Anda di halaman 1dari 101

POLA ASUH ORANGTUA DALAM MENDIDIK AGAMA ANAK

PADA KELUARGA TUKANG OJEK


(Studi Kasus pada Keluarga Tukang Ojek yang Mangkal
di Kelurahan Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang)


SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Syarat
guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam
Ilmu Pendidikan Agama Islam



















Oleh:

FAISAL NUR HIDAYAT
NIM. 073111045






FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011
ii

PERNYATAAN KEASLIAN




Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Faisal Nur Hidayat
NIM : 073111045
Jurusan / Program Studi : Pendidikan Agama Islam

menyatakan bahwa skripsi ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian / karya
saya sendiri, kecuali bagian tertentu yang dirujuk sumbernya.



Semarang, 19 Desember 2011

Saya yang menyatakan,






Faisal Nur Hidayat
NIM. 073111045



















iii


iv

NOTA PEMBIMBING Semarang, November 2011


Kepada
Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah
IAIN Walisongo
di Semarang


Assalamualaikum wr. wb

Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan, arahan dan
koreksi naskah skripsi dengan:

Judul : POLA ASUH ORANGTUA DALAM MENDIDIK AGAMA
ANAK PADA KELUARGA TUKANG OJEK (Studi Kasus
pada Keluarga Tukang Ojek yang Mangkal di Kelurahan
Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang)
Nama : FAISAL NUR HIDAYAT
NIM : 073111045
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Program Studi : Pendidikan Agama Islam

Saya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada
Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo untuk diujikan dalam sidang munaqasah.

Wassalamualaikum wr.wb.


Pembimbing I




Drs. Widodo Supriyono, M.A.
NIP. 19591025 198703 1003










v

NOTA PEMBIMBING Semarang, November 2011


Kepada
Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah
IAIN Walisongo
di Semarang


Assalamualaikum wr. wb

Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan, arahan dan
koreksi naskah skripsi dengan:

Judul : POLA ASUH ORANGTUA DALAM MENDIDIK AGAMA
ANAK PADA KELUARGA TUKANG OJEK (Studi Kasus
pada Keluarga Tukang Ojek yang Mangkal di Kelurahan
Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang)
Nama : FAISAL NUR HIDAYAT
NIM : 073111045
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Program Studi : Pendidikan Agama Islam

Saya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada
Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo untuk diujikan dalam sidang munaqasah.

Wassalamualaikum wr.wb.


Pembimbing II




Ismail SM, M.Ag.
NIP. 19711021 199703 1002










vi

ABSTRAK

Judul : POLA ASUH ORANGTUA DALAM MENDIDIK AGAMA ANAK
PADA KELUARGA TUKANG OJEK (Studi Kasus pada Keluarga
Tukang Ojek yang Mangkal di Kelurahan Mangkang Kulon
Kecamatan Tugu Kota Semarang)
Penulis : Faisal Nur Hidayat
NIM : 073111045

Rumusan masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana
pola asuh orang tua dalam mendidik agama anak pada keluarga tukang ojek yang
mangkal di Kelurahan Mangkang Kulon Kec. Tugu Kota Semarang?
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola asuh orang tua dalam
mendidik agama anak pada keluarga tukang ojek yang mangkal di Kelurahan
Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research). Jenis
penelitiannya adalah kualitatif, teknik pengumpulan datanya dengan
menggunakan observasi, wawancara dan telaah dokumen. Setelah data-data
penelitian terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis induktif.
Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa tukang ojek yang mangkal
di Kelurahan Mangkang Kulon yang cenderung memiliki pola asuh otoriter adalah
20%, dengan ciri-ciri: orangtua memiliki peraturan dan pengaturan yang keras
(kaku), pemegang semua kekuasaan adalah orangtua, anak tidak mempunyai hak
untuk berpendapat, hukuman dijadikan alat jika anak tidak menurut, seringkali
memaksa anak untuk berperilaku seperti dirinya (orangtua). Tukang ojek yang
mangkal di Mangkang Kulon memiliki pola asuh demokratis adalah 40% , dengan
ciri-ciri: peraturan dari orangtua lebih luwes, mereka (orangtua) menggunakan
penjelasan dan diskusi dalam berkomunikasi dengan anak, adanya sikap terbuka
antara orangtua dan anak, adanya pengakuan orangtua terhadap kemampuan anak-
anaknya, memberi kesempatan untuk tidak tergantung dengan orangtua. Dan
tukang ojek yang mangkal di Mangkang Kulon yang memiliki pola asuh otoriter
adalah 40%, dengan ciri-ciri: mereka (orangtua) tidak memberikan aturan atau
pengarahan kepada anak, kontrol orangtua cenderung sangat lemah, mendidik
anak secara bebas, mereka (orangtua) Tidak memberikan bimbingan yang cukup,
mereka menganggap semua yang dilakukan anak sudah benar tidak perlu
diberikan teguran.
Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi bahan informasi bagi
mahasiswa, para pendidik, dan orangtua dalam rangka memaksimalkan
pendidikan keluarga yang ideal.



vii

TRANSLITERASI ARAB LATIN

Penulisan transliterasi huruf-huruf Arab Latin dalam skripsi ini berpedoman pada
SKB Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I Nomor:
158/1987 dan Nomor: 0543b/Untuk1987. Penyimpangan penulisan kata sandang
(al-) disengaja secara konsisten agar sesuai teks Arabnya.

a t}
b z}
t
s| gh
j f
h} q
kh k
d l
z| m
r n
z w
s h
sy
s} y
d}


Bacaan madd: Bacaan diftong:
a> = a panjang = au
i> = I panjang = a
u> = u panjang


viii

KATA PENGANTAR


Puji dan syukur dengan hati yang tulus dan pikiran yang jernih,
tercurahkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat, hidayah, dan taufik serta
inayah-Nya Dan tidak lupa pula penulis panjatkan shalawat serta salam kepada
sang revolusioner Muhammad Rasulullah SAW, yang dengan keteladanan,
keberanian dan kesabarannya membawa risalah Islamiyah yang sampai sekarang
telah mengangkat derajat manusia dan bisa kita rasakan buahnya.
Dengan kerendahan hati dan penuh kesadaran, peneliti sampaikan bahwa
skripsi ini tidak akan berjalan lancar tanpa adanya dukungan dan bantuan dari
semua pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu
penulis mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang
telah membantu terselesaikannya skripsi ini. Adapun ucapan terima kasih secara
khusus penulis sampaikan kepada:
1. Dr. Sujai, M.Ag., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam
Negeri Walisongo Semarang, yang telah memberikan ijin penelitian dalam
rangka penyusunan skripsi ini.
2. Dr. Widodo Supriyono, M.A selaku dosen pembimbing I dan Ismail SM,
M.Ag selaku Dosen Pembimbing II yang telah bersedia meluangkan waktu,
tenaga, dan pikiran untuk memberikan bimbingan dan pengarahan dalam
penulisan skripsi ini.
3. Nasirudin, M.Ag sebagai wali studi penulis yang turut memberi masukan dan
arahan selama belajar di kampus hijau.
4. Dosen, pegawai, dan seluruh civitas akademika di lingkungan Fakultas
Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang.
5. Ayahanda Nur Husen dan Ibunda Rumini selaku orang tua penulis yang telah
berjuang dengan jiwa dan raganya demi menghidupi putra-putrinya.
6. Semua guru-guru penulis yang telah memberikan pendidikan yang baik
sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.
ix

7. Semua keluarga penulis dan teman-teman penulis yang telah memberikan
motivasi dan keceriaan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi
ini.
Kepada semuanya, peneliti mengucapkan terima kasih semoga budi
baiknya diterima oleh Allah SWT dan mendapat balasan berlipat ganda dari Allah
SWT. Peneliti juga menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna, oleh karena
itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat konstruktif dan
evaluatif dari semua pihak demi kesempurnaan. Akhirnya semoga skripsi ini
bermanfaat dan barakah bagi semua pihak, khususnya peneliti sendiri. Amin.


Semarang, 19 Desember 2011
Penulis


Faisal Nur Hidayat
NIM. 073111045




















x

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................. i
PERNYATAAN KEASLIAN ................................................................. ii
PENGESAHAN ...................................................................................... iii
NOTA PEMBIMBING ........................................................................... iv
ABSTRAK ............................................................................................. vi
TRANSLITERASI .................................................................................. vii
KATA PENGANTAR ............................................................................ viii
DAFTAR ISI .......................................................................................... x

BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ....................................................... 1
B. Fokus dan Rumusan Masalah ................................................ 3
C. Pembatasan Istilah ................................................................ 4
D. Tujuan Penelitian .................................................................. 3
E. Kajian Pustaka ...................................................................... 8
F. Metode Penelitian ................................................................. 9
G. Analisis Data ........................................................................ 14

BAB II : POLA ASUH ORANG TUA DALAM MENDIDIK AGAMA
ANAK PADA KELUARGA TUKANG OJEK
A. Pendidikan Agama Dalam Keluarga ..................................... 17
1. Pengertian Pendidikan Keluarga ..................................... 17
2. Dasar-dasar Pendidikan Agama Anak dalam Keluarga .... 20
3. Tujuan Pendidikan Agama dalam Keluarga ..................... 21
4. Aspek-aspek Pendidikan Agama dalam Keluarga ............ 22
B. Keluarga Tukang Ojek .......................................................... 26
1. Keluarga Tukang Ojek .................................................... 26
2. Fungsi Keluarga bagi Anak Keluarga Tukang Ojek ......... 28
C. Pola Asuh Orangtua dalam Mendidik Anak .......................... 30
1. Pengertian Pola Asuh ...................................................... 30
xi

2. Tipe-tipe Pola Asuh ........................................................ 31
a. Pola Asuh Otoriter .................................................... 31
b. Pola Asuh Demokratis ............................................... 35
c. Pola Asuh Permisif.................................................... 38

BAB III : ANALISIS DATA TENTANG POLA ASUH ORANGTUA
DALAM MENDIDIK AGAMA ANAK PADA KELUARGA
TUKANG OJEK KELURAHAN MANGKANG KULON
KECAMATAN TUGU KOTA SEMARANG
A. Kondisi Umum Kelurahan Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota
Semarang .............................................................................. 41
1. Data Statis ...................................................................... 41
2. Data Dinamis .................................................................. 42
3. Struktur Organisasi Kelurahan Mangkang Kulon Kecamatan
Tugu Kota Semarang ...................................................... 44
B. Deskripsi Data tentang Pola Asuh Orangtua dalam mendidik Anak
pada Keluarga Tukang Ojek yang Mangkal di Mangkang Kulon
Kecamatan Tugu Kota Semarang .......................................... 45
1. Pola Asuh Otoriter .......................................................... 45
2. Pola Asuh Demokratis .................................................... 47
3. Pola Asuh Permisif ......................................................... 50

BAB IV : ANALISIS IMPLEMENTASI MODEL SEKOLAH ALAM DI
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI AR-RIDHO SEMARANG
DALAM TINJAUAN PENDIDIKAN ISLAM
A. Analisis Data tentang Pola Asuh Otoriter dalam Mendidik Agama
Anak pada Keluarga Tukang Ojek Kelurahan Mangkang Kulon
Kecamatan Tugu Kota Semarang .......................................... 56
B. Analisis Data tentang Pola Asuh Demokrasi dalam Mendidik Agama
Anak pada Keluarga Tukang Ojek Kelurahan Mangkang Kulon
Kecamatan Tugu Kota Semarang .......................................... 57
xii

C. Analisis Data tentang Pola Asuh Permisif dalam Mendidik Agama
Anak pada Keluarga Tukang Ojek Kelurahan Mangkang Kulon
Kecamatan Tugu Kota Semarang .......................................... 60

BAB V : PENUTUP
A. Kesimpulan .......................................................................... 62
B. Saran-Saran ......................................................................... 62
C. Penutup ................................................................................ 62

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN


1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Keluarga merupakan kelompok sosial pertama di mana individu berada dan
akan mempelajari banyak hal penting dan mendasar melalui pola asuh dan binaan
orangtua atau anggota keluarga lainnya. Keluarga mempunyai peran penting bagi
pertumbuhan jiwa anak agar seorang anak tersebut dapat sukses di dunia dan di
akhirat. Namun disisi lain, keluarga juga bisa menjadi killing field (ladang
pembunuh) bagi perkembangan jiwa anak jika orangtua salah mengasuhnya.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa keluarga memegang tanggungjawab dan
peran penting dalam perjalanan hidup seseorang di masa yang akan datang. Keluarga
juga menjadi pusat pendidikan pertama dan utama yang mempunyai tugas
fundamental dalam mempersiapkan anak bagi kehidupannya di masa depan. Hal itu
dikarenakan dasar-dasar perilaku, sikap hidup, dan berbagai kebiasaan ditanamkan
kepada anak dimulai sejak lingkungan keluarga.
1

Oleh karena itu di sinilah terletak suatu tanggung jawab moril yang berat tapi
mulia bagi orang tua dan lingkungan keluarga sebagai pendidik yang pertama dan
utama. Hal itu juga dikarenakan anak merupakan anugerah yang sangat besar yang
diberikan Allah SWT kepada orang tua. Oleh karena itu orang tua harus memelihara
anak dengan baik. seperti diibaratkan tumbuhan, apabila diberi perawatan dengan
baik dengan cara rajin memupuknya, menyirami dan memelihara dengan sebaik-
baiknya maka tumbuhan itu akan menjadi tumbuhan yang bagus, tetapi apabila
tumbuhan itu dibiarkan saja dan tidak dipelihara dengan baik maka tumbuhan
tersebut tidak akan tumbuh menjadi tumbuhan yang baik bahkan tumbuhan itu akan
layu dan mati.
Begitu juga dengan anak, jika anak dididik dengan baik maka kelak dia akan
menjadi seseorang yang baik tetapi sebaliknya jika seorang anak dibiasakan dengan
hal yang buruk dan kurangnya perhatian orang tua maka bersiaplah untuk menunggu

1
Mahfud Junaedi, Kyai Bisri Mustofa, (Pendidikan Keluarga Berbasis Pesantren), (Semarang:
Walisongo Pres, 2009 ), cet.1, hlm 8.
2

anak tersebut menjadi orang yang buruk tingkah lakunya. Karena sesungguhnya
seorang anak secara fitrah diciptakan dalam keadaan siap untuk menerima kebaikan
dan keburukan. Tiada lain hanya kedua orang tuanyalah yang membuatnya
cenderung pada satu diantara keduanya.
2
Sehubungan dengan hal ini Rasulullah
pernah bersabda:
Setiap anak dilahirkan menurut fitrahnya, maka hanya kedua orang
tuanyalah yang akan menjadikannya seorang Yahudi, seorang Nasrani atau
seorang Majusi. (HR. Al-Aswad bin Sari)
3


Oleh karena itu orang tua harus mengarahkan anaknya ke jalan yang benar
agar menjadi anak yang baik dan berguna bagi agama, masyarakat, Bangsa dan
Negara. Selain itu para ulama mengatakan bahwa seorang anak merupakan amanat
bagi kedua orang tuanya. Kalbunya yang masih suci bagai permata yang begitu
polos, bebas dari segala macam pahatan dan gambaran, mereka siap menerima setiap
pahatan apa pun serta cenderung pada kebiasaan yang diberikan kepadanya. Jika ia
dibiasakan untuk melakukan kebaikan maka ia akan tumbuh menjadi orang yang
baik. Tetapi apabila ia dibiasakan melakukan hal-hal yang jelek niscaya dia akan
menjadi seorang yang celaka.
4
Oleh karena itu harus ada pola asuh yang baik yang
diberikan orang tua untuk membimbing anak ke jalan yang benar agar anak sukses di
dunia dan akhirat.
Namun pada masa sekarang ini banyak orangtua yang kurang dapat
memberikan pendidikan agama kepada anaknya hal itu antara lain dikarenakan
karena mereka sibuk dengan pekerjaannya atau pola asuh yang kurang tepat. Oleh
karena itu peneliti tertarik untuk meneliti tentang pola asuh orang tua dalam
mendidik anak pada keluarga yang mempunyai kesibukan yang relatif tinggi seperti

2
Jamal Abdurrrahman, Tahapan Mendidik Anak Teladan Rasulullah, Terj. Bahrun Abubakar
Ihsan Zubaidi, (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2005), cet. 1, hlm 36.
3
Sayyid Ahmad Hasyimi, Mukhtar Al-Hadits An-Nabawiyyah, (Surabaya: Al-Haromain Jaya
Indonesia, 2005), Cet. I, hlm.130
4
Jamal Abdurrrahman, op.cit., hlm 22-23.
3

halnya tukang ojek, karena selama ini sebagian orang menganggap bahwa tukang
ojek merupakan orang yang dicap sebagai orang yang berpendidikan rendah dan
bekerja sibuk sepanjang hari. Dari sini muncul pertanyaan bagaimana sebenarnya
pola asuh orang tua dalam mendidik anaknya pada keluarga tukang ojek yang dicap
sebagai orang yang berpendidikan rendah dan bekerja sibuk sepanjang hari.
Oleh karena itu peneliti tertarik meneliti tentang pola asuh orang tua dalam
mendidik agama anaknya khususnya pada keluarga tukang ojek yang menjadikan
profesi sebagai tukang ojek sebagai pekerjaan tetapnya.
Peneliti memilih lokasi penelitian di Kelurahan Mangkang Kulon karena
masyarakat Kelurahan Mangkang Kulon memiliki kesibukan dalam bekerja relatif
tinggi khususnya tukang ojek yang bekerja mulai dari pagi hari sampai sore hari,
Semua itu dilakukan hanya untuk menghidupi keluarganya. Selain itu Peneliti juga
sudah menetap di Kelurahan Mangkang Kulon selama kurang lebih tiga tahun
sehingga diharapkan dalam penelitian ini dapat lebih intensif.
Dari latar belakang itulah peneliti tertarik untuk meneliti pola asuh orangtua
dalam mendidik agama anak pada keluarga tukang ojek khususnya di Kelurahan
Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang.

B. Fokus dan Rumusan Masalah
1. Fokus
Penelitian ini difokuskan pada pola asuh orangtua dalam mendidik agama
anak pada keluarga tukang ojek yang mangkal di Kelurahan Mangkang Kulon Kec.
Tugu Kota Semarang.
2. Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini, rumusan masalahnya adalah: bagaimanakah pola asuh
orangtua dalam mendidik agama anak pada keluarga tukang ojek yang mangkal di
Kelurahan Mangkang Kulon Kec. Tugu Kota Semarang?

