Anda di halaman 1dari 15

Acara III

FERMENTASI SUBSTRAT CAIR


FERMENTASI NATA DE COCO
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
TEKNOLOGI FERMENTASI

Disusun oleh:
Nama : Sherly Putri Santoso
NIM : 12.70.0023
Kelompok : D3

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG

2015

1. HASIL PENGAMATAN
1.1. Analisa Lapisan Nata de coco
Hasil pengamatan analisa lapisan nata de coco dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Analisa lapisan nata de coco selama fermentasi
Kel
D1
D2
D3
D4
D5

Tinggi Awal
Media (cm)
2
1.2
1.3
1
2.5

Tinggi Ketebalan Nata (cm)


0
7
14
0.5
0.7
0.5
0.6
0.4
0.5
0.4
0.5
0.6
0.6

% Lapisan Nata
0
7
14
25
35
41.67
50
30.77
38.46
40
50
24
24

Pada tabel 1 dapat dilihat bahwa pada hari ke-0 belum terbentuk nata di semua media,
pada hari ke-7 nata mulai terbentuk dengan persentase lapisan nata yang merupakan
hasil pembagian antara tinggi ketebalan nata dengan tinggi awal media tertinggi ada
pada kelompok D2 yaitu 41.67% dan yang terendah ada pada kelompok D5 yaitu
sebesar 24%. Pada hari ke-14 terjadi peningkatan tinggi pada sebagian besar kelompok,
peningkatan ukuran tinggi lapisan nata terbesar ada pada kelompok D1 dan D4 dengan
kenaikkan sebesar 10% sedangkan D5 mendapatkan hasil yang terkecil yaitu 0% atau
dapat dikatakan tidak ada penambahan tinggi lapisan nata setelah hari ke-14.

1.2. Analisa Uji Sensori Nata de coco

Hasil pengamatan analisa sensori nata de coco dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Analisa sensori Nata de coco
Kelompok
D1
D2
D3
D4
D5

Aroma
++
++
+++
+
++

Warna
+
+
++
+
+

Tekstur
+
+++
++
+++
+

Keterangan :
+
++
+++
++++

Aroma
: sangat asam
: asam
: agak asam
: sangat asam

Warna
+
++
+++
++++

: kuning
: putih bening
: putih agak bening
: putih

Tekstur
+
++
+++
++++

: tidak kenyal
: agak kenyal
: kenyal
:sangat kenyal

Pada tabel 2 dapat dilihat hasil analisa sensori nata de coco yang dihasilkan setelah
proses fermentasi dimana untuk atribut aroma dan warna yang mendapatkan hasil
terbaik adalah kelompok D3 yaitu dengan aroma agak asam dan warna putih bening,
sedangkan pada kelompok lain didapati aroma sangat asam sampai asam dengan warna
kuning, jika dilihat dari atribut tekstur didapatkan hasil yang berbeda beda dimana
kelompok D2 dan D4 memiliki nata de coco dengan tekstur yang kenyal sedangkan
kelompok D3 agak kenyal serta D1 dan D5 tidak kenyal.

2.

PEMBAHASAN

Nata de coco menurut Palungkun (1992) adalah krim yang berasal dari air kelapa yang
dibentuk oleh Acetobacter xylinum melalui proses fermentasi dimana pada akhir proses
fermentasi bakteri ini akan membentuk gel di permukaan larutan yang mengandung
gula. Menurut Santosa (2012), nata de coco merupakan salah satu makanan rendah
kalori dan kaya serat untuk menjaga kesehatan pencernaan (memperlancar pencernaan
dan mencegah penyakit kanker kolon), sehingga cocok dikonsumsi sebagai makanan
dalam diet sehat. Tahir et. al (2008) menambahkan bahwa wujud nata berupa sel
berwarna putih hingga abu-abu muda, tembus pandang dan teksturnya kenyal. Nata
agak berserat dalam keadaan dingin dan agak rapuh pada saat panas. Menurut Rahman
(1992) bakteri Acetobacter xylinum termasuk bakteri asam asetat yang memiliki
kemampuan dalam hal mengoksidasi gula dan alkohol menjadi asam asetat. Menurut
Palungkun (1992), pembentukan nata de coco terjadi karena adanya proses
pengambilan glukosa dari gula dalam air kelapa oleh sel-sel Acetobacter xylinum yang
kemudian akan digabungkan dengan asam lemak membentuk prekusor yang selanjutnya
dikeluarkan bersama enzim untuk mempolimerisasikan glukosa menjadi selulosa di luar
sel. Menurut Czaja et al (2004), selulosa adalah golongan biopolimer yang dihasilkan
oleh organisme prokariotik, non-fotosintetik. Selulosa mempunyai kekuatan mekanik,
kristalinitas, dan kapasitas menahan air yang tinggi.

