Anda di halaman 1dari 27

Home Informasi Menarik mengenai tumbuhan (Interesting Information about plants) Bintaro

(Cerbera manghas) Pohon Penghijauan yang Beracun


Bintaro (Cerbera manghas) Pohon Penghijauan yang Beracun

Bintaro yang ini adalah tumbuhan (pohon) bernama latin Cerbera manghas, bukan nama
sebuah kelurahan di Jakarta Selatan. Tapi mungkin dari nama pohon inilah, nama kelurahan
Bintaro berasal. Yang pasti tumbuhan ini banyak dijumpai di Jakarta sebagai pohon penghijauan.
Bintaro yang banyak digunakan sebagai pohon penghijauan di berbagai tempat di Jakarta,
pada tahun 2009 pernah membuat geger. Pasalnya buah, daun, dan getah pohon ini mengandung
cerberin yang beracun.
Pohon Bintaro sering disebut juga sebagai Mangga Laut, Buta Badak, Babuto, dan Kayu
Gurita. Dalam bahasa Inggris tanaman ini dikenal sebagai Sea Mango Sedangkan dalam bahasa
latin (ilmiah) Bintaro dinamai sebagai Cerbera manghas. Nama Bintaro juga sering disematkan
kepada kerabat dekatnya yang bernama ilmiah Cerbera odollam. Kedua jenis tanaman ini memang
mempunyai kemiripan dalam berbagai hal.
Bintaro umumnya mempunyai tinggi 4-6 meter meskipun terkadang mampu mencapai 12
m. Daunnya berwarna hijau tua mengkilat berbentuk bulat telur. Bunga Bintaro berbau harum,
terdiri atas lima petal dengan mahkota berbentuk terompet yang pangkalnya berwarna merah
muda. Buah bintaro berbentuk bulat telur dengan panjang sekitar 5-10 cm. Ketika masih muda
berwarna hijau pucat dan berubah menjadi merah cerah saat masak.
Tanaman Bintaro tersebar luas di kawasan tropis indo fasifik termasuk Indonesia. Habitat
aslinya adalah daerah pantai dan hutan mangrove (bakau). Namun kini Bintaro banyak ditanam
sebagai pohon penghijauan penyerap karbondioksida (CO2).
Bintaro Beracun Tapi Mengandung Biofuel. Hampir seluruh bagian tanaman Bintaro
mengandung racun cerberin. Cerberin merupakan racun yang dapat menghambat saluran ion
kalsium di dalam otot jantung manusia, sehingga mengganggu detak jantung dan dapat
menyebabkan kematian. Bahkan asap dari pembakaran kayunya pun dapat menyebabkan
keracunan.
Namun di balik racun yang dikandungnya, biji dari pohon ini ternyata dapat diekstrak
menjadi minyak yang dapat digunakan sebagai energi alternatif (biofuel). Fakultas Teknologi
Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil mengembangkan minyak dari biji Bintaro
(Cerbera manghas) menjadi energi alternatif. Minyak hasil ekstrak dari biji Bintaro terbukti dapat
dimanfaatkan sebagai Bahan Bakar Nabati (biofuel).

Meskipun beracun, dengan potensi yang dipunyainya baik sebagai tanaman penghijauan
maupun sebagai penghasil biofuel, sepertinya bukan sikap bijak jika kita harus menjauhi dan
memusnahkan tanaman ini. Toh, di sekitar kita banyak sekali tanaman-tanaman yang
mengandung racun seperti Tuba, Tembakau, Zodia dan lain sebagainya. Di samping racun yang
dikandung tumbuhan beracun tersebut pasti terdapat potensi yang menunggu untuk kita
manfaatkan. Demikian juga Bintaro pohon penghijauan yang beracun ini.
Klasifikasi ilmiah:
Kerajaan
Sub kerajaan
Super Divisi
Divisi

: Plantae;
: Tracheobionta;
: Spermatophyta;
: Magnoliophyta;

Kelas
Sub Kelas

: Magnoliopsida;
: Asteridae;

Ordo
Famili

: Gentianales;
: Apocynaceae;

Genus
Spesies

: Cerbera;
: Cerbera manghas L.

Publish By Admin on Kategory : Informasi Menarik mengenai tumbuhan (Interesting Information


about plants)

http://www.tipswarta.blogspot.com/2011/03/bintaro-cerbera-manghas-pohon.html

Karya penelitian: Adrian Wahyu Dewanto


2010
XI IPA 1 SMA Negeri 8 Tangerang
ABSTRAK

Mencari dan mengolah sumber energi yang ramah lingkungan perlu


adanya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan yang sehat, hijau, asri
dan untuk tidak selalu tegantung pada pasokan bahan bakar minyak fosil.
Tanaman Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) merupakan salah satu
tanaman yang bijinya mengandung kadar lemak/minyak sebesar 46-64%
dan dapat diolah menjadi sumber energi yang ramah lingkungan. Biji
Bintaro yang telah melalui proses pengeringan dan pengepresan akan
diperoleh minyak mentah yang disebut crude cerbera oil (CCO). Ampas
hasil proses pengepresan biji Bintaro dapat dibuat briket bahan bakar dan
dapat dibuat kompos untuk pupuk tanaman, sehingga dalam
pengembangan sumber energi biji Bintaro tidak menghasilkan
sampah (zero waste).Kata kunci: Sikap kepedulian Lingkungan; Tanaman
Bintaro sumber energi ramah lingkungan.1. Pendahuluan

Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP/United Nations Environment


Program) mencanangkan "Deklarasi Kota-kota Hijau" diantaranya; masalah
energi, pengurangan limbah, perencanaan kembali wilayah perkotaan,
pembangunan taman-taman kota, sarana angkutan umum, kesehatan
lingkungan dan sumber-sumber air. Energi dan transportasi mendapat
penekanan pada penggunaan dan pengadaan energi alternatif non fossil
yang bersih dan ramah lingkungan.
Pengembangan energi harus memiliki karakter terbarukan, efisien dan
mencegah terjadinya pencemaran atau kerusakan lingkungan. Eksplorasi
dan eksploitasi terhadap sumber bahan bakar nabati menjadi sebuah
usaha atau cara penghematan energi sekaligus penyelamatan lingkungan
hijau. Memanfaatkan sumber energi nabati terkadang harus berhadapan
dengan sumber bahan pangan. Banyak tumbuhan yang diharapkan dapat
menjadi bahan baku pembuatan BBN ternyata diperlukan untuk bahan
pangan, misalnya jagung, ketela pohon, kelapa sawit dan lain-lain. Dalam
hal seperti ini kemudian muncul kekhawatiran akan kekurangan bahan
pangan jika biofuel akan dikembangkan (food security).Dengan
mewujudkan lingkungan hidup yang sehat, asri, bersih dan hijau, dimana
suasana lingkungan dapat membuat udara segar dan nyaman bagi
penghuninya. Terkait dengan isu pemanasan global, penghijauan
lingkungan dan ketahanan pangan, maka perlu adanya program
intensifikasi dan diversifikasi untuk menemukan jenis-jenis tumbuhan baru
penghasil energi.
Pengamatan atas ketertarikan untuk meneliti tentang tanaman Bintaro
adalah bentuk fisik dari buah dan bunganya yang indah dan hal ini tidak
pernah dimanfaatkan secara maksimal. Pembuktian awal bahwa biji
Bintaro mengandung minyak semakin tampak jelas ketika biji Bintaro
kering disulut api hingga menyala dan biji tersebut tidak segera habis jadi
arang, tetapi dapat mempertahankan nyala api dalam waktu cukup lama.
Hal itu kemungkinan karena ada kandungan minyak di dalam biji buah.
Penelitian tentang manfaat tanaman Bintaro tersebut sejak Januari hingga
April 2009 di beberapa wilayah JABODETABEK.
2. Tinjauan Pustaka.
Biasanya tumbuh di bagian tepi daratan mangrove atau hutan rawa pesisir
atau di pantai hingga jauh ke darat (400 m d.p.l), menyukai tanah pasir,
terbuka terhadap udara serta ditempat-tempat yang tidak teratur tergenang
air pasang surut..
Penyebaran pohon ini hampir di seluruh Indonesia. Tercatat di Bali, Jawa,

