Anda di halaman 1dari 8

8/15/2014 Pekik Perang Relawan Melawan Oligarki Paska Pilpres 2014 Indoprogress

http://indoprogress.com/2014/08/pekik-perang-relawan-melawan-oligarki-paska-pilpres-2014/ 1/8
Pekik Perang Relawan Melawan
Oligarki Paska Pilpres 2014
13 August 2014
Irwansyah
Harian Indoprogress
SERUAN dari artikel Martin Suryajaya dan Coen Husain Pontoh, sangatlah relevan dan mendesak untuk
ditindaklanjuti oleh kalangan progresif Indonesia. Seruan mereka adalah semacam battle cry (pekik perang)
yang mengajak rakyat (Martin pake istilah Massa) paska pilpres 2014 ini untuk melanjutkan dukungan pada
Jokowi, kali ini dalam misi melawan oligarki. Kelihatannya, fenomena relawan ini bisa disebut sebagai
pengalaman baru dalam politik elektoral kita. Ada antusiasme besar terhadap massa karena operasi politik
kubu oligarki di pilpres bisa direspon secara kreatif oleh berbagai aksi kolektif relawan yang melakukan
mobilisasi dan pengawalan suara. Tantangannya, apakah massa aksi kolektif gerakan para relawan ini masih
punya daya tahan dan strategi untuk melawan oligarki pada babak politik paska pilpres?
Masalah fundamental yang penting dituntaskan guna merespon battle cry tersebut adalah kejelasan mengenai
apa yang dimaksud oligarki. Konteksnya dibutuhkan pemahaman komprehensif sekaligus praktis tentang
oligarki yang ada di Kapitalisme Indonesia hari ini. Oligarki, sebagai aktor politik, sudah ada sejak jaman Plato,
8/15/2014 Pekik Perang Relawan Melawan Oligarki Paska Pilpres 2014 Indoprogress
http://indoprogress.com/2014/08/pekik-perang-relawan-melawan-oligarki-paska-pilpres-2014/ 2/8
sehingga bisa saja berkembang pengertian bahwa kapitalisme tidak mempengaruhi oligarki.
Pengertian/framework oligarki yang kita pakai mesti diperiksa, karena bahkan seorang Prabowo, yang jelas-
jelas bagian dari oligarki, beretorika bahwa misi politiknya adalah melawan oligarki yang melemahkan Negara
Indonesia. Martin dalam artikelnya mengacu pada kerangka analisis Hadiz-Robison (2004), yang membangun
kerangka analisa oligarki tidak sama dengan sebagai analisis oligarki sebagai aktor. Tulisan ini juga mengacu
pada kerangka analisis yang melihat oligarki sebagai struktur relasi kuasa yang mewujud dalam aliansi sosial
dari bisnis dan birokrasi serta melibatkan pula kelompok-kelompok sosial tertentu (umumnya melalui kooptasi
dan berelasi tergantung kebutuhan kontekstual yang spesifik) Jaring relasi kuasa ini beroperasi demi
melakukan penjarahan atas kekayaan negara dan juga kekayaan yang dihasilkan dari eksploitasi rakyat
pekerja. Kekayaan-kekayaan tersebut yang menjadi motor penggerak dominan bagi kapitalisme Indonesia.

Terbentuknya Oligarki di Indonesia
Banyak orang yang menyamakan demokrasi representatif saat ini dengan kekuasaan oligarki, sebagai sistem
yang terbaik yang mungkin ada saat ini. Demokrasi representasi elektoral secara empiris memang adalah
yang terbaik sementara ini dalam sejarah Indonesia paska 1965. Demokrasi representasi selama ini
cenderung merugikan rakyat pekerja, karena rakyat justru semakin tidak hadir dalam kekuasaan politik. Hadir
bukan sebatas ada orangnya saja, tapi juga ada dalam tindakan-tindakan dan kebijakan yang mewujudkan
kepentingan rakyat. Akan tetapi, sebagai kaum progresif, kita harus sadar bahwa demokrasi hari ini harus dan
bisa dilampaui. Demokrasi saat ini masih terlalu rentan dibajak jaringan oligarki dengan money
politics, sentiment sektarian, hingga kooptasi terhadap aktivis-aktivis gerakan untuk mengabdi secara
pragmatis pada kepentingan penguasa untuk terus meminggirkan kehadiran dan kepentingan rakyat.
