Anda di halaman 1dari 3

PENGEMBANGAN ARANG KAYU DAN TUNGKU

DI SENTANI
http://pealtwo.wordpress.com/2011/09/15/pengembangan-
arang-kayu-dan-tungku-di-sentani/
PENGEMBANGAN ARANG KAYU DAN TUNGKU DI SENTANI
Oleh Pilipus Kopeuw
0226 Yogyakarta Rabu 14 September 2011 Jam 10:59 wib
Sentani memiliki sumber daya alam yang kaya, tapi belum dimanfaatkan secara maksimal.
Untuk dapat memanfaatkannya, diperlukan proses belajar dan kesiapan Sumber daya
manusianya untuk mengelola sumber daya alam tersebut. Untuk mengelolanya dibutuhkan
informasi yang jelas dan relevan dengan kondisi alam Sentani. Dengan demikian, SDM yang
dipersiapkan dapat langsung mengelola alam dengan maksimal.
Dimana-mana orang menggunakan alat-alat untuk memasak, baik dengan alat tradisional
maupun alat modern. Ada yang menggunakan kayu bakar, arang kayu, kompor minyak tanah,
kompor gas hingga listrik untuk memasak. Khusus untuk orang Sentani, kebanyakan dominan
kepada memasak dengan menggunakan tungku dengan bahan bakar kayu dan juga kompor yang
berbahan bakar minyak tanah. Sedangkan kompor belum terlalu familier dengan orang sentani.
Itu berarti kita bisa menyimpulkan bahwa orang Sentani rata-rata memasak dengan kompor
minyak tanah dan kayu bakar.
Bagaimana Arang Kayu Dan Tungkunya
Melihat penggunaan alat memasak yang hanya dengan kompor minyak tanah dan kayu bakar,
ada satu alat tungku yang bisa dikembangkan dan bernilai ekonomis tinggi bagi orang sentani. Di
Jawa orang-orang di desa maupun di kota sebagian besar menggunakan tungku dengan bahan
bakar kayu dan ada juga dengan menggunakan tungku dengan bahan bakar arang kayu. Kalau
Anda berkesempatan ke Jawa, Anda dapat melihat dibeberapa warung makan dan angkringan
rata-rata menggunakan tungku dengan bahan bakar arang kayu. Perlu dipahami disini, bahan
bakar kayu dengan arang kayu itu beda. Bahan bakar kayu adalah kayu yang sudang kering yang
digunakan sebagai bahan bakar ditungku untuk memasak. Sedangkan bahan bakar arang kayu itu
bukan kayu kering yang digunakan untuk memasak, tetapi kayu yang dibakar secara khusus
hingga menjadi arang. Arang kayu inilah yang kemudian digunakan sebagai bahan bakar untuk
memasak. Untuk memasak menggunakan arang kayu ini, menggunakan tungku sendiri yang
terbuat dari tanah liat.
Arang kayu dibuat dari kayu mentah, yang ditumpuk lalu dikelilingi dengan rumput ilalang
(alang-alang) juga bagian atasnya. Kemudian, dibagian atasnya ditutupi dengan tanah. Setelah itu
kayu-kayu tersebut dibakar. Proses pembakaran hingga menjadi arang kayu kurang lebih 15 hari.
Setelah itu, arang kayu tersebut sudah bisa digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak.
Menurut informasi pasar di Jawa, harga jual arang kayu 3000 5000 rupiah per-kilogram.
Untuk memasak menggunakan arang kayu harus juga disediakan tungkunya. Bagaimana bentuk
tungku? Tungkunya terbuat dari apa? Mungkin Anda yang belum tahu pasti bertanya demikian!
Tungku untuk arang kayu ini terbuat dari tanau liat. Ukurannya sangat bervariasi tergantung
penggunaannya. Tungku ini biasa dibawa kemana-mana? Bisa dipindahkan kemana-mana?
Tungku ini memiliki nilai jual yang bervariasi, karena besarnya harga tungku tergantung
ukurannya.
