Anda di halaman 1dari 12

1

1. HASIL PENGAMATAN

Hasil pengamatan ekstraksi pigmen fikosianin dari Spirulina dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Ekstraksi Pigmen Fikosianin dari Spirulina
Kel
Berat
biomassa
kering (g)
Jumlah
aquades
yang
ditambah
(ml)
Total
filtrat
yang
diperoleh
(ml)
OD
615
OD
652

KF
(mg/ml)
Yield
(mg/g)
Warna
Sebelum Sesudah
D1 8 100 50 0,0898 0,0442 0,013 0,081 ++ +
D2 8 100 50 0,0898 0,0439 0,013 0,081 ++ +
D3 8 100 50 0,0894 0,0438 0,013 0,081 ++ +
D4 8 100 50 0,0892 0,0439 0,013 0,081 ++ +
D5 8 100 50 0,0895 0,0439 0,013 0,081 ++ +
D6 8 100 50 0,0896 0,0439 0,013 0,081 ++ +
Keterangan:
Warna:
+ :Biru muda
++ :Biru tua
+++ :Biru sangat tua

Pada Tabel 1, dapat dilihat bahwa fikosianin berwarna biru tua sebelum dioven dan biru
muda sesudah dioven dan dengan total filtrat 50 ml, diperoleh OD
615
terkecil dari kelompok
D4 yaitu 0,0892 dan terbesar yaitu 0,0898 dari kelompok D1 dan D2. Sedangkan nilai OD
652
yang terkecil yaitu 0,0438 pada kelompok D3 dan yang terbesar yaitu pada kelompok D1
yaitu sebesar 0,0442. Nilai KF pada setiap kelompok sama besar yaitu 0,013 sehingga
dihasilkan yield sebesar 0,081.


2

2. PEMBAHASAN

Menurut Mohammad (2007), pigmen dapat dikelompokkan menjdi 2 yaitu pigmen buatan
atau disebut juga pigmen sintetis, serta yang kedua disebut sebagai pigmen alami/biopigmen.
Borowitzka & Borowitzka (1988) menambahkan bahwa pigmen alami (biopigmen) termasuk
dalam jenis pigmen yang tidak bersifat karsinogenik, tanpa efek samping yang negatif apabila
dikonsumsi, dan dapat diurai oleh tubuh. Pewarna alami inilah yang banyak digunakan oleh
masyarakat. Pigmen ini biasanya berasal dari pigmen daun, buah, batang, atau dari umbi-
umbian. Tetapi pewarna alami tersebut mempunyai beberapa kelemahan. Kelemahannya
adalah kemampuan stabilitasnya terhadap panas, pH, dan cahaya kurang. Ketersediaannya
juga terbatas dan harganya juga lebih mahal. Oleh karena itu, pigmen ini dirasa kurang cocok
untuk diproduksi secara massal. Oleh sebab itu, perlu menggunakan alternatif sumber
pewarna yang lain. Salah satu contohnya yaitu mikroalga.

Menurut Metting & Pyne (1986), mikroalga adalah penghasil energi alami yang berasal dari
perairan. Pertumbuhan mikroalga itu sendiri dipengaruhi oleh pH, suhu, cahaya,
karbondioksida dan oksigen, salinitas, serta ketersediaan nutrisi. Pemanfaatan mikroalga dari
waktu ke waktu terus mengalami perkembangan yaitu digunakan sebagai makanan alami
yang sehat, penghasil komponen bioaktif untuk farmasi, kedokteran, industri pangan dan
sebagainya. Kelebihan penggunaan mikroalga adalah dalam menggunakannya tidak
bergantung pada iklim dan cuaca, waktu pertumbuhannya juga cepat sehingga dapat dipanen
dalam waktu yang singkat. Mikroalga dapat diproduksi secara terus-menerus tanpa
menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan.

Spolaore, et al. (2006) menjelaskan bahwa ada spesies mikroalga yang dapat menghasilkan
bahan pewarna (pigmen) alami. Salah satu spesies mikroalga tersebut adalah spirulina.
Menurut Marrez, et al. (2013), Spirulina platensis merupakan salah satu mikroalga yang
paling penting yang memiliki kandungan tinggi pigmen. Spirulina mampu menghasilkan
pigmen fikosianin yang berwarna biru. Pigmen ini mempunyai potensi untuk dapat digunakan
sebagai pewarna alami yang berwarna biru untuk makanan. Richmond (1988) menambahkan,
spirulina adalah organisme multiseluler yang termasuk dalam golongan alga hijau biru (blue-
green algae). Spirulina mempunyai bentuk silinder, berwarna hijau biru, dan tidak
mempunyai cabang. Ukuran spirulina 100 kali lebih besar daripada sel darah merah manusia.
Spirulina tidak memerlukan penanganan khusus, karena menurut Tietze (2004), spirulina
3


