Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI HEWAN
Suhu Tubuh dan Labirin Sebagai Reseptor Keseimbangan










Kelompok 8
Nurul Amalia Haliem (3415111373)
Qori Elfa Gasari (3415111376)
Restu Widyastuti (3415111367)
Rita Wahyu Pertiwi (3415111372)
Shelena Nugraha Rusmaya Dewi (3415111389)



Jurusan Biologi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Jakarta
2014
HASIL
I. SUHU TUBUH
1. Regulasi Suhu Tubuh Hewan Poikiloterm
Suhu Lingkungan Internal katak
Normal 30
o
C 28
o
C
Air es 9
o
C 17
o
C
Air panas 40
o
C 30
o
C

2. Subjektivitas Reseptor Suhu
Tangan Kiri
Perendaman dengan Air
Es (5
0
C)

Tangan Kanan
Perendaman dengan Air
Panas (45
0
C)

Sensasi
- Tangan terasa sangat
dingin (menusuk) semakin
lama terasa ngilu dan terasa
seperti kesemutan.
- Setelah 3 menit, tangan
terlihat berwarna pucat
- Tangan terasa panas, namun
semakin lama panasnya
semakin tidak terasa.
- Setelah 3 menit, tangan terlihat
berwarna kemerahan
Tangan Kanan
dan Kiri
Perendamam
dengan air
Ledeng
(20
0
C)
- Tangan yang sudah
direndam di air dingin, saat
direndam di air ledeng
terasa lebih panas.
- Tangan yang sudah direndam
di air panas, saat direndam di
air ledeng terasa lebih dingin.

II. LABIRIN SEBAGAI RESEPTOR KESEIMBANGAN
1. Keseimbangan Pada Manusia
Posisi kepala
Arah dan
banyak putaran
Sensasi saat berhenti diputar
Menunduk Ke kanan, 10 X Tubuh terasa tertarik ke kiri
Miring ke kanan Ke kanan, 10 X
Tubuh terasa terbalik dan tertarik
ke belakang
Miring ke kiri Ke kanan, 10 X Tubuh terasa tertarik ke depan







2. Keseimbangan Pada Katak
Perlakuan Arah/Bagian Efek yang terjadi
Papan digerakkan
Memutar ke segala arah
Kepala lebih menunduk,
napasnya semakin cepat
Naik turun
Kepala lebih mendongak
dan tangannya melebar
Otak ditusuk
Bagian kanan
Berenangnya oleng, tubuh
membalik
Bagian kiri
Tubuh bagian kiri masih
aktif, sehingga
berenangnya ke kanan

PEMBAHASAN
I. SUHU TUBUH
1. Regulasi Suhu Tubuh Hewan Poikiloterm
Pada pengamatan regulasi suhu tubuh hewan poikiloterm ini, kami
mengambil sampel yaitu katak. Suhu katak diukur dengan menggunakan
termometer yang dimasukkan langsung ke dalam tubuh katak melalui mulut
sampai ke esophagus. Tujuannya adalah agar suhu yang
diperoleh merupakan suhu tubuh katak yang sebenarnya (suhu internal) dan
tidak dipengaruhi
oleh suhu lingkungan. Setelah dilakukan pengamatan, kami mendapatkan
data yaitu suhu tubuh katak dapat berubah-ubah menyesuaikan dengan suhu
lingkungannya.
Katak merupakan hewan poikiloterm, yaitu hewan yang suhu
tubuhnya dipengaruhi oleh suhu lingkungannya. Jadi katak beradaptasi
menyamakan suhu tubuhnya dengan suhu lingkungannya. Namun proses
pengubahan suhu membutuhkan waktu yang tidak singkat. Mekanisme
kerjanya yaitu organ sensori katak menerima sensasi berupa dingin atau
panas, yang kemudian membentuk reseptor impuls. Reseptor impuls dibawa
ke hipotalamus. Pada hewan homoioterm hipotalamus berfungsi sebagai
termostat atau pusat regulator suhu. Namun karena hipotalamus pada hewan
poikiloterm tidak berkembang, maka hipotalamus berfungsi sebagai pusat
perilaku pengatur suhu tubuh.
Rentang atau batas toleransi suhu katak yaitu antara 10
o
C 40
o
C.
Pada bangsa Anura rentang suhunya yaitu antara 3C - 36C (Isnaini, 2006).
Enzim berfungsi sebagai katalisator, jadi jika enzim rusak maka seluruh
reaksi metabolisme akan terganggu, bahkan dapat menyebabkan organisme
itu mati. Jika dibawah batas toleransi kerja enzim menjadi terganggu, enzim
mengalami defek atau penurunan fungsi enzim. Jika di atas batas toleransi
enzim akan mengalami denaturasi protein enzim. Enzim yang terdenaturasi
akan kehilangan kemampuan katalisnya.

