Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN DENGAN KASUS ANEMIA Ruang : Tanggal : Inisial Pasien : Umur : 1. KONSEP DASAR TEORI A.

Definisi Anemia Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen tak adekuat atau kurangnya nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah, yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah (Doenges, 1999). Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitungan sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal (Smeltzer, 2002 : 935). Anemia adalah berkurangnya hingga di bawah nilai normal sel darah merah, kualitas hemoglobin dan volume packed red bloods cells (hematokrit) per 100 ml darah (Price, 2006 ). B. Etiologi Anemia Anemia dapat dibedakan menurut mekanisme kelainan pembentukan, kerusakan atau kehilangan sel-sel darah merah serta penyebabnya. Penyebab anemia antara lain sebagai berikut: a. Anemia pasca perdarahan : akibat perdarahan massif seperti kecelakaan, operasi dan persalinan dengan perdarahan atau perdarahan menahun:cacingan. b. Anemia aplastik disebabkan terhentinya pembuatan sel darah oleh sumsum tulang (kerusakan sumsum tulang). c. Anemia defisiensi: kekurangan bahan baku pembuat sel darah. Bisa karena intake kurang, absorbsi kurang, sintesis kurang, keperluan yang bertambah. d. Anemia hemolitik: terjadi penghancuran eritrosit yang berlebihan. Karena faktor intrasel: talasemia, hemoglobinopatie,dll. Sedang factor ekstrasel: intoksikasi, infeksi malaria, reaksi hemolitik transfusi darah.

C. Manifestasi Klinis a. Manifestasi klinis yang sering muncul a. mudah berkunang - kunang b. rasa mengantuk c. susah konsentrasi d. cepat lelah a. Pusing b. Aktifitas berkurang b. Gejala khas masing masing anemia c. Perdarahan berulang/kronik pada anemia pasca perdarahan, anemia defisiensi besi d. Ikterus, urin berwarna kuning tua/coklat, perut makin buncit pada anemia hemolitik e. Mudah infeksi pada anemia aplastik dan anemia karena keganasan. c. Pemeriksaan fisik f. Tanda tanda anemia umum Pucat, takikardi, suara pembuluh darah spontan, bising karotis,bising sistolik anorganik, pembesaran jantung g. Manifestasi kusus pada anemia Defisiensi besi: spoonail, glositis Defisiensi B12: paresis, ulkus di tungkai Hemolitik : ikterus, splenomegali Aplastik : anemia biasanya berat, perdarahan, infeksi.

D. PATOFISIOLOGI Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sum-sum tulang atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sumsum tulang dapt terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, inuasi tumor, atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi) pada kasus yang disebut terakhir, masalah dapat akibat efek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah normal atau akibat beberapa factor diluar sel darah merah yang menyebabkan destruksi sel darah merah. Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam system fagositik atau dalam system retikuloendotelial terutama dalam hati dan limpa. Sebagai

hasil samping proses ini bilirubin yang sedang terbentuk dalam fagosit akan masuk dalam aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direpleksikan dengan meningkatkan bilirubin plasma (konsentrasi normalnya 1 mg/dl atau kurang ; kadar 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera. Anemia merupakan penyakit kurang darah yang ditandai rendahnya kadar hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit). Fungsi darah adalah membawa makanan dan oksigen ke seluruh organ tubuh. Jika suplai ini kurang, maka asupan oksigen pun akan kurang. Akibatnya dapat menghambat kerja organ-organ penting, Salah satunya otak. Otak terdiri dari 2,5 miliar sel bioneuron. Jika kapasitasnya kurang, maka otak akan seperti komputer yang memorinya lemah, Lambat menangkap. Dan kalau sudah rusak, tidak bisa diperbaiki (Sjaifoellah, 1998). E. PATHWAY
Kekurangan nutrisi Perdarahan Hemolisis

Kegagalan sum-sum Kehilangan sel darah merah tulang

Anemia (Hb)