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan sebagai berikut: Mengetahui pola asuh orangtua
dalam mendidik agama anak pada keluarga tukang ojek yang mangkal di Kelurahan
Mangkang Kulon Kec. Tugu Kota Semarang.
4

D. Pembatasan Istilah
1. Pola Asuh Orangtua
Menurut Elizabeth B. Hurlock, pola asuh orangtua adalah cara orangtua
dalam mendidik anak.
5
Sedangkan menurut Chabib Thoha, pola asuh orangtua
berarti cara yang dilakukan orangtua dalam mendidik anaknya sebagai bentuk
tanggung jawabnya kepada anak.
6

Kemudian menurut Kohn, seperti dikutip Chabib Thoha, pola asuh orangtua
adalah bagaimana cara mendidik orangtua terhadap anak, baik secara langsung
maupun tidak langsung.
7

Pola asuh dibagi menjadi tiga yaitu pola asuh otoriter, pola asuh demokratis,i
dan pola asuh permisif.
8
Pola asuh otoriter ditandai dengan cara mengasuh anak
dengan aturan yang ketat, seringkali memaksa anak untuk berprilaku seperti dirinya
(orangtua), kebebasan untuk bertindak atas nama diri sendiri dibatasi. Anak jarang
diajak berkomunikasi dan bertukar fikiran dengan orangtua, orangtua menganggap
bahwa semua sikapnya sudah benar sehingga tidak perlu dipertimbangkan dengan
anak.
9
Sedangkan pola asuh demokrasi ditandai dengan adanya pengakuan orangtua
terhadap kemampuan anak, anak diberi kesempatan untuk tidak selalu tergantung
dengan orangtua dan diberi kesempatan untuk mengatur hidupnya.
10
Dan pola asuh
permisif ditandai dengan cara orangtua mendidik anak secara bebas, anak dianggap
sebagai orang dewasa/muda, ia diberi kebebasan seluas-luasnya untuk melakukan
apa saja yang dikehendaki. Kontrol orangtua terhadap anak sangat lemah.
11

2. Mendidik
Mendidik merupakan seluruh kegiatan, tindakan atau perbuatan dan sikap
yang dilakukan oleh pendidik sewaktu menghadapi/mengasuh anak didik. Atau

5
Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak, Jilid I, terj. Meitasari Tjandiasa, (Jakarta:
Erlangga, 1989), cet. 6, hlm. 258.
6
Chabib Toha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), cet. 1,
hlm. 109.
7
Ibid., hlm 110.
8
Ibid., hlm 110.
9
Ibid., hlm 111.
10
Ibid., hlm 112.
11
Ibid., hlm 112.
5

dengan istilah yang lain yaitu sikap atau tindakan menuntun, membimbing,
memberikan pertolongan dari seseorang pendidik untuk menuju ke tujuan
pendidikan.
12

3. Agama
Agama dalam pengertiannya dapat dikelompokkan pada dua bagian yaitu
agama menurut bahasa dan agama menurut istilah. Beberapa persamaan arti kata
agama dalam berbagai bahasa:
a. Ad din (Bahasa Arab dan Semit)
b. Religion (Inggris)
c. La religion (Perancis)
d. De religie (Belanda)
e. Die religion (Jerman)
Secara bahasa, perkataan agama berasal dari bahasa Sansekerta yang erat
hubungannya dengan agama Hindu dan Budha yang berarti tidak pergi tetap di
tempat, diwarisi turun temurun. Adapun kata din mengandung arti menguasai,
menundukkan, kepatuhan, balasan atau kebiasaan.
Din juga membawa peraturan-peraturan berupa hukum-hukum yang harus
dipatuhi baik dalam bentuk perintah yang wajib dilaksanakan maupun berupa
larangan yang harus ditinggalkan.
Menurut Abu Ahmadi agama menurut bahasa:
a. Agama berasal dari bahasa Sansekerta yang diartikan dengan haluan, peraturan,
jalan atau kebaktian kepada Tuhan.
b. Agama itu terdiri dari dua perkataan yaitu A. berarti tidak, Gama berarti kacau
balau, tidak teratur. Jadi agama berarti tidak kacau balau yang berarti teratur.
Agama menurut istilah adalah undang-undang atau peraturan-peraturan yang
mengikat manusia dalam hubungannya dengan Tuhannya dan hubungan manusia
dengan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam. Maka orang yang

12
Nur Uhbiyati dan Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1997),
cet.1, hlm 18.
6

beragama adalah orang yang teratur, orang yang tenteram dan orang yang damai baik
dengan dirinya maupun dengan orang lain dari segala aspek kehidupannya.
13

4. Anak
Anak adalah manusia yang masih kecil (sebelum sampai umur/ aqil baligh).
Ketika sudah aqil baligh, disebut dewasa.
14

Menurut Imam Al- Ghozali anak merupakan amanah Allah yang harus dijaga
dan dididik untuk mencapai keutamaan dalam hidup dan mendekatkan diri pada
Allah.
15

Kemudian, Aristoteles membagi perkembangan anak menjadi tiga tahap yang
lamanya masing-masing tujuh tahun.
Tahap I : dari 0;0 sampai 7;0 masa anak kecil atau masa bermain
Tahap II : dari 7;1 sampai 14;0 masa anak, masa sekolah rendah
Tahap III : dari 14;1 sampai 21;0 masa remaja atau pubertas; masa peralihan dari
anak menjadi orang dewasa.
16

Namun Zakiah Daradjat membagi perkembangan agama pada anak menjadi
dua masa, yaitu:
a. Kanak-kanak tahun pertama (0,1 6).
b. Anak-anak pada umur sekolah (6,1 12).
17

5. Studi Kasus
Studi kasus adalah mempelajari secara intensif tentang latar belakang
keadaan sekarang dan interaksi lingkungan suatu unit sosial, individu, kelompok,
lembaga atau masyarakat.
18



13
http://dewon.wordpress.com/2007/11/04/kategori-20/, diakses tanggal 3 Oktober 2011 pukul
14.15 WIB.
14
Mursid, Kurikulum dan Pedidikan Anak Usia Dini (PAUD) Sebuah Harapan Masyarakat,
(Semarang: AKFI Media, 2010), cet 2, hlm 2.

15
Nur Uhbiyati dan Abu Ahmadi, op.cit., hlm 101.

16
Abu Ahmadi dan Munawar Sholeh, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Rineka Cipta,
2005), cet 1, hlm 29.
17
Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), cet. 15, hlm. 109-111.

18
Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), cet. 13,
hlm 22.
7

6. Keluarga
Pengertian keluarga dapat ditinjau dari dimensi hubungan darah dan
hubungan sosial. Keluarga dalam dimensi hubungan darah merupakan suatu kesatuan
yang diikat oleh hubungan darah antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam
dimensi hubungan sosial, keluarga merupakan suatu kesatuan yang diikat oleh
adanya saling berhubungan atau interaksi dan saling mempengaruhi antara satu
dengan yang lainnya, walaupun di antara mereka tidak terdapat hubungan darah.
19

Sedangkan yang dimaksud keluarga di sini adalah keluarga yang ditinjau dari
hubungan darah yaitu suatu unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami-istri
atau suami-istri dan anaknya.
7. Tukang Ojek
Tukang ojek merupakan seseorang yang mengais rezeki dengan memberikan
jasa angkut dengan menggunakan sepeda motor.
8. Kelurahan Mangkang Kulon
Kelurahan adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk
sebagai satu kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum
yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah camat dan
berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
20

Sedangkan Mangkang Kulon adalah sebuah kelurahan yang terletak di
sebelah paling ujung barat Kota Semarang yang berbatasan langsung dengan
Kabupaten Kendal.
Jadi yang dimaksud dengan judul dalam penelitian ini adalah cara yang
diterapkan orangtua dalam mendidik (menuntun, membimbing, memberikan
pertolongan kepada anak supaya anak tersebut dapat mencapai tujuan pendidikan
agama khususnya pendidikan agama Islam) pada keluarga tukang ojek di Kelurahan
Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang.

19
Syaiful Bahri Djamarah, Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak dalam Keluarga (Sebuah
Perspektif Pendidikan Islam ), (Jakarta: Asdi Mahasatya, 2004), cet. 1, hlm 16.

20
M. Fadjri, Individu, Keluarga dan Masyarakat, dalam Darmansyah M. (eds), Ilmu Sosial
Dasar, (Surabaya: Usaha Nasional, 1986), cet. 1, hlm 212.
8

E. Kajian Pustaka
Pendidikan bagi anak sangat penting sekali terutama yang berkaitan dengan
pendidikan keagamaan yang berlangsung dalam keluarga. Karena keluarga
merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama bagi anak sehingga pola
asuh orangtua yang terjadi di dalamnya sangat berperan penting dalam proses
perkembangan dan pembentukan kepribadian anak dan tingkat keagamaan anak.
Di antara penelitian yang meneliti tentang pola asuh/pola pendidikan antara
lain dilakukan oleh Zakiyatul Fakhiroh mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN
Walisongo tahun 1993 dengan judul skripsi Pengaruh Pola Asuh Orangtua terhadap
Kreativitas Anak di MA Miftahul Falah Cendono Kabupaten Kudus. Menurut hasil
penelitiannya bahwa orangtua berpengaruh sekali terhadap perkembangan dan
kemampuan anak dalam bidang kreativitas terutama yang berkaitan dengan bakat
dan minat anak.
Penelitian lain juga pernah dilakukan oleh Choirul Ridlo mahasiswa Fakultas
Tarbiyah IAIN Walisongo tahun 1999 dengan judul skripsi Pengaruh Pola Asuh
Orangtua terhadap Tingkah Laku Keagamaan Siswa MTs Husnul Khatimah
Kelurahan Rowosari Kec. Tembalang Kota Semarang. Menurut hasil penelitian pola
asuh yang diberikan oleh orangtua kepada anaknya mempunyai pengaruh positif bagi
tingkah laku keagamaan anak. Dalam arti semakin tinggi perhatian yang diberikan
orangtua, maka akan semakin baik dalam tingkah laku keagamaannya, baik di
lingkungan formal maupun di lingkungan non formal.
Penelitian lain juga pernah dilakukan oleh Untung Susanto mahasiswa
Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo tahun 2005 dengan judul skripsi Pola
Pendidikan Agama Islam bagi Anak dalam Keluarga Penyadap Nyiur Studi Kasus di
Kelurahan Binangun Kec. Bantarsari Kab. Cilacap. Menurut hasil penelitiannya
pola pendidikan agama Islam yang digunakan oleh orangtua penyadap nyiur dalam
mendidik anaknya terdiri dari tiga macam, yaitu: pola pendidikan yang memiliki
kecenderungan otoriter, pola pendidikan yang memiliki kecenderungan demokratis,
dan pola pendidikan yang memiliki kecenderungan permisif. Tetapi mayoritas
penyadap nyiur dalam mendidik anaknya yang memiliki kecenderungan otoriter.
9

Sedangkan penelitian yang akan peneliti kaji berjudul Pola Asuh Orangtua
dalam Mendidik Anak pada Keluarga Tukang Ojek yang Mangkal di Kelurahan
Mangkang Kulon Kec. Tugu Kota Semarang. Penelitian ini lebih memfokuskan
pada pola asuh yang dilakukan keluarga tukang ojek di Kelurahan Mangkang Kulon
Kecamatan Tugu Kota Semarang dalam mendidik anaknya.

F. Metode Penelitian
1. Rancangan Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu
sebuah pendekatan yang digunakan untuk memahami dan menafsirkan makna suatu
peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam suatu peristiwa interaksi tingkah laku
manusia dalam situasi tertentu menurut perspektif peneliti sendiri.
21
Selain itu
penelitian ini dikatakan menggunakan pendekatan kualitatif karena penelitian ini
mempunyai ciri khas yang terletak pada tujuannya, yakni mendeskripsikan tentang
segala sesuatu yang berkaitan dengan pola asuh tukang ojek dalam mendidik
anaknya.
Sedangkan jenis penelitian ini adalah jenis penelitian studi kasus karena pada
penelitian ini meneliti secara intensif tentang keadaan latar belakang keadaan
sekarang dan interaksi lingkungan keluarga tukang ojek Kelurahan Mangkang Kulon
Kecamatan Tugu Kota Semarang.
2. Fokus Penelitian
Penelitian ini lebih memfokuskan pada pola asuh orangtua dalam mendidik
agama anak pada keluarga tukang ojek yang mangkal di Kelurahan Mangkang
Kulon Kec. Tugu Kota Semarang, yakni:
a. Pola asuh otoriter, dengan indikator:
1) Peraturan dan pengaturan yang keras (kaku).
2) Pemegang semua kekuasaan adalah orangtua.
3) Anak tidak mempunyai hak untuk berpendapat.
4) Hukuman dijadikan alat jika anak tidak menurut.

21
Husaini Usman, Purnomo Setiady Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2009) , Cet. 2, hlm 78.
10

5) Seringkali memaksa anak untuk berperilaku seperti dirinya.
b. Pola asuh demokratis, dengan indikator:
1) Peraturan dari orangtua lebih luwes.
2) Menggunakan penjelasan dan diskusi dalam berkomunikasi dengan anak.
3) Adanya sikap terbuka antara orangtua dan anak.
4) Adanya pengakuan orangtua terhadap kemampuan anaknya.
5) Anak diberi kesempatan untuk tidak tergantung dengan orangtua.
c. Pola asuh permisif, dengan indikator:
1) Orangtua cenderung tidak memberikan aturan dan pengarahan kepada anak.
2) Kontrol orangtua sangat lemah.
3) Orangtua mendidik anak secara bebas.
4) Orangtua tidak memberikan bimbingan yang cukup.
5) Orangtua menganggap bahwa semua yang dilakukan anak sudah benar tidak
perlu diberikan teguran, arahan atau bimbingan.
3. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah subjek dari mana data dapat
diperoleh.
22
Sedangkan menurut Lofland sumber data utama dalam penelitian
kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti
dokumen dan lain-lain.
23
Oleh karena itu sumber data utama dalam penelitian ini
kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan.
Sumber penelitian sebagai sumber data utama untuk menggali informasi tidak
hanya manusia, akan tetapi juga peristiwa dan situasi yang diobservasi dapat juga
dijadikan sebagai sumber informasi sesuai dengan masalah yang diteliti. Sedangkan
sumber data yang digunakan dalam penelitian ini, meliputi:
a. Informan (Narasumber)
Dalam penelitian kualitatif posisi informan sangat penting sebagai
individu yang memiliki informasi yang dibutuhkan oleh peneliti. Oleh karena itu


22
Suharsimi, Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,( Jakarta: Rineka
Cipta, 1998), cet. 11 hlm 114.

23
Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009),
cet. 26, hlm 157.
11

peneliti memilih tukang ojek yang mangkal di Kelurahan Mangkang Kulon
sebagai informan.
Dalam penelitian ini peneliti akan mencari informasi yang tepat dan detail
sesuai dengan kriteria tema yang ada. Yaitu tentang pola asuh orangtua dalam
mendidik agama anak pada keluarga tukang ojek yang mangkal di Kelurahan
Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang.
b. Peristiwa dan Aktivitas
Dalam penelitian kualitatif sumber data yang digunakan selain informan
adalah peristiwa atau aktivitas. Dalam penelitian ini peneliti akan mengamati
kehidupan tukang ojek Kelurahan Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota
Semarang dalam mendidik anaknya.
4. Instrumen Penelitian
Pada prinsipnya meneliti adalah pengukuran terhadap fenomena sosial atau
alam. Karena prinsip meneliti adalah mengukur, maka harus menggunakan alat ukur
yang biasa disebut Instrumen Penelitian.
Instrumen Penelitian merupakan alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh
peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi
sistematis dan dipermudah olehnya.
24

Dalam penelitian ini yang menjadi Instrumen Penelitian adalah peneliti
sendiri dengan menggunakan alat bantu berupa pedoman wawancara, observasi dan
telaah dokumen.
5. Teknik Pengumpulan Data
Pada dasarnya pengumpulan data dasar dilakukan melalui beberapa teknik
dan untuk menghasilkan data yang objektif diperlukan teknik pengumpulan data
yang relevan.
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah:




24
Suharsimi, Arikunto, Manajemen Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), cet. 6 hlm
134.
12

a. Observasi (pengamatan)
Menurut S. Nasution observasi diartikan sebagai pengamatan dan
pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian.
25

Sedangkan menurut Sutrisno Hadi mengatakan bahwa observasi diartikan
pengamatan dan pencatatan dengan sistematis terhadap fenomena-fenomena yang
diselidiki.
26

Dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan observasi terus terang
dan tersamar yaitu peneliti dalam melakukan penelitian menyatakan terus terang
kepada sumber data, bahwa peneliti sedang melakukan penelitian. Jadi mereka
yang diteliti mengetahui tentang aktivitas peneliti. Tetapi pada suatu saat peneliti
juga tidak terus terang atau tersamar dalam observasi, hal ini untuk menghindari
kalau suatu data yang dicari merupakan data yang masih dirahasiakan.
Kemungkinan kalau dilakukan terus terang, maka peneliti tidak akan diizinkan
untuk melakukan observasi.
27

Observasi dilakukan untuk memperoleh informasi tentang kelakuan
manusia secara nyata. Dengan observasi dapat diperoleh gambaran yang lebih
jelas tentang kehidupan sosial yang sukar diperoleh dengan metode lain. Oleh
karena itu teknik pengumpulan data dengan observasi sangat diperlukan dalam
penelitian ini antara lain bertujuan untuk memperoleh informasi (data) dari
keluarga tukang ojek yang tidak bisa diungkapkan secara verbal karena data
tersebut sensitif atau ingin ditutupi. Selain itu teknik pengumpulan data dalam
penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data di luar persepsi responden
sehingga peneliti dapat memperoleh data yang komprehensif.
Oleh karena itu metode observasi sangat diperlukan oleh peneliti untuk:
1) Mengamati aktivitas (kesibukan) tukang ojek sehari-hari.
2) Mengamati pembinaan agama Islam pada anak keluarga tukang ojek.


25
S. Nasution, Metodologi Research, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), cet. 11, hlm 106.

26
Sutrisno Hadi, Metodologi Research Jilid II, (Yogyakarta: Andi, 2002), cet. 27, hlm 136.
27
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2008),
cet. 5, hlm 228.
13

3) Mengamati metode yang digunakan oleh tukang ojek dalam mendidik agama
anaknya.
4) Mengamati pola asuh yang digunakan oleh tukang ojek dalam mendidik
anaknya.
5) Mengamati secara lebih dekat situasi dan kondisi Desa Mangkang Kulon
khususnya yang berkaitan dengan tukang ojek.
b. Wawancara
Wawancara adalah pertanyaan yang dilakukan secara lisan. Ini dapat
digunakan untuk menilai satu atau banyak sikap atau aneka ragam sikap,
kepercayaan dan pendapat pada satu atau beberapa hal.
28

Teknik pengumpulan data dengan wawancara sangat dibutuhkan dalam
penelitian ini karena dalam teknik ini peneliti dapat berinteraksi langsung dengan
informan dan dapat menggali informasi secara langsung dengan informan secara
verbal. Oleh karena itu peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dengan
cara wawancara dengan tujuan untuk memperoleh data tentang:
1) Aktivitas (kesibukan) tukang ojek sehari-hari.
2) Pembinaan agama Islam pada anak keluarga tukang ojek.
3) Metode yang digunakan oleh tukang ojek dalam mendidik anaknya.
4) Pola asuh yang digunakan oleh tukang ojek dalam mendidik agama anaknya.
5) Situasi dan kondisi Desa Mangkang Kulon khususnya yang berkaitan dengan
tukang ojek.
c. Telaah Dokumen
Telaah dokumen merupakan teknik pengumpulan data dengan cara
mengumpulkan data-data seperti foto, catatan, transkrip, buku, surat kabar,
majalah, prasasti, notulen rapat, leger dan lain sebagainya.
29
Teknik telaah
dokumen akan sangat membantu sekali dalam penelitian ini karena dapat
digunakan sebagai penguat kevalidan data yang telah ada.


28
Daniel .J. Mueller, Measuring Social Attitudes, terj. Eddy Soewardi Karta Widjadja,
Mengukur Sikap Sosial Pegangan untuk Peneliti dan Praktisi, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), cet. 1,
hlm 108.
29
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Edisi Revisi VI),
(Jakarta: Rineka Cipta, 2006), cet. 13, hlm. 231.
14

Oleh karena itu teknik pengumpulan data dengan telaah dokumen
sangatlah penting dalam penelitan ini karena digunakan untuk memperoleh data
yang berkaitan dengan foto-foto aktivitas tukang ojek sehari-hari dalam bekerja
maupun dalam mendidik anaknya.

G. Analisis Data
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan analisis
secara induktif yakni suatu pengambilan keputusan dengan menggunakan pola pikir
yang berangkat dari fakta-fakta yang bersifat khusus, kemudian digeneralisasikan
kepada hal-hal yang bersifat umum.
30
Dengan analisis induktif, data yang diperoleh
secara sistematis dan objektif melalui observasi, wawancara dan telaah dokumen
akan diolah dan dianalisis secara induktif.
Dalam penelitan ini peneliti akan menganalisis data tentang bagaimana pola
asuh orangtua dalam mendidik anak pada keluarga tukang ojek di kelurahan
Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang. Oleh karena itu peneliti akan
berusaha mengumpulkan data secara sistematis dan objektif melalui observasi ,
telaah dokumen dan wawancara terhadap keluarga tukang ojek kelurahan Mangkang
Kulon tentang pola asuh yang diterapkan dalam mendidik anaknya. Kemudian data
tersebut akan diolah dan dianalisis secara induktif.