Sumatera Barat, Sulawesi Utara, Maluku, Timor, dan Irian Jaya serta
tersebar juga di Papua New Guinea, Kepulauan Bismarck, dan seluruh
Kepulauan Solomon.
Klasifikasi:
Kingdom : Plantae - Plants
Subkingdom : Tracheobionta - Vascular plants
Superdivision : Spermatophyta - Seed plants
Division : Magnoliophyta - Flowering plants
Class : Magnoliopsida - Dicotyledons
Subclass : Asteridae
Order : Gentianales
Family : Apocynaceae - Dogbane family
Genus : Cerbera L.
Species : Cerbera odollam Gaertn.
Diperkirakan ada sekitar 47 species yang telah diketemukan pada genus
ini.
3. Percobaan
Pada penelitian yang sebelumnya telah dilakukan analisa kandungan kimia
dan sifat fisika dari biji Bintaro dengan mengektraksi biji untuk
mendapatkan minyak, sedangkan pada penelitian kali ini, dilakukan juga
percobaan dengan peralatan yang ada di Laboratorium Kimia Analis LIPI,
selain itu juga melakukan aktivitas percobaan pengepresan biji Bintaro di
B2TE - PUSPITEK, LIPI - SERPONG - TANGERANG untuk mendapatkan
minyak Bintaro.
Beberapa peralatan pada penelitian dan percobaan yang digunakan dalam
penelitian itu, yakni; soxhlet, cawan, palu, oven, furnace 550C blender,
kain, gelas ukur 300 ml, peralatan, neraca 3 lengan, , mesin pres, alat
destilasi dan cetakan briket, botol bekas ukuran kecil kecil + tutup yang
terbuat dari logam, ember bekas cat tembok ukuran 20 kg dan pengaduk

kayu.
Sedangkan bahan-bahan yang dipersiapkan diantaranya; biji kering bintaro
+/- 5 kg, sekam padi +/- 10 kg, tepung tapioka/singkong 0.5kg, sampah
sayuran (organik) 5 kg, kotoran kambing 5kg air, pelarut n-heksana. KOH,
alkohol 96 % 250cc.
Dalam proses percobaan kali ini beberapa langkah yang dilakukan Adrian
Wahyu Dewanto, yakni biji Bintaro dikeluarkan dari buahnya dengan
bantuan golok dan palu, kemudian disangrai atau dijemur. Hal itu dapat
juga dilakukan dengan bantuan oven dengan tujuan hanya untuk
menguapkan kandungan air dan menguraikan minyak dalam biji buah
tersebut. Biji yang sudah kering dan masih hangat dicampur dengan sekam
kulit padi kemudian dimasukan kedalam mesin pres.
Tahap pertama proses pengepresan dihasilkan minyak dan ampas yang
masih cukup mengandung minyak maka perlu diulang hingga ampas yang
keluar benar-benar kering. Minyak yang dihasikan ditampung pada tempat
yang bersih dan dapat langsung dipergunakan sebagai bahan bakar tanpa
dicampur lagi dengan BBM, atau juga dapat diproses lebih lanjut seperti
penyaringan untuk membersihkan dan menjernihkan sehingga
mendapatkan metil ester.
Tahap kedua ampas kering ditampung atau dikumpulkan pada ember
untuk dibuat menjadi briket arang atau diolah menjadi kompos untuk pupuk
tanaman sehingga, dalam proses ini tidak menghasilkan sampah (zero
waste).
Minyak biji Bintaro itu bisa memiliki daya bahan bakar selama 11,8 menit,
sedangkan minyak tanah 5,6 menit dengan takaran 1 ml minyak biji Bintaro
dan minyak tanah. Itu menunjukkan bahwa minyak biji Bintaro memiliki
daya bakar dua kali lebih lama dibandingkan minyak tanah.
4. Hasil dan Pembahasan4.1 Ekstraksi Pelarut
Ekstraksi pelarut dilakukan dengan peralatan soxhlet dan sebagai
pelarutnya adalah n-heksana. Prinsip kerja ekstraksi minyak dengan
peralatan soxhlet adalah sebagai berikut: pelarut n-heksana dalam labu
bulat diuapkan dengan heating mantle, dan keluar melalui pipa terluar dari
soxhlet menuju kondensor. Di dalam kondensor akan terjadi pendinginan,
sehingga uap pelarut tersebut berubah menjadi cair kembali dan turun ke
dalam soxhlet untuk mengekstraksi minyak dan senyawa-senyawa non
polar lainnya yang terdapat dalam biji bintaro. Setelah cairan di dalam
soxhlet penuh, maka minyak biji bintaro yang telah terekstraksi beserta

pelarutnya akan turun melalui pipa kecil bagian dalam dari soxhlet menuju
labu bulat, jadi prinsip ekstraksi dengan ekstraksi soxhlet adalah ekstraksi
sinambung, artinya pelarut yang digunakan untuk mengekstraksi selalu
baru atau fresh hasil pengembunan dari uap pelarut. Proses ekstraksi ini
berlangsung terus menerus selama 6-8 jam. Menurut hasil penelitian
yang telah dilakukan sebelumnya, telah ditentukan komposisi asam lemak
penyusun trigliserida yang terkandung pada minyak biji bintaro, yaitu dapat
dilihat pada tabel berikut.
Komposisi asam lemak penyusun trigliserida minyak biji Bintaro
Asam Lemak
Miristat
Palmitat
Stearat
Oleat

Nama Sistematik

Hasil Analisis (%)

Tetradekanoat

0,17

Heksadekanoat

17,90

Oktadekanoat

4,38

cis-9-oktadekenoat

Linoleat

cis-9,12-oktadekadienoat

Linolenat

cis-9,12,15-oktadekatrienoat
Total Asam Lemak

36,64
23,44
2,37
84,90

Keterangan: Ada beberapa asam lemak yang belum dapat diidentifikasi


oleh karena keterbatasan asam lemak standar. Sehingga pada penelitian
kali ini dilakukan kembali penentuan komposisi asam lemak penyusun
trigliserida minyak biji bintaro untuk mendapatkan total asam lemak hingga
100%.
Setelah proses soxhlet tersebut selesai, larutan hasil ekstraksi kemudian
dipindahkan ke dalam gelas kimia, dan ditambahkan sejumlah
Na2SO4 anhidrat. Dalam hal ini, Na2SO4 anhidrat berfungsi sebagai penarik
air yang mungkin masih ada dalam larutan. Larutan tersebut kemudian
disaring dan pelarut yang masih ada diuapkan denganrotatory
evaporator menggunakan penangas air pada suhu 70C. Penggunaan
alat rotatory evaporator dimaksudkan agar pelarut yang digunakan dapat
menguap sebelum titik didihnya, sehingga pemisahan pelarut dari minyak

biji bintaro menjadi lebih cepat dan senyawa organik yang ada tidak rusak,
karena pemanasannya tidak terlalu tinggi. Setelah semua pelarut nheksana diuapkan, maka minyak biji Bintaro yang diperoleh ditimbang,
kemudian dihitung rendemen minyak yang dihasilkan terhadap berat kering
serbuk biji Bintaro.
Tabel 4.1 Rendemen Minyak Biji Bintaro Hasil Ekstraksi
Serbuk Inti Biji Bintaro
(g)
189,94*

Minyak Bintaro
(g)
101,12*

Kandungan (%)
53,24*

276,47

191,33

69,22

36,71

142,19

59,65

Kandungan rata-rata

60,7

*) hasil penelitian sebelumnya


4.2. Pengepresan
Pengepresan mekanis merupakan suatu cara pemisahan minyak dari
bahan yang berupa biji-bijian dan paling sesuai untuk memisahkan minyak
dari bahan yang tinggi kadar minyaknya yaitu sekitar 30-70 persen.
Sebagaimana kita ketahui bersama, minyak biji Bintaro terkandung dalam
bahan berbentuk biji dengan kandungan minyak sekitar 35-45%.
Berdasarkan hal tersebut maka metoda ekstraksi yang paling sesuai untuk
biji Bintaro yaitu teknik pengepresan mekanis. Dua cara yang umum
digunakan pada pengepresan mekanis biji Bintaro yaitu pengepresan
hidrolik (hydraulic pressing) dan pengepresan berulir (expeller pressing).
Pengepresan hidrolik adalah pengepresan dengan menggunakan tekanan.
Tekanan yang dapat digunakan sekitar 140,6 kg/cm. Besarnya tekanan
yang digunakan akan mempengaruhi sedikit-banyaknya minyak Bintaro
yang dihasilkan. Untuk teknik pengepresan hidrolik, sebelum dilakukan
pengepresan, biji Bintaro perlu mendapat perlakuan pendahuluan berupa
dipanaskan/dioven dan dicampur dengan sekam kulit padi. Biji Bintaro
dipanaskan bertujuan untuk menggumpalkan atau menguraikan
kandungan protein dan lemak/minyaknya.