Pada pembuatan nata de coco pada praktikum ini hal yang pertama dilakukan adalah
mempersiapkan media pertumbuhan bakteri Acetobacter xylinum yaitu adalah air
kelapa. Menurut Palungkun (1992), air kelapa mengandung air 91.23%, karbohidrat
7.27%, protein 0.29%, lemak 0.15%, abu 1.06% dan nutrisi pendukung lainnya seperti
sukrosa, fruktosa, dekstrase, dan vitamin B kompleks. Air kelapa mengandung sebagian
sumber nutrisi yang dibutuhkan namun kebutuhan akan C dan N masih harus tetap
ditambah agar hasil nata optimal. Prades et al (2011) menambahkan bahwa air kelapa
atau sari kelapa merupakan minuman berasa manis segar yang langsung diambil dari
kelapa. Air kelapa mengandung mineral (zat besi, klorida, potasium, dan sulfur), gula
(glukosa, sukrosa, fruktosa, galaktosa, sorbitol, xylosa, dan mannosa), dan asam amino
(arginin,

sistein, serin,

dan

alanin)

sehingga

umumnya

digunakan

sebagai

minuman isotonik alami. Menurut Hakimi & Daddy (2006) kandungan gizi air kelapa
ditentukan dari umur kelapa itu sendiri. Bahan bahan yang digunakan dalam
pembuatan nata de coco pada praktikum kali ini adalah 1 Liter air kelapa fresh, gula
pasir, asam asetat glasial 95%, ammonium sulfat, dan starter nata de coco. Penambahan
gula pasir dan ammonium sulfat dilakukan karena menurut Hamad & Kristiono (2013),
di dalam pertumbuhannya, Acetobacter xylinum memerlukan sumber nutrisi C, H, dan
N, serta mineral.

Menurut Wowor et al (2007) nata de coco dapat dibuat bukan hanya dari air kelapa,
namun juga dari berbagai jenis bahan asalkan mengandung gula, protein, dan mineral
yang cukup tinggi seperti misalnya sari buah buahan, sari kedelai, bahkan air gula.
Karena hal itu, nama nata bisa bermacam macam tergantung bahan yang digunakan.
Namun penggunaan air kelapa dinilai yang paling ekonomis dikarenakan air kelapa
sendiri merupakan limbah dari buah kelapa. Proses pembuatan nata de coco menurut
Hakimi & Daddy (2006) meliputi tahap penyaringan - perebusan - penempatan dalam
wadah fermentasi - pendinginan - penambahan starter - fermentasi (pemeraman) pemanenan - pembersihan kulit - pemotongan - perebusan - pengemasan. Namun dalam
praktikum kali ini tahap yang dilakukan hanya sampai pada proses fermentasi. Hal
pertama yang dilakukan dalam praktikum ini adalah penyaringan air kelapa dengan kain
saring untuk memisahkan kotoran yang ada pada air kelapa (Hakimi & Daddy, 2006).
Setelah dilakukan penyaringan berikutnya adalah proses pemanasan dan penambahan
bahan bahan lain yang diperlukan dalam proses pembuatan nata de coco. Menurut
Palungkun (1992), tujuan pemanasan adalah untuk mengurangi kontaminasi dari
mikroorganisme yang tidak diinginkan.

