuan muda. Pemuda-pemuda itu tampak kekar dan wajah mereka ceria. Mereka berasal dari Kalimantan Tengah, sehari perjalanan darat menuju Tering. Kami pun menanyakan tujuan mereka. “Kami mau main ke B dan jalan-jalan saja,” jawab mereka. Kami sudah mendapat informasi sebelumnya bahwa di B ada pertambangan emas, dan para pemburu emas berdatangan dari segala penjuru. Padahal, harga bensin di sana lima kali lipat harga di Long Bagun dan harga sebungkus mi instan sepuluh kali lipat. “Kami akan tinggal di sana selama 3 bulan,” mereka menambahkan. “Lumayanlah. Bila beruntung, setiap orang bisa memperoleh sekitar 1 ons emas atau bahkan lebih. Ini perjalanan kami yang ke lima”. Mereka tidak

menjelaskan apakah mereka bekerja untuk perusahaan tertentu, ataukah menambang secara individual. Sementara itu, selama setengah hari berada di atas perahu cepat itu kami melihat banyak rumah perahu bermesin diesel dengan alat penyedot serta tiang penggelontor, baik di tepi atau di tengah Sungai Mahakam. Penghuninya mengambil pasir dan menyaringnya untuk mendulang emas. Sedangkan perempuan muda yang ternyata berasal dari Muara Teweh, Kalimantan Tengah, adalah salah seorang staf administrasi sebuah perusahaan penebangan kayu. Ia sedang menuju

Muarakayan. “Saya baru dua kali ke tempat ini, mengikuti abang saya yang menjadi direktur di perusahaan penebangan kayu yang berpusat di Jakarta. Segala jenis kayu, kami ambil. Terutama kayu ulin. Kira-kira masih setahun atau dua tahun lagi kami akan menebangi pohon di wilayah HPH (Hak Penggunaan Hutan) perusahaan kami,” jelasnya. Begitu sampai di Muarakayan, perempuan muda itu turun di dermaga milik perusahaan tempat ia bekerja. Kami melihat truk-truk besar lalu lalang mengangkut kayu di tanah luas dan terbuka yang penuh dengan tumpukan kayu berukuran dua lengan orang dewasa.

08

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

246

Jerit Sepanjang Mahakam Ceritera Lain di Sebalik Penelitian

01

Beberapa penumpang lain dalam perahu itu adalah penduduk Long Apari serta beberapa pemburu sarang burung walet. Salah seorang di antaranya adalah pedagang sarang burung asal Pontianak yang berkantor di Samarinda, yang mengurusi ekspor sarang burung walet ke Hongkong. Harga satu kilogram berkisar antara enam sampai delapan juta rupiah. Tidak mengherankan bila sering terjadi perampokan antara sesama pemburu sarang burung walet dalam perjalanan dari guagua di tengah hutan menuju Tiong Ohang. Tidak jarang, pemburu sarang burung, yang kebanyakan adalah pendatang, hilang di hutan atau ditemukan mati. Penduduk di beberapa desa di sekitar Tiong Ohang rata-rata terlihat sejahtera dengan adanya perburuan sarang burung walet, karena mereka menyewakan gua-gua

yang ada di ladang mereka. Salah satunya adalah seorang penumpang di perahu yang sama. Ia memiliki rumah di Samarinda dan menyekolahkan anak-anaknya di kota itu. Sepanjang perjalanan, kami dihibur oleh kokok ayam jago miliknya yang suaranya mirip orang tertawa. Ayam jago itu ia beli seharga beberapa juta rupiah dari pedagang Bugis yang membawanya langsung dari Sulawesi Selatan.

pengangkut batubara. Bayangan ‘kawah’ besar menganga di pedalaman entah di mana, seperti yang kami saksikan dalam perjalanan menuju Sendawar, berkelebat dalam benak kami. Sepanjang perjalanan melalui sungai Mahakam, kami memang melewati beberapa dermaga lengkap dengan menara penggelontor dan gunungan batubara, tanda bahwa kapal-kapal besar pengangkut batubara – sejenis dengan kapal-kapal besar yang baru saja kami lihat – berdatangan setiap saat. Sebagaimana dalam perjalanan menuju Sendawar, sejauh ini kami juga belum melewati hutan primer. Langit tampak terang benderang membentang jauh sampai ke cakrawala. Hutan seakan-akan sudah lenyap dan bumi berlubang-lubang karena penebangan dan penambangan semena-mena.