Dengan pengepresan hidrolik dapat dihasilkan rendemen minyak sampai


dengan 30 persen. Dengan cara ini biji Bintaro dipress menggunakan
pengepresan berulir (screw) yang berjalan secara kontinyu. Tipe alat
pengepres berulir yang digunakan dapat berupa pengepres berulir tunggal
(single screw press) atau pengepres berulir ganda (twin screw press).
Rendemen minyak Bintaro yang dihasilkan dengan teknik pengepres
berulir tunggal (single screw press) sekitar 25 - 35%, sedangkan dengan
teknik pengepres berulir ganda (twin screw press) dihasilkan rendemen
minyak sekitar 40 - 45 persen.
4.3. Pemurnian Minyak
Tujuan pemurnian adalah untuk menghilangkan komponen-komponen
yang tidak diinginkan, seperti bau yang kurang sedap, warna yang kurang
menarik serta rasa yang tidak enak. Lemak atau minyak kasar yang
dihasilkan dari proses ekstraksi tersebut masih mengandung kotorankotoran yang bukan golongan trigliserida. Dalam proses pemurnian minyak
nabati terdapat dua tahap penting, yakni tahap netralisasi (penetralan) dan
tahap bleaching (pemucatan warna). Tahap netralisasi (penetralan) adalah
proses untuk memisahkan senyawa-senyawa terlarut seperti asam lemak
bebas, fosfatida dan beberapa pigmen (bahan berwarna). Minyak dengan
kandungan asam lemak bebas tinggi, biasanya dipisahkan dengan
menggunakan uap panas dalam keadaan vakum, kemudian ditambahkan
alkali. Sedangkan minyak dengan asam lemak bebas rendah, cukup
ditambahkan larutan NaOH, garam Na2CO3 atau larutan KOH sehingga
asam lemak ikut fase air dan terpisah dari minyaknya. Berdasarkan data
sifat-fisiko kimianya, yaitu dengan membandingkan nilai angka asam
(jumlah asam lemak bebas) terhadap angka penyabunannya (jumlah total
asam lemak), diperoleh kandungan asam lemak bebas dari minyak biji
bintaro kurang dari 2%, yang berarti nilai ini cukup rendah. Sehingga
proses netralisasi (penetralan) cukup dengan menambahkan larutan alkali,
dalam hal ini digunakan larutan KOH. Sampel minyak yang akan
dinetralisasi, dilarutkan terlebih dahulu dengan etanol 96% dan selanjutnya
ditambahkan KOH sesuai dengan bilangan asamnya, dengan tujuan untuk
menetralkan asam-asam lemak bebas yang terdapat pada minyak biji
Bintaro. Penambahan etanol 96% selain berfungsi untuk melarutkan
minyak, juga dapat melarutkan sabun yang terbentuk dari hasil reaksi
antara asam-asam lemak bebas minyak biji Bintaro dengan larutan KOH.
Untuk mempercepat dan menyempurnakan reaksi, campuran tersebut

dipanaskan sambil diaduk dengan magnetic stirrer pada suhu 64oC.


Selanjutnya campuran tersebut dimasukkan ke dalam corong pisah dan
ditambahkan sejumlah n-heksana untuk menarik lapisan minyak (fasa
organik) dari fasa airnya (sabun yang terlarut dalam alkohol). Kemudian
lapisan atas (lapisan minyak/fasa organik) diambil dan dipindahkan ke
dalam beaker untuk dilakukan tahap bleaching(pemucatan warna).
Pada tahap bleaching (pemucatan warna), lapisan minyak (fasa organik)
ditambahkan sejumlah kecil adsorben seperti bleaching earth (tanah
pemucat) dan karbon aktif. Zat warna dalam minyak akan diserap oleh
permukaan adsorben dan juga akan menyerap suspensi koloid (gum dan
resin) serta hasil degradasi minyak misalnya peroksida. Adsorben yang
digunakan adalah campuran bentonit 2% dan karbon aktif 0,2%.
Penambahan bentonit dan karbon aktif sebagai adsorben warna sangat
efektif untuk memucatkan dan menghilangkan beberapa zat warna yang
terdapat dalam minyak. Lapisan minyak dalam n-heksana (fasa organik)
yang telah ditambahkan campuran bentonit dan karbon aktif ini, kemudian
disaring beberapa kali sampai tidak ada lagi warna hitam pada kertas
saring dan pelarut n-heksana diuapkan dengan menggunakan alat rotatory
evaporator. Terlihat jelas bahwa terjadi perubahan warna dari minyak biji
Bintaro yang sebelum pemurnian berwarna coklat menjadi berwarna
kuning setelah dilakukan pemurnian.
5. Kesimpulan dan saran
Penelitian tentang biodiesel yang terus berkembang saat ini, diharapkan
dapat menemukan sumber-sumber bahan baku yang berasal dari minyak
atau lemak tanaman non pangan. Karena pada penelitian yang
sebelumnya telah dilakukan percobaan pembuatan biodiesel (metil
ester) dari minyak biji Bintaro. Minyak biji Bintaro tersebut diekstrak dengan
menggunakan peralatan soxhlet dengan pelarut n-heksana selama 6-8
jam. Minyak yang dapat diekstrak dari biji Bintaro adalah sekitar 60,70%
dari berat serbuk kering. Komposisi asam lemak penyusun trigliserida
minyak biji bintaro terdiri dari; asam palmitat (4,91%), asam palmitoleat
(17,7%), asam stearat (3,21%), asam oleat (34,02%), asam elaidat
(8,54%), asam linoleat (16,74%), asam linolelaidat (4,49%), dan asam
linolenat (0,40%). Serangkaian optimasi kondisi reaksi telah dilakukan
untuk memperoleh konversi metil ester yang optimal, dan diperoleh kondisi
optimum pada perbandingan mol minyak dan metanol (1:9), dengan katalis

KOH 0,5% berat, dan waktu reaksi 40 menit. Selanjutnya, kondisi optimum
ini digunakan untuk sintesis biodiesel minyak biji Bintaro yang akan diuji
karakteristiknya. Metil ester (biodiesel) yang diperoleh sebesar 91,32%
terhadap berat minyak. Hasil pengujian beberapa karakteristik biodiesel
dari minyak biji Bintaro memenuhi standar internasional untuk minyak
solar, dan termasuk klasifikasi bahan bakar minyak diesel.
Pada penelian yang dilakukan saat ini minyak mentah dihasilkan dengan
cara pengepresan dan memanfaatkan ampasnya untuk dibuat briket dan
kompos, sehingga pada proses produksi ini tidak ada sampah yang dapat
mencemarkan lingkungan. Minyak mentah yang dihasilkan dari mesin pres
dapat langsung atau dicampur dengan minyak tanah untuk dipergunakan
sebagai bahan bakar. Briket yang sudah kering juga dapat langsung
dipergunakan sebagai bahan bakar pengganti batu bara. Kompos yang
dihasilkan dari proses pengomposan dari bahan dasar ampas proses
pengerpresan dapat diperguna sebagai pupuk tanaman baik itu tanaman
pertanian maupun tanaman hias sehingga pH tanah terjaga dan lingkungan
akan selalu terlihat hijau, asri dan teduh. Pada perkembangan penelitian
kelak insyaallah akan diadakan penelitian dengan mengembangkan
produksi minyak mentah biji Bintaro, uji kelayakan (kalor/panas) dari
minyak dan briket berbahan dasar biji Bintaro.
5.1. Kesimpulan1. Bintaro adalah tanaman yang cocok untuk tanaman
penghijauan dan tanaman hias baik diperkotaan maupun dilingkungan
perumahan penduduk, selain relatif mudah ditanam dan mempunyai
toleransi terhadap berbagai jenis tanah dan iklim, berakar kuat dan
berdaun lebat serta ketika berbuah tanpa mengenal musim.
2. Pohon Bintaro mengandung racun (cerberin) yang berbahaya bagi
manusia jika memakannya secara langsung, tetapi bisa juga bermanfaat
sebagai obat dan pembasmi serangga penggangu seperti rayap.
3. Hasil penelitian biji Bintaro layak diolah menjadi biofuel, yaitu bahan
bakar pengganti bahan bakar yang diolah dari fosil (BBM).
4. Ampas sisa pemerasan minyak biji Bitaro dapat dimanfaatkan sebagai
arang briket atau dibuat kompos, hal ini menjadikan pengolahan produksi
menuju zero waste (tak ada sampah yang tersisa/terbuang).

5. Dengan memanfaat biji Bintaro sebagai sumber energi terbarukan, maka


menjamin tersedianya bahan pangan (food security) dan membuka
lapangan kerja baru sehingga dapat mengurangi angka kemiskinan dan
kelaparan.

5.2. Saran
1. Pengetahuan dan teknologi tanaman Bintaro sebagai tanaman sumber
energi hijau perlu kiranya adanya sosialisasi dan budidaya tanaman
Bintaro agar pengembangan lebih efisien, efektif dan tepat.
2. Kemandirian dibidang energi hanya mungkin apabila kita melepaskan
ketergantungan pada minyak yang berasal dari fosil, pemakaian energi
harus disesuaikan dengan kebutuhan (hemat) dan yang paling penting
pengkajian tentang pengetahuan sumber-sumber energi yang baru dan
ramah lingkungan harus terus dilakukan, maka harapan penulis temanteman pelajar sejak dini sudah belajar tentang program intensifikasi,
diversifikasi dan konservasi tanaman sebagai sumber energi.
http://m.kompasiana.com/post/read/492483/1/biji-buah-bintaro-sebagai-bahan-bakaralternatif.html

Bintaro Merah

Bintaro adalah tumbuhan mangrove, yang banyak tumbuh di daerah rawa pinggir
pantai dan tepi sungai. Penyebarannya melalui biji yang jatuh ke air, mengapung,
menepi dan kemudian tumbuh di tepi sungai. Biji itu kecil sekali, sampai bisa
melayang ke tempat yang jauh. Tanaman ini diketahui juga tersebar luas, mulai dari
daerah Polinesia, Hongkong, Malaysia, sampai ke India. Karena langka, harganya
juga tak murah. Bintaro merah setinggi 2,5 meter bisa mencapai Rp 130 ribu.
http://www.enciety.co/ini-tanaman-yang-rusak-gara-gara-walls-day-di-surabaya/

