Anda di halaman 1dari 11

PRAKTIK PROFESI KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (KMB)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKes HANG TUAH PEKANBARU
TA. 2015/2016

LAPORAN PENDAHULUAN
FRAKTUR ZIGOMA

A. KONSEP DASAR
1. DEFINISI
Fraktur adalah hilang atau putusnya kontinuitas jaringan keras tubuh. Fraktur
maksilofasial adalah fraktur yang terjadi pada tulang-tulang wajah, yaitu tulang frontal,
temporal, orbito zigomatikus, nasal, maksila dan mandibula. Fraktur maksilofasial lebih
sering terjadi sebagai akibat dari faktor yang datangnya dari luar seperti kecelakaan lalu
lintas, kecelakaan kerja, kecelakaan akibat olah raga dan juga sebagai akibat dari
tindakan kekerasan.
Fraktur zigoma merupakan merupakan fraktur fasial yang paling sering terjadi.
Tingginya insiden dari fraktur zigoma berhubungan dengan lokasi zigoma yang lebih
menonjol. Zigoma mempunyai peran yang penting dalam membentuk struktur wajah,
dan disrupsi dari posisi zigoma dapat mengganggu fungsi okular dan mandibular; oleh
karena itu trauma pada zigoma harus didiagnosa secara tepat dan ditangani secara
adekuat.

2. ETIOLOGI / FAKTOR RESIKO


Ada banyak faktor etiologi yang menyebabkan fraktur maksilofasial itu dapat
terjadi, seperti kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja , kecelakaan akibat olah raga,
kecelakaan akibat peperangan dan juga sebagai akibat dari tindakan kekerasan. Tetapi
penyebab terbanyak adalah kecelakaan lalu lintas
Terjadinya kecelakaan lalu lintas ini biasanya sering terjadi pada pengendara
sepeda motor. Hal ini dikarenakan kurangnya perhatian tentang keselamatan jiwa
mereka pada saat mengendarai sepeda motor di jalan raya, seperti tidak menggunakan
pelindung kepala (helm), kecepatan dan rendahnya kesadaran tentang beretika lalu
lintas.
3. KLASIFIKASI
a. Fraktur kompleks Zigomatikum
Tulang zigomatik sangat erat hubungannya dengan tulang maksila, tulang dahi serta
tulang temporal, dan karena tulang tulang tersebut biasanya terlibat bila tulang
zigomatik mengalami fraktur, maka lebih tepat bila injuri semacam ini disebut
fraktur kompleks zigomatik.
Tulang zigomatik biasanya mengalami fraktur didaerah zigoma beserta suturanya,
yakni sutura zigomatikofrontal, sutura zigomakotemporal, dan sutura
zigomatikomaksilar. Suatu benturan atau pukulan pada daerah inferolateral orbita
atau pada tonjolan tulang pipi merupakan etiologi umum. Arkus zigomatik dapat
mengalami fraktur tanpa terjadinya perpindahan tempat dari tulang zigomatik.
Meskipun fraktur kompleks zigomatik sering disebut fraktur tripod, namun
fraktur kompleks zigomatik merupakan empat fraktur yang berlainan. Keempat
bagian fraktur ini adalah arkus zigomatik, tepi orbita, penopang frontozigomatik,
dan penopang zigomatiko-rahang atas

Pandangan frontal dari fraktur zigomatik Pandangan submentoverteks dari fraktur


kompleks (www.emedicine.com) zigomatik kompleks (www.emedicine.com)