(a)

(b)
Gambar 1. Proses penyaringan I
(a) Air kelapa yang belum disaring
(b) Penyaringan dengan kain saring

Kemudian ditambahkan gula pasir sebanyak 10% dari volume air kelapa yang
dihasilkan, lalu diaduk sambil dipanaskan sampai larut. Penambahan gula 10% ini
sesuai dengan teori Awang (1991), yang menyatakan bahwa konsentrasi optimum gula
yang ditambahkan adalah sebesar 10% dari substrat. Penambahan gula ini bertujuan
untuk menyediakan sumber karbon organik yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bakteri
sehingga menghasilkan selulosa. Selain itu menurut Hayati (2003) penambahan gula
dalam proses pembuatan nata berperan dalam memberi tekstur, flavor, dan penampakan,
serta dapat berfungsi sebagai pengawet. Menurut Purwanto (2012) sumber utama
karbon adalah karbohidrat meliputi monosakarida, disakarida, trisakarida, dan
polisakarida. Pembentukan nata oleh bakteri Acetobacter xylinum membutuhkan gula
sebagai sumber C untuk menunjang pertumbuhan yang optimal.

Setelah gula pasir larut kemudian dalam air kelapa ditambah dengan ammonium sulfat
sebanyak 0.5% dari volume air kelapa yang dihasilkan, lalu diaduk sampai larut dan
ditunggu hingga suhu mencapai 400C. Penambahan ammonium sulfat dilakukan
menurut teori dari Pambayun (2002) bertujuan untuk menyediakan sumber nitrogen
untuk mendukung aktivitas bakteri nata. Menurut Iguchi et al (2000) dalam Hamad &
kristiono (2013) selain ammonium sulfat dapat digunakan sumber nitrogen lain seoerti
urea, ZA, atau ekstrak yeast. Rahayu (1993) menambahkan bahwa sumber C dan N
membentuk asam nukleat dan protein yang berperan sebagai sumber energi bagi
pertumbuhan bakteri.

(a)

(b)

Gambar 2. Proses penambahan bahan saat pemanasan


(a) Penambahan gula pasir
(b) Penambahan amonnium sulfat

Setelah suhu mencapai 400C maka kompor dimatikan dan larutan didiamkan hingga
suhu agak turun. Setelah turun kemudian larutan diukur pH nya menggunakan pH
meter. Setelah diukur pH awal kemudian ditambah dengan asam cuka glasial sampai
memiliki pH mendekati 4 (dilakukan pengecekkan pH setiap penambahan asam cuka
glasial). Pengkondisian asam terhadap larutan menurut Pambayun (2002), dilakukan
karena bakteri Acetobacter xylinum dapat tumbuh pada pH 3,5-7,5 dan optimumnya
pada pH 4,3 (suasana asam). Pengontrolan pH terus dilakukan untuk mengetahui besar
derajat keasaman air kelapa yang digunakan sebagai media dalam pembuatan nata de
coco. Penambahan gula, ammonium sulfat, dan asam cuka glasial untuk menurunkan
pH yang dilakukan dalam pembuatan nata de coco pada praktikum ini sudah sesuai
dengan teori Jagannath et al (2008) yang menyatakan bahwa untuk menghasilkan nata
yang optimal dalam proses pembuatan digunakan sukrosa sebesar 10 %, ammonium
sulfat ebesar 0.5 %, dengan pengaturan pH terbaik yaitu pH 4.

(a)

(b)

Gambar 3. Proses pengkondisian asam pada larutan


(a) Penambahan asam cuka glasial
(b) Pengukuran pH

Setelah pH mendekati 4 selanjutnya larutan dipanaskan lagi sampai hampir mendidih.


Setelah itu didiamkan untuk menurunkan suhunya dan kemudian disaring. Penyaringan
dilakukan menggunakan kain saring steril untuk menjaga kesterilan larutan. Air kelapa
yang telah disaring kemudian diambil 200 ml untuk tiap kelompok dan ditempatkan di
wadah kotak meninggi steril. Setelah air kelapa sebanyak 200 ml dimasukkan ke dalam
wadah steril, tinggi air kelapa diukur. Sehingga dapat diketahui tinggi awal media
sebelum proses fermentasi.