Kerentanan yang bukan terutama berasal dari masih lemahnya budaya dan kesadaran politik rakyat, atau
masih terbelakangnya lembaga dan prosedur politik yang ada di Indonesia. Kerentanan karena demokrasi yang
ada adalah arena pertarungan dimana oligarki berjaya membuat kekuatan sosial lain, di luar kelas kapitalis dan
aliansi sosial yang dibangunnya, tidak berdaya (Irwansyah, 2010)
Ada dua pendekatan mengenai kelas kapitalis yang berkuasa dalam politik Indonesia sejak Orde Baru (Orba).
Menurut pendekatan teori Ketergantungan, yang berkuasa di Indonesia adalah kapitalis komprador yang satu
kesatuan mengabdi dan patuh pada kepentingan modal kapitalisme pusat. Relasi kuasa yang dinamis di
antara faksi kelas kapitalis domestik tidak lah penting. karena sifat kelas kapitalis menurut pendekatan ini
mengikuti konsekwensi relasi ketergantungan terhadap negara-negara kapitalis pusat. Implikasi praktis dari
pendekatan teoritis ala ketergantungan ini adalah tesis berbagai kelompok gerakan mengenai pentingnya
mencari borjuasi nasional yang progresif. Pendekatan ketergantungan dikritik keras karena fokusnya beralih
menjadi relasi negara, dan menempatkan kelas borjuasi sebagai aktor dalam relasi ketergantungan antara
8/15/2014 Pekik Perang Relawan Melawan Oligarki Paska Pilpres 2014 Indoprogress
http://indoprogress.com/2014/08/pekik-perang-relawan-melawan-oligarki-paska-pilpres-2014/ 3/8
negara pusat dan pinggiran tersebut. Sementara menurut pendekatan Rise of Capital (Robison 1986) yang
tumbuh adalah faksi-faksi kelas kapitalis yang bersama-sama, tapi juga saling berkompetisi, membentuk rezim
Orba. Salah satu penentu dalam kompetisi itu adalah kemampuan memenangkan akomodasi negara untuk
perkembangan kekayaan dan kekuasaan kelas-kelas kapitalis tersebut. Maka secara politik terbentuklah
jaringan-jaringan sosial yang beraliansi untuk kepentingan memenangkan akomodasi tersebut. Kita
mengenalnya, di akhir masa kekuasaan Orba, sebagai kritik moral terhadap jaringan Korupsi-kolusi-Nepotisme
(KKN). Kenapa bentuk jaringannya KKN? Karena politik berbasis massa seperti di era sebelumnya
diberangus. Semua di-wadahtunggal-kan. Hanya yang bisa KKN yang bisa berkuasa lewat wadah-wadah
yang ada. Itu lah jaringan Oligarki yang dihasilkan dari perkembangan Kapitalisme di Indonesia, yang
mewujudkan kekuasaannya lewat rezim Orba yang otoriter dan korporatis. Bukan lewat mekanisme liberal non
otoriter.
Oligarki Orba merujuk pada jaringan patron-klien yang predatoris antara pemodal dengan negara. Jaringan ini
terbentuk, karena pasca kemerdekaan, Indonesia merdeka tanpa adanya kelas borjuasi dalam negeri yang
kuat. Sehingga negara yang baru ini berdiri di atas fondasi ekonomi yang rapuh. Pada masa Soekarno, ada
upaya untuk menciptakan kelas borjuasi pribumi dengan, misalnya, program benteng. Asumsinya, dengan
adanya kelas borjuas pribumi yang kuat, maka Indonesia akan kuat menghadapi imperialisme. Tetapi upaya ini
blunder, lisensi ekspor impor segala macam yang diberikan ke calon-calon borjuasi pribumi malah dijual lagi ke
faksi borjuasi lain khususnya borjuasi Tionghoa. Akhirnya mulai marak praktek rente atas berbagai lisensi dan
perijinan. Nasionalisasi di akhir 1950an juga menjadi blunder, karena malah membuka jalan bagi tentara untuk
masuk ke dunia bisnis secara masif. Rezim Soekarno pun mengalami krisis inflasi dan diikuti oleh perebutan
kekuasaan yang membuka jalan bagi rezim Soeharto.
