Anda di halaman 1dari 16

Disusun Oleh :

1. PEBRI FERDIANSIA
2. HENDRA SAPUTRA

Guru Pembimbing : MUDZAKIR ILYAS, ME., SY

STIE PRABUMULI

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah karena izin-Nya jualah sehingga penulis dapat mewujudkan semua
ini. Melalui usaha keras di tengah hambatan dan keterbatasan, penulis mencoba melakukan yang
terbaik untuk menyusun makalah ini dengan judul " DISTRIBUSI DALAM ISLAMI".
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan kemampuan yang dimiliki oleh penulis, baik
dalam hal pengetahuan dan pengalaman.
Karena itu, sebagai penulis saya mengharapkan dengan sangat dan dengan tangan terbuka
segala bentuk kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini
selanjutnya. Penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada orang-orang
yang membacanya, terutama kepada penulis sendiri.
Penulis juga mengucapkan terima kasih atas segala bantuan, petunjuk, saran dorongan dan izin
yang telah diberikan dari berbagai pihak semoga bernilai ibadah dan mendapatkan imbalan yang
berlipat ganda. SemogaAllah SWT memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin
Ya Robbal Alamin.

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Chapra (2000) menyatakan bahwa salah satu masalah utama dalam kehidupan sosial di
masyarakat adalah mengenai cara melakukan pangalokasian dan pendistribusian sumber daya yang
langka tanpa harus bertentangan dengan tujuan makro ekonominya. Kesenjangan dan kemiskinan
pada dasarnya muncul karena mekanisme distribusi yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Masalah ini tidak terjadi karena perbedaan kuat dan lemahnya akal serta fisik manusia sehingga
menyebabkan terjadinya perbedaan perolehan kekayaan karena hal itu adalah fitrah yang pasti terjadi.
Tetapi permasalahan yang sesungguhnya terjadi adalah karena penyimpangan distribusi yang secara
akumulatif berakibat pada kesenjangan kesempatan memperoleh kekayaan. Yang kaya akan semakin
kaya dan yang miskin tidak memiliki kesempatan bekerja. Kesalahan menjalankan kebijakan sistem
ekonomi termasuk mekanisme distribusi inilah yang menyebabkan munculnya praktik monopoli dan
individualis, sekaligus rusaknya pengelolaan hak milik pribadi, milik umum dan negara. Maka pada
saat itulah akan terjadi kerusakan dalam distribusi kekayaan kepada pribadi. Oleh karena itu, dari
latar belakang inilah maka mempelajari teori distribusi dalam Islam menjadi sangat penting.

1.2.Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Distribusi ?
2. Apa Tujuan Distribusi itu sendiri ?
3. Ada berapa nilai Distribusi Ekonomi Islam ?
4. Ada berapa Mekanisme Dstribusi ?

1.3.Tujuan
1. Menjelaskan Pengertian ditribusi
2. Menjelaskan tujuan Distribusi
3. Menjelaskan beberapa nilai Distribusi Ekonomi dalam Islam
4. Menjelaskan Beberapa Mekanisme Distribusi

BAB II

3
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Distribusi
Distribusi adalah suatu proses (sebagian hasil penjualan produk) kepada faktor-faktor produk
yang ikut menentukan pendapatan . Dalam kamus bahasa Indonesia dijelaskan distribusi adalah
penyaluran barang ketempat-tempat.
Menurut Collins distribusi adalah proses penyimpanan dan penyaluran produk kepada
pelanggan, diantaranya melalui perantara. Definisi yang diungkapkan oleh Collins memiliki
pemahaman yang sempit apabila dikaitkan dengan tujuan ekonomi islam. Hal ini disebabkan karena
definisi tersebut cenderung mengarah pada perilaku ekonomi yang bersifat individual. Namun dari
definisi diatas dapat ditarik suatu pemahaman, dimana dalam distribusi terdapat proses pendapatan
dan pengeluaran dari sumber daya yang dimilki oleh negara.
Sementara Anas Zarqa mengemukakan bahwa definisi distribusi itu sebagai suatu transfer
dari pendapatan kekayaan antara individu dengan cara pertukaran (melalui pasar) atau dengan cara
lain, seperti warisan, shadaqah, wakaf dan zakat
Jadi konsep distribusi menurut pandangan islam ialah peningkatan dan pembagian bagi hasil
kekayaan agar sirkulasi kekayaan dapat ditingkatkan, sehingga kekayaan yang ada dapat melimpah
dengan merata dan tidak hanya beredar di antara golongan tertentu saja serta dapat memberikan
kontribusi kearah kehidupan manusia yang baik