mempunyai membran sel tipis sehingga mudah dicerna. Spirulina umumnya tumbuh secara
alami di perairan danau yang sifatnya alkali dengan suhu hangat atau kolam yang dangkal di
daerah tropis. Candra (2011) juga menambahkan bahwa spirulina rendah kolesterol, rendah
lemak, kalori, sodium, serta mengandung sembilan vitamin penting dan empat belas mineral
yang terikat dengan asam amino. Lemak pada Spirulina berkisar antara 4-7% dan sebagian
besar lemak terrsebut berbentuk asam lemak esensial.

Menurut Richmond (1988), pigmen yang terkandung dalam spirulina dapat digolongkan
dalam tiga kelas, antara lain :
klorofil a yang terdiri atas 1,7% berat sel
karotenoid dan xantofil yang tersusun dari 0,5% berat sel
fikobiliprotein yang merupakan fikosianin dan allofikosianin. Secara normal tersusun
atas 20% protein seluler dan secara kuantitatif termasuk pigmen yang paling dominan
pada spirulina

Romay, et al. (1998) mengatakan bahwa struktur fikosianin berupa kristal tiga dimensi yang
sangat mirip. Fikosianin mengandung rantai tetraphyrroles yang terbuka dan berfungsi untuk
menangkap radikal oksigen sehingga dapat menangkap radiasi sinar matahari. Hal ini lebih
efisien jika dibandingkan dengan klorofil maupun karotenoid. Struktur fikosianin dapat
dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Struktur fikosianin
(O Carra & O Heocha, 1976)

Menurut Tietze (2004), kandungan fikosianin yang terkandung dalam 500 mg tablet spirulina
sebanyak 333,0 mg. O Carra & O Heocha (1976) menambahkan bahwa fikosianin
mempunyai absorbansi cahaya yang maksimal pada panjang gelombang 546 nm. Berat
4


molekul fikosianin (C-fikosianin) adalah 134 kDa. Tetapi ditemukan berat molekul yang
lebih besar yaitu 262 kDa yang berasal dari ekstrak fikosianin segar pada beberapa jenis.
Berat molekul yang lebih besar ini disebabkan karena adanya fragmen fikobilisom. Selain itu,
Duangsee, et al. (2009) juga mengatakan bahwa fikosianin adalah pigmen fotosintesis
spirulina yang terdapat pada tilakoid tunggal serta letaknya tersebar dalam membran
sitoplasma. Dimana ketika dinding sel rusak, tilakoid akan keluar bersama-sama dengan
fikosianin.

Menurut Gur, et al. (2012) dalam jurnalnya dikatakan bahwa C-fikosianin merupakan salah
satu biliprotein pemanenan cahaya utama Spirulina dan sangat penting karena yang
memiliki berbagai sifat biologis dan farmakologis. Pigmen ini diketahui memiliki sifat
hepatoprotektif, antioksidan, anti-rematik, anti-inflamasi, antitumor dan meningkatkan
kekebalan tubuh, dan digunakan tidak hanya sebagai bahan nutrisi dan pewarna alami dalam
makanan. Selain itu, menurut Sharma, et al. (2014) biliprotein banyak digunakan karena
tingkat fluoresensinya tinggi, stabilitas penyimpanan yang baik pada suhu
antara 4-10C, koefisien absorbansi molar yang tinggi, stabilitas terhadap cahaya tinggi,
titik isoelektrik (IP) mendekati 4,65.

Langkah-langkah pembuatan pewarna alami dari spirulina adalah pertama-tama biomassa
spirulina dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Kemudian dilarutkan dengan aquadestilata
dengan perbandingan 2 : 25 (8 gram biomassa : 100 ml aquadestilata). Menurut Lorenz
(1998), fungsi aquadestilata adalah untuk membantu melarutkan pigmen fikosianin dari
spirulina saja namun tidak mempengaruhi hasil karena bersifat netral. Biomassa sel dari
spirulina lebih mudah larut dalam pelarut polar seperti aquadestilata jika dibandingkan
dengan pelarut non polar. Lalu diaduk menggunakan stirrer selama kurang lebih 2 jam.
Menurut Andarwulan & Koswara (1992), pengadukan dengan menggunakan stirrer berfungsi
untuk mempermudah proses pemisahan fikosianin dari spirulina.

