Anda di halaman 1dari 29

KLASIFIKASI DAN

PENGUKURAN KETERSDIAAN
SUMBER DAYA ALAM

1. Klasifikasi SDA
2. Pengukuran Ketersedian SDA
Pandangan Umum Terhadap SDA
SDA

Ekspolitasi/Pemanfaatan

Ekstraksi Tidak
Pengurangan Eksploitasi daya dukung Pemanfaatan Lestari

Ya
Pengurasan SDA

Kelangkaan

Peningkatan Biaya Ekstrasi Peningkatan Harga SDA

- Pencarian SDA Pengganti


Penurunan Permintaan Peningkatan Penawaran
- Peningkatan daur ulang

Inovasi
• Pencarian SDA baru
• Peningkatan Efisiensi
• Perbaikan tek. Daur ulang dan perbaikan konservasi
Klasifikasi SDA
SDA

Skala waktu pertumbuhan Kegunaan akhir

Tak dpt diperbarui Dpt diperbarui SD material SD energi

Hbs Dpt di daur Ada titik Tdk ada titik Material Material Non Energi
dikonsumsi ulang kritis kritis Metalik metalik

Minyak Besi Ikan Udara Emas Tanah Energi surya


Gas Tembaga Hutan Pasang surut Besi Pasir Angin
Batubara Aluminium Tanah Angin Alumiium Air Minyak

Ekstraksi > titik kritis


KLASIFIKASI SDA
• Jenis SDA
• Implikasi dari Penggolongan SDA
• Pengelompokan Lain SDA
• Macam SDA dalam Kaitannya dengan
Penerimaan dan Biaya
• SDA Primer dan Sekunder
• Hubungan Antara SDA dan Penggunaannya
• SDA Milik Umum atau Milik Bersama
1. Jenis SDA
• Pada dasarnya SDA dikelompokkan menjadi 2 kelompok
utama :
- SDA yang tak dapat diperbaharui (exhaustible
resources = stock resources = fund resources), dan
- SDA yang dapat diperbarui (renewable resources =
flow resources)
Namun, menurut Prof. Raleigh Barlow, SDA dikelompokkan
kedalam 3 kelompok, yaitu :
1. SDA yang tak dapat pulih/tak dapat diperbarui
2. SDA yang pulih/dapat diperbarui
3. SDA yang mempunyai sifat gabungan antara yang dapat
diperbaharui dan yang tidak dapat diperbaharui
SDA Yang Tak Pulih
Memiliki sifat :
- Volume fisik tetap
- Tidak dapat diperbarui
- Pembentukannya butuh waktu ribuan tahun
Contoh : metal, batu bara, minyak bumi, batu-
batuan
SDA yang tak pulih digolongkan dalam 2 macam :
1. Sumberdaya seperti batu bara dan mineral yang
sifatnya dapat dipakai habis atau berubah secara
kimiawi melalui penggunaan.
2. Sumberdaya seperti logam dan batuan yang
mempunyai umur penggunaan yang lama dan
seringkali dapat dipakai ulang.
SDA yang pulih
• Memiliki sifat :
- terus-menerus ada
- dapat diperbarui baik oleh alam sendiri
maupun dengan bantuan manusia.
• Contoh : Air, Angin, Cuaca, Gelombang
Laut, Sinar Matahari, dll
• SDA di atas terus ada (dipakai atau tidak)
• SDA tersebut harus dimanfaatkan dengan
benar
SDA dengan sifat gabungan
• Sumberdaya Biologis
Termasuk : Hasil Panen, Hutan, margasatwa,
padang rumput, perikanan, dan peternakan.
Memiliki ciri seperti SDA yang dapat diperbarui,
karena dapat diperbaiki setiap saat asal ada
perawatan. Namun, suatu saat bisa digolongkan
dalam SDA yang tak dpt diperbaharui, yaitu pada
saat pemakaian yang berlebih dan kurang
bertanggungjawab
SDA dengan sifat gabungan ©
• Sumberdaya Tanah
menggambarkan gabungan antara :
SDA yang tak dapat diperbarui, yang
dapat diperbarui, dan sumberdaya
biologis.
Conoh : Kesuburan tanah
Implikasi dari Penggolongan SDA
• Perkembangan teknologi akan menjadi
hambatan dalam perencanaan pengelolaan untuk
SDA yang tak dapat diperbarui, sedangkan
sebaliknya untuk SDA yang dapat diperbarui.
• Dengan perkembangan teknologi, membuat kita
kurang memperhatikan masa depan.
• Perlu kebijakan konservasi SDA, khususnya
untuk yang dapat diperbarui.
Pengelompokan Lain SDA
Berdasarkan pengelolaannya :
•SDA dikelola oleh pemerintah
•SDA dikelola oleh swasta
Menurut penguasaannya :
- Milik Pribadi (private property)
- Milik Umum (common property)
Campur tangan pemerintah dalam pengelolaan
yang sifatnya pribadi, tergantung pada sistem
ekonomi yang di anut negara tersebut.
Macam SDA dalam Kaitannya dengan Penerimaan dan Biaya