b. Arkus zigomatikus
Arkus zigomatikus bisa merupakan fraktur yang terpisah dari fraktur zigoma
kompleks. Fraktur ini terjadi karena depresi atau takikan pada arkus, yang hanya
bisa dilihat dengan menggunakan film submentoverteks dan secara klinis berupa
gangguan kosmetik pada kasus yang tidak dirawat, atau mendapat perawatan yang
kurang baik
4. PATOFISIOLOGI
Gaya yang menyebabkan cidera dapat dibedakan jadi 2, yaitu high impact atau
low impact. Keduanya dibedakan apakah lebih besar atau lebih kecil dari 50 kali gaya
gravitasi. Setiap region pada wajah membutuhkan gaya tertentu hingga menyebabkan
kerusakan dan masing masing region berbeda beda. Margo Supraorbital, maxilla, dan
mandibula (bagian syimphisis dan angulus) dan frontal membutuhkan gaya yang high
impact agar bias mengalami kerusakan. Sedangkan os zygoma dan os nasal dapat
mngalami kerusakan hanya dengan terkena gaya yang low impact.
Fraktur kompleks zygomaticomaxilla : fraktur ini disebabkan oleh trauma
langsung. Garis fraktur meluas melalui sutura zygomaticotemporal, zygomaticofrontal,
zygomaticomaxlla dan artikulasi dengan ala magna os sphenoid. Garis fraktur biasanya
meluas hingga foramen intraorbita dan lantai orbita. Cidera ocular yang bersamaan juga
sering terjadi.

5. MANIFESTASI KLINIS
a. Fraktur Kompleks Zigomatikum
1) Depersi malar
2) Pendataran tulang pipi,
3) Nyeri tekan penonjolan zygoma.
4) Flame sign : kerusakan dan depresi tendon canthal lateral, pendarahan sub
conjunctival, paresthesi pada sisi lateral hidung dan bibir bagian atas, diplopia
akibat m. rectus inferior, intraoral ecchimosis
b. Arkus Zigomatikum
1) Nyeri saat palpasi
2) Keterbatasan gerak mandibula disebabkan interferensi pergerakan processus
coronoideus mandibula pada pemeriksaan fisik

6. PENATALAKSANAAN MEDIS DAN KEPERAWATAN


Penatalaksanaan fraktur zigoma tergantung pada derajat pergeseran tulang, segi
estetika dan defisit fungsional. Perawatan fraktur zigoma bervariasi dari tidak ada
intervensi dan observasi meredanya oedem, disfungsi otot ekstraokular dan parestesi
hingga reduksi terbuka dan fiksasi interna. Intervensi tidak selalu diperlukan karena
banyak fraktur yang tidak mengalami pergeseran atau mengalami pergeseran minimal.
Penelitian menunjukkan bahwa antara 9-50% dari fraktur zigoma tidak membutuhkan
perawatan operatif. Jika intervensi diperlukan, perawatan yang tepat harus diberikan
seperti fraktur lain yang mengalami pergeseran yang membutuhkan reduksi dan alat
fiksasi.
a. Penatalaksanaan Medis
Perbaikan fraktur komplek zigoma sering dilakukan secara elektif. Fraktur arkus
yang terisolasi bisa diangkat melalui pendekatan Gillies klasik.
Adapun langkah-langkah teknik Gillies yang meliputi :
1) Membuat sayatan dibelakang garis rambut temporal,
2) Mengidentifikasi fasia temporalis,
3) Menempatkan elevator di bawah fasia mendekati lengkungan dari aspek dalam
yakni dengan menggeser elevator di bidang dalam untuk fasia, cedera pada
cabang frontal dari syaraf wajah harus dihindari. Sehingga arkus dapat kembali ke
posisi anatomis yang lebih normal.
Bila hanya arkus zigoma saja yang terkena fraktur, fragmen fragmen harus
direduksi melalui suatu pendekatan memnurut Gillies. Fiksasi tidak perlu dilakukan
karena fasia temporalis yang melekat sepanjang bagian atas lengkung akan
melakukan imobilisasi fragmen-fragmen secara efektif

Pendekatan Gillies untuk mengurangi fraktur arkus zigomatikus, A. Insisi temporal


melalui fasia subkutan dan fasia superfisial dibawah fasia temporal bagian dalam, B.
Reduksi fraktur dengan elevator
b. Penatalaksanaan Keperawatan
Pemeriksaan klinis pada fraktur kompleks zigoma dilakukan dalam dua
pemeriksaan yakni secara ekstra oral dan intra oral. Pada pemeriksaan ekstra oral,
pemeriksaan dilakukan dengan visualisasi dan palpasi. Secara visualisasi dapat
terlihat adanya kehitaman pada sekeliling mata, mata juling, ekhimosis, proptosis,
pembengkakan kelopak mata, perdarahan subkonjungtiva, asimetris pupil, hilangnya
tonjolan prominen pada daerah zigomatikus. Sedangkan secara palpasi terdapat
edema dan kelunakan pada tulang pipi. Pada pemeriksaan intra oral, pemeriksaan
dilakukan secara visualisasi dan palpasi. Secara visualisasi dapat terlihat adanya
ekimosis pada sulkus bukal atas di daerah penyangga zigomatik, kemungkinan
penyumbatan oklusi didaerah molar pada sisi yang terkena injuri. Sedangkan secara
palpasi terdapat kelunakan pada sulkus bukal atas di daerah penyangga zigomatik,
anestesia gusi atas.
Pemeriksaan fraktur komplek zigomatikus dilakukan dengan foto rontgen
submentoverteks, proyeksi waters dan CT scan