Pembuatan dan Uji Karakteristik Papan Partikel


Dari Serat Buah Bintaro (Cerbera manghas)
Buah bintaro merupakan buah drupa (buah biji) terdiri dari tiga
lapisan yaitu epikarp atau eksokarp (kulit bagian terluar buah),
mesokarp (lapisan tengah), dan endokarp (biji yang dilapisi kulit
biji atau testa). Secara fisik buah bintaro berserat serabut seperti
kelapa. Selama ini buah bintaro belum banyak dimanfaatkan
sehingga nilai ekonomisnya masih rendah. Serat pada buah
bintaro dibentuk dari selulosa (Iman, 2011). Serat Buah Bintaro
merupakan salah satu bahan baku berlignoselulosa bukan kayu
yang memiliki kandungan holoselulosa sebesar 65,47%; selulosa sebesar 56,76%; lignin sebesar 28,30%; dan ekstraktif
sebesar 7,55%. Adanya kandungan lignoselulosa pada serat
buah bintaro berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku

pembuatan papan partikel. Penelitian ini bertujuan untuk


mengetahui sifat fisis dan mekanis papan partikel serat buah
bintaro dan pengaruh perlakuan variasi kadar perekat terhadap
kualitas papan partikel. Dengan demikian, buah bintaro yang
selama ini belum banyak dimanfaatkan memerlukan usaha
pemanfaatan, agar menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi
bagi masyarakat. Jenis perekat yang digunakan adalah perekat
fenol formaldehida (10% dan 12%) dengan kerapatan target 0,7
g/cm3. Untuk mengetahui kelayakan papan partikel berbahan
baku serat buah bintaro, dilakukan pengujianpengujian sesuai
standar JIS A 5908: 2003. Parameter yang diuji yaitu sifat fisis
dan sifat mekanis. Sifat fisis terdiri dari kerapatan, kadar air, dan
pengembangan tebal. Sedangkan, sifat mekanis yang diuji terdiri
dari modulus elastisitas (MOE), modulus patah (MOR), kekuatan
rekat internal (IB), dan kuat pegang sekrup. Nilai daya serap air
yang tidak dipersyaratkan dalam standar JIS A 5908:2003,namun
tetap diuji, karena berhubungan erat dengan stabilitas dimensi
papan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat fisis papan
partikel serat buah bintaro memenuhi standar JIS A 5908: 2003.
Kerapatan papan partikel yang dihasilkan berkisar 0,66 0,77
g/cm3, memenuhi rentang kerapatan yang dipersyaratkan JIS
A5908 : 2003 sebesar 0,40 0,90 g/cm3. Nilai rata-rata kadar air
papan partikel berkisar antara 9,44 9,72%, memenuhi standar
JIS A 5908 : 2003 yang mensyaratkan kadar air papan partikel
berkisar antara 5 13%. Daya serap air papan partikel selama 2
jam yang dihasilkan papan partikel dengan kadar perekat 10%
mencapai 48,53%, sedangkan pada kadar perekat 12%, daya
serap air mencapai 43,58%. Nilai rata-rata daya serap air
setelah perendaman 24 jam adalah 70,51% untuk kadar perekat
10%, dan 66,64% untuk kadar perekat 12%. Nilai rata-rata
pengembangan tebal selama 2 jam yang rendah dihasilkan pada
kadar perekat 10% sebesar 9,39%, dan 9,58% pada papan
partikel dengan kadar perekat 12%. Nilai rata-rata
pengembangan tebal setelah perendaman dalam air selama 24
jam menghasilkan pengembangan tebal sebesar 22,28% untuk
papan partikel dengan kadar perekat 10%, dan 16,89% untuk
papan partikel dengan kadar perekat 12%, sedangkan standar
JIS A-5908:2003 mensyaratkan nilai pengembangan tebal
maksimal 12%. Penggunaan perekat fenol formaldehida mampu

meningkatkan stabilitas dimensi papan.Hasil penelitian ini juga


menunjukkan bahwa modulus elastisitas (MOE), yang termasuk
sifat mekanis papan partikel serat buah bintaro belum memenuhi
standar JIS A 5908: 2003. Nilai rata-rata modulus elastisitas
(MOE) papan partikel serat buah bintaro tertinggi dihasilkan oleh
perlakuan kadar perekat 12%, yaitu sebesar 13959 kg/cm 2 .
Nilai MOE tersebut belum memenuhi standar JIS A 5908: 2003
yang mensyaratkan nilai MOE minimal 20400 kg/cm 2.
sumber:http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/12345678
9/58205/Abstract.pdf?sequence=1

Biji Bintaro Jadi Pengganti Minyak Tanah


Tanaman Bintaro tumbuh luas di Riau, namun kurang dimanfaatkan.
ddd

Selasa, 28 Desember 2010, 21:16Arfi Bambani Amri

Pembangkit listrik dari energi terbarukan panas bumi(Dok. NREL)

Follow us on

VIVAnews - Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil
mengembangkan minyak dari biji Bintaro sebagai energi alternatif bagi warga Kecamatan Teluk Meranti,
Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.

Penelitian minyak Biji Bintaro sebagai energi alternatif ini adalah hasil kerja sama dengan PT Riau
Andalan Pulp and Paper (RAPP) sebagai upaya pemanfaatan sumber daya lokal, dan juga upaya
pemberdayaan masyarakat di mana perusahaan ini beroperasi.
Sosialisasi pembuatan dan pemanfaatan minyak biji Bintaro ini dipresentasikan oleh Tim Peneliti dari
Fateta IPB di hadapan pemerintah daerah dan masyarakat Teluk Meranti pada 28 Desember 2010.
Pengembangan minyak biji Bintaro menjadi energi alternatif ini diawali karena mahalnya harga minyak
tanah di Teluk Meranti. Akibatnya, warga Teluk Meranti harus menggunakan kayu sebagai bahan bakar.
Direktur Utama RAPP, Kusnan Rahmin kepada VIVAnews mengatakan, dengan temuan ini diharapkan
warga Teluk Meranti dapat menggunakan minyak biji Bintaro sebagai energi alternatif untuk kebutuhan
rumah tangga mereka.
Hasil penelitian dari IPB ini diharapkan bisa memberikan solusi bagi warga Teluk Meranti memenuhi
kebutuhan energi rumah tangga, sekaligus bermanfaat secara ekonomi dan juga bagi kelestarian hutan di
wilayah Semenanjung Kampar, ujar Kusnan, Selasa 28 Desember 2010.
Pengembangan Biji Bintaro menjadi energi alternatif adalah hasil riset IPB selama empat bulan dengan uji
coba antara lain, pembuatan minyak Bintaro skala laboratorium, analisa karakteristik sifat fisiko kimia,
senyawa toksik, rancang bangun proses pengolahan minyak Bintaro skala kecil, dan uji coba pengolahan
biji Bintaro untuk dijadikan minyak nabati skala kecil bagi kelompok masyarakat.
Kerjasama kami dengan IPB ini adalah langkah awal pengembangan Biji Bintaro sebagai energi
alternatif, ujar Kusnan lebih lanjut.
Tanaman Bintaro (cerbera manghas) banyak tumbuh secara alami di Teluk Meranti. Namun, masyarakat
setempat belum memanfaatkannya secara optimal kecuali untuk racun hama babi di ladang.
Dalam kegiatan ini, kajian biji dari buah Bintaro diekstrak minyaknya dan selanjutnya dapat dimanfaatkan
sebagai sumber Bahan Bakar Nabati (BBN) bagi masyarakat Teluk Meranti.
Ketua Tim Peneliti Pengembangan Minyak nabati dari Biji Bintaro dari Fakultas Teknologi Pertanian IPB,
Aris Purwanto, mengatakan pohon Bintaro dipilih karena pohon ini menghasilkan buah sepanjang tahun,
bijinya berpotensi diambil minyaknya sebagai salah satu sumber energi alternatif bagi rumah tangga.
Selain bijinya, kulit buah bintaro yang berserat bisa dijadikan bahan baku papan partikel, atau bahan bakar
baik langsung, atau diubah menjadi briket untuk bahan bakar tungku.
"Keberadaan pohon Bintaro sangat banyak di wilayah ini. Secara khusus tidak membutuhkan pemeliharaan
sedangkan pemanfaatannya bukan melalui penebangan sehingga dapat sekaligus menjadi program
penghijauan di wilayah Teluk Meranti, kata Aris.
Ia juga menambahkan program ini adalah salah satu bentuk dukungan pemerintah dalam mengembangkan

Desa Mandiri Energi. Dengan adanya penelitian ini, maka masyarakat sekitar memiliki alternatif sumber
energi secara mandiri yang bersifat terbarukan dengan bahan bakunya ada di wilayah ini juga, ujar Aris.

http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/196282-biji-bintaro-jadi-pengganti-minyak-tanah

POTENSI MINYAK BIJI BUAH BINTARO ( Cerbera manghas L. )


SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF PENGHASIL BIODIESEL
ARNI PURWANINGTYAS ( 4401412123 )
Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Negeri Semarang
Email : arnipurwaningtyas@gmail.com
ABSTRAK
Biodiesel adalah bahan bakar yang terbuat dari bahan yang bersifat dapat
diperbarui seperti tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewanan. Tanaman Bintaro ( Cerbera
manghas L. ) atau biasa disebutMangga Laut, Buta Badak, Babuto, dan Kayu Gurita,
sedangkan dalam bahasa Inggris Sea mango, Pong-pong tree, Indian suicide tree,
Othalanga, Odollam tree, pink-eyed cerbera Dog bane,merupakan salah satu tanaman yang
bijinya mengandung kadar lemak/minyak sebesar 46-64% dan dapat diolah menjadi sumber
energi yang ramah lingkungan. Seluruh bagian tanaman bintaro mengandung racun
cerberin yang dapat menghambat saluran ion kalsium di dalam otot jantung manusia,
sehingga dapat mengganggu detak jantung dan dapat menyebabkan kematian, asap dari
pembakaran kayunya juga dapat menyebabkan keracunan. Penelitian tentang biodiesel yang
terus berkembang saat ini diharapkan dapat menemukan sumber-sumber bahan baku yang
berasal dari minyak atau lemak tanaman non pangan. Pembuatan biodiesel (metil ester) dari
minyak biji bintaro diekstrak dengan menggunakan peralatan soxhlet dengan pelarut nheksana selama 6-8 jam. Minyak yang dapat diekstrak dari biji bintaro adalah sekitar
60,70% dari berat serbuk kering. Komposisi asam lemak penyusun trigliserida minyak biji
bintaro terdiri dari asam lemak palmitat 4,91%, asam palmitoleat 17,7%, asam stearate
3,21%, asam oleat 34,02%, asam elaidat 8,54%, asamlinoleat 16,74%. Asam linolelaidat
4,49%, dan asam linoleat 0,40%. Mencari dan mengolah sumber energi yang ramah
lingkungan perlu adanya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan yang sehat, hijau, asri
dan untuk tidak selalu tegantung pada pasokan bahan bakar minyak fosil.
Kata Kunci : Biodiesel, Minyak biji buah Bintaro ( Cerbera manghas L. ), dan
Transesterifikasi, Racun Cerberin.

PENDAHULUAN
Bahan bakar minyak bumi diperkirakan akan habis jika dieksploitasi secara besarbesaran. Ketergantungan terhadap bahan bakar minyak bumi dapat dikurangi dengan cara
memanfaatkan bahan bakar biodiesel, dimana bahan bakunya masih sangat besar untuk
dikembangkan (Darmanto, Ireng, 2006). Tanaman bintaro banyak tumbuh di tepi pantai,
daerah payau dan cukup popular sebagai tanaman penghijauan kota dan daunnya yang
rimbun sangat cocok untuk peneduh, sekaligus sebagai penghias taman kota dan belum
banyak di manfaatkan sehingga nilai ekonomisnya masih rendah. Termasuk tumbuhan
mangrove, biasanya tumbuh di bagian tepi daratan atau hutan rawa pesisir atau di pantai
hingga jauh ke darat 800 meter di atas permukaan laut, menyebar di daratan terbuka dan

tempat yang tidak teratur tergenang air pasang surut (Purwanto et. al. 2011) yang berasal
dari daerah tropis di Asia, Australia, Madagaskar, dan kepulauan sebelah barat Samudera
Pasifik.
Indonesia adalah Negara beriklim tropis yang memiliki karakteristik sepanjang tahun
mendapat sinar matahari dan memiliki curah hujan yang tinggi. Dengan potensi ini Indonesia
dapat mengembangkan produksi biodiesel sepanjang tahun untuk mengatasi masalah krisis
energi, sebab sinar matahari merupakan sumber kehidupan tumbuhan penghasil minyak
biodiesel. Dengan peningkatan produksi minyak biodiesel ini maka diharapkan dapat
mengurangi angka impor minyak dan memenuhi kebutuhan minyak domestik yang
mengalami peningkatan setiap tahunnya. Indonesia adalah Negara kaya dengan sumber daya
alam yang dapat diperbarui, sehingga banyak pula bahan baku yang dapat digunakan untuk
memproduksi biodiesel. Banyaknya bahan baku penghasil minyak biodiesel dapat menjadi
keunggulan Indonesia untuk melakukan pengembangan produksi minyak biodiesel. Bahan
baku yang dijadikan sebagai suplemen ataupun pengganti minyak bumi tentu harus memiliki
nilai potensi yang tinggi.
Untuk itu, penelitian tentang analisa potensi bahan baku biodiesel sebagai suplemen
bahan bakar motor diesel di Indonesia sangat diperlukan untuk dapat memberikan pilihan
bahan bakar biodiesel yang cocok digunakan sebagai suplemen maupun pengganti bahan
bakar motor diesel, sehingga krisis energi bahan bakar minyak bumi dapat teratasi. Selain
krisis energi, dengan adanya perindustrian produksi minyak biodiesel, diharapkan dapat
mengurangi tingkat pengangguran, kemiskinan, dan meningkatkan ketahanan energi di
Indonesia.
Buah bintaro masih belum dimanfaatkan, dibiarkan jatuh berserakan di bawah pohon sebagai
sampah. Selain dari mengatasi kelangkaan energi dan sumber pendapatan, pengembangan
bintaro memberikan manfaat lingkungan dalam penyerapan emisi karbon dioksida dan
mencegah emisi dari lahan gambut. Bintaro tumbuh bebas di lahan-lahan di kawasan hutan
tanpa dipelihara, bila diusahakan sebagai tanaman komersial dapat menghasilkan sekitar 2,2
ton minyak mentah atau sebesar 1,8 ton biodiesel atau senilai sekitar 10 juta rupiah per tahun.
Biodiesel adalah suatu ester monoalkali dari asam lemak rantai panjang yang berasal
dari minyak tumbuhan dan lemak hewan, yang dapat digunakan sebagai bahan bakar pada
mesin diesel. Kandungan utama dari biodiesel ini adalah metil ester asam lemak yang
dihasilkan dari trigliserida dalam minyak tumbuhan atau lemak hewan, melalui reaksi
transesterifikasi dengan methanol dan bantuan katalis. Hasilnya adalah suatu bahan bakar
yang tidak berbeda karakteristiknya dengan bahan bakar diesel konvensional. Biodiesel dapat
digunakan langsung dalam mesin diesel atau dipakai untuk campuran bahan bakar diesel.
Cadangan dan produksi bahan bakar minyak bumi (fosil) di Indonesia mengalami
penurunan 10% setiap tahunnya, sedangkan tingkat konsumsi minyak rata-rata naik 6% per
tahun. Permasalahan yang terjadi di Indonesia saat ini yaitu produksi bahan bakar minyak
bumi tidak dapat mengimbangi besarnya konsumsi bahan bakar minyak, sehingga Indonesia
melakukan impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi bahan bakar minyak setiap
harinya. Hal ini dikarenakan tidak adanya perkembangan produksi pada kilang minyak dan
tidak ditemukannya sumur minyak baru. Sebagai solusi permasalahannya adalah
diperlukannya diversifikasi energi selain minyak bumi. Salah satu diversifikasi energinya
adalah dengan memproduksi minyak biodiesel. Minyak biodiesel merupakan bahan bakar
alternatif yang terbuat dari sumber daya alam yang dapat diperbarui, meliputi minyak
tumbuhan dan hewan, baik di darat maupun di laut. Minyak yang diperoleh dari biji buah

bintaro beracun dan cukup banyak , dengan kadar berkisar 54,33% dan berpotensi sebagai
bahan baku biodiesel melalui proses hidrolisis ekstraksi, dan destilasi. Tumbuhan bintaro
mempunyai daya guna yang banyak, antara lain bagian akar, kulit, getah, dan daunnya dapat
berguna sebagai obat pencahar, kayunya berguna untuk menghasilkan minyak yang dapat
digunakan sebagai minyak lampu, obat kudis, obat sendi, dll. Kandungan minyak biji bintaro
yang cukup besar ini sangat mungkin dapat dimanfaatkan untuk kepentingan lain yang lebih
bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Beberapa masalah yang kita bahas dalam artikel penelitian ini adalah (1) kondisi
kekinian atau permasalahan mengenai tanaman biji buah bintaro ( Cerbera manghas L.), (2)
metode dan cara pengelolaan biji buah bintaro sebagai energi alternatif penghasil biodiesel
(3) pembudidayaan biji buah bintaro ( Cerbera manghas L.).
Dari rumusan masalah tersebut dapat dituliskan tujuan dari pembuatan artikel ilmiah
ini, antara lain adalah (1) mengetahui kondisi kekinian atau permasalahan mengenai tanaman
biji buah bintaro ( Cerbera manghas L.), (2) mengerti tentang metode dan cara pengelolaan
biji buah bintaro sebagai energi alternatif penghasil biodiesel, (3) mengetahui upaya
pembudidayaan dan manfaat biji buah bintaro ( Cerbera manghas L.) di kalangan seluruh
masyarakat Indonesia.
Manfaat yang didapat dari pembuatan artikel ilmiah ini adalah mahasiswa jadi lebih
mengerti dan diharapkan dapat mempraktikan cara pengelolaan tanaman biji buah Bintaro (
Cerbera manghas L.) yang berancun. Diharapkan mahasiswa juga dapat memberikan
wawasan yang lebih luas kepada masyarakat tentang budidaya tanaman biji buah Bintaro
yang memiliki manfaat tinggi dan tepat dalam pengelolaan tanaman dan hasilnya.
GAMBARAN KHUSUS
Pemanfaatan biodiesel dari tanaman Bintaro berasal dari bijinya yang diambil dari
buah yang sudah mengering atau yang jatuh ke tanah. Tumbuhan bintaro mempunyai ciri-ciri
berupa biji banyak, memiliki ketinggian mencapai 4-6 meter dengan batang tegak berkayu
banyak percabangan, bentuk bulat, dan berbintil-bintil hitam, kulit batangnya tebal dan
berkerak. Daun bintaro merupakan daun tunggal dan berbentuk lonjong memanjang, simetris
dan menumpul pada bagian ujung dengan ukuran bervariasi, tersusun secara spiral, dan
terkadang berkumpul pada ujung roset, tepi daun rata, pertulangan daun meyirip, permukaan
licin, dengan ukuran panjang 15-20 cm, lebar 3-5 cm, dan berwarna hijau tua. Daun bintaro
biasanya berjejalan di ujung cabang, dan bunganya berwarna putih , berbau harum, dan
terletak di ujung batang. Bunga tanaman ini berbentuk terompet, terdapat pada ujung pedikel
samosa dengan lima petal yang sama (pentamery) dengan korola berbentuk tabung,
merupakan bunga majemuk berkelamin dua (hermaprodit), dengan panjang tangkai putik 22,5 cm, kepala sari bagian bunga berwarna coklat, sedangkan kepala putiknya hijau keputihputihan. Buah bintaro merupakan buah drupa (berbiji) dengan serat lignoselulosa yang
menyerupai buah kelapa dan berbentuk oval mirip dengan buah manga, berwarna hijau pucat
saat masih muda, berwarna merah bila sudah masak, dan berwarna kehitaman setelah tua,
namun daging buahnya berserat dan tidak dapat dimakan karena beracun. Biji bintaro
berbentuk pipih, panjang, berakar tunggang, dan berwarna cokelat. Seluruh bagian tanaman
bintaro mengandung getah berwarna putih seperti susu.
Hampir seluruh bagian tanaman Bintaro mengandung racun cerberin, namun memiliki
banyak potensi, baik sebagai tanaman penghijauan maupun sebagai penghasil