2. Subjektivitas Reseptor Suhu
Kulit merupakan organ tunggal terberat di tubuh yang biasanya
membentuk 15-20% berat badan total pada orang dewasa yang terdiri dari 3
lapisan (epidermis, dermis, dan subkutan) memiliki banyak reseptor, salah
satunya termoreseptor. Termoreseptor merupakan reseptor yang berfungsi
mendeteksi perubahan suhu dan terletak di lapisan kulit dermis.
Termoreseptor terdiri dari korpuskel ruffini untuk reseptor panas dan
korpuskel krause untuk reseptor dingin (Mescher, 2009). Penelitian
pemetaan kulit memperlihatkan adanya daerah peka dingin dan daerah peka
panas, daerah peka dingin 4-10 kali lebih banyak dibandingkan daerah peka
panas(Ganong, 2011)
Pada praktikum ini, praktikan memasukkan tangan kanan kedalam
air panas dengan suhu 45
o
C dan air dingin 5
o
C selama 3 menit sehingga
kedua tangan akan merasakan sensasi yang berbeda. Setelah itu, kedua
tangan dimasukkan kedalam air ledeng dengan suhu sekitar 20
o
C.
Berdasarkan hasil percobaan, pada tangan kanan yang di rendam air
hangat, praktikan merasakan sensasi panas di tangannya namun semakin
lama semakin berkurang. Sensasi panas tersebut berasal dari respon
korpuskel Ruffini di dermis kulit tangan. Korpuskel ruffini mulai merespon
suhu diatas 45
0
C (Ganong, 2001). Pada awal perendaman praktikan
merasakan panas, namun panas tersebut mulai berkurang karena panas
berpindah ke tangan dan lingkungan dengan cepat. Sensasi panas ini
disebabkan oleh terjadinya perbedaan suhu antara tubuh (tangan) dengan air
panas sehingga terjadi perpindahan panas secara konduksi, yaitu
perpindahan panas antara benda yang berbeda suhu yang berkontak
langsung satu dengan yang lain, dalam hal ini tangan dengan air. Tangan
yang direndam air panas pun seketika memerah, hal ini disebabkan oleh
adanya vasodilatasi pembuluh darah yaitu pelebaran pembuluh darah.
Vasodilatasi pembuluh darah bertujuan untuk meningkatkan aliran darah ke
kulit guna mengurangi penambahan panas dan mengeluarkan panas
(Sherwood, 2001)
Tangan kiri yang di rendam dalam air es terasa dingin yang menusuk
dan semakin lama terasa nyeri dan seperti kesemutan. Sensasi dingin dapat
dirasakan karena ada reseptor suhu dingin yaitu korpuskel krause.
Korpuskel krause di dermis kulit tangan merespon suhu mulai 20
0
C atau
dibawahnya (Ganong, 2001). Suhu air es yang digunakan ialah 5
0
C
sehingga tangan merasakan sensasi dingin. Selain merespon suhu rendah
(dingin) korpuskel krause juga menyumbang sensasi nyeri-dingin jika suhu
turun sampai dibawah 10
0
C atau terlalu lama terpapar benda dengan suhu
rendah. Oleh karena itu, praktikan merasakan nyeri setelah direndam air es
selama 3 menit. Sensasi kesemutan dirasakan karena aliran darah tidak
mengalir lancar sebagai akibat vasokontriksi pembuluh darah. Vasokontriksi
pembuluh darah bertujuan untuk mengurangi aliran darah ke kulit guna
mengurangi pengeluaran panas dengan menanhan darah hangat tetap berada
pada bagian tengah tubuh dan terisolasi dengan lingkungan eksternal
(Sherwood, 2001).
Kemudian, tangan yang telah direndam air panas dan air dingin
bersamaan direndam kembali dengan air ledeng yang bersuhu 20
0
C

