Anda di halaman 1dari 7

TUGAS KELOMPOK

SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN

Dosen: Bapak Iwan Pudjanegara, S.E., M.M.

Nama Anggota Kelompok:


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Tommy Andrian 11130210009


Joanita Nadia D. 11130210012
Laurentia 11130210019
Fatimah Rahmawati 11130210031
Yoshephine 11130210086
Maria Fandau 11130210105

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MULTIMEDIA NUSANTARA
TANGERANG
2014

TIGHT VS LOOSE CONTROL

A. Tight Control (Pengendalian ketat)


Tight control atau pengendalian ketat didasari oleh prinsip manajemen bahwa manajer
akan bekerja lebih efektif dalam hal hal yang spesifik, misalnya: mencakup tujuan
jangka pendek. Di samping itu, pengendalian ketat merupakan sarana bagi manajer
untuk mengevaluasi kemampuan dirinya untuk mencapai kondisi sesuai yang
diharapkan dan pencegahan tindakan yang tidak diinginkan. Pencapaian dari
pengendalian yang ketat tergantung pada karakteristik dari definisi daerah/ area hasil
yang diinginkan, pengukuran kinerja, dan bagian yang disediakan.
1. Definisi dari hasil yang diinginkan
Dimensi dari hasil haruslah sejalan dengan tujuan organisasi yang sebenarnya,
kinerja target harus spesifik, dengan umpan balik dalam waktu tambahan yang
singkat agar pengendalian manajemen dianggap ketat. Hasil yang diinginkan harus
secara efektif dikomunikasikan dan disosialisasikan kepada orang-orang yang
perilakunya dikendalikan dan jika hasil pengendalian digunakan hanya sematamata dalam daerah kinerja yang diberikan, pengukurannya haruslah lengkap.
a. Kongruen (sejalan/ atau sebangun)
Sistem pengendalian yang ketat mungkin menderita oleh karena masalah
kongruensi baik karena manajer tidak memahami secara baik tujuan organisasi
yang sebenarnya ataupun karena dimensi kinerja yang manajer pilih untuk
mengukur hasilnya tidak merefleksikan tujuan yang sebenarnya juga.
b. Spesifikasi dan Jangka Waktu
Pengendalian yang ketat juga tergantung dari target kinerja yang dideskripsikan
dalam istilah yang spesifik dan dalam jangka waktu yang singkat. Target yang
spesifik tidak bersifat gambaran umum dan dikuantitatifkan seperti $2,21 biaya
tenaga kerja setiap unit produksi, 15% Return on Assets setahun atau kurang
dari 1% keluhan pelanggan.
c. Komunikasi dan Internalisasi
Sangatlah jelas kalau pengendalian yang ketat harus mengkomunikasikan secara
efektif dan menginternalisasi kinerja target kepada orang-orang yang
diperintahkan untuk mencapainya.

d. Kelengkapan
Syarat terakhir dari pengendalian yang ketat adalah kelengkapan. Kelengkapan
di sini berarti bahwa daerah yang diidefinisikan dalam sistem pengendalian
manajemen termasuk daerah yang organisasi inginkan berkinerja bagus dan
untuk pegawai yang terlibat memberikan dampak.
2. Pengukuran Kinerja
Pengendalian yang ketat juga tergantung terhadap keefektifan darri pengukuran
kinerja dibuat. Sebuah sistem pengendalian yang digunakan untuk mengaplikasi
pengendalian ketat membutuhkan semua kualitas pengukuran ini secara mantap.
Jika pengukuran gagal dalam daerah-daerah ini, maka sistem pengendalian tidak
dapat dikarakterisasikan sebagai pengendalian ketat karena mungkin masalah
perilaku.
3. Penghargaan atau Hukuman
Pengendalian mungkin lebih ketat jika penghargaan dan hukuman secara signifikan
melibatkan pegawai secara langsung dan secara tegas menghubungkannya dengan
prestasi atau kegagalan dari hasil yang diinginkan. Sebuah hubungan langsung
berarti bahwa hasil diterjemahkan secara otorisasi menjadi penghargaan atau
hukuman tanpa pandang bulu dan tanpa ambiguitas/ kebimbangan.
Sistem pengendalian ketat memiliki 2 keuntungan dibandingkan sistem pengendalian
longgar, yaitu :
a.

