Anda di halaman 1dari 95

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

KELANCARAN PENGEMBALIAN
KREDIT USAHA RAKYAT (KUR)
(Studi Kasus pada PT Bank BRI Unit Cimanggis,
Cabang Pasar Minggu)

SKRIPSI

VIRGITHA ISANDA AGUSTANIA


H34050921

DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009

RINGKASAN
VIRGITHA ISANDA AGUSTANIA. H34050921. 2009. Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Kelancaran Pengembalian Kredit Usaha Rakyat (KUR)
(Studi Kasus pada PT Bank BRI Unit Cimanggis, Cabang Pasar Minggu).
Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut
Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan ANNA FARIYANTI).
Lebih dari 80 persen usaha yang ada di Indonesia adalah usaha mikro.
Sektor usaha mikro mampu memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional,
khususnya dalam hal menyediakan kesempatan kerja dan merupakan sumber yang
cukup besar bagi penerimaan negara (BPS 2007). Walaupun sektor usaha mikro
memberikan kontribusi besar terhadap PDB nasional dan dapat menyediakan
lapangan pekerjaan bagi masyarakat namun hal ini belum dapat mendorong
pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat. Faktor internal yang diduga menjadi
salah satu penyebabnya adalah kurangnya permodalan. Salah satu langkah nyata
pengembangan sektor usaha mikro adalah melalui peningkatan permodalan
berupa kredit.
Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang merupakan kredit bagi usaha mikro
maupun bagi usaha kecil, dan menengah dengan pola penjaminan diharapkan
akan dapat memberikan kemudahan akses serta kesempatan yang lebih besar
terhadap kredit, terutama pada usaha mikro. PT Bank Rakyat Indonesia
merupakan bank penyalur yang paling banyak menyalurkan KUR. Meskipun
KUR merupakan hasil dari kebijakan pemerintah, tidak membuat kegiatan
penyaluran pinjaman ini lepas dari risiko kredit. Risiko kredit dalam kegiatan
pembiayaan melalui pemberian KUR ini diindikasikan dengan tingkat kredit
macet atau tingkat Non Performing Loan (NPL), seperti yang terjadi pada BRI
Unit Cimanggis yang nilainya cenderung meningkat seiring dengan peningkatan
jumlah debiturnya. Sehingga penelitian yang bertujuan mengidentifikasi
karakteristik debitur berdasarkan kelancaran pengembaliannya serta menganalisis
faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap kelancaran pengembalian KUR
pada BRI Unit Cimanggis diharapkan akan bermanfaat untuk mengantisipasi
risiko kredit tersebut sedini mungkin.
Penelitian ini dilakukan pada PT Bank BRI Unit Cimanggis Cabang Pasar
Minggu pada bulan Maret hingga April 2009. Data yang digunakan dalam
penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Metode penentuan sampel
dalam penelitian ini dilakukan secara sengaja dan disproporsional. Jumlah sampel
yang diambil sebanyak 65 orang dengan jumlah sampel untuk masing-masing
subpopulasi yaitu 40 orang mewakili subpopulasi dengan pengembalian lancar
dan 25 orang mewakili subpopulasi yang menunggak. Pengolahan data di dalam
penelitian ini menggunakan dua metode pengolahan data yaitu analisis kualitatif
dan analisis kuantitatif dengan menggunakan analisis regresi logistik.
Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa karakteristik responden
debitur KUR BRI Unit Cimanggis baik responden debitur lancar maupun
menunggak sebagian berjenis kelamin pria dengan tingkat pendidikan yang
rendah. Jumlah tanggungan dalam keluarga sebagian besar berjumlah empat
orang. Mereka sebagian besar mengakses kredit dengan masa pengembalian 12

bulan. Antara responden debitur lancar dengan responden debitur menunggak


dapat dibedakan berdasarkan ada tidaknya pinjaman lain yang sedang diakses
responden debitur bersamaan dengan KUR pada BRI Unit Cimanggis,besarnya
jumlah pinjaman, serta besarnya omzet usaha. Responden debitur menunggak
sebagian besar ditemukan sedang dalam pinjaman lain, sementara pada responden
debitur lancar sebaliknya. Jumlah pinjaman pada responden debitur lancarn
sebagian besar sejumlah Rp 5.000.000, sementara pada responden debitur
menunggak sebagian besar meminjam sejumlah Rp 3.000.000 dan Rp 5.000.000.
Besarnya omzet usaha pada responden debitur lancar cenderung lebih besar jika
dibandingkan dengan besarnya omzet usaha responden debitur menunggak.
Faktor-faktor yang berpengaruh secara nyata terhadap kelancaran
pengembalian KUR adalah omzet usaha, besarnya jumlah pinjaman, dan pinjaman
lain pada selang kepercayaan 90 persen ( = 0,1). Omzet usaha memiliki
pengaruh (p-value= 0,025) dan keterkaitan positif (koefisien = 0,0628) dengan
kelancaran pengembalian kredit. Artinya, semakin tinggi omzet usaha maka
peluang dan kecenderungannya untuk dapat mengembalikan kredit dengan lancar
semakin tinggi. Odds ratio sebesar 1,06 mengartikan bahwa peningkatan omzet
usaha sebesar satu satuan (juta rupiah) akan meningkatkan peluang tingkat
kelancaran pengembalian kredit sebesar 1,06 kali lebih besar.
Jumlah pinjaman memiliki pengaruh (p-value= 0,06) dan keterkaitan
positif (koefisien = 0,71) dengan kelancaran pengembalian kredit. Artinya,
semakin tinggi jumlah pinjaman maka peluang dan kecenderungannya untuk
dapat mengembalikan kredit dengan lancar semakin tinggi. Odds ratio sebesar
2,04 mengartikan bahwa peningkatan jumlah pinjaman sebesar satu satuan (juta
rupiah) akan meningkatkan peluang tingkat kelancaran pengembalian kredit
sebesar 2,04 kali lebih besar.
Berbeda dengan pinjaman lain yang memiliki (p-value = 0,015) dan
keterkaitan negatif (koefisien = -1,747) dengan kelancaran pengembalian kredit,
dimana jika debitur memiliki atau sedang terlibat dengan pinjaman pada pihak
lain selain pada BRI Unit Cimanggis maka peluang dan kecenderungannya untuk
dapat mengembalikan kredit dengan lancar semakin kecil. Nilai odds ratio sebesar
0,17 mengartikan bahwa nasabah yang memiliki pinjaman pada pihak lain akan
berpeluang lebih 0,17 kali lebih kecil untuk mengembalikan kredit secara lancar.
Berdasarkan faktor yang berpengaruh nyata tersebut, pihak BRI Unit
Cimanggis diharapkan lebih selektif dalam memutuskan calon debitur yang akan
menerima pinjaman (KUR) dengan mempertimbangkan berbagai hal khususnya
mengenai ada tidaknya pinjaman lain yang sedang diakses calon debitur, besarnya
jumlah pinjaman, dan besar omzet usaha yang dimiliki calon debitur. Kondisi
usaha calon debitur di masa yang akan datang harus diprediksi karena terdapat
kemungkinan keberhasilan atau kegagalan usaha di masa yang akan datang
dimana kondisi tersebut berpengaruh pada jumlah omzet di masa yang akan
datang.
Selain menambahkan kriteria penilaian, BRI juga perlu membantu nasabah
dalam memecahkan permasalahan penurunan omzet dengan memberikan
masukan manajerial dalam upaya penguatan capacity building di bidang
pemasaran dan manajemen usaha nasabah. Bersaman dengan hal tersebut, bagi
nasabah sendiri dapat melakukan upaya-upaya agar omzet usaha berkembang.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


KELANCARAN PENGEMBALIAN
KREDIT USAHA RAKYAT (KUR)
(Studi Kasus pada PT Bank BRI Unit Cimanggis,
Cabang Pasar Minggu)

VIRGITHA ISANDA AGUSTANIA


H34050921

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk


memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2009

Judul Skripsi

: Faktor-Faktor yang Mempengaruhi


Kredit Usaha Rakyat

(Studi Kasus pada PT Bank BRI

Unit Cimanggis Cabang Pasar Minggu)


Nama

: Virgitha Isanda Agustania

NIM

: H34050921

Menyetujui,
Pembimbing

Dr. Ir. Anna Fariyanti, M.Si


NIP. 19640921 199003 2 001

Mengetahui,
Ketua Departemen

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS


NIP. 19580908 198403 1 002

Tanggal Lulus :

Kelancaran Pengembalian

PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Kelancaran Pengembalian Kredit Usaha Rakyat (KUR),
Studi Kasus pada PT Bank BRI Unit Cimanggis, Cabang Pasar Minggu adalah
karya sendiri dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan
tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang
diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks
dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, September 2009

Virgitha Isanda Agustania


H34050921

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal 28 Agustus 1987. Penulis adalah anak
pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Ir. Haris Kaswara dan Ibunda Hj.
Etna Solihati (alm). Penulis menunaikan wajib belajar sembilan tahun di SD Swata
Pupuk Iskandar Muda (lulus tahun 1999) dan SMP Negeri 41 Ragunan (lulus tahun
2002). Penulis kemudian menyelesaikan pendidikan lanjutan menengah atas di SMA
Negeri 28 Pasar Minggu dan lulus pada tahun 2005.
Penulis diterima sebagai mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama (TPB) di
Institut Pertanian Bogor melalui Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) pada
tahun 2005. Pada tahun 2006, penulis diterima untuk melanjutkan pendidikan di
Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen melalui seleksi umum yang
dilakukan terhadap seluruh mahasiswa TPB-IPB angkatan 42. Selama mengikuti
pendidikan di IPB, penulis aktif pada Himpunan Profesi Mahasiswa Peminat Agribisnis
(HIPMA), Himpunan Mahasiswa Peminat Sosial Ekonomi (MISETA), serta
International Association of Students in Agriculture and Related Sciences Local
Committee IPB (IAAS-LC IPB).
Pada tahun 2007, penulis bersama dengan dua rekan mahasiswa lainnya tercatat
sebagai juara 2 LKTM Bidang Pendidikan tingkat IPB. Pada tahun 2008, penulis
kembali bersama dengan dua rekan mahasiswa lainnya tercatat sebagai penerima hibah
DIKTI untuk Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian Masyarakat. Pada
tahun 2009, penulis memperoleh beasiswa Prestasi Pengembangan Akademik dari
DIKTI yang disalurkan melalui Direktorat Kemahasiswaan IPB.

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT atas segala berkat dan rahmatNya sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Kelancaran Pengembalian Kredit Usaha Rakyat (KUR), Studi
Kasus pada PT Bank BRI Unit Cimanggis, Cabang Pasar Minggu.
Penelitian

ini

bertujuan

untuk

menganalisis

faktor-faktor

yang

mempengaruhi kelancaran pengembalian Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada


PT Bank BRI Unit Cimanggis. Penulis menyadari masih terdapat banyak
kekurangan, baik dari aspek teknis penulisan maupun substansi, karena
keterbatasan dan kendala yang dihadapi. Untuk itu, penulis mengharapkan saran
dan kritik yang membangun ke arah penyempurnaan sehingga penulis dapat
menyusun penelitian yang lebih baik di masa mendatang. Kekurangan-kekurangan
maupun kesalahan-kesalahan yang terdapat di dalam skripsi ini juga dapat
dijadikan pembelajaran oleh peneliti yang menjadikan skripsi ini sebagai
referensi, agar kekurangan maupun kesalahan tersebut tidak terulang lagi.

Bogor, September 2009


Virgitha Isanda A

viii

UCAPAN TERIMA KASIH


Skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik atas bantuan dan partisipasi dari
berbagai pihak. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, penulis memberikan
penghargaan dan ucapan terima kasih atas semua dukungan, bimbingan, dan arahan
yang telah diberikan kepada penulis. Penghargaan dan ucapan terima kasih tersebut
penulis sampaikan kepada :
1. Orang tua, adik, dan saudara tercinta untuk setiap dukungan dan doa yang diberikan,
untuk kasih sayang yang tidak pernah henti. Almarhum Mamih, Papih, Risha, Ninik,
serta Uwa Ewin karya kecil ini dipersembahkan dengan sepenuh hati untuk kalian.
2. Ibu Dr. Ir. Anna Fariyanti, M.Si selaku dosen pembimbing dan juga figur ibu bagi
kami anak bimbingannya. Terima kasih atas bimbingan, arahan, masukan, koreksi,
waktu, dukungan, dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis selama proses
pra-penelitian hingga penyusunan skripsi.
3. Ibu Ir Dwi Rachmina, M.Si selaku dosen penguji utama dan Ibu Etriya, SP,MM
selaku dosen penguji Komisi Pendidikan yang telah meluangkan waktunya serta
memberikan kritik dan saran untuk perbaikan skripsi ini pada ujian sidang penulis.
4. Bapak Hadi di Kantor Pusat BRI, Mas Maulana di Kantor Cabang Pasar Minggu,
Mas Indra dan Bapak Joko di BRI Unit Cimanggis, beserta rekan-rekan di BRI Unit
Cimanggis yang telah banyak membantu sebelum hingga selama proses penelitian
berlangsung.
5. Seluruh nasabah BRI Unit Cimanggis yang telah bersedia menjadi responden dalam
penelitian.
6. Staf pelayanan akademik (Mba Dian dan Bu Ida) yang telah membantu penulis
menyelesaikan semua urusan administrasi serta seluruh staf Departemen Agribisnis
lainnya.
7. Bapak Yusuf yang selalu sigap mempersiapkan segala keperluan seminar hingga
keperluan sidang dengan baik.
8. Anisa Dwi Utami yang telah meluangkan waktu dan menyumbangkan pikiran
melalui pertanyaan, kritik, serta saran yang diberikan saat menjadi pembahas
seminar penulis.

ix

9. Dicky Satria yang senatiasa mengingatkan dan memberi semangat tanpa pernah
bosan.
10. Dina Wening, Rika Kemala, Lizna Seftiana, Wiwi Heryawati, Retno Suandari, Gusri
Ayu Farsa, M. Reza, Resha Adriansyah, Wiyanto, Alessandro Ginting, Marlinda
Sari, dan rekan-rekan mahasiswa Agribisnis lainnya serta tidak lupa Gina Almirani,
Intan Tanjung, Ika Novi, Diajeng Sagita yang selalu memberi dukungan dan
semangat.
11. Teman-teman kecilku, Diah Ayu, Yulia Prihandini, Halina Amanda, Yusna Ayu,
Nurani Agustina, Meilani Martini, Riesa Eka, Astatine Sunardi, dan Qisha Quarina,
yang selalu mendukung, memberi warna, dan inspirasi dalam hidup.
12. Mba Anis, Ratna MS dan Novy, rekan-rekan satu bimbingan yang selalu saling
mendukung.
13. Teman-teman Perwira 41, Intan, Adek, Rani, Lina, Mei, Rini, Tita, Amma, yang
memberikan kehangatan dan kenyamanan seperti sebuah keluarga kedua.
14. Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu, terima kasih atas seluruh
bantuan yang telah diberikan kepada penulis.

Bogor, September 2009


Virgitha Isanda Agustania

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ................................................................................

xiii

DAFTAR GAMBAR ............................................................................

xiv

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................

xv

PENDAHULUAN ........................................................................
1.1 Latar Belakang ........................................................................
1.2 Perumusan Masalah ................................................................
1.3 Tujuan Penelitian ....................................................................
1.4 Manfaat Penelitian ..................................................................
TINJAUAN PUSTAKA ..............................................................
2.1 Usaha Mikro ............................................................................
2.2 Pengertian,Fungsi,dan Tujuan Kredit .....................................
2.3 Lembaga Keuangan Bank .......................................................
2.4 Lembaga Penjaminan ..............................................................
2.5 Kredit Usaha Rakyat (KUR) ...................................................
2.6 Pasar Kredit pada Usaha Mikro ..............................................
2.7 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kelancaran
Pengembalian Kredit ...............................................................

1
1
5
7
8
9
9
13
16
19
19
20

III

KERANGKA PEMIKIRAN ......................................................


3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis ..................................................
3.1.1 Permintaan dan Penawaran Kredit .................................
3.1.2 Risiko Kredit ..................................................................
3.1.3 Strategi Penghindaran Kredit Bermasalah .....................
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional ...........................................

24
24
24
25
27
29

IV

METODOLOGI PENELITIAN ................................................


4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ..................................................
4.2 Jenis dan Sumber Data ............................................................
4.3 Metode Pengambilan Sampel ..................................................
4.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data ...................................
4.4.1 Analisis Kualitatif ..........................................................
4.4.2 Analisis Kuantitatif ........................................................
4.5 Definisi Operasional.................................................................

35
34
34
35
36
37
38
43

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN .....................................


5.1 Sejarah Singkat PT Bank BRI .................................................
5.1 Visi, Misi, Tujuan BRI dan Sasaran Jangka Panjang .............
5.2 Budaya Perusahaan ..................................................................
5.3 Organisasi dan Jaringan Kerja BRI .........................................
5.4 Bidang Usaha BRI ...................................................................
5.5 Macam-MacamKredit BRI .....................................................
5.6 Gambaran Umum Kantor Cabang BRI Pasar Minggu ............
5.7 Gambaran Umum BRI Unit Cimanggis .................................
5.8 Mekanisme Penyaluran KUR pada BRI Unit Cimanggis .......

44
44
45
46
46
47
48
50
51
54

II

20

VI

FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP


TINGKAT KELANCARAN PENGEMBALIAN KUR
PADA BRI UNIT CIMANGGIS ...............................................
6.1 Karakteristik Responden berdasarkan Tingkat Kelancaran
Pengembalian Kredit ..............................................................
6.1.1 Karakteristik Personal ....................................................
6.1.2 Karakteristik Usaha ........................................................
6.1.3 Karakteristik Kredit ........................................................
6.2 Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Tingkat
Kelancaran Pengembalian Kredit Usaha Rakyat (KUR) ........
6.2.1 Karakteristik Personal ....................................................
6.2.2 Karakteristik Usaha ........................................................
6.2.3 Karakteristik Kredit ........................................................
6.3 Implikasi Manajerial ...............................................................

57
57
57
62
64
66
67
69
70
72

VII KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................

74

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................

76

LAMPIRAN ..........................................................................................

79

DAFTAR TABEL
Nomor
1

Halaman
Jumlah Unit Usaha dan Penyerapan Tenaga Kerja
menurut Skala Usaha Tahun 2006 ..............................................

Nilai Produk Domestik Bruto Sektor Usaha Mikro,


Kecil, dan Menengah (UMKM) dan Nasional
Tahun 2005-2007 atas Dasar Harga Berlaku ..............................

Pertumbuhan Kredit di Indonesia Tahun 2005 - 2008 ...............

Realisasi Penyaluran KUR hingga Februari 2009 .....................

Stastistika Deskriptif Responden ...............................................

57

Sebaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin .......................

58

Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan................

59

Sebaran Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan .............

60

Sebaran Responden Berdasarkan Pinjaman Lain .......................

61

10

Sebaran Responden Berdasarkan Omzet Usaha ........................

63

11

Sebaran Responden Berdasarkan Lama Usaha ...........................

64

12

Sebaran Responden Berdasarkan Jumlah Pinjaman ..................

65

13

Sebaran Responden Berdasarkan Jangka Waktu


Pengembalian .............................................................................

66

Logistic Regression Table .........................................................

67

14

DAFTAR GAMBAR
Nomor
1

Halaman
Debitur Kredit Usaha Rakyat (KUR)
BRI Unit Cimanggis Tahun 2008 2009 ..................................

Keragaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bermasalah


BRI Unit Cimanggis Tahun 2008 2009 ..................................

Produksi Total ............................................................................

24

Permintaan dan Penawaran Kredit .............................................

25

Kerangka Risiko Kredit .............................................................

26

Bagan Alur Kerangka Pemikiran Penelitian ..............................

33

Transformasi Logit .....................................................................

39

Struktur Organisasi BRI Unit Cimanggis ..................................

52

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
1

Halaman
Pelaporan Data Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro
BRI Unit Cimanggis ..................................................................

80

Struktur Organisasi BRI Pusat ...................................................

81

Struktur Organisasi Kantor Wilayah BRI .................................

82

Struktur Organisasi Kantor Cabang BRI ...................................

83

Struktur Organisasi Kantor Cabang Pembantu BRI ..................

84

Data Debitur Responden Berdasarkan

Variabel-Variabel Amatan .........................................................

85

Output Analisis Regresi Logistik ...............................................

86

I PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Pembangunan dan pertumbuhan usaha mikro merupakan salah satu

penggerak yang penting bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di


berbagai negara dunia. Salah satu karakteristik negara dengan dinamika dan
kinerja ekonomi yang baik dan laju pertumbuhan Pendapatan Domestik Bruto
(PDB) yang tinggi di negara-negara Asia Timur dan Tenggara seperti Korea
Selatan, Singapura, dan Taiwan adalah kinerja usaha mikro mereka yang sangat
efisien, produktif, dan memiliki daya saing global yang sangat tinggi. Usaha
mikro di negara-negara tersebut sangat responsif terhadap kebijakan-kebijakan
pemerintahnya dalam pembangunan sektor swasta dan peningkatan pertumbuhan
ekonomi yang berorientasi ekspor. Pada negara-negara berkembang dengan
tingkat pendapatan menengah dan rendah, peranan usaha mikro juga sangat
penting. Di India, sektor ini menyumbang sekitar 32 persen dari total nilai ekspor
dan 40 persen dari nilai output dari sektor industri manufaktur di negara tersebut.
Di beberapa negara di kawasan Afrika, perkembangan dan pertumbuhan sektor
usaha mikro juga berperan penting dalam meningkatkan keluaran (output) agregat
dan kesempatan kerja (Tambunan 2002).
Di Indonesia, lebih dari 80 persen unit usaha yang ada merupakan usaha
mikro. Usaha mikro mendominasi dari total usaha yang ada di Indonesia
sementara sektor usaha menengah dan besar hanya mengambil sebagian kecil dari
jumlah unit usaha keseluruhan. Sektor usaha mikro mampu memberikan
kontribusi bagi perekonomian nasional khususnya dalam hal menyediakan
kesempatan kerja. Pada tahun 2006, tenaga kerja banyak diserap oleh usaha mikro
(Tabel 1). Sektor usaha ini mampu memberi sumber kehidupan bagi masyarakat,
bahkan di saat kondisi perekonomian negara sulit sekalipun. Hal ini dibuktikan
pada saat krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997, sektor usaha mikro
terbukti telah membuat perekonomian nasional bertahan dan menjadi katup

pengaman bagi dampak krisis, seperti pengangguran dan pemutusan hubungan


kerja 1.
Tabel 1. Jumlah Unit Usaha dan Jumlah Penyerapan Tenaga Kerja menurut Skala
Usaha Tahun 2006
Jumlah
Usaha
(Unit)

Persentase
Jumlah Usaha
(%)

Jumlah
Tenaga Kerja
(Orang)

45.313

0,2

4.943.083

9,6

158.597

0,7

3.037.936

5,9

Usaha Kecil

3.579.761

15,8

11.276.408

21,9

Usaha Mikro

18.873.043

83,3

32.181.529

62,5

Total

22.656.714

100

51.438.956

100

Skala Usaha
Usaha Besar
Usaha
Menengah

Persentase
Jumlah Tenaga Kerja
(%)

Sumber: BPS (2007)

Selain itu, usaha mikro juga merupakan sumber yang cukup besar bagi
penerimaan negara. Hal ini dapat dilihat dari nilai persentase PDB yang
disumbangkan usaha mikro pada tahun 2007 sebagai bagian dari sektor usaha
mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terhadap nilai PDB nasional yakni sebesar
53,6 persen (Tabel 2).
Tabel 2. Nilai Produk Domestik Bruto Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah
(UMKM) dan Nasional Tahun 2005-2007 atas Dasar Harga Berlaku
Keterangan
UMKM
Nasional
Persentase UMKM

2005
(Miliar Rupiah)

2006
(Miliar Rupiah)

2007
(Miliar Rupiah)

1.941,10
3.164,10

1.778,70
3.338,20

2.121,31
3.957,66

61,35

53,30

53,60

Sumber: BPS (2008)

Walaupun sektor usaha mikro memberikan kontribusi besar terhadap PDB


nasional dan dapat menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat namun hal
ini belum dapat mendorong pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat. Faktor
internal yang diduga menjadi salah satu penyebabnya adalah kurangnya
permodalan untuk mengembangkan suatu unit usaha. Padahal berdasarkan rantai
1

Hurustyadi I. 2007. Analisis kelayakan investasi usaha mikro, kecil, dan menengah: studi kasus
pada CV Bersaudara Jaya [abstrak]. http://www.jurnalskripsi.co.id. [2 Agustus 2009].

ekonomi, modal akan menghasilkan pendapatan. Apabila modal rendah, maka


akan menyebabkan rendahnya tingkat produktifitas baik input maupun tenaga
kerja yang pada akhirnya akan menghasilkan tingkat pendapatan dan investasi
yang rendah, dan begitu pula sebaliknya. Dengan demikian maka keberadaan
kredit bagi sektor usaha mikro sangat dibutuhkan mengingat kebutuhan untuk
pembiayaan modal kerja dan investasi diperlukan guna menjalankan usaha dan
meningkatkan akumulasi pemupukan modal mereka.
Salah satu langkah nyata pengembangan sektor usaha mikro adalah
melalui bantuan permodalan berupa kredit. Perkembangan aliran modal kepada
sektor usaha mikro ini ditunjukkan dengan rata-rata pertumbuhan total kredit
usaha mikro, kecil, dan menengah pada tahun 2005 hingga tahun 2008 yang
menunjukkan tren kenaikan sebesar 12,3 persen. Bank Swasta Nasional tercatat
sebagai pemberi kredit usaha mikro, kecil, dan menengah terbesar dengan
proporsi rata-rata sebesar 48 persen dari total keseluruhan kredit usaha mikro,
kecil, dan menengah pada tahun 2005 hingga tahun 2008 (Tabel 3).
Meskipun sejumlah kredit telah mengalir kepada usaha mikro, kecil, dan
menengah, namun jumlah usaha yang telah memperoleh kredit dari perbankan
hanya sekitar 39,06 persen. Sisanya belum tersentuh oleh perbankan dan
mayoritas diantaranya merupakan usaha mikro yang berbentuk usaha rumah
tangga, pedagang kaki lima, dan berbagai jenis usaha mikro lain yang bersifat
informal. Berdasarkan latar belakang tersebut, kebijakan Kredit Usaha Rakyat
(KUR) khususnya KUR Mikro yang diperuntukkan bagi usaha mikro yang sudah
feasible namun belum bankable dengan memberikan pola penjaminan digulirkan.
Kebijakan penjaminan kredit ini diharapkan akan dapat memberikan kemudahan
akses serta kesempatan yang lebih besar terhadap kredit, terutama pada usaha
mikro 2.
Kredit Usaha Rakyat (KUR) tidak disalurkan langsung oleh pemerintah,
melainkan disalurkan oleh bank-bank yang telah ditunjuk pemerintah sebagai
bank penyalur KUR. Enam bank yang ditunjuk pemerintah sebagai penyalur KUR
adalah Bank Rakyat Indonesia, Bank Nasional Indonesia, Bank Tabungan Negara,

Osa, Stefanus. 2008. Apa kabar pemberdayaan UMKM. www.kompas.com. [28 April 2009].