Setelah itu disentrifugasi dengan kecepatan 5000 rpm selama 10 menit hingga diperoleh
endapan dan supernatant yaitu cairan yang berisi fikosianin. Menurut Mahaputra et al (2012),
prinsip kerja sentrifugasi adalah memisahkan padatan berdasarkan perbedaan berat molekul
dengan bantuan adanya gaya gravitasi. Pada proses sentrifugasi diperoleh dua bagian, yaitu
padatan (endapan) dan cairan (supernatant). Tujuan dilakukannya sentrifugasi adalah untuk
memisahkan fikosianin dari spirulina serta untuk memisahkan spirulina dengan fikosianin
5


yang sudah terlarut dalam aquadestilata karena yang akan dibutuhkan hanyalah pigmennya
saja.

Supernatant yang diperoleh kemudian diukur kadar fikosianinnya menggunakan
sprektrofotometer dengan panjang gelombang 615 nm dan 652 nm. Menurut Prabuthas, et al.
(2011), pengukuran fikosianin dengan menggunakan spektrofotometer dilakukan untuk
mengetahui kemurnian dari fikosianin dengan rasio absorbansi. Ewing (1982) menjelaskan
bahwa spektrofotometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur kemampuan suatu
larutan dalam menyerap radiasi gelombang elektromagnetik. Menurut teori Hadi (1986),
warna komplementer biru hijau diperoleh pada panjang gelombang 610 nm-750 nm.
Sastrohamidjojo (1992) mengatakan bahwa kelebihan analisa spektrofotometri ini yaitu
analisa ini sederhana dan mudah dilakukan, serta tingkat akurasinya cukup tinggi.

Setelah itu supernatant dituang ke dalam loyang yang masing-masing loyang berisi 8 ml
supernatant. Lalu ditambahkan dekstrin dengan perbandingan 1 : 1,25 (8 ml supernatant : 10
gram dekstrin). Menurut Ribut & Kumalaningsih (2004), dekstrin adalah karbohidrat yang
berat molekulnya tinggi dan merupakan modifikasi dari pati dan asam yang larut dalam air,
cepat terdispersi, tidak kental dan relatif stabil jika dibandingkan dengan pati. Oleh karena
itu, dekstrin sering dimanfaatkan sebagai pembawa bahan pangan yang aktif, misalnya
sebagai bahan flavor dan pewarna. Penambahan dektrin pada praktikum ini dimaksudkan
untuk meningkatkan rendemen fikosianin.

Setelah ditambah dekstrin, dicampur hingga rata. Setelah rata, loyang dimasukkan ke dalam
oven dengan suhu 45
o
C hingga mencapai kadar air 7% namun tidak perlu diukur kadar
airnya, cukup sampai kering saja. Menurut Candra (2011), pengeringan di dalam oven
memiliki tujuan untuk mengurangi kadar air hingga mencapai konsentrasi tertentu, sehingga
kandungan air bebas pada fikosianin dapat berkurang dan mampu menghambat pertumbuhan
bakteri yang merusak pigmen fikosianin. Setelah terbentuk seperti adonan kering gempal,
adonan tersebut diambil dengan spatula dan dihancurkan dengan penumbuk hingga berbentuk
powder. Menurut Bennet & Bogorad (1973), kadar fikosianin dapat dihitung dengan
menggunakan rumus:


6


Konsentrasi Fikosianin/KF (mg/ml) =
OD
615
-0,474 (OD
652
)
5,34

Yield (mg/g) =
KF x Vol (Total Filtrat)
Berat biomassa (g)


Pada hasil yang diperoleh dari praktikum ini, warna fikosianin berwarna biru tua saat
sebelum dioven dan biru muda saat sesudah dioven. Hasil pada semua kelompok sama. Hal
ini sudah sesuai dengan teori Candra (2011) yang mengatakan bahwa spirulina menghasilkan
pigmen fikosianin yang berwarna biru dengan sifat larut dalam pelarut polar dan dapat
digunakan sebagai pewarna alami. Warna biru yang diperoleh sesuai dengan hasil absorbansi
spektrofotometer yang telah dilakukan dengan OD 615 nm dan OD 652 nm. Selain itu,
perubahan warna saat sebelum dan sesudah dioven sesuai dengan teori Song, et al. (2013)
yang mengatakan bahwa fikosianin yang berwarna biru tua akan mengalami perubahan warna
menjadi lebih muda setelah dioven atau dikeringkan. Hal ini dijelaskan oleh Gaman &
Sherrington (1994) dapat terjadi karena adanya degradasi warna akibat perlakuan
pengeringan.