Pengangkut Batubara
Suatu saat, kami terkejut karena di depan perahu cepat yang kami tumpangi tampak berjejer tiga kapal besar yang memasang jangkar di tengah-tengah badan sungai Mahakam. Ketika kami mendekat, ternyata ada tiga kapal lain yang juga berderet di sana. Semua kapal besar itu adalah kapal

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Jerit Sepanjang Mahakam Ceritera Lain di Sebalik Penelitian

247

Di Long Pahangai dan Long Apari
“Kehilangan hutan bagi kami adalah kehilangan segalanya”

Setelah melewati dua jeram yang berbahaya, yaitu Riam Udang dan Riam Panjang, kami akhirnya melihat hutan primer di tepi kiri dan kanan Sungai Makaham. Berbagai pohon besar yang kami duga berumur ratusan tahun tampak tegak berdiri, tetapi kami tidak melihat seekor pun binatang liar. Meski demikian, di beberapa tempat kami sempat melihat truk-truk pengangkut gelondongan kayu – tanda bahwa ada perusahaan kayu yang beroperasi di kawasan itu. Sesampainya di Long Pahangai, diantar oleh Adrianus Liah, putra Pak Belawing, Kepala Adat Besar Suku Bahau, kami menemui Camat Long Pahangai. Di antara berbagai ceritera yang berhubungan dengan penelitian kami, Pak Camat sempat menuturkan pengalamannya. “Bersama 30 orang tokoh masyarakat dan para pemuka adat Kecamatan Long Pahangai dan Long Apari, belum lama ini kami diundang ke sebuah pulau untuk mengunjungi perkebunan besar. Pemilik perusahaan perkebunan rupanya berencana, suatu waktu nanti, lahan-lahan di dua kecamatan ini juga akan dikembangkan menjadi perkebunan. Bagi kami, rencana itu tidak berbeda dengan pembabatan hutan raya. Selain diajak berkeliling perkebunan yang luas itu, kami juga dipertemukan banyak pihak di sekitar perkebunan, melihat

kampung para pekerja kebun, melihat mereka memanen, mengangkut dan menurunkan hasil perkebunan ke penampungan. Kami juga mengunjungi pabrik pengolahan hasil perkebunan dan pusat kota pulau itu. Selama kunjungan itu kami senantiasa berdiskusi, berembuk di antara kami sendiri, khususnya menyangkut masa depan perkampungan kami. Juga seandainya kepada kami ditawarkan pilihan-pilihan menarik menyangkut pengalihan desa kami menjadi bagian dari perkebunan besar, dengan perumahan dan lain sebagainya, kami sepakat bahwa kami memilih untuk menjaga desa-desa dan merawat hutan-hutan kami sebagaimana sekarang. Beratus-ratus tahun kami hidup dari hutan yang kaya dengan beragam jenis tanaman dan pepohonan. Perkebunan satu jenis tanaman hanya akan membuat kami kehilangan hutan kami. Dengan kehilangan hutan, kami akan kehilangan ladang kami, kehilangan binatang-binatang buruan, kehilangan rotan, kehilangan tanaman obat. Ringkasnya, kami akan kehilangan segalanya karena kehilangan hal-hal itu akan membuat adat istiadat berubah, dan tatanan sosial juga ikut berubah. Belum tentu perubahan itu akan membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi kami.”

02

03

04

05 01-05 (Rangga Purbaya)

