Anda di halaman 1dari 15

Pelanggaran K3 Sanksinya Pidana

Written By safety K3 on Sabtu, 29 Desember 2012 | 11.06

BERITA SAFETY K3 Terkait ambruknya cor lantai satu proyek bangunan Masjid Agung Pemkab Bangka Barat di Muntok pada Minggu (16/12/2012) dinihari, sejumlah pihak termasuk LSM Gempar menyangsikan perusahaan kontraktor proyek tersebut menerapkan pola Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi pekerja. Mantan Kabid Tenaga Kerja dan Hubungan Industrial Pemkab Bangka Barat, Sopian Usman, dikonfirmasi bangkapos.com, Jumat (21/12/2012), mengatakan, Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3), implementasinya berbeda untuk tingkatan perusahaan. "Perusahaan besar dengan jumlah karyawan 100 orang atau lebih atau sifat kerja organisasi mengandung bahaya atau risiko yang tinggi, maka wajib mengimplementasi SMK3. Jika perusahaan kecil dan sifat kerjanya tidak mengandung bahaya atau risiko tinggi, cukup menempatkan seorang safety officer atau ahli K3 umum," ujarnya. "Karena, semua tempat kerja memiliki resiko atau bahaya. Itulah definisi tempat kerja menurut UU No1 tahun 1970. Jadi, harus tetap waspada dengan bahaya laten di tempat kerja. Pelanggaran K3 sangsinya pidana," tambahnya lagi. Implementasi K3 pada suatu perusahaan bisa dilihat langsung pada disiplin kerja yang diberlakukan di tempat kerja. "Misalnya, kalau pekerjaan bangunan, perusahaan wajib menyediakan peralatan seperti topi plastik, sepatu, kaos tangan. Undang-undang yang melindungi pekerja jelas, ada UU Ketenagakerjaan tahun 2003, ada lagi UU Tentang K3. Sehingga sewaktu-waktu terjadi kecelakaan pekerja, perusahaan bertanggung jawab. Minimal para pekerja sudah diasuransikan," jelas Sopian. Sumber : bangkapos

Karyawan PT Toyota Motor Tewas dalam Kecelakaan Kerja

Jakarta, Kompas - H Thamrin (51), karyawan bagian produksi di PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Rabu (27/8), tewas diduga akibat kepalanya terbentur transferter.Warga Kampung Setu

RT 03 RW 01 Kelurahan Bintang, Kecamatan BekasiUtara, yang telah bekerja lebih dari 25 tahun tersebut tewas saat mengontrol kebocoransarana produksi.Direktur Produksi PT Toyota Widodo menyatakan, Thamrin yangmenjabat sebagai line head maintenance sekitar pukul 08.45 mengecek kebocoran yangterjadi di salah satu alat produksi milik perusahaan mobil di Jalan Gaya Motor Raya,Tanjung Priok, Jakarta Utara, itu.Seperti biasa, bila terjadi kebocoran, korban langsungmenangani. Selama ini, tidak ada masalah. Selain sudah bekerja lama, almarhummengetahu i seluk-beluk mesin produksi."Tidak ada seorang pun tahu bagaimana Thamrinmeninggal. Ia kebetulan sedang sendirian dalam ruangan," kata Widodo.Ia menyatakan,saat ditemukan temantemannya, Thamrin dalam posisi rebah, tidak ada luka dikepalanya, dan telinganya mengeluarkan darah. Diduga, ia meninggal akibat kepalanyaterbentur benda keras yang tengah diangkut transferter. Ditanya apakah hal ini akibatfaktor kelalaian, Widodo menyatakan sampai saat ini kasusnya masih diselidiki. Ia sudahmenyerahkan masalah itukepada polisi.Pihak PT Toyota Motor juga memberikanbeasiswa kepada anak korban.Kepala Unit Reserse dan Kriminal Polsek Tanjung Priok Inspektur Satu Supardji menyebutkan belum mendapatkan laporan kecelakaan itu. Setiap Hari Terjadi 451 Kasus Kecelakaan Kerja