dan
merasakan sensasi berlawanan. Tangan yang telah direndam dengan air
panas akan terasa dingin ketika direndam dengan air ledeng sebaliknya
tangan yang direndam dengan air dingin terasa panas saat direndam di air
ledeng. Hal ini karena ada perpindahan panas (kalor) pada tangan yang
direndam di air hangat ke air ledeng dan korpuskel krause mulai merespon
suhu yang lebih rendah di air ledeng. Pada tangan yang di rendam air es,
terjadi perpindahan panas dari air ledeng ke tangan karena suhu air ledeng
yang lebih tinggi sehingga tangan terasa hangat. Selain itu terjadi
perpindahan panas dari tangan kanan ke tangan kiri melalui proses
konveksi, yaitu perpindahan panas melalui air (Sherwood, 2001).
Bila suhu tubuh manusia panas, ada kecenderungan tubuh
meningkatkan kehilangan panas ke lingkungan sedangkan bila tubuh merasa
dingin maka tubuh akan cenderung mengurangi dingin tersebut. Jumlah
panas yang hilang ke lingkungan melalui konduksi dan konveksi sangat
ditentukan oleh perbedaan suhu antara kulit dan lingkungan eksternal.
Bagian pusat tubuh merupakan ruang yang memiliki suhu yang dijaga tetap
sekitar 37,8 C. mengelilingi pusat tubuh adalah lapisan kulit dimana terjadi
pertukaran panas antara tubuh dan lingkungan luar. Dalam usaha
memelihara suhu tubuh yang konstan, kapasitas insulatif dan suhu kulit
dapat diatur ke berbagai gradien suhu antara kulit dan lingkungan eksternal,
dengan cara demikian mempengaruhi tingkat kehilangan panas. Mekanisme
pengaturan suhu tubuh merupakan penggabungan fungsi dari organ-organ
tubuh yang saling berhubungan. Di dalam pengaturan suhu tubuh mamalia
terdapat dua jenis sensor pengatur suhu, yaitu sensor panas dan sensor
dingin yang berbeda tempat pada jaringan sekeliling (penerima di luar) dan
jaringan inti (penerima di dalam) dari tubuh. Dari kedua jenis sensor ini,
isyarat yang diterima langsung dikirimkan ke sistem saraf pusat dan
kemudian dikirim ke saraf motorik yang mengatur pengeluaran panas dan
produksi panas untuk dilanjutkan ke jantung, paru-paru dan seluruh tubuh.
Setelah itu terjadi umpan balik, dimana isyarat, diterima kembali oleh
sensor panas dan sensor dingin melalui peredaran darah (Sherwood, 2001).

II. LABIRIN SEBAGAI RESEPTOR KESEIMBANGAN
1. Keseimbangan Pada Manusia
Salah satu reseptor pengatur keseimbangan rotasi dan gravitasi tubuh
manusia adalah kanalis semisirkularis yang berupa 3 saluran setengah
lingkaran, yang terdiri dari kanalis semisirkularis lateral, anterior, dan
posterior. Kanalis semisirkularis memiliki peran untuk mendeteksi
akselerasi atau deselerasi kepala rotasional atau angular. Pada bagian dasar
kanalis semisirkularis terdapat struktur yang disebut ampula. Di dalam
ampula terdapat reseptor sistem vestibular yang disebut krista ampularis.
Rambut-rambut sensorik krista atau stereosilia ini tertanam pada gelatin
yang memanjang, disebut kupula. Di dalam ampula terdapat cairan
endolimfe (Ganong, 2003).