H. Sistematika Penelitian
Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
B. Fokus dan Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Pembatasan Istilah
E. Kajian Pustaka
F. Metode Penelitian
G. Analisis Data


30
Sutrisno Hadi, Metodologi Research Jilid I, (Yogyakarta: Andi Offset, 2004), cet. 1, hlm 47.
15

H. Sistematika Penelitian Skripsi
Bab II POLA ASUH ORANGTUA DALAM MENDIDIK AGAMA ANAK
PADA KELUARGA TUKANG OJEK
A. Pendidikan Agama pada Keluarga
1. Pengertian pendidikan pada keluarga
2. Dasar pendidikan pada keluarga
3. Tujuan pendidikan pada keluarga
4. Aspek-aspek pendidikan pada keluarga
B. Keluarga Tukang Ojek
1. Keluarga tukang ojek
2. Fungsi keluarga bagi anak pada keluarga tukang ojek
C. Pola Asuh Orangtua dalam Mendidik Agama Anak pada Keluarga
Tukang Ojek
1. Pengertian pola asuh
2. Tipe-tipe pola asuh
a. Pola asuh otoriter
b. Pola asuh demokratis
c. Pola asuh permisif
Bab III Deskripsi Data tentang Kondisi Umum dan Khusus Kelurahan
Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang
A. Deskripsi Data tentang Kondisi Umum dan Khusus Kelurahan
Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang
1. Data Statis
2. Data Dinamis
B. Deskripsi Data tentang Pola Asuh Orangtua dalam Mendidik
Anak pada Keluarga Tukang Ojek Kelurahan Mangkang Kulon
Kecamatan Tugu Kota Semarang
1. Pola asuh otoriter
2. Pola asuh demokrasi
3. Pola asuh permisif
16

Bab IV Analisis Data tentang Pola Asuh Orangtua dalam Mendidik Agama
Anak pada Keluarga Tukang Ojek Kelurahan Mangkang Kulon
Kecamatan Tugu Kota Semarang
A. Analisis Data tentang Pola Asuh Otoriter dalam mendidik Agama
Anak pada Keluarga Tukang Ojek Kelurahan Mangkang Kulon
Kecamatan Tugu Kota Semarang
B. Analisis Data tentang Pola Asuh Demokratis dalam mendidik
Agama Anak pada Keluarga Tukang Ojek Kelurahan Mangkang
Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang
C. Analisis Data tentang Pola Asuh Permisif dalam mendidik Agama
Anak pada Keluarga Tukang Ojek Kelurahan Mangkang Kulon
Kecamatan Tugu Kota Semarang
Bab V Penutup
A. Kesimpulan
B. Saran-saran
C. Penutup
17

BAB II
POLA ASUH ORANG TUA DALAM MENDIDIK AGAMA ANAK
PADA KELUARGA TUKANG OJEK

A. Pendidikan Agama Dalam Keluarga
1. Pengertian Pendidikan Keluarga
Istilah keluarga dan pendidikan adalah dua istilah yang tidak bisa dipisahkan.
Sebab, di mana ada keluarga di situ ada pendidikan. Di mana ada orang tua di situ
ada anak yang merupakan suatu kemestian dalam keluarga. Ketika ada orang tua
yang ingin mendidik anaknya, maka pada waktu yang sama ada anak yang
menghajatkan pendidikan dari orang tua. Dari sini muncullah istilah pendidikan
keluarga. Artinya, pendidikan yang berlangsung dalam keluarga yang dilaksanakan
oleh orang tua sebagai tugas dan tanggung jawabnya dalam mendidik anak dalam
keluarga.
1

Dengan demikian, pendidikan keluarga adalah usaha sadar yang dilakukan
orang tua, karena mereka pada umumnya merasa terpanggil (secara naluriah) untuk
membimbing dan mengarahkan, pengendali dan pembimbing (direction control and
guidance, konservatif (mewariskan dan mempertahankan cita-citanya), dan
progressive (membekali dan mengembangkan pengetahuan nilai dan ketrampilan
bagi putra-putri mereka sehingga mampu menghadapi tantangan hidup di masa
datang.
2

Selain itu keluarga juga diharapkan dapat mencetak anak agar mempunyai
kepribadian yang nantinya dapat dikembangkan dalam lembaga-lembaga berikutnya,
sehingga wewenang lembaga-lembaga tersebut tidak diperkenankan mengubah apa
yang telah dimilikinya, tetapi cukup dengan mengkombinasikan antara pendidikan
keluarga dengan pendidikan lembaga tersebut, sehingga masjid, pondok pesantren,
dan sekolah merupakan tempat peralihan dari pendidikan keluarga.

1
Syaiful Bahri Djamarah, Pola Komunikasi Orang tua dan Anak dalam Keluarga (Sebuah
Perspektif Pendidikan Islam, (Jakarta: Asdi Mahasatya, 2004), hlm. 2
2
Mahfud, Junaedi, Kyai Bisri Mustofa, Pendidikan Keluarga Berbasis Pesantren, (Semarang:
Walisongo Press, 2009), hlm. 13.
18

Namun demikian, orang tua perlu bekerja sama dengan pusat pendidikan
tempat mengamanatkan pendidikan anaknya, seperti belajar di madrasah dan
pesantren. Tujuannya adalah tetap memantau setiap perkembangan pendidikan anak
dan tidak melepaskan tanggungjawab. Hal itu merupakan bentuk tanggung jawab
orang tua terhadap pendidikan anaknya apabila ia sendiri merasa tidak mampu untuk
memberikan pendidikan yang dibutuhkan anaknya.
Pada posisi ini fungsi dan peran madrasah, pesantren, da pusat pendidikan
lainnya hanya membantu kelanjutan pendidikan yang telah dimulai dalam keluarga.
Artinya, bahwa tanggung jawab pendidikan anak pada akhirnya kembali kepada
orang tua juga.
3

Hal itu dikarenakan orang tua adalah pendidik pertama dan utama dalam
keluarga. Bagi anak, orang tua adalah model yang harus ditiru dan diteladani.
Sebagai model, orang tua seharusnya memberikan contoh yang terbaik bagi anak
dalam keluarga. Sikap dan perilaku orang tua harus mencerminkan akhlak yang
mulia. Oleh karena itu, Islam mengajarkan kepada orang tua agar selalu mengajarkan
sesuatu yang baik-baik saja kepada anak mereka.
Pembentukan budi pekerti yang baik adalah tujuan utama dalam pendidikan
Islam. Karena dengan budi pekerti itulah tercermin pribadi yang mulia. Sedangkan
pribadi yang mulia itu adalah pribadi yang utama yang ingin dicapai dalam mendidik
anak dalam keluarga. Namun sayangnya, tidak semua orang tua dapat melakukannya.
Banyak faktor yang menjadi penyebabnya, misalnya orang tua yang sibuk dan
bekerja keras siang malam dalam hidupnya untuk memenuhi kebutuhan materi anak-
anaknya, waktunya dihabiskan di luar rumah, jauh dari keluarga, tidak sempat
mengawasi perkembangan anaknya, dan bahkan tidak punya waktu untuk
memberikan bimbingan, sehingga pendidikan akhlak bagi anak-anaknya terabaikan.
Dalam kasuistik tertentu sering ditemukan sikap dan perilaku orang tua yang
keliru dalam memperlakukan anak. Misalnya, orang tua membiarkan anak-anaknya
nongkrong di jalan dan begadang hingga larut malam. Mereka menghabiskan
waktunya hanya untuk bermain atau guyon, mengejek satu sama lain, dan saling

3
Ibid., hlm. 11
19

berlomba melempar kata-kata kotor. Padahal semestinya waktu-waktu tersebut bisa
dimanfaatkan oleh orang tua untuk mendidik anak-anaknya untuk mengaji Al-Quran
di rumah. Meski orang tua memiliki kemampuan yang kurang baik dalam membaca
Al-Quran, tetapi upaya orang tua itu dapat mempersempit ruang gerak anak untuk
hal-hal yang kurang baik dalam pandangan agama.
Dalam keluarga yang broken home sering ditemukan seorang anak yang
kehilangan keteladanan. Orang tua yang diharapkan oleh anaknya sebagai teladan,
ternyata belum mampu memperlihatkan sikap dan perilaku yang baik. Akhirnya anak
kecewa terhadap orang tuanya. Anak merasa resah dan gelisah. Mereka tidak betah
tinggal di rumah. Keteduhan dan ketenangan merupakan hal yang langka bagi anak.
Hilangnya keteladanan dari orang tua yang dirasakan anak memberikan
peluang bagi anak untuk mencari figur yang lain sebagai tumpuan harapan untuk
berbagi perasaan dalam duka dan lara. Di luar rumah, anak mencari teman yang
dianggapnya dapat memahami dirinya; perasaan dan keinginannya. Kegoncangan
jiwa anak ini tidak jarang dimanfaatkan oleh anak-anak nakal untuk menyeretnya ke
dalam sikap dan perilaku jahiliyah. Sebagian besar kelompok mereka tidak hanya
sering mengganggu ketenangan orang lain seperti melakukan pencurian atau
perkelahian, tetapi juga tidak sedikit yang terlibat dalam penggunaan obat-obat
terlarang atau narkoba. Pergi ke tempat-tempat hiburan merupakan kebiasaan
mereka. Menggoda wanita muda atau pergi ke tempat prostitusi adalah hal yang
biasa dalam pandangan mereka.
Sikap dan perilaku anak yang asosial dan amoral seperti di atas tidak bisa
dialamatkan kepada keluarga miskin, bisa saja datang dari keluarga kaya. Di kota-
kota besar misalnya, sikap dan perilaku anak yang asosial dan amoral justru datang
dari keluarga kaya yang memiliki kerawanan hubungan dalam keluarga. Ayah, ibu
dan anak sangat jarang bertemu dalam rumah. Ayah atau ibu sibuk dengan tugas
mereka masing-masing, tidak mau tahu kehidupan anak. Kesunyian rumah
memberikan peluang bagi anak untuk pergi mencari tempat-tempat lain atau apa saja
yang dapat memberikan keteduhan dan ketenangan dalam kegalauan batin.
Akhirnya, apa pun alasannya, mendidik anak adalah tanggung jawab orang
tua dalam keluarga. Oleh karena itu, sesibuk apa pun pekerjaan yang harus
20

diselesaikan, meluangkan waktu demi pendidikan anak adalah lebih baik. Bukankah
orang tua yang bijaksana adalah orang tua yang lebih mendahulukan pendidikan anak
daripada mengurusi pekerjaan siang dan malam.
4


2. Dasar-dasar Pendidikan Agama Anak dalam Keluarga
Dalam Al-Quran ada banyak ayat yang menyiratkan keharusan sang
orangtua untuk selalu menjaga dan mendidik seluruh anak-anaknya. Seperti yang
ditegaskan dalam surat At-Tahrim ayat 6:
!!., _ `. ., >.. >,l> !. !>: '_!.l :!>>' !,l. >.l. 1s
:.: .-, < !. >. l-, !. '.`, _
Hai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka, dimana (neraka) itu bahan bakarnya dari manusia dan batu-batuan,
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar yang keras, yang tidak mendurhakai
Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan.

Menjaga dan mendidik anak dengan persepsi ayat tersebut memberikan
pemahaman yang sangat luas dan fleksibel, yaitu memberi perhatian maksimal
dengan melakukan stimulasi edukatif yang berorientasikan kepada peningkatan
potensi daya intelektual, sensasi perasaan atau psikis, menguatkan potensi daya
intelektual, sensasi perasaan atau psikis, menguatkan daya fisik atau jasmani,
memberi makanan dan minuman yang thayyibah, halal dan bergizi tinggi, dan
aktivitas-aktivitas lainnya yang bermanfaat bagi anak. Serta menghindarkan anak
dari marabahaya yang berdampak pada fisik maupun psikisnya.
5

Pembentukan budi pekerti yang baik adalah tujuan utama dalam pendidikan
Islam. Karena dengan budi pekerti itulah tercermin pribadi yang mulia. Sedangkan
pribadi yang mulia itu adalah pribadi yang utama yang ingin dicapai dalam mendidik
anak dalam keluarga.
6


4
Syaiful Bahri Djamarah, op.cit., hlm. 29-31
5
Mursid, Kurikulum dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Sebuah Harapan Masyarakat,
(Semarang: AKFI Media, 2010), hlm. 75.
6
Syaiful Bahri Djamarah, op.cit., hlm. 29-3
21

3. Tujuan Pendidikan Agama dalam Keluarga
Tujuan yaitu sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok
orang yang melakukan suatu kegiatan.
7
Oleh karena itu tujuan pendidikan keluarga
adalah sasaran yang akan dicapai oleh orang tua dalam mendidik keluarganya
khususnya mendidik anaknya. Sedangkan tujuan utama pendidikan keluarga adalah
untuk mencapai keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah sehingga keluarga
tersebut sejahtera di dunia dan akhirat.
Dengan demikian orang tua dituntut untuk menjadi pendidik yang
memberikan pengetahuan pada keluarganya khususnya pada anaknya, mempunyai
sikap dan ketrampilan yang memadahi, memimpin keluarga dan mengatur
kehidupannya, memberikan contoh sebagai keluarga yang ideal, dan bertanggung
jawab dalam kehidupan keluarga, baik jasmani maupun rohani.
Pendidikan yang diberikan kepada anak didik dari orang tuanya memiliki
beberapa tujuan, yakni sebagai berikut:
a. Memberikan dasar pendidikan budi pekerti yaitu, norma pandangan hidup tertentu
walaupun masih dalam bentuk yang sederhana kepada anak didik.
b. Memberikan dasar pendidikan sosial yaitu, melatih anak didik dalam tata cara
bergaul yang baik terhadap lingkungan sekitarnya.
c. Memberikan dasar pendidikan intelek yaitu, anak diajarkan kaidah pokok dalam
percakapan, bertutur bahasa yang baik, kesenian disajikan dalam bentuk
permainan.
d. Memberikan dasar pembentukan kebiasaan yaitu, pembinaan kepribadian yang
baik dan wajar dengan membiasakan kepada anak untuk hidup teratur bersih,
tertib, disiplin, rajin yang dilakukan secara bertahap tanpa unsur paksaan.
e. Memberikan dasar pendidikan kewarganegaraan yaitu, memberikan norma
nasionalisme dan patriotisme, cinta tanah air dan berperikemanusiaan yang
tinggi.
8



7
Nur Unbiyati, Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan Islam I, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), hlm.
33.
8
Mahfud Junaedi, Kyai Bisri Mustofa, op.cit., hlm. 17-18.
22

4. Aspek-aspek Pendidikan Agama dalam Keluarga
Sebagai realisasi tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak, ada
beberapa aspek yang sangat penting untuk diperhatikan orangtua, yakni:
a. Pendidikan ibadah
b. Pokok-pokok ajaran Islam dan membaca Al-Quran
c. Pendidikan akhlakul kharimah
d. Pendidikan aqidah islamiyah
Keempat aspek inilah yang menjadi tiang utama dalam pendidikan Islam.
a. Pendidikan ibadah
Pendidikan ibadah, khususnya sholat disebutkan dalam QS. Luqman ayat
17, sebagai berikut:
_.,., :l.l `. .`-.l!, . _s >..l . _ls !. ,,!. | ,l:
_. s `. _
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia untuk mengerjakan
yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan
bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang
demikian itu termasuk diwajibkan (oleh Allah). (QS. Luqman: 17).

Pendidikan sholat dalam ayat ini tidak terbatas tentang kaifiyah untuk
menjalankan sholat yang lebih bersifat fiqhiyah, melainkan termasuk
menanamkan nilai-nilai di balik ibadah sholat. Mereka harus mampu tampil
sebagai pelopor amar maruf dan nahi mungkar serta jiwanya teruji menjadi orang
yang sabar.
9

Dalam sabda Rasulullah Muhammad SAW, juga disebutkan tentang
pendidikan sholat untuk keluarga yakni:


9
Habib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm.
105-106
10
Abu Daud, Sunan Abu Daud, Maktabah asy-Syamilah, Juz 2, hlm. 88.
23

Perintahkanlah anak-anakmu untuk menjalankan ibadah sholat ketika
mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika telah berusia
sepuluh tahun (belum mau menjalankan sholat). (HR. Abu Dawud).

Dengan mendidik anak tentang ibadah sejak dini diharapkan agar anak
dapat mempelajari hukum-hukum ibadah sejak masa pertumbuhannya, sehingga
ketika tumbuh besar ia terbiasa melakukan dan terdidik untuk menaati Allah,
melaksanakan hak-Nya, bersyukur kepada-Nya, berpegang pada-Nya, bersandar
dan berserah diri pada-Nya. Anak akan mendapatkan kesucian ruh, kesehatan
jasmani, kebaikan akhlak, perkataan dan perbuatan dalam ibadah.
11

b. Pokok-pokok ajaran Islam dan membaca Al-Quran
Pendidikan dan pengajaran Al-Quran serta pokok-pokok ajaran Islam
telah disebutkan dalam Hadist Nabi:
Sebaik-baik dari kamu sekalian adalah orang yang belajar Al-Quran
dan kemudian mengajarkannya. (HR. Al-Baihaqi).

Mengenai pendidikan nilai dalam Islam sebagaimana juga disebutkan
dalam firman Allah:
_.,., !.| | ,. _!1.. ,> _. _:> _>. _ :>. _ ,...l _
_ ,!, !, < | < ,Ll ,,> _
(Lukman berkata): Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu
perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di
dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya).
Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi maha Mengetahui. (QS. Luqman:
16).

Penanaman nilai-nilai baik yang bersifat universal, kapanpun dan
dimanapun sangat dibutuhkan oleh manusia. Menanamkan nilai-nilai baik tidak
hanya berdasarkan pertimbangan waktu dan tempat meskipun kebaikan itu hanya

11
Mursid, op.cit, hlm. 66-67
12
Abu Abdullah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Bukhari, Juz 3, (Indonesia:
Maktabah Dahlan), hlm. 2084.
24

sedikit jika dibandingkan dengan kejahatan, ibarat sebiji sawi dengan seluas
langit dan bumi, maka yang baik akan tampak baik dan yang jahat akan tampak
sebagai kejahatan. Penanaman pendidikan ini harus disertai contoh konkrit yang
masuk pemikiran anak, sehingga penghayatan mereka didasari dengan kesadaran
rasional.
13

c. Pendidikan akhlakul karimah
Akhlakul karimah merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan
dalam pendidikan keluarga. Yang paling utama ditekankan dalam pendidikan
Islam adalah pendidikan akhlak, dengan jalan melatih anak membiasakan hal-hal
yang baik, menghormati kepada kedua orang tua, bertingkah laku yang sopan
baik dalam perilaku keseharian maupun dalam bertutur kata.
14

Sebagaimana disebutkan dalam surat Lukman ayat 14, 18 dan 19 sebagai
berikut:
!.,. _.. ,.l, .l.- .. !.> _ls _> .l.. _ _,.l. : _|
,,.ll _|| ,..l _
Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk (berbuat baik) kepada dua
orangtua ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan
lemah yang bertambah- lemah, dan menyapihnya dalam dua tahun.
Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya
kepada-Kulah kamu akan kembali. (Lukman, 14).

-.. .> _!.ll _.. _ _ !>. | < > _ _!.>: `> _
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena
sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi
membanggakan diri.(Lukman, 18).

.. _ ,:. _.s _. ,.. | >. ,. ,.l ,.>' _
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.
Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara khimar. (Lukman, 19).

13
Mahfud Junaedi, op.cit., hlm. 37-38
14
Ibid., hlm 39
25

Dari ayat tersebut menunjukkan bahwa tekanan utama pendidikan
keluarga dalam Islam adalah pendidikan akhlak, dengan jalan melatih anak
membiasakan hal-hal yang baik, menghormati kepada kedua orangtua,
bertingkah laku yang sopan baik dalam perilaku keseharian maupun dalam
bertutur kata. Pendidikan akhlak tidak hanya dikemukakan secara teoritik,
melainkan disertai contoh-contoh konkret untuk dihayati maknanya. Dicontohkan
kesusahan ibu yang mengandung, serta jeleknya suara khimar bukan sekedar
untuk diketahui, melainkan untuk dihayati apa yang ada dibalik yang nampak
tersebut. Kemudian direfleksikan dalam kehidupan kejiwaannya.
15

Dengan demikian, orang tua mempunyai kewajiban untuk menanamkan
akhlakul karimah pada anak-anaknya, karena akhlak merupakan alat yang dapat
membahagiakan seseorang di dalam kehidupan baik di dunia maupun di
akhirat.
16

d. Pendidikan aqidah islamiyah
Pendidikan Islam dalam keluarga harus memperhatikan pendidikan
akidah Islamiyah di mana akidah ini merupakan inti dari dasar keimanan
seseorang yang harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Hal ini tersirat dalam
firman Allah SWT:
:| _! _..1l .., > .L-, _.,., : <!, _| :l 'lLl ',Ls _
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia
memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu
mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah
benar-benar kezaliman yang besar. (QS. Luqman: 13).