Pontianak, Kompas - Kasus kecelakaan kerja di Indonesia dari Januari sampaiSeptember 2003 tercatat 81.169 kasus atau setiap hari rata-rata terjadi lebih dari 451kasus. Tingginya angka kecelakaan kerja ini sangat memprihatinkan. Upaya perlindunganterhadap keselamatan kerja perlu terus ditingkatkan.Direktur Utama PT Jaminan SosialTenaga Kerja (Jamsostek) A Djunaidi Ak mengatakan hal itu pada acara penyerahanbantuan hibah dana Rp 500 juta untuk pembangunan Pusat Penanggulangan KecelakaanKerja (Trauma Centre/TC) dan bantuan satu unit mobil ambulans di Rumah Sakit UmumDaerah (RSUD) Soedarso Pontianak di Pontianak, Jumat (19/12). Penyerahaan bantuantersebut dilakukan Dirut PT Jamsostek A Djunaidi kepada Gubernur Kalimantan BaratUsman Jafar.A Djunaidi mengatakan, untuk menyelamatkan pekerja yang menjadikorban kecelakaan kerja, membutuhkan perbaikan mutu pelayanan sejak pra-rumah sakithingga pelayanan definitif.Kecepatan pelayanan tersebut sangat diperlukan terutama padasatu jam pertama atau yang dikenal dengan The Golden Hour. Penanggulangan satu jampertama yang optimal akan dapat menyelamatkan 85 persen dari kematian maupunkecacatan.Dj unaidi memaparkan, dari 81.169 kasus kecelakaan kerja tersebut, sekitar 9,97 persen di antaranya telah menyebabkan 8.090 tenaga kerja mengalami cacat. Iniartinya, setiap hari kerja lebih dari 44 tenaga kerja mengalami cacat akibat kecelakaankerja.Dari puluhan ribu kasus tersebut, yang mengalami cacat total tetap ada 71 kasus. Iniartinya, dalam setiap hari kerja, satu tenaga kerja mengalami cacat total. Kenyataan in

Kecelakaan Kerja terbanyak di Sektor Konstruksi


Jakarta - Angka kecelakaan kerja di Indonesia termasuk yang paling tinggi di kawasan ASEAN. Hampir 32% kasus kecelakaan kerja yang ada di Indonesia terjadi di sektor konstruksi yang meliputi semua jenis pekerjaan proyek gedung, jalan, jembatan, terowongan, irigasi bendungan dan sejenisnya. "Sektor konstruksi merupakan penyumbang kecelakaan tertinggi. Oleh karena itu, semua proyek pembangunan konstruksi akan ditingkatkan pengawasannya, agar angka kecelakaan kerja di bidang konstruksi dapat diminimalkan," kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (menakertrans) Muhaimin Iskandar saat melakukan kunjungan kerja ke proyek pembangunan konstruksi yang

berlokasi di apartemen Gandaria City dan Kalibata City, Jakarta, Rabu (13/1). Dia menambahkan, tujuan diadakan kunjungan ini untuk menyosialisasikan pembinaan dan pengawasan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di sektor konstruksi dalam mendukung pelaksanaan kampanye BUlan K3 Nasional yang berlangsung mulai 12 Januari sampai 12 Februari. "Dari hasil kunjungan ke proyek konstruksi, ditemukan fakta bahwa dasar-dasar K3 sudah dilaksanakan. Namun, pelaksanaannya belum sempurna, terutama pada infrastruktur pengamanan pembangunan gedung tinggi yang perlu ditingkatkan," kata Menakertrans . (moh. ridwan) Jakarta, SINAR HARAPAN, Thursday January 14, 2010 - Sinar Harapan, Kamis 14 Januari 2010

10 Pekerjaan Paling Berbahaya Di Dunia


Di zaman sekarang ini, hampir semua orang dituntut untuk memiliki pekerjaan agar dapat melangsungkan hidup. Dalam hal ini, uang berperan penting karena hampir semua hal harus dibeli dengan uang. Tanpa pekerjaan, kita tidak akan mendapatkan penghasilan untuk membeli kebutuhan pokok sehari hari, seperti makan, pakaian, tempat tinggal. Namun di setiap pekerjaan, pasti ada resiko nya. Resiko ini bisa beragam jenisnya, seperti sakit, kecelakaan saat bekerja, dll. Tingkatannya pun berbeda beda, mulai dari yang ringan seperti sakit kepala sampai resiko jatuh dari ketinggian yang dapat menyebabkan cacat seumur hidup bahkan kematian. Mari kita simak daftar 10 pekerjaan yang paling berbahaya di dunia.