Pengendalian ketat mencegah manajer dari pemborosan dan inefisiensi;

b.

Terus memotivasi manajer untuk mencari jalan terbaik dalam mencapai target
keuntungan.

Pengendalian ketat dapat menghasilkan beberapa disfungsional efek, yaitu:


a.

Manajer lebih terfokus pada tujuan tujuan jangka pendek sehingga mengambil
keputusan yang berbahaya bagi perusahaan di masa datang;

b.

Menekankan profit jangka pendek, sehingga tidak mengambil kesempatan yang


dapat memberi keuntungan di masa datang;

c.

Timbulnya distorsi komunikasi antara manajer unit dan manajer senior jika
anggaran dijadikan satu-satunya tolak ukur;

d.

Pengawasan ketat dapat mendorong manajer memanipulasi data.

Contoh:
Salah satu contoh pengendalian yang ketat melalui anggaran, untuk sewa mobil
dengan total biaya di atas Rp. 1 juta, kelompok harus melampirkan salinan
kontrak dengan pemasok. Sewa mobil diperbolehkan ketika situasi/ kondisi di
lapangan memerlukan itu, seperti di daerah yang sangat sulit. Biasanya sewa
mobil untuk mengangkut pelatih, mengambil makanan dan bahan pelatihan, dll.
Pembatasan fisik dapat mulai dari hal yang mudah seperti mengunci meja kantor
tempat menyimpan dokumen penting dan hanya orang tertentu yang memiliki
otorisasi sampai sistem sidik jari elektronik unutk absensi.

B. Loose Control ( Pengendalian Longgar)


Loose control (pengendalian yang longgar) merupakan suatu gambaran budaya
organisasi yang berorientasi pada sistem pengendalian yang lemah. Budaya organisasi
yang serba longgar berdampak pada ketidakdisiplinan karyawan dan organisasi,
contohnya orang orang yang ada dalam organisasi tidak peduli dengan pengeluaran
biaya, kerja tidak tepat waktu, dan tidak serius, dan tingkat frekuensi bekerja yang
kurang. Tingkat kelonggaran cenderung meningkat pada tingkatan tingkatan yang
lebih tinggi dalam hierarki suatu organisasi. Karakteristik dari loose control adalah
terbatasnya keterlibatan manajemen dalam operasi hari ke hari (day to day) atau
keterbatasan dalam pemantauan dari setiap aktivitas bisnis unit. Dengan pengendalian
yang longgar, anggaran dianggap sebagai alat untuk perencanaan dan komunikasi,
bukan sebagai suatu komitmen yang bersifat mengikat.
Contoh:
Hanya terdapat 1 orang yang menjaga gudang dan mempunyai tugas yang
rangkap seperti penerimaan barang, pengecekan barang, pengeluaran barang , dan
pemesanan barang. Tentu hal ini menandakan pengendalian yang longgar pada
bagian gudang karena petugas gudang tersebut bisa saja melakukan fraud.

Differentiation VS Low Cost Product


A. Differentiation Product
Diferensiasi produk atau pembedaan produk merupakan suatu strategi perusahaan
untuk mempromosikan produk yang diproduksinya agar lebih menarik dibanding
dengan produk perusahaan pesaingnya sehingga pihak konsumen dapat memilih
produk mana yang mereka inginkan.
Contoh:
PT Unilever, mengeluarkan produk hand and body citra yang diproduksi secara
bervariasi, yaitu: citra bengkuang, citra mangir, citra gojiberry, citra teh hijau
jepang, citra bubuk mutiara cina dan yang terbaru saat ini adalah citra beras
jepang.
PT Fumakilla, mengeluarkan produk VAPE anti nyamuk dengan 4 variasinya
yang berbeda, yaitu: anti nyamuk bakar VAPE, VAPE anti nyamuk cair, VAPE
anti nyamuk elektrik, dan VAPE anti nyamuk semprot.
Argos Tech, mengeluarkan produk berbagai macam variasi flashdisk berbentuk
kartun maupun benda tertentu, seperti: bentuk gitar, ice cream, keropi, hot dog,
mickey mouse, tazmania dll.
Aqua, mengeluarkan produk minuman selain air mineral dengan menawarkan
mizone kemasan 500ml yaitu minuman isotonik berbagai macam rasa, seperti:
Lychee Lemon, Orange Lime, Apple Guava, Mangga Kweni, Cocopina, Fres'in
Juicy Strawberry, Fres'in Crispy Apple dan mizone kemasan 1,5lt rasa Lychee
Lemon.
PT Astra Honda Motor mengeluarkan motor matic wanita dengan teknologi
injeksi dan mengeluarkan Honda Vario PGM-FI yang diklaim memiliki
akselerasi yang lebih cepat, hemat bahan bakar, dan ramah lingkungan.