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

248

Jerit Sepanjang Mahakam Ceritera Lain di Sebalik Penelitian

Di Datah Suling, seorang pejabat desa memperlihatkan kepada kami tiga dokumen tebal hasil Analisis Dampak Lingkungan menyangkut perluasan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) sebesar puluhan ribu hektar. Termasuk ke dalam kawasan itu adalah peladangan penduduk dan hutan yang berada dalam wilayah adat. Pejabat desa itu lalu menjelaskan, perluasan puluhan ribu hektar tersebut merupakan penambahan saja bagi ratusan ribu hektar wilayah hutan yang sudah masuk ke dalam konsesi dan sedang serta akan terus ditebangi. Dengan kata lain, pembukaan blok tebang baru itu, atau secara legal disebut sebagai HPH, sebetulnya kelanjutan saja dari tindakan pembabatan hutan-hutan primer yang sudah berlangsung sebelumnya. Melalui kacamata keadilan lingkungan, serta berdasarkan kenyataan di lapangan, istilah pembukaan hutan secara besarbesaran oleh perusahaan-perusahaan besar menggunakan peralatan modern di banyak wilayah di Indonesia, memang lebih tepat disebut sebagai pembabatan hutan. Untuk memahaminya, kita dapat menyimak data Departemen Kehutanan yang menunjukkan bahwa laju deforestasi di Indonesia periode 2006-2009 adalah sebesar 1,17 juta hektar per tahun, atau sekitar 3 lapangan sepak bola per menit. Apakah pembabatan dilakukan untuk kepentingan perdagangan kayu, ataupun pendirian perkebunan monokultur, dampaknya tidak jauh berbeda, yakni musnahnya hutan-hutan primer di kawasan tropis. Bersama itu, lenyap pula keanekaragaman hayati serta sumber-

sumber pengetahuan berharga yang lahir dari pengalaman masyarakat setempat yang memanfaatkan hutan secara tradisional. Dokumen-dokumen tersebut juga dilengkapi dengan beberapa lembar peta yang memperlihatkan dengan jelas, wilayahwilayah yang masuk ke dalam kawasan HPH. Tampak bahwa wilayah yang akan terkena pembabatan, boleh dikatakan, mencakup sedikitnya seluruh Kecamatan Long Apari dan Long Pahangai, sampai ke perbatasan Indonesia-Malaysia, tanpa kecuali. Artinya, baik kawasan pemukiman, peladangan maupun hutan wilayah adat masuk ke dalam peta pembabatan. Pemerintah daerah setempat tidak tinggal diam. Salah seorang pejabat kecamatan Long Pahangai menjelaskan upaya keras Pemda setempat untuk membatasi pembabatan hutan di wilayahnya yang berlangsung besar-besaran dan dengan laju sangat tinggi. Dalam pertimbangan pejabat kecamatan tersebut, pembabatan hutan bukan saja merusak tata lingkungan secara menyeluruh serta hutan-hutan adat, tetapi juga memporak-porandakan tatanan sosial dan budaya masyarakat di wilayah itu. Upaya Pemda setempat memang dapat sedikit menahan laju pemusnahan hutan primer di kawasan itu. Kendati demikian, ia menambahkan, hutan primer di wilayahnya sekarang ini tinggal sekitar 50%. Seorang pejabat kecamatan Long Pahangai juga memberi ilustrasi tentang bagaimana pengelola perusahaan kerap mengabaikan tempat-tempat di dalam hutan adat yang

bagi orang Dayak bersifat sakral. Suatu ketika, perwakilan sebuah perusahaan datang mengeluh kepada petinggi itu dan kepada Kepala Adat Besar Dayak Bahau. Rupanya, selama tiga bulan puluhan pekerja perusahaan kesurupan, mengalami mimpi buruk serta berbagai peristiwa gaib lainnya. Akibatnya, mereka tidak dapat bekerja dan penebangan pohon sepenuhnya terhenti. Dengan tenang Kepala Adat bertanya, “Di kawasan mana para pekerja membabati hutan?” Mereka menunjuk ke suatu wilayah di dalam hutan adat. Bukan sesuatu yang berlebihan jika Kepala Adat Besar berang mendengar hal itu. Wilayah yang ditunjuk itu ternyata merupakan wilayah hutan larangan bagi masyarakat Dayak. Di sanalah terletak kuburan para leluhur yang mereka rawat dengan hidmat sejak ratusan tahun yang lalu. Di bawah ini, kami paparkan kembali jawaban Kepala Adat Besar kepada pihak perusahaan. Pemaparan ini tanpa maksud untuk membesar-besarkan masalah, tetapi sekadar memberi ilustrasi betapa kepentingan bisnis tidak jarang mengabaikan tradisi spiritual yang telah berabad-abad dihidupi oleh suatu masyarakat adat. Sebuah tradisi yang membuat mereka menghormati hutan bukan sebagai sekadar sumber kehidupan, obat-obatan, dan sumber ekonomi, melainkan terutama sebagai bagian dari keselarasan kosmologis yang mereka yakini. “Dalam adat kami,” demikian Kepala Adat Besar Dayak Bahau menjelaskan,