Tabel 3.

Pertumbuhan Kredit UMKM di Indonesia Tahun 2005 - 2008


2005
Share

2007

34.43

42.462

11.96

52.859

12.88

24.49

67.774

13.48

28.22

Bank Swasta
Nasional

176.421

49.71

195.326

47.59

10.72

238.211

47.38

Bank Asing
dan
Campuran

13.836

3.9

17.322

4.22

25.2

20.073

Total Kredit
UMKM

354.908

100

410.442

100

15.65

502.798

(%)

Share

35.31

Growth
(%)
18.62

Nilai
(Milyar
Rupiah)
176.74

Januari 2008

Nilai
(Milyar
Rupiah)
144.935

Kelompok
Bank
Bank
Persero
Bank BPD

Nilai
(Milyar
Rupiah)
122.189

2006
(%)

Share
(%)
35.15

Growth
(%)
21.94

Nilai
(Milyar
Rupiah)
172.797

Share
(%)

Rata-Rata
Share
(%)

34.77

Growth
(%)
-2.23

67.508

13.59

-0.39

12.98

21.96

235.961

47.48

-0.94

48.04

3.99

15.88

20.658

4.16

2.91

4.07

100

22.5

496.924

100

-1.17

100

Growth
(%)

34.92
12.78
17.44

10.58

14.66

12.33
Jenis
Penggunaan
Modal Kerja

142.633

40.19

171.118

41.69

19.97

204.765

40.73

19.66

197.067

39.66

-3.76

40.57

Investasi

33.049

9.31

37.147

9.05

12.4

44.578

8.87

20

43.898

8.83

-1.53

9.02

10.29

Konsumsi

179.225

50.5

202.177

49.26

12.81

253.453

50.41

25.36

255.959

51.51

0.99

50.42

13.05

11.96

Sumber: Bank Indonesia, diolah (2008)

Bank Mandiri, Bank Bukopin, dan Bank Syariah Mandiri. Di antara keenam bank
tersebut, bank yang

paling banyak

menyalurkan KUR adalah BRI yang

menyalurkan hingga 76,69 persen dari total dana KUR yang telah disalurkan
(Tabel 4). Tingginya penyaluran KUR oleh BRI disebabkan telah luasnya jaringan
kantor BRI Unit (4300 unit) yang dapat menjangkau hingga masyarakat di
pedalaman3.
Tabel 4. Realisasi Penyaluran KUR hingga Februari 2009
Bank
BRI
-BRI KUR
-BRI KUR Mikro
BNI
Mandiri
BTN
Bukopin
BSM
TOTAL

Kredit
(Juta Rupiah)
9.681.322
3.009.856
6.671.466
1.153.303
1.168.285
176.541
612.730
344.394
13.136.575

Debitur
(Orang)

Rata-Rata Kredit
(Juta Rupiah/Orang)

1.717.666
26.711
1.690.955
8.821
37.087
1.112
2.918
4.350
1.771.954

5,64
112,68
3,95
130,75
31,50
158,76
209,98
79,17
7,41

Sumber: Kantor Menko Perekonomian dalam Bank Rakyat Indonesia (2009)

Adapun fungsi PT Bank BRI

sebagai lembaga intermediasi antar pihak

yang memiliki dana berlebih dengan pihak yang kekurangan dana, menimbulkan
adanya risiko dalam kegiatan pembiayaan bank. Pentingnya pengelolaan risiko
menjadi salah satu faktor keberhasilan PT Bank BRI

dalam meningkatkan

kualitas dan kuantitas pembiayaan serta menyokong pengembangan sektor usaha


mikro melalui penyaluran KUR.
1.2.

Perumusan Masalah
Kredit Usaha Rakyat (KUR) khususnya KUR Mikro merupakan kredit

bagi usaha mikro yang telah feasible namun membutuhkan modal baik dalam
menjalankan usaha maupun untuk memenuhi kebutuhan operasionalnya sehingga
akan dapat memperlancar dan meningkatkan produktivitas usahanya dengan pola

[Asia Securities]. 2008. Bank Rakyat Indonesia: Kinerja yang Bersinar Ditopang Jaringan yang
Kuat. www.asiasecurities.co.id. [28 April 2009].

penjaminan hingga 70 persen dari plafon kredit. Penjaminan diharapkan akan


memberikan usaha mikro akses yang lebih luas kepada perbankan.
Adanya aspek kelayakan usaha sebagai salah satu persyaratan untuk dapat
mengakses KUR diharapkan calon debitur akan memiliki kemampuan dalam
penegmbalian kredit dengan teratur. Namun di dalam pengembalian kredit ini
masih

terdapat

permasalahan

yang

timbul,

yaitu

keterlambatan

pengembalian/pelunasan kredit. Hal ini menunjukkan bahwa usaha mikro yang


feasible ternyata tidak menjamin kelancaran pengambalian kredit. Masih terdapat
faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kelancaran pengembalian selain
aspek kelayakan usaha tersebut.
PT. Bank BRI merupakan salah satu bank pelaksana Kredit Usaha Rakyat
(KUR) dan hingga kini telah menyalurkan paling berperan dalam penyaluran
KUR terutama pada KUR Mikro. Adanya risiko dalam kegiatan pembiayaan
melalui pemberian KUR ini diindikasikan dengan tingkat kredit macet atau
tingkat Non Performing Loan (NPL). Hingga Februari 2009, secara nasional rasio
kredit bermasalah (NPL) KUR mencapai 2,63 persen dan tingkat NPL pada dua
bank penyalur seperti Mandiri dan BNI masing-masing adalah sebesar

0,44

persen dan 1,96 persen. Adapun tingkat NPL KUR PT. Bank BRI sendiri adalah
sebesar 2,58 persen (Kantor Menko Perekonomian dalam Bank Rakyat Indonesia
2009). Jika dibandingkan dengan tingkat NPL KUR pada dua bank penyalur
tersebut, maka persentase NPL PT Bank BRI masih dapat ditekan dengan
berupaya meningkatkan kinerja penyaluran KUR ini menuju arah yang lebih baik.

Gambar 1. Debitur Kredit Usaha Rakyat (KUR)


BRI Unit Cimanggis Tahun 2008 - 2009
Sumber: Bank Rakyat Indonesia (2009)

BRI Unit Cimanggis Cabang Pasar Minggu merupakan salah satu dari
kantor unit yang dibuka oleh BRI untuk melayani masyarakat termasuk di
dalamnya adalah memberikan pelayanan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Di antara
unit-unit BRI yang berada dibawah Kantor Cabang Pasar Minggu, BRI Unit
Cimanggis

memiliki

peluang

terhadap

sektor

usaha

mikro.

Sejak

direalisasikannya penyaluran KUR oleh BRI, jumlah debitur yang mengakses


KUR pada BRI Unit Cimanggis secara umum cenderung memperlihatkan adanya
peningkatan (Gambar 1).
Namun seiring dengan peningkatan penyaluran KUR, peningkatan rasio
kredit bermasalah (NPL) KUR juga terjadi seperti ditunjukkan pada Gambar 2.
Selain menunjukkan adanya penurunan kinerja, tingkat NPL tersebut juga
menunjukkan kinerja penyaluran KUR pada BRI Unit Cimanggis masih berada di
bawah tingkat NPL KUR pada BRI secara keseluruhan. Per Februari 2009, tingkat
NPL KUR PT Bank BRI, adalah sebesar 2,58 persen sementara tingkat NPL KUR
pada BRI Unit Cimanggis mencapai 4,7 persen.
5.00%

NPL (%)

4.00%
3.00%
2.00%
1.00%
0.00%

Bulan

AGT '08

SEPT '08

OKT '08

NOV '08

DES '08

JAN '09

FEB '09

Gambar 2. Keragaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bermasalah


BRI Unit Cimanggis Tahun 2008 - 2009
Sumber: Bank Rakyat Indonesia, 2009

Tingginya angka kredit bermasalah merupakan salah satu indikasi kurang


berhasilnya suatu unit kerja BRI. Oleh karena itu, PT Bank BRI harus terus
melakukan pengembangan salah satunya dengan terus mengembangkan
pengelolaan risiko kredit, terutama dalam hal penyeleksian calon debitur agar
dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas pembiayaan serta menyokong
pengembangan usaha mikro. Dengan demikian faktor-faktor yang berpengaruh
7

terhadap tingkat kelancaran pengembalian oleh debitur perlu menjadi hal yang
diperhatikan oleh PT Bank BRI agar angka kredit bermasalah dapat ditekan.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut:
1.

Bagaimana karakteristik debitur KUR pada BRI Unit Cimanggis berdasarkan


tingkat kelancaran pengembaliannya?

2.

Faktor-faktor apa yang berpengaruh nyata terhadap tingkat kelancaran


pengembalian KUR pada BRI Unit Cimanggis?

1.3.
1.

Tujuan Penelitian
Mengidentifikasi karakteristik debitur KUR pada BRI Unit Cimanggis
berdasarkan tingkat kelancaran pengembalian.

2.

Menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap tingkat


kelancaran pengembalian KUR pada BRI Unit Cimanggis.

1.4.
1.

Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi manajemen PT Bank BRI
terutama bagi BRI Unit Cimanggis sebagai masukan dan solusi untuk dapat
mengetahui karakteristik debiturnya serta faktor-faktor yang berpengaruh
nyata terhadap tingkat kelancaran pengembalian KUR oleh debiturnya
sehingga bank dapat mengantisipasi faktor tersebut untuk meningkatkan
kualitas kredit dan PT Bank BRI menjadi bank yang handal dalam
menjalankan perannya.

2.

Bagi penulis penelitian ini berguna untuk mengaplikasikan teori-teori yang


pernah dipelajari untuk mengkaji berbagai fakta yang terjadi di lembaga
perbankan.

3.

Bagi pembaca, dapat digunakan untuk menambah pengetahuan tentang


faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kelancaran pengembalian
KUR oleh debitur serta dapat dijadikan sebagai salah satu bahan referensi
untuk penelitian lebih lanjut.

II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Usaha Mikro
Usaha mikro merupakan suatu unit usaha yang banyak memiliki

keterbatasan dibandingkan perusahaan besar. Keterbatasan ini tampak dalam hal


skala usaha sesuai dengan namanya yaitu usaha mikro yang sangat jelas
mencerminkan ruang lingkup usahanya yang cukup terbatas (Muhammah 2008)
Pada umumnya usaha ini belum memiliki legalitas usaha yang sah
sehingga sektor usaha ini sering disebut dengan sektor informal. Ciri dari sektor
informal antara lain tidak mempunyai badan hukum, tidak tercatat dalam daftar
resmi, menciptakan kegiatan sendiri, tidak mempunyai jenis organisasi formal,
jenis dan tempat usaha tidak permanen, untuk melakukan kegiatan usaha tidak
memerlukan keahlian dan keterampilan berdasarkan pendidikan formal dan lain
sebagainya.
Batasan atau ruang lingkup usaha mikro sangat beragam bergantung pada
pihak-pihak yang berkepentingan. Menurut Undang-Undang No. 20 tahun 2008,
usaha mikro didefinisikan sebagai kegiatan ekonomi rakyat berskala mikro yang
modal usahanya tidak lebih dari Rp 50.000.000,-. tidak termasuk tanah dan
bangunan usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan maksimal Rp
300.000.000,- . Usaha tersebut merupakan milik warga Negara Indonesia yang
berdiri sendiri dan bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan
yang dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung ataupun tidak langsung
dengan usaha menengah atau besar, dan berbentuk perseorangan badan usaha
yang tidak berbadan hukum atau badan usaha yang berbadan hukum termasuk
koperasi. Ciri lain yang juga sering digunakan berbagai instansi sebelum
keluarnya Undang-Undang Nomor 20 tersebut adalah jumlah tenaga kerjanya
maksimal lima orang dan sebagian besar menggunakan anggota keluarga/kerabat
atau tetangga, pemiliknya bertindak secara alamiah dengan mengandalkan insting
dan pengalaman sehari-hari.
Dalam menjalankan usahanya, usaha mikro ini belum disertai analisis
kelayakan usaha dan rencana bisnis yang sistematis, melainkan hanya ditunjukkan
oleh kerja keras pemilik yang sekaligus pemimpin usaha. Kegiatan usahanya
menggunakan teknologi sederhana dengan sebagian besar bahan baku lokal,

dipengaruhi faktor budaya, jaringan usaha terbatas, tidak memiliki tempat


permanen, usahanya mudah ditinggalkan, modal relatif kecil,serta menghadapi
persaingan ketat karena hambatan masuk (entry barrier) usaha mereka sangat
lonnggar.
Berbeda pula dengan Departemen Koperasi yang menetapkan batasan
yaitu usaha mikro adalah usaha dengan total kekayaan maksimum sebesar
Rp 100.000.000 usaha kecil adalah usaha dengan kekayaan total Rp 200.000.000
dan usaha menengah adalah usaha dengan total kekayaan lebih besar dari Rp
200.000.000 hingga Rp 10.000.000.000 (Departemen Koperasi 2008)
Pihak perbankan umumnya memandang pelayanan terhadap sektor ini
mendatangkan biaya transaksi tinggi dan penuh dengan risiko. Tingginya biaya
disebabkan skala kredit yang dibutuhkan terlalu kecil untuk bank komersial,
kemudian tidak mampu memberikan agunan, ditambah lagi dengan pendapatan
yang menjadi jaminan juga rendah (Kusmuljono 2009). Hal ini sejalan dengan
karakteristik usaha mikro secara umum yakni:
1) Sistem pembukuan yang relatif sederhana dan cenderung tidak mengikuti
kaidah administrasi pembukuan standar
2) Marjin usaha yang cenderung tipis mengingat persaingan yang sangat tinggi
3) Modal terbatas
4) Pengalaman manajerial dalam mengelola perusahaan masih terbatas
5) Skala ekonomi yang terlalu kecil sehingga sulit mengharapkan penekanan
biaya untuk mencapai efisiensi jangka panjang
6) Kemampuan pemasaran dan negosiasi terbatas
7) Kemampuan untuk memperoleh sumber dana dari pasar modal yang rendah
karena keterbatasan sistem administrasi.
Karakteristik yang dimiliki oleh usaha mikro mengisyaratkan adanya
kelemahan-kelemahan yang potensial menimbulkan masalah. Hal ini telah
menyebabkan berbagai masalah internal, terutama berkaitan dengan pendanaan,
walaupun pemerintah telah mengeluarkan berbagai kemudahan dengan paketpaket kebijakan untuk mendorong sektor usaha kecil tersebut. Atas dasar potensi
dan karateristik tersebut, maka pemberdayaan usaha kecil ini masih strategis dan
sangat penting dalam mendukung perekonomian nasional.
10

Di samping itu, usaha mikro menghadapi pula faktor-faktor yang masih


menjadi kendala dalam peningkatan daya saing dan kinerja usaha mikro, yaitu:
1)

Lemahnya sistem pembiayaan dan kurangnya komitmen pemerintah bersama


lembaga legislatif terhadap dukungan permodalan usaha mikro, sehingga
keberpihakan lembaga-lembaga keuangan dan perbankan masih belum
seperti yang diharapkan

2)

Kurangnya kemampuan usaha mikro untuk meningkatkan akses pasar

3)

Terbatasnya informasi sumber bahan baku dan panjang jaringan distribusi

4)

Belum terciptanya blue print platform teknologi dan informasi, yang


meliputi masalah regulasi, pembiayaan, standarisasi, lisensi jenis teknologi
tepat

5)

Proses perizinan pendirian badan usaha, paten, merek, hak cipta, investasi,
izin yang masih birokratis, biaya tinggi, dan waktu yang lama.
Namun demikian jika mendapatkan sokongan dari berbagai pihak yang

saling terintegrasi sebenarnya sektor usaha mikro akan dapat berkembang lebih
baik. Pertama, pemerintah memberikan regulasi dan supervisi yang tepat, dalam
hal ini peran pemerintah. Kedua, tersedianya sumber permodalan dan pembiayaan
yang mudah dijangkau dan sustainable, yang perannya diperankan oleh perbankan
dan lembaga keuangan mikro. Dan ketiga, adanya pendampingan untuk capacity
building

yang diperankan oleh kalangan akademisi termasuk lembaga

pemeringkat, konsultan manajemen, dan sebagainya (Kusmuljono 2009).


2.2.

Pengertian, Fungsi, dan Tujuan Kredit


Kredit berasal dari bahasa latin credere yang artinya mempercayai.

Adapun berbagai definisi kredit menurut beberapa pandangan adalah sebagai


berikut:
1)

Menurut UU Perbankan No. 14 Tahun 1967, kredit adalah penyediaan uang


atas tagihan yang dapat disamakan dengan itu berdasarkan persetujuan
pinjam meminjam antar bank dan pihak lain dalam hal dimana pihak
peminjam wajib melunasi utang setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah
bunga yang ditetapkan.

2)

Dalam ensiklopedia umum, kredit dijelaskan sebagai sistem keuangan untuk


memudahkan pemindahan modal dari pemilik kepada pemakai dengan
11

harapan akan mendapatkan keuntungan. Kredit diberikan berdasarkan


kepercayaan orang lain yang memberikannya terhadap kecakapan dan
kejujuran si peminjam.
Seseorang akan dikenai beban bunga apabila ia menggunakan jasa kredit.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa kredit merupakan bentuk kegiatan yang
bermotif saling mendapatkan keuntungan antara pihak kreditur dan debitur,
dimana pihak kreditur akan mendapatkan keuntungan dari penagihan bunga
periodik kepada debitur dan debitur mendapatkan keuntungan dari manfaat modal
yang diperoleh dari kredit.
Selain saling menguntungkan, kredit juga memberikan konsekuensi
penanggungan risiko bersama, baik oleh kreditur maupun debitur. Risiko yang
mungkin ditanggung oleh kreditur adalah apabila jasa kredit yang diberikan
mempunyai masalah dalam pengembaliannya. Sedangkan risiko yang mungkin
ditanggung oleh debitur adalah jika ia tidak mampu membayar lunas kredit yang
ia terima sesuai dengan perjanjian jatuh tempo maka debitur dapat dituntut dan
akan kehilangan agunan yang menjadi jaminan dalam pemberian kredit.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan unsur-unsur yang terdapat dalam
kredit yaitu:
1) Kepercayaan, keyakinan dari si pemberi kredit bahwa prestasi yang
diberikan,baik dalam bentuk uang, barang, ataupun jasa akan benar-benar
diterimanya kembali dalam jangka waktu tertentu di masa yang akan datang.
2) Waktu, yaitu masa yang memisahkan antara pemberian prestasi dan
kontraprestasi yang diterima pada masa yang akan datang. Dalam hal ini
terkandung nilai waktu dari uang yang mencerminkan sejumlah uang dengan
nominal tertentu nilainya akn lebih besar pada waktu sekarang dibandingkan
dengan nilai pada waktu yang akan dating.
3) Degree of Risk, yaitu tingkat risiko yang dihadapi akibat jangka waktu yang
memisahkan antara pemberian prestasi dan kontraprestasi yang akan diterima
di masa yang akan dating. Semakin lama jarak waktu tersebut maka tingkat
risikonya semakin tinggi. Adanya risiko inilah yang menimbulkan perlunya
jaminan pemberian kredit.

12

Fungsi kredit perbankan dalam kehidupan perekonomian dan perdagangan


menurut Suyatno (1995) antara lain sebagai berikut:
1)

Kredit pada hakikatnya dapat meningkatkan daya guna uang


Para pemilik uang/modal dapat secara langsung meminjamkan uangnya
kepada para pengusaha yang membutuhkannya untuk meningkatkan produksi
atau untuk meningkatkan usahanya. Selain itu para pemilik uang/modal juga
dapat menyimpan uangnya pada lembaga-lembaga keuangan. Keuangan
tersebut diberikan sebagai pinjaman kepada perusahaan-perusahaan untuk
meningkatkan usahanya.

2)

Kredit dapat meningkatkan peredaran lalu lintas uang


Kredit uang yang disalurkan melalui rekening giro dapat menciptakan
pembayaran baru seperti cek, giro bilyet, dan wesel. Sehingga apabila
pembayaran dilakukan dengan cek, giro bilyet, dan wesel maka peredaran
uang giral akan dapat meningkat. Di samping itu, kredit perbankan yang
ditarik secara tunai dapat pula meningkatkan peredaran uang kartal sehingga
lalu lintas uang akan berkembang pula.

