Anda di halaman 1dari 11

VULNUS

Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian kontinuitas jaringan yang dapat disebabkan oleh
trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu, sengatan listrik, ledakan, ataupun gigitan
hewan serta zat kimia
Jenis-jenis luka
Berdasarkan ada tidaknya hubungan dengan lingkungan luar, luka dibagi menjadi luka terbuka
(Vulnus appertum) dan luka tertutup.
Berdasarkan penyebabnya, luka dibagi menjadi :
- Luka akibat trauma mekanik :
o Luka akibat benda tumpul :
a.Kontusio (luka memar atau hematom)
b.Ekskoriasi (luka lecet atau abrasi) :
i. Scratch (luka lecet gores)
ii. Friction abration (luka lecet geser)
iii. Impression (luka lecet tekan)
c. Vulnus laceratum (luka robek/ luka dengan tepi tidak beraturan)
o Luka akibat benda tajam :
a.Vulnus scisum (luka sayat atau luka iris)
b.Vulnus punctum (luka tusuk)
o Luka akibat benda setengah tajam :
a.Vulnus morsum(luka karena gigitan binatang/bite mark )

- Luka akibat trauma fisik :
o Luka akibat trauma listrik
o Luka akibat trauma suhu :
a.Vulnus combutio (luka bakar)
b.Cedera suhu dingin
o Luka akibat trauma zat kimia
o Luka akibat trauma radiasi dan ionisasi
o Vulnus caesum (luka potong)
o Vulnus Sclopetorum (luka tembak)

Berdasarkan waktunya :
- Akut : penyembuhannya dapat diperkirakan waktunya sesuai dengan waktu yang
dibutuhkan untuk melewati fase-fase penyembuhan luka.
- Kronis : luka yang tidak mengalami penyembuhan (sesuai fasenya) atau sembuhtanpa
perbaikan anatomi dan fungsional yang adekuat (>3 bulan).

Berdasarkan Kedalaman dan Hilangnya Lapisan Kulit :
Stadium I : Luka superficial (Non-branching eritem) hanya mengenai lapisan epidermis.
Stadium II : Luka Partial thickness epidermis + dermis bagian atas
Stadium III : Luka Full thickness hilangnya kulit keseluruhan tetapi tidak melewati jaringan
yang mendasarinya (subkutan).
Stadium IV : Luka Full thickness mencapai lapisan otot, tendon, tulang,destruksi luas.



(1) Fase Inflamasi (lag phase)
- Fase ini bertujuan untuk menghentikan perdarahan dan mengembalikan proses hemostasis.
- Fase ini dimulai sejak terjadinya luka s/d + 5 hari.
- Pembuluh darah terputus perdarahan vasokontriksi, retraksi, hemostasis (trombosit + sel
radang)sel mast (serotonin & histamin) permeabilitaskapiler me (eksudasi cairan)
tanda-tanda radang (kalor, tumor, dolor, rubor,dan functio laesa).

(2) Fase Proliferasi (Fase Fibroplasia)
- Dimulai sejak hari ke-6 s/d akhir minggu ke-3.
- Pada fase ini, serat-serat dibentuk dan dihancurkan kembali untuk menyesuaikan diri dengan
tegangan pada luka yang cenderung berkerut.
- Proses penghancuran dan pembentukan jaringan ini, bersama dengan miokontraktilitas dari
mioblas, menyebabkan tarikan pada tepi luka.
Fibroblastmukopolisakaridaserat kolagen (untuk jaringan ikat)mempertautkan tepi luka
jaringan granulasiberhenti setelah seluruh permukaan luka tertutup epitelreepitelisasipeny
embuhan lukapengaturan kembalipenyerapan jaringan yang berlebih.

(3) Fase Maturasi (Fase Remodelling/ Fase Resorpsi)
- Fase ini dapat berlangsung berbulan-bulan dan dinyatakan berakhir jika semua tanda-tanda
radang sudah hilang.
- Edema & sel-sel radang diserap, kapiler baru menutup, sel-sel muda menjadimatang, kolagen
yang berlebih diserap dan sisanya mengkerut sesuai denganregangan yang ada.
Selama proses ini dihasilkan jaringan parut yang pucat, tipis, dan mudahdigerakkan dari dasar. K
ulit mampu menahan regangan kira-kira 80% darikemampuan kulit normal (Hal ini tercapai kira-
kira 3-6 bulan setelah penyembuhan).