Gambar 1. Labirin pada manusia

Percobaan ini dilakukan dengan cara memutar OP pada kursi putar
dengan kondisi OP menundukkan kepalanya sekitar 30
0
. Hal ini

bertujuan
agar kanalis semisirkularis superior berada pada posisi horizontal.
Pemejaman mata dilakukan agar refleks pada mata dapat mempertahankan
fiksasi penglihatan di titik-titik yang diam pada saat tubuh berputar atau
berotasi (Ganong, 2003), selain itu mata OP dipejamkan agar kesadaran
visual terhadap kondisinya tidak bekerja sehingga OP hanya dapat
mendeteksi kondisi keseimbangannya tanpa kesadaran indera
penglihatannya. Berdasarkan hasil percobaan ketika tubuh dalam posisi
tegak dan kepala dalam posisi menunduk serta mata dipejamkan kemudian
tubuh diputar searah jarum jam (kanan) sebanyak 10 kali, maka kanalis
semisirkularis lateral akan ikut bergerak ke arah kanan. Namun cairan
endolimfe di dalamnya akan bergerak sebaliknya yaitu ke arah kiri.
Stereosilia juga akan bergerak ke kiri karena mengalami depolarisasi ketika
stereosilia bergerak ke arah kinosilium. Saat putaran dihentikan, kepala
ditegakkan, maka cairan endolimfe akan bergerak searah jarum jam, yang
menyebabkan stereosilia bergerak searah jarum jam, untuk mempertahankan
kelembamannya. Ketika OP membuka matanya maka OP seperti melihat
ruang berputar ke arah kanan dan merasa tubuhnya seperti diputar ke arah
kiri. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi nistagmus pada bola mata OP.
Nistagmus merupakan gerak mata menyentak yang khas pada mata yang
tampak pada saat awal dan akhir rotasi atau putaran(Ganong, 2003). Bola
mata OP bergerak cepat ke arah kiri dan bergerak lambat ke arah kanan. Hal
tersebut terjadi karena refleks gerakan mata dan akibat gangguan fungsi
jaras yang melewati flokulonodular serebelum dari kanalis semisirkularis
(Guyton, 2006). Namun mata OP terbuka hanya sesaat saja dan langsung
menutup kembali karena masih merasakan sensasi berputar yang membuat
OP menjadi pusing.

Gambar 2. Gerak sel rambut yang berlawanan arah ketika
terjadi gerakan

Percobaan kedua yaitu OP diputar dengan kondisi kepala
dimiringkan ke kanan dengan sudut 120
0
. Posisi ini bertujuan agar kanalis
semisirkularis posterior berada pada posisi horizontal. Proses keseimbangan
yang terjadi ketika tubuh dalam posisi tegak dan kepala dalam posisi miring
ke kanan serta mata dipejamkan kemudian tubuh diputar ke arah kanan
sebanyak 10 kali, maka kanalis semisirkularis posterior akan ikut bergerak
ke arah kanan. Namun cairan endolimfe di dalamnya akan bergerak
sebaliknya yaitu ke arah kiri. Stereosilia juga akan bergerak ke kiri karena
mengalami depolarisasi ketika stereosilia bergerak ke arah kinosilium. Pada
saat putaran dihentikan, kepala ditegakkan, dan mata masih dalam keadaan
tertutup, maka cairan endolimfe akan bergerak ke arah belakang, yang
menyebabkan stereosilia bergerak ke belakang pula untuk mempertahankan
kelembamannya, sehingga OP merasakan tubuhnya seperti terbalik dan
tertarik ke belakang dan OP akan menahan dirinya ke arah depan.
Sama halnya dengan ketika posisi kepala dimiringkan ke kanan,
pada saat posisi kepala dimiringkan ke kiri akan melibatkan kanalis
semisirkularis posterior akan berada pada posisi horizontal. Proses
keseimbangan tubuh yang terjadi pun sama, tetapi pada posisi ini, ketika
putaran dihentikan, kepala ditegakkan, dan mata masih terpejam, maka
cairan endolimfe akan bergerak ke arah depan, yang menyebabkan
stereosilia bergerak ke depan pula, untuk mempertahankan kelembamannya,
sehingga OP merasakan tubuhnya seperti tertarik ke depan dan OP akan
menahan dirinya ke arah belakang.
Pada saat mata terbuka OP tidak akan mengalami sensasi seperti
yang terjadi pada hasil percobaan karena sensasi sadarnya telah bekerja dan
tubuhnya telah menyadari bahwa ia tidak lagi bergerak. Sensasi sadar lebih
kuat daripada sensasi saat mata tertutup sehingga sensasi tersebut dapat
menggantikan sensasi saat mata tertutup.




