Anda di halaman 1dari 6

Nama : Aufal Anief Mangkubumi NIM : A24110172 Kel :6D

RESUME KULIAH ILMU TANAMAN PANGAN Jagung (Zea mays) Jagung merupakan tanaman pangan penting di dunia (komoditas tanaman pangan diproduksi terbesar ke dua di dunia dan bahan pangan dikonsumsi terbesar ke tiga) dan sudah menjadi bahan pangan penting sejak suku Indian. Eksportir jagung adalah negara Argentina, importir oleh negara Jepang & Eropa sedangkan Produsen dan konsumen terbesar yaitu Amerika Serikat. Daerah sentra produksi jagung Indonesia adalah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Peningkatan produksi jagung saat ini disebabkan oleh penggunaan benih hibrida, bukan peningkatan luas tanam. Pertumbuhan dan perkembangan jagung terdiri atas fase perkecambahan, fase vegetatif yang terjadi sekitar 4 minggu, fase generatif (keluarnya bunga jantan, munculnya cabang tasel, munculnya tongkol, masak fisiologis biji). Hasil panen jagung, antara lain: biji pipilan kering, jagung muda, jagung semi dan hijauan pakan ternak. Pemanfaatan jagung antara lain sebagai pakan ternak (ransum), Etanol (bioenergi), industri pangan dan konsumsi langsung manusia, dan dapat dikonsumsi oleh manusia. Tipe jagung dan sifat biji dapat dibagi menjadi: Tipe Gigi Kuda (Dent Corn) : Bentuk gigi, pati keras menyelubangi pati lunak sepanjang tepi biji tapi tidak sampai ke ujung Tipe Mutiara (Flint Corn) : Sangat keras, pati lunak semua diselubungi pati keras Jagung Tepung (Flour Corn) : Endosperm hampir semua pati lunak, bila kering mengkerut

Jagung Berondong (Pop Corn) : Biji kecil, keras seperti flint, proporsi pati lunak < flint, ada di tengah pati keras Jagung Manis (Sweet Corn) : Endosperm bening, kulit tipis, pati sedikit, biji berkerut, kandungan gula tinggi Jagung Ketan (Waxy Corn) : Endosperm lunak, mengandung amilopektin Jagung Polong (Pod Corn) : Tiap biji mempunyai kelobot sendiri

Tahapan teknik budidaya pada tanaman jagung sama halnya dengan teknik budi daya beberapa tanaman pangan lain, antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Varietas (hibrida, bersari bebas dan lokal) Pengolahan tanah (bajak, garu, ratakan, dan pengapuran bila perlu) Populasi tanaman (jarak tanam dan ditanam 2 biji per lubang tanam) Pemupukan (tepat dosis, tepat waktu, tepat cara dan tepat jenis) Pengairan Pengendalian OPT (umumnya 2-3 semprot selama pertumbuhan tanaman) Panen dan pasca panen

Sorgum (Shorghum bicolor L.) Sorgum merupakan jenis tanaman pangan yang berasal dari Afrika Utara, yakni negara Ethiopia dan sekarang telah dikembangkan di berbagai negara seperti USA, India, China, Meksiko, Nigeria dan Sudan. Saat ini sorgum menjadi sereal kelima terpenting setelah jagung, gandum, padi dan barley. Berbeda dengan tanaman pangan lain, sorgum mampu beradaptasi pada kondisi yang unfovourable untuk sereal lain (toleran kering, suhu tinggi, salinitas, kesuburan rendah). Sorgum juga merupakan tanaman C4. Secara umum pemanfaatan sorgum antara lain sebagai pangan, pakan dan etanol. Sorgum dibagi menjadi 4 jenis yakni grain shorghum, grass shorghum, sweet shorghum dan broomcorn. Berdasarkan pemanfaatannya, sorgum dibagi menjadi sorgum berumur pendek/semusim, sorgum makanan ternak, sorgum penghasil biji non saccharing, sorgum sapu, sorgum rumput, dan sorgum tahunan. Beberapa contoh varietas sorgum yaitu Numbu dan Kawali.