Ayat tersebut menggambarkan dan sekaligus menjadi dasar pedoman
hidup setiap muslim bahwa pola umum pendidikan keluarga menurut Islam
dikembalikan pada pola yang dilaksanakan Luqman pada anaknya. Setiap
muslim dan seluruh kaum muslim wajib menjalani kehidupannya sesuai dengan
aturan-aturan yang ada dalam hukum syari. Dengan demikian menjadi jelas

15
Chabib Thoha, op.cit., hlm. 108
16
Mahfud Junaedi, op.cit., hlm. 39
26

bahwa Islam bukan hanya sekedar agama ritual belaka, dan bukan pula sekedar
ide-ide teologi atau kepastoran akan tetapi Islam adalah suatu metode kehidupan
tertentu.
17


B. Keluarga Tukang Ojek
1. Keluarga Tukang Ojek
Definisi tentang keluarga sangatlah beragam dan dapat ditinjau dari berbagai
sudut pandang. Menurut Syaiful Bahri Djamarah dapat ditinjau dari dimensi
hubungan darah dan hubungan sosial. Keluarga dalam dimensi hubungan darah
merupakan suatu kesatuan yang diikat oleh hubungan darah antara yang satu dengan
yang lainnya. Dalam dimensi hubungan sosial, keluarga merupakan suatu kesatuan
yang diikat oleh adanya saling berhubungan atau interaksi dan saling mempengaruhi
antara satu dengan yang lainnya, walaupun di antara mereka tidak terdapat hubungan
darah.
18

Sedangkan menurut Soeleman secara psikologis, keluarga adalah sekumpulan
orang yang hidup bersama dalam tempat tinggal bersama dan masing-masing
anggota merasakan adanya pertautan batin sehingga terjadi saling mempengaruhi,
saling memperhatikan, saling menyerahkan diri. Sedangkan dalam pengertian
pedagogis, keluarga adalah satu persekutuan hidup yang dijalin oleh kasih sayang
antara pasangan dua jenis manusia yang dikukuhkan dengan pernikahan, yang
bermaksud untuk saling menyempurnakan diri.
19

Pada dasarnya keluarga itu adalah sebuah komunitas dalam satu atap.
Kesadaran untuk hidup bersama dalam satu atap sebagai suami-istri dan saling
interaksi dan berpotensi punya anak dan akhirnya membentuk komunitas baru yang
disebut keluarga. Karenanya keluarga pun dapat diberi batasan sebagai sebuah group
yang terbentuk dari perhubungan laki-laki dan wanita, perhubungan mana sedikit
banyak berlangsung lama untuk menciptakan dan membesarkan anak-anak. Jadi,

17
Mahfud Junaedi, op.cit., hlm. 39-40
18
Syaiful Bahri Djamarah, op.cit., hlm 16.
19
Moh. Shochib, Pola Asuh Orang Tua, (Jakarta : Rineka Cipta, 2010), cet. 2, hlm 17
27

keluarga dalam bentuk yang murni merupakan satu kesatuan sosial yang terdiri dari
suami, istri dan anak-anak.
20

Sedangkan tukang ojek adalah seseorang yang mengais kehidupan (mencari
nafkah) dengan memberikan jasa angkut dengan menggunakan sepeda motor. Jadi
yang dimaksud keluarga tukang ojek disini adalah sebuah komunitas sosial yang
terdiri dari suami, istri dan anak dimana mata pencaharian kepala keluarganya adalah
sebagai tukang ojek (memberikan jasa angkut dengan menggunakan sepeda motor).
Sebagai kepala keluarga yang berprofesi sebagai tukang ojek, selain harus
mencari rezeki dengan memberikan jasa angkut dengan ditemani sepeda motor
sepanjang hari, sang ayah juga berkewajiban mendidik anaknya. Hal itu
dikarenakan tugas mendidik anak adalah kewajiban setiap orang tua agar buah
hatinya selamat di dunia dan akhirat.
Oleh karena itu sesibuk apapun tukang ojek dalam mengasi rezeki, mereka
tetap dituntut untuk mendidik buah hatinya. Kalaupun toh mereka beralasan sibuk
atau tidak bisa mendidik karena kurang pandai dalam ilmu, mereka wajib untuk
menyekolahkan dan memasukkannya ke madrasah. Hal itu merupakan bentuk
tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anaknya apabila ia sendiri tidak
mampu untuk memberikan pendidikan yang dibutuhkan anaknya.
Selain pendidikan yang kondusif di dalam sebuah keluarga khususnya
keluarga tukang ojek juga penting sekali diciptakan lingkungan keluarga yang
agamis (baik), dalam arti menguntungkan bagi kemajuan dan perkembangan pribadi
anak serta mendukung tercapainya tujuan yang dicita-citakan.
Sebab lingkungan keluarga yang kondusif akan memberikan suasana
emosional yang baik bagi anak-anak seperti perasaan senang, aman, disayangi, dan
dilindungi. Suasana yang demikian bisa tercipta manakala kehidupan rumah tangga
(suami istri) sendiri diliputi suasana yang sama. Rasa kasih sayang dan ketentraman
yang diciptakan bersama oleh kedua orang tua akan membuat anak bertumbuh dan
berkembang dalam suasana bahagia.
21



20
Syaiful Bahri Djamarah, op.cit., hlm. 17
21
Mahfudz Junaedi, op.cit., hlm 9
28

2. Fungsi Keluarga bagi Anak Keluarga Tukang Ojek
Pada kehidupan setiap keluarga merupakan suatu komunitas yang sangat
vital. Begitu juga dengan keluarga tukang ojek, keluarga merupakan bagian yang
sangat penting dalam kehidupan keluarga tukang ojek karena di mulai dari komunitas
keluargalah, keluarga tukang ojek belajar sesuatu. Keluarga merupakan tempat
pendidikan pertama dan utama seseorang.
Pada kehidupan setiap orang, keluarga merupakan suatu komunitas yang
sangat vital karena keluarga merupakan tempat pendidikan pertama dan utama.
Begitu juga dengan keluarga tukang ojek, keluarga merupakan bagian yang sangat
penting dalam kehidupan mereka karena dari komunitas keluargalah mereka mulai
belajar sesuatu.
Selain itu keluarga juga mempunyai berbagai macam fungsi, yakni:
a. Fungsi Ekonomis
Keluarga merupakan satuan sosial yang mandiri yang disitu anggota-
anggota keluarga mengkonsumsi barang-barang yang diproduksinya.
b. Fungsi Sosial
Keluarga memberikan prestise dan status kepada anggota-anggotanya.
c. Fungsi Edukatif
Keluarga memberikan pendidikan kepada anggota keluarganya khususnya
kepada anak-anaknya.
d. Fungsi Protektif
Keluarga melindungi anggotanya dari ancaman fisik, ekonomi dan psikososial.
e. Fungsi Religius
Keluarga memberikan pengalaman keagamaan kepada anggotanya.
f. Fungsi Afektif
Keluarga memberikan kasih sayang dan melahirkan keturunan.
22

Selain dari keenam fungsi tadi di atas, keluarga juga memiliki fungsi strategis
dalam pembentukan kepribadian anak. Hal itu dikarenakan sejak kecil anak sudah
mendapat pendidikan dari kedua orang tuanya melalui keteladanan dan kebiasaan

22
Jalaludin Rahmat, Islam Alternatif, (Bandung: Mizan, 1999), Cet. 10, hlm. 121
29

hidup sehari-hari dalam keluarga. Baik tidaknya keteladanan yang diberikan dan
kebiasaan hidup orang tua sehari-hari dalam keluarga akan mempengaruhi
perkembangan jiwa anak. Karena keteladanan dan kebiasaan yang orang tua
tampilkan dalam bersikap dan berperilaku sehari-hari dalam keluarga tidak terlepas
dari perhatian dan pengamatan anak. Dan meniru kebiasaan hidup orang tua adalah
suatu hal yang sering anak lakukan, karena memang pada masa perkembangannya,
anak selalu ingin meniru apa-apa yang orang tua lakukan. Anak selalu ingin meniru
dalam pendidikan dikenal dengan istilah anak belajar melalui imitasi.
Pendapat di atas juga diperkuat oleh sajak Dorothy Law Nolte. Melalui
sajaknya yang berjudul Anak belajar dari kehidupan, dia mengatakan bahwa: Jika
anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan
permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar
rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri. Jika
anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan
dengan dorongan, ia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia
belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia
belajar keadilan. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh
kepercayaan. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan
cinta dalam kehidupan.
Dalam kehidupan sehari-hari orang tua tidak hanya secara sadar, tetapi juga
terkadang secara tidak sadar memberikan contoh yang kurang baik kepada anak.
Misalnya, meminta tolong kepada anak dengan nada mengancam, tidak mau
mendengarkan cerita anak tentang sesuatu hal, memberikan nasihat tidak pada
tempatnya dan tidak pada waktu yang tepat, berbicara kasar kepada anak, terlalu
mementingkan diri sendiri, tidak mau mengakui kesalahan padahal apa yang telah
dilakukan adalah salah tetapi mengaku serba tahu, padahal tidak mengetahui banyak
tentang sesuatu, terlalu mencampuri urusan anak, membeda-bedakan anak, kurang
memberikan kepercayaan kepada anak untuk melakukan sesuatu, dan sebagainya.

30

Beberapa contoh sikap dan perilaku dari orang tua yang dikemukakan di atas
berimplikasi negatif terhadap perkembangan jiwa anak. Anak telah belajar banyak
hal dari orang tuanya. Anak belum memiliki kemampuan untuk menilai, apakah yang
diberikan oleh orang tuanya itu termasuk sikap dan perilaku yang baik atau tidak.
Yang penting bagi anak adalah mereka telah belajar banyak hal dari sikap dan
perilaku yang didemonstrasikan oleh orang tuanya. Efek negatif dari sikap dan
perilaku orang tua yang demikian terhadap anak misalnya, anak memiliki sifat keras
hati, keras kepala, manja, pendusta, pemalu, pemalas, dan sebagainya. Sifat-sifat
anak tersebut menjadi rintangan dalam pendidikan anak selanjutnya.
23

Oleh karena itu harus ada sederetan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh orang
tua sebagai seorang pemimpin dalam keluarga, yaitu energi jasmani dan mental,
kesadaran akan tujuan dan arah pendidikan anak, antusiasme (semangat, kegairahan,
dan kegembiraan yang besar), keramahan dan kecintaan, integritas kepribadian
(keutuhan, kejujuran, dan ketulusan hati), penguasaan teknis mendidik anak,
ketegasan dalam mengambil keputusan, cerdas, memiliki kepercayaan diri, stabilitas
emosi, kemampuan mengenal karakteristik anak, objektif, dan ada dorongan
pribadi.
24


C. Pola Asuh Orangtua dalam Mendidik Anak pada Keluarga Tukang Ojek
1. Pengertian Pola Asuh
Menurut Elizabeth B. Hurlock, pola asuh orangtua adalah cara orangtua
dalam mendidik anak.
25
Sedangkan menurut Chabib Thoha, pola asuh orangtua
berarti cara yang dilakukan orangtua dalam mendidik anaknya sebagai bentuk
tanggung jawabnya kepada anak.
26
Menurut Kohn, seperti dikutip Chabib Thoha,
pola asuh orangtua adalah bagaimana cara mendidik orangtua terhadap anak, baik

23
Syaiful Bahri Djamarah, op.cit., hlm. 24-26
24
Ibid., hlm. 27
25
Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak, Jilid I, terj. Meitasari Tjandiasa, (Jakarta:
Erlangga, 1989), cet. 6, hlm. 258.
26
Chabib Toha, Op.cit, hlm 109.
31

secara langsung maupun tidak langsung.
27
Pola asuh orangtua dalam mendidik anak
terdiri dari tiga macam yaitu pola asuh otokratik/otoriter, pola asuh demokratik dan
pola asuh permisif.
28
Pola asuh otoriter ditandai dengan cara mengasuh anak dengan
aturan yang ketat, seringkali memaksa anak untuk berprilaku seperti dirinya
(orangtua), kebebasan untuk bertindak atas nama diri sendiri dibatasi. Anak jarang
diajak berkomunikasi dan bertukar fikiran dengan orangtua, orangtua menganggap
bahwa semua sikapnya sudah benar sehingga tidak perlu dipertimbangkan dengan
anak.
29
Sedangkan pola asuh demokratis ditandai dengan adanya pengakuan orangtua
terhadap kemampuan anak, anak diberi kesempatan untuk tidak selalu tergantung
dengan orangtua dan diberi kesempatan untuk mengatur hidupnya.
30
Dan pola asuh
permisif ditandai dengan cara orangtua mendidik anak secara bebas, anak dianggap
sebagai orang dewasa/muda, ia diberi kebebasan seluas-luasnya untuk melakukan
apa saja yang dikehendaki. Kontrol orangtua terhadap anak sangat lemah.
31


2. Tipe-tipe Pola Asuh
a. Pola Asuh Otoriter
Pola asuh otoriter ditandai dengan cara mengasuh anak dengan aturan-
aturan yang ketat, seringkali memaksa anak untuk berperilaku seperti dirinya
(orangtua), kebebasan untuk bertindak atas nama diri sendiri dibatasi. Anak
jarang diajak berkomunikasi dan bertukar fikiran dengan orangtua, orangtua
menganggap bahwa semua sikapnya sudah benar sehingga tidak perlu
dipertimbangkan dengan anak.
32


27
Ibid, hlm 110.
28
H. Zahara Idris dan H. Lisma Jamal, Pengantar Pendidikan I, (Jakarta: Grasindo, 1995), Cet.
2, hlm 87
29
Chabib Toha, Op.cit, hlm 111.
30
Ibid., hlm 112.
31
Ibid
32
Ibid., hlm 111.
32

Dalam pola otoriter, hukuman merupakan sarana utama dalam proses
pendidikan, sehingga anak melaksanakan perintah atau tugas dari orang tua atas
dasar takut memperoleh hukuman dari orang tuanya.
33

Sedangkan indikator dari pola asuh otoriter adalah sebagai berikut:
1) Peraturan dan pengaturan yang keras (kaku)
Salah satu Indikator dari pola asuh otoriter adalah peraturan yang
diberikan orangtua kepada anak sangat ketat. Kebebasan untuk bertindak atas
nama dirinya dibatasi bahkan cenderung memaksa dan terkadang keras. Anak
harus mematuhi segala peraturan orangtua dan tidak boleh membantah dan
apabila membantah maka anak tersebut dianggap memberontak dan akan
menimbulkan masalah. Orangtua yang seperti ini biasanya hanya cenderung
memberikan perintah dan larangan, orangtua cenderung menentukan segala
sesuatu untuk anak sehingga anak hanya sebagai pelaksana. Dengan
peraturan yang kaku anak merasa terkekang di rumah sehingga bisa bersifat
agresif di luar rumah.
2) Pemegang semua kekuasaan adalah orangtua
Indikator dari pola asuh otoriter berikutnya adalah pemegang semua
kekuasaan adalah orangtua yaitu orangtua menjadikan dirinya di dalam
keluarga sebagai seorang pemimpin yang absolut. Orangtua juga cenderung
menentukan segala sesuatu untuk anak dan anak hanya sebagai pelaksana
(orangtua sangat berkuasa). Semua kegiatan yang akan dilakukan oleh anak
ditentukan oleh orangtua, bahkan sampai ke hal-hal yang kecil misalnya
selalu mengatur jadwal kegiatan anak, cara membelanjakan uang, teman-
teman bermain dan lain-lain. Anak-anak yang dibesarkan dalam suasana
seperti ini, jika mereka dewasa akan memiliki sifat rendah diri dan tidak bisa
memikul suatu tanggung jawab.




33
H. Zahara Idris dan H. Lisma Jamal, op.cit., hlm. 88.
33

3) Anak tidak mempunyai hak untuk berpendapat
Indikator dari pola asuh otoriter lainnya adalah anak tidak mempunyai
hak untuk berpendapat. orangtua merasa bahwa dirinya paling benar,
sehingga orangtua sedikit atau bahkan tanpa melibatkan pendapat dan inisiatif
anak. Kalau terdapat perbedaan pendapat antara orangtua dan anak, maka
anak dianggap sebagai orang yang suka melawan dan membangkang.
Sehingga anak menjadi tidak berani mengeluarkan pendapat, pasif, dan
kurang sekali berinisiatif bahkan cenderung ragu-ragu dalam mengambil
keputusan (tidak berani mengambil keputusan) dalam hal apa saja. Sebab
anak terbiasa bertindak harus dengan persetujuan dari orangtua dan tidak
terbiasa mengambil keputusan sendiri.
34

4) Hukuman dijadikan alat jika anak tidak menurut
Salah satu ciri-ciri orangtua yang otoriter adalah selalu menghukum
anaknya ketika anaknya berbuat salah bahkan hukuman tersebut terkadang
cenderung keras dan mayoritas hukuman tersebut sifatnya hukuman badan.
Orangtua seringkali mengancam dan menghukum anaknya ketika anak
tersebut tidak menurut dengan orangtua.
5) Seringkali memaksa anak untuk berperilaku seperti dirinya (orangtua)
Salah satu indikator orangtua yang otoriter adalah seringkali memaksa
anak untuk berperilaku seperti dirinya (orangtua). Hal ini disebabkan karena
orangtua merasa dirinya yang paling benar dan anak harus mencontoh
(meniru) segala perilaku yang dilakukan orangtua. Walaupun terkadang
perilaku orangtua salah, akan tetapi orangtua merasa hal itu benar dan anak
harus menurutinya.
Perilaku orang tua otoriter, antara lain:
1) Anak harus mematuhi peraturan orang tua dan tidak boleh membantah.
2) Orang tua cenderung mencari kesalahan anak dan kemudian menghukumnya.
3) Perbedaan pendapat pada anak, dianggap sebagai perlawanan dan
pembangkangan pada orang tua.

34
Zahara Idris dan Lisma Jamal, op.cit., hlm. 88-89.
34

4) Orang tua cenderung memberikan perintah dan larangan terhadap anak, serta
cenderung memaksakan disiplin pada anak tanpa memandang situasi dan
kondisi.
5) Orang tua cenderung menentukan segala sesuatu untuk anak dan anak hanya
sebagai pelaksana perintah (orangtua sangat berkuasa).
35

Akibat-akibat negatif dalam pola asuh otoriter adalah:
1) Anak pasif dan kurang berinisiatif.
2) Anak tertekan dan merasa ketakutan, kurang pendirian dan mudah
dipengaruhi.
3) Anak ragu-ragu, bahkan tidak berani mengambil keputusan dalam hal
apapun, karena dia terbiasa mengambil keputusan sendiri.
4) Di luar lingkungan rumah, anak menjadi agresif, karena anak merasa bebas
dari kekangan orang tua.
5) Pelaksanaan perintah dari orang tua oleh anaknya, atas dasar takut pada
hukuman.
6) Anak suka menyendiri dan mengalami kemunduran kematangan.
Menurut Prof. Dr. Abdul Aziz Al-Qussy, menolong anak dalam
memenuhi kehidupan mereka merupakan kewajiban setiap orangtua, akan tetapi
tidak boleh berlebih-lebihan dalam menolong anak sehingga anak tidak
kehilangan kemampuan untuk berdiri sendiri nanti. Lebih lanjut dijelaskan bahwa
ada orangtua yang suka mencampuri urusan anak sampai masalah yang kecil-
kecil. Misalnya mengatur jadwal perbuatan anak, jam istirahat, cara
membelanjakan uang, warna pakaian yang cocok, memilihkan teman untuk
bermain, macam sekolah yang harus dimasuki. Anak yang dibesarkan dalam
suasana semacam ini akan besar dengan sifat yang ragu-ragu, lemah kepribadian
dan tidak sanggup mengambil keputusan tentang apa saja.
36



35
G. Tembong Prasetya, Pola Pengasuhan Ideal, (Jakarta: Flex Media Koputindo, 2003), hlm.
29
36
Ibid, hlm 111
35

Walaupun pola asuh otoriter cenderung banyak yang berdampak negatif,
akan tetapi pola asuh otoriter juga mempunyai dampak positif dalam hal
penanaman aqidah pada anak kecil. Sebab apabila penanaman aqidah kepada
anak kecil dilakukan dengan pola asuh demokratis atau permisif maka
dikhawatirkan anak kecil tersebut dapat melenceng dari aqidah Islamiyah.
Demikian pula terhadap hal-hal yang sangat prinsip mengenai pilihan
agama, pilihan nilai hidup yang bersifat universal dan absolut, orangtua dapat
memaksakan kehendaknya terhadap anak karena anak belum memiliki alasan
cukup mengenai hal itu. Karena itu tidak semua materi pelajaran agama
seluruhnya diajarkan secara demokratis terhadap anak.
Jika dikembalikan dengan kisah Luqman sebagaimana yang termaktub
dalam Al-Qur'an, dapat diambil pelajaran bahwa pendidikan akidah Islam dan
ketauhidan tidak harus diajarkan secara demokratis. Akan tetapi harus dengan
otoriter karena hal tersebut menyangkut dogmatis.
37


b. Pola Asuh Demokratis
Pola pendidikan demokratis adalah suatu cara mendidik/mengasuh yang
dinamis, aktif dan terarah yang berusaha mengembangkan setiap bakat yang
dimiliki anak untuk kemajuan perkembangannya.
Pola ini menempatkan anak sebagai faktor utama dan terpenting dalam
pendidikan. Hubungan antara orang tua dan anaknya dalam proses pendidikan
diwujudkan dalam bentuk human relationship yang didasari oleh prinsip saling
menghargai dan saling menghormati. Hak orang tua hanya memberi tawaran dan
pertimbangan dengan segala alasan dan argumentasinya, selebihnya anak sendiri
yang memilih alternatif dan menentukan sikapnya.
38

Anak diberi kesempatan mengembangkan kontrol internalnya sehingga
sedikit demi sedikit berlatih untuk bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri.
Selain itu anak juga dilibatkan dan diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam

37
Mahfud Junaedi, op.cit., hlm. 55.
38
M. Arief Hakim, Mendidik Anak Secara Bijak, Panduan Keluarga Muslim Modern,
(Bandung, Marjal, 2002), hlm. 19.
36

mengatur hidupnya.
39
Sehingga memungkinkan anak dapat belajar secara aktif
dalam mengembangkan dan memajukan potensi bawaannya. Serta anak dapat
kreatif dan inovatif.
Akan tetapi tidak semua pendidikan yang diberikan oleh orang tua harus
disajikan dengan demokratis tetapi harus dogmatis seperti penanaman akidah
Islam pada anak, orang tua harus mengajarkan dengan dogmatis apalagi ketika
anak masih kecil.
Menurut Prof. Dr. Abdul Aziz el-Qussy, Contoh perilaku orang tua yang
demokratis dalam mendidik anaknya, yaitu orang tua mengutamakan
musyawarah dalam keluarga, mengedepankan hubungan saling menghormati,
menentukan aturan dan disiplin dengan mempertimbangkan keadaan, perasaan
dan pendapat anak serta memberikan alasan yang dapat diterima dan dimengerti
oleh anak. Adanya komunikasi dua arah, orang tua memperhatikan pendapat dan
keinginan anak, serta membimbing dan mengarahkannya.
40