Resistensi aliran darah perifer Penurunan transport O2

Pertahanan skunder tidak adekuat Resiko tinggi Infeksi

Hipoksia

Lemah Lesu

Intoleransi aktifitas

Gg perfusi jaringan

Gg fungsi otak

Intake nutrisi turun Gg nutrisi kurang dari kebutuhan

Pusing Nyeri akut

Sumber : Nanda NIC NOC, 2013

F. KOMPLIKASI Anemia juga menyebabkan daya tahan tubuh berkurang. Akibatnya, penderita anemia akan mudah terkena infeksi. Gampang batuk-pilek, gampang flu, atau gampang terkena infeksi saluran napas, jantung juga menjadi gampang lelah, karena harus memompa darah lebih kuat. Pada kasus ibu hamil dengan anemia, jika lambat ditangani dan berkelanjutan dapat menyebabkan kematian, dan berisiko bagi janin. Selain bayi lahir dengan berat badan rendah, anemia bisa juga mengganggu perkembangan organ-organ tubuh, termasuk otak (Sjaifoellah, 1998). G. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Kadar Hb. Kadar Hb <10g/dl. Konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata < 32% (normal: 32-37%), leukosit dan trombosit normal, serum iron merendah, iron binding capacity meningkat. 2. Kelainan laborat sederhana untuk masing-masing tipe anemia : a. Anemia aplastik : trombositopeni, granulositopeni, pansitopenia, sel patologik darah tepi ditemukan pada anemia aplastik karena keganasan. b. Anemia defisiensi asam folat : makro/megalositosis c. Anemia hemolitik : retikulosit meninggi, bilirubin indirek dan total naik, urobilinuria. H. PENATALAKSANAAN 1) Penatalaksanaan Medis a. Anemia pasca perdarahan: transfusi darah. Pilihan kedua: plasma ekspander atau plasma substitute. Pada keadaan darurat bisa diberikan infus IV apa saja. b. Anemia defisiensi: makanan adekuat, diberikan SF 3x10mg/kg BB/hari. Transfusi darah hanya diberikan pada Hb <5 gr/dl. c. Anemia aplastik: prednison dan testosteron, transfusi darah, pengobatan infeksi sekunder, makanan dan istirahat. 2) Keperawatan Penatalaksanaan

a. Perfusi jaringan adekuat


-

Memonitor tanda-tanda vital, pengisian kapiler, wama kulit, membran mukosa. Meninggikan posisi kepala di tempat tidur Memeriksa dan mendokumentasikan adanya rasa nyeri. Observasi adanya keterlambatan respon verbal, kebingungan, atau gelisah Mengobservasi dan mendokumentasikan adanya rasa dingin. Mempertahankan suhu lingkungan agar tetap hangat sesuai kebutuhan tubuh. Memberikan oksigen sesuai kebutuhan. Mendukung agar tetap toleran terhadap aktivitas Menilai kemampuan dalam melakukan aktivitas sesuai dengan kondisi fisik dan tugas perkembangan pasien. Memonitor tanda-tanda vital selama dan setelah melakukan aktivitas, dan mencatat adanya respon fisiologis terhadap aktivitas (peningkatan denyut jantung peningkatan tekanan darah, atau nafas cepat). Memberikan informasi kepada pasien atau keluarga untuk berhenti melakukan aktivitas jika teradi gejala-gejala peningkatan denyut jantung, peningkatan tekanan darah, nafas cepat, pusing atau kelelahan). Berikan dukungan kepada pasien untuk melakukan kegiatan sehari hari sesuai dengan kemampuannya. Memenuhi kebutuhan nutrisi yang adekuat Memberitahukan kepada pasien untuk memakan makanan yang dapat di toleransi, rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan meningkat. Memakan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi. Mengevaluasi berat badan setiap hari.

d. -

e. -

2. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian 1) Data demografi

a) Identitas Identitas Pasien Pengkajian identitas pasien meliputi, nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, suku, tempat tanggal lahir, pekerjaan, alamat, status perkawinan. Identitas Penanggungjawab Pengkajian identitas penanggungjawab meliputi, nama, umur, hubungan dengan pasien, umur, agama, pendidikan, alamat.