Teknologi budi daya tanaman ini yaitu membutuhkan benih 9 kg/ha, jarak tanam 75 cm X 25 cm dengan 2 butir/lubang. Pemupukan dilakukan 2 kali, waktu tanam dan 30 hari setelah tanam. Penyiangan dilakukan pada saat umur 21 HST dan 45 HST bersamaan pembumbunan. Pengendalian hama dan penyakit juga perlu diperhatikan, disesuaikan umur tanaman, tingkat serangan, kondisi iklim, dan jenis HPT. Pemberian air saat perkecambahan, pembungaan, pengisian biji. Terakhir, sorgum siap dipanen jika biji sudah bernas dan keras. Fase pertumbuhan dan perkembangan tanaman sorgum terdiri atas fase perkecambahan (fase 0), 3 pelepah daun (fase 1), 5 pelepah daun (fase 2), fase perubahan titik tumbuh (fase 3), fase daun bendera (fase 4,5), fase setengah berbunga (fase 6), isi biji seperti susu (fase 7), isi biji mengeras (fase 8), dan matang fisiologi (fase 9). Lahan yang cocok untuk pertumbuhan yang optimum untuk pertanaman sorgum adalah suhu optimum 23o-30o C, kelembaban relatif 20% - 40%, suhu tanah berkisar 25oC, ketinggian lebih dari 800 m dpl, curah hujan 375-425 mm/th, pH 5,0-7,5 dan pada tanah ringan atau berpasir. Kebutuhan benih sorgum dapat mencapai 10 kg/ha dengan jarak tanam 70 cm x 20 cm. Varietas tanaman sorgum misal Malang No.26, Birdproof No.65, Katengu No.183, Numbu, Kawali dan Cempaka. Pengairan dilakukan saat periode kritis tanaman yakni saat perkecambahan, pembungaan dan pengisian. Hama yang biasa menyerang tanaman ini yakni lalat bibit, ulat tanah, dan kumbang Sitophilus. Sedangkan penyakit yang biasa menginfeksi antara lain karat daun, bercak daun dan kapang jelaga.

Legum Pangan Kegunaan legum pangan antara lain sebagai bahan pangan, pakan, papan, pupuk hijau, dan industri. Pada umumnya, semua legum mengandung protein nabati yang cukup tinggi sehingga dapat melengkapi asam amin lisin yang kurang dalam serealia. Jenis legum pangan yaitu kacang tanah, kedelai, kacang hijau, kecipir, komak, pea dan kacang merah.

Fase pertumbuhan legum dibagi menjadi dua yakni fase vegetatif dan fase generatif. Fase vegetatif berupa perkecambahan, pembukaan kotiledon, dan perkembangan daun. Sedangkan fase generatif berupa masa pembungaan, pembentukan polong, pemasakan dan lewat masak. Berbeda dengan tanaman pangan lain, legum mampu besimbiosis dengan bakteri secara alami. Untuk mengefektifkan simbiosis dibutuhkan daya hidup dan saing tinggi, kolonisasi rhizophere dan kompatibilitas genetik, dan lingkungan tumbuh dan kondisi tanaman yang mendukung. Simbiosis tanaman legum ini berguna dalam pemenuhan unsur N. Peningkatan produktivitas kacang-kacangan tidak seperti serealia karena tergolong tanaman C3 dan pembentukan protein serta lipid butuh energi lebih banyak daripada karbohidrat. Budidaya tanaman legum biasanya dilakukan pada musim yang

unfavourable. Tanaman ini mampu bertahan di tanah marjinal dengan tanam tunggal, rotasi, tumpang sari atau tumpang gilir. Populasi yang dianjurkan berkisar 125.000 250.000 tanaman per ha. Cara penanaman dapat di tebar atau di tugal. Pemupukan tanaman legum dilakukan saat batas kritis. Pupuk N sebagai starter dan dapat juga disebarkan saat pengisian biji. Pada tanah masam sebaiknya ditambahkan unsur P, Mo, dan kapur untuk meningkatkan hasil. Fase kritis air biasanya terjadi pada fase vegetatif, pembungaan, pembentukan polong dan pengisian polong sehingga tanaman harus dalam keadaan cukup air. Hama yang biasa menyerang legum antara lain lalat bibit, wereng, kepik coklat dan hijau, ulat jengkal, penggerek polong dan kutu daun. Sedangkan penyakit yang biasa menginfeksi yaitu karat, virus mosaik, layu bakteri, sapu setan dan bercak daun.