2.2. Tujuan Distribusi


Semua pribadi dalam masyarakat harus memperoleh jaminan atas kehidupan yang layak. Atas
dasar dapat kita lihat beberapa tujuan ekonomi islam yaitu sebagai berikut:
1. Islam menjamin kehidupan tiap pribadi rakyat serta menjamin masyarakat agar tetap sebagai
sebuah komunitas yang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.
2. Islam menjamin kemaslahatan pribadi dan melayani urusan jamaah, serta menjaga eksistensi
negara dengan kekuatan yang cukup sehingga mampu memikul tanggung jawab
perekonomian negara.
3. Mendistribusikan harta orang kaya yang menjadi hak fakir miskin, serta mengawasi
pemanfaatan hak milik umum maupun negara.
4. Memberikan bantuan sosial dan sumbangan berdasarkan jalan Allah agar tercapai maslahah
bagi seluruh masyarakat.

2.3. Nilai Yang Ada Dalam Distribusi Ekonomi Islam


Dalam menjalankan disrtibusi ada beberapa nilai yang ada diantaranya:

4
1. Akidah
Akidah mempunyai peran yang penting dalam kehidupan manusia. Ia mempunyai dampak
yang kuat dalam cara berpikir seseorang. Akidah begitu kuat pengaruhnya sehingga dapat
mengendalikan manusia agar mau mengikuti ajaran yang diembannya.
2. Moral
Moral berasal dari kata moralis. Disini moralitas menunjuk kepada perilaku manusia itu
sendiri. Hukum yang berlaku pada moralitas berbeda dengan hukum formal. Pada hukum formal
memberi sanksi jika melanggar. Akan tetapi hukum moral tidak tetapi menembus kedalam sehingga
melihat hal yang bersifat niatnya saja. Misalnya dalam kasus orang yang bersedekah, hukum moral
memandang niat dari sedekah ini. Jika niatnya baik demi menolong orang yang lemah maka sedekah
ini baik dan berarti pula sama persis dengan nilai moral. Tapi jika niatnya jelek hanya untuk riya’
(show belaka) maka sedekah demikian dianggap salah dan divonis sebagai tindakan yang tidak
berakhlakul karimah.
3. Hukum Syariah
Dengan adanya hukum syariah agar dalam menjalankan kegiatan ekonomi ada batasannya
yaitu sesuai dengan jalan Al-Quran dan sunnah.
4. Keadilan
Keadilan merupakan nilai yang paling asasi dalam ajaran islam. Menegakkan keadilan dan
memberantas kezaliman adalah tujuan utama dari risalah para rasul-Nya (QS 57:25). Dengan
berbagai muatan adil tersebut secara garis besar keadilan dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan
dimana terdapat kesamaan perlakuan dimata hukum, kesamaan hak kompensasi, hak hidup secara
layak, hak menikmati pembangunan. Berdasarkan muatan makna adil yang ada dalam Al-Quran,
maka hal ini bisa diturunkan menjadi berbagai nilai turunan yaitu:
a) Persamaan Kompensasi
Persamaan kompensasi adalah pengertian adil yang paling umum yaitu seseorang harus
memberikan kompensasi yang sepadan kepada pihak lain sesuai dengan pengorbanan yang telah
dilakukan . Komponen yang ada dalam kompensasi tersebut antara lain: upah dan ongkos.
b) Persamaan Hukum
Persamaan hukum disini memberikan makna bahwa setiap orang harus diperlakukan sama
didepan hukum. Tidak boleh ada diskriminasi terhadap seseorang didepan hukum atas dasar apapun
juga. Dalam transaksi ekonomi tidak ada alasan untuk melebihkan hak suatu golongan atas golongan
yang lain karena kondisi yang berbeda. Kesejahteraan dan hasil pembangunan harus didistribusikan
kepada orang dan tidak mengumpul pada kelompok tertentu.
c) Proporsional

5
Adil tidak selalu diartikan sebagai kesamaan hak, namun hak ini disesuaikan dengan ukuran
setiap individu atau proporsinal, baik dari sisi kebutuhan, kemampuan, pengorbanan, tanggung jawab
ataupun kontribusi yang telah diberikan seseorang. Suatu distribusi yang adil tidak selalu harus
merata, namun tetap memperhatikan ukuran dari masing-masing individu yang ada, mereka yang
ukurannya besar perlu memperoleh besar dan yang kecil memperoleh jumlah yang kecil pula.