10. PEKERJA KONSTRUKSI

Di Amerika, penghasilan rata rata pekerja bangunan per tahunnya adalah $66,422. Sedangkan tingkat kematian akibat kecelakaan kerja adalah 18.3 per 100.000 pekerja.

Profesi ini daapt dibilang berbahaya karena para pekerja konstruksi umumnya bekerja pada lahan yang bermacam macam. Mereka sering berhadapan dengan ketinggian, mesin mesin berat, dan bahkan bahan peledak. Bisa saja mereka tergelincir saat bekerja di ketinggian. Atau

bila mereka mendapat proyek pembangunan di pegunungan, mereka harus menggunakan bahan peledak. Tak lupa mesin mesin berat yang harus mereka hadapi setiap harinya. Bila tidak berhati hati, mereka bisa saja tertimpa material material tersebut.

9. SUPIR TRUK

Penghasilan rata rata supir truk per tahunnya adalah $43,048. Sedangkan tingkat kematian akibat kecelakaan kerja para supir truk sama dengan para pekerja bangunan.

Menyetir tidak hanya merupakan sebuah profesi, namun juga pekerjaan yang sulit untuk dilakukan. Mengapa supir truk menjadi salah satu profesi yang memiliki resiko tinggi? Alasannya adalah karena mereka harus menyetir untuk perjalanan jauh, dan bahkan pada malam hari juga. Kebanyakan supir truk akan merasa bosan dan lama lama mengantuk. Terutama di malam hari, di mana lalu lintas tidak terlalu ramai sehingga suasananya menjadi monoton. Hal ini membuat mereka sulit untuk tetap fokus. Seringkali supir truk mengantuk ketika menyetir. Bila mereka tertidur saat menyetir, dapat terjadi kecelakaan yang akan menyebabkan kematian.

8. PEKERJA YANG MENGOPERASIKAN MESIN PABRIK

Penghasilan rata rata pekerja yang mengoperasikan mesin pabrik per tahunnya adalah $46,645 dan tingkat kematiannya sedikit lebih tinggi dari 2 pekerjaan di atas, yaitu 18.5 kematian dari 100.000 pekerja.

Mesin mesin pabrik adalah benda yang berbahaya bagi manusia bila penggunaannya tidak hati hati. Mesin mesin tersebut dirancang untuk mengerjakan pekerjaan yang berat. Seperti menghancurkan, melelehkan, memanaskan, mendinginkan, dan meleburkan suatu benda. Bila pekerja tidak fokus dan berhati hati ketika mengoperasikan mesin mesin tersebut, bisa bisa mereka yang menjadi objek mesin tersebut. Bahkan mesin mesin tersebut dapat menyetrum para pekerja atau meledak bila tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Dan bila sudah meledak, tak hanya pekerja yang mengoperasikan mesin itu saja yang terkena. Tetapi seluruh bangunan dapat terkena imbas ledakannya.

7. TUKANG SAMPAH

Penghasilan rata rata tukang sampah per tahunnya adalah $35,945 dan persentase tingkat sekitar 25.2 pada setiap 100.000 pekerja.

Pekerjaan ini disebut berbahaya karena tukang sampah sering harus berada di atas truk sampah ketika mereka mengangkut sampah dari rumah ke rumah. Mesin truk sampah ini biasanya akan menghancurkan sampah sampah yang dikumpulkan. Bila tak berhati hati, para tukang sampah ini dapat tergelincir ketika memasukkan sampah ke dalamnya. Mesin itu akan menyebabkan cedera yang parah.

6. PEKERJA PENGECORAN BAJA

Penghasilan rata rata pekerja di pabrik baja per tahunnya adalah $47,013 dan tingkat kematiannya sangat tinggi, yaitu sekitar 30.3 pada setiap 100.000 pekerja.