biofuel. Apabila dikonsumsi, biji tumbuhan bintaro dapat menyebabkan muntah, mengantuk,
denyutan nadi menjadi lemah, tekanan darah rendah, keletihan, sakit perut, degup jantung
yang tidak normal, dan anak mata mengembarn. Daun tumbuhan ini juga dapat memberi
pengaruh pada system saraf pusat. Inti biji bintaro yang masak dan segar mengandung
cerberin 0,6% setiap 1% dari komponen yang ada pada biji tersebut dan zat pahit yang
beracun. Berikut klasifikasi dari tanaman buah Bintaro :
Kingdom
: Plantae
Divisio
: Spermatophyta
Sub Divisio
: Angiospermae
Classes
: Dicotyledonae
Ordo
: Gentianales
Familia
: Apocynaceae
Genus
: Cerbera
Species
: Cerbera manghas L

Gambar 1: Tumbuhan dan Buah Bintaro


Proses transesterifikasi adalah proses mereaksikan minyak nabati maupun hewani dengan alkohol/
metanol(dengan katalis berupa hidroksida kuat seperti NaOH/KOH. Penggunaan KOH sebagai katalis yaitu
lebih mudah digunakan, waktu yang perlukan 1,4 kali lebih cepat dibandingkan dengan penggunaan NaOH, dan
dapat menghasilkan pupuk potas. Proses ini menghasilkan dua produk yang meliputi metil ester dan gliserol
(Syamsudin.2010). Metil ester inilah yang biasa disebut dengan biodiesel. Biodiesel ini juga disebut
sebagai FAME ( Fatty Acid Methyl Ester).

Untuk menekan pertumbuhan konsumsi BBM domestic, salah satu cara yang bias
ditempuh adalah dengan membuat regulasi tentang penghematan energy nasional dan
pengembangan energy alternative. Di Indonesia sumber utama energy di dalam negeri masih
bertumbu kepada jenis bahan bakar fosil, padahal banyak sumber energy alternative yang
dapat dimanfaatkan bahkan bias mampu menggantikan peran energy fosil tersebut. Salah satu
bahan bakar alternative yang berpotensi untuk mengatasi permasalahan bahan bakar di
Indonesia adalah biodiesel. Biodiesel berkembang karena adanya potensi besar terhadap

penerapannya dalam bidang industri, selain lebih efisien, mudah didapatkan, biodiesel ini
juga dianggap ramah lingkungan. Banyak riset menunjukkan, bahwa bahan bakar biodiesel
ini dapat menurunkan tingkat polusi akibat logam berat, asap, gas-gas beracun, dan juga
pencemaran air. Bahkan dengan penggunaan biodiesel ini, efek rumah kaca (pemanasan
global) akibat emisi gas CO2 dapat ditekan seminimal mungkin. Hal ini dikarenakan oleh
sifat biodiesel yang merupakan bahan bakar yang dapat diperbarui dan mudah terdegradasi
oleh alam.

Dikupas dari
buahnya

Dibuka daricangkangnya

Dikeringkan sinar matahari


4-5 hari atau dipanaskan di
dalam oven 2-3 hari (sampai berat konstan)

Digiling (diblender) sampai halus

Diekstraksi dengan n-heksana pada suhu 70-80 C selama 8 jam


di dalam soxhlet
1). Pengeringan dengan Na2SO4
2). Pelarut n-heksana diluapkan

Pemurnian dengan larutan KOH 0,1 N,Bleaching


Earth 2%, Karbon Aktif 0,2%

Optimasi kondisi reaksi transeterifikasi (sintesis biodiesel)


Ditambah methanol (1:9)-KOH 0,5% berat, disonikasi dengan
frekuensi ultrasonic 40kHz dan waktu reaksi 40 menit. Kemudian gliserol dipisahkab, ester
dicuci dengan air hangat, dikeringkan dengan Na2SO4 anhidrat, lalu disaring
Penentuan komposisi asam lemak
Penyusun trigliserida
Uji Karakteristik Biodiesel
Gambar 3 : Skema proses kerja pengolahan buah bintaro menjadi biodiesel
Proses pengolahan bioenergi yang menghasilkan biodiesel dari tanaman diperlukan
buah bintaro yang sudah masak yang berwarna coklat tua, yang jatuh di bawah pohon. Buah
bintaro dikupas dengan parang untuk diambil bijinya dengan mengeluarkan daging buahnya
dengan rendemen biji keringnya sebesar 6 persen dari keseluruhan buah, biji Bintaro
mengandung 50-70% minyak yang tersusun atas 43% asam oleat, 31% asam palmitat dan
17% asam linoleat, yang mempunyai sifat beracun (cerebrin) disamping kandungan asam
lemak esensialnya yang sangat rendah (Heyne, 1987). Minyak bintaro skala laboratorium
diproses menggunakan metode ekstraksi dengan pelarut dengan menggunakan peralatan
soxhlet dan pelarut n-heksana. Proses pengeringan biji pada suhu 500 sampai 600 C selama
48 sampai 72 jam dan kemudian diekstraksi sekitar 6 sampai 8 jam yang menghasilkan
bungkil dengan kadar minyak rendah (1 sampai 2 persen), dengan mutu minyak kasar yang
dihasilkan relatif baik. Dari proses ekstraksi minyak bintaro pada skala laboratorium
diperoleh rendemen sebesar 56,3% dengan kualitas minyak yang sangat baik. Komposisi
asam lemak minyak bintaro didominasi oleh asam lemak oleat, palmitat, linoleat dan stearat.
Dari hasil proses ekstraksi diperoleh ampas yang mempunyai nilai kalor cukup tinggi. Hasil
uji coba skala laboratorium ini disajikan dalam bentuk neraca massa yang ditunjukkan pada
gambar di atas, dan karekteristik minyak biodesel bintaro seperti table di bawah (Purwanto et.
al., 2011).
Suatu minyak nabati jika digunakan langsung untuk bahan bakar pada mesin diesel
akan menimbulkan masalah yang diakibatkan oleh tingginya nilai viskositas (kekentalan)
minyak nabati yang akan menyulitkan pompa bahan bakar dalam mengalirkan bahan bakar ke

ruang bakar. Faktor yang mempengaruhi reaksi transeterifikasi adalah alkohol yang
digunakan, katalis yang digunakan, perbandingan mol alcohol terhadap minyak, kemurnian
rektan, intensitas pengadukan, dan kromatografi gas (GC). Karakteristik Biodiesel :
Parameter
Nilai
Standart Biodiesel Indonesia
3,55
2,3 6,0
Viskositas (cSt, 40C)
3
0,894
0,850 0,890
Densitas (g/cm , 40C)
0,34
Maks. 0,8
Bilangan asam (mg KOH/g)
26
Min. 18C
Titik asap (mm)
<0
-15 10
Titik tuang (C)
39,56
38,45 41,00
Nilai kalor (MJ/kg): -Gross
Nett
39,47
Reforestasi dengan tanaman bintaro dapat dikembangkan melalui kegiatan perhutanan
sosial di sentra produksi pangan. Kegiatan tersebut berdampak bagi penurunan emisi dan
insentif agar petani dapat meningkatkan produktivitas pangan, terutama beras. Purwanto et.
al., (2011) menjelaskan bahwa pemanfaatan tanaman sebagai sumber energi terbarukan ini
mengacu pada Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2006 tanggal 25 Januari 2006 tentang
pengelolaan energi nasional dalam rangka menjamin keamanan pasokan energi dalam negeri
serta guna mendukung pembangunan berkelanjutan, dimana target sampai tahun 2025 untuk
mengoptimalkan bahan bakar nabati mencapai 5 persen. Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2006
bahwa penyediaan dan pemanfaatan bahan bakar nabati (bio fuel) sebagai bahan bakar
alternatif.
Dari hasil uji beberapa karakteristik biodiesel yang berasal dari minyak biji buah
bintaro memenuhi standar Eropa (EN 14214), Amerika (ASTM D 6752) dan Indonesia (SNI)
untuk bahan bakar biodiesel sebagai bahan bakar pengganti solar. Karakteristik sifat fisik
biodiesel secara umum telah memenuhi standar SNI-04-7182-2006, kecuali temperature
destilasi 90% vol biodiesel yang dihasilkan telah melampaui syarat mutu, namun dinilai
masih memenuhi persyaratan biosolar. Klasifikasi biodiesel minyak biji bintaro secara umum
memenuhi klasifikasi bahan bakar diesel kelas rendah belerang No. 2-D, yaitu bahan bakar
untuk mesin-mesin berkecepatan putar sedang dan rendah seperti mesin untuk industri dan
mesin kendaraan berat.

Upaya Promotif
Tanaman bintaro merupakan suatu potensi sebagai energi alternatif yang
menghasilkan biodiesel yang simultan dengan konservasi hutan untuk memperkaya stok
karbon dan meningkatkan kesejahteraan petani. Perlunya inovasi teknologi yang dapat
memproses buah bintaro dalam skala yang luas yang efektif dan efisien.
Adanya publikasi bahwa pohon bintaro beracun dan dapat mengakibatkan
kelumpuhan menyebar tindakan penebangan dan pembongkaran terhadap pohon bontaro.
Oleh karena itu, perlu adanya penyampaian informasi secara berimbang pada masyarakat
mengenai kerugian ataupun manfaat yang dapat diambil dari pohon bintaro yang kemudian
diikuti dengan pengelolaan dan penggunaan yang tepat.
Sifat beracun pohon bintaro dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati. Racun pada
tanaman adalah system alami yang dikembangkan sebagai strategi pertahanan bagi tanaman

tersebut dan sama sekali bukan untuk membahayakan manusia. Tidak semua tumbuhan
beracun merugikan dan tidak semua tanaman obat memberikan manfaat. Jika bintaro dikelola
dan dimanfaatkan sengan tepat, meski mengandung racun belum tentu berbahaya bagi
manusia.
Penebangan terhadap pohon bintaro di berbagai kota akan berpengaruh besar terhadap
keseimbangan ekosistem. Keberadaan pohon bintaro memiliki banyak manfaat, baik bagi
lingkungan maupun manusia itu sendiri. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk
mengantisipasi sifat beracun pohon bintaro antara lain yaitu: pemasangan tenda peringatan
atau himbauan bahwa pohon bintaro beracun dan tidak dimanfaatkan untuk kebutuhan
konsumsi, pemberian pagar pengaman di sekeliling tanaman, dan pemilihan lokasi
penanaman yang tepat.

Upaya Preventif
Upaya optimalisasi potensi pohon bintaro dapat dilakukan melalui pola kemitraan
pihak yang berkompeten (akademis, peneliti, Dinas Pertanian, dan Dinas Kehutanan),
pendampingan, dan sosialisasi pada masyarakat dalam penanaman maupun pemeliharaannya,
sehingga terhindar dari resiko keracunan. Upaya mengolah dan mengembangkan bintaro
menjadi berbagai produk yang bermanfaat seperti lilin, biodiesel, deodorant, pestisida nabati,
maupun obat-obatan dapat diberikan kepada masyarakat berdasarkan pada penelitian ilmiah.
Bintaro ( Cerbera manghas L. ) merupakan salah satu jenis tanaman mangrove yang
berguna untuk penghijauan, penghias kota, tanaman obat yang potensial, dan bahan baku
kerajinan. Tanaman ini dikenal beracun karena bijinya mengandung cerberine yang dapat
menghambat saluran ion kalsium di dalam otot jantung, sehingga dapat mengakibatkan
kematian. Dalam pemanfaatannya sebagai pestisida nabati, bintaro antara lain dapat
digunakan untuk pengendalian rayap dan kutu rambut. Belum banyak penelitian tentang
pemanfaatan bintaro sebagai pestisida nabati. Oleh sesab itu perlu dilakukan penelitian lebih
lanjut pemanfaatan bintaro sebagai salah satu insektisida nabati yang sangat potensial.
Pendapatan petani per tahun pada lahan seluas satu hektar bila mengusahakan tanaman
bintaro sebesar 6 juta rupiah, lebih besar dari pada mengusahakan kegiatan tanaman pangan
dengan pendapatan sebesar sekitar 5,5 juta rupiah. Keunggulan melakukan budidaya tanaman
bintaro yakni merupakan tanaman tahunan masa produktif panjang. Tanaman pangan
merupakan tanaman semusim yang secara berkala harus dilakukan penanaman kembali
setelah panen. Dengan demikian pengusahaan tanaman bintaro dapat menghemat tenaga
kerja, yang dibutuhkan pada waktu panen dan pengolahan hasil menjadi bio diesel. Adanya
lahan yang tidak optimal dimanfaatkan untuk kegiatan tanaman pangan dan potensi buah
bintaro yang belum termanfaatkan merupakan suatu peluang untuk penambahan pendapatan
petani sekaligus penyediaan sumber energi altenatif dari tumbuhan atau bio energi.

DAFTAR PUSTAKA
Asmani, Najib. 2011. Membangun Perhutanan Sosial Berbasis Energi Terbarukan Tanaman Bintaro di Sentra Produksi
Pangan. Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Jl. Raya Inderalaya Km.32,
Inderalaya. Prosiding Seminar Nasional AVoER ke-3 Palembang. ISBN : 979-587-395-4. KMT-1.
Atabani, A.E. 2007. Biodiesel: a promising alternative energy resource . Department of Mechanical Engineering,
University of Malaya, 50603 Kuala Lumpur, Malaysia.

Endriana, Dodi. 2007. Sintesis Biodiesel (Metil Ester) dari Minyak Biji Bintaro (Cerbera odollam Gaertn.) Hasil
Ekstraksi.Depok: Universitas Indonesia. (Skripsi).

Euthalia, Hanggari Sittadewi. 2008. Identifikasi Vegetasi di Koridor Sungai dan Perannya dalam
Penerapan Metode Bioenginering. Peneliti Madya Pada Pusat Teknologi Sumberdaya
Lahan,Wilayah dan Mitigasi Bencana, BPPT. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 10
No. 2 Agustus 2008 Hlm. 112-118.
Evy Setiawati, Fatmir Edwar. 2012. Teknologi Pengolahan Biodiesel dari Minyak Goreng Bekas
dengan Teknik Mikrofiltrasi dan Transesterifikasi sebagai Alternatif Bahan Bakar Mesin
Diesel (Technology Processing of Biodiesel from Used Cooking Oil by Microfiltration and
Transesterification Techniques as an Alternative Fuel of Diesel Engine). Balai Riset dan
Standardisasi Industri Banjarbaru. Jurnal Riset Industri Vol. VI No. 2, 2012, Hal. 117-127.
Greg Iman1, Tony Handoko. 2011. Pengolahan Buah Bintaro sebagai Sumber Bioetanol dan
Karbon Aktif. Bandung: Jurusan Teknik Kimia FTI UNPAR. Prosiding Seminar Nasional
Teknik Kimia Kejuangan ISSN 1693 4393.
Nur Alindatus Sadiyah1, Kristanti Indah Purwani, dan Lucky Wijayawati. 2013. Pengaruh Ekstrak Daun Bintaro (Cerbera
odollam) terhadap Perkembangan Ulat Grayak (Spodoptera litura F.). Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Jurnal Sains dan Seni Pomits. Vol. 2, No.2,
(2013) 2337-3520 (2301-928X Print) E-111.
Priyohadi Kuncahyo, Aguk Zuhdi M. Fathallah , Semin . 2013. Analisa Prediksi Potensi Bahan Baku Biodiesel Sebagai
Suplemen Bahan Motor Diesel di Indonesia. Jurusan Teknik Sistem Perkapalan, Fakultas Teknologi Kelautan,
Institut Teknologi Sepuluh Nopember ( ITS). Jurnal Teknik Pomits. Vol. 2, No. 1, (2013) ISSN: 2337-3539 (23019271 Print) B-62.

Sri Utami, Lailan Syaufina, Noor Farikhah Haneda. 2010. Daya Racun Ekstrak Kasar Daun Bintaro
(Cerbera odol/am Gaertn.) Terhadap Larva ( Spodoptera litura) Fabricus. Jurnal llmu
Pertanian Indonesia, him. 96-100 ISSN 0853- 4217. Vol. 15 No. 2 (211-220).
Utami, Sri. 2010. Aktivitas Insektisida Bintaro ( Gaertn) Terhadap Hama spp. pada Skala
Laboratorium Cerbera odollam Eurema (Activities of Bintaro ( Gaertn.) Insecticide on
spp.Pest in Laboratory Scale). Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. Balai Penelitian
Kehutanan Palembang. Vol. 7 No. 4
Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. 2011. Bintaro (Cerbera manghas) Sebagai Pestisida Nabati. Vol
17, Nomor 1.
Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. 2011. Hama Ulat Pemakan Daun Tanaman Bintaro (Cerbera
manghas).Vol 17, Nomor 1.
Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. 2011. Potensi Tanaman Bintaro (Cerbera manghas) Sebagai
Alternatif Sumber Bahan Bakar nabati. Vol 17, Nomor1.