RP

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Jerit Sepanjang Mahakam Ceritera Lain di Sebalik Penelitian

249

“Tidak seorang pun anggota masyarakat kami diperbolehkan memetik bahkan sepucuk daun atau memotong sebatang ranting di wilayah hutan larangan itu. Apalagi membawanya pulang, kecuali untuk keperluan adat atau upacara. Itupun, harus dilakukan di tempat itu. Anda bukan hanya memetik daun atau memotong ranting. Anda malah menebang seluruh pepohonan lalu membawanya keluar dari wilayah itu. Bagi kami, tindakan itu melampaui batas. Bahwa muncul bermacam-macam peristiwa aneh yang menimpa para pekerja, adalah konsekuensi dari tindakan Anda sendiri. Dalam kepercayaan kami, apa yang dialami para pekerja merupakan sanksi yang akan terus berlangsung tanpa henti, sepanjang umur pohon-pohon yang ditebang. Kami tidak punya kuasa untuk membantu membebaskan para pekerja dari sanksi adat ini, kecuali dengan mematuhi ketentuanketentuan adat, yaitu membayar denda sebagai upacara penawar atas apa yang sudah Anda lakukan.” Denda adat yang dimaksud bukan berupa uang, melainkan dalam bentuk mandau, guci, piring, dan seraung dalam jumlah

tertentu. Adalah suatu kebetulan bahwa kami berada disana saat berlangsung penandatanganan kesepakatan dan pembayaran denda di lamin Long Tuyoq. Kendati telah ada kesepakatan dan pembayaran denda, perusahaan tersebut ternyata menolak dua tuntutan adat. Tuntutan pertama adalah larangan untuk menebang pepohonan di seluruh wilayah hutan adat seluas 7000 hektar. Tuntutan kedua berupa larangan untuk tidak melanjutkan pembabatan hutan di seluruh wilayah Kecamatan Long Pahangai, dengan pertimbangan bahwa perusahaan telah meraup banyak keuntungan dari pembabatan hutan selama 25 tahun di kawasan yang dimaksud. Apalagi, indukinduk pohon dari seluruh pepohonan yang ada dalam hutan larangan juga telah terbabat.

02

03

Dengan tegas, Kepala Adat Besar menyatakan pendiriannya,
[Catatan penulis: Di kemudian hari, penulis berhasil menyampaikan masalah ini kepada salah seorang asisten Presiden RI Urusan Perubahan Klimat dan Lingkungan Hidup, dengan harapan yang

“Hutan Raya di sini adalah hidup kami. Kami akan mempertahankannya dengan nyawa kami.”

bersangkutan akan menyampaikannya kepada presiden. Kami menyampaikan hal ini atas dasar dua pertimbangan. Pertama, kami menyadari tingginya ketegangan di wilayah itu dan kedua, betapa laju pembabatan hutan-hutan primer yang tersisa di wilayah Kalimantan sudah mencapai tahap genting. Pada bulan Mei 2011 pemerintah mengeluarkan INPRES 10/2011 berisi instruksi Presiden RI kepada semua gubernur dan bupati/walikota di seluruh Indonesia tentang penundaan pemberian izin baru dan penyempurnaan tata kelola hutan alam primer dan lahan gambut].

01-03 (Rangga Purbaya)

01
Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

“Hutan Raya di sini adalah hidup kami. Kami akan mempertahankannya dengan nyawa kami.”

