Anda di halaman 1dari 2

Santa Alphonsa Dari Kerala, India

Santa Alphonsa adalah wanita pertama asli India yang menerima gelar suci dari Gereja dan
yang kedua dari India untuk mendapatkan status itu setelah Santo Gonsalo Garcia. Santa Alphonsa
Muttathupadathu, FCC, atau Santa Alphonsa yang dikandung tanpa noda Saint Alphonsa of the
Immaculate Conception) lahir pada tanggal 19 Agustus 1910 dengan nama Anna Muttathupadathu.
Berasal dari salah satu negara bagian India, Kerala, Santa Alphonsa lahir sebagai anak keempat dari
pasangan Joseph Muttathupadathu dan Mary Puthukari dimana kedua keluarga tersebut dikenal
sebagai keluarga terpandang dalam komunitas Kristen Syro-Malabar. Sejak dalam kandungan, Santa
Alphonsa sudah mengenal penderitaan. Ketika itu ibunya sedang mengandungnya pada usia
kandungan delapan bulan. Karena gerah, sang ibu tertidur di beranda dan terbangun karena ular
yang telah melilit pinggangnya. Secara naluriah ia mencabik ular darinya. Tapi karena kejadian
tersebut, sang ibu mengalami shock yang mempercepat kelahiran bayinya sehingga lahir prematur.
Sang ibu meninggal setelah 29 hari melahirkan, dan Santa Alphonsa yang masih bayi dibaptis dengan
nama 'Anna' pada tanggal 27 Agustus 1910 dan akrab disapa 'Annakutty' (Anna kecil). Setelah ibunya
meninggal, Santa Alphonsa kecil dirawat oleh adik ibunya.
Kehidupan rohani Anna yang kuat berasal dari neneknya yang menanamkan pengabdian
kepada Bunda Maria dan para Orang Suci. Cerita tentang orang-orang kudus digemarinya, terutama
St. Theresa dari Avila dan St. Therese Lisieux. Namun mengingat Anna berasal dari keluarga
terhormat, banyak pemuda hendak melamar Anna. Pada usia 13 tahun, pernikahannya sudah diatur.
Namun, Anna sudah menganggap Yesus menjadi "pasangan ilahi"-nya dan nekad menghindari
keharusan untuk menikah. Setelah berdoa berdoa sepanjang malam, ide datang kepadanya untuk
membakar kakinya. Menurutnya, jika tubuhnya rusak, tidak ada yang menginginkannya. Setelah
peristiwa pembakaran sengaja tersebut, kaki Anna menjadi cacat sehingga bibinya menyetujui
keinginannya untuk menjadi biarawati. Ia menerima masa postulat pada 2 Agustus 1928 dan
mengambil nama Alphonsa Immaculate Conception untuk menghormati St Alfonsus Ligouri, yang
hari rayanya jatuh pada hari yang sama. Kehidupan Suster Alphonsa setelah memasuki biara banyak
diwarnai penderitaan secara fisik dan mental. Ia sering terkena penyakit sehingga banyak
menghabiskan waktu di tempat tidur. Tugasnya sebagai guru di sebuah sekolah swasta pun terlantar
karena penyakitnya. Sempat tiga tahun disembuhkan dari penyakit serius, Suster Alphonsa kembali
melemah karena radang paru yang cukup parah. Dalam keadaan sakit, seorang pencuri masuk ke
dalam kamarnya di tengah malam, membuatnya shock hingga sempat kehilangan ingatan. Setelah
kembali membaik, Suster Alphonsa menjadi sakit-sakitan lagi karena masalah lambung dan liver.
Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, Suster Alphonsa mendapat serangan nyeri yang membuat
tubuhnya kejang dengan hebat. Ini dimulai dengan muntah berkepanjangan dan tubuhnya menjadi
sangat dingin seolah-olah beku. Hal ini menyebabkan ketidakberdayaan yang kadang berlangsung
selama 3-7 jam. Selama itu, Suster Alphonsa bermandikan keringat dan tampak bergulat dengan
kematian. Namun dia sudah siap untuk menderita apa pun demi kasih kepada Yesus Kristus. Dalam
penderitaannya, Suster Alphonsa sempat berdoa kepada Tuhan untuk menyembuhkan uskup dan
suster lain kenalannya yang sedang terkena malaria agar tidak mempengaruhi jadwal sibuk dan
penting mereka dengan cara memindahkan penyakit tersebut kepadanya. Doanya terkabul: kedua
orang yang didoakannya sepenuhnya disembuhkan dan Suster Alphonsa tertular Malaria. Setelah
tahap akhir dari penderitaannya yang berlangsung selama lebih dari setahun, Suster Alphonsa
merasa sudah waktunya bagi dia untuk bergabung dengan Pasangan tercintanya. Dia meminta dua
orang yang dipercayanya untuk mendoakan kematiannya. Pada hari Minggu, Juli 28 1946 jiwa suci
itu kembali ke dalam tangan Pencipta-nya dalam ketenangan, bahkan tidak seorangpun di sekitar
ranjangnya menyadari saat-saat kematiannya.
Setelah kematiannya, para murid dari sekolah tempatnya mengajar dulu sering mengunjungi
makamnya untuk berdoa. Ketika mereka melanjutkan kegiatan tersebut, mereka mulai menerima
berkat terutama berkat kesembuhan. Lama-kelamaan, makamnya telah terkenal menjadi pusat
ziarah dan mukjizat kesembuhan. Keajaiban yang pertama kali resmi dikonfirmasi adalah Jinil Joseph,
anak yang terlahir cacat dan secara ajaib anggota tubuhnya dipulihkan, karena doa di altar tempat
suci Suster Alphonsa. Keajaiban ini disetujui oleh Vatikan pada tahun 1985. Proses beatifikasi dimulai
pada tanggal 2 Desember 1953 di bawah pimpinan Kardinal Tisserant dan diresmikan oleh Paus
Yohanes Paulus II, selama kunjungannya ke Kerala pada tahun 1986. Suster Alphonsa akhirnya
menjadi Santa Alphonsa setelah proses kanonisasi oleh Paus Benediktus XVI pada upacara di
Lapangan Santo Petrus, Vatikan, tanggal 12 Oktober 2008. Berbondong-bondong masyarakat India
dari seluruh dunia, terutama orang-orang dari Kerala, berkumpul di upacara di Roma. Dalam upacara
turut hadir Pemimpin Kongregasi Klaris Fransiskan, tempat Suster Alphonsa bergabung, hingga
mantan menteri Kerala. Semua memegang lilin yang menyala. Dalam homilinya, Paus Benediktus XVI
mengingat kehidupan Santa Alphonsa sebagai salah satu penderitaan fisik dan spiritual yang ekstrim.
"Wanita yang luar biasa ini yakin bahwa salib adalah cara mencapai perjamuan surgawi disiapkan
untuknya oleh Bapa", demikian Paus menyatakan. "Kesabaran, ketabahan, dan ketekunan di
tengah-tengah penderitaan yang mendalam mengingatkan kita bahwa Tuhan selalu memberikan
kekuatan yang kita butuhkan untuk mengatasi setiap pencobaan."
Sumber:
http://saintalphonsa.org/bharananganam.asp
http://www.independent.co.uk/news/world/asia/pope-declares-indias-first-woman-saint-
959305.html
http://www.stalphonsa.com/saint.php
http://en.wikipedia.org/wiki/Alphonsa_of_the_Immaculate_Conception