Ubi jalar (Ipomoea batatas Lamb.) Tanaman ini berasal dari benua Amerika tepatnya Kolombia, Ekuador dan Peru. Kemudian menyebar ke Eropa hingga akhirnya ke seluruh dunia. Penghasil ubi jalar terbesar di Indonesia ada di pulau Jawa. Ubi jalar biasa dimanfaatkan sebagai bahan pangan, pakan, bioetanol dan industri. Selain mudah untuk dibudidayakan, tanaman ubi jalar toleran terhadap kekurangan air, kompetitif

terhadap gulma, dapat digunakan sebagai tanaman sekunder dalam pola tanam, penyumbang karbohidrat yang besar per satuan berat, berpotensi sebagai tanaman ekspor, dan pengisi lahan kering di Indonesia. Morfologi tanaman ubi jalar berbeda dengan tanaman pangan lain. Batang tidak berkayu berbentuk bulat dan beruas, menjalar dengan warna hijau hingga ungu. Daun berbentuk bulat lonjong dengan lekukan, tangkai dan tulang daun berwarna hijau hingga ungu sesuai warna batangnya. Bunga berwarna ungu putih berbentuk terompet. Umbi berbentuk bulat lonjong dengan permukaan tidak rata, bergetah, berwarna putih, ungu, kuning dan jingga. Beberapa varietas berkadar tepung banyak berasa lebih manis. Fase pertumbuhan dan perkembangan terdiri atas fase awal (pertumbuhan tajuk dan akar), fase pertengahan (pertumbuhan tajuk dan akar bersamaan dengan awal perkembangan umbi) dan fase akhir (perkembangan umbi secara cepat). Faktor yang mempengaruhi pembentukan umbi yakni aerasi tanah, kalium, panjang hari dan suhu, cahaya, jumlah nitrogen, dan sitokinin. Varietas ubi jalar yang berkembang di Indonesia misal Boko, Jago, Kidal, Sari dan Sukuh. Budidaya ubi jalar menyangkut kegiatan pembibitan, pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan, panen dan pascapanen. Organisme pengganggu tanaman (OPT) yang biasa menyerang ubi jalar antara lain kumbang Cylas formicarius yang menyebabkan boleng pada umbi, cendawan Elsinoe batatas yang menyebabkan penyakit kudis pada tangkai, dan gulma sebagai kompetitor.

Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz.) Ubi kayu memiliki nama lokal yang beragam, misal kaspe, singkong, sampeu, ubi inggris, ubi perancis dan lain-lain. Varietasnya juga beragam seperti Valencia, Mangi, Betawi, Muara, Malang, Gading dan Adira. Di Indonesia, produksi ubi kayu terbesar terdapat di pulau jawa. Potensi ubi kayu sangat tinggi. tanaman ini merupakan tanaman pokok. setelah beras dan jagung, daun sebagai sayuran Daun sebagai sayuran berprotein cukup, bahan dasar / baku industri pangan dan pakan DN/LN, bahan industri

tekstil, lem, kosmetik, campuran bahan bakar, ekspor permintaan gaplek dan tapioka. Selain memiliki banyak kegunaan dan kandungan karbohidrat tinggi, ubi kayu juga mengandung HCN yang cukup tinggi sehingga dapat menjadi racun apabila tidak diolah dengan benar. Faktor yang mempengaruhi HCN adalah faktor genetik (varietas tanaman), tanah, iklim, umur, dan protein. Budidaya tanaman ubi kayu berupa pmbibitan, pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan, panen dan pascapanen. Pemberian pupuk dapat dilakukan dengan penyebaran secara melingkar di sekitar tanaman. Organisme pengganggu tanaman yang biasa menyerang ubi kayu antara lain tungau merah Tetranychus bimaculatus, penyakit bercak daun bakteri Xanthomonas manihotis, layu bakteri Pseudomonas solanacearum, dan gulma darat.