3)

Kredit dapat meningkatkan daya guna dan peredaran barang


Dengan kredit, para pengusaha dapat memproses bahan baku menjadi barang
jadi sehingga daya guna barang tersebut menjadi meningkat. Di samping itu
kredit dapat pula meningkatkan peredaran barang, baik melalui penjualan
secara kredit maupun dengan membeli barang-barang di satu tempat dan
menjualnya ke tempat lain. Pembelian tersebut berasal dari kredit. Hal ini
juga berarti bahwa kredit tersebut dapat pula meningkatkan manfaat suatu
barang.

4)

Kredit sebagai salah satu alat stabilitas ekonomi


Dalam keadaan ekonomi yang kurang sehat, kebijakn diarahkan kepada
usaha-usaha

seperti

pengendalian

inflasi,

peningkatan

ekspor,

dan

pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. Untuk menekan laju inflasi pada tahun
1966 yang lebih kurang sebesar 650 persen, pemerintah memberlakukan
kebijakan uang ketat melalui pemberian kredit usaha yang selektif dan
terarah untuk melindungi usaha-usaha yang bersifat non-spekulatif. Arus
kredit diarahkan pada sektor-sektor yang produktif dengan pembatasan
13

kualitatif dan kuantitatif. Tujuannya adalah untuk meningkatkan produksi dan


memenuhi kebutuhan dalam negeri agar dapat diekspor. Kebijakan tersebut
telah berhasil dengan baik.
5)

Kredit dapat meningkatkan kegairahan usaha


Setiap orang yang berusaha selalu ingin meningkatkan usaha tersebut.
Namun ada kalanya keinginan tersebut

dibatasi oleh kemampuan

permodalan. Bantuan kredit yang diberikan oleh bank akan dapat mengatasi
kekurangmampuan para pengusaha di bidang permodalan sehingga para
pengusaha akan dapat meningkatkan usahanya.
6)

Kredit dapat meningkatkan pemerataan pendapatan


Dengan bantuan kredit dari bank, para pengusaha dapat memperluas
usahanya dan mendirikan proyek-proyek baru. Peningkatan usaha dan
proyek-proyek baru memerlukan tenaga kerja untuk melaksanakan proyek
tersebut. Dengan demikian mereka akan mendapatkan pendapatan. Dengan
tertampungnya tenaga kerja tersebut, maka pemerataan pendapatan akan
meningkat pula.
Berdasarkan tujuan pengunaannya menurut Suyatno (1995), kredit dapat

dibagi menjadi dua jenis, yaitu:


1) Kredit Konsumtif
yaitu kredit yang digunakan untuk membiayai pembelian barang-barang atau
jasa-jasa yang dapat memberikan kepuasan langsung kepada konsumen. Jenis
kredit ini digunakan untuk membiayai hal-hal yang bersifat konsumtif seperti
kredit perumahan, kredit kendaran, serta kredit untuk pembelian makanan.
Secara tidak langsung kredit konsumtif akan memberikan efek produktif
dengan cara meningkatkan dari barang atau jasa yang dibeli pelanggan.
2) Kredit Produktif
yaitu kredit yang digunakan dengan tujuan untuk memperlancar jalannya
proses produksi.
3) Kredit Perdagangan, yaitu kredit yang diberikan dengan tujuan untuk membeli
barang-barang untuk dijual kembali

14

2.3.

Lembaga Keuangan Bank


Lembaga keuangan merupakan suatu lembaga yang bertugas memberikan

layanan keuangan termasuk di dalamnya pemberian jasa bantuan permodalan dan


pembiayaan. Lembaga keuangan ini dibedakan menjadi lembaga keuangan bank
dan lembaga keuangan bukan bank.
Bank merupakan salah satu lembaga penyedia jasa keuangan. Pengertian
bank menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 adalah
Badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan
dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk
lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat banyak.
Adapun pengertian Bank menurut Global Association of Risk Proffesional
(GARP) dan Badan Sertifikasi Manajemen Risiko adalah suatu lembaga yang
telah memperoleh izin untuk melakukan kegiatan utama menerima deposito,
memberikan pinjaman, menerima dan menerbitkan cek.
Bank merupakan satu-satunya lembaga keuangan depositori. Sebagai
lembaga keuangan depositori, bank memiliki izin untuk menghimpun dana secara
langsung dari masyarakat dalam bentuk simpanan, yaitu berupa giro, tabungan,
dan deposito. Dana yang diperoleh kemudian dapat dialokasikan ke dalam aktiva
dalam bentuk pinjaman dan investasi. Kekhususan kegiatan yang dilakukan oleh
bank inilah yang membedakan bank dari lembaga keuangan lain. Di samping
kekhususan dalam menghimpun dana masyarakat atau dana pihak ketiga tersebut,
bank diperbolehkan untuk menjalankan usaha yang sama dengan lembaga
keuangan lain.
Adapun jenis-jenis bank dapat digolongkan menjadi beberapa macam
berdasarkan formalitas undang-undang, kepemilikan, penekanan kegiatan usaha,
dan pembayaran bunga atau pembagian hasil usaha (Dendawijaya 2001)
Jenis bank berdasarkan formalitas undang-undang dilandaskan oleh
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 yaitu bank umum dan bank perkreditan
rakyat. Jenis bank berdasarkan kepemilikannya dibedakan menjadi lima jenis
yaitu bank milik Negara (BUMN), bank milik pemerintah daerah (BUMD), bank
milik swasta nasional, bank milik swasta campuran (nasional dan asing), dan bank
milik asing.
15

Penggolongan jenis bank berdasarkan penekanan kegiatan usahanya yaitu


bank retail, bank korporasi, bank komersial, bank pedesaan, bank pembangunan,
dan lain-lain. Sedangkan jenis bank berdasarkan pembayaran bunga atau
pembagian hasil usaha dibedakan menjadi bank konvensional yang menetapkan
bunga sebagai biaya modal dalam penyetoran simpanan serta penyaluran kredit
dan bank berdasarkan prinsip syariah yang menerapkan konsep bagi hasil dalam
penyetoran simpanan serta pemberian kredit.
Produk bank merupakan bentuk kegiatan jasa yang dihasilkan bank.
Produk bank dipisahkan ke dalam dua sisi, yaitu sisi pasiva dan sisi aktiva.
Produk-produk bank dari sisi pasiva meliputi:
1) Giro. Merupakan simpanan dari pihak ketiga atau nasabah kepada bank yang
penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet
giro, surat perintah pebayaran, atau dengan pemindabukuan.
2) Tabungan. Adalah simpanan dari nasabah kepada bank yang penarikannya
hanya dapat dilakukan menurut ketentuan atau syarat-syarat tertentu yang
disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro dan/atau lainnya
yang dapat dipersamakan dengan itu.
3) Deposito. Merupakan simpanan dari nasabah kepada bank yang penarikannya
hanya dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan perjanjian
antara nasabah dengan bank yang bersangkutan
Produk-produk bank dari sisi pasiva ini biasa dikenal dengan sebutan
kredit pasif. Produk-produk bank dari sisi aktiva atau yang biasa disebut kredit
aktif meliputi:
1) Kredit modal kerja. Pemberian kredit dari bank (kreditur) kepada nasabah
(debitur) untuk membiayai kebutuhan modal kerja perusahaan debitur.
2) Kredit investasi. Kredit yang digunakan untuk membeli barang modal
(investasi).
3) Kredit off shore. Fasilitas kredit yang diberikan kepada debitur domestik
dalam bentuk valuta asing dan dilaksanakan melalui cabang bank yang
bersangkutan di luar negeri.

16

4) Kredit on shore. Fasilitas kredit yang diberikan oleh unit kredit dalam negeri
(kantor wilayah, cabang, atau divisi korporasi) yang diberikan kepada debitur
dalam negeri dalam bentuk valuta asing.
5) Kredit cash collateral. Merupakan kredit khusus yang diberikan kepada
pemegang deposito berjangka bank yang bersangkutan, bank pemerintah, atau
bank asing/swasta nasional yang bonafid dan pemegang tabungan bank yang
bersangkutan.
6) Kredit profesi. Kredit yang diberikan oleh bank dalam rangka membantu para
profesional (dokter, akuntan publik, pengacara, konsultan, dan sebagainya)
untuk mengembangkan profesinya.
7) Kredit

konsumsi. Kredit yang diberikan oleh bankkepada debitur untuk

keperluan membeli barang-barang konsumsi yang dibutuhkannya.


8) Kredit sindikasi. Kredit yang diberikan oleh bank kepada debitur (biasanya
nasabah korporasi atau perusahaan) secara bersama-sama dengan bank lain
berdasarkan

kesepakatan

bersama

atas

beberapa

ketentuan,

seperti

porsivolume kredit dan agunan masing-masing bank, tingkat suku bunga, dan
lain-lain.
9) Kredit-kredit program. Berbagai jenis kredit yang dibeerikan oleh bank dalam
rangka memenuhi ketentuan untuk mengikuti suatu program pemerintah
seperti kredit canda kulak, kredit usaha kecil (KUK), dan sebagainya.
Selain berbagai jenis produk yang dihasilkan bank di atas, bank juga
memberikan berbagai pelayanan jasa yang mencakup jasa perbankan dalam negeri
dan luar negeri seperti pemindahbukuan (transfer), surat keterangan bank,
delegasi kredit, dan lain sebagainya.
2.4.

Lembaga Penjaminan
PT Askrindo didirikan oleh Pemerintah Republik Indonesia dan Bank

Indonesia pada tahun 1971. Askrindo bergerak pada bidang asuransi kredit bank
dan juga usaha-usaha lainnya, khusus di bidang penjaminan. Visi dari Askrindo
adalah menjadi perusahaan asuransi nasional terpercaya dan kompetitif yang
mengutamakan pelayanan prima dengan dukungan sumber daya dan lembaga
keuangan yang kuat di dalam dan di luar negeri untuk pihak-pihak yang
berkepentingan, dengan misi mendukung program pemerintah di bidang ekonomi
17

dalam menciptakan UMKM yang tangguh melalui kegiatan usaha asuransi


dan/atau penjaminan.
Perum Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) merupakan Badan Usaha
Milik Negara (BUMN) yang didirikan berdasarkan peraturan pemerintah Nomor
95 Tahun 2000 tanggal 7 November 2000. Perusahaan ini didirikan untuk
meneruskan Perusahaan Umum Pengembangan Keuangan Koperasi (Perum PKK)
dengan sasaran dan lingkup usaha diperluas. Perluasan sasaran dan lingkup usaha
tersebut antara lain dengan memberikan pelayanan tidak hanya kepada koperasi
melainkan juga kepada UMKM. Pelayanan yang diberikan Jamkrindo di
antaranya berupa kegiatan penjaminan kredit bank atau bukan bank, penjaminan
atas pembiayaan sewa guna usaha, anjak piutang, pembiayaan konsumen dan
pembiayaan pola bagi hasil,penjaminan atas pembelian barang secara angsuran,
penjaminan atas transaksi kontrak jasa, pemberian pinjaman dengan pola bagi
hasil, bantuan manajemen dan konsultasi, penerbitan surety bond, dan kegiatan
lain yang menunjang tercapainya visi dan misi perusahaan.
2.5.

Kredit Usaha Rakyat (KUR)


Kredit Usaha Rakyat (KUR) adalah Kredit Modal Kerja (KMK) dan atau

Kredit Investasi (KI) dengan plafon kredit sampai dengan Rp500 juta. Di samping
itu, terdapat pula KUR Mikro dengan plafon kredit maksimal Rp. 5 juta. Pinjaman
ini diberikan kepada usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi yang memiliki
usaha produktif yang layak (feasible) namun belum bankable. Pinjaman tersebut
sebagian dijamin dengan program penjaminan kredit oleh pemerintah melalui
PT. Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) dan Perum Jaminan Kredit Indonesia
(Jamkrindo).
Besarnya coverage penjaminan maksimal yang diberikan Askrindo dan
Jamkrindo adalah sebesar 70 persen dari nilai kredit. Selebihnya harus disediakan
oleh pihak debitur yang menjadi risiko bank penyalur karena dana yang disalurkan
melalui KUR tersebut adalah sepenuhnya berasal dari bank penyalur. Bunga
pinjaman dalam pengembalian kredit ini adalah sebesar 1,125 persen per bulan.

18

2.6.

Pasar Kredit pada Usaha Mikro


Jika kredit diartikan sebagai barang ekonomi, maka permintaan terhadap

kredit akan sangat dipengaruhi oleh harga kredit yang ditunjukkan dengan tingkat
bunga kredit. Sehingga semakin tinggi tingkat bunga maka jumlah permintaan
kredit akan turun. Selain itu pendapatan dan bank pemberi kredit juga
mempengaruhi permintaan terhadap kredit (Rachmina 1994).
Secara garis besar terdapat dua sumber kredit, yaitu sumber formal dan
sumber non-formal. Maka dengan demikian terdapat dua pasar kredit bagi usaha
pada sektor mikro ini, yaitu pasar kredit formal dan pasar kredit non-formal.
Kedua pasar kredit tersebut mempunyai karakteristik dan struktur yang berbeda,
sehingga dalam batas-batas tertentu kedua pasar tersebut bersifat independen.
Demikian juga dengan tingkat bunga yang ditetapkan pada kedua pasar berbeda
cukup besar, dimana tingkat bunga pasar kredit formal relatif lebih rendah dari
pasar kredit non-formal (Rachmina 1994).
2.7.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengembalian Kredit


Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembalian kredit telah diteliti pada

berbagai penelitian terdahulu. Alamsyah (2007) yang meneliti tentang faktorfaktor yang mempengaruhi tingkat pengembalian kredit macet pada kredit usaha
pedesaan (Kupedes) dalam sektor agribisnis di BRI Unit Ciomas, Bogor
mengemukakan bahwa jumlah tanggungan keluarga, jarak rumah debitur dengan
bank sertaomzet usaha memberikan pengaruh yang nyata terhadap tingkat
pengembalian Kupedes. Semakin banyak jumlah tanggungan keluarga dan
semakin jauhnya jarak rumah dengan bank serta semakin kecilnya omzet usaha
yang diperoleh maka kemungkinan timbulnya kredit macet semakin besar. Hal
tersebut menunjukkan bahwa faktor yang sebelumnya diduga berpengaruh
terhadap tingkat pengembalian kredit seperti usia, tingkat pendidikan, pengalaman
berusaha, jangka waktu pengembalian, serta beban bunga ternyata tidak berperan
dalam menentukan kemampuan pengembalian kredit. Adapun model analisis yang
digunakan dalam penelitian tersebut adalah model regresi logistik.
Adapun penelitian Handoyo (2009) yang mengkaji faktor-faktor yang
mempengaruhi tingkat pengembalian pembiayaan syariah untuk UMKM
agribisnis pada KBMT Wihdatul Ummah Kota Bogor dengan menggunakan
19

model analisis regresi logistik mengemukakan bahwa omzet usaha, pengalaman


usaha, serta frekuensi peminjaman memberikan pengaruh nyata terhadap tingkat
pengembalian pinjaman tersebut. Sementara itu faktor yang sebelumnya diduga
berpengaruh terhadap tingkat pengembalian kredit seperti tingkat pendidikan,
besarnya jumlah pinjaman, jangka waktu pengembalian, pola penagihan pinjaman
serta penggunaan pinjaman ternyata tidak berperan dalam menentukan
kemampuan pengembalian kredit.
Hermawan (2007) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi
keberhasilan pengembalian kredit umum pedesaan (Kupedes) untuk usaha mikro,
kecil, dan menengah di Kabupaten Bogor dengan menggunakan model analisis
logistik biner. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa karakteristik individu yang
berpengaruh nyata dan negatif terhadap pengembalian Kupedes adalah jarak
rumah debitur dengan BRI. Sedangkan berdasarkan analisis deskriptif diketahui
bahwa pengembalian kredit bermasalah paling banyak terjadi pada tingkat usia
tertentu. Karakteristik usaha yang berpengaruh nyata dan positif terhadap
pengembalian Kupedes adalah omzet, pengalaman kredit, dan jangka waktu
pengembalian pinjaman. Berdasarnya analisis deskriptif disimpulkan

bahwa

pengembalian kredit, dan jangka waktu pengembalian bahwa pengembalian


kredit bermasalah terjadi pada nasabah yang mempunyai nilai agunan di bawah
nilai tertentu.
Muhammah (2008) menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
tingkat pengembalian kredit oleh UMKM studi kasus nasabah Kupedes pada
PT. Bank Rakyat Indonesia,Tbk Unit Cigudeg Cabang Bogor. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa faktor omzet usaha serta frekuensi peminjaman kredit
memberikan pengaruh yang nyata terhadap tingkat pengembalian Kupedes. Hal
tersebut menunjukkan bahwa faktor yang sebelumnya diduga berpengaruh
terhadap tingkat pengembalian kredit seperti usia, jenis kelamin, tingkat
pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, jarak rumah dengan kantor unit lama
usaha, jangka waktu pengembalian, serta beban bunga ternyata tidak berperan
dalam menentukan kemampuan pengembalian kredit.
Secara umum, faktor-faktor yang diduga mempengaruhi pengembalian
kredit pada penelitian-penelitian terdahulu tersebut mewakili karakteristik
20

personal, karakteristik usaha, dan karakteristik kredit. Karakter personal meliputi


usia, jenis kelamin, jarak rumah nasabah dengan bak, jumlah tanggungan, serta
pembinaan. Karakter usaha meliputi pengalaman usaha, omzet usaha, serta
pengalaman/frekuensi peminjaman kredit. Sedangkan karakter kredit meliputi
jumlah peminjaman, beban bunga, jangka waktu pengembalian, agunan, serta
peggunaan kredit dan pola penagihan. Masing-masing penelitian tidak
menggunakan seluruh faktor, melainkan hanya faktor-faktor yang dianggap
peneliti relevan terhadap objek penelitian.
Walaupun berbagai penelitian dengan objek kredit kepada golongan
ekonomi lemah ini telah banyak dilakukan, penelitian terkait dengan objek serupa
akan perlu terus dilakukan. Hal ini berkaitan dengan berkembangnya inisiatif
pemerintah untuk terus mendukung pengembangan golongan ekonomi lemah
tersebut dan kajian serta evaluasi mengenai keadaan yang terjadi di lapangan akan
dapat menjadi masukan bagi berbagai pihak untuk melakukan perbaikan secara
terus-menerus.
Penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian terdahulu. Kesamaan
terdapat pada beberapa faktor yang diduga berpengaruh terhadap pengembalian
kredit. Faktor-faktor yang di dalam penelitian ini diduga mempengaruhi tingkat
pengembalian kredit (KUR) terdiri dari jenis kelamin sebagai variable dummy,
tingkat pendidikan, jumlah tanggungan dalam keluarga, serta pinjaman yang
dilakukan pada pihak lain yang merupakan karakteristik personal. Karakteristik
usaha yang diduga berpengaruh terhadap kelancaran pengembalian kredit adalah
pendapatan/omzet usaha serta lama usaha. Sementara itu, Karakteristik kredit
meliputi besarnya jumlah pinjaman serta lamanya masa pengembalian yang
disepakati. Kesamaan juga terdapat pada alat analisis yang digunakan dalam
penelitian terdahulu, yaitu penggunaan analisis regresi logistik untuk menganalisis
faktor-faktor yang mempengaruhi yang mempengaruhi yang mempengaruhi
tingkat pengembalian kredit.
Adapun perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu selain lokasi
yang masih tergolong baru dan belum pernah ada yang meneliti di BRI unit
Cimanggis, penelitian ini juga meneliti mengenai program pemerintah terkini
mengenai pembiayaan sektor ekonomi lemah dari pemerintah yakni Kredit Usaha
21

Rakyat (KUR). Selain itu, penelitian ini juga menambahkan variabel pinjaman
lain. Variabel ini dipilih berdasarkan fenomena di lapangan yang menunjukkan
bahwa masih kredit informal masih sering menjadi andalan bagi sektor ini ketika
membutuhkan dana dengan segera meskipun dengan bunga yang harus dibayar
tinggi kemudian. Selain kredit informal, fenomena menjamurnya kredit
kepemilikan motor juga mengambil peranan dalam menambah beban berat
kewajiban pembayaran angsuran dan bunga setiap bulan. Hal ini ditunjang dengan
pengalaman beberapa petugas/pejabat kredit yang menuturkan bahwa nasabah
yang memiliki pinjaman lain selain pada BRI Unit Cimanggis cenderung lalai
dalam mengembalikan pinjaman (KUR).

22

III KERANGKA PEMIKIRAN


3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.1. Permintaan dan Penawaran Kredit
Setiap usaha memerlukan input (faktor produksi) yang terdiri dari input
tetap dan input tidak tetap (variabel) untuk dapat menghasilkan produk. Bila ingin
meningkatkan produksi, salah satunya adalah dengan meningkatkan penggunaan
input (Gambar 3). Kredit yang diperoleh oleh pelaku usaha dapat digunakan
sebagai penambah modal untuk membiayai input produksi sehingga pelaku usaha
tersebut dapat meningkatkan produknya pada tingkat yang lebih tinggi.
Total
Produksi
(unit)
Total
Produksi

Gambar 3.

Produksi Total

Input (unit)

Sumber: Lipsey (1995)

Faktor produksi modal dalam ilmu ekonomi disebut sebagai faktor


produksi turunan. Sehingga permintan pada kredit merupakan permintaan turunan
atas adanya permintaan input sebagai faktor produksi. Pemerintah dalam usahanya
untuk membantu permodalan usaha mikro telah melaksanakan dan mengeluarkan
berbagai kebijakan di bidang perbankan. Dimulai dengan adanya bantuan berupa
Kredit Investasi Kecil/Kredit Modal Kerja, Kredit Canda Kulak, Kredit Usaha
Rakyat sampai dengan kemudahan beroperasinya lembaga perbankan. Kebijakankebijakan tersebut bertujuan untuk menggeser kurva penawaran dana modal ke
arah kanan (Gambar 4).
Pada Gambar 4 dapat dilihat bahwa pada saat modal langka, keseimbangan
di titik E0 dimana jumlah dana yang ditawarkan adalah Q0 pada suku bunga r0.
Keluarnya kebijakan pemerintah diharapkan dapat menggeser kurva penawaran

dari S0 keS1 (E0 ke E1). Jika E1 dapat dicapai maka jumlah dana yang ditawarkan
akan lebih banyak dengan harga yang lebih rendah (Q1>Q0 dan R1<R0) serta dapat
menjangkau lebih banyak pelaku usaha mikro. Dampak bertambahnya permintaan
diharapkan akan dapat menyerap pasar kredit informal dan mengurangi pelaku
usaha yang terjerat kredit berbunga tinggi tersebut.
Suku
bunga
(r)

S0
S1

E0

r0

E1

r1
D

Q0
Gambar 4.