Pada hasil pengamatan dapat dilihat bahwa nilai absorbansi OD
652
lebih rendah jika
dibandingkan dengan nilai absorbansi OD
615
. Hal ini dijelaskan menurut Song, et al. (2013)
dapat terjadi dikarenakan panjang gelombang yang dapat diserap secara maksimal oleh
fikosianin berkisar antara 610-620 nm. Sehingga hasil absorbansi pada panjang gelombang
615 lebih besar dibandingkan dengan nilai absorbansi pada panjang gelombang 652 nm
karena fikosianin tidak mampu menyerap panjang gelombang 652 nm.










7

3. KESIMPULAN

Mikroalga adalah penghasil energi alami yang berasal dari perairan.
Pertumbuhan mikroalga itu sendiri dipengaruhi oleh pH, suhu, cahaya, karbondioksida
dan oksigen, salinitas, serta ketersediaan nutrisi.
Kelebihan penggunaan mikroalga adalah dalam menggunakannya tidak bergantung pada
iklim dan cuaca, waktu pertumbuhannya juga cepat sehingga dapat dipanen dalam waktu
yang singkat.
Spesies mikroalga yang dapat menghasilkan bahan pewarna (pigmen) alami. adalah
spirulina.
Biomassa sel dari spirulina lebih mudah larut dalam pelarut polar daripada pelarut non
polar.
Fikosianin merupakan pigmen biru yang dihasilkan oleh Spirulina platensis.
Pengadukan dengan menggunakan stirrer berfungsi untuk mempermudah proses
pemisahan fikosianin dari spirulina.
Prinsip kerja sentrifugasi adalah memisahkan padatan berdasarkan perbedaan berat
molekul dengan bantuan adanya gaya gravitasi.
Proses sentrifugasi memperoleh dua bagian, yaitu padatan (endapan) dan cairan
(supernatant).
Tujuan sentrifugasi adalah untuk memisahkan fikosianin dari spirulina.
Spektrofotometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur kemampuan suatu
larutan dalam menyerap radiasi gelombang elektromagnetik.
Kelebihan analisa spektrofotometri yaitu analisa ini sederhana dan mudah dilakukan,
serta tingkat akurasinya cukup tinggi.
Dekstrin adalah karbohidrat yang berat molekulnya tinggi dan merupakan modifikasi dari
pati dan asam yang larut dalam air.
Fikosianin akan mengalami perubahan warna menjadi lebih muda setelah dioven atau
dikeringkan karena adanya degradasi warna akibat perlakuan pengeringan.
Panjang gelombang yang dapat diserap secara maksimal oleh fikosianin berkisar antara
610-620 nm.
Hasil absorbansi pada panjang gelombang 615 lebih besar dibandingkan dengan nilai
absorbansi pada panjang gelombang 652 nm karena fikosianin tidak mampu menyerap
panjang gelombang 652 nm.
8


Semarang, 20 Oktober 2014 Asisten Dosen,
Praktikan,




Ferra Aprilia K. Agita Mustikahandini
12.70.0009
9

4. DAFTAR PUSTAKA

Andarwulan, N & S. Koswara. (1992). Kimia Vitamin. CV Rajawali. Jakarta.

Bennett, A.; Bogorad, L.; J. Cell. Biol. 1973, 58, 419.

Borowitzka MA dan Borowitzka LJ. (1988). Dunaliella dalam Borowitzka MA dan
Borowitzka LJ. (Eds). Mikroalgal Biotechnology. Cambridge University Press.
Cambridge.

Candra B.A. (2011). Karakteristik Pigmen Fikosianin dari Spirulina fusiformis yang
Dikeringkan dan Diamobilisasi. Insitut Pertanian Bogor.
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/47184/C11bac.pdf?sequence=1.
Diakses tanggal tanggal 18 Oktober 2013.

Duangsee, R., Natapas Phoopat, Suwayd Ningsanond. (2009). Pyhcocyanin Extraction from
Spirulina platensis and Extract Stability Under Various pH and Temperature. As
J.Food Ag-Ind 2009, 2(04), 819-826.

Ewing, G. W. (1982). Instrumental Methods of Chemical Analysis. Mc Grow Hill Book
Company. USA.

Gaman, P.M. & K.B. Sherrington. (1994). Pengantar Ilmu Pangan, Nutrisi Dan Mikrobiologi.
Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Gur, C. S., Erdogan, D. K., Onbasilar, I., Atilla, P., Cakar, N. & I. D. Gurhan. (2012). In vitro
and In Vivo Investigations of The Wound Healing Effect of Crude Spirulina Extract and
C-phucocyanin. Ege University. Turkey.