2. Keseimbangan Pada Katak
Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan hasil bahwa dalam
keadaan normal saat papan bedah digerakkan ke segala arah (kanan-kiri)
dan dinaikturunkan, katak memperlihatkan gerakan yang selalu mengikuti
arah gerakan dari papan bedah tersebut. Hal ini disebabkan karena pada
struktur telinga dalam terdapat macula akustika (organ keseimbangan statis)
dan krista akustika (organ keseimbangan dinamis) melakukan koordinasi
penyampaian impuls sarafnya masing-masing. Sel reseptor pada macula
akustika yang berupa sel-sel rambut dan sel-sel penunjang melekat pada
membran yang mengandung butir-butiran kecil kalsium karbonat (CaCO3)
yang disebut otolith. Macula di sakulus dan utrikulus peka terhadap gaya
berat otolith ini.
Pada saat diputar kesegala arah terjadi perubahan posisi kepala pada
katak yaitu menjadi lebih menunduk sedangkan saat gerakkan naik-turun
kepala katak lebih mendongak. Perubahan posisi kepala tersebut akan
menimbulkan tarikan gravitasi yang menyebabkan pergerakan otolith dan
otolith merangsang sel-sel rambut sehingga menyebabkan depolarisasi sel
reseptor yang berjalan ke otak kecil sebagai organ keseimbangan.
Sedangkan sel-sel reseptor dalam krista akustika yang juga berupa sel-sel
rambut dan sel-sel penunjang tidak melekat pada otolith. Sel-sel reseptor
disini distimulasi oleh gerakan endolimfe. Ketika kepala katak bergerak
akibat terjadinya perputaran tubuh, endolimfe yang berasal dari saluran
membranosa (labirin) akan mengalir di atas sel-sel rambut. Sel-sel rambut
menerima rangsangan tersebut dan mengubahnya menjadi impuls saraf.
Sebagai responnya, otot-otot berkontraksi untuk mempertahankan
keseimbangan tubuh pada posisi yang baru seperti yang terjadi saat katak
digerakkan naik turun, kaki depan katak posisinya menjadi lebih melebar
untuk mempertahankan kesimbangan tubuhnya.
Pada perlakuan kedua, yaitu menusuk otak katak. Otak yang ditusuk
terlebih dahulu adalah otak yang berada dibagian kiri, kemudian otak yang
berada dibagian kanan. ketika katak berenang memperlihatkan respon yang
berbeda. Katak masih bisa berenang saat otak bagian kiri ditusuk atau
dirusak karena organ tubuh bagian kiri masih berfungsi. Namun, setelah
otak kanan juga ditusuk atau dirusak, katak berenang dengan posisi miring
ke kanan dan ke kiri atau tidak teratur sehingga tubuhnya terbalik berulang-
ulang. Hal ini disebabkan karena terjadi ganguan fungsi pada otak katak.
Pada otak katak terdapat cerebrum yang berfungsi sebagai pusat
penglihatan dan pengendali gerak tubuh khususnya gerak sadar, sehingga
apabila otak ini rusak maka katak tidak dapat mengendalikan gerak
tubuhnya dan menyebabkan terganggunya penglihatan katak. Selain
itu,batang otak di otak belakang yang terdiri dari medulla, pons, dan otak
tengah merupakan organ penghubung penting bagi otak lainnya dengan
medulla spinalis. Apabila terjadi kerusakan pada bagian tersebut
mengakibatkan sistem spinal tidak berfungsi lagi dan mengakibatkan
terjadinya disorientasi posisi katak dan komplikasi lain seperti terganggunya
mekanisme denyut jantung, dan pernapasan sehingga katak mengalami
kematian akibat kerusakan total pada sistem koordinasi tersebut. Hal inilah
yang menyebabkan katak berenang ke satu arah dengan salah satu bagian
organ tubuh ketika otak kiri ditusuk atau dirusak dan katak berenang dengan
posisi yang tidak teratur sehingga tubuhnya terbalik ketika otak bagian
kanan juga ditusuk.


DAFTAR PUSTAKA

Ganong, F. William. 2001. Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC
Ganong, F.William. 2003. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 20.
Jakarta: EGC.
Guyton, JE Hall. 2012. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Jakarta:
EGC
Isnaini, Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Mescher L. Anthony. 2011. Histologi Dasar. Jakarta : EGC
Sherwwod, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia Dari Sel Ke Sistem. Jakarta :
EGC