B. Low Cost Product


Low cost product atau produk rendah biaya, strategi ini dilakukan dengan cara
memproduksi barang dengan biaya yang lebih rendah dengan kualitas yang relatif
sama dibandingkan dengan para pesaingnya.
Contoh:

Citilink
Untuk dapat menekan biaya dan bersaing dengan maskapai penerbangan lain, PT
Citilink Indonesia menerapkan strategi berikut : tidak ada pelayanan gratis (untuk
pelayanan seperti asuransi, pembelian tiket, pemilihan tempat duduk, serta fasilitas
bagasi Citilink membebankan biaya tambahan yang bervariasi per penumpang);
jaringan atau rute penerbangan jarak pendek (Citilink memilih rute penerbangan jarak
pendek yang mempunyai durasi penerbangan tidak lebih dari 3 jam agar dapat
menghemat biaya); fasilitas yang standar (salah satu strategi menghemat biaya
operasional penerbangan adalah fasilitas yang sederhana); sistem operasional
sederhana (Citilink berencana akan menggunakan pesawat baling baling atau
propheler dalam menjalankan usahanya, hal ini dilakukan karena Citilink hanya
melayani rute penerbangan jarak pendek); penghematan distribusi dan strategi
promosi (promosi dilakukan dengan penjualan tiket murah yang bisa menarik
perhatian calon penumpang, Citilink juga bekerjasama dengan perbankan dalam
penyediaan layanan tiket agar Citilink tidak perlu mengeluarkan biaya distribusi
penjualan tiket)

Minerva
PT MINERVA MOTOR INDONESIA adalah produsen motor sport, mereka telah
mengeluarkan beberapa seri motor sport seperti Minerva R 150 vx dan Minerva
magelli 250 se. kedua motor sport ini hanya dibandrol masing masing seharga
Rp16.000.000,00 dan Rp30.000.000,00 harga ini jauh lebih murah jika dibandingkan
dengan motor sport lain dikelasnya yang bisa mencapai Rp50.000.000,00 dengan
harga yang murah ini PT MINERVA MOTOR INDONESIA berharap agar mampu
menggaet konsumen kelas menengah. Sehingga konsumen kelas menengah yang
biasanya hanya membeli motor bebek kini bisa memiliki sebuah motor sport dengan
harga yang terjangkau.

Big Cola
Produsen minuman soda Big Cola merupakan salah satu perusahaan yang menerapkan
strategi ini. Meskipun memilih segmen pasar yang sama, Big Cola mampu menjual
minuman soda dengan harga yang lebih murah dibandingkan produsen lain seperti
Pepsi ataupun Coca Cola. Big Cola mampu menjual minuman soda yang lebih murah
karena mereka menggunakan bahan bahan local dan diawal kemunculannya untuk
menghemat biaya pemasaran mereka tidak melakukan pemasaran melalui iklan di
media cetak ataupun elektronik melainkan sengaja membuang botol kemasannya ke
tempat sampah agar produknya dilihat orang.

Nexian
Sampai Maret 2010, ponsel Nexian telah digunakan oleh lebih dari 5.500.000
masyarakat Indonesia. kelengkapan fitur yang ditawarkan oleh nexian, serta
penggunaan sparepart yang cenderung murah, menjadikan merk ini menjadi incaran
masyarakat.

Jam Tangan Swatch


Produsen jam tangan dari Swiss, Swatch mampu mendapatkan sebuah struktur biaya
yang lebih rendah 30 persen dibandingkan perusahaan jam tangan lainnya di dunia.
Pada saat itu, jam kaca kuarsa berpresisi tinggi dan murah (sekitar $75) dari Jepang
dan Hongkong menguasai mayoritas pasar. Swatch memasang harga $40, tingkat
harga di mana orang bisa membeli sejumlah jam Swatch sebagai aksesoris fashion.