Yvan Gaillarda, Ananthasankaran Krishnamoorthy, Fabien Bevalot. 2004. Cerbera odollam: a


suicide tree and cause of death in the state of Kerala, India. Journal of Ethnopharmacology
95 (2004) 123126.
http://arnipurwaningtyas.blogspot.com/2014/06/taksonomi-tumbuhan.html

Tanaman Bintaro (Cerbera manghas )

Bintaro adalah tumbuhan (pohon) bernama latin Cerbera manghas, bukan nama sebuah kelurahan di
Jakarta Selatan. Tapi mungkin dari nama pohon inilah, nama kelurahan Bintaro berasal. Yang pasti
tumbuhan ini banyak dijumpai di Jakarta sebagai pohon penghijauan. Bintaro yang banyak digunakan
sebagai pohon penghijauan di berbagai tempat di Jakarta, pada tahun 2009 pernah membuat geger.
Pasalnya buah, daun, dan getah pohon ini mengandung cerberin yang beracun. Pohon Bintaro sering
disebut juga sebagai Mangga Laut, Buta Badak, Babuto, dan Kayu Gurita. Dalam bahasa Inggris
tanaman ini dikenal sebagai Sea Mango Sedangkan dalam bahasa latin (ilmiah) Bintaro dinamai
sebagai Cerbera manghas. Nama Bintaro juga sering disematkan kepada kerabat dekatnya yang
bernama ilmiah Cerbera odollam. Kedua jenis tanaman ini memang mempunyai kemiripan dalam
berbagai hal. Bintaro umumnya mempunyai tinggi 4-6 meter meskipun terkadang mampu mencapai
12 m. Daunnya berwarna hijau tua mengkilat berbentuk bulat telur. Bunga Bintaro berbau harum,
terdiri atas lima petal dengan mahkota berbentuk terompet yang pangkalnya berwarna merah muda.
Buah bintaro berbentuk bulat telur dengan panjang sekitar 5-10 cm. Ketika masih muda berwarna
hijau pucat dan berubah menjadi merah cerah saat masak.
Tanaman Bintaro tersebar luas di kawasan tropis indo fasifik termasuk Indonesia. Habitat aslinya
adalah daerah pantai dan hutan mangrove (bakau). Namun kini Bintaro banyak ditanam sebagai
pohon penghijauan penyerap karbondioksida (CO2). Bintaro Beracun Tapi Mengandung Biofuel.
Hampir seluruh bagian tanaman Bintaro mengandung racun cerberin. Cerberin merupakan racun
yang dapat menghambat saluran ion kalsium di dalam otot jantung manusia, sehingga mengganggu
detak jantung dan dapat menyebabkan kematian. Bahkan asap dari pembakaran kayunya pun dapat
menyebabkan keracunan. Namun di balik racun yang dikandungnya, biji dari pohon ini ternyata dapat
diekstrak menjadi minyak yang dapat digunakan sebagai energi alternatif (biofuel). Fakultas
Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil mengembangkan minyak dari biji Bintaro
(Cerbera manghas) menjadi energi alternatif. Minyak hasil ekstrak dari biji Bintaro terbukti dapat
dimanfaatkan sebagai Bahan Bakar Nabati (biofuel). Meskipun beracun, dengan potensi yang
dipunyainya baik sebagai tanaman penghijauan maupun sebagai penghasil biofuel, sepertinya bukan
sikap bijak jika kita harus menjauhi dan memusnahkan tanaman ini. Toh, di sekitar kita banyak sekali
tanaman-tanaman yang mengandung racun seperti Tuba, Tembakau, Zodia dan lain sebagainya. Di
samping racun yang dikandung tumbuhan beracun tersebut pasti terdapat potensi yang menunggu
untuk kita manfaatkan. Demikian juga Bintaro pohon penghijauan yang beracun ini.
Klasifikasi tanaman bintaro :
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Asteridae
Ordo : Gentianales
Famili : Apocynaceae

Genus : Cerbera
Spesies : Cerbera manghas L.
Ciri-ciri tanaman bintaro:
a. Habitus: Pohon, tinggi, _+ 20 m Batang Tegak, berkayu, bulat, berbintik-bintik, hitam
b. Daun: Tunggal, tersebar, lonjong, tepi rata ujung dan pangkal meruncing, tipis,licin, pertulangan
menyirip, panjang 15-20 cm, lebar, 3-5 cm, hijau
c. Bunga: Majemuk, berkelamin dua, di ujung batang, tangkai silindris, panjang + 11 cm, hijau,
kelopak tidak jelas, tangkai putik panjang 2-2,5 cm, jumlah empat, kepala sari coklat, kepala putik
hijau keputih-putihan, mahkota bentuk terompet, ujung pecah menjadi lima, halus, putih
d. Buah: Kotak, lonjong, masih muda hijau setelah tua kehitaman
e. Biji: Pipih, panjang, putih
f. Akar: Tunggang, coklat
Kandungan Kimia tanaman bintaro:
Daun, buah dan kulit batang bintaro mengandung saponin, daun dari buahnya juga mengandung
polifenol, disamping itu kulit batangnya mengandung tanin.
Khasiat tanaman bintaro:
Daun muda, akar dan kulit batang bintaro berkhasiat untuk pencahar, dengan 10 gram daun muda
segar bintaro dicuci, dimakan sebagai lalap.
Pohan bintaro (Cerbera manghas) merupakan jenis tumbuhan liar yang mudah tumbuh di mana saja.
Pohon dan buahnya seperti mangga selama ini memang kurang dimanfaatkan oleh warga, padahal
sebenarnya sangat bermaafaat sebagai pengganti bahan bakar. Dibandingkan dengan biji jarak,
ternyata biji bintaro memiliki kadar minyak yang jauh lebih tinggi. Melalui beberapa tahap pengolahan,
1 kg minyak bisa dihasilkan dari 1,8 kg biji bintaro yang sudah kering. Minyak yang dihasilkan masih
termasuk minyak kasar berwarna hitam. Minyak ini dapat digunakan sebagai pengganti minyak tanah
untuk kompor. Hasil uji toksisitas dari getah buah menunjukkan minyak bintaro layak digunakan
sebagai bahan bakar. Bau, asap, dan residu lainnya tergolong aman.
Buah bintaro terdiri atas 8% biji dan 92% daging buah. Bijinya sendiri terbagi dalam cangkang 14%
dan daging biji 86%. Biji bintaro mengandung minyak antara 35-50% (bandingkan dengan biji jarak
yang 14% dan kelapa sawit 20%). Semakin kering biji bintaro semakin banyak kandungan
minyaknya. Minyak ini termasuk jenis minyak nonpangan, diantaranya asam palmitat (22,1%), asam
stearat (6,9%), asam oleat (54,3%), dan asam linoleat (16,7%).
Proses pengolahan buah bintaro menjadi minyak terhitung cepat dan mudah. Bahkan warga Teluk
Meranti sudah bisa melakukannya di rumah. Jika Anda tinggal di daerah yang banyak ditumbuhi
pohon bintaro (Cerbera manghas), Anda pun bisa mencobanya sendiri. Berikut beberapa langkahnya:
a. Kumpulkan biji bintaro dari buah yang jatuh alami.
b. Kupas buah bintaro kering dan ambil bijinya.
c. Keringkan biji bintaro di bawah sinar Matahari.
d. Giling atau tumbuk biji bintaro kering itu.
e. Lakukan pengepresan sampai minyaknya keluar.
f. Jika masih bercampur dengan kotoran, saring minyak tersebut.
g. Jika perlu, diamkan minyak selama 1 - 2 malam agar kotorannya mengendap.
h. Minyak bintaro sudah siap digunakan sebagai bahan bakar.
Hanya saja, untuk bisa digunakan sebagai pengganti minyak diesel untuk genset atau minyak tanah
untuk kompor harus dilakukan modifikasi. Soalnya, tampilan minyak bintaro mirip oli kendaraan
dengan kekentalan sekitar 30 poin (minyak tanah memiliki kekentalan sebesar 5 poin).
Untuk genset harus dilakukan pemancingan dengan solar sebab injector yang ada di genset
peruntukkannya untuk solar. Genset diberi tambahan tangki penampungan minyak bintaro di salah
satu sisinya. Pertama-tama genset masih tetap membutuhkan solar sebagai pemancing. Selang dua
menit kemudian barulah peran solar digantikan oleh minyak bintaro. Saat genset hendak dimatikan,
minyak bintaro kembali digantikan oleh solar.

Pada kompor, ruang pembakaran dimodifikasi sehingga kekentalan minyak sudah turun pada saat
keluar dan terbakar. Bila suhunya dipanaskan, maka tingkat kekentalan minyak bintaro akan turun
dan mirip dengan minyak tanah. Bila tingkat kekentalannya tidak diturunkan maka api akan muncul
dengan disertai letupan-letupan kecil.

http://fasula.blogspot.com/2011/06/tanaman-bintaro-cerbera-manghas.html