2.4. Mekanisme Distribusi


Masalah ekonomi terjadi apabila kebutuhan pokok (al-hajatu al-asasiyah) untuk semua
pribadi manusia tidak tercukupi. Dan masalah pemenuhan kebutuhan pokok merupakan persoalan
distribusi kekayaan. Dalam mengatasi persoalan distribusi tersebut harus ada pengaturan menyeluruh
yang dapat menjamin terpenuhi seluruh kebutuhan pokok pribadi, serta menjamin adanya peluang
bagi setiap pribadi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pelengkapnya.
Dalam persoalan distribusi kekayaan yang muncul, islam melalui sistem ekonomi islam menetapkan
bahwa berbagai mekanisme tertentu yang digunakan untuk mengatasi persoalan distribusi.
Mekanisme distribusi yang ada dalam ekonomi islam secara garis besar dikelompokan menjadi dua
kelompok mekanisme, yaitu: mekanisme ekonomi dan mekanisme nonekonomi.
1. Mekanisme Ekonomi
Mekanisme ekonomi adalah mekanisme distribusi dengan mengandalkan kegiatan ekonomi agar
tercapai distribusi kekayaan. Mekanisme ini dijalankan dengan cara membuat berbagai ketentuan dan
mekanisme ekonomi yang berkaitan dengan distribusi kekayaan. Dalam menjalankan distribusi
kekayaan, maka mekanisme ekonomi yang ditempuh pada sistem ekonomi islam diantaranya
manusia yang seadil-adilnya dengan cara berikut:
a. Membuka kesempatan seluas-luasnya bagi berlangsungnya sebab-sebab hak milik (asbabu al-
tamalluk ) dalam hak milik pribadi (al-milkiyah al-fardiyah).
Dalam islam telah ditetapkan sebab-sebab utama seseorang dapat memiliki harta yang
berkaitan dengan hak milik pribadi. Hak milik pribadi adalah hukum syara’ yang berlaku bagi zat
ataupun manfaat (utility) tertentu, yang memungkinkan siapa saja mendapatkannya untuk
memanfaatkan barang tersebut, serta memperoleh kompensasi – baik karena barangnya diambil
kegunaannya oleh orang lain (seperti disewa) ataupun karena dikonsumsi untuk dihabiskan zatnya
seperti dari barang tersebut. Oleh karena itu, setiap orang bisa memiliki kekayaan yang ada di bumi.
Dalam hal ini islam mengikatkan kemerdekaan seseorang dalam menggunakan hak milik pribadinya
dengan ikatan-ikatan yang menjamin tidak adanya bahaya terhadap orang lain atau mengganggu
kemaslahatan umum. Menimbulkan bahaya adalah penganiayaan, sedang penganiayaan itu dilarang
oleh nash Alquran.