Pemeriksaan dengan proyeksi


waters dari fraktur kompleks
zigomatik
B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Survei Awal
Survey awal digunakan untuk melihat kondisi sistemik pasien dan prioritas
perawatan pasien berdasarkan luka, tanda-tanda vital, dan mekanisme terjadinya
luka. Advance Trauma Life Support (ATLS) yang dianjurkan olehAmerican College
of Surgeon ialah perawatan trauma ABCDE.
A: Airway maintenance with cervical spine control/ protection
1) Menghilangkan fragmen-fragmen gigi dan tulang yang fraktur.
2) Memudahkan intubasi endotrakeal dengan mereposisi segmen fraktur wajah
untuk membuka jalan nafas oral dan nasofaringeal.
3) Stabilisasi sementara posisi rahang bawah ke arah posterior dengan fraktur
kedua kondilus dan simfisis yang menyebabkan obstruksi jalan nafas atas.
B: Breathing and adequate ventilation
1) Stabilisasi sementara posisi fraktur rahang bawah ke arah posterior dengan
fraktur kedua kondilus dan simfisis yang menyebabkan obstruksi jalan nafas
pada pasien yang sadar.
C: Circulation with control of hemorrhage
1) Kontrol perdarahan dari hidung atau luka intraoral untuk meningkatkan jalan
nafas dan mengontrol perdarahan.
2) Menekan dan mengikat perdarahan pembuluh wajah dan perdarahan di kepala.
3) Menempatkan pembalut untuk mengontrol perdarahan dari laserasi wajah yang
meluas dan perdarahan kepala.
D: Disability: neurologic examination
1) Status neurologis ditentukan oleh tingkat kesadaran, ukuran pupil, dan reaksi.
2) Trauma periorbital dapat menyebabkan luka pada okular secara langsung
maupun tdak langsung yang dapat dilihat dari ukuran pupil, kontur, dan respon
yang dapat mengaburkan pemeriksaan neurologis pada pasien dengan sistem
saraf pusat yang utuh.
3) Menentukan perubahan pupil pada pasien dengan perubahan sensoris (alkohol
atau obat) yang tidak berhubungan dengan trauma intrakranial.
E: Exposure/ enviromental control
1) Menghilangkan gigi tiruan, tindikan wajah dan lidah.
2) Menghilangkan lensa kontak.
b. Penilaian GCS
Pada umumnya, Glasgow coma scale (GCS) digunakan untuk memeriksa
kesadaran yang dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya gangguan neurologis pada
saat pertama kali terjadi trauma maksilofasial. Ada tiga variabel yang digunakan
pada skala ini, yaitu respon membuka mata, respon verbal, dan respon motorik. Nilai
GCS ditentukan berdasarkan skor yang diperoleh berdasarkan tabel berikut.