Klasifikasi Penyembuhan Luka :
1.Sanatio per primam intentionem (penyembuhan primer)
Bila luka segera diusahakan bertaut (dijahit), kematian sel sedikit, penyembuhan lebih
cepat
2.Sanatio per secundam intentionem (penyembuhan sekunder)
Luka yang tidak mendapatkan pertolongan dari luar
penyembuhan butuh waktu lama
meninggalkan jaringan parut yang kurang baik.
3.Sanatio per tertiam intentionem atau Per primam tertunda
Luka yang terkontaminasi berat dan/ atau tidak berbatas tegas.
Sebaiknya dibersihkan dan dieksisi (debridement) dahulu kemudiandibiarkan terbuka
selama beberapa hari (4-7 hari) baru selanjutnya dijahit.





Prinsip-Prinsip Perawatan Luka
oDebridement
Seluruh benda asing/ jaringan nekrotik merupakan debris dandapat menghambat penyembuhan
luka sehingga diperlukan tindakan untuk membersihkan luka dari semua benda asing ini.
Nekrotomi (pembuangan jaringan nekrotik) juga termasuk ke dalam debridement luka.

oMoist wound bed
Dasar luka (wound bed) harus selalu lembab. Lembab yang dimaksud adalah adanya eksudat
yang berasal dari sel didasar luka yang mengandung sel darah putih, growth factors,dan enzim-
enzim yang berguna dalam proses penyembuhan luka.

oPrevent further injury
Jaringan disekitar luka biasanya mengalami inflamasi sehingga ikatan antar selnya kurang kuat.
Saat merawat luka, sangat dianjurkan untuk tidak membuat luka/ kerusakan yang baru pada
jaringan disekitarnya.

o Nutritional therapy
Terapi nutrisi sangat penting sebab komponen jaringan yang rusak harus diganti menggunakan
nutrisi yang baik.

oThreat underlying disease
Salah satu faktor yang berpengaruh dalam proses penyembuhan luka adalah penyakit yang men-
dasari luka, misalnya DM.

oWork with the law of nature
time heals all wounds. Sesungguhnya penyembuhan luka dilakukan olehtubuh penderita itu
sendiri, tugas kita membantu mengurangi hambatan-hambatan dan kondisi yang ideal untuk
penyembuhan.

Pembalutan (Wound Dressing )
Dressing yangideal seharusnya memiliki kriteria sebagai berikut:
oMaintain moist wound bed
oControlled bacterial colonization
oNegative pressure-absorbent
oEasy and simple to use
oAct as bacterial barrier
oEffective dressing change requirement
oPromotes healthy granulation tissue formation
oPromotes epithelialization
oInert and safe
oReduce & eliminate pain at wound site
oNot causing pain on dressing removal
oCost effective

Ada berbagai macam tipe dari balutan (wound dressing ), mulai dari yang konvensional hingga
yang advanced. Dressing konvensional yang masih digunakan sampai sekarang adalah kassa
(cotton gauze). Advanced dressing sangat beragam jenisnya diantaranya hydogel, hydrocolloids,
alginate, V.A.C. (Vacuum Assisted Closure), bioceramics. Dressing konvensional memerlukan
penggantian terutama untuk luka terinfeksi harus diganti setiap hari. Untuk luka biasa
dipertahankan selama 3 hari (dipakai sbg patokan sesuai dengan waktu yang diperlukan bagi
luka untuk melewati fase proliferasi dan epitelisasi pada luka akut).


Prinsip Umum Penjahitan Luka (Hecting )
1.Penyembuhan akan terjadi lebih cepat bila tepi-tepi kulit dirapatkan satu sama laindengan hati-
hati.
2.Tegangan dari tepi-tepi kulit harus seminimal mungkin atau kalau mungkin tidak adategangan
sama sekali. Ini dapat dicapai dengan memotong atau merapikan kulit secarahati-hati sebelum
dijahit.
3.Tepi kulit harus ditarik dengan ringan, ini dilakukan dengan memakai traksi ringan padatepi-
tepi kulit dan lebih rentan lagi pada lapisan dermal dari kulit yang dijahit.
4.Setiap ruang mati harus ditutup, baik dengan jahitan subcutaneous yang dapat diserapatau
dengan mengikutsertakan lapisan ini pada waktu menjahit kulit.\
5.Jahitan halus tetapi banyak yang dijahit pada jarak yang sama lebih disukai daripada jahitan
yang lebih besar dan berjauhan.
6.Setiap jahitan dibiarkan pada tempatnya hanya selama diperlukan. Oleh karena itu
jahitan pada wajah harus dilepas secepat mungkin (48 jam-5hari), sedangkan jahitan padadinding
abdomen dan kaki harus dibiarkan selama 10 hari atau lebih.
7.Semua luka harus ditutup sebersih mungkin.

Penyebab dan Penanganan infeksi tetanus pada luka
Etiologi : toksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani
infeksi diakibatkan oleh alat-alat yang tidak steril, cara perawatan luka yang kurang baik.
Imunisasi : Bulan ke-3,ke-4, dan bulan ke-6. Booster dilakukan setiap 10 tahun.
Anti tetanus :
oToxoid (Aktif) : 1cc dewasa atau 0,5cc anak-anak.
oSerum ATS (Pasif) : Tetagam, Tetaglobilun : 1500 iu dewasa atau 750 iu anak-anak.
Profilaksis tetanus pada penderita luka :
oBila belum pernah vaksin tetanus berikan vaksin tetanus Aktif & Pasif padasisi gluteus
yang berbeda, lalu dilanjutkan seperti imunisasi.
oBila sudah pernah vaksin tetanus berikan tetanus Pasif langsung.

Komplikasi1.Komplikasi Luka & Menjahit Luka :
oOverlapping
oNekrosis
oInfeksi
oPerdarahan
oHematoma
oDead Space (ruang/ rongga mati)
oSinus
oDehisensi, Abses2.

Komplikasi Penyembuhan Luka
- Terjadi segera :
Hematoma, Seroma, dan infeksi pada luka yang terkontaminasi.
- Terjadi kemudian :
defisiensi pembentukan jaringan parut
pembentukkan jaringan parut yang berlebihan (keloid).
terjadinya kontraktur

Penanganan Infeksi (Medikasi Wound I nfection)
Antibiotik (Perhatikan faktor alergi!, fungsi hepar & renal, berat ringannya luka, ada/tidaknya
kehamilan)
Cephalosporin (Cefazolin) : 250 mg s/d 2 g IV/IM q6-12h (Dewasa)
Eritromisin
Metoxin (Cefoxitin) 2nd gen of Cephalosporin, dll

Penanganan Skin overlap
membuka kembali balutan dan jahitan pada luka
Buang semua debris, pus, jaringan nekrotik, corpus alienum, dan semua hal yang
menghambat penyembuhan luka. Bila perlu lakukan debridement dengan anestesi
umumagar pasien tidak kesakitan dan debridement dapat dilakukan dengan sempurna.
Irigasi dilakukan dengan NaCl fisiologis 0,9% atau H2O.
atasi infeksi dengan antibiotik.
jahit kembali luka dengan memperhatikan tegangan pada luka sehingga jahitan tidak terl
alu kencang dan rapat (disesuaikan) untuk mencegah overlapping kembali.
Luka ditutup dengan balutan yang memenuhi prinsip wound dressing
melakukan tindakan perawatan pasca bedah.
pembalutan tidak perlu dibuka setiap hari kecuali jika ada tanda-
tanda komplikasi padaluka.

Prognosis
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam : ad bonam

















Patient Safety

Tidak adanya kesalahan atau bebas dari cedera karena kecelakaan. (Kohn,Corrigan &
Donaldson, 2000)
Keselamatan pasien (rumah sakit) adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat
asuhan pasien lebih aman, mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan
akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya
diambil. (Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1691/Menkes/PER/VIII/2011)

Tujuan Patient Safety:
Tercipta budaya keselamatan di RS
Meningkatkan akuntabilitas RS terhadap pasien dan masyarakat
Menurunkan KTD(Kejadian Tidak Diharapkan) di RS
Terlaksana program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan KTD

Sistem tersebut meliputi:
pengenalan risiko
identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien
pelaporan dan analisis insiden
kemampuan belajar dari insiden
tindak lanjutnya dan implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko

Sistem Patient Safety di RS:
Pelaporan insiden ( bersifat rahasia)
Analisis, belajar, riset masalah
Pengembangan dan penerapan solusi, monitoring, evaluasi
Penetapan SOP berdasarkan riset dan pengetahuan
Pemberdayaan pasien dan keluarga

Langkah Menuju Patient Safety:
Membangun kesadaran, komitmen, dan fokus yang jelas
Membangun sistem manajemen risiko, identifikasi dan pendekatan masalah
Membangun sistem pelaporan
Melibatkan pasien
Analisi akar masalah dari berbagai pengalaman
Mencegah cedera dari informasi yang ada

Sasaran Keselamatan Pasien:
a. Ketepatan identifikasi pasien
b. Peningkatan komunikasi yang efektif
c. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai
d. Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien operasi
e. Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
f. Pengurangan risiko pasien jatuh



Fase Penyembuhan Luka







Jenis dari penyembuhan luka terdiri dari:

1. Penyembuhan luka primer: pinggiran luka yang bersih dan masih vital, fase pembentukan
jaringan granulasi dan epitelisasi ( 1-3 hari)






Stase sub-bagian : Pelatihan

CBD / Refleksi ke : 1

Kasus : Vulnus laceratum, pasien IGD

Deskripsi kasus:

Pasien IGD dengan vulnus laceratum a/r cruris dextra di tangani oleh co-ast A . A melaporkan
kasuskepada dokter jaga IGD, dan mendapat persetujuan untuk wound toilet dan hecting ,lalu di
balut menggunakan kassa steril dan melapor kembali kepada dokter jaga IGD. Dokter IGD tidak
sempat memeriksa pekerjaan A dan langsung meresepkan obat serta memberikan surat kontrol.
3 hari kemudian pasien kontrol , di ketahui luka di jahit tidak sempurna ,terdapat skin overlap
dan infeksi . Diketahui belakangan bahwa pasien memperoleh luka tersebut 10 jam sebelum
datang ke IGD.

Problem:
1.Mengapa dapat terjadi infeksi pada pasien tersebut?
2.Bagaimana terjadinya skin overlap pada luka yang sudah di wound toilet dan
dihecting?
3.Berapa lama golden period untuk jaringan kulit yang luka?
4.Obat dan terapi apa saja yang dibutuhkan?
5.Apa hubungannya dengan patient safety?

Analisis :
1 . Lu k a t e r i n f e k s i :
-Sebelum masuk RS :
Sudah lewat golden period (luka dibiarkan saja tidak dirawat)
Keadaan luka yang kotor dan / terkontaminasi
Kedalaman luka
-Setelah masuk RS :
Wound toilet yang tidak adekuat/ tidak steril
Teknik penjahitan yang kurang baik
Alat-alat yang digunakan tidak steril
Antibiotik profilaksis tidak adekuat

2. Terjadinya skin overlap bisa karena salah penggunaan benang dan jarum, teknik hecting
yang tidak sempurna, tepi luka tidak rata.

3. Golden periode penyembuhan luka antara 6-8 jam, sehingga luka lebih baik segera ditangani
sebelum timbulnya nekrosis.



4. Penanganan Skin overlap
Membuka kembali balutan dan jahitan pada luka
Buang semua debris, pus, jaringan nekrotik, corpus alienum, dan semua hal yang
menghambat penyembuhan luka. Bila perlu lakukan debridement dengan anestesi umum
agar pasien tidak kesakitan dan debridement dapat dilakukan dengan sempurna.
Irigasi dilakukan dengan NaCl fisiologis 0,9% atau H2O.
Atasi infeksi dengan antibiotik.
Jahit kembali luka dengan memperhatikan tegangan pada luka sehingga jahitan tidak terlalu
kencang dan rapat (disesuaikan) untuk mencegah overlapping kembali.
Luka ditutup dengan balutan yang memenuhi prinsip wound dressing
Melakukan tindakan perawatan pasca bedah.
Pembalutan tidak perlu dibuka setiap hari kecuali jika ada tanda komplikasi pada luka.

5. Jika dikaitkan dengan patient safety seharusnya hasil kerja coasisten tetap diperiksa dokter
jaga untuk meminimalisir risiko-risiko serupa. Anamnesis pasien harus lebih mendalam,
agar lebih mengetahui jenis luka yang dialami pasien. Jadi pada patient safety komunikasi
antar berbagai pihak sangat penting untuk keamanan dari pasien itu sendiri.

Yang belum diketahui ( learning issues):
1. Klasifikasi Luka
2. Fase Penyembuhan Luka
3. Prinsip Perawatan Luka
4. Komplikasi Penyembuhan Luka
5. Patient Safety

Hasil Pencarian dari kepustakaan: (terlampir)

Jawaban terhadap permasalahan:
1. Pada kasus ini telah melewati golden period, kemungkinan luka infeksi, ditambah dengan
teknik hecting yang kurang sempurna sehingga terjadi skin overlap, pasien pulang 3 hari
infeksi semakin parah.
2. Teknik hecting tidak sempurna oleh co asisten A.
3. 6- 8 jam
4. Penanganan Infeksi (Medikasi Wound Infection)
Antibiotik (Perhatikan faktor alergi!, fungsi hepar & renal, berat ringannya luka,
ada/tidaknya kehamilan)
Cephalosporin (Cefazolin) : 250 mg s/d 2 g IV/IM q6-12h (Dewasa)
Eritromisin
Metoxin (Cefoxitin) 2nd gen of Cephalosporin, dll
5. Dengan patient safety diharapkan ada pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan
kesehatan.

Pembimbing klinik (preceptor)


()

MODUL I



PELATIHAN I

Kelompok 4


















Februari 2014