6
Salah satu upaya yang lazim dilakuakan manusia untuk memperoleh harta kekayaan adalah
dengan bekerja. Islam menetapkan adanya “bekerja” bagi seluruh masyarakat. Maka dari tiu “
bekerja” menurut islam adalah sebab pokok yang mendasar untuk memungkinkan manusia dapat
memiliki harta kekayaan.
Az-Zein mengatakan bahwa dengan memahami hukum-hukum syara’ yang menetapkan bahwa
bentuk pekerjaan tersebut tampak jelas, bahwa bentuk-bentuk pekerjaan yang diisyaratkan, sekaligus
dapat dijadikan sebab hak milik harta adalah pekerjaan-pekerjaan sebagi berikut:
1) Bekerja disektor jasa (ijarah);
2) Bekerja sebagai broker/makelar;
3) Bekerja sebagai pengelola (mudharib) pada perseroan (syarikah) mudlarabah;
4) Bekerja mengairi lahan pertanian (musaqat);
5) Menghidupan tanah mati;
6) Menggali kandungan bumi.
b. Memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi berlangsungnya pengembangan hak milik
(tanmiyatu al-milkiyah) melalui kegiatan investasi.
Pengembangan hak milik (tanmiyatu al-milkiyah) adalah mekanisme yang digunakan
seseorang untuk mendapatkan tambahan hak milik tersebut. Karena islam mengemukakan dan
mengatur serta menjelaskan satu mekanisme untuk mengembalikan hak milik. Maka pengembangan
hak milik tersebut harus terikat dengan hukum-hukm tertentu yang telah dibuat syara’ dan tidak
boleh dilanggar ketentuan-ketentuan syara’ tersebut.
Kalau kita amati berbagai macam bentuk harta kekayaan yang ada dalam kehidupan, maka
dapat kita kelompokkan menjadi tiga macam, yaitu: 1) Harta berupa tanah; 2) Harta yang diperoleh
melalui pertukaran dengan barang (jual-beli); 3) Harta yang diperoleh dengan cara mengubah bentuk
dari satu bentuk kebentuk yang berbeda. Dalam hal transaksi jual beli maupun produksi ada bebrapa
saluran distribusi yang ada didalmnya yaitu:
1. Produsen ------------------------------------------------------ konsumen
2. Produsen ----------------------------- pedagang eceran ---- konsumen
3. Produsen ---------------- grosir ----- pedagang eceran ---- konsumen
4. Produsen ---- Agen ---- grosir ----- pedagang eceran ---- konsumen
Dari sinilah kita ketahui teknik yang digunakan oleh orang-orang mengembangkan untuk
harta kekayaan yang kesemuanya ditujukan dalam rangka meningkatkan produktivitasnya.
c. Laranagn menimbun harta benda walaupun telah dikeluarkan zakatnya. Harta yang ditimbun
tidak akan berfungsi ekonominya. Pada gilirannya akan menghambat distribusi karena tidak
terjadi perputaran harta.

7
Dijelaskan Al Badri bahwa islam mengharamkan menimbun harta benda walaupun telah
dikeluarkan zakatnya, dan mewajiban pembelanjaan terhadap harta tersebut, agar ia beredar ditengah-
tengah masyarakat sehingga dapat diambil manfaatnya. Penggunaan harta benda dapat dilakukkan
dengan mengerjakan sendiri ataupun bekerja sama dengan orang lain dalam suatu pekerjaan yang
tidak diharamkan. Ada banyak hal larangan dalam Alquran diantarnya, yaitu melarang usaha
penimbunan harta, baik emas maupun perak karena keduanya merupakan standar mata uang. Allah
berfirman:
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah,
maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih”
Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa ayat tersebut muncul adanya penimbunan uang, bukan
adanya akibat saving uang. Sebab saving tersebut tidak akan menghentikan roda perekonomian.
Sebaliknya penimbunanlah yang justru menghentikannya.
Perbedaan antara penimbunan dengan saving adalah, bahwa kalau penimbunan berarti
mengumpulkan uang satu dengan uang yang lain tanpa ada kebutuhan, dimana penimbunan tersebut
akan menarik uang dari pasar. Sementara saving adalah menyimpan uang karena adanya kebutuhan,
semisal mengumpulkan uang untuk membangun rumah, untuk menikah, memperbaiki bisnis ataupun
untuk keperluan yang lain.
d. Membuat kebijakan agar harta beredar secara luas serta menggalakkan berbagai kegiatan
syirkah dan mendorong pusat-pusat pertumbuhan.
Islam menganjurkan agar harta benda beredar diseluruh anggota masyarakat, dan tidak beredar
dikalangan tertentu, sementara kelompok lain tidak mendapat kesempatan. Caranya adalah dengan
menggalakkan kegiatan investasi dan pembangunan infrasturktur. Untuk merealisasikan hal ini maka
negara menjadi fasilisator antara orang kaya yang tidak mempunyai waktu dan berkesempatan untuk
mengerjakan dan mengembangkan hartanya dengan pengelola yang professional yang modalnya
kecil atau tidak ada. Mereka dipertemukan dalam perseroan.
Selain itu negara dapat juga memberikan pinjaman modal usaha. Dan pinjaman tidak dikenakan
bunga ribawi . Bahkan kepada orang-orang tertentu dapat juga diberikan modal usaha secara cuma-
cuma sebagai hadiah agar tidak terbebani oleh pengembalian pinjaman tersebut.
Cara lain yang dilakukan adalah dengan menyediakan berbagai fasilitas seperti jalan raya ,
pelabuhan, pasar dan lain sebagainya.
e. Larangan kegiatan monopoli, serta berbagi penipuan yang dapat mendistorasi pasar.
Islam melarang terjadinya monopoli terhadap produk-produk yang merupakan jenis hak milik
pribadi (private property). Sebab dengan adanya monopoli, maka seseorang dapat menentukan harga
jual produk tidak sesuai dengan pasarnya, sehingga dapat merugikan kebanyakan orang dimuka

8
umum. Bahkan negara tidak diperbolehkan turut terlibat dalam penetapan harga jual suatu produk
yang ada dipasar, sebab hal ini akan menyebabkan terjadinya perubahan harga pasar. Islam
mengharamkan penetapan harga secara mutlak. Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah
r.a yang mengatakan:
“Bahwa ada seseorang laki-laki datang lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah tetapkan harga ini .’
Beliau menjawab: ‘(Tidak) justru, biar saja.’ Kemudian beliau didatangi laki-laki yang lain lalu
mengatakan : ‘Wahai Rasulullah, tetapkan harga ini’ Belaiu menjawab . (Tidak) tetapi Allah-lah yang
berhak menurunkan dan menaikkannya. Pematokan harga secara sepintas tampaknya baik dan bisa
memberi kemaslahatan bagi rakyat secara keseluruhan. Akan tetapi, dengan pengamatan yang lebih
mendalam pematokan harga tersebut akan berdampak munculnya pasar-pasar gelap. Dalam kondisi
paceklik akan mendorong kaum kaya untuk berlomba-lomba memborong barang kemudian menjual
dipasar gelap dengan harga yang bisa mereka kendalikan sendiri. Akibatnya harga barang akan
semakin membumbung naik tanpa bisa dikendalikan lagi. Hal itu menyebabkan yang kaya akan
semakin kaya dan yang miskin akan terus tercekik.
Akan tetapi berbeda dengan berbagai produk yang termasuk milik umum islam
memperbolehkan adanya monopoli oleh negara. Namun monopoli oleh negara bukan berarti negara
dapat menerapkan harga sebebas-bebasnya demi mengejar keuntungan semata. Namun negara justru
berkewajiban menyediakan berbagai produk tersebut dengan harga serendah-rendahnya.
Masalah lain yang dilarang oleh islam adalah adanya upaya memotong jalur pemasaran yang
dilakukan oleh pedagang perantara, sehingga para produsen terpaksa menjual produknya dengan
harga sangat murah, padahal harga yang ada dipasar tidak serendah yang mereka peroleh dari
pedagang perantara. Abdullah Ibn Umar r.a meriwayatkan berkata:
“Kami pernah menyambut orang-orang yang datang membawa hasil panen dari luar kota lalu kami
membelinya dari mereka. Rasulullah Saw melarang kami membelinya sampai hasil panen tersebut di
bawa ke pasar”
f. Laranagn kegiatan judi, riba, korupsi pemberian suap dan hadiah kepada penguasa.
Judi dan riba merupakan penyebab utama uang hanya akan bertemu dengan uang (bukan dengan
barang dan jasa) dan beredar diantara orang kaya saja karena islam melarang serta mengharamkan
akktivitas tersebut. Allah berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk)
berhala, mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-
perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”Berkitan dengan riba Allah Swt berfirman :

9
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum
dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman”. Dari penggalan ayat Al-Quran tersebut dapat dilihat
bahwa riba mempunyai banyak bahaya dintaranya:
1. Menumbuhkan egoisme individu
2. Merusak sendi-sendi kehidupan ekonomi
3. Merusak tatanan ekonomi
Sementara korupsi, pemberian suap dan hadiah kepada penguasa mengakibatkan harta hanya
beredar diantara orang-orang yang sudah berkecukupan. Hal ini merupakan penyebab rusaknya
sistem distribusi kekayaan. Berkaitan dengan suap menyuap Rasululullah bersabda:
“Allah Swt melaknat penyuap, penerima suap dan menjadi perantara suap menyuap” (HR Ahmad)
Seorang pejabat yang menduduki suatu jabatan khusus dilarang menerima hadiah dari pihak
manapun. Hal demikian tidak boleh seorang pegawai atau pejabat yang sedang mengerjakan tugasnya
menerima komisi.sementara dia telah mendapatkan gaji dari pekerjaannya.

g. Pemanfaatan secara optimal (dengan harga murah atau cuma-cuma ) hasil dari barang-barang
dari SDA milik umum (al-milkiyah al-amah) yang dikelola negara seperti hasil hutan, barang
tambang, minyak, listrik, air dan sebagainya demi kesejahteraan rakyat.
Dengan disiplinnya pengelolaan dan pemanfaatan harta-harta yang menjadi milik umum, maka
hasilnya dapat didistribusikan kepada seluruh masyarakat secara cuma-cuma atau dengan harga yang
murah. Dan jika terjadi kenaikan harga harus megikuti kenaikan pendapatan rata-rata penduduk.
Dalam islam adanya tingkat harga yang wajar atau adil bukan sebuah keringanan melainkan hak
fundmental yang dijamin hukum negara.
2. Mekanisme Nonekonomi
Didukung oleh sebab-sebab tertentu yang bersifat alamiah, misalnya keadaan alam yang
tandus, badan yang cacat, akal yang lemah atau terjadi musibah bencana alam, dimungkinkan
terjadinya kesenjangan ekonomi dan terhambatnya distribusi kekayaan kepada orang-orang yang
memilki faktor-faktor tersebut. Dengan ekonomi biasa, maka distribusi kekayaan tidak akan berjalan
dengan baik karena orang-orang yang memiliki hambatan yang bersifat alamiah tadi tidak dapat
mengikuti aturan kegiatan ekonomi secara normal sebagimana orang lain. Bila dibiarkan maka orang-
orang itu tergolong tertimpa musibah (kecelakaan, bencana alam dan sebagainya) makin terpuruk
secara ekonomi. Oleh karena itu agar tercapai keseimbangan dan kesetaraan ekonomi maka dapat
dilakukan hal-hal berikut:
a. Pemberian negara kepada rakyat yang membutuhkan

10
Pemberian harta negara tersebut dengan maksud agar dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup
rakyat atau agar rakyat dapat memanfaatkan pemilikan secara merata. Pemenuhan kebutuhan tersebut
dapat diberikan secara langsung ataupun tidak langsung dengan jalan memberi berbagai sarana
fasilitas sehingga pribadi dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Mengenai berbagai pemenuhan kebutuhan hidup contohnya negara memberi sesuatu kepada
pribadi atau masyarakat yang mampu mngerjakan lahan, maka negara akan memberikan lahan yang
menjadi milik negara kepada pribadi yang tidak mempunyai lahan tersebut atau negara memberikan
harta kepada pribadi yang mempunyai lahan tetapi tidak mempunyai modal untu menegelolanya.
b. Zakat
Pemberian harta zakat yang dibayarkan oleh muzakki kepada mustahik adalah bentuk lain dari
mekanisme nonekonomi dalam hal distribusi zakat. Zakat adalah ibadah yang dapat dilaksanakan
oleh para muzakki. Dalam hal ini, negara wajib memaksa siapapun yang termasuk muzakki untuk
membayar zakatnya.
Dari harta zakat tersebut kemudian dibagikan kepada golongan tertentu , yakni delapan asnaf
seperti yang telah disebutkan dalam Alquran. Allah berfirman:
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-
pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang
berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu
ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.Jadi zakat
merupakan ibadah yang berperan dan berdampak ekonomi , yakni berperan sebagi instrument
distribusi kekayaan diantara manusia.
c. Warisan
Ketika mati orang meninggal itu tidak lagi memiliki hak apa-apa atas badan dan hartanya.
Sekalipun harta tersebut milik si mayit, tetapi ketika mati ia tidak berhak memberikan kepada siapa
saja sesuka dia. Wasiat menyangkut harta kepada selain ahli waris hanya diperbolehkan paling
banyak sepertiga bagian saja. Dengan cara ini akan berlangsung peredaran harta milik mayit kepada
ahli warisnya. Dan ahli waris bisa mendapatkan harta tanpa melalui ekonomi biasa.
Pribadi ahli waris dapat memperoleh harta dengan mendapatkan warisan. Dalil yang
menunjukkan hal ini adalah nash al-quran yang penunjukannya secara qathiy. Waris mempunyai
hukum-hukum tertentu yang sifatnya tauqify yakni suatu ketentuan hukum yang bersifat dari Allah
Swt. Hukum waris juga tidak disertai illat (sebab ditetapkan hukum) apapun. Nash-nash Alquran
telah menjelaskan hukum-hukum waris dalam bentuk rinci: Allah Swt telah menyatakan dalam
firmannya:

11
Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu :
bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan dan jika anak itu
semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika
anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa,
bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai
anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja),
Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka
ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang
ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak
mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah
ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.d. Shadaqah
Dalam distribusi non ekonomi kita juga mengenal distribusi pendapatan yang berada dalam
konteks rumah tangga. Distribusi pendapatan dalam konteks rumah tangga tidak lepas dari
terminologi shadaqah. Pengertian shadaqah disini bukan berarti sedekah dalam pengertian bahasa
Indonesia. Karena shadaqah dalam kontek terminologi Alquran dapat dipahami dalam dua aspek,
yaitu shadaqah wajibah yang berarti bentuk-bentuk pengeluaran rumah tangga yang berkaitan dengan
instrument distribusi pendapat berbasis kewajiban. Untuk kategori ini bisa berarti kewajiban personal
seseorang sebagai muslim, seperti warisan dan bisa juga berarti keawajiban seorang muslim dengan
muslim yang lain. Kedua: shadaqah nafilah (sunnah) yang berarti bentuk-bentuk pengeluaran rumah
tangga yang berkaitan dengan instrument distribusi pendapatan berbasis amal karikatif, sedekah.
Sedekah tersebut antara lain yaitu:
Pertama : Shadaqah wajibah (wajib dan khusus dikenakan bagi orang muslim) adalah:
1) Nafaqah: Kewajiban tanpa syarat dengan menyediakan kebutuhan yang diberikan kepada
pihak atau orang-orang yang menjadi tanggungannya. Nafkah tersebut ditujukan untuk enam
kelompok: diri sendiri, istri, saudara, pembantu wanita, budak dan hewan peliharaan.
2) Udhiyah: Kurban binatang ternak pada saat hari raya idul adha dan hari tasyirik
3) Musaadah: Bantuan kepada orang lain yang sedang terkena musibah, tanpa ada pamrih
apapun.
4) Jiwar: Bantuan yang diberikan kepada tetangga, hal ini dianjurkan oleh nabi seperti
diungkapkan dalam hadis berikut “ barang siapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,
maka hormatilah tetanggamu.”
5) Diyafah: kegiatan memberikan jamuan kepada tamu yang datang.
Kedua: Shadaqah Nafilah (sunnah dan khusus dikenakan bagi orang muslim) adalah:

12
1) Infaq: Sedekah yang diberikan kepada orang lain jika kondisi keuangan rumah tangganya
sudah berda diatas nisab. Jadi seseorang muslim tidak dituntut untuk mendistribusikan
hartanya untuk infaq sebelum memenuhi kewajiban membayar zakat.
2) Aqiqah: Kegiatan pemotongan kambing untuk anak yang dimikinya (dilahirkannya), satu ekor
untuk anak perempauan dan dua ekor untuk anak laki-laki.
3) Wakaf: Menahan suatu benda untuk diambil manfaatnya untuk kepentingan umum sesuai
dengan ajaran islam.
4) Wasiat : Pendistribusian harta kepada orang lain setelah pemilik harta tersebut meninggal,
makksimal 1/3 harta yang ditinggalkan (warisan)
Melalui kegiatan yang sangat dianjurkan ini, akan terjadi peredaran atau distribusi kekayaan
diantara manusia melalui mekanisme non ekonomi.
d. Ganti rugi terhadap kejahatan yang dilakukan seseorang kepada orang lain
Distribusi harta dapat juga terjadi karena adanya ganti rugi (kompensasi) dari kemudharatan yang
menimpa seseorang. Seseorang bisa mendapatkan harta tanpa harus mengeluarkan curahan harta
tenaga karena dia mendapat ganti rugi sebagai akibat kemudaharatan yang dilakukan orang lain
kepadanya. Kegiatan tersebut antara lain:
1) Kafarat: Tebusan terhadap dosa yang dilakukan oleh orang muslim, semisal melakukan
hubungan suami istri pada siang hari di bulan Ramadhan. Salah satu pilihan hukuman adalah
memberikan makan fakir miskin sebanyak 60 orang.
2) Dam/diyat: tebusan atas tidak dilakukannya suatu syarat dalam pelaksanaan ibadah, seperti
tidak melakukan puasa tiga hari pada saat melaksanakan ibadah haji. Tarifnya setara dengan
seekor kambing.
3) Nudzur: perbuatan untuk menafkahkan atau mengorbankan sebagian harta yang dimilikinya
untuk mendapatkan ridha Allah Swt atas keberhasilan pencapaian sesuatu yang menjadi
keinginannya. Sipelaku dapat menentukan sendiri.
e. Barang Temuan
Salah satu bentuk distribusi harta secara nonekonomi adalah penguasaan seseorang atas harta
temuan sehingga apabila ada seseorang telah menemukan suatu barang dijalan atau disuatu tempat
umum, maka harus diteliti terlebih dahulu: apabila barang tersebut memungkinkan untuk disimpan
dan diumumkkan. Misalnya emas, perak, permata dan pakaian, maka barang tersebut harus disimpan
dan diumumkan untuk dicari siapa pemiliknya. Jika selama dalam pengumuman ada pemiliknya yang
datang maka harta tersebut harus diserahkan. Akan tetapi jika tidak ada yang datang atau tidak ada
yang dapat membuktikan bahwa harta tersebut memang miliknya maka harta tersebut menjadi milik
orang yang menemukan dan harus dikeluarkan khums (1/5) dari harta tersebut sebagai zakatnya.