c. Riwayat penyakit, Keluhan utama dan pemeriksaan klinis


Lima pertanyaan yang harus diketahui untuk mengetahui riwayat penyakit
pasien penderita fraktur maksilofasial ialah:
1) Bagaimana kejadiannya?
2) Kapan kejadiannya?
3) Spesifikasi luka, termasuk tipe objek yang terkena, arah terkena, dan alat yang
kemungkinan dapat menyebabkannya?
4) Apakah pasien mengalami hilangnya kesadaran?
5) Gejala apa yang sekarang diperlihatkan oleh pasien, termasuk nyeri, sensasi,
perubahan penglihatan, dan maloklusi?
Evaluasi menyeluruh pada sistem, termasuk informasi alergi, obat-obatan,
imunisasi tetanus terdahulu, kondisi medis, dan pembedahan terdahulu yang pernah
dilakukan.
Jejas pada sepertiga wajah bagian atas dan kepala biasanya menimbulkan
keluhan sakit kepala, kaku di daerah nasal, hilangnya kesadaran, dan mati rasa di
daerah kening.
Jejas pada sepertiga tengah wajah menimbulkan keluhan perubahan ketajaman
penglihatan, diplopia, perubahan oklusi, trismus, mati rasa di daerah paranasal dan
infraorbital, dan obstruksi jalan nafas.
Jejas pada sepertiga bawah wajah menimbulkan keluhan perubahan oklusi,
nyeri pada rahang, kaku di daerah telinga, dan trismus.
Pemeriksaan klinis pada struktur wajah terpenuhi setelah seluruh pemeriksaan
fisik termasuk pemeriksaan jantung dan paru, fungsi neurologis, dan area lain yang
berpotensi terkena trauma, termasuk dada, abdomen, dan area pelvis.
Evaluasi pada wajah dan kranium secara hati-hati untuk melihat adanya
trauma seperti laserasi, abrasi, kontusio, edema atau hematoma. Ekimosis di
periorbital, terutama dengan adanya perdarahan subkonjungtiva, merupakan sebagai
indikas dari adanya fraktur zigomatikus kompleks dan fraktur rima orbita.
Pemeriksaan neurologis pada wajah dievaluasi secara hati-hati dengan
memeriksa penglihatan, pergerakan ekstraokular, dan reaksi pupil terhadap cahaya.
Pemeriksaan mandibula dengan cara palpasi ekstraoral semua area inferior dan
lateral mandibula serta sendi temporomandibular. Pemeriksaan oklusi untuk melihat
adanya laserasi pada area gingiva dan kelainan pada bidang oklusi. Untuk menilai
mobilisasi maksila, stabilisasi kepala pasien diperlukan dengan menahan kening
pasien menggunakan salah satu tangan. Kemudian ibu jari dan telunjuk menarik
maksila secara hati-hati untuk melihat mobilisasi maksila.
Pemeriksaan regio atas dan tengah wajah dipalpasi untuk melihat adanya
kerusakan di daerah sekitar kening, rima orbita, area nasal atau zigoma. Penekanan
dilakukan pada area tersebut secara hati-hati untuk mengetahui kontur tulang yang
mungkin sulit diprediksi ketika adanya edema di area tersebut. Untuk melihat
adanya fraktur zigomatikus kompleks, jari telunjuk dimasukan ke vestibula maksila
kemudian palpasi dan tekan kearah superior lateral.
d. Pemeriksaan Radiografis
Pada pasien dengan trauma wajah, pemeriksaan radiografis diperlukan untuk
memperjelas suatu diagnosa klinis serta untuk mengetahui letak fraktur.
Pemeriksaan radiografis juga dapat memperlihatkan fraktur dari sudut dan perspektif
yang berbeda.
Pemeriksaan radiografis pada mandibula biasanya memerlukan foto
radiografis panoramic view, open-mouth Townes view, postero-anterior view,
lateral oblique view. Biasanya bila foto-foto diatas kurang memberikan informasi
yang cukup, dapat juga digunakan foto oklusal dan periapikal.
Computed Tomography (CT) scans dapat juga memberi informasi bila terjadi
trauma yang dapat menyebabkan tidak memungkinkannya dilakukan teknik foto
radiografis biasa. Banyak pasien dengan trauma wajah sering menerima atau
mendapatkan CT-scan untuk menilai gangguan neurologi, selain itu CT-scan dapat
juga digunakan sebagai tambahan penilaian radiografi.
Pemeriksaan radiografis untuk fraktur sepertiga tengah wajah dapat
menggunakan Waters view, lateral skull view, posteroanterior skull view,
dansubmental vertex view.
2. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi
N Diagnosa NOC NIC
1 Nyeri akut berhubungan dengan: NOC : NIC :
Agen injuri (biologi, kimia, fisik, Pain Level, - Lakukan pengkajian nyeri secara
psikologis), kerusakan jaringan pain control, komprehensif termasuk lokasi,
DS: karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas
comfort level
- Laporan secara verbal dan faktor presipitasi
Setelah dilakukan tinfakan
DO: - Observasi reaksi nonverbal dari
keperawatan
- Posisi untuk menahan nyeri ketidaknyamanan
selama . Pasien tidak
- Tingkahlaku berhatihati - Bantu pasien dan keluarga untuk
mengalami
- Gangguan tidur (mata sayu, tampak mencari dan menemukan dukungan
nyeri, dengan kriteria hasil:
capek, sulit atau gerakan kacau, - Kontrol lingkungan yang dapat
- Mampu mengontrol nyeri
menyeringai) mempengaruhi nyeri seperti suhu
(tahu penyebab nyeri, mampu
- Terfokus pada diri sendiri ruangan, pencahayaan dan kebisingan
menggunakan tehnik non
- Fokus menyempit (penurunan - Kurangi faktor presipitasi nyeri
farmakologi untuk
persepsi waktu, kerusakan proses - Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
mengurangi nyeri, mencari
berpikir, penurunan interaksi menentukan intervensi
bantuan)
dengan orang dan lingkungan) - Ajarkan tentang teknik non farmakologi:
- Melaporkan bahwa nyeri
- Tingkah laku distraksi, contoh : napas dala, relaksasi, distraksi, kompres
berkurang dengan
jalanjalan,menemui orang lain hangat/ dingin
menggunakan manajemen
dan/atau aktivitas, aktivitas - Berikan analgetik untuk mengurangi
nyeri
berulangulang) nyeri: ...
- Mampu mengenali nyeri
- Respon autonom (seperti Tingkatkan istirahat
(skala, intensitas, frekuensi
diaphoresis, perubahan tekanan Berikan informasi tentang nyeri seperti
dan tanda nyeri)
darah, perubahan nafas, nadi dan penyebab nyeri, berapa lama nyeri
- Menyatakan rasa nyaman
dilatasi pupil) akan berkurang dan antisipasi
setelah nyeri berkurang
- Perubahan autonomic dalam tonus ketidaknyamanan dari prosedur
- Tanda vital dalam rentang
otot (mungkin dalam rentang dari Monitor vital sign sebelum dan
normal
lemah ke kaku) sesudah pemberian analgesic pertama
- Tidak mengalami gangguan
- Tingkah laku ekspresif (contoh : kali
tidur
gelisah, merintih, menangis,
waspada, iritabel, nafas
panjang/berkeluh kesah)
- Perubahan dalam nafsu makan dan
minum
2 Kerusakan integritas jaringan NOC: NIC :
berhubungan dengan: Gangguan Tissue integrity : skin and Pressure ulcer prevention
sirkulasi, iritasi kimia (ekskresi dan mucous membranes Wound care
sekresi tubuh, medikasi), deficit Wound healing : primary and - Anjurkan pasien untuk menggunakan
cairan, kerusakan mobilitas fisik, pakaian yang longgar
keterbatasan pengetahuan, faktor secondary intention - Jaga kulit agar tetap bersih dan kering
mekanik (tekanan, gesekan), Setelah dilakukan tindakan - Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien)
kurangnya nutrisi, radiasi, faktor keperawatan selama . setiap dua jam sekali
suhu (suhu yang ekstrim) Kerusakan integritas jaringan - Monitor kulit akan adanya kemerahan
DO : pasien teratasi dengan kriteria - Oleskan lotion atau minyak/baby oil
- Kerusakan jaringan (membrane hasil: pada daerah yang tertekan
mukosa, integumen, subkutan) - Perfusi jaringan normal - Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
- Tidak ada tandatanda infeksi - Monitor status nutrisi pasien
- Ketebalan dan tekstur - Memandikan pasien dengan sabun dan
jaringan normal air hangat
- Menunjukkan pemahaman - Kaji lingkungan dan peralatan yang
dalam proses perbaikan kulit menyebabkan tekanan
dan mencegah terjadinya - Observasi luka : lokasi, dimensi,
cidera berulang kedalaman luka, karakteristik,warna
- Menunjukkan terjadinya cairan, granulasi, jaringan nekrotik,
proses penyembuhan luka tandatanda infeksi lokal, formasi traktus
- Ajarkan pada keluarga tentang luka dan
perawatan luka Kolaborasi ahli gizi
pemberian diet TKTP, vitamin
- Cegah kontaminasi feses dan urin
- Lakukan tehnik perawatan luka dengan
steril
- Berikan posisi yang mengurangi tekanan
pada luka
- Hindari kerutan pada tempat tidur
N Diagnosa Intervensi Rasional
1 Potensial terjadinya syok sehubungan INDENPENDEN:
dengan perdarahan yang banyak Observasi tanda-tanda vital. Untuk mengetahui tanda-tanda syok
sedini mungkin
Mengkaji sumber, lokasi, dan Untuk menentukan tindakan
banyaknya per darahan
Memberikan posisi supinasi Untuk mengurangi per darahan dan
Memberikan banyak cairan mencegah kekurangan darah ke otak.
(minum)