Saya memilih profil Santa Alphonsa karena hidupnya yang penuh dengan kesengsaraan tidak
membawanya mempertanyakan keberadaan Tuhan dalam hidupnya, justru meneguhkan cintanya
pada Tuhan. Mencoba mengenal kisah Secara Santo dan Santa yang berasal dari Asia, saya menjadi
tahu bahwa kebanyakan dari mereka adalah martir karena imannya. Namun Santa Alphonsa pun
ikut menjadi martir melalui penderitaannya yang terus dijalaninya dengan penuh syukur dan
membawa kemuliaan bagi Tuhan.
Yang saya pelajari dari kehidupan Santa Alphonsa adalah terus percaya kepada Tuhan dalam
penderitaan dan sakit-penyakit yang dialami. Susah untuk bisa mengimani Tuhan di tengah
penderitaan penyakit. Namun, melalui teladan Santa Alphonsa,saya belajar bahwa bukan kekuatan
sendiri lah yang membuat kita dapat mengimani Tuhan di masa yang sulit. Melainkan cinta Tuhan
yang membuat cinta kita bertumbuh pada-Nya sampai melampaui batas akal. Dan pada akhirnya,
ada upah kekal di Surga bagi semua yang tetap percaya pada-Nya apa pun yang terjadi.

Ignatia Karina