(a)

(b)

(c)

(d)

Gambar 4. Alur Penyaringan dan Penuangan Larutan ke Dalam Wadah Steril


(a) Penyaringan setelah pemanasan
(b) Penuangan ke bekker glass
(c) Penuangan ke gelas ukur
(d) Penuangan ke wadah steril

Setelah air kelapa dalam wadah steril tidak panas lagi dilakukan penuangan biang nata
(starter) sebanyak 10% dari volume air kelapa yang dimasukkan ke wadah secara
aseptis. Penggunaan Acetobacter xylinum sebagai starter sesuai dengan teori Tahir et. al
(2008) bahwa dalam proses pembuatan nata starter yang digunakan selama proses
fermentasi adalah A. xylibum. Penambahan starter ini sesuai dengan pernyataan Pato &
Dwiloka (1994) bahwa jumlah starter untuk pembuatan nata yaitu berkisar 4 10 %.
Penambahan starter dilakukan dengan aseptis karena menurut Hadioetomo (1993)
penambahan biang starter harus dilakukan dalam kondisi aeptis untuk mencegah
terjadinya kontaminasi ulang. Setelah starter dimasukkan kemudian digojog perlahan
agar homogen dan kemudian ditutup dengan kertas coklat dan diinkubasi selama 2
minggu pada suhu ruang dan setiap minggunya diukur tinggi nata yang terbentuk.
Penutupan dengan kertas cokelat ini dikarenakan menurut Pambayun (2002) bakteri
Acetobacter xylinum merupakan bakteri aerob yang membutuhkan oksigen dalam
pertumbuhannya, namun oksigen tidak boleh bersentuhan langsung dengan permukaan
substrat. Selain itu penutupan juga berfungsi untuk melindungi nata dari kontaminasi
lingkungan sekitar.

(a)

(b)

(c)

Gambar 5. Proses penambahan starter dan penutupan wadah

(d)

(a) Penuangan starter


(b) Penutupan wadah dengan kertas cokelat
(c) Pengikatan kertas supaya kencang dengan karet
(d) Wadah yang sudah tertutup

Proses inkubasi dilakukan pada suhu ruang dikarenakan menurut Pambayun (2002)
bakteri Acetobacter xylinum dapat tumbuh pada suhu ruang, suhu diatas atau dibawah
280C menyebabkan pertumbuhan terhambat, sedangkan apabila suhu diatas 400C dapat
membuat bakteri ini mati. Selain itu menurut Hayati (2003) pengontrolan suhu
fermentasi wajib dilakukan dimana suhu baik untuk pertumbuhan optimum Acetobacter
xylinum adalah 300C. Fermentasi kemudian dilakukan selama 14 hari, sesuai dengan
teori Santosa et al (2012) bahwa fermentasi pada pembuatan nata berlangsung optimal
pada 10 14 hari. Selama proses fermentasi berlangsung, menurut Tahir et. al (2008)
tanda awal tumbuhnya bakteri nata dapat dilihat dari keruhnya media cair setelah
difermentasi 24 jam pada suhu kamar dan setelah 36 sampai 48 jam lapisan tipis akan
mulai terbentuk di permukaan media dimana cairan bawahnya akan mulai jernih.
Kemudian akan terbentuk lapisan putih yang terapung apung di atas permukaan media
cair dimana lapisan putih tersebut merupakan nata. Palungkun (1992) menambahkan
bahwa lapisan nata akan terbentuk dan semakin terlihat di permukaan medium karena
terangkat oleh gas CO2 yang memiliki kecenderungan menempel pada lapisan selulosa.
Menurut Czaja et al (2004), terdapat 2 metode dalam menghasilkan selulosa bakteri
yaitu kultur stasioner dan kultur teragitasi. Pada kultur stasioner, membran selulosa
berkumpul di permukaan medium, sementara pada kultur teragitasi selulosa disintesa di
dalam media dalam bentuk suspensi berserat atau massa yang tidak beraturan.
Berdasarkan teori tersebut diketahui bahwa Nata de coco yang dibuat dalam praktikum
kali ini menggunakan sistem kultur stasioner.