Potensi Alam Sentani Sebagai Bahan Baku Arang Kayu Dan Tungkunya
Wilayah Sentani memiliki kekayaan hutan yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Oleh
sebab itu, berdasarkan penjelasan mengenai arang kayu dan tungkunya di atas dapat menjadi
salah satu alternatif. Selain itu, arang kayu dan tungku ini dapat dikembangkan sebagai usaha
mandiri. Alam Sentani sangat potensial untuk pengembangan pembuatan arang kayu dan
tungkunya. Hal ini sangat memungkinkan sekali untuk dilakukan oleh masyarakat Sentani dari
Puay hingga Sosiri. Artinya, jika pembuatan arang kayu dan tungku ini dikembangkan, orang
sentani sudah tidak repot-repot lagi untuk mencari minyak tanah untuk kompornya, cukup
dengan menggunakan arang kayu, masakan sudah bisa jadi.
Bahan baku untuk membuat arang kayu sangat melimpah di alam Sentani. Ada limbah hutan
berupa kayu yang bisa dimanfaatkan. Kenapa saya katakan limbah? Pertama, orang Sentani biasa
ketika merintis satu kebun baru di hutan mereka harus menebang pohon-pohon. Setelah itu,
mereka menunggu beberapa hari sesudah kering lalu dibakar. Kemudian tempat itu dapat
digunakan untuk berkebun. Coba pikirkan, kalau saja pohon-pohon yang tadi ditebang itu, kayu-
kayunya dikumpulkan dan dijadikan arang kayu, bisa dibayangkan berapa ton arang kayu yang
dihasilkan. Arang kayu ini jika dijual, bisa menghasilkan cukup banyak rupiah. Kedua, ada orang
Sentani yang berbisnis kayu yang sudah dibelah dalam bentuk balok dan papan. Biasanya ada
banyak limbah dari potongan-potongan kayu gergajian tersebut yang ditinggalkan menjadi lapuk
ditengah hutan. Bayangkan saja, sekian banyak limbah kayu yang ditinggalkan di hutan itu jika
dikumpulkan dan dijadikan arang kayu, bisa menghasilkan cukup banyak ton arang kayu yang
bisa jadi rupiah. Untuk membuat arang kayu, semua limbah kayu bisa digunakan. Dari akar
pohonnya hingga cabang dan ranting-rantingnya. Selain itu, hutan masyarakat Sentani yang luas
tersedia bahan baku untuk pembuatan arang kayu. Arang kayu ini adalah bahan yang terpake
habis setiap saat. Sehingga bisnis arang kayu ini tidak akan mengalami kesepian dari pembeli.
Apalagi jika arang kayu mulai dimanfaatkan oleh publik dikota maupun dikampung-kampung.
Bisa diprediksi, sebagian orang akan beralik dari kompor minyak ke tungku arang kayu. Untuk
memproduksi arang kayu ini, semua orang Sentani dari timur ke barat dan dari utara ke selatan
dapat memproduksi arang kayu. Sehingga arang kayu selain dapat digunakan sendiri, juga dapat
menjadi sumber penghasilan tambahan.
Bagaimana dengan tungku untuk arang kayu? Apa bahan baku pembuatan tungku untuk arang
kayu? Apakah bahan bakunya ada di alam Sentani? Apakah orang Sentani bisa membuatnya?