2) Riwayat Kesehatan a) Keluhan Utama Biasanya klien mengeluh, Pusing, b) Riwayat Penyakit Sekarang (RPS) Meliputi alasan kenapa klien masuk rumah sakit hingga di rawat di rumah sakit, kaji keluhan pasien seperti : Keletihan, kelemahan, Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak. klien mengatakan bahwa Ia Depresi Sakit kepala Nyeri kepala, berdenyut, sulit berkonsentrasi Penurunan penglihatan Kemampuan untuk beraktifitas menurun c) Riwayat Penyakit Dahulu Berkaitan dengan beberapa penyakit dahulu yang pernah diderita yang berhubungan dengan penyakit yanng di alami sekarang seperti : - Klien pernah mendapatkan atau menggunakan obat-obatan yang mempengaruhi sumsum tulang dan metabolisme asam folat. - Riwayat kehilangan darah kronis mis: perdarahan GI kronis, menstruasi berat, angina, CHF (akibat kerja jantung berlebihan) - Riwayat endokarditis infektif kronis. - Riwayat pielonefritis, gagal ginjal. - Riwayat TB, abses paru. - Riwayat pekerjaan terpajan terhadap bahan kimia, mis: benzene, insektisida, fenil butazon, naftalen. - Riwayat terpajan pada radiasi baik sebagai pengobatan atau kecelakaan. - Riwayat kanker, terapi kanker.

Riwayat penyakit hati, ginjal, masalah hematologi, penyakit malabsorbsi, lan spt: enteritis regional, manifestasi caciong pita, poliendokrinopati, masalah autoimun. - Penggunaan anti konvulsan masa lalu / sekarang, antibiotic, agen kemoterapi, aspirin, obat anti inflamasi, atau anti koagulan. - Pembedahan sebelumnya: splenektomi, eksisi tumor, penggantian katup prostetik, eksisi bedah duodenum, reseksi gaster, gastrektomi parsial / total. d) Riwayat Kesehatan Keluarga Apakah ada anggota keluarganya yang menderita penyakit yang sama seperti penyakit yang di derita pasien saat ini.
-

3) Kebutuhan Bio Psiko Sosial Spiritual a) Aktivitas / istirahat Gejala : Keletihan, kelemahan, malaise umum, Kehilangan produktivitas; penurunan semangat untuk bekerja. Toleransi terhadap latihan rendah, Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak. Tanda : Takikardia/ takipnae ; dispnea pada waktu bekerja atau istirahat. Letargi, menarik diri, apatis, lesu, dan kurang tertarik pada sekitarnya. Kelemahan otot, dan penurunan kekuatan. Tubuh tidak tegak. Bahu menurun, postur lunglai, berjalan lambat, dan tanda-tanda lain yang menunujukkan keletihan. b) Sirkulasi Tanda : TD : peningkatan sistolik dengan diastolik stabil dan tekanan nadi melebar, hipotensi postural. Disritmia : abnormalitas EKG, depresi segmen ST dan pendataran atau depresi gelombang T; takikardia. Bunyi jantung : murmur sistolik (DB). Ekstremitas (warna) : pucat pada kulit dan membrane mukosa (konjuntiva, mulut, faring, bibir) dan dasar kuku. (catatan: pada pasien kulit hitam, pucat dapat tampak sebagai keabuabuan). Kulit seperti berlilin, pucat (aplastik, AP) atau kuning lemon terang (AP). Sklera : biru atau putih seperti mutiara (DB). Pengisian kapiler melambat (penurunan aliran darah ke kapiler dan vasokontriksi kompensasi) kuku : mudah patah, berbentuk seperti sendok (koilonikia) (DB).