Profesi ini sangat berbahaya oleh karena resiko yang harus dihadapi oleh para pekerja. Para

pekerja harus menghindari puing puing yang mungkin terjatuh dari atas. Mereka juga harus berjalan di atas papan papan yang sempit di tempat tinggi. Dan yang lebih parah lagi adalah ketika mereka harus membawa muatan muatan berat pada bahu atau di atas punggung mereka.

5. ROOFER

Penghasilan rata rata pekerja atap per tahunnya adalah $36,895 dan tingkat kematiannya melonjak di angka 34.7 pada setiap 100.000 pekerja.

Sudah bisa ditebak dimana para pekerja atap harus bekerja. Yup, sesuai namanya, mereka harus bekerja di atap. Dan Anda tahu sendiri berbagai resiko yang harus dihadapi. Mulai dari permukaan atap yang licin dan miring, pijakan yang tidak rata, tidak adanya sabuk pengaman, dll. Terlebih lagi biasanya pekerjaan mereka membutuhkan kedua tangan mereka ketika bekerja. Sehingga mereka tidak dapat menggunakan satu tangan mereka untuk berpegangan. Perhitungkan juga bahwa mereka harus bekerja di bawah teriknya matahari, cuaca yang buruk dan berangin. Bila kehilangan keseimbangan, mereka dapat terjatuh dan menyebabkan cedera atau kematian.

4. PETANI

Penghasilan rata rata petani per tahunnya adalah $30,450 dan tingkat kematiannya adalah 38.5 pada setiap 100.000 pekerja.

Para petani biasanya bekerja dengan traktor. Mesin traktor bisa menghancurkan tubuh mereka bila mereka tidak berhati hati ketika mengoperasikannya. Terlebih lagi, para petani harus bekerja dengan berbagai bahan kimia dan pestisida yang berakibat buruk bagi kesehatan mereka.

3. PILOT PESAWAT TERBANG

Penghasilan rata rata seorang pilot per tahunnya adalah $117,948. Penghasilan yang tinggi memang, namun tingkat kematiannya pun tinggi, yaitu 57.1 pada setiap 100.000 pilot.

Seorang pilot pesawat terbang memiliki resiko kecelakaan yang tinggi. Mulai dari cuaca di udara

yang tidak menentu, badai, langit yang berawan, bahkan bisa tersambar oleh petir. Belum lagi jika mereka harus menempuh perjalanan jauh selama puluhan jam. Para pilot pun harus waspada terhadap aksi terorisme di udara. Faktor kerusakan mesin di udara pun perlu diperhitungkan. Entah itu roda yang macet ketika hendak mendarat maupun mesin yang tidak berfungsi dapat mengakibatkan pesawat jatuh.

2. PENEBANG KAYU

Penghasilan rata rata penebang kayu per tahunnya adalah $40,278 dengan tingkat kematian yang tinggi, yaitu 61.8 pada setiap 100.000 pekerja.

Sanksi untuk Freeport


Besar Kecil Normal

Apa pun penyebabnya, kecelakaan kerja yang terjadi di fasilitas bawah tanah PT Freeport Indonesia sungguh sangat disayangkan. Sampai hari kelima, masih ada 23 karyawan yang terjebak dalam reruntuhan fasilitas Big Gossan, yang berada pada kedalaman 800 meter tersebut. Celakanya, upaya penyelamatan ini tidak bisa berlangsung cepat karena harus dilakukan dengan secara manual. Penggunaan alat berat justru bisa memperparah keadaan fasilitas tersebut. Komunikasi dengan para korban pun terputus. Situasi seperti itulah yang layak dipertanyakan. Bagaimana mungkin perusahaan tambang internasional sekelas Freeport tidak memiliki jalur evakuasi jika terjadi kecelakaan di fasilitas yang jauh berada di perut bumi. Tak terbayangkan pula sampai kapan operasi penyelamatan itu bakal selesai jika hal itu dilakukan tanpa peralatan berat. Padahal kecepatan merupakan kunci keberhasilan penyelamatan seperti itu. Kita sulit membayangkan bagaimana ke-23 orang yang sedang menjalani pelatihan tentang standard operational procedure di terowongan bawah tanah itu bisa bertahan.