Q1

jumlah

Permintaan dan Penawaran Kredit


Sumber: Lipsey (1995)

3.1.2. Risiko Kredit


Perkembangan suatu usaha dipengaruhi ketersediaan modal. Modal sendiri
umumnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan suatu usaha. Oleh karena itu,
ketersediaan modal dari pihak luar (kredit) sangat diperlukan. Sumber modal yang
berasal dari luar tersebut dapat berasal baik dari sumber formal maupun informal.
Sebagai salah satu lembaga formal yang menyalurkan kredit, kredit adalah
bagian terbesar dari sumber penghasilan bank dan juga merupakan bagian terbesar
dari seluruh harta suatu bank. Berkaitan dengan penyaluran kreditnya, bank
menghadapi suatu risiko yang disebut risiko kredit.
Risiko kredit adalah kegagalan debitur (default to clearing) untuk
memenuhi kewajibannya. Risiko kredit dapat timbul baik dari kinerja nasabah
maupun faktor luar nasabah. Hal ini dapat dijelaskan melalui Gambar 5. Risiko
kredit adalah risiko yang paling mengancam bank karena merupakan aktivitas
utamanya. Oleh karena itu, risiko kredit merupakan suatu masalah besar bagi
dunia perbankan dan lembaga keuangan pada umumnya karena menurunkan
likuiditas dan profitabilitas bank. Perputaran uang di bank menjadi terhambat dan
25

dan laba menjadi menurun akibat nasabah yang bermasalah dalam pengembalian
atau pengangsuran kredit. Jika ini terjadi maka akan diikuti hilangnya
kepercayaan (default trust) dan sebagai lanjutannya adalah terjadinya rush
(penarikan secara besar-besaran secara serempak) atas semua hutang/kewajiban
lancar oleh semua nasabah.
Tingkat kegagalan debitur untuk memenuhi kewajibannya oleh Bank
Indonesia digolongkan ke dalam empat kategori berdasarkan tingkat kelancaran
pengembalian kredit, yaitu lancar, kurang lancar, diragukan, dan macet.
Penggolongan ini secara umum digunakan oleh lembaga keuangan baik yang
berbentuk bank maupun non bank, meskipun pada beberapa lembaga keuangan
terdapat perbedaan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing lembaga
keuangan.
Kebangkrutan nasabah

Gagal bayar

Kesulitan keuangan nasabah

Potensi gagal bayar

Ambang batas kriteria


kesehatan tidak dipenuhi

Penurunan peringkat
nasabah

Penurunan kinerja nasabah

Pelanggaran kontrak

Kelemahan kontrak kredit

Potensi pelanggaran
kontrak

Gambar 5. Kerangka Risiko Kredit


Sumber: Sutoyo (2000)

Pada PT. Bank Rakyat Indonesia menggolongkan kreditnya ke dalam dua


kelompok besar, yakni kredit lancar dan tidak lancar (menunggak). Sebuah
pengembalian kredit dikatakan lancar apabila pembayaran angsuran dan bunga
dilakukan tepat waktu dan pelunasan kredit tidak mengalami penundaan
berdasarkan pinjaman. Sedangkan pengembalian kredit digolongkan tidak lancar
jika pembayaran angsuran dan bunga mengalami penundaan dari waktu yang
26

diperjanjikan. Pengembalian kredit yang tidak lancar ini digolongkan kembali ke


dalam lima tingkatan yaitu:
1) Dalam Pengawasan Khusus
Status ini diberikan

pada debitur yang menunda

pembayaran angsuran

selama satu minggu hingga 60 hari dari tanggal yang ditentukan.


2) Kurang Lancar
Apabila pembayaran angsuran oleh debitur sedikit terhambat karena ada
kecenderungan usaha nasabah mulai mengalami kesulitan, namun tingkat
kesulitan tersebut masih tergolong ringan dan menyangkut salah satu aspek
usaha saja. Status ini diberikan kepada debitur yang menunggak pembayaran
angsuran selama lebih dari 60 hari hingga 90 hari.
3) Meragukan
Terhambatnya pengembalian kredit diindikasikan dengan kemerosotan yang
tajam dalam usahanya dan biasanya permasalahan yang terjadi mencakup
berbagai aspek usaha. Status ini diberikan pada debitur yang menunggak
selama lebih dari 90 hari hingga 120 hari.
4) Macet
Status ini dikenakan kepada debitur yang tidak dapat membayar angsuran dan
bungan kredit dalam jangka waktu yang lama antara labih dari 120 hari hingga
270 hari.
5) Daftar Hitam
Pengembalian kredit yang sudah termasuk dalam daftar hitam yaitu debitur
yang benar-benar sudah tidak mampu membayar pelunasan kredit karena
usahanya sudah bankrut dan kemungkinan asetnya tidak dapat dicairkan atau
tidak ada sama sekali. Batasan seorang nasabah dimasukkan dalam daftar
hitam adalah ketika pelunasan kreditnya mengalami penundaan lebih dari 270
hari.
3.1.3.Strategi Penghindaran Kredit Bermasalah
Tindakan terpenting dari strategi ini adalah analisa kredit. Analisa kredit
atau penilaian kredit adalah suatu proses yang dimaksudkan untuk menganalisa
atau menilai suatu permohonan kredit sehingga dapat memberikan keyakinan pada
bank bahwa proyek yang akan dibiayai dengan kredit bank cukup layak (feasible).
27

Adanya analisa yang mempertimbangkan berbagai faktor ini dimaksudkan untuk


mencegah sedini mungkin terjadinya default oleh calon debitur. Dua jenis prinsip
yang umumnya diterapkan dalam mempertimbangkan pengajuan kredit yaitu
prinsip 6C dan prinsip 6A. Prinsip 6C (Dendawijaya 2001) meliputi:
1) Character (kepribadian), yaitu menyangkut sifat, kepribadian, dan citra calon
debitur dalam masyarakat. Hal ini terkait dengan kemauan dan kesungguhan
membayar angsuran kredit yang tentunya sangat berpengaruh terhadap
integritas dalam memenuhi kewajiban pembayaran kredit dan pemanfaatan
pemberian kredit dengan benar.
2) Capital (modal) merupakan kepemilikan terhadap modal dan kemampuan
nasabah

dalam

membiayai

perusahaannya.

Perbandingan

besarnya

pembiayaan dari bank dengan modal sendiri dapat dilihat berdasarkan laporan
keuangan perusahaan atau ditinjau langsung oleh petugas kredit.
3) Capacity (kemampuan) terkait dengan kesanggupan dan kemampuan calon
debitur untuk melunasi pokok pinjaman diserta dengan bunga dan syaratsyarat lain dalam perjanjian. Kemampuan ini diukur antara lain dari kondisi
usaha, pendapatan/omzet usaha. Semakin likuid dan semakin tinggi tingkat
profitabilitasnya maka kemampuan membayar kembali pinjaman dan
kewajiban lain semakin besar.
4) Condition of economy (kondisi ekonomi), pertimbangan atas situasi ekonomi
yang sedang terjadi dalam suatu wilayah atau negara yang berpengaruh
terhadap usaha calon debitur dan pada akhirnyamempengaruhi keberhasilan
pemanfaatan dan pengembalian kredit.
5) Collateral (agunan) yakni berupa ketersediaan jaminan

yang sesuai dan

seimbang dengan jumlah kredit yang diberikan sehingga pihak bank tidak
perlu merasa khawatir ketika terjadi kemacetan dalam pengembalian pinjaman
karena agunan tersebut dapat menjadi pengganti pengembalian kredit
6) Constrain (keterbatasan) merupakan faktor-faktor yang menjadi penghambat
berupa faktor-faktor sosial psikologis dalam suatu wilayah tertentu yang
menyebabkan suatu usaha tidak mungkin untuk dijalankan.
Sedangkan prinsip 6A mencakup:

28

1) Aspek yuridis bertujuan untuk mengkaji ketentuan-ketentuan legalitas


perusahaan calon penerima kredit.
2) Aspek pasar dan pemasaran mengkaji kemungkinan pangsa pasar yang dapat
diraih bagi produk/jasa perusahaan yang akan dibiayai oleh kredit serta
meneliti tentang strategi pemasaran yang akan dilakukan pengusaha dalam
menghadapi persaingan.
3) Aspek teknis bertujuan untuk menilai seberapa jauh kemampuan pengusaha
dalam mempersiapkan dan melaksanakan pembangunan usaha serta seberapa
besar kesiapan teknik dalam menjalankan operasi usahanya sebagai suatu
entitas bisnis.
4) Aspek manajemen mengukur kemampuan dan kecakapan dalam mengelola
usaha atau manajemen perusahaan dalam menjalankan aktivitas usahanya.
5) Aspek keuangan bertujuan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
mengelola keuangannya.
6) Aspek sosial ekonomi merupakan suatu kajian terhadap nilai tambah yang
dimiliki perusahaan dari sudut pandang sosial dan makro ekonomi terutama
manfaat sosial ekonomi yang diterima oleh pemerintah maupun masyarakat
seperti perluasan lapangan kerja dan pendapatan pajak pemerintah.
Setelah

pencairan

kredit

dilaksanakan,

selanjutnya

dilaksanakan

pengawasan oleh pihak bank sebagai salah satu upaya menghindari kredit
bermasalah di kemudian hari. Pengawasan ini meliputi beberapa aspek meliputi
keberadaan administrasi kredit yang memadai, kewajiban debitur menyampaikan
laporan-laporan usaha yang dibutuhkan, kewajiban bagi pihak bank untuk
melakukan kunjungan sewaktu-waktu ke perusahaan yang dibiayai oleh kredit,
adanya konsultasi yang terstruktur antara pihak bank dengan debitur, dan aspek
adanya suatu peringatan.

3.2.

Kerangka Pemikiran Operasional


Kredit Usaha Rakyat (KUR) khususnya KUR Mikro merupakan kredit

bagi usaha mikro yang telah feasible namun membutuhkan modal baik dalam
menjalankan usaha maupun untuk memenuhi kebutuhan operasionalnya sehingga
akan dapat memperlancar dan meningkatkan produktivitas usahanya dengan pola
29

penjaminan hingga 70 persen dari plafon kredit. Penjaminan diharapkan akan


memberikan usaha mikro akses yang lebih luas kepada perbankan.
Adanya aspek kelayakan usaha sebagai salah satu persyaratan untuk dapat
mengakses KUR diharapkan calon debitur akan memiliki kemampuan dalam
penegmbalian kredit dengan teratur. Namun di dalam pelaksanaan penyaluran
kredit ini masih terdapat permasalahan yang timbul, yakni keterhambatan
pengembalian/pelunasan kredit. Keterhambatan pengembalian kredit akan
merugikan pihak bank,modal bank menjadi beku dan menurun serta berkurangnya
pendapatan yang semestinya diperoleh dari hasil pemberian kredit. Untuk itu
penelitian mengenai faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap tingkat
kelancaran pengembalian oleh debitur perlu dilaksanakan agar permasalahan
tersebut dapat diantisipasi sedini mungkin.
Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi tingkat pengembalian kredit
(KUR) pada BRI Unit Cimanggis diturunkan berdasarkan prinsip-prinsip yang
diterapkan dalam mempertimbangkan pengajuan kredit yaitu Character
(kepribadian), Capital (modal), dan Capacity (kemampuan). Prinsip Collateral
(agunan) dalam skim kredit ini dianggap telah terpenuhi dengan adanya
penjaminan dari pemerintah. Sementara prinsip Condition of economy (kondisi
ekonomi) dan Constrain (keterbatasan) diasumsikan tidak mengalami perubahan
(ceteris paribus) karena di dalam dalam penelitian ini kedua prinsip tersebut
dianggap sebagai faktor di luar kendali debitur.
Faktor-faktor seperti jenis kelamin, tingkat pendidikan, serta lama usaha
merupakan faktor yang diduga mempengaruhi kelancaran pengembalian kredit
berdasarkan peran aktifnya dalam pembentukan kepribadian debitur (character),
yaitu terkait dengan kemauan dan kesungguhan membayar angsuran kredit yang
tentunya sangat berpengaruh terhadap integritas dalam memenuhi kewajiban
pembayaran kredit dan pemanfaatan pemberian kredit dengan benar. Faktor
adanya pinjaman lain yang dilakukan bersamaan dengan pinjaman KUR serta
besarnya jumlah pinjaman dan jangka waktu pengembalian diduga mempengaruhi
kelancaran pengembalian kredit sehubungan dengan kepemilikan debitur terhadap
modal dan berpengaruh terhadap besarnya perbandingan pembiayaan dari
pinjaman dengan modal sendiri (capital). Sementara faktor-faktor seperti jumlah
30

tanggungan dalam keluarga, dan besarnya omzet usaha, diduga mempengaruhi


kelancaran

pengembalian

kredit

sehubungan

dengan

kesanggupan

dan

kemampuan debitur untuk melunasi pokok pinjaman diserta dengan bunga dan
syarat-syarat lain dalam perjanjian (capacity).
Jenis kelamin, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan dalam keluarga,
serta pinjaman yang dilakukan pada pihak lain yang di dalam penelitian ini
dikelompokkan ke dalam karakteristik personal debitur. Pendapatan/omzet usaha
serta lama usaha dikelompokkan ke dalam karakteristik usaha debitur. Sementara
itu besarnya jumlah pinjaman serta lamanya masa pengembalian yang disepakati
dikelompokkan ke dalam karakteristik kredit. Pemilihan semua faktor tersebut
berdasarkan referensi hasil studi literatur penelitian terdahulu serta hasil diskusi
dengan pihak manajemen yang menangani bidang perkreditan,khususnya KUR.
Secara terinci mengenai pengaruh yang diduga berasal dari ketiga
karakteristik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Karakter personal
Jenis kelamin wanita umumnya lebih serius, bertanggung jawab, dan
memiliki visi ke depan dengan strategi yang lebih terencana untuk
memperbaiki kondisi kehidupan bila dibandingkan pria (Thoha 2000). Oleh
sebab itu, diduga wanita memiliki peluang pengembalian kredit dengan
kelancaran lebih besar daripada pria karena diduga wanita memiliki loyalitas
yang lebih besar dan lebih mampu menjaga kepercayaan yang diberikan bank
dalam memenuhi kewajiban angsuran kredit dibandingkan pria.
Kemajuan peradaban suatu bangsa sangat ditentukan oleh tingkat
pendidikan masyarakatnya. Pada tingkat individual, pendidikan juga
merupakan sarana yang sangat efektif untuk mobilitas vertikal baik dalam
aspek sosial, ekonomi, bisnis, maupun politik. Semakin tinggi pendidikan
seseorang, semakin luas wawasan berpikir dan semakin besar pula
kemampuan mengaktualisasikan potensi dirinya, termasuk dalam kemampuan
berbisnis dan mengelola usaha (Thoha 2000). Terkait dengan kemampuan
pengembalian kredit, semakin tinggi pendidikan diharapkan dengan
kemampuan pengelolaan usaha yang lebih baik maka akan semakin baik pula
kemampuan pengambalian kreditnya. Namun berdasarkan pengalaman pihak
31

manajemen BRI Unit Cimanggis, semakin tinggi tingkat pendidikan debitur


maka mereka akan semakin berani dalam melakukan penunggakan
pengembalian kredit sehingga di dalam penelitian ini tingkat pendidikan
diduga berpengaruh negatif terhadap kelancaran pengembalian kredit.
Semakin besar jumlah tanggungan keluarga maka semakin berat pula
beban ekonomi keluarga tersebut (Firmansyah 2000). Semakin banyak
tanggungan dalam keluarga maka akan semakin besar pengeluaran untuk
memenuhi kebutuhan keluarga sehingga menghabiskan sejumlah besar
proporsi

pendapatannya.

Hal

ini

menyebabkan

adanya

peluang

ketidakmampuan debitur yang memiliki jumlah tanggungan keluarga banyak


dalam pengembalian kredit. Oleh sebab itu, jumlah tanggungan dalam
keluarga diduga berpengaruh negatif dalam kelancaran pengembalian kredit.
Sehingga semakin banyak jumlah tanggungan keluarga maka peluang
pengembalian kredit dengan baik akan semakin kecil.
Adanya pinjaman pada pihak lain berarti bahwa nasabah memiliki
kewajiban pembayaran angsuran lain. Semakin banyak pinjaman yang
dilakukan, maka akan semakin banyak pula kewajiban pembayaran angsuran
dalam setiap bulannya. Kondisi meningkatnya beban pengeluaran yang harus
ditanggung ini menyebabkan meningkatnya risiko ketidaklancaran dalam
pembayaran angsuran kredit, terlebih jika pinjaman dilakukan pada sumber
kredit informal yang membebankan bunga tinggi (Wahyono 2000). Sehingga
pinjaman pada pihak lain diduga berpengaruh negatif dalam kelancaran
pengembalian kredit.
2) Karakter usaha
Omzet usaha menentukan tingkat pendapatan pengusaha dari usaha yang
dijalankannya. Semakin tinggi omzet usaha akan meningkatkan pendapatan
usaha, sehingga akan meningkatkan penghasilan yang dialokasikan untuk
membayar kredit (Alamsyah 2007). Oleh sebab itu, omzet usaha diduga
berpengaruh positif terhadap kelancaran pengembalian kredit karena semakin
besar pendapatan usaha maka kemampuan membayar angsuran dan beban
bunga akan semakin besar peluang pengembalian kredit secara lancar juga
semakin besar.
32

Lama usaha terkait dengan pengalaman usaha. Pengalaman usaha


mempengaruhi kemampuan dan keterampilan dalam mengambil keputusan
dari berbagai alternatif terbaik. Berdasarkan pengalamannya, pengusaha dapat
menghindari dan mengurangi risiko

yang dapat menyebabkan kegagalan

usahanya (Alamsyah 2007). Oleh sebab itu, lama usaha debitur diduga
berpengaruh positif terhadap kelancaran pengembalian kredit karena
pengalaman usaha yang semakin lama dapat meningkatkan pemahaman dan
kemampuan mengelola usaha sehingga mendukung keberhasilan usaha yang
digeluti.

Keberhasilan

usaha

tersebut

dapat

menjamin

perolehan

pendapatan/keuntungan sebagai sumber biaya hidup dan memberikan peluang


kemampuan pengembalian kredit secara lancar.
3) Karakter kredit
Semakin besar jumlah pinjaman yang diberikan oleh bank maka semakin
besar beban yang harus ditanggung oleh debitur dalam pelunasannya sehingga
pemberian jumlah pinjaman yang besar menimbulkan risiko terhambatnya
pengembalian kredit oleh debitur (Muhammah 2008). Oleh sebab itu jumlah
pinjaman diduga berpengaruh negatif terhadap pengembalian kredit.
Jangka waktu pinjaman dapat mencerminkan besar kecilnya angsuran
yang harus dibayar nasabah kepada bank setiap bulannya. Semakin lama
jangka waktu pinjaman maka angsuran bulanannya relatif lebih ringan
(Hermawan 2007). Oleh sebab itu, jangka waktu pengembalian kredit diduga
berpengaruh positif terhadap kelancaran pengembalian kredit.
Semua karakteristik di atas diduga memiliki pengaruh yang nyata terhadap
perbedaan tingkat kelancaran pengembalian kredit (KUR) sehingga pihak bank
perlu

memperhatikan

karakteristik

nasabah

dalam

mengabulkan

suatu

permohonan kredit. Kebijakan mengenai penyaluran KUR perlu direncanakan dan


ditetapkan dengan baik agar hal itu dapat menjadi simbiosis mutualisme bagi
debitur dan pihak bank. Di lain sisi pihak debitur merasa diuntungkan dengan
adanya bantuan modal dalam menyokong keberhasilan usahanya dan di sisi lain
pihak BRI memperoleh keuntungan dari pendapatan bunga kredit yang diberikan
dan pengembalian kredit dari debitur berjalan lancar tanpa adanya kasus
penunggakan.
33

Bank Rakyat Indonesia (BRI) tidak hanya berharap dan berupaya menekan
angka kredit bermasalah tetapi juga berupaya untuk sebisa mungkin penyaluran
KUR dapat mencapai tujuan yang diharapkan yaitu dimanfaatkan sebaik-baiknya
dalam rangka meningkatkan produktifitas dan pengembangan usaha rakyat kecil.
Untuk menjamin bahwa kredit yang diberikan kepada debitur dimanfaatkan
sebagaimana mestinya, pihak BRI juga melakukan pengawasan kepada debitur
tersebut khususnya menyangkut aktivitas usaha debitur.
Pembahasan pada penelitian ini akan dibatasi berdasarkan pada kerangka
operasional. Alur kerangka pemikiran operasional dapat dilihat pada Gambar 6.

Character
tingkat
pendidikan
jenis kelamin
lama usaha

Capacity
omzet usaha
jumlah
tanggungan

Tingkat Kelancaran Pengembalian Kredit


Usaha Rakyat (KUR)
BRI Unit Cimanggis

Capital
Jumlah pinjaman
lama
pengembalian
Pinjaman Lain

Non-Lancar

Lancar

Condition of
Economy
Constrain

Gambar 6. Bagan Alur Kerangka Pemikiran Penelitian


34

IV METODE PENELITIAN
4.1.

Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian dilakukan pada bulan Maret hingga April 2009 pada PT Bank

Rakyat Indonesia.Tbk Unit Cimanggis Cabang Pasar Minggu. Pemilihan tempat


ini dilakukan secara sengaja, yakni sehubungan dengan aksesibilitas peneliti
kepada responden sehingga informasi yang terkait dengan debitur dapat tergali
dengan baik untuk keperluan penelititan ini.
BRI Unit Cimanggis merupakan salah satu dari kantor unit yang dibuka
oleh BRI untuk melayani masyarakat termasuk di dalamnya adalah memberikan
pelayanan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Di antara unit-unit BRI yang berada
dibawah Kantor Cabang Pasar Minggu, BRI Unit Cimanggis memiliki peluang
terhadap pangsa sektor usaha mikro karena banyaknya unit kegiatan usaha di
daerah ini yang pada umumnya berskala mikro serta letak kantor BRI unit
Cimanggis yang tidak jauh dari dengan pasar tradisional (Pasar Cisalak) sebagai
salah satu pusat perdagangan semakin mendukung penyaluran KUR bagi sektor
tersebut. Hal ini dapat terlihat dengan adanya kecenderungan peningkatan jumlah
debitur yang mengakses KUR pada BRI Unit Cimanggis yang terjadi pada bulan
Agustus 2008 hingga Februari 2009 (BRI 2009). Namun di pada sisi lain,
peningkatan dalam penyaluran KUR tersebut ternyata juga diikuti dengan adanya
peningkatan rasio kredit bermasalah. Sehingga penelitian yang bermanfaat dalam
pengembangan pengelolaan risiko kredit ini, terutama dalam hal penyeleksian
calon debitur diharapkan dapat memberikan masukan bagi pihak manajemen BRI
Unit Cimanggis.
4.2.

Jenis dan Sumber Data


Penelitian dilakukan terhadap faktor-faktor yang berpengaruh terhadap

kemampuan pengembalian Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diberikan oleh BRI
Unit Cimanggis.

Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data

sekunder. Data primer bersumber dari hasil wawancara dengan nasabah/debitur


KUR dengan bantuan kuesioner

agar pertanyaan dalam wawancara lebih

sistematis dan diskusi dengan pihak manajemen BRI Unit Cimanggis.

Sedangkan data sekunder merupakan data kuantitatif yang diperoleh dari


data terkait debitur UMKM dan laporan BRI Unit Cimanggis dari jangka waktu
Agustus 2008 hingga Februari 2009 menyangkut Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Pencarian literatur untuk mencari data penelitian yang telah dipublikasikan, bukubuku yang relevan, makalah, jurnal, laporan penelitian, majalah, maupun internet
juga dilakukan sebagai kelengkapan bahan penelitian.
4.3.