Sedangkan indikator dari pola asuh demokratis adalah sebagai berikut:
1) Peraturan dari orangtua lebih luwes
Salah satu ciri-ciri pola asuh demokratis adalah peraturan dari
orangtua lebih luwes yaitu orangtua menentukan peraturan-peraturan dan
disiplin dengan memperhatikan dan mempertimbangkan keadaan, perasaan
dan pendapat si anak serta memberikan alasan-alasan yang dapat dipahami,
diterima dan dimengerti anak.
41

Selain itu semua larangan dan perintah yang disampaikan kepada anak
menggunakan kata-kata yang mendidik, bukan menggunakan kata-kata kasar,
seperti kata tidak boleh, wajib, harus dan kurang ajar. Dan memberikan
pengarahan, perbuatan yang baik perlu dipertahankan dan yang jelek supaya
ditinggalkan.
42



39
Mahfud Junaedi, op.cit., hlm. 55
40
Zahara Idris dan Lisma Jamal, op.cit., hlm. 87-88
41
Ibid., hlm. 87.
42
Ibid., hlm. 88.
37

2) Menggunakan penjelasan dan diskusi dalam berkomunikasi dengan anak
Indikator dari pola asuh demokratis adalah orangtua menggunakan
penjelasan dan diskusi dalam berkomunikasi dengan anak. Artinya ketika
terjadi suatu masalah dalam keluarga maka orangtua dan anak
mendiskusikannya dan mencari jalan keluarnya dengan berdiskusi. Dan
ketika sang anak berbuat salah maka orangtua tidak langsung menghukum
anak tersebut akan tetapi menjelaskan terlebih dahulu bahwa apa yang telah
dilakukannya salah dan menasehatinya supaya tidak mengulanginya lagi.
Selain itu juga terjadi komunikasi dua arah yang baik sehingga antara
orangtua dan anak terjalin keakraban.
3) Adanya sikap terbuka antara orangtua dan anak
Sikap terbuka antara orangtua dan anak adalah ketika orangtua
melakukan sesuatu dalam keluarga secara musyawarah dan kalau terjadi
sesuatu pada anggota keluarga selalu dicarikan jalan keluarnya (secara
musyawarah), juga dihadapi dengan tenang, wajar, dan terbuka.
43

4) Adanya pengakuan orangtua terhadap kemampuan anak-anaknya
Orangtua yang baik adalah orangtua yang mengakui kemampuan
anak, ia memandang anak sebagai individu yang sedang berkembang
sehingga memberikan kesempatan kepadanya untuk mengembangkan dirinya
dengan segala kemungkinan yang dimilikinya. Orangtua seperti ini
memahami hakekat perkembangan anak yakni mencapai kedewasaan fisik,
mental, emosional dan sosial. Orangtua yang memahami hal ini akan
menanggapi secara positif seluruh ekspresi anak dalam bentuk apapun,
memberi kebebasan kepada anak untuk berkreasi, mengembangkan bakatnya,
serta mendukung seluruh keinginan anak yang positif dengan terus memantau
dan mengarahkan anak agar jangan menyusuri jalan hidup yang sesat.
5) Memberi kesempatan untuk tidak tergantung dengan orangtua
Indikator dari pola asuh demokratis berikutnya adalah orangtua
memberi kesempatan kepada anak untuk tidak tergantung dengan orangtua.

43
Ibid., hlm. 87.
38

Dengan kata lain orangtua melatih anak untuk mandiri yaitu dengan memberi
anak kesempatan untuk mengembangkan kontrol internalnya sehingga sedikit
demi sedikit anak berlatih untuk bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
Selain itu anak juga dilibatkan dan diberi kesempatan untuk berpartisipasi
mengatur hidupnya.
44
Sehingga anak dapat belajar secara aktif dalam
mengembangkan dan memajukan potensi bawaannya serta anak dapat
inovatif dan kreatif.
Adapun manfaat pola demokratis bagi pembentukan pribadi anak adalah:
1) Anak menjadi kreatif dan mempunyai daya cipta (mudah berinisiatif).
2) Anak patuh dengan sewajarnya.
3) Anak mudah menyesuaikan diri.
4) Anak tumbuh percaya diri.
5) Bertanggungjawab dan berani mengambil keputusan.
Memang pola asuh demokratis merupakan pola asuh yang paling banyak
memiliki sisi positif dibandingkan dengan pola asuh yang lain. Bahkan pola asuh
demokratis merupakan pola asuh yang ideal yang baik digunakan untuk mendidik
anak. Akan tetapi setiap hal pasti memiliki sisi negatif, begitu juga pola asuh
demokratis juga memiliki sisi negatif, yaitu jika diterapkan dalam penanaman
aqidah pada anak kecil. Dikhawatirkan anak kecil tersebut akan melenceng dari
aqidah karena anak kecil tersebut belum mengerti secara pasti mana yang benar
dan mana yang salah tentang ketauhidan.
c. Pola Asuh Permisif
Pola permisif diartikan sebagai cara mendidik dengan membiarkan anak
berbuat sekehendaknya, jadi orang tua tidak memberi pimpinan, nasehat maupun
teguran terhadap anaknya.
45
Orang tua tidak memperdulikan perkembangan
psikis anak tetapi memprioritaskan kepentingan dirinya dan anak diabaikan serta
dibiarkan berkembang dengan sendirinya.
46


44
M. Arief Hakim, Mendidik Anak Secara Bijak, Panduan Keluarga Muslim Modern,
(Bandung: Marjal, 2002), hlm. 19.
45
Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
1998), cet. 8 hlm. 49
46
G. Tembong Prasetya, op.cit., hlm. 31
39

Permisivitas terlihat pada orang tua yang membiarkan anak berbuat
sesuka hati dengan sedikit kekangan, sehingga menciptakan suatu rumah tangga
yang berpusat pada anak.
47
Orang tua dalam keluarga hanyalah sebagai orang tua
yang tidak memiliki kewajiban atau tanggung jawab mendidik anak.
Pola pendidikan ini ditandai dengan pemberian kebebasan tanpa batas
pada anak, anak berbuat menurut kemauannya sendiri, tidak terarah dan tidak
teratur sehingga keluarga sebagai lembaga pendidikan informal tidak memiliki
fungsi edukatif.
Cara mendidik ini tidak tepat jika dilaksanakan secara murni di
lingkungan keluarga karena dapat mengakibatkan anak berkepribadian buruk.
Bentuk perilaku permisif, antara lain membiarkan anak bertindak sendiri
tanpa monitor (mengawasi) dan membimbingnya, mendidik anak secara acuh tak
acuh, bersifat pasif atau bersifat masa bodoh, dan orang tua hanya mengutamakan
pemberian materi semata bagi anak.
48

Sedangkan indikator dari pola asuh permisif adalah sebagai berikut:
1) Orangtua tidak memberikan aturan atau pengarahan kepada anak
Salah satu indikator pola asuh permisif adalah tidak memberikan
aturan atau pengarahan kepada anak dengan membiarkan apa saja yang
dilakukan anak. Dengan kata lain orangtua terlalu memberikan kebebasan
kepada anak untuk mengatur diri sendiri tanpa ada peraturan-peraturan dan
norma-norma yang digariskan oleh orangtua.
49

2) Kontrol orangtua sangat lemah
Maksud dari kontrol orangtua sangat lemah adalah orangtua
membiarkan anak bertindak sendiri tanpa memonitor dan
membimbimbingnya.
50
Seperti orangtua membiarkan anak bermain sampai

47
Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak Jilid 2. Terj. Med. Meitasari Tjandrasa, (Jakarta:
Erlangga, 1993), cet. 4, hlm. 204.
48
Zahara Idris dan Lisma Jamal, op.cit., hlm. 89-90
49
Ibid., hlm. 89.
50
Ibid.
40

larut malam tanpa pengawasan. Sikap orangtua yang seperti ini sangat
berbahaya dan menjadikan anak bersikap sesuka hati.
3) Orangtua mendidik anak secara bebas
Pola asuh permisif juga ditandai dengan orangtua mendidik anaknya
secara bebas yaitu dengan mendidik acuh tak acuh, bersifat pasif atau bersifat
masa bodoh. Hal tersebut menyebabkan kurang sekali keakraban dan
hubungan yang hangat dalam keluarga.
51
Sehingga anak merasa kurang
menikmati kasih sayang orangtua.
4) Orangtua tidak memberikan bimbingan yang cukup
Pola asuh permisif juga ditandai dengan orangtua tidak memberikan
bimbingan yang cukup kepada anaknya, sehingga anak merasa kurang
mendapat perhatian yang cukup dari orangtuanya. Oleh karena itu,
pertumbuhan jasmani, rohani dan sosial sangat jauh berbeda atau bahkan di
bawah rata-rata jika dibandingkan dengan anak-anak yang diperhatikan
orangtuanya.
Biasanya orangtua bersikap demikian karena orangtua terlalu sibuk
dengan pekerjaan, karir dan urusan sosial.
52
Oleh karena itu walaupun sibuk,
orangtua harus memberi perhatian dan bimbingan yang cukup kepada anak
agar anak tersebut merasa mendapat kasih sayang dan tumbuh berkembang
menjadi anak yang baik.
5) Semua yang dilakukan anak sudah benar tidak perlu diberikan teguran
Indikator dari pola asuh permisif berikutnya adalah orangtua
menganggap semua yang dilakukan anak sudah benar dan tidak perlu
diberikan teguran. Biasanya orangtua bersikap demikian karena menganggap
bahwa anak tersebut sudah dewasa sehingga sudah bisa memilih mana yang
baik dan mana yang buruk. Akan tetapi sikap demikian tidak cocok
diterapkan pada anak-anak, karena kalau diterapkan pada anak-anak atau
remaja maka anak tersebut akan bertindak sesuka hati dan sangat berbahaya
sekali terhadap perkembangan anak.

51
Ibid.
52
Ibid., hlm. 90.
41

Dampak negatif pola permisif bagi pembentukan pribadi anak, adalah:
1) Anak merasa kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang
tuanya.
2) Anak sering mogok bicara dan tidak mau belajar, serta bertingkah laku
menentang.
3) Anak mudah berontak dan keras kepala.
4) Anak kurang memperhatikan disiplin, baik di lingkungan keluarga, sekolah
maupun dalam pergaulan di masyarakat.
53

Walaupun pola asuh permisif memiliki banyak dampak negatif,
khususnya bagi anak, akan tetapi pola asuh permisif juga memiliki dampak
positif khususnya jika diterapkan dengan anak yang sudah dewasa dan sudah
matang pemikirannya. Sebab dengan pola asuh permisif itu akan melatih anak
yang sudah dewasa dan sudah matang pemikirannya menjadi insan yang mandiri.
Selain itu anak tersebut juga akan merasa hidupnya tidak terkekang oleh aturan-
aturan dari orangtua.
Akan tetapi, apabila pola asuh permisif tidak sesuai jika diterapkan pada
remaja, apalagi pada anak kecil sangat tidak sesuai. Hal ini dikarenakan apabila
pola asuh permisif diterapkan pada remaja atau anak kecil maka dikhawatirkan
dapat mengakibatkan anak berkepribadian buruk.
Dari ketiga pola asuh yang telah diterangkan tadi, dapat disimpulkan
bahwa pola asuh yang paling baik dan paling ideal digunakan untuk mendidik
anak adalah pola demokratis. Akan tetapi tidak semua pendidikan yang diberikan
oleh orang tua harus disajikan dengan demokratis tetapi harus dogmatis seperti
penanaman akidah Islam pada anak, orang tua harus mengajarkan dengan
dogmatis apalagi ketika anak masih kecil. Selain itu orangtua juga harus
memberikan pola asuh dengan dilandasi kasih sayang dan bimbingan dan
keamanan karena dengan pola asuh yang dilandasi dengan kasih sayang,
bimbingan dan keamanan diharapkan bisa berkesan baik pada masa kanak-kanak
dan mampu mempengaruhi kecenderungan anak untuk berperilaku ihsan.

53
Ibid, hal. 90
42

BAB III
DESKRIPSI DATA TENTANG KONDISI UMUM DAN KHUSUS
KELURAHAN MANGKANG KULON KECAMATAN TUGU
KOTA SEMARANG

A. Kondisi Umum Kelurahan Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota
Semarang
1. Data Statis
a. Keterangan Umum
1) Tinggi Pusat Pemerintahan Wilayah Kelurahan
dari permukaan air laut : 5 M
2) Suhu maximum / minimum : 32
o
C
3) Jarak Pusat Pemerintahan Wilayah Kelurahan dengan :
a) Kecamatan : 6 Km 0,10 Jam
b) Kota : 15 Km 0,25 Jam
c) Ibukota Propinsi : 17 Km 0,50 Jam
4) Curah hujan
a) Jumlah hari dengan curah hujan yang terbanyak : 130 hari
b) Banyaknya curah hujan: 500 800 mm / thn
5) Bentuk Wilayah
a) Datar sampai berombak : 100 %
b. Luas Daerah / Wilayah
1) Tanah sawah : 125 ha
a) Irigasi teknis : 84 ha
b) Irigasi setengah teknis : --- ha
c) Irigasi sederhana : --- ha
d) Tadah hujan / sawah rendengan : 41 ha
2) Tanah basah : - ha
a) Tambak : 210 ha
b) Rawa / pasang surut : - ha

43

2. Data Dinamis
a. Kependudukan
1) Jumlah Kepala Keluarga : 1523 KK
2) Penduduk menurut jenis kelamin : Orang
a) Jumlah laki-laki : 1723 Orang
b) Jumlah Perempuan : 1394 Orang
3) Penduduk menurut Kewarganegaraan : 3538 Orang
a) WNI laki laki : 1733 Orang
b) WNI Perempuan : 1805 Orang
c) WNA laki laki : - Orang
d) WNA Perempuan : - Orang
4) Penduduk menurut Agama
a) Islam : 3529 Orang
b) Katholik : 6 Orang
c) Protestan : 3 Orang
d) Hindu : 0 Orang
e) Budha : 0 Orang
5) Penduduk menurut usia
a) 0 4 tahun : 254 Orang
5 9 tahun : 298 Orang
10 14 tahun : 270 Orang
15 19 tahun : 270 Orang
20 24 tahun : 281 Orang
25 29 tahun : 299 Orang
30 34 tahun : 241 Orang
35 39 tahun : 282 Orang
40 44 tahun : 251 Orang
45 49 tahun : 230 Orang
50 54 tahun : 214 Orang
55 59 tahun : 201 Orang
60 64 tahun : 178 Orang
65 tahun ke atas : 155 Orang
44

b. Pemerintahan Kelurahan
1) Jumlah Pegawai Kantor Kelurahan : 8 Pegawai
a) Pegawai golongan IV : - Pegawai
b) Pegawai golongan III : 5 Pegawai
c) Pegawai golongan II : 2 Pegawai
d) Pegawai golongan I : - Pegawai
e) Pegawai TPHL : - Pegawai
f) Pegawai Wiyata Bakti : 1 Pegawai
2) Jumlah Pegawai Instansi Vertikal dan Otonom
di tingkat Kelurahan non Pegawai Kelurahan : - Pegawai
a) Pegawai golongan IV : - Pegawai
b) Pegawai golongan III : - Pegawai
c) Pegawai golongan II : - Pegawai
d) Pegawai golongan I : - Pegawai
3) Sarana kerja Kantor Kelurahan
a) Telepon Otomat / non otomat : 1 buah
b) Komputer : 3 buah
c) Faximile : - buah
d) Radio Telekomunikasi : - buah
e) Jumlah Mesin Tik : 2 buah
f) Meja Kerja : 14 buah
g) Kursi Kerja : 18 buah
h) Meja kursi tamu : 6 buah
i) Lemari : 5 buah
j) Ruang Rapat : 1 buah
k) Ruang Data/ Operation Room : 1 buah
l) Gedung Serbaguna : 1 buah
m) Balai Pertemuan : 1 buah
n) Kendaraan Dinas Roda 2 : 3 buah
1


1
Data Kelurahan Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang, diambil pada 23
September 2011.
45

3. Struktur Organisasi Kelurahan Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang
Struktur Organisasi Pemerintahan Kelurahan Mangkang Kulon Kecamatan Tugu kota Semarang
Perda No. 14 tahun 2008 Tanggal 07 Nopember 2008
2

















2
Data Kelurahan Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang, diambil pada 23 September 2011.
LURAH
ADUL MALIK, SH
NIP : 19591129 198703 1 007
SEKRETARIS KELURAHAN
SAIFUDIN MUCHTAR
NIP. 19640919 198712 1 001
KA.SEKSI
PEMERINTAHAN
KUSWANTO
NIP.19640705 199303 1 007


KA. SEKSI
PEMBANGUNAN
LIBRAYANTI DWI A.
NIP.19760923200901 2 001
KA. SEKSI
KESEJ.SOSIAL
SITI KOMARIYAH
NIP.19760229 199703 2 001
KA. SEKSI
TRANTIBUM
PURNOMO
NIP.19590425 199308 1 001
STAF
FARIDA ARYANI
NIP. 19620526 200801 2 001
STAF
Y U H R I
NIP.19701229 200901 1 001
STAF
ABD.WAKHID
WIYATA BHAKTI
STAF
-
KELOMP.
JABATAN
FUNGSIONAL
4
5

46



B. Deskripsi Data tentang Pola Asuh Orangtua dalam mendidik Anak pada
Keluarga Tukang Ojek yang Mangkal di Mangkang Kulon Kecamatan
Tugu Kota Semarang
Pangkalan Ojek Mangkang Kulon sudah berdiri sejak tahun 1979. Sebenarnya
ada sekitar 33 orang yang terdaftar sebagai anggota, akan tetapi dari ke-33 tukang
ojek tersebut banyak yang menjadikan pekerjaan tukang ojek hanya sebagai
pekerjaan samben (sampingan). Bahkan ada sebagian yang sudah tidak menjadi
tukang ojek lagi.
3
Dan yang menjadikan profesi tukang ojek sebagai pekerjaan tetap
adalah Bapak Suharsono, Bapak Sulis, Bapak Rohimin, dan Bapak Sholikhin. Oleh
karena itu, peneliti memutuskan hanya meneliti pola asuh dari kelima orang tersebut
dalam mendidik agama anak-anak mereka. Dan kriteria pola asuh yang diterapkan
mereka adalah sebagai berikut:
1. Pola Asuh Otoriter
Berdasarkan penelitian yang peneliti lakukan terhadap keluarga tukang ojek
Desa Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang, ternyata keluarga tukang
ojek Desa Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang yang memiliki pola
asuh otoriter adalah sebagai berikut:
a. Bapak Sholikhin
Bapak Sholikhin merupakan seorang tukang ojek yang telah ditinggal
wafat oleh orang tuanya sejak masih kecil. Beliau adalah anak nomor dua dari
tujuh bersaudara, selain itu beliau juga menjadi satu-satunya anak laki-laki dari
tujuh bersaudara. Sehingga tidak heran jika sejak kecil beliau sudah menjadi
tulang-punggung keluarga dan mempunyai sifat keras.
Sekarang beliau tinggal bersama istri beliau yang bernama Siti dan kedua
anaknya yang bernama Khoirul Anam dan Maftuhatus Saadah. Sebenarnya putra

3
Wawancara dengan Bapak Mulyono pada tanggal 8 November 2011 di rumah Bapak
Mulyono.
47

beliau ada tiga tetapi putra yang nomor satu yang bernama Ida Astuti sudah
menikah dan ikut bersama suaminya yang bernama Ahmad.
4

Bapak Sholikhin berangkat mengojek setiap hati sekitar pukul 06.30 WIB
dan dzuhur terkadang pulang untuk istirahat. Kemudian maghrib terkadang
berangkat mengojek lagi.
Di dalam keluarganya, Bapak Sholikhin ternyata masih menggunakan
peraturan dan pengaturan yang keras. Menurut penuturan beliau, beliau berbuat
seperti itu agar ditakuti anak. Supaya diwedeni anak.
5
Setelah ditakuti anak
maka akan muncul aura kewibawaan dan ketika orangtua telah memiliki aura
kewibawaan maka akan mudah untuk mengatur anak.
Walaupun dalam lingkungan keluarga Bapak Sholikhin terlihat agak kaku
(peraturan yang keras) tetapi keharmonisan di dalam keluarga tetap dijaga oleh
Bapak Sholikhin. Seperti yang terjadi ketika peneliti berkunjung ke rumah
keluarga Bapak Sholikhin. Seperti peristiwa berikut ini: Nduk, ndamelke
unjukan! perintah Bapak Sholikhin. Nggih, Pak, jawab Maftuhatus Saadah
yang baru saja pulang dari sekolah.
6