13
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Distribusi adalah suatu proses (sebagian hasil penjualan produk) kepada faktor-faktor produk
yang ikut menentukan pendapatan . Dalam kamus bahasa Indonesia dijelaskan distribusi adalah
penyaluran barang ketempat-tempat.
konsep distribusi menurut pandangan islam ialah peningkatan dan pembagian bagi hasil
kekayaan agar sirkulasi kekayaan dapat ditingkatkan, sehingga kekayaan yang ada dapat melimpah
dengan merata dan tidak hanya beredar di antara golongan tertentu saja serta dapat memberikan
kontribusi kearah kehidupan manusia yang baik.

3.2. Saran
Kami Menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan yang semua itu
hanyalah keterbatasan ilmu pengetahuan yang kami miliki, oleh karena itu, kami sangat
mengharapkan kritik/saran dari Ibu/bapak guru dan teman-teman yang bersifat membangun demi
kesempurnaan makalah ini. Akhir kata kami ucapkan, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
penulis khususnya dan pembaca umumnya.

14
DAFTAR PUSTAKA

http://sitikhoeriyah-waktunyaberbagi.blogspot.co.id/2014/12/teori-distribusi-islam.html
Al-Hanif, Rifkky dkk. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Sinar Kurnia
An-Nabahan ,M Faruq.Sistem Ekonomi Islam, Yogyakarta: UII Press Yoyakarta,2002
Chapra, M Umar dkk. Etika Ekonomi Politik.Surabaya: Risalah Gusti,1997
Ilmi, Makhalul.Teori dan Praktek Mikro Keuangan Syariah. Yogyakarta: UII Press Yoyakarta,2002
Haider Naqvi, Syed Nawab.Menggagas Ilmu Ekonomi Islam.Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2003
Nasutin, Mustafa Edwin dkk.Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam. Jakarta: Kencana Prenada media
Group,2006
Nawawi, Ismail.Ekonomi Islam. Surabaya: Cv. Putra Media Nusantara,2009
Pusat Pengkajian dan Pengambangan ekonomi (P3EI).Ekonomi Islam.Jakarta: PT.Raja
Grafindo,2008
Rahardjo, M Dawam..Etika Ekonomi dan Manajemen. Yogyakarta: Pt.tiara Wacana1990
Sholahuddin, Muhammad.Asas-Asas Ekonomi Islam. Jakarta: PT.Raja Grafindo. 2007
Siddiqi, Muhammad Nejatullah. Kegiatan Ekonomi Dalam Islam. Jakarta: Bumi Aksara,1991
http:sescipb.co.cc/index.php?option=com conten&view=article&id=53:distribusi-
pendapatan&catid=39:makro&itemid=54

15
http://p3ei.blogdetik.com/distribusi-pendapatan/
http://dansite.wordpress.com/2009/03/25/pengertian-distribusi/
http://kanal3.wordpress.com/2010/05/20/%E2%80%9Cstudy-hadits-ekonomibagaimanakah-konsep-
distribusi-dalam-islam/

DAFTAR ISI

Halaman
Halaman Sampul
COVER DEPAN ...........................................................................................................i
KATA PENGANTAR....................................................................................................ii
DAFTAR ISI..................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang.........................................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah...................................................................................................2
1.3. Tujuan Pembuatan Makalah.....................................................................................2

16

Anda mungkin juga menyukai