Metode Pengambilan Sampel


Sampel adalah kelompok kecil yang kita amati dan populasi adalah

kelompok besar yang merupakan sasaran generalisasi penelitian. Gay (1976)


dalam Sevilla et al (1993) mendefinisikan populasi sebagai kelompok di mana
peneliti akan menggeneralisasikan hasil penelitiannya. Menurut Ferguson (1973)
yang diacu dalam Sevilla et al (1993), sampel adalah beberapa bagian kecil atau
cuplikan yang ditarik dari populasi. Proses yang meliputi pengambilan sebagian
dari populasi, melakukan pengamatan pada populasi secara keseluruhan disebut
sampling atau pengambilan sampel (Ary, Jacob, dan Razavieh 1981, diacu dalam
Sevilla et al 1993).
Seringkali dalam pengambilan sampel penelitian tidak dapat dihindari
untuk mempertimbangkan waktu, biaya, dan tenaga. Akan tetapi sepanjang
sampel yang digunakan porsinya cukup mewakili populasi, maka kita dapat
menggeneralisasikannya dan yakin bahwa generalisasi yang diambil

dapat

menggambarkan populasi, sehingga penemuan dan kesimpulan yang diperoleh


dari sampling tersebut adalah sah (valid). Langkah-langkah yang digunakan dalam
pengambilan sampel termasuk pengidetifikasian populasi, penetapan ukuran
sampel yang disyaratkan, dan pemilihan sampel.
Populasi dalam penelitian ini adalah semua usaha mikro yang menjadi
debitur KUR BRI unit Cimanggis dan masih tergolong aktif hingga bulan
Februari 2009 dan telah memperoleh pinjaman KUR sekurang-kurangnya enam
bulan berjalan. Jumlah anggota populasi ini sebanyak 328 debitur yang terbagi
dalam dua subpopulasi yaitu debitur dengan pengembalian lancar sebanyak 300
orang dan debitur dengan pengembalian tidak lancar sebanyak 28 orang.
Heterogenitas populasi yang menjadi sasaran sangat penting dalam
menetapkan besarnya sampel. Semakin besar heterogenitasnya,semakin besar
35

sampel yang diperlukan untuk mewakili populasi (Bruce et al 1991) yang diacu
dalam Chadwick B, Bahr HM, dan Albrecht SL (1991). Dua pertimbangan yang
sering kali dianggap penting dalam menentukan besarnya sampel adalah waktu
dan dana yang tersedia bagi peneliti. Menurut Bailey (1982) yang diacu dalam
Chadwick B, Bahr HM, dan Albrecht SL (1991) banyak orang menganggap 30
satuan sebagai jumlah sampel minimal.
Metode penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara sengaja
dan disproporsional sehingga semua anggota tidak memiliki peluang yang sama
untuk dijadikan sampel dan jumlah sampel yang mewakili kelompok-kelompok
dalam populasi tidak bersifat proporsional. Pemilihan sampel secara sengaja dan
tidak proporsional ini dilakukan karena keterbatasan jangkauan terhadap debitur
yang tempat tinggalnya cukup jauh sehingga debitur sampel yang diambil adalah
debitur yang relatif lebih mudah dijangkau dan lebih komunikatif berdasarkan
referensi petugas BRI Unit Cimanggis. Sehingga konsukuensi dari penggunaan
metode pemilihan sampel tersebut adalah responden yang diambil kemungkinan
tidak merepresentasikan sebagian dari populasi secara keseluruhan.
Jumlah sampel yang diambil sebanyak 65 orang yang berdasarkan pada
metode Gay (1976) dalam Sevilla et al (1993) yang menyatakan bahwa jumlah
responden yang dinilai cukup mewakili keseluruhan populasi yaitu minimal 10
persen dari total populasi. Dengan jumlah sampel untuk masing-masing
subpopulasi yaitu 40 orang mewakili subpopulasi dengan pengembalian lancar
dan 25 orang mewakili subpopulasi yang menunggak. Penentuan jumlah sub
sampel ini mengikuti pendapat

dari Hair (1998) bahwa terdapat beberapa

kesamaan antara analisis Diskriminan dengan analisis Regresi Logistik


diantaranya adalah populasi terbagi menjadi kelompok-kelompok tertentu dan
untuk dapat mewakili masing-masing kelompok dibutuhkan minimal 20 observasi
sebagai sampel dari masing-masing kelompok tersebut.
4.4.

Metode Pengolahan dan Analisis Data


Pengolahan data dilakukan secara manual dan komputerisasi. Pengolahan

data dilakukan dengan melalui tiga tahap yaitu penyuntingan (editing),


pengkodean (coding), dan tabulasi (tabulating).
36

Editing dilakukan dengan memeriksa kembali setiap lembar kuisioner


untuk memastikan bahwa setiap pertanyaan di dalam kuisioner telah diisi dengan
baik oleh setiap responden. Setelah itu, coding dilakukan dengan memberi kode
pada setiap jawaban responden dalam kuisioner. Data-data yang telah di-coding
kemudian dimasukkan ke dalam bentuk tabel-tabel (tabulating) untuk diolah
dengan Microsoft Excel dan Minitab 14.
Pengolahan data dilakukan untuk menjawab setiap pertanyaan yang
tercantum dalam tujuan penelitian. Di dalam penelitian ini digunakan analisis
kualitatif dan analisis kuantitatif.
4.4.1. Analisis Kualitatif
Analisis kualitatif dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif.
Statistika deskriptif merupakan suatu metode yang berkaitan dengan pengumpulan
dan pengujian suatu gugus data sehingga memberikan informasi yang berguna.
Analisis deskriptif yakni analisis yang merangkum atau meringkas hasil
pengamatan yang telah dilakukan (Faisal 2005). Analisis ini memberikan
informasi hanya mengenai data yang dipunyai dan sama sekali tidak menarik
inferensia atau kesimpulan apapun dari gugus data induknya yang lebih besar.
Penyusunan tabel, diagram, grafik, dan besaran-besaran lain di suatu media,
termasuk ke dalam statistika deskriptif (Walpole 1995).
Data

mengenai

faktor-faktor

yang berpengaruh

terhadap

tingkat

pengembalian KUR oleh debitur BRI Unit Cimanggis yang diolah melalui analisis
deskriptif dikelompokkan berdasarkan kesamaan jawaban. Informasi yang
diperoleh dipresentasekan berdasarkan jumlah responden untuk kemudian
disajikan baik dalam bentuk tabel sederhana ataupun dalam tabel distribusi
frekuensi bagi data yang disajikan dalam beberapa kelompok. Melalui analisis
deskriptif, informasi dikelompokkan berdasarkan kesamaan jawaban. Informasi
yang diperoleh dipresentasekan berdasarkan jumlah responden untuk kemudian
disajikan dalam bentuk tabel. Adapun langkah-langkah membuat Tabel Distribusi
Frekuensi menurut Husaini dan Purnomo (2006) yaitu:
1) Mengurutkan data dari yang terkecil ke data terbesar
2) Hitung rentang yaitu data tertinggi dikurangi data terendah dengan rumus:
R = Data Tertinggi Data Terendah
37

3) Hitung banyak kelas dengan aturan Sturges:


Banyak kelas = 1+ 3,3 log n
n=banyaknya data, hasil akhirnya dibulatkan. Banyak kelas paling sedikit lima
kelas dan paling banyak lima belas kelas, dipilih menurut keperluan.
4) Hitung panjang kelas interval dengan rumus:

5) Tentukan ujung bawah kelas interval pertama.Biasanya diambil dari data


terkecil atau data yang lebih kecil dari data terkecil tetapi selisihnya harus
kurang dari panjang kelas interval yang didapat.
6) Selanjutnya kelas interval pertama dihitung dengan cara menjumlahkan ujung
bawah kelas dengan nilai P setelah dikurangi satu. Demikian seterusnya.
4.4.2. Analisis Kuantitatif
Untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap tingkat
kelancaran pengembalian KUR oleh nasabah BRI Unit Cimanggis digunakan
analisis kuantitatif. Analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan model
Analisis Regresi Logistik sehingga dapat diketahui variabel-variabel penduga
yang secara nyata berpengaruh terhadap tingkat kelancaran pengembalian KUR.
Regresi logistik atau yang dikenal dengan LOGIT merupakan bagian dari
analisis regresi. Analisis regresi mengkaji hubungan pengaruh variabel-variabel
penjelas terhadap variabel respon melalui model persamaan matematis tertentu
(Firdaus dan Farid 2008).
Variabel penjelas atau variabel bebas atau variabel prediktor adalah
variabel yang menjadi dasar dari perkiraan atau estimasi. Di dalam diagram
pencar analisis regresi, variabel penjelas diskalakan ke dalam sumbu-X. Variabel
respon atau variabel terikat adalah variabel yang sedang diprediksi atau
diperkirakan. Di dalam diagram pencar analisis regresi, variabel respon diskalakan
ke dalam sumbu-Y (Lind et.al 2007).
Apabila variabel respon (Y) dalam analisis regresi berupa variabel
ketegorik, maka analisis regresi yang dapat digunakan antara lain yaitu regresi
logistik. Berdasarkan tipe kategorik pada variabel responnya, analisis regresi
logistik dapat dibagi menjadi tiga yaitu (1) biner, dengan regresi logistik biner; (2)
38

nominal, dengan regresi logistik nominal; dan (3) ordinal, dengan regresi logistik
ordinal.
Secara umum, analisis regresi logistik menggunakan variabel penjelasnya
(X) untuk menduga besarnya peluang kejadian tertentu dari kategori variabel
respon (Y). Dalam analisis regresi logistik, pemodelan peluang kejadian tertentu
dari kategori variabel respon dilakukan melalui transformasi dari regresi linier ke
logit (Gambar 7). Transformasi tersebut dapat dirumuskan dalam formula :

Logit pi

log e

pi
1 pi

dimana pi adalah peluang munculnya kejadian kategori sukses dari variabel


respon untuk orang ke-i dan loge adalah logaritma dengan basis bilangan e.
pi

pi

LOGIT
transform

predictor

predictor

Gambar 7. Transformasi Logit


Sumber : Firdaus dan Farid (2008)

Kategori sukses secara umum merupakan kategori yang menjadi perhatian


dalam penelitian. Dalam penelitian ini, variabel respon (Y) bersifat biner yaitu
jika pengembalian kredit lancar atau jika pengembalian kredit tidak lancar
(menunggak); maka kejadian sukses adalah kejadian saat pengembalian kredit
oleh responden lancar dengan pengaruh variabel tertentu.
Dengan demikian, maka model yang digunakan dalam analisis regresi
logistik adalah Logit(pi) = 0 + 1*X dengan logit (pi) adalah nilai transformasi
logit untuk peluang kejadian sukses; 0 adalah intersep model garis regresi; 1
adalah slope model garis regresi; dan X adalah variabel penjelas.
Dalam penelitian ini analisis regresi logistik dilakukan dengan Microsoft
Excel dan Minitab 14. Hasil analisis regresi menjawab tujuan penelitian yaitu
menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap tingkat kelancaran
pengembalian KUR oleh nasabah BRI Unit Cimanggis.
39

1) Penentuan Variabel
Variabel respon
Y= 1; jika pengembalian kredit lancar
Y= 0; jika pengembalian kredit menunggak
Variabel penduga
X1 = jenis kelamin, sebagai variabel dummy (1=wanita dan 0=pria)
X2 = tingkat pendidikan (tahun)
X3 = jumlah tanggungan dalam keluarga (orang)
X4 = pinjaman dengan pihak lain (1=ada dan 0=tidak)
X5 = pendapatan/omzet usaha (juta rupiah)
X6 = lama usaha (tahun)
X7 = besarnya pinjaman (juta rupiah)
X8 = jangka waktu pengembalian (bulan)
Variabel-variabel tersebut dipilih karena diduga mampu mewakili
karakteristik

dari

calon

responden

yang

dapat

mempengaruhi

tingkat

pengembalian kredit (KUR).


2) Estimasi Fungsi Regresi Logistik
Regresi Logistik merupakan merupakan suatu model analisis untuk
mengetahui pengaruh variabel-variabel penduga berskala metrik (kontinu) atau
kategorik (nominal) terhadap variabel respon yang berskala kategorik. Estimasi
model tersebut yaitu (Gujarati 1997):
Li = ln

= 0 + 1 X1 + 2 X2 + 3 X3 ++ k Xk

Keterangan:
Li = Variabel respon
0 = Konstanta
1 = Koefisien variabel penduga ke-1
k = Koefisien variabel penduga ke-k
X1= Variabel penduga ke-1
Xk= Variabel penduga ke-k

40

Dengan demikian, maka estimasi model yang digunakan dalam analisis regresi
logistik pada penelitian ini yaitu:
Li = ln

= 0 + 1 X1 + 2 X2 + + 8 X8

Keterangan:
Li = Variabel respon
Li = 1;jika pengembalian kredit lancar
Li = 0;jika pengembalian kredit tidak lancar (menunggak)
0 = Konstanta
1 = Koefisien variabel penduga ke-1
i = Koefisien variabel penduga ke-i
X1= Jenis kelamin, sebagai variabel dummy (1=wanita dan 0=pria)
X2= Tingkat pendidikan (tahun)
X3= Jumlah tanggungan dalam keluarga (orang)
X4= Pinjaman dengan pihak lain (1=ada dan 0=tidak)
X5= Pendapatan/omzet usaha (juta rupiah)
X6= Lama usaha (tahun)
X7= Besarnya pinjaman (juta rupiah)
X8= Jangka waktu pengembalian (bulan)
3) Uji Kelayakan Model
Pengujian terhadap kelayakan model menggunakan statistik G yang
merupakan nisbah kemungkinan maksimum untuk mengetahui peran variabelvariabel penduga dalam model secar simultan. Rumus uji G adalah sebagai
berikut:
G= -2 ln
Keterangan:
lo = likelihood tanpa variabel penduga
li = likelihood dengan variabel penduga
Hipotesis:

H0 = 1 = 2= = k= 0
H1 = minimal ada satu nilai 0

41

Jika nilai G > x2 p() atau p-value dari statistik G lebih kecil dari taraf nyata
(=0.05) maka keputusannya adalah tolak H0 , atau setidaknya ada satu variabel
penduga yang berpengaruh nyata terhadap variabel respon.
4) Uji Kebaiksuaian Model
Uji kebaiksuaian model dilakukan dengan memperhatikan nilai sebaran
chi-square dari metode Pearson, Deviance, dan Hosmes & Lemeshow.
Hipotesis:

H0 = tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai observasi


dengan prediksi model
H1 = terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai observasi dengan
dengan prediksi model

Jika p-value dari ketiga statistik tersebut lebih besar dari taraf nyata
(=0.05) maka keputusannya adalah menerima H0 , yang artinya model tersebut
cukup layak untuk digunakan dalam prediksi.
5) Uji Signifikansi Variabel Prediktor secara Individu
Pengujian terhadap signifikansi masing-masing variabel penduga secara
individu dilakukan dengan uji Wald (Wj), dengan rumus:

Wj =
Keterangan:
= Penduga
= Penduga standard error dari
k = Koefisien variabel penduga ke-k
Hipotesis:

H0 = 1 = 2= = k= 0
H1 = k 0, k=1,2..,k

Statistik Wj mengikuti sebaran normal (Z), jika nilai Jika nilai Wj > Z/2
atau two tailed p-value dari statistik Wj lebih kecil dari taraf nyata (=0.05) maka
keputusannya adalah tolak H0 , artinya variabel penduga ke-k tersebut berpengaruh
nyata terhadap variabel respon.

42

4.5.

Definisi Operasional

1) Kredit lancar yaitu kredit yang tidak mengalami penundaan/penunggakan


dalam pembayaran pokok pinjaman dan bunga dari waktu yang ditetapkan.
2) Kredit

tidak

lancar

(menunggak)

kredit

yang

mengalami

penundaan/penunggakan dalam pembayaran pokok pinjaman dan bunga dari


waktu yang ditetapkan selama satu minggu atau lebih.
3) Tingkat pendidikan yaitu tingkat pendidikan formal yang pernah dijalani oleh
debitur, dihitung dalam satuan tahun (tidak lulus SD = 0, lulus SD = 6, lulus
SMP = 9, lulus SMA = 12, lulus D3 = 15, lulus S1 = 16, lulus S2 = 18).
4) Jenis kelamin yaitu jenis kelamin dari debitur penerima kredit sekaligus
pengelola usaha (1=wanita dan 0=pria).
5) Jumlah tanggungan dalam keluarga yaitu banyaknya orang yang menjadi
tanggungan debitur dalam keluarganya termasuk debitur sendiri dan dihitung
dalam satuan orang.
6) Pinjaman dengan pihak lain yaitu mengenai apakah debitur memiliki atau
sedang terlibat dalam pinjaman dengan pihak lain selain pihak BRI Unit
Cimanggis (1=ada dan 0=tidak).
7) Pendapatan/omzet usaha yaitu jumlah penerimaan kotor rata-rata per bulan
dari hasil usaha debitur, dihitung dalam satuan juta rupiah.
8) Lama usaha yaitu lama usaha yang digeluti debitur, dihitung dalam satuan
tahun.
9) Besarnya pinjaman yaitu jumlah pinjaman yang diterima oleh debitur melalui
pinjaman Kredit Usaha Rakyat BRI Unit Cimanggis, dihitung dalam satuan
juta rupiah.
10) Jangka waktu pengembalian yaitu lamanya masa pengembalian yang
disepakati baik oleh pihak BRI Unit Cimanggis maupun oleh pihak debitur,
dihitung dalam satuan bulan.

43

V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN


5.1.

Sejarah Singkat PT Bank BRI


PT Bank BRI adalah salah satu bank komersial milik pemerintah. Bank ini

pada awal mulanya didirikan oleh Raden Bei Aria Wiraatmadja di Purwokerto,
Jawa Tengah pada tanggal 16 April 1895 dengan nama De Purwokertosche Hulp
en Spaarbank der Inlandsche Hoofdeen yang pada kegiatannya menampung uang
kas masjid untuk kemudian digunakan untuk pinjaman bagi masyarakat sekitarnya
dengan angsuran yang ringan.
PT Bank Rakyat Indonesia, Tbk mengalami beberapa kali perubahan nama
yang erat kaitannya dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia, berturut-turut
berubah menjadi Hulp en Spaarbank der Inlandsche BestuursAmbtenaren, De
Poerwokertosche Hulp Spaar-en Landbouw Credietbank (Volksbank). Pada tahun
1912, nama tersebut kembali mengalami perubahan menjadi Centrale Kas Voor
Het Volkscredietwezen, Algemene Volkscredietwezen, dan perubahan nama
terakhir pada masa colonial Belanda terjadi pada tahun 1934 menjadi Algemene
Volkcredietbank (AVB). Pada masa kependudukan Jepang, nama tersebut
kemudian diubah menjadi Syonim Ginko pada tahun 1942. Selanjutnya setelah
kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan, secara resmi pengakuan
Syonim Ginko menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI) terjadi pada tanggal 22
Februari 1946 melelui Peraturan Pemerintah No.1 Tahun 1946, Bank Rakyat
Indonesia (BRI) menjadi bank pemerintah pertama dengan wilayah kerja seluruh
Indonesia.
Sebagian bank yang tumbuh dan berkembang dengan pesat, berdasarkan
Surat Dewan Moneter No. SEKR/BRI/328 tanggal 25 September 1956 Bank
Rakyat Indonesia (BRI) ditetapkan sebagai Bank Devisa, sehingga dapat
memberikan pelayanan yang lebih merata kepada para nasabah yang bergerak di
bidang perdagangan luar negeri. Kemudian menjelang Orde Baru, Bank Rakyat
Indonesia (BRI) dilebur ke dalam Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) yang
merupakan peleburan tiga buah bank yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank
Tani dan Nelayan (BTN), serta Nerderlandsche Handels Maatschappij (NHM).
Adanya perubahan struktur kelembagaan pada bank-bank milik pemerintah pada

tahun 1956, maka Bank Koperasi Tani dan Nelayan diinterasikan ke dalam Bank
Indonesia (BI) Bank Indonesia Urusan Tani dan Nelayan (BI-UKTN).
Selanjutnya berdasarkan Peraturan Presiden No. 17 tanggal 27 Juli 1965
dibentuk bank tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia (BNI) dan BI-UKTN
dilebur ke dalamnya dengan nama BNI Unit II bidang rural.Berdasarkan UU No.
14 tahun 1967, tentang Pokok Perbankan, BNI Unit II bidang rural diubah
kembali menjadi Bank Rakyat Indonesia.
Berdasarkan UU No. 7 tahun 1992 tentang UU Perbankan dan Peraturan
Pemerintah RI No. 21 tahun 1992 telah terjadi perubahan kepemilikan BRI, yang
semula Bank Pemerintah diubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT.
Bank Rakyat Indonesia (Persero). Perubahan ini dimaksudkan agar BRI menjadi
lebih profesional untuk mengantisipasi persaingan perbankan yang semakin ketat.
Pada tanggal 10 Novenber 2003, BRI melakukan go public dan pemerintah
melepas 30 persen kepemilikan sahamnya kepada publik sehingga dalam
kepemilikannya BRI telah menjadi perusahaan public dan namanya ditambah
menjadi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Harga saham BRI di pasar
modal Indonesia sejak tercatat sampai dengan saat ini selalu menunjukkan
peningkatan dan termasuk ke dalam kelompok saham blue chip yang tergabung
dalam LQ45.
5.2.

Visi, Misi, Tujuan BRI dan Sasaran Jangka Panjang


Visi BRI adalah menjadi bank komersial yang selalu mengutamakan

kepuasan nasabah. Untuk mewujudkan visi tersebut BRI menetapkan tiga misi
yang harus dilaksanakan:
1) Melakukan kegiatan perbankan yang terbaik dengan memprioritaskan
pelayanan kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah untuk menunjang
perekonomian masyarakat.
2) Memberikan pelayanan prima kepada nasabah melalui jaringan kerha yang
tersebar luas dan didukung sumber daya manusia (SDM) yang professional
dengan melakukan praktek tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate
Governance).
3) Memberikan keuntungan dan manfaat seoptimal mungkin kepada berbagai
pihak yang berkepentingan.
45

5.3.

Budaya Perusahaan
PT. Bank Rakyat Indonesia, Tbk memiliki nilai-nilai perusahaan (Good

Corporate Governance)yang menjadi landasan berpikir, bertindak, serta


berperilaku bagi setiap insan BRI dimana pun berada,yaitu:
1)

Integritas

2)

Profesionalisme

3)

Kepuasan nasabah

4)

Keteladanan

5)

Penghargaan kepada SDM


Kesadaran akan nilai-nilai tersebut menjadi kekuatan filosofi bisnis BRI

dan menjadi budaya kerja perusahaan (corporate culture) yang solid dan
berkarakter. Sebagai salah satu wujud penerapan budaya kerja dan kode etik
banker, BRI mematuhi seluruh ketentuan dan perundang-undangan yang terkait
deng mematuhi seluruh ketentuan dan perundang-undangan yang terkait dengan
kegiatan operasional bank. Hal ini mendorongan kegiatan operasional bank. Hal
ini mendorong BRI untuk selalu mengedepankan asas kehati-hatian (prudential
banking) dan komoitmen terhadap kepentingan stakeholders, dengan mewujudkan
bentuk tata kelola perusahaan sebagai berikut:
1) Mengintensifkan program budaya sadar risiko dan kepatuhan kepada setiap
pekerja di seluruh unit kerja
2) Mengintensifkan peningkatan kualitas pelayanan di seluruh unit kerja
3) Menjabarkan dan memonitor setiap kemajuan yang dicapai perusahaan ke
dalam rencana tindakan yang terukurdan dapat dipertanggungjawabkan oleh
setiap unit kerja.
5.4.

Organisasi dan Jaringan Kerja BRI


PT. Bank Rakyat Indonesia, Tbk dipimpin oleh seorang direktur utama

dan seorang wakil direktur utama yang dibantu oleh enam direktur yang
membidangi bisnis. Masing-masing direktur membawahi bidang bisnis mikro dan
retail, bisnis menengah, bidang pengendalian kredit, bidang keuangan dan
internasional, bidang operasional, dan bidang kepatuhan. Secara structural direksi
membawahi para kepala divisi di kantor pusat dan pemimpin wilayah di kantor
wilayah BRI. Struktur organisasi BRI Pusat dapat dilihat pada Lampiran 2.
46

Unit kerja di kantor pusat BRI meliputi berbagai bidang bisnis operasional
dan penunjang, yang masing-masing dipimpin oleh para kepala divisi dibantu oleh
wakil kepala divisi yang membawahi para kepala bagian dan staf. Unit kerja di
tingkat wilayah BRI dipimpin oleh pemimpin wilayah yang dibantu oleh wakil
pemimpin wilayah, yang membawahi kepala bagian dan pemimpin cabang yang
ada di wilayah tersebut. Struktur organisasi kantor wilayah BRI dapat dilihat pada
Lampiran 3. Unit kerja di kantor cabang BRI dipimpin oleh pemimpin cabang
yang dibantu oleh wakil pemimpin cabang yang membawahi para officer, kepala
seksi, serta seluruh kantor cabang pembantu yang ada di wilayah kantor tersebut
(Lampiran 4).
Unit kerja kantor cabang pembantu (KCP) dipimpin oleh pemimpin
cabang pembantu (Pincapem) yang membawahi para supervisor, teller, dan unit
pelayanan nasabah (UPN) atau sering disebut dengan Customer Service (CS).
Struktur organisasi kantor cabang pembantu dapat dilihat pada Lampiran 5. Unit
kerja di tingkat BRI Unit dipimpin oleh seorang kepala unit (Kaunit) yang
membawahi mantri, deskman, dan teller di BRI Unit tersebut.
5.5.