Pada hasil pengamatan dapat dilihat bahwa selama proses fermentasi % lapisan nata
mengalami peningkatan hampir di semua kelompok, hal ini sesuai dengan teori Rahman
(1992) bahwa aktivitas Acetobacter xylinum ditunjukkan dengan terbentuknya lapisan
berwarna putih, yang lama kelamaan semakin memadat dan melebar. Pada hari ke-7

peningkatan tertinggi mencapai 41.67 % dan pada hari ke-14 peningkatan tertinggi
mencapai 50%. Proses pembentukan lapisan nata menurut Palungkun (1992) terjadi
karena adanya penambahan gula dimana semakin banyak jumlah gula yang
ditambahkan maka nata yang terbentuk akan semakin baik. Hal tersebut terjadi karena
gula digunakan sebagai substrat untuk pertumbuhan Acetovbacter xylinum yang
merupakan bakteri selulosa murni. Namun pada salah satu kelompok tidak terjadi
kenaikkan % lapisan nata dari hari ke-7 sampai hari ke-14. Hal tersebut dapat terjadi
menurut Pambayun (2002) karena terjadinya kontaminasi pada saat proses fermentasi
berlangsung sehingga bakteri menjadi terhambat pertumbuhannya. Mikroorganisme lain
yang mungkin mengkontaminasi adalah Acetobacter aceti yang merupakan pesaing
Acetobacter xylinum. Selain itu menurut Palungkun (1996), hal ini dapat terjadi karena
adanya gangguan selama proses fermentasi berupa goyangan terhadap wadah selama
proses fermentasi sehingga nata yang telah terbentuk di permukaan cairan akan turun.

Selain pengukuran % lapisan nata dilakukan pula uji sensori terhadap nata yang
terbentuk. Uji sensori yang dilakukan adalah tekstur, aroma, dan warna. Hasil analisa
sensori untuk atribut aroma dan warna didapatkan hasil yang terbaik didapat oleh
kelompok D3 yaitu aroma yang agak asam dengan warna putih bening, sedangkan
kelompok lain mendapatkan aroma sangat asam sampai asam dengan warna kuning.
Lapisan nata yang berwarna putih bening milik kelompok D3 sesuai dengan teori
Rahman (1992) bahwa warna nata de coco yang baik dan bagus adalah putih transparan.
Seumahu et al (2007) menambahkan bahwa warna nata de coco yang baik memiliki
transparansi yang tinggi. Untuk aroma asam yang dimiliki oleh semua kelompok dapat
terjadi menurut Tahir et. al (2008) karena apabila bakteri A. xylinum ditumbuhkan pada
media cair yang mengandung gula akan menghasilkan asam cuka dan asam asetat.

Rasa asam pada nata de coco setelah fermentasi dapat dihilangkan karena menurut
Wahyudi (2003) setelah lapisan nata berhasil dibentuk, maka dilanjutkan dengan tahap
pencucian dan perendaman nata dengan air untuk membuat rasa nata menjadi hambar.
Selain dicuci dan direndam dalam air, proses pengolahan nata dilakukan dengan
perebusan nata dengan air dan gula yang menurut Rahman (1992) bertujuan untuk
menghilangkan asam dan memberi rasa manis. Jika dilihat dari atribut tekstur

10

didapatkan hasil yang berbeda beda dimana kelompok D2 dan D4 memiliki tekstur
yang kenyal sedangkan kelompok D3 agak kenyal serta D1 dan D5 tidak kenyal.
Menurut Herman (1979), tekstur yang kenyal berhubungan dengan kandungan selulosa
pada nata. Semakin banyak selulosa, maka nata akan semakin kenyal dan begitu pula
sebaliknya. Selain itu menurut Anastasia & Eddy (2008) kekenyalan juga berhubungan
dengan ketebalan nata yang dihasilkan. Semakin tebal nata maka serat kasar semakin
banyak sehingga air yang mengisi rongga antar selulosa semakin banyak dan membuat
kekenyalan nata menjadi turun.