Rambut : kering, mudah putus, menipis, tumbuh uban secara premature (AP). c) Integritas ego Gejala : Keyakinanan agama/budaya mempengaruhi pengobatan, misalnya penolakan transfusi darah. Tanda : Depresi.

pilihan

d)

Eleminasi Gejala : Riwayat pielonefritis, gagal ginjal. Flatulen, sindrom malabsorpsi (DB). Hematemesis, feses dengan darah segar, melena. Diare atau konstipasi. Penurunan haluaran urine. Tanda : distensi abdomen.

e) Gejala

Tanda

f) Gejala

Tanda

g) Gejala h) Gejala

Makanan/cairan : Penurunan masukan diet, masukan diet protein hewani rendah/masukan produk sereal tinggi . Nyeri mulut atau lidah, kesulitan menelan (ulkus pada faring). Mual/muntah, dyspepsia, anoreksia. : lidah tampak merah daging/halus (AP; defisiensi asam folat dan vitamin B12). Membrane mukosa kering, pucat. Turgor kulit : buruk, kering, tampak kisut/hilang elastisitas (DB). Stomatitis dan glositis (status defisiensi). Bibir : selitis, misalnya inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah. (DB). Neurosensori : Sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinnitus, ketidak mampuan berkonsentrasi. Insomnia, penurunan penglihatan, dan bayangan pada mata. Kelemahan, keseimbangan buruk, kaki goyah ; parestesia tangan/kaki (AP) ; klaudikasi. Sensasi manjadi dingin. : Peka rangsang, gelisah, depresi cenderung tidur, apatis. Mental : tak mampu berespons, lambat dan dangkal. Oftalmik : hemoragis retina (aplastik, AP). Epitaksis : perdarahan dari lubang-lubang (aplastik). Gangguan koordinasi, ataksia, penurunan rasa getar, dan posisi, tanda Romberg positif, paralysis (AP). Nyeri/kenyamanan : Sakit kepala Pernapasan : Riwayat TB, abses paru. Napas pendek pada istirahat dan aktivitas.

Tanda : takipnea, ortopnea, dan dispnea. i) Keamanan Gejala : Riwayat pekerjaan terpajan terhadap bahan kimia,. Riwayat terpajan pada radiasi; baik terhadap pengobatan atau kecelekaan. Riwayat kanker, terapi kanker. Tidak toleran terhadap dingin dan panas. Transfusi darah sebelumnya. Gangguan penglihatan, penyembuhan luka buruk, sering infeksi. Tanda : Demam rendah, menggigil, berkeringat malam, limfadenopati umum. Ptekie dan ekimosis (aplastik). 4) Pemeriksaan Fisik b. Kardiologi Kardiomegali , Hepatomegali Edema perifer Takikardi, palpitasi. c. Pernafasan Takipnea, orthopnea, dispnea. d. Sirkulasi TD : peningkatan sistolik dengan diastolic stabil & tekanan nadi melebar, hipotensi postural. Bunyi jantung murmur sistolik Ekstremitas: pucat pada kulit, dasar kuku, dan membrane mukosa, Sclera biru atau putih seperti mutiara. Pengisisan darah kapiler melambat Kuku mudah patah dan berbentuk seperti sendok (koilonika) Rambut kering, mudah putus, menipis, tumbuh uban secara premature e. Gastrointestinal Diare, muntah, Glositis (peradanagan lidah) Melena/ hematemesis f. Neurologi Parastesia Ataksia Koordinasi buruk Bingung

g.
-

Integuman Mukosa pucat, kering Kulit kering

B. Diagnosa Keperawatan 1) Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel. 2) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan. 3) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah. 4) Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kurangnya pengangkut sel darah merah keseluruh tubuh 5) Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan sekunder (penurunan hemoglobin leucopenia, atau penurunan granulosit (respons inflamasi tertekan)).