Selain itu di dalam keluarga Bapak Sholikhin pemegang semua kekuasaan
di dalam keluarga adalah orangtua. Hal itu dibuktikan dengan anak Bapak
Sholikhin harus patuh terhadap segala ucapannya seperti jika anak belum belajar
maka Bapak Sholikhin menyuruhnya belajar. Seperti teguran beliau kepada
anaknya, Durung sinau? Sinau sik! (Apakah kamu belum belajar? Belajar
dulu!)
7

Bapak Sholikhin juga menganggap dirinya paling benar sehingga anak
tidak mempunyai hak untuk berpendapat. Dan hukuman dijadikan beliau sebagai
alat ketika seorang anak tidak menurut kepada beliau. Seperti contohnya ketika

4
Wawancara dengan Bapak Sholikhin pada tanggal 16 Oktober 2011 di rumah Bapak
Sholikhin.
5
Wawancara dengan Bapak Sholikhin pada tanggal 16 Oktober 2011 di rumah Bapak
Sholikhin.
6
Observasi di rumah Bapak Sholikhin pada tanggal 16 Oktober 2011 di rumah Bapak
Sholikhin.
7
Observasi di rumah Bapak Sholikhin pada tanggal 16 Oktober 2011 di rumah Bapak
Sholikhin.
48

anak disuruh untuk mengaji atau shalat tidak mau maka Bapak Sholikhin
menghukumnya.
Bapak Sholikhin juga terkadang memaksa anak untuk berperilaku seperti
dirinya seperti harus selalu mencontoh rutinitas ibadah Bapak Sholikhin. Akan
tetapi hal itu dilakukan beliau agar anak-anak beliau berakhlakul karimah. Dan
Bapak Sholikhin juga berusaha untuk menjadi teladan yang baik bagi anak-
anaknya agar dapat dicontoh anak-anaknya
8

2. Pola Asuh Demokratis
Berdasarkan penelitian yang peneliti lakukan terhadap keluarga tukang ojek
Desa Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang, ternyata keluarga tukang
ojek Desa Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang yang memiliki pola
asuh otoriter adalah sebagai berikut:
a. Bapak Rohimin
Bapak Rohimin adalah salah seorang tukang ojek yang mangkal di
Mangkang Kulon. Bahkan ketua tukang ojek Mangkang Kulon adalah beliau.
Penghasilan Beliau setiap bulannya tergolong cukup besar jika dibandingkan
dengan tukang ojek lainnya yaitu minimal berpenghasilan Rp.1.400.000. Hal itu
dikarenakan beliau dikontrak 14 anak untuk mengantar ke sekolah setiap hari.
Sekarang beliau tinggal bersama dengan istri tercinta bernama Suparmi dan tiga
orang anak. Anak sulung Bapak Rohimin bernama Fandi Hermawan sedangkan
yang nomor dua bernama Reza Arvian dan yang bungsu bernama Heni Firdiani.
Dalam lingkungan sosial internal keluarga Bapak Rohimin telah terjadi
komunikasi dua arah yang baik. Dan salah satu contoh implementasinya yaitu
dengan mengupayakan sikap saling terbuka ketika terjadi suatu masalah, dan
diusahakan orangtua harus tahu, seperti yang diungkapkan beliau ketika
diwawancarai. Nek ono masalah ojo diendem kalau ada masalah diusahakan

8
Wawancara dengan Bapak Sholikhin pada tanggal 16 Oktober 2011 di rumah Bapak
Sholikhin.
49

curhat dengan Bapak
9
(jika ada masalah jangan disembunyikan di dalam hati,
diusahakan curhat dengan Bapak).
Memang Bapak Rohimin adalah seorang tukang ojek, walaupun
demikian, beliau tetap mendidik anak-anaknya supaya bekerja keras dan mandiri
dengan memberi kesempatan untuk tidak tergantung dengan orangtua.
Dan ternyata didikan kerja keras dan mandiri yang diberikan oleh Bapak
Rohimin ternyata membuahkan hasil. Hal itu terbukti dengan kedua anaknya
sekarang telah bekerja, Fandi Hernawan putra sulung beliau sekarang bekerja
sebagai penjual pulsa, sedangkan putra beliau yang nomor dua yang bernama
Reza Arvian sekarang bekerja di pabrik mie.
10

Dan ketika ada sebuah masalah dalam keluarga Bapak Rohimin juga
berusaha memecahkan masalah tersebut dengan jalan berdiskusi. Salah satu
contohnya adalah ketika anak nomor tiga Bapak Rohimin yang bernama Heni
Firdiani ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, Bapak Rohimin
tidak langsung memutuskan sendiri akan melanjutkan ke mana Heni itu, tetapi
Bapak Rohimin terlebih dahulu mendiskusikannya dengan Heni dan hasil dari
diskusi itulah yang menentukan akan melanjutkan ke mana Heni itu. Dan
ternyata kedua belah pihak memutuskan Heni untuk melanjutkan ke SMK
Texmaco. Itu menunjukkan bahwa Bapak Rohimin adalah orang yang bijaksana.
Kebijaksanaan Bapak Rohimin juga bisa dilihat ketika anak berbuat salah maka
Bapak Rohimin tidak langsung menghukumnya akan tetapi menasehatinya
dengan penjelasan-penjelasan. Salah satu contoh konkretnya adalah ketika sang
anak bergaul dengan lawan jenis secara berlebihan maka Bapak Rohimin tidak
langsung memukulnya akan tetapi terlebih dahulu menasehatinya dengan halus.
11

Peraturan dari Bapak Rohimin juga cukup luwes. Hal ini dapat dibuktikan
dengan tidak langsung memaksa anak-anak beliau agar selalu mengikuti

9
Wawancara dengan Bapak Rohimin pada tanggal 14 Oktober 2011 di rumah Bapak
Rohimin.
10
Wawancara dengan Bapak Rohimin pada tanggal 14 Oktober 2011 di rumah Bapak
Rohimin.
11
Wawancara dengan Bapak Rohimin pada tanggal 14 Oktober 2011 di rumah Bapak
Rohimin.
50

perintahnya dan memaksa anak agar selalu berperilaku seperti dirinya akan tetapi
beliau terlebih dahulu mengarahkan dan membimbing anaknya ke jalan yang
lurus. Seperti ketika beliau mengarahkan anaknya untuk shalat berjamaah dan
untuk belajar Al-Qur'an, beliau tidak langsung memaksa dan menyeret anaknya
agar menuruti perintahnya akan tetapi terlebih dahulu beliau membimbing dan
mengarahkan anaknya agar mau berjamaah ke masjid dan untuk belajar Al-
Qur'an.
Bapak Rohimin juga ternyata mengakui adanya kemampuan lebih pada
anaknya. Salah satu contoh konkretnya adalah dengan mengakui kemampuan
lebih putri bungsunya dalam hal berorganisasi sehingga mempercayai anak
bungsunya yang bernama Heni Firdiani mengikuti kegiatan remaja dan aktif
dalam karang taruna di desanya yaitu IRKA (Ikatan Remaja Kauman).
12

b. Bapak Mulyono
Bapak Mulyono adalah salah satu tukang ojek yang mangkal di
Mangkang Kulon.Walaupun Bapak Mulyono adalah seorang tukang ojek tetapi
beliau ternyata memiliki peraturan dan pengaturan yang luwes dalam keluarga
beliau. Hal itu ditandai dengan prinsip beliau yang diterapkan kepada anaknya
yaitu Bebas tapi terbatas artinya anaknya boleh melakukan hal apa saja asalkan
hal tersebut positif. Salah satu contohnya yaitu dengan memberikan izin keluar
(bermain) pada hari libur asal tidak macem-macem (melakukan hal yang
negatif).
13

Bapak Mulyono adalah seseorang yang terbuka dengan anak-anaknya.
Hal ini dapat dibuktikan dengan anak beliau yang bernama Danang sering curhat
kepada beliau. Selain itu komunikasi beliau dengan anaknya tersebut juga
termasuk baik yaitu dengan mengajak ngobrol bareng ketika ada masalah.
Salah satu contohnya yaitu ketika Danang meminta motor, akan tetapi Bapak
Mulyono tidak langsung menurutinya kemudian Danang diajak diskusi dan

12
Wawancara dengan Bapak Rohimin pada tanggal 14 Oktober 2011 di rumah Bapak
Rohimin.
13
Wawancara dengan Bapak Mulyono pada tanggal 8 November 2011 di rumah Bapak
Mulyono.
51

akhirnya terjadi kesepakatan yaitu Bapak Mulyono akan membelikan Danang
motor apabila Danang sudah menjadi karyawan tetap.
14

Bapak Mulyono juga mengakui adanya kemampuan lebih yang dimiliki
anaknya dan salah satu contohnya adalah beliau menganggap Danang sudah
dewasa sehingga sudah mampu memilih mana yang baik dan yang buruk bagi
dirinya. Dan salah satu contoh konkretnya adalah dengan tidak menyalahkan
Danang tidak meneruskan mengajinya di Ponpes Al-Ishlah karena alasan sibuk
dan waktunya tersita untuk bekerja di gudang Indomaret. Bapak Mulyono
beranggapan bahwa Danang sudah dewasa dan sudah mampu memilih mana
yang baik dan mana yang buruk bagi dirinya, selain itu Bapak Mulyono juga
beranggapan bahwa walaupun sudah tidak mengaji lagi, akan tetapi Danang
masih menjalankan syariat Islam seperti shalat wajib dan puasa Ramadhan.
Selain itu Bapak Mulyono juga memberi kesempatan kepada anaknya
untuk tidak tergantung pada beliau dan salah satu contohnya adalah dengan
memberi kesempatan anaknya untuk mencuci pakaiannya sendiri agar
pakaiannya bersih dan suci.
15



3. Pola Asuh Permisif
Berdasarkan penelitian yang peneliti lakukan terhadap keluarga tukang ojek
Desa Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang, ternyata keluarga tukang
ojek Desa Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang yang memiliki pola
asuh permisif adalah sebagai berikut:
a. Bapak Suharsono
Bapak Suharsono merupakan tukang ojek yang paling aktif di antara
tukang ojek lain. Selain itu beliau juga memiliki jam terbang terlama di antara

14
Wawancara dengan Bapak Mulyono pada tanggal 8 November 2011 di rumah Bapak
Mulyono.
15
Wawancara dengan Bapak Mulyono pada tanggal 8 November 2011 di rumah Bapak
Mulyono.
52

tukang ojek lain. Beliau berangkat sekitar pukul 08.00 sampai malam hari.
16

Sekarang beliau tinggal hanya dengan anak bungsu beliau yang bernama Heru
Tri Pujiono. Hal itu dikarenakan istri beliau telah lama meninggal dunia. Oleh
karena itu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan khususnya yang berkaitan
dengan pekerjaan wanita, seperti mencuci dan bersih-bersih rumah, beliau
lakukan sendiri demi kebahagiaan keluarga. Bahkan sampai-sampai memasak
pun beliau lakukan karena ingin menjadi ibu bagi anaknya.
Putra Bapak Suharsono berjumlah tiga orang yang sulung bernama Andik
Haryanto, kemudian yang kedua bernama Tedi Kuntoro dan yang terakhir
bernama Heru Tri Pujiono. Dari ketiga putra beliau ada satu orang yang spesial
dan rada mbalelo yaitu Heru Tri Pujiono. Dia sering bolos sekolah, bahkan
sampai dikeluarkan dari SMA 8 Semarang. Hal itu dikarenakan karena Bapak
Suharsono kurang dapat memberikan aturan dan pengarahan yang baik terhadap
Heru sehingga Heru bertindak sesuka hati. Seperti kata beliau, Putra sing niki
(Heru) rada mbalelo. (Anak ini [Heru] agak nakal)
17

Kontrol dari Bapak Suharsono juga sangat lemah sehingga Heru sering
keluyuran malam, bahkan ketika peneliti berkunjung ke rumah Bapak
Suharsono sekitar pukul 21.00 WIB, dia belum menunjukkan batang hidungnya
di rumah.
18

Didikan yang diberikan kepada anaknya juga sangat bebas yaitu dengan
membiarkan anaknya bebas bermain sesuka hati bahkan sampai larut malam
belum pulang. Beliau juga menganggap semua yang dilakukan oleh anaknya
sudah benar sehingga tidak perlu memberikan teguran, arahan dan bimbingan.
Hal itu dapat dilihat dari pandangan beliau yang menganggap anaknya sudah
dewasa sehingga sudah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang
buruk. Dan contoh konkretnya adalah dengan membiarkan anak bungsunya yang
bernama Heru Tri Pujiono keluyuran sampai larut malam tanpa pengawasan dari

16
Wawancara dengan Bapak Suharsono pada tanggal 19 Oktober 2011 di rumah Bapak
Suharsono.
17
Wawancara dengan Bapak Suharsono pada tanggal 19 Oktober 2011 di rumah Bapak
Suharsono.
18
Observasi di rumah Bapak Suharsono pada tanggal 19 Oktober 2011.
53

beliau. Selain itu Bapak Suharsono juga kesulitan untuk memberikan bimbingan
tentang agama khususnya yang berkaitan dengan shalat.
Sebenarnya dahulu pengarahan yang dilakukan Bapak Suharsono
terhadap anak-anaknya sudah cukup baik sehingga putra beliau yang sulung yang
bernama Andik bisa menjadi marinir. Akan tetapi sekarang sudah berubah.
Beliau sekarang kurang memberikan pengarahan kepada anaknya khususnya
kepada Heru karena dia tidak menggubris ucapannya, akhirnya Bapak Suharsono
membiarkan Heru bertindak sesuka hati.
b. Bapak Sulis
Bapak Sulis merupakan salah satu dari sekian banyak orangtua yang
berprofesi sebagai tukang ojek. Beliau tinggal bersama istri tercinta beliau yang
bernama Purwanah dan putra tunggal beliau yang bernama Muhammad Riki.
Bapak Sulis mulai berangkat mengojek biasanya pukul 06.30 WIB kemudian
sekitar pukul 12.00 WIB istirahat dan pulang sekitar pukul 16.00 WIB sampai
pukul 18.00 WIB.
19

Sedangkan putra beliau sekarang bersekolah di MI Miftahul Athfal kelas
5. Beliau memilih sekolah tersebut sebagai tempat menimba ilmu bagi putra
beliau karena MI Miftahul Athfal dekat dengan rumah beliau.
20

Beliau mendidik anak beliau secara bebas. Hal itu dapat dilihat dari
komunikasi yang mereka jalin terkadang terlalu over (berlebihan), sehingga
terkadang melewati batas-batas norma kesopanan seperti saling ejek (bercanda)
yang berlebihan antara bapak dengan anak. Seperti penuturan beliau, Ya,
kadang poyok-poyokan (Ya, terkadang saling ejek/bercanda). Hal tersebut
menggambarkan hubungan antara Bapak Sulis dan anaknya melampaui batas
norma kesopanan yang seharusnya dipegang oleh setiap keluarga. Peraturan dan
pengaturan yang diberikan oleh Bapak Sulis kepada anaknya juga agak kurang
(longgar) sehingga anaknya terkadang bebas menggunakan waktu semaunya.
Salah satu contohnya adalah dengan membiarkan anaknya bermain dan nonton
TV tanpa batas waktu sehingga jarang-jarang belajar.

19
Wawancara dengan Bapak Sulis pada tanggal 7 Oktober 2011 di rumah Bapak Sulis.
20
Wawancara dengan Bapak Sulis pada tanggal 7 Oktober 2011 di rumah Bapak Sulis.
54

Selain itu kontrol dari Bapak Sulis juga sangat lemah. Hal itu terbukti
dengan membiarkan anaknya bermain tanpa batas waktu. Salah satu contohnya
adalah dengan membiarkan Riki bermain sepak bola sampai sore bahkan sampai
maghrib.
Riki juga senang sekali menonton TV tanpa batas waktu. Hal itu
dikarenakan Riki kurang mendapat bimbingan dan motivasi dari Bapak Sulis.
Seperti kata beliau, Jarang-jarang belajar. Nonton TV thok, biasa.
21
Hal
tersebut juga dikarenakan Bapak Sulis menganggap bahwa anak sudah besar dan
semua yang dilakukan anak sudah benar dan tidak perlu diberikan teguran,
arahan atau bimbingan. Bapak Sulis juga jarang memberikan bimbingan agama
yang cukup pada anaknya khususnya bimbingan tentang shalat. Walaupun
demikian ternyata ada sifat positif dari beliau yaitu terkadang beliau menyuruh
anaknya untuk belajar agama yaitu dengan mengaji di madrasah diniyah.
22

Demikianlah penelitian yang peneliti lakukan terhadap keluarga tukang ojek
yang mangkal di Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang. Dari penelitian
yang peneliti lakukan terhadap keluarga tukang ojek yang mangkal di Mangkang
Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang, ternyata tukang ojek yang terdaftar sebagai
anggota adalah 33 orang akan tetapi yang aktif terkadang 12, terkadang 5 dan
bahkan hanya 2 orang saja. Hal itu dikarenakan pekerjaan tukang ojek dijadikan
samben (sampingan ). Dari 33 ojek yang terdaftar menjadi anggota, ternyata yang
menjadikan profesi tukang ojek sebagai pekerjaan tetap adalah Bapak Sholikhin,
Bapak Rohimin, Bapak Mulyono, Bapak Suharsono dan Bapak Sulis. Dan dari
kelima tukang ojek itu yang cenderung memiliki pola asuh otoriter adalah Bapak
Solikhin. Kemudian yang cenderung memiliki pola asuh demokratis adalah Bapak
Rohimin dan Bapak Mulyono. Sedangkan yang cenderung memiliki pola asuh
permisif adalah Bapak Suharsono dan Bapak Sulis.

21
Wawancara dengan Bapak Sulis pada tanggal 7 Oktober 2011 di rumah Bapak Sulis.
22
Wawancara dengan Bapak Sulis pada tanggal 7 Oktober 2011 di rumah Bapak Sulis.
55

Instrumen Wawancara tentang Pola Asuh Orangtua dalam Mendidik
Anak pada Keluarga Tukang Ojek
No Bapak
Sholikhin
Bapak
Rohimin
Bapak
Mulyono
Bapak
Sulis
Bapak
Suharsono
1. A B B B B
2. A B B B B
3. A B B B B
4. A B B B B
5. A B B B B
6. B B B B B
7. A B B B B
8. A B B B B
9. B B B B B
10. A B B B B
11. A A A B A
12. A A A B A
13. A A A B A
14. A A A A A
15. A A A B A
16. A A A B B
17. A A A B A
18. A A A B A
19. A A A B B
20. A A A B A
21. B B B A A
22. B B B A B
23. B B B A A
24. B B B A A
25. B B B A B
26. B B B A B
27. B B B A B
28. B B B A A
29. B B B A B
30. B B B A B
Kesimpulan Demokratis Demokratis Demokratis Permisif Demokratis

NB: 1. Jawaban A = Ya dan B = Tidak
2. Soal nomor 1 10 adalah kriteria Pola asuh Otoriter
3. Soal nomor 11 20 adalah kriteria Pola asuh Demokratis
4. Soal nomor 21 30 adalah kriteria Pola asuh Permisif


56

BAB IV
ANALISIS DATA TENTANG POLA ASUH ORANGTUA DALAM
MENDIDIK AGAMA ANAK PADA KELUARGA TUKANG OJEK
KELURAHAN MANGKANG KULON KECAMATAN TUGU
KOTA SEMARANG

A. Analisis Data tentang Pola Asuh Otoriter dalam Mendidik Agama Anak
pada Keluarga Tukang Ojek Kelurahan Mangkang Kulon Kecamatan Tugu
Kota Semarang
Berdasarkan penelitian yang peneliti lakukan terhadap keluarga tukang ojek
Desa Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang, ternyata keluarga tukang
ojek Desa Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang yang memiliki pola
asuh otoriter adalah sebagai berikut:
1. Bapak Sholikhin
Berdasarkan penelitian yang peneliti lakukan terhadap keluarga tukang ojek
Desa Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang, ternyata keluarga Bapak
Sholikhin cenderung memiliki pola asuh otoriter, hal itu dapat dibuktikan dengan
realitas sebagai berikut:
a. Bapak Sholikhin memiliki peraturan dan pengaturan yang keras dan kaku. Hal itu
dapat dilihat dari prinsip beliau yaitu Supaya diwedeni anak.. Setelah ditakuti
anak maka akan muncul aura kewibawaan dan ketika orangtua telah memiliki
aura kewibawaan maka akan mudah untuk mengatur anak.
b. Pemegang semua kekuasaan dalam keluarga adalah orangtua. Hal ini dibuktikan
dengan anak Bapak Sholikhin harus patuh terhadap segala ucapannya, seperti jika
anak belum belajar maka Bapak Sholikhin menyuruhnya belajar. Seperti teguran
beliau kepada anaknya, Durung sinau? Sinau sik! (Apakah kamu belum
belajar? Belajar dulu!)
c. Anak tidak mempunyai hak untuk berpendapat. Hal ini dilakukan oleh Bapak
Sholikhin karena Beliau menganggap dirinya paling benar dan anak harus patuh
terhadapnya.
57

d. Hukuman dijadikan alat jika anak tidak menurut. Seperti contohnya ketika anak
disuruh untuk mengaji atau shalat tidak mau maka Bapak Sholikhin
menghukumnya.
e. Bapak Sholikhin terkadang memaksa anak untuk berperilaku seperti dirinya
seperti harus selalu mencontoh rutinitas ibadah Bapak Sholikhin. Hal itu
dilakukan beliau agar anak-anak beliau berakhlakul karimah. Dan Bapak
Sholikhin juga berusaha untuk menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya agar
dapat dicontoh anak-anaknya.
Dari fakta-fakta di atas maka peneliti mengambil kesimpulan bahwa Bapak
Sholikhin memiliki pola asuh yang cenderung otoriter. Walaupun pada data
instrumen wawancara menunjukkan bahwa beliau mempunyai pola asuh yang
cenderung demokratis, akan tetapi kalau dilihat dari fakta yang ada yang
menunjukkan bahwa Bapak Sholikhin mempunyai pola asuh yang cenderung
otoriter. Maka peneliti lebih condong mempercayai fakta yang ada dan
menyimpulkan bahwa Bapak Sholikhin cenderung memiliki pola asuh yang otoriter.