Apa yang dilakukan Soeharto pada masa awal kekuasaannya? Membuka pintu bagi modal asing dan pinjaman
luar negeri dalam skala masif. Salah satu simbol periode ini juga adalah UU PMA. Inflasi berhasil diatasi dan di
masa awal Soeharto, yang berkuasa adalah para teknokrat liberal seperti mafia Berkeley. Sementara itu
jaringan-jaringan patronase yang sudah mulai terbentuk di zaman Soekarno, terus bertahan, tapi posisi
mereka masih lemah secara ekonomi. Boom minyak tahun 1970an memungkinkan kapitalis dalam negeri,
yang sudah terlibat dalam jaringan patron klien dengan negara, memiliki bargain terhadap kapitalis asing.
Marak wacana membatasi masuknya modal asing, karena persaingan berebut pengaruh atas kebijakan
negara sebagai sumber dana yang berusaha digarong jaringan oligarki. Dominasi teknokrat liberal mulai
tertandingi oleh intelektual-intelektual lain yang menjadi cendekiawan faksi-faksi kapitalis yang tumbuh. Para
pengusaha dalam negeri, yang sebagian juga birokrat atau tentara, pun beramai-ramai membangun
dinastinya. Pertamina jadi ladang korupsi dengan kasus Ibnu Sutowo sebagai salah satu simbol pentingnya.
Tahun 80an harga minyak turun lagi, namun para borjuasi kroni sudah berhasil membangun jejaring patron
klien yang kuat dengan negara dan lebih membutuhkan kerja sama dengan kapitalis asing. Yang terjadi
8/15/2014 Pekik Perang Relawan Melawan Oligarki Paska Pilpres 2014 Indoprogress
http://indoprogress.com/2014/08/pekik-perang-relawan-melawan-oligarki-paska-pilpres-2014/ 4/8
kemudian adalah diperluasnya lagi pintu untuk modal asing tetapi tetap dibatasi. Hasilnya berbagai deregulasi
setengah hati. Melalui proses ini, kapitalis kroni berhasil membangun jaringan patron klien dengan negara
dengan cukup solid, meski harus membuat banyak konsesi dengan pemodal asing. Robison menggambarkan
faksi-faksi kapital oligarki seperti yang berpusat di Cendana, yang ada di BUMN-BUMN, kapitalis tentara,
kapitalis keturunan Tionghoa dan bekas kapitalis pribumi masa sukarno. Mereka inilah yang membentuk faksi
kapitalis oligarki kita di zaman Orba.
Namun, persaingan-persaingan antar para kapitalis juga melemparkan sebagian dari para kapitalis ini keluar
dari kelompok oligarki. Sementara itu, deregulasi 80an membuat ekonomi Indonesia mulai beralih dari minyak
ke manufaktur berorientasi ekspor. Tumbuhlah kelas proletariat perkotaan yang mulai bergeliat. Salah satu
faktornya, juga karena interaksi dengan LSM-LSM dan gerakan mahasiswa, yang meski fluktuatif, tapi terus
berlanjut karena tidak pernah mengalami pembantaian seperti gerakan rakyat lainnya. Bermunculanlah serikat-
serikat alternatif, begitu pun di sektor agraria, berbagai advokasi tanah juga mulai memunculkan gerakan tani.
Aneka elemen gerakan ini lah yang menjadi oposisi berserak di zaman Orba. Muncul lah krisis moneter yang
memunculkan momentum revolusioner untuk penjatuhan soeharto. Kapitalis asing meningkatkan tekanannya
untuk liberalisasi, sementara, oposisi berserak seperti gerakan relawan. Saat itu, yang menjadi ujung tombak
blok reformasi paling mencolok adalah gerakan mahasiswa.

8/15/2014 Pekik Perang Relawan Melawan Oligarki Paska Pilpres 2014 Indoprogress
http://indoprogress.com/2014/08/pekik-perang-relawan-melawan-oligarki-paska-pilpres-2014/ 5/8
Foto Parade budaya #BaliTolakReklamasi oleh Bagus Pambayum

Kemunculan Kapitalis Lokal
Paska Suharto jatuh, dimulailah era demokrasi representasi elektoral. Jaringan ke massa menjadi penting.
Oligarki dari era Orba berhasil mempertahankan eksistensi dengan mengorganisasikan diri dalam praktek-
praktek kekuasaan yang baru. Menguasai basis-basis massa melalui politik uang, politik SARA, bahkan dengan
melakukan kooptasi terhadap ormas-ormas. Oligarki jadi lebih kabur tampilannya, karena lebih beroperasi
dalam jaringan-jaringan dan aliansi sosial yang menyebar melalui desentralisasi dan juga di berbagai sektor
sosial (perburuhan, tani, miskin kota, dan lain lain).