C. Intervensi Keperawatan 1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel. Tujuan : - Peningkatan perfusi jaringan. Kriteria hasil : - menunjukkan perfusi adekuat, misalnya tanda vital stabil. Intervensi 1) Awasi tanda vital kaji pengisian kapiler, warna kulit/membrane mukosa, dasar kuku. R/: Memberikan informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menetukan kebutuhan intervensi. 2) Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi. R/: meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler. Catatan : kontraindikasi bila ada hipotensi.

10

3) Awasi upaya pernapasan ; auskultasi bunyi napas perhatikan bunyi adventisius. R/: dispnea, gemericik menununjukkan gangguan jantung karena regangan jantung lama/peningkatan kompensasi curah jantung. 4) Selidiki keluhan nyeri dada/palpitasi. R/: : iskemia seluler mempengaruhi jaringan miokardial/ potensial risiko infark. 5) Hindari penggunaan botol penghangat atau botol air panas. Ukur suhu air mandi dengan thermometer. R/: Termoreseptor jaringan dermal dangkal karena gangguan oksigen. 6) Awasi hasil pemeriksaan laboraturium. Berikan sel darah merah lengkap/packed produk darah sesuai indikasi. R/: Mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan /respons terhadap terapi. 7) Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi. R/: memaksimalkan transport oksigen ke jaringan. 2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan. Tujuan : - dapat mempertahankan/meningkatkan ambulasi/aktivitas. Kriteria hasil : - Melaporkan peningkatan toleransi aktivitas (termasuk aktivitas seharihari) - Menunjukkan penurunan tanda intolerasi fisiologis, misalnya nadi, pernapasan, dan tekanan darah masih dalam rentang normal. Intervensi 1) Kaji kemampuan ADL pasien. R/: mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan. 2) Kaji kehilangan atau gangguan keseimbangan, gaya jalan dan kelemahan otot. R/: menunjukkan perubahan neurology karena defisiensi vitamin B12 mempengaruhi keamanan pasien/risiko cedera. 3) Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah aktivitas. R/: manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan. 4) Berikan lingkungan tenang, batasi pengunjung, dan kurangi suara bising, pertahankan tirah baring bila di indikasikan. R/: meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh dan menurunkan regangan jantung dan paru.

11

5) Gunakan teknik menghemat energi, anjurkan pasien istirahat bila terjadi kelelahan dan kelemahan, anjurkan pasien melakukan aktivitas semampunya (tanpa memaksakan diri). R/: meningkatkan aktivitas secara bertahap sampai normal dan memperbaiki tonus otot/stamina tanpa kelemahan. Meingkatkan harga diri dan rasa terkontrol. 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah. Tujuan : - Kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria hasil : - Menunujukkan peningkatan/mempertahankan berat badan dengan nilai laboratorium normal. - Tidak mengalami tanda mal nutrisi. - Menununjukkan perilaku, perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan atau mempertahankan berat badan yang sesuai. Intervensi 1) Kaji riwayat nutrisi, termasuk makan yang disukai. R/: Mengidentifikasi defisiensi, memudahkan intervensi. 2) Observasi dan catat masukkan makanan pasien. R/: mengawasi masukkan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan. 3) Timbang berat badan setiap hari. R/: mengawasi penurunan berat badan atau efektivitas intervensi 4) Nutrisi. Berikan makan sedikit dengan frekuensi sering dan atau makan diantara waktu makan. R/: menurunkan kelemahan, meningkatkan pemasukkan dan mencegah distensi gaster. 5) Observasi dan catat kejadian mual/muntah, flatus dan dan gejala lain yang berhubungan. R/: gejala GI dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ. 6) Berikan dan Bantu hygiene mulut yang baik ; sebelum dan sesudah makan, gunakan sikat gigi halus untuk penyikatan yang lembut. Berikan pencuci mulut yang di encerkan bila mukosa oral luka. R/: meningkatkan nafsu makan dan pemasukkan oral. Menurunkan pertumbuhan bakteri, meminimalkan kemungkinan infeksi. Teknik perawatan mulut khusus mungkin diperlukan bila jaringan rapuh/luka/perdarahan dan nyeri berat. 7) Kolaborasi pada ahli gizi untuk rencana diet.