Proses pengolahan nata tidak dilakukan dikarenakan dalam praktikum ini tidak ada nata
yang sepenuhnya sesuai dengan ke 3 parameter yaitu segi aroma, warna, maupun
tekstur. Selain kemungkinan karena adanya proses kontaminasi, menurut Moheimin
(1991) dalam Purwanto (2012) umur kultur bakteri Acetobacter xylinum yang digunakan
juga berpengaruh terhadap produk nata yang dihasilkan. Mikrobia yang digunakan sebagai
inokulum harus berada dalam kondisi yang sehat, aktif, dalam jumlah yang cukup,
morfologi bakteri normal, bebas dari kontaminan, dan kemampuannya dalam memproduksi
nata.

Gambar 6. Pengamatan nata hari ke-14 (dari kiri ke kanan urut kelompok 1-5)

3.

KESIMPULAN

Nata de coco adalah krim dari air kelapa yang dibentuk oleh Acetobacter xylinum
melalui proses fermentasi.

Pembentukan nata de coco terjadi karena adanya proses pengambilan glukosa dari
gula dalam air kelapa menjadi selulosa di luar sel.

Kandungan dalam air kelapa yang cukup lengkap membuat air kelapa cocok
digunakan sebagai media untuk menghasilkan nata de coco.

Proses pemanasan dilakukan untuk mengurangi kontaminasi dari mikroorganisme


yang tidak diinginkan.

Penyaringan dilakukan untuk memisahkan kotoran yang ada pada air kelapa.

Penambahan gula bertujuan untuk menyediakan sumber karbon organik untuk


pertumbuhan bakteri sehingga menghasilkan selulosa.

Penambahan ammonium sulfat dilakukan untuk menyediakan sumber nitrogen.

Pengkondisian asam terhadap dilakukan karena bakteri Acetobacter xylinum dapat


tumbuh pada pH 3,5-7,5 dan optimumnya pada pH 4,3 (suasana asam).

Untuk menghasilkan nata yang optimal ditambahkan sukrosa 10 %, ammonium


sulfat 0,5 %, dengan pH terbaik adalah pH 4.

Jumlah starter untuk pembuatan nata yaitu berkisar 4 10 %.

Penambahan biang starter harus dilakukan dalam kondisi aeptis untuk mencegah
terjadinya kontaminasi ulang.

Bakteri Acetobacter xylinum merupakan bakteri aerob yang membutuhkan oksigen,


namun tidak boleh bersentuhan langsung dengan permukaan substrat.

Proses inkubasi dilakukan pada suhu ruang dikarenakan Acetobacter xylinum dapat
tumbuh pada suhu ruang.