B. Analisis Data tentang Pola Asuh Demokrasi dalam Mendidik Agama Anak
pada Keluarga Tukang Ojek Kelurahan Mangkang Kulon Kecamatan Tugu
Kota Semarang
Berdasarkan penelitian yang peneliti lakukan terhadap keluarga tukang ojek
Desa Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang, ternyata keluarga tukang
ojek Desa Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang yang memiliki pola
asuh demokratis adalah sebagai berikut:
1. Bapak Rohimin
Berdasarkan penelitian yang peneliti lakukan terhadap keluarga tukang ojek
Desa Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang, ternyata keluarga Bapak
Rohimin cenderung memiliki pola asuh demokratis, hal itu dapat dibuktikan dengan
realitas sebagai berikut:
a. Peraturan dari Bapak Rohimin cukup luwes. Hal ini dapat dibuktikan dengan
beliau tidak langsung memaksa anak-anak beliau agar selalu mengikuti
perintahnya dan memaksa anak agar selalu berperilaku seperti dirinya, akan
58

tetapi beliau terlebih dahulu mengarahkan dan membimbing anaknya ke jalan
yang lurus. Seperti ketika beliau mengarahkan anaknya untuk shalat berjamaah
dan untuk belajar Al-Qur'an, beliau tidak langsung memaksa dan menyeret
anaknya agar menuruti perintahnya akan tetapi terlebih dahulu beliau
membimbing dan mengarahkan anaknya agar mau berjamaah ke masjid dan
untuk belajar Al-Qur'an.
b. Menggunakan penjelasan dan diskusi dalam berkomunikasi. Salah satu
contohnya adalah ketika anak nomor tiga Bapak Rohimin yang bernama Heni
Firdiani ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, Bapak Rohimin
tidak langsung memutuskan sendiri akan melanjutkan ke mana Heni itu, tetapi
Bapak Rohimin terlebih dahulu mendiskusikannya dengan Heni dan hasil dari
diskusi itulah yang menentukan akan melanjutkan ke mana Heni itu. Dan
ternyata kedua belah pihak memutuskan Heni untuk melanjutkan ke SMK
Texmaco. Selain itu ketika anak berbuat salah Beliau tidak langsung
menghukumnya tetapi menjelaskan bahwa perbuatan itu salah dan kemudian
menasehatinya agar tidak mengulanginya lagi. Seperti ketika sang anak bergaul
dengan lawan jenis secara berlebihan maka Bapak Rohimin tidak langsung
memukulnya akan tetapi terlebih dahulu menasehatinya dengan halus.
c. Adanya sikap terbuka antara Bapak Rohimin dan Anaknya. Hal itu dapat
dibuktikan dengan adanya komunikasi dua arah yang baik diantara Bapak
Rohimin dengan anaknya. Dan salah satu contoh implementasinya yaitu dengan
mengupayakan sikap saling terbuka ketika terjadi suatu masalah, dan diusahakan
orangtua harus tahu
d. Adanya pengakuan Bapak Rohimin terhadap kemampuan anaknya. Salah satu
contoh konkretnya adalah dengan mengakui kemampuan lebih putri bungsunya
dalam hal berorganisasi sehingga mempercayai anak bungsunya yang bernama
Heni Firdiani mengikuti kegiatan remaja dan aktif dalam karang taruna di
desanya yaitu IRKA (Ikatan Remaja Kauman).
e. Bapak rohimin memberi kesempatan terhadap anaknya agar tidak tergantung
kepada Beliau yaitu dengan mendidik mereka agar berlatih kerja keras dan
mandiri.
59

2. Bapak Mulyono
Berdasarkan penelitian yang peneliti lakukan terhadap tukang ojek Mangkang
Kulon khususnya terhadap keluarga Bapak Mulyono, ternyata Bapak Mulyono
cenderung memiliki pola asuh yang demokratis. Hal itu dapat dibuktikan dengan
realitas yang ada yakni:
a. Peraturan dari Bapak Mulyono terhadap keluarga Beliau cukup luwes. Hal itu
ditandai dengan prinsip beliau yang diterapkan kepada anaknya yaitu Bebas tapi
terbatas artinya anaknya boleh melakukan hal apa saja asalkan hal tersebut
positif. Salah satu contohnya yaitu dengan memberikan izin keluar untuk bermain
pada hari libur asal melakukan hal yang negatif.
b. Bapak Mulyono menggunakan penjelasan dan diskusi dalam berkomunikasi
dengan anaknya. Salah satu contohnya yaitu ketika Danang meminta motor, akan
tetapi Bapak Mulyono tidak langsung menurutinya kemudian Danang diajak
diskusi dan akhirnya terjadi kesepakatan yaitu Bapak Mulyono akan membelikan
Danang motor apabila Danang sudah menjadi karyawan tetap.
c. Bapak Mulyono mempunyai sikap terbuka dengan anaknya. Hal ini dapat
dibuktikan dengan anak beliau yang bernama Danang sering curhat kepada
beliau. Selain itu komunikasi beliau dengan anaknya tersebut juga termasuk baik
yaitu dengan mengajak ngobrol bareng ketika ada masalah.
d. Bapak Mulyono mengakui adanya kemampuan lebih yang dimiliki anak-anak
Beliau, salah satu contohnya adalah beliau menganggap Danang sudah dewasa
sehingga sudah mampu memilih mana yang baik dan yang buruk bagi dirinya.
Dan salah satu contoh konkretnya adalah dengan tidak menyalahkan Danang
tidak meneruskan mengajinya di Ponpes Al-Ishlah karena alasan sibuk dan
waktunya tersita untuk bekerja di gudang Indomaret. Bapak Mulyono
beranggapan bahwa Danang sudah dewasa dan mampu untuk mengatur dirinya
sendiri sehingga dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk bagi
dirinya.
e. Bapak Mulyono memberi kesempatan kepada anaknya untuk tidak tergantung
pada beliau dan salah satu contohnya adalah dengan memberi kesempatan
anaknya untuk mencuci pakaiannya sendiri agar pakaiannya bersih dan suci.
60

C. Analisis Data tentang Pola Asuh Permisif dalam Mendidik Agama Anak
pada Keluarga Tukang Ojek Kelurahan Mangkang Kulon Kecamatan Tugu
Kota Semarang
Berdasarkan penelitian yang peneliti lakukan terhadap keluarga tukang ojek
Desa Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang, ternyata keluarga tukang
ojek Desa Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang yang memiliki pola
asuh permisif adalah sebagai berikut:
1. Bapak Suharsono
Menurut pandangan peneliti, Bapak Suharsono cenderung memiliki pola
asuh permisif dalam mendidik anak-anak beliau. Hal itu terbukti dari realitas yang
ada antara lain:
a. Bapak Suharsono kurang dapat memberikan aturan dan pengarahan yang cukup
terhadap anak Beliau, khususnya kepada Heru. Hal tersebut menimbulkan Heru
terlalu bebas untuk mengatur dirinya dan bertindak sesuka hati. Bahkan karena
terlalu bebas dia sering bolos sekolah dan berkelahi sehingga dia dikeluarkan dari
SMA 8 Semarang.
b. Kontrol dari Bapak Suharsono juga sangat lemah. Hal itu membuat anak-anak
beliau merasa kurang mendapat perhatian dari Beliau sehingga anak-anak Beliau
sering lepas kontrol dari beliau, seperti Heru sering keluyuran malam, bahkan
ketika peneliti berkunjung ke rumah Bapak Suharsono sekitar pukul 21.00 WIB,
dia belum pulang.
c. Didikan yang diberikan oleh Bapak Suharsono kepada anaknya sangat bebas.
Salah satu contohnya adalah dengan membiarkan anaknya bebas bermain sesuka
hati, bahkan dibiarkan keluar sampai larut malam belum pulang tanpa
pengawasan Beliau.
d. Bapak Suharsono kesulitan untuk memberikan bimbingan tentang agama
khususnya yang berkaitan dengan shalat. Beliau sangat jarang sekali memberikan
bimbingan tentang shalat kepada anaknya.
e. Bapak Suharsono menganggap semua yang dilakukan oleh anaknya sudah benar
sehingga tidak perlu memberikan teguran, arahan dan bimbingan. Hal itu dapat
dilihat dari pandangan beliau yang menganggap anaknya sudah dewasa sehingga
61

sudah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dan contoh
konkretnya adalah dengan membiarkan anak bungsunya yang bernama Heru Tri
Pujiono keluyuran sampai larut malam tanpa pengawasan dari beliau.
Dari fakta-fakta di atas maka peneliti mengambil kesimpulan bahwa Bapak
Suharsono memiliki pola asuh yang cenderung permisif. Walaupun pada data
instrumen wawancara menunjukkan bahwa beliau mempunyai pola asuh yang
cenderung demokratis, akan tetapi kalau dilihat dari fakta yang ada yang
menunjukkan bahwa Bapak Suharsono mempunyai pola asuh yang cenderung
permisif. Maka peneliti lebih condong mempercayai fakta yang ada dan
menyimpulkan bahwa Bapak Suharsono cenderung memiliki pola asuh yang
permisif.
2. Bapak Sulis
Dari penelitian yang peneliti lakukan, Bapak Sulis ternyata mempunyai pola
asuh yang cenderung permisif. Hal itu dapat dilihat dari realitas yang ada antara lain
a. Bapak Sulis kurang memberikan peraturan dan pengaturan kepada anaknya.
Sehingga anaknya terkadang bebas menggunakan waktu semaunya. Salah satu
contohnya adalah dengan membiarkan anaknya bermain dan nonton TV tanpa
batas waktu sehingga jarang-jarang belajar.
b. Kontrol dari Bapak Sulis terhadap anaknya sangat lemah. Hal itu terbukti dengan
membiarkan anaknya bermain tanpa batas waktu. Salah satu contohnya adalah
dengan membiarkan Riki bermain sepak bola sampai sore bahkan sampai
maghrib.
c. Bapak Sulis mendidik anak beliau secara bebas. Hal itu dapat dilihat dari
komunikasi yang mereka jalin yang terkadang melewati batas-batas norma
kesopanan, seperti bercanda yang berlebihan antara Bapak Sulis dengan anaknya.
d. Bapak Sulis juga jarang memberikan bimbingan agama yang cukup pada
anaknya khususnya bimbingan tentang shalat. Walaupun demikian ternyata ada
sifat positif dari beliau yaitu terkadang beliau menyuruh anaknya untuk belajar
agama yaitu dengan mengaji di madrasah diniyah.
e. Riki juga senang sekali menonton TV tanpa batas waktu. Hal itu dikarenakan
Riki kurang mendapat bimbingan dan motivasi dari Bapak Sulis. Seperti kata
62

beliau, Jarang-jarang belajar. Nonton TV thok, biasa. Hal tersebut juga
dikarenakan Bapak Sulis menganggap bahwa anak sudah besar dan semua yang
dilakukan anak sudah benar dan tidak perlu diberikan teguran, arahan atau
bimbingan.
Dari penelitian yang peneliti lakukan dari tanggal 23 September sampai 9
Nopember, ternyata yang menjadikan profesi tukang ojek sebagai pekerjaan tetap
adalah Bapak Sholikhin, Bapak Rohimin, Bapak Mulyono, Bapak Suharsono dan
Bapak Sulis. Dan dari kelima tukang ojek itu yang cenderung memiliki pola asuh
otoriter adalah Bapak Solikhin. Kemudian yang cenderung memiliki pola asuh
demokratis adalah Bapak Rohimin dan Bapak Mulyono. Sedangkan yang cenderung
memiliki pola asuh permisif adalah Bapak Suharsono dan Bapak Sulis. Dan ternyata
tukang ojek yang cenderung menggunakan pola asuh demokratis dalam mendidik
anaknya memiliki kedekatan emosi yang baik dan keterbukaan antara orangtua dan
anak dan berakhlaq cenderung baik. Hal itu disebabkan karena tukang ojek yang
cenderung demokratis dalam mendidik anaknya menggunakan peraturan yang lebih
luwes, mereka (orangtua) menggunakan penjelasan dan diskusi dalam berkomunikasi
dengan anak, adanya sikap terbuka antara orangtua dan anak, adanya pengakuan
orangtua terhadap kemampuan anak-anaknya, memberi kesempatan untuk tidak
tergantung dengan orangtua.
Sedangkan tukang ojek yang cenderung menggunakan pola asuh otoriter dan
permisif dalam mendidik agama anak ternyata ada semacam sekat atau
kerenggangan hubungan antara orangtua dengan anak. Bahkan tukang ojek yang
cenderung menggunakan pola asuh permisif dalam mendidik anaknya, ternyata
anaknya cenderung brutal (nakal). Hal itu disebabkan karena tukang ojek yang
memiliki pola asuh otoriter menggunakan peraturan dan pengaturan yang keras
(kaku), orangtua memegang semua kekuasaan, anak tidak mempunyai hak untuk
berpendapat, hukuman dijadikan alat jika anak tidak menurut, seringkali memaksa
anak untuk berperilaku seperti dirinya (orangtua). Sedangkan tukang ojek yang
cenderung menggunakan pola asuh permisif tidak memberikan aturan atau
pengarahan yang cukup kepada anak, kontrol orangtua sangat lemah, mendidik anak
secara bebas, mereka (orangtua) tidak memberikan bimbingan yang cukup, semua
63

yang dilakukan anak sudah benar tidak perlu diberikan teguran. Sehingga tukang
ojek yang cenderung menggunakan pola asuh otoriter dan permisif dalam mendidik
agama anak ternyata ada semacam sekat atau kerenggangan hubungan antara
orangtua dengan anak. Bahkan tukang ojek yang cenderung menggunakan pola asuh
permisif dalam mendidik anaknya, ternyata anaknya cenderung brutal (nakal).
Oleh karena itu peneliti menghimbau kepada semua orangtua, khususnya
kepada tukang ojek Kelurahan Mangkang Kulon Kecamatan Tugu Kota Semarang
agar menggunakan pola asuh demokratis dalam mendidik agama pada anak. Akan
tetapi tidak semua pendidikan yang diberikan oleh orang tua harus disajikan dengan
demokratis tetapi harus dogmatis seperti penanaman akidah Islam pada anak, orang
tua harus mengajarkan dengan dogmatis apalagi ketika anak masih kecil. Karena
dikhawatirkan anak yang masih kecil belum mengerti secara pasti mana yang benar
dan mana yang salah dalam hal ketauhidan.
64

BAB V
KESIMPULAN, SARAN DAN PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil yang telah disajikan dalam bab sebelumnya dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
1. Tukang ojek yang mangkal di Mangkang Kulon yang cenderung memiliki pola
asuh otoriter dalam mendidik agama anaknya adalah 20%, dengan ciri-ciri:
a. Orangtua memiliki peraturan dan pengaturan yang keras (kaku)
b. Pemegang semua kekuasaan adalah orangtua
c. Anak tidak mempunyai hak untuk berpendapat
d. Hukuman dijadikan alat jika anak tidak menurut
e. Seringkali memaksa anak untuk berperilaku seperti dirinya (orangtua)
2. Tukang ojek yang mangkal di Mangkang Kulon yang cenderung memiliki pola
asuh demokratis dalam mendidik agama anaknya adalah 40%, dengan ciri-ciri:
a. Peraturan dari orangtua lebih luwes
b. Mereka (orangtua) menggunakan penjelasan dan diskusi dalam
berkomunikasi dengan anak
c. Adanya sikap terbuka antara orangtua dan anak
d. Adanya pengakuan orangtua terhadap kemampuan anak-anaknya
e. Memberi kesempatan untuk tidak tergantung dengan orangtua
3. Tukang ojek yang mangkal di Mangkang Kulon yang cenderung memiliki pola
asuh permisif dalam mendidik agama anaknya adalah 40%, dengan ciri-ciri:
a. Mereka (orangtua) tidak memberikan aturan atau pengarahan kepada anak
b. Kontrol orangtua sangat lemah
c. Mendidik anak secara bebas
d. Mereka (orangtua) Tidak memberikan bimbingan yang cukup
e. Semua yang dilakukan anak sudah benar tidak perlu diberikan teguran


65

B. SARAN
Setelah selesai penyusunan skripsi ini penulis dapat mengemukakan saran-
saran sebagai berikut:
1. Bagi orangtua, orangtua merupakan pendidik yang pertama dan utama oleh
karena itu orangtua harus mendidik anak dengan baik agar anak sukses di dunia
dan akhirat.
2. Bagi anak, seorang anak harus selalu menghormati dan taat kepada orangtua serta
berusaha untuk Mikul dhuwur mendem jero. Karena bagaimanapun juga
orangtua telah berjasa banyak kepada seorang anak seperti melahirkan dan
membesarkan anak tersebut.
3. Bagi para tukang ojek, ayo tunjukkan bahwa profesi sebagai tukang ojek
bukanlah profesi yang jelek yang selalu diremehkan masyarakat.

C. PENUTUP
Dengan rasa syukur yang tak terhingga penulis ucapkan Alhamdulillah
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayat dan inayahnya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, walaupun belum mencapai hasil
yang sempurna. Semua itu dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman
serta hal-hal yang lain, maka penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
konstruktif demi kesempurnaan skripsi ini.
Akhirnya kepada semua pihak yang telah memberikan sumbangsih baik
berupa pikiran, tenaga maupun doa, penulis ucapkan terima kasih, dan penulis
berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Dan semoga kita
selalu mendapat ridlo dan rahmat Allah SWT agar senantiasa mendapat bimbingan
dari-Nya baik di dunia maupun di akhirat. Amin.



DAFTAR PUSTAKA

Abdurrrahman, Jamal, Tahapan Mendidik Anak Teladan Rasulullah, Terj. Bahrun
Abubakar Ihsan Zubaidi, Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2005, cet. 1.
Ahmadi, Abu dan Munawar Sholeh, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Rineka Cipta,
2005, cet 1.
Al-Bukhari, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail, Shahih Bukhari, Juz 3, Indonesia:
Maktabah Dahlan . 1984.
Arikunto, Suharsimi, Manajemen Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2003, cet. 6.
_________, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Edisi Revisi VI, Jakarta:
Rineka Cipta, 2006, cet. 13.
Daradjat, Zakiah, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 1996, cet. 15.
Djamarah, Syaiful Bahri, Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak dalam Keluarga
Sebuah Perspektif Pendidikan Islam , Jakarta: Asdi Mahasatya, 2004. 16.
Fadjri, M,. Individu, Keluarga dan Masyarakat, dalam Darmansyah M. eds, Ilmu
Sosial Dasar, Surabaya: Usaha Nasional, 1986, cet. 1.
Hadi, Sutrisno, Metodologi Research Jilid I, Yogyakarta: Andi Offset, 2004, cet. 1.
_________, Metodologi Research Jilid II, Yogyakarta: Andi, 2002, cet. 27.
Hakim, M. Arief, Mendidik Anak Secara Bijak, Panduan Keluarga Muslim Modern,
Bandung, Marjal, 2002.
Hasyimi, Sayyid Ahmad, Mukhtar Al-Hadits An-Nabawiyyah, Surabaya: Al-
Haromain Jaya Indonesia, 2005, Cet. I.
Hurlock, Elizabeth B., Perkembangan Anak Jilid 2. Terj. Med. Meitasari Tjandrasa,
Jakarta: Erlangga, 1993, cet. 4.
Idris, Zahara dan H. Lisma Jamal, Pengantar Pendidikan 1, Jakarta: Grasindo, 1995,
cet. 2.
Junaedi, Mahfud, Kyai Bisri Mustofa, Pendidikan Keluarga Berbasis Pesantren,
Semarang: Walisongo Pres, 2009 , cet.1.
Moleong, Lexy J, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya,
2009, cet. 26.
Mueller, Daniel .J., Measuring Social Attitudes, terj. Eddy Soewardi Karta Widjadja,
Mengukur Sikap Sosial Pegangan untuk Peneliti dan Praktisi, Jakarta: Bumi
Aksara, 1992, cet. 1.
Mursid, Kurikulum dan Pedidikan Anak Usia Dini PAUD Sebuah Harapan
Masyarakat, Semarang: AKFI Media, 2010, cet 2, .
Nasution, S., Metodologi Research, Jakarta: Bumi Aksara, 2009, cet. 11..
Prasetya, G. Tembong, Pola Pengasuhan Ideal, Jakarta: Flex Media Koputindo,
2003.
Purwanto, Ngalim, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung: Remaja
Rosdakarya, 1998, cet. 8.
Rahmat, Jalaludin, Islam Alternatif, Bandung: Mizan, 1999, Cet. 10.
Shochib, Moh., Pola Asuh Orang Tua, Jakarta : Rineka Cipta, 2010, cet. 2.
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Bandung: Alfabeta,
2008, cet. 5..
Sulaiman, Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, Al-Mutawaf Mauquul Islam, 275 H.
Suryabrata, Sumadi, Metodologi Penelitian, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002,
cet. 13.
Toha, Chabib, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996,
cet. 1.
Uhbiyati, Nur, dan Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia,
1997, cet.1.
Usman, Husaini, Purnomo Setiady Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, Jakarta:
Bumi Aksara, 2009 , Cet. 2.
Observasi di rumah Bapak Sholikhin pada tanggal 16 Oktober 2011.
http://dewon.wordpress.com/2007/11/04/kategori-20/, diakses tanggal 3 Oktober
2011 pukul 14.15 WIB.
Wawancara dengan Bapak Mulyono pada tanggal 8 November 2011 di rumah Bapak
Mulyono.
Wawancara dengan Bapak Rohimin pada tanggal 14 Oktober 2011 di rumah Bapak
Rohimin.
Wawancara dengan Bapak Sholikhin pada tanggal 16 Oktober 2011 di rumah Bapak
Sholikhin
Wawancara dengan Bapak Suharsono pada tanggal 19 Oktober 2011 di rumah Bapak
Suharsono.
Wawancara dengan Bapak Sulis pada tanggal 7 Oktober 2011 di rumah Bapak Sulis.