Berdasarkan pemaparan ini, dari sejarah lahirnya Orba dan kelanjutannya sekarang maka oligarki
mensyaratkan kapitalisme. Karena mereka eksis untuk penjarahan. Jatuhnya Soeharto memang seperti
mematahkan salah satu mata rantai paling kuat dalam oligarki Orba. Faksi Cendana lumayan remuk, tapi
rantai oligarki ini isinya bukan cuma satu mata rantai. Ada faksi-faksi pemodal lain dalam berbagai jaringan
oligarki ini, mereka pun berusaha menyelamatkan diri dengan bermacam cara, seperti masuk ke partai-partai,
lewat lembaga-lembagagatekeeper (perantara, penghubung) , dan lain lain yang didokumentasikan dengan
baik dalam tulisan-tulisan Hadiz (2004, 2010). Mereka tetap hidup dengan mengakomodir neoliberalisme.
Sementara itu, blok reformasi pecah berkeping-keping, baik karena perbedaan posisi maupun karena
bermacam pengkhianatan.
Jadi apakah kapitalisme mensyaratkan oligarki atau oligarki mensyaratkan kapitalisme dalam konteks
Indonesia? Dalam fase tertentu, kelas-kelas borjuis indonesia memang tumbuh melalui relasi oligarki, tapi ini
bukan berarti kapitalisme akan selalu bergantung pada relasi oligarki. Analoginya mirip kekuatan produktif,
dalam fase transisi feodalisme ke kapitalisme, perkembangan kekuatan produktif relatif bergantung pada peran
borjuasi. Tapi apa itu berarti kalau tidak ada borjuasi, maka perkembangan kekuatan produktif lebih lanjut akan
macet? Tampaknya oligarki memainkan fungsi tertentu dalam kapitalisme Indonesia. Oligarki efektif
melemahkan perlawanan kelas-kelas sosial terhadap pertumbuhan kapitalisme. Perlawanan yang lemah dari
kelas-kelas subordinat memperluas daya pengaruh jaringan oligarki secara ekonomi politik.
Bila mengacu pada tulisan beberapa ahli (misalnya Max Lane, 2008 dan Aspinal 2013 a, b), mereka
mencermati mulai terjadi fenomena meningkatnya partisipasi gerakan sosial /popular agency, walau masih
terbatas dan terfragmentasi. Fenomena tersebut bersamaan dengan mulai menjamurnya para kapitalis baru
dengan level kecil-menengah dan beroperasi di tingkat lokal yang relatif independen dari relasi oligarki dengan
negara. Independen, dalam artian, tidak terlalu bergantung pada relasi-relasi kolusi dan nepotisme dengan
birokrat, politisi dan negara dari jaringan yang sudah ada. Tetapi independen ini bukan berarti tidak ada
8/15/2014 Pekik Perang Relawan Melawan Oligarki Paska Pilpres 2014 Indoprogress
http://indoprogress.com/2014/08/pekik-perang-relawan-melawan-oligarki-paska-pilpres-2014/ 6/8
hubungan sama sekali. Hubungan ada tapi bentuk hubungannya tidak tunduk pada pola kolusif dan korup atau
predatoris yang sudah ada dan menjadi kebiasaan. Tidak sepenuhnya bersih murni tapi perkembangan
bisnisnya tidak bergantung pada relasi itu.
Bila kapitalis oligarki bisnisnya sangat bergantung pada relasi oligarki, sementara itu para tokoh kapitalis baru
ini bisnis mereka relatif bisa tetap hidup walau tidak harus terhubung dengan relasi oligarkis. Dalam derajat
tertentu, oligarki cenderung menghambat perkembangan para borjuasi yang muncul di ruang demokratisasi
dan desentralisasi era reformasi, oleh karena itu ada watak anti-kronisme dan demokratik di mereka, seperti
yang dapat dilihat pada diri Jokowi. Pungli rente yang berakar di birokrasi berkorespondensi dengan relasi
sosial yang tertutup. Karenanya, semakin dalam demokrasi dan partisipasi masyarakat (bentuknya dan
derajatnya bisa bermacam-macam) diyakini akan meminimalisir efek negatif dari kekuasaan jaringan oligarki.
