Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Trauma abdomen yang tidak terdeteksi tetap menjadi salah satu
penyebab kematian yang sebenernya dapat dicegah, selain trauma
spinal. Pada penilaian abdomen, prioritas maupun metode apa yang
terbaik sangat ditentukan oleh mekanisme trauma, berat dan lokasi
trauma maupun status hemodinamik penderita (ACS, 2004).
Untuk memahami lebih lanjut tentang trauma abdomen, kami
mendapat tugas untuk menganalisis skenario 2 blok geriatri berikut.
Nyeri Pinggang dan Tidak Bisa Kencing
Dokter IGD menerima pasien rujukan dari puskesmas, pasien
seorang laki-laki, berusia 30 tahun. Sekitar 6 jam sebelumnya, pasien
mengendarai sepeda motor sambil bertelepon. Saat ada becak yang
menyeberang jalan, karena kaget, saat kecepatan tinggi, pasien
menabrak pohon karena bermaksud menghindari becak. Pasien
terbentur stang motor pada pinggang kanan, lalu jatuh ke tanah dengan
panggul membentur batu besar. Pasien sadar, tmpak pucat, mengeluh
nyeri pada pinggang dan perut bagian bawah, dan tidak bisa kencing.
Namun dokter tetap tidak melakukan kateterisasi.
Dari pemeriksaan dokter IGD didapatkan kesadaran GCS 15,
pupil isokhor, reflek cahaya (+/+), lateralisasi (-). Jalan nafas bebas.
Didapatkan vital sign: nadi 120x/menit, tekanan darah 90/60 mmHg,
suhu 36
0
C, akral dingin dan lembab, RR 24x/menit.
Terdapat jejas pada regio lumbal dextra, nyeri ketok
costovertebral (+), keluar darah dari orificium urethra externum, serta
terdapat hematom pada regio perineum. Dari pemeriksaan rectal
toucher didapatkan prostat melayang. Dalam pemeriksaan stabilitas
pelvis, tes kompresi (+), tes distraksi (+).
Dokter melengkapi pemeriksaan penunjang kemudian
mengkonsulkan pasien pada dokter spesialis yang berkaitan untuk
menangani kasus ini.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana biomekanika trauma abdomen?
2. Bagaimana mekanisme trauma pada kasus skenario?
3. Apa saja kemungkinan yang terjadi bila terjadi jejas pada regio
lumbal dextra?
4. Bagaimana interpretasi pemeriksaan fisik pada kasus skenario?
5. Apa saja pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang
dibutuhkan pada kasus skenario?
6. Apa saja diagnosis banding pada kasus skenario (ruptur ren,
ruptur ureter, ruptur vesika urinaria, ruptur uretra, fraktur
pelvis) ?
7. Bagaimana indikasi, kontraindikasi, cara penggunaan kateter?
8. Bagaimana tata laksana awal korban pada kasus skenario?
9. Bagaimana prosedur resusitasi cairan dan transfusi darah?
10. Bagaimana prosedur konsul pasien pada kasus skenario?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui tentang biomekanika trauma abdomen.
2. Untuk mengetahui tentang mekanisme trauma pada kasus
skenario.
3. Untuk mengetahui tentang kemungkinan yang terjadi bila
terjadi jejas pada regio lumbal dextra.
4. Untuk mengetahui tentang interpretasi pemeriksaan fisik pada
kasus skenario.
5. Untuk mengetahui tentang pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang yang dibutuhkan pada kasus skenario.
6. Untuk mengetahui tentang diagnosis banding pada kasus
skenario (ruptur ren, ruptur ureter, ruptur vesika urinaria,
ruptur uretra, fraktur pelvis) .
7. Untuk mengetahui tentang indikasi, kontraindikasi, cara
penggunaan kateter.
8. Untuk mengetahui tentang tata laksana awal korban pada kasus
skenario.
9. Untuk mengetahui tentang prosedur resusitasi cairan dan
transfusi darah.
10. Untuk mengetahui tentang prosedur konsul pasien pada kasus
skenario.
D. Hipotesis
Dari anamnesis, tanda dan gejala, pemeriksaan fisik dan pada
pasien dapat dibuat hipotesis bahwa diagnosis banding penyakit pasien
adalah ruptur ren, ruptur ureter, ruptur vesika urinaria, ruptur uretra,
fraktur pelvis.


Sumber :
ACS (American College of Surgeons). 2004. Advanced Trauma Life Support
(ATLS) untuk Dokter. Jakarta: IKABI.






PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada pasien dalam kasus skenario, berdasarkan anamnesis, tanda dan
gejala, serta pemeriksaan fisik yang dilakukan, diagnosis banding yang
didapatkan adalah ruptur ren, ruptur ureter, ruptur vesika urinaria,
ruptur uretra, fraktur pelvis.
Untuk mengetahui diagnosis pasti penyakit pasien diperlukan
pemeriksaan penunjang lebih lanjut, antara lain pemeriksaan
radiologi.
Pada trauma abdomen, diperlukan tata laksana yang cepat dan
tepat, untuk tata laksana awal dapat diberikan resusitasi cairan
atau transfusi darah bila dibutuhkan.
B. Saran
1. Sebaiknya waspada terhadap kemungkinan adanya trauma abdomen,
karena perdarahan internal, trauma organ viscera bisa terjadi tanpa
terlihat tanda yang jelas, hal tersebut dapat menimbulkan akibat yang
fatal.