Foto: Rangga Purbaya

252

Daftar Pustaka

Wawancara

Arman, Samsuni. 1994. ”Analisa Budaya Manusia Dayak” dalam Paulus Florus (Ed.), Kebudayaan Dayak Aktualisasi dan Transformasi. Jakarta: Grasindo Belareq, B. Belawing. 2008. Upacara Adat Kayo Bahau. Samarinda: Disbidpar. Chaniago, Darlis. t.t. Pesona Mahakam. Samarinda. Chaniago, Darlis. 1983. “Ulap Doyo, Tenun Tradisional Dayak Benuaq”. Majalah Kartini, No. 224. Dove, Michael R. (Ed.) 1985, Peranan Kebudayaan Tradisional dalam Modernisasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Imang, Ndan. 2003. “Studi Perbandingan Teknik Perburuan Tradisional Babi Hutan (Sus Barbatus Muller, 1896) Antara Suku Dayak Kenyah dan Suku Punan di Kabupaten Malinau”, Tesis, Universitas Mulawarman Samarinda, belum diterbitkan. King, Victor T. The People of Borneo. USA Blackwell Owford UK & Cambridge, 1993. Lajajir, Y. 2005. Simpukng-Munaan. Sendawar: CERD/LP2E-BAPEDA Kutai Barat. Madrah T., Dalmasius. 2001. Adat Sukat Dayak Benuaq dan Tonyooi, Jakarta: Puspa Swara. Maulani, Z. A. 2000. “Pedalaman Kalimantan: Kearifan Budaya dan Etnik” dalam Demokrasi dan Pembangunan Daerah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Maunati, Yekti. 2004, Identitas Dayak: Komodifikasi dan Politik Kebudayaan, Yogyakarta: LKiS. Nieuwenhuis, Anton W. 1994. Di Pedalaman Borneo: Perjalanan dari Pontianak ke Samarinda 1894, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Nikolaus, dkk. 2007.

NN. 2010. Laporan Pelaksanaan Kegiatan Identifikasi Koleksi, Penataan Tata Ruang Pameran dan Legalitas Museum (Sebuah Rekomendasi). Barong Tongkok: Disbudpar Pemuda Olahraga dan UPTD Museum Negeri Provinsi Kalimantan Timur “Mulawarman”. NN. Adat Istiadat Daerah Kalimantan Timur. Samarinda: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, 1976/1977. NN. Penelitian Suku Terasing Kenyah Kalimantan Timur (Kelompok Suku Dayak Kenyah di Sungai Alan Suatu Kasus Perubahan Kebudayaan), Samarinda: Depdikbud Dirjen Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya, 1992/1993. Rindarwoko, Robertus, dkk. 2007. Sejarah Perkebunan Karet (Dalam Perspektif Perubuhan Sosial Budaya Komunitas Petani di Kabupaten Kutai Barat), Sendawar: Kerjasama antara BAPPEDA dan Centre for Ethnoecology Research and Development. Riwut, Tjilik. 1958. Kalimantan Memanggil. Djakarta: Endang. Sedyawati, Edy. dkk. 1995. Konsep Tata Ruang Suku Bangsa Dayak Kenyah di Kalimantan Timur, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Arman, Syamsuni. 1994. ”Analisa Budaya Manusia Dayak” dalam Paulus Florus (Ed.), Kebudayaan Dayak Aktualisasi dan Transformasi. Jakarta: Grasindo. Wisetyo, Toto. 2007. “Ketika Tradisi Melawan Zaman”. National Geographic Indonesia edisi Mei.

Wawancara, Mamak Pirin (63 tahun), Lung Anai, 27 November 2010. Wawancara, Anita (36 tahun), Pengrajin Manik, 1 Desember 2010, Long Anai. Wawancara, Ny. Yacob (67 tahun), Kepala Adat di Desa Damai, 1 November 2010. Wawancara, Istri pembuat perahu (50 tahun), Pepas Eheng, 1 Desember 2010. Wawancara, Juyung (38 tahun), Belian, penghuni Lamin di Pepas Eheng, 30 Oktober 2010). Wawancara, Kepala Adat Dayak Bahau (65 tahun), Tering Seberang, 30 November 2010. Wawancara, Payan, (90 tahun), Mantan pembuat mandau dan parang, Lung Anai, 28 November 2010. Wawancara, Pelujuk, (70 tahun), Kepala Adat Desa Lung Anai, 28 November 2010. Wawancara, Ny. Yuriah Radio (45 tahun), Kepala Adat Sembuan di Sungai Bawang, 6 November 2010. Wawancara, Yuvenalis Lahajir (40 tahun), Barong Tongkok, Peneliti, 30 November 2010. Wawancara, Petrus Lama (70 tahun), Kepala Adat Desa Benung, 2 November 2010. Wawancara, Peladang Etnis Dayak Benuaq (45 tahun), Kutai Barat, 29 Oktober 2010. Wawancara, Kepala Adat Datah Bilang Hulu, (48 tahun), Dayak Kenyah, 6 Maret 2011. Wawancara, M. Jiu Luhat,(40 tahun), Sekretaris Kepala Kampung (40), Long Hubung, 7 Maret 2011. Wawancara, Cisilia Telan, (71 tahun), Mantan Dukun Beranak, Long Hubung, 7 Maret 2011. Wawancara, Revius Mering,(50 tahun), PNS