Problemnya, memaksimalkan energi gerakan sosial tidak selalu menjadi strategi dari para reformis seperti
Jokowi dalam perbenturan mereka dengan oligarki. Inilah yang menjelaskan mengapa selama ini Indonesia
mengikuti pola demokratisasi yang meluas di seluruh dunia. Philippe Schmitter (2010), salah satu pendiri
modern Teori demokratisasi berpendapat bahwa, di seluruh dunia, demokratisasi telah terbukti jauh lebih
mudah daripada yang semula dia dan sarjana lainnya antisipasi, persis karena ternyata kebanyakan demokrasi
menghadirkan begitu sedikit dalam hal redistribusi atau reformasi lain yang dapat merusak kepentingan elit
ekonomi dominan.
Bandingkan bedanya, misalnya, dengan populisme kontemporer di Amerika Latin (baca: demokrasi
partisipatoris) seperti di Venezuela. Karena gerakan sosial besar dan kuat mendesakkan redistribusi sosial
yang signifikan maka jaringan oligarki, bila ada pun, menjadi sangat tidak efektif dan pengaruhnya terbatas.
Kelas kapitalisnya harus menggunakan cara anti demokrasi, dimana saat ini paska Chavez meninggal dunia
adalah dengan membangun gerakan cenderung fasis dengan basis kelas menengah dan para kriminal untuk
membuat rusuh tiap hari di jalan. Di Thailand, Thaksin adalah kapitalis besar tapi karena dia bersaing sama
kaum Pro kerajaan yang karakternya lebih elitis, maka karakter oligarkis Thaksin dibatasi oleh keharusan
bernegosiasi dengan basis massa rakyat pekerja (buruh dan tani) yang mendukungnya karena diuntungkan
oleh berbagai perlindungan sosial yang disediakan Thaksin. Akibatnya berulang kali pemilu di Thailand selalu
yang menang adalah partai Thaksin karena dukungan rakyat pekerja (Hewison 2013). Malahan kaum oligarki
pro Raja harus mensabotase demokrasi elektoral melalui jalur judisial supaya Thaksin tidak berkuasa.
Relawan Jokowi di masa pilpres tidak hanya terdiri dari satu kelompok sosial saja. Bisa dilihat di database
relawan yang disusun dari berita media bahwa mereka ada yang buruh, tapi juga ada pengusaha dan lain lain.
Agar gerakan sosial ini bisa memaksakan negosiasi bagi redistribusi sosial, mutlak dibutuhkan kekuatan yang
bukan hanya akan mendukung pihak elit baik hati (benevolent elite) seperti Jokowi, tapi juga kesiapan untuk
mempertahankan diri secara profesional dan melancarkan pukulan jika dihianati oleh pihak oligarki yang jauh
lebih terorganisir dan juga akan menyusup di banyak lekuk kubu rezim Jokowi. Problemnya, gerakan massa di
8/15/2014 Pekik Perang Relawan Melawan Oligarki Paska Pilpres 2014 Indoprogress
http://indoprogress.com/2014/08/pekik-perang-relawan-melawan-oligarki-paska-pilpres-2014/ 7/8
indonesia tidak unionized (terorganisir baik sebagai serikat) seperti di Amerika Latin dan juga sangat
terfragmentasi, dan banyak berurusan dengan broker yang memerantarai gerakan dengan kepentingan banyak
elit sehingga membuat gerakan menjadi korup. Keterorganisiran memang kuncinya dan, sayangnya, Indonesia
memang berjalan sangat lambat dalam keterorganisiran kelas. Keterorganisiran memungkinkan organisasi
berpolitik independen, sebagaimana yang ditunjukkan studi demokrasi di berbagai Negara (Rueschemeyer, S
& S 1992) tentang keberhasilan pengalaman demokrasi yang berhasil dari koalisi kelas subordinat (bawah)
dengan kelas menengah yang berorientasi demokratis. Hanya organisasi yang otonom yang mampu
melindungi kelas subordinat dari hegemoni ideologis kelas dominan kondisi yang diperlukan untuk dorongan
demokrasi yang kuat.