KOLABORASI:
Pemberian cairan per infus Untuk mencegah kekurangan cairan
(mengganti cairan yang hilang.
Pemberian obat koagulan sia Membantu proses pembekuan darah dan
(vit.K, Adona) dan untuk meng hentikan perdarahan
penghentian perdarahan
dengan fiksasi.
Pemeriksaan laboratorium Untuk mengetahui kadar Hb, Ht apakah
(Hb, Ht) perlu transfusi atau tidak.
3 Potensial infeksi sehubungan dengan INDEPENDEN:
luka terbuka. Kaji keadaan luka Untuk mengetahui tanda-tanda infeksi.
(kontinuitas dari kulit)
terhadap adanya: edema,
rubor, kalor, dolor, fungsi
laesa.
Anjurkan pasien untuk tidak Meminimalkan terjadinya kontaminasi.
memegang bagian yang luka.
Merawat luka dengan meng- Mencegah kontaminasi dan
gunakan tehnik aseptik kemungkinan infeksi silang.
Mewaspadai adanya keluhan Merupakan indikasi adanya osteomilitis.
nyeri mendadak, keterbatasan
gerak, edema lokal, eritema
pada daerah luka.

KOLABORASI:
Pemeriksaan darah : leokosit Lekosit yang meningkat artinya sudah
terjadi proses infeksi
Pemberian obat-obatan :
antibiotika dan TT (Toksoid Untuk mencegah kelanjutan terjadinya
Tetanus) infeksi dan pencegahan tetanus.
Persiapan untuk operasi Mempercepat proses penyembuhan luka
sesuai indikasi dan dan penyegahan peningkatan
infeksi.
Gangguan aktivitas s/d keru-sakan INDEPENDEN:
neuromuskuler skeletal, nyeri, Kaji tingkat immobilisasi Pasien akan membatasi gerak karena
immobilisasi. yang disebabkan oleh edema salah persepsi (persepsi tidak
dan persepsi pasien tentang proporsional
immobilisasi tersebut.
Mendorong partisipasi dalam Memberikan kesempatan untuk
aktivitas rekreasi (menonton mengeluarkan energi, memusatkan
TV, membaca koran dll ). perhatian, meningkatkan perasaan me-
ngontrol diri pasien dan membantu
dalam mengurangi isolasi sosial.
Menganjurkan pasien untuk Meningkatkan aliran darah ke otot dan
melakukan latihan pasif dan tulang untuk meningkatkan tonus otot,
aktif pada yang cedera mempertahankan mobilitas sendi,
maupun yang tidak. mencegah kontraktur / atropi dan
reapsorbsi Ca yang tidak digunakan.
Membantu pasien dalam Meningkatkan kekuatan dan sirkulasi
perawatan diri otot, meningkatkan pasien dalam
mengontrol situasi, meningkatkan
kemauan pasien untuk sembuh.
Auskultasi bising usus, Bedrest, penggunaan analgetika dan
monitor kebiasaan eliminasi perubahan diit dapat menyebabkan
dan menganjurkan agar b.a.b. penu-runan peristaltik usus dan
teratur. konstipasi.
Memberikan diit tinggi Mempercepat proses penyembuhan,
protein , vitamin , dan mencegah penurunan BB, karena pada
mineral. immobilisasi biasanya terjadi penurunan
BB