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

253

Indeks Foto & Ilustrasi

dan Ahli Pengobatan Verbal, [Datah Bilang, 7 Maret 2011. Wawancara, Camat Long Pahangai, (50 tahun), Camat Long Pahangai, 10 Maret 2011. Wawancara, Y. Ngau A, (69 tahun), Mantan Kepala Adat Long Pahangai dan Pasukan Raiders, 11 Maret 2011. Wawancara, Tukang Sepuh Mandau (65 tahun), Long Gelat, 12Maret 2011. Wawancara, Belawing Belareq (65 tahun), Kepala Adat Dayak Besar Bahau Kaltim, Long Tuyoq, 13 Maret 2011. Wawancara, Lusang Aran (60 tahun) Kepala Adat Kampung Long Isun, 15 Maret 2011. Wawancara, Kuleh (60 tahun) Guru di Long Isun, 15 Maret 2011. Wawancara, Kepala Adat Long Pakaq (70 tahun), 16 Maret 2011. Wawancara, Leonardus Janun, (55 tahun), Pemburu, Dayak Aoheng/Penihing, Tiong Buu, 15 Maret 2011. Wawancara, Devung Anyang (istri almarhum Irang Napap), (50 tahun), Tiong Ohang, 15Maret 2011. Wawancara, Francisus Riu, (30 tahun), Pegawai Negeri Sipil, Tiong Ohang, 15 Maret 2011. Wawancara, Asan, (60 tahun), Pembuat sumpit, Tiong Ohang, 16 Maret 2011. Wawancara, A. Kaya, (67 tahun), Tiong Ohang, 16 Maret 2011. Wawancara, Pahang, (60 tahun), Petinggi Kampung Naha Buan, 16 Maret 2011.

Rangga Purbaya, Hal.: 9, 18, 20, 22, 23, 24, 25, 26, 28, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 39, 42, 44, 45, 46, 47, 48, 49, 50, 54, 55, 56, 57, 58, 59, 60, 62, 63, 64, 65, 69, 71, 72, 73, 75, 76, 77, 78, 79, 80, 81, 82, 83, 84, 85, 86, 88, 89, 90, 91, 92, 83, 94, 95, 96, 102, 103, 105, 107, 108, 109, 110, 111, 112, 113, 114, 115, 116, 118, 119, 120, 122, 123, 124, 125, 126, 127, 128, 132, 134, 135, 136, 139, 142, 143, 144, 146, 147, 149, 150, 151, 154, 155, 156, 157, 158, 160, 161, 162, 163, 164, 165, 166, 167, 168, 169, 170, 171, 172, 173, 174, 175, 178, 180, 182, 183, 184, 185, 186, 187, 188, 189, 190, 191, 192, 193, 194, 195, 196, 197, 198, 199, 204, 207, 211, 213, 215, 217, 218, 220, 221, 222, 226, 227, 228, 229, 237, 238, 240, 241, 242, 243, 244, 245, 246, 247, 249, 250, 251,

Yayak Yatmaka, Hal.: 64, 66, 67, 68, 69, 70, 71, 73, 74, 97, 98, 99, 100, 101, 106, 110, 119, 131, 140, 141, 143, 145, 150, 152, 153, 165, 171, 172,

KPA, Hal: 138, 186, 187, 188, 193, 198, 199, 200, 201, 202, 203, 206, 208, 209, 210, 212, 214, 223, 224, 225,

Eddie B Handono, Hal.: 158

Susi Abdurahman, Hal. : 159, 221

Steve Pillar, Hal.: 25, 52, 55, 61, 81, 102, 103, 111, 117, 121, 124, 130, 131, 135, 136, 137, 139, 148, 149, 155, 175, 176, 177, 179, 230, 231, 232, 233, 234, 235, 244,

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

254

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

255

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

256

Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful