Anda di halaman 1dari 6

Fraktur Zygoma

1. Definisi
Fraktur tulang zygomatic adalah fraktur yang paling sering terjadi
dari tulang wajah setelah fraktur nasal, akibat dari posisinya yang
terletak didepan. Tulang zygomatic membentuk proyeksi yang paling
anterolateral di setiap sisi wajah tengah. Tulang zygomatic yang
mengalami fraktur biasanya pada bagian inferomedial dan posterior.
Tulang zygoma memainkan peran penting dalam kontur wajah karena
bentuk wajah dipengaruhi sebagian besar oleh struktur tulang yang
mendasari. Gangguan posisi zygomatic memiliki makna fungsional
yang besar karena menciptakan gangguan mata dan fungsi mandibula.
Oleh karena itu, cedera zygomatic harus benar didiagnosis dan diobati
baik untuk alasan kosmetik dan fungsional.1,2,3,4

2. Etiologi
Fraktur tulang zygomatic paling sering ditemukan di kalangan
laki-laki muda dan penyebab paling umum adalah kecelakaan lalu
lintas dan akibat tindak kekerasan yang mengenai bagian wajah.
Distribusi seks nyata lebih tinggi untuk laki-laki daripada perempuan
(4: 1). Di negara maju, rasionya adalah rata-rata 3-5: 1, sedangkan di
negara-negara terbelakang, rasionya adalah rata-rata 10-40: 1.4
3. Manifestasi Klinis
Keseluruhan, 70-90% pasien akan mengeluh infra orbital / atas
bibir mati rasa pada sisi yang terkena. Ini mungkin melibatkan gigi
pusat, lateral, dan / atau anjing rahang atas. Pasien mungkin memiliki
epistaksis karena terganggunya membran sinus maksilaris atau oklusi
normal karena fraktur mencegah gerakan mandibula normal. Fraktur
zygoma harus dicurigai jika terdapat edema periorbital, ekimosis,
perdarahan sub konjungtiva perdarahan, dan asimetris pada tulang
pipi. Jika membuka mulut akan terasa seperti gerakannya dibatasi atau
menyebabkan rasa sakit maka harus dicurigai adanya fraktur pada
zygoma. Fraktur pada zygomati mungkin akan menyebabkan
gangguan pada mata antara lain enopthalmos, proptosis, diplopia, dan
oftalmoplegia. 5
4. Diagnosis
Penegakan dapat dilakukan melalui anamnesis tentang gejala dan
mekanisme trauma yang terjadi serta pemeriksaan fisik. Selain itu
perlu dilakukan pemeriksaan radiologi. CT-Scan merupakan gold
standar untuk diagnosis fraktur pada wajah, salah satunya fraktur

zygoma, walaupun dalam beberapa terakhir penggunaan


ultrasonografi dapat pula digunakan untuk mendiagnosis fraktur pada
tulang wajah.5,6
5. Tatalaksana

Pembedahan diindikasikan bila ada gangguan fungsi, membuka mulut yang


terbatas / atau ketika pasien mengeluhkan masalah estetika.5

Fraktur Maksila
Etiologi
Fraktur maksila sendiri sebagai bagian dari trauma maxillofacial cukup sering
ditemukan, walaupun lebih jarang dibandingkan dengan fraktur mandibula.
Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan penyebab tersering fraktur
maksila maupun fraktur wajah lainnya. Pada fraktur maksila juga dapat
muncul berbagai komplikasi yang cukup berat, dimana apabila tidak
ditangani dengan baik dapat mengakibatkan kecacatan dan kematian.
Fraktur maksila juga dapat terjadi pada anak-anak, dengan peningkatan
prevalensi seiring dengan meningkatnya usia anak terkait dengan
peningkatan aktivitas fisik. Fraktur maksila pada anak berbeda secara
signifikan dibandingkan dengan orang dewasa baik itu dari segi pola,
maupun treatment. Dengan demikian, adanya fraktur maxillofacial harus
dapat didiagnosis dan ditangani dengan tepat dan akurat untuk menghindari
gangguan pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya, mengingat adanya
gangguan fungsional dan masalah estetika yang mungkin terjadi.6,7
Klasifikasi8
Berdasarkan eksperimen yang dilakukan oleh Rene Le Fort, terdapat tiga
pola fraktur
maksila, yaitu Le Fort I, II, dan III. Selain fraktur Le Fort, terdapat pula fraktur
alveolar, dan
vertikal atau sagital maupun parasagital.

Gambar 1. Fraktur Le Port I,II,& III 4


a). Fraktur Le Fort I
Fraktur Le Fort I dikenal juga dengan fraktur Guerin yang terjadi di atas level
gigi
yang menyentuh palatum, meliputi keseluruhan prosesus alveolar dari
maksila, kubah palatum, dan prosesus pterigoid dalam blok tunggal. Fraktur
membentang secara horizontal menyeberangi
basis sinus maksila.1 Dengan demikian buttress maksilari transversal bawah
akan bergeser
terhadap tulang wajah lainnya maupun kranium.
b). Fraktur Le Fort II
Pukulan pada maksila atas atau pukulan yang berasal dari arah frontal
menimbulkan
fraktur dengan segmen maksilari sentral yang berbentuk piramida. Karena
sutura
zygomaticomaxillary dan frontomaxillary (buttress) mengalami fraktur maka
keseluruhan
maksila akan bergeser terhadap basis kranium.
c). Fraktur Le Fort III
Selain pada pterygomaxillary buttress, fraktur terjadi pada zygomatic arch
berjalan ke
sutura zygomaticofrontal membelah lantai orbital sampai ke sutura
nasofrontal. Garis fraktur
seperti itu akan memisahkan struktur midfasial dari kranium sehingga
fraktur ini juga disebut
dengan craniofacial dysjunction. Maksila tidak terpisah dari zygoma ataupun
dari struktur nasal.
Keseluruhan rangka wajah tengah lepas dari basis kranium dan hanya
disuspensi oleh soft
tissue.
d). Fraktur Alveolar

Bagian dentoalveolar dari maksila dapat mengalami fraktur akibat pukulan


langsung
maupun secara tidak tidak langsung pada mandibula. Sebagian dari
prosesus alveolar dapat
mengalami fraktur.
e). Fraktur Maksila Sagital atau Vertikal
Fraktur sagital biasanya dihubungkan dengan fraktur maksila lainnya. Fraktur
seperti
ini dapat meningkatkan lebar arkus denta dan wajah, dimana cukup sulit
untuk ditangani.
Tatalaksana
Penatalaksanaan pada fraktur maksila meliputi penegakan airway,
kontrol pendarahan, penutupan luka pada soft tissue, dan menempatkan
segmen tulang yang fraktur sesuai dengan posisinya melalui fiksasi
intermaksilari.6
Sebelumnya, fraktur midface direkonstruksi dengan teknik yang
pertama kali diperkenalkan oleh Milton Adams. Adam mendeskripsikan
reduksi terbuka direk dan fiksasi internal rima orbita serta kombinasi reduksi
tertutup dengan fiksasi maksilomandibular midface bawah dan kompresi
menggunakan kawat. Namun teknik ini menyebabkan wajah pasien
memendek dan tetap mengalami retrusi. Sekarang ini treatment fraktur Le
Fort tidak hanya bertujuan untuk memperbaiki oklusi sebelum fraktur, tapi
juga proyeksi, lebar, dan panjang wajah serta integritas kavitas nasal, orbita
dan kontur soft tissue. Tujuan tersebut dicapai dengan melakukan CT scan
potongan tipis, reduksi terbuka ekstensif semua fraktur, stabilisasi rigid
menggunakan plat dan sekrup, cangkok tulang apabila terdapat gap akibat
hilangnya segmen tulang, dan reposisi selubung soft tissue .8
Prognosis
Fiksasi intermaksilari merupakan treatment paling sederhana dan salah satu
yang paling efektif pada fraktur maksila. Jika teknik ini dapat dilakukan
sesegera mungkin setelah terjadi fraktur, maka akan banyak deformitas
wajah akibat fraktur dapat kita eliminasi. Mandibula yang utuh dalam fiksasi
ini dapat membatasi pergeseran wajah bagian tengah menuju ke bawah dan
belakang, sehingga elongasi dan retrusi wajah dapat dihindari. Sedangkan
fraktur yang baru akan ditangani setelah beberapa minggu kejadian, dimana
sudah mengalami penyembuhan secara parsial, hampir tidak mungkin untuk
direduksi tanpa full open reduction, bahkan kalaupun dilakukan tetap sulit
untuk direduksi. 8
Fraktur Nasal
Fraktur Nasal merupakan fraktur paling sering karena letaknya menonjol.
Penyebab tersering dari fraktur nasal adalah tindak kekerasan yang

mengenai bagian nasal, selain itu juga kecelakaan lalu lintas, jatuh, atau
akibat trauma pekerjaan.9

Fraktur Orbital
Gambaran Klinis
Tidak ada temuan klinis atau radiografi seragam hadir pada semua pasien dengan patah tulang
rima orbital. Pasien dapat dibagi secara luas menjadi dua kelompok: mereka dengan dan mereka
yang tidak jaringan dipenjara dalam fraktur. Temuan klinis yang mungkin berguna jika
diidentifikasi adalah refleks oculocardiac. Reflek oculocardia memiliki beberapa relevancies.
Pertama, mungkin berfungsi sebagai alat diagnostik. Identifikasi tanda dan / atau gejala dari
respon vasovagal dengan motilitas okular harus meningkatkan kecurigaan seseorang dari jeratan
otot. Kedua, pengakuan refleks oculocardiac penting karena potensi bahaya dari bradycardia dan
bahkan blok jantung. Terakhir, oculocardiac refleks dapat membuat diagnosis lebih sulit. Pada
anak-anak, gejala yang meliputi mual dan ringan dapat mengurangi kerjasama, peracikan
kesulitan akurat menilai motilitas anak muda. 10

Fraktur Etmoid
Fraktur Nasal
Daftar Pustaka
Adam M, Zhi L, Bing LZ, dan Xing WUZ (2012). Evaluation of Treatment of
Zygomatic Bone and Zygomatic Arch Fractures: A Retrospective Study of 10
Years. J. Maxillofac Oral Surg. 11(2):171176.
Baek JE, Chung CM, dan Hong IP (2012). Reduction of Zygomatic Fractures Using the
Carroll-Girard T-bar Screw. Arch Plast Surg. 39(5): 556560.
Kumar SRR, Raju KV, dan Sunanda K (2010). Stabilization of the Isolated Zygomatic Arch
Fracture Using Foleys Balloon Catheter. J Maxillofac Oral Surg. 9(4): 407409.
Rana M, Warraich R, Tahir S, Iqbal A, See CV, Eckardt AM, dan Gellrich NC (2012). Surgical
treatment of zygomatic bone fracture using two points fixation versus three point fixation-a
randomised prospective clinical trial. Trials Journals. 13: 36.
Ceallaigh PO, Ekanaykaee K, Beirne CJ, dan Patton DW (2007). Diagnosis and management of
common maxillofacial injuries in the emergency department. Part 3: orbitozygomatic complex
and zygomatic arch fractures. Emerg Med J. 24(2): 120122.

Nezafati S, Javadrashid R, Rad S, dan Akrami S (2010). Comparison of ultrasonography with


submentovertex films and computed tomography scan in the diagnosis of zygomatic arch
fractures. Dentomaxillofac Radiol. 39(1): 1116.
Fraioli Rebecca E, MD,et al. Facial Fractures: Beyond Le Fort. Otolaryngol Clin N Am.
2008; 41:51-76.
Alcala-Galiano Andrea, MD, et al. Pediatric Facial Fractures: Children Are Not Just Small
Adults. Radiographics. 2008; 28:441-461.
Hopper Richard A, MD, et al. Diagnosis of Midface Fractures with CT : What the Surgeon
Need To Know. Radiographics. 2006; 26:783-793.
Akdodan O, Selcuk A, Gurbuz D, dan Dere H (2008). Analysis of Simple Nasal Bone Fracture
and the Effect of it on Olfactory Dysfunction. Ankara Numune Training and Research Hos. 7:
68-70.

Phan LT, Piluek WJ, dan McCulley TJ (2012). Orbital trapdoor fractures. Saudi J
Ophthalmol. 26 (3): 277-282.