Anda di halaman 1dari 3

Pahlawan

Kau genggam bambu runcing di tangan kirimu Keringatmu mencucur deras di tubuhmu Di tengah teriknya sang mentari kau berperang Luka di tubuh kau anggap hanya biasa Di balik peperangan semangatmu selalu ada Diiringi doa yang selalu menyertai perjuanganmu Gemuruh bom penjajah memekakkan telinga Walau merintih kesakitan tetaplah kau berperang Meski dinding penjajah terus menghalangimu Tak kau rasa perasaan takut dan gentar Walaupun pertarungan ini amatlah berbahaya Tetap saja kau berperang karena itulah tekadmu Demi Indonesia, kau taruhkan nyawamu Demi merdeka, kau berperang melawan penjajah Terima kasih atas segala jasamu, Pahlawanku

Resah Pada Merdeka By: M Muhar Omtatok Minggu malam lalu Ayah berkisah tentang merdeka Hingga hidung pun berjelaga dari lampu tempel Pada dinding bambu rumah kami "Banggalah pada kemerdekaan negeri ini! Sebab kami sulit meraihnya" Begitu katanya, setengah berteriak Kemarin dulu Ayah berkisah tentang merdeka Hingga pantat kisutnya memerah gatal Karena duduk di tikar usang Kursi juga belum terbeli "Pertahankan kemerdekaan yang sulit kami raih ini!" Begitu katanya, hingga suaranya parau Malam kemarin Ayah kembali berkisah tentang merdeka Hingga matanya redup berair Karena kacamatanya pecah belum berganti "Tanamkanlah semangat merdeka! Kami sulit meraihnya" Begitu katanya berapi-api Tadi malam Ayah lagi-lagi berkisah tentang merdeka Hingga perutnya perih karena hari ini belum makan Beras dan lauk belum terbeli "Banggalah jadi anak pejuang! Kami berat berjuang" Hingga urat lehernya semakin tampak Tadi pagi Ayah tidak lagi ingat kisah merdeka Bibirnya lerut mengelatuk tak berdaya Sakitnya kini semakin parah Obat belum ditebus

Sumpah Pemuda By: Anonim Wahai para pemuda pendahulu Yang telah hidup puluhan tahun berlalu Yang telah membuat semua bersatu Mengabadikan lentera nusantaramu Di kala sekarang telah tiada Gema janji sumpahmu tetap masih meraung Meraung keras di seluruh penjuru sudut bangsa ini 28 Oktober, karenamu pemuda Indonesia melebur Menjadi sebuah pedang yang diasah tajam Dan siap digunakan untuk mengisi kemerdekaan ini Terima kasih sumpahmu 28 Oktober kan kugemakan selalu sampai nanti Mentari tenggelam di seberang timur