Hadi, S. (1986). Analisa Kuantitatif. Gramedia. Jakarta.

Lorenz RT. 1998. Quantitative Analysis of C-phycocyanin from Spirulina pasifica (low
temperature method). www.cyanotech.com. Diakses pada tanggal 7 September2014.

Mahaputra L, dkk. 2012. Pemisahan Spermatozoa Sapi Limousin yang Memiliki Kromosum
X dan Y dengan Percoll dan Putih Telur Ayam. 14: 3. Diakses pada tanggal 7
September 2014.

Marrez, D. A., Naguib, M. M., Sultan, Y. Y., Daw, Z. Y. & A. M. Higazy. (2013). Impact of
Culturing Media on Biomass Production and Pigments Content of Spirulina platensis.
Cairo University. Egypt.

10


Metting B dan Pyne JW. (1986). Biologically active compounds from microalgal. Journal of
Enzyme Microb. Tech. Vol. 8. Butterworth and Co Publish.

Mohammad, J. (2007). Produksi dan Karakteristik Biopigmen Fikosianin dari Spirulina
fusiformis serta Aplikasinya Sebagai Pewarna Minuman. Program Studi Teknologi
Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB. Bogor.

Carra P, hEocha C. (1976). Algal Biliproteins and Phycobilins. Goodwin TW, editor.
1976. Chemistry and Biochemistry of Plant Pigments. London: Academic press inc. Hal
328-371.

Prabuthas, P et al. (2011). Standardization of Rapid and Economical Method for
Neutraceuticals Extraction from Algae. Journal of Stored Products and Postharvest
Research. India.

Ribut, S. dan S. Kumalaningsih, (2004). Pembuatan bubuk sari buah sirsak dari bahan baku
pasta dengan metode foam-mat drying. Kajian Suhu Pengeringan, Konsentrasi Dekstrin
dan Lama Penyimpanan Bahan Baku Pasta. http://www.pustaka-deptan.go.id.

Richmond A. (1988). Spirulina. Di dalam Borowitzka MA dan Borowitzka LJ, editor. Micro-
algal biotechnology. Cambridge: Cambridge University Press.

Romay C, Armesto J, Remirez D, Gonzlez R, Ledn N, Garca I. (1998). Antioxidant and
anti-inflammatory properties of c-phycocyanin from blue-green algae. Inflammation
Research 47:36-41.

Sastrohamidjojo, H. 1992. Spektroskopi Inframerah. Yogyakarta. Liberty Yogyakarta.

Sharma, G., Kumar, M. Ali, M. I. & N. D. Jasuja. (2014). Effect of Carbon Content, Salinity
and pH on Spirulina platensis for Phycocyanin, Allophycocyanin and Phycoerythrin
Accumulation. Ruresh Gyan Wihar University. India.

Song, W; Zhao, C & Wang, S. 2013. 2013. A Large-Scale Preparation Method of High Purity
C-Phycocyanin. International Journal of Bioscience, Biochemistry and
Bioinformatics, Vol. 3, No. 4. Diakses pada tanggal 31 Agustus 2014.

Spolaroe P, Joanis CC, Duran E, Isambert A. (2006). Comercial Application of Microalgae
Review. J Biosci and Bioeng. 101 (2): 87-96.

Tietze HW. 2004. Spirulina Micro Food Macro Blessing. Ed ke-4. Australia: Harald W.
Tietze Publishing. Hal 8-10.
11

5. LAMPIRAN

5.1. Perhitungan
Kelompok D1:
KF =


= 0,013 mg/ml
Yield =



=


= 0,081 mg/g

Kelompok D2:
KF =


= 0,013 mg/ml
Yield =



=


= 0,081 mg/g

Kelompok D3:
KF =


= 0,013 mg/ml
Yield =



=


= 0,081 mg/g





Kelompok D4:
KF =


= 0,013 mg/ml
Yield =



=


= 0,081 mg/g

Kelompok D5:
KF =


= 0,013 mg/ml
Yield =



=


= 0,081 mg/g

Kelompok D6:
KF =


= 0,013 mg/ml
Yield =



=


= 0,081 mg/g
12


5.2. Foto
Fikosianin kelompok D1 sampai D6 sebelum oven


Fikosianin kelompok D1 sampai D6 sesudah oven


5.3. Diagram Alir

5.4. Laporan Sementara