Semarang, 8 Juli 2015


Praktikan,

Asisten praktikum :
Wulan Apriliana D

Sherly Putri Santoso

Nies Mayangsari

12.70.0023

11

4. DAFTAR PUSTAKA
Anastasia, N. & Eddy, A. (2008). Mutu Nata de Seaweed dalam Berbagai Konsentrasi
Sari Jeruk Nipis. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi II. Universitas
Padjajaran. Bandung.
Awang, S. A. (1991). Kelapa Kajian Sosial Ekonomi. Aditya Media. Jakarta.
Czaja, W., D. Romanovicz, and R. M. Brown, Jr. (2004). Structural investigations of
microbial cellulose produced in stationary and agitated culture. Cellulose 11: 403411.
Hakimi, Rini & Daddy, B. (2006). Aplikasi Produksi Bersih (Cleaner Production) Pada
Industri Nata De Coco. Jurnal Teknik Mesin Vol. 3, No.2, Des 2006.
Hamad, A. & Kristiono. (2013). Pengaruh Penambahan Sumber Nitrogen Terhadap
Hasil Fermentasi Nata De Coco. Momentum, Vol. 9, No. 1, April 2013, Hal. 62-65
Hayati, M. (2003). Membuat Nata de Coco. Adi Cita Karya Nusa. Yogyakarta.
Hadioetomo, R.S. (1993). Mikrobiologi Dasar dalam Praktek : Teknik dan Prosedur
Dasar Laboratorium. PT Gramedia. Jakarta
Herman, A.H. (1979). Pengolahan Air Kelapa. Buletin Perhimpunan Ahli Teknologi
Pangan Indonesia 4(1):9 17.
Jagannath, Kalaiselvan S. S, Manjunatha P. S, Raju A. S. Bawa. (2008). The effect of
pH, sucrose and ammonium sulphate concentrations on the production of bacterial
cellulose (Nata-de-coco) by Acetobacter xylinum. World J Microbiol Biotechnol
(2008) 24:2593 2599.
Pato, U. & Dwiloka, B. (1994). Proses & Faktor faktor yang Mempengaruhi
Pembentukan Nata de Coco. Sains Teks I (4) : 70 77.
Palungkun, Rony. (1992). Aneka Produk Olahan Kelapa. Cetakan ke-VII. PT Penebar
Swadaya. Jakarta.
Pambayun, R. (2002). Teknologi Pengolahan Nata de coco. Penerbit Kanisius.
Yogyakarta.
Prades, A., M. Dornier, N. Diop, and J. P. Pain. (2011). Coconut Water Uses,
Composition and Properties: a Review. Fruits Journal vol. 67, p. 87-107.
Purwanto, Agus. (2012). Produksi Nata Menggunakan Limbah Beberapa Jenis Kulit
Pisang. Widya Warta No. 02 Tahun XXXV I/ Juli 2012 ISSN 0854-1981.
Rahayu, E. S.; R. Indriati; T. Utami; E. Harmayanti & M. N. Cahyanto. (1993). Bahan
Pangan Hasil Fermentasi. UGM. Yogyakarta.
12

13

Rahman, A . (1992). Teknologi Fermentasi. Penerbit Arcan. Jakarta.


Santosa, B.; K. Ahmadi & D. Taeque. (2012). Dextrin Concentration and Carboxy
Methyl Cellulose in Making of Fiber Rich Instant Beverage from Nata de Coco.
IEESE International Journal of Science and Technology (IJSTE), Vol. 1 No. 1,
Mar. 2012, 6 -11. ISSN : 2252 5297.
Seumahu, C. A.; Antonius S.; Debora H.; dan Maggy T. S. (2007). The Dynamics of
Bacterial Communities During Traditional Nata de Coco Fermentation.
Microbiology Indonesia August 2007, p 65-68.

Tahir, I.; Sri S.; and Shinta D. A. (2008). Kajian Penggunaan Limbah Buah Nenas
Lokal (Ananas Comosus, L) Sebagai Bahan Baku Pembuatan Nata. Makalah
Seminar Nasional Kimia XVIII, Jurusan Kimia FMIPA UGM.
Wahyudi.
(2003).
Memproduksi
Nata.
http://ww2.pustaka.ictsleman.net/pertanian/agro_industri_pangan/3_memproduksi_
nata_de_coco.pdf. Diakses 5 Juli 2015.
Wowor, L.Y ; M. Muis; dan A.R. Arinong. (2007). Analisis Usaha Pembuatan Nata De
Coco Dengan Menggunakan Sumber dan Kandungan N Yang berbeda. Jurnal
Agrisistem, Desember 2007, Vol. 3 No. 2.

5. LAMPIRAN

5.1.

Perhitungan

% Lapisan Nata =

Hari ke-7

Hari ke-14

Kelompok D1

Kelompok D1
% Lapisan Nata =

% Lapisan Nata =

= 35 %

= 25 %

Kelompok D2

Kelompok D2
% Lapisan Nata =

% Lapisan Nata =

= 50 %

= 41.67 %

Kelompok D3

Kelompok D3
% Lapisan Nata =

% Lapisan Nata =

= 38.46 %

= 30.77 %

Kelompok D4
% Lapisan Nata =

Kelompok D4
% Lapisan Nata =

= 40 %

= 50 %

Kelompok D5
% Lapisan Nata =

Kelompok D5
% Lapisan Nata =

= 24%

= 24%

5.2.

Abstrak Jurnal dan Bagian Jurnal yang Dipakai

5.3.

Laporan Sementara

5.4.

Viper

14