Kecelakaan di pertambangan seperti ini bukanlah yang pertama di dunia. Kita masih ingat runtuhnya tambang emas di Cile pada 2010. Sebanyak 33 pekerja akhirnya bisa keluar dalam keadaan selamat setelah terkubur di bawah tanah selama 17 hari. Hal itu karena di dalam tambang tersedia air, makanan, dan oksigen yang cukup untuk keadaan darurat. Waktu itu Presiden Cile Sebastian Pinera harus mempersingkat lawatannya ke Kolombia dan tinggal di kemah dekat area tambang untuk memimpin operasi penyelamatan. Kondisi sebaliknya terjadi di Cina. Kecelakaan tambang di Negeri Tirai Bambu itu telah memakan korban ribuan jiwa akibat minimnya pengamanan. Masyarakat tentu tidak menuntut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk bermalam di terowongan Gossan guna menunjukkan perhatian pemerintah terhadap nasib para pekerja tambang yang mengalami kecelakaan ini. Tapi kita juga tentu tidak ingin para pekerja tambang mengalami hal yang sama dengan di Cina, di mana kecelakaan tambang seperti dianggap hal biasa. Kecelakaan Freeport tentu tak bisa dibiarkan begitu saja. Pemerintah harus membentuk tim investigasi untuk melakukan pemeriksaan dengan melibatkan polisi dan pakar independen. Investigasi tersebut harus bisa membuktikan apakah cuaca buruk menjadi penyebab tunggal ataukah ada faktor kesalahan manusia dalam kecelakaan tersebut, termasuk konstruksi bangunan, persediaan peralatan dan bahan makanan dalam keadaan darurat, keberadaan jalur evakuasi, serta operasi penyelamatan jika terjadi kecelakaan. Penyelidikan juga harus ditujukan kepada Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi sebagai pengawas keselamatan kerja. Sayangnya, pemerintah terkesan tak terlalu serius menangani persoalan keselamatan kerja ini. Meskipun aturan soal ini tergolong banyak, rata-rata sanksi terhadap para pelanggarnya sangat ringan. Sebagai contoh, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja menetapkan, para pelanggar hanya dikenai hukuman kurungan selama-lamanya 3 bulan dan denda paling banyak Rp 100 ribu. UU No. 23/1992 tentang Kesehatan lebih lumayan: hukuman kurungan paling lama 1 tahun dan denda setinggi-tingginya Rp 15 juta, sedangkan UU No. 3/1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja mencantumkan hukuman kurungan selamalamanya 6 bulan dan denda setinggi-tingginya Rp 50 juta. Pemberian santunan kepada korban luka maupun meninggal, dan perawatan bagi korban luka, jelas tak akan membebani Freeport. Tapi itu saja tidaklah cukup. Sanksi berat harus diberikan kepada Freeport agar kejadian serupa tak terulang, baik oleh perusahaan Amerika itu sendiri maupun perusahaan lain.

Kecelakaan Konstruksi Bangunan, Tubuh Korban Gepeng Tertimpa Balok Beton


12 September 2012absoluterevoTinggalkan KomentarGo to comments

Pekerjaan di konstruksi bangunan tak jarang menimbulkan berbagai macam kecelakaan tragis. Kebanyakan di sebabkan oleh Developer yang tidak memperhatikan standar keamanan kerja. Faktor Uman Error juga menjadi salah satu penyebab terjadinya kecelakaan yang berujung kepada maut. Melihat foto-foto ini, saya jadi ingat kejadian beberapa tahun yang lalu dimana beberapa kuli bangunan tewas tertimbun material yang roboh sebagai akibat kesalahan perhitungan saat melakukan pengecoran lantai dua pada sebuah proyek di Bekasi. Saya tidak tahu insiden ini terjadi dimana, namun beberapa foto yang saya peroleh membawa saya kepada sebuah cerita tentang seorang pekerja bangunan yang tertimpa balok beton dengan berat beberapa ton. Tubuh korban tertindih balok tersebut hingga hancur dan menjadi gepeng. Sebuah pelajaran yang dapat kita petik dari insiden ini adalah bahwa pekerjaan di bidang konstruksi sebetulnya tidak akan menimbulkan kecelakaan fatal manakala prosedur standar keamanan kerja betul-betul di perhatikan, betapapun semuanya terkesan aman namun berbagai macam kemungkinan diluar dugaan bisa saja terjadi.