12

R/: membantu dalam rencana diet untuk memenuhi kebutuhan individual. 8) Berikan obat sesuai indikasi. R/: kebutuhan penggantian tergantung pada tipe anemia dan atau adanyan masukkan oral yang buruk dan defisiensi yang diidentifikasi. 4. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan pengangkut sel darah merah keseluruh tubuh Tujuan : - Untuk mengurangi nyeri yang di rasakan pasien Keriteria Hasil : - Klien mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik non farmakologi untuk mengurangi nyeri) - Klien mengatakan rasa nyeri berkurang - Klien mmengatakan rasa nyaman stelah nyeri berkurang Intervensi : 1) lakukan hubungan yang baik antara pasien, keluarga pasien dan jelaskan asuhan keperawatan yang akan kita lakukan R/ terbina hubungan yang baik antara pasien dan perawat dan pasien mengerti tentang tindakan yang akan kita lakukan 2) observasi TTV dan keadan umum pasien R/ untuk mengetahui perkembangan pasien dan keadaannya 3) berikan posisi senyaman mungkin R/ untuk relaksasi dan memperlancar peredaran darah 4) kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi R/ untuk mempercepat proses penyembuha 5. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan sekunder tidak adekuat. Tujuan : - Infeksi tidak terjadi. Kriteria hasil : - Mengidentifikasi perilaku untuk mencegah/menurunkan risiko infeksi. - Meningkatkan penyembuhan luka, bebas drainase purulen atau eritema, dan demam. Intervensi 1) Tingkatkan cuci tangan yang baik ; oleh pemberi perawatan dan pasien. R/: mencegah kontaminasi silang/kolonisasi bacterial. Catatan : pasien dengan anemia berat/aplastik dapat berisiko akibat flora normal kulit. 2) Pertahankan teknik aseptic ketat pada prosedur/perawatan luka. R/: menurunkan risiko kolonisasi/infeksi bakteri. dengan kurangnya

13

3) Berikan perawatan kulit, perianal dan oral dengan cermat. R/: menurunkan risiko kerusakan kulit/jaringan dan infeksi. 4) Motivasi perubahan posisi/ambulasi yang sering, latihan batuk dan napas dalam. R/: meningkatkan ventilasi semua segmen paru dan membantu memobilisasi sekresi untuk mencegah pneumonia. 5) Tingkatkan masukkan cairan adekuat. R/: membantu dalam pengenceran secret pernapasan untuk mempermudah pengeluaran dan mencegah stasis cairan tubuh misalnya pernapasan dan ginjal 6) Pantau/batasi pengunjung. Berikan isolasi bila memungkinkan. R: membatasi pemajanan pada bakteri/infeksi. Perlindungan isolasi dibutuhkan pada anemia aplastik, bila respons imun sangat terganggu. 7) Pantau suhu tubuh. Catat adanya menggigil dan takikardia dengan atau tanpa demam. R/: adanya proses inflamasi/infeksi membutuhkan evaluasi/pengobatan. 8) Amati eritema/cairan luka. R/: indikator infeksi lokal. Catatan : pembentukan pus mungkin tidak ada bila granulosit tertekan. 9) Ambil specimen untuk kultur/sensitivitas sesuai indikasi. R/: membedakan adanya infeksi, mengidentifikasi pathogen khusus dan mempengaruhi pilihan pengobatan. 10) Berikan antiseptic topical ; antibiotic sistemik. R/: mungkin digunakan secara propilaktik untuk menurunkan kolonisasi atau untuk pengobatan proses infeksi local.

14