Pengklasifikasian SDA menjadi SDA yang dapat diperbarui


dan yang tidak dapat diperbarui merupakan konsep yang
dihubungkan secara ekonomi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan dan biaya
pengambilan SDA :
1. Perubahan selera manusia
2. Teknologi
3. Dampak penggunaan secara komulatif dan perubahan jumlah
fisik maupun kualitas SDA
Dalam bidang pertanian, penggunaan lahan secara terus
menerus, perlu didukung dengan pemupukan untuk
mempertahankan kesuburan tanah.
SDA Primer dan Sekunder
• SDA sekunder merupakan SDA yang
adanya karena sumberdaya primer.
• SDA tak pulih dan SDA pulih kelompok
pertama yang sifatnya tidak dipengaruhi
manusia, merupakan SDA primer
• SDA pulih kelompok kedua yang
tersedianya sangat dipengaruhi oleh
manusia sebagian besar merupakan SDA
sekunder.
Hubungan Antara SDA dan Penggunaannya

• Hubungan antar dua atau lebih SDA bisa bersifat


komplementer dan subtitusi (bersaing) baik dilihat dari sisi
penawaran maupun permintaan.
• Hub. Komplementer :
- Penawaran : Lahan untuk hutan dan rekreasi
- Permintaan : Batu bara + biji besi  Baja
• Hub. Subtitusi :
- Penawaran : Suatu daerah untuk pertanian bersaing untuk
penggunaan sebagai waduk untuk irigasi dan pembangkit
tenaga listrik
- Permintaan : Pemakaian tenaga ternak atau tenaga mesin
traktor untuk pertanian
SDA Milik Umum atau Milik Bersama

• SDA milik umum berarti SDA tersebut


milik setiap orang.
• SDA milik umum memiliki kecenderungan
untuk segera habis atau punah, karena akan
terjadi tragedi dari kepemilikan secara
bersama-sama (tragedy of the common).
• Proses perebutan SDA tersebut akan
mempercepat deplesi.
Pengukuran Ketersedian SDA
• Beberapa konsep pengukuran ketersediaan
untuk SDA yang tak dapat diperbarui :
1. Sumber daya Hipotetikal  pengukuran
deposit yang belum diketahui, namun
diharapkan ditemukan di masa mendatang,
berdasarkan survey yang dilakukan saat ini.
2. Sumberdaya Spekulatif  mengukur deposit
yang mungkin ditemukan di daerah yang
sedikit atau belum dieksplorasi, dimana
kondisi geologi memungkinkan
ditemukannya deposit.
3. Cadangan kondisional (conditional reserves)
 deposit yang sudah diketahui atau
ditemukan, namun dengan kondisi harga
(output) dan teknologi yang ada saat ini
belum bisa dimanaatkan secara ekonomis.
4. Cadangan terbukti (proven resource)  SDA
yang sudah diketahui dan secara ekonomis
dapat dimanfaatka dengan teknologi, harga,
dan juga permintaan yang ada saat ini.
Pengukuran Ketersedian SDA ©
• Beberapa konsep pengukuran ketersediaan untuk
SDA yang dapat diperbarui :
1. Potensi maksimum sumberdaya  konsep yang
didasarkan pada pemahaman untuk mengetahui
potensi atau kapasitas sumbedaya guna
menghasilkan barang dan jasa pada jangka waktu
tertentu. Pengukuran ini biasanya didasarkan pada
teoritis.
Misal : kapasitas bumi dalam penyediaan pangan
Pengukuran ini biasanya tanpa memperhitungkan
kendala sosial ekonomi.
2. Kapasitas Lestari / produksi lestari (sustainable
capacity/sustainable yield)
 Konsep pengukuran keberlanjutan dimana
ketersediaan sumberdaya diukur berdasarkan
kemampuan untuk menyediakan kebutuhan generasi
kini dan masa mendatang.
3. Kapasitas penyerapan (Absorptive capaity) 
kemampuan SDA pulih untuk menyerap limbah akibat
aktivitas manusia.
4. Kapasitas Daya Dukung (carrying capacity) 
Pengukuran ini didasarkan pada pemikiran bahwa
lingkungan memiliki kapasitas maksimum untuk
mendukung suatu pertumbuhan organisme.
Pengukuran Kelangkaan SDA
Pengukuran kelangkaan :
- pengukuran fisik
- pengukuran ekonimis (moneter)
Pengukuran ekonomis (moneter) :
1. Pengukuran Berdasarkan Harga Riil
2. Pengukuran Berdasarkan Unit Cost
3. Pengukuran Berdasarkan Rente
Kelangkaan (scarcity rent)
Pengukuran Berdasarkan Harga Riil

• Berdasarkan teori klasik : ketika barang


menjadi berkurang kuantitasnya, maka
konsumen akan membayar dengan
harga mahal untuk komoditas tersebut.
Jadi tingginya harga barang
mencerminkan tingkat kelangkaan dari
sumberdaya tersebut.
• Pengukuran ini mengalami kelemahan,
misalnya apabila terjadi intervensi
pemerintah, misal : harga BBM.
Pengukuran Berdasarkan Unit Cost

• Pengukuran ini didasarkan pada prinsip


bahwa jika sumberdaya mulai langka, biaya
untuk mengekstraksinya juga menjadi
semakin besar.
• Misal : Apabila ikan sudah langka, maka
nelayan akan melaut lebih jauh, dan
menambah kapsitas alat tangkap.
• Kelebihan pengukuran ini, adalah dengan
memasukkan aspek perubahan teknologi
dalam produksi, untuk mengukur index of real
unit cost, seperti yang dilakukan Barnet dan
Morse (1963)
Pengukuran Berdasarkan Rente
Kelangkaan (scarcity rent)
• Pengukuran ini didasarkan pada teori kapital
sumberdaya, dimana rate of return manfaat
yang diperoleh dari aset SDA, harus setara
dengan biaya oportunitas dari aset yang lain,
seperti saham.
• Dengan demikian, peningkatan nilai scarcity
rent menunjukkan tingkat kelangkaan SDA.
• Scarcity rent didefinisikan sebagai selisih
antara harga per unit output dengan biaya
ekstraksi marjinal atau sering disebut net
price (harga bersih).
• Selain konsep fisik dan ekonomi,
pengukuran kelangkaan juga dapat
didekati dari interaksi antara ketersediaan
sumberdaya dan biaya ekstraksi
sepanjang waktu.
• Ada empat tipe pengukuran kelangkaan :
1. Malthusian Stock Scarcity
2. Malthusian Flow Scarcity
3. Ricardian Stock Scarcity
4. Ricardian Flow Scarcity
Tipologi Kelangkaan

Malthusian Tidak
Terbatas Stock meningkat
Scarcity sepanjang
waktu
Malthusian
Flow Scarity Meningkat Biaya
Stok SDA sepanjang Ekstraksi
Ricardian waktu
Flow
Scarcity Biaya ekstraksi
Tak meningkat
Ricardian seiring dengan
Terbatas
Stock ekstraksi
Scarcity komulatif
• Malthusian Stock Scarcity : kelangkaan yag terjadi
jika stok dianggap tetap (terbatas) dan biaya
ekstraksi per unit pada setiap periode tidak bervariasi
terhadap laju ekstraksi pada periode tersebut.
• Malthusian Flow Scarcity : kelangkaan yang terjadi
akibat interaksi antara stok yang terbatas dan biaya
ekstraksi per unit yang meningkat seiring laju
eksptraksi pada setiap periode.
• Ricardian Flow Scarcity : tipe kelangkaan yang terjadi
jika stok sumberdaya alam dianggap tidak terbatas,
namun biaya ekstraksi tergantung pada laju ekstraksi
pada periode t, dan juga ekstraksi kumuatif sampai
pada periode akhir ekstraksi.
• Ricardian Stock Scarcity : kelangkaan yang terjadi
dimana stok yang dianggap tidak terbatas
berinteraksi dengan biaya ekstraksi yang meningkat
seiring dengan ekstraksi kumulatif sampai periode
akhir.
TUGAS
• No Urut Ganjil buat ringkasan materi untuk
tatap muka yang ke-3
• Prinsip-prinsip dasar ekonomi
- Hak Kepemilikan
- Eksternalitas
- Surplus Ekonomi
- Keputusan Investasi
(kaitannya dengan pengelolaan SDA)