AKTIVITAS TUKANG OJEK PADA MALAM HARI DI PANGKALAN
OJEK MANGKANG KULON KECAMATAN TUGU KOTA SEMARANG






1

INSTRUMEN WAWANCARA

1) Apakah di dalam keluarga anda menggunakan peraturan dan pengaturan yang
keras/ kaku?
a. Ya
b. Tidak

2) Apakah anak Anda dalam belajar agama dipaksa?
a. Ya
b. Tidak

3) Apakah anak Anda harus patuh terhadap segala ucapan Anda?
a. Ya
b. Tidak

4) Apakah di dalam keluarga Anda pemegang semua kekuasaan adalah
orangtua?
a. Ya
b. Tidak

5) Apakah anak anda tidak mempunyai hak untuk berpendapat di dalam
keluarga?
a. Ya
b. Tidak

6) Dalam menentukan tempat belajar agama anak, apakah Anda tidak meminta
pendapatnya?
a. Ya
b. Tidak

7) Apakah anak Anda dihukum jika anak tidak mau disuruh untuk mengaji?
a. Ya
b. Tidak

8) Apakah Anda menghukum anak Anda ketika disuruh sholat dia tidak mau?
a. Ya
b. Tidak

9) Apakah anda seringkali memaksa anak untuk berperilaku seperti anda?
a. Ya
b. Tidak

10) Apakah anak Anda harus selalu mencontoh rutinitas ibadah yang Anda
lakukan?
a. Ya
b. Tidak
2


11) Apakah Anda sering mengarahkan anak Anda untuk sholat berjamaah di
masjid?
a. Ya
b. Tidak

12) Apakah Anda sering mengarahkan anak Anda untuk belajar Al-Quran?
a. Ya
b. Tidak

13) Apakah anda menggunakan penjelasan dan diskusi dalam berkomunikasi
dengan anak?
a. Ya
b. Tidak

14) Apakah anak Anda dinasehati ketika anak Anda bergaul dengan lawan jenis
secara berlebihan?
a. Ya
b. Tidak

15) Apakah anda mempunyai sikap terbuka dengan anak?
a. Ya
b. Tidak

16) Apakah anak Anda sering curhat kepada Anda mengenai masalah agama?
a. Ya
b. Tidak

17) Apakah anda mengakui adanya kemampuan lebih pada anak?
a. Ya
b. Tidak

18) Apakah Anda sering mengikutsertakan anak Anda pada lomba-lomba
keagamaan?
a. Ya
b. Tidak

19) Apakah anda memberi kesempatan kepada anak untuk tidak tergantung
dengan orangtua ?
a. Ya
b. Tidak

20) Apakah Anda memberi kesempatan anak Anda untuk mencuci pakaiannya
sendiri agar pakaiannya itu bersih dan suci?
a. Ya
b. Tidak
3


21) Apakah Anda tidak memberikan pengarahan kepada anak Anda ketika anak
Anda makan sambil berjalan?
a. Ya
b. Tidak

22) Apakah anda membiarkan anak Anda ketika berbicara kotor?
a. Ya
b. Tidak

23) Apakah Anda membiarkan anak Anda ketika bergaul dengan lawan jenis
secara berlebihan?
a. Ya
b. Tidak

24) Apakah Anda membiarkan anak Anda berkelahi?
a. Ya
b. Tidak

25) Apakah Anda membiarkan anak Anda tidak berangkat mengaji ke TPQ?
a. Ya
b. Tidak

26) Apakah Anda membiarkan anak Anda ketika anak Anda minum minuman
keras?
a. Ya
b. Tidak

27) Apakah Anda tidak memberikan bimbingan tentang sopan santun yang cukup
kepada anak?
a. Ya
b. Tidak

28) Apakah Anda jarang memberikan tentang sholat kepada anak?
a. Ya
b. Tidak

29) Apakah semua yang dilakukan anak sudah benar dan tidak perlu diberikan
teguran, arahan atau bimbingan?
a. Ya
b. Tidak

30) Apakah Anda dibiarkan tidak mengaji karena dianggap sudah pintar?
a. Ya
b. Tidak

4

INSTRUMEN OBSERVASI

1. Mengamati aktivitas (kesibukan) tukang ojek sehari-hari.
2. Mengamati pembinaan agama Islam pada anak keluarga tukang ojek.
3. Mengamati metode yang digunakan oleh tukang ojek dalam mendidik anaknya
dalam bidang agama Islam.
4. Mengamati pola asuh yang digunakan oleh tukang ojek dalam mendidik anaknya
dalam bidang agama.
5. Mengamati secara lebih dekat situasi dan kondisi Desa Mangkang Kulon
khususnya yang berkaitan dengan tukang ojek.



INSTRUMEN WAWANCARA
1) Apakah di dalam keluarga anda menggunakan peraturan dan pengaturan
yang keras/ kaku?
a. Ya
b. Tidak

2) Apakah di dalam keluarga pemegang semua kekuasaan adalah orangtua?
a. Ya
b. Tidak

3) Apakah anak tidak mempunyai hak untuk berpendapat di dalam keluarga?
a. Ya
b. Tidak

4) Apakah anak dihukum jika anak tidak menurut?
a. Ya
b. Tidak

5) Apakah anda seringkali memaksa anak untuk berperilaku seperti anda?
a. Ya
b. Tidak

6) Apakah peraturan dari anda lebih luwes?
a. Ya
b. Tidak

7) Apakah anda menggunakan penjelasan dan diskusi dalam berkomunikasi
dengan anak?
a. Ya
b. Tidak

8) Apakah anda mempunyai sikap terbuka dengan anak?
a. Ya
b. Tidak

9) Apakah anda mengakui adanya kemampuan lebih pada anak?
a. Ya
b. Tidak

10) Apakah anda memberi kesempatan kepada anak untuk tidak tergantung
dengan orangtua?
a. Ya
b. Tidak


11) Apakah anda tidak memberikan aturan dan pengarahan kepada anak?
a. Ya
b. Tidak

12) Apakah kontrol dari anda sangat lemah?
a. Ya
b. Tidak

13) Apakah anda mendidik anak secara bebas?
a. Ya
b. Tidak

14) Apakah anda tidak memberikan bimbingan yang cukup?
a. Ya
b. Tidak

15) Apakah semua yang dilakukan anak sudah benar tidak perlu diberikan
teguran, arahan atau bimbingan?
a. Ya
b. Tidak




44

Instrumen Wawancara tentang Pola Asuh Orangtua dalam Mendidik Anak
pada Keluarga Tukang Ojek
No Bapak
Sholikhin
Bapak
Rohimin
Bapak
Mulyono
Bapak
Sulis
Bapak
Suharsono
1. A B B B B
2. A B B B B
3. A B B B B
4. A B B B B
5. A B B B B
6. B B B B B
7. A B B B B
8. A B B B B
9. B B B B B
10. A B B B B
11. A A A B A
12. A A A B A
13. A A A B A
14. A A A A A
15. A A A B A
16. A A A B B
17. A A A B A
18. A A A B A
19. A A A B B
20. A A A B A
21. B B B A A
22. B B B A B
23. B B B A A
24. B B B A A
25. B B B A B
26. B B B A B
27. B B B A B
28. B B B A A
29. B B B A B
30. B B B A B
Kesimpulan Demokratis Demokratis Demokratis Permisif Demokratis

NB: 1. Jawaban A = Ya dan B = Tidak
2. Soal nomor 1 10 adalah kriteria Pola asuh Otoriter
3. Soal nomor 11 20 adalah kriteria Pola asuh Demokratis
4. Soal nomor 21 30 adalah kriteria Pola asuh Permisif



Struktur Organisasi Pemerintahan Kelurahan
Mangkang Kulon Kecamatan Tugu kota Semarang
Perda No. 14 tahun 2008
Tanggal 07 Nopember 2008


































LURAH
ADUL MALIK, SH
NIP : 19591129 198703 1 007
SEKRETRIS KELURAHAN
SAIFUDIN MUCHTAR
NIP. 19640919 198712 1 001
KA.SEKSI
PEMERINTAHAN
KUSWANTO
NIP.19640705 199303 1 007


KA. SEKSI
PEMBANGUNAN
LIBRAYANTI DWI A.
NIP.19760923200901 2 001
KA. SEKSI
KESEJ.SOSIAL
SITI KOMARIYAH
NIP.19760229 199703 2 001
KA. SEKSI
TRANTIBUM
PURNOMO
NIP.19590425 199308 1 001
STAF
FARIDA ARYANI
NIP. 19620526 200801 2 001
STAF
Y U H R I
NIP.19701229 200901 1 001
STAF
ABD.WAKHID
WIYATA BHAKTI
STAF
-
KELOMP.
JABATAN
FUNGSIONAL
STRUKTUR ORGANISASI PEMERINTAHAN KELURAHAN MANGKANG KULON
KECAMATAN TUGU KOTA SEMARANG




Perda No. 14 tahun 2008
Tanggal 07 Nopember 2008































LURAH
AKHMAD MUNIF, SH


NIP. 19620417.199003.1.006

KASI PEMBANGUNAN
-

NIP.




KASI KESEJ. SOSIAL
AGUS SUNAIDI

NIP.19570819.198003.1.007

KELOMPOK
JABATAN FUNGSIONAL

KASI PEMERINTAHAN
SUBANDIYAH

NIP.19550202.198003.2.004

SEKLUR
-

NIP

STAF
FARIDA ARYANI



NIP.19620526.200801.2.001


STAF
THORIQ RIMARO



NIP. 19820526.200901.1004


STAF
ABD. WAKHID YASIN



NIP.


-

NIP.
KASI TRANTIBUM

STAF
YUHRI

NIP.19701209.200901.1.001




























































1

INSTRUMEN WAWANCARA

1) Apakah di dalam keluarga anda menggunakan peraturan dan pengaturan yang
keras/ kaku?
a. Ya
b. Tidak

2) Apakah anak Anda dalam belajar agama dipaksa?
a. Ya
b. Tidak

3) Apakah anak Anda harus patuh terhadap segala ucapan Anda?
a. Ya
b. Tidak

4) Apakah di dalam keluarga Anda pemegang semua kekuasaan adalah
orangtua?
a. Ya
b. Tidak

5) Apakah anak anda tidak mempunyai hak untuk berpendapat di dalam
keluarga?
a. Ya
b. Tidak

6) Dalam menentukan tempat belajar agama anak, apakah Anda tidak meminta
pendapatnya?
a. Ya
b. Tidak

7) Apakah anak Anda dihukum jika anak tidak mau disuruh untuk mengaji?
a. Ya
b. Tidak

8) Apakah Anda menghukum anak Anda ketika disuruh sholat dia tidak mau?
a. Ya
b. Tidak

9) Apakah anda seringkali memaksa anak untuk berperilaku seperti anda?
a. Ya
b. Tidak

10) Apakah anak Anda harus selalu mencontoh rutinitas ibadah yang Anda
lakukan?
a. Ya
b. Tidak
2


11) Apakah Anda sering mengarahkan anak Anda untuk sholat berjamaah di
masjid?
a. Ya
b. Tidak

12) Apakah Anda sering mengarahkan anak Anda untuk belajar Al-Quran?
a. Ya
b. Tidak

13) Apakah anda menggunakan penjelasan dan diskusi dalam berkomunikasi
dengan anak?
a. Ya
b. Tidak

14) Apakah anak Anda dinasehati ketika anak Anda bergaul dengan lawan jenis
secara berlebihan?
a. Ya
b. Tidak

15) Apakah anda mempunyai sikap terbuka dengan anak?
a. Ya
b. Tidak

16) Apakah anak Anda sering curhat kepada Anda mengenai masalah agama?
a. Ya
b. Tidak

17) Apakah anda mengakui adanya kemampuan lebih pada anak?
a. Ya
b. Tidak

18) Apakah Anda sering mengikutsertakan anak Anda pada lomba-lomba
keagamaan?
a. Ya
b. Tidak

19) Apakah anda memberi kesempatan kepada anak untuk tidak tergantung
dengan orangtua ?
a. Ya
b. Tidak

20) Apakah Anda memberi kesempatan anak Anda untuk mencuci pakaiannya
sendiri agar pakaiannya itu bersih dan suci?
a. Ya
b. Tidak
3


21) Apakah Anda tidak memberikan pengarahan kepada anak Anda ketika anak
Anda makan sambil berjalan?
a. Ya
b. Tidak

22) Apakah anda membiarkan anak Anda ketika berbicara kotor?
a. Ya
b. Tidak

23) Apakah Anda membiarkan anak Anda ketika bergaul dengan lawan jenis
secara berlebihan?
a. Ya
b. Tidak

24) Apakah Anda membiarkan anak Anda berkelahi?
a. Ya
b. Tidak

25) Apakah Anda membiarkan anak Anda tidak berangkat mengaji ke TPQ?
a. Ya
b. Tidak

26) Apakah Anda membiarkan anak Anda ketika anak Anda minum minuman
keras?
a. Ya
b. Tidak

27) Apakah Anda tidak memberikan bimbingan tentang sopan santun yang cukup
kepada anak?
a. Ya
b. Tidak

28) Apakah Anda jarang memberikan tentang sholat kepada anak?
a. Ya
b. Tidak

29) Apakah semua yang dilakukan anak sudah benar dan tidak perlu diberikan
teguran, arahan atau bimbingan?
a. Ya
b. Tidak

30) Apakah Anda dibiarkan tidak mengaji karena dianggap sudah pintar?
a. Ya
b. Tidak

4

INSTRUMEN OBSERVASI

1. Mengamati aktivitas (kesibukan) tukang ojek sehari-hari.
2. Mengamati pembinaan agama Islam pada anak keluarga tukang ojek.
3. Mengamati metode yang digunakan oleh tukang ojek dalam mendidik anaknya
dalam bidang agama Islam.
4. Mengamati pola asuh yang digunakan oleh tukang ojek dalam mendidik anaknya
dalam bidang agama.
5. Mengamati secara lebih dekat situasi dan kondisi Desa Mangkang Kulon
khususnya yang berkaitan dengan tukang ojek.



INSTRUMEN WAWANCARA
1) Apakah di dalam keluarga anda menggunakan peraturan dan pengaturan
yang keras/ kaku?
a. Ya
b. Tidak

2) Apakah di dalam keluarga pemegang semua kekuasaan adalah orangtua?
a. Ya
b. Tidak

3) Apakah anak tidak mempunyai hak untuk berpendapat di dalam keluarga?
a. Ya
b. Tidak

4) Apakah anak dihukum jika anak tidak menurut?
a. Ya
b. Tidak

5) Apakah anda seringkali memaksa anak untuk berperilaku seperti anda?
a. Ya
b. Tidak

6) Apakah peraturan dari anda lebih luwes?
a. Ya
b. Tidak

7) Apakah anda menggunakan penjelasan dan diskusi dalam berkomunikasi
dengan anak?
a. Ya
b. Tidak

8) Apakah anda mempunyai sikap terbuka dengan anak?
a. Ya
b. Tidak

9) Apakah anda mengakui adanya kemampuan lebih pada anak?
a. Ya
b. Tidak

10) Apakah anda memberi kesempatan kepada anak untuk tidak tergantung
dengan orangtua?
a. Ya
b. Tidak


11) Apakah anda tidak memberikan aturan dan pengarahan kepada anak?
a. Ya
b. Tidak

12) Apakah kontrol dari anda sangat lemah?
a. Ya
b. Tidak

13) Apakah anda mendidik anak secara bebas?
a. Ya
b. Tidak

14) Apakah anda tidak memberikan bimbingan yang cukup?
a. Ya
b. Tidak

15) Apakah semua yang dilakukan anak sudah benar tidak perlu diberikan
teguran, arahan atau bimbingan?
a. Ya
b. Tidak




44

Instrumen Wawancara tentang Pola Asuh Orangtua dalam Mendidik Anak
pada Keluarga Tukang Ojek
No Bapak
Sholikhin
Bapak
Rohimin
Bapak
Mulyono
Bapak
Sulis
Bapak
Suharsono
1. A B B B B
2. A B B B B
3. A B B B B
4. A B B B B
5. A B B B B
6. B B B B B
7. A B B B B
8. A B B B B
9. B B B B B
10. A B B B B
11. A A A B A
12. A A A B A
13. A A A B A
14. A A A A A
15. A A A B A
16. A A A B B
17. A A A B A
18. A A A B A
19. A A A B B
20. A A A B A
21. B B B A A
22. B B B A B
23. B B B A A
24. B B B A A
25. B B B A B
26. B B B A B
27. B B B A B
28. B B B A A
29. B B B A B
30. B B B A B
Kesimpulan Demokratis Demokratis Demokratis Permisif Demokratis

NB: 1. Jawaban A = Ya dan B = Tidak
2. Soal nomor 1 10 adalah kriteria Pola asuh Otoriter
3. Soal nomor 11 20 adalah kriteria Pola asuh Demokratis
4. Soal nomor 21 30 adalah kriteria Pola asuh Permisif


Struktur Organisasi Pemerintahan Kelurahan
Mangkang Kulon Kecamatan Tugu kota Semarang
Perda No. 14 tahun 2008
Tanggal 07 Nopember 2008


































LURAH
ADUL MALIK, SH
NIP : 19591129 198703 1 007
SEKRETRIS KELURAHAN
SAIFUDIN MUCHTAR
NIP. 19640919 198712 1 001
KA.SEKSI
PEMERINTAHAN
KUSWANTO
NIP.19640705 199303 1 007


KA. SEKSI
PEMBANGUNAN
LIBRAYANTI DWI A.
NIP.19760923200901 2 001
KA. SEKSI
KESEJ.SOSIAL
SITI KOMARIYAH
NIP.19760229 199703 2 001
KA. SEKSI
TRANTIBUM
PURNOMO
NIP.19590425 199308 1 001
STAF
FARIDA ARYANI
NIP. 19620526 200801 2 001
STAF
Y U H R I
NIP.19701229 200901 1 001
STAF
ABD.WAKHID
WIYATA BHAKTI
STAF
-
KELOMP.
JABATAN
FUNGSIONAL
STRUKTUR ORGANISASI PEMERINTAHAN KELURAHAN MANGKANG KULON
KECAMATAN TUGU KOTA SEMARANG




Perda No. 14 tahun 2008
Tanggal 07 Nopember 2008





























LURAH
AKHMAD MUNIF, SH


NIP. 19620417.199003.1.006

KASI PEMBANGUNAN
-

NIP.




KASI KESEJ. SOSIAL
AGUS SUNAIDI

NIP.19570819.198003.1.007

KELOMPOK
JABATAN FUNGSIONAL

KASI PEMERINTAHAN
SUBANDIYAH

NIP.19550202.198003.2.004

SEKLUR
-

NIP

STAF
FARIDA ARYANI



NIP.19620526.200801.2.001


STAF
THORIQ RIMARO



NIP. 19820526.200901.1004


STAF
ABD. WAKHID YASIN



NIP.


-

NIP.
KASI TRANTIBUM

STAF
YUHRI

NIP.19701209.200901.1.001