Bidang Usaha BRI


Bank BRI mempunyai berbagai bidang usaha yang secara garis besar

dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bidang usaha simpanan, pinjaman, dan
jasa bank lainnya.
1) Bidang Simpanan
Meliputi Giro BRI (Girobri), Deposito BRI (Depobri) baik dalam mata
uang Rupiah maupun US Dollar, Sertifikat BRI (Sertibri), Tabungan Britama
baik Britama Rupiah maupun Britama Dollar, Tabungan Simaskot, Tabungan
Simpedes, dan Tabungan Haji.
2) Bidang Pinjaman
Melipuit Kredit Prioritas atau Kredit Program, Kredit Non Program,
Kredit Komersial, Kredit Kepemilikan Rumah, Kredit Kendaraan Bermotor,
Kredit Profesi, Kredit Ekspres, KreditPembinaan Peningkatan Pendapatan
Petani atau Nelayan (P4K), Kupedes, Kredit Golongan Berpenghasilan Tetap,
Kredit Pensiun, Kredit Cash Collateral, dan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
47

3) Usaha Jasa Bank


Meliputi transfer, Inkaso, Safe Deposit Box, Automatic Teller Machine
(ATM), Cek Perjalanan BRI (Cepebri), Kliring, dan jual beli Bank Notes atau
mata uang asing. Selain itu juga, jasa bank juga meliputi biaya
penyelenggaraan ibadah haji, penerimaan Surat Tanda Kendaraan Bermotor
(STNK), Surat Izin Mengemudi (SIM), Buku Kepemilikan Kendaraan
Bermotor (BPKB), penerimaan setoran tagihan telepon dan listrik,
pembayaran utang pension PT Taspen dan PT Asabri, pembayaran Pajak Bea
Cukai KPKN, pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Subsidi
Pembangunan Inpres (P2KP), pelayanan Setoran PT Pusri, pelayanan
pembayaran Pertamina dan pelayanan setoran Pegadaian.
5.6.

Macam-Macam Kredit BRI


Kredit-kredit yang dilayni BRI terdiri dari Kredit Kepada Golongan

Berpenghasilan Tetap (Kretap), Kredit Pensiun (Kresun), Kredit Umum Pedesaan


(Kupedes), Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), dan
Kredit Kepemilikan Rumah (KPR).
1) Kredit Kepada Golongan Berpenghasilan Tetap (Kretap)
Kredit Kepada Golongan Berpenghasilan tetap yang selanjutnya disebut
Kretap merupakan kredit yang diberikan kepada para pegawai instansi
pemerintah atau pegawai negeri sipil (PNS), Badan Usaha Milik Negara
(BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), Tentara Nasional Indonesia
(TNI), Polisi Republik Indonesia (POLRI) dan pegawai swasta yang telah
diangkat menjadi pegawai tetap. Kretap dilayani oleh BRI Kantor Cabang dan
Kantor Cabang Pembantu.
Pemberian Kretap dilakukan secara kolektif dengan rekomendasi dan
adanya perjanjian bersama dengan pimpinan instansi atau perusahaan tempat
pegawai yang bersangkutan bekerja. Kretap diberikan atas dasar penghasilan
atau gaji bulanan pegawai dan pembayaran angsurannya dilakukan dengan
mengadakan kerja sama pemotongan gaji dengan instansi atau perusahaan
dimana pegawai tersebut bekerja. Kredit diberikan dalam bentuk persekot
dengan angsuran bulanan secara tetap dan bunga.
48

2) Kredit Pensiun (Kresun)


Kredit Pensiun yang selanjutnya disebut Kresun adalah kredit yang
diberikan kepada pensiunan pegawai negeri sipil (PNS), pusat maupun daerah
ataupun jandanya, pensiunan pegawai BUMN dan BUMD ataupun jandanya,
pensiunan TNI dan POLRI ataupun jandanya, dan pensiunan pegawai swasta
yang instansinya mempunyai Yayasan Dana Pensiun ataupun jandanya,
pensiunan pegawai lainnya ataupun jandanya yang menerima pension secara
tetap dari perusahaan asuransi ataupun perusahaan dana pension yang dapat
dipercaya BRI. Kresun dilayani di Kantor Cabang dan Kantor Cabang
Pembantu.
Pemberian Kresun atas dasar penghasilan pensiunnya dan pembayarannya
dilakukan dengan mengadakan kerja sama pemotongan pension dengan
lembaga yang membayarkan pension. Kresun diberikan dalam bentuk persekot
dengan angsuran bulanan.
3) Kredit Umum Pedesaan (Kupedes)
Kupedes adalah fasilitas kredit yang bersifat umum, individual, selektif,
dan berbunga wajar yang bertujuan untuk mengembangkan atau meningkatkan
usaha mikro yang layak (eligible) Kupedes merupakan kredit yang dilayani di
BRI Unit dan diberikan dalam mata uang rupiah.
4) Kredit Usaha Rakyat (KUR)
KUR adalah fasilitas kredit atau pembiayaan yang khusus diperuntukkan
bagi usaha mikro, kecil, dan menengah serta koperasi yang usahanya layak
namun tidak memiliki agunan yang cukup sesuai persyaratan yang ditetapkan
BRI yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian di tingkat usaha
mikro, kecil, dan menengah dan juga koperasi. KUR merupakan kredit yang
dilayani saat ini hanya di BRI Unit dan diberikan dalam bentuk mata uang
rupiah.
5) Kredit Kendaraan Bermotor (KKB)
Kredit Kendaraan Bermotor merupakan kredit yang diberikan untuk
keperluan pembelian kendaraan bermotor. Kendaraan bermotoryang dimaksud
adalah kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat baik yang masih
49

baru maupun yang sudah bekas. Pasar sasarannya yaitu perorangan maupun
badan usaha atau instansi. Kredit kendaraan bermotor ini dilayani di BRI
Kantor Cabang.
6) Kredit Kepemilikan Rumah (KPR)
Kredit Kepemilikan Rumah adalah fasilitas kredit yang diberikan oleh BRI
kepada perorangan baik yang berpenghasilan tetap, professional, dan
wiraswasta untuk keperluan pembelian, pembangunan, maupun renovasi
rumah. Kredit Kepemilikan Rumah ini dilayani di BRI Kantor Cabang.
5.7.

Gambaran Umum Kantor Cabang BRI Pasar Minggu


Kantor Cabang (Kanca) BRI Pasar Minggu merupakan salah satu dari 23

Kanca BRI yang berada di wilayah Kanwil Jakarta II yang berlokasi di Gatot
Subroto. Kanca BRI Pasar Minggu dipimpin oleh seorang Pemimpin Cabang
(Pinca) yang mebawahi kegiatan pelayanan kepada sektor mikro dan ritel. Dalam
kegiatannya Pinca dibantu oleh tiga orang manajer, yaitu:
1) Manajer Pemasaran (MP)
Manajer Pemasaran bertanggung jawab terhadap bisnis ritel baik kredit
maupun dana. Kredit merupakan sejumlah dana BRI yang dipinjamkan kepada
nasabah (debitur). Sedangkan dana adalah pemasukan yang diterima oleh BRI,
dan sebagainya.Manajer Pemasaran membawahi para Account Officer (AO).
2) Manajer Operasional (MO)
Manajer Operasional bertanggung jawab terhadap kelancaran proses
kegiatan operasional Kanca.Manajer Operasional membawahi Asisten
Manajer Operasional (AMO) serta Supervisor Kas dan Supervisor Dana dan
Jasa.
3) Manajer Bisnis Mikro (MBM)
Manajer Bisnis Mikro bertanggung jawab terhadap bisnis baik kredit
maupun dan dan operasional mikro di BRI Unit. MBM dibantu oleh Asisten
Manajer Bisnis Unit (AMBM) yang membawahi pemilik BRI Unit. Selain itu,
MBM juga membawahi Petugas Administrasi Unit (PAU) dan Petugas
Rekonsiliasi Unit (RKU).
Kantor Cabang BRI Pasar Minggu membawahi 12 unit. BRI Unit yang
dinaungi Kantor Cabang BRI Pasar Minggu yaitu BRI Unit Kalibata, BRI Unit
50

Kalisari, BRI Unit Jatijajar, BRI Unit Pejaten, BRI Unit Cibubur, BRI Unit
Cilangkap, BRI Unit Ciracas, BRI Unit Lenteng Agung, BRI Unit Pasar Minggu,
BRI Unit Pasil Gunung, BRI Unit Cijantung serta BRI Unit Cimanggis.
5.8.

Gambaran Umum BRI Unit Cimanggis


BRI Unit berdiri atas dasar gagasan dari Dr.Soedarso Hadisaputro dan

disahkan berdasarkan Surat keputusan Direksi BRI Nokep: S.34-31/ 9/69 tanggal
9 September 1969 tentang proyek pengembangan ekonomi wilayah Unit Desa.
Realisasi gagasan ini kemudian diawali di wilayah D.I.Yogyakarta dengan 18 BRI
Unit dengan 54 orang pegawai. Dalam pilot proyek pengembangan ekonomi
wilayah pedesaan ini, BRI Unit berperan sebagai penyalur kredit untuk para
petani.
Selanjutnya tahun 1970 proyek ini dikembangkan ke seluruh pulau Jawa,
hingga sampai menjangkau wilayah Jawa Barat dimana salah satu BRI Unit yang
ada adalah BRI Unit Cimanggis Cabang Pasar Minggu. BRI Unit Cimanggis pada
mulanya bukan merupakan bagian dari Kantor Cabang Pasar Minggu, melainkan
bagian dari

Kantor Cabang Bogor. Namun seiring dengan pengefektifan

pengawasan maka BRI Unit Cimanggis kini berada di wilayah cabang Pasar
Minggu.
BRI Unit Cimanggis merupakan salah satu di antara 12 BRI Unit yang
berada di wilayah Kantor Cabang Pasar Minggu. BRI Unit Cimanggis terletak di
Kecamatan Cimanggis, tepatnya di Jalan Raya Bogor Km 31,5. Ruang lingkup
BRI Unit Cimanggis yaitu hanya di Kecamatan Cimanggis. Mayoritas nasabah
BRI Unit Cimanggis berdomisili di Kecamatan Cimanggis. Untuk peminjaman
dikhususkan (sebagian besar) untuk nasabah di Kecamatan Cimanggis dan
adapula beberapa berasal dari wilayah lain.

51

BRI Unit Cimanggis dipimpin oleh seorang Kepala Unit (Kaunit) yang
membawahi Mantri, Deskman, dan Teller (Gambar 8).
Kepala Unit

Mantri

Deskman

Mantri

Teller

Mantri

Teller

Deskman

Gambar 8. Struktur Organisasi BRI Unit Cimanggis


Masing-masing bagian mempunyai tugas yang berbeda antara satu dengan
lainnya, yaitu:
1) Kepala Unit (Kaunit)
Bertugas sebagai pemimpin kantor BRI Unit dan bertanggung jawab atas
seluruh kegiatan operasional yang dilakukan oleh BRI Unit tersebut. Di
samping itu juga mempunyai wewenang untuk melakukan putusan kredit
sebatas Kuasa Memutus Permohonan Pinjaman (KMPP) yang dimilikinya.
Kaunit mempunyai wewenang untuk memutuskan kredit sebesar 10.000.000
rupiah, lebih dari nilai tersebut harus diproses di Kantor Cabang. Plafon
maksimum KUR di BRI Unit Cimanggis sebesar lima juta rupiah
2) Mantri
Bertugas sebagai tenaga pemasar yang berfungsi ganda sebagai lending
atau funding officer. Khusus untuk pinjaman, mantri berfungsi sebagai
seorang analis kredit yang melakukan analisis dan merekomendasi putusan
kredit sekaligus berfungsi sebagai pembina nasabah kredit.
3) Deskman
Bertugas melayani kebutuhan nasabah dalam melakukan transaksi di BRI
Unit yang bersifat administratif. Selain itu berfungsi untuk memberikan
informasi

52

5.9.

MekanismePenyaluran KUR pada BRI Unit Cimanggis


BRI Unit Cimanggis dalam menyalurkan KUR tidak terlepas dari syarat-

syarat maupun prosedur yang harus dipenuhi oleh debitur. Dalam hal ini, KUR
tidak langsung diberikan oleh pihak BRI Unit Cimanggis sebelum mengenal
karakteristik calon debitur secara lebis jelas.
Secara umum prosedur pengembilan KUR melewati dua tahap, yaitu tahap
pengajuan permohonan atau tahap pemberian kredit dan tahap pembayaran
kembali. Tahap pengajuan permohonan atau pemberian kredit diawali dengan
formulir yang tersedia di BRI Unit Cimanggis. Kemudian penilaian kredit
dilakukan oleh Mantri BRI Unit Cimanggis. Kaunit Cimanggis meneliti data
kredit yang telah dikumpulkan dan mengambil keputusan. Apabila usaha tersebut
dinilai layak, maka Kaunit dapat langsung memutuskan pemberian kredit. Plafond
KUR di BRI Unit Cimanggis adalah maksimal lima juta rupiah.Bila permohonan
kredit tersebut dinilai tidak layak, maka Kaunit dapat langsung memberikan
keputusan penolakan.
Semua prosedur penyaluran kredit tidak lepas dari prinsip Lima C
(Character, Capacity, Collateral, dan Condition of Economy). Proses pencairan
kredit di BRI Unit Cimanggis memakan waktu kurang lebih satu minggu setelah
pengajuan permohonan kredit. Secara lebih jelas prosedur penyaluran kredit yang
dilakukanoleh BRI Unit Cimanggis adalah:
1) Persyaratan Awal
Pendaftaran awal harus dilakukan di kantor BRI Unit Cimanggis pada jam
kerja dan petugas yang melayani adalah Deskman. Calon nasabah
harusmembawa kelengkapan identitas diri untuk permohona pinjaman yaitu:
-

Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) suami isteri bila sudah


menikah.

Fotokopi Kartu Keluarga (KK)

Pas Foto (4x6) sebanyak 1 lembar

KUR tidak diwajibkan menggunakan agunan akan tetapi tidak


menutup kemungkinan pihak bank meminta jaminan atau agunan
ringan.

Minimal usaha yang dilakukan telah berjalan selama enam bulan.


53

Calon nasabah dapat memilih jumlah serta jangka waktu pengembalian


KUR sesuai dengan kemampuannya berdasarkan prosedur KUR yang berlaku.
Jangka waktu angsuran KUR yang dapat dipilih calon debitur yaitu selama 12,
18, dan 24 bulan. Pada saat itu, deskman turut membantu nasabah dalam
memberikan alternative pilihan pinjaman sesuai dengan kemampuan
usahanya.
2) Pendaftaran
Setelah proses pengajuan kredit dilakukan,selanjutnya dilaksanakan proses
administrasi. Dalam hal ini, deskman bertugas untuk memeriksa apakah calon
debitur termasuk dalam daftar hitam atau tidak. Selain itu, deskman juga
harus mempersiapkan pemeriksaan di tempat nasabah sesuai dengan besar
KUR dan memastikan pinjaman lama dengan memeriksa berkas pinjaman
yang lalu dan kartu pelunasannya, apabila pernah atau sedang meminjam di
BRI. Setelah itu, seluruh berkas diberikan kepada Kaunit untuk diproses lebih
lanjut.
Kaunit akan memeriksa kelengkapan persyaratan yang diperlukan dan
berkas pengajuan dari deskman. Sebelum memutuskan permohonan, Kaunit
harus menugaskan Mantri atau Kaunit sendiri yang melakukan pemeriksaan
kebenaran laporan usaha yang diberikan oleh calon debitur. Dalam hal ini
diharapkan Kaunit lebih mengenal karakter calon debitur.
3) Pemeriksaan terhadap usaha calon debitur
Pemeriksaan terhadap aspek-aspek usaha calon debitur juga sangat
diperlukan untuk meminimalkan risiko terjadinya penunggakan pada
pinjaman. Pemeriksaan dapat dilakukan secara langsung oleh Mantri terhadap
keadaan usahacalon debitur.Untuk memperoleh informasi tersebut, Mantri
dapat melakukan wawancara baik langsung terhadap calon nasabah maupun
tetangga atau relasinya.
Prinsip Lima C perlu diperhatikan dalam pemeriksaan ini. Oleh karena itu,
Mantri harus giat mengamati dan mewawancarai orang-orang yang tepat guna
mendapatkan data yang akurat sehingga tidak terjadi kesalahan dalam
menganalisis usaha calon nasabah. Kriteris pemeriksaan tersebut meliputi:

54

Usaha benar-benar sesuai dengan surat keterangan Kecamatan atau


Kelurahan yang diberikan.

Domisili calon debitur sesuai dengan KTP yang telah diberikan.

Calon nasabah mempunyai sifat baik. Ini dapat diketahui dari hasil
wawancara para tetangga,relasi, ataupun perangkat desa yang
berhubungan.

Calon nasabah memiliki prospek usaha yang baik.

Pemeriksaan terhadap usaha calon nasabah dapat dibagi atas aspek


pemasaran, aspek manajemen, aspek hukum, dan aspek sosial ekonomi. Aspek
pemasaran dianalisis untuk mengetahui prospek usaha dan laba yang dapat
menjamin kelangsungan usaha tersebut. Aspek ini mencakup keadaan pasar,
baik permintaan maupun penawaran yang sudah ada untuk jenis usaha yang
direncanakan dan produksi.
Pemeriksaan terhadap aspek keuangan dilakukan dengan cara melihat data
keuangan calon nasabah dari kegiatan di masa lau. Dari data tersebut dapat
diperkirakan sejauh mana keuntungan dari usaha yang dijalankan di masa
yang akan datang. Dengan demikian pihak BRI Unit dapat mengukur
kesehatanusah dan dapat mempertimbangkan seberapa besarjumlah pinjaman
yang akan disalurkan.
Aspek manajemen dapat mencerminkan bagaimana hubungan antara
kemampuan, pengalaman, dan cara mengelola usaha. Hal ini berkaitan dengan
bagaimana

karakter

calon

debitur

dengan

kemampuannya

dalam

mengembalikan pinjaman kredit.


Penilaian terhadap aspek hukum dapat dilihat dari kelengkapan data legal
yang dimiliki calon nasabah, seperti akte pendirian usaha maupun surat ijin
usaha lainnya dari instansi berwenang. Hal ini diperlukan untuk melihat
kebenaran usaha yang dilaporkan calon debitur. Sedangkan aspek sosial
ekonomi dapt dilihat dari pengaruh usaha calon nasabah terhadap lingkungan
masyarakat sekitar.

55

4) Teller
Bertugas melayani nasabah untuk transaksi tunai,yaitu penerimaan dan
pembayaran kas. Adapun beberapa contohnya yaitu penerimaan setoran
tabungan, pembayaran pinjaman, dan sebagainya.
Produk yang ditawarkan oleh BRI Unit Cimanggis adalah Simpedes,
Kupedes, KUR, tabungan Britama, Deposito BRI (Depobri), tabungan haji, dan
Simaskot (Simpanan Masyarakat Kota, pada akhir tahun 2005 ditiadakan dan
dilebur menjadi satu dengan Simpedes). Untuk lebih menarik minat nasabah
terhadap produk-produk yang dotawarkan BRI Unit Cimanggis, maka BRI Unit
Cimanggis memberikan fasilitas-fasilitas yang memudahkan nasabah, yaitu:
1) Untuk produk peminjaman, tidak ada persyaratan khusus hanya surat izin
usaha yang otentik dan jelas serta layak dan juga identitas diri.
2) Untuk produk simpanan, dalam pembuatan simpanan hanya memerlukan KTP
dan saldo awal untuk setiap simpanan tidak terlalu besar, untuk Simpedes
saldo awal sebesar 100 ribu rupiah, sedangkan untuk Britama saldo awal
sebesar 200 ribu rupiah. Dalam penarikan uang, nasabah dapat melakukannya
di ATM BRI dimana saja, selain itu BRI Unit Cimanggis sudah on line
sehingga nasabah dapat melakukan transaksi di BRI mana pun. BRI Unit
Cimanggis juga melayani pembayaran listrik, telepon, angsuran motor, dan
sebagainya.

56

VI FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP


TINGKAT KELANCARAN PENGEMBALIAN KUR PADA
BRI UNIT CIMANGGIS
6.1.

Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pengembalian Kredit


Karakteristik responden diidentifikasi berdasarkan karakteristik personal,

karakteristik usaha, dan karakteristik kredit. Karakteristik personal terdiri atas


jenis kelamin, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan dalam keluarga, serta ada
tidaknya pinjaman pada pihak lain. Karakteristik usaha mencakup omzet usaha
serta lama usaha. Sedangkan karakteristik kredit meliputi jumlah pinjaman dan
jangka waktu pengembalian pinjaman yang disepakati.
Responden terdiri dari pria dan wanita dengan jumlah tanggungan antara
tiga hingga sembilan orang, dan sebagian memiliki pinjaman pada pihak lain
sementara sebagian lagi tidak. Karakteristik usaha, kisaran omzet respeonden
antara Rp 1,5 juta hingga Rp 100 juta per bulan dengan lama usaha antara 1 tahun
hingga 38 tahun. Sedangkan karakteristik kredit, nilai pinjaman debitur responden
antara Rp 1 juta hingga Rp 5 juta dengan jangka waktu pelunasan 12 hingga 24
bulan (Tabel5).
Tabel 5. Statistika Deskriptif Responden
Variabel
Jenis Kelamin
Tingkat Pendidikan
Jumlah Tanggungan
Kredit Lain
Omzet Usaha
Lama Usaha
Jumlah Pinjaman
Jangka Waktu

Mean
SE Mean St Dev
Min
Max
0,369
0,060
0,486
0,000
1,000
8,862
0,332
2,674
6,000
15,000
4,738
0,188
1,513
3,000
9,000
0,385
0,061
0,490
0,000
1,000
23,750
2,600
20,930
1,500
100,000
10,260
1,120
9,030
1,000
38,000
4,177
0,135
1,091
1,000
5,000
16,892
0,572
4,610
12,000
24,000

6.1.1. Karakteristik Personal


Seluruh responden dari masing-masing kategori kelancaran pengembalian
kredit diidentifikasi karakteristik personalnya berdasarkan variabel jenis kelamin,
tingkat pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, dan adanya pinjaman dengan
pihah lain.

1) Jenis Kelamin
Perbedaan gender terkadang melatarbelakangi perilaku dan tindakan
seseorang. Tidak jarang wanita lebih mengedepankan perasaan daripada
pikiran dalam melakukan suatu tindakan, sedangkan pria sebaliknya.
Kaitannya dengan pengembalian kredit (KUR BRI Unit Cimanggis) diduga
bahwa perilaku pengembalian kredit ini (lancar maupun menunggak)
berkaitan dengan perbedaan gender tersebut.
Tabel 6. Sebaran Responden berdasarkan Jenis Kelamin Responden
Jenis Kelamin
Pria
Wanita
Total

Lancar
Menunggak
Total
Jumlah
Proporsi
Jumlah
Proporsi
Jumlah
Proporsi
(Orang)
(%)
(Orang)
(%)
(Orang)
(%)
24
36,92
17
26,15
41
63,08
16
24,62
8
12,31
24
36,92
40
61,54
25
38,46
65
100,00

Jenis kelamin responden secara keseluruhan didominasi oleh pria


(Tabel 6). Hal ini mencerminkan karakteristik debitur yang mampu
mengembalikan kredit dengan baik dan menunggak tidak dapat dibedakan
oleh jenis kelamin.
2) Tingkat Pendidikan
Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin luas kemampuan dalam
kemampuan mengaktualkan potensi dirinya, termasuk kemampuan dalam
berbisnis atau pengelolaan usaha. Demikian pula kemampuan pengelolaan
usaha para nasabah diduga dipengaruhi oleh tingkat pendidikannya. Adapun
kaitannya dengan pengembalian kredit ialah semakin tinggi tingkat
pendidikan seseorang diharapkan semakin berdisiplin dan bertanggung jawab
dalam memenuhi kewajiban membayar angsuran kredit. Selain itu semakin
tinggi tingkat pendidikan seseorang maka pengetahuan dan wawasannya
semakin bertambah sehingga akan mendukung kemampuan mengelola usaha
dengan baik. Namun hasil penelitian menemukan bahwa sebagian besar
responden tergolong berpendidikan rendah, yakni pendidikan setingkat SD.
Begitu pula pada masing-masing kategori kelancaran pengembalian
(Tabel 7).