Di titik ini, kementerian ataupun kebijakan-kebijakan khusus untuk memajukan keterorganisiran partisipasi
rakyat menjadi penting. Adalah relevan mengacu pada pengalaman badan negara yang punya relasi langsung
dengan gerakan seperti Kementerian Partisipasi Rakyat dan Perlindungan Sosial di Venezuela (Len and
Smilde 2009). Memang di Venezuela, badan negara itu langsung berhubungan dengan dewan-dewan komunal
tingkat bawah (setingkat kelurahan). Dewan-dewan ini dapat mengajukan anggaran pembangunan
komunitasnya tanpa perlu melewati pemda. Dewan-dewan komunal itu bagian struktur negara yang disahkan
oleh UU. Mungkin hubungan antara pemerintahan Jokowi dengan serikat-serikat, relawan-relawan dan organ-
organ rakyat lainnya dapat menjadi titik tolak dalam pengalaman Indonesia. Perlu ada relasi yang masif,
sistematis, dan transparan antara Jokowi dengan gerakan sosial untuk bernegosiasi menyangkut berbagai
kepentingan distribusi sosial. Bila bentuk transaksi dan negosiasi antara relawan dengan Jokowi berlangsung
secara informal dan tidak terjangkau transaparansi yang dibutuhkan rakyat maka akan menyuburkan fenomena
pembisik dan para broker yang dulu telah turut membawa rezim Gus Dur berakhir sebagai tragedi reformasi.
Mari kita dorong gerakan massal memahami kerangka analisis struktrual dan menyejarah terhadap kapitalisme
Indonesia. Itulah yang kita perlukan untuk mentransformasi gerakan relawan menjadi gerakan yang
melanjutkan misi melawan oligarki. Percayalah, oligarki tak pernah berhenti mengorganisasikan dirinya dalam
berbagai lapangan kekuasaan yang terus berubah. Karena itu, sebuah konferensi kaum relawan progresif
sangat mungkin segera perlu diadakan agar pengetahuan melawan oligarki memiliki landasan ilmiahnya dan
mempunyai fondasi keterorganisiran yang lebih kuat dari masa lalu (seperti ajakan editorialAnom Astika). Juga
agar energi dan pengetahuan politik partisipatif kreatif dari arena relawan di masa Pilpres tidak menguap begitu
saja.***

Penulis adalah dosen di departemen ilmu politik UI dan mahasiswa di Asia Research Center, Murdoch
University, Australia

8/15/2014 Pekik Perang Relawan Melawan Oligarki Paska Pilpres 2014 Indoprogress
http://indoprogress.com/2014/08/pekik-perang-relawan-melawan-oligarki-paska-pilpres-2014/ 8/8
Kepustakaan:
Aspinall, Edward. 2013. The Triumph of Capital? Class Politics and Indonesian Democratisation. Journal of
Contemporary Asia 43 (2):226-242. doi: 10.1080/00472336.2012.757432.
Hadiz, Vedi R. 2010. Localising power in post-authoritarian Indonesia: a Southeast Asia perspective. Stanford,
Calif: Stanford University Press.
Hewison, Kevin. 2013. Weber, Marx and Contemporary Thailand.TRaNS: Trans-Regional and-National
Studies of Southeast Asia 1 (02):177-198.
Lane, Max. 2008. Unfinished nation: Indonesia before and after Suharto: Verso.
Len, Luis Vicente, and David Smilde. 2009. Understanding Populism and Political Participation: The Case of
Venezuela. Democratic Governance and the New Left (3).
Robison, Richard. 1986. Indonesia: the rise of capital. Vol. 13. North Sydney: Asian Studies Association of
Australia.
Robison, Richard, and Vedi R. Hadiz. 2004. Reorganising power in Indonesia: the politics of oligarchy in an age
of markets. Vol. 3. New York: RoutledgeCurzon.
Rueschemeyer, Dietrich, Evelyne Huber Stephens, and John D Stephens. 1992. Capitalist development and
democracy. Cambridge, UK.
Schmitter, Philippe C. 2010. Twenty-five years, fifteen findings. Journal of Democracy 21 (1):17-28.

Internet:
Astika, Anom. 2014. Mengorganisasikan Pengetahuan. Indoprogres, Agustus 4.
http://indoprogress.com/2014/08/mengorganisasikan-pengetahuan/
Irwansyah.2010.Reformasi(nya) Oligarki. Indoprogress, May 26.
http://indoprogress.com/2010/05/reformasinya-oligarki/
Martin, Suryajaya. 2014 Perjuangan Kelas dan Holopis Kuntul Baris.Indoprogress, Agustus 6.
http://indoprogress.com/2014/08/perjuangan-kelas-dan-holopis-kuntul-baris/
Pontoh, Coen Hussein. 2014 Arah Baru Hubungan Relawan Negara.Indoprogress, Agustus 3.
http://indoprogress.com/2014/08/arah-baru-hubungan-relawan-dan-negara/