Apakah pembuatan tungku arang kayu mahal harga? Tungku untuk arang kayu bentuknya
bervariasi, ada yang kecil, ada yang sedang dan ada yang besar. Bentuknya akan menyesuaikan
ketika kebutuhan akan bentuk tungku itu terdata. Bahan baku tungku arang kayu ini biasa terbuat
dari tanah liat. Itu berarti dimana ada tanah liat, tempat itu dapat menjadi potensi bisnis pembuat
tungku. Selama ini di Sentani yang kita kenal adalah di Kampung Abar. Di kampung ini,
masyarakatnya bisa dan biasa membuat Helai, Hote, Ebhe hele, dan alat-alat tradisional Sentani
tempo doeloe. Kalau begitu, masyarakat Kampung Abar bisa mempelajari cara membuat tungku
untuk arang kayu. Hal ini juga tidak menutup bagi kampung lain yang memiliki lokasi tanah liat
yang bisa dikembangkan untuk mengerjakan tungku untuk arang kayu. Prosesnya sama seperti
orang-orang di Kampung Abar dalam membuat alat-alat tradisional masyarakat Sentani tersebut.
Pendampingan Pengembangan Sumber Daya Manusia
Berdasarkan konsep dan uraian di atas menunjukan bahwa alam Sentani menyediakan bahan
baku pembuatan arang kayu dan tungku. Selain itu, jika SDM Masyarakat Sentani dikembangkan
sumber daya manusianya, maka akan menciptakan lahan bisnis yang baru. Dengan menambah
lahan pekerjaan baru, mampu menambah dan meningkatan perdapatan perkapita masyarakat
Sentani.
Untuk memulai mengembangkan arang kayu dan tungku di Sentani, pertama: perlu
dikembangkan SDM terlebih dahulu. Pengembangan SDM disini lebih khusus kepada
bagaimana memperkenal kepada masyarakat Sentani tentang potensi alam Sentani yang
menyediakan bahan baku yang melimpah untuk pengembangan bisnis arang kayu dan
tungkunya. Kedua, mengadakan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat Sentani tentang
bagaimana membuat arang kayu dan tungku. Ketiga, pembentukkan kelompok-kelompok kerja,
untuk memulai mengerjakan. Keempat, dilakukan pendampingan (menthorship) terhadap
kelompok-kelompok tersebut dari proses pembuatan, sosialisasi, hingga kepada pemasaran.
Kelima, evaluasi produk arang kayu dan tungku serta pemasaran. Keenam, adalah masyarakat
Sentani sudah harus mendiri untuk mengelola usaha arang kayu dan tungku tersebut.
Pendampingan dan pengembangan SDM ini bisa untuk semua masyarakat Sentani atau bsa juga
hanya mengambil satu kampung sebagai pusat pengembangan. Di dalam proses pengembangan
pembuatan arang kayu dan tungku perlu mengirim beberapa orang untuk belajar di Jawa atau
ditempat-tempat lain yang sudah memproduksi arang kayu dan tungkunya. Orang lebih mudah
mengerti dan belajar mengetahui sesuatu apabila mereka mendengar, melihat dan kemudian
melakukannya sendiri. Mengenai dari mana dananya untuk pengembangan SDMnya. Dananya
bisa dari dana pengembangan kampung, atau dari pemerintah daerah. Kalau ada kepala kampung
yang menanggapi tulisan ini dengan serius, masyarakatnya akan maju. Menurut saya, dana
pengembangan kampung pertahun sekitar 100 juta. Bisa digunakan 50 juta untuk pengembangan
SDM masyarakatnya. Jika dilaksanakan dengan baik sesuai, maka dana 50 juta itu telah
menghasilkan pemberdayaan masyarakat dalam rangka pemanfaatan potensi alam untuk
mempermudah hidup juga sekaligus menambah pendapatan warga kampung. Kampung yang
warganya memiliki usaha otomatis akan memajukan dan mengkat kesejahteraan warga kampung
itu sendiri.
Artikel ini hanya sebuah ide atau inspirasi untuk pemanfaatan potensi alam Sentani dengan
sebaik-baiknya bagi hayat hidup orang Sentani. Selain itu, ide ini juga merupakan tambahan
lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sentani. Pengembangan arang kayu dan tunggu hanya
tidak butuh biaya yang banyak. Sebab yang dibutuhlan adalah kemauan dari dalam hati. Sukses
bukanlah milik orang yang tidak pernah gagal, melainkan milik orang yang tidak pernah
menyerah.