58

Tabel 7. Sebaran Responden berdasarkan Tingkat Pendidikan


Pendidikan
SD
SLTP
SLTA
D III
Total

Lancar
Menunggak
Total
Jumlah
Proporsi
Jumlah
Proporsi
Jumlah
Proporsi
(Orang)
(%)
(Orang)
(%)
(Orang)
(%)
18
27,69
8
12,31
26
40,00
8
12,31
9
13,85
17
26,15
14
21,54
7
10,77
21
32,31
0
0,00
1
1,54
1
1,54
40
61,54
25
38,46
65 100,00

3) Jumlah Tanggungan dalam Keluarga


Jumlah anggota dalam keluarga yang harus ditanggung kebutuhan
hidupnya oleh seorang kepala keluarga mempengaruhi besarnya pengeluaran
dalam keluarga tersebut. Asumsinya, semakin banyak tanggungan dalam
keluarga secara langsung akan membuat kebutuhan hidup keluarga tersebut
semakin besar sehingga biaya yang harus dikeluarkan juga akan semakin
besar. Semakin besar jumlah tanggungan dalam keluarga maka akan semakin
besar pula proporsi dari pendapatan yang harus dibelanjakan. Hal tersebut
diduga dapat mengurangi kemampuan seseorang dalam membayar angsuran
kredit.
Tabel 8.

Sebaran Responden berdasarkan Jumlah Tanggungan

Tanggungan
(Orang)
3
4
5
6
7
8
9
Total

Lancar
Menunggak
Total
Jumlah
Proporsi
Jumlah
Proporsi
Jumlah
Proporsi
(Orang)
(%)
(Orang)
(%)
(Orang)
(%)
8
12,31
3
4,62
11
16,92
17
26,15
9
13,85
26
40,00
9
13,85
5
7,69
14
21,54
1
1,54
3
4,62
4
6,15
2
3,08
2
3,08
4
6,15
2
3,08
3
4,62
5
7,76
1
1,54
0
0,00
1
1,54
40
61,54
25
38,46
65
100,00

Sebagian besar jumlah tanggungan keluarga dari keseluruhan responden


sebanyak empat orang (Tabel 8). Tidak terdapat perbedaan yang berarti
antara debitur yang lancar dan menunggak, karena baik responden lancar
maupun responden menunggak sebagian besar juga memiliki jumlah
tanggungan dalam keluarga sebanyak empat.

Hal ini mencerminkan

karakteristik debitur yang mampu mengembalikan kredit dengan baik dan


59

menunggak tidak dapat dibedakan berdasarkan jumlah tanggungan dalam


keluarga.
4) Pinjaman pada Pihak Lain
Sejumlah tertentu pinjaman yang dilakukan responden pada pihak lain
bersamaan dengan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang mereka akses
melalui BRI Unit Cimanggis diduga mengurangi kemampuan responden
dalam melakukan pengembalian kepada BRI. Hal ini didasarkan pada asumsi
bahwa semakin banyak pinjaman yang dilakukan, maka akan semakin
banyak pula kewajiban pembayaran angsuran dalam setiap bulannya. Kondisi
meningkatnya beban pengeluaran yang harus ditanggung ini menyebabkan
meningkatnya risiko ketidaklancaran dalam pembayaran angsuran kredit.
Tabel 9. Sebaran Responden berdasarkan Pinjaman Lain
Pinjaman Lain
Ada
Tidak Ada
Total

Lancar
Menunggak
Total
Jumlah
Proporsi
Jumlah
Proporsi
Jumlah
Proporsi
(Orang)
(%)
(Orang)
(%)
(Orang)
(%)
8
12,31
17
26,15
25
38,46
32
49,23
8
12,31
40
61,54
40
61,54
25
38,46
65
100,00

Terlihat pada Tabel 9 bahwa sebagian besar responden yang terlibat


peminjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada BRI Unit Cimanggis tidak
sedang terlibat dalam pinjaman pada pihak lain. Namun ditemukan bahwa
sebagian besar debitur dengan kategori pengembalian kredit menunggak
sedang terlibat dalam pinjaman dengan pihak lain. Kenyataan ini sangat
berbeda bila dibandingkam sebagian besar responden lancar yang tidak
sedang dalam pinjaman dengan pihak lain. Kondisi ini mencerminkan
perbedaan yang sangat berarti sehingga dapat disimpulkan bahwa antara
responden yang lancar dan menunggak, dapat dibedakan berdasarkan status
responden yang sedang dalam pinjaman lain atau tidak.
6.1.2. Karakteristik Usaha
Karakteristik usaha responden baik dengan kategori pengembalian lancar
maupun menunggak diklarifikasikan berdasarkan nilai omzet/pendapatan usaha
per bulan dan lama usaha yang dijalankan.
60

1) Omzet Usaha
Omzet usaha merupakan suatu sumber pemenuhan kebutuhan hidup bagi
pelaku usaha dan keluarganya. Semakin tinggi tingkat pendapatan usaha
seseorang maka akan semakin tinggi pula kemampuannya dalam membiayai
kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan kata lain, pendapatan seseorang
berkorelasi positif dengan tingkat kemakmurannya. Kaitannya dengan
pengembalian kredit, pendapatan usaha seorang debitur dapat mencerminkan
kemampuannya dalam memenuhi kewajiban pengembalian kredit dengan
baik karena pendapatannya tersebut sebagai sumber dalam membayar
angsuran

kredit.

Semakin

besar

pendapatan

usaha

debitur

maka

kemampuannya dalam membayar angsuran kredit hingga lunas semakin


terjamin.
Tabel 10. Sebaran Responden berdasarkan Omzet Usaha
Omzet
(Juta Rupiah)
15
15 - 30
30 - 45
45 - 60
60 - 75
75 - 90
> 90
Total

Menunggak
Lancar
Total
Jumlah Proporsi
Jumlah Proporsi
Jumlah Proporsi
(Orang)
(%)
(Orang)
(%)
(Orang)
(%)
16
24,62
17
23,15
33
50,77
8
12,31
10
15,38
18
27,69
1
1,54
8
12,31
9
13,85
0
0,00
2
3,08
2
3,08
0
0,00
0
0,00
0
0,00
0
0,00
2
3,08
2
3,08
0
0,00
1
1,54
1
1,54
25
38,46
40
61,54
65
100,00

Sebagian besar responden cenderung memiliki omzet usaha yang rendah


(Tabel 10). Hal ini dikarenakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada BRI Unit
ini memang diperuntukkan bagi usaha yang tergolong lemah secara ekonomi
namun telah feasible. Namun terdapat perbedaan antara responden debitur
lancar dengan responden debitur menunggak dimana seluruh debitur
menunggak memiliki omzet tidak lebih dari Rp 45.000.000, sementara pada
sebagian responden lancar ada yang memiliki omzet hingga lebih dari jumlah
tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa seluruh responden yang menunggak
memiliki omzet usaha yang relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan
responden dengan pengembalian lancar. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa karakteristik debitur yang mampu mengembalikan kredit dengan baik
61

dan menunggak dapat dibedakan berdasarkan besarnya omzet usaha per


bulannya.
2) Lama Usaha
Lama usaha dapat menunjukkan keandalan seorang dalam menjalankan
usahanya. Semakin lama pengalaman seseorang dalam berusaha maka
kemampuannya dalam mengelola usaha akan semakin baik. Lama usaha juga
mencerminkan

kemapanannya

dalam

bidang

usaha

yang

ditekuni.

Harapannya, semakin lama seorang debitur telah bergelut dalam usaha


tersebut maka akan diikuti oleh peluang keberhasilan usaha yang akan
semakin besar sehingga secara tidak langsung dapat menjamin kemampuan
pengembalian kredit oleh debitur.
Tabel 11. Sebaran Responden berdasarkan Lama Usaha
Lama Usaha
(Tahun)
5
> 5 - 11
> 11 - 17
> 17 - 23
> 23 - 35
> 35
Total

Menunggak
Jumlah
Proporsi
(Orang)
(%)
14
21,54
3
4,62
4
6,15
2
3,08
2
3,08
0
0,00
25
38,46

Lancar
Jumlah
Proporsi
(Orang)
(%)
12
18,46
15
23,08
6
9,23
4
6,15
1
1,54
2
3,08
40
61,54

Total
Jumlah
Proporsi
(Orang)
(%)
26
40,00
18
27,69
10
15,38
6
9,23
3
4,62
2
3,08
65
100,00

Sebagian besar responden telah menjalankan usahanya hingga selama


sebelas tahun (Tabel 11). Begitu pula pada debitur dengan kategori
pengembalian kredit lancar maupun pada responden yang tergolong
menunggak. Kondisi seperti ini mencerminkan bahwa sebaran lama usaha
responden antara yang lancar dan menunggak tidak jauh berbeda.
6.1.3. Karakteristik Kredit
Perbandingan karakteristik kredit masing-masing responden diidentifikasi
berdasarkan besarnya jumlah pinjaman serta jangka waktu pengembalian kredit
yang disepakati antara debitur dengan pihak BRI Unit Cimanggis.
1) Jumlah Pinjaman
Adapun batas maksimum peminjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) di
setiap tingkat unit BRI adalah sebesar Rp 5.000.000,-. Besarnya jumlah
pinjaman yang diberikan oleh pihak bank hingga batas maksimum tersebut
62

tergantung dari jumlah permintaan dan penilaian kemampuan pembayaran


seorang debitur. Usaha yang cukup berhasil dan memberikan pendapatan
yang besar berpeluang untuk memperoleh jumlah pinjaman yang lebih besar.
Namun jumlah pinjaman yang besar secara langsung akan memberikan beban
angsuran yang besar pula kepada debitur. Dengan demikian, semakin besar
jumlah pinjaman yang diberikan oleh bank, maka beban yang harus
ditanggung debitur dalam pelunasannya akan semakin besar pula sehingga
pemberian jumlah pinjaman yang besar akan menimbulkan risiko
terhambatnya pengembalian kredit oleh debitur.
Tabel 12. Sebaran Responden berdasarkan Jumlah Pinjaman
Menunggak
Jumlah Proporsi
(Orang)
(%)
2
3,08
1
1,54
8
12,31
1
1,54
2
3,08
11
16,92
25
38,46

Jumlah Pinjaman
(Juta Rupiah)
1
2
3
3,5
4
5
Total

Lancar
Jumlah
Proporsi
(Orang)
(%)
0
0,00
1
1,54
7
10,77
0
0,00
6
9,23
26
40,00
40
61,54

Total
Jumlah
Proporsi
(Orang)
(%)
2
3,08
2
3,08
15
23,08
1
1,54
8
12,31
37
56,92
65
100,00

Berdasarkan Tabel 12, sebagian besar responden memperoleh kredit


sebesar Rp 5.000.000. Begitu pula pada responden dengan tingkat kelancaran
pengembalian lancar yang sebagian besar mengakses pinjaman sebesar Rp
5.000.000.

Berbeda pada responden yang menunggak, sebaran pinjaman

selain pada jumlah Rp 5.000.000 juga pada pinjaman sejumlah Rp 3.000.000.


Hal tersebut mencerminkan bahwa debitur yang lancar dan responden yang
menunggak dapat dibedakan berdasarkan jumlah kredit yang mereka peroleh.
2) Masa Pengembalian
Jangka waktu pengembalian kredit merupakan waktu jatuh tempo seorang
debitur dalam membayar seluruh nilai pinjaman yang diberikan termasuk di
dalamnya pembayaran bunga pinjaman. Bagi pihak bank, semakin lama
jangka waktu pengembalian ini akan meringankan beban angsuran yang
harus

dibayar

debitur

per

bulannya

sehingga

memperkecil

risiko

penunggakan kredit. Sehingga semakin panjang jangka waktu pengembalian


maka beban debitur dalam membayar angsuran akan semakin ringan. Di sisi
63

lain, semakin lama jangka waktu pengembalian kredit ini akan menurunkan
tingkat perputaran dana dan likuiditas bank sehingga pihak bank akan
melakukan

pertimbangan

penuh

dalam

menentukan

jangka

waktu

pengembalian tersebut.
Umumnya, BRI memberikan jangka waktu tempo pelunasan kreditdalam
waktu 12 bulan, 18 bulan, dan 24 bulan. Pemberian jangka waktu ini
disesuaikan antara permintaan debitur dengan penilaian bank terhadap
kemampun pembayaran angsuran oleh debitur tersebut.
Tabel 13. Sebaran Responden berdasarkan Jangka Waktu Pengembalian
Lama Usaha
(Bulan)
12
18
24
Total

Menunggak
Lancar
Jumlah Proporsi Jumlah Proporsi
(Orang)
(%)
(Orang)
(%)
11
16,92
15
23,08
10
15,38
15
23,08
4
6,15
10
15,38
25
38,46
40
61,54

Total
Jumlah
Proporsi
(Orang)
(%)
26
40,00
25
38,46
14
21,54
65
100,00

Berdasarkan Tabel 13, sebagian besar responden mengakses pinjaman


kredit dengan jangka waktu pengembalian 12 bulan. Demikian juga pada
masing-masing kelompok responden baik yang lancar dalam pengembalian
maupun yang menunggak, masing-masing sebagian besar mengakses kredit
dengan jangka waktu pengembalian 12 bulan. Hal ini mencerminkan bahwa
debitur yang lancar tidak dapat dibedakan berdasarkan jangka waktu
pengembalian kredit.

6.2.

Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Tingkat Kelancaran


Pengembalian Kredit Usaha Rakyat (KUR)
Kebaikan model ditunjukkan pada nilai uji statistik G sebesar 28,950

dengan p-value sebesar 0,000 yang menunjukkan bahwa pada selang kepercayaan
90 persen ( = 0,1) terdapat cukup bukti untuk menolak H0 bahwa tidak ada satu
pun variabel prediktor berpengaruh nyata terhadap variabel respon. Artinya,
paling tidak terdapat satu variabel prediktor yang secara signifikan berpengaruh
terhadap variabel respon. Kesimpulannya bahwa dari semua faktor yang diduga
64

mempengaruhi tingkat pengembalian kredit, terdapat satu atau lebih faktor yang
secaranyata berpengaruh terhadap tingkat pengembalian kredit. Selain itu,
Standard Error (SE) pada masing-masing faktor memiliki besar yang nyaris
sama, tidak ada nilai SE yang terlalu tinggi. Dengan demikian, model ini dapat
dinyatakan stabil secara statistik dan tidak terdapat multikolinearitas di dalamnya
(Tabel 14).
Selanjutnya untuk mengetahui kebaiksuaian model dapat dilakukan
dengan Uji kebaiksuaian atau Goodness-of-Fit Test yang memperlihatkan nilai
Pearson, deviance, dan Hosmer-Lemeshow. Uji ini menunjukkan p-value masingmasing 0,566; 0,413 ;dan 0,624. Nilai-nilai tersebut menunjukkan nilai yang lebih
besar dari taraf nyata ( = 0,1), sehingga disimpulkan bahwa pada selang
kepercayaan 90 persen ( = 0,1) bahwa model layak dan dapat diinterpretasikan
karena tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai observasi dengan
nilai prediksi dari model.
Pengujian yang lebih spesifik difokuskan pada signifikansi masing-masing
variabel prediktor dalam mempengaruhi variabel respon secara individu dengan
menggunakan nilai uji statistik Z yang diindikasikan dengan nilai p-value. Jika pvalue pada suatu variabel lebih kecil dari maka dapat disimpulkan bahwa faktor
tersebut berpengaruh signifikan terhadap keputusan konsumsi. Pada selang
kepercayaan 90 persen ( = 0,1) dapat disimpulkan bahwa variabel yang secara
signifikan berpengaruh pada tingkat pengembalian Kredit Usaha Rakyat (KUR)
oleh nasabah BRI Unit Cimanggis adalah pinjaman pada pihak lain, jumlah
pinjaman, dan besarnya omzet usaha sedangkan jenis kelamin, tingkat pendidikan,
jumlah tanggungan dalam keluarga, lama usaha, serta lamanya masa
pengembalian yang disepakati tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat
kelancaran pengembalian Kredit Usaha Rakyat (KUR) oleh nasabah BRI Unit
Cimanggis.
6.2.1. Karakteristik Personal
Karakteristik personal yang diduga berpengaruh terhadap tingkat
pengembalian Kredit Usaha Rakyat (KUR) terdiri dari faktor jenis kelamin,
tingkat pendidikan, jumlah tanggungan dalam keluarga, pasangan yang bekerja,
65

kepemilikan rumah, serta ada tidaknya pinjaman pada pihak lain. Pengaruh
masing-masing variabel tersebut diuraikan pada Tabel 14.
Tabel 14. Logistic Regression Table
Variabel
Coef
SE Coef
P Value
Jenis Kelamin
0,53
0,72
0,46
Tingkat Pendidikan
-0,14
0,13
0,27
Jumlah Tanggungan
-0,34
0,27
0,20
Kredit Lain
-1,74
0,72
0,01
Omzet Usaha
0,06
0,02
0,02
Lama Usaha
0,01
0,04
0,76
Jumlah Pinjaman
0,71
0,38
0,06
Jangka Waktu
0,03
0,07
0,67
Log-Likelihood = -28.833
Test that all slopes are zero: G = 28.950, DF = 8, P-Value = 0.000

Odds Ratio
1,71
0,86
0,71
1,17
1,06
1,01
2,04
1,03

1) Jenis Kelamin
Jenis kelamin tidak memiliki pengaruh nyata dalam kelancaran
pengembalian kredit. Hasil tersebut juga didukung oleh hasil analisis
deskriptif sebelumnya bahwa sebagian besar debitur baik yang lancar
maupun menunggak adalah pria. Hal ini sehubungan dengan peran pria
sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab dalam memenuhi
kebutuhan hidup anggota keluarganya. Sehingga pengelola usaha yang
menjadi debitur penerima Kredit Usaha Rakyat (KUR) ini sebagian besar
adalah pria, Maka dapat disimpulkan bahwa jenis kelamin tidak memberi
pengaruh terhadap kelancaran pengembalian kredit.
2) Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan tidak memiliki pengaruh nyata dalam kelancaran
pengembalian kredit. Hasil tersebut juga didukung dengan hasil analisis
deskriptif sebelumnya bahwa tidak terdapat perbedaan yang berarti antara
debitur responden lancar dengan menunggak bila dilihat berdasarkan tingkat
pendidikan. Baik responden debitur lancar maupun menunggak keduanya
sebagian besar masih berpendidikan rendah. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa kelancaran pengembalian kredit tidak dipengaruhi oleh tingkat
pendidikan.
66

Tingkat pendidikan sebagian besar responden yang masih tergolong


rendah ini sehubungan dengan lokasi BRI Unit Cimanggis yang terletak di
Kelurahan Cisalak Pasar, Kecamatan Cimanggis, Depok. Kota Depok
merupakan merupakan daerah pinggiran kota (urban fringe/ sub urban) yang
letaknya tidak jauh dari pusat kota, tempat atau area di mana para penglaju
tinggal. Daerah pinggiran kota pada umumnya memiliki dua wajah: di satu
sisi modern, melalui pembangunan kompleks perumahan yang diikuti oleh
kawasan perdagangan baru. Disisi lain tradisional, diwakili oleh kawasan
perumahan penduduk asli dan daerah pertanian1. Kelurahan Cisalak Pasar,
Kecamatan Cimanggis adalah salah satu wilayah dengan pola kehidupan
tradisional dimana di daerah ini masih terdapat beberapa wilayah dengan
tingkat pendidikan penduduknya yang masih relatif rendah bila dibandingkan
dengan wilayah lain di Kota Depok dengan pola kehidupan modern yang
umumnya sudah menyadari pentingnya pendidikan tinggi sebagai bekal
kehidupan.
3)

Jumlah Tanggungan dalam Keluarga


Jumlah tanggungan dalam keluarga tidak memiliki pengaruh nyata dalam
kelancaran pengembalian kredit. Hal ini juga didukung dengan hasil analisis
deskriptif sebelumnya bahwa baik debitur yang lancar maupun menunggak
keduanya sebagian besar memiliki jumlah tanggungan dalam keluarga yang
relatif sedikit. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kelancaran pengembalian
kredit tidak dipengaruhi oleh banyaknya jumlah tanggungan dalam keluarga.
Jumlah tanggungan dalam keluarga sebagian besar responden tergolong
sedikit dikarenakan budaya untuk memiliki keturunan banyak saat ini sudah
cenderung ditinggalkan oleh masyarakat yang bermukim di wilayah
perkotaan dan sekitarnya (wilayah sub urban). Hal ini seiring tuntutan
kebutuhan biaya hidup di wilayah Cimanggis yang sudah semakin meningkat
dengan semakin pesatnya pembangunan yang terjadi2.

Buchholz AS. 2005. Jender di periurban. Di dalam Koesmapardi, editor. Jurnal Dinamika
Periurban: Periurban sebagai Perhatian Kualitas Hidup I (Mei): 11.
2
Loc.cit

67

4)

Pinjaman pada Pihak Lain


Adanya pinjaman lain memberi pengaruh nyata dalam kelancaran
pengembalian kredit. Hal ini juga didukung oleh hasil analisis deskriptif
sebelumnya bahwa sebagian besar debitur dengan kategori pengembalian
kredit menunggak terlibat dalam pinjaman dengan pihak lain, sangat berbeda
bila dibandingkam sebagian besar responden yang tergolong lancar yang
sedang dalam kondisi tidak berada dalam pinjaman dengan pihak lain. Kondisi
ini mencerminkan perbedaan yang sangat berarti sehingga dapat disimpulkan
bahwa antara responden yang lancar dan menunggak, dapat dibedakan
berdasarkan status responden yang sedang dalam pinjaman lain atau tidak.
Responden yang sebagian besar merupakan pedagang di pasar-pasar
tradisional, pengrajin kecil, pedagang keliling, dan lain-lain seringkali sering
kali terjerat oleh para rentenir dengan pembebanan bunga yang sangat tinggi
(biasanya 30 persen per bulan). Sebagai akibat dari terbebani oleh beban
bunga yang sangat tinggi tersebut, seringkali mengakibatkan responden lalai
dalam memenuhi kewajiban untuk melunasi kredit (KUR) pada BRI Unit
Cimanggis. Mereka cenderung lebih memprioritaskan untuk melunasi kredit
pada rentenir demi menjaga hubungan baik dengan para rentenir. Adapun
kredit lain yang menjadi penghambat dalam pengembalian KUR adalah
kredit kepemilikan motor. Ketiadaan agunan pada KUR membuat responden
cenderung lebih memilih untuk melunasi kredit motor tersebut daripada
motor yang digunakan sebagai jaminan dalam kredit tersebut disita karena
lalai membayar.
Pembayaran anguran KUR

yang belum menjadi prioritas jika

dibandingkan dengan kredit lain antara lain juga disebabkan adanya


kesalahan pemahaman terhadap kredit pemerintah ini. Berdasarkan
pengamatan di lapangan serta pengalaman pihak BRI Unit Cimanggis sendiri,
responden cenderung melihat KUR sebagai dana kucuran pemerintah seperti
halnya pada kredit program sebelumnya.
Koefisien ini variabel negatif (-1,747). Artinya adalah bahwa adanya
pinjaman pada pihak lain akan berbanding terbalik dalam mendukung
kelancaran pengembalian kredit sebagai variabel respon. Nilai odds ratio
68

sebesar 0,17 mengartikan bahwa nasabah yang memiliki pinjaman pada pihak
lain akan berpeluang lebih 0,17 kali lebih kecil untuk mengembalikan kredit
secara lancar.
6.2.2. Karakteristik Usaha
Karakteristik

usaha

yang

diduga

berpengaruh

terhadap

tingkat

pengembalian Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada BRI Unit Cimanggis terdiri dari
faktor omzet usaha serta lamanya usaha tersebut sudah dijalankan oleh pemilik.
Adapun output hasil olahan dan pengaruh masing-masing faktor dipaparkan
sebagai berikut:
1) Omzet Usaha
Besarnya omzet usaha memiliki pengaruh nyata dalam kelancaran
pengembalian kredit. Pada analisis deskriptif sebelumnya ditemukan bahwa
karakteristik debitur yang mampu mengembalikan kredit dengan baik dan
menunggak dapat dibedakan berdasarkan besarnya omzet usaha per bulan.
Responden debitur lancar cenderung memiliki omzet usaha yang lebih besar
jika dibandingkan dengan responden debitur menunggak. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa besarnya omzet usaha memberi pengaruh terhadap
kelancaran pengembalian kredit.
Adapun nilai koefisien variabel ini adalah bertanda positif, mencerminkan
omzet usaha memiliki pengaruh positif dalam mendukung kelancaran
pengembalian kredit sebagai variabel respon. Odds ratio sebesar 1,06
mengartikan bahwa peningkatan omzet usaha sebesar satu satuan (juta rupiah)
akan meningkatkan peluang tingkat kelancaran pengembalian kredit sebesar
1,06 kali lebih besar.
Kesimpulan ini sejalan dengan kesimpulan pada hasil-hasil penelitian
terdahulu yang menyatakan bahwa besarnya omzet usaha berpengaruh nyata
terhadap kelancaran pengembalian kredit. Pada penelitian yang dilakukan oleh
Hermawan (2007), omzet usaha memberi pengaruh nyata dan positif terhadap
tingkat pengembalian Kredit Umum Pedesaan (KUPEDES) untuk usaha
mikro,kecil, dan menengah di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Studi Kasus BRI
Unit Leuwiliang. Begitu pula halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh
69

Handoyo (2009) yang juga menemukan bahwa

omzet usaha memberi

pengaruh nyata dan positif terhadap tingkat pengembalian pembiayaan


syariahuntuk UMKM Agribisnis pada KBMT Ummah Kota Bogor
sehubungan dengan profitabilitas usaha yang tinggi yang ditunjukkan dengan
nilai omzet usaha yang besar.
2)

Lama Usaha
Lama

usaha

tidak

memiliki

pengaruh

nyata

dalam

kelancaran

pengembalian kredit. Berdasarkan pengamatan lapangan, pada umumnya


pelaku usaha mikro di wilayah Cimanggis bergerak pada bidang perdagangan
dan telah menjalankan usaha tersebut cukup lama. Perdagangan yang mereka
jalankan sebagian besar tidak memiliki lama usaha yang panjang. Hal ini
terkait dengan karakteristik entry barrier yang mudah ditembus sehingga
ketika pasar sudah jenuh mereka akan beralih pada usaha perdagangan yang
lain.
Hal ini didukung dengan hasil analisis deskriptif sebelumnya yang
menunjukkan bahwa kedua kategori tingkat pengembalian kredit tersebut
tidak dapat dibedakan kategori tingkat pengembaliannya berdasarkan lama
usaha. Baik responden debitur lancar maupun responden debitur menunggak
sebagian besar telah menjalankan usahanya tidak lebih dari sebelas tahun.
Sehingga lama usaha menjadi tidak member pengaruh terhadap kelancaran
pengembalian kredit.Kesimpulan ini sejalan dengan kesimpulan pada hasilhasil penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa lamanya usaha tidak
berpengaruh nyata terhadap kelancaran pengembalian kredit seperti pada
penelitian Hermawan (2007) serta Handoyo (2009).
6.2.3. Karakteristik Kredit
Karakteristik kredit yang diduga mempengaruhi tingkat pengembalian
Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada BRI Unit Cimanggis terdiri dari faktor besarnya
pinjaman serta lamanya jangka waktu pengembalian pinjaman yang disepakati.
Adapun output hasil olahan dan pengaruh masing-masing faktor dipaparkan
sebagai berikut:
1) Besarnya Jumlah Pinjaman
70

Besarnya jumlah pinjaman merupakan sejumlah nominal pinjaman yang


diberikan oleh bank. Besarnya nilai pinjaman ini tergantung pada permintaan
debitur yang disesuaikan dengan pendapatannya. Semakin besar nilai
pinjaman ini secara langsung akan meningkatkan beban angsuran yang harus
dibayar, sehingga besarnya jumlah pinjaman diduga berpengaruh negatif
terhadap kelancaran pengembalian kredit.
Besarnya jumlah pinjaman yang diduga berpengaruh terhadap tingkat
kelancaran ternyata menunjukkan hasil yang serupa. Hasil analisis
menemukan bahwa variabel ini memiliki pengaruh nyata dalam tingkat
kelancaran pengembalian kredit. Pada responden dengan tingkat kelancaran
pengembalian lancar yang sebagian besar mengakses pinjaman sebesar
Rp 5.000.000. Berbeda pada responden yang menunggak, sebaran pinjaman
selain pada jumlah Rp 5.000.000 juga pada pinjaman sejumlah Rp 3.000.000.
Kondisi tersebut mencerminkan bahwa besarnya jumlah kredit yang diterima
memberi pengaruh terhadap kelancaran pengembalian kredit. Hal ini
dikarenakan besarnya jumlah kredit yang diperoleh debitur telah melalui
analisa mendalam yang dilakukan oleh petugas kredit yang mengestimasi
seberapa besar jumlah dana yang dibutuhkan dan mampu dikembalikan oleh
debitur. Sehingga jumlah kredit yang besar hanya dapat diperoleh oleh usaha
yang

dianggap

telah

memiliki

kapabilitas

dan

profitabilitas

yang

memungkinkan.
Nilai koefisien variabel ini positif (0,713) menunjukkan bahwa besarnya
jumlah pinjaman memiliki pengaruh positif terhadap kelancaran pengembalian
kredit. Semakin besar jumlah pinjaman yang diperoleh debitur maka
peluangnya untuk dapat mengambalikan secara lancarakan semakin besar.
Nilai odds ratio sebesar 2,04 mengartikan bahwa peningkatan jumlah
pinjaman sebesar satu satuan (Rp 1 juta) akan meningkatkan peluang
lancarnya pengembalian menjadi 2,04 jika tidak terjadi peningkatan jumlah
pinjaman.
2)

Masa Pengembalian
Penentuan jangka waktu pengembalian kredit ditentukan berdasarkan
kesepakan antara pihak bank dengan debitur. Kesepakatan tersebut
71

berdasarkan permintaan debitur yang disesuaikan dengan pertimbangan dari


pihak bank.
Jangka waktu pengembalian yang diduga berpengaruh positif terhadap
kelancaran pengembalian kredit oleh debitur, Namun berdasarkan hasil
analisis ditemukan bahwa jangka waktu tidak memiliki pengaruh nyata dalam
kelancaran pengembalian kredit. Sebagian besar responden lebih memilih
jangka waktu pengembalian yang paling sebentar untuk menghindari besarnya
jumlah beban bunga yang harus ditanggung meskipun dengan konsekuensi
adanya beban angsuran bulanan yang akan lebih tinggi.
Selain itu, hasil tersebut juga didukung oleh hasil analisis deskriptif
sebelumnya bahwa sebagian besar debitur baik yang lancar maupun
menunggak adalah mengakses kredit dengan jangka waktu pengembalian yang
sama, yakni 12 bulan. Hal ini mencerminkan bahwa kelancaran pengembalian
kredit tidak dipengaruhi oleh lamanya jangka waktu pengembalian kredit yang
telah disepakati.
6.3.

Implikasi Manajerial
Berdasarkan hasil analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap

pengembalian tunggakan KUR diketahui bahwa terdapat tiga faktor yang


memiliki pengaruh nyata terhadap pengembalian tunggakan KUR pada BRI Unit
Cimanggis. Ketiga faktor tersebut adalah pinjaman lain, besarnya jumlah
pinjaman, dan omzet usaha debitur. Dengan demikian, untuk mengantisipasi
terjadinya penunggakan kredit ketiga hal tersebut perlu dipertimbangkan lebih
dalam lagi dalam proses pemberian KUR kepada calon debitur.
Tindakan yang dapat dilakukan oleh BRI Unit Cimanggis berkaitan
dengan debitur yang memiliki atau sedang terlibat dengan pinjaman pada pihak
lain selain pada BRI Unit Cimanggis adalah perlu menambahkan kriteria
penelitian yang dapat dilakukan pada analisa awal. Selain itu BRI perlu menggali
informasi mengenai watak kepribadian (character) calon debitur. Apakah debitur
berkelakuan baik, selalu berupaya untuk memenuhi janji, serta mempunyai
reputasi yang baik. Informasi tersebut dapat diperoleh dari masyarakat dan pejabat
daerah setempat.
72

Analisa mendalam mengenai besarnya jumlah kredit yang dapat disalurkan


juga perlu lebih diperhatikan akibat pengaruhnya yang nyata. Besarnya jumlah
kredit harus terus disesuaikan dengan kebutuhan modal dan kemampuan yang
dimiliki oleh calon debitur. Tindakan yang dapat dilakukan oleh BRI Unit
Cimanggis berkaitan dengan debitur berkaitan dengan omzet usaha adalah bekerja
sama dengan masyarakat dan instansi atau pejabat setempat untuk memperoleh
informasi mengenai omzet usaha nasabah dari waktu ke waktu. Selain itu, BRI
juga perlu membantu nasabah dalam memecahkan permasalahan penurunan
omzet dengan memberikan masukan manajerial dalam upaya penguatan capacity
building di bidang pemasaran dan manajemen usaha nasabah, mulai dari masukan
mengenai tata cara mengelola usaha yang baik, administrasi pembukuan, cara
memecahkan berbagai masalah, cara menyusun perencanaan usaha yang
sistematis, serta berbagai strategi menghadapi pesaing agar produk tetap
mempunyai pasar (Kusmuljono 2009).
Sementara itu, bagi nasabah sendiri dapat melakukan upaya-upaya agar
omzet usaha berkembang yakni antara lain dengan meningkatkan profesionalisme,
membangun jaringan usaha sesama usaha mikro, melakukan kemitraan usaha,
memanfaatkan jaringan informasi bisnis yang ada baik secara horizontal antara
usaha mikro maupun secara vertikal dengan usaha besar bersamaan dengan upaya
peningkatan keahlian untuk mencapai efisiensi dan produktifitas yang lebih tinggi
serta perbaikan, penyempurnaan, dan peningkatan kualitas terus-menerus terhadap
produk dan pelayanan sebagai kunci menghadapi pesaing. Baik pengembangan
produk, pengembangan pemasaran, serta pengembangan dalam kemampuan
mengatur keuangan perlu terus diupayakan (Sembiring 2002).

73

VII KESIMPULAN DAN SARAN


7.1.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan dalam penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan

bahwa karakteristik responden debitur KUR BRI Unit Cimanggis, baik responden debitur
lancar maupun menunggak sebagian berjenis kelamin pria dengan tingkat pendidikan yang
rendah. Jumlah tanggungan dalam keluarga sebagian besar berjumlah empat orang. Mereka
sebagian besar mengakses dengan masa pengembalian 12 bulan. Antara responden debitur
lancar dengan responden debitur menunggak dapat dibedakan berdasarkan ada tidaknya
pinjaman lain yang sedang diakses responden debitur bersamaan dengan KUR pada BRI Unit
Cimanggis, besarnya jumlah pinjaman serta besarnya omset usaha.
Responden debitur menunggak sebagian besar memiliki pinjaman lain, sementara
pada responden debitur lancar sebaliknya. Responden debitur lancar sebagian besar memiliki
kemampuan mengakses pinjaman sebesar Rp 5.000.000, berbeda pada responden debitur
menunggak yang memiliki kemampuan mengakses pinjaman sebesar Rp 5.000.000 dan Rp
3.000.000. Besarnya omzet usaha pada responden debitur lancar cenderung lebih besar jika
dibandingkan dengan besarnya omzet usaha responden debitur menunggak.
Faktor-faktor

yang

berpengaruh

secara

nyata

terhadap

tingkat

kelancaran

pengembalian KUR adalah omzet usaha, jumlah pinjaman, dan pinjaman lain. Omzet usaha
memiliki pengaruh dan keterkaitan positif dengan kelancaran pengembalian kredit. Artinya,
semakin tinggi omzet usaha maka peluang dan kecenderungannya untuk dapat
mengembalikan kredit dengan lancar semakin tinggi. Begitu pula dengan besarnya jumlah
pinjaman pengaruh dan positif terhadap kelancaran pengembalian kredit. Artinya, semakin
besar jumlah pinjaman maka peluang dan kecenderungannya untuk dapat mengembalikan
kredit dengan lancar semakin tinggi. Hal ini disebabkan pemberian sejumlah pinjaman telah
melalui analisis mendalam mengenai estimasi besar modal yang benar-benar dibutuhkan oleh
calon debitur. Berbeda dengan pinjaman lain yang memiliki pengaruh dan keterkaitan negatif
dengan tingkat pengembalian kredit, dimana jika debitur memiliki atau sedang terlibat
dengan pinjaman pada pihak lain selain pada BRI Unit Cimanggis maka peluang dan
kecenderungannya untuk dapat mengembalikan kredit dengan lancar semakin kecil.
Faktor-faktor yang tidak berpengaruh nyata antara lain jenis kelamin, tingkat
pendidikan, jumlah tanggungan dalam keluarga, lama usaha, serta jangka waktu

pengembalian. Faktor-faktor ini tidak memberi pengaruh nyata disebabkan adanya kesamaan
karakteristik responden yang berada pada wilayah yang sama sehingga keadaan sosial
ekonomi, kultur, serta nilai-nilai

yang dianut

besar kemungkinan menunjukkan

kecenderungan serupa.
7.2.

Saran
Berdasarkan hasil analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kelancaran

pengembalian KUR pada BRI Unit Cimanggis diketahui bahwa terdapat tiga faktor yang
memiliki pengaruh nyata. Ketiga faktor tersebut adalah pinjaman lain, besarnya jumlah
pinjaman, dan omzet usaha debitur. Dengan demikian, ketiga hal tersebut perlu
dipertimbangkan lebih dalam lagi dalam proses pemberian KUR kepada calon debitur untuk
mengantisipasi terjadinya penunggakan kredit.
Kriteria penelitian yang dilakukan pada analisa awal dapat ditambahkan sehubungan
dengan ada tidaknya pinjaman lain yang sedang diperoleh calon debitur. Analisa mendalam
mengenai besarnya jumlah kredit yang dapat disalurkan juga perlu lebih diperhatikan akibat
pengaruhnya yang nyata. Besarnya jumlah kredit harus terus disesuaikan dengan kebutuhan
modal dan kemampuan yang dimiliki oleh calon debitur. Selain menambahkan kriteria
penilaian, BRI juga perlu membantu nasabah dalam memecahkan permasalahan penurunan
omzet dengan memberikan masukan manajerial dalam upaya penguatan capacity building di
bidang pemasaran dan manajemen usaha nasabah. Bersaman dengan hal tersebut, bagi
debitur sendiri dapat melakukan upaya-upaya agar omzet usaha berkembang yakni antara lain
dengan meningkatkan profesionalisme, membangun jaringan usaha sesama usaha mikro,
melakukan kemitraan usaha, memanfaatkan jaringan informasi bisnis yang ada baik secara
horizontal antara usaha mikro maupun secara vertikal dengan usaha besar bersamaan dengan
upaya peningkatan keahlian untuk mencapai efisiensi dan produktifitas yang lebih tinggi serta
perbaikan, penyempurnaan, dan peningkatan kualitas terus-menerus terhadap produk dan
pelayanan.
Namun berdasarkan metode pemilihan sampel yang digunakan, hasil penelitian
memiliki kemungkinan tidak merepresentasikan seluruh debitur KUR BRI Unit Cimanggis,
sehingga diperlukan penelitian lanjutan dengan metode pemilihan sampel secara acak. Selain
itu penelitian dengan menggunakan alat analisis lain juga dianjurkan agar dapat melihat
permasalah dari sudut pandang lain sehingga dapat ditemukan solusi terbaik.
75

DAFTAR PUSTAKA
Alamsyah T. 2007. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat
pengembalian kredit macet pada Kredit Usaha Pedesaan (Kupedes): studi
kasus PT. Bank Rakyat Indonesia Unit Ciomas, Cabang Bogor [skripsi].
Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
[BI] Bank Indonesia. 2008. Statistik Perbankan Indonesia. http://www.bi.go.id.
[2 Agustus 2009].
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2007. Perkembangan Indikator Makro Tahun 2006.
Sensus Ekonomi. Jakarta: Biro Pusat Statistik.
Chadwick B, Bahr HM, dan Albrecht. 1991. Metode Penelitian Ilmu Sosial.
Sulistia, Yan M, Sofwan A, Suhardjito, penerjemah; Jakarta: IKIP
Semarang Press.
Djianarto B. 2000. Banking Asset Liability Management. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
Dendawijaya L. 2001. Manajemen Perbankan. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Faisal S. 2005. Format-Format Penelitian Sosial: Dasar-Dasar dan Aplikasi,
edisi 1.Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Firdaus M dan MA Farid. Seri Metode Kuantitatif : Aplikasi Metode Kuantitatif
Terpilih untuk Manajemen dan Bisnis. 2008. Bogor : Penerbit Institut
Pertanian Bogor, IPB-Press.
Firmansyah. 2000. Implementasi Model Grameen Bank di Kabupaten Magetan.
Di dalam Thoha M, editor. Pemberdayaan Usaha Kecil melalui Model
Grameen Bank. Jakarta: Puslitbang Ekonomi Pembangunan, Lembaga
Pengetahuan Indonesia. Hlm 103.
Gujarati. 1997. Ekonometrika Dasar. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Hair, J, et al. 1998. Multivariate Data Analysis. New Jersey: Prentice Hall
Handoyo M. 2009. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengembalian
pembiayaan syariah untuk UMKM agribisnis pada KBMT Wihdatul
Ummah Kota Bogor [skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen,
Institut Pertanian Bogor.
Hermawan A.R. 2007. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan
pengembalian kredit umum pedesaan (Kupedes) untuk usaha mikro dan
menengah di Kabupaten Bogor: kasus BRI Unit Leuwiliang [skripsi].
Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Kadir F. 1985. Faktor-faktor penghambat bagi perkebunan besar swasta nasional
dalam hubungannya dengan kesempatan memeproleh kredit investasi
[Laporan Penelitian]. Makasar: Universitas Hasanudin

Kusmuljono B.S. 2009. Menciptakan Kesempatan Rakyat Berusaha: Sebuah


Konsep Baru tentang Hybrid Microfinancing. Bogor: IPB Press.
Lind DA, Marchal WG, Wathen SA. 2007. Teknik-Teknik Statistika dalam Bisnis
dan Ekonomi Menggunakan Kelompok Data Global Jilid 2. Edisi ke-13.
Chriswan Sungkono, penerjemah; Shelvy DC, editor. Jakarta :Salemba
Empat. Terjemahan dari : Statistical Techniques in Business and
Economics with Global Data Sets, 13rd Edition.
Lipsey RG, Courant PN, Purvis DD, dan Steiner PO. 1995. Pengantar
Mikroekonomi. Edisi ke-10. Jakarta : Binarupa Aksara.
Muhammah E. 2008. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat
pengembalian kredit oleh UMKM: studi kasus nasabah kupedes PT. Bank
Rakyat Indonesia, Tbk (Persero) Unit Cigudeg, Cabang Bogor [skripsi].
Bogor: Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Nazir Moh. 2005. Metode Penelitian. Bogor : Ghalia Indonesia.
Rachmat B. 2005. Modal Ventura: Cara Mudah Meningkatkan Usaha Kecil dan
Mengengah, Bogor: Ghalia Indonesia.
Rachmina D. 1994. Analisis permintaan kredit pada industri kecil: kasus Jawa
Barat dan Jawa Timur. [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut
Pertanian Bogor.
Retnadi D. 2008. Kredit Usaha Rakyat (KUR), Harapan, dan Tantangan.
Economic Review, No. 212, Juni 2008.
Sembiring I. 2002. Menumbuhkan Usaha dan Keusahawanan. Di dalam Barus
SW, editor. Strategi Memajukan Usaha Kecil dan Menengah. Bekasi:
Pustaka Sora Mido. Hlm 1-6.
Sevilla C, Ochave JA, Punsalan TG, Regala BP, dan Uriarte GG. 1993. Pengantar
Metode Penelitian. Tuwu A, penerjemah; Jakarta: Penerbit Universitas
Indonesia
Suyatno T. 1995. Dasar-Dasar Perkreditan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Tambunan T. 2002. Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia; Beberapa Isu
Penting, Jakarta: Salemba Empat.
Thoha M, editor. 2000. Pemberdayaan Usaha Kecil melalui Model Grameen
Bank. Jakarta: Puslitbang Ekonomi Pembangunan, Lembaga Pengetahuan
Indonesia.
Usman H dan Akbar PS. 2006. Pengantar Statistika. Jakarta: Bumi Aksara.
Wahyono A. 2000. Kekuatan dan Kelemahan Grameen Bank dan Kredit Usaha
Keluarga Sejahtera (KUKESRA) sebagai Model Pengentasan Kemiskinan.
Di dalam Thoha M, editor. Pemberdayaan Usaha Kecil melalui Model
77

Grameen Bank. Jakarta: Puslitbang Ekonomi Pembangunan, Lembaga


Pengetahuan Indonesia. Hlm 68.
Walpole R. 1995. Pengantar Statistika. Edisi ke-3. Jakarta : PT Gramedia Pustaka
Utama.

78

Sharma, 1998 dalam DL


Sutoyo, 2000 dalam Demak
Buku Mikro yang di rumah apa dah namanya??

Tampubolon R. 2004. Manajemen Risiko: Pendekatan Kualitatif untuk Bank


Komersial. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo-Gramedia.
Untoro. 2004. Default Risk dan Penjaminan Kredit UKM, Jakarta: Bank
Indonesia.
Mulyarto E.P. 2009. Faktor-faktor yang mempengaruhi realisasi Kredit Usaha
Rakyat (KUR) di Bank Rakyat Indonesia Unit Leuliang Kabupaten Bogor
[skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Marsaulina D. 2006. Analisis pengelolaan risiko kredit nasabah Kupedes dengan
metode creditrisk + portofolio: studi kasus BRI Unit Cipanas, Kecamatan
Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Fakultas
Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Hakam S. 1984. Kredit Investasi Kecil Nelayan Tradisionil [Laporan Penelitian.


Proyek], Malang: Universitas Brawijaya.
Rodjak A. 1984. Struktur permodalan petani kecil hubungannya dengan
kemampuan pengembalian kredit produksi pertanian [laporan penelitian].
Jatinangor: Fakultas Pertanian, Universitas Negeri Padjadjaran.

Haryogyo. 1982. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan modal bagi


pengembangan usaha ekonomi lemah di Kecamatan Ambulu Kabupaten
Jember [laporan penelitian]. Jember: Fakultas Ilmu Sosial dan Politik,
Universitas Jember.

Sukirno S. 1985. Pengantar Teori Ekonomi Mikro. Jakarta: Lembaga Penerbit


Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

79